0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan106 halaman

Laporan Kerja Praktik di Pertamina RU V

Laporan ini membahas kerja praktik mahasiswa di PT Pertamina RU V Balikpapan selama satu bulan. Mahasiswa melakukan praktik di bagian Energy Conservation and Loss Control untuk mempelajari proses kilang minyak, struktur organisasi perusahaan, dan metode konservasi energi.

Diunggah oleh

dimas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan106 halaman

Laporan Kerja Praktik di Pertamina RU V

Laporan ini membahas kerja praktik mahasiswa di PT Pertamina RU V Balikpapan selama satu bulan. Mahasiswa melakukan praktik di bagian Energy Conservation and Loss Control untuk mempelajari proses kilang minyak, struktur organisasi perusahaan, dan metode konservasi energi.

Diunggah oleh

dimas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. PERTAMINA (PERSERO) REFINERY UNIT V
BALIKPAPAN

Oleh:
Dimas Rahadi Pitoyo (1506673473)
Luthfi Kamal Bangkit S. (1506673183)

Pembimbing:
Nabillah Rachmantya Fitraini Arsya, S.T.
Dr. Tania Surya Utami, S.T., M.T.

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS INDONESIA
2018
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

DISCLAIMER

Sesuai Undang-Undang No. 14 tahun 2008, seluruh data dan informasi


pada laporan Magang Industri ini adalah milik PT. PERTAMINA (Persero).
Dilarang menyalin, memperbanyak, dan memperjualbelikan isi laporan tanpa
seizin dari PT. PERTAMINA (Persero). Pelanggar ketentuan ini akan ditindak
sesuai dengan hukum yang berlaku

ii Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

BALIKPAPAN, 10 AGUSTUS 2018

MENGETAHUI,

Pembimbing Lapangan

NABILLAH RACHMANTYA

PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

MENGESAHKAN,

Section Head Energy Conservation


& Loss Control Ast. Manager HC Business Partner
PT. PERTAMINA (Persero) RU V PT. PERTAMINA (Persero) RU V
Balikpapan Balikpapan

WIDAKDO JUNDAN NURBARIK

iii Universitas Indonesia


Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat,
petunjuk, dan karunia-Nya, penulis mendapatkan kemudahan, kemampuan, dan
semangat untuk menyelesaikan seluruh rangkaian kerja praktik di PT.
PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan serta dapat menyusun dan
menyelesaikan laporan kerja praktik ini. Laporan kerja praktik ini disusun untuk
memenuhi syarat dalam pelaksanaan kerja praktik di PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V Balikpapan.
Pelaksanaan kerja praktik berlangsung kurang lebih selama 1 bulan,
terhitung dari tanggal 2 Juli 2018 hingga 10 Agustus 2018. Pelaksanaan kerja
praktik ini terdiri orientasi umum dan studi literatur yang bermanfaat sebagai
materi dalam pengerjaan tugas yang diberikan oleh pembimbing. Kerja praktik ini
merupakan salah satu syarat yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa
dalam menyelesaikan program pendidikan sarjana pada Progam Studi Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Dalam pelaksanaan Kerja Praktik dan penyusunan Laporan Kerja Praktik
ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak.
Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Orang tua penulis yang telah memberikan doa dan dukungan baik moral
maupun material selama persiapan dan pelaksanaan kerja praktik.
2. Bapak Widakdo selaku Head of Energy Conservation & Loss Control Section
PT. PETAMINA (Persero) RU V Balikpapan.
3. Ibu Nabillah Rachmantya selaku pembimbing kerja praktik di PT.
PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan.
4. Bapak Muchlis Riki Dharmawan yang turut membantu dalam kerja praktik di
bagian EC & LC.
5. Bapak Ir. Yuliusman, [Link], selaku koordinator kerja praktik yang telah
dengan sabar memberikan arahannya dan kesempatan untuk dapat melakukan
kerja praktik di PT. PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan.

iv Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

6. Ibu Dr. Tania Surya Utami, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing kerja
praktik yang memberikan kritik dan saran agar penulis dapat melaksanakan
kerja praktik dengan baik.
7. Seluruh staff Energy Conservation & Loss Control atas kesediaannya berbagi
ilmu selama penulis melakukan praktik.
8. Seluruh operator dan staff di kilang PT. PETAMINA (Persero) RU V
Balikpapan.
9. Bapak Agus Anwar, Bapak Sugeng, Ibu Yuli, dan Ibu Wisye yang membantu
penulis dalam melaksanakan kerja praktik dan memfasilitasi dalam
akomodasi selama di Balikpapan.
10. Bapak Mahendra Wijaya selaku Manager Human Capital PERTAMINA
(Persero) RU V Balikpapan dan Bapak Parjo selaku PJS Human Capital
PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan yang membantu penulis dalam
pelaksanaan kerja praktik.
11. Seluruh staff Human Capital yang membantu penulis dalam memudahkan
proses kerja praktik.
12. Teman-teman seperjuangan kerja praktik: Wildan, Arif, Togi, Wahidin, Indra,
Fachri, dan teman-teman lainnya yang telah membantu selama pelaksanaan
kerja praktik.
13. Serta semua pihak lainnya yang tidak bisa disebutkan penulis satu persatu
yang telah membantu selama pelaksanaan Kerja Praktik di PT. PERTAMINA
(Persero) RU V Balikpapan.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penulis memohon maaf apabila di dalam Laporan Kerja Praktik ini,
terdapat banyak kesalahan yang terjadi, baik teknis maupun non teknis. Kritik dan
saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan pada penulisan
berikutnya. Semoga Laporan Kerja Praktik ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca dan dapat menjadi kontribusi nyata bagi perkembangan dunia.

Balikpapan, Juli 2018

Penulis

v Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

DAFTAR ISI

DISCLAIMER ....................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Kerja Praktik ................................................................... 1
1.2 Tujuan Kerja Praktik ................................................................................ 2
1.3 Ruang Lingkup Kerja Praktik ................................................................... 3
1.4 Waktu dan Pelaksanaan Kerja Praktik ..................................................... 3
BAB II PROFIL PERUSAHAAN ....................................................................... 4
2.1 Sejarah dan Perkembangan PT. PERTAMINA (Persero) ........................ 4
2.2 Tata Letak Pabrik ..................................................................................... 7
2.3 Struktur Organisasi ................................................................................... 8
2.3.1 Operation and Manufacturing Function ............................................ 9
2.3.2 Refinery Planning and Optimization Function ................................. 9
2.3.3 Maintenance Planning & Support Function ...................................... 9
2.3.4 Maintenance Execution Function .................................................... 10
2.3.5 Workshop Section Engineering and Development ......................... 10
2.3.6 Total Quality Management Section .Error! Bookmark not defined.
2.3.7 Reability Function ........................................................................... 11
2.3.8 Procurement Function ..................................................................... 11
2.3.9 Health, Safety, Environment Function ............................................ 11
2.3.10 General Affairs Function................................................................. 12
2.3.11 Human Resource Area/Business Partner Function ......................... 12
2.3.12 Fungsi Keuangan ............................................................................. 12
2.3.13 Information Technology.................................................................. 12
2.3.14 OPI Function ................................................................................... 12
2.4 Visi dan Misi Perusahaan ....................................................................... 13
2.5 Tata Nilai ................................................................................................ 13
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 15
3.1 Bahan Baku Minyak Bumi dan Karakteristiknya ................................... 15
3.1.1 Bahan Baku Minyak Bumi .............................................................. 15
3.1.2 Karakteristik Bahan Baku ............................................................... 16
[Link] Berat Jenis ....................................................................................... 16
[Link] Kandungan Belerang ....................................................................... 16
[Link] Kandungan Nitrogen ....................................................................... 17
[Link] Kandungan Garam .......................................................................... 17
[Link] Residu Karbon................................................................................. 17
[Link] Viskositas ........................................................................................ 17
3.2 Produk Minyak Bumi dan Karakteristiknya ........................................... 17
3.2.1 Produk Perusahaan .......................................................................... 17
[Link] LPG ................................................................................................. 18
[Link] Naphta ............................................................................................. 20
[Link] Premium dan Pertamax ................................................................... 23
vi Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

[Link] Kerosin ............................................................................................ 26


[Link] Automotive Diesel Oil (ADO) ........................................................ 27
[Link] Industrial Diesel Oil (ADO) ............................................................ 28
[Link] Avtur ............................................................................................... 29
[Link] Low Sulphur Wax Residue (LSWR) .............................................. 31
[Link] Marine Gas Oil (MGO) ................................................................... 31
[Link] Low Aromatic White Spirit (LAWS) .......................................... 32
[Link] Smooth Fluid 05 (SF 05) ............................................................. 33
3.2.2 Karakteristik Produk Perusahaan .................................................... 34
[Link] LPG ................................................................................................. 34
[Link] Bensin (Motor Gasoline) ................................................................. 35
[Link] Kerosin ............................................................................................ 36
[Link] Avtur ............................................................................................... 36
[Link] Diesel (Solar) .................................................................................. 36
[Link] Low Sulphur Wax Residue (LSWR) .............................................. 37
[Link] Naphta ............................................................................................. 37
[Link] Marine Gas Oil ................................................................................ 37
[Link] Low Aromatic White Spirit (LAWS) .............................................. 37
[Link] Smooth Fluids 05......................................................................... 37
3.3 Bahan Penunjang .................................................................................... 37
3.4 Reaksi-Reaksi pada Pengolahan Minyak Bumi ..................................... 38
3.4.1 Desulfurisasi .................................................................................... 38
3.4.2 Denitrifikasi..................................................................................... 39
3.4.3 Hidrogenasi Olefin .......................................................................... 39
3.4.4 Penghilangan Senyawa Oksigen ..................................................... 39
3.5 Sistem Proses .......................................................................................... 42
3.6 Utilitas dan Pengolahan Limbah ............................................................ 73
3.7 Program Kerja Laboratorium ................................................................. 87
3.8 Pemasaran Hasil Produksi ...................................................................... 90
BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 93
4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 93
4.2. Saran ....................................................................................................... 94
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 96

vii Universitas Indonesia


Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Sejarah PT. PERTAMINA (Persero) ................................................. 4


Gambar 2.2. Tata Letak Pabrik PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan .......... 8
Gambar 2.3. Flow Diagram Engineering & Development ................................... 11
Gambar 2.4. Struktur Organisasi Refinery Unit V Balikpapan ............................ 13
Gambar 3.5. Contoh Reaksi Denitrifikasi ............................................................. 39
Gambar 3.6. Reaksi Dehidrogenasi Naftena menjadi Aromat .............................. 40
Gambar 3.7. Reaksi Isomerisasi Naftena .............................................................. 40
Gambar 3.8. Reaksi Dehidrosiklisasi .................................................................... 41
Gambar 3.5. Reaksi Perengkahan + Hidrogenasi Parafin ..................................... 41
Gambar 3.6. Proses Flow Diagram RU V Balikpapan.......................................... 43
Gambar 3.7. Proses Flow Diagram Alir Kilang Balikpapan I .............................. 44
Gambar 3.8. Proses Flow Diagram CDU V .......................................................... 46
Gambar 3.9. Proses Flow Diagram HVU III......................................................... 47
Gambar 3.10. Diagram sederhana proses Dehydration Plant (DHP) .................... 47
Gambar 3.11. Skema EWTP RU V Balikpapan ................................................... 48
Gambar 3.12. Proses Flow Diagram Kilang Balikpapan II .................................. 49
Gambar 3.13. Proses Flow Diagram CDU IV ...................................................... 50
Gambar 3.14. Bagan Proses di Naphta Hydrotreater Unit .................................... 52
Gambar 3.15. Bagan Proses di Platformer ............................................................ 52
Gambar 3.16. Proses Flow Diagram LPG Recovery Unit .................................... 54
Gambar 3.17. Proses Flow Diagram Alir SWS .................................................... 55
Gambar 3.18. Proses Flow Diagram High Vacuum Unit II .................................. 57
Gambar 3.19. Bagan Proses Hydrocracker Unit ................................................... 60
Gambar 3.20. Blok diagram Proses Fraksinasi Hydrocracker .............................. 61
Gambar 3.21. Proses Flow Diagram Hidrocracker Unibon ................................. 62
Gambar 3.22. Proses Flow Diagram Hidrogen Plant ............................................ 63
Gambar 3.23. Reaksi Proses pada Hydrogen Plant .............................................. 64
Gambar 3.24. Diagram Alir Sistem Distribusi Air di Pertamina RU V ................ 74
Gambar 3.25. Reaksi didalam Cation Exchanger ................................................. 76
Gambar 3.26. Reaksi didalam Anion Exchanger .................................................. 77
Gambar 3.27. Proses Flow Diagram Sistem Water Demineralization Plant ........ 78

viii Universitas Indonesia


Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Refinery Unit PT. PERTAMINA (Persero) di Indonesia ...................... 5


Tabel 2.2. Perkembangan Kilang PERTAMINA RU V ......................................... 6
Tabel 3.1. Klasifikasi Minyak Bumi Berdasarkan Berat Jenisnya........................ 16
Tabel 3.2. Klasifikasi Minyak Bumi Berdasarkan Kandungan Sulfur.................. 16
Tabel 3.3. Spesifikasi Produk LPG Jenis Propana ................................................ 18
Tabel 3.4. Spesifikasi Produk LPG Jenis Butana .................................................. 19
Tabel 3.5. Spesifikasi Produk LPG Campuran ..................................................... 20
Tabel 3.6. Spesifikasi Produk Light Naphta (Produk BP) .................................... 21
Tabel 3.7. Spesifikasi Produk Light Naphta (Konsumsi Sieteo) .......................... 22
Tabel 3.8. Spesifikasi Produk Medium Naphta (Konsumsi BP) ........................... 23
Tabel 3.9. Spesifikasi Produk Premium menurut Dirjen Migas ........................... 24
Tabel 3.10. Spesifikasi Produk Pertamax menurut Dirjen Migas ......................... 25
Tabel 3.11. Spesifikasi Kerosin menurut Dirjen Migas ........................................ 26
Tabel 3.12. Spesifikasi Produk ADO untuk BP .................................................... 27
Tabel 3.13. Spesifikasi Produk IDO untuk BP ..................................................... 29
Tabel 3.14. Spesifikasi Produk Avtur ................................................................... 30
Tabel 3.15. Spesifikasi Produk LSWR ................................................................. 31
Tabel 3.16. Spesifikasi Produk MGO ................................................................... 32
Tabel 3.17. Spesifikasi Produk LAWS ................................................................. 33
Tabel 3.18. Spesifikasi Produk LAWS ................................................................. 34
Tabel 3.19. Klasifikasi LPG Berdasarkan Tekanan Uap ...................................... 34
Tabel 3.20. Spesifikasi umpan LPG Recovery Unit ............................................. 53
Tabel 3.21. Spesifikasi umpan dan produk Sour Water Stripper.......................... 55
Tabel 3.22. Spesifikasi umpan Hydrocracker Unit ............................................... 58
Tabel 3.23. Spesifikasi produk LPG Hydrocracker Unit...................................... 58
Tabel 3.24. Spesifikasi produk cair Hydrocracker Unit ....................................... 59
Tabel 3.25. Spesifikasi umpan Hydrogen Plant ................................................... 63
Tabel 3.26. Klasifikasi Steam ............................................................................... 79
Tabel 3.27. Spesifikasi Air Umpan Boiler PERTAMINA RU V Balikpapan ...... 79
Tabel 3.28. Produksi Listrik Power Plant 1.......................................................... 80
Tabel 3.29. Produksi Listrik Power Plant 2.......................................................... 80
Tabel 3.30. Komposisi Fuel Gas dari HVU .......................................................... 83
Tabel 3.31. Spesifikasi Fuel Oil ............................................................................ 83
Tabel 3.32. Produksi Air Plant dan Air Instrument .............................................. 84
Tabel 3.33. Pendistribusian Produk-Produk RU V Balikpapan ............................ 91

ix Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kerja Praktik


Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam
(SDA). Sumber daya alam di Indonesia yang sangat melimpah menjadi andalan
bagi pendapatan negara dan dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat.
Potensi sumber daya alam perlu untuk dikembangkan guna menyokong
perekonomian negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Minyak
bumi dan gas alam merupakan salah satu sumber daya alam yang menjadi
komoditas yang potensial. Minyak dan gas alam dapat dijadikan sumber
pendapatan negara baik dalam bentuk mentah maupun dalam bentuk produk lain.
Kekayaan sumber daya alam memerlukan sumber daya manusia yang
kompeten untuk memanfaatkannya. Oleh sebab itu, upaya pengembangan sumber
daya manusia (SDM) perlu dilakukan dan dikembangkan. Kemajuan sumber daya
manusia akan membawa Indonesia pada kejayaan dalam memanfaatkan sumber
daya alam. Di zaman modern dan era globalisasi saat ini, perkembangan teknologi
sangat cepat, persaingan kerja semakin ketat, serta Indonesia telah tergabung
dalam masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) memberikan tantangan bagi generasi
muda khususnya sarjana teknik. Sarjana teknik harus menguasai ilmu
pengetahuan, teknologi, serta keterampilan dalam bidang keteknikan yang ia
tekuni. Bukan sekadar memahami ilmunya, sarjana teknik juga dituntut untuk
memahami aplikasi ilmu tersebut di dunia kerja.
Salah satu sarana untuk mengetahui aplikasi ilmu dalam dunia kerja dapat
diperoleh melalui kerja praktik. Dalam kegiatan ini mahasiswa diharapkan
meningkatkan kualitas diri dan kompetensi serta menganalisis masalah-masalah
yang terjadi di industri agar menjadi sarjana teknik yang kompeten dalam dunia
industri. Mata kuliah Kerja Praktik bertujuan agar mahasiswa dapat memahami
dan menerapkan ilmu teknik kimia yang telah diperoleh selama kegiatan
perkuliahan secara lebih mendalam., serta mampu mengaplikasikannya secara
langsung melalui pembelajaran di lapangan.

1 Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
2
Pengolahan minyak bumi merupakan salah satu core competence yang
dipelajari oleh mahasiswa Teknik Kimia UI. Core competence ini membantu
mahasiswa mengerti bagaimana cara mengolah minyak bumi yang telah di
produksi dan siap disuling di unit pengolahan sehingga menjadi produk-produk
yang berguna untuk kehidupan sehari-hari. Salah satu unit yang umum diketahui
dan dipelajari mahasiswa adalah Crude Distillation Unit. Unit ini akan
memisahkan komponen dari minyak bumi berdasarkan fraksi-fraksinya, yang
umumnya terkait dengan panjang rantai karbon, lalu berkaitan juga dengan titik
didih. Selain mempelajari unit pengolahan minyak bumi, kita juga belajar proses-
proses dalam mengolahan minyak bumi. Proses-proses tersebut ialah cracking,
alkylation, polymerization, reforming, dan isomerization
Sebagai salah satu kilang minyak andalan milik Indonesia yang telah
beroperasi sejak 1922, Refinery Unit V Balikpapan Pertamina berperan penting
dalam memenuhi kebutuhan produk bahan bakar minyak (BBM). Dengan
kapasitas kilang mencapai kurang lebih 260 MBSD, PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V berkontribusi memasok 26% total kebutuhan BBM di seluruh
Indonesia. Unit Pengolahan ini memproduksi beberapa produk BBM unggulan
seperti Pertadex dan Pertalite. Selain produk BBM, PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V juga memproduksi produk Smooth Fluid yang digunakan pada
kegiatan Eksplorasi Crude Oil serta LAWS sebagai solvent.
Dengan mengikuti kerja praktik ini, penulis berharap dapat
mengembangkan pengetahuan teori yang didapatkan dari kegiatan perkuliahan
serta dapat mengaplikasikannya secara nyata di lingkup industri, serta untuk lebih
memahami proses pengolahan minyak dan gas oleh PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V.
1.2 Tujuan Kerja Praktik
Tujuan dari pelaksanaan kerja praktik di PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui penerapan teori yang telah diperoleh dalam perkuliahan dan
perbandingannya dalam dunia industri secara nyata
2. Mendapatkan pengalaman dalam dunia kerja serta peluang dalam berlatih
menyelesiakan permasalahan dalam industri

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
3
3. Memperoleh pengalaman yang komprehensif dalam dunia kerja melalui
learning by doing
4. Menambah wawasan dan pengetahuan terkait pola berpikir para praktisi
dalam mempertimbangkan dan menyelesaikan suatu permasalahan di pabrik
5. Mengetahui perkembangan teknologi dalam dunia industri yang modern

1.3 Ruang Lingkup Kerja Praktik


Pelaksanaan kerja praktik memiliki ruang lingkup sebagai berikut:
1. Struktur organisasi perusahaan yang paling sedikit mempunyai
bagian/divisi/direktorat yang menangani: produksi, dukungan teknis, dan
administrasi (umum, keuangan, dan personalia)
2. Proses yang memungkinkan dipahaminya aplikasi konsep teknik kimia
3. Kelengkapan penunjang proses seperti: water treatment, power generation,
dan waste treatment
1.4 Waktu dan Pelaksanaan Kerja Praktik
Kerja praktik ini dilaksanakan selama satu bulan yang dimulai dari tanggal
2 Juli 2018 hingga 3 September 2018 di PT. PERTAMINA (persero) Refinery
Unit V Balikpapan. Kegiatan awal adalah pelaksanaan studi literature dan
orientasi umum perusahaan pada tanggal 3 Juli 2018 hingga 10 Juli 2018 yang
meliputi: Process Engineering, Energy Conservation and Loss Control, Refinery
Planning, Budget and Performance, Supply Chain and Distribution,
Hydrocracking Complex, Hydroskimming Complex, Distillation and Wax,
Utilities, Oil Movement, serta Laboratory. Kemudian, melaksanakan orientasi
lapangan berdasarkan area tugas khusus untuk mempelajari proses dan mengambil
data yang dibutuhkan dalam pengerjaan tugas khusus.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
4
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Sejarah dan Perkembangan PT. PERTAMINA (Persero)


PT. PERTAMINA (Persero) adalah badan usaha milik negara yang
bergerak di bidang eksplorasi, pengolahan dan pemasaran hasil tambang minyak
dan gas bumi. PERTAMINA didirikan pada tanggal 10 Desember 1957 dengan
nama PT. Perusahaan Minyak Nasional (PERMINA). Pada tahun 1960, PT.
PERMINA direstrukturisasi menjadi PN PERMINA sebagai tindak lanjut dari
kebijakan pemerintah, bahwa pihak yang berhak melakukan eksplorasi minyak
dan gas di Indonesia adalah negara. Perusahaan yang bergerak di bidang produksi
itu lalu bergabung dengan PN PERTAMIN yang bergerak di bidang pemasaran
melalui satu Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan Presiden pada tanggal 20
Agustus 1968. Perusahaan gabungan tersebut dinamakan PN Pertambangan
Minyak dan Gas Bumi Nasional (PERTAMINA).
Pemerintah kemudian menerbitkan UU No. 8 Tahun 1971 dengan tujuan
memperkokoh perusahaan yang masih muda tersebut, dimana isinya mengatur
peran PERTAMINA dalam melaksanakan pengusahaan migas mulai dari
mengelola dan menghasilkan migas dari ladang- ladang minyak di seluruh
Indonesia, mengolahnya menjadi produk dan menyediakan serta melayani
kebutuhan bahan bakar migas di seluruh Indonesia. Pada tanggal 17 September
2003 PN PERTAMINA berubah bentuk menjadi PT. PERTAMINA (Persero)
berdasarkan PP No. 13 Tahun 2003.

Gambar 2.1. Sejarah PT. PERTAMINA (Persero)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
5
Saat ini PT. PERTAMINA (Persero) telah mempunyai tujuh Refinery Unit
(RU) yang tersebar di sebagian wilayah Indonesia. Akan tetapi satu diantaranya
hanya mampu mengolah 5.000 barrel per hari, sehingga pada tahun 2007 ditutup.
Refinery Unit tercantum dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Refinery Unit PT. PERTAMINA (Persero) di Indonesia
Refinery Unit Kapasitas (MBSD)*
RU I: Pangkalan Brandan (Sumatera Utara) Non-aktif
RU II: Dumai- Sei Pakning (Riau) 170
RU III: Plaju (Sumatra Selatan) 133.7
RU IV: Cilacap ( Jawa Tengah) 330
RU V: Balikpapan (Kalimantan Timur) 260
RU VI: Balongan (Jawa Barat) 125
RU VII: Sorong (Irian Jaya ) 10
Keterangan: (*) Kapasitas dalam satuan MBSD (Metric (1000) Barrel Stream
Day) dimana 1 Barrel = 158,984 L.

Sejarah PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan berawal ketika


ditemukannya sumur minyak di Sanga- Sanga (1897). Selanjutnya ditemukan
sumber-sumber minyak lain di Tarakan (1899), Samboja (1911) dan Bunyu
(1922). Penemuan-penemuan tersebut mendorong dibangunnya kilang minyak
mentah, yaitu Kilang Balikpapan I dan Kilang Balikpapan II.
Kilang Balikpapan I dan Kilang Balikpapan II pada unit pengolahan (RU) V
Balikpapan terletak di tepi teluk Balikpapan dengan area seluas kurang lebih 2,5
km2. Menurut desainnya Kilang Balikpapan mengolah total 260 MBSD minyak
mentah. Kilang Balikpapan I berkapasitas 60 MBSD dan Kilang Balikpapan II
berkapasitas 200 MBSD. Kilang ini mengolah minyak mentah menjadi produk-
produk yang siap dipasarkan, yaitu bahan bakar minyak (BBM) dan non bahan
bakar minyak (NBBM).
Secara kronologis, perkembangan kilang minyak PERTAMINA RU V
Balikpapan dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut ini.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
6
Tabel 2.2. Perkembangan Kilang PERTAMINA RU V
Tahun Peristiwa
1897-1922 Penemuan sumber minyak mentah di Kalimantan Timur
1922 Pendirian unit penyulingan minyak kotor (PMK I) oleh
perusahaan minyak BPM (Bataafsche Petroleum
Maatsppij) dan pembangunan Kilang Balikpapan dengan
kapasitas 52 MBSD
1946 Rehabilitasi PMK I karena rusak akibat Perang dunia II
1949 Pendirian HVU I oleh PT. Shell Indonesia dan dirancang
oleh MC Kee dengan kapasitas 12 MBSD
1950 Pendirian Wax Plant dan PMK I selesai direhabilitasi.
Wax Plant berkapasitas 110 ton/hari sedangkan PMK I
berkapasitas 25 MBSD. Pembangunan unit-unit ini sama
dengan HVU I
1952 Pendirian PMK II oleh PT. Shell Indonesia dan dirancang
oleh ALCO dengan kapasitas 25 MBSD
1954 Modifikasi Wax Plant sehingga memiliki kapasitas 10
MBSD. Saat ini PMK III tidak dioperasikan lagi.
1968 PN PERMINA bergabung dengan PN PERTAMIN
menjadi PN PERTAMINA
1973 Modifikasi Wax Plant sehingga mencapai kapasitas 175
ton/hari
April 1981 Kilang Balikpapan II berkapasitas 200 MBSD mulai
dibangun dengan hak paten proses dari UOP Inc.
November 1981 Penetapan kontraktor utama yaitu BechTel International
Inc. dari Inggris dan konsultan Supervisor-nya adalah
Procon Inc. dari USA
1983 Kilang Balikpapan II diresmikan oleh Presiden Republik
Indonesia yaitu Presiden Suharto
1995 Upgrading Kilang Balikpapan I menjadi kapasitas 60
MBSD (PMK I, PMK II, dan HVU I tidak beroperasi lagi).

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
7
Tabel 2.2. Perkembangan Kilang PERTAMINA RU V (lanjutan)
Tahun Peristiwa
1997 Upgrading Kilang Balikpapan I (CDU V dan HVU III)
November 2003 Perubahan status PERTAMINA dari BUMN menjadi
Perseroan Terbatas
23 Juni 2005 Proyek pembangunan Flare Gas Recovery System dan
Hydrogen Recovery System diresmikan
9 Oktober 2008 PT. PERTAMINA (Persero) Unit Pengolahan V
Balikpapan berubah nama menjadi PT. PERTAMINA
Refinery Unit V Balikpapan.

2.2 Tata Letak Pabrik


Kilang minyak [Link] (Persero) RU V Balikpapan terletak di
kota Balikpapan, provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di tepi Teluk Balikpapan
dengan luas area 254 hektar. Kilang ini mulai didirikan pada tahun 1922, selang
beberapa tahun setelah ditemukan cadangan minyak bumi yang cukup besar pada
beberapa daerah di Kalimantan Timur. Pada perkembangannya, kilang Balikpapan
diperluas untuk meningkatkan kapasitas pengolahan menjadi 260.000 barrel per
hari.
Pada gambar 2.2 di bawah menjelaskan secara garis besar tata letak pabrik
di PT. PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan, dimana pembagiannya terdiri
atas Kilang Balikpapan I yang meliputi area Diswax (Distillation and Wax Plant),
Kilang Balikpapan II yang meliputi area HSC dan HCC, dan kemudian fasilitas
penunjang lainnya seperti Oil Movement (Tangki minyak, Loading Master, Jetty,
dll), Utilitas, Laboratorium, Gudang – Gudang (Peralatan proses, bahan kimia,
Limbah, dll), HSE, dan Gedung Perkantoran.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
8

Gambar 2.2. Tata Letak Pabrik PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan

2.3 Struktur Organisasi


PT. PERTAMINA (Persero) mempunyai sistem organisasi dimana para
staff dibagi atas cabang-cabang berdasarkan regional. Organisasi PT.
PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan berada di bawah wewenang
dan tanggung jawab General Manager RU V (GM), yang bertanggung jawab
langsung kepada Direktur Pengolahan Pertamina.
General Manager Pertamina RU V berfungsi sebagai koordinator seluruh
kegiatan pengolahan PERTAMINA di Balikpapan, yang dalam tugasnya dibantu
oleh Senior Manager Operation and Manufacturing (SMOM) dan beberapa
manager/ Kepala Bidang, yaitu:

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
9
2.3.1 Production Function
Fungsi ini bertanggung jawab dalam mengatur dan mengoperasikan kilang
secara keseluruhan. FGeneral Manager Pertamina RU V berfungsi sebagai koordinator
seluruh kegiatan pengolahan PERTAMINA di Balikpapan, yang dalam tugasnya dibantu
oger. Untuk memudahkan sistem pengoperasiannya, fungsi ini dibagi berdasarkan
area proses dan jenis pekerjaannya yaitu:
1. Distilling dan Wax Plant Section
2. Hydroskimming Complex Section
3. Hydrocracker Complex Section
4. Utilities Section
5. Oil Movement Section
6. Laboratory Section

2.3.2 Refinery Planning and Optimization Function


Bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanan, pengkoordinir
pekerjaan, pemeliharaan dan meningkatkan kehandalan operasi kilang.
Kedudukannya adalah planner sedangkan kilang adalah Doer. Kedudukannya
fungsi ini merencanakan pengolahan untuk mencari gross margin sebesar –
besarnya (dengan pemilihan crude yang bernilai tinggi dilihat dari yield, harga
maupun jadwal datang). Secara umum bidang ini bertugas menyiapkan dan
menyajikan perspektif keekonomian kilang Balikpapan, seperti melaporkan data-
data statistik mengenai evaluasi produk, hasil blending crude dan administrasi
serta mengembangkan perencanaan yang ada dan dapat memaksimalkan
pendapatan berdasarkan pasar dan kondisi kilang yang ada. Refinery Planning and
Optimization Function membawahi dua bagian yaitu:
1. Refinery Planning Section
2. Supply Chain & Ditribution Section
3. Budget and Performance Planning & Support Function

2.3.3 Maintenance Planning & Support Function


Fungsi ini membawahi empat bagian yaitu:
1. Planning and Scheduling Section
2. Stationary Engineer Section

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
10
3. Electrical & Instrument Engineer Section
4. Rotating Equipment Engineer Section

2.3.4 Maintenance Execution Function


Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyediakan jasa pelayanan dan
pemeliharaan peralatan mekanik, rotating, listrik dan instrumentasi untuk
menunjang kehandalan operasi kilang. Maintenance Execution membawahi enam
bagian, yaitu:
1. Maintenance Areal 1 Section
2. Maintenance Areal 2 Section
3. Maintenance Areal 3 Section
4. Maintenance Areal 4 Section
5. General Maintenance Section
6. Workshop Section

2.3.5 Turn Arround Function


Fungsi ini membawahi tiga bagian yaitu:
1. Turn Arround Section
2. Equipment Overhoul Section
3. Scheduling Mat & Service Support Section

2.3.6 Engineering and Development Function


Tugas utama fungsi ini adalah mengembangkan proses dan fasilitas di
kilang, meneliti dan memberikan rekomendasi / saran-saran upaya peningkatan
kinerja operasi kilang secara keseluruhan. Fungsi ini dibagi menjadi beberapa
bagian yaitu:
1. Procces Engineering Section
2. Project Engineering Section
3. Energy Conservation & Loss Control Section

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
11

Gambar 2.3. Flow Diagram Engineering & Development

2.3.7 Reliability Function


Fungsi ini bertugas untuk merencanakan, melaksanakan, mengoordinasi
pekerjaan, pemeliharaan, dan meningkatkan keandalan operasi kilang, yang terdiri
dari:
1. Plant Reliability Section
2. Equipment Reability Section

2.3.8 Procurement Function


Fungsi ini membawahi empat bagian, yaitu:
1. Inventory Section
2. Purchasing Section
3. Services & Warehousing Section
4. Contract Office Section

2.3.9 Health, Safety, Environment Function


Fungsi ini membawahi empat bagian, yaitu:
1. Environmental Section
2. Fire & Insurance Section
3. Safety Section
4. Occupational Health Section

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
12
2.3.10 General Affairs Function
Fungsi ini membawahi dua bagian, yaitu Public Relation Section dan
Security Section.

2.3.11 Human Capital Function


Fungsi Human Capital RU V membawahi:
1. HC Business Refinery Partner
2. Industrial Relation & OS Management
3. HR Service

2.3.12 Fungsi Keuangan


Fungsi Keuangan membawahi tiga bagian, yaitu:
1. Finance Business Support
2. Financial Accounting & Treasury
3. Finance Refinery

2.3.13 Information Technology


Fungsi ini membawahi dua bagian, yaitu Bagian Pengembangan dan
Bagian Operasi.

2.3.14 OPI Function


Sebutan jabatan untuk OPI adalah Manager yang membawahi beberapa
Analyst/Supervisor Analyst sesuai workstreamnya masing-masing. OPI
bertanggung jawab langsung ke GM (General Manager). Organisasi baru yang
dibentuk ini bertujuan untuk menyukseskan program transformasi Pertamina
secara keseluruhan yang meliputi 4 main stream antara lain Leadership, Technical
Aspect, Minsed Camability dan Management Infrastructure.
Struktur organisasi PT. PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan dapat
dilihat pada gambar 2.4 berikut.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
13

Struktur Organisasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan


General Manager RU V

Manager
HC Region Manager
Manager Eng & Dev Manager Reliability Manager Procurement Healt, Safety & Manager General Affairs
Kalimantan
Finance RU V Manager IT RU V Manager
Enviromental

Lead of Lead of Equipment Section Head Inventory


Section Head
Section Head Security
Ast. Man. HC Business Refinery Ast Manager Finance Ast Mgr Bus Supp &
Partner RU V Business Support. Infrastructure
Process Engineering Reliability Engineer Environmental

[Link]. Financial
Section Head Plant Section Head Fire & Area Manager Comm.& Section Head IR & OS Ast. Man. Comp.
Project Engineering Reliability
Section Head Purchasing
Insruance Relations Kalimantanion Management Accounting & Opr.
treasury

Encon & LC Section Head Region Manager Asset Ast Manager HRM Section Head Finance
Section Head Safety Operation Kalimantan Services Refinery Sorong
Services & Warehousing

Section Head Contract Section Head Area Manager Legal Internal Audit Kalimantan
Office Occupational Health4 Counsel Manager

Area Manager Medical


Kalimantan Quality Management

Manager OPI

Senior Manager O & M

Manager Production Manager RP & O Manager MP & S Manager Turn Arround Manager ME

Section Head Oil Section Head Section Head Section Head


Section Head HSC Maintenance Area 1 Maintenance Area 4
Movement Ref. Planning Planning & Schedulling Turn Arround
Section Head Section Head
Lead of Station.& Statu.
Section Head Dis & Wax Section Head HCC Supply Chain & Maintenance Area 2 General Maintenance
Distribution
Insp. Engineer Equipment Overhoul

Section Head Lead of Electrical & Section Head Scheduling Mat


Section Head Laboratory Section Head UTL Maintenance Area 3 Workshop
Budget & Performance Instrument Engineer & Service Support

Lead of RE Inspection Engineer

Gambar 2.4. Struktur Organisasi Refinery Unit V Balikpapan

2.4 Visi dan Misi Perusahaan


2.4.1 Visi Perusahaan
Menjadi kilang kebanggaan nasional yang mampu bersaing dan
menguntungkan
2.4.2 Misi Perusahaan
Menjalankan usaha minyak, gas, serta energy baru dan terbarukan secara
terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat.

2.5 Tata Nilai


Dalam mencapai visi dan misinya, PT. PERTAMINA (Persero)
berkomitmen untuk menerapkan tata nilai sebagai berikut:
1. Clean (Bersih)
Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak
mentoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integrasi.
Berpedoman pada asas-asas tata kelola koorporasi yang baik.
2. Competitive (Kompetitif)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
14
Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional,
mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar
biaya dan menghargai kinerja.
3. Confident (Percaya Diri)
Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam
reformasi BUMN dan membangun kebanggaan bangsa
4. Costumer Focused (Fokus pada Pelanggan)
Berorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk
memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan
5. Comercial (Komersial)
Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil
keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat
6. Capable (Berkemampuan)
Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta
dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun
kemampuan riset dan pengembangan.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Bahan Baku Minyak Bumi dan Karakteristiknya


3.1.1 Bahan Baku Minyak Bumi
Jumlah minyak mentah yang diolah oleh PT. PERTAMINA (Persero) RU
V Balikpapan saat ini sebanyak 260.000 barrel per hari. Kilang Balikpapan I
mengolah 60.000 barrel per hari dan Kilang Balikpapan II mengolah 200.000
barrel per hari. Kilang Balikpapan saat ini mengolah minyak mentah (crude oil)
berdasarkan spesifikasi desain, dimana Kilang Balikpapan I dirancang untuk
mengolah minyak mentah dari tangki crude Balikpapan. Sedangkan Kilang
Balikpapan II dirancang untuk mengolah minyak mentah dari tangka crude Lawe-
Lawe.
Minyak mentah dari Lawe-Lawe umumnya didatangkan dari luar negeri,
diantaranya Malaysia (Tapis), Australia (Jabiru, Chalyst, dan Copper Basin),
China (Nanhai dan Xijiang), Nigeria (Nigerian Brass, Farcados, dan Qua-Iboe),
dan lain-lain. Minyak mentah dari tangka crude Balikpapan didatangkan dari
dalam negeri diantaranya berasal dari Widuri, Minas, Badak, Sangatta, Belida,
Cinta, Lalang, Kakap, ZSumatera Light Crude, Handil, dan Bekapai. Sebagian
minyak mentah yang diolah berasal dari luar negeri dikarenakan alasan ekonomi
dan keterbatasan bahan baku dalam negeri.
Bahan baku berupa minyak mentah yang beraneka ragam diolah dengan
proses pencampuran (blending) untuk mempertahankan kualitas bahan baku yang
menyerupai spesifikasi bahan baku yang dapat diolah oleh kilang PT.
PERTAMINA RU V. Berdasarkan perolehan akhir, bahan baku dapat
digolongkan sebagai berikut;
1. Light crude : menghasilkan banyak LPG, light dan heavy naptha
2. Medium crude : menghasilkan banyak kerosin dan diesel oil
3. Heavy crude : menghasilkan banyak long residu

15 Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
16
3.1.2 Karakteristik Bahan Baku
Minyak bumi dapat dibedakan sesuai dengan sifat fisik dan sifat kimianya
berdasarkan berat jenis (specific gravity-density), kandungan belerang, kandungan
nitrogen, kandungan garam, residu karbon, dan viskositas.
[Link] Berat Jenis
Berat jenis sering digunakan untuk membedakan minyak bumi secara
kasar dan biasanya dinyatakan dalam satuan oAPI. Satuan tersebut berbanding
terbalik dengan berat jenis, dimana semakin besar oAPI maka semakin kecil berat
jenis minyak bumi.
Tabel 3.1. Klasifikasi Minyak Bumi Berdasarkan Berat Jenisnya
Jenis Minyak Bumi Sg (60/60℉) °API Gravity
Ringan 0,830 39,0
Medium Ringan 0,830 – 0,850 39,0 – 35,0
Medium Berat 0,850 – 0,865 35,0 – 32,1
Berat 0,865 – 0,905 32,1 – 24,0
Sangat Berat 0,905 24,8

[Link] Kandungan Belerang


Kandungan belerang atau sulfur yang tinggi membutuhkan prosedur
pengolahan yang lebih rumit untuk memproduksi produk bernilai tinggi dimana
semakin rendah kandungan sulfur, maka semakin baik minyak bumi tersebut.
Semakin rendah kandungan sulfur maka akan semakin baik kualitas minyak bumi
untuk dilakukan pengolahan, karena sulfur merupakan impuritis dalam minyak
bumi. Klasifikasi minyak bumi berdasarkan kandungan sulfur dapat dilihat pada
tabel 3.2 berikut ini.
Tabel 3.2. Klasifikasi Minyak Bumi Berdasarkan Kandungan Sulfur
Jenis Minyak Bumi % Berat Sulfur
Non-sulfuric 0,01-0,03
Sulfur rendah 0,03-1,0
Sulfurik 1,3-3,0
Sulfur tinggi >3

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
17
[Link] Kandungan Nitrogen
Senyawa-senyawa nitrogen dapat mengganggu kelangsungan proses
katalis terhadap pengolahan minyak bumi, akan berperngaruh buruk terhadap
aroma, kestabilan warna, serta sifat penuaan produk kilang. Batas maksimum
nitrogen adalah 0,25%
[Link] Kandungan Garam
Minyak bumi dapat mengandung garam sampai dengan 0,6 lb/barrel
minyak bumi. Deposit garam dalam tungku dan penukar panas dapat menurunkan
kapasitasnya karena karena adanya penyumbatan pada peralatan tersebut.
Sedangkan senyawa klorida dapat membebaskan asam klorida yang dapat
menyebabkan korosi.
[Link] Residu Karbon
Minyak mentah dengan residu karbon biasanya lebih berharga karena lebih
baik untuk pembuatan minyak pelumas. Residu karbon ditentukan dengan cara
distilasi sampai tertinggal residu kokas.
[Link] Viskositas
Viskositas minyak bumi pada umumnya berada pada selang 40-60 SSU
(Saybolt Universal Second) pada 100 °F, tetapi juga dapat mencapai 6000 SSU
pada 100 °F pada minyak bumi tertentu.

3.2 Produk Minyak Bumi dan Karakteristiknya


3.2.1 Produk Perusahaan
Produk yang dihasilkan oleh PERTAMINA RU V Balikpapan terdiri dari
produk setengah jadi serta produk jadi yang siap untuk dipasarkan. Beberapa
contoh produk setengah jadi (Stream Product) yang dihasilkan adalah Light
Naphta, Heavy Naphta, Light Kerosene, Heavy Kerosene, Light Gas Oil (LGO),
Heavy Gas Oil (HGO), Residu, Short Residu, Long Residu, Stripped Diesel,
Naphta Feed, Sweet Naphta, Reformat, Light Vacuum Gas Oil (LVGO) dan
Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO). Produk jadi yang dihasilkan oleh Kilang
Balikpapan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Bahan Bakar Minyak (BBM): Premium, Kerosin, Solar (Industrial Diesel Oil/
IDO dan Automotive Diesel Oil/ ADO), dan Industrial Fuel Oil (IFO).
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
18
2. Non Bahan Bakar Minyak (NBBM): LPG, Naphta, Smooth Fluid dan Low
Sulphur Waxy Residue (LSWR).
3. Bahan Bakar Khusus (BBK): Pertamax, Pertadex dan Avtur.
Semua produk yang dihasilkan tersebut dianalisa atau diuji kualitas
produknya sebelum dipasarkan dengan memperhatikan semua spesifikasi setiap
produk. Kontrol kualitas produk dilakukan di Laboratorium PERTAMINA RU V
Balikpapan.
[Link] LPG
Syarat LPG yang dipasarkan di Indonesia adalah kandungan fraksi ringan
etana harus kurang dari 0,2% volume. Selain itu, kandungan i-C5, n-C5 dan fraksi
yang lebih berat dalam LPG maksimum 2% volume. Dengan alasan keselamatan,
LPG dicampur dengan etil merkaptan untuk memberi bau khas sebagai indikator
kebocoran. Spesifikasi produk LPG berdasarkan masing- masing jenisnya dapat
dilihat pada tabel 3.3, tabel 3.4 dan tabel 3.5 berikut.
Tabel 3.3. Spesifikasi Produk LPG Jenis Propana
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Komposisi: %vol ASTM D-


C3 2163 95 -
C4 + (C4 and heavier) - 2,5
C3 +C4 - -
C5 - -
C5 + (C5 and heavier) - -
C6 + (C6 and heavier) - Nil

2. R.V.P. (100˚F) Psi ASTM D- - 210


1267
3. Weathering Test %vol ASTM D- 95 -
(36˚F) 1837
4. Total Sulphur Grain/10 ASTM D- - 15
0 ft3 2784
5. Ethyl or Buthyl mL/1000 - 50
Mercaptan Added AG

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
19
Tabel 3.3. Spesifikasi Produk LPG Jenis Propana (lanjutan)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

6. Free Water Content VISUAL - -

(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

Tabel 3.4. Spesifikasi Produk LPG Jenis Butana


No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Komposisi: %vol ASTM D-


C4 2163 97,5 -
C3 +C4 - -
C5 - 2,5
C5 + (C5 and heavier) - -
C6 + (C6 and heavier) - Nil

2. R.V.P. (100˚F) Psi ASTM D- - 70


1267
3. Weathering Test %vol ASTM D- 95 -
(36˚F) 1837
4. Total Sulphur Grain/100 ASTM D- - 15
ft3 2784
5. Ethyl or Buthyl mL/1000 - 50
Mercaptan Added AG
6. Free Water Content VISUAL - -

(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
20
Tabel 3.5. Spesifikasi Produk LPG Campuran
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Komposisi: %vol ASTM D-


C2 2163 - 0,2
C4 + (C4 and heavier) - -
C3 +C4 97,5 -
C5 - 2,0
C5 + (C5 and heavier) - -
C6 + (C6 and heavier) - Nil

2. R.V.P. (100˚F) Psi ASTM D- - 145


1267
(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

[Link] Naphta
Naphta yang diproduksi PERTAMINA RU V Balikpapan selain dijadikan
bahan blending bensin, juga digunakan sebagai bahan baku oleh perusahaan lain
seperti British Petroleum dan Sietco. Spesifikasi naphta yang dijual mempunyai
spesifikasi yang dapat dilihat pada tabel 3.6, tabel 3.7 dan tabel 3.8 berikut.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
21
Tabel 3.6. Spesifikasi Produk Light Naphta (Produk BP)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Specific Gravity (60˚F) ASTM D- 0,68 0,74


1298
2. Parrafins %vol ASTM D- 65 -
2159
3. Olefins %vol ASTM D- - 1,0
1319
4. Colour Saybolt ASTM D-156 22 -

5. Total Sulphur ppm-wt ASTM D- - 300


4045
6. Komposisi: ASTM D-86
IBP ˚C 25 -
End Point ˚C - 204
Residu %vol - 2,0

7. R.V.P. (100˚F) Psi ASTM D-323 - 13,0

8. Lead Content ppb IP-224 - 100

9. Existent Gum mg/100 ASTM D-381 - 4,0


mL
10. Arsenic Content *) Ppb UOP-296 - -

11. Total Chlorine *) ppm-wt UOP-395 - -

*) Penyesuaian disesuaikan dengan menggunakan Volatility Adjustment Table


(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
22
Tabel 3.7. Spesifikasi Produk Light Naphta (Konsumsi Sieteo)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Specific Gravity (60˚F) ASTM D- 0,65 0,74


1298
2. Parrafins %vol ASTM D- 65 -
2159
3. Olefins %vol ASTM D- - 1,0
1319
4. Colour Saybolt ASTM D-156 20 -

5. Total Sulphur ppm-wt ASTM D- - 300


4045
6. Komposisi: ASTM D-86
IBP ˚C 25 -
End Point ˚C - 204
Residu %vol - 1,5

7. R.V.P. (100˚F) Psi ASTM D-323 - 13,0

8. Lead Content ppb IP-224 - 100

9. Existent Gum mg/100 ASTM D-381 - 4,0


mL
10. Arsenic Content *) Ppb UOP-296 - -

11. Total Chlorine *) ppm-wt UOP-395 - 1

*) Penyesuaian disesuaikan dengan menggunakan Volatility Adjustment Table


(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
23
Tabel 3.8. Spesifikasi Produk Medium Naphta (Konsumsi BP)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Specific Gravity (60˚F) ASTM D- 0,72 -


1298
2. Parrafins %vol ASTM D- 20 -
2159
3. Olefins %vol ASTM D- - 1,0
1319
4. Colour Saybolt ASTM D-156 22 -

5. Total Sulphur ppm-wt ASTM D- - 300


4045
6. Komposisi: ASTM D-86
IBP ˚C 45 -
End Point ˚C - 180
Residu %vol - 2,0

7. R.V.P. (100˚F) Psi ASTM D-323 - 6,0

8. Lead Content ppb IP-224 - 100

9. Existent Gum mg/100 ASTM D-381 - 4,0


mL
10. Arsenic Content *) Ppb UOP-296 - -

11. Total Chlorine *) ppm-wt UOP-395 - -

*) Penyesuaian disesuaikan dengan menggunakan Volatility Adjustment Table


(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

[Link] Premium dan Pertamax


Untuk mencapai bilangan oktan 88, Premium dibuat dengan cara mem-
blending reformat (ON= 92-94), light naphta (ON=70) dan heavy naphta
(ON=60). Jika belum mencapai bilangan oktan 88, maka ditambahkan HOMC
(High Octane Mogas Component) yang memiliki bilangan oktan 95. Selain
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
24
Premium, PERTAMINA RU V juga memproduksi Pertamax yang memiliki
bilangan oktan 92 dan Pertamax Plus yang memiliki bilangan oktan 94.
Spesifikasi Premium dan Pertamax disajikan dalam Tabel 3.9 dan Tabel 3.10.

Tabel 3.9. Spesifikasi Produk Premium menurut Dirjen Migas


No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Research Octane RON ASTM D- 88,0 -


Number 2699
2. Lead Content g/L ASTM D- - 0,30
3341
3. Distillation: ASTM D-86
10% vol Recovery ˚C - 74
50% vol Recovery ˚C 75 125
90% vol Recovery ˚C - 180
End Point ˚C - 215
Residue %vol - 2,0

4. R.V.P. (100˚F) kPa ASTM D- 45 69


323
5. Existent Gum mg/100 mL ASTM D- - 4
381
6. Induction Period Menit ASTM D- 240 -
525
7. Total Sulphur % berat ASTM D- - 0,05
2622
8. Mercaptan % berat ASTM D- - 0,002
Sulphur 3227
9. Colour VISUAL Yellow

10. Dry Content: g/100 L - - 0,13


Yellow
(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
25
Tabel 3.10. Spesifikasi Produk Pertamax menurut Dirjen Migas
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Research Octane Number RON ASTM D-2699 92 -

2. Lead Content g/L ASTM D-3237 - 0,013

3. Distillation: ASTM D-86


10% vol Recovery ˚C - 70
50% vol Recovery ˚C 77 110
90% vol Recovery ˚C 130 180
End Point ˚C - 215
Residue %vol - 2,0

4. R.V.P. (100˚F) kPa ASTM D-323 45 60

5. Existent Gum mg/100 ASTM D-381 - 4


mL
6. Induction Period Menit ASTM D-525 360 -

7. Total Sulphur % berat ASTM D-1266 - 0,05

8. Cu. Strip. Corrosion 3 hours (50˚C) ASTM D-130 To be reported

9. Mercaptan Sulphur % berat ASTM D-3227 - 0,002

10. Aromatic Content % vol ASTM D-1319 50

11. Olefin Content % vol ASTM D-1320

12. Oxygenate Content % vol MIXED 2,7

13. Colour VISUAL blue

14. Dry Content g/100 L Color Trial - 0,13

(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
26
[Link] Kerosin
Kerosin adalah fraksi minyak mentah yang pada rentang suhu 150-250˚C.
Kerosin tidak bisa terbakar pada fasa cair. Kerosin hanya bisa dibakar pada
keadaan teruapkan dan bercampur dengan udara. Kerosin digunakan sebagai
bahan bakar rumah tangga baik sebagai bahan bakar maupun bahan penerangan.
Pada proses pembakarannya, kerosin diuapkan dengan panas ataupun dengan
tekanan. Panas dapat berasal dari pembakaran kerosin sendiri. Spesifikasi kerosin
menurut Dirjen Migas disajikan pada Tabel 3.11.
Tabel 3.11. Spesifikasi Kerosin menurut Dirjen Migas
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Densitas (15˚C) kg/m3 ASTM D- - 835


1298
2. Smoke Point Mm ASTM D- 15 -
1322
3. Distillation: ASTM D-86
End Point ˚C - 310
Recovery (200˚C) %vol 18 -

4. Burning Test (Dry mg/kg IP-10 - 40


Char)
5. Flash Point ˚C ASTM D- 38 -
323
6. Total Sulphur % berat ASTM D- - 0,2
1266
7. Cu. Strip. Corrosion 3 hours ASTM D- To be reported
(50˚C) 130
8. Colour VISUAL Marketabel

(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
27
[Link] Automotive Diesel Oil (ADO)
Automotive Diesel Oil merupakan bahan bakar kendaraan bermotor mesin
diesel. Kompresi yang tinggi dapat menyebabkan minyak diesel untuk tersulut
secara otomatis. Faktor yang perlu diperhatikan adalah angka setana maka
semakin baik kualitas suatu minyak diesel. ADO yang memiliki bilangan cetane
minimal 45 merupakan hasil pencampuran dari gas oil ringan, gas oil berat, gas
oil vakum ringan dan gas oil vakum berat. Spesifikasi ADO menurut Dirjen
Migas disajikan pada Tabel 3.12.
Tabel 3.12. Spesifikasi Produk ADO untuk BP
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Densitas (15˚C) kg/m3 ASTM 815 860


D-1298
2. Cetane Number ASTM 48 -
D-613
3. Visc. Kinematic ASTM 2,0 4,5
(40˚C) cSt D-445

4. Pour Point ˚C ASTM - 18


D-97
5. Flash Point ˚C ASTM 52 -
PMcc D-93
6. Distillation, % vol ASTM 40 -
recovery D-86
(300˚C)
7. Cu. Strip. Corrosion 3 ASTM To be reported
hours (50˚C) D-130
8. Total Sulphur % berat ASTM - 0,5
D-1552

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
28
Tabel 3.12. Spesifikasi Produk ADO untuk BP (lanjutan)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

9. Conradson % berat ASTM - 0,1


Carbon Residue D-189 - 0,1
or (on 10% vol ASTM
Bottom) D-4530
10. Ash Content % berat ASTM - 0,01
D-482
11. Water Content Mg/kg ASTM - 500
D-6304
12. Sediment by % berat ASTM - 0,01
Extraction D-473
13. Strong Acid mg ASTM - Nil
Number KOH/g D-664

14. Total Acid mg ASTM - 0,6


Number KOH/g D-664

15. Colour ASTM ASTM - 3,0


D-1500

(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

[Link] Industrial Diesel Oil (ADO)


IDO digunakan untuk industri terutama yang memiliki mesin diesel. IDO
merupakan campuran dari 20% IFO dan 80% ADO. Spesifikasi produk IDO
menurut Dirjen Migas dapat dilihat pada tabel 3.13 berikut.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
29
Tabel 3.13. Spesifikasi Produk IDO untuk BP
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Specific Gravity at 60/60˚F ASTM D-1298 0,84 0,92

2. Strong Acid Number Mg ASTM D-974 - Nil


KOH/g
3. Viscosity Redwood (100˚F) ASTM D-70 3,5 4,5
Seconds

4. Pour Point ˚F ASTM D-97 - 65

5. Flash Point PMcc ˚F ASTM D-93 150 -

6. Total Sulphur % berat ASTM D-1552 - 1,5

7. Conradson Carbon Residue % berat ASTM D-189 - 1

8. Ash Content % berat ASTM D-482 - 0,02

9. Water Content % vol ASTM D-95 - 0,25

10. Sediment by Extraction % berat ASTM D-473 - 0,02

11. Colour ASTM ASTM D-1500 6 -

(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

[Link] Avtur
Avtur digunakan untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara. Avtur
digunakan pada mesin pesawat terbang bermesin turbin. Avtur mempunyai
komposisi yang mirip dengan kerosene. Hanya saja spesifikasinya lebih ketat
karena penggunaannya untuk pesawat terbang. Avtur tidak diambil untuk produk
blending untuk menjaga kualitas yang mengacu pada standar internasional.
Parameter yang harus diperhatikan dalam penentuan kualitas avtur adalah titik
asap, titik tuang dan turbinitas. Spesifikasi produk avtur disajikan pada tabel 3.14
berikut.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
30
Tabel 3.14. Spesifikasi Produk Avtur
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Density at 15˚C kg/m3 ASTM D- 775 840


1298
2. Cu. Strip. Corrosion 3 ASTM D-130 - No.1
hrs/ 50˚C
3. Flash Point Abel ˚C IP-170 38 -

4. Freezing Point ˚C IP-16 - -47

5. Aromatic Content % vol ASTM D- - 25


1319
6. Mercaptan Sulphur % wt ASTM D- - 0,003
3227
7. Sulphur Content % wt ASTM D- - -
1266
8. Existent Gum mg/100 ASTM D-381 - 0,3
mL
9. Total Acidity mg IP-273 - 7
KOH/g
10. Smoke Point Mm ASTM D- 25 0,015
1322

11. Specific Energy MJ/kg 42,8 -

12. Viscosity at -20˚C mm2/sec ASTM D-445 - -

13. Therrmal Stability ASTM D - 8


3241

14. Pressure Differential mmHg - 25

(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
31
[Link] Low Sulphur Wax Residue (LSWR)
Low Sulphur Wax Residue merupakan salah satu produk yang diekspor,
terutama ke Jepang. Produk ini merupakan campuran dari 63% short residu,25-
35% ADO dan 2% kerosin. Spesifikasi LSWR dapat dilihat pada tabel 3.15
berikut.
Tabel 3.15. Spesifikasi Produk LSWR
No. Analisa Satuan Metode Spesifikasi

1. Sg at 60/60˚F ASTM D 0,7715


1298
2. CU. Strip Corrosion - ASTM D- No. 1
130
3. Flash Point Abel ˚F ASTM D-93 84

4. Aromatic Content % vol ASTM D- 5,5


1319
5. Doctor Test - ASTM D- Negative
4952
6. Colour Saybolt - ASTM D- +30
156
7. Aniline Point ˚F ASTM D- 150
611
(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

[Link] Marine Gas Oil (MGO)


Low Aromatic White Spirit (LAWS) merupakan solvent white spirit jernih
yang mengandung aromatik dalam jumlah yang rendah. Produk ini dihasilkan dari
fraksi Light Kerosene Hydrocracking Unit. Kegunaannya sebagai solvent/ pelarut
dengan kelas low aromatic pada industri cat dan petrokimia. Spesifikasi LAWS
disajikan pada tabel 3.16.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
32
Tabel 3.16. Spesifikasi Produk MGO
No. Analisa Satuan Metode Spesifikasi

1. Density at 15˚C kg/m3 ASTM D 1298 865 max

2. Flash Point PMcc ˚C ASTM D-93 60 min

3. Viscosity Kin at 40˚C cSt ASTM D-445 1,5-4,5

4. Pour Point ˚C ASTM D-97 -6 Max

5. Sulphur Content % wt ASTM D-2622 0,35 Max

6. Water Content % v/v ASTM D-95 0,35 Max

7. CCR on 10% [Link] % wt ASTM D-189 0,1 Max

8. Ash Content % wt ASTM D-482 0,01 Max

9. Cetane Index ASTM D-4737 37 Min

10. Cetane Number ASTM D-613 40 Min

*) dengan konversi dari ASTM D-445


(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

[Link] Low Aromatic White Spirit (LAWS)


Low Aromatic White Spirit (LAWS) merupakan solvent white spirit jernih
yang mengandung aromatik dalam jumlah yang rendah. Produk ini dihasilkan dari
fraksi Light Kerosene Hydrocracking Unit. Kegunaannya sebagai solvent/ pelarut
dengan kelas low aromatic pada industri cat dan petrokimia. Spesifikasi LAWS
disajikan pada tabel 3.17.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
33
Tabel 3.17. Spesifikasi Produk LAWS
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.

1. Specific gravity at ASTM D 1298 0,8789 0,930


60/60˚F 9

2. API gravity at 60/60˚F ASTM D-1250 20,5 29,5

3. Ash Content % wt ASTM D-482 - 0,10

4. Conradson Carbon % wt ASTM D-189 - 8,0


Residue
5. Flash Point PMcc ˚F ASTM D-93 166 -

6. Pour Point ˚F ASTM D-97 - 120

7. Sulphur Content % wt ASTM D-1552 - 0,2

8. Viscosity Redwood Second *) 100 350


1/140˚F
9. Water Content % vol ASTM D-95 - 0,50

*) dengan konversi dari ASTM D-445


(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

[Link] Smooth Fluid 05 (SF 05)


Smooth fluids merupakan drilling mud jenis oil base mud (OBM) untuk
proses pengeboran. Pada proses pengeboran, drilling mud digunakan secara
bersirkulasi untuk menjaga tekanan hidrostatik melawan tekanan reservoir bumi,
menggerakkan, melumasi dan mendinginkan mata bor, serta membuang pecahan
batuan. Oil base mud merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan jenis water
base mud, karena bersifat sama dengan reservoir minyak di lapisan bumi,
sehingga tidak merusak pori- pori reservoir. Smooth fluids dihasilkan dari fraksi
Diesel Stripper Hydrocracking Unit. Spesifikasi SF 05 dapat dilihat pada tabel
3.18 berikut.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
34
Tabel 3.18. Spesifikasi Produk LAWS
No. Analisa Satuan Metode Spesifikasi

1. Density at 15˚C kg/m3 ASTM D 0,810-0,835


1298
2. Flash Point PMcc ˚C ASTM D-93 90 min

3. Aniline Point ˚C ASTM D-611 95 min

4. Color ASTM ASTM D-156 1,0 Max

5. Cooper Strip ASTM D-130 No.1 Max

6. Sulphur Ppm ASTM D- 40 Max


4294
7. Appearance VISUAL Thin Yellow

(Sumber: Data PERTAMINA RU V Balikpapan)

3.2.2 Karakteristik Produk Perusahaan


[Link] LPG
Beberapa sifat penting dari LPG antara lain RVP (Reid Vapor Pressure)
dan kandungan fraksi C5 dan fraksi yang lebih berat. Tekanan uap maksimum
yang diizinkan adalah 0,2% volume. Berikut ini adalah tekanan uap sesuai
klasifikasi LPG yang dapat dilihat pada tabel 3.19.
Tabel 3.19. Klasifikasi LPG Berdasarkan Tekanan Uap
Kualitas Tekanan Uap Maksimum Komposisi
pada
100 oF, psi
A 80 Butana
B 100 Butana, sedikit
propane
C 125 Butana, propane
D 175 Propana, sedikit
butane
E 200 Propana

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
35
Untuk kandungan fraksi C5, memiliki maksimum 2% volume. Apabila kandungan
fraksi tersebut melebihi 2% volume, maka nilai kalor LPG menjadi lebih rendah
dari yang seharusnya.
[Link] Bensin (Motor Gasoline)
Beberapa sifat penting dari bensin antara lain Octane Number (ON),
Oxidation Stability dan Engine Deposit.
1. Octane Number (ON)
Octane number atau bilangan oktan adalah tolak ukur kualitas anti knocking
bensin. Knocking atau peletupan prematur adalah peledakan campuran uap bensin
dan udara dalam silinder mesin sebelum busi menyala, dimana peristiwa tersebut
mengurangi daya mesin tersebut. Skala ON didasarkan pada konversi bahwa n-
heptan (n-C7H16) memiliki ON nol (rentan terhadap knocking) dan i-oktan (2,2,4-
trimetilpentan) memiliki ON 100 (tahan terhadap knocking).
Bensin dikatakan berbilangan oktan X (0<X<100) apabila karakteristik anti
knocking bensin terdebut sama dengan karakteristik anti knocking campuran.
X%-volume I-oktan dengan (100-X)% volume n-heptan. Bensin premium
memiliki spesifikasi bilangan oktan minimum 88 dan untuk pertamax minimum
94. Untuk skala bilangan oktan yang lebih besar dari 100, didefinisikan sebagai
berikut:
( PN  100)
ON  100 
3
Dimana: PN = Perfomance Number
= 100 (daya mesin yang dihasilkan bensin)
(daya mesin yang dihasilkan i-oktan)

2. Oxidation Stability
Oxidation stability menunjukkan sifat ketahanan bensin terhadap
penyimpanan, semakin baik oxidation stability yang dimiliki maka semakin lama
bensin dapat disimpan tanpa mengalami penurunan kualitas secara signifikan
karena proses oksidasi.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
36
3. Engine Deposit
Deposit yang terbentuk dalam ruang pembakaran dipengaruhi oleh angka
oktan bensin, sehingga tendensi pembentukan deposit merupakan faktor yang
sangat penting. Penambahan aditif Deposit Modifying Agent diperlukan untuk
mengubah sifat deposit yang merusak menjadi berkurang.
[Link] Kerosin
Beberapa sifat penting dari kerosin antara lain Smoke Point dan Flash
Point.
1. Smoke Point (Titik Asap)
Tolak ukur kualitas pembakaran kerosin adalah kemampuan untuk
membakar tanpa menghasilkan asap. Smoke point adalah titik nyala maksimal
(dalam mm) yang dapat dihasilkan oleh pembakaran kerosin tanpa
membangkitkan asap hitam.
2. Flash Point
Flash point adalah temperatur terendah pada saat minyak membuat uap di
atasnya dan meletup saat disodori api kecil. Spesifikasi flash point minimum dari
kerosin adalah 38 oC.

[Link] Avtur
Avtur digunakan untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara. Avtur
digunakan pada mesin pesawat terbang bermesin turbin. Avtur mempunyai
komposisi yang mirip dengan kerosin hanya saja terdapat perbedaan pada
spesifikasinya. Beberapa sifat penting dari avtur adalah freezing point maksimal -
50℃ dan flash point minimum 38℃.
[Link] Diesel (Solar)
Salah satu sifat penting dari minyak diesel yang menunjukkan performa
mesin diesel ketika menggunakan minyak diesel adalah Cetane Number. Oleh
karena itu minyak diesel diharapkan memiliki kecenderungan yang cukup kuat
untuk menyala sendiri. Tolak ukur kualitas ini adalah bilangan cetan. Suatu
minyak diesel dikatakan memiliki bilangan cetan (0<S<100). Jika unjuk kerja
minyak tersebut setara dengan unjuk kerja campuran S%-volume α-metil
naftalena. Minyak diesel untuk kendaraan bermotor yang biasanya disebut solar,

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
37
memiliki bilangan cetan minimal 50. Sedangkan minyak diesel untuk kereta api
umumnya berbilangan lebih rendah (40-45).
[Link] Low Sulphur Wax Residue (LSWR)
Residu yang dihasilkan disini adalah Low Sulphur Wax Residue
merupakan salah satu produk yang diekspor, terutama ke Jepang. Produk ini
merupakan campuran dari 63% short residue, 25%-35% ADO, dan 2% kerosin.
[Link] Naphta
Naphta selain dijadikan bahan blending bensin, juga digunakan sebagai
bahan baku oleh perusahaan seperti British Petroleum dan Sietco. Spesifikasi
naphta yang dijual.
[Link] Marine Gas Oil
Marine Gas Oil dihasilkan dari fraksi Light Gas Oil CDU V. MGO ini
digunakan sebagai bahan bakar kapal laut terutama diekspor ke negara-negara
bermusim dingin, karena sifat bahan bakar ini mempunyai pour point yang rendah
(max. -6℃).
[Link] Low Aromatic White Spirit (LAWS)
LAWS merupakan solvent white spirit jernih yang mengandung aromatik
rendah. Produk ini dihasilkan dari fraksi Light Kerosene Hydrocracking Unit.
Kegunaannya sebagai solvent/pelarut dengan kelas Low aromatic pada industry
cat dan petrokimia.
[Link] Smooth Fluids 05
Smooth fluids merupakan drilling mud jenis oil base mud (OBM) untuk
proses pengeboran.

3.3 Bahan Penunjang


Beberapa bahan kimia pendukung utama yang dipakai dalam proses RU V
Balikpapan adalah:
1. Asam sulfat (H2SO4) 98%, digunakan menghilangkan senyawa tak jenuh
dalam proses pembuatan lilin (wax).
2. Active clay, digunakan untuk memperbaiki warna dan bau dalam proses
pembuatan lilin (wax). Dalam hal ini clay berfungsi sebagai absorber.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
38
3. Kapur, banyak digunakan dalam upaya menjaga kestabilan pH dalam proses
pembuatan lilin terutama pada proses treating.
4. Polyethylene, berfungsi sebagai pengeras lilin.
5. High octane number component (HOMC), digunakan sebagai komponen
blending premium.
6. Demulsifier, mempercepat pemecahan emulsi minyak-air dalam proses
desalting minyak mentah sebelum didestilasi pada CDU (Crude Distillation
Unit)
7. inhibitor korosi yang digunakan dalam proses-proses yang rentan terhadap
gas/cairan yang bersifat korosif. Sebagai contoh dalam proses LPG recovery,
dimana sejumlah inhibitor diinjeksikan di bagian overhead deethanizer karena
umpan mengandung sejumlah gas H2S sehingga dapat menyebabkan korosi
pada pipa-pipa pada bagian overhead.
8. Ammonia, digunakan untuk menjaga kestabilan pH pada berbagai unit
pemroses.
9. Methyl Mercaptan, digunakan sebagai aditif dalam LPG agar memiliki bau
sehingga diharapkan dapat menjadi indikator terhadap kebocoran LPG.
10. Static Dissipator Additive, digunakan untuk menaikkan konduktivitas elektrik
dari avtur.
11. DEA (Diethilamine), digunakan sebagai absorben untuk mengabsorbsi H2S
diharapkan konsentrasi H2S jauh lebih kecil sehingga tidak mengganggu
proses permeasi membran pada Hydrogen Recovery System.
12. Anodamine, digunakan sebagai bahan injeksi kimia pada boiler bertujuan
mengatur pH, melapisi tube pipa air dan mengikat gas-gas terlarut yang dapat
menyebabkan kerak dan korosi dalam boiler.

3.4 Reaksi-Reaksi pada Pengolahan Minyak Bumi


3.4.1 Desulfurisasi
Kandungan sulfur maksimum yang diijinkan adalah 0,5 ppm. Reaksi
desulfurisasi berlangsung baik pada temperatur 315-340oC dan sulfur terpisah
dalam bentuk H2S. Reaksi yang terjadi adalah:
Mercaptan R-S-H + H2 R-H + H2 S

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
39
Sulfida R-S-R + H2 2 R-H + H2 S
Disulfida R-S-S-R + H2 2 R-H + 2H2S
Tiofen C6H8S + 4H2 C6H14 + H2S
Apabila temperatur reaksi terlalu tinggi dapat menyebabkan reaksi samping:
𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 = 𝐂 − 𝐂 + 𝐇𝟐 𝐒 → 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐒 + 𝐂𝐇𝟒

3.4.2 Denitrifikasi
Kandungan nitrogen maksimum adalah 0,5 ppm. Penyingkiran senyawa
nitrogen lebih sulit jika dibandingkan dengan senyawa sulfur karena kecepatan
reaksi denitrifikasi hanya seperlima dari kecepatan desulfurisasi.

Gambar 3.5. Contoh Reaksi Denitrifikasi

3.4.3 Hidrogenasi Olefin


Olefin mengganggu kestabilan temperatur dalam Platformer, karena akan
terpolimerisasi dan menyebabkan fouling dalam reaktor dan unit HE. Selain itu
senyawa ini akan menimbulkan endapan karbon pada katalis. Contoh reaksi yang
terjadi:
𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 = 𝐂 − 𝐂 + 𝐇𝟐 → 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 + 𝐂𝐇𝟒

3.4.4 Penghilangan Senyawa Oksigen


Oksigen yang berada dalam bentuk phenol dapat menyebabkan fouling pada
reaktor dan unit HE. Senyawa oksigen dapat diubah menjadi air seperti pada
reaksi berikut:

OH

+ H2 + H2 O
phenol benzene

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
40
3.4.5. Dekomposisi Halida
Dekomposisi senyawa halida jauh lebih sulit dibanding dekomposisi
sulfur. Senyawa halida maksimum yang dapat dihilangkan hanya sampai 90%,
tetapi sulit tercapai pada kondisi reaksi desulfurisasi. Penghilangan senyawa
halida terjadi sesuai reaksi berikut ini:
R-Cl + H2 HCl + R-H

3.4.6. Penghilangan Senyawa Logam


Logam yang terkandung dalam orde ppb, antara lain logam arsenik, besi,
silikon, timah, tembaga dan natrium. Logam-logam ini akan terkumpul dan
menempel pada katalis, sehingga katalis perlu diganti apabila kandungan
logamnya mencapai 2% berat katalis. Untuk menghilangkan senyawa tersebut,
reaktor harus berada pada temperatur sampai 315 oC.

3.4.7. Proses Pengubahan Struktur Molekul (Reformasi Katalitik)


Reformasi katalitik adalah reaksi perubahan struktur molekul yang
diperlancar dengan bantuan katalis. Proses ini merubah naphta yang memiliki
rentang didih 100-180 0C dan memiliki bilangan oktan rata-rata < 60 menjadi
bensin berbilangan oktan rata-rata > 85 dengan bantuan katalis platina. Reaksi-
reaksi terpenting yang terjadi pada proses reformasi katalitik adalah:
1. Dehidrogenasi naftena menjadi aromat

Gambar 3.6. Reaksi Dehidrogenasi Naftena menjadi Aromat


2. Isomerisasi naftena

Gambar 3.7. Reaksi Isomerisasi Naftena

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
41

3. Dehidrosiklisasi

Gambar 3.8. Reaksi Dehidrosiklisasi

4. Perengkahan + hidrogenasi (Hydrocracking) parafin berantai panjang

Gambar 3.5. Reaksi Perengkahan + Hidrogenasi Parafin

3.4.8. Proses Kombinasi Molekul


Molekul-molekul hidrokarbon yang molekulnya kecil, digabungkan
menjadi senyawa yang bermolekul lebih besar dan memiliki titik didih pada
rentang yang diinginkan. Contoh proses tersebut adalah polimerisasi dan alkilasi.
Polimerisasi :
2C2H4 C4H8
2C3H6 C6H12
Alkilasi olefin adalah:
CH3 CH3
CH2=CH2 + CH3-CH-CH3 CH3- C-CH2-CH3
CH3
Etena Isobutana Isoheksana

3.4.9. Steam Reforming


Secara umum reaksi yang terjadi adalah:
2n  m 
CnHm + n H2O n CO + H2
2
Reaksi ini sangat endotermik dan banyak menyerap panas.

3.4.10. Reaksi Pergeseran CO


CO + H2O CO2 + H2

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
42
3.4.11. Absorbsi CO2
K2CO3 + CO2 + H2O 2KHCO3
Dimana reaksi tersebut berlangsung dalam 2 tahap:
H2O + K2CO3 KOH + KHCO3
KOH + CO2 KHCO3
Sedangkan CO2 removal yang dilakukan oleh DEA berdasarkan reaksi:
CO2 + R2NH R2NCOOH
R2NCOOH + KOH KHCO3

3.4.12. Reaksi Metanasi


Proses metanasi adalah proses mengkonversi CO dan CO2 sisa menjadi
metana.
Reaksi yang terjadi adalah:
CO + 3 H2 CH4 + H2O (eksoterm)
CO2 + 4 H2 CH4 + 2 H2O (eksoterm)

3.5 Sistem Proses


PT. PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan adalah satu dari enam
kilang milik PT. PERTAMINA (Persero) yang mempunyai kapasitas pengolahan
260.000 barel perhari yang terbagi menjadi dua kilang, yaitu Kilang Balikpapan I
yang terdiri dari:
1. Crude Distilation Unit V (CDU V)
2. High Vacuum Unit III (HVU III)
3. Dehydration Plant (DHP)
4. Wax Plant**
5. Effluent Water Treatment Plant (EWTP)
Sedangkan Kilang Balikpapan II terdiri dari:
1. Hydroskimming Complex (HSC) yang meliputi:
a. Crude Distillation Unit IV (CDU IV)
b. Naphta Hydrotreater (NHT)
c. Platformer Unit, LPG Recovery Unit
d. Sour Water Stripper Unit (SWS)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
43
e. LPG Treater Unit
2. Hydrocracking Complex (HCC) yang meliputi:
a. High Vacuum Unit (HVU) II
b. Hydrocracking Unibon (HCU)
c. Hydrogen Plant
d. Hydrogen Recovery Plant
e. Flare Gas Recovery Plant

Gambar 3.6. Proses Flow Diagram RU V Balikpapan

3.5.1. Kilang Balikpapan I


Kilang Balikpapan I merupakan kilang lama yang telah di-up grade pada
tahun 1997. Kilang Balikpapan I memiliki kapasitas produksi sebesar 60 MBSD,
yang terdiri dari lima unit operasi antara lain:
1. Crude Distilation Unit V (CDU V)
2. High Vacuum Unit III (HVU III)
3. Dehydration Plant (DHP)
4. Effluent Water Treatment Plant (EWTP)
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
44

Gambar 3.7. Proses Flow Diagram Alir Kilang Balikpapan I

[Link]. Crude Distilation Unit V (CDU V)


Crude Distilation Unit V beroperasi menggantikan PMK I dan PMK II
yang dulu dipakai untuk mengolah minyak bumi di Kilang Balikpapan I.
Berdasarkan desainnya, unit ini akan memproses minyak bumi mentah (crude oil)
yang berasal dari Attaka, Arun, SLC, dan Widuri. Kapasitas pengolahan unit ini
sebesar 60 MBSD. Seluruh produk bawah (long residue) dari CDU V
diumpankan ke High Vacuum Unit III, yang kemudian sebagian besar produk
utamanya (HVGO) diolah lagi pada hydrocracking unibon.
Minyak bumi dialirkan dari tangki minyak bumi, kemudian dipanaskan
dalam rangakaian HE (Heat Exchanger) yang memanfaatkan panas dari produk
fraksinasi. Setelah melewati HE (sebelum masuk Crude Desalter), aliran
diinjeksikan air dan demulsifier (untuk melarutkan garam-garam dalam minyak
dan untuk memecahkan emulsi antara air dengan minyak).
Setelah mengalami pemanasan, minyak bumi masuk Crude Column pada
temperatur 334ºC yang terdiri dari 47 tray dengan sidecut stripper. Produk dalam
kolom distillasi akan dikondensasikan menjadi naphta, kerosin, HGO, LGO, dan
long residu pada tray yang berbeda berdasarkan titik didihnya. Fraksi ringan dari
produk akan dipisahkan dalam stripper. Kerosin akan dialirkan ke tangki
penyimpanan pada suhu 380C. Produk LGO akan dialirkan ke tangki kerosin atau
gas oil setelah didinginkan oleh HE hingga 380C. Residu dialirkan ke Vacuum
Feed Surge Drum setelah didinginkan hingga 1590C-1690C. Residu dapat juga
dikirim ke tangki fuel oil atau LSWR setelah didinginkan 380C.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
45
Karena sebagian fraksi HGO masih terikut pada bagian bottom dari crude
column maka diinjeksikan Low Low Pressure Superheated Steam (LLPSS) yang
berfungsi untuk mengurangi tekanan parsial hidrokarbon sehingga fraksi-fraksi
ringan yang masih terdapat pada bagian bottom dapat teruapkan. Overhead gas
(O/H) akan diinjeksikan NH3 (untuk menetralisasi air yang terkondensasi dan
untuk mempertahankan pH air pada range 7-9) dan corrosion inhibitor. Overhead
gas tersebut dikondensasikan dalam main fractionators overhead condenser
berupa finfan untuk memisahkan uap, air dan hidrokarbon. Tekanan gas pada
accumulator di kontrol pada 0,3 Kg/cm2 dengan mengalirkan fuel gas atau
kelebihan gas ke flare. Hidrokarbon dialirkan ke recontact cooler untuk
dikontakkan kembali dengan aliran uap dari Knock Out Drum untuk
mengabsorbsi fraksi berat pada uap.
Naphta dari recontact cooler akan ditampung dalam Stabilizer Feed Surge
Drum dan dialirkan ke dalam Stabilizer Column/ debuthanizer setelah dipanaskan
hingga 1270C-1450C untuk memisahkan fraksi ringan LPG dan fraksi naphta.
Produk atasnya dikumpulkan di Stabilizer overhead accumulator yang kemudian
dikirim ke LPG Recovery Unit yang berupa deethanizer untuk memisahkan
hidrokatbon rantai pendek (C-1 sampai C-2) hingga mencapai spesifikasi produk
(0,2% vol max untuk C-2 dan 2 % vol max untuk C-5), sedangkan fraksi naphta
dimasukkan ke dalam Naphta Splitter Feed Surge Drum dijaga dengan
menginjeksikan off gas dari Stabilizer Overhead Accumulator atau membuang
kelebihan gas ke flare.
Produk samping dari kerosin, LGO dan HGO akan dikirim ke Stripper
masing-masing untuk memisahkan antara produk dan fraksi ringan yang masih
terbawa. Produk bawah dari HGO Stripper akan dikirim ke tangki penyimpanan.
Reduced crude (long residu) yang tidak dapat terfraksinasi lagi pada tekanan
atmosferik, diumpankan ke dalam High Vacuum Unit III (HVU III) dan sebagian
ke (HVU II) untuk dipisahkan dalam kondisi vakum.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
46

Gambar 3.8. Proses Flow Diagram CDU V

[Link]. High Vacuum Unit III (HVU III)


HVU III didesain untuk memproses reduced crude dari CDU V dan dari
tangki penyimpanan long residu. Kapasitas pengolahan unit ini adalah 25.000
BPSD. Produk dari HVU III adalah Light Vacuum Gas Oil (LVGO), Parafinnic
Oil Distillate (POD), Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO) dan short residu.
Reduced crude dari CDU V dan dari tangki timbun long residu (pada saat
shut down) ditampung ke dalam Vacuum Feed Surge Drum agar tekanannya
menjadi stabil. Kemudian reduced crude dialirkan ke Vacuum Column. Sebelum
masuk ke Vacuum Column, reduced crude terlebih dahulu melalui sistem
pemanasan dalam rangkaian HE dan sistem pemanas di tungku (furnace) pada
Vacuum Heater sampai temperatur operasi Vacuum Column (341ºC) tercapai.
Vacuum Heater yang digunakan dirancang untuk dapat menggunakan bahan bakar
fuel oil atau fuel gas.
Produk LVGO yang terpisah didinginkan dalam LVGO Cooler, kemudian
dipompa ke tangki penyimpanan Industrial Diesel Oil (IDO) atau Automotive
Diesel Oil (ADO). Untuk produk short residue dialirkan ke LSWR Pool.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
47

Gambar 3.9. Proses Flow Diagram HVU III

[Link]. Dehydration Plant (DHP)

Dehydration Plant adalah unit yang bertujuan untuk menurunkan kadar air
dalam minyak bumi sampai 1% berat yang tersuspensi dalam minyak pada saat
pemompaan minyak Tanjung. Air diinjeksikan sebanyak 37%-wt beserta
demulsifier untuk mencegah terjadinya pembekuan tersebut. Unit ini mempunyai
kapasitas 9000 ton/hari.
Proses pemisahan air dalam minyak bumi dilakukan dengan cara
menginjeksikan demulsifier ke dalam stok minyak bumi yang akan diproses,
sehingga emulsi antara minyak dan air dapat dipecah. Demulsifier diinjeksikan
melalui pipa dengan ukuran inlet 20 inchi. Selanjutnya dilewatkan pada Heat
Exchanger E1 A/B hingga temperatur 50-65ºC. Untuk memisahkan gas sisa dari
crude, maka Tanjung Crude ex tangki T1 A/B dilewatkan ke gas separator dan
kemudian ditransfer ke tangki R.

Gambar 3.10. Diagram sederhana proses Dehydration Plant (DHP)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
48
[Link]. Effluent Water Treatment Plant (EWTP)
Proses pada EWTP ada 3 macam, yaitu proses secara fisik, kimiawi, dan
biologis. Air buangan yang mengandung minyak dari kilang Balikpapan I dan II
dipompakan masuk Refinery Waste Stilling Zone (RWSZ). Aliran yang keluar
RWSZ dimasukkan ke dalam Gravity Separator (GS) dimana pada unit ini terjadi
lagi pemisahan fisik secara gravitasi. Setelah itu air buangan dialirkan ke dalam
Equlization Basin (EB) untuk diaduk dengan udara (untuk memudahkan proses
koagulasi, pengurangan partikel-partikel tersuspensi dalam air). Proses koagulasi
ini menggunakan aluminium sulfat dan anion polimer. Asam Klorida (HCl) dan
kaustik soda digunakan untuk mengontrol pH.
Tahap proses selanjutnya adalah Dissolved Air Flotation (DAF). Flok dari
partikel tersuspensi di dalam DAF diapungkan ke permukaan dengan injeksi
udara, dengan adanya injeksi udara ini akan terbentuk lapisan buih pada
permukaaan air yang secara terus-menerus akan dipisahkan dengan skimmer.
Setelah itu, keluaran akan dialirkan secara gravitasi ke bio aeration basin (BAB)
dimana terjadi proses pengolahan limbah secara biologi, lalu masuk ke Biological
Sludge Clarifier dimana lumpur yang terbentuk selama proses aeration
diendapkan dan kemudian dapat diambil. Air jernih yang dihasilkan kemudian
secara overflow dialirkan ke Gravity Head Discharge Chamber.

Gambar 3.11. Skema EWTP RU V Balikpapan

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
49
3.5.2. Kilang Balikpapan II
Kilang Balikpapan II memiliki kapasitas 200 MBSD dan terdiri dari 2
kompleks operasi, yaitu HSC (Hydroskimming Complex) dan HCC
(Hydrocracking Complex).

Gambar 3.12. Proses Flow Diagram Kilang Balikpapan II

[Link]. Hydroskimming Complex (HSC)

Hydroskimming Complex terdiri dari 5 plant yaitu:


1. Plant 1 : Crude Distilling Unit IV (CDU IV)
2. Plant 4 : Naphta Hydrotreater Unit
3. Plant 5 : Platforming Unit
4. Plant 6 : LPG Recovery Unit
5. Plant 9 : LPG Treater Unit

1. Crude Distilling Unit (CDU) IV-Plant 1


Unit ini berdasarkan desainnya mengolah minyak bumi dengan kapasitas
pengolahan 200 MBSD. Minyak bumi dialirkan dari tangki minyak mentah,
kemudian dipanaskan dalam rangkaian HE yang memanfaatkan panas dari produk
fraksionasi. Setelah melewati HE (sebelum masuk crude desalter), aliran
diinjeksikan air dan demulsifier.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
50
Setelah mengalami pemanasan, minyak bumi mentah masuk crude column
pada temperatur 3540C. Pada bagian bottom dari Crude Column dinjeksikkan Low
Pressure Steam (LPS) (untuk mengurangi tekanan parsial hidrokarbon sehingga
fraksi-fraksi ringan yang masih terdapat pada bagian bottom dapat teruapkan).
Overhead gas (O/H) yang keluar dari puncak kolom diinjeksikan NH3 (untuk
menetralisir air yang terkondensasi pada accumulator boot dan untuk
mempertahankan pH air pada range 7-9) dan Corrosion Inhibitor (berfungsi
melindungi sistem Overhead dari korosi).
Kondensat yang terdapat di dalam accumulator selanjutnya dialirkan
dalam Stabilizer Column agar fraksi ringan (< C4) terpisah dengan fraksi yang
lebih berat. Fraksi LGO akan dikirim ke LGO stripper untuk dipisahkan antara
LGO dengan fraksi ringan yang masih terbawa.

Gambar 3.13. Proses Flow Diagram CDU IV

2. Naptha Hydrotreater (NHT) - Plant 4

Unit Naptha Hydrotreater (NHT) berfungsi untuk menghilangkan


kandungan senyawa-senyawa sulfur dan nitrogen pada Stok Sour Naphta (naphta
dengan kandungan sulfur tinggi) untuk menghasilkan naphta dengan kandungan
sulfur rendah (Sweet Naphta) untuk kemudian diproses lebih lanjut di unit
Platformer. Naphta Hydrotreater Unit (NHTU) memperoleh umpan berupa heavy

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
51
naphta dari CDU IV sebanyak 25,1% vol dan dari Hydrocracker Unit (HCU)
sebanyak 74,9% vol.
Senyawa-senyawa seperti sulfur, nitrogen, oksigen dan senyawa-senyawa
lain organometalik harus dihilangkan karena dapat mengakibatkan keracunan
pada katalis pada Unit Platformer-Plant 5. Reaksi-reaksi yang terjadi didalam unit
naphta hydrotreater adalah:
1. Desulfurisasi
2. Denitrifikasi
3. Hidrogenasi olefin
4. Eliminasi olefin
Heavy naphta yang merupakan keluaran dari HCU A/B dan CDU IV
ditampung dalam feed surge drum yang ditambahkan H2 kemudian dipanaskan
dalam HE dan Charge Heater. Sebelum melewati HE, umpan diinjeksikan butyl
merkaptan, yang berfungsi sebagai “sulfiding agent” bagi katalis, yang akan
mempercepat kinerja katalis baru atau memperbaiki kereaktifan katalis yang telah
diregenerasi. Setelah itu masuk reaktor pada suhu 368oC dan keluar pada suhu
371oC.
Aliran yang keluar dari reaktor dilewatkan HE, kemudian diinjeksikan
dengan kondensat dari Wash Water Drum. Aliran tersebut ditampung dalam
produk Separator untuk dipisakan antara H2O dengan H2. Air yang tertampung
dalam Water Boot dikirim ke Sour Water Stripper, sedangkan H2 yang tidak
bereaksi dikembalikan lagi ke aliran umpan.
Selanjutnya produk reactor diumpankan pada Stripper Column. Gas
ringan keluar sebagai produk atas, sedang produk bawah berupa Sweet Naphta/
Hydrotreated Naphta yang siap diumpankan ke Unit Platformer. Gas ringan yang
keluar dikondensasikan dan kondensat yang terbentuk diembalikan ke puncak
Stripper Column sedangkan gas yang tidak terkondensasi dikirim ke Fuel Gas
System.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
52

Gambar 3.14. Bagan Proses di Naphta Hydrotreater Unit

3. Platformer Unit-Plant 5

Platformer Unit memiliki kapasitas 20 MBSD. Umpan dari Platformer


Unit adalah Sweet Naphta dari NHT yang mengandung senyawa Parafinik,
Aromatik, dan sedikit Olefinik. Katalis yang digunakan dalam Platformer unit
adalah jenis R-134 yang berupa Logam Platina.
Fungsi utama dari Unit Platformer (plant 5) adalah untuk menaikkan
bilangan oktan (ON) heavy naphta yang dihasilkan pada unit destilasi atmosferik
di plant 1 (dari 56 menjadi sekitar 92-97. Naphta yang dihasilkan dari unit
platformer ini disebut dengan Reformat. Reformat yang dihasilkan digunakan
sebagai bahan dalam proses blending untuk menghasilkan produk premium.
Di dalam Unit Platformer terdapat dua bagian utama yaitu bagian
Platformer dan bagian CCR (Continous Catalyst Regeneration). Dalam Unit
Platformer terjadi reaksi isomerisasi. Pada aliran umpan juga diinjeksikan
propilen diklorida (PDC) dan kondensat untuk menjaga neraca air-klor pada
katalis, karena senyawa klorida pada konsentrasi tertentu akan berguna untuk
menstabilkan katalis.

Gambar 3.15. Bagan Proses di Platformer

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
53
4. LPG Recovery Unit-Plant 6
Umpan bagi unit LPG Recovery adalah dari CDU IV, CDU V, Platformer
Unit dan HCC Unit. Kapasitas pengolahan plant ini sebesar 242 metrik ton/hari.
Tabel 3.20. Spesifikasi umpan LPG Recovery Unit
Komponen Platformer Hydrocracker Crade Unit
H2 S - 0.3 -
H2 0.1 0.1 -
C2 1.2 2.1 -
C2 17.9 7.9 4.0
C 34 45.9 35.3 59.8
i- C4 22.1 35.6 12.1
n-C4 9.9 17.9 23.9
i-C5 2.9 0.8 0.2

Gas umpan dari Platformer, Hydrocracker dan CDU dipanaskan terlebih


dahulu, kemudian dialirkan kedalam Deethanizer. Gas yang keluar dari kolom
dikondensasikan dan didinginkan oleh Deethanizer Overhead Condenser lalu
ditampung dalam Overhead Receiver. Sebelum didinginkan gas diinjeksikan
dengan “corrosion inhibitor”. Gas yang tidak terkondensasi dikirim ke Fuel Gas
System, sedangkan air yang terbentuk pada bagian bawah Overhead Receiver
dikirim ke Sour Water Stripper. Gas yang mengandung fraksi propane, butane,
dan sedikit isopentena, yang merupakan produk bawah Deethanizer Coloumn
dikirim ke unit LPG Treater Unit jika mengandung Sulfur terlalu banyak, atau
dapat langsung dimasukan ke dalam tangki penyimpanan jika kandungan Sulfur
yang ada di dalam LPG sudah cukup rendah.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
54

Gambar 3.16. Proses Flow Diagram LPG Recovery Unit

5. LPG Treater -Plant 9

Bahan baku yang diolah pada unit ini adalah Produk LPG dari LPG
Recovery Unit yang memiliki kadar Sulfur masih tinggi. Produk yang didapatkan
berupa LPG dengan kandungan Sulfur rendah. Unit ini pada dasarnya hanya
bertujuan menghilangkan kandungan sulfur yang berlebihan dari produk LPG
yang akan diperdagangkan, sesuai dengan ketentuan tertentu. Didalam unit ini
Sulfur diturunkan dengan menambahkan absorben yaitu caustic soda (NaOH).
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
H2S + NaOH Na2S + H2O
6. Sour Water Stipper –Plant 7
Sour Water System adalah unit yang dirancang untuk mengelola semua air
buangan proses dari HSC (Hydroskiming Complex), sedemikian sehingga air
buangan tersebut dapat digunakan kembali di dalam proses. Air umpan yang
diproses dalam unit SWS mengandung kadar sulfur yang cukup tinggi (air
asam/sour water), air keluaran SWS diharapkan tidak memiliki kandungan Sulfur
di atas 50 ppm sebagai H2S dan konsentrasi NH3 dibawah 100 ppm. Kapasitas
terpasang unit ini adalah 600 metrik ton/hari.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
55
Tabel 3.21. Spesifikasi umpan dan produk Sour Water Stripper
Komponen Aliran (kmol/jam)
Umpan
H2O 3202.8
H2S 8.0
NH3 6.07
H2& HC 4.81
Produk Atas
H2O 7.82
H2S 7.92
NH3 7.67
Produk Bawah
H2O 3194.26
H2S 0.08
NH3 0.40

Air buangan atau Sour water masuk Deggasing Drum untuk dipisahkan
antara fraksi gas/hidrokarbon ringan, minyak dan air yang terdapat pada Sour
Water. Minyak yang terdapat pada permukaan air dipisahkan ke Slop Tank,
sedangkan fraksi gasnya dikirim ke Incinerator. Kandungan air diumpankan ke
Sour Water Stripper.
Sebelum masuk SWS, aliran air dipisahkan terlebih dahulu. Produk atas
kolom stripper, yang berupa gas dikirim ke Incinerator. Sedangkan produk bawah
yang berupa Stripped Water digunakan kembali pada CDU IV dan HVU II.

Gambar 3.17. Proses Flow Diagram Alir SWS

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
56
[Link]. Hydrocracking Complex (HCC)

Hydrocracking Complex adalah bagian proses sekunder, unit utama dalam


kompleks ini adalah Unit Hydrocracker, dimana dalam unit ini terjadi reaksi
perengkahan dari produk destilasi vakum dengan bantuan gas hidrogen. Gas
hidrogen dihasilkan dari Hydrogen Plant. Hydrocracking Complex terdiri atas
beberapa bagian, yaitu High Vacuum Unit, Hydrocracking Unit, Hydrogen Plant
Unit, Hydrogen Recovery Plant, dan Flare Gas Recovery Plant.

1. High Vacuum Unit (HVU) II - Plant 2

High Vacuum Unit (HVU) II mengambil residu dari CDU IV sebagai


umpan. Proses yang tejadi dalam unit ini kurang lebih sama dengan unit distilasi
pada CDU IV hanya saja karena umpan berupa residu yang memiliki selang titik
didih tinggi maka pemisahan secara distilasi dilakukan pada kondisi vakum untuk
menghindari terjadinya reaksi perengkahan (cracking) selama distilasi
berlangsung.
Kapasitas pengolahan Plant ini berdasarkan desain adalah 81 MBSD
dengan umpan make-up yang terdiri 81,5 % long residue dari CDU–IV, dengan
temperatur 2780C, dan CDU-V, dengan temepatur 1370C. Produk yang dihasilkan
dari unit HVU II ini adalah Light Vacuum Gas Oil (LVGO), Heavy Vacuum Gas
Oil (HVGO), Slop Wax (Parafinic Oil Destillate) dan short residue. LVGO
dicampur dengan LGO dan HGO, produk CDU-IV menghasilkan diesel oil
sedangkan HVGO diumpankan pada unit hydrocracker. Slop Wax diumpankan
pada wax plant di kilang Balikpapan I sedangkan short residue dipakai sebagai
bahan bakar (fuel oil) di Kilang PERTAMINA.
Long residu yang berasal dari CDU IV dan CDU V masih memiliki nilai
ekonomis, oleh karena itu residu dari kedua unit tersebut kembali mengalami
proses pemisahan secara distilasi pada tekanan vakum. Minyak mentah yang akan
diolah dimasukkan dalam surge drum untuk mencegah minyak mentah terangkat
ke atas akibat keadaan vakum. Di dalam kolom HVU II terdapat 3 buah tray dan 2
buah kolom packing untuk proses pemisahan.
Kondisi vakum didalam kolom dipertahankan dengan menggunakan steam
ejector tiga tahap. Bagian atas kolom dihubungkan dengan ejector tahap pertama,
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
57
kemudian campuran steam dan uap hidrokarbon yang tidak terkondensasikan,
sebagian uap hidrokarbon yang tidak terkondensasikan terhubung lagi dengan
sistem ejector kedua dan seterusnya. Kondensat dari tiap-tiap ejector dialirkan
kedalam suatu drum penampung. Campuran air dan sebagian minyak dialirkan ke
SWS sedangkan gas-gas yang tidak terkondensasi dialirkan ke System Flare.
LVGO diambil dari Chimney tray dibawah packing bed pertama,
kemudian didinginkan dan ditampung dalam tangki penyimpanan minyak diesel.
HVGO diambil dari Chimney tray dibawah packing bed kedua. Setelah
didinginkan HVGO dialirkan ke Hydrocracker sebagai umpan segar. Slop wax
diambil dari Chimney tray paling bawah dan dikrim sebagai campuran fuel oil.
Sedangkan vacuum residue/short residue dikeluarkan dari bagian bawah kolom,
setelah didinginkan short residue digunakan untuk campuran fuel oil.

Gambar 3.18. Proses Flow Diagram High Vacuum Unit II


2. Hydrocracking Unit (HCU)-Plant 3

Hydrocracker Unit berfungsi sebagai tempat pelaksanaan reaksi


perengkahan katalitik/termal. Umpan yang berupa HVGO dipecah-pecah menjadi
rantai-rantai hidrokarbon yang lebih pendek dengan bantuan katalis. Kapasitas
unit Hydrocracker adalah 55 MBSD. Umpan yang masuk merupakan campuran
antara HVGO dengan filter oil dari wax plant dengan konsentrasi 93,6% volume
HVGO.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
58
Tabel 3.22. Spesifikasi umpan Hydrocracker Unit
Kualitas Harga Metoda Pengujian
Gravity (0API) 26 ASTM D-287
ASTM Dist. (0C) ASTM D-1160
IBP 352
10 % 409
30 % 423
50 % 452
70 % 474
90% 474
FBP 516
Sulphur Content (% wt) 0,09 UOP-380
Total Nitrogen (ppm) 360 UOP-384
Conradson Carbon (% wt) 0,03 ASTM D-189
Heptane Ins. (% wt) 0,05 UOP-614
Metals (Ni + V) (ppm) 2,0 max UOP-391
Colour 4,0 max ASTM D-1500

Tabel 3.23. Spesifikasi produk LPG Hydrocracker Unit


Komposisi (%-mol) LPG dari Naphta Splitter LPG dari Debhutanizer
N2 - 0,1
C1 - 2,11
C2 - 7,91
C3 - 35,3
i-C4 - 35,62
n-C4 98,92 17,90
n-C5 1,10 0,74
C6 - -
H2S (ppm) - 0,31

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
59
Tabel 3.24. Spesifikasi produk cair Hydrocracker Unit
Spesifikasi Light Heavy Light Heavy Diesel
Naphta Naphta Kerosene Kerosene Oil
Sg 60/600F 0,664 0,7358 0,765 0,812 0,833
API Grav 81,6 60,8 53,5 42,8 38,4
Dist (0C)
IBP 32 65 148 176 310
10 % 41 96 153 196 318
30 % 49 100 157 215 330
50 % 55 116 162 240 338
70 % 60 125 166 260 348
90 % 71 136 172 290 362
FBP 62 155 177 310 371

Butana Max 2 - - - -
(%mol)
Sulfur (%wt) - - 5 ppm 5 ppm 5 ppm

Smoke point - - 38 25 -
(mm)
Freeze Point - - -80 -45 -
(0F)
Flash Point - - - - 154
(0F)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
60

Gambar 3.19. Bagan Proses Hydrocracker Unit

Pada hydrocarbon recycle, memiliki umpan yang berasal dari produk


fraksinator yang tidak terkonversi dan terdiri dari HVGO setelah lebih dahulu
dilewatkan fresh feed reactor. Hasil dasar ini kemudian di recycle dengan Recycle
reactor. Umpan HVGO dapat diperoleh dari Intermediate Storage Tank serta
filter oil dari wax plant yang dicampur dengan HVGO. Pertama kali feed masuk
melalui Fresh Feed Filter untuk menghasilkan padatan yang berukuran lebih dari
25 mikron. Kemudian masuk ke Fresh Feed Surge Drum.
Produk yang keluar dari Fresh Feed Reactor ditambah gas recycle bersuhu
2210C dialirkan dari dasar fraksinator ke Recycle Surge Drum. Feed digabungkan
dengan H2 recycle dari Compressor dan mengalami pemanasan dari suhu 150-
3610C dalam exchanger dan dipanaskan lagi sampai 4130C dalam Reactor Charge
Heater. Produk sebelum didinginkan melalui tube Recycle Feed/Reactor Effluent
Exchanger dan Recycle Product Condenser (sehingga terjadi penurunan
temperatur dari 2120C menjadi 540C), diinjeksikan dengan air dan NaOH. Aliran
ini bersama-sama dengan Fresh Feed Reactor dan masuk ke High Pressure
Separator.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
61

Gambar 3.20. Blok diagram Proses Fraksinasi Hydrocracker

Produk cair reaktor keluar dari Low Pressure Drum dipompa ke tray 16
dari tray 30 Debuthanizer. Sebagian butana dan hidrokarbon dengan BM lebih
rendah dikeluarkan sebagai produk overhead, sedangkan cairan hasil masuk ke
Product Fractionator.
Aliran umpan masuk ke debuthanizer dipanaskan dahulu sampai suhu
1770C pada pemanas Net Product Heavy Kerosene dan E3-05A-D dengan
pemanas Heavy Kerosene Pump Around. Hasil dasar yang merupakan umpan
yang tidak terfraksinasi diinjeksikan dengan steam, kemudian dialirkan menuju
recycle feed surge drum. Hasil overhead kolom fraksionator terdapat light dan
heavy naphta yang harus dipisahkan untuk umpan plant 5 (platformer). Light
Naphta dialirkan ke Naphta Splitter. Hasil dasar dari heavy naphta ini dikirimkan
ke plant 4 (naphta hydrotreater) melewati Naphta Splitter Feed/Bottom Exchanger
dan Heavy Naphta Cooler (untuk menurunkan suhu sampai 380C). Hasil puncak
berupa Light Naphta dikondensasikan dan kemudian ditampung dalam Naphta
Splitter Receiver pada suhu 540C, dari sini gas dibuang ke flare, sekitar 4% dari
overhead destilat dikembalikan ke top tray sebagai refluks. Sedangkan Net
Overhead Product dipompa ke Light Naphta Splitter melewati Naphta
Stripper/Bottom Exchanger untuk dipanaskan sampai 840C.
Uap stripper pada dasar kolom diperoleh dari sirkulasi cairan dasar melalui
Reboiler dengan memanfaatkan panas dari produk diesel. Cairan dasar Light

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
62
Naphta Splitter merupakan produk Light Naphta lalu dikirim ke Storage. Produk
overhead dari Light Naphta Splitter merupakan LPG dan dikirim ke LPG Storage.
Berikut ini adalah bagan proses yang terjadi di Hydrocracker Unibon:

Gambar 3.21. Proses Flow Diagram Hidrocracker Unibon

3. Hydrogen Plant-Plant 8

Hydrogen plant pada dasarnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan


hidrogen yang digunakan dalam Platformer ataupun reaksi hydrocracking dengan
menggunakan reaksi steam reforming, yaitu mereaksikan gas metana dengan
kukus sehingga menghasilkan gas hidrogen. Pada saat ini hidrogen plant berjalan
pada kapasitas produksi 80.000 Nm3/hr.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
63

Gambar 3.22. Proses Flow Diagram Hidrogen Plant

Umpan yang diperlukan dalam Hydrogen Plant adalah campuran gas


Hydrocarbon ringan yang diperoleh dari gas alam atau penguapan LPG. Berikut
ini adalah spesifikasi umpan dan produk dari Hydrogen plant.
Tabel 3.25. Spesifikasi umpan Hydrogen Plant
Komponen Gas Alam LPG
Nitrogen 0,1 -
CO2 8,8 -
Metana 79,3 -
Etana 5,7 -
Propana 3,7 -
Butana 1,7 59,7
C5 + 0,7 0,5
H2S trace -

Proses pembuatan Hidrogen didasarkan atas reaksi gas Metana dengan kukus.
Untuk menghilangkan senyawa Sulfur, yang dapat merusak katalis pada proses
pembentukan Hidrogen, gas Metana juga mengalami pretreating.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
64

Gambar 3.23. Reaksi Proses pada Hydrogen Plant

[Link]. Spesifikasi Peralatan Utama

1. Crude Column (C-1-01)


 Fungsi : Memisahkan crude menjadi gas, nafta, kerosin, minyak
diesel, dan long residu pada tekanan atmosferik.
 Kapasitas : 200 MBSD
 Ukuran : (ID) 9.500 mm, tinggi 63.000 mm
 Jumlah Tray : 53, menggunakan downcomer 2 pass, kecuali tray 16 – 18,
30 - 32, 41 - 43, 44 - 49 empat pass.
 Berat kosong : 624.000 kg
 Volume : 4.688 m3
 Kondisi operasi : T puncak = 3430C, T dasar = 3850C, P = 2,8 kg/cm2 abs
 Bahan kontruksi : Carbon steel (alloy C, Mn, P, S, dan Si)
 Pabrikasi : Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1981.

2. Kerosene Stripper (C-01-02)


 Fungsi : memisahkan kerosin sebagai top side – cut dari
fraksi yang lebih ringan
 Kapasitas : Uap = 8.206 m3/jam; Cair = 452 m3/jam
 Jumlah tray : 28 valve tray
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
65
 Ukuran : ID = 3.400 mm, tinggi 7.300 mm
 Kondisi operasi : T puncak = 193 0C, T dasar = 227 0C
P puncak = 1,06 kg/cm2g, P dasar = 1,15 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

3. LGO Stripper (C-01-03)


 Fungsi : memisahkan LGO sebagai intermediate side – cut
dari fraksi yang lebih ringan
 Kapasitas : Uap = 3.242 m3/jam; Cair = 264 m3/jam
 Ukuran : ID = 2.500 mm, tinggi 7.300 mm
 Jumlah tray : 6 valve tray dengan downcomer 2 pass
 Volume : 40 m3
 Kondisi operasi : T puncak = 260 0C, T dasar = 311 0C
P puncak = 1,15 kg/cm2g, P dasar = 1,22 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

4. HGO Stripper (C-01-04)


 Fungsi : memisahkan HGO sebagai bottom side – cut dari
fraksi yang lebih ringan
 Kapasitas : Uap = 7.742 m3/jam; Cair = 271 m3/jam
 Ukuran : ID = 2.500 mm, tinggi 9.900 mm
 Jumlah tray : 6 valve tray dengan downcomer 2 pass
 Kondisi operasi : T puncak = 293 0C, T dasar = 293 0C
P puncak = 1,22 kg/cm2g, P dasar = 1,29 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

5. Stabilizer Column (C-1-05)


 Fungsi : menstabilkan naphta dengan cara memisahkan

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
66
fraksi naphta dengan fraksi yang lebih ringan (LPG)
 Kapasitas : Uap = 11.893 m3/jam; Cair = 948,5 m3/jam
 Ukuran : ID bagian atas 2.600 mm. ID bagian bawah
3.700 mm, tinggi 28.100 mm
 Jumlah tray : 35 sieve tray, tray 1 -7 downcomer 2 pass
tray 18 – 35 downcomer 4 pass
 Berat kosong : 77.700 kg
 Volume : 248 m3
 Kondisi operasi : T puncak = 53 0C, T dasar = 206 0C
P puncak = 10,1 kg/cm2g, P dasar = 10,5 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

6. Naphta Splitter Column (C-1-06)


 Fungsi : memisahkan fraksi light dan heavy naphta
 Kapasitas : Uap = 34.650 m3/jam; Cair = 536,5 m3/jam
 Ukuran : ID 3.100 mm, tinggi 23.200 mm
 Jumlah tray : 28 valve tray, tray 1 – 14 downcomer 2 pass,
tray 15 – 28 dowmcomer 3 pass
 Berat kosong : 37.200 kg
 Volume : 183 m3
 Kondisi operasi : T puncak = 80 0C, T dasar = 145 0C
P puncak = 1,05 kg/cm2g, P dasar = 1,41 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1981.

7. Vacuum Column (C-02-01)


 Fungsi : memisahkan fraksi long residue menjadi LVGO,
HVGO dan short residue pada tekanan vakum.
 Kapasitas : 80 MBSD (530 m3/ jam)
 Ukuran : ID tengah 13.400 mm, ID bawah 3.400 mm, 36.750 mm

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
67
 Jumlah tray : 3 tray dan 3 packed section
 Berat kosong : 583.000 kg
 Volume : 4.025 m3
 Kondisi operasi : T puncak = 43 0C, T dasar = 339 0C
P puncak = 10 mmHg, P dasar = 40 mmHg
 Bahan kontruksi : Killed Carbon Steel
 Pabrikasi : Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

8. Fresh Feed Reactor No.1 (C-03-03 A/B)

 Fungsi : tempat berlangsungnya reaksi catalytic cracking


 Kapasitas : 55 MBSD
 Ukuran : ID 3.700 mm, tinggi 10.600 mm terdiri dari dua
bed packed katalis DHC 8
 Kondisi operasi : T internal = 454 0C, T eksternal = 204 0C
P internal = 199 kg/cm2g, P eksternal = 1,03 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

9. Fresh Feed Reactor No.2 (C-03-04 A/B)


 Fungsi : tempat berlangsungnya reaksi catalytic cracking
 Kapasitas : 55 MBSD
 Ukuran : ID 3.700 mm, tinggi 27.300 mm (T-T)
terdiri dari satu bed packed katalis DHC
 Kondisi operasi : T internal = 454 0C, T eksternal = 204 0C
P internal = 195,5 kg/cm2g, P eksternal = 1,03 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : The Japan Steel Works Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

10. Recycle Reactor (C-03-05 A/B)


 Fungsi : tempat berlangsungnya reaksi catalytic cracking
untuk umpan recycle
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
68
 Kapasitas 3
: 27,5 MBSD (182,2 m /jam)
 Ukuran : ID 3.700 mm, tinggi 11.700 mm (T-T)
 Kondisi operasi : T 454˚C, P 195,5 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : The Japan Dteel Works Ltd, Japan, 1982.

11. Debuthanizer Column (C-03-14)


 Fungsi : memisahkan fraksi LPG, fuel gas, dan air
 Kapasitas : 421 m3/jam
 Ukuran : ID bagian atas 2.400 mm, ID bagian tengah 3.300
ID bagian bawah 5.700 mm, tinggi 27.300 mm
 Jumlah Tray : 30 Tray
 Berat kosong : 159.300 kg
 Kondisi operasi : T puncak = 71 0C, T dasar = 330 0C
P puncak = 14,15 kg/cm2g, P dasar = 14,9 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Killed Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982

12. Product Fractionator (C-03-16)


 Fungsi : memisahkan produk keluaran reaktor hydrocracking
menjadi naphta, kerosene, dan diesel oil
 Kapasitas : 555 m3/jam
 Ukuran : ID atas 2.600 mm, ID bawah 4.400 mm, 27.300 mm
 Jumlah tray : 52 tray
 Kondisi operasi : T puncak = 113 0C, T dasar = 360 0C
P puncak = 1,05 kg/cm2g, P dasar = 1,51 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

13. Stripper UOP Naphta Hydrotreater (C-4-01)


 Fungsi : Memisahkan sulfur, N2, dan fraksi hidrokarbon

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
69
ringan dari fraksi naphta
 Kapasitas : Uap = 5.261 m3/jam; Cair = 559 m3/jam
 Ukuran : ID bagian atas 1.900 mm, ID bagian bawah 3.200 mm
tinggi 17.900 mm
 Jumlah Tray : 20 sieve tray
 Berat kosong : 42.100 kg
 Volume : 127,5 m3
 Kondisi operasi : T puncak = 1830C, T dasar = 2330C
P puncak = 11,04 kg/cm2g, P dasar = 11,25 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel (alloy C, Mn, P, S, dan Si)
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

14. Reaktor (C-4-07)


 Fungsi : tempat berlangsungnya reaksi hidrogenasi S, N, O
(penghilangan senyawa racun bagi katalis reformer)
 Kapasitas : 22 m3/jam
 Ukuran : ID 2.400 mm, tinggi 4.050 mm
 Kondisi operasi : T = 371 0C, P = 28,5 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1981.

15. Catalytic Reformer Reactor (C-5-01 A/B/C)


 Fungsi : tempat berlangsungnya reaksi reformasi naphta,
aromat, dan olefin
 Kapasitas : A = 27 m3/jam; B = 30,9 m3/jam; C = 43,1 m3/jam
 Ukuran : ID A = 1.900 mm, tinggi = 11.360 mm
ID B = 2.000 mm; tinggi = 9.910 mm
ID C = 2.300 mm; tinggi = 10.305 mm
 Kondisi operasi : T - A = 543 0C; P - A = 12,6 kg/cm2g
T – B = 543 0C; P - A = 11,8 kg/cm2g
T – C = 543 0C; P - A = 11,1 kg/cm2g

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
70
 Bahan kontruksi : Alloy Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1981.

16. Debuthanizer Column (C-5-07)


 Fungsi : untuk stabilisasi produk dengan memisahkan
fraksi LPG dengan fraksi produk platformer
 Kapasitas : Uap = 2.501 m3/jam; Cair = 387 m3/jam
 Ukuran : ID bagian atas 1.400 mm, ID bagian bawah 2.600 mm,
tinggi 42.900 mm
 Berat kosong : 42.900 kg
 Volume : 76,5 m3
 Kondisi operasi : T puncak = 65 0C, T dasar = 266 0C
P puncak = 18,3kg/cm2g, P dasar = 18,65 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

17. Regeneration Tower (C-5-24)


 Fungsi : menghilangkan coke dari permukaan katalis
 Kapasitas : 136 m3/jam
 Ukuran : ID bagian atas 762 mm, ID bagian bawah 1.220
mm, tinggi 7.575 mm
 Kondisi operasi : T = 540 0C, P = 0,08 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : SB 168 (72 Ni-13, Cr-8 Fe plate)
 Pabrikasi : Mitsui Engineering & Shipbuilding Ltd. Japan, 1982.

18. Deethanizer Column (C-6-01)


 Fungsi : memisahkan fraksi LPG dari fraksi yang lebih ringan
 Kapasitas : 22.245 m3/jam
 Ukuran : ID bagian atas 1.100 mm. ID bagian bawah 2.000 mm,
tinggi 33.150 mm
 Jumlah tray : 40 sieve tray, tray 1 -19 downcomer 1 pass dengan

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
71
tray spacing 0,4 m; tray 20 – 40 downcomer 2 pass
dengan tray spacing 0,75 m
 Berat kosong : 57.400 kg
 Volume : 78 m3
 Kondisi operasi : T puncak = 520C, T dasar = 1040C
P puncak = 32,2 kg/cm2g, P dasar = 32,7 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

19. Sour Water Stripper (C-7-01)


 Fungsi : memisahkan sulfur dan ammonia dari air
 Kapasitas : 58.047 m3/jam
 Ukuran : ID 2.600 mm, tinggi 21.500 mm
 Jumlah tray : 26 tray, tray 1 -6 downcomer 3 pass, tray 7 – 26
downcomer 1 pass
 Berat kosong : 30.300 kg
 Volume : 144,7 m3
 Kondisi operasi : T puncak = 930C, T dasar = 1210C
P puncak = 0,77 kg/cm2g, P dasar = 1,05 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

20. Sour Water Degassing Drum (C-7-02)


 Fungsi : memisahkan minyak, air, dan gas
 Kapasitas : 58.154 m3/jam
 Ukuran : ID 2.000 mm, tinggi 7.700 mm
 Berat kosong : 9.700 kg
 Volume : 26,7 m3
 Kondisi operasi : T = 490C, P = 0,35 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
72

21. Reformer Catalyst Tube, C-8-01 A/B


 Fungsi : tempat mereaksikan gas alam dengan steam untuk
menghasilkan H2
 Kapasitas : 2.531,21 m3/jam
 Ukuran : diameter tube 168 mm
 Berat kosong : 710 kg
 Volume : 14,5 m3
 Kondisi operasi : T = 977 0C, P = 20,5 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : cast Fe, Cr, Ni
 Pabrikasi : Kinetic Technology International Ltd. London, UK,1981.

22. High Temperature Shift Converter, C-8-06 A/B


 Fungsi : mengkonversi CO menjadi CO2 pada temperatur tinggi
 Kapasitas : 36 m3/jam
 Ukuran : ID 3.100 mm, tinggi 4.400 mm
 Jumlah tray : 35 sieve tray, tray 1 - 7 downcomer 2 pass, tray 18 – 35
downcomer 4 pass
 Berat kosong : 18.900 kg
 Volume : 21,2 m3
 Kondisi operasi : T = 419 0C, P = 16,88 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

23. Low Temperature Shift Converter, C-8-07 A/B


 Fungsi : mengkonversi CO menjadi CO2 pada temperatur rendah
 Kapasitas : 41 m3/jam
 Ukuran : ID 3.100 mm, tinggi 4.400 mm
 Berat kosong : 18.900 kg
 Volume : 24,91 m3
 Kondisi operasi : T = 238 0C, P = 16,17 kg/cm2g

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
73
 Bahan kontruksi : Killed Carbon Steel
 Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

24. CO2 Absorber, C-8-12 A/B


 Fungsi : mengabsorpsi CO2 produk LTSC
 Kapasitas : 141,5 m3/jam
 Ukuran : ID bagian atas 1.400 mm,
ID bagian bawah 2.200 mm, tinggi 41.600 mm
 Berat kosong : 60.700 kg
 Kondisi operasi : T = 118 0C, P = 15,75 kg/cm2g
 Bahan kontruksi : Carbon Steel
 Pabrikasi : Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1982.

3.6 Utilitas dan Pengolahan Limbah


3.6.1 Natural Resources
Kilang minyak PT. Pertamina RU V Balikpapan memiliki unit utilitas
yang memanfaatkan sumber daya alam antara lain:
1. Air permukaan di Waduk Sungai Wain yang berlokasi 15 km utara Kilang
Balikpapan. Air dialirkan melalui 3 jalur perpipaan menuju Water Treatment
Plant (WTP) I Pancur.
2. Air bawah tanah berupa sumur bor (deep well) yang semula berjumlah 11
unit, kini tinggal 1 unit yang beroperasi. Air dialirkan menuju WTP II.
3. Air laut yang diambil dari laut Teluk Balikpapan. Air laut di Kilang
Balikpapan digunakan untuk pendingin di unit- unit proses, fasilitas
pemadam kebakaran dan air umpan Sea Water Desalination (SWD).
4. Natural Gas yang diperoleh dari perusahaan pemasok gas alam PT. Chevron
Indonesia Company (CIC) digunakan untuk bahan bakar boiler.
5. Residue atau bottom product dari pengolahan minyak mintah digunakan
untuk bahan bakar boiler.
Sumber daya alam tersebut digunakan untuk memenuhi sarana- sarana
utilitas yang berperan dalam penyediaan air dan listrik bagi kebutuhan operasional
kilang maupun perumahan.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
74

3.6.2. Sistem Air

Gambar 3.24. Diagram Alir Sistem Distribusi Air di Pertamina RU V

[Link]. Rumah Pompa Sungai Wain


Rumah pompa ini terdiri dari:
1. 1 buah pompa motor listrik dengan kapasitas 400 m3/jam
2. 2 buah pompa motor listrik dengan kapasitas 450 m3/jam
3. 2 buah pompa diesel dengan kapasitas 600 m3/jam
Dalam keadaan normal, pompa yang digunakan adalah tiga buah pompa
listrik dengan debit 750 m3/jam. Pompa ini menarik air dari waduk buatan dengan
luas 4 hektar dan kedalaman 2 m.

[Link]. Water Treatment Plant Gunung Empat


Terdapat 3 lokasi WTP 2 buah di Gunung Pancur dan 1 buah Gunung
Empat. Fasilitas ini berfungsi sebagai unit pengolahan air yang berasal dari air
permukaan Waduk Sungai Wain dan air bawah tanah. Prinsip teknologi proses
yang dipergunakan adalah membersihkan kontaminan air berupa komponen
tersuspensi, suspended solid (misalnya pasir, lumpur, limbah dan minyak). Selain
itu juga digunakan untuk memisahkan bahan- bahan terlarut inorganic compound
dan organic compound. Proses yang ada di fasilitas disini adalah
1. Flokulasi dan koagulasi dengan bantuan coagulant (Al2(SO4)3 dan pengatur
pH caustic soda,
2. Sedimentasi dengan teknologi MTS (Multi Tray Sedimentation)
3. Filtrasi dengan menggunakan filter bed.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
75
Produk air bersih dikirimkan ke kilang digunakan sebagai air utilitas dan
pendingin dan ke perumahan digunakan sebagai air kebutuhan rumah tangga.

[Link]. Water Treatment Plant I – Pancur


Water Treatment Plant I (WTP I) - Pancur mengolah air yang berasal dari
Sungai Wain yang selanjutnya digunakan untuk perumahan dan ketel. Air bersih
yang dihasilkan unit ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air di perumahan
Gunung Empat dan Gunung Air Terjun Utara (GATU). Kapasitas saat ini adalah
70 m3/jam. Produksi untuk perumahan sebanyak 500 m3/jam dan untuk air ketel
sebanyak 100 m3/jam.

[Link]. Water Treatment Plant II – Pancur


Water Treatment Plant II (WTP II) - Pancur mengolah air baku dari sumur
bor deep well, kemudian air olahannya digunakan sebagai utility water atau
dominan untuk kilang Balikpapan. Kapasitas produksi utility water ini sebesar
220 m3/jam.

[Link]. Sea Water Desalination (SWD)


Unit ini dibangun untuk menambah jumlah persediaan air tawar, terutama
untuk dikirim ke demin plant yang menghasilkan Boiler Feed Water. Kapasitas
produksi unit ini adalah 300 ton/jam. Proses yang digunakan untuk mengolah air
laut ini adalah Multi Stage Flash Evaporation (MSF) dan Multi Effect Distillation
(MED). Ukuran kinerja unit SWD adalah banyaknya distillate yang dihasilkan per
satuan steam pemanas yang digunakan. Uap distillate yang terbentuk
dikondensasikan kemudian dikirim ke tangki storage.
Untuk menghindari terjadinya kerak dan busa, maka digunakan bahan
kimia anti kerak (antiscale) dan anti busa (antifoam). Bila dalam periode tertentu
kerak sudah banyak dan kapasitas produksi tidak efektif, maka dapat dilakukan
pembersihan secara kimia dengan asam (acid cleaning).

[Link]. Water Demineralization Plant


Fasilitas condensate polisher dipergunakan untuk memurnikan returned
condensate yang berasal dari surface condenser turbine yang beroperasi.
Demineralization Plant bekerja dengan cara menghilangkan ion-ion dari air

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
76
umpan boiler agar tidak terjadi pembentukan kerak (scale), baik pada boiler
maupun pada daerah pengguna steam.
Unit demineralisasi ini menggunakan penukar ion sebanyak tiga unit
dengan pembagian sebagai berikut:
1. 1 unit cation exchanger
2. 1 unit anion exchanger
3. 1 unit mixed bed exchanger (campuran anion dan kation)
Mula-mula air dari WTP disaring dengan menggunakan gravel filter, yaitu
bed yang berisi batu-batu kecil, untuk menahan partikel-partikel yang berukuran
besar. Setelah melewati gravel filter, air dialirkan ke penukar kation. Dalam bed
penukar kation, ion-ion logam, seperti Ca+, Mg+, dan Na+, diikat oleh resin. Jenis
resin yang digunakan dalam cation exchanger adalah resin Strong Acid Cation
(SAC). Gas CO2 dihasilkan sebagai produk samping selama ion-ion logam diikat
oleh resin. Reaksi yang terjadi dalam cation exchanger adalah sebagai berikut:

Gambar 3.25. Reaksi didalam Cation Exchanger


Untuk menghilangkan gas CO2 yang terbentuk dalam cation exchanger,
sebelum melewati anion exchanger, air dari cation exchanger dialirkan dalam
degassifier. Degassifier ini berupa kolom yang berisi bedpacking raschig ring.
Cairan yang mengandung CO2 dimasukkan dari atas degassifier melalui sebuah
spray nozzle. Butiran air yang terbentuk kemudian dilewati oleh udara dari bawah
kolom, dengan demikian diharapkan gas CO2 akan terbawa bersama-sama dengan
udara. Air yang keluar dari degassifier diharapkan mempunyai kandungan CO2
yang cukup rendah.
Sesudah melalui kolom degassifier, air dimasukkan ke dalam anion
exchanger. Dalam anion exchanger terjadi dua proses, yaitu proses pengikatan

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
77
asam-asam mineral, seperti asam sulfat (H2SO4), dan proses pengikatan asam-
asam lemah, asam silika, dan sisa-sisa asam karbonat.
Pengikatan asam-asam mineral dilakukan oleh resin anion yang bersifat
basa lemah (weak basic anion), sedangkan asam-asam lemah, asam silika, dan
sisa-sisa asam karbonat diikat oleh resin anion yang bersifat basa kuat (strong
basic anion). Reaksi yang menggambarkan proses dalam anion exchanger adalah
sebagai berikut:

Gambar 3.26. Reaksi didalam Anion Exchanger


Untuk mencegah ion-ion logam dan senyawa-senyawa asam lolos dari
cation exchanger dan anion xchanger, maka produk dari anion exchanger
dimasukkan ke dalam mixed bed yang berisi campuran resin kation dan anion.
Proses regenerasi resin-resin yang sudah jenuh dilakukan setiap 8 jam
sekali. Regenerasi cation exchanger menggunakan larutan HCl dengan
konsentrasi 4-8 %-berat, sedangkan untuk anion exchanger diregenerasi
menggunakan larutan NaOH 4-8 %-berat. Proses regenerasi untuk mixed bed
dilakukan dengan cara terpisah. Setelah masing-masing bed di regenerasi, kedua
resin dicampur dengan udara bertekanan lalu di back wash sampai seluruh asam
dan basa sisa proses regenerasi dianggap telah tercuci bersih. Dengan adanya
perbedaan berat jenis resin kation dan anion, kedua jenis resin tersebut akan
memisah membentuk bed yang terpisah dalam satu kolom. Proses sederhana pada
demineralisasi air dapat dilihat pada gambar berikut.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
78

Gambar 3.27. Proses Flow Diagram Sistem Water Demineralization Plant

Unit demineralization plant memiliki 5 buah train, dengan kapasitas tiap


train 150 m3/jam. Keluaran demineralization plant ini memiliki kadar ion yang
rendah dan digunakan sebagai air umpan boiler bertekanan tinggi (60 kg/cm2).

[Link]. Boiler
Terdapat 6 unit HHP Boiler, masing- masing dengan kapasitas desain 125
ton per jam. Untuk memenuhi kebutuhan steam HHS secara normal 430 - 460 ton
per jam, maka boiler dilakukan pengaturan operasional secara optimal dan
mempertimbangkan faktor kehandalannya.
Steam yang diproduksi dengan tekanan 60 kg/cm2g untuk kebutuhan
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan kilang sebagai driver dan pemanas.
Sistem pengaturan boiler dengan menggunakan Distributed Control System
(DCS).

[Link]. Steam
Jenis steam dan kondesat yang dibutuhkan dan dihasilkan oleh kilang
Balikpapan dapat dilihat pada tabel berikut.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
79
Tabel 3.26. Klasifikasi Steam
Jenis P T Konsumsi
(kg/cm2 g) (°C) (ton/jam)
High High 60 475 416
Pressure Steam
High Pressure 32 400 89
Steam
Middle Pressure 17 315 360
Steam
Low Pressure 10 220 43.7
Steam
Low Low 3 143 26.7
Pressure Steam

Steam ini dihasilkan oleh boiler yang terdapat pada unit utilitas dan
beberapa waste heat boiler yang ada pada kilang I dan II. Penggunaan steam di
kilang Balikpapan I dan II antara lain adalah:
 Stripping steam pada kolom-kolom fraksionasi untuk menunjang penguapan
senyawa-senyawa hidrokarbon ringan.
 Menggerakan turbin pompa dan kompressor.
 Steam ejector pada vakum unit.
 Atomizing steam dalam burner yang memakai fuel oil.
 Steam coil untuk memenaskan fluida dalam tangki.

Tabel 3.27. Spesifikasi Air Umpan Boiler PERTAMINA RU V Balikpapan


Kriteria Unit Feed Water
pH (250C) - 8,5 – 9,5
Hardness (as CaCO3) ppm 0
Oil content ppm Maintain at “0”
Disolved Oxygen ppm < 0,007
M alkalinitas (as CaCO3) ppm -

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
80
Tabel 3.27. Spesifikasi Air Umpan Boiler PERTAMINA RU V Balikpapan (lanjutan)
Kriteria Unit Feed Water
P alkalinitas (as CaCO3) ppm -
Hydrazine (N2H4) ppm > 0,01
Total Fe ppm < 0,05
Total Cu ppm <0,03
Disolved Solid ppm -
Cl- ppm -
Phosporic acid ions ppm -
Silica (SiO2) ppm -

[Link]. Steam Turbine Generator (STG)


Terdapat 2 unit Power Plant Lama yaitu PP1 dan Power Plant Baru yaitu
PP2 masing- masing terdiri dari 5 dan 4 unit STG dengan pembagian 4
condensing turbine dan 1 back-pressure turbine. Tabel 5.3 dan Tabel 5.4
memperlihatkan produksi listrik oleh power plant 1 dan 2.
Tabel 3.28. Produksi Listrik Power Plant 1
Power Plant 1 Kapasitas Produksi (MW)
Turbin Generator I 7,5
Turbin Generator II 7,5
Turbin Generator III 7,5
Turbin Generator IV 9,0
Turbin Generator V 9,0

Tabel 3.29. Produksi Listrik Power Plant 2


Power Plant 2 Kapasitas Produksi (MW)
Turbin Generator I 8,4
Turbin Generator II 12,8
Turbin Generator III 12,8
Turbin Generator IV 12,8

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
81
[Link]. Penyediaan Listrik
Penyediaan listrik untuk kegiatan operasional Kilang Balikpapan I maupun
II dipenuhi oleh PT. PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan sendiri. Energi
listrik yang dihasilkan, selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasi
kilang, juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di perumahan.
Listrik dibangkitkan oleh generator yang digerakkan turbin uap. Steam
penggerak turbine dirancang sesuai steam leveling (HHP Steam, HP Steam dan
MP Steam) dan saling terkait secara kesisteman.

[Link]. Penyediaan Air Pendingin


Media pendingin yang digunakan di kilang RU V Balikpapan adalah udara
dan air. Sistem pendingin udara menggunakan finfan cooler, sedangkan sistem
pendingin air dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
1. Sea Cooling Water (SCW)
2. Auxiliary Cooling Water (ACW)
3. Tempered Cooling Water (TCW)

[Link]. Sistem Proses Sea Cooling Water


Air laut di kilang Balikpapan digunakan sebagai sumber air pendingin. Air
laut mampu mendinginkan suhu sampai di bawah 55 oC. Air laut diambil dari
Teluk Balikpapan dengan menggunakan pipa beton berdiameter 84 inch. Ujung
pipa dilengkapi dengan screen untuk mencegah terbawanya benda-benda yang
cukup besar ke dalam aliran pipa. Pipa ini didesain untuk mengalirkan air laut
sebanyak 1500 m3/jam.
Air laut ditampung dalam sea water intake basin yang dibagi menjadi
empat bagian. Masing-masing bagian dilengkapi dengan mechanically racked bar
screen dan travelling band screen. Kedua screen tersebut digunakan untuk
menahan kotoran-kotoran yang terbawa dalam aliran. Basin ini dilengkapi dengan
porTabel sludge untuk memompa keluar lumpur yang mengendap pada dasar
basin. Kemudian air laut dialirkan dengan pompa sistem air pendingin utama,
pompa sistem air pendingin power plant, dan pompa sistem persediaan air
pemadam kebakaran

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
82
[Link]. Sistem Proses Auxiliary Cooling Water
Auxiliary Cooling Water (ACW) disimpan dalam expansion tank yang
diselimuti dengan gas nitrogen agar terbebas dari udara. Sebelum masuk ke
supply header, ACW dari expansion tank didinginkan dalam ACW cooler.
Setelah ACW digunakan untuk mendinginkan peralatan, ACW dikumpulkan
dalam returnheader dan didinginkan lagi sebelum digunakan kembali.

[Link]. Sistem Proses Tempered Cooling Water


Tempered Cooling Water (TCW) digunakan untuk mendinginkan fluida
dengan pour point tinggi dan viskositas tinggi. Temperatur TCW relatif lebih
tinggi dibandingkan dengan sistem air pendingin lainnya, sehingga proses
pendinginan fluida yang memiliki pour point dan viskositas tinggi dengan TCW
dapat berlangsung dengan baik dan tidak terjadi pembekuan
3.6.3. Sistem Bahan Bakar
Bahan bakar yang digunakan untuk keperluan pemanasan dan
pembangkitan steam adalah fuel gas dan fuel oil. Agar efektif dan efisien, kedua
jenis bahan bakar tersebut digunakan secara bersamaan. Fuel gas digunakan
karena exhaust gas yang dihasilkan lebih bersih dan ramah lingkungan
dibandingkan dengan fuel oil.
Fuel oil digunakan dengan tujuan untuk mengurangi pemakaian fuel gas
yang sebagian besar masih impor dari Unocal dan VICO. Fuel gas biasanya
digunakan sebagai bahan bakar Charge Heater dan Incinerator sedangkan fuel oil
digunakan di steam generator/boiler, serta di dapur (charge heater).
[Link]. Fuel Gas System
Fuel gas dihasikan dari unit-unit berikut:
1. Gas dari Vakum Distillation Unit
2. Flash gas dan Overhead Debuthanizer
3. Flash gas dari Hydroteater Unit
4. Falsh gas dari Platformer Unit
5. Gas alam Sepinggan
Komposisi fuel gas dari setiap sumber di atas tidak sama, namun sebagai
gambaran, pada tabel berikut ini ditamplkan komposisi fuel gas yang berasal dari
Vacuum Distillation Unit:
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
83
Tabel 3.30. Komposisi Fuel Gas dari HVU
Komponen %-mol
H2O 0.03
N2 0.01
CO2 1.01
H2S 0.42
H2 42.29
C1 29.52
C2 11.16
C3 9.43
i-C4 3.10
i-C5 0.46
n-C5 0.31
C6 + 0.42

[Link]. Fuel Oil System


Bahan baku fuel oil berasal dari:
1. Vacuum distillation unit berupa vakum residu
2. Crude distillation unit, berupa long residu
Spesifikasi fuel oil dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.31. Spesifikasi Fuel Oil


Spesifikasi Nilai
Sg pada 60°F/60°F 0.895-0.904
Viskositas, cst, 145 °F 245-275
Temperature Operasi, °C 90
Tekanan operasi, kg/cm2 12.4
Low heating value, 9400
kkal/kg
Kandungan sulfur, %- 2 max
berat

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
84
[Link]. Sistem Nitrogen
Unit nitrogen mempunyai 3 train: A, B dan C, akan tetapi yang masih
beroperasi adalah train A dan Bdimana masing-maing berkapasitas 175 Nm3/jam
gas N2 dan 85 Nm3/jam nitrogen cair. Kandungan oksigen tidak boleh lebih dari
100 ppm. Unit-unit utama yang membutuhkan oksigen adalah:
1. Hydrocracker (termasuk blanketing)
2. Napta hydrotreater (termasuk blanketing)
3. Platformer (termasuk blanketing)
4. Hydrogen Plant
5. Storage dan loading
6. Crude Unit (blanketing)

[Link]. Sistem Udara


Sistem penyediaan udara bertujuan untuk menyediakan fasilitas Air Plant
dan udara instrumentasi (Air Instrument) dari atmosfer (T=380C, relative humidity
= 80%) disaring dengan filter, kemudian ditekan dengan air kompresor tiga tahap
sehingga menghasilkan udara dengan tekanan 9,2 kg/cm2g dan temperatur 400C,
udara bertekanan ini bisa langsung digunakan sebagai Air Plant, sedangkan untuk
menghasilkan Air Instrument, udara bertekanan tadi harus dilewatkan melalui air
dryer untuk mengurangi moisture. Air Instrument yang dihasilkan memiliki
tekanan 8,5 kg/cm2g dan temperatur dew point -200C pada kondisi atmosferik.
Produksi Air Plant dan Air Instrument pada RU V Balikpapan dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 3.32. Produksi Air Plant dan Air Instrument
Plant Maksimum, Normal,
Nm2/jam Nm3/jam
Air Instrument 5000 3000-4200
Air Plant 5200 1300-3000

3.6.4. Pengolahan Limbah


Dalam melaksanakan kegiatan pengolahan minyak, kilang PT.
PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan juga menghasilkan limbah baik berupa
padatan, cairan, ataupun gas. Buangan limbah industri ini bersifat terus-menerus
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
85
sehingga jika tidak dikendalikan akan terakumulasi dan suatu saat tidak akan
dapat dikendalikan.
[Link]. Pengolahan Limbah Gas
Dalam usaha untuk meminimalisasi pencemaran lingkungan oleh limbah
gas, kilang PT. PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan dilengkapi dengan
fasilitas sebagai berikut:
1. LPG plant, selain bertujuan sebagai unit produksi, plant ini juga berfungsi
untuk menekan terbuangnya gas-gas naphta.
2. Incinerator, berfungsi untuk membakar gas-gas yang diperkirakan beracun,
sebelum dibuang ke udara.
3. Stack, berfungsi sebagai pembuang hasil-hasil dan sisa-sisa pembakaran.
Buangan stack mengandung CO2, asap, dan abu.
4. Flare, berfungsi untuk membakar gas-gas berlebih dari kilang. Desain flare
dibuat cukup tinggi untuk memperkecil pencemaran gas hidrokarbon ke
udara.
5. Fuel gas system, berfungsi untuk memperkecil jumlah gas buangan dengan
menyalurkan gas-gas dari kilang dan juga dari lapangan (Unocal dan Vico)
serta liquid-liquid yang mudah menguap (LPG) ke kilang.
Flare Gas Recovery System, gas buang (off gas) yang akan dibakar di flare
direcovery menghasilkan Fuel Gas dan LPG Component sehingga pencemaran
lingkungan dapat dikurangi

[Link]. Pengolahan Limbah Cair


Dalam usaha untuk melestarikan lingkungan air dan perairan, usaha-usaha
yang dilakukan sebagai berikut:
1. Recovery air tawar.
2. Kondensat yang diperoleh dari kondensor dan exhaust pompa turbin
ditampung dan di- recovery sebagai boiler feed water.
3. Air proses atau air bekas pabrik dialirkan ke sour water stripper plant dan
produknya dimanfaatkan kembali untuk proses.

Dalam usaha untuk meminimalisasi pencemaran lingkungan oleh limbah


cair, usaha-usaha yang dilakukan sebagai berikut:
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
86
1. Memisahkan saluran oil water dan storm water (air hujan).
2. Me-recoveryslopoil yang tertampung dalam oil catcher separator dan EWTP.
Menekan sekecil mungkin kandungan-kandungan polutan dalam effluent
water.
3. Melakukan analisis secara berkala terhadap effluent water dari EWTP yang
meliputi analisis pH, suspended solid, amoniak, nitrogen, dissolved oxygen,
COD, BOD, sludge volume index, NaOH strength, MSG, phenol, sulphides,
chloride, oil content, settled volume, dan mixed liquor.
4. Limbah bekas laboratorium yang tidak berbahaya jangan dibuang, melainkan
ditampung dan disimpan hingga ikut bersama aliran dalam oil catcher maupun
EWTP.
Unit-unit pengolahan limbah cair yang ada di kilang PT. PERTAMINA
(Persero) RU V Balikpapan adalah:
1. Oil catcher
Unit ini berfungsi untuk memisahkan minyak yang ada di limbah cair
dengan prinsip gravitasi. Sedimen kasar akan mengendap di dasar oil catcher,
sedangkan minyak mengapung. Minyak tersebut ditangkap dengan oil skimmer
dan dikirim ke tangki slop oil. Air yang telah bersih dibuang ke outlet.
2. Corrugated Plat Interceptor (CPI)
CPI dapat memperluas kemampuan pemisahan secara gravitasi, dengan
cara memperluas permukaan menjadi vertikal miring dan dapat memisahkan
partikel di bawah 150 mikron. Lempengan pada CPI diletakkan miring sehingga
butiran minyak yang terkumpul di bawah permukaan lempeng dapat mengumpul
lebih lanjut dan partikel sedimen yang terkumpul pada bagian atas lempeng dapat
meluncur ke dasar separator. Minyak yang berkumpul di permukaan diambil
dengan oil skimmer, sedangkan sludge akan terkumpul pada pit.
3. Sour Water Stripper Unit
Unit ini dirancang untuk menghilangkan H2S dan NH3 dari air bekas yang
berasal dari penyulingan, HCU, dan LPG recovery unit. Air hasil olahan tidak
boleh mengandung NH3 lebih dari 100 ppm dan H2S lebih dari 50 ppm. Keadaan
tersebut diperlukan oleh crude distilling unit untuk melarutkan garam, dan HCU
sebagai pencuci, serta untuk mencegah pengendapan garam pada heat exchanger.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
87
4. Effluent Water Treatment Plant (EWTP)
Unit ini berfungsi untuk mengurangi kandungan minyak dan senyawa
berbahaya lainnya sampai batas aman untuk dialirkan ke laut. Air limbah dari
kilang lama, wax plant dan crude desalter masuk ke stilling zone untuk
memisahkan minyak dengan menggunakan oil skimmer dan buffle. Self cleaning
wax screen pada bagian atas stilling zone akan menangkap wax. Minyak dialirkan
ke recover slop sump, lumpur yang mengendap dialirkan melalui empat buah
sludge removal pipe, sedangkan airnya dialirkan ke gravity separator.
5. Proses Slops Oil
Minyak dari refinery waste stilling zone separator, equalization basin,
storm water stilling zone, CPI separator, dan storm water basin dikumpulkan
dalam recovered slop pump dan temperaturnya dijaga tetap 66oC dengan memakai
heater. Pemanasan yang dilakukan bertujuan untuk memudahkan pemisahan
antara minyak dengan air yang terbawa ke recovered slop pump. Minyak
dipompakan ke slop oil tank, sedangkan airnya dikembalikan lagi ke refinery
water stilling zone atau CPI separator

[Link]. Pengolahan Limbah Padat


Lumpur dari DAF, biological clarifier, dan lumpur minyak dari dalam
kolam-kolam pengolahan air limbah dimasukkan ke sludge collector. Bila
penggumpalan lumpur belum memuaskan, lumpur ditambahkan kation polimer
dalam centrifuge dosing tank. Lumpur kemudian dipisahkan dari air pada sludge
centrifuge. Airnya dialirkan ke centrifuge drain pump dan dikembalikan ke
equalization basin, sedangkan lumpurnya diangkut ke centrifuge cake hopper.
Secara berkala cake dalam centrifuge cake hopper dikeluarkan dan diangkut untuk
dibuang

3.7 Program Kerja Laboratorium


Laboratorium merupakan bagian yang melaksanakan pengendalian mutu
bahan baku, bahan setengah jadi, maupun bahan jadi. Laboratorium yang terdapat
di Pertamina RU V merupakan laboratorium penguji yang pengelolaannya
didasarkan atas penerapan sistem mutu ISO-17025. Laboratorium Pertamina RU
V juga memiliki prinsip untuk menjamin kerahasiaan informasi dan hak

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
88
kepemilikan, serta bebas dari tekanan (tidak boleh diintervensi), sesuai
[Link].-052/E15000/2001-SO tanggal 11 Desember 2001.
Laboratorium Pertamina RU V memiliki tugas utama sebagai berikut:
 Mengontrol kualitas untuk penunjang kelancaran operasi kilang RU V
 Quality Assurance sebagai jaminan mutu produk Pertamina RU V
 Memberikan layanan pengujian untuk pelanggan internal dan eksternal.
3.7.1. Pembagian Seksi Laboratorium
Pada fungsi Laboratorium di PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V
Balikpapan, dibagi menjadi 3 seksi, yaitu:
1. Seksi Evaluasi Crude
Seksi ini melakukan evaluasi crude yang belum pernah diolah di kilang
Balikpapan dan crude lama, tetapi menunjukkan perubahan spesifikasi. Evaluasi
crude dilakukan dengan cara mengolah sampel crude pada kondisi operasi yang
sama dengan kondisi kilang.
2. Seksi Produk Cair (BBM dan non-BBM)
Laboratorium di seksi produksi cair bertugas memeriksa sifat-sifat fisik
bahan baku, produk setengah jadi, dan produk akhir yang fraksinya adalah cair
seperti bensin, avtur, kerosin, solar dan LSWR pada saat disimpan di tangki dan
saat dikapalkan.
3. Seksi Produk Gas
Tugas dari laboratorium/seksi ini adalah memeriksa bahan baku, produk
setengah jadi, dan produk akhir dalam fase gas, serta pengujian bahan-bahan
kimia baru yang akan diterima oleh Pertamina. Pengujian dilakukan untuk
mengetahui komposisi gas secara kimia, sedangkan secara fisik yang diuji adalah
RVP dan specific gravity.
3.7.2. Alat-alat Laboratorium
Berikut ini adalah alat – alat yang terdapat pada Laboratorium di PT.
PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan
1. Laboratorium Produk Cair
 Open Hydromete: Untuk mengukur Spcific Gravity (ASTM D 1298)
 ASTM Distillator Column: untuk mengukur ASTM Distillation (ASTM D
86-79)
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
89
 Pensky Martens Closed U: untuk mengukur Flash Point (ASTM D 93-80)
 Tembaga, tabung reaksi, bomb: untuk mengukur Copper Strip Corrosion
(ASTM D130-80)
 Manometer yang dirangkai pada dua buah tabung silinder: untuk mngukur
Reid Vapour Pressure (ASTM D 323-79)
 Tabung logam lampu pijar: untuk mengukur smoke point (IP 57/55)
 Kurs porcelene: untuk mengukur Conradson Carbon Residue (ASTM D 189-
76)
 Cawan: untuk mengukur Pour point (ASTM DD 97-66)
 Porselin, water bath: untuk mengukur Melting Point of Petroleum Wax
(ASTM D 87-88)
2. Laboratorium Produk Gas
 Kromatografi 4 kolom: untuk mengukur komposisi LPG (ASTM D 2163-77)
 Kromatografi 3 kolom: untuk mengukur komposisi Natural Gas (ASTM D
1945-64)
 Dregerwerk (pipet berskala yang di dalamnya terdapat susunan adsorban):
untuk mengukur kadar CO2 dan CO
 Closed Hydrometer: untuk mengukur Specific Gravity (ASTM D 1298)
 Tembaga, tabung reaksi, bomb: untuk mngukur Copper Strip Corrosion
(ASTM DD 1838-74)
 Manometer yang dirangkai pada dua buah tabung silinder: untuk mengukur
Reid Vapour Pressure (ASTM D 323-79)
3.7.3. Fungsi dari Laboratorium
Sementara fungsi dari masing-masing laboratorium adalah sebagai berikut.
1. Laboratorium Produk Cair
 Mengukur Specific Gravity (ASTM D 1298)
 Mengukur Reid Vapour Pressur (ASTM D 323-79)
 Mengukur ASTM Distillation
 Mengukur Flash Point (ASTM D 93-80)
 Mengukur Color (ASTM 156-64 dan D 1500-64)
 Mengukur Copper Strip Corrosion (ASTM D 130-80)

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
90
 Mengukur Smoke Point (IP 57/55)
 Mengukur Conradson Carbon Residue (ASTM D 189-76)
 Mengukur Pour Point (ASTM D 97-96)
 Mengukur Melting Point of Petroleum Wax (ASTM D 87-88)
 Mengukur Oil Content of Petroleum Wax (ASTM D 721-68)
 Mengukur Sulphur Content
2. Laboratorium Produk Gas
 Mengukur komposisi LPG (ASTM D 2163-77)
 Mengukur komposisi Natural Gas (ASTM D 1945-64)
 Mengukur Copper Strip Corrotion (ASTM D 1838-74)
 Mengukur Kadar CO2 dan CO
 Mengukur Specific Gravity (ASTM D 1298)

3.8 Pemasaran Hasil Produksi


Daerah pemasaran hasil pengilangan minyak khususnya Indonesia bagian
timur dan Jawa bagian timur. Namun, produk BBM RU V Balikpapan juga
didistribusikan ke daerah-daerah lain yang membutuhkan. Daftar pendistribusian
produk BBM & NBBM RU V Balikpapan dapat dilihat pada tabel berikut.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
91
Tabel 3.33. Pendistribusian Produk-Produk RU V Balikpapan
Pelanggan / Segmen Pasar
PRODUK UPms
NIAGA
I II III IV V VI VII VIII
BBM :
Premium 88 x x xx xx x
Kerosene x x x xx xx x
Solar x x x xx xx x

NBBM :
LPG x xx xx xx
Wax :
HHP xx xx xx xx xx xx xx xx
HSR xx xx xx xx xx xx xx xx
YBW xx xx xx xx xx xx xx xx
FRW x

BBK :
Avtur xx xx xx xx
Pertamax xx

Produk Lain :
Naphta UP VI x
LSWR x
Smooth
Fluid 05 EP KTI

UPms I : Medan
UPms II : Palembang
UPms III : Jakarta
UPms IV : Semarang
UPms V : Surabaya
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
92
UPms VI : Balikpapan
UPms VII : Makassar
UPms VIII : Jayapura

XX = Pelanggan Utama
X = Pelanggan Lainnya

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan studi literatur yang diperoleh dari orientasi umum, orientasi
khusus, kunjungan lapangan, serta referensi – referensi lain di PT. PERTAMINA
(Persero) Refinery Unit V Balikpapan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. PT. PERTAMINA (Persero) Unit Pengolahan V berganti nama menjadi PT.
PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V pada tanggal 9 Oktober 2008.
2. PT. PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan merupakan pabrik pengolahan
minyak mentah menjadi produk BBM dan NBM dan bukan merupakan
eksplorasi minyak bumi. PERTAMINA Refinery Unit V Balikpapan
merupakan unit pengolahan dengan kapasitas 260 MBSD.
3. RU V terdiri dari Kilang Balikpapan I dengan kapasitas pengolahan 60
MBSD dan Kilang Balikpapan II dengan kapasitas pengolahan 200 MBSD.
4. PT. PERTAMINA (Persero) RU V menghasilkan produk-produk sebagai
berikut:
a. Produk BBM : Pertamax, Pertadex High Quality, Solar Plus, Motor
Gasoline (Premium), Kerosene, Avtur, solar (Minyak Diesel) dan Fuel oil
(Minyak Bakar)
b. Produk NON-BBM: Heavy Naphta, LPG dan LSWR
5. Penyaluran produk hasil pengolahan RU V didistribusikan untuk Indonesia
Bagian Timur dan sebagian wilayah Jawa.
6. Kilang Balikpapan I terdiri dari Crude Distillation Unit V (CDU V), High
Vacuum Unit III (HVU III), Dehydration Plant (DHP), dan Effluent Water
Treatment Plant (EWTP).
7. Kilang Balikpapan II terdiri dari dua komplek, yaitu:
a. Hydroskimming Complex (HSC) yang meliputi
 Crude Distillation Unit IV (CDU IV), Plant 1
 Naphtha Hydrotreater (NHT), Plant 4
 Platformer Unit, Plant 5
 LPG recovery Unit, Plant 6
93 Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
94

 Sour Water Stripper Unit (SWS), Plant 7


 LPG treater Unit, Plant 9

b. Hydrocracking Complex (HCC) yang meliputi


 High Vacuum Unit II (HVU II), Plant 2
 Hydrocracking Unibon (HCU II), Plant 3
 Hydrogen Plant, Plant 8
 Hydrogen Recovery Unit, Plant 38
 Sour Water Stripper Unit (SWS), Plant 17
8. Sarana utilitas yang dimiliki PT. Pertamina (Persero) RU-V Balikpapan,
antara lain Sea Water Desalination (SWD), Fuel System, Cooling Water
System, Penyediaan Air Utilitas/Air Tawar, Air Plant, Nitrogen Plant,
Electrochlorination Plant, Steam System, dan Penyediaan Listrik.
9. Laboratorium di PT. Pertamina (Persero) RU-V Balikpapan ada tiga, yaitu
Laboratorium Evaluasi Crude Oil, Laboratorium Produksi Cair, dan
Laboratorium Produksi Gas.

4.2. Saran
Setelah melaksanakan kerja praktik di PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V Balikpapan, penulis memiliki saran untuk perusahaan guna
meningkatkan performa dan kualitas perusahaan tersebut, diantaranya adalah
sebagai berikut.
1. Etos Kerja yang ditunjukkan karyawan pada umumnya sangat baik, agar
selalu dipertahankan dan ditingkatkan
2. Meningkatkan proses pembelajaran bagi mahasiswa yang melaksanakan kerja
praktik di PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan agar
mahasiswa tersebut memiliki kualitas dan pengetahuan yang berguna di dunia
kerja. Hal tersebut dikarenakan mahasiswa – mahasiswa tersebut yang akan
menjadi penerus bangsa, salah satunya penerus bagi perusahaan
3. Untuk mahasiswa/mahasiswi yang mengikuti kegiatan Kerja Praktek di PT.
PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan, diharapkan lebih aktif dalam

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
95

mencari informasi terkait proses operasi yang ada di kilang PT.


PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan.

Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

DAFTAR PUSTAKA

Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 1: Crude Distillition
Unit. London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 2: Vacuum Distillation
Unit. London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 4: Naphta Hydrotreater
Unit. London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 5: Platforming Process
Unit. London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 8: Hydrogen Plant.
London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Utilities. London.
Jereh. 2018. Mechanical Tank Cleaning and Sludge Recovery. [ONLINE]
Available at: [Link]
management/mechanical-tank-cleaning-and-sludge-recovery [Accessed at:
18 Juli 2018].
Jones, David S. J. 2006. Handbook of Petroleum Processing. Netherland:
Springer.
Pertamina. 2016. Presentasi Energy Conservation and Loss Control. Balikpapan:
Pertamina.
Pertamina. 2016. Presentasi Oil Movement. Balikpapan: Pertamina.
Pertamina. 2016. Presentasi Refinery Planning and Optimization. Balikpapan:
Pertamina.
Petro Wiki. 2018. Floating Roof Tanks. [ONLINE] Available at:
[Link] [Accessed at: 20 Juli 2018].
Speight, James G. 2001. Handbook of Petroleum Analysys. Canada: John Wiley
& Sons, Inc.
WPE. 2018. Sludge Oil Recovery System. [ONLINE] Available at:
[Link] [Accessed
at: 19 Juli 2018].

96 Universitas Indonesia
97

Universitas Indonesia

Anda mungkin juga menyukai