0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan30 halaman

Laporan Praktikum Suspensi Semi Solid

Laporan ini membahas tentang formulasi suspensi eritromisin sebagai sediaan obat yang sulit larut dalam air. Suspensi dibuat untuk meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitas eritromisin. Laporan ini meninjau definisi suspensi, faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi, serta tujuan pembuatan suspensi eritromisin.

Diunggah oleh

Muthia Nurhidayah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan30 halaman

Laporan Praktikum Suspensi Semi Solid

Laporan ini membahas tentang formulasi suspensi eritromisin sebagai sediaan obat yang sulit larut dalam air. Suspensi dibuat untuk meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitas eritromisin. Laporan ini meninjau definisi suspensi, faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi, serta tujuan pembuatan suspensi eritromisin.

Diunggah oleh

Muthia Nurhidayah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN RESMI

FTS SEMI SOLID DAN SEMI LIQUID


SUSPENSI

KELOMPOK : 3 (TIGA)
Anggota :
1. Aditya Imas Cahya Oktaviana (14040056)
2. Dede Fitriani (14040007)
3. Linda (14040031)
4. Muthia Nurhidayah (14040037)
5. Nuraini (14040039)
6. Nurfitri (14040040)
7. Siti Fatimah (14040046)

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI


BAGIAN FARMASETIKA
SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH
TANGERANG
2016
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
dapat menyelesaikan laporan ini. Tanpa pertolongannya mungkin penyusunan tidak
akan sanggup mennyelesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah
curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammmad SAW.
Laporan ini di susun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
“SUSPENSI” yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
laporan ini disusun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang
dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran
dan terutama pertolongan dari tuhan akhirnya laporan ini dapat terselesaikan.
Laporan ini memuat tentang “SUSPENSI”. Walaupun laporan ini kurang
sempurna dan memerlukan perbaikan tapi juga memiliki detail yang cukup jelas
bagi pembaca. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen praktikum
kimia fisika yaitu Bapak Yusransyah. [Link] [Link]., Apt yang telah membimbing
menyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara menyusun laporan tersebut.

Semoga laporan ini dapat memberikan pengetahuan yang luas kepada


pembaca. Walau pun laporan ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang membangun. Terimakasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb

Tangerang, 27 April 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………… i


DAFTAR ISI ……………………………………………………………... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ………………………………………………….. 1
A. Latar Belakang ………….…………………………………………. 1
B. Tujuan ………………………………………………………………. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………… 3
A. Definisi Laju Reaksi ……..………………………………………. 3
B. Faktor –faktor yang mempengaruhi laju reaksi ..................................... 6
C. Kemolaran …................................…..……………………………….. 10
BAB III METODE PENELITIAN ……………………………………… 11
A. Alat dan Bahan …………………………………………………….. 11
B. Prosedur Penelitian ………………………………………………… 12
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ….........................……………… 13
A. Pengenceran …..............…..………………………………………. 13
B. Reaksi …....…………..................................................………….... 13
C. Hasil Pengamatan .......................................................................... 13
D. Pembahasan .................................................................................... 14
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………………………................... 16
A. Kesimpulan ….........………………………………………………….. 16
B. Saran …………………………….........................…………………… 16
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam bidang, industri farmasi, perkembangan tekhnologi farmasi sangat
berperan aktif dalam peningkatan kualitas produksi obat-obatan. Hal ini banyak
ditunjukan dengan banyaknya sediaan obat-obatan yang disesuaikan dengan
karakteristik dari zat aktif obat, kondisi pasien dan peningkatan kualitas obat
dengan meminimalkan efek samping obat tanpa harus mengurangi atau menganggu
dari efek farmakologis zat aktif obat (Salma Site, 2011)
Sediaan dalam bentuk suspensi diterima baik oleh para konsumen dikarnakan
penampilan baik itu dari segi warna ataupun bentuk wadahnya. Penggunaan dalam
bentuk suspensi bila dibandingkan dengan larutan sangatlah efisien sebab suspensi
dapat mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air. (Salma Site,
2011)
Suspensi banyak digunakan karena mudah penggunaannya terhadap
anakanak, bayi, dan juga untuk orang dewasa yang sukar menelan tablet atau
kapsul. Suspensi juga dapat diberi zat tambahan untuk menutupi rasa tidak enak
dari zat aktifnya. Untuk banyak pasien, bentuk cair lebih disukai daripada bentuk
padat (tablet atau kapsul dari obat yang sama), karena mudahnya menelan cairan
dan kemudahan dalam pemberian dosis, aman, mudah diberikan untuk anak-anak,
juga mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak (Ansel, 1989).
Suatu suspensi dari mulai diolah sampai menjadi suatu bentuk produk yang
pada akhirnya sampai ke pasien membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh
karena itu, sediaan tersebut harus tetap stabil, baik dalam penyimpanan maupun
dalam penggunaan. Hal ini dimaksudkan agar obat dalam bentuk, bau, dan rasanya
dapat diterima pasien dalam keadaan yang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi
stabilitas fisik suspensi adalah volume sedimentasi, sifat alir, dan ukuran partikel
(Ansel, 1989).

3
Namun yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan farmasi, bentuk
suspensi untuk obat-obat tertentu tidak larut dalam air, seperti eritromisin.
Eritromisin merupakan antimikroba yang dihasilkan oleh suatu strain Streptomyces
erythreus, yang mempunyai kelarutan sangat sukar larut dalam air. Eritromisin
bersifat bakteriostatik dan bakterisid, ini tergantung dari jenis kuman dan kadar
eritromisin. Eritromisin aktif terhadap kuman Gram positif cocci, Gram negatif
cocci,dan beberapa Gram negatif basili. Sediaan dari eritromisin berupa delayed-
release capsules, delayed-release tablets dan ophtalamic ointment (Gerald, 2005).
Karena eritromisin tidak larut dalam air, maka eritromisin dibuat dalam bentuk
sediaan suspensi (Ansel, 1989)

B. Tujuan
Memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam memformulasikan
sediaan suspensi dan melakukan kontrol kualitas (evaluasi) sediaan suspensi
meliputi : menghitung derajat flokulasi, perbedaan metode pembuatan suspensi dan
pengaruh tipe alat terhadap stabilitas suspensi.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Suspensi
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk
halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus
halus dan tidak boleh cepat mengendap. Jika dikocok perlahan-lahan endapan harus
segera terdispersi kembali. Suspensi dapat mengandung zat tambahan untuk
menjamin stabilitas suspensi. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar
sediaan mudah dikocok dan dituang. Partikel-partikelnya mempunyai diameter
yang sebagian besar lebih dari 0,1 mikron (Anief, 2000).
Suspensi juga dapat didefenisikan sebagai preparat yang mengandung
partikel obat yang terbagi sevara halus (dikenal sebagai suspensoid) disebarkan
secara merata dalam pembawa dimana obat menunjukan kelarutan yang sangat
minimum. Beberapa suspensi resmi diperdagangkan tersedi dalam bentuk siap
pakai, telah disebarkan dalam cairan pembawa dengan atau tanpa penstabil dan
bahan tambahan farmasetik lainnya (Ansel, 1989).
Bahan obat yangdiberikan dalam bentuk suspensi yntuk obat minum,
mempunyai keuntungan bahwa (oleh karena partikel sangat halus) penyarapan zat
berkhasiatnya lebih cepat dari pada bila obat diberikan dalam bentuk kapsul atau
tablet, bioavailabilitasnya pun baik. Suspensi dapat dibagi dalam dua jenis yaitu:
suspensiyang siap digunakan atau suspensi yang dikonstitusikan dengan jumlah air
untuk injeksi atau pelarut lain yang sesuai sebelum digunakan. Suspensi tidak boleh
diinjeksikan secara intevena. Pada bentuk sediaan suspensi harus diperhatikan
bahawa obatnya betul diminum denagn sendok yang sesuai, sehingga obat diminum
dengan dosis yang tepat (loenoes, 1990).

5
Suspensi yang baik harus tetap homogen, paling tidak selama waktu yang
dibutuhkan untuk penuangan dan pemberian dosis setelah wadahnya dikocok.
Secara tradisional, jenis-jenis suspensi farmasi tertentu diberikan tanda-tanda
secara terpisah, seperti mucilago, magma, gel, dan kadang-kadang aerosol; juga
termasuk di dalamnya serbuk kering yang ditambah pembawa pada waktu hendak
diberikan pada pasien (Lachman et al., 1989).
Jika suatu senyawa memiliki beberapa bentuk garamnya, maka untuk
suspensi digunakan garam yang menunjukkan kelarutan terendah dalam fase cair.
Bahan obat larut air hanya dapat diracik menjadi suspensi dengan pelarut lipoid.
Oleh karena itu bahan obat tak larut atau sukar larut diracik menjadi sediaan obat
suspensi untuk memudahkan dalam penggunaan secara per oral. Maka suspensi,
khususnya untuk pediatrik sangat penting artinya. Kemungkinan dilakukannya
perbaikan rasa, merupakan keuntungan yang lain (Voigt, 1984).

1. Menurut joenoes (1990), beberapa faktor penting dalam formulasi sediaan obat
bentuk suspensi adalah :
a. Derajat kehalusan partikel yang terdispersi,
b. Tidak tebentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorbsi dari saluran
pencernaan.
c. Tidak terbentuk kristal/hablur
d. Derajat viskositas cairan.

2. Menurut Ansel (1989), sifat-sifat yang diinginkan dalam semua sediaan


farmasi dan sifat-sifat lain yang lebih spesifik untuk suspensi untuk suspensi
farmasi adalah :
a. Suatu suspensi farmasi yang dibuat dengan tepat mebgendap secara lambat
dan harus rata bila dikocok.
b. Karakteristik suspensi harus sedenikian rupa sehingga partikel dari
suspensoid tetap agak konstan untuk yang lama pada penyiapan.
c. Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen.

6
Suspensi sering disebut pula mikstur gojog (mixtura agitandae). Bila obat
dalam suhu kamar tidak larut dalam pelarut yang tersedia maka harus dibuat mikstur
gojog atau disuspensi. (Anief, 2006)
Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah :
1. Ukuran partikel
Semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya (dalam
volume yang sama ). Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya
tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk
mengendap, sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan
dengan memperkecil ukuran partikel.
2. Kekentalan (viscositas)
Dengan menambah viscositas cairan maka gerakan turun dari partikel yang
dikandungnya akan diperlambat. Tatapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi
tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang.
3. Jumlah partikel (konsentrasi)
Makin besar konsentrasi pertikel, makin besar kemungkinan terjadi endapan
partikel dalam waktu yang singkat.
4. Sifat / muatan partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari babarapa macam campuran
bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan
terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut
dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam,
maka kita tidak dapat mempengaruhinya. (Anonim, 2004 )

7
B. Sifat-sifat suspensi
Terdapat banyak pertimbangan dalam pengembangan dan pembuatan suatu
suspensi farmasi yang baik. Disamping khasiat terapeutik, stabilitas kimia dan
komponen–komponen formulasi, kelanggengan sediaan dan bentuk estetik dari
sediaan perlu diperhatikan. Sifat–sifat yang diinginkan untuk suspensi farmasi:
1. Suatu suspensi farmasi yang dibuat dapat dengan tepat mengendap secara lambat
dan harus rata lagi bila dikocok.
2. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari
suspensoid tetap konstan untuk waktu yang lama pada penyimpanan.
3. Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan
4. Homogen (Ansel, 1989).

C. Pembuatan sediaan suspensi


1. Pembuatan sediaan obat suspensi dibedakan menjadi empat fase yakni:
a. Pendistribusian dan penghalusan fase terdispersi.
b. Pencampuran dan pendispersian fase terdispersi di dalam bahan pendispersi.
c. Stabilisasi untuk mencegah atau mengurangi pemisahan fase.
d. Homogenasi, sebagai perantara fase terdispersi dalam bahan pendispersi.

Setelah penghalusan sampai ukuran partikel yang dikehendaki, bahan


padat mula-mula digerus homogen dengan sejumlah kecil bahan pendispersi,
kemudian sisa cairan dimasukan sebagian demi sebagian. Jika pembawa terdiri
dari beberapa cairan, maka untuk menggerus digunakan cairan dengan viskositas
tertinggi atau yang memiliki daya pembasah paling baik terhadap partikel
terdispersi (Voigt, 1984).

8
2. Suspensi dapat dibuat dengan dua cara:
a. Metode dispersi
Serbuk yang terbagi halus didispersi dalam cairan pembawa. Umumnya
sebagai pembawa adalah air. Dalam formula suspensi yang paling penting
adalah partikel-partikel harus terdispersi betul dalam fase air. Mendispersi
serbuk yang tidak larut dalam air kadang-kadang sukar. Hal ini disebabkan
karena adanya udara, lemak, kontaminan pada permukaan serbuk, dan lain-
lain.
b. Metode presipitasi
Zat yang tidak larut dalam air dilarutkan dulu dalam pelarut organik yang
dapat dicampur dengan air, lalu ditambahkan air suling dengan kondisi
tertentu. Pelarut organik yang biasa digunakan adalah etanol, metanol,
propilen glikol, dan gliserin (Martin et al., 1983).

3. Sistem pembentukan suspensi


a. System flokulasi
1) partikel merupakan agregat yang bebas
2) sedimentasi terjadi capat
3) sediment terbentuk cepat
4) sediment tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah
terdispersi kembali seperti semula
5) wujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi terjadi cepat
dan diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata.
b. System deflokulasi
1) partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain
2) sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing partikel mengendap
terpisah dan ukuran partikel adalah minimal
3) sediment terbentuk lambat
4) akhirnya sediment akan membentuk cake yang keras dan sukar
terdispersi lagi. (Anonim, 2004)
9
D. Stabilitas Suspensi
1. Laju sedimentasi
Laju sedimentasi partikel bentuk bulat pada suspensi dinyatakan menurut
hukum Stokes:
V = d2 (ρ1- ρ2) g
18η

Keterangan: V = kecepatan sedimentasi (cm/ detik)


d = diameter partikel (cm)
ρ1 = kerapatan dari fase terdispers (g/ml)
ρ2 = kerapatan dari medium pendispers (g/ml)
g = gaya gravitasi (980cm/dt2)
η = viskositas medium dispersi (poise)

Persamaan Stokes tidak bisa dipakai secara tepat untuk suspensi tidak
teratur, dengan berbagai diameter partikel dan bukan bulat. Sehingga jatuhnya
partikel mengakibatkan turbulensi dan tumbukan serta juga adanya afinitas
yang cukup besar antara partikel terhadap medium suspensi. Tetapi konsep
dasar dari persamaan tersebut memberikan satu pertanda yang tepat tentang
faktor–faktor yang penting untuk partikel suspensi dan memberikan isyarat
penyesuaian yang mungkin dapat dibuat pada suatu formulasi untuk
mengurangi laju endap partikel (Ansel, 1989).

2. Viskositas
Jika pada suspensi proses sedimentasi tidak dapat dicegah, maka dipilih
suatu bahan pendispersi dengan sifat rheologis tertentu, yang tidak
memungkinkan turunnya setiap partikel terdispersi. Diupayakan agar proses
sedimentasi ataupun proses lain yang dapat mempengaruhi homogenitas
sediaan seperti flokulasi, dapat dihambat. Hal itu dapat diatasi dengan
penambahan stabilisator yang mempertinggi viskositas sediaan.

10
Akan tetapi daya alir suspensi (terutama pada suspensi per oral) tetap
dipertahankan. Untuk meningkatkan viskositas digunakan bahan lendir
makromolekuler, seperti: metil selulosa, hidroksietil selulosa, natrium
karboksimeti lselulosa (Voigt, 1984).

3. Volume sedimentasi.
Volume sedimentasi yaitu mempertimbangkan rasio tinggi akhir endapan
(Hu) terhadap tinggi awal (Ho) pada waktu suspensi mengendap dalam suatu
kondisi standar.
F = Hu/Ho
Makin besar fraksi ini, makin baik kemampuan suspensinya. Pembuat
formulasi harus memperoleh rasio Hu/Ho, dan memplotkannya sebagai ordinat
dengan waktu sebagai absisnya (Lachman et al., 1989).

4. Redispersibilitas
Redispersibilitas merupakan syarat dari suspensi, jadi sedimen yang
terjadi harus mudah terdispersi kembali dengan penggojokan agar diperoleh
keseragaman dosis (Martin et al., 1983).

5. Mudah tidaknya dituang


Besar kecilnya kadar zat pensuspensi berpengaruh terhadap kemudahan
suspensi untuk dituang. Kadar zat pensuspensi yang besar dapat menyebabkan
suspensi terlalu kental dan sukar dituang (Ansel, 1989).

6. Ukuran partikel
Availabilitas fisiologis dan efek terapi dari zat aktif mungkin dipengaruhi
oleh perubahan dalam ukuran partikel. Ukuran partikel ditentukan secara
mikroskopis. Metode ini menggunakan suspensi encer yang dihitung dengan
bantuan kisi lensa okuler (Lachman et al., 1989).

11
E. Keuntungan dan kerugian sediaan suspensi (Anief. M, 1987)
1. Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :
a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat
memperlambat terlepasnya obat .
b. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan
c. Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam
larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.

2. Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :


a. Rasa obat dalam larutan lebih jelas.
b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya
pulveres, tablet, dan kapsul.
c. Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar
kandungan dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator.

12
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A. Alat dan Bahan


Alat Bahan

Tabung reaksi Sulfasalazim


Gelas Ukur 100 ml SLS (sodium lauril sufat)
Mortir 2 buah Asam Sitrat
Stamper 2 buah CMC-Na
Beker Gelas250 ml 2 buah Metil Paraben

Stiren NaOH
Cawan 1 buah Etanol
Aquadest
Gula

B. Percobaan dan Evaluasi


1. Menghitung derajat Flokulasi
a. Buatlah dispersi sulfasalazim dengan formula sebagai berikut:
Formula A
Sulfasalazim 6g
SLS 60 mg
AlCl3 -
Aquadest ad 60 ml

13
b. Cara pembuatan:
1) Larutkan SLS ke dalam sebagian aquadest
2) Serbuk sulfasalazim didispersikan dalam larutan yang mengandung
SLS, aduk sampai semua serbuk terbasahi, jika perlu tambahkan
sedikit aquadest.
3) Dispersi kemudian dituang ke dalam gelas ukur 100 ml, ditambahkan
aquadest sampai 60 ml, gojog ad homogen
4) Catat tinggi pengendapan pada waktu tertentu: 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30.
Amati pula suoernatannya.
5) Tentukan suspensi yang deflokulasi dan suspensi yang flokulasi serta
buat grafik waktu vs harga F untuk formula tersebut.
6) Hitunglah derajat flokulasi suspensi dengan rumus (1,5)

2. Mengenal metode pembuatan suspensi


Formula : tiap 5 ml mengandung
R/ Sulfadimidina 167 mg
Asam Sitrat 200 mg
CMC-Na 50 mg
Metil Paraben 5 mg
NaOH 100 mg
Sirup Simpleks 1,5 ml
Etanol 50 µl
Aquadest 5 ml
Tiap formula dibuat sebanyak 200 ml

a. Cara Presipitasi
(perhatikan dengan seksama langkah-langkahnya dengan cara dispersi)
1) CMC-Na disuspensikan dalam air panas, distirer dengan kecepatan 10
rpm. Tambahkan air dingin (air es) dan dinginkan sampai temperatur
kamar (25oC). Stirer selama 60 menit atau hingga terbentuk larutan
yang jernih
14
2) Metil Paraben dilarutkan dalam etanol.
3) Campurkan sulfa diatas
4) Larutkan NaOH dalam sebagian air, kemudian ditambahkan pada
campuran sulfa tersebut
5) Tambahkan (a) sambil diaduk, kemudian (b) dan homogenkan. Lalu
tambahkan sirup simpleks (sirup simpleks dibuat dahulu gula dan air
dengan perbandingan 65:35, pemanasan jangan terlalu tinggi.
6) Sambil diaduk, tambahkan larutan asam sitrat kedalam campuran.
7) Tempatkan suspensi dalam tabung reaksi yang telah diberi skala untuk
pengmatan.

b. Cara Dispersi
1) CMC-Na disuspensikan dalam iar panas, distirer dengan kecepatan
120 rpm. Tambahkan air dingin (air es) dan dibandingkan sampai
temperatur kamar (25oC). Stirer selama 60 menit atau hingga
terbentuk larutan yang jenuh.
2) Larutkan metil paraben dalam etanol
3) Campurkan sulfa diatas
4) Ke dalam campurkan sulfa, tambahkan larutan CMC-Na sedikit demi
sedikit sambil diaduk hingga homogen. Tambahkan juga larutan metil
paraben, sirup simpleks, larutan asam sitrat dan larutan NaOH sambil
dihomogenkan.
5) Tempatkan suspensi dalam tabung reaksi yang telah diberi skala untuk
pengamatan.

15
c. Lakukan evaluasi suspensi yang meliputi
1) Organoleptisnya
2) Volume sedimentasi, hitung tinggi endapan atau tinggi supernatannya,
pilih salah satu cara saja.
3) Diamter rata-rata partikel dengan mengamati 500 partikel, dengan
menggunakan metode mikroskopik dengan alat mikromiretik, buatlah
range pengukuran ke dalam beberapa ukuran. Misal 1-10 um, 10-20
um.
4) Gambarkan bentuk kristal partikel suspensi, bandingkan
perbedaannya dari kedua metode pembuatan.
5) Pengamatan dilakukan pada hari ke : 0,1, 2 dan 3 dan bandingkan hasil
yang diperoleh dengan cara presipitasi dan cara dispersi.
6) Redispersibilitas
Suspensi yang dibuat dengan cara presipitasi dan dispersi dimasukkan
dalam tabung kemudian diletakkan pada alat uji, diputar 360o pada 20
rpm sampai semua endapan terdispersi kembali. Catat waktu yang
diperlukan untuk semua endapan terdispersi kembali. Diulangi
sebanyak 3 kali. Lakukan percobaan pada hari ke 1 dan 3.
7) Ukuran viskositas
8) Ukuran pH
9) Boleh ditambahkan jenis ujinya, jika peralatannya tersedia.

16
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1. Menghitung Derajat Flokulasi
Tabel pengamatan
Menit Tinggi (endapan ml) suoernatan (ml)
0 0 ml 60 ml
5 6 ml 54 ml
10 7,5 ml 53 ml
15 9 ml 51 ml
20 9 ml 51 ml
25 10 ml 50 ml
30 10 ml 50 ml
60 11 ml 49 ml

a. Menentukan jenis suspensi


Formula A

Sulfasalazim 6g
SLS 60 mg
AlCl3 -
Aquadest ad 60 ml

Pada peristiwa suspensi diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa percobaan


yang kami buat ini termasuk suspensi dalam peristiwa deflokulasi, karna dalam
percobaan ini memiliki atau menggalami ciri-ciri yang sama pada peristiwa
deflokulasi Seperti:

17
Ciri-ciri Deflokulasi Yes ( ) No (x)
1. Partikel berada dalam suspensi dalam wujud yang 
memisah 

2. Laju pengendapan lambat karena partikel mengendap 


terpisah dan ukuran partikel minimal 

3. Endapan yang terbentuk lambat 


4. Endapan biasanya menjadi sangat padat, karena berat 
dari lapisan atas dari bahan endapan yang mengalami 
gaya tolak-menolak antara partikel dan cake yang 

keras terbentuk dimana merupakan kesulitan jika


mungkin didispersi kembali.

5. Suspensi penampilan menarik karena tersuspensi 
untuk waktu yang lama supernatannya juga keruh 
bahkan ketika pengendapan terjadi

b. Untuk membuat grafik waktu dan vs harga F


F 0 menit = Vu
V0
= 0 =0
60
F 5 menit = Vu
V0
= 6 = 0,1 ml
60
F 10 menit = Vu
V0
= 7,5 = 0,125 ml

18
60
F 15 menit = Vu
V0
= 9 = 0,15 ml
60
F 20 menit = Vu
V0
= 9 = 0,15 ml
60
F 25 menit = Vu
V0
= 10 = 0,166 ml
60
F 30 menit = Vu
V0
= 10 = 0,166 ml
60
F 60 menit = Vu
V0
= 11 = 0,183 ml
60
Menit ke- V0 (ml) Vu (ml) F
0 menit 60 ml 0 ml 0 ml
5 menit 60 ml 0,6 ml 0,1 ml
10 menit 60 ml 0,75 ml 0,125 ml
15 menit 60 ml 0,9 ml 0,15 ml
20 menit 60 ml 0,9 ml 0,15 ml
25 menit 60 ml 0,10 ml 0,166 ml
30 menit 60 ml 0,10 ml 0,166 ml
60 menit 60 ml 0,11 ml 0,183 ml

19
Grafik
0.2
0.18 0.183
0.16 0.166 0.166
0.15 0.15
0.14
0.12 0.125
0.1 0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0 0
0 menit 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit 60 menit

Tinggi (ml)

c. Derajat Flokulasi

β= F
F~

F~ = V~
V0
= 6
60
= 0,1 ml

β= F
F~
= 0, 183 ml
0,1 ml
= 1,83 ml

20
2. Mengenal metode pembuatan suspensi
Formula : tiap 5 ml mengandung
200
R/ Sulfadimidina 167 mg x 5

= 6,68 gram
200
Asam Sitrat 200 mg x 5

= 8000 mg
200
CMC-Na 50 mg x 5

= 2000 mg
200
Metil Paraben 5 mg x 5

= 200 mg
200
NaOH 100 mg x 5

= 4000 mg
200
Sirup Simpleks 1,5 ml x 5

= 60 mg
200
Etanol 50 µl x 5

= 2000 mg
200
Aquadest 5 ml x 5

= 200 mg

Tiap formula dibuat sebanyak 200 m


o Pembuatan CMC-Na
2 gram CMC-Na dilarutkan dalam air panas sebanyak 31 ml ad homogen
o Perhitungan untuk membuat sirup simpleks dengan perbandingan gula dan air
65:35 yaitu :
65
Gula yang dipakai x 300 ml = 195 gram
100

Jadi, gula yang dipakai yaitu sebanyak 195 gram ad 300 ml air

21
a. Mengetahui evaluasi Suspensi
1. Organoleptis
Uji Presipitasi Dispersi
Hari-1 Hari-2 Hari-3 Hari-1 Hari-2 Hari-3
Rasa Pahit Pahit Pahit Pahit Pahit Pahit
Bau Tidak Sedikit Sedikit Tidak Sedikit Sedikit
berabu menyengat menyengat Berbau Menyengat menyengat
Warna Putih Putih susu Putih susu putih putih susu putih susu
susu susu

2. Menghitung tinggi endapan (cm)


a) Cara presipitasi
Dik :
H0 = Tinggi suspensi mula-mula sebelum pengendapan 9 cm
HU = Tinggis endapan setelah proses pengendapan
Hari pertama 1 cm
Hari kedua 1,5 cm
Hari ketiga 2 cm
Jawaban :
Pada hari peratama : F = HU
H0
F = 1 cm
9
F = 0,111 cm

Pada hari ke-2 F = HU


H0
F = 1,5 cm
9
F = 0,166 cm
22
Pada hari ke-3 F = HU
H0
F = 2 cm
9
F = 0,222 cm

b) Cara Dispersi
Dik :
H0 = Tinggi suspensi mula-mula sebelum pengendapan 9 cm
HU = Tinggis endapan setelah proses pengendapan
Hari pertama 0,8 cm
Hari kedua 1,2 cm
Hari ketiga 1,9 cm
Jawaban :
Pada hari peratama : F = HU
H0
F = 0,8 cm
9
F = 0,088 cm

Pada hari ke-2 F = HU


H0
F = 1,2 cm
9
F = 0,133 cm

Pada hari ke-3 F = HU


H0
F = 1,9 cm
9
23
F = 0,211 cm
Tinggi endapan (cm)
Hari Ke- Presipitasi Dispersi
Pertama 0,111 cm 0,088 cm
Dua 0,166 cm 0,133 cm
Tiga 0,222 cm 0,211 cm

3. Ukuran pH
pH
Hari Ke- Presipitasi Dispersi
Pertama 6 5
Dua 6 5
Tiga 6 5

B. Pembahasan
Pada percobaan ini, diharapkan mampu melakukan kontrol kualitas sediaan
suspensi meliputi: menghitung derajat flokulasi, dapat mengetahui perbedaan
antara peristiwa flokulasi dan deflokulasi dan perbedaan metode pembuatan
suspensi. Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam
bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairanpembawa. Jika dikocok
endapan segera terdispersi kembali.
1. Menghitung derajat flokulasi
Pada pengukuran derajat flokulasi (β) dibuat disperse sulfasalazim dengan
1 formula yang berisi bahan-bahan seperti sulfasalazim 6 g, SLS 60 mg,
aquadest 60 ml. Sulfasalazim sebagai zat aktif atau fase dispersnya, kemudian
digunakan SLS (Sodium Lauril Sulfat) sebagai surfaktan yang berfungsi
membantu pembentukan suspense ( suspensing agent) serta aquadest sebagai
medium dispers.

24
Formula A merupakan suspense terdeflokulasi, karena tidak ditambahkan
AlCl3 yang berfungsi sebagai Flocculating agent. Suspense yang terdeflokulasi
partikelnya mengendap perlahan-lahan dan akhirnya membentuk ‘cake’ yang
keras dan sukar untuk tersuspensi kembali. Perhitungan derajat flokulasi untuk
menilai kestabilan suspense selama proses penyimpanan. Jika harga derajat
flokulasi (β) = 1, maka tidak terjadi flokulasi dalam sistem.
2. Mengenal metode pembuatan suspensi
Pada pembuatan suspense ini dibuat formula dengan bahan aktif
sulfadimidina. Terdapat pula asam sitrat sebagai antioksidan yang dapat
mencegah terjadinya oksidasi pada suspense, CMC-Na sebagai surfaktan, metil
paraben sebagai bahan pengawet suspense yang berfungsi mencegah
pertumbuhan mikroba selama penyimpanan, larutan NaOH sebagai pelarut
sulfa (zat aktif), sirup simplek sebagai perasa, etanol sebagai pelarut metil
paraben, dan akuadest sebagai medium disperse formula tersebut.
Pada pembuatan formula suspense ini digunakan dua metode yaitu metode
presipitasi dan disperse. Perbedaan pada kedua metode tersebut yaitu pada
metode presipitasi, penambahan larutan NaoH dilakukan diawal sebagai
pelarut sulfa. Prinsip metode presipitasi yaitu usaha mengubah partikel zat
terdispersi menjadi lebih halus dengan penambahan larutan NaOH terlebih
dahulu agar partikel sulfa menjadi lebih kecil dan dapat memudahkan dalam
homogenisasi dengan bahan lainnya, sedangkan untuk metode disperse
penambahan larutan NaOH pada akhir setelah semua bahan tercampur. Prinsip
metode disperse yaitu perubahan partikel secara fisik dengan cara obat
dihaluskan lalu ditambah wething agent.
Pada hasil uji organoleptis, pada suspensi presipitasi dan disperse hasil
yang diperoleh sama yaitu rasa pahit, dan pada hari pertama tidak berbau tetapi
pada hari kedua dan ketiga berbau sedikit menyengat dan berwarna putih susu.
Selanjutnya pada uji volume sedimentasi tinggi suspensi awal 9 cm, pada hari
pertama sampai hari ketiga terbentuk endapan dengan selisih yang hampir

25
sama pada kedua metode suspense tersebut. Pada uji pH pada metode
presipitasi 6 dan pada metode dispersi 5.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Pada formula pertama dari sulfasalazim 6 g, SLS 60 mg, aquadest ad ml ini
termasuk suspensi dalam peristiwa deflokulasi karena partikel berada dalam
suspensi dalam wujud yang memisah, laju pengendapan lambat, endapan yang
terbentuk lambat, terbentuk cake dan hal itu ialah ciri-ciri seperti peristiwa
deflokulasi.
2. Harga F pada 0 menit = 0 ml, 5 menit= 0,1 ml, 10 menit = 0,125 ml, 15 menit
= 0,15, 20 menit: 0,15, 25 menit = 0,166, 30 menit = 0,166 ml, 60 menit =
0,183 ml.
3. Pada derajat flokulasi didapat nilai 1,83 ml
4. Tinggi endapan pada metode presipitasi hari pertama 0,11 cm, hari kedua 0,166
cm, dan hari ketiga 0,222 cm dan pada metode dispersi hari pertama 0,088 cm.
Hari kedua 0,133 cm, dan hari ketiga 0,211 cm.
5. pH pada metode presipitasi hari pertama sampai hari ketiga adalah 6 (termasuk
asam) dan metode dispersi hari pertama sampai hari ketiga adalah 5 (termasuk
asam)

B. Saran
Laporan ini dibuat dengan pemikiran bersama dan masih dalam masa
pembelajaran untuk kita, apabila terdapat kesalahan dalam perhitungan atau pun
teori yang kami tuliskan maka dari itu kami mohon kritikan agar kami bisa
memperbaiki kesalahan dari laporan ini dan semoga sedikit ilmu yang kami
sampakaian lewat laporan ini berguna untuk kalian para pembaca.

26
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, 1989 hal 1, 3, 4, 6, 8 dan 9


Anief, 2000 hal 3 dan 5
Anief. M, 1987 hal 10
Anonim, 2004 hal 5 dan 7
Joenoes, 1990 hal 4
Lachman et al., 1989 hal 4 dan 9
Loenoes, 1990 hal 3
Martin et al., 1983 hal 7 dan 9
Voight, 1984 hal 4, 6 dan 9
Anief M., 2000, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, UGM Press, Yogyakarta.
Anief M., 1987, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, UGM Press, Yogyakarta.
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Ansel, Howard C, 1989 , Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, penerbit Universitas
Indonesia, Jakrta
Moh. Anief, 1993, Farmasetika, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Voight. R, 1971, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Universitas Gadjah Mada<
yogyakarta
Salma site, 2011, Formulasi suspensi [Link]
FAR.053-08. Diakses pada tangal 28 april 08:27
[Link] Pdf. Diakses pada tangal
28 april 08:27

27
LAMPIRAN

Metode Pembuatan dispersi


presipitasi sulfasalazim

28
Formula A
(0 menit) Formula A
(10 menit)

Formula A Formula A
(25 dan 30 menit) (15 dan 20 menit)

29

Common questions

Didukung oleh AI

Perubahan pH dapat mempengaruhi muatan partikel dan viskositas medium, yang dapat menyebabkan perubahan dalam sedimentasi dan stabilitas suspensi. Selama produksi, pH dapat dimonitor menggunakan pengukuran pH yang rutin dan dikontrol dengan penggunaan buffer jika diperlukan, untuk memastikan stabilitas suspensi sepanjang umur simpan dan menghindari reaksi kimia yang mungkin terjadi dengan perubahan pH .

Metode dispersi melibatkan pencampuran serbuk halus ke dalam cairan pembawa, di mana penting untuk memastikan partikel terdispersi dengan baik dalam fase air. Sebaliknya, metode presipitasi memerlukan pelarutan zat tidak larut air dalam pelarut organik sebelum menambahkan air untuk mencapai pengendapan. Metode presipitasi cenderung menghasilkan endapan lebih cepat dan memerlukan kondisi tertentu untuk memastikan hasil yang diinginkan. Karakteristik suspensi seperti kecepatan endapan dan redisperisibilitas sangat dipengaruhi oleh metode pembuatan yang dipilih .

Sifat fisiko-kimia seperti ukuran partikel, sifat muatan, dan interaksi dengan medium pendispersi dapat mempengaruhi kecepatan sedimentasi dalam suspensi. Ukuran partikel yang lebih besar cenderung mengalami sedimentasi lebih cepat. Sedimentasi diukur melalui laju sedimentasi partikel, yang dapat dihitung dengan persamaan Stokes untuk partikel berbentuk bulat, meskipun aplikasinya terbatas pada sistem partikel yang tidak teratur .

Sistem flokulasi memungkinkan partikel berbentuk agregat bebas yang menyebabkan sedimentasi cepat, tetapi karena tidak membentuk cake keras, mudah didispersikan kembali dengan pengocokan. Sistem ini menghindari pembentukan cake padat dan memungkinkan penanganan yang lebih mudah meskipun terlihat kurang menarik secara estetis karena sedimentasi cepat .

Sifat aliran dari suspensi dapat dievaluasi menggunakan viskositas. Penambahan viskositas dapat memperlambat gerakan partikel yang mengendap, namun viskositas tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa partikel tidak mengendap terlalu cepat dan suspensi tetap homogen selama waktu yang cukup untuk pemberian dosis. Hal ini mempengaruhi konsistensi dosis obat dan efikasinya .

Pertimbangan dalam menambahkan zat tambahan ke dalam suspensi termasuk viskositas medium, pH, dan potensi interaksi dengan zat aktif. Zat tambahan seperti stabilizer dan penstabil viskositas digunakan untuk mencegah penggumpalan partikel dan memperlambat sedimentasi, serta untuk menstabilkan zat aktif agar tidak mengalami degradasi yang cepat. Zat peningkat rasa juga dapat ditambahkan untuk meningkatkan penerimaan pasien .

Parameter penting dalam mengevaluasi redispersibilitas suspensi termasuk waktu yang diperlukan untuk mendispersikan kembali endapan setelah pengocokan dan pengukuran viskositas untuk memastikan bahwa suspensi dapat menjadi homogen kembali dengan mudah. Redispersibilitas yang baik memastikan bahwa dosis yang diberikan konsisten dan bahwa zat aktif tersedia secara biologis setelah penyimpanan .

Ukuran partikel dalam suspensi harus konstan untuk memastikan homogenitas dan konsistensi dosis serta menghindari pembentukan cake yang sukar didispersikan kembali. Konstansi ini dicapai dengan proses stabilisasi dan homogenisasi serta penggunaan zat tambahan yang dapat menghambat pertumbuhan atau penggabungan partikel. Hal ini disebabkan karena perbedaan ukuran partikel dapat mempengaruhi laju sedimentasi dan keefektifan suspensi .

Stabilitas suspensi sangat penting agar bentuk, bau, dan rasa obat tetap dapat diterima oleh pasien selama penyimpanan dan penggunaan. Faktor-faktor seperti volume sedimentasi, sifat alir, dan ukuran partikel mempengaruhi stabilitas fisik suspensi. Stabilitas yang buruk dapat menyebabkan penurunan efektivitas obat jika suspensi tidak homogen atau zat aktif telah mengendap signifikan sebelum dosis diberikan .

Suspensi banyak digunakan karena memudahkan penggunaan terutama untuk anak-anak dan orang dewasa yang kesulitan menelan tablet atau kapsul. Bentuk cair seperti suspensi lebih disukai karena mudah ditelan dan memungkinkan penyesuaian dosis yang mudah. Selain itu, suspensi dapat mengandung zat tambahan untuk menutupi rasa tidak enak dari zat aktifnya, sehingga meningkatkan penerimaan pasien terhadap obat .

Anda mungkin juga menyukai