Tutorial Klinik
Disusun Oleh :
Anindya Rachma Isnawan
42160030
Dosen Pembimbing :
dr. Arin Dwi Iswarini, Sp. THT-KL, [Link]
KEPANITERAAN KLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN
RUMAH SAKIT BETHESDA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2017
I. IDENTITAS
• Nama : An. NAA
• Tanggal lahir : 28/11/2010
• Umur : 6 tahun 5 bulan 4 hari
• Alamat : Bludiran PB I/137 RT.62/16, Yogyakarta
• Pendidikan : TK B
• Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal masuk RS : 4 Mei 2017
II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis dengan ibu kandung pada
hari Jumat 5 Mei 2017, pukul 07.30 WIB
a. Keluhan Utama
Sakit menelan dan Berat badan menurun.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Tiga bulan yang lalu pasien datang ke klinik dokter umum dengan keluhan batuk tidak
berdahak, dan pilek. Dokter umum memberikan obat batuk dan antibiotik kepada
pasien. Satu bulan berikutnya pasien datang lagi ke klinik dokter umum dengan keluhan
serupa. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata didapatkan bahwa amandel pasien
membesar. Dokter memberikan antibiotik serta menyarankan untuk berkonsultasi ke
dr. THT karena amandel membesar dan keluhan batuk dan pilek tidak sembuh sembuh.
Kemudian pasien datang ke poli THT didapatkan informasi bahwa pasien mengalami
penurunan nafsu makan dan berat badan. Pasien tidak mengalami nyeri di telinga,
hidung dan kepala, mendengkur (+), bau mulut (-), kesulitan bernafas (-), suara serak
(-).
2
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Asma : (-)
Kejang Demam : (+) Terakhir 2 bulan yang lalu
Gastritis : (-)
Alergi : (-)
Batuk dan pilek berulang : (+) sering terjadi terutama jika anak kelelahan
Penyakit jantung : (-)
Penyakit ginjal : (-)
Riwayat trauma kepala : (-)
Riwayat keluhan serupa : (+)
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien.
e. Riwayat Pengobatan
Riwayat Operasi : (-)
Riwayat Mondok : (-)
Riwayat Obat : - Amoxicilin 250 mg
- Paracetamol
f. Life style
Pola makan 3 kali sehari
Konsumsi buah dan sayur (+)
Konsumsi makanan MSG/penyedap rasa (+), gorengan (+), makanan/minuman
dingin (-)
Pola tidur 6-8 jam perhari
3
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
BB : 15 kg
Vital Sign
Nadi : 96 x/menit
Respirasi : 26 x/menit
Suhu : 36,8o C
STATUS GENERALIS
A. Kepala
Ukuran Kepala : Normocephali
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
injeksi konjungtiva (-/-), pupil isokor, reflek
cahaya (+/+), gerakan bola mata baik ke segala
arah.
Hidung : Deformitas (-), discharge (+), nyeri tekan (-),
krepitasi (-)
Mulut : Sianosis (-), kering (-), faring hiperemis (+)
Telinga : Edem (-/-), discharge (-/-), nyeri tekan mastoid
(-/-), kelainan anatomi (-/-), fistula preaurikula
(-/-), nyeri tekan auricular (-/-)
B. Leher
Pembesaran tiroid (-)
C. Thoraks
- Inspeksi : Bentuk dinding dada normal, ketinggalan gerak (-), retraksi (-)
- Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC 5, linea midcavicula sinistra, fremitus
dada kanan-kiri sama.
- Perkusi : sonor (+/+), kontur jantung dalam batas normal, kesan
kardiomegali (-),
4
- Auskultasi: suara napas vesikuler (+/+), rhonki -/-, wheezing -/-, suara jantung S1-
2 reguler tunggal, bising (-)
D. Abdomen
- Inspeksi: distensi abdomen (-), supel
- Auskultasi: BU(+)N, bising usus (-)
- Perkusi: Timpani seluruh lapang abdomen. Nyeri ketuk (-)
- Palpasi: Hepar tidak teraba. Lien tidak teraba. Nyeri tekan regio hipokondrium
kanan dan epigastrium.
E. Ekstremitas
Atas : akral teraba hangat, perabaan nadi teraba kuat, capillary
refill <2 detik
Bawah : akral teraba hangat
STATUS LOKALIS
Dekstra Sinistra
TELINGA
Auricula Deformitas (-), benjolan/massa (-), lesi Deformitas (-), benjolan/massa (-), lesi
kulit (-), edema (-), discharge yang kulit (-), edema (-), discharge yang
keluar (-), nyeri tekan tragus (-), fistula keluar (-), nyeri tekan tragus (-), fistula
pre aurikula (-), nyeri tekan auricular pre aurikula (-), nyeri tekan auricular (-
(-) )
Meatus Akustikus Edema (-), furunkel (-), serumen (+), Edema (-), furunkel (-), serumen (+),
Externus corpus alineum (-) corpus alineum (-)
Membran Timpani Membran timpani utuh, hiperemis (-), Membran timpani utuh, hiperemis (-),
sekret (-) retraksi (-), bulging (-), sekret (-), retraksi (-), bulging (-),
conus of light (+, jam 5) conus of light (+, jam 7)
Mastoid Edema (-), nyeri ketok (-) Edema (-), nyeri ketok (-)
5
Dextra Sinistra
HIDUNG
Dorsum Nasi Deformitas (-), krepitasi (-), jejas (-), nyeri tekan (-)
Cavum Nasi Discharge (+) Discharge (+)
Rhinoskopi Anterior
Vestibulum Nasi Discharge (-), edema (-), hiperemis (-)
Septum Nasi Deviasi septum (-), perforasi (-)
Edema (-), hiperemis (-), discharge
Edema (-), hiperemis (-), discharge (-)
Meatus Nasi Inferior (-)
Edema (-), hiperemis (-), hipertrofi Edema (-), hiperemis (-), hipertrofi (-)
Konka Inferior
(-)
Hiperemis (-), discharge (-), polip Hiperemis (-), discharge (-), polip (-)
Meatus Nasi Media
(-) dan telihat pucat , edema (-) dan terlihat pucat, edema (-)
Edema (-), hiperemis (-), hipertrofi
Konka Media
(-) Edema (-), hiperemis (-), hipertrofi (-)
Rhinoskopi Posterior : Tidak dilakukan
Fossa Rossenmuller
Torus Tubarius
Muara Tuba
Eustachius
Adenoid
Konka Superior
Choana
SINUS PARANASAL
Inspeksi Eritem (-), edema (-) Eritem (-), edema (-)
Perkusi Nyeri ketok (-) Nyeri ketok (-)
Transluminasi Tidak dilakukan
6
CAVUM ORIS-TONSIL-FARING
Bibir Bibir sianosis dan kering (-), stomatitis (-)
Mukosa Oral Stomatitis (-), warna merah muda
Gusi dan Gigi Warna merah muda, karies dentis (-), ulkus (-)
Lingua Simetris, atrofi papil (-), lidah kotor (-), ulserasi (-)
Atap mulut Ulkus (-)
Dasar Mulut Ulkus (-)
Uvula Tidak ada deviasi pada uvula, hiperemis (-)
Tonsila Palatina T3, tonsil hiperemis (+), detritus T3, tonsil hiperemis (+), detritus
(-), permukaan tidak rata, kripta (-), permukaan tidak rata, kripta
melebar melebar
Peritonsil Abses (-) Abses (-)
Faring Hiperemis (+), discharge (-)
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN SATUAN
Darah Rutin
Hemoglobin 12,3 10,2 – 15,2 g/dl
Leukosit 5,01 5 - 17 Ribu/mm3
Neutrofil Segmen 30,1 L 32 - 52 %
Limfosit% 61,9 H 23 – 53 %
Eosinofil% 2,6 2-4 %
Monosit % 5 2 - 11 %
Eritrosit 5,23 4 – 5,30 Juta/mm3
Hematokrit 37,1 35 – 49 %
Trombosit 480 H 150-450 Ribu/m3
IgE total 292,62 H 0 -100 Kiu/L
7
MSCT SPN
KESAN:
Tampak sinusitis
maxillaris terutama
dextra
V. DIAGNOSIS KERJA
Tonsilofaringitis kronik, Rhinosinusitis moderate-severe os maxilaris dextra
VI. PENATALAKSANAAN
a. Farmakologi
Antibiotika : Amoxicilin 2x 250 mg selama 7-10 hari
Antiinflamasi : Ibuprofen syrup 100mg/5ml (3x1)
b. Non Farmakologi
Tirah baring
c. Operatif
Tonsilektomi
Pemeriksaan PA jaringan tonsila palatina yang diambil.
8
VII. EDUKASI
Post operasi: Melakukan diet bertahap dimana jenis makanan disesuaikan
hari pertama opearasi pasien dianjurkan untuk hanya memakan air es, es teh, es krim
dan tidur miring.
Selanjutnya hari 2 sampai 4 bubur jenang, sumsum, es agar-agar, bubur encer,
hari ke 5 sampai 7 nasi lembek, sop, telur, daging cacah, bubur kental.i berikutnya
dianjurkan untuk makana lumat seperti bubur sum-sum.
Lapor bila terjadi perdarahan.
Istirahat total untuk proses pemulihan yang lebih optimal.
Tetap menjaga higienitas rongga mulut termasuk kebersihan lidah dan gigi
IX. PROGNOSIS
Ad Vitam : ad bonam
Ad Fungsionam : ad bonam
Ad Sanationam : ad bonam
9
TINJAUAN PUSTAKA
I. ANATOMI TONSIL
Tonsil merupakan suatu akumulasi dari limfonoduli permanen yang letaknya di bawah
epitel yang telah terorganisir sebagai suatu organ. Berdasarkan lokasinya, tonsil dibagi
menjadi :
1. Tonsilla lingualis, terletak pada radix linguae. Tonsil lingual terletak di dasar lidah
dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah
anterior massa ini terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk
oleh papilla sirkumvalata.
2. Tonsilla palatina (tonsil), terletak pada isthmus faucium antara arcus glossopalatinus
dsan arcus glossopharingicus. ). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm,
masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan
tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong
diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring,
dibatasi oleh :
Lateral – muskulus konstriktor faring superior
Anterior – muskulus palatoglosus
Posterior – muskulus palatofaringeus
Superior – palatum mole
Inferior – tonsil lingual
10
Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi
invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat
dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat
retikular dan jaringan limfatik difus.
3. Tonsilla pharingica (adenoid), terletak pada dinding dorsal dari nasofaring.
Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi
invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat
dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat
retikular dan jaringan limfatik difus.
4. Fosa Tonsil
Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot
palatoglosus, batas posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau
dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior. Berlawanan dengan dinding
otot yang tipis ini, pada bagian luar dinding faring terdapat nervus ke IX yaitu nervus
glosofaringeal.
Dari keempat macam tonsil tersebut, tonsilla lingualis, tonsilla palatina dan tonsilla pharingica
membentuk cincin yang dikenal dengan nama cincin Waldeyer. Dalam pengertian sehari-hari
yang dimaksud dengan tonsil adalah tonsila palatina, sedang tonsila faringeal lebih dikenal
sebagai adenoid.
Gambar 1. Gambaran Tonsil dalam Cincin Waldeyer
11
II. PERDARAHAN
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang A. karotis eksterna, yaitu :3,4
1. A. Maksilaris eksterna (A. fasialis) dengan cabangnya A. tonsilaris dan A. Palatina
asenden.
2. A. Maksilaris interna dengan cabangnya A. palatina desenden.
3. A. Lingualis dengan cabangnya A. lingualis dorsal.
4. A. Faringeal asenden.
Tonsil mendapat vaskularisasi dari cabang-cabang a. karotis eksterna yaitu: a. maksilaris
eksterna (a. fasialis) yang mempunyai cabang a. tonsilaris dan a. palatina asenden, a. maksilaris
interna dengan cabangnya yaitu [Link] desenden, a. lingualis dengan cabangnya yaitu a.
lingualis dorsal dan a. faringeal asenden. a. tonsilaris berjalan ke atas di bagian luar m. konstriktor
superior dan memberikan cabang untuk tonsil dan palatum mole. Arteri palatina asenden, mengirim
cabang-cabangnya melalui m. konstriktor posterior menuju tonsil. Arteri faringeal asenden juga
memberikan cabangnya ke tonsil melalui bagian luar m. konstriktor superior. Arteri lingualis dorsal
naik ke pangkal lidah dan mengirim cabangnya ke tonsil, plika anterior dan plika posterior. Arteri
palatina desenden atau a. palatina posterior atau lesser palatina artery member vaskularisasi tonsil
dan palatum mole dari atas dan membentuk anastomosis dengan a. palatina asenden. vena-vena
dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring
12
III. ALIRAN GETAH BENING
Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal
profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah M. Sternokleidomastoideus,
selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya
mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak
ada.5
IV. PERSARAFAN
Tonsil bagian atas mendapat sensasi dari serabut saraf ke V melalui ganglion sfenopalatina
dan bagian bawah dari saraf glosofaringeus.5
V. FISIOLOGI DAN IMUNOLOGI TONSIL
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2% dari
keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah
50%:50%, sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks
yang terdiri atas sel M (sel membran), makrofag, sel dendrit dan APCs (antigen presenting
cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi
sintesis imunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel
pembawa IgG.
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan
proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu:
1. Menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif;
2. Sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen
spesifik.
VI. KLASIFIKASI TONSILITIS6
1. Tonsillitis akut
Dibagi lagi menjadi 2, yaitu :
a. Tonsilitis viral
Ini lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab
paling tersering adalah virus Epstein Barr.
13
b. Tonsilitis Bakterial
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A stereptococcus beta
hemoliticus yang dikenal sebagai strept throat, pneumococcus, streptococcus
viridian dan streptococcus piogenes. Detritus merupakan kumpulan leukosit,
bakteri yang mulai mati.
2. Tonsilitis membranosa
a. Tonsilitis Difteri
Penyebabnya yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae, kuman yang
termasuk Gram positif dan hidung di saluran napas bagian atas yaitu hidung,
faring dan laring.
b. Tonsilitis Septik
Penyebab streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga
menimbulkan epidemi. Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan
cara pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan.
c. Angina Plout Vincent
Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang
didapatkan pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi
vitamin C. Gejala berupademam sampai 39° C, nyeri kepala , badan lemah dan
kadang gangguan pecernaan.
d. Penyakit Kelainan Darah
- Leukemia akut
- Angina agranulositosis
- Infeksi mononucleosis
3. Tonsilitis kronik
` Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronis ialah rangsangan yang menahun dari
rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca
kelemahan fisik dan pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat kuman penyebabnya
sama dengan tonsilitis akut tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi
kumangolongan gram negatif.
14
VII. TONSILITIS AKUT
A. DEFINISI
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer. Penyebaran infeksi melalui udara (air bone droplets), tangan dan ciuman.
Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak. Tonsilitis akut adalah peradangan
pada tonsil yang masih bersifat ringan.
B. ETIOLOGI
Penyebab tonsilitis bermacam – macam, diantaranya adalah yang tersebut dibawah ini
yaitu :
• Streptokokus beta hemolitikus
• Streptokokus viridans
• Streptokokus piogenes
• Virus influenza
Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah ( droplet infections )
C. PATOFISIOLOGI
Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas akan
menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem
limfa ke tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya
proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar
masuknya udara. Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring
serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga
menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta
otalgia.1
D. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala tonsilitis akut adalah :
• nyeri tenggorok
• nyeri telan
• sulit menelan
• faring hiperemis
15
• edema faring
• pembesaran tonsil
• tonsil hiperemia
• mulut berbau
• otalgia ( sakit di telinga )
• malaise
• demam
• mual, anoreksia
• kelenjar limfa leher membengkak
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilitis
akut adalah pemeriksaan laboratorium meliputi :
• Leukosit : terjadi peningkatan
• Hemoglobin : terjadi penurunan
• Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat
F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat muncul bila tonsilitis akut tidak tertangani dengan baik adalah:
1. tonsilitis kronis
2. otitis media
G. PENATALAKSANAAN
- Tonsilitis viral: istirahat, minum cukup, analgetika dan antivirus diberikan bila
gejala berat.
- Tonsilitis bakterial: antibiotika spektrum luas penisilin, eritromisin; antipiretik dan
obat kumur yang mengandung desinfektan.
16
VIII. TONSILITIS KRONIS
A. DEFINISI
Tonsilitis kronis adalah peradangan kronis tonsila palatina lebih dari 3 bulan, setelah
serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis. Terjadinya perubahan
histologi pada tonsil, dan terdapatnya jaringan fibrotik yang menyelimuti mikroabses
dan dikelilingi oleh zona sel-sel radang.2
Mikroabses pada tonsilitis kronik menyebabkan tonsil dapat menjadi fokal infeksi bagi
organ-organ lain, seperti sendi, ginjal, jantung dan [Link] infeksi adalah sumber
bakteri / kuman di dalam tubuh dimana kuman atau produkproduknya dapat menyebar
jauh ke tempat lain dalam tubuh itu dan dapat menimbulkan penyakit. Kelainan ini
hanya menimbulkan gejala ringan atau bahkan tidak ada gejala sama sekali, tetapi akan
menyebabkan reaksi atau gangguan fungsi pada organ lain yang jauh dari sumber
infeksi.7
Tonsilitis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak jarang
tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang tonsil diluar serangan terlihat membesar disertai
dengan hiperemi rigan yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan keluar
detritus.6
B. ETIOLOGI
Tonsilitis kronik yang terjadi pada anak mungkin disebabkan oleh karena sering
menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) atau karena tonsilitis akut yang tidak
diobati dengan tepat atau dibiarkan saja. Tonsilitis kronik disebabkan oleh bakteri yang
sama yang terdapat pada tonsilitis akut, dan yang paling sering adalah bakteri gram
positif. Dari hasil penelitian Suyitno dan Sadeli (1995) : Streptokokus alfa merupakan
penyebab tersering dan diikuti Stafilokokus aureus, Streptokokus beta hemolitikus grup
A, Stafilokokus epidermis dan kuman gram negatif yaitu enterobakter, Pseudomonas
aeruginosa, Klebsiella dan E. coli yang didapat ketika dilakukan kultur apusan
tenggorok.1
17
C. FAKTOR PREDISPOSISI
Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis, yaitu :1
• Rangsangan kronis (rokok, makanan)
• Higiene mulut yang buruk
• Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah- ubah)
• Alergi (iritasi kronis dari allergen)
• Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik)
• Pengobatan Tonsilitis Akut yang tidak adekuat
D. PATOFISIOLOGI
Fungsi tonsil adalah sebagai pertahanan terhadap masuknya kuman ke tubuh baik
melalui hidung atau mulut. Kuman yang masuk disitu akan dihancurkan oleh makrofag
yang merupakan sel-sel polimorfonuklear. Jika tonsil berulang kali terkena infeksi
akibat dari penjagaan higiene mulut yang tidak memadai serta adanya faktor-faktor
lain, maka pada suatu waktu tonsil tidak bisa membunuh kuman-kuman semuanya,
akibat kuman yang bersarang di tonsil dan akan menimbulkan peradangan tonsil yang
kronik. Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil berubah menjadi
sarang infeksi atau fokal infeksi.4
Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripta tonsil. Karena proses radang
berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses
penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan
mengerut sehingga kripta akan melebar. Secara klinis kripta ini akan tampak diisi oleh
Detritus (akumulasi epitel yang mati, sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi
kripta berupa eksudat berwarna kekuning kuningan). Proses ini meluas hingga
menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fossa
tonsilaris. Sewaktu-waktu kuman bisa menyebar ke seluruh tubuh misalnya pada
keadaan imun yang menurun. 1 Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripti tonsil.
Karena proses radang berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga
pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut. Jaringan ini akan
mengerut sehingga kripti akan melebar, ruang antara kelompok melebar yang akan diisi oleh
detritus (akumulasi epitel yang mati, sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripte
18
berupa eksudat berwarna kekuning-kuningan). Proses ini meluas hingga menembus kapsul dan
akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak-anak proses ini
disertai dengan pembesaran kelenjar submandibula.
19
E. MANIFESTASI KLINIS
Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang
berulang ulang, adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus pada tenggorokan
(odinofagi), nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan
bila menelan, terasa kering dan pernafasan berbau.1
Tonsila akan memperlihatkan berbagai derajat hipertrofi dan dapat bertemu di garis
tengah. Nafas penderita bersifat ofensif dan kalau terdapat hipertrofi yang hebat,
mungkin terdapat obstruksi yang cukup besar pada saluran pernafasan bagian atas
yang dapat menyebabkan hipertensi pulmonal.
F. PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan pada tonsil akan didapati tonsil hipertrofi, tetapi kadang-kadang
atrofi, hiperemi dan odema yang tidak jelas. Didapatkan detritus atau detritus baru
tampak jika tonsil ditekan dengan spatula lidah. Kelenjar leher dapat membesar tetapi
tidak terdapat nyeri tekan. Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan
jaringan parut. Sebagian kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat
diperlihatkan dari kripta-kripta tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan
suatu bahan seperti keju atau dempul amat banyak terlihat pada kripta. 1,2.
Ukuran tonsil pada tonsilitis kronik dapat membesar (hipertrofi) atau atrofi.
Pembesaran tonsil dapat dinyatakan dalam ukuran T1 – T4. Cody& Thane (1993)
membagi pembesarantonsil dalam ukuran berikut :
T1 = batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior
uvula
T2 = batas medial tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai ½ jarak
pilar anterior-uvula
T3 = batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak
pilar anterior- uvula
20
T4 = batas medial tonsil melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula atau lebih.
Pada anak, tonsil yang hipertrofi dapat terjadi obstruksi saluran nafas atas yang dapat
menyebabkan hipoventilasi alveoli yang selanjutnya dapat terjadi hiperkapnia dan dapat
menyebabkan kor polmunale. Gejala klinis sleep obstructive apnea lebih sering ditemui pada
anak – anak
21
H. DIAGNOSIS BANDING
Terdapat beberapa diagnosa banding dari tonsilitis kronis adalah sebagai berikut :1,2,5
1. Penyakit-penyakit dengan pembentukan Pseudomembran atau adanya membran semu
yang menutupi tonsil (Tonsilitis Membranosa)
a. Tonsilitis Difteri
Disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua orang yang
terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin
dalam darah. Titer antitoksin sebesar 0,03 sat/cc darah dapat dianggap cukup
memberikan dasar imunitas. Gejalanya terbagi menjadi tiga golongan besar,
umum, lokal dan gejala akibat eksotoksin. Gejala umum sama seperti gejala
infeksi lain, yaitu demam subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan
lemah, nadi lambat dan keluhan nyeri menelan. Gejala lokal yang tampak berupa
tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang
makin lama makin meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat
pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Gejala akibat
eksotoksin dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh, misalnya pada jantung
dapat terjadi miokarditis sampai dekompensasi kordis, pada saraf kranial dapat
menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot pernafasan dan pada ginjal
dapat menimbulkan albuminuria.
b. Angina Plaut Vincent (Stomatitis Ulseromembranosa)
Gejala yang timbul adalah demam tinggi (39˚C), nyeri di mulut, gigi dan kepala,
sakit tenggorok, badan lemah, gusi mudah berdarah dan hipersalivasi. Pada
pemeriksaan tampak membran putih keabuan di tonsil, uvula, dinding faring,
gusi dan prosesus alveolaris. Mukosa mulut dan faring hiperemis. Mulut yang
berbau (foetor ex ore) dan kelenjar submandibula membesar.
c. Mononukleosis Infeksiosa
Terjadi tonsilofaringitis ulseromembranosa bilateral. Membran semu yang
menutup ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan, terdapat pembesaran
kelenjar limfe leher, ketiak dan regio inguinal. Gambaran darah khas, yaitu
terdapat leukositt mononukleosis dalam jumlah besar. Tanda khas yang lain
22
adalah kesanggupan serum pasien untuk beraglutinasi terhadap sel darah merah
domba (Reaksi Paul Bunnel).
2. Penyakit Kronik Faring Granulomatus
a. Faringitis Tuberkulosis
Merupakan proses sekunder dari TBC paru. Keadaan umum pasien adalah
buruk karena anoreksi dan odinofagi. Pasien juga mengeluh nyeri hebat di
tenggorok, nyeri di telinga (otalgia) dan pembesaran kelenjar limfa leher.
b. Faringitis Luetika
Gambaran klinis tergantung dari stadium penyakit primer, sekunder atau
tersier. Pada penyakit ini dapat terjadi ulserasi superfisial yang sembuh disertai
pembentukan jaringan ikat. Sekuele dari gumma bisa mengakibatkan perforasi
palatum mole dan pilar tonsil.
c. Lepra (Lues)
Penyakit ini dapat menimbulkan nodul atau ulserasi pada faring kemudian
menyembuh dan disertai dengan kehilangan jaringan yang luas dan timbulnya
jaringan ikat.
d. Aktinomikosis Faring
Terjadi akibat pembengkakan mukosa yang tidak luas, tidak nyeri, bisa
mengalami ulseasi dan proses supuratif. Blastomikosis dapat mengakibatkan
ulserasi faring yang ireguler, superfisial, dengan dasar jaringan granulasi yang
lunak. Penyakit-penyakit diatas umumnya memiliki keluhan berhubungan
dengan nyeri tenggorokan (odinofagi) dan kesulitan menelan (disfagi).
Diagnosa pasti berdasarkan pada pemeriksaan serologi, hapusan jaringan atau
kultur, foto X-ray dan biopsi jaringan.
I. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Tonsilitis yang disebabkan oleh virus harus ditangani secara simptomatik. Obat
kumur, analgetik, dan antipiretik biasanya dapat membantu. Gejala-gejala yang timbul
biasanya akan hilang sendiri. Tonsilitis yang disebabkan oleh streptokokus perlu diobati
23
dengan penisilin V secara oral, cefalosporin, makrolid, klindamicin, atau injeksi secara
intramuskular penisilin benzatin G. Terapi yang menggunakan penisilin mungkin gagal (6-
1,2,3
23%), oleh karena itu penggunaan antibiotik tambahan mungkin akan berguna.
Pengobatan tonsilitis kronis dengan menggunakan antibiotik oral perlu diberikan selama
sekurangnya 10 hari. Penatalaksanaan tonsilitis kronis dapat diatasi dengan menjaga
higiene mulut yang baik, obat kumur, dan tonsilektomi jika terapi konservatif tidak
memberikan hasil Operatif
Tonsilektomi merupakan tindakan pembedahan yang paling sering dilakukan pada
pasien dengan tonsilitis kronik, yaitu berupa tindakan pengangkatan jaringan tonsila
palatina dari fossa tonsilaris. Tetapi tonsilektomi dapat menimbulkan berbagai masalah dan
berisiko menimbulkan komplikasi seperti perdarahan, syok, nyeri pasca tonsilektomi,
maupun infeksi.2
Indikasi Tonsilektomi
Menurut The American Academy of Otolaryngology- Head and Neck Surgery (AAO-
HNS) tahun 2011 indikasi tonsilektomi terbagi menjadi :
1. Indikasi absolute
• Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas, odinofagia berat,
atau terdapat komplikasi kardiopulmonal.
• Abses peritonsilar yang tidak respon terhadap pengobatan medik dan drainase,
kecuali jika dilakukan fase akut.
• Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam.
• Tonsil yang akan dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi.
2. Indikasi relatif
• Terjadi 3 kali atau lebih infeksi tonsil pertahun, meskipun tidak diberikan pengobatan
medik yang adekuat.
• Halitosis akibat tonsillitis kronik yang tidak ada respon terhadap pengobatan medik.
• Tonsilitis kronik atau berulang pada pembawa streptokokus yang tidak membaik
dengan pemberian antibiotik kuman resisten terhadap β-laktamase.
3. Kontraindikasi
• Riwayat penyakit perdarahan
• Risiko anestesi yang buruk atau riwayat penyakit yang tidak terkontrol
24
• Anemia
• Infeksi akut
Teknik Operasi Tonsilektomi
Teknik operasi yang optimal dengan morbiditas yang rendah sampai sekarang masih
menjadi kontroversi, masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan.
Penyembuhan luka pada tonsilektomi terjadi per sekundam. Jenis pemilihan yaitu jenis
teknik operasi difokuskan pada morbiditas seperti nyeri, perdarahan pre operatif dan
pasca operatif serta durasi operasi. Di Indonesia teknik tonsilektomi yang terbanyak
digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan diseksi.
1. Guillotine
Tonsilektomi guillotine dipakai untuk mengangkat tonsil secara cepat dan praktis.
Tonsil dijepit kemudian pisau guillotine digunakan untuk melepas tonsil beserta
kapsul
tonsil dari fosa tonsil. Sering terdapat sisa dari tonsil karena tidak seluruhnya
terangkat
atau timbul perdarahan yang hebat.
2. Teknik Diseksi
Kebanyakan tonsilektomi saat ini dilakukan dengan metode diseksi. Metode
pengangkatan tonsil dengan menggunakan skapel dan dilakukan dalam
[Link] digenggam dengan menggunakan klem tonsil dan ditarik kearah
medial, sehingga menyebabkan tonsil menjadi tegang. Dengan menggunakan sickle
knife dilakukan pemotongan mukosa dari pilar tersebut.
3. Teknik elektrokauter
Teknik ini memakai metode membakar seluruh jaringan tonsil disertai kauterisasi
untuk mengontrol perdarahan. Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi
elektromagnetik untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio yang
digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0,1 hingga 4 Mhz.
Penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan konduksi
saraf atau jantung.
25
4. Radio frekuensi
Pada teknik ini radiofrekuensi elektroda disisipkan langsung kejaringan. Densitas
baru disekitar ujung elektroda cukup tinggi untuk membuka kerusakan bagian
jaringan melalui pembentukan [Link] periode 4-6 minggu, daerah jaringan
yang rusak mengecil dan total volume jaringan berkurang.
5. Skapel harmonik
Skapel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan
mengkoagulasi jaringan dengan kerusakan jaringan minimal.
6. Teknik Coblation
Coblation atau cold ablation merupakan suatu modalitas yang unik karena dapat
memanfaatkan plasma atau molekul sodium yang terionisasi untuk mengikis
jaringan. Mekanisme kerja dari coblation ini adalah menggunakan energi dari
radiofrekuensi bipolar untuk mengubah sodium sebagai media perantara yang akan
membentuk kelompok plasma dan terkumpul disekitar elektroda. Kelompok plasma
tersebut akan mengandung suatu partikel yang terionisasi dan kandungan plasma
dengan partikel yang terionisasi yang akan memecah ikatan molekul jaringan tonsil.
Selain memecah ikatan molekuler pada jaringan juga menyebabkan disintegrasi
molekul pada suhu rendah yaitu 40-70%, sehingga dapat meminimalkan kerusakan
jaringan sekitar.
7. Intracapsular partial tonsillectomy
Intracapsular tonsilektomi merupakan tonsilektomi parsial yang dilakukan dengan
menggunakan mikrodebrider endoskopi. Mikrodebrider endoskopi bukan merupakan
peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi, namun tidak ada alat lain yang dapat
menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil tanpa
melukai kapsulnya.
8. Laser (CO2-KTP)
Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2 atau KTP (Potassium Titanyl
Phosphat) untuk menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil. Teknik ini
mengurangi volume tonsil dan menghilangkan recesses pada tonsil yang
menyebabkan infeksi kronik dan rekuren.
26
J. KOMPLIKASI
Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar
atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. Adapun berbagai
komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut :1,2,7
Komplikasi ke sekitar tonsil (perkontinuitatum)
a. Peritonsilitis. Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya
trismus dan abses.
b. Abses Peritonsilar (Quinsy)
Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi berasal
dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil
dan penjalaran dari infeksi gigi.
c. Abses Parafaringeal
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening atau
pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus paranasal, adenoid,
kelenjar limfe faringeal, os mastoid dan os petrosus.
d. Abses Retrofaring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi pada anak
usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe.
e. Krista Tonsil
Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan fibrosa dan
ini menimbulkan krista berupa tonjolan pada tonsil berwarna putih dan berupa
cekungan, biasanya kecil dan multipel.
f. Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil)
Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan tonsil yang
membentuk bahan keras seperti kapur.
Komplikasi Organ jauh:
a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik
b. Glomerulonefritis
c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis
d. Psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura
e. Artritis dan fibrositis
27
K. PROGNOSIS
Tonsilitis biasanya sembuh beberapa hari dengan beristrirahat dan pengobatan
[Link] gejala – gejala yang timbul dapat membuat penderita lebh
[Link] antibiotik di berikan untuk mengatasi infeksi,antibiotik harus di
konsumsi,bahkan walaupun penderita telah mengalami perbaikandalam waktu
[Link] yang tetap ada dapat menjadi indikasi bahwa penderita mengala infeksi
saluran nafas lain,seperti infeksi telinga dan sinuspada kasus yang serrius tonsilitis
dapat menyebabkan demam rematik dan pnemonie.
L. KESIMPULAN
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil
pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan
pilar posterior (otot palatofaringeus). Bagian tonsil antara lain: fosa tonsil, kapsul
tonsil, plika triangularis. Tonsil berfungsi sebagai filter/penyaring organisme yang
berbahaya. Bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau virus
tersebut maka akan timbul tonsilitis.
Tonsilitis adalah suatu proses inflamasi atau peradangan pada tonsil yang disebabkan
oleh virus ataupun bakteri. Tonsilitis kronis adalah peradangan kronis tonsil lebih dari
3 bulan, setelah serangan akut yang terjadi berulang-ulang. Pada umumnya penderita
sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang berulang ulang, adanya rasa
sakit (nyeri) yang terus-menerus pada tenggorokan (odinofagi), nyeri waktu menelan
atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan, terasa kering dan
pernafasan berbau. Pada pemeriksaan fisik tampak tonsil membesar dengan adanya
hipertrofi dan jaringan parut, permukaan tonsil tidak rata, kriptus melebar dan
beberapa kripti terisi oleh [Link] pada tonsilitis kronis, berupa terapi lokal,
ditujukan pada higiene mulut dengan menggunakan obat kumur. Dapat juga dilakukan
tindakan operasi tonsilektomi sesuai dengan indikasinya.30
28
DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardi.E.A,et all. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher. 6thed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. pg:212-25.
2. Adams.G.L, Boies.L.R, Higler. P.A. Boies Buku Ajar Penyakit THT. 6thed. Penyakit-
penyakit Nasofaring dan Orofaring. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1997. pg:
330-44.
3. Caparas.M.B, Lim.M.G. Basic Otolaryngology. Publication of comittee of the college
of Medicine: University of the Philippines. 1998. pg: 149-59.
4. Robertson, J.S. 2004. Journal of Tonsilitis. Available at: [Link]
Accessed on: April 2012.
5. Ramsey, D.D. 2003.. Tonsilitis. Available at: [Link] Accesed on:
April 2012
6. Lee, K.J. MD. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 2003. McGraw-Hill.
7. Jackson C. Disease of the nose, throat and ear. 2 nded. Philadelphia: WB Sunders Co. 1959. pg:
239-59. 31
29