KEDOKTERAN GIGI FORENSIK
A. Definisi Disaster Victim Identification (DVI)
Disaster Victim Identification (DVI) adalah suatu istilah atau definisi yang
diberikan sebagai sebuah prosedur untuk mengidentifikasi korban meninggal
akibat bencana massal yang dapat dipertanggungjawabkan secara sah oleh hukum
dan ilmiah serta mengacu pada standar baku Interpol DVI Guideline. Kementerian
Kesehatan bersama Kepolisian RI sejak tahun 1999 melakukan kegiatan
Pembentukan Tim DVI di Indonesia (Tim DVI Nasional, Tim DVI Regional dan
Tim DVI Provinsi). Tim DVI terdiri dari dokter spesialis forensik, dokter gigi,
ahli anthropology (ilmu yang mempelajari tulang), kepolisian, fotografi, dan ahli
DNA. Tim DVI Nasional berkedudukan di ibu kota Negara dan mempunyai tugas
membina dan mengkoordinasikan semua usaha serta kegiatan identifikasi, sesuai
aturan dan prosedur yang berlaku secara nasional maupun Internasional pada
korban-korban mati massal akibat bencana (Disaster Victim Identification)
(INTERPOL, 2009).
Disaster victim investigation (DVI) adalah suatu prosedur standar yang
dikembangkan oleh Interpol (International Criminal Police Organization) untuk
mengidentifikasi korban yang meninggal akibat bencana massal. DVI diperlukan
untuk menegakkan Hak Asasi Manusia, sebagai bagian dari proses penyidikan,
jika identifikasi visual diragukan, sebagai penunjang kepentingan hukum
(asuransi, warisan, status perkawinan) dan dapat dipertanggungjawabkan. Di
Indonesia prosedur DVI mengacu pada standar DVI Interpol, menggunakan
formulir DVI, terdapat penyesuaian dengan situasi tempat kejadian perkara, dan
mempunyai SOP dan MOU. Prosedur DVI diterapkan jika terjadi bencana yang
menyebabkan korban massal, seperti kecelakaan bus dan pesawat, gedung yang
runtuh atau terbakar, kecelakaan kapal laut dan aksi terorisme. Dapat diterapkan
terhadap bencana dan insiden lainnya dalam pencarian korban. Prinsip dari proses
identifikasi ini adalah dengan membandingkan data ante-mortem dan post-
mortem, semakin banyak yang cocok maka akan semakin baik (INTERPOL,
2009).
Penerapan prosedur DVI Interpol di Indonesia diawali dengan
dilakukannya identifikasi korban bencana massal pada bulan Oktober tahun 2002
1
akibat Bom Bali yang mengakibatkan hilangnya nyawa hingga sebanyak 202
orang. Pada proses identifikasi selama ± 3 bulan tersebut yang teridentifikasi
secara positif melalui metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan sebesar
hampir 99%. Penanggung jawab DVI adalah Kepolisian yang dalam pelaksanaan
operasinya dapat bekerjasama dengan berbagai pihak lintas institusi, sektoral dan
fungsi. Ketua tim dan koordinator fase berasal pihak kepolisian (INTERPOL,
2009).
Pada kasus yang lebih mementingkan aspek penyidikan, kecepatan dan hot
issues seperti pada man made disaster, ketua tim DVI lebih mengedepankan
timnya sesuai dengan keahlian dan pengalaman, sedangkan pada kasus yang lebih
mengedepankan aspek kemanusiaan pada natural disaster maka ketua DVI dapat
melibatkan beberapa tim dari berbagai institusi. Prinsip dalam bekerja bagi tim
DVI adalah team work sesuai dengan keahlian/kompetensi dan pengalaman
Proses DVI meliputi 5 fase yang pada setiap fase memiliki keterkaitan antara satu
dengan yang lain. Proses DVI menggunakan bermacam-macam metode dan
teknik. Interpol telah menentukan adanya Primary Identifier yang terdiri dari
fingerprint (FP), dental records (DR) dan DNA serta Secondary Identifiers yang
terdiri dari medical (M), property (P) dan photography (PG), dengan prinsip
identifikasi adalah membandingkan data antemortem dan postmortem.
(Prawestiningtyas dan Algozi, 2009).
B. Definisi Kedokteran Gigi Forensik
Kata ”Forensik” berasal dari ”Forum” yang berarti pasar yaitu tempat
untuk melakukan transaksi. Dari istilah ini kemudian berkembang pengertian dari
ilmu kedokteran forensik. Forensik adalah berkaitan dengan suatu tempat jual-beli
atau tempat pertemuan umum berkenaan dengan atau dilakukan dalam peristiwa
hukum (Dorland, 2010). Menurut [Link] Amir,Sp.F (2007) ilmu
kedokteran forensik merupakan sebagai penggunaan pengetahuan dan
keterampilan di bidang kedokteran untuk kepentingan hukum dan peradilan. Salah
satu cabang dari ilmu forensik adalah ilmu kedokteran gigi forensik, atau dapat
juga disebut dengan forensic dentistry atau odontology forensic yang merupakan
suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari cara penanganan dan
2
pemeriksaan benda bukti gigi serta cara evaluasi dan presentasi temuan gigi
tersebut untuk kepentingan peradilan.
Pengertian ilmu kedokteran gigi forensik menurut beberapa para ahli,
antara lain: (1) Arthur D. Golman mengatakan bahwa ilmu kedokteran gigi
forensik adalah suatu ilmu yang berkaitan dengan hukum alam penyelidikan
melalui gigi geligi; (2) [Link] Bj. Dorion berpendapat bahwa ilmu kedokteran
gigi forensik adalah suatu aplikasi semua ilmu pengantar tentang gigi yang terkait
dalam memecahkan hukum pidana dan perdata; (3) Sedangkan Djohansyah
Lukman mengatakan bahwa ilmu kedokteran gigi forensik adalah suatu terapan
dari semua disiplin ilmu kedokteran gigi yang berkaitan erat dalam penyelidikan
demi terapan hukum dan proses peradilan. Menurut Pederson, odontologi forensik
adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari cara penanganan dan
pemeriksaan benda bukti gigi serta cara evaluasi dan presentasi temuan gigi
tersebut untuk kepentingan peradilan (Lukman, 2006).
Odontologi Forensik, bidang ilmu ini berkembang berdasarkan pada
kenyataannya bahwa gigi, perbaikan gigi (dental restoration), dental protese
(penggantian gigi yang rusak), sinus maxillaris, rahang, struktur tulang palatal,
pola dari tulang trabekula, pola penumpukan krak gigi, tengkuk, keriput pada
bibir, bentuk anatomi dari keseluruhan mulut dan penampilan morfologi muka
adalah stabil atau konstan pada setiap individu. Berdasarkan kharkteristik dari hal
tersebut diatas dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelusuran identitas
seseorang (mayat tak dikenal). Sehingga bukit peta gigi dari korban, tanda / bekas
gigitan, atau sidik bibir dapat dijadikan sebagai bukti dalam penyidikan tindak
kejahatan (Lukman, 2006).
C. Peran Dokter Gigi Dalam Forensik dan Ruang Lingkup Odontologi Forensik
1. Peranan Dokter Gigi Forensik
Menurut Prawestiningtyas dan Algozi (2009) peran dokter gigi forensik,
antara lain:
a. Mengidentifikasi korban meninggal massal melalui gigi-geligi yang
mempunyai kontribusi yang tinggi dalam menentukan identitas
seseorang. Contoh: Pada kasus Bom Bali I, korban yang teridentifikasi
3
berdasarkan gigi geligi mencapai 56%, pada kecelakaan lalu lintas bis
terbakar di Situbondo mencapai 60%.
b. Dokter gigi berperan penting dalam melakukan identifikasi korban
bencana karena korban yang hangus terbakar dan mengalami
pembusukan tingkat lanjut sulit untuk dikenali dan sudah tidak dapat
dilakukan identifikasi melalui pemeriksaan visual. Contoh: Terbakarnya
Pesawat Garuda GA 200 PK-GZC Boeing 737-400 jurusan Jakarta-
Yogyakarta, saat melakukan pendaratan. Pesawat yang membawa 133
penumpang dan 7 awak pesawat ini terbakar dan menewaskan 21
penumpangnya (20 penumpang, 1 kru pesawat). Dua puluh dari 21
jenazah yang ditemukan (95%) mengalami kondisi menjadi separuh
arang dan hanya 1 jenazah yang relatif tidak menjadi arang. Mayoritas
jenazah, sebanyak empatbelas jenazah (66.7%) yang menjadi separuh
arang dapat diidentifikasi murni dari pemeriksaan primer (primary
identifiiers) berdasarkan data gigi (dental records).
Seorang dokter gigi forensik harus memiliki beberapa kualifikasi, sebagai
berikut:
a. Kualifikasi sebagai dokter gigi umum. Seorang dokter gigi forensik harus
memiliki latar belakang kedokteran gigi umum yang luas karena ini
merupakan kualifikasi yang terpentingan. Latar belakang kedokteran gigi
umum meliputi semua spesialisasi kedokteran gigi. Sebagai seorang
dokter gigi umum, ia juga perlu bantuan dokter gigi spesialis dalam
membantu menangani atau memecahkan sebuah kasus.
b. Pengetahuan tentang bidang forensik terkait. Seorang dokter gigi
forensik juga harus mengerti mengenai kualifikasi dan bidang keahlian
forensik lainnya yang berkaitan dengan tugasnya, seperti penguasaan
akan konsep peran dokter spesialis forensik, cara otopsi, dan lain-lain.
c. Pengetahuan tentang hukum. pengetahuan mengenai aspek legal dari
odontologi forensic juga harus dimiliki seorang dokter gigi forensik,
karena dokter gigi forensik akan banyak berhubungan dengan para
petugas penegak hukum, dokter forensik dan juga pengadilan. Dalam
menangani kasus-kasus kriminal ia juga harus paham mengenai tata cara
4
penanganan benda bukti yang merupakan hal yang amat menentukan
untuk dapat diterima atau tidaknya suatu bukti di pengadilan.
2. Ruang Lingkup Odontologi Forensik
Ruang lingkup odontologi forensik sangat luas meliputi semua bidang
keahlian kedokteran gigi. Secara garis besar odontologi forensik membahas
beberapa topik sebagai berikut:
a. Identifikasi Forensik Odontologi
Identifikasi dengan sarana gigi dilakukan dengan cara
membandingkan data gigi yang diperoleh dari pemeriksaan orang atau
jenazah tak dikenal (data postmortem) dengan data gigi yang pernah
dibuat sebelumnya dari orang yang diperkirakan (data antemortem). Data
antemortem merupakan syarat utama yang harus ada apabila identifikasi
dengan cara membandingkan akan diterapkan. (Julianti dkk, 2008). Data
antemortem tersebut berupa :
1) Dental record, yaitu keterangan tertulis berupa odontogram atau
catatan keadaan gigi pada waktu pemeriksaan,pengobatan dan
perawatan gigi.
2) Foto rontgen gigi
3) Cetakan gigi
4) Prothesis gigi atau alat orthodonsi
5) Foto close up muka atau profil daerah mulut dan gigi
6) Keterangan dari orang-orang terdekat di bawah sumpah
Sedangkan menurut Julianti, dkk (2008) untuk data gigi
postmortem yang perlu dicatat pada pemeriksaan antara lain:
1) Gigi yang ada dan tidak ada, bekas gigi yang tidak ada apakah masih
baru atau sudah lama.
2) Gigi yang ditambal, jenis dan klasifikasi bahan tambal
3) Anomali bentuk dan posisi
4) Karies atau kerusakan yang ada
5) Jenis dan bahan restorasi
6) Atrisi dataran kunyah gigi yang merupakan proses fisiologis untuk
fungsi mengunyah. Derajat atrisi ini sebanding dengan umur
5
7) Gigi molar ketiga sudah tumbuh atau belum
8) Ciri-ciri populasi ras dan geografis
Ketika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu
untuk membedakan usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. Hal ini dapat
membantu untuk membatasi korban yang sedang dicari atau untuk
membenarkan/memperkuat identitas korban.
b. Penentuan Usia
Usia seseorang dapat ditentukan berdasarkan gigi. Menurut Etti
Indriati, ketika permukaan kunyah gigi geligi sudah aus dan enamelnya
(email) menipis hingga menyempulkan lapisan gigi, korban diperkirakan
usia 40 tahun. Untuk usia 15-22 dapat dilihat dari perkembangan geraham
bungsu yang pertumbuhannya bervariasi (Zaid, 2012).
Penentuan usia melalui gigi juga dapat dilakukan dengan melihat
pertumbuhan dan perkembangan gigi. Pada usia 4 bulan dalam kandungan
hingga mencapai saat sempurnanya gigi geraham kedua tetap,
perkembangan gigi mulai dapat dipantau sejak mineralisasi gigi
sementara. Penyelesaikan masalah yang dapat membantu menentukan
usia, yaitu :
1) Atrisi akibat dari penggunaan gigi yang rutin pada saat makan, maka
permukaan gigi secara berlanjut akan menyalami keausan. Ausnya
gigi ini akan bertambah, sesuai dengan pertambahan umur.
2) Penurunan tepi gusi sesuai dengan pertumbuhan dan pertambahan
umur, maka tepi gusi akan bergerak ke arah ujung akar.
3) Pembentukan dentin sekunder sebagai upaya perlindungan alami, pada
dinding pulpa gigi akan dibentuk dentin sekunder, yang bertujuan
menjaga ketebalan jaringan gigi yang melindungi pulpa. Semakin tua
seseorang maka semakin tebal jaringan dentin sekunder.
4) Pernbentukan semen sekunder dengan bertambahnya umur, terjadi
pula pembentukan semen sekunder di daerah ujung akar.
5) Transparansi dentin karena proses kristalisasi pada bahan mineral gigi,
maka jaringan dentin gigi berangsur-angsur menjadi transparan.
Proses transparan ini dimulai dari ujung akar gigi meluas ke arah
6
mahkota.
6) Penyempitan/penutupan foramen apikalis sejalan dengan pertambahan
umur, foramen apikalis akan semakin menyempit, dan tidak jarang
menutup sama sekali (Quendangen, 1993)
c. Penentuan Jenis Kelamin
Penentuan jenis kelamin secara umum, dapat dilakukan dari tanda-
tanda fisik seksual. Namun apabila jaringan lunak telah hilang, maka
penentuan pada tulang dapat dilakukan dari beberapa tulang, khususnya
tulang panggul.
Beberapa peneliti juga menyatakan bahwa terdapat adanya ciri khas
antara lain :
1) Bentuk lengkung gigi pada pria cenderung meruncing, sedangkan
pada wanita, cenderung oval.
2) Ukuran cervico-incisival di bagian mesio distal pada gigi taring
bawah, pada pria lebih besar (kurang lebih 1,5), sedangkan wanita
lebih kecil (kurang lebih 1).
3) Beberapa ahli juga merujuk pernyataan Leon Williams di bidang
prostetik, bahwa bentuk gigi seri pertama atas adalah kebalikan bentuk
wajah, sehingga bentuk gigi seri pria cenderung maskulin sedangkan
wanita cenderung feminism(Quendangen, 1993)
Anderson mencatat bahwa pada 75% kasus, mesio distal pada
wanita berdiameter kurang dari 6,7 mm, sedangkan pada pria lebih dari
7 mm. Saat ini sering dilakukan pemeriksaan DNA dari gigi untuk
membedakan jenis kelamin (Eckert, 1997).
d. Penentuan Ras
Gigi dapat digunakan untuk menunjukkan ras seseorang. Hal ini
menunjukkan perbedaan ras terletak pada ukuran gigi dan morfologi
tulang pada langit-langit mulut (Zaid, 2012).
Menurut Eckert (1997) gambaran gigi untuk ras mongoloid adalah
sebagai berikut :
7
1) Insisivus berbentuk sekop. Insisivus pada maksila menunjukkan nyata
berbentuk sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2 sampai 9 % ras
kaukasoid dan 12 % ras negroid memperlihatkan adanya bentuk
seperti sekop walaupun tidak terlalu jelas.
2) Dens evaginatus. Aksesoris berbentuk tuberkel pada permukaan
oklusal premolar bawah pada 1-4% ras mongoloid.
3) Akar distal tambahan pada molar 1 mandibula ditemukan pada 20%
mongoloid.
4) Lengkungan palatum berbentuk elips.
5) Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus
Menurut Eckert (1997) gambaran gigi untuk Ras kaukasoid adalah
sebagai berikut:
1) Cusp carabelli, yakni berupa tonjolan pada molar 1.
2) Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari
mandibula.
3) Maloklusi pada gigi anterior.
4) Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola.
5) Dagu menonjol.
Menurut Eckert (1997) gambaran gigi untuk ras negroid adalah
sebagai berikut (Julianti dkk, 2008)
1) Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga
tonjolan.
2) Sering terdapat open bite.
3) Palatum berbentuk lebar.
4) Protrusi bimaksila.
e. Golongan darah
Penentuan golongan darah dari gigi didasarkan adanya jaringan
pulpa di dalam gigi. Quendangen (1993) berpendapat bahwa penentuan
golongan dapat dilakukan dengan berbagai cara berdasarkan kondisi
jaringan pulpa, yaitu :
1) Jika pulpa masih dalam keadaan segar, maka darah dapat langsung
diambil untuk penentuan golongan darah dengan cara biasa.
8
2) Jika pulpa dalam keadaan sudah mengering, maka penentuan
golongan darah melalui prosedur pengolahan bercak darah pada
kain/darah mengering.
3) jika pulpa dalam keadaan rusak, atau bahkan sudah tidak ditemukan
lagi, maka dapat dilakukan dengan bantuan cara absorption-ilution.
Cara ini dilakukan dengan cara mengambil jaringan dentin dalam
ruang pulpa, yaitu bagian dinding yang melekat pada jaringan pulpa.
Jaringan dentin tersebut diabsorpsi semalam suntuk dengan larutan
khusus, kemudian disentrifus. Endapan yang kemudian terbentuk
diambil untuk penentuan golongan darah
f. Kebiasaan/pekerjaan
Menurut Quendangen (1993) terdapat beberapa kebiasaan atau
pekerjaan yang dapat meninggalkan tanda-tanda tertentu pada gigi,
sehingga dapat memberikan petunjuk untuk mengenali si korban, seperti:
1) Kebiasaan merokok menyebabkan pewarnaan gigi dann bibir gelap
akibat dari asap rokok yang dihisap
2) Pekerjaan batu baterai menyebabkan pewarnaan gelap pada tepi
ginggiva akibat terlalu banyak berkontak dengan timah hitam.
3) Pekerjaan penata rambut atau tukang sepatu yang mempunyai
kebiasaan menggunakan gigi untuk membuka jepitan rambut atau
mempersiapkan paku sepatu, akan menyebabkan tanda-tanda hair-
dresser teeth atau shoemaker’s teeth berupa lekuk-lekuk pada
permukaan gigi berukuran sebesar jepitan rambut dan paku sepatu.
g. Ciri khas
Menurut Quendangen (1993) terdapat beberapa hal spesifik yang
dapat menunjukan identitas seseorang, seperti sejumlah perawataan gigi di
dalam mulut, dan ditemukan rekam data gigi tersebut dapat menentukan
identitas seseorang dengan pasti.
h. Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku
Pola gigitan mempunyai suatu gambaran dari anatomi gigi yang
sangat karakteristik yang meninggalkan pola gigitan pada jaringan ikat
9
manusia baik disebabkan oleh hewan maupun manusia yang masing-
masing individu sangat berbeda (Lukman, 2006).
D. Peran Bite Mark dan Lip Mark dalam Forensik Odontologi
1. Bite Mark
Dokter gigi forensik seringkali terlibat dalam identifikasi korban yang
telah meninggal. Perbandingan ciri-ciri khusus yang terdapat pada gigi asli
maupun gigi palsu serta restorasi-restorasi gigi memungkinkan korban yang
telah membusuk, terbakar, atau termutilasi dapat diindentifikasi sebagai
individu spesifik. Proses membandingkan bite mark dengan gigi-geligi
tersangka mencakup analisis dan pengukuran ukuran, bentuk, dan posisi gigi
individual (van der Velden, dkk., 2006). Perbandingan ciri-ciri unik yang
ditemukan dengan ciri-ciri pada gigi tersangka dapat mengungkapkan
hubungan penting antara tersangka dan korban. Ketidaksempurnaan atau
irregularitas unik yang teridentifikasi baik pada perlukaan maupun gigi
tersangka merupakan indikator yang penting untuk menentukan kesesuaian bite
mark dengan gigi tersangka (Brogdon, 1998). Bite mark ialah tanda gigitan
dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk luka, jaringn kulit
maupun jaringan ikat dibawah kulit sebagai akibat dari pola permukaan gigitan
dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban Eckert (1997).
Gigi dapat bertindak sebagai alat bukti, yang meninggalkan bekas dan
dapat dikenali tergantung pada pengaturan gigi, maloklusi, kebiasaan,
pekerjaan, fraktur gigi, dan hilang atau gigi ekstra. Individualitas dari gigi
manusia sering memungkinkan Forensik Odonto-Stomatologist (FOS) untuk
mendapat bukti yang kuat dalam kasus identifikasi dan analisa Bite mark.
Menurut Lukman pada tahun 2003 bite mark mempunyai suatu gambaran dari
anatomi gigi yang sangat karakteristik yang meninggalkan bite mark pada
jaringan ikat manusia baik disebabkan oleh hewan maupun manusia yang
masing-masing individu sangat berbeda. Bite mark dapat direkam dalam
kejahatan kekerasan seperti kekerasan seksual, pembunuhan, kasus kekerasan
terhadap anak, dan selama acara olahraga. Bite mark sering dianggap sebagai
alternatif dalam penyelidikan untuk sidik jari dan identifikasi DNA dalam ilmu
10
forensik. Jadi kehadiran bukti bite mark sangat berperan dalam mengungkap
kasus kriminal, dan juga dalam menggungkap identitas pelaku kejahatan
(Mamile, 2015).
Gigitan dari hewan jarang menjadi objek dari identifikasi Bite mark. Gigi
hewan meninggalkan motif cedera yang berbeda dengan Bite mark oleh gigi
manusia. Klasifikasi Bite mark dapat secara luas diklasifikasikan sebagai non-
manusia (Bite mark hewan) dan orang-orang yang ditimbulkan oleh manusia.
Berdasarkan cara penyebab, tanda gigitan dapat menjadi non-kriminal (seperti
gigitan cinta) serta pidana yang selanjutnya dapat diklasifikasikan ke dalam
ofensif (pada korban oleh penyerang) dan defensive ( setelah penyerangan pada
korban) (Mamile, 2015).
2. Lip Mark atau Sidik Bibir
Identitas yang mendukung identifikasi dari suatu korban dapat berupa
identitas biologis dan non biologis. Identitas non biologis dapat berupa kartu
tanda penduduk, surat izin mengemudi, pakaian, dan lain-lain. Sedangkan
identitas biologis dapat diketahui melalui tulang belulang, gigi, darah, sidik
jari, rambut, profil, DNA dan identitas pada bibir. Analisis gigi dan komponen
lainnya dalam rongga mulut seperti sidik bibir (lip print), dan rugae palatine
pada manusia dapat memberikan kontribusi nyata dalam proses identifikasi
(Lukman, 2006). Sidik bibir/lip print/ lip mark merupakan kumpulan lekukan
yang terdapat pada tepian vermilion atau bagian merah bibir. Lekukan-lekukan
tersebut diantaranya dapat berupa garis vertikal, pola bercabang, pola retikuler,
dan pola perpotongan (Domiaty, dkk, 2010). Sedangkan menurut Venkatesh
and David (2011) sidik bibir adalah garis normal dan celah dalam bentuk
keriput dan alur hadir dalam zona transisi bibir manusia, antara mukosa labial
dalam dan kulit luar. Setiap sidik bibir manusia masing-masing berbeda,
bahkan sidik bibir pun bersifat tetap dan tidak akan berubah sepanjang hidup
seseorang
Setiap manusia memiliki alur atau pola khas pada gambaran alur pada
mukosa bibir atas dan bawah yang berbeda-beda sama halnya seperti sidik jari.
Hal ini mendasari penggunaan sidik bibir sebagai salah satu cara untuk
mengidentifikasi individu. Sidik bibir atau lip mark sebagai sarana identifikasi
11
dapat digunakan untuk mengidentifikasi kasus-kasus forensik maupun non
forensik. Pada kasus forensik sidik bibir digunakan untuk memecahkan kasus
pembunuhan. Dalam suatu kasus kriminal, sidik bibir dapat tertinggal, pada
gelas kaca, sedotan, dan beberapa objek lain yang terdapat pada TKP.
Sedangkan pada kasus non forensik digunakan untuk mengidentifikasi usia,
jenis kelamin, ras dan sebagainya. Garis-garis normal atau alur pada bibir
memiliki karakteristik yang individual sama halnya seperti yang terdapat pada
sidik jari. Berdasarkan hasil pengambilan sidik bibir, pengambilan sidik bibir
yang paling mudah dilakukan yaitu dengan menggunakan kertas karton tipis
dan hasil yang didapatkan cukup jelas (Septadina, 2015).
12
DAFTAR PUSTAKA
Amir, A., 2007, Ilmu Kedokteran Forensik, Medan: Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran USU.
Brogdon, B.G. 1998. Radiological Identification : Anthropological Parameters
inForensic Radiologi Boca Raton : CRC Press.
Domiaty MAE, Al-gaidiSA, Elayat AA, Safwat MDE, Galal SA,. Morphological
patterns of lip prints in Saudi Arabia at Almasinah
Almonawwaroh province. J For Sci Int 2010; 200: [Link] –
179.e9 14.
Dorland WA, Newman, 2010, Kamus Kedokteran Dorland edisi 31, Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC. p. 702, 1003.
Eckert WG., 1997, Forensic Odontology. In: Introduction to Forensic Sciences.
2nd edition. CRC Press. Boca Raton.
Husein, M., 2015, Analisis “Bite Mark” dalam Identifikasi Pelaku Kejahatan,
Skripsi, Fakultas Kedokteran Gigi , Universitas Hasanuddin,
Makassar.
International Criminal Police Organization (INTERPOL), 2009, Disaster victim
identification guide.p.4-10.
Julianti,dkk., 2008, Peranan Forensik Odontologi dalam Bencana Masal.
13
Lukman, D., 2006, Ilmu kedokteran gigi forensik 1, Jakarta; CV Sagung Seto,
Hal.1-6, 45-47.
Prawestiningtyas, E., Algozi, A.M., 2009, Identifikasi Forensik Berdasarkan
Pemeriksaan Primer dan Sekunder Sebagai Penentu Identitas
Korban pada Dua Kasus Bencana Massal Eriko, Jurnal
Kedokteran Brawijaya, Vol XXV, No. 2.
Septadina, I.S.,2015, Identifikasi Individu dan Jenis Kelamin Berdasarkan Pola
Sidik Bibir, Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, Universitas
Sriwijaya, Palembang, Vol. 2 (2), 231-236.
Quendangen, A.R, 1993, Aplikasi DNA Profilingdalam Penyelidikan POLRI.
Jakarta:Direktorat Kesehatan Ditjen Matfasjasa-DepHanKam.
Van der Velden A., Spiessens M., and Willems G., 2006, Bite Mark Analysis and
Comparison Using Image Perception Technology, The Journal of
Forensic Odonto-Stomatolog.
Venkatesh, R. and David, M.P. 2011. Cheiloscopy: an aid for personal
identification. Journal of Forensic Dental Sciences. Vol. 3. p.67-
70.
Zaid, M., 2012, Ketika Tulang dan Gigi, Jakarta: Kompas
14