Pengertian Flow Control dalam Datalink
Pengertian Flow Control dalam Datalink
4
Data Link Control
Pembahasan kali ini mengenai pengiriman sinyal melewati sebuah saluran transmisi, agar komunikasi dapat
efektif banyak hal tentang pengendalian dan manajemen pertukaran yang harus diperhatikan. Data link control
ini bekerja di lapisan ke dua pada model referensi OSI.
Beberapa hal yang diperlukan untuk mengefektifkan komunikasi data antara dua stasiun transmiter dan
receiver adalah:
Sinkronisasi frame, data yang dikirimkan dalam bentuk blok disebut frame. Awal dan akhir suatu
frame harus teridentifikasi dengan jelas.
Flow Control (Kendali Aliran), stasiun pengirim tidak harus mengirimkan frame lebih cepat dibanding
stasiun penerima yang dapat menyerap frame-frame tersebut.
Error Control (Kendali kesalahan), kesalahan-kesalahan bit yang diakibatkan oleh sistem transmisi
harus diperbaiki.
Addressing (Pengalamatan), pada sebuah saluran multipoint, seperti LAN, indentitas dari dua buah
stasiun yang berkomunikasi harus jelas.
Kontrol dan data pada link yang sama, biasanya tidak diperlukan informasi kontrol dalam sistem
komunikasi yang terpisah, maka penerima harus dapat membedakan informasi kontrol dari data yang
dikirimkan.
Link Management (managemen hubungan), inisiasi, pemeliharaan, dan penghentian dari suatu
pertukaran data memerlukan korodinasi dan kerja sama yang baik antar stasiun. Oleh karena itu
dibutuhkan prosedur manajemen untuk pertukaran ini.
Flow-control adalah suatu teknik untuk menjamin bahwa entitas pengirim tidak akan membanjiri data kepada
entitas penerima. Entitas penerima secara khusus mengalokasikan buffer dengan beberapa kali panjangnya
tansfer.
Ketika data diterima receiver harus mengerjakan sejumlah proses tertentu sebelum mengalirkan data ke
software dengan level yang lebih tinggi. Dengan tidak adanya flow-control maka buffer pada penerima
dapat terisi penuh dan melebihi kapasitas, bersamaan pada saat penerima masih memproses data
sebelumnya.
Sebagai permulaannya maka kita menguji mekanisme flow-control dengan tidak adanya error, seperti
ditunjukkan pada gambar 4.1 dibawah. Sumbu keatas adalah urutan waktu yang akan mempermudah dalam
mengambarkan hubungan kirim dan terima yang benar sebagai fungsi waktu. Masing-masing tanda panah
menunjukkan satu frame data yang sedang transit (dalam perjalanan) diantara dua stasiun. Data dikirimkan
dalam urutan frame yang masing-masing frame berisi bagian data dan sejumlah informasi pengontrol.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 49
waktu
Gambar 4. 1 Model transmisi frame
Diasumsikan bahwa semua frame yang dikirimkan berhasil diterima dengan sukses, tidak ada frame yang
hilang dan tidak ada frame yang datang mengalami error. Selanjutnya frame-frame tersebut tiba bersamaan
dengan dikirimkannya frame, bagaimanapun juga masing-masing frame yang dikirimkan sebelum diterima
akan mendapat delay pasa saluran yang besarnya berubah-ubah.
Bentuk paling sederhana dari flow-control adalah stop-and-wait flow-control yang bekerja sebagai berikut;
entitas sumber mengirimkan frame, setelah diterima entitas tujuan memberi tanda untuk menerima frafe
berikutnya dengan mengirimkan balasan sesuai frame yang telah diterima. entitas sumber harus menunggu
sampai ia menerima balasan dari entitas tujuan sebelum mengirimkan frame berikutnya. Selanjutnya entitas
sumber dapat menghentikan aliran data dengan menahan jawaban. Prosedur ini dapat bekerja dengan baik
tentunya bila data dikirimkan dalam jumlah frame yang besar, dalam hal ini entitas sumber akan membagi
blok data yang banyak menjadi blok data yang lebih kecil yang kemudian dikirimkan dalam beberapa frame.
Stop-and-wait digunakan untuk transmisi dengan keperluan tertentu, yang memiliki beberapa ciri-ciri :
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 50
Pada gambar 4.2 dibawah, berisi urutan gambar dari sebuah proses transmisi (dengan waktu transmisi =
1, dan waktu propagasi = a). Pada urutan 1 sampai dengan 4 ditunjukkan proses transmisi frame yang berisi
data, dan pada gambar yang terakhir (urutan nomer 5) menunjukkan kembalinya frame jawaban yang kecil.
Dengan catatan bahwa pada a>1 menunjukkan media transmisi sedang sibuk (dipergunakan statiun lain),
sedangkan a<1 media transmisi sedang kosong sehingga dapat dipergunakan secara effisien.
Masalah utama yang selama ini adalah bahwa hanya satu frame yang dapat dikirimkan pada saat yang
sama. Dalam keadaan antrian bit yang akan dikirimkan lebih besar dari panjang frame (a>1) maka
diperlukan suatu efisiensi. Untuk memperbesar efisiensi yang dapat dilakukan dengan memperbolehkan
transmisi lebih dari satu frame pada saat yang sama.
Bila suatu stasiun A dan B dihubungkan dengan jalur full-duplex, stasiun B mengalokasikan buffers dengan
selebar n frame, yang berarti stasiun B dapat menerima n frame, dan stasiun A diperbolehkan untuk
mengirim frame sebanyak n tanpa menunggu adanya jawaban.
Untuk menjaga jejak dimana frame yang dikirimkan sedang dijawab maka masing-masing jawaban diberi
label dengan nomor yang urut. Stasiun B menjawab frame dengan mengirimkan jawaban yang dilengkapi
nomor urut dari frame berikutnya yang diinginkan. Jawaban ini juga memiliki maksud untuk
memberitahukan bahwa stasiun B siap untuk menerima n frame berikutnya, dimulai dengan nomer urut
yang telah tercantum.
Skema ini juga dapat dipergunakan untuk menjawab lebih dari satu frame. Misalnya stasiun B dapat
menerima frame 2, 3 dan 4, tetapi menahan jawaban sampai samapai frame ke 4 tiba, dengan kembali
jawaban dengan nomer urut 5, stasiun B menjawab frame 2, 3, dan 4 pada satu saat. Stasiun A memeliharan
daftar nomer urutan yang boleh dikirim, sedangkan stasiun B menyimpan daftar nomer urutan yang siap
akan diterima. Masing-masing daftar tersebut dapat dianggap sebagai window dari frame, sehingga prinsip
kerjanya disebut dengan pengontrol aliran sliding-window.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 51
Beberapa tambahan komentar diperlukan, karena nomer urut yang dipakai menempati daerah didalam
frame, komentar tambahan ini dibatasai oleh terbatasnya tempat yang tersedia. Misalnya untuk daerah
dengan panjang 3 bit, maka nomer urut jangkauannya antara 0 s.d 7 saja, sehingga frame diberi nomer
dengan modulo 8, jadi sesudah nomer urut 7 berikutnya adalah nomer 0. Pada umumnya untuk daerah
dengan panjang k-bit, maka jangkauan nomer urut dari 0 samapai dengan 2k-1, dan frame diberi nomer
dengan modulo 2k.
Pada gambar 4.3 dibawah menggambarkan proses sliding-windows, dengan diasumsikan nomer urut
menggunakan 3-bit sehingga frame diberi nomor urut 0 s.d. 7, selanjutnya nomer yang sama dipakai kembali
sebagai bagian urutan frame. Gambar segiempat yang diberi bayangan (disebut window) menunjukkan
transmitter dapat mengirimkan 7 frame, dimulai dengan frame nomer 6. Setiap waktu frame dikirimkan
maka window yang digambarkan sebagai kotak dibayangi akan menyusut, setiap waktu jawaban diterima,
window akan membesar.
Ukuran panjang window sebenarnya tidak diperlukan sebanyak ukuran maksimumnya untuk diisi
sepanjang nomer urut. Sebagai contoh, nomer urut menggunakan 3-bit, stasiun dapat membentuk window
dengan ukuran 4, menggunakan protokol pengatur aliran sliding-window.
Sebuah contoh digambarkan pada gambar 4.4. Misalnya diasumsikan memiliki daerah nomer urut 3-bit dan
maksimum ukuran window adalah 7 frame. Dimulai dari stasiun A dan B telah menandai window dan
stasiun A mengirimkan 7 frame yang dimulai dengan frame 0 (F0), sesudah mengirimkan 3 frame (F0, F1,
dan F2) tanpa jawaban maka stasiun A telah menyusutkan window nya menjadi 4 frame. Window
menandati bahwa stasiun A dapat mengirimkan 4 frame, dimulai dari frame nomer 3 selanjutnya stasiun B
mengirim receive-ready (RR) yang berarti semua frame telah diterima sampai frame nomer 2 dan selanjutnya
siap menerima frame nomer 3, tetapi pada kenyataannya disiapkan menerima 7 frame, dimulai frame nomer
3. Stasiun A terus mengirimkan frame nomer 3, 4, 5, dan 6, kemudian stasiun B menjawab RR7 sebagai
jawaban dari semua frame yang diterima dan pengusulkan stasiun A mengirim 7 frame, dimulai frame
nomer 7.
Receiver harus dapat menampung 7 frame belebihi satu jawaban yang telah dikirim, sebagian besar protokol
juga memperbolehkan suatu stasiun untuk memutuskan aliran frame dari sisi (arah) lain dengan cara
mengirimkan pesar receive-not-ready (RNR), yang dijawab frame terlebih dulu, tetapi melarang transfer
frame berikutnya.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 52
Bila dua stasiun saling bertukar data (dua arah) maka masing-masing perlu mengatur dua window, jadi satu
untuk transmit dan satu untuk receive dan masingmasing sisi (arah) saling mengirim jawaban. Untuk
memberikan dukungan agar efiisien seperti yang diinginkan, dipersiapkan piggy-backing (celengan),
masing- masing frame data dilengkapi dengan daerah yang menangkap urutan nomer dari frame, ditambah
daerah yang menangkap urutan nomer yang dipakai sebagai jawaban. Selanjutnya bila suatu stasiun
memiliki data yang akan dikirim dan jawaban yang akan dikirimkan, maka dikirimkan bersama-sama dalam
satu frame, cara yang demikian dapat meningkatkan kapasitas komunikasi.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 53
Source System A Destination System B
0123456701234567 0123456701234567
F0
F1
F2
0123456701234567
0123456701234567
0123456701234567
RR3
0123456701234567
F3
F4 0123456701234567
F5
F6
4
0123456701234567 RR
0123456701234567
0123456701234567
Jika suatu stasiun memiliki jawaban tetapi tidak memiliki data yang akan dikirim, maka stasiun tersebut
mengirimkan frame jawaban yang terpisah. Jika suatu stasiun memiliki data yang akan dikirimkan tetapi
tidak memiliki jawaban baru yang akan dikirim maka stasiun tersebut mengulangi dengan mengirimkan
jawaban terakhir yang dikirim, hal ini disebabkan frame data dilengkapi daerah untuk nomer jawaban,
dengan suatu nilai (angka) yang harus diletakkan kedalam daerah tersebut. Jika suatu stasiun menerima
jawaban yang sama (duplikat) maka tinggal mengabaikan jawaban tersebut.
Sliding-window dikatakan lebih efisien karena jalur komunikasi disiapkan seperti pipa saluran yang setiap
saat dapat diisi beberapa frame yang sedang berjalan, tetapi pada stop-and-wait hanya satu frame saja yang
boleh mengalir dalam pipa saluran tersebut.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 54
4.2 Error Detection
Pada bab sebelumnya, kita bicara tentang gangguan transmisi serta efek rate data, dan rasio
sinyal-terhadap-derau pada rate kesalahan bit. Dengan mengabaikan desain sistem transmisi, akan terjadi
kesalahan yang disebabkan oleh perubahan satu bit atau lebih dalam frame yang transmisikan.
Sekarang kita menetapkan probabilitas-probabilitas berikut dengan memperhatikan kesalahan yang terjadi
pada frame-frame yang ditransmisikan:
Pb: Probabilitas kesalahan bit tunggal, disebut juga dengan the bit kesalahan rate (BER)
Pl: Probabilitas di mana frame tiba tanpa kesalahan bit.
P2: Probabilitas di mana frame tiba dengan satu atau lebih kesalahan bit yang tak terdeteksi.
P3:. Probabilitas di mana frame tiba dengan satu atau lebih kesalahan bit yang terdeteksi namun tanpa
kesalahan bit yang tak terdeteksi.
Pertama-tama amati kasus saat tidak ada cara yang diambil untuk mendeteksi kesalahan. Maka probabilitas
kesalahan yang terdeteksi (P3) menjadi nol. Untuk menyatakan probabilitas yang tersisa, asumsikan
probabilitas dimana bit-bit tersebut yang mengalami kesalahan (Pb), konstan dan bebas untuk
masing-masing bit. Maka kita dapat:
P1 = (1 - Pb)F
P2 = 1 –P1
dimana F adalah jumlah bit per frame. Maksudnya, probabilitas di mana sebuah frame tiba tanpa penurunan
kesalahan bit bila probabilitas kesalahan bit tunggal meningkat, seperti yang diharapkan. Selain itu,
probabilitas di mana sebuah frame tiba tanpa penurunan kesalahan apabila dengan panjang frame juga
meningkat; semakin panjang frame, semakin banyak bit yang dimiliki dan semakin tinggi probabilitas
kesalahannya.
Kita ambil satu contoh sederhana untuk menggambarkan keterkaitan ini. Suatu tujuan yang ditetapkan
untuk koneksi ISDN adalah BER pada cartel 64-kbps harus kurang dari 10-6 pada sedikitnya 90 persen dari
interval 1 menit yang diamati. Anggap saja sekarang kita memiliki persyaratan yang lebih sederhana yang
berada pada rata-rata satu frame dengan kesalahan bit tak terdeteksi yang bisa terjadi per hari pada kanal 64
kbps yang dipergunakan terus-menerus. Selain kita asumsikan pula panjang frame sebesar 1000 bit. Jumlah
frame yang dapat ditransmisikan dalam sehari bisa mencapai 5,529 x 106 , yang menghasilkan rate kesalahan
frame yang diharapkan sebesar P2 = 1/(5,529 x 106) = 0,18 x 10-6 Namun bila kita mengasumsikan nilai Pb
sebesar 10-6, maka P1 = (0,999999)1000 = 0,9999 dan karenanya P2 = 10-3, yang kira-kira tiga orde dari
magnituda terlalu besar untuk memenuhi persyaratan ini.
Ini merupakan hasil yang mendorong penggunaan teknik-teknik pendeteksian kesalahan. Seluruh teknik ini
beroperasi menurut prinsip berikut. Untuk frame bit tertentu, tambahan bit yang merupakan suatu kode
pendeteksian kesalahan ditambahkan oleh transmitter. Kode ini dihitung sebagai fungsi dari bit-bit yang
ditransmisikan lainnya. Receiver menunjukkan kalkulasi yang sama dan membandingkan dua hasilnya.
Kesalahan yang terdeteksi terjadi bila clan hanya bila terdapat ketidaksamaan. Sehingga P3 adalah
probabilitas bahwa frame berisi kesalahan clan bahwa skema pendeteksian kesalahan akan mendapati
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 55
kenyataan itu. P2 juga disebut sebagai rate kesalahan tersisa dan merupakan probabilitas yang berarti
bahwa kesalahan akan menjadi tak terdeteksi walaupun skema pendeteksian kesalahan dipergunakan.
Skema pendeteksian kesalahan yang paling sederhana adalah melampirkan bit paritas ke ujung blok data.
Contoh khususnya yaitu transmisi karakter, di mana bit paritas dihubungkan ke setiap karakter IRA 7-bit.
Nilai dari bit ini dipilih sehingga karakter memiliki angka genap sebesar 1 (paritas genap) atau angka ganjil
sebesar 1 (Paritas ganjil). Jadi, sebagai contoh, bila transmitter mentransmisikan IRA G (1110001) dan
menggunakan paritas ganjil, akan melampirkan 1 dan mentransmisikan 11100011. Receiver menguji karakter
yang diterima dan, bila total jumlah 1 adalah ganjil, diasumsikan tidak terjadi kesalahan. Bila satu bit (atau
angka bit yang ganjil) dibalik secara salah selama transmisi (misalnya, 11000011), maka receiver akan
mendeteksi adanya kesalahan. Perhatikan, , bila dua (atau angka genap) bit dibalik karena suatu kesalahan,
akan muncul kesalahan yang tak terdeteksi. Biasanya, paritas genap digunakan untuk transmisi synchronous
sedangkan paritas ganjil untuk transmisi .
Penggunaan bit paritas bukanlah suatu pembuktian yang bodoh, sebagaimana gangguan-gangguan derau
yang seringnya cukup panjang untuk bisa merusak lebih dari satu bit, utamanya pada rate data yang tinggi.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 56
4.2.2 Cyclic Redundancy Check (CRC)
Kode pendeteksian kesalahan yang paling umum serta paling hebat adalah Cyclic Redundancy Check (CRC)
yang dapat digambarkan sebagai berikut, dengan adanya blok bit k-bit, atau pesan, transmitter mengirimkan
suatu deretan n-bit, disebut sebagai Frame Check Sequence (FCS), sehingga frame yang dihasilkan, terdiri
dari k+n bit, dapat dibagi dengan jelas oleh beberapa nomor yang sebelumnya sudah ditetapkan. Kemudian
receiver membagi frame yang datang dengan nomor tersebut dan, bila tidak ada sisa, maka diasumsikan
tidak terdapat kesalahan.
Untu.k menjelaskan hal ini, kita sajikan prosedur dalam dua cara, yakni: modulo 2 aritmatik dan
polynomials.
Modulo 2 Aritmatik
Modulo 2 aritmatik menggunakan penambahan biner tanpa pembawa, yang hanya merupakan operasi
OR-eksklusif saja. Pengurangan biner tanpa pembawa juga diterjemahkan sebagai operasi OR-eksklusif.
Sebagai contoh,
1111 1111 11001
+1010 -0101 x01
0101 1010 11001
110010
101011
Sekarang menetapkan
Kita inginkan T/P tidak memiliki sisa. Sehingga harus dinyatakan dengan
T=2nM+F
Yaitu, dengan cara mengalikan M dengan 2n. sebenarnya kita telah memindahkannya ke kiri lewat bit n dan
menambahi hasilnya dengan nol. Dengan menambahkan F menghasilkan deretan M dan F, yang merupakan
T. Kita ingin T bisa dibagi oleh P. Anggap saja kita membagi 2nM dengan P:
2n M R
= Q + ............................................... (4.1)
P P
Ada hasil bagi dan sisa. Karena pembaginya. berupa Modulo 2, sisanya selalu sedikitnya satu bit lebih
pendek daripada pembagi. Kita akan menggunakan sisa ini sebagai FCS. Kemudian
T=2nM+R
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 57
Apakah R memenuhi syarat bahwa T/P tidak memiliki sisa? Untuk melihatnya, amati yang berikut ini:
T 2n M + R
=
P P
T R R
=Q+ +
P P P
Bagaimanapun juga, apapun angka biner yang ditambahkan dengan modulo 2-nya sendiri akan
menghasilkan nol. Sehingga
T R+R
=Q+ =Q
P P
Tidak ada sisa, dan karenanya T bisa dibagi dengan P. Jadi, FCS dengan mudah dibangkitkan: Secara
sederhana membagi 2nM dengan P dan mengunakan sisanya sebgai FCS. Pada penerima, receiver akan
membagi T dengan P dan tidak memperoleh sisa bila tidak terdapat kesalahan.
1. Diketahui:
Pesan M = 1010001101 (10 bit)
Pola P 110101 (6 bit)
FCS R akan dikalkulasikan (5 bit)
2. Pesan dikalikan dengan 25, menghasilkan 101000110100000.
3. HasiInya. dibagi dengan P:
1101010110 Q
P 110101 101000110100000 2nM
110101
111011
110101
111010
110101
111110
110101
101100
110101
110010
110101
01110 R
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 58
4. Sisanya ditambahkan dengan 2nM untuk memberi T=101000110101110, yang ditransmisikan.
5. Bila tidak terdapat kesalahan, receiver menerima T utuh. Frame yang diterima dibagi dengan P:
1101010110 Q
P 110101 101000110101110 2nM
110101
111011
110101
111010
110101
111110
110101
101111
110101
110101
110101
0 R
Pola P dipilih sebagai satu bit lebih panjang dibanding FCS yang diinginkan, dan pola bit yang dipilih
tergantung pada jenis kesalahan yang diharapkan. Pada nilai minimum, orde bit yang tinggi maupun yang
rendah dari P harus berupa 1.
Tidak ada metode yang ringkas untuk menentukan adanya satu kesalahan atau lebih. Suatu kesalahan terjadi
dalam pembalikan bit. Ini ekuivalen dengan pengambilan eksklusif OR (XOR) bit dan 1 (modulo 2 dari 1
dijumlahkan ke bit): 0 + 1 = 1; 1 + 1 = 0. Jadi, kesalahan pada frame (n+k)-bit dapat ditunjukkan lewat bidang
(n+k) dengan ls pada setiap posisi kesalahan. Frame Tr yang diperoleh dinyatakan sebagai
Tr =T ⊕ E
dimana
Receiver akan gagal mendeteksi kesalahan bila dan hanya bila T, dapat dibagi dengan P tanpa sisa, yang
ekuivalen dengan E yang dibagi dengan P. Secara. intuitif, hal ini tidak mungkin terjadi.
Polynomials
Cara kedua mengamati proses CRC adalah dengan menyatakan seluruh nilai sebagai polynomial dalam
suatu model variabel X, dengan koefisien-koefisien biner. Koefisien berhubungan dengan bit-bit dalam
angka biner. Jadi, unt-uk M = 110011, kita peroleh M(X) = X5 + X4 + X + 1, dan untuk P = 11001, kita peroleh p
(X) = X4 + X3 + 1. Operasi aritmetik lagilagi berupa modulo 2. Sekarang, proses CRC digambarkan sebagai:
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 59
X nM (X ) R( X )
1. = Q( X ) +
P( X ) P( X )
n
2. T ( X ) = X M ( X ) + R ( X )
Error E(X) hanya akan menjadi tak terdeteksi bila dibagi dengan P(X). Hal ini bisa ditunjukkan bahwa semua
kesalahan berikut ini tidak dibagi dengan pilihan P(X) yang sesuai dan karenanya mampu dideteksi:
Selain itu, dapat pula ditunjukkan bahwa bila semua pola kesalahan dianggap sama, maka untuk kesalahan
dari panjang r + 1, probabilitas dari kesalahan yang tak terdeteksi [E(X) dibagi dengan p(X)l adalah 1/2r-1,
dan untuk kesalahan yang lebih panjang, probabilitasnya adalah 1/2r-1, dimana r adalah panjang FCS.
Sistem CRC-12 dipergunakan untuk transmisi sederatan sebesar 6-bit karakter dan menbangkitkan 12-bit
FCS. Baik CRC-16 maupun CRC-COTT populer untuk 8-bit karakter, masing-masing di Amerika Serikat dan
Eropa, di mana keduanya sama-sama menghasilkan 16-bit FCS. Nampaknya ini sesuai untuk sebagian besar
aplikasi, meskipun CRC-32 ditentukan sebagai salah satu pilihan untuk standar transmisi synchronous
ujung-ke-ujung.
Bila dijumpai kesalahan pada data yang telah diterima, maka perlu diadakan tindakan perbaikanatau
diusahakan agar kesalahan ini jangan sampai memberikan dampak yang besar. Metode koreksi ini
diantaranya adalah :
Subtitusi simbol
Bila ada data yang rusak maka komputer penerima mengganti bagian itu dengan karakter lain, sepertu
karakter SUB yang berupa tanda tanya terbalik. Jika pemakai menjumpai karakter ini (pada program
word-prossessor), maka berarti data yang diterima telah mengalami kerusakan, selanjutnya perbaikan
dilakukan sendiri.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 60
Data yang dikirim harus ditambah dengan kode tertentu dan data duplikat. Bila penerima
menjumpai kesalahan pada data yang diterima, maka perbaikan dilakukan dengan mengganti bagian
yang rusak dengan data duplikat, tetapi cara ini jarang dilakukan.
Kirim ulang
Cara ini merupakan cara yang paling simpel, yaitu bila komputer penerima menemukan kesalahan
pada data yang diterima, maka selanjutnya meminta komputer pengirim untuk mengirim mengulangi
pengiriman data.
Pengontrolan kesalahan berkaitan dengan mekanisme untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahan yang
terjadi pada pentransmisian frame. Model yang akan digunakan, yang juga mencakup kasus khusus,
diilistrasikan pada gambar 4.1 b. sebagaimana sebelumnya, data dikirim sebagai deretan frame, frame tiba
sesuai perintah yang sama saast dikirim, dan masing-masing frame yang ditransmisikan mengalami
perubahan dan sejumlah variabel penundaan sebelum mencapai penerima. Selain itu, diakui kemungkinan
adanya dua jenis kesalahan, yaitu:
Hilangnya frame: frame gagal mencapai sisi lain. Sebagai contoh, derau yang kuat bisa merusak frame
sampai pada tingkat dimana receiver menyadari bahwa frame sudah ditransmisikan.
Kerusakan frame: frame diakui telah tiba, namun beberapa bit mengalami kesalahan (sesudah berubah
selama transmisi).
Teknik yang paling umum untuk mengontrol kesalahan didasarkan atas beberapa atau seluruh unsur
berikut:
Secara bersama-sama, mekanisme ini semua disebut sebagai automatic repeat request (ARQ); efek ARQ ini
adalah mengubah jalur data yang tidak andal menjadi andal. Tiga versi ARQ yang sudah distandarisasi
adalah:
Stop-and-Wait ARQ
Go-Back-N ARQ
Selective-reject ARQ
Semua bentuk ini didasarkan atas penggunaan teknik kontrol arus yang dibahas di bagian 4.1.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 61
Stop-and-Wait ARQ didasarkan atas teknik flow control stop-and-wait yangg telah diuraikan di atas.
Stasiun source mentransmisikan sebuah frame tunggal dan kemudian harus menunggu balasan berupa
acknowledgement (ACK). Tidak ada frame yang dikirim sampai jawaban dari stasiun tujuan tiba di stasiun
sumber.
Ada dua jenis kesalahan yang dapat terjadi. Pertama, frame yang tiba di tujuan bisa mengalami kerusakan.
Receiver mendeteksi kerusakan tersebut dengan menggunakan teknik pendeteksian kesalahan yang
berkaitan dengan pembuangan frame lebih awal. Untuk menghitung kemungkinan ini, stasiun sumber
dilengkapi dengan sebuah pencatat waktu. Setelah frame ditransmisikan/stasiun sumber menunggu
balasan. Bila tidak ada balasan yang diterima sampai waktu yang ditentukan pencatat habis, maka akan
dikirimkan frame yang sama. perhatikan bahwa metode ini mengharuskan transmitter mempertahankan
tiruan frame yang ditransmisikan sampai balasan diterima oleh frame tersebut.
Jenis kesalahan yang kedua adalah kerusakan pada balasan. Amati situasi berikut. Stasiun A mengirim,
sebuah frame. Frame ini diterima dengan baik oleh stasiun B, yang meresponnya dengan memberi balasan
(ACK). ACK mengalami kerusakan saat singgah dan tidak diakui oleh A, yang karenanya keluar dari jalur
waktu dan kembali mengirim frame yang sama. Duplikat frame ini tiba dan diterima oleh B. Dengan begitu
B menerima dua duplikat frame yang sama seolah-olah keduanya terpisah. Untuk mengatasi problem ini,
frame bergantian diberi label 0 atau 1, dan balasan positifnya dalam bentuk ACK 0 dan ACK 1. Sesuai
dengan aturan jendela penggeseran, ACK 0 membalas penerimaan frame bernomor 1 dan menunjukkan
bahwa receiver siap untuk frame bemomor 0.
Gambar 4.5 memberi contoh penggunaan ARQ stop-and-wait, menunjukkan transmisi deretan frame dari
sumber A menuju tujuan B. Gambar tersebut juga menunjukkan kedua jenis kesalahan yang baru saja
digambarkan. Frame ketiga yang ditransmisikan oleh A hilang atau rusak dan karenanya tidak ada ACK
yang dikembalikan oleh B. A mengalami time out dan kembali mentransn-dsikan frame yang sama. Saat B
menerima dua frame dalam sebuah barisan dengan label yang sama, B membuang frame kedua namun
mengirimkan ACK0 kembah ke masing-masing stasiun.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 62
A B
Frame trans-
mission time
Frame
Propagation time 0
ACK trans-
ACK 1 mission time
Frame
1
ACK 0
Frame
0
Frame
0
ACK 1
Frame
1
ACK 0
ACK 0 lost;
A retransmits Frame
1
B discards
ACK 0 Duplicate frame
Kelebihan stop-and-wait ARQ adalah kesederhanaannya. Sedang kekurangannya, dibahas di bagian 4.1,
karena stop-and-wait ARQ ini merupakan mekanisme yang tidak efisien. Oleh karena itu teknik kontrol arus
jendela penggeseran dapat diadaptasikan agar diperoleh pengunaan jalur yang lebih efisien lagi; dalam
konteks ini, kadang-kadang disebut juga dengan ARQ yang kontinyu.
Bentuk pengkontrolan kesalahan didasarkan atas teknik kontrol arus jendela penggeseran yang biasa disebut
juga dengan Go-back-N ARQ. Dalam metode ini, stasiun bisa mengirim deretan frame yang diurutkan
berdasarkan suatu modulo bilangan. Jumlah frame balasan yang ada ditentukan oleh ukuran jendela,
menggunakan teknik kontrol arus jendela penggeseran. Bila tidak terjadi suatu. kesalahan, stasiun tujuan
akan membalas (RR = Receive Ready, atau piggybacked Acknowledgement) frame yang datang seperti biasa.
Bila stasiun tujuan mendeteksi suatu kesalahan pada sebuah frame, stasiunt tujuan mengirim balasan negatif
(REJ = reject) untuk frame tersebut. Stasiun tujuan kemudian membuang frame itu dan semua frame-frame
yang nantinya akan datang sampai frame yang mengalami kesalahan diterima dengan benar. Jadi, stasiun
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 63
sumber, bila menerima REJ, harus melakukan retransniisi terhadap frame yang mengalami kesalahan
tersebut plus semua frame pengganti yang ditransmisikan sementara.
Pertimbangkan bahwa stasiun A mengirim frame ke stasiun B. Setelah setiap transmisi dilakukan, A
menyusun pencatat waktu balasan untuk frame yang baru saja ditransmisi. Anggap saja bahwa B
sebelumnya berhasil menerima frame (i - 1) dan A baru saja mentransmisikan frame i. Teknik go-back-N
mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan berikut ini:
1 Rusaknya frame: Bila frame yang diterima invalid (misalnya, B mendeteksi adanya kesalahan), B
membuang frame dan tidak melakukan tindakan apa-apa. Dalam hal ini ada dua subkasus,yakni:
a Didalam periode waktu yang memungkinkan, A berhirut-turut mengirim frame (i+1). B menerima
frame (i+1) yang tidak beres dan mengirim REJ i. A harus melakukan retransmisi terhadap frame i
dan semua frame urutannya.
b A tidak segera mengirim frame-frame tambahan. B tidak menerima apa-apa serta tidak
mengembalikan RR maupun REJ. Bila pewaktu A habis, A mentransmisikan frame RR yang memuat
bit yang disebut dengan bit P, yang disusun berdasarkan 1. B menerjemahkan frame RR dengan bit P
dari 1 sebagai perintah yang harus dijawab dengan jalan mengirimkan RR, menunjukkan frame
berikutnya yang diharapkan, yang berupa frame i. Bila A menerima. RR, ia kembali mentransmisikan
frame i.
2 Rusaknya RR. Terdapat dua subkasus:
a B menerima frame i dan mengirim RR (i+1), yang hilang saat singgah. Karena balasannya kumulatif
(misalnya, RR 6 berarti semua frame sampai 5 dibalas), kemungkinan A akan menerima RR
urutannya sampai frame berikutnya dan akan tiba sebelum pewaktu yang dihubungkan dengan
frame i berakhir.
b Bila pencatat waktu A habis, A mentransmisikan perintah RR sebagaimana dalam kasus lb diatas. A
menyusun pewaktu yang lain, yang disebut pewaktu P-bit. Bila B gagal merespons perintah RR, atau
bila responsnya rusak, maka pewaktu P-bit A akan berakhir. Dalam hal ini. A akan kembali berusaha
dengan cara membuat perintah R yang baru dan kembali mengulang pewaktu P-bit. Prosedur ini
diusahakan untuk sejumlah iterasi. Bila A gagal memperoleh balasan setelah beberapa upaya
maksimum dilakukan. A kembali mengulangi prosedur yang sama.
3 Rusaknya REJ. Bila REJ hilang, sama dengan kasus lb.
Gambar 4.6a adalah contoh aliran frame untuk go-back N ARQ. Karena adanya penundaan perambatan
pada jalur, dari saat itu di mana balasan (baik positif maupun negatif) tiba kembali di stasiun pengiriman,
sedikitnya telah dikirim satu frame tambahan di luar frame yang sedang dibalas. Dalam contoh ini, frame 4
mengalami kerusakan. Frame 5 dan 6 diterima tidak sesuai yang diperintahkan dan dibuang oleh B. Saat
frame 5 tiba, B segera mengirim REJ 4. Saat REJ untuk frame 4 diterima, tidak hanya frame 4 saja namun juga
frame 5 dan 6 yang harus ditransmisikan kembali. Perlu dicatat bahwa transmitter harus menjaga tiruan
semua frame yang tidak dibalas.
Pada bagian 4.1, telah dibahas bahwa untuk bidang bernomor urut k-bit, yang menyediakan jarak bernomor
urut 2k, ukuran window maksimum dibatasi sampai 2k-l. Ini harus dilakukan dengan cara dilakukannya
interaksi antara pengontrolan kesalahan dan balasan. Amati, bila data sedang dipindahkan ke dua arah,
stasiun B harus mengirimkan piggybacked ACK ke frame yang dari stasiun A di dalam frame data yang
sedang ditransmisikan oleh B. Bahkan bila balasannya sudah dikirim. Sebagaimana yang telah kita sebutkan
tadi, hal ini karena B harus menempatkan beberapa nomor pada bidang di dalam balasan data framenya.
Seperti yang nampak pada contoh, diasumsikan nomor urut 3-bit (jarak urutan nomor = 8). Anggap saja
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 64
sebuah stasiun mengirim frame 0 dan menerima kembali RR 1 dan kemudian mengirim frame 1, 2, 3, 4, 5,
6, 7, 0 dan menerima RR 1 yang lain. Ini berarti bahwa kedelapan frame sudah diterima dengan benar dan
RR 1 merupakan balasan kumulatif. Juga bisa berarti bahwa kedelapan frame rusak atau hilang saat transit,
dan stasiun penerima mengulangi RR 1 sebelumnya. Problem seperti ini bisa dihindari bila ukuran jendela
maksimum dibatasi sampai 7 (23 - 1).
Dengan selective-reject ARQ, frame-frame yang hanya diretransmisikan adalah frame-frame yang menerima
balasan negatif, dalam hal ini disebut SREJ atau frame-frame yang waktunya sudah habis. Gambar 4.10b
menyajikan ilustrasi skema ini. Bila frame 5 diterima rusak, B mengirim SREJ 4, yang berarti frame 4 tidak
diterima. Selanjutnya, B berlanjut dengan menerima frame-frame yang datang dan menahan mereka sampai
frame 4 yang valid diterima. Dalam. hal ini, B dapat meletakkan frame sesuai pada tempatnya agar bisa
dikirim ke software pada lapisan yang lebih tinggi.
Selective Reject lebih efisien dibanding go-back-N, karena selective reject meminimalkan jumlah retransmisi.
Dengan kata lain, receiver harus mempertahankan penyangga sebesar mungkin untuk menyimpan tempat
bagi frame SREJ sampai frame yang rusak diretransmisi, serta harus memuat logika untuk diselipkan
kembali frame tersebut pada urutan yang tepat. Selain itu, transrrdtter juga memerlukan logika yang lebih
kompleks agar mampu mengirimkan frame diluar urutan. Karena komplikasi semacam itu, select-reject ARQ
tidak terlalu banyak dipergunakan dibanding go-back N ARQ.
Batas ukuran jendela lebih terbatas untuk selective-reject daripada go-back-N. Amati kasus ukuran nomor
urut 3-bit untuk selective reject. Dengan ukuran jendela sebesar tujuh, Ialu amati skenario berikut:
Masalah pada skenario tersebut, adalah adanya tumpang tindih antara jendela pengiriman dan penerimaan.
Untuk mengatasinya, ukuran jendela maksimum harus tidak boleh lebih dari separuh jarak nomor urutan.
Pada skenario sebelumnya, seandainya keempat frame tak terbalas belum diselesaikan, maka tidak akan
terjadi kekacauan. Umumnya, untuk bidang bernomor urut k-bit, yang meneyediakan jarak urutan nomor
sebesar 2k, ukuran maksimum jendela dibatasi sampai 2k-1.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 65
A B A B
Fram Fram
e0 e0
Fram Fram
e1 e1
2 2
Fram
e2 RR Fram
e2 RR
Fram Fram
e3 e3
4 4
Fram
e4 RR Fram
e4 RR
Fram Fram
e5 e5
Buffered by
receiver
Fram J4 Discarded by Fram EJ4
e6 RE e6 SR
receiver
5 7
Fram
e5 RR Fram
e7 RR
Fram Fram
e6 e0
7 1
Fram RR Fram RR
timeout
timeout
e7 e1
Fram Fram
e0 e2
RR (P RR (P
bit = 1 bit = 1
) )
1 3
RR RR
Fram Fram
e1 e3
Fram Fram
e2 e4
Protocol data link control yang paling penting adalah HDLC (ISO 3009, ISO 4335). HDLC tidak hanya sudah
umum dipergunakan namun juga menjadi asas untuk berbagai protocol data link control terpenting lainnya,
yang menggunakan format dan mekanisme yang sama seperti yang digunakan dalam HDLC. Selanjutnya,
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 66
dalam bagian ini kita menyajikan pembahasan yang lebih mendetail mengenai HDLC.
Untuk memenuhi berbagai macam aplikasi, HDLC menetapkan tiga jenis stasiun, dua konfigurasi, serta tiga
model operasi pengalihan data. Ketiga jenis stasiun tersebut adalah sebagai berikut:
Stasiun Primer: Bertanggung-jawab mengontrol operasi jalur. Frame-frame dikeluarkan oleh primary
yang disebut perintah.
Stasiun Sekunder: Beroperasi dibawah kendali stasiun primer. Frame-frame dikeluarkan sekunder yang
disebut respons. Primer mempertahankan jalur logik yang terpisah dengan setiap stasiun sekunder
pada jalur.
Stasiun Gabungan: Mengkombinasikan bentuk primer dan sekunder. Stasiun gabungan bisa
mengeluarkan perintah dan respon.
Konfigurasi tidak seimbang: Terdiri dari satu stasiun primer dan satu atau lebih stasiun sekunder, serta
mendukung baik transmisi full-duplex maupun half-duplex.
Konfigurasi seimbang: Terdiri dari dua stasiun gabungan, serta mendukung transmisi full-duplex
maupun half-duplex.
Normal response mode (NRM): Digunakan dengan konfigurasi. Primer tidak seimbang mengawali data
transfer menuju secondary, namun sekunder hanya mentransmisikan data dalam bentuk respon sampai
perintah dari primer saja.
Asynchronous Balanced Mode (ABM): Digunakan dengan konfigurasi seimbang. Salah satu stasiunt
gabungan dapat mengawali transmisi tanpa perlu ijin dari salah satu stasiunt gabungan lainnya.
Asynchronous Response Mode (ARM): Digunakan dengan konfigurasi tidak seimbang. Secondary
dapat mengawali transmisi tanpa perlu ijin yang jelas dari primer. Primer masih tetap bertanggung-
jawab terhadap jalur, termasuk inisialisasi, perbaikan kesalahan, serta diskoneksi logik.
NRM dipergunakan pada jalur multititik, dimana sejumlah terminal dihubungkan ke komputer host.
Komputer menanyai setiap terminal untuk dipergunakan sebagai masukan. NRM kadang-kadang juga
dipergunakan pada jalur ujung-ke-ujung, utamanya bila jalur menghubungkan sebuah terminal atau
periferal lainnya dengan sebuah komputer. ABM merupakan mode yang paling banyak dipergunakan
dibanding mode-mode lainnya: karena membuat penggunaan jalur ujung-ke-ujung full-duplex menjadi lebih
efisien sebab tidak memerlukan overhead. Sedangkan ARM jarang digunakan: karena hanya bisa
diaplikasikan untuk keadaan-keadaan tertentu dimana sekundar perlu mengawali transmisi.
HDLC menggunakan transmisi synchronous. Semua transmisi berbentuk frame, dan format frame tunggal
memadai untuk seluruh jenis pertukaran data dan kontrol.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 67
Gambar 4.7 menyajikan gambaran struktur frame HDLC. Hal-hal seperti tanda, alamat, dan kontrol yang
mendahului hal-hal yang berkaitan dengan informasi disebut sebagai: header (kepala). Sedangkan untuk
FCS dan tanda yang mengikuti hal-hal yang berkaitan dengan data disebut sebagai gandengan.
Bidang Tanda
Bidang tanda membatasi frame pada kedua ujungnya dengan pola khusus 01111110. Tanda tunggal bisa
dipergunakan sebagai tanda penutup untuk satu frame dan tanda pembuka untuk frame berikutnya. Pada
kedua sisi interfis pengguna-jaringan, receiver secara terus-menerus memburu deretan tanda untuk
mensinkronkan frame permulaan. Sembari menerima frame, setasiun terus memburu deretan tanda tersebut
untuk menentukan ujung frame. Karena protocol membiarkan keberadaan pola-pola bit yang ganjil
(misalnya, tidak terdapat batasan atas muatan berbagai jenis frame yang ditentukan oleh protocol jalur) tidak
ada jaminan bahwa pola 01111110 tidak akan muncul disuatu tempat di dalam frame, yang dapat merusak
sinkronisasi. Untuk menghindari problem ini, dipergunakan suatu prosedur tertentu yang disebut bit stuffing
(isi). Diantara transmisi tanda permulaan dan tanda terakhir, transmitter akan selalu menyelipkan bit 0
ekstra setelah setiap kemunculan lima 1 didalam frame. Setelah mendeteksi tanda permulaan, receiver
memantau deretan bit. Saat muncul pola lima 1, bit keenam ditentukan. Bila bit ini berupa 0, maka langsung
dihapus. Bila bit keenam berupa 1 dan bit ketujuh berupa 0, kombinasi keduanya diterima sebagai tanda.
Bila bit keenam dan ketujuh berupa 1, pengirim menunjukkan kondisi kegagalan.
Dengan menggunakan bit isi, pola-pola bit yang ganjil dapat diselilpkan kedalam bidang data didalam
frame. Hal ini disebut data transparency.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 68
Gambar 4.8 menunjukkan suatu contoh tentang pengisian bit. perhatikan, pada dua kasus pertama, ekstra 0
tidak harus dibatasi untuk menghindari pola tanda, namun pembatasan itu diperlukan untuk operasi
algoritma. Bila tanda dipergunakan pada tanda permulaan dan tanda terakhir, kesalahan 1-bit akan
menggabungkan dua frame menjadi satu. Sebaliknya, kesalahan 1-bit di dalam frame dapat memecahnya
menjadi dua.
Bidang Alamat
Bidang alamat menentukan stasiun sekunder yang ditunjukkan atau dimaksudkan untuk menerima frame.
Ini tidak diperlukan untuk jalur ujung-ke-ujung, namun selalu dimasukkan untuk kepentingan
keseragaman. Bidang alamat biasanya sepanjang 8 bit, namun berdasarkan kesepakatan, dipergunakan
format yang diperluas di mana panjang alamat sebenamya merupakan perkalian dari 7 bit. Bit sisi paling kiri
dari setiap octet adalah 1 atau 0, apakah memang itu yang sesuai atau apakah bukan merupakan octet
terakhir dari bidang alamat. 7 bit yang tersisa dan setiap octet membentuk bagian dari alamat. Alamat octet
tunggal 11111111 diterjemahkan sebagai alamat seluruh stasiun dalam format dasar atau yang diperluas.
Selain itu juga dipergunakan untuk memungkinkan primer mentebarkan frame untuk penerima melalui
semua sekunder.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 69
Bidang Kontrol
HDLC menetapkan tiga jenis frame, masing-masing dengan format kontrol yang berlainan. Information
frames (I-frame) membawa data untuk ditransmisikan kepada pengguna (logika diatas HDLC yang
menggunakan HDLC). Selain itu, data kontrol kesalahan dan arus menggunakan mekanisme ARQ yang
piggybacked
pada frame informasi. Unnumbered frames (U-frames) menyediakan fungsi kontrol jalur tambahan.
Sedangkan bit pertama dan kedua dari kontrol digunakan untuk menentukan tipe frame. Posisi bit
berikutnya disusun kedalam subbagian yang ditunjukkan pada gambar 4.7.c dan 4.7.d. Pengunaannya akan
dijelaskan pada pembahasan mengenai operasi HDLC di bagian lain bab ini.
Seluruh format kontrol memuat poll final (P/F) bit. Penggunaannya tergantung pada konteksnya. Biasanya,
dalam frame perintah, ditunjukkan sebagai bit P dan disiapkan untuk satu fungsi yaitu: mengumpulkan
(menanyai) respons frame dari peer HDLC entity. Pada frame respons, ditunjukkan sebagai bit F dan
disiapkan untuk satu fungsi waktu yaitu: untuk menentukan frame respons yang ditransmisikan sebagai
hasil perintah pengumpulan.
Perlu dicatat bahwa kontrol dasar untuk S-frame dan I-frame menggunakan nomor urut 3-bit. Dengan
perintah set-mode yang tepat, kontrol yang diperluas bisa dipergunakan I, untuk frame S dan I yang
memakai nomor urut 7. U-frame selalu memuat kontrol 8-bit.
Bidang Informasi
Bidang informasi hanya tersedia pada I-frame dan U-frame. Bidang ini terdiri dari beberapa deretan bit
namun harus memuat nomor octet yang lengkap. Panjang bidang informasi mulai dari variabel sampai
jumlah maksimum yang ditetapkan sistem.
Bidang frame check sequence (FCS) merupakan kode pendeteksian kesalahan yang dikalkulasikan dari bit
frame yang tersisa, eksklusif ataupun tanda. Kode normalnya adalah 16-bit CRC-CCITT. Pilihan32-bit,
menggunakan CRC-32, bisa dipakai bila panjang frame atau jalur dinyatakan cukup memadai untuk pilihan
ini.
Operasi
Operasi HDLC terdiri dari I-frame, S-frame, dan U-frame di antara dua stasiun. Berbagai perintah dan
respon yang ditetapkan untuk frame-frame ini ditunjukkan dalam tabel. Operasi HDLC terdiri dari tiga
tahap. Pertama, salah satu pihak atau pihak lainnya mengawali jalur data sehingga frame-frame tersebut
bisa dipindahkan dengan cara yang tepat. Selama tahap ini, pilihan yang dipergunakan disepakati
berdasarkan hal itu. Setelah inisialisasi ini, kedua pihak memindahkan data user dan kontrol informasi
untuk menjalankan flow dan pengontrolan kesalahan. Terakhir, salah satu pihak memberi sinyal
penghentian operasi.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 70
lnisialisasi
Inisialisasi bisa diminta oleh salah satu dari kedua pihak tersebut dengan cara mengeluarkan salah satu dari
keenam perintah set-mode. Perintah-perintah ini dimaksudkan untuk:
Bila pihak lain menerima permintaan ini, maka modul HDLC pada ujung tersebut mentransmisikan frame
Unnumbered Acknowledgement (UA) kembali ke pihak yang mengawali. Bila permintaan ditolak, maka
frame disconnected mode (DM) dikirim.
Transfer Data
Bila inisialisasi diterima dan ditolak, kemudian dibentuk koneksi logik. Kedua pihak bisa mulai
mengirimkan data dalam I-frame, diawali dengan nomor urut 0. Bidang N(S) dan N(R) dari I-frame
merupakan nomor urut yang mendukung control flow dan kontrol kesalahan. Modul HDLC yang mengirim
deretan I-frame akan menomorinya berurutan, modul 8 atau 128, tergantung pada apakah nomor urut 3 atau
7-bit yang dipergunakan, serta menempatkan nomor urut pada N(S). N(R) adalah balasan untuk I-frame
yang diterima; yang memungkinkan modul HDLC dapat menentukan I-frame nomor berapa yang
diharapkan diterima selanjutnya.
S-frame juga dipergunakan untuk control flow dan kontrol kesalahan. Frame Received Ready (RR) membalas
I-frame terakhir yang diterima dengan cara menunjukkan I-frame berikutnya yang diinginkan. RR
dipergunakan bila tidak ada pembalikan lalu lintas data user (I-frame) untuk membawa balasan. Received
not ready (RNR) membalas I-frame, sama seperti RR, namun sekaligus meminta peer entity supaya menunda
transmisi I-frame. Bila entitas yang mengeluarkan RNR siap kembali, RR dikirim lagi. REJ mengawali go-
back-N ARQ.
Ini menunjukkan bahwa I-frame terakhir yang diterima telah ditolak dan diperlukan transmisi ulang seluruh
I-frame yang dimulai dengan nomor N(R). Sedangkan selective reject (SREJ) dipergunakan untuk meminta
transmisi ulang frame tunggal.
Salah satu modul HDLC bisa mengawali diskoneksi, baik atas inisiatifnya sendiri bila terdapat suatu
kegagalan, maupun atas permintaan pengguna pada lapisan yang lebih tinggi. HDLC mengeluarkan
diskoneksi dengan cara mengirimkan frame diskoneksi (DISC). Entitas remote harus menerima diskoneksi
tersebut dengan cara menjawab lewat UA dan memberitahu pengguna pada lapisan yang lebih tinggi bahwa
koneksi dihentikan. I-frame tak terbalas yang belum diselesaikan bisa saja hilang dan perbaikannya akan
menjadi tanggung jawab lapisan yang lebih tinggi.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 71
Contoh Operasi
Agar bisa lebih memahami operasi HDLC, beberapa contoh yang berkaitan dengan hal itu ditampilkan
dalam Gambar 4.9. Pada diagram-diagram contoh, masing-masing anak panah termasuk kolom keterangan
yang menentukan nama frame, susunan P/F bit, dan, bila sesuai, nilai N(R) dan N(S). Susunan bit F atau P
adalah 1 bila ada tanda penandaan dan 0 bila tidak ada.
Gambar 4.9a menunjukkan frame-frame yang terlibat dalam diskoneksi dan susunan jalur. Entitas protocol
HDLC untuk salah satu pihak mengeluarkan perintah SABM ke pihak yang lain dan pencatat waktu mulai
berjalan. Pihak yang lain dengan menerima SABM, mengembalikan respons UA dan menyusun variabel-
variabel lokal dan penjumlah ke nilai-nilai awal mereka. Entitas pemula menerima respons UA, menyusun
variabel dan penjumlahnya, serta menghentikan pewaktu.
A B A B A B
SAB
ME I.0.0
Waktu
habis I.3.0
I.0.1 RNR
SAB ,4
ME I.1.1
I.2.1
UA ,P
RR,0
I.1.3
RNR
,4,F
I.3.2
,P
RR,0
I.2.4
DISC R.R.
4
I.3.4
UA R.R.4 I,4,0
(a) Setup dan koneksi (b) Pertukaran data (c) Kondisi sibuk
jalur dengan dua cara
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 72
A B A B
1,3,0 1,2,0
1,4,0 1,3,0
RR,3
1,5,0 Waktu
habis
4
REJ, RR,0
,P
1,4,0 ,F
RR,3
1,5,0 I,3 ,0
1,6,0
RR,4
Koneksi logik sekarang diakfifkan, dan kedua belah pihak mulai mentransmisikan frame. Sewajarnya waktu
dari pencatat waktu berhenti, tanpa respons terhadap SABM, pengirim akan mengulang SABM,
sebagaimana yang digambarkan. Ini akan diulangi kembali sampai UA atau DM diterima, atau setelah
beberapa kali mencoba, entitas mengupayakan inisiasi berhenti dan melaporkan kegagalan tersebut ke
entitas manajemen. Dalam kasus seperti itu, diperlukan intervensi dari lapisan yang lebih tinggi. Gambar
yang sama (Gambar 4.9a) menunjukkan prosedur diskoneksi. Salah satu pihak mengeluarkan perintah DISC,
clan pihak yang lain meresponnya dengan UA.
Gambar 4.9b menyajikan ilustrasi mengenai perpindahan I-frame full-duplex. Bila sebuah entitas mengirim
sejumlah I-frame dalam suatu deretan tanpa data yang datang, maka nomor urut yang diterima kembali
diulang. Perlu dicatat, bahwa sebagai tambahan untuk I-frame, perpindahan data bisa melibatkan frame-
frame pengawas (misalnya, I,1,1;I,2.1 pada arah A-menuju-B ). Bila entitas menerima nomor I-frame dalam
suatu deretan ; tanpa frame yang keluar, maka nomor urut yang diterima pada frame yang keluar berikutnya
harus merefleksikan aktivitas kumulatifnya (misalnya, I,1,3 pada arah B-menuju-A).
Gambar 4.9c menunjukkan operasi yang menyangkut 'kondisi sibuk'. Kondisi semacam itu terjadi karena
entitas HDLC tidak mampu memproses I-frame ketika mereka datang, atau user yang dituju tidak mampu
menerima data ketika mereka tiba di I-frame. Di salah satu dari kedua kasus tersebut, penyangga penerima
dari entitas menjadi penuh dan harus menghentikan aliran I-frame yang datang, dengan menggunakan
perintah RNR. Pada contoh ini, A mengeluarkan RNR, yang memerlukan B untuk menghentikan transmisi I-
frame. Stasiun yang menerima RNR biasanya akan selalu menanyai stasiun yang sibuk pada beberapa
interval periodik dengan cara mengirimkan RR dengan P bit set. Hal ini memerlukan salah satu pihak
merespon baik dengan RR ataupun dengan RNR. Bila kondisi sibuk sudah dihapus, A mengembalikan RR,
dan transmisi I-frame dari B bisa dilanjutkan kembali.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
STMIK Dipanegara Makassar, 2005 73
Sebuah contoh tentang perbaikan kesalahan dengan menggunakan perintah REJ ditunjukkan pada
Gambar 4.9d. Pada contoh tersebut, A mentransmisikan I-frame bemomor 3,4, dan 5. Nomor 4 mengalami
kesalahan dan menghilang. Saat B menerima I-frame nomor 5, B membuang frame ini karena tidak beres dan
lalu mengirimkan REJ dengan N(R) 4. Hal ini menyebabkan A melakukan transmisi ulang seluruh I-frame
yang telah dikirim, dimulai dengan frame 4. Ini diteruskan dengan mengirim frame-frame tambahan setelah
transmisi ulang frame-frame.
Sedangkan contoh mengenai perbaikan kesalahan menggunakan waktu habis (timeout) ditunjukkan dalam
gambar 4.9e. Pada contoh ini, A mentransmisikan I-frame nomor 3 sebagai urutan terakhir dari deretan I-
frame. Frame tersebut mengalami kesalahan. B mendeteksi kesalahan itu dan membuangnya. Namun, B
tidak dapat mengirim REJ karena tidak ada cara untuk mengetahui apakah frame ini merupakan I-frame.
Bila suatu kesalahan dideteksi dalam sebuah frame, seluruh bit dalam frame tersebut dicurigai, dan receiver
tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan. Bagaimanapun juga, A sudah menyebabkan beIjalannya
pencatat waktu sejak saat frame ditransmisikan. Pencatat waktu ini memiliki durasi yang cukup panjang
untuk mencapai waktu respons yang diharapkan. Saat pewaktu berakhir, A mulai melakukan tindakan
perbaikan. Ini biasanya dilakukan dengan cara menanyai salah satu pihak dengan sebuah perintah RR
dengan P bit set, untuk menentukan status pihak yang lain. Karena pengirim meminta respon, entitas akan
menerima frame yang berisikan bidang N(R) dan menjadi mampu untuk diterima. Dalam hal ini, respon
tersebut menunjukkan bahwa frame 3 telah hilang, yang ditransmisikan kembali oleh A.
Catatan:
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________