UPAYA MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL ANTAR TEMAN SEBAYA
MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK
PADA SISWA KELAS VIII
SMP MUHAMMADIYAH
BANYUWANGI
FITRI PUJI RAHAYU
148620100860
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI BANYUWANGI
2018
A. JUDUL
UPAYA MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL ANTAR TEMAN
SEBAYA MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA
KELAS VIII
SMP MUHAMMADIYAH BANYUWANGI
B. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Manusia terlibat dalam situasi sosial, dimana terdapat hubungan antara manusia
yang satu dengan manusia yang lain yang dapat saling mempengaruhi. Hubungan
sosial dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang
sederhana. Semakin dewasa, kebutuhan manusia menjadi kompleks, dan dengan
demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi sangat kompleks.
Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang
lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi untuk berpartisipasi dan
berkontribusi memajukan kehidupan masyarakatnya. Remaja sebagai makhluk
sosial yang membutuhkan kehadiran orang lain, dibutuhkan adanya keselarasan
diantara manusia itu sendiri. Agar interaksi berjalan dengan baik, remaja
diharapkan untuk dapat berfikir, bersikap, dan bertingkah laku yang sesuai atau
cocok dengan tuntutan lingkungannya serta eksistensinya sebagai seorang remaja.
Harapan dan tuntutan tersebut diistilahkan dengan tugas perkembangan remaja.
Menurut Havigurst dalam Hurlock (1997: 9) menyatakan bahwa pengertian tugas
perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar periode tertentu
dari kehidupan manusia, individu yang jika berhasil akan menimbulkan fase
bahagia dan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas
berikutnya. Akan tetapi kalau gagal menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan
dalam menghadapi tugas-tugas.
Perkembangan berikutnya. Hurlock (1997: 206) menyatakan bahwa awal masa
remaja berlangsung kira-kira dari usia 13 tahun samapai 16 tahun atau 17 tahun,
dan akhir masa remaja bermula dari 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun yaitu usia
matang secara hukum. Periode ini terjadi perubahan besar dan esensial mengenai
kematangan fisik dan psikis yang berpengaruh terhadap perkembangan berfikir,
bahasa, emosi dan sosial remaja. Remaja sebagai manusia yang sedang tumbuh
dan berkembang terus melakukan interaksi sosial baik antara remaja maupun
terhadap lingkungan lain. Salah satu tugas dari perkembangan masa remaja yang
tersulit adalah hubungan dengan penyesuaian sosial (Hurlock, 1997: 213), remaja
harus menyesuaiakan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya
belum pernah ada dan harus menyesuaiakan dengan orang dewasa diluar
lingkungan keluarga dan sekolah. Menurut Alisyahbana dalam Ali dan Asroi
(2005: 85) hubungan sosial diartikan sebagai cara-cara individu bereaksi terhadap
orang-orang disekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya,
termasuk juga penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti makan dan minum
sendiri, berpakaian sendiri, bagaimana mentaati peraturan-peraturan dan
perjanjianperjanjian dalam kelompok atau organisasi, dan sebagainya. Menurut
Hurlock (1997:13) untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja
harus banyak membuat penyesuaian baru yang terpenting dan tersulit adalah
penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok teman sebaya,
Perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru
dalam seleksi pemimpin. Kelompok teman sebaya memegang peranan penting
dalam kehidupan remaja. Remaja sangat ingin diterima dan dipandang sebagai
anggota kelompok teman sebaya, baik di sekolah maupun di luar sekolah, oleh
karenanya mereka cenderung bertingkah laku seperti kelompok teman sebayanya.
Remaja mendapatkan pengakuan sebagai anggota kelompok baru yang ada dalam
lingkungan sekitarnya melalui proses adaptasi. Remaja pun rela menganut
kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam suatu kelompok remaja. Setiap individu
kebutuhan untuk dapat diterima merupakan suatu hal yang sangat mutlak sebagai
mahluk sosial. Remaja merasa sangat menderita mana kala suatu saat tidak
diterima atau bahkan diasingkan oleh kelompok teman sebayanya. Penderitaannya
akan lebih mendalam dari pada tidak diterima oleh keluarganya sendiri.
Berdasarkan kenyataan di lapangan yang diperoleh dari hasil wawancara dengan
guru pembimbing dan observasi awal dapat diperoleh informasi bahwa di SMP
MUHAMMADIYAH BANYUWANGI terdapat siswa-siswa yang dapat menjalin
hubungan sosial dengan baik dan ada siswa yang kurang dapat menjalin hubungan
sosial dengan baik, gejala yang muncul antara lain siswa kurang dapat
menunjukan komunikasi antar pribadi yang baik, sehingga menyebabkan
komunikasi yang kurang efektif, baik komunikasi verbal maupun non verbal,
misalnya mudah cemas, mudah gugup, ketika berkomunikasi tidak
memperhatikan kontak mata dengan lawan komunikasi, lebih pendiam, selain itu
siswa yang kurang dapat menjalin hubungan sosial dengan baik mengalami.
Kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan teman dan lingkungan sekitarnya,
sehingga menyebabkan kurangnya kerjasama siswa dilingkungan sekolah.
Kesulitan yang dialami siswa dalam menjalin hubungan sosial dengan teman
sebayanya dapat menimbulkan masalah dalam mengembangkan potensi yang
dimilikinya sehingga dapat mempengaruhi prestasinya disekolah. Melihat masa
remaja yang sangat potensial dan dapat berkembang kearah positif maupun negatif
maka intervensi edukatif dalam bentuk pendidikan, bimbingan maupun
pendampingan sangat diperlukan untuk mengarah perkembangan potensi remaja
tersebut agar berkembang ke arah positif dan produktif. Layanan bimbingan dan
konseling di sekolah bertujuan untuk membantu individu mengembangkan diri
secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang
dimiliknya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya ), berbagai latar
belakang yang ada serta sesuai dengan tuntutan positif linkungannya. Menurut
Prayitno (1995: 2) menyatakan bahwa layanan bimbingan kelompok merupakan
salah satu layanan bimbingan dan konseling yang bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan sosialisasi siswa, khususnya kemampuan
komunikasi peserta layanan yang di berikan oleh konselor sekolah untuk
membantu individu menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang
memiliki berbagai wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian dan
ketrampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan linkungannya.
Kemampuan bersosialisai/ berkomunikasi seseorang sering terganggu oleh
perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang tidak obyektif, sempit, dan
terkungkung serta tidak efektif, maka dengan adanya kegiatan bimbingan
5 kelompok diharapkan mampu memberikan bantuan kepada individu agar dapat
mengatur kegiatan-kegiatan hidup, mengembangkan sudut pandangnya,
mengambil keputusannya sendiri dan menanggung bebannya sendiri serta dapat
mengembangkan perkembangan sosial secara maksimal. Layanan bimbingan
kelompok dijadikan pilihan layanan untuk meningkatkan hubungan sosial siswa
terhadap teman sebaya karena layanan bimbingan kelompok merupakan proses
pemberian bantuan dalam situasi kelompok dari konselor kepada klien dengan
memanfaatkan dinamika kelompok untuk mencapai tujuan yaitu perubahan pada
diri klien baik itu dalam bentuk pandangan, sikap, sifat, maupun keterampilan
yang lebih memungkinkan siswa untuk mewujudkan diri secara lebih optimal
dengan tetap memperhatikan potensi yang dimilikinya. Pada pelaksanaan
bimbingan kelompok, dinamika kelompok sengaja ditumbuh kembangkan karena
dinamika kelompok adalah hubungan interpersonal yang ditandai dengan
semangat kerjasama antar anggota kelompok, saling berbagi pengetahuan,
pengalaman dan mencapai tujuan kelompok, sehingga melalui dinamika kelompok
kemampuan berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan teman sebaya dapat
ditingkatkan. Berdasarkan fenomena di atas maka penulis terdorong untuk
mencoba mengkaji permasalahan tersebut dalam pembuatan skripsi yang berjudul
” Upaya Meningkatkan intraksi Sosial Antar Teman Sebaya Melalui Layanan
Bimbingan Kelompok Pada Siswa Kelas VIII SMP MUHAMMADIYAH
BANYUWANGI.
2. Identifikasi Masalah
Dengan melihat latar belakang masalah di ats ada beberapa permasalahan yang
dapat diidentifikasi penelitian ini yaitu :
2.1 Terdapat beberapa siswayang memiliki interkasi sosial ynag sangat rendah
dalm pergaulan dalam sekolah seperti
3. Pembatasan Masalah
Penelitian ini hanya dibatasi dengan tujuan untuk menganalisis interaksi sosial
antar teman sebaya siswa kelas VIII SMP MUHAMMADIYAH BANYUWANGI
yang dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok.
4. Perumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan
masalah utama dalam penelitian ini adalah ‟‟Apakah interaksi sosial antar teman
sebaya siswa kelas VIII SMP MUHAMMADIYAH BANYUWANGI dapat
ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok?”. Dari rumusan masalah
utama dapat jabarkan menjadi tiga rumusan masalah meliputi
a. Bagaimana hubungan sosial antar teman sebaya sebelum diberikan layanan
bimbingan kelompok pada siswa kelas VIII SMP MUHAMMADIYAH
BANYUWANGI?
b. Bagaimana hubungan sosial antar teman sebaya setelah diberikan layanan
bimbingan kelompok pada siswa kelas VIII SMP MUHAMMADIYAH
BANYUWANGI?
5. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan yang
terjadi pada Interaksi Sosial Antar Teman Sebaya Siswa Kelas VIII SMP
Muhammadiyah Banyuwangi Melalui Layanan Bimbingan Kelompok.
6. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat sebagai
berikut :
1) Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan
bimbingan dan konseling dalam meningkatkan upaya perkembangan interaksi
antar siswa sebaya dalam menjalin hubungan sosial antar teman sebaya.
2) Manfaat Praktis
1. Bagi Siswa
Siswa dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial antar teman sebaya,
sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial di
lingkungan sekolah, keluarga maupun di masyarakat.
2. Bagi Konselor
Penelitian ini dapat digunakan Sebagai masukan dalam melaksanakan kegiatan
Bimbingan dan konseling di sekolah khususnya dalam memberikan layanan
bimbingan kelompok.
3. Bagi Peneliti
Penelian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam menerapkan ilmu
yang telah diperoleh selama perkuliahan.
C. Landasan Teori dan Perumusan Hipotesis
1. Kajian Teori
1.1 Pengertian Bimbingan
Jika ditelaah berbagai sumber akan dijumpai pengertian-pengertian yang
berbeda mengenai bimbingan, tergantung dari jenis sumbernya dan yang
merumuskan pengertian tersebut. Perbedaan tersebut ddisebabkan kelainan
pandangan dan titik tolak, tetapi perbedaan itu hanyalah perbedaan tekanan atau
dari sudut mana melihatnya.
Berdasarkan pasal 1 27 peraturan pemerintahan nomor 29/90, “Bimbingan
merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya
menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan. “
(Depdikdud, 1994, yang dikutip dewa ketut sukardi,2010:35-36).
Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi dimaksudkan agar peserta didik
mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri, serta menerimanya secara
positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut. Bimbingan
dalam rangka mengenal lingkungan dimaksudkan agar peserta didik mengenal
secara objektif lingkungan , baik lingkungan social dan lingkungan fisik, dan
menerima berbagai kondisi lingkungan itu secara positif dan dinamis pula.
Pengenalan lingkungan itu, yang meliputi lingkungan rumah, lingkungan sekolah,
lingkungan masyarakat, dan alam sekitar serta “lingkungan yang lebih luas”,
diharapkan menunjukan proses penyelesaian diri peserta didik dengan lingkungan
yang dimaksud, serta dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pengembangan
diri secara mantap dan berkelanjutan. Sedangkan bimbingan dalam rangka
merencanakan masa depan dimaksudkan agar peserta didik mampu
mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa depan dirinya
sendiri, baik yang menyangkut bidang pendidikan, bidang karir, maupun bidang
budaya/keluarga/kemasyarakatan.
Bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada
individu yang dilakukan secara berkesetimbangan supaya individu tersebut dapat
memahami dirinya sendiri, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat
bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan
sekolah,keluarga,dan masyarakat dan kehidupan pada umumnya. Dalam demikian
, dia akan dapat menikmati kebahagian masyarakat pada umumnya. Bimbingan
membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk
social.(Rochman Natawidjaja , 1987:31, yang dikutip dewa ketut
sukardi,2010:36 ).
Pakar bimbingan yang lain mengungkapkan bahwa:”bimbingan ialah suatu proses
pemberian bantuan yang terus-menerus dan sistematis dari pembimbing kepada
yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan
perwujudan diri, dalam mencapai tingkah perkembangan, yang optimal dan
penyesuaian diri dengan lingkungannya.([Link],1988:12, yang dikutip dewa
ketut sukardi,2010:37)
Sedangkan pakar yang lain mengatakan bahwa: Bimbingan merupakan bantuan
yang diberikan kepada seseorang (individu)atau sekelompok orang agar mereka
itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemudian ini
mencangkup lima fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi mandiri,
yaitu: (a) mengenal diri sendiri dan lingkungan, (b) menerima diri sendiri dan
lingkungan secara positif dan dinamis, (c) mengambil keputusan, (d)
mengarahkan diri, dan (e) mewujudkan diri. (Prayitno, 1937:35, yang dikutip
dewa ketut sukardi,2010:37).
Dengan membandingkan pengertian bimbingan yang telah dikemukakan di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa: Bimbingan adalah proses pemberian bantuan
kepada seseorang atau sekelompok orang secara trus-menerus dan sistematis oleh
guru pembimbing agar individu atau sekelompok individu menjadi pribadi yang
mandiri. Kemandirian yang menjadi tujuan usaha bimbingan ini mencangkup
lima fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi mandiri, yaitu: (a)
mengenal diri sendiri dan lingkungannya sebagaimana adanya,(b) menerima diri
sendiri dan lingkungan yang positif dan dinamis,(c) mengambil keputusan, (d)
mengarahkan diri sendiri, dan (e) mewujudkan diri sendiri.(Dewa ketut
sukardi,2010:37)
1.2 Pengertian konseling
Konseling sebagai terjemahan dari “counseling” merupakan bagian dari
bimbingan, baik sebagai layanan maupun sebagai teknik. “layanan konseling adalah
jantung hati layanan bimbingan secara keseluruhan” (Sukardi, 1985: 11, yang
dikutip Dewa ketut sukardi,2010:37). Dan Ruth Strang menyatakan bahwa
“counseling is most important tool of guidance” (Ruth Strang, 1958, yang dikutip
Dewa ketut sukardi,2010:37). Jadi konseling merupakan inti dari alat yang paling
penting dalam bimbingan.
Selanjutnya Rochman Natawidjaja mendefinisikan bahwa konseling merupakan satu
jenis layanan yan g merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling dapat
diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua individu, dimana yang seorang
(yaitu konselor) berusaha membantu yang lain (yaitu klien) untuk mencapi pengertian
tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang
dihadapinyapada waktu yang akan dating. (Rochman Natawidjaja, 1987: 32, yang
dikutip Dewa Ketut Sukardi,2010:38).
Pakar lain mengungkapkan bahkan: “konseling itun merupakan upaya bantuan yang
diberikan kepada konselisupaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri
sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dalam memperbaiki tingkah lakunya pada masa
yang akan dating. Dalam pembentukan konsep yang sewajarnya mengenai: (a) dirinya
sendiri,(b) orang lain,(c) pendapat orang lain tentang dirinya, (d) tujuan-tujuan yang
hendah dicapai,dan (e) kepercayaan diri”. (Moh. Surya, 1988:38, yang dikutip Dewa
Ketut Sukardi,2010:38).
Lebih lanjut prayitno (1983:3), mengemukakan: “Konseling adalah pertemuan empat
mata antara klien dan konselor yang berisi usaha yang laras, unik, dan human
(manusiawi), yang dilakukan dalam suasana keahlian yang didasarkan atas norma-
norma yang berlaku.”
Dengan membandingkan pengertian tentang konseling yang dikemukakan pakar di
atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa konseling merupakan suatu upaya bantuan
yang dilakukan dengan empat mata atau tatap muka antara konselor dank lien yang
berisi usaha yang laras, unik, human (manusiawi), yang dilakukan dalam suasana
keahlian dan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku, agar klien memperoleh
konsep diri dan kepercayaan diri sendiri dalam masa yang akan datang.
Guru pembimbing yang telah memahami secara benar dan mendasar prinsip-prinsip
dasar bimbingan dan konseling ini akan dapat menghilangkan diri dari kesalahan dan
penyimpangan-penyimpangan dalam praktek pemberian layanan bimbingan dan
konseling. Prinsip-prinsip yang akan dibahas adalah tinjauan dari prisnsip-prinsip
secara umum, dan prinsip khusus. Prinsip-prinsip khusus adalah prinsip-prinsip
bimbingan yang berkenan dengan sasaran layanan, prinsip yang berkenaan dengan
permasalahan individu, prinsip yang berkenaan dengan program layanan, dan prinsip-
prinsip bimbingan dan konseling yang berkenaan dengan pelaksanaan
pelayanan.(Dewa ketut sukardi,2010:38-39)
1.3 Hubungan Sosial
Menurut Alisyahbana dalam (Ali dan Asroi, 2005: 85) „hubungan sosial
diartikan sebagai cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang disekitarnya
dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya. Menyangkut juga
penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti makan dan minum sendiri,
berpakaian sendiri, bagaimana mentaati peraturan-peraturan dan perjanjian-
perjanjian dalam kelompok atau organisasinya, dan sebagainya „.
Sedangkan menurut Sunarto dan Hartono (2002:126) menjelaskan bahwa
„hubungan sosial merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan,
dimana setiap individu berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan
kehidupan sosial, bagaimana seharusnya seseorang hidup di dalam kelompoknya,
baik kelompok kecil maupun kelompok masyarakat luas‟.
Syamsu dalam (Yusuf, 2008: 122) juga mengemukakan bahwa
„hubungan sosial adalah cara individu dalam menyesuaikan diri terhadap norma-
norma kelompok, moral, dan tradisi, meleburkan diri menjadi satu kesatuan saling
komunikasi dan bekerja sama‟.
Berdasarkan pada pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli
tersebut diatas mengenai pengertian hubungan sosial maka dapat dipahami bahwa
hubungan sosial adalah cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang
disekitarnya dan bagaimana pengaruh terhadap dirinya, dimana setiap individu
berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan kehidupan sosial, baik norma-
norma kelompok, moral, maupun tradisi. Pengertian hubungan sosial kaitan
dengan penelitian ini bahwa hubungan sosial merupakan obyek dari penelitian
yang akan dilakukan, kemudian diukur melalui skala psikologis yang nantinya
diketahui tingkat pencapaian hubungan sosial dengan teman sebayanya.
1.4 Karakteristik Perkembangan Sosial Siswa
Menurut Ali dan Asrori (2005: 91) ada sejumlah karakteristik menonjol dari
perkembangan sosial siswa pada tahap perkembangan remaja awal, antara lain:
1. Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan
Masa remaja bisa disebut sebagai masa sosial karena sepanjang masa
remaja hubungan sosial semakin tampak jelas dan sangat dominan. Kesadaran
akan kesunyian menyebabkan remaja berusaha mencarai kompensasi dengan
mencari hubungan dengan orang lain atau berusaha mencari pergaulan, hal ini
merupakan dorongan pergaulan untuk menemukan pernyataan diri akan
kemampuan kemandirianya. Langeveld (dalam Ali dan Asrori, 2005 : 91)
berpendapat bahwa kemiskinan akan hubungan atau perasaan kesunyian remaja
disertai kesadaran sosial psikologis yang mendalam yang kemudian menimbulkan
dorongan yang kuat akan pentingnya pergaulan untuk menemukan suatu bentuk
sendiri.
2. Adanya Upaya-upaya Memilih Nilai-nilai Sosial
Ada dua kemungkinan yang ditempuh oleh remaja ketika berhadapan
dengan nilai-nilai sosial tertentu, yaitu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai
tersebut atau tetap pada pendirian dengan segala akibatya. Ini berarti reaksi
terhadap keadaan tertentu akan berlangsung menurut norma-norma tertentu pula.
Bagi remaja yang idealis dan memiliki kepercayaan penuh dengan cita-citanya,
mnuntut norma-norma sosial yang mutlak meskipun segala sesuatu yang telah
dicobanya gagal. Sebaliknya, bagi remaja yang bersikap pasif terhadap keadaan
yang dihadapi akan cenderung menyerah atau bahklan apatis. Namun, ada
kemungkinan seseorang tidak akan menuntut norma-norma sosial yang demikian
mutlak, tetapi tidak pula menolak seluruhnya 3) Meningkatnya ketertarikan pada
lawan jenis
Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis menyebakan remaja pada
umumnya berusaha keras memiliki teman dekat dari lawan jenisnya atau pacaran.
Hubungan sosial yang tidak terlalu menghiraukan perbedaan jenis kelamin pada
masa-masa sebelumnya, kini beralih kearah hubungan sosial yang dihiasi
perhatian terhadap perbedaan jenis kelamin. Menurut Sunarto (dalam Ali dan
Asrori, 2005: 92) Ada yang mengistilahkan bahwa dunia remaja telah menjadi
dunia erotis, keinginan membangun hubungan sosial dengan jenis kelamin lain
dapat dibandang sebagai suatu yang berbangkal pada kesadaran akan kesunyian.
3. Mulai cenderungan memilih karier tertentu
Karakteristik berikutnya sebagaimana dikatakan oleh kuhlen (dalam Ali
dan Asrori) bahwa ketika sudah memasuki masa remaja akhir, mulai tampak
kecenderungan mereka untuk memilih karier tertentu meskipun dalam pemilihan
karier tersebut masih mengalami kesulitan.
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Ali dan Asrori dapat
disimpulkan bahwa karakteristik perkembangan sosial remaja timbul karena: (1)
berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan, (2)
adanya upaya-upaya memilih nilai-nilai sosial, (3) meningkatnya ketertarikan
pada lawan jenis, (4) mulai cenderungan memilih karier tertentu. Karakteristik
perkembangan sosial diatas kaitannya dengan penelitian adalah sebagai bahan
referensi peneliti untuk meningkatkan hubungan sosial siswa.
1.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Hubungan Sosial
Menurut Ali dan Asrori (2005: 93) perkembangan hubungan sosial
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1) Lingkungan keluarga
Ada sejumlah faktor dari dalam keluarga yang sangat dibutuhkan oleh
anak dalam proses perkembangan sosialnya, yaitu kebutuhan akan rasa aman,
dihargai, disayangi, diterima, dan kebebasan untuk menyatakan [Link] aman
meliputi rasa aman secara material dan mental. Dalam lingkungan keluarga anak
mengembangkan pemikiran tersendiri yang merupakan pengukuhan dasar
emosional dan optimisme sosial melalui frekuensi dan kualitas interaksi dengan
orang tua dan saudara-saudaranya. Sosialisasi ini turut mempengaruhi
perkembangan sosial dan gaya hidupnya dihari-hari mendatang.
2) Lingkungan sekolah
Dalam lingkungan sekolah, anak belajar membina hubungan dengan
teman-teman sekolahnya yang datang dari berbagai keluarga dan tingkatan-
tingakatan sosial yang berbeda. Kehadiran di sekolah merupakan perluasan
Lingkungan sosialnya dalam proses sosialisasinya dan sekaligus merupakan faktor
lingkungan baru yang sangat menantang atau bahkan mencemaskan dirinya.
3) Lingkungan Masyarakat
Faktor keteladanan dan konsistenan sistem nilai dan norma dalam
masyarakat menjadi sesuatu yang sangat penting. Toenggoel P. Siagian (dalam
Ali dan Asrori, 2005: 93) menegaskan bahwa ” masa remaja adalah masa untuk
menentukan identitas dan menentukan arah, tetapi masa yang sulit ini menjadi
bertambah sulit dengan adanya kontradiksi dalam masyarakat. Justru dalam
periode remaja diperlukan norma dan pegangan yang jelas dan sederhana.”
Kurangnya keteladanan sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan
hubungan sosial remaja diperkuat oleh pendapat Soetjipto Wirosardjono (dalam
Ali dan Asrori, 2005: 93) yang mengatakan bahwa ” Bentuk-bentuk perilaku
sosial merupakan hasil tiruan dan adaptasi dari pengaruh kenyataan sosial yang
ada. Kebudayaan kita menyimpan potensi melegitimasi anggota masyarakat untuk
menampilkan perilaku sosial yang kurang baik dengan berbagai dalih, yang sah
maupun yang tak terelakkan.” Dengan demikian iklim kehidupan masyarakat
memberikan urutan penting bagi variasi perkembangan hubungan sosial remaja.
Apalagi remaja senantiasa ingin selalu seiring sejalan dengan trend yang sedang
berkembang dalam masyarakat agar tetap selalu merasa dipandang trendy.
Pendapat lain juga dikemukakan oleh Sunarto dan Hartono (2002: 130)
bahwa perkembangan sosial manusia dipengerauhi oleh beberapa faktor, antara
lain:
1) Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh
terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialya.
Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih
banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam
menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan
oleh keluaraga.
2) Kematangan
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang
lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu,
kemampuan berbahasa ikut pula menentukan.
3) Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan
sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak,
bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam
konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak
langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan
memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.
4) Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Kepada peserta
didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi
dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan
antar bangsa. Etika pergaulan dan pendidikan moral diajarkan secara terprogram
dengan tujuan untuk membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan
bernegara.
1.6 Pengaruh Hubungan Sosial Terhadap Tingkah Laku
Boweby (dalam Ali dan Asrori 2005: 86) menjelaskan bahwa hubungan
sosial individu dimulai sejak individu berada dilingkungan rumah bersama
keluarganya. Segera setelah lahir hubungan dengan orang disekitarnya terutama
ibu, memiliki arti sangat penting. Kehangatan dapat dirasakan dalam hubungan
ini. Pengalaman hubungan sosial yang amat mendalam adalah melalui sentuhan
ibu kepada bayinya terutama saat menyusui. Pada bulan kedua, bayi mulai
mengenal wajah orang disekitarnya dan mulai bisa tersenyum sebagai suatu cara
menyatakan perasaan senangnya. Perasaan senang akan hubungan itu menandakan
kebutuhan yang mendalam untuk berada diantara orang-orang yang mengasihinya.
Sekitar bulan ke enam bayi mulai mengenal orang-orang disekitarnya dan
membedakan orang-orang yang asing baginya. setelah berumur tujuh bulan bayi
mulai aktif mengadakan kontak dengan orang lain melalui dengan cara-cara yang
sederhana, misalnya mengangkat tangan untuk di gendong atau berteriak-teriak
menangis minta perhatian. Pada bulan kesepuluh, bayi sudah mulai bisa bicara
dengan ibunya dengan bahasa yang sangat sederhana, lucu dan menyenangkan
meskipun belum jelas benar. Pada akhir tahun pertama kontak antara orang tua
dan bayi sudah cukup jauh sehingga sudah dapat diajak untuk bermain.
Perkembangan sosial anak semakin berkembang ketika anak mulai memasuki usia
pra sekolah. Pada umur ini keinginan untuk mengeksplorasi lingkungan semakin
besar sehingga tidak jarang menimbulkan masalah yang berkaitan dengan
kedisiplinan. Pada masa ini sampai masa akhir sekolah ditandai dengan meluasnya
lingkungan sekolah. Meluasnya lingkungan sosial anak menyebabkan anak
memperoleh pengaruh diluar pengawasan orang tua. Hubungan sosial pada masa
ini anak melakukan proses emansipasi dan sekaligus individuasi. Pada masa ini
teman-teman sebaya mempunyai peran yang sangat besar.
Dalam konteks ini Jean Piaget (dalam Ali dan Asrori 2005: 87)
mengatakan bahwa permulaan kerja sama dan konformisme sosial semakin
bertambah pada saat anak mencapai usia 7 sampai 10 tahun dan mencapai puncak
kurva pada saat anak berada diantara umur 9 sampai 15 tahun. Ini dapat diartikan
bahwa konformisme semakin bertambah dengan bertambahnya usia sampai
permulaan remaja dan setelah itu mengalami penurunan kembali. Penurunan ini
disebabkan pada masa remaja sudah semakin berkembang keinginan mencari dan
menemukan jati dirinya sehingga konformisme semakin berbenturan dengan
upaya mencapai kemandirian atau individual.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan sosial
terbentuk sejak manusia itu dilahirkan, dan berkembang sejalan dengan
berjalannya kehidupan manusia yang semakin luas. Respon dari lingkungan
membuat manusia mulai belajar untuk berinteraksi, semakin luasnya lingkungan
sosial menyebabkan memperoleh memperoleh pengaruh diluar pengawasan orang
tua, karena itulah tingkah laku manusia terbentuk. Pengaruh hubungan sosial
terhadap tingkah laku ini kaitanya dengan penelitian adalah sebagai bahan
referensi peneliti untuk meningkatkan hubungan sosial siswa.
2.1 Pengertian Teman Sebaya
Teman sebaya (peer) sebagai sebuah kelompok sosial sering
didefinisikan sebagai semua orang yang memiliki kesamaan ciri-ciri seperti
kesamaan tingkat usia. Lebih lanjut Hartup (dalam Santrock, 1983: 223)
mengatakan bahwa teman sebaya (Peers) adalah anak-anak atau remaja dengan
tingkat usia atau kedewasaan yang sama. Akan tetapi oleh Lewis dan Rosenblum
(dalam Desmita, 2005: 145) Definisi teman sebaya lebih ditekankan pada
kesamaan tingkah laku atau psikologis.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
pengertian teman sebaya adalah kelompok orang-orang dengan tingkat usia yang
sama. Dalam penelitian ini pengertian teman sebaya dapat didefinisikan sebagai
kelompok remaja dengan tingkat usia atau kedewasaan yang sama dan
didalamnya melibatkan keakraban yang relatif besar diantara kelompoknya.
2.2Hubungan Sosial Antar Teman Sebaya
Perkembangan kehidupan sosial remaja ditandai dengan gejala
meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. Sebagian besar
waktu remaja dihabiskan untuk berhubungan atau bergaul dengan teman-teman
sebaya mereka. Berbeda halnya dengan masa anak-anak, hubungan teman sebaya
remaja lebih didasarkan pada hubungan persahabatan. Menurut Bloss dalam
(Desmita, 2009: 220) pembentukan persahabatan remaja erat kaitannya dengan
perubahan aspek-aspek pengendalian psikologis yang berhubungan dengan
kecintaan pada diri sendiri dan munculnya phallic conflicts. Erikson dalam
(Desmita, 2009: 220) memandang tren perkembangan ini dari perspektif
normative-life-crisis, dimana teman memberikan feedback dan informasi yang
konstruktif tentang self-definision dan penerimaan komitmen.
Pada prinsipnya hubungan teman sebaya mempunyai arti yang sangat
penting bagi kehidupan remaja. Menurut Alisyahbana dalam (Ali dan Asroi, 2005:
85) „hubungan sosial diartikan sebagai cara-cara individu bereaksi terhadap
orang-orang disekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya.
Sedangkan menurut Sunarto dan Hartono (2002: 126) menjelaskan bahwa
„hubungan sosial merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan
dimana setiap individu berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan kehidupan
sosial, bagaimana seharusnya seseorang hidup di dalam kelompoknya, baik
kelompok kecil maupun kelompok masyarakat luas‟.
Syamsu dalam (Yusuf, 2006: 122) juga mengemukakan bahwa
„hubungan sosial adalah cara individu dalam menyesuaikan diri terhadap norma-
norma kelompok, moral, dan tradisi, meleburkan diri menjadi satu kesatuan saling
komunikasi dan bekerja sama‟.
Berdasarkan pada pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli
tersebut diatas mengenai pengertian hubungan sosial maka dapat dipahami bahwa
hubungan sosial adalah cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang
disekitarnya dan bagaimana pengaruh terhadap dirinya, dimana setiap individu
berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan kehidupan sosial, baik norma-
norma kelompok, moral, maupun tradisi.
Pentingnya teman sebaya dalam perkembangan sosial remaja diketahui
satu contoh klasik pada literatur psikologi. Dua ahli teori yang berpengaruh, yaitu
Piaget dan Sullivan (dalam Desmita, 2009: 220), menekankan bahwa melalui
hubungan teman sebaya anak dan remaja belajar tentang hubungan timbal balik
yang simetris. Anak mempelajari prinsip-prinsip kejujuran dan keadilan melalui
peristiwa pertentangan dengan teman sebaya. Mereka juga mempelajari secara
aktif kepentingan-kepentingan dan perspektif teman sebaya dalam rangka
memuluskan integrasi dirinya dalam aktivitas teman sebaya yang berkelanjutan.
2.3 Layanan bimbingan kelompok
Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan
dan konseling dalam bentuk kelompok. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang:
(1) pengertian layanan bimbingan kelompok, (2) tujuan layanan bimbingan
kelompok, (3) fungsi layanan bimbingan kelompok, (4) asas-asas bimbingan
kelompok, (5) komponen bimbingan kelompok, (6) peranan pemimpin dan
anggota kelompok, (7) jenis-jenis bimbingan kelompok, (8) tahap-tahap
bimbingan kelompok, (9) teknik-teknik dalam bimbingan kelompok, (10) kriteria
bimbingan kelompok yang efektif, serta (11) evaluasi kegiatan layanan bimbingan
kelompok.
2.3.1 Pengertian Layanan Bimbingan Kelompok
Kegiatan bimbingan kelompok akan terlihat hidup jika di dalamnya
terdapat dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan media efektif bagi
anggota kelompok dalam mengembangkan aspek-aspek positif ketika mengadakan
komunikasi antar pribadi dengan orang lain.
Menurut Prayitno (1995: 178) Bimbingan kelompok adalah Suatu
kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika
kelompok. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi,
bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain-lain
sebagainya; apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta
yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya. Sementara Romlah (2001:
3) mendefinisikan bahwa bimbingan kelompok merupakan salah satu teknik
bimbingan yang berusaha membantu individu agar dapat mencapai
perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, serta
nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan
kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan
mengembangkan potensi siswa.
Sedangkan menurut Sukardi (2003: 48) Layanan bimbingan kelompok
dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh
berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat
untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar,
anggota keluarga dan masyarakat.
2.3.2 Tujuan Bimbingan Kelompok
Tujuan Bimbingan Kelompok terdiri dari tujuan umum dan tujuan
khusus, antara lain:
1. Tujuan Umum Bimbingan Kelompok:
Menurut Prayitno (2004: 2) secara umum tujuan bimbingan kelompok adalah
berkembangnya kemampuan bersosialisasi siswa, khususnya kemampuan
komunikasi peserta layanan. Sering menjadi kenyataan bahwa kemampuan
bersosialisasi /berkomunikasi seseorang sering terganggu oleh perasaan, pikiran,
persepsi, wawasan dan sikap yang tidak obyektif, sempit dan terkungkung serta
tidak efektif. Melalui layanan bimbingan kelompok hal-hal yang mengganggu
atau menghimpit perasaan dapat di ungkapkan, dilonggarkan, diringankan melalui
berbagai cara. Kondisi dan proses berperasaan, berfikir, berpersepsi dan
berwawasan yang terarah, luwes, dan luas serta dinamis, kemampuan
berkomunikasi, bersosialisasi, dan bersikap dapat di kembangkan.
2. Tujuan Khusus Bimbingan Kelompok
Prayitno (1995: 178) bahwa tujuan bimbingan kelompok antara lain:
1) Mampu berbicara di depan orang banyak.
2) Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan
dan lain sebagainya kepada orang banyak.
3) Belajar menghargai pendapat orang lain.
4) Bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.
5) Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan
yang bersifat negatif).
6) Dapat bertenggang rasa.
7) Menjadi akrab satu sama lainnya.
8) Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau
menjadi kepentingan bersama.
Dari tujuan umum dan khusus diatas dapat disimpulkan tujuan umum bimbingan
kelompok adalah berkembangnya kemampuan bersosialisasi siswa khususya
kemapuan berkomunikasi peserta layanan, sedangkan tujuan khusus bimbingan
kelompok adalah membahas topik-topik tertentu mengandung permasalahan
aktual, serta melatih individu untuk mampu berbicara di depan orang banyak,
mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan, mampu bertenggang
rasa, menghargai pendapat orang lain, mengendalikan emosi, serta bertanggung
jawab atas pendapat yang dikemukakan. Tujuan bimbingan kelompok dalam
penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman mengenai hubungan sosial
dengan teman sebaya sehingga siswa dapat meningkatkan dan mengembangkan
hubungan sosial dengan teman sebayanya.
2.3.3 Fungsi Bimbingan Kelompok
Secara umum fungsi bimbingan kelompok adalah sebagai media
pemberian bantuan kepada individu dalam suasana kelompok melalui informasi-
informasi yang disajikan di dalamnya. Menurut Prayitno (2001:87-88)
menjelaskan tujuan dan fungsi bimbingan kelompok di maksudkan untuk
memungkinkan siswa secara bersama-bersama memperoleh bahan dari nara
sumber yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun
sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat. Sedangkan romalah (2001: 3-
4) menyatakan bahwa bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya
masalah pada individu dan mengembangkan potensi siswa.
Menurut Sukardi (2008: 64) layanan bimbingan kelompok mempunyai 3
fungsi yaitu:
1. Fungsi Informatif
2. Fungsi Pengembangan
3. Fungsi Prefentif dan Pengembangan
Dengan bimbingan kelompok individu diajak untuk dapat
mengemukakan pendapat tentang sesuatu, dengan membicarakan topik-topik
peting, mengembangkan nilai-nilai dan mengembangkan langkah-langkah
bersama untuk menangani masalah yang akan dibahas dalam kelompok.
Fungsi utama bimbingan yang di dukung oleh layanan bimbingan
kelompok ialah fungsi pemahaman dan pengembangan (Mugiarso: 2005: 66).
Fungsi utama dari layanan bimbingan kelompok tersebut adalah:
1. Fungsi pemahaman adalah pemhaman tentang anggota
kelompok beserta permasalahannya oleh anggota kelompok
itu sendiri maupun dengan lingkungan. Pemahaman tersebut
tidak hanya saling mengenal antara anggota , melainkan
pemahaman menyangkut latar belakang kepribadian,
kekuatan, dan kelemahanya serta kondisi lingkungannya.
2. Funsi pengembangan adalah pengembangan tentang
intelegensi , bakat, dan minat anggota kelompok yang
menonjol. Individu mengembangkan segenap aspek sangkut
paut yang bervareasi dan komplek sehingga tidak dapat
berdiri sendiri dengan kegiatan bimbingan kelomopok tiap
anggota dapat saling bantu membantu
Fungsi layanan bimbingan kelompok dalam penelitian ini adalah
memberikan pemahaman kepada siswa tentang bagaimana meningkatkan dan
mengembangkan hubungan sosial dengan teman sebayanya.
2.3.4 Asas-asas Bimbingan Kelompok
Dalam bimbingan kelompok terdapat beberapa asas, diantaranya asas
kerahasian, keterbukaan, kesukarelaan, kenormatifan, kekinian dan keahlian
(Prayitno, 2004: 13-15).
1. Asas kenormatifan
Semua yang dibicarakan dalam kelompok tidak boleh bertentangan dengan
norma-norma dan kebiasaan yang berlaku.
2. Asas kesukarelaan
Semua anggota dapat menampilkan diri secara spontan tanpa malu atau
dipaksa oleh teman lain atau pemimpin kelompok
3. Asas kerahasiaan
Para anggota harus menyimpan dan merahasiakan informasi apa yang
dibahas dalam kelompok, terutama hal-hal yang tidak layak diketahui orang lain.
Asas-asas bimbingan kelompok dalam penelitian ini digunakan sebagai
acuan dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan
hubungan sosial antar teman sebaya siswa.
2.3.8 Tahap-tahap Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok berlangsung melalui empat tahap. Menurut
Prayitno (1995: 44-60) tahap-tahap bimbingan kelompok adalah sebagai berikut:
1. Tahap Pembentukan
Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap
memasukkan diri kedalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada
umumnya para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan
tujuan ataupun harapan-harapan masing-masing anggota. Pemimpin kelompok
menjelaskan cara-cara dan asas-asas kegiatan bimbingan kelompok. Selanjutnya
pemimpin kelompok mengadakan permainan untuk mengakrabkan masing-
masing anggota sehingga menunjukkan sikap hangat, tulus dan penuh empati.
2. Tahap Peralihan
Sebelum melangkah lebih lanjut ke tahap kegiatan kelompok yang
sebenarnya, pemimpin kelompok menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh
anggota kelompok pada tahap kegiatan lebih lanjut dalam kegiatan kelompok.
Pemimpin kelompok menjelaskan peranan anggota kelompok dalam kegiatan,
kemudian menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani
kegiatan pada tahap selanjutnya. Dalam tahap ini pemimpin kelompok mampu
menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka. Tahap kedua merupakan
“jembatan” antara tahap pertama dan ketiga. Dalam hal ini pemimpin kelompok
membawa para anggota meniti jembatan tersebut dengan selamat. Bila perlu,
beberapa hal pokok yang telah diuraikan pada tahap pertama seperti tujuan dan
asas-asas kegiatan kelompok ditegaskan dan dimantapkan kembali, sehingga
anggota kelompok telah siap melaksanakan tahap bimbingan kelompok selanjutnya
3. Tahap kegiatan
Tahap ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok.
Namun, kelangsungan kegiatan kelompok pada tahap ini amat tergantung pada
hasil dari dua tahap sebelumnya. Jika dua tahap sebelumnya berhasil dengan baik,
maka tahap ketiga itu akan berhasil dengan lancar. Pemimpin kelompok dapat
lebih santai dan membiarkan para anggota sendiri yang melakukan kegiatan tanpa
banyak campur tangan dari pemimpin kelompok. Di sini prinsip tut wuri
handayani dapat diterapkan. Tahap kegiatan ini merupakan tahap inti dimana
masing-masing anggota kelompok saling berinteraksi memberikan tanggapan dan
lain sebagainya yang menunjukkan hidupnya kegiatan bimbingan kelompok yang
pada akhirnya membawa kearah bimbingan kelompok sesuai tujuan yang
diharapkan.
4. Tahap Pengakhiran
Pada tahap ini merupakan tahap berhentinya kegiatan. Dalam
pengakhiran ini terdapat kesepakatan kelompok apakah kelompok akan
melanjutkan kegiatan dan bertemu kembali serta berapa kali kelompok itu
bertemu. Dengan kata lain kelompok yang menetapkan sendiri kapan kelompok
itu akan melakukan kegiatan. Dapat disebutkan kegiatan-kegiatan yang perlu
dilakukan pada tahap ini adalah:
1) Penyampaian pengakhiran kegiatan oleh pemimpin kelompok.
2) Pengungkapan kesan-kesan dari anggota kelompok.
3) Penyampaian tanggapan-tanggapan dari masing-masing anggota kelompok.
4) Pembahasan kegiatan lanjutan.
5) Penutup
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tahap-tahap bimbingan
kelompok antara lain: (1) tahap pembentukan, (2) tahap peralihan, (3) tahap
kegiatan, (4) tahap pengakhiran. Dalam penelitian ini tahap-tahap bimbingan
kelompok digunakan sebagai panduan dalam pelaksanaan layanan bimbingan
kelompok
TEKNIK – TEKNIK KONSELING KELOMPOK
Berikut ini adalah beberapa Teknik atau cara yang sering dan dapat digunakan (situasional)
untuk kegiatan konseling kelompok dalam bimbingan dan konseling
A. Teknik Re-inforcement (penguatan)
Salah satu metode dalam menstimulasi spontanitas dan interaksi antara anggota kelompok
adalah dengan membuat pernyataan verbal ataupun non verbal yang bersifat
menyenangkan. Cara ini sangat membantu ketika memulai konseling pada kelompok
baru.
Contoh :
Verbal :“super sekali”
Non verbal : acungan jempol
B. Teknik Summary ( Meringkas)
Summary adalah kumpulan dari dua tema masalah atau lebih dan refleksi yang merupakan
ringkasan dari pembicaraan konseli .Teknik ini digunakan selama proses konseling
terjadi. Setelah anggota kelompok mendiskusikan topic yang dibahas, konselor kemudian
meringkas apa yang telah dibicarakan.
Contoh :
Konselor menginginkan kelompoknya untuk membuat ringkasan yang telah dibahas.
C. Teknik Pick-Up
Konselor mengutip atau mengambil apa yang telah disampaikan anggota dan
menggunakannya sebagai pernyataan pendahuluan untuk pernyataan baru.
Contoh:
Konseli :“saya pergi menonton bioskop dari berbagai bioskop. Saya merasa itu adalah
suatu film yang sangat bagus”.
Konselor :“Berapa banyak diantara kalian yang juga sudah menonton film itu ?
Tunjukkan tangan!”
Cara ini bisa dikembangkan untuk berbagai topik lain, misalnya mengenai cita-cita
dan pengembangan karier, pendidikan lanjutan dan minat, serta hal yang lainnya.
Konseli biasanya akan memahami topik diskusi lebih baik karena ia berada dalam
topic pembicaraan itu.
D. Ability potential response
Dalam suatu ability potential response, konselor menampilkan dan menunjukkan potensi
konseli pada saat itu untuk dapat memasuki suatu aktivitas tertentu. Suatu ability potential
response merupakan suatu respon yang penuh support dari konselor, dimana konselor
dapat secara verbal mengakui potensi atau kapabilitas konseli untuk melakukan sesuatu.
E. Teknik Probing
Teknik Probing seringkali digunakan dimana saja. Kepada konseli diajukan pertanyaan-
pertanyaan pengarahan sehingga diperoleh jawaban yang ditetapkan. Teknik ini dapat
digunakan sebagai teknik pendahuluan untuk menstimulasi minat anggota terhadap materi
yang ingin diberikan oleh konselor.
Dalam mengajukan pertanyaan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika konselor
ingin mengarahkan konseli memperoleh jawaban khusus yang tepat. Konselor membuat
suatu keadaan dan membawa opini konseli kedalam suatu keadaan yang mengarah kepada
jawaban atas pertanyaan, sampai diperoleh jawaban selektif
Contoh:“Apa, bagaimana, siapa, bilamana atau dimana”. Pertanyaan hendaknya bersifat
terbuka. Melalui probe, dapat diperoleh lebih banyak informasi.
F. Refleksi perasaan
Teknik ini digunakan untuk membuat kembali perasaan-perasaan yang diungkapkan oleh
konseli melalui pernyataan konselor “saya paham maksud pernyataan anda”. Perasaan-
perasaan dapat diungkapkan dengan jelas oleh konseli seperti “saya bimbang, ragu,
marah, sedih dan sebagainya. Biasa juga tidak diungkapkan secara verbal, dapat dilihat
dari tingkah lakunya atau nada suaranya. Maksud penggunaan teknik ini agar konseli
dapat lebih mengungkapkan perasaan-perasaannya.
G. Teknik Diskusi
Diskusi kelompok merupakan bentuk konseling dimana konselor melaksanakan konseling
dengan cara diskusi kelompok. Teknik ini biasa digunakan dalam satu atau dua sesi
konseling kelompok untuk menanyakan informasi yang penting. Penekanannya bukan
pada diskusi, tetapi pada penjelasan hal-hal yang belum dipahami oleh kelompok.
Cara:
a. Bagi kelompok besar menjadi kelompok kecil
Hal ini dilakukan agar anggota kelompok menjadi lebih produktif dalam tujuan
mencapai suatu pemecahan masalah. Sebab pada kelompok besar, anggota yang
paling aktif akan terpisah dengan anggota kelompok lain. Hal ini menjadi
hambatan partisipasi bagi yang lain, akibatnya ada beberapa anggota kelompok
yang kehilangan minta untuk berkontribusi dalam diskusi. Dengan kelompok
kecil, maka konselor lebih bisa mengontrol arah diskusi dan mendorong semua
anggota kelompok terlibat.
b. Bentuk kelompok homogeny
Pisahkan anggota kelompok sehingga pada kelompok kecil tersebut terbentuk
kelompok yang homogen, misal dari jenis permasalahan, usia, jenis kelamin, bahkan
tingkat kemampuan anggota kelompok. Dengan berada pada situasi dan suhu
lingkungan yang sama, maka para anggota kelompok lebih terdorong untuk berani
mengungkapkan permasalahannya, dan lebih mampu merasakan masalah terhadap
teman satu kelompoknya, sehingga bisa berperan aktif dalam diskusi pemecahan
masalah.
c. Fokuskan masalah
Konselor berperan dengan menentukan pokok permasalahan yang akan dibahas,
tentunya diawali dengan musyawarah dan persetujuan anggota kelompok.
Pembahasan pada satu topic memudahkan konselor mengarahkan seluruh anggota
kelompok untuk terlibat langsung dalam dinamika interaksi sosial kelompok. Topik
yang dipilih untuk dibahas, seyogyanya topik yang hangat, merangsang dan
menantang bagi anggota kelompok, disesuaikan dengan tingkat kemampuan seluruh
anggota kelompok, sehingga mereka merasa terpanggil untuk ikut membicarakannya.
H. Teknik Interpretasi
Digunakan oleh konselor yang ingin “membawa” atau ‘ menyampaikan” ide kepada
kelompok. Mungkin sekali interpretasi itu tidak tepat, namun dapat diarahkan untuk
menstimulasi diskusi lebih lanjut dan mendorong/menguatkan kemampuan individual
untuk boleh tidak sepakat dengan konselor.
Interpretasi merupakan suatu teknik menyampaikan arti dari pesan yang disampaikan oleh
konseli. Dalam membuat interpretasi, konselor akan membuka suatu pandangan baru atau
penjelasan mengenai sikap dan tingkah laku interpretasi seperti mengajukan pertanyaan
mengenai hipotesa mengenai hubungan atau mengenai arti suatu
Dalam interpretasi, konselor harus menaruh perhatian kepada anggota yang lain terutama
anggota yang pasif atau yang datang dengan latar belakang keluarga yang tidak
mengizinkan seorang anak tidak setuju dengan pendapat orang tua. Ini akan menempatkan
konseli pada posisi yang sulit. Interpretasi sebaiknya tepat, bilamana keliru konselor harus
tahu letak kekeliruannya kemudian meralatnya.
I. Teknik Konfrontasi
Konfrontasi merupakan respon verbal dimana konselor mendeskripsikan beberapa
penyimpangan atau ketidakcocokan yang terlihat dalam pernyataan atau tingkah laku
konseli. Dalam teknik konfrontasi, anggota kelompok dihadapkan langsung (dikonfrontir)
pada hal-hal yang terlihat adanya pertentangan.
Contohnya : seorang konseli berbicara keras, kemudian konselor menanyakan
“Apakah kamu sedang Bingung ?”.
Tujuan;
Untuk membuka kedok konseli agar bertanggungjawab terhadap diskrepansi, distorsi,
permainan, dan tabir yang digunakan untuk menyembunyikan diri dari perubahan tingkah
laku yang konstruktif.
J. Klarifikasi
Teknik ini digunakan apabila konselor ingin meminta penjelasan lebih lanjut yang di
anggap belum mengerti dan tidak sistematis, atau untuk menyamakan persepsi apakah
yang sudah di tangkap oleh konselor betul atau tidak.
K. Bermain Peran ( Role Playing)
Merupakan suatu teknik konseling melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan
anggota kelompok/klien. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan dengan
memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya
dilakukan dalam kelompok, bergantung kepada apa yang diperankan.
Role playing adalah teknik yang sering digunakan untuk konseling umum dimana teknik
role playing atau bermain peran dapat memecahkan suasana yang kaku sehingga para
peserta konseling kelompok aktif dan partisipatif dalam kegiatan konseling kelompok.
2. Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian yang Relevan sama dengan halnya Penelitian Terdahulu yaitu
merupakan penelitian yang sebelumnya pernah dilakukan oleh peneliti lain. Tujuan dari
penelitian terdahulu ini adalah sebagai rujukan untuk menguatkan penelitian yang akan
dilaksanakan oleh peneliti dan untuk membandingkan antara penelitian yang satu dengan
yang lain. Dalam skripsi ini, penulis mengambil empat penelitian terdahulu yang dapat
mewakili variabel penelitian yang akan peneliti laksanakan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2008) tentang keefektifan
bimbingan kelompok terhadap peningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pada siswa
kelas XI di SMA N 2 Ungaran tahun ajaran 2007/2008, menunjukan bahwa sebelum
mendapat perlakuan termasuk dalam kategori rendah dengan rata-rata persentase 31.16%
dan setelah mendapatkan perlakuan rata-rata persentase 78.83% termasuk dalam kategori
tinggi, dengan demikian mengalami peningkatan sebesar 47.57%. Artinya bahwa layanan
bimbingan kelompok efektif dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial siswa.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hidayati (2009) tentang peningkatan
kemampuan berkomunikasi antar teman sebaya melalui layanan bimbingan kelompok
pada siswa kelas VII di SMP Negeri 12 Semarang tahun ajaran 2008/2009, menunjukan
bahwa sebelum mendapatkan perlakuan termasuk dalam kategori sangat rendah dengan
rata-rata persentase 48,13% dan sesudah mendapatkan perlakuan rata-rata persentasenya
meningkat menjadi 76,9% termasuk dalam kategori tinggi, dengan demikian mengalami
peningkatan sebesar 47,57%. Hal ini membuktikan bahwa layanan bimbingan kelompok
dapat meningkatkan komunikasi antar teman sebaya.
Penelitian yang berbeda dilakukan oleh Setiaji (2010) tentang meningkatkan
kematangan sosial siswa melalui layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas VII SMP
N 8 Cilacap tahun ajaran 2009/2010, menunjukan bahwa kematangan sosial sebelum
mendapatkan layanan bimbingan kelompok tergolong dalam kategori sedang dengan
persentase 62%. Setelah mendapatkan layanan bimbingan kelompok meningkat menjadi
76,6% dalam kategori tinggi. Dengan demikian mengalami peningkatan sebesar 14,6%.
Hasil tersebut menunjukan bahwa kematangan sosial siswa dapat ditingkatkan melalui
layanan bimbingan kelompok secara efektif.
Penelitian yang lain juga dilakukan oleh Sulistiana (2010) tentang meningkatkan
keterampilan sosial siswa melalui layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas VIII
SMP Negeri 3 Juwana Tahun Pelajaran 2009/2010, dengan hasil penelitian menunjukan
bahwa tingkat keterampilan sosial siswa sebelum mendapatkan layanan bimbingan
kelompok termasuk dalam kategori rendah dengan persentase 61,2%, setelah
mendapatkan layanan bimbingan kelompok meningkat menjadi 75,9% tergolong dalam
kategori tinggi. Dengan demikian mengalami peningkatan sebesar 14%. Dengan demikian
keterampilan sosial dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok.
Dari hasil penelitian tersebut di atas dapat diketahui bahwa bimbingan kelompok
terbukti dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi, berinteraksi, kematangan sosial,
dan ketrampilan sosial. Sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti
mengenai upaya meningkatkan hubungan sosial antar teman sebaya, peneliti
menggunakan layanan bimbingan kelompok sebagai layanan untuk meningkatkan
hubungan sosial siswa.
Alasan pemilihan layanan bimbingan kelompok sebagai layanan untuk
meningkatan hubungan sosial antar teman sebaya karena hubungan sosial merupakan
cara-cara individu bereaksi atau berinteraksi terhadap teman-teman sebaya disekitarnya
dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya, sedangkan bimbingan kelompok
merupakan layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan secara kelompok dengan
memanfaatkan dinamika kelompok untuk mencapai tujuan. Secara umum layanan
bimbingan kelompok bertujuan untuk mengembangkan kemampuan sosialisasi siswa,
khususnya kemampuan komunikasi peserta layanan. Setiap anggota kelompok saling
mengungkapkan pendapatnya mengenai topik yang dibahas, melalui kondisi dan proses
berperasaan, berfikir, berpersepsi dan berwawasan yang terarah, luwes, dan luas serta
dinamis, kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, dan bersikap dapat di kembangkan.
Untuk itu peneliti menganggap bahwa hubungan sosial antar teman sebaya dapat
ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok.
3 Kerangka Berpikir
Kerangka Berfikir Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok
Hubungan Sosial
Sebaya
Ke
Antar Teman
las VIII
Indikator tingkat pencapaian, antara lain:
1. Memiliki sahabat dekat
2. Dipercaya dalam posisi tanggung jawab
tertentu
Tingkat
3. Memiliki penyesuaian sosial yang baik
Hubungan Sosial 4. Berinteraksi dengan teman sebaya
5. Memiliki keterampilan sosial yang baik.
Rendah (Pretest)
Tujuan bimbingan kelompok :
Tujuan umum: berkembangnya kemampuan
sosialisasi, khususnya kemampuan
komunikasi peserta layanan
khusus:
Tujuan
Layanan
1. Mampu berbicara di depan orang banyak.
Bimbingan 2. Mampu mengeluarkan pendapat, ide,
saran, tanggapan, perasaan dan lain
Kelompok sebagainya kepada orang banyak.
3. Belajar menghargai pendapat orang lain.
Peningkat
4. Bertanggung jawab atas pendapat yang
an
dikemukakannya.
hubun
5. Mampu mengendalikan diri dan menahan gan
emosi (gejolak kejiwaan yang bersifat sosial
negatif). (poste
st)
6. Dapat bertenggang rasa.
7. Menjadi akrab satu sama lainnya.
8. Membahas masalah atau topik-topik
umum yang dirasakan atau menjadi
kepentingan bersama.
3. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan teori yang telah dipaparkan, maka diajukan hipotesis
penelitian yaitu hubungan sosial antar teman sebaya dapat ditingkatkan
melalui layanan bimbingan kelompok.
D. Metode Penelitian
1. Tempat dan Waktu
a) Tempat penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP MUHAMMADIYAH tahun ajaran 2018/2019
b) Waktu penelitian
Penelitian di ambil pada tahun 2018
2. Pendekatan Penelitian
Salah satu faktor yang penting dalam penelitian adalah metode penelitian yang termasuk
penelitian bidang pendidikan (educational research) khususnya berkaitan dengan kerjasama
dengan teman sebaya menengah pertama yaitu di SMP MUHMMADIYAH
BANYUWANGI
1. Jenis Penelitian
2. Subjek dan Objek Penelitian
A. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP MUHAMMADIYAH tahun ajaran 2018/2019
B. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; objek/subjek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006: 55).
Sedangkan menurut Arikunto (2006 : 130) populasi adalah keseluruhan subyek
penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas VIII
SMP Muhammadiyah Banyuwangi
3) Sampel
Menurut Sutrisno Hadi (2000: 221) sampel adalah sebagian dari populasi. Sedang
menurut Sugiyono (2006: 118) sampel adalah bagian dari jumlah atau karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah
sebanyak 10 siswa. Pertimbangan jumlah anggota 10 siswa yaitu karena dipandang
lebih efisien dan efektif. Efisien yang dimaksud adalah mempertimbangkan karena
keterbatasan waktu tenaga dan dana. Sedang efektif dimaksudkan sejumlah subyek
yang diambil sebagai sempel dalam penelitian sudah tepat, dalam hal ini pengambilan
subyek berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian yaitu siswa-
siswa yang tingkat hubungan sosialnya rendah. Menurut Prayitno (2004: 9) kekurang
efektifan kelompok akan mulai terasa jika jumlah anggota kelompok melebihi 10
orang.
C. Metode Pengumpulan Data
Mengumpulkan data berarti mengamati variabel yang akan diteliti dengan metode
atau teknik pengumpulan data tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah skala psikologis, karena aspek yang akan diungkap berupa atribut
psikologis, dengan alatnya berupa skala hubungan sosial antar teman sebaya.
Menurut Azwar (2006: 3) skala psikologis merupakan „alat ukur aspek
psikologis atau atribut afektif”. Ada beberapa karakteristik skala psikologis, antara
lain sebagai berikut (Azwar, 2006: 4):
1. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak
langsung mengungkapkan atribut yang hendak diukur melainkan
mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.
2. Skala psikologis selalu selalu berisi banyak item dikarenakan
atribut psikologis diungkap secara tidak langsung lewat indikator-
indikator perilaku, sedangkan indikator perilaku diterjemahkan
dalam bentuk item-item.
3. Respon subyek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban "benar” atau
“salah”. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara
jujur dan sungguh-sungguh. Hanya saja jawaban yang berbeda
akan diinterpretasikan berbeda pula.
Sementara itu, kelemahan dari skala psikologis menurut Azwar (2006:2)
sebagai berikut:
1. Atribut psikologi bersifat latent/tidak tampak.
2. Item dalam skala psikologi didasari oleh indikator-indikator
perilaku yang jumlahnya terbatas.
3. Respon yang dibrikan oleh subyek sedikt-banyak dipengaruhi oleh
variabel tidak relevan seperti suasana hati subyek, kondisi dan
situasi disekitar, kesalahan prosedur administrasi, dan
semacamnya.
4. Atribut psikologi yang terdapat dalam diri manusia stabilitasnya
tidak tinggi.
5. Interpretasi terhadap hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan
secara normatif.
Dengan menggunakan alat pengumpul data berupa skala hubungan sosial
antar teman sebaya, dapat diketahui tingkat hubungan sosial antar teman sebaya
pada siswa kelas VIII SMP Islam Wonopringgo Pekalongan. Skala ini
dimaksudkan untuk memperoleh data penjaringan sampel, pre test dan post test.
Penjaringan sampel dengan menggunakan skala hubungan sosial antar
teman sebaya untuk mencarai informasi siswa yang kemampuan hubungan
sosialnya sangat rendah sampai ketingkat yang sangat tinggi. Setelah diperoleh
sampel maka hasil skala hubungan sosial antar teman sebaya dijadikan sebagi data
pre test. Skala hubungan sosial antar teman sebaya juga digunakan pada saat post
test, dan post test digunakan untuk mengetahui apakah ada perkembangan atau
peningkatan kemampuan hubungan sosial sebelum dan sesudah diberikan layanan
bimbingan kelompok.
Data yang diperoleh dari hasil analisis skala hubungan sosial antar teman
sebaya ini bersifat kualitatif. Oleh karena itu agar data tersebut dapat dianalisis
secara kuantitatif , maka jawaban yang diberikan oleh responden diberi skor
berdasarkan skala interval dengan metode skala likert. Skala menurut likert
D. Metode Analisis Data
a. Deskripsi Data
b. Uji Hipotesis
DAFTAR PUSTAKA
6. Prosedur Penelitian
7. Indikator Keberhasilan