Panduan Diare Akut pada Anak
Panduan Diare Akut pada Anak
DEPARTEMEN IKA
RSMH PALEMBANG No Dokumen [Link] Halaman : 1
…………. ……………..
Panduan Praktek Tanggal Revisi Ditetapkan Oleh:
Klinis 9 Januari 2013
Ketua Divisi: Dr Hasri Salwan, SpA(K)
Definisi Kumpulan penyakit dengan gejala diare, yaitu defekasi dengan feses cair atau
lembek dengan/ tanpa lendir atau darah, dengan frekuensi 3 kali atau lebih sehari,
berlangsung kurang dari 14 hari, kurang dari 4 episode/bulan.
Perubahan konsistensi feses menjadi lebih lembek/cair dan frekuensi defekasi
lebih sering menurut ibu
Etiologi Penyebab terpenting: Rotavirus, E. coli, Shigella, Campylobacter jejuni, Vibrio
cholera, Salmonella. Dapat juga dikaitkan dengan gangguan motilitas, inflamasi
dan imunologi
Patogenesis Diare sekretorik: bakteri menempel di mukosa, mengeluarkan enterotoksin,
mengaktifkan second massenger sehingga pompa-pompa sekresi (terutama pompa
Chlorida) menjadi lebih aktif menghasilkan feses dengan konsistensi cair. Contoh
kolera.
Diare osmotik: defisiensi enzim-enzim pencernaan (enzim laktase merupakan
enzim yang paling cepat terpengaruh dan paling lambat pulih) menyebabkan
absorpsi makanan tidak sempurna menimbulkan beban osmotik di usus kecil
bagian [Link] makanan akan diurai oleh baktei kolon menjadi substansi-
substansi yang lebih kecil (laktosa akan diurai menjadi asam-asam lemak rantai
pendek, gas hidrogen, dan lain-lain) sehingga beban osmotik akan meningkat lagi
menimbulkan diare. Contoh defisiensi enzim laktase.
Diare campuran/sitolitik : Inflamasi/virus merusak villi sehingga terjadi gangguan
absorpsi makanan (mekanisme diare osmotik). Rusaknya villi menyebabkan
hiperplasi dan hipertropi kripta menimbulkan diare sekretorik. Contoh: infeksi
rotavirus.
Anamnesis Frekuensi BAB: 3 kali atau lebih, konsistensi feses cair atau lembek (konsistensi
feses cair tanpa ampas walaupun hanya sakali dapat disebut diare), jumlah feses,
ada tidaknya muntah, gejala-gejala klinik lain (batuk-pilek, panas, kejang, dan
lain-lain), riwayat masukan cairan sebelumnya, minum lahap atau malas minum.
Pemeriksaan fisik Tanda-tanda dehidrasi, komplikasi, penyakit penyulit (bronkopneumoni,
bronkiolitis, malnutrisi, penyakit jantung dan dekompensasi kordis, dan : keadaan
umum (gelisah, cengeng, rewel, letargi, tampak sakit berat), frekuensi nadi, suhu,
frekuensi nafas (tanda asidosis atau adanya penyakit penyulit). Pemeriksaan yang
meliputi keadaan umum pasien, status dehidrasi, pemeriksaan abdomen,
ekskoriasi pada bokong, dan manifestasi kulit. Penting untuk mengukur berat
badan, tinggi badan, lingkar kepala, perbandingan berat badan terhadap tinggi
badan, gejala kehilangan berat badan, menilai kurva pertumbuhan, dan sebagainya
Pemeriksaan Diare akut murni : darah rutin, feses rutin dan kultur feses
Penunjang Bukan diare akut murni atau diare akut dengan komplikasi : Darah lengkap,
elektrolit, BSS, kultur darah, urin lengkap, kultur urin.
Bentuk penyulit, jenis dan jumlah cairan dilihat pada skema 2. Terapi diet lihat skema 1
Terapi medikamentosa :
Diberikan preparat zink elemenal, untuk usia < 6 bulan sebanyak 1 x 10 mg dan
usia ≥ 6 bulan sebanyak 1 x 20 mg selama 10-14 hari. Obat-obatan antimikroba
termasuk antibiotik tidak dipakai secara rutin pada penyakit diare akut. Patokan
pemberian antimikroba/antibiotika adalah sebagai berikut :
1. Kolera.
2. Diare bakterial invasif.
3. Diare dengan penyakit penyerta.
4. Diare karena parasit/jamur.
Ad. 1. Kolera :
Semua penderita yang secara klinis dicurigai kolera diberi Tetrasiklin
2
50 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis selama 3 hari.
Ad. 2. Diare bakterial invasif :
Secara klinis didiagnosis jika :
Panas lebih dari 38,5oC dan meteorismus.
Ada lendir dan darah dalam tinja secara makroskopis maupun
mikroskopis.
Leukosit dalam tinja secara mikroskopis lebih dari 10/lpb atau ++
Antibiotika yang dipakai sementara menunggu hasil kultur :
K1inis diduga ke arah Shigella (setiap diare yang disertai darah
dapat dianggap shigelosis, jika tidak ada tanda klinis yang khas
untuk penyakit lainya atau belum dapat dibutikan infeksi lainnya,
melalui kultur) diberi Nalidixid acid 55mg/kgBB/hari diberi 4
dosis selama 10 hari atau Ciprofloxacin 30 mg/kgBB/hari dibagi
2 dosis selama 5 hari.
K1inis diduga ke arah Salmonella diberikan Kloramfenikol 100
mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis selama 10 hari.
Ad. 3. Penyakit penyerta diobati sebagaimana mestinya.
Ad. 4 Untuk penyakit parasit diberikan :
Amubiasis diberikan Metronidazole 50 mg/kbBB/hari dibagi
dalam 3 dosis selama 5-7 hari.
Helminthiasis: untuk Ascaris/Ankylostoma/Oxyuris: Pyrantel
Pamoate 10 mg/kgBB/hari dosis tungga1 atau albendazole 400
mg dosis tunggal untuk anak lebih dari 2 tahun.
Untuk Trichuris : Mebendazole 2 X l00 mg selama 3 hari.
Giardiasis : Metronidazole 15 mg/kgBB/hari selama 5 hari.
Untuk penyebab jamur diberikan :
Candidiasis diberikan Nistatin :
- Kurang dari 1 tahun : 4 X 100.000 IU se1ama 5 hari.
- Lebih dari 1 tahun : 4 X 300.000 IU se1ama 5 hari.
Edukasi Pendidikan kesehatan dilakukan pada saat visite dan di ruangan khusus dimana
orangtua penderita dikumpulkan.
Pokok ceramah meliputi :
Usaha pencegahan diare dan KKP.
Usaha pertolongan untuk mencegah dehidrasi pada diare dengan
menggunakan oralit dan cairan.
Imunisasi.
Keluarga berencana.
Penderita dipulangkan :
Bi1a yakin ibu sudah dapat/sanggup membuat/memberikan oralit kepada
anak dengan cukup wa1aupun diare masih berlangsung.
Kausa diare/penyakit penyerta sudah diketahui dan diobati (tidak mutlak).
Kepustakaan 1. Nelson Pediatric Text Book King CK, Glass R, Bresee JS, Duggan C.
Managing acute gastroenteritis among children oral rehydration: maintenance,
and nutritional therapy. Centers for disease control and prevention. MMWR.
2003;52:1-29.
2. Buku ajar IDAI Gastroenterohepatologi
3. Nelson Pediatric Text Book Fortaine O, Newton C. A revolution in the
management of diarrhea. Bull WHO. 2001; 79: 471-9.
4. Santosham M, Duggan C, Brown KH, Greenough III WB. Management of
3
acute diarrhea. Dalam: Wyllie R, Hyams JS, penyunting. Pediatric
Gastrointestinal and Liver Disease: Pathophysiology, Diagnosis,
Management. Edisi ke-3. Philadelphia: WB Saunders; 2006. H. 557-81.
5. World Health Organization. Guideline for the control of shigellosis, including
epidemics due to shigella dysenteriae type 1. WHO; 2003. H. 1-70.
Lain-lain (Algoritme, Skema 1. Terapi Cairan dan Pemberian Makanan Ada GE Akut Tanpa Penyulit.
Protokol, Prosedur,
Rehidrasi Pencegahan
Standing Order) Dehidrasi Cairan Makan Minum
Waktu Dehidrasi
Tanpa - - 10-20 cc/kgBB/ ASI diteruskan. Susu formula
dehidrasi BAB oralit atau diteruskan. Makanan padat
diteruskan dengan mengurangi
makanan berserat, ekstra 1 porsi
Ringan- 4 jam 75 cc (½ gelas) Idem Dapat ditangguhkan sampai
sedang oralit/ kg BB atau anak menjadi segar
ad libitum
sampairasa haus
hilang
Berat 4 Jam IVFD RL 30 Idem Idem
cc/kg BB 7½
tetes/kgBB/menit.
Oralit ad libitum
segera setelah
anak bias minum
Penilaian dilakukan tiap 1 jam
Setelah
Idem penderita tanpa dehidrasi
rehidrasi
Patokan koreksi cairan melalui NGD (Nasogastrik Drip) adalah :
Nadi masih dapat diraba dan masih dapat dihitung.
Tidak ada meteorismus.
Tidak ada penyulit yang mengharuskan menggunakan cairan IV
Dikatakan gagal jika dalam 1 jam pertama muntah dan diare terlalu
banyak atau syok bertambah berat.
Jenis/Cara
Jenis Terapi
Pemberian Jumlah Cairan Ket
Penyulit Medikametosea
Cairan
Gizi kurang RL Sesuai GEA nurni Sesuai kausa/
penyakit penyerta
Gizi buruk Modifikasi Maras : 250 cc/kgBB *
Sutejo Kwash : 200 cc/kgBB
Bronko Modifikasi ¾ Kebutuhan Sesuai BP **
Pneumonia Sutejo
Ensefalitis Modifikasi ¾ Kebutuhan Sesuai Ensefalitis
Sutejo
Meteorismus Modifikasi ¾ Kebutuhan Antibiotik ***
Sutejo profilaksis
Miningitis Modifikasi ¾ Kebutuhan Sesuai menpur
Purulenta Sutejo
Dehidrasi Sesuai skema 3 Sesuai skema 3 Sesuai etiologi ****
hipotonis
Gagal Sesuai GGA 30 cc kg/BB + Sesuai GGA
Ginjal Akut volume urin 1 hari
sebelumnya + 12%
setiap kenaikan suhu
4
10 C
Impending Cairan rendah ¾ Kebutuhan Digitalisasi
Decomp natrium
Cordis
* Dapat mengunakan tatalaksana diare pada gizi buruk
** Diberikan pada bronkopneumonia dimana anak sangat sesak dan
sistim kardiovaskuler tidak mungkin menerima terapi rehidrasi cepat.
*** Akibat lanjut dari meteorismus adalah terjadinya ballooning effect,
langkah-langkah; untuk mengatasi ini adalah dengan melakukan
dekompresi :
Dari atas dengan sonde lambung yang dihisap secara berkala.
Dari bawah dengan memasang schorstein.
Menghentikan makanan peroral (sesuai dengan beratnya meteorismus)
dan memberi makanan parenteral sedini mungkin.
**** Dasar klinis diagnosis dehidrasi hipertonis :
1. Klinis : turgor yang relatif baik, hiperiritabel, rasa haus yang
sangat nyata, kejang yang biasanya timbul setelah terapi cairan.
2. Labor : kadar Na* serum 1ebih dari 150 meq/l.
Cairan DG = KAEN 3A
5
Diare Kronik Kode ICD : A06
DEPARTEMEN IKA
RSMH PALEMBANG No Dokumen [Link] Halaman : 1
…………. ……………..
Panduan Praktek Tanggal Revisi Ditetapkan Oleh:
Klinis 9 Januari 2013
Ketua Divisi: Dr Hasri Salwan, SpA(K)
Definisi Diare kronik adalah diare berlangsung 14 hari atau lebih, dapat berupa diare cair
atau disentri. Diare akut dengan episode serangan 4 kali atau lebih dalam sebulan.
Etiologi Infeksi, non-infeksi, seperti malnutrisi, defisiensi imun, defisiensi mikronutrient
Patogenesis Mekanisme patofisiologi diare kronik bergantung penyakit dasarnya dan sering
terdapat lebih dari satu mekanisme (Arasu dkk. 1979), yaitu :
a. Diare osmotik.
b. Diare sekretorik.
c. Bakteri tumbuh lampau, malabsorbsi asam empedu, malabsorbsi lemak.
d. Defek sistem pertukaran anion.
e. Kerusakan mukosa.
f. Motilitas dan transit abnormal.
g. Sindrom diare intraktabel.
h. Mekanisme-mekanisme lain.
Klasifikasikan diare kronik berdasarkan patogenesis dan patofisiologi :
1. Diare persisten, yaitu diare yang melanjut/menetap sampai 2 minggu atau
lebih dan disebabkan oleh infeksi serta sering disertai gangguan
pertumbuhan. Pendekatan diagnosis diare persisten, meliputi infeksi
persisten, intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi, bakteri tumbuh
lampau, dan malabsorpsi nutrien.
2. Sindroma rawan usus (SRU)/Irritable bowel syndrome (IRS), yaitu suatu
sindrom klinis yang menyebabkan diare kronik non spesifik pada anak
yang tampaknya sehat, tidak ditemukan adanya kelainan organik.
3. Diare intraktibel bayi (Intractable diarrhea of infancy), yaitu bayi dengan
diare yang berhubungan dengan kerusakan mukosa yang difus yang
timbul sebelum bayi berusia 6 bulan, berlangsung lebih dari 2 minggu,
disertai malabsorbsi dan malnutrisi. Berbagai penyakit dapat
menyebabkan diare yang sulit diatasi dengan kerusakan mukosa usus
halus lebih lanjut, yang merupakan penyebab utama diare intraktabel.
Bentuk Klinis Pembagian diare kronik yang didasarkan atas sifat tinja-berair, berlemak atau
(Klasifikasi) berdarah, menurut Arasu dkk. (1979) akan lebih membantu menghadapi masalah
diare kronik. Klasifikasi diare kronik pada bayi dan anak adalah sebagai berikut :
a. Watery stools atau tinja cair :
1. Gastroenteropati alergi :
Alergi protein susu sapi.
Alergi protein kedele.
2.a. Defisiensi disakaridase :
Defisiensi lactase – sering sekunder.
Defisiensi sucrose – isomaltase.
b. Malabsorbsi glukosa – galaktosa
3. Defek imun primer.
4. Infeksi usus oleh virus, bakteri dan parasit (giardisis).
5. CSBS (Contaminated Small Bowel Syndrome).
6
Obstruksi usus, ma1rotasi, short bowel syndrome, dll.
Penyakit Hirschsprung, enterokolitis.
6. Persistent post enteriting diarrhoea dengan atau tanpa intoleransi
karbohidrat.
7. Diare sehubungan dengan penyakit endokrin.
Hiperparatiroidism.
Insufisiensi adrenal.
Diabetes melitus.
8. Diare sehubungan dengan tumor.
Karsinoma medula tiroid.
Ganglionewoma.
Zolinger-Ellison syndrome.
9. Ma1absorbsi asam empedu.
Cholerrhoeic diarrhoea.
b. Fatty stools atau tinja berlemak :
1. Insufisiensi pancreas, PEM, BBLR.
Hipoplasia (Swachman Syndrome).
Cystic fibrosis. celiac disease.
2. Limfangiektasi usus.
3. Kolestasis.
Atresia biliaris ekstra atau intrahepatik.
Hepatitis neonatal.
Sirosis hepatis.
4. Steatorhoe akibat obat (misal: neomisin, kolestiramin).
5. CSBS: -Short bowel syndrome.
6. Gastroenteropati alergi, defek imun primer, enteropati akrodennatitis,
anemia defisiensi besi.
c. Bloody stools atau tinja berdarah :
1. V. campylobacter, Salmonella, Shigella.
2. Disentri amuba.
3. Inflammatory bowel disease.
Kolitis ulseratif.
Penyakit Chron .
4. Enterokolitis pseudomembranosa.
5. Diare sehubungan dengan lesi anal.
Anamnesis Riwayat penyakit: saat mulainya diare, frekuensi diare, kondisi tinja meliputi
penampakan, konsistensi, adanya darah atau lendir, gejala ekstraintestinal seperti
gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas, failure to thrive sejak lahir (cystic
fibrosis), terjadinya diare sesudah diberikan susu. Buah-buahan (defisiensi
sukrase-isomerase), hubungan dengan serangan sakit perut dan muntah
(malrotasi), diare sesudah gangguan emosi atau kecemasan (irritable colon
syndrome), nyeri abdomen berulang yang berat (insufisiensi pankreas yang berat),
riwayat pengobatan antibiotika sebelumnya (enterokolitis pseudomembranosa).
Kelompok umur dapat memprediksi penyakit. Bayi muda: diare intraktabel pada
bayi, alegi protein susu sapi atau kedelai, enteritis karena infeksi yang
berkepanjangan, atrofi vilus idiopatik, penyakit Hirschrprung, defek transpor
kongenital. Anak 2 tahun keatas, kolon irritabel (irritable colon of infancy,
chronic nonspesific diarrhea), enteritis karena virus yang berkepanjangan,
giardiasis, difisiensi sukrase-isomaltase, tumor sekretori, inflamatory bowel
disease, dan penyakit siliak.
Pemeriksaan fisik Pemeriksaan meliputi keadaan umum, status dehidrasi, pemeriksaan abdomen,
ekskoriasi bokong, manifestasi kulit. Penting untuk mengukur berat badan, tinggi
badan, lingkar kepala, perbandingan berat badan terhadap tinggi badan, gejala
kehilangan berat badan, menilai kurva pertumbuhan, dan sebagainya. Tanda;tanda
khas: anemia (inflamatory bowel disease, penyakit siliak, fibrosis kistik), artritis
(inflamatory bowel disease), pubertas terlambat (penyakit Crohn), gagal tumbuh
7
(penyakit Crohn, malabsorpsi lemak), panas (inflamatory bowel disease,
gastroentritis karena infeksi).
8
Tatalaksana Umum dan Dietetik.
a. Nutrisi enteral :
Alimentasi enteral merupakan cara yang paling efektif dan dapat
diterima untuk mempertahankan dan mencukupi kebutuhan nutrisi
penderita anak dengan saluran pencernaan yang masih berfungsi. Jalur
enteral dapat ditempuh melalui oral atau nasograstrik, nasojejunal,
gastrostomi atau jejunostomi dengan feeding tube
Pemilihan formula diet yang diberikan secara enteral dapat
dikategorisasikan dalam 3 macam diet:
i. Diet polimerik, yang mengandung protein sebagai sumber protein
dan dipakai untuk pasien dengan fungsi usus yang normal.
ii. Diet elemental, yang mengandung nutrient dengan berat molekul
rendah dan dipakai untuk pasien dengan gangguan fungsi
gastrointestinal.
iii. Diet formula khusus, yang mengandung kadar tinggi asam amino
rantai bercabang untuk pemakaian pada ensefalopati hepatik dan
pasien dengan perubahan kadar asam amino lain atau kesalahan
metabolisme bawaan (inborn errors of metabolism)
Kandungan formula yang ditetapkan meliputi:
i. Karbohidrat
Karbohidrat dipecah oleh enzim oligosakaridase dalam mikrovili
menjadi monosakarida yang akan diabsorbsi ke dalam enterosit.
Terdapat 4 enzim oligosakaridase yang berbeda dalam mikrovili
yaitu maltase (glukosa amilase/glukosa a-dekstrinase), lactase dan
trehalase. Semua enzim ini berkurang pada penyakit yang
mengenai mukosa usus halus. Lactase paling mudah berubah dan
paling akhir pulih apabila terjadi kerusakan mukosa.
ii. Lemak
Lemak merupakan nutrien yang paling padat kandungan
kalorinya. Pemberian lemak pada penderita diare kronik sangat
penting karena sering disertai keterbatasan pemasukan kalori.
iii. Protein
Kebutuhan protein dapat dipenuhi dengan penggunaan protein
utuh, protein hidrolisat, asam amino atau gabungan.
iv. Vitamin dan mineral
Kekurangan vitamin dan mineral dapat terjadi pada anak,
walaupun pemasukan kalori cukup, jika terdapat malabsorbsi
lemak atau terjadi interaksi obat/diet yang sangat khusus.
Formula yang paling baik diberikan pada diare kronik ialah yang
mengandung glukosa primer (bebas laktosa), protein hidrolisat,
medium chain triglyceride, osmolaritas kurang dari 600 mOsm/l dan
bersifat hipoalergik atau yang mengandung short chain peptide
(Pregestimil, Pepti Yunior).
Menaikkan jumlah formula dilakukan perlahan-lahan. Mula-mula
dianjurkan konsentrasi 1/3 oral (2/3 IV), selanjutnya dinaikkan
menjadi 2/3 oral (1/3 IV), dan bila keadaan sudah cukup baik
(kenaikan BB minimal 1 kg) diberikan pregestimil/ pepti yunior dalam
konsentrasi penuh.
Pemberian melalui pipa nasogastrik diperlukan apabila bayi/anak tidak
mampu atau tidak mau menerima makanan secara oral, namun
keadaan saluran gastrointestinalnya masih berfungsi. Pemberian nutrisi
dilakukan dengan meningkatkan secara bertahap kecepatan dan kadar
formula sampai mencapai kebutuhan nutrisi anak.
Komplikasi nutrisi enteral : hidrasi berlebih, hiperglikemia, azotemia
(konsumsi protein berlebih), hipervitaminosis K, dehidrasi sekunder
9
karena diare, gangguan elektrolit dan mineral (terutama akibat muntah
dan diare), gagal tumbuh sekunder akibat pemasukan energi tidak
cukup, dan aspirasi, serta defisiensi nutrisi sekunder karena kesalahan
formula.
b. Nutrisi Parenteral
Nutrisi parenteral merupakan teknik untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi tubuh melalui jalur intravena. Nutrien khusus terdiri atas air,
dekstrosa, asam amino, emulsi lemak, mineral, vitamin, trace elemen.
Jalur ini jangan digunakan apabila penderita masih mempunyai saluran
gastrointestinal yang masih berfungsi serta masih dimungkinkan
pemberian secara peroral, enteral atau gastrostomi. Pada umumnya
tidak digunakan untuk waktu kurang dari 5 hari.
Indikasi nutrisi Ament ME, 1993 :
c. Karbohidrat :
Dekstrosa merupakan sumber utama kalori non protein yang
memberikan 3,4 kka1/gram dalam bentuk monohidrat.
Keterbatasannya: phlebitis terjadi pada kadar > 10-12,5%.
Pemberian dilakukan secara bertahap untuk memberikan
kesempatan respon tubuh dalam memproduksi insulin endogen
dan mencegah terjadinya glikosuria.
d. Asam amino
Kebutuhan asam amino menurut usia (Ament ME, 1993) :
Kebutuhan
Umur Mulai pemberian
(gr prot/kg/hari)
Bayi prematur 2,5 – 3 0,5 gr prot/kg/hari dinaikan 0,5 gr prot/kg/hari.
Bayi 0–1 tahun 2,5 – 3 1 gr prot/kg/hari dinaikan 0,5 gr prot/kg/hari
Anak 2–13 tahun 1,5 – 2
Remaja–Dewasa 1 – 1,5
10
e. Lemak :
Selain untuk memenuhi kebutuhan kalori, lemak menyediakan
asam lemak essensial untuk pertumbuhan bayi dan anak, dan
menunjang perkembangan yang normal.
Preparat lemak intravena tersedia dalam larutan 10% (1 kkal/ml)
dan 20% (2 kka1/ml).
Minimal 20-40% dari kebutuhan kalori total diberikan berupa
lemak intravena untuk menghindari terjadinya defisiensi asam
lemak, yang dapat dicapai dengan penggunaan 0,5-1 gram
emulsi lemak/kg/hari.
Defisiensi asam lemak paling awal terjadi pada neonatus dalam
2 hari dengan tanda kecepatan pertumbuhan yang lambat, kulit
kering bersisik, pertumbuhan rambut berkurang. trombositopeni,
peka terhadap infeksi dan gangguan penyembuhan luka.
f. Elektrolit :
Kebutuhan elektrolit intravena (Ament ME, 1993) :
Medikamentosa :
a. Obat anti diare (kaolin, pectin, difenoksilat) tidak perlu diberikan karena
tidak satupun yang memberikan efek positif.
b. Obat anti mikroba :
Pemberian anti mikroba umumnya tidak dianjurkan, bahkan dapat
mengubah flora usus dan memperburuk diare, kecuali pada neonatus,
anak dengan sakit berat (sepsis), anak dengan defisiensi imunologi dan
anak dengan diare kronis yang sangat berat. Metronidazole efektif untuk
Giardia lamblia.
c. Kortikosteroid :
Pada anak dengan colitis ulseratif, pemberian enema steroid pada tahap
awal memberikan respon yang baik, dan pada beberapa anak mendapat
kombinasi dengan steroid sistemik.
d. Immunosupressif, seperti Azathioprine digunakan pada penyakit Chron
apabila pengobatan konvensional tidak mungkin.
e. Kolestiramin
Penggunaan kolestiramin sangat bermanfaat pada diare kronik, terutama
malabsorbsi asam empedu serta pada infeksi usus karena bakteri
(mengikat toksin).
f. Operasi
Indikasi operasi adalah pada diare kronis pada kasus-kasus bedah seperti
penyakit Hirschprung, enterokolitis nekrotikans. Operasi hanya dilakukan
setelah keadaan umum membaik.
11
malabsorpsi nutrien dengan memberikan multivitamin.
Kepustakaan 1. Soeparto P, Djupri LS, Sudarmo SM, Ranuh IGM RG. Gangguan Absorpsi-
Sekresi; Sindroma Diare. Seri Gramik: Gastroenterologi Anak. Edisi ke-2.
Surabaya : GRAMIK FK UNAIR; 1999.
2. Ghishan RE. Chronic Diarrhea. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Nelson
WE, Vaughan III VC, penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-
17. Philadelphia: WB Saunders Company; 2003. h. 1276-83.
3. Walker-Smith J, Barnard J, Bhutta Z, dkk. Chronic diarrhea and
malabsorption (including short gut syndrome): Working Group Report of the
First World Congress of Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and
Nutrition. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2002; Suppl).
SINDROM NEFROTIK KODE ICD: N04.-
DEPARTEMEN IKA
RSMH PALEMBANG [Link] No. Revisi
Halaman:
Ditetapkan oleh,
Tanggal revisi
Panduan Praktek
Klinis
10 Januari 2012
Dr. Dahler Bahrun, SpA(K)
Definisi Sindroma nefrotik merupakan kumpulan gejala yang terdiri atas:
1. edema
2. proteinuria massif (> 40 mg/m2/jam atau proteinuria +3 atau lebih )
3. hipoalbuminemia ( < 2,5 mg)
4. hiperkolesterolemia > 200 mg/dl
5. kadang-kadang hipertensi, hematuria, azotemia
Etiologi 1. SN primer / idiopatik
2. SN Kongenital
3. SN sekunder berhubungan dengan penyakit tertentu:
3.1 Penyakit infeksi: Malaria, Hepatitis B, AIDS, pasca infeksi streptokukus
12
2. Berdasarkan kelainan histopatologi
SN kelainan minimal (SNKM)
Glomerulosklerosis
Glomerulosklerosis fokal segmental (GSFS)
Glomerulonefritis membranosa (GNM)
Glomerulonefritis kronik lanjut (GNKL)
3. Berdasarkan respon terhadap terapi steroid
Steroid responsif (umumnya SNKM)
Steroid dependen (umumnya juga SNKM)
Steroid non responsif (umumnya GSFS, GNMP) atau SN sekunder.
Patogenesis Permeabili
Proteinuria masif Hipoalbuminemi Tekanan Masuk air,
Onkotik Edema
tas kapiler
glomerulus a ↓ Garam ↑
↑
Katabolisme Hipovolemia
lipoprotein ↑
mia
Aktivasi renin dan
LFG ↓
angiotensin II ↑
AKI Aldosteron ↑
Vasokonstriksi Reabsorpsi Na di
tubulus distalis
13
Anamnesis Tentukan adanya edema, gangguan pada urin, serta onset terjadinya gejala
Cari gejala lainnya, terutama gejala sindroma nefritis
Cari faktor penyebab
Cari komplikasi (hipotensi/syok, hipertensi, trombosis, infeksi, gagal ginjal)
Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik yang cermat terhadap keadaan umum pasien, tekanan darah,
frekuensi nafas, suhu, edema, asites, efusi pleura, anemia, kelainan jantung,
kelainan kulit, dan sebagainya. Penting juga untuk mengukur diuresis dan
menghitung balans cairan setiap harinya.
Kriteria diagnosis SN: edema, hipoproteinemia (kadar protein serum 5,5 g/dl),
hipoalbuminemia (kadar albumin serum 2,5 g/dl), hiperkolesterolemia (kadar
kolesterol serum 200 mg/dl), proteinuri masif (kadar proteinuri 0,05 – 0,1
g/kgBB/ 24 jam atau +++ pada pemeriksaan semi kualitatif)
SNI: bila etiologi SN tidak diketahui
SN kongenital bila gejala-gejala ditemukan 3 bulan pertama dari kehidupan.
SN sekunder bila ditemukan penyebab
Kortikosteroid responsif: urin bebas protein (<4 mg/jam/m2 LPT) atau
negatif/trace dengan pemeriksaan asam sulfosalisilat 3 hari berturut-turut
SN resisten steroid: remisi tidak terjadi `setelah akhir minggu kedelapan
pengobatan steroid alternating
Relaps jarang: Proteinuria +2 - +3 muncul kembali (kurang dari 2 kali)
dalam setahun setelah pengobatan steroid dihentikan.
Ditetapkan oleh,
Tanggal revisi
Panduan Praktek
Klinis
10 Januari 2012
Dr. Dahler Bahrun, SpA(K)
Definisi SNA adalah kumpu1an gejala-gejala nefritis yang timbul secara mendadak,
terdiri atas hernaturia proteinuria, silinderuria (terutama selinder eritrosit),
dengan atau tanpa disertai hipertensi, edema, kongestif vaskuler atau gagal
ginjal akut sebagai akibat dari suatu proses peradangan yang lazimnya
ditimbulkan oleh reaksi imunologik pada ginjal yang secara spesifik mengenai
glomeruli.
Etiologi a. Faktor infeksi
Nefritis yang timbul setelah infeksi Streptococcus beta hemolyticus
(Glomerulonefritis akut pasca streptococcus)
14
a. Hematuria proteinuria dan silinderuria (terutama silinder eritrosit)
b. Aliran darah ginjal laju filtrasi glomeruler (LFG) ↓ oliguria
retensi air dan garam → edema, hipervolemia, kongesti vaskuler
(hipertensi, edema paru dengan gejala sesak napas, ronki, kardiomegali).
Azotemia, hiperkreatinemia, asidemia, hiperkalemia, hipokalsemia dan
hiperposfatemia semakin nyata, bila LFG sangat menurun.
c. Hipoperfusi aktivasi sistem renin-angiotensin. Angiotensin 2 yang
bersifat vasokonstriksi perifer perfusi ginjal makin menurun. LFG makin
turun disarnping timbulnya hipertensi. Angiotensin 2 yang meningkat
merangsang kortek adrenal melepaskan aldosteron retensi air dan
garam hipervolemia →hipertensi.
Klasifikasi a. SNA dengan hipokomplemenemia, dapat asimtomatis atau simtomatis.
Termasuk kelompok ini antara lain adalah
a.1 Glomerulonefritis akut pasca infeksi streptococcus (GNAPS).
- Shunt nephritis
3) Shunt nephritis
Riwayat pemasangan shunt atrioventrikulo-atrial / peritoneal untuk
15
penanggulangan hidrosefalus, panas lama, muntah, sakit kepala,
gangguan penglihatan, kejang-kejang, penurunan kesadaran.
4) SLE
Keluhan dapat berupa panas lama, berat badan turun, anoreksia,
nausea, muntah, sakit kepala, depresi, psikosis, kejang, ruam pada
kulit
2) Nefropati IgA
Kecurigaan bila timbulnya serangan hematuria makroskopis secara
akut dipicu oleh suatu episode panas yang berhubungan dengan
ISPA. Hematuria makroskopis biasanya bersifat sementara dan akan
hilang bila ISPA mereda, namun akan berulang kembali bila penderita
mengalami panas yang berkaitan dengan ISPA. Diantara 2 episode,
biasanya penderita tidak menunjukkan gejala kecuali hematuria
mikroskopis dengan proteinuria ringan masih ditemukan pada
urinalisis. Edema, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal biasanya
tidak ditemukan.
3) Shunt nefritis
Hidrosefalus dengan shunt yang terpasang, suhu tubuh meninggi,
hipertensi, edema, kadang-kadang dengan asites dan tanda-tanda
peningkatan tekanan intrakranial.
2) Nefropati IgA
Demam, infeksi saluran nafas. Edema, hipertensi dan penurunan
16
fungsi ginjal biasanya tidak ditemukan.
17
Kultur yang diperoleh dari shunt terinfeksi (+).
4) Lupus eritematosus sistemik (LES)
Darah tepi: Anemia normositik normokhrom, retikulositosis,
trombositopenia, leukopenia, waktu protrombin/waktu tromboplastin
partial biasanya memanjang.
Immunoserologis: Uji Coomb (+). Sel LE (+) persisten. Keterlibatan
ginjal ditandai dengan sindroma nefritis akut dengan atau tanpa
disertai gagal ginjal akut atau sindroma nefrotik.
Diagnosis: dari nefritis lupus ditegakkan berdasarkan kelainan
diatas, dengan gambaran biopsi ginjal, mulai dari yang ringan
berupa GN proliferatif fokal ringan sampai yang berat berupa
proliferatif difusa.
b. SNA dengan normokomplenemia
1) Purpura Henoch-Schonlein (PHS)
Hematuria, proteinuria dan silinderuria.
Ureum/kreatinin serum dapat normal atau meningkat dapat terjadi
penurunan fungsi ginjal yang progresif yang ditunjukkan dengan
meningkatnya kadar ureum dan kreatinin serum. Kadar protein total,
albumin, kolesterol dapat normal, atau menyerupai sindrom
nefrotik. Trombosit, waktu protombin dan tromboplastin normal.
ASTO biasanya meningkat sedangkan IgM normal.
Pada kelainan ginjal berat biopsi ginjal perlu dilakukan untuk melihat
morfologi dari glomeruli pengobatan dan untuk keperluan prognosis.
2) Nefropati IgA
Hematuria makroskopis biasanya bersifat sementara
Kadar IgA serum biasanya meningkat (10,2%), kadar komplemen
(C3, C4) dalam serum biasanya normal.
Diagnosis pasti dibuat berdasarkan biopsi ginjal.
BRONKOPNEMONIA
DEPARTEMEN Kode ICD : J18.O
IKA RSMH
PALEMBANG No Dokumen No. Revisi
Halaman : 1
1 1
Ditetapkan Oleh,
Ketua divisi Respirologi
Panduan Tanggal Revisi
Praktek Klinis 06/10/2011
Dr. Kiagus Yangtjik, SpA(K)
Definisi Peradangan / inflamasi yang mengenai parenkim paru
18
Etiologi Streptococcus group B dan bakteri gram negatif seperti, E. colli, Pseudomonas sp,
Klebsiella sp, Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenza tipe B, Staphylococcus aureus.
Patogenesis Mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer melalui saluran respiratori
edema konsolidasi (serbukan sel PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema)deposit
fibrin semakin bertambah proses fagositosis jumlah makrofag meningkat
degenerasi sel fibrin menipis kuman & debris menghilang
Pemeriksaan Pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung, retraksi dinding toraks,
fisik suara nafas vesikuler meningkat sampai bronkial, dan bising tambahan ronkhi basah halus
nyaring.
Kriteria Anam nesis, pemeriksaan fisik , pem eriksaan penunjang (darah perifer lengkap,
Dianosis CRP, serologis, mikrobiologis, rontgen)
Edukasi Imunisasi, ASI yang adekuat, asupan gizi yang cukup, jauhkan anak dari polusi udara
dan asap rokok
Daftar Mardjanis S. Pneumonia. Dalam: Nastiti NR, dkk. Buku ajar respirologi ikatan dokter anak
kepustakaan Indonesia. Jakarta. 2008. Hal 350-65
Alberta Medical Association. Guideline for the diagnosis and management of community
acquired pneumonia. Pediatric. 2001
Magdlena SZ. Bronkiolitis. Dalam : Nastiti NR,dkk. Buku Ajar Respirologi anak. Ikatan
Dokter Anak Indonesia. Jakarta. 2008. Hal 333-49
Lain-lain
(Algoritme, -
Protokol,
Prosedur,
Standing
Order)
19
Dr. Kiagus Yangtjik, SpA(K)
Definisi Penyakit IRA-bawah yang ditandai dengan adanya inflamasi pada bronkiolus
Patogenesis Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus menyebabkan respon inflamasi akut, ditandai
dengan obstruksi bronkiolus akibat edema, sekresi mucus, timbunan debris selular/sel-sel mati
yang terkelupas, diikuti infiltrasi limfosit peribronkial dan edema submukosa
Bentuk Klinis -
(Klasifikasi)
Anamnesis Umur kurang dari 2 tahun, pilek ringan, batuk, dan demam. Batuk disertai sesak nafas,
wheezing
Pemeriksaan Demam subfebris, sesak nafas dengan tanda-tanda obstruksi saluran nafas, sesak nafas,
fisik ekspirasi memanjang dan mungkin terdengar wheezing ekspirasi.
Komplikasi dan Asma. Banyak anak yang kemudian menjadi penderita asma
Prognosis
Daftar Magdalena SZ. Bronkiolitis . Dalam : Nastiti NR,dkk. Buku ajar respirologi anak. Ikatan Dpkter
kepustakaan Anak Indonesia. Jakarta.2008. hal 333-49
Clinical practice guideline. American academy of pediatrics 2006
Marjanais S. Pneumonia . Dalam : Nastiti NR,dkk. Buku ajar Respirologi anak
Lain-lain -
(Algoritme,
Protokol,
Prosedur,
Standing Order)
Etiologi Belum diketahui. Faktor pencetus adalah allergen, infeksi (saluran nafas atas), iritan,
cuaca, kegiatan jasmani, refluks gastroesofagus, dan psikis
Patogenesis Alergen merangsang sel plasma menghasilkan IgE menempel pada reseptor dinding sel
mast. Bila allergen serupa masuk allergen tersebut akan menempel pada sel mast
tersensitisasi degranulasi sel mast mengeluarkan mediator; histamine, leukotrien, faktor
pengaktivasi platelet, bradikinin. Mediator ini meningkatkan permeabilitas kapiler
edema, peningkatan produksi mucus, kontraksi otot polos.
Anamnesis Batuk, dan sesak nafas yang paroksimal, dengan atau tidak ada faktor pencetus dan ada atau
tidak ada gejala atopi dalam keluarga ekspirasi memanjang dan wheezing ekspirasi.
Pemeriksaan
Ekspirasi memanjang dan wheezing ekspirasi
fisik
Kriteria
Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (fungsi paru, hiperreaktivitas
Diagnosis
saluran nafas, petanda inflamasi saluran nafas non invasive, status alergi)
Differential GER, rinosinobronkitis, obstructive sleep apnea syndrome, fibrosis kistik, primary cilliary dyskinesis,
diagnosis bends asing, vocal ford dysfunction
Pemeriksaan Pemeriksaan fungsi paru, hiperreaktivitas saluran nafas, petanda inflamasi saluran nafas
Penunjang non invasif, status alergi.
Tatalaksana - Mencari dan menghindari faktor pencetus, untuk diperlukan kerjasama dengan orang tua
penderita.
- Mencegah serangan asma dengan pemberian obat untuk mempertahankan sel-sel mediator
tidak pecah. Obat-obatan yang dipakai adalah sodium kromoglikat dan ketotifen. Bila
serangan diduga diakibatkan faktor alergi dan serangan terjadi lebih dari 3 kali dalam
sebulan diberikan ketotifen dosis 0,025 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis diberikan selama
6 bulan atau lebih.
- Pengelolahana serangan akut/status asmatikus :
Berikan ventolin nebulizer (0,5- 1 ampul)
Daftar
kepustakaan Asma, dalam :Nastiti NR, dkk. Buku ajar respirologi anak. lkatan dokter anak Indonesia.
Jakarta. 2008. Hal 71-161
Global initiative for Asthma. Global strategy for asthma management and prevention.
National institute health.
Pedoman Nasional Asma Anak. UKK Respirologi Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Lain-lain -
(Algoritme,
Protokol,
21
Prosedur,
Standing Order)
22
Dr. Kiagus Yangtjik, SpA(K)
Patogenesis Inhalasi basil TB alveolus fagositosis oleh makrofag basil TB berkembang biak
destruksi makrofag pembentukan tuberkel perkijuan pecah lesi sekunder
parukaisifikasi kompleks ghon
Anamnesis Demam lama > 2minggu disertai keringat malam,batuk lama > 3 minggu berat badan
turun tanpa sebab yang jelas, nafsu makan tidak ada, lesu, diare
Pemeriksaan Konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu subfebris,badan kurus atau berat
fisik badan menurun. Dapat ditemukan pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak
sakit dan biasanya multipel, gejala spesifik sesuai organ yang terkena.
Differential -
diagnosis
Pengobatan :
Tatalaksana Dipakai cara DOTS (Direcly Observe Treatment Short Course)
H (INH)
R (Rifampisin)
Z (Pirazinamid)
Dosis
H : 5-10 mg/kgbb maximum 300 mg
23
R : 10 mg/kgbb diberikan 1 jam sebelum makan
Z : 20-30 mg/kgbb maximum 2 g/hari
Untuk TBC berat dapat diberikan obat 4 macam seperti berikut :
E : (Etambutol) dosis 10-15 mg/kgbb atau
S : (Streptomisin) dosis 20-50 mg/kgbb maximum 750 mg
Perhatian :
1. Perhatikan terhadap perbaikan gizi
2. Diberikan 24rednisone untuk anak umur > 3 bulan dengan TBC milier atau TBC serosa
selama 1-3 bulan
Monitoring :
1. Teratur selama 2 bulan, klinis kurang maju lanjutkan maintenance, evaluasi.
2. Tidak teratur dalam 1 bulan ulang ulang awal
Tidak teratur sertelah 1 bulan initial tergantung klinis
3. Initial 2 bulan teratur klinis baik, kemudian drop out lanjutkan maintenance dan
evaluasi
Propilaksis terutama balita
1. Kontak (-) dengan penderita TBC terbuka, lain-lain (-) : 5-10 mg/kgbb, evluasi selama 3
bulan
2. Kontak (-) evaluasi aktivitas TBC
3. Ibu TBC, BTA (-), Lain-lain 90-) H : 5-10 mg/kgbb selama 6 bulan
4. Pernah menderita TBC aktif sembuh :
- Menderita infeksi berat (morbili,pertusis) selama 4 bulan
- Dapat imunosupresif >7 hari sampai pengobatan selesai
Imunisasi penyakit asal virus : H 5-20 mg/kgbb selama 1 bulan
Komplikasi dan Dapat sembuh (gejala hilang) bila pengobatan teratur dan lengkap
Prognosis
Daftar Tuberculosis anak. Dalam: Nastiti NR,dkk. Buku Ajar respirologi anak. Ikatan Dokter Anak
kepustakaan Indonesia. Jakarta. 2008. Hal 162-267
Committee on infectious disease : screening for tuberculosis in infant and children Pediatrics
1999;93: 131-4
Lain-lain -
(Algoritme,
Protokol,
Prosedur,
Standing Order)
DEPARTEMEN IKA
DEMAM REMATIK DAN PENYAKIT JANTUNG REMATIK I09.8
RSMH PALEMBANG
NO DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN
1/2011 1/5
24
Ditetapkan oleh
PANDUAN PRAKTEK TANGGAL REVISI
Ketua Divisi Kardiologi Anak
KLINIS 09 JUNI 2011
Dr. Hj. Ria Nova, Sp. A(K)
Definisi
Demam rematik (DR) adalah sindrom klinik akibat infeksi kuman Streptococcus beta hemolytikus grup A,
dengan satu atau lebih gejala mayor yaitu Poliartritis Migrans Akut, Karditis, Korea Minor, Nodul
Subkutan atau Eritema Marginatum.
Demam Rematik Akut (DRA) adalah istilah untuk penderita demam rematik yang terbukti dengan tanda
radang akut.
Demam rematik inaktif adalah istilah untuk penderita dengan riwayat demam rematik tetapi tanpa
terbukti tanda radang akut.
Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah kelainan jantung yang ditemukan pada DRA atau kelainan
jantung yang merupakan gejala sisa (sekuele) dari DR.
Etiologi
Streptococcus beta hemolyticus group A strain tertentu yang bersifat reumatogenik dan adanya faktor
predisposisi genetik. Kemungkinan menderita DRA setelah mendapat infeksi Streptococcus beta
hemolyticus grup A di tenggorokan 0,3-3%.
Patogenesis
- Infeksi Streptococcus hemolyticus group A melepas berbagai antigen.
- Antigen Streptococcus hemolyticus grup A tertentu + komponen jaringan tubuh dengan struktur yang
mirip dengan antigen yang bersangkutan (+ mekanisme yang belum jelas) reaksi antigen antibodi
reaksi radang: eksudasi/proliferasi/degenerasi kelainan pada organ target (karditis, poliartritis
migrans, korea, eritema marginatum, nodul subkutan) + gejala umum radang (LED/CRP meningkat,
panas, dsb). Karditis insufisiensi katup/dilatasi jantung/miokarditis/perikarditis cacat katup,
kadang-kadang perlengketan perikardium gangguan hemodinamik dengan segala akibatnya. Proses
sikatrisasi berlangsung lama manifestasi kelainan jantung/cacat katup berubah sebelum sampai
bentuk yang definitif.
- Infeksi ulang Streptococcus hemolyticus group A aktivasi DR biasanya dengan karditis yang lebih
berat.
Bentuk Klinis
DR : variasi sesuai dengan gejala mayor yang manifes
PJR : variasi sesuai cacat katup yang dihadapi dan derajat serta luasnya karditis pada DR.
Komplikasi
Gagal jantung.
Gangguan tumbuh kembang akibat PJR.
Prognosis
Prognosis PJR sangat tergantung bentuk dan derajat kelainan katup.
Kemungkinan untuk rekuren jika kembali mendapat infeksi Streptococcus hemolyticus grup A di
tenggorokan 50%.
Diagnosis
Dasar diagnosis
Diagnosis demam rematik ditegakkan berdasarkan Kriteria WHO tahun 2003 (berdasarkan revisi kriteria
Jones).
Tabel 1. Kriteria WHO Tahun 2002-2003 Untuk Diagnosis Demam Rematik dan Penyakit Jantung
Rematik (Berdasarkan Revisi Kriteria Jones)
Kategori Diagnostik Kriteria
Demam rematik serangan pertama Dua mayor atau satu mayor dan dua minor
ditambah dengan bukti infeksi SGA
sebelumnya
Demam rematik serangan rekuren Dua mayor atau satu mayor dan dua minor
tanpa PJR ditambah dengan bukti infeksi SGA
sebelumnya
Demam rematik serangan rekuren Dua minor ditambah dengan bukti infeksi
dengan PJR SGA sebelumnya
Korea Sydenham Tidak diperlukan kriteria mayor lainnya
25
atau bukti infeksi SGA
PJR (stenosis mitral murni atau Tidak diperlukan kriteria lainnya untuk
kombinasi dengan insufisiensi mitral mendiagnosis sebagai PJR
dan/atau gangguan katup aorta)
Sumber: WHO, 2004.
Karditis
Kriteria Karditis:
Bunyi jantung melemah
Adanya bising sistolik, mid diastolik di apeks atau bising diastolik di basal jantung
Perubahan bising misalnya dari grade I menjadi grade II.
Takikardia / irama derap
Kardiomegali
Perikarditis
Gagal jantung kongestif tanpa sebab lain.
Eritema Marginatum
Merupakan kelainan kulit berupa bercak merah muda, berbentuk bulat, lesi berdiameter sekitar 2,5 cm,
bagian tengahnya pucat sedang bagian tepinya berbatas tegas, tanpa indurasi, tidak gatal paling sering
ditemukan pada batang tubuh dan tungkai proksimal.
Nodul Subkutan
Terletak di bawah kulit, keras, tidak sakit, mudah digerakkan dan berukuran 3-10 mm. Lokasinya sekitar
ektensor sendi siku, lutut, pergelangan kaki dan tangan dan kaki, daerah oksipital serta di atas prosesus
vertebra torakalis dan lumbalis.
26
Langkah diagnosis
Tegakkan diagnosis DR berdasarkan kriteria Jones tahun 2003
Tetapkan aktif atau inaktif
Tetapkan ada karditis atau tidak
Tetapkan ada kelainan pada katup jantung atau tidak
Jika tidak ada tanda-tanda DR aktif dan penyebab lain kelainan pada katup jantung dapat disingkirkan
dianggap PJR
Tetapkan status hemodinamik jantung: dekompensasio kordis atau tidak
Indikasi Rawat:
- DRA
- PJR dengan dekompensasio kordis
- PJR yang rekuren
Penatalaksanaan:
1. Antibiotika
a. Untuk Eradikasi:
Benzatin penisilin G : BB ≤ 27 kg = 600.000-900.000 unit
BB ≥ 27 kg = 1,2 juta unit
Bila tidak ada, dapat diberikan Prokain penisilin 50.000 Iµ/kgBB selama 10 hari
Alternatif lain:
Penisilin V (oral) : BB ≤ 27 kg 2-3 x 250 mg
BB > 27 kg 2-3 x 500 mg
Amoksisilin (oral) : 50 mg/kgbb/hari, dosis tunggal (maks.1g) selama 10 hari
Bila alergi terhadap penisilin dapat digunakan :
- Sefalosporin spektrum sempit : sefaleksin, sefadroksil
- Klindamisin : 20mg/kgbb/hari dibagi 3 dosis (dosis maks. 1,8 g/hari) selama 10 hari
- Azitromisin : 12mg/kgbb/hari, dosis tunggal (dosis maks. 500mg) selama 5 hari
- Klaritromisin : 15 mg/kgbb/hari dibagi 2 dosis (maks.250 mg/kali) selama 10 hari
- Eritromisin : 40 mg/kgBB/hari dibagi 2-4 kali sehari (dosis maksimum 1 g/hari) selama 10 hari
Alternatif lain :
- penisilin V : 2 X 250 mg, oral
- Sulfadiazin : BB ≤ 27 kg 500 mg sekali sehari
BB > 27 kg 1000 mg sekali sehari
Bila alergi terhadap penisilin dan sulfadiazin dapat diberikan :
- Eritromisin
- Klaritromisin
- Azitromisin
2. Obat Anti Inflamasi : diberikan untuk DRA atau PJR yang rekuren
Tabel 2. Rekomendasi Penggunaan Anti Inflamasi
Karditis
Hanya Artritis Karditis Ringan Karditis Berat
Sedang
Prednison - - 2-4 minggu * 2-6 minggu*
Aspirin a. 100 mg/kg 3-4 minggu** 6-8 minggu 2-4 bulan
BB/hari
dalam 4-6
dosis (2
minggu)
b. Kemudian
dosis
dikurangi
menjadi
60
mg/kg/hari
(4-6 minggu)
Dosis : Prednison 2 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis
Aspirin 100 mg/kgBB/hari dibagi 4-6 dosis
* Dosis Prednison ditappering (dimulai pada minggu ketiga) dan Aspirin dimulai minggu ketiga
kemudian ditappering.
** Aspirin dapat dikurangi menjadi 60 mg/kgBB setelah 2 minggu pengobatan
28
DEPARTEMEN IKA
DEKOMPENSASI KORDIS I51.9
RSMH PALEMBANG
NO DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN
1/2011 6/8
Ditetapkan oleh
PANDUAN PRAKTEK TANGGAL REVISI
Ketua Divisi Kardiologi Anak
KLINIS 09 JUNI 2011
Dr. Hj. Ria Nova, Sp. A(K)
Definisi
Dekompensasi kordis adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah secara adekuat untuk
memenuhi kebutuhan tubuh.
Etiologi
- Peningkatan beban volume: DSV, DAP, insufisiensi katup jantung, anemia, gagal ginjal dengan retensi
cairan, dsb.
- Peningkatan beban tekanan: stenosis katup aorta atau pulmonal, hipertensi sistemik/pulmonal, dsb.
- Gangguan miokard: kardiomiopati, miokarditis
- Perubahan frekuensi denyut jantung: SVT, Atrial flutter, atrial fibrilasi dsb.
Patofisiologi
Faktor penyebab gangguan pada preload, afterload, kontraktilitas otot jantung dan frekuensi denyut
jantung mempengaruhi penampilan jantung mekanisme kompensasi (dilatasi, hipertropi dan
rangsangan simpatik). Kemampuan kompensasi terlampaui gagal jantung
Bentuk klinis;
Berdasarkan cardiac output: high dan low cardiac failure
Berdasarkan onset: akut dan kronik
Berdasarkan sisi jantung: kiri, kanan, atau kiri dan kanan
Berdasarkan klasifikasi fungsional NYHA ( New York Heart Association):
- Derajat I : asimptomatik
- Derajat II : dispnu bila aktivitas sedang
- Derajat III : dispnu bila aktivitas ringan
- Derajat IV : dispnu dalam keadaan istirahat.
-
Tabel 1. Sistem skoring gagal jantung pada bayi menurut Ross
0 point 1 point 2 point
Volume sekali minum (cc) > 115 75-115 < 25
Waktu per sekali minum
(menit) < 40 min > 40 min
> 60
Laju nafas < 50 min 50-60 min min
Pola nafas Normal Abnormal
Perfusi perifer Normal Menurun
S3 atau diastolic rumble Tidak ada ada
Jarak tepi hepar dari batas
kostae < 2 cm 2-3 cm 3 cm
Komplikasi
Kegagalan sirkulasi
29
Prognosis
Tergantung faktor pencetus/penyebab yang mendasari
Diagnosis
Dasar diagnosis
Dispnu/ortopnu, pulsus alternans, takikardia/irama gallop, ronki basah tak nyaring di basal paru (gagal
jantung kiri), tekanan vena yugularis meningkat, hepatomegali, edema (gagal jantung kanan), kardiomegali
Langkah diagnosis
Perhatikan gejala dan tanda:
- Kardiovaskular: takikardi/irama gallop, kardiomegali, nadi: pulsus alternans
- Respirasi: dispnu, ortopnu, batuk produktif, ronki basah tak nyaring di basal paru
- Tanda-tanda bendungan sistemik: tekanan vena yugularis, hepatomegali (tumpul, lunak), edema
Indikasi rawat
Gagal jantung dengan sesak yang hebat (NYHA derajat IV)
Penatalaksanaan
1. Istirahat di tempat tidur, posisi setengah duduk. Bayi ditidurkan dengan posisi 30-45 derajat.
2. Berikan oksigen (2-4 L/menit)
3. Berikan cairan ¾ kebutuhan normal perhari. Bila terdapat anemia berat berikan tranfusi darah (packed
cell) terlebih dahulu, jumlah: 5-10 cc/kgBB diberikan selama 2-3 jam.
4. Medikamentosa
a. Diuretika (Furosemid) 1-2 mg/kg BB/kali iv diberikan 2 kali perhari
b. Digitalisasi
Digitalisasi awal digoksin 30-50 g/kgBB sehari peroral, dengan cara pemberian:
- ½ dosis diberikan pertama kali
- ¼ dosis 8 jam kemudian
- ¼ dosis diberikan 16 jam setelah dosis pertama
Dosis pemeliharaan digoksin (oral) 10-20 g/kgBB/hari diberikan pada hari kedua dan seterusnya.
Indikasi digitalis: takikardia, atrial flutter, kardiomiopati.
Untuk dekompensasi dengan NYHA derajat I-III dapat langsung dengan dosis pemeliharaan. Hati-
hati pemberian digitalis pada DR/PJR, bronkopneumonia. Digitalis tidak boleh diberikan pada aorta
stenosis, pulmonal stenosis, koarktasio aorta, anemia (Hb < 6g%).
c. Vasodilator
Diberikan pada:
- Dekompensasi kordis yang disebabkan pirau besar (DSV, DAP, DSAV)
- Dekompensasi kordis yang tidak responsif dengan pengobatan diatas.
Dapat diberikan kaptopril oral, dengan dosis 0,1-2 mg/kgBB/kali, dengan dosis maksimum 6
mg/kgBB/hari (dipilih dosis rendah). Diberikan dalam tiga kali pemberian.
5. Atasi penyakit utama atau penyakit penyerta (RHD), Bronkopneumonia, anemia, CHD, dll).
6. Diet rendah garam
7. Dilakukan pemeriksaan penunjang sesuai dengan fasilitas dan kondisi yang ada
- EKG
- Lab darah Hb lekosit, hitung jenis, LED.
- Toraks foto
- Analisa gas darah dan elektrolit
- Ekokardiografi
8. Pengawasan yang ketat terhadap gejala klinik untuk menilai:
- Frekuensi denyut jantung
- Frekuensi napas
- Berat badan
- Tekanan vena yugularis
- Pembesaran hati, edema
- Produksi urin dalam 24 jam
30
Kode ICD :
ANEMIA HEMOLITIK (THALASSEMIA)
DEPARTEMEN IKA
RSMH PALEMBANG
No Dokumen No. Revisi Halaman : 1
……………… …………………………..
Tanggal Revisi Ditetapkan Oleh,
Panduan Praktek
……………………….. Ketua divisi
Klinis
DR. Dr. Rini Purnamasari, Sp.A
Definisi Berkurangnya usia normal dari sel darah merah (eritrosit) < 120 hari
a. Corpuscular :
1. Defek dari membran
Etiologi 2. Defek dari hemoglobin
3. Defek dari enzim
b. Extracorpuscular
Laboratorium:
Kadar Hb Rendah
Retikulosit tinggi
“Blood film“: anisositosis, poikilositosis, hipokrom, sel target (+),
fragmentosit.
Pemeriksaan Kadar Hb F lebih dari 30% dan atau ditemukan Hb Patologis pada Hb
Penunjang analisa
Radiologi:
Pada tulang-tulang panjang akan tampak gambaran osteoporosis serta
kortek tulang menipis akibat medulla yang melebar.
Pada tulang tengkorak tampak atap tulang tengkorak yang menebal,
kadang-kadang tampak “Hair Brush Appearrance”.
Pengobatan
1. Transfusi darah. Diberikan “Packed red cell”, 10-15 cc/kgBB, dengan
Tatalaksana
tujuan agar anak dapat melakukan aktivitas sehari-hari, untuk itu
dipertahankan Hb berkisar antara 8-12 g%.
31
2. Idealnya setiap peningkatan kadar Fe harus diberikan “Iron Chelating
Agent”. Iron Chelating Agent yang dipakai saat ini adalah Deferiprone
(ferriprox) dengan dosis 50-100mg/hari (3x per hari), Deferasirox (exjade)
dengan dosis 20-50 mg/hari (1x perhari).
3. Meskipun hipersplenisme kadang-kadang dapat dihindari dengan transfusi
lebih awal dan teratur, namun banyak pasien yang memerlukan
splenektomi. Karena adanya risiko infeksi, maka splenektomi sebaiknya
ditunda hingga usia 5 tahun.
4. Diet yang adekuat, roboransia.
5. Pemberian asam folat 2 x 5 mg/hari, vitamin E 200 IU/hari, aspilet 80 mg
jika trombosit > 600.000/µl
Pencegahan
Seluruh keluarga diperiksa. Bila ada pembawa sifat diberikan marriage
counselling sebelum menikah.
Saran Keluarga Berencana.
Edukasi - Bila mendapatkan anak dengan fenotif normal, dianjurkan untuk KB
- Bila tidak mendapatkan anak dengan fenotif normal, boleh punya anak
lagi dengan kemungkinan thalassemia atau membawa sifat
thalassemia.
Pencegahan terhadap infeksi, misalnya infeksi saluran pernapasan.
Kode ICD :
ANEMIA DEFISIENSI Fe
DEPARTEMEN IKA
RSMH PALEMBANG
No Dokumen No. Revisi Halaman :
……………… …………………………..
Tanggal Revisi Ditetapkan Oleh,
Panduan Praktek
……………………….. Ketua divisi
Klinis
DR. Dr. Rini Purnamasari, Sp.A
Anamnesis:
Anak tampak pucat, lemah, mudah lelah, sering berdebar-debar dan
sakit tulang.
Faktor predisposisi:
Anamnesis
- Defisiensi ibu waktu hamil
- Bayi berat badan lahir rendah
- kelahiran kembar atau perdarahan
- Pengikatan tali pusat terlalu cepat
- Pola dan jumlah makanan tak adekuat
- Infeksi, infestasi parasit.
Pemeriksaan:
Anemis, tidak ikterus, mungkin ditemukan atrofi papil lidah, pada anemia
Pemeriksaan fisik
kronis dapat terjadi pembesaran jantung dan bising sistolik fungsional
yang dinamakan dinamakan “Pan Systolik Murmur”.
Hepar dan lien tidak membesar.
32
Biasanya tidak tampak sakit berat karena perjalanan penyakit menahun
kecuali bila Hb rendah sekali
Pemeriksaan Laboratorium:
Penunjang Kadar Hb rendah, MCV < 79 CU, MCH < 27 μg, MCHC < 32%,
hipokrom-mikrositik, poikilositosis, retikulosit tergantung penyebab, serum
iron merendah dan IBC meningkat, kadar ferritin serum menurun.
Pengobatan
1. Mencari faktor penyebab dan mengobati sesuai standar profesi misalnya
terhadap ankilostomiasis
2. Memberikan makanan yang banyak mengandung Heme Fe seperti
daging dan hati
Tatalaksana 3. Besi elemental 3-5 mg/kgBBdiberikan 3x sehari
4. Tranfusi. Diberikan packed red cell, apabila terdapat tanda-tanda
gangguan oksigenasi atau kadar Hb < 6 g%. Jumlah yang diberikan =
kenaikan Hb yang diinginkan X BB (kg) X 4, dengan catatan makin rendah
Hb anak maka dosis tiap kali transfusi per hari menjadi semakin kecil
(berkisar antara 5-10 cc/kgBB/hari)
Kode ICD :
ANEMIA DEFISIENSI ASAM FOLAT
DEPARTEMEN IKA
RSMH PALEMBANG
No Dokumen No. Revisi Halaman :
……………… …………………………..
Tanggal Revisi Ditetapkan Oleh,
Panduan Praktek
……………………….. Ketua divisi
Klinis
DR. Dr. Rini Purnamasari, Sp.A
Anamnesis Anamnesis:
Anemia, lesu, irritable, lekas letih, berdebar-debar, lemah, pusing dan
sukar tidur.
Pemeriksaan:
Anemis, tidak ikterus, mungkin ditemukan atrofi papil lidah, pada anemia
kronis dapat terjadi pembesaran jantung dan bising sistolik fungsional
Pemeriksaan fisik yang dinamakan dinamakan “Pan Systolik Murmur”.
Hepar dan lien tidak membesar.
Biasanya tidak tampak sakit berat karena perjalanan penyakit menahun
kecuali bila Hb rendah sekali.
Laboratorium:
Hb rendah
Pemeriksaan MCV > 96 CU, makrositik normokrom
Penunjang Aktivitas asam folat serum rendah ( N: 2,1-2,8 ng/ml )
Retikulosit rendah dibanding derajat anemianya
Netrofil hipersegmented (inti dengan 6 lobus atau lebih)
BMP: Sistim eritropoetik cukup aktif, Eritroblast besar
Besi atau feritin serum bisa normal / meningkat.
Pengobatan
Tatalaksana
1. Mencari dan mengobati faktor penyebab.
2. Makanan yang mudah dicerna dan TKTP.
33
3. Asam folat 3 X 5 mg/hari pada anak, 3 X 2,5 mg/hari pada bayi.
4. Transfusi darah bila ada tanda-tanda gangguan oksigenasi.
Definisi Bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C)
yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial.
Anamnesis Kejang : lama, frekuensi, sifat, tipe, interval, kondisi inter iktal dan post iktal
Gejala sebelum kejang, termasuk riwayat demam, jarak demam dan terjadinya
kejang
Riwayat trauma
Riwayat kejang sebelumnya
Riwayat kejang dalam keluarga
Kelainan neurologis
Kriteria Diagnosis Kejang yang didahului demam (suhu rektal > 38°C) yang bukan disebabkan infeksi
intrakranial
Differential diagnosis Kejang dengan demam yang disebabkan proses intrackranial misal meningitis,
meningoensefalitis, ensefalitis
Pemeriksaan 1. Pemeriksaan Laboratorium
Penunjang Tidak dikerjakan rutin tetapi dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi
penyebab demam atau keadaan lain.
2. Pungsi Lumbal
Dilakukan untuk menegakkan/menyingkirkan kemungkinan meningitis
3. EEG
Dilakukan pada kejang demam yang tidak khas misal KDK pada anak > 6
34
tahun atau kejang demam fokal
4. Pencitraan
Dilakukan pada papiledema, paresis N VI dan kelainan neurologis fokal yang
menetap (hemiparesis)
Pengobatan Rumat
Pengobatan rumat adalah pengobatan yang diberikan secara terus menerus dalam
waktu tertentu.
1. Obat rumat yang dapat menurunkan risiko berulangnya kejang demam hanya
fenobarbital atau asam valproat. Semua obat antikonvulsan lain tidak
bermanfaat untuk mencegah berulangnya kejang demam.
2. Dosis valproat adalah 10-40 mg/kgBB/hari dibagi 2 – 3 dosis sedangkan
fenobarbital 3 – 5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis.
3. Pengobatan rumat cukup diberikan selama satu tahun, kecuali pada kasus
yang sangat selektif (rekomendasi D)
4. Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan
kesulitan belajar. Sedangkan pemakaian asam valproat pada usia kurang dari
2 tahun dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. Bila memberikan valproate,
periksa SGOT dan SGPT setelah 2 minggu, satu bulan, kemudian tiap 3 bulan.
5. Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan salah
satu atau lebih gejala sebagai berikut :
Kejang lama 15 menit.
Anak mengalami kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah
kejang, misalnya hemparesis, paresis Todd, Cerebral Palsy, retardasi
mental, hidrosefalus.
Kejang fokal.
Bila ada keluarga sekandung atau orang tua yang mengalami epilepsy.
Pengobatan rumat tidak harus diberikan tetapi dapat dipertimbangkan dalam
keadaan :
1. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.
2. Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan.
Catatan :
Semua peneliti setuju bahwa kejang demam 15 menit merupakan indikasi
pengobatan rumat.
Yang dimaksud dengan kelainan neurologis yang nyata misalnya kelumpuhan,
35
mikrosefali. Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan
perkembangan ringan bukan merupakan indikasi.
Kejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukan bahwa anak mempunyai
fokus organik di otak sisi kontralateral.
Tidak semua setuju bahwa kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari sudah merupakan
indikasi pengobatan rumat
Pengobatan Intermiten
Yang dimaksud dengan pengobatan intermiten adalah pengobatan yang diberikan
pada saat anak mengalami demam, untuk mencegah terjadinya kejang demam.
Terdiri dari pemberian antipiretik dan antikonvulsan.
Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya
kejang demam. Namum kesepakatan Saraf Anak menyatakan bahwa pengalaman
menunjukan bahwa antipirtetik tetap bermanfaat. Antipiretik yang dapat digunakan
adalah :
Parasetamol atau asetaminofen 10 – 15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali.
Ibuprofen 10 mg/kgBB/kali, diberikan 3 kali.
36
4. Buku Ajar Neurologi Anak Bab 10
5. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam
Ditetapkan Oleh,
Panduan Tanggal Revisi Ketua Divisi Neurologi
Praktek ……………….. Dr. Msy. Rita Dewi, Sp.A(K)
Klinis
Definisi Manifestasi klinis lepasnya muatan listrik yang berlebihan di sel neuron otak yang
bersifat paroksismal, yang terjadi karena adanya gangguan fisiologi, biokimiawi,
anatomis, atau gabungan factor-faktor tersebut.
37
Kriteria 1. Adanya serangan kejang akibat gangguan fungsi otak yang bersifat paroksismal
Diagnosis dengan bangkitan spontan atau karena gangguan ringan lebih dari 1(satu) kali/tahun
dengan berbagai macam manifestasi klinik disertai atau tidak disertai gangguan tingkat
kesadaran.
Differential Kejang tonik klonik umum (pallid syncope, cyanotic breath holding attacks,
Diagnosis cataplexy
Kejang absens umum (tic disorders)
Kejang parsial kompleks (sleep walking, benign paroxysmal vertigo, migrane
related disorders)
Pemeriksaan EEG dapat digunakan untuk mendiagnosis epilepsy hanya apabila kejang terekam, dan ini
Penunjang sangat jarang karena kebanyakan anak-anak dengan epilepsi memiliki frekuensi kejang
yang jarang. Sebagian kecil anak-anak normal memiliki aktivitas epileptiform pada EEG-
nya tetapi belum pernah mengalami kejang. Namun 40% pasien dengan epilepsi kronis
tidak pernah menunjukkan epileptiform pada EEG interiktal. Pencitraan otak tidak menjadi
dasar untuk mendiagnosis epilepsi
Tatalaksana Pengobatan :
Mengatasi kejang
Mencari faktor penyebab sindrom epilepsi
Menghindari faktor pencetus terjadinya serangan
Psikososial : memberikan penjelasan pada orang tua penderita tentang perawatan
anak dengan epilepsi
Obat maintenance yang diberikan diusahakan hanya satu jenis dengan dosis serendah
mungkin dan dosis dapat dinaikkan dalam 3-4 hari.
39
40
DEPARTEME MENINGITIS BAKTERIALIS Kode ICD :G.00
N IKA RSMH
PALEMBANG No Dokumen [Link] Halaman : 14
…………. ……………..
Ditetapkan Oleh,
Panduan Tanggal Revisi Ketua Divisi Neurologi
Praktek ……………….. Dr. Msy. Rita Dewi, Sp.A(K)
Klinis
Definisi Peradangan pada selaput otak ditandai dengan peningkatan jumlah sel
polimorfonuklear dalam cairan serebrospinal dan terbukti adanya bakteri penyebab
infeksi dalam cairan serebrospinal
Patogenesis Merupakan proses yang kompleks, komponen – komponen bakteri dan mediator
inflamasi berperan dalam respon peradangan pada meningen yang menyebabkan
perubahan fisiologis dalam otak berupa peningkatan tekanan intracranial dan
penurunan aliran darah otak yang dapat mengakibatkan timbulnya gejala sisa
Anamnesis Panas
Penurunan kesadaran
Kejang
High pitch cry pada bayi
41
Kriteria Gejala klinis
Diagnosis Pungsi lumbal
Tatalaksana 1. Kausal :
Antibiotika diberikan sesuai dengan kuman penyebab dan mampu melewati
“Blood Brain Barrier”
Beri antibiotika polifragmasi sebelum diketahui kuman penyebab.
Ampisilin 300-400 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis IV dan kloramfenikol 75-
100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis, maksimum 2 gram perhari. Lama
pemberian 10-14 hari atau cefotaxim 200-300 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 3
dosis atau ceftriaxone 100 mg/kgBB/hari dosis tunggal (maksimum 4 gram/hari)
diberikan 7-10 hari.
Perubahan antibiotika selanjutnya tergantung dari hasil resistensi tes.
Untuk mengatasi edema otak diberi kortikosteroid dexametason 0,2-0,3
mg/kgBB/kali diberikan 3 kali sehari selama 4–5 hari.
Untuk mencegah reaksi immunologis deksametason diberikan terlebih dahulu
sebelum pemberian antibiotika.
2. Suportif
Pemberian cairan
Jenis cairan yang diberikan cairan 2:1 (Dekstrose 5%+NaCI 15%) jumlah cairan
pada hari pertama 70% dari kebutuhan maintenance.
Nutrisi yang adekuat
Kejang diatasi sesuai dengan penatalaksanaan kejang demam sampai diketahui
sekuele +/-
Bila terjadi kenaikan tekanan intrakranial dengan tanda :
o Kesadaran menurun progresif
o Tonus otot meningkat
o Kejang yang tidak teratasi
o Fontanella menonjol
o Bradipnoe
o Tekanan darah meningkat
Diberikan manitol 20% dengan dosis 0,25-1 gram/kgBB/kali diberikan perinfus
selama 30-60 menit, dapat diulangi setelah 8 jam.
Pemberian O2.
Pembersihan jalan nafas
Awasi ketat fungsi vital
Perawatan atau follow up yang ketat 24-48 jam pertama untuk melihat adanya
“Sindroma Inapropriate Anti Diuretic Hormone” (SIADH). Apabila ada SIADH
42
dperlukan monitor kadar elektrolit dan berat badan, manifestasi klinis SIADH
sebagai berikut :
a. Retensi air
Balans cairan positif
Berat badan naik
Tidak ada edema perifer
Pitting edema di daerah sternum
b. Gejala sistem gastrointestinalis, anoreksia, nausea, muntah.
c. Gejala neurologik, letargi, pusing, kejang, perubahan pada pupil, koma.
d. Laboratorium
- Hiponatremia (manifestasi klinis baru terlihat sesudah
Na<125 mEq/L)
- Ureanitrogen dan kreatinin darah rendah
- Na urin > 20 mEq/L
- BD urin > 1,012
Apabila hiponatremia masih terus berlangsung sesudah retriksi cairan (50% dari
cairan maintenance) koreksi Na dengan rumus sebagai berikut:
Tindak lanjut :
Mengawasi keseimbangan cairan dan elektrolit
Pengukuran lingkaran kepala jika UUB belum menutup
Setelah 48-72 jam pemberian antibiotika adekuat belum ada perbaikan klinis yaitu
berupa : keadaan umum memburuk, panas tetap tinggi, kesadaran makin menurun,
kejang sukar diatasi, maka harus dipikirkan adanya komplikasi/pemberian
antibiotika yang tidak teratur atau tidak sensitif dan dilakukan pemeriksaan :
Lumbal fungsi ulang
Funduskopi
Transiluminasi
USG kepala jika UUB belum menutup
43
Ampisilin & Kloramfenikol, 10 hari untuk Cefotaxim & Ceftriakson jika klinis tetap baik
penderita dipulangkan dan kontrol ke poliklinik anak
Kesadaran koma :3
Suhu badan kurang dari 36, 60C :2
Kejang :2
Shock (TD sistole kurang dari 60 mmHg) :2
Umur kurang dari 1 tahun :1
WBC pada LCS kurang dari 1.000 :1
Hb kurang dari 11 gram :1
Glukosa pada LCS kurang dari 20 mg/dl : 0,5
Gejala sudah lebih dari 3 hari : 0,5
Resiko menjadi tinggi bila skoring total lebih dari 4,5
Lain-lain
(Algaritma,
Protokol,
Prosedur,
Standing
Order)
44
SYOK
DEPARTEMEN IKA
RSMH PALEMBANG No Dokumen [Link] Halaman :
…………. …………….. 35
Ditetapkan Oleh,
Panduan Praktek Tanggal Revisi Ketua Divisi Perawatan Intensif Anak
Klinis April 2012
Dr. Silvia Triratna, SpA(K)
Definisi
Syok adalah sindrom klinik akibat kegagalan sistim sirkulasi dalam mencukupi kebutuhan nutrien dan
oksigen dari segi pasokan maupun penggunaannya untuk metabolisme selular jaringan tubuh,
sehingga terjadi defisiensi akut oksigen di tingkat selular.
Manifestasi Klinis
Secara klinis syok terbagi ke dalam 3 fase yaitu : fase kompensasi, dekompensasi dan irreversible.
Etiologi syok
Diklasifikasikan :
1. Syok Hipovolemik
Jenis syok ini paling sering terjadi pada anak. Terjadi kekurangan volume [Link]
darah ke jaringan dan organ menurun.
2. Syok kardiogenik
Syok terjadi akibat disfungsi miokard. Terjadi kegagalan pompa jantung.
3. Syok distributif
Syok distributif disebabkan oleh maldistribusi aliran darah. Venous return menjadi tidak
mencukupi oleh karena darah terkumpul di ekstremitas, menyebabkan penurunan preload,
akibatnya cardiac output turun dan perfusi jaringan berkurang.
Terdapat 3 jenis syok distributif :
1. Syok anafilaktik, terjadi akibat adanya reaksi alergi, ditandai vasodilatasi masif dan
peningkatan permeabilitas kapiler.
2. Syok Neurogenik, terjadi apabila tonus simpatis menjadi hilang, menyebabkan vasodilatasi
arteri dan vena yang masif.
3. Syok septik, terjadi karena infeksi.
4. Obstruktif
Hambatan aliran darah ke luar jantung. Contohnya coartasio aorta
Mediator
Diagnosis
1. Riwayat penyakit. Dari riwayat penyakit penderita dapat diperoleh dugaan dan penyebab
syok yang sangat penting untuk didiagnosis dan tatalaksana yang tepat. Sebagian penyebab
syok adalah syok hipovolemik karena dehidrasi atau perdarahan (trauma) diikuti oleh spesis
dan kelainan jantung bawaan.
2. Pemeriksaan klinis
Tentukan status kardiovaskuler antara lain frekuensi jantung, kualitas nadi, kecepatan
pengisian kapiler (capilary refill) , kaki tangan dingin, gangguan perfusi kulit (pucat, mottled ,
sianosis) dan tekanan darah.
Pengaruh gangguan sirkulasi terhadap organ vital lain : yaitu frekuensi dan tipe pernafasan,
tingkat kesadaran) dan produksi urin.
Tatalaksana
Resusitasi awal :
1. Airway
46
Berikan oksigen (FiO2 100%), bila perlu ventilatory support
2. Breathing
3 Circulation
Pasang akses vaskuler secepatnya untuk resusitasi cairan dan berikan cairan kistaloid atau
koloid sebanyak 10-20 cc/kgBB (selama kurang dari 10-20 menit) dan bisa diulang 2-3 kali
sampai nadi teraba kembali (setelah dilakukan pemantauan)
Pemantauan awal :
1. Nilai respon penderita terhadap pemberian fluid challenge (loading) dengan memantau
status kardiovaskuler/tanda vital dan perfusi perifer.
2. Pasang kateter urin untuk menilai respon perbaikan sirkulasi dnegan memantau produksi
urin
3. Ambil pemeriksaan urin darah cito untuk darah tepi, analisa gas darah, kadar glukosa dan
elektrolit (bila perlu kultur, resistensi dan golongan darah).
Bila dilakukan pemantauan respon positif tetapi syok belum teratasi maka resusitasi dapat
diulang 2-3 kali. Bila tidak ada respon kemungkinan syok yang lain.
Resusitasi lanjutan :
1. Bila resusitasi lanjutan telah diberikan (2-3 fluid challenge) dimana kurang lebih 40-50% dari
volume darah telah diberikan namun masih belum ada respon yang adekuat, maka dilakukan
intubasi dan bantuan ventilasi. Evaluasi hasil analisis gas darah dan koreksi asidosis
metabolik bila pH< 7,15.
2. Bila masih terdapat hipotensi dan nadi tidak teraba sebaiknya dipasang kateter vena sentral
untuk pemberian resusitasi cairan berikutnya berdasarkan nilai CVP.
3. Nilai kembali kenaikan CPV setelah pemberian fluid challenge secara berhati-hati.
4. Evaluasi apakah efek inotropik negatif yang terjadi pada syok telah dikoreksi, sebelum
pemberian obat inotropik dimulai. Obat vasoaktif diberikan bila diyakini tidak terdapat lagi
hipovalemia dan oksigensi telah adekuat.
5. Bila kadar Hb< 5g/dl, koreksi dengan tranfusi PRC (10 ml/kgBB).
Medikamentosa
1. Dopamine
Diberikan pada hipotensi atau perfusi perifer buruk dengan volume intravaskuler cukup dan
irama jantung stabil.
Dosis Efek
5-10 mcg/kg/min IV Meningkatkan kontraktilitas miokard, curah jantung, dan
konduksi otot jantung
10-20 mcg/kg/min iv Vasokontriksi perifer dan tekanan darah sentral
>20 mcg/ kg/min iv Vasokontriksi tanpa efek inotropik
Dosis maksimum yang dianjurkan 15 mcg/kg/min. Bila dosis maksimum (12.5-15
mcg/kg/min) tercapai belum memberikan efek adekuat tambahkan inotropik lainnya sesuai
keadaan hemodinamik.
Dopamin dapat menyebabkan takikardi (meningkatkan kebutuhan oksigen miokard),
aritmia, supra dan ventrikular takikardia dan hipertensi. Dopamin dosis tinggi dapat
menyebabkan vasokontriksi perifer berat dan iskemia.
2. Dobutamin
Diberikan pada hipoperfusi.
Paling efektif untuk gagal jantung kongestif berat dan syok kardiogenik terutama
kardiomiopati karena bisa menurunkan resistensi vaskuler perifer.
Dosis dimulai 5 mcg/kg/min dan dinaikkan bertahap sampai 12.5 mcg/kg/min.
Dobutamin sedikit dapat menyebabkan takikardia, takiaritmia, atau ectopic beat. Efek
samping lain adalah mual, muntah dan hipotensi.
3. Epinephrine
Diberikan pada perfusi sistemik buruk atau hipotensi non hipovolemik, yaitu bila saat
47
resusitasi terdapat bradikardi, asistole atau nadi tak teraba.
Dosis rendah < 3mcg/kg/menit meningkatkan kontraktilitas miokard, laju denyut jantung,
TD sistolik dan tekanan nadi.
Dosis > 3 mcg/kg/menit peningkatan TD sistolik dan diastolik dan menyempitkan tekanan
nadi.
Dosis dimulai pada 0.05mcg/kg/min IV dan titrasi sampai memberikan efek. Pada kasus berat
dosis 2-3 mcg/kg/min IV.
Efinefrin dapat menyebabkan supraventrikular, ventrikular takikardia dan ventrikular
ektopik.
4. Norepinephrine
Merupakan vasopresor yang dipakai untuk hipotensi yang resistensi terhadap pemberian
bolus cairan dosis tinggi.
Dosis hampir sama dengan epinephrine dimulai pada 0,05 mcg/kg/min IV.
Pemantauan Lanjut :
1. Carilah penyebab syok lainnya yang mungkin terjadi (perdarahan akibat trauma tumpul
abdomen, pneumothoraks, syok kardiogenik, tamponade jantung, dll). Foto thoraks
secepatnya bila kondisi klinis stabil, konsultasi bedah bila diperlukan.
2. Setelah diresusitasi cairan dilakukan, berbagai kemungkinan disfungsi organ lain akibat syok
perlu dievaluasi untuk tatalaksana lanjutan.
a. Gagal prerenal (ATN = Acute Tubular Necrosis) periksa kadar ureum, kreatinin dan
fraksi eksresi natrium.
b. ARDS = (Acute Respiratory Distress Syndrome/Shock Lung) edema dan kerusakan
jaringan paru dapat terjadi pasca syok, bantuan ventilasi mekanik dan pemberian
PEEP mungkin diperlukan.
c. Depresi miokardinal. Untuk memperbaiki kontraktilitas jantung obat inotropik positif
dan pemantauan intensif mungkin diperlukan (pemasangan Swans Gans Kateter)
d. Gangguan koagulasi/pembekuan. Akibat lanjut syok, dapat timbul DIC (Disseminated
Intravascular Coagulation), hal tersebut perlu dicermati, bila timbul kecenderungan
perdarahan. Untuk menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksaan gangguan
pembekuan/masa perdarahan (BT/CT, PT/PTT, FDP, Trombosit).
e. SSP, dan organ lain
f. Evaluasi gejala sisa. SSP sangat penting, mengingat organ ini sangat sensitif terhadap
hipoksik iskemik yang dapat terjadi pada syok berkepanjangan (prolonged shock).
Demikian pula organ lainnya harus dipantau seperti hati dan saluran pencernaan.
Syok Septik
1. Definisi :
Sindroma respons inflamasi sistemik (SIRS) : respons system terhadap berbagai kelainan klinis
berat (misalnya) infeksi, trauma, luka bakar). Sindroma tersebut muncul bila ditemukan dua atau
lebih keadaan berikut ini :
- suhu tubuh > 38oC atau <36oC
- denyut jantung per menit > 2SD diatas nilai normal untuk umur.
- Laju nafas per menit > 2SB diatas nilai normal untuk umur.
- Hitung lekosit > 12 x 109/L, <4 x 109 atau > 10% sel batang.
Sepsis : respons sistemik terhadap infeksi (SIRS plus infeksi)
Syok septik : Sepsis yang disertai hipotensi walaupun telah diberi resusitasi cairan adekuat,
ditambah gangguan perfusi seperti pada sepsis berat. Anak dapat mengalami gangguan perfusi
walaupun belum ditemukan hipotensi
Hipotensi : tekanan darah sistolik > 2 SB dibawah rata-rata (MAP). Kegagalan sirkulasi terjadi
bila:
- MAP M< 40 mmHg untuk usia 3-6 bulan
- MAP M< 45 mmHg untuk usia 6-12 bulan
- MAP M< 50 mmHg untuk usia 1-4 bulan
- MAP M< 55 mmHg untuk usia 4-10 bulan
48
- MAP M< 60 mmHg untuk usia 10-14 bulan
- MAP M< 65 mmHg untuk usia 14-18 bulan
A. Patofisiologi :
Fokus infeksi
C. Manifestasi Klinis :
Manifestasi klinis yang mungkin terjadi pada tahap awal atau tahap lanjut penyakit sangat
bervariasi tetapi pada umumnya spesifik untuk usianya.
D. Pemeriksaan lainnya :
- Pemeriksaan fisik : vital sign, skalakoma Glasgow, pemeriksaan dari kepala sampai jari kaki.
- Laboratorium : leukositosis (>15.000/mm3) dengan pergeseran kekiri : lekopenia sepsis
berat, trombositopenia (< 100.000/mm3) kultur dan pewarna gram dari darah, cairan LCS,
urin, urinalisis, LED, Rontgen thoraks (berdasarkan anamnesis dan tanda fisis yang
ditemukan), elektrolit, glukosa, uji fungsi hati, CRP.
E. Tatalaksana :
Tindakan yang harus segera dilakukan pada anak yang dicurigai sepsis dan ditemukan adanya
atau ancaman syok harus mengikuti prinsip A, B, C resusitasi (airway, breathing, circulation)
diikuti dengan terapi khusus untuk organisme yang mungkin menjadi penyebabnya.
a. Pertahankan jalan nafas, intubasi semielektif dan ventilasi untuk memaksimalkan fungsi
respirasi dan mengontrol edema baru.
b. Berikan oksigen dengan aliran tinggi dengan mask. Dapat diusahakan assisted ventilation
jika usaha nafas pasien baik dan lemah atau pada keadaa dimana terapi oksigen tidak
adekuat. Resusitasi cairan lebih dari 40 ml/kg mungkin memerlukan dukungan ventilator.
c. Berikan bolus cairan (ml/20kgBB) kristoid dalam 10 menit, cepat dan dapat diulangi 3 kali
atau sampai 200 mg/kgBB, bila tidak ada perbaikan klinis. Bila masih juga tidak ada
perbaikan dapat diberikan koloid lebih dari 60 ml/kgBB. Cairan koloid lebih berhasil
digunakan untuk mengatasi syok septik dibandingkan dengan cairan kristaloid. Bila belum
juga teratasi perlu dilakukan pemasangan CVP untuk menjamin pemberian cairan yang
adekuat.
d. Atasi hipoglikemia dengan memberikan glukosa 10%.
e. Pemberian antibiotika harus disesuaikan dengan kuman penyebab. Penyebab syok septik
terutama adalah bakteri gram negatif disamping gram positif. Biasanya pada tahap awal
diberikan antibiotika yang bersifat broad spectrum, seperti Cefalosporin generasi ketiga
(cefoxime) sambil menunggu hasil kultur dan resistensi.
f. Bila perfusi masih tidak baik setelah pemberian koloid 60 ml/kg atau jika CVP lebih dari 10-
15 mmHg, maka pemberian obat-obat inotropik sangat dibutuhkan. Dopamin biasanya
merupakan obat pilihan pertama mulai dari dosis 5-10 mcg/kgBB/menit dapat dinaikkan
bila perlu. Bila tidak berhasil, maka dapat diberikan dobutamin dengan kombinasi dopamin
dosis rendah akan memperbaiki curah jantung dan menguntungkan perfusi ginjal. Bila
masih tidak berhasil dan hipotensi masih berlanjut dapat dicoba pemberian isoprenalin
atau adrenalin. Pada syok septik yang berat dan berlanjut dimana telah terjadi peningkatan
SVR dapat dipikirkan pemberian vasodilator perifer (sodium nitroprusside).
g. Dapat diberikan kortikosteroid tiap 6 jam selama 2-3 hari : Dexamethason 1-3
mg/kgBB/hari atau methylprednisolon 10-30 mg/kgBB/hari.
h. Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit dilakukan sesuai hasil
pemeriksaan yang ada. Bila terdapat hipokalsemia harus dikoreksi secara hati-hati, karena
bila terlampau cepat dapat menyebabkan bradikardia.
Syok Anafilaksis
Reaksi alergi yang berat (tipe I) dapat menyebabkan syok anafilaksis dan penyebab tersering adalah
alergi obat (penisilin, zat kontras radiografi). Reaksi anafilaksis bersifat life threatening dengan gejala
50
klinis timbulnya rash kemerahan pada kulit, wheezing, stridor atau edema larings dan syok distributif
akibat pelepasan mediator yang menimbulkan vasodilatasi akut pembuluh darah serta kehilangan
cairan intravaskuler akibat gangguan permeabilitas kapiler. Sehingga penatalaksanaan utama syok
anafilaktik ditujukan untuk mempertahankan jalan nafas yang lancar, pemberian vasokonstriktor
(adrenalin) dan resusitasi cairan yang adekuat.
Tatalaksana
1. Hentikan pemberian alergen penyebab (bila mungkin), berikan adrenalin 100 mg/kgBB/IM.
2. Pertahankan jalan nafas yang lancar dan pernafasan yang adekuat. Bila terdapat wheezing
dapat diberikan nebulasi adrenalin (5 ml dengan larutan 1:1000) atau dilakukan
intubasi/sargical airway bila terdapat sumbatan jalan nafas.
3. Periksa status penderita, bila terjadi arrest lakukan segera resusitasi kardio pulmonal (CPR),
pasang segera akses vaskuler untuk pemberian resusitasi cairan (20ml/kgBB) secara
IV/intraoseal).
4. Re assesment ABC resusitasi dan diberikan tindakan CPR lanjutan :
- Bila masih dilanjutkan wheezing berikan inhalasi salbutamol (5 mg setiap 15 menit)
- Bila perlu dilanjutkan dengan pemberian hidrokortison (4mg/kgBB/IV), jika perlu dapat
ditambahkan aminofilin drip (dosis initial 6 mg/kgBB/IV dilanjutkan 1 mg/kg/jam) atau
salbutarnol drip (initial 4-6 mg/kg/IV selanjutnya 0,5-1mg/kg/menit).
- Bila masih terdapat syok, resusitasi cairan dilakukan dengan pemberian koloid (maksimal
20 ml/kg/hari) dilanjutkan dengan obat inotropik.
Syok kardiogenik
Pada syok kardiogenik gangguan fungsi jantung terutama disebabkan depresi kontratilitas miokard,
yang dapat terjadi pada pasca operasi jantung, dekompensasi penyakit jantung kongenital,
miokarditis atau kardiomiopati serta distritmia jantung.
Tatalaksana
1. Oksigenasi adekuat, pertahankan PaO2 lebih dari 65-70 mmHg
2. Koreksi gangguan asam basa dan elektrolit yang terjadi.
3. Kurang rasa sakit dan ansietas
4. Atasi distritmia jantung yang mungkin terjadi
5. Kurangi kelebihan preload dengan diuretika.
6. Fluid challenge diberikan secara hati-hati untuk memperbaiki kontraktilitas jantung bila tidak ada
udema baru, pantau dengan berdasarkan nilai CVP/POAP.
7. Perbaiki kontraktilitas jantung dengan obat inotropik tanpa menambah konsumsi oksigen
miokard.
8. Kurangi beban afterload (SVR tinggi) dengan venodilator.
9. Atasi hal-hal yang berkaitan dengan penyebab primer kelainan jantung.
Syok obstruktif
Pada keadaan ini terjadi hambatan mekanis pengeluaran/pengaliran darah keluar jantung yang
dapat disebabkan oleh tamponade jantung, pneumo thoraks tensoion atau emboli paru masif.
Karakteristik hemodinamik yang ditemukan adalah penurunan curah jantung, peningkatan SVR dan
self vertikular filling pressure yang bervariasi tergantung penyebab. Tindakan bedah misalnya
perikardiosentesis pada tamponade jantung atau pemasangan WSD pada pneumotoraks merupakan
tindakan life saving.
Syok disosiatif
Pada keadaan ini walaupun curah jantung dan aliran darah sistemik masih normal, terjadi definiensi.
Akut oksigen di tingkat seluler akibat gagalnya pelepasan oksogen untuk metabolisme jaringan. Hal
tersebut terjadi pada keadaan keracunan monoksida (CO) atau methemoglobinemia. Keadaan yang
terakhir ini perlu dipikirkan bila penderita tetap sianotik walaupun telah diberikan O2 100% tanpa
kelainan jantung, sedangkan intoksikasi CO biasanya dipikirkan bila terdapat syok persisten pasca
tramuma stroke inhalation. Tetapi oksigen hiperbarik dapat dicoba bila telah terdapat gangguan
neurologik. Pada methemoglobinemia (kadar >%) dapat diberikan tetapi methylene bule intravena
51
DEPARTEMEN IKA ASFIKSIA PERINATAL Kode ICD : P 21.9
RSMH
PALEMBANG
No Dokumen No Revisi : 2 Halaman : 1/5
Ditetapkan oleh,
Panduan Praktek Tanggal Revisi : Ketua Divisi Neonatologi
Klinis
1 Agustus 2012
dr. Herman Bermawi, Sp.A(K)
Definisi Kegagalan bernapas spontan dan teratur segera setelah lahir sehingga
terjadinya gangguan pertukaran gas ( O2 dan CO2 ) yang
mengakibatkan bayi baru lahir mengalami hipoksia, hiperkarbia dan
asidosis metabolik
Etiologi 1. Faktor ibu: diabetes mellitus, hipertensi dalam kehamilan, hipertensi
kronik, anemia, perdarahan antepartum, infeksi sistemik, gagal
jantung, gagal ginjal, polihidramnion, oligohidramnion.
2. Faktor persalinan: persalinan dengan tindakan, korioamnionitis,
kelainan letak, partus lama, ketuban pecah dini, inersia uteri, air
ketuban bercampur mekoneum, penggunaan anestesi umum,
penggunaan narkotik ≤4 jam sebelum persalinan.
3. Faktor janin: prematuritas, postmaturitas, malformasi janin, gerakan
janin berkurang, bradikardi janin, prolaps tali pusat, trauma lahir, dan
sebagainya.
Patogenesis Gangguan pertukaran O2 dan CO2 hipoksia dan hiperkarbia
asidosis metabolik, hipoglikemia, syok, ensefalopati hipoksik iskemik,
gagal ginjal, gagal jantung dan edema otak defisit neurologik,
kemunduran intelektual, kematian.
Anamnesis Faktor resiko ( etiologi ) perkiraan asfiksia.
Riwayat persalinan lahir langsung menangis ( bernapas spontan )
atau tidak.
Pemeriksaan Fisik Dinilai appearance (warna kulit), pulse (denyut jantung), grimace (mimik
wajah), activity (tonus otot), respiratory effort (usaha nafas) pada menit 1
dan 5, kalau perlu setiap 5 menit sampai menit 20 sesuai dengan kondisi
bayi.
Penilaian bersamaan dengan langkah-langkah resusitasi. Sambil
melakukan resusitasi, menilai APGAR 1 menit, 5 menit, dan 10 menit.
Setelah selesai resusitasi, dilanjutkan dengan perawatan pasca
resusitasi, dipantau fungsi vital (nadi, pernafasan, kesadaran), mencari
komplikasi dan penyakit penyerta serta pemeriksaaan fisik lengkap.
Kriteria Diagnosis 1. Nilai APGAR 0 – 3 pada menit ke 5
2. Asidosis metabolik atau campuran ( pH darah arteri umbikalsis < 7 )
3. Manifestasi neurologik ( kejang, hipotoni, koma, esefalopatia hipoksik
iskemik )
Pemeriksaan Glukosa darah, hemoglobin, leukosit, diff. count, serta pemeriksaan lain
Penunjang atas indikasi (foto thoraks, ECG,USG).
Tatalaksana Sebelum melakukan langkah awal resusitasi lakukan penilaian awal:
1. Apakah cukup bulan ?
2. Apakah bernapas atau menagis ?
52
3. Apakah tonus otot baik ?
Bila ada jawaban “tidak“ dari ke tiga pertanyaan ini maka langkah awal
resusitasi harus dimulai, sedangkan bila semua jawaban “ya“ maka bayi
tersebut hanya dilakukan perawatan rutin saja (jaga kehangatan,
bersihkan jalan napas dan keringkan).
A. Langkah Awal Resusitasi
Letakkan bayi di meja resusitasi dengan alat pemancar panas,
letakkan pada posisi yang benar, lakukan penghisapan (bila perlu),
keringkan, rangsangan taktil, reposisi dan nilai: pernapasan frekuensi
jantung dan warna kulit.
B. Ventilasi Tekanan Positip ( VTP )
Ventilasi tekanan positip dapat diberikan dengan balon resusitasi dan
sungkup atau dengan balon resusitasi dan intubasi endotrakheal
(ETT).
1. Indikasi :
Bila bayi apnu/megap-megap atau bernapas tetapi frekuensi
jantung <100 kali permenit atau sianosis sentral menetap meskipun
diberikan oksigen aliran bebas sampai 100 %
2. Frekuensi :
Lakukan ventilasi dengan frekuensi 40-60 kali per menit selama 30
detik dengan oksigen 21 - 100% ( pada bayi cukup bulan dimulai
dengan oksigen 21 % dan pada bayi preterm dimulai dengan
oksigen lebih dari 21 % yang dapat ditingkatkan sampai dengan
target saturasi oksigen preduktal tercapai ) , lalu nilai frekuensi
jantung :
Frekuensi Jantung: Tindakan:
a. Di atas 100 ............... 1. Bila napas spontan dan saturasi
oksigen membaik, VTP hentikan
bertahap.
2. Bila tidak bernapas, atau megap-
megap lanjutkan VTP
C. Kompresi Dada
1. Indikasi:
Frekuensi jantung < 60 kali per menit setelah 30 detik mendapat
VTP dengan oksigen 100%.
2. Frekuensi:
Kompresi dada dilakukan selama 30 detik. Setiap 2 detik dilakukan
3 kali kompresi dada dan 1 kali VTP ( selama 30 detik dilakukan
53
45 kali kompresi dada dan 15 kali VTP detik).
3. Evaluasi:
Setelah 30 detik melakukan tindakan kompresi dada dan ventilasi,
periksa frekuensi jantung atau nadi. Bila frekuensi jantung:
a. Kurang dari 60 kali per menit : lanjutkan tindakan kompresi
dada dan ventilasi dan
pemberian epinefrin.
b. 60 kali per menit atau lebih : hentikan tindakan penekanan
dada tetapi lanjutkan ventilasi
dengan oksigen 100%.
D. Intubasi Endotrakheal
1. Indikasi :
a. Bila cairan amnion bercampur mekoneum dan bayi mengalami
depresi napas, tonus otot jelek atau denyut jantung < 100 kali
permenit maka intubasi dilakukan pada kesempatan pertama
( perlu elakukan penghisapan melalui trakhea untuk mengeluar
kan mekoneum), sebelum memulai tindakan resusitasi yang
lain.
b. Bila VTP dengan balon dan sungkup tidak efektif (tidak
mengembangkan dada) atau memaksimalkan efisiensi VTP,
membutuhkan pemberian VTP agak lama, dicurigai ada hernia
diafragmatika, pemberian surfaktan dan bayi berat amat sangat
rendah (berat lahir kurang dari 1.000 gram).
Bila diperlukan kompresi dada, intubasi memudahkan koordinasi
kompresi dada dan VTP.
E. Obat-obatan
Obat-obatan baru diperlukan pada resusitasi neonatus bila tidak
memberikan respon dengan pemberian VTP yang adekuat dengan
oksigen 100 % dan kompresi dada.
1. Epinefrin
a. Indikasi:
- Frekuensi jantung tetap di bawah 60 kali per menit walaupun
telah dilakukan paling sedikit 30 detik ventilasi adekuat dengan
oksigen 100% dan penekanan dada.
- Frekuensi jantung nol. Bila detak jantung tidak dapat dideteksi,
epinefrin harus diberikan segera pada saat yang sama dengan
VTP dan penekanan dada dimulai.
b. Pemberian:
Dosis 0,1-0,3 ml/kgBB epinefrin 1:10.000 intravena atau 0,3-1
ml/kgBB melalui ETT, dapat diulang setiap 3-5 menit bila frekuensi
jantung kurang dari 60 kali per menit.
2. Cairan penambah volume darah
Bila bayi tidak memberikan respon terhadap resusitasi dan ada bukti
kehilangan darah maka indikasi pemberian cairan penambah volume
darah, yaitu garam fisiologis atau ringer laktat dengan dosis 10
ml/kgBB.
3. Nalokson
Bila ibu mendapat morphin atau petidin dalam waktu 4 jam terakhir
dan tidak ada usaha napas, tetapi frekuensi jantung dan kulit normal
54
langsung diberikan Nalokson 0,1 mg/kgBB intravena melalui vena
umbilikalis atau pipa endotrakeal.
o Ingatlah, walaupun didapatkan frekuensi jantung nol, penekanan dan
ventilasi harus dilanjutkan sampai diambil keputusan medik untuk
menghentikan tindakan resusitasi.
Resusitasi dihentikan bila semua langkah dilakukan dengan baik
selama 15 menit frekuensi jantung tetap nol.
Tindak Lanjut Observasi tanda-tanda vital.
Awasi komplikasi: hipoglikemia (jittery, iritabel hipotonia, muntah,
sianosis), asidosis metabolik (pernapasan cepat dan dalam),
hipokalsemia (iritabel, kejang, tremor), infeksi, gagal ginjal, edema
otak dan distres pernapasan. Bila ditemui tatalaksana sesuai dengan
standar profesinya.
Bila mendapat IVFD, pada asfiksia berat dilakukan retriksi cairan (¾
kebutuhan).
Cari penyakit penyerta/penyebab.
Indikasi Rawat Semua asfiksia perinatal.
Indikasi Pulang Tidak sesak, dengan frekuensi napas 40-60 kali per menit. Tidak ada
tanda-tanda infeksi, penyakit penyerta dan komplikasi telah teratasi dan
bisa minum secara adekuat.
Edukasi Penjelasan mengenai komplikasi jangka panjang dan jangka pendek dari
asfiksia perinatal.
Penjelasan mengenai faktor risiko asfiksia neonatorum.
Komplikasi Asidosis metabolik, hipoglikemia, hipokalsemia, ensefalopati hipoksik
iskemik, gagal jantung, gagal ginjal, serta defisit neurologik.
Prognosis Asfiksia berat menyebabkan kematian ± 20%. Yang hidup, dapat normal
atau dengan sequele berupa: gangguan intelektual dan defisit
neurologis.
Kepustakaan 1. American Heart Association and Amercan Academy of Pediatric.
Textbook of neonatal resuscitation. Kattwinkel J, penyunting. Edisi
ke 6, 2006.
2. Rehan KV, Phibbs RH. Delivery room management. Dalam :
MacDonald MG, Seshia MK, Mullett MD, penyunting. Avery’s
Neonatology, pathopysiology & management of the newborn. Edisi
ke 6. Philadelphia : Lippincot William & Wilkin, 2005; 302- 26.
3. Perinatal asphyxia. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG,
Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedur, on-call
problem, desease, and drug. Edisi ke 6. New York: Lange McGraw
Hill, 2009;624-36.
4. Goldsmith JP. Delivery room resuscitaion of the newborn. Dalam :
Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting. Fanaroff and
Martin’s Neonatal-perinatal medicine. Edisi ke 9. Missouri: Elsevier,
2011;449-74
5. Papile LA, Adcock LM. Perinatal Asphyxia. Dalam : Cloherty JP,
Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care.
Edisi ke 6. Philadelphia : Lippincott William & Wilkins, 2008; 518-28.
55
BAYI BERAT LAHIR RENDAH Kode ICD : P 07.1
DEPARTEMEN IKA
RSMH
PALEMBANG No Dokumen No Revisi : 2 Halaman:1/4
Ditetapkan oleh,
Tanggal Revisi : Ketua Divisi Neonatologi
Panduan Praktek
Klinis 1 Agustus 2012
dr. Herman Bermawi SpA(K)
Definisi Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir
kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa gestasi.
Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah
lahir.
Etiologi a. Faktor Ibu :
Hipertensi (esensial, renal, kehamilan), kelainan kardiovaskuler
(diabetes mellitus, kelainan jantung, kelainan ginjal), perokok dan
alkoholisme, kecanduan obat, malnutrisi, kelainan uterus
inkompetensi cerviks, infeksi saluran kemih, ketuban pecah dini.
b. Faktor Plasenta :
Kelainan plasenta (insersi plasenta yang abnormal, fibrosis, infark),
abrupsio plasenta, plasenta previa.
c. Faktor Janin :
Infeksi (rubella, toksoplasma, cytomegalovirus), kelainan kromosom
(trisomi 13, 18 dan 21, sindrom Turner), cacat bawaan, arteri
umbilikalis tunggal, polihidranmion, kehamilan kembar
Patogenesis: Gangguan sirkulasi utero plasenta gangguan asupan nutrisi ke janin
BBLR.
Bentuk Klinis Berdasarkan berat lahir :
(Klasifikasi) 1. Berat lahir kurang dari 1000 gr : bayi berat lahir amat sangat rendah
2. Berat lahir kurang dari 1500 gr : bayi berat lahir sangat rendah
3. Berat lahir kurang dari 2500 gr : bayi berat lahir rendah
56
klasifikasi di atas.
Diagnosis - Timbang berat bayi
- Tentukan masa gestasi (hari pertama haid terakhir, Skor Ballard)
- Tentukan bayi sesuai masa kehamilan atau kecil masa kehamilan
dengan menggunakan kurve pertumbuhan dan perkembangan intra
uterin dari Battalgia dan Lubchenco
Usia gestasi <37 minggu prematuritas murni
Usia gestasi ≥36 minggu dismatur
Usia gestasi <37 minggu dan berat lahir kurang untuk masa gestasi
tersebut gabungan keduanya
- Cari faktor penyebab/risiko yang mendasari
Pemeriksaan Glukosa darah, hemoglobin, leukosit, diff. count, serta pemeriksaan lain
Penunjang atas indikasi (foto thoraks, ECG,USG).
Tatalaksana Indikasi rawat:
- Semua bayi berat lahir kurang dari 1.500 gram
- Usia gestasi ≤35 minggu
- Bayi dengan komplikasi
Perawatan:
Dirawat dalam inkubator, jaga jangan sampai hipotermi, suhu bayi
36,5-37,5oC
Bayi dengan distres pernapasan pengobatan lihat bab distres
pernapasan.
Tentukan usia gestasi
Bayi BB >1.500 gram tanpa asfiksia dan tak ada tanda-tanda distres
pernapasan dirawat gabung
Bila bayi <1.500 gram, pindah rawat bagian IKA dan beri ASI/LLM
Bayi-bayi KMK (Kecil Masa Kehamilan) diberi minum lebih dini (2 jam
setelah lahir)
Periksa gula darah dengan dekstrostik bila ada tanda-tanda
hipoglikemia
Kebutuhan cairan setiap kgBB/24 jam
Hari ke 1 : 80 cc
Hari ke 2 : 100 cc
Hari ke 3 : 120 cc
Hari ke 4 : 130 cc
Hari ke 5 : 135 cc
Hari ke 6 : 140 cc
Hari ke 7 : 150 cc
Hari ke 8 : 160 cc
57
Hari ke 9 : 165 cc
Hari ke 10 : 170 cc
Hari ke 11 : 175 cc
Hari ke 12 : 180 cc
Hari ke 13 : 190 cc
Hari ke 14 : 200 cc
Jenis Cairan IVFD :
BB >2.000 gram : dekstrose 10% 500 cc + Ca glukonas 10%
BB <2.000 gram : dekstrose 7½% 500 cc + Ca glukonas 10%
Kebutuhan Ca glukonas/hari : 5 cc / kg BB
- Mulai hari ke-3 baru ditambahkan NaCl 15% 6 cc/kolf dan KCl
sesuai kebutuhan.
- Hari kedua diberi protein 1 gram/kgBB/hari, dinaikkan perlahan-
lahan 1½ gram, 2 gram, 2½ gram, 3 gram/kgBB/hari.
- Pada bayi tanpa distres pernapan (RR <60 x/menit) dapat langsung
diberi minum per oral dengan menghisap sendiri atau dengan
nasogastrik drip. Bila bayi tidak mentolerir semua kebutuhan
peroral, maka diberikan sebanyak yang dapat ditoleransi
lambungnya dan sisanya diberikan dengan IVFD.
- Pemberian minum tiap 2-3 jam pada bayi dengan BB <1.500 gram
secara sonde lambung, kemudian dilanjutkan dengan menghisap
langsung ASI dari ibu, secara bertahap 1 x/hari dilanjutkan 2-3
x/hari dan seterusnya akhirnya sampai penuh sampai bayi
dipulangkan.
- Bayi dengan masa gestasi <32 minggu diberikan:
Theophilin per oral dosis awal 6 mg dan dilanjutkan 1,5
mg/kgBB/kali tiap 8 jam sampai masa gestasi 34 minggu.
Theophilin juga diberikan pada bayi dengan masa gestasi 33 -
34 minggu bila bayi tersebut apnu yang disertai bradikardia dan
sianosis. Bila bayi belum bisa makan per oral dapat juga
diberikan aminophylin IV dosis awal 7-8 mg/kgBB dilanjutkan
dosis 2 mg/kgBB tiap 8 jam.
Tindak lanjut a. Observasi ketat tanda-tanda vital dan kemampuan minum serta
pertambahan berat badan.
b. Awasi komplikasi yang mungkin timbul: hipotermia, hipoglikemia,
hipokalsemia, polisitemia, hiperbilirubinemia, perdarahan peri-intra
ventrikuler, perdarahan paru dan enterokolitis nekrotikan dan infeksi.
c. Pastikan komplikasi yang dicurigai dengan pemeriksaan penunjang
- USG transfontanela (perdarahan peri-intra ventrikuler)
- Dekstro stick (hipoglikemia)
58
- Hematokrit (polisitemia)
- Kadar bilirubin
- Darah rutin dan CRP (infeksi)
Indikasi Pulang Bayi sudah dapat minum secara adekuat sesuai dengan kebutuhan dan
tidak ada komplikasi.
Edukasi Penjelasan mengenai komplikasi jangka panjang dan jangka pendek dari
BBLR dan perawtan metode kangguru.
Komplikasi Hipotermia
Hipoglikemia
Infeksi
Perdarahan peri-intravekuler
Enterokolitis nekrotikan
Prognosis: Pada BBLR murni ( BBLR karena prematuritas ) prognosis semakin
buruk bila usia gestasi semakin muda.
Kepustakaan 1. Papageorgiou A., Pelausa E., Kovacs L. The extremely Low-Birth-
Weight infant. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD, Seshia M, Avery’s
Neonatology. Pathophysiology & Management of the Newborn. Edisi
6, Lippincott William & Walkins, 2005;459-89.
2. Anderson M.S., Hay W.W. Intrauterine growth restriction and the
small-for-gestational-age infant. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD,
Seshia M, Avery’s Neonatology. Pathophysiology & Management of
the Newborn. Edisi 6, Lippincott William & Walkins, 2005;490-522.
3. Grider D.L, Robinson T.L. Management of the extremely Low Birth
Weight infant during the first week of life. Dalam: Gomella TL,
Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE, Neonatology. Edisi 6, Lange
McGraw Hill, 2011;163-74.
4. Rao R. Intrauterine Growth Restriction (Small for Gestational Age).
Dalam: Gomella TL, Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE,
Neonatology. Edisi 6, Lange McGraw Hill, 2011;558-67.
5. Lee. K.G. Identifying the high-risk newborn and evaluating
gestational age, prematurity, postmaturity, large-for-gestational-age,
and small-for-gestational-age infants. Dalam: Cloherty JP,
Eichenwald EC, Stark AR, Manual of Neonatal care. Edisi
6,Lippincott William & Walkins, 2008;41-58.
6. Stewart J.E., Martin C.R., Joselow M.R. Follow-up care of very low
birth weight infants. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR,
Manual of Neonatal care. Edisi 6,Lippincott William & Walkins, 2008;
159-63.
7. Kliegman R.M. Intrauterine Growth Restriction. Dalam: Fanaroff and
Martin’s Neonatal-Perinatal Medicine. Edisi 9, Mosby Elsevier, 2006;
271-306.
59
DEPARTEMEN IKA INFEKSI PADA NEONATUS Kode ICD : P 38
RSMH PALEMBANG
Ditetapkan oleh,
Panduan Praktek Tanggal Revisi : Ketua Divisi Perinatologi
Klinis
1 Agustus 2012
dr. Herman Bermawi Sp.A(K)
Definisi: Sindroma klinis dari infeksi lokal / sistemik pada bayi yang terjadi
dalam bulan pertama kehidupan.
Tersangka infeksi adalah bila bayi baru lahir mempunyai faktor resiko /
predisposisi untuk infeksi adalah:
Suhu ibu >38oC
Leukosit ibu >15.000/mm3
Air ketuban keruh dan bau busuk
Ketuban pecah >12 jam
Partus kasep
Etiologi: Bakteri, virus dan jamur. Tersering bakteri, jenis bakteri penyebab
bervariasi tergantung tempat dan waktu
Patogenesis: Infeksi dapat terjadi intrauterine melalui sirkulasi darah ibu janin
melewati plasenta/ korioamnionitis atau pada saat persalinan atau
paska lahir melalui kulit, saluran napas, konjungtiva, saluran cerna dan
umbilikus yang menjadi tempat kolonisasi kuman yang ada di sekitar,
yang dapat berlanjut menjadi infeksi lokal( omfalitis, oftalmia
neonatorum gonoroeka, bronkopneumonia ) maupun sistemik (
sepsis, meningitis ) karena invasi mikroorganisme tersebut.
Bentuk Klinis Tersangka infeksi, klinis sepsis, sepsis, meningitis, omfalitis, oftalmia
neonatorum gonoroeka
Anamnesis Faktor resiko atau faktor predisposisi infeksi ( suhu ibu > 38o C,
leukosit ibu > 15.000/mm3 , air ketuban keruh & berbau busuk,
ketubah pecah > 12 jam, partus kasep ), perawatan tali pusat,
pemberian zalf mata setelah melahirkan.
Pemeriksaan Fisis & Tergantung bentuk klinis ( infeksi lokal / sistemik ) :
Gejala Klinis 1. Omfalitis : indurasi & eritema sekitar umbilikus, bau busuk kadang
kadang terdapat pus.
2. Oftalmia neonatorum gonoroeka : timbul umur 2 – 5 hari, pada
mata ditemukan edema kelopak mata, palpebra/konjungtiva merah
Sekret pus, banyak, bisa mengenai satu mata atau dua mata.
3. Bronkopneumonia : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis,
vesikuler dapat normal atau menurun dan jarang ditemukan ronki.
4. Gastroenteritis : diare, muntah perut kembung dan tanda tanda
dehidrasi.
5. Klinis sepsis, didapatkan gejala sepsis, namun tidak didukung hasil
pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis sepsis terdiri atas:
a. Gejala umum: bayi tampak lemah, terdapat gangguan minum
60
yang disertai penurunan berat badan, keadaan umum memburuk
hipotermi/hipertermi
b. Gejala SSP: letargi, iritabilitas, hiporefleks, tremor, kejang,
hipotoni/hipertoni, serangan apnea, gerak bola mata tidak
terkoordinasi.
c. Gejala pernapasan: dispnu, takipnu, apnu, dan sianosis
d. Gejala TGI: muntah, diare, meteorismus, hepatomegali
e. Kelainan kulit: purpura, eritema, pustula, sklerema
f. Kelainan sirkulasi: pucat/sianosis, takikardi/aritmia, hipotensi,
edema, dingin.
g. Kelainan hematologi: perdarahan, ikterus, purpura
6. Sepsis : gejala klinis sepsis ditambah lebih dari satu pemeriksaan
laboratorium yang positip ( lekosit < 5000/mm3 atau > 34.000/mm3,
I/T ratio 0,2 atau lebih, mikro LED>15 mm/jam, CRP > 9mg/dL )
7. Meningitis : sepsis ditambah hasil pemeriksaan cairan serbrospinal
yang positip
Kriteria Diagnosis: Ditemukan gejala klinis atau gejala klinis ditambah dengan hasil
pemeriksaan penunjang yang positip.
1. Omfalitis : gejala klinis
2. Oftalmia neonatorum gonoroeka : gejala klinis + ditemukan diplo
kokus gram negatip intra & ekstraseluler di sekret mata
3. Bronkopneumonia : gejala klinis + gambaran infiltrat pada foto
thorak.
4. Gastroenteritis : gejala klinis
[Link] infeksi : bila bayi baru lahir mempunyai faktor resiko /
predisposisi untuk infeksi, yaitu : suhu ibu >38oC, leukosit ibu
> 25.000/mm3 , air ketuban keruh dan bau busuk, ketuban pecah
> 12 jam dan partus kasep
6. Klinis sepsis : gejala klinis
7. Sepsis : gejala klinis + lebih dari 1 hasil pemeriksan laboratorium
yang positip atau kultur darah yang positip.
8. Meningitis : gejala klinis sepsis + hasil pmeriksan cairan serebrospi
nalis :
o Tes Pandy : + atau ++
o Jumlah sel : umur 0 s/d 48 jam : >100/mm3
umur 2 s/d 7 hari : >50/mm3
umur >7 hari : >32/mm3
o Diff. count : PMN meningkat, protein meningkat dan glukosa
menurun
Pemeriksaan Penun Darah : Hb, lekosit, diff. count, trombosit, mikro LED, dan kultur dan
Jang tes resisintesi
LCS : Protein, sel diff. count, pengecatan gram dan kultur
Urin : Rutin dan kultur dan tes resistensi
USG transfontanela : terutama untuk melihat komplikasi meningitis (
ventrikulitis dan hidrosefalus )
Tatalaksana: 1. Omfalitis
Bersihkan tali pusat dengan alkohol 70 % dan povidon iodin
Beri Antibiotika Ampisilin 100 mg /kgBB/hari dan gentamisin
5mg/kgBB/hari
2. Oftalmia Neonatorum gonoroeka
61
Isolasi, irigasi mata dengan ringer laktat, beri antibiotika ceftriakson
dosis tunggal 25-50 mg/kgBB ( maksimal 125 mg ).
Profilaksis : Salep mata tetrasiklin diberikan segera pada semua
bayi baru lahir
3. Bronkopneumonia
a. Pemberian cairan
# IVFD dekstrose 71/2 % atau 10 % + Ca glukonas sesuai degan
kebutuhan bayi
# Mulai hari ke 3 ditambahkan NaCl 3 % sebanyak 30 cc/kolf
# Bila ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi
# Bila ada asidosis berikan cairan dekstrose dan natrium bikarbo
nat ( 4 : 1 ) Bila dapat diperiksa analisa gas darah, asidosis da
dikoreksi langsung dengan pemberian cairan Natrium
Bikarbonat 4,2 % secara perlahan-lahan
# Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino
2-3 g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau
susu formula
b. Terapi oksigen
c. Antibiotika
# Ampisilin : 100 mg/kgBB/hari
# Gentamisin :
Umur < 7 hari : 21/2 mg/kgBB/18 jam bila BB > 2000 gram
21/2 mg/kgBB/24 jam bila BB < 2000 gram
Umur < 7 hari : 21/2 mg/kgBB/12 jam bila BB > 2000 gram
21/2 mg/kgBB/28 jam bila BB < 2000 gram
Bila tidak ada perbaikan dalam 2 hari, gentamisin diganti dengan
ceftazidim 50mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis
4. Gastroenteritis
a. Pemberian Cairan:
# GEAD ringan-sedang
Diberikan IVFD.
# GEAD berat
Dengan asidosis: dekstrose 5% 480 cc + Bicnat 7½% 10-20cc
Tanpa asidosis atau asidosis telah teratasi: dekstrose 5% 500
cc + NaCl 3% sebanyak 30 cc
Jumlah dan kecepatan pemberian pada dehidrasi berat:
# 4 jam pertama 100 cc/kgBB atau 25 tetes/kgBB/menit
(mikrodrip)
# 20 jam berikutnya 150 cc/kgBB atau 7½ tetes/kgBB/menit
b. Obat-obatan:
Antibiotika : Ampisilin 100 mg/kgBB/hari iv dalam 3-4 dosis .
Gentamisin 2½ mg/kgBB/kali im tiap 12 jam, 18 jam
atau 4 jam tergantung umur dan berat badan bayi
Anti jamur : Nystatin bila ada indikasi.
c. Minum:
Langsung diberikan ASI begitu bayi dapat minum, bila bayi
mendapat PASI di rumah diberikan susu yang sama dengan
pengenceran setengah kemudian penuh.
5. Tersangka infeksi
Pada bayi langsung diberikan Ampisilin 100 mg/kgBB/hari i.v.
62
dibagi 2 dosis dan Gentamisin 2½ mg/kgBB/18 jam i.v, untuk ba
yi cukup bulan dan 2½ mg/kgBB/24 jam i.v, untuk bayi kurang
bulan selama 3-5 hari.
Bila selama observasi ditemukan tanda infeksi baik klinis dan
laboratoris, antibiotika diganti dengan Ceftazidime 50 mg /kg BB
per hari, i.v. dibagi 2 dosis
6. Sepsis dan klinis sepsis
a. Pemberian cairan sesuai dengan kebutuhan bayi.
b. Terapi oksigen bila diperlukan
c. Antibiotik :
Ceftazidime 50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
Bila dicurigai infeksi oleh karena stafilokokkus maka diberikan
Sefalosporin generasi ke-2, 50 mg/kgBB/hari dalam 2 kali
pemberian, bila tidak ada perbaikan klinis dalam 48 jam atau
keadaan umum semakin memburuk, pertimbangkan pindah ke
antibiotika yang lebih poten, misalnya meropenem 20 mg/kgBB
IV, tiap 8 jam atau sesuai dengan hasil tes resistensi.
Antibiotika diberikan 7-10 hari (antibiotik dihentikan setelah klinis
membaik 5 hari)
7. Meningitis
a. Pemberian cairan sesuai dengan kebutuhan bayi.
b. Terapi oksigen bila diperlukan
c. Antibiotik :
Ceftazidime 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
Bila tidak ada perbaikan klinis dalam 48 jam atau keadaan
umum semakin memburuk, pertimbangkan pindah ke
antibiotika yang lebih poten, misalnya meropenem 40 mg/kgBB
IV, tiap 8 jam atau sesuai dengan hasil tes resistensi.
Antibiotika diberikan 21 hari
Prognosis Baik bila didiagnosis dan diterapi lebih awal. Mortalitas 5-10%. Pada
prematur dan BBLR mortalitas lebih tinggi.
63
Kode ICD : P 22.0
17 Nopember 2011
Batasan: Kumpulan dari 2 atau lebih gejala gangguan ventilasi paru yang ditandai
dengan frekuensi napas > 60 kali/menit; merintih pada waktu ekspirasi;
retraksi interkostal, subkostal, supra-sternal, epigastrium; pernapasan cuping
hidung dan sianosis.
Bentuk Klinik: Transient Tachypnoe of the Newborn, Penyakit Membran Hyalin, Pneumonia,
Sindroma Aspirasi Mekoneum, Pneumothoraks, Hernia Diafragmatika,
Kelumpuhan Syaraf Frenikus.
Anamnesis: Masa gestasi, cara persalinan, nilai APGAR, air ketuban bercampur
mekoneum, faktor resiko atau faktor predisposisi infeksi ( suhu ibu > 38 o C,
leukosit ibu > 15.000/mm3 , air ketuban keruh & berbau busuk, ketubah pecah
> 12 jam, partus kasep ).
64
Pemeriksan Fisik & Tergantung Bentuk Klinis :
ler menurun, sela iga melebar dan dada tampak lebih cembung,
( farese/paralise Erb )
Kriteria Diagnosis: Ditemukan gejala klinis atau gejala klinis ditambah dengan hasil pemeriksaan
penunjang yang positip.
seluruh paru )
65
kecil.
Pemeriksaan Darah : Hb, lekosit, [Link], trombosit, mikro LED dan CRP.
Penunjang :
Radiologi ( foto toraks dan ultrasonografi )
Transiluminasi
a. Pemberian cairan
kebutuhan bayi
# Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino
1-3 g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau
susu formula
2. Antibiotika
# Gentamisin :
Umur < 7 hari : 21/2 mg/kgBB/18 jam bila BB > 2000 gram
Umur < 7 hari : 21/2 mg/kgBB/12 jam bila BB > 2000 gram
66
ceftazidim 50mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis
a. Pneumothorak :
diafragma )
a. Tanda-tanda vital.
munculnya komplikasi
Indikasi Pulang: Tidak sesak dengan frekuensi nafas 40-60 kali per menit, minum baik, tidak
ada tanda infeksi dan penyakit penyebab telah terkendali
Prognosis: Tergantung dengan bentuk klinis dan baik bila tanpa komplikasi
Kepustakaan 1. Whitsett J.A., Rice W.R., Warner B.B., Wert S.E., Pryhuber G.S.
Acute Respiratory Disorders. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD,
Seshia M, Avery’s Neonatology. Pathophysiology & Managementof
the Newborn. Edisi 6, Lippincott William & Walkins, 2005;553-77.
67
DEPARTEMEN IKA IKTERUS NEONATORUM Kode ICD : P 59.9
RSMH PALEMBANG
No Dokumen No Revisi Halaman : 1/ 5
68
- Terlihat kuning pada sclera, mukosa dan kulit.
- Cari manifestasi klinis dari penyakit atau kelainan patologis yang
menyebabkan ikterus untuk memperkirakan ikterus fisiologis atau
non fisiologis.
Kriteria diagnosis: Sesuai dengan etiologi diatas.
Untuk mencari etiologi perlu dilakukan :
- Anamnesis sedini dan secermat mungkin mengenai riwayat
kehamilan dan persalinan
- Ikterus timbul pada hari 1: periksa kadar bilirubin, darah tepi
lengkap, golongan darah ibu dan bayi, Coomb test
- Ikterus timbul pada hari ke 2 atau hari ke 3: periksa kadar bilirubin,
periksa darah tepi lengkap, golongan darah ibu dan bayi, Coomb
test (bila peningkatan bilirubin >5 mg% dalam 24 jam, karena masih
ada kemungkinan penyebabnya inkompabilitas ABO atau Rh),
pemeriksaan enzim G6PD
- Ikterus timbul pada hari ke 4 atau lebih: periksa kadar bilirubin,
periksa darah tepi, pemeriksaan enzim G6PD
Diagnosis banding: Ditujukan pada etiologi ikterus
Pemeriksaan Darah : Kadar bilirubin, hemoglobin, lekosit, [Link], trombosit,
penunjang : mikro LED, golongan darah ibu dan anak, kultur dan Coomb test
Tatalaksana: - Foto terapi atau transfusi tukar bila ada indikasi berdasarkan
Grafik AAP pada bayi dengan masa gestasi > 35 minggu dan
berdasarkan tabel terlampir untuk bayi preterm dan bayi berat blahir
rendah.
- Foto terapi dihentikan bila kadar bilirubin tidak meningkat lagi dan
kadarnya lebih dari 3 mg/dL dibawah garis resiko.
- Tranfusi tukar dilakukan dengan golongan darah yang sesuai
dengan golongan darah ibu dan anak. Jumlah darah diberikan 2
kali volume darah bayi. Sebelum dan sesudah tranfusi tukar
lakukan terapi sinar.
Edukasi Penjelasan mengenai faktor resiko dan penatalaksanaan serta
komplikasi
Komplikasi : kern ikterus
Prognosis : baik bila tanpa komplikasi
Kepustakaan 1. Maisels M.J. Jaundice. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD, Seshia
M, Avery’s Neonatology. Pathophysiology & Managementof the
Newborn. Edisi 6, Lippincott William & Walkins, 2005;768-846.
2. Abdulrahman Sukadi. Hiperbilirubinemia. Dalam: Kosim MS,
Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku Ajar Neonatologi.
Edisi 1, Badan Penerbit IDAI, 2008;147-69.
3. Gilmore M.M. Hyperbilirubinemia. Dalam: Gomella TL, Cunningham
MD,Eyal FG, Zenk KE, Neonatology. Edisi 5, Lange McGraw Hill,
2003;244-50.
69
PANDUAN TERAPI SINAR PADA BAYI USIA > 35 MINGGU ( Sumber : AAP )
Keterangan:
Kadar bilirubin yang digunakan adalah bilirubin total. Jangan dikurangi dengan bilirubin direk.
Faktor risiko adalah: penyakit hemolitik isoimun, def. G6PD, asfiksia, letargi yang nyata, instabilitas suhu,
sepsis, asidosis atau kadar albumin <3 g/dl (bila diukur)
Untuk bayi usia 35-37 6/7 minggu bila keadaan umum bayi dapat dipertimbangkan kadar bilirubin pada
garis risiko sedang, trutama pada usia yang lebih mendekati batas 37 6/7.
Fototerapi dapat dilakukan sampai kadar bilirubin total 2-3 mg/dl dibawah garis pedoman.
PANDUAN TRANFUSI TUKAR PADA BAYI USIA > 35 MINGGU ( Sumber : AAP )
Keterangan:
70
Garis putus-putus pada 24 jam pertama menunjukkan keaadan tanpa patokan pasti karena terdapat
terdapat pertimbangan klinis dan tergantung respon terhadap fototerapi.
Transfusi tukar dianjurkan segera dilakukan bila bayi menunjukkan tanda-tanda ensefalopati bilirubin akut
atau bila kadar bilirubin total ≥5 mg/dl di atas garis pedoman.
Faktor risiko adalah: penyakit hemolitik isoimun, def G6PD, asfiksia, letargi yang nyata, instabilitas suhu,
sepsis, asidosis.
Hitung kadar albumin serum dan hitung rasio bilirubin/albumin.
Gunakan kadar bilirubin total.
Rasio bilirubin total / albumin sebagai penunjang untuk memutuskan transfusi tukar
Rasio B/A Saat Transfusi Tukar
-------------------------------------------------------
Harus Dipertimbangkan
-------------------------------------------------------
Rasio BT/Alb Rasio BT/Alb
Bayi > 38 0/7 mg 8,0 0,94
Bayi 35 0/7 mg – 36 6/7 mg dan sehat atau > 38 07 mg
Jika resiko tinggi atau iso imune hemolytic disease atau
Defisiensi G6PD 7,2 0,84
Bayi 35 0/7 – 37 6/7 mg, jika resiko tinggi atau Isoim
Mune hemolytic desease atau defisiensi G6PD 6,8 0,8
Pedoman terapi sinar dan transfusi tukar bayi berat lahir rendah
berdasarkan berat badan
Pedoman terapi sinar dan transfusi tukar bayi berat lahir rendah
berdasarkan masa gestasi
Masa gestasi ( mg ) Terapi sinar Transfusi tukar bayi sehat Tranfusi tukar bayi sakit
36 14,6 ( 250 ) 17,5 ( 300 ) 20,5 ( 350 )
32 8,6 ( 150 ) 14,6 ( 250 ) 17,5 ( 300 )
28 5,8 ( 100 ) 11,7 ( 200 ) 14,6 ( 250 )
24 4,7 ( 80 ) 8,8 ( 150 ) 11,7 ( 200 )
71
DEPARTEMEN IKA IMUNISASI PADA ANAK Kode ICD:
RSMH PALEMBANG Z26.9
Panduan Praktek Klinis No. Dokumen No. Revisi Halaman:
Definisi
Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara
memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia.
Jadwal Imunisasi
a. Menurut Program Pengembangan Imunisasi Dep. Kes R.I. (PPI)
- Untuk bayi yang lahir di rumah sakit
- Untuk bayi yang datang ke rumah sakit/posyandu
b. Non PPI
Jadwal imunisasi Depkes pada bayi dengan menggunakan vaksin DPT dan HB
dalam bentuk terpisah menurut tempat lahir bayi
72
Jenis-jenis Imunisasi
A. Hepatitis B
Jenis vaksin :
- Inactivated viral vaccine (IVV = HbSAg yang telah diinaktifasi)
- Vaksin rekombinan : HB Vax (MSD); Engerix (smith Kline Becham);
Bimugen (kahatsuka)
- Plasma derived : Hepa B: vaksin hepatitis B (biofarma) : Hepaccine
B (Cheil Chemical & ford)
Dosis : 0,5 cc/dosis.
Cara pemberian : SC/IM
Jadwal imunisasi :
Disarankan untuk diberikan bersama BCG dan Polio I pada kesempatan
kontak pertama dengan bayi.
Bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg negatif mendapat ½ dosis anak
vaksin rekombinan atau 1 dosis anak vaksin plasma derived. Dosis kedua
harus diberikan 1 bulan atau lebih setelah dosis pertama.
Bayi yang lahir dari ibu HbsAg positif mendapat 0,5 cc Hepatitis B immune
Globulin (HBIG) dalam waktu 12 jam setelah lahir dan 1 dosis anak vaksin
rekombinan atau 1 dosis anak vaksin plasma derived pada tempat suntikan
yang berlainan. Dosis kedua direkomendasikan pada umur 1-2 bulan dan
ketiga 6-7 bulan atau bersama dengan vaksin campak pada umur 9 bulan.
Bayi yang lahir dari ibu yang tidak diketahui status HbsAgnya mendapat 1
dosis anak plasma rekombinan atau 1 dosis anak vaksin plasma derived
dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua direkomendasikan pada
umur 1-2 bulan dan ketiga 6-7 bulan atau bersama dengan vaksin campak
pada umur 9 bulan. Diberikan booster 5 tahun kemudian, dianjurkan
pemeriksaan kadar anti HbsAg sebelumnya.
Kontra indikasi : defisiensi imun (mutlak)
Efek samping : reaksi lokal ringan, demam sedang 24-48 jam, lesu, saluran
73
pencernaan rasa tidak enak
A. BCG
Jenis Vaksin : Calmette & Guerin (Biofarma, Pasteur, Glaxo) suatu live
attenuated vaccine (LAV).
Dosis : 0,05 cc/dosis
Cara pemberian : intrakutan
B. DPT
Jenis vaksin : Difteri (toksoid)
Pertusis (Inactivated Bacterial Vaccine-IBV, Bordetella pertusis
tipe I)
Tetanus (toksoid)
Dosis : 0,5 cc/dosis
Cara pemberian : IM atau SC dalam
Jadwal imunisasi :
Imunisasi dasar : tiga dosis dengan interval 4-6 minggu. Dosis I diberikan
pada umur 2 bulan
Booster : dosis IV diberikan 1 tahun setelah dosis III dan dosis V dan VI
berupa DT diberikan pada umur 6 dan 12 tahun
Kontra indikasi :
- Defisiensi imun (mutlak)
- Difteri : tidak ada
- Pertusis : riwayat kelainan neurologis
- Tetanus : tidak ada
Efek samping : reaksi lokal, demam, reaksi akinetik, kejang, gejala ensefalopati
akibat komponen vaksin pertusis. Jika muncul reaksi ini, imunisasi DPT
dilanjutkan hanya dengan DT
C. Polio
Jenis vaksin : vaksin polio oral sabin (LAV)
Dosis : 2 tetes/dosis
Cara pemberian : oral
Jadwal imunisasi :
Dosis I diberikan pada umur sedini mungkin bila bayi lahir di RS
(Bersama dengan BGC) atau pada kontak pertama bila bayi datang ke
RS atau posyandu (biasanya umur 2 bulan). Selanjutnya dosis II, III dan
IV diberikan dengan interval 4 minggu, bersamaan dengan DPT I, II dan
II. Jika BCG dan Polio I diberikan bersamaan dengan DPT I, Polio IV
diberikan 4-6 minggu setelah DPT/Polio III.
Booster : dosis V diberikan I tahun setelah dosis IV dan dosis VI dan VII
diberikan pada umur 6 dan 12 tahun.
Kontra indikasi :
- Defisiensi imun (mutlak)
- Diare (sementara)
Efek samping : tidak ada reaksi klinis. Kemungkinan polio paralitik yang dapat
dievaluasi dari 1 per 8 juta dosis pada anak yang telah diimunisasi dan 1 per 5
juta dosis pada kontak.
D. Campak
Jenis vaksin : Schwarz (LAV)
74
Dosis : 0,5 cc/dosis
Cara pemberian : SC atau IM
Jadwal imunisasi :
Imunisasi dasar : diberikan pada umur 9 bulan
Bisa diulang minimal 6 bulan setelah pemberian campak yang pertama.
Kontra indikasi : defisiensi imun (mutlak), alergi terhadap telur (benar-benar
terbukti), mendapat injeksi gammaglobulin dalam 6 minggu terakhir
Efek samping : demam dengan atau tanpa rash 6-12 hari setelah diimunisasi
pada 15-20% anak.
E. MMR (Measle-Mump-Rubela)
Jenis vaksin : Triple vaccine Measles, Mumps Rubella (LAV), isinya :
Measle : campak
Mump : Urabe (trimovax-pasteur), Jeryl Lynn
(MMR-MSD)
Rubella : RA 27/73
Dosis : 0,5 cc/dosis
Cara pemberian : SC atau IM
Jadwal imunisasi :
Imunisasi dasar : diberikan pada umur 12 bulan atau 6 bulan setelah
imunisasi campak.
Booster : diberikan pada umur 12 tahun
Kontra indikasi : sama dengan campak
Efek samping : sama dengan campak + parotitis: dmam, rash, ensefalitis,
parotitis, meningoensefalitis, tuli neural unilateral (tetapi dilaporkan sembuh
sempurna tanpa gejala sisa).
F. Tifus Abdominalis
Jenis vaksin : Vi CPS (capsular poly sacharide) : Typhim Vi (Pasteur
Merieux)
Oral : Vivotif (Ty2/A strain)
Dosis : Polisakarida 0,5 cc/dosis
Oral : 1 kapsul lapis enterik atau 1 sachet.
Cara pemberian :
- Polisakarida : SC atau IM satu kali
- Oral, 3 kali selang sehari.
Jadwal imunisasi :
Imunisasi dasar : Polisakasrida direkomendasikan diberikan pada umur
> 2 tahun.
Oral direkomendasikan diberikan pada umur > 6 tahun dalam 3 dosis
dengan interval dosis selang sehari.
Booster : polisakarida diberikan setiap 3 tahun
Oral : setelah 3-7 tahun.
Kontra indikasi : < 2 tahun (mutlak), tidak dianjurkan sebelum umur 6 tahun,
proteinuria, penyakit progresif
Efek samping :
- Reaksi lokal ditempat suntikan : indurasi, nyeri 1-5 hari
- Reaksi sistemik : demam, malaise, sakit kepala, nyeri otot,
komplikasi neuropatik, kadang-kadang bisa syok, kolaps.
G. Varisela
Jenis vaksin : Strain OKA dari virus Varicella zoster.
Dosis : 0,5 cc/dosis
Cara pemberian : SC
Jadwal imunisasi :
Imunisasi dasar : Anak berumur 12 bulan sampai dengan 12 tahun
diberikan 1 dosis. Anak 13 tahun keatas diberikan 2 dosis dengan
75
interval 4-8 minggu.
Booster : Jika diberikan pada umur 12 bulan harus diulang umur 12 tahun.
Kontra indikasi :
- Defisiensi imun (mutlak)
- Penyakit demam akut yang berat (sementara)
- Hipersensitif terhadap neomisin atau komponen vaksin lainnya
- TBC aktif yang tidak diobati
- Penyakit kelainan darah
Efek samping :
- Ringan: reaksi lokal di tempat suntikan
- Reaksi sistemik : demam ringan, erupsi papulo vesikular dengan lesi
kurang dari 10
Catatan : hindarkan pemberian salisilat selama 6 minggu setelah vaksinasi
karena dilaporkan terjadi Reye’s Syndrome setelah pemberian salisilat pada
anak dengan varicella alamiah.
I. Hepatitis A
Jenis vaksin : partikel virus aktif yang diinaktivasi 9IVV0
Dosis : 0,5 cc/dosis
Cara pemberian : SC/ IM
Jadwal imunisasi :
- Imunisasi dasar : anak berumur > 2 tahun diberikan 3 dosis dengan
jadwal 0 bulan, 1 bulan, dan 6 bulan.
Kontra indikasi : defisiensi imun (mutlak)
76
Pedoman vaksinasi DPT pada anak/bayi dengan riwayat kejang
Kejang
Keterangan:
* Bila mampu beri DTPa
Kepustakaan :
I.G.N. Gde Ranuh, Hariyono Suyitno,Sri Rezeki S Hadinegoro, Cissy B Kartasasmita,
Ismoedijanto, Soedjatmiko, penyunting. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ke
[Link]: Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2011.
77
Demam Tifoid Kode ICD : A01-A02
DEPARTEMEN IKA
RSMH PALEMBANG No Dokumen [Link] Halaman :
…………. ……………..
Ditetapkan Oleh,
Panduan Praktek Tanggal Revisi Ketua Divisi Infeksi
Klinis ……………….. Dr. Yulia Iriani, Sp.A
Definisi Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang
disebabkan oleh Salmonella typhii
Demam lebih dari 7 hari. Demam timbul insidius, naik secara bertahap
setiap hari, mencapai suhu tertinggi pada akhir minggu pertama, setelah
itu demam bertahan tinggi, pada minggu keempat demam turun
perlahan secara lisis (step-ladder temperature chart)
Anak sering mengigau (delirium), malaise, letargi
Anamnesis Gangguan GIT: anoreksia, muntah, nyeri perut, konstipasi/diare,
kembung, bau nafas tak sedap
Pada demam tifoid berat dapat dijumpai penurunan keasadaran, kejang,
dan ikterus
Darah tepi
- Anemia, umumnya terjadi karena supresi sumsum tulang,
defisiensi besi, atau perdarahan usus
- Aneosinofilia
- Leukopenia
- Limfositosis relatif
- Trombositopenia
Pemeriksaan serologi
- Serologi Widal titer O Ag ≥ 1/200 atau meningkat lebih dari 4 kali
Pemeriksaan dalam interval 1 minggu (titer fase akut ke fase konvalesens)
Penunjang - Kadar IgM dan IgG (Typhii-dot)
Biakan Salmonella
- Biakan darah terutama pada minggu 1-2 dari perjalanan penyakit
- Biakan dari urine atau feses kemungkinan keberhasilan lebih
kecil dibandingkan biakan darah
Pemeriksaan radiologis : foto abdomen bila diduga terjadi komplikasi
intra intestinal (perforasi usus, perdarahan saluran cerna)
EKG bila dicurigai miokarditis
Perawatan
- Isolasi
- Tirah baring sampai 7 hari bebas panas lalu mobilisasi secara
bertahap
Diet
Medikamentosa
79
Demam tifoid berat:
Pengobatan penunjang :
- Beri cairan iv bila: dehidrasi, KU lemah, tidak dapat makan
peroral, atau timbul syok
- Terapi Demam Tifoid dengan syok sesuai dengan standar
penatalaksanaan berdasarkan penyebab syok . (syok
hipovolemik atau syok sepsis)
- Transfusi darah bila Hb <6gr% atau bila terdapat gejala
perdarahan yang jelas.
1. Feigin RD, Demmler GJ, Cherry JD, Kaplan SL. Textbook of pediatric
infectious disease, 5th ed. Philadelphia: WB Saunders: 2004.
2. Long SS, Pickering LK, Prober CG. Principles and practice of pediateric
Daftar kepustakaan infectious diseases. 2nd ed. Philadelphia: Churchill & Livingstone; 2003.
3. Sumarmo SPS, Herry G, Sri Rezeki SH, Hindra IS. Buku ajar infeksi dan
pediatri [Link] kedua. Jakarta: IDAI; 2008.
80
Demam Berdarah Dengue Kode ICD : A91
DEPARTEMEN IKA
RSMH PALEMBANG No Dokumen [Link] Halaman :
…………. ……………..
Ditetapkan Oleh,
Panduan Praktek Tanggal Revisi Ketua Divisi Infeksi
Klinis ……………….. Dr. Yulia Iriani, Sp.A
Virus dengue yang terdiri dari 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-
4. Keempat serotipe ini dapat ditemukan di Indonesia. Serotipe DEN-3
Etiologi merupakan serotype yang paling banyak ditemukan di Indonesia dan
berhubungan dengan manifestasi yang berat (Setiati TE, dkk. 2006)
Anamnesis Gejala penyerta lebih mencolok pada demam dengue daripada demam
berdarah dengue
Perdarahan yang paling sering dijumpai adalah perdarahan kulit dan
mimisan
Hepatomegali dan kelainan fungsi hati lebih sering ditemukan pada DBD
Perbedaan antara DD dan DBD adalah pada DBD terjadi peningkatan
permeabilitas kapiler sehingga menyebabkan perembesan plasma,
hipovolemia dan syok
Perembesan plasma menyebabkan ekstravasasi cairan ke dalam
rongga pleura (efusi pleura) dan rongga peritoneal (asites) selama 24-48
jam
Fase kritis sekitar hari ke-4 sampai ke-5 perjalanan penyakit. Pada fase
ini suhu turun dan dapat merupakan awal penyembuhan pada infeksi
ringan namun pada DBD berat merupakan tanda awal syok
81
Perdarahan dapat berupa test torniquet positif, petekie, epistaksis,
hematemesis, melena, ataupun hematuria
Pemeriksaan fisik Tanda-tanda syok :
- Anak gelisah, penurunan kesadaran, sianosis
- Nafas cepat, nadi teraba lembut kadang tidak teraba
- Tekanan darah turun, tekanan nadi < 20 mmHg
- Akral dingin, capillary refill menurun
- Diuresis menurun sampai anuria
Fase penyembuhan: Keadaan umum semakin membaik, nafsu makan
membaik, gejala gastrointestinal berkurang, status hemodinamik stabil.
Beberapa penderita timbul ruam yang terkadang gatal, bradikardia dan
perubahan elektrokardiografi dapat ditemukan pada fase ini
Kriteria klinis :
- Hepatomegali
- Trombositopenia ≤ 100.000/mikroliter
Ig Ig Interpretasi keterangan
M G
82
Pemeriksaan NS1:
- + 2 mL/kg/jam 10 kg berikutnya
Tatalaksana komplikasi :
Overload cairan :
- Tatalaksana :
O2 segera
Mengurangi atau menghentikan pemberiaqn cairan IV
Bila penderita sudah melewati fase kritis (> 24-48 jam setelah
demam turun) hentikan/ kurangi cairan , monitor secara ketat,
berikan furosemide 0,1-0,5 mg/kgBB/dosis bila perlu
Tindak Lanjut
- Pada semua DSS pada saat masuk rumah sakit harus diperiksa
juga CT dan BT. Bila CT cenderung memanjang lakukan juga
pemeriksaan gambaran darah tepi
83
- Pemeriksaan khusus: EKG bila gagal jantung, foto thorax bila
pleural efusi dan edema paru. USG bila curiga efusi pleura
minimal
- BT, CT, PT, PTT, dan gambaran darah tepi bila curiga DIC
Angka kematian kasus di Indonesia secara keseluruhan < 3%. Angka kematian
DSS di RS 5-10%. Kematian meningkat bila disertai komplikasi. DBD yang akan
Prognosis
berlanjut menjadi syok atau penderita dengan komplikasi sulit diramalkan,
sehingga harus hati-hati dalam melakukan penyuluhan
84
DEPARTEMEN Malaria Kode ICD : B50-54
IKA
RSMH No Dokumen [Link] Halaman :
PALEMBANG …………. ……………..
Ditetapkan Oleh,
Panduan Tanggal Revisi Ketua Divisi Infeksi
Praktek ……………….. Dr. Yulia Iriani, Sp.A
Klinis
Adalah penyakit yang bersifat akut atau kronis yang disebabkan oleh protozoa genus
Definisi Plasmodium, ditandai dengan panas, anemia dan splenomegali.
Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan
nyamuk anopheles
85
hipnozoit (dormant) → imunitas tubuh turun → aktif → relaps (kambuh).
MASA INKUBASI
Riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik
malaria
Anamnesis
Riwayat tinggal di daerah endemik malaria, riwayat sakit malaria
Splenomegali
Hepatomegali
86
Manifestasi Klinis Malaria Berat (WHO,1997)
Pemeriksaan dengan mikroskop : sediaan darah tepi tebal dan tipis, untuk
menentukan :
Malaria berat :
1) Kimia darah : gula darah, serum bilirubin, SGOT, SGPT, alkali fosfatase,
albumin, globulin, ureum, kreatinin, elektrolit, AGD (atas indikasi)
2) EKG
3) Foto thoraks
4) Analisa LCS
5) Biakan darah dan uji serologi, urinalisis
Indikasi rawat :
87
3. Tersangka malaria dengan hasil laboratorium meragukan
Penatalaksanaan meliputi :
- parenteral, untuk penderita malaria berat atau yang tidak dapat minum
obat
2. Pengobatan suportif
2. Kinin sulfat 30 mg/kgbb/hari peroral dibagi 3 dosis selama 7 hari. Dosis untuk
bayi adalah 10 mg/umur dalam bulan dibagi 3 bagian selama 7 hari. Kemasan
tablet kina yang beredar di Indonesia: 200mg kina fosfat atau kina sulfat.
Ditambah dengan Tetrasiklin oral 5 mg/kgbb/kali, 4 kali sehari selama 7 hari
(maks 4x250 mg/hari).
3. Kombinasi sulfadoksin 500 mg dan pirimetamin 25 mg, dengan dosis
pirimetamin 1-1,5 mg/kgbb/hari atau sulfadoksin 20-30 mg/kgbb/hari pada
anak usia > 6 bulan, diberikan peroral dosis tunggal, diberikan dua hari
berturut-turut.
Plasmodium vivax/ovale :
Diberikan
Pilihan pertama:
Kina HCl 25% per infus,1 ampul mengandung 500mg kina HCL dalam
2ml. Dosis 10 mg/kgBB (bila umur < 2 bulan: 6-8 mg/kgBB) diencerkan
dengan dekstrosa 5% atau NaCl 0,9% sebanyak 5-10 ml/kgBB diberikan
selama 4 jam, diulang setiap 8 jam sampai penderita sadar dan dapat
minum obat
Bila sudah sadar/dapat minum obat: dilanjutkan dengan kina
sulfat per oral : 30 mg/kgBB/hari, dibagi dalam 3 dosis (total
dosis 7 hari dihitung sejak pemberian kina per infus yang
pertama) dan primakuin 0,75 mg/kgBB dosis tuinggal
Obat alternatif :
Derivat artemisin parenteral : Artesunat atau Artemeter
Pengobatan komplikasi :
89
Penatalaksanaan malaria serebral
Baik : pada kasus tanpa komplikasi dan belum resisten obat anti malaria
Prognosis
Buruk : pada malaria berat dengan komplikasi : kegagalan fungsi organ
1. Feigin RD, Demmler GJ, Cherry JD, Kaplan SL. Textbook of pediatric infectious
disease, 5th ed. Philadelphia: WB Saunders: 2004.
2. Gershon AA, Hotez PJ, Katz S. Krugman’s infectious disease of children. 11th ed.
Daftar Philadelphia: Mosby; 2004.
kepustakaan 3. Sumarmo SPS, Herry G, Sri Rezeki SH, Hindra IS. Buku ajar infeksi dan pediatri
[Link] kedua. Jakarta: IDAI; 2008.
4. Krause PJ. Malaria (Plasmodium). In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB,
penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-17. Philadelphia: Waunders;
2004. p. 1139-42
90
Diabetes Melitus Kode ICD : E10.41
Ditetapkan Oleh,
Definisi Diabetes adalah keadaan akibat tubuh tidak dapat membuat insulin secara cukup atau
insulin tidak dapat bekerja secara optimal sehingga terjadi peningkatan gula darah dan
gangguan metabolisme lemak serta protein.
Etiologi Idiopatik, faktor autoimun setelah infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4, genetik,
reseksi pankreas, meningkatnya hormon antiinsulin (GH, glukagon, kortisol dan
epinefrin), obat-obatan.
Patogenesis DM tipe 1 :
Sel beta pankreas mengalami kerusakan (sebagian besar oleh faktor autoimun)
produksi insulin turun penggunaan glukosa sebagai sumber energi terganggu
tubuh menggunakan lemak dan protein sebagai sumber energi metabolisme tidak
sempurna.
DM tipe 2 :
Terjadi resistensi insulin relatif fungsi insulin turun dan tidak mencukupi.
Efek :
Hiperglikemia
Kadar glukosa melewati ambang ginjal(>160 mg%): glukosuria
Osmolaritas darah meningkat poliuria, dehidrasi sel otak
Sebagai kompensasi : polifagia dan polidipsia.
Efek :
Faktor genetik
Obesitas dan gaya hidup
Tipe lain (diabetik sekunder):
Kriteria DM tipe I/II + sindrom genetik/terapi obat/penyakit pankreas/penyakit lain.
Anamnesis polifagia, poliura / sering kencing malam, polidipsia, berat badan turun, badan lemas,
gatal-gatal, keluarga (+) DM.
Diabetes ketoasidosis
Hiperglikemia, ketonemia, asidosis, ketonuria, glukosuria.
Diabetes asimtomatis/prediabetes
Curiga bila terdapat 2 gejala pada nomer 1b – OGTT
Tes autoantibodi insulin (AAI) + HLA+ ICA+L(Islet Cell Antibody).
Langkah Diagnosis
Anamnesis
Gejala klinis
Laboratorium
Pemeriksaan kadar gula darah, bila perlu OGTT (bila meragukan), gula urin / reduksi, ketonemia
urin, c. peptide, HbA1c, ICA/IAA (kalau mampu).
Penunujang
Pertama kali didiagnosis diabetes untuk mempersiapkan anak / anggota
Indikasi Rawat keluarga dalam menangani DM dan komplikasi akut yang dapat timbul
92
Diabetik ketoasidosis/ koma diabetik
Hipoglikemi yang tidak bisa diatasi dengan terapi oral
Tujuan:
Pembagian kalori per 24 jam: 20% pagi, 20-25% siang, 25-30% malam (di antaranya 3
X makanan kecil masing-masing 10%)
b) Insulin
Pertama kali diberikan RI (insulin jangka pendek) / SC 3-4 kali / hari, dosis inisial 0,5-1
µ/kgBB/hari, kemudian dosis dinaikkan sesuai profil gula darah.
Terkontrol bila:
IDDM:
Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap (10%) setiap 2/3 hari sekali sampai dosis
optimum, dengan monitoring pemeriksaan gula darah dan reduksi urine.
93
Edukasi Penyuluhan (pasien dan orang tua / keluarga): merupakan hal yang sangat penting!
Prognosis 30% anak dengan diabetik ketoasidosis (umumnya anak usia < 5 tahun, 6-10%
meninggal dengan diabetik ketosidosis)
Idealnya pengukuran gula darah / reduksi urin sebelum makan setiap hari (home
monitoring)
94