Terapi Bermain Anak di RSUD Melati
Terapi Bermain Anak di RSUD Melati
A. Pendahuluan
Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan merupakan suatu
waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta
kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk kesehatan
fisik, mental dan perkembangan emosinya.
juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya dan
yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan
yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang
lebih mudah berteman,kreatif dan cerdas,bila dibandingkan dengan mereka yang masa
B. Tujuan
1. TIU (Tujuan Instruksional Umum)
menjadi lebih aktif melalui pengalaman bermain, dan anak dapat beradaptasi dengan
lingkungan dan bergaul dengan teman sebayanya.
a. Mengembangkan kreatifitas
b. Mengembangkan sosialisai atau bergaul
C. Sasaran
Anak-anak yang dirawat inap di ruang Melati RSUD Ahwab Sjahranie Samarinda
2. Mampu membimbing anak dan mengajar anak cara menempelkan biji bijian pada
gambar
E. Jenis Permainan
F. Metode
Demonstrasi
G. Alat Bermain
1. Biji bijian
2. Lem
3. Gambar
H. Media
1. LCD
2. Speaker
3. Laptop
4. Gambar
I. Pengorganisasian
3. Fitronius, [Link]
4. Muhidin, [Link]
Keterangan :
: Sound : Fasilitator
: Leader : CO Leader
: Observer : Meja
K. Strategi Pelaksanaan
No Waktu Kegiatan Peserta
1 3 menit Pembukaan :
orangtua
2 20 menit Pelaksanaan :
d. Fasilitator mendampingi
anak dan memberikan
bijian
pada gambar ?
selesai
3 5 menit Evaluasi :
seluruh peserta
4 2 menit Terminasi :
c. Mengucapkan salam
penutup
2. Anak rewel
3. Anak juga akan cenderung lebih manja, minta perhatian lebih pada orang tua serta
bersikap cuek pada perawat yang akan merawatnya karena anak belum beradaptasi
dengan lingkungan rumah sakit. Stress yang umumnya terjadi hubungan dengan
hospitaslisasi adalah takut akan unfamiliarity, lingkungan rumah sakit yang
menakutkan, rutinitas rumah sakit, prosedur yang menyakitkan, dan takut kematian.
M. Antisipasi Meminimalkan Hambatan
Dilakukannya pengawasan selama proses bermain pada anak dan membina keakraban
dan saling percaya pada anak, serta memotivasi anak untuk percaya diri.
N. Sistem Evaluasi
Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
2. Evaluasi Proses
c. Tidak terdapat anak yang rewel atau malas untuk mengiktuti alur kegiatan yang
dilakukan
A. Pengertian Bermain
Bermain merupakan seluruh aktivitas anak termasuk bekerja kesenangannya dan
merupakan metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bermain tidak sekedar mengisi
waktu tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan dan cinta kasih.
bermain menurut pengertian pertama dapat bermakna sebagai sebuah aktivitas bermain
yang murni mencari kesenangan tanpa mencari menang kalah (play), sedangkan yang
kedua sebagai aktivitas bermain yang dilakukan dalam rangka mencari kesenangan dan
kapuasan namun ditandai dengan adanya pencarian menang-kalah (games). Dengan
demikian, pada dasarnya setiap aktivitas bermain selalu didasarkan pada perolehan
kesenangan dan kepuasan, sebab fungsi utama bermain adalah untuk relaksasi dan
menyegarkan kembali (refreshing) kondisi fisik dan mental yang berada pada ambang
ketegangan.
Sehubungan dengan bermain dapat bermakna sebagai play dan games, maka yang
perlu menjadi bahan pertimbangan di dalam menarik definisi adalah proses yang
sebagai play bisa jadi merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang tanpa melibatkan
kehadiran orang lain, sehingga total kesenangan dan kepuasan itu datang dari diri
sendiri. Sedangkan pihak lain yang terlibat dapat merupakan unsur penghibur saja.
Contoh dari aktivitas bermain sebagai play adalah bermain konstruktif atau destruktif dan
melamun.
Pada pengertian kedua, bermain sebagai games, kesenangan dan kepuasan yang
diperoleh seseorang harus melibatkan kehadiran orang lain. Tanpa hadirnya pihak kedua
(sebagai lawan) maka games tidak akan terjadi, sebab games hanya akan berlaku jika ada
demikian bermain sebagai games merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang dalam
Pentingnya arti bermain bagi anak mendorong seorang tokoh psikologi dan filsafat
terkenal Johan Huizinga untuk ikut merumuskan teori [Link] mengemukakan bahwa
bermain adalah hal dasar yang membedakan manusia dengan hewan. Melalui kegiatan
bermain tersebut terpancar kebudayaan suatu bangsa. Namun beberapa orang tidak
mengalami kerancuan dalam makna. Untuk itu perlu diklasifikasikan antara kegiatan
bermain dengan kegiatan yang bukan bermain.
Menurut Rubin, Fein, & Vandenverg dalam Hughes ada 5 ciri utama bermain yang
apabila hal itu memang betul-betul memuaskan dirinya. Bukan untuk mendapatkan
hadiah atau karena diperintahkan oleh orang lain.
2. Bermain dipilih secara bebas oleh anak. Jika seorang anak dipaksa untuk bermain,
sekalipun mungkin dilakukan dengan cara yang halus, maka aktivitas itu bukan lagi
3. Bermain adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Anak merasa gembira dan
bahagia dalam melakukan aktivitas bermain tersebut, tidak menjadi tegang atau
stress. Biasanya ditandai dengan tertawa dan komunikasi yang hidup.
4. Bermain tidak selalu harus menggambarkan hal yang sebenarnya. Khususnya pada
anak usia prasekolah sering dikaitkan dengan fantasi atau imajinasi mereka. Anak
mampu membangun suatu dunia yang terbuka bagi berbagai kemungkinan yang
ada, sesuai dengan mimpi-mimpi indah serta kreativitas mereka yang kaya.
5. Bermain senantiasa melibatkan peran aktif anak, baik secara fisik, psikologis,
Fungsi bermain pada anak memang begitu beragam. Anak akan menemukan
perkembangan fisik serta mental yang ia miliki. Melalui permainan pula, seorang anak
akan mampu mempelajari begitu banyak hal bahkan anak mendapatkan sistem
pemecahan masalah yang jauh lebih baik daripada anak-anak yang tidak banyak
bermain. Dunia anak adalah dunia bermain, jadi jangan paksakan anak untuk terus belajar
dan melakukan latihan banyak soal setiap harinya. Berikut akan dijelaskan fungsi dari
bermain :
sensorik serta motorik. Permainan aktif melatih panca indera sang anak karena
dengan permainan maka semua anggota panca indera anak akan tergerak untuk
melakukan sesuatu. Sebagai hasilnya, organ sensorik dan motorik akan semakin baik
2. Mengasah Memori Otak
Anak kecil mempunyai organ memori yang belum banyak terisi oleh beragam hal.
Oleh karena itu, melalui bermain anak bisa mengembangkan 8 kemampuan memori
yang ia miliki. Anak akan mengekplorasi serta melihat benda yang ada di sekitarnya.
Ia terus mempelajarinya dan kemudian mengenal benda-benda dengan warna yang
berbeda secara sempurna. Semakin anak bermain, maka otaknya akan semakin
terasah dan ia mampu mendapatkan perkembangan memori yang jauh lebih baik.
3. Mengembangkan Etika
mempelajari banyak aturan, mempunyai tingkat sportivitas, dan tentu saja belajar
bagaimana membangun etika yang benar. Anak tidak mudah curang ketika
berhadapan dengan aturan pada dunia yang sebenarnya, karena ia telah terlatih
permainan yang mereka mainkan, maka akan semakin banyak ide bermunculan.
Ketika kreatifitas tersebut terus diasah, maka anak bisa menemukan ide-ide
cemerlang pada masa yang akan datang.
Bermain bagi anak, selain merupakan alat belajar juga merupakan kebutuhan bagi
setiap anak. Diperlukan waktu yang cukup banyak untuk bermain bagi anak, terutama
pada saat di usia dini. Sebanyak 4-5 jam perhari bagi anak untuk bermain, pada saat
(dalam Satya, 2006) bermain bukan hanya memberikan pengaruh positif terhadap
pertumbuhan organ tubuh anak yang disebabkan aktif bergerak tetapi bermain juga
berfungsi sebagai proses sublimasi artinya suatu pelarian dari perasaan tertekan yang
berlebihan menuju hal-hal posiif, melalui sublimasi anak akan menuju kearah yang lebih
mulia, lebih indah dan lebih kreatif. Adapun manfaat lain dari bermain bagi anak :
1. Anak dapat kesempatan untuk mengembangkan diri, baik perkembangan fisik
(melatih kecerdasan).
2. Bermain merupakan sarana bagi anak untuk bersosialisasi.
3. Bermain bagi anak adalah untuk melepaskan diri dari ketegangan.
4. Bermain merupakan dasar bagi pertumbuhan mentalnya.
5. Melalui bermain anak – anak dapat mengeluarkan energi yang ada dalam dirinya
8. Melalui bermain anak dapat belajar bekerjasama, mengerti peraturan, saling berbagi
dan belajar menolong sendiri dan orang lain serta menghargai waktu.
Permainan merupakan suatu alat bermain yang digunakan anak usia dini, bisa
berbentuk balok, puzzle atau benda-benda lain yang dianggap bisa dimainkan. Banyak
cara untuk bermain dan banyak aneka ragamnya permainan yang dapat digunakan dan
Anak usia 3 tahun berdasarkan hasil survey sangat senang menyusun puzzle dengan
membuat rumah-rumahan, balok, persegi panjang. Anak usia 4 tahun berdasarkan hasil
survey sangat senang bermain sepeda roda tiga. Anak usia 5 tahun berdasarkan hasil
survey sangat suka menggambar dan mewarnai. Menurut Rita Kurnia (2011),
menggambar dapat dikelompokkan sebagai bermain membangun dan menyusun karena
dalam kegiatan ini menggunakan pensil berwarna dan kertas gambar misalnya untuk
membangun rumah, kereta api, jembatan, tumbuh-tumbuhan atau hewan.
Bermain aktif adalah kegiatan yang memberi kesenangan dam kepuasan kepada
anak yang dilakukan melalui aktivitas langsung oleh diri anak itu sendiri. Dengan
demikian, kegiatan bermain aktif akan banyak melibatkan aktivitas tubuh. Terdapat
berbagai faktor yang dapat berpengaruh terhadap kondisi anak, seperti kesehatan,
teman bermain, tingkat kecerdasan, jenis kelamin, alat permainan yang dimiliki, dan
lingkungan bermain anak. Berikut beberapa kegiatan bermain aktif dan manfaat
bebas dari aturan, atinya tidak ada aturan yang harus diikuti oleh anak.
Kegiatan ini umumnya dilakukan anak jika ia menemukan sesuatu yang baru
usia pra-sekolah. Manfaat yang didapat dari kegiatan bermain peran adalah
dan ada juga yang dilakukan secara individual, misalnya merangkai puzzle,
mencocokkan gambar, dll. Manfaat yang didapat melalui kegiatan eksplorasi
f. Mengumpulkan Benda. Anak sering tertarik pada suatu benda atau sesuatu
permainan tersebut, anak juga dapat bermain secara [Link] bermain pasif,
aktivitas fisik anak tidak banyak dimanfaatkan, tetapi aspek lainnya seperti
penglihatan dan pendengaran yang dikembangkan. Berikut jenis bermain pasif :
a. Mendengar. Anak pra-sekolah belum mampu untuk membaca, karena itu tidak
dapat membaca cerita sendiri. Sebagai gantinya, akan lebih banyak mendengar
cerita dari orang lain, terutama dari orang tua, pengasuh atau guru. Agar
akan diperdengarkan kepada anak. Melalui kegiatan mendenga cerita ini, anak
b. Melihat komik atau majalah. Komik pada dasarnya juga merupakan buku,
hanya penyajiannya diikuti dengan gambar-gambar. Anak pra-sekolah
Televise banyak menyediakan film cerita yang dirancang khusus untuk anak
seperti Tom & Jerrry, Iron Man, ScoobyDoo, dll. Satu hal yang perlu
diperhatikan oleh orang tua dan pengasuh anak, adalah dapat memilih cerita
film dan TV yang cocok sesuai usiadan tingkat kematangan anak.
kaset dan VCD/DVD, tetapi juga dari sumber lain seperti TV, radio, bahkan
melalui perangkat computer. Mendengarkan music bisa saja menjadi aktivits
1. Kesehatan
Semakin sehat anak semakin banyak energinya untuk bermain aktif, seperti
permainan dan [Link] yang kekurangan tenaga lebih menyukai hiburan.
2. Perkembangan motoric
Permainan anak pada setiap usia melibatkan koordinasi motorik. Apa saja yang akan
aktif.
3. Intelegensi
Pada setiap usia, anak yang pandai lebih aktif ketimbang yang kurang pandai, dan
Anak laki-laki bermain lebih kasar ketimbang anak perempuan dan lebih menyukai
permainan dan olahraga ketimbang berbagai jenis permainan yang lain. pada awal
Anak dari lingkungan yang buruk, kurang bermain ketimbang anak lainnya
disebabkan karena kesehatan yang buruk, kurang waktu, peralatan, dan ruang. Anak
yang berasal dari lingkungan desa kurang bermain ketimbang mereka yang berasal
dari lingkungan kota. Hal ini karena kurangnya teman bermain serta kurangnya
peralatan dan waktu bebas. Ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik akan lebih
mahal, seperti lomba atletik, bermain sepatu roda, sedangkan mereka dari kalangan
bawah terlihat dalam kegiatan yang tidak mahal seperti bermain bola dan
[Link] sosial mempengaruhi buku yang dibaca dan film yang ditonton
anak, jenis kelompok rekreasi yang dimilikinya dan supervisi terhadap mereka.
8. Peralatan bermain
Peralatan bermain yang dimiliki anak mempengaruhi [Link]
dimana anak berada pada fase inisiatif vs masa bersalah (initiative vs guilty). Sedangkan
menurut Sigmund Freud anak berada pada fase phalik yaitu dimana anak mulai
mengenal perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-laki . Bermain adalah cara
alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari (wholey and
Wong,1991). Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan
untuk memperoleh kesenangan (Foster,1989). Bermain adalah kegiatan yang dilakukan
Bermain memerlukan energi yang cukup sehingga anak memerlukan nutrisi yang
[Link] atau intake yang kurang dapat menurunkan gairah [Link]
yang sehat memerlukan aktifitas bermain yang bervariasi, baik bermain aktif
maupun bermain [Link] anak yang sakit keinginan untuk bermain umumnya
Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain sehingga stimulus yang
diberikan dapat optimal. Selain itu, anak akan mempunyai kesempatan yang cukup
Alat permainan yang digunakan harus disesuaikan dengan usia dan tahap
perkembangan anak. Orang tua hendaknya memperhatikan hal ini sehingga alat
permainan yang diberikan dapat berfungsi dengan benar dan mempunyai unsur
di ruang [Link] suatu ruangan atau tempat khusus untuk bermain bila
memungkinkan, di mana ruangan tersebut sekaligus juga dapat menjadi tempat
permainan tersebut. Orang tua yang tidak pernah mengetahui cara bermain dari alat
permainan yang diberikan, umumnya membuat hubungannya dengan anak
6. Teman bermain
Dalam bermain anak memerlukan teman, bisa teman sebaya, saudara, atau orang
[Link] saat-saat tertentu di mana anak bermain sendiri agar dapat menemukan
untuk mengetahui setiap kelainan yang dialami oleh anaknya. Teman diperlukan
untuk mengembangkan sosislisasi anak dan membantu anak dalam memahami
perbedaan.
Menurut Supartini (2004), terapi bermain yang dilaksanakan di rumah sakit tetap
harus memperhatikan kondisi kesehatan anak. Ada beberapa prinsip permainan pada
yang sedang dijalankan [Link] anak harus tirah baring, harus dipilih permainan
yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak boleh diajak bermain dengan
kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di ruang rawat.
dipeluk anak untuk memberi rasa nyaman dan dibawa ke tempat tidur di malam hari.
Melibatkan orang [Link] hal yang harus diingat bahwa orang tua mempunyai
kewajiban untuk tetap melangsungkan upaya stimulasi tumbuh kembang pada anak
walaupun sedang dirawat si rumah sakit termasuk dalam aktivitas bermain [Link]
hanya bertindak sebagai fasilitator sehingga apabila permainan diiniasi oleh perawat,
orang tua harus terlibat secara aktif dan mendampingi anak mulai dari awal permainan
sampai menevaluasi hasil permainan bersama dengan perawat dan orang tua anak
lainnya.
Alat mainan dapat diberikan pada anak usia dibawah 5 tahun dalam keadaan kondisi
sakit ringan, dimana anak dalam keadaan yang membutuhkan perawatan dan
pengobatan yang minimal. Pengamatan dekat dan tanda vital serta status 17 dalam
keadaan normal dan kondisi sakit sedang, dimana anak dalam keadaan yang
membutuhkan perawatan dan pengobatan yang sedang, pengamatan dekat dan status
psikologis dalam keadaan normal. Sedangkan anak dalam keadaan sakit berat tidak
diberikan aktivitas bermain karena anak berada dalam status psikologis dan tanda vital
yang belum normal, anak gelisah, mengamuk serta membutuhkan perawatan yang ketat.
Pada usia bayi, saat anak mengalami sakit ringan, alat mainan yang sesuai seperti balok
dengan warna yang bervariasi, buku bergambar, cangkir atau sendok, kotak musik,
giring-giring yang dipegang, boneka yang berbunyi. Sedangkan saat anak sakit sedang,
mainan yang dapat diberikan berupa kotak musik, giring-giring yang dipegang, boneka
yang berbunyi (Wong, et al, 2008). Alat mainan yang dapat didorong dan ditarik, balok-
balok, mainan bermusik, alat rumah tangga, telephone mainan, buku gambar, kertas,
crayon, dan manik-manik besar dapat diberikan pada anak usia toodler saat mengalami
sakit yang ringan. Sedangkan pada saat anak sakit dalam tingkat yang sedang, mainan
yang diberikan dapat berupa mainan bermusik, alat rumah tangga, telephone mainan,
Pada usia pra sekolah, saat mereka mengalami sakit ringan, alat mainan yang dapat
diberikan berupa boneka-bonekaan, mobil-mobilan, buku gambar, teka-teki, menyusun
potongan gambar, kertas untuk melipat-lipat, crayon, alat mainan bermusik dan majalah
[Link] pra sekolah mengalami sakit sedang, mainan yang diberikan dapat
berupa boneka-bonekaan, mobil-mobilan, buku bergambar, dan alat mainan musik
dapat diberikan berupa permainan teka-teki, buku bacaan, alat untuk menggambar, alat
musik seperti harmonika.
Sedangkan pada saat remaja, anak mulai mencurahkan kreativitas yang dimilikinya,
maka alat mainan yang diberikan dapat berupa permainan catur, alat 18 untuk
mengggambar seperti cat air, kanvas, kertas, majalah anak-anak atau remaja, dan buku
REFERENSI
Donna L. Wong…[[Link]]. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik [Link] [Link] : EGC
Hardjadinata, Yohana. 2009. Batitaku [Link]: Dian Rakyat.
Rita Kurnia.2010. Program Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini. Pekanbaru: Cendikia
Insani.
Supartini, Y. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan [Link] : EGC.
SATUAN ACARA PENYULUHAN
TERAPI BERMAIN ANAK DI RUANG MELATI
RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA
KELOMPOK III :