1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kota sebagai tempat pemusatan penduduk dengan berbagai
sarana pelayanannya, tidak hanya memerlukan penyediaan air
bersih, penyaluran air bekas, pengolahan air buangan serta
pengolahan sampah, tetapi perlu juga disadari pentingnya suatu
sistem penyaluran air hujan dalam menciptakan lingkungan yang
sehat, karena air hujan dapat menimbulkan masalah dalam
kehidupan (kota).
Daerah kota dengan penduduk dan lingkungan yang rapat
memperkecil areal infiltrasi dan memperbesar limpasan air hujan
pada permukaan tanah, sehingga dapat menimbulkan genangan air
dan banjir. Akibatnya akan dapat menimbulkan kerusakan dan
gangguan terhadap kehidupan masyarakat maupun aktivitas kotanya
dalam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindari kerugian-
kerugian tersebut diperlukan suatu sistem drainase perkotaan yang
akan mampu mengurangi ataupun mencegah terjadinya genangan air
ataupun banjir.
Daerah studi pada penelitian ini adalah daerah perkotaan yang
sedang giat-giatnya membangun, sehingga banyak terjadi perubahan
perkembangan tata guna lahan (land use) dari daerah resapan air
menjadi daerah kedap air yang menimbulkan permasalahan baru
2
terhadap berfungsinya saluran drainase yang ada terutama drainase
jalan raya di wilayah tersebut. Pada saat musim hujan, debit air
permukaan yang berasal dari daerah limpasan air permukaan setiap
tahun semakin besar karena air yang meresap ke dalam tanah
semakin berkurang seiring dengan perubahan tata guna lahan.
Disamping permasalahan banjir sebagai akibat belum tertatanya
sistem drainase yang ada, terdapat pula saluran drainase dari
daerah rawa yang menuju ke Sungai Sempaja sebagai outletnya
dimana kapasitas Sungai Sempaja pada umumnya tidak mampu
menahan debit banjir yang ada, disamping itu muka air di Sungai
Sempaja ini, khususnya di sebelah hilir sangat dipengaruhi oleh
pasang surut muka air Sungai Karang Mumus, sehingga debit dari
Sungai Sempaja ini melimpas ke badan jalan atau daerah di sekitar
sungai.
Dengan adanya uraian di atas permasalahan genangan dan
banjir, serta pengaruh pasang surut akan berdampak luas baik
terhadap perekonomian, seluruh aktivitas manusia dan lingkungan
yang tidak sehat, sehingga perlu mendapatkan perhatian yang
serius.
1.2. Identifikasi Masalah
Pada dasarnya banjir adalah genangan air yang terjadi pada
daerah yang tidak diinginkan. Genangan air yang terjadi di suatu
tempat merupakan proses alami dan menjadi konsekuensi dari
3
perubahan tata guna lahan. Disamping itu genangan terjadi juga
dikarenakan meningkatnya limpasan air permukaan, hal ini lebih
diakibatkan oleh makin berkurangnya vegetasi penutup dan tingginya
intensitas hujan.
Terjadinya perubahan limpasan permukaan, kadang kala tidak
dibarengi dengan penataan sistem drainase yang memadai, atau
sebaliknya berubahnya tata guna lahan tidak memperhatikan sistem
drainase yang ada. Hal ini sebagai penyebab utama terjadinya banjir
di kawasan perkotaan atau kawasan yang sedang berkembang. Oleh
karena itu untuk kawasan perkotaan dan daerah yang sedang
berkembang hendaknya dari awal sudah direncanakan suatu sistem
drainase yang dapat memenuhi kebutuhan limpasan air permukaan
diwaktu yang akan datang.
Kota Samarinda merupakan kawasan perkotaan yang mengalami
pengembangan yang sangat pesat. Salah satu aspek yang
berkembang pesat yakni kawasan pemukiman, dimana di seluruh
sudut Kota Samarinda sedang bermunculan kawasan perumahan
baru. Kawasan tersebut tumbuh dibeberapa tempat, baik itu didaerah
perbukitan maupun di daerah penampungan air alami (Retarding
basin). Konsekuensi dari perkembangan ini adalah munculnya
beberapa genangan baru di kawasan perkotaan bahkan di jalan raya.
Contohnya seperti pada Daerah Sempaja dimana merupakan
salah satu kawasan yang mengalami perubahan, persis seperti pada
4
kondisi yang dipaparkan di atas. Pengembangan kawasan
pemukiman sangat pesat, baik di daerah perbukitan maupun daerah
“parkir air”. Sehingga genangan air terjadi di beberapa tempat,
dimana pada masa sebelumnya tidak terjadi. Di lain pihak kawasan
Sempaja juga direncanakan sebagai sentra kegiatan olah raga.
Kondisi tersebut sangatlah kontradiktif, jika tidak ada penanganan
secara serius dari sistem drainase di kawasan tersebut.
Sungai Sempaja merupakan drainase utama dalam sistem
drainase selama ini. Pada umumnya drainase jalan bermuara pada
Sungai Sempaja. Dimana kapasitas Sungai Sempaja pada umumnya
tidak mampu menahan debit banjir , sehingga debit melimpas ke
badan jalan atau daerah di sekitar sungai. Disamping itu muka air di
Sungai Sempaja, khususnya di sebelah hilir sangat dipengaruhi oleh
pasang surut muka air Sungai Karang Mumus. Kapasitas Sungai
sempaja saat ini sudah terlampaui oleh debit banjir yang ada,
sehingga debit banjir melimpas ke badan jalan.
Seiring dengan maraknya pembangunan, kawasan Sempaja juga
mengalami perkembangan disegala sektor. Khususnya
pengembangan kawasan hunian dan pengembangan sarana olah
raga (stadion) dimana sektor tersebut terkait langsung dengan sistem
drainase di daerah tersebut. Pengembangan kawasan hunian
umumnya di daerah retarding basin (tampungan air hujan
sementara). Menurut data dari Dinas Pekerjaan Umum, Pengairan
dan Kimpraswil-Kalimantan Timur, 2004), dalam kurun waktu 5 tahun
5
terakhir perubahan daerah rawa menjadi kawasan hunian mencapai ±
195 ha. Kondisi ini akan meningkat seiring dengan dibangunnya
stadion Madya Sempaja, dimana diprediksikan akan tumbuh kawasan
bisnis atau dagang dan hunian.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap perubahan
tata guna lahan akan berpengaruh terhadap besarnya koefisien
limpasan, koefisien limpasan berpengaruh terhadap jumlah debit,
ketinggian muka air, serta dimensi saluran drainase, dan untuk
memprediksi semua permasalahan di atas maka perlu dilakukan
identifikasi penyebab terjadinya genangan dan luapan drainase,
identifikasi derah-daerah genangan, melakukan analisa dan
perhitungan debit banjir, serta melakukan analisa dan perhitungan
hidraulika pada Sungai Sempaja.
1.3. Rumusan Masalah
Masalah pembuangan air dari saluran ataupun sungai,
dalam perencanaan suatu kota merupakan salah satu hal yang perlu
mendapat perhatian utama, agar dapat terwujud suatu lingkungan
yang bebas dari genangan, luapan ataupun banjir. Dengan
mengacu pada latar belakang dan identifikasi masalah maka dapat
dirumuskan permasalahan dalam studi ini adalah :
1. Berapa dimensi saluran drainase untuk dapat menampung debit
banjir ?
2. Berapa debit rancangan Sungai Sempaja untuk kala ulang 2, 5,10,
dan 25 tahun ?
6
3. Berapa dimensi penampang Sungai Sempaja untuk mengalirkan
debit banjir rencana ?
4. Dimana penempatan dan berapa dimensi Bozem untuk dapat
menampung debit banjir ?
1.4. Batasan masalah
Dalam studi ini pembahasan dititik beratkan pada hal-hal
sebagai berikut :
1. Semua kajian yang dilakukan hanya diarahkan untuk lokasi studi,
yaitu pada daerah Sempaja Kota Samarinda Kalimantan Timur.
2. Pembahasan dibatasi pada pengendalian banjir dengan cara
normalisasi sungai, penataan sistem drainase dan boezem.
3. Dari hasil pengendalian banjir yang dilakukan diharapkan
besarnya banjir dapat direduksi sebesar 70 %.
1.5. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui dimensi
penampang Sungai Sempaja agar mampu mengalirkan debit banjir
rencana, dan mencari solusi atau pengendalian banjir dengan
normalisasi sungai dan retarding basin (Bozem).
Adapun manfaat dari studi ini adalah, diharapkan studi ini
bisa dipergunakan sebagai acuan dalam mengevaluasi kapasitas
suatu sungai dalam menampung debit banjir, dan melakukan bentuk
7
penanganan terhadap masalah genangan dan banjir di Kota
Samarinda.
1.6. Lokasi Studi
Daerah studi dipilih daerah pemukiman dan juga merupakan
daerah yang mulai berkembang dimana sedang giat-giatnya
melaksanakan pembangunan yang terus akan berkembang menjadi
lebih padat dan banyak mengalami perubahan tata guna lahan yang
memberikan kontribusi pada perubahan limpasan dan debit ,
terutama dimusim hujan sehingga berpengaruh pada dimensi saluran
drainase.
Adapun lokasi studi dapat dilihat pada gambar 1.1.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Umum
Analisa ulang curah hujan rancangan (Rr) dan debit banjir
rancangan (Qr) perlu dilakukan karena adanya beberapa parameter
atau asumsi yang berbeda antara perhitungan awal dengan kondisi
saat ini, misalnya mengenai stasiun hujan yang dipakai sebagai
dasar perhitungan serta lamanya data pencatatan hujan,juga
dengan adanya perubahan perilaku pada daerah tangkapan air yang
bersangkutan.
Curah hujan rancangan dan debit banjir rancangan ini
didasarkan pada kala ulang tertentu. Dalam pemilihan kala ulang
ditentukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hidroekonomis,
yaitu didasarkan terutama pada:
a. Besarnya kerugian yang akan diderita jika terjadi pengrusakan
bangunan-bangunan oleh banjir atau limpasan (akibat hujan) dan
sering tidaknya pengrusakan itu terjadi.
b. Umur ekonomis bangunan
c. Biaya pembangunan
2.2. Analisa Hidrologi
Faktor-faktor yang menentukan debit air hujan adalah :
9
2.2.1. Curah hujan rancangan
Curah hujan rancangan adalah curah hujan terbesar yang
mungkin terjadi dalam suatu daerah dengan kala ulang atau
periode tertentu, yang dipakai sebagai dasar untuk perhitungan
perencanaan ukuran suatu bangunan. Salah satu metode yang
dapat dipakai dalam menganalisa curah hujan rancangan antara
lain Distribusi Gumbel dan Log Person Type III.
2.2.2. Curah hujan rancangan dan periode ulang dengan
Metode E. J. GUMBEL
Metode Gumbel adalah suatu metode dengan cara
analitis. Adapun Rumus dari Metode ini adalah sebagai berikut :
1
Χт = . Yt + b
a
1 x S
= y =
a Sn
σx = S = (X ) 2
X .( X )
n 1
σy = Sn
1
b = X– . Yn
a
X = X
n
10
Dimana :
Хт = Variete yang diekstrapolasikan yaitu besarnya curah
hujan rencana untuk periode ulang Τ tahun.
Υт = Reduced variate sebagai fungsi dari waktu ulang (Τ).
σ x = S = Standar Deviasi.
Τy = Sn = Reduced standart deviation sebagai fungsi dari
bentuk data (n).
X = Harga Rata-rata dari data.
.n = Banyaknya data atau jumlah data.
Yn = Reduced mean sebagai fungsi dari banyak data (n).
Sumber : C.D. Soemarto. 1993. Hidrologi Teknik, Fakultas Teknik
UNIBRAW, Malang. Hal. 233 – 242.
2.2.3. Curah hujan rancangan dan periode ulang dengan Metode
Log Person Type III
Tahapan untuk menghitung curah hujan rancangan dengan
metode ini adalah sebagai berikut:
1. Hujan harian maksimum dirubah dalam bentuk logaritma
2. Menghitung harga logaritma rata-rata dengan persamaan:
LogXi
LogX =
n
3. Menghitung harga simpangan baku dengan persamaan:
11
S=
LogXi LogX 2
n 1
4. Menghitung harga koefisien kemiringan dengan persamaan:
Cs =
nLogXi LogX 3
(n 1)(n 2)Si 3
5. Menghitung logaritma curah hujan rancangan dengan kala ulang
tertentu:
Log Rt = LogX + [Link]
6. Menghitung antilog Rt untuk mendapatkan curah hujan rancangan
dengan kala ulang tertentu, atau dengan membaca grafik
pengeplotan Rt dengan peluang di kertas logaritma. Faktor
Frekuensi G merupakan fungsi dari kala ulang (return period) dan
nilai koefisien kemiringan logaritmis.
Sumber : Ibid. hal. 243 - 247
2.2.4. Uji Kesesuaian Frekuensi
Pemeriksaan uji kesesuaian distribusi bertujuan untuk
mengetahui kesesuaian data yang tersedia dengan distribusi yang
dipakai. Uji yang dipakai ada dua macam yaitu:
1. Uji Smirnov-Kolmogorov
12
Hasil dari pengujian ini didapat dengan cara membaca grafik
pengeplotan data curah hujan pada kertas probabilitas logaritma,
didapat perbedaan antara distribusi teoritis dan empirisnya pada
sumbu horisontal yang merupakan data probabilitas. Selisih ini
dicari yang maksimum yang disebut ∆maks. Uji Smirnov
Kolmogorov ini akan membandingkan harga ∆ maks dengan suatu
harga kritis yang ditentukan berdasarkan jumlah data dan batas
nilai simpangan data. Bila ∆maks < ∆ kritis, hipotesis tersebut diterima.
Plotting data pengamatan dan garis durasi pada kertas
probabilitas tersebut dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Data curah hujan maksimum harian rerata tiap tahun disusun
dari kecil ke besar.
2. Probabilitas dihitung dengan persamaan Weinbull sebagai
berikut:
m
P= .100
n 1
dimana:
P = Probabilitas (%)
m = nomor urut data dari seri yang telah disusun
n = besarnya data
3. Plot data hujan Xi dan probabilitas
4. Plot persamaan analisis frekuensi yang sesuai
2. Uji Kai Kuadrat
Dari hasil pembacaan grafik pengeplotan data curah hujan
pada kertas probabilitas logaritma, didapat perbedaan antara
13
distribusi teoritis dan empirisnya pada sumbu vertikal yang
merupakan data curah hujan rancangan.
Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut:
1. Menghitung selisih nilai data curah hujan hasil perhitungan (X T)
dengan nilai data curah hujan hasil pengamatan (X e)
2. Menghitung nilai Kai Kuadrat (X2hit) dengan persamaan:
( EF OF ) 2
X2hit =
EF
Dimana:
X2hit = harga Kai - Kuadrat
EF = Frekuensi (banyaknya pengamatan) yang
diharapkan, sesuai dengan pembagian
kelasnya
OF = Frekuensi yang terbaca pada kelas yang sama
3. Harga X2hit dibandingkan dengan harga X2cr dari tabel harga
Kai Kuadrat dengan level significance () dan jumlah data
(n) tertentu. Apabila X2hit < X2cr maka hipotesa distribusi
dapat diterima.
3. Pemilihan distribusi frekuensi
Metode distribusi frekuensi yang biasa digunakan di
Indonesia adalah Gumbel, Normal dan Log Person Type III.
Untuk memilih salah satu dari ke tiga metode tersebut, harus
dipilih salah satu sebaran yang paling sesuuai dengan sifat-sifat
statistik. Adapun parameter statistik yang digunakan adalah C k,
Cs dan Cv.
14
Dimana :
Ck = Koefisien kurtosisi atau koefisien kepuncakan yaitu
ukuran kepuncakan distribusi
Cs = Koefisien skewness atau koefisien penyimpangan yaitu
ukuran dari penyimpangan suatu distribusi
Cv. = Koefisien variansi atau koefisien keseragaman, untuk
menentukan macam analisis, contoh :
n = jumlah data
Xi = data curah hujan
Xrt = rerata curah hujan
S = simpangan baku
Dari ke tiga metode tersebut dibandinkan nilai C k, Cs dan Cv.
dengan syarat nilai statistiknya. Adapun syarat pemilihan agihan
frekuensi tersebut adalah :
Tabel 2.1. Syarat Pemilihan Agihan Frekuensi
Jenis distribusi Cs Ck
- Gumbel 5.40 1.14
- Normal 3 0
- Log Person Type III bebas bebas
Sumber : Shahin, 1976 : 123
2. 3. Distribusi Curah Hujan
Pola sebaran hujan jam-jaman diperlukan untuk mengetahui
besarnya limpasan tiap periode waktu jam. Untuk menaksir pola
distribusi curah hujan jam-jaman berdasarkan data hujan maximum
harian per tahun, dapat digunakan Persamaan Mononobe (Suyono,
1981:35):
15
2/3
t
Rt = Ro x
T
Dimana :
Rt = Rata-rata hujan dari awal sampai dengan jam ke T
(mm/jam)
Ro = R24/5 (mm)
.t = waktu konsentrasi (jam)
T = waktu hujan dari awal hingga ke t (jam)
Curah hujan Jam Ke T :
Rт = t x Rt – t 1.R
t 1
Dimana :
Rт = Curah hujan pada jam ke T (mm).
Rt = Rata-rata hujan dari awal sampai dengan jam ke
T.
t = Waktu hujan dari awal sampai dengan jam ke T.
R (t – 1) = Rata-rata hujan dari awal sampai dengan jam
ke (t – 1).
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air untuk
mengalir dari suatu titik yang terjauh pada suatu daerah aliran
sampai ke titik yang ditinjau. Untuk saluran di daerah perkotaan
(urban drainage) tc adalah waktu yang diperlukan oleh air untuk
mengalir di atas permukaan tanah sampai ke saluran yang terdekat
(t1) ditambah waktu aliran air di dalam saluran (t 2) sampai ke titik
16
yang ditinjau. Rumusan waktu konsentrasinya (t c) adalah sebagai
berikut :
tc = t1 + t2
Dimana :
tc = waktu konsentrasi (menit)
t1 = waktu aliran permukaan (menit)
t2 = waktu aliran di saluran (menit)
Waktu aliran permukaan (t1)
t1 merupakan waktu yang diperlukan air dari titik terjauh untuk
mencapai saluran terdekat yang ditinjau. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi t1 antara lain :
- Intensitas hujan
- Jarak aliran
- Kemiringan saluran
- Kekasaran medan
- Kapasitas infiltrasi
Perhitungan t1 secara empiris disampaikan oleh Ozzard untuk
daerah aliran dengan panjang kurang dari 500 feet, Kerby untuk
panjang daerah pengaliran kurang dari 400 m dan oleh Kirpich
(1940). Persamaan Kirpich adalah sebagai berikut :
0 , 77
L
t1 = 0,0192
S
Dimana :
S = H/L (kemiringan)
t1 = waktu aliran permukaan (menit)
17
L = jarak terjauh aliran (meter)
H = perbedaan elevasi antara titik terjauh dengan inlet atau
titik yang ditinjau (meter)
Perhitungan t1 ditentukan berdasarkan perencanaan sistem
drainase yang ada yaitu pembagian sub-daerah drainase.
Waktu aliran di saluran (t2)
L
t2 =
V
Dimana :
t2 = waktu aliran di saluran (jam)
L = panjang saluran (m)
V = kecepatan aliran di saluran (m/dt)
Berdasarkan perumusan di atas, parameter L dapat ditentukan
secara langsung dari peta gambar 4.3. arah aliran pada segmen
sungai. Sedangkan nilai kecepatan aliran pada saluran, dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2.2
Kecepatan Aliran Air Yang Diizinkan Berdasarkan Jenis Material
Jenis Bahan Kecepatan Aliran Yang Diizinkan (m/dt)
Pasir halus 0,45
Lempung kepasiran 0,50
Lanau alluvia 0,60
Kerikil halus 0,75
Lempung kokoh 0,75
Lempung Padat 0,10
Kerikil kasar 1,20
Batu- batu besar 1,50
Pasangan batu 1,50
Beton 1,50
Beton bertulang 1,50
Sumber : SNI No. 03-3424-1994, Tata Cara Perencanaan Drainase Jalan
18
2.4. Koefisien Pengaliran
Koefisien pengaliran adalah koefisien yang menunjukkan
perbandingan antara besarnya jumlah air yang dialirkan oleh suatu
jenis permukaan terhadap jumlah air yang ada. Koefisien
pengaliran merupakan suatu variabel yang didasarkan pada kondisi
daerah pengaliran dan karakteristik hujan pada suatu daerah
(Sosrodarsono S, 1989 : 38). Harga koefisien pengaliran untuk
tiap-tiap daerah pengaliran tidak akan sama, karena tidak ada
satupun daerah yang mempunyai daerah pengaliran dan
karakteristik hujan yang sama betul. Adapun perhitungan koefisien
limpasan untuk daerah pengaliran yang terdiri dari beberapa tipe
kondisi permukaan yang mempunyai nilai koefisien yang berbeda,
harga koefisien rata-rata ditentukan berdasarkan pada persamaan :
C1. A1 C 2. A2 C 3. A3.......... ...Cn. An
C=
A1 A2 A3.......... ... An
Dimana :
C1,C2,C3,…Cn = koefisien pengaliran yang sesuai dengan tipe
kondisi permukaan.
A1,A2,A3,…As = luas daerah pengaliran yang diperhitungkan sesuai
dengan kondisi permukaan.
19
Sumber : Suhardjono. Drainase Kota. Universitas Brawijaya. Hal
23.
Besarnya nilai koefisien limpasan ( C ) sebagai berikut :
Tabel 2.3. Hubungan kondisi permukaan tanah dengan koefisien
limpasan
Kondisi Pemukaan Tanah Koefisien limpasan berdasarkan Kala
Ulang
2 5 10 25 50 100 500
Daerah berkembang :
1. Aspal 0.73 0.77 0.81 0.86 0.90 0.95 1.00
2. Beton 0.75 0.80 0.83 0.88 0.92 0.97 1.00
3. Area Rumput :
[Link] jelek (rumput
penutup 50 %)
- datar, 0-2% 0.32 0.34 0.37 0.40 0.40 0.47 0.58
- sedang, 2-7% 0.37 0.40 0.43 0.46 0.49 0.53 0.61
- curam, lebih 7% 0.40 0.43 0.45 0.49 0.52 0.55 0.62
[Link] terbuka (rumput
penutup 50 – 75 %)
- datar, 0-2% 0.25 0.28 0.30 0.34 0.37 0.41 0.53
- sedang, 2-7% 0.33 0.36 0.38 0.42 0.45 0.49 0.58
- curam, lebih 7% 0.37 0.40 0.42 0.46 0.49 0.53 0.60
[Link] baik, (rumput
penutup berkisar lebih
75 %)
- datar, 0-2% 0.21 0.23 0.25 0.29 0.32 0.36 0.49
- sedang, 2-7% 0.29 0.32 0.35 0.39 0.42 0.46 0.56
- curam, lebih 7% 0.34 0.37 0.40 0.44 0.47 0.51 0.58
Daerah tidak berkembang :
1. lahan yang ditanami
: 0.31 0.34 0.36 0.40 0.43 0.47 0.57
- datar, 0-2% 0.35 0.38 0.41 0.44 0.48 0.51 0.60
- sedang, 2-7% 0.39 0.42 0.44 0.48 0.51 0.51 0.61
- curam, lebih 7%
2. lahan ditanami berjarak: 0.25 0.28 0.30 0.34 0.37 0.41 0.53
- datar, 0-2% 0.33 0.36 0.38 0.42 0.45 0.49 0.58
- sedang, 2-7% 0.37 0.40 0.42 0.46 0.49 0.53 0.60
- curam, lebih 7%
3. Hutan 0.22 0.25 0.28 0.31 0.35 0.39 0.48
- datar, 0-2% 0.31 0.34 0.36 0.40 0.43 0.47 0.56
- sedang, 2-7% 0.35 0.39 0.41 0.45 0.48 0.52 0.58
20
- curam, lebih 7%
Sumber : Applied Hydrologi, Ven Te Chow, Civil Engineering Series
2.5. Daerah Pengaliran (Catchment Area)
Luas daerah pengaliran atau daerah tangkapan hujan dalam
perencanaan saluran drainase adalah daerah pengaliran yang
menerima curah hujan selama waktu tertentu (intensitas hujan),
sehingga menimbulkan debit limpasan yang harus ditampung oleh
saluran drainase untuk dialirkan ke saluran pembuang atau sungai.
Untuk menentukan luas daerah pengaliran, maka harus ditentukan
dahulu batas-batas daerah pengaliran dan panjang daerah
pengaliran.
2.6. Hujan Netto
Hujan netto adalah bagian hujan total yang menghasilkan
limpasan langsung (Direct run-off). Limpasan langsung ini
terdiri atas limpasan permukaan (Surface run-off) dan Interflow (air
yang masuk ke dalam lapisan tipis di bawah permukaan tanah
dengan permeabilitas rendah, yang keluar lagi di tempat yang lebih
rendah dan berubah menjadi limpasan permukaan).
Dengan menganggap bahwa proses transformasi hujan
menjadi limpasan langsung mengikuti proses linier dan tidak
berubah oleh waktu (Linier and time invariant process), maka
hujan netto (Rn) dapat dinyatakan sebagai berikut :
21
Rn = C x R
Dimana :
Rn = Hujan Netto.
C = Koefisien pengaliran.
R = Intensitas curah hujan.
2.7. Debit Banjir Rencana (Q rencana)
Debit banjir adalah volume air yang mengalir melewati suatu
penampang melintang saluran. Untuk mendapatkan besarnya
debit aliran rencana ini harus diketahui besarnya curah hujan
rencana dalam waktu konsentrasi dan faktor-faktor lain yang juga
mempengaruhi. Dalam perhitungannya, debit aliran rencana ini
memasukkan nilai-nilai dari perhitungan debit air hujan dan debit air
buangan domestik, dari rumah tangga dan fasilitas umum.
2.7.1. Debit Air Hujan
Metode yang paling umum dipakai dalam menghitung debit
rencana akibat air hujan adalah Metode Rasional. Metode ini telah
banyak dikembangkan oleh banyak pakar seperti oleh De
Weduwen, Melchior, Hasper dan Mononobe yang memberikan
perhatian pada komponen tertentu dari Rumus Rasional :
Q = 1/3.6 C . I . A
Dimana :
Q = Debit banjir maksimum (m3/dt)
C = Koefisien pengaliran atau limpasan
22
I = Intensitas curah hujan rata-rata selama waktu tiba dari
banjir (mm/jam)
A = Luas daerah pengaliran (km2)
Rumus ini dapat dipakai dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:
a. Intensitas hujan merata di seluruh daerah aliran.
b. Debit banjir dan intensitas hujan mempunyai kala ulang yang
sama.
Asumsi di atas menyebabkan rumus di atas tidak cocok untuk
digunakan pada daerah aliran yang terlalau luas. Apabila luas
daerah pengaliran lebih kecil dari 0,80 km 2 maka
Metode Rasional tersebut harus dimodifikasi dengan
memperhitungkan efek penampungan saluran. Efek penampungan
tersebut dinyatakan dalam bentuk koefisien penampungan yang
berfungsi untuk memperkecil nilai estimasi suatu daerah pengaliran
yang relatif besar. Adapun Modifikasi Metode Rasional tersebut
adalah :
Q = 0.278. Cs . C. I . A
Dimana :
Q = Debit banjir maksimum (m3/dt)
Cs = Koefisien penampungan = 2tc/(2tc + td)
tc = waktu konsentrasi (menit)
td = lama pengaliran dalam saluran (menit)
C = koefisien pengaliran
23
I = intensitas curah hujan rata-rata selama waktu tiba dari
banjir (mm/th)
A = luas daerah pengaliran (km2)
Sumber : Imam Subarkah. 1980. Hidrologi Untuk Perencanaan
Bangunan Air. Idea dharma, Bandung.
2.7.2. Debit air buangan
Air buangan merupakan air sisa atau bekas dari air yang
dimanfaatkan untuk kepentingan sehari-hari. Sumber air buangan
yang penting dalam suatu kota atau pemukiman pada umumnya
adalah :
- Air buangan domestik, dari rumah tangga dan fasilitas umum
- Air hujan
Air buangan rumah tangga diperhitungkan berdasarkan penyediaan
air minumya. Diperkirakan besarnya air buangan yang masuk ke
dalam saluran pengumpul air buangan, sebesar 90% dari kebutuhan
standar air minum. Untuk fasilitas sosial, pemerintah dan
perdagangan air buangan yang masuk ke saluran pengumpul air
buangan diperkirakan sebesar 70 – 90% dari kebutuhan air bersih.
Besarnya air buangan berbeda-beda tiap jam dalam sehari untuk
suatu tempat pelayanan. Oleh karena itu fluktuasi pengaliran air
buangan tiap jam dapat diperkirakan mempunyai grafik yang tipikal
dengan bentuk grafik pemakaian air bersih tiap jam. Pada jam-jam
dimana kegiatan pemakaian air minum memuncak, maka besarnya
debit air buangan juga memuncak. Untuk perencanaan dimensi
saluran air buangan direncanakan untuk kuantitas air buangan pada
24
waktu puncak (Q peak) dan kuantitas air buangan minimum (Q min).
Pada saat Q peak, Q rata-rata, Q min, harus dipertimbangkan
kemungkinan adanya infilttrasi yang masuk ke saluran, sehingga
saluran masih mampu menampungnya. Sedangkan pada saat Q min
ada kemungkinan kecepatan aliran manjadi lambat, sehingga :
- air buangan mengalir lambat sampai ke bangunan pengolahan
- dapat terjadi endapan pada dinding saluran
- dapat terjadi proses pembusukan dari air buangan
- Ada kemungkinan tidak tercapai ketinggian minimum yang
diinginkan.
Untuk menghitung besarnya air buangan ada beberapa formula yang
bisa digunakan :
a. Formula Babbit
1. Q peak = 5.p0.8 qm.d + [Link] + (L/1000).qinf
2. Q min = 0.2 p1.2 qr
dimana :
p = jumlah populasi yang dilayani (dalam ribuan)
qm.d = debit harian maksimum
qr = debit rata-rata air buangan
L = panjang saluran (m)
qinf = debit air yang masuk ke dalam jalur pipa yang
besarnya (1 - 3) lt/dt/100 meter
Cr = koefisien infiltrasi (0.1 – 0.3)
Cr untuk daerah :
25
- Elite = 10 %, Sedang = 20 %, Slum = 30 %
Rumus berlaku pada, 100 ≤ p ≤ 1000000
Sumber : Suhardjono, Drainase Kota, hal 32 a
b. Formula H.M. GIFT
H.M. GIFT memberikan formula yang berlaku umum tanpa
memperhatikan batas-batas besarnya populasi.
1. Q peak = 5.p5/6. qm.d + [Link] + (L/1000).qinf
2. Q min = 0.2 p7/6 qr
Sumber : IBID, hal 33
c. Formula Degremont
Q peak = p . (Q max day) + qinf
2. 5
Dimana : p = 1.5 + qm
qm = debit air buangan pada hari maksimu (lt/dt)
p = peak faktor
Perhitungan Q peak
Kebutuhan air bersih rata-rata per
hari
Dikalikan dengan faktor
maks = 1.1 – 1.25
menghasilkan
Kebutuhan air bersih maksimum
per hari
Dikalikan dengan faktor
pengaliran buangan = 0.7 –
0.9 menghasilkan
Jumlah air buangan maksimum
per hari
Dibagi dalam 24 jam
menhasilkan
Jumlah air buangan rata-rata pada
hari maksimum
Dikalikan dengan faktor p
26
menghasilkan
Q peak
Harga p akan berkurang dengan bertambahnya besar debit air
buangan. Rumus Degremont digunakan untuk air buangan yang
berasal dari rumah tangga, komersil dan industri yang termasuk
dalam kategori kecil sampai sedang.
Sumber : IBID, hal 33
2.8. Perhitungan Hidrograf Debit Banjir Rancangan
Debit banjir rancangan adalah debit maksimum yang mungkin
terjadi pada suatu daerah dengan peluang kejadian tertentu. Untuk
menghitung debit banjir rancangan digunakan satuan yang
didasarkan oleh parameter dan karakteristik daerah pengalirannya.
Hidrograf satuan adalah suatu bentuk limpasan langsung yang
diakibatkan oleh suatu volume hujan efektif yang terbagi rata dalam
ruang dan waktu . Perhitungan debit banjir rancangan
menggunakan Metode Nakayasu (Soemarto, 1993 : 141) :
Unit Hidrograf HSS. Nakayasu
Besarnya banjir yang di akibatkan satuan spesifik curah hujan
dinyatakan dengan rumus :
1 Ro
Q max = — x A x
3,6 (0,3 TP + Tо,з)
Dimana :
Q max = Debit puncak banjir (m³/detik/mm).
27
A = Luas daerah aliran (Km²).
Tp = Tenggang waktu dan permulaan hujan sampai
puncak banjir (jam)
Ro = Curah hujan satuan (mm).
Tο,з = Waktu yang diperlukan pada penurunan debit puncak
ke debit sebesar 30 % debit puncak (Jam).
Untuk menentukan Tp dan Tο,з digunakan rumus :
Tp = Tg + 0,8 Tr
Tо,з = α x Tg
Tg dihitung berdasarkan rumus :
Tg = 0,40 + 0,058 L, untuk L > 15 km.
Tg = 0,21 L 0,70, untuk L < 15 km.
Tr = Satuan waktu hujan (Jam).
α = Parameter bernilai antara 1,5 – 3,5.
0,47 (A x L) 0,25
α = —–––––––––––––
Tg
Harga α itu mempunyai kriteria sebagai berikut :
Untuk daerah pengaliran biasa, α = 2.
Untuk bagian naik hidrograf yang lembut dan bagian menurun
dengan cepat, α = 15.
Untuk bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian menurun
lambat, α = 3.
Dimana :
L = Panjang alur sungai utama terpanjang (km).
A = Luas daerah aliran sungai (km²).
28
Sumber : CD. Soemarto. 1986. Hidrologi Teknik. Usaha nasional.
Surabaya. Hal. 167 – 173.
2.9. Perencanaan Jaringan
Drainase perkotaan merupakan sistem pengeringan dan
pengaliran air dari wilayah perkotaan yang meliputi pemukiman,
kawasan industri dan perdagangan, sekolah, rumah sakit dan
fasilitas umum. Dengan demikian kriteria desain drainase perkotaan
memiliki kekhususan, sebab untuk perkotaan ada tambahan variabel
desain seperti ketertkaitan dengan tata guna lahan, master plan
drainase kota serta masalah sosial budaya (kurangnya kesadaran
masyarakat dalam ikut memelihara fungsi drainase kota).
2.9.1. Menurut letak bangunan saluran drainase dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1. drainase bawah permukaan (sub surface drainage) yaitu saluran
drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan
melalui media di bawah permukaan tanah (pipa-pipa),
dikarenakan alasan-alasan tertentu, antara lain tuntutan artistik,
fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya
saluran permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan
terbang, taman dan lain-lain.
2. Drainase permukaan tanah (surface drainage) yaitu saluran
drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi
mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa
alirannyamerupakan analisa aliran saluran terbuka.
2.9.2. Menurut Fungsi
29
Menurut fungsi saluran dapat dibedakan menjadi :
1. Single purpose yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis
air buangan, misalnya air hujan saja atau jenis air buangan yang
lain seperti limbah domestik, air limbah industri dan lain-lain.
2. Multi purpose yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa
jenis air buangan baik secara bercampur maupun secara
bergantian.
2.9.3. Menurut Konstruksi
Menurut konstruksi saluran dibedakan menjadi :
1. Saluran terbuka yaitu saluran yang lebih cocok untuk drainase air
hujan yang terletak di daerah yang mempunyai luasan yang
cukup, ataupun untuk drainase air non hujan yang tidak
membahayakan kesehatan atau mengganggu lingkungan.
2. Saluran tertutup yaitu saluran yang pada umumnya sering dipakai
untuk aliran air kotor (air yang mengganggu kesehatan atau
lingkungan) atau untuk saluran yang terletak di tengah kota.
2.9.4. Pola Jaringan Penyaluran air Buangan
Beberapa faktor yang menentukan pola jaringan penyaluran air
buangan adalah :
a. Tipe dari sistem penyaluran (terpisah atau tercampur).
b. Jaringan jalan yang telah ada.
c. Geologi dan topografi.
d. Batas-batas administrasi.
e. Lokasi dari pengolahan air buangan.
30
f. Kepadatan penduduk.
Pola-pola jaringan yang umum digunakan adalah :
a. Pola Perpendicular yaitu pola jaringan penyaluran air buangan,
yang dapat dipergunakan untuk sistem terpisah dan tercampur
dimana karena pertimbangan-pertimbangan di atas sehingga
ada kemungkinan diperlukan banyak bangunan pengolah.
b. Pola interceptor dan pola zone yaitu dipergunakan untuk sistem
tercampur.
c. Pola fan yaitu pola jaringan dengan sambungan saluran atau
cabang yang dapat lebih daripada 2 (dua) saluran menjadi satu,
menuju ke suatu pembuangan.
d. Pola radial yaitu pola jaringan yang pengalirannya menuju ke
segala arah dimulai dari tengah-tengah kota sehingga ada
kemungkinan diperlukan banyak bangunan pengolahan air
buangan.
Untuk menjamin berfungsinya suatu sistem jaringan drainase perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Pola arah aliran
Dengan melihat peta topografi kita dapat menentukan arah
aliran yang merupakan sistem drainase natural yang terbentuk
secara alamiah, dan dapat mengetahui toleransi lamanya
genangan dari daerah rencana.
2. Situasi dan kondisi fisik kota
31
Informasi situasi dan kondisi fisik kota baik yang ada
(eksisting) maupun yang sedang direncanakan perlu diketahui,
antara lain yaitu sistem jaringan yang ada (drainase, air minum,
telephon dan listrik).
2.10. Analisis Hidraulika Sebagai Batasan Yang Digunakan Dalam
Perencanaan
2.10.1. Kapasitas Saluran ataupun Sungai
Penampang saluran direncanakan berpenampang trapesium dan
dihitung berdasarkan rumus :
MA
m
h
I
Gambar 1. Penampang Sungai
Q =AV
A = (B + mh) h
P B 2h m 2 1
2 1
1
V . R 3 .S 2
n
A
R
P
Dimana :
Q = Debit rencana ( m3 / det )
A = Luas penampang basah saluran ( m )
32
P = Keliling basah penampang saluran ( m )
m = Kemiringan talud saluran
R = Jari – jari hidrolis ( m )
B = Lebar dasar saluran
Untuk menentukan perbandingan lebar saluran (b) dan tinggi
muka air (h) berdasarkan besarnya debit rencana, seperti terlihat
pada tabel berikut ini :
Tabel 2.5.
Perbandingan antara lebar saluran (b) dan tinggi muka air (h)
berdasarkan besarnya debit rencana
No Debit (m3/dt) b:h
1 0.0 0 – 00.15 1 : 1.0
2 00.15 – 00.30 1 : 1.0
3 00.30 – 00.40 1 : 1,5
4 00.40 – 00.50 1 : 1,5
5 00.50 – 00.75 1 : 2,0
6 00.75 – 01.50 1 : 2,0
7 01.50 – 03.00 1 : 2,5
8 03.00 – 04.50 1 : 3,0
9 04.50 – 07.50 1 : 3,5
10 07.50 – 09.00 1 : 4,5
11 09.00 – 11.00 1 : 5,0
12 11.00 – 15.00 1 : 6,0
13 40.00 – 80.00 1 : 12.0
Sumber : Pedoman Perencanaan Teknik Irigasi, DPU, Dirjen
Pengairan, 1980 : V – 1.
2.10.2. Kecepatan Aliran
Kecepatan aliran di saluran ditentukan dengan menggunakan rumus
2 1
1
tetapan Manning yaitu V . R 3 .S 2
n
Dimana : V = Kecepatan aliran ( m / det )
R = Jari – jari hidrolis ( m )
33
I = Kemiringan saluran ( energi )
n = Koefisien kekasaran manning Sedangkan nilai
kecepatan aliran pada saluran, dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2.6
Kecepatan Aliran Air Yang Diizinkan Berdasarkan Jenis Material
Jenis Bahan Kecepatan Aliran Yang Diizinkan (m/dt)
Pasir halus 0,45
Lempung kepasiran 0,50
Lanau alluvia 0,60
Kerikil halus 0,75
Lempung kokoh 0,75
Lempung Padat 0,10
Kerikil kasar 1,20
Batu- batu besar 1,50
Pasangan batu 1,50
Beton 1,50
Beton bertulang 1,50
Sumber : SNI No. 03-3424-1994, Tata Cara Perencanaan Drainase Jalan
2.10.3. Kemiringan dinding saluran (m atau z)
Kemiringan dinding saluran ditentukan berdasarkan bahan
pembentuk saluran. Berikut ini diberikan tabel kemiringan dinding
saluran berdasar jenis material.
Tabel 2.7.
Kemiringan dinding saluran berdasar jenis material
No Jenis material Kemiringan talud
1 Cadas Hampir vertikal
2 Tanah lumpur dan gambut 1/4 : 1
3 Lempung keras atau tanah ½ : 1 sampai 1 : 1
dengan lapisan penguat dari
beton
4 Tanah dengan lapisan batu atau 1:1
tanah untuk saluran yang besar
34
5 Lempung atau tanah untuk 11/2 : 1
selokan-selokan kecil
6 Tanah berpasir lepas 2:1
7 Lumpur berpasir atau lumpur 3:1
porous
Sumber : Ven Te Chow, Hidrolika Saluran Terbuka, 1989.
2.10.4. Tinggi Jagaan ( Free – board )
Fungsi tinggi jagaan dipergunakan untuk menaikkan muka
air di atas tinggi muka air maksimum yang direncanakan, dan juga
untuk mencegah adanya kerusakan tanggul saluran. Akibat
meningginya muka air sampai di atas tinggi yang telah
direncanakan. Disamping itu adanya air buangan yang masuk ke
dalam saluran. Besarnya tinggi jagaan minimum yang diberikan
pada saluran dikaitkan dengan debit rencana saluran adalah
sebagai berikut :
Tabel 2.8. Tinggi Jagaan
Debit rencana (m3/dt) Tinggi jagaan (m)
< 0.50 0.40
0.50 - 1.50 0.50
1.50 - 5.00 0.60
5.00 - 10.00 0.75
10.00 - 15.00 0.85
> 15.00 1.00
Sumber: Kriteria Perencanaan Saluran KP – 03,
Desember 1986
2.10.5. Lebar Tanggul
Lebar tanggul saluran diperhitungkan untuk keperluan operasi,
pemeliharaan serta inspeksi bila diperlukan. Berdasarkan
ketentuan dalam buku pedoman standart perencanaan saluran
KP – 03 adalah sebagai berikut :
Tabel 2.9. Lebar tanggul
35
Debit rencana Tanpa jalan Dengan jalan
(m3/dt) Inspeksi (m) Inspeksi (m)
< 0.50 1.00 3.00
1.00 - 5.00 1.50 5.00
5.00 - 10.00 2.00 5.00
10.00 - 15.00 3.50 5.00
> 15.00 3.50 5.00
Sumber : Kriteria Perencanaan Saluran KP – 03,
Desember 1986
2.10.6. Perhitungan Analisa Profil Aliran Dengan Paket
Program HEC-RAS
HEC-RAS dapat dipergunakan untuk menganalisa profil muka air
pada aliran tunak baik di saluran alami maupun di saluran buatan.
HEC-RAS menggunakan Metode Tahapan Standar dalam proses
perhitungannya. Dengan parameter hidrauliknya dihitung untuk
masing-masing penampang. Dengan persamaan energinya adalah
sebagi berikut :
vt2 v2
z1 h1 a1 z2 h2 a2 2 he
2g 2g
Dimana :
z = ketinggian dari datum (m)
h = kedalaman air (m)
a = α = koefisien distribusi kecepatan
V = kecepatan rerata (m/dt)
g = percepatan gravitasi (m2/dt)
he = kehilangan tinggi total (m)
a1 V12 he
Kemiringan garis energi
2g
a 2 V 22
2g
Dasar Saluran
Z1
36
…………………….
Gambar 2. Garis Energi
Sumber : Soewarno. 1991. Hidrologi (Pengukuran dan Pengolahan
Data Aliran Sungai/Hirometri). Nova bandung. Hal. 13 –
15.
2.10.7. Kehilangan tinggi energi
Geometri sungai ditentukan oleh panjang melintang dan
panjang jangkauan. Pendekatan yang digunakan untuk
menghitung distribusi aliran pada penampang melintang sungai
adalah sungai tersebut dibagi menjadi potongan-potongan yang
memiliki persamaan hidraulik pada aliran langsung. Kehilangan
tinggi energi pada penampang sungai diakibatkan oleh gesekan
dan perubahan penampang. Kehilangan akibat gesekan dihitung
dengan menggunakan persamaan : (anonim, 1993:9, John A.K) :
2
Q
hf
K1
A
2 A1 R 2 R1
2
3
j
1.49 2 2
K1
1
n j
j 1 Lj2
Dimana :
A1,A2 = luas penampang hulu dan hilir (m2)
J = total jumlah sub bagian setiap penampang melintang
Kt = panjang pengangkutan aliran tiap sub bagian
37
LJ = jarak antar sub bagian (m)
n = koefisien kekasaran Manning
Q = debit aliran (m3/dt)
R1,R2 = jarak hidrolis hulu dan hilir berturut-turut (m)
Adapun kehilangan tinggi energi akibat perubahan penampang
terdiridari dua yaitu akibat kontraksi dan ekspansi. Kontraksi dan
ekspansi terjadi akibat back water yang disebabkan perubahan
penampang, atau perubahan kemiringan dasar saluran yang sangat
curam sekali. Kehilangan tinggi energi akibat kontraksi dan ekspansi
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut
(anonim, 1993:9, John A.K) :
a2 V22 a1 V12
ho CL
2g 2g
Dimana :
CL = koefisien akibat kehilangan tinggi kontraksi dan ekspansi
Program ini akan mengasumsi, kontraksi terjadi jika tinggi kecepatan di
hilir lebih besar dari tinggi kecepatan di hulu dan ekspansi terjadi pada
kondisi sebaliknya.
2.10.8. Pengangkutan aliran
Penentuan pengangkutan aliran total dan koefisien kecepatan
untuk suatu penampang melintang mengharuskan aliran dibagi
menjadi bagian-bagian dimana kecepatan tersebut akan didistribusikan
secara merata. Pendekatan yang digunakan dalam program ini adalah
membagi aliran di daerah pinggir sungai dengan menggunakan nilai
kekasaran n sebagai dasar pembagian penampang melintang.
38
Pengangkutan aliran KJ dihitung berdasarkan persamaan sebagai
berikut :
2
1.49
Kj A j R j3 ……………. (dalam satuan Inggris)
nj
2
1
Kj A j R j3 ………………(dalam satuan Metrik)
nj
Dimana :
KJ = pengangkutan tiap bagian
n = koefisien kekasaran Manning tiap bagian
Aj = daerah aliran tiap bagian
RJ = Jari-jari hidrolis tiap bagian
Program akan menjumlahkan penambahan pengangkutan di
daerah pinggir sungai untuk mendapatkan pengangkutan di daerah
samping kiri dan kanan. Pengangkutan di bagian utama saluran
dihitung sebagai elemen pengangkutan tunggal. Pengangkutan
total pada penampang melintang didapatkan dengan
menjumlahkan pengangkutan di tiga bagian (kiri, tengah dan
kanan).
nss
K1 =
j 1
K1 ….
Dengan nss adalah jumlah sub bagian pada suatu penampang
melintang sungai.
2.10.9. Koefisien kekasaran
Aliran dalam suatu penampang melintang tidak dibagi menjadi
beberapa sub bagian, kecuali terjadi perubahan dalam area saluran
39
utama dan program akan menerapkannya dalam perhitungan pada
penampang melintang. Jika tidak dapat diterapkan, maka program
akan menghitung satu nilai n kekasaran untuk seluruh bagian saluran.
Untuk perhitungan n komposit, saluran utama dibagi menjadi n bagian,
dimana setiap sub bagian diketahui parameter keliling basah P i dan
koefisien kekasarannya ni . (anonim, 2001 : II – 6) :
2
P n
N 3
1,5
i i
nc i 1
Dimana :
nc : koefisien kekasaran komposit
P : parameter basah untuk saluran
Pi : parameter basah untuk sub bagian ke-i
ni : koefisien kekasaran untuk sub bagian ke-i
2.10.10. Geometri Data
Data utama yang dibutuhkan pada suatu sistem sungai adalah
data potongan melintang sungai, panjang antar potongan melintang
(panjang jangkauan), koefisien kehilangan energi dan data
percabangan sungai.
2.10.11. Skema Sistem Sungai
Skema sungai menggambarkan berbagai variasi jangkauan
sungai yang saling berhubungan. Pada program ini, skema sistem
sungai merupakan data awal yang dibutuhkan sebelum data lain
dimasukkan. Setiap penampang sungai pada sistem skema sungai
40
diberi nama stasiun sebagai identifikasi yang dapat berupa nama
sungai, dan nomor stasiun dimana penampang melintang itu berada.
2.10.12. Geometri Potongan Melintang
Batas geometri pada analisa aliran sungai alami adalah profil
muka tanah (potongan melintang) dan jarak antar potongan melintang.
Data penampang melintang digambarkan berupa titik-titik koordinat
yang merupakan stasiun dan elevasi dari kiri ke kanan secara berurutan
dan sistematis dari daerah hulu menuju hilir. Data lain yang dibutuhkan
pada suatu penampang adalah : panjang jangkauan sampai daerah hilir,
koefisien kekasaran dan koefisien kontraksi dan ekspansi.
2.10.13. Jarak Jangkauan
Ukuran jarak antara potongan melintang diberikan dengan jarak
jangkauan. Jarak jangkauan antar potongan melintang untuk saluran
kiri, saluran utama dan saluran kanan memiliki jarak yang sama
pada sungai yang lurus. Namun ada beberapa kondisi dimana ketiga
saluran ini memiliki jarak yang berbeda misalnya pada belokan sungai.
2.10.14. Data Aliran Tetap (Steady Flow)
Data aliran ini diberikan untuk menampilkan perhitungan profil
muka air. Data aliran ini terdiri dari : regim aliran, kondisi batas dan
informasi debit puncak.
1. Regim Aliran
41
Perhitungan profil dimulai dari potongan melintang yang
diketahui elevasinya atau dimulai dari kondisi yang diasumsi yaitu
dimulai dari bagian hulu untuk aliran subkritis atau daerah hilir untuk
daerah superkritis. Pada kasus dimana regim aliran subkritis menuju
aliran superkritis atau sebaliknya, maka program akan menghitung
dalam bentuk regim aliran campuran (mixed flow regime).
2. Kondisi Batas
Kondisi batas diperlukan untuk menetapkan permukaan air
pada akhir dari sistem sungai (bagian hulu dan hilir). Pada regim
aliran subkritis, kondisi batas yang diperlukan adalah pada akhir dari
bagian hilir sistem sungai. Sedangkan untuk aliran superkritis,
kondisi batas diperlukan pada akhir dari bagian hulu dari sistem
sungai.
Terdapat empat (4) macam kondisi batas :
1. Elevasi muka air yang diketahui
Kondisi batasnya merupakan elevasi muka air yang diketahui
untuk setiap potongan melintang yang akan dihitung.
2. Kedalaman kritis
Jika kondisi batas ini yang dipilih maka komputer sendiri yang
akan menghitung kedalam kritis untuk setiap potongan
melintang dan akan menggunakannya sebagai kondisi batas.
3. Kedalaman normal
42
Untuk tipe kondisi batas ini, harus diketahui energi kemiringan
yang akan digunakan pada perhitungan kedalaman kritis
(menggunakan persamaan Manning). Pada umumnya energi
kemiringan didapat dengan pendekatan rata-rata kemiringan
saluran atau rata-rata kemiringan muka air pada potongan
penampang melintang.
4. Rating kurva
Kondisi batas yang digunakan adalah kurva hubungan antara
debit dan elevasi. Untuk setiap penampang melintang, elevasi
diperoleh dengan cara menginterpolasi dari rating kurva dengan
memasukkan besarnya debit.
5. Informasi Debit.
Informasi debit digunakan untuk menghitung profil
muka air. Data debit yang dimasukkan mulai dari daerah hulu
sampai daerah hilir untuk setiap jangkauan. Nilai debit yang
dimasukkan pada bagian hulu, diasumsikan akan konstan untuk
penampang berikutnya kecuali nilai debit berubah untuk
penampang tertentu.
2.10.15. Data Aliran Tak Tetap (Unsteady Flow)
Data aliran ini diberikan untuk menampilkan perhitungan
profil muka air. Data aliran tak tetap ini terdiri dari : Kondisi Batas
(boundary conditions) dan Kondisi Awal (initial conditions).
1. Kondisi batas ( Boundary Conditions)
43
Kondisi batas diperlukan untuk menetapkan permukaan
air pada akhir dari sistem sungai (bagian hulu dan hilir). Terdapat
beberapa macam kondisi batas yang akan digunakan dalam
analisa ini yaitu :
1. Flow Hydrograph
Kondisi batas ini dapat digunakan untuk dua (2) kondisi yaitu
baik kondisi batas hulu maupun kondisi batas hilir, akan tetapi
biasanya digunakan untuk kondisi batas hulu. Data yang
dimasukkan berupa data debit.
2. Stage Hydrograph
Kondisi batas ini dapat digunakan untuk dua (2) kondisi yaitu
baik kondisi batas hulu maupun kondisi batas hilir. Data yang
dimasukkan adalah data tinggi muka air.
3. Lateral Inflow Hydrograph
Hydrograf aliran lateral digunakan untuk kondisi batas internal.
Kondisi batas ini dapat digunakan sebagai informasi adanya
perubahan debit pada titik tertentu, yaitu dengan memasukkan
hidrograf aliran lateral tepat pada bagian hulu sebelum aliran
masuk.
2. Kondisi awal (Initial condition)
Sebagai tambahan untuk kondisi batas, kita harus
menetapkan suatu kondisi awal dari sistem pada saat akan
memulai simulasi perhitungan unsteady flow. Kondisi awal terdiri
44
atas informasi data aliran dan dalam versi ini kita hanya perlu
memasukkan satu aliran untuk semua reach (jangkauan).
2.11. Sistem Pengendalian Banjir
Banjir merupakan peristiwa alam yang dapat menimbulkan
kerugian harta, benda, penduduk serta dapat pula menimbulkan
korban jiwa. Pengurangan kerugian akibat banjir yang mencakup
metode-metode untuk melawan pengaruh air yang berlebihan di
dalan sungai atau daerah aliran sungai disebut pengendalian banjir
(flood control).
Dari uraian di atas, bentuk penanganan atau pengendalian banjir
yang dilakukan adalah :
1. Perbaikan alur sungai (normalisasi sungai) dengan tujuan untuk
menurunkan muka air banjir.
2. Atau Pemanfaatan retarding basin (boezem) untuk tampungan
banjir sementara, dimana boezem ini sebagai pengganti rawa
yang tadinya berfungsi sebagai parkir air sementara dan
sekarang telah berubah fungsi menjadi pemukiman.
3. Pengurangan puncak banjir dengan waduk.
4. Pengurangan aliran dalam suatu alur yang ditetapkan dengan
tanggul, tembok banjir atau suatu aliran tertutup.
5. Penurunan permukaan banjir dengan perbaikan alur yang
dikenal dengan istilah normalisasi.
6. Pengaliran air banjir melalui saluran banjir (floodway) ke dalam
alur sungai lain bahkan DAS lain
45
2.12. Normalisasi Sungai
Normalisasi sungai terutama di bagian hulu sungai atau
pada bagian sungai yang diidentifikasi mengalami kerusakan pada
alurnya. Ada 2 (dua) pekerjaan dalam penanganan ini yaitu :
pembuatan tanggul-tanggul sungai dan saluran, dalam hal ini
dengan melakukan pelebaran bentuk penampang Sungai Sempaja
dengan merencanakan geometrik penampang salurannya
berbentuk trapesium.
1. Perbaikan Alur Sungai
Perencanaan perbaikan alur sungai adalah untuk menetapkan
beberapa karakteristik alur sungai yaitu formasi trase alur
sungai, formasi penampangan sungai (lebar rencana sungai,
bentuk rencana penampangan sungai) dan kemiringan
memanjang.
2. Debit banjir rencana
Debit banjir (Qo ) dapat dihitung dengan berbagai metode yang
ada. Selanjutnya untuk memperoleh debit banjir rencana (Q p,
maka debit banjir hasil perhitungan ditambah dengan
kandungan sedimen yang terdapat dalam aliran banjir sebesar
10%, dan besarnya air buangan domestik. Sehingga diperoleh
hasil sebagai berikut:
Qp = 1,[Link]
Dalam perhitungan tersebut, kecepatan aliran banjir dianggap
konstan, walaupun konsentrasi sedimennya tinggi.
46
Dimensi penampang melintang didasarkan atas besarnya debit
banjir maksimum yang direncanakan. Bentuk penampang
sungai yang dipakai adalah penampang berbentuk trapesium,
karena mudah dalam pelaksanaannya juga akan memberikan
efisiensi yang cukup tinggi dalam mengalirkan debit.
3. Lebar Rencana Sungai
Seandainya lebar sungai diperkecil, maka akan lebih besar
kemungkinan terjadinya limpasan atau jebolnya tanggul, karena
daya tampung sungai akan berkurang. Di samping itu
kemungkinan dapat terjadi penurunan dasar sungai yang
membahayakan pondasi bangunan–bangunan sungai,
mengingat sungai yang semakin dalam akan mempunyai gaya
tarik yang semakin besar. Sebaliknya apabila lebar sungai
diperbesar, maka lintasan aliran sungai semakin tidak teratur,
sehingga lintasa aliran banjir tidak dapat dipastikan. Berdasrkan
hal-hal tersebut diatas, maka penentuan lebar rencana sungai
adalah merupakan salah satu tahap perencanaan perbaikan
dan pengaturan sungai yang paling penting.
Guna lebih memudahkan penentuan lebar rencananya,
biasanya lebar sungai diambil dengan dasar penampang
sungai yang paling optimum yaitu B = 2h.
(Sosrodarsono, 1985:329) .
4. Kemiringan memanjang.
47
Sebaliknya kemiringan dasar sungai di daerah kipas
pengendapan tidak perlu dirubah. Kalaupun harus diadakan
perubahan seyogyanya tidak dilaksanakan secara drastis, tetapi
sedikit demi sedikit. Selanjutnya apabila secara mendadak
kemiringan dasar sungai menjadi lebih landai, maka pada titik
transisinya terjadi proses pengendapan dan tentulahakan diikuti
dengan penyempitan penampang basah sungai serta di waktu
banjir dapat terjadi luapan-luapan yang dapat menimbulkan
genangan-genangan di sekitar lokasi tersebut. Dan berhubung
pengendapan-pengendapan terus berlangsung serta bergerak
ke arah hulu, maka daerah-daerah yang terlanda luapan dan
genangan akan semakin meluas.
2.13. Boezem (Retarding Basin)
Boezem atau retarding basin dalam hal ini diirencanakan untuk
Perbaikan lingkungan, disini merupakan suatu usaha yang
bertujuan untuk memaksimalkan daerah resapan air di dalam DAS.
Boezem disebut juga retarding basin atau penampung sementara.
Adapun besarnya volume air yang harus ditampung jika terjadi
kondisi ekstrim adalah dengan jalan menghitung volume air banjir
ditambah aliran sedimen yang besarnya 10% dari debit banjir,
ditambah dengan volume air buangan dikurangi dengan kapasitas
tampungan sungai yang sudah dinormalisasi.
Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan boezem yaitu antara lain :
48
1. Mengenai letak boezem, pada studi ini rencananya boezem
diletakan pada percabangan saluran yang padat.
2. Boezem diletakkan di bagian hilir sendiri atau dekat dengan
outlet, apabila berfungsi sebagai tampungan sementara.
3. Untuk mengetahui kapasitas maupun dimensi dari boezem
bisa diketahui dari debit banjir rencana. Agar kapasitas dari
boezem bisa optimal maka sebaiknya dipilih lokasi pada
daerah yang memiliki ruang bebas.
2.13.1. Perencanaan panjang mercu inlet boezem
Inlet pada boezem direncanakan dengan menggunakan
mercu atau ambang pelimpah. Hal ini dimaksudkan agar dapat
mengurangi sedimen yang masuk ke dalam boezem, sehingga
sedimen secara alamiah berada pada sungai dan sebagian
terbawa ke muara laut menjadi delta. Fungsi yang utama adalah
sebagai pengatur masuknya aliran yang akan dibuang ke sungai
melalui pintu outlet yang ada di boezem. Bangunan ini dapat
dengan mudah dibuat ditepi saluran atau sunga, sehingga disebut
pelimpah samping. Bangunan pelimpah harus direncana untuk
tinggi muka air maksimum tertentu di saluran yang akan dilindungi,
ditambah dengan debit maksimum yang dapat dilimpahkan. Tinggi
muka air yang merupakan dasar kerja bangunan pelimpah adalah
faktor yang sudah tertentu di dalam [Link] di saluran
pelimpah samping tidak seragam dan, oleh karena itu persamaan
kontimyuitas untuk aliran mantap yang kontinyu tidak berlaku..
49
Janis aliran demikian disebut aliran tak tetap berubah berangsur
(gradually varied flow).
Keterangan : Side channel spillway (pelimpah samping)
Bangunan pelimpah dengan saluran samping atau sisi merupakan
suatu kontrol bendung yang ditempatkan ditepi atau sisi bendung
yang hampir sejajar dengan bagian atas saluran pengaliran
spillway. Suatu konstruksi bendung atau spillway dapat dibuat
melintang pada saluran pengaliran untuk mendapatkan stilling
basin di bawah pelimpah guna memecahkan energi. Aliran air yng
melimpah lewat mercu jatuh pada ujung side channel bagian atas
yang lebih sempit. Selanjutnya air mengalir lewat saluran
pembuang utama menuju hilir (stilling basin bagian bawah).
Karakteristik pengaliran pada side channel spillway sebenarnya
sebangun dengan tipe ogee, tergantung dari profil ambang atau
mercu yang dipilih. Aliran debit maksimum dari side channel akan
berbeda dengan spillway tipe ogee karena aliran air akan terendam
oleh suatu konstruksi bak atau kolam penerima baru dari bak
penampung berupa saluran terbuka, tertutup atau terowongan
miring. Jika diingini ambang atau kontrol bendung panjang karena
terbatasnya tinggi muka air dan adanya tebing yang terjal atau jika
kontrol bendung ini harus dihubungkan dengan saluran pengaliran
yang sempit atau terowongan, maka dalam hal yang demikian ini
pemilihan side channel spillway merupakan alternatif yang terbaik.
50
Saluran
cabang
Aliran
Saluran utama
Gambar 2.1. Bendung samping pada saluran cabang
Besarnya debit air banjir yang melimpah di atas mercu
penyadap dapat diperoleh dengan formula sebagai berikut
(Sosrodarsono 1994 : 119) :
Jika h1 > h
Maka Q = 1,77 x L. h3/2
Jika h1 < h
Maka Q = 0,89 x L. h1/2 (3h-h1)
Dimana :
Q = debit penyadapan (m3/dt)
h = kedalaman air di atas mercu penyadap (m)
h1 = perbedaan elevasi permukaan air disebelah hulu dan
hilir (m)
L = lebar mercu(m)
H
51
Gambar 2.2. Sketsa Mercu Penyadap Banjir
Ada dua metode perencanaan pelimpah samping yang
umum dsigunakan yaitu Metode Bilangan dan Metode Grafik.
Berikut ini diberikan penjelasan tentang Metode Bilangan yang
telah dikembangkan oleh De Marchi sebagai berikut. Berikut ini
diberikan gambar sketsa inlet boezem.
Keterangan :
Metode Bilangan
Metode ini didasarkan pada pemecahan masalah secara analisis
yang diberikan oleh De Marchi. Dengan mengandaikan bahwa aliran
adalah subkritis, panjang bangunan pelimpah dapat dihitung sebagai
berikut :
1. Di dekat ujung bangunan pelimpah, kedalaman aliran h 0 dan debit
Q0 sama dengan kedalaman dan debit potongan saluran di
belakang pelimpah. Dengan H0 = h0 + v02/2g tinggi energi di ujung
pelimpah dapat dihitung.
garis energi
H v2/2g Ho
h c h x ho h c
52
kemiringan dasar
x o
∆x B
Gambar 2.2.a. Sketsa definisi untuk saluran dengan pelimpah
samping
2. Pada jarak ∆x di ujung hulu dan hilir bangunan pelimpah tinggi
energi juga H0, karena sudah diandaikan bahwa tinggi energi di
sepanjang pelimpah adalah konstan.
Hx = hx + vx2/2g
= hx + Qx2/2g Ax2
dimana Qx adalah debit Q0 potongan hilir ditambah debit q x, yang
mengalir pada potongan pelimpah dengan panjang ∆x.
( h0 c) (hx c)3 / 2
qx = μ∆x 2g
2
Andaikan H0 = hx menghasilkan qx = μ∆x 2 g ( h0 c )3 / 2
dan Qx = Q0 + q dengan Qx ini kedalaman hx dapat dihitung dari
hx = Hx – Qx2/2g Ax2
Koefisien debit μ untuk mercu pelimpah harus diambil 5% lebih
kecil daripada koefisien serupa untuk mercu yang tegak lurus
terhadap aliran.
3. Setelah hx dan Qx ditentukan, kedalaman air h2x dan debit Q2x akan
dihitung untuk suatu potongan pada jarak 2∆x di depan ujung
pelimpah dengan cara yang sama seperti yang dijelaskan pada
nomor dua (2). Q0 dan h0 harus digantikan dengan Qx dan hx,
dalam langkah kedua ini Qx dan hx menjadi Q2x,, q2x dan h2x.
53
4. Perhitungan-perhitungan ini harus diteruskan sampai Q nx sama
dengan debit banjir rencana potongan saluran dibagian hulu
bangunan pelimpah samping. Panjang pelimpah adalah n∆x dan
jumlah air lebih yang akan dilimpahkan adalah Q nx – Q0.
2.13.2. Perencanaan kapasitas tampungan
Penentuan kapasitas tampungan boezem atau tampungan
sementara harus menghitung tampungan yang terjadi pada tiap
jam. Tampungan tiap jam akan dipengaruhi oleh inflow dan outflow.
Rencana boezem dibuat sederhana saja, dengan penampang
persegi. Rumus yang digunakan untuk menghitung volume
tampungan adalah sebagai berikut (Soemarto 1986 : 176) :
Qi = Qt+1 - Qs
Dimana :
Qi+1 = debit inflow pada periode awal (m3/dt)
Qt+1 = Debit puncak banjir pada periode awal (m 3/dt)
Qs = Debit sungai normalisasi (m3/dt)
Volume tampungan boezem dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Qi Qi 1
V = .∆t
2
Dimana :
V = Volume inflow debit yang masuk ke boezem (m 3/dt)
Qi = Debit inflow pada periode awal (m3/dt)
Q inflow =Qbanjir - Q normalisasi
54
Qi+t = Debit inflow pada periode selanjutnya (m 3/dt)
∆t = periode waktu (detik)
Volume kumulatif yang akan ditampung oleh Boezem (volume
kumulatif ini merupakan kapasitas tampungan Boezem).
in
Qi Qi 1
V =
11 2
.t
Dimana :
V = Volume inflow debit yang masuk ke boezem (m 3/dt)
Qi = Jumlah debit inflow pada periode awal (m 3/dt)
Q inflow =Qbanjir - Q normalisasi
Qi+t = Jumlah debit inflow pada periode selanjutnya (m 3/dt)
∆t = Periode waktu (detik)
2.14. Pintu Otomatis
Pintu otomatis digunakan untuk mengatur proses
pembuangan air pada boezem, yang diletakkan di bagian hilir
boezem. Adapun pertimbangan dibuatnya pintu otomatis tersebut
adalah :
- Untuk mengatur keluar masuknya air akibat pengaruh pasang
surut (air balik), dimana hal ini tidak bisa dihindari karena
elevasi daratan relatif lebih rendah dibandingkan dengan elevasi
pasang surut air Sungai karang Mumus.
- Pintu dirancang dapat bekerja secara otomatis (tidak
membutuhkan operator). Hal ini lebih menguntungkan jika
dibandingkan dengan pintu biasa, karena pengoperasian pintu
55
biasa relatif sulit karena penambahan debit yang tidak menentu
akibat pengaruh fluktuasi muka air laut.
- Dasar pertimbangan yang utama dalam pemilihan tipe pintu,
ekonomis, dengan penerapan teknologi tepat guna untuk
mendapatkan pelayanan yang optimal, dalam artian dapat
berfungsi sebagaimana mestinya. Pintu klep otomatis
merupakan pintu yang cocok untuk daerah pasang surut,
mengingat tipe pintu ini memanfaatkan perbedaan tinggi muka
air di hulu dan hilir pintu. Selain itu konstruksi yang ringan
sehingga tidak perlu pondasi yang dalam sampai lapisan keras.
2.14.1. Hidrolika Pintu Klep Otomatis (Prinsip Kerja Pintu)
Pintu klep otomatis direncanakan dapat bekerja dengan
memanfaatkan beda tinggi muka air di hilir dan hulu pintu.
Sebagai dasar dari perencaan pintu klep otomatis adalah
(Nursyirwan, 1990:33) :
- Hilir : fluktuasi muka air akibat pengaruh pasang surut
- Hulu : a. tinggi muka air terendah yang masih boleh ada
b. tinggi muka air di saluran yang tertinggi
sistim gerakan pintu klep otomatis berdasarkan gaya-gaya yang
bekerja pada pintu yang menyebabkan pintu membuka dan
menutup sesuai fluktuasi. Pada gambar 2.6. (titik a) tinggi
muka air di hilir dan hulu sama tinggi. Bila tinggi muka air di hilir
turun terus akan mengakibatkan pintu klep otomatis secara
56
lambat laun akan terbuka, dan air di boezem akan mengalir,
akibatnya tinggi muka air pada boezem akan turun.
Apabila tinggi muka air naik sampai titik b maka pintu akan
segera tertutup dan air pada boezem akan tertahan sebagai
genangan atau tampungan sementara. Demikian seterusnya
sampai tinggi muka air di hulu dan di hilir pintu akan bertemu di
titik c dan kembali pintu akan terbuka.
MAT
A C
MAR
MART
Pengeluaran Tampungan
Gambar 2.6. Sistim operasi pintu klep otomatis
Keterangan :
MAT : muka air tertinggi di hilir pintu
MAR : muka air rata-rata di hilir pintu
MART : muka air terendah di hilir pintu
57
2.14.2. Urutan cara bekerjanya pintu air
Urutan cara bekerjanya pintu air adalah sebagai berikut (dimulai
pada saat pintu air otomatis dalam keadaan tertutup). Yaitu :
1. Pintu air akan terbuka penuh segera setelah air permukaan
yang ada di bagian downstream (hilir) lebih rendah dari air
permukaan yang ada di bagian upstream (hulu).
2. Pintu air otomatis tadi tetap akan terbuka sementara aliran air ke
arah downstream (hilir) sungai, yaitu pada waktu air mengalir ke
luar ke arah laut.
3. Apabila aliran air pasang ke arah upstream (hulu), yaitu
masuknya air pasang ke dalam sungai maka pintu air tersebut
akan segera tertutup.
4. Pintu air otomatis tersebut akan tetap tertutup sampai kondisi air
sungai kembali pada kondisi pada butir (1) di atas.
2.15. Geographical Information System (GIS)
Untuk mendapatkan informasi yang lebih detail tentang
lokasi studi sebaiknya digunakan bantuan GIS (Geographics
Information System). Diharapkan GIS mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pengambilan
keputusan geografi, seperti :
- pertanyaan lokasional mengenai apa yang terdapat pada lokasi
tertentu
58
- lokasi apa yang mendukung untuk kondisi atau fenomena
tertentu
- identifikasi kecenderungan atau peristiwa yang terjadi
- analisis hubungan keruangan antar objek dalam kenampakan
geografis
- model seperti kecocokan lahan, resiko terhadap bencana, dll.
Data dalam GIS dibagi dalam 2 (dua) bentuk, yakni :
1. geographical (data spasial) adalah data yang terdiri atas lokasi
eksplisit suatu geografi yang diset ke dalam bentuk koordinat.
Sumber-sumber data spasial termasuk kertas peta, diagram
dan scan suatu gambar atau bentuk digitalnya ke dalam sistem.
File-file digital bisa diimpor dari CAD (Auto cad).
2. data attribut (data aspasial) adalah gambaran data yang terdiri
atas informasi yang relevan terhadap suatu lokasi, seperti
kedalaman, ketinggian, lokasi tertentu dengan maksud untuk
memberikan identifikasi, seperti alamat, kode pin.
Geographical information system sebenarnya adalah akronim dari :
- Geography
Istilah ini digunakan karena GIS dibangun berdasarkan pada
geografi atau spasial. Objek ini mengarah pada spesifikasi
lokasi dalam suatu space. Objek bisa berupa fisik, budaya atau
ekonomi alamiah. Penampakan tersebut ditampilkan pada
suatu peta untuk memberikan gambaran yang representatif dari
spasial suatu objek sesuai dengan kenyataanya di bumi.
59
Simbol, warna dan gaya garis digunakan untuk mewakili setiap
spasial yang berbeda pada peta dua dimensional. Saat ini
teknologi komputer telah mampu membantu proses pemetaan
melalui pengembangan dari automated cartography (pembuatan
peta) dan Computer Aided Design (CAD).
- Information
Informasi berasal dari pengolahan sejumlah data. Dalam GIS
informasi memiliki volume terbesar. Setiap objek geografi
memiliki setting data tersendiri karena tidak sepenuhnya data
yang ada dapat terwakili dalam peta, jadi semua data harus
diasosiasikan dengan objek spasial yang dapat membuat peta
menjadi intelligent. Ketika data tersebut diasosiasikan dengan
permukaan geografi yang representatif, data tersebut mampu
memberikan informasi dengan hanya mengklik mouse pada
objek. Namun perlu diingat bahwa semua informasi adalah
data, tetapi tidak semua adata adalah informasi.
- System
Pengertian suatu system adalah kumpulan elemen-elemen yang
saling berintegrasi dan berinterdependensi dalam lingkungan
yang dinamis untuk mencapai tujuan tertentu. Istilah ini
digunakan untuk mewakili pendekatan sistem yang digunakan
dalam GIS, dengan lingkungan yang kompleks dan komponen
yang terpisah-pisah, sistem digunakan untuk mempermudah
pemahaman dan penanganan yang terintegrasi. Teknologi
60
komputer sangat dibutuhkan untuk pendekatan ini, jadi hampir
semua sistem informasinya berdasarkan sistem.
Geographical information system (GIS) merupakan komputer
yang berbasis pada sistem informasi yang digunakan untuk
memberikan bentuk digital dan analisa terhadap permukaan
geografi bumi. Jadi definisi dari GIS adalah :
Sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan
spasial dan mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi
lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang
ditemukan di suatu lokasi.
Mapping Concept
Untuk menggunakan mapInfo dibutuhkan file yang terdiri dari
record dan peta yang berasal dari MapInfo atau dibuat sendiri.
MapInfo mampu mengorganisasikan semua informasi tersebut baik
berupa tekstual dan grafik dalam bentuk tabel. Setiap tabel
merupakan files Mapinfo Group yang menyusun file map lainya
atau data base.
MapInfo Building Block : Layer-layer Peta
Peta komputer dikendalikan oleh layer. Berpikir tentang layer
seperti adanya kertas transparan yang saling menutupi satu sama
lain. Setiap layer terdiri atas aspek yang berbeda. Dalam MapInfo
dimulai dengan membuka tabel data dan menampilkan secara
menyebar pada leyer. Setiap layer terdiri atas Map Objeck yang
berbeda-beda, seperti wilayah, titik, garis dan teks. Sebagai
61
contoh, layer pertama terdiri atas batasan wilayah, layer kedua
terdiri atas simbol yang mewakili ibukota, dan layer ketiga terdiri
atas label teks. Dengan menempatkan layer-layer tersebut secara
bersamaan akan membentuk map yang lengkap. Satu, dua, atau
tiga tabel dapat ditampilkan kapan saja.
Mendapatkan Data pada Map
Untuk menampilkan data pada MapInfo, dibutuhka data yang
terdiri atas koordinat X dan Y sehingga MapInfo mengetahui posisi
data pada peta. Proses penentuan koordinat peta dinamakan
geocoding. MapInfo menentukan koordinat dengan melihat
informasi geografis pada peta dan informasi geografis pada tabel
yang terdiri atas koordinat X dan Y. Sebagai contoh, data terdiri
atas alamat jalan dari retail toko. Perintahkan pada MapInfo untuk
mencari alamat jalan tersebut pada jalan yang ada pada tabel peta
kota. Setelah melakukan proses geocoding, record ini dapat
ditampilkan pada Map Window.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Tempat Penelitian
62
Lokasi penelitian berada di Kota Samarinda Wilayah
Propinsi Kalimantan Timur, tepatnya di daerah Sempaja yang
berada di Kelurahan Sempaja, Kecamatan Samarinda Ulu. Daerah
ini dibelah oleh Sungai Sempaja yang bermuara di Sungai Karang
Mumus. Lokasi studi merupakan daerah cekungan topografi di
daerah Sempaja dimana di dalamnya meliputi sebagian Jl. Wakhid
Hasyim, Jl. A. Wahab Syahrani, Jl. Panglima Noor dan Jl.
Pertahanan. Di tinjau dari wilayah daerah aliran sungai, lokasi studi
termasuk dalam DAS Sungai Sempaja bagian hilir. Untuk lebih
jelasnya lokasi studi disajikan pada gambar 1.1.
3.2. Kondisi Topografi Daerah Studi
Kondisi topografi di kawasan Sempaja berupa cekungan
alam atau lembah dengan perbedaan tinggi antara
daerah terendah dan tertinggi ± 30 meter. Elevasi terendah
terdapat pada daerah sekitar Sungai Karang Mumus yakni
+ 0,3 m, sementara daerah tertinggi ± 35 m terdapat di dataran
tinggi Jl. A. Wahab Syahrani. Elevasi as jalan pada
simpang empat Sempaja + 3,5 m, adapun elevasi dasar
Sungai Karang Mumus + 0,3 m (Sumber: Dinas Pekerjaan
Umum dan Kimpraswil, Kota Samarinda, 2004). Di
sebelah Barat kemiringan lahan dimulai dari dataran tinggi yang
berada 1,5 km dari simpang Sempaja mengarah ke simpang
Sempaja, sebelah Selatan di mulai dari dataran tinggi di sekitar
POM Bensin Sempaja mengarah ke simpang Sempaja dan di
63
sebelah Utara dimulai dari dataran tinggi di sekitar perumahan
Pinang mas menuju ke simpang Sempaja. Hal tersebut
keseluruhan ditandai dengan arah aliran drainase jalan yang ada
(eksisting). Disamping itu di daerah Sempaja banyak dijumpai
areal genangan air (retarding Basin) sebagai konsekuensi dari
daerah cekungan. Untuk mendapatkan informasi yang lebih detail
tentang lokasi studi sebaiknya digunakan bantuan GIS
(Geographics Information System). Diharapkan GIS mampu
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam
pengambilan keputusan geografi, seperti pertanyaan lokasional
mengenai apa yang terdapat pada lokasi tertentu, lokasi apa yang
mendukung untuk kondisi atau fenomena tertentu, identifikasi
kecenderungan atau peristiwa yang terjadi, analisis hubungan
keruangan antar objek dalam kenampakan geografis dan model
seperti kecocokan lahan, resiko terhadap bencana, dll. Data dalan
GIS dibagi dalam 2 (dua) bentuk, yakni geographical (data spasial)
dan data attribut (data aspasial). Data spasial adalah data yang
terdiri atas lokasi eksplisit suatu geografi yang diset ke dalam
bentuk koordinat. Data attribut (aspasial) adalah gambaran data
yang terdiri atas informasi yang relevan terhadap suatu lokasi,
seperti kedalaman, ketinggian, lokasi tertentu dengan maksud
untuk memberikan identifikasi, seperti alamat, kode pin, dll.
Sumber-sumber data spasial termasuk kertas peta, diagram dan
64
scan suatu gambar atau bentuk digitalnya ke dalam sistem. File-
file digital bisa diimpor dari CAD (Auto cad).
3.3. Kondisi Hidrologi
Data hidrologi dalam hal ini berupa data curah hujan, dimana
dalam studi ini dipakai data curah hujan dari Stasiun Pencatat
Curah Hujan Temindung. Distribusi hujan harian maksimum di
Stasiun Pencatat Hujan Temindung yang tercatat mulai tahun 1984
sampai dengan Tahun 2003 (20 tahun) disajikan pada tabel 3.1.
Tabel 3.1.
Curah Hujan Harian Maksimum (mm) Per Tahun Dari Stasiun
Bandara Temindung
No Tahun Curah hujan No Tahun Curah hujan
harian harian
maksimum maksimum
(mm) (mm)
1 1984 115,80 11 1994 141,80
2 1985 105,60 12 1995 82,00
3 1986 85,70 13 1996 79,10
4 1987 80,50 14 1997 94,60
5 1988 108,90 15 1998 85,00
6 1989 97,30 16 1999 117,10
7 1990 89,40 17 2000 83,80
8 1991 105,30 18 2001 101,60
9 1992 94,30 19 2002 66,30
10 1993 90,00 20 2003 39.00
Sumber : Stasiun Pencatat Curah Hujan Temindung Samarinda
Jumlah curah hujan yang terjadi di kota Samarinda berkisar
antara 2000 – 3000 mm/tahun (Sumber: Dinas Pekerjaan Umum
dan Kimpraswil, Kota samarinda). Secara hidrologis dan sesuai
dengan morfologinya wilayah studi dilalui oleh sungai, yakni Sungai
Sempaja. Apalagi ditinjau dari catcment area, daerah kajian
termasuk dalam Sub DAS Sempaja hilir. Daerah kajian juga
65
memiliki daerah-daerah yang kadang-kadang tergenang, rawa
serta rawan banjir. Disamping itu, saluran drainase yang ada,
khususnya Sungai Sempaja juga dipengaruhi oleh pasang surut
dari Sungai Karang Mumus (outlet Sungai Sempaja).
3.4. Kondisi Kependudukan
Tabel 3.2.
Data Jumlah rumah tangga, penduduk dan
kepadatan Kecamatan samarinda utara menurut
desa/ kelurahan tahun 2004 yang masuk dalam daerah studi
Jumlah Jumlah Kepadatan
Kec
Penduduk/km2 Penduduk/RT RT/Km2
RT penduduk
Sempaja 3723 22401 269 6 45
Lempake 3264 13673 256 4 61
Sumber : Data Statistik, Samarinda dalam Angka,2004
3.5. Kondisi Daerah Pengaliran Sungai Mahakam
Sungai Mahakam yang berhulu di pegunungan perbatasan
Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Negara Bagian Serawak
serta bermuara di Selat Makasar, mempunyai daerah pengaliran
sungai (DPS) seluas 77.095,51 km 2, meliputi 5 kabupaten atau kota
dan 42 kecamatan di Propinsi Kalimantan Timur. Kondisi topografi
66
atau morfologi DPS Mahakam didominasi oleh satuan morfologi
dataran (kemiringan 0 – 8 %) sebesar 34 %, bergelombang landai
(kemiringan 8 – 25 %) sebesar 28 %, sedang sisanya sebesar 38 %
merupakan satuan morfologi perbukitan (kemiringan > 25 %).
Penggunaan terbesar di DPS Mahakam adalah hutan sebesar 50,67
%, semak 17,64 %, danau dan rawa 14,37 %, dan sisanya berupa
sawah, ladang, perkebunan, pemukiman, tambak dan tegalan
sebesar 17,32 %. Kondisi DPS Mahakam pada tahun 1962, sekitar
86 % wilayah DPS masih tertutup oleh hutan, sedangkan pada tahun
2001 wilayah DPS Mahakam yang masih tertutup oleh hutan sisa 51
%. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya erosi dan sedimentasi,
pendangkalan pada dasar sungai dan danau, serta terjadinya
kenaikkan fluktuasi debit maksimum dan minimum sungai. Alur
utama Sungai Mahakam yang panjangnya dari hulu sampai muara ±
920 km, melintasi 2 kabupaten dan 1 kota di Propinsi kalimantan
Timur, yaitu Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara
dan Kota Samarinda. Berdasarkan kondisi morfologinya, alur utama
Sungai Mahakam dapat dibag menjadi 3 bagian , yaitu :
Bagian hilir (down stream), yaitu Ruas Sungai dari muara sampai
dengan Kota Samarinda.
Bagian tengah (middle stream), yaitu Ruas Sungai dari Kota
Samarinda sampai dengan Melak.
Bagian Hulu (up stream), yaitu Ruas Sungai dari Melak sampai
hulu.
67
Bagian Hilir (Ruas Sungai dari Muara sampai dengan Kota
Samarinda) :
Panjang sungai dari muara sampai dengan Kota Samarinda
± 60 km, dengan lebar bervariasi antar 500 – 850 meter dan
kedalaman antara 10 – 24 meter. Kemiringan sungai pada ruas ini
sangat datar yaitu antara 0 – 0,5%.
Alur Sungai Mahakam pada ruas ini melintasi delapan (8)
kecamatan di satu (1) Kabupaten dan satu (1) Kota.
1. Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kecamatan Anggana
Kecamatan Muara Jawa
Kecamatan Sanga-sanga
2. Kota Samarinda
Kecamatan Samarinda Ilir
Kecamatan Samarinda Ulu
Kecamatan Sei Kunjang
Kecamatan Samarinda Seberang
Kecamatan Palaran.
Pada ruas ini dijumpai beberapa anak sungai, antara lain : Sungai
Mariam, Sungai Sanga-sanga, Sungai Karang Mumus dan Sungai
Karang Asam. Kesemua alur tersebut bermuara ke Selat Makasar.
Alur-alur atau muara-muara tersebut membentuk Delta Mahakam
menjadi beberapa pulau. Tiga pulau besar yang terbentuk oleh
adanya alur atau muara tersebut adalah Pulau Terentang, Pulau
68
Pemankaran, Pulau Rambalrangas. Sepanjang ruas ini (dari
Muara sampai Jembatan Mahakam) dipergunakan sebagai jalur
transportasi air oleh kapal-kapal relatif besar ( kapal barang, kapal
penumpang dan Tongkang) yang menghubungkan Kota
Samarinda dengan Kota-kota lainnya di Pulau Jawa dan Sulawesi.
Pada daerah kanan kiri sungai di wlayah Kota Samarinda
merupakan dataran rendah yang luas sedikit berawa-rawa, padat
penduduk dan banyak dijumpai fasilitas-fasilitas seperti jalan,
jembatan, bangunan perkantoran, pemukiman dan sebagainya.
Pengaruh pasang surut air laut pada ruas ini sangat dominan,
dimana akibat dari pasang surut tersebut muka air sungai di
Samarinda mengalami kenaikan dan penurunan antara 1-2 m.
Kondisi ini sangat mengganggu sistem pengaliran prasarana
drainase (baik alami maupun buatan) yang ada di Kota
Samarinda. Pada saat muka air sungai pasang dan bersamaan
pula terjadi hujan lebat di Kota Samarinda, maka terjadilah banjir
terutama pada daerah-daerah relatif rendah tidak dapat dihindari.
Hal ini disebabkan sistem pengaliran prasarana drainase yang
ada kurang berfungsi (prasarana drainase yang ada tidak dapat
mengalirkan limpasan air hujan dengan cepat dan lancar ke laut)
akibat adanya pembendungan aliran (back water) di Sungai
Mahakam. Angkutan sedimen yang datang dari hulu ke ruas ini
relatif besar, hal ini ditunjukkan oleh kondisi air sungai yang
berwarna kecoklatan. Pada beberapa tempat ditemukan adanya
69
sampah, sisi-sisa potongan kayu dan limbah lainnya seperti
plastik, botol plastik dan sebagainya. Sedimentasi yang terjadi
telah mengakibatkan terjadinya pendangkalan pada dasar sungai
yang selalu mengancam keselamatan kapal-kapal besar yang
masuk dan keluar pelabuhan Samarinda. Pada waktu musim
kemarau (saat debit sungai rendah) intrusi air laut dari muara
mencapai Kota Samarinda. Sungai Mahakam mempunyai 238
anak sungai dengan sungai terbesar antara lain di daerah hilir
yaitu Sungai Karang Mumus. Sebagian besar anak sungai
Mahakam bersifat sebagai sungai intermittent, yaitu sungai yang
hanya mengalir dalam jumlah besar pada musim hujan dan relalit
kering pada musim kemarau.
Permasalahan Spesifik Banjir Sungai Mahakam
Watak Sungai Mahakam dapat dilihat dari lingkungan alam yang
membentuknya. Sungai Mahakam bagian hulu masih mempunyai
DPS dengan penutup lahan berupa hutan lebat dan terbaik
dibanding bagian tengah maupun bagian hilir. Disamping itu
jumlah dan kepadatan penduduknya terkecil, yakni hanya 6 jiwa
per kilo meter persegi. Permasalahan banjir di bagian hulu Sungai
Mahakam relatif kecil bobotnya dibanding bagian tengah dan hilir.
Pada Sungai Mahakam bagian tengah, melewati daerah dataran
dengan kondisi DPS yang cenderung menurun kualitasnya.
Kondisi geografis dan topografis DPS Mahakam tengah sebagian
besar berupa rawa, danau dan dataran banjir. Dari Melak sampai
70
Muara Pahu aliran sungai pada waktu bulan basah mengalir
denga cukup deras karena pada bagian ini slope sungai relafit
besar. Namun dari Muara Pahu sampai Sebuluh aliran sungai saat
banjir menyebar ke rawa, danau dan dataran banjir yang sangat
luas dimana total luas genangan dapat mencapai 245.000 Ha.
Dari data duga muka air yang ada di DPS Mahakam, yaitu pada
pos-pos pengamatan sebagai berikut :
- Sungai Mahakam di Melak tahun 1990 – 1999
- Sungai Kedang Kepala di Muara Ancalong tahun 1990 – 1999
- Sungai Belayan di Tabang tahun 1993 – 1998
Khusus untuk Sungai Mahakam, masih terdapat beberapa lokasi
duga air, yaitu di Muara muntai, Kota Bangun, Tenggarong dan
Samarinda. Ke empat lokasi tersebut tidak digunakan dalam
analisa dikarenakan pada lokasi tersebut Sungai Mahakam masih
terpengaruh aliran balik akibat pasang surut Selat Makasar. Data
besaran debit pada masing-masing lokasi pencatat duga muka air
tersebut, diambil data lengkung debit hasil pencatatan debit yang
dilakukan pada periode-periode tertentu dalam kurun waktu seperti
yang tersebut di atas. Lengkung debit pada masing-masing lokasi
pencatatan hujan adalah sebagai berikut :
1,0806
- Sungai Mahakam (Melak), Q = 216,35 H
- Sungai Kd. Kepala (Muara Ancalong ), Q = 153,23 H 0.9961
1,3278
- Sungai Belayan (Tabang), Q = 81,74 H
3.6. Kondisi Daerah Pengaliran Sungai Karang Mumus
71
Sungai Karang Mumus merupakan out let dari Sungai Sempaja,
dimana di DAS ini Fenomena terjadinya banjir selain diakibatkan
oleh curah hujan yang turun relatif deras, juga pada saat yang
bersamaan ditopang oleh arus balik (back water) dari Sungai
Mahakam yang sedang dalam kondisi air pasang di bagian hilir
wilayah Kota Samarinda. Sementara itu, juga adanya kontribusi
limpasan permukaan (runoff) yang relatif besar dan laju tanah yang
tererosi sebagai sumber sedimen atau pendangkalan pada sungai
yang berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus
yang luasannya sekitar 31.475 ha di wilayah Kota Samarinda.
Selain itu, dinamika perubahan pola penggunaan lahan juga
berpengaruh terhadap penurunan potensi kawasan yang disebabkan
oleh semakin meluasnya penggunaan lahan untuk bangunan-
bangunan di sekitar wilayah Kota Samarinda, yang cenderung
menyebabkan pengurangan lahan atau kawasan resapan air, antara
lain untuk keperluan pemukiman serta bangunan-bangunan
perdagangan dan perindustrian. Bencana kebakaran hutan dan
lahan serta perambahan hutan dan lahan yang terjadi di DAS Karang
Mumus wilayah Kota Samarinda juga dapat mempercepat proses
terjadinya banjir. Hal ini karena dapat menambah luasan lahan yang
terbuka, bila turun hujan deras dapat meningkatkan laju limpasan air
permukaan (surface runoff) dan laju erosi tanah yang merupakan
penyokong terjadinya banjir. Oleh karena itu, diperlukan upaya-
upaya identifikasi, penataan dan kajian terhadap kawasan
72
konservasi, kawasan resapan dan tampungan air serta optimalisasi
fungsi DAS Karang Mumus. Sehingga, kemungkinan terjadinya
bencana banjir dan laju tanah tererosi dapat diminimalkan atau
dihindari serta fungsi keseimbangan tata air di wilayah Kota
Samarinda bisa terjamin kesinambungannya.
Keberhasilan penataan kawasan-kawasan pada DAS Karang
Mumus, perlu ditunjang oleh suatu tindakan nyata yang dapat
menjamin kesinambungan fungsi kawasan dan DAS tersebut, di
antaranya melalui pendekatan Pola Pengelolaan DAS Karang
Mumus secara Terpadu dan Peraturan Daerah (PERDA)
Pengelolaan DAS Karang Mumus yang menaungi pengelolaan DAS
tersebut. DAS Karang Mumus memiliki luas 31.475 ha. Secara
geografis terletak antara 0 o17’30” ~ 0o27’20” Lintang Selatan (LS)
dan 117o09’30” ~ 117o22’00” Bujur Timur (BT).
DAS Karang Mumus dan Sub DASnya
Berdasarkan hasil pemaduserasian antara peta topografi dan
peta jaringan sungai pada DAS Karang Mumus didapatkan 8
(delapan) Sub DAS, yaitu Sub DAS Pampang, Sub DAS Karang
Mumus Ulu, Sub DAS Lantung, Sub DAS Siring, Sub DAS
Jayamulya, Sub DAS Muang, Sub DAS Betapus dan Sub DAS
Karang Mumus Ilir (Sungai Sempaja).
Penutupan lahan atau vegetasi yang terdapat pada DAS Karang
Mumus terutama tersusun oleh jenis-jenis lahan semak, belukar,
rawa, hutan, ladang, kebun, kebun campuran, sawah, pemukiman.
73
Pola Jaringan Sungai (Drainage Network Pattern)
Berdasarkan pola jaringan Sungai Karang Mumus, limpasan air
Sungai Karang Mumus beserta anak-anak sungainya mengalir
melewati Bendungan Benanga, selanjutnya limpasan air dari
Bendungan Benanga mengalir ke sungai utama Karang Mumus
menuju Kota Samarinda dan akhirnya bermuara ke Sungai
Mahakam yang limpasan air sungainya mengalir ke arah timur dan
bermuara ke Selat Makassar. Berdasarkan hasil analisis curah
hujan yang tercatat pada Stasiun Pengamat Curah Hujan Bandara
Temindung Samarinda dapat diketahui bahwa DAS Karang Mumus
memiliki curah hujan rata-rata tahunan sebesar 2.135,73 mm.
Curah hujan bulanan rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Juni
sebesar 226,49 mm dan curah hujan bulanan rata-rata terendah
terjadi pada bulan Juli sebesar 115,9 mm. DAS Karang Mumus
termasuk tipe iklim A menurut Sistem Klasifikasi Schmidt dan
Ferguson dengan nisbah bulan kering terhadap bulan basah
sebesar 13,4 %. Iklim ini mencirikan daerah sangat basah dengan
vegetasi hutan hujan tropika. Dari data temperatur udara yang
tercatat pada Stasiun Pengamat Cuaca Bandara Temindung (1998
– 2000) diketahui bahwa temperatur udara rata-rata bulanan
berkisar antara 26 – 29 C dengan temperatur tertinggi terjadi pada
bulan April sebesar 28,2C dan terendah pada bulan Juli sebesar
26,7C.
74
3.7. Kondisi Drainase Existing
Sungai Sempaja merupakan drainase utama dalam sistem
drainase selama ini. Pada umumnya drainase jalan bermuara pada
Sungai Sempaja. Disamping drainase jalan, terdapat pula avour
atau drainase yang dibuat untuk mengalirkan air dari daerah rawa
menuju Sungai Sempaja. Adapun ruas-ruas Sungai Sempaja dan
drainase jalan yang ada di kawasan Sempaja ini meliputi:
1. Jl. AW. Syahrani Kiri
2. Jl. AW. Syahrani Kanan
3. Jl. Wakhid Hasyim
4. Jl. Pertahanan Kiri
5. Jl. Pertahanan Kanan
6. Sungai Sempaja ruas 1
7. Sungai Sempaja ruas 2
8. Sungai Sempaja ruas 3
Secara skematis drainase jalan dan sungai disajikan pada
gambar 4.24. Adapun dimensi dan kapasitas jaringan drainase
existing disajikan pada Tabel 4.38. Kapasitas Sungai Sempaja pada
umumnya tidak mampu menahan debit banjir tahunan, sehingga
debit melimpas ke badan jalan atau daerah disekitar sungai.
Disamping itu muka air di Sungai Sempaja, khususnya di sebelah
hilir sangat dipengaruhi oleh pasang surut muka air Sungai Karang
Mumus.
75
Kondisi saluran drainase yang ada saat ini ada sebagian
yang masih mampu menampung air dari daerah aliran drainase itu
sendiri dan ada yang sudah tidak mampu menampung debit air
hujan, dan banyak saluran drainase yang sudah tertimbun atau
hilang dengan adanya aktifitas pemukiman di sekitar saluran
tersebut. Diprediksikan di masa mendatang kapasitas saluran
tersebut tidak mampu menampung limpasan air akibat
bertambahnya koefisien limpasan dan berkurangnya daerah
retarding basin yang ada.
3.8. Pendekatan Penyelesaian Masalah
Dengan mengetahui kondisi eksisting sistem drainase yang ada
yaitu kondisi eksisiting Sungai Sempaja, sebagai drainase
utamanya. Sungai ini tidak mampu menampung seluruh debit
yang seharusnya ditanggung. Dengan semakin bertambahnya
limpasan debit dari masing-masing jalan, seiring dengan
tumbuhnya kawasan hunian, maka dengan tetap mengacu pada
sistem yang ada yakni Sungai Sempaja tetap dijadikan drainase
utama. Kemudian melakukan analisis kapasitas Sungai Sempaja
dan apabila kapasitas dari Sungai Sempaja tidak mampu
menampung debit banjir yang ada maka dilakukan penanganan
berupa normalisasi sungai. Setelah itu dianalisis lagi bagaimana
kapasitas sungai setelah dinormalisasi, apabila kapasitasnya masih
tidak mampu menampung debit banjir yang ada maka
pengendalian banjir dilakukan dengan pembuatan retarding basin
76
(Bozem). Apabila dari salah satu bentuk penanganan ini tidak
mampu menampung debit banjir yang ada, maka dilakukan
penanganan dengan memadukan keduanya baik normalisasi
maupun pembuatan retarding basin (bozem). Apabila kedua cara
ini masih tidak mampu untuk mengendalikan banjir maka bisa
dilakukan alternatif lain.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk penanganan
atau pengendalian banjir yang dilakukan pada studi ini adalah :
1. Perbaikan alur sungai (normalisasi sungai) dengan tujuan untuk
menurunkan muka air banjir
2. Atau Pemanfaatan retarding basin (Boezem) untuk tampungan
banjir sementara, dimana boezem ini sebagai pengganti rawa
yang tadinya berfungsi sebagai parkir air sementara dan
sekarang telah berubah fungsi menjadi pemukiman
3. Perpaduan antara normalisasi dan retarding basin (bozem).
4. Alternatif penanganan dengan bentuk lain.
Dari sistem pengendalian yang dilakukan, diharapkan dapat
menurunkan masalah genangan atau banjir di daerah Sempaja,
Kota Samarinda. Mengingat daerah tersebut adalah daerah
cekungan jadi tidak mungkin upaya ini akan menghilangkan
seratus persen masalah banjir yang ada di kota ini, namun paling
tidak upaya ini bisa mereduksi masalah genangan dan banjir yang
terjadi di kota ini.
Sistem Pengendalian Banjir Dengan Bentuk Lain
77
Banjir merupakan peristiwa alam yang dapat menimbulkan
kerugian harta benda penduduk serta dapat pula menimbulkan
korban jiwa. Pengurangan kerugian akibat banjir yang mencakup
metode-metode untuk melawan pengaruh air yang berlebihan di
dalam sungai disebut pengendalian banjir (flood control).
Tindakan lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerugian
banjir adalah :
1. Pengurangan puncak banjir dengan waduk atau suatu
tampungan
2. Pengurangan aliran dalam suatu alur yang ditetapkan dengan
tanggul, tembok banjir atau suatu aliran tertutup
3. Pengaliran air banjir melalui saluran banjir (floodway) ke dalam
alur sungai lain bahkan DAS lain
Selanjutnya harus diingat bahwa penerapan cara-cara
kegiatan penanggulangan banjir harus pula disesuaikan dengan
lokasi serta sifat dari banjir yang terjadi. Sebagaimana halnya di
bagian hulu biasanya arus banjirnya deras, daya gerusnya besar
tetapi durasinya pendek, sedangkan di bagian hilir arusnya tidak
deras (karena landai) tapi durasi banjirnya panjang (Sosrodarsono,
1985 : 348). Agar penanggulangan banjir dapat dilaksanakan
secara efektif maka setiap kondisi banjir di sepanjang sungai
haruslah dipelajari secara seksama, sehingga program
penanggulangannya dapat diterapkan secara lebih mantap.
Keterangan :
78
Normalisasi Sungai (Tanggul dan Saluran)
Normalisasi sungai terutama di bagian hulu sungai atau pada
bagian sungai yang diidentifikasi mengalami kerusakan pada
alurnya. Ada 2 (dua) pekerjaan dalam penanganan ini yaitu :
pembuatan tanggul-tanggul sungai dan saluran, dalam hal ini
dengan melakukan pelebaran bentuk penampang Sungai Sempaja
dengan merencanakan geometrik penampang salurannya
berbentuk trapesium.
Perbaikan saluran (penampang geometrik sungai)
Dari kondisi di lapangan saat ini, ada upaya penanganan
banjir yang dilakukan dengan meningkatkan kapasitas dimensi
saluran yang ada. Namun perencanaan dari pembangunannya
tidak diikuti dengan perencanaan teknis yang akurat, sehingga
pada saat terjadi hujan dan banjir, saluran tersebut masih belum
mampu menampung beban aliran dari hulu sungai. Secara visual
pengamatan setelah terjadi banjir, pada daerah tersebut masih
terjadi banjir pada saat hujan, terutama apabila diikuti pasang surut
dari sungai Karang Mumus sebagai outlet dari Sungai Sempaja.
Dari analisis sementara kapasitas saluran yang ada sudah tidak
mencukupi dalam menapung debit banjir yang ada.
Boezem (Retarding Basin)
Boezem atau retarding basin dalam hal ini dilakukan untuk
Perbaikan lingkungan, disini merupakan suatu usaha yang
bertujuan untuk memaksimalkan daerah resapan air di dalam DAS.
79
Boezem atau yang disebut juga retarding basin atau penampung
sementara, dalam studi ini dimanfaatkan untuk menampung
sementara sekaligus mengatur pembuangan saluran banjir dari
Sungai Sempaja ke Sungai Karang Mumus, karena apabila Sungai
Sempaja tidak mampu menampung air balik tersebut maka daerah
sekitarnya akan tergenang. Salah satu cara untuk menanggulangi
hal tersebut adalah dengan membuat tampungan sementara yang
lebih dikenal dengan Boezem. Adapun besarnya volume air yang
harus ditampung jika terjadi kondisi ekstrim adalah dengan jalan
menghitung volume air banjir ditambah dengan volume air buangan
dikurangi dengan kapasitas tampungan saluran.
Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan boezem yaitu antara lain :
1. Mengenai letak boezem, boezem diletakan pada percabangan
saluran yang padat.
2. Boezem diletakkan di bagian hilir sendiri atau dekat dengan
outlet, apabila berfungsi sebagai tampungan sementara.
3. Untuk mengetahui kapasitas maupun dimensi dari boezem bisa
diketahui dari debit banjir rencana. Agar kapasitas dari boezem
bisa optimal maka sebaiknya dipilih lokasi pada daerah yang
memiliki ruang bebas.
Gambar 3.1. KONSEP PERENCANAAN BOEZEM SEMPAJA
BOEZEM
SEMPAJA
80
Inlet Outlet
Sungai Sempaja
Ke Muara
Sungai Karang Mumus
3.9. Tahapan Penelitian
Agar supaya maksud dan tujuan dari studi ini tercapai,
diperlukan tahapan studi yang akan dapat mempertajam kajian yang
akan dilakukan dalam studi ini, seperti yang tertuang dalam tahapan
berikut ini:
I. Tahap persiapan yang terdiri dari :
a. Pengumpulan data sekunder yang terdiri dari :
- Data curah hujan
81
- Peta topografi
- RUTRK (Rencana Umum Tata Ruang Kota) yang berupa
peta tata guna lahan
- Data kependudukan (demografi)
b. Pengumpulan data primer, yang terdiri dari:
- Pengukuran dimensi saluran secara langsung di lapangan
- Mengumpulkan informasi lapangan tentang daerah
genangan
II. Tahap Analisis atau kajian, yang terdiri
dari:
a. Analisis atau kajian Hidrologi yaitu:
- Curah hujan rancangan dengan Metode [Link] dan
Log Person Type III
- Uji kesesuaian frekuensi yaitu terdiri dari Uji Smirnov –
Kolmogorov dan Kai Kuadrat
- Distribusi curah hujan dengan Persamaan Mononobe
- Koefisien Pengaliran
- Hujan netto
- Debit banjir akibat air hujan dengan Metode Rasional
- Debit air buangan
- Hidrograf Banjir dengan Metode HSS. Nakayasu
b. Analisis atau kajian Hidrolika, yang terdiri dari:
- Penentuan geometri saluran
82
- Dimensi saluran dan sungai untuk mengetahui kapasitasnya,
dengan batasan perencanaan pada debit, kecepatan aliran,
kemiringan dasar dan dinding saluran, harga kekasaran
bahan saluran, tinggi jagaan dan lebar tanggul
Berikut ini diberikan daftar alir rencana kerja pada gambar 3.2 yang lebih
memperjelas seluruh rangkaian kegiatan dari studi ini.
BAB IV
PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengolahan Data Curah Hujan Menjadi Intensitas Hujan
Analisa hidrologi diperlukan untuk menghitung besarnya debit
rancangan yang akan dipakai dalam perhitungan kapasitas saluran
83
drainase, normalisasi sungai dan volume tampungan boezem.
Dalam studi ini dipakai data curah hujan dari Stasiun Pencatat
Curah Hujan Bandara Temindung yang berjarak 2 km dari lokasi
studi, yang tercatat (20 tahun) disajikan pada tabel 4.1. berikut ini :
Tabel 4.1.
Curah Hujan Harian Maksimum (mm) Per Tahun
Dari Stasiun Bandara Temindung Samarinda
No Curah hujan harian No Curah hujan harian
maksimum (mm) maksimum (mm)
1 115,80 11 141,80
2 105,60 12 82,00
3 85,70 13 79,10
4 80,50 14 94,60
5 108,90 15 85,00
6 97,30 16 117,10
7 89,40 17 83,80
8 105,30 18 101,60
9 94,30 19 66,30
10 90,00 20 39.00
Sumber : Stasiun Pencatat Curah Hujan Bandara Temindung
Samarinda
4.2. Perhitungan Curah Hujan Rancangan Dengan Metode Log
Person Type III
Perhitungan curah hujan rencana rata-rata pada studi ini
memakai Metode Log Person Type III. Metode ini lebih fleksibel
karena mempunyai nilai Cs, dan Ck bebas (tidak ada ketentuan
mengenai besarnya harga parameter statistiknya), sehingga dapat
dipakai untuk semua sebaran data hujan. Data diurutkan terlebih
dahulu dari data yang paling besar sampai pada data terkecil.
84
Adapun langkah perhitungan dari metode ini diuraikan sebagai
berikut :
1. Mengubah data curah hujan rerata harian maksimum ke dalam
bentuk logaritma.
2. Menghitung harga rata-rata logaritma
n
log Q 39,1350 = 1,9568
Log = 1
n 20
3. Menghitung simpangan baku
log log
n 2
S log = 1
n 1
0,2437
=
20 1
= 0,0128
= 0,1133
4. Menghitung koefisien kemiringan atau koefisien kepencengan (C s
atau G) dengan rumus sebagai berikut :
n . 1
n
log log 3
Cs = G =
n 1 n 2 5 log
3
20 0,0405
=
20 1 20 2 0,1133 3
0,8100
= 38,7486
Cs = G = -0,0209
85
Untuk mencari Curah Hujan Rancangan (X T) dicari dulu nilai Pr
100
(Probabilitas kejadiannya) = … % ------ Pr =
Tr
Dengan diketahui Tr (periode ulang) maka bisa dicari nilai P r dan
dengan mengetahui hubungan C s dengan Pr dapat dicari nilai K
(bisa dilihat pada lampiran tabel 4.10. Faktor frekuensi K untuk
Distribusi Log Person Type III) dan dengan cara interpolasi linier
nilai K bisa dicari
100
Misalnya : Untuk Tr = 2 tahun – Pr = = 50%
2
G = Cs = -0,0209
Cs Pr K
0 50 % 0
-0,209 50 % … (0,004) nilai K bisa dicari dengan cara
-0,1 50 % 0,017
interpolasi linier
Sumber : Hasil perhitungan
6. Menghitung logaritma curah hujan rancangan dengan kala
ulangnya
X2 = 10 (log + k . s)
= 10 (1,9568 + 0,004 . 0,1133)
= 90,63 mm
7. Mencari Antilog dari logaritma X t untuk mendapatkan curah hujan
rancangan
Selanjutnya hasil curah hujan rancangan dengan Metode Log Person
Type III dapat dilihat pada lampiran tabel 4.2. dan 4.3.
4.3. Uji Kesesuaian Frekuensi
86
4.3.1. Uji Smirnov – Kolmogorov
Uji ini ditetapkan untuk menguji simpangan dalam arah
horisontal, adapun langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai
berikut :
1. Menghitung peluang empiris dengan memasukkan nomor urut
data mulai dari data terkecil sampai yang terbesar.
2. Melakukan plotting data pengamatan pada kertas probabilitas
Log person type III, dengan logaritma data hujan sebagai
sumbu Y dan peluang empiris sumbu X (hasil plotting dapat
dilihat pada lampiran gambar 4.1.
3. Menggambarkan persamaan garis durasi pada probabilitas dan
menarik garis durasi dengan mengikuti persamaan garis Xt =
anti log (1,902 + G. 0,117).
Pengujian ini dilaksanakan untuk mengetahui simpangan
horisontal terbesar sebaran teoritis dan sebaran empiris (selisih atau
∆ nya). Adapun tahapan pengujiannya adalah sebagai berikut :
- Banyaknya data (n) = 20
- Taraf siginifikan = 5%
- Dengan n = 20 dan = 5%, maka dari lampiran tabel 4.7.
hubungan antara n dan dapat dicari harga kritis (∆cr) untuk
Uji Smirnov Kolmogorov, yaitu (∆cr) = 0,29
20 20
∆cr = , (0,29 0,29 )) 0,29
20 20
87
= 0 + 0,29
∆cr = 0,29
Maksud dari = 5% (taraf signifikan 5% artinya) : kira-
kira lima dari 100 kesimpulan bahwa keterangan akan menolak
hipotesa y yang seharusnya diterima atau kira- kira 95% yakin
bahwa kita telah membuat suatu kesimpulan yang benar.
Baru ke lampiran tabel (4.6) perhitungan perbedaan probabilitas
Antara Distribusi Empiris dan Distribusi Teoritis
10 . m
Kolom (5) = P = (%)
n 1
100 .1
= 20 1
P = 4,76
Kolom (6) Bisa dilihat dari lampiran gambar 4.1. grafik
hubungan antara Percent Chance of Sceuronce (P r) atau
peluang dengan XT sehingga didapat P. Dist teoritis misal PT
= 4,60
Kolom (7) = PO – PT(%)
= 4,76 – 4,60
= 0,16
Kesimpulan :
P maks = 13,71% = 0,1371 0,14%
Derajad signifikan () = 5%
Tingkat kepercayaan = 95%
Banyaknya data (n) = 20
88
kritis = 0,29 %
Karena nilai P maks < ∆cr
Yaitu : 0,14 < 0,29 – Hipotesis diterima.
4. Dari data tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
hipotesa Metode Log Person Type III dapat diterima dan
memenuhi syarat atau dengan kata lain karena nilai P maks
< ∆cr , maka dapat disimpulkan bahwa data curah hujan
maksimum tahunan yang dianalisa sesuai dengan distribusi
Log Person Type III.
4.3.2. Uji Kai Kuadrat
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui simpangan
vertikal antara sebaran empiris dengan sebaran teoritis, apakah
persamaan distribusi peluang yang akan dipilih dapat mewakili
dari distribusi sampel data yang dianalisis. Adapun langkah-
langkah pengujian tersebut adalah sebagai berikut :
Jumlah kelas distribusi (k) :
n = 20
k = 1 + 3,322 x log n
= 1 + 3,322 x log 20
= 5,3 6
Sehingga dapat dibagi dalam 6 kelas distribusi.
mencari batas kelas :
100
Pr = = 16,667
6
89
Cs = G = -0,0209 ≈ -0,021
K = 1,068 (dari hasil interpolasi C s dan Pr pada lampiran
tabel 4.10. Log Person Type III)
Sd = 0,1133
Log X = log Xrt + (G x sd)
= log 1,9568 + (1,068 . 0,1133)
= 2,078
X = 119,62
Untuk semua batas kelas pada nilai Pr selanjutnya dilakukan tahapan
yang sama
1) Misal : perhitungan kelas I :
Dengan batas kelas = 0 – 69,98
Jumlah data
Frekuensi yang diharapkan (EF) = Jumlah kelas
20
= = 3,333
6
Frekuensi yang terjadi (QF) = 2
2 3,333 2
((QF – EF))2/ EF = = 0,533
3,333
2) 69,99 – 80,16 – EF = 3,333 OF = 2
OF EF 2
2 3,333 0,533
2
EF 3,333
3) 80,17 – 90,63 – EF = 3,333 OF = 6
90
6 3,333 2
2,13
3,333
4) 90,64 – 102,34 – EF = 3,333 OF = 4
4 3,333 2
= 0,83
3,333
5) 102,35 – 119,62 – EF = 3,333 OF = 5
5 3,333 2
= 0,83
3 ,333
6) 119,63 – EF= 3,333 OF = 1
1 3,333 2
= 1,63
3,333
Selanjutnya hasil perhitungan batas kelas dapat dilihat pada
lampiran tabel 4.14.
Kesimpulan :
Dengan = 5% dan derajat bebas (V) = 6 – 1 = 5 dari tabel harga
Uji Kai Kuadrat didapat nilai X2 kritis = 11,07
Karena : X2 hit < X2 kritis
5,78 < 11,07 – maka persamaan distribusi Log Person
Type III dapat diterima atau dapat digunakan dalam
perhitungan curah hujan rancangan.
4.4. Distribusi hujan jam- jaman
Pola distribusi hujan terpusat di Indonesia berkisar antara
4-7 jam setiap hari dan dalam kajian ini diambil 5 jam, karena data
pengamatan sebaran hujan jam-jaman di DPS Sempaja tidak
91
tersedia maka untuk perhitungan digunakan persamaan Mononobe,
adapun persamaanya adalah sebagai berikut :
2/3
R t
Rt = 24
t T
R 24
Dimana : RO = dan t = 5 jam, T = 0,5 jam
t
2/3
R24 5
Rt =
5 0,5
R24
R0,5 = 4,64
5
R0,5 = 0,928 . R24 Sehingga didapat :
2/3
R24 5
R1 = = 0,585, R24
5 1
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4.15.
Tabel 4.15. Konsentrasi hujam jam- jaman
T(Jam) RT T(Jam) RT
0,5 0,928. R24 3,0 0,281. R24
1,0 0,585. R24 3,5 0,254. R24
1,5 0,446. R24 4,0 0,232. R24
2,0 0,368. R24 4,5 0,214. R24
2,5 0,317. R24 5,0 0,200. R24
Sumber : hasil perhitungan
4.5. Nisbah Hujan jam- jaman
92
Perhitungan distribusi hujan pada setiap jam kejadian hujan
terhadap curah hujan efektif 1 hari (R24) digunakan persamaan :
Rт = t x Rt – t 1.R
t 1
Tabel 4.16. Rata- Rata Hujan Sampai Jam Ke T (R t) Dan Hubungan Pada
Jam t (Rt) Serta Distribusi Hujan Harian
Ja Rt RT Rasio % (R) = RT x
100 %
0,5 0,928, R24 0,928, R24 0,00
1,0 0,585, R24 0,585, R24 58,5
1,5 0,446, R24 0,446, R24 44,6
2,0 0,368, R24 0,151, R24 15,1
2,5 0,317, R24 0,124, R24 12,4
3,0 0,281, R24 0,107, R24 10,7
3,5 0,254, R24 0,097, R24 9,7
4,0 0,232, R24 0,085, R24 8,5
4,5 0,214, R24 0,074, R24 7,4
5,0 0,200, R24 0,072, R24 7,2
Sumber : Hasil perhitungan
Rт = t x Rt – t 1.R
t 1
R0,5 = 0,5. 0,928 . R24 – (0,5 - 1) . R (0,5 - 1)
= 0,464 R24 – (-0,5) . (-0,928)
R0,5 = (0,464-0,464) R24 = 0
93
4.6. Koefisien Aliran (C)
Tabel 4.17. Harga Koefisien Pengaliran
No T Hujan Rencana (XT) mm Koefisien pengaliran (C)
(1) (2) (3) (4)
1 2 90,63 0,22
2 5 112,80 0,25
3 10 126,39 0,28
4 15 135,12 0,29
5 20 142,50 0,30
6 25 142,69 0,31
7 50 150,22 0,35
8 100 165,44 0,39
Sumber : hasil perhitungan
Keterangan :
C = Sungai datar, 0 – 2% = 0,31 (nilai koefisien limpasan
berdasarkan kala ulang 25 tahun)
Sumber : Banjir Rencana untuk bangunan air, Ir. Joesron, M. Eng,
Departemen Pekerjaan Umum, Yayasan Penerbit Pekerjaan Umum,
Jakarta, 1992
4.7. Hujan Netto
Hujan netto adalah merupakan bagian dari hujan total yang
menghasilkan limpasan langsung (direct run off), dimana nilai sangat
dipengaruhi oleh nilai C (koefisien limpasan). Hasil perhitungan
hujan netto secara lengkap dapat dilihat pada lampiran tabel 4.18.
dan 4.19.
97
tabel 4.18. Curah hujan Netto Jam- Jaman
Rn = C . R
94
No T C (R) - XT (mm) Rn (mm)
1 2 3 4 (5) = (3) x (4)
1 2 0,75 90,63 19,94
2 5 0,75 112,80 28,20
3 10 0,75 126,39 35,39
4 15 0,75 135,12 39,18
5 20 0,75 142,50 42,75
6 25 0,75 142,69 44,23
7 50 0,75 150,22 52,58
8 100 0,75 165,44 64,52
Sumber : Hasil perhitungan
4.8. Perhitungan Debit Banjir Rancangan Pada Sungai Sempaja
Dengan Metode HSS. Nakayasu
Dalam menganalisa banjir rancangan terlebih dahulu harus
dibuat hidrograf banjir pada sungai yang bersangkutan. Hidrograf
banjir dihitung dengan menggunakan Metode Hidrograf Satuan
Sintetik Dr. Nakayasu. Pada studi ini perhitungan debit banjir
rancangan dibagi menjadi dua. Perhitungan hidrograf bagian yang
pertama dari bagian hulu sampai titik outlet 18, selanjutnya dari titik
outlet 18 sampai ke titik outlet 24 perhitungan debit banjir memakaii
Metode Rasional Modifikasii. Metode ini dipakai karena luas DAS
Sempaja kurang dari 0,8 km 2 disamping itu Sungai Sempaja ini
juga berfungsi sebagai saluran drainase utama, serta diperlukannya
data teknis eksisiting sungai yang dapat diambil yaitu di sepanjang
sungai yang akan dilakukan normalisasi. Sedangkan untuk
pengendalian banjir yang berupa perencanaan boezem, perhitungan
debit banjir rancangan dipakai hidrograf di titik outlet 24. Berikut ini
diberikan contoh hitungan dari hidrograf di titik outlet 18.
95
1 Ro
Q max = 3,6 . A . 0,3 T T
p 0, 3
Tp = Tg + 0,8 . tr
T0,3 = . Tg
Diketahui :
- Luas DAS (A) = 9.7759 km2
- Panjang sungai (L) = 6,92 km
Di 18
titik
outle19
t
Jadi Hidrograf banjir yang terjadi akibat hujan tersebut dengan
menggunakan metode dari Nakayasu adalah sebagai berikut :
Karena, L = 6,92 km < 14 km, maka
[Link] = 0.21 . L0,70 untuk L < 15 km
= 0.21. (6.92)0.70
= 1.752 jam ≈ 2 jam
[Link] = 1 jam (satuan waktu hujan)
Tp = Tg + [Link]
96
= 2 + 0.80 (1)
= 2.8 jam ≈ 3 jam
0.47( A.L ) 0.25
3. =
Tg
0.47((9.7759).(6.92))0.25
=
1.752
= 1.84 ~ 2
4. Waktu yang diperlukan pada penurunan debit puncak sampai
ke debit sebesar 30o 10’ dari debit puncak yaitu:
T0.3 = .Tg
= 2. (2)
= 4 jam
5. Waktu yang diperlukan pada penurunan debit puncak sampai ke
debit sebesar 60o 10’ dari debit puncak yaitu:
T0.3 2 = 1.5.T0.3
= 1.5 (4)
= 6 jam
6. Debit puncak banjir akibat hujan satuan:
Ro = 1 mm (satuan curah hujan)
1 Ro
Q maks = . A.
3.6 ([Link] T0.3 )
1
1
= 3.6 (9.7759) ((0.3)(3 4))
= 0.636 m3 / dt/ mm
97
7. Dengan menggunakan rumus “HSS Nakayasu” dan dengan
menentukan parameter – parameternya akan didapat koordinat
HSS Nakayasu sebagai berikut :
a. Kurva naik
0 t Tp
0t3
2. 4
t
Qt = Qmaks
Tp
2.4
0
Q0 = 0.636 = 0.636.0 = 0 m3/dt/mm
2.552
2.4
1
Q1 = 0.636 = 0.067 m3/dt/mm
2.552
2.4
2
Q2 = 0.636 = 0.354 m3/dt/mm
2.552
2.4
2.552
Q3 = 0.636 = 0.636 m3/dt/mm
2.552
b. Kurva turun
Tp t (Tp + T03)
3 t (3 + 4)
3t7
t Tp
Qt = Qmaks .0.3
T0.3
t 2.552
Q4 = 0.636. 0.3 3
= 0.545 m /dt/mm
3.504
98
(Tp + T0.3) t (Tp + T0.3 + 1.5 T0.3)
7 t (3 + 4 + 1.5 . 4)
7 t 13
t Tp 0.5.T0.3
Qt = Qmaks .0.3
1.5 T0.3
t 2.552 0.5 . 3.504
= 0.636. 0.3
1.5. 3.504
7 2.552 0.5 . 3.504
Q8 = 0.636. 0.3
1.5. 3.504
= 0.154 m3/dt/mm
t (Tp + T0.3+ 1.5 . T0.3)
t (3 +4 +1.5 . 4)
t (13)
t Tp 1.5.T0.3
Qt = Qmaks .0.3
2 T0.3
t 2.552 1.5 . 3.504
= 0.636. 0.3
2. 3.504
12 2.552 1.5 . 3.504
Q13 = 0.636. 0.3
2. 3.504
= 0.051 m3/dt/mm
Hasil perhitungan hidrograf HSS. Nakayasu untuk titik outlet 18
dapat dilihat pada lampiran tabel 4.20 , gambar grafik hidrografnya
pada gambar 4.5. Sedangkan untuk titik outlet 24 pada tabel 4.29.
dan gambar grafik 4.14. Sedangkan gambar grafik Hidrograf Banjir
Rancangannya pada gambar 4.23.
4.9. Perhitungan Saluran Drainase Kota Dengan Metode Rasional
99
Sebelum melakukan perencanaan saluran drainase dilakukan
perhitungan terhadap kapasitas saluran eksisting. Tujuannya adalah
untuk membandingkan hasil antara debit eksisting dengan debit
rencana, sehingga bisa ditentukan apakah perlu dibangun lagi
saluran drainase baru atau cukup hanya merehabilitasi saluran yang
lama. Adapun hasil perhitungan kapasitas saluran eksisting dapat
dilihat pada tabel 4.38. Dalam perencanaaan saluran drainasenya
dipakai Metode Rasional Modifikasi. Metode ini banyak digunakan
dalam perencanaan saluran drainase per segmen. Adapun
pertimbangan penggunaan metode ini karena :
- Ada pembuangan atau drainase utama dari pemukiman yang
direncanakan dengan T = 10 th
- Dari Q drain = Q hujan + Q air domestik dihitung Q sungai
bagian hilir
Untuk saluran drainasenya (saluran drainase utama) berada pada
Jalan:
1. Wahab Syahrani
2. Wahid Hasyim
3. Pertahanan
Keterangan:
4.9.1. Perhitungan debit rencana saluran drainase
Contoh perhitungan debit rencana pada Jalan Wahab Syahrani :
1. Wahab Syahrani kiri dan kanan
Bagian kiri dengan luas (A) = A22 = 1.3502 km2
100
A (L1) = 0.425 km2
Bagian kanan dengan luas (A) = A (L2) = 0.599 km 2
Wahab Syahrani lanjutan :
Bagian kiri A26 = 0.1935 km2
A28 = 0.3546 km2
Bagian kanan dengan luas A34 = 0.2533 km2
* Dari QII (Saluran di Jl. Wahab syahrani ini ) bisa langsung
dibuang ke Sungai Sempaja, atau bertemu di persimpangan
dengan buangan dari JL. Wahid Hasym dan Jl. Pertahanan.
1
Rumus Rasional Modifikasi yaitu : Q = .Cs. C. I. A
3 .6
Wahab Syahrani
1. Nilai koefisien limpasan (C) penggunaan lahan di daerah ini
adalah:
- Belukar dengan nilai C = 0.30 – seluas A22 = 1.3502 km2
- Ladang dengan nilai C = 0.30 – seluas A (L 1) = 0.425 km2
(.30 x1.3502) (0.425 x0.30 )
C =
1.3502 0.425
0.5326
=
1.7752
= 0.3
2. Panjang saluran
Kiri dan kanan = (3249 -649.8) m = 2599.2 m/2 = 1.299.6 m
Lanjutan = 1/5x3249 km = 649.8 m
101
Nilai C untuk lanjutan Wahab Syahrani:
- Dengan A26 = 0.1935 km2
C = 0.30 (belukar/hutan dengan kondisi sedang
dengan rumput penutup sedang, datar
0-2%)
A28 = 0.3546 km 2 – nilai C =0.83 (pemukiman padat)
(0.30 x0.1935 ) (0.83 x3546 )
Jadi : C =
0.1935 0.3546
0.3524
=
0.5481
= 0.64
3. Waktu konsentrasi
0.77
L
t1 = 0.0192 S = 0.0025
S
0.77
1299.6
= 0.0192
0.0025
48.16
= menit
60
= 0.80 jam
L
t2 = V untuk soal beton = 1.5 m/dt (lihat tabel)
V
1299.6
=
1 .5
= 866.4 menit = 14.44 jam
tc = t1 + t2
102
= (0.80 + 1.44) jam
= 15.24 jam
4. Intensitas hujan
2/3
R24 24
It1 = untuk X10 = 126.9 mm/jam
24 tc
2/3
126 .39 24
I10(1) =
29 7.69
= 11.25 mm/jam
2/3
126.39 24
I10(2) =
29 15.24
= 7.13 mm/jam dst
2Tc
5. Cs = dimana : Ts = T2
2Tc Ts
2(15.24 )
Kiri -Cs1 =
2(15.24 ) 1.44
= 0.68
2(30.25 )
Cs2 = = 0.68
2(30.25 ) 28.88
2(37.73)
Cs3 = = 0.68
2(37.73 ) 36.10
Hitungan : C.A A = A (A perbagian)
Kiri - C1A1 = 1.3502 x 0.3
= 0.41
103
C2A2 = 0.425x0.3
= 0.13
C3A3 = 0.5481 x 0.64
= 0.35
Jumlah setelah di + dengan per segmen/bagian kiri
Kiri - CiAi 0.41
0.41+0.13 = 0.54
0.51+0.35 = 0.89
Q banjir Rumus Rasional Modifikasi
1
Q1 = .Cs.C.I.A
3.6
Q1 = 1/3.6. Cs. (ΣC.A) . I
1
= (0.68)(0.41)(7.13)
3.6
= 0.546 m3/dt
4.9.2. Perhitungan Debit Air Buangan Rumah Tangga
(Domestik)
- Jumlah penduduk yang masuk dalam daerah studi =
36074 orang
- Standar kebutuhan air bersih rata – rata per orang per hari
sebesar 120 lt/orang/hari
Jadi perhitungan kebutuhan air bersih rata – rata per orang per hari
dengan Metode Degremont adalah sebagai berikut :
1. 90% x120lt/orang/hr = 108 lt/orang/hr
104
2. 108 lt/orang/hrx1,25 = 135 lt/orang/hr
3. 135 lt/orang/hrx0,9 = 121,5 lt/orang/hari di jadikan ke
lt/orang/jam
121,5lt / orang / hr
4. 24 jam
= 5,06 lt/orang/jam
2,5
5. P = 1,5 + 5,06
= 2,61 lt/orang/jam
6. Total air buangan domestik adalah :
Q buangan domestik = C . p . jumlah penduduk
= 5,06 . 2,61 . 36074
= 476.414,89 lt/jam --------- lt/dt
476.414,89lt
=
3600dt
= 132,34 lt/dt ------------------ m3/dt
= 132,34 . 10-3 m3/dt
= 0,132 m3/dt
Dari hasil perhitungan diketahui Q air buangan domestik =
0,132 m3/dt.
Jadi besarnya Q Rencana adalah :
Q Rencana = Q banjir + Q air buangan domestik
= (0,546 + 0,132) m3/dt.
= 0,678 m3/dt ≈ 0.70 m3/dt
Hasil perhitungan debit rencana tiap segmen saluran dapat dilihat
pada tabel 4.39.
4.9.2. Perencanaan Dimensi Saluran Drainase
105
Dalam perencanaan dimensi saluran drainase Kota Sempaja
tetap perlu memperhatikan saluran drainase eksisting, seperti yang
terlihat pada tabel 4.38. yaitu perhitungan kapasitas saluran
eksisting yang ada, dan untuk mempermudah pelaksanaan di
lapangan dari hasil perhitungan dilakukan pembulatan. Berikut ini
diberikan salah satu contoh perencanaan dimensi saluran drainase
yaitu pada Jalan Wahab Syahrani kiri dan kanan.
1. Jl. Wahab Syahrani Kiri:
Q = 1.90 m3/dt
m = 0.5 (saluran dari beton)
n = 0.016 (saluran beton kondisi baik)
V = 1.50 (kecepatan aliran air yang diijinkan untuk
saluran beton)
Perencanaanya :
Q = A.V
Q
A =
V
1.90m 3 / dt
A =
1.50m / dt
= 1.27 m2 ≈ 1,30 m2
Perbandingan b:h yang dianjurkan sesuai kapasitas saluran
Untuk
Q = 1.92 m3/dt b:h = 2.5 b = 2.5 h
106
A = (b.m.h)h
1.30 = (2.5 h + 0.5h)h
1.30 = 2.5h2+ 0.5 h2
1.30 = 3h2
1.30
h =
3
h = 0.65 m
b = 2.5h
= 2.5 (0.65)
= 1.63 m ≈ 1,70 m
P = b + 2h m 2 1
= 1,70 + 2(0.65) (0.5)2 1
= 3.15 m
A
R =
P
1.30 m 2
=
3.15 m
= 0.42 m
1 2/3 1/2
V = .R . S
n
2
V.n
S = 2/3
(R )
1.5(0.016 )
= 2/3
(0.42)
107
= 0.0018
Freeboard (jagaan)
Untuk Q antara = (1.5-85) m3/dt yaitu := 1.92 m3/dt
Maka : f = 0.75 m
H = h+f
= 0.65 + 0.75
H = 1.40 m
T = b + 2mH
= 1,70 + 2(0.5) (1.5)
= 3.10 m
T = 3.10 m
0.75
H = 1.40 m 1 1 0.65
0.5 0.5
b = 1.70 m
2. Wahab Syahrani kanan
Q = 1, 00 m3/dt
m = 0.5
h = 0.016
V = 1.50 m/dt
Perencanaan:
Q = A.V
108
Q
A =
V
1.00 m 3 / dt
=
1.50 m / dt
= 0.66 m2 ≈ 0,70 m2
A = (b + mh) h
Untuk Q antara = 0.5-1 m3/dt yaitu = 0.96 m3/dt
b/h = 1.5
b = 1.5 h
A = (b + mh) h
0.70 = (1.5 + 0.5 h)h
0.70 = 2h
0.70
h = = 0.59 m ≈ 0,60 m
2
b = 1.5 h
= 1.5 (0.60) = 0.90 m ≈ 1,00 m
P = b+2h m 2 1
= 1.00 + 2 (0.60) (0.5) 2 1 = 2.30 m
A
R =
P
0.70m 2
= = 0.30 m
2.3m 2
109
2
V.n
S = 2/3
(R )
2
1.5.(0.016 )
= 2/3
( 0 .3 )
= 0.0029
Freeboard atau jagaaan ( f ) karena Q = 0.96
m3/dt terletak pada Q = 0.75 -1.50 m3/dt
maka f = 0.60 m
H = h.f
= (0.60 + 0.60)m
= 1.20m
T = b + 2 mH
= 1.00 + 2(0.5) (1.20)
= 2.20 m
T = 2.20m
0.60m
H = 1.20 m 1 1 0.60m
0.5 0.5
b = 1.00 m
110
Selanjutnya hasil perencanaan dimensi saluran Drainase Sempaja dapat
dilihat pada tabel 4.41.
1’
3’ 3’
3’ 3’
2’
3’ 3’
3’ 3’
3’ 3’
2
3’ 3’
1
A
4'
Gambar 4.24. Skema Jaringan Sungai Sempaja
Keterangan :
1 = Upstream Sungai Sempaja
1’
111
= Sungai Utama di Bagian Hulu
= Sungai Utama
2’
= Anak Sungai Sempaja
3’
A = Outlet dari Sungai Sempaja
4’ = Down-Stream Sungai Sempaja
1 2 3 = Saluran Drainase Eksisting
4.10. Upaya Penanganan
Dari hasil analisa profil muka air Sungai Sempaja pada
kondisi eksisting, dapat diketahui bahwa daerah sepanjang aliran
merupakan daerah rawan banjir dan semua ruas mengalami
limpasan. Sungai Sempaja yang mendapat pengaruh pasang surut
dari Sungai Karang Mumus hingga sepanjang 4,70 km,
mempunyai panjang sekitar 10,92 km, dengan lebar dasar sungai
5 m, dan lebar puncak 5,5 m, kedalaman sungainya 1,60 m, serta
luas daerah aliran sungainya 16,10 km 2. Sungai Sempaja juga
dimanfaatkan sebagai saluran pembuang untuk daerah sekitarnya
yaitu seluas 6,8741 km2. Berdasarkan hitungan hydrograf banjir
dengan periode ulang 25 tahun diketahui debit banjirnya sebesar
98 m3/dt.
4.10.1. Debit banjir rencana
112
Untuk memperoleh debit banjir rencana (Q R) , maka debit
banjir hasil perhitungan ditambahkan dengan kandungan sedimen
yang terdapat dalam aliran banjir sebesar 10 %, serta besarnya
aliran buangan. Sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
QR = 88,44 m3/dt + 10 % Q banjir berupa sedimen + air buangan
= 88,44 m3/dt + (10% . 88,44 m3/dt) + 0,132 m3/dt
= 88,44 m3/dt + 0,8844 m3/dt) + 0,132 m3/dt
= 97,416 m3/dt ≈ 98 m3/dt
Jadi besarnya debit banjir rencana yang akan melewati Sungai
Sempaja sebesar 98 m3/dt.
Sebagai upaya untuk menangani masalah air banjir tersebut, maka
akan diusulkan 3 alternatif penanganan sebagai berikut :
a. Normalisasi sungai
b. Pemanfaatan retarding basin (boezem).
c. Gabungan antara Normalisasi sungai dan retarding basin
(boezem).
4.10.2. Normalisasi sungai
Normalisasi sungai disini adalah rencana perbaikan alur yaitu
dengan menentukan bentuk rencana penampang sungai dan
menghitung dimensi sungai. Dimana bentuk penampang Sungai
Sempaja direncanakan tetap berpenampang trapesium.
Batasan-batasan yang digunakan untuk menentukan dimensi
penampang sungai sebagai berikut :
113
- Perbaikan penampang sungai dilakukan dengan memperhatikan
keadaan sungai yang sudah ada (eksisting sungai).
- Bentuk penampang sungai yang dipakai adalah penampang
berbentuk trapesium, karena mudah dalam pelaksanaannya dan
akan didapat efisiensi yang cukup tinggi dalam menampung debit
air.
- Dimensi penampang melintang sungai didasarkan atas besarnya
debit banjir maksimum yang direncanakan.
- Kemiringan tebing sungai direncanakan 1 : 0,5 sedangkan
kemiringan memanjang sungai tidak diubah mengingat kondisi
dasar sungai yang tidak beraturan.
Contoh perhitungan perencanaan dimensi Sungai Sempaja 1.
Diketahui :
Q = 22 m3/dt
m = 0.5 (saluran dari beton)
n = 0.016 (saluran beton kondisi baik)
V = 1.50 (kecepatan aliran air yang diijinkan untuk
saluran beton)
Perencanaanya :
Q = A.V
Q
A =
V
22m 3 / dt
A = = 14,67 m2 ≈ 15 m2
1.50m / dt
114
Perbandingan b:h yang dianjurkan sesuai kapasitas saluran
Untuk :
Q = 22 m3/dt b:h = 5 b=5h
A = (b.m.h)h
22 = (5 h + 0.5h)h
22 = 2.5h2+ 0.5 h2
22 = 5,5h2
15
h =
5,5
h = 1,65 m ≈ 1,70 m
b = 5h
= 5 (1,70)
= 8,25 m ≈ 8,30 m
P = b + 2h m 2 1
= 8,30 + 2(1,70) (0.5)2 1
= 11,98 m
A
R =
P
15 m 2
=
12 m
= 1,25 m
115
1 2/3 1/2
V = .R . S
n
2
V.n
S = 2/3
(R )
1.5(0.016)
= 2/3 = 0.00044
(1,30)
Freeboard (jagaan)
Untuk Q = 22 m3/dt, maka : f = 0.75 m
H = h+f
= 1,70+ 0,75
H = 2,57 m ≈ 2,75 m
T = b + 2mH
= 8,30 + 2(0.5) (2,75)
= 10,70 m ≈ 11,00 m
T = 11,00
mm.
0.75
H = 2.75 m 1 1 2.00
0.5 0.5 m
b = 8.30 m
116
Untuk hasil perencanaan tiap segmen pada Sungai Sempaja ini, bisa
dilihat pada tabel 4.42.
4.10.3. Perhitungan besarnya air yang dapat dialirkan oleh sungai
setelah dilakukan normalisasi sungai.
Dari hasil perencanaan normalisasi Sungai Sempaja baik Sempaja
1,2, dan 3 (tabel 4.42), pelaksanaan normalisasi sungai dilaksanakan
pada ketiga segmen sungai tersebut. Adapun panjang sungai yang
dinormalisasi adalah Sungai Sempaja 1 (segmen 19) sepanjang
1300 m, Sungai Sempaja 2 (segmen 22) sepanjang 700 m, dan Sungai
Sempaja 3 (Segmen 23) sepanjang 2700 m. Letak ketiga segmen
tersebut dapat dilihat pada gambar 4.26. yaitu arah aliran pada
segmen sungai. Di bawah ini diambil sebagai contoh adalah dimensi
Sungai Sempaja yang terbesar yaitu Sungai Sempaja 3, dengan data
teknis sebagai berikut :
- Lebar puncak sungai (T) = 15,87 m2 ≈ 16 m
- Lebar dasar sungai (b) = 12,60 m ≈ 13 m
- Tinggi muka air (h) = 3,25 m
- Kemiringan dinding sungai (m) = 0,5
Dengan melihat kondisi eksisting di lapangan, perlu diingat bahwa
daerah yang dianalisis dalam studi ini merupakan pemukiman yang
padat. Maka untuk melakukan normalisasi sungai selebar 16 m tidak
dimungkinkan, karena letak bantaran sungai yang sempit akibat
padatnya pemukiman. Sehingga perencanaan normalisasi sungai sulit
117
untuk dilakukan karena harus membebaskan lahan yang cukup mahal,
belum lagi masalah sosial yang akan muncul. Disamping itu apabila
lebar sungai diperbesar maka lintasan aliran banjir tidak dapat
dipastikan. Dan seandainya dimensi sungai tetap, maka akan terjadi
limpasan pada tanggul sungai. Limpasan air ini dapat menyebabkan
jebolnya tanggul, karena daya tampung sungai tidak memenuhi.
Apabila kedalaman sungai diperdalam , sungai akan mempunyai gaya
tarik yang besar. Hal ini perlu diwaspadai keamanannya apalagi bila
dibangun di dekat pemukiman. Pada studi ini kemiringan dasar sungai
tidak dirubah, dan apabila diperlukan perubahan sebaiknya
dilaksanakan sedikit demi sedikit (tidak dilaksanakan secara
mendadak). Kemiringan dasar sungai yang dilaksanakan secara
mendadak akan menyebabkan sungai menjadi lebih landai, karena
pada titik transisisnya akan terjadi proses pengendapan dan tentunya
akan diikuti dengan penyempitan penampang basah sungai.
Sehingga pada waktu banjir dapat terjadi luapan, karena perubahan
kapasitas penampang menjadi lebih kecil. Dan apabila pengendapan
berlangsung secara terus menerus, terutama pada daerah hulu akan
menyebabkan terjadinya luapan dan genangan baru yang semakin
luas. Sedangkan tanggul direncanakan disepanjang bantaran sungai.
Akan tetapi hal tersebut dapat dikatakan tidak ekonomis karena
volume tanah yang dibutuhkan menjadi sangat besar, disamping itu
untuk memperoleh bahan urugan dengan volume besar dan kualitas
yang bagus sulit diperoleh. Mengingat bahan urugan tanggul haruslah
118
merupakan bahan yang sangat mudah penggarapannya dan tidak
mudah mengalami keruntuhan. Disamping itu daerah yang
akan direncanakan tanggul merupakan daerah bantaran sungai yang
cukup padat sebagai tempat pemukiman. Dimana pada daerah yang
padat perolehan areal tanah untuk kedudukan mercu tanggul sangat
sulit, dan memerlukan biaya yang mahal untuk pembebasan lahan.
Sebagai alternatifnya perencanaan tanggul bisa direncanakan dengan
mercu yang tidak lebar dan kemiringan lereng tanggul yang agak
curam atau tegak, namun hal ini harus didukung oleh daya dukung
tanah yang bagus agar diperoleh stabilitas konstruksi yang baik pula.
Dari analisis tersebut di atas, jika pembangunan normalisasi sungai ini
dilaksanakan, maka harus memperhatikan kondisi di lapangan.
Mengingat lebar lahan yang masih tersisa di lapangan hanya kurang
lebih 15 m saja, maka pelaksanaan normalisasi sungai direncanakan
dengan kapasitas penampang saluran yang paling optimum. Adapun
syarat kapasitas saluran yang optimum adalah B = 2h. Apabila
diketahui h = 3,25 m, sehingga bisa dihitung lebar puncak sungai
adalah B = 2. (3,25) = 6,5 m, dan untuk lebar dasar sungai tetap 5 m.
Sedangkan mercu tanggul kiri dan kanan diambil masing-masing 1,5
m, dengan kemiringan dinding m = 0,5. Sehingga luas penampang
sungai menjadi :
Luas (A) = ( 6,5 + 5 ) /2 * (3,25) = 18,69 m2
Besarnya aliran yang dapat melewati sungai, setelah sungai
dinormalisasi adalah :
119
Debit (Q) = ( A x V )
= 18,69 m2 x 1,5 m/dt = 28,031 m3/dt
Jadi besarnya kapasitas debit yang mampu dialirkan oleh Sungai
Sempaja setelah dinormalisasi sebesar 28,031 m 3/dt, dari kapasitas
eksisting sebesar 15 m3/dt. Berarti sisa debit yang masih akan
melimpas dari Sungai Sempaja adalah sebesar :
Q sisa = Q banjir rencana – Q sungai yang dinormalisasi
Q sisa = ( 98 – 28,031 ) m3/dt
Q sisa = 69,969 m3/dt ≈ 70 m3/dt
Jadi besarnya aliran banjir yang akan melimpas dari sungai setelah
dinormalisasi adalah sebesar 70 m3/dt, yang merupakan debit banjir
sisa secara keseluruhan atau total . Ternyata dengan adanya
normalisasi Sungai Sempaja baik 1, 2 dan 3, dimana total panjang
sungai yang dinormalisasi sepanjang 4700 m, masih belum mampu
menampung debit banjir sisa secara keseluruhan. Maka untuk
menampung sisa debit banjir secara keseluruhan sebesar 70 m 3/dt ini,
maka dibuat alternatif penanganan yang ke 2 yaitu pembuatan
retarding basin (boezem).
4.10.4. Perencanaan retarding basin (boezem)
Sebagai upaya untuk mengurangi luapan banjir yang terjadi di
Sungai Sempaja, dengan melalukan normalisasi ternyata masih
belum mampu mengatasi luapan banjir yang terjadi. Maka dibuat
tampungan banjir sementara yang disebut retarding basin (boezem).
Fungsi utama boezem disini adalah menampung sementara debit
120
akibat limpasan curah hujan ketika air laut pasang dan melepas atau
membuang debit ketika air laut sudah surut.
Adapun besarnya volume air yang harus ditampung jika terjadi kondisi
ekstrim adalah dengan jalan menghitung volume air banjir ditambah
aliran yang membawa sedimentasi sebesar 10% dari debit banjir yang
terjadi serta air buangan domestik kemudian dikurangi dengan
kapasitas tampungan sungai yang sudah dinormalisasi.
Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan boezem yaitu antara lain :
1. Mengenai letak boezem, pada studi ini rencananya boezem
diletakan pada bagian hilir sendiri atau dekat dengan outlet,
karena berfungsi sebagai tampungan sementara.
2. Agar kapasitas dan fungsi dari boezem bisa optimal, maka
sebaiknya dipilih lokasi pada daerah yang memiliki ruang bebas.
1. Perencanaan kapasitas boezem
Dalam perencanaan boezem kita dapat menetapkan terlebih
dahulu yaitu merencanakan lebar pintu outlet atau luas dari boezem itu
sendiri, sehingga akan diperoleh elevasi air tertinggi pada boezem
yang dapat dikatakan aman dari luapan atau limpasan air.
Formulasi / Langkah Kerja Perencanaan Pelimpah Samping pada
Boezem Sempaja :
1. Menghitung hidrograf banjir rancangan dengan Metode
[Link].
2. Menghitung debit yang akan masuk / ditampung oleh Boezem.
121
Qi+1 = Qt+1 - Qs
Dimana : Qi+1 = debit inflow pada periode awal (m3/dt)
Qt+1 = Debit puncak banjir pada periode awal (m3/dt)
Qs = Debit sungai normalisasi (m3/dt)
Contoh perhitungannya :
Q inflow =Qbanjir - Q normalisasi
Q inflow = (39,323 – 28,031) m3/dt = 11,292 m3/dt
Hasil hitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.43.
Catatan : untuk Q inflow = 0,000 m3/dt, maksudnya adalah
bahwa debit total banjir di bawah kapasitas debit normalisasi
dianggap langsung bisa dibuang atau langsung bisa dilewatkan
penampang sungai yang sudah dinormalisasi.
3. Menghitung volume yang akan ditampung oleh Boezem.
Qi Qi 1
Volume V = .∆t
2
4. Menghitung volume komulatif yang akan ditampung oleh Boezem
(volume kumulatif ini dipakai sebagai dasar kapasitas tampungan
Boezem).
in
Qi Qi 1
Volume kumulatif = V =
11 2
.t
5. Mendimensi boezem dengan dasar kapasitas yang ada.
6. Membuat konsep mekanisme kerja pintu.
7. Mengolah data pasang surut air laut sebagai dasar untuk
perencanaan pintu pembuang / penguras.
122
8. Menghitung lebar pintu yang akan dipakai untuk membuang air di
boezem.
9. Menghitung kebutuhan tampungan minimum.
10. Melakukan kontrol / cek terhadap dimensi Boezem.
11. Melakukan kontrol / cek kebutuhan tampungan minimum dengan
tampungan yang ada.
12. Menghitung besarnya Q outflow yang akan dibuang memakai
rumus : Q = K.μ.a.b. 2.g.h
13. Menghitung besarnya volume outflow yang akan dibuang .
14. Menghitung tinggi bukaan pintu.
15. Melakukan cek / kontrol terhadap kemampuan pintu yang sudah
direncanakan dengan dasar :
Q inflow ≈ Q outflow atau Q inflow = Q outflow
Dengan mengetahui besarnya volume kumulatif boezem, dan
mengetahui luas lahan yang tersedia yaitu seluas 80 ha atau
80.000 m2, maka bisa direncanakan berapa dimensi dari boezem
tersebut. Untuk tujuan keamanan maka perencanaan volume
kumulatif boezem yang terpakai adalah volume kumulatif itu sendiri
ditambah 20% untuk angka keamanan. Elevasi dasar boezem
direncanakan + 0,30 m ARP dan elevasi tanggul boezem sama
dengan elevasi tanggul sungai yaitu +3,30 m ARP. Bentuk
boezem direncanakan berbentuk persegi panjang.
123
Dari sini dapat dihitung volume tampungan boezem terpakai adalah :
Volume boezem (V) = volume kumulatif + 20% volume kumulatif
Volume boezem (V) = (1.280.347,200 + 20% (1.280.347,200)) m 3
Volume boezem (V) = 1.536.416,640 m3
Volume boezem (V) = luas x kedalaman
1.536.416,640 m3 = A x (3,25 – 0,3) m
1.536.416,640 m3 = A x (2,95) m
1.536.416,640
(A) = 2,95
= 520.819,200 m2
Dengan melihat ukuran lahan yang, dapat dihitung berapa panjang (l)
dan lebar (b) Boezem Sempaja :
Luas (A) = panjang (l) x lebar (b)
520.819,200 m2 = 1125 m x (l)
520.819,200
b = = 462,95 m ≈ 500 m
1125
Jadi dimensi dari Boezem Sempaja adalah :
- Panjang (l) = 1125 m
- Lebar (B) = 500 m
- Kedalaman Boezem (h) = 2,95m ≈ 3 m
Peta rencana lokasi normalisasi dan boezem , serta potongan
melintang boezem dapat dilihat pada gambar 4.27, a dan b.
2. Perencanaan panjang mercu inlet
Metode Bilangan
124
Metode ini didasarkan pada pemecahan masalah secara analisis
yang diberikan oleh De Marchi. Dengan mengandaikan bahwa aliran
adalah subkritis, panjang bangunan pelimpah dapat dihitung sebagai
berikut :
1. Di dekat ujung bangunan pelimpah, kedalaman aliran h 0 dan debit
Q0 sama dengan kedalaman dan debit potongan saluran di
belakang pelimpah. Dengan H0 = h0 + v02/2g tinggi energi di
ujung pelimpah dapat dihitung.
garis energi
H v2/2g Ho
h c h x ho h c
kemiringan dasar
x o
∆x B
Gambar 4.28. Sketsa definisi untuk saluran dengan pelimpah samping
2. Pada jarak ∆x di ujung hulu dan hilir bangunan pelimpah tinggi
energi juga H0, karena sudah diandaikan bahwa tinggi energi di
sepanjang pelimpah adalah konstan.
Hx = hx + vx2/2g
= hx + Qx2/2g Ax2
125
dimana Qx adalah debit Q0 potongan hilir ditambah debit q x, yang
mengalir pada potongan pelimpah dengan panjang ∆x.
( h0 c) (hx c)3 / 2
qx = μ∆x 2g
2
Andaikan H0 = hx menghasilkan qx = μ∆x 2 g ( h0 c )3 / 2
dan Qx = Q0 + q. Dengan Qx ini kedalaman hx dapat dihitung dari
hx = Hx – Qx2/2g Ax2
Koefisien debit μ untuk mercu pelimpah harus diambil 5% lebih kecil
daripada koefisien serupa untuk mercu yang tegak lurus terhadap
aliran.
3. Setelah hx dan Qx ditentukan, kedalaman air h 2x dan debit Q2x akan
dihitung untuk suatu potongan pada jarak 2∆x di depan ujung
pelimpah dengan cara yang sama seperti yang dijelaskan pada
nomor dua (2). Q0 dan h0 harus digantikan dengan Qx dan hx, dalam
langkah kedua ini Qx dan hx menjadi Q2x,, q2x dan h2x.
4. Perhitungan-perhitungan ini harus diteruskan sampai Q nx sama dengan
debit banjir rencana potongan saluran dibagian hulu bangunan
pelimpah samping. Panjang pelimpah adalah n∆x dan jumlah air lebih
yang akan dilimpahkan adalah Qnx – Q0.
Adapun tahapan perencanaan pelimpah samping adalah sebagai
berikut :
Perencanaan Pelimpah Samping
126
1. Dari hasil perhitungan debit banjir yang akan ditampung oleh
boezem adalah 70 m3/dt. Untuk angka keamanan maka debit
yang akan melimpas melalui pelimpah samping harus ditambah
10% dari debit yang akan ditampung oleh boezem. Jadi besar
debit rencana yang akan mengalir melewati pelimpah samping
adalah sebesar = Debit boezem + 10%. Debit boezem
Debit boezem (Qb) = (70 + (10%.70)) m3/dt = 77 m3/dt
Jadi debit boezem yang terpakai (Qb) adalah sebesar ≈ 77 m3/dt
2. Perhitungan profil aliran di ujung hilir limpasan samping.
h c
Gambar 4.29. Tinggi muka air di atas pelimpah samping
3. Mencari Tinggi Muka Air Di Atas Mercu (h)
Q = A.V
1
= (b + mh).h) ( . R 2 / 3 . S1/ 2 )
n
nQ = (108 + 0,5.h 2 ) (R 2 / 3 . S 1 / 2 )
108h 0,5h 2 2 / 3
nQ = (108h + 0,15.h 2 ) 3 / 3 ( ) (0,00024) 1 / 2
108 2,24h
127
0,016(212,06) (108h 0,5.h 2 )5 / 3
1/ 2 = ……….. dicoba h = 2,74 m
(0,00024) (108 2,24.h) 2 / 3
(108.2,74 0,5.(2,74) 2 )5 / 3
218,90 =
(108 2,24 2,74) 2 / 3
2918,43
218,90 = 13,40
218,90 ≈ 217,80
Jadi tinggi muka air di atas mercu adalah
= 2,74 m – C = 2,74 m–1,87 m = 0,57 m ≈ 0,60 m.
4. Menentukan koefisien debit (μ)
Untuk menentukan koefisien debit (μ) maka :
H0 = 1,08 m
C 1,87
W = C = 1,87 m ; = 1,08 = 1,73 dengan
H0
W
menghubungkan nilai = 1,78 pada grafik variasi C0
H0
W
dengan (sumber : Rangga Radju, Aliran Melalui Pelimpah
H0
Samping ; 246), maka didapatkan nilai koefisien debit © = 0,73.
5. Menentukan Panjang Pelimpah Samping Dengan Metode De
Marchi.
Untuk menentukan panjang pelimpah samping dilakukan secara
analisis. Metode ini telah dikembangkan oleh De Marchi.
Adapun tahapan metode tersebut adalah dengan
128
mengandaikan bahwa aliran adalah subkritis, sehingga
panjang bangunan pelimpah dapat dihitung sebagai berikut :
1. Menghitung debit yang akan ditampung atau melewati
pelimpah (Qo)
2. Menentukan jarak perpias (∆x)
garis energi
H v2/2g Ho
h c h x ho h c
kemiringan dasar
x o
∆x B
Gambar 4.30. Sketsa definisi bangunan pelimpah samping
3. Menghitung luas per pias (Ao)
4. Menghitung kecepatan per pias (Vo)
5. menghitung Kedalaman aau ketinggian tanggul per pias (H o)
6. menghitung debit per pias (qx)
7. Untuk selanjutnya mencoba pias yang ke 2 yaitu (∆x2), dengan
cara yang sama hitung nilai qx2 dan hitungan dihentikan apabila
sudah didapatkan ∑qx nilainya sama dengan atau mendekati nilai
Qo.
8. Didapatkan nilai ∑(∆x) sebagai panjang pelimpah dengan debit
yang akan dilimpahkan sebesar ∑qx.
129
Contoh perhitungan sebelum pembulatan (lihat gambar 4.30) di
atas :
- Elevasi dasar saluran sebelum boezem = + 0,3 m
- Elevasi muka air sungai = + 2,90 m
- Elevasi puncak mercu pelimpah = + 2,30 m
- Lebar saluran sebelum ke boezem = 108 m
- m=1
- Langkah perhitungannya :
1. Q0 = 77 m3 / dt
2. ∆x = 6 m
A0 = ( b + m.h0).h0
= (108 + 0,5 . 2,90) . 2,90
= 317,4 m2
Q0= A0 . V0
Q0
V0 =
A0
77
V0 = 317,4 = 0,24 m/dt
Vo 2
3. H0 = h0 +
2g
(0,24) 2
= 2,90 + = 2,90 m
2.9,81
diambil tiap lebar pias = 6 m
andaikan ∆x = 6 m, koefisien debit (μ) untuk pelimpah = 0,73
(untuk pelimpah samping diambil 95%).
130
q x = μ. ∆x. (h0 – C)3/2
= (0,694)(0,730)(6) 2,90 1,87 3 / 2
= 4,35 m3/dt
Qx = Q0 + qx
= 77 + 4,35 = 81,35 m3/dt
Ax = (b + m.h).h
= (108 + 0,5.2,90).2,90 = 314,7 m2
Qx
Vx =
Ax
77
= 314,7 = 0,66 m/dt
Qx 2
hx = h 0 - ( 2 g . Ax 2 )
77 2
= 2,90 -
2.(9,81).(128,25) 2
= 2,90 – 0,020
= 2,90 m
4. Perhitungan dilanjutkan sampai Qnx adalah samadengan atau
mendekati debit banjir rencana yang akan masuk ke boezem.
Panjang bangunan pelimpah adalah n∆x dan jumlah kelebihan air
yang akan dilimpahkan adalah Qnx = Qo
Dengan cara yang sama dapat dilhasilkan seperti yang sudah
dijelaskan pada poin 4 (empat) dan untuk hasil perhitungan
selanjutnya lihat tabel 4.44. Dari hasil perhitungan didapatkan
panjang bangunan pelimpah samping adalah 108 m, dengan
131
kemampuan melimpahkan debit sebesar 78, 29 m 3/dt > 77 m3/dt
(debit yang akan ditampung oleh boezem) -------- (Aman)
6. Penentuan tinggi elevasi puncak mercu sampai tanggul (H)
Penentuan elevasi puncak mercu adalah sama dengan elevasi
muka air normal akibat debit banjir rencana, sehingga selisih tanggul
dengan puncak mercu adalah sebesar 1/3h. Dengan
mempertimbangkan selisih tinggi tersebut berarti tinggi muka air di
atas mercu lebih kecil dari tinggi jagaan (free board) pada sungai.
Dalam penentuan lebar mercu ini diasumsikan pintu air dalam kondisi
tertutup, sehingga debit tertampung di boezem melalui mercu
tersebut.
Adapun langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut :
1. Kontrol nilai h hitung < 1/3h, sampai didapat nilai h hitung mendekati
1/3h.
2. h ijin = 1/3h
h ijin = 1/3(3,00)
h ijin = 1,00 m
dari hasil perhitungan tinggi muka air di atas peimpah (poin 3)
didapat tinggi muka air di atas pelimpah adalah 0,60 m. Maka
dapat dikontrol seperti pada poin 4.
132
3. Kontrol, h hitung < 1/3h,
0,60 m < 1,00 m ------------ Memenuhi (ok)
4. Tinggi pelimpah adalah :
- Kedalaman boezem = 2,95 m ≈ 3,00 m
- Tinggi mercu sampai dengan tanggul (h) = 1,00 m
- Tinggi pelimpah samping = 2,95 – 1,00 = 1,95 m ≈ 2 m
Jadi tinggi pelimpah samping adalah 2 m.
- Tinggi muka air di atas pelimpah = 0,60 m.
V2
+ 3,30
2g
+ 2,90 MAS H = 1,00 m
0.60 m
+ 2,30
h0 = 3,00m
C = 2,00m
+ 0,3
133
Gambar 4.31. Dimensi pelimpah samping
7. Perhitungan lebar pintu outlet
Pada bagian outlet boezem yang merupakan saluran
pengeluaran dari boezem ini direncanakan dengan menggunakan
pintu otomatis, dengan waktu pembuangan mengikuti siklus pasang
surut yang terjadi. Prinsip dasar untuk menentukan berapa
besarnya dimensi pintu yang secara gravitasi mampu membuang
atau mendrain debit dalam periode waktu tertentu adalah mengacu
pada kondisi kedua sisi yaitu sisi hulu (dalam sistem) dan sisi hilir
(luar sistem). (Suprijanto, 1997 : 96). Sisi hilir atau di luar sistem
adalah kondisi fluktuasi muka air akibat pasang surut. Sisi hulu
atau di dalam sistem adalah kondisi tinggi tampungan maksimum
dan tinggi tampungan minimum. Hasil akhir dari analisis ini adalah
akan didapatkan rencana lebar pintu yang akan dioperasikan.
Sebagai gambaran kondisi tersebut dapat dilihat pada gambar
4.32. fluktuasi muka air akibat pasang surut. Adapun waktu
pembuangan mengikuti siklus pasang surut yang terjadi. Untuk
menghitung debit aliran per satuan lebar yang mampu dibuang
oleh pintu klep otomatis diperlukan data-data sebagai berikut :
Data pintu :
HWL = +1.9 m (muka air pasang harian tertinggi)
LWL = +0.3 (muka air surut terendah)
134
Volume total yang akan dibuang untuk pasang surut siklus
satu hari adalah 1.536.416,640 m3.
Berikut ini diberikan langkah dan contoh perhitungannya :
Penentuan volume total air yang dibuang untuk pasang surut
siklus satu hari adalah 1.536.416,640 m3.
Penentuan periode waktu pembuangan atau drain T 1 dan T2
Dari gambar 4.32. fluktuasi muka air pasang surut
didapatkan :
T1 = 6 jam
S1 = 6 jam
T2 = 6 jam 15 menit = 6.25 jam
S2 = 6 jam 15 menit = 6.25 jam
Setiap periode waktu T (pembuangan) dibagi menjadi
interval waktu (t) bagian yang lebih kecil. Penentuan
interval waktu t berkisar antara 1500 detik <t<3000 detik
dan untuk memudahkan perhitungan, nilai t diambil
konstan.
Disini diambil :
t1 = 2250 dt dan t2 = 2500 dt
Jadi apabila T1 = 6 jam
Waktu drainase 6 jam = 6.60.60 = 21600 dt
Jika t1 = 2250 dt
2100 dt
Maka = 2250 dt
135
= 9.6 bag
= 10 bag
Dan untuk T2 = 6 jam 45 menit = 6,75 jam
Waktu drainase 6 jam = 6,75.60.60 = 24300 dt
Jika t2 = 2500 dt
24300 dt
Maka = 2500 dt = 9.72 bag = 10 bag
Jadi waktu drainase (Td) dibagi menjadi = 10 bagian (baik
pada bagian 1 dan 2)
Sehingga : q n. = K..t.a. 2g.h
Ukur h dan h di tengah – tengah setiap interval waktu t.
Kemudian dicek, apakah kondisi aliran sama untuk seluruh
periode waktu drainase (pembuangan).
Pembuangan periode T1
H = hn + hn
Hn > (2/3 H) aliran sub kritis = 1.2
Tabel 4.48. Pembuangan Periode T1
No hn Hn atau m t g 2.g.hn qn
(m) (m) (4) (dt) (m/dt2) (m3/dt/m)
(1) (2) (3) (5) (6) (7) (8)= [Link]
1 0,30 1,20 1,2 2250 9,81 2,426 7860,59
2 0,48 0,90 1,2 2250 9,81 3,069 7457,67
3 0,56 0,72 1,2 2250 9,81 3,315 6444,36
4 0,60 0,60 1,2 2250 9,81 3,431 5558,22
5 0,64 0,48 1,2 2250 9,81 3,544 4593,02
6 0,63 0,40 1,2 2250 9,81 3,516 3797,28
7 0,60 0,32 1,2 2250 9,81 3,431 2964,38
136
8 0,48 0,34 1,2 2250 9,81 3,069 2817,34
9 0,35 0,40 1,2 2250 9,81 2,620 2829,60
10 0,20 0,48 1,2 2250 9,81 1,981 2567,38
46.889,84
≈ 0,047.106
Sumber : hasil perhitungan
Pembuangan periode T2
Diket : H = 1.50 dan Hn = 1.20
H = hn + hn ------- Hn > (2/3.1,50)
1,20 > 1,00 karena hn > 2/3 H maka jenis alirannya
adalah aliran sub kritis. Jadi debit per satuan unit waktu setiap
interval t = qn = . t. 2.g.hn dengan nilai = m = 1,2
Tabel 4.49. Pembuangan Periode T2
No hn Hn atau m t g 2.g.hn qn
(m) (m) (dt) (m/dt2) (m3/dt/m)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)= [Link]
1 0,10 1,40 1,2 2500 9,81 1,401 5884,20
2 0,32 1,10 1,2 2500 9,81 2,506 8269,80
3 0,46 0,92 1,2 2500 9,81 3,004 8291,04
4 0,58 0,72 1,2 2500 9,81 3,373 7285,68
5 0,54 0,68 1,2 2500 9,81 3,255 6640,20
6 0,56 0,62 1,2 2500 9,81 3,315 6165,90
7 0,52 0,60 1,2 2500 9,81 3,194 5749,20
8 0,46 0,62 1,2 2500 9,81 3,004 5587,44
9 0,36 0,64 1,2 2500 9,81 2,658 5103,36
10 0,23 0,74 1,2 2500 9,81 2,125 4715,28
63.692,10
≈ 0,064.106
Sumber : hasil perhitungan
Hn > (2/3. 1,50)
1,40 > 1,00
137
karena hn > 2/3H maka jenis alirannya adalah aliran sub kritis
dengan nilai = 1.2
Perhitungan lebar pintu
- Menjumlahkan pembuangan periode satu dan dua.
- Mengetahui jumlah volume air yang dapat dibuang lewat pintu
dalam sehari.
- Menmasukkan dalam persamaan perhitungan lebar pintu.
(q1 + q2) * b = V
(4688,84 + 63.692,10) * b = 1.536.416,640
V 1.536416.640
b = = = 14,40 m
q1 q2 110 .581,94
Karena lebar satu pintu adalah 2 m, maka untuk mempermudah
pembagian jumlah pintu maka dilakukan pembulatan terhadap
lebar total pintu yaitu selebar 16 m. maka jumlah pintu yang
16m
diperlukan adalah = 8 buah pintu.
.2m
1. Perhitungan kebutuhan kapasitas tampungan minimum
Pada periode S1 dan S2 air akan tertampung, karena tidak
memungkinkan terjadi pembuangan. Volume tampungan minimum
yang dibutuhkan adalah :
Total aliran = 1.536.416,640 m3 dalam waktu satu hari
= (1.536.416,640 m3/jam)/(24)
= 66.300,75 m3/jam ≈ 0,066. 106 m3/jam
Volume tampungan minimum = 6 jam x 66.300,75 m 3/jam
138
= 397.804,50 m3
Cek perhitungan :Perhitungan permulaan waktu pengecekan
dimulai pada periode S1 .
Tabel 4.50. Kontrol Perhitungan Total Aliran
Periode Aliran masuk Aliran keluar Kebutuhan
tampungan tampungan tampungan
(106 m3) (106 m3) (106 m3
S1 S1 x (Q/jam) -
= 6 x 0,066
= 0,396 0,396
T1 T1 x (Q/jam) S1 x b (0,396 + 0,396)
= 6 x 0,066 = 0,047 x 14,40 – 0,677
= 0,396 = 0,677 = 0,115
S2 S2 x (Q/jam) -
= 6,25 x 0,066
= 0,413 0,413
T2 T2 x (Q/jam) S1 x b (0,413 + 0,413)
= 6,25 x 0,066 = 0,064 x 10,46 – 0,922
= 0,413 = 0,922 = -0,01
Perimbangan Total aliran masuk Total aliran keluar
= 1,60 = 1,60
Sumber : hasil perhitungan
Karena kebutuhan tampungan pada akhir periode T kecil sekali
maka dianggap nol, sehingga dimensi tampungan minimumnya
sebesar 1,5 kali dan besarnya tampungan yang diperlukan adalah :
= 1,5 x (0,396 + 0,115 + 0,413 - 0,010) . 10 6 m3
= 1,5 x (0,914.106)
= 1.371.000 m3
Jadi besarnya tampungan yang ada pada retarding basin (boezem)
akibat waktu pasang adalah sebesar 1.371.000 m 3.
139
Dari hasil perhitungan didapatkan volume eksisting sebesar
1.536.416,640 m3 masih lebih besar dari pada volume minimum
tampungan yang diperlukan.
Dan untuk kemudahan pelaksanaan dilapangan dilakukan
pembulatan nilai dimensi perencanaan yang ada . Jadi dari sini
dapat diketahui dimensi dari Boezem Sempaja adalah :
- Panjang (l) = 1125 m
- Lebar (B) = 500 m
- Kedalaman Boezem (h) = 3 m
- Kapasitas tampung (V) = 1.536.416,640 m3
Bisa disimpulkan bahwa volume efektik yang harus ditampung
boezem adalah 1.536.416,640 m3 .
Jadi : Volume boezem yang tersedia > Volume kebutuhan
1.536.416,640 m3 > 1.371.000 m3 --- Aman.
Adapun bentuk dan dimensi dari Boezem Sempaja diberikan pada
gambar 4.27. a dan b. yaitu gambar potongan melintang dan
tampak atas Boezem Sempaja. Setelah disain pintu bisa diketahui
maka selanjutnya adalah menganalisis berapa kemampuan pintu
dalam mengalirkan atau membuang debit banjir yang tertampung di
boezem.
140
8. Perhitungan besarnya debit outflow (Qo) sebagai berikut :
Untuk menghitung besarnya debit outflow yang akan
dikeluarkan oleh pintu otomatis, dilakukan perhitungan besarnya
debit outflow (Qo) dengan langkah sebagai berikut :
1. Setelah mengetahui volume kumulatif boezem atau kapasitas
tampungan boezem dan mengetahui luas tampungan boezem,
maka bisa dihitung elevasi muka air boezem.
2. Mengetahui elevasi bagian hilir pintu atau sungai.
3. Menghitung selisih ketinggian muka air di hulu dengan di hilir
pintu
4. Mengetahui lebar efektif pintu rencana
5. Menghitung koefisien debit pada pintu dengan rumus :
Q = K.μ.a.b. 2.g.h
6. Menghitung besarnya volume outflow yang akan dibuang
7. Melakukan cek / kontrol terhadap kemampuan pintu yang sudah
direncanakan dengan dasar :
Q inflow ≈ Q outflow atau Q inflow = Q outflow
Adapun hasil dari perhitungan debit yang akan dibuang oleh pintu
dapat dilihat pada tabel 4.51. Dari pengendalian banjir berupa boezem
ini, debit banjir yang akan ditampung oleh boezem sebesar 78,29 m 3/dt
yang merupakan debit total atau debit keseluruhan dari sisa banjir
yang akan dikendalikan atau dibuang. Jadi dengan adanya
pengendalian banjir yang berupa normalisasi Sungai Sempaja dapat
ditingkatkan kapasitas sungai dari 15 m 3/dt menjadi 28,031 m3/dt. Dan
141
sisa dari debit banjir total secara keseluruhan ditampung oleh boezem
sebesar 70 m3/dt, dimana kapasitas boezem mampu menampung debit
banjir sebesar 78,29 m3/dt. Besarnya tampungan boezem ini sudah
diperhitungkan untuk angka keamanan sebesar 10% dari debit banjir
total yang akan ditampung oleh boezem. Jadi total debit yang bisa
dikendalikan secara keseluruhan adalah (28 + 70) m 3/dt = 98 m3/dt,
dimana jumlah debit banjir ini besarnya samadengan nilai total debit
banjir rancangan sebesar 98 m 3/dt. Jadi total debit banjir rancangan,
dapat dikendalikan secara keseluruhan dengan sistem pengendalian
banjir yang berupa normalisasi sungai dan boezem.
4.10.5. Perhitungan tinggi bukaan pintu
142
y =3m Q = 78,29 m3/dt
g = 9,81 m/dt Z = m = 0,5
B = 16 m V1 = 1,5 m/dt (tabel)
V
F = 2.g.h
1.5
= 2.9,81.(3)
= 0,20
Kondisi aliran air setelah melewati pintu keluaran (outlet) dapat
dihitung :
y2
y1
= 1 8F1 1
y2
= 1 8.0,20 1
3
y2
= 0,61
3
y2 = 0,43 (3) = 1,32 m ≈ 140 m
A = h (B + z.h)
= 3 (16+ 0,5.3) = 51,55 m2 ≈ 52 m2
P = b + 2h 1 z 2
= 16 + 2 (2,95) 1 0,5 2
= 22,60 m2 ≈ 23 m
A 52 m 2
R = p = = 2,28 m ≈ 2,30 m
23 m
1 2 / 3 1/ 2
V2 = .R .5 --------- S = 0,00034, n = 0,016
n
143
1
(2,30) 2 / 3 (0,00034)1 / 2
V2 = 0.016 = 1,99 m/dt ≈ 2 m/dt
v
F2 = 2.g.h
2
= 2.9,81.(3)
= 0,25 ------ F2 < 1, sub kritis
tinggi aliran (a) dihitung dengan persamaan :
Q = K.μ. a.b 2 g .h1
78,29 = (0,80).(0,60).a.(16) 2(9,81)(3)
a = 1,34 m ≈ 135 m
Pintu Air
Tinggi bukaan pintu
h1 = 3 m
a = 1,35 m
V1 V2 h2 = 1,40 m
F1 F2
Gambar 4.35. Kondisi aliran terhadap pintu keluaran (outlet)
Retarding basin (boesem)
144
LANGKAH-LANGKAH PENGERJAAN PROGRAM HEC-RAS VERSI 3.0
Program Hydrologic Engineering Center – River Analysis System
(HEC-RAS) Versi 3.0 ini diluncurkan pada tahun 2001. Software ini dapat
digunakan untuk menghitung profil muka air untuk aliran tetap (steady)
dan tidak tetap (unsteady) berdasarkan persamaan aliran satu dimensi.
Pada studi ini perhitungan profil muka aliran sungai digunakan profil muka
air aliran tetap.
Komponen ini dimaksudkan untuk menghitung profil muka air untuk
kondisi aliran tetap berubah lambat laun (Steady gradually varied flow).
Prosedur perhitungannya dievaluasi berdasarkan gesekan (persamaan
manning’s) dan kontraksi/ekspansi (koefisien akibat perubahan
kecepatan). Persamaan momentum digunakan ketika profil muka air
145
berubah tiba-tiba contohnya pada saat perhitungan loncatan hidrolik. Data
masukan yang diperlukan adalah :
- Data Geometri
Data geometri terdiri dari skematisasi jaringan sungai yang akan
dianalisa, data potongan (cross section data), koefisien kehilangan energi
(kehilangan akibat gesekan dan kehilangan akibat kontraksi dan ekspansi,
informasi percabangan sungai, data bangunan struktur yang ada.
- Data Aliran Tetap
Station Elevation
(X) (Y) Data aliran yang dibutuhkan untuk
100 2.77
menampilkan perhitungan profil muka air
103 2.77
104.36 0.05 terdiri dari : rejim aliran, kondisi batas dan
106.36 0.05
informasi debit puncak.
108.56 0.05
Input data pada program HEC-RAS untuk
109.89 2.71
112.89 2.71 kondisi aliran tetap (Steady flow) adalah
sebagai berikut (sebagai contoh perhitungan dalam studi ini digunakan
data pada patok 11):
Cross Section X-Y Coordinates
Down Stream Reach
Lengths:
146
LOB = 59.3 m
Channel = 59.5 m
ROB = 59.8 m
Manning’s Values :
LOB = 0.019
Channel = 0.019
ROB = 0.019
Main Channel Bank Stations :
Left Bank = 103
Right Bank = 109.89
Cont/ Exp Coefficients
Contraction = 0.1
Ekspansion = 0.3
Debit Banjir Rancangan (Q25th) = 88.44 m3/det
Langkah-langkah untuk memasukkan data input pada program HEC-
RAS adalah :
1. Setelah masuk ke program HEC-RAS, pilih menu File → New Project.
Kemudian tulis nama project yang diinginkan. Misalkan nama
projectnya adalah Sempaja.
147
2. Kemudian masuk ke menu options → Unit system (US
Customary/SI) dan pilih satuan perhitungan yang akan digunakan
yaitu satuan metrik.
3. Kemudian masuk ke
Geometri Data pada
menu Edit
148
- Pertama kali yang dilakukan adalah menggambar skema sistem
sungai dengan menggunakan pilihan River Reach.
- Langkah selanjutnya adalah memasukkan data cross section
dengan cara menekan tombol Cross section pada menu
Geometik Data dan pilih menu Option → Add a new Cross
Section. Misalkan pada masukan data Cross section 11, maka
tulisakan nomor 11 dan klik OK. Pada menu ini data-data yang
harus diisi adalah:
149
a. Data Cross Section, yaitu data penampang melintang saluran
yang ditunjukkan dengan koordinat x/y.
b. Data Down Stream Reach, yaitu jarak potongan memanjang
saluran yang mana terdiri dari tiga bagian yaitu LOB (Left
Overbank) = jarak antar saluran ditinjau dari kiri saluran, Channel
= jarak antar saluran ditinjau dari tengah saluran dan ROB (Right
Overbank), = jarak antar saluran ditinjau dari kanan saluran. Pada
patok 11, masukkan nilai LOB = 59.3 m, Channel = 59.5 m dan
ROB = 59.8 m.
c. Data Manning’s n Value, yaitu koefisien kekasaran Manning untuk
masing-masing bagian yaitu pada kiri, tengah dan kanan saluran.
150
Pada patok 11, masukkan nilai LOB = 0.0019, Channel = 0.0019
dan ROB = 0.0019
d. Data Main Channel Bank Station, yaitu koordinat x yang mana
merupakan jarak dari saluran yang mengalirkan air. Pada patok 11,
masukkan nilai Left Bank = 103 dan Right Bank = 109.89
e. Data Cont\Exp Coefficients, yaitu koefisien akibat perubahan
kecepatan diisi dengan nilai 0.1 dan 0.3.
Dengan cara yang sama maka masukkan nilai untuk masing-
masing data Cross section untuk setiap penampang.
151
4. Data selanjutnya yang harus dimasukkan untuk menyelesaikan
perhitungan profil muka air adalah data aliran tetap (steady flow data).
Untuk memasukkan data aliran maka pilih Steady Flow Data pada
menu Edit di menu utama HEC-RAS.
- Bagian pertama adalah memasukkan jumlah profil yang akan
dianalisa. Pada studi ini profil aliran yang digunakan adalah 5, yaitu
: Q2th, Q5th, Q10th, dan Q25th.
- Langkah selanjutnya adalah memasukkan data aliran. Data aliran
dimasukkan dari hulu ke hilir untuk setiap jangkauan. Setidaknya
satu nilai aliran harus dimasukkan untuk semua jangkauan dalam
satu sistem sungai. Sekali nilai aliran dimasukkan, maka akan
diasumsi bahwa aliran akan tetap konstan sampai nilai aliran
lainnya dimasukkan pada pertemuan selanjutnya dalam jangkauan
tersebut.
152
- Langkah selanjutnya adalah memasukkan kondisi batas yang
dibutuhkan. Untuk memasukkan kondisi batas, tekan tombol Reach
Boundary Conditions. Pada menu ini terdapat empat pilihan
kondisi batas yaitu :
a. Known W.S. yaitu kondisi batas merupakan elevasi muka air yang
diketahui untuk setiap potongan melintang yang akan dihitung.
b. Critical Depth, jika kondisi batas ini yang dipilih maka komputer
sendiri yang akan menghitung kedalaman kritis untuk setiap
potongan melintang dan akan menggunakannya sebagai kondisi
batas.
c. Normal Depth, untuk kondisi batas ini harus diketahui energi
kemiringan yang akan digunakan pada perhitungan kedalaman
kritis (menggunakan persamaan Manning). Pada umumnya energi
153
kemiringan didapat dengan pendekatan rata-rata kemiringan
saluran atau rata-rata kemiringan muka air pada potongan
penampang melintang.
d. Rating Curve, yaitu kurva hubungan antara debit dan elevasi.
Untuk setiap penampang melintang, elevasi diperoleh dengan cara
menginterpolasi dari rating curva dengan memasukkan besarnya
debit.
Pada studi ini sebagai kondisi batas pada daerah downstream
menggunakan kondisi batas Critical Depth.
5. Perhitungan Hidrolik
Setelah semua data dimasukkan, maka dapat dilanjutkan
dengan perhitungan profil muka airnya. Untuk melakukan simulasi ini,
maka pilih Steady Flow Analysis dari menu Run pada menu utama
154
HEC-RAS. Langkah pertama adalah mendefinisikan suatu rencana
(Plan), pilih New Plan dari menu File. Pilih geometri file dan steady
flow file yang akan dianalisis. Kemudian pilih rejim aliran yaitu pada
subkritis. Setelah semua data dimasukkan maka perhitungan profil
muka air dapat dimulai yaitu dengan menekan tombol COMPUTE yang
terletak dibagian bawah. Setelah tombol COMPUTE ditekan, maka
akan tampil progres perhitungannya.
155
6. Setelah perhitungan selesai kembali ke menu utama dan pilih icon
Profile Output Table. Pilihlah menu Option untuk mengetahui
keluaran hasil perhitungan sesuai dengan yang diinginkan.
Hasil perhitungan secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.55.
156
Dari hasil perhitungan HEC-RAS dapat diketahui bahwa pada patok
10 sampai dengan patok 220 mengalami limpasan pada penampang
sungainya. Hal ini dapat dilihat dengan cara melihat selisih ketinggian
elevasi muka air yang terjadi dengan elevasi tanggul. Apabila elevasi
muka air lebih tinggi dari elevasi tanggul maka tejadi limpasan dan
sebaliknya apabila elevasi muka air lebih rendah dari elevasi tanggul
maka pada penampang tersebut tidak terjadi limpasan. Sedangkan untuk
menganalisis profil muka air akibat pengaruh pasang surut, normalisasi
sungai dan perencanaan boezem dilakukan dengan cara yang sama
seperti yang telah diuraikan diatas. Hasil selengkapnya disajikan pada
tabel 4.56 – 4.58. Dari analisis profil aliran untuk kondisi setelah dilakukan
perencanaan normalisasi sungai, masih terjadi limpasan yaitu pada patok
11 sampai patok 220. Oleh karena itu untuk menaggulangi agar tidak
terjadi limpasan maka dilakukan perencanaan boezem. Setelah dilakukan
analisis profil aliran pada sungai yang telah dinormalisasi dan
perencanaan boezem menggunakan program HEC-RAS, maka dapat
diketahui bahwa pada penampang Sungai Sempaja tidak tejadi lagii
limpasan.
157
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan Perencanaan Pengendalian Banjir
Pada Sungai Sempaja yang meliputi penentuan dimensi saluran
drainase, dimensi Sungai Sempaja, dimensi mercu inlet dan
dimensi pintu outlet guna penanggulangan banjir pada wilayah
Sempaja, Kota Samarinda dapat disimpulkan :
1. Dimensi saluran drainase di wilayah Sempaja Kota Samarinda
a. Jalan Wahab Syahrani
Kiri : - Lebar dasar saluran (b) = 1,70 m
- Lebar puncak saluran (T) = 3,10 m
- Kedalaman air (h) = 0,65 m
- Tinggi tanggul atau jagaan (f) = 0,75 m
- Kemiringan dinding saluran (m) = 0,5
Kanan : - Lebar dasar saluran (b) = 1,00 m
- Lebar puncak saluran (T) = 2,20 m
- Kedalaman air (h) = 0,75 m
- Tinggi tanggul atau jagaan (f) = 0,75 m
- Kemiringan dinding saluran (m) = 0,5
b. Jalan Wahid Hasyim
Kiri : - Lebar dasar saluran (b) = 1,00 m
- Lebar puncak saluran (T) = 2,20 m
158
- Kedalaman air (h) = 0,60 m
- Tinggi tanggul atau jagaan (f) = 0,60 m
- Kemiringan dinding saluran (m) = 0,5
Kanan : - Lebar dasar saluran (b) = 1,00 m
- Lebar puncak saluran (T) = 2,20 m
- Kedalaman air (h) = 0,60 m
- Tinggi tanggul atau jagaan (f) = 0,60 m
- Kemiringan dinding saluran (m) = 0,5
c. Jalan Pertahanan
Kiri : - Lebar dasar saluran (b) = 1,10 m
- Lebar puncak saluran (T) = 2,30 m
- Kedalaman air (h) = 0,60 m
- Tinggi tanggul atau jagaan (f) = 0,60 m
- Kemiringan dinding saluran (m) = 0,5
Kanan : - Lebar dasar saluran (b) = 1,10 m
- Lebar puncak saluran (T) = 2,30 m
- Kedalaman air (h) = 0,60 m
- Tinggi tanggul atau jagaan (f) = 0,60 m
- Kemiringan dinding saluran (m) = 0,5
2. Besarnya debit banjir rancangan Sungai Sempaja untuk kala
ulang : 2 tahun = 39,89 m3/dt
5 tahun = 58,38 m3/dt
10 tahun = 70,76 m3/dt
159
25 tahun = 98,00 m3/dt
3. Dimensi penampang Sungai Sempaja setelah dinormalisasi
terdiri dari lebar dasar sungai (b) = 5 m, lebar puncak sungai
(T) = 6,5 m, kemiringan dinding sungai 1:0,5 dan ketinggian
tanggul sebesar 3,25 m.
4. Sungai yang dinormalisasi adalah Sungai Sempaja 1 (segmen
19) sepanjang 1300 m, Sungai Sempaja 2 (segmen 22)
sepanjang 700 m, dan Sungai Sempaja 3 (Segmen 23)
sepanjang 2700 m.
5. Penempatan boezem diletakkan pada bagian hilir sungai dengan
dimensi sebagai berikut :
- Tinggi tampungan boezem (H) = 3m
- Panjang boezem (L) = 1125 m
- Lebar booezem (B) = 500
- Kemiringan dinding (m) = 1 : 0,5
- Volume tampungan boezem (V) = 1.536.416,640 m 3
6. Pada bagian inlet boezem dilengkapi dengan pelimpah samping
dengan lebar 108 m, tinggi muka air diatas mercu 0,60 m dan
tinggi mercu sampai dengan tanggul 1,00 m.
7. Pada bagian outlet boezem dilengkapi pintu, dengan lebar efektif
pintu 16 m. Jumlah pintu sebanyak 8 buah pintu, dimana 1 unit
pintu tingginya 3 m, lebarnya 2 m dengan tinggi bukaan pintu
160
1,35 m, yang berfungsi mengatur sistem pembuangan atau
pengeluaran debit banjir dari boezem ke sungai dengan
memperhatikan pengaruh pasang surut air laut.
9. Dengan adanya sistem pengendalian banjir yang berupa
normalisasi Sungai Sempaja dapat ditingkatkan kapasitas
pengaliran sungai dari 15 m3/dt menjadi 28,031 m3/dt, dari total
aliran debit banjir rancangan sebesar 98 m 3/dt.
10. Dari sistem pengendalian banjir berupa normalisasi Sungaii
Sempaja, ternyata kapasitas dari Sungai Sempaja masih belum
mampu mengalirkan debit banjir rancangan terutama pada saat
air sungai pasang. Sehingga masih ada debit banjir rancangan
yang melimpas sebesar 70 m3/dt. Untuk menanggulangi
limpasan debit banjir yang tidak tertampung pada sungai yang
sudah dinormalisasi tersebut, maka limpasan debit banjir
tersebut
ditampung sementara pada retarding basin (boezem).
11. Boezem yang dilengkapi dengan pelimpah sepanjang 108 m,
ternyata mampu menampung debit banjir rancangan sebesar
78,29 m3/dt. Jadi dengan pembuatan boezem ini dapat
dikendalikan atau dibuang debit banjir total sebesar 98 m 3/dt,
yang merupakan debit banjir secara keseluruhan.
161
a. Saran
Pengendalian banjir pada studi ini terdiri dari penataan
saluran drainase, normalisasi sungai dan pembuatan retarding
basin (boezem), serta gabungan dari ke tiganya, merupakan salah
satu alternatif pengendalian banjir yang bisa diterapkan pada DPS
Sempaja. Masih banyak alternatif-alternatif lain yang bisa
diterapkan seperti, pembuatan long storage atau boezem yang
dikombinasi dengan rumah pompa pada bagian outletnya, bisa juga
dengan pembuatan saluran pengendali banjir (flood way),
pembuatan sumur resapan dan masih banyak alternatif-alternatif
lain yang perlu dikaji tersendiri.
Untuk dapat mewujudkan suatu pengendalian banjir secara
menyeluruh, perlu dukungan semua pihak agar perencanaan
pengendalian banjir dapat berfungsi secara efektif dan efisien.
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut
1. Perlu adanya penyuluhan dari pemerintah daerah setempat dan
mengajak peran serta masyarakat untuk tidak membuang
sampah pada saluran ataupun sungai, dan agar tidak menutup
saluran-saluran tersier (yang lebih kecil). Sebaliknya diperlukan
kesadaran masyarakat untuk berperan serta menjaga dan
162
memperbaiki saluran, agar saluran drainase dapat berfungsi
dengan benar.
2. Kepada pengembang agar benar-benar mematuhi tata guna
lahan atau rencana tata ruang kota yang telah dibuat oleh
Bappeda, terutama dalam rangka melindungi daerah
tampungan air.
3. Pengerukan dasar saluran dan pemeliharaan saluran perlu
dilakukan secara rutin, agar saluran dapat berfungsi
sebagaimana mestinya.
4. Perlunya studi lebih lanjut tentang detail konstruksi disaen
boezem, pelimpah samping (side spillway), dan pintu dibagian
outlet boezem.
5. Perlunya studi lebih lanjut tentang pengendalian banjir dalam
bentuk lain, sebagai pembanding dalam penentuan
perencanaan pengendalian banjir.
163