SATUAN ACARA PENYULUHAN
TUBERKULOSIS (TBC)
Pokok Bahasan : Tuberkulosis(TBC)
Sub Pokok Bahasan : Menjaga kesehatan keluarga yang terserang TBC
Hari/Tanggal : …..
Waktu / Jam : 30 Menit / WIB
Tempat : Desa ….
Peserta : Warga ……
Penyuluh : Erlita Fazriyanti
A. LATAR BELAKANG
Tuberculosis (TBC) adalah penyakit lama, namun sampai saat ini masih belum bisa
dimusnahkan. Jika dilihat secara global, TBC membunuh 2 juta penduduk dunia setiap
tahunnya, dimana angka ini melebihi penyakit infeksi lainnya. Bahkan Indonesia adalah
Negara terbesar ketiga dengan jumlah pasien TBC terbanyak didunia setelah cina dan
india. Sulit memusnahkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Myobacterium
tuberculosis ini disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah munculnya bakteri
yang resisten terhadap obat yang digunakan. Karena itu, upaya penemuan obat bar uterus
dilakukan.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan warga kelurahan mampu mengetahui
cara – cara pencegahan dan penanganan TBC dan dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari – hari.
2. Tujuan khusus
Setelah dilakukan pelatihan tentang TBC diharapkan mampu:
a. Menjelaskan kembali pengertian TBC
b. Menyebutkan penyebab TBC
c. Menyebutkan tanda dan gejala TBC
d. Menjelaskan cara penanganan TBC
e. Menjelaskan cara pencegahan TBC
SAP TBC Hal - 1
C. MATERI
1. Pengertian TBC
2. Penyebab TBC
3. Nutrisi bagi penderita TBC
4. Pencegahan TB
D. PELAKSANAAN
a. Hari/tanggal : …..
b. Waktu : 30 menit
c. Tempat : …..
d. Pemberi Penyuluhan : Erlita Fazriyanti
e. Metode : Ceramah, demonstrasi
f. Media : Standart Operasional Prosedur (SOP), leaflet
g. Materi : (terlampir)
h. Rencana Kegiatan :
No Kegiatan Waktu Respon Warga Desa
1 Pembukaan
a. Memberikan salam a. Menjawab salam
b. Memperkenalkan diri b. Mendengarkan
c. Menjelaskan tujuan 5 Menit c. Mendengarkan
d. Memberikan kesempatan untuk d. Bertanya
bertanya
2 Kegiatan Inti
a. Melakukan apersepsi a. Menjawab
b. Menjelaskan pengertian tentangTBC b. Mendengarkan
c. Menjelaskan penyebab TBC c. Bertanya
d. Menyebutkan tanda dan gejala TBC
15 Menit
e. Menjelaskan cara penanganan TBC
f. Menjelaskan pencegahan TBC
g. Memberikan kesempatan penghuni
untuk bertanya
3 Penutup
a. Melakukan evaluasi a. Menjawab
b. Memberikan reinforcement b. Mendengarkan
c. Menyimpulkan kegiatan c. Menyimpulkan bersama
d. Salam penutup d. Menjawab salam
i. Evaluasi :
Jelaskan pengertian TBC?
Sebutkan tanda dan gejala TBC?
Sebutkan cara pencegahan TBC?
SAP TBC Hal - 2
MATERI PENYULUHAN TBC
A. Pengertian TBC
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat
sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering
menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia.
TBC atau dikenal juga dengan Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh
basil tahan asam disingkat BTA, nama lengkapnya Mycobacterium tuberculosis. Penyakit
ini pada umumnya menyerang paru-paru, namun terkadang juga dapat menyerang organ
lain seperti ginjal, tulang, limpa, dan otak.
Tuberculosis berasal dari bahasa Latin “Tuberkel” yang artinya tonjolan kecil dan
keras yang terbentuk sewaktu sistem kekebalan tubuh membangun dinding pengaman
untuk membungkus bakteri Mycobacterium tuberculosis di dalam paru-paru.
B. Penularan TBC
Tuberculosis ditularkan melalui droplet (percikan dahak) atau titik-titik air dari
bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kuman tuberkulosis, Bakteri TBC terhisap
melalui saluran pernapasan masuk ke dalam paru, kemudian bakteri masuk lagi ke saluran
limfe paru dan dari ini bakteri TBC menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.
Melalui aliran darah inilah bakteri TBC menyebar ke berbagai organ tubuh. Anak-anak
sering mendapatkan penularan dari orang dewasa di sekitar rumah maupun saat berada di
fasilitas umum seperti kendaraan umum, rumah sakit dan dari lingkungan sekitar rumah.
C. Penyebab TBC
Seperti yang telah dijelaskan di atas, Tuberculosis disebabkan oleh Basil Tahan
Asam, Mycobacterium tuberculosis. Di dalam jaringan tubuh, bakteri Mycobacterium
tuberculosis berada dalam keadaan dormant, yaitu tidak aktif atau tertidur dalam waktu
beberapa tahun. Mycobacterium tuberculosis akan mati dengan cepat jika terkena sinar
matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup selama beberapa jam bila berada di tempat
yang gelap dan lembab.
SAP TBC Hal - 3
D. Tanda dan gejala TBC
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang
timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas
terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
1. Gejala sistemik/umum
a. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan
malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti
influenza dan bersifat hilang timbul.
b. Penurunan nafsu makan dan berat badan.
c. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah). Darah
yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau
bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat
banyak. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat
ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang
pecah.
d. Sesak Napas: Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas
atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax,
anemia dan lain-lain.
e. Nyeri Dada: Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan.
Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena.
f. Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
2. Gejala khusus
a. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi",
suara nafas melemah yang disertai sesak.
b. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
dengan keluhan sakit dada.
c. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya,
pada muara ini akan keluar cairan nanah.
d. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut
sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi,
adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
SAP TBC Hal - 4
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi
kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50%
anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji
tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan
penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi
berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
E. Pengobatan TBC
Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah
kematian, mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata
rantai penularan.
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan
fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat
tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah
Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedang jenis obat tambahan
adalah Kanamisin, Kuinolon, Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat, derivat
Rifampisin/INH.
Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu
berdasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil pemeriksaan
bakteriologik, hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Di samping itu perlu
pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed
Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari
lima komponen yaitu:
1. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam
penanggulangan TB.
2. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang
pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat
dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut.
3. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung
oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana
penderita harus minum obat setiap hari.
4. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup.
5. Pencatatan dan pelaporan yang baku.
SAP TBC Hal - 5
F. Pencegahan TBC
Berkaitan dengan perjalanan alamiah dan peranan Agent, Host dan Lingkungan dari
TBC, maka tahapan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
1. Pencegahan Primer
Dengan promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling efektif,
walaupun hanya mengandung tujuan pengukuran umum dan mempertahankan
standar kesehatan sebelumnya yang sudah tinggi.
Proteksi spesifik dengan tujuan pencegahan TBC yang meliputi ; (1) Imunisasi
Aktif, melalui vaksinasi BCG secara nasional dan internasional pada daerah
dengan angka kejadian tinggi dan orang tua penderita atau beresiko tinggi dengan
nilai proteksi yang tidak absolut dan tergantung Host tambahan dan lingkungan,
(2) Chemoprophylaxis, obat anti TBC yang dinilai terbukti ketika kontak
dijalankan dan tetap harus dikombinasikan dengan pasteurisasi produk ternak, (3)
Pengontrolan Faktor Prediposisi, yang mengacu pada pencegahan dan pengobatan
diabetes, silicosis, malnutrisi, sakit kronis dan mental.
2. Pencegahan Sekunder
Dengan diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan kasus
TBC yang timbul dengan 3 komponen utama ; Agent, Host dan Lingkungan.
Kontrol pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan aplikasi modern
kemoterapi spesifik, walau terasa berat baik dari finansial, materi maupun tenaga.
Metode tidak langsung dapat dilakukan dengan indikator anak yang terinfeksi
TBC sebagai pusat, sehingga pengobatan dini dapat diberikan. Selain itu,
pengetahuan tentang resistensi obat dan gejala infeksi juga penting untuk seleksi
dari petunjuk yang paling efektif.
Langkah kontrol kejadian kontak adalah untuk memutuskan rantai infeksi TBC,
dengan imunisasi TBC negatif dan Chemoprophylaxis pada TBC positif. Kontrol
lingkungan dengan membatasi penyebaran penyakit, disinfeksi dan cermat
mengungkapkan investigasi epidemiologi, sehingga ditemukan bahwa
kontaminasi lingkungan memegang peranan terhadap epidemi TBC. Melalui
usaha pembatasan ketidakmampuan untuk membatasi kasus baru harus
dilanjutkan, dengan istirahat dan menghindari tekanan psikis.
3. Pencegahan Tersier
Rehabilitasi merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan
diagnosis kasus berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara
SAP TBC Hal - 6
psikis, rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien,
kemudian rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya,
pelayanan kesehatan kembali dan penggunaan media pendidikan untuk
mengurangi cacat sosial dari TBC, serta penegasan perlunya rehabilitasi.
Pencegahan TBC bisa juga berupa :
a. Makan makanan yang baik dengan gizi yang seimbang.
b. Olahraga teratur.
c. Istirahat yang cukup.
d. Mengkonsumsi multivitamin yang membantu menjaga daya tahan tubuh.
e. Biasakan mencuci tangan.
f. Berhenti merokok, hindari minum minuman beralkohol, dan obat bius atau
penenang.
g. Mengatur sistem sirkulasi udara di rumah.
h. Membiarkan jendela terbuka agar sinar matahari dapat masuk.
i. Menggunakan masker saat kontak atau berada di dalam suatu ruangan dengan
penderita TBC.
j. Pemberian vaksin BCG ( Bacille Calmette-Guerin )
G. Nutrisi Bagi Penderita TBC
1. Makanlah berbagai macam buah segar dan sayuran setiap hari, tetapi tetap dalam
jumlah kalori yang direkomendasikan dokter.
Pilih sayuran yang berbeda dari berbagai jenis seperti sayuran hijau tua, sayuran
berwarna oranye, kacang, dll.
2. Susu atau produk susu harus dikonsumsi setidaknya 3 kali sehari.
Kalsium dalam susu sangat penting dalam membangun kesehatan tulang pasien
TBC.
3. Untuk produk daging, pilihlah daging tanpa lemak atau rendah lemak.
10 persen asupan kalori harian harus berasal dari lemak jenuh dan sekitar 200 mg
kolesterol.
4. Jagalah asupan total lemak dan minyak antara 25 – 30 persen kalori harian.
Sebagian besar lemak harus berasal dari lemak tak jenuh ganda dan tak jenuh
tunggal yang ditemukan dalam makanan seperti ikan, kacang-kacangan dan minyak
sayur.
SAP TBC Hal - 7
5. Makanlah berbagai macam makanan yang kaya protein seperti kacang-kacangan
dan biji-bijian. Makanlah makanan kecil sepanjang hari dengan rentang waktu yang
singkat. Pastikan agar tubuh mendapat cukup asupan cairan dan garam dalam
makanan.
6. Makanan untuk pasien TB harus sederhana, dipersiapkan dengan baik dan mudah
dicerna. Makanan yang lebih berat baru dapat diberikan kepada pasien setelah
kondisinya sangat membaik.
Selain makanan yang dianjurkan untuk para penderita penyakit TBC, ada juga
beberapa makanan yang harus dihindari bahkan merupakan pantangan bagi para
penderita penyakit tuberkulosis (TBC).N
Daftar Pustaka
Laban, Yoannes Y. 2007. TBC: Penyakit & Cara Pencegahan. Yogyakarta: Kanisius
Misnadiarly. 2007. Mengenal, Mencegah, Menanggulangi TBC. Semarang: Yayasan
Obor Indonesia
Soedarto. 2009. Penyakit Menular di Indonesia. Jakarta: Sagung Seto
Widiyanto, Sentot. 2009. Mengenal 10 Penyakit Mematikan. Yogyakarta: PT Pustaka
Insan Madani
SAP TBC Hal - 8