0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan222 halaman

Pengukuran Waktu Kerja Manual

Dokumen tersebut membahas tentang pengukuran waktu untuk menentukan waktu standar suatu pekerjaan. Ia menjelaskan langkah-langkah pengukuran waktu mulai dari penetapan tujuan, memilih operator, mengurai pekerjaan, melakukan pengukuran, hingga menghitung rata-rata dan standar deviasi untuk menentukan jumlah pengukuran yang dibutuhkan. Dokumen ini bertujuan untuk memberikan panduan prakt
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan222 halaman

Pengukuran Waktu Kerja Manual

Dokumen tersebut membahas tentang pengukuran waktu untuk menentukan waktu standar suatu pekerjaan. Ia menjelaskan langkah-langkah pengukuran waktu mulai dari penetapan tujuan, memilih operator, mengurai pekerjaan, melakukan pengukuran, hingga menghitung rata-rata dan standar deviasi untuk menentukan jumlah pengukuran yang dibutuhkan. Dokumen ini bertujuan untuk memberikan panduan prakt
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik dan benar maka

diperlukan pengukuran waktu ditujukan juga untuk mendapatkan waktu baku

penyelesaian pekerjaan yaitu waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang

pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam

system kerja terbaik. Pengukuran dapat dilakukan secara langsung maupun tidak

langsung.

Percobaan ini dilakukan di laboratorium Teknik Faktor Manusia Kampus

STT Dumai dengan pengamatan data yang menggunakan Stop Watch terhadap

satu orang operator. Pengamatan dilakukan terhadap operator pria dalam

melakukan perakitan baut dan mur dengan layout kerja yang berbeda.

1.2. Tujuan Pratikum

Menentukan waktu standar suatu siklus operasi dimana pekerja bisa bekerja

dengan metode kerja yang standar dan menerapkan prinsip ekonomi gerakan

untuk pekerjaan manual pada suatu stasiun kerja.

1.3. Manfaat Pratikum

1. Praktikan dapat menentukan waktu rata – rata seorang pekerja.

2. Praktikan dapat menentukan rating faktor seorang operator

3. Praktikan dapat menentukan waktu normal seorang pekerja.

4. Praktikan dapat menentukan persentasi kelonggaran (Allowance).


1
2

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengukuran Waktu Jam Henti

Teknik pengukuran waktu ini dimaksudkan untuk menunjukkan isi kerja

dari suatu pekerjaan, biasanya dilakukan dengan menggunakan stop watch

sebagai alat ukurnya. Cara ini merupakan cara yang paling banyak dikenal dan

paling banyak dipakai. Waktu yang diambil sebagai dasar pertimbangan ialah

waktu yang secara wajar yang diperlukan oleh seorang pekerja normal untuk

menyelesaikan suatu siklus pekerjaan dengan metode kerja terbaik. Waktu ini

disebut dengan waktu standar (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.1.1. Penetapan Tujuan Pengukuran

Dalam pengukuran waktu, hal – hal yang penting yang harus diketahui

dan di tetapkan adalah untuk apa hasil pengukuran di gunakan, berapa tingkat

ketelitian dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran tersebut

(Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.1.2. Melakukan Penelitian Pendahuluan

Yang dicari dari pengukuran waktu adalah waktu yang pantas diberikan

kepada pekerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu kerja yang pantas

hendaknya merupakan waktu kerja yang di dapat dari kondisi kerja yang baik

(Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2
2.1.3. Memilih Operator

Operator yang akan melakukan pekerjaan yang diukur bukanlah orang

yang begitu saja diambil dari pabrik. Orang ini harus memenuhi beberapa

persyaratan tertentu agar pengukuran dapat berjalan dengan baik, dan dapat

dihandalkan hasilnya. Orang yang dicari bukanlah orang yang berkemampuan

tinggi atau rendah, karena orang–orang demikian hanya meliputi sebagian kecil

saja dari seluruh pekerja yang ada. Jadi yang dicara adalah waktu penyelesaian

pekerjaan secara wajar diperlukan oleh pekerja normal, dan ini adalah orang–

orang yang berkemampuan rata–rata (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.1.4. Melatih Operator

Pada saat penelitian pendahuluan kondisi kerja atau cara kerja sudah

mengalami perubahan, maka operator harus dilatih terlebih dahulu karena

sebelum diukur operator harus terbiasa dengan kondisi dan cara kerja yang telah

ditetapkan (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.1.5. Mengurai Pekerjaan Atas Elemen Pekerjaan

Ada beberapa alasan yang menyebabkan pentingnya melakukan

penguraian atas elemen–elemennya:

1. Untuk menjelaskan catatan tentang cara kerja yang dibakukan.

2. Untuk memungkinkan melakukan penyesuaian bagi setiap elemen karena

keterampilan bekerjanya operator belum tentu sama untuk semua bagian

dari gerakan–gerakan kerjanya.

3
3. Untuk memudahkan mengamati terjadinya elemen yang tidak baku yang

tidak mungkin saja dilakukan pekerja.

4. Untuk memungkinkan dikembangkannya data Waktu Standar atau tempat

kerja yang bersangkutan (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

Sehubungan dengan langkah–langkah kelima ini, ada beberapa pedoman

penguraian pekerjaan atas elemen–elemennya:

a. Sesuai dengan ketelitian yang diinginkan, uraikan pekerjaan menjadi

elemen - elemennya seperinci mungkin, tetapi masih dapat di amati oleh

indra pengukur dan dapat di rekam waktunya oleh jam henti yang

digunakan.

b. Untuk memudahkan, elemen – elemen pekerjaan hendaknya berupa satu

atau beberapa elemen gerakan misalnya seperti yang dikembangkan oleh

gilbert.

c. Jangan sampai ada elemen yang tertinggal, jumlah dari semua elemen harus

tepat sama dengan satu siklus pekerjaan yang bersangkutan.

d. Elemen yang satu hendaknya di pisahkan dengan elemen yang lain secara

jelas. Batas–batas diantaranya harus dapat dengan mudah diamati agar

tidak ada keragu–raguan dalam menentukan apabila suatu elemen berakhir

dan apabila elemen berikutnya bermula (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.1.6. Menyiapkan Perlengkapan Pengukuran

Yang terdiri dari jam henti biasa, lembaran–lembaran pengamatan, pena

atau pensil dan pena pengamatan:

4
a. Jam henti biasa, yaitu yang mempunyai jarum penunjuk. Bila tombol A

ditekan maka jarum akan berputar dan berhenti bila tombol B di tekan dan

tombol C bila ingin mereset jarum ke awal.

b. Lembaran-lembaran pengamatan digunakan untuk mencatat hasil-hasil

waktu pengukuran.

2.2. Melakukan Pengukuran Waktu

Pengukuran waktu adalah pekerjaan mengamati pekerja dan mencatat

waktu–waktu kerjanya baik setiap elemen ataupun siklus dengan menggunakan

alat – alat yang telah disiapkan (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

Hal pertama yang dilakukan adalah pengukuran pendahuluan yang

tujuannya adalah untuk mengatahui beberapa kali pengukuran harus dilakukan

untuk tingkat–tingkat ketelitian dan keyakinan yang diinginkan (Iftikar Z.

Sutalaksana dkk, 2006).

Pengukuran pendahuluan tahap pertama dilakukan dengan melakukan

beberapa buah pengukuran yang banyaknya ditentukan oleh pengukur. Setelah

pengukuran tahap pertama dilakukan, ada 3 hal yang harus mengikutinya yaitu:

a. Menguji “keseragaman” data.

b. Menghitung jumlah pengukuran yang diperlukan.

c. Jika jumlah pengukuran belum mencukupi dilanjutkan dengan pengukuran

pendahuluan tahap kedua.

Jika tahap kedua selesai maka dilakukan lagi ketiga hal pada tahap pertama

tadi, dimana bila perlu dilanjutkan dengan pengukuran pendahuluan tahap kerja.

Pengukuran pendahuluan terus digunakan selama jumlah pengukuran yang telah


5
dilakukan pada tahap pengukuran belum mencukupi. Untuk memproses hasil

pengukuran waktu ini digunakan beberapa rumus yaitu:

1. Menghitung rata–rata dari harga rata–rata dari sub grup

∑ xi
x̅ = ……………………………..……………………………………….....2.1.1.
k

Xi adalah harga rata-rata dari subgrup ke-i

K adalah harga banyaknya subgrup terbentuk

2. Menghitung standar deviasi sebenarnya dari waktu penyelesaian.

∑ (xi -x̅ )2
σ=√ ………………………………………………………….….……2.1.2.
N-1

N adalah jumlah pengamatan pendahuluan yang telah dilakukan.

Xj adalah waktu penyelesaian yang teramati selama pengukuran pendahuluan

yang di lakukan.

Catatan:

Jika data pengukuran < 30, maka rumus pembagi yang digunakan adalah N-1.

Jika data pengukuran > 30, maka rumus pembagi yang digunakan adalah N.

3. Menghitung standar deviasi dari distribusi harga rata – rata sub grup
σ
σx̅ = …………………………………………………………….……...……2.1.3.
√n

n adalah besarnya subgrup

4. Menentukan Batas Kontrol Atas dan Batas Kontrol Bawah (BKA dan

BKB)

BKA= x̅ + 3σx̅ …………………………………………………………..…..…2.1.4.

BKB= ̅x – 3 σx̅ ………………………………………………………..………..2.1.5.

6
5. Apabila semua rata–rata sub grup berada dalam batas kontrol maka semua

harga yang ada dapat digunakan untuk menghitung banyaknya pengukuran yang

diperlukan dengan menggunakan rumus:

2
2 2
40√N ∑ Xi -( ∑ Xi)
N= …………………………………………..…….2.1.6.
∑ Xi
( )

N adalah jumlah pengukuran yang telah dilakukan. Rumus ini adalah untuk

tingkat ketelitian 5% dan tingkat keyakinan 95%.

a. Apabila tingkat ketelitian 5% dan tingkat kepercayaan 95% maka nilai

konstanta yang digunakan untuk menghitung nilai N’ adalah


2
0,05 x 2αx= 0.05 = 40. .......................................................................................2.1.7.

b. Apabila tingkat ketelitian 10% dan tingkat kepercayaan 95% maka nilai

konstanta yang digunakan untuk menghitung nilai N’ adalah


2
0,1 x 2αx= 0,1 = 20............................................................................................2.1.8.

c. Apabila tingkat ketelitian 5% dan tingkat kepercayaan 99% maka nilai

konstanta yang digunakan untuk menghitung nilai N’ adalah


3
0,05 x 3αx= 0,1 = 60...........................................................................................2.1.9

Seandainya jumlah pengukuran yang diperlukan ternyata masih lebih besar

dari jumlah pengukuran yang telah dilakukan N’ > N, maka pengukuran tahap

kedua harus dilakukan sampai didapat N’ ≤ N (Sutalaksana dkk, 2006).

7
2.3. Tingkat Ketelitian, Tingkat Keyakinan dan Uji Keseragaman Data

2.3.1. Tingkat Ketelian dan Tingkat Keyakinan

Dicari dengan melakukan pengukuran–pengukuran ini adalah waktu yang

sebenarnya dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Dengan tidak

dilakukannya pengukuran yang banyak sekali, pengukuran akan kehilangan

sebagian kepastian akan ketetapan atau rata–rata waktu penyelesaian yang

sebenarnya. Tingkat ketelitian dan keyakinan adalah pencerminan tingkat

kepastian yang diinginkan oleh pengukur setelah memutuskan tidak akan

melakukan pengukuran yang sangat banyak (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

Tingkat ketelitian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil

pengukuran dari waktu penyelesaian sebenarnya. Hal ini biasanya dinyatakan

dalam persen (dari waktu penyelesaian sebenarnya, yang seharusnya dicari).

Sedangkan tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan pengukur, bahwa

hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi dan dinyatakan dalam

persen. Jadi tingkat ketelitian 10% dan tingkat keyakinan 95% memberi arti

bahwa pengukur memperoleh rata – rata hasil pengukurannya menyimpang sejauh

10% dari rata – rata sebenarnya, dan kemungkinan hasil mendapatkan hal ini

adalah 95%. Dengan kata lain jika pengukur memperoleh rata – rata pengukuran

yang menyimpang lebih dari 10% seharusnya, hal ini dibolehkan terjadi hanya

dengan kemungkinan 5% = (100%-95%) (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

8
2.3.2. Pengujian Keseragaman Data

Tugas pengukur adalah mendapatkan data yang seragam. Karena

ketidakseragaman dapat datang tanpa disadari maka diperlukan suatu alat yang

dapat “mendeteksinya”. Batas kontrol yang dibentuk dari data merupakan batas

seragam tidaknya data. Data yang dikatakan seragam yaitu berasal dari sistem

sebab yang sama, bila berada diantara kedua batas kontrol, dan tidak seragam,

yaitu berasal dari sistem sebab yang berbeda, jika berada diluar batas kontrol

(Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.4. Melakukan Perhitungan Batas Waktu

Jika pengukuran telah selesai, yaitu semua data yang di dapat memiliki

keseragaman yang dikehendaki, dan jumlahnya telah memenuhi tingkat – tingkat

ketelitian dan keyakinan yang diinginkan, maka selesailah kegiatan pengukuran

waktu. Langkah langkah selanjutnya adalah mengolah data dengan cara

mendapatkan waktu baku dari hasil pengamatan (Iftikar Z. Sutalaksana dkk,

2006).

a. Hitung waktu siklus rata – rata.

∑ Xi
Ws= ………………………………………………………………...……2.1.7
N
Xi dan N menunjukan arti yang sama dengan yang telah kita bahas

sebelumnya.

b. Hitung waktu normal.

Wn = Ws x p.....................................................................................................2.1.8.

9
Dimana : P adalah faktor penyesuaian. Faktor ini di perhitungkan jika pengukur

berpendapat bahwa operator bekerja dengan kecepatan tidak wajar,

sehingga hasil perhitungan waktu perlu disesuaikan atau di normalkan

dulu untuk mendapatkan siklus yang wajar. Jika pekerja bekerja dengan

wajar maka faktor penyesuaian p = l artinya waktu siklus rata – rata

sudah normal (100%) jika bekerjanya terlalu lambat (90%) maka untuk

menormalkannya pengukur harus memberi harga p < l, dan sebaliknya p

> 1, jika dianggap bekerja cepat (110%).

c. Hitung waktu baku.

Wb = Wn + 1.....................................................................................................2.1.9.

Dimana : 1 adalah kelonggaran atau allowance yang diberikan kepada pekerja

untuk menyelesaikan pekerjaannya disamping waktu normal.

Kelonggaran ini diberikan untuk hal - hal seperti kebutuhan pribadi,

menghilangkan rasa fatique, dan gangguan - gangguan yang

memungkinkan terjadi yang tidak dapat dihindarkan oleh pekerja.

Umumnya kelonggaran dinyatakan dalam persen dari waktu normal.

2.5. Penyesuaian

2.5.1. Maksud Melakukan Penyesuaian

Penyesuaian dilakukan dengan mengalihkan waktu siklus rata–rata atau

waktu elemen rata–rata dengan suatu harga p yang disebut faktor penyesuaian.

Bila pengukur berpendapat bahwa operator pekerja diatas normal (telalu cepat)

maka harga p nya akan lebih besar dari suatu (p > l) sebaliknya jika operator

dipandang pekerja dibawah normal maka harga p akan lebih kecil dari satu ( p <l).
10
Seandainya pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan wajar maka

harga p nya sama dengan satu (p = l) (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.5.2. Konsep Tentang Bekerja Wajar

Untuk memudahkan pemilihan konsep wajar, ada beberapa konsep, yaitu:

1. Konsep “internasional labour organization”. Pada konsep ini dinyatakan

seseorang pengukur dapat mempelajari bagaimana bekerjanya seorang operator

yang dianggap normal itu yaitu : “Jika seorang operator yang dianggap

berpengalaman bekerja tanpa usaha – usaha yang berlebihan sepanjang hari kerja,

menguasai cara kerja yang ditetapkan dan menunjukkan kesungguhan dalam

menjalankan pekerjaannya” (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2. Konsep Lowry Maynard dan stegemarten melalui cara penyesuaian

westinghouse. Pada konsep ini mereka berpendapat ada empat faktor yang

menyebabkan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja yaitu : Keterampilan,

usaha, kondisi kerja dan konsisten (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.5.3. Beberapa Cara Menentukan Faktor Penyesuaian.

1. Cara persentase

Merupakan cara yang paling awal digunakan dalam melakukan

kesesuaian. Besar faktor penyesuaian sepenuhnya ditentukan oleh pengukur

melalui pengamatannya selama melakukan pengukuran.

Wn = p x Ws.....................................................................................................2.1.9.

11
2. Cara Shumard

Memberikan patokan–patokan penilaian melalui performance kerja dimana

setiap kelas mempunyai nilai sendiri–sendiri.

Adapun penyesuaian cara shumard akan di tunjukan pada Tabel 2.1.1.

Tabel 2.1.1. Penyesuaian menurut cara Shumard


Kelas Penyesuaian Kelas Penyesuaian
Superlast 100 Good - 65
Fast + 95 Normal 60
Fast 90 Fair + 55
Fast - 85 Fair 50
Excellent 80 Fair - 45
Good + 75 Poor 40
Good 70
Sumber : Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006.

Tabel 2.1.1. penyesuaian cara shumard merupakan Tabel yang akan kita

gunakan untuk mencari waktu baku operator.

3. Cara Westinghouse

Cara Westinghouse mengarahkan penilaian pada 4 faktor yang dianggap

menentukan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja yaitu Keterampilan,

Usaha, Kondisi Kerja dan Konsistensi. Setiap faktor terbagi dalam kelas-kelas

dengan nilainya masing-masing (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

a. Keterampilan atau Skill

Keterampilan atau skill didefenisikan sebagai kemampuan mengikuti cara

kerja yang ditetapkan. Untuk keperluan penyesuaian, keterampilan dibagi menjadi

enam kelas dengan ciri-ciri dari setiap kelas seperti yang dikemukakan berikut ini.

12
1. Super Skill:

a. Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya.

b. Bekerja dengan sempurna.

c. Tampak seperti telah berlatih dengan sangat baik.

d. Gerakan-gerakannya halus tapi sangat cepat sehingga sulit untuk diikuti.

e. Kadang-kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan-gerakan mesin.

f. Pepindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen lainnya tidak

terlampau terlihat karena lancarnya.

g. Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencana tentang

apa yang dikerjakan (sudah sangat otomatis).

h. Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang bersangkutan adalah

pekerja terbaik.

2. Excellent Skill

a. Percaya pada diri sendiri.

b. Tampak cocok dengan pekerjaannya.

c. Terlihat telah terlatih baik.

d. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran-

pengukuran atau pemeriksaan lagi.

e. Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutanurutannya dijalankan tanpa

kesalahan.

f. Menggunakan peralatan dengan baik.

g. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu.

h. Bekerjanya cepat tetapi halus.

13
i. Bekerja berirama dan terkoordinasi.

3. Good Skill:

a. Kualitas hasil baik.

b. Bekerjanya tampak lebih baik daripada kebanyakan pekerja umumnya.

c. Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerja lain yang

keterampilannya lebih rendah.

d. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap.

e. Tidak memerlukan banyak pengawasan.

f. Tiada keragu-raguan.

g. Bekerjanya "stabil".

h. Gerakan-gerakannya terkoordinasi dengan baik.

i. Gerakan-gerakannya cepat.

4. Average Skill:

a. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri.

b. Gerakan-gerakannya tidak cepat tetapi tidak lambat.

c. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan perencanaan.

d. Tampak sebagai pekerja yang cakap.

e. Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tiadanya keragu-raguan.

f. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik.

g. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk

pekerjaannya.

h. Bekerjanya cukup teliti.

i. Secara keseluruhan cukup memuaskan.

14
5. Fair Skill:

a. Tampak terlatih tetapi belum cukup baik.

b. Mengenal peralatan dan lingkungan secukupnya.

c. Terlihat adanya perencanaan-perencanaan sebelum melakukan.

d. Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup.

e. Tampaknya seperti tidak cocok dengan pekerjaannya tetapi telah

ditempatkan dipekerjaan itu sejak lama.

f. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak tidak

selalu yakin.

g. Sebagian waktu terbuang karena kesalahan-kesalahan sendiri.

h. Jika tidak bekerja sungguh-sungguh outputnya akan sangat rendah.

i. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakannya.

6. Poor Skill:

a. Tidak bisa mengkordinasikan tangan dan pikiran.

b. Gerakan-gerakannya kaku.

c. Kelihatan ketidak yakinannya pada urut-urutan gerakan.

d. Seperti yang tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan.

e. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya.

f. Ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakan kerja.

g. Sering melakukan kesalahan-kesalahan.

h. Tidak ada kepercayaan pada diri sendiri.

i. Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri.

15
b. Usaha atau Effort

Untuk usaha atau effort juga mebagi kelas-kelas dengan ciri-ciri

[Link] dimaksud dengan usaha disini adalah kesungguhan yang

ditunjukkan atau diberikan operator ketika melakukan [Link] ini

ada enam kelas usaha dengan ciri-cirinya:

1. Excessive Effort

a. Kecepatannya sangat berlebihan.

b. Usahanya sangat sungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan

kesehatannya.

c. Kecepatan yang ditimbulkannya tidak dapat dipertahankan sepanjang

hari kerja.

2. Excellent Effort

a. Jelas terlihat kecepatan kerjanya yang tinggi.

b. Gerakan-gerakannya lebih "ekonomis" daripada operatoroperator biasa.

c. Penuh perhatian pada pekerjaannya.

d. Banyak memberi saran-saran.

e. Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan senang.

f. Percaya kepada kebaikan maksud pengukuran waktu.

g. Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari.

h. Bangga atas kelebihannya.

i. Gerakan-gerakan yang salah terjadi sangat jarang sekali.

j. Bekerjanya sistematis.

16
k. Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen ke elemen lain tidak

terlihat.

3. Good Effort

a. Bekerja berirama.

b. Saat-saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang-kadang tidak ada.

c. Penuh perhatian pada pekerjaannya.

d. Senang pada pekerjaannya.

e. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari.

f. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu.

g. Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan senang.

h. Dapat memberi saran-saran untuk perbaikan kerja.

i. Tempat kerjanya diatur baik dan rapih.

j. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik.

k. Memelihara dengan baik kondisi peralatan.

4. Average Effort

a. Tidak sebaik good, tetapi lebih baik dari poor.

b. Bekerja dengan stabil.

c. Menerima saran saran tetapi tidak melaksanakannya.

d. Set up dilaksanakan dengan baik.

e. Melakukan kegiatan kegiatan perencanaan.

5. Fair Effort

a. Saran saran perbaikan diterima dengan kesal.

b. Kadang kadang perhatian tidak ditujukan pada pekerjaannya.

17
c. Kurang sungguh sungguh.

d. Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya.

e. Terjadi sedikit menyimpang dari cara kerja baku.

f. Alat-alat yang dipakainya tidak selalu yang terbaik.

g. Terlihat adanya kecenderungan kurang perhatian pada pekerjaannya.

h. Terlampau hati hati.

i. Sistematika kerjanya sedang sedang saja.

j. Gerakan gerakannya tidak terencana.

6. Poor Effort

a. Banyak membuang buang waktu.

b. Tidak memperlihatkan adanya minat kerja.

c. Tidak mau menerima saran saran.

d. Tampak malas dan bekerja lambat.

e. Melakukan gerakan gerakan yang tidak perlu untuk mengambil alat-alat

dan bahan-bahan.

f. Tempat kerjanya tidak diatur rapih.

g. Tidak perduli pada cocok/baik tidaknya peralatan yang dipakai.

h. Mengubah ubah tata letak tempat kerja yang telah diatur.

i. Set up kerjanya terlihat tidak baik

c. Kondisi kerja atau condition

Yang dimaksud dengan kondisi kerja pada cara Westinghouse adalah

kondisi fisik lingkungan seperti keadaan pencahayaan, suhu, dan kebisingan

ruangan. Bila ketiga faktor lainnya, yaitu keterampilan, usaha, dan konsitensi

18
merupakan sesuatu yang dicerminkan operator, maka kondisi kerja merupakan

sesuatu diluar operator yang diterima apa adanya oleh operator tanpa banyak

kemampuan mengubahnya. Oleh karena itu, faktor kondisi sering disebut sebagai

faktor menajemen, karena pihak inilah yang dapat dan berwenang mengubah atau

memperbaikinya (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

Kondisi kerja dibagi menjadi enam kelas, yaitu Ideal, Excellent, Good,

Average, Fair, dan Poor. Kondisi yang ideal tidak selalu sama bagi setiap

pekerjaan karena berdasarkan karakteristiknya masing-masing pekerja

membutuhkan kondisi yang ideal sendiri-sendiri (Iftikar Z. Sutalaksana dkk,

2006).

d. Konsistensi atau Consitency

Pada faktor ini yang perlu diperhatikan karena pada setiap pengukuran

waktu angka-angka yang dicatat tidak semuanya sama, waktu penyelesaian yang

ditunjukkan pekerja selalu berubah-ubah dari satu siklus ke siklus lainnya, dari

jam ke jam, bahkan dari hari ke hari. Sebagaimana halnya faktor-faktor lain,

konsitensi juga dibagi menjadi enam kelas yaitu Perpect, Excellent, Good,

Average, Fair dan [Link] yang bekerja Perfect adalah yang dapat

bekerja dengan waktu penyelesaian yang boleh dikatakan tetap dari saat ke saat

(Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

Angka-angka yang diberikan bagi setiap kelas dari faktor-faktor dapat

diperlihatkan pada Tabel 2.1.2.

19
Tabel 2.1.2. Penyesuaian menurut Westinghouse
Faktor Kelas Lambang Penyesuaian
Keterampilan Superskill A1 + 0.5
(Skill) A2 + 0.13
Excellent B1 + 0.11
B2 + 0.08
Good C1 + 0.06
C2 + 0.03
Average D 0.00
Fair E1 -0.05
E2 -0.10
Poor F1 -0.16
F1 -0.22
Usaha Excessive A1 + 0.13
(Effort) A2 + 0.12
Excellent B1 + 0.10
B2 + 0.08
Good C1 + 0.05
C2 + 0.02
Average D 0.00
Fair E1 -0.04
E2 -0.08
Poor F1 -0.12
F2 -0.17
Kondisi Kerja Ideal A + 0.06
(Condition) Excellenty B + 0.04
Good C + 0.02
Average D 0.00
Fair E -0.03
Poor F -0.07
Konsisten Perfect A + 0.04
(Consistency) Excellent B + 0.03
Good C + 0.01
Average D 0.00
Fair E -0.02
Poor F -0.04
Tabel 2.1.2. Penyesuaian menurut Westinghouse
Sumber : Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006.

Tabel 2.1.2. merupakan tabel penyesuaian dari Westinghouse yang

merupakan Tabel untuk mencari waktu normal untuk setiap operator yang

pratikum amati.

20
2.5.4. Suatu perbandingan

Pada penjelasan yang dikemukakan bahwa cara shumard dan westing

house, dimaksud untuk lebih mengobjektifkan penyesuaian karena cara persentase

sangat dipengaruhi oleh subjektifitas pengukur. Namun hasil penelitian tersebut

mendapatkan hasil yang berbeda, walau bagaimanapun perbedaaan yang terdapat

diantara cara diatas. Jelas kiranya bahawa cara Shumard dan Westinghouse

maupun cara lainnya (seperti cara-cara objektif, Bodeux dan sintesis yang tidak

dibahas dalam tulisan ini) dimaksud untuk lebih mengobjektifkan cara. Dan

memang di rasakan lebih objektif. Bagi mereka yang kurang mengenal pekerjaan

yang diukur dan belum berpengalaman dalam melakukan pengukuran waktu di

sarankan melakukan penyesuaian dengan cara westinghouse karena lebih rinci

dalam analisisnya dibandingkan yang lain. Bila terlatih maka dapat menggunakan

cara shumard dan setelah mahir maka layak menggunakan persentase (Iftikar Z.

Sutalaksana dkk, 2006).

2.5.5. Cara-cara bodeux dan sintesis

Dua cara lain yang di kembangkan untuk lebih mengobjektifkan

penyesuaian adalah cara bodeux dan sintesis. Pada dasarnya cara Bodeux tidak

banyak berbeda dengan cara shumard, hanya saja nilai-nilai pada cara bodeux

dinyatakan dalam bentuk “B” (huruf pertama Bodeux, penemunya). Sedangkan

cara sintesis agak berbeda dengan cara-cara lainnya, dimana dalam cara ini waktu

penyelesaian setiapa elemen gerakan dibandingkan dengan harga-harga yang

diperoleh dari tabel-tabel data waktu gerakan untuk kemudian di hitung harga

rata-ratanya (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).


21
2.6. Kelonggaran

Kelonggaran diberikan untuk tiga hal yaitu untuk kebutuhan pribadi,

menghilangkan rasa fatique dan hambatan-hambatan yang tidak dapat

dihindarkan. Ketiga ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh

pekerja dan selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat ataupun terhitung

(Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.6.1. Kelonggaran Untuk Kebutuhan Pribadi

Yang termasuk kedalam kebutuhan pribadi disini adalah hal – hal yang

minum sekedarnya untuk menghilangkan rasa haus, kekamar kecil, bercakap–

cakap dengan teman kerja sedekar untuk menghilangkan ketegangan ataupun

kejemuan dalam kerja (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.6.2. Kelonggaran Untuk Menghilangkan Rasa Fatique

Rasa fatique tercermin antara lain menurunnya hasil produksi baik jumlah

maupun kualitas. karenanya salah satu cara untuk menentukan besarnya

kelonggaran ini adalah dengan melakukan pengamatan sepanjang hari kerja dan

mencatat saat-saat dimana hasil produksi menurun (Iftikar Z. Sutalaksana dkk,

2006).

2.6.3. Kelonggaran Untuk Hambatan – Hambatan Tak Terhindarkan

Dalam melaksanakan pekerjaannya, pekerja tidak lepas dari berbagai

“hambatan”. Adapun hambatan yang dapat dihindarkan seperti mengobrol yang

berlebihan dan menganggur dengan sengaja. Adapula hambatan yang tidak dapat

22
dihindarkan karena berada di kemampuan pekerja untuk mengendalikannya

(Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

Beberapa contoh yang termasuk ke dalam hambatan tak terhindarkan

adalah :

a. Menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas

b. Melakukan penyesuaian–penyesuaian mesin

c. Memperbaiki kemacetan–kemacetan singkat seperti mengganti alat potong

yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya.

d. Mengasah peralatan kosong

e. Mengambil alat–alat khusus atau bahan – bahan khusus dari gudang

f. Hambatan–hambatan karena kesalahan pemakaian alat ataupun bahan

g. Mesin berhenti karena matinya aliran listrik.

2.6.4. Menyertakan kelonggaran dalam perhitungan baku

Langkah pertama adalah menentukan besarnya kelonggaran untuk ketiga

hal di atas yaitu untuk kebutuhan pribadi, meghilangkan fatique, dan hambatan

yang tidak dapat dihindarkan. Dua hal pertama dapat di peroleh dari tabel 9.3

besarnya kelonggaran berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh pada buku

sutalaksana (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.7. Study Gerakan

2.7.1. Pengertian Studi Gerakan

Studi gerakan adalah analisa yang dilakukan terhadap beberapa gerakan

bagian badan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Agar gerakan–gerakan

23
yang tidak efektif dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sehingga akan

diperoleh penghematan dalam waktu kerja yang selanjutnya dapat pula

menghemat pemakaian fasilitas–fasilitas yang tersedia untuk pekerjaan tersebut

(Sutalaksana dkk, 2006).

Untuk memudahkan penganalisaan terhadap gerakan–gerakan yang

dipelajari, perlu dikenal dahulu gerakan–gerakan dasar. Tokoh yang telah

mempelajari gerakan–gerakan dasar secara mendalam adalah Frank B. Gilbert

beserta isterinya. Yang menguraikan gerakan ke dalam 17 gerakan dasar atau

elemen gerakan yang dinamakan Therblig (Sutalaksana dkk, 2006).

Kemampuan untuk menguraikan suatu pekerjaan kedalam therbling

dengan baik sangat diperlukan. Karena akan memudahkan dalam

pengaanlisaannya. Dan dapat dengan baik pula diketahui gerakan–gerakan masa

penganalisa masih dapat menghemat waktu kerja atau gerakan mana yang

sebetulnya tidak diperlukan oleh pekerja tapi masih dilakukan oleh pekerja

(Sutalaksana dkk, 2006).

1. Gerakan – Gerakan Dasar Gilberth (17 Therblig)

a. Mencari (Search)

Elemen gerakan mencari merupakan gerakan dasar dari pekerja untuk

menemukan lokasi obyek. Yang bekerja dalam hal ini adalah mata. Gerakan ini

dimulai pada saat mata bergerak mencari obyek dan berakhir bila obyek sudah

[Link] adalah untuk menghilangkan secepat mungkin gerakan

yang tidak perlu dan memudahkan seorang pekerja baru dengan cepat

24
menyesuaikan dirinya. Terutama dalam pengenalan tempat – tempat dan bahan

yang dipergunakan dalam pekerjaannya (Sutalaksana dkk, 2006).

Untuk mengurangi atau menghilangkan waktu mencari, seorang perancang

kerja harus memperhatikan beberapa pertanyaan berikut ini :

a. Sudah jelaskah ciri – ciri obyek yang diambil?

b. Sudah tetapkah tempatnya?

c. Dapatkah dipakai tempat obyek yang tembus pandang?

d. Apakah susunan tata letak tempat kerja yang sudah ada merupakan yang

terbaik untuk mengurangi gerakan mencari?

1. Memilih (Select)

Memilih merupakan gerakan untuk menemukan suatu obyek yang

tercampur, tangan mata adalah dua bagian badan yang digunakan untuk

melakukan gerakan ini. Therblig mulai pada saat tangan dan mata mulai memilih

dan berakhir bila obyek sudah ditemukan (Sutalaksana dkk, 2006).

Gerakan memilih merupakan gerakan yang tidak efektif, sehingga sedapat

mungkin elemen gerakan ini harus dihindarkan. Pertanyaan–pertanyaan berikut

dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengurangi atau menghilangkan elemen

gerakan memilih:

1. Apakah obyek – obyek yang berbeda ditempatkan pada tempat yang sama?

2. Dapatkah permukaan wadah diperluas?

3. Dapatkah dipakai tempat yang tembus pandang?

25
b. Memegang (Grasp)

Gerakan untuk memegang obyek, biasanya didahului oleh gerakan

menjangkau dan dilanjutkan oleh gerakan membawa. Elemen ini merupakan

gerakan yang efektif dari suatu pekerjaan, meskipun sulit untuk dihilangkan,

dalam beberapa keadaan masih dapat [Link] memperbaiki elemen

gerakan memegang, berikut pertanyaan yang dipakai sebagai pedoman :

1. Dapatkah beberapa obyek dipegang sekaligus?

2. Dapatkah obyek tersebut digelincirkan?

3. Dapatkah bibir tempat penyimpangan dirancang sedemikian rupa sehingga

dapat memudahkan gerakan ini?

4. Dapatkah obyek yang dipegang diletakkan sedemikian rupa sehingga

memudahkan usaha pemegangan?

5. Dapatkah permukaan wadah ditumpulkan?

6. Dapatkah permukaan tempat peletakkan obyek yang akan dipegang

dirancang sedemikian rupa sehingga memudahkan pemegang?

7. Dapatkah dipakai peralatan untuk membantu memegang obyek?

8. Salah satu alat yang dapat dipakai untuk mencapai hal diatas adalah

peralatan yang memakai prinsip magnet.

c. Menjangkau (Reach)

Gerakan tangan berpindah tempat tanpa beban, baik gerakan mendekati

maupun menjauhi obyek. Biasanya didahului oleh gerakan melepas (release) dan

diikuti oleh gerakan memegang. Dimulai pada saat tangan mulai berpindah dan

berakhir bila tangan sudah berhenti. Waktu yang dipergunakan untuk menjangkau

26
tergantung pada jarak dari pergerakan tangan dan dari tipe menjangkaunya.

Seperti juga memegang, menjangkau sulit untuk dihilangkan secara keseluruhan

dari siklus kerja yang masih mungkin adalah pengurangan dari waktu gerak ini.

d. Membawa (Move)

Gerakan perpindahan tangan, hanya dalam gerakan ini tangan dalam

keadaan dibebani. Biasanya di dahului oleh memegang dan dilanjutkan oleh

melepas atau dapat juga oleh pengarahan (Position). Therblig ini mulai dan

berakhir pada saat yang sama dengan menjangkau karena itu faktor – faktor yang

mempengaruhi waktu gerakannya hampir sama yaitu jarak pindah dan berat beban

yang dibawa oleh tangan.

Pertanyaan–pertanyaan ini dapat dipakai sebagai pedoman untuk

memperbaiki gerakan menjangkau dan membawa.

1. Dapatkah jarak tempuh dikurangi?

2. Apakah cara yang terbaik sudah dipakai?

3. Apakah anggota badan yang digerakan sudah tepat?

4. Dapatkah waktu dikurangi dengan mengangkat sekaligus banyak?

5. Dapatkah perubahan arah gerak dihindari?

6. Dapatkah proyek yang akan dipindahkan itu digelincirkan?

e. Memegang Untuk Memakai (Hold)

Memegang untuk memakai adalah memegang tanpa menggerakkan obyek

yang dipegang tersebut. Merupakan gerakan yang tidak efektif. Sehingga sedapat

mungkin harus dihilangkan atau dikurangi. Gerakan ini sering dijumpai pada

pekerjaan perakitan, satu tangan memegang untuk memakai dan satu tangan lagi

27
melakukan pekerjaan memasang. Untuk melakukan perbaikan pertanyaan yang

dapat dipakai sebagai pedoman:

1. Dapatkah pemegangan dialukan oleh peralatan?

2. Dapatkah diusahakan suatu penyangga tangan?

f. Melepas (Released Load)

Terjadi apabila seorang pekerja melepaskan obyek yang dipegangnya,

merupakan gerakan yang relatif singkat. Gerakan ini didahului oleh gerakan

mengangkut atau gerakan mengarahkan dan diikuti oleh gerakan menjangkau.

Pertanyaan – pertanyaan ini dapat memperbaiki dengan gerakan melepas.

1. Dapatkah gerakan ini dilakukan bersamaan dengan gerakan membawa?

2. Apakah tempat obyek setelah dilepas telah dirancang dengan baik?

3. Apakah setelah melepas beban, tangan atau alat angkut sudah dalam

keadaan yang dioperasikan kembali?

4. Dapatkah peralatan dipakai untuk melepas?

g. Pengarahan (Position)

Mengarahkan biasanya didahului oleh gerakan mengangkut dan biasa

diikuti oleh gerakan merakit (Asembling). Waktu untuk mengarahkan sering

diperbaiki dengan memperhatikan pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut:

1. Apakah pengarahan diperlukan?

2. Apakah obyek yang dipegang telah diletakkan sedemikian rupa sehingga

memudahkan pengarahan?

3. Dapatkah dipakai peralatan sebagai penuntut obyek yang akan ditempatkan

28
h. Pengarahan Sementara (Pre Position)

Tujuan dari penempatan sementara ini adalah untuk memudahkan

pemegangan apabila obyek tersebut akan dipakai kembali. Contoh perbedaan

antara therblig mengarahkan dengan therblig mengarah sementara dapat dilihat

pada Tabel 2.1.3.

Tabel 2.1.3. Perbedaan antara Therblig mengarahkan dengan mengarah sementara


Langkah Nama Gerakan
1. Mengambil pulpen Menjangkau
2. Memegang pulpen Memegang
3. Membawa pulpen ke kertas Membawa
4. Mengarahkan pulpen untuk menulis Mengarahkan
5. Menulis Memakai
6. Mengembalikan pulpen pada tempatnya Membawa
7. Memasukkan pulpen pada tempatnya Mengarahkan sementara
8. Melepaskan pulpen Melepas
9. Menggerakkan kembali tangan ke atas Menjangkau (Transport Empty)
Sumber : Sutalaksana dkk, 2006.

Tabel 2.1.3. merupakan Perbedaan antara Therblig mengarahkan dengan

mengarah sementara. Tabel tersebut yang akan kita gunakan untuk mengurai

gerakan operator saat bekerja.

i. Memeriksa ( Inspection )

Merupakan pekerjaan memeriksa apakah obyek telah memenuhi syarat–

syarat tertentu. Pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan obyek dengan

suatu standar. Untuk memperbaiki elemen ini ada beberapa pertanyaan, yaitu :

a. Dapatkah gerakan ini dilakukan sekaligus bersamaan dengan elemen

lainnya?

b. Dapatkah dipakai suatu alat untuk beberapa obyek sekaligus?

c. Apakah penambahan cahaya dapat mempercepat pemeriksaan?

29
d. Apakah jarak obyek yang diperiksa sudah tepat dari mata operator?

e. Apakah dapat dipakai peralatan pengganti bagian tubuh untuk pemeriksaan?

j. Merakit (Assemble)

Perakitan adalah gerakan untuk menggabungkan satu obyek dengan obyek

lain sehingga menjadi satu kesatuan. Biasanya didahului gerakan membawa atau

mengarahkan dan dilanjutkan dengan gerakan melepas.

k. Lepas Rakit (Disassemble)

Merupakan gerakan pemisahan dua obyek dari satu kesatuan. Biasanya

didahului oleh memegang dan dilanjutkan oleh membawa atau melepas.

l. Memakai (Use)

Memakai adalah bila suatu tangan atau keduanya dipakai untuk

menggunakan alat. Lepas rakit dan memakai dapat diperbaiki dengan

mempertanyakan hal – hal dibawah ini :

1. Dapatkah dipakai perkakas pembantu (jig & fixture)

2. Dapatkah aktifitas pekerjaan dilakukan oleh peralatan secara otomatis?

3. Dapatkah melakukan perakitan dengan beberapa unit sekaligus?

4. Apakah peralatan telah dijalankan secara efisien. Sehingga pekerjaan

dilakukan dalam kondisi optimal?

m. Kelambatan yang tak terhindar (Unaviodable Delay)

Adalah kelambatan yang diakibatkan oleh hal–hal yang terjadi di luar

kemampuan pengendalian pekerja. Hal ini timbul karena ketentuan cara kerja

yang mengakibatkan satu tangan menganggur sedangkan tangan yang lainnya

30
bekerja. Kelambatan ini dapat dikurangi dengan mengadakan perubahan atau

perbaikan pada proses operasi.

n. Kelambatan yang dapat dihindarkan (Avoidable Delay)

Kelambatan ini disebabkan oleh hal yang ditimbulkan sepanjang waktu

kerja oleh pekerjanya baik disengaja maupun tidak disengaja. Untuk mengurangi

kelambatan ini harus diadakan perbaikan oleh pekerjanya sendiri tanpa harus

merubah proses operasinya.

o. Merencana (Plan)

Merencanakan merupakan proses mental, dimana operator berfikir untuk

menentukan tindakan yang akan diambil selanjutnya waktu untuk therblig ini

lebih sering terjadi pada seorang pekerja baru.

p. Istirahat untuk menghilangkan fatique (Rest to Overcome Fataque)

Hal ini terjadi pada setiap siklus kerja tetapi terjadi secara periodik. Untuk

memperbaiki kelambatan – kelambatan yang diakibatkan oleh kelambatan yang

tak terhindarkan ataupun yang dapat dihindarkan, merencana dan istirahat untuk

menghilangkan fatique adalah dengan mengajukan pertanyaan berikut:

1. Apakah anggota tubuh yang digunakan sudah tepat?

2. Apakah temperatur, kelembaban, ventilasi, kebisingan, dan kondisi kerja

yang lain telah memuaskan?

3. Apakah ukuran kursi dan meja telah disesuaikan dengan tubuh pekerja?

4. Apakah gizi makanan dari pekerja sudah mencukupi?

31
Beberapa tingkat tipe pekerjaan dengan kebutuhan kalorinya per harinya.

Pekerja ringan sekali 2400 kalori

Pekerja ringan 2700 kalori

Pekerja berat 3600 kalori

2. Analisa Gerakan dengan Rekaman Film

Perekaman atas gerakan–gerakan kerja dengan kamera film dan segala

perlengkapannya dapat mengatasi kesulitan ketika elemen–elemen yang sangat

singkat waktu pelaksanaannya sehingga sulit ditangkap oleh mata. Disini hasil

rekaman diputar pada kecepatan yang lambat sehingga analisa dapat dilakukan

secara saksama. Dengan bantuan jam khusus misalnya Microchronometer setiap

elemen dapat diukur (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

2.8. Ekonomi Gerakan

a. Pendahuluan

Untuk mendapatkan hasil kerja yang baik diperlukan perancangan sistem

kerja yang baik pula. Para perancang kerja dapat menyusun suatu sistem kerja

yang antara lain terdiri gerakan–gerakan yang baik yaitu gerakan yang

memberikan hasil kerja yang baik, misalnya gerakan yang dapat mengakibatkan

waktu penyelesaian kerja yang singkat (Iftikar Z. Sutalaksana dkk, 2006).

Misalnya gerakan yang dapat mengakibatkan waktu penyelesaian kerja yang

singkat. Prinsip ekonomi gerakan terdiri dari atas 3 bagian yaitu:

32
b. Prinsip ekonomi gerakan yang dihubungkan dengan tubuh manusia dan

gerakan-gerakannya.

1. Kedua tangan sebaiknya memulai dan mengakhiri gerakan disaat yang

sama.

2. Kedua tangan akan lebih mudah jika satu terhadap lainnya pada waktu

istirahat.

3. Gerakan tangan atau badan sebaiknya dihemat yaitu hanya menggerakkan

tangan atau bagian badan yang diperlukan saja untuk melakukan pekerjaan

dengan sebaik–baiknya. Penugasan pada bagian tubuh harus memperhatikan

kesanggupan dari bagian–bagian tubuh tersebut, agar tidak menimbulkan

gerakan–gerakan sulit yang harus dilakukan oleh tubuh. Gerakan yang dilakukan

oleh tangan dapat diklasifikasikan dalam tingkat gerak sebagai berikut:

a. Gerakan jari

b. Gerakan jari dengan telapak tangan

c. Gerakan jari telapak tangan dengan jari bagian depan

d. Gerak jari telapak tangan, tangan bagian depan dan lengan atas

e. Gerak jari, telapak tangan, tangan bagian depan, lengan atas dan bahu.

4. Gerakan kedua tangan akan lebih mudah jika satu terhadap lainnya simetri

dan berlawanan arah. Pada umumnya setiap pekerjaan akan lebih mudah dan

cepat jika dikerjakan sekaligus oleh tangan kanan dan kiri. Lintasan pekerjaan

yang tidak teratur (tidak simetris) akan lebih cepat menimbulkan kelelahan,

kadang menimbulkan pekerjaan mental dan fisik yang lebih berat.

33
5. Sebaiknya para pekerja dapat memanfaatkan momentum untuk membantu

pekerjaannya, hal ini timbul karena berkurangnya kerja otot dalam bekerja.

6. Gerakan yang patah–patah, banyak perubahan arah akan memperlambat

gerakan tersebut.

7. Gerakan balistik akan lebih cepat, menyenangkan dan lebih diteliti dari pada

gerakan yang [Link] balistik adalah gerakan yang bebas, dengan

demikian dapat menggunakan tenaga sepenuhnya. Misalnya pada waktu memukul

bola pada permainan kasti. Gerakan yang dikendalikan adalah gerakan yang

terjadi pada suatu pekerjaan dimana terdapat dua otot yang berlawanana kerjanya.

Misalnya pekerjaan menulis, dimana teradapat otot yang saling tahan yaitu jari

dan jempol.

8. Pekerjaan sebaiknya dirancang semudah–mudahnya dan jika

memungkinkan irama kerja harus mengikuti irama yang alamiah bagi si

[Link] dimaksud dengan irama yang sering diartikan pada kecepatan rata–

rata mengulang kembali gerakan misalnya irama melangkah kaki, irama

pernapasan mengikuti irama yang tertentu. Jadi irama dapat dikatan suatu

pengulangan yang teratur dari suatu siklus kerja oleh operator.

9. Usahakan sesedikit mungkin gerakan mata. Gerakan mata kadang – kadang

tidak dapat dihindarkan dari pekerjaan terutama bila pekerjaan baru menghadapi

jenis pekerjaan tersebut. Sering kali antara tangan dan mata terjadi koordinasi

dimana fungsi mata sebagai pengarah dari tangan. Rasa lelah yang dialami oleh

mata akan menjalar keseluruh badan dengan cepat.

34
c. Prinsip – Prinsip Ekonomi Gerakan dihubungkan dengan Pengaturan Tata

Letak Tempat Kerja

1. Sebaiknya diusahakan agar badan dan peralatan mempunyai tempat yang

tetap. Jika tempat badan dan peralatan sudah tepat, tangan pekerja akan secara

otomatis akan mengambilnya sehingga mencari yang merupakan pekerjaan mental

dapat dihilangkan.

2. Tempatkan bahan–bahan peralatan yang ditempat mudah, cepat dan enak

untuk dicapai. Setiap hal diatsa juga mempunyai keterbatasan dalam jarak

jangkauannya sehingga untuk pengaturan tata letak bahan dan peralatan harus

dipertimbangkan sebaik – baiknya. Daerah kerja normal adalah daerah di depan

pekerja yang dapat disapu oleh kedua tangan bagian depan dengan tidak

menggerakkan tangan lengan bagian atas. Daerah kerja maksimum adalah daerah

yang dapat dijangkau oleh tangan jika direntangkan secara penuh.

3. Tempat penyimpangan bahan yang akan dikerjakan memanfaatkan prinsip

gaya berat sehingga badan yang akan dipakai selalu tersedia ditempat yang dekat

untuk diambil.

4. Sebaiknya untuk menyalurkan obyek yang sudah selesai dirancang

mekanismenya yang baik.

5. Bahan–bahan dan peralatan sebaiknya ditempatkan sedemikian rupa

sehingga gerakan–gerakan dapat dilakukan dengan urutan–urutan terbaik.

6. Tinggi tempat kerja dan kursi sebaiknya sedemikian rupa sehingga alternatif

berdiri atas duduk dalam menghadapi pekerjaan merupakan suatu hal yang

menyenangkan.

35
7. Tipe tinggi kursis harus sedemikian rupa sehingga mendudukinya bersikap

(mempunyai postur) yang baik. Yang dimaksud dengan bersikap baik pada waktu

berdiri adalah sikap dimana kepala leher – dada dan perut berada di dalam

keseimbangan yang baik ke arah vertikal. Posisi ini memungkinkan organ – organ

tubuh seperti pernapasan, peredaran daerah, pencernaan dan lain–lain bekerja

dalam kondisi normal.

8. Tata letak peralatan dan pencahayaan sebaiknya diatur sedemikian rupa

sehingga dapat membentuk kondisi yang baik untuk penglihatan. Untuk

mencipakan kondisi yang baik untuk penglihatan adalah salah satu hal yang

pening untuk diperhatikan adalah tata letak peralatan dan tata penerangan yang

dipakai untuk menerangi ruang kerja. Karena hal ini menentukan arah datangnya

cahaya kepada obyek yang diperiksa. Pengaruh lain yang ditimbulkan oleh

pencahayaan adalah pada kejelasan obyek yang dilihat. Dalam penentuan

pencahayaan keamanan mata juga harus di perhatikan dengan baik untuk itu harus

dihindarkan arah pencahayaan yang langsung mengenai mata, tetapi usahakan

agar cahaya jatuh pada obyek dan pantulan dari obyek itulah yang ditangkap oleh

mata.

d. Prinsip - Prinsip Ekonomi Gerakan dihubungkan dengan Perancanan

Peralatan.

1. Sebaiknya tangan dapat dibebaskan dari semua pekerjaan bila penggunaan

dari perkakasa pembantu atau alat yang digerakkan dengan kaki ditingkatkan.

2. Sebaiknya peralatan dirancang sedemikian agar mempunyai lebih dari satu

kegunaan.

36
3. Peralatan sebaiknya dirancang sedemikian rupa sehingga memudahkan

dalam pemegangan dan penyimpanan. Pemegang dari suatu alat sebaiknya

dirancang dengan memperhatikan ukuran - ukuran dan kenyamanan dalam

pemegangnya. Perancangan juga harus di diatur demikian rupa sehingga alat –

alat tersebut dapat disimpan ditempat penyimpanan dan memungkinkan terjadi

untuk mengambil secara mudah bila dipakai dalam pekerjaan selanjutnya.

4. Bila setiap jari tangan melakukan gerakan sendiri – sendiri misalnya

pekerjaan mengetik. Beban yang didistribusikan pada jari harus disesuaikan

dengan kekuatan masing–masing jari. Kedua tangan yaitu tangan kiri dan kanan

biasanya mempunyai kekuatan yang berbeda. Tangan kanan lebih kuat dari pada

tangan kiri meskipun tipe pekerjaan hal ini dapat disamakan. Tidak demikian

dengan jari, sulit sekali untuk menyamakan kemampuan atau kekuatan dari tiap

jari, pada umumnya jari telunjuk danjari tengan merupakan jari terkuat diantara

jari – jarinya, sehingga penugasan pada setiap jari harus dipertimbangkan

sedemikian rupa sehingga beban yang diterima sesuai dengan perbandingan

kekuatan yang dimilikinya.

5. Roda tangan, palang dan peralatan yang sejenis dengan itu sebaiknya diatur

sedemikian sehingga beban dapat melayaninya dengan posisi yang baik, dan

dengan tenaga yang minimum. Yang dimaksud dengan jenis peralatan diatas

adalah peralatan yang sejenis dengan roda penggerak pada pintu air, kemudian

kemudi kapal laut, roda pembuka lemari es dan yang lainnya.

Faktor – faktor yang dapat memberi pengaruh pada kemudahan pelayanan

terhadap peralatan diatas adalah:

37
a. Posisi penempatan yang menentukan sikap pekerja yang melayaninya,

apakah dilakukan dengan cara duduk atau membungkuk.

b. Diameter, menentukan pada tenaga yang harus dikeluarkan oleh pekerja

untuk memutar alat tersebut.

c. Arah putar, menentukan pada besar kecilnya tenaga yang diperlukan. Hal ini

dipengaruhi oleh kekuatan tangan kanan dan tangan kiri yang berbeda serta

kekuatan untuk mendorong dan menarik yang juga berbeda.

38
39

BAB III
PENGUMPULAN DATA

3.1. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada pelaksanaan percobaan ini adalah :

1. Stop watch

2. Baut

3. Mur

4. Meteran

5. Wadah

6. Alat tulis

7. Formulir data pengamatan

8. Kamera

3.2. Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data yaitu dengan cara melakukan pengamatan dari

melakukan pengukuran operator dengan tempat peralatannya, menyiapkan catatan

dan stopwatch, setelah itu catat waktu setiap operator menyelesaiakan 1

pekerjaannya hingga mencapai 40 kali penyelesaian pekerjaan, ulangi cara

tersebut ke operator yang lain.

3.3. Data pengumpulan data

Dari pengamatan pada tanggal 18 desember 2016 maka di dapat data

pengamatan pada Tabel 3.1.1.

39
Tabel 3.1.1. Hasil pengamatan waktu operator
No. Operator 1 Operator 2 Operator 3 Operator 4
1 6,60 12,40 6,70 7,00
2 9,40 10,60 8,30 8,40
3 11,60 8,80 6,20 6,90
4 10,40 8,90 5,80 8,30
5 7,00 8,50 6,90 7,40
6 6,00 11,20 8,20 7,20
7 5,30 10,50 6,10 7,30
8 7,50 10,50 5,30 9,70
9 10,10 7,00 6,80 9,00
10 7,90 7,30 7,00 6,50
11 8,80 9,30 5,40 8,30
12 6,90 8,80 5,60 6.,40
13 8,30 7,50 4,40 7,60
14 6,30 10,30 5,20 8,70
15 6,20 6,90 5,10 6,50
16 8,90 9,50 6,50 6,20
17 6,70 10,00 6,40 7,10
18 7,60 7,20 6,00 7,10
19 4,90 7,90 11,40 5,20
20 5,30 8,70 6,00 7,30
21 6,20 13,20 6,00 6,20
22 5,40 7,80 6,40 9,20
23 6,20 7,60 5,70 11,10
24 10,80 8,20 5,00 5,50
25 7,40 8,10 5,30 7,30
26 8,40 6,60 4,70 5,50
27 8,20 7,10 6,50 5,60
28 5,90 7,60 4,40 6,50
29 7,20 6,50 5,60 9,00
30 6,30 8,00 4,10 7,00
31 8,60 7,10 7,70 6,60
32 7,90 10,50 5,30 6,40
33 8,30 7,80 5,70 5,80
34 7,20 7,90 5,80 6,10
35 5,70 8,60 7,20 5,60
36 7,40 5,60 6,30 7,10
37 6,80 10,10 5,00 5,50
38 7,60 6,50 7,20 8,20
39 8,40 8,00 5,00 6,50
40 7,00 6,90 7,30 7,80
∑ 298,60 341,50 245,50 286,60
Sumber: Data Pengamatan, 2016.
40
Tabel 3.1.1. merupakan waktu yang digunakan operator dalam

menyelesaikan pekerjaan nya. Dimana dapat dilihat ada perbedaan dari waktu

rata-rata dari ke 4 operator yaitu, operator 1 adalah 298,6, operator 2 adalah 341,5,

operator 3 adalah 245.5, operator 4 adalah 286.6.

41
42

BAB IV
PENGUMPULAN DATA

4.1. Layout Perakitan

Bentuk pola (layout) untuk pengamatan yang dilakukan seperti gambar

4.1.1.

2 C
A B

4
1 3 O

Gambar 4.1.1. Gambar layout


Sumber: Pengumpulan Data, 2016

Keterangan :

JP = Jarak peralatan kerja

A = Wadah berisi baut

B = Wadah berisi mur

C = Wadah berisi hasil dari baut dan mur yang di kunci

Dari hasil pengaturan layout pada setiap operator maka di dapat ukuran

jarak operator dengan peralatan kerja yang di tampilkan pada Tabel 4.1.1.

Tabel 4.1.1. Ukuran jarak operator dengan peralatan pekerjaan


Rendy Prihadi Joko
[Link] Nst Alwin Sudradjat
Syahputra Protomo
JP-3 18 11 10 7
JP-2 44 35 34 33
JP-1 60 57 54 55
JP-4 40 40 40 40
Sumber: Data Pratikum, 2016
42
Tabel 4.1.1. dapat lihat hasil pengukuran layout perakitan kerja yang

disesuaikan dengan kondisi kenyamanan operator pada saat bekerja.

4.2. Uraian gerakan

1. Mencari (search) mencari peralatan yang akan di kerjakan menggunakan

mata.

2. Memilih (select) untuk menemukan lokasi mur dan baut

3. Menjangkau (reach) menjangkau baut dan mur menggunakan tangan kanan

dan tangan kiri.

4. Memegang (grasp) memegang baut dan mur menggunakan tangan kanan

dan kiri

5. Perakitan (assemble) merakit baut dan mur hingga mur masuk ke dalam

baut sesuai dengan kebutuhan.

6. Mengarahkan (position) baut dan mur yang sudah di rakit di arahkan ke

tempat yg disediakan untuk material yang selesai.

7. Melepas (release) melepas baut dan mur yang selesai dari tangan.

Lakukan semua gerakan tersebut sampai 40 kali pekerjaan untuk

kebutuhanan pengamatan.

43
4.3. Pengukuran Pendahuluan

1. Pengolahan Data Pada Operator 1

a. Pembuatan tabel subgrup operator 1

Untuk membuat subgrup pada operator 2, kita dapat melihat Tabel 3.1.1

data pengamatan dan Tabel 4.1.2. merupakan hasil pengolahan data pengamatan

menjadi subgrup.

Tabel 4.1.2. Subrup pengamatan pada operator 1


Sub
Harga
Group Waktu Penyelesaian Berturut - turut
Rata-Rata
Ke
1 6,60 9,40 11,60 10,40 7,00 9,00
2 6,00 5,30 7,50 10,10 7,90 7,36
3 8,80 6,90 8,30 6,30 6,20 7,30
4 8,90 6,70 7,60 4,90 5,30 6,68
5 6,20 5,40 6,20 10,80 7,40 7,20
6 8,40 8,20 5,90 7,20 6,30 7,20
7 8,60 7,90 8,30 7,20 5,70 7,54
8 7,40 6,80 7,60 8,40 7,00 7,44
Jumlah 59,72
Sumber: Pengolahan data, 2017.

Dari Tabel 4.1.2. maka di peroleh subgrup pengamatan yang berisi 5 subrup

dan 8 baris subgrup, Selanjut nya mencari nilai BKA, BKB dan N’.

b. Hitung rata-rata dengan menggunakan Rumus 2.1.1.

59,72
=7,46
8
c. Menghitung Standar deviasi menggunakan Rumus 2.1.2.

(6,6-7,46)2 +…….+(7-7,46)2 94,88


σ=√ =√ =1,54
40 40

d. Untuk mencari standar deviasi dapat menggunakan Rumus 2.1.3.


44
1,54
𝜎𝑥̅ = = 0,69
2,28

2. Pengolahan pada operator 2

a. Pembuatan tabel subrup data operator 2

Untuk membuat subgrup pada operator 2, kita dapat melihat Tabel 3.1.1

data pengamatan dan Tabel 4.1.3. merupakan hasil pengolahan data pengamatan

menjadi subgrup.

Tabel 4.1.3. Subrup pengamatan pada operator 2


Harga Rata-
SubGroup Ke Waktu Penyelesaian Berturut - turut Rata
1 12,4 10,6 8,8 8,9 8,5 9,84
2 11,2 10,5 10,5 7,0 7,3 9,3
3 9,3 8,8 7,5 10,3 6,9 8,56
4 9,5 10,0 7,2 7,9 8,7 8,66
5 13,2 7,8 7,6 8,2 8,1 8,98
6 6,6 7,1 7,6 6,5 8,0 7,16
7 7,1 10,5 7,8 7,9 8,6 8,38
8 5,6 10,1 6,5 8,0 6,9 7,42
Jumlah 68,30
Sumber: Hasil pengolahan data, 2017.

Dari Tabel 4.1.3. maka di peroleh subgrup pengamatan yang berisi 5

subrup dan 8 baris subgrup. Selanjut nya akan mencari BKA, BKB dan N’.

b. Menghitung Rata-Rata menggunakan Rumus 2.1.1.

∑ xi 68,30
̿=
X = =8,54
k 8

c. Menghitung Standar Deviasi menggunakan Rumus 2.1.2.

45
(12,4 - 8,54)2 + ……+(6,9-8,54)2
σ =√
40

110,553
σ=√ = 1,66
40

d. Hitung standar deviasi distribusi menggunakan Rumus 2.1.3.

𝜎 1,68
𝜎𝑥̅ = = = 0,74
√𝑛 √5

3. Pengolahan pada operator 3

a. Pembuatan Tabel Pada Subgrup

Untuk membuat subgrup pada operator 2, kita dapat melihat Tabel 3.1.1.

data pengamatan dan Tabel 4.1.4. merupakan hasil pengolahan data pengamatan

menjadi subgrup.

Tabel 4.1.4. Subgrup pengamatan pada operator 3


Sub Harga
Waktu Penyelesaian Berturut - turut
Group Ke Rata-Rata
1 6,708,30 6,20 5,80 6,90 6,78
2 8,206,10 5,30 6,80 7,00 6,68
3 5,405,60 4,40 5,20 5,10 5,14
4 6,506,40 6,00 11,40 6,00 7,26
5 6,006,40 5,70 5,00 5,30 5,68
6 4,706,50 4,40 5,60 4,10 5,06
7 7,705,30 5,70 5,80 7,20 6,34
8 6,305,00 7,20 5,00 7,30 6,16
Jumlah 49,10
Sumber: Pengolahan data, 2017.

Dari Tabel 4.1.4. maka di peroleh subgrup pengamatan yang berisi 5 subrup

dan 8 baris subgrup. Selanjut nya akan mencari BKA, BKB dan N’.

b. Menghitung Rata-Rata menggunakan Rumus 2.1.1.

46
∑ xi 49,1
̿=
X = =6,13
k 8

c. Menghitung Standar Deviasi menggunakan Rumus 2.1.2.

2

̿̿̿
∑ (Xj-X) (6,7-6,13)2 + ……+(7,3-6,13)2
σ= =√
N 40

67,192
σ=√ =1,29
40

d. Hitung standar deviasi distribusi menggunakan Rumus 2.1.3.

σ 1,29
σx̅ = = =0,57
√n √8

4. Pengolahan pada operator 4

a. Pembuatan tabel sub grup pada operator 4

Untuk membuat subgrup pada operator 4, kita dapat melihat Tabel 3.1.1

data pengamatan dan Tabel 4.1.5. merupakan hasil pengolahan data pengamatan

menjadi subgrup.

Tabel 4.1.5. Subgrup pengamatan pada operator 4


Sub Harga
Waktu Penyelesaian Berturut - turut Rata-
Group Ke
Rata
1 8,4 7 6,9 8,3 7,4 7,6
2 7,2
7,3 9,7 9 6,5 7,94
3 8,3
6,4 7,6 8,7 6,5 7,5
4 6,2
7,1 7,1 5,2 7,3 6,58
5 6,2
9,2 11,1 5,5 7,3 7,86
6 5,5
5,6 6,5 9 7 6,72
7 6,6
6,4 5,8 6.1 5,6 6,1
8 7,1
5,5 8,2 6,5 7,8 7,02
Jumlah 57,32
Sumber: Pengolahan data, 2017.

47
Dari Tabel 4.1.5. maka di peroleh subgrup pengamatan yang berisi 5

subrup dan 8 baris subgrup. Selanjutnya untuk mencari BKA, BKB dan N’.

b. Menghitung Rata-Rata dengan menggunakan Rumus 2.1.1.

∑ xi 57,32
̿=
X = =7,16
k 8

c. Menghitung Standar Deviasi menggunakan Rumus 2.1.2.

2

̿̿̿
∑ (Xj-X) (7-7,16)2 + ……+(7,8-7,16)2
σ= =√ = 1,28
N 40

d. Hitung standar deviasi distribusi menggunakan Rumus 2.1.3.

σ 1,28
σx̅ = = =0,57
√n √8

4.4. Uji Tingkat Ketelitian dan Keyakinan Data

Tingkat ketelitian dan keyakinan adalah pencerminan tingkat kepastian yang

diinginkan oleh pengukur setelah memutuskan tidak akan melakukan pengukuran

yang sangat banyak. Tingkat ketelitianmenunjukkan penyimpangan maksimum

hasil pengukuran dari waktu penyelesaian [Link] ini biasanya dinyatakan

dalam persen (dari waktu penyelesaian sebenarnya, yang seharusnya

dicari).Sedangkan tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan pengukur,

bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi dan dinyatakan dalam

persen. Jadi tingkat untuk keempat operator tersebut kami mengambil ketelitian

10% dan tingkat keyakinan 95% memberi arti bahwa pengukur memperoleh rata-

rata hasil pengukurannya menyimpang sejauh 10% dari rata-rata sebenarnya, dan

kemungkinan hasil mendapatkan hal ini adalah 95%.

48
4.5. Uji Kesergaman Data

Untuk uji keserangaman data untuk setiap operator akan dijelaskan dibawah

ini. Setelah itu kita akan menentukan batas kontrol atas (BKA) dan batas kontrol

bawah (BKB) dari data diatas dengan tingkat ketelitian 5% dan tingkat keyakinan

95% dikarenakan harga rata-rata pengukuran yang didapat terletak pada interval

harga rata-rata yang sebenarnya dikurangi 10% dari rata-rata ini, dan harga rata-

rata sebenarnya ditambah 10% dari rata-rata ini.

1. Pengolahan data operator 1

a. Untuk keseragaman data operator 1 dapat berdasarkan Rumus 2.1.4 dan

Rumus 2.1.5.

̿ + 2𝜎𝑥̅ =7,46+2(0,54)= 8,54


BKA= X

̿ + 2𝜎𝑥̅ =7,46-2(0,54)= 6,38


BKB= X

b. Menghitung N’

Jumlah pengamatan yang diperlukan dengan keyakinan 95% dan tingkat

ketelitian 10%, dengan menggunakan Rumus 2.1.6.


2
20√40(2323,92) − 89161,96
N′ = ( )
298,60

2
20√92.920 − 89161,96

N = ( )
298,60

1226,05 2
N' = ( ) =(4,12)2 =17,02
298,60

N’ = 17,02

49
Kesimpulan:

N’ < N = 17,02 < 40, maka data pengamatan cukup dan tidak perlu melakukan

pengamatan ulang.

2. Pengolahan data operator 2

a. Menghitung BKA dan BKB menggunakan Rumus 2.1.4 dan Rumus 2.1.5.

̿ + 2σX
BKA= X ̅ = 8,54+2(0,74) = 10,02

̿ + 2σX
BKB= X ̅ = 8,54 - 2(0,74) = 7,06

Dengan asumsi bahwa semua data telah masuk dalam batas kontrol.

b. Mencari nilai N’

Jumlah pengamatan yang diperlukan dengan keyakinan 95% dan tingkat

ketelitian 10%, menggunakan Rumus 2.1.6.


2
20√40(3026,09) − (341,50)2
N"= ( )
341,50

2
20√121043,6 − 116622,3
'
N =( )
341,50

1329,8 2
N= ( ) =(3,89)2 =14,18
341,50
N’ = 15,13

Kesimpulan :

N’ < N = 15,13 < 40, maka data pengamatan cukup.

50
3. Pengolahan data operator 3

a. Untuk keseragaman data operator 3 dapat berdasarkan Rumus 2.1.4 dan

Rumus 2.1.5.

̿ + 2σX
BKA= X ̅ = 6,13 + 2(0,57) = 7,27

̿ + 2σX
BKB= X ̅ = 6,13 - 2 (0,57) = 4,99

b. Mencari nilai N’

Jumlah pengamatan yang diperlukan dengan keyakinan 95% dan tingkat

ketelitian 10%, dengan menggunakan Rumus 2.1.6. untuk mencari N’.


2
k/s√∑ xi2 -( ∑ xi )2
'
N=( )
∑ xi

2
20√40(1573,93) − 245,52
N' = ( )
245,50

2
20√62957,2 − 60270,25
N'= ( )
245,50

1349,238 2
N' = ( ) = (4,22)2 =17,83
245,50

N’ = 17,83

Kesimpulan :

N’ < N = 17,83 < 40, maka data pengamatan cukup, tidak perlu melakukan

pengamatan ulang.

4. Pengolahan data operator 4

a. Menghitung BKA dan BKB menggunakan Rumus 2.1.4. dan Rumus 2.1.5.

̿ + 2σX
BKA= X ̅ =7,16+2(0,57)=8,23

51
̿ + 2σX
BKB= X ̅ =7,16-2(0,57)= 6,02

b. Mencari nilai N’

Jumlah pengamatan yang diperlukan dengan keyakinan 95% dan tingkat

ketelitian 10%, mencari N’ dengan menggunakan Rumus 2.1.6.


2
𝑘/𝑠√∑ 𝑥𝑖 2 − (∑ 𝑥𝑖)2
'
N=( )
∑ 𝑥𝑖

2
20√40(2119,84) − 286,62
N' = ( )
286,60

2
20√84793, −82139,56
N' = ( )
286,60

1030,3 2
N' = ( ) =(3,59)2 =12,92
286,60

N’ = 12,92

Kesimpulan :

N’ < N = 12,92 < 40, maka data pengamatan cukup maka tidak perlu

melakukan pengamatan ulang.

4.6. Menghitung Waktu Baku (WB)

1. Perhitungan waktu baku pada operator 1

a. Waktu Siklus (WS)

Gunakan Rumus 2.1.7. untuk mencari waktu siklus:

298,6
Ws= =7,46
40

b. Waktu Normal (WN)


52
Dalam faktor penyesuaian kami mengambil data menurut Westinghouse

dengan rincian data sebagai berikut:

1. Keterampilan atau skill merupakan kemampuan mengikuti cara kerja kerja

yang ditetapkan. Latihan dapat meningkatkan keterampilan, tetapi hanya sampai

ketingkat tertentu saja yaitu tingkat yang merupakan kemampuan maksimal yang

dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Untuk operator 1 yang dilakukan oleh

syahril memiliki ciri-ciri pada kelas Avarage skill dengan lambang D yang

memiliki ciri-ciri:

a. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri.

b. Gerakan-gerakannya tidak cepat tetapi tidak lambat.

c. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan perencanaan.

d. Tampak sebagai pekerja yang cakap.

e. Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tiadanya keragu-raguan.

f. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik.

g. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaannya.

h. Bekerjanya cukup teliti.

i. Secara keseluruhan cukup memuaskan.

2. Usaha atau effort adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau yang diberikan

operator ketika melakukan pekerjaannya. Untuk faktor ini operator 1 termasuk

dalam kelas Average effort dengan lambang D yang meiliki ciri-ciri:

a. Tidak sebaik good, tapi lenih baik dari poor.

b. Bekerja dengan stabil.

c. Menerima saran-saran tapi tidak melaksanakannya.

53
d. Set up dilaksanakan dengan baik.

e. Melakukan kegiatan-kegiatan perancanaan.

c. Kondisi kerja merupakan kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan

pencahayaan, suhu, dan kebisingan ruangan. Pada faktor ini operator 1 merasakan

kondisi kerja Good dengan lambang C.

d. Konsitensi merupakan faktor yang harus diperhatikan karena pada setiap

pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama, waktu

penyelesaian yang ditunjukan pekerja selalu berubah-ubah dari satu siklus ke

siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari kehari. Pada faktor ini operator 1

termasuk pada kelas Good dengan lambang C.

Keterampilan : Avarage(D) = 0,00

Usaha : Average (D) = 0,00

Kondisi : Good (C) = + 0,02

Konsintensi : Good (C) = + 0,01

Jumlah : + 0,03

Jadi p = (1 + 0,03) atau p = 1,03 sehingga waktu normalnya adalah sebagai

berikut, untuk mencari waktu normal gunakan Rumus 2.1.8.

RF = ( 1 + 0,03 ) = 1,03

Wn = 7,46 x 1,03 = 7,68 detik

c. Waktu Baku (WB)

Diketahui kelonggaran ( All )

1. operator pria = 2,5%

2. Tenaga yang dikeluarkan sangat ringan = 6.5%

54
3. Sikap kerja operator = Berdiri diatas dua kaki = 1.5%

Berdasarkan pada posisi tubuh dalam melakukan pekerjaan

4. Gerakan kerja : Normal = 0.0%

Berdasar pada arah gerakan kerja seorang operator

5. Kelelahan mata, Pandangan yang hampir terus menurus = 6.0%

Berdasar pada penggunaan mata yang dapat menyebabkan kelelahan mata

6. Keadaan temperatur tempat kerja & kelembaban : Normal = 5.0%

Berdasar pada suhu dan kelembapan lingkungan kerja

7. Keadaan atmosfer : Baik = 0.0%

Berdasar pada keadaan ventilasi udara

8. Keadaan lingkungan yang baik : bersih, sehat, cerah dengan

kebisingan rendah = 0.0%

berdasar pada situasi lingkungan kerja = 21,5%

Gunakan rumus 2.1.9. untuk mencari waktu baku operator.

WB = 7,68 (1+ 21,5% ) = 9,33 detik

Dari data di atas maka di peroleh waktu baku untuk operator 1 dalam

menyelesaikan pekerjaannya yaitu 9,33 detik.

2. Perhitungan waktu baku pada operator 2

a. Waktu Siklus (WS)

Menggunakan Rumus 2.1.7. untuk mencari waktu siklus operator.

341,5
Ws= = 8,54
40

55
b. Waktu Normal (WN)

Dalam faktor penyesuaian kami mengambil data menurut Westinghouse

dengan rincian data sebagai berikut:

1. Keterampilan atau skill merupakan kemampuan mengikuti cara kerja kerja

yang ditetapkan. Latihan dapat meningkatkan keterampilan, tetapi hanya sampai

ketingkat tertentu saja yaitu tingkat yang merupakan kemampuan maksimal yang

dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Untuk operator 2 yang dilakukan oleh

rendy syahputra memiliki ciri-ciri pada kelas Avarage skill dengan lambang D

yang memiliki ciri-ciri:

a. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri.

b. Gerakan-gerakannya tidak cepat tetapi tidak lambat.

c. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan perencanaan.

d. Tampak sebagai pekerja yang cakap.

e. Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tiadanya keragu-raguan.

f. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik.

g. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaannya.

h. Bekerjanya cukup teliti.

i. Secara keseluruhan cukup memuaskan.

j. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakannya.

2. Usaha atau effort adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau yang diberikan

operator ketika melakukan pekerjaannya. Untuk faktor ini operator 2 termasuk

dalam kelas Good effort dengan lambang E1 yang memiliki ciri-ciri:

56
a. Bekerja berirama.

b. Saat-saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang-kadang tidak ada.

c. Penuh perhatian pada pekerjaannya.

d. Senang pada pekerjaannya.

e. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari.

f. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu.

g. Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan senang.

h. Dapat memberi saran-saran untuk perbaikan kerja.

i. Tempat kerjanya diatur baik dan rapih.

j. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik.

k. Memelihara dengan baik kondisi peralatan.

3. Kondisi kerja merupakan kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan

pencahayaan, suhu, dan kebisingan ruangan. Pada faktor ini operator 2

merasakan kondisi kerja Good dengan lambang C.

4. Konsitensi merupakan faktor yang harus diperhatikan karena pada setiap

pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama,

waktu penyelesaian yang ditunjukan pekerja selalu berubah-ubah dari satu

siklus ke siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari kehari. Pada

faktor ini operator 2 termasuk pada kelas avarage dengan lambang D.

Keterampilan : Avarage (D) = 0,00

Usaha : Good (C1) = +0,05

Kondisi : Good (C) = +0,02

Konsintensi : Avarage (D) = 0,00

57
Jumlah : +0,07

Jadi p = (1 + 0,07) atau p = 1,07 sehingga waktu normalnya adalah sebagai

berikut dengan menggunakan Rumus 2.1.8 untuk mencari waktu normal pada

operator.

RF = ( 1 + 0,07 ) = 1,07

Wn = 8,54 x 1,07 = 9,14 detik

c. Waktu baku (WB)

Diketahui kelonggaran ( All )

1. operator pria = 2.5%

2. Tenaga yang dikeluarkan sangat ringan = 6.5%

3. Sikap kerja operator = Berdiri diatas dua kaki = 1.5%

Berdasar pada posisi tubuh dalam melakukan pekerjaan

4. Gerakan kerja : Normal = 0.0%

Berdasar pada arah gerakan kerja seorang operator

5. Kelelahan mata, Pandangan yang hampir terus menurus = 6.5%

Berdasar pada penggunaan mata yang dapat menyebabkan kelelahan mata

6. Keadaan temperatur tempat kerja & kelembaban : Normal = 5.0%

Berdasar pada suhu dan kelembapan lingkungan kerja

7. Keadaan atmosfer : Baik = 0.0%

Berdasar pada keadaan ventilasi udara

8. Keadaan lingkungan yang baik : bersih, sehat, cerah dengan

kebisingan rendah = 0.0%

berdasar pada situasi lingkungan kerja = 22 %

58
Untuk mencari waktu baku pada operator maka dapat menggunakan Rumus

2.1.9.

WB = 9,14 (1+ 22 % ) = 11,15 detik

Dari data perhitungan maka di peroleh waktu baku untuk operator 2 dalam
menyelesaikan pekerjaannya yaitu 11,15 detik.

3. perhitungan waktu baku pada operator 3

a. Waktu Siklus (WS)

Untuk mencari waktu baku pada operator dapat menggunakan rumus 2.1.7.

245,5
Ws= = 6,13
40

b. Waktu Normal (WN)

Dalam faktor penyesuaian kami mengambil data menurut Westinghouse

dengan rincian data sebagai berikut:

1. Keterampilan atau skill merupakan kemampuan mengikuti cara kerja kerja

yang ditetapkan. Latihan dapat meningkatkan keterampilan, tetapi hanya sampai

ketingkat tertentu saja yaitu tingkat yang merupakan kemampuan maksimal yang

dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Untuk operator 3 yang dilakukan oleh

alwin sudradjat memiliki ciri-ciri pada kelas Good skill dengan lambang B2 yang

memiliki ciri-ciri:

a. Percaya pada diri sendiri.

b. Tampak cocok dengan pekerjaannya.

c. Terlihat telah terlatih baik.

d. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran-pengukuran

atau pemeriksaan lagi.


59
e. Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutanurutannya dijalankan tanpa

kesalahan.

f. Menggunakan peralatan dengan baik.

g. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu.

h. Bekerjanya cepat tetapi halus.

i. Bekerja berirama dan terkoordinasi.

2. Usaha atau effort adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau yang diberikan

operator ketika melakukan pekerjaannya. Untuk faktor ini operator 3 termasuk

dalam kelas Average effort dengan lambang C yang memiliki ciri-ciri:

a. Bekerja berirama.

b. Saat-saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang-kadang tidak ada.

c. Penuh perhatian pada pekerjaannya.

d. Senang pada pekerjaannya.

e. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari.

f. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu.

g. Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan senang.

h. Dapat memberi saran-saran untuk perbaikan kerja.

i. Tempat kerjanya diatur baik dan rapih.

j. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik.

k. Memelihara dengan baik kondisi peralatan.

3. Kondisi kerja merupakan kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan

pencahayaan, suhu, dan kebisingan ruangan. Pada faktor ini operator 3 merasakan

kondisi kerja Good dengan lambang C.

60
4. Konsitensi merupakan faktor yang harus diperhatikan karena pada setiap

pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama, waktu

penyelesaian yang ditunjukan pekerja selalu berubah-ubah dari satu siklus ke

siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari kehari. Pada faktor ini operator 3

termasuk pada kelas Good dengan lambang C.

Keterampilan : Excellent (B2) = +0,08

Usaha : Good (C1) = +0,05

Kondisi : Good (C) = +0,02

Konsintensi : Good (C) = +0,01

Jumlah : +0,16

Jadi p = (1 + 0,16) atau p = 1,06 sehingga waktu normalnya adalah sebagai

berikut dengan menggunakan Rumus 2.1.8.

RF = ( 1 + 0,06 ) = 1,16

Wn = 6,13 x 1,16 = 7,11 detik

c. Waktu Baku (WB)

Diketahui kelonggaran ( All )

1. operator pria = 2.5%

2. Tenaga yang dikeluarkan sangat ringan = 6.5%

3. Sikap kerja operator = Berdiri diatas dua kaki = 1.5%

Berdasarkan pada posisi tubuh dalam melakukan pekerjaan

4. Gerakan kerja : Normal = 0.0%

Berdasarkan pada arah gerakan kerja seorang operator

5. Kelelahan mata, Pandangan yang hampir terus menurus = 6.5%

61
Berdasar pada penggunaan mata yang dapat menyebabkan kelelahan mata

6. Keadaan temperatur tempat kerja & kelembaban : Normal = 5.0%

Berdasar pada suhu dan kelembapan lingkungan kerja

7. Keadaan atmosfer : Baik = 0.0%

Berdasar pada keadaan ventilasi udara

8. Keadaan lingkungan yang baik : bersih, sehat, cerah dengan

kebisingan rendah = 0.0%

berdasar pada situasi lingkungan kerja = 21,5%

Untuk mencari waktu baku pada operator dapat menggunakan Rumus 2.1.9.

WB = 7,11 (1+ 22% ) = 8,63 detik.

Dari perhitungan untuk mencari waktu baku pada operator 3, maka

didapatkan waktu baku untuk bekerja pada operator 3 adalah 8,63 detik.

4. Perhitungan waktu baku pada operator 4

Perhitungan waktu baku pada operator 4 adalah sebagai berikut:

a. Waktu Siklus (WS)

Mencari waktu siklus menggunakan Rumus 2.1.7.

286,3
Ws= = 7,16
40

b. Waktu Normal (WN)

Dalam faktor penyesuaian kami mengambil data menurut Westinghouse

dengan rincian data sebagai berikut:

1. Keterampilan atau skill merupakan kemampuan mengikuti cara kerja kerja

yang ditetapkan. Latihan dapat meningkatkan keterampilan, tetapi hanya sampai

62
ketingkat tertentu saja yaitu tingkat yang merupakan kemampuan maksimal yang

dapat diberikan pekerja yang bersangkutan. Untuk operator 4 yang dilakukan oleh

prihadi joko memiliki ciri-ciri pada kelas Fair skill dengan lambang C1 yang

memiliki ciri-ciri:

a. Kualitas hasil baik.

b. Bekerjanya tampak lebih baik daripada kebanyakan pekerja umumnya.

c. Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerja lain yang keterampilannya

lebih rendah.

d. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap.

e. Tidak memerlukan banyak pengawasan.

f. Tiada keragu-raguan.

g. Bekerjanya "stabil".

h. Gerakan-gerakannya terkoordinasi dengan baik.

i. Gerakan-gerakannya cepat.

2. Usaha atau effort adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau yang diberikan

operator ketika melakukan pekerjaannya. Untuk faktor ini operator 4 termasuk

dalam kelas Average effort dengan lambang C1 yang meiliki ciri-ciri:

a. Bekerja berirama.

b. Saat-saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang-kadang tidak ada.

c. Penuh perhatian pada pekerjaannya.

d. Senang pada pekerjaannya.

e. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari.

f. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu.

63
g. Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan senang.

h. Dapat memberi saran-saran untuk perbaikan kerja.

i. Tempat kerjanya diatur baik dan rapih.

j. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik.

k. Memelihara dengan baik kondisi peralatan.

3. Kondisi kerja merupakan kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan

pencahayaan, suhu, dan kebisingan ruangan. Pada faktor ini operator 4 merasakan

kondisi kerja Good dengan lambang C.

4. Konsitensi merupakan faktor yang harus diperhatikan karena pada setiap

pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama, waktu

penyelesaian yang ditunjukan pekerja selalu berubah-ubah dari satu siklus ke

siklus lainnya, dari jam ke jam, bahkan dari hari kehari. Pada paktor ini operator 1

termasuk pada kelas Good dengan lambang B.

Keterampilan : Good (C1) = +0,06

Usaha : Good (C1) = +0,05

Kondisi : Good (C) = +0,02

Konsintensi : Excellent (B) = +0,03

Jumlah : +0,16

Jadi p = (1 + 0,16) atau p = 1,16 sehingga waktu normalnya adalah sebagai

berikut dapat menggunakan rumus 2.1.8.

Wn = 7,16 x 1,16 = 8,3 detik

c. Waktu Baku (WB)

Diketahui kelonggaran ( All )

64
1. operator pria = 2.5%

2. Tenaga yang dikeluarkan sangat ringan = 6.5%

3. Sikap kerja operator = Berdiri diatas dua kaki = 1.5%

Berdasar pada posisi tubuh dalam melakukan pekerjaan

4. Gerakan kerja : Normal = 0.0%

Berdasar pada arah gerakan kerja seorang operator

5. Kelelahan mata, Pandangan yang hampir terus menurus = 6.0%

Berdasar pada penggunaan mata yang dapat menyebabkan kelelahan mata

6. Keadaan temperatur tempat kerja & kelembaban : Normal = 5.0%

Berdasarkan pada suhu dan kelembapan lingkungan kerja

7. Keadaan atmosfer : Baik = 0.0%

Berdasarkan pada keadaan ventilasi udara

8. Keadaan lingkungan yang baik : bersih, sehat, cerah dengan

kebisingan rendah = 0.0%

berdasarkan pada situasi lingkungan kerja = 21,5%

Untuk mencari waktu baku dapat menggunakan Rumus 2.1.9.

WB = WN(1 + All)

WB = 8,3 (1+ 21,5% ) = 10,09 detik

Dari hasil perhitungan diatas maka didapatkan hasil perhitungan pada

operator 4 adalah 10,09 detik.

65
4.7. Analisa Dan Evaluasi

Analisa terhadap percobaan dilakukan untuk mengevaluasi variasi waktu

rata-rata, waktu baku. Adapun berikut ini adalah waktu rata-rata dan waktu baku

dari ke 4 operator yang akan di tunjukan pada Tabel 4.1.6.

Tabel 4.1.6. Hasil analisa untuk 4 sampel.


No. Operator 1 Operator 2 Operator 3 Operator 4
̿
X 7,46 8,54 6,13 7,16
Wn 7,68 9,14 7,11 8,30
Waktu baku 9,33 11,15 8,63 10,09
Sumber: Pengolahan data, 2017

Dari Tabel 4.1.6. maka dapat dilihat perbedaaan pada waktu rata-rata

ataupun kesemua operator, waktu normal dan waktu baku semua operator, dimana

perbedaan selisih waktu seluruh operator mencapai waktu, dari analisa waktu

kerja operator didapatkan waktu kerja pada operator 3 lebih cepat dibandingkan

ke 3 operator lainnya, sedangkan waktu kerja lama adalah operator 2. Namun

waktu bekerja setiap operator tersebut tidak bisa di tetapkan dan juga terdapat

waktu yang tidak konsisten pada saat semua operator bekerja karena itu untuk

memperbaiki waktu tersebut, maka harus dilakukan pelatihan-pelatihan untuk

mendapatkan nilai waktu yang lebih konsisten.

66
67

BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil pengolahan data yang dilakukan, maka didapatkan kesimpulan

waktu kerja untuk semua operator:

1. Waktu rata-rata operator 1 adalah 7,46, waktu normal adalah 7,68, dan

waktu baku adalah 9,33.

2. Waktu rata-rata operator 2 adalah 8,54, waktu normal adalah 9,14, dan

waktu baku adalah 11,15

3. Waktu rata-rata operator 3 adalah 6,13, waktu normal adalah 7,11, dan

waktu baku adalah 8,63.

4. Waktu rata-rata operator 4 adalah 7,16, waktu normal adalah 8,30 dan

waktu baku adalah 10,09

Waktu kerja terbaik dapat diperoleh dengan menghilangkan atau


mengurangi gerakan–gerakan yang tidak efektif yang dapat memperlambat
terselesaikannya pekerjaan dan keefektifan bekerja juga dapat dilakukan dengan
penataan layout yang baik, rating faktor sangat mempengaruhi waktu normal
seorang pekerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
5.2. Saran

Untuk mendapatkan waktu terbaik operator dalam menyelesaikan suatu


pekerjaan maka di perlukan pelatihan terus-menerus terhadap pekerjaan yang
dilakukannya, dan untuk menjaga terjadinya kesalahan dalam data sebaiknya
pratikan membuat asumsi awal pada tahap pengamatan waktu kerja agar dalam
pengolahan data tidak ditemukan waktu diluar batas kontrol.

67
68

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Mengukur aktifitas kerja manusia adalah mengukur tenaga yang besarnya

tenaga kerja yang dibutuhkan oleh seorang pekerja untuk melaksanakan

pekerjaannya. Tenaga yang dikeluarkan tersebut biasanya diukur dalam satuan

kilokalori. Secara umum kriteria pengukuran aktifitas kerja manusia dapat dibagi

dalam dua kelas utama yaitu : kriteria fisiologis dan kriteria operasional. Kriteria

fisiologis dari kegiatan manusia biasanya ditentukan berdasarkan kecepatan

denyut jantung dan pernafasan.

Pelaksanaan percobaan tanpa menggunakan alat seperti ergocycle,

melainkan menggunakan fisik atau sprint dengan mengukur kecepatan jantung

saat beraktivitas dan istirahat serta lamanya waktu pemulihan yang diperlukan

untuk melakukan pergerakan lagi.

1.2. Tujuan Pratikum

Penulisan laporan akhir ini memiliki beberapa tujuan. Adapun tujuan dari

penulisan laporan akhir ini sebagai berikut:

1. Mengetahui pengeluaran energi dan konsumsi oksigen yang dibutuhkan

ketika operator bekerja dan istirahat dalam bersepeda statis.

2. Mengetahui kecepatan rata-rata denyut jantung operator ketika bekerja dan

istirahat dalam bersepeda statis.

68
1.3. Manfaat Pratikum

Adapun beberapa manfaat pratikum yang dilakukan sebagai berikut:

1. Pratikan dapat mengetahui kecepatan denyut jantung pada saat melakukan

aktivitas dan saat istirahat setelah melakukan aktivitas.

2. Praktikan dapat menganalisa kebutuhan oksigen pada saat beraktivitas dan

istirahat.

3. Pratikan dapat merancang siklus aktivitas yang tidak mengganggu denyut

jantung agar tetap normal dengan hasil kerja yang memuaskan.

4. Pratikan dapat membandingkan lamanya denyut jantung saat beraktivitas

dan saat istirahat lamanya waktu pemulihan yang diperlukan setelah

melakukan pergerakan.

69
70

BAB II
DASAR TEORI

2.1. Kemampuan Fisik dan Beban Kerja

Terlepas dari pesatnya kemajuan teknologi yang banyak membantu manusia

menyelesaikan pekerjaannya, sejumlah pekerjaan yang menuntut aktivitas fisik

masih dapat diamati di berbagai jenis sector industry, seperti manafuktur,

transportasi, pertanian, konstruksi, logistic, dan lain-lain. pekerjaan-pekerjaan ini

sering kali menuntut aktivitas fisik yang cukup berat dan melelahkan, terlebih lagi

didukung oleh lingkungan kerja yang kurang kondusif (misalnya panas, lembap,

bising, berdebu, dan sebagainya). Untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan seperti

itu, pekerja dituntut untuk memiliki kapasitas kerja fisik yang memadai atau dapat

juga dengan penerapan sejumlah teknik perancangan kerja, seperti penggunaan

alat bantu, perbaikan metode kerja, pengaturan waktu istirahat, dan lain-lain

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Sejumlah dampak buruk dapat terjadi saat beban fisik suatu pekerjaan telah

melampaui kapasitas fisiologis yang dimiliki pekerja. Dampak buruk ini secara

konseptual diartikan sebagai rendahnya energy yang dihasilkan melalui proses

metabolisme tubuh bila dibandingkan dengan energy yang dibutuhkan untuk

melakukan suatu aktivitas. Keadaan seperti ini secara kronik dapat mengakibatkan

terjadinya kelelahan berlebihan, yang bahkan mungkin tidak dapat diatasi dengan

pemberian istirahat saja (akumulasi kelelahan). Dalam jangka panjang, keadaan

ini dapat berpengaruh buruk pada kesehatan kerja, bahkan dapat memicu penyakit

70
lain yang berakhir dengan kematian, misalnya serangan jantung, atau kegagalan

fungsi-fungsi penting tubuh lainnya (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Beban kerja yang berlebihan juga dapat berakibat buruk pada kualitas dan

performansi kerja. Efek buruk ini, sebagai contoh, ditunjukkan Bridger et al.

(2008), yang dapat mencakup penurunan waktu reaksi, peningkatan kesalahan

dalam mengambil keputusan, penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi, serta

peningkatan potensi kecelakaan kerja. Jelas bahwa beban kerja secara fisologis

berlebihan akan berdampak pada kesehatan dan produktivitas kerja. Dalam

konteks ergonomi, tujuan yang ingin dicapai adalah memastikan bahwa sistem

kerja dirancang sedemikian rupa sehingga diperoleh produktivitas dan kualitas

kerja yang terbaik, yang dapat dicapai jika beban energy cost berada didalam

batas kemampuan fisik (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2.2. Mekanisme Terjadinya Energi untuk Kerja

Agar otot dapat berkonstraksi (melakukan kerja), diperlukan adanya energi.

Secara konseptual, energi diperoleh dari zat-zat gizi yang berasal dari makanan

(dan sebagian minuman) yang masuk kedalam tubuh. Zat-zat gizi ini melalui

proses metabolisme dikonversi menjadi energi yang siap digunakan oleh otot.

Oksigen akan membantu berlangsungnya proses metabolisme, dan menghasilkan

hasil sampingan berupa panas dan sisa-sisa metabolisme lainnya (CO2 danH2O)

yang akan dikeluarkan dari tubuh. Rangkaian proses ini dapat dianalogikan

sebagai kerja sebuah mesin mobil. Agar mesin dapat berjalan, dibutuhkan bensin

yang berfungsi sebagai zat gizi. Dengan adanya oksigen, tekanan, serta panas

diruang pembakaran, kemudian terjadi ledakan (proses metabolisme) yang


71
menggerakkan piston (otot), kemudian melalui proses mekanik (putaran roda gigi,

poros, roda dan sebagainya) dikonversi menjadi gerakkan mobil. Proses terakhir

ini mirip dengan kontraksi otot yang kemudian menggerakkan tubuh saat

melakukan kerja fisik. Untuk memahami proses-proses ini, perlu diketahui fungsi-

fungsi yang terkait dengan produksi energi didalam tubuh (Iridiastadi dan

Yassierli, 2014).

1. Sistem Pernapasan

Fungsi utama sistem pernapasan adalah untuk menyediakan oksigen bagi

tubuh dan mengeluarkan karbon dioksida, air, serta panas yang dibawa oleh darah.

Secara umum, pernapasan (respirasi) terdiri atas inspirasi (pemasukkan udara) dan

ekspirasi (pengeluaran udara). System ini memiliki hubungan yang erat dengan

sistem peredaran darah (sirkulatori) yang dikontrol dengan suatu mekanisme

tersendiri, misalnya CNS (Central Nervous System) atau sistem hormonal. Sistem

pernapasan dan sistem sirkulatori ini bersama-sama menjamin jumlah zat gizi dan

oksigen yang cukup untuk disuplai ke sel otak (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Pada saat pernapasan berlangsung, udara masuk melalui hidung yang

berfungsi untuk menyaring, melembabkan, dan menghangatkan udara yang masuk

ke dalam tubuh (Bridger et al., 2003). Udara yang masuk akan diteruskan melalui

tenggorokan menuju trachea, yang terbagi atas dua bronchi utama, dan

selanjutnya sampai ke paru-paru. Di dalam paru-paru terdapat jutaan alveoli, yaitu

kantong-kantong berukuran mikro yang bersentuhan dengan pembuluh darah

kapiler. Di tempat inilah terjadi pertukaran udara (oksigen dan karbon dioksida).

72
Berat atau ringannya aktivitas fisik akan menentukan volume udara yang

mengalami pertukaran di paru-paru (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Kapasitas paru-paru dapat dilihat dari indikator utama berupa volume yang

dapat berada pada paru-paru. Jumlah udara yang keluar dan masuk pada saat

bernapas normal disebut sebagai volume tidal. Volume udara ekstra pada saat

respirasi secara maksimal disebut sebagai kapasitas cadangan, dimana volume

udara tambahan diatas volume tidal yang dapat masuk ke paru-paru saat inspirasi

maksimum disebut volume cadangan inspirasi, dan volume udara yang masih

dapat dikeluarkan dengan kuat diakhir ekspirasi normal disebut volume cadangan

ekspirasi. Gabungan volume tidal, volume cadangan inspirasi, dan volume

cadangan ekspirasi ini dinamakan kapasitas vital. Setelah mengembuskan napas

dengan kuat, didalam paru-paru masih tersisa sejumlah volume udara yang

disebut sebagai volume residual. Jumlah dari kapasitas vital dan volume residual

merupakan kapasitas paru-paru total. Berbagai indeks yang terkait dengan

kapsitas paru-paru dapat diukur melalui penggunaan spirometer (Iridiastadi dan

Yassierli, 2014).

Kapasitas paru-paru seseorang umumnya berhubungan erat dengan sejumlah

faktor, seperti jenis kelamin, training, maupun ukuran tubuh. Sebagai contoh,

untuk seorang atlet pria dengan postur badan tinggi, kapasitas paru-paru total

dapat mencapai 7-8 liter, dengan kapasitas vitalsekitar 6 liter (Kroemer et al.,

2001). Wanita cenderung memiliki volume paru-paru yang lebih rendah (-10%)

dibandingkan pria. Dibandingkan dengan atlet, seseorang yang kurang terlatih

73
secar fisik setidaknya memiliki kapasitas paru-paru sebesar 60-80% kapasitas

yang dimiliki atlet (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Pada saat istirahat, frekuensi pernapasan berkisar antara 10 sampai dengan

20 kali/menit. Saat melakukan aktifitas fisik ringan, jumlah udara yang digunakan

untuk bernapas akan meningkat, terutama akibat kenaikan volume tidal. Untuk

kerja yang lebih berat, jumlah udara pernapasan akan meningkat akibat

peningkatan frekuensi pernapasan, yang dapat mencapai 45 kali/menit, disamping

adanya kenaikkan volume tidal pula. Jumlah total udara yang digunakan untuk

bernapas (minute volume) adalah perkalian antara frekuensi pernapasan dan

volume tidal saat mengeluarkan napas. Volume udara yang digunakan untuk

pernapasan saat beraktivitas dapat berkisar dari 5 liter/menit sampai dengan lebih

dari 100 liter/menit. Kenaikan volume pernapasan ini sejalan dengan peningkatan

kebutuhan oksigen walaupun peningkatannya tidak berjalan secara linear

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2. Sistem Kardiovaskular

Sistem peredaran darah memiliki fungsi utama sebagai pembawa oksigen

dari paru-paru serta berbagai zat gizi (dari makanan yang telah dicerna) untuk

diedarkan ke seluruh sel tubuh dimana proses metabolisme selanjutnya

berlangsung. Transportasi oksigen dimungkinkan karena adanya hemoglobin,

yaitu molekul protein pada sel darah merah. Selain mengikat oksigen, hemoglobin

dapat juga mengikat karbon monoksida (CO). Namun demikian, daya tarik

(afinitas) hemoglobin terhadap karbon monoksida relatif lebih tinggi, sehingga

dapat berdampak pada berkurangnya jumlah oksigen yang dapat diikat dan

74
dibawa oleh darah. Oleh karena itu, dapat dimengerti mengapa CO dianggap

memiliki sifat beracun. Darah juga mengedarkan hormone, enzim, garam, serta

vitamin yang diperlukan oleh tubuh. Disamping fungsi utama yang telah

disebutkan sebelumnya, sistem peredaran darah juga berfungsi untuk membantu

membuang sisa-sisa metabolisme, termasuk karbon dioksida, panas, dan air, serta

berkonstribusi penting dalam mekanisme pengaturan temperatur tubuh. Dapat

disimpulkan bahwa sistem ini memiliki fungsi yang sangat penting, dan

berhubungan erat baik dengan sistem pernapasan maupun proses metabolisme

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Jantung sebagai pemompa darah terdiri atas 2 bagian, yaitu kiri dan kanan.

Bagian sebelah kiri terdiri atas astrium kiri dan vertikal kiri, yang khusus

berfungsi memompa darah ke seluruh otot tubuh yang dibutuhkan untuk bekerja

melalui pembuluh darah arteri. Melalui pembuluh darah vena, darah kemudian

mengalir kembali ke jantung menuju atrium kanan, kemudian menuju vertikal

kanan yang bertugas memompa darah ke paru-paru, tempat proses pertukaran

udara terjadi. Orang dewasa memiliki sekitar 5 liter darah, yang terdiri atas 2,75

liter plasma dan 2,25 liter berupa sel darah. Peningkatan aktivitas fisik akan

memicu peningkatan kebutuhan darah yang dicapai melalui peningkatan frekuensi

pemompaan (denyut jantung) serta naiknya tekanan darah. Saat istirahat, volume

darah yang dipompakan adalah sekitar 5 liter/menit, namun volume ini dapat

menjadi 5 kali lipat lebih besar saat melakukan aktifitas fisik yang berat (Bridger

et al., 2008). Untuk seorang atlet, kenaikan volume ini dapat mencapai 35

liter/menit (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

75
Peningkatan intensitas kerja fisik menentukan kebutuhan akan tambahan

energi yang dapat berlangsung melalui peningkatan konsumsi oksigen. Untuk

memenuhi hal ini, frekuensi kontraksi jantung akan bertambah, sebagaimana

terukur dari dari kenaikan denyut jantung. Kenaikan konsumsi oksigen dan denyut

jantung cenderung bersifat linear, khususnya untuk beban kerja yang tidak terlalu

ringan ataupun terlalu berat. Untuk pekerjaan dengan beban yang sama, denyut

jantung cenderung akan lebih rendah apabila pekerjaan tersebut dikerjakan dengan

memanfaatkan otot-otot yang lebih besar. Hubungan antara konsumsi oksigen dan

denyut jantung akan lebih tinggi saat pekerjaan dilakukan ditempat panas

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Peningkatan denyut jantung terjadi tidak hanya karena adanya kenaikan

beban kerja, tetapi juga dapat disebabkan oleh adanya komponen kerja statis

(kontraksi isometric). Kerja otot yang relatif statis (dengan kontraksi diatas 20%

kontraksi maksimal) menyebabkan tertekannya pembuluh darah kapiler, sehingga

dalam beberapa saat saja, aliran darah menjadi sangat terbatas (ischemia) atau

bahkan tertutp sama sekali. Hal ini akan berdampak pada minimnya ketersedian

oksigen serta penumpukkan sisa metabolisme pada oto yang tengah berkerja.

Akibatnya, rasa sakit akan muncul dan kontraksi otot terpaksa harus berakhir,

fenomena seperti ini dapat diamati, misalnya saat seseorang secara terus-menerus

memegang peralatan kerja dengan posisi lengan diatas ketinggian dada (Iridiastadi

dan Yassierli, 2014).

Perlu dicatat bahwa sistem saraf pusat (CNS) memiliki peran vital dalam

mengatur bagian tubuh mana yang lebih penting menerima aliran darah. Saat otot

76
bekerja keras misalnya, peningkatan sisa-sisa metabolisme akan memacu

pembuluh darah untuk menjadi lebih longgar dan mengalirkan lebih banyak

darah. Sistem saraf pusat juga akan memerintahkan pengurangan aliran darah ke

otot maupun organ tubuh yang tidak terlalu memerlukan darah saat ini, misalnya

pencernaan. Namun demikian, sistem saraf akan terus mengontrol agar aliran

darah ke organ-organ penting, seperti otak dan jantung, tetap terjaga. Secara

bersamaan, pengaturan juga akan dilakukan sedemikian rupa sehingga darah akan

dialirkan lebih banyak ke permukaan kulit dengan tujuan untuk melepas panas.

Sebaliknya, saat setalah makan, darah akan dialirkan lebih banyak ke sistem

pencernaan bila dibandingkan terhadap bagian tubuh lainnya. Fenomena ini juga

diatur oleh sistem saraf, sebagai fungsi dari pengontrol keasaman dan konsentrasi

sisa metabolisme didalam darah (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2.3. Proses Metabolisme

Metabolisme dapat diartikan sebagai proses kimia dalam tubuh yang

bertujuan khususnya dalam menghasilkan energi. Aktiftas kerja, baik fisik

maupun non-fisik, hanya dapat dilakukan apabila energi tersedia dalam jumlah

yang memadai. Energi diperoleh dari zat-zat gizi yang masuk dalam bentuk

makanan atau minuman. Namun, proses konversi energi dari makanan dan

minuman ini tidak berlangsung efisien. Hanya sekitar 5% dari sumber energi ini

yang diubah menjadi kerja otot, sedangkan sisanya diubah dalam bentuk panas.

Sementara seorang atlet dapat memiliki proses konversi yang lebih efisien,

walaupun energi yang diperoleh pun tidak bias melebihi 25%. Panas yang

dihasilkan dari suatu proses metabolisme terutama akibat viskositas tubuh, friksi
77
yang terjadi didalam pembuluh darah, serta gesekan antara tendon dan sendi

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh terutama terdiri atas

zat-zat gizi, serta komponen-komponen lain, seperti air, garam, vitamin, mineral,

dan serat. Zat-zat gizi utama yang mengalami pencernaan adalah karbohidrat,

lemak, dan protein. Karbohidrat merupakan molekul kompleks yang terdiri atas

karbon, oksigen, dan hidrogen. Bentuk molekul karbohidrat yang paling

sederhana terdiri atas satu molekul gula sederhana yang disebut monosakarida,

misalnya glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Rangkaian dua monosakarida disebut

disakarida, sedangkan rantai panjang (yang dapat pula bercabang) yang tersusun

dari molekul gula disebut polisakarida, misalnya glikogen, pati pada tumbuhan,

dan selulosa. Untuk setiap gram karbohidrat, dapat dihasilkan energi sekitar 4,2

kkal (1 kalori = 4,2 joule = energi yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sebesar

10C untuk 1 gram air) (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Proses pencernaan mengubah karbohidrat menjadi molekul yang sangat

sederhana (monosakarida). Molekul ini dapat dengan mudah diserap oleh darah

pada dinding usus. Dari makanan yang dikonsumsi, lebih dari 80% hasil

katabolisme pati adalah glukosa, sedangkan sisanya adalah fruktosa dan

galaktosa. Setelah penyerapan oleh usus halus, sebagian fruktosa dan hampir

semua galaktosa dengan segera diubah menjadi glukosa, sehingga jumlah fruktosa

dan galaktosa yang terdapat pada sirkulasi darah sangat sedikit. Glukosa yang

telah diserap ke dalam aliran darah kemudian dibawa ke hati, untuk selanjutnya

dikirim dan digunakan oleh sistem saraf pusat. Glukosa juga dapat dikirim ke otot

78
sebagai sumber energi yang dapat langsung digunakan. Kelebihan glukosa akan

diubah oleh hati menjadi glikogen (polisakarida) yang akan disimpan baik di hati

maupun pada otot-otot skeletal sebagai sumber energi. Apabila tempat

penyimpanan glikogen ini sudah penuh, glukosa akan diubah menjadi lemak yang

disimpan dibawah jaringan kulit (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Lemak sebagai zat gizi juga merupakan salah satu sumber energi untuk

kerja, dari setiap gram lemak dapat dihasilkan 9,5 kkal energi. Fungsi lain lemak

adalah sebagai media transportasi vitamin A, D, E, dan K. salah satu bentuk

lemak dalam tubuh, yaitu trigliserida, merupakan molekul ester yang terdiri atas

satu inti gliserol dan tiga asam lemak. Trigliserida adalah penyusun utama minyak

nabati (tak jenuh, lebih cair) dan lemak hewani (jenuh, lebih padat). Pada saat

makanan yang mengandung lemak masuk ke dalam tubuh, pencernaan akan

mengurai lemak menjadi gliserol dan asam lemak. Gliserol akan diangkat oleh

aliran darah, sementara asam lemak diangkut oleh cairan limpa untuk kemudian

diserap di usus halus. Melalui pengaturan yang dilakukan oleh hati, lemak akan

disimpan sebagai cadangan energi. Lemak akan tersimpan dibawah kulit (sebagai

insulator), atau sebagai ruang penyangga organ-organ vital, seperti jantung, hati,

otak , dan lain-lain (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Hanya jika diperlukan, zat gizi dalam bentuk protein dapat digunakan

sebagai sumber energi, (setelah karbohidrat dan lemak). Setiap gram protein dapat

diubah menjadi energi sekitar 4,5 kkal. Manfaat utama protein adalah untuk

membangun sel-sel tubuh, serta sebagai komponen utama enzin (sebagai katalis

dalam mengontrol reaksi kimia), hemoglobin, antibodi, dan hormon. Protein

79
merupakan rantai asam amino yang terhubung melalui ikatan peptida. Terdapat

banyak variasi tipe dan ukuran protein. Protein yang terdspat didalam makanan

akan dicerna dan terurai menjadi asam amino yang kemudian dapat diserap oleh

darah untuk dikirimkan ke hati. Disamping zat-zat gizi diatas, alkohol juga dapat

menyuplai energi sebesar 7 kkal (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Pencernaan makanan berlemak dalam perut bisa mencapai enam jam,

sementara protein dicerna lebih cepat, dan karbohidrat dapat kurang dari 2 jam.

Penyerapan zat gizi berlangsung di usus halus selama 3-5 jam, sedangkan

penyerapan air, garam, obat-obatan, dan alkohol berlangsung di usus besar.

Sebagai hasil pencernaan karbohodrat, glukosa merupakan sumber energi yang

dapat segera digunakan bilamana diperlukan. Glikogen, yang merupakan bentuk

penyimpanan karbohidrat, juga merupakan sumber energi yang dapat dengan

mudah digunakan. Namun demikian, kedua tersedia dalam jumlah yang relatif

terbatas. Sebaliknya, cadangan energi dalam jumlah lebih besar umumnya

disimpan dalam bentuk lemak netral, yang disintesis dari glukosa, asam lemak,

dan asam amino, namun diperlukan proses yang lebih kompleks dan waktu yang

lebih lama untuk menguraikannya menjadi energi yang siap untuk digunakan.

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa pembawa energi utama adalah glukosa

(dan glikogen), lemak netral, dan protein (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Disaat awal otot bekerja, energi yang digunakan berasal dari adenosin

trifosfat (ATP), yang tersimpan di mitokondria dan hanya tersedia dalam beberapa

detik saja. ATP merupakan senyawa kimia berenergi tinggi, namun ikatan

kimianya labil dan mudah melepaskan gugus fosfatnya. Ketika energi dibutuhkan,

80
ATP dapat segera dipecah melalui reaksi hidrolisis sehingga ikatan fosfatnya

terlepas dan berbentuk ADP (Adenosin Difosfat). Reaksi hidrolisis ini

menghasilkan energi yang siap diangkut dan digunakan oleh tubuh. Proses

perubahan ATP menjadi ADP merupakan reaksi yang dapat berbalik, sehingga

dapat dilakukan proses pembentukan kembali ATP yang dibantu oleh seumber

energi lain, yaitu kreatin fosfat (CP). Proses ini hanya dapat berlangsung selama

maksimal 10 detik, selain itu cadangan kreatin fosfat juga relatif sangat terbatas

(Bridger et al., 2008). Untuk keberlangsungan kerja otot, ATP harus selalu

tersedia, sehingga diperlukan sumber energi lain (glukosa, glikogen, dan lemak)

dari metabolisme, yang digunakan untuk membentuk ATP secara

berkesinambungan dengan memanfaatkan oksigen. Proses ini dinamakan

metabolisme aerobik, yang ditandai dengan adanya penggunaan oksigen

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Terdapat saat-saat ketika oksigen tidak tersedia saat energi dibutuhkan,

seperti pada awal kerja otot atau pada saat intensitas kerja fisik berlebihan. Untuk

mengatasi ini, energi diperoleh dari konversi glukosa dan glikogen menjadi ATP

tanpa bantuan oksigen (anaerobic). Proses ini berlangsung relatif cepat (2,5 kali

lebih cepat dari proses aerobik) namun hanya dapat bertahan selama sekitar 1

menit untuk kerja otot maksimal (Bridger et al., 2008). Proses ini sangat tidak

efisien, disamping menghasilkan sisa metabolisme, seperti asam laktat, yang

menyebabkan naiknya keasaman sel otot. Hal ini kemudian berdampak pada

melemahnya afinitas antara filament aktif dan myosin serta menurnnya

kemampuan kontraksi otot. Penumpukan sisa metabolisme seperti ini tidak

81
diharapkan karena bisa menyebabkan rasa nyeri, keram ataupun tremor sehingga

harus dibuang melalui bantuan oksigen. Untuk intensitas tertentu bisa jadi

penumpukan sisa metabolisme terus terjadi, bahkan setelah kerja fisik berakhir.

Dalam keadaan ini, tingkat kebutuhan oksigen diawal masa istirahat menjadi

cukup tinggi, agar proses pembuangan metabolisme yang belum terbuang saat

kerja dapat diteruskan. Fenomena ini dikenal sebagai oxygen debt (lihat Gambar

2.2.1). Tingginya kebutuhan oksigen disaat kerja berakhir juga diperlukan untuk

menyiapkan cadangan energi, karena proses ini tidak dapat dilakukan saat

istirahat.

Gambar 2.2.1. Kebutuhan oksigen pada saat kerja maupun sesudah kerja.
Sumber: Kroemer et al, 2001.

Berdasarkan Gambar 2.2.1 yaitu mengenai tingkat kebutuhan oksigen pada

saat bekerja maupun sesudah bekerja. Selama kerja otot tidak berlebihan,

kebutuhan energi umumnya akan relative rendah dan proses pembentukan ATP

dapat berlangsung terus-menerus secara aerobik (dengan bantuan oksigen).

82
Apabila terdapat sisa metabolisme, oksigen yang tersedia (saat beristirahat) dapat

secara cepat membantu proses resintesis sisa metabolisme tersebut. Dengan

demikian, jelas bahwa kerja otot hanya dapat berlangsung secara terus-menerus

bila energi cukup tersedia melalui proses metabolisme yang efisien. Dalam hal ini,

ketersediaan oksigen dalam jumlah yang memadai menjadi faktor penting.

Implikasinya adalah pekerjaan sebaiknya bersifat dinamis, dirancang dengan

intensitas rendah dan dilakukan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan

dengan kerja berintensitas tinggi walaupun dilakukan dalam waktu yang relatif

singkat (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Energi yang dibutuhkan terdiri atas metabolisme basal, metabolisme

istirahat, dan metabolisme kerja. Metabolisme basal adalah metabolisme minimal

yang dibutuhkan pada tubuh tetap berfungsi walaupun tidak melakukan aktifitas,

diantaranya utnuk gerak denyut jantung, alat pernapasan, alat pencernaan, alat

urogenital, sekresi kelenjar-kelenjar, biolistrik saraf, dan sejenisnya. Nilai

metabolisme basal sangat bervariasi bergantung usia, jenis kelamin, tinggi, dan

bobot badan. Walaupun variasi inter-individual kecil, nilai relatif metabolisme

basal yang dapat diterima adalah 1 kcal (4,2 kj/kg/jam) atau 4,9 kj/menit untuk

seseorang yang berusia 70 tahun. Sementara, metabolisme istirahat adalah

metabolisme yang dibutuhkan saat badan dalam kondisi istirahat atau saat

sebelum beraktifitas. Metabolisme istirahat lebih besar dari pada metabolisme

basal dan lebih sering digunakan. Metabolisme istirahat memiliki nilai 10%

sampai 15% lebih tinggi dari pada basal serta metabolisme kerja. Metabolisme

kerja menggambarkan energi yang dibutuhkan saat bekerja, baik dalam satuan

83
kj/min atau kcal/min. proses metabolisme sebelum, selama dan sesudah bekerja

dapat dilihat pada Gambar 2.2.1. (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2.4. Kapasitas Kerja Fisik

Salah satu isu penting dalam fisiologi kerja adalah pemahaman mengenai

kapasitas fisik seseorang pada saat bekerja. Dengan pemahaman ini, para praktisi

ergonomi dapat mengevaluasi berat ringannya beban fisik yang dialami seseorang

saat bekerja, serta menentukan langkah-langkah perbaikan kerja apabila

diperlukan. Dengan menggunakan pendekatan fisiologi kerja, kapasitas kerja fisik

diartikan sebagai kemampuan maksimal tubuh dalam menghasilkan energi dan

merupakan fungsi dari ketersediaan zat-zat gizi serta kemamampuan tubuh dalam

memperoleh oksigen. Besarnya energi yang dibutuhkan pada saat kerja

merupakan jumlah dari energi basal (basal metabolic rate), energi yang

diperlukan sekadar untuk hidup, dan energi yang dibutuhkan ketika tengah

melakukan pekerjaan tersebut. Peran ergonomic adalah memastikan bahwa energi

(metabolic cost) yang dibutuhkan saat seseorang bekerja berada dalam kapasitas

fisiologis individu tersebut (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

1. Kapasitas Aerobik Maksimal

Salah satu indikator penting untuk mengevaluasi kapasitas kerja fisik,

diantaranya adalah kapasitas aerobik maksimal. Kapasitas aerobik dikenal pula

sebagai daya aerobik maksimal, dengan daya itu sendiri berarti energi yang

tersedia per unit waktu. Kapasitas aerobik maksimal dapat ditentukan dengan cara

mengukur volume oksigen maksimal (VO2 maks) yang dapat dihirup oleh

seseorang per satuan waktu. VO2 maks dari seorang individu umumnya diukur
84
dari konsumsi oksigen saat berlatri diatas treadmill (mengayuh ergocycle) dengan

kecepatan treadmill ditingkatkan secara bertahap dalam waktu yang relatif singkat

(Gambar 2.2.2a dan 2.2.2b). Pengujian kapasitas aerob dengan cara ini melibatkan

kumpulan otot besar. Untuk mengukur konsumsi oksigen, digunakan Dougles

Bag, yaitu suatu wadah untuk mengumpulkan gas yang dihembuskan oleh

individu yang sedang diukur tersebut. Analisis dilakukan dengan melihat gas yang

terkumpul dan konsentrasi oksigen dalam wadah terisi, jumlah konsumsi oksigen

dapat dihitung.

Secara bersamaan konsumsi oksigen individu tersebut diukur terus-menerus,

sampai suatu saat dimana peningkatan kecepatan treadmill tidak berdampak pada

peningkatan konsumsi oksigen. Pada saat inilah konsumsi oksigen dari seseorang

dianggap paling tinggi dan mencerminkan VO2 maks individu tersebut. VO2 maks

ini terjadi pada saat denyut jantung maksimal. Ketika telah di capai VO2 maks,

sangat mungkin apabila individu masih dapat berlari lebih cepat (intensitas kerja

lebih tinggi). Namun pada saat itu, energi yang digunakan lebih bersifat anaerobik

dan tidak dapat berlangsung lama. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa

kapasitas kerja seseorang dapat ditentukan melalui VO2 maks yang dimiliki oleh

individu tersebut walaupun caranya tak mudah. Dimana peralatan yang digunakan

dalam percobaan fisiologi kerja adalah seperti Gambar 2.2.2.

85
Gambar 2.2.2. Peralatan yang digunakan untuk mengukur VO2 maks seseorang
(a. dulu, b. sekarang).
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Gambar 2.2.2 dapat dilihat bahwa alat-alat yang digunakan

untuk mengetahui dan mengukur VO2 maksimal seseorang dari zaman dahulu

sampai sekarang. Kapasitas aerobik maksimum dapat ditentukan dengan 2

metode, yaitu metode maximal test dan submaximal test (Astrand et al., 2003).

Pada metode maksimal, responden diminta untuk mengarahkan seluruh

kermampuannya untuk mencapai kapasitas aerobik maksimum, seperti

pengukuran VO2 maks dengan treadmill pada contoh diatas. Metode ini akan

menghasilkan gejala kelelahan dan tanda-tanda bahwa usaha pusat kardio-

respirasi telah mencapai batasnya, misalnya terjadi mual, sesak napas yang parah,

bahkan sampai pingsan, dan lainnya (shepherd seperti dikutip dalam Iridiastadi,

1997). Pada metode submaksimal, responden tidak dipaksakan untuk mencapai

kondisi maksimumnya sehingga dampak kelelahan dan bahayanya lebih rendah,

namun keakuratan pun lebih rendah dibandingkan metode maksimal. Responden

harus melakukan paling sedikit tiga beban kerja yang berbeda. Pada pelatihan

86
treadmill, beban kerja yang berbeda diperoleh dengan meningkatkan kemiringan

atau kecepatan pada treadmill. Untuk responden dengan kapasitas aerobik yang

reltif rendah, kecepatan hingga 4 mph dan kemiringan pada nol persen dapat

digunakan untuk pengujian. Pada setiap beban kerja,denyut jantung dan konsumsi

oksigen diukur. Pengukuran pada responden dimulai dengan beban kerja yang

paling ringan, kemudian beban kerja dinaikan sampai tingkat paling berat. Metode

submaksimal ini mengasumsikan bahwa konsumsi oksigen merupakan fungsi

linear dari denyut jantung, sehingga terdapat hubungan yang menyatakan bahwa

denyut jantung maksimal menyebabkan volum oksigen maksimum dan volume

maksimum menghasilkan energi yang maksimum pula (Iridiastadi dan Yassierli,

2014).

Sejumlah penelitian yang mengukur VO2 maks telah dilakukan pada

berbagai populasi. Untuk pekerja di Amerika Serikat, NIOSH pada 1981

melaporkan data VO2 maks (untuk persentil 50) sebesar 63 kj/menit atau sekitar

3,2 l/menit untuk pekerja pria 44 kj/menit atau sekitar 2,2 l/menit untuk pekerja

wanita. Data untuk persentil 5 adalah 52,3 kj/menit (pria) dan 33,5 kj/menit

(wanita). Di Indonesia sendiri, penelitian sempat dilakukan untuk populasi

mahasiswa, anggota TNI dan pekerja industri. Pada 2007, Widyasrama dan

Rakhmaniar melaporkan data VO2 maks sebesar 2,6 l/menit untuk mahasiswa dan

1,8 l/menit untuk mahasiswi. Untuk anggota TNI, Yadi (2009) malaporkan data

VO2 maks sebesar 4,5 l/menit. Untuk pekerja industri, Yuliani (2010) melaporkan

data VO2 maks sebesar 3,4 l/menit untuk pekerja pria dan 2,3 l/menit untuk

pekerja wanita. Pada penelitiannya, maks sebesar 3,4 l/menit untuk pekerja pria

87
dan 2,3 l/menit untuk pekerja wanita. Pada penelitiannya, Yuliani menggunakan

responden pekerja pria dan wanita, dimana para pekerja tersebut merupakan

pekerja industri yang mempunyai pengalaman bekerja minimal 1 tahun pada

bagian produksi (dimana pada bagian ini pekerja banyak melakukan aktifitas

fisik), memiliki riwayat kesehatan yang baik, tidak merokok dan meminum

alkohol, pada rentang usia 25 tahun sampai 40 tahun, dengan jumlah sampel

masing-masing sebanyak 30 [Link] peneleitian yang digunakan

merupakan modifikasi prosedur yang digunakan dalam penelitian Keytel et al,

(2005) (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Beberapa penelitian VO2 yang dilakukan di Indonesia dengan berbagai

golongan populasi di Indonesia terangkum dalam Tabel 2.2.1 berikut:

Tabel 2.2.1. Penelitian VO2 maks berbagai golongan populasi di Indonesia.


Peneliti Responden Nilai Konsumsi Oksigen
VO2 max = 2,64 liter/menit (SD =
10 orang mahasiswa
Widyasmara 0,51)
pria (usia 17-23
(2007) VO2' max = 42,42 ml/menit/kg
tahun)
(SD = 7,25)
VO2 max = 1,89 liter/menit (SD =
10 orang mahasiswa
Rakhmaniar 0,27)
wanita (usia 19-22
(2007) VO2' max = 33,63 ml/menit/kg
tahun)
(SD = 3,30)
VO2 max = 3,7 liter/menit (SD =
16 0rang pekerja
0,55)
Satriawan (2008) industri pria (usia 20-
VO2' max = 65,11 ml/menit/kg (SD
25 tahun)
= 9,447)
VO2 max = 2,5 liter/menit (SD =
15 orang pekerja
0,69)
Soleman (2009) industri wanita (usia
VO2' max = 52,84 ml/menit/kg (SD
20-25 tahun)
= 15,58)
VO2 max = 4,5 liter/menit (SD =
30 orang TNI AU,
0,67)
Yadi (2009) AD dan polisi (usia
VO2' max = 71,4 ml/menit/kg (SD
19-25 tahun)
= 10,63)
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.
88
Berdasarkan Tabel 2.2.1. dapat dilihat tingkat maksimal VO2 dari berbagai

golongan populasi yang ada di indonesia, baik dari segi profesi, usia, mau pun

jumlahnya yang berbeda. Penelitian Yunani terdiri atas 2 tahap, tahap pertama

dilakukan untuk mengukur kapasitas aerobik maksimal (VO2 maks) dengan

menggunakan metode maximal test, yaitu setiap responden harus berlari diatas

treadmill dengan mengerahkan seluruh tenaganya sampai mencapai kelelahan,

dengan kecepatan awal untuk responden pekerja pria adalah 7 km/jam dan untuk

responden wanita adalah 6 km/jam. Penelitian tahap kedua dilakukan untuk

mengembangkan model persamaan prediksi konsumsi oksigen (VO2) dan

konsumsi oksigen relatif terhadap bobot badan (VO2) bagi pekerja industry

berdasarkan faktor fisiologis denyut jantung, usia, bobot badan dan tinggi badan,

dengan menggunakan metode submaximal test. Responden berlari diatas treadmill

pada kecepatan 25%, 50%, dan 75% dari kecepatan maksimal yang dicapai pada

penelitian tahap pertama, masing-masing dilakukan selama lima menit tanpa

istirahat. Kecepatan ini diasumsikan merupakan pembebanan ringan, sedang, dan

berat. Untuk merekam, menganalisis dan menampilkan hasil gas (O2 dan CO2),

serta mendeteksi dan menampilkan denyut jantung selama penelitian berlangsung

(secara real time) digunakan metabolicanalyzer (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Sejumlah faktor dipercaya dapat mempengaruhi nilai VO2 maks seorang

individu, termasuk faktor demografi, usia, jenis kelamin, bobot badan, training,

nutrisi, penggunaan rokok, serta faktor-faktor lingkungan lainnya. Puncak nilai

VO2 maks dialami pada usia sekitar 18-20 tahun (Gambar 2.2.3), kemudian

menurun sejalan dengan bertambahnya usia seseorang. Pada usia 60 tahun, VO2

89
maks berkisar sekitar 75% dibandingkan pada saat usia 20 tahun (Bridger et al.,

2003). Wanita pada umumnya memiliki VO2 maks yang lebih rendah

dibandingkan pria dimana VO2 maks wanita setara 65-75% VO2 maks pria. Hal ini

disebabkan oleh perbedaan bentuk tubuh, serta proporsi lemak tubuh. Namun,

sebelum terjadinya pubertas, gender tidak membedakan VO2 maks antar individu

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Berikut dapat dilihat Gambar 2.2.3. dimana usia, gender setiap populasi

memiliki tingkatan kapasitas maksimal aerobic yang berbeda-beda.

Gambar 2.2.3. Kapasitas aerobic maksimum sebagai fungsi dari usia dan gender.
Sumber: National Institute for Occupational Safety and Health (1981).

Berdasarkan Gambar 2.2.3. bahwa kapasitas yang dimiliki setiap usia dan

gender memiliki kapasitas maksimum aerobic yang berbeda-beda, lain usia lain

kapasitas maksimalnya begitupun jika dilihat dari gendernya. Bobot badan juga

dapat memengaruhi nilai VO2 maks, namun ini lebih disebabkan oleh proporsi

lemak yang berlebihan. Latihan fisik secara benar dapat juga meningkatkan VO2

maks. Job training bukan saja bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas kerja,

namun dapat pula meningkatkan output kerja, kekuatan otot, serta mengurangi
90
potensi cedera. Perokok pada umumnya akan memiliki VO2 maks yang lebih

rendah dari pada yang bukan perokok. Karbondioksida yang ada pada asap rokok

mengikat hemoglobin jauh lebih kuat (200 kali) dibandingkan dengan oksigen.

Dengan demikian, untuk perokok, kemampuan darah untuk mengalirkan oksigen

menjadi lebih rendah dan berdampak pada VO2 maks yang lebih kecil. Faktor-

faktor lain yang juga dapat memengaruhi kapasitas kerja antara lain: kebisingan,

iklim, ketinggian, serta penggunaan pakain pelindung diri (Iridiastadi dan

Yassierli, 2014).

Secara lebih lengkap Astrand et al. (2003) menuliskan faktor-faktor yang

memengaruhi kapasitas kerja fisik seseorang yang dapat dilihat pada Gambar

2.2.4 berikut:

91
Faktor Somatik Jenis Adapatasi Nutrisi Tembakau. Faktor
Kelamin dan Usia pelatihan Alkohol, Psikis
Dimensi tubuh Kafein, dll Sikap
Kesehatan Motiva
si

Sifat latihan Fungsi Pelayanan


Intensitas 1. 1. Bahan bakar Lingkungan
Durasi a. Asupan Sikap
Teknik b. Penyimpanan Tekanan gas
Posisi c. Mobilisasi tinggi
Ritme 2. Serapan Oksigen Panas
Jadwal a. Ventilasi paru Dingin
b. Keluaran jantung
i. Stroke vol
ii. denyut
jantung
c. Ekstrasi Oksigen
(a–VO2 diff)

Proses menghasilkan
energi

Kinerja fisik

Gambar 2.2.4. Faktor-faktor yang memengaruhi kapasitas kerja fisik (Astrand,


2003).
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Nilai VO2 maks yang dimiliki oleh seorang pekerja juga merupakan

indikator dari tingkat kebugaran pekerja yang bersangkutan. Bagi seorang dokter,

kebugaran dapat diartikan sebagai fisik seseorang yang tidak memiliki penyakit.

Dalam konteks kerja, kebugaran merupakan kemampuan untuk melakukan suatu

aktifitas fisik secara terus-menerus tanpa kelelahan yang berarti. Dengan

demikian, dapat dipahami bahwa berbagai upaya di perusahaan untuk

92
meningkatkan VO2 maks pekerja merupakan suatu kontribusi positif bagi pekerja.

Senam secara teratur, larangan merokok, serta keikutsertaan dalam aktifitas-

aktifitas fisik lainnya (olahraga, berenang, mendaki gunung, dan lain-lain),

merupakan hal-hal positif yang harus didorong oleh pimpinan perusahaan

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2. Evalusi Beban Kerja

Untuk pekerjaan aktifitas fisik yang cenderung yang tidak statis, evaluasi

beban kerja dapat dilakukan dengan menghitung besarnya energi yang dibutuhkan

(energi cost) saat pekerja, kemudian dievaluasi dengan mengacu pada sejumlah

panduan (tabel) yang ada. Namun, pendekatan yang lebih tepat adalah

membandingkan energi yang dibutuhkan, relatif terhadap kapasitas (fisologis)

maksimal dari individu yang bersangkutan. Rasio ini digunakan sebagai indikator

untuk menentukan suatu pekerjaan dapat dikategorikan sebagai pekerjaan ringan,

menegah, atau berat. Evaluasi beban kerja dapat dilakukan dengan pengukuran

langsung dan tidak langsung. Pengukuran langsung dilakukan dengan

menggunakan calorimetric chamber, sedangkan pengukuran tidak langsung dapat

dilakukan dengan mengukur konsumsi oksigen per menit yang merepresentasikan

proses metabolisme, dapat pula dengan mengukur denyut jantung yang

sebenarnya berhubungan linear dengan konsumsi oksigen (Iridiastadi dan

Yassierli, 2014).

Pada prinsipnya, evaluasi ergonomic dilakukan untuk memastikan bahwa

beban kerja tidak melebihi batas kemampuan yang dimiliki oleh seorang pekerja.

Kelelahan akan terjadi jika beban kerja sebesar 30-40% dari kapasitas kerja,

93
disamping akibat pekerjaan statis yang dilakukan dalam jangka waktu yang tidak

singkat. Pada pekerjaan dengan beban berlebih, evaluasi fisologi perlu dilakukan

untuk mengetahui seperti apa perbaikan kerja yang efektif dan layak diterapkan

ditempat kerja (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

3. Konsumsi Oksigen

Pengukuran energi yang dibutuhkan saat seseorang bekerja umumnya

dilakukan secara tidak langsung (indirect calorimetry) melalui pengukuran jumlah

oksigen yang dikonsumsi per satuan waktu (liter/menit). Hal ini dimungkinkan,

namun dengan asumsi bahwa rata-rata sekitar 4,8-5 kkal energi dapat dihasilkan

dari setiap liter okigen yang digunakan dalam proses metabolisme zat gizi

(Kroemer et al. 2001). Dengan demikian, energi saat bekerja dapat dihitung

dengan cara mengukur oksigen yang dikonsumsi oleh seorang individu saat

melakukan pekerjaan yang bersangkutan. Perbandingan peningkatan konsumsi

oksigen pada saat kerja relative terhadap konsumsi oksigen saat istirahat

merupakan indeks beban fisiologis yang dialami seorang akibat pekerjaan yang

dilakukannya (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Sebagai contoh, anggap seorang pekerja pria melakukan aktivitas pemesinan

dalam posisi berdiri, di samping itu pekerja tersebut harus pula sesekali

mengangkat dan menurunkan beban kerja ke atas palet. Jika konsumsi oksigen

rata-rata pekerja tersebut adalah 0,6 liter/menit, maka jumlah energi yang

dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut adalah sekitar 3 kkal/menit.

Untuk 8 jam kerja, total energi yang dibutuhkan adalah 1440 kkal. Apabila energi

yang diperlukan pekerja tersebut untuk aktivitas di luar jam kerja (tidur, bersantai,

94
dan lain-lain) dapat diperkirakan, maka dapat dihitung kebutuhan energi selama

satu hari. Untuk analisis lebih jauh, angka ini dapat dibandingkan dengan diet

pekerja tersebut (jumlah energi yang masuk melalui makanan dan minuman)

untuk menentukan kecukupan gizi dari pekerja yang bersangkutan (Iridiastadi dan

Yassierli, 2014).

Nilai absolut kebutuhan energi untuk berbagai aktivitas dan pekerjaan telah

banyak diteliti di berbagai negara. Berdiri sambil mengerjakan pekerjaan yang

relative ringan membutuhkan energi sebesar 0,95 kkal/menit, sedangkan berjalan

dengan kecepatan 3 km/jam pada permukaan yang tidak kasar membutuhkan

energi 2,6 kkal/menit. Dalam sehari, rata-rata energy cost seorang mahasiswa pria

adalah sebesar 2,930 kkal, relative lebih rendah bila dibandingkan dengan energi

yang dibutuhkan oleh seorang pekerja tambang (3,660 kkal/hari) (Iridiastadi dan

Yassierli, 2014).

Berdasarkan Tabel 2.2.2, berat-ringannya suatu pekerjaan dapat ditentukan

dengan mengevaluasi nilai absolut kebutuhan energi untuk seorang individu.

Sebagai contoh, suatu pekerjaan dapat dikatakan ringan jika kebutuhan energi

untuk pekerjaan tersebut tidak melebihi 2,5 kkal/menit. Pekerjaan yang dianggap

berat akan membutuhkan sekitar 7,5 kkal/menit, sementara suatu aktivitas fisik

dapat dikatakan sangat berat jika energi yang dibutuhkan mencapai 12,5 kkal atau

lebih.

Tabel 2.2.2. Kebutuhan energi untuk setiap klasifikasi pekerjaan.


Klasifikasi Total Energi Ekspenditur Denyut Jantung
Pekerjaan (kj/menit) (kkal/menit) (denyut/menit)
Ringan 10 2.5 ≤ 90
Sedang 20 5 90-100

95
Tabel 2.2.2. Kebutuhan energi untuk setiap klasifikasi pekerjaan (lanjutan).
Klasifikasi Total Energi Ekspenditur Denyut Jantung
Pekerjaan (kj/menit) (kkal/menit) (denyut/menit)
Berat 30 7.5 100-120
Sangat Berat 40 10 120-140
Ekstrem Berat 50 12.5 140-160
Sumber: Kroemer et al (2001).

Berdasarakan Tabel 2.2.2. diketahui bahwa kebutuhan energi pada

klasifikasi pekerjaan mempengaruhi denyut jantung.

Besarnya beban fisiologi seorang pekerja dapat pula dievaluasi dengan cara

mengukur konsumsi oksigen saat pekerja yang bersangkutan tengah melakukan

pekerjaannya, kemudian membandingkannya dengan VO2 maks pekerjaan

tersebut. Rasio ini merupakan ukuran beban objektif beban kerja yang dialami

oleh pekerja tersebut. Pendekatan ini dianggap lebih tepat bila konsumsi oksigen

tersebut dibandingkan dengan penggunaan nilai absolut kebutuhan energi, dengan

pertimbangan bahwa kapasitas fisiologis (VO2 maks) bersifat spesifik dan berbeda

untuk setiap individu sehingga sulit digeneralisasi. Dengan menggunakan contoh

diatas, energi yang diperlukan oleh seorang pekerja pria saat melakukan pekerjaan

permesinan adalah sebesar 0,6 kkal/menit (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Bila VO2 maks pekerja tersebut adalah 3,0 liter/menit, maka beban untuk

pekerjaan tersebut adalah 20%. Jika pekerjaan tersebut dilakukan oleh pekerja

wanita yang memiliki VO2 maks sebesar 2,0 liter/menit , maka besar beban

fisiologis menjadi sebesar 30%. Jelas bahwa metabolic cost pekerja wanita ini

lebih ringan dibandingkan dengan pekerja pria, walaupun pekerjaan yang

dilakukan oleh keduanya adalah pekerjaan yang persis sama. Seperti yang telah

dijelaskan di atas, dalam penelitian tahap kedua Yuliani (2010), dilakukan


96
pengukuran konsumsi oksigen untuk mengembangkan suatu model persamaan

prediksi konsumsi oksigen (VO2), yaitu:

VO2 = 1,168 + 0,20HR – 0,035A + 0,019W (liter/menit), untuk pria ............ .2.2.1.

VO2 = -1,991 + 0,013 + 0,024 W (liter/menit), untuk wanita ......................... .2.2.2.

dengan,

VO2 = Konsumsi oksgen (liter/menit)

HR = Denyut jantung (denyut/menit)

A = Usia (tahun)

W = Bobot badan (kg)

Model persamaan di atas dapat digunakan untuk mengukur konsumsi

oksigen dan kebutuhan energi pekerja Indonesia dengan umur 20-40 tahun.

Sebagai contoh, seorang pekerja pria berusia 30 tahun mempunyai bobot badan 65

kg dan denyut jantung 140 denyut/menit, maka konsumsi oksigen (VO 2) dan

kebutuhan energi pekerja tersebut adalah 1,82 liter/menit dan 8,74 kkal/menit.

VO2 maks untuk pekerja pria berada di rentang 3,4 ± 0,55 liter/menit, sedangkan

pekerja wanita adalah 2,3 ± 0,6 liter/menit. Dengan diketahuinya kebutuhna

energi seorang pekerja, maka dapat ditentukan klasifikasi perkerjaan bagi pekerja

tersebut. Dengan menganggap seorang pekerja berusia 25 tahun dan mempunyai

bobot badan 50kg, jika menggunakan nilai denyut jantung pada Tabel 2.2.2

(Kroemer et al., 2001) maka klasifikasi pekerjaan bagi pekerja dapat dilihat pada

Table 2.2.3.

97
Tabel 2.2.3. Hasil klasifikasi pekerjaan untuk pekerja pria
Konsumsi Energi Ekxpenditur
Klasifikasi Denyut Jantung
Oksigen
Pekerjaan (denyut/menit) (kj/menit) (kkal/menit)
(1/menit)
Ringan 90 0,706 3,3888 1219,968
Moderat 100 0,906 4,3488 1565,568
Berat 120 1,306 6,2688 2256,768
Sangat Berat 140 1,706 8,1888 2947,968
Ekstrem
160 2,106 10,1088 3639,168
Berat
Sumber: Satriawan, 2008.

Berdasarkan Tabel 2.2.3 merupakan Tabel klasifikasi pekerjaan untuk

pria, selanjutnya kita akan masukin tabel klasifikasi untuk wanita yang akan di

tunjukan pada Tabel 2.2.4:

Tabel 2.2.4. Hasil klasifikasi pekerjaan untuk pekerja wanita


Konsumsi Energi Ekxpenditur
Klasifikasi Denyut Jantung
Oksigen
Pekerjaan (denyut/menit) (kj/menit) (kkal/menit)
(1/menit)
Ringan 90 0,379 1,8192 654,912
Moderat 100 0,509 2,4432 879,552
Berat 120 0,769 3,6912 1328,832
Sangat Berat 140 1,029 4,9392 1778,112
Ekstrem Berat 160 1,289 6,1872 2227,392
Sumber: Soleman dalam (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Berdasarkan tabel 2.2.4 tampak hasil tabel hasil klasifikasi pekerjaan untuk

wanita, maka dari kedua tabel 2.2.4. maka kita bisa menentukan kondisi denyut

jantung, konsumsi oksigen, maupun energi dari pekerjan yang dilakukan, tabel

tersebut merupakan hasil penelitian dari Soleman (2009).

Isu lain yang menjadi bahan diskusi para ahli ergonomic adalah batas

maksimum beban kerja (%VO2 maks) yang diperbolehkan dalam suatu durasi

waktu tertentu, agar tidak terjadi kelelahan yang berlebihan. Untuk delapan jam

kerja, sejumlah studi (misalnya NIOSH, 1981) menyarankan angka 33% (dari
98
VO2 maks), atau sekitar sepertiga dari kapasitas aerobic seseorang sebagai batas

maksimal. Hal ini berarti bahwa seorang pekerja umumnya tidak akan mengalami

rasa lelah yang berlebihan, jika pekerjaannya membutuhkan energi yang tidak

lebih dari sepertiga VO2 maks pekerja yang bersangkutan. Di bawah batas

tersebut, seorang pekerja dianggap masih memiliki energi yang cukup untuk

melakukan aktivitas lain di luar pekerjaanya (misalnya aktivitas rumah tangga).

Chengalur et al. (2004) menyarankan angka 33% untu 8 jam, 30% untuk 10 jam,

dan 25% untuk 12 jam kerja. Hasil penelitian Louhevaara er al. pada 1986

(Bridger, 2008) menyarankan waktu kerja maksimum sebagai fungsi beban kerja

relatif (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Pengukuran VO2 maupun VO2 maks tidak dapat dilakukan dengan mudah di

tempat kerja. Walau sejumlah alat ukur bersifat portable, pengukuran umumnya

dilakukan di laboratorium. Tempat seperti initentu tidak mencerminkan situasi

kerja yang sesungguhnya, sehingga penggunaan indicator ini harus dilakukan

secara hati-hati. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah apakah pengukuran

dilakukan dengan menggunakan treadmill, egocycle, atau dengan prosedur

lainnya. Perbedaan prosedur ini akan berakibat pada perbedaan nilai VO2 maks,

salah satunya disebabkan oleh perbedaan kelompok oto yang aktif saat

pengukuran dilakukan. Uji dengan treadmill dapat menghasilkan VO2 maks yang

lebih besar (sekitar 7%) jika dibandingkan uji dengan ergocycle. Selain itu, VO2

maks dapat pula tinggi sekitar 5-11% apabila pengujian dilakukan dengan

treadmill yang landai (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

99
Penelitian yang dilakukan oleh Iridiastadi dan Aghazadeh (2006),

menggambarkan perbedaan antara VO2 maks yang diperoleh melalui treadmill

dibandingkan dengan yang diperoleh dari (simulasi) kerja yang sesungguhya.

Hasil penelitian ini jauh menyarankan penggunaan batas kerja fisiologis (8 jam

kerja) sebesar 25% dari nilai VO2 maks yang diperoleh melalui treadmill

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

4. Denyut Jantung

Evaluasi beban fisiologis yang dialami oleh seorang pekerja dapat pula

dilakukan dengan mengukur denyut jantung. Pendekatan ini dapat dilakukan

mengingat bahwa semakin berat kerja fisik seseorang, semakin berat juga kerja

jantung. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa kenaikan denyut jantung

semata-mata disebabkan oleh peningkatan intensitas kerja fisik. Untuk pekerja

Industri Brouha (1960) menyarankan agar denyut jantung tidak lebih melibihi

110-155 bpm. Penelitian Brouha dilakukan dengan mengukur temperature badan

dan denyut nadi selama asa pemuliha (istirahat) setelah suatu siklus kerja ataupun

waktu-waktu tertentu selama bekerja dengan tujuan untuk melihat apakah

pemulihan cukup atau pakah beban kerja berlebihan. Di akhir kasus siklus kerja,

pekerja duduk di sebuah bangku, kemudian diukur temperatur melalui mulutnya,

dan denyut nadi dicatat pada tiga kondisi berikut:

1. HR1 : denyut nadi dihitung dari detik ke-30 sampai 1 menit

2. HR2 : denyut nadi dihitung dari detik ke1,5 sampai 2 menit

3. HR1 : denyut nadi dihitung dari detik ke-2,5 sampai 3 menit

Setelah selesai pengukuran, dilakukan analiss sebagai berikut:

100
1. Jika HR1-HR3 ≥ 10 dan jika HR1, HR2, HR3, ≤ 90, maka pemulihan setelah

kerja secara normal.

2. Jika rata-rata HR selama pengukuran ≤ 110, dan HR1-HR3 ≥ 10, maka beban

kerja tidak berlebihan.

3. Jika HR1-HR3 < 10 dan jika HR3< 90, maka pemulihan masih kurang.

Berat-ringannya suatu pekerjaan dapat pula dievaluasi dengan menggunakan

Tabel 2.2.5 berikut:

Tabel 2.2.5. Evaluasi beban kerja fisiologis menggunakan data denyut jantung.
Klasifikasi Pekerjaan Denyut Jantung/menit
Ringan 90
Agak ringan 100
Berat 120
Sangat Berat 140
Amat sangat berat 160
Sumber: Kroemer et al dalam (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Berdasarkan Tabel 2.2.5 bahwa klasifikasi pekerjaan dapat dievaluasi beban

kerja fisiologi dengan menggunakan denyut jantung.

Pendekatan ini didasarkan pada anggapan bahwa semua individu memiliki

batas atas kapasitas yang relatif sama, sesuatu yang tidak tepat. Untuk

dibandingkan dengan maksimal heart rate (HRmaks) yang mungkin dimiliki oleh

seorang inidvidu. Denyut jantung maksimal dipercaya merupakan fungsi dari usia

dan dapat dinyatakan sebagai berikut:

Max HR = 220 – umur .................................................................................... .2.2.3.

= 260 – (0,62 x umur), atau ............................................................................. .2.2.4.

= 190 – 0,62 x (umur – 25) ............................................................................. .2.2.5.

101
Namun sebenarnya prediksi melalui formula ini tidak didasari dengan latar

belakang ilmiah yang kuat, mempunyai error hingga 10 bpm, dan tidak bias

diaplikasikan pada anak-anak. Setelah HRmaks kita ketahui, beban fisiologis dapat

dihitung dengan menggunakan indikator heart rate range (HRR) dengan formula

sebagai berikut.

100 (HRkerja - HRrest )


HRR(%)= ...................................................................... .2.2.6.
HRmaks - HRrest

dengan,

HRR = heart rate range

HRkerja = denyut jantung diukur saat kerja

HRrest = denyut jantung diukur saat istirahat (diukur setelah istirahat pada posisi

berbaring selama 20 menit)

HRmaks = denyut jantung maksimal

Untuk pekerja yang melakukan aktivitasnya selama 8 jam berturut-turut,

nilai HRR rata-rata yang disarankan ialah tidak melibih 33% (Chengalur et al.,

2004). Idealnya, evaluasi beban kerja dengan menggunakan HRR maupun

konsumsi oksigen akan memberikan hasil yang sama. Namun, denyut jantung

dapat dengan mudah dipengaruhi oleh aspek-aspek yang tidak berhubungan

langsung dengan pekerjaan, misalnya beban mental atau panas lingkungan.

Perbedaan antara HRR dan %VO2 maks dapat dimanfaatkan sebagai indikator

beban tambahan yang disebabkan oleh factor-faktor tersebut. Sebagai contoh,

evaluasi terhadap pekerjaan seorang supir truk menunjukkan nilai HRR sebesar

40% dengan konsumsi oksigen sebesar 30% VO2 maks. Data ini menunjukkan

102
bahwa 25% peningkatan denyut jantung terkait erat dengan stress yang diperoleh

dari hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas fisik (misalnya

konsentrasi saat mengendarai truk).

Besarnya energi yang dikeluarkan untuk suatu pekerja dapat diukur dengan

memperhitungkan denyut jantung dan faktor demografi. Kemalakannan (2007)

menyatakan model persamaan untuk menghitung beban kerja seperti berikut.

Ecost = -1867 + 8,58HR + 25,1HT + 4.5A – 7,4RHR +67,8G .......................... 2.2.7

dengan,

Ecost = beban kerja (Watt)

HR = denyut jantung saat bekerja (bpm)

HT = tinggi badan (inci)

A = umur (tahun)

RHR = denyut jantung saat beristirahat

G = jenis kelamin (m = 0, f = 1)

1 Watt setara dengan 0,0143 kkal/menit

Sementara, Keytel (2005) mengukur beban kerja dalam pesamaan berikut:

Ecost = -55,0959 + (HR x 0,6309) + (W x 0,1988) + (A x 0,2017) .................. 2.2.8

dengan,

Ecost = beban kerja (kj/menit)

W = bobot badan (kg)

1 kj/menit setara dengan 0,239 kkal/menit.

Beberapa penelitian tentang pengukuran energi lainnya dinyatakan dalam

persamaan-persamaan dalam Tabel 2.2.6.

103
Tabel 2.2.6. Persamaan pengukuran energi berdasarkan beberapa penelitian.
PERSAMAAN
EE = -20,4022 + (0,4472 HR) – (0,1263 w) +
(0,074 A)
EE = pengeluaran energi
Keytel (2005)
HR = denyut jantung (denyut/menit)
w = bobot badan (kg)
A = usia (tahun)
Y = 0,014 HR + 0,017 w – 1,706
Y = konsumsi oksigen (liter/menit)
Rakhmaniar (2007)
HR = denyut jantung (denyut/menit)
w = bobot badan (kg)
MWR = -1967 + 8,58 HR + 25,1 HT +4,50 A –
7,47 RHR + 67,8 G
MWR = metabolic work rate (W)
Kamalakannan et al. HR = denyut jantung bekerja (denyut/menit)
(2007) HT = tinggi badan (inci)
A = usia (tahun)
RHR = denyut jantung istirahat (denyut/menit)
G = 1 untuk wanita, 0 untuk pria
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Tabel 2.2.6. bahwa persamaan pengukuran energi dapat di

bedakan dari beberapa peneliti yaitu Keytel (2005), Rakhmaniar (2007),

Kamalakannan et al, (2007) (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Saat tubuh bekerja lebih keras, sejumlah respons fisiologis akan secara

bersama-sama meningkat, termasuk denyut jantung maupunkonsumsi oksigen.

Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa kerja yang lebih keras membutuhkan

lebih banyak energi. Energi ini dapat disediakan apabila oksigen (dan nutrisi)

untuk proses metabolisme tersedia dalam jumlah yang cukup. Hal ini terkait erat

dengan kemampuan jantung dalam meningkatkan jumlah aliran darah ke otot

yang memerlukan. Peningkatan intensitas kerja dalam batas tertentu cenderung

meningkatan konsumsi oksigen dan denyut jantung secara simultan dengan

hubungan yang bersifat linier (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

104
Hubungan antara denyut jantung dan konsumsi oksigen dapat diteliti di

laboratorium, dan dapat dikembangakan suatu permasaan untuk menggambarkan

hubungan tersebut. Dengan menggunakan persamaan tersebut, konsumsi oksigen

untuk seseorang yang tengah melakukan suatu pekerjaan dapat diperkirakan (dan

lebih jauh dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan energi). Apabila data

VO2 maks dari pekerja (populasi) yang bersangkutan. Pendekatan ini merupakan

suatu cara yang lebih tepat dalam mengevaluasi beban kerja. Namun,

pengembangan persamaan tersebut membutuhkan proses pengukuran yang

kompleks (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Denyut jantung juga merupakan suatu respons fisiologis yang relative

sensitif terhadap hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan intnsitas kerja

fisik. Sebagai contoh, stress lingkungan kerja dapat meningkatkan denyut jantung

walaupun tidak ada peningkatan intensitas kerja. Dengan demikian, pendekatan

ini tidak disarankan untuk pekerjaan di mana kontribusi non-fisik dapat memberi

pengaruh cukup besar. Pendekatan ini juga tidak dapat mengevaluasi beban kerja

dengan intensitas kerja sangat tinggi, mendekati kapasitas fisik seseorang. Pada

keadaan seperti ini, variabilitas denyut jantung cenderung cukup tinggi. Namun

demikian, pengukuran denyut jantung sering kali merupakan pilihan yang terbaik

mempertimbangkan kemudahan dalam pengukurannya. Serta sifatnya yang dapat

mengintegrasikan seluruh aspek stress baik dari pekerjaan maupun lingkungan

tempat pekerjan tersebut dilakukan (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

105
5. Penilaian Subjektif

Penelitian atas beban kerja dapat pula dilakukan dengan memanfaatkan

persepsi seseorang atas beban yang dirasakan oleh tubuh pada saat melakukan

pekerjaan. Manusia pada dasarnya usaha yang dilakukan sebagai fungsi dari

intensitas kerja. Dengan memanfaatkan psychophysics, dapat dikembangkan suatu

model matematis yang memperlihatkan hubungan suatu stimulus fisik (intensitas

kerja) dengan sensasi psikologis yang dirasakan oleh seorang individu. Dengan

memanfaatkan model seperti ini, berat atau ringannya suatu aktivitas fisik dapat

dievaluasi dengan cara memperoleh masukan berupa nilai (rating) dari pekerja

yang bersangkutan (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Borg pada 1960 mengembangkan suatu skala yang disebut sebagai RPE

(rating of perceived exertion), yang dapat digunakan untuk menilai seberapa besar

usaha yang dikeluarkan oleh seorang dalam melakukan suatu aktivitas tertentu.

Skala ini terdiri atas sejunlah angka (antara 6-20), yang merepresentasikan

besarnya usaha kerja. Angka-angka pada skala ini bila dikalikan dengan 10, akan

mencerminkan denyut jantung per menit. Skala ini kemudian diperbaiki dengan

rentang nilai antara 0–10 (atau lebih) dan diakui bersifat sebagai skala rasio

(Borg, 1990). Skala ini dapat pula digunakan oleh pekerja dalam menilai tingkat

ketidaknyamanan atau rasa nyeri yang muncul Karena usaha fisik yang dibutuhan

untuk melakukan suatu pekerjaan, adapun skala ini dapat dilihat pada Tabel 2.2.7.

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

106
Tabel 2.2.7. Skala RPE.
Skala Deskripsi
6 Tidak ada usaha sama sekali
7,5 Amat sangat ringan
9 Sangat ringan
11 Ringan
13 Agak berat
15 Berat
17 Sangat berat
19 Amat sangat berat
20 Usaha maksimal
Sumber: Kroemer et al (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Berdasarkan Tabel 2.2.7 merupakan Tabel skala RPE yang di teliti oleh

Kroemer (2001), skala ini digunakan untuk menentukan tingkat kenyamanan

karena usaha fisik yang di butuhkan.

Berikut ini adalah Tabel skala CR-10 yang di tunjukan pada tabel 2.2.8.

Tabel 2.2.8. Skala CR-10.


Skala Deskripsi
0 Tidak ada usaha sama sekali
0,5 Amat sangat lemah
1 Sangat lemah
3 Moderat
5 Kuat
7 Sangat kuat
10 Amat sangat kuat
Sumber: Kroemer dalam (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Berdasarkan Tabel 2.2.8 merupkan tabel dalam skala CR-10

Dengan praktiknya, skala Borg ini dapat digunakan untuk menilai upaya

fisik yang bersifat keseluruhan (whole body, ataupun intensitas atau

ketidaknyamanan yang bersifat local (bagian tubuh tertentu). Skala ini telah

digunakan di banyak penelitian yang mengevaluasi beban kerja fisik. Namun,

penggunaan skala ini sebagai satu-satunya indikator beban kerja tidaklah

107
disarankan. Di samping itu, perlu diperhatikan bahwa penggunaan Bahasa Inggris

pada skala tersebut mungkin tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh pekerja

Indonesia, sehinga tentunya dapat menghasilkan informasi yang bersifat biasa

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2.5. Intervensi

Setelah memahami bagaimana beban kerja dapat dievaluasi dari sudut

pandang fisiologi, langkah berikutnya adalah memastikan bahwa suatu pekerjaan

tidak membutuhkan energi yang berlebihan. Hal ini dapat dicapai melalui

perancangan ulang atas system kerja yang bersangkutan serta pengaturan pekerja

yang lebih bersifat administrative, misalnya jadwal istirahat kerja, kerja sama

pegawai, pengawasan kelelahan selama kerja, dan seleksi pekerja. Sebagai contoh,

pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam posisi membungkuk

mungkin membutuhkan energi lebih besar bila dibandingkan dengan posisi kerja

berdiri. Agar posisi kerja berdiri dapat terpenuhi, metode dan peralatan kerja perlu

didesain ulang, sehingga objek kerja berada pada ketinggian yang diinginkan

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Pemberian waktu istirahat yang cukup diyakini dapat membantu seseorang

saat melakukan pekerjaan yang cukup berat, seperti kerja konstruksi, kerja di

bidang kehutanan, serta kegiatan penambangan. Diyakini bahwa istirahat singkat

yang dilakukan secara berkala, lebih baik dari pada istirahat panjang namun

sekali. Pemberian waktu istirahat (rest allowance) dapat ditentukan dengan

menggunakan persamaan Murrell (1971) (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

.......................................................................................................................... 2.2.9
108
w (b-s)
R= ……………………………………………………………………2.2.9
b-0,3

Dengan,

R = lama waktu istirahat (menit), untuk diberikan setelah kerja

W = lama waktu kerja yang dilakukan secara berturut-turut (menit)

b = rata-rata energi yang dikeluarkan saat kerja (kkal/menit)

s = batas atas energi yang diperoleh dikeluarkan (kkal/menit) untuk kerja

delapan jam berturut-turut.

Nilai s menunjukkan batas atas pengeluaran energi yang diperolehkan, yaitu

sebesar 5,44 kkal/menit yang kurang lebih adalah sepertiga dari rata-rata kapasitas

maksimal pekerja pria di Amerika Serikat. Sementara untuk pekerja wanita, nilai

ini perlu diganti menjadi 4 kkal/menit untuk pria dan 3,6 kkal/menit untuk wanita.

Nilai 0,3 kkal/menit yang adap ada rumus di atas mewakili energi yang

dikeluarkan saat seseorang beristirahat. Sebagai contoh, untuk pekerja pria yang

bekerja 4 jam berturut-turut, dan diketahui energi yang terkait dengan pekerjaan

tersebut adalah sekitar 5,5 kkal/menit, lama waktu istirahat yang dibutuhkan

adalah sekitar delapan menit. Untuk kerja industry yang relatif tidak berat, praktik

yang umum dilakukan adalah pemberian waktu istirahat selama sekitar sepuluh

menit setelah kerja selama sekitar 2-3 jam. Pemberian waktu istirahat ini

dilakukan dua kali, yaitu pada setengah shift kerja pertama dan kedua (Iridiastadi

dan Yassierli, 2014).

Apabila sangat diperlukan, pemilihan pekerja dapat dilakukan, untuk

memastikan agar pekerja yang memiliki karakteristik fisiologis tertentu (misalnya

usia muda, pria, dan memiliki VO2 maks cukup tinggi) yang melakukan pekerjaan
109
tersebut. Hal ini dapat dapat dibenarkan apabila perancangan ulang atas suatu

sistem kerja tidak memungkinkan. Sebagai contoh, dlam proses pemasangan pipas

minyak/gas ditengah laut, sering kali dibutuhkan seseorang untuk membantu

pemasangan pipa pada suatu ketinggian terentu. Untuk sangat tinggi, dan turun

setelah pipa berhasil dipasang. Aktivitas menajat dan menurun tangga (serta

pemasangan pipa pada suatu ketinggian) akan sukar dilakukan. Untuk itu,

pemilihan dalam pekerja dalam kasus ini bisamenjadi alternative yang terbaik

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

110
111

BAB III
PENGUMPULAN DATA

3.1. Alat dan Bahan

Alat dan Bahan yang digunakan dalam proses pengumpulan data yang

dilakukan dengan aktivitas menggunakan sepeda statis ialah sebagai berikut:

1. Sepeda statis

2. Pulsemetre

3. Stopwatch

4. Meteran

5. Alat tulis.

6. Lembar data pengamatan.

7. Kamera.

3.2. Cara Pengumpulan Data

1. Siapkan peralatan yang akan digunakan

2. Pastikan peralatan terpasang dengan benar

3. Pasang kecepatan sepeda statis, Lakukan kegiatan selama 45 menit sambil

mengukur kecepatan denyut jantung

4. Lakukan pengambilan data denyut jantung setiap 5 menit

5. Lakukan pengukuran denyut jantung selama istirahat (waktu istirahat menit

25-45 menit).

111
3.3. Data Pengamatan

Adapun data hasil pengumpulan data yang telah dilakukan dalam proses

pengumpulan data pengukuran fisiologi kerja menggunakan sepeda statis dapat

dilihat pada Tabel 3.2.1.

Tabel 3.2.1. Data operator.


Berat Badan Tinggi Tinggi Badan Umur
Nama
(kg) Badan (cm) (inch) (tahun)
Rendy syahputra 51 176 70,4 22
[Link] 52 170 68 21
Sumber: Data Pratikum, 2016.

Berdasarkan Tabel 3.2.1 dapat diketahui bahwa data dari ke 2 operator

tersebut pengumpulan data pengukuran fisiologi kerja yaitu dengan klasifikasi

berat badan, tinggi badan, umur.

Tabel untuk data hasil pengukuran yang di lakukan pada bulan desember

tahun 2016 lalu di ruang labor ergonomi STT Dumai yang akan di tunjukan pada

Tabel 3.2.2. berikut ini:

Tabel 3.2.2. Data pengukuran denyut jantung setiap operator.


Denyut Jantung (pulse)
No. Waktu (menit)
Rendy Syahputra [Link]
1. 0 85 94
2. 5 113 121
3. 10 123 133
4. 15 138 126
5. 20 138 131
6. 25 126 115
7. 30 117 123
8. 35 109 117
9. 40 106 127
10. 45 113 117
Jumlah 1168 1204
Sumber: Data Pratikum, 2016.
112
Berdasarkan Tabel 3.2.2 dapat dilihat hasil pengukuran denyut jantung ke 2

operator dimana total denyut jantung operator selama 45 menit diketahui

responden 1 adalah 1168 denyut dan responden 2 adalah 1204 denyut. Adapun

Grafik denyut jantung ke 2 operator dapat dilihat pada Gambar 3.2.1.

160

140

120

100

80 denyut jantung rendy


denyut jantung syahril
60

40

20

0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

Gambar 3.2.1. Grafik denyut jantung ke 2 operator.


Sumber: Pengolahan data, 2017

Dari Gambar 3.2.1. terlihat bahwa denyut jantung ke 2 operator tidak sama,

pada denyut jantung rendy terlihat stabil ketika penurunan denyut jantung ketika

istirahat, sedangkan denyut jantung syahril tidak stabil ketika waktu istirahat

penurunan denyut jantung tidak beraturan.

113
114

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Pengeluaran Energi

Untuk pengukuran energi yang digunakan kita akan menggunakan Rumus

pada Tabel 2.2.4. dari Keytel (2005).

1. Pengukuran Energi Pada Operator Rendy

Berikut merupakan pengukuran untuk waktu bekerja:

Menit ke 0 EE = -20,4022 + 0,4472 (85) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 38,012 - 6,4413 +1,628

EE = 9,5405

Menit ke 5 EE = -20,4022 + 0,4472 (113) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 50,5336 - 6,4413 +1,628

EE = 22,0621

Menit ke 10 EE = -20,4022 + 0,4472 (123) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 55,0056 - 6,4413 +1,628

EE = 26,5341

Menit ke 15 EE = -20,4022 + 0,4472 (138) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 61,7136 - 6,4413 +1,628

EE = 33,2421

Menit ke 20 EE = -20,4022 + 0,4472 (138) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 61,7136 - 6,4413 +1,628

EE = 33,2421

114
Hasil untuk pengukuran pada saat bekerja, sekarang kita akan mengukur

untuk pengukuran pada saat istirahat kerja:

Menit ke 0 EE = -20,4022 + 0,4472 (126) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 56,3472 - 6,4413 +1,628

EE = 27,8757

Menit ke 5 EE = -20,4022 + 0,4472 (117) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 52,3224 - 6,4413 +1,628

EE = 23,8509

Menit ke 10 EE = -20,4022 + 0,4472 (109) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 50,5336 - 6,4413 +1,628

EE = 22,0621

Menit ke 15 EE = -20,4022 + 0,4472 (106) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 48,7448 - 6,4413 +1,628

EE = 20,2733

Menit ke 20 EE = -20,4022 + 0,4472 (113) - 0,1263 (51) + 0,074 (22)

EE = -20,4022 + 47,4032 - 6,4413 +1,628

EE = 18,9317

2. Pengukuran Energi Pada Operator Syahril

Berikut merupakan pengukuran untuk waktu bekerja:

Menit ke 0 EE = -20,4022 + 0,4472 (94) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 42,0368 - 6,5676 + 1,554

EE = 13,513

115
Menit ke 5 EE = -20,4022 + 0,4472 (121) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 54,1112 - 6,5676 + 1,554

EE = 25,5874

Menit ke 10 EE = -20,4022 + 0,4472 (126) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 56,3472 - 6,5676 + 1,554

EE = 27,8234

Menit ke 15 EE = -20,4022 + 0,4472 (131) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 58,5832 - 6,5676 + 1,554

EE = 30,0594

Menit ke 20 EE = -20,4022 + 0,4472 (133) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 59,4776 - 6,5676 + 1,554

EE = 30,9538

Hasil untuk pengukuran pada saat bekerja, sekarang kita akan mengukur

untuk pengukuran pada saat istirahat kerja:

Menit ke 0 EE = -20,4022 + 0,4472 (127) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 56,7944 - 6,5676 + 1,554

EE = 28,2706

Menit ke 5 EE = -20,4022 + 0,4472 (123) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 55,0056 - 6,5676 + 1,554

EE = 26,4818

Menit ke 10 EE = -20,4022 + 0,4472 (117) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 52,3224 - 6,5676 + 1,554

EE = 23,7986

116
Menit ke 15 EE = -20,4022 + 0,4472 (117) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 52,3224 - 6,5676 + 1,554

EE = 23,7986

Menit ke 20 EE = -20,4022 + 0,4472 (115) - 0,1263 (52) + 0,074 (21)

EE = -20,4022 + 51,428 - 6,5676 + 1,554

EE = 22,9042

4.1. Konsumsi Oksigen

Untuk pengukuran energi yang digunakan kita akan menggunakan rumus

pada Tabel 2.2.4. dari Rakhmaniar (2007).

1. Pengukuran konsumsi oksigen pada operator Rendy

Menit ke 0 Y = 0,014 (85) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,19 + 0,867 - 1,706

Y = 0,351

Menit ke 5 Y = 0,014 (113) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,582 + 0,867 - 1,706

Y = 0,743

Menit ke 10 Y = 0,014 (123) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,722 + 0,867 - 1,706

Y = 0,883

Menit ke 15 Y = 0,014 (138) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,932 + 0,867 - 1,706

Y = 1,093

117
Menit ke 20 Y = 0,014 (138) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,932 + 0,867 - 1,706

Y = 1,093

Hasil untuk pengukuran pada saat bekerja, sekarang kita akan mengukur

untuk pengukuran pada saat istirahat kerja:

Menit ke 0 Y = 0,014 (126) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,764 + 0,867 - 1,706

Y = 0,925

Menit ke 5 Y = 0,014 (117) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,638 + 0,867 - 1,706

Y = 0,799

Menit ke 10 Y = 0,014 (113) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,582 + 0,867 - 1,706

Y = 0,743

Menit ke 15 Y = 0,014 (109) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,526 + 0,867 - 1,706

Y = 0,687

Menit ke 20 Y = 0,014 (106) + 0,017 (51) – 1,706

Y = 1,484 + 0,867 - 1,706

Y = 0,645

2. Pengukuran konsumsi oksigen pada operator Syahril

Menit ke 0 Y = 0,014 (94) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,316 + 0,884 - 1,706

118
Y = 0,494

Menit ke 5 Y = 0,014 (121) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,694 + 0,884 - 1,706

Y = 0,872

Menit ke 10 Y = 0,014 (126) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,764 + 0,884 - 1,706

Y = 0,942

Menit ke 15 Y = 0,014 (131) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,834 + 0,884 - 1,706

Y = 1,012

Menit ke 20 Y = 0,014 (133) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,862 + 0,884 - 1,706

Y = 1,04

Hasil untuk pengukuran konsumsi oksigen pada saat bekerja, sekarang kita

akan mengukur untuk pengukuran konsumsi oksigen pada saat istirahat kerja

Menit ke 0 Y = 0,014 (127) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,778 + 0,884 - 1,706

Y = 0,956

Menit ke 5 Y = 0,014 (123) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,722 + 0,884 - 1,706

Y = 0,9

Menit ke 10 Y = 0,014 (117) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,638 + 0,884 - 1,706

119
Y = 0,816

Menit ke 15 Y = 0,014 (117) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,638 + 0,884 - 1,706

Y = 0,816

Menit ke 20 Y = 0,014 (115) + 0,017 (52) – 1,706

Y = 1,61 + 0,884 - 1,706

Y = 0,788

4.2. Metabolic Work Rate

Untuk pengukuran metabolic work rate menggunakan ukuran tinggi badan

centimeter, dapat menggunakan rumus pada tabel 2.2.4. kamalakannan et al

(2007)

1. Perhitungan pengukuran metabolic work rate untuk operator Rendy

Menit ke 0 = -1967 + 8,58(85) + 25,1(176) + 4,50(22) – 7,47(126) + 67,8(0)

= -1967 + 729,3 + 4417,6000 + 99 - 941,22 + 0

= 2337,68

Menit ke 5 = -1967 + 8,58(113) + 25,1(176) + 4,50(22) – 7,47(117) + 67,8(0)

= -1967 + 969,54 + 4417,6000 + 99 - 873,99 + 0

= 2645,15

Menit ke 10 = -1967 + 8,58(123) + 25,1(176) + 4,50(22) – 7,47(113) + 67,8 (0)

= -1967 + 1055,34 + 4417,6000 + 99 - 844,11 + 0

= 2760,83

Menit ke 15 = -1967 + 8,58(138) + 25,1(176) + 4,50(22) – 7,47(109) + 67,8(0)

= -1967 + 1184,04 + 4417,6000 + 99 - 814,23 + 0


120
= 2919,41

Menit ke 20 = -1967 + 8,58(138) + 25,1(176) + 4,50(22) – 7,47(106) + 67,8(0)

= -1967 + 1184,04 + 4417,6000 + 99 - 791,82 + 0

= 2941,82

2. Perhitungan pengukuran metabolic work rate untuk operator Syahril

Menit ke 0 = -1967 + 8,58(94) + 25,1(170) + 4,50(21) – 7,47(127) + 67,8(0)

= -1967 + 806,52 + 4267,0000 + 94,5 - 948,69 + 0

= 2252,33

Menit ke 5 = -1967 + 8,58(121) + 25,1(170) + 4,50(21) – 7,47(123) + 67,8(0)

= -1967 + 1038,18 + 4267,0000 + 94,5 - 918,81 + 0

= 2513,87

Menit ke 10 = -1967 + 8,58(126) + 25,1(170) + 4,50(21) – 7,47(117) + 67,8(0)

= -1967 + 1081,08 + 4267,0000 + 94,5 - 873,99 + 0

= 2601,59

Menit ke 15 = -1967 + 8,58(131) + 25,1(170) + 4,50(21) – 7,47(117) + 67,8(0)

= -1967 + 1123,98 + 4267,0000 + 94,5 - 873,99 + 0

= 2644,49

Menit ke 20 = -1967 + 8,58(133) + 25,1(170) + 4,50(21) – 7,47(115) + 67,8(0)

= -1967 + 1141,14 + 4267,0000 + 94,5 - 859,05 + 0

= 2676,59

121
Untuk pengukuran metabolic work rate menggunakan ukuran tinggi badan

inch, dapat menggunakan rumus pada tabel 2.2.4. kamalakannan et al (2007)

3. Perhitungan pengukuran metabolic work rate untuk operator Rendy

Menit ke 0 = -1967 + 8,58(85) + 25,1(69,2912) + 4,50(22) – 7,47(126) +

67,8(0)

= -1967 + 729,3 + 4417,6000 + 99 - 941,22 + 0

= -340,711

Menit ke 5 = -1967 + 8,58(113) + 25,1(69,2912) + 4,50(22) – 7,47(117) +

67,8(0)

= -1967 + 969,54 + 4417,6000 + 99 - 873,99 + 0

= -33,2409

Menit ke 10 = -1967 + 8,58(123) + 25,1(69,2912) + 4,50(22) – 7,47(113) +

67,8 (0)

= -1967 + 1055,34 + 4417,6000 + 99 - 844,11 + 0

= 82,391

Menit ke 15 = -1967 + 8,58(138) + 25,1(69,2912) + 4,50(22) – 7,47(109) +

67,8(0)

= -1967 + 1184,04 + 4417,6000 + 99 - 814,23 + 0

= 241,019

Menit ke 20 = -1967 + 8,58(138) + 25,1(69,2912) + 4,50(22) – 7,47(106) +

67,8(0)

= -1967 + 1184,04 + 4417,6000 + 99 - 791,82 + 0

= 2941,82

122
4. Perhitungan pengukuran metabolic work rate untuk operator Syahril

Menit ke 0 = -1967 + 8,58(94) + 25,1(66,929) + 4,50(21) – 7,47(127) +

67,8(0)

= -1967 + 806,52 + 4267,0000 + 94,5 - 948,69 + 0

= -334,7521

Menit ke 5 = -1967 + 8,58(121) + 25,1((66,929) + 4,50(21) – 7,47(123) +

67,8(0)

= -1967 + 1038,18 + 4267,0000 + 94,5 - 918,81 + 0

= -73,2121

Menit ke 10 = -1967 + 8,58(126) + 25,1((66,929) + 4,50(21) – 7,47(117) +

67,8(0)

= -1967 + 1081,08 + 4267,0000 + 94,5 - 873,99 + 0

= 14,5079

Menit ke 15 = -1967 + 8,58(131) + 25,1((66,929) + 4,50(21) – 7,47(117) +

67,8(0)

= -1967 + 1123,98 + 4267,0000 + 94,5 - 873,99 + 0

= 57,4079

Menit ke 20 = -1967 + 8,58(133) + 25,1((66,929) + 4,50(21) – 7,47(115) +

67,8(0)

= -1967 + 1141,14 + 4267,0000 + 94,5 - 859,05 + 0

= 89,5079

123
4.3. Heart Rate Range

Beban fisiologis dapat dihitung dengan menggunakan indikator heart rate

range (HRR) yang dapat di lihat pada dasar teori yang pratikan bahas sebelumnya

harus mencari:

1. Perhitungan heart rate range pada operator rendy

HRmaks = 260 – (0,62 x 22) = 260 - 13,64 = 246,36

Maka didapatkan HRmaks untuk operator Rendy adalah 246,36

100 (138-106) 320


HRR (%)= = =2,27
246,36-106 140,36

Dari perhitungan di atas maka didapatkan heart rate range adalah 2,27

untuk operator Rendy.

2. Perhitungan heart rate range pada operator Syahril

HRmaks = 260 – (0,62 x 21) = 260 - 13,02 = 246,98

Maka didapatkan HRmaks untuk operator Rendy adalah 246,36

100 (133-115) 180


HRR (%)= = =1,36
246,98-115 131,98

Dari perhitungan tersebut maka didapatkan heart rate range adalah 2,27

untuk operator Rendy. Ternyata dilihat dari HRR antara kedua operator terdapat

selisih yang besar untuk itu, denyut jantung dapat dengan mudah dipengaruhi oleh

aspek-aspek yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan.

124
4.4. Analisa dan Evaluasi

Berikut ini adalah hasil analisa untuk kedua operator yaitu operator Rendy

dan operator Syahril. Dimana hasil analisa ini merupakan total setiap perhitungan

dari ke 2 operator,dari perhitungan pengeluaran energi, konsumsi oksigen,

metabolic work rate, dan heart rate range. Adapun hasil analisa tersebut akan

ditunjukan pada Tabel 4.2.1.

Tabel 4.2.1. Hasil analisa total perhitungan


Operator EE Y MWR HRRMAKS
Rendy 237,6146 7,962 13604,89 2,27
Syahril 249,6655 8,636 12688,87 1,36
Selisih 12,0509 0,674 916,02 0,91
Sumber: Pengolahan data, 2017

Dari Tabel 4.2.1. dapat dilihat selisih antara ke 2 operator dimana selisih

nilai EE adalah 12,0509, operator syahril memiliki EE yang lebih besar di

bandingkan operator Rendy. Selisih nilai Y adalah 0,674 dimana nilai operator

Syahril lebih besar dari pada operator Rendy. Selisih nilai MWR adalah 916,02

dimana nilai operator Rendy lebih besar dibandingkan nilai operator. Dan selisih

nilai HRRmaks adalah 0,91 dimana nilai operator Rendy lebih besar di bandingkan

nilai operator Syahril.

Dari hasil analisa tersebut maka evaluasinya adalah bahwa bukan hanya

beban kerja yang dapat mempengaruhi pengukuran energi tetapi kondisi lain

seperti umur dan berat dari operator tersebut.

125
126

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan maka didapatlah

kebutuhan energi, konsumsi oksigen, metabolic work rate, dan heart rate range

yang dimana selisih antara ke 2 operator dimana selisih nilai EE adalah 12,0509,

operator Syahril memiliki EE yang lebih besar di bandingkan operator Rendy.

Selisih nilai Y adalah 0,674 dimana nilai operator Syahril lebih besar dari pada

operator Rendy. Selisih nilai MWR adalah 916,02 dimana nilai operator Rendy

lebih besar dibandingkan nilai operator. Dan selisih nilai HRRmaks adalah 0,91

dimana nilai operator Rendy lebih besar di bandingkan nilai operator Syahril.

Dengan begitu berdasarkan data denyut jatung Rendy waktu bekerja dan watu

istirahat lebih beraturan dibandingkan, denyut jantung Syahril yang tidak

beraturan waktu bekerja dan istirahat.

5.1. Saran

Dari hasil kesimpulan diatas maka saran yang dapat diberikan adalah bahwa

bukan hanya beban kerja yang dapat mempengaruhi pengukuran energi tetapi

kondisi lain seperti umur dan berat dari operator tersebut. Untuk mencapai

kualitas nilai fisologi yang bagus, sebaiknya setiap operator menjaga

kesehatannya dengan berolahraga.

126
127

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Industri garmen merupakan salah satu industri kerajinan. Industri ini,

khususnya usaha kecil dan menengah dapat diharapkan tumbuh dan berkembang

menjadi kegiatan usaha mandiri dan mampu memberikan peranan yang penting

bagi perekonomian di kalangan masyarakat kecil. Pengerajin garmen di daerah

Medan denai jalan Bromo cukup banyak, baik pengerajin secara individu

memproduksi sendiri, maupun yang sudah mempekerjakan orang dalam proses

produksinya. Industri ini (terutama industri kecil dan menengah) belum

memperhatikan dengan serius masalah yang berkenaan dengan ergonomi. Posisi

kerja, kesesuaian mesin dan alat terhadap karakteristik pekerja belum menjadi

perhatian, akibatnya proses produksi yang dilakukan dapat menyebabkan keluhan

dan ketidaknyamanan bagi pekerja. Pekerjaan menjahit dilakukan dengan posisi

duduk yang cukup lama, kurang lebih 7-8 jam per hari dan dilakukan secara terus

menerus. Postur kerja di tempat kerja perlu diperhatikan karena jika postur kerja

tidak baik pada waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan pekerja mengalami

keluhan rasa sakit,seperti rasa pegal, bahkan bisa mengakibatkan otot kejang atau

kram pada bagian tubuh tertentu.

Posisi postur kerja juga ditentukan oleh mesin atau alat yang digunakan oleh

pekerja. Dimensi mesin atau alat yang tidak sesuai dengan antropometri tubuh

pekerja dapat mengakibatkan postur kerja tidak sesuai. Pekerjaan menjahit ini

127
menarik untuk diteliti karena terlihat adanya sikap atau posisi kerja dan kondisi

kerja yang tidak ergonomis serta adanya keluhan yang dirasakan oleh pekerja

akibat pekerjaan tersebut. Menurut Grandjean, sewaktu memikirkan tempat kerja

(meja, kursi dan sebagainya) harus memperhatikan ukuran dimensi tubuh pekerja

atau operator agar posisi badan, urutan gerakan dapat dijamin berlangsung secara

alami. Menurut Anis, J.F dan McConville, setiap desain produk, baik yang

sederhana maupun yang kompleks, ukuran atau dimensi penting untuk

diperhatikan dan harus mampu mengacu pada antropometri pengguna dan

pemakainya.

Aplikasi ergonomi dengan antropometri menjadi dua divisi utama yaitu:

Pertama, ergonomi berhadapan dengan tenaga kerja, mesin beserta sarana

pendukung lainnya atau lingkungan kerja. Tujuannya untuk menciptakan

kemungkinan situasi terbaik pada pekerjaan sehingga kesehatan fisik dan mental

tenaga kerja secara optimal. Kedua, ergonomi berhadapan dengan karakteristik

produksi yang berhubungan dengan konsumen atau pemakai produk. Andersen

dan Gaardboe menyatakan bahwa kegiatan menjahit yang dilakukan operator

mesin jahit yang bekerja lebih dari 8 tahun akan menimbulkan efek yang

kumulatif terhadap cedera leher dan bahu pada tubuh. Posisi kerja dan kondisi

kerja yang menyebabkan keluhan pada pekerja perlu dilakukan evaluasi ergonomi

terhadap sarana kerja khusunya meja mesin jahit dan kursi operator yang

digunakan. Evaluasi perlu dilakukan untuk mendapatkan data dalam upaya

pemecahan masalah ergonomi.

128
1.2. Tujuan Pratikum

1. Menentukan dimensi data antropometri untuk perancangan peralatan atau

pun suatu produk.

2. Merancang ulang produk agar penggunaan produk tersebut tidak

menimbulkan berbagai masalah dalam penggunaanya.

3. Mengetahui ukuran dari produk yang dirancang ulang sehingga produk

tersebut tidak menimbulkan masalah bagi penggunanya.

1.3. Manfaat Pratikum

1. Praktikan dapat merancang kursi dan meja mesin jahit dengan kondisi yang

nyaman oleh orang yang akan memakainya.

2. Praktikan dapat merancang kursi dan meja mesin jahit sesuai dengan

karaktristik antropometri.

3. Praktikan dapat mengetahui keserasian rancangannya dengan manusia yang

memakainya.

129
130

BAB II
DASAR TEORI

2.1. Pendahuluan

Pada bagian ini akan dibahas mengenai definisi dan sejarah keilmuan

antropometri, faktor-faktor yang mempengaruhi antropometri, metode pengukuran

dan pengolahan data antropometri, serta penggunaan antropometri untuk

perancangan (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2.2. Variasi Dimensi Tubuh Manusia

Didalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengeluhkan berbagai produk

yang tidak nyaman ketika digunakan. Misalnya, meja belajar yang terlalu rendah

menyebabkan kita menulis dengan membungkuk atau pegangan jendela yang

terlalu tinggi memaksa kita menjinjit untuk menggapainya. Kondisi yang serupa

juga dapat kita temukan di industri. Sebagai contoh, pekerja sering dijumpai harus

menjangkau tombol-tombol pada mesin secara berlebihan untuk

mengoperasikannya. Selain itu dapat dijumpai juga pekerja yang mengalami

kesulitan untuk mendapatkan pakaian kerja atau sepatu keselamatan (safety shoes)

yang cocok karena postur tubuh mereka yang kecil. Hal ini bisa terjadi karena

banyak produk, mesin atau peralatan yang tersedia diimpor dari luar negeri dan

cenderung tidak cocok dengan pekerja dalam negeri. Namun dalam banyak hal,

ketidaknyamanan dalam menggunakan produk juga kita temukan pada berbagai

alat kerja yang merupakan produk dalam negeri (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

130
Kondisi Ketidaksesuaian mesin, alat kerja, atau produk dengan

penggunanya tidak hanya berdampak pada ketidaknyamanan, tetapi juga

berdampak pada hal negatif lainnya. Berbagai dampak lain yang dapat

ditimbulkan adalah sebagai berikut:

a. Kerja otot berlebihan atau pemerasan tenaga yang harus dilakukan sehingga

lebih cepat lelah dalam bekerja. Bayangkan para pekerja garmen! Betapa

melelahkan apabila pekerja menggunakan gunting yang terlalu kecil

dibandingkan dengan menggunakan gunting yang sesuai dengan ukuran jari

tangan mereka.

b. Produktitivitas kerja yang menurun akibat kelelahan karena terkurasnya

tenaga (point a). Ketika berada dalam kondisi lelah, tubuh kita perlu

beristirahat atau memperlambat kerja. Akibatnya produktivitas atau hasil

kerja dapat menurun.

c. Resiko terjadinya kesalahan kerja (error) yang dapat mengakibatkan

kecelakaan kerja atau cacat produk. Sepatu yang terlalu besar atau terlalu

kecil sangat mungkin mengganggu konsentrasi pekerja, yang

mengakibatkan kemungkinan kesalahan dan kecelakaan kerja menjadi lebih

besar.

d. Pegal dan ngilu pada bagian sistem otor-rangka jika penggunaannya

dilakukan dalam waktu yang lama. Ngilu yang berkepanjangan pada sistem

otot-rangka dapat meningkatkan resiko kelainan atau cedera otot-rangka.

Sekarang ini, mulai banyak kita temui orang dewasa bahkan anak-anak

dengan postur agak bungkuk karena sering dan berlama-lama menggunakan

131
komputer dengan sikap yang bungkuk juga. Sikap kerja bungkuk biasanya

diakibatkan oleh meja kerja atau monitor komputer yang terlalu rendah.

Salah satu prinsip dasar ergonomi daam perancangan adalah human-

centered design.

Maksudnya adalah suatu rancangan hendaknya memperhatikan faktor

manusia sebagai pengguna yang mempunyai berbagai keterbatasan secara

individu. Selain itu, manusia sebagai pengguna juga memiliki variasi antar

individu. Aspek dimensi fisik merupakan salah satu hal mendasar yang harus

dipertimbangkan dalam perancangan untuk mendapatkan produk yang ergonomis.

Bagaimana kita dapat berjalan dengan baik jika mengunakan sepatu yang terlalu

besar atau terlalu kecil? Bagaimana suatu palu atau gunting dapat dipakai dengan

aman untuk bekerja jika pegangannya tidak pas dengan genggaman penggunanya?

Dengan memperhatikan aspek karakteristik penggunanya maka kenyamanan,

kepuasan, keselamatan kerja, dan tingkat produktivitas dapat diperbaiki. Di sinilah

peran utama keilmuan ergonomi (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Manusia memiliki dimensi fisik yang beraneka ragam. Coba perhatikan

keragaman mahasiswa di suatu kelas. Satu sample kelas mahasiswa di ITB

Bandung dengan jumlah 120 orang. Misalnya, mempunyai tinggi badan yang

berkisar antara 148-178 cm dengan bobot badan antara 42-103 kg. Ketika berdiri

jangkauan tangan ke atas mereka berkisar antara 180-231 cm. Variasi fisik seperti

ini juga terlihat di tempat kerja. Dalam lingkup populasi yang lebih besar, variasi

ini akan semakin terlihat karena adanya perbedaan usia, ras dan etnis, misalnya

populasi disuatu provinsi atau bahkan populasi suatu negara. Data kami terhadap

132
sampel pekerja industri di provinsi jawa barat menunjukkan tinggi badan pada

rentang 135-182 cm dengan tinggi jangkauan ke atas ketika berdiri berkisar antara

170-236 cm (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Dalam menentukan keanekaragaman tinggi antara mahasiswa dengan

pekerja di Jawa Barat yang diukur dalam satuan (centimeter) dapat dilihat pada

Gambar 2.3.1:

Gambar 2.3.1. Variasi antropometri dalam satu kelas mahasiswa (n=120) dan
sesama pekerja Jawa Barat.
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Gambar 2.3.1 dapat di ketahui bahwa perbedaan perbandingan

tinggi antara mahasiswa dengan pekerja Jawa Barat sangat bervariasi karena

adanya perbedaan usia, ras dan etnis namun dalam aktivitas juga sangat

berpengaruh besar. Selain itu, perlu dipahami juga bahwa manusia bervariasi

dalam proporsi dan panjang anggota tubuh. Dan dua orang yang memiliki tinggi

yang sama, bisa saja mempunyai proporsi panjang kali atau panjang tangan yang

berbeda. Terdapat beragam tipe postur manusia, ada yang memiliki postur tinggi-

133
kurus, tinggi-gemuk, pendek-kurus, serta pendek-gemuk, seperti yang dapat

dilihat pada Gambar 2.3.2 (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Tipe-tipe postur tubuh manusia dengan memiliki tinggi tubuh yang sama

namun terdapat perbedaan bentuk tubuhnya yang dapat dilihat pada Gambar 2.3.2:

Gambar 2.3.2. Variasi manusia dalam postur walaupun tinggi tubuh sama.
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Gambar 2.3.2 dapat diketahui bahwa dengan tinggi tubuh yang

sama namun dapat dilihat perbedaan berbagai bentuk postur tubuh manusianya

dari segi bentuk maupun berat tubuhnya. Dengan memahami adanya variasi antar

individu ini, bagaimana seharusnya kita merancang suatu alat atau produk agar

ergonomis? Ambil salah satu contoh misalnya meja kerja. Jika kita diminta untuk

merancang sebuah meja kerja di industri, berapa tinggi alas meja dari lantai yang

kita pilih? Bagaimana dengan ukuran panjang dan lebar alas meja? Hal inilah

yang akan dijawab oleh keilmuan antropometri. Antropometri bertujuan untuk

mendapatkan rancangan peralatan, produk, atau tempat kerja yang ergonomis

dengan memperhatikan dimensi tubuh target pengguna (Iridiastadi dan Yassierli,

2014).

134
2.3. Definisi dan Sejarah

Antropometri berasalkan dari kata antropos, yang berarti manusia, dan

metrikos, yang berarti pengukuruan. Singkatnya, antropometri merupakan ilmu

yang berhubungan dengan aspek ukuran fisik manusia. Aspek fisik ini tidak

hanya dimensi linier, tetapi juga berupa berat badan. Keilmuan ini melingkupi

metode pengukuran dan permodelan dimensi tubuh manusia, serta teknik aplikasi

untuk perancangan. Roebuck (1995) mendefinisikan antropometri sebagai “the

science of measurement and the art of application that establishes the physical

geometry, mass properties, and strength capabilities of the human body.”

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Antropometri dapat dibagi atas antropometri struktural (statis) dan

antropometri fungsional. Antropometri statis adalah pengukuran keadaan dan ciri-

ciri fisik manusia dalam posisi diam pada dimensi-dimensi dasar fisik, meliputi

panjang segmen atau bagian tubuh, lingkar bagian tubuh, massa bagian tubuh, dan

sebagainya. Antropometri dinamis adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik

manusia ketika melakukan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat bekerja,

berkaitan erat dengan dimensi fungsional, misalnya tinggi duduk, panjang

jangkauan, dan lain-lain. Dalam penerapannya, kedua antropometri ini tidak

dibedakan. Hasil pengukuran baik pada keadaan statis atau dinamis secara umum

disebut data antropometri (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Berbicara tentang sejarah, konon perhatian filosof, seniman, dan arsitek

terhadap dimensi tubuh manusia sebenarnya sudah ada sejah dahulu kala. Seorang

135
arsitek yang bernama Vitruvius pada abad 1 SM menuliskan beberapa pion yang

menarik (Panero dan Zelnik, 1979):

“Tubuh manusia dirancang secara alamiah bahwa wajahnya sepersepuluh

dan tinggi tubuh, tangan dari pergelangan hingga ujung jari tengah adalah sama,

kepala mulai dagu hingga puncak merupakan seperdelapan bagian, dada paling

atas hingga akar rambut terendah merupakan seperenam bagian, tengah dada

hingga ujung kepala bagian atas merupakan seperempat bagian. Jika kita ambil

tinggi wajah saja, jarak dari bawah dagu hingga sisi bawah lubang hidung

merupakan sepertiga, selanjutnya ke garis alis mata juga sepertiga, dan sisa ke

atasnya juga sepertiga. Panjang kaki merupakan seperenam dari tinggi tubuh,

lengan bawah-seperempatnya, dan lebar dada juga seperempatnya. Anggota tubuh

yang lain juga memilii proporsi simetrisnya masing-masing. Kemudian, pada

tubuh manusia yang manjadi titik pusat secara alamiah adalah pasar. Jika

seseorang dibaringkan dengan kedua tangan dan kakinya direntangkan, dan

sebuah jangka diletakkan pada pusarnya untuk membuat sebuah lingkaran, jari-

jari kaki dan jari-jari tangannya akan menyentuh keliling lingkaran tersebut.

Seperti tubuh manusia menghasilkan sebuah lingkaran, maka gambar sebuah

bujur sangkar juga dapat diperoleh. Jarak yang sama ditemukan dari telapak kaki

hingga puncak kepala dengan lebar kedua ke dua tangan yang tergantung

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Menarik bahwa gambar terkenal dari Leonardo da Vinci tentang sosok

manusia pada zaman Renaissance (Gambar 2.3.3) dibuat berdasarkan Vitruvian

Norm-Man diatas tahun 1870, Quetlet, seorang ahli matematika berkebangsaan

136
Belgia, menulis buku berjudul “anthtopometrie”. Quetlet kemudian dianggap

sebagai orang pertama yang memperkenalkan istilah antropometri. Perhatikan

terhadap proporsi dan dimensi tubuh manusia terus berkembang, termasuk juga

usaha untuk mengumpulkan data antropometri. Tercatat, pada tahun 1919 pernah

dilakukan pengukuran terhadap 100.000 orang prajurit Amerika untuk

perancangan pakaian. Namun data yang dikumpulkan tidak lagi digunakan untuk

tujuan tersebut (Panero dan Zelnik, 1979) (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Gambar terkenal dari Leonardo da Vinci tentang sosok manusia pada zaman

Renaissance Gambar 2.3.3:

Gambar 2.3.3. Salah satu karya Leonardo da Vinci berdasarkan Vitruvius Norm-
Man.
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Gambar 2.3.3 merupakan salah satu karya yang terkenal dari

Leonardo da Vinci tentang sosok manusia pada zaman Renaissance. Penerapan

antropometri untuk perancangan baru terealisasi pada masa perang dunia ke-2.

137
Data antropometri banyak digunakan untuk mengevaluasi perlengkapan militer,

termasuk kokpit pesawat terbang. Saat ini, penerapan keilmuan antropometri

semakin luas terutama dalam perancangan berbagai produk serta desain stasiun

kerja dan tata ruang kerja di industri. Data antropometri di gunakan sebagai

standar dan acuan penentuan tinggi, lebar, diameter pegangan, serta jarak

jangkauan. Perkembangan teknologi CAD (computer-aided design) juga memicu

penerapan antropometri yang lebih luas dalam perancangan dan simulasi

komputer lantai pabrik serta berbagai alat transportasi, seperti mobil, bis, dan

pesawat terbang. Aplikasi keilmuan antropometri dalam perancangan kokpit

pesawat komuter Indonesia (Bernanto, 1997) dapat dilihat pada Gambar 2.3.4

salah satu kegunaan lain data antropometri adalah pada keilmuan biomekanika.

Dalam keilmuan ini, data berupa ukuran dan dimensi setiap segmen tubuh

diperlukan sebagai input dalam simulasi model manusia ketika bekerja, secara

spesifik untuk menghitung besarnya gaya beban otot dan tekanan pada sendi

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Mengenai aplikasi keilmuan antropometri dalam perancangan kokpit

pesawat komuter Indonesia (Bernanto, 1997) dapat dilihat pada Gambar 2.3.4:

Gambar 2.3.4. Aplikasi keilmuan antropometri dalam perancangan kokpit pesawat


komuter di Indonesia (Bernanto, 1997).

138
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Pada Gambar 2.3.4 merupakan contoh data pengukuran hasil dari

pengaplikasian keilmuan antropometri dalam perancangan kokpit pesawat

komuter Indonesia (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Antropometri

Bila antropometri hanya dipandang sebagai suatu pengukuran tubuh

manusia semata, akan hal tersebut tentu dapat dilakukan dengan mudah dan

sederhana. Namun kenyataanya, banyak faktor yang harus diperhatikan ketika

data ukuran tubuh ini digunakan dalam perancangan. Salah satunya adalah adanya

keragaman individu dalam ukuran dan dimensi tubuh. Variasi ini dipengaruhi oleh

beberapa fakor, diantaranya (Wickens, 2004; Kromer, 2003).

1. Usia

Tinggi tubuh manusia terus bertambah mulai dari lahir hingga usia sekitar 20-

25 tahun. Usia saat berhentinya pertumbuhan pada perempuan lebih dini

daripada laki-laki. Berbeda dengan dengan tinggi tubuh, dimensi tubuh yang

lain, seperti bobot badan dan lingkar perut mungkin tetap bertambah hingga

usia 60 tahun. Pada tahap usia lanjut, dapat terjadi perubahan bentuk tulang

seperti bungkuk pada tulang punggung, terutama pada perempuan.

2. Jenis Kelamin

Pengamatan kita sehari-hari menunjukkan adanya perbedaan antropometri

antara laki-laki dan perempuan. Di usia dewasa, laki-laki pada umumnya lebih

tinggi dari pada perempuan, dengan perbedaan sekitar 10%. Namun perbedaan

ini tidak terlihat saat usia sekitar 10-12 tahun. Pada usia ini, perempuan
139
cenderung lebih tinggi dan lebih berat dari pada laki-laki seusianya. Sampel

data dari lab. Rekayasa sistem kerja dan Ergonomi ITB menunjukkan

perbedaan sekitar 4% antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, tingkat

pertumbuhan maksimum terjadi pada usia sekitar 13-15 tahun. Selain lebih

tinggi dan lebih berat, pada umumnya tubuh laki-laki juga lebih besar

dibandingkan perempuan. Namun pada beberapa dimensi, perbedaan ini tidak

berarti seperti paha dan pinggul. Selain dalam hal ukuran, perbedaan juga

terlihat pada proporsi bagian-bagian tubuh dan postur tubuh.

3. Ras dan Etnis

Ukuran dan proporsi tubuh sangat beragam antara ras dan etnis yang berbeda,

misalnya antara Negroid (Afrika), Kaukasoid (Amerika Utara dan Eropa),

Mongoloid atau Asia, dan Hispanik (Amerika Selatan). Perhatikan data berikut

yang diambil dari Kroemer (2003). Tinggi rata-rata orang Cina (bagian selatan)

adalah 166 cm (laki-laki) dan 152 cm (perempuan). Bandingkan dengan rata-

rata orang Amerika Utara dengan tinggi badan sekitar 179 cm untuk laki-laki

dengan 165 cm untuk perempuan. Orang Asia biasanya mempunyai postur

yang berbeda dengan Amerika dan Eropa, dengan proporsi kaki yang lebih

pendek dan punggung lebih panjang.

4. Pekerjaan dan Aktivitas

Perbedaan dalam ukuran dimensi fisik dapat dengan mudah kita temukan pada

kumpulan orang yang mempunyai aktivitas kerja berbeda. Sebagai contoh,

petani di desa yang terbiasa melakukan kerja fisik berat memiliki antropometri

yang berbeda dengan orang-orang yang tinggal di kota dengan jenis pekerjaan

140
kantoran yang hanya duduk di depan komputer. Orang yang berolahraga secara

rutin juga mempunyai postur tubuh yang berbeda dengan mereka yang jarang

berolahraga.

5. Kondisi Sosio-ekonomi

Faktor kondisi sosio-ekonomi berdampak pada pemberian nutrisi dan

berpengaruh pada tingkat pertumbuhan badan. Selain itu, faktor ini juga

berhubungan dengan kemampuan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih

tinggi. Mahasiswa memiliki tinggi tubuh yang lebih tinggi daripada teman

seusianya yang buakn mahasiswa. Panero dan Zelnik (1979) menggambarkan

hubungan yang linier antara rata-rata tinggi badan dan bobot anak-anak di

Amerika Serikat dengan pendapatan keluarga dan tingkat pendidikan terkahir

orang tua. Berbaga pnelitian menunjukkan terjadinya peningkatan pada tinggi

tubuh rata-rata manusia antargenerasi. Hal ini kemungkinan besar disebabkan

oleh meningkatnya kemakmuran dan asupan gizi yang lebih baik dibandingkan

generasi sebelumnya.

Basis data antropometri biasanya dibedakan atas 5 faktor diatas. Perbedaan

ini dilakukan agar dalam penggunaanya dapat disesuaikan secara spesifik dengan

karakteristik populasi target pengguna hasil rancangan, misalnya apakah target

adalah laki-laki atau perempuan, atau berasal dari kelompok ras tertentu dan

kelompok pekerjaan tertentu. Faktor usia biasanya di bedakan atas anak-anak,

remaja, dan dewasa dengan mencantumkan kisaran umur yang

dimaksud/diasumsikan. Selain itu, pada suatu basis data juga tercantum tahun

pengambilan data berhubungan dengan kondisi sosio-ekonomi, jumlah sampel

141
data berhubungan dengan tingkat keyakinan secara statistik, serta simpangan baku

menggambarkan variasi data (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2.5. Metode Pengukuran

Metode pengumpulan data antropometri dan jenis peralatan yang digunakan

untuk pengukuran bergantung pada jenis data yang akan dikumpulkan. Data

antropometri dapat dikelompokkan atas hal-hal berikut:

1. Dimensi Linear (jarak)

Dimensi linear merupakan jarak terpendek antara dua titik pada tubuh manusia

melingkupi panjang, tinggi, dan lebar segmen tubuh seperti: panjang jari, tinggi

lutut, dan lebar pinggul.

2. Lingkar Tubuh

Lingkar tubuh diukur sebagai panjang keliling (sepanjang permukaan tubuh),

misalnya lingkar paha, lingkar perut, dan lingkar kepala.

3. Ketebalan Lapisan Kulit

Biasanya, pengukuran ketebalan kulit ini ditujukan untuk mengetahui

kandungan lemak dalam tubuh yang kemudian dijadikan sebagai acuan tingkat

kebugaran tubuh.

4. Sudut

Terdapat dua cara pengukuran sudut, yaitu dilakukan secara pasif dan secara

aktif. Pengukuran secara pasif ditunjukkan untuk mengetahui kecenderungan

posisi tubuh ketika bekerja, yang lebih lanjut lagi dapat digunakan untuk

mengevaluasi potensi resiko kelainan pada sistem otot rangka. Pengukuran

sudut secara aktif dimaksudkan untuk mengetahui fleksibilitas tubuh dalam


142
bentuk kemampuan maksimum gerakan sistem otot-sendi (dikenal juga dengan

range-of-motion atau ROM). Pengukuran aktif ini banyak digunakan dalam

studi yang berhubungan dengan rehabilitasi, olahraga, dan biomekanika.

5. Bentuk dan Kontur Tubuh

Aspek ini diperlukan untuk merancang berbagai peralatan yang berhubungan

langsung dengan manusia, misalnya bentuk kaki untuk merancang sepatu yang

nyaman bagi pemakainya.

6. Bobot, Terutama Bobot Tubuh Secara Keseluruhan

Secara umum, metode pengukuran bobot tubuh dapat dibagi atas tiga, yakni

secara langsung dan secara tidak langsung (dengan memanfaatkan teknologi

fotografi atau sensor). Metode langsung adalah pengukuran yang melibatkan

kontak langsung peralatan antropometri dengan permukaan tubuh atau pakaian

individu yang diukur. Dengan menggunakan metode langsung, berbagai alat

ukur antropometri dapat digunakan termasuk mistar ukur atau pita ukur biasa.

Namun untuk dapat membedakan hasil yang lebih presisi, direkomendasikan

untuk menggunakan jangka sorong atau alat ukur khusus antropometri

(anthropometer set). Alat ukur khusus juga diperlukan untuk mengukur

ketebalan menggunakan (capiller) dan sudut dua segmen tubuh menggunakan

(goniometer).

Di Indonesia, penyempurnaan peralatan pengukuran antropometri telah

dilakukan dalam rangka mendapatkan alat ukur yang lebih praktis. Salah satu

hasil penyempurnaan adalah kursi antropometri, yang digunakan untuk mengukur

beberapa dimensi linier tubuh secara bersamaan ketika subjek berada pada posisi

143
duduk tegak (Gambar 2.3.5). Dimensi fungsional yang diperoleh melingkupi

tinggi mata duduk, tinggi bahu duduk, tinggi siku duduk, tinggi popliteal, lebar

pinggul, dan sebagainya. Alat ini dirasakan cukup efektif untuk pengukuran skala

laboratorium secara manual (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Untuk mengukur berbagai macam bentuk dimensi tubuh manusia dalam

merancang suatu rancangan, bisa digunakan kursi antropometri dalam

pengambilan data rancangan terhadap produk yang akan di rancang yang bisa

dilihat pada gambar 2.3.5:

Gambar 2.3.5. Kursi antropometri dan penggunaannya dalam pengukuran (Hak


Cipta Milik Lab. RSK&Ergonomi ITB).
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Gambar 2.3.5 merupakan gambar kursi antropometri untuk

mengukur berbagai macam dimensi tubuh manusia dalam pengambilan data untuk

menenukan dimensi-dimensi produk yang di rancang. Terlepas dari telah

digunakannya kursi antropometri secara luas, pengujuran secara langsung


144
(manual) mempunyai keterbatasan. Diantaranya adalah biaya yang cukup mahal

untuk pelaksanaan pengukuran, kemungkinan kesalahan (error) pada saat

pengukuran dan input data ke komputer, serta waktu proses yang lama.

Bayangkan apabila kita harus mengumpulkan data antropometri pekerja jawa

barat dengan target sampel ribuan orang yang tersebar dibeberapa kota. Kendala

utama yang akan kita hadapi tentu adalah biaya, waktu, dan kepraktisan. Hal ini

juga yang menjadi kendala utama dalam pembaruan basis data antropometri di

Indonesia, dan mungkin juga di semua belahan dunia (Iridiastadi dan Yassierli,

2014).

Berbagai penelitian terus dikembangkan untuk mencari metode pengukuran

yang lebih baik, sebagai alternatif pengganti pengukuran secara manual. Pada

1970-an, pada peneliti mulai menggunakan metode fotografi. Metode ini menarik

karena lebih praktis, tidak memerlukan tenaga ahli dalam pengambilan data, dan

memungkinkan dilakukannya pengumpulan data secara massal. Namun,

penggunaan kamera manual dipandang masih memiliki beberapa kekurangan,

terutama berkaitan dengan tingkat ketelitian hasil pengukuran. Seiring dengan

perkembangan teknologi fotografi dan rekayasa citra, penggunaan kamera manual

sudah mulai tergantikan oleh kamera digital. Beberapa penelitian pun mulai

dilakukan dalam memanfaatkan metode fotografi digital untuk pengambilan data

antropometri (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Di Indonesia, beberapa peneliti di ITB dalam beberapa tahun terakhir telah

diarahkan ke pengembangan metode pengukuran antropometri menggunakan

kamera digital (Maulina, 2003; Ardani, 2003; Mislihah, 2006; Ardiansyah, 2007).

145
Walaupun masih berbasiskan dua dimensi (2D), metode ini terlihat cukup

menjanjikan. Tingkat ketelitian dapat diatasi dengan pemakaian kamera beresolusi

tinggi. Penggunaan kamera digital sendiri dimaksudkan agar hasil rekaman objek

berupa data digital dapat langsung diolah dan dimanipulasi dengan perangkat

lunak komputer dan hasilnya dapat langsung disimpan dalam bentuk basis data

antropometri. Jenis data yang dapat diukur tidak hanya terbatas pada dimensi

linear, tapi juga melingkup lingkar tubuh. Menindak lanjuti hasil Ardiansyah

(2007), Widyanti et al. (2007) melaporkan bahwa hasil pengukuran 13 lingkar

tubuh (yaitu lingkar kepala, lingkar leher, lingkar bahu, lingkar lengan atas,

lingkar siku, lingkar pergelangan tangan, lingkar dada, lingkar perut, lingkar

pinggang, lingkar pantat, lingkar paha, lingkar lutut, dan lingkar pergelangan

kaki) terhadap 41 responden menunjukkan bahwa metode fotografi dengan

kamera digital mempunyai keandalan yang tinggi dan hasil pengukuran yang tidak

berbeda signifikan dibandingkan dengan pengukuran langsung secara manual

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Prosedur pengambilan data dengan metode ini ditampilkan pada Gambar

2.3.6 dan Gambar 2.3.7. Metode alternatif ini diyakini lebih praktis, murah, dan

dapat diandalkan untuk pengambilan data antropometri dengan target populasi

yang besar misalnya dalam lingkup nasional (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Dalam pengambilan data antropometri dengan menggunakan kamera yang

dimana subjek berada di hadapan kamera dengan jarak yang tertentu dapat dilihat

pada Gambar 2.3.6.

146
Gambar 2.3.6. Tata letak pengambilan gambar dengan metode fotografi digital
(Ardiansyah, 2007).
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Gambar 2.3.6 merupakan contoh dari cara pengambilan data

dengan menggunakan kamera yang dimana jarak antara subjek dengan kamera

yang telah diatur. (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Untuk melihat contoh hasil dari cara pengambilan Gambar pada subjek

dengan mengunakan kamera dapat dilihat pada Gambar 2.3.7.

Gambar 2.3.7. Contoh pengambilan gambar subjek dengan metode fotografi


(Ardiansyah, 2007).
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Gambar 2.3.7. merupakan contoh dari hasil pengambilan

Gambar menggunakan kamera dengan hasil tampak depan dan samping yang

147
dimana subjek diberi garis line ditubuhnya untuk menentukan dimensi tubuh

dengan metode fotografi. Perlu dicatat bahwa pemilihan metode dan alat

pengukuran sebaiknya pada kebutuhan kepresisian dan kepraktisan. Selain itu,

beberapa faktor lain yang harus diperhatikan dalam pengukuran adalah. Dimensi

antropometri yang akan diukur harus disesuaikan dengan kebutuhan perancangan.

Misalnya, dalam perancangan meja kerja di industri yang memerlukan ukuran

tinggi alas meja dan lebar meja, maka data yang diperlu dikumpulkan adalah

tinggi siku duduk atau tinggi siku berdiri (bergantung apakah pekerja akan duduk

atau berdiri sambil bekerja) serta jangkauan tangan ke depan (Iridiastadi dan

Yassierli, 2014).

Penentuan referensi atau titik acuan pengukuran. Sebelum pengukuran

dilaksanakan, harus ditentukan terlebih dahulu letak tempat acuan (landmark) dari

setiap subjek yang diukur. Tiap dimensi yang ingin di ukur memiliki acuan yang

berbeda. Beberapa rangkuman mengenai acuan pengukuran dari beberapa dimensi

yang paling sering digunakan untuk perancangan di industri dapat dilihat pada

Gambar 2.3.8 dan Tabel 2.3.1. Kemungkinan error dalam pencatatan data dan

input data ke komputer (jika dilakukan secara langsung dan manual). Penentuan

jumlah sampel yang dibutuhkan. Sampel yang diambil harus mewakili faktor-

faktor yang mempengaruhi perbedaan antropometri, seperti jenis kelamin, ras dan

etnis, serta usia. Secara ilmu statistik dapat dihitung besarnya jumlah sampel yang

diperlukan bergantung pada karakteristik populasi, tingkat keyakinan yang

diinginkan, dan batas kemungkinan kesalahan yang diterima (Iridiastadi dan

Yassierli, 2014).

148
Dalam menentukan dimensi tubuh yang akan digunakan, terdapat acuan

pengukuran antropometri dari beberapa dimensi sebagai contoh dapat dilihat pada

Gambar 2.3.8.

Gambar 2.3.8 Beberapa dimensi data antropemetri (lihat Tabel 2.3.1 untuk
penjelasan).
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Gambar 2.3.8 merupakan contoh acuan untuk mengukur

berbagai macam dimensi tubuh manusia untuk perancangan mulai dari posisi

duduk hingga berdiri tegak (Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Untuk mengetahui cara-cara dalam pengukuran beberapa dimensi tubuh

manusia, terdapat beberapa dimensi data antropometri umum yang dapat kita

gunakan dalam merancang produk yang dapat dilihat pada Tabel 2.3.1 berikut:

Tabel 2.3.1. Beberapa dimensi data antropometri yang umum.


No Dimensi Simbol Cara Pengukuran
1. Tinggi badan Tbt Jarak vertikal telapak kaki sampai ujung kepala
tegak yang paling atas, dengan subjek berdiri tegak
dan mata memandang lusur ke depan.
2. Tinggi mata Tmb Jarak vertikal dari lantai sampai ujung mata
berdiri bagian dalam (dekat pangkal hidung). Subjek
berdiri tegak dan memandang lurus ke depan.
3. Tinggi bahu Tbb Jarak vertikal dari lantai sampai tulang bahu
berdiri yang menonjol pada saat subjek berdiri tegak
149
Tabel 2.3.1. Beberapa dimensi data antropometri yang umum (Tabel lanjutan
2.3.1).
No Dimensi Simbol Cara Pengukuran
4. Tinggi siku Tsb Jarak vertikal dari lantai ke titik pertemuan
berdiri antara lengan atas dan lengan bawah. Subjek
berdiri tegak dengan kedua tangan tergantung
secara wajar.
5. Tinggi Tpb Jarak vertikal dari lantai sampai pinggang pada
pinggang saat subjek berdiri tegak.
berdiri
6. Tinggi lutut Tlb Jarak vertiakal dari lantai sampai lutut pada saat
berdiri subjek berdiri tegak.
7. Jangkauan Jtd Jarak horizontal dari punggung sampai ujung jari
tangan ke tengah. Subjek berdiri tegak dengan betis, pantat
depan dan punggung merapat ke dinding, serta tangan
direntangkan secara horizontal ke depan.
8. Jangkauan Jta Jarak vertikal dari lantai sampai ujung jari
tangan ke tengah pada saat subjek berdiri tegak, dengan
atas tangan menjangkau ke atas setinggi-tingginya.
9. Tinggi mata Tmd Jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai
duduk ujung mata bagian dalam. Subjek duduk tegak
dan memandang lurus ke depan.
10. Tinggi bahu Tbd Jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai
duduk ujung tulang bahu yang menonjol pada saat
subjek duduk tegak.
11. Tinggi Tsp Jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai
sandaran pucuk belikat bawah pada saat subjek duduk
punggung tegak.
12. Tinggi siku Tsd Jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai
duduk ujung bawah siku kanan. Subjek duduk tegak
dengan lengan atas vertikal disisi badan dan
lengan bawah membentuk sudut siku-siku
dengan lengan bawah.
13. Tebal paha Tpd Jarak dari permukaan alas duduk sampai ke
duduk permukan atas pangkal paha pada saat subjek
duduk tegak.
14. Pantat Pp Jarak horizontal dari bagian terluar pantat
popliteal sampai kelekukan lutut sebelah dalam
(popliteal). Subjek duduk tegak dengan paha dan
kaki bagian bawah membentuk sudut siku-siku.
15. Lebar Lpd Jarak horizontal dari bagian terluar pinggul sisi
pinggul kiri sampai bagian terluar pinggul sisi kanan
duduk pada saat subjek duduk tegak.
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

150
Berdasarkan Tabel 2.3.1 merupakan beberapa dimensi data antropometri

umum yang dapat digunakan untuk merancang produk dengan menentukan

dimensi-dimensi yang kita perlukan dalam rancangan yang akan dibuat (Sumber:

Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2.6. Teknik Pengolahan Data

1. Konsep Persentil

Dalam aplikasinya (perancangan), data antropometri biasanya digunakan

dalam bentuk nilai persentil. Persentil menunjukkan jumlah bagian perseratus

orang dari suatu populasi yang memiliki ukuran tubuh tertentu (lebih kecil atau

lebih besar). Suatu persentil menggambarkan persentase atau ranking dalam data

terurut, atau dalam bahasa teknisnya merupakan data ke-i dari suatu kelompok

data yang sudah diurutkan mulai dari terkecil hingga terbesar. Jika terdapat 100

data, maka persentil 8 adalah data ke-8 adalah nilai rata-rata dari data ke-4 dan ke-

5 dari data terurut. Sebaliknya, jika terdapat 200 data, maka persentil 8 adalah

data ke-16 dari data terurut. (Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Informasi tentang persentil ini penting untuk menetapkan persentase

populasi pengguna yang akan diakomodasi oleh produk yang dirancang. Sebagai

contoh, jika diinginkan sebuah produk yang dirancang untuk dapat

mengakomodasikan 90% populasi, maka desainer harus mempertimbangkan

bahwa produk tersebut cocok untuk 90% data mengacu kepada basis data

antropometri. Dalam suatu distribusi normal, 90% ini dapat diwakili oleh data

yang lebih besar dari persentil 10 atau lebih kecil dari persentil 90 (one-tail), atau

151
antara persentil 5 dan persentil 95 (two-tail) (Sumber: Iridiastadi dan Yassierli,

2014).

Selain itu, persentil juga digunakan dalam evaluasi produk untuk menguji

apakah suatu rancangan produk dapat digunakan oleh populasi yang menjadi

target. Misalnya, suatu kursi kemudi mobil dianggap telah dirancang dengan

memperhatiakan populasi orang dewasa Indonesia. Untuk pengujian, kita cukup

mengambil sampel orang dewasa Indonesia berjenis kelamin perempuan dengan

persentil 5 (mewakili orang yang berbadan kecil) dan laki-laki dengan persentil 95

(mewakili orang yang berbadan besar). Jika kedua sampel tersebut merasa puas

dan nyaman dengan dimensi-dimensi produk yang dievaluasi, maka dapat

disimpulkan secara cepat bahwa produk tersebut telah mengakomodasi sebagian

besar pengguna (Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Terdapat tiga nilai persentil yang biasanya digunakan dalam perancangan,

yakni persentil kecil, persentil besar, dan persentil tengah. Karena data

antropometri sering diasumsikan berdistribusi normal, maka persentil tengah

(persentil 50) sama nilanya dengan nilai rata-rata dari sebuah distribusi. Pemilihan

persentil bergantung pada karakteristik dimensi rancangan. Biasanya, persentil 5

(atau ditulis P5) digunakan sebagai nilai persentil besar, untuk mengakomodasi 95

(atau P95) digunakan sebagai nilai persentil besar, untuk mengakomodasi 95% dari

populasi. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa akan selalu ada sekitar 5%

populasi yang memiliki antropometri yang sangat ekstream (Sumber: Iridiastadi

dan Yassierli, 2014).

152
Terdapat beberapa teknik pemilihan persentil yang perlu diketahui berkaitan

dengan perancangan suatu produk. Persentil kecil (misalnya P5) dipilih ketika

dimensi rancangan tersebut “kritis” bagi mereka yang berukuran kecil atau

pendek, dalam arti bahwa mereka yang berukuran tubuh kecil atau pendek akan

sangat kesulitan menggunakan suatu rancangan jika dimensi tersebut dibuat

terlalu besar, lebar, atau tinggi. Namun, orang yang besar tetap merasa nyaman,

walaupun dimensi rancangan tersebut terlalu kecil. Contoh ukuran yang

menggunakan persentil kecil adalah tinggi alas kursi, diameter pegangan alat

kerja, dan lain-lain. Ilustrasi untuk contoh yang pertama (tinggi alas kursi) adalah

sebagai berikut. Semakin tinggi dimensi “tinggi alas kursi” dari lantai maka

semakin tidak ergonomis bagi pengguna yang berpostur kecil karena membuat

kaki menjadi menggantung dan mengakibatkan risiko penekanan pembuluh darah

dibawah paha. Pilihan akan lebih baik, jika dimensi “tinggi alas kursi” terlalu

rendah bagi orang yang berpostur besar (Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Persentil besar (misalnya P95) digunakan ketika mereka yang berukuran

tubuh besar atau tinggi akan kesulitan mengunakan suatu rancangan jika dibuat

terlalu kecil atau pendek. Namun, bagi orang yang kecil atau pendek, ukuran

tersebut tidak menjadi masalah walaupun berukuran terlalu besar. Beberapa

contoh ukuran yang menggunakan persentil besar adalah lebar alas kursi, tinggi

pintu, dan sebagainya. Sebagai ilustrasi, kita tentu akan lebih menolerir lebar alas

kursi yang terlalu besar, dibandingkan dengan lebar alas kursi yang terlalu kecil

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

153
Berbeda dengan kedua persentil yang lain, persentil tengah digunakan

ketika rancangan tidak mensyaratkan kedua kondisi di atas, seperti tinggi

pegangan pintu. Dalam hal ini, orang yang besar dan orang yang kecil di anggap

tidak memiliki masalah jika ukuran yang diambil adalah rata-rata. Sebagaimana

disebutkan sebelumnya, biasanya data antropometri diasumsikan mempunyai

distribusi normal. Oleh karena itu, pendekatan distribusi normal dapat digunakan

dalam menghitung nilai persentil. Jika diketahui nilai rata-rata (mean) dan

simpangan baku (standard deviation) dari suatu set data, maka dengan mudah

dapat dihitung besarnya persentil P sebagai berikut:

Di mana, P = nilai persentil yang dihitung X = nilai rata-rata, X =


n
Xi
∑ ……….…….………………………………………….………………..2.3.1
n
i=1

K = faktor pengali untuk persentil yang diinginkan, dengan nilai K dapat dilihat

pada Tabel 2.3.2 yang diperoleh dari nilai z pada tabel distribusi normal:

S = simpangan baku, S =

√∑ni (Xi- X ) ²
……..……..……….….……………………………….……….2.3.2
n-1

Untuk menghitung faktor pengali untuk perhitungan persentil dalam

perancangan dapat dilihat pada tabel 2.3.2 berikut:

Tabel 2.3.2. Faktor pengali dalam perhitungan persentil.


Perse P1 P5 P10 P25 P50 P75 P90 P95
ntil
-2,326 -1,645 -1,282 -0,674 0 +0,674 +1,282 +1,645
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

154
Berdasarkan Tabel 2.3.2 merupakan faktor pengali untuk perhitungan

persentil pada sebuah rancangan yang akan di buat agar produk yang dibuat dapat

digunakan sesuai dengan data rancangan (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2. Pengolahan Data Lanjut

a. Korelasi

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa manusia memiliki dimensi

atau ukuran anggota tubuh dan proporsi yang beragam. Walaupun kenyatannya

berbeda, dalam praktiknya, proporsi tubuh dapat diasumsikan hampir sama untuk

populasi ras dan etnis yang sama. Secara sepintas kita melihat bahwa proporsi

panjang kaki terhadap tinggi badan antara kita dan rekan yang lain relatif sama,

seperti yang disampaikan oleh Vitruvius pada abad 1 SM. Lebih lanjut, kita pun

secara sepintas dapat mengestimasi panjang kaki seseorang rekan jika diketahui

tingginya, dengan mengacu pada proporsi panjang kaki kita. Atas dasar ini, suatu

model antropometri dapat dibuat dengan mengacu pada proporsi rata-rata suatu

kelompok populasi. Metode ini disebut juga pendekatan skala rasio. Pada metode

ini yang biasanya dijadikan acuan adalah tinggi tubuh (Iridiastadi dan Yassierli,

2014).

Penggunaan skala rasio mensyaratkan adanya korelasi yang kuat antara satu

ukuran dan ukuran yang lain. Kenyatannya memang demikian, mempunyai

kerelasi yang kuat dengan tinggi tubuh. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua

ukuran tubuh mempunyai korelasi yang kuat sata dengan lain, misalnya dimensi

linear (panjang) dengan dimensi lingkar. Coba tebak tingkat korelasi antara

lingkar kepala dan panjang kaki. Apakah korelasinya lemah atau kuat?

155
Tingkat kolerasi biasanya secara statistik dilambangkan dengan koefisien

korelasi (r), yang bernilai antara -1 dan +1 (atau -1 ≤ r ≤ 1). Jika nilai absolut r

mendekati 1, artinya korelasi antara dua ukurn tersebut sangat kuat (+1

menunjukkan kedua ukuran berbanding lurus, sedangkan -1 menunjukkan

keduanya berbanding terbalik). Nilai r yang mendekati 0 mempunyai arti bahwa

korelasi antara dua ukuran tersebut hampir tidak ada. Dari dua set data yang

mempunyai ditribusi normal, koefisien korelasi dari dua data set x dan y (dengan

rata-rata adalah X dan Y ) dapat dihitung menggunakan Pearson product moment

correlation coefficient dengan formula sebagai berikut:

n∑xy-(∑x)(∑y)
xy= ……………………..………….……….…2.3.3
{n∑x2 -(∑x2 )2 }{n∑y2 -(∑y2 )2 }

Biasanya, untuk jumlah sampel yang cukup banyak, korelasi yang kuat

mempunyai nilai koefisien diatas 0,7. Hal yang sama juga dapat diterapkan dalam

aplikasi antropometri. Sebagai catatan, secara statistik, r ≥ 0,7 mengisyaratkan

bahwa perubahan pada nilai y dapat dijelaskan sebanyak 49% sebagai akibat

perubahan pada nilai x. Penjelasan ini didasarkan pada koefisien determinasi,

yang secara matematis dilambangkan r2 (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Untuk membedakan korelasi antara tmb (tinggi mata berdiri) dan tbt

(tinggi badan tegak) dapat dilihat pada gambar 2.3.9:

156
Gambar 2.3.9. Korelasi antara dua ukuran antropometri secara grafis.
Sumber: Iridiastadi dan Yassierli, 2014.

Berdasarkan Gambar 2.3.9. merupakan contoh dari hasil perhitungan

antara perbandingan korelasi tmb (tinggi mata berdiri) dengan tbt (tinggi badan

tegak) dan korelasi tmb (tinggi mata berdiri) dengan lpd (lebar pinggul duduk)

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

b. Menggabungkan Dua Basis Data Antropometri.

Basis data antropometri biasanya disajikan secara terperinci untuk setiap

bagian tubuh, misalnya panjang lengan bawah dan lengan atas, dalam bentuk nilai

rata-rata beserta nilai simpangan bakunya. Bagaimana cara menggabungkan dua

basis data ini jika yang dibutuhkan adalah panjang lengan keseluruhan (panjang

lengan atas ditambah panjang lengan bawah)?

Penggabungan data antropometri ini sering kali dibutuhkan dalam

perancangan. Biasanya, diakibatkan oleh tidak tersedianya data antropometri yang

unik sesuai keinginan kita. Namun, dengan sedikit pengolahan data, kebutuhan

tersebut dapat dipenuhi jika data antropometri untuk dimensi tubuh yang terkait

157
tersedia. Contoh lain adalah sangat jarang ditemui data antropometri yang

menggambarkan tinggi kepala dari pinggang. Namun yang tersedia adalah nilai

rata-rata dan simpangan baku untuk tinggi badan tegak dan tinggi pinggang

berdiri. Dalam hal ini, tinggi kepala dari pinggang adalah tinggi badan tegak

dikurangi tinggi pinggang berdiri (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

Perlu dicatat bahwa penggabungan dua basis data akan menghasilkan basis

data yang baru. Dalam hal ini, nilai rata-rata tentu dapat langsung dijumlahkan

(pada kasus panjang lengan keseluruhan) atau dikurangi (pada kasus tinggi kepala

dari pinggang). Namun, besaran simpangan baku tidak dapat langsung

dijumlahkan. Mengapa? Karena orang yang mempunyai lengan bawah yang

panjang biasanya juga memiliki lengan atas yang panjang. Pada contoh yang

kedua, orang yang pendek juga memiliki tinggi pinggang berdiri yang pendek.

Untuk itu, perlu dihitung kovariasi (covariation) antara dua data tersebut. Secara

matematis, jika terdapat dua basis data x dan y, dengan simpangan bakunya sx

dan sy maka kovariasi dapat dihitung sebagai berikut:

Cov (X,Y) = rx,y x sx x sy.................................................................................2.3.4.

Dimana r merupakan koefisien korelasi antara dua basis data tersebut. Oleh

karena itu, jika dua basis data, x dan y, ingin dijumlahkan menjadi basis data yang

baru (z) maka nilai rata-rata z dapat dihitung dengan:

Mz = mx + my.....................................................................................................2.3.5.

Sedangkan simpangan baku z dapat dihitung dengan rumus dibawah ini:

S2 = [s2x + s2y + 2 . r . sx . sy]1/2........................................................................2.3.6.

jika basis data z merupakan selisih dua basis data x dan y, maka:
158
Mz = mx - my......................................................................................................2.3.7.

Dengan simpangan baku z adalah:

S2 = [s2x + s2y - 2 . r . sx . sy]1/2.........................................................................2.3.8.

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2.7. Penggunaan Antropometri untuk Perancangan

Terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakan dalam perancangan,

diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Perancangan Beradasarkan Individu Besar/Kecil (Konsep Persentil

Kecil/Besar)

Dalam konsep ini, mereka yang mempunyai tubuh besar atau tubuh kecil

dijadikan sebagai pembatas besarnya populasi pengguna yang akan diakomodasi

oleh rancangan. Biasanya, yang dijadikan acuan adalah persentil besar (P95) atau

persentil kecil (P5). Idealnya memang suatu rancangan dapat mengakomodasikan

100 persen populasi jika tidak ada kendala dalam biaya, estetika dan aspek teknis.

Rancangan yang mampu mengakomodasi 100% pengguna diperlukan ketika

faktor keselamatan (safety) menjadi pertimbangan, misalnya tinggi posisi alarm

bahaya. Dalam hal ini, tinggi posisi alarm bahaya dapat mengacu kepada tinggi

bahu berdiri dengan menggunakan P1 sehingga setiap orang jika diperlukan dapat

menjangkau dengan cepat dan mudah.

2. Perancangan Yang Dapat Disesuaikan

Konsep ini digunakan untuk berbagai produk atau alat yang dapat diatur

atau disuaikan panjang, lebar, dan lingkarnya sesuai dengan kebutuhan pengguna.

159
Kisaran kemampu-suaian ini biasanya mulai dari perempuan dengan persentil 5

hingga laki-laki dengan persentil 95. Namun tidak tertutup kemungkinan terdapat

kisaran yang lebih besar untuk menampung persentase populasi yang lebih besar.

Perancangan dengan pendekatan ini merupakan konsep yang ideal namun

membutuhkan dukungan teknis dan biaya yang mahal. Contoh produk yang

biasanya menggunakan pendekatan ini adalah kursi atau meja dengan tinggi yang

dapat dinaik-turunkan, kemiringan yang bisa diatur, dan sebagainya.

3. Perancangan Berdasarkan Individu Rata-rata

Pendekatan ini digunakan jika dua konsep sebelumnya, perancangan

berdasarkan individu extream dan perancangan yang dapat disesuaikan, tidak

relevan atau tidak mungkin dilaksanakan. Perhatikan alat pengecek harga di super

market. Ketinggian penempatan benda ini dirancang berdasarkan individu rata-

rata, dan tidak berdasarkan persentil kecil atau besar, sehingga tidak terlalu tinggi

bagi orang yang bertubuh dibawah rata-rata. Penempatan produk ini tidak perlu

dirancang agar dapat diatur ketinggiannya, mengingat fungsinya hanya sebatas

pengecek harga untuk penggunaan yang hanya beberpa detik.

Perlu dicatat bahwa konsep perancangan berdasarkan individu rata-rata ini

bukan didasarkan atas seseorang individu ”manusia rata-rata”. Hal ini karena tidak

ada individu yang disebut pria atau wanita rata-rata, sehingga seluruh ukuran

tubuhnya dapat dijadikan sebagai referensi perancangan. Seseorang mungkin saja

memiliki tinggi tubuh rata-rata, namun ukuran tubuh yang lain misalnya panjang

tangan, tinggi lutut dan sebagainya tidak merupakan rata-rata dari populasi. Basis

data antropometri merupan sumber utama informasi yang diperlukan untuk

160
perancangan, baik perancangan tempat kerja, produk, atau objek lainnya. Berikut

ini adalah prosedur sistematis perancangan berdasrkan antropometri, yang terdiri

atas sepuluh langkah berikut:

a. Tentukan populasi pengguna yang akan menggunakan objek

rencangan.’siapakah yang akan menggunakan produk ini?’ perlu dipahami

lagi bahwa kelompok populasi yang berbeda akan mempunyai antropometri

yang berbeda pula, berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, pekerjaan, dan

kondisi sosio-ekonomi. Masing-masing kelompok populasi memiliki

perbedaan dalam karakteristik fisik dan kebutuhan terhadap desain.

b. Tentukan dimensi tubuh yang terkait dengan objek rancangan. ‘bagian

dimensi tubuh mana yang paling penting dalam perancangan objek ini?’

sebagai contoh desain lorong ruangan harus dipertimbangkan lebar bahu dan

tinggi badan. Desain telepon genggam harus memperhatikan lebar telapak

tangan, panjang jari, dan besar ujung jari.

c. Lihat basis data antropometri yang tersedia. Evaluasi apakah data tersebut

dapat langsung digunakan untuk perancangan atau tidak. Beberapa faktor

yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian usia, jenis kelamin, tahun

pengambilan data, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi antropometri.

Lakukan pengolahan data lanjutan jika diperlukan. Misalnya kebutuhan

untuk menggabungkan dua basis data.

d. Lakukan pengukuran sendiri jika basis data tidak tersedia. Perhatikan

ukuran sampel data dan faktor-faktor yang akan mempengaruhi validitas

data, seperti alat dan metode yang dipakai. Pada bagian sebelumnya telah

161
dijelaskan beberapa aspek teknis yang berkaitan dengan pengukuran

antropometri, termasuk penentuan titik acuan pengukuran serta

kemungkinan error dalam pencatatan dan input ke dalam komputer.

e. Tentukan persentase jumlah populasi yang akan diakomodasi. Idealnya

memang kita harus mengakomodasi 100% dari populasi. Namun karena

kendala aspek teknis dan biaya, biasanya angka 95% cukup dapat diterima.

f. Tentukan pendekatan perancangan yang akan digunakan. Apakah akan

berdasarkan individu ekstream, penggunaan rata-rata atau dimensi yang

dapat diatur besarannya.

g. Tentukan nilai ukuran untuk setiap dimensi yang sudah ditetapkan pada

langkah-langkah ke-2. Hitung nilai persentil, jika menggunakan konsep

individu ekstream (konsep persentil kecil atau besar). Besaran persentil

yang akan digunakan ditentukan oleh persentase dari populasi yang akan

diakomodasi. Perlu dicatat bahwa keputusan untuk membuat desain yang

dapat mengakomodasi 95% populasi tidak selalu berarti bahwa nilai

persentil 95% yang dipilih dalam perancangan, namun dapat juga persentil

kecil (persentil 5). Dasar pemilihan persentil 5 atau persentil 95 telah

dibahas sebelumnya.

h. Tambahan besaran kelonggaran. Ada 2 alasan utama pemberian nilai

kelonggaran. Alasan pertama adalah untuk mempertimbangkan pakaian

dengan ketebalan yang berbeda-beda. Kelonggaran yang sama juga berlaku

jika pengguna dalam realitanya akan menggunakan sepatu, topi, sarung

tangan, dan sebagainya. Alasan kedua adalah karena kenyataanya posisi

162
pengguna produk cenderung dinamis, tidak selalu dalam posisi berdiri atau

tidak selalu duduk tegak. Konsekuensinya, misalnya tinggi mata berdiri atau

pun tinggi mata duduk akan lebih rendah daripada waktu pengukuran. Hal

ini akan mempengaruhi daerah pandang mata pengguna.

i. Jika memungkinkan, visualisasikan rancangan (misalnya dengan bantuan

komputer). Sekarang ini telah tersedia berbagai perangkat lunak untuk

membantu proses perancangan, misalnya menggunakan CAD (computer

aided-design).

j. Evaluasi hasil rancangan. Evaluasi dapat dilaksanakan dengan bantuan

komputer (pada tahap awal) dan dalam bentuk prototipe (mock-up) pada

tahap penyelesaian produk. Evaluasi penting dilakukan, apalagi jika

dimensi-dimensi rancangan diperoleh dari dimensi tubuh yang berbeda-beda

yang diukur terpisah. Evaluasi dengan komputer dapat dilakukan dengan

mencocokkan rancangan dengan model-model individu yang mewakili

persentil kecil dan persentil besar, misalnya perempuan dengan persentil 5

dan laki-laki dengan persentil 95. Pada tahap akhir evaluasi, simulasi

penggunaan produk atau alat secara nyata dapat dilakukan. Umpan balik

yang diharapkan adalah sesesuaian produk dengan memperhatikan kondisi

dinamis pengguna ketika berinteraksi dengan produk tersebut (Sumber:

Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

163
2.8. Prinsip Umum Perancangan Tempat Kerja

Secara umum, stasiun kerja dapat dikategorikan manjadi 3 macam, yakni

stasiun kerja untuk operator duduk (stasiun kerja duduk), stasiun kerja untuk

operator berdiri (stasiun kerja berdiri), dan kombinasi keduanya (stasiun kerja

duduk/berdiri) yaitu:

1. Stasiun Kerja Duduk

Populasi kerja duduk merupakan pilihan utama semua pekerja, dan

dianggap paling nyaman serta tidak melelahkan. Stasiun kerja untuk operator

duduk menjadi paling utama ketika salah satu kondisi berikut terpenuhi:

a. Pekerjaan tangan tidak membutuhkan gaya atau kerja otot yang besar.

b. Item-item utama yang dibutuhkan dalam bekerja (komponen, alat, dan lain-

lain) dapat diambil dengan mudah dalam posisi duduk dan berada dalam

jangkauan tangan dalam posisi duduk normal.

c. Pekerjaan dominan berupa kegiatan tulis-menulis.

Dalam perancangan stasiun kerja duduk, dimensi-dimensi kritis perlu

diperhatikan, dimensi tersebut meliputi: tinggi badan duduk, tinggi mata duduk,

tinggi bahu duduk, tebal paha duduk, jangkauan tangan ke depan, tinggi siku

duduk, dan tinggi popliteal duduk (Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

2. Stasiun Kerja Berdiri

Stasiun kerja yang mengharuskan operator berdiri tidak begitu disukai,

tetapi sering kali diperlukan. Terutama untuk pekerjaan dengan kondisi sebagai

berikut:

164
a. Pekerjaan membutuhkan penanganan barang/material yang sering, apalagi

jika materialnya berat.

b. Pekerjaan membutuhkan banyak aktivitas menjangkau.

c. Pekerjaan membutuhkan mobilitas yang cukup tinggi, misalnya berpindah

di sekitar stasiun kerja.

Dalam perancangan stasiun kerja berdiri, dimensi-dimensi kritis perlu

diperhatikan meliputi: tinggi badan tegak, tinggi mata berdiri, tinggi bahu berdiri,

tinggi siku berdiri, panjang lengan bawah, dan jangkauan tangan ke depan

(Iridiastadi dan Yassierli, 2014).

3. Stasiun Kerja Duduk/Berdiri

Jika pekerjaan merupakan kombinasi dari elemen-elemen kerja yang cocok

untuk kedua tipe stasiun kerja diatas, maka elemen-elemen kerja tersebut dapat

difasilitasi dengan menerapkan rancangan stasiun kerja duduk/berdiri (Iridiastadi

dan Yassierli, 2014).

165
166

BAB III
PENGUMPULAN DATA

3.1. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada pelaksanaan percobaan ini adalah:

1. Kursi antropometri.

2. Alat tulis.

3. Kertas atau buku catatan.

4. Kamera.

3.2. Cara Pengumpulan Data

1. Siapkan peralatan yang dibutuhkan. Tentukan sampel, pilih dimensi tubuh

yang akan digunakan. selanjutnya ukur bagian-bagian tubuh mana yang

akan dipilih untuk perancangan.

2. Kumpulkan dimensi data antropometri yang telah diukur menggunakan

kursi antropometri dari masing–masing sampel yang diperlukan untuk

merancang kursi dan juga meja mesin jahit.

3. Bagian-bagian yang diukur yaitu:

a. Tinggi kursi dengan dimensi: Tinggi Lutut Duduk (TLD).

b. Panjang kursi dengan dimensi: Pantat Popliteal (PP).

c. Lebar kursi dengan dimensi: Lebar Pinggul Duduk (LPD).

d. Tinggi meja jahit dengan dimensi: Tinggi Siku Duduk (TSD).

e. Panjang meja jahit dengan dimensi: Jangkauan Tangan ke Depan (JTD).

f. Lebar meja jahit dengan dimensi: Panjang Lengan (PD).

166
3.3. Data Pengamatan

Pengukuran 4 orang sampel menggunakan kursi antropometri, di dapatlah

data antropometri untuk perancangan pembuatan kursi yang akan dirancang dapat

di lihat pada Tabel 3.3.1 berikut:

Tabel 3.3.1. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan kursi dalam
skala (centimeter).
No. Sampel Tinggi Lutut Pantat Popliteal Lebar Pinggul
Duduk Duduk
1. M. Syaril 43 cm 46 cm 32 cm
2. Rendy S. 45 cm 51 cm 33 cm
3. Prihadi 45 cm 47 cm 33 cm
Joko P.
4. Allwin S. 44 cm 49 cm 31 cm
Sumber: Data Pratikum, 2016.

Berdasarkan Tabel 3.3.1. bahwa hasil pengukuran dengan kursi

antropometri pada 4 orang sampel didapatlah dimensi dan juga data pengukuran

untuk merancang kursi yang dimana dimensinya merupakan tinggi lutut duduk,

pantat popliteal, lebar pinggul duduk sebagai dimensinya.

Dimensi dan data antropometri untuk perancangan meja mesin jahit dapat

dilihat pada Tabel 3.3.2. berikut:

Tabel 3.3.2. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan meja dalam
skala (centimeter).
No. Sampel Tinggi Siku Jangkauan Panjang Lengan
Duduk Tangan Kedepan
1. M. Syaril 68 cm 82,50 cm 37 cm
2. Rendy S. 68 cm 83 cm 49 cm
3. Prihadi 68 cm 82,50 cm 52 cm
Joko P.
4. Allwin S. 64 cm 81 cm 50 cm
Sumber: Data Pratikum, 2016.

167
Berdasarkan Tabel 3.3.2. bahwa hasil pengukuran dengan kursi

antropometri pada 4 orang sampel didapatlah dimensi pengukuran untuk

merancang meja mesin jahit yang dimana dimensinya merupakan tinggi siku

duduk, jangkauan tangan ke depan, panjang lengan sebagai dimensinya.

168
169

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Rancangan Awal Produk

Untuk rancangan pertama produk kursi dan meja mesin jahit tanpa ada

pengukuran terlebih dahulu sehingga dapat membuat pemakai tidak nyaman

dengan penggunaanya, maka dapat dilihat pada Gambar 4.3.1:

Gambar 4.3.1. Kursi dan Meja mesin jahit tampak depan.


Sumber: Data Pratikum, 2016.

Berdasarkan Gambar 4.3.1. merupakan rancangan awal produk kursi dan

meja mesin jahit tanpa ada pengukuran terlebih dahulu yang dimana jika

penggunaan produk tersebut membuat penggunanya tidak nyaman. maka pratikan

coba merancang produk yang sudah ada namun dapat membuat penggunanya

nyaman dalam penggunaan.

169
4.2. Ukuran Produk

Dari dimensi dan data antropometri yang telah ditentukan sebelumnya untuk

perancangan kursi yang telah dilakukan perhitungan maka didapatlah hasil pada

Tabel 4.3.1:

Tabel 4.3.1. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan kursi dalam
skala (centimeter) yang telah dilakukan perhitungan.
No Sampel Tinggi Lutut Pantat Popliteal Lebar Pinggul
. Duduk Duduk
1. M. Syahril 43 cm 46 cm 32 cm
2. Rendy S. 45 cm 51 cm 33 cm
3. Prihadi Joko P. 45 cm 47 cm 33 cm
4. Alwin S. 44 cm 49 cm 31 cm
X 44,25 48,25 32,25
∑ (X1- X )² 2,75 14,75 2,75
SD 0,95 2,21 0,95
Sumber: Data Pratikum, 2016.

Berdasarkan Tabel 4.3.1 merupakan hasil perhitungan data antropometri

untuk perancangan pada kursi dengan dimensi tinggi lutut duduk, pantat popliteal

dan lebar pinggul duduk yang telah dihitung untuk menetukan ukuran kursi mulai

dari tinggi, lebar dan panjang kursi.

Dari data antropometri untuk perancangan meja mesin jahit yang telah

dilakukan perhitungan maka didapatlah hasil pada Tabel 4.3.2 berikut:

Tabel 4.3.2. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan meja dalam
skala (centimeter) yang telah dilakukan perhitungan.
No Sampel Tinggi Siku Jangkauan Panjang Lengan
. Duduk Tangan Kedepan
1. M. Syahril 68 cm 82,50 cm 37 cm
2. Rendy S. 68 cm 83 cm 49 cm
3. Prihadi Joko P. 68 cm 82,50 cm 52 cm
4. Alwin S. 64 cm 81 cm 50 cm

170
Tabel 4.3.2. Data–data antropometri 4 orang sampel untuk pembuatan meja
dalam skala (centimeter) yang telah dilakukan perhitungan (Tabel
lanjutan 4.3.2).
No Sampel Tinggi Siku Jangkauan Panjang Lengan
Duduk Tangan ke Depan
X 67 82,50 47
∑ (X1- X )² 12 2,25 138
SD 2 0,86 6,78
Sumber: Data Pratikum, 2016.

Berdasarkan Tabel 4.3.2. merupakan hasil perhitungan data antropometri

untuk perancangan pada meja mesin jahit dengan dimensi tinggi siku duduk dan

jangakuan jauh yang telah di hitung untuk mentukan ukuran meja mesin jahit

mulai dari tinggi, lebar dan panjang meja mesin jahit.

Dan data pencarian untuk menentukan ukuran dengan dimensi yang telah

ditentukan dapat diketahui sebagai berikut berikut:

1. Untuk menentukan tinggi kursi yang akan dirancang, ukuran tinggi lutut duduk

sebagai patokannya. Persentil yang digunakan P5, karena mereka yang

memiliki tubuh dengan tinggi lutut yang kecil tidak akan tampak kebesaran.

Begitu juga dengan orang yang bertubuh besar tidak akan terlihat kekecilan

jika memakai kursi tersebut.

Jika X = 44,25 + SD = 0,95

Maka tinggi kursi = tinggi lutut duduk + persentil (5)

= 44,25 + (-1,645 x 0,95) = 42,68

Jadi, tinggi kursi yang di rekomendasikan adalah: 42,68 cm.

2. Untuk menentukan panjang kursi maka dimensi tubuh yang digunakan adalah

pantat popliteal. Disini menggunakan P95, karena mereka yang bertubuh kecil

tidak akan kepanjangan jika menggunkan kursi tersebut.


171
Jika X = 48,25 + SD = 2,21

Maka panjang kursi = pantat popliteal + persentil (95)

= 48,25 + (+1,645 x 2,21) = 51,88

Jadi, panjang kursi yang direkomendasikan adalah: 51,88 cm.

3. Untuk menentukan lebar kursi maka dimensi tubuh yang digunakan adalah

lebar pinggul duduk. Disini menggunakan P95, karena jika orang bertubuh

kecil menggunakannya tidak kekecilan dan jika orang bertubuh besar tidak

kelebaran dalam menggunakan kursi tersebut.

Jika X = 32,25 + SD = 0,95

Maka lebar kursi = lebar pinggul duduk + persentil (95)

= 32,25 + (+1,645 x 0,95) = 33,81

Jadi, lebar lebar kursi yang direkomendasikan adalah: 33,81 cm.

4. Untuk menentukan tinggi meja yang akan dirancang menggunakan tinggi siku

duduk sebagai patokannya. Persentil yang digunakan adalah P50, karena

mereka yang bertubuh kecil tidak kebesaran ketika menggunakan meja tersebut

dan mereka yang bertubuh besar tidak kekecilan menggunakan meja tersebut

sehingga pengunaan meja tersebut menjadi nyaman.

Jika X = 67 cm + SD = 2

Maka tinggi meja = tinggi siku duduk + persentil (50)

= 67 + (0 x 2) = 67

Jadi, tinggi meja yang di rekomendasikan adalah: 67 cm.

172
5. Untuk panjang meja maka menggunakan jangakuan tangan ke depan. Disini

menggunakan P50 untuk panjang meja. Orang dengan jangkuan pendek dan

panjang dapat menggunakan produk tersebut.

Jika X = 82,50 cm dan untuk SD = 0,86

Maka panjang meja mesin jahit = jangkauan tangan ke depan + persentil (50)

= 82,50 + (0 x 0,86) = 82,50

Jadi, panjang meja yang di rekomendasikan adalah: 82,50 cm.

6. Sedangkan untuk lebar meja pratikan menggunakan panjang lengan sebagai

dimensinya. Disini menggunakan persentil (95) yang dimana jika orang

berbadan kecil tidak kelebaran menggunkan meja tersebut.

Jika X = 47 dan untuk SD = 6,78

Maka Lebar meja msin jahit = panjangan lengan + persentil (95)

= 47 + (+1,645 x 6,78) = 58,51

Jadi, lebar meja yang direkomendasikan adalah: 58,51 cm.

4.3. Rancangan Akhir Produk

Dari hasil perhitungan pada data antropometri dengan menggunakan

dimensi-dimensi yang telah ditentukan untuk merancang kursi di dapatlah data

untuk mentukan dimensi kursi yang pratikan rancang dan dapat dilihat pada

Gambar 4.3.2 berikut:

173
(Tampak Depan)
(Tampak Atas)
Panjang Kursi
Tinggi Kursi

51,88 cm
42,68 cm

Lebar Kursi
33,81 cm
51,88 cm
Panjang Kursi
Gambar 4.3.2. Kursi tampak depan dan tampak atas dengan ukuran yang telah
ditetapkan.
Sumber: Data Pratikum, 2016.

Berdasarkan hasil perhitungan pada data perancangan antropomeri maka

didapatlah ukuran rancangan produk yang akan dirancang seperti pada Gambar

4.3.2 yang dimana untuk menentukan tinggi, lebar dan panjang kursi yang

pratikan rancang.

Dari hasil perhitungan pada data antropometri untuk perancangan meja

mesin jahit di dapatlah hasil rancangan untuk kursi yang bisa dilihat pada Gambar

4.3.3 berikut:

(Tampak Depan)
(Tampak Atas)
Panjang Meja
82,50 cm
Tinggi Meja

Lebar Meja
67 cm

58,51 cm

Gambar 4.3.3. Meja mesin jahit tampak depan dan tampak atas dengan ukuran
yang telah ditetapkan.
Sumber: Data Pratikum, 2016.
174
Berdasarkan Gambar 4.3.3 hasil perhitungan pada data perancangan

antropomeri maka didapatlah ukuran rancangan produk yang akan dirancang

seperti pada Gambar 4.3.3 yang dimana untuk menentukan tinggi, lebar dan

panjang meja mesin jahit yang pratikan rancang.

4.4. Analisa dan Evaluasi

Mengenai produk meja mesin jahit beserta kursinya yang telah ada

diketahui bahwa produk tersebut sudah bagus namun hanya saja tidak semua

orang dapat menggunakan produk tersebut karena setiap orang memiliki postur

tubuh yang berbeda sehingga ketidaknyamanan dalam penggunaan produk

tersebut dapat dirasakan penggunanya. Oleh karena itu pratikan mencoba

merancang kembali produk tersebut sesuai data antropometri sehingga dapat

digunakan banyak orang dan tidak menimbulkan masalah terhadap tubuh

pemakainya. Berdasarkan hasil perhitungan pada dimensi dan data antropometri

terhadap 4 sampel mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Dumai untuk mewakili

perancangan produk tersebut guna untuk merancang produk kursi dan meja mesin

jahit yang telah pratikan rancang. untuk itu, diketahui bahwa ukuran yang

dianjurkan oleh pratikan umumnya sesuai dengan dimensi dan data antopometri

tubuh responden dan juga orang-orang yang akan memakai produk tersebut. Oleh

karena itu analisa dari produk yang mesin jahit beserta kursi yang telah ada

dengan produk yang pratikan rancang dapat disimpulkan bahwa:

1. Untuk tinggi kursi yang telah dirancang pratikan tidak terlalu tinggi jika

digunakan, maka tinggi kursi yang pratikan tetapkan 42,68 cm.

175
2. Sedangakan untuk panjang kursi yang pratikan rancang tidak terlalu panjang

sehingga tidak membuat pemakai kesulitan dalam penggunaanya, maka

ukuran panjang kursi yaitu: 51,88 cm.

3. Ukuran lebar kursi yang dirancang oleh pratikan tidak terlalu sempit

maupun telalu lebar, maka ukuran lebar kursi yaitu: 33,81 cm.

4. Sedangkan untuk tinggi meja yang pratikan rancang tidak membuat

penggunanya kesulitan atau ketinggian maupun kerendahan dalam memakai

meja tersebut, maka pratikan tetapkan tinggi meja 67 cm.

5. Dan untuk panjang meja yang telah pratikan rancang memudahkan

penggunaan dalam penggunaanya seperti menjangkau barang-barang di

sekitar, maka ukuran panjang meja yang pratikan rancang yaitu 82,50 cm.

6. Untuk lebar meja yang telah pratikan rancang agar memudahkan dalam

penggunaan maka ukuran meja yang pratikan rancang yaitu 58,51 cm.

Berdasarkan hasil analisa diatas, maka didapatlah hasil evaluasi yang

diketahui bahwa produk yang pratikan rancang dapat digunakan terhadap sampel

dan juga orang lain yang akan memakainya. Oleh karena itu produk yang pratikan

rancang tidak hanya berpengaruh pada postur tubuh manusianya saja tetapi bisa

juga dipengaruhi oleh faktor lain yaitu usia, jenis kelamin, ras dan etnis (suku).

Dengan demikian, produk yang pratikan rancang dapat digunakan oleh pratikan

sendiri dan orang lain yang akan menggunakannya yang dimana dalam

penggunaan produk tersebut dapat di pengaruhi berbagai faktor-faktor berupa

usia, jenis kelamin, ras dan etnis (suku) yang dapat mempengaruhi

ketidaksesuaian maupun ketidaknyamanan dalam menggunakan produk tersebut.

176
Namun dalam perancangan produk tersebut pratikan tidak merinci mengenai

biaya pembuatan produk sehingga pratikan tidak bisa menyimpulkan berapa biaya

yang akan di kelurakan dalam pembutan produk tersebut. Karena pratikan hanya

merancang produk agar bisa digunakan oleh banyak orang.

177
178

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

1. Untuk merancang peralatan harus disesuaikan dengan ukuran dimensi tubuh

manusia (anthropometri).

2. Bekerja pada kondisi yang tidak ergonomis dapat menimbulkan berbagai

masalah, antara lain: nyeri pada otot, kekelahan, bahkan kecelakaan.

3. Untuk merancang kursi dan meja mesin jahit yang ergonomi ini yang sesuai
dengan rancangan pratikan di dapat ukuran sebagai berikut:
a. Tinggi kursi = 42,68 cm.

b. Panjang kursi = 51,88 cm.

c. Lebar kursi = 33,81 cm.

d. Tinggi meja mesin jahit = 67 cm.

e. Panjang meja mesin jahit = 82,50 cm.

f. Lebar meja mesin jahit = 58,51 cm.

5.2. Saran

1. Faktor yang mempengaruhi dalam perancangan yaitu fakor usia, jenis

kelamin, ras dan etnis, pekerjaan dan aktivitas, kondisi sosio-ekonomi.

2. Ketidaksesuaian dan ketidaknyamanan menggunakan produk dipengaruhi

oleh produk itu sendiri, karena pembuatan produk tersebut tidak

berdasarkan perhitungan dengan dimensi tubuh manusia atau data

antropometri serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dalam rancangan

tersebut.
178
179

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Work sampling merupakan salah satu cara langsung dalam menetapkan

waktu baku dengan melakukan pengukuran secara tempat berjalannya pekerjaan.

Pada work sampling pekerjaan pengamatan tidak terus menerus berada di tempat

pekerjaan melainkan mengamati (di tempat pekerjaan) hanya pada sesaat – sesaat

pada waktu – waktu yang di tentukan secara acak.

Pengamatan dilakukan untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat kerja,

catatan yang dilakukan setiap kali pengamatan dapat di lihat dari berbagai

kegiatan yang terjadi beserta berapa sering (frekuensi) kegiatan ini teramati.

Semakin tinggi frekwensinya semakin sering kegiatan tersebut di lakukan dan

dapat pula di duga bahwa total waktu yang di butuhkan semakin banyak.

Pengamatan ini dilakukan di PT. SDS Lubuk Gaung. Dengan menggunakan

waktu random terhadap seorang pekerja, kemudian dicatat saat sedang melakukan

pekerjaan (Work time) atau menganggur (Idle time).

1.2. Tujuan Praktikum

Percobaan ini dilakukan bertujuan untuk mengukur aktivitas work dan idle

dari suatu grup pekerja dengan random sampling.

179
1.3. Manfaat Praktikum

Adapun manfaat yang didapat dari percobaan ini y aitu daoat di uraikan

sebagai berikut:

1. Mengetahui langkah – langkah sebelum melakukan sampling pekerjaan.

2. Bisa melakukan sampling pekerjaan.

3. Dapat melakukan pengujian keseragaman data.

4. Dapat menghitung jumlah pengamatan yang di perlukan.

5. Bisa menghitung waktu baku.

6. Dapat menghitug kelonggaran dari sampling pekerjaan.

180
181

BAB II
DASAR TEORI

2.1. Sampling Pekerjaan

Telah disebutkan diatas bahwa sampling pekerjaan dilakukan secara sesaat-

sesaat pada waktu yang telah ditentukan secara acak. Bagaimana suatu

pengamatan demikian dapat menghasilkan sesuatu yang berguna seperti waktu

kerja? Untuk memahami berbagai kegunaan sampling pekerjaan kiranya akan

lebih baik kalau diketahui terlebih dahulu bagaimana bekerjanya cara ini

(Sutalaksana dkk, 2006).

Sebenarmya pengamatan sesaat-sesaat pada waktu yang acak tidak berbeda

dengan seorang mahasiswa yang mengunjungi temannya di rumah. Kunjungan ini

biasanya dilakukan pada waktu-waktu yang tidak tentu, kadang-kadang setiap hari

sekali, dua kali sehari atau tiga kali sehari, atau mungkin juga seminggu sekali

atau kurang dari itu. Jika mahasiswa tersebut mengunungi temannya pada waktu

yang tidak tertentu seperti demikian dapat dikatakan dia melakukan kunjungan

pada waktu-waktu yang acak. Misalkan dia telah melakukan 10 kali kunjungan

dan 7 kali diantaranya tidak menjumpai temannya karena sedang tidak berada

didalam rumah. Berdasarkan pengalaman ini, jika dia bertemu dengan temannya

mungkin akan berkata: “wah, tampaknya kau sering tidak berada dirumah”. Jika

dia melakukan kunjungan-kunjungan lagi katakanlah sampai 100 kali, dan dari

keseratus kunjungan itu temannya tidak dijumpai sebanyak 75 kali, maka

181
sekarang dia dapat berkata “Rupanya tujuh puluh limam persen dari waktumu

tidak dihabiskan dirumah” (Sutalaksana dkk, 2006)

Ilustrasi diatas menunjukkan bagaimana kesimpulan tentang ada tidaknya

suatu kejadian dapat disimpulkan melalui kunjuingan-kunjungan. Demikian pula

kurang lebih apa yang terjadi dengan sampling pekerjaan. Kunjungan-kunjungan

dilakukan untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat kerja yang bersangkutan.

Dari catatan yang dilakukan setiap kali kunjungan, dapat dilihat berbagai

kegiatan yang terjadi beserta berapa sering (frekuensi) kegiatan itu teramati.

Semakin tinggi frekuensi, semakin sering kejadian tersebut dilakukan dan dapat

pula diduga bahwa total waktu yang dibutuhkan semakin banyak (Sutalaksana

dkk, 2006).

Agar kesimpulan yang diambil lebih tepat, yaitu tidak sekedar mengira-

ngira, diperluka tekniik tertentu yang secara acak statistik dikenal dengan

sampling perbandingan populasi atau sampling for estimating population

proportion (Sutalaksana dkk, 2006).

2.2. Kegunaan Sampling Pekerjaan

Karena cara bekerjanya seperti yang telah dikemukakan diatas, sampling

pekerjaan memounyai beberapa kegunaan lain di bidang produksi selain untuk

menghitung waktu penyelesaian. Kegunaan-kegunaan tersebut ialah:

a. Untuk mengetahui distribusi pemakaian waktu sepanjang waktu kerja oleh

pekerja atau kelompok kerja.

b. Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan mesin-mesin atau alat-alat di pabrik.


182
c. Untuk menentukan waktu baku bagi pekerja-pekerja tidak langsung.

d. Untuk memperkirakan kelonggaran bagi suatu pekerjaan.

Distribusi pemakaian waktu kerja atau kelompok pekerja dan tingkat

pemanfaatan mesin atau alat-alat secara mudah diketahui dengan mempelajari

frekuensi setiap kegiatan atau pemakaian dari catatan pengamatan setiap

melakukan kunjungan. Kegunaan-kegunaan sampling pekerjaan yang

dikemukakan ini tampak sebagai kelebihan cara ini dibandingkan cara jam henti.

Memang kecuali dengan melakukan tidak henti-henti sepanjang hari, cara jam

henti tidak dapat melakukan hal-hal diatas. Bahkan dengan jam henti sama sekali

tidak dapat dilakukan pengamatan terhadap beberapa pekerjaan sekaligus, sesuatu

yang pada sampling pekerjaan dengan mudah dijalankan. Caranya adalah dengan

melakukan pengamatan ke beberapa pekerjaan disetiap kunjungan. Begitu pula

dengan pekerja-pekerja tidak langsung yang tidak mudah diukur dengan jam henti

kerena “tidak menentunya” kegiatan mereka (Sutalaksana dkk, 2006).

Kemampuan sampling pekerjaan memperkirakan kelonggaran merupakan

hal penting yang patut dicatat. Untuk kegunaan yang satu ini akan dibicarakan

lebih banyak pada pasal 2.7 nanti (Sutalaksana dkk, 2006).

Tentang lamanya pengamatan, ternyata pada umumnya cara sampling

pekerjaan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada cara jam henti. Misalnya

saja tingkat-tingkat ketelitian yang diinginkan berturut-turut 5% dan 95%. Maka

untuk suatu kegiatan yang menghabiskan waktu 20% dari seluruh waktu yang

disediakan diperlukan 6400 kali kunjungan. Ini berarti memakan waktu 183 hari

jika ± 5 kali kunjungan dilakukan setiap jam di setiap hari yang mempunyai 7 jam

183
kerja. Dengan kata lain, jika yang hendak diukur waktu bakunya hanya satu

pekerjaan saja, cara sampling pekerjaan sering kali terlalu mahal. Memang dalam

keadaan demikian cara jam henti dapat memberikan hasil yang sama kualitasnya

dalam waktu yang jauh lebih cepat dan tentunya biayanya lebih murah

(Sutalaksana dkk, 2006).

2.3. Langkah-langkah Sebelum Melakukan Sampling Pekerjaan

Pada dasarnya langkah-langkah dalam melakukan sampling pekerjaan tidak

berbeda dengan yang diketengahkan pada cara jam henti. Begitu pula langkah-

langkah yang dijalankan sebelum sampling dilakukan yaitu:

a. Menetapkan tujuan pengukuran yaitu untuk apa sampling di lakukan, yang

akan menentukan besarnya tingkat ketelitian dan keyakinan.

b. Jika sampling ditujukan untuk mendapatkan waktu baku, lakukanlah

penelitian pendahuluan untuk mengetahui ada tidaknya sistim kerja yang

baik. Jika belum, perbaikan atas kondisi dan cara kerja harus dilakukan

dahulu.

c. Memilih operator atau operator-operator yang baik.

d. Bila perlu mengadakan latihan bagi para operator yan di pilih agar bisa dan

terbiasa dengan sistim kerja yang dilakukan.

e. Melakukan pemisahan kegiatan sesuai yang ingin di dapatkan. Secara

terperinci, hal ini akan dibahas dihalaman berikutnya.

f. Menyiapkan peralatan yang di perlukan berupa papan pengamatan,

lembaran - lembaran pengamatan, pena atau pensil. Papan pengamatan

184
disini tidak berbeda dengan yang digunakan untuk pengukuran dengan

waktu jam henti (lihat kembali gambar 8.120 sedasngkan lembaran

pengamatan adalah seperti yang diperlihatkan pada gambar 10.1.

Pemisahan kegiatan untuk sampling pekerjaan

Diantara langkah-langkah sebelum melakukan sampling, mungkin

pemisahan kegiatan merupakan langkah-langkah yang agak berbeda dengan

langkah serupa yaitu pembagian pekerjaan atas elemen-elemennya pada cara jam

henti. Pada cara sampling kegiatan, yang ingin diukur dipisahkan dari kegiatan-

kegiatan lain yang mungkin terjadi. Bentuk yang paling sederhana ialah

memisahkanselurug kegiatan menjadi dua bagian yaitu yang pertama yang ingin

diukur, dan yang kedua lainnya. Contoh pemisahan demikian ialah kegiatan

produktif dan non produktif. Bentuk lain yang lebih rumit adalah jika yang ingin

diukur beberapa kegiatan sehingga kemungkinan pengelompokkannya akan

seperti ini:

Kegiatan 1: mengetik

Kegiatan 2 : menerima instruksi pimpinan

Kegiatan 3 : menelpon/melayani panggilan telpon

Kegiatan 4 : membereskan arsip-arsip kantor

Kegiatan 5 : keluar kantor

Kegiatan 6 : lain-lainnya

Bentuk lembaran pengamatan work sampling yang di ditunjukan Tabel

2.3.1.

185
Tabel 2.4.1. Lembar pengamatan

LEMBARAN PENGAMATAN Hal

Dar Hal

PEKERJAAN TANGGAL
NAMA MESIN JAM s/d
NAMA OPERATOR ( jam menit)
NAMA STASIUN KERJA NAMA PENGUKUR

NAMA PABRIK TANDA TANGAN

ELEMEN

1 FREKUENSI TERAMAT JUMLAH %

JUMLAH PENGAMATAN KESELURUHAN

WAKTU PRODUKTIF Menit FAKTOR PENYESUAIAN %

BARANG DIHASILKAN Sal WAKTU NORMAL Menit


WAKTU/SATUAN Menit KELONGGARAN %
WAKTU MAN CONT/SAT Menit

WAKTU MACH CONT/SAT Menit WAKTU BAKU


Sumber 2.4.1. Contoh lembar pengamatan pengukuran waktu dengan sampling
kerja.
Tabel 2.4.1. Merupakan contoh bentuk lebaran pengamatan pada pengamatan

work sampling.

Pada Table 2.4.1. pengukur mungkin ingin mengetahui bagaimana distribusi

penggunaan waktu bagi kegiatan-kegiatan 1 sampai 5. Kegiatan-kegioatan diluar

itu yang mungkin sangat beragam seperti mengobrol, membaca surat kabar,
186
makan/minum, menganggur dan sebaginya tidak sedang dinimati untuk diketahui

satu demi satu dan karenanya cukup digabungkan sebagai kegiatan 6 (Sutalaksana

dkk, 2006).

Sehubungan dengan pemisahan kegiatan-kegiatan ini, satu hal yang perlu

diperhatikan, yaitu bahwa semua kegiatan tersebut harus mutually exclusive dan

mutually exhaustic. Hal ini berarti kegiatan-kegiatan itu semua masing-masing

terpisah sama sekali dan lainnya, namun jumlah semua kegiatan tersebut adalah

semua kegiatan yang mungkin terjadi tempat pekerjaan berlangsung (Sutalaksana

dkk, 2006).

2.4. Melakukan Sampling

Cara melakukan sampling pengamatan dengan sampling pekrjaan yang

tidak berbeda dengan yang dilakukan untuk cara jam hanti yaitu yang terdiri dari

tiga langkah: melakukan sampling pendahuluan, menguji keragaman data, dan

menghitung jumlah kunjungan yang diperlukan. Langkah-langkah ini dilakukan

terus sampai jumlah kunjungan mencukupi yang diperlukan untuk tingkat

ketelitian dan tingkat keyakinan yang diperlukan (Sutalaksana dkk, 2006).

2.4.1. Sampling Pendahuluan

Disini dilakukan sejumlah kunjungan yang banyaknya ditentukan oleh

pengukur, biasanya tidak kurang dari 30. Untuk mudahnya kitaikuti sintih

sampling pekrjaan untuk menghitung waktu baku penyelesaian suatu pekerjaan.

Katakanlah semua kegiatan yang dilakukan pekerja untuk menyelesaikan

pekerjaan disebut sebagai kegiatan produktif, lainnya non-produktif. Selanjutnya

187
dilakukan pengamatan-pengamatan sesaat pada waktu-waktu yang acak sebanyak

144 kali, dan hasilnya Tabel 2.4.2. adalah Table hasil sampling pendahuluan

selama pengamatan 5 hari berturut-turut.

Tabel 2.4.2. Hasil sampling selama 4 hari.

Frekuensi teramati pada hari ke


Kegiatan Jumlah
1 2 3 4
Produktif 24 29 30 26 109
Non produktif 12 7 6 10 35
Jumlah 36 36 36 36 144
% produktif 67 81 83 72
Sumber: Sutalaksana dkk, 2006.

Dari Tabel 2.4.2. dapat lihat hasil dari pengamatan yang dilakukan

kepada seorang operator selama masa penelitian yaitu 4 hari.

2.4.2. Pengujian Keseragaman Data

Untuk itu kita tentukan batas-batas kontrolnya yaitu Batas Kontrol Atas

(BKA) dan Batas Kontrol Bawah (BKB) sebagai berikut:

P̅ (1-P̅ )
BKA=P̅ +3√ …………………………………………………………… 2.4.1.
n

̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅
P̅ (1-P̅ )
BKB=P̅ -3√ …………………………………………..……………….…2.4.2.
n

Dimana p adalah

∑ Pi
P̅ = ……………………………………………………………..……….… 2.4.3.
k

188
Dengan pi adalah persentase produktif di hari ke-i dan k adalah jumlah

hari pengamatan

∑ ni
𝑛̅ = ………………………………………………………………………2.4.4.
k

Dengan ni adalah jumlah pengamatan yang dilakukan pada hari ke-i

selanjutnya untuk contoh diatas didapat:

67+81+83+72
P̅ = :100 = 0,76
4
36 + 36 + 36 + 36
n̅= =36
4

sehingga :

0,76(1-0,76)
BKA = 0,76+2√ = 0,976 ………..………………………………… 2.4.5.
36

0,76(1-0,76)
BKB = 0,76-2√ =0,546………………………………………… 2.4.6.
36

Ternyata semua harga-harga pi berada dalam batas-batas ini sehingga

senuanya dapat digunakan untuk menghitung banyaknya pengamatan yang

diperlukan. Jika terdapat harga pi yang diluar batas kontrol, maka data

pengamatan dari hari yang bersangkutan “dibuang” karena berasal dari sistem

sebab yang berada.

189
2.4.3. Menghitung Jumlah Pengamatan yang Diperlukan

Jumlah pengamatan yang diperlukan untuk tingkat ketelitian 5% dan

tingkat keyakinan 95% diketahui melalui rumus:

1600(1-P)
N' = =0,757…………………………..…………...…………………2.4.7.
P

1600(1-0,757)
N' = =514
0,757

Jadi masih diperlukan (514-144) = 370 kali kunjungan lagi. Maka sampling

keduapun dilakukan. Demikian seterusnya pengamatan dilakukan tahap demi

tahap diuji keseragaman datanya dan dihitung kecukupannya sampai jumlah

kunjungan yang telah dilakukan lebih banyak atau sama dengan yang seharusnya

dilakukan(Sutalaksana dkk, 2006).

2.5. Cara Menentukan Waktu Pengamatan Secara Acak

Berulang kali telah kita sebutkan bahwa kunjungan-kunjungan dilakukan

dalam waktu-waktu yang ditentukan secara acak. Untuk ini biasanya satu hari

kerja dibagi kedalam satuan-satuan waktu yang besarnya ditentukan oleh

pengukur. Biasanya panjang satu-satuan waktu tidak terlampau panjang.

Berdasarkan satuan-satuan waktu inilah saat-saat kunjungan ditentukan

(Sutalaksana dkk, 2006).

Misalnya satu-satuan panjangnya 5 menit. Jadi satu hari kerja (7 jam)

mempunyai 84 satuan waktu. Ini berarti jumlah kunjungan per hari tidak lebih

dari 84 kali. Jika dalam satu hari dilakukan 36 kali kunjungan maka dengan

190
bantuan tabel bilangan acak ditentukan saat-saat kunjungan tersebut (Sutalaksana

dkk, 2006).

Tabel bilangan acak biasanya terdapat pada buku-buku statistik atau pun

buku khusus tabel-tabel teknik. Tabel bilangan acak yang terdapat pada lampiran

buku ini adalah salah satu contohnya. Dengan tabel ini kita pecahkan persoalan

kita tadi. Angka-angka pada tabel itu kita ikuti dua-dua sampai 36 kali. Tentu

syaratnya adalah bahwa pasangan-pasangan dua buah itu besarnya tidak boleh

lebih dari 84 dan tidak boleh terjadi pengulangan. Jadi didapat:

39 65 75 45 19 54......dst.....(36 pasang)

Dengan demikian kunjungan dilakukan pada satuan-satuan waktu ke 39, 65,

...(36 kali) yang berarti pada jam 11.15, 14.25, dan seterusnya (jika jam kerja

dimulai pukul 08.00 dan berakhir 16.00 dengan waktu istirahat antara 12.00-

13.00). Kalau diurut dari awal sampai akhir maka akan didapat daftar saat

kunjungan mulai dari kunjungan pertama sampai tiga puluh enam (Sutalaksana

dkk, 2006).

Diatas telah dikatakan bahwa panjang satu satuan waktu tidak terlalu

pendek dan juga tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Untuk yang

pertama kirainya jelas, yaitu bila terlalu pendek misalkan satu menit maka jika

mendapatkan 2 atau lebih kunjungan berturut-turut melakukannya setiap satu

menit sekali bisa jadi tidaklah mudah. Begitu pula pada sampling kerja yang

mengamati lebih dari satu sistem kerja sekaligus. Untuk yang kedua mudah pula

dimengerti, karena akan menyebabkan jumlah kunjungan perhari terbatas yang


191
berarti akan menjadikan masa pengamatan sampling pekerjaan lebih lama

(Sutalaksana dkk, 2006).

2.6. Menghitung Waktu Baku

Misalkan pada contoh di atas, akhirnya didapat bahwa jumlah pengamatan

yang dilakukan 432 kali selama 12 hari penuh atau sama dengan 5040 menit. Dari

ke-432 pengamatan ini frekuensi kegiatan produktif yang teramati adalah 343 dan

jumlah barang dihasilkan selama dilakukan sampling kerja adalah 370 buah,

maka:

a. - jumlah pengamatan 432

- jumlah produktif 343

- presentase produktif 343/432 x 100% = 79,4%

b. - jumlah menit pengamatan 5040 menit

- jumlah menit produktif 79,4/100 x 5040 = 4002 menit

c. - jumlah barang dihasilkan 370 buah

selama pengamatan

- waktu diperlukan / buah 4002/370 = 10,82 menit

d. - faktor penyesuaian 0,95

- waktu normal (10,82 x 0,95) menit

e. - kelonggaran 23%

- waktu baku 1 10,82 + 0,23 (10,82) = 13,31 menit

192
Disini dianggap bahwa pekerjaan menyelesaikan produk penuh yang

bersangkutan sepenuhnya manually controlled, artinya kecepatan kerjanya

sepenuhnya tergantung pada pekerjaan yang bersangkutan. Bagaimana jika ada

sebagian di antaranya yang machine controlled yaitu kecepatan sepenuhnya

ditentukan oleh mesin?

Seandainya pada contoh kita tadi dari ke-343 produktif 87 diantaranya

machine controlled maka perhitungan diatas menjadi:

a. - jumlah pengamatan 432

- jumlah produktif 343 atau 79,4%

- jumlah man cont 256 atau 74,6 % (dari produktif)

- jumlah mach cont 87 atau 25,4 % (dari produktif)

b. - jumlah menit pengamatan 5040 menit

- Jumlah menit produktif 4002 menit

c. - jumlah barang dihasilkan 370 buah

- jumlah waktu produksi/buah 10,82 menit

- jumlah man cont/buah 0,746 z 10,82 = 8,07 menit

- jumlah mach cont/buah 0,254 x 10,82 = 2,75 menit

d. - faktor penyesuaian 0,95

- waktu normal (8,07 x 0,95) + 2,75 = 10,42

e. - Kelonggaran 23%

193
- waktu baku 10,42 + 0,23 (10,42) =12,82 menit

Terlihat bahwa faktor penyesuaian dikalikan hanya terdapat pada bagian

waktu yang manually controlled karena memang faktor penyesuaian adalah untuk

kegiatan-kegiatan demikian. Yang machine controlled tidak perlu disesuaikan

karena kegiatan-kegiatan ini dapat diasumsikan bekerja normal (Sutalaksana dkk,

2006).

2.7. Sampling Pekerjaan untuk Menghitung Kelonggaran

Selain untuk mendapatkan waktu baku dan kegunaan-kegunaan lain.

Sampling pekerjaan dapat juga dipergunakan sebagai salah satu cara untuk

mendapatkan besarnya kelonggaran. Pada bab 9 telah ditemukan adanya tiga

macam kelonggaran yaitu untuk kenutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique

dan untuk hambatan-hambatan yang tak terhindarkan (Sutalaksana dkk, 2006).

Jika sampling pekrjaan dilaksanakan untuk keperluan ini maka permisahan

kegiatannya dapat dibentuk seperti:

Kegiatan 1 : kegiatan untuk kebutuhan pribadi

Kegiatan 2 : kegiatan untuk menghilangkan fatique

Kegiatan 3 : hambatan-hambatan yang tak terhindarkan

Kegiatan 4 : lain-lain

194
Selanjutnya langkah-langkahnya mengikuti langkah-langkah sampling

pekrjaan. Kegiatan 1,2,dan 3 dapat digabungkan menjadi satu, yaitu “kegiatan

kelonggaran” sehingga menjadi:

Kegiatan 1 : kegiatan kelonggaran

Kegiatan 2 : lain-lain

Cara demikian lebih sederhana, antara lain karena jumlah pengamatan yang

diperlukan lebih sedikit. Tetapi tentunya tidak dapat diketahui secara terperinci.

Sebaliknya penguraian yang lebih terperinci dapat juga dilakukan, misalnya

menjadi:

Kegiatan 1 : bercakap-cakap sekedarnya

Kegiatan 2 : minum sekedarnya

Kegiatan 3 : ke kamar kecil

Kegiatan 4 : berhenti waktu istirahat dan seterusnya

Dengan demikian kelonggaran untuk setiap macam kegiatan yang

bersangkutan dapat diketahui. Namun cara ini menuntut jumlah pengamatan yang

lebih banyak karena persentase setiap kegiatan yang terperinci ini (relatif terhadap

seluruhnya) kecil atau sangat kecil.

Sehubungan dengan penggunaan sampling pekerjaan untuk mendapatkan

kelonggaran ada dua hal yang perlu di[erhatikan. Pertama adalah sifat dari

kegiatan-kegiatan kelonggaran yang tidak selalu tampak sebagai kegiatan yang

berdiri sendiri. Misalnya, untuk menghilangkan rasa fatique operator tidak selalu

berhenti bekerja, tetapi dapat juga dengan melambatkan kecepatan kerja. Yang

terakhir ini tidak dapat mudah dideteksi selama kunjungan-kunjungan dilakukan.


195
Namun paling tidak dengan sampling pekerjaan didapat “kelonggaran untuk yang

tampak” yang seolah-olah dapat dipergunakan sebagai kelonggaran minimal

untuk pekerjaan yang bersangkutan. Atau apabila ditambahkan sejumlah

kelonggaran lagi atasnya akan didapat kelonggaran yang diharapan sepantasnya.

Yang kedua adalah bahwa operator yang diukur harus seorang yang

melakukan kegiatan-kegiatan kelonggaran secara wajar, artinya dia tidak

bercakap-cakap terlampau banyak, sering minum atau ke kamar kecil karena

badan yang tidak sehat dan sebagainya. Hal ini adalah untuk menjamin agar

kelonggaran yang akhirnya didapatkan merupakan kelonggaran yang pantas.

2.8. Penyesuaian

Pada bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa setelah waktu siklus Ws

didapat, waktu baku peyelesaian suatu pekerjaan Wb diperoleh dengan terlebih

dahulu menghitung waktu normal Wn dengan:

Wn = Ws x p.....................................................................................................2.4.6.

Dan kemudian menghitung waktu baku Wn dengan:

Wb = Wn (1+1).................................................................................................2.4.7.

2.8.1. Maksud Melakukan Penyesuaian

Penyesuaian dilakukan dengan mengalihkan waktu siklus rata – rata atau

waktu elemen rata – rata dengan suatu harga p yang disebut faktor penyesuaian.

Bila pengukur berpendapat bahwa operator pekerja diatas normal (telalu cepat)

maka harga p nya akan lebih besar dari suatu (p>l) sebaliknya jika operator
196
dipandang pekerja dibawah normal maka harga p akan lebih kecil dari satu (p<l).

Seandainya pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan wajar maka

harga p nya sama dengan satu (p=l).

2.8.2. Konsep Tentang Bekerja Wajar

Untuk memudahkan pemilihan konsep wajar, ada beberapa konsep, yaitu:

1. Konsep “Internasional Labour Organization”. Pada konsep ini dinyatakan

seseorang pengukur dapat mempelajari bagaimana bekerjanya seorang

operator yang dianggap normal itu yaitu : “Jika seorang operator yang

dianggap berpengalaman bekerja tanpa usaha - usaha yang berlebihan

sepanjang hari kerja, menguasai cara kerja yang ditetapkan dan

menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan pekerjaannya”.

2. Konsep Lowry Maynard dan stegemarten melalui cara penyesuaian

westinghouse. Pada konsep ini mereka berpendapat ada empat faktor yang

menyebabkan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja yaitu:

Keterampilan, usaha, kondisi kerja dan konsisten.

2.8.3. Beberapa Cara Menentukan Faktor Penyesuaian

a. Cara persentase

Merupakan cara yang paling awal digunakan dalam melakukan kesesuaian.

Besar faktor penyesuaian sepenuhnya ditentukan oleh pengukur melalui

pengamatannya selama melakukan pengukuran.

Wn = p x Ws.....................................................................................................2.4.8.

197
b. Cara Shumard

Memberikan patokan – patokan penilaian melalui performance kerja dimana

setiap kelas mempunyai nilai sendiri – sendiri.

Berikut adalah tabel penyesuaian menurut cara shumard yang akan di

tunjukkan oleh Tabel 2.4.3.

Tabel 2.4.3. Penyesuaian menurut cara Shumard


Kelas Penyesuaian

Superlast 100

Fast + 95

Fast 90

Fast - 85

Excellent 80

Good + 75

Good 70

Good - 65

Normal 60

Fair + 55

Fair 50

Fair - 45

Poor 40

Sumber : Buku Teknik Perancangan Sistem Kerja,1997

Tabel 2.4.3. merupakan penyesuaian menurut cara shumard yang akan

digunaka untuk mecari waktu baku. Untuk keperluan penyesuaian, keterampilan

di bagi menjadi enam kelas dengan ciri-ciri dari setiap kelas seperti yang

dikemukakan berikut ini:

198
Super skill:

1. Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya.

2. Bekerja dengan sempurna.

3. Tampak sepertui telah berlatih dengan sangat baik.

4. Gerakan-gerakannya halus tetapi sangat cepat sehingga sangat sulit untuk

diikuti.

5. Kadang-kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan-gerakan mesin.

6. Perpindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen lainnya tidak terlampau

terlihat karena lancarnya.

7. Tidak terkedan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencana tentang apa

yang dikerjakan (sudah sangat otomatis).

8. Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang brsangkutan adalah

pekerja yang sangat baik.

Excellent skill:

1. Percaya pada diri sendiri.

2. Tampak cocok dengan pekerjaannya .

3. Terlihat telah berlatih baik.

4. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran atau

pemeriksaan lagi.

5. Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya dijalankan tanpa

kesalahan.

6. Menggunakan peralatan dengan baik.

7. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu.

199
8. Bekerjanya cepat tapi halus.

9. Bekerjanya bersama dan terkoordinasi.

Good skill:

1. Kualitas hasil baik.

2. Bekerjanya tampak lebih baik daripada kebanyakan pekerja pada umumnya.

3. Dapat memberi petunjuk pada pekerja lain yang keterampilannya lebih

rendah.

4. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap.

5. Tidak memerlukan banyak pengawasan.

6. Tiada keragu-raguan.

7. Bekerjanya “stabil”.

8. Gerakan-gerakannya terkoordinasi dengan baik.

9. Gerakan-gerakannya cepat.

Average skill:

1. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri.

2. Gerakannya cepat terapi tidak lambat.

3. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan perencanaan.

4. Tampak sebagai pekerja yang cakap.

5. Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tidak ada keragu-raguan.

6. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik.

7. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaannya.

8. Bekerja cukup teliti.

9. Secara keseluruhan cukup memuaskan.

200
Fair skill:

1. Tampak terlatih tetapi belum cukup baik.

2. Mengenal peralatan dan lingkungan secukupnya.

3. Terlihat adanya perencanaan-perencanaan sebelum melakukan gerakan-

gerakan.

4. Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup.

5. Tampaknya seperti tidak cocok dengan perkerjaannya tetapi lebih

dipekerjakan dibagian itu sejak lama.

6. Mengetahui apa-apa yang diakukan dan harus dilakukan tapi tampak tidak

selalu yakin.

7. Sebagian waktunya terbuang karena kesalahan-kesalahan sendiri.

8. Jika tidak bekerja secara sungguh-sungguh outputnya akan sangat rendah.

9. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakannya.

Poor skill:

1. Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran.

2. Gerakan-gerakannyakaku

3. Kelihatan ketidakyakinannya pada urutan-urutan gerakan.

4. Seperti yang tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan.

5. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya.

6. Ragu-ragu dalam melaksanakan gerakan-gerakan kerja.

7. Sering melakukan kesalahan kesalahan.

8. Tidak adanya kepercayaan pada diri sendiri.

9. Ridak bisa mengambil inisiatif sendiri.

201
Secara keseluruhan tampak pada kelas-kelas di atas bahwa yang

membedakan kelas keterampilan seseorang adalah keragu-raguan. Penelitian

gerakan, kepercayaan diri, koordinasi, irama gerakan, “bekas-bekas latihan”, dan

hal-hal lain yang serupa (Sutalaksana dkk, 2006).

Dengan pembagian ini pengukur akan lebih terarah dalam menilaikewajaran

pekerja dilihat dari segi keterampilannya. Karena faktor penyesuaian yang

nantinya diperoleh dapat lebih objektif. (Sutalaksana dkk, 2006).

Bentuk usaha effort cara westinghouse membagi juga kela-kelas dengan

ciri-ciri tersendiri yang dimakasud usaha di sini adalah kesungguhan yang

ditunjukkan atau diberikan operator ketika melakukan pekerjaannya untuk

penyesuaian cara Westinghouse akan di tunjukan pada Tabel 2.4.4.

Tabel 2.4.4. Penyesuaian Menurut Westinghouse.

Faktor Kelas Lambang Penyesuaian

Keterampilan Superskill A1 + 0.50


(Skill) A2 + 0.13
Excellent B1 + 0.11
B2 + 0.08
Good C1 + 0.06
C2 + 0.03
Average D 0.00
Fair E1 -0.05
E2 -0.10
Poor F1 -0.16
F1 -0.22

Usaha Excessive A1 + 0.13

.
202
Tabel 2.4.4. Penyesuaian cara Westinghouse (lanjutan)
Faktor Kelas Lambang Penyesuaian
(Effort) A2 + 0.12
Excellent B1 + 0.10
B2 + 0.08
Good C1 + 0.05
C2 + 0.02
Average D 0.00
Fair E1 -0.04
E2 -0.08
Poor F1 -0.12
F2 -0.17
Kondisi Kerja Ideal A + 0.06
Good C + 0.02
Average D 0.00
Fair E -0.03
Poor F -0.07
Konsisten Perfect A + 0.04
(Consistency) Excellent B + 0.03
Good C + 0.01
Average D 0.00
Fair E -0.02
Poor F -0.04
Sumber : Sutalaksana dkk, 2006.

Tabel 2.4.4. merupakan Tabel penyesuaian menurut Westinghouse yang

digunakan untuk mencari waktu baku pada pengolahan data nanti. Dalam

menghitung faktor penyesuaian, bagi keadaan yang dianggap wajar diberi harga

p=1, sedangkan terhadap penyimpangan dari keadaan ini harga p nya ditambah

dengan angka-angka yang sesuai dengan keempat faktor diatas. Sebagai contoh

jika waktu siklus rata-rata sama dengan 124,6 detik dan wakti ini dicapai dengan

keterampilan pekerja yang dinilai fair (E1), usaha good (C2), kondisi excellent

(B), dan konsistensi poor (F) maka tambahan terhadap p = 1 adalah:

Keterampilan : fair (E1) = -0,05

Usaha : good (C2) = +0,02

203
Kondisi : excellent (B) = +0,04

Konsistensi : poor (F) = -0,04

Jumlah -0,03

Jadi, p=(1-0,03) atau p=0,97 sehingga waktu normalnya Wn= 124,6 x 0,97 =

120,9 detik.

2.8.4. Suatu Perbandingan

Mengarahkan penilaian pada 4 faktor yang dianggap menentukan

kewajaran atau ketidak wajaran dalam bekerja yaitu Keterampilan, Usaha,

Kondisi Kerja dan Konsistensi. Setiap faktor terbagi dalam kelas – kelas dengan

nilainya masing – masing:

a). Keterampilan atau Skill didefenisikan sebagai kemampuan mengikuti cara

kerja yang ditetapkan.

b). Usaha adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan operator ketika

melakukan pekerjaannya.

c). Kondisi kerja atau Condition adalah kondisi fisik lingkungannya seperti

keadaan pencahayaan, temperatur dan kebisingan ruangan.

d). Konsistensi atau consistency diperhatikan karena kenyataan bahwa setiap

pengukuran waktu angka – angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama,

waktu penyelesaian yang ditunjukkan pekerja selalu berubah – ubah dari

satu siklus ke siklus lainnya, bahkan dari hari ke hari.

204
2.8.5. Cara-cara Bedaux dan Sintesis

Dua cara lain yang dikembangkan untuk lebih mengojektifkan penyesuaian

adalah cara Bedaux dan Sintesis. Pada dasarnya cara Bedaux tidak banyak

berbeda dengan cara Shumard, hanya saja nilai-nilai pada cara bedaux dinyatakan

dalam “B” (huruf pertama Bedaux, penemunya) seperti misalnya 60B atau 70B

(Sutalaksana dkk, 2006).

Sedangkan cara sintesis agak berbeda dengan cara-cara lain, dimana dalam

cara ini waktu penyelesaian setiap elemen gerakan dibandingkan dengan harga-

harga yang diperoleh dari tabel-tabel data waktu gerakan (bab12) untuk kemudian

dihitung harga rata-ratanya. Harga rata-rata yang dinilai sebagai faktor

penyesuaian bagi satu siklus yang bersangkutan. Misalkan waktu-waktu

penyelesaian untuk elemen-elemen pekerjaan pertama, kedua dan ketiga bagi

suatu siklus adalah 17, 10 , dan 32 detik. Dari tabel-tabel data waktu gerakan

didapat untuk elemen-elemen yang sama masing-masing 17, 12, dan 29 detik.

Yang berbeda adalah pada elemen-elemen kedua dan ketiga. Maka untuk elemen-

elemen ini perbandingannya adalah 12/10 dan 29/32. Rata-rata keseluruhannya

yang besarnya 1,04 adalah faktor penyesuaian untuk ketiga elemen pekerjaan

tersebut atau untuk seluruh siklus yang bersangkutan jika siklusnya hanya terdiri

dari 3 elemen itu (Sutalaksana dkk, 2006).

2.9. Kelonggaran

Kelonggaran diberikan untuk tiga hal yaitu untuk kebutuhan pribadi,

menghilangkan rasa fatique dan hambatan - hambatan yang tidak dapat

205
dihindarkan. Ketiga ini merupakan hal - hal yang secara nyata dibutuhkan oleh

pekerja dan selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat ataupun terhitung

(Sutalaksana dkk, 2006).

2.9.1. Kelonggararan untuk Kebutuhan Pribadi

Yang termasuk kedalam kebutuhan pribadi disiini adalah hal-hal seperti

minum sekedarnya untuk menghilangkan rasa haus, kekamar kecil, bercakap-

cakap dengan teman sekerja sekedar untuk menghilangkan ketegangan ataupun

kejemuan dalam kerja (Sutalaksana dkk, 2006).

Ini termasuk sesuatu yang mutlak, tidak bisa misalnya seorang terus-

menerus bekerja denganrasa dahaga atau melarang sesama pekerja untuk

bercakap-cakap. Besarnya kelonggaran yang diberikan untuk kebutuhan pribadi

seperti itu berbeda-beda dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya karena setiap

pekerjaan mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Untuk pekerjaan-pekerjaan

ringan pada kondisi-kondisi kerja normal pria memerlukan 2% sampai 2,5% dan

wanita 5% ( dari waktu normal) (Sutalaksana dkk, 2006).

2.9.2. Kelonggaran untuk Menghilangkan Rasa Fatigue

Tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi baik jumlah maupun

kualitas. Karenanya salah satu cara untuk menentukan besarnya kelonggaran

adalah sengan melakukan pengamatan sepanjang hari kerja dan mencatat saat-saat

dimana hasil produksi disebabkan oleh timbulnya rasa lelah, karena msih banyak

kemungkinan lain yang dapat menyebabkannya. Jika fatique datang dan pekerja

harus bekerja untuk menghasilkan performansi normalnya, maka usaha yang

206
dikeluarkan pekrja lebih besar dari normal dan ini akan menambah rasa fatique

(Sutalaksana dkk, 2006).

2.9.3. Kelonggaran untuk Hambatan-hambatan tak Terhindarkan

Beberapa contoh yang termasuk ke dalam hambatan yang tak terhindarkan

adalah:

 Menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas.

 Melakukan penyesuaian-penyesuain mesin.

 Memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti mengganti alat potong.

yang patah, memasang kemnali ban yang lepas dan sebagainya.

 Mengasah peralatan potong.

 Mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus dari gudang.

 Hambatan-hambatan karena kesalahan pemakaian alat ataupun bahan.

 Mesin berhenti karena matinya aliran listrik.

2.9.4. Menyertakan Kelonggaran dalam Perhitungan Waktu Baku

Langkah pertama adalah menentukan besarnya kelonggaran ketiga hal

diatas. Memperhatikan kondisi-kondisi yang sesuai dengan pekerjaan yang

besangkutan. Untuk yang ketiga dapat diperoleh melalui pengukuran khusus

seperti sampling pekerjaan. Kesemuanya, masing-masing dinyatakan dalam

persentase, dijumlahkan dan kemudian mengalihkan jumlah ini dengan waktu

normal yang telah dihitung sebelumnya. Persentase kelonggaran untuk kebutuhan

pribadi dan fatique :

(7+0+3+5+2,5+0+2)%= 19,5 %

207
Jika dari sampling pekerjaan didapat bahwa kelonggaran untuk hambatan

yang terhindarkan adalah 5, maka kelonggaran total yang harus diberikan untuk

pekerjaan itu adalah (19,5+5)%=24,5%.

Jika waktu normalnya telah dihitung sama dengan 5,5 menit, maka

waktunya adalah:

5,5+0,245(5,5)= 6.85 menit

208
209

BAB III
PENGUMPULAN DATA

3.1. Alat dan Bahan

Alat – alat dan bahan yang di gunakan pada percobaan ini adalah :

a. Stop watch.

b. Alat tulis.

c. Formulir data pengamatan (praktikan langsung mengambil data

kelapangan).

d. Kamera.

3.1. Cara Pengumpulan Data

Melakukan pengamatan setiap 5 menit sekali dimulai dari pukul 07.00 wib

dan berhenti di pukul 11.00 wib sampai 12.00 wib (waktu istrihat), setelah itu

pengamatan dilanjutkan dari pukul 12.00 wib sampai dengan 15.00 wib dimana

waktu jam kerja normal telah berkahir. Setiap 5menit data dicatat kedalam

formulir data pengamatan, dan adapun data atau pekerjaan yang dicatat kedalam

formulir data pengamatan adalah sebagai berikut:

a) Pergantian shift.

b) Pemberian arahan oleh atasan (briefing) .

c) Pengecekan awal daerah kerja.

d) Pengambilan data yang diambil per 2 jam.

e) Pengambilan sample feed, produk setengah jadi, dan produk jadi.

f) Pencucian dan penggantian duplex filter.


209
g) Pengisian chemical.

h) Penyerahan laporan.

i) Dan lain-lainnya.

3.2. Data Pengamatan

Objek yang diamati : Operator produksi

Tanggal pengamatan : 1 Desember – 6 Desember 2016

Jam kerja : 8 Jam kerja (07.00 Wib – 15.00 Wib)

Sampling yang digunakan : Per 5 Menit

7 jam x 60 menit
Sehingga perhitungannya : = 84 sampling
5 menit

Tabel bilangan acak yang digunakan adalah tabel bilangan ketiga dan dibaca

dari kiri ke kanan, dan data yang berulang tidak diikut sertakan.

Tabel 3.4.1. Tabel bilangan acak


93 5 31 3 7 34 18 4 52 35
74 13 39 35 22 68 95 23 92 35
86 63 70 35 33 21 89 11 47 99
11 20 99 45 18 76 51 94 84 86
13 79 93 37 55 95 16 4 41 67
95 16 94 96 97 27 37 83 24 71
79 57 95 11 91 9 64 87 25 21
56 20 11 32 44 95 8 31 55 73
10 65 51 92 59 72 31 61 95 46
20 44 90 32 64 26 99 76 35 63
69 26 88 86 13 59 71 74 17 32
48 38 75 93 29 73 37 32 4 5
60 82 29 20 25
Sumber : Buku Teknik Perancangan Sistem Kerja (Zulfikar Z. Sutalaksana dkk,

2006).

210
Tabel 2.4.6. merupakan Tabel bilangan acak untuk work sampling yang

merupakan ketetapan yang didapat dari buku baca analisis perancangan kerja 1

Data pengamatan operator produksi Oleochemical di PT. Sari Dumai Sejati.

Dapat dilihat pada Tabel 3.4.1. di dalam lampiran (Tabel 3.4.1 Hasil pengamatan

Work Sampling).

Dari Tabel tersebut dapat diketahui hasil pengamatanselama 5 hari berturut-

turut seperti berikut :

Jumlah Pengamatan = 40 Kali

Hari 1 : Jumlah bekerja = 26 (30,96 %)

Jumlah tidak bekerja = 58 (69,04%)

Hari 2 : Jumlah bekerja = 26 (30,96 %)

Jumlah tidak bekerja = 58 (69,04%)

Hari 3 : Jumlah bekerja = 26 (30,96 %)

Jumlah tidak bekerja = 58 (69,04%)

Hari 4 : Jumlah bekerja = 25 (29,76 %)

Jumlah tidak bekerja = 59 (70,24%)

Hari 5 : Jumlah bekerja = 27 (32,14%)

Jumlah tidak bekerja = 67 (67,86%)

211
212

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Sampling Pendahuluan

Tabel 4.4.1. adalah Tabel hasil pengolahan data yang didapat selama

pengamatan 5 hari berturut-turut di PT. Sari Dumai Sejati.

Tabel 4.4.1. Hasil pengolahan data

Kegiatan Frekuensi teramati hari ke Jumlah


1 2 3 4 5
Produktif 26 26 26 25 27 130
non produktif 58 58 58 59 57 240
Jumlah 40 40 40 40 40 200
% produktif 65 65 65 62,5 67,5
Sumber: Pengamatan tahun 2016

Dari Tabel 4.4.1. dapat disimpulkan bahwa untuk % produktif hari pertama,

kedua dan ketiga adalah 65, hari ke empat 62,5 dan hari kelima 67,5.

Selanjutnya untuk pengujian keseragaman data dibutuhkannya Batas

Kontrol Atas (BKA) dan Batas Kontrol Bawah (BKB) dengan tingkatan ketelitian

15% dikarenakan merupakan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari

waktu penyelesaian sebenarnya dalam % dan tingkat keyakinan 95% dikarenakan

merupakan besarnya keyakinan pengukuran bahwa hasilnya yang diperoleh

memenuhi syarat keteliatian dan hasil N’ yang didapat tidak besar dari 200

dengan harga k = , maka persamaannya sebagai berikut: (sumber: buku Teknik

Perancangan Sistem Kerja oleh Sutalaksana , dkk halaman 208).

212
4.2. Pengujian Keseragaman Data

Dengan jumlah ini adalah jumlah pengamatan yang dilakukan pada hari ke-

1 maka :

Menggunakan Rumus 2.4.3.

∑ Pi 65+65+65+62,5+67,5 325
P̅ = = :100= :100=0,65
k 5 5

Menggunakan Rumus 2.4.2.

∑ ni 40+40+40+40+40 200
𝑛̅= = = =40
k 5 5

Sehingga dapat ditentukan batas – batas kontrolnya yaitu :

Menggunakan rumus 2.4.1.

0,65(1-0,65) 0,35
BKA = 0,65+2√ =0,65+2√
40 40

= 0,65 + 2 (0,09354)

= 0,65 + 0,18708

= 0,83708

Menggunakan Rumus 2.4.2.

0,65(1-0,65) 0,35
BKB = 0,65-2√ =0,65-2√
40 40

= 0,65 - 2 (0,09354 )

= 0,65 - 0,18708

= 0,46292

213
Selanjutnya jumlah pengamatan yang diperlukan untuk tingkat ketelitian

15% dan tingkat keyakinan 95% yang telah ditentukan diketahui melalui Rumus

2.4.5.

4.3. Menghitung Jumlah Pengamatan yang Diperlukan

Berdasarkan Rumus 2.4.3. maka dapat di hitung jumlah pengamatan yang di

perlukan dengan tingkat keyakinan 95% dan tingkat ketelitian 15 % yaitu :

Tingkat ketelitian 15 % = 0,15

Tingkat keyakinan 95% = 2

130
P= =0,65
200

Sehingga :

Menggunakan Rumus 2.4.7.

2 2
(0,15) (1-0,65) 177,8(0,35)
N' = = = 95,73
0,65 0,65

Dari hasil perhitungan diatas 95,73 < 200 maka data cukup, ini berarti untuk

tingkat ketelitian dan keyakinan tersebut sudah memenuhi dan pengukuran telah

selesai.

Selanjutnya yaitu menghitung waktu baku dari pengamatan yang telah

dilakukan dengan menetapkan bahwa jumlah pengamatan telah cukup, dan jumlah

pengamatan yang dilakukan 420 kali selama 5 hari penuh atau sama dengan 2100

menit. Dari ke-420 kali pengamatan yang dilakukan maka didapatlah 200 data

yang diambil secara acak dengan frekuensi kegiatan produktif yang teramati

adalah 130 dan jumlah barang yang dihasilkan adalah 166,70 ton produk.

214
4.4. Menghitung Waktu Baku

Berdasarkan data pengmatan dapat di hitung waktu baku :

a. Jumlah pengamatan : 200 kali

Jumlah produktif : 130

Persentase produktif : 130/ 200 x 100% = 65 %

b. Jumlah menit pengamatan : 5 hari x 7 jam x 60 mnt

= 2100

65%
c. Jumlah menit produktif ∶ x2100=1365
100

e. Jumlah pekerjaan selama pengamatan : 130 pekerjaan

Waktu yang di perlukan /pekerjaan : 1365 menit/130

: 10,50 menit/pekerjaan

f. Faktor penyesuaian menurut Westinghouse

Keterampilan ( Excellent : B1 ) : + 0,08

Usaha ( Good : C1 ) : + 0,05

Kondisi kerja ( Excellent : B ) : + 0,04

Konsistensi ( Good :C ) : + 0,01

Maka total faktor penyesuaiannya : + 0,18

Jadi p = 1 + 0,18 = 1,18

Waktu Normal = 10,5 x 1,18 = 12,39 menit

g. Allowance = Kelonggaran

Untuk allowance berdasarkan tabel 9.3 besarnya kelonggaran berdasarkan

faktor-faktor yang berpengaruh adalah sebagai berikut:

Tenaga yang di keluarkan sangat ringan =7,0 %


215
Berdiri diatas dua kaki =2,0 %

Gerakan kerja normal =0,0 %

Kelelahan mata, pandangan terus menerus dengan fokus tetap =8,0 %

Keadaan temperatur tempat kerja normal =3,0 %

Keadaan atsmofer, Baik = 3,0%

Keadaan lingkungan yang baik, sehat, bersih, cerah =0,5 %

Maka total kelonggaran = 26%

Jadi besar nilai allowance yang didapat dengan operator pria, maka

allowancenya adalah 26% + 2,5% = 28,5%

h. Waktu baku standar (WS) : WN (1+ALL)

: 12,39 menit (1+0,28) = 15,92 menit

Berdasarkan data dan perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa waktu

standar yang harus dilakukan oleh operator produksi (Oleochemical) di [Link]

Lubuk Gaung untuk menyelesaikan satu pengerjaan/produk dibutuhkan waktu

sebanyak 15,92 menit.

4.5. Analisa dan Evaluasi

Setelah dilakukan analisa terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh operator

produksi (Oleochemical) di PT Sari Dumai Sejati selama 5 hari berturut-turut dan

dilakukan pengambilan data setiap 5 menit atau sebanyak 84 data per hari (2100

data selama 5 hari). Maka data yang diambil sudah memenuhi kriteria dan tidak

menimbulkan kelelahan (fatigue) yang berlebih. Dan hasil presentasi produktif

dari hari pertama sampai kelima tidak mengalami perubahan yang signifikan,

dihari pertama, kedua, dan ketiga nilai % produktifnya 26%, hari keempat 25%,
216
dan hari kelima 27%, dimana nilai-nilai tersebut didapat dengan mengamati

pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh operator selama 5 hari berturut-turut dan

diambil datanya setiap 5 menit sekali dengan total jumlah pengamatan 84 kali

perhari dan terdapat 2100 data selama 5 hari. Namun, jika akan dilakukan evaluasi

ada baiknya jika waktu yang digunakan tidak terlalu banyak untuk menyelesaikan

satu pekerjaan, karena semakin sedikit waktu yang digunakan maka semakin

banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan dan bisa saja waktu yang tersisa dipakai

untuk pengecekan ulang pekerjaan yang telah dilakukan atau digunakan untuk

beristirahat atau dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan tambahan sebagai bentuk

kreatifitas dan inisiatif dari sang karyawan.

217
218

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Dari hasil pengamatan didapati bahwa tingkat produktifitas seorang operator

sangat tinggi sehingga kita dapat menemukan kelonggaran yang sesuai dengan

kebutuhan tenaga kerja dalam menentukan waktu standar. Dan didapatlah waktu

baku standarnya 15,92 menit /pekerjaan. Dan hasil pengamatan yang dilakukan

praktikan dari hasil pengamatan selama 5 hari berturut-turut didapatlah tingkat

work dihari pertama, kedua dan ketiga adalah 26, hari keempat 25 dan hari kelima

27, dan tingkat idlenya dihari pertama, kedua dan ketiga 58, hari keempat 59, dan

hari kelima adalah 57.

5.2. Saran

Untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal pada saat pengamatan

hendaknya di lakukan untuk 2 orang pekerja. Namun, jika dilihat dari segi budget

(cost) satu orang operator dirasa sudah memenuhi syarat.

218
DAFTAR PUSTAKA

Iridiastadi, H., dan Yassierli, 2014, Ergonomi Suatu Pengantar, PT Remaja


Rosdakarya, Bandung.

Nurmianto, E., 2008, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Prima Printing,
Surabaya.

Wignjosoebroto, Sritomo,1989,Ergonomi, Studi Gerakan dan Waktu, Edisi I, PT


Candimas Metropole, Jakarta.

Sutalaksana Z.I, dkk, 2005, Teknik Perancangan Sistem Kerja, Edisi IIITB,
Bandung.

219
Lampiran 1.1. Foto pengamatan Time Work Study

A B

C D

Keterangan

Gambar A : Kegiatan Rendy pada saat melakukan percobaan time work study.

Gambar B : Kegiatan Alwin pada saat melakukan percobaan time work study.

Gambar C : Kegiatan Syahril pada saat melakukan percobaan time work study.

Gambar D : Kegiatan Joko pada saat melakukan percobaan ulang time work
study dirumah syahril.
220
Lampiran 2.1. foto pengamatan sepeda aerobic pratikum fisiologi

A B

Keterangan:
Gambar A : Syharil pada saat melakukan pratikum fisiologi menggunakan sepeda
aerobic.
Gambar B : Rendy pada saat melakukan pratikum fisiologi menggunakan sepeda
aerobic.

221
Lampiran 3.1. Foto pengukuran dimensi tubuh untuk pratikum Antropometri

A B

Keterangan :

222

Anda mungkin juga menyukai