Laporan Kerja Praktik di Pertamina RU V
Laporan Kerja Praktik di Pertamina RU V
Oleh:
Dimas Rahadi Pitoyo (1506673473)
Luthfi Kamal Bangkit S. (1506673183)
Pembimbing:
Nabillah Rachmantya Fitraini Arsya, S.T.
Dr. Tania Surya Utami, S.T., M.T.
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS INDONESIA
2018
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
DISCLAIMER
ii Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
LEMBAR PENGESAHAN
MENGETAHUI,
Pembimbing Lapangan
NABILLAH RACHMANTYA
MENGESAHKAN,
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat,
petunjuk, dan karunia-Nya, penulis mendapatkan kemudahan, kemampuan, dan
semangat untuk menyelesaikan seluruh rangkaian kerja praktik di PT.
PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan serta dapat menyusun dan
menyelesaikan laporan kerja praktik ini. Laporan kerja praktik ini disusun untuk
memenuhi syarat dalam pelaksanaan kerja praktik di PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V Balikpapan.
Pelaksanaan kerja praktik berlangsung kurang lebih selama 1 bulan,
terhitung dari tanggal 2 Juli 2018 hingga 10 Agustus 2018. Pelaksanaan kerja
praktik ini terdiri orientasi umum dan studi literatur yang bermanfaat sebagai
materi dalam pengerjaan tugas yang diberikan oleh pembimbing. Kerja praktik ini
merupakan salah satu syarat yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa
dalam menyelesaikan program pendidikan sarjana pada Progam Studi Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Dalam pelaksanaan Kerja Praktik dan penyusunan Laporan Kerja Praktik
ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak.
Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Orang tua penulis yang telah memberikan doa dan dukungan baik moral
maupun material selama persiapan dan pelaksanaan kerja praktik.
2. Bapak Widakdo selaku Head of Energy Conservation & Loss Control Section
PT. PETAMINA (Persero) RU V Balikpapan.
3. Ibu Nabillah Rachmantya selaku pembimbing kerja praktik di PT.
PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan.
4. Bapak Muchlis Riki Dharmawan yang turut membantu dalam kerja praktik di
bagian EC & LC.
5. Bapak Ir. Yuliusman, [Link], selaku koordinator kerja praktik yang telah
dengan sabar memberikan arahannya dan kesempatan untuk dapat melakukan
kerja praktik di PT. PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan.
iv Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
6. Ibu Dr. Tania Surya Utami, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing kerja
praktik yang memberikan kritik dan saran agar penulis dapat melaksanakan
kerja praktik dengan baik.
7. Seluruh staff Energy Conservation & Loss Control atas kesediaannya berbagi
ilmu selama penulis melakukan praktik.
8. Seluruh operator dan staff di kilang PT. PETAMINA (Persero) RU V
Balikpapan.
9. Bapak Agus Anwar, Bapak Sugeng, Ibu Yuli, dan Ibu Wisye yang membantu
penulis dalam melaksanakan kerja praktik dan memfasilitasi dalam
akomodasi selama di Balikpapan.
10. Bapak Mahendra Wijaya selaku Manager Human Capital PERTAMINA
(Persero) RU V Balikpapan dan Bapak Parjo selaku PJS Human Capital
PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan yang membantu penulis dalam
pelaksanaan kerja praktik.
11. Seluruh staff Human Capital yang membantu penulis dalam memudahkan
proses kerja praktik.
12. Teman-teman seperjuangan kerja praktik: Wildan, Arif, Togi, Wahidin, Indra,
Fachri, dan teman-teman lainnya yang telah membantu selama pelaksanaan
kerja praktik.
13. Serta semua pihak lainnya yang tidak bisa disebutkan penulis satu persatu
yang telah membantu selama pelaksanaan Kerja Praktik di PT. PERTAMINA
(Persero) RU V Balikpapan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penulis memohon maaf apabila di dalam Laporan Kerja Praktik ini,
terdapat banyak kesalahan yang terjadi, baik teknis maupun non teknis. Kritik dan
saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan pada penulisan
berikutnya. Semoga Laporan Kerja Praktik ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca dan dapat menjadi kontribusi nyata bagi perkembangan dunia.
Penulis
v Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
DAFTAR ISI
DISCLAIMER ....................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Kerja Praktik ................................................................... 1
1.2 Tujuan Kerja Praktik ................................................................................ 2
1.3 Ruang Lingkup Kerja Praktik ................................................................... 3
1.4 Waktu dan Pelaksanaan Kerja Praktik ..................................................... 3
BAB II PROFIL PERUSAHAAN ....................................................................... 4
2.1 Sejarah dan Perkembangan PT. PERTAMINA (Persero) ........................ 4
2.2 Tata Letak Pabrik ..................................................................................... 7
2.3 Struktur Organisasi ................................................................................... 8
2.3.1 Operation and Manufacturing Function ............................................ 9
2.3.2 Refinery Planning and Optimization Function ................................. 9
2.3.3 Maintenance Planning & Support Function ...................................... 9
2.3.4 Maintenance Execution Function .................................................... 10
2.3.5 Workshop Section Engineering and Development ......................... 10
2.3.6 Total Quality Management Section .Error! Bookmark not defined.
2.3.7 Reability Function ........................................................................... 11
2.3.8 Procurement Function ..................................................................... 11
2.3.9 Health, Safety, Environment Function ............................................ 11
2.3.10 General Affairs Function................................................................. 12
2.3.11 Human Resource Area/Business Partner Function ......................... 12
2.3.12 Fungsi Keuangan ............................................................................. 12
2.3.13 Information Technology.................................................................. 12
2.3.14 OPI Function ................................................................................... 12
2.4 Visi dan Misi Perusahaan ....................................................................... 13
2.5 Tata Nilai ................................................................................................ 13
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 15
3.1 Bahan Baku Minyak Bumi dan Karakteristiknya ................................... 15
3.1.1 Bahan Baku Minyak Bumi .............................................................. 15
3.1.2 Karakteristik Bahan Baku ............................................................... 16
[Link] Berat Jenis ....................................................................................... 16
[Link] Kandungan Belerang ....................................................................... 16
[Link] Kandungan Nitrogen ....................................................................... 17
[Link] Kandungan Garam .......................................................................... 17
[Link] Residu Karbon................................................................................. 17
[Link] Viskositas ........................................................................................ 17
3.2 Produk Minyak Bumi dan Karakteristiknya ........................................... 17
3.2.1 Produk Perusahaan .......................................................................... 17
[Link] LPG ................................................................................................. 18
[Link] Naphta ............................................................................................. 20
[Link] Premium dan Pertamax ................................................................... 23
vi Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
ix Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
BAB I
PENDAHULUAN
1 Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
2
Pengolahan minyak bumi merupakan salah satu core competence yang
dipelajari oleh mahasiswa Teknik Kimia UI. Core competence ini membantu
mahasiswa mengerti bagaimana cara mengolah minyak bumi yang telah di
produksi dan siap disuling di unit pengolahan sehingga menjadi produk-produk
yang berguna untuk kehidupan sehari-hari. Salah satu unit yang umum diketahui
dan dipelajari mahasiswa adalah Crude Distillation Unit. Unit ini akan
memisahkan komponen dari minyak bumi berdasarkan fraksi-fraksinya, yang
umumnya terkait dengan panjang rantai karbon, lalu berkaitan juga dengan titik
didih. Selain mempelajari unit pengolahan minyak bumi, kita juga belajar proses-
proses dalam mengolahan minyak bumi. Proses-proses tersebut ialah cracking,
alkylation, polymerization, reforming, dan isomerization
Sebagai salah satu kilang minyak andalan milik Indonesia yang telah
beroperasi sejak 1922, Refinery Unit V Balikpapan Pertamina berperan penting
dalam memenuhi kebutuhan produk bahan bakar minyak (BBM). Dengan
kapasitas kilang mencapai kurang lebih 260 MBSD, PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V berkontribusi memasok 26% total kebutuhan BBM di seluruh
Indonesia. Unit Pengolahan ini memproduksi beberapa produk BBM unggulan
seperti Pertadex dan Pertalite. Selain produk BBM, PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V juga memproduksi produk Smooth Fluid yang digunakan pada
kegiatan Eksplorasi Crude Oil serta LAWS sebagai solvent.
Dengan mengikuti kerja praktik ini, penulis berharap dapat
mengembangkan pengetahuan teori yang didapatkan dari kegiatan perkuliahan
serta dapat mengaplikasikannya secara nyata di lingkup industri, serta untuk lebih
memahami proses pengolahan minyak dan gas oleh PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V.
1.2 Tujuan Kerja Praktik
Tujuan dari pelaksanaan kerja praktik di PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui penerapan teori yang telah diperoleh dalam perkuliahan dan
perbandingannya dalam dunia industri secara nyata
2. Mendapatkan pengalaman dalam dunia kerja serta peluang dalam berlatih
menyelesiakan permasalahan dalam industri
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
3
3. Memperoleh pengalaman yang komprehensif dalam dunia kerja melalui
learning by doing
4. Menambah wawasan dan pengetahuan terkait pola berpikir para praktisi
dalam mempertimbangkan dan menyelesaikan suatu permasalahan di pabrik
5. Mengetahui perkembangan teknologi dalam dunia industri yang modern
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
4
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
5
Saat ini PT. PERTAMINA (Persero) telah mempunyai tujuh Refinery Unit
(RU) yang tersebar di sebagian wilayah Indonesia. Akan tetapi satu diantaranya
hanya mampu mengolah 5.000 barrel per hari, sehingga pada tahun 2007 ditutup.
Refinery Unit tercantum dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Refinery Unit PT. PERTAMINA (Persero) di Indonesia
Refinery Unit Kapasitas (MBSD)*
RU I: Pangkalan Brandan (Sumatera Utara) Non-aktif
RU II: Dumai- Sei Pakning (Riau) 170
RU III: Plaju (Sumatra Selatan) 133.7
RU IV: Cilacap ( Jawa Tengah) 330
RU V: Balikpapan (Kalimantan Timur) 260
RU VI: Balongan (Jawa Barat) 125
RU VII: Sorong (Irian Jaya ) 10
Keterangan: (*) Kapasitas dalam satuan MBSD (Metric (1000) Barrel Stream
Day) dimana 1 Barrel = 158,984 L.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
6
Tabel 2.2. Perkembangan Kilang PERTAMINA RU V
Tahun Peristiwa
1897-1922 Penemuan sumber minyak mentah di Kalimantan Timur
1922 Pendirian unit penyulingan minyak kotor (PMK I) oleh
perusahaan minyak BPM (Bataafsche Petroleum
Maatsppij) dan pembangunan Kilang Balikpapan dengan
kapasitas 52 MBSD
1946 Rehabilitasi PMK I karena rusak akibat Perang dunia II
1949 Pendirian HVU I oleh PT. Shell Indonesia dan dirancang
oleh MC Kee dengan kapasitas 12 MBSD
1950 Pendirian Wax Plant dan PMK I selesai direhabilitasi.
Wax Plant berkapasitas 110 ton/hari sedangkan PMK I
berkapasitas 25 MBSD. Pembangunan unit-unit ini sama
dengan HVU I
1952 Pendirian PMK II oleh PT. Shell Indonesia dan dirancang
oleh ALCO dengan kapasitas 25 MBSD
1954 Modifikasi Wax Plant sehingga memiliki kapasitas 10
MBSD. Saat ini PMK III tidak dioperasikan lagi.
1968 PN PERMINA bergabung dengan PN PERTAMIN
menjadi PN PERTAMINA
1973 Modifikasi Wax Plant sehingga mencapai kapasitas 175
ton/hari
April 1981 Kilang Balikpapan II berkapasitas 200 MBSD mulai
dibangun dengan hak paten proses dari UOP Inc.
November 1981 Penetapan kontraktor utama yaitu BechTel International
Inc. dari Inggris dan konsultan Supervisor-nya adalah
Procon Inc. dari USA
1983 Kilang Balikpapan II diresmikan oleh Presiden Republik
Indonesia yaitu Presiden Suharto
1995 Upgrading Kilang Balikpapan I menjadi kapasitas 60
MBSD (PMK I, PMK II, dan HVU I tidak beroperasi lagi).
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
7
Tabel 2.2. Perkembangan Kilang PERTAMINA RU V (lanjutan)
Tahun Peristiwa
1997 Upgrading Kilang Balikpapan I (CDU V dan HVU III)
November 2003 Perubahan status PERTAMINA dari BUMN menjadi
Perseroan Terbatas
23 Juni 2005 Proyek pembangunan Flare Gas Recovery System dan
Hydrogen Recovery System diresmikan
9 Oktober 2008 PT. PERTAMINA (Persero) Unit Pengolahan V
Balikpapan berubah nama menjadi PT. PERTAMINA
Refinery Unit V Balikpapan.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
8
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
9
2.3.1 Production Function
Fungsi ini bertanggung jawab dalam mengatur dan mengoperasikan kilang
secara keseluruhan. FGeneral Manager Pertamina RU V berfungsi sebagai koordinator
seluruh kegiatan pengolahan PERTAMINA di Balikpapan, yang dalam tugasnya dibantu
oger. Untuk memudahkan sistem pengoperasiannya, fungsi ini dibagi berdasarkan
area proses dan jenis pekerjaannya yaitu:
1. Distilling dan Wax Plant Section
2. Hydroskimming Complex Section
3. Hydrocracker Complex Section
4. Utilities Section
5. Oil Movement Section
6. Laboratory Section
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
10
3. Electrical & Instrument Engineer Section
4. Rotating Equipment Engineer Section
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
11
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
12
2.3.10 General Affairs Function
Fungsi ini membawahi dua bagian, yaitu Public Relation Section dan
Security Section.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
13
Manager
HC Region Manager
Manager Eng & Dev Manager Reliability Manager Procurement Healt, Safety & Manager General Affairs
Kalimantan
Finance RU V Manager IT RU V Manager
Enviromental
[Link]. Financial
Section Head Plant Section Head Fire & Area Manager Comm.& Section Head IR & OS Ast. Man. Comp.
Project Engineering Reliability
Section Head Purchasing
Insruance Relations Kalimantanion Management Accounting & Opr.
treasury
Encon & LC Section Head Region Manager Asset Ast Manager HRM Section Head Finance
Section Head Safety Operation Kalimantan Services Refinery Sorong
Services & Warehousing
Section Head Contract Section Head Area Manager Legal Internal Audit Kalimantan
Office Occupational Health4 Counsel Manager
Manager OPI
Manager Production Manager RP & O Manager MP & S Manager Turn Arround Manager ME
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
14
Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional,
mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar
biaya dan menghargai kinerja.
3. Confident (Percaya Diri)
Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam
reformasi BUMN dan membangun kebanggaan bangsa
4. Costumer Focused (Fokus pada Pelanggan)
Berorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk
memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan
5. Comercial (Komersial)
Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil
keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat
6. Capable (Berkemampuan)
Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta
dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun
kemampuan riset dan pengembangan.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
15 Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
16
3.1.2 Karakteristik Bahan Baku
Minyak bumi dapat dibedakan sesuai dengan sifat fisik dan sifat kimianya
berdasarkan berat jenis (specific gravity-density), kandungan belerang, kandungan
nitrogen, kandungan garam, residu karbon, dan viskositas.
[Link] Berat Jenis
Berat jenis sering digunakan untuk membedakan minyak bumi secara
kasar dan biasanya dinyatakan dalam satuan oAPI. Satuan tersebut berbanding
terbalik dengan berat jenis, dimana semakin besar oAPI maka semakin kecil berat
jenis minyak bumi.
Tabel 3.1. Klasifikasi Minyak Bumi Berdasarkan Berat Jenisnya
Jenis Minyak Bumi Sg (60/60℉) °API Gravity
Ringan 0,830 39,0
Medium Ringan 0,830 – 0,850 39,0 – 35,0
Medium Berat 0,850 – 0,865 35,0 – 32,1
Berat 0,865 – 0,905 32,1 – 24,0
Sangat Berat 0,905 24,8
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
17
[Link] Kandungan Nitrogen
Senyawa-senyawa nitrogen dapat mengganggu kelangsungan proses
katalis terhadap pengolahan minyak bumi, akan berperngaruh buruk terhadap
aroma, kestabilan warna, serta sifat penuaan produk kilang. Batas maksimum
nitrogen adalah 0,25%
[Link] Kandungan Garam
Minyak bumi dapat mengandung garam sampai dengan 0,6 lb/barrel
minyak bumi. Deposit garam dalam tungku dan penukar panas dapat menurunkan
kapasitasnya karena karena adanya penyumbatan pada peralatan tersebut.
Sedangkan senyawa klorida dapat membebaskan asam klorida yang dapat
menyebabkan korosi.
[Link] Residu Karbon
Minyak mentah dengan residu karbon biasanya lebih berharga karena lebih
baik untuk pembuatan minyak pelumas. Residu karbon ditentukan dengan cara
distilasi sampai tertinggal residu kokas.
[Link] Viskositas
Viskositas minyak bumi pada umumnya berada pada selang 40-60 SSU
(Saybolt Universal Second) pada 100 °F, tetapi juga dapat mencapai 6000 SSU
pada 100 °F pada minyak bumi tertentu.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
19
Tabel 3.3. Spesifikasi Produk LPG Jenis Propana (lanjutan)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
20
Tabel 3.5. Spesifikasi Produk LPG Campuran
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
[Link] Naphta
Naphta yang diproduksi PERTAMINA RU V Balikpapan selain dijadikan
bahan blending bensin, juga digunakan sebagai bahan baku oleh perusahaan lain
seperti British Petroleum dan Sietco. Spesifikasi naphta yang dijual mempunyai
spesifikasi yang dapat dilihat pada tabel 3.6, tabel 3.7 dan tabel 3.8 berikut.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
21
Tabel 3.6. Spesifikasi Produk Light Naphta (Produk BP)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
22
Tabel 3.7. Spesifikasi Produk Light Naphta (Konsumsi Sieteo)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
23
Tabel 3.8. Spesifikasi Produk Medium Naphta (Konsumsi BP)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
25
Tabel 3.10. Spesifikasi Produk Pertamax menurut Dirjen Migas
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
26
[Link] Kerosin
Kerosin adalah fraksi minyak mentah yang pada rentang suhu 150-250˚C.
Kerosin tidak bisa terbakar pada fasa cair. Kerosin hanya bisa dibakar pada
keadaan teruapkan dan bercampur dengan udara. Kerosin digunakan sebagai
bahan bakar rumah tangga baik sebagai bahan bakar maupun bahan penerangan.
Pada proses pembakarannya, kerosin diuapkan dengan panas ataupun dengan
tekanan. Panas dapat berasal dari pembakaran kerosin sendiri. Spesifikasi kerosin
menurut Dirjen Migas disajikan pada Tabel 3.11.
Tabel 3.11. Spesifikasi Kerosin menurut Dirjen Migas
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
27
[Link] Automotive Diesel Oil (ADO)
Automotive Diesel Oil merupakan bahan bakar kendaraan bermotor mesin
diesel. Kompresi yang tinggi dapat menyebabkan minyak diesel untuk tersulut
secara otomatis. Faktor yang perlu diperhatikan adalah angka setana maka
semakin baik kualitas suatu minyak diesel. ADO yang memiliki bilangan cetane
minimal 45 merupakan hasil pencampuran dari gas oil ringan, gas oil berat, gas
oil vakum ringan dan gas oil vakum berat. Spesifikasi ADO menurut Dirjen
Migas disajikan pada Tabel 3.12.
Tabel 3.12. Spesifikasi Produk ADO untuk BP
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
28
Tabel 3.12. Spesifikasi Produk ADO untuk BP (lanjutan)
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
29
Tabel 3.13. Spesifikasi Produk IDO untuk BP
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
[Link] Avtur
Avtur digunakan untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara. Avtur
digunakan pada mesin pesawat terbang bermesin turbin. Avtur mempunyai
komposisi yang mirip dengan kerosene. Hanya saja spesifikasinya lebih ketat
karena penggunaannya untuk pesawat terbang. Avtur tidak diambil untuk produk
blending untuk menjaga kualitas yang mengacu pada standar internasional.
Parameter yang harus diperhatikan dalam penentuan kualitas avtur adalah titik
asap, titik tuang dan turbinitas. Spesifikasi produk avtur disajikan pada tabel 3.14
berikut.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
30
Tabel 3.14. Spesifikasi Produk Avtur
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
31
[Link] Low Sulphur Wax Residue (LSWR)
Low Sulphur Wax Residue merupakan salah satu produk yang diekspor,
terutama ke Jepang. Produk ini merupakan campuran dari 63% short residu,25-
35% ADO dan 2% kerosin. Spesifikasi LSWR dapat dilihat pada tabel 3.15
berikut.
Tabel 3.15. Spesifikasi Produk LSWR
No. Analisa Satuan Metode Spesifikasi
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
32
Tabel 3.16. Spesifikasi Produk MGO
No. Analisa Satuan Metode Spesifikasi
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
33
Tabel 3.17. Spesifikasi Produk LAWS
No. Analisa Satuan Metode Min. Max.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
34
Tabel 3.18. Spesifikasi Produk LAWS
No. Analisa Satuan Metode Spesifikasi
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
35
Untuk kandungan fraksi C5, memiliki maksimum 2% volume. Apabila kandungan
fraksi tersebut melebihi 2% volume, maka nilai kalor LPG menjadi lebih rendah
dari yang seharusnya.
[Link] Bensin (Motor Gasoline)
Beberapa sifat penting dari bensin antara lain Octane Number (ON),
Oxidation Stability dan Engine Deposit.
1. Octane Number (ON)
Octane number atau bilangan oktan adalah tolak ukur kualitas anti knocking
bensin. Knocking atau peletupan prematur adalah peledakan campuran uap bensin
dan udara dalam silinder mesin sebelum busi menyala, dimana peristiwa tersebut
mengurangi daya mesin tersebut. Skala ON didasarkan pada konversi bahwa n-
heptan (n-C7H16) memiliki ON nol (rentan terhadap knocking) dan i-oktan (2,2,4-
trimetilpentan) memiliki ON 100 (tahan terhadap knocking).
Bensin dikatakan berbilangan oktan X (0<X<100) apabila karakteristik anti
knocking bensin terdebut sama dengan karakteristik anti knocking campuran.
X%-volume I-oktan dengan (100-X)% volume n-heptan. Bensin premium
memiliki spesifikasi bilangan oktan minimum 88 dan untuk pertamax minimum
94. Untuk skala bilangan oktan yang lebih besar dari 100, didefinisikan sebagai
berikut:
( PN 100)
ON 100
3
Dimana: PN = Perfomance Number
= 100 (daya mesin yang dihasilkan bensin)
(daya mesin yang dihasilkan i-oktan)
2. Oxidation Stability
Oxidation stability menunjukkan sifat ketahanan bensin terhadap
penyimpanan, semakin baik oxidation stability yang dimiliki maka semakin lama
bensin dapat disimpan tanpa mengalami penurunan kualitas secara signifikan
karena proses oksidasi.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
36
3. Engine Deposit
Deposit yang terbentuk dalam ruang pembakaran dipengaruhi oleh angka
oktan bensin, sehingga tendensi pembentukan deposit merupakan faktor yang
sangat penting. Penambahan aditif Deposit Modifying Agent diperlukan untuk
mengubah sifat deposit yang merusak menjadi berkurang.
[Link] Kerosin
Beberapa sifat penting dari kerosin antara lain Smoke Point dan Flash
Point.
1. Smoke Point (Titik Asap)
Tolak ukur kualitas pembakaran kerosin adalah kemampuan untuk
membakar tanpa menghasilkan asap. Smoke point adalah titik nyala maksimal
(dalam mm) yang dapat dihasilkan oleh pembakaran kerosin tanpa
membangkitkan asap hitam.
2. Flash Point
Flash point adalah temperatur terendah pada saat minyak membuat uap di
atasnya dan meletup saat disodori api kecil. Spesifikasi flash point minimum dari
kerosin adalah 38 oC.
[Link] Avtur
Avtur digunakan untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara. Avtur
digunakan pada mesin pesawat terbang bermesin turbin. Avtur mempunyai
komposisi yang mirip dengan kerosin hanya saja terdapat perbedaan pada
spesifikasinya. Beberapa sifat penting dari avtur adalah freezing point maksimal -
50℃ dan flash point minimum 38℃.
[Link] Diesel (Solar)
Salah satu sifat penting dari minyak diesel yang menunjukkan performa
mesin diesel ketika menggunakan minyak diesel adalah Cetane Number. Oleh
karena itu minyak diesel diharapkan memiliki kecenderungan yang cukup kuat
untuk menyala sendiri. Tolak ukur kualitas ini adalah bilangan cetan. Suatu
minyak diesel dikatakan memiliki bilangan cetan (0<S<100). Jika unjuk kerja
minyak tersebut setara dengan unjuk kerja campuran S%-volume α-metil
naftalena. Minyak diesel untuk kendaraan bermotor yang biasanya disebut solar,
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
37
memiliki bilangan cetan minimal 50. Sedangkan minyak diesel untuk kereta api
umumnya berbilangan lebih rendah (40-45).
[Link] Low Sulphur Wax Residue (LSWR)
Residu yang dihasilkan disini adalah Low Sulphur Wax Residue
merupakan salah satu produk yang diekspor, terutama ke Jepang. Produk ini
merupakan campuran dari 63% short residue, 25%-35% ADO, dan 2% kerosin.
[Link] Naphta
Naphta selain dijadikan bahan blending bensin, juga digunakan sebagai
bahan baku oleh perusahaan seperti British Petroleum dan Sietco. Spesifikasi
naphta yang dijual.
[Link] Marine Gas Oil
Marine Gas Oil dihasilkan dari fraksi Light Gas Oil CDU V. MGO ini
digunakan sebagai bahan bakar kapal laut terutama diekspor ke negara-negara
bermusim dingin, karena sifat bahan bakar ini mempunyai pour point yang rendah
(max. -6℃).
[Link] Low Aromatic White Spirit (LAWS)
LAWS merupakan solvent white spirit jernih yang mengandung aromatik
rendah. Produk ini dihasilkan dari fraksi Light Kerosene Hydrocracking Unit.
Kegunaannya sebagai solvent/pelarut dengan kelas Low aromatic pada industry
cat dan petrokimia.
[Link] Smooth Fluids 05
Smooth fluids merupakan drilling mud jenis oil base mud (OBM) untuk
proses pengeboran.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
38
3. Kapur, banyak digunakan dalam upaya menjaga kestabilan pH dalam proses
pembuatan lilin terutama pada proses treating.
4. Polyethylene, berfungsi sebagai pengeras lilin.
5. High octane number component (HOMC), digunakan sebagai komponen
blending premium.
6. Demulsifier, mempercepat pemecahan emulsi minyak-air dalam proses
desalting minyak mentah sebelum didestilasi pada CDU (Crude Distillation
Unit)
7. inhibitor korosi yang digunakan dalam proses-proses yang rentan terhadap
gas/cairan yang bersifat korosif. Sebagai contoh dalam proses LPG recovery,
dimana sejumlah inhibitor diinjeksikan di bagian overhead deethanizer karena
umpan mengandung sejumlah gas H2S sehingga dapat menyebabkan korosi
pada pipa-pipa pada bagian overhead.
8. Ammonia, digunakan untuk menjaga kestabilan pH pada berbagai unit
pemroses.
9. Methyl Mercaptan, digunakan sebagai aditif dalam LPG agar memiliki bau
sehingga diharapkan dapat menjadi indikator terhadap kebocoran LPG.
10. Static Dissipator Additive, digunakan untuk menaikkan konduktivitas elektrik
dari avtur.
11. DEA (Diethilamine), digunakan sebagai absorben untuk mengabsorbsi H2S
diharapkan konsentrasi H2S jauh lebih kecil sehingga tidak mengganggu
proses permeasi membran pada Hydrogen Recovery System.
12. Anodamine, digunakan sebagai bahan injeksi kimia pada boiler bertujuan
mengatur pH, melapisi tube pipa air dan mengikat gas-gas terlarut yang dapat
menyebabkan kerak dan korosi dalam boiler.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
39
Sulfida R-S-R + H2 2 R-H + H2 S
Disulfida R-S-S-R + H2 2 R-H + 2H2S
Tiofen C6H8S + 4H2 C6H14 + H2S
Apabila temperatur reaksi terlalu tinggi dapat menyebabkan reaksi samping:
𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 = 𝐂 − 𝐂 + 𝐇𝟐 𝐒 → 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐂 − 𝐒 + 𝐂𝐇𝟒
3.4.2 Denitrifikasi
Kandungan nitrogen maksimum adalah 0,5 ppm. Penyingkiran senyawa
nitrogen lebih sulit jika dibandingkan dengan senyawa sulfur karena kecepatan
reaksi denitrifikasi hanya seperlima dari kecepatan desulfurisasi.
OH
+ H2 + H2 O
phenol benzene
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
40
3.4.5. Dekomposisi Halida
Dekomposisi senyawa halida jauh lebih sulit dibanding dekomposisi
sulfur. Senyawa halida maksimum yang dapat dihilangkan hanya sampai 90%,
tetapi sulit tercapai pada kondisi reaksi desulfurisasi. Penghilangan senyawa
halida terjadi sesuai reaksi berikut ini:
R-Cl + H2 HCl + R-H
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
41
3. Dehidrosiklisasi
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
42
3.4.11. Absorbsi CO2
K2CO3 + CO2 + H2O 2KHCO3
Dimana reaksi tersebut berlangsung dalam 2 tahap:
H2O + K2CO3 KOH + KHCO3
KOH + CO2 KHCO3
Sedangkan CO2 removal yang dilakukan oleh DEA berdasarkan reaksi:
CO2 + R2NH R2NCOOH
R2NCOOH + KOH KHCO3
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
43
e. LPG Treater Unit
2. Hydrocracking Complex (HCC) yang meliputi:
a. High Vacuum Unit (HVU) II
b. Hydrocracking Unibon (HCU)
c. Hydrogen Plant
d. Hydrogen Recovery Plant
e. Flare Gas Recovery Plant
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
46
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
47
Dehydration Plant adalah unit yang bertujuan untuk menurunkan kadar air
dalam minyak bumi sampai 1% berat yang tersuspensi dalam minyak pada saat
pemompaan minyak Tanjung. Air diinjeksikan sebanyak 37%-wt beserta
demulsifier untuk mencegah terjadinya pembekuan tersebut. Unit ini mempunyai
kapasitas 9000 ton/hari.
Proses pemisahan air dalam minyak bumi dilakukan dengan cara
menginjeksikan demulsifier ke dalam stok minyak bumi yang akan diproses,
sehingga emulsi antara minyak dan air dapat dipecah. Demulsifier diinjeksikan
melalui pipa dengan ukuran inlet 20 inchi. Selanjutnya dilewatkan pada Heat
Exchanger E1 A/B hingga temperatur 50-65ºC. Untuk memisahkan gas sisa dari
crude, maka Tanjung Crude ex tangki T1 A/B dilewatkan ke gas separator dan
kemudian ditransfer ke tangki R.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
48
[Link]. Effluent Water Treatment Plant (EWTP)
Proses pada EWTP ada 3 macam, yaitu proses secara fisik, kimiawi, dan
biologis. Air buangan yang mengandung minyak dari kilang Balikpapan I dan II
dipompakan masuk Refinery Waste Stilling Zone (RWSZ). Aliran yang keluar
RWSZ dimasukkan ke dalam Gravity Separator (GS) dimana pada unit ini terjadi
lagi pemisahan fisik secara gravitasi. Setelah itu air buangan dialirkan ke dalam
Equlization Basin (EB) untuk diaduk dengan udara (untuk memudahkan proses
koagulasi, pengurangan partikel-partikel tersuspensi dalam air). Proses koagulasi
ini menggunakan aluminium sulfat dan anion polimer. Asam Klorida (HCl) dan
kaustik soda digunakan untuk mengontrol pH.
Tahap proses selanjutnya adalah Dissolved Air Flotation (DAF). Flok dari
partikel tersuspensi di dalam DAF diapungkan ke permukaan dengan injeksi
udara, dengan adanya injeksi udara ini akan terbentuk lapisan buih pada
permukaaan air yang secara terus-menerus akan dipisahkan dengan skimmer.
Setelah itu, keluaran akan dialirkan secara gravitasi ke bio aeration basin (BAB)
dimana terjadi proses pengolahan limbah secara biologi, lalu masuk ke Biological
Sludge Clarifier dimana lumpur yang terbentuk selama proses aeration
diendapkan dan kemudian dapat diambil. Air jernih yang dihasilkan kemudian
secara overflow dialirkan ke Gravity Head Discharge Chamber.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
49
3.5.2. Kilang Balikpapan II
Kilang Balikpapan II memiliki kapasitas 200 MBSD dan terdiri dari 2
kompleks operasi, yaitu HSC (Hydroskimming Complex) dan HCC
(Hydrocracking Complex).
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
50
Setelah mengalami pemanasan, minyak bumi mentah masuk crude column
pada temperatur 3540C. Pada bagian bottom dari Crude Column dinjeksikkan Low
Pressure Steam (LPS) (untuk mengurangi tekanan parsial hidrokarbon sehingga
fraksi-fraksi ringan yang masih terdapat pada bagian bottom dapat teruapkan).
Overhead gas (O/H) yang keluar dari puncak kolom diinjeksikan NH3 (untuk
menetralisir air yang terkondensasi pada accumulator boot dan untuk
mempertahankan pH air pada range 7-9) dan Corrosion Inhibitor (berfungsi
melindungi sistem Overhead dari korosi).
Kondensat yang terdapat di dalam accumulator selanjutnya dialirkan
dalam Stabilizer Column agar fraksi ringan (< C4) terpisah dengan fraksi yang
lebih berat. Fraksi LGO akan dikirim ke LGO stripper untuk dipisahkan antara
LGO dengan fraksi ringan yang masih terbawa.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
51
naphta dari CDU IV sebanyak 25,1% vol dan dari Hydrocracker Unit (HCU)
sebanyak 74,9% vol.
Senyawa-senyawa seperti sulfur, nitrogen, oksigen dan senyawa-senyawa
lain organometalik harus dihilangkan karena dapat mengakibatkan keracunan
pada katalis pada Unit Platformer-Plant 5. Reaksi-reaksi yang terjadi didalam unit
naphta hydrotreater adalah:
1. Desulfurisasi
2. Denitrifikasi
3. Hidrogenasi olefin
4. Eliminasi olefin
Heavy naphta yang merupakan keluaran dari HCU A/B dan CDU IV
ditampung dalam feed surge drum yang ditambahkan H2 kemudian dipanaskan
dalam HE dan Charge Heater. Sebelum melewati HE, umpan diinjeksikan butyl
merkaptan, yang berfungsi sebagai “sulfiding agent” bagi katalis, yang akan
mempercepat kinerja katalis baru atau memperbaiki kereaktifan katalis yang telah
diregenerasi. Setelah itu masuk reaktor pada suhu 368oC dan keluar pada suhu
371oC.
Aliran yang keluar dari reaktor dilewatkan HE, kemudian diinjeksikan
dengan kondensat dari Wash Water Drum. Aliran tersebut ditampung dalam
produk Separator untuk dipisakan antara H2O dengan H2. Air yang tertampung
dalam Water Boot dikirim ke Sour Water Stripper, sedangkan H2 yang tidak
bereaksi dikembalikan lagi ke aliran umpan.
Selanjutnya produk reactor diumpankan pada Stripper Column. Gas
ringan keluar sebagai produk atas, sedang produk bawah berupa Sweet Naphta/
Hydrotreated Naphta yang siap diumpankan ke Unit Platformer. Gas ringan yang
keluar dikondensasikan dan kondensat yang terbentuk diembalikan ke puncak
Stripper Column sedangkan gas yang tidak terkondensasi dikirim ke Fuel Gas
System.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
52
3. Platformer Unit-Plant 5
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
53
4. LPG Recovery Unit-Plant 6
Umpan bagi unit LPG Recovery adalah dari CDU IV, CDU V, Platformer
Unit dan HCC Unit. Kapasitas pengolahan plant ini sebesar 242 metrik ton/hari.
Tabel 3.20. Spesifikasi umpan LPG Recovery Unit
Komponen Platformer Hydrocracker Crade Unit
H2 S - 0.3 -
H2 0.1 0.1 -
C2 1.2 2.1 -
C2 17.9 7.9 4.0
C 34 45.9 35.3 59.8
i- C4 22.1 35.6 12.1
n-C4 9.9 17.9 23.9
i-C5 2.9 0.8 0.2
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
54
Bahan baku yang diolah pada unit ini adalah Produk LPG dari LPG
Recovery Unit yang memiliki kadar Sulfur masih tinggi. Produk yang didapatkan
berupa LPG dengan kandungan Sulfur rendah. Unit ini pada dasarnya hanya
bertujuan menghilangkan kandungan sulfur yang berlebihan dari produk LPG
yang akan diperdagangkan, sesuai dengan ketentuan tertentu. Didalam unit ini
Sulfur diturunkan dengan menambahkan absorben yaitu caustic soda (NaOH).
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
H2S + NaOH Na2S + H2O
6. Sour Water Stipper –Plant 7
Sour Water System adalah unit yang dirancang untuk mengelola semua air
buangan proses dari HSC (Hydroskiming Complex), sedemikian sehingga air
buangan tersebut dapat digunakan kembali di dalam proses. Air umpan yang
diproses dalam unit SWS mengandung kadar sulfur yang cukup tinggi (air
asam/sour water), air keluaran SWS diharapkan tidak memiliki kandungan Sulfur
di atas 50 ppm sebagai H2S dan konsentrasi NH3 dibawah 100 ppm. Kapasitas
terpasang unit ini adalah 600 metrik ton/hari.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
55
Tabel 3.21. Spesifikasi umpan dan produk Sour Water Stripper
Komponen Aliran (kmol/jam)
Umpan
H2O 3202.8
H2S 8.0
NH3 6.07
H2& HC 4.81
Produk Atas
H2O 7.82
H2S 7.92
NH3 7.67
Produk Bawah
H2O 3194.26
H2S 0.08
NH3 0.40
Air buangan atau Sour water masuk Deggasing Drum untuk dipisahkan
antara fraksi gas/hidrokarbon ringan, minyak dan air yang terdapat pada Sour
Water. Minyak yang terdapat pada permukaan air dipisahkan ke Slop Tank,
sedangkan fraksi gasnya dikirim ke Incinerator. Kandungan air diumpankan ke
Sour Water Stripper.
Sebelum masuk SWS, aliran air dipisahkan terlebih dahulu. Produk atas
kolom stripper, yang berupa gas dikirim ke Incinerator. Sedangkan produk bawah
yang berupa Stripped Water digunakan kembali pada CDU IV dan HVU II.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
56
[Link]. Hydrocracking Complex (HCC)
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
58
Tabel 3.22. Spesifikasi umpan Hydrocracker Unit
Kualitas Harga Metoda Pengujian
Gravity (0API) 26 ASTM D-287
ASTM Dist. (0C) ASTM D-1160
IBP 352
10 % 409
30 % 423
50 % 452
70 % 474
90% 474
FBP 516
Sulphur Content (% wt) 0,09 UOP-380
Total Nitrogen (ppm) 360 UOP-384
Conradson Carbon (% wt) 0,03 ASTM D-189
Heptane Ins. (% wt) 0,05 UOP-614
Metals (Ni + V) (ppm) 2,0 max UOP-391
Colour 4,0 max ASTM D-1500
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
59
Tabel 3.24. Spesifikasi produk cair Hydrocracker Unit
Spesifikasi Light Heavy Light Heavy Diesel
Naphta Naphta Kerosene Kerosene Oil
Sg 60/600F 0,664 0,7358 0,765 0,812 0,833
API Grav 81,6 60,8 53,5 42,8 38,4
Dist (0C)
IBP 32 65 148 176 310
10 % 41 96 153 196 318
30 % 49 100 157 215 330
50 % 55 116 162 240 338
70 % 60 125 166 260 348
90 % 71 136 172 290 362
FBP 62 155 177 310 371
Butana Max 2 - - - -
(%mol)
Sulfur (%wt) - - 5 ppm 5 ppm 5 ppm
Smoke point - - 38 25 -
(mm)
Freeze Point - - -80 -45 -
(0F)
Flash Point - - - - 154
(0F)
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
60
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
61
Produk cair reaktor keluar dari Low Pressure Drum dipompa ke tray 16
dari tray 30 Debuthanizer. Sebagian butana dan hidrokarbon dengan BM lebih
rendah dikeluarkan sebagai produk overhead, sedangkan cairan hasil masuk ke
Product Fractionator.
Aliran umpan masuk ke debuthanizer dipanaskan dahulu sampai suhu
1770C pada pemanas Net Product Heavy Kerosene dan E3-05A-D dengan
pemanas Heavy Kerosene Pump Around. Hasil dasar yang merupakan umpan
yang tidak terfraksinasi diinjeksikan dengan steam, kemudian dialirkan menuju
recycle feed surge drum. Hasil overhead kolom fraksionator terdapat light dan
heavy naphta yang harus dipisahkan untuk umpan plant 5 (platformer). Light
Naphta dialirkan ke Naphta Splitter. Hasil dasar dari heavy naphta ini dikirimkan
ke plant 4 (naphta hydrotreater) melewati Naphta Splitter Feed/Bottom Exchanger
dan Heavy Naphta Cooler (untuk menurunkan suhu sampai 380C). Hasil puncak
berupa Light Naphta dikondensasikan dan kemudian ditampung dalam Naphta
Splitter Receiver pada suhu 540C, dari sini gas dibuang ke flare, sekitar 4% dari
overhead destilat dikembalikan ke top tray sebagai refluks. Sedangkan Net
Overhead Product dipompa ke Light Naphta Splitter melewati Naphta
Stripper/Bottom Exchanger untuk dipanaskan sampai 840C.
Uap stripper pada dasar kolom diperoleh dari sirkulasi cairan dasar melalui
Reboiler dengan memanfaatkan panas dari produk diesel. Cairan dasar Light
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
62
Naphta Splitter merupakan produk Light Naphta lalu dikirim ke Storage. Produk
overhead dari Light Naphta Splitter merupakan LPG dan dikirim ke LPG Storage.
Berikut ini adalah bagan proses yang terjadi di Hydrocracker Unibon:
3. Hydrogen Plant-Plant 8
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
63
Proses pembuatan Hidrogen didasarkan atas reaksi gas Metana dengan kukus.
Untuk menghilangkan senyawa Sulfur, yang dapat merusak katalis pada proses
pembentukan Hidrogen, gas Metana juga mengalami pretreating.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
64
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
66
fraksi naphta dengan fraksi yang lebih ringan (LPG)
Kapasitas : Uap = 11.893 m3/jam; Cair = 948,5 m3/jam
Ukuran : ID bagian atas 2.600 mm. ID bagian bawah
3.700 mm, tinggi 28.100 mm
Jumlah tray : 35 sieve tray, tray 1 -7 downcomer 2 pass
tray 18 – 35 downcomer 4 pass
Berat kosong : 77.700 kg
Volume : 248 m3
Kondisi operasi : T puncak = 53 0C, T dasar = 206 0C
P puncak = 10,1 kg/cm2g, P dasar = 10,5 kg/cm2g
Bahan kontruksi : Carbon Steel
Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
67
Jumlah tray : 3 tray dan 3 packed section
Berat kosong : 583.000 kg
Volume : 4.025 m3
Kondisi operasi : T puncak = 43 0C, T dasar = 339 0C
P puncak = 10 mmHg, P dasar = 40 mmHg
Bahan kontruksi : Killed Carbon Steel
Pabrikasi : Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1982.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
69
ringan dari fraksi naphta
Kapasitas : Uap = 5.261 m3/jam; Cair = 559 m3/jam
Ukuran : ID bagian atas 1.900 mm, ID bagian bawah 3.200 mm
tinggi 17.900 mm
Jumlah Tray : 20 sieve tray
Berat kosong : 42.100 kg
Volume : 127,5 m3
Kondisi operasi : T puncak = 1830C, T dasar = 2330C
P puncak = 11,04 kg/cm2g, P dasar = 11,25 kg/cm2g
Bahan kontruksi : Carbon Steel (alloy C, Mn, P, S, dan Si)
Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
70
Bahan kontruksi : Alloy Steel
Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1981.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
71
tray spacing 0,4 m; tray 20 – 40 downcomer 2 pass
dengan tray spacing 0,75 m
Berat kosong : 57.400 kg
Volume : 78 m3
Kondisi operasi : T puncak = 520C, T dasar = 1040C
P puncak = 32,2 kg/cm2g, P dasar = 32,7 kg/cm2g
Bahan kontruksi : Carbon Steel
Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
72
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
73
Bahan kontruksi : Killed Carbon Steel
Pabrikasi : Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
76
umpan boiler agar tidak terjadi pembentukan kerak (scale), baik pada boiler
maupun pada daerah pengguna steam.
Unit demineralisasi ini menggunakan penukar ion sebanyak tiga unit
dengan pembagian sebagai berikut:
1. 1 unit cation exchanger
2. 1 unit anion exchanger
3. 1 unit mixed bed exchanger (campuran anion dan kation)
Mula-mula air dari WTP disaring dengan menggunakan gravel filter, yaitu
bed yang berisi batu-batu kecil, untuk menahan partikel-partikel yang berukuran
besar. Setelah melewati gravel filter, air dialirkan ke penukar kation. Dalam bed
penukar kation, ion-ion logam, seperti Ca+, Mg+, dan Na+, diikat oleh resin. Jenis
resin yang digunakan dalam cation exchanger adalah resin Strong Acid Cation
(SAC). Gas CO2 dihasilkan sebagai produk samping selama ion-ion logam diikat
oleh resin. Reaksi yang terjadi dalam cation exchanger adalah sebagai berikut:
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
77
asam-asam mineral, seperti asam sulfat (H2SO4), dan proses pengikatan asam-
asam lemah, asam silika, dan sisa-sisa asam karbonat.
Pengikatan asam-asam mineral dilakukan oleh resin anion yang bersifat
basa lemah (weak basic anion), sedangkan asam-asam lemah, asam silika, dan
sisa-sisa asam karbonat diikat oleh resin anion yang bersifat basa kuat (strong
basic anion). Reaksi yang menggambarkan proses dalam anion exchanger adalah
sebagai berikut:
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
78
[Link]. Boiler
Terdapat 6 unit HHP Boiler, masing- masing dengan kapasitas desain 125
ton per jam. Untuk memenuhi kebutuhan steam HHS secara normal 430 - 460 ton
per jam, maka boiler dilakukan pengaturan operasional secara optimal dan
mempertimbangkan faktor kehandalannya.
Steam yang diproduksi dengan tekanan 60 kg/cm2g untuk kebutuhan
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan kilang sebagai driver dan pemanas.
Sistem pengaturan boiler dengan menggunakan Distributed Control System
(DCS).
[Link]. Steam
Jenis steam dan kondesat yang dibutuhkan dan dihasilkan oleh kilang
Balikpapan dapat dilihat pada tabel berikut.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
79
Tabel 3.26. Klasifikasi Steam
Jenis P T Konsumsi
(kg/cm2 g) (°C) (ton/jam)
High High 60 475 416
Pressure Steam
High Pressure 32 400 89
Steam
Middle Pressure 17 315 360
Steam
Low Pressure 10 220 43.7
Steam
Low Low 3 143 26.7
Pressure Steam
Steam ini dihasilkan oleh boiler yang terdapat pada unit utilitas dan
beberapa waste heat boiler yang ada pada kilang I dan II. Penggunaan steam di
kilang Balikpapan I dan II antara lain adalah:
Stripping steam pada kolom-kolom fraksionasi untuk menunjang penguapan
senyawa-senyawa hidrokarbon ringan.
Menggerakan turbin pompa dan kompressor.
Steam ejector pada vakum unit.
Atomizing steam dalam burner yang memakai fuel oil.
Steam coil untuk memenaskan fluida dalam tangki.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
80
Tabel 3.27. Spesifikasi Air Umpan Boiler PERTAMINA RU V Balikpapan (lanjutan)
Kriteria Unit Feed Water
P alkalinitas (as CaCO3) ppm -
Hydrazine (N2H4) ppm > 0,01
Total Fe ppm < 0,05
Total Cu ppm <0,03
Disolved Solid ppm -
Cl- ppm -
Phosporic acid ions ppm -
Silica (SiO2) ppm -
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
81
[Link]. Penyediaan Listrik
Penyediaan listrik untuk kegiatan operasional Kilang Balikpapan I maupun
II dipenuhi oleh PT. PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan sendiri. Energi
listrik yang dihasilkan, selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasi
kilang, juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di perumahan.
Listrik dibangkitkan oleh generator yang digerakkan turbin uap. Steam
penggerak turbine dirancang sesuai steam leveling (HHP Steam, HP Steam dan
MP Steam) dan saling terkait secara kesisteman.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
82
[Link]. Sistem Proses Auxiliary Cooling Water
Auxiliary Cooling Water (ACW) disimpan dalam expansion tank yang
diselimuti dengan gas nitrogen agar terbebas dari udara. Sebelum masuk ke
supply header, ACW dari expansion tank didinginkan dalam ACW cooler.
Setelah ACW digunakan untuk mendinginkan peralatan, ACW dikumpulkan
dalam returnheader dan didinginkan lagi sebelum digunakan kembali.
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
84
[Link]. Sistem Nitrogen
Unit nitrogen mempunyai 3 train: A, B dan C, akan tetapi yang masih
beroperasi adalah train A dan Bdimana masing-maing berkapasitas 175 Nm3/jam
gas N2 dan 85 Nm3/jam nitrogen cair. Kandungan oksigen tidak boleh lebih dari
100 ppm. Unit-unit utama yang membutuhkan oksigen adalah:
1. Hydrocracker (termasuk blanketing)
2. Napta hydrotreater (termasuk blanketing)
3. Platformer (termasuk blanketing)
4. Hydrogen Plant
5. Storage dan loading
6. Crude Unit (blanketing)
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
87
4. Effluent Water Treatment Plant (EWTP)
Unit ini berfungsi untuk mengurangi kandungan minyak dan senyawa
berbahaya lainnya sampai batas aman untuk dialirkan ke laut. Air limbah dari
kilang lama, wax plant dan crude desalter masuk ke stilling zone untuk
memisahkan minyak dengan menggunakan oil skimmer dan buffle. Self cleaning
wax screen pada bagian atas stilling zone akan menangkap wax. Minyak dialirkan
ke recover slop sump, lumpur yang mengendap dialirkan melalui empat buah
sludge removal pipe, sedangkan airnya dialirkan ke gravity separator.
5. Proses Slops Oil
Minyak dari refinery waste stilling zone separator, equalization basin,
storm water stilling zone, CPI separator, dan storm water basin dikumpulkan
dalam recovered slop pump dan temperaturnya dijaga tetap 66oC dengan memakai
heater. Pemanasan yang dilakukan bertujuan untuk memudahkan pemisahan
antara minyak dengan air yang terbawa ke recovered slop pump. Minyak
dipompakan ke slop oil tank, sedangkan airnya dikembalikan lagi ke refinery
water stilling zone atau CPI separator
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
88
kepemilikan, serta bebas dari tekanan (tidak boleh diintervensi), sesuai
[Link].-052/E15000/2001-SO tanggal 11 Desember 2001.
Laboratorium Pertamina RU V memiliki tugas utama sebagai berikut:
Mengontrol kualitas untuk penunjang kelancaran operasi kilang RU V
Quality Assurance sebagai jaminan mutu produk Pertamina RU V
Memberikan layanan pengujian untuk pelanggan internal dan eksternal.
3.7.1. Pembagian Seksi Laboratorium
Pada fungsi Laboratorium di PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V
Balikpapan, dibagi menjadi 3 seksi, yaitu:
1. Seksi Evaluasi Crude
Seksi ini melakukan evaluasi crude yang belum pernah diolah di kilang
Balikpapan dan crude lama, tetapi menunjukkan perubahan spesifikasi. Evaluasi
crude dilakukan dengan cara mengolah sampel crude pada kondisi operasi yang
sama dengan kondisi kilang.
2. Seksi Produk Cair (BBM dan non-BBM)
Laboratorium di seksi produksi cair bertugas memeriksa sifat-sifat fisik
bahan baku, produk setengah jadi, dan produk akhir yang fraksinya adalah cair
seperti bensin, avtur, kerosin, solar dan LSWR pada saat disimpan di tangki dan
saat dikapalkan.
3. Seksi Produk Gas
Tugas dari laboratorium/seksi ini adalah memeriksa bahan baku, produk
setengah jadi, dan produk akhir dalam fase gas, serta pengujian bahan-bahan
kimia baru yang akan diterima oleh Pertamina. Pengujian dilakukan untuk
mengetahui komposisi gas secara kimia, sedangkan secara fisik yang diuji adalah
RVP dan specific gravity.
3.7.2. Alat-alat Laboratorium
Berikut ini adalah alat – alat yang terdapat pada Laboratorium di PT.
PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan
1. Laboratorium Produk Cair
Open Hydromete: Untuk mengukur Spcific Gravity (ASTM D 1298)
ASTM Distillator Column: untuk mengukur ASTM Distillation (ASTM D
86-79)
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
89
Pensky Martens Closed U: untuk mengukur Flash Point (ASTM D 93-80)
Tembaga, tabung reaksi, bomb: untuk mengukur Copper Strip Corrosion
(ASTM D130-80)
Manometer yang dirangkai pada dua buah tabung silinder: untuk mngukur
Reid Vapour Pressure (ASTM D 323-79)
Tabung logam lampu pijar: untuk mengukur smoke point (IP 57/55)
Kurs porcelene: untuk mengukur Conradson Carbon Residue (ASTM D 189-
76)
Cawan: untuk mengukur Pour point (ASTM DD 97-66)
Porselin, water bath: untuk mengukur Melting Point of Petroleum Wax
(ASTM D 87-88)
2. Laboratorium Produk Gas
Kromatografi 4 kolom: untuk mengukur komposisi LPG (ASTM D 2163-77)
Kromatografi 3 kolom: untuk mengukur komposisi Natural Gas (ASTM D
1945-64)
Dregerwerk (pipet berskala yang di dalamnya terdapat susunan adsorban):
untuk mengukur kadar CO2 dan CO
Closed Hydrometer: untuk mengukur Specific Gravity (ASTM D 1298)
Tembaga, tabung reaksi, bomb: untuk mngukur Copper Strip Corrosion
(ASTM DD 1838-74)
Manometer yang dirangkai pada dua buah tabung silinder: untuk mengukur
Reid Vapour Pressure (ASTM D 323-79)
3.7.3. Fungsi dari Laboratorium
Sementara fungsi dari masing-masing laboratorium adalah sebagai berikut.
1. Laboratorium Produk Cair
Mengukur Specific Gravity (ASTM D 1298)
Mengukur Reid Vapour Pressur (ASTM D 323-79)
Mengukur ASTM Distillation
Mengukur Flash Point (ASTM D 93-80)
Mengukur Color (ASTM 156-64 dan D 1500-64)
Mengukur Copper Strip Corrosion (ASTM D 130-80)
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
90
Mengukur Smoke Point (IP 57/55)
Mengukur Conradson Carbon Residue (ASTM D 189-76)
Mengukur Pour Point (ASTM D 97-96)
Mengukur Melting Point of Petroleum Wax (ASTM D 87-88)
Mengukur Oil Content of Petroleum Wax (ASTM D 721-68)
Mengukur Sulphur Content
2. Laboratorium Produk Gas
Mengukur komposisi LPG (ASTM D 2163-77)
Mengukur komposisi Natural Gas (ASTM D 1945-64)
Mengukur Copper Strip Corrotion (ASTM D 1838-74)
Mengukur Kadar CO2 dan CO
Mengukur Specific Gravity (ASTM D 1298)
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
91
Tabel 3.33. Pendistribusian Produk-Produk RU V Balikpapan
Pelanggan / Segmen Pasar
PRODUK UPms
NIAGA
I II III IV V VI VII VIII
BBM :
Premium 88 x x xx xx x
Kerosene x x x xx xx x
Solar x x x xx xx x
NBBM :
LPG x xx xx xx
Wax :
HHP xx xx xx xx xx xx xx xx
HSR xx xx xx xx xx xx xx xx
YBW xx xx xx xx xx xx xx xx
FRW x
BBK :
Avtur xx xx xx xx
Pertamax xx
Produk Lain :
Naphta UP VI x
LSWR x
Smooth
Fluid 05 EP KTI
UPms I : Medan
UPms II : Palembang
UPms III : Jakarta
UPms IV : Semarang
UPms V : Surabaya
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
92
UPms VI : Balikpapan
UPms VII : Makassar
UPms VIII : Jayapura
XX = Pelanggan Utama
X = Pelanggan Lainnya
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan studi literatur yang diperoleh dari orientasi umum, orientasi
khusus, kunjungan lapangan, serta referensi – referensi lain di PT. PERTAMINA
(Persero) Refinery Unit V Balikpapan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. PT. PERTAMINA (Persero) Unit Pengolahan V berganti nama menjadi PT.
PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V pada tanggal 9 Oktober 2008.
2. PT. PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan merupakan pabrik pengolahan
minyak mentah menjadi produk BBM dan NBM dan bukan merupakan
eksplorasi minyak bumi. PERTAMINA Refinery Unit V Balikpapan
merupakan unit pengolahan dengan kapasitas 260 MBSD.
3. RU V terdiri dari Kilang Balikpapan I dengan kapasitas pengolahan 60
MBSD dan Kilang Balikpapan II dengan kapasitas pengolahan 200 MBSD.
4. PT. PERTAMINA (Persero) RU V menghasilkan produk-produk sebagai
berikut:
a. Produk BBM : Pertamax, Pertadex High Quality, Solar Plus, Motor
Gasoline (Premium), Kerosene, Avtur, solar (Minyak Diesel) dan Fuel oil
(Minyak Bakar)
b. Produk NON-BBM: Heavy Naphta, LPG dan LSWR
5. Penyaluran produk hasil pengolahan RU V didistribusikan untuk Indonesia
Bagian Timur dan sebagian wilayah Jawa.
6. Kilang Balikpapan I terdiri dari Crude Distillation Unit V (CDU V), High
Vacuum Unit III (HVU III), Dehydration Plant (DHP), dan Effluent Water
Treatment Plant (EWTP).
7. Kilang Balikpapan II terdiri dari dua komplek, yaitu:
a. Hydroskimming Complex (HSC) yang meliputi
Crude Distillation Unit IV (CDU IV), Plant 1
Naphtha Hydrotreater (NHT), Plant 4
Platformer Unit, Plant 5
LPG recovery Unit, Plant 6
93 Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
94
4.2. Saran
Setelah melaksanakan kerja praktik di PT. PERTAMINA (Persero)
Refinery Unit V Balikpapan, penulis memiliki saran untuk perusahaan guna
meningkatkan performa dan kualitas perusahaan tersebut, diantaranya adalah
sebagai berikut.
1. Etos Kerja yang ditunjukkan karyawan pada umumnya sangat baik, agar
selalu dipertahankan dan ditingkatkan
2. Meningkatkan proses pembelajaran bagi mahasiswa yang melaksanakan kerja
praktik di PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V Balikpapan agar
mahasiswa tersebut memiliki kualitas dan pengetahuan yang berguna di dunia
kerja. Hal tersebut dikarenakan mahasiswa – mahasiswa tersebut yang akan
menjadi penerus bangsa, salah satunya penerus bagi perusahaan
3. Untuk mahasiswa/mahasiswi yang mengikuti kegiatan Kerja Praktek di PT.
PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan, diharapkan lebih aktif dalam
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
95
Universitas Indonesia
Laporan Kerja Praktik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN
DAFTAR PUSTAKA
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 1: Crude Distillition
Unit. London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 2: Vacuum Distillation
Unit. London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 4: Naphta Hydrotreater
Unit. London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 5: Platforming Process
Unit. London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Plant 8: Hydrogen Plant.
London.
Becthel Great Britain Ltd. 1983. Operating Manual Utilities. London.
Jereh. 2018. Mechanical Tank Cleaning and Sludge Recovery. [ONLINE]
Available at: [Link]
management/mechanical-tank-cleaning-and-sludge-recovery [Accessed at:
18 Juli 2018].
Jones, David S. J. 2006. Handbook of Petroleum Processing. Netherland:
Springer.
Pertamina. 2016. Presentasi Energy Conservation and Loss Control. Balikpapan:
Pertamina.
Pertamina. 2016. Presentasi Oil Movement. Balikpapan: Pertamina.
Pertamina. 2016. Presentasi Refinery Planning and Optimization. Balikpapan:
Pertamina.
Petro Wiki. 2018. Floating Roof Tanks. [ONLINE] Available at:
[Link] [Accessed at: 20 Juli 2018].
Speight, James G. 2001. Handbook of Petroleum Analysys. Canada: John Wiley
& Sons, Inc.
WPE. 2018. Sludge Oil Recovery System. [ONLINE] Available at:
[Link] [Accessed
at: 19 Juli 2018].
96 Universitas Indonesia
97
Universitas Indonesia