Metode Rehabilitasi Embung Napa Tapanuli
Metode Rehabilitasi Embung Napa Tapanuli
I. PENDAHULUAN
Dalam rangka mewujudkan program pemerintah swasembada pangan dan penggunaan air, maka
pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai Sumatra IImelaksanakan Rehabilitasiembung yaitu
Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan.
Kami sebagai penyedia jasa konstruksitelah mengikuti rapat penjelasan administrasi dan teknis
yang diselenggarakan oleh Panitia dan tinjauan lapangan serta mempelajari gambar tender, kami
mendapat gambaran untuk menyusun Metode Pelaksanaan yang sesuai dengan pekerjaan.
LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan- pekerjaan yang akan dilaksanakan berdasarkan dengan isi dokumen adalah sebagai
berikut :
I PEKERJAAN PERSIAPAN
1,1 Mobilisasi / Demobilisasi Alat Ls 1,00
II PEKERJAAN DEWATERING
1
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
2,1 Kistdam Ls 1,00
2,2 Pengoperasian Pompa Ls 1,00
2
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
5.6 Pasangan bronjong M3 32,60
5.7 Pasangan pipa suling-suling M 80,00
5.8 Pengecatan Tembok M2 3,70
Pekerjaan Survey
a. Melakukan Studi pendahuluan untuk mengantisipasi masalah Spesifik yang mungkin
timbul pada saat kegiatan konstruksi :.
Fasilitas jalan masuk
Kebutuhan material dan peralatan proyek
Kebutuhan logistik
Kebutuhan tenaga kerja dan staff proyek
b. Membuat prosedur perencanaan tentang program pelaksanaan konstruksi, sarana dan
prasarana umum proyek, antara lain :
Engineering/administrasi site office
Kebutuhan tenaga kerja dan staff proyek
c. Mempelajari dan menganalisis seluruh elemen kegiatan proyek :
Prosedur pelaksanaan konstruksi
Alternatif-alternatif penyelesaian pekerjaan.
Jadwal pekerjaan (time schedule).
Fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan dalam penyelesaian pekerjaan.
Organisasi tenaga kerja.
Suplay material dan peralatan konstruksi.
Kebutuhan Pabrikasi diluar lokasi pekerjaan
4
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
Mobilisasi Personil
Mobilisasi Personil adalah mempersiapkan dan mendatangkan seluruh personil yang
dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam
Dokumen Lelang dan sesuai kebutuhan lapangan, termasuk pendatangan tenaga kerja
terutama tenaga kerja terampil / terlatih serta tukang jika tidak ada dalam wilayah sekitar
lokasi pekerjaan.
Adapun pekerja untuk menunjang pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
1. Project Manager ;
2. Site Manager ;
3. Pelaksana Lapangan ;
4. Administrasi / Keuangan
5. Logistik
6. Juru Ukur
7. Juru Gambar
8. Petugas RK3K;
9. Mandor
10. Pekerja
11. Tukang batu
12. Kepala Tukang
13. Dan lain-lain
Mobilisasi bahan atau material adalah mempersiapkan dan mendatangkan semua bahan
atau material sesuai dengan dipersyaratkan dalam Dokumen Lelang dan sesuai kebutuhan
lapangan.
Mobilisasi Peralatan
Mobilisasi peralatan adalah mempersiapkan, mendatangkan dan merawat semua jenis
peralatan untuk pelaksanaan sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam Dokumen
Lelang dan sesuai kebutuhan di lapangan. Mobilisasi peralatan dilaksanakan sesuai
dengan schedule, selambat-lambatnya tiga hari sebelum dimulainya pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
Adapun untuk jenis peralatan minimal yang dibutuhkan sesuai dengan ketentuan dalam
Dokumen Lelang adalah sebagai berikut :
5
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
Pekerjaan Pengukuran
Pekerjaan Pengukuran / Uitzet adalah pekerjaan yang paling awal dilaksanakan sebelum
pekerjaan yang lainnya, dimana diperlukan joint survey bersama-sama antara kontraktor,
engineer/konsultan dan wakil pemilik proyek selain itu kami juga akan berkoordinasi
dengan instansi-instansi yang terkait untuk pembebasan lokasi (jika ada).
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Membuat patok-patok/tanda yang diikatkan pada titik Bench Mark yang telah
diketahui koordinatnya dengan metode pengukuran double stand.
2. Membuat patok-patok/tanda STA di luar lokasi proyek untuk mengantisipasi jika ada
patok-patok yang rusak didalam lokasi proyek.
3. Menentukan letak-letak As dengan diberi tanda/dicat.
4. Mengadakan pengukuran memanjang (long section) eksisting.
5. Mengadakan pengukuran melintang (cross section) dan perhitungan volume.
6. Jarak cross section dilakukan sesuai dengan spesifikasi yaitu 5 – 25 meter.
Lapangan harus selalu dijaga tetap bersih dan rata. Lokasi pembangunan dilengkapi
dengan keterangan-keterangan mengenai peil ketinggian tanah, letak pohon, letak batas-
6
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera/dikalibrasi kebenarannya. Ketidakcocokan
yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan lapangan yang sebenarnya akan kami
segera laporkan kepada Perencana/Pengawas untuk diminta keputusannya. Penentuan
titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat-alat
waterpass/theodolite/total station yang ketepatannya dapat dipertanggung jawabkan.
Manajemen Mutu
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini kami akan menerapkan sistem manajemen mutu dan
akan menempatkan tenaga ahli mutu yang bertugas mengawasi dan mengarahkan
sehingga masing-masing bagian dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana
telah ditetapkan dalam RMK. Kegiatan ini bertujuan akhir agar hasil pekerjaan tercapai
sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan dalam dokumen kontrak.
7
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
Pengambilan sampel di lokasi pekerjaan untuk pengujian properties material dan
pembuatan JMD/JMF atas pekerjaan utama antara lain :
Galian dan Timbunan tanah
Pasangan Batu
Beton
Manajemen LK3
PT. Pualam Bangun Cipta berkomitmen selama pelaksanaan proyek berlangsung akan
melaksanakan LK3 (Lingkungan Keselamatan dan Kecelakaan Kerja) sesuai peraturan
dan persyaratan LK3, antara lain pengadaan rambu-rambu LK3, penyediaan Alat
Pelindung Diri (APD), pengelolaan sampah dan limbah proyek dan pengarahan-
pengarahan LK3 kepada seluruh pekerja di lapangan. Pembahasan lebih lanjut dapat
dilihat di Pra Rencana K3
Sosialisasi Pekerjaan
Sebelum mulai pekerjaaan pengukuran dan physik lapangan, terlebih dahulu kita akan
lakukan sosialisasi mengenai pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Sosialisasi ini dilakukan bersama-sama dengan tim direksi pekerjaan dan melibatkan
aparat lurah, tokoh masyarakat dan camat setempat, serta kepolisian lalu lintas yang akan
saling membantu mengamankan keamanan lalu lintas, dinas perhubungan dan pihak-
pihak lain yang dianggap akan memberikan andil dalam kelancaran pelaksanaan
pekerjaan tersebut. Pembinaan hubungan baik selama pekerjaan tersebut dilaksanakan
akan selalu dilakukan secara teratur demi kelancaran pekerjaan tersebut.
Intinya adalah menjelaskan pada masyarakat mengenai pekerjaan tersebut yang meliputi :
- Manfaat pekerjaan yang dilaksanakan.
- Lingkup Pekerjaan yang akan dilaksanakan.
- Partisipasi tenaga kerja setempat demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar
pelaksanaan pekerjaan tersebut.
- Partisipasi petani/masyarakat yang tanahnya kena pada saat pelaksanaan pekerjaan.
- Dalam kegiatan ini khususnya diharapkan tidak adanya pembebasan tanah dan partisipasi
dalam proses konstruksi.
- Urutan kegiatan pekerjaan dan rencana schedule pekerjaan
8
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
Pelaporan, Dokumentasi dan Rapat-rapat
Untuk membuktikan setiap pelaksanaan pekerjaan di lapangan kami akan membuat
laporan bulanan, mingguan, harian dan dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi yang
akan kami serahkan kepada Direksi Pekerjaan dengan jumlah rangkap sesuai dengan
ketentuan dalam Dokumen Lelang.
- Laporan Bulanan.
Adalah laporan yang akan menggambarkan kemajuan fisik pekerjaan baik itu pekerjaan
sampai dengan bulan lalu, pekerjaan bulan ini dan estimasi kemajuan pekerjaan pada
bulan berikutnya.
- Laporan Mingguan.
Adalah laporan yang akan menggambarkan kemajuan fisik pekerjaan baik itu pekerjaan
sampai dengan minggu lalu, pekerjaan minggu ini dan estimasi kemajuan pekerjaan pada
minggu berikutnya.
- Laporan Harian.
Adalah laporan yang akan menggambarkan tentang keadaan cuaca, data jumlah tenaga
kerja, bahan yang dipakai, jumlah alat dan peralatan yang digunakan serta pekerjaan
yang dikerjakan pada hari itu.
A. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Mobilisasi dan Demobilisasi Alat
Mobilisasi dan demobilisasi telah dijelaskan pada sebelumnya.
B. PEKERJAAN DEWATERING
1. Kistdam
Untuk mengatasi aliran air ataupun rembesan air yang dapat mengganggu pelaksanaan
pekerjaan, kami melakukan pembuangan air dengan cara membuat Kistdam, saluran drainase
buangan atau bangunan sementara, serta usaha-usaha lainnya yang bertujuan untuk
mengeringkan lokasi pelaksanaan pekerjaan agar bebas dari air.
Pelaksanaan :
Material Kistdam merupakan Goni berisikan pasir atau tanah, serta disusun pada
sebagian areal embung atau disesuaikan dilapangan.
9
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
Kistdam dilaksanakan persegmen 25 m s/d 50 m atau >50m atau disesuakan
dilapangan, untuk memudahkan pengeringan.
Pengeringan dilakukan dengan menggunakan water pump, arah buangan air diarahkan
pada saluran yang tidak dikistdam.
Kitsdam akan dibongkar setelah pekerjaan selesai.
2. Pengoperasian Pompa
Pelaksanaan :
Pengoperasian pompa digunakan untuk membuang air genangan yang dapat
mengganggu pelaksanaan pekerjaan. Pengoperasian pompa kami lakukan setelah
pemasangan kistdam.
Pengoperasian pompa dilakukan mengikuti pelaksanaan Kistdam
10
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
3. Angkut Tanah hasil galian
Pelaksanaan :
a. Pengangkutan tanah dilakukan menggunakan dump truck dengan bantuan excavator.
b. Tanah yang diangkut merupakan tanah hasil galian, pembuangan tanah
c. Material hasil galian dibuang ke tempat pembuangan (disposal area).
d. Lokasi buangan tanah harus disetujui oleh direksi pekerjaan dan telah diukur bersama
untuk mengetahui existing lokasi buangan.
e. Posisi excavator diusahakan seefisien mungkin untuk memudahkan manuver gerak
Dump Truck.
f. Excavator memuat kedalam Dump truck,
g. Kemudian Dump Truck mengangkut tanah galian kedisposal area yang telah
ditentukan sejauh 0 – 1Km.
4. Pasangan Geotextile
Pelaksanaan :
a. Sebelum geotextile digelar terlebih dahulu disambung/ dijahit dengan
mempergunakan benang Nilon dan jahit tangan/mesin sesuai dengan lebar kebutuhan
yang akan dipasang/digelar.
b. Geotextile yang sudah disambung digulungkan ke alat bantu (pipa besi) yang telah diberi
gantungan yang berfungsi untuk memudahkan menggelar dan sekaligus berfungsi
sebagai pemberat geotextile dengan diberi angker besi agar geotextile tidak bergeser.
11
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
6. Pasangan batu camp. 1 Pc : 3 Ps
Pelaksanaan :
a. Pekerjaan pasangan batu dikerjakan dengan mengikuti persyaratan teknis atau sesuai
keadaan dilapangan.
b. Pemasangan batu dillakukan dengan menyusun secara rapi dan rapat, dan ruang yang
ada diantara batu yang satu dengan batu yang lain diisi dengan spesi sehingga masuk
kedalam celah-celahnya dengan sempurna.
c. Adukan mortal dilakukan dengan menggunakan beton molen dengan campuran
perbandingan 1Pc :3 Psr, dan sesuai petunjuk pengawas dan direksi.
Pelaksanaan :
a. Pekerjaan ini mencakup penyediaan pipa sandaran baja dan plat baja sebagai landasan.
b. Pemasangan meliputi pemasangan tiang-tiang baja sandaran dengan jumlah sesuai
gambar pada tembok sandaran beton yang telah disiapkan baut anchor sebagai
pengaku. Setelah selesai dilanjutkan dengan pemasangan pipa sandaran.
c. Pelaksanaan pekerjaan pemasangan secara manual menggunakan alat bantu seperti
mesin las, gerenda potong dan lain-lain yang dibutuhkan. Setelah selesai pemasangan
dilanjutkan dengan perapihan dan pengecatan untuk seluruh bidang sandaran.
8. Beton K200
Pelaksanaan :
a. Sebelum pelaksanaan pengecoran terlebih dahulu dipastikan material pasir, semen,
agregat kasar dan air telah cukup tersedia dilapangan agar pengecoran tidak terputus,
dan mendapat persetujuan dari Direksi serta konsultasn supervise.
b. Selanjutnya pekerjaan persiapan untuk pengecoran berupa pembuatan bekisting.
Bekisting dibuat sesuai dengan bentuk dan ukuran yang ditentukan dalam gambar kerja.
c. Bekisting/cetakan beton sebelum pengecoran dilakukan, harus dipersiapkan sehingga
posisi terakhir dari kedudukan konstruksi yang diminta dapat betul-betul dipenuhi, antara
lain bentuk, kekakuan dan kekuatannya, bagian-bagian yang akan dicor harus bersih,
bebas dari segala macam kotoran.
d. Besi yang sudah terpasang harus bebas dari karat maupun kotoran, dapat mengurangi
ikatan beton dengan besi tulangan. Posisi tulangan, ikatan dan jumlah batang besi yang
terpasang serta tebal selimut harus sesuai dengan Gambar Rencana.
e. Semua bentuk bekisting dan posisi pembesian harus disetujui Direksi sebelum
pengecoran dilaksanakan.
f. Blending material sesuai dengan JMF dan dibuat sedekat-dekatnya dengan tempat
pengecoran, dimana tinggi jarak penuangan dijaga agar tidak segregasi. Dalam proses
pengecoran ini dilakukan terus-menerus tidak berhenti sampai batas-batas penghentian
12
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
pengecoran (siar pelaksanaan) yang diizinkan dan disetujui Direksi. Untuk mencegah
timbulnya rongga, adukan dipadatkan selama pengecoran berlangsung dengan
menggunakan concrete vibrator.
g. Sampel pengecoran diambil pada saat proses pengecoran dimulai, sampel diisi dalam
kubus atau silinder yang disaksikan langsung oleh direksi dan konsultan supervisi.
13
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
12. Pengecatan Tembok.
Pelaksanaan :
a. Menyiapkan permukaan yang akan dicat. dipastikan permukaan dinding bersih dan
kering untuk mencegah terjadinya pengelupasan.
b. Setelah permukaan tembok sudah benar-benar kering, dan sebelum tembok di plamir,
terlebih dahulu dilapisi dengan Wall Sealer, guna menetralisir PH semen agar sesuai
dengan PH cat. Dengan wall sealer Cat tidak mudah mengelupas dan warna cat tidak
akan berubah dari warna aslinya.
14
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
b. Letak Pipa resapan merupakan barisan dalam arah horizontal dan vertikal dengan jarak
tertentu sesuai gambar kontrak.
c. Baris pipa resapan dipasang berselang-seling arah vertikal.
3. Bekisting
Pelaksanaan :
a. Setelah lahan telah tersedia, maka dilanjutkan dengan pekerjaan survey. Selanjutnya
dilaksanakan pemasangan bekesting, dalam pemasangan bekesting dibuat
sedemikian rupa (kokoh) sesuai dengan gambar kerja sehingga pada saat
pengecoran tidak terjadi pergeseran.
b. Setelah bekesting terpasang dengan benar dan kokoh. Kemudian dilaporkan pada
pihak direksi untuk meminta persetujuan dilakukan pekerjaan berikutnya
pemasangan besi dan pekerjaan beton.
c. Pembongkaran bekisting dilakukan setelah pengecoran selesai dengan selang waktu
minimal 14 hari dan maksimal 28 hari, serta sesuai dengan persetujuan direksi.
4. Besi Tulangan
Pelaksanaan :
a. Bentuk dari besi tulangan yang dipakai sesuai dengan gambar dan spesifikasi teknik.
Kemudian dirakit dan diikat dengan kawat bendrat.
b. Dilakukan pengecekan kualitas dan diameter besi tersebut.
c. Dibuat bending list yang dapat menekan waste material.
d. Diperhitungkan dengan kebutuhan penulangan bangunan lain untuk memanfaatkan
waste agar meminimalkan sisa pembengkokan.
e. Memotong dan membengkok besi beton memakai peralatan yang sesuai pada saat
pelaksanaan di lokasi kerja.
f. Pengangkutan besi tulangan ke lokasi bangunan.
g. Besi tulangan dan bentuk penginstalan mengacu terhadap shop drawing.
h. Sambungan (overlap) dilakukan sesuai dengan spesifikasi dibuat berselang-selang (tidak
dalam satu garis). Dan membuat jarak spasi antara besi dengan bekisting (beton
decking).
5. Beton K350
Pelaksanaan :
a. Sebelum pelaksanaan pengecoran terlebih dahulu dipastikan material pasir, semen,
agregat kasar dan air telah cukup tersedia dilapangan agar pengecoran tidak terputus, dan
mendapat persetujuan dari Direksi serta konsultasn supervise.
b. Selanjutnya pekerjaan persiapan untuk pengecoran berupa pembuatan bekisting.
Bekisting dibuat sesuai dengan bentuk dan ukuran yang ditentukan dalam gambar kerja.
c. Bekisting/cetakan beton sebelum pengecoran dilakukan, harus dipersiapkan sehingga
posisi terakhir dari kedudukan konstruksi yang diminta dapat betul-betul dipenuhi, antara
15
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
lain bentuk, kekakuan dan kekuatannya, bagian-bagian yang akan dicor harus bersih,
bebas dari segala macam kotoran.
d. Besi yang sudah terpasang harus bebas dari karat maupun kotoran, dapat mengurangi
ikatan beton dengan besi tulangan. Posisi tulangan, ikatan dan jumlah batang besi yang
terpasang serta tebal selimut harus sesuai dengan Gambar Rencana.
e. Semua bentuk bekisting dan posisi pembesian harus disetujui Direksi sebelum
pengecoran dilaksanakan.
f. Blending material sesuai dengan JMF dan dibuat sedekat-dekatnya dengan tempat
pengecoran, dimana tinggi jarak penuangan dijaga agar tidak segregasi. Dalam proses
pengecoran ini dilakukan terus-menerus tidak berhenti sampai batas-batas penghentian
pengecoran (siar pelaksanaan) yang diizinkan dan disetujui Direksi. Untuk mencegah
timbulnya rongga, adukan dipadatkan selama pengecoran berlangsung dengan
menggunakan concrete vibrator.
g. Sampel pengecoran diambil pada saat proses pengecoran dimulai, sampel diisi dalam
kubus atau silinder yang disaksikan langsung oleh direksi dan konsultan supervisi.
7. Bongkaran Bekisting
Pelaksanaan :
d. Pembongkaran bekisting dilakukan setelah pengecoran selesai dengan selang waktu
minimal 14 hari dan maksimal 28 hari, serta sesuai dengan persetujuan direksi.
16
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
c. Kemudian buat patokan jidar rel. Lempar adukan segaris lurus dari paku dan untuk hasil
yang terbaik biarkan rel kering ± 1 hari.
d. Langkah berikut adalah memplester area yang akan dikerjakan, plasteran pada
pekerjaan ini dilakukan pada pasangan batu.
9. Pengecatan Besi
Pelaksanaan :
a. Sebelum pegecatan, terlebih dahulu membersihkan karat dari permukaan besi dengan
cara diamplas permukaannya, dan bersihkan dari debu, minyak dan kotoran lainnya yang
ada. Dapat di lap dengan kain yang dibasahi dengan thinner terlebih dahulu.
b. Kemudian dicat dengan cat Meni Besi sebagai cat dasar. Dan dibiarkan kering.
c. Kemudian dicat dengan cat final sesuai dengan persetujuan direksi.
E. PEKERJAAN SPILLWAY
1. Pasangan batu camp. 1 Pc : 3 Ps
Pelaksanaan :
a. Pekerjaan pasangan batu dikerjakan dengan mengikuti persyaratan teknis atau sesuai
keadaan dilapangan.
b. Pemasangan batu dillakukan dengan menyusun secara rapi dan rapat, dan ruang yang
ada diantara batu yang satu dengan batu yang lain diisi dengan spesi sehingga masuk
kedalam celah-celahnya dengan sempurna.
c. adukan mortal dilakukan dengan menggunakan beton molen dengan campuran
perbandingan 1Pc : 3 Psr, dan sesuai petunjuk pengawas dan direksi.
3. Bekisting
Pelaksanaan :
a. Setelah lahan telah tersedia, maka dilanjutkan dengan pekerjaan survey. Selanjutnya
dilaksanakan pemasangan bekesting, dalam pemasangan bekesting dibuat
sedemikian rupa (kokoh) sesuai dengan gambar kerja sehingga pada saat
pengecoran tidak terjadi pergeseran.
b. Setelah bekesting terpasang dengan benar dan kokoh. Kemudian dilaporkan pada
pihak direksi untuk meminta persetujuan dilakukan pekerjaan berikutnya
pemasangan besi dan pekerjaan beton.
17
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
c. Pembongkaran bekisting dilakukan setelah pengecoran selesai dengan selang waktu
minimal 14 hari dan maksimal 28 hari, serta sesuai dengan persetujuan direksi.
4. Besi Tulangan
Pelaksanaan :
a. Bentuk dari besi tulangan yang dipakai sesuai dengan gambar dan spesifikasi teknik.
Kemudian dirakit dan diikat dengan kawat bendrat.
b. Dilakukan pengecekan kualitas dan diameter besi tersebut.
c. Dibuat bending list yang dapat menekan waste material.
d. Diperhitungkan dengan kebutuhan penulangan bangunan lain untuk memanfaatkan
waste agar meminimalkan sisa pembengkokan.
e. Memotong dan membengkok besi beton memakai peralatan yang sesuai pada saat
pelaksanaan di lokasi kerja.
f. Pengangkutan besi tulangan ke lokasi bangunan.
g. Besi tulangan dan bentuk penginstalan mengacu terhadap shop drawing.
h. Sambungan (overlap) dilakukan sesuai dengan spesifikasi dibuat berselang-selang (tidak
dalam satu garis). Dan membuat jarak spasi antara besi dengan bekisting (beton
decking).
5. Beton K350
Pelaksanaan :
a. Sebelum pelaksanaan pengecoran terlebih dahulu dipastikan material pasir, semen,
agregat kasar dan air telah cukup tersedia dilapangan agar pengecoran tidak terputus, dan
mendapat persetujuan dari Direksi serta konsultasn supervise.
b. Selanjutnya pekerjaan persiapan untuk pengecoran berupa pembuatan bekisting. Bekisting
dibuat sesuai dengan bentuk dan ukuran yang ditentukan dalam gambar kerja.
c. Bekisting/cetakan beton sebelum pengecoran dilakukan, harus dipersiapkan sehingga
posisi terakhir dari kedudukan konstruksi yang diminta dapat betul-betul dipenuhi, antara
lain bentuk, kekakuan dan kekuatannya, bagian-bagian yang akan dicor harus bersih,
bebas dari segala macam kotoran.
d. Besi yang sudah terpasang harus bebas dari karat maupun kotoran, dapat mengurangi
ikatan beton dengan besi tulangan. Posisi tulangan, ikatan dan jumlah batang besi yang
terpasang serta tebal selimut harus sesuai dengan Gambar Rencana.
e. Semua bentuk bekisting dan posisi pembesian harus disetujui Direksi sebelum pengecoran
dilaksanakan.
f. Blending material sesuai dengan JMF dan dibuat sedekat-dekatnya dengan tempat
pengecoran, dimana tinggi jarak penuangan dijaga agar tidak segregasi. Dalam proses
pengecoran ini dilakukan terus-menerus tidak berhenti sampai batas-batas penghentian
pengecoran (siar pelaksanaan) yang diizinkan dan disetujui Direksi. Untuk mencegah
18
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
timbulnya rongga, adukan dipadatkan selama pengecoran berlangsung dengan
menggunakan concrete vibrator.
g. Sampel pengecoran diambil pada saat proses pengecoran dimulai, sampel diisi dalam
kubus atau silinder yang disaksikan langsung oleh direksi dan konsultan supervisi.
6. Bongkaran Bekisting
Pelaksanaan :
a. Pembongkaran bekisting dilakukan setelah pengecoran selesai dengan selang waktu
minimal 14 hari dan maksimal 28 hari, serta sesuai dengan persetujuan direksi.
8. Pasangan Bronjong
Pelaksanaan :
a. Pekerjaan bronjong meliputi pekerjaan-pekerjaan : penyediaan, pengangkutan dan
pemasangan kawat bronjong yang diisi dengan batu kali seperti yang ditunjuk pada
gambar rencana.
b. Bahan kawat bronjong terbuat dari kawat galvanisir berdiameter 3 mm yang mempunyai
fleksibilitas yang tinggi sesuai dengan spesifikasi standard industri Indonesia.
c. Sambungan-sambungan antara bronjong maupun sekat-sekatnya diikat dengan kawat.
Bronjong ditempatkan sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar. Batu isian yang
dipergunakan adalah batu yang keras.
d. Pemasangan dilaksanakan terus menerus bertingkat sesuai dengan gambar rencana
konstruksi dan sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.
9. Pengecatan Tembok.
Pelaksanaan :
a. Menyiapkan permukaan yang akan dicat. dipastikan permukaan dinding bersih dan
kering untuk mencegah terjadinya pengelupasan.
19
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
b. Setelah permukaan tembok sudah benar-benar kering, dan sebelum tembok di plamir,
terlebih dahulu dilapisi dengan Wall Sealer, guna menetralisir PH semen agar sesuai
dengan PH cat. Dengan wall sealer Cat tidak mudah mengelupas dan warna cat tidak
akan berubah dari warna aslinya.
20
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
g. Kemudian Dump Truck mengangkut tanah galian kedisposal area yang telah
ditentukan sejauh 3 Km.
5. Bekisting
Pelaksanaan :
a. Setelah lahan telah tersedia, maka dilanjutkan dengan pekerjaan survey. Selanjutnya
dilaksanakan pemasangan bekesting, dalam pemasangan bekesting dibuat sedemikian
rupa (kokoh) sesuai dengan gambar kerja sehingga pada saat pengecoran tidak terjadi
pergeseran.
b. Setelah bekesting terpasang dengan benar dan kokoh. Kemudian dilaporkan pada pihak
direksi untuk meminta persetujuan dilakukan pekerjaan berikutnya pemasangan besi dan
pekerjaan beton.
c. Pembongkaran bekisting dilakukan setelah pengecoran selesai dengan selang waktu
minimal 14 hari dan maksimal 28 hari, serta sesuai dengan persetujuan direksi.
6. Besi Tulangan
Pelaksanaan :
a. Bentuk dari besi tulangan yang dipakai sesuai dengan gambar dan spesifikasi teknik.
Kemudian dirakit dan diikat dengan kawat bendrat.
b. Dilakukan pengecekan kualitas dan diameter besi tersebut.
c. Dibuat bending list yang dapat menekan waste material.
d. Diperhitungkan dengan kebutuhan penulangan bangunan lain untuk memanfaatkan
waste agar meminimalkan sisa pembengkokan.
e. Memotong dan membengkok besi beton memakai peralatan yang sesuai pada saat
pelaksanaan di lokasi kerja.
f. Pengangkutan besi tulangan ke lokasi bangunan.
g. Besi tulangan dan bentuk penginstalan mengacu terhadap shop drawing.
h. Sambungan (overlap) dilakukan sesuai dengan spesifikasi dibuat berselang-selang (tidak
dalam satu garis). Dan membuat jarak spasi antara besi dengan bekisting (beton
decking).
21
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
7. Beton K350
Pelaksanaan :
a. Sebelum pelaksanaan pengecoran terlebih dahulu dipastikan material pasir, semen,
agregat kasar dan air telah cukup tersedia dilapangan agar pengecoran tidak terputus, dan
mendapat persetujuan dari Direksi serta konsultasn supervise.
b. Selanjutnya pekerjaan persiapan untuk pengecoran berupa pembuatan bekisting. Bekisting
dibuat sesuai dengan bentuk dan ukuran yang ditentukan dalam gambar kerja.
c. Bekisting/cetakan beton sebelum pengecoran dilakukan, harus dipersiapkan sehingga
posisi terakhir dari kedudukan konstruksi yang diminta dapat betul-betul dipenuhi, antara
lain bentuk, kekakuan dan kekuatannya, bagian-bagian yang akan dicor harus bersih,
bebas dari segala macam kotoran.
d. Besi yang sudah terpasang harus bebas dari karat maupun kotoran, dapat mengurangi
ikatan beton dengan besi tulangan. Posisi tulangan, ikatan dan jumlah batang besi yang
terpasang serta tebal selimut harus sesuai dengan Gambar Rencana.
e. Semua bentuk bekisting dan posisi pembesian harus disetujui Direksi sebelum pengecoran
dilaksanakan.
f. Blending material sesuai dengan JMF dan dibuat sedekat-dekatnya dengan tempat
pengecoran, dimana tinggi jarak penuangan dijaga agar tidak segregasi. Dalam proses
pengecoran ini dilakukan terus-menerus tidak berhenti sampai batas-batas penghentian
pengecoran (siar pelaksanaan) yang diizinkan dan disetujui Direksi. Untuk mencegah
timbulnya rongga, adukan dipadatkan selama pengecoran berlangsung dengan
menggunakan concrete vibrator.
g. Sampel pengecoran diambil pada saat proses pengecoran dimulai, sampel diisi dalam
kubus atau silinder yang disaksikan langsung oleh direksi dan konsultan supervisi.
8. Bongkaran Bekisting
Pelaksanaan :
a. Pembongkaran bekisting dilakukan setelah pengecoran selesai dengan selang waktu
minimal 14 hari dan maksimal 28 hari, serta sesuai dengan persetujuan direksi.
22
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
c. Adukan mortal dilakukan dengan menggunakan beton molen dengan campuran
perbandingan 1Pc : 3 Psr, dan sesuai petunjuk pengawas dan direksi.
23
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
b. Pemasangan batu dillakukan dengan menyusun secara rapi dan rapat, dan ruang yang
ada diantara batu yang satu dengan batu yang lain diisi dengan spesi sehingga masuk
kedalam celah-celahnya dengan sempurna.
c. Adukan mortal dilakukan dengan menggunakan beton molen dengan campuran
perbandingan 1Pc : 3 Psr, dan sesuai petunjuk pengawas dan direksi.
3. Beton K200
Pelaksanaan :
a. Sebelum pelaksanaan pengecoran terlebih dahulu dipastikan material pasir, semen,
agregat kasar dan air telah cukup tersedia dilapangan agar pengecoran tidak terputus,
dan mendapat persetujuan dari Direksi serta konsultasn supervisi.
b. Selanjutnya pekerjaan persiapan untuk pengecoran berupa pembuatan bekisting.
Bekisting dibuat sesuai dengan bentuk dan ukuran yang ditentukan dalam gambar kerja.
c. Bekisting/cetakan beton sebelum pengecoran dilakukan, harus dipersiapkan sehingga
posisi terakhir dari kedudukan konstruksi yang diminta dapat betul-betul dipenuhi, antara
lain bentuk, kekakuan dan kekuatannya, bagian-bagian yang akan dicor harus bersih,
bebas dari segala macam kotoran.
d. Besi yang sudah terpasang harus bebas dari karat maupun kotoran, dapat mengurangi
ikatan beton dengan besi tulangan. Posisi tulangan, ikatan dan jumlah batang besi yang
terpasang serta tebal selimut harus sesuai dengan Gambar Rencana.
e. Semua bentuk bekisting dan posisi pembesian harus disetujui Direksi sebelum
pengecoran dilaksanakan.
f. Blending material sesuai dengan JMF dan dibuat sedekat-dekatnya dengan tempat
pengecoran, dimana tinggi jarak penuangan dijaga agar tidak segregasi. Dalam proses
pengecoran ini dilakukan terus-menerus tidak berhenti sampai batas-batas penghentian
pengecoran (siar pelaksanaan) yang diizinkan dan disetujui Direksi. Untuk mencegah
timbulnya rongga, adukan dipadatkan selama pengecoran berlangsung dengan
menggunakan concrete vibrator.
g. Sampel pengecoran diambil pada saat proses pengecoran dimulai, sampel diisi dalam
kubus atau silinder yang disaksikan langsung oleh direksi dan konsultan supervise.
24
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
d. Langkah berikut adalah memplester area yang akan dikerjakan, plasteran pada
pekerjaan ini dilakukan pada pasangan batu.
3. Timbunan Pasir
Pelaksanaan :
a. pekerjaan pengurugan pasir ini dilakukan secara manual oleh tenaga manusia.
25
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
b. Pada saat fabrikasi, perlu diperhatikan dimensi-dimensi dan proses pengecatan, dimana
dalam hal pengecatan daun pintu dan kusen pintu harus disand blasting saat sebelum
dilakukannya pengecatan dan epoxy, agar tidak mudah terjadinya korosi.
c. Setelah fabrikasi selesai, pintu dan assesorisnya dimobilisasi kelokasi pekerjaan.
d. Pemasangan daun pintu dilakukan dilokasi pekerjaan dengan menggunakan chain block.
6. Bekisting
Pelaksanaan :
a. Setelah lahan telah tersedia, maka dilanjutkan dengan pekerjaan survey. Selanjutnya
dilaksanakan pemasangan bekesting, dalam pemasangan bekesting dibuat sedemikian
rupa (kokoh) sesuai dengan gambar kerja sehingga pada saat pengecoran tidak terjadi
pergeseran.
b. Setelah bekesting terpasang dengan benar dan kokoh. Kemudian dilaporkan pada pihak
direksi untuk meminta persetujuan dilakukan pekerjaan berikutnya pemasangan besi dan
pekerjaan beton.
c. Pembongkaran bekisting dilakukan setelah pengecoran selesai dengan selang waktu
minimal 14 hari dan maksimal 28 hari, serta sesuai dengan persetujuan direksi.
7. Besi Tulangan
Pelaksanaan :
a. Bentuk dari besi tulangan yang dipakai sesuai dengan gambar dan spesifikasi teknik.
Kemudian dirakit dan diikat dengan kawat bendrat.
b. Dilakukan pengecekan kualitas dan diameter besi tersebut.
c. Dibuat bending list yang dapat menekan waste material.
d. Diperhitungkan dengan kebutuhan penulangan bangunan lain untuk memanfaatkan
waste agar meminimalkan sisa pembengkokan.
e. Memotong dan membengkok besi beton memakai peralatan yang sesuai pada saat
pelaksanaan di lokasi kerja.
f. Pengangkutan besi tulangan ke lokasi bangunan.
g. Besi tulangan dan bentuk penginstalan mengacu terhadap shop drawing.
h. Sambungan (overlap) dilakukan sesuai dengan spesifikasi dibuat berselang-selang (tidak
dalam satu garis). Dan membuat jarak spasi antara besi dengan bekisting (beton
decking).
8. Beton K200
Pelaksanaan :
a. Sebelum pelaksanaan pengecoran terlebih dahulu dipastikan material pasir, semen,
agregat kasar dan air telah cukup tersedia dilapangan agar pengecoran tidak terputus, dan
mendapat persetujuan dari Direksi serta konsultasn supervise.
26
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
b. Selanjutnya pekerjaan persiapan untuk pengecoran berupa pembuatan bekisting. Bekisting
dibuat sesuai dengan bentuk dan ukuran yang ditentukan dalam gambar kerja.
c. Bekisting/cetakan beton sebelum pengecoran dilakukan, harus dipersiapkan sehingga
posisi terakhir dari kedudukan konstruksi yang diminta dapat betul-betul dipenuhi, antara
lain bentuk, kekakuan dan kekuatannya, bagian-bagian yang akan dicor harus bersih,
bebas dari segala macam kotoran.
d. Besi yang sudah terpasang harus bebas dari karat maupun kotoran, dapat mengurangi
ikatan beton dengan besi tulangan. Posisi tulangan, ikatan dan jumlah batang besi yang
terpasang serta tebal selimut harus sesuai dengan Gambar Rencana.
e. Semua bentuk bekisting dan posisi pembesian harus disetujui Direksi sebelum pengecoran
dilaksanakan.
f. Blending material sesuai dengan JMF dan dibuat sedekat-dekatnya dengan tempat
pengecoran, dimana tinggi jarak penuangan dijaga agar tidak segregasi. Dalam proses
pengecoran ini dilakukan terus-menerus tidak berhenti sampai batas-batas penghentian
pengecoran (siar pelaksanaan) yang diizinkan dan disetujui Direksi. Untuk mencegah
timbulnya rongga, adukan dipadatkan selama pengecoran berlangsung dengan
menggunakan concrete vibrator.
g. Sampel pengecoran diambil pada saat proses pengecoran dimulai, sampel diisi dalam
kubus atau silinder yang disaksikan langsung oleh direksi dan konsultan supervisi.
27
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
d. Pekerjaan ini dilaksanakan sampai mencapai elevasi rencana dan volume yang telah
ditetapkan dalam dokumen kontrak dengan tetap mengacu pada gambar kerja,
spesifikasi teknik dan instruksi direksi teknik.
e. Selama pekerjaan berlangsung selalu dikoordinasikan dengan pihak konsultan
pengawas dan pihak direksi dan setelah selesai terlaksana maka untuk meminta
persetujuan dari pihak Direksi sebagai dasar pembayaran.
28
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
Diagram Proses Desain Kalkulasi sampai dengan Pembelian Material
Disain kalkulasi
dan gambar
Tidak
Disetujui
Ya
Gambar kerja
Pembelian Supplier
Material Material
Material tiba di
Tidak
workshop
Pemeriksaan untuk :
- ukuran dan dimensi
- sertifikat material
Mengelopokkan
material
Penempatan posisi
material
29
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan
Dalam rangka Serah Terima Pertama, diperlukan kelengkapan :
1. Foto Visual ) % s/d 100 %
2. Kontrak Awal dan Addendum Kontrak
3. Rencana Mutu Kontrak
4. Laporan Harian,Mingguan dan Bulanan
5. Berita Acara pembayaran physik
6. MC 100%
7. Shop drawing
8. As Built drawing
9. Dan lain-lain yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.
Demikian Metode pelaksanaan ini disusun sebagai acuan awal pelaksanaan pekerjaan, hal-hal
yang sifatnya lebih detail akan disesuaikan selama masa pelaksanaan pekerjaan Rehabilitasi
Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan,atasperhatiannya diucapkan terimakasih.
Ir. FACHRIZAL
Direktur Utama
30
Metode Pelaksanaan Rehabilitasi Embung Napa Sibualbuali, Kab. Tapanuli Selatan