0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan38 halaman

Pembengkakan Jaringan Ibu Nifas

Laporan klinik ini membahas asuhan kebidanan yang diberikan kepada seorang ibu nifas selama 19 hari. Laporan ini menjelaskan proses pengumpulan data, penetapan diagnosa, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan evaluasi yang dilakukan."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan38 halaman

Pembengkakan Jaringan Ibu Nifas

Laporan klinik ini membahas asuhan kebidanan yang diberikan kepada seorang ibu nifas selama 19 hari. Laporan ini menjelaskan proses pengumpulan data, penetapan diagnosa, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan evaluasi yang dilakukan."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KLINIK

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS

Oleh:
PRASTIWI NOVIA PUSPITASARI
(011012024)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIDAN


FAKULTAS KEDOKTERAN - UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan klinik Asuhan kebidanan pada Ibu NIfas pada tanggal 8-27 September 2014
Nama : Prastiwi Novia Puspitasari
NIM : 011012024
disahkan oleh pembimbing klinik dan pembimbing akademik pada
hari :
tanggal : 2014

Mahasiswa,

Prastiwi Novia Puspitasari


NIM. 011012024

Mengetahui,

PembimbingAkademik PembimbingKlinik
Program StudiPendidikanBidan BPM Farida Hajri
FK UniversitasAirlangga SURABAYA SURABAYA

Ratna Dwi Jayanti [Link]. Bd Farida Hajri [Link]


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
bimbinganNya saya dapat menyelesaikan Laporan klinik Asuhan kebidanan Ibu Nifas.
Dalam penyusunan laporan praktik ini saya menyadari adanya kekurangan dan kesulitan,
namun karena adanya bantuan dari berbagai pihak semua ini dapat terselesaikan. Oleh sebab
itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang
terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. Agung Pranoto, dr., M. Kes., Sp. PD., K-EMD, FINASIM selaku Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
2. Bapak dr. Sunjoto, [Link] (K), selaku ketua program studi S1 Pendidikan Bidan Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga.
3. Ibu Farida Hajri [Link] selaku pembimbing praktik klinik yang telah membimbing dan
membantu dalam penyusunan laporan ini.
4. Ibu Ratna Dwi Jayanti [Link]. Bd selaku pembimbing akademik yang telah berkenan
waktu untuk memberikan bimbingan hingga penyusunan lapora ini bisa selesai.
5. Bapak / Ibu dosen yang telah memberikan bekal ilmu.
Saya menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna, maka saya mengharap kritik
dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini dan laporan
selanjutnya. Akhirnya saya berharap semoga laporan asuhan kebidanan ini bermanfaat bagi
penulis dan para pembaca sekalian.

Surabaya, 2014

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Masa Nifas atau masa puerperium adalah Waktu yang diperlukan agar organ
genetalia interna ibu kembali menjadi normal secara anatomis dan fungsional,
berlangsung selama 6-8 minggu. (Manuaba : 368)
Pada akhir masa puerperium, pemulihan persalinan secara umum dianggap telah
lengkap. Pandangan ini mungkin terlalu optimis. Bagi banyak wanita, pemulihan adalah
sesuatu yang berlangsung normal dan menjadi seorang ibu adalah proses fisiologis yang
normal. Namun, wanita dalam masa nifas dapat sangat rentan terhadap stress fisiologis
yang dapat menjadi patologis. Peran bidan adalah mengamati dan memantau perubahan
dini serta mampu membedakan antara perubahan normal dan abnormal.
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis
baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan
terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.
Masa neonatus merupakan masa kritis dari kehidupan bayi, dua pertiga kematian bayi
terjadi dalam waktu 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir
terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Dengan pemantauan melekat dan asuhan pada
ibu dan bayi masa nifas dapat mencegah beberapa kematian ini (Saifuddin, 2000).
Pengetahuan menyeluruh tentang perubahan fisiologis dan psikologis pada masa
puerperium adalah sangat penting jika bidan menilai status kesehatan ibu secara akurat
dan memastikan bahwa pemulihan sesuai dengan standar yang diharapkan. Dalam
menjalankan proses asuhan terhadap ibu nifas, seorang bidan sewajarnya memiliki
standar kemampuan yang bermanfaat sebagai bahan tanggungjawab terhadap klien
yang diberi asuhan Pada laporan ini, penulis akan menjelaskan tindakan atau asuhan
yang dilakukan pada ibu nifas. Serta tinjauan salah satu kasus pada ibu nifas fisiologis.

1.2 Tujuan Umum


Mahasiswa diharapkan dapat melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas fisiologis
secara komperehensif
1.3 Tujuan Khusus
1.3.1. Mahasiswa diharapkan dapat melakukan pengumpulan data fokus subjektif dan
objektif.
1.3.2. Mahasiswa diharapkan dapat merumuskan diagnosa kebidanan sesuai data yang
telah dikumpulkan.
1.3.3. Mahasiswa diharapkan dapat merumuskan perencanaan asuhan kebidanan
berdasarkan diagnosa kebidanan dan masalah yang telah ditentukan.
1.3.4. Mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan asuhan kebidanan berdasarkan
perencanaan yang telah dibuat.
1.3.5. Mahasiswa diharapkan dapat mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah
dilakukan.
1.3.6. Mahasiswa diharapkan dapat melakukan dokumentasi asuhan kebidanan dengan
SOAP Note
1.3.7. Mahasiswa diharapkan dapat membahas/menganalisis perbedaan asuhan
kebidanan antara teori dan kasus yang ada di lapangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Masa Nifas


2.1.1 Pengertian Masa Nifas
Masa nifas atau puerperium adalah masa 6 minggu setelah persalinan ketika
saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil (Errol Norwitz dan John Schorge,
2007).
Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah partus selesai dan
berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Arif Mansjoer, 2009).
Masa nifas (postpartum/puerperium) berasal dari bahasa latin yaitu dari kata
“Puer” yang artinya bayi dan “Parous” yang berarti melahirkan. Yaitu masa pulih
kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan
kembali seperti pra hamil. Lama pada masa nifas berkisar sekitar 6-8 minggu. Masa
Nifas ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu :
 Puerperium dini, yaitu masa kepulihan dimana ibu sudah diperbolehkan
mobilisasi jalan.
 Puerperium intermedial, yaitu masa kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia
yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
 Remote Puerperium, yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna yang berlangsung sekitar 3 bulan. Akan tetapi bila selama hamil
maupun bersalin ibu mempunyai komplikasi masa ini bisa berlangsung lebih
lama.
(Sujiyatini, dkk., 2010)

2.1.2 Perubahan Fisiologis Masa Nifas


[Link] Perubahan Fisik Masa Nifas
1) Keadaan Umum dan Tanda-tanda Vital
a. Keadaan Umum
Segera setelah melahirkan, umumnya ibu merasa sangat lelah, terlebih
bila partus berlangsung lama. Sebenarnya nifas fisiologis tidak sakit,
tetapi membutuhkan waktu untuk mengembalikan keadaan umumnya
yang mengalami perubahan pada waktu hamil, persalinan hingga
kembali pada keadaan semula.
b. Suhu Tubuh
Dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, suhu tubuh mungkin
meningkat sedikit (38°C) sebagai respon terhadap stress persalinan,
terutama dehidrasi. Fluktuasi suhu ini biasanya transien, peningkatan
suhu yang menetap mungkin menandakan infeksi (Coad, Jane. 2006).
c. Denyut Nadi
Denyut nadi normal berkisar antara 60-80x/menit, maksimal 100x/menit,
segera setelah post partum terjadi bradikardi. Denyut nadi post partum
umumnya lebih labil dari pada suhu. Kecuali bila persalinan berlangsung
lama dan sulit sehingga terjadi perdarahan maka hal tersebut bisa
mengakibatkan takikardi. Bradikardi post partum pada hari ke 6-10
dengan frekuensi denyutan 40-70x/menit adalah perubahan normal.
d. Tekanan Darah
Tekanan darah selama post partum biasanya normal, bila selama
kehamilan tekanan darah ibu normal maka setelah persalinan maksimal
systole 140 mmHg, diastole 90 mmHg.
e. Pernafasan
Penurunan konsentrasi progesterone setelah pengeluaran plasenta
memulihkan sensitivitas tubuh terhadap karbon dioksida sehingga
tekanan parsial karbon dioksida kembali ke kadar prahamil. Diafragma
dapat meningkatkan jarak geraknyasetelah uterus tidak lagi
menekannyasehingga ventilasi lobus-lobus basal paru dapat berlangsung
penuh. Compliance dinding dada, volume alun napas, dan kecepatan
pernapasan kembali ke normal dalam 1-3 minggu (Jane Coad, 2006).
f. Berat Badan
Segera setelah melahirkan, ibu akan kehilangan berat badan sekitar 5 kg
disebabkan karena keluarnya bayi, plasenta dan air ketuban. Pada
minggu pertama post partum ibu akan kehilangan berat badan sebesar 2
kg akibat kehilangan cairan.
2) Perubahan Sistem Reproduksi
a. Involusi Uteri dan Tempat Plasenta
Involusi uterus adalah proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan
jalan lahir setelah bayi lahir sehingga mencapai keadaan sebelum hamil.
Involusi uterus meliputi reorganisasi dan pengeluaran
desidua/endometrium dan eksfoliasi tempat perlekatan plasenta yang
ditandai dengan penurunan ukuran dan berat serta perubahan pada lokasi
uterus juga ditandai dengan warna dan jumlah lokia. Regenerasi
endometrium lengkap pada tempat perlekatan plasenta memakan waktu
hampir enam minggu. Epitel tumbuh pada tempat perlekatan tersebut
dari samping dan dari sekitar lapisan uterus, dan ke atas dari bawah
tempat perlekatan plasenta. Pertumbuhan endometrium ini membuat
pembuluh darah yang mengalami pembekuan pada tempat perlekatan
plasenta rapuh sehingga meluruh dan dikeluarkan dalam bentuk lokia
(Varney, 2007). Dalam waktu dua atau tiga hari setelah melahirkan, sisa
desidua berdeferensiasi menjadi dua lapisan. Stratum superfisial menjadi
nekrotik dan terkelupas bersama lokia. Stratum basal yang bersebelahan
dengan uterus tetap utuh dan merupakan sumber pembentukan
endometrium baru. Endometrium terbentuk dari proliferasi sisa-sisa
kelenjar endometrium dan struma jarinangan ikat antar kelenjar tersebut
(Cunningham, 2005). Involusi terjadi karena autolysis yaitu aktifitas
otot-otot dan ischemia dimana protein dinding rahim dipecah, diabsorbsi
kemudian dibuang melalui urine. Sedangkan involusi tempat plasenta
disebabkan oleh eksfoliasi, yaitu lepasnya bagian nekrotik yang
mengalami infark diikuti oleh epitelisasi yang memerlukan waktu 3
minggu. Berat uterus sesudah bayi lahir 1000 gr, sesudah plasenta lahir
750 gr, 1 minggu kemudian 500 gr, 2 minggu post partum 350 gr, 6
minggu post partum 50 gr, dan akan normal kembali (30 gr) pada 8
minggu post partum. Bagian bekas implantasi plasenta merupakan suatu
luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri, segera setelah
persalinan. Penonjolan tersebut, dengan diameter + 7,5 cm, sering
dianggap sebagai suatu bagian plasenta yang tertinggal. Sesudah 2
minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan pada 6 minggu telah mencapai
2,4 mm (Montgomery dan Alexander, 1994).
b. Tinggi Fundus Uteri dan Konsistensi Uterus
Akibat dari proses involusi akan menyebabkan penurunan fundus uteri
sampai pada keadaan sebelum hamil. Oleh sebab itu dalam pengawasan
involusi dilakukan pengukuran TFU dan kontraksi uterus.
- Hari ke-1 post partum : TFU setinggi pusat.
- Hari ke-2 post partum : TFU 1-2 jari dibawah pusat.
- Hari ke-3 post partum : TFU pertengahan antara pusat dan sympisis.
- Hari ke-7 post partum : TFU kira-kira 1 jari di atas sympisis.
- Hari ke-10 post partum : TFU tidak teraba.
(Montgomery dan Alexander, 1994).
c. Lochia
Pada awal masa postpartum, peluruhan jaringan desidua menyebabkan
keluarnya discharge vagina dalam jumlah bervariasi, duh ini disebut
lokia. Secara mikroskopis, lokia terdiri atas eritrosit, serpihan desidua,
sel-sel epitel dan bakteri (Cunningham, 2005). Aliran keluar darah pada
saat persalinan dan lokia merupakan hal penting untuk menyingkirkan
kemungkinan sumber infeksi asenden dan untuk melindungi bekas
perlekatan plasenta. Lochia adalah sekret luka yang berasal dari luka
dalam rahim terutama luka plasenta dan keluar melalui vagina. Lochia
dibedakan berdasarkan penyembuhan luka, yaitu :
- Lochia Rubra : berwarna merah seperti haid mengandung desidua dan
darah dari tempat perlekatan plasenta, pengeluaran segera setelah
persalinan sampai 2 hari post partum, jumlah semakin sedikit.
- Lochia Sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir,
pengeluaran pada hari ke 3-7 post partum.
- Lochia Serosa : berwarna kuning kecoklatan atau serum, pengeluaran
pada hari ke 7-14 post partum.
- Lochia Alba : Berupa cairan putih kekuning-kuningan, pengeluaran
setelah 2 minggu post partum mengandung sebagian besar cairan serosa
dan leukosit, serta sebagian mukus serviks dan mikroorganisme. Bila
lochea tetap berwarna merah setelah 2 minggu post partum kemungkinan
ada sisa plasenta yang tertinggal atau selaput ketuban yang tertinggal
(Sarwono Prawirohardjo, 2007).
d. After Pain
After pain adalah rasa sakit atau mules-mules yang disebabkan karena
kontraksi rahim, berlangsung 2-4 hari. Mules-mules ini dirasakan pada
saat menyusui. Pada primipara afterpain kurang terasa karena uterus
berkontraksi secara tonik, kecuali ada benda asing (bekuan darah, sisa
plasenta) baru terjadi kontraksi hipertonik. Sedangkan pada multipara
lebih terasa karena uterus sering berkontraksi kuat sehingga timbul rasa
nyeri (Sarwono Prawirohardjo, 2007)
3) Laktasi atau pengeluaran ASI
Selama kehamilan, hormon estrogen dan progesteron menginduksi
perkembangan alveolus dan duktus latiferus di dalam mammae/payudara
dan juga merangsang produksi kolustrum. Namun, produksi ASI tidak
berlangsung sampai sesudah kelahiran bayi ketika kadar hormon estrogen
menurun. Penurunan kadar estrogen ini memungkinkan naiknya kadar
prolaktin dan produksi ASI pun dimulai. Produksi prolaktin yang
berkesinambungan disebabkan oleh menyusunya bayi pada mammae ibu.
Pelepasan ASI berada di bawah kendali neuro-endokrin. Rangsangan
sentuhan pada payudara (yaitu bayi menghisap) akan merangsang produksi
oksitosin yang menyebabkan kontraksi sel-sel myoepitel. Proses ini
disebut sebagai refleks let down atau pelepasan ASI dan membuat ASI
tersedia bagi bayi (Pusdiknakes, 2003:15). Pada 15, 30. Dan 45 menit
setelah bayi lahir, peningkatan oksitosin terjadi secara signifikan jika bayi
diletakkan kulit ke kulit. Jika bayi tidak menyusu, kadar oksitosin kembali
pada nilai dasar. Oksitosin adalah hormon yang meningkatkan ikatan ibu
dengan bayi dan perilaku maternal lainnya (Varney, 2007:986).
Hisapan bayi memicu pelepasan ASI dari alveolus mammae melalui
duktus ke sinus laktiferus. Hisapan merangsang produksi oksitosin oleh
kelenjar hipofisis posterior. Oksitosin memasuki darah dan menyebabkan
kontraksi sel-sel khusus (sel-sel myoepitel) yang mengelilingi alveolus
mammae dan duktus laktiferus. Kontraksi sel-sel khusus ini mendorong
ASI keluar dari alveolus melalui duktus laktiferus menuju ke sinus
laktiferus dimana ASI akan disimpan. Pada saat bayi menghisap, ASI di
dalam sinus tertekan keluar ke mulut bayi. Gerakan ASI dari sinus ini
disebut letdown atau pelepasan. Pada akhirnya, let down dapat dipicu tanpa
rangsangan hisapan. Let down dapat terjadi bila ibu mendengar bayi
menangis atau sekedar memikirkan tentang bayinya. Let down penting
sekali bagi pemberian ASI yang baik. tanpa pelepasan, bayi dapat
menghisap terus menerus tetapi hanya memperoleh sebagian dari ASI
yang tersedia dan tersimpan di dalam payudara. Bila let down gagal terjadi
berulangkali dan payudara berulangkali tidak dikosongkan pada waktu
pemberian ASI, refleks ini akan berhenti berfungsi, dan laktasi akan
berhenti.
Cairan pertama yang diperoleh bayi dari ibunya sesudah melahirkan
adalah kolostrum, yang mengandung campuran yang lebih kaya akan
protein, mineral, dan antibodi daripada ASI yang telah mature. ASI mulai
ada kira-kira pada hari ketiga atau keempat setelah kelahiran bayi, dan
kolostrum berubah menjadi ASI yang mature kira-kira 15 hari sesudah
bayi lahir. Bila ibu menyusui sesudah bayi lahir dan bayi diperbolehkan
sering menyusu, maka proses adanya ASI akan meningkat (Pusdiknakes,
2003:15-16).
Berat payudara saat laktasi sekitar 600-800 gram. Kecepatan sintesis dan
banyaknya ASI yang diproduksi dapat bervariasi pada tiap payudara
menurut frekuensi menyusui dan banyaknya ASI yang dikeluarkan.
Laktogenesis mulai sekitar 12 minggu sebelum melahirkan sebagai
laktogenesis I dan dimulai pada masa postpartum dengan penurunan
progesteron yang cepat setelah pelahiran plasenta (laktogenesis II). Tahap
II ditandai dengan sekresi ASI yang banyak pada dua sampai tiga hari
postpartum. Galaktopoiesis (tahap III laktogenesis) merupakan produksi
ASI matur yang terus menerus. Penyapihan mengakibatkan involusi
payudara, yang dikarakteristikkan dengan dua proses fisiologis yang
berbeda: sel sekretorik mengalami apoptosis (kematian sel yang
terprogram) dan membran dasar kelenjar mammae mengalami degradasi
proteolitik. Selama involusi payudara, banyak epitelium payudara
direabsorpsi (Varney, 2007).
a. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laktasi
Antara lain faktor anatomis atau fisiologis mammae, makanan atau diet
ibu, intake cairan, istirahat ibu, isapan bayi, obat-obatan dan psikologis
ibu. Produksi ASI bertambah sesuai dengan kebutuhan bayi, pada
umumnya kebutuhan ASI bertambah apabila keadaan ibu normal.
Mammae keras dan oedema terjadi bila terdapat penumpukan ASI
sehingga menimbulkan gangguan sirkulasi darah dan getah bening dan
menimbulkan nyeri (Sarwono Prawirohardjo, 2007).
b. Manajemen laktasi adalah suatu tata laksanan menyeluruh yang
menyangkut laktasi dan penggunaan ASI, yang menuju suatu
keberhasilan menyusui untuk pemeliharaan kesehatan ibu dan bayinya.
Secara singkat manajemen laktasi dijabarkan berdasarkan faktor-faktor
dalam periode kehamilan sebagai berikut :
 Periode prenatal
1. Pendidikan-penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang
manfaat menyusui dan pelaksanaaan rawat gabung.
2. Adanya dukungan keluarga.
3. Adanya dukungan dan kemampuan tenaga kesehatan.
4. Pemeriksaan payudara.
5. Persiapan payudara.
6. Persiapan payudara dan puting susu.
7. Gizi yang bermutu
8. Cara hidup sehat.
 Periode nifas dini
1. Ibu dan bayi harus siap menyusui
2. Segera menyusu setelah bayi lahir
3. Teknik menyusui yang benar
4. Menyusui harus sering sesuai kebutuhan
5. Tidak memberikan susu formula
6. Tidak memakai puting buatan atau pelindung
7. Pergunaka kedua payudara bergantian
8. Perawatan payudara
9. Memelihara fisik dan psikis
10. Makanan yang bermutu
11. Istirahat cukup
 Periode nifas lanjut-sistem penunjang
1. Sangat idela dalam 7 hari setelah pulang dari rumah sakit, si ibu
dihubungi atau dikunjunig untuk melihat perkembangan dan
situasi rumahnya, persoalan biasanya timbul pada minggu
pertama.
2. Adanya sarana pelayanan atau konsultasi bila secara mendadak
ibu mendapat persoalan dengan laktasi dan menyusui
3. Adanya keluarga dan teman yang membantu dirumah.
4) Perubahan system tubuh lain
a. Perubahan pembuluh darah rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh darah yang
besar, tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran
darah yang banyak, sebagian besar pembuluh darah mengalami obliterasi
atau menghilang oleh perubahan hialin sehingga pembuluh darah arteri
mengecil (Jane Coad, 2006).
b. Perubahan dinding perut dan peritoneum
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama,
tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu. Peritoneum menjadi
berlipat-lipat & keriput. Pemulihannya dapat dibantu dengan latihan
(Jane Coad, 2006).
c. Perubahan sistem urinaria
Efek trauma persalinan pada kandung kemih dan ureter menghilang
dalam 24 jam post partum. Dinding kandung kencing memperlihatkan
oedem dan hyperemia. Kadang-kadang oedem dari trigonum,
menimbulkan obstruksi dari uretra sehingga terjadi retensio urine.
Kandung kencing dalam puerperium kurang sensitive dan kapasitasnya
bertambah, sehingga kandung kencing penuh atau sesudah kencing
masih tinggal urine residual. Sisa urine ini dan trauma pada dinding
kandung kencing waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi.
Hendaknya miksi dapat dilakukan sendiri (spontan) secepatnya pada 6
jam post partum (Jane Coad, 2006).
d. Perubahan gastro intestinal
Pada 1-2 jam post partum ibu merasa lapar dan siap untuk menyantap
makanan. Konstipasi pada awal masa nifas disebabkan karena tidak
adanya input makanan padat selama persalinan. Terjadinya konstipasi
tidak boleh melebihi 3 hari post partum (Jane Coad, 2006).
e. Perubahan sistem hematologis
Jumlah haemoglobin, hematokrit, eritrosit sangat bervariasi pada ibu
nifas, tergantung pada hidrasi, input cairan dan kehilangan darah selama
persalinan serta pengurangan normal dari jumlah volume darah. Tingkat
normal komponen darah tercapai pada akhir masa nifas seperti saat
sebelum hamil (Jane Coad, 2006).
f. Perubahan pada aktivitas endokrin
Isapan bayi merangsang keluarnya oksitosin untuk pengeluaran air susu
dan mempercepat involusi. Serta hilangnya pengaruh supresi estrogen
dan progesterone dari plasenta mengakibatkan pengeluaran prolaktin
yang berpengaruh terhadap produksi ASI (Jane Coad, 2006).
Diagram Perubahan Fisiologis Masa Nifas

Sistem Involusi Uterus dan Pengeluaran


Reproduksi Lochea

Sistem Konstipasi akibat adanya pengaruh


Pencernaan hormon progesteron saat hamil.

Peningkatan volume darah ibu


Sistem karena hilangnya shunt setelah
Kardiovaskular persalinan

Sistem Pemulihan ligament diafragma


Muskuloskeletal pelvis
Masa Nifas

Sistem Penurunan volume darah akibat


Hematologi kehilangan darah saat bersalin

Sistem Penurunan hormon plasenta dan


Endokrin peningkatan hormon prolaktin

Sistem Kesulitan buang air kecil akibat


Perkemihan tekanan kepala janin saat bersalin

Tanda-tanda Peningkatan suhu tubuh dan


Vital penurunan tekanan darah

Sistem Diafragma dapat meningkatkan


pernafasan jarak gerakannya karena uterus
tidak lagi menekannya sehingga
ventilasi lobus basal paru
berlangsung penuh.
2.1.3 Kebutuhan Ibu pada Masa Nifas
[Link] Nutrisi
Kebutuhan nutrisi pada masa nifas meningkat 25% yaitu untuk produksi ASI dan
memenuhi kebutuhan cairan yang meningkat tiga kali dari biasanya. Penambahan
kalori pada ibu nifas sebanyak 500 kkal tiap hari. Makanan yang dikonsumsi ibu
berguna untuk melakukan aktivitas, metabolisme, cadangan dalam tubuh, proses
produksi ASI serta sebagai ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk
pertumbuhan dan perkembangannya.
Makanan yang dikonsumsi juga perlu memenuhi syarat, seperti susunannya harus
seimbang, porsinya cukup dan teratur, tidak terlalu asin, pedas atau berlemak, tidak
mengansung alkohol, nikotin serta bahan pengawet dan pewarna. Menu makanan
yang seimbang mengandung unsur-unsur, seperti sumber tenaga, pembangun,
pengatur dan pelindung. Untuk kebutuhan cairannya, ibu menyusui harus minum
sedikitnya 3 liter air setiap hari (Heliana Mellyana, 2003).
[Link] Istirahat
Istirahat atau tidur sangat diperlukan untuk mengembalikan kelelahan akibat
proses persalinan, disamping itu bermanfaat untuk membantu produksi ASI, proses
involusi, mengurangi darah yang keluar serta mengurangi depresi (Heliana Mellyana,
2003).
Setelah menghadapi ketegangan dan kelelahan saat melahirkan, usahakan untuk
rileks dan istirahat yang cukup, terutama saat bayi sedang tidur. Pasang dan
dengarkan lagu-lagu klasik pada saat ibu dan bayi beristirahat untuk menghilangkan
rasa tegang dan lelah. Kebutuhan istirahat dan tidur harus lebih diutamakan daripada
tugas-tugas rumah tangga yang kurang penting. Jangan sungkan untuk meminta
bantuan suami dan keluarga jika ibu merasa lelah. Istirahat juga memberi ibu energi
untuk memenuhi kebutuhan makan dan perawatan bayi sering dapat tidak terduga
(Heliana Mellyana, 2003).
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal, antara lain:
mengurangi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses involusi uterus,
memperbanyak perdarahan, bahkan menyebabkan depresi postpartum dan
ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri (Heliana Mellyana, 2003).
[Link] Aktifitas
Mobilisasi sangat bervariasi tergantung pada komplikasi persalinan, nifas atau
sembuhnya luka. Jika tidak ada kelainan, lakukan mobilisasi sedini mungkin, yaitu
dua jam setelah persalinan normal. ini berguna untuk memperlancar sirkulasi darah
dan mengeluarkan cairan vagina (lochea). Selain itu juga sangat berguna bagi semua
system tubuh terutama fungsi usus, kandung kemih, dan paru-paru disamping
membantu mencegah thrombosis pada pembuluh darah tungkai dan mengubah
perasaan sakit menjadi sehat (Heliana Mellyana, 2003).

[Link] Eliminasi
Pengeluaran air seni akan meningkat 24-48 jam pertama sampai sekitar hari ke-5
setelah melahirkan. Hal ini terjadi karena volume darah meningkat pada saat hamil
tidak diperlukan lagi setelah persalinan. Oleh karena itu, ibu perlu belajar berkemih
secara spontan dan tidak menahan buang air kecil ketika ada rasa sakit pada jahitan.
Menahan buang air kecil akan menyebabkan terjadinya bendungan air seni dan
gangguan kontraksi rahim sehingga pengeluaran cairan vagina tidak lancar (Heliana
Mellyana, 2003).
Sedangkan buang air besar akan sulit karena ketakutan akan rasa sakit, takut
jahitan terbuka atau karena adanya haemorroid (wasir). obstipasi pada 3 hari post
partum adalah fisiologis. Bila melebihi dapat dibantu dengan mobilisasi dini,
mengkonsumsi makanan tinggi serat dan cukup minum (Heliana Mellyana, 2003).

[Link] Kebersihan diri


Pada masa nifas dianjurkan untuk menjaga kebersihan diri secara keseluruhan
untuk menghindari infeksi, baik pada luka jahitan maupun kulit seluruh tubuh.
Pakaian sebaiknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat
karena produksi keringat menjadi banyak. Produksi keringat yang tinggi berguna
untuk menghilangkan ekstra volume saat hamil. Sebaiknya, pakaian agak longgar di
daerah dada sehingga payudara tidak tertekan dan kering. Demikian juga dengan
pakaian dalam, agar tidak terjadi iritasi (lecet) pada daerah sekitarnya akibat lochea.
1) Kebersihan rambut : Setelah bayi lahir, ibu mungkin akan mengalami kerontokan
rambut akibat gangguan perubahan hormon sehingga keadaannya menjadi lebih
tipis dibandingkan keadaan normal. Jumlah dan lamanya kerontokan berbeda-beda
antara satu wanita dengan wanita yang lain. Meskipun demikian, kebanyakan akan
pulih setelah beberapa bulan. Cuci rambut dengan conditioner yang cukup, lalu
menggunakan sisir yang lembut. Hindari penggunaan pengering rambut.
2) Kebersihan kulit : Setelah persalinan, ekstra cairan tubuh yang dibutuhkan saat
hamil akan dikeluarkan kembali melalui air seni dan keringat untuk menghilangkan
pembengkakan pada wajah, kaki, betis, dan tangan ibu. oleh karena itu, dalam
minggu-minggu pertama setelah melahirkan, ibu akan merasakan jumlah keringat
yang lebih banyak dari biasanya. Usahakan mandi lebih sering dan jaga agar kulit
tetap kering (Heliana Mellyana, 2003).
3) Kebersihan vulva dan sekitarnya
a. Mengajarkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan cara membersihkan
daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian
membersihkan daerah sekitar anus. Bersihkan vulva setiap kali buang air kecil
atau besar.
b. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut apabila pembalut
sudah penuh sehingga perlu diganti. Kain dapat digunakan ulang jika telah
dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
c. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah
membersihkan daerah kelaminnya.
d. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk
menjaga kebersihan luka.

[Link] Latihan
Latihan setelah melahirkan dilakukan untuk memperlancar sirkulasi darah dan
mengembalikan otot-otot yang kendur, terutama rahim dan perut yang memuai saat
hamil. Latihan untuk ibu primi dapat dilakukan setelah 2 x 24 jam post partum, untuk
ibu multi dapat dilakukan setelah 1 x 24 jam post partum. Latihan tertentu beberapa
menit setiap hari sangat membantu, seperti:
1) Dengan tidur terlentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi
menarik nafas ke dalam dan angkat dagu ke dada: tahan satu hitungan sampai 5.
Rileks dan ulangi sebanyak 10 kali.
2) Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul (latihan Kegel).
3) Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan pinggul dan
tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
4) Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan.
(Heliana Mellyana, 2003).
[Link] Dukungan
Ibu pada masa nifas membutuhkan dukungan emosional dan psikologis dari
pasangan dan keluarga mereka, yang bisa memberikan dukungan dengan jalan
membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas di rumah agar ibu mempunyai lebih
banyak waktu untuk mengasuh bayinya. Cegah timbulnya pertentangan dalam
hubungan keluarga yang menimbulkan perasaan kurang menyenangkan dan kurang
bahagia. Ibu dalam masa nifas bisa merasa takut, oleh karena itu ia akan memerlukan
dukungan dan dorongan dengan perasaan ketidakmampuan serta rasa kehilangan
hubungan yang erat dengan suaminya (Heliana Mellyana, 2003).

[Link] Perawatan Payudara


1) Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama puting susu.
2) Menggunkan BH yang menyokong payudara.
3) Apabila puting susu lecet oleskan kollostrum atau ASI yang keluar pada sekitar
puting susu setiap kali selesai menyusui. Meyusui tetap dilakukan muai dari
puting susu yang tidak lecet.
4) Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan
dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
5) Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan:
6) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5
[Link] payudara dari arah pangkal menuju puting atau gunkana sisir untuk
mengurut payudara dengan arah menuju puting.
7) Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu
menjadi lunak.
8) Susukan bayi setiap 2-3 jam atau sesuai kebutuhan bayi. Apabila tidak dapat
mengisap seluruh ASI sisanya keluarkan dengan tangan.
9) Bersihkan payudara setelah menyusui.
(Heliana Mellyana, 2003).

[Link] Hubungan Seksual


Sarankan secara fisik untuk memulai hubungan seksual begitu darah merah
berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa
nyeri, luka jahitan perineum sembuh dan tidak ada rasa tidak nyaman, aman untuk
memulai melakukan hubungan seksual kapan saja klien siap (Heliana Mellyana,
2003).

[Link] Keluarga Berencana (KB)


Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin
merencanakan tentang keluarganya. Idealnya pasangan menunggu sekurang-
kurangnya 2 tahun untuk kehamilan berikutnya. Meskipun beberapa metode KB
mengandung risiko, akan tetapi menggunakan kontrasepsi lebih aman. Sarankan
kapan metode KB itu dapat dimulai, digunakan untuk wanita pasca persalinan dan
menyusui (Heliana Mellyana, 2003).

2.1.4 Tujuan Masa Nifas


Tujuan dari pemberian asuhan masa nifas ini adalah:
1) Memulihkan dan mempertahankan kesehatan fisik ibu dengan :
- mobilisasi bertahap
- menjaga kebersihan
- mencegah terjadinya anemia
2) Memulihkan dan mempertahankan kesehatan psikologis ibu dengan memberi
dukungan dan memperkuat keyakinan ibu dalam menjalankan peran ibu.
3) Mencegah terjadinya komplikasi selama masa nifas dan bila perlu melakukan
pengobatan atau rujukan.
4) Memperlancar dalam pembentukan ASI.
5) Memberikan konseling informasi dan edukasi / KIE kepada ibu dan keluarga
tentang perubahan fisik dan tanda-tanda infeksi, pemberian ASI, asuhan pada diri
sendiri, gizi seimbang, kehidupan seksual, dan kontrasepsi.
(Sujiyatini, dkk., 2010)
2.1.5 Perubahan Psikologis
Menurut Reva – Rubin, perubahan psikologis yang terjadi pada masa nifas adalah:
1. Periode Taking- In
Periode ini terjadi 1-2 hari setelah melahirkan, periode ini tertuju pada
kekhawatiran akan tubuhnya, sehingga ibu terlihat tidak aktif. Ibu lebih banyak
menyebut- nyebut pengalamannya selama persalinan.
2. Periode Taking- hold
Periode berlangsung 2-4 hari setelah melahirkan, ibu menjadi perhatian kepada
kemampuannya untuk menjadi orang tua yang sukses dan bertanggung jawab
terhadap bayinya. Ibu berusaha keras untuk menguasai keterampilan dan perawatan
bayi.
3. Periode Letting go
Periode ini terjadi setelah ibu pulang ke rumah, dimana ibu melakukan tanggung
jawab terhadap bayinya. Depresi post partum umumnya terjadi pada periode ini ( post
partum blues). ( Kebidanan sebagai Komunitas : 8)
2.1.6 Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Dalam masa nifas bidan bidan mempunyai peranan dan bertanggung jawab dalam
memberikan asuhan pada ibu termasuk dukungan sesuai kebutuhan ibu yang meliputi
:
1) Mengidentifikasi dan merespon terhadap kebutuhan dan kemungkinan komplikasi
yang terjadi pada masa nifas.
2) Mengevaluasi asuhan yang diberikan dan membuat rencana tindak lanjut dengan
melibatkan ibu dan keluarganya.
(Sujiyatini, dkk., 2010)

2.2 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Normal


2.2.1 Pengkajian (Subjektif dan Objektif)
Pengkajian dapat diperoleh dari data subyektif dan data obyektif.
[Link] Data Subjektif
1. Identitas (klien dan suami)
- Nama yang jelas dan lengkap, bila perlu ditanyakan nama panggilan
sehari-hari
- Umur
Untuk mengetahui resiko tinggi usia > 35 th.
- Agama
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Alamat
2. Keluhan utama
Adalah keluhan yang dirasakan oleh klien yang menyebabkan adanya
gangguan, yang perlu ditanyakan pada klien pada masa nifas adalah :
- Bagaimana keadaan ibu
- Apakah ibu merasa mules-mules pada perutnya
- Bagaimana pengeluaran lochea
- Apakah ibu merasa sakit pada jahitan perineum
- Apakah ada masalah dengan proses laktasi (Heliana Mellyana, 2003)
3. Riwayat Obstetri lalu
Berisi tentang riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu.
4. Riwayat Persalinan sekarang
Jenis persalinan , tempat bersalin, penolong, keadaan bayi dan placenta.
5. Riwayat dan rencana KB
KB terakhir dan rencana KB selanjutnya.
6. Status Perkawinan
Menikah berapa kali, usia pertama menikah dan lama menikah.
7. Riwayat kesehatan klien
Yang perlu dikaji, apakah klien mempunyai riwayat hipertensi sebelum
hamil, atau pernah mengalami pre eklampsia pada kehamilan sebelumnya.
8. Riwayat Penyakit Keluarga
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh
penyakit keluarga terhadap klien atau bayinya. Di dalam keluarga orang
tua klien apakah menderita hipertensi atau penyakit lain seperti DM,
jantung, asma.
9. Pola Fungsional kesehatan
a. Pola Nutrisi
Penambahan kalori pada ibu nifas sebanyak 500 kkal tiap hari. Untuk
kebutuhan cairannya, ibu menyusui harus minum sedikitnya 3 liter air
setiap hari (Heliana Mellyana, 2003).
b. Pola Eliminasi
Dalam keadaan normal, klien dapat BAK secara spontan 8 jam setelah
melahirkan, sedangkan BAB biasanya tertunda 2-3 hari setelah
melahirkan. (Heliana Mellyana, 2003).
c. Pola Aktifitas
Jika tidak ada kelainan, lakukan mobilisasi sedini mungkin, yaitu dua
jam setelah persalinan normal. (Heliana Mellyana, 2003).
d. Pola Istirahat
Setelah melahirkan apakah klien dapat istirahat atau tidur sesuai
kebutuhannya. Berapa jam klien tidur dalam sehari, dan apakah ada
kesulitan selama ibu melakukan istirahat.
e. Pola kebersihan diri
Pada masa nifas dianjurkan untuk menjaga kebersihan diri secara
keseluruhan untuk menghindari infeksi, baik pada luka jahitan maupun
kulit seluruh tubuh. Pakaian sebaiknya pakaian terbuat dari bahan yang
mudah menyerap keringat karena produksi keringat menjadi banyak.
Produksi keringat yang tinggi berguna untuk menghilangkan ekstra
volume saat hamil. Sebaiknya, pakaian agak longgar di daerah dada
sehingga payudara tidak tertekan dan kering. Demikian juga dengan
pakaian dalam, agar tidak terjadi iritasi (lecet) pada daerah sekitarnya
akibat lochea. (Heliana Mellyana, 2003)
10. Keadaan Psikososial yang perlu diketahui adalah bagaimana sikap
klien terhadap interaksi yang dilakukan. Respon ibu terhadap bayinya,
dukungan keluarga, dan kesiapan menjadi orang tua.
11. Latar Belakang Sosial Budaya
Data ini untuk mengetahui kebiasaan keluarga kalau melahirkan, dan
kebiasaan-kebiasaan lain yang ada hubungannya dengan kesehatan klien
dan janinnya, misalnya merokok, minum obat-obatan tertentu, minum
jamu, dan lain-lain.

[Link] Data Objektif


1. Pemeriksaan Umum
Yang ditanyakan meliputi :
a. Tanda-tanda vital : tekanan darah stabil berkisar antara 120/80-110/70
mmHg, nadi batas normal antara 74-88 x/menit, suhu tubuh sedikit
meningkat tidak lebih dari 38°C. (Coad, 2006)
2. Pemeriksaan Fisik
a. Wajah : konjunctiva merah muda, bibir pucat atau tidak, keadaan
gigi dan mulut.
b. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada bendungan
vena jugularis.
c. Keadaan payudara
Putting susu : menonjol/datar, pengeluaran produksi ASI belum keluar
(hari ke 1-2 PP), kolostrum positif pada hari pertama bila dipijat,
konsistensi lembek atau keras. (Pusdiknakes, 2003)
d. Keadaan Uterus
 Setelah plasenta lahir uterus menjadi kecil dan TFU teraba kira-kira 1
jari dibawah pusat.
 Hari ke 1-2 : TFU 2 jari dibawah pusat
 Hari ke 3 :TFU 2-3 jari dibawah pusat
 Hari ke 4-5 : TFU pertengahan pusat-symphisis
 Hari ke 7 : TFU 2-3 jari diatas symphisis
 Hari ke 9 : TFU 1 jari diatas symphisis
 Hari ke 10-12 : TFU tak teraba dari luar (Montgomery, 1994)
 Kontraksi uterus
Kadang-kadang klien merasa perutnya mules-mules pada saat uterus
berkontraksi, hal ini terjadi 2-3 hari pertama post partum.
e. Kandung kemih : penuh atau tidak penuh.
f. Genitalia :
Ada atau tidak jahitan perineum.
Pengeluaran pervaginam :
 Warna lochea :
Hari ke 1-2 : lochea rubra, warna merah
Hari ke 3-7 : lochea sanguinolenta, warna merah kekuningan
Hari ke 7-14 : lochea serosa, warna kuning
> 14 hari : lochea alba, warna putih (Prawirohardjo, 2007)
 Bau lochea dan konsistensi
Lochea normal memiliki bau apek, konsistensi encer/bergumpal.
g. Anus : hemoroid ada atau tidak.
h. Ekstremitas : atas dan bawah : terdapat oedem atau tidak.
2.2.2 Diagnosa dan Masalah Aktual (Interpretasi Data Dasar)
Papah dengan post patum fisiologis hari ke- ...
Masalah :
1. Nyeri kepala
2. Nyeri payudara
3. Letih
4. Perut kembung
5. Konstipasi
6. Nyeri perineum
7. Sering kencing
2.2.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Potensial terjadi perdarahan dan infeksi.
2.2.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Diberikan apabila diperlukan tindakan segera seperti mandiri, kolaborasi dan rujukan.
2.2.5 Rencana Tidakan dan Rasional
1. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga
R/ informasi mengenai keadaan ibu kepada ibu dan keluarga akan mengurangi
kecemasan mereka.
2. Lakukan informed consent kepada keluarga terhadap tindakan yang akan
dilakukan.
R/ tindakan medis dapat dipertanggungjawabkan
3. Observasi kontraksi uterus (involusi uterus), TFU, pengeluaran ASI dan lochea
R/ memantau kondisi ibu post partum.
4. Informasikan pada ibu untuk istirahat yang cukup, tidur saat bayi sedang tidur.
R/ kurang istirahat dapat mempengaruhi produksi ASI.
5. Rencana pemberian KIE, ASI eksklusif, perawatan BBL, nutrisi ibu nifas, personal
hygine, dan vulva hygine, mobilisasi dini.
R/ membantu ibu dalam perawatan masa nifasnya.
6. Berikan ibu nutrisi TKTP dan makanan berserat serta minum yang banyak
R/ mempercepat proses penyembuhan jahitan perineum ibu nifas dan
memperlancar BAB.
7. Jadwalkan kontrol ulang untuk ibu dan bayi
R/ memantau kondisi ibu dan bayi
2.2.6 Implemntasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien berdasarkan rencana tindakan
yang telah dibuat.
2.2.7 Evaluasi
Tindakan pengukuran antara keberhasilan dalam melaksanakan tindakan untuk
mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan yang dilakukan sesuai kriteria hasil
yang ditetapkan dan apakah perlu untuk melakukan asuhan lanjutan atau tidak.
BAB III
TINJAUAN KASUS

PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : 11 September 2014 Oleh : Prastiwi Novia P.
Pukul : 07.00 Tempat : BPM Farida Hajri Surabaya

I. Data Subjektif
1. Biodata
Nama Ibu : Ny. N Nama Suami : Tn. M
Umur : 30 tahun Umur : 31 tahun
Suku/ Bangsa : Jawa / Indonesia Suku/ Bangsa : Jawa / Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pekerjaan : - Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Alamat : Nyamplungan

2. Keluhan
Masih lemes dan sedikit pusing

3. Riwayat Menstruasi
Siklus : ±30 hari
Lamanya : 6-7 hari
Sifat darah : Encer
Teratur atau tidak : Teratur
Fluor albus :-
HPHT : 7 Desember 2013
4. Riwayat Obstetri yang Lalu
Kehamilan Persalinan Anak Nifas Ket

Sua Keha Umur Pe Peno Jenis Pe Tpt Jeni BB/PB M Hi Pe L KB


mi milan kehamil nyu long Pers nyu per s a du ny m
ke ke an lit al lit sal kela ti p u me
min lit ne
tek
i
Bida BP 5
1 1 9 bln spt P 3000
n M th
2 I N I

5. Riwayat KB
Ibu menggunakan KB suntik 3 bulan

6. Riwayat Persalinan Sekarang


Tanggal Persalinan : 11 September 2014 (Pkl.03.29 WIB)
Cara Persalinan : Spontan, Belakang Kepala
− Kala I
His dimulai : Tgl 10-09-2014 Jam 04.30 wib.
Ketuban pecah : Tgl 10-09-2014 Jam 01.30 wib.
− Kala II
Lama kala II : 29 menit
Pembukaan lengkap : 03.00 wib
Bayi lahir : Tanggal 11-09-2014 Jam 03.29 WIB, Spontan
Di tolong oleh : Bidan
Jenis kelamin : Laki-laki
BBL : 3000 gram
TBL : 50 cm
Apgar Score : 7/8
− Kala III
Lama kala III : 51 menit
Plasenta lahir : Tanggal 11-09-2012 jam 04.20 WIB
Berat : 500gram
Ukuran (luas) plasenta : 10x10x5 cm
Panjang tali pusat : 50 cm
Keadaan plasenta : Lengkap
Penyulit/ Komplikasi : Retensio Plasenta
− Perdarahan ±800 cc

7. Riwayat Kesehatan/ Penyakit Klien


Ibu tidak ada riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, jantung, asma, TB.

8. Riwayat Kesehatan/ Penyakit Keluarga


Keluarga ibu tidak ada yang memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi,
jantung, asma, TB, dan ibu memiliki riwayat gemeli.

9. Riwayat Psikososial dan Budaya


a. Status Perkawinan
Perkawinan ke1. Lama perkawinan : ±6 tahun
b. Respon ibu terhadap kelahiran bayi termasuk emosi, dukungan keluarga, kesiapan
menjadi orang tua : ibu dan keluarga senang dengan kelahiran bayinya, keluarga
dan suami mendukung, serta pasangan siap menjadi orang tua.
c. Bounding attachment : belum terjadi bounding attachment antara ibu dengan bayinya.
Karena bayi masih berada di ruang bayi, belum diserahkan ke ibunya.
d. Kebiasaan yang menguntungkan/ merugikan: tidak ada

10. Pola Fungsi kesehatan


Pola postpartum
Nutrisi dan cairan Ibu sudah makan dan minum pada pukul 06.00
Tidur dan istirahat Ibu belum bisa istirahat cukup dengan tenang
Eliminasi Ibu belum BAK dan BAB
Aktifitas dan mobilisasi Ibu hanya bisa miing di tempat tidur
II. Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
 Kesadaran : Compos Mentis
 Keadaan emosional : baik
 Tanda-tanda vital
- Tekanan Darah : 110/70 mmHg
- Suhu Tubuh : 36,4°C
- Denyut Nadi : 84x/menit
- Pernafasan : 22x/menit
b. Pemeriksaan Fisik
 Muka/ Wajah
Inspeksi :
- tidak ada oedema
- tidak ikterus
- conjungtiva agak pucat
- sclera putih
 Payudara
Inspeksi :
- Pembesaran : tidak ada massa abnormal, simetris.
- Puting susu : menonjol
- Kebersihan : bersih
Palpasi :
- Konsistensi : lunak
- Pengeluaran : colostrum ada
 Abdomen/ uterus
- Tinggi fundus uteri : 1 jari bawah pusat
- Konsistensi uterus : keras
- Kontraksi uterus : baik
- Kandung kemih : kosong
 Ekstremitas Atas/ Bawah
Inspeksi dan Palpasi :
- Oedema : -/-
 Pengeluaran pervaginam/ pengeluaran lokhea
- Warna : merah
- Bau : anyir
- Jumlah : sedang (± 20 cc)
- Konsistensi : kental
- Anus dan perineum:
- Luka jahitan perineum : bersih, kering, tidak ada pus dan darah, tidak berbau.
c. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan laboratorium
Hb: 12 gr%

III. Assessment
P2002 post partum spontan belakang kepala 3 jam

IV. Penatalaksanaan
Waktu Penatalaksanaan Evaluasi
07.30 Mengobservasi keadaan umum dan kondisi E/Kondisi fisik ibu baik, involusi
fisik ibu, meliputi kondisi umum, tekanan uterus normal, kontraksi baik.
darah, suhu, nadi, kontraksi, kandung - Tekanan Darah : 110/70 mmHg
kemih, perdarahan, dan TFU. - Suhu Tubuh : 36,4°C
- Denyut Nadi : 84x/menit
- Pernafasan : 22x/menit
Kandung kemih kosong TFU 1
jari bawah pusat pusat. Lochea
rubra. Tidak ada perdarahan
abnormal.
07.35 Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu E/ Ibu dan keluarga mengetahui
dan keluarga hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan.
07.40 Memberitahu ibu cara merawat luka E/ Ibu berkata akan merawat luka
perineum yaitu dengan menjaga tetap perineum dengan benar.
kering dan bersih.
07.45 Memberikan konseling tentang nutrisi dan E/ Ibu akan makan dan minum
istirahat yang cukup selama masa nifas teratur, tidak ada gangguan/tarak
dan beristirahat cukup agar tidak
pusing lagi.
07.46 Meminta ibu untuk meminum obatnya E/ Ibu mengerti penjelasan yang
(Asam mefenamat 3x500, ciproflofaxin diberikan dan bersedia meminum
3x500, samcobion 2x1) dan menjelaskan asam mefenamat dan B-complex.
tujuan diberikan obat tersebut, yakni untuk
mengurangi rasa nyeri pada luka jahitan
dan vitamin tambahan.
07.50 Memberikan KIE (Komunikasi, Informasi, E/ Ibu mengerti dan dapat
dan Edukasi) kepada Ibu mengenai tanda mengulangi penjelasan yang
bahaya masa nifas, yaitu kelelahan dan diberikan.
sulit tidur, demam, nyeri atau terasa panas
ketika buang air kecil, sembelit atau
haemoroid, sakit kepala terus menerus,
nyeri, bengkak, nyeri abdomen, cairan
vagina (lokhea) berbau busuk.

Catatan Perkembangan
Tanggal pengkajian : 11 September 2014 Oleh : Prastiwi Novia P.
Pukul : 10.15 Tempat : BPM Farida Hajri Surabaya

S : Pusing sudah berkurang

O : Kesadaran : Compos Mentis


Tanda-tanda vital
- Tekanan Darah : 110/70 mmHg
- Suhu Tubuh : 36,4°C
- Denyut Nadi : 88x/menit
- Pernafasan : 22x/menit
TFU : 1 jari bawah pusat
A : P2002 post partum spontan belakang kepala 6 jam

P :

Waktu Penatalaksanaan Evaluasi


10.20 Mengobservasi keadaan umum dan E/Kondisi fisik ibu baik, involusi
kondisi fisik ibu, meliputi kondisi uterus normal, kontraksi baik. TFU
umum, tekanan darah, suhu, nadi, 1 jari bawah pusat pusat. Lochea
kontraksi, kandung kemih, perdarahan, rubra. Tidak ada perdarahan
dan TFU. abnormal.
10.23 Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada E/ Ibu dan keluarga mengetahui
ibu dan keluarga hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan.
10.25 Memberitahu ibu agar tidak menahan E/ Ibu bersedia tidak menahan jikan
jika ingin berkemih atau BAB ingin berkemih atau BAB

CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal pengkajian : 12 September 2014 Oleh : Prastiwi Novia P.
Pukul : 08.00 Tempat : BPM Farida Hajri Surabaya

S : Ibu sudah tidak pusing lagi

O : Kesadaran : Compos Mentis


Tanda-tanda vital
- Tekanan Darah : 110/80 mmHg
- Suhu Tubuh : 36,5°C
- Denyut Nadi : 84x/menit
- Pernafasan : 21x/menit
TFU : 1 jari bawah pusat
A : P2002 1 hari post partum spontan belakang kepala

P :

Waktu Penatalaksanaan Evaluasi


08.05 Mengobservasi keadaan umum dan E/Kondisi fisik ibu baik, involusi
kondisi fisik ibu, meliputi kondisi uterus normal, kontraksi baik. TFU
umum, tekanan darah, suhu, nadi, 1 jari bawah pusat pusat. Lochea
kontraksi, kandung kemih, perdarahan, rubra. Tidak ada perdarahan
dan TFU. abnormal.
08.10 Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada E/ Ibu dan keluarga mengetahui
ibu dan keluarga hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan.
08.15 Mengajari cara membersihkan puting Ibu mengerti penjelasan yang
ibu, mengajarkan pada ibu cara merawat diberikan dan dapat membersihkan
payudara, dan cara menyusui yang puting serta melakukan perawatan
benar. payudara secara mandiri. Ibu juga
belajar menyusui anaknya.
08.30 Mendorong ibu untuk menjalankan E/ Ibu bersedia menjalankan ASI
program ASI eksklusif selama 6 bulan. ekskluif
08.32 Memberikan HE tentang perawatan E/ Ibu mengerti penjelasan yang
bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap diberikan dan dapat mengulanginya
hangat dan merawat bayi sehari-hari
08.35 Memberitahu dan membantu ibu untuk E/ Ibu mau mendiskusikan dengan
memilih kontrasepsi. suami terlebih dahulu
08.40 Menanyakan dan mengevaluasi kembali E/ Ibu mengerti dan dapat
tanda bahaya masa nifas yang telah mengulangi tanda bahaya masa
diberikan. nifas.

Catatan Perkembangan
Tanggal pengkajian : 12 September 2014 Oleh : Prastiwi Novia P.
Pukul : 10.00 Tempat : BPM Farida Hajri Surabaya

S :-
O : Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-tanda vital
- Tekanan Darah : 100/70 mmHg
- Suhu Tubuh : 36,6°C
- Denyut Nadi : 80x/menit
- Pernafasan : 22x/menit
TFU : 2 jari bawah pusat
A : P2002 1 hari post partum spontan belakang kepala
P :

Waktu Penatalaksanaan Evaluasi


10.10 Mengobservasi keadaan umum dan E/Kondisi fisik ibu baik, involusi
kondisi fisik ibu, meliputi kondisi uterus normal, kontraksi baik. TFU
umum, tekanan darah, suhu, nadi, 2 jari bawah pusat pusat. Lochea
kontraksi, kandung kemih, perdarahan, rubra. Tidak ada perdarahan
dan TFU. abnormal.
10.15 Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada E/ Ibu dan keluarga mengetahui
ibu dan keluarga hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan.
10.20 Memberitahu ibu tentang jadwal E/ Ibu menggangguk dan berkata
imunisasi untuk bayinya. sudah mengerti
10.25 Menanyakan dan mengevaluasi kembali E/ Ibu mengerti dan dapat
tanda bahaya masa nifas yang telah mengulangi tanda bahaya masa
diberikan. nifas.
10.30 Membantu Ibu menyiapkan kebutuhan E/ Ibu pulang pada jam 11.00
pulang
BAB IV
PEMBAHASAN

Setiap masa nifas dan setiap ibu adalah berbeda. Ada beberapa gejala atau masalah
yang muncul sebagai akibat dari proses persalinan sebelumnya, dan ada pula gejala baru.
Dari asuhan kebidanan yang dilakukan pengumpulan data dapat dilakukan dengan
baik karena adanya kerjasama yang baik antara ibu dengan petugas. Pengkajian dilakukan
berdasarkan data-data yang fokus untuk menegakkan diagnosa dan masalah pada ibu.
Pada pengkajian data subjektif, Ny N mengeluh lelah dan sedikit pusing, ini disebabkan oleh
kelelahan setelah proses persalinan yang cukup lama akibat adanya penyulit retensio plasenta,
penatalaksanaan untuk keluhan ini adalah menyarankan ibu untuk istirahat yang cukup
selama masa nifas. Istirahat atau tidur sangat diperlukan untuk mengembalikan kelelahan
akibat proses persalinan, disamping itu bermanfaat untuk membantu produksi ASI, proses
involusi, mengurangi darah yang keluar serta mengurangi depresi (Heliana Mellyana, 2003).
Pada pengumpulan data obyektif, tidak ditemukan adanya perbedaan antara kenyataan
dengan teori yang mengarah pada keadaan patologis. TFU dan pengeluaran lochea sesuai
dengan teori yang ada. Teori mengatakan setelah plasenta lahir uterus menjadi kecil dan TFU
teraba kira-kira 1 jari dibawah pusat dan pada hari ke 1-2 : TFU 2 jari dibawah pusat, serta
lochea rubra, warna merah (Prawirohardjo, 2007). Hal ini sesuai dengan kondisi tfu ibu yaitu
1 jari dibawah pusat pada 6 jam post partum dan 2 jari bawah pusat pada hari 1 post partum
serta lochea ibu yang berwarna merah.
Berdasarkan hasil pengkajian data, dilakukan interpretasi data. Dalam hal ini tidak
didapatkan adanya kesenjangan antara teori dan kenyataan. TFU, lochea, perubahan
fisiologis maupun psikologisnya sesuai dengan teori.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir
setelah kira – kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti
sebelum ada kehamilan dalam 3 bulan (Prawirohardjo, 2005).
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu perubahan fisik,
involusi uterus dan pengeluaran lokhia, laktasi/pengeluaran air susu ibu, perubahan
sistem tubuh lainnya, dan perubahan psikis. Setiap masa nifas dan setiap ibu adalah
berbeda. Ada beberapa gejala atau masalah yang muncul sebagai akibat dari proses
persalinan sebelumnya, dan ada pula gejala baru.
Setiap perubahan yang terjadi pada setiap ibu nifas harus selalu diawasi,
diperhatikan karena asuhan akan disesuaikan dengan perubahan tersebut. Perubahan –
perubahan tersebut dapat mempengaruhi ibu secara psikis dan fisiologis sehingga
dukungan dan post natal care yang efektif, efisien dan berkesinambungan harus
diberikan kepada ibu untuk mempertahankan keadaan fisiologis pada masa nifas,
memberikan penanganan yang tepat pada resiko komplikasi.

5.2 Saran
Bidan harus mampu mengidentifikasi masalah-masalah yang dialami oleh ibu nifas
supaya lebih mudah dalam memberikan asuhan kebidanan yang komprehensif.
Memberikan pelayanan postnatal sesuai dengan kebutuhan ibu dan bayinya.
DAFTAR PUSTAKA

Bagian SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Tim. 2008. Pedoman Diagnosis dan
Terapi. Surabaya : Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo.

Coad, Jane dan Dunstall, M. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Bidan. Jakarta : EGC

Cunningham, F. Gary et al. 2005. Obstetri Williams. Edisi 21. Alih bahasa: Andry Hartono,
Y. Joko Suyono, Brahm U. Pendit. Jakarta: EGC

Fraser, Diane M and Cooper, Margaret A, Editor. 2009. Myles Buku Ajar Bidan. Jakarta:EGC

Grace, V. J. 2007. Journal Dexa Medika. http///www. [Link].

Heliana, Mellyana. 2003. Perawatan Ibu Postpartum, cetakan I. Jakarta : Puspaswara.

Mansjoer, Arif, dkk. 2009. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius FKUI

Manuaba. IBG. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta: EGC

Norwitz, Errol and Schorge, John. 2007. At a Glance Obstetri dan Ginekologi. Jakarta:
Erlanggga

Prawirohardjo, S. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP

Pusdiknakes. 2003. Buku 4. Asuhan Kebidanan Postpartum. Jakarta: Pusdiknakes-WHO-


JHPIEGO

Saifudin, Abdul Bari, Editor.2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Saifudin, Abdul Bari, Editor.2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo

Sujiyatini, dkk. 2010. Catatan Kuliah Asuhan Ibu Nifas. Jogjakarta: Cyrillus Publisher

Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Alih bahasa: Laily Mufidah dan
Gita Trisetyati. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai