MAKALAH
KETERLIBATAN PERAWAT DALAM PEMBERIAN TERAPI
KOMPLEMENTER
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Komplementer
DISUSUN OLEH :
ROHANIAH PURWANINGRUM
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN FALETEHAN SERANG
Jl. Raya Cilegon KM 06 Kramat Watu Serang – Banten
Telp. Fax : ( 0254) 230054 - 232729
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya maka penulis
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Keterlibatan Perawat Dalam
Pemberian Terapi Komplementer” sebagai salah satu tugas dan persyaratan untuk Mata Kuliah
Keperawatan terapi komplementer di STIKESFa Serang.
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun merasakan masih banyak kekurangan-
kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Mengingat akan kemampuan yang
dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat
diharapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Penyusun menyampaikan terima kasih
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Akhir kata, penyusun berharap semoga Allah SWT memberikan imbalan yang setimpal
pada yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah,
Amin.
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2
1.3 Manfaat Penulisan .................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 3
2.1 Peran dan Fungsi Perawat ........................................................................ 3
2.1.1 Peran Perawat.................................................................................. 3
2.1.2 Fungsi Perawat ................................................................................ 3
2.2 Terapi Komplementer .............................................................................. 5
2.2.1 Pengertian Terapi Komplementer ................................................... 5
2.2.2 Tujuan Terapi Komplementer ......................................................... 6
2.2.3 Jenis-Jenis Terapi Komplementer ................................................... 6
2.2.4 Obat-Obat Terapi Komplementer ................................................... 7
2.2.5 Aspek Legal Terapi Komplementer ................................................ 7
2.2.6 Kendala Terapi Komplementer ....................................................... 8
BAB III PEMBAHASAN .............................................................................. 9
3.1 Peran Perawat dalam Pelaksanaan Terapi Komplementer....................... 9
BAB IV PENUTUP ..................................................................................... 10
4.1 Kesimpulan ............................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 11
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi isu di banyak negara.
Masyarakat menggunakan terapi ini dengan alasan keyakinan, keuangan, reaksi
obat kimia dan tingkat kesembuhan. Perawat mempunyai peluang terlibat dalam
terapi ini, tetapi memerlukan dukungan hasil-hasil penelitian (evidence-based
practice). Pada dasarnya terapi komplementer telah didukung berbagai teori,
seperti teori Nightingale, Roger, Leininger, dan teori lainnya. Terapi
komplementer dapat digunakan di berbagai level pencegahan. Perawat dapat
berperan sesuai kebutuhan klien.
Pengobatan komplementer atau alternatif menjadi bagian penting dalam
pelayanan kesehatan di Amerika Serikat dan negara lainnya (Snyder & Lindquis,
2002). Estimasi di Amerika Serikat 627 juta orang adalah pengguna terapi
alternatif dan 386 juta orang yang mengunjungi praktik konvensional (Smith et
al., 2004). Data lain menyebutkan terjadi peningkatan jumlah pengguna terapi
komplementer di Amerika dari 33% pada tahun 1991 menjadi 42% di tahun 1997
(Eisenberg, 1998 dalam Snyder & Lindquis, 2002).
Klien yang menggunakan terapi komplemeter memiliki beberapa alasan.
Salah satu alasannya adalah filosofi holistik pada terapi komplementer, yaitu
adanya harmoni dalam diri dan promosi kesehatan dalam terapi komplementer.
Alasan lainnya karena klien ingin terlibat untuk pengambilan keputusan dalam
pengobatan dan peningkatan kualitas hidup dibandingkan sebelumnya. Sejumlah
82% klien melaporkan adanya reaksi efek samping dari pengobatan konvensional
yang diterima menyebabkan memilih terapi komplementer (Snyder & Lindquis,
2002).
Terapi komplementer yang ada menjadi salah satu pilihan pengobatan
masyarakat. Di berbagai tempat pelayanan kesehatan tidak sedikit klien bertanya
tentang terapi komplementer atau alternatif pada petugas kesehatan seperti dokter
ataupun perawat. Masyarakat mengajak dialog perawat untuk penggunaan terapi
alternatif (Smith et al., 2004). Hal ini terjadi karena klien ingin mendapatkan
pelayanan yang sesuai dengan pilihannya, sehingga apabila keinginan terpenuhi
akan berdampak ada kepuasan klien. Hal ini dapat menjadi peluang bagi perawat
untuk berperan memberikan terapi komplementer.
1.2 Tujuan Penulisan
Untuk memahami bagaimana keterlibatan perawat dalam pemberian terapi
komplementer.
1
1.3 Manfaat Penulisan
Diharapkan makalah ini dapat menjadi sumber literature pembelajaran bagi
pembaca.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Peran dan Fungsi Perawat
1.1.1 Peran Perawat
Doheny (1982) mengidentifikasi beberapa elemen peran perawat
professional, meliputi:
1. Care giver, sebagai pemberi asuhan keperawatan;
2. Client advocate, sebagai pembela untuk melindungi klien;
3. Counsellor, sebagai pemberi bimbingan / konseling klien;
4. Educator, sebagai pendidik klien;
5. Collaborator, sebagai anggota tim kesehatan yang dituntut untuk dapat
bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain;
6. Coordinator, sebagai coordinator agar dapat memanfaatkan sumber-
sumber dan potensi klien;
7. Change agent, sebagai pembaru yang selalu dituntut untuk mengadakan
perubahan-perubahan;
8. Consultant, sebagai sumber informasi yang dapat membantu
memecahkan masalah klien.
1.1.2 Fungsi Perawat
Fungsi adalah suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan
perannya, fungsi dapat berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.
Ruang lingkup dan fungsi keperawatan semakin berkembang dengan fokus
manusia tetap sebagai senral pelayanan keperawatan. Bentuk asuhan yang
menyeluruh dan utuh, dilandasi tentang keyakinan tentang manusia sebagai
makhluk bio-psiko-sosio-spiritual yang unik dan utuh.
Ilmu keperawatan memfokuskan pada fenomena khusus dengan
menggunakan cara khusus dalam memberi landasan teoretik dan fenomena
keperawatan yang teridentifikasi. Dengan denikian, perawat bertanggung
jawab dan bertanggung gugat terhadap hal-hal yang dilakukan dalam praktik
keperawatan. Dalam hal ini praktik keperawatan harus berlandaskan prinsip
ilmiah dan kemanusiaan serta berilmu pengetahuan dan terampil
melaksanakan pelayanan keperawatan dan bersedia dievaluasi. Inilah ciri-
ciri yang menunjukkan profesionalisme perawat yang sangat vital bagi
pelaksanaan fungsi keperawatan mandiri, ketergantungan, dan kolaboratif
(Kozier, 1991).
Pengertian fungsi keperawatan mandiri, ketergantungan, dan
kolaboratif kerap dipergunakan untuk menggambarka, suatu tindakan
keperawatan atau strategi keperawatan yang diperankan oleh perawat.
3
1. Pelaksanaan Fungsi Keperawatan Mandiri
Tindakan keperawatan mandiri (independen) adalah aktivitas
keperawatan yang dilaksanakan atas inisiatif perawat itu sendiri dengan
dasar pengetahuan dan keterampilannya, Mundinger (1985) menyebutnya
sebagai “autonomous nursing practice to independent nursing”. Ia
menuliskan bahwa mengenai mengapa, kapan dan bagaimana posisi seta
kondisi klien, dan melakukan suatu tindakan dengan keterampilan penuh
adalah fungsi terapi “autonomous”. Dalam hal ini perawat menentukan
bahwa klien membutuhkan intervensi keperawatan yang pasti, salah satunya
adalah membantu memecahkan masalah yang dihadapi atau mendelegasikan
anggota keperawatan yang lain dan bertanggung jawab atas keputusan dan
tindakannya (akuntabilitas). Contoh dari tindakan keperawatan madiri
adalah seorang perawat merencanakan dan mempersiapkan perawatan
khusus pada mulut klien setelah mengkaji keadaan mulutnya.
2. Pelaksanaan Fungsi Keperawatan Ketergantungan
Tindakan keperawatan ketergantungan (dependen) adalah aktivitas
keperawatan yang dilaksanakan atas instruksi dokter atau di bawah
pengawasan dokter dalam melaksanakan tindakan rutin yang spesifik.
Contoh dari tindakan fungsi ketergantungan adalah dalam memberikan
injeksi antibiotic. Aktivitas ketergantungan dalam praktik keperawatan
dilaksanakan sehubungan dengan penyakit klien dan hal ini sangat penting
untuk mengurangi keluhan yang diderita klien.
3. Pelaksanaan Fungsi Keperawatan Kolaboratif
Tindakan keperawatan kolaboratif (interdependen) adalah aktivitas
yang dilaksanakan atas kerja sama dengan pihak lain atau tim kesehatan
lain. Tindakan kolaboratif terkadang menimbulkan adanya tumpang tindih
pertanggungjawaban di antara personal kesehatan dan hubungan langsung
kolega antar-profesi kesehatan. Sebagai contoh, perawat dan ahli terapi
pernapasan bersama-sama membuat jadwal latihan bernapas pada seorang
klien. Seorang ahli terapi pada awalnya mengajrkan latihan pada klien, dan
perawat menguatkan pemahaman dan membantu klien pada saat diterapi
tidak ada. American Nurses Association (Kozier, 1991) menggambarkan
bahwa kolaboratif merupakan “kerja sama sejati”, di dalamnya terdapat
kesamaan kekuatan dan nilai-nilai dari kedua belah pihak, dengan
pengakuan dan penerimaan terpisah serta kombinasi dari lingkup aktivitas
dan pertanggungjawaban bersama-sama, saling melindungi kepentingan
setiap bagian dan bersama-sama mencapai tujuan yang telah disepakati oleh
setiap bagian.
4
Untuk melaksanakan praktik keperawatan kolaboratif secara efektif,
perawat harus mempunyai kemampuan klinis, mempunyai pengetahuan dan
keterampilan yang memadai dan rasa pertanggungjawaban yang tinggi
dalam setiap tindakan.
1.2 Terapi Komplementer
1.2.1 Pengertian Terapi Komplementer
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Terapi merupakan
usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan
penyakit, perawatan penyakit. Komplementer adalah bersifat melengkapi,
bersifat menyempurnakan.
Menurut WHO (World Health Organization), Pengobatan
komplementer adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari
negara yang bersangkutan, misalnya jamu yang merupakan produk
Indonesia dikategorikan sebagai pengobatan komplementer di negara
Singapura. Di Indonesia sendiri, jamu dikategorikan sebagai pengobatan
tradisional. Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang
sudah dari zaman dahulu digunakan dan diturunkan secara turun – temurun
pada suatu negara.
Terapi Komplementer adalah cara penanggulangan penyakit yang
dilakukan sebagai pendukung atau pendamping kepada pengobatan medis
konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan medis
yang konvensional.
2.2.2 Tujuan Terapi Komplementer
Terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem
– sistem tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh
dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita
sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri,
asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan respon dengan asupan
nutrisi yang baik lengkap serta perawatan yang tepat.
2.2.3 Jenis – Jenis Terapi Komplementer
Jenis pelayanan pengobatan komplementer – alternatif berdasarkan
Permenkes RI Nomor : 1109/Menkes/Per/2007 adalah :
1. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) :
Hipnoterapi, mediasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga
2. Sistem pelayanan pengobatan alternatif : akupuntur, akupresur,
naturopati, homeopati, aromaterapi, ayurveda
5
3. Cara penyembuhan manual : chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu,
osteopati, pijat urut
4. Pengobatan farmakologi dan biologi : jamu, herbal, gurah
5. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan : diet makro nutrient,
mikro nutrient
6. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan : terapi ozon, hiperbarik, EEC
2.2.4 Obat – Obat Terapi Komplementer
1. Bersifat natural yaitu mengambil bahan dari alam, seperti jamu –
jamuan, rempah yang sudah dikenal (jahe, kunyit, temu lawak dan
sebagainya);
2. Pendekatan lain seperti menggunakan energi tertentu yang mampu
mempercepat proses penyembuhan, hingga menggunakan doa tertentu
yang diyakini secara spiritual memiliki kekuatan penyembuhan.
2.2.5 Aspek Legal Terapi Komplementer
1. Undang – Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
a. Pasal 1 butir 16, pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan
dan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada
pengalaman dan keterampilan turun – temurun secara empiris yang
dapat dipertanggung jawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma
yang berlaku di masyarakat;
b. Pasal 48 tentang pelayanan kesehatan tradisional;
c. Bab III Pasal 59 s/d 61 tentang pelayanan kesehatan tradisonal.
2. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1076/Menkes/SK/2003 tentang
pengobatan tradisional;
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 120/Menkes/SK/II/2008 tentang
standar pelayanan hiperbarik;
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang
penyelenggaraan pengobatan komplementer – alternatif di fasilitas
pelayanan kesehatan;
5. Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, No.
HK.03.05/I/199/2010 tentang pedoman kriteria penetepan metode
pengobatan komplementer – alternatif yang dapat diintegrasikan di
fasilitas pelayanan kesehatan.
2.2.6 Kendala Terapi Komplementer
1. Masih lemahnya pembinaan dan pengawasan;
2. Terbatasnya kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan bimbingan;
6
3. Terbatasnya anggaran yang tersedia
untuk pelayanankesehatan komplementer;
4. Belum memadainya regulasi yang mendukung pelayanan kesehatan
komplementer;
5. Terapi komplementer belum menjadi program prioritas dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
7
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Keterlibatan Perawat dalam Pelaksanaan Terapi Komplementer
a. Caregiver
Peran perawat memberikan pelayanan langsung kepada pasien dalam terapi
komplementer, seperti :
1. Masase
2. Terapi musik
3. Diet
4. Teknik relaksasi
5. Vitamin dan produk herbal
b. Educator
Peran perawat dapat memberitahukan informasi tentang terapi
komplementer.
c. Konselor
Peran perawat sebagai konselor perawat dapat menjadi tempat bertanya
untuk pasien, konsultasi dan diskusi sebelum mengambil keputusan tentang
terapi komplementer yang akan dipilih.
d. Koordinator
Perawat dapat mendiskusikan terapi komplementer dengan dokter yang
merawat dan unit manajer terkait.
e. Advokat
Peran perawat berperan untuk memenuhi permintaan kebutuhan perawatan
komplementer yang akan diberikan dan perawat memberikan rasa aman dan
nyaman kepada pasien.
f. Konsultan
Peran perawat membantu dalam memecahkan masalah yang dialami pasien.
g. Kolaborator
Peran perawat berkolaborasi dengan dokter atau tenaga medis lainnya dalam
memberikan terapi komplementer.
8
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Terapi Komplementer adalah cara penanggulangan penyakit yang
dilakukan sebagai pendukung atau pendamping kepada pengobatan medis
konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan medis
yang konvensional. Peran perawat dalam pelayanan kesehatan diantaranya
dalam terapi komplementer sebagai pemberi asuhan keperawatan, pembela
untuk melindungi klien, pemberi bimbingan / konseling klien, pendidik klien,
anggota tim kesehatan yang dituntut untuk dapat bekerja sama dengan tenaga
kesehatan lain, coordinator agar dapat memanfaatkan sumber-sumber dan
potensi klien, pembaru yang selalu dituntut untuk mengadakan perubahan-
perubahan, dan sumber informasi yang dapat membantu memecahkan masalah
klien. Fungsi perawat yang dijalankan dipelayanan kesehatan adalah bertindak
secara independen, dependen, dan interdependen.
Perkembangan terapi komplementer atau alternatif sudah luas, termasuk
didalamnya orang yang terlibat dalam memberi pengobatan karena banyaknya
profesional kesehatan dan terapis selain dokter umum yang terlibat dalam terapi
komplementer. Hal ini dapat meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan
melalui penelitian-penelitian yang dapat memfasilitasi terapi komplementer
agar menjadi lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Perawat sebagai salah satu profesional kesehatan, dapat turut serta
berpartisipasi dalam terapi komplementer. Peran yang dijalankan sesuai dengan
peran-peran yang ada. Arah perkembangan kebutuhan masyarakat dan
keilmuan mendukung untuk meningkatkan peran perawat dalam terapi
komplementer karena pada kenyataannya, beberapa terapi keperawatan yang
berkembang diawali dari alternatif atau tradisional terapi.
9
DAFTAR PUSTAKA
Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. EGC:
Jakarta.
Snyder, M. & Lindquist, R. (2002). Complementary/alternative therapies in
nursing. 4th ed. New York: Springer.
Smith, S.F., Duell, D.J., Martin, B.C. (2004). Clinical nursing skills: Basic to
advanced skills. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
[Link]
10