0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan14 halaman

Proses Produksi Styrene Monomer

Dokumen tersebut membahas proses produksi styrene, terutama melalui dehidrogenasi ethylbenzene. Proses ini melibatkan reaksi ethylbenzene dengan katalis berbasis besi oksida pada suhu tinggi untuk menghasilkan styrene. Ada dua variasi proses utama yaitu adiabatis dan isotermal. Proses adiabatis dipilih karena lebih sederhana dan mampu meregenasi katalisnya.

Diunggah oleh

Falih Azmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan14 halaman

Proses Produksi Styrene Monomer

Dokumen tersebut membahas proses produksi styrene, terutama melalui dehidrogenasi ethylbenzene. Proses ini melibatkan reaksi ethylbenzene dengan katalis berbasis besi oksida pada suhu tinggi untuk menghasilkan styrene. Ada dua variasi proses utama yaitu adiabatis dan isotermal. Proses adiabatis dipilih karena lebih sederhana dan mampu meregenasi katalisnya.

Diunggah oleh

Falih Azmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROSES PRODUKSI STYRENE

A. SPESIFIKASI BAHAN BAKU & PRODUK


1. Spesifikasi Bahan Baku
Bahan Baku Ethylbenzen
Fase Liquid
Densitas pada 20oC 0.8670 g/cm3
Melting Point -94.949oC
Boiling Point at 101.3 kPa 136.2oC
Tekanan Kritis 3609 kPa
Suhu Kritis 344.02oC
Flash Point 15oC

2. Spesifikasi Bahan Produk


Bahan Baku Styrene
Fase Liquid
Mr 104.153
Boiling Point 145.15oC
Tekanan Kritis 3.83 MPa
Suhu Kritis 362.1oC
Flash Point -30.6oC
Densitas Kritis 0.297 g/mL
Volum Kritis 3.37 mL/g

B. PENDAHULUAN

Dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan import produk petrokimia, pemerintah menetapkan
peraturan yang mendorong perkembangan industri tersebut. Sejalan dengan itu industri petrokimia diIndonesia
seperti industri Styrene Monomer, juga turut berkembang. Hal ini terutama disebabkan oleh makin
meningkatnya permintaan produk-produk plastik yang menggunakan bahan dasar Styrene Monomer. Kegunaan
utamanya adalah sebagai zat antara untuk pembuatan senyawa kimia lainnya dan untuk memperkuat
industri hilir seperti :

1. Polystyrene (PS),
Industri ini merupakan konsumen terbesar Styrene Monomer karena untuk menghasilkan 1 ton
Polystyrene diperlukan 950 kg Styrene [Link] untuk membuat general purpose
polystyrene (HIPS).
2. Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS)
Industri ini mengkonsumsi 600 kg Styrene Monomer untuk menghasilkan 1 ton ABS. Kegunaannya untuk
pembuatan plastik keras bagi komponen mobil, gagang telpon, pipa plastik, dll.
3. Styrene Butadiena Latex (SBL)
Industri ini mengkonsumsi 550 kg StyreneMonomer untuk menghasilkan 1 ton SBL .Kegunaannya untuk
pembuatan pelapiskertas dan pelapis karet.
4. Impact Polystyrene Rubber (IPR),industri auto mobil.
5. Styrene Butadiene Rubber (SBR), digunakan dalam industri ban, radiator, heater,dan sebagainya.
Styrene Monomer adalah anggota dari kelompok aromatik monomer tak jenuh yangmempunyai rumus
molekul C6H5C2H5 dan mempunyai nama lain cinnomena.

Sampai akhir tahun 2003, di Indonesia baru terdapat satu buah pabrik yangmemproduksi Ethylbenzene
sebagai bahan baku pembuatan Styrene Monomer, yaitu [Link] Mono Indonesia (PT SMI) yang juga
memproduksi Styrene Monomer dengankapasitas 340.000 ton/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan
Ethylbenzene berasal dari PT Styrindo Mono Indonesia (PT SMI).Berdasarkan diskripsi diatas dilihat lebih
jauh akan keuntungan pendirian pabrik Styrene Monomer yaitu dari perbandingan harga bahan baku
dan hasil [Link] data diperoleh data harga bahan baku (Ethylbenzene) yaitu US$ 386/tonseda
sedangkangkan harga produk yang dihasilkan (Styrene Monomer) yaitu US$ 990/ton. Apabila dilihat dari
Nexant, total growth diperkirakan untuk styrene monomer di Indonesia sendiri sebesar 6.2% dalam kurun
waktu 2012-2018(estimate). Sehingga diperkirakan pada tahun 2018 di Indonesia adalah sebesar 126 ribu
ton. Selain itu, kebutuhan styrene dunia khususnya di Asia juga mengalami peningkatan sehingga potensi
styrene untuk diekspor sangatlah besar.

C. JENIS PROSES
1. Dehidrogenasi Ethylbenzene
Sekitar 85% produksi komersial styrene menggunakan proses dehidrogenasi langsung
ethylbenzene (Ulmann.,2005).

Reaksi ini berjalan pada fase gas dan menggunakan katalis yang mengandung iron oxide. Reaksi ini
bersifat endtorem, dan dapat dibuat adiabatis ataupun isotermal. Karena reaksi bersifat reversible dan
mol produk lebih besar dari pada mol reaktan, maka dalam reaksi digunakan tekanan rendah agar
reaksi dapat bergeser kearah produk.

a. Dehidrogenasi Adiabatis
Proses ini dikembangkan oleh Dow Chemical Coo. Dan Badger Company,Inc. Hampir 75% plant
menggunakan reaksi dehidrogenasi secara adiabatis denganmultiple reaktor atau reaktor bed yang
disusun seri.
Umpan ethylbenzene dicampur dengan recycle lalu dievaporasikan. Dilution steam harus ditambahkan
untuk mencegah ethylbenzene dari terbentuknya coke. Aliran ini dipanaskan dengan heat exchanger
hingga mencapai temperatur reaksi (640°C)dengan menggunakan superheated steam sebagai
pemanas. Aliran ini selanjutnya melewati katalis pada reaktor pertama. Reaksi adibatis
akan mengakibatkan penurunan temperatur, sehingga aliran yang keluar harus dipanaskan ulang
(reheated) sebelum masuk reaktor kedua. Pada reaktor pertama dapat dicapai konversi sebesar 35%
dan 65% secara keseluran sistem. Reaktor berjalan pada tekanan rendah sehingga lebih aman dan
mudah diaplikasikan. Keluaran reaktor yang memiliki temperatur tinggi akan digunakan sebagai
pemanas untuk mengurangi konsumsi energi, selanjutnya akandikondensasikan dan dipisahkan menjad
vent gas, crude styrene, dan steam condensate. Crude styrene akan didstilasi. Steam condensate akan
direuse.

b. Dehidrogenasi Isotermal

Proses ini dikembangkan oleh BASF. Reaktor dibangun seperti shell and tubeheat exchanger dimana
ethylbenzene dan steam akan mengalir melalui tube yangdipacking katalis. Panas reaksi disuplai dari
flue gas pada shell. Perbandingan steam : oil mass adalah 1 : 1 dengan temperatur steam lebih rendah
dibandingkan dehidrogenasi adibatis. Kekurangan dari proses ini adalah terbatasnya ukuran pada
reactor- exchanger, dimana sebuah single-train plant membutuhkan 150x103 t/a, yang berarti
membutuhkan investasi investasi besar untuk plant yang besar.
Dengan pemanasan tidak langsung menggunakan flue gas, temperatur reaktor dapat dijaga pada kisaran
580-610C,hasilnya thermal cracking dapat ditekan. Rasio steam: ethylbenzene berkisar 0,6-0,9. Proses
ini menghasilkan konversi dan selektifitas tinggi.

2. Proses Pembuatan Styrene dari Oksidasi Propylene


Proses lain yang juga dapat digunakan dalam pembuatan styrene adalah
proses pembuatan dari oksidasi propylene. Tahap awal dalam proses ini adalah denganmereaksikan
ethylbenzene dengan udara pada suhu 1300 C dan tekanan 0,2 MPa; sehingga didapat ethylbenzene
hydroperoxide (EBHP), α-methylbenzyl alcohol(MBA), dan acetophenone (ACP). Adapun reaksinya
adalah sebagai berikut:

Setelah itu ethylbenzene hydroperoxide (EBHP) yang didapat, direaksikan dengan propylene dengan
bantuan katalis logam (titanium) pada suhu 1100C sehingga terbentuk propylene oxide (PO) dan
menambah jumlah MBA. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Untuk meningkatkan yield dari MBA, maka ACP dihidrogenasi dalam fase cair pada suhu 90 - 1500C dan
tekanan 8 MPa dengan katalis ZnO dan CuO
Dan tahap terakhir dari proses ini adalah dengan mendehidrasi MBA yang telah diperoleh menjadi
styrene pada suhu 2500C dan tekanan rendah, dengan bantuan katalis Al2O3

Berikut adalah flowsheet pembuatan styrene dengan proses styrene - propyleneoxide:

Walaupun proses ini juga dapat menghasilkan styrene, tetapi dibutuhkan investasi modal dan juga
biaya produksi yang tinggi dalam memproduksi styrene dibanding proses konvensional yang ada. Namun
hasil dari produk samping berupa PO dapat menutup semuanya itu, dan secara keseluruhan operasi
tetap menghasilkan profit . Ada sekitar 15% industi styrene didunia yang menggunakan proses ini dalam
kegiatan produksinya.

3. Proses Pembuatan Styrene dari Butadiene


Proses ini merupakan proses pembuatan styrene dengan melakukan dimerisasi pada 1,3
butadiene untuk membentuk 4-vinylcyclohexene-1 (VCH) pada kondisi 1400C dan tekanan 4
0
MPa ataupun dengan batuan katalis nitrosyl halide – ironcomplexes pada suhu 0 - 80 C dan tekanan 0,1
- 1,30 MPa. VCH yang didapat ini kemudian didehidrogenasi sehingga membentuk ethylbenzene,
atau dapat secara langsung melakukan dehidrogenasi secara oksidatif sehingga didapat styrene. Reaksi
yang terjadi adalah sebagai berikut:

Keuntungan dari proses ini adalah yield yang dihasilkan tinggi, proses pemurnian yang sederhana, dan
bahan baku C4 yang dapat diambil baik itu dari naphtha - gas oil steam cracker ataupun dari butadiene
yang telah dimurnikan terlabih dahulu. Secara ekonomi proses ini memang belum menguntungkan,
akan tetapi mengingat ketersediaan dan harga dari butadiene dimasa datang maka proses ini tetap
memungkinkan untuk dilakukan.

4. Proses Pembuatan Styrene dari Toluene


Proses pembuatan styrene dari toluene dapat dilakukan dengan memproduksistilbene dari toluene
yang dioksidasi menggunakan udara. Proses ini dilakukan dalam reaktor fluidized bed dengan bantuan
katalis. Stilbene yang didapat direaksikan dengan ethylene dengan katalis molybdenum sehingga
diperoleh styrene. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Keuntungan dari proses ini terletak pada bahan baku toluene yang mudah didapat dan harganya relatif
murah, serta sifat bahan dari toluene yang tidak [Link] tetapi biaya untuk memproduksi styrene
dari bahan baku toluene relatif mahal.

D. PEMILIHAN PROSES
Dari proses-proses pembuatan styrene yang ada dipilih proses dehydrogenasi ethylbenzene adiabatis
dengan pertimbangan :
1. Dehydrogenasi ethylbenzene memiliki proses yang lebih sederhana dibandingkan proses lainnya.
2. Pada proses dehydrogenasi ethylbenzene terdapat proses pencampuran steam yang berfungsi
dalam regenarasi katalis dengan cara bereaksi dan membawa keluar cokedari permukaan katalis
3. Pada proses dehydrogenasi ethylbenzene secara adiabatis hanya digunakan bahan pembantu
steam dan katalis Fe2O3, s edangkan pada proses lainya menggunakan bahan pembantu yang lebih
[Link] proses dehidrogenasi adibatis, kebanyakan pabrik styrene menggunakan Lummus
UOP technology atau Fina Badger technology.
a. Lummus/UOP Classic SM TM
Proses Lummus/UOP Classic SM TM merupakan plant komersial pertama yang banyak dipakai
sejak 1972. Proses ini dimulai dengan memasukan bahan baku ethylbenzeneyang telah dicampur
dengan steam ke dalam reaktor dehidrogenasi. Hasil keluaran dari reaktor dehidrogenasi ini
nantinya akan dikondensasi, kemudian dipisahkan sehingga didapat gas, kondensat, dan
campuran dehidrogenasi. Gas yang didapat initernayata kaya akan hidrogen, sehingga dapat
digunakan kembali sebagai bahan bakar. Kemudian pada kondensat yang diperoleh juga perlu
dilakukan proses pemisahan untuk menghilangkan senyawa organik yang terkandung didalamnya,
hal ini bertujuan agar kondensat dapat dijual lagi ataupun digunakan dalam pabrik pembuatan
styrene. Dan yang terakhir adalah melakukan proses separasi padacampuran dehidrogenasi
dengan empat kolom destilasi. Hasil dari proses pemisahan ini berupa ethylbenzene (yang tidak
terkonversi) yang nantinya dapat direcycle,styrene, benzene, dan toluene.

b. Fina/Badger Styrene Process


Dalam proses Fina/Badger Styrene bahan baku ethylbenzene yang telah dicampur dengan steam
akan dimasukan kedalam reaktor yang kemudian akan bereaksi. Hasil dari reaksi ini akan
dikondensasi sehingga menghasilkan vent gas, kondensat, dan senyawa hydrokarbon. Vent gas ini
nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar karena kaya akan hidrogen. Kemudian pada kondensat
yang didapat bisa digunakansebagai air umpan dalam sistem pembangkit uap. Dan pada senyawa
hidrokarbonakan dilakukan proses pemisahan lebih lanjut dengan menggunakaan tiga menara
destilasi yang dioperasikan dalam kondisi vakum untuk meminimalisir suhu yang digunakan dan
pembentukan polimer. Hasil dari pemisahan ini berupa ethylbenzene(yang tidak terkonversi),
styrene, benzene, dan toluene.
Proses dehidrogenasi yang terdapat dalam paten Lummus/UOP Classic SM TM merupakan proses
yang paling banyak dipakai oleh industri dalam memproduksi styrene; hal ini didasarkan karena
prosesnya yang sederhana, mudah dilakukan, dan memiliki efektivitas yang cukup tinggi dalam
menghasilkan produk styrene.

E. METODE SINTESA PRODUK


1. Distribute the Chemical
Reaksi utama pembuatan styrene adri ethybenzene bersifat reversible dan endoterm

Dengan adanya katalis reaksi memiliki yield yang tinggi. Berdasarkan reaksi fase gas diatas
membentuk 2 mol produk dari 1 mol reaktan. Tekanan rendah akan mengarahkan reaksi ke produk.
Seacara kinetika dan termodinamika kenaikan suhu akan meningkatkan produk, namun menyebabkan
reaksi samping yang akan mengurangi selektifitas [Link] samping yang dihasilkan reaktor adalah
benzene dan toluene. Pembentukan toluene menyebabkan penurunan yield terbesar sekitar 2% dari
produksi styrene ketika katalis dengan selektifitas tinggi digunakan

Pembentukan benzene menyebabkan penurunan yield sebesar 1% dari produksi styrene.


Terbentuknya karbon dapat mEnyebabkan poison katalis. Ketika potassium bergabung dengan
katalis iron-oxide, menyebabkan katalis dapat membersihkan dirinya (self-cleaning). Ketika karbon
bertemu dengan steam akan membentuk karbondioksida dan H2
Secara komersial reaktor beroperasi pada suhu 620°C dengan tekanan rendah, dengankonversi 50-
70 wt% dan yield 88-95mol%. Rasio Ethylbenzene : steam adalah sebsar 1:3. Katalis yang
sering digunakan adalah Shell 105 yang mengandung 84.3%Fe2O3 , 2.4% Cr2O3, dan 13.3% K2CO3.
Hasil keluar reaktor berupa styrene, sisa etylbenzene, toluene, dan benzene. Ethylbenzene dari tangki
akan dipompa meunuju mixer. Di dalam mixer terjadi pencampuran dengan recycle ethylbenzene
hasil [Link], reaktan Ethylbenzene bercampur dengan steam yang masuk kedalam
reaktor. Hasil keluar reaktor mengandung styrene, toluene, benzene, dan sisa ethylbenzene yang
selanjutnya akan dipisahkan dengan distilasi. Dalam proses distilasi akan dipisahkan antara styrene,
toluene, benzene, dan ethylbenzene. Styrene, toluene,dan benzene hasil distilasi akan ditampung
dalam storage tank, sedangkan ethylbenzene akan direcycle.

2. Eliminate Difference in Composition


Dari proses dehidrogenasi yang dilakukan maka akan didapat crude styrene dengan komposisi sebagai
berikut:

Untuk mendapatkan styrene yang diinginkan maka perlu dilakukan proses separasi. Proses separasi dari
crude styrene merupakan proses yang sederhana, akan tetapi dalam proses ini dibutuhkan suhu yang
cukup tinggi untuk meminimalkan reduksi dari polimerisasi styrene. Secara umum ada tiga langkah
dalam proses separasi crude styrene ini. Umpan masuk kolom distilasi 1, sebagai hasil bawah berupa
styrene. Dan sebagai hasil atas berupa campuran etyhlbenzene, benxene, dan toluene yang selanjutnya
masuk sebagai umpan di kolom distilasi 2, sebagai hasil bawah berupa ethylbenzene yang selanjutnya
direcycle kembali. Dan sebagai hasil atas berupa toluene dan benzene yang selanjutnya masuk sebagai
umpan pada kolom distilasi 3. Sebagai hasil atas berupa benzene dan bawah toluene. Berikut adalah
gambar yang menunjukan tentang proses separasi yang dilakukan
3. Eliminate Difference Temperature, Pressure, and Phase
Fresh feed Ethylbenzene dari tangki penyimpanan dipompa ke dalam mixer. Dimixer terjadi
pencampuran antara fresh feed dari tangki penyimpanan Ethylbenzenedengan hasil recycle. Dari mixer
selanjutnya mixed feed dipompa ke preheater 1 untuk pemanasan awal hingga mencapai kondisi
cair jenuh pada suhu 155,94° C kemudian dialirkan ke vaporizer untuk diubah fasanya menjadi fasa gas,
karena reaksi di dalam reaktor berada pada fasa gas. Fasa uap keluar vaporizer dimasukkan ke dalam
furnace untuk dinaikkan suhunya sampai 520°C. Superheated steam pada suhu 717°C dihasilkan oleh
furnace II dicampur bersama mixed feed untuk selanjutnya masuk ke dalam [Link] beroperasi
pada suhu 630 C dan tekanan 1,5 atm. Keluaran reaktor pertama pada suhu 550 CC ditambah steam
agar suhu campuran naik sampai 630 C sebelum masuk reaktor kedua. Produk keluar reaktor kedua
pada suhu 607 C dan tekanan 1,4 [Link] keluar reaktor II dimanfaatnkan panasnya untuk
menghasilkan saturated steam di Wate Heat Boiler (WHB) sehingga suhunya turun samapai 210 C.
Produk reaktor keluar WHB dimanfaatkan panasnya untuk vaporizer sehingga suhunya turun menjadi
187 C. Produk reaktor keluar vaporizer dimanfaatkan lagi panasnya di preheater sehingga suhunya
turun sampai 170 C dan selanjutnya masuk preheater II sehingga suhunya turun sampai 160 C.
Selanjutnya campuran produk dikondensasikan di drum separator pada suhu di bawah bubble pointnya
90C. Selanjutnya campuran dipompa ke dekanter. Hasil dekanter dipompa menuju preheater II untuk
dipanaskan sampai suhu bubble point 152C, kemudian dimasukan ke kolom distilasi untuk dimurnikan.
Umpan masuk kolom distilasi 1, sebagai hasil bawah berupa styrene yang selanjutnya didinginkan di
cooler hingga suhu 50°C. Dan sebagai hasil atas berupa campuran etyhlbenzene, benzene, dan toluene
yang selanjutnya masuk sebagai umpan dikolom distilasi 2, sebagai hasil bawah berupa ethylbenzene
yang selanjutnya direcycle kembali. Dan sebagai hasil atas berupa toluene dan benzene yang selanjutnya
masuk sebagai umpan pada kolom distilasi 3. Sebagai hasil atas berupa benzene dan bawahtoluene.
Keduanya didinginkan terlebih dahulu hingga suhu 50°C sebelum masuk ketangki penyimpanan masing-
masing.
F. SPESIFIKASI ALAT
1. Reaktor Dehidrogenasi
Reaktor yang digunakan adalah fixed bed adibatic non isothermal. Reaktor beroperasi pada suhu
630 C dan tekanan 1,5 atm. Katalis yang digunakan adalah
Shell 105. Katalis yang digunakan umumnya berumur 18-24 bulan (Kirk Othmer.,1983).
2. Preheater
Pada proses pembuatan styrene terdapat 2 preheater. Preheater I berfungsi menaikkan suhu umpan
sebelum masuk vaporizer hingga mencapai titik didihnya yaitu sebesar 155°C. Preheater II berfungsi
untuk menaikkan suhu campuran produk sebelum masuk kolom distilasi hingga mencapai 152°C.
Pre heater yang digunakan memiliki tipe shell and tube.
3. Vaporizer
Vaporizer berfungsi untuk menguapkan umpan yang akan masuk reaktor. Hal ini dikarenakan reaktan
bereaksi pada fase gas. Pengupan terjadi pada suhu 155°C.
4. Pompa
Pompa berfungsi untuk memindahkan bahan baku ethylbenzene dari tangki menuju mixer. Pompa yang
digunakan berjenis pompa sentifugal.
5. Kolom Distilasi
Distilasi digunakan untuk memisahkan styrene dari campuran ethylbenzene- benzene-toluene.
Kolom yang digunakan berjenis tray tower dengan jumlah plate aktual 29 buah. Umpan masuk pada
suhu 426°K dan tekanan 1,3 atm. Kondisi atas kolom memiliki suhu 402°K dan tekanan 1,1 atm,
sedangkan kondisi bawah kolom memiliki suhu 431 °K dan tekanan 1,4 atm.
6. Kondesor
Kondensor berfungsi untuk mengembunkan hasil atas menara distilasi . Kondensor yang digunakan
adalah horisontal kondensor.
7. Reboiler
Reboiler berfungsi untuk menguapkan hasil bawah menara
G. HEURISTICS for PROCESS SYNTHESIS
1. Raw Material and Chemical Reaction

Heurustic 1 :
“Select raw material and chemical reaction to avoid or reduce, the handling and storage of hazardouz
and toxic chemicals.”
Berdasarkan Material Safety Data Sheet , Ethylbenzene termasuk bahan yang mudah terbakar sehingga
penyimpanan ethylbenzene harus didalam tangki tertutup dan terhindar dari sumber api, pada suhu
300C dan tekanan 1 atm.

2. Distribution of Chemical

Heuristic 7 :
“ for competing reactions, both in series and parallel, adjust the temperature, pressure, and catalyst to o
btain high yields of the desired products. In the initial distribution of chemicals, assume that these condi
tions can be satisfied. Beforedeveloping a base-case design, obtain kinetics data and check this
assumption.”
Pada proses dehidrogenasi ethylbenzene, reaksi bersifat bolak-balik dan terdapat reaksi samping yang
menghasilkan toluene dan [Link] bersifat endotermis. Kecepatan reaksi bergantung
pada besarnya suhu. Berdasarkant ermodinamika dan kinetika akan mendukung reaksi, namun
kenaikan suhu akan menyebabkan meingkatkan reaksi samping yang menurunkan yield. Sehingga
kondisi operasi reaktornya berada pada suhu 6300C dan tekanan 1,5 atm.

3. Separation Operation-Liquid and Vapor Mixtures

•Heuristic 9 :
“ Separate liquid mixtures using distillation, stripping, enhanced (extractive,azeotropic, reactive) distillati
on, liquid-liquid extraction, crystallization, and/or adsorption. The selection between these alternatives
is considered in Chapter 7.”
•Heuristic 10 :
“ Attempt to condense or partially condense vapor mixtures with cooling water or arefrigerant. Then,
use Heuristic 9.”
Produk hasil reaksi mengandung styrene, ethylbenzene, toluene, dan benzene akan dikondensasi
sebelum dipisahkan. Berdasarkan heuristic 9 pemisahan fasa cair dapat dilakukan dengan distilasi,
stripping, ekstraksi, kristalisasi, dan adsorpsi.
Berdasarkan perbedaan titik didih yang cukup besar, pemisahan distilasi digunakanuntuk mendapat
produk styrene dengan kemurnian lebih tinggi. Styrene, toluene, dan benzene hasil distilasi akan
ditampung dalam storage tank, sedangkan ethylbenzene akan direcycle. Kondisi umpan distilasi pada
26°K dan tekanan 1,3 atm, serta menghasilkan hasil atas kolom pada suhu 402°K dan tekanan 1,1 atm,
sedangkan kondisi bawah kolom memiliki suhu 431 °K dan tekanan 1,4 atm.
4. Heat Removal and Addition
Heuristic 24 :
“ For less endothermic heats of reaction, circulate reactor fluid to an external heater,or use the jacketed
vessel or heating coils. Also, consider the use of interheatersbetween adiabatic reaction stages.”
Pada proses dehidrogenasi adiabatis digunakan interheater sebelum umpan masuk reaktor yang kedua.
Hal ini dikarenakan reaksi bersifat endotermis sehingga terjadi penurunan suhu setelah keluar
reaktor (5500C) sehingga perlu dilakukan pemanasan hingga mencapai suhu 6300C sebelum masuk
reaktor 2

5. Heat Exchangers and Furnaces.

•Heuristic 25 :
“ Unless required as part the design of the separator or reactor, providenecessary heat exchange for
heating or cooling process fluid streams, with or without utilities, in an external shell-and-tube
heat exchanger using countercurrent flow. However, if a process stream requires heating above 7500F,
use a furnace unless the process fluid is subject to chemical decomposition.”
Furnace digunakan untuk memanaskan bahan baku dari suhu 155,940C hingga520°C sebelum masuk
reaktor dan untuk menghasilkan steam.

•Heuristic 27
“When using cooling water to cool or condense a process stream, assume awater inlet temperature of
90°F (from a cooling water) and a maximum water outlet temperature 120°F.”
Cooling water digunakan pada proses kondensasi hasil atas distilasi serta untuk mendinginkan produk
sebelum masuk tangki penyimpanan. Suhu masuk heatexchanger dan kondenser diasmsikan sebesar
90°F dan maximum suhu keluar 120°F.

6. Pumping Liquid or Compressing Gas

•Heuristic 43 :
“ To increase the pressure of a steam, pump a liquid rather than compress a gas,unless refrigeration is
needed.”
Ethylbenzene dari tangki liquid berada pada suhu 30°C dan tekanan 1 atm ,sedangkan umpan reaktor
berada fasa gas 1.7 atm dan suhu 630°C. Terdapat 2 alternatif proses yang dapat dipilih yaitu
pompa liquid terlebih dahulu atau penguapan terlebih dahulu. Berdasarkan energi yang dibutuhkan,
pemompaan liquid (menjadi fluida bertekanan 1,7atm) terlebih dahulu dan diikuti dengan pengupan
dan pemanasan (hingga mencapai 6300C) akan membutuhkan energi yang lebih sedikit daripada
penguapan terlebih dahulu.

Anda mungkin juga menyukai