0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan63 halaman

Kebijakan Pelayanan Radiologi RS Mitra Keluarga

Dokumen tersebut membahas kebijakan pelayanan radiologi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Tegal. Kebijakan tersebut mencakup pelayanan radiologi yang tersedia selama 24 jam, persyaratan tenaga medis dan peralatan yang digunakan, serta standar waktu penyerahan hasil pemeriksaan radiologi kritis kurang dari 3 jam.

Diunggah oleh

Mifta Qurotul Aeni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan63 halaman

Kebijakan Pelayanan Radiologi RS Mitra Keluarga

Dokumen tersebut membahas kebijakan pelayanan radiologi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Tegal. Kebijakan tersebut mencakup pelayanan radiologi yang tersedia selama 24 jam, persyaratan tenaga medis dan peralatan yang digunakan, serta standar waktu penyerahan hasil pemeriksaan radiologi kritis kurang dari 3 jam.

Diunggah oleh

Mifta Qurotul Aeni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RADIOLOGI

A. LANDASAN HUKUM
Peraturan perundang-undangan yang mengatur Pelayanan radiologi dan diagnostik imajing

B. KEBIJAKAN DIREKTUR

1. Kebijakan pelayanan radiologi dan diagnostik imajing


1) Pelayanan radiologi dan diagnostik imajing yang adekuat, teratur dan nyaman tersedia
untuk memenuhi kebutuhan
2) Pelayanan radiologi dan diagnostik imajing untuk gawat darurat tersedia, termasuk diluar
jam kerja.
2. Kebijakan direktur tentang pelayanan radiologi dan diagnostik imajing di luar RS (RUJUKAN)
1) Pelayanan radiologi dan diagnostik imajing diluar RS dipilih berdasarkan reputasi yang
baik dan yang memenuhi undang-undang dan pera-turan.
2) Pasien diberi tahu bila ada hubungan antara dokter yang merujuk dengan pelayanan
radiologi dan diagnostik imajing di luar RS ([Link].6.1, EP 1).
3. Kebijakan RS menetapkan waktu yang diharapkan untuk laporan hasil pemeriksaan, guna
memenuhi kebutuhan pasien
4. Kebijakan RS tentang Ketepatan waktu melaporkan hasil pemeriksaan yang urgen / gawat
darurat diukur,

KEPUTUSAN DIREKTUR NOMOR : 44/SK-DIR/RSMKT/I/2015 TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN


RADIOLOGI
KEBIJAKAN PELAYANAN RADIOLOGI
RUMAH SAKIT MITRA KELUARGA TEGAL
Kebijakan Umum :
1. Peralatan di ruangan digunakan sesuai dengan fungsi alat dan prosedur penggunaan yang
ditetapkan, sehngga dapat memberikan hasil yang diharapkan.
2. Terdapat data inventarisasi peralatan di ruangan.
3. Program pengelolaan, uji fungsi, pemeliharaan dan kalibrasi peralatan dilakukan secara berkala
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan disertai dengan bukti pelaksanaannya.
4. Pelayanan yang diberikan selalu berorientasi kepada mutu dan keselamatan pasien.
5. Semua staf wajib memiliki izin profesi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6. Dalam melaksanakan tugasnya setiap staf wajib mematuhi ketentuan dalam K3 (Keselamatan
dan Kesehatan Kerja)
7. Setiap staf bekerja sesuai dengan standar profesi, standar prosedur opersinal yang berlaku,
etika profesi, etikket, dan menghormati hak pasien.
8. Penyediaan tenaga mengacu kepada perhitungan pola ketenagaan yang telah ditentukan
manajemen RS.
9. Untuk melaksanakan koordinasi antar staf dan evaluasi kinerja dan pelayanan wajib
dilaksanakan rapat internal minimal satu bulan sekali.
10. Melakukan pelaporan bulanan kepada atasan termasuk kepada tim mutu RS mengenai hasil
pelayanan atau evaluasi kinerja sesuai dengan batasan waktu yang telah ditentukan.
11. Seluruh staf wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan secara berkala sesuai sesuai dengan
program Diklat RS Mitra Keluarga Tegal dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan
tingkat kompetensi petugas radiologi

Kebijakan khusus :
1. RS Mitra Keluarga Tegal menyediakan pelayanan radiologi dan pelayanan diagnostik imajing
selama 24 jam kepada pasien rawat inap, pasien rawat jalan poliklinik spesialis, pasien rawat
jalan UGD atau rawat jalan [Link] memenuhi standar peraturan yang berlaku.
2. Unit pelayanan Radiologi dibawah tanggung jawab seorang Dokter Spesialis Radiologi sebagai
Dokter Penanggung Jawab Radiologi dan dalam menjalankan tugas hariannya dibantu oleh
seorang kepala ruang / koordinator Radiologi yang berijasah sarjana Radiografer, memiliki ijin,
terlatih, berpengalaman dalam penyelenggaraan pelayanan Radiologi.
3. Dokter penanggung jawab dan kepala ruang Radiologi bertanggung jawab terhadap segala
aspek hukum dan peraturan-peraturan Radiologi mengenai penyelenggaraan pelayanan
Radiologi, proses administrasi, keamanan dan kerahasiaan hasil pemeriksaan radiologi pasien
serta pengawasan terhadap aktivitas pelayanan radiologi berdasarkan ketentuan yang
dituangkan dalam standar prosedur operasional.
4. Pemeriksaan radiologi dilakukan berdasarkan permintaan pasien dan atau rekomendasi
dokter yang berwenang dengan mengikuti prosedur administrasi dan prosedur pemeriksaan
yang berlaku untuk pasien rawat jalan ataupun rawat inap.
5. Dokter pengirim rujukan pemeriksaan radiologi baik dalam atau ke luar rumah sakit harus
mencantumkan indikasi setiap permintaan pemeriksaan radiologi dengan jelas agar pemeriksaan
radiologi tepat sesuai kebutuhan medis.
6. Mengoperasikan peralatan di unit radiologi harus sesuai dengan fungsi pemeriksaan dan
prosedur penggunaan yang ditetapkan untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang
diharapkan.
7. Persiapan pemeriksaan radiologi dan diagnostik imajing wajib dilakukan, baik persiapan
administrasi, bahan pemeriksaan yang akan digunakan dan pemberian informasi persiapan
pasien sesuai dengan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan untuk mendapatkan hasil yang
diharapkan.
8. Pemeriksaan radiologi di ruang khusus (ICU/ICCU/NICU) atau UGD menggunakan Pesawat
Mobile Unit, dilakukan hanya apabila pasien dalam keadaan fisik yang tidak memungkinkan
untuk di bawa ke unit radiologi atau atas pertimbangan keselamatan pasien dengan tetap
memperhatikan prosedur / kaidah proteksi radiasi bagi pekerja, pasien dan masyarakat. yang
benar.
9. Pemeriksaan radiologi dengan kontras dilakukan oleh dokter spesialis Radiologi, sedangkan
pemeriksaan radiologi dengan non kontras dapat dilakukan oleh radiografer.
10. Ekspertise hasil pemeriksaan Radiologi dilakukan oleh Dokter Spesialis Radiologi.
11. Pembacaan hasil pemeriksaan radiologi diagnostik dapat dilakukan dengan menggunakan
sarana teleradiologi.
12. Pemeriksaan Ultra Sonografi ( USG ) di Radiologi dilakukan oleh dokter spesialis Radiologi
13. Pelaksanaan penyuntikan media kontras dan hal-hal yang berkaitan dengan tanda-tanda vital
pasien dilakukan oleh perawat yang berkompeten.
14. Setiap tindakan yang dapat menimbulkan resiko terhadap pasien wajib disertai surat persetujuan
tindakan medis (informed consent).
15. Untuk mengatasi keadaan gawat darurat akibat dari bahan kontras wajib disediakan obat dan
peralatan serta dilakukan penanganan sesuai dengan standar penanganan yang tepat.
16. Penyerahan hasil pemeriksaan radiologi diharapkan tepat waktu sesuai dengan standar
mutu pelayanan Radiologi, yaitu 1 jam setelah pemeriksaan hasilnya telah dilakukan
pembacaan oleh Dokter Penanggung Jawab Radiologi dan diserahkan kepada pasien atau
keluarga (berlaku mulai pukul 08.00 s.d 12.00 pada hari aktif untuk pasien yang tidak
dibutuhkan pembacaan cito)
17. Khusus untuk hasil ekspertise yang dibutuhkan segera seperti unit gawat darurat, kamar
bedah dan unit pelayanan intensif, maka pemeriksaan wajib didahulukan (cito)
18. Untuk permintaan radiologi yang termasuk kriteria kritis dapat diterima oleh pasien /
dokter pengirim / dokter jaga dalam waktu < 3 Jam setelah waktu pendaftaran baik
secara lisan ataupun secara tulisan
19. Kriteria Test / hasil kritis adalah :
a. Permintaan yang datang tidak dalam bentuk kriteria kritis / CITO, tapi setelah
diperiksa ternyata hasil yang ditemukan termasuk kriteria kritis
b. Permintaan yang datang ke Radiologi dalam bentuk kriteria kritis/CITO,
walaupun setelah diperiksa hasil yang ditemukan bukan kriteria kritis / kasus
CITO
29. Kriteria hasil kritis yang dimaksud adalah :
Anatomi Jenis Kategori Hasil Kritis
Pemeriksaan Pemeriksaan
Kepala CT-Scan  Perdarahan intrakranial / intracerebral
akibat stroke atau trauma
 Perdarahan intrakanial yang signifikan /
masif
 Infark akut
 Fraktur impresi yang menekan otak

Abdomen CT-Scan Abdomen  Hemoperitoneum


 Pneumoperitoneum
 Ruptur / Impending ruptur Aneurisma
aorta abdominalis

Foto Konvensional  Ileus Obstruktif


dan USG  Pneumoperitoneum
Perdarahan intra abdominal
 False route device
 Hemoperitoneum
Peritonitis

Ektremitas Farktur ekstremitas dengan kekhawatiran


robekan pada pembuluh darah besar

Thorax  Pneumothorax
 Efusi Pleura masif
 Pneumoperitoneum
False route device ( ETT, CVC, NGT,
dsb )

LAIN-LAIN Farktur vertebrae unstable

30. Pelayanan radiologi di luar rumah sakit yang dipilih sebagai pemeriksaan radiologi
rujukan adalah radiologi dengan reputasi pelayanan baik dengan standar pelayanan yang
sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku.
31. Kerjasama RS Mitra Keluarga Tegal dengan Radiologi luar yang ditunjuk, berdasarkan
identifikasi jenis pemeriksaan yang dibutuhkan dan belum dapat dilakukan di dalam RS Mitra
Keluarga Tegal disertai dengan kesepatan-kesepakatan lainnya (tarif, jadwal pemeriksaan dan
bahan pemeriksaan yang dibutuhkan) yang tertuang dalam MOU dan ditandatangani
bersama oleh kedua belah pihak (RS Mitra Keluarga dan Radiologi rujukan).
32. Koordinator radiologi wajib melakukan evaluasi terhadap kinerja radiologi luar/rujukan
secara tahunan dan konsisten dengan memperhatikan temuan ketidaksesuaian pelayanan
radiologi rujukan / luar dengan kesepakatan bersama.
33. Setiap petugas radiologi wajib mematuhi ketentuan dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan
Kerja), seperti penggunaan APD (Alat Pelindung Diri), memperhatikan hand hygiene, dan
pengolahan pembuangan limbah (infeksi atau non infeksi dan benda tajam) dalam menjalankan
tugasnya.
34. Berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja, terdapat program orientasi dan pelatihan
untuk petugas radiologi tentang prosedur dan praktik keselamatan dan keamanan kerja serta
penggunaan bahan berbahaya (B3).
35. Untuk menjamin keamanan radiasi alat radiologi terhadap pasien, petugas maupun lingkungan /
masyarakat umum disekitar unit radiologi, wajib dilakukan langkah-langkah proteksi sesuai
dengan peraturan perundangan Depkes.
36. Setiap pekerja radiasi yang melaksanakan pemeriksaan Radiologi harus memperhatikan kaidah
proteksi radiasi serta mencegah terjadinya pengulangan paparan dengan memperhatikan Nilai
Batas Dosis ( NBD ) pada pekerja, pasien dan masyarakat sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
37. Pemegang izin untuk memastikan agar nilai batas dosis tidak terlampaui, harus :
a. Menyelenggarakan pemantauan paparan radiasi dengan surveymeter
b. Melakukan pemantauan dosis yang diterima personil dengan TLD bagde / Film badge yang
sudah dikalibrasi
c. Menyediakan perlengkapan proteksi radiasi
d. Menyelenggarakan Medikal Cek Up berkala bagi personil Radiologi setiap satu tahun
sekali yang terdiri dari foto Thorax, cek darah rutin, dan cek fisik.
38. Staf Radiologi Diagnostik Imaging bekerja untuk menjamin bahwa semua peralatan
berfungsi dengan baik pada tingkat yang dapat diterima dan aman bagi operator.
39. Koordinator unit radiologi bertanggung jawab terhadap program kontrol mutu pelayanan
radiologi dan diagnostik imajing, dengan beberapa program, salah satunya adalah pelaksanaan
rapat internal bulanan untuk melakukan koordinasi dan evaluasi, validasi metode tes,
pengawasan harian pelayanan radiologi dan diagnostik imajing, dilakukan perbaikan dengan
cepat jika ditemukan kekurangan, dilakukan pengetesan reagensia dan larutan yang digunakan
dan melakukan pendokumentasian hasil serta langkah-langkah perbaikan.
40. Stock Opname bagian Radiologi dilakukan setiap 3 (tiga ) bulan sekali untuk mencocokkan stock
film/reagen yang ada dengan Stock yang ada diprogram RIS (Radiologi Informasi System).
41. Ahli dalam bidang spesialisasi dapat dihubungi apabila diperlukan oleh radiologi.
42. Dalam meningkatkan kualitas pelayanan, koordinator radiologi wajib melakukan pengawasan
mutu pelayanan berdasarkan hasil survei pasien rawat inap / rawat jalan dan pengukuran
terhadap indikator mutu yang telah ditetapkan oleh RS.

C. PROGRAM MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN & K3RS

1. Program K3RS di unit pelayanan (=MFK)


2. Ada program keamanan radiasi yang mengatur risiko keamanan dan antisipasi bahaya yang bisa
terjadi di dalam atau di luar unit kerja ([Link].4 dan MFK.5).
3. Identifikasi risiko keselamatan terhadap proses yang spesifik yang sudah berjalan dan peralatan
yang digunakan untuk mengurangi risiko keselamatan dan keamanan serta antisipasi bahaya
yang bisa terjadi (=MFK)
4. Pelaporan insiden bila terjadi insiden keselamatan
5. Ada program keamanan radiasi yang mengatur risiko keamanan dan antisipasi bahaya yang bisa
terjadi di dalam atau di luar unit kerja ([Link].4 dan MFK.5).
6. Kebijakan dan prosedur tertulis yang mengatur penanganan dan pembuangan bahan infeksius
dan berbahaya ([Link].5, EP 2 dan 4).
7. Risiko keamanan radiasi yang diidentifikasi diimbangi dengan prosedur atau peralatan khusus
untuk mengurangi risiko (seperti apron timah, badge radiasi dan yang sejenis) ([Link].5, EP 5)
8. Orientasi khususnya untuk staf terhadap prosedur dan praktek keselamatan/keamanan kerja
([Link].11, EP 1; TKP.5.4, EP 1 dan 2; TKP.6.1, EP 1).

PROGRAM PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI DALAM PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR


MITRA KELUARGA TEGAL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Radiologi diagnostik sebagai pemanfaatan berkas radiasi eksternal, ( sinar-x ) yang
digunakan untuk menghasilkan suatu gambar untuk tujuan mendiagnosa, memisahkan,
maupun mengevaluasi bagian dari suatu penyakit atau kondisi patologi. Pemanfaatan
pesawat sinar-x untuk diagnostik secara tepat meliputi desain ruangan, pemasangan dan
pengoperasian sesuai dengan norma keselamatan radiasi.

1.2. Tujuan
Tujuan dari program proteksi dan keselamatan radiasi adalah mencegah terjadinya efek
non stokastik yang membahayakan dan membatasi peluang terjadinya efek stokastik sampai
pada nilai batas yang dapat diterima oleh masarakat serta meyakinkan bahwa pekerja atau
kegiatan yang berkaitan dengan penyinaran radiasi dapat dibenarkan.

1.3. Ruang Lingkup


Ruang lingkup dalam program proteksi radiasi dan keselamatan radiasi meliputi
spesifikasi keselamatan alat, perlengkapan proteksi radiasi, keselamatan operasional
proteksi radiasi dan uji kepatuhan ( compliance test ).
1.4. Definisi
Proteksi dan keselamatan radiasi adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berkaitan
dengan teknik kesehatan lingkungan yaitu tentang proteksi yang perlu diberikan kepada
seseorang atau sekelompok orang terhadap kemungkinan diperolehnya akibat negatif dari
radiasi pengion. Sementara kegiatan yang diperlukan dalam pemakaian sumber radiasi
pengion masih tetap dapat dilaksanakan. Akibat negatif ini disebut somatik apabila diderita
oleh yang terkena radiasi, dan disebut akibat genetik apabila dialami oleh keturunannya.

BAB II
PENYELENGGARA PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI

II.1. Struktur Penyelenggara Proteksi dan Keselamatan Radiasi


Penyelenggara proteksi dan keselamatan radiasi merupakan wadah yang tediri dari
perwakilan setiap personil yang ada di fasilitas atau instalasi yang memanfaatkan tenaga
nuklir, dapat berbentuk orang perorangan, komite atau organisasi, bertugas untuk
membantu pemegang izin dalam melaksanakan tanggungjawabnya.
Struktur Penyelenggara Proteksi dan Keselamatan Radiasi di RS. Mitra Keluarga Tegal
terdiri atas :
1. Pemegang Izin
2. Petugas Proteksi Radiasi ( PPR )
3. Pekerja Radiasi

II.2. Tugas dan Tanggung Jawab


1. Pemegang izin
Pemegang izin RS Mitra Keluarga Tegal mempunyai tanggung jawab tertinggi
terhadap keselamatan personel dan anggota masyarakat lain yang berada di dekat
instalasi di bawah pengawasannya. Bila perlu pemegang izin dapat membentuk kosmisi
keselamatan radiasi. Yang termasuk dalam pemegang izin adalah Direktur Rumah Sakit
atau ketua Yayawan Rumah Sakit. Tindakan yang harus dilaksankan oleh pemegang izin
dalam melaksanakan tanggung jawabnya yaitu :
a. Membentuk organisasi proteksi radiasi dan menunjuk petugas proteksi radiasi
( PPR ) dan bila perlu PPR pengganti
b. Hanya mengizinkan seseorang bekerja dengan sumber radiasi setelah
memperhatikan segi kesehatan, pendidikan dan pengalaman kerja dengan
menggunkan seumber radiasi
c. Menjelaskan kepada semua pekerja radiasi tentang adanya potensi bahaya yang
timbul akibat penggunaan zat radioaktif dan atau sumber radiasi lain, dalam
tugasnya serta memberikan latihan proteksi radiasi
d. Menyediakan aturan keselamtan radiasi yang berlakuk dalam lingkungan sendiri,
termasuk aturan tentang penanggulangan keadaan darurat
e. Menyediaakan fasilitas dan peralatan serta sarana kerja ynag diperlukan untuk
bekerja dengan sumber radiasi ( peralatan proteksi radiasi , tempat penyimpanan
sumber dan lain-lain )
f. Menyediakan prosedur kerja yang diperlukan
g. Menyelenggarakan pemeriksaan kesehtana bagi pekerja radiasi dan pelayanan
kesehatan bagi pekerja radiasi
h. Memberi tahu instansi yang berwenang dan instansi lain yang terkait (misal
kepolisian dan dinas pemadam kebakaran apabila terjadi bahaya radiasi atau
keadaan darurat lainnya.

2. Petugas Proteksi Radiasi ( PPR ).


Petugas Proteksi Radiasi adalah petugas yang ditunjuk oleh pemegang izin dan
Bapeten dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan
proteksi radiasi. Tugas dan tanggungjawab PPR adalah :
a. Wajib membantu pengusaha instalasi untuk melaksanakan tanggung jawabnya di
bidang proteksi radiasi, teknis maupun administratif termasuk menyelesaikan
masalah perizinan dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir.
b. Memberikan intruksi teknis dan administratif kepada pekerja radiasi tentang cara
kerja yang sesuai dengan ketentuan keselamatan.
c. Mencegah dilakukannya perubahan terhadap segala sesuatu yang dapat
menimbulkan bahaya radiasi yang tidak terduga.
d. Mengambil tindakan untuk menjamin tidak adanya tempat atau daerah didalam
maupun diluar instalasi yang tingkat radiasinya melebihi batas yang diizinkan.
e. Memberitahukan kepada instalasi yang berwenang apabila terjadi bahaya radiasi
atau keadaan darurat lainnya.
f. Dalam hal terjadinya kecelakaan, diwajibkan segera melakukan penilaian terhadap
penerimaan dosis radiasi yang diterima pekerja yang terlibat dalam kecelakaan dan
dalam penanggulangan kecelakaan tersebut.
g. Melaksanakan koordinasi pemeriksaan kesehatan dan melaksanakan pemonitoran
radiasi serta tindakan proteksi lainnya.
h. Menyelenggarakan dokumentasi yang berhubungan dengan kegiatan proteksi
radiasi.

3. Pekerja Radiasi
Pekerja Radiasi adalah setiap orang yang bekerja di instalasi nuklir atau instalasi
radiasi pengion yang diperkirakan menerima dosis tahunan melebihi dosisi untuk
masyarakat [Link] dan Tanggung Jawab Pekerja Radiasi :
a. Mengetahui, memahami dan melaksanakan semua ketentuan keselamatan radiasi
b. Melaksanakan petunjuk pelaksanaan kerja yang telah disusun oleh PPR dengan
benar
c. Melaporkan setiap gangguan kesehatan yang dirasakan dan diduga akibat
penyinaran lebih atau masuknya radioaktif ke dalam tubuhnya
d. Memanfaatkan sebaik-baiknya peralatan keselamtan kerja yang tersedia serta
bertindak hati-hati, aman dan disiplin untuk melindungi baik dirinya sendiri
maupun pekerja lain
e. Melaporkan kejadian kecelakaan bagiamanpun kecilnya kepada PPR

II.3. Personil yang bekerja di fasilitas atau instalasi termasuk program pendidikan dan pelatihan
mengenai Proteksi dan Keselamtan Radiasi
A. Personil yang bekerja di fasilitas dan instalasi.
Personil yang bekerja di Instalasi Radiologi RS Mitra Keluarga Tegal terdiri dari :
a) Petuga Proteksi Radiasi ( PPR )
b) Dokter Radiologi
c)Pekerja Radiasi
B. Program pendidikan dan pelatihan mengenai Proteksi dan Keselamatan Radiasi
Petugas Proteksi Radiasi ( PPR ) harus mengikuti dan lulus kursus atau pelatihan yang
dibuktikan dengan sertifikat lulus, untuk selanjutnya diuji oleh Bapeten. Petugas yang
lulus ujian tersebut akan diberikan Surat Izin Bekerja ( SIB ) sebagai PPR oleh
Bapeten yang berlaku 5 ( lima ) tahun. SIB untuk PPR hanya dapat diperpanjang
setelah mengikuti program rekualifikasi paling sedikit 2 ( dua ) kali selama masa berlaku
SIB.
Pekerja Radiasi harus menjalani pendidikan selama 3 ( tiga ) tahun jurusan eksakta atau
teknik, yang dalam pendidikan tersebut telah dibekali dengan pelatihan-pelatihan
diberbagai Rumah Sakit untuk dijadikan sebagai pengalaman kerja.

II.4. Program jaminan mutu proteksi dan keselamatan radiasi yang berisi antara lain prosedur kaji
ulang dan audit pelaksana program proteksi dan keselamatan radiasi secara berkala.
Program jaminan mutu proteksi radiasi dan keselamtan radiasi dilakukan kalibrasi
pada pesawat sinar-x oleh BPFK setiap 1 ( satu ) tahun sekali, dan pengajuan izin
untuk alat-alat baru serta perpanjangan ijin penggunaan radiasi pengion oleh
Bapeten dilakukan setiap 2 ( dua ) tahun sekali.

BAB III
DESKRIPSI FASILITAS
III.1. Deskripsi Fasilitas.
Fasilitas yang tersedia atau peralatan dan pendukungnya harus sedemikian rupa sehingga tidak
ada radiasi yang membahayakan pekerja maupun anggota masyarakat lain. Fasilitas yang ada di
bagian radiologi RS. Mitra Keluarga Tegal adalah dengan tembok setebal 25 cm, kaca Pb untuk
operator setebal 2 mm, Apron 4 ( empat ) unit dengan tebal Pb 0,5 mm, pelindung thyroid 2
( dua ) unit dengan tebal Pb 0,5 mm.

III.2. Deskripsi Pembagian Daerah Kerja


Instalasi radiologi RS Mitra Keluarga Tegal terletak di lantai 1, dengan pembagian daerah kerja
sebagai berikut :
1) Daerah pengawasan termasuk juga daerah pengendalian / Ruang kontrol instalasi
Radiologi RS Mitra Keluarga Tegal terletak diantara ruang CT-Scan, Fluoroscopy dan Kamar
Gelap, dengan batasan sebelah kiri ruang CT-Scan , sebelah kanan ruang Fluoroscopy,
belakang ruang kamar gelap, dan depan ruang USG
2) Daerah pengendalian
Yaitu daerah radiasi / ruang pemeriksaan, yang terdiri dari :
 Ruang CT-Scan
Dengan batasan, depan ruang dokter, belakang Inst. Laboratorium sebelah kanan
ruang kontrol, sebelah kiri koridor, dan atas ruang perawatan
 Ruang Fluoroscopy
Dengan batasan, depan ruang endoskopi dan gudang umum, belakang Inst.
Laboratorium, sebelah kanan Toilet, sebelah kiri ruang kontrol dan atas ruang
perawatan
 Ruang Panoramic dan Cephalometri
Dengan batasan , depan ruang kontrol, belakang gudang, sebelah kanan ruang
USG, sebelah kiri ruang Endoskopi dan atas ruang perawatan.

III.3. Deskripsi Perlengkapan Proteksi Radiasi


Perlengkapan proteksi radiasi yang dimiliki oleh instalasi radiologi RS Mitra Keluarga Tegal
terdiri atas :
a) Peralatan pemantau dosis perorangan
Peralatan pemantau dosis perorangan yang digunakan di RS Mitra KeluaragaTegal
adalah film badge beserta holdernya ( tempatnya ). Film badge mutlak harus dimiliki
oleh pekerja radiasi karena hasil pembacaannya dapat digunakan sebagai
pembuktian dikemudian hari apabila terjadi kesalahan pembacaan atau hal-hal
lainnya dan juga bersifat medico legal. Keuntungannya mempunyai arsip tetap ( film
hasil proses ). Setiap bulannya film badge selalu dikirim ke BPFK untuk diukur berapa
dosis radiasi yang diterima masing-masing pekerja radiasi.
b) Peralatan proteksi radiasi
Peralatan protektif radiasi yang digunanakan di Instalasi Radiologi RS. Mitra Keluarga
Tegal adalah sebagai berikut :
1) Apron 4 unit setebal 0,5 mmPb.
2) Pelindung Thyroid 2 unit setebal 0,5 mmPb.
3) Kaca mata Pb setebal 0,5 mmPb
4) Kaca Pb operator setebal 2 mmPb.
5) tembok keliling setebal 25 cm.
6) Pintu besi dilapisi Pb 2 mm.
7) Lampu indikator radiasi.
8) Simbol-simbol bahaya radiasi.
BAB IV
PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI

IV.1. Penetapan Pembatasan Dosis


Pembatasan dosis radiasi dilakukan dengan cara :
1) Pemberian dosis radiasi pada saat pemeriksaan disesuaikan dengan ketebalan objek
2) Pembatasan luas lapangan penyinaran
3) Usahakan tidak terjadi pengulangan foto.
4) Tidak melakukan penyinaran dengan sengaja kepada petugas radiasi, keluarga pasien
atau masyarakat umum.
5) Memberikan alat pelindung radiasi kepada keluarga pasien bagi yang memegangi
pasien
6) Membatasi penyinaran radiasi kepada wanita hamil

IV.2. Prosedur Proteksi dan Keselamtan Radiasi dalam operasi normal

IV. 2.1. Prosedur pengoperasian peralatan


Prosedur pengoperasian alat-alat radiasi di RS Mitra Keluarga Tegal adalah sebagai
berikut :
1. CT-Scan
A. Cara Menghidupkan Pesawat CT. Scan :
1) Tekan tombol hijau yang ada di panel kontrol.
2) Tekan tombol “ ON “ pada CPU.
3) Tunggu beberapa menit sampai ada tampilan “ The System Coming
Up“.
4) Proses akan berjalan sampai ada tampilan program.
5) Warming up sesuai dengan kebutuhan.
6) 6Alat siap di operasikan.
B. Cara Mematikan Pesawat CT. Csan :
1) Klik menu “ Shut Down “ pada layar monitor.
2) Tunggu sampai ada perintah “ Shut Down The System “.
3) Klik “ OK “.
4) Tunggu beberapa menit sampai layar monitor padam.
5) Tekan Tombol “ OFF “ pada CPU.
6) Tekan tombol merah yang ada panel kontrol

2. Konvensional dan Fluoroscopy


A. Menghidupkan Pesawat Konvensional / Toshiba :
a) Tekan panel listrik yang ada di dinding ke posisi ON ( ke atas ).
b) Tekan tombol ON pada control table.
c) Tunggu beberapa saat hingga layar monitor di control table ready.
d) Alat siap untuk di gunakan.

B. Menghidupkan Alat Fluoroscopy :


1) Tekan ON pada posisi tube fluoroscopy.
2) Posisikan TV monitor dan tekan tombol ON.
3) Geser bucky table ke posisi paling kanan.
4) Pasang pijakan kaki dan pegangan tangan pada meja pemeriksaan.
5) Pasang kaset pada spot device.
6) Contoh foto colon in loop, pasien di persiapkan sesuai dengan prosedur
pemeriksaan colon in loop.
7) Mengatur kondisi kV dan mAs sesuai kebutuhan pasien.
8) Tekan tombol fluoroscopy lihat hasil gambar di monitor bila sudah sesuai.
9) Lanjutkan dengan menekan tombol expose radiografi mekanik pembawa
kaset masuk di bawak antara Tube dan I I, sampai lampu indikator ready
dan expose menyala kemudian mati.
10) Film yang sudah di expose di cuci.
11) Posisikan pesawat fluoroscopy ke tempat normalnya.
12) Kembalikan kondisi pesawat fluoroscopy ke konvensional.

C. Mematikan Pesawat Konvensional / Toshiba :


1) Posisikan meja pemeriksaan dan tube ke posisis netral / aman.
2) Kembalikan kondisi pesawat ke nilai kV sampai nilai terkecil.
3) Tekan tombol OFF pada control table.
4) Tekan panel listrik ke arah atas untuk mematikan aliran listrik ( OFF ).
5) Pesawat posisi mati.

3. Panoramic dan Cephalometri


Cara menoperasikan alat panoramic dan cephalometri :
1) Tekan tombol On – Off pada pesawat.
2) Memilih tube yang akan di gunakan ( Panoramic / Cephalometri ).
3) Memilih jenis filter yang akan digunakan pada pesawat ( Panoramic / Cephalometri ).
4) Tekan tombol indikator untuk mengatur posisi pasien.
5) Mengatur kondisi penyinaran
6) Tekan tombol Ready pada pesawat.
7) Pemeriksaan siap dilakukan
8) Jika alat sudah selesai digunakan maka tekan tombol Off pada pesawat untuk
mematikannya.

4. Mobile X-Ray Listem


Prosedur Menyalakan Pesawat Mobile Unit :
1) Membuka kabel dari gulungannya dan menghubungkannya dari stop kontak.
2) Tekan tombol “ ON “ ( I ) pada pesawat Rontgen sampai terdengar nada.

Prosedur Mematikan Pesawat Mobile Unit :


1) Turunkan kondisi X-Ray ( kV, mA, Sec ) dalam kondisi terendah.
2) Tekan tombol ” OFF “ pada pesawat Rontgen.
3) Mencabut kabel yang menghubungkan pesawat dengan stop kontak.

Prosedur Menjalankan Pesawat Mobile Unit:


1) Memilih tombol kondisi pasien ( Anak – anak, Dewasa Gemuk, Dewasa Sedang,
Dewasa Kurus ).
2) Memilih tombol jenis pemeriksaan ( Kepala, Thorax, dll ).
3) Memilih tombol posisi pasien ( AP, Lateral, Oblique ).
4) Menentukan kondisi X-Ray ( kV, mA, Sec ) yang sesuai.
5. Setelah pasien disiapkan, menekan tombol ready dan dilanjutkan tombol X-Ray.

IV.2.2. Pembatasan akses pada daerah kerja


Pembatasan akses pada daerah kerja radiasi dengan memberikan tanda bahaya radiasi
dan tanda larangan masuk bagi ibu hamil yang tidak dilakukan pemeriksaan di pintu
masuk instalasi radiologi. Di setiap ruang diberikan lampu warna merah tanda sedang
dilakukan pemeriksaan.

IV.2.3. Pemantauan paparan radiasi dan / atau kontaminasi radioaktif di daerah kerja
Pemantauan paparan radiasi terhadap peralatan-peralatan yang ada di Instalasi
Radiologi RS. Mitra Keluarga Tegal dilakukan oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini
oleh BPFK secara langsung mengukur peralatan tersebut. Pengukuran yang yang dilakukan
adalah kebocoran tabung pesawat sinar-x, berkas utama pesawat sinar-x dan laju dosis
disekitar ruangan masing-masing peralatan yang ada.
Periode pengukuran yang dilakukan terhadap peralatan-peralatan yang ada di
Instalasi Radiologi R. Mitra Keluarga Tegal adalah setiap 1 ( satu ) tahun sekali dilakukan
oleh BPFK. Tujuan dilakukan pengukuran ini untuk mengetahui kebocoran tabung pesawat
sinar-x dan paparan radiasi disekitar ruangan.
IV.2.4. Pemantauan radioaktivitas lingkungan di luar fasilitas atau instalasi
Pemantauan radioaktivitas lingkungan di luar fasilitas atau instalasi dilakukan secara
berkala oleh pihak yang berwenang yaitu BPFK / LPFK untuk mencegah terjadinya
kebocoran radioaktivitas yang melebihi nilai batas radioaktivitas lingkungan yang
ditentukan oleh Bapeten.

IV. 2.5. Pemantauan dosis yang diterima Pekerja Radiasi


Pemantauan dosis yang diterima oleh pekerja radiasi dengan menggunakan film badge
yang dievaluasi setiap bulan oleh LPFK, kemudian hasil evaluasi tersebut disampaikan
kepada pemegang izin dan Bapeten, dari pemegang izin akan disampaikan kepada pekerja
radiasi dan disimpan ke dalam file selama pekerja masih aktif bekerja di RS Mitra
Keluarga Tegal dan disimpan selama 30 tahun terhitung sejak pekerja yang bersangkutan
berhenti bekerja, jika hasil pemantauan dosis yang diterima pekerja menunjukkan dosis
yang signifikan atau melebihi nilai batas dosis, maka akan ditindak lanjuti dengan
memberikan pelaporan kepada pihak LPFK. Bapeten juga dapat melakukan pencarian
keterangan jika hasil evaluasi menunjukkan dosis melebihi nilai batas dosis.

IV.2.6. Pemantauan kesehatan bagi pekerja radiasi


Pemantauan kesehatan bagi pekerja radiasi di RS Mitra Keluarga Tegal dengan
melakukan medical chek up sebelum bekerja dan selama bekerja secara rutin minimal 1
tahun sekali, dengan melakukan foto Thorax dan cek darah rutin atau jika dianggap perlu
pemeriksaan khusus dapat dilakukan.

IV.3. Rencana Penanggulangan Keadaan Darurat


A. Keadaan darurat yang dapat terjadi secara spesifik dan relevan.
Dalam keadaan darurat apabila terjadi kecelakaan radiasi maka dilakukan
pencegahan dalam menanggulanginya sesuai dengan hubungan kalsifikasi dan
karakteristik untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan. Ada beberapa keadaan
darurat atau potensi kejadian abnormal yang dapat terjadi secara spesifik dan relevan
dengan teknologi peralatan yang digunakan diantaranya adalah :
➢ Hasil pengukuran berkas utama pesawat sinar-x melebihi standar keselamatan yang
telah ditetapkan.
➢ Adanya kebocoran tabung pesawat sinar-x.
➢ Hasil pengukuran laju dosis radiasi disekitar ruangan terdapat kebocoran paparan
radiasi.
➢ Hasil pengukuran film bagde personil melebihi nilai batas dosis yang telah
ditentukan.
B. Prosedur penanggulangannya.
 Pada hasil pengukuran berkas utama pesawat sinar-x melebihi standar keselamatan
yang telah dilakukan maka harus dilakukan perbaikan pada tabung pesawat sinar-x,
mengurangi penerimaan penyinaran yang lebih tinggi agar dosis yang diterima
personil serendah mungkin.
 Adanya kebocoran tabung pesawat sinar-x maka dilakukan perbaikan terhadap fungsi
diafragma dari tabung tersebut, selalu memonitoring peralatan yang menggunakan
sumber radiasi pengion. Apabila tidak teratasi maka petugas proteksi dan instansi
melapor ke BAPETEN untuk ditindaklanjuti.
 Pada hasil pengukuran laju dosis radiasi disekitar ruangan terdapat kebocoran radiasi
maka dilakukan penebalan tembok keliling ruangan tersebut atau pemasangan Pb
yang lebih tebal begitu juga dengan ketebalan kaca Pb operator, lakukan pembatasan
dosis untuk mengurangi dosis radiasi yang diterima personil
 Apabila terjadi hasil pengukuran film badge personil melebihi nilai batas dosis yang
telah ditentukan maka bagi petugas tersebut dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk
mengetahui kondisi kesehatannya bila perlu mengistirahatkan petugas tesebut,
lakukan pemonitoran radiasi untuk mencari penyebab terjadinya bisa dari peralatan
atau faktor bangunan tersebut.

C. Personil yang bertanggungjawab dalam tindakan penanggulangannya.


Apabila dalam keadaan darurat terjadi kecelakaan radiasi yang mengakibat kerusakan
lingkungan maka petugas proteksi radiasi bersama dengan pemegang izin
memberitahukan kepada instansi yang berwenang misalnya BAPETEN, Kepolisian dan
Dinas Pemadam kebakaran.

BAB V
REKAMAN DAN LAPORAN

Rekaman adalah dokumen yang menyatakan hasil yang dicapai atau memberi bukti pelasanaan
kegiatan dalam pemanfaatan tenaga nuklir
Penyimpanan rekaman hasil pemantauan paparan radiasi bagi pekerja radiasi RS Mitra Keluarga
Tegal tersimpan dalam file terpisah setiap bulan dalam waktu selama pekerja radiasi masih aktif
bekerja di RS Mitra Keluarga Tegal dan disimpan selama 30 tahun terhitung sejak pekerja yang
bersangkutan berhenti bekerja di RS Mitra Keluarga Tegal..
Bila pada laporan per bulan terdapat nilai yang melewati batas yang telah dilakukan, akan
dikonfirmasikan kebenarannya ke LPFK terlebih dahulu secara lisan kemudian menyampaikan
laporan secara tertulis dalam waktu 3 hari setelah pemberitahuan secara lisan. Jika angka tersebut
sudah diperiksa ulang, petugas tersebut selama 1 (satu) bulan untuk sementara dijauhkan dari
tugas-tugas radiasi , dan diadakan penelitian retrogard untuk mencari sebab-sebab kenaikkan dosis
tersebut.
Jika pada bulan berikutnya masih tetap terdapat kenaikkan nilai dosis radiasi , petugas tetap
dijauhkan dari tugas radiasi dan dilakukan pemeriksaan kesehatan fisik dan laboratorium dan
dilakukan pemeriksaan terhadap alat dan fasilitas rontgen, serta permintaan pengecekan ulang
badge tersebut ke LPFK. Jika nilai dosis radiasi sudah kembali normal, petugas dapat bertugas
kembali.
LEMBAR PENGESAHAN

Dokumen Program Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam pemanfaatan Tenaga Nuklir di RS Mitra
Keluarga Tegal ini telah diperiksa dan di sahkan pada tanggal 14 Agustus 2014 oleh :

Bagus Dwi Hermiawan dr. H.M. Trimulyo, [Link]


Petugas Proteksi Radiasi Direktur Utama
TABEL EKSPOSI PESAWAT MOBILE LISTEM
Tegangan Arus
Pemeriksaan Proyeksi (kV) (mA) Waktu (s) Mas
AP/PA/Lat
Thorax eral 70/85 100 0.08 8
BNO Supine 75 100 0.3 30
Lumbosakral AP/Lateral 75/90 100 0,3/0,5 30/50
Thorakal AP/Lateral 70/85 100 0,3/0,5 30/50
Manus AP/Lateral 50 100 0.05 5
Antebrachi AP/Lateral 52 100 0.05 5
Cubiti AP/Lateral 54 100 0.05 5
Humerus AP/Lateral 56 100 0.06 6
Pedis AP/Lateral 52 100 0.05 5
Ankle AP/Lateral 54 100 0.06 6
Cruris AP/Lateral 55 100 0.06 6
Genue AP/Lateral 56 100 0.08 8
Femur AP/Lateral 62 100 0.12 12
Pelvis AP 70 100 0.25 25
Cranium AP/Lateral 75/70 100 0.25 25
..................
Organ lain ........
TABEL EKSPOSI CT-SCAN HI SPEED NXI MERK GE

NO JENIS CT-SCAN KV MA
1 KEPALA 140 160
2 SPN 120 150
3 ORBITA 120 200
4 LEHER 120 150
5 CERVICAL 120 350
6 THORAX 120 350
7 SHOULDER 120 350
8 ABDOMEN 120 350
9 LUMBAL / THORACAL 140 300
10 PELVIS 120 350
11 FEMUR / CRURIS 120 350
12 KNEE JOINT 120 200

PENANGANAN DAN PENGGUNAAN B3

1. Kebijakan pengelolaan B3 di lab


2. PANDUAN & SPO penanganan dan pembuangan B3 lRadiologi (= MFK)
=> SPO tidak ada
=> SPO pembuangan libah cair sudah tdk digunakan lagi
3. Pelatihan terhadap seluruh staf lab mengenai prosedur baru dan penggunaan bahan berbahaya
yang baru ([Link].8, EP 3 dan 4).
=> pelatihan B3 terdapat dalam orientasi khusus unit pelayanan

1. KEBIJAKAN B3

SK DIREKTUR NOMOR : NOMOR : 15/ SK-DIR/RSMKT/I/2015 TENTANG PENETAPAN PANDUAN


PENGELOLAAN B3 DI RS
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :

Pertama : MENETAPKAN PANDUAN PENGELOLAAN BAHAN DAN BARANG BERBAHAYA (B3) DI RS


MITRA KELUARGA TEGAL;
Kedua : Kebijakan Pengelolaan B3 Di Lingkungan Rumah Sakit Mitra Keluarga Tegal
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Surat Keputusan ini;
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila di kemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya

2. PANDUAN PENGELOLAAN B3

PANDUAN
PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA & BERACUN (B3)
MITRA KELUARGA TEGAL

1. Pendahuluan
limbah berbahaya dan sebagian lagi termasuk kategori infeksius. LimbaRumah sakit
dengan berbagai kegiatannya menghasilkan limbah yang saat ini mulai disadari dapat
menimbulkan gangguan kesehatan akibat bahan yang terkandung didalamnya dan menjadi
mata rantai penyebab penyakit, selain itu juga dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan
udara, air dan tanah.
Sampah rumah sakit dapat digolongkan berdasarkan jenis unit penghasil dan jenis
pengelolaannya, dan secara garis besar limbah rumah sakit digolongkan menjadi sampah
medis dan non medis.
Limbah medis Rumah Sakit termasuk ke dalam kategori limbah berbahaya dan beracun
yang sangat penting untuk dikelola secara benar. Sebagian limbah medis termasuk ke dalam
kategori limbah medis berbahaya yang berupa limbah kimiawi, limbah farmasi, logam berat,
limbah genotoxic dan wadah bertekanan masih banyak yang belum dikelola dengan baik.
Sedangkan limbah infeksius merupakan limbah yang bisa menjadi sumber penyebaran penyakit
baik kepada SDM Rumah Sakit, pasien, pengunjung/pengantar pasien ataupun masyarakat di
sekitar lingkungan Rumah Sakit. Limbah infeksius biasanya berupa jaringan tubuh pasien,
jarum suntik, darah, perban, biakan kultur, bahan atau perlengkapan yang bersentuhan dengan
penyakit menular atau media lainnya yang diperkirakan tercemari oleh penyakit pasien.
Pengelolaan lingkungan yang tidak tepat akan berisiko terhadap penularan penyakit. Beberapa
risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan akibat keberadaan rumah sakit antara lain: penyakit
menular.
Limbah non medis dihasilkan oleh ruang administrasi, ruang gizi, ruang diklat, dan lain-
lain.
Semua limbah tersebut harus dikelola dengan baik sehingga tidak membahayakan
manusia maupun lingkungan.

2. Pengertian
a. Limbah ada1ah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan;
b. Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, ada1ah sisa suatu usaha
dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena
sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk
hidup lain;
c. Pengelolaan limbah B3 ada1ah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi, penyimpanan,
pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan limbah B3;
d. Reduksi limbah B3 adalah suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi jumlah dan
mengurangi sifat bahaya dan racun limbah B3, sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan;
e. Penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan/atau kegiatannya menghasilkan limbah
B3;
f. Penyimpanan adalah kegiatan menyimpan limbah B3 yang dilakukan oleh penghasil
dan/atau pengumpul dan/atau pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah
B3 dengan maksud menyimpan sementara;
g. Pengumpulan limbah B3 adalah kegiatan mengumpulkan limbah B3 dari penghasil limbah
B3 dengan maksud menyimpan sementara sebelum diserahkan kepada pemanfaat
dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3;
h. Pengangkutan limbah B3 adalah suatu kegiatan pemindahan limbah B3 dari penghasil
dan/atau dari pengumpul dan/atau dari pemanfaat dan/ atau dari pengolah ke
pengumpul dan/atau ke pemanfaat dan/atau ke pengolah dan/atau ke penimbun limbah
B3;
i. Pemanfaatan limbah B3 adalah suatu kegiatan perolehan kembali (recovery) dan/atau
penggunaan kembali (reuse) dan/atau daur ulang (recycle) yang bertujuan untuk
mengubah limbah B3 menjadi suatu produk yang dapat digunakan dan harus juga aman
bagi lingkungan dan kesehatan manusia;
j. Pengolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah karakteristik dan komposisi limbah
B3 untuk menghilangkan dan/atau mengurangi sifat bahaya dan/atau sifat
racun;Penimbunan limbah B3 adalah suatu kegiatan menempatkan limbah B3 pada suatu
fasilitas penimbunan dengan maksud tidak membahayakan kesehatan manusia dan
lingkungan hidup.

3. Kebijakan
Kebijakan Manajemen Rumah Sakit Pluit untuk selalu memberikan prioritas yang
menyangkut Aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam semua kegiatan Rumah Sakit Pluit.
Garis besar kebijakan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
b. Rumah Sakit mendukung memberikan perlindungan pada seluruh orang dan benda
yang berada dalam lingkungan rumah sakit.
c. Setiap pengadaan bahan B3 harus mengupayakan Kesehatan dan Keselamatn Kerja
serta pencegahan pencemaran lingkungan.
d. Setiap pengendalian B3 harus harus mengupayakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
serta pencegahan pencemaran lingkungan.
e. Penanganan kecelakaan bahan kimia sesuai dengan prosedur bahan.

Kebijakan pengelolaan limbah berdasarkan regulasi yang ada yaitu :


a. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 31, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3815)
b. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pencemaran Air (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 153, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4161)
c. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907/Menkes/ SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat
Dan Pengawasan Kualitas Air Minum;
d. Pergub No. 76 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya

4. Tujuan
Panduan Pengelolaan limbah B3 bertujuan sebagai acuan untuk melaksanakan tindakan
yang dapat mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah
tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali.

5. Penanganan Limbah Berbahaya dan Limbah Sejenis


Penggolongan Limbah B3 adalah :
a. Limbah benda tajam
b. Limbah infeksius
c. Limbah jaringan tubuh
d. Limbah citotoksik
e. Limbah farmasi
f. Limbah kimia
g. Limbah radioaktif
h. Limbah plastik

a. Limbah benda tajam .


Limbah benda tajam adalah limbah yang memiliki sudut tajam, sisi, ujung atau bagian
menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit.
Contoh :
- Jarum hipodermik
- Perlengkapan intravena
- pipet pasteur
- pecahan gelas
- pisau bedah
- Dll

Limbah benda tajam mempunyai potensi dan dapat menyebabkan cidera melalui
sobekan atau tusukan. Limbah benda tajam mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan
tubuh, bahan mikrobiologi dan beracun, bahan citotoksik atau radioaktif.
Secara umum jarum disposible tidak dipisahkan dari syringe atau perlengkapan lain
setelah digunakan. Cliping, bending atau breaking jarum-jarum untuk membuatnya tidak
biasa digunakan sangat disarankan karana menyebabkan accidental inoculation. Prosedur
tersebut dalam beberapa hal perlu diperhatikan kemungkinan dihasilkan aerosol.
Menutup jarum dengan kap dalam keadaan tertentu barangkali bisa diterima, misalnya
dalam penggunaan bahan radioaktif dan untuk pengumpulkan gas darah.
Limbah golongan ini ditempatkan dalam kontainer yang tahan tusukan dan diberi
label dengan benar untuk meghindari kemungkinkan cidera saat proses pengumpulan dan
pengangkatan limbah tersebut. Dan pada proses akhir dimusnahkan dengan incenerator.

b. Limbah infeksius
Limbah infeksius memiliki pengertian:
- Limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular
(perawat intensive)
- Limbah labotarium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik
dan ruang perawatan / isolasi penyakit menular.
- Limbah golongan ini ditempatkan dalam kantong kuning dan pada proses akhir
dimusnahkan dengan incenerator.

c. Limbah Jaringan Tubuh


Cairan tubuh, terutama darah dan cairan yang terkontaminasi berat oleh darah, bila
dalam jumlah kecil, dan bila mungkin diencerkan sehingga dapat dibuang ke dalam sistem
pengolahan air limbah.

d. Limbah Citotoksik.
Limbah citotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi
dengan obat citotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik.
Untuk menghapus tumpahan yang tidak sengaja, perlu disediakan absorben yang tepat.
Bahan pembersih hendaknya selalu tersedia dalam ruang peracikan terapi citotoksik, bahan
yang cocok untuk itu, antara lain : sawdust, granula absorpsi, atau pembersih lainnya.
Limbah golongan ini ditempatkan dalam kantong kuning dan pada proses akhir
dimusnahkan dengan incenerator. Sedangkan limbah dengan kandungan obat citotoksik
rendah, seperti : tinja, urine, dan muntahan, bisa dibuang secara aman kedalam saluran air
kotor. Namun harus hati-hati dalam menangani limbah tersebut dan harus diencerkan
dengan benar

e. Limbah Farmasi
Limbah farmasi berasal dari:
- Obat-obatan kadaluarsa
- Obat-obatan yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau
kemasan yang terkontaminasi
- Obat-obatan yang dikembalikan oleh pasien atau dibuang oleh masyarakat
- Obat-obatan yang tidak diperlukan oleh institusi yang bersangkutan
- Limbah yang dihasilkan selama produksi obat –obatan
Metode pembuangan tergantung pada komposisi kimia limbah. Namun, prinsip-prinsip
berikut hendaknya dapat dijadikan pertimbangan. Limbah farmasi hendaknya diwadahi
kontainer non reaktif. Bilamana memungkinkan, cairan yang tidak mudah terbakar (larutan
antibiotik) hendaknya diserap dengan sawdust dikemas dengan kantong plastik dan di
bakar dengan incenerator.
Bila proses penguapan dilakukan untuk membuang limbah farmasi hendaknya dilakukan
ditempat terbuka jauh dari api, motor elektrik, atau intake conditioner .
Proses penguapan dilakukan dapat menimbulkan pecemaran udara karena itu metode ini
hendaknya hanya digunakan untuk limbah farmasi dengan sifat racun rendah. Bahan
ditempatkan dalam wadah non-reaktif yang mempunyai bidang permukaan luas.
Umumnya limbah farmasi harus dibuang melalui incenerator. secara umum, tidak
disarankan untuk membuangnya ke dalam saluran air kotor. Limbah dihasilkan dari
penggunaan kimia dalam tindakan medis, veterinary, laboratorium, proses sterilisasi dan
riset. Pembuangan limbah kimia kedalam saluran air kotor dapat menimbulkan korosi atau
berupa ledakan. Reklamasi dan daur ulang bahan kimia berbahaya dan beracun (B3) dapat
diupayakan bila secara tehnis dan ekonomis memungkinkan. Disarankan untuk
berkonsultasi dengan instansi berwenang untuk dapat petunjuk lebih lanjut.
Mercuri banyak digunakan dalam penyerapan restorasi amalgam. Limbah mercuri
amalgam tidak boleh dibakar dengan incenerator karena akan menghasilkan emisi yang
beracun. Terlepas dari produksi limbah kimia, prosedur pengamanan yang terpenting
(goodhousekeeping).
Disarankan untuk berkonsultasi dengan instansi berwenang untuk mendapat petunjuk
lebih lanjut.

f. Limbah Radioaktif
Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal
dari penggunaan medis dan riset radionucledida. Limbah ini dapat berasal dari antara lain :
tindakan kedokteran nuklir, radioimmunoassay dan bacteriologis (baik cair, padat maupun
gas ).
Hal-hal yang harus dipenuhi secara umum dalam penanganan dan pembuangan limbah
golongan ini adalah personil harus bertanggungjawab untuk penanganan yang aman,
penyimpanan dan pembuangan limbah radioaktif. Pejabat ini harus bertanggungjawab
untuk semua urusan pengamanan radioaktif dan mencari petunjuk, bila diperlukan unit
yang menghasilkan limbah radioaktif hendaknya menetapkan area khusus untuk
penyimpanan limbah radioaktif, yang harus dikemas dengan benar.
Tempat khusus tersebut hendaknya diamankan dan hanya digunakan untuk tujuan itu.

g. Limbah Plastik
Masalah yang ditimbulkan oleh limbah plastik adalah terutama karena jumlah
penggunaan yang meningkat secara cepat sering dengan menggunakan barang medis
disposible seperti syiring dan selang. Penggunaan plastik lain seperti pada tempat makanan,
kantong obat, peralatan, dll, juga memberi kontribusi meningkatnya jumlah limbah plastik.
Terhadap limbah ini barangkali perlu dilakukan tindakan tertentu sesuai dengan salah
satu golongan limbah diatas jika terkontaminasi bahan berbahaya.
Apabila pemisahan dilakukan dengan baik, bahan plastik terkontaminasi dapat dibuang
melalui pengangkutan sampah kota / umum.
Dalam pembuangan limbah plastik hendaknya memperhatikan aspek sebagai berikut :
- Pembakaran beberapa jenis plastik akan menghasilkan emisi udara yang berbahaya
misalnya pembakaran plastik yang mengandung PVC (Poly Vynil Chlorida) akan
menghasilkan hydrogen clorida, sementara itu pembakaran plastik yang mengandung
nitrogen seperti oksida nitrogen.
- Keseimbangan campuran antara limbah plastik dan non plastik untuk pembakaran
dengan incenerator akan membantu pencapaian pembakaran sempurna mengurangi
biaya operasi incenerator.
- Pembakaran terbuka sejumlah besar plastik tidak diperbolehkan karena akan
menghasilkan pemaparan pada operator dan masyarakat umum.
- Komposisi kimia limbah beracun sesuai dengan kemajuan tehnologi sehingga produk
racun potensial dari pembakaran mungkin juga berubah. Karena itu perlu dilakukan
updating dan peninjauan kembali strategi penanganan limbah plastik ini.
- Tampaknya limbah plastik yang dihasilkan dari unit pelayanan kesehatan akan
meningkat. Volume yang begitu besar memerlukan pertimbangan dalam pemisahan
sampah plastik setelah aman sebaiknya diupayakan daur ulang.

Dengan penggolongan tersebut bertujuan :


- Memudahkan bagi penghasil untuk pembuangan sampah sesuai jenis kantong.
- Mencegah terkontaminasi limbah padat non medis dan limbah padat medis.
- Memudahkan pengelolaan sampah dalam mengenali sampah didalamnya
tergolong medis atau bukan.
- Memperkecil biaya operasional pengelolaan limbah padat

6. Prosedur Pengelolaan Limbah B3


Penghasil limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 yg dihasilkan paling lama 90 hari
sebelum menyerahkan kepada pengumpul atau pemanfaat atau pengolah atau penimbun
limbah B3.
Bila limbah B3 yg dihasilkan kurang dari 50 kg/hari, penghasil limbah B3 dapat
menyimpan limbah B3 lebih dari 90 hari sebelum menyerahkan kepada pengumpul atau
pemanfaat atau pengolah atau penimbun limbah B3.
Prinsip - prinsip pengelolaan Limbah B3 adalah :
- Minimalisasi limbah adalah prioritas;
- Untuk meminimalkan resiko, maka pengolahannya harus sedekat mungkin dengan tempat
limbah tsb dihasilkan (proximity);
- “Polluter pays principle” berlaku, artinya siapapun yang menghasilkan limbah wajib
bertanggung jawab untuk mengelolanya
- Prinsip pengawasan pengelolaan limbah B3 adalah “from cradle to grave”
- Mengoptimalkan pelaksanaan komitmen internasional dengan mengutamakan
kepentingan nasional

From cradle to grave dimaksukan adalah Pengawasan Kegiatan Pengelolaan Limbah B3


yakni :
- Limbah B3 selalu diawasi mulai dari saat dihasilkan sampai dengan tujuan akhir
pengelolaannya;
- Setiap limbah B3 harus memiliki tujuan akhir pengelolaan;
- Setiap pelaku kegiatan pengelolaan limbah B3 harus memenuhi ketentuan dan
persyaratan yang ditetapkan termasuk memiliki izin sesuai kegiatan pengelolaan limbah
B3 yang dilakukan;
- Secara khusus, mekanisme pengawasan perpindahan limbah B3 dilakukan melalui sistem
notifikasi/dokumen limbah B3;

A. Pemisahan dan Pengurangan


Dalam pengembangan strategi pengelolaan limbah, alur limbah harus diidentifikasi
dan dipilah-pilah. Reduksi keseluruhan volume limbah, hendaknya merupakan proses
yang kontinue. Pilah-pilah dan reduksi volum limbah klinis dan yang sejenis merupakan
persyaratan keamanan yang penting untuk petugas pembuang sampah, petugas
emergency dan masyarakat.
Pilah-pilah dan reduksi volume limbah hendaknya mempertimbangkan sebagai
berikut :
1. Kelancaran penanganan dan penampungan limbah
2. Pengurangan jumlah limbah yang memerlukan peralatan khusus, dengan pemisahan
limbah B3 dan non B3.
3. Diusahakan sedapat mungkin menggunakan bahan kimia non B3.
4. Pengemasan dan pemberian dari semua limbah pada tempat penghasil adalah kunci
pembuangan yang baik. Dengan limbah berada dalam kantong atau kontainer yang
sama untuk penyimpanan, pengangkutan dan pembuangan akan mengurangi
kemungkinan kesalahan petugas dalam penanganannya.

B. Penampungan
Sarana penampungan harus memadai, letak lokasi yang tepat, aman dan hygienis.
Standarisasi kantong pada limbah klinis dapat dilakukan dengan pembedaan warna
maupun dengan label, hal ini diperlukan agar menghindari kesalahan petugas dalam
pengelolaan.
Keseragaman standar kantong dan kontainer limbah mempunyai keuntungan sebagai
berikut :
1. Mengurangi biaya dan waktu pelatihan staf yang dimutasikan antar instansi/unit.
2. Meningkatkan keamanan secara umum, baik pada pekerjaan dilingkungan rumah
sakit maupun pada penanganan limbah diluar rumah sakit.
3. Pengurangan biaya produksi kantong dan konteiner

C. Pengangkut
Dalam strategi pembuangan limbah rumah sakit hendaknya memasukkan prosedur
pengangkutan limbah internal dan eksternal bila memungkinkan. Pengangkutan internal
biasanya berawal dari titik penampungan ke onsite incenerator dengan kereta dorong.
Peralatan tersebut harus diberi label dan dibersihkan secara reguler dan hanya digunakan
untuk mengangkut sampah. Setiap petugas hendaknya diberikan APD ( Alat Pelindung
Diri ) khusus.
Pengangkutan sampah klinik dan yang sejenis ketempat pembuangan diluar
memerlukan prosedur pelaksanaan yang tepat dan harus diikuti oleh seluruh petugas
yang terlibat. Prosedur tersebut harus memenuhi peraturan angkut lokal. Bila limbah
klinis dan yang sejenis diangkut dengan konteiner khusus, kuat dan tidak bocor. Konteiner
harus mudah ditangani dan harus mudah dibersihkan.

D. Pemusnahan
Incenerator digunakan untuk menjelaskan proses pembakaran yang dilaksanakan
dalam ruang ganda incenerator yang mempunyai mekanisme pemantauan secara ketat
dan pengendalian parameter pembakaran. Limbah yang combustible dapat dibakar bila
incenerator tepat tersedia, bila tidak akan merusak dinding ruang incenerator. Residu dari
incenerator / abu biasa dibuang langsung ke landfill, namun tidak untuk residu yang
mengandung logam berat.

Referensi :
1. Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah dan Bahan
Berbahaya dan Beracun
2. Buku Pedoman Keselamatan, Kesehatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana (K3B)
RS Pluit tahun 2002

E. PENGORGANISASIAN

1. Pedoman pengorganisasian radiologi dan diagnostik imajing


a. pola ketenagaan
b. kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki sesuai standar (kompeten dan pengalaman yang
memadai melaksanakan pemeriksaan diagnostik dan imajing ([Link].4, EP 1) )
c. Staf yang kompeten dan pengalaman yang memadai mengin-terpretasi hasil pemeriksaan
([Link].4, EP 1).
d. Staf yang kompeten yang memadai, memverifikasi dan membuat laporan hasil pemeriksaan
2. Uraian tugas seluruh staf radiologi dan diagnostik imajing

PEDOMAN PENGORGANISASIAN
RADIOLOGI [Link] KELUARGA TEGAL

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pengorganisasian tugas dan wewenang jabatan dalam Unit Radiologi Diagnostik Imaging,
merupakan salah satu unit penunjang medis, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari
sistem organisasi rumah sakit dan berada di bawah struktura jabatan Penunjang Medis .
Proses pengorganisasian struktur dan wewenang jabatan di Unit Radiologi dilakukan
dengan tujuan untuk memudahkan didalam pendelegasian tugas, wewenang dan pengontrolan
kinerja di Unit Radiologi dan selain itu juga akan menggambarkan identitas Unit Radiologi itu
sendiri. Namun, selain proses pengorganisasian struktur dan wewenang jabatan maka uraian
tugas, tata hubungan kerja dan metode pelaopran juga merupakan hal yang harus dilakukan,
karena dengan uraian tugas, tata hubungan kerja dan metode pelaporan yang jelas sehingga
akan dihasilkan suatu sistem pelayanan yang sistematis.

2. Ruang Lingkup
a. Pengorganisasian Pelayanan Unit Radiologi Diagnostik Imaging
1) Tata hubungan kerja
2) Metode Pelaporan
b. Uraian tugas dan Tanggung jawab
1) Pendelegasian wewenang
2) Uraian tugas dan tanggung jawab

3. Tujuan
a. Tujuan Umum
1) Menggambarkan identitas Unit Radiologi Diagnostik Imaging
2) Terwujudnya suatu pelayanan yang sistematis, akurat, efisien dan efektif
3) Meningkatkan mutu pelayanan Unit Radiologi Diagnostik Imaging
b. Tujuan Khusus
1) Memudahkan didalam pendelegasian tugas
2) Memudahkan pengontrlan kinerja di Unit Radiologi
3) Menetapkan tugas, wewenang dan tanggung jawab Unit Radiologi

4. Landasan Hukum
Pedoman Pengorganisasan di Unit Radiologi dibuat dengan merujuk kepada peraturan
Perundang-Undangan yang berlaku sperti :
a. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor : 129/MENKES/SK/II/2008
tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
b. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor : 780/MENKES/PER/2008 tentang
Penyelenggaraan Pelayanan Radiologi
c. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor : 1014/MENKES/SK/XI/2008
tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik disarana Pelayanan Kesehatan
d. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor : 1295/MENKES/PER/XII/2007
tentang Orgaisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan RI

BAB II
GAMBARAN UMUM [Link] KELUARGA TEGAL
RS Mitra Keluarga Tegal merupakan salah satu Rumah Sakit yang tergabung dalam RS Mitra
Keluarga Group yang sampai saat ini telah memiliki 12 (dua belas) RS yang tersebar di beberapa
Kota dan sebagian besar berada di Kota Jakarta, yaitu:
1. RS Mitra Keluarga Bekasi
2. RS Mitra Keluarga Kemayoran
3. RS Mitra Keluarga Kelapa Gading
4. RS Mitra Keluarga Surabaya
5. RS Mitra Keluarga Bekasi Timur
6. RS Mitra Keluarga Depok
7. RS Mitra Keluarga Tegal
8. RS Mitra Keluarga Waru,Sidoarjo
9. RS Mitra Keluarga Cikarang
10. RS Mitra Keluarga Cibubur
11. RS Mitra Keluarga Kenjeran
12. RS Mitra Keluarga Kalideres

RS Mitra Keluarga Tegal sendiri merupakan RS ke-7 yang beroperasi sejak tanggal 5 Februari
2009 dan beralamat di Jl. Sipelem No. 4 Kemandungan, Tegal Barat, Kota Tegal. Didirikan di atas
lahan tanah seluas ± 9,525 m², dengan luas bangunan 12,264 m² sebagai RS Tipe C Non
Spesialisasi. RS Mitra Keluarga memberikan pelayanan rawat inap dilengkapi dengan kamar
bedah, serta pelayanan rawat jalan berikut penunjang diagnostik, dan layanan penunjang lainnya.
Pelayanan unggulan RS Mitra Keluarga Tegal adalah pelayanan Endoskopi, Laparascopy,
Klinik Nyeri, Persalinan normal dengan minimal rasa nyeri menggunakan metode ILA, dan CT
Scan.
Untuk pelayanan jantung RS menyediakan pelayanan terapi dan tindakan penunjang yang
meliputi Treadmill, dan Echocardiografi.

A. SEJARAH SINGKAT RS MITRA KELUARGA TEGAL


Sejarah singkat Rumah Sakit Mitra Keluarga Tegal adalah sebagai berikut
1. Didirikan pada tahun 2009 sebagai RS ke-7 dari 12 RS Mitra Keluarga Group
2. Ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Kelas C sejak tahun 2010
3. Lulus Akreditasi Dasar 5 Pelayanan pada tahun 2012
4. Menerapkan SIM RS mulai tahun 2009

B. JENIS – JENIS PELAYANAN DI RS MITRA KELUARGA TEGAL


Jenis-jenis pelayanan kesehatan di RS Mitra Keluarga Tegal adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan rawat jalan;
2. Pelayanan rawat darurat;
3. Pelayanan rawat inap;
4. Pelayanan rawat intensif;
5. Pelayanan rawat intermediate
6. Pelayanan rawat sehari
7. Pelayanan kesehatan khusus;
a. Pelayanan haemodialisa;
b. Pelayanan general check up;
c. Klinik Pijat Medis Bayi, untuk anak usia Batita;
d. Senam Hamil;
e. Klinik Wanita (Pap Smear, Bilas Vagina dan Pemeriksaan Laboratorium;
f. Klinik Nyeri;
g. Akupuntur;
h. Teknik akupuntur
8. Pelayanan bedah;
9. Pelayanan extra corporal shock wave litotripsy (ESWL);
10. Pelayanan PONEK;
11. Pelayanan rehabilitasi medik;
12. Pelayanan penunjang diagnostik (laboratorium, radiologi, elektromedik)
13. Pelayanan farmasi;
14. Pelayanan administrasi kesehatan;
15. Pelayanan Mitra Member Card, dengan memberikan fasilitas pada pasien :
a. Gratis jemputan ambulance apabila rawat inap / Discount 30% Jemputan Ambulance
bila dinyatakan rawat inap
b. Discount 10% kamar perawatam
c. Discount 10% pemeriksaan Laboratorium
d. Discount 10% pemeriksaan Radiologi
e. Discount 5% Obat-obatan
f. Discount 5% MCU

BAB III
VISI, MISI, MOTTO DAN TUJUAN
RUMAH SAKIT MITRA KELUARGA TEGAL

A. VISI
Kami ingin menjadi penyedia pelayanan kesehatan terdepan yang berfokus pada
pelanggan

B. MISI
Kami berkomitmen untuk mengoptimalkan kualitas hidup orang banyak dengan pelayanan
yang penuh kasih sayang, terpercaya dan fokus pada pelanggan

C. MOTTO RS MITRA KELUARGA TEGAL


GREAT (CarrinG, Respect, Excellence, InovAtive, Teamwork)

1. Carring
Dalam memberikan pelayanan RS Mitra Keluarga Tegal, setiap karyawan harus bersikap
peduli dan penuh kasih sayang yang tercermin dalam tindakan fokus, bekerja dengan
hati, empati dan menolong,
2. Respect
Dalam pelayanan pelayanan RS Mitra Keluarga Tegal, setiap karyawan dan pimpinan
harus bersikap saling menghargai harkat dan martabat, ikhlas dan tanpa pamrih dengan
bersikap sopan santun, menghargai dan hormat.
3. Excellence
Dalam memberikan pelayanan, semua karyawan memiliki sikap kerja yang terbaik untuk
mencapai hasil yang unggul dan bermutu tinggi dengan bersikap profesional, cepat tepat
dan konsisten serta berkesinambungan
4. Innovative
Dalam memberikan pelayanan, semua karyawan berperan mencari ide, konsep, metode
yang terbaru dan masa kini dengan sikap continous learning dan pemanfaatan IT
5. Teamwork
Dalam memberikan pelayanan, semua karyawan wajib memiliki sikap teamwork, berkolaborasi
mencapai visi perusahaan dengan memiliki inisiatif, menuntaskan pekerjaan, berpartisipasi
dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.

D. TUJUAN
Tujuan Umum :
Memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan uang terbaik bagi masyarakat.

Tujuan Khusus :
1. Memberikan pelayanan yang paripurna meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif sesuai dengan SPO (Standar Prosedur Operasional ) dan peraturan yang
berlaku
2. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pelayanan disemua bidang secara terus
menerus
3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dengan cara mengirim tenaga medis,paramedis dan tenaga
non keperawatan kedalam / luar negeri untuk pelatihan guna meningkatkan kualitas
pelayanan
4. Mewujudkan keinginan pelanggan internal maupun eksternal untuk memperoleh tingkat
kepuasan secara optimal
5. Menjadi karyawan sebagai mitra kerja rumah sakit serta selalu memperhatikan
kesejahteraannya
6. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang memperhatikan keselamatan pasien dan
keluarga serta petugas rumah sakit.

BAB IV
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT

A. STRUKTUR ORGANISASI
Sesuai dengan SK Direktur No 013/SK-DIR/MK-TGL/II/2016, telah ditetapkan Struktur
Organisasi RS Mitra Keluarga Tegal sebagai berikut : (terlampir)

BAB V
STRUKTUR ORGANISASI RADIOLOGI

Manager Penunjang
Medis

Kepala Ruang Radiologi


(Dokter PJ Radiologi)

Koordinator Radiologi
Staf Penanggung
Jawab Shif

Staf Staf PPR Staf Radiografer


Administrassi Pelaksana

Keterangan :

: Garis Komando

Ditetapkan di : Tegal
Pada Tanggal : 16 Februari 2016

dr. Sherley Tjioe


Direktur RS Mitra Keluarga Tega

BAB IV
URAIAN JABATAN

A. KEPALA INSTALASI RADIOLOGI


Uraian Tugas
A. Melakukan pemeriksaan radiologi khusus.
1 Melaksanakan pemeriksaan dengan kontras dan fluroskopi bersama dengan
radiografer. Khusus pemeriksaan yang memerlukan penyuntikan intravena,
dikerjakan oleh dokter spesialis radiologi atau dokter lain/tenaga kesehatan yang
mendapat pendelegasian
2 Menjelaskan dan menandatangani informed consent / izin tindakan medik kepada
pasien atau keluarga pasien.
3 Menginstruksikan ke radiografer alat apa saja yang akan digunakan dalam tindakan.
B. Memberikan jawaban expertise untuk semua foto kecuali foto panoramic dan dental.
C. Melaksanakan dan mengevaluasi tindak radiodiagnostik, imejing diagnostik dan radiologi
intervensional sesuai yang telah ditetapkan dalam SOP.
D. Menjaga aspek keselamatan pasien
1. Menjamin pelaksanaan seluruh aspek proteksi radiasi terhadap pasien.
2. Melaksanakan teleradiologi dan konsultasi radiodiagnostik, imejing diagnostik dan
radiologi intervensional sesuai kebutuhan.
3. Memberikan layanan konsultasi terhadap pemeriksaan yang akan dilaksanakan
E. Melakukan USG
1. Melakukan USG baik diruang USG ataupun diruang perawatan
F. Mengoperasikan program RIS (Radiology Information System) dan KEYSTONE
1 Dapat mengoprasikan RS untuk mengisi hasil radiologi.
2 Dapat menggunkan keystone agar radiologi berjalan dengan lancar.

B. KOORDINATOR RADIOLOGI
Uraian Tugas
A. Membuat SOP ( standar operational prosedur)
1. Menyusun dan mengevaluasi secara berkala SOP tindak medik radiodiagnostik,
imejing diagnostik dan radiologi intervensional serta melakukan revisi bila perlu.
2. Melaksanakan dan mengevaluasi tindak radiodiagnostik, imejing diagnostik dan
radiologi intervensional sesuai yang telah ditetapkan dalam SOP.
B. Melakukan pemeriksaan radiologi khusus.
1 Melaksanakan pemeriksaan dengan kontras dan fluroskopi bersama dengan
radiografer. Khusus pemeriksaan yang memerlukan penyuntikan intravena,
dikerjakan oleh dokter spesialis radiologi atau dokter lain/tenaga kesehatan yang
mendapat pendelegasian
2 Menjelaskan dan menandatangani informed consent / izin tindakan medik kepada
pasien atau keluarga pasien.
3 Menginstruksikan ke radiografer alat apa saja yang akan digunakan dalam
tindakan.
C. Melakukan pembacaan terhadap hasil pemeriksaan radiodiagnostik, imejing diagnostik
dan tindakan radiologi intervensional
D. Mengoperasikan program RIS (Radiology Information System) dan PAC
1 Dapat mengoprasikan RS untuk mengisi hasil radiologi.
2 Dapat menggunkan keystone agar radiologi berjalan dengan lancar.
E. Membuat Jadwal dinas dokter
Melakukan pengaturan jadwal dinas, jadwal oncall dokter spesialis radiologi dalam
satu bulan.
F. Menjaga aspek keselamatan pasien
1. Menjamin pelaksanaan seluruh aspek proteksi radiasi terhadap pasien.
2. Melaksanakan teleradiologi dan konsultasi radiodiagnostik, imejing diagnostik dan
radiologi intervensional sesuai kebutuhan.
3. Memberikan layanan konsultasi terhadap pemeriksaan yang akan dilaksanakan
G. Melaksankan pengawasan kepada kualitas mutu pelayanan radiologi.

C. PJ SHIFT
Uraian Tugas
A. Melakukan Pemeriksaan radiologi
1. Mengidentifikasi pasien
2. Mempersiapkan pasien
3. Mempersiapkan obat obatan yang digunakan pada saat melakukan foto.
4. Mempersiapakan alat yang akan digunakan pada proses melakukan foto.
5. Memposisikan pasien sesuai dengan teknik pemeriksaan
6. Mengoperasi peralatan radiologi sesuai dengan SPO, khusus untuk pemeriksaan
yang menggunakan kontras dan flaouroscopi dikerjakan bersama dokter spesialis
radiologi.
7. Memberikan proteksi terhadap pasien, diri sendiri dan masyarakat disekitar ruang
sinar X.
B. Verifikasi dan identifikasi pemeriksaan.
1. Menerima dan melakukan verifikasi terhadap surat permintaan radiologi
2. Melakukan identifikasi pasien terhadap identitas pasien, persiapan pasien, dan
perjanjian pasien.
C. Melakukan persiapan alat dan bahan pemeriksaan radiologi.
1. Mempersiapkan pasien sebelum tindakan pemeriksaan.
2. Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan radiologi
kontras meliputi obat kontras, intra vena line.
3. Mengkonsultasikan hasil pengkajian pasien ke dokter radiologi sebelum tindakan
kontras dilakukan.
D. Menjaga kerapian, kebersihan serta peraturan ruang radiologi
1. Mengontrol kerapihan dan kebersihan
2. Membuat check list harian setiap suhu ruangan .
3. Merawat dan memelihara alat pemeriksaan radiologi secara rutin.
E. Melaksanakan pelatihan internal radiologi khususnya untuk alat abaru.
F. Mengoperasikan program RIS (Radiology Information System) dan mengoperasikan HIS
(Hospital Information System)
1. Mengoperasikan program HIS (Hospital Information System) untuk pendafaran
pasien umum non asurans dan pasien rawat inap.
2. Mengoperasikan program HIS (Hospital Information System) untuk memasukan data
laundry kotor dan laundry bersih.
3. Memasukan data pasien dalam program RIS ( radiology Information System) dan
mencetak lebel untuk amplop dan lebel untuk CD
4. Menerima perjanjian baik secara langsung maupun melalui telepon
5. Memastikan jenis pemeriksaan dan memberitahu persiapan yang akan dilakukan
apabila ada.
6. Menjadwalkan pemeriksaan dan mencatat dibuku perjanjian.
7. Melakukan konfirmasi kepada pasien apabila ada perubahan jadwal.
8. Menginput pemakaian obat kontras ke program RIS (Radiology Information
Sysytem)
G. Pencetakan foto, pembuatan CD, Dan penyambungan foto untuk LLI
1. Melengkapi data pasien dalam CR
2. Melakukan proses pencetakan foto pada CR ataupun AW
3. Melakukan pembuatan CD sesuai dengan nama pasien yang akan diperiksa.
H. Melakukan peyambungan foto untuk foto LLI.

D. PETUGAS PPR
Uraian Tugas
A. Membuat program proteksi radiasi
1. Membuat program Proteksi dan Keselamatan Radiasi
2. Memantau aspek operasional program Proteksi dan Keselamatan Radiasi.
3. Memberikan konsultasi yang terkait dengan Proteksi dan Keselamatan Radiasi
B. Melakukan pengecekan secara berkala
1. Memelihara Rekaman.
2. Berpartisipasi dalam mendesain fasilitas Radiologi.
3. Meninjau secara sistematik dan periodik, program pemantauan di semua tempat di
mana Pesawat Sinar-X digunakan.
4. Memastikan ketersediaan dan kelayakan perlengkapan Proteksi Radiasi, dan
memantau pemakaiannya
C. Melakukan Pelatihan
1. Melaksanakan latihan penanggulangan dan pencarian keterangan dalam hal
kedaruratan
2. Mengidentifikasi kebutuhan dan mengorganisasi kegiatan pelatihan
D. Melaporkan kepemegang izin
1. Melaporkan kepada Pemegang Izin setiap kejadian kegagalan operasi yang
berpotensi kecelakaan Radiasi.
2. Menyiapkan laporan tertulis mengenai pelaksanaan program Proteksi dan
Keselamatan Radiasi, dan verifikasi keselamatan yang diketahui oleh Pemegang Izin
untuk dilaporkan kepada Kepala BAPETEN.

E. PETUGAS ADMINISTRASI
Uraian Tugas
A. Menerima, verifikasi, identifikasi dan memasukkan data permintaan pemeriksaan
1. Menerima permintaan pemeriksaan dari pasien.
2. Melakukan verifikasi terhadap permintaan pemeriksaan
3. Melakukan identifikasi pasien terhadap identitas pasien, persiapan pasien, dan
perjanjian pasien
4. Memasukkan data pasien ke program RIS (Radiology Information System) sesuai
nama dan jenis pemeriksaan serta mencetak label amplop dan CD.
B. Menerima dan mencatat perjanjian pemeriksaan.
1. Menerima perjanjian pasien baik secara langsung maupun melalui telepon.
2. Memastikan jenis pemeriksaan dan memberitahu persiapan yang harus dilakukan
apabila ada.
3. Menjadwalkan pemeriksaan dan mencatatnya di buku perjanjian.
4. Menkonfirmasi pasien apabila ada perubahan jadwal.
C. Mengoperasikan program RIS (Radiology Information System) dan (Hospital Information
System)
1. Mengoperasikan program RIS untuk data pasien, cetak label, pembuatan laporan,
dll.
2. Mengoperasikan program HIS untuk pendafaran pasien umum non asuransi dan
rawat inap.
3. Mengoperasikan program HIS untuk memasukkan data laundry kotor dan bersih.
D. Mempersiapkan pasien USG
1. Melakukan persiapan pasien apabila perawat dan radiografer sedang ada
pemeriksaan lain.
2. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan unuk pemeriksaan USG
3. Melakukan verifikasi dan identifikasi pasien serta surat permintaan USG
4. Memposisikan pasien sesuai dengan jenis pemeriksaan USG yang dilakukan.
5. Mendampingi dokter spesialis radiologi dalam melakukan pemeriksaan USG.
6. Membersihkan sisa jelly USG di tubuh pasien setelah pemeriksaan selesai dilakukan.
E. Melaksanakan kontrol mutu dengan pengecekan identitas pasien pada foto, label
amplop, label CD, dan hasil ekspertise.
1. Merapihkan foto-foto yang sudah dibaca oleh dokter radiologi
2. Memeriksa kembali identitas pasien pada foto, label amplop, label CD dan hasil
ekspertise.
3. Menyusun foto-foto yang sudah dirapihkan sesuai asal pasien dan jenis
pemeriksaan.
4. Memberi hasil foto baik rawat jalan maupun rawat ianp dan mencatatnya di buku.
5. Memberi hasi foto yang belum ada hasil ekspertise (foto basah) dan mencatatnya di
buku.
6. Memeriksa, mengecek foto-foto yang akan dibaca oleh dokter.
7. Memeriksa box operan apakah ada foto yang akan dibaca oleh dokter.
8. Menyusun dan merapikan hasil foto secara berurutan berdasarkan tanggal pada box
penyimpanan hasil.
9. Merapikan foto dan hasil yang sudah lewat dari 2 bulan untuk disimpan digudang
dan menyerahkan pada housekepping.
F. Mengumpulkan struk pembayaran dan formulir pemeriksaan radiologi.
1. Mengumpulkan struk pembayaran radiologi dan menyerahkannya ke masing-
masing dokter radiologi.
2. Melaporkan ke bagian keuangan mengenai pergantian struk pembayaran radiologi
apabila ada pergantian dokter radiologi yang membaca foto.
3. Merapikan formulir pemeriksaan berdasarkan jenis pemeriksaan dan disusun secara
berurutan pada binder yang telah ditentukan.
G. Membuat laporan administrasi radiologi
1. Membuat laporan jumlah pasien bulanan radiologi
2. Menuliskan jumlah pasien konvensional / X-Ray di buku harian konvensional
radiologi.
3. Mengumpulkan dan membuat data indikator mutu angka kepuasan pelanggan
radiologi.

F. STAF RADIOGRAFER
Uraian Tugas

A. Melakukan Pemeriksaan radiologi (CT Scan, MRI, Konvensional, Floroscopy)


1. Mengidentifikasi pasien
2. Mempersiapkan pasien
3. Mempersiapkan obat obatan yang digunakan pada saat melakukan foto.
4. Mempersiapakan alat yang akan digunakan pada proses melakukan foto.
5. Memposisikan pasien sesuai dengan teknik pemeriksaan
6. Mengoperasi peralatan radiologi sesuai dengan SPO, khusus untuk pemeriksaan yang
menggunakan kontras dan flaouroscopi dikerjakan bersama dokter spesialis radiologi.
7. Memberikan proteksi terhadap pasien, diri sendiri dan masyarakat disekitar ruang sinar X.

B. Melakukan penjaminan dan kendali mutu.


1. Melakukan prosesing film dan pengolahan data di work station.
2. Menerapkan teknik dan prosedur yang tepat untuk meminimalkan paparan radiasi yang
diterima pasien sesuai kebutuhan.
3. Melakukan kembali pengecekan foto yang sudah diperiksa.
4. Merawat dan memelihara alat pemeriksaan radiologi secara rutin.
5. Merapikan foto yang sudah dibaca sesuai dengan amplop, cd, dan hasil expertise nya.
6. Menjaga kebersihan radiologi.

C. Mengoperasikan program RIS (Radiology Information System) dan mengoperasikan HIS


(Hospital Information System)
1. Mengoperasikan program HIS (Hospital Information System) untuk pendafaran pasien
umum non asurans dan pasien rawat inap.
2. Mengoperasikan program HIS (Hospital Information System) untuk memasukan data
laundry kotor dan laundry bersih.
3. Memasukan data pasien dalam program RIS ( radiology Information System) dan mencetak
lebel untuk amplop dan lebel untuk CD
4. Menerima perjanjian baik secara langsung maupun melalui telepon
5. Memastikan jenis pemeriksaan dan memberitahu persiapan yang akan dilakukan apabila
ada.
6. Menjadwalkan pemeriksaan dan mencatat dibuku perjanjian.
7. Melakukan konfirmasi kepada pasien apabila ada perubahan jadwal.
8. Menginput pemakaian obat kontras ke program RIS (Radiology Information Sysytem)

D. Pencetakan foto, pembuatan CD, Dan penyambungan foto untuk LLI


1. Melengkapi data pasien dalam CR
2. Melakukan proses pencetakan foto pada CR ataupun AW
3. Melakukan pembuatan CD sesuai dengan nama pasien yang akan diperiksa.
4. Melakukan peyambungan foto untuk foto LLI.

E. Persiapan alat dan bahan serta melakukan tindakan pemeriksaan radiologi kontras atau
dengan anastesi.
1. Mempersiapkan pasien sebelum tindakan pemeriksaan radiologi kontras.
2. Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan radiologi kontras
meliputi obat kontras, intra vena line, monitor EKG dan obat-obat lain yang dibutuhkan
untuk pemeriksaan radiologi kontras.
3. Mempersiapkan alat injector untuk pemeriksaan CT Scan dengan kontras.
4. Mengkonsultasikan hasil pengkajian pasien ke dokter radiologi sebelum tindakan kontras
dilakukan.
5. Mempersiapkan pasien serta alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan radiologi
dengan anastesi.

F. Mempersiapkan pasien USG


1. Melakukan verifikasi dan identifikasi pasien serta surat permintaan USG
2. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan USG
3. Memposisikan pasien sesuai dengan jenis pemeriksaan USG yang dilakukan.
4. Mendampingi dokter spesialis radiologi dalam melakukan pemeriksaan USG.
5. Membersihkan sisa jelly USG di tubuh pasien setelah pemeriksaan selesai dilakukan.

BAB VII
TATA HUBUNGAN KERJA
A. KEPALA INSTALASI RADIOLOGI
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Radiografer Membuat film yang akan dibaca oleh doketr spesialis
Dokter spesialis ataupun Koordinasi mengenai surat pengantar dari dokter pengirim .
dokter umum
Admistrasi Mengatur waktu untuk tindakaan USG

Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Rawat inap Koordinasi tentang pasien yang akan dilakukan tindakan foto atau
pun rontgen

Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
- -

B. KOORDINATOR RADIOLOGI
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Radiografer Membuat film yang akan dibaca oleh doketr spesialis
Dokter spesialis ataupun dokter Koordinasi mengenai surat pengantar dari dokter
umum pengirim .
Admistrasi Mengatur waktu untuk tindakaan USG

Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Rawat inap Koordinasi tentang pasien yang akan dilakukan tindakan
foto atau pun rontgen

Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
- -

C. PJ SHIFT
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Radiografer Koordinasi dengan radiografer dalam pemeriksaan radiologi kontras
Administrasi Berkoordinasi dengan petugas administrasi dalam pendafaran dan riwayat
hasil radiologi pasien.
Laboratorium Koordinasi hasil pemeriksaan darah fungsi ginjal pasien (Ureum dan
Creatinin)
Farmasi Melakukan permintaan dan pengambilan alat kesehatan dan obat radiologi
Dokter radiologi Koordinasi dengan dokter radiologi dalam pengerjaan pemeriksaan radiologi
kontras

Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Keperawatan 1. Berkoordinasi mengenai persiapan yang akan dan telah
dilakukan pasien sesuai jenis pemeriksaan
2. Menanyakan kondisi, diagnosa atau keterangan klinis, obat yang
di konsumsi , tindakan yang dilakukan pada pasien.
Laundry Koordinasi dalam melakukan penukaran baju kotor maupun baju
bersih.
CSSd Koordinasi dalam melakukan sterilisasi alat kesehatan radiologi

Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
N/A -

D. PPR (PETUGAS PROTEKSI RADIASI)

Internal Departemen
Lintas Departemen
Bagian & Posisi Hubungan
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Kerja
Radiografer
Ruang Operasi Mengontrol
Koordinasitentang pemakaiansetiap
penggunaan TLD TLD hari
Laboratorium
Endoscopy Koordinasi
Koordinasi hasil pemeriksaan
tentang pemakaiandarah
TLD setiap 6 bulan sekali untuk
keselamatan pekerja
K3 Melaporkan Luar
kepada bagian K3 apabila ada kecelakaan Radiasi
Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
Batan Melaporkan keBatan untuk pengecekan TLD pertiga bualan
Bapeten Membuat izin baru atau memperpanjang izin untuk alat yang
menggunakan sinar X dinabian radiologi.

E. STAF ADMINISTRASI
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Radiografer Berkoordinasi dengan radiografer mengenai pemeriksaan pasien.
Perawat Berkoordinasi dengan perawat mengenai riwayat pasien USG.

Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Keperawatan 1. Berkoordinasi mengenai persiapan yang harus dilakukan
pasien sebelum pemeriksaan apabila ada.
2. Menanyakan kondisi, diagnosa atau keterangan klinis, riwayat
pasien pada saat perjanjian maupun sebelum pemeriksaan.
Rekam medis Berkoordinasi mengenai pengambilan ekspertise pasien dengan
asuransi.
Counter Rawat Inap 1. Berkoordinasi mengenai pendafaran pasien dengan asuransi.
2. Berkoordinasi mengenai jumlah struk dan pembayaran pasien.

EDP Meminta penghapusan struk yang batal.


Keuangan Meminta perubahan struk apabila ada perubahan dokter
radiologi yang membaca foto.

Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
N/A -

F. STAF RADIOGRAFER
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Perawat Koordinasi dengan perawat dalam pemeriksaan radiologi kontras
Administrasi Berkoordinasi dengan petugas administrasi dalam pendafaran dan
riwayat hasil radiologi pasien.
Laboratorium Koordinasi hasil pemeriksaan darah fungsi ginjal pasien (Ureum dan
Creatinin)
Farmasi Melakukan permintaan dan pengambilan alat kesehatan dan obat
radiologi
Dokter radiologi Koordinasi dengan dokter radiologi dalam pengerjaan pemeriksaan
radiologi kontras
Dokter Spesialis Koordinasi dengan dokter spesialis untuk surat pengantar.

Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Keperawatan 1. Berkoordinasi mengenai persiapan yang akan dan telah
dilakukan pasien sesuai jenis pemeriksaan
2. Menanyakan kondisi, diagnosa atau keterangan klinis, obat yang
di konsumsi , tindakan yang dilakukan pada pasien.
Laundry Koordinasi dalam melakukan penukaran baju kotor maupun baju
bersih.
Counter Rawat Inap Koordinasi dalam melakukan pembayaran pasien
[Link] dalam melakukan pembayaran pasien
radiologi.
Gizi Meminta snack untuk pasien radiologi yang melakukan tindakan
radiologi apabila pasien tersebut puasa.

Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
Batan (Badan tenaga Mengeluarakan hasil dosis Radiasi yang diterima radiogerfer.
atom dan nuklier)
BPFK Mengeluarkan sertifikat kalibrasi untuk alat yang yang
menggunakan sunmebr sinar X dibagian radiologi
BAPETEN Mengeluarkan surat izin penggunaan alat Yang menggunakan
sumber sinar X

BAB VIII
POLA KETENAGAAN DAN KUALIFIKASI
A. POLA KETENAGAAN
Radiologi RSMKT merupakan unit penunjang yang memberikan pelayanan terus menerus
selama 24 jam, terdiri dari 3 shif. Oleh karena itu agar pelayanan berjalan dengan lancar maka
dibuatlah dafar ketenagaan untuk setiap shifnya.
Kriteria perhitungan tenaga kerja di unir radiologi RSMKT berdasarkan analisa
kebutuhan beban kerja, yaitu :
a. Jumlah waktu uraian kerja = dalam satuan menit
b. Jumlah kelelahan pribadi ( 10% x waktu kerja ) = dalam satuan menit
c. Volume beban kerja = jumlah pasien dalam 1 bulan / hari kerja
d. Jam kerja perhari ( 24 jam ) = diubah dalam satuan menit

Perhitungan jumlah tenaga = ( a + b ) x ( c/d ) = Jumlah tenaga

B. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA

1. KEPALA INSTALASI RADIOLOGI


Pendidikan Formal
1. Pendidikan dokter spesialis radiologi
2. Mempunyai STR
3. Mempuyai surat izin praktek (SIP)
Pendidikan Informal
-
Pengalaman Kerja
Fresh Graduated
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Memiliki kemampuan bahasa ingris secara aktif baik lisan atau tulisan.
2. Memiliki Kemampuan menggunakan alat USG
Persyaratan Fisik
1. Jenis Kelamin : L/P
2. Umur : minimal 20 th, maksimal 35 th
3. Tidak buta warna
4. Sehat jasmani dan rohani.
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Tingkat ketelitian tinggi
3. Tanggap dan inisiatif
4. Tidak pernah terlibat narkoba.

2. KOORDINATOR RADIOLOGI
Pendidikan Formal
1. Pendidikan dokter spesialis radiologi
2. Mempunyai STR
3. Mempuyai surat izin praktek (SIP)
Pendidikan Informal
-
Pengalaman Kerja
Mempunyai pengalaman kerja sebagai dokter radiologi minimal 5 tahun
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Memiliki kemampuan bahasa ingris secara aktif baik lisan atau tulisan.
2. Memiliki Kemampuan menggunakan alat USG
Persyaratan Fisik
1. Jenis Kelamin : L/P
2. Umur : minimal 20 th, maksimal 35 th
3. Tidak buta warna
4. Sehat jasmani dan rohani.
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Tingkat ketelitian tinggi
3. Tanggap dan inisiatif
4. Tidak pernah terlibat narkoba.

3. PJ SHIFT
Pendidikan Formal
D3 Akedemi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO)
 Mempunyai STR
 Mempunyai SIKR Radiografer
Pendidikan Informal
-
Pengalaman Kerja
Pengalaman min 2 tahun di bidang CT Scan
Fresh Graduated
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Menguasai skill komputer dasar (Word, Excel, Powerpoint)
2. Memahami teknik pemeriksaan alat konvensional
3. Memiliki kemampuan bahasa inggris minimal pasif
Persyaratan Fisik
1. Jenis kelamin pria / wanita
2. Usia maksimal 35 tahun.
3. Sehat jasmani dan rohani.
4. Tidak buta warna
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Taraf kecerdasan umum rata-rata baik.
3. Menyukai Pekerjaan di bidang pelayanan
4. Tingkat ketelitian tinggi.
5. Tanggap, inisiatif, dan kreatif
6. Integritas, Tanggung jawab dan berkomitmen tinggi

4. PETUGAS PROTEKSI RADIASI


Pendidikan Formal
D3 Akedemi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO)
 Mempunyai STR
 Mempunyai SIKR Radiografer
Pendidikan Informal
Pelatihan Pekerja Radiasi yang mendapat kan SIB sebagai PPR
Pengalaman Kerja
Pengalaman min 1 tahun di bidang Proteksi Radiasi
Fresh Graduated
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Menguasai skill komputer dasar (Word, Excel, Powerpoint)
2. Memiliki kemampuan bahasa inggris minimal pasif
Persyaratan Fisik
1. Jenis kelamin pria / wanita
2. Usia maksimal 35 tahun.
3. Sehat jasmani dan rohani.
4. Tidak buta warna.
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Taraf kecerdasan umum rata-rata baik.
3. Menyukai Pekerjaan di bidang pelayanan
4. Tingkat ketelitian tinggi.
5. Tanggap, inisiatif, dan kreatif
6. Integritas, Tanggung jawab dan berkomitmen tinggi

5. STAF ADMINISTRASI
Pendidikan Formal
SMU atau sederajat

Pendidikan Informal
-
Pengalaman Kerja
Fresh Graduated
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Menguasai skill komputer dasar (Word, Excel, Powerpoint)
2. Memiliki kemampuan bahasa inggris minimal pasif
3. Menguasai teknik pengarsipan
Persyaratan Fisik
1. Jenis kelamin pria / wanita
2. Usia maksimal 35 tahun.
3. Sehat jasmani dan rohani.
4. Tidak buta warna.
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Taraf kecerdasan umum rata-rata baik.
3. Menyukai Pekerjaan di bidang pelayanan
4. Tingkat ketelitian tinggi.
5. Tanggap, inisiatif, dan kreatif
6. Integritas, Tanggung jawab dan berkomitmen tinggi
6. PETUGAS RADIOGRAFER
Pendidikan Formal
D3 Akedemi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO)
 Mempunyai STR
 Mempunyai SIKR Radiografer
Pendidikan Informal
-
Pengalaman Kerja
Pengalaman min 1 tahun di bidang radiografer
Fresh Graduated
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Menguasai skill komputer dasar (Word, Excel, Powerpoint)
2. Memahami teknik pemeriksaan radiologi
3. Memiliki kemampuan bahasa inggris minimal pasif
4. Memiliki kemampuan pengarsipan data.
Persyaratan Fisik
1. Jenis kelamin pria / wanita
2. Usia maksimal 35 tahun.
3. Sehat jasmani dan rohani.
4. Tidak buta warna.
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Taraf kecerdasan umum rata-rata baik.
3. Menyukai Pekerjaan di bidang pelayanan
4. Tingkat ketelitian tinggi.
5. Tanggap, inisiatif, dan kreatif
6. Integritas, Tanggung jawab dan berkomitmen tinggi

PENGATURAN JAGA
Radiologi [Link] Keluarga Tegal memberikan pelayanan secara terus menerus selama 24 jam dan
terbagi dalam 3 shif.

1. Hari Kerja

Tenaga Radiologi Shift 1 Shift 2 Shift 3


Dokter Spesialis Radiologi 1 1 ON CALL
Radiografer 3 3 1
Administrasi - - -
2. Hari Minggu

Tenaga Radiologi Shift 1 Shift 2 Shift 3


Dokter Spesialis ON CALL ON CALL ON CALL
Radiografer 1 1 1

3. Hari Libur

Tenaga Radiologi Shift 1 Shift 2 Shift 3


Dokter Spesialis ON CALL ON CALL ON CALL
Radiografer 1 1 1

BAB IX
KEGIATAN ORIENTASI

A. PENDAHULUAN
Radiologi RS Mitra Keluarga Tegal merupakan sebuah unit kerja yang tentunya
mempunyai sarana, prasarana, prosedur kerja dan hal-hal lain yang harus diketahui oleh setiap
petugas yang bekerja di unit radiologi. Oleh karena itu , semua calon karyawan radiologi
seperti tenaga administrasi dan tenaga radiografer sebelum bekerja di unit radiologi harus
melalui tahapan orientasi, yang mana waktu pelaksanaannya selama dua minggu. Dalam
orientasi ini mereka mendapatkan pengenalan / pengetahuan tentang radiologi dimana
mereka akan bekerja. Untuk itu, dibuat program orientasi bagi calon karyawan yang
bersangkutan.

B. TUJUAN
1. Karyawan baru dapat memahami Misi,Visi dan Tujuan bagian radiologi dan [Link]
Keluarga Tegal.
2. Karyawan baru mengetahui dan memahami peraturan dan kebijakan [Link] Keluarga
Tegal.
3. Karyawan baru mengetahui sarana dan prasarana yang dimiliki bagian radiologi [Link]
Keluarga Tegal.
4. Karyawan baru mengetahui dan memahami prosedur kerja dalam memberikan
pelayanan radiologi dan hubungan kerja antara radiologi dengan bagian lain di dalam
maupun di luar [Link] Keluarga Tegal.
C. MATERI
Materi orientasi bagian radiologi tertulis dalam program orientasi staff radiologi sebagai
berikut :
1. Visi, Misi, Tujuan dan Kebijakan Mutu [Link] Keluarga Tegal.
2. Misi, Visi dan Tujuan bagian radiologi
3. Peraturan Perusahaan.
4. Hubungan antara pelayanan radiologi dengan unit lain
5. Fasilitas dan kemampuan rumah sakit.
6. Sistem penilaian dan kesejahteraan karyawan ( Hak dan kewajiban karyawan ).
7. SPO radiologi dan uraian tugas
8. Evaluasi & Praktek.

STANDAR PROGRAM ORIENTASI RADIOLOGI


D.
NO. MATERI WAKTU PENGAJAR
1. a. Manajemen radiologi
b. Visi dan misi RSMKT
c. Falsafah dan tujuan RSMKT 420 menit Koordinator Radiologi
d. Peraturan perusahaan
e. Fasilitas RSMKT
2. Tata Tertib kerja 30 menit Koordinator Radiologi
3. Kebijakan dan prosedur kerja
a. Radiografer
1) Pengenalan SPO
2) Administrasi Radiologi
3) Sistem dan alur kerja penerimaan
pasien.
4) Cara pengoperasian alat 420 menit Koordinator Radiologi
5) Cara pemeliharaan alat
6) Komunikasi dan etika kerja
b. Administrasi
1) Adminisrasi dan penerimaan pasien
2) Membuat laporan bulanan
3) Komunikasi dan etika
4. Prosedur permintaan Farmasi ( anfrah ) 60 menit Koordinator Radiologi
a. Pengenalan obat dan alkes
b. Sistem dan alur kerja
5. Prosedur Penggantian obat Farmasi 60 menit Koordinator Radiologi
a. Teori
b. Sistem dan alur kerja
6. Prosedur permintaan logistik 60 menit Koordinator Radiologi
a. Teori
b. Sistem dan alur kerja
7. Prosedur Perjanjian Pasien 60 menit Koordinator Radiologi
a. Teori
b. Sistem dan alur kerja
8. Evaluasi 60 menit Koordinator Radiologi
Total 1.170 menit
PELAKSANAAN
1. Pelaksanaan orientasi karyawan baru dilakukan selama 12 hari kerja ( 2 minggu ).
2. Jadwal Orientasi dibuat oleh kepala ruang radiologi dan diserahkan pada hari pertama
masuk orientasi.

E. METODE
1. Pemberian materi
2. Diskusi dan Praktek lapangan.

F. EVALUASI
1. Pada akhir masa orientasi diadakan tes tertulis mengenai apa yang telah didapat selama
orientasi
2. Hasil penilaian ditulis dalam formulir penialaian orientasi dan dimintakan persetujuan
Manajer Penunjang Medis kemudian diserahkan kebagian HRD.

BAB X
PERTEMUAN / RAPAT
1. Pengertian
Pertemuan atau rapat merupakan suatu wadah pertemuan bersama dengan suatu tujuan
untuk evaluasi bersama, menyelesaikan atau mencari solusi bersama mengenai permasalahan
atau perencanaan yang dihadapi.

2. Tujuan Rapat
a. Untuk memecahkan / mencari jalan keluar suatu masalah
b. Untuk menyampaikan informasi, perintah atau peringatan
c. Sebagai alat koordinasi antar intern atau ekstern
d. Agar peserta rapat dapat ikut berpartisipasi dalam masalah-masalah yang sedang terjadi
e. Mempersiapkan suatu acara atau kegiatan
f. Menampung semua permasalahan dari para peserta
g. Keluhan dari pelanggan baik internal maupun ekternal

3. Jenis Pertemuan / Rapat


Pertemuan atau rapat yang diikuti dan diselenggarakan oleh Unit Radiologi, dibedakan
menjadi dua bagian, antara lain :
a. Rapat Eksternal
Merupakan rapat yang diselenggarakan dan melibatkan seua unit yang berbeda di dalam
orgaisasi, antara lain meliputi :
1) Rapat Rutin, dihadiri oleh semua Kepala Unit - Kepala Unit, yang terkait dengan
Pelayanan atau perwakilan staff, Rapat rutin membahas tentang ; evaluasi kinerja
mutu, masalah dan pemecahannya, evaluasi dan rekomendasi.
2) Rapat Insidentil, Rapat insidentil diselenggarakan sewaktu-waktu bila ada masalah
atau sesuatu hal perlu dibahas segera.
b. Rapat Internal
Merupakan rapat internal Unti Radiologi yang melibatkan semua staff di unit, antara lain
meliputi :
1) Rapat harian, dialkukan di pagi hari diikuti oleh kepala pelaksana dan staff dinas
malam dan dinas pagi, membahas tentang operan laporan radiografer dinas malam,
sosialisasi info terbaru dan evaluasi pelayanan Radiologi.
2) Rapat bulanan, sebulan sekali, sesuai kebutuhan, dihadiri oleh semua staff radiologi,
membahas tentang permasalahan di unit radiologi, tindak lanjut dan evaluasi mutu
pelayanan.

BAB XI
PELAPORAN

1. Pengertian
Pelaporan merupakan proses komunikasi penyampaian informasi, kondisi, dan
pertanggung-jawaban terhadap suatu proses kerja dan pelayanan kepada pihak struktural
jabatan diatasnya, bentuk pelaporan itu sendiri dapat berupa lisan ataupun tulisan. Pelaporan
merupakan hal yang penting, karena dengan bentuk pelaporan yang lengkap, akurat , tepat dan
informatif maka dapat meggambarkan kualitas pelayanan Unit Radiologi yang sesungguhnya.

2. Jenis Pelaporan
a. Laporan Harian ,meliputi :
Laporan operan shif bagian tekhnik per shif
b. Laporan Bulana, meliputi :
1) Laporan jumlah pemeriksaan radiologi per bulan
2) Laporan pemakaian film per bulan
3) Laporan sasaran mutu per bulan
4) Laporan jumlah pasien per bulan
5) Laporan stok opname radiologi per 3 bulan
6) Laporan total pembelian barang dan reagensia radiologi per bulan
7) Laporan absensi dan lembur per bulan
8) Laporan dokter pemeriksa USG cyto per bulan
9) Laporan dokter luar yang mengirim pemeriksaan ke radiologi [Link] Keluarga Tegal
per bulan
c. Laporan Tahunan, meliputi :
1) Berita acara stok opname tahunan.
2) Laporan Penilaian Kinerja Karyawan

F. PELAPORAN HASIL KRITIS

1. Kebijakan penetapan harapan waktu pelaporan hasil peme-riksaan.


2. Kebijakan waktu pelaporan hasil pemeriksaan kasus / cito di ukur.

SK DIREKTUR TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN RADIOLOGI NO 044/SK-DIR/RSMKT/I/2015 :


20. Penyerahan hasil pemeriksaan radiologi diharapkan tepat waktu sesuai dengan standar
mutu pelayanan Radiologi, yaitu 1 jam setelah pemeriksaan hasilnya telah dilakukan
pembacaan oleh Dokter Penanggung Jawab Radiologi dan diserahkan kepada pasien atau
keluarga (berlaku mulai pukul 08.00 s.d 12.00 pada hari aktif untuk pasien yang tidak
dibutuhkan pembacaan cito)
21. Untuk pembacaan hasil pemeriksaan kritis > pkl. 12.00, maka hasil pemeriksaan dapat
dipinjam basah dan pembacaan dilakukan oleh dokter IGD atau DPJP
22. Khusus untuk hasil ekspertise yang dibutuhkan segera seperti unit gawat darurat, kamar
bedah dan unit pelayanan intensif, maka pemeriksaan wajib didahulukan (cito)
23. Untuk permintaan radiologi yang termasuk kriteria kritis dapat diterima oleh pasien /
dokter pengirim / dokter jaga dalam waktu < 3 Jam setelah waktu pendaftaran baik
secara lisan ataupun secara tulisan
24. Kriteria Test / hasil kritis adalah :
c. Permintaan yang datang tidak dalam bentuk kriteria kritis / CITO, tapi setelah diperiksa
ternyata hasil yang ditemukan termasuk kriteria kritis
d. Permintaan yang datang ke Radiologi dalam bentuk kriteria kritis/CITO, walaupun
setelah diperiksa hasil yang ditemukan bukan kriteria kritis / kasus CITO
30. Kriteria hasil kritis yang dimaksud adalah :
Anatomi Jenis Kategori Hasil Kritis
Pemeriksaan Pemeriksaan
Kepala CT-Scan  Perdarahan intrakranial / intracerebral
akibat stroke atau trauma
 Perdarahan intrakanial yang signifikan /
masif
 Infark akut
 Fraktur impresi yang menekan otak

Abdomen CT-Scan Abdomen  Hemoperitoneum


 Pneumoperitoneum
 Ruptur / Impending ruptur Aneurisma
aorta abdominalis

Foto Konvensional  Ileus Obstruktif


dan USG  Pneumoperitoneum
Perdarahan intra abdominal
 False route device
 Hemoperitoneum
Peritonitis

Ektremitas Farktur ekstremitas dengan kekhawatiran


robekan pada pembuluh darah besar

Thorax  Pneumothorax
 Efusi Pleura masif
1.  Pneumoperitoneum
False route device ( ETT, CVC, NGT,
dsb )

LAIN-LAIN Farktur vertebrae unstable

SPO pelaporan hasil cito

1. Metode pelaporan
2. Prosedur menetapkan oleh siapa dan kepada siapa hasil yang kritis dari pemeriksaan diag-
nostik harus dilaporkan
3. Prosedur menetapkan apa yang dicatat di dalam rekam medis pasien
4. Proses pelaporan hasil kritis dimonitoring

SPO PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN KRITIS

SPO PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN KRITIS

[Link] : [Link] : Halaman :


SPO/RAD/080 1 1-2

STANDAR PROSEDUR Tanggal Terbit : Ditetapkan oleh :


OPERASIONAL 01 Maret 2016

dr. Sherley Tjioe


Direktur Mitra Keluarga Tegal

PENGERTIAN 1. Pelaporan Test Kritis / Hasil kritis Radiologi adalah pemeriksaan


Radiologi yang bersifat life saving/emergency/mengancam jiwa pasien
yang harus disampaikan kepada dokter yang merawat/dokter pengirim,
agar dapat ditangani secepat mungkin untuk menyelamatkan jiwa
pasien.
2. Test Kritis adalah permintaan radiologi dengan kriteria kritis/CITO,
yang harus dikerjakan sesegera mungkin ke dokter pengirim.
3. Kriteria Test / hasil kritis adalah :
a. Permintaan yang datang tidak dalam bentuk kriteria kritis / CITO,
tapi setelah diperiksa ternyata hasil yang ditemukan termasuk
kriteria kritis
b. Permintaan yang datang ke Radiologi dalam bentuk kriteria
kritis/CITO, walaupun setelah diperiksa hasil yang ditemukan
bukan kriteria kritis / kasus CITO

TUJUAN 1. Terciptanya koordinasi pelayanan radiologi internal RS khusunya


pelayanan pemeriksaan cito / emergency
2. Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di Mitra Keluarga
Tegal

KEBIJAKAN Sesuai dengan SK Direktur RSMKT Nomor : 044/SK-DIR/RSMKT/I/2015


Tentang Kebijakan Pelayanan Radiologi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Tegal

PROSEDUR 1. Penerimaan permintaan pada counter pendaftaran pasien.


PELAKSANAAN 2. Jika permintaan dengan tulisan "CITO" petugas counter pendaftaran segrea
menyampaikan kepada radiografer untuk meminta kejelasan apakah
termasuk kriteria test kritis / hasil kritis. Jika termasuk kriteria kritis / test
kritis maka diberi cap " HASIL KRITIS " pada lembar permintaan.
3. Radiografer melakukan pelayanan pemeriksaan Radiologi harus
memperhatikan faktor keselamatan pasien dan mengikuti SPO yang
berlaku.
4. Foto-foto radiologi kriteria kritis segera diserahkan ke dokter radiologi
( radiolog ) untuk segera di ekspertise.
5. Foto yang sudah selesai dibaca dimasukkan ke dalam amplop dan diberi
stempel " HASIL KRITIS " pada amplop bagian luar. Kemudian dilakukan
pencatatan pada buku hasil kritis, oleh petugas radiologi
6. Penyerahan hasil oleh petugas radiologi berdasarkan asal pasien :
a. Pasien Rawat Jalan
Hasil diserahkan oleh petugas radiologi pada pasien dalam waktu < 3
Jam, dari setelah waktu pendaftaran. Pasien diminta untuk kembali ke
dokter pengirim secepatnya. Sementara itu dokter radiologi
menghubungi dokter DPJP/Dokter pengirim untuk menyampaikan
hasil ekspertise secara lisan.
b. Pasien Rawat Inap
Hasil dapat diambil dalam waktu < 3 Jam, dimana petugas radiologi
menghubungi perawat ruangan dalam waktu 1 menit pertama dengan
mencatat nama si penerima telepon, jam dan tanggal, jika tidak ada
respon ditelepon lagi pada 15 menit ke dua.
c. Perawat ruangan menyampaikan hasil ekspertise radiologi ke dokter
DPJP / dokter jaga.
d. Pasien UGD
1) Di dalam jam kerja :
Foto langsung dibaca oleh dokter radiologi, dalam waktu < 3
Jam, setelah ada hasil langsung menghubungi UGD untuk
mengambil foto dengan mengisi buku ekspedisi ( tanda tangan
penerima, nama jelas serta jam penyerahan hasil )

2) Diluar jam kerja :


a) Untuk foto konvensional foto langsung diserahkan dokter
jaga UGD, jika menginginkan ekpertise foto dikirim via
email ke dokter radiologi.
b) Untuk pemeriksaan CT-Scan, radiografer memberikan
informasi yang ditemukan pada dokter jaga UGD dalam
waktu kurang dari 15 menit setelah pemeriksaan (dilakukan
pencatatan kegiatan pada buku laporan berupa jam
pelaporan serta dokter yang menerima laporan). Sementara
foto dikirim via email ke dokter radiologi.

7. Setiap menyerahkan hasil radiologi diharuskan untuk mengisi buku


ekspedis pengambilan

UNIT TERKAIT 1. Unit Gawat Darurat


2. Unit Perawatan Intensive ( ICU )
3. Rujukan dari Luar
4. Poliklinik
5. Rawat Inap

G. PROGRAM PENGELOLAAN PERALATAN RADIOLOGI

1. Proses seleksi dan pengadaan alat.


2. Proses inventarisasi alat ([Link].8, EP 2).
3. Pemeliharaan peralatan
4. Bukti dilakukan pemeliharaan
5. Inspeksi dan alat pengetesan ([Link].8, EP 3) .
6. Kalibrasi dan pemeliharaan alat ([Link].8, EP 4)
7. Monitoring dan tindak lanjut ([Link].8, EP 5) .
8. Semua tes, pemeliharaan dan kalibrasi alat didokumentasi secara adekuat ([Link].8.1, EP 1)

KEPUTUSAN DIREKTUR NOMOR : 44/SK-DIR/RSMKT/I/2015 TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN


RADIOLOGI
KEBIJAKAN PELAYANAN RADIOLOGI
RUMAH SAKIT MITRA KELUARGA TEGAL
Kebijakan Umum :
1. Peralatan di ruangan digunakan sesuai dengan fungsi alat dan prosedur penggunaan yang
ditetapkan, sehngga dapat memberikan hasil yang diharapkan.
2. Terdapat data inventarisasi peralatan di ruangan.
3. Program pengelolaan, uji fungsi, pemeliharaan dan kalibrasi peralatan dilakukan secara berkala
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan disertai dengan bukti pelaksanaannya.
4. Pelayanan yang diberikan selalu berorientasi kepada mutu dan keselamatan pasien.
5. Semua staf wajib memiliki izin profesi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

SPO PENGADAAN ALAT RADIOLOGI

SPO PENGADAAN ALAT RADIOLOGI

[Link] : [Link] : Halaman :


SPO/RAD/067 1 1-2

STANDAR PROSEDUR Tanggal Terbit : Ditetapkan oleh :


OPERASIONAL 01 Maret 2016

dr. Sherley Tjioe


Direktur Mitra Keluarga Tegal

PENGERTIAN Suatu kegiatan pengadaan peralatan kebutuhan penunjang kegiatan harian,


bulanan dan kebutuhan mendadak.

TUJUAN Pemenuhan kebutuhan peralatan untuk menunjang pemeriksaan radiologi


sesuai dengan kebutuhan pasien.

KEBIJAKAN Sesuai dengan SK Direktur RSMKT Nomor : 044/SK-DIR/RSMKT/I/2015


Tentang Kebijakan Pelayanan Radiologi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Tegal

PROSEDUR Perlatan Radiologi dibagi menjadi :


PELAKSANAAN 1. Peralatan Medis dan Peralatan Umum :
a. Petugas radiologi mencatat pada formulir bon permintaan barang
mengenai jenis barang yang akan diminta dan meminta persetujuan
manajer penunjang medis
b. Berikan formulir bon permintaan barang tersebut kepada bagian
logistik medis untuk dapat dipenuhi
c. Logistik medik akan memeuhi permintaan pengadaan alat yang
dibutuhkan
d. Apabila barang sudah tersedia, maka dapat diserahkan segera
kepada bagian radiologi, namun apabila belum tersedia bagian
radiologi akan menunggu proses pemesanan /pembelian peralatan
oleh bagian logistik.

2. Peralatan kantor
a. Petugas logistik umum melakukan cek list peralatan kantor di
radiologi, kemudian menulis sisa barang pada formulir permintaan
barang
b. Petugas radiologi mengecek formulir permintaan barang tersebut jika
sudah sesuai maka formulir permintaan barang ditandatangani
c. Petugas logistik umum segera memenuhi kebutuhan barang sesuai
yang tercatat dalam form permintaan barang
d. Apabila barang yang dibutuhkan telah tersedia maka petugas logistik
umum menghubungi petugas radiologi untuk mengambil barang di
gudang umum
e. Petugas radiologi mengecek barang yang diterima dengan kebutuhan
barang yang diminta sesuai yang tercatat dalam form permintaan
barang .
f. Petugas radiologi menandatangani form serah terima barang dengan
bagian logistik umum.

Catatan : Jadwal cek list dan pengambilan barang umum ditentukan oleh
logistik umum.

3. Linen
a. Petugas radiologi meletakkan linen yang kotor di keranjang
b. Petugas linen mengambil linen yang kotor untuk diloundry,
pengambilan dilakukan pada pagi hari atau pada saat petugas
radiologi membutuhkan linen yang bersih
c. Petugas linen mengganti dengan linen yang bersih sesuai dengan
linen yang kotor
d. Petugas radiologi meletakkan kembali linen yang bersih di loker linen.

UNIT TERKAIT 1. Logisti Medis


2. Logistik Umum
3. Maintenance Medis
4. Linen

Inspeksi dan alat pengetesan ([Link].8, EP 3) .


Kalibrasi dan pemeliharaan alat ([Link].8, EP 4)

Uji fungsi harian

Bukti kalibrasi oleh petugas ME Medis atau Institusi


=> hasil kalibrasi / sertifikat kalibrasi sebaiknya bagian terkait menyimpan kopi sertifikat
kalibrasi

H. REAGENSIA

1. Penetapan X-ray film, reagensia dan semua perbekalan penting ([Link].5, EP 1) yang
digunakan
2. Panduan penyimpanan dan distribusi reagensia sesuai ketentuan / instruksi pada kemasannya
([Link].5, EP 2).
3. Evaluasi reagen agar memberikan hasil yang akurat dan presisi
4. Semua perbekalan diberi label secara lengkap dan akurat ([Link].5, EP 7).

=> TIDAK MENGGUNAKAN REAGEN

PERMINTAAN PEMERIKSAAN
1. SPO permintaan pemeriksaan radiologi
2. Pelaporan hasil pemeriksaan
SPO PERMINTAAN PELAYANAN PEMERIKSAAN RADIOLOGI

[Link] : [Link] : Halaman :


SPO/RAD/ 1 1-2

STANDAR PROSEDUR Tanggal Terbit : Ditetapkan oleh :


OPERASIONAL 01 Maret 2016

dr. Sherley Tjioe


Direktur Mitra Keluarga Tegal

PENGERTIAN Tata cara permintaan anter unit

TUJUAN Tertibnya pelayanan antar unit yang dapat dipertanggung jawabkan

KEBIJAKAN Sesuai dengan SK Direktur RSMKT Nomor : 044/SK-DIR/RSMKT/I/2015


Tentang Kebijakan Pelayanan Radiologi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Tegal

PROSEDUR 1. Dokter melakukan pemeriksaan terhadap pasien


PELAKSANAAN 2. Dalam hal diperlakukannya pemeriksaan penunjang radiologi , Dokter
menuliskan jenis pemeriksaan radiologi yang diperlukan pada Rekam
medik dan slip berobat pasien.
3. Perawat menghubungi petugas Radiologi tentang permintaan pemeriksaan
Radiologi sesuai instruksi Dokter.
4. Dalam hal Pasien / Keluarga setuju, perawat IGD membawa slip berobat
pasien beserta pasien ke Unit Radiologi.

UNIT TERKAIT Unit Gawat Darurat

SPO PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN RADIOLOGI

SPO PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN KRITIS

[Link] : [Link] : Halaman :


SPO/RAD/066 1 1-2

STANDAR PROSEDUR Tanggal Terbit : Ditetapkan oleh :


OPERASIONAL 01 Maret 2016

dr. Sherley Tjioe


Direktur Mitra Keluarga Tegal

PENGERTIAN Suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menginformasikan tentang


hasil bacaan kepada pasien dan seluruh keperawatan setelah foto sudah ada
hasil.

TUJUAN 1. Terciptanya komunikasi internal khususnya koordinasi pelayanan radiologi


dengan keperawatan.
2. Dengan diterimanya hasil pemeriksaan radiologi dengan cepat, maka
diharapkan akan mempercepat pelayanan / tindakan medis yang
direncanakan DPJP
3. Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di Mitra Keluarga
Tegal

KEBIJAKAN Sesuai dengan SK Direktur RSMKT Nomor : 044/SK-DIR/RSMKT/I/2015


Tentang Kebijakan Pelayanan Radiologi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Tegal

PROSEDUR Pasien Rawat Jalan


PELAKSANAAN 1. Setelah foto selesai dibaca oleh dokter petugas radiologi memanggil
pasien untuk mengambil hasil.
2. Petugas Radiologi mencatat di buku pengambilan foto sudah ada hasil,
nama pasien, no. Struk, asal pasien, jenis pemeriksaan,
3. Petugas Radiologi memberikan foto kepada pasien yang dimaksud
4. Pasien menerima, menandatangani dan memberi nama pada buku
pengambilan foto sudah ada hasil
5. Petugas radiologi yang menyerahkan menulis namanya di buku
pengambilan foto sudah ada hasil.

Rawat Inap
1. Petugas Radiologi menghubungi ruang keperawatan memberitahukan
bahwa foto sudah ada hasil
2. Perawat dari ruang keperawatan tempat pasien dirawat mengambil foto
dengan ekspertise nya
3. Petugas Radiologi mencatat di buku pengambilan foto sudah ada hasil,
nama pasien, no. Struk, asal pasien, jenis pemeriksaan
4. Perawat menerima, menandatangani dan memberi nama pada buku
pengambilan foto sudah ada hasil
5. Petugas radiologi yang memberikan menulis namanya di buku
pengambilan foto sudah ada hasil.

UNIT TERKAIT
1. Poliklinik
2. Unit Gawat Darurat
3. Rawat Inap
4. Rujukan dari Luar

I. PEMERIKSAAN RADIOLOGI LUAR / RUJUK

1. SPO pemeriksaan rujuk


2. Penetapan pemeriksaan yang dilakukan rujukan
3. Laporan tahunan data kontrol mutu dari unit radiologi di luar RS diserahkan kepada
pimpinan untuk digunakan dalam membuat perjanjian kerjasama atau pembaharuan
perjanjian.

KEPUTUSAN DIREKTUR NOMOR : 44/SK-DIR/RSMKT/I/2015 TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN


RADIOLOGI
KEBIJAKAN PELAYANAN RADIOLOGI
RUMAH SAKIT MITRA KELUARGA TEGAL

38. Pelayanan radiologi di luar rumah sakit yang dipilih sebagai pemeriksaan radiologi
rujukan adalah radiologi dengan reputasi pelayanan baik dengan standar pelayanan yang
sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku.
39. Kerjasama RS Mitra Keluarga Tegal dengan Radiologi luar yang ditunjuk, berdasarkan
identifikasi jenis pemeriksaan yang dibutuhkan dan belum dapat dilakukan di dalam RS Mitra
Keluarga Tegal disertai dengan kesepatan-kesepakatan lainnya (tarif, jadwal pemeriksaan dan
bahan pemeriksaan yang dibutuhkan) yang tertuang dalam MOU dan ditandatangani
bersama oleh kedua belah pihak (RS Mitra Keluarga dan Radiologi rujukan).
40. Koordinator radiologi wajib melakukan evaluasi terhadap kinerja radiologi luar/rujukan
secara tahunan dan konsisten dengan memperhatikan temuan ketidaksesuaian pelayanan
radiologi rujukan / luar dengan kesepakatan bersama.

J. PROGRAM MUTU

1. Program kontrol mutu untuk pelayanan radiologi dan diagnostik imajing, dan dilaksanakan.
2. Program termasuk validasi metode tes
3. Program termasuk surveilens harian atas hasil tes
4. Program termasuk koreksi cepat untuk kekurangan
5. Program kontrol mutu termasuk pengetesan reagensia dan larutan.
6. Program kontrol mutu termasuk pendokumentasian hasil dan langkah-langkah perbaikan.

Program mutu 2016 belum ada

K. AHLI SPESIALISTIK

1. Daftar para ahli dalam bidang diagnostik spesialistik.


2. RS dapat menghubungi para ahli dalam bidang diagnostik spesialistik bila perlu.

Anda mungkin juga menyukai