Analisis Fungsi Reliabilitas dan Hazard
Analisis Fungsi Reliabilitas dan Hazard
Peluang bahwa suatu produk atau jasa akan beroperasi dengan baik dalam jangka
waktu tertentu (durabilitas) pada kondisi pengoperasian sesuai dengan desain (suhu,
tekanan, dll.) tanpa ada kerusakan. Reliabilitas digunakan sebagai ukuran keberhasilan
suatu sistem bekerja sebagaimana mestinya dengan baik.
Anggap n0 adalah banyak komponen yang diuji. Selama interval waktu (t - ∆t, t)
didapatkan nf(t) yakni banyak komponen yang rusak (failed components) dan ns(t) yakni
banyak komponen yang tetap baik (surviving component), [nf(t) + ns(t) = n0]. Reliabilitas
didefinisikan sebagai fungsi peluang kumulatif dari sukses pada saat t, maka reliabilitas
R(t) ditulis,
ns (t ) n (t )
R(t ) s
ns (t ) n f (t ) n0 (t )
Dengan kata lain, jika t adalah variabel random yang menunjukkan waktu untuk
rusak (time to failure/TTF), maka fungsi reliabilitas pada saat t adalah R(t ) P(t t ).
Distribusi kumulatif untuk fungsi kerusakan F(t) adalah komplemen R(t), jadi
R(t ) F (t ) 1. Jika TTF t mempunyai fungsi kepekatan peluang (probability density
function/p.d.f) f(t), maka
t
R(t ) 1 F (t ) 1 f ( ) d .
0
dR(t )
f (t ) .
dt
Misal: jika distribusi TTF adalah eksponensial dengan parameter λ, maka f (t ) et .
Dan fungsi reliabilitasnya adalah
t
R(t ) 1 F (t ) 1 e d e t .
0
Sehingga, peluang kerusakan dari satu komponen pada interval waktu [t1, t2] dalam bentuk
fungsi reliabilitas dinyatakan sebagai,
t2
f (t ) dt R(t ) R(t ) .
t1
1 2
Laju kerusakan (failure rate) pada interval waktu [t1, t2] didefinisikan sebagai peluang
bahwa kerusakan per unit waktu terjadi pada interval tsb dan tidak ada kerusakan yang
terjadi sebelum t1. Laju kerusakan dinyatakan sebagai,
Total 200
Jawab:
Misalkan: Estimasi fungsi massa kerusakan fe(t), estimasi fungsi hazard he(t), estimasi
fungsi kumulatif peluang Fe(t), dan estimasi fungsi reliabilitas Re(t), dimana subskrip e =
n f (t ) n f (t ) f e (t )
estimasi, maka f e (t ) , he (t ) , Re (t ) , Fe (t ) 1 Re (t ) .
n0 t ns (t) t he (t)
Hasil perhitungan
Fungsi Hazard
Fungsi hazard / laju hazard (hazard rate) adalah peluang bersyarat dari kerusakan
dalam interval waktu t hingga (t + ∆t), yakni bahwa tidak ada kerusakan pada saat t,
f (t )
h(t ) . Fungsi kumulatif hazard adalah peluang bersyarat dari kerusakan dalam
R(t )
t
interval 0 hingga t, H (t ) h( ) d ( ) .
0
1. Hazard Konstan
Laju kerusakan konstan terjadi di akhir periode kerusakan awal. Fungsi hazard
t
konstan, h(t), ditulis sebagai h(t ) . Maka f (t ) h(t ) exp h( ) d e t ,
0
t
F (t ) e 1 e t dan R(t ) 1 F (t ) 1 (1 et ) et .
0
Contoh 1.2:
Sebuah perusahaan melakukan Uji Hidup Operasional (Operational Life Test/OLT) pada
kapasitor keramik dan menemukan bahwa kapasitor tsb mempunyai laju kerusakan konstan
(dinyatakan dalam fungsi hazard) dengan nilai 3.10-8 kerusakan/jam. Berapakah reliabilitas
sebuah kapasitor setelah digunakan selama setahun (10 4 jam)? Untuk menerima kiriman
kapasitor tsb, konsumen memutuskan untuk melakukan tes selama 5000 jam dari 2000
sampel kapasitor. Berapa kapasitor yang diduga rusak selama test?
Jawab:
h(t ) 3 108 kerusakan/jam
t
R(t ) e 0
8
310 dt 8
e 310 t
4
R(104 ) e310 0,99970
8
ns (5000jam) R(5000) n0 e310 5000
2000 = 1999 kapasitor
n f 2000 1999 1 kapasitor.
2
Rata-rata ; Varians 1
2 4
Contoh 1.3:
Rolling resistance adalah suatu ukuran dari banyaknya energi yang hilang dalam
ban ketika menahan dikarenakan arah yang berlawanan (gaya gesek). Sebuah perusahaan
ban memperkenalkan material baru yang secara signifikan tidak hanya mampu
mengembangkan rolling resistance tetapi juga menambah laju penggunaan dari ban.
Analisis uji laboratorium dari 150 ban menunjukkan bahwa laju kerusakan dari ban baru
adalah linier positif terhadap waktu dengan h(t ) 0,5 108 t. Tentukan reliabilitas ban
setelah penggunaan satu tahun. Berapa rata-rata waktu untuk mengganti ban karena aus?
Jawab:
Reliabilitas setelah satu tahun penggunaan:
t 2 (0,5108 )(104 )2
R(t ) e 2
e 2
0, 7788 .
Rata-rata waktu untuk mengganti ban adalah t 17724 jam.
2 2 0,5 108
3. Model Weibull
Bentuk non-linier dari fungsi hazard digunakan ketika secara jelas tidak dapat
direpresantikan secara linier terhadap waktu dengan fungsi hazard yang dikenal dengan
1
Model Weibull, h(t ) t , untuk dan bernilai positif . Fungsi f(t) diberikan,
t
f (t ) t 1e , t 0,
di mana: θ = parameter skala (sifat umur produk/characteristic life)
γ = parameter bentuk bentuk distribusi.
Jika γ = 1 maka f(t) adalah density eksponensial, jika γ = 2 maka f(t) adalah distribusi
Rayleigh, jika γ = 3,43938 maka akan mendekati distribusi Normal.
Contoh 1.4:
Metode Prot digunakan untuk menentukan batas lelah (fatigue limit) dari baja batangan.
Uji tsb menggunakan level tekanan berjenjang yang diterapkan proses daur ulang hingga
dinyatakan gagal. Jumlah gagal daur ulang yang diamati mengikuti distribusi Weibull
dengan θ = 250 (pengukuran pada 105 daur ulang) dan γ = 2. Berapa reliabilitas batangan
pada 106 daur ulang? Berapa fungsi hazard yang bersesuaian? Berapa waktu hidup duga
(expected life dalam daur ulang) untuk batangan baja jenis ini?
Jawab:
a. Reliabilitas dan fungsi hazard dari Model Weibull,
10
2
R(10 /10 ) e
6 5 250
e0,4 0, 6703.
2
h(106 /105 ) 10 0, 08 kerusakan.
250
b. Nilai hidup duga dari batangan baja jenis ini,
1
1
1
1
E[T ] 1 (250) 2 1 (15,8114)(0,8862) 14, 013.
2
Jadi, harapan hidup dari baja batangan mencapai ≈ 14x10 5 kali daur ulang.
4. Model Normal
1 1 t 2
Pdf Normal adalah f (t ) exp , t .
2 2
Fungsi kumulatif dan reliabilitasnya berturut-turut adalah
t
1 1 2
F (t ) P(t t ) exp d ,
2 2
R(t ) 1 F (t ).
1 z2
Pdf Normal baku adalah ( z ) exp , z , dengan z .
2 2
1 z2
dan fungsi distribusi kumulatifnya adalah ( ) exp dz .
2 2
Jika waktu kerusakan suatu komponen t~N(μ, σ), maka suatu komponen akan rusak pada
t t
saat t dinyatakan P(t t ) P t .
Fungsi hazard,
t
f (t )
h(t ) .
R(t ) R(t )
Contoh 1.5:
Sebuah komponen mempunyai waktu kerusakan berdistribusi normal dengan μ = 40000
putaran dan σ = 2000 putaran. Tentukan fungsi reliabilitas dan fungsi hazard pada 38000
putaran!
Jawab:
R(t ) 1 F (t ) 1 P(t t )
38000 40000
R(38000) 1 P(t 38000) 1 P z 1 P z 1, 0
2000
1 0,1587 0,8413.
38000 40000
z 2000
h(38000)
f (38000)
2000
R(38000) 0,8413
(1, 0) 0, 242
0, 0001438 kerusakan per putaran.
0,8413 2000 0,8413 2000
5. Model Log-Normal
Pdf Lognormal,
1 1 ln t 2
f (t ) exp , , 0, t 0.
t 2 2
Rata-rata dan variansi dari T yang berdistribusi Lognormal adalah
2
Var (T ) [e2 ][e 1].
2 2
E (T ) exp dan
2
Fungsi distribusi kumulatif, reliabilitas dan fungsi hazard untuk Model Lognormal:
t 1 1 ln 2 ln t
F (t ) exp d atau F (t ) P(T t ) P z
0
2 2
ln t
ln t f (t ) .
R(t ) 1 F (t ) P(T t ) P z , dan h (t )
R(t ) t R(t )
Contoh 1.6:
Waktu kerusakan suatu komponen berdistribusi Lognormal dg μ = 6 dan σ = 2. Cari
reliabilitas komponen tsb dan laju kerusakannya untuk hidup 200 satuan waktu.
Jawab:
ln 200 6
R(200) P z P[ z 0,35] 0, 6386.
2
ln 200 6
(0,35)
h(200)
2 0,3752
200 2 0, 6386 200 2 0, 6386 200 2 0, 6386
0, 001472 kerusakan persatuan waktu.
6. Model Gamma
Digunakan untuk menggambarkan waktu kerusakan dari suatu komponen yang
mempunyai kerusakan i tahap, 1 < i ≤ n. Atau kerusakan suatu sistem yang terjadi ketika n
sub-kerusakan yang independen terjadi.
Dua parameter distribusi gamma: parameter bentuk (γ) dan paramater skala (θ).
• Jika 0 < γ < 1, laju kerusakan turun monoton dari tak hingga ke 1/θ.
• Jika γ > 1, laju kerusakan naik monoton dari 1/θ ke tak hingga, pdf memiliki puncak
(tunggal) pada saat t = θ (γ – 1).
• Jika γ = 1, laju kerusakan konstan dan sama dengan 1/θ.
k!
E (T ) 3(120) 360 jam.
7. Model Beta
Digunakan untuk interval waktu kerusakan terbatas, misal (0,1) atau semua interval
ditransformasi ke dalam interval (0,1).
ˆ 1 n t .
MTTF
n i 1
i
1
Untuk laju hazard konstan, MTTF e t dt . Untuk laju kerusakan linier positif,
0
t 2
1
1
1
MTTF e 2
dt 2 . Untuk Model Weibull, MTTF 1 .
0
2 2 2
Contoh 1.8:
MTTF untuk pengontrol robot dijamin akan dioperasikan dalam kondisi yang berbeda
adalah 20000 jam (dihitung dalam 103). Fungsi hazard pengontrol tsb mengikuti model
Weibull dengan θ = 100 dan γ = 1,5. Apakah pengontrol tsb mencapai MTTF tsb? Jika
tidak, berapa nilai karakteristik hidup agar mencapai jaminan MTTF?
Jawab:
1
Ukuran 103 jam MTTF 19,383 1000 jam 19383 jam. Jadi MTTFnya 19383 jam
dan tidak mencapai angka yang telah dijaminkan. Agar tercapai 20000 jam maka,
1 1
20 1 20 20
1,5 1
atau 1,5
22,1573
1 1,5 0,902636
1,5 1
Contoh 1.9:
Sebuah perusahaan menggunakan kompresor putar untuk penyediaan cairan pendingin.
Data eksperimen menunjukkan bahwa waktu kerusakan (antara 0 – 1 tahun) dari
kompresor mengikuti distribusi Beta dengan α = 4, β = 2. Berapa MRL dari kompresor
bahwa akan bertahan hingga 5 bulan?
Jawab:
(6) 3 t
f (t ) t (1 t ) 20(t 3 t 4 ) R(t ) 1 F (t ) 1 20( 3 4 ) d ,
(4)(2) 0
5
Untuk t 5 bulan 0, 416.
12
0,416
R(0, 416) 1 20 (t 3 t 4 ) dt 0,9.
0
20 1
0,9 0,416
L(0, 416) t (t 3 t 4 ) dt 0, 416 0, 288.
Latihan:
1. Suatu uji batas lelas mesin (dalam putaran) diterapkan pada 100 polimer dan masing-
masing diberi beban yang sama. Berikut adalah banyaknya polimer yang rusak ketika t
putaran:
Banyak Putaran x 105 Kumulatif Banyak Polimer yang Rusak
10 35
20 59
30 72
40 84
Rusak
50 93
60 100
( )
⁄
3. Tentukan f(t), F(t), R(t) dan MTTF, jika diasumsikan bahwa: ( )
Jika 200 unit diletakkan dalam satu operasi pada waktu yang bersamaan, berapa banyak
kerusakan yang diharapkan selama satu tahun beroperasi?
4. Diketahui kerusakan dari daya rem suatu sistem mengikuti fungsi hazard berikut:
( ) ( )
Berapakah reliabilitas daya rem pada saat t = 104 jam? Jika 20 sistem dipilih untuk diuji
pada saat yang bersamaan, berapa banyak yang akan tetap berfungsi pada saat t = 103
jam? Berapa banyak kerusakan yang diharapkan selama satu tahun beroperasi?
5. Waktu kerusakan dari daya rem mesin baru diteliti dan mengikuti distribusi Gamma
( )
dengan pdf : ( ) . Untuk γ = 2 dan λ = 0,0002, tentukan estimasi
( )
( ) ( ) .
( )
Berapakah reliabilitas komponen pada saat t=3x104 jam? Tentukan fungsi hazard
komponen ini! Tentukan MTTF nya!
8. Waktu kerusakan dari suatu komponen mengikuti suatu distribusi Pareto dengan suatu
pdf ( )
Sistem adalah suatu kumpulan komponen yang disusun berdasarkan desain khusus
untuk mencapai fungsi yang diinginkan dengan performa yang dapat diterima dan ukuran
reliabilitasnya. Jadi, jenis komponen yang digunakan, kualitas, dan desain konfigurasinya
disusun sedemikian rupa akan berpengaruh terhadap performa sistem dan reliabilitasnya.
Sistem yang dikonfigurasi, reliabilitasnya harus dievaluasi dan dibandingkan dengan level
reliabilitas yang ditentukan. Jika tidak terpenuhi, maka sistem harus dikonfigurasi ulang
dan kemudian reliabilitasnya dievaluasi kembali. Sehingga, reliabilitas sistem perlu untuk
terus dievaluasi seiring berubahnya konfigurasi.
1. Sistem Seri
Sistem seri adalah susunan dari n komponen (atau sub-sistem) yang terhubung
secara seri. Kerusakan satu komponen akan menghasilkan kerusakan seluruh sistem. Untuk
menentukan reliabilitas pada sistem seri, asumsikan bahwa peluang sukses dari setiap unit
dalam sistem diketahui ketika sistem dievaluasi. Asumsikan juga notasi berikut:
xi unit ke i yang beroperasi
xi kerusakan pada unit ke i
P xi peluang bahwa unit i beroperasi
P xi = peluang bahwa unit i tidak beroperasi (rusak)
R reliabilitas sistem
Pf unreliabilitas sistem Pf 1 R
Karena kesuksesan sistem yang terdiri atas n komponen mengharuskan semua unit
beroperasi, maka reliabilitas sistem dinyatakan,
R P x1 x2 xn P x1 P x2 | x1 P x3 | x1 x2 P xn | x1x2 x3 xn1
n
Jika kerusakan komponen independen, maka R P x1 P x2 P x3 P xn P xi
i 1
Reliabilitas sistem dapat ditentukan dengan menghitung peluang sistem rusak dan
menguranginya dari unit, yakni R 1 Pf . Sistem rusak jika ada komponen yang rusak.
Jadi,
Pf P x1 x2 xn P x1 + P x2 + +P xn P x1 x2 +P x1 x3 +
1 P x1 x2 xn .
n 1
Contoh 2.1:
Suatu sistem seri yang terdiri atas 3 komponen dan peluang komponen 1, 2, dan 3
beroperasi adalah 0,9, 0,8, dan 0,75. Estimasi reliabilitas sistem!
R 0,9 0,8 0, 75 0,54. Atau
Pf P x1 + P x2 + P x3 P x1 x2 +P x1 x3 +P x1 x3 P x1 x2 x3
0,55 0, 095 0, 005 0, 46.
R 1 Pf 1 0, 46 0,54.
2. Sistem Paralel
Dalam sistem paralel, komponen atau unit terhubungkan secara paralel sehingga
kerusakan satu atau lebih bagian masih memungkinkan bagian lain untuk beroperasi
dengan baik. Dengan kata lain, reliabilitas sistem paralel adalah peluang bahwa bagian
masih beroperasi. Reliabilitas sistem paralel didefinisikan sebagai,
R P x1 x2 xn P x1 + P x2 + +P xn P x1 x2 P x1 x3 Pi j xi x j
1 P x1 x2 xn
n 1
Atau R 1 Pf 1 P x1 x2 xn 1 P x1 P x2 | x1 P x3 | x1 x2
3. Sistem Paralel-Seri
Sistem paralel-seri terdiri atas m jalur paralel. Masing-masing jalur mempunyai n unit yang
terhubung secara seri.
Ambil P( xij ) sebagai reliabilitas dari komponen j ( j 1, 2,..., n) dalam jalur i (i 1, 2,..., m),
dan xij sebagai indikator bahwa komponen j pada jalur i beroperasi. Reliabilitas jalur i adalah
Pi P xij
n
; i 1, 2,..., m dan j 1, 2,..., n
j 1
i 1 i 1 j 1
Jika semua unit identik dan reliabilitas satu unit adalah p, maka reliabilitas sistem menjadi,
R 1 (1 p n )m
4. Sistem Seri-Paralel
Sistem seri-paralel yang umum terdiri atas n sub-sistem yang dirangkai secara seri
dengan m unit secara paralel dlm setiap sub-sistem.
Diturunkan dari sistem paralel-seri, didapatkan reliabilitas sistem seri-paralel
n
R 1 1 P xij
m
i 1 j 1
P xij adalah peluang bahwa komponen j dalam sub-sistem i beroperasi.
Jika semua unit identik dan reliabilitas satu unit adalah p, maka reliabilitas sistem seri-paralel
n
menjadi, R 1 (1 p) m
5. Paralel-Campuran
Sistem paralel-campuran tidak mempunyai susunan unit yang spesifik, namun demikian,
unit terkonfigurasi secara paralel dan seri.
Contoh 2.3:
Diberikan 6 unit identik yang masing-masing mempunyai reliabilitas 0,85, tentukan
reliabilitas dari 3 sistem yang dihasilkan dari susunan unit dalam paralel-seri, seri-paralel,
dan paralel-campuran!
Jawab:
a. Paralel-Seri
karena m 2 dan n 3, R 1 (1 p n ) m 1 (1 0,853 ) 2 0,8511.
b. Seri-Paralel
m 3
karena m 3 dan n 2, R 1 (1 p) n 1 (1 0,85) 2 0,934007.
c. Paralel-Campuran
R 1 (1 0,852 ) 2 1 (1 0,85) 2 0,924726
xi lokasi komponen i
X vektor lokasi komponen
Y variabel random yang mengindikasikan indeks pertama 0 dlm X
M variabel random yang mengindikasikan indeks pertama 1 setelah posisi Y dlm X
a bilangan integer terbesar yang kurang dari sama dengan a
k p 1 1 p
k
j 0 j
0
1
2
3p 2 p
2 3
7. Sistem Kompleks
Sistem telekomunikasi, jaringan komputer, sistem utilitas tenaga listrik, dan sistem
distribusi utilitas air adalah beberapa contoh sistem yang kompleks.
Metode Dekomposisi
Dimulai dengan memilih sebuah komponen kunci dasar (keystone), x, yang
digunakan untuk menghubungkan/mengikat secara bersama-sama struktur reliabilitas dari
suatu sistem. Reliabilitas kemudian dinyatakan dalam bentuk keystone berdasarkan
teorema jumlah peluang, yakni R P(sistem baik | x) P( x) P(sistem baik | x ) P( x ),
di mana:
P(sistem baik | x) : peluang bahwa sistem berfungsi dengan syarat keystone berfungsi.
P(sistem baik | x ) : peluang bahwa sistem berfungsi dengan syarat keystone tidak berfungsi.
Contoh 2.6:
P(sistem baik | B) P( D) P( E ) P( D) P( E )
P(sistem baik | B ) P( A) P( D) P(C ) P( E ) P( A) P( D) P(C ) P( E )
R [ P( D) P( E ) P( D) P( E )]P( B) [ P( A) P( D) P(C ) P( E ) P( A) P( D) P(C ) P( E )][1 P( B)]
Jika semua komponen mpy peluang yg sama, p, maka R 4 p 2 3 p 3 p 4 p
5
Jadi R [ p 2 p 2 3 p3 p 4 ] p [3 p 2 2 p3 ](1 p) 4 p 2 3 p3 p 4 p5 .
Latihan:
1. Tentukan reliabilitas sistem dari sistem yang diberikan seperti gambar berikut :
a. b.
2. Tentukan reliabilitas sistem dari sistem yang diberikan seperti gambar berikut :
Jika diketahui:
Reliabilitas komponen a=Ra= 0,85.
Reliabilitas komponen b=Rb= 0,90.
Reliabilitas komponen c=Rc= 0,82.
Reliabilitas komponen d=Rd= 0,87.
Reliabilitas komponen e=Re = 0,92.
Reliabilitas komponen f=Rf = 0,95.
a. Tentukan reliabilitas sistem jika semua komponen identik dan peluang rusak adalah
q.
b. Tentukan reliabilitas sistem, jika disyaratkan sekurang-kurangnya 2 dari 3,
komponen ke 3 sampai ke 5 harus berfungsi baik dan sekurang-kurangnya 2 dari 4,
komponen ke 9 sampai ke 12 harus berfungsi baik agar sistem dapat berfungsi baik!
4. Tentukan reliabilitas sistem dari sistem yang diberikan seperti gambar berikut:
Jika diketahui:
Reliabilitas komponen A = 0,95.
Reliabilitas komponen B = 0,90.
Reliabilitas komponen C = 0,87.
Reliabilitas komponen D = 0,92.
Reliabilitas komponen E = 0,89.
Dalam Bab 3, dijelaskan tentang reliabilitas dependen waktu untuk sistem yang tidak
dapat diperbaiki dan yang dapat diperbaiki. Selain itu disajikan tentang estimasi reliabilitas
sistem bergantung kerusakan, yakni kerusakan komponen mempengaruhi tingkat
kerusakan komponen lain dalam sistem. Bagian terakhir, dijelaskan tentang rata-rata waktu
sampai terjadi kerusakan (MTTF), rata-rata waktu antara kerusakan (MTBF) dan
ketersediaan.
( ) ( ) ( ) ( ) ∏ ( )
Berikut adalah reliabilitas dari suatu sistem seri ketika komponen mempunyai laju hazard:
konstan ( ) , maka reliabilitas sistem adalah
( ) ∑
∏
⁄ ∑
( ) ∏
( ) [ ∑ ]
( ) ∏ ∏ [ ∑ ∑ ]
Contoh 3.1:
Suatu sistem seri terdiri dari 5 komponen, 3 diantaranya mempunyai laju kerusakan
konstan yaitu Sedangkan 2 komponen sisanya
( ) [ ∑ ∑ ] * ( ) +
2. Sistem Paralel
Suatu sistem paralel rusak jika dan hanya jika semua komponen paralel rusak.
Reliabilitas dari suatu sistem paralel dengan n komponen diekspresikan sebagai
( ) ( ) ( ̅ ̅ ̅ )
Jika komponen-komponen independen dan hazard konstan, maka reliabilitas sistem:
( ) ∏( )
Sistem dengan dua komponen yang disusun paralel, mempunyai reliabilitas sistem, yaitu:
( ) ( )( ) ( )
( ) ( )
( )
Adapun laju hazard efektif (laju kerusakan) dari sistem adalah
( )
( )
( ) ( )
Contoh 3.2:
Suatu sistem paralel dengan 2 komponen mempunyai laju hazard konstan yaitu
dan kerusakan per jam. Tentukan reliabilitas dan laju hazard
efektif dari sistem pada t=1000 jam. Apa efek dari dan pada ( ) di t=800 jam?
Jawab:
Dari persamaan (3.10) diperoleh
( ) .
Laju hazard efektif pada t=1000 jam sebagai berikut:
( )
( )
⁄
( ) ∏( )
( ) ∏( )
Contoh 3.3:
Tentukan reliabilitas dari suau tu sistem paralel dengan 3 komponen pada waktu t=100 jam
ketika komponen-komponen menunjukkan laju hazard meningkat secara linier. Koefisien-
koefisien dari laju hazard adalah
.
Jawab:
Menggunakan persamaan (3.15) diperoleh
( )
* + * +
( )
3. Sistem k-out-of-n
Reliabilitas sistem k-out-of-n dengan komponen-komponen yang mempunyai laju hazard:
konstan adalah
( ) ∑ ( )( ) ( )
∑( ) ( ) ∑( ) ( )
⁄ ⁄
( ) ∑( ) ( )
( ) ∑( ) ( )
Contoh 3.4:
Pandang suatu sistem 2-out-of-3 dengan komponen-komponen yang mempunyai laju
hazard konstan dengan parameter Apa reliabilitas sistemnya? Jika
kerusakan per jam, tentukan reliabilitas pada waktu t=1000 jam.
Jawab:
Menggunakan persamaan (3.18) diperoleh
( ) ∑( ) ( ) ( ) ( ) ( )
Substitusi , maka ( )
Contoh 3.5:
Dalam suatu sistem 2-out-of-n dengan komponen-komponen yang mempunyai laju hazard
konstan kerusakan per jam, tentukan banyaknya komponen untuk sistem
sedemikian sehingga reliabilitas 0,966 dicapai pada waktu t=1000 jam.
Jawab:
Reliabilitas sembarang komponen dalam sistem adalah ( ) .
Sehingga, ∑ ( )( ) ( )
*( ) ( ) ( )( )( ) +
( ) ( )( )
( ) ( )( )
Dari persamaan di atas, komponen. Artinya, paling banyak 2 komponen yang akan
digunakan untuk mencapai reliabilitas yang diinginkan atas periode waktu 1000 jam.
( ) ∫ ( ) ∫ ( )
Tabel 3.1. MTTF untuk konfigurasi dan laju hazard yang berbeda
Konfi- Hazard MTTF
gurasi Rate
∑
Seri
(n unit √ ∑
dalam
seri)
(∑ ) Γ( )
∑ ∑ ∑ ∑ ∑ ∑
[ ]
Paralel
∑√ ∑ ∑ √ ∑ ∑ ∑ √
(n units ( ) ( )
dalam
paralel)
√ [ ( )√ ( )√ ( )√ ]
Γ( ) [∑ ∑ ∑ ( ) ( ) [∑ ] ]
k-out-of-n ∫ ∑ ( )( ) ( )
Contoh 3.6:
Suatu sistem seri terdiri dari 6 komponen, memiliki parameter bentuk yang sama (=1,75)
dari suatu distribusi Weibull. Parameter skala komponen-komponen tersebut adalah
dan . Tentukan MTTF sistem.
Jawab:
Dengan menggunakan persamaan (3.28) diperoleh
( ) ( )
Contoh 3.7:
Suatu sistem redudan aktif terdiri dari 4 komponen paralel identik yang masing-masing
mempunyai laju hazard meningkat secara linier, dengan kerusakan per
jam. Tentukan MTTF dari sistem.
Jawab:
Dengan , maka MTTF sistem tersebut:
√ [ √ √ √ ]
Contoh 3.8:
Selesaikan contoh 3.7 ketika sistem terdiri dari 3 komponen dalam paralel dan laju hazard
masing-masing adalah:
( ) , ( ) , ( ) .
Jawab:
Γ( ) [( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ]
Contoh 3.9:
Tentukan MTTF dari sistem 2-out-of-4 dengan komponen-komponen independen yang
masing-masing mempunyai hazard konstan kerusakan per jam.
Jawab:
Pertama, turunkan ekspresi reliabilitas sistem dan estimasi MTTF nya melalui ∫ ( ) .
( ) ∑( )[ ] [ ]
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
∫ ( ) jam.
Contoh 3.10:
Tentukan MTTF untuk sistem 2-out-of-4 dengan komponen-komponen independen yang
masing-masing memiliki hazard meningkat secara linier dengan parameter .
Jawab:
Reliabilitas untuk sistem tersebut adalah:
( ) ⁄ ⁄ ⁄ ⁄ ⁄
( )( ) ( ) ( )( ) ( ) ( )( )
⁄ ⁄ ⁄
( ) ( )
⁄
∫ ( ) √ √ √ jam.
Contoh 3.11:
Tentukan MTTF untuk sistem 2-out-of-4 jika komponen-komponen independen, identik
dan menunjukkan hazard Weibull dengan parameter dan
Jawab:
Reliabilitas untuk sistem tersebut adalah:
( ) ( )( ) ( ) ( )( ) ( ) ( )( )
∫ ( ) [ ( ) Γ( ) ( ) Γ( ) ( ) Γ ( )]
[ ] jam.
Contoh 3.12:
Tentukan MTTF dari sistem struktur reliabilitas kompleks yang ditunjukkan dalam
Gambar 3.2. Anggap bahwa komponen-komponen independen, identik dan mempunyai
laju kerusakan konstan kerusakan per jam.
Jawab:
Reliabilitas sistem tersebut adalah ( ) ,
∫ ( )
jam tahun.
( ) ( ) ∫ ( ) ( )
( )
( )( )
Contoh 3.13:
Waktu kerusakan dari sistem mengikuti suatu distribusi Weibull dengan pdf berbentuk
( ) [ ( ) ]
Nilai steady-state availability dapat diestimasi dengan menggunakan MTBF dan MTTR.
Γ( ) dan
∫ ( ) ̅( ) ( )
Secara penaksiran sama dengan probabilitas menjadi tidak bekerja pada waktu sepanjang
( )
. Dengan demikian ̅( ) ( )
Latihan:
1. Suatu sistem terdiri dari 3 komponen seri yang dihubungkan dalam seri dengan 4
komponen dalam paralel. Komponen-komponen adalah identik, dan laju kerusakan
setiap komponen mengikuti suatu model Weibull dengan parameter dan
. Turunkan suatu ekspresi reliabilitas sistem. Tentukan MTTF dan laju
hazard efektif dari sistem!
2. Pandang suatu sistem dengan 3 komponen dalam seri. Komponen-komponen
mempunyai laju kerusakan konstan . Laju kerusakan komponen ketiga
adalah tiga kali laju kerusakan komponen kedua, dan laju kerusakan komponen kedua
adalah dua kali laju kerusakan komponen pertama.
Diinginkan untuk mencapai suatu relabititas sistem 0,95 pada waktu t = 100 jam.
Tentukan:
a. Laju kerusakan komponen
b. MTTF sistem
c. Probabilitas mempunyai 0, 1, 2 kerusakan dalam 100 jam operasi.
d. Laju kerusakan komponen jika suatu reliabilitas 0,95 diinginkan pada MTTF.
5. Suatu chip komputer mempunyai 200.000 transistor dihubungkan dalam paralel dan k
transistor dibutuhkan untuk mengoperasikan chip dengan baik untuk melakukan
fungsinya. Anggap bahwa setiap transistor mempunyai model kerusakan konstan
( ) . Berapa nilai k yang menjamin suatu reliabilitas chip 0,95 pada t = 10.000
jam.
Ide utama dari metode momen adalah menyamakan karakteristik sampel tertentu
seperti mean dan varians untuk nilai-nilai yang diharapkan populasi yang bersesuaian
dan kemudian menyelesaikan persamaan yang dihasilkan untuk mendapatkan nilai
perkiraan parameter tidak diketahui.
Jika mewakili himpunan data, maka momen ke k sampel adalah
Jika adalah parameter yang tidak diketahui dari populasi, maka estimator
momen ̂ ̂ ̂ diperoleh dengan menyamakan momen sampel m yang pertama
dengan momen populasi m yang pertama yang bersesuaian dan menyelesaikan untuk
.
Contoh 4.1:
Misal bahwa mewakili suatu sampel random dari suatu distribusi
Eksponensial dengan parameter . Bagaimana estimasi ?
Jawab:
Pdf dari distribusi Eksponensial adalah ( ) dan [ ] . Menggunakan
∑
momen pertama sampel [ ] .
Contoh 4.2:
Sebuah produsen sistem data wireless menggunakan sinar inframerah yang ditransmisikan
antara perangkat yang dipasang pada bagian luar gedung untuk menyediakan link data
kecepatan tinggi. Ukuran sinar inframerah memiliki efek langsung pada reliabilitas sistem
dan kemampuannya untuk mengurangi efek dari kondisi cuaca seperti salju dan kabut yang
menghalangi jalur sinar tsb. Data ditransmisikan secara kontinyu menggunakan sinar
inframerah dan waktu sampai terjadi kerusakan dalam jam (tidak menerima data yang
ditransmisikan) dicatat sebagai berikut:
47, 81, 127, 183, 188, 221, 253, 311, 323, 360, 489, 496, 511, 725, 772, 880,
1,509, 1,675, 1,806, 2,008, 2,026, 2,040, 2,869, 3,104, 3,205.
̂
∑
atau ̂
Ini sangat dekat dengan nilai parameter yang sama yang digunakan dalam menghasilkan
data. Jelas, selama meningkatnya jumlah observasi, parameter yang diestimasi ( ̂ ) dengan
cepat mendekati parameter dari distribusi waktu kerusakan yang sebenarnya.
Contoh 4.3
Misal adalah suatu sampel random dari suatu distribusi gamma yang
mempunyai pdf :
( ) ⁄
( )
Jawab:
Mula-mula, tentukan dan sebagai berikut:
∑
∑
( ) ( )
̂ ̂
( )
Contoh 4.5:
Gunakan metode momen untuk mengestimasi parameter dan dari distribusi normal.
Jawab:
Pdf dari distribusi normal:
( )
( )
√
Momen pertama dan momen kedua dari distribusi di atas berturut-turut adalah
( ) ( )
∫ ∫
√ √
Dengan menggunakan transformasi , kemudian mengintegralkannya (lihat
kembali catatan mata kuliah Statistika Matematika II) maka diperoleh nilai-nilai dan
sebagai berikut:
∑ ∑
̂ ∑ ̂ ∑ ( ∑ ) ∑( ̅)
Selang Kepercayaan
Setelah penentuan estimasi titik parameter distribusi, selanjutnya menentukan
selang kepercayaan yang mana parameter yang diperkirakan dekat dengan nilai-nilai
sebenarnya dari populasi. Selang kepercayaan untuk parameter adalah
[ ]
di mana LCL adalah batas bawah kepercayaan dan UCL adalah batas atas kepercayaan.
Misalkan sampel random diambil dari suatu populasi dengan
mean dan varians . Misal ̅ adalah estimator titik untuk . Jika n besar (n≥30),
maka ̅ kira-kira memiliki suatu distribusi normal dengan mean dan varians , atau
̅
memiliki suatu distribusi normal standar. Untuk sembarang nilai dapat
⁄√
[ ̅ ⁄ ̅ ⁄ ]
√ √
Sehingga diperoleh selang
( ̅ ⁄ ̅ ⁄ )
√ √
membentuk selang kepercayaan dari parameter yang diestimasi ̅ untuk dengan koefisien
kepercayaan .
Contoh 4.6:
Pandang waktu kerusakan dari contoh 4.4. Tentukan suatu selang kepercayaan untuk mean
waktu kerusakan dengan koefisien kepercayaan 0,95.
Jawab:
Dari data diperoleh ̅ dan adalah estimasi dari standar deviasi .
Karena ukuran sampel kecil (< 30), lebih tepat menggunakan distribusi t daripada
distribusi normal dalam menentukan selang kepercayaan. Jadi selang kepercayaan adalah
̅ ⁄ ( ) Dari tabel diperoleh dan substitusi s
√
(84,39 , 122,31).
Dengan kata lain, dengan tingkat kepercayaan 95% bahwa mean waktu kerusakan yang
sebenarnya terletak antara 84,39 dan 122,31 jam.
Latihan:
2. Kisaran parameter dari distribusi Beta memungkinkan untuk model berbagai data waktu
kerusakan. Oleh karena itu, distribusi Beta secara luas banyak digunakan dalam aplikasi
teknik reliabilitas. Pdf dari distribusi Beta adalah
( )
( ) ( )
( ) ( )
( )( )
[ ]
( ) ( )
Berikut adalah data waktu kerusakan yang diperoleh dari suatu uji laboratorium:
50, 100, 130, 140, 142, 150, 160, 172, 179, 200, 220 hari
a. Gunakan metode moment untuk mengestimasi parameter dari distribusi Beta.
b. Turunkan ekspresi ( ) ( ) ( ) ( ).
Contoh 5.1:
Dua ratus kapasitor keramik dikenakan uji hidup sangat dipercepat. Waktu kerusakan dari
beberapa kapasitor tersensor karena peralatan yang digunakan selama pengujian kapasitor
ini rusak selama tes. Banyaknya unit yang bertahan hidup dan yang tersensor ditunjukkan
dalam tabel 5.1. Hitung baik laju hazard dan kumulatif hazard.
Jawab:
Laju hazard pada waktu ti dihitung sebagai
( )
( )
( )
di mana h(ti) = Laju bahaya saat ti
Nf ( ) = Jumlah unit rusak selama interval
Ns ( ) = Jumlah korban pada awal interval
= Panjang interval waktu (ti−1, ti).
Nf (Δti) tidak termasuk unit yang tersensor. Rata-rata laju hazard konstan adalah 0,0319.
Waktu kerusakan rata-rata adalah 31,35 jam.
Tabel 5.1. Laju Hazard dan Kumulatif Hazard
Interval Banyak unit Banyak unit yang Survive sampai Laju Hazard Kumulatif
Waktu yang rusak tersensor akhir interval × 10−1 × 10−1
1−10 0 3 197 0,0000 0,0000
10−20 6 8 183 0,0304 0,0304
20−30 7 9 167 0,0382 0,0686
30−40 6 8 153 0,0359 0,1045
40−50 6 15 132 0,0392 0,1437
50−60 5 20 107 0,0373 0,1810
60−70 4 18 85 0,0373 0,2183
70−80 3 20 62 0,0352 0,2535
80−90 2 30 30 0,0322 0,2857
90−100 1 29 0 0,0333 0,3190
Distribusi Eksponensial
Distribusi eksponensial memiliki laju kerusakan konstan, sering digunakan dalam
praktek. Berikut adalah cara menilai validitas menggunakan distribusi eksponensial
sebagai model waktu kerusakan. Misal
t1 = saat kerusakan pertama
ti = waktu antara kerusakan ke i-1 dan ke i (i = 2,3, ...) atau waktu sampai kerusakan ke i
(tergantung pada waktu yang diamati)
r = banyaknya kerusakan selama tes (dengan asumsi tidak ada sensor)
T = jumlah waktu antara kerusakan, ∑ , dan
X = variabel acak untuk mewakili waktu untuk kerusakan.
Untuk pemeriksaan apakah waktu kerusakan mengikuti distribusi eksponensial atau tidak,
digunakan uji Bartlett yang mempunyai statistik uji
* ( ) (∑ )+
( )
di mana statistik Br berdistribusi Khi-kuadrat dengan derajat kebebasan r-1.
Uji Bartlett tidak menolak hipotesis yaitu distribusi Eksponensial dapat digunakan untuk
memodelkan suatu data waktu kerusakan yang diberikan jika nilai Br, terletak di antara dua
nilai kritis dari dua ekor uji Khi-kuadrat dengan tingkat signifikasi 100 (1-α ) persen. Nilai
kritis yang lebih rendah adalah ( ) dan nilai titik atas adalah ( ) .
Contoh 5.2:
Dua puluh transistor diuji pada lima volt dan 100oC. Ketika transistor rusak, waktu
kerusakan dicatat dan unit yang rusak diganti dengan yang baru. Waktu antara kerusakan
(dalam jam) dicatat dalam urutan meningkat seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 5.2. Uji
validitas menggunakan laju hazard konstan untuk transistor ini.
Tabel 5.2 Waktu antara Kerusakan dari Transistor
Times between failures in hours (ti)
200 9,000 26,000 36,000 48,000
400 13,000 29,000 39,000 50,000
2,000 20,000 32,000 42,000 54,000
6,000 24,000 34,000 43,000 60,000
Jawab:
Karena semua transistor rusak selama pengujian, waktu kerusakan dapat diasumsikan
berasal dari sampel 20 transistor, dan setiap ti adalah nilai variabel random, X, waktu
∑ ∑
* ( ) +
( )
( )
Nilai-nilai kritis untuk uji dua sisi dengan α = 0,10 adalah
Jadi, B20 tidak menolak hipotesis yakni waktu kerusakan dapat
dimodelkan dengan distribusi Eksponensial.
∑ ∑
* ( ) +
( )
( )
kerusakan singkat secara abnormal sebelum melakukan kesesuaian data untuk distribusi
Eksponensial. Jika waktu kerusakan singkat secara abnormal, data tsb harus dibuang dan
tidak dipertimbangkan dalam menentukan parameter distribusi waktu kerusakan.
Ambil (t1, t2,...,tr) suatu barisan r variabel random independen dan identik
terdistribusi Eksponensial yang mewakili waktu antara kerusakan untuk r kerusakan yang
pertama. Kemudian kuantitas 2ti / θ adalah berdistribusi Khi Kuadrat dengan dua derajat
kebebasan, di mana θ adalah rata-rata dari distribusi Eksponensial. Jika t adalah waktu
untuk kerusakan pertama yang mengikuti distribusi Eksponensial dengan mean = θ, maka
( )
( )
Jumlah dari dua atau lebih variabel random independen berdistribusi adalah variabel
baru yang mengikuti dengan derajat kebebasan sama dengan jumlah derajat kebebasan
θ
∑ ( )
θ
Ini berarti bahwa distribusi F dapat dibentuk sebagai
( )
∑
dimana t1, waktu kerusakan singkat, mengikuti distribusi F dengan derajat kebebasan 2 dan
2r -2. Jika t1 kecil, maka rasio F menjadi sangat kecil yaitu,
( )
∑
Ketidaksamaan ini ekuivalen dengan
∑
( )
Catatan bahwa data kerusakan harus diurutkan sesuai dengan pengaturan waktu kerusakan
meningkat. Dengan kata lain, waktu kerusakan tersingkat terdaftar pertama, diikuti oleh
waktu kerusakan tersingkat kedua, dan seterusnya.
Contoh 5.4:
Pandang data kerusakan yang mewakili siklus kerusakan pada 20 bilah turbin. Pengujian
dilakukan dengan memperlakukan turbin ke beban dipercepat, menggantinya dengan turbin
baru pada kerusakan dan mencatat waktu kerusakan. Berikut adalah data kerusakan sidu
turbin: 120, 1300, 1680, 1990, 2010, 2112, 2192, 2215, 2290, 2581,
2689, 2892, 2999, 3565, 3873, 4256, 4368, 4657, 4933, 5832.
Apakah waktu kerusakan pertama merupakan waktu kerusakan singkat secara abnormal?
Jawab:
Total waktu kerusakan (kecuali yang pertama) adalah ∑ dan .
( )
Nilai kritis F pada keyakinan 95 persen adalah . Jadi kerusakan pertama
bukan merupakan representasi dari sisa data. Dengan kata lain, hipotesis bahwa waktu
kerusakan pertama tidak merupakan waktu kerusakan singkat secara abnormal harus
ditolak.
Contoh 5.5:
Ujilah apakah waktu kerusakan terakhir adalah lama secara abnomal pada tingkat
signifikansi 5 persen, untuk data waktu kerusakan berikut:
30000, 34500, 37450, 39950, 43760, 46585, 49970, 54430, 57600, 59990,
63200, 66600, 70000, 73120, 75690, 77990, 80330, 84450, 88960, 99550.
Jawab:
Untuk memeriksa apakah waktu kerusakan dari unit waktu 99550 adalah lama secara
abnormal, maka ditentukan
Misalkan n unit akan dilakukan pengujian dan waktu kerusakan unit secara teliti
dicatat. Sebut, t1, t2, ...., tn. Karena semua unit telah rusak dan tidak ada yang tersensor,
maka estimasi maksimum likelihood (MLE) dari λ adalah ̂ dimana ̂ adalah
∑
Contoh 5.6:
Anggap bahwa data dalam Contoh 5.2 merupakan waktu kerusakan unit yang diuji.
Tentukan rata-rata hidup transistor dari populasi ini.
Jawab:
Hal ini dapat menunjukkan bahwa ̂ memiliki distribusi Khi-kuadrat dengan derajat
kebebasan 2n. Karena dan ̂ ̂ , maka selang kepercayaan 100(1-α persen
untuk ̂ (dengan asumsi hidup minimum nol) yaitu
̂ ̂
di mana adalah titik persentase 100α dari distribusi Khi-kuadrat dengan derajat
kebebasan 2n yaitu, [ ]
̂ ̂
Selang kepercayaan dari rata-rata hidup sesuai adalah .
Jika n besar (n ≥ 25), perkiraan selang untuk λ dengan pendekatan ̂ oleh distribusi normal
yang mempunyai rata-rata λ dan varians . Dengan demikian diperoleh
̂ ̂
̂ ̂
√ √
Contoh 5.8:
Seorang insinyur mekanik melakukan uji kelelahan untuk menentukan harapan hidup dari
batang yang terbuat dari jenis baja khusus dengan memperlakukan 25 bahan percobaan ke
beban aksial yang menyebabkan tegangan 9000 pon per inci persegi. Banyak siklus dicatat
pada waktu kerusakan dari setiap bahan percobaan. Anggap bahwa uji tsb dijalankan pada
10 siklus per menit, tentukan reliabilitas dari batang yang terbuat dari baja ini pada 10 jam.
Hasil uji tersebut (banyak siklus kerusakan) sebagai berikut:
200, 280, 340, 460, 590, 720, 850, 990, 1200, 1420, 1950, 2460, 2590, 3520, 4560,
5570, 6590, 7600, 8630, 9650, 10660, 11670, 12680, 13685, 14690.
Jawab:
Pertama-tama dilakukan pemeriksaan apakah data kerusakan dapat diwakili oleh distribusi
eksponensial, dengan menggunakan B25. Selanjutnya dilakukan penentuan siklus antara
kerusakan dari data sebagai berikut:
Tabel 5.3 Jumlah Siklus Kerusakan dan Antar Kerusakan
No. Siklus Siklus Antara No. Siklus Siklus Antara
Batang Kerusakan Kerusakan Batang Kerusakan Kerusakan
1 200 200 14 3520 930
2 280 80 15 4560 1040
3 340 60 16 5570 1010
4 460 120 17 6590 1020
5 590 130 18 7600 1010
6 720 130 19 8630 1030
7 850 130 20 9650 1020
8 990 140 21 10660 1010
9 1200 210 22 11670 1010
10 1420 220 23 12680 1010
11 1950 530 24 13685 1005
12 2460 510 25 14690 1005
13 2590 130
∑ ∑
* +
Nilai-nilai kritis untuk uji dua sisi dengan α = 0,10 adalah dan
. Oleh karena itu statistik B25 tidak bertentangan dengan hipotesis bahwa
waktu kerusakan dapat dimodelkan dengan distribusi Eksponensial. Reliabilitas batang
pada 10 jam adalah ( ) , di mana
( )
̂ [∑ ∑ ]
̂
Statistik ̂ memiliki diatribusi Khi-kuadrat dengan derajat kebebasan 2r. Mean dan
Jika n besar n ≥ 25 , distribusi ̂ dapat didekati dengan distribusi normal dengan mean λ
dan varians ̂ ( )
Contoh 5.9:
Seorang produsen ujung cutter memperkenalkan material cutter keramik yang baru. Untuk
mengestimasi harapan hidup dari sebuah cutter, produsen menempatkan 10 unit yang diuji
terus menerus dan dipantau pemakaian alat tsb. Suatu kerusakan cutter terjadi ketika
pemakaian melebihi suatu nilai yang telah ditentukan. Karena keterbatasan anggaran,
produsen memutuskan untuk menjalankan uji selama 50000 menit. Waktu sampai terjadi
kerusakan cutter dicatat, yakni sebagai berikut:
3000, 7000, 12000, 18000, 20000, 30000.
Tentukan rata-rata hidup dari sebuah cutter yang terbuat dari bahan ini. Tentukan selang
kepercayaan 90% untuk harapan hidup? Tentukan pula reliabilitas pada 60000 menit?
Jawab:
Hasil pemeriksaan data waktu antara kerusakan (dari Tabel 5.4) diperoleh
∑ ∑
̂ [ ]
̂ ̂
di mana Ti adalah waktu bahwa komponen ke i berada dalam pengamatan (waktu sampai
kerusakan atau akhir test). Jika Ti tidak diketahui karena adanya penghentian abnormal dari
distribusi ̂ diperkirakan dengan distribusi normal dengan rata-rata μ dan estimasi varians
̂
diperkirakan dari ̂ ( ̂) ∑ ( )
. Jika Ti diketahui, maka ̂ ( ̂) .
Batas-batas μ adalah ̂ √ ̂ ( ̂) ̂ √ ̂ ( ̂) .
( )
̂ ̂* + ̂ ̂* +
[( ) ( ) ]
̂ ̂* + [ ]
̂ ̂* + [ ]
[( ) ( ) ]
[( ) ]
( ) ( )
dan
̂ [ ] ̂ [ ]
( ) ( )
Inferensi untuk ̂
Bias dari ̂ adalah fungsi dari dan γ dan tidak mudah dinilai. Untungnya, pada
umumnya, tidak sangat bias dan penggunaan suatu ̂ yang tidak bias memberikan suatu
estimasi yang beralasan dari ̂ .
Selang kepercayaan untuk ̂ dapat dibangun dengan menggunakan distribusi
√ ̂ (̂ ). Dapat ditunjukkan bahwa 100(1 - α % selang kepercayaan untuk ̂
Bain dan Engelhardt (1991) memberikan tabel dengan titik-titik persentase Uα sedemikian
sehingga ( ) . Sebagai alternatif U0,05 dan U0,95 dapat dihitung dengan
menggunakan pendekatan berikut
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( )
( ) ( )
( )
Batas bawah dan atas untuk ̂ diperkirakan sebagai
̂ ( (√ ̂)) ( (√ ))
̂ ( (√ ̂)) ( (√ ))
Untuk sampel tersensor, Uα adalah fungsi dari dan n , beberapa hasil yang
ditabulasikan untuk Uα disediakan oleh Bain dan Engelhardt (1991). Sebagai alternatif,
U0,05 dan U0,95 untuk sampel tersensor dapat dihitung dengan menggunakan pendekatan
berikut ( ):
( )
( )
Ekspresi ini adalah valid untuk dan .
Tentukan selang kepercayaan 90% untuk menduga ̂ dari data dalam contoh 5.11.
Jawab:
Pada contoh 5.11, n = 30 dan .
;
̂ ( (√ ̂)) ( (√ ))
̂ ( (√ ̂)) ( (√ ))
DAFTAR PUSTAKA