Materi Teach Other :
DEFIBRILATOR:
DEFIBRILASI DAN KARDIOVERSI
Tugas Kelompok Profesi
Peminatan Keperawatan Gawat Darurat
Disusun Oleh:
Arifin Triyanto (17477)
Kusnul Hasanah (17479)
Ayu Minasari S. (17494)
Diana Nurlita (17501)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015
DEFIBRILATOR
Defibrilator adalah alat yang dapat memberikan shock listrik dan dapat menyebabkan
depolarisasi sementara dari jantung yang denyutnya tidak teratur, sehingga memungkinkan
timbulnya kembali aktifitas listrik jantung yang terkoordinir. Energi dialirkan melalui suatu
elektrode yang disebut paddle (pedal).
Defibrilator dapat digunakan untuk defibrilasi dan kardioversi. Selain itu, defibrilator
juga digunakan untuk pemantauan irama jantung dan pacu jantung transkutan (TPC:
transkutaneous pacemaker)
• D E F I B R I LA S I
Definisi
Defibrilasi adalah suatu tindakan terapi dengan cara memberikan aliran listrik yang
kuat dengan metode asinkron ke jantung pasien melalui elektroda yang ditempatkan pada
permukaan dada pasien.
Tujuan Defibrilasi
Memperbaiki koordinasi aktivitas listrik jantung dan mekanisme pemompaan,
ditunjukkan dengan membaiknya cardiac output, perfusi jaringan dan oksigenasi. Cara yang
digunakan yaitu dengan memutus listrik di ventrikel agar sumber listrik dari atrium atau
nodus SA.
American Heart Association (AHA) merekomendasikan agar defibrilasi diberikan
secepat mungkin saat pasien mengalami gambaran VT non-pulse atau VF, yaitu 3 menit atau
kurang untuk setting rumah sakit dan dalam waktu 5 menit atau kurang dalam setting luar
rumah sakit.
Defibrilasi dapat dilakukan diluar rumah sakit karena sekarang ini sudah ada
defibrillator yang bisa dioperasikan oleh orang awam yang disebut automatic external
defibrillation (AED). AED adalah defibrillator yang menggunakan system computer yang
dapat menganalisa irama jantung, mengisi tingkat energi yang sesuai dan mampu
memberikan petunjuk bagi penolong dengan memberikan petunjuk secara visual untuk
peletakan ekektroda
Indikasi defibrilasi
Defibrilasi merupakan tindakan resusitasi prioritas utama (rekomendasi class I) yang
ditujukan pada VT non pulse dan VF (syokable). Pada PEA/Pulseless Electric Activity dan
asistole (non syokable) tidak dilakukan defibrilasi.
• Ventrikel takikardi tanpa nadi (VT non-pulse)
Ket: Takikardi pada irama ventrikel dengan f= 41-250x/mnt karena pacemaker ventrikel
menghasilkan implus secara cepat. Ventrikel berdenyut cepat tanpa sempat
mengosongkan dan mengisi darah secara sempurna sehingga sirkulasi darah tidak cukup.
VT disebut juga VES (ventrikel ekstra sistol) takikardi dimana semuanya
menggambarkan QRS tanpa P. Terlihat seperti gigi gergaji.
• Ventrikel fibrilasi (VF)
Ket: Sama dengan VT tetapi morfologi QRS tidak teratur (kadang besar kadang kecil)
dengan kecepatan >350x/mnt. Pada VF listrik (+) mekanik (-) / jantung hanya bergetar
sehingga stroke volume dan cardiac output kurang. VF merupakan gambaran bergetarnya
ventrikel karena begitu banyak tempat di ventrikel yang memunculkan implus, sehingga
sel jantung tidak sempat berdepolarisasi dan repolarisasi sempurna.
Meskipun defibrilasi merupakan terapi definitive untuk VF dan VT non-pulse,
penggunaan defibrilasi tidak berdiri sendiri, tetapi disertai dengan resusitasi kardiopulmonari
(RKP). Peran aktif dari penolong atau tenaga kesehatan pada saat mendapati pasien dengan
cardiac arrest, dimana sebagian besar menunjukkan VF dan VT, untuk bertahan terbukti
meningkat.
Prinsip Defibrilasi
Kejutan memberikan energi dalam jumlah banyak dalam waktu yang sangat singkat
(beberapa detik) melalui pedal positif dan negative yang ditekankan pas dinding dada atau
melalui adhesive pads yang ditempelkan pada sensing dada pasien. Arus listrik yang
mengalir sangat singkat ini bukan merupakan loncatan awal bagi jantung untuk berdetak,
tetapi mekanismenya adalah aliran listrik yang sangat singkat ini akan mendepolarisasi
semua miokard, menyebabkan berhentinya aktivitas listrik jantung atau biasa disebut
asistole. Beberapa saat setelah berhentinya aktivitas listrik ini, sel-sel pace maker akan
berrepolarisasi secara spontan dan memungkinkan jantung untuk pulih kembali. Siklus
depolarisasi secara spontan dan repolarisasi sel-sel pacemaker yang reguler ini
memungkinkan jantung untuk mengkoordinasi miokard untuk memulai aktivitas kontraksi
kembali.
Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan defibrilasi
• Lamanya VF
Kesuksesan defibrilasi tergantung dari status metabolisme miokards dan jumlah miokard
yang rusak selama periode hipoksia karena arrest. Semakin lama waktu yang digunakan
untuk memulai defibrilasi maka semakin banyak persediaan ATP yang digunakan
miokard untuk bergetar sehingga menyebabkan jantung memakai semua tenaga sampai
habis dan keadan ini akan membuat jantung menjadi kelelahan.
• Keadaan dan kondisi miokard
Hipoksia, asidosis, gangguan elektrik, hipotermi dan penyakit dasar jantung yang berat
menjadi penyulit bagi pemulihan aktivitas kontraksi jantung.
• Besarnya jantung
Makin besar jantung, makin besar energi yang dibutuhkan untuk defibrilasi.
• Ukuran pedal
Ukuran diameter pedal dewasa yang dianjurkan adalah 8,5-12 cm dan untuk anak-anak
berkisar 4,5-4,8 cm. ukuran pedal terlalu besar membuat tidak semua permukaan pedal
menempel pada dinding dada dan menyebabkan banyak arus yang tidak sampai ke
jantung. Untuk itu, penggunaan pedal pada anak-anak bisa disesuaikan dengan ukuran
tubuhnya.
• Letak pedal
Hal yang sangat penting tetapi sering kali diabaikan adalah peletakan pedal pada dinding
dada saat dilakukan defibrilasi. Pedal atau pad harus diletakkan pada posisi yang tepat
yang memungkinkan penyabaran arus listrik kesemua arah jantung.
• posisi sternal, pedal diletakkan dibagian kanan atas sternum dibawah klavikula
• pedal apeks diletakkan disebelah kiri papilla mamae digaris midaksilaris. Pada wanita,
posisi pedal apeks ada di spasi interkosta 5-6 pada posisi mid-axilaris.
Pada pasien yang terpasang pacemaker permanent, harus dihindari peletakan padel
diatas generator pacemaker, geser pedal setidaknya 1 inchi dari tempat itu. Defibrilasi
langsung ke generator pacemaker dapat menyebabkan malfungsi pace maker secara
temporary atau permanent. Setelah dilakukan defibrilasi atau kardioversi, PPM harus
dicek ambang pacing dan sensinya serta dilihat apakah alat masih bekerja sesuai dengan
setting program. Hal yang harus diperhatikan pada saat melakukan defibrilasi adalah
posisi pedal atau pads, keduanya tidak boleh saling menyentuh atau harus benar-benar
terpisah.
• Energi
Pada defibrilator monofasik energi yang diberikan maksimal 360 joule dengan
gelombang 1 arah, sedangkan pada defibrilator bifasik maksimal 200J agar tidak
merusak jaringan kulit sekitar (luka bakar), tidak merusak miokard, dan efektivitas
meningkat (gelombang 2 arah). Untuk anak-anak, energi yang diperlukan adalah 1-2
joule/kg BB, maksimal 3 j/kg BB. Berdasarkan AHA tahun 2005 energi yang diberikan
pada defibrilator adalah 360 joule.
• Jelli/Gel
Saat menggunakan pedal, jangan lupa memberikan jelli khusus untuk defibrilasi atau
kardioversi pada pedal. Jelli berfungsi sebagai media konduksi untuk penghantar arus
listrik. Tujuan dari pemberian gel adalah untuk mengurangi resistensi transtorakal dan
mencegah luka bakar pasien.
Yang harus diperhatikan juga adalah jangan sampai gel tersebut teroles dikulit diantara
sternum dan apeks, atau jelli dari salah satu atau kedua pedal mengalir menghubungkan
keduanya pada saat ditekan ke dada pasien. Jika ini terjadi akan mengakibatkan arus
hanya mengalir dipermukaan dinding dada, aliran arus ke jantung akan missing
memancarkan bunga api yang menyebabkan sengatan listrik pasien pada pasien dan alat-
alat operator.
Komplikasi defibrilasi
• Henti jantung-nafas dan kematian
• Anoxia cerebral sampai dengan kematian otak
• Gagal nafas
• Asistole
• Luka bakar
• Hipotensi
• Disfungsi pace-maker
Persiapan Peralatan
• Defibrillator dengan monitor EKG dan pedalnya
• Jelly
• Obat-obat Emergency (Epinephrine, Lidocain, SA, Procainamid, dll)
• Oksigen
• Face mask
• Papan resusitasi
• Peralatan intubasi dan suction, Peralatan pacu jantung emergency
Persiapan Pasien
• Pastikan pasien dan atau keluarga mengerti prosedur yang akan dilakukan
• Letakkan pasien diatas papan resusitasi pada posisi supine
• Jauhkan barang-barang yang tersebut dari bahan metal dan air disekitar pasien
• Lepaskan gigi palsu atau protesa lain yang dikenakan pasien untuk mencegah obstruksi
jalan nafas
• Lakukan RKP secepatnya jika alat-alat defibrillator belum siap untuk mempertahankan
cardiac output yang akan mencegah kerusakan organ dan jaringan yang irreversible.
• Berikan oksigen dengan face masker untuk mempertahankan oksigenasi tetap adekuat
yang akan mengurangi komplikasi pada jantung dan otak
• Pastikan mode defibrillator pada posisi asyncrone
• Matikan pace maker (TPM) jika terpasang.
Prosedur Defibrilasi
• Oleskan jelly pada pedal secara merata
• Pastikan posisi kabel defibrillator pada posisi yang bisa menjangkau sampai ke pasien
• Nyalakan perekaman EKG agar mencetak gambar EKG selama pelaksanaan defibrilasi
• Letakkan pedal pada posisi apeks dan sternum
• Charge pedal sesuai energi yang diinginkan (360 joule)
• Pastikan semua clear atau tidak ada yang kontak dengan pasien, bed dan peralatan pada
hitungan ketiga (untuk memastika jangan lupa lihat posisi semua personal penolong)
• Pastikan kembali gambaran EKG adalah VF atau VT non-pulse
• Tekan tombol pada kedua pedal sambil menekannya di dinding dada pasien, jangan
langsung diangkat, tunggu sampai semua energi listrik dilepaskan.
• Nilai gambaran EKG dan kaji denyut nadi karotis
• Jika tidak berhasil, langsung charge pedal dengan energi 360 joule dan ulangi langkah
4-9
• jika kejutan kedua tidak berhasil, lakukan tahapan ACLS berikutnya
• Bersihkan jelly pada pedal dan pasien
Monitoring Pasien Setelah Defibrilasi
• Evaluasi status neurology. Orientasikan klien terhadap orang, ruang, dan waktu
• Monitor status pulmonary (RR, saturasi O2)
• Monitor status kardiovaskuler (TD, HR, Ritme) setiap 15 menit
• Monitor EKG
• Mulai berikan obat anti disritmia intravena sesuai dengan anjuran dokter
• Kaji apakah ada kulit yang terbakar
• Monitor elektrolit (Na. K, Cl)
Dokumentasi dan laporan setelah tindakan
• Print out EKG sebelum, selama dan sesudah defibrilasi
• Status neurology, respirasi dan kardioversi sebelum dan sesudah defibrilasi
• Energi yang digunakan untuk defibrilasi
• Semua hasil yang tidak diinginkan dan intervensi yang telah diberikan
Kemungkinan perubahan setelah defibrilasi:
• Tetap VF
• Nodus SA bekerja (irama sinus)
• Asistole
• KARDIOVERSI
Kardioversi adalah tindakan kejut listrik untuk mengatasi Supraventrikuler Takikardi
(SVT), atrial fibrilasi, atrial flutter dan takikardi ventrikuler dengan pulse dengan
menggukanan mode syncrone. Karena takikardi ventrikel sering berkembang menjadi
fibrilasi ventrikel, kardioversi merupakan terapi yang sangat potensial untuk mencegah
disritmia yang mengancam jiwa ini. Kardioversi dilakukan pada keadaan diatas hanya jika
keadaan tersebut tidak berespon terhadap pemberian obat anti aritmia (ex. Amiodaron,
Lidokain, MgSO4, Prokainamide, Bikarbonat, Efinefrin).
Arus listrik yang dianjurkan melalui kardioversi akan mendepolarisasi miokard
dengan tujuan agar jantung dapat berkoordinasi kembali konduksi impuls listrik sehingga
jantung dapat berkontraksi secara normal. Energi listrik yang dihantarkan akan disinkronkan
dengan kompleks QRS, mode synchronize ini akan menganalisa puncak gelombang R
tertinggi dan defibrillator akan mengirim arus listrik dalam waktu beberapa mili detik.
Sinkronisasi ini mencegah induksi ventrikel fibrilasi yang tidak diinginkan karena arus listrik
hanya akan menembak selama periode t-refkerter absolute dalam siklus jantung. Periode
yang aman ini dimulai pada saat depolarisasi kompleks QRS dan berhenti pada puncak
gelombang T. Kejutan kardioversi tidak boleh menembak selama periode refrakter relative
yang diidentikkan pada gelombang T.
Pada keadaan variable dan kecepatan gelombang R sangat sulit dibedakan,
sinkronisasi akan sulit dilakukan. Bahkan ketika penolong menekan tombol pedal, tidak ada
kejutan hantaran arus listrik ke jantung. Jika keadaan tersebut terjadi dan pasien mempunyai
keadaan yang tidak stabil yang sangat ekstrim dengan gejala VT (misalnya pasien tidak
sadar, hipotensi, oedema berat) langsung ganti dari syncrone menjadi asyncrone.
Secara umum persiapan alat, pasien, dan prosedur tindakan karsioversi sama dengan
defibrilasi. Yang membedakan adalah mode dan energi yang digunakan. Jika keadaan
memungkinkan, berikan pasien premedikasi alangesik dan sedasi untuk mengurangi
ketidaknyamanan.
Sesuai rekomendasi AHA, energi yang digunakan untuk atrial fibrilasi dimulai dari 100 j,
atrial flutter dan SVT 50-100j dan VT 100J dan dinaikkan, 200 J, 300 J, dan 360 J.
Indikasi Kardioversi
Kardioversi hanya direkomendasikan untuk pasien dengan:
• Supra Ventrikuler Takikardi (SVT)
Ket: karena frekuensinya sangat cepat dan P sering tertutup T, maka sulit menentukan
apakah ini irama sinus, atrial atau junctional. Oleh karena itu lebih mudah menyebutnya
SVT. Frekuensinya lebih dari 150x/mnt.
• Ventrikuler takikardi dengan nadi (VT pulse)
• Atrial Fibrilasi dan Atrial Flutter dengan hemodinamik yang stabil
Atrial Flutter
Ket: atrial flutter adalah gambaran yang muncul saat suatu tempat di atrium memulai
banyak impuls listrik dengan frekuensi yang cepat sehingga gelombang P normal tidak
terjadi. Sebagai ganti dari P, muncullah gelombang geletar seperti gergaji.
Atrial fibrilasi
Ket:
gambaran yang muncul saat iritabilitas sel-sel jantung dalam atrium meningkat, sehingga
mencoba banyak bagian yang mencoba mengeluarkan impuls. Namun karena tidak kuat
dan tidak dihantarkan sempurna, maka yang muncul adalah gambaran getaran. Ritmenya
ireguler.
Kontra Indikasi Kardioversi
- AF dan slow ventrikel respon
- Sick sinus sindrome
- Intoksikasi digitalis
- AF dengan pembedahan jantung 3 bulan
- AF dengan hipertiroid akut
Komplikasi Kardioversi
• Takikardi terus berlanjut
• Ventrikel fibrilasi dan berkembang menjadi henti jantung-paru
• Bradikardi
• Asistole
• Oedema pulmo
• Embolisme sistemik
• Komplikasi pernafasan (henti nafas)
• Hipotensi
• Disfungsi pace maker
• Luka bakar
Persiapan Kardioversi
• Kaji EKG klien
• Kaji tanda-tanda vital pasien dan gejala-gejala yang berhubungan dengan hemodinamik
pasien akibat perubahan gambaran EKG
• Jelaskan keadaan pasien dan prosedur yang akan dilakukan pada pasien dan keluarga
• Minta keluarga untuk menandatangani inform consent
• Pasang IV-line jika belum terpasang
• Posisikan pasien supine
• Lepaskan semua barang dari bahan yang dipakai pasien
• Pastikan mulut pasien kosong/tidak mengunyah atau mengulum makanan
• Lepaskan gigi palsu atau protesa lainnya.
• berikan pre-oksigenasi
• Pertahankan kepatenan jalan nafas
• Jika memungkinkan, berikan premedikasi analgesik dan sedasi.
Prosedur kardioversi
• Hubungkan pasien dengan monitor EKG
• Pilih lead dengan gelombang R yang tingi dan jelas
• Pilih mode synchronize pada defibrilator. Pastikan marker kompleks QRS terlihat di
monitor
• Jika defibrillator tidak berhasil membedakan antara puncak kompleks QRS dan
gelombang T, ubah mode ke asyncronize
• Oleskan jelly pada kedua pedal secara merata
• Nyalakan perekaman EKG agar mencetak gambar EKG selama pelaksanaan kardioversi
• Letakkan pedal pada posisi apeks dan sternum
• Pada pasien yang terpasang TPM, matikan, cabut kabel penghubung TPM dan kabel yang
dipasien harus diisolasi dengan karet/isolator
• Lepaskan alat oksigenasi pasien
• Charge pedal sesuai energi yang diinginkan
• Pastikan semua clear atau tidak ada kontak dengan pasien, bed dan peralatan pada
hitungan ketiga (untuk memastikan jangan lupa lihat posisi semua personel penolong)
• Pastikan kembali mode yang digunakan syncrone dan terdapat marker pada gambaran
EKG
• Tekan tombol pada kedua pedal sambil menekan di dinding dada pasien. Jangan langsung
diangkat, tunggu sampai semua energi listrik dilepaskan
• Observasi monitor apakah ada konversi takiaritmia dan kaji adanya nadi. Jika ada nadi,
kaji vital sign dan tingkat kesadaran
• Jilka gambaran menetap, energi dinaikkan bertahap dan ulangi langkah 10-14
• Bersihkan jelly pada pedal dan pasien.
Monitoring Pasien Setelah kardioversi
• Evaluasi status neurology, orientasikan klien terhadap orang, ruang, dan waktu
• Monitor status pulmonary (RR, saturasi O2)
• Monitor status kardiovaslkuler (TD, HR, ritme)
• Monitor EKG
• Siapkan obat anti-disritmia intravena
• Kaji apakah ada kulit yang terbakar
Dokumentasi dan Laporan Selama Tindakan
• Print-out EKG sebelum, selama, dan sesudah kardioversi
• Status neurologi, respiratori dan kardiovaskuler sebelum dan setelah kardioversi
• Energi yang digunakan untuk kardioversi
• Respon pasien terhadap kardioversi
• Persiapkan pasien untuk kardioversi
• Semua hasil yang tidak diinginkan dan intervensi yang telah diberikan
Kesimpulan:
Irama pada henti jantung:
1) Shockable: VF dan VT non pulse (indikasi defibrilasi)
2) Non Shockable: Asistole dan PEA (lakukan RKP)
Defibrilasi Kardioversi
Indikasi VT non-pulse • Atrial
VF SVT Dengan tanda2 serius
AFRVR
• Ventrikular
VT dengan nadi dengan
SVT QRS lebar tanda2 serius
Dosis 360 joule Atrial : 50 joule (awal)
Ventrikel : 100 joule
SVT QRS lebar : 100 j
Mode Asyncronize Syncronize
Ket:
Tanda2 serius: akral dingin
mual-muntah
gangguan hemodinamik
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Buku Peserta Latihan Keperawatan Intensif Angkatan XXI. Yogyakarta. P2KSDM RSUP
Sardjito
Baraas F. 2003. Advance Cardiac Life Support: ACLS. Koka Pusdiklat. Jakarta
Cummins R.O et all.2003. Advance Cardiac Life Support 4th edition. W.B Sanders Company. Philladelpia
Dwyer, Tuddy A. Dennet, Jenny. [Link]-hospital use of automated external defibrillators does not
improve survival. Australia. Elsevier
Fergusson, Caleb. Inglish, Sally C. Newton, Phillip J et all. 2013. Atrial fibrillation: Stroke prevention in
focus. Australia. Elsevier (jurnal elektronik)
Lynn-McHale D.J. Carlson K.K. 2001. AACN Procedure Manual for Critical care 4th edition. W.B
Sanders Company. Philladelpia