0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
213 tayangan27 halaman

Pembuatan Infus D5 (Glukosa 5%)

Laporan ini memberikan ringkasan tentang praktikum pembuatan infus D5 (glukosa 5%) sebanyak 100 mL oleh kelompok mahasiswa. Laporan mencakup tujuan praktikum untuk membuat infus D5 dan melakukan uji untuk infus NaCl, dasar teori tentang sediaan infus dan syarat-syarat pembuatan infus, serta tahapan preformulasi, formulasi, evaluasi data, kesimpulan dan saran.

Diunggah oleh

ellysa kurniasih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
213 tayangan27 halaman

Pembuatan Infus D5 (Glukosa 5%)

Laporan ini memberikan ringkasan tentang praktikum pembuatan infus D5 (glukosa 5%) sebanyak 100 mL oleh kelompok mahasiswa. Laporan mencakup tujuan praktikum untuk membuat infus D5 dan melakukan uji untuk infus NaCl, dasar teori tentang sediaan infus dan syarat-syarat pembuatan infus, serta tahapan preformulasi, formulasi, evaluasi data, kesimpulan dan saran.

Diunggah oleh

ellysa kurniasih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMASI TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


PEMBUATAN INFUS D5 (GLUKOSA 5%)

Nama Kelompok IV :

1. Ellysa Kurniasih 15040020


2. Elvan Nugraha 15040021
3. Faradina Ariesty Rizqita 15040023
4. Fatimah 15040024
5. Firhand Aziz 15040025

SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH


JL. RAYA PEMDA TIGARAKSA KM 4 NO. 13
TANGERANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan
Praktikum mata kuliah Farmasi Teknologi Sediaan Steril ”Pembuatan Infus D5
(Glukosa 5%)” dan kami juga berterima kasih kepada Sefi Megawati, S. Farm.,
[Link].,Apt selaku Dosen mata kuliah Farmasi Teknologi Sediaan Seril yang telah
membimbing kami.
Kami sangat berharap laporan ini dapat berguna dan di mengerti. Kami
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini masih terdapat kekurangan.
Untuk itu, kami berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang
membangun.
Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya dan juga bermanfaat, sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan terima kasih.

Tangerang, April 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
I. Tujuan .......................................................................................... 1
II. Tugas ............................................................................................... 1
III. Dasar teori ..................................................................................... 1
IV. Preformulasi ................................................................................... 6
V. Formulasi ........................................................................................ 9
VI. Data Evaluasi .................................................................................. 13
VII. Kesimpulan dan Saran .................................................................. 17
VIII. Wadah, Etiket, Brosur Dan Kemasan ............................................ 18

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 21


LAMPIRAN ................................................................................................... 22

ii
iii
I. TUJUAN
Mahasiswa dapat membuat sediaan infus D5 dan melakukan uji untuk infus
NaCl
II. TUGAS
Buatlah sediaan infus D5 (Infus Glukosa5%) sebanyak 100 mL (untuk
perhitungan tambahakan 20%) dan gunakan zat pengisotonis NaCl
III. DASAR TEORI
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau
serbuk yang dilarutkan, atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan,
yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui
selaput lendir. Injeksi diracik dengan melarutkan, mengemulsikan atau
mensuspensikan sejumah obat kedalam sejumlah pelarut atau dengan
mengisikan sejumlah obat kedalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis
ganda. (Depkes RI, 1979)
Istilah parenteral berasal dari kata Yunani para dan enteron yang
berari disamping atau lain dari usus. Sediaan ini diberikan dengan cara
menyuntikkan obat di bawah atau melalui satu atau lebih lapisan kulit atau
membrane mukosa. Karena rute ini disekitar daerah pertahanan yang sangat
tinggi dari tubuh, yaitu kulit dan selaput/membrane mukosa, maka
kemurniaan yang sangat tinggi dari sediaan harus diperhatikan. Yang
dimaksud dengan kemurnian yang tinggi itu antara lain harus steril.
Injeksi dan infus termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara
parenteral. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila
obatnya tidak stabil dalam cairan, maka dibuat dalam bentuk sediaan kering.
Apabila mau dipakai baru ditambahkan aqua steril untuk memperoleh larutan
atau suspensi injeksi.
Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 10 ml
yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan
yang cocok. Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makanan dan
minuman dan dikeluarkan dalam jumlah yang relatif sama, rasionya dalam
tubuh adalah air 57%; lemak 20,8%; protein 17,0%; serta mineral dan

1
glikogen 6%. Ketika terjadi gangguan hemostatif, maka tubuh harus segera
mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit
larutan untuk infus intravenous harus jernih dan praktis bebas partikel.
(Lukas 2006)
Bentuk suatu obat yang dibuat sebagai obat suntik tergantung pada
sifat obat sendiri dengan memperhitungkan sifat kimia dan fisika serta
pertimbangan terapeutik tertentu. Pada umumnya, bila obat tidak stabil
didalam larutan, maka obat tersebut harus membuatnya sebagai serbuk kering
yang bertujuan dibentuk dengan penambahan pelarut yang tepat pada saat
akan diberikan. Cara lainnya adalah membuatnya dengan bentuk suspensi
partikel obat dalam pembawa yang tidak melarutkan obat. Bila obat tidak
stabil dengan adanya air, maka pelarut dapat diganti sebagian atau seluruhnya
dengan pelarut yang tepat untuk obat agar stabil. Bila obat tidak larut dalam
air, maka obat suntik dapat dibuat sebagai suspensi air atau larutan obat
dalam pelarut bukan air, seperti minyak nabati. Bila larutan air yang
diinginkan, maka dapat digunakan garam yang dapat larut dari obat yang
tidak larut untuk memenuhi sifat-sifat kelarutan yang di syaratkan. Larutan air
atau larutan yang bercampur dengan darah dapat disuntikan langsung
kedalam aliran [Link] yang tidak bercampur dengan darah, seperti obat
suntik berminyak atau suspensi, dapat menghambat aliran darah normal
dalam sistem peredaran darah dan umumnya digunakan terbatas untuk
pemberian bukan intravena.
Waktu mulai dan lamanya obat dapat diatur sesuai dengan bentuk
kimia obat yang digunakan. Keadaan fisik obat suntik (larutan atau suspensi),
dan pembawa yang digunakan. Obat yang sangat larut dalam cairan tubuh
umumnya paling cepat diabsorbsi dan mula kerjanya paling cepat. Artinya,
obat dalam larutan air mempunyai mula kerja yang lebih cepat dari pada obat
dalam larutan minyak. Alasanya adalah sediaan dalam air lebih mudah
bercampur dengan cairan tubuh sesudah disuntikkan dan kemudian kontak
partikel obat dengan cairan tubuh menjadi lebih cepat. Kita seringkali,
membutuhkan kerja obat yang lebih panjang untuk mengurangi pengulangan

2
pemberian suntikan. Jenis suntikan dengan kerja yang panjang biasa disebut
jenis sediaan “depot” atau “repository”.Dalam pembuatan obat suntik, syarat
utamanya ialah obat harus steril, tidak terkonaminasi bahan asing, dan
disimpan dalam wadah yang menjamin sterilitas.
Adapun penggolongan sediaan infus berdasarkan komposisi dan
kegunaannya adalah:
1. Infus Elektrolit
Pada cairan fisiologi tubuh manusia, tubuh manusia mengandung
60% air dan terdiri atas cairan intraseluler (di dalam sel) 40% yang
mengandung ion-ion K+, Mg2+, sulfat, fosfat, protein, serta senyawa
organik asam fosfat seperti ATP, heksosa monofosfat, dan lain-lain. Air
pun mengandung cairan ekstraseluler (di luar sel) 20% yang kurang lebih
mengandung 3 liter air dan terbagi atas cairan interstisial (di antara
kapiler dan sel) 15% dan plasma darah 5% dalam sistem peredaran darah
serta mengandung beberapa ion seperti Na+, klorida, dan bikarbonat.
2. Infus Karbohidrat
Infus karbohidrat adalah sediaan infus berisi larutan glukosa atau
dekstrosa yang cocok untuk donor kalori. Kita menggunakannya untuk
memenuhi kebutuhan glikogen otot kerangka, hipoglikemia, dan lain-lain.
3. Infus Plasma Expander atau Penambah Darah
Larutan plasma expander adalah suatu sediaan larutan steril yang
digunakan untuk menggantikan plasma darah yang hilang akibat
perdarahan, luka bakar, operasi, dan lain-lain. (Lukas, 2006)
Pembuatan sediaan yang akan digunakan untuk infus harus
dilakukan dengan hati-hati, untuk menghindari kontaminasi mikroba dan
bahan asing. Cara pembuatan obat yang baik (CPOB) juga
mempersyaratkan tiap wadah akhir infus harus diamati secara fisik dan
tiap wadah yang menunjukkan pencemaran bahan asing yang terlihat
secara visual harus ditolak.
Air yang digunakan untuk pembuatan infusa biasanya digunakan
Aqua Pro Injeksi dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar

3
dengan menggunakan alat gelas netral atau wadah logam yang cocok
dengan label. Hasil sulingan pertama dibuang dan sulingan selanjutnya
ditampung dan segera digunakan. Bila segera digunakan harus disterilkan
dengan cara sterilisasi A dan C setelah ditampung.

Syarat-syarat infusa :
1. Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis.
2. Jernih, berarti tidak ada partikel padat.
3. Tidak berwarna, kecuali obatnya memang berwarna.
4. Sedapat mungkin isohidris, pH larutan sama dengan darah dan cairan
tubuh lain yakni pH = 7,4
5. Sedapat mungkin isotonis artinya mempunyai tekanan osmosis yang
sama dengan darah atau cairan tubuh yang lain. Tekanan osmosis cairan
tubuh seperti darah, air mata, cairan lumbal sama dengan tekanan
osmosis larutan NaCl 0,9 %.
6. Harus steril, suatu bahan dinyatakan steril bila sama sekali bebas dari
mikroorganisme hidup yang patogen maupun nonpatogen, baik dalam
bentuk vegetativ maupun dalam bentuk tidak vegetativ (spora).
7. Bebas pirogen, karena cairan yang mengandung pirogen dapat
menimbulkan demam. Menurut Co Tui, pirogen adalah senyawa
kompleks polisakarida dimana mengandung radikal yang ada unsur N, P.
Selama radikal masih terikat, selama itu masih dapat menimbulkan
demam dan pirogen bersifat termostabil (Anief. 1997).

Keuntungan sediaan infus antara lain:


1. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat.
2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti.
3. Biovabilitas sempurna atau hampir sempurna.
4. Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinalis dapat dihindarkan.
5. Obat dapat diberikan kepada penderita yang sakit keras atau dalam
keadaan koma.

4
Kerugian sediaan infus:
1. Rasa nyeri pada saat disuntik apalagi kalau harus diberikan berulang kali.
2. Memberikan efek psikologis pada penderita yang takut suntik.
3. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki
terutama sesudah pemberian intravena.
4. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita di rumah sakit atau
ditempat praktek dokter oleh perawat yang kompeten.
5. Lebih mahal dari bentuk sediaan non steril hanya karena ketatnya
persyaratan yang harus dipenuhi (steril, bebas pirogen, jernih, praktis,
bebas partikel).

Aturan pemakaian dan penggunaan infus:


1. Obat tidak dapat di absorbsi secara oral
2. Terjadinya absorbsi yang tidak teratur setelah penyuntikan secara
intramuscular
3. Obat menjadi tidak aktif dalam saluran pencernaan
4. Perlunya respon yang cepat
5. Pasien tidak dapat mentoleransi obat atau cairan secara oral
6. Rute pemberian secara intramuskular atau subkutan tidak praktis
7. Obat harus terencerkan secara baik atau diperlukannya cairan pembawa
8. Obat mempunyai waktu paruh yang sangat pendek dan harus diinfus
secara terus-menerus
9. Diperlukan perbaikan ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
10. Obat hanya bersifat aktif oleh pemberian secara intraven

Infus dapat berfungsi sebagai:


1. Dasar nutrisi, kebutuhan kalori untuk pasien di rumah sakit harus disuplai
via intravenous seperti protein dan karbohidrat.
2. Keseimbangan elektrolis digunakan pada pasien yang schock, diare, mual,
muntah membutuhkan cairan intravenous.
3. Pengganti cairan tubuh, seperti dehidrasi.
4. Pembawa obat contohnya sebagai antibiotik. (Soetopo,2001)

5
IV. PREFORMULASI
1. Glukosa (Dektrosa)
Rumus Kimia : C6H12O6. H2O
Pemerian : Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau butiran
putih tidak berbau, rasa manis.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam
air mendidih, agak sukar larut dalam etanol (95 %)
P mendidih, sukar larut dalam etanol (95 %) P.
Stabilitas : 3,5 – 6,5
Sterilisasi : Larutan glukosa harus disterilkan segera setelah
persiapan, yaitu secara sterilisasi akhir dengan
autoklaf atau dengan cara filtrasi.
OTT : Glukosa OTT dengan Vitamin K akan kehilangan
kejernihannya ketika larutan infus glukosa
dicampurkan dengan sianokobalamin, kanamycin
sulphate, novobiocin sodium atau warfarin
sadium.
Khasiat : Kalorigenikum, yakni zat yang dapat
meningkatkan atau menghasilkan energi.
Efek Samping : Pemberian glukosa secara intravena dapat
memyebabkan iritasi vena. Trombophlebitis dapat
terjadi jika larutan infuse glukosa memiliki PH
yang rendah karena overheating selama sterilisasi.
Kontraindikasi : Glukosa kontraindikasi pada pasien yang
mengalami glukosa-galaktosa malabsorption
syndrome. Toleransi glukosa mungkin dikurangi
pada pasien gagal ginjal dan post-traumatic
tingkat awal atau pada pasien yang mengalami
sepsis. infuse glukosa, meskipun iso-osmotik
tetapi tidak dapat bercampur dengan darah dapat
menyebabkan terjadinya hemolisis dan clumping.

6
2. NaCI (Natrium Klorida)
Rumus molekul : NaCl
Bobot molekul : 58,44
Pemerian : Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk
kristal putih, tiap 1 gram. Setara dengan 17,1 mmol
NaCI. 2,54g NaCl ekivalen dengan 1 g Na
Kelarutan : 1 bagian larut dalam 3 bagian air, 10 bagian
gliserol
Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat
menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas.
pH : 4,5 –7 atau 6,7-7,3
OTT : logam Ag, Hg, Fe
Khasiat/kegunaan : Pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh.
Efek samping : Keracunan NaCl disebabkan oleh induksi yang
gagal dapat menyebabkan hipernatremia yang
memicu terjadinya trombosit dan hemorrage. Efek
samping yang sering terjadi nausea, mual, diare,
kram usus, haus, menurunkan salivasi dan lakrimasi,
berkeringat, demam, hipertensi, takikardi, gagal
ginjal, sakit kepala, lemas, kejang, koma dan
kematian.
Kontraindikasi : Untuk pasien penyakit hati perifer udem atau
pulmonali udem, kelainan fungsi ginjal.
Farmakologi : berfungsi untuk mengatur distribusi air, cairan dan
keseimbangan elektrolit dan tekanan osmotik cairan
tubuh. Dalam praktikum larutan irigasi kali ini NaCl
0.9 % digunakan sebagai zat aktif untuk mengatasi
iritasi pada luka (FI IV, 1995).

7
3. Aqua Pro Injeksi
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau.
Sterilisasi : Kalor basah (autoklaf).
Kegunaan : Pembawa dan melarutkan .
Cara pembuatan : didihkan aqua dan diamkan selama 30 menit,
dinginkan Aqua pro injeksi digunakan sebagai
pelarut dan pembawa karena bahan-bahanlarut
dalam air.
Alasan pemilihan : Karena digunakan untuk melarutkan zat aktif
dan zat-zat tambahan (FI IV, 1995; FI III,
1979).
4. Karbon
Pemerian : serbuk hitam tidak berbau.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam suasana pelarut biasa.
Kestabilan : stabil ditempat yang tertutup dan kedap udara.
Kegunaan : untuk kelebihan H2O2 dalam sediaan.
Konsentrasi : 0,1-0,3%.
Alasan pemilihan : Karbon aktif inert sehingga tidak bereaksi
dengan zat aktif (FI IV, 1995).

Cara Penggunaan sediaan


Glucosa 5% sebagai cairan pengganti. Hanya untuk penggunaan
intravena. Glukosa 5% diberikan melalui pembuluh darah perifer.
Glukosa 10% dapat diberikan melalui pembuluh darah perifer yang besar
Glukosa 50% diberikan lewat vena sentral tetapi pada kondisi emergensi
pada penanganan hipoglikemia dapat diberikan melalui vena perifer
secara pelan dengan kecepatan 3 ml/menit. Dextrosa dapat diberikan
dengan kecepatan 0.5 g/kg/jam. Maximum kecepatan infus 0.8 g/kg/jam.
Parenteral Nutrisi dan sebagai pengganti cairan: dosis berdasarkan berat
badan, kondisi klinis, dan hasil laboratorium. Hipoglikemi Neonatus

8
dan bayi 250-500 mg/kg sbg dosis tunggal (12 mL dextrose 25%). Pada
kasus yang parah atau bayi yang lebih tua, dosis bisa diulang sampai
maksi mum 10-12 ml dextrose 25%. Anak-anak: 20-50 mL dextrose 50%
diberikan perlahan (mis. 3 ml/menit) Dewasa: 20-50 mL dextrose 50%
diberikan perlahan (mis. 3 ml/menit)

V. FORMULASI
1. Permasalahan dan Penyelesaian
NO. Permasalahan Penyelesaian
1. Sediaan infus harus steril Sterilisasi infus meliputi sterilisasi
alat dan sediaan (sterilisasi akhir
dengan autoklaf pada suhu 1150C
selama 30 menit) (Depkes RI.
1978:323-324 )
2. Salah satu syarat dari sediaan infus Dilakukan depirogenasi dengan
adalah harus bebas pirogen menambahkan norit yang sudah
diaktifkan sebanyak 0,1% selagi
hangat atau dihangatkan bila perlu
(600 – 700C)
( Salvatore Turco. 1979: 167 )
3. Sifat karbo adsorben adalah Tiap zat-zat yang dikocok bersama
menyerap (daya serap kuat) zat-zat karbo adsorben diberi kelebihan 5%
yang dikocok bersamanya, sehingga ([Link]. 1968: 107 )
dapat menyerap zat-zat termasuk zat
berkhasiat
4. Perhitungan isotonis dengan Menggunakan metode NaCl ekivalen.
menggunakan glukosa sebagai osmolaritas
pengganti NaCl
5. Untuk menghilangkan norit Diberi kelebihan 20% untuk
dilakukan penyaringan membasahi kertas saring

9
2. Formula standart
Glukosa = 5% = 100 mL
Ptb NaCl = 0,576
Ptb Glukosa = 0,091
Ditambah 20 %

Jawab :
B = 0,52 – (b1 × c1)
b2
= 0,52 – (0,091 × 5)
0,576
= 0,52 – 0,455
0,576
= 0,1128 gram/100 ml

3. Formula yang dibuat


D5 (Glukosa 5%) sebanyak 100 mL
a. Glukosa = 5% < 100 ml = 5 gram
b. NaCl = 0,1128 gram / 100 ml
c. Aquadest ad 100 ml

Perhitungan dengan penambahan 20 %


a. Glukosa : 5 gram + 1 gram = 6 gram
b. NaCl : 0,1128 + 0,02256 = 0,135 gram
Aquadest ad 120 ml
yang dimasukkan dalam botol infus adalah 100 ml.
c. Karbon aktif 0,1 % untuk 120 ml
= 0,1% x 120 ml
= 0,12 gram

10
No Nama Bahan Penimbangan
1 Glukosa 6 gram
2 NaCl 0,135 gram
3 Karbon Aktif 0,12 gram

Sebelum membuat sediaan infus , semua bahan ditimbang terlebih


dahulu sesuai perhitungan diatas diantaranya Glukosa 6 gram, NaCl 0,135
gram dan karbon aktif 0,12 gram dengan timbangan analitik.

a. Cara Kerja
1) Prosedur Pembuatan Infus
a) Timbang Glukosa dan NaCl menggunakan spatel dan kaca arloji
dan masukkan ke dalam erlenmeyer.
b) Tuangkan aqua destilata untuk melarutkan NaCl dan Glukosa serta
bilas kaca arloji.
c) Gerus karbon aktif dan timbang sejumlah 0,1% b/v dan masukkan
ke dalam erlenmeyer, aduk, kemudian tambahkan aquadest hingga
120 ml.
d) Tutup erlenmeyer dengan alumunium foil dan sisipi dengan batang
pengaduk.
e) Panaskan larutan diatas api bunsen pada suhu 60-70ºC selama 15
menit sambil sesekali diaduk,cek suhu dengan termometer,
lakukan diluar lemari steril.
f) Lipat kertas saring rangkap 2, basahi dengan aquadest bebas
pirogen.
g) Saring larutan hangat-hangat ke dalam erlenmeyer steril.
h) Pindahkan ke gelas ukur dan ukur volumenya 100 ml kemudian
pindahkan ke botol infus, tutup dengan alumunium foil, ikat
dengan tali.
i) Lakukan sterilisasi akhir dengan autoklaf.

11
j) Buat kemasan dan lakukan uji (uji kebocoran, uji Ph, Uji
kejernihan dan warna, uji Volume).

2) Cara Sterilisasi
Sterilisasi Alat
No. Alat Jumlah Ukuran Sterilitas Waktu

1. Erlenmeyer 1 1000ml Autoklaf 121oC 15 menit


o
2. Bekerglass 1 1L Autoklaf 121 C 15 menit
3. Corong Kaca 1 Besar Autoklaf 121oC 15 menit
o
4. Batang Pengaduk 1 Besar Autoklaf 121 C 15 menit
5. Pipet Tetes 1 Besar Autoklaf 121oC 15 menit
o
6. Karet Pipet 1 Besar Autoklaf 121 C 15 menit
7. Botol Infus 1 Besar Oven 250oC 30 menit

8. Tutup Infus 1 Besar Autoklaf 121o C 15 menit

9. Sudip 1 Besar Dipijarkan dengan 20 detik


api langsung

10. Kertas Saring, 1 Besar Autoklaf 121o C 15 menit


Kertas Whatman
12. Thermometer 1 Besar Dengan alkohol _
13. Lumpang dan alu 1 Kecil Dibasahi dengan _
alkohol

3) Pembuatan larutan bebas pirogen


Membuat larutan bebas pirogen dari campuran aquadest dan
norit yang dipanaskan diatas penangas sampai mendidih dan bahan
terlarut, setelah itu warna larutan hitam, kemudian disaring
menggunakan kertas saring larutan berwarna jernih. Masukkan ke
dalam erlenmeyer yang telah di sterlisasikan kemudian tutup dengan
alumunium foil untuk persiapan dibawa keruang steril untuk
pencampuran semua bahan.

12
VI. DATA EVALUASI
a. Evaluasi Sediaan Infus D5 (Glukosa 5%)
1. Uji pH = 6

Larutan Infus di uji pH setelah


dimasukkan kedalam botol infuse.

Dimasukkan kertass indicator pH universal. Dibaca


pH nya.

Syarat :pH stabil D5 (glukosa) yaitu 3,5-6,5 (Depkes RI. 1979: 203 )

2. Uji Kebocoran = Tidak bocor. Botol Infuse dimasukan kedalam


larutan metilen blue 0,1 %

3. Uji Kejernihan = ada partikel putih


Botol Infus diputar secara vertical 180o berulang-ulang
didepan latar belakang yang gelap dan sisinya diberi cahaya.

Serpihan gelas akan berjatuhan yang mula-mula jatuh


dan berkumpul didasar botol.

Bahan berkilau bila terkena cahaya, kotoran berwarna terlihat


pada latar belakang putih akan melayang bila terkena cahaya
dan tidak berwarna terlihat pada latar belakang hitam.

Syarat: larutan dalam infus intravena harus jernih dan praktis bebas
partikel(Depkes RI.1979:12)
4. Uji volume = 100 mL/sediaan. Hal ini sesuai dengan prosedur
praktikum.

13
b. Pembahasan
Infus merupakan salah satu sediaan yang harus dibuat dalam
keadaan steril dan isotonis, hal ini dikarenakan sediaan ini ditujukan
untuk pemberian intravena (iv) dan jika sediaan dibuat dalam bentuk
hipertonis akan menyebabkan sel darah merah mengkerut sedangkan jika
dibuat dalam keadaan hipotonis dapat meyebabkan sel darah merah
menjadi menggembung dan lama kelamaan akan menjadi pecah. Selain
steril, sediaan ini harus dibuat bebas pirogen, yaitu bebas dari pirogen.
Pirogen merupakan bakteri yang dapat menyebabkan panas.
Pada awal pembuatan sediaan infus D5 (Glukosa 5%), dilakukan
sterilisasi alat dan bahan. Sterilisasi dilakukan dengan autoklave, pada
suhu 121oC selama 15 menit. Hal ini dikarenakan sediaan infuse yang
dibuat harus bebas dari pirogen. Karena pemanasan alat-alat ini
dilakukan pada suhu yang tinggi, untuk pembungkus alatnya tidak
digunakan perkamen, melainkan digunakan alumunium foil atau kertas
coklat yang kemudian di ikat dengan tali berwarna putih.
Pembuatan infus D5 (Glukosa 5%) ini menggunakan air yang
biasanya disebut dengan Aqua Pro Injeksi. Aqua Pro Injeksi ini
dibuat dengan menyuling kembali air suling segar dengan alat gelas
netral atau wadah logam yang cocok untuk labu. Tetapi pada praktikum
ini kita menggunakan aquadest yang telah mengalami penyulingan
terlebih dahulu.
Pertama kita timbang Glukosa 6 gram, NaCl 0,135 gram dan norit
dilakukan penimbangan 2 kali untuk larutan pencampuran sediaan infus
diruang LAF atau ruang steril, ditimbang sebanyak 0,12 gram. Untuk
larutan bebas pirogen yaitu pencampuran dari aquadest dan norit yang
dimasukkan kedalam beker glass kemudian tambahkan aquadest ad 150
ml yang dipanaskan di penangas air sampai mendidih sambil dilakukan
[Link] itu disaring dengan menggunakan kertras saring
untuk mendapatkan larutan bebas pirogen.

14
Setelah itu siapkan semua alat dan bahan yang akan dibawa ke
ruangan steril atau LAF ( ruang 3), karena proses pencampuran bahan
atau formulasi yang dilakukan ini di dalam ruang steril atau LAF (ruang
1). Pertama yang dilakukan kita ketika memasuki (ruangan 2) steril
mengganti alas kaki dengan sandal yang steril, kedua mengganti jas lab
yang steril, ketiga memakai masker dan penutup kepala, keempat cuci
tangan dengan sabun, lalu memakai handskun. Setelah semuanya dipakai
buka pintu di ruang 1 steril dengan bahu. Diruang 1 steril kita melakukan
pencampuran bahan di LAF, Pertama kita harus menyemprotkan alkohol
di handskun dan alas tempat untuk melakukan pencampuran bahan agar
tetap steril dari MO, kemudian langkah kedua pencampuran bahan yaitu
melarutkan glukosa dan NaCl kedalam beaker glass atau erlenmeyer dan
tambahkan karbon absorben atau norit 0,1% diaduk dengan batang
pengaduk yang sudah disterilkan tambahkan aquadest atau larutan bebas
pirogen yang telah disaring ad 100 mL. Panaskan bahan yang telah
dicampurkan tadi dengan menggunakan bunsen selama 15 menit dengan
suhu 60-70ºC sambil diaduk , setelah itu disaring dengan menggunakan
kertas saring sampai larutan 100 ml dan kemudian masukkan kedalam
botol infus sebanyak 100 ml yang telah disterilkan dan dibungkus
rangkap 2, botol infus dibungkus kembali dan ditali, Agar tetap pada
kondisi steril dan dipindahkan dari ruang LAF (ruang 1) keruang 3 untuk
selanjutnya dilakukan pengujian. Terakhir dilakukan uji pada sediaan
infus yang telah jadi meliputi Uji kebocoran, uji Ph, Uji kejernihan, dan
Uji Volume.
Glukosa tidak stabil pada pemanasan suhu tinggi dalam waktu yang
lama karena terjadi penurunan pH dan karamelisasi sehingga sterilisasi
tidak dilakukan pada suhu yang tinggi dalam waktu yang lama serta
penyimpanan sediaan disarankan pada suhu yang sejuk. Untuk membuat
sediaan yang efektif dibuat kadar sediaan yang sesuai tujuan terapi yaitu
untuk sediaan infus dengan rentang kadar 3,5 – 6,5 %. Dan hasil pH yang

15
didapat dalam praktikum kali ini yaitu 6 maka sediaan D5 (Glukosa 5%)
yang kami buat sesuai dengan literatur.
Uji kebocoran bertujuan untuk diketahui tidak ada botol infus yang
bocor untuk memeriksa keutuhan kemasan agar terjaga sterilitas dan
volume serta kestabilan sediaan. Jika tidak dilakukan uji kebocoran maka
dapat menyebabkan masuknya mikroorganisme atau kontaminan lain
yang berbahaya kedalam ampul atau isinya dapat bocor keluar dan
merusak penampilan kemasan. Kebocoran dengan melakukan
penyelupan botol infus kedalam beker glass yang yang sebelumnya telah
dibuat larutan berwarna ungu untuk melakukan pengujian kebocoran
terhadap sediaan infus. Uji kebocoran ini dilakukan untuk memastikan
bahwa vial atau botol infus yang digunakan benar-benar baik sehingga
dosis yang di dapatkan sesuai dengan dosis yang diinginkan. Syarat uji
kebocoran yakni tidak adanya zat warna metilen blue yang masuk pada
sediaan infus.
Uji kejernihan ini dilakukan untuk mengetahui kejernihan dari
larutan secara Visual , ada dan tidaknya partikel pada larutan. Hasil dari
pengujian ini positif tidak terdapat partikel asing, ini berarti larutan
tersebut dapat digunakan karena tidak dikhawatirkan menimbulkan
emboli dan menyebabkan rasa nyeri. Partikel ini biasanya adalah bahan
yang tidak larut dan secara tidak langsung terdapat dalam sediaan.
Adanya partikel asing dalam sediaan menandakan bahwa larutan tersebut
tidak jernih, karena adanya kontaminasi partikel asing, sehingga bila
diamati lebih teliti dalam sediaan tersebut keruh dengan partikel asing.
Dengan cara Diperiksa dengan melihat wadah infuse pada latar belakang
hitam dan putih, disinari dari samping, Kotoran berwarna akan nampak
pada backgraound putih dan kotoran tidak berwarna akan terlihat pada
background hitam. Namun didalam cairan infus kami terdapat partikel
putih yang melayang-layang ketika dibawa sinar cahaya.
Uji Volume untuk mengetahui volume sediaan apakah sudah sesuai
dengan volume yang tertera pada etiket.

16
Prosedure Kerja :
1. Disiapkan alat glass ukur yang bervolume 100 ml yang telah
disterilisasi
2. Dituangkan sediaan pada glass ukur
3. Diamati volume sediaan apakah sudah sesuai dengan pada etiketnya.
4. Dicatat hasil pengamatannya
Pada hasil yang didapat setelah larutan infus di tuang ke gelas ukur
100 mL ternyata volume larutan botol infus D5 (Glukosa 5%) sesuai
pada batas 100 mL.
Setelah dilakukan pengujian diatas yaitu melakukan pengemasan
pada sediaan infus D5 (Glukosa 5%) dengan diberi etiket brosur dan
kemasan yang sesuai.

VII. KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau
serbuk yang dilarutkan, atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan,
yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui
selaput lendir. Injeksi diracik dengan melarutkan, mengemulsikan atau
mensuspensikan sejumah obat kedalam sejumlah pelarut atau dengan
mengisikan sejumlah obat kedalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis
ganda. (Depkes RI, 1979)
Infus merupakan salah satu sediaan yang harus dibuat dalam keadaan
steril dan isotonis, hal ini dikarenakan sediaan ini ditujukan untuk
pemberian intravena (iv) dan jika sediaan dibuat dalam bentuk hipertonis
akan menyebabkan sel darah merah mengkerut sedangkan jika dibuat dalam
keadaan hipotonis dapat meyebabkan sel darah merah menjadi
menggembung dan lama kelamaan akan menjadi pecah. Selain steril,
sediaan ini harus dibuat bebas pirogen, yaitu bebas dari pirogen. Pirogen
merupakan bakteri yang dapat menyebabkan panas.

17
Evaluasi Sediaan Invus NaCl
1. Uji Kebocoran = Tidak bocor. Botol Infuse dimasukan kedalam larutan
metilen blue 0,1 %
2. Uji pH = 6
3. Uji Kejernihan = Ada partikel putih
4. Uji Volume = 100 mL

Saran
Diharapkan semua praktikan lebih teliti lagi dalam melakukan praktikum
dan selalu jaga kebersihan agar kondisi steril tetap terjaga.

VIII. WADAH, ETIKET, BROSUR DAN KEMASAN


1. Wadah

18
2. Etiket

3. Brosur

19
4. Kemasan D5

20
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Anonim, 2000, ISO Indonesia Volume 35, Ikrar Mandiri Abadi: Jakarta.
Anief, M., 1997, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Lilley & Aucker, 1999, Pharmacology and the Nursing Process, Mosby: St. Louis.
Lukas, Stefanus. 2006. Formulasi Steril. Penerbit Andi: Yogyakarta
Soetopo. Seno, dkk. 2001. Teori Ilmu Resep. Jakarta
Wilton, R.L., 1990, Perawatan Luka dan Penderita Perlukaan Ganda, EGC:
Jakarta.

21
LAMPIRAN

22

Anda mungkin juga menyukai