0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan89 halaman

Struktur dan Perencanaan Bangunan

Bab II merangkum tentang tinjauan pustaka struktur bangunan dan konsep dasar perencanaannya. Terdapat penjelasan mengenai struktur bawah dan atas, struktur komposit, beban hidup dan konsep pembebanan, serta tabel beban hidup minimum yang harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur.

Diunggah oleh

cita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan89 halaman

Struktur dan Perencanaan Bangunan

Bab II merangkum tentang tinjauan pustaka struktur bangunan dan konsep dasar perencanaannya. Terdapat penjelasan mengenai struktur bawah dan atas, struktur komposit, beban hidup dan konsep pembebanan, serta tabel beban hidup minimum yang harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur.

Diunggah oleh

cita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II Tinjauan Pustaka

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Struktur

Struktur merupakan sarana untuk menyalurkan beban dan akibat penggunaan

dan atau kehadiran bangunan ke dalam tanah. (Schodek, 1992). Fungsi struktur

dapat disimpulkan untuk memberi kekuatan dan kekakuan yang diperlukan

untuk mencegah sebuah bangunan mengalami keruntuhan. Perancangan

struktur harus memastikan bahwa bagian-bagian sistem struktur ini sanggup

mengizinkan atau menanggung gaya gravitasi dan beban bangunan, kemudian

menyokong dan menyalurkannya ke tanah dengan aman.

Terdapat dua bagian dari struktur bangunan antara lain :

a. Struktur bawah (substruktur) adalah bagian-bagian bangunan yang terletak

di bawah permukaan tanah. Struktur bawah ini meliputi pondasi dan sloof.

b. Struktur atas merupakan bagian-bagian bangunan yang terletak di atas

permukaan tanah dan di bawah atap, serta layak ditinggali oleh manusia.

Yang dimaksud struktur atas di antaranya dinding, kolom, dan ring.

Sistem struktur tipe portal adalah sistem struktur yang terdiri dari tiang/kolom

(post) dan balok (beam) dimana tiang dan balok tersebut tersusun dari batang

tunggal.

2.1.1 Struktur Komposit

Kondisi dimana elemen – elemen dan komponen struktur baja dan beton

bekerja sebagai satu kesatuan dalam distribusi gaya – gaya dalam.

II-1
BAB II Tinjauan Pustaka

2.2. Konsep Dasar Perencanaan

Perencanaan struktur dapat didefinisikan sebagai campuran anatara seni dan

ilmu pengetahuan yang dikombinasikan dengan intuisi seorang ahli struktur

mengenai periaku struktur dengan dasar – dasar pengetahuan dalam statika,

dinamika, mekanika ahan dan analisis struktur untuk menghasilkan suatu

struktur yang ekonomis dan aman, selama masa layannya. Tujuan dari

perencanaan struktur adalah menghasilkan suatu struktur yang stabil, cukup

kuat, mampu layan, awet dan memnuhi tujuan – tujuan lainnya seperti ekonomi

dan kemudahan pelaksanaan. Suatu struktur disebut stbil jika tidak mudah

terguling, miring, atau tergeser selama umur rencana bangunan. Kerangka

perencanaan struktur adalah pemilihan susunan dan ukuran dari elemen

struktur sehingga beban yang bekerja dapat dipikul secara aan, dan

perpindahan yang terjadi masih dalam batas – batas yang dipersyaratkan.

(Setiawan, Agus : 2008)

Dalam perencanaan struktur penentuan secara pasti beban yang bekerja harus

diperhitungkan. Beban adalah gaya luar yang bekerja pada suatu struktur

(setiawan, Agus : 2008). Beban terbagi menjadi 2, diantaranya beban akibat

gravitasi dan beban luar.

2.2.1. Beban dan Konsep Pembebanan

A. Beban Hidup

Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau

penggunaan suatu gedung dan kedalamannya termasuk beban-beban pada

II-2
BAB II Tinjauan Pustaka

lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah, mesin-mesin

serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga

mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap, termasuk beban

yang berasal dari air hujan, baik akibat genangan maupun akibat tekanan jatuh

butiran air. Tabel 2.1 Beban hidup terdistribusi merata minimum. Lo dan beban

hidup terpusat minimum (SNI 1727 – 2013)

Tabel 2.1 Beban hidup terdistribusi merata minimum, Lo dan beban hidup terpusat

minimum

Hunian atau penggunaan Merata psf (kN/m2 ) Terpusat ln (kN)

Apartemen (lihat rumah tinggal)

Sistem lantai akses

Ruang kantor 50 (2,4) 2000 (8,9)

Ruang komputer 100 (4,79( 2000 (8,9)

Gedung persenjataan dan ruang latihan 150 (7,18)a

Ruang pertemuan

Kursi tetap (terkait di lantai) 100 (4,79)a

Lobi 100 (4,79)a

Kursi dapat dipindahkan 100 (4,79)a

Panggung pertemuan 100 (4,79)a

Lantai podium 150 (7,18)a

Balkon dan dek 1,5 kali beban

hidup untuk daerag

II-3
BAB II Tinjauan Pustaka

yang dilayani.

Tidak perlu

melebihi 100 psf

(4,79 kN/m2 )

Jalur untuk akses pemeliharaan 40 (1,92) 300 (1,33)

Koridor

Lantai pertama 100 (4,79)

Lantai lain Sama seperti

pelayanan hunian

kecuali

disebuthkan lain

Ruang makan dan restoran 100 (4,79)a

Hunian (lihat rumah tinggal)

Ruang mesin elevator (pada daerah 2 in 300 (1,33)

x 2 in (50 mm x 50 mm))

Konstruksi pelat lantai finishing ringan 200 (0,89)

(pada area 1 in x 1 in ( 25 mm x 25

mm))

Jalur penyelamatan terhadap kebakaran 100 (4,79)

Hunian satu keluarga saja 40 (1,92)

Tangga permanen Lihat pasal 4.5 pada SNI 1727-2013

Garasi/Parkir

Mobil penumpang saja 40 (1,92)a,b,c


c
Truk dan bus

II-4
BAB II Tinjauan Pustaka

Susuran tangga, rel pengaman dan Lihat pasal 4.5 pada SNI 1727-2013

batang pegangan

Helipad 60 (2,87)de tidak e,f,g

boleh direduksi

Rumah sakit :

Ruang operasi, laboratorium 60 (2,87) 1000 (4,45)

Ruang pasien 40 (1,92) 1000 (4,45)

Koridor diatas lantai pertama 80 (3,83) 1000 (4,45)

Hotel (lihat rumah tinggal)

Perpustakaan

Ruang baca 60 (2,87) 1000 (4,45)

Ruang penyimoanan 150 (7,18)a,h 1000 (4,45)

Koridor di atas lantai pertama 80 (3,83) 1000 (4,45)

Pabrik

Ringan 125 (6,00)a 2000 (8,90)

Berat 250 (11,97)a 3000 (13,40)

Gedung perkantoran :

Ruang arsip dan komputer harus

dirancang untuk beban yang lebih berat

berdasarkan pada perkiraan hunian

Lobi dan koridor lantai pertama 100 (4,79) 2000 (8,90)

Kantor 50 (2,40) 2000 (8,90)

Koridor di atas lantai pertama 80 (3,83) 2000 (8,90)

Lembaga hukum

II-5
BAB II Tinjauan Pustaka

Blok sel 40 (1,92)

Koridor 100 (4,79)

Tempat rekreasi

Tempat bowling, Kolam renang, dan 75 (3,59)a

penggunaan yang sama

Bangsal dansa dan Ruang dansa 100 (4,79)a

Gimnasium 100 (4,79)a

Tempat menonton baik terbuka atau 100 (4,79)a,k

tertutup

Stadium dan tribun/arean dengan tempat 60 (2,87)a,k

duduk tetap (terikat pada lantai)

Rumah tinggal

Hunian (satu keluarga dan dua

keluarga) 10 (0,48)/

Loteng yang tidak dapat didiami tanpa

gudang 20 (0,96)m

Loteng yang tidak dapat didiami dengan

gudang 30 (1,44)

Loteng yang dapat didiami dan ruang

tidur 40 (1,92)

Semua ruang kecuali tangga dan balkon

Semua hunian rumah tinggal lainnya 40 (1,92)

Ruang pribadi dan koridor yang

melayani mereka 100 (4,79)

II-6
BAB II Tinjauan Pustaka

Ruang public dan koridor yang

melayani mereka

Atap

Atap datar, berbubung, dan lengkung 20 (0,96)n

Atap digunakan untuk taman atap 100 (4,79)

Atap yang digunakan untuk tujuan lain Sama seperti I


a
Atap yang digunakan untuk hunian hunian dilayani

lainnya

Awning dan kanopi

Konstruksi pabrik yang didukung oleh 5 (0,24) tidak boleh 200 (0,89)

struktur rangka kaku ringan direduksi

Rangka lampu layar penutup 5 (0,24) tidak boleh

direduksi dan

berdasarkan luas

tributasi dari atap

yang ditumpu oleh

rangka

Semua konstruksi lainnya 20 (0,96) 2000 (8,9)

Komponenstruktur atap utama, yang

terhubung langsung dengan pekerjaan

lantai

Titik panel tunggal dari batang bawah 300 (1,33)

rangka atap atau setiap titik sepanjang

komponen struktur utama yang

II-7
BAB II Tinjauan Pustaka

mendukung atap diatas pabrik, gudang,

dan perbaikan garasi

Semua komponen struktur ataputama 300 (1,33)

lainnya

Semua permukaan atap dengan beban

pekerja pemeliharaan

Sekolah

Ruang kelas 40 (1,92) 1000 (4,5)

Koridor di atas lantai pertama 80 (3,83) 1000 (4,5)

Koridor lantai pertama 100 (4,79) 1000 (4,5)

Bak-bak/scuttles, rusuk untuk atap kaca 200 (0,89)

dan langit-langit yang dapat diakses

Pinggir jalan untuk pejalan kaki, jalan 250 (11,97)a,p 8000 (35,6)q

lintas kendaraan, dan lahan/jalan untuk

truk-truk

Tangga dan jalan keluar 100 (4,79) 300r

Rumah tinggal untuk satu dan dua 40 (1,92) 300r

keluarga saja

Gudang diatas langit- langit 20 (0,96)

Gudang penyimpanan barang sebelum

disalurkan ke pengecer (jika

diantisipasimenjadi gudang

penyimpanan, harus dirancang untuk

beban lebih berat)

II-8
BAB II Tinjauan Pustaka

Ringan 125 (6,00)a

Berat 250 (11,97)a

Toko

Eceran

Lantai pertama 100 (4,79) 1000 (4,45)

Lantai diatasnya 75 (3,59) 1000 (4,45)

Grosir, di semua lantai 125 (6,00)a 1000 (4,45)

Pengalang kendaaan LihatPasal 4.5 pada

SNI 1727 – 2013

Susunan jalan dan panggung yang 60 (2,87)

ditinggikan (selain jalan keluar)

Pekarangan dan teras, jalur pejalan kaki 100 (4,79)a

B. Beban Mati

Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat

tetap termasuk segala unsur tambahan, finishing, mesin-mesin seta peralatan

tetap yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gedung itu. Beban

mati tetap berada di gedung dan tidak berubah, sesuai dengan sistem struktur

dan material yang digunakan.

C. Beban Angin

Beban angina yaitu beban yang bekerja pada struktur yang diakibatkan oleh

tekanan-tekanan dari gerakan angin. Beban angin tergantung dari lokasi serta

ketinggian dari struktur. Penentuan beban angina dapat dilakukan dengan

II-9
BAB II Tinjauan Pustaka

menentukan parameter – parameter dasar yang diasumsikan berdasarkan pasal

26 dan pasal 27 pada SNI 1727 : 2013. Beban angin diasumsikan datang dari

segala arah horizontal serta beban angina dapat diperbesar jika catatan atau

pengalaman menunjukan bahwa kecepatan angina lebih angina lebih tinggi

daripada yang ditentukan. (SNI 1727 : 2013)

D. Beban Hujan Rencana

Setiap atap harus dirancang agar mampu menahan beban dari semua air hujan

yang terkumpul apabila sistem drainase primer untuk bagian tersebut tertutup

ditambah beban merata yang disebabkan oleh kenaikan air di atas lubang

masuk sistem drainase sekunder pada aliran rencananya yang mengacu pada

SNI 1727 : 2013.

R = 5,2 (ds + dn)

R = 0,0098 (ds + dn) dalam SI

Keterangan :

R = beban air hujan pada atap lb/ft2 (kN/m2 )

Ds = kedalaman air pada atap yang tidak melendut in (mm)

Dn = tambahan kedalaman air pada atap yang tidak melendut

E. Beban Gempa

Beban gempa adalah beban yang disebabkan oleh bergeraknya tanah akibat

proses salami. Gempa menyebabkan guncangan pada tanah. Tingkat keparahan

beban gempa tergantung pada lokasi, sesuai peraturan mengenai standar

bangunan. Guncangan tanah dapat menambah beban pada unsur-unsur

II-10
BAB II Tinjauan Pustaka

bangunan, guncangan tanah yang lebih kuat atau unsur-unsur bangunaan yang

lebih besar dapat menambah beban pada gedung itu sendiri. Beban gempa

cenderung horisontal (walaupun tetap ada komponen vertikal) dan dapat

menyerang dari arah manapun. Beban gempa akan datang bersiklus. Beban

gempa dapat disimulasikan seperti jika anda berdiri di bak sebuah truk yang

tiba-tiba bergerak cepat, mengerem mendadak, dan bergerak lagi, berulang-

ulang kali. Akan sangat sulit untuk tetap bisa berdiri. Bangunan yang tak

terlalu berat, proporsional, dengan sambungan yang baik dengan pondasinya

akan tetap utuh (BSN, 2012).

Arah utama pengaruh gempa rencana harus ditentukan sedemikian rupa,

sehingga memberi pengaruh terbesar terhadap unsur – unsur sub sistem dan

sistem struktur gedung secara keseluruhan. Untuk mensimulasikan arah

pengaruh gempa rencana yang sembarang terhadap gedung, pengaruh

pembebanan gempa dalam arah utama harus dianggap efektif 100% dan harus

dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa dalam arah

tegak lurus pada arah utama pembebanan tadi, tetapi efektifitas hanya 30%.

1) Wilayah Gempa

Dalam menentukan beban gempa, akan berpedoman pada SNI 1726 – 2012.

Maka berdasarkan SNI 1726 – 2012 akan ditentukan respons spectrum dengan

langkah sebagai berikut :

a. Menentukan parameter percepatan tanah SS (percepatan bataun dasar

periode pendek 0,2 detik) dan nilai S1 (percepatan batuan dasar periode 1,0

detik). Parameter SSdan S1 akan ditetapkan berdasarkan respons spectrum

percepatan 0,2 detik dan 1 detik dalam peta gerak tanah seismik dengan

II-11
BAB II Tinjauan Pustaka

kemungkinan 2% terlampaui dalam 50 tahun berdasarkan dengan lokasi

sekolahTerang Bangsa di Semarang. Maka berdasarkan Gambar 2.1 (Ss Gempa

maksimum yang dipertimbangkan resiko-tertarget (MCER) dan Gambar 2.2

(S1 Gempa maksimum yang dipertimbangkan resiko-tertarget (MCER), kelas

situs SB) didapat nilai SS = 0,6 – 0,7 g diambil 0,7 g dan S1= 0,3 – 0,4 g

diambil 0,4 g.

Gambar 2.1 Ss Gempa maksimum yang dipertimbangkan resiko-tertarget (MCER),

kelas situs SB

II-12
BAB II Tinjauan Pustaka

Gambar 2.2 S1 Gempa maksimum yang dipertimbangkan resiko-tertarget (MCER),

kelas situs SB

b. Menentukan klasifikasi situs yang dilakukan berdasarkan kondisi tanah

di lapangan. Tipe kelas situs harus ditetapkan sesuai dengan definisi dari Tabel

2.2 dan pasal pasal berikut.

Tabel 2.2 Tipe kelas situs

Kelas situs Ṽ s (m/detik) ̅ ̅ ̅̅̅̅

SA (batuan keras) > 1500 N/A N/A

SB (batuan) 750 sampai N/A N/A

1500

SC (tanah keras, sangat padat 350 sampai >50 ≥100

danbatuan lunak) 750

SD (tanah sedang) 175 sampai 15 sampai 50 sampai 100

350 50

II-13
BAB II Tinjauan Pustaka

SE (tanah lunak) <175 <15 <50

Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih

dari 3 m tanah dengan karakteristik

sebagaiberikut :

1. Indeks plastisitas, PI >20

2. Kadar air, w≥ 40%

3. Kuat geser niralir ̅̅̅̅ < 25 kPa

SF (tanah khusus, yang Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah

membutuhkan investigasi satu atau lebih dari karakteristik berikut :

geoteknik spesifik dan analisis - Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh

respons spesifik-situs yang akibat beban gempa seperti mudah

mengikuti 6.20.1 pada SNI 1726 : lukifaksi, lempung sangat sensitive, tanah

2010) tersementasi lemah

- Lempung sangat organic dan/atau gambut

(ketebalan H > 3 m)

- Lempung berplastisitas sangat tinggi

(ketebalan H > 7,5 m dengan Indeks

Plastisitas PI > 75)

Lapisan lempung lunak/setengah teguh

dengan ketebalan H > 35 m dengan ̅̅̅̅ <

50 kPa

Catatan : N/A = tidak dapat dipakai

II-14
BAB II Tinjauan Pustaka

c. Menetukan koefisien situs. Untuk penentuan respons spectral percepatan

gempa MCER di permukaan tanah, diperlukan suatu factor amplifikasi seismic

pada perioda 0,2 detik dan perioda 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi factor

amplifikasi getaran terkait percepatan pada getaran perioda pendek (Fa) yang

didapat berdasarkan table 2.3 dan faktor amplifikasi terkait percepatan yang

mewakili perioda 1 detik (Fv) yang didapat berdasarkan Tabel 2.4.

Tabel 2.3 Koefisien situs Fa

Kelas situs Parameter respons spectral percepatan gempa (MCER)

terpetakan pada perioda pendek; T = 0,2 detik, Ss

Ss ≤ 0,25 Ss = 0,5 Ss = 0,75 Ss = 1,0 Ss ≥ 1,25

SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8

SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0

SC 1,2 1,3 1,1 1,0 1,0

SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0

SE 2,5 1,7 1,2 0,9 0,9

SF

Catatan :

a) Untuk nilai- nilai anata Ss dapat dilakukan interpolasi linier

b) SS = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons

situs-spesifik

Tabel 2.4 Koefisien situs Fv

Kelas situs Parameter respons spectral percepatan gempa (MCER)

terpetakan pada perioda pendek 1 detik, S1

II-15
BAB II Tinjauan Pustaka

S1 ≤ 0,2 S1 = 0,2 S1 = 0,3 S1 = 0,4 S1 ≥ 0,5

SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8

SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0

SC 1,7 1,6 1,5 1,4 1,3

SD 2,4 2 1,8 1,6 1,5

SE 3,5 3,2 2,8 2,4 2,4

SF

Catatan :

a) Untuk nilai- nilai anata S1 dapat dilakukan interpolasi linier

b) SS = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons

situs-spesifik

Setelah didapat koefisien situ Fad an Fv selanjutnya akan dihitung Parameter

spectrum respons percepatan periode pendek (Sms) dan periode 1 detik (SM!)

yang disesuaikan dengan pengaruh klasifikasi situs yang telah didapat.

SMS = Fa. Ss

SM1 = Fv. S1

d. Menghitung parameter percepatan spectrum desain (SDS dan SD1).

SDS = 2/3 SMS

SD1 = 2/3 SM1

Untuk perioda yang lebih kecil T0, spectrum respons percepatan desain Sa,

harus diambil dari persamaan :

Sa = SDS (0,4 + 0,6 )

T0 = 0,2
II-16
BAB II Tinjauan Pustaka

Ts =

e. Menggambar grafik respons spectrum desain.

Gambar 2.3 Spektrum respons desain

f. Menentukan Kategori desain seismic berdasarkan parameter respons

percepatan pada periodapendek (Tabel 2.5) dan pada perioda 1 detik (Tabel

2.6)

Kategori risiko

Nilai SD1 I atau II atau III IV

SDS < 0,167 A A

0,967 ≤ SDS < 0,133 B B

0,133 ≤ SDS < 0,20 C C

0,20 ≤ SDS D D

II-17
BAB II Tinjauan Pustaka

Tabel 2.5 Kategori desain seismic berdasarkan parameter respons percepatan pada

perioda pendek

Kategori risiko

Nilai SDS I atau II atau III IV

SDS < 0,167 A A

0,167 ≤ SDS < 0,33 B B

0,33 ≤ SDS < 0,50 C C

0,50 ≤ SDS D D

Tabel 2.6 Kategori desain seismic berdasarkan parameter respons percepatan pada

perioda 1 detik

g. Menentukan kombinasi sistem perangkai dalam arah yang berbeda. Bila

sistem yang berbeda digunakan, masing- masing nilai R, Cd, Ωo harus

dikenakan pada setiap sistem, termasuk batasan sistem struktur yang termuat

dalam tabel 2.7.

Tabel 2.7 Koefisien nilai R, Cd, Ωo

Sistem penahan – gaya Koefis Faktor Fakto Batasan sistemstruktur dan

seismic ien kuat- r batasan tinggi struktur,

modifi lebih pemb hn

kasi sistem, esara Kategori desain seismik

respon n

deflek

II-18
BAB II Tinjauan Pustaka

s, si

B C

A. Sistem dinding 7.1.1 7.1.2 7.1.3 7.1.4 7.1.5 7.1.6 7.1 7.1

penumpu .7 .8

1. Dinding geser beton 5 2½ 5 TB TB 48 48 30

bertulang khusus

2. Dinding geser beton 4 2½ 4 TB TB TI TI TI

bertulang biasa

3. Dinding geser beton 2 2½ 2 TB TI TI TI TI

polos didetail

4. Dinding geser beton 1 ½ 2½ 1½ TB TI TI TI TI

polos biasa

5. Dinding geser pracetak 4 2½ 4 TB TB

menengah

6. Dinding geser pracetak 3 2½ 3 TB TI TI TI TI

biasa

7. Dinding geser batu bata 5 2½ 3½ TB TB 48 48 30

bertulang khusus

8. Dinding geser batu bata 3 ½ 2½ 2¼ TB TB TI TI TI

bertulang menengah

9. Dinding geser batu bata 2 2½ 1¾ TB 48 TI TI TI

bertulang biasa

10. Dinding geser batu bata 2 2½ 1¾ TB TI TI TI TI

II-19
BAB II Tinjauan Pustaka

polos didetail

11. Dinding geser batu bata 1 ½ 2½ 1¼ TB TI TI TI TI

polos biasa

12. DInding geser batu bata 1 ½ 2½ 1¾ TB TI TI TI TI

prategang

13. Dinding geser batu bata 2 2½ 2 TB 10 TI TI TI

ringan (AAC) bertulang

biasa

14. Dinding geser batu bata 1 ½ 2½ 1½ TB TI TI TI TI

ringan (AAC) polos biasa

15. DInding rangka ringan 6 ½ 3 4 TB TB 20 20 20

(kayu) dilapisi dengan panel

struktur kayu yang

ditujukan untuk tahanan

geser, atau dengan lembaran

baja

16. Dinding rangka ringan 6 ½ 3 4 TB TB 20 20 20

(baja canai dingin) yang

dilapisi dengan panel

struktur kayu yang

ditukukan untuk tahanan

geser, atau dengan lembaran

baja

17. Dinding rangka ringan 2 2½ 2 TB TB 10 TI TI

II-20
BAB II Tinjauan Pustaka

dengan panel geser dari

semua material lainnya

18. Sistem dinding rangka 4 2 3 1/2` TB TB 20 20 20

ringan (baja canai dingin)

menggunakan bresing strip

datar

B. Sistem rangka

bangunan

1. Rangka baja dengan 8 2 4 TB TB 48 48 30

bresing esentris

2. rangka baja dengan 6 5 3¼ TB TB 48 48 30

bresing konsentris khusus

3. Rangka baja dengan 3 ¼ 2 3¼ TB TB 10 10 TI

bresing konsentris biasa

4. Dinding geser beton 6 2½ 5 TB TB 48 48 30

bertulang khusus

5. Dinding geser beton 5 2½ 4½ TB TB TI TI TI

bertulang biasa

6. Dinding geser beton 2 2½ 2 TB TB TI TI TI

polos detail

7. DInding geser beton 1 ½ 2½ 1½ TB TI TI TI TI

polos biasa

8. Dinding geser pracetak 5 2½ 4½ TB TB 12^ 12 12

menengah K ^K ^K

II-21
BAB II Tinjauan Pustaka

9. Dinding geser pracetak 4 2½ 4 TB TI TI TI TI

biasa

10. Rangka baja dan beton 8 2 4 TB TB 48 48 30

komposit dengan bresing

eksentris

11. Rangka baja dan beton 5 2 4½ TB TB 48 48 30

komposit dengan bresing

konsentris khusus

12. Rangka baja dan beton 3 2 3 TB TB TI TI TI

komposit dengan bresing

biasa

13. Dinding geser pelat baja 6 ½ 2½ 5½ TB TB 48 48 30

dan beton komposit

14. Dinding geser baja dan 6 2½ 5 TB TB 48 48 30

beton komposit khusus

15. Dinding geeser baja dan 5 2½ 4½ TB TB TI TI TI

beton komposit biasa

16. Dinding geser batu bata 5 ½ 2½ 4 TB TB 48 48 30

bertulangkhusus

17. Dinding geser batu bata 4 2½ 4 TBI TI TI TI TI

bertulang menengah

18. Dinding geser batu bata 2 2½ 2 TB 48 TI TI TI

bertulang biasa

19. Dinding geser bat bata 2 2½ 2 TB TI TI TI TI

II-22
BAB II Tinjauan Pustaka

polos didetail

20. Dinding geser batu bata 1 ½ 2½ 1¼ TB TI TI TI TI

polos biasa

21. Dinding geser vary bata 1 ½ 2½ 1¾ TB TI TI TI TI

prategang

22. Dinding rangka irngan 7 2½ 4½ TB TB 22 22 22

(kayu) yang dilapisi dengan

panel struktur kayu yang

dimaksudkan untuk tahanan

geser

23. Dinding rangka ringan 7 2½ 4½ TB TB 22 22 22

(baja canai dingin) yang

dilapisi dengan panel

struktur kayu yang

dimaksudkan untuk tahanan

geser, atau dengan lembaran

baja

24. Dinding rangka ringan 2 ½ 2½ 2½ TB TB 10 TB TB

dengan panel geser dari

semua material lainnya

25. Rangka baja dengan 8 2½ 5 TB TB 48 48 30

bresing terkekang terhadap

tekuk

26. Dinding geser pelat baja 7 2 6 TB TB 48 48 30

II-23
BAB II Tinjauan Pustaka

khusus

C. Sistem rangka oemikul

momen

1. Rangka baja pemikul 8 3 5½ TB TB TB TB TB

momen khusus

2. Rangka batang baja 7 3 5½ TB TB 48 30 TI

pemikul momen khusus

3. Rangka baja pemikul 4 ½ 3 4 TB TB 10^h TI TI^

momen menengah ,i ^h i

4. Rangka baja pemikul 3 ½ 3 3 TB TB TI^h TI TI^

momen biasa ^h i

5. Rangka beton bertulang 8 3 5½ TB TB TB TB TB

pemikul momen khusus

6. Rangka beton bertulang 5 3 4½ TB TB TI TI TI

pemikul momen menengah

7. Rangka beton bertulang 3 3 2½ TB TI TI TI TI

pemikul momen biasa

8. Rangka baja dan beton 8 3 5½ TB TB TB TB TB

komposit pemikul momen

khusus

9. Rangka baja dan eton 5 3 4½ TB TB TI TI TI

komposit pemikul momen

menengah

10. Rangka baja dan beton 6 3 5½ 48 48 30 TI TI

II-24
BAB II Tinjauan Pustaka

komposit terkekang parsial

pemikul momen

11. Rangka baja dan beton 3 3 2½ TB TI TI TI TI

komposit pemikul momen

biasa

12. Rangka baja canai 3 ½ 3^0 3½ 10 10 10 10 10

deingin pemikul momen

khusus dengan pembautan

D. Sistem ganda dengan

rangka pemikul momen

khusus yang mamapu

menahan paling sedikit 25

persen gaya gempa yang

ditetapkan

1. Rangka baja denga 8 2½ 4 TB TB TB TB TB

bresing eksntris

2. Rangka baja dengan 7 2½ 5½ TB TB TB TB TB

bresing konsentris khusus

3. Dinding geser beton 7 2½ 5½ TB TB TB TB TB

bertulang khusus

4. Dinding geser beton 6 2½ 5 TB TB TI TI TI

bertulang biasa

5. Rangka baja dan beton 8 2½ 4 TB TB TB TB TB

komposit dengan bresing

II-25
BAB II Tinjauan Pustaka

eksentris

6. Rangka baja dan beton 6 2½ 5 TB TB TB TB TB

komposit dengan bresing

konsentris khusus

7. Dinding geser pelat baja 7 ½ 2½ 6 TB TB TB TB TB

dan beton komposit

8. Dinding geser baja dan 7 2½ 6 TB TB TB TB TB

beton komposit khsuus

9. Dinding geser baja dan 6 2½ 5 TB TB TI TI TI

beton komposit biasa

10. Dinding geser batu bata 5 ½ 3 5 TB TB TB TB TB

bertulang khusus

11. Dindin geser batu bata 4 3 3½ TB TB TI TI TI

bertulang menengah

12. Rangka baja dnegan 8 2½ 5 TB TB TB TB TB

bresing terkekang terhadap

tekuk

13. Dinding geser pelat baja 8 2½ 6½ TB TB TB TB TB

khusus

E. Sistem ganda dengan

rangka pemikul momen

menenga mampu

menahan paling sedikit 25

persen gaya gempa yang

II-26
BAB II Tinjauan Pustaka

ditetapkan

1. Rangka baja dnegan 6 2½ 5 TB TB 10 TI TI

bresing konsentris khusus

2. Dinding geser beton 6 ½ 2½ 5 TB TB 48 30 30

bertulang khusus

3. DInding geser batu bata 3 3 2½ TB 38 TI TI TI

bertulang biasa

4. Dinding geser batu bata 3 ½ 3 3 TB TB TI TI TI

bertulang menengah

5. Rangka baja dan beton 5 ½ 2½ 4½ TB TB 48 30 TI

komposit dengan bresing

konsettris khusus

6. Rangka baja dan beton 3 ½ 2½ 3 TB TB TI TI TI

komposit dengan bresing

biasa

7. Dinding geser baja dan 5 3 4½ TB TB TI TI TI

beton komposit biasa

8. Dinding geser beton 5 ½I 2½ 4½ TB TB TI TI TI

bertulang biasa

F. Sistem interakhit 4 ½ 2½ 4 TB TI TI TI TI

dinding geser-rangka

dengan rangka pemikul

momen beton bertulang

biasa dan dinding geser

II-27
BAB II Tinjauan Pustaka

beton bertulang biasa

G. Sistem kolom

kantilever didetail untuk

memenuhi persyaratan

untuk :

1. Sistem kolom baja 2 ½ 1¼ 2½ 10 10 10 10 10

dengan kantilever khusus

2. Sistem kolom baja 1 ¼ 1¼ 1¼ 10 10 TI TI TI^

dengan kantilever biasa ^h, h,i

3. Rangka beton bertulang 2 ½ 1¼ 2½ 10 10 10 10 10

pemikul momen khusus

4. Rangka beton bertulang 1 ½ 1½ 1½ 10 10 TI TI TI

pemikul momen menengah

5. Rangka beton bertulang 1 1¼ 1 10 TI TI TI TI

pemikul momen menengah

6. Rangka kayu 1½ 1½ 1½ 10 10 10 TI TI

H. Sistem baja didetail 3 3 3 TB TB TI TI TI

secara khusus untuk

ketahanan seismic, tidak

termasuk sistem kolom

kamtilever

h. Perhitungan perioda fundamental pendekatan. Perioda fundamental

pendekatan (Ta), dalam detik, harus ditentukan dari persamaan

II-28
BAB II Tinjauan Pustaka

Ta = Ct.

Ta maks = 1,5. Ta min

Keterangan :

hn adalah ketinggian struktur dalam meter, di atas dasar sampai tingkat

tertinggi struktur, dan koefisien Ct dan x ditentukan berdasarkan Tabel 2.8

Koefisien untuk batas atas pada perioda yang dihitung dan Tabel 2.9 Nilai

parameter perioda pendekatan Ct dan x.

Tabel 2.8 Koefisien untuk batas atas pada perioda yang dihitung (Cu)

Parameter percepatam respons spectral Koefisien Cu

desain pada 1 detik, SD1

≥ 0,4 1,4

0,3 1,4

0,2 1,5

0,15 1,6

≤ 0,1 1,7

Tabel 2.9 Nilai parameter pendekatan Ct dan x

Tipe struktur Ct x

Sistem rangka pemikul momen dimana rangka memeikul 100

persen gaya gempayang disyaratkan dan tidak dilingkupi atau

dihubungkan dengan komponen yang lebih kaku dan akan

mencegah rangka dari defleksi jika dikenai gaya gempa :

Rangka baja pemikul momen 0,0724^a 0,8

II-29
BAB II Tinjauan Pustaka

Rangka beton pemikul momen 0,0466^a 0,9

Rangka baja dengan bresing eksentris 0,0731^a 0,75

Rangka baja dengan bresing terkekang terhadap tekuk 0,0731^a 0,75

Semua sistem struktur lainnya 0,0488^a 0,75

Tabel 2.9 Nilai parameter perioda pendekatan Ct dan x

Ukuran Baut, mm Baut A325M Baut A490M

M16 91 114

M20 142 179

M22 176 221

M24 205 257

M27 267 334

M30 326 408

M36 475 595

Sama dengan 0,70 dikalikan kekuatan tarik minimum baut, dibulatkan mendekati kN,

seperti disyaratkan dalam spesifikasi untuk baut ASTm A325M dan A490M dengan

ulir UNC.

Ta = 0,1N untuk struktur dengan ketinggian tidak melebihi 12 tingkat dimana

sistem penahan gaya gempa terdiri dari rangka penahan momen beton atau baja

secara keseluruhan dan tinggi tingkat paling sedikit 3 m. (N = jumlah tingkat).

i. Koefisien Respon Seismik (Cs)

JikaS1 < 0,6 maka tidak ada Cs minimum tambahan.

II-30
BAB II Tinjauan Pustaka

Cs hitungan = SDS/(R/Ie)

Cs min = 0,[Link] ≥0,01

Cs maks = SD1/T . (R/Ie)

Digunakan nilai Cs yang optimum yang sesuai syarat minimum dan

maksimum.

Gaya geser seismic (V) yaitu Cs dikali dengan Wt (berat bangunan total).

2.2.2. Perencanaan Kapasitas

Dalam perencanaan struktur gedung harus memenuhi syarat kolom lebih kuat

dibandingkan balok, hal ini dikarenakan kolom akan menompang balok, lanyai

serta seluruh beban yang ada dilantai tersebut. Sedangkan balok hanya

menopang beban dari pelat yang nantinya akan disalurkan ke kolom.

2.3. Elemen Struktur

Struktur merupakan saran untuk menyalurkan beban dan akibat penggunaan

dan atau kehadiran bangunan ke dalam tanah. Dalam kenyataannya semua

struktur adalah, dan seharusnya, pertama – tama di rancang untuk berfungsi

sebagai kesatuan secara keseluruhan, dan hanya yang kedua sebagai

serangkaian unsur yang berbeda – beda. Sesuai dengan bagian terkhir dri

definisi yang diperluas, unsur – unsur ini tanpa kecuali ditempatkan dan

diinterelasikan dengan cara tertentu agar seluruh struktur mampu berfungsi

secara keseluruhan dalam memikil beban, baik yang bereraksi secara vertical

maupun secara horizontal, kedalam tanah. (Daniel dalam buku Struktur –

1999)

II-31
BAB II Tinjauan Pustaka

A. Preliminary Design

Desain yang sesuai dengan ketentuan untuk desain faktor beban dan ketahanan

(DFBK) memenuhi persyaratan spesifikasi ini bila kekuatan desain setiap

komponen struktural sama atau melebihi kekuatan perlu yang ditentukan

berdasarkan kombinasi beban DFBK. Desain harus sesuai dengan persamaan

berikut :

Ru ≤ øRn

Keterangan :

Ru = kekuatan perlu menggunakan kombinasi beban DFBK

Rn = kekuatan nominal

Ø = faktor ketahanan

øRn = kekuatan desain

Adapun setelah analisis yang sesungguhnya, desain kekuatan izin (DKI) harus

dilakukakn berdasarkan persamaan berikut :

Ra = kekuatan perlu yang menggunakan kombinasi beban DKI

Rn = kekuatan nominal

Ω = faktor keamanan

Rn Ω = kekuatan izin

B. Perencanaan perhitungan pelat dek baja sni 143

Pada perencanaan ulang gedung sekolah Terang akan digunakan pelat dengan

menggunakan dek baja berlekuk. Kekuatan lentur yang tersedia dari konstruksi

komposit yang terdiri dari pelat beton pada dek baja berlekuk yang

II-32
BAB II Tinjauan Pustaka

disambungkan ke balok baja harus ditentukan melalu bagian yang sesuai

dengan pasal I3.2a pada SNI 1729 : 2015, yaitu :

ɸbMn dan Mn/ Ωb harus ditentukan untuk keadaan batas leleh sebagai berikut :

1. Kuat lentur positif

- Untuk h/tw ≤ 3,76√ Mn harus ditentukan dari distribusi

tegangan plastis pada penampang komposit untuk keadaan batas leleh

(Momen plastis)

- Untuk h/tw > 3,76√ Mn harus ditentukan dari superposisi

tegangan elastis, dengan memperhitungkan efek penopangan, untuk

keadaan batas leleh (momen leleh)

2. Kekuatan Lentur negative

Kekuatan lentur negative tersedia harus ditentukan untuk penampang baja

sendiri, menurut persyaratan Bab F pada SNI 1729 – 2015.

- Balok baja adalah penampang kompak dan dibresing secara v=cukup

- Steel headed stud atau angkur baja yang menyambungkan pelat ke balok

baja pada daerah momen negative

- Tulangan pelat yang parallel pada balok baja, di lebar efektif pelat,

diperhitungkan dengan tepat.

Persyaratan kekuatan lentur yang tersedia :

- Tinggi rusuk ≤ dari 3 in (75 mm). Lebar rata-rata dari rusuk atau voute

beton wr, harus ≥ 2 in (50 mm)

- Pelat beton harus dismbungkan ke balok baja dengan angkur steel heade

stud di las, 3.4 in (19 mm) atau kurang dalam diameter secara langsung ke

II-33
BAB II Tinjauan Pustaka

penampang melintang baja. Angkur harus diperpanang ≥ 1 ½ in (38 mm)

dari selimut beton.

- Tebal pelat di atas dek baja ≥ 2 in (50 mm)

- Spasi ke semua komponen struktur pendukung ≥ 18 in ( 460 mm)

Transfer beban untuk kekuatan lentur positif

- Kehancuran beton

V = 0,85 . fc. Ac

- Leleh tarik dari penampang baja

V – Fy. As

- Kekuatan geser dari headed stud atau angkur kanal baja

Teransfer beban untuk kekakuan lentur negative

- Untuk keadaan batas dari leleh untuk tulangan pelat

V = [Link]

- Untuk keadaan batas kekuatan geser dari steel headed stud atau angkur

kanal baja.

V=∑

C. Perhitungan Balok Komposit

Komposit adalah kondisi dimana elemen – ele men dan komponen struktur

baja dan beton bekerja secara satu kesatuan dalam distribusi gaya-gaya dalam

seperti pada. Balok Komposit adalah balok baja struktur yang bersentuhan

langsung dan bekerja secara komposit dengan pelat beton bertulang.

II-34
BAB II Tinjauan Pustaka

Komponen struktur adalah elemen penyambung atau rakitan dimana elemen-

elemen baja dan beton bekerja sebagai satu kesatuan dalam distribusi gaya-

gaya dalam, dengan pengecualian kasus khusus balok komposit dimana angkur

baja tertanam dalam pelat beton solid atau dalam pelat yang dicor di atas dek

baja lekuk. ( SNI 1729 - 2015)

Aksi struktur komposit pada balok baja yang dicor secara monolit dalam

bentuk memilik interaksi yang baik antara balok baja dan beton, selain itu

lekatan ini tergantung pada interaksi antara baja dan beton seperti pada Gambar

2.4 (b). Dengan demikian yang dimaksud balok komposit (composite beam)

adalah batang struktural yang mendukung gaya – gaya arah trasversal terhadap

sumbunya dimana kekuatannya tergantung pada interaksi mekanis diantara dua

atau lebih bahan yang berbeda. (Johnston, 1980)

Gambar 2.4 (a) Aksi Balok Non Komposit; (b) Aksi Balok Komposit

Gambar 2.5 Contoh gambar potongan balok komposit dengan pelat metal

dek

a. Lebar efektif
II-35
BAB II Tinjauan Pustaka

Lebar efektif pelat beton harus diambil dari jumlah lebar efektif untuk setiap

sisi sumbu balok, masing – masing yang tidak melebihi :

- Seperdelapan dari bentang balok, pusat ke pusat tumpuan

- Setengah jarak ke sumbu dari balok yang berdekatan; atau

- Jarak ke tepi pelat

b. Kekuatan Selama Pelaksanaan

Bila penopang sementara tidak digunakan selama pelaksanaan, penampang

baja sendiri harus memiliki kekuatan cukup untuk mendukung semua beban

yang digunakan sebelum beton mencapai 75% dari kekuatan yang diisyaratkan

f‟c.

c. Balok Komposit dengan Angkur Steel headed stud atau Angkur Canal

Baja

- Kekuatan Lentur Positif

Kekuatan lentur positif desain, φbMn, dan kekuatan lentur positif yang

diijinan, Mn/Ωb, harus ditentukan untuk keadaan batas leleh sebagai berikut :

Φb = 0,90 (DFBK)

Ωb = 1,67 (DKI)

Untuk h/tw ≤ 3,76 √EIFy, Mn harus ditentukan dari distribusi tegangan plastis

pada penampang komposit untuk keadaan batas leleh (momen plastis). Untuk

h/tw > 3,76 √EIFy, Mn harus ditentukan dari superposisi tegangan elastis,

dengan memperhitungkan efek penopangan, untuk keadaan batas leleh (momen

leleh).

- Kekuatan Lentur Negatif

II-36
BAB II Tinjauan Pustaka

Kekuatan lentur negatif tersedia harus ditentukan untuk penampang baja

sendiri, menurut persyaratan desain komponen struktur untuk lentur. Alternatif,

kekuatan lentur negatif yang tersedia harus ditentukan dari distribusi tegangan

plastis pada penampang komposit, untuk keadaan batas leleh (momen plastis),

dimana :

Φb = 0,90 (DFBK)

Ωb = 1,67 (DKI)

Asalkan batasan yang berikut dipenuhi :

a. Balok baja adalah penampang kompak dan dibreising secara cukup menurut

Bab F.

b. Steel headed stud atau angkur kanal baja yang menyambungan pelat ke

balok baja pada daerah momen negatif.

c. Tulangan pelat yang paralel pada balok baja, di lebar efektif pelat,

diperhitungkan dengan pelat.

- Transfer Beban Antara Balok Baja dan Slab Beton

a. Transfer Beban untuk Kekuatan Lentur Positif

Geser horizontal keseluruhan di muka-dalam antar balok baja dan pelat beton

harus diasumsikan disalurkan melalui steel headed stud atau angkur kanal baja,

kecuali untuk balok dibungkus beton seperti didefinisikan dalam Pasal I3.3.

Untuk aksi komposit dengan beton yang menahan tekan lentur, gaya geser

nominal antara balok baja dan pelat beton disalurkan melalui angkur baja, V,

antara titik dari momen positif maksimum dan titik dari momen nol harus

II-37
BAB II Tinjauan Pustaka

ditentukan sebagai nilai terendah sesuai dengan keadaan batas dari kehancuran

beton, leleh tarik dari penampang baja, atau kekuatan geser dari angkur baja :

1. Kehancuran beton

V  0,85 F‟c Ac (I3-1a)

2. Leleh tarik dari penampang baja

3. V  Fy As

4. Kekuatan geser dari steel headed stud atau angkur kanal baja

V   Qn

Keterangan :

Ac = luas pelat beton di lebar efektif, in². (mm²)

As = luas penampang melintang baja, in². (mm²)

ΣQn = jumlah dari kekuatan geser nominal dari steel headed stud atau

angkur kanal baja antara titik dari momen positif maksimum dan titik dari

momen nol, kips (N)

b. Transfer Beban untuk Kekuatan Lentur Negatif

Pada balok komposit menerus dimana baja tulangan longitudinal di

daerah momen negatif diperhitungkan bekerja secara komposit dengan balok

baja, geser horizontal total antara titik dari momen negatif maksimum dan titik

dari momen nol harus ditentukan sebagai nilai terendah sesuai dengan keadaan

batas yang berikut:

 Untuk keadaan batas dari leleh tarik tulangan pelat

V  Fysr Asr

Keterangan :

II-38
BAB II Tinjauan Pustaka

Asr = luas baja tulangan longitudinal yang diperhitungkan secara cukup

Fysr = tegangan leleh minimum yang disyaratkan dari baja tulangan ksi

(MPa)

 Untuk keadaan batas kekuatan geser dari steel headed stud atau angkur

kanal baja

 V  Qn

5. Angkur Baja pada Balok Komposit

Panjang dari angkur steel headed stud tidak boleh lebih kecil dari empat kali

diameter batang dari dasar angkur steel headed stud pada bagian atas dari

kepala sesudah pemasangan.

a. Kekuatan dari Angkur Steel headed stud

Kekuatan geser nominal satu angkut steel headed stud yang ditanam pada suatu

pela beton solid atau pada suatu pelat komposit dengan dek harus ditentukan

sebagai berikut :

Qn  0,5Asa FcEc  Rg Rp Asa Fu

Keterangan :

Asa = luas penampang dari angkur steel headed stud, in². (mm²)

Ec = modulus elastisitas beton

=

Wc1,5 . F'c , ksi 0,043Wc1,5 F c , Mpa 
Fu = kekuatan tarik minimum yang disyaratkan dari suatu angkur

steel headed stud, ksi (MPa)

Rg = 1,0 untuk :

II-39
BAB II Tinjauan Pustaka

(a) Satu angkur steel headed stud yang di las pada suatu rusuk dek baja

dengan dek yang diorientasikan tegak lurus terhadap profil baja;

(b) Sejumlah dari angkur steel headed stud di suatu lajur/baris secara langsung

terhadap profil baja;

(c) Sejumlah dari angkur steel headed stud yang di las pada suatu lajur sampai

dek baja dengan dek diorientasikan paralel terhadap profil baja dan rasio

dari lebar rusuk rata-rata terhadap kedalaman rusuk ≥ 1,5

Rg = 0,85 untuk:

(a) Dua angkur steel headed stud yang dilas pada suatu rusuk dek baja

dengan dek diorientasikan tegak lurus terhadap profil baja;

(b) Satu angkur steel headed stud yang di las melewati dek baja dengan

dek diorientasikan parallel terhadap profil baja dan rasio dari lebar rusuk

rata-rata terhadap kedalaman rusuk < 1,5

Rg = 0,75 untuk :

(a) Angkur steel headed stud yang dilas secara langsung pada profil baja;

(b) Angkur steel headed stud yang dilas pada suatu pelat komposit dengan

dek yang diorientasikan tegak lurus terhadap balok dan emid-ht ≥ 2in. (50

mm)

Emid-ht = jarak dari tepi kaki angkur steel headed stud terhadap badan

dek baja, diukur di tengah tinggi dari rusuk dek, dan pada arah tumpuan

beban dari angkur steel headed stud (dengan kata lain, pada arah dari

momen maksimum untuk suatu balok yang ditumpu sederhana),in.(mm)

II-40
BAB II Tinjauan Pustaka

Catatan : Tabel dibawah ini memperlihatkan nilai untuk Rg dan Rp untuk

setiap kasus. Kapasitas untuk angkur steel headed stud dapat ditemukan

dalam Manual.

Tabel 2.10 Nilai Rg dan Rp

Kondisi Rg Rp

Tanpa dek 1,0 1,0

Dek diorientasi paralel terhadap profil baja

≥ 1,5

1,0 0,75
< 1,5
0,85** 0,75

Dek diorientaskan tegak lurus terhadap profil baja

Jumlah dari angkur steel headed stud yang memiliki

rusuk dek yang sama

1 1,0 0,6*

2 0,85 0,6*

3 atau lebih 0,7 0,6*

Hf = tinggi rusuk nominal, in (mm)

Wr = lebar rata-rata dari rusuk atau voute beton

** untuk suatu headed stud tunggal

* nilai ini dapatditingkatkan sampai 0,75 bila enid-ht ≥ 2 in (51 mm)

b. Jumlah Angkur Baja yang Diperlukan

II-41
BAB II Tinjauan Pustaka

Jumlah angkur yang diperlukan antara penampang momen lentur maksimum,

positif atau negatif, dan penampang yang berdekatan dari momen nol harus

sama dengan geser horizontal seperti yang ditentukan pada Pasal I3.2d(1) dan

I3.2d(2) dibagi dengan kekuatan geser nominal dari satu angkur baja seperti

ditentukan dari Pasal I8.1 atau Pasal I8.2. Jumlah dari angkur baja yang

diperlukan antara setiap beban terpusat dan titik terdekat dari momen nol harus

cukup untuk mengembangkan momen maksimum yang diperlukan di titik

beban terpusat.

c. Persyaratan Pendetailan

Angkur baja yang diperlukan pada setiap sisi dari titik momen lentur

maksimum, positif atau negatif, harus didistribusikan secara merata antara titik

tersebut dan titik yang berdekatan dari momen nol, kecuali disyaratkan lain

pada dokumen kontrak.

Angkur baja harus memiliki paling sedikit 1 in. (25 mm) dari selimut beton

lateral dalam arah tegak lurus terhadap gaya geser, kecuali untuk angkur yang

dipasang pada rusuk dari dek baja dicetak. Jarak minimum dari pusat suatu tepi

bebas pada arah dari gaya geser harus 8 in. (203 mm) jika berat normal beton

yang digunakan dan 10 in. (250 mm) jika beton ringan yang digunakan.

Ketentuan ACI 318, Lampiran D diperkenankan digunakan sebagai pengganti

dari nilai- nilai ini.

Spasi pusat-ke-pusat minimum dari angkur steel headed stud harus enam

diameter sepanjang sumbu longitudinal dari balok komposit pendukung dan

empat diameter tranversal terhadap sumbu longitudinal dari balok komposit

II-42
BAB II Tinjauan Pustaka

pendukung, kecuali bahwa di rusuk dari dek baja dicetak diorientasikan tegak

lurus terhadap balok bajja dengan spasi pusat-ke-pusat minimum harus empat

diameter pada setiap arah. Spasi pusat-ke-pusat maksimum dari angkur baja

tidak boleh melebihi delapan kali ketebalan pelat total atau 36 in. (900 mm).

d. Angkur Baja pada Komponen Komposit

Pasal ini harus diterapkan untuk perancangan dari angkur steel headed stud dan

angkur kanal baja cor di tempat pada komponen komposit.

Ketentuan dari peraturan bangunan gedung yang berlaku atau ACI 318,

Lampiran D dapat digunakan sebagai pengganti dari ketentuan dalam pasal ini.

Tabel 2.11 Kondisi Pembebanan

Kondisi Pembebanan Beton Berat Normal Beton Ringan

Geser hid ≥ 5 hid ≥ 7

Tarik hid ≥ 8 hid ≥ 10

Geser dan Tarik hid ≥ 8 N/A*

Hid = rasio dari panjang batang angkur paku berkepala baja terhadap bagian atas dari

kepala paku, untuk diameter batan

*Mengacu ke ACI 318, Lampiran D untuk perhitungan efek interaksi dari angkur

yang ditanam dalam beton ringan.

(1) Kekuatan Geser dari Angkur Steel headed stud pada Komponen Komposit.

Bila kekuatan pecah beton dalam geser adalah bukan suatu keadaan batas yang

berlaku, kekuatan geser desain, øv Qnv, dan kekuatan geser yang diizinkan,

Qnv/Ωv, dari suatu angkur steel headed stud harus ditentukan sebagai berikut :

II-43
BAB II Tinjauan Pustaka

Qnv  Fu Asa

Øv = 0,65 (DFBK) Ωv = 2,31 (DKI)

Keterangan :

Qnv = kekuatan geser nominal dari angkur steel headed stud, kips (N)

Asa = luas penampang dari angkur steel headed stud, in². (mm²)

F = kekuatan tarik minimum yang disyaratkan dari suatu angkur steel

headed stud, ksi (MPa)

Bila kekuatan pecah beton dalam geser adalah suatu keadaan batas yang

berlaku, kekuatan geser yang tersedia dari suatu angkur steel headed stud harus

ditentukan melalui satu dari yang berikut :

(a) Bila tulangan angkur diperhitungkan sesuai dengan Bab 12 dari ACI 318

pada kedua sisi dari permukaan pecah beton untuk angkur steel headed stud,

minimum dari kekuatan geser nominal baja dari Persamaan I8-3 dan kekuatan

nominal dari tulangan angkur harus digunakan untuk kekuatan geser nominal,

Qnv, dari angkur steel headed stud.

(b) Seperti ditetapkan oleh peraturan bangunan gedung yang berlaku atau

ACI 318, Lampiran D.

Catatan : Jika kekuatan pecah beton dalam geser adalah suatu keadaan batas

yang dapat dipakai (untuk contoh, dimana prisma pecah tidak tertahan oleh

suatu pelat baja berdekatan, sayap atau badan), tulangan angkur yang sesuai

yang diperlukan untuk ketentuan dari pasal ini boleh digunakan. Alternatif,

ketentuan dari peraturan bangunan gedung yang berlaku atau ACI 318,

Lampiran D dapat digunakan.

II-44
BAB II Tinjauan Pustaka

(2) Kekuatan tarik dari Angkur Steel headed stud pada Komponen Komposit

Bila jarak dari pusat suatu angkur ke tepi bebas beton pada arah tegak lurus

terhadap tinggi dari angkur steel headed stud yang lebih besar dari atau sama

dengan 1,5 kali tinggi dari angkur steel headed stud yang diukur ke bagian atas

dari kepala paku, dan dimana spasi pusat-ke-pusat dari angkur steel headed

stud adalah lebih besar dari atau sama dengan tiga kali tinggi dari angkur steel

headed stud yang diukur ke bagian atas dari kepala paku, kekuatan tarik yang

tersedia dari satu angkur steel headed stud harus ditentukan sebagai berikut :

Qnt  Fu Asa

Øt (DFBK) Ωt = 2,00 (DKI)

Keterangan :

Qnt = kekuatan tarik nominal dari angkur steel headed stud, kips (N)

Bila jarak dari pusat suatu angkur ke suatu tepi bebas beton dalam arah tegak

lurus terhadap tinggi dari angkur steel headed stud adalah kurang dari 1,5 kali

tinggi dari angkur steel headed stud yang dikur terhadap bagian atas dari kepala

paku, atau dimana spasi pusat-ke-pusat dari angkur steel headed stud kurang

dari tiga kali tinggi dari angkur steel headed stud terhadap bagian atas dari

kepala paku, kekuatan tarik nominal dari satu angkur steel headed stud harus

ditentukan melalui satu dari yang berikut :

(a) Bila tulangan angkur diperhitungkan menurut bab 12 dari ACI 318 pada

kedua sisi dari permukaan pecah beton untuk angkur steel headed stud,

minimum dari kekuatan tarik nominal baja dari Persamaan I8-4 dan kekuatan

nominal dari tulangan angkur harus digunakan untuk kekuatan tarik nominal,

Qnt, dari angkur steel headed stud.

II-45
BAB II Tinjauan Pustaka

(b) Seperti yang ditetapkan oleh peraturan bangunan gedung yang berlaku

atau ACI 318, Lampiran D.

Catatan : Tulangan pengekangan tambahan yang direkomendasikan sekitar

angkur untuk angkur steel headed stud yang menahan tarik atau iteraksi dari

geser dan tarik untuk menghindari efek tepi atau efek dari angkur berspasi

rapat. Lihat Penjelasan dan ACI 318, Pasal D5.2.9 untuk panduan.

(3) Kekuatan Angkur Steel headed stud untuk Interaksi Geser dan Tarik

pada Komponen Komposit

Jika kekuatan pecah beton (dalam geser) tidak menentukan keadaan batas, dan

bila jarak dari pusat suatu angkur ke suatu tepi bebas dari beton dalam arah

tegak lurus terhadap tinggi dari angkur stel headed stud adalah lebih besar atau

sama dengan 1,5 kali tinggi dari angkur steel headed stud diukur ke bagian atas

dari kepala paku, dan bila spasi pusat-ke-pusat dari angkur steel headed stud

adalah lebih besar atau sama dengan tiga kali tinggi dari angkur steel headed

stud diukur ke bagian atas dari kepala paku, kekuatan nominal untuk interaksi

dari geser dan tarik dari satu angkur steel headed stud harus ditentukan sebagai

berikut :

 Qrt 53 Qrt 53 
( ) ( )   1, 0
 Qct Qct 

Keterangan :

Qct = kekuatan tarik yang tersedia, kips (N)

Qrt = kekuatan tarik perlu, kips (N)

Qcv = kekuatan geser yang tersedia, kips (N)

II-46
BAB II Tinjauan Pustaka

Qrc = kekuatan geser perlu, kips (N)

(a) Koefisien Reduksi Kuat Lentur

1. Untuk penampang kompak, φ = 0.85

2. Untuk penampang tidak kompak, φ = 0.90

(b) Sumbu Netral Plastis

Sumbu netral plastis atau garis netral adalah batas dimana pada garis tersebut

struktur tidak mengalami tegangan lentur (nol) dimana atas bagian atas garis

netral struktur mengalami tegangan tekan (negatif) sedang dibawah garis

tersebut, struktur mengalami tegangan tarik positif. (Asiyanto, 2012)

Kuat lentur yang dihitung berdasarkan distribusi tegangan plastis dikategorikan

menjadi dua, yaitu sumbu netral plastis jatuh pada pelat beton dan sumbu netral

plastis jatuh pada profil baja.

1. Sumbu Netral Plastis Jatuh pada Pelat Beton

Mengacu pada Gambar 2.6, maka besar gaya tekan FC adalah:

FC  0,85. f c. be. Xpl

Gaya Tarik FS pada profil baja adalah sebesar :

FS  Aprofil . fy

Dari keseimbangan gaya , maka diperoleh :

A profil . fy
Xpl 
0,85. f c. be

Kuat lentur nominal dapat dihitung :

Mn  FC. h  FS. h'

II-47
BAB II Tinjauan Pustaka

Gambar 2.6 Kuat Lentur Nominal Berdasarkan Distribusi Tegangan Plastis untuk

Sumbu Netral Plastis Jatuh pada Pelat Beton

2. Sumbu Netral Plastis Jatuh pada Profil Baja

Apabila blok tegangan beton (Xpl) ternyata melebihi tebal pelat beton, maka

distribusi tegangan dapat ditunjukan seperti pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7 Kuat Lentur Nominal Berdasarkan Distribusi Tegangan Plastis untuk

Sumbu Netral Plastis Jatuh pada Profil Baja

Gaya tekan (Fcc) yang bekerja pada beton adalah sebesar :

Fcc  0,85. f c. be. hc

Dan gaya tekan (Fsc) yang bekerja pada profil baja adalah sebesar :

Fsc  Aprofil . fy

Dari keseimbangan gaya, diperoleh hubungan :


II-48
BAB II Tinjauan Pustaka

FS  Fcc  Fsc

Kuat lentur nominal dapat dihitung :

Mn  Fcc. h  Fsc. h ''

D. Kolom Komposit Terbungkus Beton

Kolom merupakan batang tekan tegak yang bekerja untuk menahan balok –

balok loteng, rangka atap, lintasan crane dalam bangunan pabrik dan

sebagainya yang untuk seterusnya akan melimpahkan semua beban tersebut ke

pondasi. (Oentoeng, 1999)

Kolom komposit dapat dibentuk dari pipa baja yang diisi dengan beton polos

atau dapat pula dari profil baja hasil gilas panas yang dibungkus dengan beton

dan diberi tulangan baja serta sengkang, seperti halnya pada kolom beton biasa.

(Setiawan, Agus, 2008)

Pada penelitian ini penulis akan menggunakan kolom komposit terbungkus

oleh beton, dengan profil yang digunakan berupa profil baja WF seperti pada

gambar 2.4.

Persyaratan bagi suatu kolom komposit ditentukan dalam SNI 1729 : 2015.

Gambar 2.8 Kolom Komposit Terbungkus Beton

(1) Batasan – batasannya berupa :

a. Luas penampang melintang inti baja harus terdiri dari sedikitnya 1 persen

dari penampang melintang komposit total.


II-49
BAB II Tinjauan Pustaka

b. Selongsong beton dari inti baja harus ditulangi dengan batang tulangan

longitudinal menerus dan sengkang pengikat lateral atau spiral.

- Apabila digunakan pengikat lateral :

a. Batang tulangan No. 3 (10 mm) berspasi maksimum 12 in ( 305 mm)

pusat ke pusat

b. Batang tulangan No. 4 (13 mm) atau lebih besar harus digunakan spasi

maksimum 16 in ( 406 mm) pusat ke pusat

c. Menggunakan tulangan ulir atau kawat dilas dengan luas ekivalen

spasi maksimum dari pengikat lateral tidak boleh melebihi 0,5 kali

dimensi kolom terkecil.

c. Rasio tulangan minimum :

- Ρsr = 0,004 untuk tulangan longitudinal menerus

- Ρsr = Asr/Ag

Dimana :

Ag = luas bruto komponen struktur komposit in2 ( mm2 )

Asr = luas batang tulangan menerus in2 (mm2 )

(2) Kekuatan Tekan

Kekuatan tekan desain ɸcPn dan kekuatan tekan yang diizinkan Pn/Ωc

komponen struktur komposit terbungkus beton yang dibebani secara aksial

ganda ditentukan untuk keadaan batas dari tekuk entur berdasarkan

kelangsingan komponen struktur, yaitu sebagai berikut :

ɸc = 0,75 (DFBK)

Ωc = 2,00 (DKI)

II-50
BAB II Tinjauan Pustaka

a. Bila

Pn = Pno )]

b. Bila

Pn = 0,887 Pe

Keterangan :

Pno = [Link] + [Link] + 0,85.f‟[Link]

Pe = beban tekuk kritis elastis

= π2 ( eff) (KL)2

Ac = luas beton in2 (mm2)

As = luas penampang baja in2 (mm2)

1,5
Ec = modulus elastisitas beton = wc √ , (ksi)

1,5
= 0,043 wc √ , (Mpa)

eff = kekakuan efektif penampang komposit (N-mm2)

= Es‟s + 0,5 Es‟sr + [Link]‟c

C1 = koefisien untuk peritungan kekakuan dari suatu komponen

struktur tekan terbungkus beton

= 0,1 + 2 ( ≤ 0,3

Es = modulus elastisitas baja = 29000 ksi ( 200000 Mpa)

Fy = tegangan leleh minimum yang disyaratkan dari penampang

baja, ksi (Mpa)

Fysr = tegangan leleh minimum yang disyaratkan dari bata tulangan,

ksi (Mpa)

II-51
BAB II Tinjauan Pustaka

„c = momen inersia penampang beton di summbu netral elastis, in4

(mm4)

„s = momen inersia profil baja di sumbu netral elastis dari

penampang komposit, in4 (mm4 )

„sr = momen inersia batang tulangan di sumbu netral elastis dari

penampang komposit, in4 (mm4 )

K = faktor panjang efektif

L = panjang tanpa bresing secara lateral, in (mm)

Wc = berat beton per unit volume ( 90 ≤ wc ≤ 155, lbs/ft2 atau 1500

≤ wc ≤2500 kg/m3

(3) Kekuatan tarik

Kekuatan tarik tersedia dari struktur komposit terbungkus beton harus

ditentukan untuk keadaan batas leleh sebagai berikut :

Pn = [Link]

ɸt = 0,90 (DFBK)

Ωt = 1,67 (DKI)

(4) Transfer Beban

Persyaratan untuk transfer beban pada struktur komposit terbungkus beton

ditentukan sebagai berikut :

a. Persyaratan umum

- Kekuatan desain ɸRn atau kekuatan yang diizinkan, Rn/Ω ≥ gaya geser

longitun=dinal yang diperlukan, Vr

II-52
BAB II Tinjauan Pustaka

b. Alokasi gaya

Ditentukan berdasarkan distribusi gaya eksternal seperti :

- Untuk komponen struktur komposit diisi beton √ = 2,0

dikarenakan efek pengekangan

- Gaya eksternal pada penampang Baja

V‟r = Pr (1- [Link]/Pno)

Dimana :

Pno = kekuatan tekan aksial nomibal tanpa memperhitungkan

efek panjang, kips (N)

Pr = gaya eksternal perlu, kips (N)

Gaya eksternal pada Beton

V‟r = Pr([Link]/Pno)

Dimana :

Pno = kekuatan tekan aksial nomibal tanpa memperhitungkan

efek panjang, kips (N)

Pr = gaya eksternal perlu, kips (N)

- Gaya eksternal yang dipekerjakan serentak pada Baja dan Beton

Gaya eksternal yang bekerja serentak pada penampang baja dan

selongsong beton atau isi beton, Vr ditentukan sebagai gaya yang

diperlukan untuk membentuk keseimbangan penampang melintang.

c. Mekanisme Transfer Gaya

- Tumpuan langsung

II-53
BAB II Tinjauan Pustaka

Rn = 1,7.f‟c.A

ɸB = 0,65 (DFBK)

ΩB = 2,31 (DKI)

- Sambungan geser

Rc = ΣQcv

Dimana :

Qcv = jumlah dari kekuatan geser yang tersedia

d. Persyaratan Pendetailan

- Komponen struktur komposit terbungkus beton

1) Angkur baja yang dimanfaatkan untuk menyalurkan geser longitudinal

htidak boleh melebiki 2 kali jarak dimensi transversal minimum.

2) Angkur untuk menyalurkan geser longitudinal harus ditempatkan ≥ 2

muka dari profil baja pada suatu konfigurasi simetris secara umum di

sumbu profil baja.

3) Spasi angkur baja di dalam dan di luar dari panjang pengantar beban

harus memenuhi syarat sebagai berikut :

- Jarak ≥ 1 in ( 25 mm) dari selimut beton.

- Spasi minimum pusat ke pusat dari angkur steel headed stud harus 4 kali

diameter

- Spasi tidak boleh elebihi 32 kali diameter shank

- Spasi maksimum pusat ke pusat dari angkur kanal baja harus 24 in (600

mm)

II-54
BAB II Tinjauan Pustaka

(5) Persyaratan Pendetailan

- Spasi minimum antara inti baja dan tulangan longitudinal = 1,5 diameter

tulangan

- Tidak boleh lebih kecil dari 1,5 in ( 38 mm).

Kolom dapat dikategorikan berdasarkan panjangnya. Kolom pendek

adalah kolom yang kegagalannya berupa kegagalan material ( ditentukan

oleh kekuatan material). Kolom panjang adalah kolom yang kegagalannya

ditentukan oleh tekuk (buckling), jadi kegagalannya adalah kegagalan

karena ketidakstabilan, bukan karena kekuatan. (Schodek, 1999)

a. Kolom Pendek

Mempunyai nilai perbandingan antara panjangnya dengan dimensi

penampang melintang relative kecil disebut kolom pendek. Kapasitas pikul

bebabn kolom pendek tidak bergantung pada panjang kolom, dan apabila

mengalami beban berlebihan, kolom pendek pada umumnya akan gagal

karena hancurnya material.

b. Kolom Panjang

Elemen struktur tekan yang semakin panjang akan semakin langsing yang

disebabkan oleh proporsinya. Perilaku kolom langsing yang mengalami

beban tekan sangat berbeda dengan perilaku kolom pendek.

II-55
BAB II Tinjauan Pustaka

Gambar 2.9 Perilaku kolom yang dibebani

(Sumber : Schodek, 1999)

Adapun penjelasan mengenai perilaku kolom yang dibebani, antara lain :

a. Kolom pendek kegagalannya berupa hancurnya material

b. Kolom panang (beban lebih kecil dari beban tekuk) kolom berada dalam

keadaan kesimbangan stabil. Apabila kolom mengalami deformasi kecil,

dapat kembali ke konfigurasi semula apabila bebannya dihilangkan.

c. Kolom panjang ( beban = beban tekuk), apabila beban pada kolom

mencapai beban tekuk kritis, kolom akan berada dalam keadaan

kesimbangan netral. Apabila kolom mengalami deformasi dari

konfigurasi linier, maka akan tetap pada konfigurasi baru (tidak kembali

ke konfigurasi linier). Beban tekuk adalah beban maksimum yang dapat

dipikul kolom.

d. Kolom panjang (beban lebih besar daripada beban tekuk), apabila beban

pada kolom lebih bedar daripada beban tekuk kritis, kolom berada dalam

keseimbangan tak stabil. Kolom akan terus berdeformasi pada beban

konstan sampai akhirnya runtuh.

II-56
BAB II Tinjauan Pustaka

1. Desain Kolom

a. Ketentuan umum

Kekuatan tekan desain kolom ɸcPn, dan kekuatan tekan tersedia, Pn Ωc,

ditentukan sebagai berikut.

Kekuatan tekan nominal, Pn, harus nilai terendah yang diperoleh berdasarkan

pada keadaan batas dari tekuk lentur, tekuk torsi dan tekuk lentur.

ɸc = 0.90 (DFBK)

Ωc = 1.67 (DKI)

Tabel 2.12 Tabel Pemilihan untuk Penerapan Profil

(Sumber : 1729 – 2015)


II-57
BAB II Tinjauan Pustaka

b. Panjang Efektif

Faktor panjang efektif (K) untuk perhitungan kelangsingan komponen struktur

KL/r, harus diisyaratkan sebagai berikut :

1. Dalam sistem rangka terbreis, sistem dinding geser dan sistem struktur

lainnya dimana stabilitas lateral dan ketahanan terhadap beban lateral tidak

bergantung pada kekakuan lentur kolom, fakto panjang efektif K, dari komponen

struktur yang menahan tekan hrus diambil sebesar 1.0, kecuali analisis rasional

menunjukkan bahwa nilai tersebut terendah sesuai.

2. Dalam sistem rangka momen dan sistem struktur lainnya dimana kekakuan

lentur kolom diperhitungkan berkontribusi terhadap stabilitas lateral dan

ketahanan terhadap beban lateral, factor panjang efektif K, atau tegangan tekuk

kritis elastis, Fe, dari kolom tersebut yang kekakuan lentur diperhitungkan

berkontribusi pada stabilitas lateral dan ketahanan terhadap beban lateral harus

ditentukan dari analisis tekuk sidesway dari struktur tersebut. K harus diambil

sebesar q.0 untuk kolom dimana kekakuan lentur tidak diperhitungkan

berkontribusi terhadap stabilitas lateral dan ketahanan terhadap bebam lateral.

Pengecuaian : diizinkan menggunakan K = 1.0 dalam desain semua kolom jika

rasio simpangan orde kedua maksimum terhadap simpangan orde pertama

maksimum (keduanya ditentukan untuk kombinasi bebab DFBK atau 1.6 kali

kombinasi beban DKI) dalam semua tingkat adalah sama dengan atau kurang dari

1.1.

Keterangan :

II-58
BAB II Tinjauan Pustaka

L= panjang tanpa dbresing lateral dari komponen struktur in (mm)

R = radius girasi in (mm)

Untuk komponen struktur yang dirancang berdasarkan tekan, rasio kelangsingan

efektif KL/r sebaiknya tidak melebihi 200.

c. Tekuk Lentur dari komponen struktur tanpa elemen langsing

Kekuatan tekan nominal Pn harus ditentukan berdasarkan keadaan batas dari

tekuk lentur.

Pn = Fcr. Ag

Tegangan kritis Fcr, ditentukan sebagai berikut :

- Bila KL/r ≤ 4,71 (E/Fy)0,5 (atau Fy/Fe ≤ 2,25) maka Fcr = 0,658Fy/Fe

- Bila KL/r ≥ 4,71 (E/Fy)0,5 (atau Fy/Fe > 2,25) maka Fcr = 0,877Fe

Keterangan : Fe = π2 E/(KL/r)2

Desain Sambungan

Setiap elemen struktur baja untuk saling dpat mendistribusikan beban –

bebannya diperlukan suatu alat penyabung antar elemn strukturnya. Komponen

strutut harus saling disambungkan dengan alat pengencang. Syarat dari

kekuatandesain sambungan harus memenuhi keuatan izinnya. Alat pnyambung

yang popular untuk struktur diantaranya las dan baut. Namun pada

perancangan kali ini akan digunakan sambungan baut. Baut yang akan

digunakan dalm perancangan kali ini adalah baut bermutu tinggi. Mutu baut

dan ukuran baut bermacam – macam. Kebutuhannya harus disesuaikan dengan

beban yang akan di terima oleh baut. Adapun berikut tabel ukuran baut dan

II-59
BAB II Tinjauan Pustaka

tabel Kebuatan nominal pengencang dan bagian yang berulir berdasarkan SNI

1729 - 2015.

Tabel 2.13 Ukuran Baut (mm)

Ukuran Baut, mm Baut A325M Baut A490M

M16 91 114

M20 142 179

M22 176 221

M24 205 257

M27 267 334

M30 326 408

M36 475 595

Sama dengan 0,70 dikalikan kekuatan tarik minimum baut, dibulatkan mendekati kN,

seperti disyaratkan dalam spesifikasi untuk baut ASTm A325M dan A490M dengan

ulir UNC.

Tabel 2.14 Kekuatan Nominal Pengencang dan Bagian yang Berulir, ksi (MPa)

Deskripsi Pengencang Kekuatan Tarik Kekuatan Geser

Nominal Fnts, ksi Nominal dalam

(MPa) Sambungan Tipe-

Tumpu, ksi (MPa)

Baut A307 45 (310) 27 (188)

Baut group A (missal A325), bila ulir 90 (620) 54 (372)

tidak dikecualikan dari bidang geser

Baut group A (missal A325), bila ulir 90 (620) 68 (457)

II-60
BAB II Tinjauan Pustaka

tidak dikecualikan dari bidang geser

Baut A490 atau A490M, bila ulir tidak 113 (780) 68 (457)

dikecualikan dari bidang geser

Baut A490 atau A490M, bila ulir tidak 113 (780) 84 (579)

termasuk dari bidang geser

Bagian berulir yang memenuhi 0,75Fu 0,450Fu

persyaratan Pasal A3.4, bila ulir tidak

dikecualikan dari bidang geser

Bagian berulir yang memenuhi 0,75Fu 0,563Fu

persyaratan Pasa. A3.4, bila ulir tidak

termasuk dari bidang geser

(a) untuk baut kekuatan tinggi yang menahan beban fatik tarik, lihat Lampiran 3SNI

1729 – 2015

(b) untuk ujung sambungan yang dibebani dengan panjang pola pengencang lebih

besar dari 38 in (965 mm). Fnv harus direduksi sampai 83,3% dari nilai tabulasi.

Panjang pola pengencang merupakan jarak maksimum sejajar dengan garis gaya

anatara sumbu baut-baut yang menyambungkan dua bagian dengan satu permukaan

lekatan.

(c)untuk baut A307 nilai yangditabulasi harus direduksi sebesar 1 persen untuk setiap

1/16 in (2 mm) di atas diameter 5 dari panjang pada [Link] tersebut.

(d) ulir diizinkan pada bidang geser.

- Ukuran dan Penggunaan lubang

II-61
BAB II Tinjauan Pustaka

Ukuran lubang maksimum untuk baut diberikan pada tabel dibawah ini. Lubang –

lubang standar atau lubang slot-pendek yang te tegak lurus terhadap arah beban

harus disediakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi ini, kecuali lubang

ukuran berlebih, lubang slot – pendek yang parallel terhadap beban atau lubang slot

– panjang yang disetujui oleh insinyus yang memiliki ixin bekerja sebagai

perencana. Ganjal menjari sampai ¼ in (6 mm) diizinkan dalam sambungan slip –

kritis yang dirancang berdasarkab lubang – lubang standar tanpa mereduksi

kekuatan geser nominal dari saran penyambung yang distaratkan untuk lubang

kecil.

Tabel 2.15 Dimensi Lubang Nominal, in

Dimesi Lubang

Diamater Standar Ukuran-lebih Slot-Pendek (Lebar Slot-Panjang

Baut (Diameter) (Diameter) x Panjang) (Lebar x

Panjang)

½ 9/16 5/8 9/16 x 11/16 9/16 x 1 ¼

5/8 11/16 13/16 11/16 x 7/8 11/16 x 1 9/16

¾ 13/16 15/16 13/16 x 1 13/16 x 1 7/8

7/8 15/16 1 1/16 15/16 x 1 1/8 15/16 x 2 3/16

1 1 1/16 1¼ 1 1/16 x 1 5/16 1 1/16 x 2 ½

≥ 1 1/8 d + 1/16 d + 5/16 (d + 1/16) x (d + (d + 1/16) +

3/8) (2,5 x d)

II-62
BAB II Tinjauan Pustaka

Tabel 2.16 Dimensi Lubang Nominal, mm

Dimesi Lubang

Diamater Standar Ukuran-lebih Slot-Pendek Slot-

Baut (Diameter) (Diameter) (Lebar x Panjang) Panjang

(Lebar x

Panjang)

M16 18 20 18 x 22 18 x 40

M20 22 24 22 x 26 22 x 50

M22 24 28 24 x 30 24 x 55

M24 27^(a) 30 27 x 32 27 x 60

M27 30 35 30 x 37 30 x 67

M30 33 38 33 x 40 33 x 75

≥ M36 d+3 d+8 (d + 3) x (d + 10) (d + 3) x

2,5d

(a) Izin yang diberikan memungkinkan

penggunaan baut 1 in jika diinginkan.

Bila baut group B diatas 1 ini (25 mm) dalam diameter digunakan

pada lubang slot atau ;ubang ukuran berlebih pada lapiran eksternal,

ring diperkeras tunggal sesui dengan ASTM F436, kecuali dengan

ketebalan minimum 5/16 in (8 mm), harus digunakan sebagai

pengganti dari ring standar tersebut.

Pada sambungan baut berlekuatan tinggi, missal ring-ring pelat atau

batang – batang tulangan menerus tersebut harus tebalnya tidak

II-63
BAB II Tinjauan Pustaka

kurang dari 5/16 in (8 mm) dan harus dari materias kelas struktur,

tetapi tidak perlu diperkeras.

- Spasi minimum

Jarak anatar pusat –pusat standar, ukuran – berlebih, atau lubang –

lubang slot tidak boleh kurang dari 2 2/3 diameter nominal, atau jadi

3 diameter yang lebih disukai.

Syarat :

Jarak ≥ 2 2/3 d

Jarak = 3d

- Jarak tepi minimum

Tabel 2.17 Jarak Tepi Minimum, dari Pusat Lubang Standar ke Tepi

dari Bagian yang Disambung, in

Diameter Baut (in) Jarak Tepi Minimum

½ ¾

5/8 7/8

¾ 1

7/8 11/8

1 1¼

1 1/8 1½

1¼ 1 5/8

II-64
BAB II Tinjauan Pustaka

Di atas 1 ¼ 1¼xd

Jika diperlukan, jarak tepi terkecil diizinkan asalkanketentuan yang sesuai Pasal J3.10

dan J4 pada SNI 1729-2015 dipenuhi, tetapi jarak tepi yang kurang dari satu diameter

baut tidak diizinkan tanpa persetujuan dari insinyur yang memiliki izin bekerja

sebagai perencana.

Untuk ukuran-berlebih atau lubang-lubang slot, lihat Tabe J3.5M pada SNI 1729-

2015

Tabel 2.18 Jarak Tepi Minimum dari Pusat Lubang Standar ke Tepi dari Bagian yang

Disambung

Diameter Baut (mm) Jarak Tepi Minimum

16 22

20 26

22 28

24 30

27 34

30 38

36 46

Di atas 36 1,25 d

Jika diperlukan, jarak tepi terkecil diizinkan asalkanketentuan yang sesuai Pasal J3.10

dan J4 pada SNI 1729-2015 dipenuhi, tetapi jarak tepi yang kurang dari satu diameter

baut tidak diizinkan tanpa persetujuan dari insinyur yang memiliki izin bekerja

sebagai perencana.

Untuk ukuran-berlebih atau lubang-lubang slot, lihat Tabe J3.5M pada SNI 1729-

II-65
BAB II Tinjauan Pustaka

2015

Tabel 2.19 Nilai Penambahan Jarak Tepi C2, in

Diameter Nominal Lubang Ukuran- Lubang-lubang Slot

dari Pengencang Berlebih Sumbu Panjang Tegak Sumbu

(in) Lurus Terhadap tepi Panjang

Slot Pendek Slot Paralel

Panajng Terhadap Tepi

≤ 7/8 1/16 1/8

1 1/8 1/8 ¾d 0

≥ 1 1/8 1/8 3/16

Bila panjang dari slot kurang dari maksimum yang diizinkan (lihat Tabel J3.3 pada

SNI 1729 – 2015), C2 diizinkan direduksi sebesar setangah perbedaan anatara

panjang slot maksimum dan aktual.

Tabel 2.20 Nilai Penambahan Jarak Tepi C2, mm

Diameter Nominal Lubang Ukuran- Lubang-lubang Slot

dari Pengencang (mm) Berlebih Sumbu Panjang Tegak Sumbu

Lurus Terhadap tepi Panjang

Slot Slot Paralel

Pendek Panajng Terhadap

Tepi

≤ 22 2 3

24 3 3 0,75d 0

II-66
BAB II Tinjauan Pustaka

≥ 27 3 5

Bila panjang dari slot kurang dari maksimum yang diizinkan (lihat Tabel J3.3 pada

SNI 1729 – 2015), C2 diizinkan direduksi sebesar setangah perbedaan anatara

panjang slot maksimum dan aktual.

- Spasi maksumum dan jarak tepi

Jarak maksimum dari pusat setiap baut ke tepi terdekat dari bagian –

bagian dalam kontak harus 12 kali ketebalan dari bagian yang

disambung akibat perhitungan, tetapi tidak boleh melebihi 6 in (150

mm).

Jarak ≤ 12 tebal pelat

Jarak ≤ 6 in (150 mm)

Spasi longitudinal pengencang anatar elemen –elemen yang terdiri

dari suatu pelat dan suatu profil atau dua pelat pada kontak menerus

harus :

- Untuk komponen struktur dicat harus :

Jarak spasi ≤ 24 tebal dari bagian tertipis

Jarak spasi ≤ 12 in (305 mm)

- Untuk komponen struktur tidak dicat dari baja yang berhubungan

dengan cuaca yang menahan korosi atmospheric

- Jarak spasi ≤ 14 tebal dari bagian tertipis

- Jarak spasi ≤ 7 in (180 mm)

II-67
BAB II Tinjauan Pustaka

- Kekuatan Tarik dan Gesser dari Baut dan bagian – bagian berulir

- Kekuatan tarik atau geser desain ɸRn, dan kekuatan tarik atau geser

yang diizinkan Rn Ω, dari suatu baut kekuatan tinggi pratarik atau

bagian berulir harus ditentukan sesuai dengan batas dari keruntuhan

tarik dan keruntuhan geser sebagai berikut :

- Rn = Fn. Ab

- ɸ = 0,75 (DFBK)

- Ω = 2,00 (DKI)

Dimana :

Ab = luas tubuh baut tidak berulir nominal atau bagian berulir in2

(mm2)

Fn = tegangan tarik nominal (Fnt) atau tegangan geser (Fnw)

- Kombinasi gaya tarik dan geser dalam sambungan tipe – tumpuan

Rn = Fnt. Ab

ɸ = 0,75 (DFBK)

Ω = 2,00 (DKI)

Keterangan :

II-68
BAB II Tinjauan Pustaka

F‟nt = tegangan tarik nominal yang dimodifikasi mencakup

efek tegangan geser, ksi (Mpa)

F‟nt = 1,3 Fnt - < Fnt

F‟nt = 1,3 Fnt - < Fnt

Fnt = tegangan tarik nominal, ksi (MPa)

Fnv = tegangan geser, ksi (MPa)

= tegangan geser yng diperlukan mnggunakan kombinasi

beban DFBK atau DKI, ksi (MPa)

Catatan :

Bila tegangan yang diperlukan( ) baik geser atau tarik kurang

dari atau samadengan 30% dari teganga yang tersedia sesuai, efek

kombinasi tegangan tidak perlu diperiksa.

- Baut kekuatan tinggi dalam sambungan kritis slip

Sambungan kritis – slip harus dirancang untuk mencegah slip dan

untuk keadaan batas dari sambungan tipe – tumpuan. Bila baut kriti

sip sampai pengisi, semua permukaan yang menahan slip harus

dipersiapkan untuk mencapai ketahanan slip desain. Ketahanan slip

yang tersedia untuk keadaan batas dari slip ditentukan sebagai

berikut :

II-69
BAB II Tinjauan Pustaka

Rn = μ.[Link]

Syarat :

- Untuk lubang ukuran standard an lubang slot-pendek yang tegak

lurus terhadap arah dari beban

ɸ = 1,00 (DFBK)

Ω = 1,50 (DKI)

- Untuk lubang ukuran berlebih dan lubang slot-pendek yang paralel

terhadap arah dari beban

ɸ = 0,85 (DFBK)

Ω = 1,76 (DKI)

- Untuk lubang slot-panjang

ɸ = 0,70 (DFBK)

Ω = 2,14 (DKI)

Keterangan :

μ = koefisien slip rata-rata untukpermukan kelas A atau B.

μ = 0,3 untuk permukaan baja mill scale bersih tanpa dicat

tau permukaan dengan pelapis kelas A pada baja blast

cleaned atau digalvanis dicelup panas dan permukaan

dikasarkan

μ = 0,5 untuk permukaan baja blast-cleaned tanpa dicat atau

permukaan dengan pelapis kelas B pada baja blast cleaned

Du = 1,13 yaitu suati pengali yang mencerminkan rasio dari

rata-rata pratarik baut terpasang terhadap pratarik baut

II-70
BAB II Tinjauan Pustaka

minimum yang disyaratkan

Tb = gaya tarik minimum sarana penyambung yang diberikan

pada tabel Pratarik Baut Minimum

Tabel 2.21 Ukuran Baut, in

Ukuran Baut, in Baut A325M Baut A490M

½ 12 15

5.8 19 24

¾ 28 35

7/8 39 39

1 51 64

1 1/8 56 80

1¼ 71 102

1 3/8 85 121

1½ 103 148

Sama dengan 0,70 dikalikan kekuatan tarik minimum baut, dibulatkan mendekati kN,

seperti disyaratkan dalam spesifikasi untuk baut ASTm A325M dan A490M dengan

ulir UNC.

Tabel 2.22 Ukuran Baut, mm

Ukuran Baut, mm Baut A325M Baut A490M

M16 91 114

M20 142 179

M22 176 221

II-71
BAB II Tinjauan Pustaka

M24 205 257

M27 267 334

M30 326 408

M36 475 595

Sama dengan 0,70 dikalikan kekuatan tarik minimum baut, dibulatkan mendekati kN,

seperti disyaratkan dalam spesifikasi untuk baut ASTm A325M dan A490M dengan

ulir UNC.

hf = faktor untuk pengisi

hf = 1,00 bila tidak ada pengisi atau dimana baut telah

ditambahkan untuk mendistibusikan beban pada pengisi

hf = 1,00 bila baut tidak ditambahkan untuk mendistribusikan

beban pada pengisi untuk satu pengisi antara bagian-

bagian tersambung

hf = 0,85 bila baut tidak ditambahkan untuk mendistribusikan

beban pada pengisi untuk dua atau lebih pengisi antara

bagian-bagian tersambung

ns = jumlah bidanh slip yang diperlukan untuk mengizinkan

sambungan dengan slip

- Kombinasi Gaya tarik dan Geser dala Sambungan Slip-Kritis

II-72
BAB II Tinjauan Pustaka

Bila suatu sambungan kritis-slip menahan gaya tarik yang dterapkan

maka reduksi gaya penjepit neto, ketahanan slip yang tersedia tiap

baut, dari pasal J3.8 harus dikalikan dengan faktor ksc, sebagai

berikut :

Ksc = 1- (DFBK)

Ksc = 1- (DKI)

Keterangan :

Ta = gaya tarik yang diperlukan menggunakan

kombinasi beban DKI, kips (kN)

Tu = gaya tarik yang diperlukan menggunakan

kombinasi beban DFBK, kips (kN)

Nb = jumlah baut yang menahan gaya tarik yang

diterapkan

- Kekuatan Tumpuan pada Lubang-lubang Baut

Kekuatan tumpuan yang tersedia (ɸRn dan Rn/Ω), di lubang-lubang

baut harus ditentukan untuk keadaan batas dari tumpuan sebagai

berikut :

ɸ = 0,75 (DFBK)

Ω = 2,00 (DKI)

Kekuatan tumpuan nominal dari material yang disambung (Rn)

ditentukan sebagai berikut :

a. Untuk baut dalan sambunga standar

- Bila deformasi dilubang baut pada beban layan adalah suatu

perhitungan desain
II-73
BAB II Tinjauan Pustaka

- Bila deformasi di lubang baut pada beban layan adalah bukan

suatu perhitungan desain

b. Untuk suatu baut dalam suatu sambungan dengan lubang-lubang slot

panjang dengan slot tersebut tegak lurus terhadap arah dari gaya

c. Untuk sambungan yang dibaut dengan menggunakan baut yang

melewati sampai suatu komponen sstruktur boks atau PSB tak

diperkaku lihat persamaan :

Rn = 1,[Link]

Keterangan :

Fu = kekuatan tarik minimum yang disyaratkan dari

material yang disambung, ksi (MPa)

D = diameter baut nominal, in (mm)

lc = jarak bersih, dalam arah dari gaya, antara tepi

lubang dan tepi lubang yang berdekatan atau tepi dari material, in

(mm)

t = ketebalan dari material yang disambung,, in (mm)

- Kekuatan Elemen dalam Tarik

II-74
BAB II Tinjauan Pustaka

Kekuatan desain ɸRn dan kekuatan diizinkan Rn/Ω dari

elemen yang dipengaruhi dan elemen yang disambung yang

dibebani gaya tarik harus nilai yang terendah yang diperoleh

sesuai dengan keadaan batas dari pelelehan tarik dan

keruntuhan tarik.

a. Untuk leleh tarik dari elemen yang disambung

Rn = [Link]

ɸ = 0,90 (DFBK)

Ω = 1,67 (DKI)

b. Untuk keruntuhan tarik dari elemen yang disambung

Rn = [Link]

ɸ = 0,75 (DFBK)

Ω = 2,00 (DKI)

Ae = luas neto efektif, Ae = An ≤ 0,[Link] , in2 (mm2)

- Kekuatan Elemen dalam Geser

Kekeuatan geser yan tersedia dari elemen yang dipengaruhi

dan elemenyang disambung dalam geser harus nilai yang

terendag yang diperoleh sesuai dengan keadaan batas dari

pelelehan geser dan keruntuhan geser.

a. Untuk pelelehan geser dari elemen

Rn = 0,[Link]

ɸ = 1,00 (DFBK)

Ω = 1,50 (DKI)

II-75
BAB II Tinjauan Pustaka

Agv = luas bruto yang menahan geser, in2 (mm2)

b. Untuk keruntuhan geser dari elemen

Rn = 0,[Link]

ɸ = 0,75 (DFBK)

Ω = 2,00 (DKI)

Anv = luas neto yang menahan geser, in2 (mm2)

- Kekuatan Geser Balok

Kekuatan yang tersedia untuk keadaan batas keruntuhan

balok geser sepanjang alur kegagalan geser atau alur – alur

dan alur kegagalan tarik tegak lurus harus diambil sebesar :

Rn = 0,[Link] + [Link] ≤ 0,[Link] +

[Link]

ɸ = 0,75 (DFBK)

Ω = 2,00 (DKI)

Ant = luas neto yang menahan gaya tarik, in2 (mm2)

Ubs = 1 bila tegangan tarik adalah merata

Ubs = 0,5 bila tegangantarik tidak merata

- Kekuatan Elemen dalam Tekan

Kekuatan yang tersedia dari elemen penyambung dalam

tekan untuk keadaaan batas dari pelelehan dan tekuk harus

ditentukan sebagai berikut :

a. Bila KL/r ≤ 25

II-76
BAB II Tinjauan Pustaka

Pn = [Link]

ɸ = 0,90 (DFBK)

Ω = 1,67 (DKI)

b. Bila KL/r > 25, ketentuan Bab E (Desain komponen struktur tekan)

diterapkan.

- Kekuatan Elemen dalam Lentur

Kekuatan lentur yang tersedia dari elemen terpengaruh harus

nilai terendah yang diperoleh sesuai dengan keadaan batas

dari leleh lentur, tekuk local, tekuk torsi-lateral lentur dan

keruntuhan lentur.

2.4. Kombinasi Pembebanan

Dalam perhitungan beban rencana, diperlukannya kombinasi beban terfaktor

yang digunakan dalam metode desain kekuatan. Kombinasi yang digunakan

berdasarkan SNI 1727 : 2013, yaitu :

 1,4 D

 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (Lr atau S atau R)

 1,2 D + 1,6 (L1 atau S atau R) + (Lr atau 0,5 W)

 1,2 D + 1,0 W + L + 0,5 (Lr atau S atau R)

 1,2 D + 1,0 E + L + 0,2 S

 0,9 D + 1,0 W

 0,9 D + 1,0 E

Dan kombinasi beban akibat kebakaran berdasarkan SNI 1729 : 2015 lampiran

4, yaitu :

II-77
BAB II Tinjauan Pustaka

 (0,9 atau 1,2) D + T + 0,5 L

Dimana :

D = beban mati nominal

L = beban hidup penghunian nominal

Lr = beban hidup atap

R = beban hujan

S = bebansalju

W = beban angina

E = beban gemp

T = gaya – gaya nominal dan deformasi akibat kebakaran desain – dasar

yang mengacu pada ASTM E119

2.5. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir yaitu model konseptual tentang bagaimana teori

berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan sebagai

masalah yang penting. Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan sebagai

masalah yang penting serta menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel

yang diteliti. Jadi perlu dijelaskan hubungan antar variable independen dan

dependen. Kerangka berpikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berpikir

yang asosiatif maupun yang komparatif. (Uma Sekaran dalam Sugiono, 2017)

II-78
BAB II Tinjauan Pustaka

Mencari masalah dan


mengidentifikasi masalah

Merumuskan masalah

Studi Literatur, meliputi :


- Studi pustaka
- Jurnal penelitian mengenai struktur komposit

Analisis Perencanaan “Gedung Kantor Direktorat Jenderal Pajak


Yogyakarta dengan Menggunakan Struktur Komposit”

Hasil, Kesimpulan, dan Rekomendasi


Hasil dari analisis kemudian didapat dimensi efektif dalam
perencanaan “Gedung Kantor Direktorat Jenderal Pajak
Yogyakarta dengan Menggunakan Struktur Komposit”
Tersebut.

Gambar 2.10 Kerangka Berpikir dalam Penelitian

II-79
BAB II Tinjauan Pustaka

Tabel 2.23 Referensi Jurnal Terdahulu

No. Nama Tahun Judul Variabel Metode Hasil

1 Santika 2013 Desain Alternatif Balok baja, Kuantitatif Hasil akhir dari kajian studi ini menunjukkan

Wahyu Utami Struktur Gedung struktur kolom oemilihan struktur dengan sistem komposit dapat

Yayasan Prasetiya komposit (baja- berpengaruh dalam mengurangi beban gravitasi

Mulya dengan beton) hingga mencapai 31%. Dan pemilihan struktur

enggunakan Baja pada dengan sistem komposit ini juga dapat

Balok dan Sitem mereduksi penggunaan volume beton pada

Komposit (Baja- struktur gedung hal dikarenakan struktur

Beton) pada Kolom horizontal (balok) tidak memakai beton

melainkan baja dan pengurangan dimensi struktr

vertical (kolom) yang cukup signifikan.

2 Apriyo Sartoto Perencanaan Struktur Perencanaan Kuantitatif Hasil akhir dari tugas akhir tersebut yaitu

Apartement Struktur didapatkan hasil dimensi balok, plat dan kolom

II-80
BAB II Tinjauan Pustaka

Kebagusan City Apartement konvensional serta dimensi kolom komposit.

dengan Kolom Kebagusan City Untuk dimensi balok tengah 30 cm x 45 cm,

Komposit & Dengan Kolom balok tepi 25 xm x 40 cm, plat lantai 14 cm,

Konvensional Komposit dan kolom konvensional tengah 70x70 cm, 65x65

Konvensional cm, 60x60 cm, 55x55 cm, 45x45 cm, 40x40 cm,

30x30 cm, kolom onvensional tepi 60x60 cm,

55x55 cm, 50x50 cm, 45x45 cm, 40x40 cm,

35x35 cm, 30x30 cm, serta kolom komposit

tengan HB 400x400x13x12 (725x725), HB

350x350x10x15 (650x650), HB 300x300x10x15

(525x525), HB 250x250x9x14 (450x450), HB

200x200x8x12 (375x375), kolom komposit tepi

HB 350x350x10x15 (650x650), HB

30x30x10x15 (525x525), HB 250x250x9x14

II-81
BAB II Tinjauan Pustaka

(450x450), HB 200x200x8x12 (375x375).

3 Adnan 2017 Modifikasi Apartemen, base Kuantitatif Hasil akhir dari penelitian tersebut yaitu sesuai

Fadhlullah Perencanaan Struktur Isolator, Hight dengan tujuan penulisan tugas akhirnya, yaitu

Muharam, Apartement One East Damping hasil perhitungan pasa struktur sekunder telah

Endah Residence Surabaya Rubber Bearing, memenuhi syarat terhadap control kuat

Wahyuni dan dengan Menggunakan Struktur penampang, kuat geser dan lendutan.

Data Iranata Struktur Komposit Komposit Baja- Berdasarkan analisa struktur yang dilakukakn

(Jurnal Baja Beton dan Base Beton gaya geser, partisipasi massa, simpangan,

Nasional) Isolator : High pembebanan gravitasi dan perpindahan base

Damping Rubber isolator pada struktur yang direncanakan telah

Bearing (HDRB) memenuhi persyaratan. Hasil perhitungan

struktur primer memenuhi syarat terhadap

control kuat penampang, geser, interaksi geser

lentur dan lendutan.

II-82
BAB II Tinjauan Pustaka

4 Asep Budi 2017 Redesain Struktur Redesain Kuantitatif Dengan system pengaku bracing CBF,

Santoso (TA Atria Residence struktur, struktur menghasilkan periode getar bangunan ditinjau

terdahulu) Apartement 22 rangka baja, dari system pengaku bracing yang menghasilkan

Lanatai Menggunakan respon gaya geser minimal 35%. Pada masing-masing

Konstruksi Rangka spectrum, mode rata-rata mencapai partisipasi massa 90%

Baja Berdasarkan SNI bracing CBF ditinjau dari mode 12 dengan menggunakan

1729-201 Tangerang - metode respon spektrum. Kekakuan system

Banten bracing CBF mempengaruhi besar kecilnya gaya

geser yang terjadi pada struktur. Semakin besar

nilai kekakuan elemen struktur, maka gaya geser

yang diterima oleh struktur akan berkurang.

Perbandingan simpangan atau drift pada masing

masing lantai masih memenuhi dari batas izin

yang disyaratkan dengan analisis respon

II-83
BAB II Tinjauan Pustaka

spectrum dan bracing CBF. Dari hasil analisis

dan perhitungan yang dilakukan hanya diambil

desain yang mewakili keseluruhan perancangan

struktur pada tower atria residences masih

memenuhi syarat dari beban aksial,momen,

tekuk,geser dan lendutanya sehingga

perancangan struktur dapat diterapkan

dilapangan.

5 Ahmad Zaky, 2017 Modifikasi Sistem Rangka Kuantitatif Hasil dari perhitunganpada struktur sekunder

Endah Perencanaan Berpengaku telah memenuhi syarat terhadap control kuat

Wahyuni dan Apartemen Grand Eksentris, link, penambang, control geser dan lendutan geser dan

Isdarmanu Kamala lagoon baja, komposit lendutan yang mengacu kepada SNI 1729 –

(Jurnal menggunakan Struktur 2015. Dari control yang dilakukakn, control

Nasional) Baja Komposit partisipasi massa, waktu getar alami,

II-84
BAB II Tinjauan Pustaka

dengan Sistem fundamental, nilai akhir respon spectrum, control

Rangka Berpengaku simpangan yang direncanakan di kota Bekasi

Eksentris memenuhi syarat pada SNI 1729-2015. Hasil

analisis struktur primer yang dilakukan telah

memenuhi syarat terhadap control kuat

penampang, kotrol geser, sudut rotasi link,

interaksi geser lentur dan lendutan. Perhitungan

pad struktur bawah telah memenuhi persyaratan

dimensi dn control akibat pons.

6 Alfian 2017 Perencanaan Alterntif Komposit, Gaya Kuantitatif Hasil penelitian tersebut mengatakan bahea

WildanMulifa Struktur Komposit gempa, LRFD perencanaan Gedung VOllenda, Holland Park

ndi, taufik Gedung Volendam Condotel Kota Batu menggunakan struktur

Hidayat dan Holland Park koposit memiliki beberapa elebihan, yaitu

Desy Condotel di Kota Batu menghemat tinggi profil baja, kekakuan lantai

II-85
BAB II Tinjauan Pustaka

Setyowulan meningkat dan panjang bentang layan untuk

(Jurnal balok tertentu bisa lebih panjang. Balok dan

Nasional) kolom yang digunakan pada perencanaan ini

adalah balok baja dan kolom baja dengan profil

WF. Balok menggunakan profil WF 14x14-1/2

dan balok WF 10x10. Untuk kolom

menggunakan WF 24 x 14. Gedung ini

dirancang berdasarkan metode LRFD. Beban

dianalisis dengan metode respon spectrum

dengan bantuan program.

7 Umar Iswanto, 2014 Perencanaan Struktur Struktur Kuantitatif Hasil penelitian tersebut didapatkan dimensi

Yurisman, Gedung Baja-Beton komposit, baja- pelat komposit, balok anak, balok induk, kolom

Khadavi Komposit aman beton, floordeck komposit, sambungan, balok sloof, pondasi tiang

(Jurnal Gempa pancang serta pilecap yang efektif beradasarkan

II-86
BAB II Tinjauan Pustaka

Nasional – beban yang bekerja. Selain itu agar perencanaan

Universitas balok komposit dapat maksimal, makan balok

Bung Hatta dan pelat dianggap bekerja secara individu

Padang) sehingga balok dianggap tidak dapat menahan

beban lendutan yang terjadi dan untuk

mengatasinya balok diberi penyokong sementara

sampai aksi komposit tercapai. Setelah aksi

komposit tercapat maka nilai inersia balok

tersebut mnejadi lebihbear dan memenuhi

persyaratan lendutan.

8 Domingos 2016 Perencanaan Hotel Struktur Kuantitatif Hasil penelitian tersebut didapatkan dimensi

Simplicio Holiday Inn Express komposit, perencanaan gording, kuda-kuda, perencanaan

Sarmento Tuban-Bali dengan LRFD, SCWB< pelat, tangga, bordes, perencanaan portal, sloof,

(Jurnal Menggunakan Baja SNI 1726-2012 kolom serta perencanaan pondasi yang efektif

II-87
BAB II Tinjauan Pustaka

Nasional – Komposit beradasarkan beban yang bekerja.

Fakultas

Teknik

Universitas

Warmadewa)

9. A. 2016 Comparative Study on Composite, Quantitati This Analysis and design results of G+20 storied
Composite, and R.C.C Structure has been
Sattainathan Multi-storey Structure Hight-rise ve method studied and represented here. The comparison
results of these building models are as follows
Sharma, R. of R.C.C and structures, the displacement and storey drift in R.C.C, the
dead weight of composite structure varies from
Anjughap Composite Material R.C.C, Shear 20% to 25% which is less than R.C.C structure
thus resulting in reduction of seismic forces from
Priya, R. Connector, 15% to 20%. The stiffness of the composite
structure is found greater when compared with
Thirugnanam Seismic R.C.C sturcture

and P. Rathna Response

Priya

(International

II-88
BAB II Tinjauan Pustaka

Journal)

(Sumber : Penulis)

II-89

Anda mungkin juga menyukai