0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
710 tayangan10 halaman

Penyuluhan Hernia Nukleus Pulposus

(1) Dokumen tersebut merupakan satuan acara penyuluhan tentang hernia nukleus pulposus (HNP). (2) Satuan acara tersebut mencakup latar belakang, tujuan, materi penyuluhan, kegiatan penyuluhan, media dan metode penyuluhan, serta evaluasi. (3) Materi penyuluhan meliputi pengertian, penyebab, tanda dan gejala, serta penatalaksanaan HNP.

Diunggah oleh

Novianty Gliceria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
710 tayangan10 halaman

Penyuluhan Hernia Nukleus Pulposus

(1) Dokumen tersebut merupakan satuan acara penyuluhan tentang hernia nukleus pulposus (HNP). (2) Satuan acara tersebut mencakup latar belakang, tujuan, materi penyuluhan, kegiatan penyuluhan, media dan metode penyuluhan, serta evaluasi. (3) Materi penyuluhan meliputi pengertian, penyebab, tanda dan gejala, serta penatalaksanaan HNP.

Diunggah oleh

Novianty Gliceria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Visi :

Pada tahun 2020 menghasilkan ahli madya keperawatan


yang unggul dalam penguasaan teknologi keperawatan neurosains

SATUAN ACARA PENYULUHAN


HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP)

Mata Kuliah : Keperawatan Neurosains III

Disusun oleh:
Novianty Gliceria
NIM: P3.[Link].035

Kelas: 3 Reguler C

Dosen Pembimbing: Pudjiati., SKp., MKes

JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN
TAHUN 2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Asuhan Keperawatan Neurosains III


Sub Pokok Bahasan : Hernia Nukleus Pulposus (HNP)
Waktu : 20 Menit
Hari / Tgl : Kamis, 26 April 2018
Sasaran : Keluarga dengan Hernia Nukleus Pulposus (HNP)
Tempat : Sekretariat RW 04 Kec. Cipayung
Penyuluh : Mahasiswa Keperawatan Poltekkes Kemeskes Jakarta III

A. Latar Belakang
Hernia Nukleus Pulposus merupakan salah satu dari sekian banyak “Low Back Pain”
akibat proses degeneratif. Penyakit ini banyak ditemukan di masyarakat, dan biasanya
dikenal sebagai ‘loro boyok’.
Biasanya mereka mengobatinya dengan pijat urat dan obat-obatan gosok, karena
anggapan yang salah bahwa penyakit ini hanya sakit otot biasa atau karena capek bekerja.
Penderita penyakit ini sering mengeluh sakit pinggang yang menjalar ke tungkai bawah
terutama pada saat aktivitas membungkuk(sholat,mencangkul).
Penderita mayoritas melakukan suatu aktivitas mengangkat beban yang berat dan sering
[Link] ini banyak dilakukan oleh para pekerja bangunan, pembantu
rumah tangga, olahragawan angkat besi, kuli pelabuhan dan lain-lain.

B. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah mengikuti penyuluhan 1x pertemuan selama 20 menit, di harapkan Bapak
Ridwan beserta keluarganya dapat memahami tentang hernia nukleus pulposus dan
penangananya.
2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah mengikuti kegiatan penyulihan 1x pertemuan selama 20 menit, di harapkan
pasien dan keluarganya dapat menjelaskan tentang:
a. Mengetahui pengetian hernia nukleus pulposus
b. Mengetahui penyebab hernia nukleus pulposus
c. Mengetahui tanda dan gejala hernia nukleus pulposus
d. Mengatahui penatalaksanaan hernia nukleus pulposus

C. Materi Penyuluhan (Terlampir)


a. Pengertian hernia nukleus pulposus
b. Penyebab hernia nukleus pulposus
c. Tanda dan gejala hernia nukleus pulposus
d. Penatalaksanaan hernia nukleus pulposus

D. Kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan / jam Kegiatan fasiltas / Narasumber Kegiatan Audience
1 Pembukaan (5 menit)
1. Salam 1. Mengucapakan salam 1. Menjawab salam
2. Perkenalan 2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan
3. Menentukan 3. Menjelaskan tiu dan tik 3. Mendengarkan

2 Isi/materi (1x10 menit)


1. pengertian 1. Menjelaskan pengertian 1. Mendengarkan
hernia nukleus pulposus penjelasan
2. Menanyakan kembali 2. Menjawab pertanyaan
pengertian hernia nukleus
pulposus
2. penyebab 3. Menjelaskan tentang 3. Mendengarkan
penyebab hernia nukleus penjelasan
pulposus
4. Menanyakan kelmbali 4. Menjawaban pertanyaan
penyebab hernia nukleus
pulposus
3. Tanda dan gejala 5. Menjelaskan tanda dan 5. Mendengarkan
gejala hernia nukleus penjelasan
pulposus
6. Menanyakan kembali tanda 6. Menjawab pertanyaan
dan gejala hernia nukleus
pulposus
4. Penatalaksanaan 7. Menjelaskan 7. Mendengarkan
penatalaksanaan hernia penjelasan
nukleus pulposus
8. Menanyakan kembali 8. Menjawab pertanyaan
penatalaksanaan hernia
nukleus pulposus

3 Penutup (5 menit) 1. Membuka tanya jawab 1. bertanya


2. Evaluasi dengan pertanyaan 2. menjawab pertanyaan
3. Permohonan diri dan 3. menjawab salam
menyampaikan salam
penutup

E. Media Penyuluhan
Leaflet

F. Metode Penyuluhan
 Ceramah
 Tanya jawab
 Diskusi

G. Evaluasi
1. Apakah yang di maksud dengan hernia nukleus pulposus ?
2. Apakah penyebab dari hernia nukleus pulposus ?
3. Sebutkan tanda dan gejala hernia nukleus pulposus ?
4. Apa saja penatalaksanaan dari hernia nukleus pulposus ?
MATERI PENYULUHAN
HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP)

A. Pengertian
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan
diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu
kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP
merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002)
Hernia nukleus pulposus adalah suatu penekanan pada suatu serabut saraf spinal akibat
dari herniasi dan nucleus hingga annulus, salah satu bagian posterior atau lateral
(Barbara [Link], 1996).
Hernia nukleus pulposus adalah suatu nyeri yang disebabkan oleh p
roses patologik di kolumna vertebralis pada diskus intervertebralis (diskogenik).
kelemahan pada anulus bagian lateral pada diskus vertebra dan ligumen longitudinal
posterior menjadi tipis, yang menyebabkan penekanan pada syaraf spinal.

B. Penyebab
1. Hernia nukleus pulposus terjadi karena proses degeneratif diskus intervertebralis
2. Keadaan akut, injuri pada ligamen, otot dan degenerasi
3. Degenerasi pada tulang belakan normal pada proses ketuaan, akselerasi trauma,
penggunaan yang berlebihan
4. Nyeri punggung akibat spasme otot sehubungan dengan stress
5. Pengalaman masing masing orang tentang persepsi nyeri punggung berbeda

C. Tanda dan Gejala


1. Mati rasa, gatal dan penurunan pergerakan satu atau dua ekstremitas.
2. Nyeri tulang belakang
3. Kelemahan satu atau lebih ekstremitas
4. Kehilangan control dari anus dan atau kandung kemih sebagian atau lengkap.
Gejala Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah adanya nyeri di daerah diskus yang
mengalami herniasasi didikuti dengan gejala pada daerah yang diinorvasi oleh radika
spinalis yang terkena oleh diskus yang mengalami herniasasi yang berupa pengobatan
nyeri ke daerah tersebut, matu rasa, kelayuan, maupun tindakan-tindakan yang
bersifat protektif. Hal lain yang perlu diketahui adalah nyeri pada hernia nukleus
pulposus ini diperberat dengan meningkatkan tekanan cairan intraspinal
(membungkuk, mengangkat, mengejan, batuk, bersin, juga ketegangan atau spasme
otot), akan berkurang jika tirah baring.

D. Penatalaksanaan
1. Obat
Untuk penderita dengan diskus hernia yang akut yang disebabkan oleh trauma
(seperti kecelakaan mobil atau tertimpa benda yang sangat berat) dan segera diikuti
dengan nyeri hebat di punggung dan kaki, obat pengurang rasa nyeri dan NSAIDS
akan dianjurkan. (MIS: fentanyl)
Jika terdapat kaku pada punggung, obat anti kejang, disebut juga pelemas otot,
biasanya diberikan. Kadang-kadang, steroid mungkin diberikan dalam bentuk pil atau
langsung ke dalam darah lewat intravena. Pada pasien dengan nyeri hebat berikan
analgesik disertai zat antispasmodik seperti diazepam. NSAID Nebumeton yang
merupakan pro drugs dan efek sampingnya relatif lebih sakit, terutama efek
sampingnya relatif lebih sakit, terutama efek samping terhadap saluran cerna, dengan
dosis 1 gram / hari. Pemakaian jangka panjang biasanya terbatas pada NSAID’S, tapi
adakalanya narkotika juga digunakan (jika nyeri tidak teratasi oleh NSAID’S). untuk
orang yang tidak dapat melakukan terapi fisik karena rasa nyeri, injeksi steroid di
belakang pada daerah herniasi dapat sangat membantu mengatasi rasa sakit untuk
beberapa bulan. Dan disertai program terapi rutin. Muscle relexant diberikan
parenteral dan hampir selalu secara iv.

 D-tubokurarin klorida
 Metokurin yodida
 Galamin trietyodida
 Suksinilkolin klorida
 Dekametonium
2. Fisioterapi
a. Tirah baring (bed rest) 3 – 6 minggu dan maksud bila anulus fibrosis masih utuh
(intact), sel bisa kembali ke tempat semula.
b. Simptomatis dengan menggunakan analgetika, muscle relaxan trankuilizer.
c. Kompres panas pada daerah nyeri atau sakit untuk meringankan nyeri.
d. Bila setelah tirah baring masih nyeri, atau bila didapatkan kelainan neurologis,
indikasi operasi.
e. Bila tidak ada kelainan neurologis, kerjakan fisioterapi, jangan mengangkat benda
berat, tidur dengan alas keras atau landasan papan.
f. Fleksi lumbal.
g. Pemakaian korset lumbal untuk mencegah gerakan lumbal yang berlebihan.
h. Jika gejala sembuh, aktifitas perlahan-lahan bertambah setelah beberapa hari atau
lebih dan pasien diobati sebagai kasus ringan.
3. Operasi
Operasi lebih mungkin berhasil bila terdapat tanda-tanda obyektif adanya gangguan
neurologis. Penderita yang telah didiagnosa HNP. Maka terapi konservatiplah yang
harus diselenggarakan. Bilamana kasus HNP masih baru namun nyerinya tidak
tertahan atau defisit motoriknya sudah jelas dan mengganggu, maka pertimbangan
untuk operasi atau tidak sebaiknya diserahkan kepada dokter ahli bedah saraf. Faktor
sosio ekonomi yang ikut menentukan operasi secepatnya atau tidak ialah profesi
penderita. Seorang yang tidak dapat beristirahat cukup lama karena persoalan gaji dan
cuti sakit, lebih baik menjalani tindakan operatif secepat mungkin daripada terapi
konservatif ynag akan memerlukan cuti berkali-kali. Bilamana penderita HNP
dioperasi yang akan memerlukan harus dibuat penyelidikan mielografi. Berdasarkan
mielogram itu dokter ahli bedah saraf dapat memastikan adanya HNP serta lokasi dan
ekstensinya. Diskografi merupakan penyelidikan diskus yang lebih infasif yang
dilakukan bilamana mielografi tidak dapat meyakinkan adanya HNP, karena
diskrografi adalah pemeriksaan diskus dengan menggunakan kontras, untuk melihat
seberapa besar diskus yang keluar dari kanalis vertebralis.
Diskectorny dilakukan untuk memindahkan bagian yang menonjol dengan general
anesthesia. Hanya sekitar 2 – 3 hari tinggal di rumah sakit. Akan diajurkan untuk
berjalan pada hari pertama setelah operasi untuk mengurangi resiko pengumpulan
darah.
Untuk sembuh total memakan waktu beberapa minggu. Jika lebih dari satu diskus
yang harus ditangani jika ada masalah lain selain herniasi diskus. Operasi yang lebih
ekstensif mungkin diperlukan. Dan mungkin memerlukan waktu yang lebih lama
untuk sembuh (recovery).
Pilihan operasi lainnya meliputi mikrodiskectomy, prosedur memindahkan fragmen
of nucleated disk melalui irisan yang sangat kecil dengan menggunakan – ray dan
chemonucleosis.
Chemonucleosis meliputi injeksi enzim (yang disebut chymopapain) ke dalam
herniasi diskus untuk melarutkan substansi gelatin yang menonjol. Prosedur ini
merupakan salah satu alternatif disectomy pada kasus-kasus tertentu.
Kapan kita boleh melakukan latihan setelah cidera diskus? Biasanya penderita boleh
memulai latihan setelah 4 s/d 6 minggu setelah ia diperbolehkan bangun atau turun
dari tempat tidur.
4. Larangan
a. Peregangan yang mendadak pada punggung
b. Jangan sekali-kali mengangkat benda atau sesuatu dengan tubuh dalam keadaan
fleksi atau dalam keadaan membungkuk.
c. Hindari kerja dan aktifitas fisik yang berat untuk mengurangi kambuhnya gejala
setelah episode awal.

E. Saran yang harus dikerjakan


1. Istirahat mutlak di tempat tidur, kasur harus yang padat. Diantara kasur dan tempat
tidur harus dipasang papan atau “plywood” agar kasur jangan melengkung. Sikap
berbaring terlentang tidak membantu lordosis lumbal yang lazim, maka bantal
sebaiknya ditaruh di bawah pinggang. Orang sakit diperbolehkan untuk tidur miring
dengan kedua tungkai sedikit ditekuk pada sendi lutut. Bilamana orang sakit dirawat
di rumah sakit, maka sikap tubuh waktu istirahat lebih enak, oleh karena lordosis
lumbal tidak mengganggu tidur terlentang jika fleksi lumbal dapat diatur oleh posisi
tempat tidur rumah sakit.
2. Istirahat mutlak di tempat tidur berarti bahwa orang sakit tidak boleh bangun untuk
mandi dan makan. Namun untuk keperluan buang air kecil dan besar orang sakit
diperbolehkan meninggalkan tempat tidur. Oleh karena buang air besar dan kecil di
pot sambil berbaring terlentang justru membebani tulang belakang lumbal lebih berat
lagi.
3. Analgetika yang non adiktif perlu diberikan untuk menghilangkan nyeri.
4. Selama nyeri belum hilang fisioterapi untuk mencegah atrofi otot dan dekalsifikasi
sebaiknya jangan dimulai setelah nyeri sudah hilang latihan gerakan samb
il berbaring terlentang atau miring harus diajurkan.
5. Traksi dapat dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang sesuai dapat dilakukan
“pelvic traction”, alat-alat untuk itu sudah automatik. Cara “pelvic traction”,
sederhana kedua tungkai bebas untuk bergerak dan karena itu tidak menjemukan
penderita. Maka pelvic traction dapat dilakukan dalam masa yang cukup lama bahkan
terus-menerus. Latihan bisa dengan melakukan flexion excersise dan abdominal
excersise.
6. Masa istirahat mutlak dapat ditentukan sesuai dengan tercapainya perbaikan. Bila
iskhilagia sudah banyak hilang tanpa menggunakan analgetika, maka orang sakit
diperbolehkan untuk makan dan mandi seperti biasa. Korset pinggang atau griddle
support sebaiknya dipakai untuk masa peralihan ke mobilisasi penuh.
7. Penderita dapat ditolong dengan istirahat dan analegtika antirheumatika serta nasehat
untuk jangan sekali-kali mengangkat benda berat, terutama dalam sikap
membungkuk. Anjuran untuk segera kembali ke dokter bilamana terasa nyeri
radikuler penting artinya. Dengan demikian ia datang kembali dan “sakit pinggang”
yang lebih jelas mengarah ke lesi diskogenik.
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzane C.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth edisi 8
Vol 3, Jakarta : EGC.
Doengoes, ME.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC
Priguna Sidharta.1996. Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek, Jakarta : Dian Rakyat.
Price, A Sylvia. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai