Kebijakan Pelayanan Radiologi RS Mitra Keluarga
Kebijakan Pelayanan Radiologi RS Mitra Keluarga
A. LANDASAN HUKUM
Peraturan perundang-undangan yang mengatur Pelayanan radiologi dan diagnostik imajing
B. KEBIJAKAN DIREKTUR
Kebijakan khusus :
1. RS Mitra Keluarga Tegal menyediakan pelayanan radiologi dan pelayanan diagnostik imajing
selama 24 jam kepada pasien rawat inap, pasien rawat jalan poliklinik spesialis, pasien rawat
jalan UGD atau rawat jalan [Link] memenuhi standar peraturan yang berlaku.
2. Unit pelayanan Radiologi dibawah tanggung jawab seorang Dokter Spesialis Radiologi sebagai
Dokter Penanggung Jawab Radiologi dan dalam menjalankan tugas hariannya dibantu oleh
seorang kepala ruang / koordinator Radiologi yang berijasah sarjana Radiografer, memiliki ijin,
terlatih, berpengalaman dalam penyelenggaraan pelayanan Radiologi.
3. Dokter penanggung jawab dan kepala ruang Radiologi bertanggung jawab terhadap segala
aspek hukum dan peraturan-peraturan Radiologi mengenai penyelenggaraan pelayanan
Radiologi, proses administrasi, keamanan dan kerahasiaan hasil pemeriksaan radiologi pasien
serta pengawasan terhadap aktivitas pelayanan radiologi berdasarkan ketentuan yang
dituangkan dalam standar prosedur operasional.
4. Pemeriksaan radiologi dilakukan berdasarkan permintaan pasien dan atau rekomendasi
dokter yang berwenang dengan mengikuti prosedur administrasi dan prosedur pemeriksaan
yang berlaku untuk pasien rawat jalan ataupun rawat inap.
5. Dokter pengirim rujukan pemeriksaan radiologi baik dalam atau ke luar rumah sakit harus
mencantumkan indikasi setiap permintaan pemeriksaan radiologi dengan jelas agar pemeriksaan
radiologi tepat sesuai kebutuhan medis.
6. Mengoperasikan peralatan di unit radiologi harus sesuai dengan fungsi pemeriksaan dan
prosedur penggunaan yang ditetapkan untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang
diharapkan.
7. Persiapan pemeriksaan radiologi dan diagnostik imajing wajib dilakukan, baik persiapan
administrasi, bahan pemeriksaan yang akan digunakan dan pemberian informasi persiapan
pasien sesuai dengan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan untuk mendapatkan hasil yang
diharapkan.
8. Pemeriksaan radiologi di ruang khusus (ICU/ICCU/NICU) atau UGD menggunakan Pesawat
Mobile Unit, dilakukan hanya apabila pasien dalam keadaan fisik yang tidak memungkinkan
untuk di bawa ke unit radiologi atau atas pertimbangan keselamatan pasien dengan tetap
memperhatikan prosedur / kaidah proteksi radiasi bagi pekerja, pasien dan masyarakat. yang
benar.
9. Pemeriksaan radiologi dengan kontras dilakukan oleh dokter spesialis Radiologi, sedangkan
pemeriksaan radiologi dengan non kontras dapat dilakukan oleh radiografer.
10. Ekspertise hasil pemeriksaan Radiologi dilakukan oleh Dokter Spesialis Radiologi.
11. Pembacaan hasil pemeriksaan radiologi diagnostik dapat dilakukan dengan menggunakan
sarana teleradiologi.
12. Pemeriksaan Ultra Sonografi ( USG ) di Radiologi dilakukan oleh dokter spesialis Radiologi
13. Pelaksanaan penyuntikan media kontras dan hal-hal yang berkaitan dengan tanda-tanda vital
pasien dilakukan oleh perawat yang berkompeten.
14. Setiap tindakan yang dapat menimbulkan resiko terhadap pasien wajib disertai surat persetujuan
tindakan medis (informed consent).
15. Untuk mengatasi keadaan gawat darurat akibat dari bahan kontras wajib disediakan obat dan
peralatan serta dilakukan penanganan sesuai dengan standar penanganan yang tepat.
16. Penyerahan hasil pemeriksaan radiologi diharapkan tepat waktu sesuai dengan standar
mutu pelayanan Radiologi, yaitu 1 jam setelah pemeriksaan hasilnya telah dilakukan
pembacaan oleh Dokter Penanggung Jawab Radiologi dan diserahkan kepada pasien atau
keluarga (berlaku mulai pukul 08.00 s.d 12.00 pada hari aktif untuk pasien yang tidak
dibutuhkan pembacaan cito)
17. Khusus untuk hasil ekspertise yang dibutuhkan segera seperti unit gawat darurat, kamar
bedah dan unit pelayanan intensif, maka pemeriksaan wajib didahulukan (cito)
18. Untuk permintaan radiologi yang termasuk kriteria kritis dapat diterima oleh pasien /
dokter pengirim / dokter jaga dalam waktu < 3 Jam setelah waktu pendaftaran baik
secara lisan ataupun secara tulisan
19. Kriteria Test / hasil kritis adalah :
a. Permintaan yang datang tidak dalam bentuk kriteria kritis / CITO, tapi setelah
diperiksa ternyata hasil yang ditemukan termasuk kriteria kritis
b. Permintaan yang datang ke Radiologi dalam bentuk kriteria kritis/CITO,
walaupun setelah diperiksa hasil yang ditemukan bukan kriteria kritis / kasus
CITO
29. Kriteria hasil kritis yang dimaksud adalah :
Anatomi Jenis Kategori Hasil Kritis
Pemeriksaan Pemeriksaan
Kepala CT-Scan Perdarahan intrakranial / intracerebral
akibat stroke atau trauma
Perdarahan intrakanial yang signifikan /
masif
Infark akut
Fraktur impresi yang menekan otak
Thorax Pneumothorax
Efusi Pleura masif
Pneumoperitoneum
False route device ( ETT, CVC, NGT,
dsb )
30. Pelayanan radiologi di luar rumah sakit yang dipilih sebagai pemeriksaan radiologi
rujukan adalah radiologi dengan reputasi pelayanan baik dengan standar pelayanan yang
sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku.
31. Kerjasama RS Mitra Keluarga Tegal dengan Radiologi luar yang ditunjuk, berdasarkan
identifikasi jenis pemeriksaan yang dibutuhkan dan belum dapat dilakukan di dalam RS Mitra
Keluarga Tegal disertai dengan kesepatan-kesepakatan lainnya (tarif, jadwal pemeriksaan dan
bahan pemeriksaan yang dibutuhkan) yang tertuang dalam MOU dan ditandatangani
bersama oleh kedua belah pihak (RS Mitra Keluarga dan Radiologi rujukan).
32. Koordinator radiologi wajib melakukan evaluasi terhadap kinerja radiologi luar/rujukan
secara tahunan dan konsisten dengan memperhatikan temuan ketidaksesuaian pelayanan
radiologi rujukan / luar dengan kesepakatan bersama.
33. Setiap petugas radiologi wajib mematuhi ketentuan dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan
Kerja), seperti penggunaan APD (Alat Pelindung Diri), memperhatikan hand hygiene, dan
pengolahan pembuangan limbah (infeksi atau non infeksi dan benda tajam) dalam menjalankan
tugasnya.
34. Berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja, terdapat program orientasi dan pelatihan
untuk petugas radiologi tentang prosedur dan praktik keselamatan dan keamanan kerja serta
penggunaan bahan berbahaya (B3).
35. Untuk menjamin keamanan radiasi alat radiologi terhadap pasien, petugas maupun lingkungan /
masyarakat umum disekitar unit radiologi, wajib dilakukan langkah-langkah proteksi sesuai
dengan peraturan perundangan Depkes.
36. Setiap pekerja radiasi yang melaksanakan pemeriksaan Radiologi harus memperhatikan kaidah
proteksi radiasi serta mencegah terjadinya pengulangan paparan dengan memperhatikan Nilai
Batas Dosis ( NBD ) pada pekerja, pasien dan masyarakat sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
37. Pemegang izin untuk memastikan agar nilai batas dosis tidak terlampaui, harus :
a. Menyelenggarakan pemantauan paparan radiasi dengan surveymeter
b. Melakukan pemantauan dosis yang diterima personil dengan TLD bagde / Film badge yang
sudah dikalibrasi
c. Menyediakan perlengkapan proteksi radiasi
d. Menyelenggarakan Medikal Cek Up berkala bagi personil Radiologi setiap satu tahun
sekali yang terdiri dari foto Thorax, cek darah rutin, dan cek fisik.
38. Staf Radiologi Diagnostik Imaging bekerja untuk menjamin bahwa semua peralatan
berfungsi dengan baik pada tingkat yang dapat diterima dan aman bagi operator.
39. Koordinator unit radiologi bertanggung jawab terhadap program kontrol mutu pelayanan
radiologi dan diagnostik imajing, dengan beberapa program, salah satunya adalah pelaksanaan
rapat internal bulanan untuk melakukan koordinasi dan evaluasi, validasi metode tes,
pengawasan harian pelayanan radiologi dan diagnostik imajing, dilakukan perbaikan dengan
cepat jika ditemukan kekurangan, dilakukan pengetesan reagensia dan larutan yang digunakan
dan melakukan pendokumentasian hasil serta langkah-langkah perbaikan.
40. Stock Opname bagian Radiologi dilakukan setiap 3 (tiga ) bulan sekali untuk mencocokkan stock
film/reagen yang ada dengan Stock yang ada diprogram RIS (Radiologi Informasi System).
41. Ahli dalam bidang spesialisasi dapat dihubungi apabila diperlukan oleh radiologi.
42. Dalam meningkatkan kualitas pelayanan, koordinator radiologi wajib melakukan pengawasan
mutu pelayanan berdasarkan hasil survei pasien rawat inap / rawat jalan dan pengukuran
terhadap indikator mutu yang telah ditetapkan oleh RS.
BAB I
PENDAHULUAN
1.2. Tujuan
Tujuan dari program proteksi dan keselamatan radiasi adalah mencegah terjadinya efek
non stokastik yang membahayakan dan membatasi peluang terjadinya efek stokastik sampai
pada nilai batas yang dapat diterima oleh masarakat serta meyakinkan bahwa pekerja atau
kegiatan yang berkaitan dengan penyinaran radiasi dapat dibenarkan.
BAB II
PENYELENGGARA PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI
3. Pekerja Radiasi
Pekerja Radiasi adalah setiap orang yang bekerja di instalasi nuklir atau instalasi
radiasi pengion yang diperkirakan menerima dosis tahunan melebihi dosisi untuk
masyarakat [Link] dan Tanggung Jawab Pekerja Radiasi :
a. Mengetahui, memahami dan melaksanakan semua ketentuan keselamatan radiasi
b. Melaksanakan petunjuk pelaksanaan kerja yang telah disusun oleh PPR dengan
benar
c. Melaporkan setiap gangguan kesehatan yang dirasakan dan diduga akibat
penyinaran lebih atau masuknya radioaktif ke dalam tubuhnya
d. Memanfaatkan sebaik-baiknya peralatan keselamtan kerja yang tersedia serta
bertindak hati-hati, aman dan disiplin untuk melindungi baik dirinya sendiri
maupun pekerja lain
e. Melaporkan kejadian kecelakaan bagiamanpun kecilnya kepada PPR
II.3. Personil yang bekerja di fasilitas atau instalasi termasuk program pendidikan dan pelatihan
mengenai Proteksi dan Keselamtan Radiasi
A. Personil yang bekerja di fasilitas dan instalasi.
Personil yang bekerja di Instalasi Radiologi RS Mitra Keluarga Tegal terdiri dari :
a) Petuga Proteksi Radiasi ( PPR )
b) Dokter Radiologi
c)Pekerja Radiasi
B. Program pendidikan dan pelatihan mengenai Proteksi dan Keselamatan Radiasi
Petugas Proteksi Radiasi ( PPR ) harus mengikuti dan lulus kursus atau pelatihan yang
dibuktikan dengan sertifikat lulus, untuk selanjutnya diuji oleh Bapeten. Petugas yang
lulus ujian tersebut akan diberikan Surat Izin Bekerja ( SIB ) sebagai PPR oleh
Bapeten yang berlaku 5 ( lima ) tahun. SIB untuk PPR hanya dapat diperpanjang
setelah mengikuti program rekualifikasi paling sedikit 2 ( dua ) kali selama masa berlaku
SIB.
Pekerja Radiasi harus menjalani pendidikan selama 3 ( tiga ) tahun jurusan eksakta atau
teknik, yang dalam pendidikan tersebut telah dibekali dengan pelatihan-pelatihan
diberbagai Rumah Sakit untuk dijadikan sebagai pengalaman kerja.
II.4. Program jaminan mutu proteksi dan keselamatan radiasi yang berisi antara lain prosedur kaji
ulang dan audit pelaksana program proteksi dan keselamatan radiasi secara berkala.
Program jaminan mutu proteksi radiasi dan keselamtan radiasi dilakukan kalibrasi
pada pesawat sinar-x oleh BPFK setiap 1 ( satu ) tahun sekali, dan pengajuan izin
untuk alat-alat baru serta perpanjangan ijin penggunaan radiasi pengion oleh
Bapeten dilakukan setiap 2 ( dua ) tahun sekali.
BAB III
DESKRIPSI FASILITAS
III.1. Deskripsi Fasilitas.
Fasilitas yang tersedia atau peralatan dan pendukungnya harus sedemikian rupa sehingga tidak
ada radiasi yang membahayakan pekerja maupun anggota masyarakat lain. Fasilitas yang ada di
bagian radiologi RS. Mitra Keluarga Tegal adalah dengan tembok setebal 25 cm, kaca Pb untuk
operator setebal 2 mm, Apron 4 ( empat ) unit dengan tebal Pb 0,5 mm, pelindung thyroid 2
( dua ) unit dengan tebal Pb 0,5 mm.
IV.2.3. Pemantauan paparan radiasi dan / atau kontaminasi radioaktif di daerah kerja
Pemantauan paparan radiasi terhadap peralatan-peralatan yang ada di Instalasi
Radiologi RS. Mitra Keluarga Tegal dilakukan oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini
oleh BPFK secara langsung mengukur peralatan tersebut. Pengukuran yang yang dilakukan
adalah kebocoran tabung pesawat sinar-x, berkas utama pesawat sinar-x dan laju dosis
disekitar ruangan masing-masing peralatan yang ada.
Periode pengukuran yang dilakukan terhadap peralatan-peralatan yang ada di
Instalasi Radiologi R. Mitra Keluarga Tegal adalah setiap 1 ( satu ) tahun sekali dilakukan
oleh BPFK. Tujuan dilakukan pengukuran ini untuk mengetahui kebocoran tabung pesawat
sinar-x dan paparan radiasi disekitar ruangan.
IV.2.4. Pemantauan radioaktivitas lingkungan di luar fasilitas atau instalasi
Pemantauan radioaktivitas lingkungan di luar fasilitas atau instalasi dilakukan secara
berkala oleh pihak yang berwenang yaitu BPFK / LPFK untuk mencegah terjadinya
kebocoran radioaktivitas yang melebihi nilai batas radioaktivitas lingkungan yang
ditentukan oleh Bapeten.
BAB V
REKAMAN DAN LAPORAN
Rekaman adalah dokumen yang menyatakan hasil yang dicapai atau memberi bukti pelasanaan
kegiatan dalam pemanfaatan tenaga nuklir
Penyimpanan rekaman hasil pemantauan paparan radiasi bagi pekerja radiasi RS Mitra Keluarga
Tegal tersimpan dalam file terpisah setiap bulan dalam waktu selama pekerja radiasi masih aktif
bekerja di RS Mitra Keluarga Tegal dan disimpan selama 30 tahun terhitung sejak pekerja yang
bersangkutan berhenti bekerja di RS Mitra Keluarga Tegal..
Bila pada laporan per bulan terdapat nilai yang melewati batas yang telah dilakukan, akan
dikonfirmasikan kebenarannya ke LPFK terlebih dahulu secara lisan kemudian menyampaikan
laporan secara tertulis dalam waktu 3 hari setelah pemberitahuan secara lisan. Jika angka tersebut
sudah diperiksa ulang, petugas tersebut selama 1 (satu) bulan untuk sementara dijauhkan dari
tugas-tugas radiasi , dan diadakan penelitian retrogard untuk mencari sebab-sebab kenaikkan dosis
tersebut.
Jika pada bulan berikutnya masih tetap terdapat kenaikkan nilai dosis radiasi , petugas tetap
dijauhkan dari tugas radiasi dan dilakukan pemeriksaan kesehatan fisik dan laboratorium dan
dilakukan pemeriksaan terhadap alat dan fasilitas rontgen, serta permintaan pengecekan ulang
badge tersebut ke LPFK. Jika nilai dosis radiasi sudah kembali normal, petugas dapat bertugas
kembali.
LEMBAR PENGESAHAN
Dokumen Program Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam pemanfaatan Tenaga Nuklir di RS Mitra
Keluarga Tegal ini telah diperiksa dan di sahkan pada tanggal 14 Agustus 2014 oleh :
NO JENIS CT-SCAN KV MA
1 KEPALA 140 160
2 SPN 120 150
3 ORBITA 120 200
4 LEHER 120 150
5 CERVICAL 120 350
6 THORAX 120 350
7 SHOULDER 120 350
8 ABDOMEN 120 350
9 LUMBAL / THORACAL 140 300
10 PELVIS 120 350
11 FEMUR / CRURIS 120 350
12 KNEE JOINT 120 200
1. KEBIJAKAN B3
2. PANDUAN PENGELOLAAN B3
PANDUAN
PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA & BERACUN (B3)
MITRA KELUARGA TEGAL
1. Pendahuluan
limbah berbahaya dan sebagian lagi termasuk kategori infeksius. LimbaRumah sakit
dengan berbagai kegiatannya menghasilkan limbah yang saat ini mulai disadari dapat
menimbulkan gangguan kesehatan akibat bahan yang terkandung didalamnya dan menjadi
mata rantai penyebab penyakit, selain itu juga dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan
udara, air dan tanah.
Sampah rumah sakit dapat digolongkan berdasarkan jenis unit penghasil dan jenis
pengelolaannya, dan secara garis besar limbah rumah sakit digolongkan menjadi sampah
medis dan non medis.
Limbah medis Rumah Sakit termasuk ke dalam kategori limbah berbahaya dan beracun
yang sangat penting untuk dikelola secara benar. Sebagian limbah medis termasuk ke dalam
kategori limbah medis berbahaya yang berupa limbah kimiawi, limbah farmasi, logam berat,
limbah genotoxic dan wadah bertekanan masih banyak yang belum dikelola dengan baik.
Sedangkan limbah infeksius merupakan limbah yang bisa menjadi sumber penyebaran penyakit
baik kepada SDM Rumah Sakit, pasien, pengunjung/pengantar pasien ataupun masyarakat di
sekitar lingkungan Rumah Sakit. Limbah infeksius biasanya berupa jaringan tubuh pasien,
jarum suntik, darah, perban, biakan kultur, bahan atau perlengkapan yang bersentuhan dengan
penyakit menular atau media lainnya yang diperkirakan tercemari oleh penyakit pasien.
Pengelolaan lingkungan yang tidak tepat akan berisiko terhadap penularan penyakit. Beberapa
risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan akibat keberadaan rumah sakit antara lain: penyakit
menular.
Limbah non medis dihasilkan oleh ruang administrasi, ruang gizi, ruang diklat, dan lain-
lain.
Semua limbah tersebut harus dikelola dengan baik sehingga tidak membahayakan
manusia maupun lingkungan.
2. Pengertian
a. Limbah ada1ah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan;
b. Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, ada1ah sisa suatu usaha
dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena
sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk
hidup lain;
c. Pengelolaan limbah B3 ada1ah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi, penyimpanan,
pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan limbah B3;
d. Reduksi limbah B3 adalah suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi jumlah dan
mengurangi sifat bahaya dan racun limbah B3, sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan;
e. Penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan/atau kegiatannya menghasilkan limbah
B3;
f. Penyimpanan adalah kegiatan menyimpan limbah B3 yang dilakukan oleh penghasil
dan/atau pengumpul dan/atau pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah
B3 dengan maksud menyimpan sementara;
g. Pengumpulan limbah B3 adalah kegiatan mengumpulkan limbah B3 dari penghasil limbah
B3 dengan maksud menyimpan sementara sebelum diserahkan kepada pemanfaat
dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3;
h. Pengangkutan limbah B3 adalah suatu kegiatan pemindahan limbah B3 dari penghasil
dan/atau dari pengumpul dan/atau dari pemanfaat dan/ atau dari pengolah ke
pengumpul dan/atau ke pemanfaat dan/atau ke pengolah dan/atau ke penimbun limbah
B3;
i. Pemanfaatan limbah B3 adalah suatu kegiatan perolehan kembali (recovery) dan/atau
penggunaan kembali (reuse) dan/atau daur ulang (recycle) yang bertujuan untuk
mengubah limbah B3 menjadi suatu produk yang dapat digunakan dan harus juga aman
bagi lingkungan dan kesehatan manusia;
j. Pengolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah karakteristik dan komposisi limbah
B3 untuk menghilangkan dan/atau mengurangi sifat bahaya dan/atau sifat
racun;Penimbunan limbah B3 adalah suatu kegiatan menempatkan limbah B3 pada suatu
fasilitas penimbunan dengan maksud tidak membahayakan kesehatan manusia dan
lingkungan hidup.
3. Kebijakan
Kebijakan Manajemen Rumah Sakit Pluit untuk selalu memberikan prioritas yang
menyangkut Aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam semua kegiatan Rumah Sakit Pluit.
Garis besar kebijakan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
b. Rumah Sakit mendukung memberikan perlindungan pada seluruh orang dan benda
yang berada dalam lingkungan rumah sakit.
c. Setiap pengadaan bahan B3 harus mengupayakan Kesehatan dan Keselamatn Kerja
serta pencegahan pencemaran lingkungan.
d. Setiap pengendalian B3 harus harus mengupayakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
serta pencegahan pencemaran lingkungan.
e. Penanganan kecelakaan bahan kimia sesuai dengan prosedur bahan.
4. Tujuan
Panduan Pengelolaan limbah B3 bertujuan sebagai acuan untuk melaksanakan tindakan
yang dapat mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah
tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali.
Limbah benda tajam mempunyai potensi dan dapat menyebabkan cidera melalui
sobekan atau tusukan. Limbah benda tajam mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan
tubuh, bahan mikrobiologi dan beracun, bahan citotoksik atau radioaktif.
Secara umum jarum disposible tidak dipisahkan dari syringe atau perlengkapan lain
setelah digunakan. Cliping, bending atau breaking jarum-jarum untuk membuatnya tidak
biasa digunakan sangat disarankan karana menyebabkan accidental inoculation. Prosedur
tersebut dalam beberapa hal perlu diperhatikan kemungkinan dihasilkan aerosol.
Menutup jarum dengan kap dalam keadaan tertentu barangkali bisa diterima, misalnya
dalam penggunaan bahan radioaktif dan untuk pengumpulkan gas darah.
Limbah golongan ini ditempatkan dalam kontainer yang tahan tusukan dan diberi
label dengan benar untuk meghindari kemungkinkan cidera saat proses pengumpulan dan
pengangkatan limbah tersebut. Dan pada proses akhir dimusnahkan dengan incenerator.
b. Limbah infeksius
Limbah infeksius memiliki pengertian:
- Limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular
(perawat intensive)
- Limbah labotarium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik
dan ruang perawatan / isolasi penyakit menular.
- Limbah golongan ini ditempatkan dalam kantong kuning dan pada proses akhir
dimusnahkan dengan incenerator.
d. Limbah Citotoksik.
Limbah citotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi
dengan obat citotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik.
Untuk menghapus tumpahan yang tidak sengaja, perlu disediakan absorben yang tepat.
Bahan pembersih hendaknya selalu tersedia dalam ruang peracikan terapi citotoksik, bahan
yang cocok untuk itu, antara lain : sawdust, granula absorpsi, atau pembersih lainnya.
Limbah golongan ini ditempatkan dalam kantong kuning dan pada proses akhir
dimusnahkan dengan incenerator. Sedangkan limbah dengan kandungan obat citotoksik
rendah, seperti : tinja, urine, dan muntahan, bisa dibuang secara aman kedalam saluran air
kotor. Namun harus hati-hati dalam menangani limbah tersebut dan harus diencerkan
dengan benar
e. Limbah Farmasi
Limbah farmasi berasal dari:
- Obat-obatan kadaluarsa
- Obat-obatan yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau
kemasan yang terkontaminasi
- Obat-obatan yang dikembalikan oleh pasien atau dibuang oleh masyarakat
- Obat-obatan yang tidak diperlukan oleh institusi yang bersangkutan
- Limbah yang dihasilkan selama produksi obat –obatan
Metode pembuangan tergantung pada komposisi kimia limbah. Namun, prinsip-prinsip
berikut hendaknya dapat dijadikan pertimbangan. Limbah farmasi hendaknya diwadahi
kontainer non reaktif. Bilamana memungkinkan, cairan yang tidak mudah terbakar (larutan
antibiotik) hendaknya diserap dengan sawdust dikemas dengan kantong plastik dan di
bakar dengan incenerator.
Bila proses penguapan dilakukan untuk membuang limbah farmasi hendaknya dilakukan
ditempat terbuka jauh dari api, motor elektrik, atau intake conditioner .
Proses penguapan dilakukan dapat menimbulkan pecemaran udara karena itu metode ini
hendaknya hanya digunakan untuk limbah farmasi dengan sifat racun rendah. Bahan
ditempatkan dalam wadah non-reaktif yang mempunyai bidang permukaan luas.
Umumnya limbah farmasi harus dibuang melalui incenerator. secara umum, tidak
disarankan untuk membuangnya ke dalam saluran air kotor. Limbah dihasilkan dari
penggunaan kimia dalam tindakan medis, veterinary, laboratorium, proses sterilisasi dan
riset. Pembuangan limbah kimia kedalam saluran air kotor dapat menimbulkan korosi atau
berupa ledakan. Reklamasi dan daur ulang bahan kimia berbahaya dan beracun (B3) dapat
diupayakan bila secara tehnis dan ekonomis memungkinkan. Disarankan untuk
berkonsultasi dengan instansi berwenang untuk dapat petunjuk lebih lanjut.
Mercuri banyak digunakan dalam penyerapan restorasi amalgam. Limbah mercuri
amalgam tidak boleh dibakar dengan incenerator karena akan menghasilkan emisi yang
beracun. Terlepas dari produksi limbah kimia, prosedur pengamanan yang terpenting
(goodhousekeeping).
Disarankan untuk berkonsultasi dengan instansi berwenang untuk mendapat petunjuk
lebih lanjut.
f. Limbah Radioaktif
Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal
dari penggunaan medis dan riset radionucledida. Limbah ini dapat berasal dari antara lain :
tindakan kedokteran nuklir, radioimmunoassay dan bacteriologis (baik cair, padat maupun
gas ).
Hal-hal yang harus dipenuhi secara umum dalam penanganan dan pembuangan limbah
golongan ini adalah personil harus bertanggungjawab untuk penanganan yang aman,
penyimpanan dan pembuangan limbah radioaktif. Pejabat ini harus bertanggungjawab
untuk semua urusan pengamanan radioaktif dan mencari petunjuk, bila diperlukan unit
yang menghasilkan limbah radioaktif hendaknya menetapkan area khusus untuk
penyimpanan limbah radioaktif, yang harus dikemas dengan benar.
Tempat khusus tersebut hendaknya diamankan dan hanya digunakan untuk tujuan itu.
g. Limbah Plastik
Masalah yang ditimbulkan oleh limbah plastik adalah terutama karena jumlah
penggunaan yang meningkat secara cepat sering dengan menggunakan barang medis
disposible seperti syiring dan selang. Penggunaan plastik lain seperti pada tempat makanan,
kantong obat, peralatan, dll, juga memberi kontribusi meningkatnya jumlah limbah plastik.
Terhadap limbah ini barangkali perlu dilakukan tindakan tertentu sesuai dengan salah
satu golongan limbah diatas jika terkontaminasi bahan berbahaya.
Apabila pemisahan dilakukan dengan baik, bahan plastik terkontaminasi dapat dibuang
melalui pengangkutan sampah kota / umum.
Dalam pembuangan limbah plastik hendaknya memperhatikan aspek sebagai berikut :
- Pembakaran beberapa jenis plastik akan menghasilkan emisi udara yang berbahaya
misalnya pembakaran plastik yang mengandung PVC (Poly Vynil Chlorida) akan
menghasilkan hydrogen clorida, sementara itu pembakaran plastik yang mengandung
nitrogen seperti oksida nitrogen.
- Keseimbangan campuran antara limbah plastik dan non plastik untuk pembakaran
dengan incenerator akan membantu pencapaian pembakaran sempurna mengurangi
biaya operasi incenerator.
- Pembakaran terbuka sejumlah besar plastik tidak diperbolehkan karena akan
menghasilkan pemaparan pada operator dan masyarakat umum.
- Komposisi kimia limbah beracun sesuai dengan kemajuan tehnologi sehingga produk
racun potensial dari pembakaran mungkin juga berubah. Karena itu perlu dilakukan
updating dan peninjauan kembali strategi penanganan limbah plastik ini.
- Tampaknya limbah plastik yang dihasilkan dari unit pelayanan kesehatan akan
meningkat. Volume yang begitu besar memerlukan pertimbangan dalam pemisahan
sampah plastik setelah aman sebaiknya diupayakan daur ulang.
B. Penampungan
Sarana penampungan harus memadai, letak lokasi yang tepat, aman dan hygienis.
Standarisasi kantong pada limbah klinis dapat dilakukan dengan pembedaan warna
maupun dengan label, hal ini diperlukan agar menghindari kesalahan petugas dalam
pengelolaan.
Keseragaman standar kantong dan kontainer limbah mempunyai keuntungan sebagai
berikut :
1. Mengurangi biaya dan waktu pelatihan staf yang dimutasikan antar instansi/unit.
2. Meningkatkan keamanan secara umum, baik pada pekerjaan dilingkungan rumah
sakit maupun pada penanganan limbah diluar rumah sakit.
3. Pengurangan biaya produksi kantong dan konteiner
C. Pengangkut
Dalam strategi pembuangan limbah rumah sakit hendaknya memasukkan prosedur
pengangkutan limbah internal dan eksternal bila memungkinkan. Pengangkutan internal
biasanya berawal dari titik penampungan ke onsite incenerator dengan kereta dorong.
Peralatan tersebut harus diberi label dan dibersihkan secara reguler dan hanya digunakan
untuk mengangkut sampah. Setiap petugas hendaknya diberikan APD ( Alat Pelindung
Diri ) khusus.
Pengangkutan sampah klinik dan yang sejenis ketempat pembuangan diluar
memerlukan prosedur pelaksanaan yang tepat dan harus diikuti oleh seluruh petugas
yang terlibat. Prosedur tersebut harus memenuhi peraturan angkut lokal. Bila limbah
klinis dan yang sejenis diangkut dengan konteiner khusus, kuat dan tidak bocor. Konteiner
harus mudah ditangani dan harus mudah dibersihkan.
D. Pemusnahan
Incenerator digunakan untuk menjelaskan proses pembakaran yang dilaksanakan
dalam ruang ganda incenerator yang mempunyai mekanisme pemantauan secara ketat
dan pengendalian parameter pembakaran. Limbah yang combustible dapat dibakar bila
incenerator tepat tersedia, bila tidak akan merusak dinding ruang incenerator. Residu dari
incenerator / abu biasa dibuang langsung ke landfill, namun tidak untuk residu yang
mengandung logam berat.
Referensi :
1. Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah dan Bahan
Berbahaya dan Beracun
2. Buku Pedoman Keselamatan, Kesehatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana (K3B)
RS Pluit tahun 2002
E. PENGORGANISASIAN
PEDOMAN PENGORGANISASIAN
RADIOLOGI [Link] KELUARGA TEGAL
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pengorganisasian tugas dan wewenang jabatan dalam Unit Radiologi Diagnostik Imaging,
merupakan salah satu unit penunjang medis, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari
sistem organisasi rumah sakit dan berada di bawah struktura jabatan Penunjang Medis .
Proses pengorganisasian struktur dan wewenang jabatan di Unit Radiologi dilakukan
dengan tujuan untuk memudahkan didalam pendelegasian tugas, wewenang dan pengontrolan
kinerja di Unit Radiologi dan selain itu juga akan menggambarkan identitas Unit Radiologi itu
sendiri. Namun, selain proses pengorganisasian struktur dan wewenang jabatan maka uraian
tugas, tata hubungan kerja dan metode pelaopran juga merupakan hal yang harus dilakukan,
karena dengan uraian tugas, tata hubungan kerja dan metode pelaporan yang jelas sehingga
akan dihasilkan suatu sistem pelayanan yang sistematis.
2. Ruang Lingkup
a. Pengorganisasian Pelayanan Unit Radiologi Diagnostik Imaging
1) Tata hubungan kerja
2) Metode Pelaporan
b. Uraian tugas dan Tanggung jawab
1) Pendelegasian wewenang
2) Uraian tugas dan tanggung jawab
3. Tujuan
a. Tujuan Umum
1) Menggambarkan identitas Unit Radiologi Diagnostik Imaging
2) Terwujudnya suatu pelayanan yang sistematis, akurat, efisien dan efektif
3) Meningkatkan mutu pelayanan Unit Radiologi Diagnostik Imaging
b. Tujuan Khusus
1) Memudahkan didalam pendelegasian tugas
2) Memudahkan pengontrlan kinerja di Unit Radiologi
3) Menetapkan tugas, wewenang dan tanggung jawab Unit Radiologi
4. Landasan Hukum
Pedoman Pengorganisasan di Unit Radiologi dibuat dengan merujuk kepada peraturan
Perundang-Undangan yang berlaku sperti :
a. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor : 129/MENKES/SK/II/2008
tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
b. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor : 780/MENKES/PER/2008 tentang
Penyelenggaraan Pelayanan Radiologi
c. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor : 1014/MENKES/SK/XI/2008
tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik disarana Pelayanan Kesehatan
d. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor : 1295/MENKES/PER/XII/2007
tentang Orgaisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan RI
BAB II
GAMBARAN UMUM [Link] KELUARGA TEGAL
RS Mitra Keluarga Tegal merupakan salah satu Rumah Sakit yang tergabung dalam RS Mitra
Keluarga Group yang sampai saat ini telah memiliki 12 (dua belas) RS yang tersebar di beberapa
Kota dan sebagian besar berada di Kota Jakarta, yaitu:
1. RS Mitra Keluarga Bekasi
2. RS Mitra Keluarga Kemayoran
3. RS Mitra Keluarga Kelapa Gading
4. RS Mitra Keluarga Surabaya
5. RS Mitra Keluarga Bekasi Timur
6. RS Mitra Keluarga Depok
7. RS Mitra Keluarga Tegal
8. RS Mitra Keluarga Waru,Sidoarjo
9. RS Mitra Keluarga Cikarang
10. RS Mitra Keluarga Cibubur
11. RS Mitra Keluarga Kenjeran
12. RS Mitra Keluarga Kalideres
RS Mitra Keluarga Tegal sendiri merupakan RS ke-7 yang beroperasi sejak tanggal 5 Februari
2009 dan beralamat di Jl. Sipelem No. 4 Kemandungan, Tegal Barat, Kota Tegal. Didirikan di atas
lahan tanah seluas ± 9,525 m², dengan luas bangunan 12,264 m² sebagai RS Tipe C Non
Spesialisasi. RS Mitra Keluarga memberikan pelayanan rawat inap dilengkapi dengan kamar
bedah, serta pelayanan rawat jalan berikut penunjang diagnostik, dan layanan penunjang lainnya.
Pelayanan unggulan RS Mitra Keluarga Tegal adalah pelayanan Endoskopi, Laparascopy,
Klinik Nyeri, Persalinan normal dengan minimal rasa nyeri menggunakan metode ILA, dan CT
Scan.
Untuk pelayanan jantung RS menyediakan pelayanan terapi dan tindakan penunjang yang
meliputi Treadmill, dan Echocardiografi.
BAB III
VISI, MISI, MOTTO DAN TUJUAN
RUMAH SAKIT MITRA KELUARGA TEGAL
A. VISI
Kami ingin menjadi penyedia pelayanan kesehatan terdepan yang berfokus pada
pelanggan
B. MISI
Kami berkomitmen untuk mengoptimalkan kualitas hidup orang banyak dengan pelayanan
yang penuh kasih sayang, terpercaya dan fokus pada pelanggan
1. Carring
Dalam memberikan pelayanan RS Mitra Keluarga Tegal, setiap karyawan harus bersikap
peduli dan penuh kasih sayang yang tercermin dalam tindakan fokus, bekerja dengan
hati, empati dan menolong,
2. Respect
Dalam pelayanan pelayanan RS Mitra Keluarga Tegal, setiap karyawan dan pimpinan
harus bersikap saling menghargai harkat dan martabat, ikhlas dan tanpa pamrih dengan
bersikap sopan santun, menghargai dan hormat.
3. Excellence
Dalam memberikan pelayanan, semua karyawan memiliki sikap kerja yang terbaik untuk
mencapai hasil yang unggul dan bermutu tinggi dengan bersikap profesional, cepat tepat
dan konsisten serta berkesinambungan
4. Innovative
Dalam memberikan pelayanan, semua karyawan berperan mencari ide, konsep, metode
yang terbaru dan masa kini dengan sikap continous learning dan pemanfaatan IT
5. Teamwork
Dalam memberikan pelayanan, semua karyawan wajib memiliki sikap teamwork, berkolaborasi
mencapai visi perusahaan dengan memiliki inisiatif, menuntaskan pekerjaan, berpartisipasi
dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.
D. TUJUAN
Tujuan Umum :
Memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan uang terbaik bagi masyarakat.
Tujuan Khusus :
1. Memberikan pelayanan yang paripurna meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif sesuai dengan SPO (Standar Prosedur Operasional ) dan peraturan yang
berlaku
2. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pelayanan disemua bidang secara terus
menerus
3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dengan cara mengirim tenaga medis,paramedis dan tenaga
non keperawatan kedalam / luar negeri untuk pelatihan guna meningkatkan kualitas
pelayanan
4. Mewujudkan keinginan pelanggan internal maupun eksternal untuk memperoleh tingkat
kepuasan secara optimal
5. Menjadi karyawan sebagai mitra kerja rumah sakit serta selalu memperhatikan
kesejahteraannya
6. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang memperhatikan keselamatan pasien dan
keluarga serta petugas rumah sakit.
BAB IV
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT
A. STRUKTUR ORGANISASI
Sesuai dengan SK Direktur No 013/SK-DIR/MK-TGL/II/2016, telah ditetapkan Struktur
Organisasi RS Mitra Keluarga Tegal sebagai berikut : (terlampir)
BAB V
STRUKTUR ORGANISASI RADIOLOGI
Manager Penunjang
Medis
Koordinator Radiologi
Staf Penanggung
Jawab Shif
Keterangan :
: Garis Komando
Ditetapkan di : Tegal
Pada Tanggal : 16 Februari 2016
BAB IV
URAIAN JABATAN
B. KOORDINATOR RADIOLOGI
Uraian Tugas
A. Membuat SOP ( standar operational prosedur)
1. Menyusun dan mengevaluasi secara berkala SOP tindak medik radiodiagnostik,
imejing diagnostik dan radiologi intervensional serta melakukan revisi bila perlu.
2. Melaksanakan dan mengevaluasi tindak radiodiagnostik, imejing diagnostik dan
radiologi intervensional sesuai yang telah ditetapkan dalam SOP.
B. Melakukan pemeriksaan radiologi khusus.
1 Melaksanakan pemeriksaan dengan kontras dan fluroskopi bersama dengan
radiografer. Khusus pemeriksaan yang memerlukan penyuntikan intravena,
dikerjakan oleh dokter spesialis radiologi atau dokter lain/tenaga kesehatan yang
mendapat pendelegasian
2 Menjelaskan dan menandatangani informed consent / izin tindakan medik kepada
pasien atau keluarga pasien.
3 Menginstruksikan ke radiografer alat apa saja yang akan digunakan dalam
tindakan.
C. Melakukan pembacaan terhadap hasil pemeriksaan radiodiagnostik, imejing diagnostik
dan tindakan radiologi intervensional
D. Mengoperasikan program RIS (Radiology Information System) dan PAC
1 Dapat mengoprasikan RS untuk mengisi hasil radiologi.
2 Dapat menggunkan keystone agar radiologi berjalan dengan lancar.
E. Membuat Jadwal dinas dokter
Melakukan pengaturan jadwal dinas, jadwal oncall dokter spesialis radiologi dalam
satu bulan.
F. Menjaga aspek keselamatan pasien
1. Menjamin pelaksanaan seluruh aspek proteksi radiasi terhadap pasien.
2. Melaksanakan teleradiologi dan konsultasi radiodiagnostik, imejing diagnostik dan
radiologi intervensional sesuai kebutuhan.
3. Memberikan layanan konsultasi terhadap pemeriksaan yang akan dilaksanakan
G. Melaksankan pengawasan kepada kualitas mutu pelayanan radiologi.
C. PJ SHIFT
Uraian Tugas
A. Melakukan Pemeriksaan radiologi
1. Mengidentifikasi pasien
2. Mempersiapkan pasien
3. Mempersiapkan obat obatan yang digunakan pada saat melakukan foto.
4. Mempersiapakan alat yang akan digunakan pada proses melakukan foto.
5. Memposisikan pasien sesuai dengan teknik pemeriksaan
6. Mengoperasi peralatan radiologi sesuai dengan SPO, khusus untuk pemeriksaan
yang menggunakan kontras dan flaouroscopi dikerjakan bersama dokter spesialis
radiologi.
7. Memberikan proteksi terhadap pasien, diri sendiri dan masyarakat disekitar ruang
sinar X.
B. Verifikasi dan identifikasi pemeriksaan.
1. Menerima dan melakukan verifikasi terhadap surat permintaan radiologi
2. Melakukan identifikasi pasien terhadap identitas pasien, persiapan pasien, dan
perjanjian pasien.
C. Melakukan persiapan alat dan bahan pemeriksaan radiologi.
1. Mempersiapkan pasien sebelum tindakan pemeriksaan.
2. Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan radiologi
kontras meliputi obat kontras, intra vena line.
3. Mengkonsultasikan hasil pengkajian pasien ke dokter radiologi sebelum tindakan
kontras dilakukan.
D. Menjaga kerapian, kebersihan serta peraturan ruang radiologi
1. Mengontrol kerapihan dan kebersihan
2. Membuat check list harian setiap suhu ruangan .
3. Merawat dan memelihara alat pemeriksaan radiologi secara rutin.
E. Melaksanakan pelatihan internal radiologi khususnya untuk alat abaru.
F. Mengoperasikan program RIS (Radiology Information System) dan mengoperasikan HIS
(Hospital Information System)
1. Mengoperasikan program HIS (Hospital Information System) untuk pendafaran
pasien umum non asurans dan pasien rawat inap.
2. Mengoperasikan program HIS (Hospital Information System) untuk memasukan data
laundry kotor dan laundry bersih.
3. Memasukan data pasien dalam program RIS ( radiology Information System) dan
mencetak lebel untuk amplop dan lebel untuk CD
4. Menerima perjanjian baik secara langsung maupun melalui telepon
5. Memastikan jenis pemeriksaan dan memberitahu persiapan yang akan dilakukan
apabila ada.
6. Menjadwalkan pemeriksaan dan mencatat dibuku perjanjian.
7. Melakukan konfirmasi kepada pasien apabila ada perubahan jadwal.
8. Menginput pemakaian obat kontras ke program RIS (Radiology Information
Sysytem)
G. Pencetakan foto, pembuatan CD, Dan penyambungan foto untuk LLI
1. Melengkapi data pasien dalam CR
2. Melakukan proses pencetakan foto pada CR ataupun AW
3. Melakukan pembuatan CD sesuai dengan nama pasien yang akan diperiksa.
H. Melakukan peyambungan foto untuk foto LLI.
D. PETUGAS PPR
Uraian Tugas
A. Membuat program proteksi radiasi
1. Membuat program Proteksi dan Keselamatan Radiasi
2. Memantau aspek operasional program Proteksi dan Keselamatan Radiasi.
3. Memberikan konsultasi yang terkait dengan Proteksi dan Keselamatan Radiasi
B. Melakukan pengecekan secara berkala
1. Memelihara Rekaman.
2. Berpartisipasi dalam mendesain fasilitas Radiologi.
3. Meninjau secara sistematik dan periodik, program pemantauan di semua tempat di
mana Pesawat Sinar-X digunakan.
4. Memastikan ketersediaan dan kelayakan perlengkapan Proteksi Radiasi, dan
memantau pemakaiannya
C. Melakukan Pelatihan
1. Melaksanakan latihan penanggulangan dan pencarian keterangan dalam hal
kedaruratan
2. Mengidentifikasi kebutuhan dan mengorganisasi kegiatan pelatihan
D. Melaporkan kepemegang izin
1. Melaporkan kepada Pemegang Izin setiap kejadian kegagalan operasi yang
berpotensi kecelakaan Radiasi.
2. Menyiapkan laporan tertulis mengenai pelaksanaan program Proteksi dan
Keselamatan Radiasi, dan verifikasi keselamatan yang diketahui oleh Pemegang Izin
untuk dilaporkan kepada Kepala BAPETEN.
E. PETUGAS ADMINISTRASI
Uraian Tugas
A. Menerima, verifikasi, identifikasi dan memasukkan data permintaan pemeriksaan
1. Menerima permintaan pemeriksaan dari pasien.
2. Melakukan verifikasi terhadap permintaan pemeriksaan
3. Melakukan identifikasi pasien terhadap identitas pasien, persiapan pasien, dan
perjanjian pasien
4. Memasukkan data pasien ke program RIS (Radiology Information System) sesuai
nama dan jenis pemeriksaan serta mencetak label amplop dan CD.
B. Menerima dan mencatat perjanjian pemeriksaan.
1. Menerima perjanjian pasien baik secara langsung maupun melalui telepon.
2. Memastikan jenis pemeriksaan dan memberitahu persiapan yang harus dilakukan
apabila ada.
3. Menjadwalkan pemeriksaan dan mencatatnya di buku perjanjian.
4. Menkonfirmasi pasien apabila ada perubahan jadwal.
C. Mengoperasikan program RIS (Radiology Information System) dan (Hospital Information
System)
1. Mengoperasikan program RIS untuk data pasien, cetak label, pembuatan laporan,
dll.
2. Mengoperasikan program HIS untuk pendafaran pasien umum non asuransi dan
rawat inap.
3. Mengoperasikan program HIS untuk memasukkan data laundry kotor dan bersih.
D. Mempersiapkan pasien USG
1. Melakukan persiapan pasien apabila perawat dan radiografer sedang ada
pemeriksaan lain.
2. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan unuk pemeriksaan USG
3. Melakukan verifikasi dan identifikasi pasien serta surat permintaan USG
4. Memposisikan pasien sesuai dengan jenis pemeriksaan USG yang dilakukan.
5. Mendampingi dokter spesialis radiologi dalam melakukan pemeriksaan USG.
6. Membersihkan sisa jelly USG di tubuh pasien setelah pemeriksaan selesai dilakukan.
E. Melaksanakan kontrol mutu dengan pengecekan identitas pasien pada foto, label
amplop, label CD, dan hasil ekspertise.
1. Merapihkan foto-foto yang sudah dibaca oleh dokter radiologi
2. Memeriksa kembali identitas pasien pada foto, label amplop, label CD dan hasil
ekspertise.
3. Menyusun foto-foto yang sudah dirapihkan sesuai asal pasien dan jenis
pemeriksaan.
4. Memberi hasil foto baik rawat jalan maupun rawat ianp dan mencatatnya di buku.
5. Memberi hasi foto yang belum ada hasil ekspertise (foto basah) dan mencatatnya di
buku.
6. Memeriksa, mengecek foto-foto yang akan dibaca oleh dokter.
7. Memeriksa box operan apakah ada foto yang akan dibaca oleh dokter.
8. Menyusun dan merapikan hasil foto secara berurutan berdasarkan tanggal pada box
penyimpanan hasil.
9. Merapikan foto dan hasil yang sudah lewat dari 2 bulan untuk disimpan digudang
dan menyerahkan pada housekepping.
F. Mengumpulkan struk pembayaran dan formulir pemeriksaan radiologi.
1. Mengumpulkan struk pembayaran radiologi dan menyerahkannya ke masing-
masing dokter radiologi.
2. Melaporkan ke bagian keuangan mengenai pergantian struk pembayaran radiologi
apabila ada pergantian dokter radiologi yang membaca foto.
3. Merapikan formulir pemeriksaan berdasarkan jenis pemeriksaan dan disusun secara
berurutan pada binder yang telah ditentukan.
G. Membuat laporan administrasi radiologi
1. Membuat laporan jumlah pasien bulanan radiologi
2. Menuliskan jumlah pasien konvensional / X-Ray di buku harian konvensional
radiologi.
3. Mengumpulkan dan membuat data indikator mutu angka kepuasan pelanggan
radiologi.
F. STAF RADIOGRAFER
Uraian Tugas
E. Persiapan alat dan bahan serta melakukan tindakan pemeriksaan radiologi kontras atau
dengan anastesi.
1. Mempersiapkan pasien sebelum tindakan pemeriksaan radiologi kontras.
2. Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan radiologi kontras
meliputi obat kontras, intra vena line, monitor EKG dan obat-obat lain yang dibutuhkan
untuk pemeriksaan radiologi kontras.
3. Mempersiapkan alat injector untuk pemeriksaan CT Scan dengan kontras.
4. Mengkonsultasikan hasil pengkajian pasien ke dokter radiologi sebelum tindakan kontras
dilakukan.
5. Mempersiapkan pasien serta alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan radiologi
dengan anastesi.
BAB VII
TATA HUBUNGAN KERJA
A. KEPALA INSTALASI RADIOLOGI
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Radiografer Membuat film yang akan dibaca oleh doketr spesialis
Dokter spesialis ataupun Koordinasi mengenai surat pengantar dari dokter pengirim .
dokter umum
Admistrasi Mengatur waktu untuk tindakaan USG
Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Rawat inap Koordinasi tentang pasien yang akan dilakukan tindakan foto atau
pun rontgen
Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
- -
B. KOORDINATOR RADIOLOGI
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Radiografer Membuat film yang akan dibaca oleh doketr spesialis
Dokter spesialis ataupun dokter Koordinasi mengenai surat pengantar dari dokter
umum pengirim .
Admistrasi Mengatur waktu untuk tindakaan USG
Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Rawat inap Koordinasi tentang pasien yang akan dilakukan tindakan
foto atau pun rontgen
Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
- -
C. PJ SHIFT
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Radiografer Koordinasi dengan radiografer dalam pemeriksaan radiologi kontras
Administrasi Berkoordinasi dengan petugas administrasi dalam pendafaran dan riwayat
hasil radiologi pasien.
Laboratorium Koordinasi hasil pemeriksaan darah fungsi ginjal pasien (Ureum dan
Creatinin)
Farmasi Melakukan permintaan dan pengambilan alat kesehatan dan obat radiologi
Dokter radiologi Koordinasi dengan dokter radiologi dalam pengerjaan pemeriksaan radiologi
kontras
Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Keperawatan 1. Berkoordinasi mengenai persiapan yang akan dan telah
dilakukan pasien sesuai jenis pemeriksaan
2. Menanyakan kondisi, diagnosa atau keterangan klinis, obat yang
di konsumsi , tindakan yang dilakukan pada pasien.
Laundry Koordinasi dalam melakukan penukaran baju kotor maupun baju
bersih.
CSSd Koordinasi dalam melakukan sterilisasi alat kesehatan radiologi
Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
N/A -
Internal Departemen
Lintas Departemen
Bagian & Posisi Hubungan
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Kerja
Radiografer
Ruang Operasi Mengontrol
Koordinasitentang pemakaiansetiap
penggunaan TLD TLD hari
Laboratorium
Endoscopy Koordinasi
Koordinasi hasil pemeriksaan
tentang pemakaiandarah
TLD setiap 6 bulan sekali untuk
keselamatan pekerja
K3 Melaporkan Luar
kepada bagian K3 apabila ada kecelakaan Radiasi
Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
Batan Melaporkan keBatan untuk pengecekan TLD pertiga bualan
Bapeten Membuat izin baru atau memperpanjang izin untuk alat yang
menggunakan sinar X dinabian radiologi.
E. STAF ADMINISTRASI
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Radiografer Berkoordinasi dengan radiografer mengenai pemeriksaan pasien.
Perawat Berkoordinasi dengan perawat mengenai riwayat pasien USG.
Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Keperawatan 1. Berkoordinasi mengenai persiapan yang harus dilakukan
pasien sebelum pemeriksaan apabila ada.
2. Menanyakan kondisi, diagnosa atau keterangan klinis, riwayat
pasien pada saat perjanjian maupun sebelum pemeriksaan.
Rekam medis Berkoordinasi mengenai pengambilan ekspertise pasien dengan
asuransi.
Counter Rawat Inap 1. Berkoordinasi mengenai pendafaran pasien dengan asuransi.
2. Berkoordinasi mengenai jumlah struk dan pembayaran pasien.
Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
N/A -
F. STAF RADIOGRAFER
Internal Departemen
Bagian & Posisi Hubungan Kerja
Perawat Koordinasi dengan perawat dalam pemeriksaan radiologi kontras
Administrasi Berkoordinasi dengan petugas administrasi dalam pendafaran dan
riwayat hasil radiologi pasien.
Laboratorium Koordinasi hasil pemeriksaan darah fungsi ginjal pasien (Ureum dan
Creatinin)
Farmasi Melakukan permintaan dan pengambilan alat kesehatan dan obat
radiologi
Dokter radiologi Koordinasi dengan dokter radiologi dalam pengerjaan pemeriksaan
radiologi kontras
Dokter Spesialis Koordinasi dengan dokter spesialis untuk surat pengantar.
Lintas Departemen
Departemen / Unit Kerja Hubungan Kerja
Keperawatan 1. Berkoordinasi mengenai persiapan yang akan dan telah
dilakukan pasien sesuai jenis pemeriksaan
2. Menanyakan kondisi, diagnosa atau keterangan klinis, obat yang
di konsumsi , tindakan yang dilakukan pada pasien.
Laundry Koordinasi dalam melakukan penukaran baju kotor maupun baju
bersih.
Counter Rawat Inap Koordinasi dalam melakukan pembayaran pasien
[Link] dalam melakukan pembayaran pasien
radiologi.
Gizi Meminta snack untuk pasien radiologi yang melakukan tindakan
radiologi apabila pasien tersebut puasa.
Luar Perusahaan
Perusahaan / Instansi Hubungan Kerja
Batan (Badan tenaga Mengeluarakan hasil dosis Radiasi yang diterima radiogerfer.
atom dan nuklier)
BPFK Mengeluarkan sertifikat kalibrasi untuk alat yang yang
menggunakan sunmebr sinar X dibagian radiologi
BAPETEN Mengeluarkan surat izin penggunaan alat Yang menggunakan
sumber sinar X
BAB VIII
POLA KETENAGAAN DAN KUALIFIKASI
A. POLA KETENAGAAN
Radiologi RSMKT merupakan unit penunjang yang memberikan pelayanan terus menerus
selama 24 jam, terdiri dari 3 shif. Oleh karena itu agar pelayanan berjalan dengan lancar maka
dibuatlah dafar ketenagaan untuk setiap shifnya.
Kriteria perhitungan tenaga kerja di unir radiologi RSMKT berdasarkan analisa
kebutuhan beban kerja, yaitu :
a. Jumlah waktu uraian kerja = dalam satuan menit
b. Jumlah kelelahan pribadi ( 10% x waktu kerja ) = dalam satuan menit
c. Volume beban kerja = jumlah pasien dalam 1 bulan / hari kerja
d. Jam kerja perhari ( 24 jam ) = diubah dalam satuan menit
2. KOORDINATOR RADIOLOGI
Pendidikan Formal
1. Pendidikan dokter spesialis radiologi
2. Mempunyai STR
3. Mempuyai surat izin praktek (SIP)
Pendidikan Informal
-
Pengalaman Kerja
Mempunyai pengalaman kerja sebagai dokter radiologi minimal 5 tahun
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Memiliki kemampuan bahasa ingris secara aktif baik lisan atau tulisan.
2. Memiliki Kemampuan menggunakan alat USG
Persyaratan Fisik
1. Jenis Kelamin : L/P
2. Umur : minimal 20 th, maksimal 35 th
3. Tidak buta warna
4. Sehat jasmani dan rohani.
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Tingkat ketelitian tinggi
3. Tanggap dan inisiatif
4. Tidak pernah terlibat narkoba.
3. PJ SHIFT
Pendidikan Formal
D3 Akedemi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO)
Mempunyai STR
Mempunyai SIKR Radiografer
Pendidikan Informal
-
Pengalaman Kerja
Pengalaman min 2 tahun di bidang CT Scan
Fresh Graduated
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Menguasai skill komputer dasar (Word, Excel, Powerpoint)
2. Memahami teknik pemeriksaan alat konvensional
3. Memiliki kemampuan bahasa inggris minimal pasif
Persyaratan Fisik
1. Jenis kelamin pria / wanita
2. Usia maksimal 35 tahun.
3. Sehat jasmani dan rohani.
4. Tidak buta warna
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Taraf kecerdasan umum rata-rata baik.
3. Menyukai Pekerjaan di bidang pelayanan
4. Tingkat ketelitian tinggi.
5. Tanggap, inisiatif, dan kreatif
6. Integritas, Tanggung jawab dan berkomitmen tinggi
5. STAF ADMINISTRASI
Pendidikan Formal
SMU atau sederajat
Pendidikan Informal
-
Pengalaman Kerja
Fresh Graduated
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Menguasai skill komputer dasar (Word, Excel, Powerpoint)
2. Memiliki kemampuan bahasa inggris minimal pasif
3. Menguasai teknik pengarsipan
Persyaratan Fisik
1. Jenis kelamin pria / wanita
2. Usia maksimal 35 tahun.
3. Sehat jasmani dan rohani.
4. Tidak buta warna.
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Taraf kecerdasan umum rata-rata baik.
3. Menyukai Pekerjaan di bidang pelayanan
4. Tingkat ketelitian tinggi.
5. Tanggap, inisiatif, dan kreatif
6. Integritas, Tanggung jawab dan berkomitmen tinggi
6. PETUGAS RADIOGRAFER
Pendidikan Formal
D3 Akedemi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO)
Mempunyai STR
Mempunyai SIKR Radiografer
Pendidikan Informal
-
Pengalaman Kerja
Pengalaman min 1 tahun di bidang radiografer
Fresh Graduated
Pengetahuan dan Keterampilan
1. Menguasai skill komputer dasar (Word, Excel, Powerpoint)
2. Memahami teknik pemeriksaan radiologi
3. Memiliki kemampuan bahasa inggris minimal pasif
4. Memiliki kemampuan pengarsipan data.
Persyaratan Fisik
1. Jenis kelamin pria / wanita
2. Usia maksimal 35 tahun.
3. Sehat jasmani dan rohani.
4. Tidak buta warna.
Persyaratan Psikologis
1. Tidak tersangkut masalah hukum
2. Taraf kecerdasan umum rata-rata baik.
3. Menyukai Pekerjaan di bidang pelayanan
4. Tingkat ketelitian tinggi.
5. Tanggap, inisiatif, dan kreatif
6. Integritas, Tanggung jawab dan berkomitmen tinggi
PENGATURAN JAGA
Radiologi [Link] Keluarga Tegal memberikan pelayanan secara terus menerus selama 24 jam dan
terbagi dalam 3 shif.
1. Hari Kerja
3. Hari Libur
BAB IX
KEGIATAN ORIENTASI
A. PENDAHULUAN
Radiologi RS Mitra Keluarga Tegal merupakan sebuah unit kerja yang tentunya
mempunyai sarana, prasarana, prosedur kerja dan hal-hal lain yang harus diketahui oleh setiap
petugas yang bekerja di unit radiologi. Oleh karena itu , semua calon karyawan radiologi
seperti tenaga administrasi dan tenaga radiografer sebelum bekerja di unit radiologi harus
melalui tahapan orientasi, yang mana waktu pelaksanaannya selama dua minggu. Dalam
orientasi ini mereka mendapatkan pengenalan / pengetahuan tentang radiologi dimana
mereka akan bekerja. Untuk itu, dibuat program orientasi bagi calon karyawan yang
bersangkutan.
B. TUJUAN
1. Karyawan baru dapat memahami Misi,Visi dan Tujuan bagian radiologi dan [Link]
Keluarga Tegal.
2. Karyawan baru mengetahui dan memahami peraturan dan kebijakan [Link] Keluarga
Tegal.
3. Karyawan baru mengetahui sarana dan prasarana yang dimiliki bagian radiologi [Link]
Keluarga Tegal.
4. Karyawan baru mengetahui dan memahami prosedur kerja dalam memberikan
pelayanan radiologi dan hubungan kerja antara radiologi dengan bagian lain di dalam
maupun di luar [Link] Keluarga Tegal.
C. MATERI
Materi orientasi bagian radiologi tertulis dalam program orientasi staff radiologi sebagai
berikut :
1. Visi, Misi, Tujuan dan Kebijakan Mutu [Link] Keluarga Tegal.
2. Misi, Visi dan Tujuan bagian radiologi
3. Peraturan Perusahaan.
4. Hubungan antara pelayanan radiologi dengan unit lain
5. Fasilitas dan kemampuan rumah sakit.
6. Sistem penilaian dan kesejahteraan karyawan ( Hak dan kewajiban karyawan ).
7. SPO radiologi dan uraian tugas
8. Evaluasi & Praktek.
E. METODE
1. Pemberian materi
2. Diskusi dan Praktek lapangan.
F. EVALUASI
1. Pada akhir masa orientasi diadakan tes tertulis mengenai apa yang telah didapat selama
orientasi
2. Hasil penilaian ditulis dalam formulir penialaian orientasi dan dimintakan persetujuan
Manajer Penunjang Medis kemudian diserahkan kebagian HRD.
BAB X
PERTEMUAN / RAPAT
1. Pengertian
Pertemuan atau rapat merupakan suatu wadah pertemuan bersama dengan suatu tujuan
untuk evaluasi bersama, menyelesaikan atau mencari solusi bersama mengenai permasalahan
atau perencanaan yang dihadapi.
2. Tujuan Rapat
a. Untuk memecahkan / mencari jalan keluar suatu masalah
b. Untuk menyampaikan informasi, perintah atau peringatan
c. Sebagai alat koordinasi antar intern atau ekstern
d. Agar peserta rapat dapat ikut berpartisipasi dalam masalah-masalah yang sedang terjadi
e. Mempersiapkan suatu acara atau kegiatan
f. Menampung semua permasalahan dari para peserta
g. Keluhan dari pelanggan baik internal maupun ekternal
BAB XI
PELAPORAN
1. Pengertian
Pelaporan merupakan proses komunikasi penyampaian informasi, kondisi, dan
pertanggung-jawaban terhadap suatu proses kerja dan pelayanan kepada pihak struktural
jabatan diatasnya, bentuk pelaporan itu sendiri dapat berupa lisan ataupun tulisan. Pelaporan
merupakan hal yang penting, karena dengan bentuk pelaporan yang lengkap, akurat , tepat dan
informatif maka dapat meggambarkan kualitas pelayanan Unit Radiologi yang sesungguhnya.
2. Jenis Pelaporan
a. Laporan Harian ,meliputi :
Laporan operan shif bagian tekhnik per shif
b. Laporan Bulana, meliputi :
1) Laporan jumlah pemeriksaan radiologi per bulan
2) Laporan pemakaian film per bulan
3) Laporan sasaran mutu per bulan
4) Laporan jumlah pasien per bulan
5) Laporan stok opname radiologi per 3 bulan
6) Laporan total pembelian barang dan reagensia radiologi per bulan
7) Laporan absensi dan lembur per bulan
8) Laporan dokter pemeriksa USG cyto per bulan
9) Laporan dokter luar yang mengirim pemeriksaan ke radiologi [Link] Keluarga Tegal
per bulan
c. Laporan Tahunan, meliputi :
1) Berita acara stok opname tahunan.
2) Laporan Penilaian Kinerja Karyawan
Thorax Pneumothorax
Efusi Pleura masif
1. Pneumoperitoneum
False route device ( ETT, CVC, NGT,
dsb )
1. Metode pelaporan
2. Prosedur menetapkan oleh siapa dan kepada siapa hasil yang kritis dari pemeriksaan diag-
nostik harus dilaporkan
3. Prosedur menetapkan apa yang dicatat di dalam rekam medis pasien
4. Proses pelaporan hasil kritis dimonitoring
2. Peralatan kantor
a. Petugas logistik umum melakukan cek list peralatan kantor di
radiologi, kemudian menulis sisa barang pada formulir permintaan
barang
b. Petugas radiologi mengecek formulir permintaan barang tersebut jika
sudah sesuai maka formulir permintaan barang ditandatangani
c. Petugas logistik umum segera memenuhi kebutuhan barang sesuai
yang tercatat dalam form permintaan barang
d. Apabila barang yang dibutuhkan telah tersedia maka petugas logistik
umum menghubungi petugas radiologi untuk mengambil barang di
gudang umum
e. Petugas radiologi mengecek barang yang diterima dengan kebutuhan
barang yang diminta sesuai yang tercatat dalam form permintaan
barang .
f. Petugas radiologi menandatangani form serah terima barang dengan
bagian logistik umum.
Catatan : Jadwal cek list dan pengambilan barang umum ditentukan oleh
logistik umum.
3. Linen
a. Petugas radiologi meletakkan linen yang kotor di keranjang
b. Petugas linen mengambil linen yang kotor untuk diloundry,
pengambilan dilakukan pada pagi hari atau pada saat petugas
radiologi membutuhkan linen yang bersih
c. Petugas linen mengganti dengan linen yang bersih sesuai dengan
linen yang kotor
d. Petugas radiologi meletakkan kembali linen yang bersih di loker linen.
H. REAGENSIA
1. Penetapan X-ray film, reagensia dan semua perbekalan penting ([Link].5, EP 1) yang
digunakan
2. Panduan penyimpanan dan distribusi reagensia sesuai ketentuan / instruksi pada kemasannya
([Link].5, EP 2).
3. Evaluasi reagen agar memberikan hasil yang akurat dan presisi
4. Semua perbekalan diberi label secara lengkap dan akurat ([Link].5, EP 7).
PERMINTAAN PEMERIKSAAN
1. SPO permintaan pemeriksaan radiologi
2. Pelaporan hasil pemeriksaan
SPO PERMINTAAN PELAYANAN PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Rawat Inap
1. Petugas Radiologi menghubungi ruang keperawatan memberitahukan
bahwa foto sudah ada hasil
2. Perawat dari ruang keperawatan tempat pasien dirawat mengambil foto
dengan ekspertise nya
3. Petugas Radiologi mencatat di buku pengambilan foto sudah ada hasil,
nama pasien, no. Struk, asal pasien, jenis pemeriksaan
4. Perawat menerima, menandatangani dan memberi nama pada buku
pengambilan foto sudah ada hasil
5. Petugas radiologi yang memberikan menulis namanya di buku
pengambilan foto sudah ada hasil.
UNIT TERKAIT
1. Poliklinik
2. Unit Gawat Darurat
3. Rawat Inap
4. Rujukan dari Luar
38. Pelayanan radiologi di luar rumah sakit yang dipilih sebagai pemeriksaan radiologi
rujukan adalah radiologi dengan reputasi pelayanan baik dengan standar pelayanan yang
sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku.
39. Kerjasama RS Mitra Keluarga Tegal dengan Radiologi luar yang ditunjuk, berdasarkan
identifikasi jenis pemeriksaan yang dibutuhkan dan belum dapat dilakukan di dalam RS Mitra
Keluarga Tegal disertai dengan kesepatan-kesepakatan lainnya (tarif, jadwal pemeriksaan dan
bahan pemeriksaan yang dibutuhkan) yang tertuang dalam MOU dan ditandatangani
bersama oleh kedua belah pihak (RS Mitra Keluarga dan Radiologi rujukan).
40. Koordinator radiologi wajib melakukan evaluasi terhadap kinerja radiologi luar/rujukan
secara tahunan dan konsisten dengan memperhatikan temuan ketidaksesuaian pelayanan
radiologi rujukan / luar dengan kesepakatan bersama.
J. PROGRAM MUTU
1. Program kontrol mutu untuk pelayanan radiologi dan diagnostik imajing, dan dilaksanakan.
2. Program termasuk validasi metode tes
3. Program termasuk surveilens harian atas hasil tes
4. Program termasuk koreksi cepat untuk kekurangan
5. Program kontrol mutu termasuk pengetesan reagensia dan larutan.
6. Program kontrol mutu termasuk pendokumentasian hasil dan langkah-langkah perbaikan.
K. AHLI SPESIALISTIK