0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan40 halaman

Proses Produksi Unit Utilitas PT PIM

Dokumen tersebut membahas proses produksi di PT. Pupuk Iskandar Muda yang terdiri dari dua pabrik dengan tiga unit masing-masing: unit utilitas, unit amonia, dan unit urea. Unit utilitas mendukung kebutuhan operasional pabrik dengan menyediakan air, uap, dan listrik. Dokumen lebih spesifik menjelaskan proses di area water intake dan pengolahan air yang menyediakan air baku untuk pabrik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan40 halaman

Proses Produksi Unit Utilitas PT PIM

Dokumen tersebut membahas proses produksi di PT. Pupuk Iskandar Muda yang terdiri dari dua pabrik dengan tiga unit masing-masing: unit utilitas, unit amonia, dan unit urea. Unit utilitas mendukung kebutuhan operasional pabrik dengan menyediakan air, uap, dan listrik. Dokumen lebih spesifik menjelaskan proses di area water intake dan pengolahan air yang menyediakan air baku untuk pabrik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

URAIAN PROSES PRODUKSI

PT. Pupuk Iskandar Muda (PT. PIM) yang beroperasi saat ini mempunyai
dua pabrik, masing-masing mempunyai tiga unit, yaitu :
1. Unit Utilitas,
2. Unit Ammonia,
3. Unit Urea.

2.1 Unit Utilitas


Unit utilitas merupakan sarana penunjang yang menyediakan kebutuhan
operasional pabrik, khususnya yang berkaitan dengan penyediaan bahan baku dan
bahan pembantu lainnya. Unit utilitas bukan merupakan unit proses utama yang
mengubah bahan baku mentah menjadi produk, namun unit yang mendukungnya.
Unit utilitas pabrik PIM-2 tidak berbeda jauh dari utilitas PIM-1.
Perbedaannya terletak pada kapasitas produksinya. Unit utilitas menyediakan air
(air filter, air minum, air demineralisasi), steam (steam jenuh, steam lewat jenuh,
steam bertekanan), dan listrik. Masukan utama unit utilitas adalah air dan bahan
bakar. Bahan bakar tersebut dapat berupa gas alam, minyak bumi, batu bara, dan
lainnya. Sedangkan air biasanya diambil dari air sungai, danau, atau air laut. Di
PT. PIM unit utilitas meliputi:
a. Area Water Intake,
b. Area Pembangkit Steam,
c. Area Pembangkit Listrik,
d. Area Instrumentasi / Plant air,
e. Area Air Separation Plant,
f. Area Gas Matering Station,
g. Area Pengolahan CO2 dengan Dry Ice,
h. Area Pengolahan Air Buangan.
Keterkaitan antara unit utility dengan unit ammonia dan urea ditampilkan pada
Gambar 2.1.

11
12

IA & PA
N
2 UNIT
UAP AIR AMMONIA
LISTRIK
PW & FW

GAS BUMI

UNIT CO
2 NH
3
UTILITY

AIR BAKU

PW & FW
LISTRIK UNIT
UAP AIR UREA
N
2
IA & PA

UREA (NH CONH )


2 2

Gambar 2.1 Keterkaitan unit Utility dengan pabrik Ammonia dan Urea

2.1.1 Area Water Intake


Sumber air untuk pabrik, perkantoran dan perumahan PT. Pupuk Iskandar
Muda diambil dari sungai Peusangan (Kabupaten Bireuen) yang jaraknya sekitar
25 km dari lokasi pabrik. Luas daerah aliran sungai Peusangan adalah 2.260 km2
dan sebagian besar terletak di Kabupaten Aceh Tengah. Air ini dipompa dengan
laju air normalnya sekitar 700–800 ton/jam pada tekanan minimum 2 kg/cm2.G.
Pada unit ini terdapat tiga unit pompa, dimana setiap pompa memiliki kapasitas
1.250 ton/jam.
Area water intake meliputi sumber pengambilan air baku dari Sungai
Peusangan yang dipompakan ke dalam bak (reservoir) sebelum air tersebut
dipompakan ke area pengolahan air PT. PIM. Peralatan yang ada di water intake
mencakup empat unit genset dan beberapa unit pompa termasuk unit penunjang
lainnya, perumahan karyawan dengan kapasitas peralatan sebagai berikut:
13

a. Kapasitas diesel engine generator per unit, 750 Kw, 2,4 KV,
b. I D pipa, 30 inchi, flow air baku sebesar 1.700–2.500 m3/jam,
c. Pompa intake kapasitas max 1.700 ton/jam, head 6-8 meter, 38 A, 3 unit,
d. Pompa transfer kapasitas max 1.600 ton/jam, 188 A, 3 unit dan operasi 1 unit,
e. Fuel oil tank FB-4003 = 331 m3, FB-4002 AB = 36 m3, FB-412 AD = 2000
liter.
Area water intake dilengkapi dengan :
a. Water Intake Channel, merupakan suatu kolam yang disekat sehingga
berbentuk saluran (channel) serta dilengkapi dengan bar screen yang
berfungsi untuk menyaring benda-benda kasar terapung yang mungkin ada di
tempat penyadapan terutama dibagian bangunan sadap sungai, agar tidak
mengganggu proses pengolahan air berikutnya.
b. Intake Pond merupakan suatu kolam dengan ukuran 27,9 x 7,6 m2 yang
berfungsi untuk menampung air yang disadap dari sumber dan digunakan
sebagai bahan baku. Air dialirkan ke settling basin (bak pengendapan) dengan
menggunakan pompa.
c. Settling Basin berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel kasar cara
gravitasi dan mengatur aliran yang akan ditranmisikan,basin dibagi menjadi
lima saluran dan secara bergantian sebuah saluran dibersihkan dan diambil
lumpurnya.

Air yang berasal dari unit water intake ini kemudian dialirkan ke instalasi
pengolahan air di PT. Pupuk Iskandar Muda dengan laju alir 1.250 ton/jam. Blok
diagram pengolahan air pada PT. PIM diilustrasikan pada Gambar 2.2.
14

POTABLE WATER
LOCATED IN
TANK
SUNGAI PEUSANGAN

WATER INTAKE GRAVITY FILTER WATER


CLARIFIER
FACILITY SAND FILTER TANK

RECYCLE WATER
TANK

ANION MIXED BED


ACTIVATED CATION DEGASIFIER
CARBON TOWER TOWER POLISHER

PACKAGE POLISHED

BOILER WATER
TANK
DEAERATOR

WASTE HEAT
BOILER

Gambar 2.2 Blok Diagram Water Treatment

2.1.2 Area Pengolahan Air


Air yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan PT. PIM yang diambil dari
water intake (sungai Peusangan) yang berjarak sekitar 25 km dari lokasi pabrik
PT. PIM. Air ini dipompakan dengan laju alir normalnya sekitar 700 – 800
ton/jam untuk kebutuhan PT. PIM pada tekanan minimum 2 kg/cm2∙G.
Kebutuhan air di pabrik diperlukan untuk bahan baku dan bahan pembantu proses
yaitu dalam bentuk filter water dengan kapasitas 450 ton/jam dan demin water
(polish water) dengan kapasitas 175 ton/jam. Disamping itu diproduksi pula
potable water sebagai air minum dengan kapasitas 125 ton/jam.

[Link] Clarifier
Clarifier (53-FD-1001) berfungsi sebagai tempat pengolahan air tahap
pertama yaitu proses penjernihan air untuk menghilangkan zat padat dalam bentuk
suspensi yang dapat menyebabkan kekeruhan (turbidity sekitar 20 ppm) terhadap
air dengan jalan koagulasi, flokulasi dan pengendapan. Clarifier mempunyai
15

kapasitas 1.330 ton/jam sedangkan kebutuhan air baku masuk clarifier adalah
600–800 ton/jam (normal). Pada bagian masuk clarifier diinjeksikan bahan-bahan
kimia yaitu alum sulfat, chlorine, caustic soda, sedangkan coagulant aid
ditambahkan setelahnya ke dalam clarifier karena jika dimasukkan secara
bersamaan dapat menggumpalkan bahan kimia yang diinjeksikan sebelumnya.
Adapun fungsi dari bahan-bahan kimia tersebut adalah :
a. Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3)
Berfungsi untuk membentuk gumpalan dari partikel yang tersuspensi
dalam air. Bila alum dikontakkan dengan air maka akan terjadi hidrolisa yang
menghasilkan alumunium hidroksida (Al2(SO4)3) dan asam sulfat.
Reaksi yang terjadi adalah :
Al2(SO4)3 . 18 H2O + 6 H2O → 2Al(OH)3 + 3H2SO4 + 18 H2O
Gumpalan Al(OH)3 yang berupa koloid akan mengendap bersama kotoran
lain yang terikut kedalam air dan H2SO4 akan mengakibatkan air bersifat asam.
Penambahan alum tergantung pada kekeruhan (turbidity) dan laju alir air umpan.
b. Caustik Soda (NaOH)
Berfungsi untuk menetralkan asam akibat reaksi pada proses sebelumnya,
konsentrasi caustik soda yang ditambahkan bergantung pada keasaman larutan.
pH diharapkan antara 6–8. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
H2SO4 + NaOH → Na2SO4 + 2H2O
c. Klorin (Cl2)
Penambahan klorin untuk mematikan mikroorganisme dalam air, juga
untuk mencegah tumbuhnya lumut pada dinding clarifier yang mengganggu
proses selanjutnya.
d. Coagulant Aid (Polymer)
Coagulant aid berfungsi untuk mempercepat proses pengendapan, bahan
ini akan mengikat partikel-partikel yang menggumpal sebelumnya menjadi
gumpalan yang lebih besar (flok) sehingga lebih cepat mengendap pada clarifier.
Clarifier dilengkapi dengan pengaduk dan rake (sikat) keduanya bekerja
secara kontinyu. Pengaduk berfungsi untuk mempercepat terjadinya gumpalan
lumpur dan bekerja dengan kecepatan 1,05–4,2 rpm. Sedangkan rake berfungsi
16

mencegah agar gumpalan lumpur tidak menumpuk di dasar clarifier dan bekerja
dengan kecepatan 0,033 rpm. Kotoran-kotoran yang mengendap bersama lumpur
dikeluarkan dari bawah clarifier sebagai buangan, sedangkan over flow akan
diolah lebih lanjut. Blok diagram pengolahan air pada clarifier dapat
diilustrasikan pada Gambar 2.3.

COAGULANT AID
NaOH

AIR SUNGAI

FILTER WATER
TANK

CHLORINE

ALUM SULFAT
SAND FILTER
POTABLE WATER
TANK

SLURRY TANK
RESEVOIR TANK

Gambar 2.3 Blok Diagram Clarifier

[Link] Saringan Pasir (Gravity Sand Filter)


Overflow dari clarifier dialirkan ke gravity sand filter (53-FD-1002)
secara gravitasi. Gravity sand filter terdiri atas 6 (enam) unit yaitu lima
beroperasi dan satu unit stand by. Pasir merupakan media penyaring pada unit ini
yang disusun berdasarkan pada ukurannya. pasir ukuran yang besar pada bagian
atas, selanjutnya yang lebih kecil pada bagian bawah. Saringan pasir bekerja
secara berulang-ulang, jika kemampuan penyerapan sudah berkurang (jenuh),
dilakukan pencucian (back wash) dan selama back wash proses dialihkan pada
unit stanby, proses ini dilakukan terus menerus secara berkala.

[Link] Filter Water Reservoir


Air dari gravity sand filter (53-FD-1002) ditampung di filter water
reservoir (53-FB-1006), kemudian dibagi ketiga tangki yaitu :
17

a. Potable Water Tank (63-FB-1002), yaitu penampungan air untuk kebutuhan


air minum ke perumahan, kantor, kapal, dan emergency shower.
b. Filter Water Tank (63-FB-1008), digunakan sebagai air pemadam, penambah
air pendingin dan pembersih.
c. Recycle Water Tank (63-FB-1008), digunakan sebagai umpan demin. Air ini
diperoses lebih lanjut untuk menghasilkan air yang bebas mineral sebagai
umpan boiler.
Karakteristik air dari proses tersebut diatas diharapkan sesuai dengan
design seperti pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Karakteristik Air Filter
Spesifikasi Kuantitas Satuan
Tekanan umpan 7,7 Kg/cm2.G
o
Temperatur umpan 29,0 C
Alkalinitas 15,0 ppm sebagai CaCO3
Klorida 6,0 ppm sebagai CaCO3
Sulfat 41,0 ppm sebagai CaCO3
Total anion 62,0 ppm sebagai CaCO3
Kalsium 9,0 ppm sebagai CaCO3
Magnesium 4,0 ppm sebagai CaCO3
Na + K 49,0 ppm sebagai CaCO3
Total kation 62,0 ppm sebagai CaCO3
Klorin 0,5 ppm sebagai Cl
Silika 36,0 ppm sebagai SiO2
pH 6,5 – 7,0 -
Konduktivitas 100 mm ohm/cm
Besi 0,1 ppm sebagai Fe
Bahan organic 5,0 ppm wt
Turbiditas 3,0 ppm (max)
Warna 20,0 ppm sebagai hazen unit
Sumber: PT Pupuk Iskandar Muda
18

[Link] Saringan Karbon Aktif (Activated Carbon Filter)


Air dari recycle water tank (53-FB-1008) dialirkan ke dalam activated
carbon filter (53-FB-1003) untuk menyerap CO2 terlarut dalam air dan zat-zat
organik yang ada dalam filter water, serta residu klorin dari air sebelum masuk ke
sistem deionisasi (demineralizer).

[Link] Demineralizer
Unit ini berfungsi untuk membebaskan air dari unsur-unsur mineral (silika,
sulfat, chloride (klorida) dan karbonat) dengan menggunakan resin.
a. Cation Tower (53-DA-1001)
Proses ini bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur logam yang berupa
ion-ion positif yang terdapat dalam air dengan menggunakan resin kation R-SO3H
(tipe Dowex Upcore Mono A-500). Proses ini dilakukan dengan melewatkan air
melalui bagian bawah, dimana akan terjadi pengikatan logam-logam tersebut oleh
resin. Resin R-SO3H ini bersifat asam kuat, karena itu disebut asam kuat cation
exchanger resin.
Reaksi yang terjadi adalah:
CaCl2 + 2R – SO3H → (R – SO3)2Ca + 2 HCl
MgCl2 + 2R – SO3H → (R – SO3)2Mg + 2 HCl
NaCl2 + 2R – SO3H → (R – SO3)2Na + 2 HCl
CaSO4 + 2R – SO3H → (R – SO3)2Ca + 2 HCl
MgSO4 + 2R – SO3H → (R – SO3)4Mg + 2 HCl
NaSO4 + 2R – SO3H → (R – SO3)4Na + 2 HCl
Na2SiO4 + 2R – SO3H → (R – SO3)4Na + 2 HCl
CaCO3 + 2R – SO3H → (R – SO3)4Ca + 2 HCl
b. Degasifier (53-DA-1002)
Degasifier berfungsi untuk menghilangkan gas CO2 yang terbentuk dari
asam karbonat pada proses sebelumnya, dengan reaksi sebagai berikut :
H2CO3 → H2O + CO2
Proses degasifier ini berlangsung pada tekanan vakum 740 mmHg dengan
menggunakan steam ejektor, tangki ini terdapat netting ring sebagai media untuk
19

memperluas bidang kontak antara air yang masuk dengan steam bertekanan
rendah yang diinjeksikan. Sedangkan keluaran steam ejektor dikondensasikan
dengan injeksi air dari bagian atas dan selanjutnya ditampung dalam seal pot
sebagai umpan recovery tank.
c . Anion Tower (53 -DA-1003)
Berfungsi untuk menyerap atau mengikat ion-ion negatif yang terdapat
dalam air yang keluar dari degasifier.
Resin pada anion exchanger adalah R = NOH (Tipe Dowex Upcore Mono
C-600).
Reaksi yang terjadi adalah :
H2SO4 + 2 R = N – OH → (R = N)2SO4 + 2 H2 O
HCl + R = N – OH → R = N – Cl + H2O
H2SiO3 + 2 R = N – OH → (R = N)2SiO3 + 2 H2 O
H2CO3 + R = N – OH → R = N – NO3 + H2O
HNO3 + R = N – OH → R = N – NO3 + H2O
Reaksi ini menghasilkan H2O, oleh karena itu air demin selalu bersifat
netral. Air keluar tangki ini memiliki pH = 7,5–8,5 konduktifitas kurang dari 3μΩ.
d. Mix Bed Polisher (53-DA-1004)
Berfungsi untuk menyerap sisa-sisa ion yang lolos dari proses sebelumnya.
mix bed polisher terdiri dari resin kation dan resin anion untuk menghilangkan
sisa kation dan anion, terutama natrium dan sisa asam sebagai senyawa silika,
dengan reaksi sebagai berikut:
Reaksi Kation :
Na2SiO3 + 2 R – SO3H → 2 RSO3Na + H2SiO3
Reaksi Anion :
Na2SiO3 + 2 R = N – OH → 2 RSO3Na + H2SiO3
Air yang telah bebas mineral tersebut dimasukkan ke polish water tank
(53-FB-1004) dan digunakan untuk air umpan boiler. Karakteristik Air demin
yang diharapkan sesuai dengan desain seperti tertera pada Tabel 2.2.
20

Table 2.2 Karakteristik Air Demin


Spesifikasi Kuantitas Satuan
Keluaran penukar kation 0,5 ppm TDS (max.)
Keluaran penukar anion 0,1 ppm TDS (max.)
Silika 0,05 ppm silika (max.)

2.1.3 Area Pembangkit Steam


Steam sangat diperlukan untuk operasi pabrik. Kegunaan steam
diantaranya adalah:
a. Penggerak turbin-turbin pada pompa atau kompresor
b. Sumber proses panas
c. Media pelucut
d. Pembantu sistem pemvakuman
Pembangkit steam pada unit utilitas ini terdiri dari package boiler (53-BF-
4001) dengan sumber panas dari pembakaran fuel gas dan waste heat boiler
(WHB) dengan pemanfaatan panas buangan general main electric (pembangkit
listrik).
Kandungan O2 untuk air umpan boiler dihilangkan di deaerator dengan
menginjeksikan hydrazine (N2H4) untuk mencegah korosi.
Reaksinya adalah sebagai berikut:
N2H4 + O2 → 2 H2O + N2
Pada outlet deaerator juga diinjeksikan ammonia yang berfungsi untuk
mengatur pH dari boiler feed water.
Prinsip kerja dan komponen penyusun package boiler dan waste heat
boiler pada dasarnya sama, hanya berbeda pada sumber panas yang diperoleh.
flow diagram boiler water treatment diilustrasikan pada Gambar 2.4.
21

STEAM SH
GAS & STEAM

BOILER

BFW
STEAM SL

DEAERATOR
O2 & CO2
INHIBITOR &
SCAVANGER
DISPERSANT

Gambar 2.4 Flow diagram Boiler Water Treatment

Pembangkit steam didesain oleh MACCHI, yang dilakukan dengan


membakar bahan bakar gas di dalam ruang pembakaran sehingga menghasilkan
panas untuk water tube boiler. Keistimewaan dari water tube boiler adalah waktu
yang dibutuhkan untuk menaikkan tekanan steam lebih singkat, fleksibel terhadap
perubahan beban, dan fleksibel pada operasi beban tinggi dari pembangkit steam.
Sistem operasinya adalah air yang dari deaerator masuk ke economizer
lalu dialirkan ke steam drum, dalam steam drum diinjeksikan Na3PO4 untuk
mengikat komponen hardness serta untuk menaikkan pH air boiler. Sirkulasi
antara steam drum dan coil-coil pemanas berlangsung secara alami karena
perbedaan berat jenis air dalam pipa.
Steam Drum juga dilengkapi cyclone separator yang berguna untuk
memberikan pemisahan tingkat pertama dari steam dan air dengan pemisahan
tambahan screen sebelum steam meninggalkan steam drum.
Steam yang dihasilkan oleh unit utility di antaranya:
 Steam bertekanan sedang, bertekanan 44 kg/cm2∙G dan temperatur 390 ± 5oC,
diproduksi dari Waste Heat Boiler (WHB) dan Packed Boiler (PB) untuk
melayani pabrik urea, offsite dan untuk start-up pabrik ammonia. Package
boiler pada PIM-2 mampu menyediakan superheated steam pada temperatur
390 ± 5oC dan tekanan 44 kg/cm2∙G dengan kapasitas sebesar 120 ton/jam.
22

 Steam tekanan rendah, bertekanan 3,5 kg/cm2∙G dan temperatur 220 oC,
dihasilkan dari blow down flash drum, letdown valve, dan keluaran turbin di
unit utility yang digunakan untuk deaerator, instrument air dryer, unit
stripper ammonia dan peralatan lainnya yang memerlukan panas.
 Steam jenuh bertekanan rendah, bertekanan 3,2 kg/cm2∙G dihasilkan dari
desuperheater yang digunakan untuk ammonia heater dan water heater.

2.1.4 Area Pembangkit Listrik


Untuk memenuhi kebutuhan listrik, pabrik PT. Pupuk Iskandar Muda
mensuplai listrik dan beberapa generator sebagai sumber tenaga pembangkit
listrik yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Main Generator-2 (53-EG-7001)
Generator ini merupakan generator utama sumber tenaga listrik di unit utility
yang digerakkan dengan turbin berbahan bakar gas alam, fungsinya adalah
untuk menyalurkan listrik ke seluruh pabrik dan perumahan.
Daya : 20 MW
Tegangan : 13,8 KV
b. Main Generator-1 (53-GI-7001)
Generator ini merupakan generator utama sumber tenaga listrik di utility-1
yang digerakkan dengan turbin berbahan bakar gas alam, fungsinya sama
dengan main generator-2 dan hanya salah satu main generator saja yang
beroperasi.
Daya : 15 MW
Tegangan : 13,8 KV
c. Standby Generator (53-GI-7002)
Merupakan generator pendamping, dioperasikan apabila terjadi gangguan
pada main generator. Bahan bakarnya bisa solar atau gas alam.
Daya : 1,5 MW
Tegangan : 2,4 KV
23

d. Uninterrupted Power Supply (UPS) (53-GH-7001)


Merupakan generator cadangan, yang dipakai dalam keadaan mendadak
apabila terjadinya gangguan pada main generator dan pada saat peralihan ke
Standby Generator.
Daya : 350 Kw
Tegangan : 480 V

2.1.5 Area Udara Instrument dan Udara Pabrik (Air Instrument Plant)
Kompresi udara pada saat start up pabrik dan emergency menggunakan
kompresor (53-GB-5001) sedangkan pada saat beroperasi digunakan kompresor
ammonia (51-101-J) dengan tekanan 35 kg/cm2∙G. Udara akan melewati dryer
untuk menghilangkan kandungan H2O yaitu dengan menggunakan silika alumina
gel (silica gel).
Fungsi dari udara instrument adalah:
- Menggerakkan pneumatic control valve,
- Pembersihan di boiler,
- Pembilasan di turbin.
Fungsi dari udara pabrik, antara lain :
- Flushing jaringan pipa,
- Sebagai pengaduk tangki kimia pengantongan urea,
- Pembakaran di burning pit.

Karakteristik udara yang diharapkan sesuai dengan desain seperti pada


tabel dibawah ini:

Tabel 2.3 Karakteristik Udara Pabrik


Komponen Kuantitas (% mol)
Nitrogen (N2) 74,084
Oksigen (O2) 20,947
Argon (Ar) 0,934
24

Gambar 2.5 Diagram Alir Air Instrument Plant

2.1.6 Area Pemisahan Udara


Area pemisahan udara (N2 dan O2) ini bekerja berdasarkan titik cairnya.
Udara yang dimampatkan setelah melalui filter udara dengan kompresor
bertekanan 41 kg/cm2 untuk memisahkan moisture (kandungan air) dari udara,
pendinginan dilanjutkan dalam precooler unit sampai suhu 5 oC. Udara yang telah
mengembun dikeluarkan lewat drain separator dan dialirkan ke MS adsorben
untuk menyerap CO2 dan H2O, kemudian udara ini dialirkan kedalam cool box.
Pada cool box N2 dan O2 dipisahkan dengan tiga macam mode pilihan yaitu :
- Mode I adalah produksi N2 gas, maksimal 300 Nm3/hr
- Mode II adalah produksi N2 cair, maksimal 50 Nm3/hr
- Mode III adalah produksi O2 gas, maksimal 75 Nm3/hr
Masing - masing motode tersebut dijalankan sesuai dengan kebutuhan.

2.1.7 Area Pengukur Gas


Berfungsi untuk memisahkan fraksi berat (Hidrokarbon berat dan air) dan
fraksi ringan (hidrokarbon ringan) dalam gas alam pada knock out drum. Fraksi
25

berat tersebut tidak dipergunakan, dibuang ke burning pit kemudian dibakar.


Fraksi ringan digunakan sebagai gas proses di unit ammonia dan sebagai gas
pembakar di pabrik utility dan ammonia.
Indikasi pengukur laju alir gas alam terdapat di lapangan dan diruang
kontrol yang mengukur laju alir, tekanan, suhu, dan densitas. Diagram alir proses
dapat dilihat pada Gambar 2.6

Gambar 2.6 Diagram alir Metering Station

2.1.8 Area Pengolahan Air Buangan


Menghindari pencemaran terhadap lingkungan, buangan dari proses
produksi diolah terlebih dahulu. Unit penampung air limbah ini terdiri dari Waste
Water Pond (WWP) dan Kolam Penampungan dan Pengendalian Limbah (KPPL).

[Link] Kolam Air Limbah (WWP)


Kolam air limbah ini merupakan unit penampungan limbah yang berasal
dari:
a. Tangki netralisasi pada unit demineralizer
b. Tangki slurry pada unit pengolahan air
c. Pabrik amonia
d. Pabrik urea
26

Air limbah tersebut dinetralkan dengan menambah acid atau caustic


sampai mencapai pH 6– 8. Setelah pH air netral, air limbah tersebut dialirkan ke
laut.

Tabel 2.4 Zat pengotor dan karakteristiknya

Rumus
Komponen Kimia Efek Cara Pengolahan

Air menjadi keruh, Koagulasi,


Turbiditas - membentuk deposit pengendapan, filtrasi,
pada pipa, alat, ketel. demineralisasi.

Timbul buih dalam


ketel, menghambat
Koagulasi, filtrasi,
proses pengendapan
Warna - klorinasi, adsorpsi
pada penghilangan besi
dengan karbon aktif.
dan hot phosphate
softening.

Membentuk kerak pada


Ca,Mg, sistem penukar panas,
Pelunakan, distilasi,
Kesadahan sebagai ketel, pipa,
pengolahan internal.
CaCO3 menghambat daya cuci
sabun.

Timbul buih dan carry


H2CO3 Pelunakan dengan
over, padatan ke dalam
kapur dan kapur soda,
CO3O uap panas
demineralisasi,
Alkalinitas H mengakibatkan karat,
penambahan asam,
sebagai bikarbonat dan dealkilasi dengan
CaCO3 karbonat menghasilkan penukar ion, distilasi.
CO2 dalam uap panas
27

(korosif).

H2SO4
Asam mineral Netralisasi dengan
HCl Korosif
bebas alkali.
CaCO3

Aerasi, deaerasi,
Korosif terhadap netralisasi dengan
Karbondioksida CO2
perpipaan. alkali, filming,
neutralizing amines.

Aerasi, deaerasi,
Korosif terhadap netralisasi dengan
Karbondioksida CO2
perpipaan. alkali, filming,
neutralizing amines.

Perubahan pH
dipengaruhi oleh Penambahan asam atau
pH [H+]
keasaman atau basa.
kebasaan air.

Menaikkan kandungan
padatan dalam air, Demineralisasi,
Sulfat SO42-
bereaksi dengan Ca distilasi
membentuk CaSO4

Menaikkan kandungan
Demineralisasi,
Klorida Cl- padatan dalam air,
distilasi
bersifat korosif

Menaikkan kandungan
padatan, konsentrasi Demineralisasi,
Nitrat NO3-
tinggi mengakibatkan distilasi
penyakit
28

methemoglobin pada
bayi.

Penghilangan dengan
Membentuk kerak pada
garam Mg,
Silika SiO2 ketel dan sudut-sudut
demineralisasi, distilasi
turbin.

Aerasi, koagulasi dan


Fe2+ Membentuk deposit
Besi filtrasi, pelunakan
Fe 3+ pada pipa dan Boiler.
kapur, penukar ion.

[Link] Kolam Penampung dan Pengendalian Limbah


Kolam Penampung dan Pengendalian Limbah (KPPL) mempunyai
kapasitas 5.250 m3. Fungsi dari KPPL adalah untuk mengatur komposisi air
limbah dan kecepatan buangannya, pengendapan padatan yang masih terkandung
dalam air dan melepaskan ammonia yang terlarut dalam air limbah.

2.2 Unit Ammonia


Proses pembuatan ammonia di PT. Pupuk Iskandar Muda menggunakan
teknologi Kellog Brown and Root (KBR) dari Amerika Serikat. Bahan baku yang
digunakan untuk memproduksi ammonia adalah gas alam, steam dan udara.
UDARA ( O2 ; N2 ; AR )

GAS BUMI ( NG )
Alkana, CO2 + Impurities AMMONIA
PABRIK
AMMONIA
UAP AIR CARBON DIOXIDE
( H2O )

Gambar 2.7 Blok pabrik Ammonia


4
Proses produksi ammonia terdiri dari lima tahap utama, yaitu:
29

1. Tahap persiapan gas umpan (Feed treatment)


 Pemisahan Sulfur Organik
 Pemisahan Merkuri
 Pemisahan awal CO2
 Pemisahan Akhir Sulfur

2. Tahap Reformasi
 Primary Reforming
 Secondary Reforming

3. Tahap pemurnian gas sintesis (Syn. gas purification)


 High Temperature Shift Converter (HTSC)
 Low Temperature Shift Converter (LTSC)
 Main CO2 Removal Unit
 Methanator

4. Tahap sintesis ammonia (Ammonia synthesis loop)


 Kompresi gas sintesis
 Sintesis ammonia (Syn. loop)

5. Tahap pendinginan dan pemurnian produk


 Refrigerant System Unit
 Purge Gas Recovery Unit
 Process Condensate Stripper Unit
 Steam System Unit

2.2.1 Unit Persiapan Gas Umpan Baku


Gas alam dari kilang PT. Arun NGL Co dialirkan ke dalam natural gas
knock out drum (61-200-F) untuk memisahkan senyawa hidrokarbon berat yang
terbawa sebagai bahan bakar dan overflow dari KO-drum sebagai bahan baku
proses yang selanjutnya akan dialirkan ke sistem persiapan gas umpan baku terdiri
dari beberapa tahapan proses, yaitu penghilangan sulfur, penghilangan mercury,
dan penghilangan CO2.
30

[Link] Desulfurizer
Gas alam sebagai bahan baku proses dialirkan ke dalam desulfurizer (61-
201-DA/DB/DC) yang berisikan sponge iron, yang berfungsi menyerap sulfur
yang ada dalam gas alam. Masing-masing desulfurizer mempunyai volume 68,8
m3. Umur operasinya diperkirakan 90 hari untuk kandungan H2S didalam gas
alam maksimum 80 ppm dan keluar dari desulfurizer diharapkan kandungan H2S
dalam gas menjadi 5 ppm. Reaksi yang terjadi adalah :
Fe2O3 + 3H2S → Fe2S3 + 3H2O

Gambar 2.8 DCS Feed Gas Treating dan unit Desulfurizer

[Link] Mercury Guard Vessel (61-202-D)


Gas dari desulfurizer mengalir ke mercury guard vessel (61-202-D) yang
berisi 6,7 m3 katalis sulfur impregnated activated carbon berfungsi untuk
menyerap Hg yang terdapat dalam gas alam. Merkuri dirubah menjadi senyawa
merkuri sulfida dan kemudian diserap pada permukaan karbon aktif. Reaksi yang
terjadi adalah :
Hg + H2S → HgS
31

[Link] CO2 Pretreatment Unit (CPU)


CO2 removal bertujuan untuk mengurangi beban energi di primary
reformer dengan mengurangi kandungan CO2 dari gas umpan. Gas alam yang
mengandung CO2 sekitar 23% diturunkan konsentrasinya di CO2 Pretreatment
Unit (CPU) hingga kandungan CO2-nya sekitar 4 %v dengan menggunakan
larutan 50 %w aMDEA (activated Mono Diethylamine) sebagai zat penyerap.
Penyerapan berlangsung pada temperatur 70−90 oC dan tekanan sistem. Dalam
penyerapan dan pelepasan CO2 temperatur dan tekanan sangat berpengaruh karena
penyerapan (absorpsi) berlangsung baik pada temperatur rendah dan tekanan
tinggi, sedangkan pelepasan (stripping) bekerja dengan baik pada temperatur
tinggi dan tekanan rendah.
Reaksi yang terjadi adalah:
CO2 + H2O → H2CO3
H2CO3 + aMDEA ↔ (MDEAH) + (HCO3)

[Link] Final Desulfurizer


Final desulfurizer (61-108-D) merupakan vessel yang berisi dua bed
katalis, bed bagian atas berisi katalis nickel molibdate yang berfungsi untuk
mengubah sulfur organik yang terdapat di dalam gas umpan menjadi sulfur
anorganik (H2S) dengan mereaksikannya dengan hidrogen, dan bed bagian bawah
berisi katalis ZnO yang berfungsi untuk menyerap H2S yang terbentuk dari bed
pertama.
Reaksinya adalah :
CoMo
RSH + H2 → RH + H2S
H2S + ZnO → ZnS + H2O
Umur ZnO lebih kurang 5 tahun dengan keluaran dari 61-108-D diharapkan
kandungan H2S di dalam gas < 0.1 mgram/M3 .
32

2.2.2 Sistem Pembuatan Gas Sintesa


Sistem ini bertujuan untuk mengubah gas yang berasal dari sistem
persiapan gas umpan baku menjadi gas CO, CO2 dan H2 melalui tahapan proses
sebagai berikut:

[Link] Primary Reformer


Primary reformer (61-101-B) terdiri dari dua seksi, yaitu seksi radiasi dan
seksi konveksi. Gas proses masuk ke primary reformer bersama dengan
superheated steam dengan perbandingan steam dengan karbon 3,5 : 1 untuk
mengubah hidrokarbon menjadi CO, CO2 dan H2.
Ada dua jenis katalis yang digunakan untuk kelangsungan reaksi
reforming pada primary reformer, yaitu katalis nikel (ICI-57-4) pada bagian atas
dan nikel (ICI-24-5) pada bagian bawah. Untuk melindungi katalis nikel dari
deposit karbon, diisi dengan potash. Reaksi yang terjadi di primary reformer
adalah sebagai berikut :
Reaksi pembakaran : CH4 + O2 → CO2 + H2O + Q
Reaksi konversi : HC + H2O → CH4 + CO2
Reaksi reformasi : CH4 + H2O → CO + 3H2 (endothermic)
CO + 2H2O → CO2 + 2H2 (exothermic)
560

87,3 I.D
854
1194

Pig. Tail
FURNANCE RADIANT SECTION

10010
9556

Gambar 2.9 Tube Catalyst Primary Reformer


33

Reaksi total (netto) pembentukan gas sintesa bersifat endotermis dan


berlangsung pada temperatur 780−820 oC dan tekanan 37,19 kg/cm2∙G dengan
perbandingan steam to carbon ratio (S/C) 3,2 mol/mol dengan katalis nikel base
reforming catalyst. Panas reaksi dipasok oleh panas pembakaran dari 80 arch
burner yang menghasilkan temperatur riser 823oC. Primary reformer memiliki 2
seksi yaitu :
a. Seksi Radiasi
Seksi radiasi adalah sebuah ruang panas yang didalamnya terdapat 224
tube tempat berlangsungnya reaksi metana-uap dan reaksi shift. Panas untuk
reaksi dipasok oleh panas pembakaran gas fuel yang berpindah ke tube katalis
secara radiasi. Kondisi vakum dalam seksi ini harus dijaga sehingga tidak
mengganggu pembakaran. Hasil reaksi disini adalah gas hidrogen 66 %v dengan
CH4 leak 12,5 %.
Pada bagian ini terdapat 224 tube yang berisi katalis. Tube-tube tersebut
tersusun dalam formasi 56 x 4 dan diselingi oleh pembakar-pembakar yang
mengarah ke bawah (down firing burner). Pada bagian ini juga terdapat 80 buah
burner yang digunakan untuk menyuplai panas yang diperlukan pada reaksi
endotermis, dimana reformer tersebut beroperasi dengan pembakaran ke arah
bawah yang menggunakan bahan bakar gas alam yang terletak di antara baris tube
katalis serta menggunakan juga purge gas dari ammonia recovery. Aliran gas
alam untuk fuel terbagi menjadi dua bagian yaitu arch burner dan main burner.
Temperatur gas yang keluar dari tabung katalis mencapai sekitar 790,4 oC dan
tekanan 31,96 kg/cm2∙G. Pada kondisi ini, gas mengandung sekitar 9,6 % CH4
yang tidak terkonversi. Ada dua jenis katalis yang digunakan pada primary
reformer, katalis utama untuk menjalankan reaksi steam reforming adalah katalis
nikel (ICI-57-4) berada di bagian bawah, dan bagian atas tabung reforming diisi
dengan katalis potash (ICI-25-4). Volume katalis di dalam tabung adalah sebesar
10,57 m3 untuk katalis ICI-57-4 dan 10,57 m3 untuk katalis ICI-25-4.
b. Seksi Konveksi
Panas sisa dari fuel gas dimanfaatkan untuk memanaskan koil-koil yang
berpindah secara konveksi. Terdapat 9 koil dengan pemanfaatan panasnya
34

memiliki efisiensi 93 %. Pada daerah konveksi ini terdapat koil pemanas yang
berfungsi untuk meningkat efisiensi pendayagunaan panas sehingga panas dari
fuel gas dapat dimanfaatkan lagi sebagai media pemanas. Koil pemanas yang
terdapat di convection section pada primary reformer ini adalah:
1. Mixed Feed Heater, digunakan sebagai tempat preheater bagi campuran gas
alam dan steam yang bereaksi di dalam tube-tube di radiant section.
2. Steam Air Heater, merupakan pemanas udara proses yang akan masuk ke
secondary reformer.
3. Low Temperatur dan High Temperatur Superheater, berfungsi merubah
steam jenuh menjadi steam superheater.
4. Feed Stock Heater, merupakan tempat terjadinya pemanasan gas proses yang
akan masuk ke hidrotreater.
5. Boiler feed water heater, merupakan koil pemanas bagi air umpan ketel yang
akan masuk ke steam drum.
6. Fuel Heater, berfungsi untuk melakukan pemanasan awal terhadap fuel gas
yang akan dibakar di radiant section.
7. LP Boiler, berfungsi untuk memanfaatkan flue gas untuk memanaskan boiler
feed water dari LP boiler.
Pada primary juga terdapat 5 tunnel burner yang berfungsi membantu
pemanasan ke seksi konveksi serta 18 superheater burner yang dipasang di
bagian atas konveksi untuk pemanasan koil steam BBS-1/2. Fuel gas yang dihisap
keluar oleh ID Fan dari seksi radiasi sebanyak 238.766 kg/hr. Flow gas pocess
pada rate 100 % sebesar 25.578 kg/hr masuk ke header dan didistribusikan ke
tube, uap SH 42,5 kg/cm2∙G yang merupakan bagian proses juga dimasukkan
dengan perbandingan tertentu.

[Link] Secondary Reformer


Untuk menyempurnakan reaksi reforming yang terjadi di primary
reformer (61-101-B), gas dialirkan ke secondary reformer (61-103-D) yang juga
berfungsi untuk membentuk gas H2, CO dan CO2. Aliran gas ini dicampurkan
dengan aliran gas udara yang mengandung O2 dan N2. Gas, steam dan udara
35

mengalir ke bawah melalui suatu unggun yang berisi katalis nikel, sehingga
mengakibatkan suhu gas sebelum masuk katalis bertambah tinggi. Reaksinya
adalah sebagai berikut :
2H2 + O2 2H2O
CH4 + H2O CO + 3H2 + Q
CO + H2O CO + H2 + Q
Secondary reformer beroperasi pada suhu 1000oC dan tekanan 31
kg/cm2∙G. Panas yang dihasilkan dari reaksi di atas dimanfaatkan oleh secondary
reformer waste heat boiler (61-101-C) dan high pressure steam superheater (61-
102-C) sebagai pembangkit steam (boiler feed water). Gas yang keluar dari
secondary reformer setelah didinginkan oleh dua buah waste heat exchanger
tersebut suhunya menjadi 371oC.

[Link] Shift Converter


Gas CO dalam gas proses yang keluar dari secondary reformer diubah
menjadi CO2 pada shift converter yang terdiri atas dua bagian yaitu :
a. High Temperature Shift Converter (61-104-D1)
b. Low Temperature Shift Converter(61-104-D2)

HTS (61-104-D1) beroperasi pada suhu 350-420 oC dan terkanan 30


kg/cm2∙G, berfungsi mengubah CO dalam proses menjadi CO2 dengan kecepatan
reaksi berjalan cepat sedangkan laju perubahannya (konversi) rendah. Reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut :
CO + H2O CO2 + H2 + Q
Gas proses yang keluar dari HTS (61-104-D1), sebelum masuk ke LTS
(61-104-D2) diturunkan suhunya di dalam alat penukar panas. Proses yang terjadi
pada LTS (61-104-D2) sama dengan proses yang ada di HTS. Kondisi operasi
pada LTS yaitu pada tekanan 33 kg/cm2∙G dan suhu 246 oC dengan kecepatan
reaksi berjalan lambat sedangkan konversinya tinggi.
36

2.2.3 Unit Pemurnian Gas Sintesa


Pada unit ini CO dan CO2 dipisahkan dari gas sintesa, karena CO dan CO2
dapat meracuni katalis ammonia converter (61-105-D). Proses pemurnian gas
sintesa ini terdiri dari dua tahap proses, yaitu:

[Link] Main CO2 Removal


Tujuan dari CO2 removal adalah untuk menyerap CO2 yang terbentuk
dari primary dan secondary reformer serta hasil konversi di shift converter. CO2
merupakan produk samping (side product) dari pabrik ammonia dan digunakan
sebagai bahan baku pabrik urea. Kemurnian produk CO2 pada seksi ini adalah
99,9 % vol. Unit ini merupakan unit kedua dari proses activated MDEA (Methyl–
Diethanol Amine) pada PT. Pupuk Iskandar Muda.
Peralatan utama main CO2 removal terdiri dari :
a. CO2 Absorber (61-101-E)
b. CO2 Stripper (61- 102-E)

Gas umpan dialirkan ke absorber dan dikontakkan langsung dengan


larutan activated MDEA (Methyl-Diethanol Amine) dengan konsentrasi 40 % wt.
CO2 dalam aliran gas diserap secara proses fisis dan kimia. Kemudian larutan
aMDEA diregenerasi pada tekanan rendah dan temperatur tinggi di stripper.
Gas dengan temperatur 70 oC masuk ke absorber melalui inlet sparger dan
mengalir ke atas melalui packed bed. Larutan lean dari atas tower mengalir ke
bawah melalui packed bed dan terjadi kontak antara gas dengan lean solution
sehingga CO2 dapat terserap ke larutan. Gas sintesa yang bebas dari CO2 keluar
dari bagian atas tower dengan temperatur 48 oC masuk ke bagian unit synthesa
loop dengan komposisi CO2 yang terikut adalah 0,1 % vol.
CO2 yang telah terlucuti mengalir ke atas melalui bagian direct contact
cooler yang dilengkapi tray untuk didinginkan menggunakan air yang
disirkulasikan dari pompa, sehingga temperatur CO2 di bagian atas stripper
menjadi 40 oC. Fungsi tray di direct contact cooler adalah untuk memperluas area
kontak antara dua fluida sehingga didapatkan hasil yang optimum.
37

[Link] Methanator
Fungsi dari methanator (61-106-D) adalah untuk merubah gas CO dan
CO2 yang masih lolos dari MCR menjadi CH4 yang bersifat inert (tidak bereaksi).
Methanator merupakan suatu bejana yang diisi dengan katalis nikel terkalsinasi.
Reaksi yang terjadi adalah :
CO + 3H2 CH4 + H2O +Q
CO2 + 4H2 CH4 + 2H2O + Q
Methanator beroperasi pada tekanan 26,7 kg/cm2∙G dan suhu 330 oC.
Karena panas yang dihasilkan dari reaksi ini, maka temperatur gas sintesa naik
menjadi 366 oC. Gas sintesa yang keluar dari methanator mempunyai batasan
kandungan CO dn CO2 maksimum 10 ppm

Distributor

Mullite Ball

Gas Outlet

Gambar 2.10 Methanator

2.2.4 Unit Sintesa Ammonia


Gas sintesa murni dengan perbandingan volume H2 dan N2 sebesar 3 : 1,
sebelum dialirkan ke ammonia converter (61-105-D) terlebih dahulu tekanannya
dinaikkan dengan syn. gas compressor (61-103-J) sampai tekanan 150 kg/cm2∙G.
Compressor ini bekerja dengan dua tingkatan kompresi dengan penggerak turbin
38

uap (steam turbine). Tingkatan pertama disebut Low Pressure Case (LPC) dan
tingkatan kedua disebut High Pressure Case (HPC).
Gas sintesa masuk ke LPC dengan temperatur 38 oC dan tekanan 24,1
kg/cm2∙G, kemudian dikompresikan menjadi 63,4 kg/cm2∙G dan temperatur 67,4
o
C. Sedangkan pada bagian HPC, gas sintesa bercampur dengan gas recycle dari
ammonia converter. Gas sintesa umpan memasuki ammonia converter dengan
temperatur 141 oC dan tekanan 147 kg/cm2∙G melalui bagian samping reaktor.
Reaktor ini dibagi menjadi dua bagian berdasarkan fungsinya, yaitu ruang katalis
atau ruang konversi dan ruang penukar panas (heat exchanger). Reaksi yang
terjadi pada ammonia converter adalah sebagai berikut :
N2 + 3H2 → 2NH3 + Q
o
Ammonia converter dioperasikan pada temperatur 480 C dan tekanan
150kg/cm2∙G. Diagram Alir DCS ammonia converter dapat dilihat pada Gambar
2.11.

Gambar 2.11 Diagram Alir DCS Ammonia Converter


39

2.2.5 Sistem Pendinginan Ammonia


Untuk mengkondensasikan ammonia yang ada dalam gas sintesa, gas
buang, serta gas pada interstage kompressor gas sintesa diperlukan suatu sistem
pendinginan yang dilakukan dalam tiga tahap yaitu:
1. Memberi pendinginan untuk mengkondensasikan ammonia yang ada
dalam sintesa loop,
2. Memberikan pendinginan untuk mengkondensasikan ammonia yang ada
dalam gas buang,
3. Mendinginkan gas pada interstage compressor gas sintesa.

Steam ammonia didinginkan dan dikondensasikan terlebih dahulu pada


ammonia unitized chiller ( 61-120-C ) sebelum masuk ke refrigerant reservoir
(61-109-F). Uap yang tidak terkondensasi dikembalikan ke sistem dan zat yang
tidak bereaksi dari chiller dikirim ke unit ammonia recovery. Steam ammonia
yang terbentuk pada berbagai chiller, flush drum, dan storage tank dimasukkan
dalam centrifugal refrigerant compressor (61-105-J). Kompressor ini bekerja
berdasarkan sistem pemampatan bertingkat untuk memanfaatkan ammonia
sebagai media pendingin. Kompresor ini dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan
tekanan pada stage flush drum (61-120-CF). Disamping itu juga dapat menaikkan
tekanan dari aliran ammonia yang mengalami flushing, sehingga memungkinkan
ammonia terkondensasi setelah terlebih dahulu didinginkan dalam refrigerant
condenser (61-127-C).
Produk ammonia yang dihasilkan terdiri dari dua jenis yaitu produk dingin
dan produk panas. Produk dingin yang mempunyai suhu -33 oC dikirim ke tangki
penyimpanan ammonia. Sedangkan produk panas dengan suhu 30 oC dikirim ke
pabrik urea. Diagram alir DCS ammonia refrigerant system unit dapat dilihat pada
Gambar 2.12.
40

Gambar 2.12 Diagram Alir DCS Ammonia Refrigerant System Unit

2.2.6 Unit Daur Ulang Ammonia


Unit ini berfungsi untuk menyerap NH3 yang terkandung didalam gas
buang sehingga diperoleh effisiensi produk ammonia yang lebih tinggi.
Penyerapan kandungan ammonia yang ada dalam campuran gas buang dilakukan
dalam dua packed absorber dengan sirkulasi yang berlawanan arah antara gas-gas
dengan air.
HP ammonia scrubber (61-104-E) menyerap ammonia yang terikut dalam
purge gas tekanan tinggi dari sintesa loop dengan temperatur 28,8 OC. Gas-gas
yang keluar dari menara absorber dikirim ke unit daur ulang hidrogen (HRU).
LP ammonia scrubber (61-103-E) menyerap ammonia yang terikut di
dalam purge gas dari ammonia letdown drum (61-107-F) dan refrigerant receiver
(61-109-F) yang bertemperatur -17 oC. Gas-gas yang keluar dari menara absorber
dikirim ke primary reformer sebagai bahan bakar.
Larutan aquas ammonia dari HP ammonia scrubber dan LP ammonia
O
scrubber serta kondensat dari HRU dipanaskan sampai 165 C di ammonia
stripper feed / effluent exchanger (61-141-C) lalu dialirkan ke ammonia stripper
41

(61-105-E). Pada column ini terjadi pelepasan ammonia dari aquas ammonia,
ammonia yang telah dipisahkan dikirim kembali ke refrigerant system. Untuk
menjaga temperatur ammonia keluar dari top column dispray ammonia cair dari
produk panas melalui inlet sparger di top column. Untuk memberi panas ke
column digunakan ammonia stripper reboiler (61-140-C) dengan menggunakan
steam.

Gambar 2.13 Diagram Alir DCS Pure Gas dan Condensate Recovery Unit

2.2.7 Unit Daur Ulang Hidrogen


Unit daur ulang hidrogen (HRU) ini menggunakan teknologi membrane
separation yang diproduksi oleh air product U.S.A. Tujuan daur ulang hidrogen
adalah untuk memisahkan gas hidrogen yang terdapat dalam purge gas dari HP
ammonia scrubber (61-104-E) sebelum dikirim ke fuel sistem. Sedangkan
hidrogen yang diperoleh dikembalikan ke sintesa loop untuk diproses kembali
menjadi ammonia.
Prism separator merupakan inti dari peralatan pada HRU. Prism separator
menggunakan prinsip pemilihan permeation (perembesan) gas melalui membran
semi permeabel. Molekul gas akan berpindah melalui batas membran jika tekanan
42

parsial dari gas lebih rendah dari tekanan disebelahnya. Membran ini terdiri dari
hollow fiber yang terdiri dari sebuah bundle hollow fiber yang mempunyai seal
pada setiap ujungnya dan melalui tube sheet. Bundle ini dipasang dalam bentuk
pressure vessel. Setiap separator mempunyai 3 buah nozzles, satu di bagian inlet
dan dua buah di bagian outlet.
Dalam operasi gas memasuki inlet nozzle dan melewati bagian luar hollow
fiber. Hidrogen permeate melalui membran lebih cepat dari pada gas lain. Gas
yang akan di daur ulang memasuki HP prism separator 103-LL1A dan 103-LL1B
secara paralel melalui bottom nozzle dan didistribusikan ke bundle hollow fiber di
shell sidenya. Gas kaya hidrogen permeate lewat melalui pori hollow fiber,
melewati internal tube sheet, dan keluar melalui nozzle outlet. Hidrogen yang
keluar dari kedua prism tersebut merupakan produk high pressure permeate dan
dialirkan ke syn gas compressor 1st stage cooler (61-130-C) dengan tekanan 57
kg/cm2∙G.
Aliran tail gas yang meninggalkan shell side dari HP Prism Separator di
letdown, kemudian mengalir ke LP prism separator (61-103-LL2A, 2B, 2D, 2E,
2F) untuk proses pemisahan selanjutnya. Permeate dari LP prism seperator ini
merupakan produk low pressure permeate dan dikirim ke up stream methanator
effluent cooler (61-115-C) dengan tekanan 31 kg/cm2g. Tail gas kemudian
meninggalkan shell side LP prism Separator dengan kondisi minimum hidrogen
dan gas non-permeate. Gas non-permeate terdiri dari inert gas methan dan argon
yang di buang dari ammonia synthesis loop, dan digunakan sebagai bahan bakar
di Primary Reformer. Diagram alir Hydrogen Recovery Unit (HRU) dapat dilihat
pada Gambar 2.14.
43

Gambar 2.14 Diagram Alir Hydrogen Recovery Unit (HRU)

2.3 Unit Urea


Unit urea ini akan memproses ammonia dan karbondioksida yang
dihasilkan oleh pabrik ammonia menjadi urea. Pabrik ini didesain untuk
memproduksi 1.725 ton/hari urea. Proses yang dipakai adalah proses mitsui toatsu
total recycle c improved.
Proses ini dipilih karena mempunyai beberapa kemudahan dan keuntungan
antara lain:
- Biaya instalasi rendah
- Mudah untuk mengoperasikannya
- Memberi hasil produk yang tinggi
Garis besar pabrik urea terdiri dari 4 unit yaitu sebagai berikut:
- Seksi Sintesa
- Seksi Purifikasi
- Seksi Recovery
- Seksi Kristalisasi dan Pembutiran
44

Gambar 2.15 Blok Diagram Proses Urea

2.3.1 Seksi Sintesa


Gas CO2 dari pabrik ammonia dikirim ke suction booster compressor (52-
GB-101), gas CO2 ini ditekan dari 0,7 kg/cm2∙G menjadi 30 kg/cm2∙G, kemudian
ditekan lagi menjadi 250 kg/cm2∙G pada CO2 compressor (52-GB-102A/B).
Setelah mencapai tekanan operasi (250 kg/cm2∙G) dikirim ke reaktor urea (52-DC-
101). Cairan ammonia juga dikirim ke reaktor urea setelah melewati ammonia
reservoir (52-FA-401). Ammonia dari ammonia condenser (52-EA-404) pada
proses sistem recovery juga dialirkan pada ammonia reservoir.
Ammonia dari ammonia reservoir (52-FA-401) dipompa dengan ammonia
booster pump (52-GA-404) untuk menaikkan tekanan dari 17 kg/cm2∙G menjadi
24 kg/cm2∙G, kemudian dipompa lagi sampai tekanan mencapai 250 kg/cm2∙G,
dengan menggunakan pompa ammonia (52-GA-101 A/B).
Sebelum dimasukkan ke reaktor urea (52-DC-101), ammonia tersebut
dilewatkan preheater (52-EA-101 dan 52-EA-102), guna dipanaskan sampai
temperatur 80 oC dengan memakai hot water dan steam condensate sebagai media
pemanas.
45

Di samping CO2 dan NH3, ke dalam reaktor juga dimasukkan recycle


carbamat dari high pressure absorber (52-DA-401).
Reaksi yang terjadi dalam reaktor adalah:

2NH3 + CO2 NH2COONH4 + Q (1)


NH2 COONH4 NH2CONH2 + H2O - Q (2)

Selama proses sintesa, selain reaksi di atas juga terjadi reaksi samping,
yaitu terbentuknya biuret dari urea. Variabel utama yang mempengaruhi reaksi
adalah temperatur, tekanan, komposisi feed dan waktu reaksi.
Konversi ammonium karbamat menjadi urea berlangsung pada fase cair,
sehingga dibutuhkan temperatur dan tekanan tinggi. Temperatur dan tekanan
tinggi menambah konversi pembentukan urea, kalau temperatur rendah
menyebabkan konversi ammonia karbamat menjadi urea berkurang. Kondisi
reaksi yang optimum pada temperatur 200 oC dan tekanan 250 kg/cm2∙G. Karena
sifat-sifat korosif dari zat-zat pereaksi dan produk di dalam reaktor maka pada
permukaan yang mengalami kontak dengan campuran reaksi. Reaktor dilapisi
dengan titanium, penambahan sedikit oksigen bertujuan untuk melindungi reaktor
sehingga diperoleh daya tahan yang lebih lama. Karena reaksi total pembuatan
urea bersifat eksotermis, maka temperatur reaktor harus dikontrol benar.
Pengontrolan temperatur dapat diatur dengan beberapa cara:
- Mengatur kelebihan ammonia yang akan masuk reaktor.
- Mengatur jumlah larutan recycle yang akan masuk reaktor.
- Memanaskan ammonia yang akan masuk reaktor.

2.3.2 Seksi Pemurnian


Produk dari hasil reaksi sintesa terdiri dari urea, biuret, air, ammonia
karbamat dan ammonia berlebih. Proses selanjutnya diperlukan untuk
memisahkan urea dan produk reaksi yang lain. Pemidahan dilakukan dengan
menurunkan tekanan sehingga ammonium carbamat terurai menjadi gas-gas
ammonia dan CO2.
46

a. Reaksi Dekomposisi Amonium Carbamat


NH2 COONH4 2NH3 + CO2
Reaksi berlangsung pada temperatur 151oC – 165oC. Pengurangan tekanan
akan menaikkan temperatur sehingga akan memperbesar konversi. Selama
dekomposisi reaksi, hidrolisa urea merupakan faktor penting yang harus
diperhatikan, karena hidrolisa menyebabkan berkurangnya urea yang dikehendaki
sebagai produk.
b. Reaksi Hidrolisa Udara
NH2 CONH2 + H2O CO2 + 2NH3
Hidrolisa mudah terjadi pada suhu tinggi, tekanan rendah dan residence
time yang lama. Pembentukan biuret adalah faktor lain yang harus diperhatikan
baik dalam proses dekomposisi, maupun dalam proses berikutnya (kristalisasi dan
pembutiran).
c. Reaksi Pembentukan Biuret
2NH2 CONH2 NH2CONHCONH2 + NH3
Reaksi ini bersifat reversible dan berlangsung pada temperatur di atas
90oC, dan tekanan parsial ammonia yang rendah. Pembentukan biuret dapat
ditekan dengan adanya kelebihan ammonia. Jumlah biuret yang terbentuk juga
dipengaruhi oleh residence time yang lama. Dekomposisi berlangsung pada saat
larutan keluar dari top reaktor urea (52-DC-101) dengan temperatur 126 oC
melalui suction expantion yang disebut let down valve, pada saat tersebut sebagian
besar karbamat akan terurai menjadi ammonia dan CO2 yang disebabkan turunnya
tekanan sebesar 17 kg/cm2G.
Ammonia dan ammonium carbamat yang tersisa selanjutnya dipisahkan
dari larutan dalam dekomposer tahap II yaitu low pressure dekomposer (52-DA-
202).
Untuk LPD beroperasi dengan tekanan 2,5 kg/cm2∙G dan temperatur 235 oC,
sedangkan untuk gas separator terdiri dari 2 bagian yaitu: bagian atas
dioperasikan pada temperatur 107 oC, dengan tekanan 0,3 kg/cm2∙G dan bagian
bawah dioperasikan pada 92oC dan tekanan atmosfir.
47

2.3.3 Seksi Daur Ulang


Campuran gas yang berupa ammonia, karbon dioksida serta sedikit uap air
yang dihasilkan dari pemisahan urea yang terbentuk di dalam reaktor pada seksi
dekomposisi dikembalikan sebagai gas, larutan atau slurry untuk selanjutnya
digunakan sebagai umpan reaktor urea adalah tidak ekonomis untuk membuang
gas-gas tersebut ke udara luar atau memasukkannya ke tempat pembuangan, di
samping akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Di dalam seksi recovery
gas-gas tersebut diserap dengan larutan urea. Larutan urea yang dipergunakan di
sini diperoleh sebagai cairan induk dari seksi kristalisasi dan pembutiran.
Gas-gas ammonia dan CO2 yang diserap bergabung kembali menjadi
ammonium carbamat. Larutan yang diperoleh dikirim kembali ke reaktor sebagai
recycle solution sebagian ammonia cair dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan
baku, agar sebanyak mungkin gas diperoleh kembali di dalam seksi ini, maka
penyerapan dilakukan dalam beberapa tahap. Gas yang keluar dari high pressure
decomposer (52-DA-201) diserap berturut-turut di dalam high pressure absorber
cooler (52-EA-401) dan high pressure absorber (52-DA-401).
Gas yang keluar dari high pressure absorber sebagian besar terdiri atas
ammonia dan dicairkan kembali di dalam ammonia condenser dan diperoleh
ammonia cair. Sedangkan sisa gas yang belum cair diserap di dalam ammonia
recovery absorber dengan air.
Gas yang keluar dari low pressure dekomposer diserap berturut-turut di
dalam low pressure absorber dan off gas absorber, sehingga gas yang keluar dari
low pressure absorber hanya mengandung sedikit gas pereaksi. Gas tersebut
dicampur dengan udara dan dikirim ke gas separator untuk membantu menghalau
gas dari larutan urea.
Gas dari gas separator dipisahkan menjadi ammonia, karbamat cair dan
gas sisa di dalam off gas condenser. Gas tersebut diserap di dalam off gas
absorber bersama-sama dengan gas yang berasal dari low pressure absorber
dengan menggunakan cairan dari off gas absorber.
Cairan ini sebagian di kirim ke low pressure absorber sebagai cairan
induk penyerap gas berturut-turut di dalam low pressure absorber dan high
48

pressure absorber dan menghasilkan larutan karbamat yang dipakai sebagai


recycle solution.

2.3.4 Seksi Kristalisasi dan Pembutiran


Larutan urea dari gas separator (52-DA-203) dengan konsentrasi 70–75%
dikirim ke crystallizer (52-FA-201) dengan pompa urea (52-GA-205), disini urea
divakumkan untuk mengurangi kandungan air yang ada dalam larutan urea.
Kristal-kristal yang terbentuk dalam vacum crystalizer dikirim ke centrifuge (52-
GF-201) untuk dipisahkan dari mother liquor, kemudian dikeringkan melalui
dryer (52-FE-301) sampai kadar airnya 0,3 % dengan menggunakan udara panas.
Kristal-kristal urea kering dikirim ke atas prilling tower (52-IA-301)
dengan pneumatic conveyor melalui fluidizing dryer (52-FF-301) di situ kristal
dilelehkan di dalam melter (52-EA-301), dan lelehan tersebut turun ke head tank
(52-FA-301), melalui distributor (52-PF-301) dan spraying nozzle granulator di
dalam prilling tower dan di bawahnya dihembus dengan udara sebagai media
pendingin sehingga dihasilkan butiran urea.
Urea keluar dari bagian bawah prilling tower (fluidizing cooler) diayak
melalui tromel (52-FD-303) untuk dipisahkan over sizenya dan yang memenuhi
spesifikasi selanjutnya dikirim ke gudang (bulk storage) dengan menggunakan
belt conveyer. Butiran urea yang over size dilarutkan di dalam disolving tank,
selanjutnya dikirim ke crystalizer dan sebagian lagi dikirim ke recovery. Debu
urea dan udara bersih yang tidak terserap dibuang ke atmosfir melalui erethane
foam filter. Butiran urea yang dihasilkan berkadar air yang relatif rendah yaitu 0,3
% berat maximum.
Urea yang dihasilkan oleh PT. PIM harus memenuhi spesifikasi sebagai berikut:
- Kadar nitrogen 46 % berat minimum
- Kadar air 0,3 % berat maksimum
- Kadar biuret 0,5 % Berat maksimum
- Kadar besi 0,1 ppm maksimum
- Ammonia bebas 150 ppm maksimum
49

- Abu 15 ppm maksimum


- Fe (Iron) 1,0 ppm maksimum

Gambar 2.16 Diagram Alir Seksi Recovery, Kristalisasi dan Pembutiran

2.3.5 Bagging Unit dan Gudang Urea Bulk


Urea prill yang telah dihasilkan harus dijaga dengan baik agar tidak
terjadi kerusakan yang mengakibatkan turunnya kualitas produk. Hal ini sangat
potensial terjadi pada saat transportasi, pada saat pengantongan atau pada saat
penyimpanan. Urea prill yang berasal dari prilling tower diangkut dengan Belt
Conveyor ke splitter. Belt Conveyor ini mempunyai kemampuan angkut 72
ton/jam. Dari splitter sebagian urea prill dialirkan ke gudang penyimpanan
sedangkan sebagian lagi dikirim ke splitter pada bagian pengantongan (bagging).
Pada gudang penyimpanan ini tumpukan urea prill diatur dengan
menggunakan tripper, sehingga tumpukan urea prill dalam gudang merata. Di
dalam gudang terdapat portal scrubber yang dilengkapi pengatur kecepatan. Alat
ini berfungsi untuk mengeruk dan memindahkan urea prill ke belt conveyor,
untuk seterusnya dikirimkan ke spliter. Spliter membagi urea prill tersebut
menjadi dua bagian, sebagian dikapalkan sedangkan sebagian lagi dikirim ke
bagging.
50

Pada belt conveyer, yang mengirim urea prill ke kapal dipasang alat
pengukur flow rate. Agar urea prill yang disimpan dalam gudang terjaga
kelembaban dan kekerasannya, maka kelembaban harus dijaga antara 65–70% dan
suhu gudang harus 5–10 oC di atas suhu lingkungan kondisi seperti ini diatur
dengan memakai aliran steam yang dialirkan ke dalam gudang.
Pada bagging, urea prill dibagi oleh splitter ke dalam dua buah hopper.
Pada alat ini terdapat weight total counter untuk mengukur berat urea yang
dikantongkan pada setiap kantong. Hooper ini berfungsi untuk memasukkan urea
ke dalam kantong dan kemudian menjahit kantong tersebut. Alat ini bekerja semi-
otomatis. Alat ini dapat menghasilkan 720 kantong urea/hari dengan kapasitas 50
kg urea pada tiap kantongnya. Kantong-kantong urea tersebut lalu dipak dengan
bantuan palletizer. Untuk mengatasi debu-debu yang banyak timbul pada saat
penyimpanan dan pengantongan maka digunakan bag Filter. Debu-debu yang
timbul diserap oleh alat ini, kemudian diproses lebih lanjut sehingga udara yang
dibuang ke atmosfir telah bersih dari debu.

Anda mungkin juga menyukai