0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
201 tayangan9 halaman

Tiga Strategi Generik Michael Porter

Strategi generik perusahaan terdiri dari tiga jenis utama yaitu strategi biaya rendah, pembedaan produk, dan fokus. Strategi biaya rendah menekankan efisiensi untuk harga yang rendah, strategi pembedaan produk menyasar pasar yang tidak sensitif harga dengan karakteristik unik produk, sedangkan strategi fokus berkonsentrasi pada segmen pasar tertentu. Aliansi strategis merupakan kerja sama antar perusahaan untuk tujuan bers

Diunggah oleh

Nia Rahmahyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
201 tayangan9 halaman

Tiga Strategi Generik Michael Porter

Strategi generik perusahaan terdiri dari tiga jenis utama yaitu strategi biaya rendah, pembedaan produk, dan fokus. Strategi biaya rendah menekankan efisiensi untuk harga yang rendah, strategi pembedaan produk menyasar pasar yang tidak sensitif harga dengan karakteristik unik produk, sedangkan strategi fokus berkonsentrasi pada segmen pasar tertentu. Aliansi strategis merupakan kerja sama antar perusahaan untuk tujuan bers

Diunggah oleh

Nia Rahmahyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Generic Strategy

Menurut teori manajemen strategi, strategi jenis perusahaan antara lain dapat diklasifikasi
berdasarkan jenis perusahaan. Strategi – strategi yang dimaksud adalah strategi generic (Generic
Strategy). yaitu kajian tentang strategi-strategi utama (grand strategies)

MENURUT STRATEGI GENERIK PORTER


Dalam analisanya tentang strategi bersaing (competitive strategy atau disebut juga Porter’s
Five Forces) suatu perusahaan, Michael A. Porter mengintrodusir 3 jenis strategi generik, yaitu:
Keunggulan Biaya (Cost Leadership), Pembedaan Produk (Differentiation), dan Focus.
1. Strategi Biaya Rendah (cost leadership)
Strategi Biaya Rendah (cost leadership) menekankan pada upaya memproduksi
produk standar (sama dalam segala aspek) dengan biaya per unit yang sangat rendah. Produk
ini (barang maupun jasa) biasanya ditujukan kepada konsumen yang relatif mudah
terpengaruh oleh pergeseran harga (price sensitive) atau menggunakan harga sebagai faktor
penentu keputusan. Dari sisi perilaku pelanggan, strategi jenis ini amat sesuai dengan
kebutuhan pelanggan yang termasuk dalam kategori perilaku low-involvement,ketika
konsumen tidak (terlalu) peduli terhadap perbedaan merek, (relatif) tidak membutuhkan
pembedaan produk, atau jika terdapat sejumlah besar konsumen memiliki kekuatan tawar-
menawar yang signifikan.

Strategi ini membuat perusahaan mampu bertahan terhadap persaingan harga bahkan menjadi
pemimpin pasar (market leader) dalam menentukan harga dan memastikan tingkat keuntungan pasar
yang tinggi (di atas rata-rata) dan stabil melalui cara-cara yang agresif dalam efisiensi dan kefektifan
biaya.

Untuk dapat menjalankan strategi biaya rendah, sebuah perusahaan harus mampu memenuhi
persyaratan di dua bidang, yaitu: sumber daya (resources) dan organisasi. Strategi ini hanya mungkin
dijalankan jika dimiliki beberapa keunggulan di bidang sumber daya perusahaan, yaitu: kuat akan
modal, trampil pada rekayasa proses (process engineering), pengawasan yang ketat, mudah
diproduksi, serta biaya distribusi dan promosi rendah. Sedangkan dari bidang organisasi, perusahaan
harus memiliki: kemampuan mengendalikan biaya dengan ketat, informasi pengendalian yang baik,
insentif berdasarkan target (alokasi insentif berbasis hasil). (Umar, 1999).)

Contoh perusahaan yang menerapkan : Toyota, dilihat dari implementasi JIT (Just in Time) sehingga
proses produksi bisa dipotong, efisiensi dapat tercapai.

2. Strategi Pembedaan Produk (differentiation)

Strategi Pembedaan Produk (differentiation), mendorong perusahaan untuk sanggup menemukan


keunikan tersendiri dalam pasar yang jadi sasarannya. Keunikan produk (barang atau jasa) yang
dikedepankan ini memungkinkan suatu perusahaan untuk menarik minat sebesar-besarnya dari
konsumen potensialnya.

Berbagai kemudahan pemeliharaan, features tambahan, fleksibilitas, kenyamanan dan berbagai hal
lainnya yang sulit ditiru lawan merupakan sedikit contoh dari diferensiasi. Strategi jenis ini biasa
ditujukan kepada para konsumen potensial yang relatif tidak mengutamakan harga dalam
pengambilan keputusannya (price insensitive). Contoh penggunaan strategi ini secara tepat adalah
pada produk barang yang bersifat tahan lama (durable) dan sulit ditiru oleh pesaing.

Pada umumnya strategi biaya rendah dan pembedaan produk diterapkan perusahaan dalam rangka
mencapai keunggulan bersaing (competitive advantage) terhadap para pesaingnya pada semua pasar.
(Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan
1985). Secara umum, terdapat dua bidang syarat yang harus dipenuhi untuk memutuskan
memanfaatkan strategi ini ; bidang sumber daya (resources) dan bidang organisasi. Dari sisi sumber
daya perusahaan, maka untuk menerapkan strategi ini dibutuhkan kekuatan-kekuatan yang tinggi
dalam hal: pemasaran produk, kreativitas dan bakat, perekayasaan produk (product engineering), riset
pasar, reputasi perusahaan, distribusi, dan ketrampilan kerja. Sedangkan dari sisi bidang organisasi,
perusahaan harus kuat dan mampu untuk melakukan: koordinasi antar fungsi manajemen yang terkait,
merekrut tenaga yang berkemampuan tinggi, dan mengukur insentif yang subyektif di samping yang
obyektif. (Umar, 1999)

Contoh Perusahaan menggunakan strategi Differensial : Starbuck dengan kopinya yang dengan coffe
shop lain, sehingga pengunjung betah berlama-lama dan rela mengeluarkan harga yang cukup mahal
dari yang lain.

3. Strategi Fokus (focus)

Strategi fokus digunakan untuk membangun keunggulan bersaing dalam suatu segmen pasar yang
lebih sempit. Strategi jenis ini ditujukan untuk melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif
kecil dan dalam pengambilan keputusannya untuk membeli relatif tidak dipengaruhi oleh harga.
Dalam pelaksanaannya – terutama pada perusahaan skala menengah dan besar –, strategi fokus
diintegrasikan dengan salah satu dari dua strategi generik lainnya: strategi biaya rendah atau strategi
pembedaan karakteristik produk. Strategi ini biasa digunakan oleh pemasok “niche market” (segmen
khusus/khas dalam suatu pasar tertentu; disebut pula sebagai ceruk pasar) untuk memenuhi kebutuhan
suatu produk — barang dan jasa — khusus.

Syarat bagi penerapan strategi ini adalah adanya besaran pasar yang cukup (market size), terdapat
potensi pertumbuhan yang baik, dan tidak terlalu diperhatikan oleh pesaing dalam rangka mencapai
keberhasilannya (pesaing tidak tertarik untuk bergerak pada ceruk tersebut). Strategi ini akan menjadi
lebih efektif jika konsumen membutuhkan suatu kekhasan tertentu yang tidak diminati oleh
perusahaan pesaing. Biasanya perusahaan yang bergerak dengan strategi ini lebih berkonsentrasi pada
suatu kelompok pasar tertentu (niche market), wilayah geografis tertentu, atau produk — barang atau
jasa — tertentu dengan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen secara baik, excellent delivery.
(Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985).
Contoh Perusahaan : Apple, yang berfokus kepada produknya selama bertahun tahun tanpa
terpengaruh pasar.

Aliansi Strategy

Pengertian

Aliansi strategis adalah hubungan formal antara dua atau lebih kelompok untuk mencapai
satu tujuan yang disepakati bersama ataupun memenuhi bisnis kritis tertentu yang dibutuhkan
masing-masing organisasi secara independen. Aliansi strategis pada umumnya terjadi pada rentang
waktu tertentu, selain itu pihak yang melakukan aliansi bukanlah pesaing langsung, namun memiliki
kesamaan produk atau layanan yang ditujukan untuk target yang sama. Dengan melakukan aliansi,
maka pihak-pihak yang terkait haruslah menghasilkan sesuatu yang lebih baik melalui sebuah
transaksi. Rekanan dalam aliansi dapat memberikan peran dalam aliansi strategis dengan
sumberdaya seperti produk, saluran distribusi, kapabilitas manufaktur, pendanaan proyek,
pengetahuan, keahlian ataupun kekayaan intelektual. Dengan aliansi maka terjadi kooperasi atau
kolaborasi dengan tujuan muncul sinergi.

Keuntungan Aliansi Strategis:

1. Memungkinkan partner untuk konsentrasi pada aktivitas terbaik yang sesuai dengan
kapabilitasnyA.
2. Pembelajaran dari partner dan pengembangan kompetensi yang mungkin untuk
memperluas akses pasar
3. Memperoleh kecukupan sumber daya dan kompetensi yang sesuai agar organisasi dapat
hidup.

Penggunaan Aliansi Strategis

1. Mengurangi biaya melalui skala ekonomi atau pengingkatan pengetahuan


2. Meningkatkan akses pada teknologi baru
3. Melakukan perbaikan posisi terhadap pesaingMemasuki pasar baru
4. Mengurangi waktu siklus produk
5. Memperbaiki usaha-usaha riset dan pengembanga
6. Memperbaiki kualitas

Perencanaan Aliansi yang Berhasil

Pemikiran mendalam tentang struktur dan rincian bagaimana aliansi akan dikelola perlu
mempertimbangkan hal berikut dalam perencanaan proses aliansi. Korporasi terlebih dahulu
mendefinisikan outcome yang diharapkan melalui hubungan aliansi strategis dan menentukan
elemen-elemen apa saja yang dapat disediakan oleh masing-masing pihak dan keuntungan yang
akan diperoleh.
Korporasi juga perlu terlebih dahulu melakukan proteksi atas berbagai hak kekayaan
intelektual (HAKI) melalui kesepakatan dan perjanjian legal. Korporasi juga harus sejak awal
menentukan pada layanan atau produk apa yang akan dijalankan. Setelah beberapa kajian tersebut
dilakukan, proses pembentukan aliansi strategis dapat melalui tahapan berikut:

1. Pengembangan Strategi
2. Penilaian Rekanan
3. Negosiasi Kontrak
4. Operasionalisasi Aliansi
5. Pemutusan Aliansi

Tipe Aliansi Strategis

Ada empat tipe aliansi strategi, yaitu:

1. Joint venture adalah aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan menciptakan
perusahaan yang independen dan legal untuk saling berbagi sumber daya dan kapabilitas
dengan mengkombinasikan sebagian aktiva mereka untuk mengembangkan keunggulan
bersaing.
2. Equity strategic alliance adalah aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan memiliki
persentase kepemilikan yang dapat berbeda dalam perusahaan yang dibentuk bersama
namun mengkombinasikan semua sumber daya dan kapabilitas untuk mengembangkan
keunggulan bersaing.
3. Nonequity strategic alliance adalah aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan
memiliki hubungan kontraktual untuk menggunakan sebagian sumber daya dan kapabilitas
unik tanpa berbagi ekuitas untuk mengembangkan keunggulan bersaing.
4. Global Strategic Alliances adalah kerjasama secara partnerships antara dua atau lebih
perusahaan lintas negara dan lintas industri.

Alasan Aliansi Strategis

Pasar

1. Siklus Lambat
Memperoleh akses ke pasar yang terbatas,Mendirikan waralaba di sebuah pasar
yang baru. Mempertahankan stabilitas pasar.
2. Siklus Standar
Mendapatkan kekuatan pasar, Mendapatkan akses ke sumber daya komplementer,
Mengatasi hambatan-hambatan dalam perdagangan,Memenuhi tantangan persaingan dari
pesaing-pesaing lainnya, Mengelompokkan sumber daya untuk proyek-proyek modal yang
sangat besar, DAN Mempelajari teknik-teknik bisnis baru.
3. Siklus Cepat
Mempercepat pengembangan produk atau jasa baru, Mempercepat masuk ke pasar
yang baru, Mempertahankan kepemimpinan pasar, Membentuk suatu standar teknologi
industri,Berbagi biaya riset dan pengembangan yang berisiko, serta Mengatasi
ketidakpastian.
Strategi Aliansi Tingkat Bisnis

1. Aliansi Komplementer. Dirancang untuk mengambil keunggulan dari peluang-peluang pasar


dengan mengkombinasikan aktiva-aktiva dari perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra
dengan cara-cara yang saling melengkapi untuk menciptakan nilai baru.
a. Aliansi Strategis Komplementer Vertikal.
b. Aliansi Komplementer Horisontal.
2. Strategi Pengurangan Persaingan. Dalam banyaknya persaingan, banyak perusahaan
berusaha untuk menghindar dari persaingan yang merusak atau berlebihan. Salah satunya
adalah dengan kolusi implisit atau toleransi mutual.
3. Strategi Tanggapan Persaingan. Perusahaan menggabungkan kekuatan untuk merespon
tindakan stratejik pesaing lain.
4. Strategi Pengurangan Ketidakpastian. Aliansi strategis juga digunakan untuk
mempertahankan diri dari risiko dan ketidakpastian khususnya dalam pasar-pasar siklus
cepat.

Strategi Aliansi Tingkat Perusahaan

Dirancang untuk memfasilitasi diversifikasi pasar dan/atau produk.

1. Aliansi Strategis Diversifikasi. Memungkinkan suatu perusahaan untuk memperluas ke


produk atau wilayah pasar baru tanpa melakukan merger atau akuisisi.
2. Aliansi Strategis Sinergistik. Menciptakan ruang lingkup ekonomi bersama antara dua atau
lebih perusahaan.
3. Waralaba. Merupakan salah satu alternatif dalam diversifikasi yang merupakan strategi kerja
sama berdasarkan relasi kontraktual.

Strategi Aliansi Internasional

Alasan menggunakan aliansi internasional :

1. Perusahaan multinasional memiliki kinerja yang lebih baik daripada perusahaan yang hanya
beroperasi secara domestik saja
2. Peluang-peluang untuk tumbuh melalui akuisisi atau aliansi terbatas dalam negara asal
perusahaan tersebut
3. Kebijakan pemerintah
4. Membantu sebuah perusahaan yang mentransformasi dirinya sendiri dalam kondisi-kondisi
lingkungan yang berubah dengan cepat

Strategi Aliansi Jaringan Kerja

Jenis strategi jaringan kerja antara lain:


1. Jaringan Aliansi Stabil. Memiliki siklus pasar dan permintaan yang mudah diprediksi.
2. Jaringan Aliansi Dinamis. Basis dalam penggunaan strategi jaringan dalam industri dimana
inovasi teknologi cepat diperkenalkan secara berkala.
3. Jaringan Aliansi Internal. Dibentuk dalam sebuah perusahaan yang memfasilitasi koordinasi
produk dan keragaman global.
Contoh Aliansi

Perusahaan yang telah melakukan aliansi antara lain GE/SNECMA; Fuji Xerox Co., Ltd.; AIZA-Cibe
Geigy; NUMMI; Dell dan EMC; Aliansi Dexa Medica dengan GlaxoSmithKline dan dengan Alpharma
dan Indofarma; PT Kalbe Farma Tbk dengan PT Enseval dan PT Dankos Laboratories Tbk,; Bank
Muamalat dengan PT Pos dan BCA; Mitsubishi dengan DaimlerCrysler; Renault dan Nissan; Star
Alliance; dan lain-lain.

Penerapan Aliansi Strategi di Indonesia, contohnya yang telah dilakukan Bank Muamalat:

Yang dilakukan Bank Muamalat adalah melakukan aliansi strategis dengan seluruh jaraingan kantor
pos di Indonesia ketika meluncurkan dan menjual produk Shar-E. Dengan berbagai kemudahan dan
jaringan yang luas sampai ke tingkat kelurahan, maka aliansi strategis dengan kantor pos menjadi
solusi ampuh dalam meningkatkan pasar perbankan syariah di Indonesia.

Memang, Shar-E Card ditujukan untuk menjadi brand yang dapat digunakan oleh mitra aliansi Bank
Muamalat. Baik mitra yang berupa bank maupun lembaga keuangan lainnya. Misalnya Shar-E
Pegadaian, multi finance, maupun bank-bank konvensional yang ingin mengelola dana nasabahnya
secara syariah tanpa harus membuka unit syariah, melainkan cukup dengan beraliansi dengan Bank
Muamalat. Selain itu, dengan berbagai kemudahan dan jaringan yang luas, karena bekerjasama
dengan kantor pos di seluruh daerah di Indonesia, maka produk Shar-E akan bisa meningkatkan
loyalitas nasabah Bank Muamalat.

Agar loyalitas nasabahnya terus meningkat dan sustainable, Bank Muamalat juga berusaha untuk
selalu memberikan berbagai kemudahan. Misalnya dengan memberikan kemudahan kepada
pemegang kartu Shar-E sehingga dapat mengaktivasi nomor rekening pada kartu tersebut dan
memiliki nomor rekening di Bank Muamalat. Dengan kemudahaan tersebut, pengguna Shar-E juga
dapat mengakses seluruh Debit BCA dan memperoleh akses penarikan tunai secara halal dan free of
charge pada seluruh ATM BCA dan ATM Bersama.

Hal ini sangat cerdas dilakukan Bank Muamalat mengingat tanpa perlu mengeluarkan investasi yang
besar untuk membuka cabang-cabang yang banyak dan mengadakan mesin-mesin ATM, Bank
Muamalat telah berhasil menjangkau masyarakat sampai tingkat kelurahan.

Ely di 07.03

ENTERPRENEURSHIP DAN INOVASI

Entrepreneurship: Menjadi Unggul Melalui Inovasi


“Innovation distinguishes between a leader and a follower.” (Steve Jobs)

Inovasi saat ini menjadi kata kunci dan hal yang wajib dilakukan jika mau sukses.
Padahal kata ini barangkali belum populer dalam kurun waktu dua puluh tahun lalu. Di masa
lalu hanya orang-orang tertentu saja yang dianggap memiliki kelebihan khusus yang
menemukan sesuatu dan bisa melakukan inovasi. Kini, kreativitas dan inovasi menjadi
sebuah keharusan yang tak bisa dihindarkan. Mengapa inovasi menjadi penting saat ini?
Apakah inovasi itu?
Inovasi adalah proses membuat perbaikan dengan mengenalkan sesuatu yang baru,
atau dengan cara yang baru. Proses inovasi juga bisa merupakan ide, metode atau pemikiran
yang baru. Peter Drucker menyebutkan sebagai sebuah perubahan atas penciptaan dimensi
yang baru dari kinerja. Menurut Luecke dan Katz, inovasi dapat diartikan sebagai
pemahaman umum tentang pemikiran baru atau metode baru. Dengan kata lain,
inovasi merupakan perwujudan, kombinasi, atau sintesis atas pengetahuan yang orisinil,
relevan, nilai baru atas produk, suatu cara, atau pelayanan.
Pada dasarnya inovasi adalah sesuatu yang baru yang dihasilkan (sebagai output
perusahaan) atau sebagai suatu proses adopsi atau pengaplikasian sesuatu yang “baru” oleh
sebuah organisasi sedemikian rupa sehingga organisasi ini menjadi lebih kompetitif. Sesuatu
yang baru tersebut bisa berupa produk atau jasa baru yang dapat memberikan nilai lebih
dibandingkan produk yang lama. Sesuatu yang baru itu bisa berupa proses baru menciptakan
efisiensi dalam produksi, penyampaian maupun upaya peningkatan pelayanan. Menurutnya,
inovasi juga mencakup proses mengadaptasi produk atau mengadaptasi proses yang sudah
ada. Mengacu pada pendapat Woodman, inovasi dapat diartikan sebagai proses adaptasi
produk, jasa, ide atau proses baik yang sudah ada di dalam organisasi maupun yang
dikembangkan dari luar organisasi. Dengan kata lain, perusahaan yang meniru produk
perusahaan lain atau mencontoh cara kerja perusahaan lain dapat juga dikatakan melakukan
inovasi.

Pendorong terjadinya inovasi


Inovasi terjadi karena didorong oleh berbagai hal, misalnya mulai dari perubahan
tuntutan kualitas, penciptaan pasar baru, perluasan lingkup produk, pengurangan biaya tenaga
kerja, perubahan proses produksi, pengurangan bahan baku, untuk mengurangi kerusakan
lingkungan, penggantian produk atau jasa, efisiensi penggunaan energi, sampai pada
penyesuaian terhadap peraturan atau regulasi baru.
Ada dua hal yang menjadi sumber inovasi, yaitu manufacturer innovation dan end
user innovation. Dalam manufacturer innovation, orang atau bisnis melakukan inovasi dalam
rangka untuk menjual inovasi. Sedangkan dalam end user innovation orang atau perusahaan
mengembangkan inovasi untuk digunakan sendiri sebab keadaan produk tidak memenuhi
kebutuhan.
Dengan demikian, karyawan yang inovatif melakukan inovasi untuk menjual
karyanya dan “dirinya” kepada perusahaan, agar dipandang memiliki nilai lebih dari
karyawan lain. Kondisi tersebut akan menimbulkan keunggulan bersaing dalam diri
karyawan, sehingga jika terjadi downsizing untuk merampingkan organisasi, dia layak untuk
dipertahankan.
Menjadi entrepreneur
Menurut Ciputra, Indonesia membutuhkan entrepreneur yang inovatif, artinya
entrepreneur yang mampu menciptakan nilai tambah (value added), bukan sekedar pengusaha
yang bertipe “broker” atau “berdagang”. Menjadi inovatif entrepreneur membuat nilai value
added yang diperoleh lebih maksimal, baik dari sisi daya tahan menghadapi persaingan
karena barang dan jasa susah ditiru pesaing. Michael Porter menyebutkan, “Innovation is the
central issue in economic prosperity”
Idealnya agar bisa melahirkan entrepreneur yang inovatif setidaknya melekat 3 L
(Lahir, Lingkungan, dan Latihan). Artinya apabila seseorang dilahirkan dari keluarga yang
berprofesi entrepreneur akan lebih mudah diarahkan menjadi entrepreneur. Kalau
lingkungannya mendukung pengkondisian menjadi entrepreneur yang handal akan lebih baik.
Apalagi kalau disamping 2L di atas, ditambah L yang ketiga atau latihan (proses dan latihan),
hal ini akan semakin mempercepat lahirnya entrepreneur.
Di Indonesia, dua L pertama (Lahir dan Lingkungan) kurang mendukung, mengingat
tidak banyak anak yang lahir dari keluarga entrepreneur, dan dari sisi lingkungan pun yang
masih mengutamakan bekerja sebagai pegawai negeri dan ini menjadi pola pikir (mind-set)
yang mendominasi.

Inovasi dan Keunggulan Kompetitif


Diakui atau tidak, inovasi menjadi sebuah keharusan dalam globalisasi. Stephen M.
Shapiro, dalam bukunya yang berjudul 24/7 Innovation: A Blueprint for Surviving and
Thriving in an Age of Change, mengemukakan kunci utama untuk sukses dan tetap bertahan
adalah perpetual & pervasive innovation. Untuk mencapai kemampuan ini, perusahaan
membutuhkan inovasi tanpa batas di setiap detak waktu yang ada, 24 jam sehari dan 7 hari
seminggu. pervasive innovation adalah inovasi yang meresap di setiap sisi perusahaan, di
mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dalam 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Seolah inovasi
adalah napasnya perusahaan. Untuk itu diperlukan kapabilitas yang akan membantu
perusahaan menghasilkan kinerja yang optimal dalam aktivitas-aktivitas yang membutuhkan
proses, orang, dan teknologi yang didefinisikan sebagai [Link] tak selalu mengacu
kepada sesuatu yang baru sama sekali, yang penting ada hal baru yang berbeda yang dapat
mendorong tercapainya keunggulan bersaing.
Michael Porter juga pernah mengemukakan, “strategic positioning means performing
different activities from rivals or performing similar activities in different ways.”

Menurut Steve Jobs, inovasi sangat sulit diperoleh sebab itu dibutuhkan kontrol.
Inovasi akan menyebabkan masalah, sebab itulah lebih mudah untuk menghindari inovasi
daripada mengejar inovasi. Sudah banyak orang yang menyerah, tapi tidak demikian halnya
dengan Jobs. Ia adalah orang yang cerdas, dan lebih dari itu, ia juga adalah orang yang dapat
berkata kepada pegawainya untuk tidak pulang ke rumah dan terus bekerja di kantor untuk
berpikir beda. Itulah kontrol kedua, yaitu Jobs tidak akan segan-segan memecat pegawainya
yang tidak bisa bekerja sesuai keinginannya. Jobs adalah sosok yang sangat bersemangat
dalam bidang pengembangan produk dan dalam mewujudkan visi-visi pribadinya. Dia tidak
pernah berhenti untuk mewujudkan visinya. Agar bisa memantau seluruh aktivitas
pegawainya, Jobs membuat ramping struktur manajemen Apple dengan hanya
mempekerjakan 20.000 orang. Dengan demikian, ia dapat mengetahui apa yang terjadi pada
struktur terbawah.

Mindset entrepreneurship
Keberhasilan seorang entrepreneur ditunjang dengan pola pikir dan menghasilkan
sesuatu yang baru atau melakukan hal lama dengan cara yang baru (thinking and doing new
things or old thing in new ways). Hal ini tergantung dari mindset yang dimiliki. Peter F.
Drucker, menyebutkan inovasi yang berhasil adalah hasil pencarian dengan penuh kesadaran
dan bertujuan mengantisipasi munculnya peluang inovasi yang hanya ditemukan dalam
segelintir situasi. Proses inovasi adalah mengenai cara perusahaan menghasilkan, melakukan
evaluasi, dan mengimplementasikan solusi-solusi kreatif yang akhirnya memudahkan
perusahaan mencapai dan memperbarui bisnisnya dalam konteks global.
Tanpa mindset entrepreneurial, di masa kini akan sulit untuk mencapai keberhasilan
yang berkesinambungan di bidang apapun. Entrepreneur memiliki kualitas tertentu yang
membuat mereka berhasil melakukan apapun. Melakukan banyak hal dengan apa yang
mereka pikirkan dan bagaimana mereka memandang segala sesuatunya.
Mindset entrepreneurial adalah yang menentukan keberhasilan sesorang di dalam
bisnis. Hal ini terkait dengan bagaimana mereka berpikir dan memandang segala sesuatunya.
Pola pikir kita bisa menentukan apakah kita akan menjadi pengusaha sukses atau tidak,
mampu berinovasi atau tidak. Ditekankan oleh Peter F. Drucker bahwa, “Innovation is the
specific instrument of entrepreneurship. The act that endows resources with a new capacity to
create wealth.”
Seorang entrepreneur harus memiliki keberanian untuk berubah. Change the rule of
the game! Seperti kata Michael Porter, jika kamu ingin menjadi market leader, buatlah
bisnismu tampak berbeda. Menjadi seorang entrepreneur memerlukan keberanian
menghadapi resiko. Untuk itu penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah
dan upaya dalam memanfaatkan peluang yang ada. Kunci perubahan adalah
mengatualisasikan potensi. Ini dibutuhkan kreativitas, yang berarti kemampuan untuk
mengembangkan ide-ide baru, terutama menemukan cara-cara baru dalam memecahkan
masalah dan menciptakan peluang. (Diedit dari berbagai sumber)

KEPEMIMPINAN STRATEGIK
DEFINISI
Individu dan tim menggunakan kepemimpinan strategy ketika mereka
berpikir,bertindak, dan mempengaruhi dalam cara-cara yang meningkatkan keunggulan daya
saing organisasi secara terus menerus.
Fokus kepemimpinan strategik adlah keunggulan kompetitif yang terus menerus , atau
sukses organisasi yang bertahan lama. Cara kerja kepemimpinan strategik ; untuk menghela
dan menggerakkan organisasi agar mampu berkembang pesat dalam jangka waktu panjang.

Anda mungkin juga menyukai