100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
1K tayangan33 halaman

RPJMN dan Rencana Kesehatan 2018

RPJMBK adalah rencana pembangunan kesehatan jangka menengah yang menetapkan arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan untuk mencapai tujuan peningkatan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung perlindungan finansial dan pelayanan kesehatan.

Diunggah oleh

rinaaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
1K tayangan33 halaman

RPJMN dan Rencana Kesehatan 2018

RPJMBK adalah rencana pembangunan kesehatan jangka menengah yang menetapkan arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan untuk mencapai tujuan peningkatan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung perlindungan finansial dan pelayanan kesehatan.

Diunggah oleh

rinaaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kesehatan dan

Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan


Mata Kuliah Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan

DOSEN :
Rafiah Maharani Pulungan, SKM, MKM

DISUSUN OLEH :

Muthiya Harlingga 1610713016

Jihan Syafitri Agus A 1610713044

Monita Hermatuti 1610713046

Widya Nabila 1610713052

Feby Dwisadia 1610713085

Prayogi Dwi Santoso 1610713099

S1 KESEHATAN MASYARAKAT (Kelas C)


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA


TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “RPJMK, RTPK,
dan Perencanaan Kesehatan Tingkat Puskesmas”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas
mata kuliah Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan.

Kami mengucapkan terimakasih kepada Ibu Rafiah Maharani Pulungan, SKM, MKM
selaku dosem mata kuliah Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan dan orang tua kami yang telah
membantu baik moril maupun materi, serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar kami dapat memperbaiki
penyusunan makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
menginspirasi para pembaca.

Depok, April 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................................ i


Daftar Isi .......................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .............................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................2
1.3 Tujuan .......................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang Kesehatan.. ....................................3


2.1.1 Kondisi Umum, Potensi dan Permasalahan.. ...................................................... 5
2.1.2 Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan.. ...................................................... 8
2.1.3 Kerangka Regulasi.. .......................................................................................... 12
2.1.4 Kerangka Kelembagaan.. .................................................................................. 13
2.1.5 Kerangka Pendanaan.. ....................................................................................... 13
2.2 Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan ............................................................... 14
2.2.1 Rencana Kerja Tahunan Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2016 .............14
2.2.2Rencana Kinerja Tahunan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi
Kesehatan Tahun 2016.. ...................................................................................19
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan .................................................................................................................. 8


3.2 Daftar Pustaka ............................................................................................................10

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permasalahan pada bidang kesehatan di Indonesia masih cukup tinggi. Permasalahan
seperti kekurangan gizi terutama pendek (stunting), kurus (wasting), bayi dengan Berat Badan
Lahir Rendar (BBLR), dan anemia pada ibu hamil masih banyak ditemukan di Indonesia. Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) juga cukup tinggi walaupun dalam
beberapa dekade terakhir AKI dan AKB telah mengalami penurunan. Selain itu, cakupan
imunisasi dasar lengkap juga belum di laksanakan secara merata di berbagai wilayah. Pada
pelayanan rujukan, banyak rumah sakit yang belum memenuhi standar ketenagaan. Indonesia
menghadapi beban ganda penyakit, yaitu kondisi penyakit menular masih muncul sedangkan
penyakit tidak menular semakin meningkat.

Pembangunan pada hakekatnya adalah upaya sistematis dan terencana oleh masing-
masing maupun seluruh komponen bangsa untuk mengubah suatu keadaan menjadi keadaan yang
lebih baik dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia secara optimal, efisien,
efektif dan akuntabel, dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan
masyarakat secara berkelanjutan. Bagi bangsa Indonesia, secara khusus tujuan pembangunan
nasional telah digariskan dalam Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945, yaitu untuk:
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan
umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Untuk mencapai tujuan pembangunan nasional, maka suatu perencanaan pembangunan


perlu mmenetapkan tahapan seperti adanya tahapan jangka panjang, jangka menengah, maupun
tahunan untuk mencapai tujuan universal maupun tujuan khusus dari pembangunan nasional.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 adalah tahapan ketiga
dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang telah ditetapkan
melalui Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007. Rencana Kesehatan Jangka Menengah bidang
Kesehatan membuat Rencana Strategis (Renstra) yang merupakan dokumen perencanaan yang
bersifat indikatif memuat program-program pembangunan kesehatan yang akan
dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan dan menjadi acuan dalam penyusunan
perencanaan tahunan. Penyusunan Renstra Kementerian Kesehatan dilaksanakan melalui

1
pendekatan: teknokratik, politik, partisipatif, atas-bawah (top-down), dan bawah-atas (bottom-
up). Pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 adalah Program Indonesia Sehat dengan
sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui melalui upaya
kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan
pemeratan pelayanan kesehatan.

Rencana Kerja Tahunan (RKT) merupakan dokumen yang berisi informasi tentang
tingkat atau target kinerja berupa output dan atau outcome yang ingin diwujudkan oleh suatu
organisasi pada satu tahun tertentu. RKT menuntut konsistensi antara pelaksanaan kegiatan
dengan proses dan ketentuan dalam Renja dan Renstra sehingga diperlukan kompetensi,
profesionalisme, dan disiplin pegawai dilingkungan Kementerian Kesehatan dalam
melaksanakan kegiatannya. Rencana Kinerja Tahunan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan
Promosi Kesehatan Tahun 2016 merupakan penjabaran dari upaya pencapaian indikator kinerja
kegiatan yang dapat terukur dan merupakan hasil yang akan dicapai dalam jangka waktu satu
tahun anggaran.

Dengan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang Kesehatan dan


Rencanan Kinerja Tahunan ini diharapkan pelaksanaan kegiatan untuk meningkatkan status
kesehatan masyarakat Indonesia dan agar pelaksaan program yang direncanakan dapat berjalan
efektif, efisien dan terukur.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang
Kesehatan ?
2. Bagaimana Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang Kesehatan Indonesia ?
3. Apa yang dimaksud Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan ?
4. Bagaimana Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan Indonesia ?

1.3 Tujuan
1. Dapat mengetahui maksud Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang
Kesehatan
2. Dapat mengetahui bagaimana Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang
Kesehatan Indonesia
3. Dapat mengetahui maksud Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan
4. Dapat mengetahui bagaimana Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan Indonesia

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang Kesehatan (RPJMBK)

Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang


dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi
pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (SPPN) yang mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN). Dengan telah ditetapkannya RPJMN 2015-2019.
Pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 adalah Program Indonesia
Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat
melalui melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung
dengan perlindungan finansial dan pemeratan pelayanan kesehatan. Sasaran pokok
RPJMN 2015-2019 adalah:
1. Meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak
2. Meningkatnya pengendalian penyakit.
3. Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
terutama di daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan
4. Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu
Indonesia Sehat dan kualitas pengelolaan SJSN Kesehatan
5. Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin
6. Meningkatkan responsivitas sistem kesehatan.

Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan 3 pilar utama yaitu paradigma


sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan nasional:

4
1 Pilar paradigma sehat di lakukan dengan strategi pengarusutamaan
kesehatan dalam pembangunan, penguatan promotif preventif dan
pemberdayaan masyarakat
2 Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan
akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan dan peningkatan
mutu pelayanan kesehatan, menggunakan pendekatan continuum of care dan
intervensi berbasis risiko.
3 sementara itu jaminan kesehatan nasional dilakukan dengan strategi perluasan
sasaran dan benefit serta kendali mutu dan kendali biaya.

Terdapat dua tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019, yaitu: 1)


meningkatnya status kesehatan masyarakat dan; 2) meningkatnya daya tanggap
(responsiveness) dan perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di
bidang kesehatan.

Terdapat 12 sasaran pokok sub bidang kesehatan berikut indikatornya dibawah


ini:
Tabel 1. Sasaran Pokok Sub Bidang Kesehatan dalam RPJMN 2015-2019
No. Indikator Status Awal Target 2019

1 Meningkatnya Status Kesehatan Ibu dan Anak

a. AKI per 100.000 kelahiran hidup 346 (2010) 306


b. AKB per 1.000 kelahiran hidup
32 (2012) 24

2 Meningkatnya Status Gizi Masyarakat (persen)

a. Prevalensi anemia pada ibu hamil 37,1 (2013) 28


b. Persentase bayi dengan berat badan lahir rendah
(BBLR) 10,2 (2013) 8

c. Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang


mendapat ASI Ekslusif
d. Prevalensi kekurangan gizi pada anak balita 38,0 (2013) 50
e. Prevalensi kurus anak balita
f. Prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek) pada
anak di bawah dua tahun
19,6 (2013) 17

12 (2013) 9,5

5
No. Indikator Status Awal Target 2019

32,9 (2013) 28

3 Meningkatnya Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak


menular serta Meningkatnya Penyehatan Lingkungan

a. Prevalensi tuberculosis per 100.000 penduduk


(persen)
b. Prevalensi HIV (persen)
297 (2013) 245
c. Jumlah kabupaten/kota dengan eleminasi malaria
d. Jumlah provinsi dengan eliminasi kusta
e. Jumlah kabupaten/kota dengan eliminasi filariasis
f. Persentase kabupaten/kota yang memenuhi syarat 0,46 (2014) <0,5
kualitas kesehatan lingkungan
212 (2013) 300
g. Prevalensi tekanan darah tinggi (persen)
h. Prevalensi obesitas pada penduduk usia 18+ tahun
(persen)
i. Prevalensi merokok pada penduduk usia ≤ 18 20 (2013) 34
j. Persentase penurunan kasus penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi (PD3I) tertentu dari tahun
2013
0 35

15,3 40

25,8 (2013) 23,4

15,4 (2013) 15,4

7,2 5,4

- 40

4 Meningkatnya Pemerataan Akses dan Mutu Pelayanan


Kesehatan

a. Jumlah kecamatan yang memiliki minimal satu


puskesmas yang tersertifikasi akreditasi 0 5.600

6
No. Indikator Status Awal Target 2019

b. Jumlah kabupaten/kota yang memiliki satu RSUD


yang tersertifikasi akreditasi nasional
c. Persentase kabupaten/kota yang mencapai 80 persen
imunisasi dasar lengkap pada bayi
10 481

71,2 95

5 Meningkatnya Perlindungan Finansial

a. Jumlah penduduk yang menjadi peserta penerima


bantuan iuran (PBI) melalui Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) / kartu Indonesia Sehat (KIS) (dalam 86,4 107,2

juta)
b. Unmet need pelayanan kesehatan

7 1

6 Meningkatnya Ketersediaan, Penyebaran, dan Mutu


Sumber Daya Manusia Kesehatan

a. Jumlah puskesmas yang minimal memiliki 5 jenis


tenaga kesehatan
b. Persentase RS kabupaten/kota kelas C yang memiliki
1.015 5.600
7 dokter spesialis
c. Jumlah SDM kesehatan yang ditingkatkan
komptensinya (kumulatif)
25 60

25.000 56.910

7 Memastikan Ketersediaan Obat dan Mutu Obat dan


Makanan

a. Persentase ketersediaan obat dan vaksin di puskesmas


b. Persentase obat yang memenuhi syarat 75,5 (2014) 90

c. Persentase makanan yang memenuhi syarat

92 (2014) 94

87,6 (2013) 90,1

8 Meningkatnya upaya peningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, serta meningkatnya
pembiayaan kegiatan promotif dan preventif

7
No. Indikator Status Awal Target 2019

9 Meningkatnya upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat

10 Meningkatnya perlindungan finansial termasuk menurunnya pengeluaran katastropik akibat pelayanan kesehatan

11 Meningkatnya responsibilitas sistem kesehatan (health system responsiveness)

12 Meningkatnya daya saing obat dan makanan nasional

2.1.1 Kondisi Umum, Potensi dan Permasalahan

Gambaran kondisi umum, potensi dan permasalahan pembangunan kesehatan


dipaparkan berdasarkan dari hasil pencapaian program kesehatan, kondisi lingkungan
strategis, kependudukan, pendidikan, kemiskinan dan perkembangan baru lainnya.

1. Upaya Kesehatan

Kesehatan Ibu dan Anak. Angka Kematian Ibu sudah mengalami penurunan,
namun masih jauh dari target MDGs tahun 2015, meskipun jumlah persalinan
yang ditolong oleh tenaga kesehatan mengalami peningkatan.. Penyebab utama
kematian ibu yaitu hipertensi dalam kehamilan dan perdarahan post partum.

Penyebab ini dapat diminimalisir apabila kualitas Antenatal Care dilaksanakan


dengan baik. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan kondisi ibu hamil tidak
sehat antara lain adalah penanganan komplikasi, anemia, ibu hamil yang
menderita diabetes, hipertensi, malaria, dan 4T yaitu empat terlalu , terlalu dekat dan
terlalu banyak anaknya Sebanyak 54,2 per 1000 perempuan dibawah usia 20 tahun
telah melahirkan, sementara perempuan yang melahirkan usia di atas 40 tahun
sebanyak 207 per 1000 kelahiran hidup.

Potensi dan tantangan dalam penurunan kematian ibu dan anak adalah
jumlah tenaga kesehatan yang menangani kesehatan ibu khususnya bidan sudah
relatif tersebar ke seluruh wilayah Indonesia, namun kompetensi masih belum
memadai.

8
2. Usia Sekolah dan Remaja

Penyebab kematian terbesar pada usia ini adalah kecelakaan


transportasi,disamping penyakit demam berdarah dan tuberkulosis. Masalah
kesehatan lain adalah penggunaan tembakau dan pernikahan pada usia dini (10-15
tahun).

Pelaksanaan UKS harus diwajibkan di setiap sekolah dan madrasah mulai dari
TK/RA sampai SMA/SMK/MA, mengingat UKS merupakan wadah untuk
mempromosikan masalah kesehatan. Peningkatan kuantitas dan kualitas Puskesmas
melaksanakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) yang menjangkau
remaja di sekolah dan di luar sekolah. Prioritas programUKS adalah perbaikan gizi
usia sekolah, kesehatan reproduksi dan deteksi dini penyakit tidak menular.

3. Usia Kerja dan Usia Lanjut

Penyakit akibat kerja dan terjadinya kecelakaan kerja juga meningkat. Jumlah
yang meninggal akibat kecelakaan kerja semakin meningkat hampir 10% selama 5
tahun terakhir. Proporsi kecelakaan kerja paling banyak terjadi pada umur 31-45
tahun. Prioritas untuk kesehatan usia kerja adalah mengembangkan pelayanan
kesehatan kerja primer dan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat
kerja, selain itu dikembangkan Pos Upaya Kesehatan Kerja sebagai salah satu bentuk
UKBM pada pekerja dan peningkatan kesehatan kelompok pekerja rentan seperti
Nelayan, TKI, dan pekerja perempuan.

4. Gizi Masyarakat

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014, perbaikan


status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan prevalensi
balita gizi kurang (underweight) menjadi 15% dan prevalensi balita pendek (stunting)
menjadi 32% pada tahun 2014.

Seribu hari pertama kehidupan seorang anak adalah masa kritis yang menentukan
masa depannya, dan pada periode itu anak Indonesia menghadapi gangguan
pertumbuhan yang serius..

9
Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 tentang
Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Penyakit Menular. Untuk penyakit
menular, prioritas masih tertuju pada penyakit HIV/AIDS, tuberculosis, malaria,
demam berdarah, influenza dan flu burung.

Angka CFR AIDS juga menurun dari 13,65% pada tahun 2004 menjadi 0,85 %
pada tahun 2013. Penyakit Tidak Menular. Kecenderungan penyakit menular terus
meningkat dan telah mengancam sejak usia muda. Selama dua dekade terakhir
ini,telah terjadi transisi epidemiologis yang signifikan.

5. Penyakit Tidak Menular

Penyakit tidak menular utama meliputi hipertensi, diabetes melitus, kanker dan
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Jumlah kematian akibat rokok terus
meningkat dari 41,75% pada tahun 1995 menjadi 59,7% di 2007. Selain itu dalam
survei ekonomi nasional 2006 disebutkan penduduk miskin menghabiskan 12,6%
penghasilannya untuk konsumsi rokok.

Dalam rangka pengendalianPenyakit Tidak Menular (PTM) antara lain dilakukan


melalui pelaksanaan Pos Pembinaan Terpadu Pengendalian Penyakit Tidak Menular
(Posbindu-PTM) yang merupakan upaya monitoring dan deteksi dini faktor risiko
penyakit tidak menular di masyarakat. Penyehatan Lingkungan.

6. Kesehatan Jiwa

Permasalahan kesehatan jiwa sangat besar dan menimbulkan beban kesehatan


yang signifikan. Data dari Riskesdas tahun 2013, prevalensi gangguan mental
emosional (gejala-gejala depresi dan ansietas.

Gangguan jiwa dan penyalahgunaan Napza juga berkaitan dengan masalah


perilaku yang membahayakan diri, seperti bunuh diri. Prioritas untuk kesehatan jiwa
adalah mengembangkan Upaya Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat (UKJBM) yang
ujung tombaknya adalah Puskesmas dan bekerja bersama masyarakat, mencegah
meningkatnya gangguan jiwa masyarakat.

10
7. Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan
Dari sisi kesiapan pelayanan, data berdasarkan Rifaskes 2011 menunjukkan
bahwa pencapaiannya belum memuaskan. Jumlah admisi pasien RS per 10.000
penduduk baru mencapai 1,9%. Rata-rata Bed Occupancy Rate (BOR) RS baru 65%.
RS Kabupaten/ Kota yang mampu PONEK baru mencapai 25% dan kesiapan
pelayanan PONEK di RS pemerintah baru mencapai 86%. Kemampuan Rumah Sakit
dalam transfusi darah secara umum masih rendah (kesiapan rata-rata 55%), terutama
komponen kecukupan persediaan darah (41% RS Pemerintah dan 13% RS Swasta).
Di Puskesmas, kesiapan peralatan dasar memang cukup tinggi (84%), tetapi
kemampuan menegakkan diagnosis ternyata masih rendah (61%). Di antara
kemampuan menegakkan diagnosis yang rendah tersebut adalah tes kehamilan (47%),
tes glukosa urin (47%), dan tes glukosa darah (54%). Hanya 24% Puskesmas yang
mampu melaksanakan seluruh komponen diagnosis.

2.1.2 Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan

Reformasi sub bidang kesehatan dan gizi masyarakat terutama di fokuskan pada
penguatan upaya kesehatan dasar yang berkualitas terutama melalui peningkatan jaminan
kesehatan dan peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
didukung dengan penguatan sisten kesehatan dan peningkatan pembiayaan kesehatan.
arah kebijakan yang tertuang pada RPJMN 2015-2019 merujuk pada masalah, tantangan,
dan 12 sasaran pokok yang telah disebutkan di atas, yakni:

1. Akselerasi pemenuhan akses pelayanan kesehatan ibu, anak, remaja dan


lanjut usia yang berkualitas :

a. Peningkatan akses dan mutu continuum of care pelayanan ibu dan anak
yang meliputi kunjungan ibu hamil, dan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan terlatih di fasilitas kesehatan serta penurunan kasus kematian ibu
di rumah sakit
b. Peningkatan pelayanan kesehatan reproduksi pada remaja, penduduk usia
produktif dan lanjut usia
c. Penguatan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) dan Pelayanan Kesehatan
Kerja dan Olahraga

11
d. Peningkatan pelayanan kesehatan Peningkatan cakupan imunisasi tepat
waktu pada bayi dan balita

2. Mempercepat perbaikan gizi masyarakat :

a. Peningkatan surveilans gizi termasuk pemantauan pertumbuhan;

b. Peningkatan akses dan mutu paket pelayanan kesehatan dan gizi dengan fokus
utama pada 1.000 hari pertama kehidupan, remaja calon pengantin, dan ibu
hamil termasuk pemberian makanan tambahan terutama untuk keluarga
kelompok termiskin dan wilayah Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan
(DTPK);

c. Peningkatan promosi perilaku masyarakat tentang kesehatan, gizi, sanitasi,


hygiene, dan pengasuhan;

d. Penguatan peran lintas sektor dalam rangka intervensi sensitif dan spesifik yang
didukung oleh peningkatan kapasitas pemerintah pusat, provinsi dan
kabupaten/kota dalam pelaksanaan rencana aksi pangan dan gizi.

3. Meningkatkan pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan

a. Peningkatan surveilans epidemiologi faktor resiko dan penyakit;

b. Peningkatan upaya preventif dan promotif termasuk pencegahan kasus baru


penyakit dalam pengendalian penyakit menular terutama TB, HIV dan malaria
dan tidak menular;

c. Pencegahan dan penanggulangan kejadian luar biasa/ wabah;

d. Peningkatan mutu kesehatan lingkungan;

4. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan dasar yang berkualitas

a. Pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan dasar sesuai standar mulai dari


fasilitas layanan primer hingga rujukan

b. Meningkatkan jangkauan pelayanan terutama di daerah terpencil, perbatasan


dan kepulauan

12
c. Pengembangan kesehatan tradisional dan komplementer

5. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan rujukan yang berkualitas

a. Pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan rujukan terutama rumah sakit


rujukan nasional, rumah sakit rujukan regional, rumah sakit di setiap
kabupaten/kota, termasuk rumah sakit pratama di daerah tertinggal, terpencil
dan perbatasan;
[Link] dan pengembangan sistem rujukan nasional, rujukan regional dan
sistem rujukan gugus kepulauan dan pengembangan sistem informasi dan
rujukan di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan online;
c. Peningkatan mutu fasilitas pelayanan kesehatan rujukan melalui akreditasi
rumah sakit dan pengembangan standar guideline pelayanan kesehatan;

6. Meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan, dan kualitas


farmasi dan alat kesehatan

a. Peningkatan ketersediaan dan keterjangkauan obat, terutama obat esensial


generik;

b. Peningkatan pengendalian, monitoring dan evaluasi harga obat,


penyempurnaan, penyelarasan dan evaluasi reguler berbagai daftar dan
formularium obat;

c. Peningkatan kapasitas institusi dalam management supply chain obat, vaksin


dan alat kesehatan;

d. Peningkatan daya saing industri farmasi dan alkes melalui pemenuhan standar
dan persyaratan

7. Meningkatkan pengawasan obat dan makanan

a. Penguatan sistem pengawasan obat dan makanan berbasis risiko;

b. Peningkatan sumber daya manusia pengawas obat dan makanan;

[Link] kemitraan pengawasan obat dan makanan dengan pemangku


kepentingan

13
8. Meningkatkan ketersediaan, penyebaran, dan mutu sumber daya manusia
kesehatan

a. Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan


dengan prioritas di Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK)
melalui penempatan tenaga kesehatan termasuk tenaga pegawai tidak tetap
kesehatan/PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), penempatan
tenaga kesehatan baru lulus/ penugasan khusus (affirmative policy) dan
pengembangan model penempatan tenaga Kesehatan;

b. Peningkatan mutu tenaga kesehatan melalui peningkatan kompetensi,


pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi seluruh jenis tenaga kesehatan

c. Peningkatan kualifikasi tenaga kesehatan termasuk pengembangan dokter


spesialis dan dokter layanan primer;

d. Pengembangan insentif finansial dan non-finansial bagi tenaga kesehatan


terutama untuk meningkatkan retensi tenaga kesehatan di Daerah Terpencil
Perbatasan dan Kepulauan Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan
(DTPK)

9. Meningkatkan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat

a. Peningkatan advokasi kebijakan pembangunan berwawasan kesehatan;

b. Pengembangan regulasi dalam rangka promosi kesehatan;

c. Penguatan gerakan masyarakat dalam promosi kesehatan dan pemberdayaan


masyarakat melalui kemitraan antara lembaga pemerintah dengan swasta, dan
masyarakat madani; serta

d. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan kesehatan


masyarakat, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) serta upaya kesehatan
berbasis masyarakat (UKBM) termasuk pengembangan rumah sehat.

14
10. Menguatkan manajemen, penelitian dan pengembangan, dan sistem
informasi kesehatan

Dengan peningkatan kemampuan teknis dan pengelolaan program kesehatan


serta peningkatakan transparansi tata kelola pemerintahan.

11. Memantapkan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) bidang


kesehatan,

a. Peningkatan cakupan kepesertaan melalui Kartu Indonesia Sehat;

[Link] jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang menjadi penyedia


layanan sesuai standar antara lain melalui kerjasama antara pemerintah
dengan penyedia layanan swasta;

[Link] sistem pembayaran untuk penguatan pelayanan kesehatan


dasar, kesehatan ibu dan anak, insentif tenaga kesehatan di DTPK dan
peningkatan upaya promotif dan preventif perorangan

12. Mengembangkan dan meningkatkan efektifitas pembiayaan kesehatan,

`` Diantaranya melalui peningkatan pembiaaan kesehatan publik dan


peningkatan pembiayaan dalam rangka mendukung pencapaian universal health
coverage (UHC).

2.1.3 Kerangka Regulasi

Agar pelaksanaan program dan kegiatan dapat berjalan dengan baik maka perlu didukung
dengan regulasi yang memadai. Perubahan dan penyusunan regulasi disesuaikan dengan
tantangan global, regional dan nasional. Kerangka regulasi diarahkan untuk: 1) penyediaan
regulasi dari turunan Undang-Undang yang terkait dengan kesehatan; 2) meningkatkan
pemerataan sumber daya manusia kesehatan; 3) pengendalian penyakit dan kesehatan
lingkungan; 4) peningkatan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berwawasasn
kesehatan; 5) penguatan kemandirian obat dan alkes; 6) penyelenggaraan jaminan kesehatan
nasional yang lebih bermutu; 7) penguatan peran pemerintah di era desentralisasi; dan 8)
peningkatan pembiayaan kesehatan. Kerangka regulasi yang akan disusun antara lain adalah

15
perumusan peraturan pemerintah, peraturan presiden, dan peraturan menteri yang terkait,
termasuk dalam rangka menciptakan sinkronisasi, integrasi penyelenggaraan pembangunan
kesehatan antara pusat dan daerah.

2.1.4 Kerangka Kelembagaan

Desain organisasi yang dibentuk memperhatikan mandat konstitusi dan berbagai


peraturan perundang-undangan, perkembangan dan tantangan lingkungan strategis di
bidang pembangunan kesehatan, Sistem Kesehatan Nasional, pergeseran dalam wacana
pengelolaan kepemerintahan (governance issues), kebijakan desentralisasi dan otonomi
daerah, dan prinsip reformasi birokrasi (penataan kelembagaan yang efektif dan efisien).
Fungsi pemerintahan yang paling mendasar adalah melayani kepentingan rakyat.
Kementerian Kesehatan akan membentuk pemerintahan yang efektif melalui desain
organisasi yang tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing), menghilangkan tumpang
tindih tugas dan fungsi dengan adanya kejelasan peran, tanggung jawab dan mekanisme
koordinasi (secara horisontal dan vertikal) dalam menjalankan program-program Renstra
2015-2019. Kerangka kelembagaan terdiri dari: 1) sinkronisasi nomenklatur kelembagaan
dengan program Kementerian Kesehatan; 2) penguatan kebijakan kesehatan untuk
mendukung NSPK dan pengarusutamaan pembangunan berwawasan kesehatan; 3)
penguatan pemantauan, pengendalian, pengawasan dan evaluasi pembangunan kesehatan;
4) penguatan bisnis internal Kementerian Kesehatan yang meliputi pembenahan SDM
Kesehatan, pembenahan manajemen, regulasi dan informasi kesehatan; 5) penguatan
peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan; 6) penguatan sinergitas pembangunan
kesehatan; 7) penguatan program prioritas pembangunan kesehatan ; dan 8) penapisan
teknologi kesehatan

2.1.5 Kerangka Pendanaan

Kerangka pendanaan meliputi peningkatan pendanaan dan efektifitas pendanaan.


Peningkatan pendanaan kesehatan dilakukan melalui peningkatan proporsi anggaran
kesehatan secara signifikan sehingga mencapai 5% dari APBN pada tahun 2019.
Peningkatan pendanaan kesehatan juga melalui dukungan dana dari Pemerintah Daerah,

16
swasta dan masyarakat serta sumber dari tarif/pajak maupun cukai. Guna meningkatkan
efektifitas pendanaan pembangunan kesehatan maka perlu mengefektifkan peran dan
kewenangan Pusat-Daerah, sinergitas pelaksanaan pembangunan kesehatan Pusat-Daerah
dan pengelolaan DAK yang lebih tepat sasaran. Dalam upaya meningkatkan efektifitas
pembiayaan kesehatan maka pendanaan kesehatan diutamakan untuk peningkatan akses
dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin melalui program Jaminan
Kesehatan Nasional, penguatan kesehatan pada masyarakat yang tinggal di daerah
terpencil, kepulauan dan perbatasan, penguatan sub-sub sistem dalam Sistem Kesehatan
Nasional untuk mendukung upaya penurunan Angka Kematian Ibu, Bayi, Balita,
peningkatan gizi masyarakat dan pengendalian penyakit dan serta penyehatan lingkungan.
Untuk mendukung upaya kesehatan di daerah, Kementerian Kesehatan memberikan porsi
anggaran lebih besar bagi daerah melalui DAK, TP, Dekonsentrasi, Bansos dan kegiatan
lain yang diperuntukkan bagi daerah.

2.2 Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan (RTPK)

RKT merupakan dokumen yang berisi informasi tentang tingkat atau target kinerja
berupa output dan atau outcome yang ingin diwujudkan oleh suatu organisasi pada satu tahun
tertentu. RKT menuntut konsistensi antara pelaksanaan kegiatan dengan proses dan
ketentuan dalam Renja dan Renstra sehingga diperlukan kompetensi, profesionalisme, dan
disiplin pegawai dilingkungan Kementerian Kesehatan dalam melaksanakan kegiatannya.

Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan
Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, menyatakan bahwa dokumen RKT
adalah tolok ukur untuk mencapai akuntabilitas kinerja instansi, pertanggungjawaban
pencapaian visi, misi, dan tujuan dari Kementerian Kesehatan.

2.2.1 Rencana Kerja Tahunan (RKT) Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2016

Rencana Kerja Tahunan (RKT) Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2016, merupakan
gambaran kegiatan Direktorat Kesehatan Keluarga dalam mencapai tujuan/sasaran
strategisnya di Tahun 2016. Direktorat Kesehatan Keluarga sebagai salah satu unit esselon

17
2 di Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat dan merupakan bagian dari Kementerian
Kesehatan juga memiliki kewajiban untuk mencapai sasaran pembangunan kesehatan.

Penyusunan RKT 2016 ini sebagai sarana untuk mengkomunikasikan kegiatan yang akan
dilakukan oleh Direktorat Kesehatan Keluarga sesuai dengan tugas pokok dan fungsi
institusi sepanjang tahun 2016. RKT ini diharapkan akan bermanfaat dalam didalam
pengambilan kebijakan agar kebijakan yang muncul dapat tetap focus dan selaras dengan
pencapaian di akhir tahun 2016 dan sebagai bahan monitoring dan evaluasi kegiatan
Direktorat Kesehatan Keluarga tahun 2016.

1. Tujuan

1. Menurunnya angka kematian ibu dari 359 per 100.00 kelahiran hidup (SP 2010), 346
menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2012).

2. Menurunnya angka kematian bayi dari 32 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup.

Didalam mencapai tujuan tersebut telah ditetapkan strategi nasional dan arah kebijakan nasional
2015-2019 yang kemudian juga menjadi tujuan (bersifat outcome) bagi Direktorat Kesehatan
Keluarga yaitu :

1. Terjadinya Akselerasi Pemenuhan Akses Pelayanan Kesehatan Ibu, Anak, Remaja, dan
Lanjut Usia yang Berkualitas.

2. Peningkatan cakupan, mutu, dan keberlangsungan upaya pencegahan penyakit dan


pelayanan kesehatan ibu, bayi, balita, remaja, usia kerja dan usia lanjut.

2. Sasaran

1. meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan bayi, anak dan remaja.

2. meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi

18
3. Indikator

Indikator pencapaian (diakhir tahun 2019) sasaran (indikator kinerja sasaran) diatas adalah :

1. Persentase Kunjungan Neonatal Pertama (KN1) sebesar 90%.

2. Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk peserta didik


kelas I sebesar 70%.

3. Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk peserta didik


kelas VII dan X sebesar 60%.

4. Persentase Puskesmas yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan remaja sebesar


45%.

5. Persentase Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu hamil sebesar 90%.

6. Persentase Puskesmas yang melakukan orientasi Program Perencanaan Persalinan dan


Pencegahan Komplikasi (P4K) sebesar 100%.

7. Persentase ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali (K4)
sebesar 80%.

4. Kebijakan Operasional

1. Percepatan penurunan angka kematian ibu dan anak

2. Peningkatan kesehatan keluarga

3. Pengutamaan pada upaya promotif dan preventif

4. Pendekatan siklus kehidupan

Sejalan dengan hal diatas maka upaya Direktorat Kesehatan Keluarga di tahun 2016 adalah
meningkatkan akses pelayanan kesehatan yang bermutu bagi setiap orang pada setiap tahapan
kehidupan dengan pendekatan satu kesatuan pelayanan (continuum of care) melalui:

19
1. intervensi komprehensif (six building block),

2. integratif promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif;

3. paripurna,

4. berjenjang mulai dari masyarakat, fasyankes tingkat pertama dan rujukan

5. fokus pada kelompok sasaran sesuai kelompok umur (life cycle), daerah populasi tinggi,
DTPK, jumlah kasus kematian ibu, bayi tertinggi, gizi buruk dan stunting

6. kemitraan antar pelaku sesuai strata kewenangan (provinsi, kabupaten/kota, swasta).

5. Strategi Operasional

1. Setiap Intervensi Promosi Kesehatan dalam siklus hidup, berdasarkan pada strategi
promosi kesehatan, yaitu :

a. Pemenuhan kebijakan yang mendukung interevensi tersebut, baik berupa


regulasi maupundukungan sumber daya (dana, sarana prasarana, dan tenaga)
dari pemerintah daerah maupun lintas sektoral,

b. Pelaksanaan kampanye atau KIE secara masif dalam upaya meningkatkan


perhatian dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan,

c. Pemberdayaan masyarakat melalui penguatan UKBM, serta d. Adanya


dukungan Mitra baik NGO, dunia usaha, institusi pendidikan, OP dan potensi
lainnya.

2. Penguatan program dengan melihat dan mempertimbangkan fungsi dan kewenangan di


masing-masing level (pusat dan daerah)

3. Pelaksanaan sinkronisasi, dan pengintegrasianprogram dan kegiatan di lingkup Dinkes


Provinsi dan kab/kota menyesuaikan dengan SOTK baru

4. Penyesuaian indikator dan targetdengan arah pembangunan jangka menengah (RPJMN


dan Renstra), lengkap dengan definisi operasional, cara pengukuran, waktu
pengukuran hingga format pelaporan

20
5. Penetapan kebijakan untuk daerah secara berimbang melalui breakdown target
indikator secara berjenjang (nasional, provinsi, kabupaten/kota, Puskesmas)

6. Sosialisasi indikator program kesehatan masyarakat secara berjenjang di internal dan


eksternal lingkup kesehatan untuk mendapatkan komitmen pelaksanan dan
tercapainya target indikator.

7. Penentuan kegiatan unggulan berdayaungkit tinggi, efisien dan efektif

8. Melakukanpengawalan/pendampingan secara intensifdanberjenjang pada daerah yang


menjadi locus minoritas masalah. Pelaksanaan penanggung jawab pembina wilayah
dalam melakukan pendampingan/supervisi.

9. Laporkan hasil kegiatan secara berkala dan tepat (tepat waktu, tepat sasaran, tepat
sesuai standar)

6. Kegiatan Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2016

Indikator yang dibebankan kepada Direktorat Kesehatan Keluarga merupakan indikator


yang tidak murni kegiatan/ tugas pokok dan fungsi Direktorat Kesehatan Keluarga
Sebagaimana Permenkes 64 tahun 2015. Indikator yang ada merupakan indikator yang
terutama dilaksanakan di level puskesmas, sehingga indikator ini merupakan indikator
bersama Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas. Melihat kondisi diatas
maka Direktorat Kesehatan Keluarga sesuai tugas pokok dan fungsinya melakukan kegiatan
yang nantinya akan mendukung pencapaianpencapaian target diatas. Kegiatan ini muncul
dalam indikator output yang kemudian terkait dengan anggaran. Indikator Output tersebut
antara lain:

1. NSPK Pembinaan Kesehatan Keluarga

2. SDM Kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya dalam pembinaan Kesehatan


Keluarga

3. Dukungan Sarana dan Prasarana Pembinaan Kesehatan Keluarga

4. Bimbingan Teknis dan Evaluasi pembinaan Kesehatan Keluarga

21
5. Sistem Informasi dan Surveilans Pembinaan Kesehatan Keluarga

6. Dukungan Layanan Manajemen

7. Monitoring

Monitoring adalah kegiatan pemantauan dan pengamatan yang berlangsung selama


kegiatan berjalan untuk memastikan dan mengendalikan keserasian pelaksanaan kegiatan
dengan perencanaan yang telah ditetapkan dan pencapaian target. Selain pencapaian indikator
dan sasaran, monitoring dapat dilakukan baik terhadap kualitas kegiatan maupun pemanfaatan
dana yang telah dianggarkan. Untuk mempermudah melakukan monitoring tersebut
diharuskan membuat laporan (progress report) dari masing-masing program yang telah
dilakukan ataupun program yang berjalan. Salah satu sistem yang berlaku di Direktorat
Kesehatan Keluarga yaitu

1. E-monev DJA (Direktorat Jenderal Anggaran) dibawah kementerian Keuangan dan

2. E-Monev Bappenas.

8. Evaluasi

Evaluasi adalah upaya menilai kualitas program dan hasil-hasilnya secara berkala dengan
menggunakan pendekatan yang tepat. Evaluasi yang dilakukan Direktorat Kesehatan keluarga
adalah upaya untuk melihat hasil progress dari masing-masing program yang telah dijalankan
dengan mengunakan beberapa system dan pendekatan yang telah ditetapkan, sehingga
hasilnya dapat menjadi bahan perbandingan untuk pengambilan keputusan dalam rangka
kebijakan lebih Ianjut, Evaluasi terhadap pelaksanaan RAK dilakukan minimal satu kali
dalam satu tahun

22
2.2.2. Rencana Kinerja Tahunan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Dan Promosi
Kesehatan Tahun 2016

Dalam rangka mengoptimalkan perannya sebagai unsur pendukung pelaksanaan


tugas di bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan, Direktorat Promosi
Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat,
Kementerian Kesehatan perlu menyusun Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Direktorat
Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Jenderal Kesehatan
Masyarakat Kementerian Kesehatan Tahun 2016 dengan mengacu pada Renstra
Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.

Sesuai dengan dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2016, prioritas
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Tahun 2016 difokuskan
pada :

1. Agenda Prioritas Pembangunan Kesehatan

 Penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.


 Perbaikan Gizi Masyarakat dan Prevalensi Balita Pendek (Stunting).
 Pengendalian Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Penyakit Menular

2. Tugas Pokok dan Fungsi

 Kebijakan Sektor Publik berwawasan kesehatan.


 Persentase kabupaten/kota yang telah memiliki kebijakan PHBS.
 Persentase desa yang memanfaatkan alokasi dana desa minimal 10%
untuk UKBM.
 Jumlah dunia usaha yang memanfaatkan CSR-nya untuk program
kesehatan.
 Jumlah organisasi kemasyarakatan yang memanfaatkan sumber dayanya
untuk mendukung kesehatan.
 Jumlah tema pesan dalam komunikasi, informasi dan edukasi kepada
masyarakat.

23
Arah Kebijakan RKP tahun 2016 adalah Mempercepat Pembangunan
Infrastruktur Untuk Memperkuat Pondasi Pembangunan yang Berkualitas. Di sektor
kesehatan Pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat ditujukan untuk meningkatkan
derajat kesehatan dan gizi masyarakat pada seluruh siklus kehidupan baik pada tingkat
individu, keluarga, maupun masyarakat dalam mendukung pencapaian sasaran Nawa
Cita. Kartu Indonesia Sehat menjadi salah satu sarana utama dalam mendorong pelayanan
kesehatan yang optimal, termasuk penguatan upaya promotif dan preventif.

Isu Strategis RKP 2016 Terkait Pembangunan Kesehatan adalah :

 Akselerasi pemenuhan akses pelayanan kesehatan ibu, anak, remaja, dan lanjut
usia yang berkualitas melalui peningkatan akses dan mutu continuum of care,
seperti: Kunjungan ibu hamil, Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
terlatih di fasilitas kesehatan, Penurunan kasus kematian ibu, Peningkatan
cakupan imunisasi tepat waktu pada bayi dan balita, dan Peningkatan peran
upaya kesehatan berbasis masyarakat.
 Percepatan perbaikan gizi masyarakat melalui peningkatan akses dan mutu paket
pelayanan kesehatan dan gizi, seperti : pemberian makanan tambahan,
peningkatan promosi perilaku masyarakat tentang kesehatan, gizi, sanitasi,
hygiene, dan pengasuhan, peningkatan peran masyarakat dalam perbaikan gizi
serta penguatan peran lintas sektor dalam rangka intervensi sensitif
 Percepatan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan melalui
peningkatan surveilans epidemiologi faktor resiko dan penyakit, seperti:
peningkatan upaya preventif dan promotif termasuk pencegahan kasus baru
penyakit dalam pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular,
pelayanan kesehatan jiwa, Pengendalian dan promosi penurunan faktor risiko
penyakit tidak menular dan peningkatan kesehatan lingkungan dan akses
terhadap air minum dan sanitasi yang layak dan perilaku hygiene.
 Pemantapan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Bidang
Kesehatan melalui peningkatan cakupan kepesertaan Kartu Indonesia Sehat,
seperti: peningkatan jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang menjadi penyedia
layanan, peningkatan pengelolaan jaminan kesehatan dalam bentuk

24
penyempurnaan dan koordinasi paket manfaat, insentif penyedia layanan,
pengendalian mutu dan biaya pelayanan, peningkatan akuntabilitas sistem
pembiayaan, pengembangan health technology assesment, serta penyempurnaan
sistem pembayaran;
 Menguatkan akses pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang merata dan
berkualitas
 Meningkatkan peran dan fungsi keluarga dalam pembangunan keluarga.

1. Urusan Wajib

Urusan wajib Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat berdasarkan


Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Nomor : 62 Tahun 2016 tentang
Organisasi dan tata kerja Kementerian Kesehatan tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Kesehatan, yaitu melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan,
penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis supervisi,
serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang promosi kesehatan dan pemberdayaan
masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan urusan wajib
tersebut, Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat menyelenggarakan
fungsi :

1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang komunikasi, informasi, dan edukasi kesehatan,


advokasi dan kemitraan, potensi sumber daya promosi kesehatan, dan pemberdayaan
masyarakat.
2. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang komunikasi, informasi, dan edukasi
kesehatan, advokasi dan kemitraan, potensi sumber daya promosi kesehatan, dan
pemberdayaan masyarakat.
3. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang komunikasi,
informasi, dan edukasi kesehatan, advokasi dan kemitraan, potensi sumber daya promosi
kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
4. Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang komunikasi, informasi,
dan edukasi kesehatan, advokasi dan kemitraan, potensi sumber daya promosi kesehatan,
dan pemberdayaan masyarakat.

25
5. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang komunikasi, informasi, dan edukasi
kesehatan, advokasi dan kemitraan, potensi sumber daya promosi kesehatan, dan
pemberdayaan masyarakat.
6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

2. Program dan Kegiatan

Program : Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya

Kegiatan : Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan.

Sasaran Strategis : Meningkatnya pelaksanaan pemberdayaan dan promosi kesehatan


kepada masyarakat.

3. Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Kegiatan

Adapun Definsi Operasional Indikator Kinerja Kegiatan adalah:

1. Jumlah Kebijakan Publik Berwawasan Kesehatan adalah jumlah kebijakan yang dibuat
7sektoral (K/L) berupa Peraturan Presiden/Peraturan Menteri/ Instruksi Menteri/Surat
Edaran Menteri/Surat Keputusan Bersama Menteri yang mendukung kesehatan
khususnya dalam upaya peningkatan perilaku sehat dan kemandirian masyarakat untuk
hidup sehat.
2. Jumlah tema pesan dalam komunikasi,informasi dan edukasi kepada masyarakat adalah
jumlah tema atau pesan kegiatan KIE yang dilakukan.
3. Persentase kabupaten dan kota yang membuat kebijakan yang mendukung PHBS
minimal 1 kebijakan baru per tahun (Kebijakan yang mendukung
kesehatan/PHBS/perilaku sehat adalah kebijakan dalam bentuk Peraturan Daerah,
Peraturan Bupati/Walikota, Instruksi Bupati/Walikota, Surat Keputusan Bupati/Walikota,
Surat Edaran/Himbauan Bupati/Walikota pada tahun tersebut)

Rencana Kinerja Tahunan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan


Tahun 2016 merupakan penjabaran dari upaya pencapaian indikator kinerja kegiatan yang
dapat terukur dan merupakan hasil yang akan dicapai dalam jangka waktu satu tahun
anggaran. Dengan dokumen Rencana Kinerja Tahunan ini diharapkan pelaksanaan kegiatan

26
Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan sesuai dengan rencana sehingga berjalan
efektif, efisien dan terukur.

27
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang Kesehatan merupakan dokumen perencanaan


yang bersifat indikatif memuat program-program pembangunan kesehatan yang akan
dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan dan menjadi acuan dalam penyusunan
perencanaan tahunan. Pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 adalah Program
Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui
melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan
finansial dan pemeratan pelayanan kesehatan.

Terdapat dua tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019, yaitu: 1) meningkatnya
status kesehatan masyarakat dan; 2) meningkatnya daya tanggap (responsiveness) dan
perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan. Selain itu,
terdapat 12 sasaran pokok pada sub bidang kesehatan tahun 2015-2019. Pada Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan juga terdapat kerangka regulasi, kelembagaan dan
pendanaan.

Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan 2015-2019 ini disusun untuk menjadi
acuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian upaya Kementerian Kesehatan dalam
kurun waktu lima tahun kedepan. Dengan demikian, Unit Utama dan Unit Kerja di lingkup
kementerian Kesehatan mempunyai target kinerja yang telah ditetapkan dan akan dievaluasi
pada pertengahan (2017) dan akhir periode 5 tahun (2019) sesuai ketentuan yang berlaku.

Rencana Kerja Tahunan (RKT) merupakan dokumen yang berisi informasi tentang tingkat
atau target kinerja berupa output dan atau outcome yang ingin diwujudkan oleh suatu
organisasi pada satu tahun tertentu. Rencana Kerja Tahunan (RKT) Direktorat Kesehatan
Keluarga Tahun 2016, merupakan gambaran kegiatan Direktorat Kesehatan Keluarga
dalam mencapai tujuan/sasaran strategisnya di Tahun 2016.

28
RKT bertujuan untuk menurunkan AKB dan AKI. Sasaran RKT ini yaitu meningkatnya akses dan
pelayanan kesehatan bayi, anak dan remaja serta kesehatan ibu dan reproduksi. Evaluasi terhadap
pelaksanaan RAK dilakukan minimal satu kali dalam satu tahun

Rencana Kinerja Tahunan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan


Tahun 2016 merupakan penjabaran dari upaya pencapaian indikator kinerja kegiatan yang
dapat terukur dan merupakan hasil yang akan dicapai dalam jangka waktu satu tahun
anggaran. Dengan dokumen Rencana Kinerja Tahunan ini diharapkan pelaksanaan
kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan sesuai dengan rencana
sehingga berjalan efektif, efisien dan terukur.
3.2. Saran

Diharapkan mahasiswa mampu memahami Rencana Pembangunan Jangka Menengah


Bidang Kesehatan dan Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan yang ada di Indonesia
untuk meningkatkan status kesehatan setiap individu dan kemudahan akses dalam
pelayanan kesehatan. Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis
menerima dengan tangan terbuka seluruh kritik dan saran yang sifatnya membangun dari
pembaca untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. Semoga makalah yang kami buat
dapat bermanfaat bagi pembaca.

29
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI. 2015. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.
Jakarta

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/badan Perencanaan Pembangunan Nasional.


2014. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Jakarta

Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan . Rencana Aksi Kegiatan 2015-2019. Jakarta

Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. 2016. Rencana Kinerja Tahunan
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Tahun 2016. Jakarta: Kementerian
Kesehatan R.I.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat. 2015. Rencana Kinerja Tahunan
(RKT) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2015. Jawa Barat: Bappeda Provinsi
Jawa Barat.

Direktorat Kesehatan Keluarga. 2016. Rencana Kerja Tahunan (RKT) Direktorat Kesehatan
Keluarga Tahun 2016. Jakarta: Kementerian Kesehatan R.I.

30

Anda mungkin juga menyukai