MAKALAH SENI BUDAYA
SENI RUPA POST MODERN
DISUSUN
OLEH:
ANDI MUH. YUSUF IAN
PUTRI AMALIA AZIZAH
MUHAMMAD ILMAN NUR
ALIYAH BAIDA WIWIYANTI
ANNISA LUTHFIYAH MAEMUNAH
SMA NEGERI 9 JENEPONTO
2018
A. Pengertian Postmodern
Post modernisme secara harafiah dapat diartikan sebagai sebuah masa setelah masa
modern, pun dapat diartikan sebagai sebuah zaman yang melahirkan manusia dengan pemikiran
yang boleh jadi melawan konsepsi-kosepsi yang dipegang oleh modernisme itu sendiri. Post
modernisme menjanjikan sebuah pemahaman akan sebuah dunia baru dengan gejala pemikiran
manusia akan perkembangan dunia yang semakin cair dan luwes. Meskipun banyak pemikiran
post-modernis melawan pakem-pakem yang dipegang oleh modernis, post modern itu senidiri
pun menolaknya. Post modernis mengaku hanya mengkritisi dan mencoba merevisi kesalahan
kesalahan modernisme.
Postmodern adalah paham yang berkembang setelah jaman modern, postmodern
memberikan pemahaman baru terhadap dunia menjadi dunia lebih lues dan mencair. Banyak
pemikiran dari postmodern yang melawan aturan – aturan pada aliran modernis meskipun
banyak tokoh postmodern mengatakan bahwa mereka tidak melawan pakem – pakem modernis
melainkan hanya merevisinya. Postmodern lebih mengacu pada liberasilme artinya manusia
diperbolehkan berpikir sebebas-bebasnya yang kemudian mengacu pada kapitalisme dan
liberalisme, postmodern menghalalkan manusia untuk berpikir soal hal apapaun bahkan
melebihi norma, agama, budaya dan hukum. Postmodern mengajarkan masyarakat untuk
memiliki budaya skeptic, mempertanyakan banyak hal dan tidak begitu saja menerima satu hal
meskipun postmodern menawarkan sebuah revolusi besar-besaran mengenai kebebasan
berpikir, postmodern juga merupakan sebuah titik tolak kembali diangkatnya humaniora (hal-hal
yang berkaitan dengan kemanusian) ditengah robotis manusia yang ipicu oleh kekakuan
modernism kemudian lahirlah pemikiran bahwa manusia adalah mahluk yang berpikir dan
apabila ada pembatasan terhadap ruang berpikir manusia maka akan menghilangkan sifat
manusia yang paling dasar itu sendiri.
Menurut Romo Tom Jacob, kata ‘postmodern’ setidaknya memiliki dua arti:
1. Dapat menjadi nama untuk reaksi terhadap modernisme, yang dipandang kurang human,
dan mau kembali kepada situasi pra-modernisme dan sering ditemukan dalam
fundamentalisme.
2. Suatu perlawanan terhadap yang lampau yang harus diganti dengan sesuatu yang serba
baru dan tidak jarang menjurus ke arah sekularisme.
B. Sejarah Postmodern
Pada awalnya, kata postmodern tidak muncul dalam filsafat ataupun sosiologi. Wacana
postmodern ini pada awalnya muncul dalam arsitektur dan kemudian juga dalam sastra.
Arsitektur dan sastra ‘postmodern’ lebih bernafaskan kritik terhadap arsitektur dan sastra
‘modern’ yang dipandang sebagai arsitektur totaliter, mekanis dan kurang human.
Akhirnya, kritik terhadap seni arsitektur dan sastra modern ini menjadi kritik terhadap
kebudayaan modern pada umumnya yang dikenal sebagai era postmodern. Benih posmo pada
awalnya tumbuh di lingkungan arsitektur. Charles Jencks dengan bukunya The Language of
Postmodern Architecture (1975) menyebut post modern sebagai upaya mencari pluralisme gaya
arsitekture setelah ratusan terkukung satu gaya. Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15
Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di
anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran
modernisme, yang menggunakan 3teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi
kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja.
Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah
menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan
itu diledakkan dengandinamit.
Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling
berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan
kelahiran postmodernisme. Akhirnya, pemikiran postmodern ini mulai mempengaruhi berbagai
bidang kehidupan, termasuk dalam bidang filsafat, lmu pengetahuan, dan sosiologi. Postmodern
akhirnya menjadi kritik kebudayaan atas modernitas. Apa yang dibanggakan oleh pikiran
modern, sekarang dikutuk, dan apa yang dahulu dipandang rendah, sekarang justru dihargai.
Postmodern sebagai Filsafat. Filsafat postmodern pertama kali muncul di Perancis pada sekitar
tahun 1970-an, terlebih ketika Jean Francois Lyotard menulis pemikirannya tentang kondisi
legitimasi era postmodern, dimana narasi-narasi besar dunia modern (seperti rasionalisme,
kapitalisme, dan komunisme) tidak dapat dipertahankan lagi.
Seperti yang telah diterangkan diatas, pada awalnya lahir dari kritik terhadap arsitektur modern,
dan harus kita akui kata postmodern itu sendiri muncul sebagai bagian dari modernitas. Ketika
postmodern mulai memasuki ranah filsafat, post dalam postmodern tidak dimaksudkan sebagai
sebuah periode atau waktu, tetapi lebih merupakan sebuahkonsep yang hendak melampaui
segala hal modern. Konsep postmodernitas yang sering disingkat sebagai postmodern ini
merupakan sebuah kritik atas realitas modernitas yang dianggap telah gagal dalam melanjutkan
proyek pencerahannya.
Nafas utama dari postmodern adalah penolakan atas narasi-narasi besar yang muncul
pada dunia modern dengan ketunggalan terhadap pengagungan akal budi dan mulai memberi
tempat bagi narasi-narasi kecil, lokal, tersebar, dan beranekaragam untuk bersuara dan
menampakkan dirinya. C.S. Lewis ketika ia berkata, ketika memperjelas pandangan Nietzsche
sche “My good is my good, and your good is your good” (kebaikanku adalah kebaikanku,
dankebaikanmu adalah kebaikanmu), atau kalau orang Jakarta bilang, “gue ya gue, lo ya lo”. Jadi
di sini tidak ada standar absolut tentang benar atau salah dalam postmodern. Mungkin Anda
juga pernah mendengar orang berkata “Mungkin itu benar bagimu, tetapi tidak bagiku” atau
“Itu adalah apa yang kamu rasa benar.” Kebenaran, bagi generasi postmodernadalah relatif,
tidak absolut.
C. Ciri-ciri Postmodern
-menekankan emosi dari pada rasio
-menekankan media dari pada isi
-menekankan tanda dari pada makna
-menekankan kemajemukan dari pada penunggalan
-menekankan permainan dari pada keseriusan
-menekankan lokal dari pada universal
-menekankan fiksi dari pada fakta
-menekankan estetika dari pada etika
D. Tokoh-tokoh Postmodern
1) Friedrich Wilhelm Nietzsche sche (1844-1900)
Lahir di Rochen, Prusia 15 Oktober 1884. Pada masa sekolah dan mahasiswa, ia
banyakberkenalan dengan orang-orang besar yang kelak memberikan pengaruh
terhadap pemikirannya, seperti John Goethe, Richard Wagner, dan Fredrich Ritschl. Karier
bergengsi yang pernah didudukinya adalah sebagai Profesor di Universitas
[Link] manusia harus menggunakan skeptisme radikal terhadap
kemampuan akal. Tidak ada yang dapat dipercaya dari akal. Terlalu naif jika akal dipercaya
mampu memperoleh kebenaran. Kebenaran itu sendiri tidak ada. Jika orang beranggapan
dengan akal diperoleh pengetahuan atau kebenaran, maka akal sekaligus merupakan
sumber kekeliruan.
2) Jacques Derrida (Aljazair, 15 Juli 1930–Paris, 9 Oktober 2004)
Seorang filsuf Prancis keturunan Yahudi dan dianggap sebagai pendiri
ilmu dekonstruktivisme, sebuah ajaran yang menyatakan bahwa semuanya di-konstruksi
oleh manusia, juga bahasa. Semua kata-kata dalam sebuah bahasa merujuk kepada kata-
kata lain dalam bahasa yang sama dan bukan di dunia di luar bahasa. Derrida dianggap
salah satu filsuf terpenting abad ke 20 dan ke 21. Istilah-ilstilah falsafinya yang terpenting
adalah dekonstruksi, dan difference.
A. Dekonstruksi
Istilah dekontruksi untuk pertama kalinya muncul dalam tulisan-tulisan Derrrida pada
saat iamengadakan pembacaan atas narasi-narasi metafisika Barat. Jacques Derrida
menunjukkan bahwa kita selalu cenderung untuk melepaskan teks dari konteksnya.
Satu term tertentu kita lepaskan dari konteks (dari jejaknya) dan hadir sebagai makna
final. Inilah yang Derrida sebut sebagai logosentrisme . Metode
dekonstruksimerupakan proyek filsafat yang berskala raksasa karena Derrida sendiri
menunjukkan bahwa filsafat barat seluruhnya bersifat logosentris. Dengan demikian,
dekonstruksi mengkritik seluruh proyek filsafat barat.
B. Differance
Dalam karyanya, Of Grammatology, Derrida berusaha menunjukkan bahwa
struktur penulisan dan gramatologi lebih penting dan bahkan “lebih tua” ketimbang
yang dianggap sebagai struktur murni kehadiran diri (presence-to- self), yang
dicirikan sebagai kekhasan atau keunggulan lisan atau ujaran. Derrida menyatakan
bahwa signifikasi selalu merujuk ke tanda-tanda lain dan kita tidak akan pernah
sampai ke suatu tanda yang hanya merujuk ke dirinya sendiri. Maka, tulisan bukanlah
tanda dari sebuah tanda, namun lebih benar jika dikatakan bahwa tulisan
adalah tanda dari semua tanda-tanda. Dan proses perujukan yang tidak terhingga
(infinite) dan tidak habis-habisnya ini tidak akan pernah sampai ke makna itu sendiri.
Inilah pengertian“tulisan” yang ingin ditekankan Derrida. Derrida menggunakan
istilah arche-writing, yakni tulisan yang merombak total keseluruhan logika tentang
tanda. Jadi, tulisan yang dimaksud Derrida bukanlah tulisan (atau tanda) sederhana,
yang dengan mudah dianggap mewakili makna tertentu. Dilihat dengan cara lain,
tulisan merupakan prakondisi dari bahasa, dan bahkan telah ada sebelum ucapan
oral. Maka tulisan malah lebih “istimewa” daripada ujaran. Tulisan adalah bentuk
permainan bebas dari unsur-unsur bahasa dan komunikasi. Tulisan merupakan
proses perubahan makna terus-menerus dan perubahan ini menempatkan dirinya di
luar jangkauan kebenaran mutlak (logos). Jadi, tulisan bisa dilihat sebagai jejak,
bekas-bekas tapak kaki, yang harus kita telusuri terus-menerus, jika ingin tahu siapa
si empunya kaki (yang kita anggap sebagai makna yang mau dicari). Proses berpikir,
menulis dan berkarya berdasarkan prinsip jejak inilah yang disebut Derrida sebagai
differance. Differance adalah kata Perancis yang jika diucapkan pelafalannya persis
sama dengan kata difference. Kata-kata ini berasal dari kata differer-differance-
difference, tidak hanya dengan mendengar ujaran (karena pelafalannya sama), tetapi
harus melihat tulisannya. Di sinilah letak keistimewaan kata ini, hal inilah yang
diyakini Derrida membuktikan bahwa tulisan lebih unggul ketimbang ujaran. Proses
differance ini menolak adanya petanda absolut atau “makna absolute,” makna
transendental, dan makna universal, yang diklaim ada oleh De Saussure dan
oleh pemikiran modern pada umumnya. Menurut Derrida, penolakan ini harus
dilakukan karena adanya penjarakan (spacing), di mana apa yang dianggap sebagai
petanda absolut sebenarnya hanyalah selalu berupa jejak di belakang jejak. Selalu
ada celah atau kesenjangan antara penanda dan petanda, antara teks dan maknanya.
Celah ini membuat pencarian makna absolut mustahil dilakukan. Setelah
5 “kebenaran” ditemukan, ternyata masih ada lagi jejak “kebenaran” lain di
depannya, dan begitu seterusnya. Jadi, apa yang dicari manusia modern selama ini,
yaitu kepastian tunggal yang “ada di depan,” tidaklah ada dan tidak ada satu pun
yang bisa dijadikan pegangan. Karena, satusatunya yang bias dikatakan pasti, ternyata
adalah ketidakpastian, atau permainan. Semuanya harus ditunda atau ditangguhkan
(deferred) sembari kita terus bermain bebas dengan perbedaan (to differ). Inilah
yang ditawarkan Derrida, dan posmodernitas adalah permainan dengan
ketidakpastian. Postmodern dan Positivisme Nietzsche adalah tokoh postmodern
yang temasuk pengkritik pandangan positivisme August Comte. Menurut Comte,
subyek (manusia-red) mampu menangkap fakta kebenaran, sejauh hal itu faktual,
dapat didindara, positif dan eksak. Akan tetapi menurut Nietzsche , manusia tidak
tidak dapat menangkap fakta. Apa yang dilakukan manusia untuk menangkap objek
itu hanyalah sekedar interpretasi. (ST. Sunardi,1999:67-68) . Banyak pernyataan
bahwa Nietzsche tidak percaya bahwa kita bisa mengetahui. Fakta kebenaran itu
tidak ada, yang ada hanyalah interpretasi dan dan perspektif. Maka dengan dengan
sendirinya tidak ada kebenaran universal yang tunggal. Penafsiran itu tidak itu tidak
menghasilkan makna final, yang ada hanyalah pluralitas. (ST. Sunardi,1999:180)
sehingga bagi Nietzsche , kebenaran adalah suatu kekeliruan yang berguna untuk
mempertahankan arus [Link] Terhadap Postmodern Konsepsi
epistemologis post-modern yang belum jelas merupakan persoalan yang cukup
mendasar. Tidak dapat disangkal lagi bahwa dalam interpretasi, setiap
orang mempunyai sudut pandang dan perspektif sendiri-sendiri (berbeda-beda).
Dalam perpektif, subjek-subjek tertentu bisa dianggap benar, namun bias jadi keliru
bagi perspektif subjek yang lain. Jika pada masa Modern, manusia mengingkari
agama oleh karena pengaruh rasionalitas, namun pada masa Postmodern ini manusia
mengingkari agama dengan irrasionalitas. Pada postmodern ini bermunculan agama-
agama baru buatan manusia (-- isme) yang merupakan hasil sinkritisme dan
pluralisme. Tidak ada kebenaran absolut dalam agama apapun atau mungkin bahkan
dalam kitab suci apapun, yang ada adalah kebenaran relatif, kebenaran menurut
masing-masing yang memandangnya, sehingga manusia di sini sebagai hakim
penentu kebenaran, dan bukan Tuhan yang menjadi penentu kebenaran melalui
Kitab Suci yang diwahyukannya. Derrida, melalui teori Dekonstruksi-nya, telah
mengantarkan kita pada sebuah model semiotika ketidakberaturan atau semiotics of
chaos. Dekonstruksi menolak kemapanan, menolak obyektivitas tunggal dan
kestabilan makna. Karena itu, Dekonstruksi membuka ruang ‘kreatif’ seluas-luasnya
dalam proses pemaknaan dan penafsiran. Itulah Dekonstruksi, yang membuat setiap
orang bebas memberi makna dan mentafsirkan suatu obyek tanpa batas. Ruang
makna terbuka luas. Penghancuran terhadap suatu makna oleh makna baru
melahirkan makna-makna lain. Demikian seterusnya. Sehingga, demikian bebas dan
banyaknya makna dan tafsiran, membuat era dekontruktivisme dianggap era
matinya makna. Makna menjadi tidak berarti lagi. Fenomena postmodernisme ini
memunculkan berbagai macam persoalan tentang peran iman dan agama. Ketika
manusia tidak lagi percaya akan rasionalitas yang dianggap telah gagal melanjutkan
proyek pencerahannya, maka dunia tidak lagi diatur oleh kebenaran tunggal dan
sistem mekanis. Segala bentuk kebenaran tunggal ditolak dan direlativkan, demikian
juga agama, teologi dan ajaran iman. Pada saat itulah manusia berada dalam kotak-
kotak individualisme yang berdiri sendiri. Ada yang kemudian jatuh kepada ekstrim.
E. Pengaruh Postmodernisme terhadap seni rupa
Pada masa modern seni sangat diagungkan dan hanya dinikmati oleh kalangan ningrat
saja, seni menjadi sangat kaku, hasil dari perkembangan modernisme yang berpegang teguh
pada rasionalitas dan realitas sehingga seni dimurnikan dan terbatas pada masalah etetis saja
(pada seni abstrak) seni menjadi tabu dalam membicarakan hal – hal yang bersifat remeh –
temeh, seni menjadi terpisah dari masyarakat dan lebih menjungjung orisinalitas serta seni
dijauhkan dari tradisi. Hal tersebut secara langsung telah mebatasi ruang gerak seni sehingga
seni lukis dan patunglah yang mendominasi penggunaan media pada seni rupa modern
sedangkan seni grafis dan keremik masi berkonotasi rakyat artinya tidak ningrat sehingga tidak
dianggap eksklusif namun seiring berjalannya waktu kedua karya seni tersebut disejajarkan, ini
dilakukan oleh Andy Warhol, dia merusak tatanan seni tinggi dan tatanan seni rendah dengan
memadukan keduannya. Kemudian, paham modernitas yang terdapat pada senirupa
mendapatkan resisitensi dari kekritisan pemikir publik seni,mereka mengungkapkan bahwa
terjadi kesalahan pada modernitas seni, ini dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat yang mulai
memasuki pemikiran filosofi yang dibawa oleh postmodernisme, bentuk resistensi ini dikenal
sebagai postmodernisme yaitu sebuah seni yang membawa angin segar pada dunia seni rupa.
Kemudian pemikiran public terhadap seni menjadi melentur sehingga penggunaan media pun
menjadi amat tak terbatas bahkan melalui norma-norma etis. Postmodern berusaha
meleburkan seni dengan tradisi dan masyarakat sehingga terciptanya isu – isu social di dalam
sebuah karya seni, kemudian seni kembali berfungsi sebagai social dan pribadi sehingga para
seniman dapat menuangkan muatan–muatan pribadi dalam karya seninya.
Pada masa postmodern seni menjadi sangat luas cakupannya,dengan tawaran
kebebasan dan berkarya secara menyeluruh namun tetap saja konsepsi dari postmodern itu
sendiri sebagai sebuah pemikiran yang kritis sehingga karya seni yang dihasilkan tidak terbatas
oleh visual dan estetika saja namun menuntut riset yang mendalam dan menyeluruh dalam
berkarya sehingga terdapat gagasan dan pertangungjawaban dari karya seni yang dihasilkan
bahkan tak jarang pertanggungjawaban dari karya seni yang lebih diutamakan,ini adalah
cerminan dari pemikiran kritis atau budaya filosofi yang dianut oleh postmodern
F. Kritikan terhadap Postmodern
Meskipun postmodern tampak sangat menjanjikan namun bukan berarti postmodern
tidak memiliki celah salah satunya adalah kerancuan dan ketidakpastian dari paham ini akibat
dari melenturnya pemikiran manusia,meskipun postmodern dapat memberikan solusi tengah
tetapi bagi sebagian orang postmodern di anggap hanya bisa mengkrtitisi tanpa
memnyelesaikan permasalahan, postmodern lebih bersikap lepas tangan setelah melakukan
kritik terhadap sesuatu. Paham ini dikhawatirkan hanya akan melahirkan orang – orang yang
pandai berkritik tanpa melakukan riset yang mendalam dan tidak melakukan tindakan hal ini
dianggap oleh pennganut paham modern sebagai sebuah sikap apatis, postmodern menjadi
sangat mebingungan dan terasa abu – abu, terkesan takut dalam menentukan pilihan dan
mengambil sikap. Sehingga postmodern hanya akan melahirkan pengamat hebat tapi ragu
dalam mengambil tindakan.
G. Perbedaan antara post-modernisme dan modernisme
· Postmodernisme dimulai pada tahun 1968 setelah perang kedua usai sedangkan
modernisme dimulai pada tahun 1890 dan berlangsung sampai sekitar tahun 1945.
· Postmoderisme menentang penggunaan pemikiran logis sedangkan modernisme didasarkan
oleh penggunaan akal dan pikiran logis untuk memperoleh pengetahuan.
· Postmodernisme menganggap karya seni berdasarkan hiper-realitas artinya dapat
terpengaruh oleh media sedangkan moderntisme beranggapan bahwa karya seni adalah
otentik.
· Selama perkembangan postmodernisme seiring perkembangan computer, seni dapat
dituangkan ke dalam digital dan mereka dapat melakukan pemaknaan terhadap seni itu
sendiri sedangkan modernisme karya sastra dipandang sebagai karya unik seniman