RPJMN dan Rencana Kesehatan 2018
RPJMN dan Rencana Kesehatan 2018
DOSEN :
Rafiah Maharani Pulungan, SKM, MKM
DISUSUN OLEH :
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “RPJMK, RTPK,
dan Perencanaan Kesehatan Tingkat Puskesmas”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas
mata kuliah Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Ibu Rafiah Maharani Pulungan, SKM, MKM
selaku dosem mata kuliah Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan dan orang tua kami yang telah
membantu baik moril maupun materi, serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar kami dapat memperbaiki
penyusunan makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
menginspirasi para pembaca.
Penyusun
i
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Pembangunan pada hakekatnya adalah upaya sistematis dan terencana oleh masing-
masing maupun seluruh komponen bangsa untuk mengubah suatu keadaan menjadi keadaan yang
lebih baik dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia secara optimal, efisien,
efektif dan akuntabel, dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan
masyarakat secara berkelanjutan. Bagi bangsa Indonesia, secara khusus tujuan pembangunan
nasional telah digariskan dalam Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945, yaitu untuk:
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan
umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
1
pendekatan: teknokratik, politik, partisipatif, atas-bawah (top-down), dan bawah-atas (bottom-
up). Pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 adalah Program Indonesia Sehat dengan
sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui melalui upaya
kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan
pemeratan pelayanan kesehatan.
Rencana Kerja Tahunan (RKT) merupakan dokumen yang berisi informasi tentang
tingkat atau target kinerja berupa output dan atau outcome yang ingin diwujudkan oleh suatu
organisasi pada satu tahun tertentu. RKT menuntut konsistensi antara pelaksanaan kegiatan
dengan proses dan ketentuan dalam Renja dan Renstra sehingga diperlukan kompetensi,
profesionalisme, dan disiplin pegawai dilingkungan Kementerian Kesehatan dalam
melaksanakan kegiatannya. Rencana Kinerja Tahunan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan
Promosi Kesehatan Tahun 2016 merupakan penjabaran dari upaya pencapaian indikator kinerja
kegiatan yang dapat terukur dan merupakan hasil yang akan dicapai dalam jangka waktu satu
tahun anggaran.
2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang
Kesehatan ?
2. Bagaimana Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang Kesehatan Indonesia ?
3. Apa yang dimaksud Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan ?
4. Bagaimana Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan Indonesia ?
1.3 Tujuan
1. Dapat mengetahui maksud Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang
Kesehatan
2. Dapat mengetahui bagaimana Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidang
Kesehatan Indonesia
3. Dapat mengetahui maksud Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan
4. Dapat mengetahui bagaimana Rencana Tahunan Pembangunan Kesehatan Indonesia
3
BAB II
PEMBAHASAN
4
1 Pilar paradigma sehat di lakukan dengan strategi pengarusutamaan
kesehatan dalam pembangunan, penguatan promotif preventif dan
pemberdayaan masyarakat
2 Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan
akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan dan peningkatan
mutu pelayanan kesehatan, menggunakan pendekatan continuum of care dan
intervensi berbasis risiko.
3 sementara itu jaminan kesehatan nasional dilakukan dengan strategi perluasan
sasaran dan benefit serta kendali mutu dan kendali biaya.
12 (2013) 9,5
5
No. Indikator Status Awal Target 2019
32,9 (2013) 28
15,3 40
7,2 5,4
- 40
6
No. Indikator Status Awal Target 2019
71,2 95
juta)
b. Unmet need pelayanan kesehatan
7 1
25.000 56.910
92 (2014) 94
8 Meningkatnya upaya peningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, serta meningkatnya
pembiayaan kegiatan promotif dan preventif
7
No. Indikator Status Awal Target 2019
10 Meningkatnya perlindungan finansial termasuk menurunnya pengeluaran katastropik akibat pelayanan kesehatan
1. Upaya Kesehatan
Kesehatan Ibu dan Anak. Angka Kematian Ibu sudah mengalami penurunan,
namun masih jauh dari target MDGs tahun 2015, meskipun jumlah persalinan
yang ditolong oleh tenaga kesehatan mengalami peningkatan.. Penyebab utama
kematian ibu yaitu hipertensi dalam kehamilan dan perdarahan post partum.
Potensi dan tantangan dalam penurunan kematian ibu dan anak adalah
jumlah tenaga kesehatan yang menangani kesehatan ibu khususnya bidan sudah
relatif tersebar ke seluruh wilayah Indonesia, namun kompetensi masih belum
memadai.
8
2. Usia Sekolah dan Remaja
Pelaksanaan UKS harus diwajibkan di setiap sekolah dan madrasah mulai dari
TK/RA sampai SMA/SMK/MA, mengingat UKS merupakan wadah untuk
mempromosikan masalah kesehatan. Peningkatan kuantitas dan kualitas Puskesmas
melaksanakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) yang menjangkau
remaja di sekolah dan di luar sekolah. Prioritas programUKS adalah perbaikan gizi
usia sekolah, kesehatan reproduksi dan deteksi dini penyakit tidak menular.
Penyakit akibat kerja dan terjadinya kecelakaan kerja juga meningkat. Jumlah
yang meninggal akibat kecelakaan kerja semakin meningkat hampir 10% selama 5
tahun terakhir. Proporsi kecelakaan kerja paling banyak terjadi pada umur 31-45
tahun. Prioritas untuk kesehatan usia kerja adalah mengembangkan pelayanan
kesehatan kerja primer dan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat
kerja, selain itu dikembangkan Pos Upaya Kesehatan Kerja sebagai salah satu bentuk
UKBM pada pekerja dan peningkatan kesehatan kelompok pekerja rentan seperti
Nelayan, TKI, dan pekerja perempuan.
4. Gizi Masyarakat
Seribu hari pertama kehidupan seorang anak adalah masa kritis yang menentukan
masa depannya, dan pada periode itu anak Indonesia menghadapi gangguan
pertumbuhan yang serius..
9
Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 tentang
Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Penyakit Menular. Untuk penyakit
menular, prioritas masih tertuju pada penyakit HIV/AIDS, tuberculosis, malaria,
demam berdarah, influenza dan flu burung.
Angka CFR AIDS juga menurun dari 13,65% pada tahun 2004 menjadi 0,85 %
pada tahun 2013. Penyakit Tidak Menular. Kecenderungan penyakit menular terus
meningkat dan telah mengancam sejak usia muda. Selama dua dekade terakhir
ini,telah terjadi transisi epidemiologis yang signifikan.
Penyakit tidak menular utama meliputi hipertensi, diabetes melitus, kanker dan
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Jumlah kematian akibat rokok terus
meningkat dari 41,75% pada tahun 1995 menjadi 59,7% di 2007. Selain itu dalam
survei ekonomi nasional 2006 disebutkan penduduk miskin menghabiskan 12,6%
penghasilannya untuk konsumsi rokok.
6. Kesehatan Jiwa
10
7. Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan
Dari sisi kesiapan pelayanan, data berdasarkan Rifaskes 2011 menunjukkan
bahwa pencapaiannya belum memuaskan. Jumlah admisi pasien RS per 10.000
penduduk baru mencapai 1,9%. Rata-rata Bed Occupancy Rate (BOR) RS baru 65%.
RS Kabupaten/ Kota yang mampu PONEK baru mencapai 25% dan kesiapan
pelayanan PONEK di RS pemerintah baru mencapai 86%. Kemampuan Rumah Sakit
dalam transfusi darah secara umum masih rendah (kesiapan rata-rata 55%), terutama
komponen kecukupan persediaan darah (41% RS Pemerintah dan 13% RS Swasta).
Di Puskesmas, kesiapan peralatan dasar memang cukup tinggi (84%), tetapi
kemampuan menegakkan diagnosis ternyata masih rendah (61%). Di antara
kemampuan menegakkan diagnosis yang rendah tersebut adalah tes kehamilan (47%),
tes glukosa urin (47%), dan tes glukosa darah (54%). Hanya 24% Puskesmas yang
mampu melaksanakan seluruh komponen diagnosis.
Reformasi sub bidang kesehatan dan gizi masyarakat terutama di fokuskan pada
penguatan upaya kesehatan dasar yang berkualitas terutama melalui peningkatan jaminan
kesehatan dan peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
didukung dengan penguatan sisten kesehatan dan peningkatan pembiayaan kesehatan.
arah kebijakan yang tertuang pada RPJMN 2015-2019 merujuk pada masalah, tantangan,
dan 12 sasaran pokok yang telah disebutkan di atas, yakni:
a. Peningkatan akses dan mutu continuum of care pelayanan ibu dan anak
yang meliputi kunjungan ibu hamil, dan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan terlatih di fasilitas kesehatan serta penurunan kasus kematian ibu
di rumah sakit
b. Peningkatan pelayanan kesehatan reproduksi pada remaja, penduduk usia
produktif dan lanjut usia
c. Penguatan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) dan Pelayanan Kesehatan
Kerja dan Olahraga
11
d. Peningkatan pelayanan kesehatan Peningkatan cakupan imunisasi tepat
waktu pada bayi dan balita
b. Peningkatan akses dan mutu paket pelayanan kesehatan dan gizi dengan fokus
utama pada 1.000 hari pertama kehidupan, remaja calon pengantin, dan ibu
hamil termasuk pemberian makanan tambahan terutama untuk keluarga
kelompok termiskin dan wilayah Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan
(DTPK);
d. Penguatan peran lintas sektor dalam rangka intervensi sensitif dan spesifik yang
didukung oleh peningkatan kapasitas pemerintah pusat, provinsi dan
kabupaten/kota dalam pelaksanaan rencana aksi pangan dan gizi.
12
c. Pengembangan kesehatan tradisional dan komplementer
d. Peningkatan daya saing industri farmasi dan alkes melalui pemenuhan standar
dan persyaratan
13
8. Meningkatkan ketersediaan, penyebaran, dan mutu sumber daya manusia
kesehatan
14
10. Menguatkan manajemen, penelitian dan pengembangan, dan sistem
informasi kesehatan
Agar pelaksanaan program dan kegiatan dapat berjalan dengan baik maka perlu didukung
dengan regulasi yang memadai. Perubahan dan penyusunan regulasi disesuaikan dengan
tantangan global, regional dan nasional. Kerangka regulasi diarahkan untuk: 1) penyediaan
regulasi dari turunan Undang-Undang yang terkait dengan kesehatan; 2) meningkatkan
pemerataan sumber daya manusia kesehatan; 3) pengendalian penyakit dan kesehatan
lingkungan; 4) peningkatan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berwawasasn
kesehatan; 5) penguatan kemandirian obat dan alkes; 6) penyelenggaraan jaminan kesehatan
nasional yang lebih bermutu; 7) penguatan peran pemerintah di era desentralisasi; dan 8)
peningkatan pembiayaan kesehatan. Kerangka regulasi yang akan disusun antara lain adalah
15
perumusan peraturan pemerintah, peraturan presiden, dan peraturan menteri yang terkait,
termasuk dalam rangka menciptakan sinkronisasi, integrasi penyelenggaraan pembangunan
kesehatan antara pusat dan daerah.
16
swasta dan masyarakat serta sumber dari tarif/pajak maupun cukai. Guna meningkatkan
efektifitas pendanaan pembangunan kesehatan maka perlu mengefektifkan peran dan
kewenangan Pusat-Daerah, sinergitas pelaksanaan pembangunan kesehatan Pusat-Daerah
dan pengelolaan DAK yang lebih tepat sasaran. Dalam upaya meningkatkan efektifitas
pembiayaan kesehatan maka pendanaan kesehatan diutamakan untuk peningkatan akses
dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin melalui program Jaminan
Kesehatan Nasional, penguatan kesehatan pada masyarakat yang tinggal di daerah
terpencil, kepulauan dan perbatasan, penguatan sub-sub sistem dalam Sistem Kesehatan
Nasional untuk mendukung upaya penurunan Angka Kematian Ibu, Bayi, Balita,
peningkatan gizi masyarakat dan pengendalian penyakit dan serta penyehatan lingkungan.
Untuk mendukung upaya kesehatan di daerah, Kementerian Kesehatan memberikan porsi
anggaran lebih besar bagi daerah melalui DAK, TP, Dekonsentrasi, Bansos dan kegiatan
lain yang diperuntukkan bagi daerah.
RKT merupakan dokumen yang berisi informasi tentang tingkat atau target kinerja
berupa output dan atau outcome yang ingin diwujudkan oleh suatu organisasi pada satu tahun
tertentu. RKT menuntut konsistensi antara pelaksanaan kegiatan dengan proses dan
ketentuan dalam Renja dan Renstra sehingga diperlukan kompetensi, profesionalisme, dan
disiplin pegawai dilingkungan Kementerian Kesehatan dalam melaksanakan kegiatannya.
Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan
Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, menyatakan bahwa dokumen RKT
adalah tolok ukur untuk mencapai akuntabilitas kinerja instansi, pertanggungjawaban
pencapaian visi, misi, dan tujuan dari Kementerian Kesehatan.
2.2.1 Rencana Kerja Tahunan (RKT) Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2016
Rencana Kerja Tahunan (RKT) Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2016, merupakan
gambaran kegiatan Direktorat Kesehatan Keluarga dalam mencapai tujuan/sasaran
strategisnya di Tahun 2016. Direktorat Kesehatan Keluarga sebagai salah satu unit esselon
17
2 di Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat dan merupakan bagian dari Kementerian
Kesehatan juga memiliki kewajiban untuk mencapai sasaran pembangunan kesehatan.
Penyusunan RKT 2016 ini sebagai sarana untuk mengkomunikasikan kegiatan yang akan
dilakukan oleh Direktorat Kesehatan Keluarga sesuai dengan tugas pokok dan fungsi
institusi sepanjang tahun 2016. RKT ini diharapkan akan bermanfaat dalam didalam
pengambilan kebijakan agar kebijakan yang muncul dapat tetap focus dan selaras dengan
pencapaian di akhir tahun 2016 dan sebagai bahan monitoring dan evaluasi kegiatan
Direktorat Kesehatan Keluarga tahun 2016.
1. Tujuan
1. Menurunnya angka kematian ibu dari 359 per 100.00 kelahiran hidup (SP 2010), 346
menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2012).
2. Menurunnya angka kematian bayi dari 32 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup.
Didalam mencapai tujuan tersebut telah ditetapkan strategi nasional dan arah kebijakan nasional
2015-2019 yang kemudian juga menjadi tujuan (bersifat outcome) bagi Direktorat Kesehatan
Keluarga yaitu :
1. Terjadinya Akselerasi Pemenuhan Akses Pelayanan Kesehatan Ibu, Anak, Remaja, dan
Lanjut Usia yang Berkualitas.
2. Sasaran
1. meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan bayi, anak dan remaja.
18
3. Indikator
Indikator pencapaian (diakhir tahun 2019) sasaran (indikator kinerja sasaran) diatas adalah :
7. Persentase ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali (K4)
sebesar 80%.
4. Kebijakan Operasional
Sejalan dengan hal diatas maka upaya Direktorat Kesehatan Keluarga di tahun 2016 adalah
meningkatkan akses pelayanan kesehatan yang bermutu bagi setiap orang pada setiap tahapan
kehidupan dengan pendekatan satu kesatuan pelayanan (continuum of care) melalui:
19
1. intervensi komprehensif (six building block),
3. paripurna,
5. fokus pada kelompok sasaran sesuai kelompok umur (life cycle), daerah populasi tinggi,
DTPK, jumlah kasus kematian ibu, bayi tertinggi, gizi buruk dan stunting
5. Strategi Operasional
1. Setiap Intervensi Promosi Kesehatan dalam siklus hidup, berdasarkan pada strategi
promosi kesehatan, yaitu :
20
5. Penetapan kebijakan untuk daerah secara berimbang melalui breakdown target
indikator secara berjenjang (nasional, provinsi, kabupaten/kota, Puskesmas)
9. Laporkan hasil kegiatan secara berkala dan tepat (tepat waktu, tepat sasaran, tepat
sesuai standar)
21
5. Sistem Informasi dan Surveilans Pembinaan Kesehatan Keluarga
7. Monitoring
2. E-Monev Bappenas.
8. Evaluasi
Evaluasi adalah upaya menilai kualitas program dan hasil-hasilnya secara berkala dengan
menggunakan pendekatan yang tepat. Evaluasi yang dilakukan Direktorat Kesehatan keluarga
adalah upaya untuk melihat hasil progress dari masing-masing program yang telah dijalankan
dengan mengunakan beberapa system dan pendekatan yang telah ditetapkan, sehingga
hasilnya dapat menjadi bahan perbandingan untuk pengambilan keputusan dalam rangka
kebijakan lebih Ianjut, Evaluasi terhadap pelaksanaan RAK dilakukan minimal satu kali
dalam satu tahun
22
2.2.2. Rencana Kinerja Tahunan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Dan Promosi
Kesehatan Tahun 2016
Sesuai dengan dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2016, prioritas
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Tahun 2016 difokuskan
pada :
23
Arah Kebijakan RKP tahun 2016 adalah Mempercepat Pembangunan
Infrastruktur Untuk Memperkuat Pondasi Pembangunan yang Berkualitas. Di sektor
kesehatan Pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat ditujukan untuk meningkatkan
derajat kesehatan dan gizi masyarakat pada seluruh siklus kehidupan baik pada tingkat
individu, keluarga, maupun masyarakat dalam mendukung pencapaian sasaran Nawa
Cita. Kartu Indonesia Sehat menjadi salah satu sarana utama dalam mendorong pelayanan
kesehatan yang optimal, termasuk penguatan upaya promotif dan preventif.
Akselerasi pemenuhan akses pelayanan kesehatan ibu, anak, remaja, dan lanjut
usia yang berkualitas melalui peningkatan akses dan mutu continuum of care,
seperti: Kunjungan ibu hamil, Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
terlatih di fasilitas kesehatan, Penurunan kasus kematian ibu, Peningkatan
cakupan imunisasi tepat waktu pada bayi dan balita, dan Peningkatan peran
upaya kesehatan berbasis masyarakat.
Percepatan perbaikan gizi masyarakat melalui peningkatan akses dan mutu paket
pelayanan kesehatan dan gizi, seperti : pemberian makanan tambahan,
peningkatan promosi perilaku masyarakat tentang kesehatan, gizi, sanitasi,
hygiene, dan pengasuhan, peningkatan peran masyarakat dalam perbaikan gizi
serta penguatan peran lintas sektor dalam rangka intervensi sensitif
Percepatan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan melalui
peningkatan surveilans epidemiologi faktor resiko dan penyakit, seperti:
peningkatan upaya preventif dan promotif termasuk pencegahan kasus baru
penyakit dalam pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular,
pelayanan kesehatan jiwa, Pengendalian dan promosi penurunan faktor risiko
penyakit tidak menular dan peningkatan kesehatan lingkungan dan akses
terhadap air minum dan sanitasi yang layak dan perilaku hygiene.
Pemantapan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Bidang
Kesehatan melalui peningkatan cakupan kepesertaan Kartu Indonesia Sehat,
seperti: peningkatan jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang menjadi penyedia
layanan, peningkatan pengelolaan jaminan kesehatan dalam bentuk
24
penyempurnaan dan koordinasi paket manfaat, insentif penyedia layanan,
pengendalian mutu dan biaya pelayanan, peningkatan akuntabilitas sistem
pembiayaan, pengembangan health technology assesment, serta penyempurnaan
sistem pembayaran;
Menguatkan akses pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang merata dan
berkualitas
Meningkatkan peran dan fungsi keluarga dalam pembangunan keluarga.
1. Urusan Wajib
25
5. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang komunikasi, informasi, dan edukasi
kesehatan, advokasi dan kemitraan, potensi sumber daya promosi kesehatan, dan
pemberdayaan masyarakat.
6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.
1. Jumlah Kebijakan Publik Berwawasan Kesehatan adalah jumlah kebijakan yang dibuat
7sektoral (K/L) berupa Peraturan Presiden/Peraturan Menteri/ Instruksi Menteri/Surat
Edaran Menteri/Surat Keputusan Bersama Menteri yang mendukung kesehatan
khususnya dalam upaya peningkatan perilaku sehat dan kemandirian masyarakat untuk
hidup sehat.
2. Jumlah tema pesan dalam komunikasi,informasi dan edukasi kepada masyarakat adalah
jumlah tema atau pesan kegiatan KIE yang dilakukan.
3. Persentase kabupaten dan kota yang membuat kebijakan yang mendukung PHBS
minimal 1 kebijakan baru per tahun (Kebijakan yang mendukung
kesehatan/PHBS/perilaku sehat adalah kebijakan dalam bentuk Peraturan Daerah,
Peraturan Bupati/Walikota, Instruksi Bupati/Walikota, Surat Keputusan Bupati/Walikota,
Surat Edaran/Himbauan Bupati/Walikota pada tahun tersebut)
26
Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan sesuai dengan rencana sehingga berjalan
efektif, efisien dan terukur.
27
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Terdapat dua tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019, yaitu: 1) meningkatnya
status kesehatan masyarakat dan; 2) meningkatnya daya tanggap (responsiveness) dan
perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan. Selain itu,
terdapat 12 sasaran pokok pada sub bidang kesehatan tahun 2015-2019. Pada Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan juga terdapat kerangka regulasi, kelembagaan dan
pendanaan.
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan 2015-2019 ini disusun untuk menjadi
acuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian upaya Kementerian Kesehatan dalam
kurun waktu lima tahun kedepan. Dengan demikian, Unit Utama dan Unit Kerja di lingkup
kementerian Kesehatan mempunyai target kinerja yang telah ditetapkan dan akan dievaluasi
pada pertengahan (2017) dan akhir periode 5 tahun (2019) sesuai ketentuan yang berlaku.
Rencana Kerja Tahunan (RKT) merupakan dokumen yang berisi informasi tentang tingkat
atau target kinerja berupa output dan atau outcome yang ingin diwujudkan oleh suatu
organisasi pada satu tahun tertentu. Rencana Kerja Tahunan (RKT) Direktorat Kesehatan
Keluarga Tahun 2016, merupakan gambaran kegiatan Direktorat Kesehatan Keluarga
dalam mencapai tujuan/sasaran strategisnya di Tahun 2016.
28
RKT bertujuan untuk menurunkan AKB dan AKI. Sasaran RKT ini yaitu meningkatnya akses dan
pelayanan kesehatan bayi, anak dan remaja serta kesehatan ibu dan reproduksi. Evaluasi terhadap
pelaksanaan RAK dilakukan minimal satu kali dalam satu tahun
29
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.
Jakarta
Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan . Rencana Aksi Kegiatan 2015-2019. Jakarta
Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. 2016. Rencana Kinerja Tahunan
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Tahun 2016. Jakarta: Kementerian
Kesehatan R.I.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat. 2015. Rencana Kinerja Tahunan
(RKT) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2015. Jawa Barat: Bappeda Provinsi
Jawa Barat.
Direktorat Kesehatan Keluarga. 2016. Rencana Kerja Tahunan (RKT) Direktorat Kesehatan
Keluarga Tahun 2016. Jakarta: Kementerian Kesehatan R.I.
30