Persiapan Reakreditasi Puskesmas
Persiapan Reakreditasi Puskesmas
Belajar Akreditasi
Re Akreditasi
SwariSwari dan 242 lainnya bergabung dengan kussularso2.
Trima kasih pak Kus Sularso, saya senang bs gabung grup ini. Puskesmas kami skr sedang
persiapan Re akre 2019. Mhn arahan pak hal2 apa saja yang perlu di persiapkan utk Proses
Re akre? Apakah perlu mengulang langi penggalangan komitmen? Trims sebelumnya.
Saya akan mulai dengan ceritera yang ada di buku The turtle becomes a C.E,O: Kura kura
menjadi Chief Executife Officer Tentang pertemuan sekelompok tikus.
.Sekelompok besar tikus hidup didalam sebuah gudang selama bertahun tahun , Kehidupan
mereka berlangsung menyenangkan , namun sedikitt tereganggu oleh keberadaan seekor
kucing, yang selalu berkeliling mencari mangsa. Hampir setiap hari ada seekor tikus malang
yng dikejar atau bahkan dimangsa oleh kucing. Akhirnya pemimpin tikus menggelar
pertemuan.
“ Tuan tuan dan nyonya nyonya , anak anak dan bayi tikus. Saat ini tiba waktunya bagi kita
untuk menyelesaikan masalah kita dengan kucing ini. Apakah ada yang mempunyai solusi ?
Tikus tikus itu pun sibuk melontarkan ide dan saran. Namun tampaknya tidak ada yang
menyelesaian masalah mereka.
Kemudian seekor tkus muda berdiri , meminta waktu untuk berbicara, dan berkata dengan
lantang,: “ Marilah kita gantungkan sebuah lonceng di leher kucing itu. Dengan cara itu
setiap kali kucing tu mendekat , kita bisa mendengar bunyi loncengnya dan bersembunyi
dengan aman. Kerumunan tersebut bertepuk tangan dengan keras setelah tikus itu kembali
duduk ditempatnya.
Begitu tepuk tangan mereda, seekor tikus yang lebih tua berdiri dan berkata “ Rencana
teman muda kita ini sederhana namun cerdik. Setelah lonceng itu berada di leher kucing ,
kita semua bisa hidup dengan aman. Tapi aku punya satu pertanyaan singkat, untuk semua
yang hadir. Siapa diantara kalian yang bersedia menjadi sukarelawan untuk memasang
lonceng dileher kucing itu ? ( Pesan moral Aeosop ( lahir th 620 -560 SM : dari seorang
budak menjadi cendekiawan dan menyebarluaskan fabel fabelnya untuk pembelajaran di
jaman kaisar Croesus ) , : JAUH LEBIH MUDAH UNTU MENGUSULKAN KETIMBANG
MELAKSANAKAN. ).
Kehidupan nyaman Puskesmas terguncang dengan adanya perintah mendadak dan
mendesak. Ikut Akreditasi. Dokumen kegiatan akan dilihat dan telusur apakah benar adanya
sesuai kenyataan.
Langkah pertama: yang penting dokumen ada dulu. Itu akreditasi awal. Untuk reakrditasi
???
Pendaming telah memberikan pendampingan, Surveior telah memberikan arahan dan saran
serta rekomendasi, Tinggal melakukan kegiatan mengikuti SK, SOP, dan KAK, serta
menuliskannya dengan baik dan benar. Iulah yang bapak ibu hadapi untuk menghadapi Re
akreditasi.
1) Melaksanakan kegiatan dengan benar sesuai Dokumen internal ( dan eksternal juga
tentunya ).
2) Menuliskan dan membuat foto dan gambar gambar darri kegiatan yang sduah dilakukan.
Menyimak pertemuan antar tikus tadi, pertanyaan muncul : Apa yang ditulis dalam notulen
pertemuan tikus itu ? Apakah kesimpulannya dari rapat itu ? Lalu rencana dan Tindak
Lanjutnya apa ?
Tentu Notulen yang sekarang ( pada reakreditasi: bukan pertemuan antar tikus ), menjadi
lebih baik. Kegiatannya memang dilakkan sesuai SK,SOP dan KAK. Foto kegiaran dibaut lebih
baik, gambar gambar, grafik, peta situasi penyakit dll dobuat lebih banyak dan lebih baik.
Disamping itu semua orang sduah bisa mempersiapkan jawaban jika ada telusur karena
mengikuti prosesnya dengan seksama . Dan pendmpping akan setia melurukan jika ada yang
bengkok, akanmembetulkan kalau ada yang salah, akan mengembalikan kejalur jika
melenceng.
Selamat bekerja Sukses.
Kus Sularso, Banyumanik, 1 Juni 2018.
( Menerangkan sesuatu dengan ceritera kadang lebih mengena. Bukan karena mudah
dipahami saja, tetapi juga tidak akan ada yang tersinggung, tak akan ada yang merasa
disindir, tak akan ada yang merasa disalahkan. Sukses. Ingat tujuan kita : Menuju Indonesia
Sehat. Selamat memberi saran, pendapat, komentar, masukan, pencerahan, pengalaman,
kiat kiat. Ramadhan pahala amal saleh dilipat gandakan bukan ??? . Sukses . )
Marilah kita lihat ep inovasi. kalau satu kriteria ini tentang inovasi akan lebih mudah
mencernanya.
Belajar Akreditasi
Mengembangkan Inovasi
Malikatus Assalamualaikum pak kus mohon penjelasan peluang inovasi.
Untuk melengkapi jawaban terdahulu , saya sampaikan bagaimana mengembangkan Inovasi
:
1. Mulailah dari diri sendiri.
a. Tentukan visi pribadi. Sebagai dokter, bidan , perawat, SKM, nutrisionis, Promosi
Kesehatan, Kesehatan Lingkungan.
b. Tentukan visi oganisasi tempat kerja. Kepala Puskesmas, PJ UKM, PJ UKP, PJ Admen,
Ketua tim Mutu, Pelaksana UKM, Pelaksana UKP, Pelaksana Admen .
c. Sinkronkan kedua visi : Sebagai dokter dan sebagai Kepala Puskesmas , ( bagaimana
mengatur agar praktek berjalan tetapi tugas kantor bisa terlaksana,) bidan sebagai PJ UKM (
bagaimana menjadi bidan praktek mandiri, tetapi etap bisa melayani posyandu, ) dll.
d. Jadilah ahli dibidang yang anda cintai. Jangan puas dengan hasil pendidikan selama
belajar formal, sebentar kemudian akan sudah out of date: kadaluwarsa karena ilmu dan
tehnology berkembang cepat. Panduan yang lama selalu diperbaharui, pedoman yang lama
diganti yang baru. Bidang kesehatan adalah pilihan kita. Kita ingin memberikan yang terbaik
bagi masyarakat . karena itu kita menjadi pembelajar, dan Puskesmas menjadi organisasi
pembelajar.
e. Bergairahlah dibidang yang anda tekuni. Tugas sebagi tenaga kesehatan itu mulia. Anda
tidak salah memilih , karena itu fokuslah menyelesaikan bidang tugas anda.
2. Cari peluang :
a. Buka fikiran seluas luasnya. Jangan memebatasi diri, dengan puas dengan apa yyang
dimiliki saat ini. Teman lain sudah pergi jauh , sudah membaca banyak, sudah ikut pelatihan
kesana kemari. Pendidikannya selalu bertambah peringkatnya.
b. Buang jauh pesimisme berlebihan. Jika kita mulai hai dengan optimis, akan menular
kepada teman sekeliling kita.
c. Buat rytme : irama creative sendiri. Kita mempunyai irama masing masing, Kalau bisa
bangun jam 3 pagi lalu mulai bekerja sebagaimana Lord Biden Powel :Tokoh pendiri
kepanduan dunia, mengapa tidak, Tidur 3 jam sehari ternyata cukup bagi beberapa orang
yang memang mendapat bakat luar biasa dari Allah.
d. Kesehatan akan membawa kepada kesejahteraan. Sehatkanlah diri sendiri, Karena
bekerja di Puskesmas akan menyehatkan orang lain. Disamping akan membawa
kesejahteraan diri sendiri juga kesejahteraan banyak orang. Kitalah teladan sehatnya ,
bukan orang lain.
3. Identifikasi peluang dan hambatan:
a. Mengambil kesempatan dari semua tantangan. Telah bekerja selama ini dibidang
kesehatan di Puskesmas tentu banyak masalah dihadapi , banyak hambatan menghadang,
tetapi disitulah peluang perbaikan muncul. Jadikan tantangan sebagai peluang untuk maju.
b. Cari peluang inovasi. Jika dengan cara yang sudah kita kerjakan berulang ulang tak
memberi hasil yang diharapkan , mengapa tidak diperbaiki caranya ? Atau jutru mencari
peluang baru ? Belum terfikirkan ? mengapa tidak melihat tetangga Puskesmas sebelah yang
sudah lebih dulu berinovasi. Kita Amati, kita tiru dan kita modifikasi.
4. Tentukan tujuan dan sasaran:
a. Nyatakan dengan jelas dan tegas apa yang diharapkan. Kalau sudah melihat suatu peluang
inovasi, kita cari sasaran dan tujuan kegiatan inovasi yang akan kita lakukan. Kalau kia
sendiri tidk bisa meelihat dengannjelas apa yang kita tuju, bagaimanaa ppula otang lain akan
bisa tahu. Jangan menjadikan kita terlihat konyol dimata banyak orang.
b. Pertajam tujuan dan sasaran itu dengan meminta masukan dan berdiskusi dengan banyak
orang. Jelas untuk kita belum tentu jelas bagi orang lain dan sebaliknya. Jelas menurut kita
mungkin memberi pengertian berbeda untuk orang lain.
5. Cari sesuatu yang baru atau pembaharuan dari yang ada untuk direncanakan:
a. Cari model. Kalau sudah lebih jelas bayangan inovasi yang akan kita lakukan carilah odel
yang sesuai atau mendekati . Carilah model kegiatan serupa yang sudah berhasil. Tinggal
buka internet cari dengan Search: inovasi : maka akan muncul jutaan teory, praktek dan
model inovasi. Pelajari satu persatu dengan tenang dan pikiran jernih. Tidak perlu sambil
merokok, karena justru akan menghambat ide yang muncul,
b. Keberagaman pemikiran. Kembangkan keberagaman pemikiran untuk mengembangkan
ide inovasi yang muncul, sampaikan kepada khalayak dan bahas secara panjang lebar. Kalau
kita sendiri yang memikir , jangan jangan sampai akhir hayat tidak ketemu formulanya.
c. Cari berbagai peluang, jangan puas dengan satu cara saja. Dalam pembahasan dengan
kahalayak : minta ide, pendapat dan sanggahan sebanyak banyaknya, mungkin akan muncul
alternative alternative baru. Jangan terpaku dengan satu cara. Makin banyak cara muncul
makin baik, kita tinggal pilih pilih mana yang lebih cocok dan lebih mungkin dilaksanakan.
6. Move on: Bergeraklah. Bangunlah ! Jangan diam saja.
a. Jangan takut mencoba dan jangan takut gagal. Ide akan tetap menjadi ide, Rencana akan
tetap ada dilaci jika kita tidak bangun dan mengerjakan ide itu. Karena itu beruntunglah
orang yang biasa kerja keras yang biasa pontang panting di lingkungan kerja, dilingkungan
pemerintahan, dilingkungan Lembaga swadaya masyarakat disamping kegiatan didalam
rumah tangga. Anda masih menyimpan jutaan volt untuk dimanfaatkan. Bukankan kita
selalu makan , menambah kalori setiap hari ?
b. Jangan sia-siakan kalori yang masuk menjadi lemak yang akan menyebabkan kita gendut
dan buruk rupa, dan meningkatkan kemungkinan terkena serangan jantung dan stroke.
c. Jangan takut capai. Dengan irama hidup yang baik, tenaga akan menjadi pulih kembali
setelah kita tidur, gairah akan bangkit kembali setelah rekreasi , dan fikiran akan menjadi
terang kembali setelah bersilaturahmi dan bercanda bersama keluarga atau teman.
d. Ambil risiko sesuai kemampuan. Semua langkah yang akan diambil selalu ada risikonya.
Kalau tidak berani ambil risiko , terus saja tidur dan bermimpi. Mimpi itu tidak akan menjadi
kenyataan selama kita tetap tidur.
e. Kembangkan ide seluas luasnya. Ide satu akan membawa ide lain yang lebih banyak dan
lebih luas. Selalu memperhatikan ide baru akan menjadikan kecepatan berfikir meningkat.
Dan kepikunan akan menjauh, Insya Allah.
Kus Sularso, Banyumanik : 31 Mei 2018.
( Dilevel mana anda sekarang berada ? Tak ingin naik peringkat ? Kita mungkin merasa tak
perlu mengembangkan inovasi baru. Sebagai pribadi mungkin ya. Tetapi sebagai apaeat
pemerintah , sebagai abdi Negara, sebagai warga Negara , kita harus ingat bahwa organisasi
kita butuh inovasi.
Ingat level pertama dalam hirarki ini: Sinkronkan visi kita dengan visi tempat kerja kita,
dengan visi Negara dimana kita berada dan bekerja.
Untuk diingat : Visi organisasi kita adalah ; INDONESIA SEHAT. TETAP SEMANGAT. SUKSES. )
Belajar Akreditasi
Persiapan Kepala Puskesmas
Yulmiana Dwi Masih bingung pak ...sebagai kepala puskesmas apakah ada persiapan khusus
sewaktu penilaian akreditasi?
Yang sangat penting dan sering dilupakan adalah fungsi control dari Kepala Puskesmas.
Pengertian control adalah : Pengawasan agar : semua yang HARUS dikerjakan telah
dikerjakan dan yang seharusnya TIDAK DIKERJAKAN memang tidak dikerjakan.
Jadi Kepala Puskesmas harus MEMASTIKAN , DO and DON”T ini, KERJAKAN INI dan JANGAN
KERJAKAN ITU.
Dalam konteks Akreditasi yang memang bertumpu pada pemeriksaan ( mengaudit adalah
memeriksa ) terhadap bukti ( dokumen ) dan saksi ( mewawancarai Pelaksana Kegiatan ,
Kepala Puskesmas dan Pimpinan Puskesmas atau Lintas Sektor .)
Ketika Survey Akreditasi : Pelaksana Kegaitan menyodorkan bukti dokumen : terlihat belum
ada tanggal pembuatan dokumen atau tanggal mulai berlakunya SK tetapi Kepala
Puskesmas sudah tanda tangan. Pertanyaannya: waku tanda tangan Kepala Puuskesmas
sudah memeriksa belum kata perkata, kalimat perkalimat dari apa yang tertulis ? Mengapa
tanggal yang seharusnya ada , belum ada ? Harusnya Kepala Puskesmas meminta
melengkapi tanggal dan mencocokkan urutan kronologis tanggal pembuatan : SK, SOP, KAK.
Bukankah SK, SOP,KAK itu sebagai perintah Kepala Puskesmas agar dilaksakan : DO IT.
Kadang Pelaksana kegiatan menyodorkan SOP : dalam uraian Pengertian : belum sesuai,
belum tepat dengan rujukan yang ada. Maka Kepla Puskesmas harus melakukan koreksi:
sebaiknya pengertiannya yang benar bagaimana. Karena itu Kepala Puskesmas harus pintar ,
harus rajin, harus cerdas , harus teliti, harus banyak membaca, harus luas wawasannya.
Dalam SK Kepala Puskesmas biasanya disebutkan : …. Dianggap mampu menjalankan
tugasnya sebagai Kepala Puskesmas.. kalau ternyata terdapat kesalahan akan diperbaiki
kemudian.
Kadang SOP menyebutkan dasarnya SK:…. Tak disebutkan no SK, nya, Kadang pembuatan
SOP tanpa dasar. Kepala Puskesmas harus melakukan pembetulan, atau meminta dilakukan
pembetulan dulu.
Kalau ini dijalankan maka semua dokumen akan tertata rapi, terstruktur, tidak overlapping
dan tidak ada kekosongan.
Kalau diperhatikan dalam elemen penilaian Akreditasi disebutkan : PJ UKM melakukan
Identifikasi masalah. Maka sebaiknya ada tanda tangan PJ UKM yang menunjukkan bahwa
dia yag membuat , atau telah dibuat dan telah dikoreksi olehnya.
Kadang terjadi dokumen yang diajukan langsung dibuat oleh Pelaksana dan ditanda tangani
Kepala Puskesmas. Boleh jadi PJ UKP. PJ UKP atau PJ Admennya tidak tahu menahu
dokumen itu. INI mengisayaratkan DON’T nya tidak dilaksanakan. Sampaikan kepada
Pelaksana , bahwa perlu menghadap Pj UKM, PJ UKP atau PJ Admen dulu sebelum maju
kepada Kepala Puskesmas. Dengan demikian organisasi akan berjalan dengan lebih baik.
Karena memfungsikan semua kekuatan yang ada. Kalau semua dokumen tidak pernah
melewati PJ , maka organisasi tidak berjalan. Kalau Kepala Puskesmas tidak memeriksa
sebelum tanda tangan , maka pengawasan tidak berjalan dan dokumen yang ada tidak valid
atau tidak memenuhi target yang diharapkan.
Begitu juga laporan kegiatan. Seharusnya Laporan kegiatan maju dulu dari pelaksana kepada
PJ UKM, PJ UKP atau PJ Admen untuk mendapat koreksi, penambahan atau pengurangan
atau meluruskan yang masih salah.
Laporan pertemuan , ada notulen: tetapi tidak ada isinya apa apa. Segera minta dilengkapi
notulen yang hanya berisi tulisan : Pembahasan jadwal: tetapi tak ada keterangan
selanjutnya.
Dalam notulen tercantum : Pembahasan capaian kinejra, tanpa penjelasan selanjutnya, apa
maaslahnya ( kesenjangannya ) analisa penyebab masalahnya , apa Rencana Tidak Lanjutnya
. Bagi surveyor ada yang mengartikan : ada kemungkinan memang sebenarnyar tidak
dilakukan pertemuan pembahasan . Atau dilakukan sebagai rutinitas, Pertemuannya ada,
tetapi pembahasannya tidak ada. Kalau ketika meminta tanda tangan atau saat melapor
langsung dikoreksi maka dapat dilakukan perbaikan dokumen sebelum terlupa.
Kalau control dokumen itu berjalan dengan baik, maka tak perlu gugup saat diminta maju
Akreditasi. Setidaknya dari segi dokumen sudah aman.
Kus Sularso, Banyumanik 29 Mei 2018.
( Kita sering mendengar pengawasan melekat. Apakah itu berjalan ?, Para Kepala Puskesmas
bisa menjawabnya dengan se benar benarnya , agar semua menjadi terang benderang.
Akreditasi itu sekedar memeriksa ( mengaudit=memeriksa ) apakah pekerjaan telah
dilakukan sesuai standar yang berlaku. Bagi Puskesmas yang setiap harinya telah
melaksanakan kegiatan sesuai SK,SOP,KAK, dan Panduan serta pedoman dan Perundangan
yang berlaku maka Akreditasi itu hanya cara formal mengetahui dan menilai apakah yang
seharusnya dikerjakan telah dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan benar benar tidak
dikerjakan. . Banyak Puskesmas telah bisa enarik benang merah ini dn segera melakukan
kegiatan sesuai perencanaan. Ingat control Kepala Puskesmas tu : mencocokkan
pelaksanaan dengan perencanaan. Itu tugas Kepala Puskesmas yang lebih awal: Mebuat
Perencanaan Puskesmas dengan baik dan benar. Nanti kita diskusikan tersendiri. Tetap
semangat dan sukses selalu. )
Belajar Akreditasi
Tanpa ribet
Dubes Dubes Maaf bpk... akreditasi terlalu menuntut dokumen tertulis. Apakah tanpa bukti
dokumen berarti kita tdk bekerja? Akreditasi ribet ga praktis.. hrs nya mempermudah krj
pegawai eh taunya mempersulit, hrs lembur lah hingga menyita waktu utk keluarga. Rapat
terlalu sering juga.
Dalam pembuktian suatu kejadian selalu dibutuhkan setidaknya dua alat bukti yang cukup.
Bisa dokumen tertulis , bisa saksi, karena itu dilakukan telusur atau wawancara dan melihat
bukti dilapangan bukan arsip dokumen saja.
Sebenarnya permintaan dokumen tertulis itu biasa saja. Yang belajar agama Islam juga
diajari : nanti tangan kita dan kaki kita bicara, menjadi saksi , sedang mulut dikunci, Bekas
tapak kaki kita di masjid bisa jadi bukti bahwa kita ahli masjid. Dan Nabi Muhammad bisa
jadi saksi kita di akhirat.
Kita tidak dibiasakan budaya menulis sejak di SD. Dimasyarakat, ngrumpi dan ngobrol
menjadi bagian hidup sehari hari. Jarang membaca , apalagi menulis. Perpustakaan sepi, dan
sekarang omzet surat kabar sudah banyak menyusut.
Dalam beragama kita diminta rajin membaca, Bacalah. Iqra, selain itu juga, disuruh menulis.
Kalau melakukan utang piutang kita harus menuliskannya. Jadi kalau kita legowo dengan
agama kita maka menjalankan akreditasi untuk menuju Indonesia Sehat itu , baik dan bagus,
dan sebenarnya tidak ribet, serta sesuai syariat.
1. Dari semua dokumen akreditasi itu : wujutnya hanya ada 2: Tulisan dan gambar.
2. Sedangkan kegiatan di Puskesmas itu : hanya ada 2 : ditingkat desa /sasaran dan ditingkat
Kecamatan/Puskesmas.
3. Ditingkat Puskesmas : kegiatan yang terbanyak dari UKM dan Admen itu Pertemuan dan
Rapat.
4. Untuk pertemuan dokumen yang diminta : (1) Undangan, (2) daftar hadir, (3) notulen dan
(4) foto kegiatan.
5. Saya selalu mencontohkan pertemuan di UKM : Buat buku notulen pertemuan UKM ,
yang berisi kegiatan pertemuan UKM secara berurutan, diberi tanggal dan selalu ditanda
tangani dengan disebutkan siapa penanda tangannya, sehingga bisa ditanya kalau tidak
jelas..
6. Yang pertama: tulis nama nama semua anggauta UKM : beri judul : missal :Undangan
rapat pertemuan : UKM tgl 29 Mei 2018 puskesmas Rapi Jali . Lalu yang sudah membaca
menanda tangani disampingnya. ( Jadi undangan sudah ada buktinya ).
7. Yang kedua : Selanjutnya buat lagi daftar nama semua orang UKM : Yang hadir saat
pertemuan : membubuhkan tanda tangan. Maka daftar hadir sudah terpenuhi.
8. Yang ketiga : Ketika rapat dimulai , salah satu pelaksana UKM diminta membuat notulen :
Secara singkat apa yang terjadi ditulis. Maka dokumen pertemuan sudah selesai.
9. Yang keempat: Salah satu pelaksana UKM diminta membuat foto kegiatan selama
pertemuan. Moment moment penting diambil gambarnya: Pembukaan , Ucapan Selamat
datang yang mengundang, Sambutan Pimpinan ,, lalu presentasi, Tanya jawab, lalu foto
bersama. Selesailah sudah pengambilan gambar , bisa diprint dan diberi judul lalu ditempel
dihalaman berikutnya. Beri kereangan : Siapa melakukan apa, kapan dan dimana. .
10. Jadi begitu selesai pertemuan : dokumennya sudah jadi lengkap, rapi terstruktur dan
valid.
11. Jadi tidak perlu lembur lagi. ( Apa yang perlu dilemburkan ? )
12. Untuk kegiatan lapangan begitu juga :
13. Pertama undangan : kalau inisiatiifkegiatan dari kita, harus buat undangan, atau di print
dari WA, Kalau undangan dari kegiatan orang itu dujadikan dokumen: Selesai undangan.
14. Kedua: Setelah datang, kita mengisi daftar hadir, potret dengan HP. Selesialh masalah
daftar hadir.
15. Ketiga: Kita mencatat sedikit , apa yang terjadi dalam pertemuan atau kegiatan lapangan
itu. Jadilah notulen.
16. Keempat: Disaming itu kita ambil gambarnya ketika Pak Camat pidato, bu Camat
memberi pengarahan dsbnya. Selesailah foto dokumentasi.
17. Kelima: Lalu kita lampirkan juga surat tugas dari Puskesmas. Maka selesailah seluruh
dokumen yang dibutuhkan kegiatan luar gedung.
18. Tidak perlu lembur lagi. ( Apa yang akan dilemburkan ? ) .
19. Saua bertemu dengan para PJ UKM yang hebat, kemana mana bawa catatan dan HPnya
selau aktif, potret sana potret sini, sering selfi juga, dengan pak Camat dengan bu Camat
dengan Kapolsek, Danramil dan tentu saja dengan para kader kesehatan serta masyarakat
luas Lalu mulai berbincang bincang melakukan lobbying acara kegiatan yang akan dilakukan.
Semua orang kenal dia dan rupanya bangga sekali denga kehadirannya. Luar biasa. Luar
biasa. Say mengeleng gelengkan kepala. Pantas Puskesmasnya begitu harum namanya
dimasyarakt Rupanya beliau ini yang menjadi andalannya. Banyak Ibu bidan desa yang
begitu dipuja banyak orang karena rajn membanu dan melakukan egiatan kelurahan.
Sekarang ditambah rajin selfi. Wajahnya jadi semakin bersinar karena bahagia. Indonesia
sehat, ternyata belaiu beliaulah yang mewujutkannya. Dokumentasi tidak menjadikannya
kendala sama sekali. Rupanya tertular kebiasaan di PKK yang dokumentasinya sangat rapi,
juga para kader yang bekerja tanpa pamih, tanpa gaji, tanpa insentif, tanpa honor, tanpa
tunjanga, tetapi tdak pernah terlambat melakukan kegiatan Posyandu.
Tugas Kepala Puskesmas dan PJ UKM, PJ UKP, PJ Admen dan Ketua Mutu untuk mengontrol
semua anak buahnya, apakah dokumen yang diperlukan hari itu sudah selesai dikompilasi
hari itu juga ?
Disalah satu Puskesmas, ada yang karyawannya sampai 62 orang, Pasien sehari hanya 5-10
orang. Ternyata kegiatan UKM yang dilapangan idak ada dokumennya. Kita tidak tahu
apakah dikerjakan atau tidak. Katanya : tidak ada waktu karena sibuk . Apa yang disibukkan
62 orang mengurusi 5-10 orang pasien sehari , sampai sampai dokumennya kosong sama
sekali ? bukankan Pemerintah menggaji 62 orang kali rata rata Rp 3 juta , perbulan = Rp 186
juta Ditambah dana kegiatan, renvasi dan pembangunan dll dll dll ? Tapi itu ceritera dulu ,
ketika Akreditasi belum dikenal. Sekarang berobah 180 derajat. Betul.
Saya sangat bergembira setelah akreditasi banyak yang menyapaikan , kinerja Puskesmas
sudah berobah menjadi lebih baik. Karena bisa bekerja efektif , efisien. Karena SOPnya
ditaati. Datang jam 7.00 ditepati. Rapat jam 09.00 mulai ditepati, Undangan, daftar hadir,
notulen, foto dibuat saat itu juga. Jadi kerja lebih ceppat, lebih nyaman dan lebih punya
waktu untuk keluarga karena tidak lembur.
Kus Sularso, Banyumanik 29 Mei 2018.
( Mari mulai berlatih diri menulis dan membuat foto kegiatan. Kalau belum , dengan
mengikui proses akreditasi dengan baik dan benar, perlahan lahan kegiatan kita akan
terstruktur dan terencana dengan dokumentasi yang baik, teatur dan
terstruktur/systematis. Kalau melihat postingan saya , biasanya pagi hari karena saya tulis
mulai jam 02.00 malam. Kaang kita perlu merenung. Mengapa Allah menganjurkan kita
banyak bersyukur , bukan banyak mengeuh. Tetap semangat. Sukses. )
Belajar Akreditasi
Lintas sektor
Afdadela Vinci dok bgm tips n trik utk mengajak peran serta linsek dlm perbaikan kinerja?
Untuk mengajak peran serta lintas sector dalam perbaikan kinerja gunakan pendekatan :
PEMBERDAYAAN. Jika pemberdayaan masyarakat : dilakukan ditingkat akar rumput, baik
ditingkat desa maupun RT/RW, maka pemberdayaan Lintas Sektor dilakukan ditingkat
Kecamatan .
Ada tiga kunci pemberdayaan , yaitu : tahu, mau dan mampu. Sesudah itu diberi
perekalan/logistik, diberi kesempatan, dan diberi kekuasaan. Semua itu sudh tercakup
dalam Instrumen Akreditasi jika kita jeli dan kita tekun mencarinya. Itu bisa dilihat dalam ep
yang terlampir dalam gambar.
Akhir dari pemberdayaan adalah kepesertaan mereka untuk berperan serta dalam
perbaikan kinerja itu. Kinerja menuju Kecamatan Sehat.
Berperan serta itu tidak hanya setiap kali hadir setiap kali diundang, tetapi secara bertahap
naik kelas :dengan memberi sran, ikut dalam perencanaan, lalu ikut dalam perbaikan kinerja
itu dalam bentuk Tindak Lanjut perbaikan, Itu ada di ep yang terlampir dalam gambar.
Mengapa mereka tidak mau membantu ?:
1) Jangan jangan karena mereka tidak tahu masalah kesehatan diwilayahnya.
2) Jangan jangan karena mereka tidak tahu peran mereka dalam peningakatan kesehatan
masyarakat.
3) Jangan jangan karena mereka tidak tahu visi kesehatan masyarakat Kecamatan mereka.
4) Jangan jangan karena mereka tidak berminat membantu mewujutkan Kecamatan Sehat.
5) Jangan jangan karena mereka tidak tahu cara berpartisipasi dalam mewujutkan
Kecamatan Sehat.
6) Jangan jangan mereka tidak tahu mreka tidak tahu program program kerja Puskesmas
menuju Kecamatan Sehat.
7) Jangan jangan mereka tidak tahu apa maksud menanda tangani komitmen berperan
serta.
8) Jangan jangan mereka tidak tahu konsekwensi menanda tangani komitmen itu
9) Dstnya dan seterusnya yang bermuara di : Pemberdayaan : tahu, mau dan mampu.
10) Dalam bahasa iilmiahnya: KAP: knowledge , attitude, practice : mempunyai pengetahuan
tentang Kecamatan Sehat dan program programnya, Sikap yang mendukung Kecamaatan
Sehat , sikap setuju itu lalu dipraktekkn menjadi tindakan, dalam hal ini perbaikan kinerja
menuju Kecamatan Sehat.
Semua itu bisa dipahami kalau kita mendalami Instrumen Akreditasi FKTP: karena semua
sudah tertulis dengan baik dan sistematis. ( yang tertuang dalam BAB IV,V,VI lebih sistematis
; karena memang pemberdayaan itu merupakan bagian dari kerja UKM ).
Menjawab kiat untuk menumbuhkan partisipasi dan peran serta lintas sector dengan
misalnya:
1) Kepala Puskesmas bersama PJ Admen, UKP, UKM dan Ketua Mutu beraudiensi dengan
Bapak/Ibu Camat, Kepala Polsek, Danramil dll untuk memperkenalkan diri dan
bersilaturahmi. Tak kenal maka tak sayang . Bukan hanya memperkenalkan orang orangnya
Puskesmas tetapi juga program program Puskesmas. Istilah saya : jangan sibuk dirumah
sendiri. Mulailah keluar mempromosikan Puskesmas dan program prohgramnya.
2) Berpartisipasi dalam Hari Bayangkara, Hari Ulang Tahun Abri dan Hari Ulang Tahun Kota
setempat, atau kegiatan lintas sector yang lain. Sehingga kalau kita aktif dikegiatan mereka,
maka mereka juga akan dengan senang hati berpartisipasi dalam kegiatan dan program
kita.
3) Kehadiran saja tidak cukup, maka mintalah mereka mengeluarkan pendapat, saran saran,
nasehat, masukan, mungkin juga kritikan. Pancing mereka mengeluarkan isi hati, agar
mereka merasa nyaman dengan Puskesmas, apa yang haus dilakukan Puskesmas denagn
program programnya.
4) Ajak mereka hadir dalam kegiatan kegiatan kita dalam menindak lanjuti setiap kita
mengatasi permasalah dalam rangka mewujutkan hara;an dan kebutuhan masyarakat akan
kesehatn. Kalau perlu telpon atau WA Bapak VCamat dan Lintas Sektor lain untuk
mengingatkan bahwa besok ada kegiatan dan Puskesmas sangat mengharapkan
kehadirannya.
5) Mereka akan hadir dan hadir lagi jika kegiatan yang kita lakukan memberi ruang kepada
mereka untuk berpartisipasi. Kita sambut mereka dengan baik, karena itu kita harus hadir
sebelum mereka datang. Yang selalu mengganggu saya adalah apabila kunjungan ke
posyandu atau UKBM, lintas sector atau masyarakat sudah datang dan menunggu lama.
6) Susana konflik tidak bagus untuk kerjasama lintas sektoral, karena itu asah kemapuan
berkomunikasi karyawan, latih bagaiamana berbicara santun dan bagaimana mendengarkan
dengan baik dan efektif. Budayan memberikan respek satu dengan yang lain. Kesediaan
membantu kapanpun kepada lintas sector akan disambut dengan bantuan yang sepadan.
7) Jalin hubungan pribadi untuk kebaikan hubngan jejaring. Banyak cara bisa dilakukan oleh
lintas sector untuk merongrong program Puskesmas jika ada konflik atau ada hubungan
pribadi yang tidak diselesaikan dengan baik.
Marilah kita lihat ep yang berkaian dengan oertayaan ini :
4,2,2 Informasi kegiatan agar kegiatan Puskesmas diketahui [Link] :
[Link] sector agar mengetahu program Puskesmas.
5..4.1. Apa saja peran Lintas Sektor.
6.1.3 bagaimana Lintas sector berperanan.
Kus Sularso, Banyumanik 28 Mei 2018.
( Kegiatan Pskesmas itu : ada ditingkat masyarakat ( didesa, RT,RW atau di Sasaran : SD,
SMP, LSM, Kelompok haji dll ) atau ditingkat Puskesmas/Kecamatan : seperti Pertemuan
Lintas Sektor dan Pertemuan Lintas Program. ) Karena itu Pemberdayaan juga berlaku
Pemberdayaan Masyarakat, dan Pemberdayaan Lintas Sektor.
Kemampuan komunikasi untuk menjalin hubungan pribadi dan organisasi dengan Lintas
Sektor sangat penting, begitu juga kepedulian serta perhatian kita kepada mereka secara
individu maupun organisasi.
Tidak ada organisasi yang telah begitu berhasil membangun komunikasi dan koordinasidi
tingkat Kecamatan seperti Puskesmas. Peran Puskesmas dalam kehidupan masyarakat serta
kehidupan kelembagaan ditingkat Kccamatan sangat diharapkan dan sekaligus dihargai.
Saluut dengan Kepala Puskesmas dan seluruh jajarannnya yang begitu pro-aktif dan begitu
bersemangat menggerakkan pemberdayaan ditinkat masyarakat, begitu juga ditingkat
kelembagaan. Kalau ada yang masih sedikit bingung wajar saja karena perpiindahan tenaga
di puskesmas begitu cepat begitu pula kemajuan program yang luar bisa.
Rasanya sepi Kecamatan yang tidak punya Puskesmas. Betul ! )
Belajar Akreditasi
Audit managemen Admen
Sri Wahyuni • 17 teman yang sama
Masih belum dapet ide mulai dari mana meng audit admen pak dok
1. Seandainya saya sebagai PJ Admen Puskesmas, saya menginginkan penampilan
Puskesmas , seperti hotel bintang lima. Karena itu Tata Graha akan saya perbaiki pertama
kali. Karena penampilan Puskesmas merupakan citra Puskesmas.
2. Saya akan mulai sebagaimana semua pelanggan datang ke Puskesmas . Pertanyaan demi
pertanyaan akan muncul dengan sendirinya, karena saya sudah memiliki mata UKM yang
terasah selama puluhan tahun. “ Sudut pandang UKM” sudah melekat dalam jiwa , saya kira
begitu pula para PJ UKP, PJ UKM, PJ Admen di Puskesmas setelah Akreditasi ini.
3. Semua anak buah saya saya minta besok pagi siap menyambut saya dating jam 6.00 pagi
untuk control mulai depan.
4. Mengapa cat pagar sudah banyak rontok ?
5. Mengapa ada genteng yang mau jatuh dan terlihat ada dua ang sudah pecah ?
6. Mengapa banyak lobang dihalaman ?
7. Mengapa tak ada tempat sampah dekat pintu gerbang ?
8. Mengapa tak saya lihat tukang sapu bekerja ?
9. Mengapa terlalu banyak poster bergantungan didepan. Yang satu itu rasanya sudah
terpasang lebih setahun bukan ?
10. Mengapa lampu luar gedung, belum dipadamkan, apalagi yang dipojok itu sudah
seminngu menyala terus. ini kan sudah terang benderang ?
11. Mengapa tak ada kursi roda dekat pintu masuk ?
12. Mengapa hand rail dekat pintu masuk dipakai jemur keset. Terlalu itu benar kan ?
13. Mengapa ada yang parker menghalangi jalan ambulance ? Gak boleh itu.
14. Mengapa tak ada keset terpasang , malah di taruh hand rail. Dijemur ya. Jangan disitu ,
itu kan pegangan tangan orang yang datang.
15. Mengapa penjaga loketnya gak senyum sih ?
16. Mengapa masih ada pasien yang meludah sembarangan ? Penyuluhan dan posternya
sudah hilang barangkali ya.
17. Dimana botol handscrub kok gak ada ?
18. Itu kamar kecil , kertas control kebersihan kemana ?
19. Mengapa pintunya masih menghadap kedalam. Panggil tukang nanti ya. Besok hars
sudah jadi pintu kamar kecil harus menghadap keluar. Juga itu pegangan tangan dekat
closet cepat dipasang !.
20. Ini ada kotak saran tapi gak ada kertasnya, gimana pengunjung mau memberi masukan,
Ballpoint juga gak ada ya ?.
21. Coba kamu naik tangga. Rasanya itu lebih dari 20 cm tingginya ya. Wah kacau ini.
22. Gimana ini sampah medis dan sampah dapur serta sampah umum campur aduk begini ?
23. Dstnya dan seterusnya.
24. Hari sudah siang. Besok kita lanjutkan.
25. Kus Sularso, Banyumanik 27 Mei 2018.
( Pertanyaan itulah yang selalu muncul dikepala saya ketika mengawali survey Akreditasi.
Tarian yang bagus dan sambutan yang meriah tak akan menggoyahkan iman saya untuk
mulai memotret yang bagus dan yang buruk . Pertanyaan pertanyaan diatas mana yang
sudah terjawab mana yang belum.
Tetapi Puskesmas yang saya datangi sudah hafal, mereka selalu tahu melalui FB apa yang
biasa lakukan , jadi sudah mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya. Semua kelihatan rapi
dan teratur.
Sehingga dalam foto yang selalu saya ambil: hasilnya bagus bagus, Puskesmas yang super
bersih, super kinclong dan super rapi. Moga moga begitulah seterusnya. Biasanya ada
ratusan foto yang saya ambil. Dan itu akan muncul dalam presentasi saat klarifikasi. Bagi
yang masih kurang puas , akan saya tampilkan juga temuan selama perjalanan dan selama
kunjungan lapangan. Maklum saat wawancara dengan lintas sektor, termasuk pak Camat
dan bu camat , tak sempat menayangkan foto foto.
Bukankah hampir semua Puskesmas mempunyai Visi : Kecamatan SEHAT ? jadi Tata
wilayahnya harus diperhatikan. Bukankah ada yang disebut hygiene perseorangan dan
hygiene lingkungan. Ada yang disebut Pemeriksaan tempat tempat umum ? Ada grading
rumah makan dan restoran dll dll. Puskesmas adalah teladan untuk itu semua. Jangan
sampai ada yang bicara : Lihat dong wajah sendiri gak usah ngatur ngatur orang lain . Nah lo
. Gimana tuh !
Saya senang dengan PJ Admen yang kadang berlagak seperti Manager hotel, yang
memamerkan Puskesmanya yang luar biasa bersih, luar biasa rapih dan luar biasa ramah
pengunjung. Seakan akan semuanya itu hasil kerjanya sendiri. Kepala Puskesmas tak
diliriknya . he he he.
Saya acungin jempol untuk Puskesmas hebat sekarang ini. Puskesmas saya dulu juga tak
hebat hebat amat kok. He he he. Tetap semangat. Sukses. )
Belajar Akreditasi
Komitmen Peningkatan Mutu
Seorang teman di FB bertanya :
Pak kus...apakah reakreditsi msij bisa berjlm jika ternyata ssdh penilaian pertma ternyata
pusk tdk berkomitmen mjlnkan ssdh itu?
Saya merasakan hal itu terjadi dibanyak tempat. Walaupun secara samar, atau kadang tak
terucapkan.
Pertayaan itu idak seharusnya disampaikan kepada Surveior, tetapi kepada atasan, teman
sekerja dan lintas sector yang selama ini mendukung. Bukankah dalam Akreditasi itu kita
belajar berorganisasi ?
1) Ada strukturnya.
2) Ada penugasannya .
3) Ada uraian rugas dan wewenang serta tnggung jawabnya.
4) Ada kewajiban meningkatkan mutu kinerja dan keselamatan pasien.
Kalau dalam Akreditas tertulis komitmen , itu bukan komitmen kepada surveyor, tetapi
kmitmen kepada tugas. Masuk organisasi itu pilihan kita waktu mendaftar jadi ASN/PNS, ada
janji , ada sumpah.
Sebagaimana Presiden mengkampanyekan untuk dipilih oleh rakyat dengan janji janji
kepada rakyat juga. Bagaimana PNS/ASN melamar jadi pegawai dengan sumpah dan janji
janji. Tentu tidak elok jika melanggar janji.
Karena Puskesmas mempunyai atasan, Sebaiknya pertanyaan itu disampaikan kepada
atasan Puskesmas. Bertanyalah kepada beliau pertanyaan itu. “ Bolehkah kami tidak usah
bekerja saja. Tak usah meningkatkan mutu, tidak usah meningkakan kinerja , tidak usah
meningkatkan keselamatan pasien ? Apakah Bapak Camat setuju dan mengijinkan ? Apakah
Bapak/Ibu Kepala Dinas setuju dan mengijinkan, Apakah Bapak/Ibu Bupati/Walikota setuju
dan mengijinkan ? Terlebh lagi apakah rakyat, apakah masyarakat setuju ? Jangan lupa PNS
digaji salah satunya dari pajak yang dipungut dari rakyat.
Marilah kita lihat dalam Akreditasi , apa yang tertulis:
[Link]. Ada komitmen Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKM Puskesmas dan
Pelaksana untuk meningkatkan kinerja pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan UKM
Puskesmas secara berkesinambungan.
[Link]. Kepala Puskesmas menetapkan kebijakan peningkatan kinerja dalam pengelolaan
dan pelaksanaan UKM Puskesmas.
[Link]. Kepala Puskesmas menetapkan tata nilai dalam pengelolaan dan pelaksanaan
kegiatan.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas dan Pelaksana memahami upaya perbaikan
kinerja dan tata nilai yang berlaku dalam pelaksanaan kegiatan UKM Puskesmas.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas menyusun rencana perbaikan kinerja yang
merupakan bagian terintegrasi dari perencanaan mutu Puskesmas.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas memberikan peluang inovasi kepada pelaksana,
lintas program, dan lintas sektor terkait untuk perbaikan kinerja pengelolaan dan
pelaksanaan UKM Puskesmas.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas dan Pelaksana menunjukkan komitmen untuk
meningkatkan kinerja secara berkesinambungan.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas bersama dengan Pelaksana menyusun rencana
perbaikan kinerja berdasarkan hasil monitoring dan penilaian kinerja.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas bersama dengan pelaksana melakukan
perbaikan kinerja secara berkesinambungan.
[Link]. Ada keterlibatan tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan/atau sasaran
dalam perencanaan perbaikan kinerja.
[Link]. Ada keterlibatan tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan/atau sasaran
dalam pelaksanaan kegiatan perbaikan kinerja.
Tapi keadaan sebaliknya banyak saya lihat. PJ UKM nya begitu semangat ingin bekerja,
tetapi meja dan kursi PJ UKM tidak disediakan ? Eksistensi PJ UKM jadi kabur, apalagi kalau
dilihat dalam uraian tugas-nya. Saya lihat dengan adanya Akreditasi keadaan berubah 180
derajat. Sekarang kealtifan Puskesmas luar biasa, baik Kepala Puskesmas, PJ Admen, UKp
dan UKM serta team mutu. Rasanya belum pernah terjadi revolusi mental begitu hebat di
Puskesmas seperti sekarang ini.
Marilah kita saling menyemangati. Kalau masih ada yang ngantuk, wajar mungkin telmi-
Telat Mikir. Tapi itulah namanya dinamika kehidupan.
Taka da yang mengundurkan diri gara gara Akreditasi bukan ? Berarti semua komitmen
untuk ikut proses Akreditasi sampai tuntas. Tetap semangat. Sampai PARIPURNA.
Kus Sularso, Banyumanik, 26 Mei 2018.
( Semangat kadang turun, kadang naik. Itu wajar, tetapi kalau turun terus, dan tidak ada
kemajuan berarti kepatuhan dan konsistensi kepada standar dipertanyakan. Mungkin perlu
juga ya mengucapkan janji lagi. Lintas sector saja kita minta peran sertanya membantu
peningkatan kinerja dan mutu serta keselamatan pasien kita. Jadi pantang buat kita untuk
tidak mengawali dan menuntaskan tugas mulia ini. Tetap semangat. Indonesia sehat
didepan mata. Semoga sejarah mencatat kita para pekerja keras di Puskesmas sebagai
pahlawan Indonesia Sehat. Amin. )
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari
Aku juga tahu kalau Puskesmas itu mengurusi pelayanan kesehatan pribadi warga
Aku juga tahu kalau Puskesmas itu melaksanakan juga ......
pelayanan kesehatan masyarakat semuanya
Karena faktor lingkungan akan mempengaruhi kesehatan pribadi dan menularkannya
kepada komunitas sekitarnya.
Karena itu pada pemeriksaan pasien rawat jalan dan kasus rawat inap ini
Aku ajak juga penanggung jawab upaya kesehatan masyarakat Puskesmas disini
Bersama dengan penanggung jawab upaya kesehatan perorangan secara pribadi
Agar bisa menyikapi jika ada ledakan kasus disuatu kampung atau desa yang jauh dengan
melihat banyaknya kasus dirawat inap kini.
Besok aku akan menghadiri pelayanan pengobatan massal akibat banjir diperkampungan
Aku akan ajak penanggung jawab upaya kesehatan perorangan
Untuk ikut memantau keadaan lapangan
Sehingga tahu kebutuhan pelayanan di Puskesmas supaya obat jangan kekurangan
Aku juga tahu dari dulu kalau jadi Kepala Puskesmas itu berat
Harapan saya tak ada lagi yang menghujat
Mengharao terlalu banyak dengan beban yang berat
Tanpa diimbangi pemenuhan dana, tenaga dan berbagai prasyarat.
Belajar Akreditasi
PIS-PK dipulau
Ketika KAI : ( Kereta Api Indonesia ) menirukan apa yang terjadi di bandara, dengan system
tertutup dimana akses masyarakat umum dibatasi, maka semua menjadi tertata. Tak ada
calo berkeliaran, tak ada pengasong lalu lalang, dan sampah bisa dikendalikan. Barang
barang menjadi lebih bersih dan tahan lama , dan pencurian berkurang drastic. Ini terjadi
karena pemakai sudah merupakan orang orang yang terseleksi dengan sendirinya. Semua
menjadi terkendali.
Itulah yang terpikir ketika mendarat dipulau kecil , lima jam perjalanan dari salah satu ibu
kota Kabupaten, menggunakan perahu rakyat bermesin yang khusus di sewa.
Dipulau kecil itu hanya ada pelabuhan laut kecil dan sederhana . Pelabuhan udara belum
ada. Tak ada juga jalur kereta api antar kota , atau bus antar kota antar Provinsi. Dari
pelabuhan itulah orang keluar masuk pulau itu. Orang yang bepergian-pun terbatas, dan
orangnya sudah jelas , baik identitas maupun tempat tinggalnya, kebanyakan mereka juga
bersaudara. Orang luar , hanya yang berkepentingan yang datang, mungkin pjabat, mungkin
pedagang, yang jelas tidak banyak jumlahnya..
Ingin rasanya cepat berbincang dengan Kepala Puskesmas, menanyakan bagaimana dia akan
melaksanakan PIS-PK diwilayah itu. Suatu komunitas tertutup “ close community” dengan
penduduk yang tidak terlalu banyak dan wilayah yang tidak terlalu luas. Ibarat stasiun kereta
api atau bandara, semua akan lebih mudah menanganinya dibandingkan ketika setasiun
kereta api masih terbuka untuk berlalu lalang orang orang dengan bebas.
Ceritera tentang PIS-PK berlanjut dengan program mencapai Indonesia Sehat, dalam kurun
waktu 2015 – 2019, dimana kesehatan diarahkan agar memfokuskan upaya dengan kegiatan
yang berdampak yaitu :
1. Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.
2 . Menurunkan prevalensi balita pendek (stunting).
3 . Menanggulangi penyakit menular HIV-AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria.
4 . Menanggulangi penyakit tidak menular Hipertensi, Diabetes, Obesitas, Kanker, dan
Gangguan Jiwa.
Mengenai keadaan kesehatan yang terakhir diwilayah itu data data di Puskesmas
menunjukkan bahwa bahwa :
1. tidak ada kematian Ibu melahirkan diwilayah itu. Angka Kematian bayi sangat rendah.
Bidan desa ada disetiap desa.
2. Tak ada gizi buruk, taka da stunting, maklum ikan berlimpah dengan penduduk yang tidak
terlalu banyak, dengan tanah yang cukup subur.
3. Penyakit HIV, belum masuk,
4. Tak ada malaria kecuali pendatang.
5. Penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan adalah penderita TB Paru
beberapa orang.
6. Penyakit Tidak Menular yang mulai bertambah adalah penyakit Hypertensi dan Kencing
manis . Kegemukan tidak banyak. Orangnya aktif aktif dan makan karbohidratnya terbatas.
Gangguan jiwa tidak ada.
Jadi prioritas sudah jelas. TB Paru, Hypertensi dan Diabetes.
Tidak banyak waktu dibutuhkan unttuk mendatangi seluruh rumah dipulau itu dalam rangka
pendataan dan menentukan prioritas bukan . Data yang perlu dikumpulkan mengikuti
pedoman dan panduan. Degan prioritas menuntaskan kasus TB diwilayah itu seluruh tenaga
bisa dikerahkan. Semakin cepat kunjungan rumah dimulai, akan semakin cepat masalah
kesehatan dipulau itu bisa diatasi.
Hypertensi dan Kencing manis, programnya jangka panjang, dengan penyuluhan yang baik
dan pola hidup serta pola makan yang baik akan banyak membantu kearah perbaikan,
Dalam keadaan seperti ini Posbindu perlu segara diaplikasikan.
Dengan mengebangkan Posbindu, secara bertahap penyakit Tidak Menular : Hypertensi dan
Kencing Manis tidak akan berkembang tetapi akan perlahan lahan berkurang. Apalagi kalau
bisa menarik dana desa untuk pengadaan peralatan /paket Posbindu untuk pemeriksaan
tekanan darah dan pemeriksaan laboratorium darah.
Tinggal TB Paru yang perlu segera diselesaikan. Jika semua penderita diketemukan dan
diobati dengan baik , maka dalam dua minggu pengobatan akan banyak yang konversi
menjadi BTA negative, sehingga penularan selanjutnya bisa dicegah. Kalau toh ada
hambatan dalam pengobatan udara segar dan makanan bergizi akan mencegahnya menjadi
parah, apalagi dengan panas matahari dan kesempatan olahraga serta udara segar yang ada
di pulau itu akan memperkuat daya tahannya. Dengan sosialisasi etika batuk yang baik (
selalu menuup mulut saat batuk: dengan masker, dengan sapu tangan, dengan tissue ,
dengan tangan atau dengan lengan baju ), menjemur alas tidur dan selimut, bantal dll
dengan teratur akan menyebabkabkan kuman TB tidak bertahan hidup lama. Tentu
diajarkan cuci tangan pakai sabun serta menghindari kontak dengan orang selama awal
pengobatan. Menyadari sepenuhnya bahwa batuk terbuka didepan orang banyak ketika di
masjid atau ketika sujud , akan mencemari karpet masjid dengan percikan ludah yang
mengandung kuman TB dan membahayakan orang yang sujud berikutnya.
Bahaya datang terutama jika penderita Tb dari rantau pulang kampung. Karena itu notifikasi
jika ada orang batuk berdahak lebih dari 3 mnggu yang pulang kampong sanat menentukan
dalam pengendalian TB Paru. Begitu juga cross notifikasi dari penderita yang berobat keluar
pulau atau masuk pulau karena pulang kampung.
Jika mereka berobat ke Puskesmas, jangan biarkan penderita Tb mencemari udara
Puskesmas dimana banyak orang menunggu dengan berjalan kian kemari sambil
menghamburkan percikan ludah kesana kemari. Biarkan dia datang ke Puskesmas ,
ketempat dia akan mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan laboratorium , petugasnya yang
mendatangi penderita. Tentu dengan APD ( Alat Pelindung Diri ) yang cukup. Dengan cara ini
DOTS- minum obat didepan petugas bisa dilaksanakan dengan baik.
Kader kader kesehatan di pulau itu terlihat masih muda muda. Tentu mudah mengarahkan
merreka untuk bisa menjadi Pengawas Minum Obat, atau mengajari keluarga agar bisa
mnejadi PMO ( Pengawas Minum Obat ).
“ Jadi kita bisa menjadi Pulau Sehat yang pertama di Indonesia ? “ Begitu pertanyaan yang
timbul. Mengapa tidak ?. Tak perlu menunggu tahun 2019 berakhir, segera mulai, dan
segera dituntaskan.
Pada saat awal Perencanaan Tingkat Puskesmas, dilakukan Identifikasi kebutuhan dan
harapan masyarakat. Jika kegiatan ini berjalan dengan baik sebagaiaman yang tertera dalam
elemen penilaian Akreditasi maka akan jelaslah seluruh permasalahan kesehatan dipulau itu
. Jika tindak lanjut segera dilakukan sampai tuntas maka Pulau Sehat akan terwujut. Marilah
kita perhatikan , sebagaimana tercantum dalam : ep [Link]. s/d [Link].
Elemen Penilaian
[Link]. Dilakukan identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat,
dan individu yang merupakan sasaran kegiatan.
[Link]. Identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat, dan individu
yang merupakan sasaran kegiatan dilengkapi dengan kerangka acuan, metode dan
instrumen, cara analisis yang disusun oleh Penanggung jawab UKM Puskesmas.
[Link]. Hasil identifikasi dicatat dan dianalisis sebagai masukan untuk penyusunan kegiatan.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut ditetapkan oleh Kepala Puskesmas bersama dengan
Penanggung jawab UKM Puskesmas dengan mengacu pada pedoman dan hasil analisis
kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat, dan individu sebagai sasaran
kegiatan UKM.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan kepada masyarakat, kelompok
masyarakat, maupun individu yang menjadi sasaran.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan dan dikoordinasikan kepada lintas
program dan lintas sektor terkait sesuai dengan pedoman pelaksanaan kegiatan UKM
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut disusun dalam rencana kegiatan untuk tiap UKM
Puskesmas.
Geografi tertentu, kelompok etnis tertentu, mata pencaharian yang berbeda : nelayan dan
petani atau pedagang , kelompok religi tertentu, semuanya membawa kebutuhan dan
harapannya masing masing. Dibanding wilayah lain yang harus menghadapi sebuan HIV,
Yang AKI-nya masih tinggi, yang Gozo burk dan stuntingnya masih banyak, yang
masyarakatnya lebih heterogen dlldll cara mengatasinya pasti berbeda dengan program
yang berbeda pula.
Keadaan sosial ekonomi wilayah itu benar benar membuat saya terkagum kagum. Banyak
gedung gedung megah yang tak kalah dengan rumah mewah diibu kota Provinsi. Sebentar
lagi PLN akan menerangi seluruh wilayah pulau itu. Pelayanan kesehatan yang diharapkan
masyarakat mungkin juga lebih maju lagi.
Karena itu kriteria dan elemen penilaian Akreditasi 4.1.1. sangat penting diperhatikan, di
laksanakan dan dibahas tuntas dalam rangka menyusun program kesehatan disuatu
wilayah.
Karyawan Puskesmas yang berasal dari penduduk setempat tentu memahami kondisi
setempat dengan baik. Komunikasi dan koordinasi dengan masyarakat juga semakin mudah
dan semakin intensif bisa dilakukan
Kus Sularso. Banyumanik 25 Mei 2018
( Ketika meninggalkan pulau itu, rasanya hati sangat bahagia. Masa depan pulau cantik itu
akan segera berubah. Puskesmas ibarat lampu yang akan menuntun masyarakat dan
kekerabatan yang erat disitu menuju Pulau Sehat. Dengan berdebar seluruh warga
menunggu Bapak Bupati memproklamirkan Pulau itu menjadi Pulau Sehat pertama di
Indonesia , kalau tidak di Provinsi itu atau di Kabupaten itu. Itu akan mengawali satu demi
satu Pulau sehat dan menjadikannya Kepulauan Nusantara Sehat. Saat itulah Indonesia
Sehat akan terwujud. Semangat luar biasa Kepala Puskesmas dan seluruh karyawan
mengisyaratkan bahwa mereka memang benar benar ingin mewujutkan cita citanya.
Ketika perahu membawa rombongan meninggalkan pulau itu, semakin lama pulau itu
semakin menjauh dan mengecil dipandang mata. Tetapi dihati terasa pulau itu menjadi lebih
besar dan lebih indah. Karena harapan dan bayangan masa depan yang cerah. Mungkin
itulah harapan masyarakat yag tertulis dalam Identifikasi Kebutuhan dan Harapan
masyarakat. Tak tahulah.
Belajar Akreditasi
Pelayanan ditempat. One stop service.
Indonesia memiliki penderita TB Paru terbanyak kedua didunia setelah India.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2014, kasus TB di Indonesia
mencapai 1.000.000 kasus dan jumlah kematian akibat TB diperkirakan 110.000 kasus setiap
tahunnya . Jika satu sekolah muridnya ada : 30 orang, maka itu setara dengan : 30.000 kelas
berisi penderita Tb paru semua. , Yang meninggal akibat TB: setara dengan 3.000 kelas
setiap tahun. Dari setiap penderita TB Paru : akan menularkan 1 sampaii 10 orang setiap
tahunnya. Yang sudah teridentifikasi oleh petugas kesehatan berjumlah : 324.000 penderita
Tb Paru th: 2015. Lalu tanpa upaya pencegahan yang memadai : akan menjadi berapa juta
penderta ditahun 2050 yang telah dicanangkan Indonesia akan menjadi zero kematian
akibat Tb, zero penderita baru dll ? Entahlah..
Sekarang ini keadaannya sangat memprihatinkan : Jika seorang penderita TB Paru datang di
Puskesmas, dia akan batuk batuk diruang tunggu bersama dengan pengunjung lain yang
mungkin orang sehat , seperti ibu ibu yang akan memeriksa kehamilannya , atau anak anak
yang akan meminta imunisasi. Masih pagi saat loketpun masih tutup.
Ketika loket sudah mulai buka, sambil batuk batuk mengeluarkan kuman TBnya dia berjalan
menuju loket pendaftaran: membahayakan penjaga loket dan orang orang sekitarnya.
Sesudah itu dia akan duduk lagi sambil batuk batuk lagi, mengeluarkan kuman lagi
kesekililingnya. Lumayan lama sebelum akhirnya dipanggil oleh petugas untuk masuk ruang
periksa, Dia berjalan menuju ruang periksa sambil batuk batuk tiada henti hentinya. Kadang
kadang ditutupinya mulutnya dengan tangannya, dan percikan ludah yang ada ditangannya
sangat mengganggunya, sehingga diusapkannya itu dipegangan tangan dipinggir tembok
sambil menuju ruang periksa membahayakan para pengunjung lain dengan kuman
kumannya.
Dokter menyuruhnya pergi kelaboratrium untuk mengambil dahaknya , karena akan
diperiksa kumannya. Sambil masih terbatuk batuk, dia pergi berjalan melewati ruang
tungggu yang penuh sesak menuju ruang laboratorium diujung gang. Tentu sambil batuk
dan sekali kali telihat tangannya mengusap mulutnya yang kadang terlihat kemerahan
karena batuknya rupanya ada juga percikan darahnya. Diruang laboratorium tenyata hanya
diberi pot untuk mengambil dahak yang harus dilakukannya diluar gedung Puskesmas, yang
agak jauh. Masih batuk ? Tentu saja , masih mengeluarkan kumannya dan membahayakan
pengunjung lainnya ? Tentu. Tapi dia tidak tahu karena belum ada yang memberi tahu,
bahwa seharusnya dia menutup mulutnya dengan sapu tangan kalau batuk. Kalau ada
masker harusnya dia memakai masker sambil berjalan jalan berkeliling Puskesmas menuju
satu ruangan ruangan yang lain. Tapi bukankah dengan memakai masker sama saja dengan
memberitahukan kepada semua pengunjung bahwa dia berpenyakit TB Paru ? Penyakit yang
katanya sangat berbahaya yang pengumumannya bisa dibaca juga di dinding ruang tunggu ?
. Dia lebih senang maskernya dilipatnya dengan rapi dan dimasukkannya kekantong. Sayang
masker bagus nanti kotor. .
Selesai dari ruang pengambilan sputum dia kembali ke laboratorium, batuknya semakin
menjadi jadi karena udara semakin siang semakin panas dan dia sudah mulai haus. Wajar
bukan ? Tentu saja. Masih mengeuarkan kuman TB dan membuat udara pagi yang bersih
menjadi tercemar kuman TB .
Dia kembali duduk untuk menunggu hasil laboratorium. Masih batuk ? Tentu saja , sekarang
riak yang keluar kekuningan agak hijau. Tapi bagi dia itu biasa. Kalau mengotori tagan bisa
dioleskan kebangku dan bersih sudah, menurut pikirannya.
Dengan membawa hasil laboratorium dia disuruh ke dokter lagi diruang periksa, pasien
sudah berganti ganti diruang tunggu, tetapi dia tidak bosan bosan batuk kearah mereka
yang menunggu pemeriksaan.
Apakah urusannya hari itu selesai? Belum. Dia harus ke apotik mengambil obat. Sambil
batuk ? Tentu saja , dia kan sakit Tb Paru. Sesudah itu, rasanya tentu lega karena hari sudah
siang dan urusannya bisa selesai. Kebeulan didepan ruangan itu ada mushola , dia
bermaksud shalat Dhuhur sekalian. Dengan sanai bisa salat dengan tenang. Ketika sujud , dia
mulai batuk. Ya ketika sujud biasanya batuk mulai lagi, mungkin karena dahaknya mmengalir
kearah hidung, atau karena debu yang melekat di karpet cukup banyak/ Apakah bercak
ludahnya akan menempel di karpet sajadah ? Penelitian menunjukkan , kalau jarak kuang
dari 1 meter, bentuknya masih droplet. Sesudah itu sampai 3 meter benttuknya partikel.
Bukankah kalau kita didepan orang yang batuk tanpa menutup mulut dengan jarak dibawah
1 m masih terasa dinginnya kena ludah ? Saya tidak ahu siapa yang akan salat berikutnya.
Dan tenunya dia sujud ditempat pasien tadi memercikkan ludahnya. Ditempat sajadah yang
sama ? Tentu saja.
Mengapa tidak dilakukan pelayanan terpadu Tb paru. One stop service. Penderita batuk
lebih 3 minggu yang dating ke Puskesmas datang ketempat yang digunakan untuk
pengambilan sputum yang letaknya diluar gedung utama. Petugas kesehatannya yang
datang memberikan pot sputum dan memeriksa laboratoriumnya. Dokternya yang akan
datang dengan masker terpasang dan memeriksa nya diruang itu, dan kalau positif diberi
penyuluhan dan dibekali masker dan di beri obat yang cukup. Pasien kalau perlu diberi
minum disitu untuk bisa melakukan DOTS. Minum obat didepan petugas.
Kita tentu harus tetap optimis bahwa kita bisa mengendalikan penularan TB paru,
Pencegahan kita galakkan, resiko penularan kita kurangi menjadi minimal, pengobatan kita
lakukan sesuai DOTS sampai tuntas. Setidaknya pasien batuk lebih 3 minggu yang datang ke
Puskesmas, akan mendapat pelayanan rima dan tidak membahayakan yang lain.
Tetap semangat . Bersama kita bisa menyelesaikan masalah ini. Percayalah. Bagian TATA
GRAHA Puskesmas sudah bisa mulai bersiap siap mengatur penempatan ruangan untuk one
stop service TB paru seperti ini. Dinas Kesehatan Kabupaen/Kota bisa membuat
percontohannya , dan yang lain mengikuti. Bukankah ini juga suatu innovasi pelayanan
publik ? .
Kus Sularso, Banyumanik , 17 Mei 2018.
( Ilustrasi diatas mungkin berlebihan, atau mungkin kurang dramatis. Tetapi saya sudah lebih
20 tahun menjadi anggota PPTI ( Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosa Indonesia )
sudah memperhatikan ini sejak dahulu kala. Sudah waktunya kita bergerak. Saya sampaikan
ini dimasjid masjid, tapi hanya beberapa masjid saja. Sayang sekali bukan ? . Kalau satu
Puskesmas bekerja sama dan membina 1 masjid: akan ada 10.000 masjid yang dibina dan
menjadi agen perubahan dalam pemberantasan TB. Seperti mimpi ya ? Ya memang. Kalau
Kemenkes sibuk dengan TOSS-TB, temukan , obati sampai sembuh, kita yang bergerak
dilapisan bawah perlu menambah dengan semboyan. Temukan TB dan lakukan pencegahan.
Saling melengkapi bukan ? )
Novaga Yuri
August 20 at 5:07am • Sragen
Pak kus yang saya hormati. Ijin bertanya, apakah indikator mutu berbeda dengan indikator
kinerja?
Sepengetahuan saya hanya ada indikator mutu klinis untuk UKP mengacu pada permenkes
nomor 129 tahun 2008 tentang standar pelayanan minimal rumah sakit. Mohon
pencerahannya. Terima kasih
Secara singkat:
Indikator mutu klinis : adalah indikator yang mengarah kepuasan, standar, terhadap
pelayanan dll . misalnya waktu tunggu di loket ; 3 menit; artinya jika lebih dari 3 menit tidak
bermutu, tidak memuaskan pelanggan
sedangkan
indikator kinerja adalah : target yang ditetapkan untuk pelaksana klinisnya; misalnya ; 100%
pelaksana klinis wajib menepati waktu tunggu di loket 3 menit. Jika ada 3 petugas loket;
seorang petugas selalu lebih dari 3 menit waktu tunggunya berarti hanya 2 orang dari 3
orang itu yang berkinerja mutuklinis baik.
Hal ini bisalebih jelas dilihat dari penilaian kinerja Puskesmas ( PKP) .
Tujuan Penilaian Kinerja adalah;
1. tercapainya peningkatan kinerja sdm Kesehatan di Puskesmas.
2. terwujutnya pengembangan karier bagi sumber daya manusia kesehatan di puskesmas.
3. Terwujutnya transparansi bagi pelaksanaan pemberian insentif bagi sumber daya manusia
kesehatan di puskesmas.
Yang mempunyai KINERJA itu tenaga kesehatan di puskesmas , itu yang dinilai.
Peningkatan mutu kinis itu; kegiatannya menjadi bermutu karena ada standar dan
pelayanannya mengikuti standar. kalau standarnya dipenuhi, ada komplien rate yang tinggi (
kepatuhan pada stadarnya tinggi ) maka pelayanan klinis puskesmas dianggap bermutu , dan
pasien akan puas.
Kalau kita baca selanjutnya dalam pengertian : yang ada dalam PKP: Penilaian kinerja adalah
proses menilai hasil karya SDM dalam suatu organisasi melalui instrumen penilaian kinerja.
Mari kita cermati:
Elemen Penilaian KRITERIA 9.1.1.
1. Adanya peran aktif tenaga klinis dalam merencanakan dan mengevaluasi mutu layanan
klinis dan upaya peningkatan keselamatan pasien.
2. Ditetapkan indikator dan standar mutu klinis untuk monitoring dan penilaian mutu klinis.
3. Dilakukan pengumpulan data, analisis, dan pelaporan mutu klinis dilakukan secara
berkala.
4. Pimpinan Puskesmas bersama tenaga klinis melakukan evaluasi dan tindak lanjut
terhadap hasil monitoring dan penilaian mutu klinis.
5. Dilakukan identifikasi dan dokumentasi terhadap Kejadian Tidak Diharapkan (KTD),
Kejadian Tidak Cedera (KTC), Kondisi Potensial Cedera (KPC), maupun Kejadian Nyaris
Cedera (KNC).
6. Ditetapkan kebijakan dan prosedur penanganan KTD, KTC, KPC, KNC, dan risiko dalam
pelayanan klinis.
7. Jika terjadi KTD, KTC, dan KNC dilakukan analisis dan tindak lanjut.
8. Risiko-risiko yang mungkin terjadi dalam pelayanan klinis diidentifikasi, dianalisis dan
ditindaklanjuti.
9. Dilakukan analisis risiko dan upaya-upaya untuk meminimalkan risiko pelayanan klinis
10. Berdasarkan hasil analisis risiko, adanya kejadian KTD, KTC, KPC, dan KNC, upaya
peningkatan keselamatan pasien direncanakan, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti
9.1. Perencanaan, monitoring, dan evaluasi mutu layanan klinis dan keselamatan menjadi
tanggung jawab tenaga yang bekerja di pelayanan
Kriteria:
9.1.1. Tenaga klinis berperan aktif dalam proses peningkatan mutu layanan klinis dan upaya
keselamatan pasien
Maksud dan Tujuan:
• Upaya peningkatan mutu layanan klinis, dan keselamatan pasien menjadi tanggung jawab
seluruh tenaga klinis yang memberikan asuhan
• • Tenaga klinis adalah dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lain yang bertanggung
jawab melaksanakan asuhan pasien.
• Tenaga klinis wajib berperan aktif mulai dari identifikasi permasalahan mutu layanan
klinis, melakukan analisis, menyusun rencana perbaikan, melaksanakan, dan
menindaklanjuti. Identifikasi permasalahan mutu layanan klinis, potensi terjadinya risiko
dilakukan dengan menggunakan indikator-indikator pelayanan klinis yang ditetapkan oleh
Puskesmas dengan acuan yang jelas
KRITERIA 9.3.2.
1. Ada penetapan target mutu layanan klinis dan keselamatan pasien yang akan dicapai
2. Target tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan pencapaian mutu klinis
sebelumnya, pencapaian optimal pada sarana kesehatan yang serupa, dan sumber daya
yang dimiliki
3. Proses penetapan target tersebut melibatkan tenaga profesi kesehatan yang terkait
Kriteria :
9.3.2. Target mutu layanan klinis dan sasaran keselamatan pasien ditetapkan dengan tepat
Maksud dan Tujuan:
• Untuk mengetahui nilai keberhasilan pencapaian mutu layanan klinis dan keselamatan
pasien, maka perlu ditetapkan target (batasan) yang harus dicapai untuk tiap-tiap indikator
yang dipilih dengan acuan yang jelas.
Kalau boleh saya lengkapiredaksionalnya menjadi ;
[Link]. Ada penetapan target ( capaian kinerja ) mutu layanan klinis dan keselamatan
pasien yang akan dicapai ( oleh tenaga klinis Puskesmas ).
[Link]. Target ( capaian kinerja mutu layanan klinis ) tersebut ditetapkan dengan
mempertimbangkan pencapaian mutu klinis sebelumnya, pencapaian optimal pada sarana
kesehatan yang serupa, dan sumber daya yang dimiliki.
[Link]. Proses penetapan target ( capaian kinerja mutu klinis ) tersebut melibatkan tenaga
profesi kesehatan yang terkait.
Kus Sularso, Banyumanik. 23 April 2018.
( Penjelasan ini bisa merujuk tujuan Akreditasi yang dijelaskan pada H-1 survey Akreditasi )
Sayang kegiatan H-1 , sekarang ini banyak yang direduksi. Yaitu : Tujuan Akreditasi itu ; pada
prinsipnya ada 3:
Peningkatan kinerja ( yg berhubungan dengan capaian target SPM.
Peningkatan mutu ( yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan –yang berkaitan
dengan adanya stadar layanandan kepatuhan kepada standar.)
Peningkatan keselamatan pasien/pelanggan ( yang berhubungan dengan faktor resiko dan
minimalisasi kemungkinan terjadinya resiko dan akibat kejadian berisiko ).
Perlu dibaca pelan – pelan, direnungkan dan didiskusikan dengan teman yang lain. Sulit
memang tetapi bisa dilakukan. tetap semangat. semoga mencerahkan. Sukses selalu.
Indonesia Sehat sudah didepan mata, mengapakita tidak segera ikut berpartisipasi
mewujutkannya ? )
11
Kelola
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
· Balas · 5m
Belajar Akreditasi
UKP dan UKM
Denyut jantung dan Tarikan Nafas merupakan dua tanda vital bahwa seseorang masih
hidup. Ini dua sisi mata yang yang selalu dilihat ketika kita enilai sebenarnya organisme ini
bergerak atau sudah kolaps.
1. Apakah masih ada tarikan nafas : Yang menandakan oksigen ditarik kedalam paru paru
dan di masukkan kedalam sel darah merah untuk dibagikan keseluruh tubuh.
2. Apakah masih ada denyut jantung: yang menandakan darah yang membawa oksigen iu
didistribusikan keseluruh organ tubuh untuk bisa berfungsi.
Begitu juga Puskesmas. Ada dua sisi mata uang yang menggerakkan Puskesmas. UKP dan
UKM.
1. UKP mudah dilihat kehidupannya, ketika orang orang yang cemas dan kesakitan
mengantri didepan loket untuk mendafatar dan akhirnya diperiksa , dan seterusnya
mendapat pelyanan dan pulang dengan perasaan lega.
2. UKM lebih sulit dilihat karena bergerak kelapangan dimasyarakat, dalam bentuk kegiatan
dilapangan. Poosyandu, Posbindu, Pos kesehatan Lansia dengan senam lansianya, PKD , Pos
kesehatan desa, dan Polindes. Tetapi koordinasinya ada di Puskesmas. Terlihat jika pagi pagi
ada briefing singkat oleh PJ UKM apa yang akan dilakukan masing masing bagian. Mungkin
diawali dari apel pagi yang dilakkan oleh Kepala Puskesmas, yang melibatkan UKP dan UKM
serta Admen yang menggawanginya. Ibarat kepolisian yang setiap pagi berkumpul sebentar
untuk briefing lalu menyebar untuk menjalankan tugas lapangan.
Selama berkeliling pelosok Indonesia melakukan Suvey Akreditasi Puskesmas, sangat terlihat
banyak Puskesmas yang kebanyakan darinya dua tanda kehidupan itu sangat timpang.
Tarikan nafas yang menandkan UKP berjalan sangat kelihatan, Dari pagi Puskesmas sudah
sibut dengan pasien, dan hiruk pikuk itu ditambah dengan orang berjualan didepan
Puskesmas dan lalu lalang penjemput dan pengantar.
Tetapi denyut jantung UKM tidak terlihat, atau kelihatan hanya samar samar. Mirip orang
shock, denyut nadi hampir tak terasa. Taka da rapat koordinasi, taka da briefing, tak ada
pembahasan hasil kerja lapangan, tak ada kesibukan pembuatan laporan dsb-nya.
Yang lebih mengejutkan , banyak Puskesmas . PJ UKM nya tidak eksis. Hanya ada di struktur
organisasi yang tertulis didinding tetapi tidak ada orang dan kegiatannya yang nyata. Keuka
ditanyakan : PJ UKM nya sedang di UGD karena dia perawat, atau sedang di Perawatan,
memeriksa ibu hamil karena dia bidan.
Tak ada denyut jantung UKM karena PJ UKM nya juga ternyata tidak punya meja dan kursi.
Kalau ditanya kan pada PJ UKM , ibu biasanya duduk dimana ? Dengan malu malu dia hanya
tertunduk, karena memang Kepala Puskesmas tidak menyediakan meja dan kursi untuk PJ
UKM.
Akibatnya tidak ada briefing, rapat koordinasi, rapat pembahasan dan analisa data yang
dikumpulkan dilapangan , apalagi monitoring dan evaluasi.
Sebagai gambaran : untuk ditingkat Kabupaten/Kota , ini seperti Rumah Sakitnya sibuk Luar
biasa tetapi Dinas Kesehatannya sepi tanpa suara. Keduanya menyatu di tingkat
Kecamatan/bagian kecamatan di tingkat Puskesmas.
Lalu bagaimana dengan UKM nya, apakah tidak ada kegiatan ? Tentu saja ada , dilakukan
oleh pelaksana dan langsung semua berkas ditanda tangani Kepala Puskesmas. Sehingga
saat penilaian Akreditasi PJ UK kebingungan karena tidak punya data satupun kegiatannya
sebagai PJ UKM, melalukan fungsi management UKM ditingkat Puskesmas. Fungsi
management, seperti rapat perencanaa, monitoring, evaluasi, pengarahan, pembinaan, dll ,
taka da dokumen pendukungnya, karena memang tidak dilakukan.
Sehingga ketika disodorkan salah satu kriteria : sebagai contohnya dalam kriteria ; [Link]
ada bukti relevan yang bisa digunakan oleh PJ UKM untuk menunjukkan kegiatannya. .
KRITERIA 5.4.2.
[Link]. Kepala Puskesmas menetapkan kebijakan dan prosedur komunikasi dan koordinasi
program.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas melakukan komunikasi kepada pelaksana, lintas
program terkait, dan lintas sektor terkait.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas dan pelaksana melakukan koordinasi untuk tiap
kegiatan dalam pelaksanaan UKM Puskesmas kepada lintas program terkait, lintas sektor
terkait, dan sasaran.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan
koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan.
Tetapi keadaan segera berubah setelah Akreditasi berjalan. Suara PJ UKM di sosmed
semakin ramai, semoga yang belum meramaikan segera meramaikannya. Yang tadinya PJ
UKM belum memiliki meja dan kursi mulai mendapatkannya dan mulai melaksanakan
kegiatan rutin sebagai PJ UKM, walaupun menurut Uraian tugas belum dilakukan
penyesuaian.
Kus Sularso, Banyumanik, 20 April 2018.
( Suatu kegembiraan dan kebahagiaan tersendiri ketika melihat perubahan besar pasca
Akrediasi terjadi, dengan mulai berdenyutnya kegiatan UKM. Banyak Puskesmas telah
mengoptimalkan kegiatan UKM dan PJ UKM nya, tetapi rasanya masih banyak lagi yang
belum. Kita sabar menunggu, tetapi masyarakat dan pemerintah serta penyandang dana
mungkin tidak sesabar itu. Marilah kita mulai berdenyut , marilah kita mulai bergerak. Tetap
semangat , Sukses. Salam buat PJ UKM yang pasca Akreditasi mulai berkobar semangatnya.
PIS PK ? – itu UKM banget. )
Belajar Akreditasi
BAB IV: 4.1.1.
Lina Ariyani • Berteman dengan Meri Susanti dan 2 lainnya, terimakasih penjelasannya,
semakin membuat kami semangat untuk selalu belajar
Wien Tutik: Slmt malam, dokter Kus. Statusnya selalu sgt membantu kami d Puskesmas, dok.
Ditunggu kelanjutan pembahasan d bab IV nya, Dok .. Trm ksh byk, dokter Kus
Mengapa Puskesmas berlelah lelah mencari apa kebutuhan masyarakat dan apa harapan
masyarakat perihal Kesehatan mereka ?
Para ahli kesehaan masyarakat bersepakat bahwa: Melakukan Identifikasi kebutuhan dan
harapan masyarakat akan bermanfaat diantaranya:
1. Komunitas : Memperkuat kepesertaan komunitas dalam pembuatan keputusan.
2. Komunitas: Memperbaiki partisipasi masyarakat dalam perencanaan pelayanan dan
program kesehatan yang dibuat Puskesmas.
3. Puskesmas: Memperbaiki kinerja tim dan kemitraan antara Puskesmas dengan
masyarakat serta komponen masyarakat yang ada,
4. Puskesmas : Mengembangan profesionalitas dan pengalaman petugas Puskesmas dan
Tokoh masyarakat yang terlibat.
5. Puskesmas dan komunitas: Meningkatkan saling pengertian tentang masalah kesehatan
setempat.
6. Puskesmas: Memperbaiki perawatan pasen dan memperbaiki kesehatan masyarakat
dalam komunitas.
7. Puskesmas: Memperbaiki komunikasi dengan instansi lain dan masyarakat luas.
8. Puskesmas dan Komunitas: Menunjukkan kepada masyarakat alasan mengapa sesuatu
kegiatan dibuat.
9. Puskesmas dan Komunitas: Memanfaatkan dengan lebih baik semua suberdaya, sarana
dan masyarakat.
10. Pemda dan Dinkes dan Puskesmas : Memiliki data tambahan yang bermanfaat bagi
perencanaan kegiatan yang lebih baik.
11. Puskesmas : Mendorong berkembangnya program Perkesmas yang sering terabaikan.
12. Komunitas , Puskesmas, Pemda: menjadi semakin terbka untuk berdialoque dan berbagi
pengalaman.
Tentu masih ada kendala . Tetapi kalau proses Identifikasi kebutuhan dan Harapan
masyarakat bisa berkesinambungan ini berkelanjutan , maka semakin lama akan semakin
mendekati Tujuan : Indonesia Sehat.
Jangan ragu: membangun dan mengembangkan Program di Puskesmas sudah sejalan
dengan Nawacita Bapak Presiden : Membangun dari pinggiran dan dari perbatasan :
bukankah Puskesmas itu : berada dipaling depan dan paling ujung serta dipaling pinggir dari
Pelayanan dan Program Kesehatan ?
Kus Sularso, Banyumanik , 22 April 2018.
( Semakin lama semakin terbuka fikiran banyak orang tentang bagaimana Puskesmas bisa
melanjutkan kiprahnya dalam gempuran informasi sumbang yang berseliweran di media
social. Bekerja lebih “ memasyarakat” dan benar benar menjadikan pelanggan/ sasaran :
sebagai tujuan pelayanan prima. Ada 10.000 Puskesmas yang sekarang belajar dan
meningkatkan diri menjadi lebih baik melalui proses Akreditasi. Dengan semakin
meningkatnya kinerja, dan mutu serta keselamatan pasien di Puskesmas mematahkan
anggapan bahwa Puskesmas sulit diajak maju. Dengarkan komenttar komentar dari
pelaksana UKM di Puskesmas jaman NOW. Kita terkejut dan terkagum kagum dibuatnya.
Sungguh. )
Suka
Komentari
Kus Sularso
19 April ·
Belajar Akreditasi
BAB IV
Ratih Pury Assalamualaikum, maaf pak kus.. Saya bisa minta gambaran utk BAB IV dan
Manajemen mutu di puskesmas?
Kita mulai saja dari [Link]. Kalau kita baca :
KRITERIA 4.1.1.
[Link]. Dilakukan identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat,
dan individu yang merupakan sasaran kegiatan.
[Link]. Identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat, dan individu
yang merupakan sasaran kegiatan dilengkapi dengan kerangka acuan, metode dan
instrumen, cara analisis yang disusun oleh Penanggung jawab UKM Puskesmas.
[Link]. Hasil identifikasi dicatat dan dianalisis sebagai masukan untuk penyusunan kegiatan.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut ditetapkan oleh Kepala Puskesmas bersama dengan
Penanggung jawab UKM Puskesmas dengan mengacu pada pedoman dan hasil analisis
kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat, dan individu sebagai sasaran
kegiatan UKM.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan kepada masyarakat, kelompok
masyarakat, maupun individu yang menjadi sasaran.
6. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan dan dikoordinasikan kepada lintas program
dan lintas sektor terkait sesuai dengan pedoman pelaksanaan kegiatan UKM
7. Kegiatan-kegiatan tersebut disusun dalam rencana kegiatan untuk tiap UKM Puskesmas.
Identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat , sudah diperkenalkan sejak Puskesmas
mulai operasioanl .
1. Hal ini berawal dari kerisauan karena banyaknya program kesehatan masyarakat yang
tidak didukung masyarakat karena tidak sesuai keinginannya. ( community health need )
2. Sedangkan keinginan masyarakat perlu perlu disaring: mana yang betul betul untuk
mengatasi masalah kesehatan masyarakat diwilayah itu , atau hanya keinginan yang sifatnya
personal dan tidak menyentuh kebutuhan masyarakat untuk hidup sehat. ( felt community
health need ).
3. Karena itu dilakukan : Community Need Assessment: Pencarian kebutuhan masyarakat
akan kesehatan . Communiy need assessment bisa dilakukan dengan berbagai cara : melalui
survei, kotak saran, maupun temu muka dengan tokoh masyarakat.
4. Hal ini dilakukan dengan terencana , bukan sambil lalu, maka dibuatkan SK Kepala
Puskesmas , dan dibuatkan KAK, metode identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat ,
dilengkapi dengan insrumen dan cara analisis.
5. Jangan lupa : kotak saran dan survey bukan hanya di Puskesmas, tetapi juga di Posyandu,
Posbindu, di Puksemas Pembantu, di Pos Kesehatan Desa.
6. Jangan lupa : temu muka dengan masyarakat, baik dalam bentuk audiensi dan pertemun
dengan pak Camat atau Kepala Desa, Ketua RW, ketua RT serta Tokoh agama dan LSM: Jika
mau lebih canggih bisa dengan Fokus Group Diskusi.
7. Kalau masih belum jelas tentang Identifikasi Kbutuhan dan Harapan masyarakat , perlu
dibaca standar , kriteria, dan pokok pikirannya.
8. Janan upa pula bahwa tugas kita adalah menyelesaikan masalah: jadi perlu ada
perumusan identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat itu dlam rangka menyelesaikan
permasalahan kesehatan di wilyah Puskesmas.
9. Pernyataan standarnya :
4.1. Kebutuhan akan Upaya Kesehatan Masyarakat dianalisis.
Penanggung jawab UKM Puskesmas mengidentifikasi kegiatan-kegiatan upaya tersebut
sesuai dengan kebutuhan harapan masyarakat.
10. Pernyataan Kriteria-nya berbunyi:
4.1.1. Pimpinan Puskesmas dan Penanggungjawab UKM Puskesmas menetapkan jenis-jenis
kegiatan UKM Puskesmas yang disusun berdasar analisis kebutuhan serta harapan
masyarakat yang dituangkan dalam rencana kegiatan program.
11. Sedang Pokok Pikiran- terbaca :
• Kegiatan-kegiatan dalam setiap UKM Puskesmas disusun oleh Kepala Puskesmas dan
Penanggung jawab UKM Puskesmas tidak hanya mengacu pada pedoman atau acuan yang
sudah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, maupun Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, tetapi perlu memperhatikan kebutuhan dan harapan
masyarakat terutama sasaran program.
• Kebutuhan dan harapan masyarakat maupun sasaran dari UKM Puskesmas dapat
diidentifikasi melalui survei, kotak saran, maupun temu muka dengan tokoh masyarakat.
• Komunikasi perlu dilakukan untuk menyampaikan informasi tentang UKM Puskesmas
kepada masyarakat, kelompok masyarakat maupun individu yang menjadi sasaran.
• Komunikasi dan koordinasi perlu juga dilakukan kepada lintas program maupun lintas
sektor terkait.
Kus Sularso, Banyumanik , 19 April 2018.
( ep [Link]. ini adalah awal dari pemikiran ; Bagaimana Puskesmas yang berorientasi
pelanggan/sasaran, dengan melibatkan seluruh komponen ditingkat Kecamatan dan Desa
yang bertanggung jawab dan peduli terhadap kesehatan masyarakat diwilayahnya. Tidak
mudah memang merubah dari sebelumnya berorientasi Klinik / Balai Pengobatan menjadi
berorienasi Kesehatan Masyarakat. Tetapi pengalaman selama survey Akreditasi Puskesmas
di tahun 2016 dan 2017 menunjukkan suatu kemajuan yang pesat dengan difasilitasi
Akreditasi FKTP ini. Kita menyongsong wajah baru Puskesmas, dan Alhamdulillah kita
terlibat didalamnya. Tetap semangat. Belajar tiada henti, kunci sukses dikemudian hari. )
Belajar Akreditasi
Memahami Bab VI – dari kalimatnya.
Ariyanti ke Kus Sularso : 14 Februari 2017 pukul 13:41 •
Asslmuk...maaf pak sy ariyanti dr pusk Girimarto [Link] bs minta gambaran akred BAB
VI
Setelah berlangsun selama 2 tahun ternyata kebingunggan memahami kalimat dalam ep
masih terjadi . Sebenarnya Bab VI hanya satu standar : Sebelum ada revisi redaksional
Pedoman Akreditasi FKTP saya mencoba memahaminya dengan kalimat yang lebih
sederhana , mengurangi kata depan, kata sambung dan susunannnya, sehingga menjadi
seperti yang tertulis dibawahnya.
Standar: 6.1. Perbaikan kinerja masing-masing UKM Puskesmas konsisten dengan tata nilai,
visi, misi dan tujuan Puskesmas, dipahami dan dilaksanakan oleh Kepala Puskesmas,
Penanggung jawab UKM Puskesmas dan Pelaksana yang ditunjukkan dalam sikap
kepemimpinan.
6.1. Sikap kepemimpinan Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKM Puskesmas dan
Pelaksana memahami dan melaksanakan Perbaikan kinerja masing-masing UKM Puskesmas
konsisten dengan tata nilai, visi, misi dan tujuan Puskesmas.
Begitu juga untuk kriteria 1 s/d 6 saya mencoba memahaminya dengan : kalimat yang
tersebut dikanan:
KRITERIA 6.1.1. Untuk memudahkan :
[Link]. Ada komitmen Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKM Puskesmas dan
Pelaksana untuk meningkatkan kinerja pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan UKM
Puskesmas secara berkesinambungan. [Link]. Kapusk, PJ UKM Puskesmas dan Pelaksana
UKM berkomitmen meningkatkan kinerja pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan UKM
Puskesmas secara berkesinambungan.
[Link]. Kepala Puskesmas menetapkan kebijakan peningkatan kinerja dalam pengelolaan
dan pelaksanaan UKM Puskesmas. [Link]. Kapusk menetapkan kebijakan peningkatan
kinerja pengelolaan dan pelaksanaan UKM Puskesmas.
[Link]. Kepala Puskesmas menetapkan tata nilai dalam pengelolaan dan pelaksanaan
kegiatan. [Link]. Kapusk menetapkan tata nilai pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas dan Pelaksana memahami upaya perbaikan
kinerja dan tata nilai yang berlaku dalam pelaksanaan kegiatan UKM Puskesmas. [Link]. PJ
UKM Puskesmas dan Pelaksana memahami upaya perbaikan kinerja dan tata nilai yang
berlaku dalam pelaksanaan kegiatan UKM Puskesmas.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas menyusun rencana perbaikan kinerja yang
merupakan bagian terintegrasi dari perencanaan mutu Puskesmas. [Link]. PJ UKM
Puskesmas menyusun rencana perbaikan kinerja terintegrasi dalam perencanaan mutu
Puskesmas.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas memberikan peluang inovasi kepada pelaksana,
lintas program, dan lintas sektor terkait untuk perbaikan kinerja pengelolaan dan
pelaksanaan UKM Puskesmas. [Link]. PJ UKM Puskesmas memberikan peluang inovasi
kepada pelaksana, lintas program, dan lintas sektor untuk perbaikan kinerja pengelolaan
dan pelaksanaan UKM Puskesmas.
KRITERIA 6.1.2 Untuk memudahkan :
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas bersama pelaksana melakukan pertemuan
membahas kinerja dan upaya perbaikan yang perlu dilakukan. [Link]. PJ UKM Puskesmas
dan pelaksana UKM melakukan pertemuan membahas kinerja dan upaya perbaikan yang
perlu dilakukan.
[Link]. Penilaian kinerja dilakukan berdasarkan indikator-indikator kinerja yang ditetapkan
untuk masing-masing UKM Puskesmas mengacu kepada Standar Pelayanan Minimal
Kabupaten/Kota, dan Kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. [Link]. Penilaian kinerja
dilakukan berdasarkan indikator-indikator kinerja , mengacu kepada Standar Pelayanan
Minimal Kabupaten/Kota, dan Kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas dan Pelaksana menunjukkan komitmen untuk
meningkatkan kinerja secara berkesinambungan. [Link]. PJ UKM Puskesmas dan Pelaksana
UKM berkomitmen meningkatkan kinerja secara berkesinambungan.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas bersama dengan Pelaksana menyusun rencana
perbaikan kinerja berdasarkan hasil monitoring dan penilaian kinerja. [Link]. Pj UKM
Puskesmas dan Pelaksana UKM menyusun rencana perbaikan kinerja berdasarkan hasil
monitoring dan penilaian kinerja.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas bersama dengan pelaksana melakukan
perbaikan kinerja secara berkesinambungan. [Link]. PJ UKM Puskesmas dan pelaksana
UKM melakukan perbaikan kinerja secara berkesinambungan.
KRITERIA 6.1.3. Untuk memudahkan :
[Link]. Keterlibatan lintas program dan lintas sektor terkait dalam pertemuan monitoring
dan evaluasi kinerja. [Link]. Lintas program dan lintas sektor terlibat dalam pertemuan
monitoring dan evaluasi kinerja.
[Link]. Lintas program dan lintas sektor terkait memberikan saran-saran inovatif untuk
perbaikan kinerja. [Link]. Lintas program dan lintas sektor memberikan saran-saran inovatif
perbaikan kinerja.
[Link]. Lintas program dan lintas sektor terkait berperan aktif dalam penyusunan rencana
perbaikan kinerja. [Link]. Lintas program dan lintas sektor berperan aktif dalam
penyusunan rencana perbaikan kinerja.
[Link]. Lintas program dan lintas sektor terkait berperan aktif dalam pelaksanaan perbaikan
kinerja. [Link]. Lintas program dan lintas sektor berperan aktif dalam pelaksanaan
perbaikan kinerja.
KRITERIA 6.1.4. Untuk memudahkan :
[Link]. Dilakukan survei untuk memperoleh masukan dari tokoh masyarakat, lembaga
swadaya masyarakat dan/atau sasaran dalam upaya untuk perbaikan kinerja. [Link].
Dilakukan survei untuk memperoleh masukan dari tokoh masyarakat, lembaga swadaya
masyarakat, sasaran dalam upaya untuk perbaikan kinerja.
[Link]. Dilakukan pertemuan bersama dengan tokoh masyarakat, lembaga swadaya
masyarakat dan/atau sasaran untuk memberikan masukan perbaikan kinerja. [Link].
Dilakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat , sasaran
untuk mendapatkan masukan perbaikan kinerja.
[Link]. Ada keterlibatan tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan/atau sasaran
dalam perencanaan perbaikan kinerja. [Link]. Tokoh masyarakat, lembaga swadaya
masyarakat , sasaran terlibat dalam perencanaan perbaikan kinerja.
[Link]. Ada keterlibatan tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan/atau sasaran
dalam pelaksanaan kegiatan perbaikan kinerja. [Link]. Tokoh masyarakat, lembaga
swadaya masyarakat , sasaran terlibat dalam pelaksanaan kegiatan perbaikan kinerja.
KRITERIA 6.1.5. Untuk memudahkan :
6,1,5,1. Kepala Puskesmas menetapkan kebijakan dan prosedur pendokumentasian kegiatan
perbaikan kinerja. 6,1,5,1. Kapusk menetapkan kebijakan dan prosedur pendokumentasian
kegiatan perbaikan kinerja.
6,1,5,2. Kegiatan perbaikan kinerja didokumentasikan sesuai prosedur yang ditetapkan.
6,1,5,2. Kegiatan perbaikan kinerja didokumentasikan sesuai prosedur yang ditetapkan.
6,1,5,3. Kegiatan perbaikan kinerja disosialisasikan kepada pelaksana, lintas program dan
lintas sektor terkait. 6,1,5,3. Kegiatan perbaikan kinerja disosialisasikan kepada pelaksana,
lintas program dan lintas sektor .
KRITERIA 6.1.6. Untuk memudahkan :
[Link]. Kepala Puskesmas bersama dengan Penanggung jawab UKM Puskesmas menyusun
rencana kaji banding. [Link]. Kapusk dan PJ UKM Puskesmas menyusun rencana kaji
banding.
[Link]. Kepala Puskesmas bersama dengan Penanggung jawab UKM Puskesmas dan
Pelaksana menyusun instrumen kaji banding. [Link]. Kapusk dan PJ UKM Puskesmas dan
Pelaksana UKM menyusun instrumen kaji banding.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas bersama dengan Pelaksana melakukan kegiatan
kaji banding. [Link]. PJ UKM Puskesmas dan Pelaksana UKM melakukan kegiatan kaji
banding.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas bersama dengan Pelaksana mengidentifikasi
peluang perbaikan berdasarkan hasil kaji banding yang dituangkan dalam rencana perbaikan
kinerja. [Link]. PJ UKM Puskesmas dan Pelaksana UKM mengidentifikasi peluang perbaikan
berdasarkan hasil kaji banding dan dituangkan dalam rencana perbaikan kinerja.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas bersama dengan Pelaksana melakukan
perbaikan kinerja. [Link]. PJ UKM Puskesmas dan Pelaksana UKM melakukan perbaikan
kinerja.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas melakukan evaluasi kegiatan kaji banding.
[Link]. PJ UKM Puskesmas mengevaluasi kegiatan kaji banding.
[Link]. Penanggung jawab UKM Puskesmas melakukan evaluasi terhadap perbaikan kinerja
setelah dilakukan kaji banding. [Link]. PJ UKM Puskesmas mengevaluasi perbaikan kinerja
setelah dilakukan kaji banding.
Kus Sularso, Banyumanik , 18 April 2018.
( Semoga segera ada perbaikan redaksional Pedoman Akreditasi FKTP, karena kalimatnya
terlalu panjang , sehingga membacanya saja kehabisan nafas. Terlalu banyak kata depan ,
kata sambung dll sehingga esensi kalimatnya sulit dipahami. Ketika dibaca berulang ulang ,
bukan bertambah pengertiannya tetapi bertambah ragu dengan maksudnya. Bagaimanapun
kalau ada versi bahasa Inggrisnya akan lebih mudah mengalih bahasakan. Tetap semangat.
Jangan ragu ragu berkomentar karena partisipasi kita semualah yang akan memajukan
Indonesia. Sukses. )
Belajar Akreditasi
Kesiapan Inovasi
Perjalanan ke Puskesmas kali ini menyisakan PR ( Pekerjaan Rumah ) yang lumayan besar
bagi Puskesmas yang bersangkutan.
Hal ini berawal dari keingiinan untuk menjadikan satu desa lagi menjadi desa ODF setelah
sukses di desa satunya. Inovasi yang ditawarkan adalahArisan jamban. Pimpian di desa tidak
menyetujui Arisan jamban dengan berbagai sebab. Tetapi bisa diperkirakan karena memang
arisan apapun bentuknya sering beranakan ditenagh jalan karena kurangnya omimen semua
peserta.
Diperkirakan jika arisan jamban dijalankan sekarang ini desa tersebut sudah ODF ( Bebas
BABS – Buang Air Besar Sembarangan ) . karena itu meeka akan maju dengan ide itu lagi.
Saran saya adalah : janganlah ide itu menjadi satu satunya alternative- kaena kalau hanya
satu jalan keluar bukan alternaif namanya tetapi paksaan untuk menerima usulan. Usulan
pendamping adalah :
1. Kalau memang ada sungai atau tempat BABS lain dipasang CCTV, tentu BAB disiu akan
dihindari orang karena akan terlihat di layar monior yang ada di balai desa.
2. Atau usulan lain seperti membuat peternakan ular dipinggir kali atau tempat BABS lain
,dengan demikian tempat itu tentu idak ideal lagi sebagai tempat BABS.
3. Membuat jamban dengan arisan : ini mengikuti logika umum, sediakan tempat yang
nyaman orang akan senang BAB disitu.
Bisa ditambahkan alternative yang lain, etapi kelihatannya no 3 akan menjadi pilihan,
persoalannya sudah siapkah Puskesmas dengan data pendukung ? Bukankah program itu
sebaiknya evidence base,? Berdasar data data yang ada.
Misalnya : dari 100 keluarga yang belum mempunyai jamban atau idak menggunkan jamban
perlu dicari datanya:
1. Berapa KK yang tidak mempunyai lahan untuk jamban , sedangkan penghuninya
menghendaki . Misalnya : 20 KK.
2. Berapa KK yang tidak mempunyai jamban karena tidak memiliki uang untuk
membangunnya walauun halamannya masih luas, maklum dipedesaan. Misalnya 25 KK.
3. Berapa KK yang tidak memiliki jamban dan memang tidak punya uang juga : misalnya 25
KK.
4. Berapa KK yang sebenarnya punya kemampuan dan sudah ada jamban tetapi memang
senang dengan ebiasaan lamanya ? Mungkin hanya 10 KK yang punya kebiasaan seperti ini.
5. Berapa KK yang sebenarnya ingin BAB di jamban tetapi tidak punya lahan, uang tetapi
ingin hidup sehat.
Jika data itu terkumpul, mulailah mencari data tepat untuk membuat jamban bersama,
jamban komunal, yang bisa digunakan bersama beberapa keluarga. Juga didata adakah
musholla atau Masjid yang jambannya bisa digunakan oleh para jamaah sekitar yang tidak
punya jamban, Sekarang banyak masjid dan musholla mempunyai jamban yang bersih, ada
yag menyediakan juga kotak uang tetapi tidak diwajibkan, Cari juga data Perusahaa atau
Orang kaya yang mau berbagi rexeki membangun jamban. Seperti BRI yang ada disetiap
pasar. Jangan lupa data dari TNI yang mempunyai program jambanisasi. Dan potensi potensi
yang lain.
Sehingga arisan jamban untuk keluarga yang mempunyai lahan tetapi idak punya uang bisa
segera terwujut karena jumlahnya pasti tidak banyak. Sehingga hiungan kebutuhan dananya
tidak menakutkan Pak Lurah atau Pak Camat.
Ada seorang teman penggiat Kesehatan Lingkungan juga, yang menikah dengan anak
perempuan seorang pengusaha penggilingan padi didesa. Sebagai lulusan baru yang belum
punya modal, dia melayangkan protes kepada mertuanya karena mengadakan pesta
perkawanan dengan menanggap wayang kulit seminggu penuh. Biayanya tentu cukup untuk
membuat rumah dan membeli kendaraan bermotor roda dua. Tapi jawaban mertuanya
membuatnya tersipu sipu: “ Nak saya berusaha membangun penggilingan padi ini sudah
puluhant ahun, rakyat sekitar sinilah yang membantu bapak membesarkan perusahaan ini.
Merekalah yang telah memberikan keuntungan kepada bapak selama ini, sehingga bapak
bisa punya beberapa rumah, beberapa penggilingan padi dan beberapa hektar sawah,
Sudah saatnya saya berbagi kebahagiaan dengan mereka. Masyarakat disini senang dengan
wayang orang, katanya penuh nasehat bijak , jadi tidak ada salahnya kalau sekaang bapak
membahagiakan mereka, orang orang yang telah memberikan banyak kebahagiaan kepada
bapak.
Kalau bapak camat bisa menyampaiakan ceritera ini kepada Kepala BRI di sini, saya kira
mereka tidak akan keberatan membangunkan satu jamban komunal untuk beberapa KK.
BukankahBRI sudah banyak mendapat keuntungan dari warga disini selama puluhan tahun ?
Kalau Bapak Kepala desa bisa mndekati takmir masjid dan ustadz di musholla musholla ,
tidak akan kesulitan untuk membuat rakyat bisa akses kepada jamban yang dimilikinya.
Mungkin dengan kotak amal sebagai pelengkapnya.
Beberapa orang kaya akan dengan senang hati membantu jika diberitahukan kenyataan
yang ada. Tidak nyaman disebut desa yang tertinggal dibanding desa lain yang sudah ODF
bukan ?
Puskesmas bisa mengkoordinir kebersihan jamban di masjid dan musholla dengan membeli
alat pembersih dan caran pembersih secara bersama sama. Bukankah Ptugas Kesehatan
Lingkungan diantaranya dengan mengawasi kebersihan Tempat Tempat UMUM ?
Obrolanntetag jamban itu menjadi topic yang hangat selama sehari penuh. Saya belum
mendengar kelanjutannya. Tentu denga harap harap cemas menunggu kabar baik dari
Puskesmas tersebut.
Saya kira cukup keren INOVASI : JAMBAN bersih bersama Puskesmas. Manapun alternative
yang dipilih. Ingat Inovasi perlu dibahas bersama dengan masyarakat dan tokoh masyarakat
dan juga tokoh agama dan orang orang berpengaruh didesa itu.
Kus Sularso, Banyumanik 4 April 2018
( Ingat beberapa hal : Program perlu evidence base. Suatu alternative itu pilihan dari
beberapa kemungkinan yang bisa diambil sebagai pemecahan masalah. Suatu ceritera akan
berpengaruh kepada pendengarnya jika ada kemiripan dan ada pesan yang setara. Suatu
inovasi membtuhkan pembahasan bersama sehingga semua kekuatan bisa dihimpun, dan
semua kelemahan menjadi beban bersama. Yang pening tetap semangat. Disuatu
Puskesmas, sebelum kami ( surveyor Akreditasi Puskesmas ) pulang pak Camat dan kepala
Puskesmas ada yang sudah melakukan rapat dadakan untuk membuat lomba masjid dan
musholla sehat , dan desa ODF tercepat. Pak Camat dan Kepala Puskesmas saya lihat seperti
Presiden dan Menteri Kesehatan saja. Bravo tetap semangat. )
Belajar Akreditasi
Para Perintis
Akreditasi Puskesmas yang merupakan salah satu dari FKTP, ( Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama ) langsung berlari kencang, begitu start Akreditasi dimulai. Persiapannya yang
mendadak dan mendesak, mengingatkan bagaimana Amerika berkembang di awal awalnya
berkat para Perintis.
Ketika Amerika bagian Pusat dan Barat mulai ditempati pada tahun 1800-an , ada dua jenis
orang yang cukup berani untuk meninggalkan pinggir laut bagian timur, : para perintis dan
pemukim. Perintislah yang paling pertama keluar ke teritori baru. Daerah itu tidak pasti ,
bahaya mengintai di setiap sudut. Tugas mereka adalah untuk menemukan daerah
berikutnya yang belum ditempati dengan tanah yang bisa ditanami untuk pertanian, akses
ke air, dan dan kayu untuk membuat tempat tinggal. Mereka ahli menyebarangi sungai yang
belum ada jembatannya dan melalui hutan yang lebat. Aset mereka yang paling penting
adalah keberanian dan kemampuan untuk mengusir serigala yang kelaparan.
Setelah mereka mendirikan sebuah pos baru , itu waktunya bagi para pemukim untuk
datang. Bukannnya dengan menunggangi kuda , para pemukim tiba dengan kereta tertutup,
kendaaan mewah waktu itu. Tugas mereka adalah mensurvei tanah, mengembangkan
bangunan kasar yang didirikan oleh para perintis, dan membangun perdagangan dengan
pedagang dari Timur . Keahlian mereka lebih terasah daripada para perintis. Mereka adalah
pengrajin. Ahli besi, petani, dan bangkir,
Begitu para pemukim datang , kehidupan para perintis berubah . Keahlian mereka lebih
tidak diminati Mereka merasa tersesak dijalan. Hari mereka terasa berjalan lambat dan
kurang tantangan. Akhirnya , tiba waktunya bagi mereka untuk pergi. Mereka lebih bahagia
berada di bawah bintang , menentukan arah lokasi baru berikutnya, dan membuat sebuah
warisan untuk para lelaki dan wanita lainnya.
Itu yang saya baca di buku : Lead with a story, yang menggiring pemikiran saya kepada para
Pendamping Akreditasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota , yag menyiapkan Puskesmas
untuk maju Akreditasi. Dan cerita itu disampaikan oleh Delaine Hampton dari Perusahaan
P&G , kepada timnya yang selalu merintis jalan untuk pegembangan pasar bagi produk dari
perusahannya. Delaine berkata kepada anggauta timnya : Kalian, adalah para Perintis, Tidak
ada yang pernah pergi ketempat yang kita akan tuju, tugas kita untuk pergi kesana dan
meninggalkan jejak. “
Akreditasi Puskesmas telah bejalan dengan sukses, setidaknya telah mencapai target dari
segi jumlah Puskesmas yang harus ter Akreditasi.
Dalam gegap gempita penyelenggaraannya , para perintis, Pendamping dari Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota , berada dipinggir, sebagai penonton yang baik, dan sesudahnya
akan bekerja keras lagi untuk menyiapkan Puskesmas berikutnya atau Puskesmas ayang
akan maju lagi dalam Akreditasi lanjutan.
Kus Sularso, Banyumanik 4 April 2018.
( Mungkin ceritera diatas kurang pas menggambarkan apa yang terjadi, setidaknya itulah
yang ada dalam fikiran saya. Jika Delaine Hampton ingin memotivasi timnya untuk selalu
bergerak maju. Maka sayapun ingin bersama sama para Pendamping memotivasi diri sendiri
untuk selalu menjadi perintis, Berjalan didepan, dalam sepi, dan selalu berjalan didepan
untuk meratakan jalan bagi generasi penerus. Tetap semangat. Kita adalah satu bangsa dan
Negara . Allah tidak tidur. )
Belajar Akreditasi
Visi Puskesmas
Dwi Sekar Pak Kus Sularso maaf saya pengen tau contoh dari puskesmas yg telah
menetapkan visi dan misi matur nuwun.
Ini contoh super , mbak Dewi yang selalu ingin tahu. Saya kenal beliau ketika sama sama
bekerja di Dinas Kesehatan Kotamadya Surakarta. Semangatnya tak pernah pudar , saya
yakin sekarangpun beliau pasti masih mau berbagi ilmunya yang banyak kepada masyarakat
sekeliling. Beliau akif di Promkes: Promkes artinya bertujuan akhir Pemberdayaan , kalau
dalam konteks Puskesmas , tentu Pemberdayaan masyarakat agar bisa mndapatkan derajat
kesehatan sebesar besarnya.
Yang terakhir ini Promkes mengarah ke Litteracy- Health Literacy: Melek Kesehatan,
seberapa akses masyarakat kepada media komunikasi terulis, media social, media elekronik
dll. Dan selanjutnya seberapa paham masyarakat akan kesehatan. Kalau melek kesehatan
masyarakat- rasanya masih kecil. Coba kita bayangkan:
1. Orang Jakarta mau bebas dari banjir tetapi membuang sampah tetap dikali.
2. Orang Indonesia pengen bugar tetapi olah raga pagi tidak mau menjalankan dengan
teratur.
3. Orang Indonesai ingin sehat tetapi kebiasaan merokok, minum minuman keras dan
minuman oplosan tetap berjalan walau menelan korban jiwa , apalagi konsumsi narkoba.
4. Orang Indonesia ingin sejahtera tetapi uang yang didapat dihamburkan unruk membakar
rokok, membakar premium untuk ermacet macet dijalan , tidak mau menggunakan
angkutan umum.
5. Orang Indonesia ingin semua rakyat sehat aman, sejahtera , damai dan berkecukupan
tetapi : membangun infrastruktur menuju kesetaraan semua warga masyarakat banyak
ditentang.
6. Orang Indonesia ingin bebas penyakit tetapi makanannya diracun dengan pestisida,
pemutih, borak dan formalin serta zat warna berbahaya.
7. Orang Indonesia ingin terbebas dari penularan penyakit dan kecelakaan tetapi
menggunakan helm tidak mau, pembuangan limbah B3 Rumah Sakitpun dikali dan ODF (
Open Defecation Free-Bebas Buang Air Besar Sembarangan ) belum sepenuhnya diterima
dan didukung. Orag Indonesia ingin dana pembangnan cukup, tetapi korupsi merajalela.
8. Indonesia ingin terbebas dari Narkoba tetapi perdangangan narkoba marak, juga pabrik
dan peredarannya.
9. Kita ingin AKI turun tetapi KDRT, dan Perkawinan Remaja masih banyak.
10. Kita ingin minum air bersih dan udara segar tetapi PHBS tidak dijalankan.
Masih banyak yang bisa ditambahkan dalam daftar itu kalau memang kita menginginkan
suatu kemajuan terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia.
Visi Puskesmas itu ingin – berkehendak : mengingatkan kembali, memotivasi dan
menginspirasi kearah tujaun : derajat kesehatan masyarakat setinggi ingginya sebagai tujuan
.
Beberapa contoh Visi Puskesmas adalah :
1. VISI: Menjadi Motor Penggerak dalam Mewujudkan Masyarakat Kota Sehat yang Mandiri
dan Berkeadilan
2. Visi: Terwujudnya pelayanan yang optimal , merata dan berkualitas menuju masyarakat
yang maju dan sejahtera.
3. Visi : Terwujudnya masyarakat kecamatan “X” yang mandiri untuk hidup bersih dan sehat.
4. Visi: Terwujudnya kemandirian masyarakat di bidang kesehatan serta terwujudnya
pelayanan yang bermutu diwilayah Puskesmas “X”..
5. Visi: Menjadikan Pusk “X: sbg Puskesmas yg Handal dan Profesional, menuju masyarakat
“X” untuk hidup sehat secara mandiri.
Kus Sularso, Banyumanik 10 Maret 2018.
( Dari contoh diatas , kita bisa menilai ( subyektif) , apakah kira kira visi Puskesmas, sudah
bisa memotivasi, menginspirasi dan menggerakkan semua karyawan untk mewujutkannya.
Tidak usah cemas dengan visi yang kelihatannya belum “ menggigit “ karena aka nada
Internal Audit dan hasilnya serta rekomendasinya akan masuk dalam Rapat Tinjauan
Management yang diadakan tim Mutu Puskesmas. Sukses, Selamat merenungkan Visi, dan
misi Puskesmas masing masing )
Belajar Akreditasi
Antara Visi dan Misi
Ada satu hal menarik ketika kita menyimak bagaimana visi dan misi Puskesmas dibuat .
Ketika terbaca dalam salah satu misi Puskesmas , tercantum apa yang ada dalam visi
Puskesmas, dengan serta merta menjadi tanda tanya bagi kita yang membacanya .
Yang perlu kita pahami : Visi : berkaitan dengan MASA DEPAN yang akan dituju. Misi
merupakan kegiatan yang kita lakukan SAAT INI agar masa depan yang tercantum dalam visi
itu tercapai.
Visi itu lebih bersifat inspirasional: memberikan inspirasi atau gagasan, juga motivasi. Kalau
kita lihat Visi: Indonesia sehat th 2010. Tidak ada kata kerja disitu.
Misi adalah : kegiatan yang dilakukan hari ini, langkah langkah yang diperlukan agar tercapai
apa yang diidamkan dalam visi. Jadi misi ini lebih berisi ajakan kepada karyawan, atau lintas
pelaku yang akan berpartisipasi dalam kegiatan kegiatan yang akan dilakukan apa saja
kegiatannya, bagaimana melakukannya dan mengapa melakukan kegiatan itu.
Maka tidak salah kalau Visi Puskesmas mengacu kepada Visi Dinas Kesehatan yang
dirumuskan berdasar Visi Kepala daerahnya. Baik Bupati atau Walikota. Karena gambaran
atau impian masa depan apa yang tergambar di pemikiran Bupati dan Walikota itu perlu
didukung pemikiran atau impian yang sejalan dalam bidang kesehatan.
Misi karena merupakan gambaran kegiatan yang akan dilakukan dalam mendukung
pencapaian visi Puskesmas : menyangkut penggunaan dana yang besar, waktu yang banyak
dan pengerahan totalitas tenaga karyawan yang ada.
Secara sederhananya : Pernyataan misi Puskesmas perlu merangkum pernyataan : apa yang
akan dilakukan Puskesmas dalam mencapai visi, siapa yang melakukannya , dan manfaat
yang didapat organisasi.
Pernyataan Visi Puskesmas , akan menunjukkan organisasi Puskesmas seperti apa
kedepannya , dan seperti apa kira kira Puskesmas terlihatnya dimasa mendatang.
Hendaknya Visi Puskesmas dituliskan dengan jelas, optimistis tetapi masih rasional. Kalau
terlalu mengawang awang, akan terlihat seperti guyonan atau lelucon. Misalnya” Organisasi
pemberi pelayanan kesehatan terbaik sedunia.”
Jadi pernyataan Visi Puskesmas sebaiknya menggambarkan seperti apa Puskesmas 5 th – 10
th kedepan, dan bagaimana Puskesmas akan mencapainya .
Kalau kita dalami apa yang ada dalam Instrumen Akreditsi , yang tercatat adalah sebagai
berikut:
Standar : 2.3. Kegiatan Pengelolaan Puskesmas
Pengelola Puskesmas menjamin efektivitas dan efisiensi dalam mengelola program dan
kegiatan sejalan dengan tata nilai, visi, misi, tujuan, tugas pokok dan fungsi Puskesmas.
Pengelolaan Puskesmas
Kriteria : [Link]. Pimpinan Puskesmas menetapkan visi, misi, tujuan, dan tata nilai dalam
penyelenggaraan Puskesmas yang dikomunikasikan kepada semua pihak yang terkait dan
kepada pengguna pelayanan dan masyarakat.
Pokok Pikiran: [Link].
• Kegiatan penyelenggaraan Puskesmas harus dipandu oleh visi, misi, tujuan dan tata nilai
yang ditetapkan oleh Pimpinan Puskesmas agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
• Setiap karyawan diharapkan memahami visi, misi, tujuan dan tata nilai, dan diterapkan
dalam kegiatan penyelenggaraan Puskesmas.
Elemen Penilaian: [Link].
1. Ada kejelasan visi, misi, tujuan, dan tata nilai Puskesmas yang menjadi acuan dalam
penyelenggaraan pelayanan, Upaya/Kegiatan Puskesmas.
2. Ada mekanisme untuk mengkomunikasikan tata nilai dan tujuan Puskesmas kepada
pelaksana pelayanan, dan masyarakat.
3. Ada mekanisme untuk meninjau ulang tata nilai dan tujuan, serta menjamin bahwa tata
nilai dan tujuan relevan dengan kebutuhan dan harapan pengguna pelayanan.
4. Ada mekanisme untuk menilai apakah kinerja Puskesmas sejalan dengan visi, misi, tujuan
dan tata nilai Puskesmas.
5.1. Tanggung jawab Pengelolaan UKM Puskesmas
Penanggungjawab UKM Puskesmas bertanggung jawab terhadap efektivitas dan efisiensi
kegiatan pelaksanaan UKM Puskesmas sejalan dengan tujuan UKM Puskesmas, tata nilai,
visi, misi, dan tujuan Puskesmas.
6.1. Perbaikan kinerja masing-masing UKM Puskesmas konsisten dengan tata nilai, visi, misi
dan tujuan Puskesmas, dipahami dan dilaksanakan oleh Kepala Puskesmas, Penanggung
jawab UKM Puskesmas dan Pelaksana yang ditunjukkan dalam sikap kepemimpinan.
6.1.1. Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKM Puskesmas dan Pelaksana, bertanggung
jawab dalam membudayakan perbaikan kinerja secara berkesinambungan, konsisten
dengan tata nilai, visi, misi, dan tujuan Puskesmas.
Kata kunci disini adalah :
1. Pimpinan Puskesmas menetapkan visi, misi, tujuan, dan tata nilai
2. Ada kejelasan visi, misi, tujuan, dan tata nilai Puskesmas
3. Setiap karyawan diharapkan memahami visi, misi, tujuan dan tata nilai,
4. Visi, misi, dipahami dan dilaksanakan oleh Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKM
Puskesmas dan Pelaksana yang ditunjukkan dalam sikap kepemimpinan.
5. Pengelolaan program dan kegiatan sejalan dengan tata nilai, visi, misi, tujuan, tugas
pokok dan fungsi Puskesmas.
6. Kegiatan pelaksanaan UKM Puskesmas sejalan dengan tujuan UKM Puskesmas, tata nilai,
visi, misi, dan tujuan Puskesmas
7. Menilai apakah kinerja Puskesmas sejalan dengan visi, misi, tujuan dan tata nilai
Puskesmas.
8. Perbaikan kinerja masing-masing UKM Puskesmas konsisten dengan tata nilai, visi, misi
Kus Sularso, Banyumanik 7 Maret 2018.
( Dalam setiap kali Puskesmas membuat Renstra , visi dan misi ini akan selalu terbawa bawa.
Ingat selalu bahwa visi merupakan alat untuk motivasi dan untuk menginspirasi seluruh
karyawan. Ketika karywan sudah tidak tergugah dan sudah tidak terinspirasi oleh visi dan
misi Puskesmas , maka Kepala Puskesmas dan PJ ( Admen, UKP, UKM ) dan Ketua team
mutu perlu bersiap siap untuk melakukan refreshing, Sebagaimana kucing yang seharian
tidur , dan makan , tidak mau lagi memburu tikus ? Mau diapakan ? Bingung kan ? )
Belajar Akreditasi
Bab VIII
Yayuk Srirahayu Assalamu'alaikum maaf pak kus,sya dari puskesmas pamekasan bisa minta
gambaran untuk bab 8 pak,trmsksh Wasalam
1. Yang pertama diperhatian : Bab VIII ini berbicara tentang apa ? Karena banyak orang
ketika langsung menuju ep-ep ( elemen penilaian ) pemahamannya salah karena lupa
judulnya. Lupa membicarakan apa yang jadi topiknya. Terutama bagi Pendamping :
Sampaikan dulu : Bab VIII ini berbicara tenatang apa ? …Tentang Manajemen Penunjang
Layanan Klinis ( MPLK ) . Jadi berbicara tentang UKP di Puskesmas.
( Bagi PJ UKM harap diperhatikan betul, bahwa ranah kerjanya adalah pelayanan di
masyarakat / atau pelayanan berbasis masyaralat : jadi keluhan : ya keluhan layanan di
masyarakat, keselamatan; ya keselamatan sasaran di masyarakat , resiko , ya resiko
pelayanan kesehatan di masyarakat ,: bukan dokumen yang ada disini . )
2. Lalu cari tahu : apa yang disebut MPLK : agar kita tidak berdebat tanpa arah berputar
putar karena yang bicara dan yang diajak berbicara mempunyai pemahaman dan referensi
berbeda. Kalau kata kata lazimnya : Definisi operasional. Salah satu kelemahan buku
Instrumen Akredtasi ini adalah , tidak adanya definisi operasional , atau Glossary : arti setiap
kata sulit, atau kata yang mempunyai arti khusus, atau kepanjangan dari suatu singkatan. Di
Indonesiaitu terkenal akan banyaknya singkatan. Sehingga menyulitkan menghafalkannya.
3. Yang disebut Layanan Klinis disini adalah :a) Pelayanan Laboratorium b) Pelayanan Obat c)
Pelayanan Radiodiagnostik (jika tersedia), d) Manajemen informasi – rekam medis. e)
Manajemen Keamanan Lingkungan f) Manajemen Peralatan g) Manajemen Sumber Daya
Manusia .
4. Masing masing layanan ada standarnya : Apa standarnya bahwa 7 ( tujuh) layanan klinis
yang diberikan sudah memenuhi kebutuhan/harapan masyarakat . Ingat : Pelayanan
Puskesmas menuju kepada Kepuasan Pelanggan, maka kebutuhan dan harapan masyarakat
diidentifikasi dijadikan program kerja.
a) Standar Pelayanan Laboratorium :8.1. Pelayanan Laboratorium Tersedia Tepat Waktu
untuk Memenuhi Kebutuhan Pengkajian Pasien, serta Mematuhi Standar, Hukum dan
Peraturan yang Berlaku.
b) Standar Pelayanan Obat: 8.2. Obat yang Tersedia Dikelola secara Efisien untuk Memenuhi
Kebutuhan Pasien
c) Standar Pelayanan Radiodiagnostik (jika tersedia): 8.3. Pelayanan radiodiagnostik
disediakan sesuai kebutuhan pasien, dilaksanakan oleh tenaga yang kompeten, dan
mematuhi persyaratan perundangan yang berlaku
d) Standar Manajemen informasi – rekam medis. 8.4. Kebutuhan Data dan Informasi Asuhan
bagi Petugas Kesehatan, Pengelola Sarana, dan Pihak Terkait di Luar Organisasi Dapat
Dipenuhi Melalui Proses yang Baku.
e) Standar Manajemen Keamanan Lingkungan : 8.5. Lingkungan Pelayanan Mematuhi
Persyaratan Hukum, Regulasi dan Perizinan yang Berlaku.
f) Standar Manajemen Peralatan: 8.6. Peralatan Dikelola dengan Tepat.
g) Standar Manajemen Sumber Daya Manusia : 8.7. Terdapat Proses Rekrutmen, Retensi,
Pengembangan dan Pendidikan Berkelanjutan Tenaga Klinis yang Baku.
5. Dari sini kia tahu bahwa melaksanakan pelayanan itu harus mengikuti standarnya. Tetapi
kalimat dalam standar itu tidak bisa divisualisasikan , dilhat, diobservasi, ditampilkan. Jadi
perlu adanya indicator indicator untuk bisa dilihat : Itulah yang disebut elemen penilaian :
bagian bagian yang dinilai. ) dilihat dokumennya dalam masalah akreditasi ini.
6. Jadi jika ep-ep dipenuhi : haapannya standarnya sudah dipenuhi dan Kebutuhan dan
harapan masyarakt itu sudah dipenuhi.
7. Bagi Pendamping Akreditasi : Cara berfikir ini berlaku untuk semua bagian : baik Admen ,
UKP dan UKP. Kalau dalam istilah ilmiahnya : analisa dan sintesa: Analisa itu : bagian
besanya dipecah pecah menjadi bagian bagian kecil. ( Terutama dalam pemecahan masalah
). Sedang sintesa itu : menggabnngkan pecahan pecahan kecil menjadi bentuk utuh program
pelayanannya. Ibaratnya : seorang arkeolog yang menyatukan pecahan keramik dalam suatu
temuan situs kuno untuk digabung jadi benda asalnya seperti apa. Apakah itu vas bunga,
atau alat makan- piring , mangkuk dll.
8. Bagi Pendampping : Mulailah selalu mendalami dulu dari bagia besarnya: agar tidak
tersesat dalam memberi penjelasan isinya , karena tahu bagian kecil itu dari bagian besar
mana. Berfikir sistematis tu penting : Berfikir menurut urutan yang benar. Kalau kita belajar
nama otot : kita hafalkan dulu nama tulangnya : Karena nama otot sering berasal dari nama
tulang yang menjadi tempat melekatnya. Misalnya Musculus Sterno cleido mastoideus :
berarti oto yang menghubungkan otot : sternum, calvicula dan mastoid.
Kus Sularso , Banyumanik, 13 Februari 2018.
( Menjadi Pendamping memang harus lebih siap dibanding yang didampingi, karena itu
mulailah belajar melihat sesuatu secara global , lalu menuju detail, Mulailah berfikir
systematis, Dilihat sistemnya duu secara utuh lalu secara perlahan lahan dipahami
detailnya. Moga moga penjelasan singkat ini bermanfaat. Terutama bagi Pendamping yang
harus menjawab berbagai pertanyaan warga binaanya. Selamat bekerja . Sukses )
Belajar Akreditasi
Bab V
Ana Hermin Manoppo
Selamat siang pak saya ana hermin dari puskesmas Ganjar agung kota metro....maaf mohon
gambaran ttg bab 5.1 terimakasih pak...
Standar: 5.1. Tanggung jawab Pengelolaan UKM Puskesmas
Penanggung jawab UKM Puskesmas bertanggung jawab terhadap efektivitas dan efisiensi
kegiatan pelaksanaan UKM Puskesmas sejalan dengan tujuan UKM Puskesmas, tata nilai,
visi, misi, dan tujuan Puskesmas.
( PJ UKM mempunyai tanggung jawab yg besar: karena bertanggung jawab agar kegiatan
UKM berjalan dengan efisien ( menggunakan uang dengan sebaik-baiknya) dan efektif (
dengan dana yang ada menghasilkan out put yang sebesar besarnya).
Itu masih diberi keterangan : Program kerja UKM nya sejalan dengan tujuan UKM
Puskesmas :
( Penjelasan dalam system Kesehatan Nasional) : UKM adalah setiap kegiatan yang dilakukan
oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di
masyarakat. UKM mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan,
pemberantasan penyakit menular, kesehatan jiwa, pengendalian penyakit tidak menular,
penyehatan lingkungan, dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat,
pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat aditif
(bahan tambahan makanan dan minuman, pengamanan narkoti ka, psi kotropika, zat adiktif
dan bahan berbahaya, serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Program UKM harus: sejalan dengan tata nilai Puskesmas :
Salah satu contoh tata nilai disuatu Puskesmas ( Teluk Batang ) adalah : SIAGA:
a) S: Senyum, Salam, sapa , Sopan, Santun.
b) I: Inovative.
c) A: Adil dalam Pelayanan.
d) G: Gelorakan Semangat Pelayanan Prima.
e) A: Amanah menjaga Keselamatan Pasien
Visi : Terwujutnya masyarakat Teluk Batang Yang Berkualitas Sehat dan Produktif.
Misi : 1) Mengupayakan peningkatan derajat Kesehatan melalui upaya promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif. 2) Memberikan pelayanan yang efektif dan efisien bermutu dan
terjangkau. 3) Meningkatkan kualitas SDM yang mempunyai kompetensi dibidangnya. 4)
Menyediakan pelayanan kesehatan yang selalu berorientasi kepada kebutuhan dan kepuas-
an masyarakat.
Progam UKM : harus sejalan dengan tujuan Puskesmas : ( 1) mewujutkan masyarakat yang
memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat 2)
mewujutkan masyarakat yang mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu 3)
mewujutkan masyarakat yang hidup dalam lingkungan sehat 4) mewujutkan masyarakat
yang memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu , keluarga , kelompok dan
masyarakat ).
Karena begitu besarnya tanggung jawab PJ UKM maka perlu dipenuhi kriteria sebagai
seorang PJ UKM: yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
5.1.1. Penanggung jawab UKM Puskesmas memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan
melakukan peningkatan kompetensi agar dapat mengelola sesuai dengan tujuan yang harus
dicapai.
Adapun pengertian kompetensi dapat merujuk pada : Permenkes 971 th 2009:
(a)Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pegawai
berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan pada tugas
jabatannya sehingga pegawai tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara profesional,
efektif dan efisien.
(b)Kompetensi Dasar adalah kompetensi yang wajib dimiliki oleh setiap pejabat struktural.
(c)Kompetensi Bidang adalah kompetensi yang diperlukan oleh setiap pejabat struktural
sesuai dengan bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
(d)Kompetensi Khusus adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh pejabat struktural dalam
mengemban tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan jabatan dan kedudukannya.
Pokok Pikiran:
• Penanggung jawab UKM Puskesmas harus kompeten untuk mengelola UKM Puskes-mas
yang menjadi tanggung jawabnya, agar upaya tersebut dikelola dan dilaksanakan tepat
tujuan, tepat sasaran, dan tepat waktu. Penanggung jawab harus memenuhi persya-ratan
yang ditetapkan sesuai dengan pedoman yang menjadi acuan dalam pengelolaan dan
pelaksanaan UKM Puskesmas.
• Upaya peningkatan kompetensi dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan atau pen-
didikan yang dipersyaratkan sebagai Penanggung jawab UKM .
Belajar Akreditasi
Mulai Akreditasi
Bekerja di Kesehatan masyarakat Tinggal di Kota Tebing Tinggi
Salam kenal dan slmat siang pak [Link] nma sy rosdiana [Link] di puskesmas tebing
tinggi sumatera [Link] mw [Link] sd mngikuti kaji banding ke [Link] sy
ktua [Link] mw sharing sm [Link] sy mw tny utk memulai akreditasi apa yg prtama yg hrs
km persiapkan?mohon masukan dr [Link] nya saya ucapkan terima ksh .
Kita sudah tahu apa urutan kegiatan Akreditasi, salah satunya kaji banding yang telah ibu
lakukan, lalu workshop, penggalangan komitmen dll.
Saya akan coba menjawab dari segi praktisnya, karena kegiatan yang dilakukan melalui
pendanaan yang sudah disiapkan, dengan jadwal waktu yang ketat , kadang yang terjadi
bukannya menjadi sarana untuk mencapai tujuan tetapi menjadi beban. Karena belum ada
niat yang kuat , belum ada komitmen yang solid ddari semua puhak, dan belum ada target
yang jelas dan terukur.
Bingung dan frustasi tercermin dari kalimat kalimat : Bagaimana ini ? kita harus melakukan
“kaji banding”? Lalu bagaimana mengadakan “ workshop “ yang baik, kapan , dimana,
bagaimana ? Ribet.
Karena itu , bila ibu sebagai PJ UKM berarti , sebagai manager UKM, dibawak Top manager :
Kepala Puskesmas. Yang paling cocok untuk kegiatan Akreditasi yang waktunya singkat dan
terkesan dadakan, maka untuk lebih berhasil guna dan berdaya guna pakailah pendekatan
managemen by obyektif ( tatalaksana yang mengedepankan tujuan / target ).
1. Dalam management by objective : ditekankan bagaimana management berkomitmen
penuh untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tujuan menjadi focus. Dalam Akreditasi
Puskesmas tentu target tertingginya Paripurna. Bukan hanya slogan yang di teriakkan saat
pembukaan atau sambutan Kepala Dinas.
2. Tetapkan tujuan secara bersama sama, target secara bersama sama dan menentukan cara
mencapainya bersama sama. PARIPURNA. Tiap jenjang perlu berkonribusi dalam penentuan
tujuan dan target kegiatan tetapi tetap mengacu pada ketentuan pimpinan puncak (
Kadinkes, Kapuskesmas )
3. Sebagai organisasi NOW / masa kini istilah anak sekarang , Puskesmas perlu mencapai
hasil Paripurna itu dalam waktu singkat.
4. Karena itu Puskesmas perlu memanfaatkan tehnology NOW yang juga berkembang
[Link] laptop, smart phone, internet.
5. Perlu bertindak agresive jangan klemar klemer. Jangan biarkan semua tenaga membuang
waktu sia sia, tentukan jam istirahat dengan jelas. Kegiatan dilakukan on time. Tepat waktu.
6. SDM UKM sebagai asset perlu dikelola dengan baik.
a. Diminta komitmenya secara penuh mencapai Paripurna.
b. Monitoring, komunikasi dan koordinasi perlu dijalankan secara ketat: terencana dan
berkesinambungan.
c. Bantu Pelaksana Program /karyawan untuk berkembang sehingga bisa memberi
kontribusi lebih besar.
7. Gunakan cara kerja paling efisien. Tidak perlu sedikit sedikit rapat, sebetar sebentar rapat,
tetapi tanpa hasil jelas.
8. Pertahankan suasana kerja yang bahagia, gembira dan penuh persaudaraan.
Coba diperhatikan :
1) Admen merupakan penjaga gawang akreditasi, semua kegiatan harus sepengetahuan
Admen, semua dokumen harus melalui Admen, dan telah diklarifikasi oleh Admen , sehingga
posisi sentral ini perlu ditekankan.
2) Karena itu pembenahan pertama dan utama adalah dokumen Admen.
3) Jika sudah benar, maka dokumen lain ( di UKM dan UKP ) akan terdongkrak dengan
sendirinya karena sudah melalui koreksi Admen, dan banyak ep yang berisi SK DAN SOP
yang banyak tergantung Admen dalam tata naskahnya. .
4) Karena itu untuk sekedar lulus : nilai Admen harus diatas 75%. Untuk mencapai Paripurna
: cukup lebih besar dari 80 % . Cukup mengejar 15 % saja.
5) Agar nilai kelulusan tinggi: UKM memberikan kontribusi yang jelas karena materinya
masih asing dan perlu pemahaman lebih serius dan tidak bisa dilakukan secara cepat karena
banyak berhubungan dengan lintas sector dan masyarakat. Karena itu nasehat : Tuliskan apa
yang dikerjakan ( semua kegiatan UKM perlu didokumenasikan walau , hanya pertemuan
dua orang ketika bertemu lintas sector, atau pertemuan bersama julah besar: Karena itu
selalu bawa buku kegiatan sebelum kelapangan ) dan mengerjakan apa yang tertulis ( dalam
SK, SOP dan KAK ).
Kus Sularso, Banyumanik 12 Februari 2018.
( Secara singkat agar organisasi berjalan: 1) benahi organisasinya, 2) benahi systemnya , 3)
Tingkatkan kemampuan orang orangnya , 4) Perbaiki mekanisme kerjanya , 5) Perbaiki
dokumentasinya. Sebagai PJ UKM : 6 jam waktu erja ibu seharusnya digunakan untuk UKM,
mulailah benahi satu persatu, cukup waktu kalau benar benar dilakukan dengan gembira
dan bahagia. Selamat bekerja sukses. )
Belajar Akreditasi
Memahami monitoring
Assalamualaikum, pak dokter Saya Fitri Sy (Bekerja di Dinas Kesehatan Kota Pariaman dan
Dinas Kesehatan Kab. 50 Kota Tinggal di Kota Pariaman) mohon sharing pak dokter tentang
perbedaan maksud dari kriteria 5.5.2 dengan kriteria 5.6.1 tentang monitoring pelaksanaan
UKM. Sharing dari Bapak sangat membantu kami dalam proses penyusunan dokumen agar
lebih terarah. Terimakasih sebelumnya, semoga pak dokter berkesempatan untuk
mempermudah kami dalam memahaminya Wassalam.
Ibu Fitri memang luar biasa, karena monitoring ini membingungkan banyak orang, tetapi
tidak banyak yang mencari jawabannya sampai tuntas seperti ibu.
Coba kita perhatikan cara kita berfikir untuk menyelesaikannya :
Jika ada perbedaan perlu klarifikasi dulu apa arti masing masing, lalu dibandingkan.
Karena itu kita perlu melihat kehulu lebih hulu : yaitu Pokok pikiran dan standarnya.
KRITERIA 5.5.2.
EP 1 1. Kepala Puskesmas menetapkan kebijakan monitoring kesesuaian pengelolaan dan
pelaksanaan UKM Puskesmas terhadap peraturan, pedoman, kerangka acuan, rencana
kegiatan, dan prosedur pelaksanaan kegiatan.
EP 2 2. Kepala Puskesmas menetapkan prosedur monitoring.
EP 3 3. Penanggung jawab UKM Puskesmas memahami kebijakan dan prosedur monitoring.
EP 4 4. Penanggung jawab UKM Puskesmas melaksanakan monitoring sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
EP 5 5. Kebijakan dan prosedur monitoring dievaluasi setiap tahun.
Pokok Pikiran:
• Agar sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dicapai dengan optimal, maka pengelola
dan pelaksana perlu mematuhi segala ketentuan yang telah ditetapkan.
• Kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku perlu dimonitor dan dievaluasi sesuai dengan
kebutuhan.
Kriteria : 5.5.2. Kepala Puskesmas menetapkan kebijakan dan prosedur evaluasi kepatuhan
terhadap peraturan, kerangka acuan, prosedur dalam pengelolaan dan pelaksanaan UKM
Puskesmas.
Jadi pada kriteria ini ditekankan tentang : TATA CARA MONITORING :
1. Ada SK monitoring
2. Ada SOP monitoring.
3. Kepatuhan pelaksanaan kegiatan terhadap SK, SOP, dan KAK.
KRITERIA 5.6.1.
1. Kepala Puskesmas dan Penanggung jawab UKM Puskesmas melakukan monitoring sesuai
dengan prosedur yang ditetapkan.
2. Hasil monitoring ditindaklanjuti untuk perbaikan dalam pengelolaan dan pelaksanaan
kegiatan.
3. Hasil monitoring dan tindak lanjut perbaikan didokumentasikan.
Pokok Pikiran:
• Monitoring dalam proses pengelolaan dan pelaksanaan UKM Puskesmas perlu dilakukan
secara periodik oleh Kepala Puskesmas dan Penanggung jawab UKM Puskesmas untuk
menjaga agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan kerangka acuan dan rencana yang
disusun, dan mencapai sasaran dan target yang ditetapkan.
Kriteria : 5.6.1. Kepala Puskesmas dan Penanggung jawab UKM Puskesmas melakukan
monitoring terhadap UKM Puskesmas secara periodik.
Pada kiteria ini: ditekankan : APAKAH MONITORING ITU DILAKUKAN dan dilakukannya
secara PERIODIK;
1. Ada bukti Kepala Puskesmas dan PJ UKM melakukan monitoring
2. Monitoringnya dilakukan periodic: bukan hanya buki satu kali kegiatan tetapi berulang
ulang secara periodic sesuai SK.
3. Ada tindak lanjut. ( Untuk ini gunakan pemikiran standar: dlam monitoring jika ketemu
masalah dibuat analisa penyebab masalah dibuat rencana tindak lanjut untuk mengatasi
masalah dan tindak lanjut mengatasi penyebab masalah dilakukan.
Kus Sularso, Banyumanik 11 Februari 2018.
( Sederhananya begini : Elemen penilaian itu adalah mencari bukti apakah kegiatan sudah
dilakukan dengan benar : Jadi elemen penilaian itu berisi : APA YANG HARUS ADA DALAM
DOKUMEN ( dengan pengertian ( asumsi ) ; begitulah jugalah yang dilakukan , - bukan
dokumen karangan atau rekayasa ).
Dalam bahasa Inggris: ada yang DO dan ada yang DON’T: Yang harusnya dikerjakan (
dokumennya ada ) dan yang harus tidak dikerjakan ( dokumennya tidak ada, atau ada tetapi
bukan yang seharusnya ).
Yang terjadi adalah beberapa temuan kesalahan karena yang harusnya dikerjakan tidak
dikerjakan dan yang seharusnya tidak dikerjakan , dikerjakan ( jadi dikerjakan dengan cara
yang salah.
Jika pengertian ini sudah tertanam dalam hati, semuanya akan menjadi kelihatan mudah.
Bisa jadi pendamping atau surveyor. He he he. Tetap semangat. Sukses. )
Belajar Akreditasi
Kebutuhan masyarakat akan program kesehatan
Dharma Suasta
Elemen Penilaian
[Link]. Dilakukan identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat,
dan individu yang merupakan sasaran kegiatan.
[Link]. Identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat, dan individu
yang merupakan sasaran kegiatan dilengkapi dengan kerangka acuan, metode dan
instrumen, cara analisis yang disusun oleh Penanggung jawab UKM Puskesmas.
[Link]. Hasil identifikasi dicatat dan dianalisis sebagai masukan untuk penyusunan kegiatan.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut ditetapkan oleh Kepala Puskesmas bersama dengan
Penanggung jawab UKM Puskesmas dengan mengacu pada pedoman dan hasil analisis
kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat, dan individu sebagai sasaran
kegiatan UKM.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan kepada masyarakat, kelompok
masyarakat, maupun individu yang menjadi sasaran.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan dan dikoordinasikan kepada lintas
program dan lintas sektor terkait sesuai dengan pedoman pelaksanaan kegiatan UKM
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut disusun dalam rencana kegiatan untuk tiap UKM
Puskesmas.
Belajar kreditasi
Komunikasi
Sangat menarik jika kita perhatikan bagaimana Puskesmas harus berkomunikasi dengan
masyarakat. Setidaknya bisa dilihat dari ep: [Link] dan [Link].: dimana Puskesmas harus
mengkomunikasikan kegiatan kegiatan yang telah disusunnya yang berkesesuaian dengan
kebutuhan dan harapan masyarakat.
Elemen Penilaian: KRITERIA 4.1.1.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan kepada masyarakat, kelompok
masyarakat, maupun individu yang menjadi sasaran.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan dan dikoordinasikan kepada lintas
program dan lintas sektor terkait sesuai dengan pedoman pelaksanaan kegiatan UKM
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut disusun dalam rencana kegiatan untuk tiap UKM
Puskesmas.
Berkomunikasi berbeda dengan hanya sekedar berkata kata. Coba perhatikan: bayi yang
mulai bisa berkata : papa, mama, dia tidak berkomunikasi, dalam artian memanggil mama
atau papanya. Karena manusia memang pada dasarnya diberinkemampuan untuk berkata
kata.
Komunikasi artinya lebih luas dan lebih kompleks karena berkomunikasi berarti
menyampaikan informasi. Menyampaiakan pesan. Dalam buku buku teks disebut: message.
Jika ditanya : Apakah komunikasi itu: Komunikasi adalah : suatu ketrampilan/ skill yang
dipelajari.
Definisi komunikasi kira kira : kegiatan memberi, menerima atau bertukar informasi, ide dan
pendapat , sehingga pesan itu bisa dipahami secara penuh oleh kedua belah pihak.
Ada pihak pemberi pesan, isi pesan dan penerima pesan.
Proses komunikasi yang terjadi jika diuraikan secara singkat adalah:
1. Pengirim memberikan sebuah pesan, dengan pemahaman tertentu didalam fikirannya.
2. Penerima pesan berusaha memahami dan menginterpretasikan pesan yang diterimanya.
3. Penerima lalu memberi umpan balik ke[ada pemberi esan, yg kemudian
menginterpretasikan lagi umpan balik yang diterimanya. Proses ini berkesinambungan
membangun komunikasi.
Perhatikan bedanya antara :
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan kepada masyarakat, kelompok
masyarakat, maupun individu yang menjadi sasaran.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan dan dikoordinasikan kepada lintas
program dan lintas sektor terkait sesuai dengan pedoman pelaksanaan kegiatan UKM
Pada [Link]. komunikasi dilakukan Puskesmas kepada masyarakat, kelompok masyarakat
maupun individu yang menjadi sasaran. Penerima pesan penting untuk memahami isi pesan.
Pada [Link]. komunikasi saja dengan lintas program dan lintas sector , tidak cukup, tetapi
perlu diikuti koordinasi, karena lintas program dan lintas sector jug memiliki program yang
perlu dikoordinasikan sehingga hasilnya akan lebih efektif dan efisien.
Kus Sularso, Banyumanik : 7 Februari 2018.
( Dengan komunikasi dan koordinasi yang intens, programs akan bisa menghasilkan sesuatu
sesuai yang diharapkan. Perlu latihan berkomunikasi dan berkoordinasi, sehingga
pembicaraan bisa menjadi lebih bermakna, bukan sekedar kata kata kosong yang habis
perkara, setelah berpisah. Baik saat pertemuan , audiensi, maupun pelatihan dan seminar
dll. Jika ini dilakukan dengan baik, tak tertutup kemungkinan pekerjaan yang tadinya terasa
berat bisa lebih ringan dilakukan dan lebih cepat. Sehingga kecenderungan menambah
tenaga dan menambah dana pertemuan bisa diminimalisir. Selamat bekerja. Sukses.
Bykankah setelah Akreditasi , bekerja bisa leih nyaman dan singkat ? ).
Belajar Akreditasi
Belajar melalui Akreditasi
Tanpa terasa telah banyak Puskesmas yang telah melakukan Akreditasi. Ada yang terjadi
perubahan di Puskesmas setelah Akreditasi. Ada yang kembali seperti keadaan sebelum
semula , sebelum Akreditasi.
Bagi petugas yang telah merasakan tejadinya perubahan kearah perbaikan , tentu kita wajib
menyampaikan ucapan selamat. Perubahan terhadap masing masing individu , kelompok,
atau secara keseluruhan.
Masyarakat tentu tahu , karena mereka yang sering memanfaatkan jasa Puskesmas ( Pasien,
pelanggan ) atau sering berhubungan dengan Puskesmas ( Pak Camat, Kepala Desa, Petugas
Kepolisian sector, petugas TNI rayon militer, dinas dinas terkait seperti Pendidikan, Agama,
dll) akan memperhatikan Puskesmas , dan membandingkan antara sebelum dan sesudah
Akreditasi.
Dan masyarakat tentu berterima kasih dan merasa bersyukur karena telah ada peningkatan
kinerja, mutu maupun keselamatan pasien akibat langsung atau tidak langsung dengan
adanya Akreditasi di puskesmas. Puskesmas lebih bersih, Puskesmas lebih ramah,
Puskesmas lebih asri, Puskesmas lebih bersahabat, kecelakaan di Puskesmas berkurang,
keluhan makin sedikit, dll dll.
Dengan adanya perubahan kearah perbaikan yang telah terjadi di Puskesmas , menunjukkan
bahwa Puskesmas telah belajar selama proses Areditasi. Mulai persiapannnya yang
berlangsung berbulan bulan, pelaksanaan survey Akreditasi yang berlangsung 3 hari dan
kegiatan pasca Areditasi, dimana Puskesmas masih harus melengkapi kekurangan
kekurangan yang masih ada sesuai rekomendsi surveyor.
1. Dalam definisinya : Belajar : adalah : Suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung
dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan
– pemahaman , kerampilan dan nilai –sikap, dimana perubahan itu secara relatif konstan
dan berbekas.
2. Aktifitas mental karyawan yang memang ingin berubah kearah perbaikan, keinginan
untuk mengerti , untuk memahami, untuk lebih terampil dan untuk lebih mendorong kearah
perbaikan mutu pelayanan, kinerja dan keselamatan pasien/sasaran. Jangan lupa juga
perubahan tata nilai yang dianut dan dilaksanakan serta sikap dalam bertindak, melayani
pasien/sasaran.
3. Tentu saja bagi kayawan yang berinteraksi aktif lebih besar dan lebih banyak selama
proses survey Akreditasi, mulai dari persiapan sampai pelaksanaan dan tindak lanjutnya
akan mendapat manfaat lebih besar.
4. Ini menjawab apa yang selalu menjadi pertanyaan banyak karyawan : Apakah manfaat
Akreditasi ini bagi saya /karyawan ? Kalau tidak ada perubahan kearah perbaikan , jangan
jangan karena karyawan tersebut memang tidak menginginkan perubahan ke-arah
perbaikan, dan memag tidak aktif berproses. Terlihat sibuk , tetapi tidak berpartisipasi
dalam pembelajaran akreditasi.
5. Interaksi aktif dengan lingkungan: Ini kata kunci dalam proses belajar – mengajar yang
penting selama Akreditasi. Terutama bagi yang baru melakukan Akreditasi pertama kali. Dari
belum tertata menjadi tertata. Didalam Akreditasi ada : tata graha, ada tata naskah, ada
prosedur baku dll.
Kita patut bersyukur , dengan Akreditasi Puskesmas , kemajuan telah terjadi, ada yang cepat
, ada yang lambat. Tidak mengapa karena titik awalnya memang berbeda. Beda lokasi, beda
lingkungan, beda kecukupan ketenagaan , beda keckupan pendanaan dll. Yang penting maju
terus dengan semangat belajar . Berubah kearah perbaikan.
Kus Sularso, Banyumanik, 4 Februari 2018.
( Sangat menggembirakan bahkan membahagiakan, jika kita tahu kita telah setapak menjadi
lebih baik, setapak menjadi lebih prima dalam pelayanan dan pengabdian serta setapak
lebih mendekat kearah tujuan mulia Negara kita: ikut mencerdaskan bangsa, berkat
Akreditasi. Banyak hal yang tadinya belum tahu menjadi tahu, yang tadinya belum terampil
mejadi lebih terampil, yang tadinya belum mendukung program menjadi lebih antusias
dalam melaksanakan program atau kegiatan . Karena inti belajar adalah : perubahan kearah
lebih baik dengan aktif berinteraksi dengan lingkungan selama proses akreditasi
berlangsung.
Jangan heran dan kaget jika tiba tiba kita menjadi pribadi yang berbeda. Bukan hanya
Puskesmas yang menjadi lebih bagus, Kinerja , mutu dan perhatian terhadap keselamatan
pasien meningkat, tetapi juga diri karyawan dimata pasien atau sasaran/pelanggan dan
mitra kerja, juga menjadi lebih baik.
“ Ibu menjadi lebih segar, lebih cerah, lebih menyenangkan sekarang “ Karena karyawan
telah menjadi pribadi yang lebih menyenangkan dalam bermasyarakat, lebih percaya diri
karen ketrampilan meningkat dan pengetahuan ertambah. Melaksanakan kegiatan lebih
tertib dan teratata , sikap yang lebih bersahabat sebagaimana tata nilai yang dikembangkan
di Puskesmas.
“ Bapak kelihatan fresh sekarang, lebih banyak senyum, lebih rapi, lebih sopan dalam
bertutur kata, lebih sabar dan lebih telaten “ . Bukan hanya suasana di Puskesmas yang
berubah tetapi juga suasana dirumah tangga dan lingkungan. Keren kan ? )
Belajar Akreditasi
Diagram tulang ikan atau Audit Internal .
Musda Musdalifah Ijin dok ,sy mo bertanya...apakah komplikasi neonatus dan komplikasi
obstetrik pada indikator bisa diangkat jadi masalah kalo tidak mencapai target,disebabkan
karena kurangnya sasaran dengan komplikasi pada wilayah tersebut.
Ini masalah klasik di Puskesmas. Pemahaman tentang apa itu masalah masih menjadi
kendala untuk nantinya menemukan metode untuk mengatasi masalah yang tepat.
Ini contoh bagus , menyangkut bagaimana UKP dan UKM harus bekerjasama. Tapi ingat
jangan difragmentasi, di kotak kotakkan karena keduanya tentu saling berpengaruh dan
harus saling bekerjasama.
1) Masalah kesenjangan capaian / atau kinerja: jika target yang ditentukan tidak tercapai. (
Ini lebih kearah UKM ) Dan
2) Masalah kepatuhan pada standard yang menyebabkan terjadinya komplikasi. ( Ini lebih
kearah UKP ).
Jadi Ibu Musda Musdalifah : Ibu harus tentukan dulu ? Masalah yang ada itu karena target
tidak tercapai , atau ada masalah dengan penata laksanaan klinis , sehingga kasusnya tidak
ditemukan/ tidak dicatat atau lain lain penyebab.
Ini baru terlihat jelas jika masalahnya ditulis dulu kesenjangannya:
Kalau kesenjangannya adalah : Tidak tercapainya target, maka itu masuk ranah
management : bukan ranah klinis. Jadi bisa saja menjadi masalah . Penyebab bisa macam
macam. ( Kalau menggunakan diagram tulang ikan ) :
1) Perencanaan : Apakah itu karena targetnya memang tidak ada sejumlah itu ? Bagaimana
menentukan target yang tepat. Tidak unyakah data riel. Apakah kunjungan rumah tidak
mencapai 100 % ?
2) SDM: Kasus memang tidak dicari, atau pencaatatannya tidak baik.
3) Lingkungan : Masalah pandangan masyarakat yang menganggap kematian neonaus itu
hal biasa jadi tidak perlu diributkan .
4) Lingkungan : Kebijakan : Pemerintah daerah memang tidak mempedulikan jika ada bayi
meninggal. Tidak dicatat, tidak dilaporkan. Tidak menambah jumlah penduduk lalu
menguranginya karena bayinya mati. Bikin repot saja.
5) Pendanaan : Apakah tidak tersedia dana untuk melakukan penyuluhan, kunjungan
lapangan dan pelatihan pelatihan.
6) Dll dll.
Kus Sularso. Banyumanik, 27 Januari 2018.
( Dengan PIS-PK : semua rumah harus dikunjungi dan 100 % akses harus tercapai Universal
Health Coverage. Banyak masalah nanti akan terselesaikan. Saya sarankan: Mulailah
memiliki data yang valid untuk semua penduduk untuk semua keluarga. Untuk Puskesmas
diperkotaan , dengan hanya mempunyai wilayah kerja : 2-4 Kelurahan /desa, tentu tidak
menjadi masalah pelaksanaannya kalau memang mau. Untuk darah yang mencapa 16 desa
yang wilayahnya luas dengan tenaga terbatas, dana terbatas, transportasi sulit; tentu
membutuhkan upaya lebih seius , dana lebih banyak dan kemauan lebih keras. Selamat
[Link] semangat. Sukses. )
Belajar Akreditasi
Manajemen risiko 2
Hermansyah Doank
Menulis : Assalamualaikum pak kus,mohon pencerahan kl di puskesmas untuk MANAJEMEN
RISIKO di UKM UKP dan Admin seperti apa? sy dapat tugas agar meng list semua yg berisiko
di puskesmas secara [Link].
Mari kita lihat apa yang kita hadapi sekarang, ketika menghadapi Akreditasi Puskesmas .
Akreditasi Puskesmas ibarat beban berat , bagi semua karyawan Puskesmas.
Ibarat ( sebagaimana gambar yang lalu ) harus menuruni tangga curam dan dalam : karena
tekanan harus lulus, harus parti purna , waktu terbatas, belum ada bekal dokumen memadai
dll dll
Maka seluruh karyawan dikerahkan, kerja lembur, kurang tidur, kurang makan, kurang
istirahat.
Itu hazard. Itu bahaya, itu mengerikan. Karena resikonya besar . Stress, pusing, uring
uringan-marah marah dengan orang dirumah, harus pulang malam naik sepeda motor. Yang
sakit tetap memaksakan diri.
Risiko selanjutnya : jatuh dari motor, tertabrak, penyakit bertambah parah. Ujung ujungnya
cedera, kecacatan, kematian. Dan itu sudah terjadi. Dan akan terjadi lagi jika kita tidak
waspada, jika tidak melakukan manajemen resiko dengan benar.
Mengapa ada kerja shift, di pabrik ? Agar tidak terhadi kecelakaan , karena berbahaya
mengoperasikan mesin dalam keadaan mengantuk.
Sebagaimana bahaya jika mengantuk , malam malam dalam keadaan gelap, kelelahan ,
kurang tidur kurang makan, kurang istirahat , stress nmembawa kendaraan motor ditengah
lalulintas ramai. Kemungkinan celaka besar. Jatuh sendiri, tertabrak, dll.
Maka perlu di analisa penyebab masalahnya dibuat RTL dan TL. Maka dianjurkan agar
sementara tidur di Puskesmas jika mengantuk dan lelah dan lapar dan stress, dan pusing
dan mata berkunang kunng , tidak memaksakan naik motor pulang malam berjarak puluhan
km dilalu lintas yang ramai.
Mengapa ada libur setelah kerja dinas malam di RS ? Agar kewaspadaan tetap terjaga
karena cukup tidur , cukup istirrahat, cukup makan, cukup hiburan.
Marilah kita belajar dari pengalaman sebelum korban bertambah banyak. Kita sedang
belajar akreditasi. Kita sedang belajar tentang hazard dan risiko. Kita sedang belajar
manajemen risiko, dengan tujuan : tidak terjadi cedera dll
Belajar Akreditasi
Manajemen risiko 1
Hermansyah Doank
Menulis : Assalamualaikum pak kus,mohon pencerahan kl di puskesmas untuk MANAJEMEN
RISIKO di UKM UKP dan Admin seperti apa? sy dapat tugas agar meng list semua yg berisiko
di puskesmas secara [Link].
Jadi tingggal melihat setiap keadaan/kondisi atau setiap kegiatan yang ada/ dilakukan
Puskesmas lalu dilihat/ diamati/dianalisa kemungkinannya terjadi suatu risiko cedera atau
kecelakaan atau kematian.
Catatan pengalaman kecelakaan, cedera yang lalu sangat [Link] itu setiap
kejadian kecelakaan dan cedera akibat risiko suatu keadaan bahaya ( hazard ) sangat
penting dan berguna.
Jika mendapat tugas sebagai manajer yang menangani rtisiko : adalah suatu tugas yang
mulia. Karena mencegah orang menjadi celaka, mencegah orang menjadi cedera ,
mencegah orang meninggal sia sia.
Secara mudahnya : bawa catatan dan tustel/Hp: amati suatu kegiatan : mulai dari
tempatnya , sarana prasarana dan kegiatannya. Jika terbayang akan terjadinya kecelakaan
dicatat dan dipotret/difoto. Apalagi jika terjadi kecelakaan : potret secara detail/rinci.
Sampai disini dulu. Dicermati dan dipahami benar, karena kalau ini sudah masuk bawah
sadar , akan secara otomatis akan melihat apa yang mungkin terjadi. Kata orang dulu ;
weruh sebelum winarah. Mengetahui apa apa yang ( mungkin ) akan terjadi.
Melihat anak berlari menyeberang jalan yang ramai ---hazard . terbayang anak tertabrak
mobil ( risiko) .
Melihat petugas menimbang bayi dengan celana timbang butut : hazard , terbayang anak
jatuh dan cedera. ( resiko ).
Belajar Akreditasi
Renstra
Ada yang bertanya : Apa pentingnya Renstra ? Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh tenaga
Puskesmas di klinik. Bagi kebanyakan tenaga di pelayanan kesehatan perorangan,
kehidupan seperti berjalan sebagai rutinitas. Datang, memeriksa pasien, selesai pelayanan
pulang. Begiu setiap hari dan begitu juga yang dikerjakan bertahun tahun kemudian sampai
akhirnya pensiun. Tentu tidak semuanya begitu , karena banyak juga yang kerja rangkap.
Bagi petugas kesehatan masyarakat yang sering jalan jalan keluar, denggan cepat akan
mengetahui adanya lingkungan internal dan ada lingkungan eksternal.
Diluar Puskesmas ada peluang dan tantangan, didalam Puskesmas ada kelemahan dan
kekuatan. Begitu juga sebaliknya.
Ini semua tidak mudah diatasi , maka harus ada penguatan internal Puskesmas , dan ada
penguatan eksternal Puskesmas.
Penguatan internal Puskesmas dengan adanya visi, misi, SK ( Surat Keputusan yang berisi
Kebijakan ) , SOP ( Standar Operatonf Prosedur ) , KAK ( Kerangka Acuan Kegiatan ) , adanya
tata nilai dan budaya kerja dll.
Penguatan eksternal Puskesmas dengan, identifikasi Lintas sector terkait masing masing
program, pemantapan [etan masing masing lintas sector dan lintas program dalam
mensukseskan pelaksanaan program dll. Tentu semua didukung data dan fakta.
Jangan lupa dalam melaksanakan program memerlukan dana , dana itu ada di internal
Puskesmas, dan ada dana di eksternal Puskesmas.
Dana internal Puskesmas , bisa berasal dari Pendpatan Puskesmas ( yang BLUD) atau dana
dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Provinsi dan kementerian Kesehatan.
Dana eksternal Puskesmas adalah dana yang anggarannnya masih diperebutkan : seperti
Dana Desa, dan ADD, dana dari Pemda Kabpaten/Kota dan Provinsi yang bersinergi dengan
program Kesehatan dll.
Yang tidak kalah penting adalah dukungan data . Ada data internal Puskesmas, dan ada data
eksternal Puskesmas.
Data internal Puskesmas adalah data yang berasal dari pelayanan klinis di Puskesmas,
maupun pelayanan pojok gizi, dll
Data eksternal adalah data yang ada di kantor kelurahan , di SD, di KUA dan data lintas
sector lain.
Tentu keduanya butuh system informasi kesehatan yang bagus , perlu survey survey,
termasuk kebutuhan akan Sumber Daya Manusia IT juga, serta kompetensi masing masing
tenaga.
Semua itu diramu dalam Renstra. Rencana Strategis lima tahunan.
Mari kita simak apa yang ada di Permenkes 44 th 2016.: tentang Pedoman Managemen
Puskesmas.
1. Pedoman manajemen Puskesmas harus menjadi acuan bagi: Puskesmas dalam:
1) menyusun rencana 5 (lima) tahunan yang kemudian dirinci kedalam rencana tahunan;
2) menggerakan pelaksanaan upaya kesehatan secara efesien dan efektif;
3) melaksanakan pengawasan, pengendalian dan penilaian kinerja Puskesmas;
4) mengelola sumber daya secara efisien dan efektif; dan
5) menerapkan pola kepemimpinan yang tepat dalam menggerakkan, memotivasi, dan
membangun budaya kerja yang baik serta bertanggung jawab untuk meningkatkan mutu
dan kinerjanya.
2. Semua rencana kegiatan baik 5 (lima) tahunan maupun rencana tahunan, selain mengacu
pada kebijakan pembangunan kesehatan kabupaten/kota harus juga disusun berdasarkan
pada hasil analisis situasi saat itu (evidence based) dan prediksi kedepan yang mungkin
terjadi.
3. Dalam menyusun perencanaan 5 (lima) tahun Puskesmas, selain mengacu pada Rencana
Lima Tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Puskesmas juga harus memperhatikan dan
mengacu pada Rencana Lima Tahunan Kementerian Kesehatan.
4. Apabila Puskesmas sebelumnya telah menyusun rencana 5 (lima) tahunan dan rencana
tahunan, maka dengan keluarnya kebijakan baru yang berkaitan dengan kesehatan,
Puskesmas perlu menelaah kembali rencana 5 (lima) tahun Puskesmas yang telah disusun
sebelumnya untuk dapat disesuaikan dengan hal-hal yang sangat prinsip dan prioritas.
5. Puskesmas akan menyusun rencana 5 (lima) tahunan dan rincian rencana tahunannya
berdasarkan pada hasil evaluasi tahun sebelumnya dan mengacu pada kebijakan kesehatan
dari tingkat administrasi diatasnya, baik kabupaten/kota, provinsi, dan pusat.
6. Untuk kepentingan penyusunan perencanaan Puskesmas, perlu diselaraskan dengan
Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dan program kesehatan nasional
lainnya.
Kus Sularso, Banyumanik, 24 Januari 2018.
( Untuk lebih memahami dan mendalami Permenkes 44 th 2016, perlu kit abaca berulang
ulang. Yang disampaikan dalam pembahasan diatas, tidak berurutan karena terutama hanya
menyoroti Renstra. Saya yakin Kepala Puskesmas sudah membaca dan hafal luar kepala,
sekarang saatnya implementasi. Dengan adanya Akreditasi Puskesmas semua proses
didorong untuk bisa berjalan lebih cepat. Selamat belajar. Jadikan Puskesmas sebagai
organisasi pembelajar. Selamat. Sukses. )
Belajar Akreditasi
Renstra
Seminggu yag lalu , saya terlibat perbincangan menarik dengan 4 Kepala Puskesmas di
Kabupaen Pekalongan. Satu Puskesmas sudah ikut Akreditasi, dan lulus, yang tiga
Puskesmas baru akan ikut Akreditasi tahun depan.
Yang menarik adalah satu pertanyaan dari salah satu Kepala Puskesmas, yang kalau
disimpulkan kira kira artinya begini : Apa yang harus saya kerjakan dari awal , dalam rangka
mengikuti Akreditasi Puskesmas. Waktu saya masih panjang , masih 12 bulan lagi.
Saya kira pertanyaan ini banyak difikirkan Kepala Puskesmas yang akan mengikuti
Akreditasi. Dari mana saya akan memulai ?
Saya sendiri menganjurkan : Mulailah dengan Renstra Puskesmas . Mengapa ?
Secara teoritis : Rencana Strategis itu dibuat oleh Puskesmas melalui pembelajaran dan
proses yang panjang dan berkesinambungan yang nantinya akan tercermin dalam dokumen
Akreditasi.
Dalam terminology sederhana dapat disimpulkan bhwa Rencana Strategis membantu
organisasi menjawab 4 pertanyaan dasar::
1. Dimana kita sekarang . WHERE ARE WE NOW?
2. Kemana tujuan kita sebenarnya . WHERE DO WE WANT TO BE?
3. Bagaimana kita sampai ke Tujuan itu . HOW DO WE GET THERE?
4. Bagaimana kita mengukur kemajuan yang kita capai . HOW DO WE MEASURE OUR
PROGRESS?
Dari sini saja kita sudah bisa memahami bahwa : agar kita berhasil mencapai tujuan , maka
kita perlu memahami organisasi Puskesmas kita dulu, bagaimana sebenarnya keadaan kita
sekarang, mengetahui kekuatan dan kelemahan, mengetahui tantangan dan peluang yang
dihadapi Puskesmas kita.
Agar organisasi Puskesmas kita berhasil mencapai tujuan , perlu dirumuskan kemana arah
organisasi Puskesmas kita, yang di tampilkan dalam visi, misi , dll.
Bagaimana caranya agar organisasi Puskesmas kita bisa mencapai tujuan itu , melalui
pembentukan team mutu denggan segala pekerjaan rumahnya ( rapat tinjauan managemen,
audit internal, kaji banding dll ) , pembuatan indicator dan SOPnya, dll
Dan jangan lupa kita harus melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan organisasi
Puskesmas kita. Jadi perlu melakukan monitoring dan evaluasi yang jelas indicator dan
standar serta besarannya.
Dari sini saja kita sudah bisa memahami banyak pertanyaan dalam ep / elemen penilaian
dari kriteria dalam Akreditasi.
Apalagi kalau kita mengetahui bahwa berdasar Renstra itulan dibuat perencanaan tahunan
Puskesmas yang nantinya dibreakdown/dirinci dalam perencaanaan bulanan.
Kus Sularso , Banyumanik , 23 Januari 2018.
( Sebelum membahas lebih lanjut , marilah kita renungkan, sebenarnya apa saja konten/ isi
dari Rencana Strategis yang seharrusnya dibuat melalui proses panjang itu. Diantaraya , ada
visi, ada misi, ada tata nilai dan budaya, ada penilaian kinerja, ada monitoring dan evaluasi
dll . Kadang kadang itu semua ada dokumennya tetapi tidak ada Renstra Puskesmas.
Menjadi anda tanya bagi kita semua , bagaimana prosesnya sehingga tiba tiba ada visi, misi,
tata nilai dsbnya. Sedang semua itu sebenarnya bagian dari proses panjang penyusunana
Renstra. Sebagai jawaban bagi Kepala Puskesmas yang akan maju Akreditasi adalah : Kalau
sudah ada visi, misi tata nilai dsbnya: baiklah itu bisa jadi modal untuk kita melangkah. Buat
review kajian atau kilas balik, bagaimana penyusunan Renstra sebenarnya.
Belajar Akreditasi
Informasi kesehatan
Indonesia darurat HIV AIDS. Itu pesan yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat .
Informasi itu harus ditulis dikoran atau tabloid, agar masyarakat banyak menjadi tahu ,
menjadi mengerti , menjadi paham. Ketika mendapat data dalam bentuk tabel, bagaimana
distribusi kasus HIV AIDS didunia termasuk di Indonesia, rasanya hati menjadi gembira ,
berbunga bunga dan optimis luar biasa. Ini informasi yang perlu diketahi masyarakat. Ini
bukti nyata bahwa Indonesia adalahh egara ngan kasus HIV AIDS yang luar biasa besar dan
berkembang cepat.
Segera saya ketik, saya bua karangan dengan table data kasus HIVAIS itu sebagai bagian
utama. Setelah kulihat karangan itu dimuat di media cetak, dengan hati lapang saya
berangkat ke Pelatihan para penulis peduli HIV AIDS. Pelatihan ini kalau tidak salah diadakan
oleh KPA Provinsi ( Komisi Penangggulngan AIDS Provinsi ). Banyak para penulis , wartawan
dan dari LSM yang hadir.
Pembicara adalah salah seorang pakar komunikasi massa dari suatu Koran terkenal. Bukan
materi HIV AIDS yang disoroti tetapi bagaimana membuat berita penting dan bagus menjadi
menarik bagi masyarakat untuk membacanya.
Waktu saya baru masuk, aku lihat dia memegang media cetak yang ada tulisan saya. Dan
dengan bercanda dia berkata :” Tadi pagi muncul tulisan ini , kebetulan tentang HIV AIDS
jadi saya bawa.” : Saya tidak kenal penulisnya, tetapi isinya sangat tidak menarik. Siapa yang
mau membaca berita seperti ini ? Hanya tabel yang tidak bermakna bagi masyarakat. Orang
awam tidak tahu , apa itu HIV AIDS, dimana Negara Negara yang tersebut disini, ada Negara
di Amerika Latin, ada Negara di Afrika. Lalu apa pentingnya bagi merreka untuk tahu ? Ini
benar benar berita yang tidak bermutu. Tak ada informasi yang disampaikan kepada
masyarakat dalam karangan ini. Saya yakin tak ada masyarakat yang membaca berita ini.
Data ini penting bagi para ahli/ilmuwan HIV AIDS , tetapi menyalinnya dengan begitu saja
untuk dibaca masyarakat merupakan tindakan bodoh. ( Saya tidak ingat kata katanya secara
persis, tetapi seperi itulah yang saya maknai ).
Saya yang mendengarkan dibelakang. Hanya terduduk kelu. Diantara yang hadir , para
penggiat penanggulangan HIV AIDS pasti banyak yang tahu kalau itu karangan saya . Saya
tidak tahu apakah mereka saat itu tahu kalau saya hadir disitu. Tapi ketika makan bersama
kami berbincang bincang dengan mereka. Dan saya juga bersalaman dengan pembicara.
Saya berterima kasih dengan pembicara yang pakar komunikasi massa ini. Tanpa sengaja
barangkali telah menyadarkan saya untuk segera mempelajari apa itu data dan apa itu
informasi.
Data adalah fakta, data adalah angka angka/fakta yang tidak systematis, atau detail tentang
sesuatu.
Sedangkan informasi adalah : data yang sudah diproses yang menjadi sesuatu yang
bermanfaat bagi pengguna/pembaca.
Secara garis besar perbedaan keduanya adalah :
Data itu: Fakta kasar tentang seseorang atau sesuatu, bentuknya telanjang dan acak/
random. Hanya berupa text atau angka. Sumbernya : catatan dan Observasi/n, bentuk: Tak
terorgansir, Dari segi kegunaan : Mungkin berguna , mungkin juga tidak, Secara umum: tidak
spesifik, dan data tidak tergantung adanya informasi.
Sedangkan informasi adalah : Faakta tentang sesuatu kejadian atau subyek, informasi iu:
berasal dari data yang telah diproses dengan benar, Jadi informasi itu: data olahan yang
telah diklarifikasi. Telah di Analisa, bentuk nya sudah ter organisasi, isinya : Selalu
bermanfaat, Informasi itu : sifatnya spesifik, dan informasi itu tidak akan terbentuk jika tidak
ada data awalnya.
Tanpa terduga , setelah melakukan survey akreditasi di Puskesmas, kebanyakan yang
disampaikan Puskesmas kepada Lintas Sektor, atau masyarakat itu masih dalam bentuk data
, belum jadi informasi yang menarik dan dipahami masyarakat. Suatu tabel penyakit atau
masalah kesehatan, bagi orang kesehatan mungkin saja bisa mengingatkan kepada sesuatu
yang pentting sehingga paham dan diingat. Tetapi data dalam bentuk tabel yang dibacakan
tanpa penjelasan berurutan dari atas kebawah pasti membosankan pendengar dan tidak
diminati apalagi dipahami dan diingat. Sering juga data nya banyak disingkat yang
pembicaranya sendiri tidak ingat singkatan apa sehingga harus bertanya kepada stafnya.
Itulah salah satu bentuk komunikasi yang seharusnya dibangun, menyampaikan sesuatu
yang bisa dipahami bersama.
Kus Sularso, Banyumanik. 20 Januai 2018.
( Saya tidak tahu , tulisan diatas , informative atau tidak. Berguna atau tidak. Sangat bagus
kalau ada yang memberikan komentar tentang materi: data dan informasi ini, dari
pengalaman sehari hari. Setidaknya jika kita dahulu senang dan bangga jika bisa presentasi
dengan banyak tabel yang berwarna warni dan tulisannya banyak dan kecil kecil, sebagai
sesuatu yang ; wah. Kita harus befikir ulang, dari sudut pandang pendengar, dari sudut
pandang Lintas Sektor dan dari sudut pandang masyarakat. )
Belajar Akreditasi
Surveilance itu penting
Kalau kita melihat struktur organisasi Puskesmas. Kadang tidak terlihat dimana letak
Surveilance berada.
Dalam situasi yang berobah, surveillance sangat besar peranannya dalam mencegah
terjadiya Kejadian Luar Biasa Penyaki Menular.
Pengertian: Surveilans Kesehatan adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus
menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan
dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau
masalah kesehatan untuk memperoleh dan memberikan informasi guna mengarahkan
tindakan pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien.
1. Pengamatan sistematis.
2. Terus menerus.
3. Terhadap data ( penyakit ) atau masalah kesehatan.
4. dan informasi kejadian penyakit atau masalah kesehatan.
5. Dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyait
6. Atau ( kondisi yaf mempengaruhi terjadinya peningkatan ) masalah kesehatan
7. Untuk memperoleh dan memberikan informasi
8. Guna mengarahkan tindakan pengendalian
9. Dan ( guna) pengendalian .
10. Dan ( guna) penanggulangan secara efektif dan efisien.
Kelihatannya panjang tetapi dalam prakteknya simple tetapi perlu ketekunan.
Dalam jaman /era tehnology komunikasi sekarang ini, data dan informs penyakit dan
masalah kesehatan ada dimana mana.
Informasi dan data tentang kondisi yang mempengaruhi peningkatan dan penularan
penyakit serta masalah kesehatan ada dimana mana. Tetapi menyatukan informasi ini
dengan penglihatan UKM, pendengaran UKM, penciuman UKM dan pemikiran UKM
sehingga bisa menyatukan semua informasi dan data itu menjadi masukan kepada impinan
untuk pengambilan keputusan belum secara otomatis berjalan.
Bagi petugas Surveilans terlatih , common sense atau radar bahaya akan segera berbunyi
jika melihat suatu gelagat yang akan menuju kepada bahaya atau KLB ( Kejadian Luar Biasa ).
Ambil contoh : Bapak Presiden membangun jalan raya keseluruh negeri dengan gencar.
Ribuan kilometer dibangun, ditambah jalan jalan kecil didesa dengan angggran Dana desa
menjadikan Indonesia, menjadi terbuka sampai keujung ujung negeri. Artinya dimata agent
penyakit dan masalah kesehatan : Indonesia menjadi telanjang bulat.
Konektivitas dengan serta merta menjadi suatu keniscayaan . Suatu hal memang harus
terjadi dan memang diinginkan terjadi.
Pembangunan perbatasan, membangun dari [ibggran dan lain lain pembangunan dengan
akses jalan, darat laut dan udara secara mudah dan cepat, membawa juga oeang yang
membawa penyakit masuk kerelung relung ubh Indonesia, tanpa kecuali. Daerah yang tidak
siap akan dilahap habis.
Keadaan lingkungan yang kumuh, banyaknya vektor penyakit sehingga banyak daerah yang
susceptible terhadap penularan penyakit, anak anak yang tidak terlindungi dengan
kekebalan tubuh yang baik, anak anak dengan gizi buruk, pengungsi yang berlangsung
berbulan bulan seperti di Sinabung, kebiasaan membuang sampah sembarangan, kali kali
yang dicemari dengan berbagai bahan berbahaya, belum ODF , belum terbiasa cuci tangan
pakai sabun dll, semuanya berakumulasi terhadap mudahnya penyakit menular memangsa
anak anak negeri.
Apakah kejadian Dipteri dan kejadian penyaikit campak pada suku Asmat tidak juga
membuka mata kia tentang pentingnya surveilanse dan upaya preventive dan promotive di
Puskesmas ? Hanya petugas Puskesmas yang bisa melakukan ini dengan menggandeng
jejaring dan jaringannya.
Maka kewaspadaan penuh bagi daerah daerah yang baru terbuka, karena mudahnya akses
tranportasi , perlu segera digelorakan di Puskesmas seluruh Indonesia.
You are in danger. Anda dan masyarakat anda dalam bahaya besar jika tidak
mempersiapkan diri.
Saya percaya bahwa komunitas kesehatan sudah mewaspadai ini. Tetapi dengan
berjatuhannya korban akibat penyakit penyakit “jadul” ini membukikan surveilans kita
belum maksimal berjalan.
Bagi Kepala Puskesmas pertanyaannya sederhana. Punyakah anda tenaga surveilans yang
kompeten sekarang ini ? Kalau belum sampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, bahwa kita dalam bahaya jika tidak segera memiliki data cukup dan sarana
prasarana cukup untuk mengantisipasi KLB
Selamat Bekerja. Tetap semangat.
Bagi Puskesmas yang sudah terakreditasi, ujian sebenarnya sudah datang, Kerjakan dengan
sebaik baiknya. Sukses. Tetap semangat.
Kus Sularso, Banyumanik, 14 Januari 2018.
( Mari kit baca ulang Permenkes nomor 45 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans
kesehatan.
Kita cermati dan kita pahami dengan baik, kita cari hbungan dan kaitannya denan peraturan
perauran lain, baik kesehatan maupun kementerian lain serta dari lembaga kesehatan
Internasional seperti WHO dan CDC Atlanta. Tak ada waku untuk membaca ? Tanyakan saja
di media social ini, pasti banyak yang akan membantu, untuk menuju Indonesia Sehat.
Salam dari Banyumanik untuk mengawali tahun baru 2018. )
Belajar Akreditasi
Sang Komandan
Hanny Ridho • Berteman dengan Holiya Wahab dan 41 lainnya
Mau tanya..Langkah setelah di dapat hasil akreditasi untuk terus menjaga suhu di
puskesmas dan terus melaksanakan sistem yang dijalani di akreditasi...
Mohon sarannya..
Waktu saya SMP, Kepala Sekolahnya pak Mangun namanya. Beliau super disiplin, tapi
kebapakan, dia luga menjalankan atuan tapi bijaksana.
Pagi pagi datang paling dulu , dengan penggaris ditangan berjaga didepan sekolah.
Mengawasi murid murid yang melewatinya sambil mengangguk. Rasanya dulu tak ada yang
pakai cium tangan. Kalau ada rambut gondrong, tdak segan segan beliau menyetopnya dan
membawanya ketukang cukur, karena waktu itu rambut gongrong dilarang. Begtu juga bagi
yangbercelana pendek ketat, maka guntig akan beraksi dan siswa terpaksa harus pulang
ganti celana. Kadang kadang beliau lewat ketika , guru mengajar, melihat dari jendela kaca ,
bagaimana proses pembelajaran berjalan.
Sekolah sangat bersih di SMP Magetan, waktu itu, begitu juga disiplin berjalan ketat tetapi
tidak menakutkan. Kalau ada masalah selalu ada jalan kelau yang menyenangkan , walau
waku itu kita tanggapi dengan kejengkelan.
Selalu ada orang orang yang seperti ini dalam organisasi yang sukses. Saya dan teman teman
menyebutnya : Sang Komandan. Rasanya organisasi itu ada di genggamannya. Tapi beliau
tidak angker. Tidak galak walau rasanya agak kaku. Maklum lah waktu itu sedang getol
getolnya masyarakat kawula muda sedang getol dengan kebebasan.
Seperti sekarang ini : Orang yang ingin bebas; bisa masuk terlambat, bisa pulang cepat, Bisa
mengambiil uuang kantor untuk keperrluan pribadi dan menggunakan mobil hanya untuk
keluarganya sendiri. Walau mobil ambulance sekalipun.
Rupanya itulah praktek management secara nyata. Komunikasi, koordinasi, monitoring ,
evaluasi, dan segala tetek bengek eori management yang rumit rumit.
Sebagaimana pertanyaan bapak Hanny Ridho diatas. Bagaimana menjaga mutu agar terus
bisa berjalan. Yang dibutuhkan pertama kali adalah komandan yang baik. Yang bisa
mengayomi tetapi sekaligus menerapkan disiplin tanpa pandang bulu. Menegakkan aturan
sekaligus mengarahkan dan membimbing. Semua kalimat kalimat sulit yang ada di elemen
penilaian Akreditasi.
Kita mengharapkan Kepala Puskesmas yang seperti ini untuk menjaga konsistensi
peningkatan mutu, kinerja dan keselamatan pasien. Kalau tidak harus ada orang kedua yang
sa menggantikannya. Miisalnya PJ Admen, atau PJ UKM atau PJ UKP. Tapi yang paling cocok
tentunya ketua tim Mutu.
Bisa nggak Kepala Puskesmas atau Ketua tim mutu datang paling pagi dan mengonrol
jalannya roda kegiatan Puskesmas ? Ibarat pilot pesawat atau sopir bis. Sebelum berangkat
dia melakukan ceking semua peralatan apakah berfungsi dengan baik. Tombol tombol
dinyalakan dan dicek satu persatu.
Banyak Pimpinan organisasi yang mearasa telah menjadi boss, dan tidak mau bekerja kasar.
Ketika pelatihan di London, kami diajak ke Mac Donald London. Tempat pelatihannya.
Perusahaan Franchise dari Amerika tetapi di Inggris menggunakan management Inggris
sendiri. Setidaknya setahun sekali semua manager harus bekerja difront depan, ikut
mengepel dan melayani pembeli. Mendengarkan keluhan pelanggan dan mencoba
memberikan solusi, dengan harapan : semua manager harus tahu bahwa bisnisnya itu :
jualan ayam.
Alangkah bagusnya jika Kepla Puskesmas , ketika melewai pasien yang antri untuk masuk
kamarnya, memberi salam kepada pasien yang hadir, bukan melewatinya dengan
mendongakkan kepala. Membiarkan pasien menunggu ketika jam kerja sudah dimulai dan
melihat karyawannya masih mengobrol dan tertawa tawa. Karena bagi pasien yang sedang
sakit, menunggu antrian diperiksa sangat menyebalkan mendengarkan karyawan yang
tertawa terbahak bahak dan sibuk main Hp, walaupun mmang bukan tugasnya karyawan itu
untuk memerika pasien.
Baangkali itu salah satu cara untuk mempertahankan suhu di Puskesmas agar tetap
semangat menjalani peningatan kinerja. Mutu dan keselamatan pasien.
Saya melihat banyak Kepala Puskesmas yang bisa menjadi komandan yang hebat, begitu
pula Ketua/ Wakil Ketua tim Mutu, PJ UKP. PJ UKM , dan PJ Admen. Dengan Akreditasi
mereka diberi ilmu yang memadai. Diberi tempat untuk berkiprah, diberi panggung untuk
mengamalkan ilmunya. Banyak yang menyia nyiakan kesempatan memang, tetapi
prosentasenya semakin lama semakin kecil. Optimis saja. Tetap semangat untuk kejayaan
Indonesia.
Kus Sularso, Banyumaik, 9 Januari 2017.
( Berhentilah bermain main, mulailah kerja serius. Buat waktu khusus untuk bersantai dan
bergembira bersama. Tetap focus pada saat bekerja. Sekarang Puskesmas anda telah lulus
Akreditasi.
Siap Komandan. Begitu kira kira, kata kata karyawan yang melihat Kepala Puskesmasnya
bisa menjadi teladan dan panutan, dan membawa karyawannya maju kearah perbaikan
mutu, kinerja dan keamanan pasien/sasaran. )
Belajar Akreditasi
Harapan dan kebutuhan Masyarakat
Ada teman FB bertanya : Enny Fitri Bapak maksud harapan dan kebutuhan masyarakat
bagaimana ?
Mari kita mulai dari awal Bab 4. Akreditasi FKTP: Judulnya: [Link]. Program Puskesmas yang
Berorientasi Sasaran (PPBS).
Kalau ditulis secara lengkap barangkali bunyinya menjadi : Program UKM ( Upaya Kesehatan
Masyarakat ) Puskesmas yang Berorientasi Sasaran (PPBS). ( masyarakat ).
KRITERIA 4.1.1.
[Link]. Dilakukan identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat,
dan individu yang merupakan sasaran kegiatan.
[Link]. Identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat, dan individu
yang merupakan sasaran kegiatan dilengkapi dengan kerangka acuan, metode dan
instrumen, cara analisis yang disusun oleh Penanggung jawab UKM Puskesmas.
[Link]. Hasil identifikasi dicatat dan dianalisis sebagai masukan untuk penyusunan kegiatan.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut ditetapkan oleh Kepala Puskesmas bersama dengan
Penanggung jawab UKM Puskesmas dengan mengacu pada pedoman dan hasil analisis
kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat, dan individu sebagai sasaran
kegiatan UKM.
[Link]. Kegiatan-kegiatan tersebut dikomunikasikan kepada masyarakat, kelompok
masyarakat, maupun individu yang menjadi sasaran.
Jadi kegiatan UKM Puskesmas , harus dibuat berdasar kebutuhan masyarakat : bukan
kebutuhan pemerintah, bukan kebutuhan petugas, bukan kebutuhan pejabat, bukan
kebutuhan kepala Puskesmas.
Contoh : Karena di Puskesmas ada tenaga perawat kesehatan jiwa : maka dibuat program
kesehatan jiwa masyarakat, walau kasusnya tidak banyak diwilayah Puskesmas itu. Karena di
puskesmas ada tenaga pindahan dari pusat rehabilitasi narkoba , lalu membuat program
rehabilitasi narkoba di Puskesmas, walaupun taka da pecandu narkoba di wilayah
Puskesmas itu.
Kebutuhan kesehatan masyarakat itu diantaranya : karena penderitanya banyak, sering
menyebabkan kematian, menyerang tenaga produktif, membebani keluarga,
pengobatannya mahal sehingga ekonomi keaurga terganggu, cara mengatasinya mudah dll.
Misalnya : TB Paru, Diare , Leptospirosis dll jika kasusnya banyak.
Harapan masyarakat : sesuatu yang menjadi dambaan masyarakat : Masyarakat inginnya
mengalami masa tua yang bermartabat, sehat dan sejahtera, tidak diganggu dengan
penyakit, kepikunan dan kemelaratan serta terpuruk secara social. Jadi kalau banyak lansia
disitu: walaupun semuanya sehat , tetapi perlu diadakan pelayanan lansia: agar mereka biisa
bergabung saling curhat, dapat mengeluarkan isi hati, bebrbagi pengalaman, tidak terkurung
dikamar karena anak anaknya sibuk dl.
Kalau Puskesmas membuat program yang tidak dibutuhkan masyarakat dan tidak menjadi
harapan masyarakat , maka program itu tidak akan banyak peminatnya, membuang waktu,
tenaga, fikiran dan biaya.
Karena itu Program UKM yang wajib dilaksanakan Puskesmas adalah : Program UKM
Essensial: 1) Promkes, 2) KIA-KB, 3) Gizi 4) Kesling 5) P2P : P2m dan PTM serta 6) Perkesmas
( wajib namun ada yang menganggap tidak esssensial ).
Lalu hubungannya dengan Permenkes 39 th 2016:
1) Pendekatan keluarga : Harusnya ada diagnosis kesehatan keluarga : Sebagai contoh ( dari
saya )
a. Keluarga sehat : kalau 12 indikator terpenuhi,
b. Keluarga kurang sehat kalau secara individu masing masing baik baik saja tetapi
berpotensi terjadi penyakit ( ada tb Paru menular didekat keluarga itu , ada anggauta
keluarga yang merokok , tidak memiliki jamban keluarga yang cukup memadai, ).
c. Keluarga tidak sehat: jika kurang dari separuh indicator terpenuhi.
2) Keluarga : memiliki data kesehatan dirumah itu dan menyadari atinya serta memahami
resikonya, dan berupaya mengatasinya. Baik data kesehatan perorangan maupun
lingkungan.
3) Keluarga : paham cara akses dan bisa akses terhadap pelayanan kesehatan baik : tempat,
waktu, metode , tehnologi, alur, tahapan kegiatan, pembiayaan dll ( lihat bab Akses :
elemen: 4.2.3. )
4) Keluarga ; memahami potensinya, peluangnya dan hambatan serta tantangannya agar
bisa menjadi sehat dan lebih sehat lagi.
5) Keluarga berdaya secara kesehatan : Tahu, mau dan mampu : hidup sehat.
6) Keluarga mandiri dalam kesehatan.
Program UKM Puskesmas bertumpu pada pemberdayaan dan kemandirian , karena tidak
mungkin Pusesmas mengawasi esehatan warganya 24 jam setiap hari.
Kelihatannya sulit. Tetapi tidak juga, karena sekarangpun sudah berjalan , tinggal
memperkuat dan meningkakan inerja , mutu dan keselamatan pasiennya. Itulah yang
dikehendaki dengan Areditasi Puskesmas.
Belajar Akreditasi
Tim mutu.
Deddy Kurniadi menulis : Ass dok , mohon ijin , mohon pencerahan terkait tim mutu , untuk
bab 3 , dmn bisa disinkronkan dgn permenkes 75 , permenkes 44 , permenkes 11 th 2017 ttg
pmkp, Maturnuwun.
Kita baca pada bab III, kriteria 3.1.1. Ada team mutu di Puskesmas, dengan Penanggung
jawab mutu yang jelas tugas, tanggung jawab dan wewenangnya , memiliki manual muutu
yang berisi kebijakan mutu yang disusun bersama, didukung dokumen seluruh karyawan
Puskesmas untuk meningkatkan mutu pelayanan, berarti mengaktifkan team mutu yang
bekerja konsisten dan berkesinambungan.
KRITERIA 3.1.1.
1. Pimpinan Puskesmas menetapkan Penanggung jawab manajemen mutu.
2. Ada kejelasan tugas, wewenang dan tanggung jawab Penanggung jawab manajemen
mutu.
3. Ada Pedoman Peningkatan Mutu dan Kinerja disusun bersama oleh Penanggung jawab
manajemen mutu dengan Kepala Puskesmas dan Penanggung jawab Upaya Puskesmas.
4. Kebijakan mutu dan tata nilai disusun bersama dan dituangkan dalam pedoman (manual)
mutu/Pedoman Peningkatan Mutu dan Kinerja sesuai dengan visi, misi dan tujuan
Puskesmas.
5. Pimpinan Puskesmas, Penanggung jawab Upaya Puskesmas, dan Pelaksana Kegiatan
Puskesmas berkomitmen untuk meningkatkan mutu dan kinerja secara konsisten dan
berkesinambungan.
Dalam kriteria 3.1.2. kita baca : Ada rencana perbaikan mutu, tentu dengan partisipasi team
mutu, dan melakukan diantaranya : Rapat Tinjauam management. Salah satu
pembahasannya adalah kinerja pelayanan dan upaya perbaikannya dalam mencapai target
yang ditetapkan sesuai SPM dan dengan pelayanan prima, serta memperhatikan
keselamatan pasien dan sasaran kegiatan program UKM di masyarakat.
Disamping itu Pertemuan Tinjauan management juga membahas: umpan balik pelanggan,
keluhan pelanggan, hasil audit internal, hasil penilaian kinerja, perubahan proses
penyelenggaraan Upaya Puskesmas dan kegiatan pelayanan Puskesmas, maupun perubahan
kebijakan mutu jika diperlukan, serta membahas hasil pertemuan tinjauan manajemen
sebelumnya, dan rekomendasi untuk perbaikan. Tentu sebelumnya perlu disiapkan datanya
: kompilasi umpan balik pelanggan dari semua media yang disediakan/ditentukan, kompilasi
keluhan pelanggan , baik dari hasil pertemuan maupun keluhan lewat surat, kotak saran,
telepon, WA dll, Dokumen hasil audit internal baik UKM, Addmen maupun UKP, Hasil
penilaian kinerja ( baik pengumpulan datanya, analisa penyebab tidak maksimalnya capaian,
dan RTL serta Tindak Lanjut yang akan diambil untuk mencapai target, dokumentasi proses
penyelenggaraan upaya Puskesmas ( Management yang bersifat Amen ) dan kegiatan
pelayanan Puskesmas ( UKM dan UKP ). Dan juga bahan untuk pembahasan jika ada
keinginan kebijakan mutu, serta menyiapkan hasil Rapat Tinjauan Manajemen yang lalu
bersama rekomendasinya.
Jika ini dilakukan maka proses PDCA dalam perbikan mutu, kinerja dan keselamatan
pasien/sasaran akan terpenuhi.. Karena Rapat Tinjauan managemen ini akan menghasilkan
rekomendasi untuk ditindak lanjuti dan hasilnya dibahas pada pertemuan Tinjauan
management selanjutnya.
KRITERIA 3.1.2.
1. Ada rencana kegiatan perbaikan mutu dan kinerja Puskesmas.
2. Kegiatan perbaikan mutu dan kinerja Puskesmas dilakukan sesuai dengan rencana
kegiatan yang tersusun dan dilakukan pertemuan tinjauan manajemen yang membahas
kinerja pelayanan dan upaya perbaikan yang perlu dilaksanakan.
3. Pertemuan tinjauan manajemen membahas umpan balik pelanggan, keluhan pelanggan,
hasil audit internal, hasil penilaian kinerja, perubahan proses penyelenggaraan Upaya
Puskesmas dan kegiatan pelayanan Puskesmas, maupun perubahan kebijakan mutu jika
diperlukan, serta membahas hasil pertemuan tinjauan manajemen sebelumnya, dan
rekomendasi untuk perbaikan
4. Rekomendasi hasil pertemuan tinjauan manajemen ditindaklanjuti dan dievaluasi.
Rapat tinjauan management yang secara periodic dan berkesinambungan itu tidak akan
berhasil jika tidak ada komitmen dari semua karyawan yang memahami tugas dan
kewajibannya meningkatkan mutu dan kinerja Puskesmas serta keselamayan
pasien/sasaran. Agar bisa berhasil dengan maksimal, maka pihak Lintas Peogram dan Lintas
Sektor perlu berkomitmen dan berperan aktif dalam proses diatas. Jika ada ide ide Lintas
program, lintas sector dan sasaran ( yang seyogyanya di fasilitasi ) bisa dikompilasi dan
dibahas akan bisa menghasilkan inovasi yang luar biasa.
KRITERIA 3.1.3.
1. Pimpinan Puskesmas, Penanggung jawab Upaya Puskesmas dan Pelaksana Kegiatan
memahami tugas dan kewajiban mereka untuk meningkatkan mutu dan kinerja Puskesmas.
2. Pihak-pihak terkait terlibat dan berperan aktif dalam peningkatan mutu dan kinerja
Puskesmas.
3. Ide-ide yang disampaikan oleh pihak-pihak terkait untuk meningkatkan mutu dan kinerja
Puskesmas ditindaklanjuti.
Khusus untuk audit internal : kriteria 3.1.4 perlu dipenuhi, yaitu diantaranya dilakukan
secara periodic, berkesinambungan dan terencana, baik UKM maupun UKM, dibuat laporan,
ditindak lanjuti dan disampaikan laporannya kepada Kepala Puskesmas dan PJ UKM,dan PJ
UKP . Karena merekalah yang akan menentukan perbaikan strategy dan pelaksanaan
perbaikan kegiatan dan program yang akan diambil. Kepala Puskesmas memutuskan mana
hasil rekomendasi yang akan diatasi sendiri dan mana yang akan dirujuk ke institusi yag
lebih tinggi.
KRITERIA 3.1.4.
1. Data kinerja dikumpulkan, dianalisis dan digunakan untuk meningkatkan kinerja
Puskesmas.
2. Dilakukan audit internal secara periodik terhadap upaya perbaikan mutu dan kinerja
dalam upaya mencapai sasaran-sasaran/indikator-indikator mutu dan kinerja yang
ditetapkan.
3. Ada laporan dan umpan balik hasil audit internal kepada Pimpinan Puskesmas,
Penanggung jawab Manajemen mutu dan Penanggung jawab Upaya Puskesmas untuk
mengambil keputusan dalam strategi perbaikan program dan kegiatan Puskesmas.
4. Tindak lanjut dilakukan terhadap temuan dan rekomendasi dari hasil audit internal.
5. Terlaksananya rujukan untuk menyelesaikan masalah dari hasil rekomendasi jika tidak
dapat diselesaikan sendiri oleh Puskesmas.
Hasil tim mutu dan semua pelaksana dalam perbaikan kinerja , mutu dan keselamatan
pasien perlu mendapat komentar dan tanggapan dari masyarakat dan sasaran, melalui
pertemuan atau survey dan lain lain media yang ditentukan. Dilakukan analisis dan dibuat
tindak lanjutnya. Ingat selalu siklus: Ketemu masalah-lakukan analisa penyebab masalah
dengan diagram tulang ikan- buat rencana tindak lanjut untuk mengatasi masalah dan –
lakukan tindak lanjut dengan kegiatan nyata untuk mengatasi penyebab masalah dan
melakukan evaluasi pelaksanaannya.
KRITERIA 3.1.5.
1. Ada mekanisme untuk mendapatkan asupan dari pengguna tentang kinerja Puskesmas.
2. Dilakukan survei atau masukan melalui forum-forum pemberdayaan masyarakat untuk
mengetahui bahwa kebutuhan dan harapan pengguna terpenuhi.
3. Asupan dan hasil survei maupun forum-forum pemberdayaan masyarakat dianalisis dan
ditindaklanjuti.
Kegiatan tersebut diatas tidak akan berhasil jika: struktur organisasi Puskesmas tidak segera
disesuaikan dengan Permenkes 75, tidak mengoptimalkan peran PJ UKM, PJ UKP dan PJ
Admen dengan tupoksi yang mengacu pada struktur oganisasi Puskesmas sesuai Permenkes
75. Banyak Puskesmas yang PJ UKM nya tidak mempunyai kursi untuk duduk dan bekerja
sebagai PJ UKM, sehingga meruapkan PJ UKM bayangan saja. Tercantum di struktur
organisasi tetapi idak dikerjakan dan tidak tertulis dalam tugas pokoknya sebagai PJ UKM.
Adapun keselamatan pasien mengacu pada Permenkes 11 th 2017 dimana disebutkan :
Keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi
(1) asesmen risiko, (2) identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, (3) pelaporan dan analisis
insiden, (4) kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta (5) implementasi
solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau (6) tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil. Bagi pelaksana UKP aturan ini merupakan kegiatan
harian yang pasti sudah dihafal luar kepala. Bagi kegiatan medis dan non medis di lapangan
seperti imunisasi di masyarakat atau di sekolah , fogging , PMT dll : persolan menjadi lebih
rumit, dan mengacu di upaya minimalisasi resiko sebagaimana tercantum di kriteria : 5.1.5.
Disini memerlukan kepiawaian management PJ UKM ; agar kegiatan yang dilakukan
pelaksana UKM di masyarakat tidak menyebabkan masyarakat cedera, keracunan, tertular
penyakit dan resiko lain yang mengancam keselamatan sasaran/masyarakat, pelaksana dan
lingkungan.
KRITERIA 5.1.5
1. Penanggung jawab UKM Puskesmas melakukan identifikasi kemungkinan terjadinya risiko
terhadap lingkungan dan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan.
2. Penanggung jawab UKM Puskesmas dan pelaksana melakukan analisis risiko.
3. Penanggung jawab UKM Puskesmas dan pelaksana merencanakan upaya pencegahan dan
minimalisasi risiko.
4. Penanggung jawab UKM Puskesmas dan pelaksana melakukan upaya pencegahan dan
minimalisasi risiko.
5. Penanggung jawab UKM Puskesmas melakukan evaluasi terhadap upaya pencegahan dan
minimalisasi risiko.
6. Jika terjadi kejadian yang tidak diharapkan akibat risiko dalam pelaksanaan kegiatan,
dilakukan minimalisasi akibat risiko, dan kejadian tersebut dilaporkan oleh Kepala
Puskesmas kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Bagaimana petugas UKM dilapanggan menterjemahkan pasal 11 ditingkat masyarakat
merupakan Pekerjaan Rumah yang tidak mudah . Coba perhatikan pasal tentang pada
ermenkes 11 th 2017.
Pasal 5: ayat (4) Standar Keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
meliputi standar:
a. hak pasien;
b. pendidikan bagi pasien dan keluarga;
c. Keselamatan Pasien dalam kesinambungan pelayanan;
d. penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan peningkatan
Keselamatan Pasien;
e. peran kepemimpinan dalam meningkatkan Keselamatan Pasien;
f. pendidikan bagi staf tentang Keselamatan Pasien; dan
g. komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai Keselamatan Pasien.
(5) Sasaran Keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi
tercapainya hal-hal:
a. mengidentifikasi pasien dengan benar;
b. meningkatkan komunikasi yang efektif;
c. meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai;
d. memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada
pasienyang benar;
e. mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan; dan
f. mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh.
(6) Tujuh langkah menuju Keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c
terdiri atas:
a. membangun kesadaran akan nilai Keselamatan Pasien;
b. memimpin dan mendukung staf;
c. mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko;
d. mengembangkan sistem pelaporan;
e. melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien;
f. belajar dan berbagi pengalaman tentang Keselamatan Pasien; dan
g. mencegah cedera melalui implementasi sistem Keselamatan Pasien.
Penerapan keselamatan sasaran/pasien di lapangan memang belum diatur secara rinci.
Sebagaimana kepuasan pelanggan juga belum diatur secara rinci di pelayanan UKM di
masyarakat. Ingat : jika kita hanya melakuukan surevy kepuasan pelanggan di Puskesmas :
melalai kotak saran di Puskesmas : maka yang ditanya adalah pasien yang datang ke
Puskesmas saja, ( yang tentunya secara tak sengaja hanya terpilih darii orang yang nyaman
dengan pelayanan yang diberikan, sehingga hasilnya akan bias .) Bagi yang mayoritas tidak
puas, tidak mendatangi Puskesmas, dan rasa ketidak puasannya tidak tersalurkan.
Kus Sularso, Banyumanik 6 Januari 2017.
( Perlu diingat bahwa kita melaksanakan kegiatan buan untuk memenuhi ep dari Akreditasi,
tetapi untuk menuju kesempurnaan pelayanan, menjadi pelayanan prima: baik UKM, UKP
dan juga Admen . Jadi peningkatan kinerja, peningkatan mutu dan peningatan keselamatan
pasien/sasaran itu hendaknya dilakukan kepada semua penerima pelayanan Puskesmas,
baik didalam gedung maupuun diluar gedung. Selamat mencermati uraian panjang ini untuk
mengawali tahun 2017. Selamat membaca – berulang ulang . Sukses. Selamat untuk yang
telah lulus akreditasi . tetap semangat bagi yang akan mengikuti Akreditasi tahun 2018 ).
Belajar Akreditasi
Pemahaman SK dan SOP
Setelah sekian lama melakukan survey akreditasi, ternyata masih ada masalah kecil yang
menjadi sandungan.
Pada ep 5.7.2. dan beberpa ep lain, masih sering dikosongkan. Tidak diisi dengan dokumen ,
yaitu perihal pemahaman dan pelaksanaan SK dan SOP, dengan alasan karena kolom bukti
di instrumen Akreditasi Puskesmasnya dikosongkan.
Dapat dimaklumi , karena begitulah yang terbaca di Instrumen akreditasinya.
Sebagai suatu organisasi , karyawan Puskesmas harus selalu melaksanakan aturan yang
dibuat dan membuat dokumen dari kegiatan yang dilakukan . Atau dengan istilah
populernya : melaksanakan apa yang tertulis dan menuliskan apa yang dikerjakan.
Untuk dapat mengerjakan dengan baik suatu SK dan SOP , tentu petugas Puskesmas dalam
hal ini PJ UKM dan Pelaksana UKM perlu memahami SK dan SOPnya dulu bukan ?
Untuk dapat memahami tentu perlu membaca atau mendengar dulu bunyi SK dan SOPnya
seperti apa.
Lebih baik lagi kalau semua pelaksana UKM dan PJ UKM memiliki SK dan SOP dimaksud ,
sebaiknya masing masing memiliki, tetapi bisa juga secara bersama sama sebagaimana SK
dan SOP itu dijadikan dokumen dalam Akreditasi.
Pemahaman dan pelaksanaan SK dan SOP itu perlu dipantau dan di evaluasi
pelaksanaannya.
Siapa yang melakukannya ? Tentu aja atasan langsungnya.
Jadi Kepala Puskesmas memantau dan mengevaluasi PJ UKM, dan PJ UKM memantau
Pelaksana UkM akan pemahaman dan pelaksanaan SK dan SOP yang dibuat Kepala
Puskesmas.
Jadi dokumen monitoring dan evaluasinya jika dibuat kuesioner sederhana bentuknya kira
kira sebagaimana tersebut dibawah ini:
1) Apakah anda punya SK dan SOP tata Nilai : (1) Punya (2) Tidak punya.
2) Apakah pernah membaca atau mendengar penjelasannya ( 1) sudah (2) belum.
3) Apakah isi tata Nilai dalam SK itu ? Tolong sebutkan : misalnya PARADISO : profesional ,
amanah, ramah, disiplin, sopan . (1) Jawaban Benar (2) Jawaban salah.
4) Dapatkah anda menjelaskan satu persatu maknanya : (1) Jawaban benar (2) Jawaban
salah.
Dalam hal pelaksanaan tentu pertanyaannya tidak jauh dari itu :
1) Apakah anda menjalankan tata nilai itu (1) Ya (2) Tidak.
2) Apakah praktek dari masing kata kata itu . beri contoh(1) jawaban benar (2) jawaban
salah.
3) Adakah data pendukung dari pernyataan anda ; (1) ada (2) tidak ada.
Agar ada keseragaman pemahaman dari singkatan tata Nilai yang dibuat perlu ada
penjelasan kata masing masing singkatan ( Karena biasanya Puskesmas membuat singkatan
Tata nilai agar mudah dihafal. Penjelasan yang benar benar memberikan arti yang
operasional. )
Tidak tepat jika misalnya memberikan pengertian atau definisi; :
Disiplin adalah disiplin melaksanakan pekerjaan. ( Ini tidak menjelaskan kata disiplin tetapi
hanya memperpanjang kata menjadi kalimat. ).
Berbeda misalnya jika disebutkan :
Disiplin : Disebut disiplin jika anda : Datang dan pulang tepat waktu sesuai ketentuan, selalu
meminta ijin jika ada kegiatan luar gedung , dan memakai pakaian sesuai ketentuan
hatinya.
Untuk pemahaman SOP : tentu pertanyaannya agak panjang :
1) Apakah pengertian dari SOP ini ? (1) Jawaban benar (2) Jawaban salah.
2) Bagaimana urutan kegiatan dilakukan ? (1) Jawaban benar (2) jawaban salah.
3) Tolong peragakan . (1) benar (2) salah.
Jika hasil monitoring atau evaluasinya masih ada kesalahan atau masih ada yang
melaksanakan tidak sesuai ketentuan diberikan penjelasan ulang atau diberi sangsi:
Misalnya menulis tata Nilai sebanyak; 10 kali. Tentu mengikuti aturran kepegawaian yang
berlaku , jika misalhya tidak memakai seragam sebagaimana diatur.
Dengan penjelasan sederhana ini diharapkan tidak ada lagi dokumen ep yang dikosongkan
karena belum tahu apa yang akan diisikan. Surveior tinggal melakukan cek- kebenaran
dokumennya. Apakah memang yang bersangkutan memahami SK dan SOP sebagaimana
tercantum dalam dokumen yang disampaikan.
Selamat melaksanakan akreditasi, atau membenahi dokumen akreditasi sebagaimana
rekomendasi yang diberikan bagi yang telah Akreditasi. Tetapsemangat. Sukses.
Kus Sularso, Banyumanik, 26 Desember 2017.
( Sangat sedih jika ada ep yang tidak diisi dengan dokumen apa apa. Kosong . upayakan
semaksimal mungkin semuanya terisi dengan baik dan benar. Wajar kalau belum sempurna ,
perbaikan bisa dilakukan melalu Pertemuan Tinjauan Management. Suatu pertemuanyang
melibatkan banyak pihak dan wahana belajar bersama sehingga menambah kecerdasan
semua peserta , dan menjadikan Puskesmas sebagai Organisasi Pembelajar. )
Belajar Akreditasi
Kaji Banding
Suatu pagi dihari Sabtu , aku merenung sendiri.
Mengapa semua kaji banding jarang yang berhasil.
Dari awal perencanaan sampai evaluasi akhir tak ada kesimpulan berarti
Apalagi tiada inovasi untuk ditindak lanjuti.
Bukan hanya karena mereka pergi bersama tanpa tekat
Atau instrument yang dibuat sekedar alat
Untuk memenuhi persyaratan sebagai standart
Yang sebelumnya memang tidak ada saat berangkat.
Ada satu kata kunci yang sering dilupakan
Kalau kaji banding memerlukan persiapan
Bukan hanya apa yang kelihatan
Tetapi juga kesiapan batin secara mendalam
Belajar Akreditasi
Masalah , resiko, dan keselamatan pasien
Eny Setyo Widiasih Maturnuwun pencerahannya Dok, RCA dan FMEA...., menurut
kejadiannya...RCA utk masalah yang sudah terjadi (masalah spesifik)...tindakan korektif,
FMEA untuk masalah yang belum terjadi (masalah potensial)...tindakan preventif kaitannya
dengan bab di Admen.
Perbedaan istilah di Admen dan UKP ....kadang membuat teman2 Puskesmas tidak mudah
utk memahami..., tetapi ketika teman2 sudah mulai belum paham dan mencari tahu,
disitulah proses perbaikan dimulai. Semangaats selalu...
Ibu memang cerdas bingits, sebagai bahan renungan, bisa dilihat apa yang terkait dengan
masalah, resiko dan keselamatan pasien di BAB IV dan V.
Pada Bab [Link] disebutkan ada identifikasi masalah ( artinya ada kesenjangan ), artinya
ada sesuatu yang harus kita selesaikan , kita atasi. maslahnya sudah ada tinggal
identifikasinya, karena sudah terjadi. Maka analisa masalahnya dengan diagram tulang ikan.
Pada KTD : kejadiannya sudah ada , dicari akar masalahnya : RCA : root cause analysis (
diagarm pohon masalah ).
kalau resiko di [Link] : resiko itu belum terjadi masalah, sehingga ditulis ; Identifikasi
kemungkinan terjadi resiko. jadi potensi terjadi resikokarena belum terjadi , sebagaimana
FMEA.
Kalau mengikuti pemikiran standar: Ada masalah, dicari ( dianalis ) penyebab masalahnya , (
dengan diagram tulang ikan ) lalu dari pilihan penyebab itu dengan USG dicari mana yang
akan diprioritaskan untuk diselesaikan , dibuatlah rencana tindak lanjut (RTL), lalu di tindak
lanjuti ( TL). selanjutnya di lakukan Evaluasi. maka PDCA berjalan.
Kus Sularso, Banyumanik , 22 Oktober 2017.
( Kita bekerja memang tugasnya menemukan masalah dan menyelesaikannya. Juga
menemukan kemungkinan ( potensi ) terjadi masalah akibat keadaan atau kegiatan kita.
sebagaimana tenaga medis membuka praktek agar orang bermasalah kesehatan datang
kepadanya untuk diselesaikan masalahnya, begitu juga pengacara ; membuka praktek untuk
menyelesaikan masalah orang dibidang hukum dstnya. Jadi pahami dulu siklus : masalah-
analisa penyebab masalah- rencana tindak lanjut-tindak lanjut –evaluasi. Maka selanjutnya
akan terang benderang. apalagi kalau dipelajari bersma sama , beramai ramai. ( artinya
dengan diskusi: kalau bareng bareng tapi diem dieman ya lama pahamnya. ) Selamat
berdiskusi. Tetap semangat. Sukses.
Eh lupa: analisa penyebab masalah itu dengan diagram tulang ikan atau pohon masalah.
Root Cause analisis.
Belajar Akreditasi
UKM Essensial
Evita Setianingrum mau Tanya pak, untuk UKM esensial Jenis nya sesuai permenkes 75 Yaitu
Promkes, kesling, gizi, KIA, P2 Dan perkesmas atau sesuai permenkes 44 yaitu: Promkes,
kesling, Gizi KIA, surveilans, PTM Dan Penyakit Menular? Mohon penyerahan, trimakasih
Kita baca dalam Peraturan Meneteri Kesehatan Republik Indonesia
No 75 Th2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.
Untuk Puskesmas Perkotaan :
Penanggungjawab UKM esensial dan keperawatan kesehatan masyarakat yang
membawahi:
a. pelayanan promosi kesehatan termasuk UKS
b. pelayanan kesehatan lingkungan
c. pelayanan KIA-KB yang bersifat UKM
d. pelayanan gizi yang bersifat UKM
e. pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit
f. pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat
Penanggungjawab UKM Pengembangan
Membawahi upaya pengembangan yang dilakukan Puskesmas, antara lain:
a. pelayanan kesehatan jiwa
b. pelayanan kesehatan gigi masyarakat
c. pelayanan kesehatan tradisional komplementer
d. pelayanan kesehatan olahraga
e. pelayanan kesehatan indera
f. pelayanan kesehatan lansia
g. pelayanan kesehatan kerja
h. pelayanan kesehatan lainnya
Untuk Puskesmas Pedesaan :
Penanggungjawab UKM esensial dan keperawatan kesehatan masyarakat yang
membawahi:
a. pelayanan promosi kesehatan termasuk UKS
b. pelayanan kesehatan lingkungan
c. pelayanan KIA-KB yang bersifat UKM
d. pelayanan gizi yang bersifat UKM
e. pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit
f. pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat
4. Penanggungjawab UKM Pengembangan
Membawahi upaya pengembangan yang dilakukan Puskesmas, antara lain:
a. pelayanan kesehatan jiwa
b. pelayanan kesehatan gigi masyarakat
c. pelayanan kesehatan tradisional komplementer
d. pelayanan kesehatan olahraga
e. pelayanan kesehatan indera
f. pelayanan kesehatan lansia
g. pelayanan kesehatan kerja
h. pelayanan kesehatan lainnya
( Ini adalah jenis program UKM sesuai struktur organisasi Puskesmas )
Kalau kita baca dalam : Permenkes 44 th 2016: menyebutkan :
Adapun data kinerja dan status kesehatan masyarakat diperoleh dari Sistem Informasi
Puskesmas. Data yang dikumpulkan adalah:
(1) Data dasar, yang mencakup:
(2) Data UKM Esensial, yaitu:
a) Promosi Kesehatan;
b) Kesehatan Lingkungan;
c) Pelayanan Gizi KIA-KB;
d) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular;
e) Surveilans dan Sentinel SKDR; dan
f) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular.
(3) Data UKM Pengembangan, antara lain:
a) Upaya Kesehatan Sekolah (UKS);
b) Kesehatan Jiwa;
c) Kesehatan Gigi Masyarakat;
d) Kesehatan Tradisional dan Komplementer;
e) Kesehatan Olahraga;
f) Kesehatan Kerja;
g) Kesehatan Indera;
h) Kesehatan Lanjut Usia; dan/atau
i) Pelayanan kesehatan lainnya sesuai kebutuhan Puskesmas.
( Ini adalah masalah data yang dikumpulkan , bisa oleh pelaksana UKM di dalam struktur
organisaai Puskesmas yang bersangkutan. Misal : point d) e). f). dikumpulkan oleh UKM
essensial : P2P. )
Ternyata memperhatikan judul itu penting.
Kus Sularso , Banyumanik . 22 Oktober 2017.
( Mari kita perhatikan untuk UKP, akan jelas bedanya dalam Permenkes 75 th 2014 dan
permenkes 44 th 2016 tentang management Puskesmas. agar pengertian tentang keduanya
bisa menjadi lebih jelas.
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota perlu menjelaskan ini dengan sebaik baiknya , agar tenaga
Puskesmas tidak habis waktunya untuk membahas hal hal yang tidak perlu, sehingga bisa
berkonsentrasi didalam pelayanan kepada masyarakat. Tetap semangat. Sukses. )
Belajar Akreditasi
FMEA
Ada teman FB yang bertanya: Tha: Sore semua... Mhn info fmea.. area prioritas 3h+1p dong
bapak ibu.... tq..
NikenSetyo: Saya juga ingin tahu ttg bab 9 ini dok Kus Sularso.. mohon bantuannya.. 🙏
🙏
1. Kita mulai bahas FMEA. Akan saya coba pemahaman saya secara sederhana. Cara
pandang seorang Kesehatan Masyarakat, yang kebetulan juga tenaga medis.
2. Terdapat dua penggunaan FMEA yaitu dalam bidang desain (FMEA Desain) dan dalam
proses (FMEA Proses). Yang akan kita pelajari adalah FMEA proses. Dimana Prosedur
melakukan tindakan sudah dibuat dalam bentuk SOP:
3. Dalam setiap langkah SOP itu, kemungkinan akan terjadi kegagalan : ini disebut Failure
mode. akan banyak kemungkinan kesalahan karena banyak langkah dalam sop.
4. Kalau dalam bisnis fabrikan : akan terjadi kecacatan pabrik, karena design yang dipilih
atau proses produksi yang digunakan. . Cacat produk ini terjadi karena terbawa oleh
kesalahan dalam salah satu atau lebih langkah design produk atau dalam proses produksi.
Kalau di pelayanan kesehatan tentu ; terjadinya cacat pelayanan karena bawaan design
pelayanan ataupun proses pelayanan.
5. ***** jadi begitu SOP ditentukan : sudah membawa potensi kegagalan, karena memang
tidak ada SOP yang sempurna didunia ini. Dengan SOP lainpun akan juga ada kemungkinan
terjadi kegagalan. ****
6. Prinsip FMEA adalah : mencegah kegagalan/kecelakaan sebelum terjadi, dengan mengkaji
SOP yang ada.
7. Tujuan FMEA secara umum adalah:
a. Membantu dalam pemilihan desain alternatif yang memiliki keandalan dan keselamatan
potensial yang tinggi selama fase desain.
b. Untuk menjamin bahwa semua bentuk mode kegagalan yang dapat diperkirakan berikut
dampak yang ditimbulkannya terhadap kesuksesan operasional sistem telah
dipertimbangkan.
c. Membuat list kegagalan potensial, serta mengidentifikasi seberapa besar dampak yang
ditimbulkannya.
8. Karena itu perlu dipelajari, dipahami dan dicarikan solusi kemungkinan terjadi KTD, KTC,
KNC, dll. Ini merupakan ranah : keselamatan pasien.
Marilah kita cermati Bab IX:
Standar: 9.1. Perencanaan, monitoring, dan evaluasi mutu layanan klinis dan keselamatan
menjadi
tanggung jawab tenaga yang bekerja di pelayanan klinis
Kriteria: 9.1.1. Tenaga klinis berperan aktif dalam proses peningkatan mutu layanan klinis
dan upaya
keselamatan pasien
Pokok Pikiran:
1. Upaya peningkatan mutu layanan klinis, dan keselamatan pasien menjadi tanggung jawab
seluruh tenaga klinis yang memberikan asuhan pasien.
2. Tenaga klinis adalah dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lain yang bertanggung
jawab melaksanakan asuhan pasien.
3. Upaya keselamatan pasien dilakukan untuk mencegah terjadinya Kejadian Tidak
Diharapan (KTD), yaitu cedera atau hasil yang tidak sesuai dengan harapan, yang terjadi
bukan karena kondisi pasien tetapi oleh karena penanganan klinis (clinical management).
Penanganan klinis yang tidak sesuai kadang tidak menimbulkan cedera, maka kejaditan ini
disebut dengan Kejadian Tidak Cedera (KTC).
4. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) terjadi jika hampir saja dilakukan kesalahan dalam
penanganan kinis, tetapi kesalahan tersebut tidak jadi dilakukan.
5. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) terjadi jika hampir saja dilakukan kesalahan dalam
penanganan kinis, tetapi kesalahan tersebut tidak jadi dilakukan.
KRITERIA 9.1.1. Elemen Penilaian
1. Adanya peran aktif tenaga klinis dalam merencanakan dan mengevaluasi mutu layanan
klinis dan upaya peningkatan keselamatan pasien.
2. Ditetapkan indikator dan standar mutu klinis untuk monitoring dan penilaian mutu klinis.
3. Dilakukan pengumpulan data, analisis, dan pelaporan mutu klinis dilakukan secara
berkala.
4. Pimpinan Puskesmas bersama tenaga klinis melakukan evaluasi dan tindak lanjut
terhadap hasil monitoring dan penilaian mutu klinis.
5. Dilakukan identifikasi dan dokumentasi terhadap Kejadian Tidak Diharapkan (KTD),
Kejadian Tidak Cedera (KTC), Kondisi Potensial Cedera (KPC), maupun Kejadian Nyaris
Cedera (KNC).
6. Ditetapkan kebijakan dan prosedur penanganan KTD, KTC, KPC, KNC, dan risiko dalam
pelayanan klinis.
7. Jika terjadi KTD, KTC, dan KNC dilakukan analisis dan tindak lanjut.
8. Risiko-risiko yang mungkin terjadi dalam pelayanan klinis diidentifikasi, dianalisis dan
ditindaklanjuti.
9. Dilakukan analisis risiko dan upaya-upaya untuk meminimalkan risiko pelayanan klinis
10. Berdasarkan hasil analisis risiko, adanya kejadian KTD, KTC, KPC, dan KNC, upaya
peningkatan keselamatan pasien direncanakan, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti
Kus Sularso, Banyumanik 21 Oktober 2017.
( Mempelajari FMEA memang tidak mudah, apalagi bagi karyawan Puskesmas. Sebenarnya
di Puskesmas itu lebih banyak bagaimana praktek yang benar , aplikasi yang benar,
impelementasi yang benar. Yang menyusun design dan prosedur baku untuk satu wilayah
kabupaten lebih baik dipandu dan difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Tentu
bottom up planning dijalankan, mulai dari puskesmas dulu lalu ditarik benang merahnya
ditingkat Kabupaten untuk panduan umum, setiap Puskesmas nanti menyesuaikan.
Puskesmas adalah UPT Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. setidaknya jangan dibiarkan
Puskesmas berjalan sendiri sendiri tanpa arahan dan bimbingan. Untuk kegiatan medis di
program UKM dilapangan tentu perlu pemikiran lagi. Tetap semangat. Sukses . )
Belajar Akrditasi
Identifikasi
Memaknai kata kata Identifikasi ternyata sangat mudah.
Banyak orang yang gagal mengidentifikasi sesuatu karena kurang paham dengan arti kata
ini. Kalaupun sudah mengerti , walaupun secara tidak sadar apa arti mengidentfikasi, tetapi
menjadi gagal dalam upaya identifikasi itu karena tidak tahu apa arti dari benda yang akan
di identifikasi. Ibarat kita ingin bertemu seseorang, kita tahu tugas kita menemukan orang
itu tetapi karena belum diberi tahu secara jelas siapa yang dicari maka , andaikatapun
bertemu dengan orang yang dicari beberapa kali, tetaplah dia tidak menyapanya karena
tidak jelas bahwa orang itulah yang dicari. Untuk menemukan seseorang kita harus tahu
ciciri ciri orang itu, tahu karakteristiknya . Kita harus tahu benda yang kita cari itu termasuk
jenis apa. binatang atau tumbuhan, atau manusia. kalau manusia bagaimana ciri cirinya dan
karakteristiknya.
Dalam ranah Akreditasi, ternyata cukup banyak yang harus kita identifikasi, yang harus kita
kenali, yang harus kita temukan, yang harus kita dapatkan. diantarnya di Bab IV .
Marilah kita list /susun daftarnya ;
[Link]. 1. Dilakukan identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat, kelompok masyarakat,
dan individu yang merupakan sasaran kegiatan.
[Link] 2. Hasil identifikasi umpan balik didokumentasikan dan dianalisis.
4.1.3. 1 1. Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKM Puskesmas, dan Pelaksana
mengidentifikasi permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan UKM
Puskesmas, perubahan regulasi, pengembangan teknologi, perubahan pedoman/acuan.
[Link] 1. Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKM Puskesmas, dan pelaksana
mengidentifikasi permasalahan dan hambatan dalam pelaksanaan kegiatan.
Ada kegiatan sebagai kelanjutan sari identifikasi sesuatu benda tau kegiatandll yaitu
menetapkan. Sesudah mengenali bbenda yang kita temukan langkah kedua adalah memilih
dan menetapkan.
Artinya kita berani menetapkan sesuatu hal, setelah kita mengenali dan menentukan apa
yang kita cari. Perhatikan dalam elemen penilaian berikut ini.
[Link] 1. Kepala Puskesmas menetapkan cara untuk menyepakati waktu dan tempat
pelaksanaan kegiatan dengan masyarakat dan/atau sasaran.
[Link] 1. Kepala Puskesmas menetapkan media komunikasi untuk menangkap keluhan
masyarakat/sasaran.
[Link] 1. Kepala Puskesmas menetapkan indikator dan target pencapaian berdasarkan
pedoman/acuan.
Jadi pada bab IV ini; masalah pokoknya adalah kita mengidentifikasi, mengenali dan
menemukan lalu kita menetapkannnyasebagai temuan kita.
Dalam kata menetapkan pada elemen penilaian 4.2.4. dan 4.2.6. dan 4.3.1. itu terkandung
pengertian , sebelum menetapkan sesuatu kita harus mengidentifikasinya dahulu.
Identifikasi berarti mengenali dan menemukan. Kita bisa mengenali sesuatu kalau kita tahu
ciri cirinya, tahu karakteristiknya. Sehingga bisa membedakan dari hal atau perkara yang lain
Sederhana bukan ?
Kus Sularso, Banyumanik , 20 Oktober 2017.
( Hal yangsederhana bisamenjadi rumit kalaukita tidak mengenali apa yang sebenarnya
sedang dibicarakan. Perlu diingat bahwa satu kriteria itu merupakan satu paket . Kalau
sampai dibawah kita menjadi rancu , cobalah lihat ke bagian atasnya ; ke kriteria, pokok
pikiran dan Standarnya. Sederhana bukan ? Mari belajar terus, Tetap semangat. Sukses. )
Belajar Akreditasi
Kompetensi
Yeni Susanti : menulis; Kepada Yth dr. Kus mohon pencerahan mengenai 2.3.4 ep 5 dan
2.3.5 ep 3, terima kasih
Kemauan ibu belajar sangat luar biasa, sudah mulai berfikir lintas elemen penilaian, dan
menghubungkan satu dan lainnya. Cara berfikir ini sungguh positif karena bisa menuntun
untuk bisa mendapat pemahaman yang lebih baik.
Perlu dipahami dulu apa arti kompetensi dalam kriteria 2.3.4. ini.
Berdasarkan Pasal 69 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 20l4 tentang
Aparatur Sipil Negara antara lain dinyatakan bahwa pengembangan karier Pegawai Negeri
Sipil dilakukan berdasarkan kualifikasi, kompetensi, penilaian kinerja, dan kebutuhan
Instansi Pemerintah, yang meliputi:
a. kompetensi teknis yang diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis
fungsional, dan pengalaman bekerja secara teknis;
b. kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau
manajemen, dan pengalaman kepemimpinan; dan
c. kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan
masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya sehingga memiliki wawasan
kebangsaan.
Kompetensi merupakan kemampuan kerja setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mencakup
aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang mutlak diperlukan dalam
melaksanakan tugas-tugas jabatannya.
jika kita pergunakan pengertian tersebut dengan Instrumen akreditasi maka akan menjadi
lebih jelas. Terutama : elemen penilaian : [Link].
Kriteria: 2.3.4. Pengelola dan pelaksana Puskesmas memenuhi standar kompetensi yang
dipersyaratkan dan ada rencana pengembangan sesuai dengan standar yang telah
ditentukan.
Pokok Pikiran: Kinerja Puskesmas hanya dapat dicapai secara optimal jika dilakukan oleh
SDM yang kompeten baik pengelola, Penanggung jawab program maupun pelaksana
kegiatan. Pola Ketenagaan Puskesmas perlu disusun berdasarkan kebutuhan dan/atau
beban kerja.
KRITERIA 2.3.4.
1. Ada kejelasan persyaratan/standar kompetensi sebagai Pimpinan Puskesmas, PJ Upaya
Puskesmas, dan Pelaksana Kegiatan.
2. Ada rencana pengembangan pengelola Puskesmas dan karyawan sesuai dengan standar
kompetensi.
3. Ada pola ketenagaan Puskesmas yang disusun berdasarkan kebutuhan
4. Ada pemeliharaan catatan/ dokumen sesuai dengan kompetensi, pendidikan, pelatihan,
keterampilan dan pengalaman
5. Ada dokumen bukti kompetensi dan hasil pengembangan pengelola dan pelaksana
pelayanan
6. Ada evaluasi penerapan hasil pelatihan terhadap pengelola dan pelaksana pelayanan
Untuk meningkatkan kompetensi yang disebutkan diatas bisa dibaca di elemen penilaian
[Link]. dengan pokok pikirannya sebagai berikut;
Kriteria: 2.3.5. Karyawan baru harus mengikuti orientasi supaya memahami tugas pokok dan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Karyawan wajib mengikuti kegiatan pendidikan
dan pelatihan yang dipersyaratkan untuk menunjang keberhasilan Upaya Puskesmas.
Pokok Pikiran: Agar memahami tugas, peran, dan tanggung jawab, karyawan baru baik yang
diposisikan sebagai Pimpinan Puskesmas, Penanggung jawab Upaya Puskesmas maupun
Pelaksana kegiatan harus mengikuti orientasi dan pelatihan yang dipersyaratkan.
KRITERIA 2.3.5.
1. Ada ketetapan persyaratan bagi Pimpinan Puskesmas, Penanggung jawab Upaya
Puskesmas dan Pelaksana kegiatan yang baru untuk mengikuti orientasi dan pelatihan.
2. Ada kegiatan pelatihan orientasi bagi karyawan baru baik Pimpinan Puskesmas,
Penanggung jawab Upaya Puskesmas, maupun Pelaksana kegiatan dan tersedia kurikulum
pelatihan orientasi.
3. Ada kesempatan bagi Pimpinan Puskesmas, Penanggung jawab Upaya Puskesmas,
maupun Pelaksana kegiatan untuk mengikuti seminar atau kesempatan untuk meninjau
pelaksanaan di tempat lain.
Kus Sularso, Banyumanik , 19 Oktober 2017.
( Kesadaran untuk menambah pengalaman dan pengetahuan perlu digalakkan untuk semua
karyawan Puskesmas..Tanpa terasa dan tanpa disadari itu akan menambah kompetensi
seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya. Mengikuti pendidikan, mengikuti
pelatihan, mengikuti seminar, mengikuti workshop, dan kaji banding merupakan beberapa
cara menambah pengetahuan, ketrampilan dan wawasan. Kesempatan itu perlu diberikan
kepada semua karyawan sesuai bidang tugasnya. dengan demikian seorang karyawan akan
bisa meningkat setahap demi setahap menuju karyawan yang handaldan mumpuni. selamat
belajar. selamat meng up grade diri. jangan lagi ada yang menolak mengikuti pendidikan
,pelatihan, kajibanding, tanpa alasan yang jelas dan masukakal. Tetap semangat. Sukses. )
Belajar Akreditasi
Kerja team mutu
Salah satu tujuan akreditasi adalah peningkatan mutu pelayanan.
Diperlukan team mutu karena kerja peningkatan mutu pelayanan itu suatu kerja yang
komplek yang membutuhkan banyak keahlian .
Setidaknya : ada3 keahlian di Puskesmas yg berperanan : UKM,UKP, Admen.
Team mutu yang baik akan bermanfaat jika:
1. Dengan team mutu , kreativitas meningkat, pemecahan masalah dan inovasi
berkembang.
1. Kualitas keputusan menjadi lebih baik.
2. Terjadi peningkatan proses, karena terjalin koordinasi, komunikasin dan edukasi yang
lebih intens. Puskesmas menjadi organisasi pembelajar.
3. Lebih mampu bersaing, internal maupun eksternal.
4. Terjadi peningkatan kualitas pelayanan. berkurangnya keluhan pelanggan dan
peningkatnyakepuasan pemberi dan penerimapelayanan.
5. Meningkatnya sharing informasi , ide, pengetahuan ,ketrampilan, sikap positif,
6. Terbangun kebersamaan, kenyamanan bekerja dan kesetiakawanan. Absen berkurang.
7. kerja menjadi terasa lebih ringan karena pembenahan struktur, system dan prosedur.
Jadi jika surveior Akreditasi bertanya dengan pertanyaan standar : Apayang akan anda
lakukan setelah akreditasi selesai. maka pemberdayaan team mutu adalah salah satu
jawabannya.
Kepala Puskesmas perlu memberdayakan , memandirikan dan menggerakkan serta
mengoptimalkan kerja team mutu, karena dipundak merekalah beban berat itu sekarang
berada. tapi ingat kepala puskesmas adalah bagian dari team mutu, bukan orang luar yang
menonton dari kejauhan.
Kus Sularso, Banyumanik , 5 Oktober 2017.
( Ada indikasi, setelah Akreditasi selesai, Puskesmas kembali ke rutinitas lama. Ini tentu
sangat disayangkan , karena pembelajaran yang begitu banyak dengan biaya yang tidak
sedikit saat akreditasi , dibiarkan merana , tidak berkembang dan tidak tumbuh
sebagaimana mestinya.
Tapi perubahan besar telah terjadi. mayoritas Puskesmas setelah Akreditasi menjadi lebih
aktif , agresif dan lantang dengan program program inovasinya. Terlihat di mediasosial
ramainya postingan kegiatan Puskesmasyang semakin bervariasi dan semarak. bukan
jamannnya lagi Puskesmas hanya sebagai poliklinik saja. Halo : UKP,UKM,Admen –
bersatulah membangun megeri. tetap semangat, Sukses. )