LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2
Jurusan Teknik Lingkungan – FALTL – Universitas Trisakti
Gasal 2017/2018
KELOMPOK12
1. Putra Adyasa Jatnika (082001500046)
2. Rizka Dinda Puteri (082001500050)
Asisten : Fildza Khumeira
SULFUR DIOKSIDA (SO2)
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang
kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu
dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan
bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal. Pencemaran udara dewasa ini semakin
menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat
berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan
perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar
udara yang dibuang ke udara bebas. Dampak dari pencemaran udara tersebut adalah
menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap kesehatan
manusia.
Udara ambien adalah pencemaran udara yang merupakan bahan atau zat-zat asing
di dalam udara yang yang menyebabkan perubahan susunan atau komposisi udara dari
keadaan normalnya. Udara dikatakan tercemar apabila bahan-bahan atau zat-zat asing
tersebut masuk ke udara sehingga menyebabkan mutu udara turun sampai kehidupan
makhluk hidup terganggu atau lingkungan tidak berfungsi sebagai mana mestinya.
Salah satu parameter terjadinya pencemaran di udara ambien adalah sulfur dioksida
(SO2) yang dapat berasal dari cerobong dari boiler atau pun generator listrik yang
dapat membahayakan kesehatan manusia.
Selain dari sumber di atas, gas SO2 juga dihasilkan dari kendaraan bermotor yang
menggunakan bahan bakar bensin maupun solar. Kendaraan berbahan bakar solar
seperti truk berkontribusi sebanyak 85% dalam menghasilkan SO2 dibandingkan
dengan kendaraan bermotor yang berbahan bakar bensin yang hanya sekitar 15%. SO2
dapat memberikan dampak kepada makhluk hidup khususnya manusia dalam sistem
pernafasan. Maka dari itu, perlu adanya pengujian mengenai konsentrasi sulfur
dioksida (SO2) di udara ambien Kampus A Universitas Trisakti. Prinsip pada
pengujian SO2 adalah gas sulfur dioksida (SO2) diserap dalam larutan penjerap
tetrakloromerkurat membentuk senyawa kompleks diklorosulfonatomerkurat. Dengan
menambahkan larutan pararosanilin dan formaldehida, kedalam senyawa
diklorosulfonatomerkurat maka terbentuk senyawa pararosanilin metil sulfonat yang
berwarna ungu. Konsentrasi larutan di ukur pada panjang gelombang 548 nm.
1.2 Tujuan Percobaan
Percobaan ini dilakukan untuk mengukur kadar Sulfur dioksida (SO2) di udara
ambient pada titik sampling kampus A Universitas Trisakti di samping ruang secretariat
SKI dengan metode pararosanilin dengan menggunakan alat spektrofotometer.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pencemaran udara dapat diartikan sebagai adanya bahan bahan atau zat-zat asing
didalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dan keadaan
normalnya. Menurut peraturan pemerintah RI no. 41 tahun 1999 menyebutkan bahwa
yang dinamakan pencemaran udara yaitu masuknya atau dimasukkanya zat energi atau
komponen lain dalam udara ambien oleh kegiatan manusia sehingga mutu udara ambien
turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi
fungsinya.
Sulfur dioksida (SO2) mempunyai karakteristik gas yang tidak berwarna, berbau
tajam, bersifat korosif (penyebab karat), beracun karena selalu mengikat oksigen untuk
mencapai kestabilan fasa gasnya dan tidak mudah terbakar diudara. Gas SO2 juga mudah
larut dalam air membentuk asam sulfat. Di udara gas SO2 ini selalu terbentuk dalam
jumlah besar Jumlah SO2 yang terbentuk bervariasi dari 1 sampai 10% dari total Sox
(Wisconsin Department, 2005).
Sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan
manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-
sumber alam seperti vulkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Masalah yang
ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah dalam hal
distribusinya yang tidak merata sehingga terkonsentrasi pada daerah tertentu. Sedangkan
pencemaran yang berasal dari sumber alam biasanya lebih tersebar merata. Tetapi
pembakaran bahan bakar pada sumbernya merupakan sumber pencemaran SO2, misalnya
pembakaran arang, minyak bakar gas, kayu dan sebagainya Sumber SO2 yang kedua
adalah dari proses-proses industri seperti pemurnian petroleum, industri asam sulfat,
industri peleburan baja dan sebagainya (Aulia, 2011).
Dalam bentuk gas, SO2 dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru yang
menyebabkan timbulnya kesulitan bernafas, terutama pada kelompok orang yang
sensitive seperti orang berpenyakit asma, anak-anak dan lansia. SO2 juga mampu
bereaksi dengan senyawa kimia lain membentuk partikel sulfat yang jika terhirup dapat
terakumulasi di paru-paru dan menyebabkan kesulitan bernapas, penyakit pernapasan,
dan bahkan kematian (EPA, 2007).
Sulfur dioksida juga berbahaya bagi tumbuhan karena dengan konsentrasi tinggi
dapat membunuh jaringan pada daun, pinggiran daun dan daerah diantara tulang-tulang
daun rusak. Secara kronis SO2 menyebabkan terjadinya kshlorosis. Kerusakan tanaman
ini akan diperparah dengan kenaikan kelembaban udara. SO2 diudara akan berubah
menjadi asam sulfat. Oleh karena itu, didaerah dengan adanya pencemaran oleh SO2 yang
cukup tinggi, tanaman akan rusak oleh aerosol asam sulfat (Soemarmoto, 1992).
Asam sulfat juga menimbulkan kerusakan pada tekstil. Selain itu pemaparan SO2
dalam konsentrasi tinggi akan mempercepat laju korosi logam-logam besi, seng, tembaga,
nikel, khususnya bila kelembaban lebih dari 70%. Kerusakan oleh pencemaran SO2 juga
dialami oleh bangunan yang bahan-bahannya seperti batu kapur, batu pualam, dolomit
akan dirusak oleh SO2 dari udara. Efek dari kerusakan ini akan tampak pada
penampilannya, integritas struktur, dan umur dari gedung tersebut. Ancaman serius juga
dapat terjadi pada bagunan tua serta monument termasuk candi dan patung. Laju korosi
meningkat menjadi 1 sampai 1,5 kali dalam udara yang tercemar dibandingkan dalam
udara tidak tercemar (Alfiah, 2009).
III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat-alat
Tabel 3.1 Alat-Alat
No Alat Ukuran Jumlah Gambar
1. Pompa Vakum - 1
Botol Impinger
(Granular dan
2. - 2
Larutan
Penjerap)
Corong dan
3. - 1
Selang
4. Flowmeter - 1
No Alat Ukuran Jumlah Gambar
5. Bulb - 1
6. Labu Ukur 25 ml 1
7. Barometer - 1
8. Anemometer - 1
No Alat Ukuran Jumlah Gambar
9. Hygrometer - 1
10. Stopwatch - 1
11. Spektrofotometer - 1
3.2 Bahan-bahan
Tabel 3.2 Bahan-Bahan
No Bahan Konsentrasi Jumlah Gambar
50 ml
1. Tetrakloromertkurat - dan 10
ml
2. Asam Sulfamat 0.6% 1 ml
3. Formaldehid 0.2% 2 ml
4. Pararosanilin - 5 ml
No Bahan Konsentrasi Jumlah Gambar
5. Air suling - -
IV. CARA KERJA
Berikut adalah skema diagram sampling uji SO2.
Masukkan larutan penjerap Hidupkan pompa
Susun peralatan penghisap udara,
pengambilan (TCM) sebanyak 10 mL ke
dalam botol Midget Impinger. lalu atur laju
contoh uji. alirnya sebesar 1
Lalu bungkus botol penjerap
L/menit. Setelah
dengan alumunium foil agar stabil, catat laju
terhindar dari sinar matahari alir awal (F1)
Diamkan contoh Setelah satu jam, Lakukan pengambilan
uji selama 20 catat laju alir contoh uji selama satu
menit. Proses ini akhir (F2) jam, catat temperatur
kemudian dan tekanan udaranya
dilakukan untuk
matikan pompa
menghilangkan
penghisap
gas-gas udaranya.
pengganggu yang
ikut terserap pada
pengambilan
sampel.
Berikut ini adalah skema diagram analisis hasil sampling SO2.
Pindahkan Tambahkan 1 ml asam Tambahkan
larutan contoh uji sulfamat, kemudian aquades sampai
sebanyak 10 ml diamkan 10 menit, tera kemudian
ke dalam labu tambahkan 2 ml formal ukur
ukur 25 ml. dehid, dan 5 ml larutan spektrofotometer
pararosanilin diamkan dengan panjang
20 menit. gelombang 548
nm.
V. HASIL PENGAMATAN
5.1 Hasil Meteorologi
Tabel 5.1 Hasil Meteorologi
No. Keterangan Nilai
1 Suhu 29 oC
2 Kecepatan Angin 0,40 m/dtk
3 Arah Angin Timur ke barat
4 Tekanan Udara 758 mmHg
5 Kelembaban 34 %RH
5.2 Data Sampling
Lokasi sampling : Sekre SKI – Gardu Listrik
Titik koordinat : 6o10’8” lintang selatan 106o47’28” bujur timur
Waktu sampling : 09.50 WIB
Flowmeter 1 : 1 liter/menit
Flowmeter 2 : 1,3 liter/menit
Gambar 5.1 Wilayah Sekitar Sekre SKI – Gardu Listrik
5.3 Hasil Pengamatan 12 Kelompok
Tabel 5.2 Hasil Pengamatan Tiap Kelompok
Kelompok Lokasi C (µg/Nm3)
1 Tugu Reformasi 369,97
2 Parkir dosen gedung D 20,58
3 Depan Presma & Kopma 53,3
(Post Satpam)
4 Parkiran Motor 32,98
5 Depan Parkiran M 44,0449
6 Antara FSRD & Gedung M
7 Plaza 53,00
8 Elektro 62,547
9 Satpam Otorita 17,89
10 Belakang Kantin L 61,28
11 BNI – Hukum 17,24
12 SKI Sekre – Gardu Listrik 44,189
Gambar 5.2 Perbandingan Larutan Pararosanilin
5.4 Data Analisis
Tabel 5.3 Kurva Kalibrasi
No Konsentrasi Abs
1 0 0
2 0,320 0,027
3 0,640 0,045
4 0,970 0,069
5 1,300 0,084
6 1,620 0,104
7 1,950 0,129
Gambar 5.3 Kurva Kalibrasi Sulfur Dioksida
a = 3,59 x 10-3
b = 0,064
r = 0,998
y = a +bx
0,042 = 3,59 x 10-3 + 0,064x
0,042 + 3,59 x 10-3 = 0,064 x
X = 0,6001
VI. RUMUS DAN PERHITUNGAN
6.1 Rumus
6.1.1 Nilai rata-rata laju alir
Keterangan:
F = Laju alir (liter/menit)
Fo1 = Pengukuran laju alir ke-1 (liter/menit)
Fo2 = Pengukuran laju alir ke-2 (liter/menit)
Fo3 = Pengukuran laju alir ke-3 (liter/menit)
n = Banyaknya dilakukan pengukuran
6.1.2 Volume contoh uji udara yang diambil
Keterangan:
V = volume contoh uji (L)
F = laju alir (L/menit)
t = durasi pengambilan contoh uji (menit)
Pa = tekanan barometer rata-rata (mmHg)
Ta = temperatur selama pengambilan contoh uji (K)
298 = temperatur kondisi normal 25oC (K)
760 = tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)
6.1.3 Konsentrasi sulfur dioksida di udara ambien
Keterangan:
C = konsentrasi SO2 di udara (µg/Nm3)
x = jumlah SO2 dari contoh uji melihat kurva kalibrasi (µg)
V = volume udara pada kondisi normal (L)
Keterangan:
C24 = konversi konsentrasi massa partikel tersuspensi dalam waktu 24
jam (µg/Nm3)
t1 = waktu yang digunakan (jam)
t2 = 24 jam
n = 0,185
C1 = konsentrasi massa partikel tersuspensi (µg/Nm3)
6.1.4 Konversi µg/Nm3 ke ppm
6.2 Perhitungan
6.2.1 Volume contoh uji udara yang diambil
Diketahui :
Flowmeter 1 = 1 L/menit
Flowmeter 2 = 1,3 L/menit
t = 60 menit
Pa = 758 mmHg
Ta = 302 K
Ditanya : V...?
Jawab :
V = 67,90 L
6.2.2 Konsentrasi sulfur dioksida di udara ambien
Diketahui :
x = 0,255 µg
v = 60,415 L
t1 =1
t2 = 24
Ditanya : C 1 jam dan C 24 jam?
Jawab :
C1 = 44,18 µg/Nm3
C24 =
C24 = 44,18x
C24 = 24,54µg/Nm3
6.2.3 Konversi µg/Nm3 ke ppm
Diketahui :
C 1 jam = 44,189 µg/Nm3
C 24 jam = 24,45 µg/Nm3
Ditanya : konversi ke ppm...?
Jawab :
Konversi C 1 jam =
= 0,0168 ppm
Konversi C 24 jam =
= 0,0094 ppm
VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan pengamatan dan perhitungan
kadar SO2 (sulfur dioksida) di udara ambien. Pengambilan sampel untuk
kelompok 12 dilakukan di sekitar wilayah Sekre SKI , di dekat gardu listrik,
Kampus A, Universitas Trisakti yang berada di titik koordinat 6o10’8” lintang
selatan dan 106o47’28” bujur timur, pada pukul 09.50 WIB. Keadaan saat
pengambilan sampel sedikit mendung dikarenakan pengambilan sampling
dilakukan setelah hujan dan sedikit berangin. Percobaan dilakukan dengan metode
Pararosanilin yang menggunakan spektrofotometer. Hasil meteorologi yang
didapat saat pengambilan sampel adalah suhu dengan thermometer, kecepatan
angin dengan anemometer, hygrometer untuk pengukuran kelembaban udara
sekitar pengambilan sampel, dan flowmeter untuk pengukuran laju aliran. Dengan
menggunakan alat-alat ini didapat suhu 29oC, tekanan 758 mmHg, kelembapan
34% RH, kecepatan angin 0,40 m/s, dan laju aliran pertama ketika pengambilan
sampel dimulai sebesar 1 L/m dan laju aliran kedua setelah pengambilan sampel
selesai sebesar 1,3 L/m , maka dapat diketahui bahwa rata-rata laju aliran sebesar
1,15 L/m.
Pada prinsipnya, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan
rangkaian alat untuk mengambil contoh uji dengan durasi pengambilan sampel
selama 1 jam. Pada pengambilan gas SO2, kita menggunakan larutan
Tetrakloromerkurat (TCM) dan juga bahan granular yang ditempatkan di dalam
botol impinger. Hal ini dimaksudkan agar gas SO2 dapat terjerap di larutan
penjerap, tanpa diserap terlebih dahulu oleh granular, dan sisi luar dari botol
tersebut dibungkus oleh alumunium foil, hal ini bertujuan agar larutan TCM yang
sudah menyerap gas SO2 tidak terpapar sinar matahari yang dapat menyebabkan
terjadinya oksidasi pada larutan tersebut. Corong yang digunakan sebagai media
untuk masuknya gas SO2 pun tidak boleh diletakkan terlalu tinggi maupun terlalu
rendah, hal ini untuk mecegah penyerapan gas SO2 yang bukan berada di udara
ambien, dengan demikian, dalam praktikum kali ini kelompok 12 meletakkan
corong setinggi telinga praktikan atau sejajar dengan hidung praktikan. Karena,
gas SO2 di udara ambien yang dimaksud adalah gas SO2 di udara yang kita hirup,
maka praktikan akan menghitung kadar SO2 yang dapat terhisap oleh alat yang
sejajar dengan hidung secara langsung. Sedangkan tabung di pompa vacum yang
digunakan untuk mengambil sampel ditaruh kapas agar tidak terjadi kelembaban
yang berlebih pada pompa.
Pada praktikum ini didapatkan volume larutan TCM setelah menyerap gas SO2
sebesar 67,90 L , dan nilai konsentrasi SO2 yang dihitung secara manual sebesar
0,600 µg/Nm3 dan nilai konsentrasi yang dihitung menggunakan komputer adalah
sebesar 0,601 µg/Nm3. Perbedaan nilai konsentrasi dapat dipengaruhi oleh waktu
pengambilan sampel dan kelembapan udara. Pada pagi hari, nilai kelembapan
udara masih tinggi, sehingga sebagian SO2 akan bereaksi dengan uap air menjadi
HSO3. Jika pengukuran dilakukan pada siang hari, kemungkinan nilai konsentrasi
SO2 dapat lebih tinggi, karena pada siang hari kelembapan udara lebih rendah dan
terjadi reaksi fotolistrik yaitu pencerahan gas SO2 oleh radiasi ultraviolet
membentuk SO dan oksigen. Selain kelembapan, aktivitas kendaraan bermotor
juga meningkat dibandingkan pada pagi hari, sehingga volume dan konsentrasi
SO2 yang diambil akan semakin besar.
Hasil analisis untuk konsentrasi gas SO2 dengan pengukuran selama 1 jam
pada kelompok 12 diperoleh nilai sebesar 44,19 µg/Nm3, dan hasil pengukuran
selama 24 jam diperoleh sebesar 24,54 µg/Nm3. Jika dikonversikan ke ppm,
didapatkan hasil pengukuran selama 1 jam sebesar 0,0168 ppm dan hasil
pengukuran selama 24 jam sebesar 0,0094 ppm. Dari kedua hasil yang diperoleh,
jika dibandingkan dengan baku mutu Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta
No. 551 Tahun 2001 tentang “Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku
Mutu Tingkat Kebisingan Di Provinsi DKI Jakarta” dengan parameter Sulfur
dioksida (SO2) yang telah ditentukan pada waktu pengukuran 1 jam nilai
konsentrasi maksimal sebesar 900 µg/Nm3 dan pada waktu pengukuran 24 jam
nilai konsentrasi baku mutu sebesar 260 µg/Nm3.
Jika dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang
“Baku Mutu Udara Ambien Nasional” dengan parameter Sulfur dioksida (SO2)
yang telah ditentukan pada waktu pengukuran 1 jam nilai konsentrasi maksimal
sebesar 900 µg/Nm3 dan pada waktu pengukuran 24 jam nilai konsentrasi baku
mutu sebesar 365 µg/Nm3. Jadi nilai konsentrasi gas SO2 di sekitar lokasi
sampling kelompok kami masih berada di bawah nilai ambang batas baku mutu
ambien. Jika dibandingkan dengan kelompok lain, kadar SO2 yang ada di wilayah
pengambilan sampel kelompok 12 yaitu di sekitar Sekre SKI – Gardu Listrik
cukup tinggi, hal ini dapat dikarenakan banyak kendaraan bermotor melewati alat
pengambilan sampel, dan frekensi kendaraan bermotor yang leat pun cukup
sering. Pada percobaan kali ini, dapat dilihat dari hasil perbandingan kadar SO2
semua kelompok, bahwa di 12 lokasi sampling Kampus A Trisakti, masih berada
di bawah baku mutu udara ambien. Hal ini menujukan bahwa bahan uji yang
digunakan cukup bersih dari kontaminasi SO2 sehingga udara di sekitar Kampus A
Trisakti aman bagi kesehatan, dengan asumsi tidak terdapat bahan pencemar
berbahaya lainnya dengan konsentrasi yang melebihi baku mutu.
Dampak dari pencemaran gas SO2 dapat berasal dari asap kendaraan bermotor
atau pembakaran sampah selama berjam-jam bercampur di udara, membentuk
partikel yang sangat halus dan dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Selain
berpengaruh terhadap manusia, SO2 juga berpengaruh terhadap tanaman dan
hewan. Pengaruh SO2 terhadap hewan, hampir menyerupai pengaruhnya terhadap
manusia. Pada tumbuhan, SO2 mempengaruhi warna hijau dari daun menjadi
kuning atau bercak-bercak pada daun tanaman. Lalu akibat dari gas SO2 akan
mengakibatkan hujan asam.
VIII. KESIMPULAN
Dari percobaan praktikum kadar sulfur dioksida (SO2) yang telah dilakukan
dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain:
1. Diperoleh kadar sulfur dioksida (SO2) di udara ambien selama 1 jam sebesar
44,189 µg/Nm3. Dan diperoleh kadar sulfur dioksida (SO2) di udara ambien
selama 24 jam sebesar 24,54 µg/Nm3.
2. Jika dibandingkan dengan baku mutu Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta
yang telah ditentukan pada waktu pengukuran 1 jam nilai konsentrasi maksimal
sebesar 900 µg/Nm3 dan waktu pengukuran 24 jam nilai konsentrasi baku mutu
sebesar 260 µg/Nm3, maka nilai konsentrasi kadar sulfur dioksida (SO2) yang
dihasilkan pada lokasi sampling Kelompok 12 yang bertempat di Sekre SKI –
Gardu Listrik tidak melebihi nilai ambang batas baku mutu udara ambien.
3. Dari hasil pengukuran SO2 yang didapat dari 12 titik sampling di Kampus A,
Universitas Trisakti nilai konsentrasi kadar SO2 belum melebihi ambang batas
baku mutu udara ambien sehingga tidak ada indikasi pencemaran SO2 di
lingkungan Universitas Trisakti.
DAFTAR PUSTAKA
Kristanto P. 2002. Ekologi Industri. Yogyakarta: Andi Offset.
Pohan, Nurhasmawaty. 2002. Pencemaran Udara dan Hujan Asam. [terhubung berkala]
[Link]
(diakses 03 Oktober 2017)
Sopiah, Nida. 2005. Transformasi Kimia Senyawa Belerang, Dampak, dan
Penanganannya. Balai Teknologi Lingkungan – BPPT, Serpong.
Sukarsono, 2004, Kajian Pengurangan SO2 dan NOx dari Gas Buang Hasil Pembakaran
dengan Akselerator, GANENDRA, Vol.7, No.1.
LAMPIRAN
Lokasi sampling