0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan23 halaman

Karakteristik Produk Pariwisata Jasa

Bab ini membahas tentang pengertian pariwisata, wisata, dan wisatawan. Pariwisata adalah kegiatan wisata dan fasilitas pendukungnya. Wisata adalah perjalanan sementara untuk tujuan rekreasi atau pendidikan. Wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan lebih dari 24 jam. Objek wisata adalah tempat yang memiliki daya tarik seperti alam, budaya, atau sejarah. Ada berbagai cara untuk melestarikan

Diunggah oleh

AnDika Pramana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan23 halaman

Karakteristik Produk Pariwisata Jasa

Bab ini membahas tentang pengertian pariwisata, wisata, dan wisatawan. Pariwisata adalah kegiatan wisata dan fasilitas pendukungnya. Wisata adalah perjalanan sementara untuk tujuan rekreasi atau pendidikan. Wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan lebih dari 24 jam. Objek wisata adalah tempat yang memiliki daya tarik seperti alam, budaya, atau sejarah. Ada berbagai cara untuk melestarikan

Diunggah oleh

AnDika Pramana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

STUDI LITERATUR

2.1 Pengertia Pariwisata, Wisata dan Wisatawan


A. Pariwisata
Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pengertian
wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh sesorang atau sekelompok orang
dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau
memperlajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta
layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerinttah, dan pemerintah
daerah. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan
bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagari wujud kebutuhan setiap
orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama
wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah, dan pengusaha.

Pengertian Wisata Pantai


Pantai adalah perbatasan antara daratan dan laut, sedangkan laut adalah kumpulan
air dalam jumlah banyak yang membagi daratan atas benua-benua dan pulau-pulau. Jadi,
wisata pantai dapat diartikan sebagai wisata yang memanfaatkan potensi sumber daya
alam pantai beserta komponen pendukungnya, baik alami maupun buatan atau gabungan
keduanya itu (Simond, 1978).

Obyek wisata pantai adalah elemen fisik dari pantai yang dapat dijadikan lokasi
untuk melakukan kegiatan wisata, obyek tersebut yaitu :

a. Pantai, merupakan daerah transisi antara daratan dan lautan. Pantai merupakan
primadona obyek wisata dengan potensi pemanfaatan, mulai dari kegiatan yang
pasif sampai aktif.
b. Permukaan laut, terdapatnya ombak dan angin sehingga permukaan tersebut
memiliki potensi yang berguna dan bersifat rekreatif.
c. Daratan sekitar pantai, merupakan daerah pendukung terhadap keadaan pantai,
yang berfungsi sebagai tempat rekreasi dan olah raga darat yang membuat para
pengunjung akan lebih lama menikmatinya.
Menurut Simond (1978), pantai dapat dibagi menjadi berbagai wilayah, yaitu:

1. Beach, yaitu batas antara daratan dan lautan. Biasanya berupa pantai
berpasir dan landai.

2. Dune, yaitu daerah yang lebih tinggi dari beach. Biasanya berupa
hamparan pasir yang permukaannya bergelombang atau berubah secara
perlahan karena aliran laut.

3. Coastal, yaitu daerah yang secara periodik digenangi air yang merupakan
gabungan antara beach dan dune.

Faktor Dasar Pengertian Pariwisata


Bertolak daeri definisi tentang pariwisata. Yoeti mengemukakan empat factor yang
menjadi dasar pengertian pariwisata yang murni yaitu
1. Perjalanan itu dilakukan untuk sementara wakfu, sekurang- kurangnya 24 jam dan
kurang dari satu tahun.
2. Perjalanan itu dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain.
3. Perjalanan itu, apapun bentuknya, harus selalu dikaitkan dengan pertamasyaan
atau rekreasi.
4. Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak mencari nafkah di tempat yang
dikunjunginya dan semata-mata sebagai konsumen di tempat itu.

B. Perbedaan Pariwisata, Rekreasi dan Bersantai


Kegiatan serupa namun tak sama dengan pariwisata adalah kegiatan – kegiatan
dengan maksud melepaskan diri dari kegiatan keseharian dengan maksud bersenang –
senang atau sekedar melepaskan ketegangan atau membuang kebosanan yakni rekreasi
dan bersantai . Piknik dapat menjadi bagian dari pariwisata atau menjadi salah satu
kegiatan dalam pariwisata sedangkan rekreasi biasanya dilakukan dengan satai pada
waktu luang atau sengaja meluangkan waktu untuk itu. Rekreasi adalah kegiatan aktif
atau pasif, yang dilakukan dengan bebas atau kreatif dalam wktu senggang sebagai
selingan pekerjaan sehari – hari sesuai bakat dan kegemaran (Chafid Fandeli,1995:58,
dalam Hendra,Yudia, 2000:12)
Rekreasi dan bersantaipun biasanya dilakukan oleh wisatawan saat berwisata.
Pengertian umum pariwisata adalah melakukan perjalanan yang berkaitan dengan
pertamasyaan, untuk bersenang – senang sehingga factor rekreasi dan bersantai menjadi
bagian yang tak terlepaskan dari seluruh kegiatan berwisata.
Table 2.1
Perbandingan Pariwisata dengan Rekreasi
Perihal Pariwisata Rekreasi
Fasilitas Dikembangkan oleh sektor swasta , Pada umumnya dibiayai oleh sektor
rawan kelayakan usaha publik
Pilihan Bayak pilihan tujuan; sangat keras Jarak dibatasi oleh waktu; pilihan
persaingan internasional pada umumnya terbatas
Mutu lingkungan Unik atau sifat khusus dan citra tempat Daerah pinggiran dan perbatasan
adalah factor penting
Banyak pengguna Dibatasi oleh sediaan akomodasi Ditentukan oleh jangkauan
ditujuan penduduk, akses dan fasilitas
Permintaan akan Sepanjang musim peka teradap Konsentrasi pada akhir minggu dan
sumber daya peningkatan permintaan liburan , toleren pada kesibukan
Manfaat ekonomi Tinggi, berkaitan dengan modal besar, Rendah karena terutama belanja
belanja karyawan dan wisatawan karyawan paruh waktu
Sumber : Warpani, P Suwardjoko dan Indira P Warpani, 2007: 12

C. Wisata
Wisata ( Warpani, P Suwardjoko dan Indira P Warpani, 2007; 7) pengertian wisata
adalah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang mengunjungi
tempat tertentu secara sukarela dan bersifut sementara dengan tujuan berlibur atau tujuan
lainnya bukan untuk mencari naftah.

D. Wisatawan
Pengunjung (Visitor) yaitu setiap orang yang datang ke suatu negara atau tempat
tinggal lain dan biasanya dengan maksud apapun kecuali untuk melakukan pekerjaan
yang menerima upah.
Untuk sebutan pengunjung dapat dikategorikan atas dua yaitu :
1. Wisatawan (Tourist)
2. Pelancong (excursionist)
Wisatawan adalah pengunjung yang tinggal sementara sekurang-kurangnya 24
jam di suatu negara. Wisatawan dengan maksud perjalanan dapat digolongkan menjadi :
a. Pesiar (Leasure)
Untuk keperluan rekreasi, liburan, kesehatan studi, keagamaan, dan olah raga.
b. Hubungan dagang, sanak saudara handai taulan, konferensi, misi dan
sebagainya
Sedangkan pelancong adalah pengunjung sementara yang tinggal di suatu negara
yang dikunjungi dalam waktu kurang dari 24 jam.

Lundberg (1,974) mendefinisikan wisatawan adalah orang yang merakukan


perjalanan untuk pelesir, bersenang-senang (pleasure) atau usaha/biisnis, dan tinggal di
luar kota sekurang-kurangnya satu malam. Pengertian ini mengandung unsur jarak
geografis dan waktu.
Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan,wisata. orang yang merakukan
perjaranan meninggatkan tempat tinggalnya sehari-hari selama tebih dari 24 jam dan
kurang dari enam bulan dengan berbagai maksud kecuali mencari nafkah ( Warpani, P
Suwardjoko dan Indira P Warpani, 2007; 7). Batasan kurang dari enam bulan karena
setelah seseorang tinggal rlbih dari enam buran berlaku di Indonesia - maka dia harus
pindah domisili.
Wisatawan (Tourist) adalah setiap orang atau kelompok orang yang bepergian dari
tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari
kunjungan tersebut, dengan perjalanan yang dilakukan lebih dari 24 jam, sedangkan jika
mereka tinggal di daerah atau negara yang dikunjungi dengan waktu kurang dari 24 jam
maka mereka disebut pelancong (excursionist).

2.2 Objek dan Daya Tarik Wisata


2.2.1 Objek Wisata
Objek wisata adalah segala objek yang dapat menimbulkan daya tarik bagi para
wisatawan untuk mengunjungi daera tersebut, misalnya keadaan alam, banguan
bersejarah da pusat – pusat rekterasi modern ( dalam Padma Niber,2008 : 16)
Kamus istilah pariwisata
Definisi yang mampu menyamakan arti dari suatu istilah yang dipakai dalam
setiap kegiatan pariwisata antara lain adala sebagai berikut:
a. Objek wisata
Suatu tempat yang memiliki daya tarik untuk dikunjungi wisatawan,
dimana daya tarik tersebut merupakan wujud ciptaan tuhan maupun
manusia , tata hidup, senia budaya maupun sejarah bangsa
Objek wisata adalah perwujudan dari peciptaan manusia , tata hidup, seni
budaya, serta sejaearh bangsa dan tempat atau keindahan alam yang
mempunyai daya tarik untuk dikunjungi wisatawan (Chafid
Fandeli,1995:58, dalam Hendra,Yudia, 2000:12)
b. Objek wisata alam
Objek wisata yang memanfaatkan keindahan dan kekayaan alam sebagai
daya tarik
Objek wisata alam adalah objek wisata yang daya tariknya bersumber
pada keindahan sumber daya dan tata lingkungannya (Chafid
Fandeli,1995:58, dalam Hendra,Yudia, 2000:12)

c. Objek wisata tirta (bahari)


Kawasan perairan yang dapat digunakan untuk rekreasi maupun untuk
kegiatan olahraga air.
d. Objek wisata budaya
Objek wisata yang daya tariknya bersumber pada kebudayaan, seperti
peninggalan sejarah, museum atraksikesenian dan factor lainyang
berkaitan dengan unsure kebudayaan ( dalam Padma Niber, 2008 : 16)

Ada 4 macam cara pendekatan untuk melindungi dan menggunakan bangunan dan
kawasan bersejarah ( Warpani, P Suwardjoko dan Indira P Warpani, 2007; 45)
e. Preservasi, pemantapan dan perlindungan struktur yaga ada dan semua
artefak
 Restorasi. Perbaikan struktur dan semua artefak dengan mengganti bagian
yang hilang maupun tetap menjaga keserasian secara keseluruhan
 Rekreasi, membuat struktur baru atau artefak yang sama (salianan) denga
yang aslinya sebagai pengganti yang hilang, rusak atau sangat ringkih
 Adaptasi, memperbaiki sebagian struktur tetapi dengan cara mengganti
dengan yag lain

2.4. Atraksi Wisata


Atraksi yang dapat menarik minat seseorang atau kelompok untuk melakukan
kegiatan perjalanan wisata yang biasanya dapat dijadikan objek wisata terdiri atas dua
kelompok yaitu
a. Atraksi wisata seni budaya , warisan budaya, tradisi, keyakinan dan hiburan yang
merupakan daya tarik bagi dsuatu daerah tujuan wisata
b. Atraksi wisata berupa kejadian – kejadian tradisional atau kejadian tidak tetap.
Seperti beberapa kejadian wisata di tanah air yang mampu menarik minat
wisatawan seperti Nagben di Bali, Jakarta Fair dan sebagainya.

2.4.1 Penentuan Jenis Dan Kriteria Kegiatan Wisata Alam


Daya tarik wista alam syarat utama dalam pengembangan kawasan wisata. Suatu
objek wisata yang mempunayi daya tarik haruslah didukung oleh unsur 0 unsur lain
sehingga menemukan keindaha objek wisat denga kebutuhan y6ang berwujud sehinggga
mampu menumbuhka daya tarik wisatwan sesuai minat untuk menikmati. Pelestarian
objek daya tarik wista yang terdiri dari sumber daya alam dan potensi budaya haruslah
dijaga sehingga dapat mempertahankan kualitas lingkunga yang alami dan mempunyai
ilai jual dan daya tarik dari peningkatan kunjugna wisatawan. Pada dasarnya kegiatan
wisata alam dapat dilakukan dengan kondisi kesehatan dan umur berbeda serta dapat
dilakukan oleh anak – anak hingga orang tua.
Sementara itu macam kegiatan wisata alam pada beberapa kawasan alam di indonesia
sangat bervariasi (ChafidFandeli, 1995: dalam Hendra Yudia, 2000:22 ) diantaraya adalah
sebagai berikut
 Mendaki gunung (moutaineering/ climbing)
 Piknik
 Berkemah ( camping)
 Hiking lintas alammenjelajahi hutan
 Fotografi
 Naik Kuda
 Bersantai pemandian alam
 Rekreasi alam
 Menelusuru goa
Kriteria masing – masing kegiata wisata
1. Jenis kegiatan wista alam / Piknik
Merupakan suatu perjalanan ke kawasan alami ( belum terganggu /tercemar) denga
tujuan khusus untuk mempelajari, mengagumi dan melihat – lihat serta menikmati
pemandagan alam dengan flora dan fauna beserta menivestasi kultural yang ada di
kawasan tersebut.
Kategori utama jenis kegiatan alamiah dapat diuraikan (Edward Inskep,1991:77-80 dalam
Hendra,Yudia, 2000:23) sebagai berikut
 Iklim
Iklim yang ideal bagi manusia , agar dapat hidup nyaman adalah bila sesuai da
memenuhi syarat – syarat yaitu , udara dan suhu udara berkisar antara 10 0 – 25 0
c ( laurie, 1978 dalam hendra,Yudia ,2000:23)
 Pemandangan alam yang menarik
 Flora dan fauna
 Kekhususan dan kenyamanan kawasan
 Taman atau lapangan
 Drainase baik
 Kelerenga yang baik berkisar antara 0 -15 %dan untuk kelerengan sedang berkisar
antara 15 – 25 %
 Tersedia fasilitas
 Aksesibilitas

2. Kegiatan wisata berkemah / camping


Merupakan kegiatan yang berkaita dengan alam, kriteria lokasi untuk
pengembangan wisata camping diluar kawsan konservasi. Tanah harus mampu
untuk lalu lalang para penghuni atau kendaraan secara terbatas dan
mempertimbangka kesesuaian lahan untuk memeperthankan pertumbuhan
tanaman dilokasi (Edward Inskep,1991:77-80 dalam Hendra,Yudia, 2000:23)
 Pencapaian dekat ke jalan utama
 Jauh dari kebisingan
 Adanya daya tarrik dan potensi dari alam
 Tidak merupakan kawasa konservasi
 Tersedia infrastruktur dan memungkinkan untuk dikembangkan infatruktur
 Tersedia harga lahan yang memadai
 Dekat dai sumber mata air
 Jauh dari kemungkinan bencana alam
 Bebas banjir
 Drainase pada kawasan agak cepat tanpa banjir
 Permeabilitas sangat cepat atau sedang
 Mempunyai kelerengan yang baik yaitu antara 0- 15 % dan kelerengan
yang sedang 15 – 25 %

3. Lapangan tempat bermain


Lapangan tempat bermain adalah suatu tanah lapanga yang dapat digunakan
sebagai tempat olahraga dan berlari –lari. . daerah ini akan selalu terinjak oleh
pengujung untuk itu untuk itu kawasan ini dapat dijelaskan ( prosiding,1992:142
dalam Hendra,Yudia, 2000:24)
 Permukaan taah yang datra dega kelerengan antar 0-8 %
 Ruang terbuka sepeti lapanga tumput( tidak berbatu – batu) dan bertektur
serta berkonsistensi byang dapat menjadikan permukaan tanah menjadi
kukuh
 Drainase baik dan cepat baik degan kedalam air taah dari permukaan
lebih dari 75 cm
 Baiknya jauh dari bahaya banjir dan kondisi sedangnya anjir sekali dalam
dua tahun
 Ada fasilitas dan infrastruktur
 Bukan lahan konservasi

4. Menjelajah hutan atau hiking.


Merupakan kegiatan menelusuri hutan dan mempunyai tingkat kesulitan dengan
faktor alam yang cukup menantang. Syarat lokasi untuk pengembangan wisata
menjelajah (Inskeep, 1991 163 dalam Hendra Yudia, 2000:22) adalah i

 Alamnya/medannya menantang.

 Aktivitas cukup berbahaya.

 Ada jalan alam lintasan.

 Flora dan fauna.

 Pemandangan alam.

 Membutuhkan ketahanan fisik.


5. Bersantai dan Fotografi
Jenis wisata dengan tujuan khusus untuk menikmati dan megagumi pemandangan
alam, budaya clan atraksi yang ditawarkan. Syarat lokasi untuk jenis kegiatan im
(Inskeep, 1991 : 80 — 85 dan dalam Hendra Yudia, 2000:22) adalah :
 Ada daya tarik dan potensi alam.

 Tersedia infrastruktur.

 Aksesibilitas.

 Kelerengan sebaiknya 0 — 25 % atau antara 25 — 40 %.

 Kenyamanan kawasan,

 Pola budaya khas.

6. Jenis kegiatan wisata budaya


Adalah wisata yang menggunakan objek-objek hasil kebudayaan manusia sebagal dava
tarik wisata. Beberapa kriteria dari daya tarik budaya (Inskeep, 1971 : 80 – 85 dalam
Hendra Yudia, 2000:22) adalah

 Adanya nilai sejarah clan budaya yang berkembang.

 Pola budaya yang khas.


 Senn kerajinan rakyat.

 Adanya kegiatan ekonomi yang menarik.

 Ada festifal budaya.

 Keramahtamahan penduduk.

2.4.2. Faktor Pembentuk Daya Tarik Wisata


Daya tarik wisata suatu daerah untuk mengembangkan pariwisata dapat dibentuk
oleh enam elemen (Victor Situngkir, 1985 : 89) seperti sebagai berikut :
1. Cuaca
Cuaca yang sejuk dan nyaman dengan iklim yang konstan menimbulkan daya tarik
bagi para calon wisatawan. Dengan demikian cuaca merupakan ciri khusus pada
pariwisata. Apalagi cuaca yang sejuk dan dengan adanya perbedaan musim di Eropa
dapat menimbulkan suatu daya tarik bagi wisatawan untuk menikmati nuansa alam,
begitu pula dengan Indonesia yang memiliki spesifik iklim tropis juga merupakan
daya tarik bagi wisatawan.
2. Pemandangan
Salah satu atraksi wisata yang paling menarik minat wisatawan adalah pemandangan
yang indah karena salah satu tujuan orang untuk berwisata adalah untuk
menghilangkan kejenuhan dari segala kegiatan atau aktivitas rutin yang dilakukan
sehari-hari

3. Fasilitas
Fasilitas sangat penting dalam mendukung kegiatan pariwisata, dimana dengan
adanya fasilitas yang menarik akan dapat menjadikan daya tarik bagi wisatawan
untuk melakukan kegiatan berwisata.
o Alam : Pantai, kemungkinan berenang di laut / danau, memancing,
pemandangan alam dan lain – lain.
o Buatan Manusia : Hiburan atau pertunjukan – pertunjukan serta fasilitas –
fasilitas yang memenuhi kebutuhan khusus wisatawan.
4. Faktor Sejarah dan Budaya
Peninggalan sejarah dan seni budaya zaman dahulu merupakan faktor daya tarik
yang kuat bagi banyak wisatawan.

5. Aksesibilitas
Suatu kawasan / lokasi wisata yang akan semakin tinggi kemungkinannya untuk
dikunjungi wisatawan jika mudah dicapai.

6. Akomodasi.
Akomodasi adalah menyangkut tempat menginap, restoran dan yang lainnya
merupakan daya tarik wisata yang potensial.

2.5. Segmentasi Pasar


Segmentasi pasar adalah proses pembagian suatu pasar sebagai suatu keseluruhan
ke dalam kelompok-kelompok dengan orang yang berbeda yang mempunyai kebutuhan-
kebutuhan produk yang relatif sama,didalam penentuan segmen pasar ini sangat berguna
untuk mengetahui kemana suatu objek akan dipasarkan sehingga nantinya produk wisata
yang ada akan dapat berkembang. Dalam menentukan segmen pasar ini harus mengetahui
profil dan perilaku wisatawan yang berkunjung kesuatu kawasan objek wisata.

Adapun pro Wisatawan mempunyai peran yang sangat penting dalam mendukung
perkembangan objek wisata di daerah tujuan wisata. Hal ini akan dapat terwujud jika di
daerah tujuan wisata telah mengetahui bagaimana karakteristik dari wisatawan., baik
wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Karakteristik wisatawan ini
meliputi karakteristik geografi, demografi dan karakteristik kunjungan yang dapat
digunakan untuk menentukan daerah asal wisatawan dan motif perjalanan, disamping itu
menggambarkan profil wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata.
Karakteristik geografis bertujuan untuk menentukan daerah asal wisatawan,
sedangkan karakteristik demografis meliputi umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan
dan tingkat pendapatan dari wisatawan yang berkunjung ke tempat objek wisata.
Sedangkan karakteristik kunjungan ini meliputi moda transportasi, dan lama
kunjungan. Dari karakteristik kunjungan ini dapat memberikan gambaran profil
wisatawan yang digunakan sebagai masukan bagi arahan bentuk perjalanan dan
pengaturan perjalanan serta faktor yang menarik untuk dikunjungi. Dengan mengetahui
karakteristik kunjungan tersebut dapat mengetahui apa yang menjadi keinginan dan
kebutuhan wisatawan sehingga dalam penyediaan jenis objek wisata dan fasilitas
pelayanan terjadi keseimbangan antara sisi permintaan dan sisi penyediaan. (Yoeti, Oka
A. 1996, ” Pengantar Ilmu Pariwisata ”, Bandung : Angkasa : 130-136)
Proses dalam penentuan segmentasi pasar ini harus mengetahui beberapa variabel
yaitu :

1. Variabel Demografi
a. Karakteristik keluarga
b. Umur
c. Pekerjaan
d. Pendidikan
e. Penghasilan
2. Variabel Geografi
a. Tempat asal
b. Daerah Tujuan
3. Variabel Perilaku
a. Moda transportasi
b. Kegiatan selama perjalanan
c. Lama perjalanan
d. Kapan perjalanan dilakukan
e. Melakukan perjalanan dengan siapa
4. Variabel sosiologis
a. Alasan (motivasi) melakukan perjalanan
b. Faktor apa yang dianggap paling menentukan di dalam memilih
tempat tujuan wisata.
2.6. Kawasan Peruntukan Pariwisata ( Permen Pekerjaan Umum No 41 /
PRT/M/2007
Karakteristik lokasi dan kesesuaian lahan:
1. Memiliki struktur tanah yang stabil
2. Memiliki kemiringan tanah yang memungkinkan dibangun tanpa memberikan
dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan
3. Merupakan lahan yang tidak terlalu subur dan bukan lahan pertanian yang produktif
4. Memiliki aksesibilitas yang tinggi
5. Tidak mengganggu kelancaran lalu lintas pada jalur jalan raya regional
6. Tersedia prasarana fisik yaitu listrik dan air bersih
7. Terdiri dari lingkungan/ bangunan/ gedung bersejarah dan cagar budaya
8. Memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan budaya, serta keunikan tert
9. Dilengkapi fasilitas pengolah limbah (padat dan cair).

Tabel
Kharakteristik Kawasan Peruntukan Pariwisata
No Jenis wisata Kriteria Teknis
Fisik Prasarana Sarana
Taman rekreasi  Luas lahan minimal 3  Jenis prasarana yang  Tesedia angkutan umum
ha tersedia antara lain  Tersedia yaitu rumah
 Mempunyai struktur jalan, air bersih, listrik makan, kantor pengelola,
tanah yang stabil dan telepon tempat rekreasi dan
 Mempunayi  Mempunyai ilai hiburan, WC umum,
kemiringan tanah yang pencapaian da mushola, dan tempat
memungkinkan di kemudahan hubungan parkir
bangun tanpa yang tinggi dan mudah  Tersedia sekurangnya 3
memberikan sampak dicapai dengan jenis sarana rekreasi
negative terhadap kendaraan bermotor yangf mengandung usur
kelestarian lingkungan roda empat hiburan, pendidikan,
 Harus bebas bau yang kebudayaan dan arena
tidak enak, debu, air bermain anak
yang tercemar  Ada tempat untuk
melakukan kegiatan
penerangan wisata ,
pentas seni, pameran dan
penjualan barang –
barang hasil kerajinan
Sumber ; Permen Pekerjaan Umum No 41 / PRT/M/2007 tentang Pedoman Kriteria teknis Kawasan Budi Daya

2.7. Prasarana dan Sarana pariwisata


2.7.1 Prasarana Pariwisata
Prasarana pariwisata adalah segala sesuatu yang memungkinkan proses kegiatan
pariwisata dapat berjalan misalnya pengangkutan, komunikasi, sumber energi listrik, air
bersih dan persampahan. Prasarana pariwisata merupakan juga prasarana umum artinya
tidak khusus digunakan hanya bagi kepentingan pariwisata. Prasarana khusus bagi
pariwisata dapat dikatakan tidak ada . sesuatu yang mungkin dapat dikatakan murni yang
dapat dikatakan prasarana wisata adalah daya tarik wisata, yaitu sesuatu yag menjadi
penyebab / pemicu timbulnya atau dapat diciptakanya kegiatan pariwisata.
Kelegkapan sarana dan prasarana adalah faktor penunjang pengembangan pariwisata
yang secara langsung yang secara langsung akan berpengaruh terhadap pola perencanaan
objek wisata.. semua prasarana harus ditempatkan, dirancang dan dioperasikan dengan
sangat hati – hati dan cermat karena dapat mengganggu mutu tampilan objek yang
bersangkutan. ( Warpani, P Suwardjoko dan Indira P Warpani, 2007; 98-99)
2.7.2. Sarana Pariwisata
Sarana kepariwisataan adalah perusahaan – perusahaan yang memberikan
pelayanan kepada wisatawan baik secara langsung maupun tidak langsung dan hidup
serta kehidupanya banyak bergantung kepada kedatang wisatawan ( dalam Padma Niber,
2008 : 24 )
SaranaKepariwisataan ;
a. Saran pokok pariwisata
Sarana pokok pariwisata adalah perusahaan yang kehidupanya bergantung pada arus
kedatangan orang yang melakukan perjalanan seperti ;
 Travel agent dan tour operator
 Perusahaan – perusahaan angkutan wisata
 Hotel dan jenis akomodasi lainya
 Bar, restoran serta rumah makan lainnya
 Objek wisata dan atraksi lainya
b. Sarana pelengkap pariwisata
Sarana pelengkap kepariwisataan adalah perusahaan atau tempat yang menyediakan
fasilitas rekreasi yang fungsinya melengkapi sarana pokok kepariwisataan dan dapat
membuat wisatawan lebih lama pada suatu daerah tujuan wisata
c. Sarana Penunjang Pariwisata
Sarana penunjang pariwisata adalah perusahaan yang menunjang sarana pokok dan
sarana pelengkap, fungsi utamanya tidak hanya membuat wisatawan lebih lama
tinggal pada suatu daerah tujuan wisata. Tetapi fungsi yang lebih penting adalah agar
wisatawan lebih banyak mengeluarkan uangnya di tempat wisata yang dikunjungi

2.7.3 Standar Sarana Pariwisata


a. Sirkulasi dan Parkir
Menurut Kepmen Perhubungan no. KM 66 tahun 1993 tentang fasilitas parkir
untuk [Link] adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat
Sementara. Fasilitas parkir luar badan jalan adalah fasilitas parkir kendaraan yang dibuat
khusus yang dapat berupa taman parker dan /atau gedung parkir. Fasilitas parkir untuk
umum adalah fasilitas parker di luar badan jalan berupa gedung parker atau taman parker
yang diusahakan sebagai kegiatan usaha yang berdiri sendiri dengan menyediakan jasa
pelayanan parkir untuk [Link] lokasi dan pembangunan fasilitas parkir untuk
umum dilakukan dengan memperhatikan:
a. Rencana Umum Tata Ruang Daerah (RUTRD);
b. keselamatan dan kelancaran lalu lintas;
c. kelestarian lingkungan;
d. kemudahan bagi pengguna jasa.

Sistem Parkir :
1. Parkir di Jalan
 Anggaran relatif kecil, tapi mengurangi lebar efektif jalan.
 Parkir di jalan tidak bisa dihindarkan, yang dapat dilakukan hanyalah
pengaturan, sehingga tidak menghambat kelancaran arus lalu lintas
2. Parkir di Luar Jalan
 Menggunakan tempat parkir khusus, seperti : pelataran/taman parkir,
bangunan bertingkat khusus.
 Anggaran yang relatif besar.

Pengaturan Parkir

1. Parkir Menyudut
 Lebih nyaman bagi pengemudi
 Membutuhkan lebih sedikit ruang untuk gerak keluar masuk, namun
menyebabkan lebih banyak kecelakaan
 Mengurangi kapasitas jalan lebih banyak dari pada parkir sejajar
 Parkir menyudut lebih menguntungkan bila berada di pelataran parkir luas,
city square (alun-alun), jalan yang sepi lalu lintas.
2. Parkir Sejajar
 Mengurangi kapasitas jalan lebih sedikit dari pada parkir menyudut
 Parkir sejajar lebih baik bila berada di jalan yang ramai lalu lintas

Kebutuhan Ruang Parkir yang Bersifat Tetap


f. Tempat Rekreasi
Luas Area Total (100 m 2) 50 100 150 200 400 800 1600 3200 6400
Kebutuhan (SRP) 103 109 115 122 146 196 295 494 892

Kebutuhan Ruang Parkir yang Bersifat Sementara

b. Tempat Pertandingan Olah Raga


Jumlah Tempat Duduk (buah) 4000 5000 6000 7000
Kebutuhan (SRP) 235 290 340 390
Jumlah Tempat Duduk (buah) 8000 9000 10000 15000
Kebutuhan (SRP) 440 490 540 790 Su
mber : Dirjen Perhubungan Darat

Pola Parkir
1) parkir kendaraan satu sisi
Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang sempit.
a) membentuk sudut 90º
Pola parkir ini mempunyai daya tampung lebih banyak jika
dibandingkan dengan pola parkir paralel, tetapi kemudahan dan
kenyamanan pengemudi melakukan manuver masuk dan keluar keruangan
parkir lebih sedikit jika dibandingkan dengan pola parker dengan sudut
yang lebih kecil dari 90o.

b) membentuk sudut 30º, 45º, 60º


Pola parkir ini mempunyai daya tampung lebih banyak jika
dibandingkan dengan pola parkir paralel, dan kemudahan dan kenyamanan
pengemudi melakukan manuver masuk dan keluar ke ruangan parkir lebih
besar jika dibandingkan dengan pola parker dengan sudut 90º.

2) Parkir kendaraan dua sisi


Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang cukup memadai.
a) membentuk sudut 90º
Pada pola parkir ini, arah gerakan lalu lintas kendaraan dapat satu arah
atau dua arah.

b) membentuk sudut 30º, 45º, 60º

3) Pola parkir pulau

Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang cukup luas.

a) membentuk sudut 90º

b) membentuk sudut 450

(1) bentuk tulang ikan tipe A


(2) bentuk tulang ikan tipe B

(3) bentuk tulang ikan tipe C

[Link] Terbuka (Open Space)


Open space merupakan suatu lahan / ruang yang tidak dibatasi bangunan tiga
dimensi. Ruang terbuka merupakan kebutuhan vital dalam sebuah kota fungsinya sebagai
paru-paru kota atau sebagai penyaring polusi udara serta juga memberi keindahan dan
keasrian lingkungan perkotaan.
Klasifikasi open space

 Green open space


Seperti : taman kota, tanaman aktif, taman pasif, jalur hijau, alun-alun, dan
sebagainya.
 Utility open space
Seperti : lapangan parkir, jalur pejalan kaki / jalur kendaraan, drainase, TPS, TPU,
danau, lahan, pertanian, perkebunan dan sebagainya.
 Coridor open space
Seperti : jalan, landasan pacu pesawat terbang, daerah pantai.

d. Rasio Kebutuhan Toilet umum (WC)

Rasio Kebutuhan Toilet umum (WC)


Toilet (WC) Wastafel Urinal
Tempat Wisata  Pria : 1 per 25 orang 1 per 25 orang hingga 125 1 per 25
dan rekreasi hingga 100 orang orang, 1 per 45 orang pria
 Wanita : perhitungan tambahan
diatas dikalikan dengan
1,5
Sumber : standar toilet umum indonesia (kementerian kebudayaan dan pariwisata)

2.8 Zonasi
Zona adalah kawasan yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan dan/atau
ketentuan peruntukan yang spesifik. Zonasi adalah pembagian lingkungan kota ke dalam
zona-zona dan menetapkan pengendalian pemanfaatan ruang/memberlakukan ketentuan
hukum yang berbeda-beda (Barnett, 1982: 60-61; So, 1979:251). Zoning adalah
pembagian kawasan ke dalam beberapa zona sesuai dengan fungsi dan karakteristik
semula atau diarahkan bagi pengembangan fungsi-fungsi lain.
Zoning regulation dapat didefinisikan sebagai ketentuan yang mengatur tentang
klasifikasi, notasi dan kodifikasi zona-zona dasar, peraturan penggunaan, peraturan
pembangunan dan berbagai prosedur pelaksanaan pembangunan. Blok Peruntukan adalah
sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh batasan fisik yang nyata (seperti
jaringan jalan, sungai, selokan, saluran irigasi, saluran udara tegangan (ekstra) tinggi,
pantai, dan lain-lain), maupun yang belum nyata (rencana jaringan jalan dan rencana
jaringan prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota).
Building Code adalah Pengaturan pendirian bangunan, konstruksi, perluasan,
perubahan/modifikasi, perbaikan, pelepasan, pemindahan, penghancuran, konversi,
pengisian, penggunaan, kelengkapan bangunan, ketinggian, area dan pemeliharaan
semua bangunan atau struktur bangunan.
Aturan Kegiatan dan Penggunaan Lahan adalah aturan yang berisi kegiatan yang
diperbolehkan, diperbolehkan bersyarat, diperbolehkan terbatas atau dilarang pada suatu
zona.
Aturan Teknis Zonasi aturan pada suatu zonasi yang berisi ketentuan pemanfaatan
ruang (kegiatan atau penggunaan lahan, intensitas pemanfaatan ruang, ketentuan tata
massa bangunan, ketentuan prasarana minimum yang harus disediakan, aturan lain yang
dianggap penting, dan aturan khusus) untuk kegiatan tertentu.
Pembangunan kota memerlukan 2 instrumen penting, yaitu pertama development
plan dan kedua development regulation. Tanpa kedua instrument tersebut maka
pembangunan kota tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Development plan adalah
rencana tata ruang kota yang umumnya di semua negara terdiri dari 3 jenjang rencana
yang baku, yaitu rencana makro, rencana meso dan rencana mikro. Sedangkan
development regulation atau peraturan zonasi adalah suatu perangkat peraturan yang
dipakai sebagai landasan dalam menyusun rencana tata ruang mulai dari jenjang rencana
yang paling tinggi (rencana makro) sampai kepada rencana yang sifatnya operasional
(rencana mikro) disamping juga akan berfungsi sebagai alat kendali dalam pelaksanaan
pembangunan kota.

2.8.1 Tujuan Peraturan Zonasi


Tujuan penyusunan peraturan zonasi dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Mengatur kepadatan penduduk dan intensitas kegiatan, mengatur keseimbangan dan
keserasian peruntukan tanah dan menentukan tindak atas suatu satuan ruang.
2. Melindungi kesehatan, keamanan dan kesejahteraan masyarakat.
3. Mencegah kesemrawutan, menyediakan pelayanan umum yang memadai serta
meningkatkan kualitas hidup.
4. Meminimumkan dampak pembangunan yang merugikan.
5. Memudahkan pengambilan keputusan secara tidak memihak dan berhasil guna serta
mendorong peran serta masyarakat.

2.8.2 Fungsi Peraturan Zonasi


Adapun fungsi peraturan zonasi adalah sebagai berikut :
1. Sebagai pedoman penyusunan rencana operasional.
Peraturan zonasi dapat menjadi jembatan dalam penyusunan rencana tata ruang yang
bersifat operasional, karena memuat ketentuan-ketentuan tentang perjabaran rencana
dari yang bersifat makro ke dalam rencana yang bersifat meso sampai kepada rencana
yang bersifat mikro (rinci).
2. Sebagai panduan teknis pemanfaatan lahan.
Ketentuan-ketentuan teknis yang menjadi kandungan peraturan zonasi, seperti
ketentuan tentang penggunaan rinci, batasan-batasan pengembangan persil dan
ketentuan-ketentuan lainnya menjadi dasar dalam pengembangan dan pemanfaatan
lahan.
3. Sebagai instrumen pengendalian pembangunan
Peraturan zonasi yang lengkap akan memuat ketentuan tentang prosedur pelaksanaan
pembangunan sampai ke tata cara pengawasannya. Ketentuan-ketentuan yang ada
karena dikemas dalam aturan penyusunan perundang-undangan yang baku dapat
dijadikan landasan dalam penegakan hukum.

2.8.3 Tahapan Penyusunan Peraturan Zonasi


Penyusunan Peraturan Zonasi sedikitnya meliputi tahapan sebagai :
1. Penyusunan klasifikasi zonasi
2. Penyusunan daftar kegiatan
3. Penetapan/delineasi blok peruntukan
4. Penyusunan aturan teknis zonasi
a. Kegiatan dan penggunaan lahan
b. Intensitas pemanfaatan ruang
c. Tata massa bangunan
d. Prasarana
e. Lain-lain/tambahan
f. Aturan khusus

5. Penyusunan standar teknis


6. Pemilihan teknik pengaturan zonasi
7. Penyusunan peta zonasi
8. Penyusunan aturan pelaksanaan
9. Penyusunan perhitungan dampak
10. Peran serta masyarakat
11. Penyusunan aturan administrasi zonasi
DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Pariwisata 2009, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang


Kepariwisataan.
[Link]
pdf diakses Januari 2017

Simond 1978 dalam Jurnal Perancangan Kawasan Wisata Pantai Jepara, Pengertaian Wisata
Pantai [Link] diakses Januari 2017

Maryestisqa, Wilga. 2012. “Penataan Objek Wisata Puncak Pato Kecamatan Lintau Buo
Utara Kabupaten Tanah Datar”. Tugas Akhir. Padang: Jurusan Perencanaan
Wilayah dan Kota. Universitas Bung Hatta.

Anda mungkin juga menyukai