MAKALAH TUGAS MANAJEMEN MANUFAKTUR
“Quality Function Deployment”
DISUSUN OLEH :
YOSUA BRESMAN SUMAMORA (121910101005)
AGUNG BUDI CAHYONO (131910101025)
FIQIH MUHAMMAD (131910101042)
SAIFUL MA’ARIF (141910101067)
ERICHA SYAH PUTRI (151910101028)
FAHD NAZIM (151910101029)
DICKI HENDRI PRIBADI (151910101036)
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat mengerjakan dan menyelesaikan makalah ini
dengan judul “Quality Function Deployment”. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas
“Manajemen Manufaktur” dan kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak R.
Puranggo Ganjar Widityo S.T., M.T yang telah memberikan tugas makalah ini kepada
kami, sehingga diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi
kami dan pembaca.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini memiliki banyak kekurangan.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Karena kritik dan saran
pembaca sangat berguna dan bermanfaat bagi kami agar kedepannya dapat lebih baik lagi.
TIM PENULIS
DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................................ 1
1.3 Tujuan .................................................................................................................................. 2
BAB 2. PEMBAHASAN ................................................................................................................ 3
2.1 Quality Function Deployment.............................................................................................. 3
2.2 Tujuan dan Manfaat Quality Function Deployment ............................................................ 4
2.3 Voice Of Customers............................................................................................................ 5
2.4 House of Quality (HOQ)..................................................................................................... 6
BAB 3. PENUTUP ........................................................................................................................ 15
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................ 15
3.2 Saran .................................................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... iv
iii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
The American Society For Quality (ASQ) menggambarkan mutu sebagai suatu
kondisi hubungan antara dua belah pihak (produsen dan konsumen) yang memiliki
karakteristik masing-masing. Secara garis besar dalam pandangan teknis, konsep mutu
menurut ASQ terbagi menjadi dua prinsip sebagai berikut:
a. Karakteristik produk maupun jasa pelayanan dilihat dari seberapa besar
kemampuan produk maupun jasa pelayanan memberikan nilai pada kebutuhan,
harapan, dan kepuasan konsumen.
b. Suatu produk atau jasa pelayanan yang bebas dari nilai-nilai defisiensi. Bebas
defisiensi dimaksudkan sebagai pemberian layanan total kepada konsumen
secara konsisten yang dimulai dari prapenjualan sampai dengan pasca penjualan.
Quality Function Deployment (QFD) digunakan dalam berbagai perencanaan,
dimana semua anggota tim dapat mengambil keputusan secara sistematik untuk
memprioritaskan berbagai tanggapan yang mungkin terhadap sekelompok tujuan
tertentu. Quality Function Deployment digunakan untuk memperbaiki proses,
perencanaan, mengatasi permasalahan dalam suatu tim, serta membantu mengadakan
perbaikan terhadap budaya perusahaan atau organisasi.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam pembahasan ini antara lain sebagai
berikut:
a. Apa yang dimaksud dengan Quality Function Deployment ?
b. Apa saja tujuan dan manfaat dari Quality Function Deployment ?
c. Apa yang dimaksud dengan voice of customers ?
d. Bagaimana cara membuat house of quality ?
1
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian masalah ini antara lain sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui konsep tentang Quality Function Deployment
b. Untuk mengetahui tujuan dan manfaat dari Quality Function Deployment
c. Untuk mengetaui konsep tentang voice of customers
d. Untuk mengetahui konsep dasar dan cara membuat house of quality
2
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Quality Function Deployment
Quality Function Deployment (QFD) diperkenalkan oleh Yoji Akao, Professor of
Management Engineering dari Tamagawa University yang dikembangkan dari praktIk
dan pengalaman industri-industri di Jepang. Pertama kali dikembangkan pada tahun 1972
oleh perusahaan Mitsubishi di Kobe Shipyard, dan diadopsi oleh Toyota pada tahun 1978,
dan tahun-tahun selanjutnya dikembangkan oleh perusahaan lainnya.
Fokus utama dari Quality Function Deployment ini yaitu melibatkan pelanggan
pada proses pengembangan produk sedini mungkin. Filosofi yang mendasarinya adalah
bahwa pelanggan tidak akan puas dengan suatu produk meskipun suatu produk yang
dihasilkan sempurna, seperti yang kemarin dikatakan diposting sebelumnya mengenai
kualitas bahwa produk yang superior atau sempurna belum tentu di butuhkan oleh
konsumen.
Quality Function Deployment merupakan suatu metodologi yang digunakan oleh
perusahaan untuk mengantisipasi dan menentukan prioritas kebutuhan dan keinginan
konsumen, serta menggabungkan kebutuhan dan keinginan konsumen tersebut dalam
produk dan jasa yang disediakan bagi konsumen. Teknik ini biasa digunakan di berbagai
perusahaan manufaktur dan jasa untuk merancang produk, proses, sistem dengan
memperhatikan suara konsumen (voice of customer) dan kinerja pesaing.
Berikut ini dikemukan beberapa definisi dari Quality Function Deployment antara
lain :
a. Quality Function Deployment adalah suatu metodologi untuk menterjemahkan
kebutuhan dan keinginan konsumen ke dalam suatu rancangan produk yang
memiliki persyaratan teknik dan karakteristik kualitas tertentu. (Akao, 1990;
Urban Hauser, 1993)
b. Quality Function Deployment adalah suatu metodologi terstruktur yang
digunakan dalam proses perencanaan dan pengembangan produk untuk
menetapkan spesifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen, serta mengefaluasi
secara sistematis kapabilitas suatu produk atau jasa dalam memenuhi kebutuhan
3
dan keinginan konsumen.
c. Menurut Oakland J.S (1995), Quality Function Deployment adalah suatu sistem
untuk mendesain sebuah produk atau jasa yang berdasarkan permintaan pelanggan,
dengan melibatkan partisipasi fungsi-fungsi yang terdapat dalam organisasi tertentu.
d. Quality Function Deployment juga dapat diartikan sebagai penyebaran fungsi-
fungsi yang terkait dengan pengembangan produk dan pelayanan dengan mutu
yang memenuhi kepuasan konsumen. (Revelle., Frigon., dan Jackson, 1995).
Berdasarkan definisinya, Quality Function Deployment merupakan praktek untuk
merancang suatu proses sebagai tanggapan terhadap kebutuhan pelanggan. Quality
Function Deployment menerjemahkan apa yang dibutuhkan pelanggan menjadi apa yang
dihasilkan oleh organisasi. Quality Function Deployment memungkinkan organisasi
untuk memprioritaskan kebutuhan pelanggan, menemukan tanggapan inovatif terhadap
kebutuhan tersebut dan memperbaiki proses hingga tercapainya efektifitas maksimum.
Quality Function Deployment juga merupakan praktik menuju perbaikan proses yang
dapat memungkinkan organisasi untuk melampaui harapan pelanggan.
2.2 Tujuan dan Manfaat Quality Function Deployment
2.2.1 Tujuan dari Quality Function Deployment, yaitu :
a. Memprioritaskan keinginan dan kebutuhan pelanggan.
b. Menerjemahkan kebutuhan ke dalam karakteristik teknis dan spesifikasi.
c. Membangun dan memberikan kualitas produk atau layanan dengan memfokuskan
setiap kepuasan pelanggan.
2.2.2 Menurut Daetz (1995), Quality Function Deployment mempunyai beberapa manfaat
antara lain:
a. Rancangan produk dapat diutamakan dan dipusatkan pada kebutuhan dan keinginan
konsumen sehingga menjadi lebih mudah untuk dipahami
b. Dapat menganalisa kinerja layanan perusahaan terhadap para pesaingnya dalam
rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
c. Dapat memusatkan pada upaya rancangan keseluruhan sehingga akan mengurangi
4
waktu proses perencanaan suatu produk/jasa yang baru.
d. Dapat mengurangi frekuensi perubahan suatu desain setelah dikeluarkan sehingga
akan mengurangi biaya untuk memperkenalkan desain yang baru.
e. Dapat mendorong adanya suatu tim kerja sama antar departemen.
2.3 Voice Of Customers
Proses Quality Function Deployment membutuhkan data pelanggan yang ditulis
sebagai atribut-atribut. Kebtuhan-kebutuhan ini merupakan keuntungan potensial yang
dapat diterima pelanggan dari produk. Tiap atribut mempunyai beberapa data numerik
yang berkaitan dengan kepentingan relatif atribut bagi pelanggan dan tingkat performasi
kepuasan pelanggan dari produk yang mirip berdasarkan atribut tersebut. Atribut ini
biasanya disebut data pelanggan kualitatif dan informasi numerik tiap atribut sebagai data
kuantitatif. Prosedur umum dalam perolehan suara pelanggan adalah untuk menentukan
atribut-atribut pelanggan (data kualitatif) dan mengukur atribut-atribut (data kuantitatif).
Beberapa contoh voice of customers :
a. Apa yang pelanggan inginkan ?
b. Apa harapan dari pelanggan ?
c. Bagaimana harapan dari pelanggan digunakan dalam proses perancangan ?
d. Bagaimana tim desain melakuakan usahanya untuk mencapai kepuasan pelanggan ?
Gambar 2.1 Bagan Voice Of Customers
5
2.4 House of Quality (HOQ)
House of Quality (HOQ) merupakan tahap pertama Quality Function
Deployment. Secara garis besar, matriks ini adalah upaya untuk mengkonversi
voice of costumer secara langsung terhadap persyaratan spesifikasi teknis dari
produk atau jasa yang dihasilkan. Perusahaan akan berusaha mencapai
persyaratan teknis yang sesuai dengan target yang telah ditetapkan, dengan
sebelumnya melakukan benchmarking terhadap produk pesaing. Benchmarking
dilakukan untuk mengetahui posisi-posisi relatif produk kompetitor yang ada di
pasaran. Matriks dari House Of Quality dapat dilihat pada Gambar 2.1 di bawah
ini.
Gambar 2.2 Matriks House Of Quality
Keterangan :
Bagian A
Berisikan data yand di dapat dari penelitian pasar atas kebutuhan dan
keinginan konsumen. “Suara konsumen” ini merupakan input dalam House
Of Quality. Metode identifikasi kebutuhan konsumen yang biasa digunakan
dalam suatu penelitian adalah wawancara, baik secara grup atau
perorangan. Melalui wawancara, perancang dapat dengan bebas
mengetahui lebih jauh kebutuhan konsumen.
6
Bagian B
Berisikan tiga jenis data yaitu:
a. Tingkat kepentingan dari tiap kebutuhan konsumen.
b. Data tingkat kepuasan konsumen terhadap produk-produk yang dibandingkan.
c. Tujuan strategis untuk produk atau jasa baru yang akan dikembangkan.
Bagian C
Berisikan persyaratan-persyaratan teknis terhadap produk atau jasa baru yang akan
kembangkan. Data persyaratan teknis ini diturunkan berdasarkan “suara konsumen”
yang telah diperoleh pada bagian A. Untuk setiap persyaratan teknis ditentukan
satuan pengukuran, Direction of Goodness dan target yang harus dicapai. Direction
of Goodness terdiri dari 3, yaitu:
a. The More the Better, target maksimal tidak terbatas.
b. The Less the Better, target maksimal adalah nol.
c. Target is Best atau target maksimalnya adalah sedekat mungkin dengan suatu
nilai nominal dimana tidak terdapat variasi disekitar nilai tersebut
Bagian D
Berisikan kekuatan hubungan antara persyaratan teknis dari produk atau jasa yang
dikembangkan (bagian C) dengan “suara konsumen” (bagian A) yang
mempengaruhinya. Kekuatan hubungan ditunjukkan dengan symbol tertentu atau
angka tertentu. Berikut ini hubungan antara kepuasan pelanggan dengan
persyaratan teknis, ada empat kemungkinan korelasi yaitu:
a. Not linked (Blank) diberi nilai nol. Perubahan pada persyaratan teknis, menurut
direction of goodness-nya, tidak akan berpengaruh terhadap kepuasan
pelanggan 2
b. Possibly linked, diberi nilai 1. Perubahan yang relatif besar pada persyaratan
teknis, menurut direction of goodness-nya akan memberi sedikit perubahan pada
kepuasan pelanggan.
c. Moderate linked, diberi nilai 3. Perubahan yang relatif besar pada persyaratan
teknis, menurut direction of goodness-nya, akan memberikan pengaruh yang
7
cukup berarti pada kepuasan pelanggan.
d. Strongly linked, diberi nilai 9. Perubahan yang relatif kecil pada persyaratan
teknis, menurut direction of goodness-nya, akan memberikan pengaruh yang
cukup berarti pada kepuasan pelanggan.
Bagian E
Berisikan keterkaitan antar persyaratan teknis yang satu dengan persyaratan teknis
yang lain yang terdapat pada bagian C. Korelasi antar persyaratan teknis tergantung
pada direction of goodness dari setiap persyaratan teknis, ada lima kemungkinan:
a. Strong Possitive Impact : perubahan pada persyaratan teknis 1 ke arah direction
of goodness-nya, akan menimbulkan pengaruh positif kuat terhadap direction of
goodness persyaratan teknis 2.
b. Moderate Possitive Impact : perubahan pada persyaratan teknis 1 ke arah
direction of goodness-nya, akan menimbulkan pengaruh positif yang sedang
terhadap direction of goodness persyaratan teknis 2.
c. No Impact : perubahan pada persyaratan teknis 1 ke arah direction of goodness-
nya, tidak akan menimbulkan pengaruh terhadap direction of goodness
persyaratan teknis 2.
d. Moderate Negative Impact (x) : perubahan pada persyaratan teknis 1 kearah
direction of goodness-nya, akan menimbulkan pengaruh negatif yang sedang
terhadap direction of goodness persyaratan teknis 2.
e. Strong Negative Impact (xx) : perubahan pada persyaratan teknis 1 ke arah
direction of goodness-nya, akan menimbulkan pengaruh negatif kuat terhadap
direction of goodness persyaratan teknis 2
Bagian F
Beriskan tiga macam jenis data, yaitu:
a. Tingkat kepentingan (ranking) persyaratan teknis.
b. Technical benchmarking dari produk yang dibandingkan.
c. Target kinerja persyaratan teknis dari produk yang dikembangkan.
8
Ada beberapa langkah dalam mempersiapkan pelaksanaan House Of Quality, antara
lain:
a. Menentuan karakteristik produk atau jasa. Karakteristik produk atau jasa yang
dimaksud adalah karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan,
yang meliputi antara lain desain, komposisi, proses pemberian produk atau jasa,
mutu, dan sebagainya.
b. Mengadakan penilaian atas karakteristik produk yang telah ditetapkan pada langkah
pertama. Penilaian ini digunakan untuk dapat menterjemahkan apa yang diinginkan
pelanggan menjadi suatu rangkaian pemrosesan terhadap produk atau jasa yang
dimaksud.
c. Menentukan variabel performansi para pemasok. Pemasok adalah pihak /orang
secara individu atau badan usaha yang menyalurkan bahan baku kepada perusahaan-
perusahan guna memperoses produksinya untuk menghasikan produk akhir Selain
variabel performansi pemasok, variabel performansi perusahaan atau organisasi juga
harus ditentukan, misalnya ketepatan penyerahan produk atau jasa, pembuatan desain
produk atau proses pemberian jasa, dan sebagainya.
d. Mengadakan penilaian terhadap performansi pemasok maupun perusahaan atau
organisasi kita, apa saja yang merupakan kekuatan maupun kelemahan perusahaan
atau organisasi kita dan apa yang dapat kita andalkan dari pemasok perusahaan atau
organisasi kita.
e. Menentukan hubungan antar variabel-variabel performansi tersebut.
f. Menyusun target performansi yang akan dicapai.
9
Contoh langkah-langkah pembuatan house of quality pada pembuatan Mobil A
a. Langkah 1: Voice of Customer (menggunakan interview)
Pada langkah ini, didapatkan daftar yang menjadi perhatian pelanggan. Setelah daftar
dapat dibuat dari data yang terkumpul, daftar tersebut lalu dikembangkan dan dimasukkan
ke dalam matriks HOQ. Selanjutnya, setiap keinginan pelanggan ini di bobot untuk didapat
prioritas keinginan.
Gambar 2.3 Voice Of Customer
b. Langkah 2 : Respon (Design / Technical Requirements)
Setelah didapatkan kebutuhan atau keinginan pelanggan, akan muncul pertanyaan
bagaimana kita akan menjawab keinginan / kebutuhan tersebut. Sehingga akan sangat
dibutuhkan untuk mengartikan ‘bagaimana’ keinginan tersebut dapat terpuaskan dengan
suatu layanan.
Untuk menerjemahkan kebutuhan / keinginan pelanggan menjadi design / technical
requirement, dapat menggunakan berbagai metode, salah satunya adalah brainstorming.
Selanjutnya, hasil dari proses tersebut dapat dimasukkan dalam matriks HOQ.
Baris optimisasi merupakan arah pengembangan respon yang disesuaikan dengan
keinginan pelanggan
Gambar 2.4 Pengembangan Respon Sesuai Keinginan Pelanggan
11
c. Langkah 3 : Pengisian matriks hubungan
Hubungan antara keinginan pelanggan dengan design requirement tidak selalu sama.
Hal ini bergantung pada kekuatan setiap variabel dalam design requirement untuk
mempengaruhi atau menjawab keinginan pelanggan dalam kolom voice of consumers. Ada
beberapa tingkatan dalam penilaian langkah tiga ini:
1) Nilai 9 untuk hubungan yang kuat
2) Nilai 3 untuk hubungan yang sedang
3) Nilai 1 untuk hubungan yang memungkinkan untuk terjadi (lemah)
4) Nilai 0 atau kolom yang kosong untuk tidak ada hubungan
Gambar 2.5 Tingkatan Dalam Penilaian
Gambar 2.6 Pengisian Hubungan Keinginan Pelanggan dan Design Requirement
d. Langkah 4 : Matriks Korelasi
Setelah diberikan semua nilai, langkah selanjutnya adalah untuk menentukan korelasi
antar respon (design requirements). Matriks ini menjelaskan mengenai manakah respon
yang berdampak baik pada respon yang lain dan manakah yang berdampak tidak baik.
Korelasi yang positif berarti pengembangan respon tersebut akan beriringan dengan
pengembangan respon yang lain tanpa adanya usaha yang berat. Sementara itu, perlu juga
untuk mencari korelasi negatif, yang mana pengembangan suatu respon akan berdampak
penurunan respon yang lain. Apabila dalam matriks tersebut tidak ada korelasi yang
negatif, maka bisa jadi ada kesalahan pada langkah sebelumnya.
12
Gambar 2.7 Matriks Korelasi
Keterangan : + + : Positif kuat
+ : Positif
- : Negatif
-- : Negatif Kuat
e. Langkah 5: Benchmarking
Metode House of Quality ini memperbolehkan untuk melakukan penilaian kompetitor
melalui benchmarking. Dimana selanjutnya pelayanan yang disediakan kompetitor akan
dibandingkan dengan pelayanan organisasi kita. Yang dibandingkan dalam metode ini
adalah keinginan pelanggan dan juga design requirements. Sehingga persepsi pelanggan
mengenai kepuasan itu akan bisa dinilai dan dibandingkan dengan kompetitor. Nilai yang
terdapat pada benchmarking:
1) 1: tidak ada pemenuhan
2) 2: pemenuhan sebagian
3) 3: pemenuhan secara umum
4) 4: pemenuhan sebagian besar (memenuhi)
5) 5: pemenuhan secara total
Gambar 2.8 Penilaian Kompetitor Melalui Benchmarking
13
Contoh aplikasi :
Gambar 2.9 Aplikasi House Of Quality Pada Pembuatan Mobil A
14
BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Quality Function Deployment (QFD) adalah metode perencanaan dan pengembangan
secara terstruktur yang memungkinkan tim pengembangan mendefinisikan secara jelas
kebutuhan dan harapan pelanggan, dan mengevaluasi kemampuan produk atau jasa secara
sistematik untuk memenuhi kebutuhan dan harapan. QFD merupakan suatu metode yang
dikembangkan untuk menghubungkan suatu perusahaan atau lembaga dengan konsumen.
Melalui QFD, setiap keputusan dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang diekspresikan oleh
pelanggan. Pendekatan ini menggunakan sejenis diagram matriks untuk mempresentasikan
data dan informasi. Alat utama dari QFD adalah matrik, dimana hasil-hasilnya dicapai
melalui penggunaan tim antar departemen atau fungsional dengan mengumpulkan,
mengintrepresstasikan, mendokumentasikan dan memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan
pelanggan. Titik awal (starting point) QFD adalah pelanggan serta keinginan dan
kebutuhan daru pelanggan. Dalam QFD hal ini disebut “suara dari pelanggan” (voice of the
customer). Proses QFD dimulai dengan suara pelanggan dan kemudian berlanjut hingga
analisa dan interpretasi melalui 4 aktivitas utama yaitu Perencanaan Produk (Product
Planing) Menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan pelanggan kedalam kebutuhan-kebutuhan
teknik (technical requirements), Desain Produk (Product Design) Menerjemahkan
kebutuhan-kebutuhan teknik kedalam karakteristuk komponen, Perencanaan Proses
(Process Planning) Mengidentifikasi langkah-langkah proses dan parameter-parameter
serta menerjemahkan kedalam karakteristik proses, dan Perencanaan Pengendalian Proses
(Process Planing Control).
Inti dari QFD adalah suatu matriks besar yang akan menghubungkan apa keinginan
pelanggan (What) dan bagaimana suatu produk akan didesaian dan diproduksi agar
memenuhi kebutuhan pelanggan (Nasution,2006). Fokus utama dari QFD adalah
melibatkan pelanggan pada proses pengembangan produk sedini mungkin, yang mana
kebutuhan dan keinginan. Penerapan metodologi QFD dalam proses perancangan
produk/jasa diawali dengan pembentukan matriks perencanaan produk/jasa atau disebut
dengan house of quality.
15
3.2 Saran
Pada proses perencanaan Quality Function Deployment dilakukan sebaik mungkin
karena seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa perencanaan merupakan kunci
kesuksesan proyek Quality Function Deployment. Selain itu, Fokus kepada pelanggan
merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena pelanggan yang puas terhadap
produk dapat menjadi salah satu produk tersebut berkualitas.
16
DAFTAR PUSTAKA
Irawan, F. W. (1998). Pemasaran Prinsip dan Kasus. Yogyakarta: BPFT Yogyakarta.
Irawan, S. B. (2005). Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty.
Nursya'bani Purnama, Manajemen Kualitas: Perspektif Global, Fakultas Ekonomi UII,
2006
T. Yuri MZagloel danRahmat Nurcahyo, Total QualityManagement, 2012
Kotler, P. (2001). Manajemen Pemasaran di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
Stanto, W. J. (2001). Prinsip Pemasaran. Jakarta: Erlangga.
[Link] , diakses Maret 2017
Vollmann, T. E. (2005). Manufacturing Planning and Control Systems for Supply Chain
Management. New York: Graw-Hill.
Zairi, M. dan M.A. Youssef. 1995. Quality function deployment. The International Journal of
Qulaity & Reliability Management. 12: 9-23.
Rahmatika, N.H. 2008. Penerapan quality function deployment (QFD) untuk mengetahui
tingkat kepuasaan konsumen produk biskuit di PT. Arnott’s Indonesia. Skripsi.
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Nurjayanti Putri. Makalah QFD, Fakultas Teknik, Universitas Malikusalleh 2015
iv