PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
STIMULASI PERSEPSI : PERILAKU KEKERASAN
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
A. Pengertian
Kelompok adalah kumpulan individu yang memilik hubungan satu dengan yang
lain,saling bergantung dan mempunyai norma yang sama(struart & Laraia , 2001). Anggota
kelompok mungkin dating dari berbagai latar belakang yang harus ditangani sesuai dengan
keadaanya, seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif, kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan
dan menarik (Yalom, 1995 dalam Struart & Laraia). Semua kondisi ini akan mempengaruhi
dinamika kelompok , ketika anggota kelompok memberi dan menerima umpan balik yang
berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam kelompok
a. Jenis terapi kelompok
Beberapa ahli membedakan kegiatan kelompok sebagai tindakan keperawatan pada
kelompok dan terapi kelompok. Stuart dan Laraia (2001) menguraikan beberapa kelompok
yang dapat dipimpin dan digunakan perawat sebagai tindakan keperawatan bagi klien,
misalnya task group, supportive group, brief therapy groups, intensive problem-solving
groups, medication groups, activity therapy, dan peer support groups. Wilson dan Kneisl
(1992) menyampaikan beberapa terapi kelompok seperti, analytic group psycho therapi,
psychodrama, self-help groups, remotivation, reedukasi dan client government groups.
1
Terapi aktivitas kelompok Rawlins, Williams, dan Beck (1993) membagi kelompok menjadi
tiga, yaitu terapi kelompok, kelompok terapeutik, dan terapi aktivitas kelompok.
Terapi Kelompok
Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan
waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu. Fokus terapi kelompok
adalah membuat sadar diri (self-awereness), peningkatan hubungan interpersonal, membuat
perubahan atau ketiganya.
Kelompok Terapeutik
Kelompok terapeutik membantu mengatasi stres emosi, penyakit fisik krisis, tumbuh-
kembang, atau penyesuaian sosial, misalnya, kelompok wanita hamil yang akan menjadi ibu,
individu yang kehilangan, dan penyakit terminal. Banyak kelompok terapeutik yang
dikembangkan menjadi self-help-group. Tujuan dari kelompok ini adalah sebagai berikut :
· Mencegah masalah kesehatan
· Mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok
· Meningkatkan kualitas kelompok. Antara anggota kelompok saling membantu dalam
menyelesaikan masalah.
Terapi Aktivitas Kelompok
Kelompok dibagi sesuai kebutuhan yaitu, stimulasi persepsi, stimulasi sensoris,
orientasi realita, dan sosialisasi.
2
Tabel 1-2 Tujuan, tipe, dan aktivitas dari terapi aktivitas kelompok
(Sumber : Rawlins, Williams, dan Beck, 1993)
Tujuan Tipe Aktivitas
[Link] Bibliotherapy Menggunakan artikel,
stimulasi persepsi buku, sajak, puisi, surat
kabar untuk merangsang
atau menstimulasi berpikir
dan mengembangkan
hubungan dengan orang
lain.
Stimulus dapat berbagai
hal yang tujuannya melatih
persepsi.
[Link] Musik, seni, menari Menyediakan kegiatan
stimulasi sensoris mengekspresikan perasaan
Relaksasi Belajar teknik relaksasi
dengan cara nafas dalam,
relaksasi otot, imajinasi
[Link] Kelompok orientasi Fokus pada orientasi
orientasi realitas realitas, kelompok validasi waktu, tempat dan orang;
benar dan salah; bantu
memenuhi kebutuhan
[Link] Kelompok remotivasi Mengorientasikan diri dan
sosialisasi regresi pada klien menarik
realitas dalam berinteraksi
3
atau sosialisasi
Kelompok mengingatkan Fokus pada mengingat
Terapi aktivitas kelompok sering dipakai sebagai terapi tambahan. Sejalan dengan hal
tersebut, maka Lancester mengemukakan beberapa aktivitas yang digunakan pada TAK, yaitu
menggambar, membaca puisi, mendengarkan musik, mempersiapkan meja makan, dan
kegiatan sehari-hari yang lain. Wilson dan Kneisl (1992) menyatakan bahwa TAK adalah
manual, rekreasi dan teknik kreatif untuk memfasilitasi pengalaman seseorang serta
meninkatkan respon sosial dan harga diri. Aktivitas yang digunakan sebagai terapi di dalam
kelompok, yaitu membaca puisi, seni, musik, menari dan literatur.
Dari uraian tentang terapi aktivitas kelompok yang dikemukakan oleh Wilson, Kneisl,
dan Lancester ditemukan kesamaan dengan terapi kelompok tambahan yang disampaikan
oleh Rawlins, Williams, dan Beck. Oleh karena itu, akan diuraikan kombinasi keduanya
menjadi terapi aktivitas kelompok.
b. Terapi aktivitas kelompok
Terapi aktivitas kelompok bibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi
kognitif / persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas stimulasi
realita, dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi.
1. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Kognitif / Persepsi
Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah
dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan
4
proses ini, diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi
adaptif.
Aktivitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan: baca artikel /
majalah / buku / puisi, menonton acara TV (ini merupakan stimulus yang disediakan);
stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang
maladaptif atau distruktif, misalnya kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan
negatif pada orang lain, dan halusinasi. Kemudian dilatih persepsi klien terhadap stimulus.
2. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensoris
Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensoris klien. Kemudian diobservasi
reaksi sensoris klien terhadap stimulus yang disediakan, berupa ekspresi perasaan ssecara
nonverbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh). Biasanya klien yang tidak mau mengungkapkan
komunikasi verbal akan terstimulasi emosi dan perasaannya, serta menampilkan respons.
Aktivitas yang digunakan sebagai stimulus adalah: musik, seni, menyanyi, menari. Jika hobi
klien diketahui sebelumnya, dapat dipakai sebagai stimulus, misalnya lagu kesukaan klien,
dapat digunakan sebagai stimulus.
3. Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realitas
Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar klien, yaitu diri sendiri, orang
lain yang ada disekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien dan lingkungan yang
pernah mempunyai hubungan dengan klien. Demikian pula dengan orientasi waktu saat ini,
waktu yang lalu, dan rencana kedepan. Aktivitas dapat berupa: orientasi orang, waktu,
tempat, benda yang ada disekitar, dan semua kondisi nyata.
5
B. Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi
Klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada disekitar klien.
Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal (satu dan satu), kelompok,
dan massa. Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok.
C. Kualifikasi Terapis
Rawlins, Williams, dan Beck (1993) mengidentifikasi tiga area yang perlu
dipersiapkan untuk menjadi terapis atau pemimpin terapi kelompok, yaitu persiapan teoritis
melalui pendidikan formal, literatur, bacaan, dan lokakarya; praktik yang disupervisi pada
saat berperan sebagai pemimpin kelompok; pengalaman mengikuti terapi kelompok.
Perawat diperkenankan memimpin terapi kelompok jira telah dipersiapkan secara
profesional. American Nurses ‘ Association (ANA) menetapkan pada praktik keperawatan
psikiatri dan klinikal spesialis dapat berfungsi sebagai terapis kelompok. Sertifikat dari ANA
sebagai spesialis klinik dalam keperawatan psikiatri-kesehatan jira menjamin perawat mahir
dan competen sebagai terapis kelompok. The American Group Pshycotherapy Association
(AGPA) sebagai badan akreditasi terapis kelompok menetapkan anggotanya minimal
berpendidikan master.
Perawat yang memimpin kelompok terapeutik dan kelompok tambahan (TAK),
persyaratannya harus mempunyai pengetahuan tentang masalah klien dan mengetahui metode
yang dipakai untuk kelompok khusus serta terampil berperan sebagai pemimpin.
6
PERILAKU KEKERASAN
A. Latar Belakang
Umumnya klien dengan Perilaku Kekerasan dibawa dengan paksa ke Rumah sakit
Jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan pengawalan
oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku Kekerasan seperti memukul anggota
keluarga/orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan alasan utama
yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga. Penanganan oleh keluarga belum memadai,
keluarga seharusnya mendapat pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien (manajemen
perilaku kekerasan).
B. Pengertian
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang
dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak
konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995).
Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
penyakit jiwa, Jilid III Edisi I, hlm 52 tahun 1996 : “Marah adalah pengalaman emosi yang
kuat dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat”. Kemarahan yang
ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit sendiri dan mengganggu hubungan
interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan konstruktif pada waktu terjadi
akan melegakan individu dan membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang
sebenarnya. Untuk itu perawat harus pula mengetahui tentang respons kemarahan sesorang
dan fungsi positif marah.
7
C. Metode TAK
1. TAK Stimulasi Kognitif / Persepsi
Klien dilatih mempersepsikan stimulus, yang disediakan atau yang pernah dialami.
Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini
diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif.
2. Stimulasi Sensoris
Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensori klien, kemudian diobservasi reaksi
sensori klien terhadap stimulus yang disediakan berupa ekspresi perasaan secar non-verbal.
3. TAK Orientasi Realitas
Klien diorientasikan kepada kenyataan yang ada disekitarnya (diri sendiri, orang lain
disekelilingnya, orang yang dekat dengan klien, dan lingkunan yang mempunyai hubungan
dengan klien).
Demikian pula dengan orientasi waktu saat ini, waktu yang lalu dan rencana kedepan,
aktivitas dapat berupa orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar dan semua
kondisi nyata.
4. TAK Sosialisasi
Merupakan suatu upaya untuk memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien
dengan masalah hubungan sosial. Tujuan umum dari terapi ini ialah klien dapat
meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap. Sosialisasi dapat juga
dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa. Aktifitas dapat berupa
latihan sosialisasi dalam kelompok
D. Proses Terjadinya Perilaku Kekerasan
Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga
diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh
8
perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai
perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai
keinginan.
E. Penyebab Perilaku Kekerasan
Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak,
cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi
terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise
yang tidak terpenuhi.
1. Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/ keinginan yang
diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika
ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan
orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
2. Hilangnya harga diri ; pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama
untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut
mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas
marah, dan sebagainya.
3. Kebutuhan akan status dan prestise ; Manusia pada umumnya mempunyai keinginan
untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.
F. Tanda dan Gejala Orang yang Menarik Diri
1. Muka merah
2. Pandangan tajam
3. Otot tegang
4. Nada suara tinggi
9
5. Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak
6. Memukul jika tidak senang
G. Tindakan keperawatan pada klien perilaku kekerasan
Keliat dkk. (2002) mengemukakan cara khusus yang dapat dilakukan keluarga dalam
mengatasi marah klien yaitu :
1. Tindakan Keperawatan
a. Berteriak, menjerit, dan memukul.
Terima marah klien, diam sebentar, arahkan klien untuk memukul barang yang tidak
mudah rusak seperti bantal, kasur
[Link] gara-gara.
Bantu klien latihan relaksasi misalnya latihan fisik maupun olahraga, Latihan pernafasan
2X/ hari, tiap kali 10 kali tarikan dan hembusan nafas.
c. Bantu melalui humor.
Jaga humor tidak menyakiti orang, observasi ekspresi muka orang yang menjadi sasaran
dan diskusi cara umum yang sesuai.
2. Terapi Medis
Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk mengurangi atau
menghilangkan gejala gangguan jiwa.
10
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
Stimulasi : Perilaku Kekerasan
Topik : Perilaku Kekerasan
Terapis : mahasiswa
Sasaran : klien
Tempat : Ruang
Waktu : 1 X 45 menit
Kriteria Pasien :
Klien yang tidak terlalu gelisah.
klien yang bisa kooperatif dan tidak mengganggu berlangsungnya Terapi Aktifitas
Kelompok
Klien tindak kekerasan yang sudah sampai tahap mampu berinteraksi dalam
kelompok kecil
Klien tenang dan kooperatif
Kondisi fisik dalam keadaan baik
Mau mengikuti kegiatan terapi aktivitas
Klien yang dapat memegang alat tulis
Klien yang panca inderanya masih memungkinkan
Leader :
Bertugas :
Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan menciptakan
situasi dan suasana yang memungkinkan klien termotivasi untuk mengekspresikan
perasaannya
Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau mendominasi
11
Koordinator, Mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian tujuan dengan cara
memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan
Co Leader :
Bertugas :
Mendampingi leader jika terjadi blocking
Mengkoreksi dan mengingatkan leader jika terjadi kesalahan
Bersama leader memecahkan penyelesaian masalah
Observer :
Bertugas :
Mengobservasi persiapan dan pelaksanaan TAK dari awal sampai akhir
Mencatat semua aktivitas dalam terapi aktivitas kelompok
Mengobservasi perilaku pasien
Bertugas :
Membantu klien meluruskan dan menjelaskan tugas yang harus dilakukan
Mendampingi peserta TAK
Memotivasi klien untuk aktif dalam kelompok
Menjadi contoh bagi klien selama kegiatan
Operator :
Bertugas :
· Mengatur sound,music
Pendamping pasien :
12
Bertugas :
· Mendampingi pasien dalam pelaksanaan TAK
· Mengingatkan pasien tentang aturan permainan
· Mengikuti jalannya TAK
Anggota /Klien :
Bertugas :
· Menjalankan dan mengikuti kegiatan terapi
Uraian Seleksi Kelompok :
a. Hari/Tanggal : Rabu,24 Maret 2010
b. Tempat pertemuan : Ruang
c. Waktu : 09.00 s/d selesai
d. Lamanya : 45 menit
e. Kegiatan : Terapi Aktivitas Kelompok Perilaku kekerasan
f. Jumlah Anggota : ...Orang
g. Jenis TAK : Perilaku kekerasan
Seting Tempat :
13
Keterangan :
Leader :
Co Leader : Observator :
Fasilitator : Anggota /Klien :
14
TAK STIMULASI PERSEPSI : PERILAKU KEKERASAN
Sesi 1 : Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan
Tujuan
1. Klien dapat menyebutkan stimulus penyebab kemarahan.
2. Klien dapat menyebutkan respon yang dirasakan saat marah (tanda dan gejala marah )
3. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (perilaku kekerasan )
4. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan.
5. Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik(dengan
latihan nafas dalam)
Setting
1. Terapis dan klien duduk bersama
2. Ruangan nyaman dan tenang.
Alat
1. Kertas
2. Spidol
3. Buku catatan dan pulpen
4. Jadwal kegiatan klien
5. Bola
15
Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Permainan
Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien perilaku kekerasan yang sudah kooperatif
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1. Salam dari terapis kepada klien.
2. Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama )
3. Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama)
b. Evaluasi validasi
1. Menanyakan perasaan klien saat ini
16
2. Menanyakan masalah yang dirasakan.
c. Kontrak
1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenalkan kelompok, harus minta izin pada
terapis.
2. Menjelaskan aturan main berikut.
Ø Jika klien ada yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin pada terapis.
Ø Lama kegiatan 45 menit.
Ø Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
3. Tahap kerja
Leader membacakan aturan permainan :
· Salah satu peserta TAK memegang bola, sambil operator memainkan musik.
· Bila musik berhenti, dan ada salah satu peserta TAK yang memegang bola berarti, ia harus
menyebutkan penyebab perilaku kekerasan, tanda gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan
yang pernah dilakukan, akibat, serta mempraktekkan cara mengontrol PK dengan latihan fisik
(cara nafas dalam)
a. Permainan dimulai. Sampai ditemukan peserta yang tetap berjoget saat musik berhenti.
b. Klien dan terapis mendiskusikan penyebab masalah perilaku kekerasan
1. Tanyakan pengalaman tiap klien
2. Tulis di kertas
17
c. Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar oleh penyebab marah
sebelum perilaku kekerasan terjadi.
1. Tanyakan perasaan tiap klien saat terpapar oleh penyebab (tanda dan gejala)
2. Tulis di kertas
d. Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien (verbal, merusak
lingkungan, mencederai, memukul, orang lain, dan memukul diri sendiri)
1. Tanyakan perilaku yang dilakukan saat marah
2. Tulis di kertas
e. Mendiskusiksan dampak/akibat perilaku kekerasan.
1. Tanyakan akibat perilaku kekerasan.
2. Tulis di papan tulis di kertas
f. Meminta pasien mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik
(latihan nafas dalam)
g. Menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain paran/stimulasi.
h. Memberikan reinforcement pada peran serta klien.
i. Dalam menjalankan kegiatan TAK upayakan semua klien terlibat.
j. Observer memberi kesimpulan/evaluasi tentang jalannya TAK, mengenai jawaban klien
tentang penyebab, tanda dan gejala, perilaku kekerasan, dan akibat perilaku kekerasan.
Selanjutnya observer memberikan pujian atas peran serta klien dalam pelaksanaan TAK serta
memberi motivasi pada klien untuk meningkatkan kemampuannya dalam berlatih cara
mengontrol perilaku kemarahan.
k. Menanyakan kesediaan klien untuk mempelajari cara baru yang sehat menghadapi
kemarahan.
18
4. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Memberikan reinformennt positif terhadap perilaku klien positif.
b. Tindak Lanjut
1. Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi penyebab marah, yaitu
tanda dan gejala, perilaku kekerasan yang terjadi, serta akibat perilaku kekerasan.
2. Menganjurkan klien mengingat penyebab, tanda dan gejala, perilaku kekerasan
dan akibat yang belum diceritakan.
c. Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati belajar cara baru yang sehat untuk mencegah perilaku kekerasan.
2. Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.
Evaluasi dan Dokumentasi
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap [Link]
yang dievaluasi adalah kemempuan klien dengan tujuan [Link] TAK stimulasi persepsi
perilaku kekerasan Sesi 1, kemampuan yang diharapkan adalah mengetahui perilaku,
mengenal tanda dan gejala, perilaku kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku
[Link] evaluasi sebagai berikut :
19
Sesi 1 TAK
Stimilasi perilaku Kekerasan
Kemampuan Psikologi
Memberi Tanggapan Tentang
Nama Penyebab Tanda & Perilaku Akibat Mempraktekkan cara
No.
klien PK gejala PK kekerasan PK mengontrol PK
dengan nafas dalam
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mengetahui penyebab perilaku
kekerasan, tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan dan
akibat perilaku kekerasan, serta mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan
dengan nafas dalam. Beri tanda + jika mampu dan beri tanda - jika tidak mampu.
20
Dokumentasi
Dokumentasikan kemempuyan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap [Link]: Klien mengikuti Sesi 1, TAK stimulus persepsi perilaku
[Link] mampu menyebutkan penyebab perilaku kekerasannya( disalahkan dan tidak
diberi uang), mengenal tanda dan gejala yang dirasakan (”gregeten” dan ”deg-degan”),
perilaku kekerasan yang dilakukan (memukul meja), akibat yang dirasakan (tangan sakit dan
dibawa ke rumah sakit jiwa), dan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan tarik
nafas dalam. Anjurkan klien mengingat dan menyampaikan jika semua dirasakan selama di
rumah sakit
21
DAFTAR PUSTAKA
1. Stuar, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta:EGC, Edisi 5
2. Keliat anna budi.2005. Keperawatan Jiwa TAK, Jakarta:EGC
3. [Link]
..WELCOME TO HARNA’S [Link]
22