Amenorea Primer: Definisi dan Epidemiologi
Amenorea Primer: Definisi dan Epidemiologi
PENDAHULUAN
TINJAUAN PUSTAKA
a. Definisi
b. Epidemiologi
c. Etiopatogenesi
Penyebab utama dari amenorea primer termasuk defek anatomi dari traktus
2
Tabel 1. Penyebab umum dari amenorea primer1
a. Agenesis Vagina
3
uterus (hematometra) dapat memprovokasi menstruasi retrograde yang mengarah
pada pengembangan perlekatan dan endometriosis.1,4
4
Gambar 1. Stadium Tanner, Perkembangan Payudara, Perkembangan Rambut
pubis8
kandung kemih normal di anterior, rektum di posterior, dan ketiadaan lengkap dari
5
1) Embriologi
6
anomali mullerian seperti yang dijumpai pada sindrom MRKH. Gennya adalah
tunggal dan autosomal dominan dengan ekspresi yang bervariasi. Ghirardini dkk
menggambarkan tampilan histologis dari uterus rudimenter, endometrium, tabung
uterus, duktus Gartner, round ligament, vagina dan ovarium dalam 10 kasus
sindrom MRKH. Temuan mereka menyarankan bahwa sindrom ini disebabkan
oleh kekurangan reseptor estrogen dan gestagen. Kekurangan ini dapat
menghambat perkembangan lebih lanjut daru duktus mullerian embrionik dan
berperan dalam gangguan diferensiasi selanjutnya dari elemen yang ada. Masih
belum diputuskan mengapa dalam kasus sindrom MRKH perkembangan duktus
mullerian berhenti pada perlekatan ligamentum mesonefrik kaudal. Cramer dkk
melaporkan bahwa agenesis vagina mungkin terkait dengan penurunan aktivitas
galactose-l-phosphate uridyl transferase (GALT). Mereka mempelajari aktivitas
dan genotipe dari GALT pada 13 perempuan dengan agenesis vagina dan ibu
mereka. Mereka menyimpulkan bahwa mutasi GALT janin atau ibu yang
menurunkan aktivitas GALT mungkin berhubungan dengan agenesis vagina dan,
sebagai kemungkinan dasar biologis mereka, mengalami peningkatan paparan
intrauterin dengan galaktosa yang telah dibuktikan pada hewan pengerat dengan
menyebabkan penurunan kelangsungan hidup oosit dan penundaan bukaan vagina
pada keturunan.7
Pasien dengan sindrom ini memiliki kariotipe 46XX, genitalia eksterna wanita
yang normal, fungsi ovarium yang normal, ketiadaan parsial atau komplit dari
vagina, dan ketiadaan uterus atau hipoplasia uteri dengan tuba non-kanal
bilateral.8
Secara klinis, presentasi yang paling umum ditandai dengan amenorea primer
pada remaja dengan karakteristik perempuan sekunder yang normal. Hanya dalam
beberapa kasus, di mana pasien memiliki residu rudimenter uterus dengan fungsi
endometrium normal, ada riwayat nyeri berat berulang pada abdomen bagian
7
bawah; Selanjutnya, beberapa remaja dapat menderita tekanan psikologis dari
kehidupan seksual yang gagal. Evaluasi endokrin menunjukkan kadar normal dari
gonadotropin dan steroid seks (estradiol) plasma basal, tanpa tanda-tanda
biokimia dari kelebihan androgen.2,4
Berbagai defek mullerian yang telah dijelaskan adalah agenesis vagina atau
uterus, vagina atau uterus rudimenter / atretik. Ginjal unilateral terkait dengan
50% kasus dan anomali skeletal dengan 12% kasus. Kelainan skeletal yang
dilaporkan adalah anomali fusi dari vertebra, skoliosis kongenital dan deformitas
tungkai, seperti brakhimesofalangi jari, falang distal yang kecil dari digiti, falang
proksimal yang panjang dari digiti dan metakarpal yang panjang dari digiti. Selain
itu, beberapa pasien mungkin memiliki displasia radial yang berbeda dan kelainan
dari karpal.7
8
Dalam sebagian besar kasus, kedua ovarium normal dan wanita yang
terpengaruh memiliki aktivitas seksual yang normal. Kadang-kadang, satu
ovarium dengan tuba falopi ipsilateral mungkin tidak ada. Profil hormon dan
karakteristik seksual sekunder normal dalam kasus sindrom Mayer-Rokitansky-
Kuster-Hauser. Berbagai anomali terkait lainnya yang dilaporkan adalah sindrom
Klippel-Feil, deformitas Sprengel, dan ankilosis stapedial kongenital dan kista
ovarium.7
lengkap dengan hernia inguinalis. Tampilan eksternal: wanita, tidak ada rambut pubis dan
aksila, dan payudara yang berkembang baik. Juga ditunjukkan tampilan dari isi hernia
pada sisi kiri: gonad, struktur tubular, dan pita fibromuskular. Histopatologi menunjukkan
jaringan gonad-testikular.10
10
d. Septum Vagina Transversalis
Septum vagina transversalis merupakan obstruksi vagina kongenital. Ada dua
varietas dari septum transversal: parsial dan total; hanya variasi total yang
bertanggung jawab untuk amenorea. Obstruksi dapat terletak di bagian inferior
(16%), sentral (40%) atau superior (46%) dari vagina. Serupa dengan agenesis
vagina, cacat ini juga bertanggung jawab atas nyeri abdomen dan nyeri pelvis
berulang yang berasal dari darah yang terakumulasi dalam uterus dan vagina
(hematokolpos).2 Lokasi septum dapat mempengaruhi waktu presentasi. Septum
di sepertiga bagian bawah vagina memungkinkan distensi vagina yang lebih besar
dan presentasi yang lambat.11
e. Himen Imperforata
Himen imperforata telah diperkirakan memiliki insiden 1/1000.2 Diagnosis
jarang pada masa bayi karena kondisi ini biasanya asimtomatik, meskipun dalam
kasus yang jarang neonatus dapat menderita pembesaran abdomen yang
bermakna. Yang lebih umum, perempuan dengan amenorea akan menerima
diagnosis himen imperforata setelah mengalami nyeri abdomen, hematometra atau
hematokolpos selama periode pubertas.4
4. Insufisiensi ovarium
Insufisiensi ovarium mencakup spektrum yang luas dari penyakit yang
ditandai dengan hipogonadisme hipergonadotropik karena produksi yang tidak
memadai dari steroid seks dengan adanya kadar yang tinggi dari luteinizing
hormone dan follicle-stimulating hormone. Hipogonadisme hipergonadotropik
dapat disebabkan oleh beberapa kondisi termasuk agenesis atau disgenesis gonad,
kegagalan ovarium prematur dan defisit enzimatik; masing-masing kondisi
mencakup banyak gangguan lainnya.2
a. Disgenesis gonad
Disgenesis gonad termasuk situasi yang ditandai oleh anomali perkembangan
yang menghasilkan garis gonad. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan
kariotipe normal serta abnormal.4
b. Sindrom Turner
Sindrom Turner merupakan kelainan kromosom yang paling sering bertanggung
jawab atas disgenesis gonad, yang memiliki insidensi sekitar 1/2500 kelahiran
hidup perempuan. Diagnosis sindrom Turner dilakukan berdasarkan pada
karakteristik fenotipik khas pada perempuan fenotipik yang memiliki ketiadaan
parsial atau total dari satu kromosom X, dengan atau tanpa mosaicisme. Tampilan
utama dari sindrom Turner adalah webbed neck, cacat pada telinga, dada yang
bidang, jarak antar-puting yang lebar, cubitus valgus, malformasi jantung,
penyakit ginjal dan perawakan pendek. Selanjutnya, salah satu karakteristik
sindrom Turner yang paling sering adalah kurangnya perkembangan pubertas.
Bahkan, meskipun ovarium berkembang secara normal, mereka berdegenerasi
selama kehidupan intrauterin dan bayi, dan lebih dari 90% dari perempuan akan
menunjukkan kegagalan gonad. Namun,sekitar 30% dari pasien ini akan
menunjukkan perkembangan pubertas alami, dan menstruasi akan terjadi pada 2-
5% anak perempuan yang memiliki mosaicisme 46, XX / 45, X karena jumlah
17
oosit yang normal; Selanjutnya, sekitar 5% dari anak perempuan dengan sindrom
Turner akan menunjukkan kehamilan spontan.4
Disgenesis gonad juga bisa terjadi pada subyek dengan kariotipe 46, XY atau
46, XX. Secara khusus, subyek dengan kariotipe 46, XY diketahui dipengaruhi
oleh sindrom Swyer. Subyek ini menunjukkan genitalia eksterna perempuan atau
ambigu dengan perkembangan normal dari vagina dan uterus karena tidak ada
atau tidak memadainya produksi hormon anti-Mullerian dan testosteron.
Diperkirakan bahwa sekitar 25% dari subjek dengan diagnosis sindrom Swyer
mengembangkan tumor gonad; karena alasan ini, diperlukan untuk mengangkat
gonad pada saat diagnosis.4
c. Kegagalan ovarium prematur
Kegagalan ovarium prematur mengacu pada defek ovarium primer yang
terjadi pada wanita yang lebih muda dari 40 tahun. Kondisi ini dapat bertanggung
jawab atas amenore primer ataupun amenore sekunder bila ada deplesi oosit
prematur dan / atau penurunan folikulogenesis.25 Diperkirakan insidensi
kegagalan ovarium prematur sekitar 1/1000 wanita di bawah usia 30 tahun, 1/250
pada sekitar usia 35 tahun dan 1/100 pada usia 40 tahun. Selain itu, telah
dijelaskan bentuk familial dari kegagalan ovarium prematur yang menyumbang 4-
31% kasus.4
Kegagalan ovarium prematur dapat memiliki penyebab yang berbeda:
iatrogenik setelah operasi atau pengobatan kanker, autoimun, infeksi (ooforitis
mumps, sitomegalovirus, herpes zoster) dan metabolik (galaktosemia).26 Namun,
sebagian besar dari kasus kegagalan ovarium prematur adalah idiopatik, dan
etiologi genetik telah disarankan berdasarkan pada gen kandidat yang ditemukan
dalam beberapa keluarga. Bahkan, gangguan kromosom X telah ditemukan
berhubungan dengan kegagalan ovarium prematur pada wanita dengan sindrom
Turner, delesi atau translokasi X parsial, atau adanya kromosom X tambahan.26
Khususnya dua gen, yaitu POF1 yang terlokalisasi pada Xq21.3-Xq27, dan POF2
yang terlokalisasi pada Xq13.3-q21.1, telah ditemukan terkait dengan anomali
kromosom yang bertanggung jawab untuk pengembangan POF.26 Namun, banyak
gen lainnya yang telah terlibat pada wanita dengan kegagalan ovarium prematur,
18
termasuk BMP15, FMR1, FMR2, LHR, FSHR, Inha, FOXL2, FOXO3, ERa, SF1,
Erb dan gen CYP19A1.26 Secara klinis, presentasi ditandai dengan amenorea
primer pada remaja tanpa karakteristik sekunder perempuan, atau tidak adanya
menstruasi pada wanita dengan perkembangan pubertas yang normal, palpitasi,
flushes, kelelahan dan depresi. Evaluasi endokrin menunjukkan kadar
gonadotropin basal yang tinggi dan nilai estradiol dan inhibin yang rendah.28
5. Endokrinopati
Spektrum endokrinopati adalah luas dan mencakup penyakit adrenal
(termasuk defisiensi 17-a-hidroksilase, defisiensi 17,20-liase, defisiensi
aromatase), tiropati, diabetes yang terkontrol buruk dan gangguan ovarium.2
6. Oligo atau Anovulasi Kronis
Oligo atau anovulasi kronis mengacu pada sindrom ovarium polikistik, sebuah
endokrinopati heterogen yang ditandai dengan spektrum yang luas dari gambaran
klinis dan biokimia. Bahkan, gangguan kompleks ini membutuhkan adanya
beberapa fenotipe, termasuk hiperandrogenisme dan / atau hiperandrogenemia,
dan normoovulasi atau oligoovulasi dengan atau tanpa ovarium polikistik.
Fenomena ini telah dijelaskan pada setidaknya 6% wanita selama masa
reproduksi. Namun, ia baru-baru ini telah dilaporkan bahwa dengan menggunakan
kriteria diagnostik yang berbeda prevalensi sindrom ovarium polikistik adalah
sekitar 18%. Etiopatogenesis dari sindrom ovarium polikistik masih belum jelas
meskipun tampaknya merupakan kombinasi genetik dan faktor lingkungan. Secara
khusus, dua kondisi telah diakui memainkan peran utama: resistensi insulin
dengan hiperinsulinemia dan hiperandrogenisme. Selain itu, gangguan
hipotalamus / hipofisis, kegagalan ovarium dan obesitas terlibat dalam
patogenesis sindrom ovarium polikistik. Sindrom ini menjadi simptomatik selama
masa remaja dengan gejala psikologis, metabolisme dan reproduksi, termasuk
depresi, kecemasan, hirsutisme, oligoamenorea atau amenorea, infertilitas,
sindrom metabolik, diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Secara khusus,
70% - 80% dari wanita dengan sindrom ovarium polikistik, oligoamenorrhea atau
amenorea disebabkan oleh oligo-ovulasi / anovulasi kronis.4
19
7. Keterlambatan Konstitusonal
Constitutional delay of growth and puberty (CDGP) merupakan penyebab
yang paling umum dari pubertas tertunda. Ia dapat didiagnosis hanya setelah
kondisi yang mendasarinya telah disingkirkan. Diagnosis CDGP dapat dibagi
menjadi tiga kategori utama: hipogonadisme hipergonadotropik (ditandai dengan
peningkatan kadar luteinizing hormone dan FSH karena kurangnya umpan balik
negatif dari gonad), hipogonadisme hipogonadisme permanen (ditandai dengan
kadar luteinizing hormone dan FSH yang rendah karena gangguan hipotalamus
atau hipofisis), dan hipogonadisme hipogonadotropik transien (hipo-gonadisme
hipogonadotropik fungsional), di mana pubertas tertunda disebabkan oleh
maturasi yang tertunda dari aksis HPG akibat kondisi yang mendasarinya.19
Pada hipogonadisme hipergonadotropik, penyebab yang umum adalah sindrom
Turner, disgenesis gonad, dan kemoterapi atau terapi radiasi. Pada hipogonadisme
hipogonadisme permanen, penyebab yang umum adalah tumor atau penyakit
infiltratif dari sistem saraf pusat, defisiensi GnRH (hipogonadisme hipogonadisme
terisolasi, sindrom Kallmann), defisiensi kombinasi hormon hipofisis, dan
kemoterapi atau terapi radiasi. Pada hipogonadisme hipogonadotropik transien,
penyebab yang umum adalah penyakit sistemik (penyakit usus inflamatorik,
penyakit celiac, anoreksia nervosa atau bulimia), hipotiroidisme, dan olahraga
yang berlebihan. Namun, sebagian besar pasien tidak akan memiliki penyebab
alternatif yang jelas dari pubertas tertunda pada evaluasi awal, yang menunjukkan
CDGP sebagai diagnosis yang memungkinkan.19
d. Diagnosa
20
Gambar 6. Algoritma evaluasi amenorea primer20
Dalam semua kasus, kehamilan pertama kali harus disingkirkan. Langkah
evaluatif awal adalah serupa; Namun, perbedaan utamanya adalah kebutuhan
untuk menentukan ada atau tidak adanya uterus pada pasien dengan amenore
primer. Penting untuk mempertimbangkan semua penyebab amenore sekunder
dalam evaluasi amenore primer.1,20
Anamnesis3
a) Adanya karakteristik seksual sekunder. Apakah rambut aksila dan pubis ada
dan ada perkembangan payudara (lihat stadium Tanner). Jika tidak ada
karakteristik seksual sekunder, biasanya ada penundaan dalam pubertas karena
malnutrisi (stunting), penyakit kronis pada masa kanak-kanak, aktivitas fisik
21
yang berlebihan yang dikombinasikan dengan kurangnya asupan energi.
b) Riwayat infeksi, terutama ensefalitis. Ensefalitis dan meningitis mungkin telah
merusak hipotalamus atau hipofisis.
c) Riwayat operasi (abdomen). Pengangkatan ovarium karena tumor, kista atau
abses tubo-ovarii.
d) Usia ibu dan kakak perempuan saat menarche. Usia yang lebih tua saat
menarche bersifat herediter.
e) Penyakit kronis (di masa kecil) dan / atau riwayat penyakit mayor dalam 3
tahun terakhir. Penyakit kronis yang melemahkan dapat menyebabkan
anovulasi melalui disfungsi hipotalamus.
f) Nyeri abdomen siklik. Bersama dengan massa abdominal, gejala ini bisa
mengindikasikan septum vagina atau himen imperforata
g) Berat badan. Penurunan berat badan yang berat Misalnya karena penyakit
kronis mempengaruhi fungsi hipotalamus.
h) Hirsutisme. Distribusi maskulin dari rambut tubuh (payudara, abdomen,
wajah, paha) dan / atau akne mengindikasikan kelebihan androgen dan gejala
sindrom ovarium polikistik.
i) Hubungan seksual (kehamilan). Tanyakan gadis dengan hati-hati tentang seks:
apakah dia terlibat dalam hubungan seksual konsensual atau ia adalah korban
kekerasan seksual? Infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV dan
kehamilan harus disingkirkan.
22
Tabel 2. Temuan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terkait dengan
amenorea20
Pemeriksaan Fisik
Selalu jelaskan kepada perempuan atau wanita apa yang akan Anda lakukan dan
tanyakan kepadanya apakah dia ingin seseorang yang dia percaya hadir pada saat
pemeriksaan.3
a) Tinggi dan berat badan. Indeks massa tubuh (IMT): Berat (kg) / panjang ×
panjang (m). IMT <18 adalah underweight dan IMT> 30 adalah obesitas.
b) Tanda-tanda malnutrisi, TBC, HIV / AIDS, penyakit kronis.
c) Peningkatan pertumbuhan rambut pada wajah, daerah pubis, abdomen dan
/ atau paha.
d) Karakteristik seksual sekunder (perkembangan payudara dan rambut pubis
dan aksila).
23
e) Payudara: keluarnya susu secara spontan atau setelah mengeluarkannya
dengan hati-hati.
f) Pemeriksaan abdomen: kehamilan, tumor.
g) Genitalia eksternal: klitoris, himen, pertumbuhan rambut. Pada seorang
gadis dengan amenore primer cari himen yang menggembung yang menunjukkan
himen imperforata.
h) Pemeriksaan spekulum dan pemeriksaan pelvis (jika seorang gadis /
wanita tidak virgin): atrofi, sekret, kelainan serviks, eksitasi serviks,
ukuran uterus, massa pelvis.
i) Pemeriksaan USG (abdominal dengan kandung kemih penuh atau
vaginal): ada tidaknya uterus, ukuran uterus, endometrium, ukuran ovarium dan
ada atau tidaknya folikel, massa tubo-ovarium, kista, cairan bebas. Pada seorang
gadis dengan amenore primer yang secara khusus dicoba untuk
memvisualisasikan uterus dengan tanpa uterus menunjukkan kelainan kongenital
atau kelainan kromosom.
Pemeriksaan laboratorium3
Pemeriksaan awal mencakup tes kehamilan dan kadar luteinizing hormone,
follicle-stimulating hormone, prolaktin, dan thyroid-stimulating hormone serum.
Jika anamnesis atau pemeriksaan menunjukkan keadaan hiperandrogenik,
konsentrasi testosteron bebas dan total serum dan dehidroepiandrosteron sulfat
dapat berguna. Jika pasien berperawakan pendek, analisis kariotipe harus
dilakukan untuk menyingkirkan sindrom Turner.1,3 Jika adanya sekresi estradiol
endogen tidak jelas dari pemeriksaan fisik (misalnya, perkembangan payudara),
estradiol serum dapat diukur. Hitung darah lengkap dan panel metabolik yang
komprehensif mungkin berguna jika anamnesis atau pemeriksaan sugestif dari
penyakit kronis.3
Pemeriksaan Diagnostik
Ultrasonografi pelvis dapat membantu mengkonfirmasi ada atau tidaknya
uterus, dan dapat mengidentifikasi kelainan struktural organ saluran reproduksi.
Jika tumor hipofisis dicurigai, magnetic resonance imaging (MRI) dapat
24
diindikasikan. Hormonal challenge (misalnya, medroxyprogesterone asetat
[Provera], 10 mg oral per hari selama tujuh sampai 10 hari) dengan antisipasi
withdrawal bleeding untuk mengkonfirmasi anatomi yang fungsional dan
estrogenisasi yang memadai, secara tradisional menjadi pusat evaluasi. Beberapa
ahli menunda pengujian ini karena korelasinya dengan status estrogen relatif tidak
dapat diandalkan.1
Sebagian besar laboratorium dengan pengaturan sumber daya yang rendah
tidak memiliki fasilitas untuk mengukur FSH, estradiol, thyroid-stimulating
hormone (TSH) dan prolaktin. Pemeriksaan hormonal ini secara rutin digunakan
dalam diagnosis amenorea dalam pengaturan klinis dengan sumber daya yang
tinggi.3
25
Dengan adanya karakteristik seksual sekunder, langkah pertama adalah untuk
menyingkirkan kehamilan. Kemudian lakukan progestational challenge test
dengan norethisterone 10 mg setiap hari selama 10 hari. Jika pasien berdarah,
adanya uterus dengan endometrium yang cukup siap oleh estrogen dan aliran
keluar yang kompeten dari saluran genitalia dikonfirmasi. Jika pasien tidak
berdarah, langkah selanjutnya adalah memberikan kombinasi pil kontrasepsi oral
untuk satu siklus yang akan menyebabkan withdrawal bleeding saat uterus dan
saluran keluar yang fungsional dijumpai. Tidak adanya withdrawal bleeding
biasanya berarti ada defek pada endometrium, uterus atau saluran keluar dan
pemeriksaan selanjutnya harus diarahkan untuk menilai hal ini.3
Pemeriksaan pada Sindrom MRKH
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan fisik umum, radiografi dari kolumna
vertebra, ekstremitas atas dan urografi intravena (IVU), pemeriksaan
otorhinolaringologi umum dan rantai osikular. USG dari abdomen dan pelvis,
yang dapat menunjukkan dilatasi uterus dengan hematometra, lesi dengan bagian
rudimenter dari uterus yang berfungsi, disgenesis serviks dan kornu uteri yang
terhambat selain penentuan dari ginjal dan ovarium. Banyak peneliti merasa
bahwa USG transabdominal mungkin tidak memberikan gambaran yang benar-
benar dapat diandalkan dalam anomali duktus Mullerian. Oleh karena itu,
magnetic resonance imaging (MRI) saat ini mendapatkan penerimaan yang luas
dalam pencitraan kelainan kongenital dari traktus genitalia. Genitografi dapat
lebih lanjut memberikan rincian anatomi khusus pada kasus agenesis vagina
parsial atau fistula urogenital bersamaan.7
e. Diagnosis Banding
26
Tabel 3. Diagnosis banding amenorea primer (diberi tanda *)20
27
tingginya risiko transformasi maligna setelah pubertas.20
Jika pasien memiliki karakteristik seksual sekunder yang normal, termasuk
rambut pubis, dokter harus melakukan MRI atau ultrasonografi untuk menentukan
apakah uterus ada atau tidak. Agenesis mullerian (ketiadaan kongenital dari vagina
dan perkembangan uterus yang abnormal [biasanya rudimenter]) menyebabkan
sekitar 15 persen dari amenorea primer. Etiologinya diduga melibatkan aktivasi
hormon antimüllerian pada embrio, yang menyebabkan malformasi traktus
genitalia perempuan. Pasien mungkin mengalami nyeri abdomen siklik jika ada
jaringan endometrium dalam uterus yang belum sempurna, mittelschmerz, atau
nyeri payudara. Tidak adanya vagina atau vagina yang terpotong dan uterus
dewasa yang abnormal mengkonfirmasi agenesis mullerian. Analisis kariotipe
harus dilakukan untuk menentukan apakah pasien secara genetik perempuan.20
Jika pasien memiliki uterus yang normal, obstruksi saluran keluar harus
dipertimbangkan. Himen imperforata atau septum transversalis vagina dapat
menyebabkan obstruksi saluran keluar kongenital, yang biasanya dikaitkan dengan
nyeri abdomen siklik dari akumulasi darah dalam uterus dan vagina. Jika saluran
keluar paten, dokter harus melanjutkan evaluasi yang serupa dengan untuk
amenorea sekunder (Gambar 7).20
28
Gambar 8. Algoritma untuk evaluasi amenorea sekunder20
29
yang berhubungan dengan keterlambatan konstitusional dari pertumbuhan dan
pubertas tidak dapat dibedakan dari yang berhubungan dengan kegagalan
hipotalamus atau hipofisis. Observasi dengan cermat sesuai untuk keterlambatan
konstitusional dari pertumbuhan dan pubertas. Sindrom Kallmann, yang
berhubungan dengan anosmia, juga dapat menyebabkan hipogonadisme
hipogonadotropik.20
Hipogonadisme hipergonadotropik (kadar FSH dan LH meningkat) pada
pasien dengan amenorea primer disebabkan oleh disgenesis gonad atau kegagalan
ovarium prematur. Sindrom Turner (kariotipe 45, XO) adalah bentuk disgenesis
gonad perempuan yang paling umum. Temuan fisik karakteristiknya meliputi
webbed neck, jarak antara puting yang lebar, dan perawakan pendek. Mosaicisme
terjadi pada sekitar 25 persen dari pasien dengan sindrom Turner. Pasien-pasien ini
sering memiliki fenotipe yang lebih normal dengan onset pubertas dan menarche
[Link] lainnya yang jarang dari disgenesis gonad murni dapat terjadi
pada kariotipe 46, XY atau XX.20
f. Penatalaksanaan
30
Penatalaksanaan agenesis vagina pada sindrom Mayer-Rokitanksy-Kuster-
Hauser selalu menjadi topik yang kontroversial. Pilihan prosedur dan usia pasien
pada saat rekonstruksi tergantung pada anatomi individu, potensi kesuburan dan
faktor psikologis dan sosial. Awalnya, argumen berpusat pada apakah akan
melakukan operasi atau mencoba dilatasi pasif serta pada usia berapa intervensi
dilakuakn. Karena teknik bedah baru-baru ini telah diperbaharui, pertanyaannya
adalah, jika operasi dipilih, jaringan apa yang harus digunakan (graft usus vs
kulit) dan, jika skin graft, dari daerah mana ia diambil. Tujuannya adalah
memuaskan aktivitas seksual dengan anatomi dan fungsi vagina yang baik
bersama dengan luaran jangka panjang mekanis. Sampai saat ini, terapi yang
direkomendasikan, ketika reseksi kornu rudimenter diindikasikan, adalah
laparotomi. Tujuan yang sama saat ini dapat dicapai dengan laparoskopi.
Laparoskopi tidak hanya berguna untuk diagnosis malformasi uterus, tetapi juga
berharga untuk perawatan yang diperlukan untuk jenis malformasi ini bersama
dengan penciptaan vagina buatan (vaginoplasti yang dibantu laparoskopi).7
Pada sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser, pasien dapat mengambil
manfaat dengan bedah pembentukan neovagina; uterus yang tidak berkembang
harus diangkat dengan adanya endometrium fungsional karena dapat bertanggung
jawab atas pembengkakan uterus dan nyeri berulang abdomen bagian bawah.2
Waktu yang ideal untuk intervensi adalah pada saat remaja atau setelahnya, ketika
seorang wanita telah mencapai maturitas fisik dan psikologis. Di masa lalu,
prosedur rekonstruksi vagina dilakukan pada bayi dan anak-anak perempuan pra-
pubertas dan ini memerlukan revisi bedah yang tak terelakkan di masa remaja
sebelum aktivitas seksual. Penundaan pengobatan juga memungkinkan wanita
untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dan juga meningkatkan kepatuhan
dengan terapi dilatasi ajuvan yang mungkin diperlukan. 8
Tujuan perawatan jangka panjang adalah untuk membuat kanal neo-vagina
yang fungsional dengan diameter dan panjang yang memadai, arah aksial yang
tepat, dan sekresi / lubrikasi yang normal untuk mengakomodasi hubungan
seksual dan mengatasi masalah kesuburan.8
31
Ada dua jenis prosedur utama; pertama terdiri dari penciptaan rongga baru dan
dapat dilakukan dengan bedah atau non-bedah. Yang kedua adalah penggantian
vagina dengan kanal yang sudah ada yang dilapisi dengan membran mukosa
(segmen usus). prosedur non-bedah yang paling umum digunakan adalah metode
dilatasi Frank, yang melibatkan aplikasi pertama oleh dokter dan kemudian oleh
pasien dari dilator vagina, dengan panjang dan diameter yang semakin meningkat,
dan juga teknik Ingram dan modifikasi nya.8
Dilator vagina memiliki sedikit komplikasi karena tidak ada risiko anestesi
atau bedah, tetapi memakan waktu, menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien,
dan membutuhkan motivasi pasien yang baik.8 Pengobatan bedah dari sindrom
MRKH dicapai dengan rekonstruksi vagina, yang meliputi; vaginoplasti Williams,
yang mencakup menjahit labia majora menjadi kantong perineum, tapi vagina
yang dibuat adalah eksternal, pendek, dan tidak memuaskan untuk hubungan
seksual penetratif; prosedur ini tidak lagi dipraktekkan. Prosedur Vecchietti terdiri
dari meningkatkan ukuran vagina dengan secara bertahap menerapkan traksi pada
dinding vagina. Akhirnya, neo-vagina dapat dibuat dalam ruang rektovesika dan
dilapisi oleh jaringan yang berbeda seperti kulit (McIndo-Reed), peritoneum
(Davydov), dan usus.8
Merekonstruksi vagina dengan menggunakan segmen usus menciptakan
vagina yang estetis, tidak memerlukan cetakan, dilatasi atau lubrikasi, dan pada
anak-anak, neo-vagina tumbuh dengan pertumbuhan anak dengan risiko stenosis
yang kurang.8 Kolon sigmoid memiliki kelebihan tertentu, seperti, dinding yang
tebal, diameter yang besar, tidak dapat cedera dengan mudah, memiliki cukup
sekresi mukosa, yang meskipun memadai untuk lubrikasi ia tidak berlebihan atau
menjengkelkan, dan tidak memerlukan dilatasi reguler setelah periode pasca
operasi.8
Pasien dengan sindrom MRKH dapat menderita distorsi pencitraan tubuh yang
berat, kecemasan, depresi, sensitivitas interpersonal dan menghadapi banyak
tekanan psikologis pada saat diagnosis. Langer dkk mempelajari sekuele
psikososial dan cara mengatasi (coping) malformasi dan terapi dengan wawancara
semi terstruktur dan tes Giessen. Hasil anatomis dan fungsional dari operasi
32
vaginoplasti sangat baik dan kepuasan seksual berkorelasi dengan coping. 7/11
pasien MRKH mampu dengan baik untuk beradaptasi dengan malformasi
tersebut. Malformasi menyebabkan kerusakan narsistik pada semua kasus.
Masalah perilaku pada pasien remaja dapat dihindari dengan bimbingan dan
penghiburan awal yang tepat.7
2. Penatalaksanaan gangguan hipotalamus dan hipofisis
Amenorea hipotalamus harus diterapi sesuai dengan etiologi nya. Pengobatan
amenorea hipotalamus fungsional harus diselesaikan dengan kemunculan atau
regulasi siklus menstruasi dengan memulai terapi estrogen dan progestin.
Selanjutnya, terapi ini harusnya mencegah perkembangan osteoporosis.
Sehubungan dengan estrogen oral, telah ditunjukkan bahwa terapi penggantian
hormon transdermal memiliki efek yang lebih baik pada densitas tulang daripada
terapi penggantian hormon oral karena tidak adanya metabolisme hepatik first-
pass.40 Selain itu, suplementasi kalsium dan vitamin D sangat disarankan.32
Secara khusus, pada atlet dengan trias atlet perempuan target terapi adalah untuk
memulihkan menstruasi melalui pengurangan aktivitas fisik, peningkatan berat
badan, suplementasi kalsium dan terapi estrogen.4
Sehubungan dengan sindrom Kallmann, target terapi adalah untuk
mempromosikan perkembangan payudara melalui terapi penggantian estrogen dan
progestin pada anak perempuan dan untuk mempromosikan virilisasi melalui
terapi penggantian testosteron pada laki-laki. Selanjutnya, terapi hormonal bisa
ditawarkan sebagai metode yang valid untuk memulihkan kesuburan pada pasien
ini. Pemberian gonadotropin-releasing hormone atau gonadotropin pulsatil telah
digunakan untuk menstimulasi ovulasi pada wanita dan aktivitas spermatogenik
pada laki laki. Pada sebagian besar subyek yang terkena hipogonadisme
hipogonadotropik idiopatik, terapi gonadotropin-releasing hormone pulsatil
eksogen jangka panjang telah terbukti efisien karena menginduksi pertumbuhan
testis dan perkembangan sperma saat ejakulasi, yang mendukung kehidupan
seksual dan meningkatkan prognosis reproduksi. Namun, sebagian kecil dari
populasi ini tidak merespon penggantian gonadotropin-releasing hormone, yang
33
menyarankan defek hipofisis dan testikular pada subyek ini tidak benar-benar
merupakan konsekuensi dari defisiensi gonadotropin-releasing hormone.21
Sehubungan dengan prolaktinoma, terapi harus menargetkan untuk
memulihkan menstruasi dan menjamin kesuburan. Agonis dopamin adalah terapi
favorit untuk hiperprolaktinemia karena mereka mampu mengurangi kadar
prolaktin, untuk mengurangi ukuran tumor dan untuk mengembalikan fungsi
gonad. Dua agonis dopamin digunakan untuk mengobati prolaktinoma:
bromocriptine dan cabergoline. Secara khusus, cabergoline telah terbukti lebih
berkhasiat dengan kurangnya efek samping daripada bromocriptine pada wanita
dengan mikroadenoma. Oleh karena itu, cabergoline merupakan pendekatan terapi
utama. Perempuan dengan makroadenoma juga bisa mendapatkan keuntungan
dengan agonis dopamin atau, dalam beberapa kasus, mereka
harus menjalani operasi pengangkatan tumor.4,20
3. Penatalaksanaan penyakit terkait insufisiensi ovarium
Sindrom Turner membutuhkan terapi yang mempromosikan pertumbuhan
yang bertujuan untuk memperoleh perkembangan pubertas yang normal dan
pencapaian tinggi dewasa yang normal. Hormon pertumbuhan merupakan fokus
dari terapi promosi pertumbuhan karena terapi ini mampu meningkatkan
kecepatan pertumbuhan dan tinggi akhir. Sehubungan dengan induksi pubertas,
tepat untuk memberikan dosis gonadotropin sebelum memulai terapi penggantian
hormon untuk mengesampingkan pubertas tertunda. Data terbaru telah
menunjukkan bahwa pengobatan dengan estrogen harus dimulai pada sekitar usia
12 tahun untuk mempromosikan perkembangan pubertas yang normal tanpa
mengganggu terapi hormon pertumbuhan untuk tinggi akhir. Sebenarnya, estrogen
oral serta transdermal dan bentuk injeksi depot dari estradiol telah tersedia. Terapi
estradiol umumnya dimulai dengan dosis rendah (dari 1/10 - 1/8 dari dosis
dewasa) diikuti dengan augmentasi bertahap selama 2-4 tahun, sementara
progestin harus dimulai setelah minimal 2 tahun atau ketika perdarahan uterus
terjadi yang memungkinkan perkembangan uterus dan payudara secara teratur.
Selain itu, suplementasi kalsium sangat disarankan dalam sindrom Turner.4
34
Pada sindrom Swyer, terapi penggantian estrogen harus dimulai setelah
gonadektomi pada sekitar usia 11 tahun untuk memungkinkan kecepatan pubertas
normal.4
Wanita dengan diagnosis kegagalan ovarium prematur harusmenjalani terapi
penggantian estrogen sampai usia menopause normal untuk menggantikan defisit
estrogen ovarium dan melawan gejala menopause. Secara khusus, bagi perempuan
yang memiliki uterus yang intak lebih baik untuk memulai terapi hormon
kombinasi estrogen dan progestin untuk menghindari hiperplasia endometrium.
Karena defisiensi estrogen, wanita dengan kegagalan ovarium prematur juga
berisiko osteoporosis; karena alasan ini, aktivitas fisik, makanan yang kaya
kalsium dan vitamin D tanpa merokok atau konsumsi alkohol adalah wajib.4
4. Penatalaksanaan oligo atau anovulasi kronis
Wanita dengan kelebihan berat badan atau obesitas dengan sindrom ovarium
polikistik yang menunjukkan oligomenorea atau amenorea harus menjalani
intervensi gaya hidup terstruktur, termasuk peningkatan aktivitas fisik dan
penurunan asupan makanan. Bahkan, telah ditunjukkan bahwa penurunan berat
badan 5-10% dikaitkan dengan efek yang menguntungkan pada sistem reproduksi.
Mengenai terapi farmakologis, sebenarnya tidak ada terapi yang dapat sepenuhnya
mengatasi gangguan hormonal pada sindrom ovarium polikistik. Selanjutnya,
terapi farmakologis tidak seharusnya mengganti intervensi gaya hidup. Terapi
penggantian estrogen dengan dosis rendah yang dikombinasikan dengan
progestin siklik dapat dimulai yang mengarah pada pengurangan
hiperandrogenisme. Selanjutnya, obat sensitisasi insulin merupakan pendekatan
yang valid untuk mengurangi resistensi insulin pada sindrom ovarium polikistik.
Secara khusus, metformin telah terbukti dapat meningkatkan ovulasi dan
meregulasi periode menstruasi.1,4
Dalam menghadapi masalah ruptura uteri semboyan prevention is better than
cure sangat perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap pengelola persalinan
di mana pun persalinan itu berlangsung. Pasien risiko tinggi haruslah dirujuk agar
persalinannya berlangsung di rumah sakit yang mempunyai fasilitas yang cukup
dan berpengalaman. Bila telah terjadi ruptura uteri tindakan terpilih hanyalah
35
histerektomi dan resusitasi serta antibiotika yang sesuai. Diperlukan infus cairan
kristaloid dan transfusi darah yang banyak, tindakan antisyok, serta pemberian
antibiotika spektrum luas, dan sebagainya.1
36
DAFTAR PUSTAKA
427-446
2010; 2(1)
9. Hughes IA, et al. Androgen insensitivity syndrome. Lancet 2012; 380: 1419–
28
37
10. Nair RV, Bhavana S. XY Female with Complete Androgen Insensitivity
0379-1.
11. Homa L, et al. Primary amenorrhea with transverse vaginal septum and scant
12. Mou JWC, et al. Imperforate hymen: cause of lower abdominal pain in
13. Golden, N.H. & Carlson, J.L.. The pathophysiology of amenorrhea in the
178
2006,12(3):193-207
15. Welt, C.K., Chan, J.L., Bullen, J., Murphy, R., Smith, P., DePaoli, A.M.,
997
16. Dodé, C. & Hardelin, J.P. Kallmann syndrome. European Journal of Human
Genetics 2009,17:139-146
17. Brioude, F., Bouligand, J., Trabado, S., Francou, B., Salenave, S.,
38
clinical presentation and genotype–phenotype relationships. European
21. Jayasinghe, Y., Grover, S.R. & Zacharin, M. (2008). Current concepts in
BJOG,115(3):304-315
39