Pengukuran Waktu Kerja Manual
Pengukuran Waktu Kerja Manual
BAB I
PENDAHULUAN
penyelesaian pekerjaan yaitu waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang
system kerja terbaik. Pengukuran dapat dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung.
STT Dumai dengan pengamatan data yang menggunakan Stop Watch terhadap
melakukan perakitan baut dan mur dengan layout kerja yang berbeda.
Menentukan waktu standar suatu siklus operasi dimana pekerja bisa bekerja
dengan metode kerja yang standar dan menerapkan prinsip ekonomi gerakan
BAB II
LANDASAN TEORI
sebagai alat ukurnya. Cara ini merupakan cara yang paling banyak dikenal dan
paling banyak dipakai. Waktu yang diambil sebagai dasar pertimbangan ialah
waktu yang secara wajar yang diperlukan oleh seorang pekerja normal untuk
menyelesaikan suatu siklus pekerjaan dengan metode kerja terbaik. Waktu ini
Dalam pengukuran waktu, hal – hal yang penting yang harus diketahui
dan di tetapkan adalah untuk apa hasil pengukuran di gunakan, berapa tingkat
ketelitian dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran tersebut
Yang dicari dari pengukuran waktu adalah waktu yang pantas diberikan
kepada pekerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu kerja yang pantas
hendaknya merupakan waktu kerja yang di dapat dari kondisi kerja yang baik
2
2.1.3. Memilih Operator
yang begitu saja diambil dari pabrik. Orang ini harus memenuhi beberapa
persyaratan tertentu agar pengukuran dapat berjalan dengan baik, dan dapat
tinggi atau rendah, karena orang–orang demikian hanya meliputi sebagian kecil
saja dari seluruh pekerja yang ada. Jadi yang dicara adalah waktu penyelesaian
pekerjaan secara wajar diperlukan oleh pekerja normal, dan ini adalah orang–
Pada saat penelitian pendahuluan kondisi kerja atau cara kerja sudah
sebelum diukur operator harus terbiasa dengan kondisi dan cara kerja yang telah
3
3. Untuk memudahkan mengamati terjadinya elemen yang tidak baku yang
indra pengukur dan dapat di rekam waktunya oleh jam henti yang
digunakan.
gilbert.
c. Jangan sampai ada elemen yang tertinggal, jumlah dari semua elemen harus
d. Elemen yang satu hendaknya di pisahkan dengan elemen yang lain secara
4
a. Jam henti biasa, yaitu yang mempunyai jarum penunjuk. Bila tombol A
ditekan maka jarum akan berputar dan berhenti bila tombol B di tekan dan
waktu pengukuran.
pengukuran tahap pertama dilakukan, ada 3 hal yang harus mengikutinya yaitu:
Jika tahap kedua selesai maka dilakukan lagi ketiga hal pada tahap pertama
tadi, dimana bila perlu dilanjutkan dengan pengukuran pendahuluan tahap kerja.
∑ xi
x̅ = ……………………………..……………………………………….....2.1.1.
k
∑ (xi -x̅ )2
σ=√ ………………………………………………………….….……2.1.2.
N-1
yang di lakukan.
Catatan:
Jika data pengukuran < 30, maka rumus pembagi yang digunakan adalah N-1.
Jika data pengukuran > 30, maka rumus pembagi yang digunakan adalah N.
3. Menghitung standar deviasi dari distribusi harga rata – rata sub grup
σ
σx̅ = …………………………………………………………….……...……2.1.3.
√n
4. Menentukan Batas Kontrol Atas dan Batas Kontrol Bawah (BKA dan
BKB)
6
5. Apabila semua rata–rata sub grup berada dalam batas kontrol maka semua
harga yang ada dapat digunakan untuk menghitung banyaknya pengukuran yang
2
2 2
40√N ∑ Xi -( ∑ Xi)
N= …………………………………………..…….2.1.6.
∑ Xi
( )
N adalah jumlah pengukuran yang telah dilakukan. Rumus ini adalah untuk
b. Apabila tingkat ketelitian 10% dan tingkat kepercayaan 95% maka nilai
dari jumlah pengukuran yang telah dilakukan N’ > N, maka pengukuran tahap
7
2.3. Tingkat Ketelitian, Tingkat Keyakinan dan Uji Keseragaman Data
hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi dan dinyatakan dalam
persen. Jadi tingkat ketelitian 10% dan tingkat keyakinan 95% memberi arti
10% dari rata – rata sebenarnya, dan kemungkinan hasil mendapatkan hal ini
adalah 95%. Dengan kata lain jika pengukur memperoleh rata – rata pengukuran
yang menyimpang lebih dari 10% seharusnya, hal ini dibolehkan terjadi hanya
8
2.3.2. Pengujian Keseragaman Data
ketidakseragaman dapat datang tanpa disadari maka diperlukan suatu alat yang
dapat “mendeteksinya”. Batas kontrol yang dibentuk dari data merupakan batas
seragam tidaknya data. Data yang dikatakan seragam yaitu berasal dari sistem
sebab yang sama, bila berada diantara kedua batas kontrol, dan tidak seragam,
yaitu berasal dari sistem sebab yang berbeda, jika berada diluar batas kontrol
Jika pengukuran telah selesai, yaitu semua data yang di dapat memiliki
2006).
∑ Xi
Ws= ………………………………………………………………...……2.1.7
N
Xi dan N menunjukan arti yang sama dengan yang telah kita bahas
sebelumnya.
Wn = Ws x p.....................................................................................................2.1.8.
9
Dimana : P adalah faktor penyesuaian. Faktor ini di perhitungkan jika pengukur
dulu untuk mendapatkan siklus yang wajar. Jika pekerja bekerja dengan
sudah normal (100%) jika bekerjanya terlalu lambat (90%) maka untuk
Wb = Wn + 1.....................................................................................................2.1.9.
2.5. Penyesuaian
waktu elemen rata–rata dengan suatu harga p yang disebut faktor penyesuaian.
Bila pengukur berpendapat bahwa operator pekerja diatas normal (telalu cepat)
maka harga p nya akan lebih besar dari suatu (p > l) sebaliknya jika operator
dipandang pekerja dibawah normal maka harga p akan lebih kecil dari satu ( p <l).
10
Seandainya pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan wajar maka
yang dianggap normal itu yaitu : “Jika seorang operator yang dianggap
berpengalaman bekerja tanpa usaha – usaha yang berlebihan sepanjang hari kerja,
westinghouse. Pada konsep ini mereka berpendapat ada empat faktor yang
1. Cara persentase
Wn = p x Ws.....................................................................................................2.1.9.
11
2. Cara Shumard
Tabel 2.1.1. penyesuaian cara shumard merupakan Tabel yang akan kita
3. Cara Westinghouse
Usaha, Kondisi Kerja dan Konsistensi. Setiap faktor terbagi dalam kelas-kelas
enam kelas dengan ciri-ciri dari setiap kelas seperti yang dikemukakan berikut ini.
12
1. Super Skill:
pekerja terbaik.
2. Excellent Skill
kesalahan.
13
i. Bekerja berirama dan terkoordinasi.
3. Good Skill:
f. Tiada keragu-raguan.
g. Bekerjanya "stabil".
i. Gerakan-gerakannya cepat.
4. Average Skill:
pekerjaannya.
14
5. Fair Skill:
f. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak tidak
selalu yakin.
6. Poor Skill:
b. Gerakan-gerakannya kaku.
15
b. Usaha atau Effort
1. Excessive Effort
kesehatannya.
hari kerja.
2. Excellent Effort
j. Bekerjanya sistematis.
16
k. Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen ke elemen lain tidak
terlihat.
3. Good Effort
a. Bekerja berirama.
4. Average Effort
5. Fair Effort
17
c. Kurang sungguh sungguh.
6. Poor Effort
dan bahan-bahan.
ruangan. Bila ketiga faktor lainnya, yaitu keterampilan, usaha, dan konsitensi
18
merupakan sesuatu yang dicerminkan operator, maka kondisi kerja merupakan
sesuatu diluar operator yang diterima apa adanya oleh operator tanpa banyak
kemampuan mengubahnya. Oleh karena itu, faktor kondisi sering disebut sebagai
faktor menajemen, karena pihak inilah yang dapat dan berwenang mengubah atau
Kondisi kerja dibagi menjadi enam kelas, yaitu Ideal, Excellent, Good,
Average, Fair, dan Poor. Kondisi yang ideal tidak selalu sama bagi setiap
2006).
Pada faktor ini yang perlu diperhatikan karena pada setiap pengukuran
waktu angka-angka yang dicatat tidak semuanya sama, waktu penyelesaian yang
ditunjukkan pekerja selalu berubah-ubah dari satu siklus ke siklus lainnya, dari
jam ke jam, bahkan dari hari ke hari. Sebagaimana halnya faktor-faktor lain,
konsitensi juga dibagi menjadi enam kelas yaitu Perpect, Excellent, Good,
Average, Fair dan [Link] yang bekerja Perfect adalah yang dapat
bekerja dengan waktu penyelesaian yang boleh dikatakan tetap dari saat ke saat
19
Tabel 2.1.2. Penyesuaian menurut Westinghouse
Faktor Kelas Lambang Penyesuaian
Keterampilan Superskill A1 + 0.5
(Skill) A2 + 0.13
Excellent B1 + 0.11
B2 + 0.08
Good C1 + 0.06
C2 + 0.03
Average D 0.00
Fair E1 -0.05
E2 -0.10
Poor F1 -0.16
F1 -0.22
Usaha Excessive A1 + 0.13
(Effort) A2 + 0.12
Excellent B1 + 0.10
B2 + 0.08
Good C1 + 0.05
C2 + 0.02
Average D 0.00
Fair E1 -0.04
E2 -0.08
Poor F1 -0.12
F2 -0.17
Kondisi Kerja Ideal A + 0.06
(Condition) Excellenty B + 0.04
Good C + 0.02
Average D 0.00
Fair E -0.03
Poor F -0.07
Konsisten Perfect A + 0.04
(Consistency) Excellent B + 0.03
Good C + 0.01
Average D 0.00
Fair E -0.02
Poor F -0.04
Tabel 2.1.2. Penyesuaian menurut Westinghouse
Sumber : Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006.
merupakan Tabel untuk mencari waktu normal untuk setiap operator yang
pratikum amati.
20
2.5.4. Suatu perbandingan
diantara cara diatas. Jelas kiranya bahawa cara Shumard dan Westinghouse
maupun cara lainnya (seperti cara-cara objektif, Bodeux dan sintesis yang tidak
dibahas dalam tulisan ini) dimaksud untuk lebih mengobjektifkan cara. Dan
memang di rasakan lebih objektif. Bagi mereka yang kurang mengenal pekerjaan
dalam analisisnya dibandingkan yang lain. Bila terlatih maka dapat menggunakan
cara shumard dan setelah mahir maka layak menggunakan persentase (Iftikar Z.
penyesuaian adalah cara bodeux dan sintesis. Pada dasarnya cara Bodeux tidak
banyak berbeda dengan cara shumard, hanya saja nilai-nilai pada cara bodeux
cara sintesis agak berbeda dengan cara-cara lainnya, dimana dalam cara ini waktu
diperoleh dari tabel-tabel data waktu gerakan untuk kemudian di hitung harga
dihindarkan. Ketiga ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh
pekerja dan selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat ataupun terhitung
Yang termasuk kedalam kebutuhan pribadi disini adalah hal – hal yang
Rasa fatique tercermin antara lain menurunnya hasil produksi baik jumlah
kelonggaran ini adalah dengan melakukan pengamatan sepanjang hari kerja dan
2006).
berlebihan dan menganggur dengan sengaja. Adapula hambatan yang tidak dapat
22
dihindarkan karena berada di kemampuan pekerja untuk mengendalikannya
adalah :
hal di atas yaitu untuk kebutuhan pribadi, meghilangkan fatique, dan hambatan
yang tidak dapat dihindarkan. Dua hal pertama dapat di peroleh dari tabel 9.3
23
yang tidak efektif dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sehingga akan
penganalisa masih dapat menghemat waktu kerja atau gerakan mana yang
sebetulnya tidak diperlukan oleh pekerja tapi masih dilakukan oleh pekerja
a. Mencari (Search)
menemukan lokasi obyek. Yang bekerja dalam hal ini adalah mata. Gerakan ini
dimulai pada saat mata bergerak mencari obyek dan berakhir bila obyek sudah
yang tidak perlu dan memudahkan seorang pekerja baru dengan cepat
24
menyesuaikan dirinya. Terutama dalam pengenalan tempat – tempat dan bahan
d. Apakah susunan tata letak tempat kerja yang sudah ada merupakan yang
1. Memilih (Select)
tercampur, tangan mata adalah dua bagian badan yang digunakan untuk
melakukan gerakan ini. Therblig mulai pada saat tangan dan mata mulai memilih
gerakan memilih:
1. Apakah obyek – obyek yang berbeda ditempatkan pada tempat yang sama?
25
b. Memegang (Grasp)
gerakan yang efektif dari suatu pekerjaan, meskipun sulit untuk dihilangkan,
8. Salah satu alat yang dapat dipakai untuk mencapai hal diatas adalah
c. Menjangkau (Reach)
maupun menjauhi obyek. Biasanya didahului oleh gerakan melepas (release) dan
diikuti oleh gerakan memegang. Dimulai pada saat tangan mulai berpindah dan
berakhir bila tangan sudah berhenti. Waktu yang dipergunakan untuk menjangkau
26
tergantung pada jarak dari pergerakan tangan dan dari tipe menjangkaunya.
dari siklus kerja yang masih mungkin adalah pengurangan dari waktu gerak ini.
d. Membawa (Move)
melepas atau dapat juga oleh pengarahan (Position). Therblig ini mulai dan
berakhir pada saat yang sama dengan menjangkau karena itu faktor – faktor yang
mempengaruhi waktu gerakannya hampir sama yaitu jarak pindah dan berat beban
yang dipegang tersebut. Merupakan gerakan yang tidak efektif. Sehingga sedapat
mungkin harus dihilangkan atau dikurangi. Gerakan ini sering dijumpai pada
pekerjaan perakitan, satu tangan memegang untuk memakai dan satu tangan lagi
27
melakukan pekerjaan memasang. Untuk melakukan perbaikan pertanyaan yang
merupakan gerakan yang relatif singkat. Gerakan ini didahului oleh gerakan
3. Apakah setelah melepas beban, tangan atau alat angkut sudah dalam
g. Pengarahan (Position)
memudahkan pengarahan?
28
h. Pengarahan Sementara (Pre Position)
mengarah sementara. Tabel tersebut yang akan kita gunakan untuk mengurai
i. Memeriksa ( Inspection )
suatu standar. Untuk memperbaiki elemen ini ada beberapa pertanyaan, yaitu :
lainnya?
29
d. Apakah jarak obyek yang diperiksa sudah tepat dari mata operator?
j. Merakit (Assemble)
lain sehingga menjadi satu kesatuan. Biasanya didahului gerakan membawa atau
l. Memakai (Use)
kemampuan pengendalian pekerja. Hal ini timbul karena ketentuan cara kerja
30
bekerja. Kelambatan ini dapat dikurangi dengan mengadakan perubahan atau
kerja oleh pekerjanya baik disengaja maupun tidak disengaja. Untuk mengurangi
kelambatan ini harus diadakan perbaikan oleh pekerjanya sendiri tanpa harus
o. Merencana (Plan)
menentukan tindakan yang akan diambil selanjutnya waktu untuk therblig ini
Hal ini terjadi pada setiap siklus kerja tetapi terjadi secara periodik. Untuk
tak terhindarkan ataupun yang dapat dihindarkan, merencana dan istirahat untuk
3. Apakah ukuran kursi dan meja telah disesuaikan dengan tubuh pekerja?
31
Beberapa tingkat tipe pekerjaan dengan kebutuhan kalorinya per harinya.
singkat waktu pelaksanaannya sehingga sulit ditangkap oleh mata. Disini hasil
rekaman diputar pada kecepatan yang lambat sehingga analisa dapat dilakukan
a. Pendahuluan
kerja yang baik pula. Para perancang kerja dapat menyusun suatu sistem kerja
yang antara lain terdiri gerakan–gerakan yang baik yaitu gerakan yang
memberikan hasil kerja yang baik, misalnya gerakan yang dapat mengakibatkan
32
b. Prinsip ekonomi gerakan yang dihubungkan dengan tubuh manusia dan
gerakan-gerakannya.
sama.
2. Kedua tangan akan lebih mudah jika satu terhadap lainnya pada waktu
istirahat.
tangan atau bagian badan yang diperlukan saja untuk melakukan pekerjaan
gerakan–gerakan sulit yang harus dilakukan oleh tubuh. Gerakan yang dilakukan
a. Gerakan jari
d. Gerak jari telapak tangan, tangan bagian depan dan lengan atas
e. Gerak jari, telapak tangan, tangan bagian depan, lengan atas dan bahu.
4. Gerakan kedua tangan akan lebih mudah jika satu terhadap lainnya simetri
dan berlawanan arah. Pada umumnya setiap pekerjaan akan lebih mudah dan
cepat jika dikerjakan sekaligus oleh tangan kanan dan kiri. Lintasan pekerjaan
yang tidak teratur (tidak simetris) akan lebih cepat menimbulkan kelelahan,
33
5. Sebaiknya para pekerja dapat memanfaatkan momentum untuk membantu
pekerjaannya, hal ini timbul karena berkurangnya kerja otot dalam bekerja.
gerakan tersebut.
7. Gerakan balistik akan lebih cepat, menyenangkan dan lebih diteliti dari pada
bola pada permainan kasti. Gerakan yang dikendalikan adalah gerakan yang
terjadi pada suatu pekerjaan dimana terdapat dua otot yang berlawanana kerjanya.
Misalnya pekerjaan menulis, dimana teradapat otot yang saling tahan yaitu jari
dan jempol.
[Link] dimaksud dengan irama yang sering diartikan pada kecepatan rata–
pernapasan mengikuti irama yang tertentu. Jadi irama dapat dikatan suatu
tidak dapat dihindarkan dari pekerjaan terutama bila pekerjaan baru menghadapi
jenis pekerjaan tersebut. Sering kali antara tangan dan mata terjadi koordinasi
dimana fungsi mata sebagai pengarah dari tangan. Rasa lelah yang dialami oleh
34
c. Prinsip – Prinsip Ekonomi Gerakan dihubungkan dengan Pengaturan Tata
tetap. Jika tempat badan dan peralatan sudah tepat, tangan pekerja akan secara
dapat dihilangkan.
untuk dicapai. Setiap hal diatsa juga mempunyai keterbatasan dalam jarak
jangkauannya sehingga untuk pengaturan tata letak bahan dan peralatan harus
pekerja yang dapat disapu oleh kedua tangan bagian depan dengan tidak
menggerakkan tangan lengan bagian atas. Daerah kerja maksimum adalah daerah
gaya berat sehingga badan yang akan dipakai selalu tersedia ditempat yang dekat
untuk diambil.
6. Tinggi tempat kerja dan kursi sebaiknya sedemikian rupa sehingga alternatif
berdiri atas duduk dalam menghadapi pekerjaan merupakan suatu hal yang
menyenangkan.
35
7. Tipe tinggi kursis harus sedemikian rupa sehingga mendudukinya bersikap
(mempunyai postur) yang baik. Yang dimaksud dengan bersikap baik pada waktu
berdiri adalah sikap dimana kepala leher – dada dan perut berada di dalam
keseimbangan yang baik ke arah vertikal. Posisi ini memungkinkan organ – organ
mencipakan kondisi yang baik untuk penglihatan adalah salah satu hal yang
pening untuk diperhatikan adalah tata letak peralatan dan tata penerangan yang
dipakai untuk menerangi ruang kerja. Karena hal ini menentukan arah datangnya
cahaya kepada obyek yang diperiksa. Pengaruh lain yang ditimbulkan oleh
pencahayaan keamanan mata juga harus di perhatikan dengan baik untuk itu harus
agar cahaya jatuh pada obyek dan pantulan dari obyek itulah yang ditangkap oleh
mata.
Peralatan.
dari perkakasa pembantu atau alat yang digerakkan dengan kaki ditingkatkan.
kegunaan.
36
3. Peralatan sebaiknya dirancang sedemikian rupa sehingga memudahkan
dengan kekuatan masing–masing jari. Kedua tangan yaitu tangan kiri dan kanan
biasanya mempunyai kekuatan yang berbeda. Tangan kanan lebih kuat dari pada
tangan kiri meskipun tipe pekerjaan hal ini dapat disamakan. Tidak demikian
dengan jari, sulit sekali untuk menyamakan kemampuan atau kekuatan dari tiap
jari, pada umumnya jari telunjuk danjari tengan merupakan jari terkuat diantara
5. Roda tangan, palang dan peralatan yang sejenis dengan itu sebaiknya diatur
sedemikian sehingga beban dapat melayaninya dengan posisi yang baik, dan
dengan tenaga yang minimum. Yang dimaksud dengan jenis peralatan diatas
adalah peralatan yang sejenis dengan roda penggerak pada pintu air, kemudian
37
a. Posisi penempatan yang menentukan sikap pekerja yang melayaninya,
c. Arah putar, menentukan pada besar kecilnya tenaga yang diperlukan. Hal ini
dipengaruhi oleh kekuatan tangan kanan dan tangan kiri yang berbeda serta
38
39
BAB III
PENGUMPULAN DATA
Alat dan bahan yang digunakan pada pelaksanaan percobaan ini adalah :
1. Stop watch
2. Baut
3. Mur
4. Meteran
5. Wadah
6. Alat tulis
8. Kamera
39
Tabel 3.1.1. Hasil pengamatan waktu operator
No. Operator 1 Operator 2 Operator 3 Operator 4
1 6,60 12,40 6,70 7,00
2 9,40 10,60 8,30 8,40
3 11,60 8,80 6,20 6,90
4 10,40 8,90 5,80 8,30
5 7,00 8,50 6,90 7,40
6 6,00 11,20 8,20 7,20
7 5,30 10,50 6,10 7,30
8 7,50 10,50 5,30 9,70
9 10,10 7,00 6,80 9,00
10 7,90 7,30 7,00 6,50
11 8,80 9,30 5,40 8,30
12 6,90 8,80 5,60 6.,40
13 8,30 7,50 4,40 7,60
14 6,30 10,30 5,20 8,70
15 6,20 6,90 5,10 6,50
16 8,90 9,50 6,50 6,20
17 6,70 10,00 6,40 7,10
18 7,60 7,20 6,00 7,10
19 4,90 7,90 11,40 5,20
20 5,30 8,70 6,00 7,30
21 6,20 13,20 6,00 6,20
22 5,40 7,80 6,40 9,20
23 6,20 7,60 5,70 11,10
24 10,80 8,20 5,00 5,50
25 7,40 8,10 5,30 7,30
26 8,40 6,60 4,70 5,50
27 8,20 7,10 6,50 5,60
28 5,90 7,60 4,40 6,50
29 7,20 6,50 5,60 9,00
30 6,30 8,00 4,10 7,00
31 8,60 7,10 7,70 6,60
32 7,90 10,50 5,30 6,40
33 8,30 7,80 5,70 5,80
34 7,20 7,90 5,80 6,10
35 5,70 8,60 7,20 5,60
36 7,40 5,60 6,30 7,10
37 6,80 10,10 5,00 5,50
38 7,60 6,50 7,20 8,20
39 8,40 8,00 5,00 6,50
40 7,00 6,90 7,30 7,80
∑ 298,60 341,50 245,50 286,60
Sumber: Data Pengamatan, 2016.
40
Tabel 3.1.1. merupakan waktu yang digunakan operator dalam
menyelesaikan pekerjaan nya. Dimana dapat dilihat ada perbedaan dari waktu
rata-rata dari ke 4 operator yaitu, operator 1 adalah 298,6, operator 2 adalah 341,5,
41
42
BAB IV
PENGUMPULAN DATA
4.1.1.
2 C
A B
4
1 3 O
Keterangan :
Dari hasil pengaturan layout pada setiap operator maka di dapat ukuran
jarak operator dengan peralatan kerja yang di tampilkan pada Tabel 4.1.1.
mata.
dan kiri
5. Perakitan (assemble) merakit baut dan mur hingga mur masuk ke dalam
7. Melepas (release) melepas baut dan mur yang selesai dari tangan.
kebutuhanan pengamatan.
43
4.3. Pengukuran Pendahuluan
Untuk membuat subgrup pada operator 2, kita dapat melihat Tabel 3.1.1
data pengamatan dan Tabel 4.1.2. merupakan hasil pengolahan data pengamatan
menjadi subgrup.
Dari Tabel 4.1.2. maka di peroleh subgrup pengamatan yang berisi 5 subrup
dan 8 baris subgrup, Selanjut nya mencari nilai BKA, BKB dan N’.
59,72
=7,46
8
c. Menghitung Standar deviasi menggunakan Rumus 2.1.2.
Untuk membuat subgrup pada operator 2, kita dapat melihat Tabel 3.1.1
data pengamatan dan Tabel 4.1.3. merupakan hasil pengolahan data pengamatan
menjadi subgrup.
subrup dan 8 baris subgrup. Selanjut nya akan mencari BKA, BKB dan N’.
∑ xi 68,30
̿=
X = =8,54
k 8
45
(12,4 - 8,54)2 + ……+(6,9-8,54)2
σ =√
40
110,553
σ=√ = 1,66
40
𝜎 1,68
𝜎𝑥̅ = = = 0,74
√𝑛 √5
Untuk membuat subgrup pada operator 2, kita dapat melihat Tabel 3.1.1.
data pengamatan dan Tabel 4.1.4. merupakan hasil pengolahan data pengamatan
menjadi subgrup.
Dari Tabel 4.1.4. maka di peroleh subgrup pengamatan yang berisi 5 subrup
dan 8 baris subgrup. Selanjut nya akan mencari BKA, BKB dan N’.
46
∑ xi 49,1
̿=
X = =6,13
k 8
2
√
̿̿̿
∑ (Xj-X) (6,7-6,13)2 + ……+(7,3-6,13)2
σ= =√
N 40
67,192
σ=√ =1,29
40
σ 1,29
σx̅ = = =0,57
√n √8
Untuk membuat subgrup pada operator 4, kita dapat melihat Tabel 3.1.1
data pengamatan dan Tabel 4.1.5. merupakan hasil pengolahan data pengamatan
menjadi subgrup.
47
Dari Tabel 4.1.5. maka di peroleh subgrup pengamatan yang berisi 5
subrup dan 8 baris subgrup. Selanjutnya untuk mencari BKA, BKB dan N’.
∑ xi 57,32
̿=
X = =7,16
k 8
2
√
̿̿̿
∑ (Xj-X) (7-7,16)2 + ……+(7,8-7,16)2
σ= =√ = 1,28
N 40
σ 1,28
σx̅ = = =0,57
√n √8
bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi dan dinyatakan dalam
persen. Jadi tingkat untuk keempat operator tersebut kami mengambil ketelitian
10% dan tingkat keyakinan 95% memberi arti bahwa pengukur memperoleh rata-
rata hasil pengukurannya menyimpang sejauh 10% dari rata-rata sebenarnya, dan
48
4.5. Uji Kesergaman Data
Untuk uji keserangaman data untuk setiap operator akan dijelaskan dibawah
ini. Setelah itu kita akan menentukan batas kontrol atas (BKA) dan batas kontrol
bawah (BKB) dari data diatas dengan tingkat ketelitian 5% dan tingkat keyakinan
95% dikarenakan harga rata-rata pengukuran yang didapat terletak pada interval
harga rata-rata yang sebenarnya dikurangi 10% dari rata-rata ini, dan harga rata-
Rumus 2.1.5.
b. Menghitung N’
2
20√92.920 − 89161,96
′
N = ( )
298,60
1226,05 2
N' = ( ) =(4,12)2 =17,02
298,60
N’ = 17,02
49
Kesimpulan:
N’ < N = 17,02 < 40, maka data pengamatan cukup dan tidak perlu melakukan
pengamatan ulang.
a. Menghitung BKA dan BKB menggunakan Rumus 2.1.4 dan Rumus 2.1.5.
̿ + 2σX
BKA= X ̅ = 8,54+2(0,74) = 10,02
̿ + 2σX
BKB= X ̅ = 8,54 - 2(0,74) = 7,06
Dengan asumsi bahwa semua data telah masuk dalam batas kontrol.
b. Mencari nilai N’
2
20√121043,6 − 116622,3
'
N =( )
341,50
1329,8 2
N= ( ) =(3,89)2 =14,18
341,50
N’ = 15,13
Kesimpulan :
50
3. Pengolahan data operator 3
Rumus 2.1.5.
̿ + 2σX
BKA= X ̅ = 6,13 + 2(0,57) = 7,27
̿ + 2σX
BKB= X ̅ = 6,13 - 2 (0,57) = 4,99
b. Mencari nilai N’
2
20√40(1573,93) − 245,52
N' = ( )
245,50
2
20√62957,2 − 60270,25
N'= ( )
245,50
1349,238 2
N' = ( ) = (4,22)2 =17,83
245,50
N’ = 17,83
Kesimpulan :
N’ < N = 17,83 < 40, maka data pengamatan cukup, tidak perlu melakukan
pengamatan ulang.
a. Menghitung BKA dan BKB menggunakan Rumus 2.1.4. dan Rumus 2.1.5.
̿ + 2σX
BKA= X ̅ =7,16+2(0,57)=8,23
51
̿ + 2σX
BKB= X ̅ =7,16-2(0,57)= 6,02
b. Mencari nilai N’
2
20√40(2119,84) − 286,62
N' = ( )
286,60
2
20√84793, −82139,56
N' = ( )
286,60
1030,3 2
N' = ( ) =(3,59)2 =12,92
286,60
N’ = 12,92
Kesimpulan :
N’ < N = 12,92 < 40, maka data pengamatan cukup maka tidak perlu
298,6
Ws= =7,46
40
ketingkat tertentu saja yaitu tingkat yang merupakan kemampuan maksimal yang
dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Untuk operator 1 yang dilakukan oleh
syahril memiliki ciri-ciri pada kelas Avarage skill dengan lambang D yang
memiliki ciri-ciri:
2. Usaha atau effort adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau yang diberikan
53
d. Set up dilaksanakan dengan baik.
pencahayaan, suhu, dan kebisingan ruangan. Pada faktor ini operator 1 merasakan
pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama, waktu
siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari kehari. Pada faktor ini operator 1
Jumlah : + 0,03
RF = ( 1 + 0,03 ) = 1,03
54
3. Sikap kerja operator = Berdiri diatas dua kaki = 1.5%
Dari data di atas maka di peroleh waktu baku untuk operator 1 dalam
341,5
Ws= = 8,54
40
55
b. Waktu Normal (WN)
ketingkat tertentu saja yaitu tingkat yang merupakan kemampuan maksimal yang
dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Untuk operator 2 yang dilakukan oleh
rendy syahputra memiliki ciri-ciri pada kelas Avarage skill dengan lambang D
2. Usaha atau effort adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau yang diberikan
56
a. Bekerja berirama.
siklus ke siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari kehari. Pada
57
Jumlah : +0,07
berikut dengan menggunakan Rumus 2.1.8 untuk mencari waktu normal pada
operator.
RF = ( 1 + 0,07 ) = 1,07
58
Untuk mencari waktu baku pada operator maka dapat menggunakan Rumus
2.1.9.
Dari data perhitungan maka di peroleh waktu baku untuk operator 2 dalam
menyelesaikan pekerjaannya yaitu 11,15 detik.
Untuk mencari waktu baku pada operator dapat menggunakan rumus 2.1.7.
245,5
Ws= = 6,13
40
ketingkat tertentu saja yaitu tingkat yang merupakan kemampuan maksimal yang
dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Untuk operator 3 yang dilakukan oleh
alwin sudradjat memiliki ciri-ciri pada kelas Good skill dengan lambang B2 yang
memiliki ciri-ciri:
kesalahan.
2. Usaha atau effort adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau yang diberikan
a. Bekerja berirama.
pencahayaan, suhu, dan kebisingan ruangan. Pada faktor ini operator 3 merasakan
60
4. Konsitensi merupakan faktor yang harus diperhatikan karena pada setiap
pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama, waktu
siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari kehari. Pada faktor ini operator 3
Jumlah : +0,16
RF = ( 1 + 0,06 ) = 1,16
61
Berdasar pada penggunaan mata yang dapat menyebabkan kelelahan mata
Untuk mencari waktu baku pada operator dapat menggunakan Rumus 2.1.9.
didapatkan waktu baku untuk bekerja pada operator 3 adalah 8,63 detik.
286,3
Ws= = 7,16
40
62
ketingkat tertentu saja yaitu tingkat yang merupakan kemampuan maksimal yang
dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Untuk operator 4 yang dilakukan oleh
prihadi joko memiliki ciri-ciri pada kelas Fair skill dengan lambang C1 yang
memiliki ciri-ciri:
lebih rendah.
f. Tiada keragu-raguan.
g. Bekerjanya "stabil".
i. Gerakan-gerakannya cepat.
2. Usaha atau effort adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau yang diberikan
a. Bekerja berirama.
63
g. Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan senang.
pencahayaan, suhu, dan kebisingan ruangan. Pada faktor ini operator 4 merasakan
pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama, waktu
siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari kehari. Pada paktor ini operator 1
Jumlah : +0,16
64
1. operator pria = 2.5%
WB = WN(1 + All)
65
4.7. Analisa Dan Evaluasi
rata-rata, waktu baku. Adapun berikut ini adalah waktu rata-rata dan waktu baku
Dari Tabel 4.1.6. maka dapat dilihat perbedaaan pada waktu rata-rata
ataupun kesemua operator, waktu normal dan waktu baku semua operator, dimana
perbedaan selisih waktu seluruh operator mencapai waktu, dari analisa waktu
kerja operator didapatkan waktu kerja pada operator 3 lebih cepat dibandingkan
waktu bekerja setiap operator tersebut tidak bisa di tetapkan dan juga terdapat
waktu yang tidak konsisten pada saat semua operator bekerja karena itu untuk
66
67
BAB V
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
1. Waktu rata-rata operator 1 adalah 7,46, waktu normal adalah 7,68, dan
2. Waktu rata-rata operator 2 adalah 8,54, waktu normal adalah 9,14, dan
3. Waktu rata-rata operator 3 adalah 6,13, waktu normal adalah 7,11, dan
4. Waktu rata-rata operator 4 adalah 7,16, waktu normal adalah 8,30 dan
67
68
BAB I
PENDAHULUAN
kilokalori. Secara umum kriteria pengukuran aktifitas kerja manusia dapat dibagi
dalam dua kelas utama yaitu : kriteria fisiologis dan kriteria operasional. Kriteria
saat beraktivitas dan istirahat serta lamanya waktu pemulihan yang diperlukan
Penulisan laporan akhir ini memiliki beberapa tujuan. Adapun tujuan dari
68
1.3. Manfaat Pratikum
istirahat.
melakukan pergerakan.
69
70
BAB II
DASAR TEORI
sering kali menuntut aktivitas fisik yang cukup berat dan melelahkan, terlebih lagi
didukung oleh lingkungan kerja yang kurang kondusif (misalnya panas, lembap,
itu, pekerja dituntut untuk memiliki kapasitas kerja fisik yang memadai atau dapat
alat bantu, perbaikan metode kerja, pengaturan waktu istirahat, dan lain-lain
Sejumlah dampak buruk dapat terjadi saat beban fisik suatu pekerjaan telah
melampaui kapasitas fisiologis yang dimiliki pekerja. Dampak buruk ini secara
melakukan suatu aktivitas. Keadaan seperti ini secara kronik dapat mengakibatkan
terjadinya kelelahan berlebihan, yang bahkan mungkin tidak dapat diatasi dengan
ini dapat berpengaruh buruk pada kesehatan kerja, bahkan dapat memicu penyakit
70
lain yang berakhir dengan kematian, misalnya serangan jantung, atau kegagalan
Beban kerja yang berlebihan juga dapat berakibat buruk pada kualitas dan
performansi kerja. Efek buruk ini, sebagai contoh, ditunjukkan Bridger et al.
peningkatan potensi kecelakaan kerja. Jelas bahwa beban kerja secara fisologis
konteks ergonomi, tujuan yang ingin dicapai adalah memastikan bahwa sistem
kerja yang terbaik, yang dapat dicapai jika beban energy cost berada didalam
Secara konseptual, energi diperoleh dari zat-zat gizi yang berasal dari makanan
(dan sebagian minuman) yang masuk kedalam tubuh. Zat-zat gizi ini melalui
proses metabolisme dikonversi menjadi energi yang siap digunakan oleh otot.
hasil sampingan berupa panas dan sisa-sisa metabolisme lainnya (CO2 danH2O)
yang akan dikeluarkan dari tubuh. Rangkaian proses ini dapat dianalogikan
sebagai kerja sebuah mesin mobil. Agar mesin dapat berjalan, dibutuhkan bensin
yang berfungsi sebagai zat gizi. Dengan adanya oksigen, tekanan, serta panas
poros, roda dan sebagainya) dikonversi menjadi gerakkan mobil. Proses terakhir
ini mirip dengan kontraksi otot yang kemudian menggerakkan tubuh saat
melakukan kerja fisik. Untuk memahami proses-proses ini, perlu diketahui fungsi-
fungsi yang terkait dengan produksi energi didalam tubuh (Iridiastadi dan
Yassierli, 2014).
1. Sistem Pernapasan
tubuh dan mengeluarkan karbon dioksida, air, serta panas yang dibawa oleh darah.
Secara umum, pernapasan (respirasi) terdiri atas inspirasi (pemasukkan udara) dan
ekspirasi (pengeluaran udara). System ini memiliki hubungan yang erat dengan
tersendiri, misalnya CNS (Central Nervous System) atau sistem hormonal. Sistem
pernapasan dan sistem sirkulatori ini bersama-sama menjamin jumlah zat gizi dan
oksigen yang cukup untuk disuplai ke sel otak (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).
ke dalam tubuh (Bridger et al., 2003). Udara yang masuk akan diteruskan melalui
tenggorokan menuju trachea, yang terbagi atas dua bronchi utama, dan
kapiler. Di tempat inilah terjadi pertukaran udara (oksigen dan karbon dioksida).
72
Berat atau ringannya aktivitas fisik akan menentukan volume udara yang
Kapasitas paru-paru dapat dilihat dari indikator utama berupa volume yang
dapat berada pada paru-paru. Jumlah udara yang keluar dan masuk pada saat
bernapas normal disebut sebagai volume tidal. Volume udara ekstra pada saat
udara tambahan diatas volume tidal yang dapat masuk ke paru-paru saat inspirasi
maksimum disebut volume cadangan inspirasi, dan volume udara yang masih
dapat dikeluarkan dengan kuat diakhir ekspirasi normal disebut volume cadangan
dengan kuat, didalam paru-paru masih tersisa sejumlah volume udara yang
disebut sebagai volume residual. Jumlah dari kapasitas vital dan volume residual
Yassierli, 2014).
faktor, seperti jenis kelamin, training, maupun ukuran tubuh. Sebagai contoh,
untuk seorang atlet pria dengan postur badan tinggi, kapasitas paru-paru total
dapat mencapai 7-8 liter, dengan kapasitas vitalsekitar 6 liter (Kroemer et al.,
2001). Wanita cenderung memiliki volume paru-paru yang lebih rendah (-10%)
73
secar fisik setidaknya memiliki kapasitas paru-paru sebesar 60-80% kapasitas
20 kali/menit. Saat melakukan aktifitas fisik ringan, jumlah udara yang digunakan
untuk bernapas akan meningkat, terutama akibat kenaikan volume tidal. Untuk
kerja yang lebih berat, jumlah udara pernapasan akan meningkat akibat
adanya kenaikkan volume tidal pula. Jumlah total udara yang digunakan untuk
volume tidal saat mengeluarkan napas. Volume udara yang digunakan untuk
pernapasan saat beraktivitas dapat berkisar dari 5 liter/menit sampai dengan lebih
dari 100 liter/menit. Kenaikan volume pernapasan ini sejalan dengan peningkatan
2. Sistem Kardiovaskular
dari paru-paru serta berbagai zat gizi (dari makanan yang telah dicerna) untuk
yaitu molekul protein pada sel darah merah. Selain mengikat oksigen, hemoglobin
dapat juga mengikat karbon monoksida (CO). Namun demikian, daya tarik
dapat berdampak pada berkurangnya jumlah oksigen yang dapat diikat dan
74
dibawa oleh darah. Oleh karena itu, dapat dimengerti mengapa CO dianggap
memiliki sifat beracun. Darah juga mengedarkan hormone, enzim, garam, serta
vitamin yang diperlukan oleh tubuh. Disamping fungsi utama yang telah
membuang sisa-sisa metabolisme, termasuk karbon dioksida, panas, dan air, serta
disimpulkan bahwa sistem ini memiliki fungsi yang sangat penting, dan
Jantung sebagai pemompa darah terdiri atas 2 bagian, yaitu kiri dan kanan.
Bagian sebelah kiri terdiri atas astrium kiri dan vertikal kiri, yang khusus
berfungsi memompa darah ke seluruh otot tubuh yang dibutuhkan untuk bekerja
melalui pembuluh darah arteri. Melalui pembuluh darah vena, darah kemudian
udara terjadi. Orang dewasa memiliki sekitar 5 liter darah, yang terdiri atas 2,75
liter plasma dan 2,25 liter berupa sel darah. Peningkatan aktivitas fisik akan
pemompaan (denyut jantung) serta naiknya tekanan darah. Saat istirahat, volume
darah yang dipompakan adalah sekitar 5 liter/menit, namun volume ini dapat
menjadi 5 kali lipat lebih besar saat melakukan aktifitas fisik yang berat (Bridger
et al., 2008). Untuk seorang atlet, kenaikan volume ini dapat mencapai 35
75
Peningkatan intensitas kerja fisik menentukan kebutuhan akan tambahan
terukur dari dari kenaikan denyut jantung. Kenaikan konsumsi oksigen dan denyut
jantung cenderung bersifat linear, khususnya untuk beban kerja yang tidak terlalu
ringan ataupun terlalu berat. Untuk pekerjaan dengan beban yang sama, denyut
jantung cenderung akan lebih rendah apabila pekerjaan tersebut dikerjakan dengan
memanfaatkan otot-otot yang lebih besar. Hubungan antara konsumsi oksigen dan
denyut jantung akan lebih tinggi saat pekerjaan dilakukan ditempat panas
beban kerja, tetapi juga dapat disebabkan oleh adanya komponen kerja statis
(kontraksi isometric). Kerja otot yang relatif statis (dengan kontraksi diatas 20%
dalam beberapa saat saja, aliran darah menjadi sangat terbatas (ischemia) atau
bahkan tertutp sama sekali. Hal ini akan berdampak pada minimnya ketersedian
oksigen serta penumpukkan sisa metabolisme pada oto yang tengah berkerja.
Akibatnya, rasa sakit akan muncul dan kontraksi otot terpaksa harus berakhir,
fenomena seperti ini dapat diamati, misalnya saat seseorang secara terus-menerus
memegang peralatan kerja dengan posisi lengan diatas ketinggian dada (Iridiastadi
Perlu dicatat bahwa sistem saraf pusat (CNS) memiliki peran vital dalam
mengatur bagian tubuh mana yang lebih penting menerima aliran darah. Saat otot
76
bekerja keras misalnya, peningkatan sisa-sisa metabolisme akan memacu
pembuluh darah untuk menjadi lebih longgar dan mengalirkan lebih banyak
darah. Sistem saraf pusat juga akan memerintahkan pengurangan aliran darah ke
otot maupun organ tubuh yang tidak terlalu memerlukan darah saat ini, misalnya
pencernaan. Namun demikian, sistem saraf akan terus mengontrol agar aliran
darah ke organ-organ penting, seperti otak dan jantung, tetap terjaga. Secara
bersamaan, pengaturan juga akan dilakukan sedemikian rupa sehingga darah akan
dialirkan lebih banyak ke permukaan kulit dengan tujuan untuk melepas panas.
Sebaliknya, saat setalah makan, darah akan dialirkan lebih banyak ke sistem
pencernaan bila dibandingkan terhadap bagian tubuh lainnya. Fenomena ini juga
diatur oleh sistem saraf, sebagai fungsi dari pengontrol keasaman dan konsentrasi
maupun non-fisik, hanya dapat dilakukan apabila energi tersedia dalam jumlah
yang memadai. Energi diperoleh dari zat-zat gizi yang masuk dalam bentuk
makanan atau minuman. Namun, proses konversi energi dari makanan dan
minuman ini tidak berlangsung efisien. Hanya sekitar 5% dari sumber energi ini
yang diubah menjadi kerja otot, sedangkan sisanya diubah dalam bentuk panas.
Sementara seorang atlet dapat memiliki proses konversi yang lebih efisien,
walaupun energi yang diperoleh pun tidak bias melebihi 25%. Panas yang
dihasilkan dari suatu proses metabolisme terutama akibat viskositas tubuh, friksi
77
yang terjadi didalam pembuluh darah, serta gesekan antara tendon dan sendi
Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh terutama terdiri atas
zat-zat gizi, serta komponen-komponen lain, seperti air, garam, vitamin, mineral,
dan serat. Zat-zat gizi utama yang mengalami pencernaan adalah karbohidrat,
lemak, dan protein. Karbohidrat merupakan molekul kompleks yang terdiri atas
sederhana terdiri atas satu molekul gula sederhana yang disebut monosakarida,
disakarida, sedangkan rantai panjang (yang dapat pula bercabang) yang tersusun
dari molekul gula disebut polisakarida, misalnya glikogen, pati pada tumbuhan,
dan selulosa. Untuk setiap gram karbohidrat, dapat dihasilkan energi sekitar 4,2
kkal (1 kalori = 4,2 joule = energi yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sebesar
sederhana (monosakarida). Molekul ini dapat dengan mudah diserap oleh darah
pada dinding usus. Dari makanan yang dikonsumsi, lebih dari 80% hasil
galaktosa. Setelah penyerapan oleh usus halus, sebagian fruktosa dan hampir
semua galaktosa dengan segera diubah menjadi glukosa, sehingga jumlah fruktosa
dan galaktosa yang terdapat pada sirkulasi darah sangat sedikit. Glukosa yang
telah diserap ke dalam aliran darah kemudian dibawa ke hati, untuk selanjutnya
dikirim dan digunakan oleh sistem saraf pusat. Glukosa juga dapat dikirim ke otot
78
sebagai sumber energi yang dapat langsung digunakan. Kelebihan glukosa akan
diubah oleh hati menjadi glikogen (polisakarida) yang akan disimpan baik di hati
penyimpanan glikogen ini sudah penuh, glukosa akan diubah menjadi lemak yang
Lemak sebagai zat gizi juga merupakan salah satu sumber energi untuk
kerja, dari setiap gram lemak dapat dihasilkan 9,5 kkal energi. Fungsi lain lemak
lemak dalam tubuh, yaitu trigliserida, merupakan molekul ester yang terdiri atas
satu inti gliserol dan tiga asam lemak. Trigliserida adalah penyusun utama minyak
nabati (tak jenuh, lebih cair) dan lemak hewani (jenuh, lebih padat). Pada saat
mengurai lemak menjadi gliserol dan asam lemak. Gliserol akan diangkat oleh
aliran darah, sementara asam lemak diangkut oleh cairan limpa untuk kemudian
diserap di usus halus. Melalui pengaturan yang dilakukan oleh hati, lemak akan
disimpan sebagai cadangan energi. Lemak akan tersimpan dibawah kulit (sebagai
insulator), atau sebagai ruang penyangga organ-organ vital, seperti jantung, hati,
Hanya jika diperlukan, zat gizi dalam bentuk protein dapat digunakan
sebagai sumber energi, (setelah karbohidrat dan lemak). Setiap gram protein dapat
diubah menjadi energi sekitar 4,5 kkal. Manfaat utama protein adalah untuk
membangun sel-sel tubuh, serta sebagai komponen utama enzin (sebagai katalis
79
merupakan rantai asam amino yang terhubung melalui ikatan peptida. Terdapat
banyak variasi tipe dan ukuran protein. Protein yang terdspat didalam makanan
akan dicerna dan terurai menjadi asam amino yang kemudian dapat diserap oleh
darah untuk dikirimkan ke hati. Disamping zat-zat gizi diatas, alkohol juga dapat
sementara protein dicerna lebih cepat, dan karbohidrat dapat kurang dari 2 jam.
Penyerapan zat gizi berlangsung di usus halus selama 3-5 jam, sedangkan
mudah digunakan. Namun demikian, kedua tersedia dalam jumlah yang relatif
disimpan dalam bentuk lemak netral, yang disintesis dari glukosa, asam lemak,
dan asam amino, namun diperlukan proses yang lebih kompleks dan waktu yang
lebih lama untuk menguraikannya menjadi energi yang siap untuk digunakan.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa pembawa energi utama adalah glukosa
(dan glikogen), lemak netral, dan protein (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).
Disaat awal otot bekerja, energi yang digunakan berasal dari adenosin
trifosfat (ATP), yang tersimpan di mitokondria dan hanya tersedia dalam beberapa
detik saja. ATP merupakan senyawa kimia berenergi tinggi, namun ikatan
kimianya labil dan mudah melepaskan gugus fosfatnya. Ketika energi dibutuhkan,
80
ATP dapat segera dipecah melalui reaksi hidrolisis sehingga ikatan fosfatnya
menghasilkan energi yang siap diangkut dan digunakan oleh tubuh. Proses
perubahan ATP menjadi ADP merupakan reaksi yang dapat berbalik, sehingga
dapat dilakukan proses pembentukan kembali ATP yang dibantu oleh seumber
energi lain, yaitu kreatin fosfat (CP). Proses ini hanya dapat berlangsung selama
maksimal 10 detik, selain itu cadangan kreatin fosfat juga relatif sangat terbatas
(Bridger et al., 2008). Untuk keberlangsungan kerja otot, ATP harus selalu
tersedia, sehingga diperlukan sumber energi lain (glukosa, glikogen, dan lemak)
seperti pada awal kerja otot atau pada saat intensitas kerja fisik berlebihan. Untuk
mengatasi ini, energi diperoleh dari konversi glukosa dan glikogen menjadi ATP
tanpa bantuan oksigen (anaerobic). Proses ini berlangsung relatif cepat (2,5 kali
lebih cepat dari proses aerobik) namun hanya dapat bertahan selama sekitar 1
menit untuk kerja otot maksimal (Bridger et al., 2008). Proses ini sangat tidak
menyebabkan naiknya keasaman sel otot. Hal ini kemudian berdampak pada
81
diharapkan karena bisa menyebabkan rasa nyeri, keram ataupun tremor sehingga
harus dibuang melalui bantuan oksigen. Untuk intensitas tertentu bisa jadi
penumpukan sisa metabolisme terus terjadi, bahkan setelah kerja fisik berakhir.
Dalam keadaan ini, tingkat kebutuhan oksigen diawal masa istirahat menjadi
cukup tinggi, agar proses pembuangan metabolisme yang belum terbuang saat
kerja dapat diteruskan. Fenomena ini dikenal sebagai oxygen debt (lihat Gambar
2.2.1). Tingginya kebutuhan oksigen disaat kerja berakhir juga diperlukan untuk
menyiapkan cadangan energi, karena proses ini tidak dapat dilakukan saat
istirahat.
Gambar 2.2.1. Kebutuhan oksigen pada saat kerja maupun sesudah kerja.
Sumber: Kroemer et al, 2001.
saat bekerja maupun sesudah bekerja. Selama kerja otot tidak berlebihan,
kebutuhan energi umumnya akan relative rendah dan proses pembentukan ATP
82
Apabila terdapat sisa metabolisme, oksigen yang tersedia (saat beristirahat) dapat
demikian, jelas bahwa kerja otot hanya dapat berlangsung secara terus-menerus
bila energi cukup tersedia melalui proses metabolisme yang efisien. Dalam hal ini,
intensitas rendah dan dilakukan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan
dengan kerja berintensitas tinggi walaupun dilakukan dalam waktu yang relatif
yang dibutuhkan pada tubuh tetap berfungsi walaupun tidak melakukan aktifitas,
diantaranya utnuk gerak denyut jantung, alat pernapasan, alat pencernaan, alat
metabolisme basal sangat bervariasi bergantung usia, jenis kelamin, tinggi, dan
basal yang dapat diterima adalah 1 kcal (4,2 kj/kg/jam) atau 4,9 kj/menit untuk
metabolisme yang dibutuhkan saat badan dalam kondisi istirahat atau saat
basal dan lebih sering digunakan. Metabolisme istirahat memiliki nilai 10%
sampai 15% lebih tinggi dari pada basal serta metabolisme kerja. Metabolisme
kerja menggambarkan energi yang dibutuhkan saat bekerja, baik dalam satuan
83
kj/min atau kcal/min. proses metabolisme sebelum, selama dan sesudah bekerja
Salah satu isu penting dalam fisiologi kerja adalah pemahaman mengenai
kapasitas fisik seseorang pada saat bekerja. Dengan pemahaman ini, para praktisi
ergonomi dapat mengevaluasi berat ringannya beban fisik yang dialami seseorang
merupakan fungsi dari ketersediaan zat-zat gizi serta kemamampuan tubuh dalam
merupakan jumlah dari energi basal (basal metabolic rate), energi yang
diperlukan sekadar untuk hidup, dan energi yang dibutuhkan ketika tengah
(metabolic cost) yang dibutuhkan saat seseorang bekerja berada dalam kapasitas
sebagai daya aerobik maksimal, dengan daya itu sendiri berarti energi yang
tersedia per unit waktu. Kapasitas aerobik maksimal dapat ditentukan dengan cara
mengukur volume oksigen maksimal (VO2 maks) yang dapat dihirup oleh
seseorang per satuan waktu. VO2 maks dari seorang individu umumnya diukur
84
dari konsumsi oksigen saat berlatri diatas treadmill (mengayuh ergocycle) dengan
kecepatan treadmill ditingkatkan secara bertahap dalam waktu yang relatif singkat
(Gambar 2.2.2a dan 2.2.2b). Pengujian kapasitas aerob dengan cara ini melibatkan
Bag, yaitu suatu wadah untuk mengumpulkan gas yang dihembuskan oleh
individu yang sedang diukur tersebut. Analisis dilakukan dengan melihat gas yang
terkumpul dan konsentrasi oksigen dalam wadah terisi, jumlah konsumsi oksigen
dapat dihitung.
sampai suatu saat dimana peningkatan kecepatan treadmill tidak berdampak pada
peningkatan konsumsi oksigen. Pada saat inilah konsumsi oksigen dari seseorang
dianggap paling tinggi dan mencerminkan VO2 maks individu tersebut. VO2 maks
ini terjadi pada saat denyut jantung maksimal. Ketika telah di capai VO2 maks,
sangat mungkin apabila individu masih dapat berlari lebih cepat (intensitas kerja
lebih tinggi). Namun pada saat itu, energi yang digunakan lebih bersifat anaerobik
dan tidak dapat berlangsung lama. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa
kapasitas kerja seseorang dapat ditentukan melalui VO2 maks yang dimiliki oleh
individu tersebut walaupun caranya tak mudah. Dimana peralatan yang digunakan
85
Gambar 2.2.2. Peralatan yang digunakan untuk mengukur VO2 maks seseorang
(a. dulu, b. sekarang).
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
untuk mengetahui dan mengukur VO2 maksimal seseorang dari zaman dahulu
metode, yaitu metode maximal test dan submaximal test (Astrand et al., 2003).
pengukuran VO2 maks dengan treadmill pada contoh diatas. Metode ini akan
respirasi telah mencapai batasnya, misalnya terjadi mual, sesak napas yang parah,
bahkan sampai pingsan, dan lainnya (shepherd seperti dikutip dalam Iridiastadi,
harus melakukan paling sedikit tiga beban kerja yang berbeda. Pada pelatihan
86
treadmill, beban kerja yang berbeda diperoleh dengan meningkatkan kemiringan
atau kecepatan pada treadmill. Untuk responden dengan kapasitas aerobik yang
reltif rendah, kecepatan hingga 4 mph dan kemiringan pada nol persen dapat
digunakan untuk pengujian. Pada setiap beban kerja,denyut jantung dan konsumsi
oksigen diukur. Pengukuran pada responden dimulai dengan beban kerja yang
paling ringan, kemudian beban kerja dinaikan sampai tingkat paling berat. Metode
linear dari denyut jantung, sehingga terdapat hubungan yang menyatakan bahwa
2014).
melaporkan data VO2 maks (untuk persentil 50) sebesar 63 kj/menit atau sekitar
3,2 l/menit untuk pekerja pria 44 kj/menit atau sekitar 2,2 l/menit untuk pekerja
wanita. Data untuk persentil 5 adalah 52,3 kj/menit (pria) dan 33,5 kj/menit
mahasiswa, anggota TNI dan pekerja industri. Pada 2007, Widyasrama dan
Rakhmaniar melaporkan data VO2 maks sebesar 2,6 l/menit untuk mahasiswa dan
1,8 l/menit untuk mahasiswi. Untuk anggota TNI, Yadi (2009) malaporkan data
VO2 maks sebesar 4,5 l/menit. Untuk pekerja industri, Yuliani (2010) melaporkan
data VO2 maks sebesar 3,4 l/menit untuk pekerja pria dan 2,3 l/menit untuk
pekerja wanita. Pada penelitiannya, maks sebesar 3,4 l/menit untuk pekerja pria
87
dan 2,3 l/menit untuk pekerja wanita. Pada penelitiannya, Yuliani menggunakan
responden pekerja pria dan wanita, dimana para pekerja tersebut merupakan
bagian produksi (dimana pada bagian ini pekerja banyak melakukan aktifitas
fisik), memiliki riwayat kesehatan yang baik, tidak merokok dan meminum
alkohol, pada rentang usia 25 tahun sampai 40 tahun, dengan jumlah sampel
golongan populasi yang ada di indonesia, baik dari segi profesi, usia, mau pun
jumlahnya yang berbeda. Penelitian Yunani terdiri atas 2 tahap, tahap pertama
menggunakan metode maximal test, yaitu setiap responden harus berlari diatas
dengan kecepatan awal untuk responden pekerja pria adalah 7 km/jam dan untuk
konsumsi oksigen relatif terhadap bobot badan (VO2) bagi pekerja industry
berdasarkan faktor fisiologis denyut jantung, usia, bobot badan dan tinggi badan,
pada kecepatan 25%, 50%, dan 75% dari kecepatan maksimal yang dicapai pada
berat. Untuk merekam, menganalisis dan menampilkan hasil gas (O2 dan CO2),
individu, termasuk faktor demografi, usia, jenis kelamin, bobot badan, training,
VO2 maks dialami pada usia sekitar 18-20 tahun (Gambar 2.2.3), kemudian
menurun sejalan dengan bertambahnya usia seseorang. Pada usia 60 tahun, VO2
89
maks berkisar sekitar 75% dibandingkan pada saat usia 20 tahun (Bridger et al.,
2003). Wanita pada umumnya memiliki VO2 maks yang lebih rendah
dibandingkan pria dimana VO2 maks wanita setara 65-75% VO2 maks pria. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan bentuk tubuh, serta proporsi lemak tubuh. Namun,
sebelum terjadinya pubertas, gender tidak membedakan VO2 maks antar individu
Berikut dapat dilihat Gambar 2.2.3. dimana usia, gender setiap populasi
Gambar 2.2.3. Kapasitas aerobic maksimum sebagai fungsi dari usia dan gender.
Sumber: National Institute for Occupational Safety and Health (1981).
Berdasarkan Gambar 2.2.3. bahwa kapasitas yang dimiliki setiap usia dan
gender memiliki kapasitas maksimum aerobic yang berbeda-beda, lain usia lain
kapasitas maksimalnya begitupun jika dilihat dari gendernya. Bobot badan juga
dapat memengaruhi nilai VO2 maks, namun ini lebih disebabkan oleh proporsi
lemak yang berlebihan. Latihan fisik secara benar dapat juga meningkatkan VO2
maks. Job training bukan saja bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas kerja,
namun dapat pula meningkatkan output kerja, kekuatan otot, serta mengurangi
90
potensi cedera. Perokok pada umumnya akan memiliki VO2 maks yang lebih
rendah dari pada yang bukan perokok. Karbondioksida yang ada pada asap rokok
mengikat hemoglobin jauh lebih kuat (200 kali) dibandingkan dengan oksigen.
menjadi lebih rendah dan berdampak pada VO2 maks yang lebih kecil. Faktor-
faktor lain yang juga dapat memengaruhi kapasitas kerja antara lain: kebisingan,
Yassierli, 2014).
memengaruhi kapasitas kerja fisik seseorang yang dapat dilihat pada Gambar
2.2.4 berikut:
91
Faktor Somatik Jenis Adapatasi Nutrisi Tembakau. Faktor
Kelamin dan Usia pelatihan Alkohol, Psikis
Dimensi tubuh Kafein, dll Sikap
Kesehatan Motiva
si
Proses menghasilkan
energi
Kinerja fisik
Nilai VO2 maks yang dimiliki oleh seorang pekerja juga merupakan
indikator dari tingkat kebugaran pekerja yang bersangkutan. Bagi seorang dokter,
kebugaran dapat diartikan sebagai fisik seseorang yang tidak memiliki penyakit.
92
meningkatkan VO2 maks pekerja merupakan suatu kontribusi positif bagi pekerja.
Untuk pekerjaan aktifitas fisik yang cenderung yang tidak statis, evaluasi
beban kerja dapat dilakukan dengan menghitung besarnya energi yang dibutuhkan
(energi cost) saat pekerja, kemudian dievaluasi dengan mengacu pada sejumlah
panduan (tabel) yang ada. Namun, pendekatan yang lebih tepat adalah
maksimal dari individu yang bersangkutan. Rasio ini digunakan sebagai indikator
menegah, atau berat. Evaluasi beban kerja dapat dilakukan dengan pengukuran
Yassierli, 2014).
beban kerja tidak melebihi batas kemampuan yang dimiliki oleh seorang pekerja.
Kelelahan akan terjadi jika beban kerja sebesar 30-40% dari kapasitas kerja,
93
disamping akibat pekerjaan statis yang dilakukan dalam jangka waktu yang tidak
singkat. Pada pekerjaan dengan beban berlebih, evaluasi fisologi perlu dilakukan
untuk mengetahui seperti apa perbaikan kerja yang efektif dan layak diterapkan
3. Konsumsi Oksigen
oksigen yang dikonsumsi per satuan waktu (liter/menit). Hal ini dimungkinkan,
namun dengan asumsi bahwa rata-rata sekitar 4,8-5 kkal energi dapat dihasilkan
dari setiap liter okigen yang digunakan dalam proses metabolisme zat gizi
(Kroemer et al. 2001). Dengan demikian, energi saat bekerja dapat dihitung
dengan cara mengukur oksigen yang dikonsumsi oleh seorang individu saat
oksigen pada saat kerja relative terhadap konsumsi oksigen saat istirahat
merupakan indeks beban fisiologis yang dialami seorang akibat pekerjaan yang
dalam posisi berdiri, di samping itu pekerja tersebut harus pula sesekali
mengangkat dan menurunkan beban kerja ke atas palet. Jika konsumsi oksigen
rata-rata pekerja tersebut adalah 0,6 liter/menit, maka jumlah energi yang
Untuk 8 jam kerja, total energi yang dibutuhkan adalah 1440 kkal. Apabila energi
yang diperlukan pekerja tersebut untuk aktivitas di luar jam kerja (tidur, bersantai,
94
dan lain-lain) dapat diperkirakan, maka dapat dihitung kebutuhan energi selama
satu hari. Untuk analisis lebih jauh, angka ini dapat dibandingkan dengan diet
pekerja tersebut (jumlah energi yang masuk melalui makanan dan minuman)
untuk menentukan kecukupan gizi dari pekerja yang bersangkutan (Iridiastadi dan
Yassierli, 2014).
Nilai absolut kebutuhan energi untuk berbagai aktivitas dan pekerjaan telah
energi 2,6 kkal/menit. Dalam sehari, rata-rata energy cost seorang mahasiswa pria
adalah sebesar 2,930 kkal, relative lebih rendah bila dibandingkan dengan energi
yang dibutuhkan oleh seorang pekerja tambang (3,660 kkal/hari) (Iridiastadi dan
Yassierli, 2014).
Sebagai contoh, suatu pekerjaan dapat dikatakan ringan jika kebutuhan energi
untuk pekerjaan tersebut tidak melebihi 2,5 kkal/menit. Pekerjaan yang dianggap
berat akan membutuhkan sekitar 7,5 kkal/menit, sementara suatu aktivitas fisik
dapat dikatakan sangat berat jika energi yang dibutuhkan mencapai 12,5 kkal atau
lebih.
95
Tabel 2.2.2. Kebutuhan energi untuk setiap klasifikasi pekerjaan (lanjutan).
Klasifikasi Total Energi Ekspenditur Denyut Jantung
Pekerjaan (kj/menit) (kkal/menit) (denyut/menit)
Berat 30 7.5 100-120
Sangat Berat 40 10 120-140
Ekstrem Berat 50 12.5 140-160
Sumber: Kroemer et al (2001).
Besarnya beban fisiologi seorang pekerja dapat pula dievaluasi dengan cara
tersebut. Rasio ini merupakan ukuran beban objektif beban kerja yang dialami
oleh pekerja tersebut. Pendekatan ini dianggap lebih tepat bila konsumsi oksigen
pertimbangan bahwa kapasitas fisiologis (VO2 maks) bersifat spesifik dan berbeda
diatas, energi yang diperlukan oleh seorang pekerja pria saat melakukan pekerjaan
Bila VO2 maks pekerja tersebut adalah 3,0 liter/menit, maka beban untuk
pekerjaan tersebut adalah 20%. Jika pekerjaan tersebut dilakukan oleh pekerja
wanita yang memiliki VO2 maks sebesar 2,0 liter/menit , maka besar beban
fisiologis menjadi sebesar 30%. Jelas bahwa metabolic cost pekerja wanita ini
dilakukan oleh keduanya adalah pekerjaan yang persis sama. Seperti yang telah
VO2 = 1,168 + 0,20HR – 0,035A + 0,019W (liter/menit), untuk pria ............ .2.2.1.
dengan,
A = Usia (tahun)
oksigen dan kebutuhan energi pekerja Indonesia dengan umur 20-40 tahun.
Sebagai contoh, seorang pekerja pria berusia 30 tahun mempunyai bobot badan 65
kg dan denyut jantung 140 denyut/menit, maka konsumsi oksigen (VO 2) dan
kebutuhan energi pekerja tersebut adalah 1,82 liter/menit dan 8,74 kkal/menit.
VO2 maks untuk pekerja pria berada di rentang 3,4 ± 0,55 liter/menit, sedangkan
energi seorang pekerja, maka dapat ditentukan klasifikasi perkerjaan bagi pekerja
bobot badan 50kg, jika menggunakan nilai denyut jantung pada Tabel 2.2.2
(Kroemer et al., 2001) maka klasifikasi pekerjaan bagi pekerja dapat dilihat pada
Table 2.2.3.
97
Tabel 2.2.3. Hasil klasifikasi pekerjaan untuk pekerja pria
Konsumsi Energi Ekxpenditur
Klasifikasi Denyut Jantung
Oksigen
Pekerjaan (denyut/menit) (kj/menit) (kkal/menit)
(1/menit)
Ringan 90 0,706 3,3888 1219,968
Moderat 100 0,906 4,3488 1565,568
Berat 120 1,306 6,2688 2256,768
Sangat Berat 140 1,706 8,1888 2947,968
Ekstrem
160 2,106 10,1088 3639,168
Berat
Sumber: Satriawan, 2008.
pria, selanjutnya kita akan masukin tabel klasifikasi untuk wanita yang akan di
Berdasarkan tabel 2.2.4 tampak hasil tabel hasil klasifikasi pekerjaan untuk
wanita, maka dari kedua tabel 2.2.4. maka kita bisa menentukan kondisi denyut
jantung, konsumsi oksigen, maupun energi dari pekerjan yang dilakukan, tabel
Isu lain yang menjadi bahan diskusi para ahli ergonomic adalah batas
maksimum beban kerja (%VO2 maks) yang diperbolehkan dalam suatu durasi
waktu tertentu, agar tidak terjadi kelelahan yang berlebihan. Untuk delapan jam
kerja, sejumlah studi (misalnya NIOSH, 1981) menyarankan angka 33% (dari
98
VO2 maks), atau sekitar sepertiga dari kapasitas aerobic seseorang sebagai batas
maksimal. Hal ini berarti bahwa seorang pekerja umumnya tidak akan mengalami
rasa lelah yang berlebihan, jika pekerjaannya membutuhkan energi yang tidak
lebih dari sepertiga VO2 maks pekerja yang bersangkutan. Di bawah batas
tersebut, seorang pekerja dianggap masih memiliki energi yang cukup untuk
Chengalur et al. (2004) menyarankan angka 33% untu 8 jam, 30% untuk 10 jam,
dan 25% untuk 12 jam kerja. Hasil penelitian Louhevaara er al. pada 1986
(Bridger, 2008) menyarankan waktu kerja maksimum sebagai fungsi beban kerja
Pengukuran VO2 maupun VO2 maks tidak dapat dilakukan dengan mudah di
tempat kerja. Walau sejumlah alat ukur bersifat portable, pengukuran umumnya
secara hati-hati. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah apakah pengukuran
lainnya. Perbedaan prosedur ini akan berakibat pada perbedaan nilai VO2 maks,
salah satunya disebabkan oleh perbedaan kelompok oto yang aktif saat
pengukuran dilakukan. Uji dengan treadmill dapat menghasilkan VO2 maks yang
lebih besar (sekitar 7%) jika dibandingkan uji dengan ergocycle. Selain itu, VO2
maks dapat pula tinggi sekitar 5-11% apabila pengujian dilakukan dengan
99
Penelitian yang dilakukan oleh Iridiastadi dan Aghazadeh (2006),
Hasil penelitian ini jauh menyarankan penggunaan batas kerja fisiologis (8 jam
kerja) sebesar 25% dari nilai VO2 maks yang diperoleh melalui treadmill
4. Denyut Jantung
Evaluasi beban fisiologis yang dialami oleh seorang pekerja dapat pula
mengingat bahwa semakin berat kerja fisik seseorang, semakin berat juga kerja
Industri Brouha (1960) menyarankan agar denyut jantung tidak lebih melibihi
dan denyut nadi selama asa pemuliha (istirahat) setelah suatu siklus kerja ataupun
pemulihan cukup atau pakah beban kerja berlebihan. Di akhir kasus siklus kerja,
100
1. Jika HR1-HR3 ≥ 10 dan jika HR1, HR2, HR3, ≤ 90, maka pemulihan setelah
2. Jika rata-rata HR selama pengukuran ≤ 110, dan HR1-HR3 ≥ 10, maka beban
3. Jika HR1-HR3 < 10 dan jika HR3< 90, maka pemulihan masih kurang.
Tabel 2.2.5. Evaluasi beban kerja fisiologis menggunakan data denyut jantung.
Klasifikasi Pekerjaan Denyut Jantung/menit
Ringan 90
Agak ringan 100
Berat 120
Sangat Berat 140
Amat sangat berat 160
Sumber: Kroemer et al dalam (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).
batas atas kapasitas yang relatif sama, sesuatu yang tidak tepat. Untuk
dibandingkan dengan maksimal heart rate (HRmaks) yang mungkin dimiliki oleh
seorang inidvidu. Denyut jantung maksimal dipercaya merupakan fungsi dari usia
101
Namun sebenarnya prediksi melalui formula ini tidak didasari dengan latar
belakang ilmiah yang kuat, mempunyai error hingga 10 bpm, dan tidak bias
diaplikasikan pada anak-anak. Setelah HRmaks kita ketahui, beban fisiologis dapat
dihitung dengan menggunakan indikator heart rate range (HRR) dengan formula
sebagai berikut.
dengan,
HRrest = denyut jantung diukur saat istirahat (diukur setelah istirahat pada posisi
nilai HRR rata-rata yang disarankan ialah tidak melibih 33% (Chengalur et al.,
konsumsi oksigen akan memberikan hasil yang sama. Namun, denyut jantung
Perbedaan antara HRR dan %VO2 maks dapat dimanfaatkan sebagai indikator
evaluasi terhadap pekerjaan seorang supir truk menunjukkan nilai HRR sebesar
40% dengan konsumsi oksigen sebesar 30% VO2 maks. Data ini menunjukkan
102
bahwa 25% peningkatan denyut jantung terkait erat dengan stress yang diperoleh
dari hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas fisik (misalnya
Besarnya energi yang dikeluarkan untuk suatu pekerja dapat diukur dengan
dengan,
A = umur (tahun)
G = jenis kelamin (m = 0, f = 1)
dengan,
103
Tabel 2.2.6. Persamaan pengukuran energi berdasarkan beberapa penelitian.
PERSAMAAN
EE = -20,4022 + (0,4472 HR) – (0,1263 w) +
(0,074 A)
EE = pengeluaran energi
Keytel (2005)
HR = denyut jantung (denyut/menit)
w = bobot badan (kg)
A = usia (tahun)
Y = 0,014 HR + 0,017 w – 1,706
Y = konsumsi oksigen (liter/menit)
Rakhmaniar (2007)
HR = denyut jantung (denyut/menit)
w = bobot badan (kg)
MWR = -1967 + 8,58 HR + 25,1 HT +4,50 A –
7,47 RHR + 67,8 G
MWR = metabolic work rate (W)
Kamalakannan et al. HR = denyut jantung bekerja (denyut/menit)
(2007) HT = tinggi badan (inci)
A = usia (tahun)
RHR = denyut jantung istirahat (denyut/menit)
G = 1 untuk wanita, 0 untuk pria
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
Saat tubuh bekerja lebih keras, sejumlah respons fisiologis akan secara
Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa kerja yang lebih keras membutuhkan
lebih banyak energi. Energi ini dapat disediakan apabila oksigen (dan nutrisi)
untuk proses metabolisme tersedia dalam jumlah yang cukup. Hal ini terkait erat
104
Hubungan antara denyut jantung dan konsumsi oksigen dapat diteliti di
untuk seseorang yang tengah melakukan suatu pekerjaan dapat diperkirakan (dan
lebih jauh dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan energi). Apabila data
VO2 maks dari pekerja (populasi) yang bersangkutan. Pendekatan ini merupakan
suatu cara yang lebih tepat dalam mengevaluasi beban kerja. Namun,
sensitif terhadap hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan intnsitas kerja
fisik. Sebagai contoh, stress lingkungan kerja dapat meningkatkan denyut jantung
ini tidak disarankan untuk pekerjaan di mana kontribusi non-fisik dapat memberi
pengaruh cukup besar. Pendekatan ini juga tidak dapat mengevaluasi beban kerja
dengan intensitas kerja sangat tinggi, mendekati kapasitas fisik seseorang. Pada
keadaan seperti ini, variabilitas denyut jantung cenderung cukup tinggi. Namun
demikian, pengukuran denyut jantung sering kali merupakan pilihan yang terbaik
105
5. Penilaian Subjektif
persepsi seseorang atas beban yang dirasakan oleh tubuh pada saat melakukan
pekerjaan. Manusia pada dasarnya usaha yang dilakukan sebagai fungsi dari
kerja) dengan sensasi psikologis yang dirasakan oleh seorang individu. Dengan
memanfaatkan model seperti ini, berat atau ringannya suatu aktivitas fisik dapat
dievaluasi dengan cara memperoleh masukan berupa nilai (rating) dari pekerja
Borg pada 1960 mengembangkan suatu skala yang disebut sebagai RPE
(rating of perceived exertion), yang dapat digunakan untuk menilai seberapa besar
usaha yang dikeluarkan oleh seorang dalam melakukan suatu aktivitas tertentu.
Skala ini terdiri atas sejunlah angka (antara 6-20), yang merepresentasikan
besarnya usaha kerja. Angka-angka pada skala ini bila dikalikan dengan 10, akan
mencerminkan denyut jantung per menit. Skala ini kemudian diperbaiki dengan
rentang nilai antara 0–10 (atau lebih) dan diakui bersifat sebagai skala rasio
(Borg, 1990). Skala ini dapat pula digunakan oleh pekerja dalam menilai tingkat
ketidaknyamanan atau rasa nyeri yang muncul Karena usaha fisik yang dibutuhan
untuk melakukan suatu pekerjaan, adapun skala ini dapat dilihat pada Tabel 2.2.7.
106
Tabel 2.2.7. Skala RPE.
Skala Deskripsi
6 Tidak ada usaha sama sekali
7,5 Amat sangat ringan
9 Sangat ringan
11 Ringan
13 Agak berat
15 Berat
17 Sangat berat
19 Amat sangat berat
20 Usaha maksimal
Sumber: Kroemer et al (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).
Berdasarkan Tabel 2.2.7 merupakan Tabel skala RPE yang di teliti oleh
Berikut ini adalah Tabel skala CR-10 yang di tunjukan pada tabel 2.2.8.
Dengan praktiknya, skala Borg ini dapat digunakan untuk menilai upaya
ketidaknyamanan yang bersifat local (bagian tubuh tertentu). Skala ini telah
107
disarankan. Di samping itu, perlu diperhatikan bahwa penggunaan Bahasa Inggris
pada skala tersebut mungkin tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh pekerja
2.5. Intervensi
tidak membutuhkan energi yang berlebihan. Hal ini dapat dicapai melalui
perancangan ulang atas system kerja yang bersangkutan serta pengaturan pekerja
yang lebih bersifat administrative, misalnya jadwal istirahat kerja, kerja sama
pegawai, pengawasan kelelahan selama kerja, dan seleksi pekerja. Sebagai contoh,
mungkin membutuhkan energi lebih besar bila dibandingkan dengan posisi kerja
berdiri. Agar posisi kerja berdiri dapat terpenuhi, metode dan peralatan kerja perlu
didesain ulang, sehingga objek kerja berada pada ketinggian yang diinginkan
saat melakukan pekerjaan yang cukup berat, seperti kerja konstruksi, kerja di
yang dilakukan secara berkala, lebih baik dari pada istirahat panjang namun
.......................................................................................................................... 2.2.9
108
w (b-s)
R= ……………………………………………………………………2.2.9
b-0,3
Dengan,
sebesar 5,44 kkal/menit yang kurang lebih adalah sepertiga dari rata-rata kapasitas
maksimal pekerja pria di Amerika Serikat. Sementara untuk pekerja wanita, nilai
ini perlu diganti menjadi 4 kkal/menit untuk pria dan 3,6 kkal/menit untuk wanita.
Nilai 0,3 kkal/menit yang adap ada rumus di atas mewakili energi yang
dikeluarkan saat seseorang beristirahat. Sebagai contoh, untuk pekerja pria yang
bekerja 4 jam berturut-turut, dan diketahui energi yang terkait dengan pekerjaan
tersebut adalah sekitar 5,5 kkal/menit, lama waktu istirahat yang dibutuhkan
adalah sekitar delapan menit. Untuk kerja industry yang relatif tidak berat, praktik
yang umum dilakukan adalah pemberian waktu istirahat selama sekitar sepuluh
menit setelah kerja selama sekitar 2-3 jam. Pemberian waktu istirahat ini
dilakukan dua kali, yaitu pada setengah shift kerja pertama dan kedua (Iridiastadi
usia muda, pria, dan memiliki VO2 maks cukup tinggi) yang melakukan pekerjaan
109
tersebut. Hal ini dapat dapat dibenarkan apabila perancangan ulang atas suatu
sistem kerja tidak memungkinkan. Sebagai contoh, dlam proses pemasangan pipas
pemasangan pipa pada suatu ketinggian terentu. Untuk sangat tinggi, dan turun
setelah pipa berhasil dipasang. Aktivitas menajat dan menurun tangga (serta
pemasangan pipa pada suatu ketinggian) akan sukar dilakukan. Untuk itu,
pemilihan dalam pekerja dalam kasus ini bisamenjadi alternative yang terbaik
110
111
BAB III
PENGUMPULAN DATA
Alat dan Bahan yang digunakan dalam proses pengumpulan data yang
1. Sepeda statis
2. Pulsemetre
3. Stopwatch
4. Meteran
5. Alat tulis.
7. Kamera.
25-45 menit).
111
3.3. Data Pengamatan
Adapun data hasil pengumpulan data yang telah dilakukan dalam proses
Tabel untuk data hasil pengukuran yang di lakukan pada bulan desember
tahun 2016 lalu di ruang labor ergonomi STT Dumai yang akan di tunjukan pada
responden 1 adalah 1168 denyut dan responden 2 adalah 1204 denyut. Adapun
160
140
120
100
40
20
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Dari Gambar 3.2.1. terlihat bahwa denyut jantung ke 2 operator tidak sama,
pada denyut jantung rendy terlihat stabil ketika penurunan denyut jantung ketika
istirahat, sedangkan denyut jantung syahril tidak stabil ketika waktu istirahat
113
114
BAB IV
PEMBAHASAN
EE = 9,5405
EE = 22,0621
EE = 26,5341
EE = 33,2421
EE = 33,2421
114
Hasil untuk pengukuran pada saat bekerja, sekarang kita akan mengukur
EE = 27,8757
EE = 23,8509
EE = 22,0621
EE = 20,2733
EE = 18,9317
EE = 13,513
115
Menit ke 5 EE = -20,4022 + 0,4472 (121) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)
EE = 25,5874
EE = 27,8234
EE = 30,0594
EE = 30,9538
Hasil untuk pengukuran pada saat bekerja, sekarang kita akan mengukur
EE = 28,2706
EE = 26,4818
EE = 23,7986
116
Menit ke 15 EE = -20,4022 + 0,4472 (117) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)
EE = 23,7986
EE = 22,9042
Y = 0,351
Y = 0,743
Y = 0,883
Y = 1,093
117
Menit ke 20 Y = 0,014 (138) + 0,017 (51) – 1,706
Y = 1,093
Hasil untuk pengukuran pada saat bekerja, sekarang kita akan mengukur
Y = 0,925
Y = 0,799
Y = 0,743
Y = 0,687
Y = 0,645
118
Y = 0,494
Y = 0,872
Y = 0,942
Y = 1,012
Y = 1,04
Hasil untuk pengukuran konsumsi oksigen pada saat bekerja, sekarang kita
akan mengukur untuk pengukuran konsumsi oksigen pada saat istirahat kerja
Y = 0,956
Y = 0,9
119
Y = 0,816
Y = 0,816
Y = 0,788
(2007)
= 2337,68
= 2645,15
= 2760,83
= 2941,82
= 2252,33
= 2513,87
= 2601,59
= 2644,49
= 2676,59
121
Untuk pengukuran metabolic work rate menggunakan ukuran tinggi badan
67,8(0)
= -340,711
67,8(0)
= -33,2409
67,8 (0)
= 82,391
67,8(0)
= 241,019
67,8(0)
= 2941,82
122
4. Perhitungan pengukuran metabolic work rate untuk operator Syahril
67,8(0)
= -334,7521
67,8(0)
= -73,2121
67,8(0)
= 14,5079
67,8(0)
= 57,4079
67,8(0)
= 89,5079
123
4.3. Heart Rate Range
range (HRR) yang dapat di lihat pada dasar teori yang pratikan bahas sebelumnya
harus mencari:
Dari perhitungan di atas maka didapatkan heart rate range adalah 2,27
Dari perhitungan tersebut maka didapatkan heart rate range adalah 2,27
untuk operator Rendy. Ternyata dilihat dari HRR antara kedua operator terdapat
selisih yang besar untuk itu, denyut jantung dapat dengan mudah dipengaruhi oleh
124
4.4. Analisa dan Evaluasi
Berikut ini adalah hasil analisa untuk kedua operator yaitu operator Rendy
dan operator Syahril. Dimana hasil analisa ini merupakan total setiap perhitungan
metabolic work rate, dan heart rate range. Adapun hasil analisa tersebut akan
Dari Tabel 4.2.1. dapat dilihat selisih antara ke 2 operator dimana selisih
bandingkan operator Rendy. Selisih nilai Y adalah 0,674 dimana nilai operator
Syahril lebih besar dari pada operator Rendy. Selisih nilai MWR adalah 916,02
dimana nilai operator Rendy lebih besar dibandingkan nilai operator. Dan selisih
nilai HRRmaks adalah 0,91 dimana nilai operator Rendy lebih besar di bandingkan
Dari hasil analisa tersebut maka evaluasinya adalah bahwa bukan hanya
beban kerja yang dapat mempengaruhi pengukuran energi tetapi kondisi lain
125
126
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
kebutuhan energi, konsumsi oksigen, metabolic work rate, dan heart rate range
yang dimana selisih antara ke 2 operator dimana selisih nilai EE adalah 12,0509,
Selisih nilai Y adalah 0,674 dimana nilai operator Syahril lebih besar dari pada
operator Rendy. Selisih nilai MWR adalah 916,02 dimana nilai operator Rendy
lebih besar dibandingkan nilai operator. Dan selisih nilai HRRmaks adalah 0,91
dimana nilai operator Rendy lebih besar di bandingkan nilai operator Syahril.
Dengan begitu berdasarkan data denyut jatung Rendy waktu bekerja dan watu
5.1. Saran
Dari hasil kesimpulan diatas maka saran yang dapat diberikan adalah bahwa
bukan hanya beban kerja yang dapat mempengaruhi pengukuran energi tetapi
kondisi lain seperti umur dan berat dari operator tersebut. Untuk mencapai
126
127
BAB I
PENDAHULUAN
khususnya usaha kecil dan menengah dapat diharapkan tumbuh dan berkembang
menjadi kegiatan usaha mandiri dan mampu memberikan peranan yang penting
Medan denai jalan Bromo cukup banyak, baik pengerajin secara individu
kerja, kesesuaian mesin dan alat terhadap karakteristik pekerja belum menjadi
duduk yang cukup lama, kurang lebih 7-8 jam per hari dan dilakukan secara terus
menerus. Postur kerja di tempat kerja perlu diperhatikan karena jika postur kerja
tidak baik pada waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan pekerja mengalami
keluhan rasa sakit,seperti rasa pegal, bahkan bisa mengakibatkan otot kejang atau
Posisi postur kerja juga ditentukan oleh mesin atau alat yang digunakan oleh
pekerja. Dimensi mesin atau alat yang tidak sesuai dengan antropometri tubuh
pekerja dapat mengakibatkan postur kerja tidak sesuai. Pekerjaan menjahit ini
127
menarik untuk diteliti karena terlihat adanya sikap atau posisi kerja dan kondisi
kerja yang tidak ergonomis serta adanya keluhan yang dirasakan oleh pekerja
(meja, kursi dan sebagainya) harus memperhatikan ukuran dimensi tubuh pekerja
atau operator agar posisi badan, urutan gerakan dapat dijamin berlangsung secara
alami. Menurut Anis, J.F dan McConville, setiap desain produk, baik yang
pemakainya.
kemungkinan situasi terbaik pada pekerjaan sehingga kesehatan fisik dan mental
mesin jahit yang bekerja lebih dari 8 tahun akan menimbulkan efek yang
kumulatif terhadap cedera leher dan bahu pada tubuh. Posisi kerja dan kondisi
kerja yang menyebabkan keluhan pada pekerja perlu dilakukan evaluasi ergonomi
terhadap sarana kerja khusunya meja mesin jahit dan kursi operator yang
128
1.2. Tujuan Pratikum
1. Praktikan dapat merancang kursi dan meja mesin jahit dengan kondisi yang
2. Praktikan dapat merancang kursi dan meja mesin jahit sesuai dengan
karaktristik antropometri.
memakainya.
129
130
BAB II
DASAR TEORI
2.1. Pendahuluan
Pada bagian ini akan dibahas mengenai definisi dan sejarah keilmuan
yang tidak nyaman ketika digunakan. Misalnya, meja belajar yang terlalu rendah
terlalu tinggi memaksa kita menjinjit untuk menggapainya. Kondisi yang serupa
juga dapat kita temukan di industri. Sebagai contoh, pekerja sering dijumpai harus
kesulitan untuk mendapatkan pakaian kerja atau sepatu keselamatan (safety shoes)
yang cocok karena postur tubuh mereka yang kecil. Hal ini bisa terjadi karena
banyak produk, mesin atau peralatan yang tersedia diimpor dari luar negeri dan
cenderung tidak cocok dengan pekerja dalam negeri. Namun dalam banyak hal,
alat kerja yang merupakan produk dalam negeri (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).
130
Kondisi Ketidaksesuaian mesin, alat kerja, atau produk dengan
berdampak pada hal negatif lainnya. Berbagai dampak lain yang dapat
a. Kerja otot berlebihan atau pemerasan tenaga yang harus dilakukan sehingga
lebih cepat lelah dalam bekerja. Bayangkan para pekerja garmen! Betapa
tangan mereka.
tenaga (point a). Ketika berada dalam kondisi lelah, tubuh kita perlu
kecelakaan kerja atau cacat produk. Sepatu yang terlalu besar atau terlalu
besar.
dilakukan dalam waktu yang lama. Ngilu yang berkepanjangan pada sistem
Sekarang ini, mulai banyak kita temui orang dewasa bahkan anak-anak
131
komputer dengan sikap yang bungkuk juga. Sikap kerja bungkuk biasanya
diakibatkan oleh meja kerja atau monitor komputer yang terlalu rendah.
centered design.
individu. Selain itu, manusia sebagai pengguna juga memiliki variasi antar
individu. Aspek dimensi fisik merupakan salah satu hal mendasar yang harus
Bagaimana kita dapat berjalan dengan baik jika mengunakan sepatu yang terlalu
besar atau terlalu kecil? Bagaimana suatu palu atau gunting dapat dipakai dengan
aman untuk bekerja jika pegangannya tidak pas dengan genggaman penggunanya?
Bandung dengan jumlah 120 orang. Misalnya, mempunyai tinggi badan yang
berkisar antara 148-178 cm dengan bobot badan antara 42-103 kg. Ketika berdiri
jangkauan tangan ke atas mereka berkisar antara 180-231 cm. Variasi fisik seperti
ini juga terlihat di tempat kerja. Dalam lingkup populasi yang lebih besar, variasi
ini akan semakin terlihat karena adanya perbedaan usia, ras dan etnis, misalnya
populasi disuatu provinsi atau bahkan populasi suatu negara. Data kami terhadap
132
sampel pekerja industri di provinsi jawa barat menunjukkan tinggi badan pada
rentang 135-182 cm dengan tinggi jangkauan ke atas ketika berdiri berkisar antara
pekerja di Jawa Barat yang diukur dalam satuan (centimeter) dapat dilihat pada
Gambar 2.3.1:
Gambar 2.3.1. Variasi antropometri dalam satu kelas mahasiswa (n=120) dan
sesama pekerja Jawa Barat.
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
tinggi antara mahasiswa dengan pekerja Jawa Barat sangat bervariasi karena
adanya perbedaan usia, ras dan etnis namun dalam aktivitas juga sangat
berpengaruh besar. Selain itu, perlu dipahami juga bahwa manusia bervariasi
dalam proporsi dan panjang anggota tubuh. Dan dua orang yang memiliki tinggi
yang sama, bisa saja mempunyai proporsi panjang kali atau panjang tangan yang
berbeda. Terdapat beragam tipe postur manusia, ada yang memiliki postur tinggi-
133
kurus, tinggi-gemuk, pendek-kurus, serta pendek-gemuk, seperti yang dapat
Tipe-tipe postur tubuh manusia dengan memiliki tinggi tubuh yang sama
namun terdapat perbedaan bentuk tubuhnya yang dapat dilihat pada Gambar 2.3.2:
Gambar 2.3.2. Variasi manusia dalam postur walaupun tinggi tubuh sama.
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
Berdasarkan Gambar 2.3.2 dapat diketahui bahwa dengan tinggi tubuh yang
sama namun dapat dilihat perbedaan berbagai bentuk postur tubuh manusianya
dari segi bentuk maupun berat tubuhnya. Dengan memahami adanya variasi antar
individu ini, bagaimana seharusnya kita merancang suatu alat atau produk agar
ergonomis? Ambil salah satu contoh misalnya meja kerja. Jika kita diminta untuk
merancang sebuah meja kerja di industri, berapa tinggi alas meja dari lantai yang
kita pilih? Bagaimana dengan ukuran panjang dan lebar alas meja? Hal inilah
2014).
134
2.3. Definisi dan Sejarah
yang berhubungan dengan aspek ukuran fisik manusia. Aspek fisik ini tidak
hanya dimensi linier, tetapi juga berupa berat badan. Keilmuan ini melingkupi
metode pengukuran dan permodelan dimensi tubuh manusia, serta teknik aplikasi
science of measurement and the art of application that establishes the physical
ciri fisik manusia dalam posisi diam pada dimensi-dimensi dasar fisik, meliputi
panjang segmen atau bagian tubuh, lingkar bagian tubuh, massa bagian tubuh, dan
dibedakan. Hasil pengukuran baik pada keadaan statis atau dinamis secara umum
terhadap dimensi tubuh manusia sebenarnya sudah ada sejah dahulu kala. Seorang
135
arsitek yang bernama Vitruvius pada abad 1 SM menuliskan beberapa pion yang
dan tinggi tubuh, tangan dari pergelangan hingga ujung jari tengah adalah sama,
kepala mulai dagu hingga puncak merupakan seperdelapan bagian, dada paling
atas hingga akar rambut terendah merupakan seperenam bagian, tengah dada
hingga ujung kepala bagian atas merupakan seperempat bagian. Jika kita ambil
tinggi wajah saja, jarak dari bawah dagu hingga sisi bawah lubang hidung
merupakan sepertiga, selanjutnya ke garis alis mata juga sepertiga, dan sisa ke
atasnya juga sepertiga. Panjang kaki merupakan seperenam dari tinggi tubuh,
tubuh manusia yang manjadi titik pusat secara alamiah adalah pasar. Jika
sebuah jangka diletakkan pada pusarnya untuk membuat sebuah lingkaran, jari-
jari kaki dan jari-jari tangannya akan menyentuh keliling lingkaran tersebut.
bujur sangkar juga dapat diperoleh. Jarak yang sama ditemukan dari telapak kaki
hingga puncak kepala dengan lebar kedua ke dua tangan yang tergantung
136
Belgia, menulis buku berjudul “anthtopometrie”. Quetlet kemudian dianggap
terhadap proporsi dan dimensi tubuh manusia terus berkembang, termasuk juga
usaha untuk mengumpulkan data antropometri. Tercatat, pada tahun 1919 pernah
perancangan pakaian. Namun data yang dikumpulkan tidak lagi digunakan untuk
tujuan tersebut (Panero dan Zelnik, 1979) (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).
Gambar terkenal dari Leonardo da Vinci tentang sosok manusia pada zaman
Gambar 2.3.3. Salah satu karya Leonardo da Vinci berdasarkan Vitruvius Norm-
Man.
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
Berdasarkan Gambar 2.3.3 merupakan salah satu karya yang terkenal dari
antropometri untuk perancangan baru terealisasi pada masa perang dunia ke-2.
137
Data antropometri banyak digunakan untuk mengevaluasi perlengkapan militer,
semakin luas terutama dalam perancangan berbagai produk serta desain stasiun
kerja dan tata ruang kerja di industri. Data antropometri di gunakan sebagai
standar dan acuan penentuan tinggi, lebar, diameter pegangan, serta jarak
komputer lantai pabrik serta berbagai alat transportasi, seperti mobil, bis, dan
pesawat komuter Indonesia (Bernanto, 1997) dapat dilihat pada Gambar 2.3.4
salah satu kegunaan lain data antropometri adalah pada keilmuan biomekanika.
Dalam keilmuan ini, data berupa ukuran dan dimensi setiap segmen tubuh
diperlukan sebagai input dalam simulasi model manusia ketika bekerja, secara
spesifik untuk menghitung besarnya gaya beban otot dan tekanan pada sendi
pesawat komuter Indonesia (Bernanto, 1997) dapat dilihat pada Gambar 2.3.4:
138
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
manusia semata, akan hal tersebut tentu dapat dilakukan dengan mudah dan
data ukuran tubuh ini digunakan dalam perancangan. Salah satunya adalah adanya
keragaman individu dalam ukuran dan dimensi tubuh. Variasi ini dipengaruhi oleh
1. Usia
Tinggi tubuh manusia terus bertambah mulai dari lahir hingga usia sekitar 20-
daripada laki-laki. Berbeda dengan dengan tinggi tubuh, dimensi tubuh yang
lain, seperti bobot badan dan lingkar perut mungkin tetap bertambah hingga
usia 60 tahun. Pada tahap usia lanjut, dapat terjadi perubahan bentuk tulang
2. Jenis Kelamin
antara laki-laki dan perempuan. Di usia dewasa, laki-laki pada umumnya lebih
tinggi dari pada perempuan, dengan perbedaan sekitar 10%. Namun perbedaan
ini tidak terlihat saat usia sekitar 10-12 tahun. Pada usia ini, perempuan
139
cenderung lebih tinggi dan lebih berat dari pada laki-laki seusianya. Sampel
data dari lab. Rekayasa sistem kerja dan Ergonomi ITB menunjukkan
pertumbuhan maksimum terjadi pada usia sekitar 13-15 tahun. Selain lebih
tinggi dan lebih berat, pada umumnya tubuh laki-laki juga lebih besar
berarti seperti paha dan pinggul. Selain dalam hal ukuran, perbedaan juga
Ukuran dan proporsi tubuh sangat beragam antara ras dan etnis yang berbeda,
Mongoloid atau Asia, dan Hispanik (Amerika Selatan). Perhatikan data berikut
yang diambil dari Kroemer (2003). Tinggi rata-rata orang Cina (bagian selatan)
rata orang Amerika Utara dengan tinggi badan sekitar 179 cm untuk laki-laki
yang berbeda dengan Amerika dan Eropa, dengan proporsi kaki yang lebih
Perbedaan dalam ukuran dimensi fisik dapat dengan mudah kita temukan pada
petani di desa yang terbiasa melakukan kerja fisik berat memiliki antropometri
yang berbeda dengan orang-orang yang tinggal di kota dengan jenis pekerjaan
140
kantoran yang hanya duduk di depan komputer. Orang yang berolahraga secara
rutin juga mempunyai postur tubuh yang berbeda dengan mereka yang jarang
berolahraga.
5. Kondisi Sosio-ekonomi
berpengaruh pada tingkat pertumbuhan badan. Selain itu, faktor ini juga
tinggi. Mahasiswa memiliki tinggi tubuh yang lebih tinggi daripada teman
hubungan yang linier antara rata-rata tinggi badan dan bobot anak-anak di
oleh meningkatnya kemakmuran dan asupan gizi yang lebih baik dibandingkan
generasi sebelumnya.
ini dilakukan agar dalam penggunaanya dapat disesuaikan secara spesifik dengan
adalah laki-laki atau perempuan, atau berasal dari kelompok ras tertentu dan
dimaksud/diasumsikan. Selain itu, pada suatu basis data juga tercantum tahun
141
data berhubungan dengan tingkat keyakinan secara statistik, serta simpangan baku
untuk pengukuran bergantung pada jenis data yang akan dikumpulkan. Data
Dimensi linear merupakan jarak terpendek antara dua titik pada tubuh manusia
melingkupi panjang, tinggi, dan lebar segmen tubuh seperti: panjang jari, tinggi
2. Lingkar Tubuh
kandungan lemak dalam tubuh yang kemudian dijadikan sebagai acuan tingkat
kebugaran tubuh.
4. Sudut
Terdapat dua cara pengukuran sudut, yaitu dilakukan secara pasif dan secara
posisi tubuh ketika bekerja, yang lebih lanjut lagi dapat digunakan untuk
langsung dengan manusia, misalnya bentuk kaki untuk merancang sepatu yang
Secara umum, metode pengukuran bobot tubuh dapat dibagi atas tiga, yakni
ukur antropometri dapat digunakan termasuk mistar ukur atau pita ukur biasa.
(goniometer).
dilakukan dalam rangka mendapatkan alat ukur yang lebih praktis. Salah satu
beberapa dimensi linier tubuh secara bersamaan ketika subjek berada pada posisi
143
duduk tegak (Gambar 2.3.5). Dimensi fungsional yang diperoleh melingkupi
tinggi mata duduk, tinggi bahu duduk, tinggi siku duduk, tinggi popliteal, lebar
pinggul, dan sebagainya. Alat ini dirasakan cukup efektif untuk pengukuran skala
pengambilan data rancangan terhadap produk yang akan di rancang yang bisa
mengukur berbagai macam dimensi tubuh manusia dalam pengambilan data untuk
pengukuran dan input data ke komputer, serta waktu proses yang lama.
barat dengan target sampel ribuan orang yang tersebar dibeberapa kota. Kendala
utama yang akan kita hadapi tentu adalah biaya, waktu, dan kepraktisan. Hal ini
juga yang menjadi kendala utama dalam pembaruan basis data antropometri di
Indonesia, dan mungkin juga di semua belahan dunia (Iridiastadi dan Yassierli,
2014).
yang lebih baik, sebagai alternatif pengganti pengukuran secara manual. Pada
1970-an, pada peneliti mulai menggunakan metode fotografi. Metode ini menarik
karena lebih praktis, tidak memerlukan tenaga ahli dalam pengambilan data, dan
sudah mulai tergantikan oleh kamera digital. Beberapa penelitian pun mulai
kamera digital (Maulina, 2003; Ardani, 2003; Mislihah, 2006; Ardiansyah, 2007).
145
Walaupun masih berbasiskan dua dimensi (2D), metode ini terlihat cukup
tinggi. Penggunaan kamera digital sendiri dimaksudkan agar hasil rekaman objek
berupa data digital dapat langsung diolah dan dimanipulasi dengan perangkat
lunak komputer dan hasilnya dapat langsung disimpan dalam bentuk basis data
antropometri. Jenis data yang dapat diukur tidak hanya terbatas pada dimensi
linear, tapi juga melingkup lingkar tubuh. Menindak lanjuti hasil Ardiansyah
tubuh (yaitu lingkar kepala, lingkar leher, lingkar bahu, lingkar lengan atas,
lingkar siku, lingkar pergelangan tangan, lingkar dada, lingkar perut, lingkar
pinggang, lingkar pantat, lingkar paha, lingkar lutut, dan lingkar pergelangan
kamera digital mempunyai keandalan yang tinggi dan hasil pengukuran yang tidak
2.3.6 dan Gambar 2.3.7. Metode alternatif ini diyakini lebih praktis, murah, dan
yang besar misalnya dalam lingkup nasional (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).
dimana subjek berada di hadapan kamera dengan jarak yang tertentu dapat dilihat
146
Gambar 2.3.6. Tata letak pengambilan gambar dengan metode fotografi digital
(Ardiansyah, 2007).
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
dengan menggunakan kamera yang dimana jarak antara subjek dengan kamera
Untuk melihat contoh hasil dari cara pengambilan Gambar pada subjek
Gambar menggunakan kamera dengan hasil tampak depan dan samping yang
147
dimana subjek diberi garis line ditubuhnya untuk menentukan dimensi tubuh
dengan metode fotografi. Perlu dicatat bahwa pemilihan metode dan alat
beberapa faktor lain yang harus diperhatikan dalam pengukuran adalah. Dimensi
tinggi alas meja dan lebar meja, maka data yang diperlu dikumpulkan adalah
tinggi siku duduk atau tinggi siku berdiri (bergantung apakah pekerja akan duduk
atau berdiri sambil bekerja) serta jangkauan tangan ke depan (Iridiastadi dan
Yassierli, 2014).
dilaksanakan, harus ditentukan terlebih dahulu letak tempat acuan (landmark) dari
setiap subjek yang diukur. Tiap dimensi yang ingin di ukur memiliki acuan yang
yang paling sering digunakan untuk perancangan di industri dapat dilihat pada
Gambar 2.3.8 dan Tabel 2.3.1. Kemungkinan error dalam pencatatan data dan
input data ke komputer (jika dilakukan secara langsung dan manual). Penentuan
jumlah sampel yang dibutuhkan. Sampel yang diambil harus mewakili faktor-
faktor yang mempengaruhi perbedaan antropometri, seperti jenis kelamin, ras dan
etnis, serta usia. Secara ilmu statistik dapat dihitung besarnya jumlah sampel yang
Yassierli, 2014).
148
Dalam menentukan dimensi tubuh yang akan digunakan, terdapat acuan
pengukuran antropometri dari beberapa dimensi sebagai contoh dapat dilihat pada
Gambar 2.3.8.
Gambar 2.3.8 Beberapa dimensi data antropemetri (lihat Tabel 2.3.1 untuk
penjelasan).
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
berbagai macam dimensi tubuh manusia untuk perancangan mulai dari posisi
manusia, terdapat beberapa dimensi data antropometri umum yang dapat kita
gunakan dalam merancang produk yang dapat dilihat pada Tabel 2.3.1 berikut:
150
Berdasarkan Tabel 2.3.1 merupakan beberapa dimensi data antropometri
dimensi-dimensi yang kita perlukan dalam rancangan yang akan dibuat (Sumber:
1. Konsep Persentil
orang dari suatu populasi yang memiliki ukuran tubuh tertentu (lebih kecil atau
lebih besar). Suatu persentil menggambarkan persentase atau ranking dalam data
terurut, atau dalam bahasa teknisnya merupakan data ke-i dari suatu kelompok
data yang sudah diurutkan mulai dari terkecil hingga terbesar. Jika terdapat 100
data, maka persentil 8 adalah data ke-8 adalah nilai rata-rata dari data ke-4 dan ke-
5 dari data terurut. Sebaliknya, jika terdapat 200 data, maka persentil 8 adalah
data ke-16 dari data terurut. (Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014).
populasi pengguna yang akan diakomodasi oleh produk yang dirancang. Sebagai
bahwa produk tersebut cocok untuk 90% data mengacu kepada basis data
antropometri. Dalam suatu distribusi normal, 90% ini dapat diwakili oleh data
yang lebih besar dari persentil 10 atau lebih kecil dari persentil 90 (one-tail), atau
151
antara persentil 5 dan persentil 95 (two-tail) (Sumber: Iridiastadi dan Yassierli,
2014).
Selain itu, persentil juga digunakan dalam evaluasi produk untuk menguji
apakah suatu rancangan produk dapat digunakan oleh populasi yang menjadi
target. Misalnya, suatu kursi kemudi mobil dianggap telah dirancang dengan
persentil 5 (mewakili orang yang berbadan kecil) dan laki-laki dengan persentil 95
(mewakili orang yang berbadan besar). Jika kedua sampel tersebut merasa puas
yakni persentil kecil, persentil besar, dan persentil tengah. Karena data
(persentil 50) sama nilanya dengan nilai rata-rata dari sebuah distribusi. Pemilihan
(atau ditulis P5) digunakan sebagai nilai persentil besar, untuk mengakomodasi 95
(atau P95) digunakan sebagai nilai persentil besar, untuk mengakomodasi 95% dari
populasi. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa akan selalu ada sekitar 5%
152
Terdapat beberapa teknik pemilihan persentil yang perlu diketahui berkaitan
dengan perancangan suatu produk. Persentil kecil (misalnya P5) dipilih ketika
dimensi rancangan tersebut “kritis” bagi mereka yang berukuran kecil atau
pendek, dalam arti bahwa mereka yang berukuran tubuh kecil atau pendek akan
terlalu besar, lebar, atau tinggi. Namun, orang yang besar tetap merasa nyaman,
menggunakan persentil kecil adalah tinggi alas kursi, diameter pegangan alat
kerja, dan lain-lain. Ilustrasi untuk contoh yang pertama (tinggi alas kursi) adalah
sebagai berikut. Semakin tinggi dimensi “tinggi alas kursi” dari lantai maka
semakin tidak ergonomis bagi pengguna yang berpostur kecil karena membuat
dibawah paha. Pilihan akan lebih baik, jika dimensi “tinggi alas kursi” terlalu
rendah bagi orang yang berpostur besar (Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014).
tubuh besar atau tinggi akan kesulitan mengunakan suatu rancangan jika dibuat
terlalu kecil atau pendek. Namun, bagi orang yang kecil atau pendek, ukuran
contoh ukuran yang menggunakan persentil besar adalah lebar alas kursi, tinggi
pintu, dan sebagainya. Sebagai ilustrasi, kita tentu akan lebih menolerir lebar alas
kursi yang terlalu besar, dibandingkan dengan lebar alas kursi yang terlalu kecil
153
Berbeda dengan kedua persentil yang lain, persentil tengah digunakan
pegangan pintu. Dalam hal ini, orang yang besar dan orang yang kecil di anggap
tidak memiliki masalah jika ukuran yang diambil adalah rata-rata. Sebagaimana
distribusi normal. Oleh karena itu, pendekatan distribusi normal dapat digunakan
dalam menghitung nilai persentil. Jika diketahui nilai rata-rata (mean) dan
simpangan baku (standard deviation) dari suatu set data, maka dengan mudah
K = faktor pengali untuk persentil yang diinginkan, dengan nilai K dapat dilihat
pada Tabel 2.3.2 yang diperoleh dari nilai z pada tabel distribusi normal:
S = simpangan baku, S =
√∑ni (Xi- X ) ²
……..……..……….….……………………………….……….2.3.2
n-1
154
Berdasarkan Tabel 2.3.2 merupakan faktor pengali untuk perhitungan
persentil pada sebuah rancangan yang akan di buat agar produk yang dibuat dapat
a. Korelasi
atau ukuran anggota tubuh dan proporsi yang beragam. Walaupun kenyatannya
berbeda, dalam praktiknya, proporsi tubuh dapat diasumsikan hampir sama untuk
populasi ras dan etnis yang sama. Secara sepintas kita melihat bahwa proporsi
panjang kaki terhadap tinggi badan antara kita dan rekan yang lain relatif sama,
seperti yang disampaikan oleh Vitruvius pada abad 1 SM. Lebih lanjut, kita pun
secara sepintas dapat mengestimasi panjang kaki seseorang rekan jika diketahui
tingginya, dengan mengacu pada proporsi panjang kaki kita. Atas dasar ini, suatu
model antropometri dapat dibuat dengan mengacu pada proporsi rata-rata suatu
kelompok populasi. Metode ini disebut juga pendekatan skala rasio. Pada metode
ini yang biasanya dijadikan acuan adalah tinggi tubuh (Iridiastadi dan Yassierli,
2014).
Penggunaan skala rasio mensyaratkan adanya korelasi yang kuat antara satu
kerelasi yang kuat dengan tinggi tubuh. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua
ukuran tubuh mempunyai korelasi yang kuat sata dengan lain, misalnya dimensi
linear (panjang) dengan dimensi lingkar. Coba tebak tingkat korelasi antara
lingkar kepala dan panjang kaki. Apakah korelasinya lemah atau kuat?
155
Tingkat kolerasi biasanya secara statistik dilambangkan dengan koefisien
korelasi (r), yang bernilai antara -1 dan +1 (atau -1 ≤ r ≤ 1). Jika nilai absolut r
mendekati 1, artinya korelasi antara dua ukurn tersebut sangat kuat (+1
korelasi antara dua ukuran tersebut hampir tidak ada. Dari dua set data yang
mempunyai ditribusi normal, koefisien korelasi dari dua data set x dan y (dengan
n∑xy-(∑x)(∑y)
xy= ……………………..………….……….…2.3.3
{n∑x2 -(∑x2 )2 }{n∑y2 -(∑y2 )2 }
Biasanya, untuk jumlah sampel yang cukup banyak, korelasi yang kuat
mempunyai nilai koefisien diatas 0,7. Hal yang sama juga dapat diterapkan dalam
bahwa perubahan pada nilai y dapat dijelaskan sebanyak 49% sebagai akibat
Untuk membedakan korelasi antara tmb (tinggi mata berdiri) dan tbt
156
Gambar 2.3.9. Korelasi antara dua ukuran antropometri secara grafis.
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
antara perbandingan korelasi tmb (tinggi mata berdiri) dengan tbt (tinggi badan
tegak) dan korelasi tmb (tinggi mata berdiri) dengan lpd (lebar pinggul duduk)
bagian tubuh, misalnya panjang lengan bawah dan lengan atas, dalam bentuk nilai
basis data ini jika yang dibutuhkan adalah panjang lengan keseluruhan (panjang
unik sesuai keinginan kita. Namun, dengan sedikit pengolahan data, kebutuhan
tersebut dapat dipenuhi jika data antropometri untuk dimensi tubuh yang terkait
157
tersedia. Contoh lain adalah sangat jarang ditemui data antropometri yang
menggambarkan tinggi kepala dari pinggang. Namun yang tersedia adalah nilai
rata-rata dan simpangan baku untuk tinggi badan tegak dan tinggi pinggang
berdiri. Dalam hal ini, tinggi kepala dari pinggang adalah tinggi badan tegak
Perlu dicatat bahwa penggabungan dua basis data akan menghasilkan basis
data yang baru. Dalam hal ini, nilai rata-rata tentu dapat langsung dijumlahkan
(pada kasus panjang lengan keseluruhan) atau dikurangi (pada kasus tinggi kepala
panjang biasanya juga memiliki lengan atas yang panjang. Pada contoh yang
kedua, orang yang pendek juga memiliki tinggi pinggang berdiri yang pendek.
Untuk itu, perlu dihitung kovariasi (covariation) antara dua data tersebut. Secara
matematis, jika terdapat dua basis data x dan y, dengan simpangan bakunya sx
Dimana r merupakan koefisien korelasi antara dua basis data tersebut. Oleh
karena itu, jika dua basis data, x dan y, ingin dijumlahkan menjadi basis data yang
Mz = mx + my.....................................................................................................2.3.5.
jika basis data z merupakan selisih dua basis data x dan y, maka:
158
Mz = mx - my......................................................................................................2.3.7.
Kecil/Besar)
Dalam konsep ini, mereka yang mempunyai tubuh besar atau tubuh kecil
oleh rancangan. Biasanya, yang dijadikan acuan adalah persentil besar (P95) atau
100 persen populasi jika tidak ada kendala dalam biaya, estetika dan aspek teknis.
bahaya. Dalam hal ini, tinggi posisi alarm bahaya dapat mengacu kepada tinggi
bahu berdiri dengan menggunakan P1 sehingga setiap orang jika diperlukan dapat
Konsep ini digunakan untuk berbagai produk atau alat yang dapat diatur
atau disuaikan panjang, lebar, dan lingkarnya sesuai dengan kebutuhan pengguna.
159
Kisaran kemampu-suaian ini biasanya mulai dari perempuan dengan persentil 5
hingga laki-laki dengan persentil 95. Namun tidak tertutup kemungkinan terdapat
kisaran yang lebih besar untuk menampung persentase populasi yang lebih besar.
membutuhkan dukungan teknis dan biaya yang mahal. Contoh produk yang
biasanya menggunakan pendekatan ini adalah kursi atau meja dengan tinggi yang
relevan atau tidak mungkin dilaksanakan. Perhatikan alat pengecek harga di super
rata, dan tidak berdasarkan persentil kecil atau besar, sehingga tidak terlalu tinggi
bagi orang yang bertubuh dibawah rata-rata. Penempatan produk ini tidak perlu
bukan didasarkan atas seseorang individu ”manusia rata-rata”. Hal ini karena tidak
ada individu yang disebut pria atau wanita rata-rata, sehingga seluruh ukuran
memiliki tinggi tubuh rata-rata, namun ukuran tubuh yang lain misalnya panjang
tangan, tinggi lutut dan sebagainya tidak merupakan rata-rata dari populasi. Basis
160
perancangan, baik perancangan tempat kerja, produk, atau objek lainnya. Berikut
yang berbeda pula, berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, pekerjaan, dan
dimensi tubuh mana yang paling penting dalam perancangan objek ini?’
sebagai contoh desain lorong ruangan harus dipertimbangkan lebar bahu dan
c. Lihat basis data antropometri yang tersedia. Evaluasi apakah data tersebut
data, seperti alat dan metode yang dipakai. Pada bagian sebelumnya telah
161
dijelaskan beberapa aspek teknis yang berkaitan dengan pengukuran
kendala aspek teknis dan biaya, biasanya angka 95% cukup dapat diterima.
g. Tentukan nilai ukuran untuk setiap dimensi yang sudah ditetapkan pada
yang akan digunakan ditentukan oleh persentase dari populasi yang akan
persentil 95% yang dipilih dalam perancangan, namun dapat juga persentil
dibahas sebelumnya.
162
pengguna produk cenderung dinamis, tidak selalu dalam posisi berdiri atau
tidak selalu duduk tegak. Konsekuensinya, misalnya tinggi mata berdiri atau
pun tinggi mata duduk akan lebih rendah daripada waktu pengukuran. Hal
aided-design).
komputer (pada tahap awal) dan dalam bentuk prototipe (mock-up) pada
dan laki-laki dengan persentil 95. Pada tahap akhir evaluasi, simulasi
penggunaan produk atau alat secara nyata dapat dilakukan. Umpan balik
163
2.8. Prinsip Umum Perancangan Tempat Kerja
stasiun kerja untuk operator duduk (stasiun kerja duduk), stasiun kerja untuk
operator berdiri (stasiun kerja berdiri), dan kombinasi keduanya (stasiun kerja
duduk/berdiri) yaitu:
dianggap paling nyaman serta tidak melelahkan. Stasiun kerja untuk operator
duduk menjadi paling utama ketika salah satu kondisi berikut terpenuhi:
a. Pekerjaan tangan tidak membutuhkan gaya atau kerja otot yang besar.
b. Item-item utama yang dibutuhkan dalam bekerja (komponen, alat, dan lain-
lain) dapat diambil dengan mudah dalam posisi duduk dan berada dalam
diperhatikan, dimensi tersebut meliputi: tinggi badan duduk, tinggi mata duduk,
tinggi bahu duduk, tebal paha duduk, jangkauan tangan ke depan, tinggi siku
tetapi sering kali diperlukan. Terutama untuk pekerjaan dengan kondisi sebagai
berikut:
164
a. Pekerjaan membutuhkan penanganan barang/material yang sering, apalagi
diperhatikan meliputi: tinggi badan tegak, tinggi mata berdiri, tinggi bahu berdiri,
tinggi siku berdiri, panjang lengan bawah, dan jangkauan tangan ke depan
untuk kedua tipe stasiun kerja diatas, maka elemen-elemen kerja tersebut dapat
165
166
BAB III
PENGUMPULAN DATA
Alat dan bahan yang digunakan pada pelaksanaan percobaan ini adalah:
1. Kursi antropometri.
2. Alat tulis.
4. Kamera.
166
3.3. Data Pengamatan
data antropometri untuk perancangan pembuatan kursi yang akan dirancang dapat
Tabel 3.3.1. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan kursi dalam
skala (centimeter).
No. Sampel Tinggi Lutut Pantat Popliteal Lebar Pinggul
Duduk Duduk
1. M. Syaril 43 cm 46 cm 32 cm
2. Rendy S. 45 cm 51 cm 33 cm
3. Prihadi 45 cm 47 cm 33 cm
Joko P.
4. Allwin S. 44 cm 49 cm 31 cm
Sumber: Data Pratikum, 2016.
antropometri pada 4 orang sampel didapatlah dimensi dan juga data pengukuran
untuk merancang kursi yang dimana dimensinya merupakan tinggi lutut duduk,
Dimensi dan data antropometri untuk perancangan meja mesin jahit dapat
Tabel 3.3.2. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan meja dalam
skala (centimeter).
No. Sampel Tinggi Siku Jangkauan Panjang Lengan
Duduk Tangan Kedepan
1. M. Syaril 68 cm 82,50 cm 37 cm
2. Rendy S. 68 cm 83 cm 49 cm
3. Prihadi 68 cm 82,50 cm 52 cm
Joko P.
4. Allwin S. 64 cm 81 cm 50 cm
Sumber: Data Pratikum, 2016.
167
Berdasarkan Tabel 3.3.2. bahwa hasil pengukuran dengan kursi
merancang meja mesin jahit yang dimana dimensinya merupakan tinggi siku
168
169
BAB IV
PEMBAHASAN
Untuk rancangan pertama produk kursi dan meja mesin jahit tanpa ada
meja mesin jahit tanpa ada pengukuran terlebih dahulu yang dimana jika
coba merancang produk yang sudah ada namun dapat membuat penggunanya
169
4.2. Ukuran Produk
Dari dimensi dan data antropometri yang telah ditentukan sebelumnya untuk
perancangan kursi yang telah dilakukan perhitungan maka didapatlah hasil pada
Tabel 4.3.1:
Tabel 4.3.1. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan kursi dalam
skala (centimeter) yang telah dilakukan perhitungan.
No Sampel Tinggi Lutut Pantat Popliteal Lebar Pinggul
. Duduk Duduk
1. M. Syahril 43 cm 46 cm 32 cm
2. Rendy S. 45 cm 51 cm 33 cm
3. Prihadi Joko P. 45 cm 47 cm 33 cm
4. Alwin S. 44 cm 49 cm 31 cm
X 44,25 48,25 32,25
∑ (X1- X )² 2,75 14,75 2,75
SD 0,95 2,21 0,95
Sumber: Data Pratikum, 2016.
untuk perancangan pada kursi dengan dimensi tinggi lutut duduk, pantat popliteal
dan lebar pinggul duduk yang telah dihitung untuk menetukan ukuran kursi mulai
Dari data antropometri untuk perancangan meja mesin jahit yang telah
Tabel 4.3.2. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan meja dalam
skala (centimeter) yang telah dilakukan perhitungan.
No Sampel Tinggi Siku Jangkauan Panjang Lengan
. Duduk Tangan Kedepan
1. M. Syahril 68 cm 82,50 cm 37 cm
2. Rendy S. 68 cm 83 cm 49 cm
3. Prihadi Joko P. 68 cm 82,50 cm 52 cm
4. Alwin S. 64 cm 81 cm 50 cm
170
Tabel 4.3.2. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan meja
dalam skala (centimeter) yang telah dilakukan perhitungan (Tabel
lanjutan 4.3.2).
No Sampel Tinggi Siku Jangkauan Panjang Lengan
Duduk Tangan ke Depan
X 67 82,50 47
∑ (X1- X )² 12 2,25 138
SD 2 0,86 6,78
Sumber: Data Pratikum, 2016.
untuk perancangan pada meja mesin jahit dengan dimensi tinggi siku duduk dan
jangakuan jauh yang telah di hitung untuk mentukan ukuran meja mesin jahit
Dan data pencarian untuk menentukan ukuran dengan dimensi yang telah
1. Untuk menentukan tinggi kursi yang akan dirancang, ukuran tinggi lutut duduk
memiliki tubuh dengan tinggi lutut yang kecil tidak akan tampak kebesaran.
Begitu juga dengan orang yang bertubuh besar tidak akan terlihat kekecilan
2. Untuk menentukan panjang kursi maka dimensi tubuh yang digunakan adalah
pantat popliteal. Disini menggunakan P95, karena mereka yang bertubuh kecil
3. Untuk menentukan lebar kursi maka dimensi tubuh yang digunakan adalah
lebar pinggul duduk. Disini menggunakan P95, karena jika orang bertubuh
kecil menggunakannya tidak kekecilan dan jika orang bertubuh besar tidak
4. Untuk menentukan tinggi meja yang akan dirancang menggunakan tinggi siku
mereka yang bertubuh kecil tidak kebesaran ketika menggunakan meja tersebut
dan mereka yang bertubuh besar tidak kekecilan menggunakan meja tersebut
Jika X = 67 cm + SD = 2
= 67 + (0 x 2) = 67
172
5. Untuk panjang meja maka menggunakan jangakuan tangan ke depan. Disini
menggunakan P50 untuk panjang meja. Orang dengan jangkuan pendek dan
Maka panjang meja mesin jahit = jangkauan tangan ke depan + persentil (50)
untuk mentukan dimensi kursi yang pratikan rancang dan dapat dilihat pada
173
(Tampak Depan)
(Tampak Atas)
Panjang Kursi
Tinggi Kursi
51,88 cm
42,68 cm
Lebar Kursi
33,81 cm
51,88 cm
Panjang Kursi
Gambar 4.3.2. Kursi tampak depan dan tampak atas dengan ukuran yang telah
ditetapkan.
Sumber: Data Pratikum, 2016.
didapatlah ukuran rancangan produk yang akan dirancang seperti pada Gambar
4.3.2 yang dimana untuk menentukan tinggi, lebar dan panjang kursi yang
pratikan rancang.
mesin jahit di dapatlah hasil rancangan untuk kursi yang bisa dilihat pada Gambar
4.3.3 berikut:
(Tampak Depan)
(Tampak Atas)
Panjang Meja
82,50 cm
Tinggi Meja
Lebar Meja
67 cm
58,51 cm
Gambar 4.3.3. Meja mesin jahit tampak depan dan tampak atas dengan ukuran
yang telah ditetapkan.
Sumber: Data Pratikum, 2016.
174
Berdasarkan Gambar 4.3.3 hasil perhitungan pada data perancangan
seperti pada Gambar 4.3.3 yang dimana untuk menentukan tinggi, lebar dan
Mengenai produk meja mesin jahit beserta kursinya yang telah ada
diketahui bahwa produk tersebut sudah bagus namun hanya saja tidak semua
orang dapat menggunakan produk tersebut karena setiap orang memiliki postur
perancangan produk tersebut guna untuk merancang produk kursi dan meja mesin
jahit yang telah pratikan rancang. untuk itu, diketahui bahwa ukuran yang
dianjurkan oleh pratikan umumnya sesuai dengan dimensi dan data antopometri
tubuh responden dan juga orang-orang yang akan memakai produk tersebut. Oleh
karena itu analisa dari produk yang mesin jahit beserta kursi yang telah ada
1. Untuk tinggi kursi yang telah dirancang pratikan tidak terlalu tinggi jika
175
2. Sedangakan untuk panjang kursi yang pratikan rancang tidak terlalu panjang
3. Ukuran lebar kursi yang dirancang oleh pratikan tidak terlalu sempit
maupun telalu lebar, maka ukuran lebar kursi yaitu: 33,81 cm.
sekitar, maka ukuran panjang meja yang pratikan rancang yaitu 82,50 cm.
6. Untuk lebar meja yang telah pratikan rancang agar memudahkan dalam
penggunaan maka ukuran meja yang pratikan rancang yaitu 58,51 cm.
diketahui bahwa produk yang pratikan rancang dapat digunakan terhadap sampel
dan juga orang lain yang akan memakainya. Oleh karena itu produk yang pratikan
rancang tidak hanya berpengaruh pada postur tubuh manusianya saja tetapi bisa
juga dipengaruhi oleh faktor lain yaitu usia, jenis kelamin, ras dan etnis (suku).
Dengan demikian, produk yang pratikan rancang dapat digunakan oleh pratikan
sendiri dan orang lain yang akan menggunakannya yang dimana dalam
usia, jenis kelamin, ras dan etnis (suku) yang dapat mempengaruhi
176
Namun dalam perancangan produk tersebut pratikan tidak merinci mengenai
biaya pembuatan produk sehingga pratikan tidak bisa menyimpulkan berapa biaya
yang akan di kelurakan dalam pembutan produk tersebut. Karena pratikan hanya
177
178
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
manusia (anthropometri).
3. Untuk merancang kursi dan meja mesin jahit yang ergonomi ini yang sesuai
dengan rancangan pratikan di dapat ukuran sebagai berikut:
a. Tinggi kursi = 42,68 cm.
5.2. Saran
tersebut.
178
179
BAB I
PENDAHULUAN
Pada work sampling pekerjaan pengamatan tidak terus menerus berada di tempat
pekerjaan melainkan mengamati (di tempat pekerjaan) hanya pada sesaat – sesaat
catatan yang dilakukan setiap kali pengamatan dapat di lihat dari berbagai
kegiatan yang terjadi beserta berapa sering (frekuensi) kegiatan ini teramati.
dapat pula di duga bahwa total waktu yang di butuhkan semakin banyak.
waktu random terhadap seorang pekerja, kemudian dicatat saat sedang melakukan
Percobaan ini dilakukan bertujuan untuk mengukur aktivitas work dan idle
179
1.3. Manfaat Praktikum
Adapun manfaat yang didapat dari percobaan ini y aitu daoat di uraikan
sebagai berikut:
180
181
BAB II
DASAR TEORI
sesaat pada waktu yang telah ditentukan secara acak. Bagaimana suatu
lebih baik kalau diketahui terlebih dahulu bagaimana bekerjanya cara ini
biasanya dilakukan pada waktu-waktu yang tidak tentu, kadang-kadang setiap hari
sekali, dua kali sehari atau tiga kali sehari, atau mungkin juga seminggu sekali
atau kurang dari itu. Jika mahasiswa tersebut mengunungi temannya pada waktu
yang tidak tertentu seperti demikian dapat dikatakan dia melakukan kunjungan
pada waktu-waktu yang acak. Misalkan dia telah melakukan 10 kali kunjungan
dan 7 kali diantaranya tidak menjumpai temannya karena sedang tidak berada
didalam rumah. Berdasarkan pengalaman ini, jika dia bertemu dengan temannya
mungkin akan berkata: “wah, tampaknya kau sering tidak berada dirumah”. Jika
dia melakukan kunjungan-kunjungan lagi katakanlah sampai 100 kali, dan dari
181
sekarang dia dapat berkata “Rupanya tujuh puluh limam persen dari waktumu
dilakukan untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat kerja yang bersangkutan.
Dari catatan yang dilakukan setiap kali kunjungan, dapat dilihat berbagai
kegiatan yang terjadi beserta berapa sering (frekuensi) kegiatan itu teramati.
Semakin tinggi frekuensi, semakin sering kejadian tersebut dilakukan dan dapat
pula diduga bahwa total waktu yang dibutuhkan semakin banyak (Sutalaksana
dkk, 2006).
Agar kesimpulan yang diambil lebih tepat, yaitu tidak sekedar mengira-
ngira, diperluka tekniik tertentu yang secara acak statistik dikenal dengan
dikemukakan ini tampak sebagai kelebihan cara ini dibandingkan cara jam henti.
Memang kecuali dengan melakukan tidak henti-henti sepanjang hari, cara jam
henti tidak dapat melakukan hal-hal diatas. Bahkan dengan jam henti sama sekali
yang pada sampling pekerjaan dengan mudah dijalankan. Caranya adalah dengan
dengan pekerja-pekerja tidak langsung yang tidak mudah diukur dengan jam henti
hal penting yang patut dicatat. Untuk kegunaan yang satu ini akan dibicarakan
pekerjaan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada cara jam henti. Misalnya
untuk suatu kegiatan yang menghabiskan waktu 20% dari seluruh waktu yang
disediakan diperlukan 6400 kali kunjungan. Ini berarti memakan waktu 183 hari
jika ± 5 kali kunjungan dilakukan setiap jam di setiap hari yang mempunyai 7 jam
183
kerja. Dengan kata lain, jika yang hendak diukur waktu bakunya hanya satu
pekerjaan saja, cara sampling pekerjaan sering kali terlalu mahal. Memang dalam
keadaan demikian cara jam henti dapat memberikan hasil yang sama kualitasnya
dalam waktu yang jauh lebih cepat dan tentunya biayanya lebih murah
berbeda dengan yang diketengahkan pada cara jam henti. Begitu pula langkah-
baik. Jika belum, perbaikan atas kondisi dan cara kerja harus dilakukan
dahulu.
d. Bila perlu mengadakan latihan bagi para operator yan di pilih agar bisa dan
184
disini tidak berbeda dengan yang digunakan untuk pengukuran dengan
langkah serupa yaitu pembagian pekerjaan atas elemen-elemennya pada cara jam
henti. Pada cara sampling kegiatan, yang ingin diukur dipisahkan dari kegiatan-
kegiatan lain yang mungkin terjadi. Bentuk yang paling sederhana ialah
memisahkanselurug kegiatan menjadi dua bagian yaitu yang pertama yang ingin
diukur, dan yang kedua lainnya. Contoh pemisahan demikian ialah kegiatan
produktif dan non produktif. Bentuk lain yang lebih rumit adalah jika yang ingin
seperti ini:
Kegiatan 1: mengetik
Kegiatan 6 : lain-lainnya
2.3.1.
185
Tabel 2.4.1. Lembar pengamatan
Dar Hal
PEKERJAAN TANGGAL
NAMA MESIN JAM s/d
NAMA OPERATOR ( jam menit)
NAMA STASIUN KERJA NAMA PENGUKUR
ELEMEN
work sampling.
itu yang mungkin sangat beragam seperti mengobrol, membaca surat kabar,
186
makan/minum, menganggur dan sebaginya tidak sedang dinimati untuk diketahui
satu demi satu dan karenanya cukup digabungkan sebagai kegiatan 6 (Sutalaksana
dkk, 2006).
diperhatikan, yaitu bahwa semua kegiatan tersebut harus mutually exclusive dan
terpisah sama sekali dan lainnya, namun jumlah semua kegiatan tersebut adalah
dkk, 2006).
tidak berbeda dengan yang dilakukan untuk cara jam hanti yaitu yang terdiri dari
pengukur, biasanya tidak kurang dari 30. Untuk mudahnya kitaikuti sintih
187
dilakukan pengamatan-pengamatan sesaat pada waktu-waktu yang acak sebanyak
144 kali, dan hasilnya Tabel 2.4.2. adalah Table hasil sampling pendahuluan
Dari Tabel 2.4.2. dapat lihat hasil dari pengamatan yang dilakukan
Untuk itu kita tentukan batas-batas kontrolnya yaitu Batas Kontrol Atas
P̅ (1-P̅ )
BKA=P̅ +3√ …………………………………………………………… 2.4.1.
n
̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅
P̅ (1-P̅ )
BKB=P̅ -3√ …………………………………………..……………….…2.4.2.
n
Dimana p adalah
∑ Pi
P̅ = ……………………………………………………………..……….… 2.4.3.
k
188
Dengan pi adalah persentase produktif di hari ke-i dan k adalah jumlah
hari pengamatan
∑ ni
𝑛̅ = ………………………………………………………………………2.4.4.
k
67+81+83+72
P̅ = :100 = 0,76
4
36 + 36 + 36 + 36
n̅= =36
4
sehingga :
0,76(1-0,76)
BKA = 0,76+2√ = 0,976 ………..………………………………… 2.4.5.
36
0,76(1-0,76)
BKB = 0,76-2√ =0,546………………………………………… 2.4.6.
36
diperlukan. Jika terdapat harga pi yang diluar batas kontrol, maka data
pengamatan dari hari yang bersangkutan “dibuang” karena berasal dari sistem
189
2.4.3. Menghitung Jumlah Pengamatan yang Diperlukan
1600(1-P)
N' = =0,757…………………………..…………...…………………2.4.7.
P
1600(1-0,757)
N' = =514
0,757
Jadi masih diperlukan (514-144) = 370 kali kunjungan lagi. Maka sampling
kunjungan yang telah dilakukan lebih banyak atau sama dengan yang seharusnya
dalam waktu-waktu yang ditentukan secara acak. Untuk ini biasanya satu hari
mempunyai 84 satuan waktu. Ini berarti jumlah kunjungan per hari tidak lebih
dari 84 kali. Jika dalam satu hari dilakukan 36 kali kunjungan maka dengan
190
bantuan tabel bilangan acak ditentukan saat-saat kunjungan tersebut (Sutalaksana
dkk, 2006).
Tabel bilangan acak biasanya terdapat pada buku-buku statistik atau pun
buku khusus tabel-tabel teknik. Tabel bilangan acak yang terdapat pada lampiran
buku ini adalah salah satu contohnya. Dengan tabel ini kita pecahkan persoalan
kita tadi. Angka-angka pada tabel itu kita ikuti dua-dua sampai 36 kali. Tentu
syaratnya adalah bahwa pasangan-pasangan dua buah itu besarnya tidak boleh
39 65 75 45 19 54......dst.....(36 pasang)
...(36 kali) yang berarti pada jam 11.15, 14.25, dan seterusnya (jika jam kerja
dimulai pukul 08.00 dan berakhir 16.00 dengan waktu istirahat antara 12.00-
13.00). Kalau diurut dari awal sampai akhir maka akan didapat daftar saat
kunjungan mulai dari kunjungan pertama sampai tiga puluh enam (Sutalaksana
dkk, 2006).
Diatas telah dikatakan bahwa panjang satu satuan waktu tidak terlalu
pendek dan juga tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Untuk yang
pertama kirainya jelas, yaitu bila terlalu pendek misalkan satu menit maka jika
menit sekali bisa jadi tidaklah mudah. Begitu pula pada sampling kerja yang
mengamati lebih dari satu sistem kerja sekaligus. Untuk yang kedua mudah pula
yang dilakukan 432 kali selama 12 hari penuh atau sama dengan 5040 menit. Dari
ke-432 pengamatan ini frekuensi kegiatan produktif yang teramati adalah 343 dan
jumlah barang dihasilkan selama dilakukan sampling kerja adalah 370 buah,
maka:
selama pengamatan
e. - kelonggaran 23%
192
Disini dianggap bahwa pekerjaan menyelesaikan produk penuh yang
e. - Kelonggaran 23%
193
- waktu baku 10,42 + 0,23 (10,42) =12,82 menit
waktu yang manually controlled karena memang faktor penyesuaian adalah untuk
2006).
Sampling pekerjaan dapat juga dipergunakan sebagai salah satu cara untuk
Kegiatan 4 : lain-lain
194
Selanjutnya langkah-langkahnya mengikuti langkah-langkah sampling
Kegiatan 2 : lain-lain
Cara demikian lebih sederhana, antara lain karena jumlah pengamatan yang
diperlukan lebih sedikit. Tetapi tentunya tidak dapat diketahui secara terperinci.
menjadi:
bersangkutan dapat diketahui. Namun cara ini menuntut jumlah pengamatan yang
lebih banyak karena persentase setiap kegiatan yang terperinci ini (relatif terhadap
kelonggaran ada dua hal yang perlu di[erhatikan. Pertama adalah sifat dari
berdiri sendiri. Misalnya, untuk menghilangkan rasa fatique operator tidak selalu
berhenti bekerja, tetapi dapat juga dengan melambatkan kecepatan kerja. Yang
Yang kedua adalah bahwa operator yang diukur harus seorang yang
badan yang tidak sehat dan sebagainya. Hal ini adalah untuk menjamin agar
2.8. Penyesuaian
Wn = Ws x p.....................................................................................................2.4.6.
Wb = Wn (1+1).................................................................................................2.4.7.
waktu elemen rata – rata dengan suatu harga p yang disebut faktor penyesuaian.
Bila pengukur berpendapat bahwa operator pekerja diatas normal (telalu cepat)
maka harga p nya akan lebih besar dari suatu (p>l) sebaliknya jika operator
196
dipandang pekerja dibawah normal maka harga p akan lebih kecil dari satu (p<l).
operator yang dianggap normal itu yaitu : “Jika seorang operator yang
westinghouse. Pada konsep ini mereka berpendapat ada empat faktor yang
a. Cara persentase
Wn = p x Ws.....................................................................................................2.4.8.
197
b. Cara Shumard
Superlast 100
Fast + 95
Fast 90
Fast - 85
Excellent 80
Good + 75
Good 70
Good - 65
Normal 60
Fair + 55
Fair 50
Fair - 45
Poor 40
di bagi menjadi enam kelas dengan ciri-ciri dari setiap kelas seperti yang
198
Super skill:
diikuti.
Excellent skill:
pemeriksaan lagi.
kesalahan.
199
8. Bekerjanya cepat tapi halus.
Good skill:
rendah.
6. Tiada keragu-raguan.
7. Bekerjanya “stabil”.
9. Gerakan-gerakannya cepat.
Average skill:
200
Fair skill:
gerakan.
6. Mengetahui apa-apa yang diakukan dan harus dilakukan tapi tampak tidak
selalu yakin.
Poor skill:
2. Gerakan-gerakannyakaku
201
Secara keseluruhan tampak pada kelas-kelas di atas bahwa yang
.
202
Tabel 2.4.4. Penyesuaian cara Westinghouse (lanjutan)
Faktor Kelas Lambang Penyesuaian
(Effort) A2 + 0.12
Excellent B1 + 0.10
B2 + 0.08
Good C1 + 0.05
C2 + 0.02
Average D 0.00
Fair E1 -0.04
E2 -0.08
Poor F1 -0.12
F2 -0.17
Kondisi Kerja Ideal A + 0.06
Good C + 0.02
Average D 0.00
Fair E -0.03
Poor F -0.07
Konsisten Perfect A + 0.04
(Consistency) Excellent B + 0.03
Good C + 0.01
Average D 0.00
Fair E -0.02
Poor F -0.04
Sumber : Sutalaksana dkk, 2006.
digunakan untuk mencari waktu baku pada pengolahan data nanti. Dalam
menghitung faktor penyesuaian, bagi keadaan yang dianggap wajar diberi harga
p=1, sedangkan terhadap penyimpangan dari keadaan ini harga p nya ditambah
dengan angka-angka yang sesuai dengan keempat faktor diatas. Sebagai contoh
jika waktu siklus rata-rata sama dengan 124,6 detik dan wakti ini dicapai dengan
keterampilan pekerja yang dinilai fair (E1), usaha good (C2), kondisi excellent
203
Kondisi : excellent (B) = +0,04
Jumlah -0,03
Jadi, p=(1-0,03) atau p=0,97 sehingga waktu normalnya Wn= 124,6 x 0,97 =
120,9 detik.
Kondisi Kerja dan Konsistensi. Setiap faktor terbagi dalam kelas – kelas dengan
b). Usaha adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan operator ketika
melakukan pekerjaannya.
c). Kondisi kerja atau Condition adalah kondisi fisik lingkungannya seperti
pengukuran waktu angka – angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama,
204
2.8.5. Cara-cara Bedaux dan Sintesis
adalah cara Bedaux dan Sintesis. Pada dasarnya cara Bedaux tidak banyak
berbeda dengan cara Shumard, hanya saja nilai-nilai pada cara bedaux dinyatakan
dalam “B” (huruf pertama Bedaux, penemunya) seperti misalnya 60B atau 70B
Sedangkan cara sintesis agak berbeda dengan cara-cara lain, dimana dalam
cara ini waktu penyelesaian setiap elemen gerakan dibandingkan dengan harga-
harga yang diperoleh dari tabel-tabel data waktu gerakan (bab12) untuk kemudian
suatu siklus adalah 17, 10 , dan 32 detik. Dari tabel-tabel data waktu gerakan
didapat untuk elemen-elemen yang sama masing-masing 17, 12, dan 29 detik.
Yang berbeda adalah pada elemen-elemen kedua dan ketiga. Maka untuk elemen-
yang besarnya 1,04 adalah faktor penyesuaian untuk ketiga elemen pekerjaan
tersebut atau untuk seluruh siklus yang bersangkutan jika siklusnya hanya terdiri
2.9. Kelonggaran
205
dihindarkan. Ketiga ini merupakan hal - hal yang secara nyata dibutuhkan oleh
pekerja dan selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat ataupun terhitung
Ini termasuk sesuatu yang mutlak, tidak bisa misalnya seorang terus-
seperti itu berbeda-beda dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya karena setiap
ringan pada kondisi-kondisi kerja normal pria memerlukan 2% sampai 2,5% dan
Tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi baik jumlah maupun
adalah sengan melakukan pengamatan sepanjang hari kerja dan mencatat saat-saat
dimana hasil produksi disebabkan oleh timbulnya rasa lelah, karena msih banyak
kemungkinan lain yang dapat menyebabkannya. Jika fatique datang dan pekerja
206
dikeluarkan pekrja lebih besar dari normal dan ini akan menambah rasa fatique
adalah:
(7+0+3+5+2,5+0+2)%= 19,5 %
207
Jika dari sampling pekerjaan didapat bahwa kelonggaran untuk hambatan
yang terhindarkan adalah 5, maka kelonggaran total yang harus diberikan untuk
Jika waktu normalnya telah dihitung sama dengan 5,5 menit, maka
waktunya adalah:
208
209
BAB III
PENGUMPULAN DATA
Alat – alat dan bahan yang di gunakan pada percobaan ini adalah :
a. Stop watch.
b. Alat tulis.
kelapangan).
d. Kamera.
Melakukan pengamatan setiap 5 menit sekali dimulai dari pukul 07.00 wib
dan berhenti di pukul 11.00 wib sampai 12.00 wib (waktu istrihat), setelah itu
pengamatan dilanjutkan dari pukul 12.00 wib sampai dengan 15.00 wib dimana
waktu jam kerja normal telah berkahir. Setiap 5menit data dicatat kedalam
formulir data pengamatan, dan adapun data atau pekerjaan yang dicatat kedalam
a) Pergantian shift.
h) Penyerahan laporan.
i) Dan lain-lainnya.
7 jam x 60 menit
Sehingga perhitungannya : = 84 sampling
5 menit
Tabel bilangan acak yang digunakan adalah tabel bilangan ketiga dan dibaca
dari kiri ke kanan, dan data yang berulang tidak diikut sertakan.
2006).
210
Tabel 2.4.6. merupakan Tabel bilangan acak untuk work sampling yang
merupakan ketetapan yang didapat dari buku baca analisis perancangan kerja 1
Dapat dilihat pada Tabel 3.4.1. di dalam lampiran (Tabel 3.4.1 Hasil pengamatan
Work Sampling).
211
212
BAB IV
PEMBAHASAN
Tabel 4.4.1. adalah Tabel hasil pengolahan data yang didapat selama
Dari Tabel 4.4.1. dapat disimpulkan bahwa untuk % produktif hari pertama,
kedua dan ketiga adalah 65, hari ke empat 62,5 dan hari kelima 67,5.
Kontrol Atas (BKA) dan Batas Kontrol Bawah (BKB) dengan tingkatan ketelitian
memenuhi syarat keteliatian dan hasil N’ yang didapat tidak besar dari 200
212
4.2. Pengujian Keseragaman Data
Dengan jumlah ini adalah jumlah pengamatan yang dilakukan pada hari ke-
1 maka :
∑ Pi 65+65+65+62,5+67,5 325
P̅ = = :100= :100=0,65
k 5 5
∑ ni 40+40+40+40+40 200
𝑛̅= = = =40
k 5 5
0,65(1-0,65) 0,35
BKA = 0,65+2√ =0,65+2√
40 40
= 0,65 + 2 (0,09354)
= 0,65 + 0,18708
= 0,83708
0,65(1-0,65) 0,35
BKB = 0,65-2√ =0,65-2√
40 40
= 0,65 - 2 (0,09354 )
= 0,65 - 0,18708
= 0,46292
213
Selanjutnya jumlah pengamatan yang diperlukan untuk tingkat ketelitian
15% dan tingkat keyakinan 95% yang telah ditentukan diketahui melalui Rumus
2.4.5.
130
P= =0,65
200
Sehingga :
2 2
(0,15) (1-0,65) 177,8(0,35)
N' = = = 95,73
0,65 0,65
Dari hasil perhitungan diatas 95,73 < 200 maka data cukup, ini berarti untuk
tingkat ketelitian dan keyakinan tersebut sudah memenuhi dan pengukuran telah
selesai.
dilakukan dengan menetapkan bahwa jumlah pengamatan telah cukup, dan jumlah
pengamatan yang dilakukan 420 kali selama 5 hari penuh atau sama dengan 2100
menit. Dari ke-420 kali pengamatan yang dilakukan maka didapatlah 200 data
yang diambil secara acak dengan frekuensi kegiatan produktif yang teramati
adalah 130 dan jumlah barang yang dihasilkan adalah 166,70 ton produk.
214
4.4. Menghitung Waktu Baku
= 2100
65%
c. Jumlah menit produktif ∶ x2100=1365
100
: 10,50 menit/pekerjaan
g. Allowance = Kelonggaran
Jadi besar nilai allowance yang didapat dengan operator pria, maka
dilakukan pengambilan data setiap 5 menit atau sebanyak 84 data per hari (2100
data selama 5 hari). Maka data yang diambil sudah memenuhi kriteria dan tidak
dari hari pertama sampai kelima tidak mengalami perubahan yang signifikan,
dihari pertama, kedua, dan ketiga nilai % produktifnya 26%, hari keempat 25%,
216
dan hari kelima 27%, dimana nilai-nilai tersebut didapat dengan mengamati
diambil datanya setiap 5 menit sekali dengan total jumlah pengamatan 84 kali
perhari dan terdapat 2100 data selama 5 hari. Namun, jika akan dilakukan evaluasi
ada baiknya jika waktu yang digunakan tidak terlalu banyak untuk menyelesaikan
satu pekerjaan, karena semakin sedikit waktu yang digunakan maka semakin
banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan dan bisa saja waktu yang tersisa dipakai
untuk pengecekan ulang pekerjaan yang telah dilakukan atau digunakan untuk
217
218
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
sangat tinggi sehingga kita dapat menemukan kelonggaran yang sesuai dengan
kebutuhan tenaga kerja dalam menentukan waktu standar. Dan didapatlah waktu
baku standarnya 15,92 menit /pekerjaan. Dan hasil pengamatan yang dilakukan
work dihari pertama, kedua dan ketiga adalah 26, hari keempat 25 dan hari kelima
27, dan tingkat idlenya dihari pertama, kedua dan ketiga 58, hari keempat 59, dan
5.2. Saran
hendaknya di lakukan untuk 2 orang pekerja. Namun, jika dilihat dari segi budget
218
DAFTAR PUSTAKA
Nurmianto, E., 2008, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Prima Printing,
Surabaya.
Sutalaksana Z.I, dkk, 2005, Teknik Perancangan Sistem Kerja, Edisi IIITB,
Bandung.
219
Lampiran 1.1. Foto pengamatan Time Work Study
A B
C D
Keterangan
Gambar A : Kegiatan Rendy pada saat melakukan percobaan time work study.
Gambar B : Kegiatan Alwin pada saat melakukan percobaan time work study.
Gambar C : Kegiatan Syahril pada saat melakukan percobaan time work study.
Gambar D : Kegiatan Joko pada saat melakukan percobaan ulang time work
study dirumah syahril.
220
Lampiran 2.1. foto pengamatan sepeda aerobic pratikum fisiologi
A B
Keterangan:
Gambar A : Syharil pada saat melakukan pratikum fisiologi menggunakan sepeda
aerobic.
Gambar B : Rendy pada saat melakukan pratikum fisiologi menggunakan sepeda
aerobic.
221
Lampiran 3.1. Foto pengukuran dimensi tubuh untuk pratikum Antropometri
A B
Keterangan :
222