Value Engineering
Value Engineering
DISERTASI
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
DEPOK
JUNI 2015
Model aliansi..., Albert Eddy Husin, FT UI, 2015.
UNIVERSITAS INDONESIA
DISERTASI
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
DEPOK
JUNI 2015
Model aliansi..., Albert Eddy Husin, FT UI, 2015.
UNIVERSITAS INDONESIA
DISSERTASI
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
DEPOK
JUNI 2015
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya
kepada hamba untuk menyelesaikan disertasi ini yang berjudul, “Model Aliansi
Strategis Dalam Kemitraan Pemerintah dan Swasta Pada Mega Proyek
Infrastruktur Berbasis Value Engineering Untuk Meningkatkan Nilai
Kelayakan Proyek”.
Peneliti menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,
sangat sulit bagi saya untuk menyelesaikan disertasi ini. Oleh karena itu, saya
mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Kedua orangtua saya, [Link] Suparta dan Ibu Mega Yulia yang telah
mendidik, membesarkan serta memberi semangat selama masa-masa
penyelesaian disertasi ini;
(2) Istri saya Sylvia Ester Tobing dan anak saya Michael Kelvin Husin yang
tidak ada henti-hentinya memberikan doa dan dukungan kepada saya
hingga disertasi ini selesai;
(3) Prof. Dr. Ir. Tommy Ilyas, [Link]. selaku Pembimbing Akademis dan
Promotor yang telah meluangkan waktu dalam membimbing selama dalam
proses penulisan disertasi ini.
(4) Prof. Ir. Suyono Dikun, [Link]., Ph.D. dan Prof. Ir. Dana Santoso,
[Link], Ph.D. selaku Ko-Promotor yang telah meluangkan waktu
dalam membimbing selama dalam proses penulisan disertasi ini.
(5) Mohammed Ali Berawi, [Link]., Ph.D. selaku pembimbing yang terus
mendukung, memberikan arahan dan masukan dalam penelitian dan
penulisan disertasi ini dari awal hingga selesai.
v Universitas Indonesia
Akhir kata, penulis berharap Tuhan berkenan membalas segala kebaikan semua
pihak yang telah membantu. Segala kritik dan saran yang bersifat konstruktif
sangat saya harapkan dalam pengembangan penelitian di masa mendatang.
Penulis
vi Universitas Indonesia
Indonesia adalah negara dengan kegiatan ekonomi besar dan dinamis tercermin
oleh pertumbuhan ekonomi telah mencapai 6% per tahun. Jembatan Selat Sunda
(JSS) adalah salah satu mega proyek yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia
yang akan menghabiskan biaya sekitar US$ 25 miliar. Dengan minimnya value
for money yang diperoleh menjadi kendala utama JSS sehingga belum dapat
menarik pihak swasta untuk berinvestasi dalam pembangunan proyek. Pengadaan
infrastruktur dengan skema Kemitraan Pemerintah dan Swasta (KPS)
konvensional tidak dapat berjalan optimal sesuai harapan, jadi diperlukan
alternatif model skema pembiayaan lain seperti skema Aliansi Strategis dalam
Kemitraan Pemerintah dan Swasta (AS-KPS) untuk meningkatkan minat pihak
swasta. Pendekatan model skema AS-KPS pada JSS dengan melakukan inovasi
fungsi proyek dari satu fungsi menjadi multi fungsi (multi stakeholders).
Konseptual desain proyek JSS pada awalnya hanya berfungsi untuk
penyeberangan orang dan barang antara dua pulau utama di Indonesia, setelah
dilakukan proses inovasi fungsi berbasis value engineering maka dihasilkan
penambahan fungsi pariwisata, kawasan industri, telekomunikasi, instalasi pipa
minyak dan gas serta pemanfaatan energi terbarukan. Pada penelitian ini
dilakukan pendekatan forecasting demand dengan system dynamic pada studi
kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa analisa kelayakan Jembatan
Selat Sunda dengan menggunakan skema SA-PPP berbasis value engineering
dapat meningkatkan pendapatan proyek secara keseluruhan hingga 683,27%,
meningkatkan Internal Rate of Return (IRR) hingga 7,37% dengan Net Present
Value (NPV) positif.
ix Universitas Indonesia
x Universitas Indonesia
HALAMAN SAMPUL..................................................................................... i
HALAMAN JUDUL........................................................................................ ii
PERNYATAAN ORISINALITAS................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... .. iv
KATA PENGANTAR...................................................................................... v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI....................... viii
ABSTRAK........................................................................................................ ix
DAFTAR ISI.................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ xv
DAFTAR TABEL............................................................................................ xviii
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1. Latar Belakang........................................................................ 1
1.2. Identifikasi Masalah................................................................ 6
1.2.1. Deskripsi Masalah...................................................... 6
1.2.2. Signifikansi Masalah.................................................. 9
1.2.3. Rumusan Masalah...................................................... 9
1.3. Tujuan Penelitian.................................................................... 9
1.4. Manfaat Penelitian.................................................................. 10
1.5. Batasan Penelitian................................................................... 10
1.6. Luaran Penelitian.................................................................... 11
1.7. State of The Art....................................................................... 11
1.7.1. Research Gap............................................................. 11
1.7.2. State of The Art.......................................................... 12
1.7.3. Rancangan Penelitian................................................. 12
1.8. Hipotesa.................................................................................. 13
BAB 2 LANDASAN TEORI........................................................................ 14
2.1. Public Private Partnership..................................................... 14
2.1.1. Pendahuluan .............................................................. 14
2.1.2. Konsep PPP................................................................ 14
2.1.3. Tujuan dan Keuntungan Penerapan PPP.................... 15
2.1.4. Bentuk-bentuk PPP.................................................... 17
2.1.5. Penerapan PPP di Negara-negara Maju..................... 18
2.1.6 Penerapan PPP di Indonesia....................................... 23
[Link]. Permasalahan PPP di Indonesia................. 27
[Link]. Proses Penyelenggaraan PPP di Indonesia 28
2.2. Strategic Alliance Public Private Partnership……………... 30
2.2.1. Pendahuluan............................................................... 30
2.2.2. Konsep SA-PPP......................................................... 32
2.2.3. Tujuan dan Keuntungan Penerapan SA-PPP............. 38
2.2.4. Bentuk-bentuk SA-PPP.............................................. 41
2.2.5. Penerapan SA-PPP di Negara-negara Maju............... 42
2.3. Metode Value Engineering..................................................... 43
2.3.1. Konsep, Prinsip Dasar dan Manfaat VE.................... 43
[Link]. Pendahuluan............................................... 43
[Link]. Definisi dan Tujuan VE............................. 43
[Link]. Konsep Dasar dan Manfaat VE................. 46
xi Universitas Indonesia
xv Universitas Indonesia
xx Universitas Indonesia
1 Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Sektor jalan tol dan jembatan memiliki proyek – proyek dengan total investasi
terbesar senilai US$ 29,6 milyar diikuti sektor kereta api dengan total investasi
mencapai US$11 milyar dan transportasi laut dengan kebutuhan investasi
mencapai US$ 3,7 milyar.
Dari PPP Book 2013 (Kementeriaan PPN/BAPPENAS, 2013) terlihat
bahwa pengadaan infrastruktur dengan skema PPP konvensional tidak dapat
berjalan dengan baik di Indonesia, jadi diperlukan diupayakan alternatif model
skema pembiayaan lain seperti skema SA-PPP untuk meningkatkan minat
investor adalah hal yang menarik dipertimbangkan agar dapat memenuhi
kebutuhan infrastruktur di Indonesia.
Berdasarkan besaran nilai proyek, pembangunan jalan tol dan jembatan
difokuskan pada Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Mengacu pada kontribusi kedua
pulau terhadap PDB nasional yang mencapai lebih dari 50% maka prioritas porsi
pembangunan infrastruktur lebih banyak pada kedua pulau tersebut (BPS, 2012).
Gagasan menghubungkan Sumatera, Jawa dan Bali pertama kali
dikemukakan oleh Presiden Soekarno pada 1960. Presiden Soeharto
menginstruksikan BPPT mengkaji gagasan dan konsep hubungan langsung
Sumatera-Jawa-Bali (Trinusa Bimasakti) pada 1986. Dalam masa pemerintahan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, diterbitkan 4 peraturan perundang-
undangan guna mewujudkan cita-cita besar tersebut, yaitu PP No. 26 Tahun 2008
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Jembatan Selat Sunda adalah
bagian jaringan jalan bebas hambatan nasional, dan Kawasan Selat Sunda
merupakan Kawasan Strategis Nasional), Keppres No. 36 Tahun 2009 tentang
Tim Nasional Persiapan Pembangunan Jembatan Selat Sunda, Perpres No. 32
Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 (Kawasan Strategis dan Infrastruktur
Selat Sunda menjadi salah satu program utama), dan Perpres No. 86 Tahun 2011
tentang Pengembangan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda
(KSISS).Penerbitan peraturan perundang-undangan tersebut merupakan Political
Will yang sangat kuat dari Pemerintah guna mewujudkan konektivitas Jawa dan
Sumatera.
Universitas Indonesia
Pulau Sumatera sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan
lumbung energi nasional (Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011)
dengan kontribusi sebesar 23,6 % terhadap PDB (BPS,2012), serta pulau Jawa
sebagai pendorong industri dan jasa nasional (Kementrian Koordinator Bidang
Perekonomian, 2011) dengan kontribusi sebesar 57,5 % terhadap PDB
(BPS,2012), merupakan kawasan strategis nasional yang perlu dihubungkan
infrastruktur konektivitasnya dalam rangka memperkokoh kesatuan nasional dan
meningkatkan integrasi perekonomian Jawa dan Sumatera khususnya (Perpres
No 86, 2011).
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Minimnya value for money yang diperoleh menjadi kendala utama JSS
untuk menarik pihak Swasta terlibat dalam pembangunan proyek. Maka
diperlukan adanya suatu upaya kreatif dan inovatif dalam perencanaannya
sehingga dapat memberikan nilai tambah proyek secara signifikan. Terdapat
beberapa pendekatan untuk meningkatkan nilai suatu proyek, salah satunya adalah
dengan menggunakan Model Aliansi Strategis Kemitraan Pemerintah dan Swasta
berbasis Inovasi Fungsi menggunakan Value Engineering (VE).
VE adalah sebuah proses sistematis yang digunakan oleh tim multi disiplin
untuk meningkatkan nilai (value) dari sebuah proyek melalui analisa terhadap
fungsi-fungsinya (Standar SAVE,2007). Metode ini telah teruji secara sistematis
dalam menganalisa suatu sistem untuk menghasilkan keluaran optimum dari segi
kualitas (Woodhead and Hons, 2007), dengan mengembangkan berbagai
pengetahuan diantara para stakeholders (Zack et al., 2009), menghasilkan
teknologi baru (Berawi, 2004) dan menstimulasi adanya inovasi dan efisiensi
untuk mendapatkan nilai yang maksimal dari sebuah proyek (Berawi and
Woodhead, 2008; Chen et al., 2010).
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Kemitraan Pemerintah dan Swasta pada Mega Proyek Infrastruktur yang berbasis
Inovasi Fungsi menggunakan Value Engineering.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Dari research gap, dapat terlihat jelas bahwa belum ada literatur yang
membahas keseluruhan topik ini dalam satu penelitian. Oleh karena itu, penelitian
ini diharapkan bisa menjadi jembatan yang bisa mengisi celah (gap) dari tema-
tema yang telah dibahas oleh peneliti lainnya.
Universitas Indonesia
Innovation Efficiency
Universitas Indonesia
14 Universitas Indonesia
dalam pembangunan infrastuktur ini. Beberapa varian definisi tersebut antara lain
adalah (Spriering and Dewulf, 2006) :
PPP sebagai reformasi manajemen dimana fungsi pemerintahan dan birokrasi
terintegrasi dengan manajemen profesional.
PPP adalah kerjasama lembaga dari sektor publik dan sektor swasta untuk
mencapai target tertentu dimana kedua belah pihak menerima resiko investasi
atas dasar pembagian keuntungan dan biaya yang dipikulnya.
PPP adalah kerjasama antara pemerintah dan swasta yang menghasilkan produk
atau jasa dimana resiko, biaya dan keuntungan ditanggung bersama berdasarkan
nilai tambah yang diciptakannya.
Sedangkan Yescombe (2007) mendefinisikan PPP sebagai kontrak jangka
panjang antara pemerintah dan sektor swasta untuk melaksanakan perencanaan,
pembangunan, pembiayaan dan pengoperasian infrastruktur publik oleh pihak
swasta. PPP memiliki 4 karakteristik , yaitu :
1. PPP merupakan kontrak jangka panjang.
2. Investasi pihak swasta dan siklus hidup proyek merupakan hal yang penting
bagi pihak swasta.
3. Inovasi dalam penyediaan jasa yang dilakukan pihak swasta
4. Adanya keuntungan yang didapatkan baik itu dari pihak swasta maupun dari
pihak pemerintah (Alfen,et al.,2009)
PPP dikenal juga sebagai triangle synergy antara government, business
dan communities, dimana pelaku PPP menurut UNDP dapat dikembangkan
menjadi 3 unsur (Rahutami, 2001) yaitu :
1. Negara , berfungsi menciptakan lingkungan politik dan hukum yang kondusif.
2. Swasta, mendorong terciptanya lapangan kerja dan pendapatan masyarakat
3. Masyarakat, mewadahi interaksi sosial politik, memobilisasi kelompok dalam
masyarakat untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi , sosial dan politik.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Alasan berbagai negara yang memilih konsep PPP adalah sebagai berikut
(Parente, 2006) :
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
making. Semua ini merupakan konstruksi utama dari sektor swasta dalam
pembangunan infrastruktur.
Universitas Indonesia
2. Periode 2005-2009
Pemerintah menyadari kebutuhan penyediaan layanan infrastruktur tidak mungkin
dipenuhi seluruhnya oleh Pemerintah terutama jika melihat kebutuhan investasi
infrastruktur pada periode ini mencapai Rp.700 triliun dan target pertumbuhan
rata-rata 5-6% pertahun. Periode ini menjadi periode menjadi periode kebangkitan
infrastruktur Indonesia, dimana Pemerintah mulai melakukan penawaran proyek-
proyek infrastruktur dengan skema PPP.
Indonesia Infrastruktur Summit I tahun 2005
Pada tahun 2005 Pemerintah menyelenggarakan Indoenesia Infrastruktur
Summit I dengan menawarkan 91 proyek infrastruktur senilai USD 22,5
milliar berbasis skema PPP (IIS-2005). Dari 91 proyek yang ditawarkan,
hingga semester awak tahun 2009 hanya 4 proyek yang beroperasi, sedangkan
9 proyek dalam tahap konstruksi ([Link], 24 april 2009).
Indoenesia Infrastructure Confrence and Exhibiton (IICE) Tahun 2006
Pemerintah kembali menawarkan 10 model proyek infrastruktur pada IICE-
2006. Tercatat dari 10 model proyek yang ditawarkan, baru 2 proyek yag
sudah memasuki tahap konstruksi (Susantoso, 2009).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penawaran proyek
infrastruktur dengan skema PPP pada tahun 2005 dan 2006 belum terserap
seluruhnya. Oleh karena itu dalam periode 2005-2009 titik berat pengembangan
PPP bidang infrastruktur adalah penyiapan kerangka regulasi yang dibutuhkan
Pemerintah dan Swasta dalam mengakselerasikan percepatan penyediaan
infrastruktur melalui PPP.
Universitas Indonesia
Pada PPP Book 2013, jumlah proyek yang ditawarkan sebanyak 27 proyek
dimana tidak ada satupun proyek yang Ready to Offer (Siap ditawarkan).
Universitas Indonesia
Dari rangkum dari PPP Book 2009-2013, maka dapat dilihat sebagai berikut :
Evaluasi status proyek dari PPP Book 2012 ke PPP Book 2013, adalah:
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Rencana
Identifikasi dan Kajian Awal Kajian Penyelesaian Pengadaan Badan Perencanaan Manajemen
Pemilihan Penetapan Prastudi Kesiapan Prastudi Usaha ; Manajemen Pelaksanaan
Proyek Prioritas Kelayakan Proyek Kelayakan Pelaksanaan Pelaksanaan Perjanjian
Pengadaan B U ;
Kerjasama Proyek Kerjasama Perjanjian Kerjasama
Penyiapan
Kerjasama Penandatanganan
Kerjasama
Perjanjian
Kerjasama
Penanggung Jawab Proyek PJPK, KKPPI, BKPM, BAPPENAS, PJPK, KKPPI, PPRF, BUPI,BKPM PJPK, PPR, BUPI,BKPM,
Kerjasama (PJK/BAPPENAS) Kemenkeu (PPRF), BUPI, BPN, KLH BKPM, BAPPENAS, BPN BAPPENAS, KLH
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
baik. Penerapan skema PPP memiliki faktor kelemahan menurut Cheung & Chan
(2010) adalah:
1) Akuntabilitas proyek yang rendah,
2) Resiko keuangan dalam bidang sektor publik;
3) Kurangnya komitmen pemerintah;
4) Cenderung terjadinya penundaan; dan
5) Biaya pakai yang tinggi yang dikenakan pada masyarakat
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Keberhasilan aliansi tergantung dari 4 faktor sukses yang berkaitan satu sam lain,
yiatu : (Australian Government, 2011)
Tim kolaburatif yang terpadu : Tim yang dibentuk dari perwakilan dua
belah pihak yaitu public dan private
Universitas Indonesia
Tujuh fitur utama pada kunci sukses yang dinamis dalam aliansi pada Gambar 2.9,
adalah :
Berbagi risiko dan peluang
Komitmen “untuk tidak berselisih”
Proses pengambilan keputusan berdasarkan untuk kebaikan proyek
Membudayakan “tidak saling menyalahkan”
Beritikat baik
Transparan dalam dokumentasi dan pelaporan
Struktur pengelolaan bersama
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Suatu upaya yang diteliti dan sistematis untuk meningkatkan nilai dan
mengoptimalkan biaya siklus hidup (life cycle cost) suatu fasilitas dengan
mengidentifikasikan peluang untuk menghilangkan biaya yang tidak
diperlukan dengan memastikan kualitas, reliabilitas, kinerja dan faktor kritis
lainnya yang memenuhi atau melebihi harapan klien (Dell’Ísola, 1997).
Suatu teknik yang inovatif, sistematis dan tepat dengan pendekatan yang
multidisiplin untuk mendapatkan nilai yang terbaik dan optimalisasi biaya
pada proyek, produk, system dan jasa tanpa mengorbankan tinkat kierja yang
diperlukan ( Che Mat, 2002)
Universitas Indonesia
Dimana fungsi diukur oleh kinerja yang dipersyaratkan oleh pelanggan, dan
sumber daya diukur dalam jumlah material, tenaga kerja, harga, waktu dan lain-
lain yang diperlukan untuk menyelesaikan fungsi tersebut.
Dell’Isola (1982) menyatakan bahwa konsep utama metodologi VE
terletak pada nilai, fungsi dan biaya dimana hubungan tersebut dirumuskan
sebagai berikut :
Function+Quality
Value = ----------------------- (2.2)
Cost
dimana,
Function/Fungsi : Pekerjaan tertentu yang harus dikerjakan
Quality/Kualitas : Kebutuhan pemilik/pengguna yang diharapkan
Cost/Biaya : Life Cycle Cost dari produk/proyek, yaitu jumlah segala
usaha dan pengeluaran yang dilakukan dalam
mengembangkan, memproduksi dan aplikasi produk.
Alternatif hubungan tersebut adalah :
Value (V) = : yaitu biaya turun, namun fungsi dan kualitas dipertahankan.
Value (V) = : Yaitu meningkatkan fungsi atau kualitas atau keduanya dengan
Value (V) = : Yaitu meningkatkan fungsi atau kualitas dengan reduksi biaya
Universitas Indonesia
Value (V) = : Yaitu menaikan fungsi dan kualitas dengan meningkatkan biaya
Hubungan yang lain ditunjukan oleh Carlos Fallon (Che Mat, 2002) sebagai
berikut :
Worth
Value = -------- (2.3)
Cost
dimana,
Value (nilai) didefinisikan sebagai biaya yang paling efektif untuk
mewujudkan sejumlah fungsi yang akan memenuhi kebutuhan pengguna yang
diinginkan dan diharapkan.
Worth/manfaat adalah kebutuhan pemilik/pengguna yang diharapkan
Cost merupakan Life Cycle Cost dari produk/proyek.
a. Fungsi
Proses perencanaan yang dilakukan dalam VE didasarkan pada fungsi-
fungsi yang dibutuhkan serta nilai yang diperoleh. Fungsi diartikan sebagai
elemen utama dalam VE, karena tujuan VE adalah untuk mendapatkan fungsi-
fungsi yang dibutuhkan dari suatu item dengan total terendah . Setelah fungsi
teridentifikasi maka dilakukan evaluasi terhadap nilai kegunaan (worth) fungsi-
fungsi tersebut.
SAVE (2007) mengidentifikasikan nilai atau value sebagai biaya yang
terendah untuk mengadakan fungsi yang diperlukan, secara andal, pada waktu dan
tempat yang diinginkan dengan kuelitas yang esensial disertai faktor-faktor
kinerja lainnya untuk memenuhi keperluan pengguna. VE memusatkan analisis
pada masalah nilai terhadap fungsi, dengan mencari biaya terendah yang dapat
memenuhi fungsinya. Value/Nilai akan selalu berkaitan dengan fungsi dari suatu
produk, dimana nilai akan mencapai maksimum saat fungsi dari suatu produk,
dimana nilai akan mencapai maksimum saat fungsi utama akan mencapai nilai
biaya terkecil. Pemahaman akan arti fungsi amat penting karena fungsi akan
menjadi objek utama dalam hubungan dengan biaya. Fungsi dapat dibagi menjadi
2 kategori :
Universitas Indonesia
Fungsi dasar (basic function) yaitu suatu alasan pokok sistem itu terwujud,
yaitu dasar atau alasan dari keberadaan suatu produk dan memiliki nilai
kegunaan.
Fungsi Pendukung (secondary function) yaitu kegunaan yang tidak langsung
untuk memenuhi fungsi dasar, tetapi diperlukan untuk menunjangnya.
b. Biaya
Biaya adalah jumlah segala usaha dan pengeluaran yang dilakukan dalam
mengembangkan, memperoduksi dan aplikasi produk/proyek atau dengan kata
lain merupakan biaya siklus hidup (life cycle cost). Penghasil produk/proyek
selalu menganalisa akibat dari adanya biaya terhadap kualitas, reabilitas dan
maintability karena akan berpengaruh terhadap biaya .
Salah satu penyebab nilai yang rendah adalah akibat adanya biaya yang
tidak perlu (unnercessary cost), menurut Dell’Isola (1997) disebabkan oleh :
Kurangnya informasi. Data yang tidak cukup mengenai keinginan dan
kebutuhan pada fungsi klien atau user dan informasi mengenai matrial baru,
produk atau proses yang dapat memenuhi keinginan tersebut dengan batasan
biaya yang diinginkan.
Kurang ide. Pembentukan ide-ide alternatif perlu dilakukan untuk mengurangi
biaya yang tidak perlu dan pemilihan dilakukan berdasarkan ekonomi dan
kinerja.
Keadaan sementara. Adanya desain dan waktu yang mendesak dapat memaksa
membuat keputusan unuk mendapatkan kesimpulan yang cepat untuk
memenuhi persyaratan waktu tanpa persiapan yang baik untuk mencapai nilai
yang baik (good value).
Keyakinan benar salah (honest wrong beliefs). Biaya yang tidak perlu sering
disebabkan oleh keputusan dibuat berdasarkan keyakinan benar bukan
berdasarkan fakta sebenarnya.
Kebiasaan dan perilaku. Kebiasaan adalah reaksi atau respon yang dipelajari
untuk melakukan secara otomatis.
Perubahan dalam persyaratan klien. Persyaratan klien yang baru menghasilkan
perubahan selama desain dan konstruksi menyebabkan peningkatan biaya dan
perubahan waktu.
Universitas Indonesia
Kurang komunikasi dan koordinasi. Hal ini merupakan alasan utama penyebab
biaya yang tidak perlu. VE memberikan kesempatan komunikasi melalui
diskusi dan bebas untuk mengekspresikan pendapat.
Standar dan spesifikasi yang ketinggalan zaman. VE membantu fokus pada
teknologi baru dan standar pada area dimana biaya tinggi dan rendah dapat
terjadi.
c. Nilai (Value)
Nilai merupakan cara dengan biaya yang efektif untuk mendapatkan
fungsi yang memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan klien atau pengguna.
Dalam kajian VE, nilai yang diutamakan adalah nilai ekonomi yang terbagi dalam
empat (4) kategori, yaitu :
1. Nilai biaya (cost value) yaotu biaya total untuk memproduksi item tertentu,
yaitu jumlah biaya tenaga kerja, bahan, alat dan overhead.
2. Nilai tukar (exchange value) yaitu suatu ukuran dari sifat dan kualitas produk
yang membuat seseorang mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan produk
tadi.
3. Nilai penghargaan (esteem value) merupakan ukuran dari semua sifat dan
keistimewaan yang membuat pemiliknya merasa lebih dihargai.
4. Nilai kegunaan (use value) adalah kerja atau pelayanan yang dapat dihasilkan
produk atau yang dapat dibantu dihasilkan oleh produk.
Sementara itu, nilai sesungguhnya (real value) adalah tingkat penerimaan produk
oleh konsumen dan merupakan indeks akhir nilai ekonomi
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
penghematan waktu dan biaya bagi pemilik proyek ( Ali dan Assaf,
2005[1];Miles, 1972[2]).
Pelaksanaan studi VE dapat dilakukan pada tahap konsep, perencanaan,
desain dan konstruksi yang memiliki tujuan yang berbeda seperti pada setiap
tahapannya. Studi VE dapat dilakukan berulang untuk proyek yang kompleks dan
mahal, minimum dilaksanakan 2x studi VE yaitu pada tahap pra-desain dan tahap
pengembangan desain (ASTM, 2005).
Menurut Al-Yousefi (2006) mengusulan pelaksanaan VE diusulkan pada
tahap desain (schematic, basic dan design development) atau pada 30%,60%, dan
90% tahap desain. Sedangkan pada ASTM (2005) menyatakan VE dapat
dilakukan pada tahap schematic design (15% desain), pengembangan (45%
desain) dan dokumen konstruksi (100% desain). Pelaksanaan studi VE pada
beberapa tahapan desain untuk memastikan fungsi proyek , untuk memverifikasi
pendekatan teknis dan manajemen, menganalisa pemilihan peralatan dan material
dan untuk menilai kelayakan ekonomi dan teknis proyek.
Pada tahap konstruksi, analisa studi VE dilakukan oleh kontraktor melalui
Value Engineering Change Proposal (VECP). Kontraktor membuat alternatif
motode konstruksi yang dapat mengurangi biaya atau durasi proyek tanpa
mengurangi biaya atau durasi proyek tanpa mengurangi kinerja dan kualitas.
Dalam rangka mendorong kontraktor untuk mengajukan proposal, klien dan
kontraktor perlu berbagi penghematan yang dihasilkan jika tercantum dalam
kontrak (ASTM, 2005).
2.3.2. Studi VE
Proses VE disebut dengan studi VE yaitu suatu urutan aktivitas dalam
studi nilai yang dilakukan untuk suatu objek (proyek, proses, produk) yang
meliputi pendefinisian fungsi-fungsi, pengembangan dan evaluasi gagasan yang
akan menghasilkan proposal VE dan diselenggarakan dalam bentuk workshop
(Miles, 1961).
Universitas Indonesia
Pre Study
Activities Stage 1 – Pre Workshop/Study
No
Results
Information Phase Function Analysis Creative Evaluation
OK ?
Phase Phase Phase
Yes
Presentation Development
Phase Phase
No
Results
Stage 3 – Post Workshop/Study
OK ?
Yes
Value Study
Phase
Implementation Follow Up
Phase Phase
Additional
Avtivities
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Tahap ini bertujuan menganalisa lebih lanjut alternatif-alternatif yang terplih dari
tahap sebelumnya, dibuat program pengembangan idenya, sampai menjadi usulan
yang lengkap.
f) Tahap Presentasi
Pada tahap ini tim studi VE akan mempresentasikan laporan pendahuluan VE
secara tertulis yang merupakan representasi hasil-hasil kegiatan workshop VE,
memaparkan alternatif nilai (value) kepada tim manajemen dan stakeholders lain
atau pembuat keputusan (decision makers).
Laporan berisi fakta dan informasi untuk mendukung argumentasi dengan
sistematika sebagai berikut :
Identifikasi proyek.
Penjelasan fungsi masing-masing komponen dan keseluruhan komponen,
sebelum dan sesudah dilakukan studi VE.
Perubahan desain yang diusulkan.
Perubahan biaya.
Total penghematan biaya yang akan diperoleh
Universitas Indonesia
Adapun pertanyaan fundamental yang harus dijawab adalah “Apa yang telah kita
pelajari mengenai bagaimana menciptakan atau meningkatkan nilai terbaik ?”.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Fungsi Kedua atau Secondary Function, yaitu kegunaan yang tidak langsung
untuk memenuhi fungsi dasar, tetapi dipergunakan untuk meununjangnya dan
biasanya merupakan hasil dari konfigurasi desain tertentu.
Universitas Indonesia
Design
Objective “All The Time”
WHEN?
Design
Objective Critical Path Function
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
IDEA ke n 5 E E E E E E E E E Rank
4 VG VG VG VG VG VG VG VG VG
3 G G G G G G G G G
2 F F F F F F F F F
1 P P P P P P P P P
Sub
total
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Present Cost
Present Cost adalah jumlah uang yang dibutuhkan saat ini mencakup total
biaya dengan memperhitungkan akumulasi bunga (interest). Present Cost
digunakan jika tidak ada tangible benefit yang kan diperhitungkan dan
dirumuskan sebagai berikut :
Ci-1 Ci-2 Ci-L CiT
PC0i = C10 + ------- + ------- + ------ + ------- + ------- (2.4)
1+r (1+r)2 (1+r)1 (1+r)T
Ci1
PCi = -------- (2.5)
(1+r)2
Dimana Cit adalah biaya estimasi untuk pilihan I pada tahun t,r adalah
discount rate yang pada dasarnya berbeda dengan rate of interest dan inflasi,
dan T adalah periode analisa dalam tahun .
Net Present Cost
Net Present Value memperhitungkan cost dan benefit dan digunakan secara
komersial untuk mengaprasial pilihan investasi. NPV merupakan teknik yang
sesuai untuk menghitung cashflow comparisons untuk jangka waktu yang
lama seperti proyek-proyek infrastruktur dengan skema Public Finance
Investment (Kelly, Roy and Wilkinson, 2003). Rumus untuk menghitung NPV
adalah sebagai berikut :
NPVi = (2.6)
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
siklus yang pendek dan diperoleh kualitas yang sangat tinggi. Rekomendasi yang
disampaikan sangat berguna bagi pengambil keputusan dalam pembangunann
bandara ini.
[Link]. Korea
Korea telah menerakan VE dalam proyek infrastruktur dengan pembiayaan
swasta (Lim, et al , 2006). Dengan banyaknya proyek infrastruktur dan ketatnya
kondisi finansial, pemerintah korea mempromosikan skema Built-Transfer-Lease
(BTL) keapad Private Finance Initiatives project (PFI). Aplikasi pada proyek
infrastruktur BTL di Korea bertujuan untuk :
Membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan budget.
Bagi proyek itu sendiri dapat memperoleh manfaat dari pengalaman dan
pengetahuan swasta
Didalam studi “Strategi untuk mencapai efisiensi pada proyek
Infrastruktur Publik” yang dilakukan oleh Pemerintah Korea, menyimupulkan
bawha penerapan VE dapat membantu proses pengambilan keputusan,
meningkatkan kinerja proyek melalui ide-ide kreatif, peningkatan nilai (value) dan
mengurangi biaya Life Cycle Costing pada proyek.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Pada saat ini kegiatan ekonomi Indonesia terkonsentrasi di dua pulau yaitu
Pulau Sumatera dan Pulau Jawa yang dihubungkan oleh penyeberangan kapal feri PT.
ASDP Merak dan Bakauheni. Dengan meningkatnya kasus kemacetan yang terjadi di
Pelabuhan Merak dan Bakauheuni, maka diperlukan adanya solusi baru untuk
mengatasi masalah kemacetan ini, yaitu dengan membangun Jembatan Selat Sunda
yang mengubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. Manfaat pembangunan infrastruktur
jembatan ini secara umum akan berdampak pada perekonomian negara, mulai dari
pemerataan ekonomi, peningkatan perekonomian regional hingga manfaat
lainnya. Pembangunan JSS secara khusus akan berdampak langsung kepada dua
kabupaten yang secara langsung bersinggungan baik lalu lintas orang dan barang,
penyerapan tenaga kerja lokal hingga peningkatan produktifitas. Profil kawasan
disekitar lokasi JSS terlihat dibawah ini;
Universitas Indonesia
c) Ekonomi
PDRB Rp. 164,39 triliun Rp. 115,99 triliun
Sektor Dominan Pertanian, peternakan, kehutanan, Industri, dan pariwisata
perikanan dan industri pengolahan
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Pilar jembatan (Pier) : Kepala pilar (Pier Head), Pilar (Pier), yg berupa
dinding, kolom, atau portal, Konsol pendek untuk jacking (Corbel),
Tumpuan (Bearing).
c. Pondasi
Pondasi jembatan berfungsi meneruskan seluruh beban jembatan ke tanah
dasar.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Dari konseptual desain JSS yang memiliki panjang bentang tengah lebih
dari 2.000 meter, maka diperlukan perencanaan jembatan suspensi third
generation dengan menggunakan sistem box agar berat sendiri jembatan lebih
ringan. Box dipasang sejajar agar dapat memperoleh kekakuan torsi lebih besar
yang tahan terhadap kecepatan angin yang cukup tinggi.
Menurut Prof. Wiratman Wangsadinata diperlukan kelenturan pilon seperti
base-isolation untuk mencegah perambatan getaran gempa dengan demikian pada
saat gempa, deck akan tetap stabil. Hal ini karena bentang JSS yang panjang maka
pilon jembatan akan lebih tinggi dan lebih slim.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Gambar 2.23 Sihwa Lake Tidal Power Station Korea Selatan-254 MW (2011)
Sumber : Sihwa lake, wikipedia dalam Berawi, et al 2012; Gunawan, 2013
Tidal Lagon
Swansea Bay Tidal Lagon yang didesain berkapasitas 250 MW di United
Kingdom memiliki catchment area berbentuk lingkaran, sehingga arus dapat
bergerak bolak-balik di daerah yang akan dipasang tidal turbin. Energi yang
dihasilkan dari pergerakan arus ini akan digunakan untuk menjalankan turbin
yang dapat memproduksi energi listrik.
Tidal Stream
Universitas Indonesia
Tidal Stream yang ada di Inggris mengadopsi langsung teknologi wind turbin
power, sistem teknologi ini merubah energi kinetik dari pergerakan massa air
laut akibat adanya proses pasang surut.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Nama Perushaan :
Lunar Energy Limited Ltd
Product Name : Rotech Tidal Turbine
(RTC)
Website :[Link]
Teknologi :
Turbin dua arah yang disimpan di dalam
tempat yang simetris serta sempit pada bagian
tengahnya untuk membuat arus melewati
turbin. Desugnnya bisa dibongkar pasang,
sehingga memungkinkan untuk untuk
diperbaiki dan dipelihara. Dapat disimpan
2 pada kedalaman lebih dari 40 meter.
Projek :
RTC dengan kapasitas 300 MW telah
dibangun di Wando Hoenggan, Korea Selatan
dan diharapkan selesai pada tahun 2012. MoU
telah disepakati antara Hyundai Samho Heavy
Industries dengan Korean Mildland Power
8MW marine current dibuat di pantai Welsh,
United Kingdom dan diharapkan selesai pada
tahun 2011.
Test Performance :
Proyek RTC di Korea akan menghabiskan
dana sekitar $ 763 juta
Nama Perusahaan :
OpenHydro
Nama Produk :
Open Center Turbine
Website :
[Link]
Teknologi :
Bergerak dengan lambat, dengan single rotor .
Turbinnya dibuat ramah lingkungan dengan
tidak ada minyak yang digunakan. Open
Center Turbine dipasang jauh di dalam laut
dan aman dari badai.
3
Projek:
Di Orkney, Skotlandia telah dipasang dengan
kapasitas 250 kW oleh perusahaan EMEC.
Projek ini telah dites selama setahun dan
dihubungkan pada jaringan yang ada pada mei
2008
Di Pantai Alderney telah dipasang dalam
rangka Alderney Renewable Energy in 2008
dan 2009.
Test Performance :
The Open Center Turbine menghasilkan 250
kW
Universitas Indonesia
Nama Perusahaan :
Clean Current Power System
Nama Produk :Tidal Turbine
Website Produk :[Link]
Teknologi:
Menggunakan turbin yang runcing dengan
baling-baling yang bergerak oleh arus laut.
Turbin telah diuji dan dapat bergerak pada
kecepatan arus laut melebihi 3,5 m/second
4 Projek :
Pada Bulan Januari 2008 sebagai bagian dari
tiga teknologi yang diuji di Teluk Fundy,
Nova Scotia, Kanada. The Clean Current Mark
III akan menyupply 400 GWh daya setiap
tahun
Test Performance:
Dengan kecepatan arus 3,25 m/s dapat
memproduksi sekitar 1,5 MW listrik, dan 1.0
MW pada kecepatan 2.6 m/s
Nama Perusahaan :
Blue Energy Canada Inc
Nama Produk :
Davis Hydro Turbine/ ducted vertical –axis
hydro turbine
Website Produk :[Link]
Teknologi:
Turbin tidal berjenis vertical dan dapat bekerja
pada arus laut atau sungai kecepatan yang
rendah. Meupakan projek dari perusahaan asal
kanada bernama blue energy. Telah dibuat
sejak tahun 1980an dan berhasi membuat
beberapa. Projek-projek sebelumnya banyak
dibiayai dari pemerintah Kanada. Tahun 2007
bekerjasama dengan University of British
Columbia untuk mengadakan riset terpadu.
5
Projek:
Tahun 1983 Blue energy mendapatkan kontrak
untuk membuat turbin vertikal di Ontario
untuk Niagara Power Corporation. Efisiensi
turbin ini bervariasi antara 26% sampai 52,5%.
Musim semi tahun 1987 dibuat purwa rupa
dengan nama TOR 5 (5 kW) DI Porters Lake
Nova Scotia
Blue Energy telah membuat proposal
pembuatan tidal energy 2200 MWdiantara
pulau Dalupiri dan Pulau Samar Phillipina.
Sementara itu Blue Energy Kanada juga
menandatangani MoU dengan India’s Reliance
Group di Mumbai India untuk membangun
22.000 MW hydroelectric di Gujarat di Teluk
Kambhat, India.
Sumber : U.S. Department of Energy 2009 dalam Berawi, et al 2012; Gunawan, 2013
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
ini jauh lebih murah lebih murah dan lebih ramah lingkungan dibandingkan
dengan penggunaan energi dari fosil (Herbert,2005; Berry, 2009).
Turbin angin pada awalnya adalah kincir angin yang digunakan untuk
pembangkit listrik. Energi listrik ini digunakan untuk kebutuhan petani dikenal
dengan sebutan windmill yang banyak terdapat di negara-negara Eropa seperti
Denmark dan Belanda. Klasifikasi turbin angin (Maharwan, 2013):
Turbin Angin Sumbu Horisontal (TASH)
Turbin ini memiliki turbin angin dimana sumbu rotasi rotornya paralel dengan
permukaan tanah, dimana poros rotor utama dan generator listrik di puncak
menara dan diarahkan menuju dari arah datangnya angin untuk dapat
memanfaatkan energi angin.
Turbin Angin Sumbu Vertikal (TASV)
TASV adalah turbin angin yang sumbu rotasi rotornya tegak lurus terhadap
permukaan tanah. Keunggulan TASV, yaitu tidak harus diubah, tidak
membutuhkan struktur menara yang besar, konstruksi turbin sederhana, dapat
didirikan dekat dengan permukaan tanah, sehingga memungkinkan
menempatkan komponen mekanik dan komponen elektronik yang mendukung
beroperasinya turbin.
Turbin Angin Darrieus
Turbin angin ini dikenal sebagai turbin eggbeater, pertama kali ditemukan
oleh Georges Darrieus pada tahun 1931. Turbin angin Darrieus
menggunakan prinsip aerodinamik dengan memanfaatkan gaya lift pada
penampang sudu rotornya dalam mengekstrak energi angin.
Universitas Indonesia
[Link] Jaringan Distribusi Pipa Minyak dan Gas (Oil and Gas Pipeline)
Pipa untuk media transportasi pada industri minyak dan gas digunakan
untuk industri hulu yang beroperasi di lepas pantai, pipa penyalur digunakan
Universitas Indonesia
untuk pemindahan minyak dan gas bumi dari anjungan sumur produksi menuju
anjungan proses, kemudian dari anjungan proses menuju pusat distribusi dan dari
pusat distribusi menuju konsumen. Pipa penyalur (pipeline) ini bisa berada di
lepas pantai (offshore) maupun di darat (onshore). Jumlah dan panjang pipa
penyalur sangat tergantung pada luas wilayah produksi dan konsumen yang
dilayani (Darmala dan Singgih, 2012).
Biaya material dan tenaga kerja dapat mencapai 70 – 80% dari total biaya
pembangunan baik offshore yang ditunjukan pada tabel 2.18 maupun onshore
yang ditunjukan pada tabel 2.19([Link]).
Tabel 2.18 Onshore Budget
Estimasi pembangunan pipa per mil dan persentase % total Onshore
1995 – 1996 2000 – 2001 % Perubahan
Material $274,210 (31%) $279,565 (21%) 2%
Labor $422,610 (47%) $571,719 (44%) 35%
Lain – lain $154,012 (17%) $344,273 (26%) 125%
ROW&Kerusakan $48,075 (5%) $120,607 (9%) 151%
Total $898,907 $1,316,164 38%
Sumber : [Link] dalam Berawi, et al 2012; Gunawan, 2013
Tabel 2.19 Offshore Budget
Estimasi pembangunan pipa per mil dan persentase % total Offshore
1995 – 1996 2000 – 2001 % Perubahan
Material $684,604 (42%) $413,995 (21%) -40%
Labor $527,619 (33%) $1,537,249 (60%) 191%
Lain – lain $396,394 (24%) $510,271 (20%) 29%
ROW and Kerusakan $3,201 (0%) $116,898 (4%) 3,552%
Total $1,611,818 $2,578,413 60%
Sumber : [Link] dalam Berawi, [Link] 2012; Gunawan, 2013
The Grand Tower Pipeline Bridge adalah salah satu jembatan suspensi
yang mengaplikasikan oil and gas pipeline, jembatan ini melintasi Sungai
Missisipi dengan Grand Tower Illinois.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
[Link] Pariwisata
Pengertian industri pariwisata antara lain adalah kumpulan macam-macam
perusahaan yang secara bersama menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa
(goods and service) yang dibutuhkan para wisatawan pada khususnya dan traveler
pada umumnya, selama dalam perjalanannya (Yoeti, 1985). Lima unsur penting
pada industri pariwisata menurut Spillane (1987); Badrudin (2001), yaitu:
Daya Tarik (Attractions)
Daya Tarik terdiri dari
Daya tarik fisik (site attractions) yang merupakan daya tarik fisik yang
permanen seperti kebun binatang, keraton, dan museum.
Daya tarik kegiatan (event attractions) adalah atraksi atau kegiatan yang
berlangsung sementara dengan lokasi yang dapat dipindah seperti festival,
pameran dan pertunjukan kesenian daerah.
Fasilitas-fasilitas (facilities) adalah fasilitas yang merupakan daya tarik
seperti fasilitas penginapan, makan/minum serta support industries (toko
souvenir , pemandu, daerah festival dan fasiltas rekreasi.
Infrastruktur (infrastructure) adalah infrastruktur dasar serta infrastruktur
pendukung untuk perkembangan pariwisata.
Transportasi (transportation) yaitu transportasi yang dibutuhkan untuk
menuju lokasi pariwisata seperti transportasi darat, laut dan udara.
Keramahtamahan (hospitality) adalah keamanan dan kenyamanan wisatawan
selama perjalanan wisata.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Aerobus
Teknologi Aerobus berkembang terus dengan baik di dunia, saat ini
proyek-proyek Aerobus sedang berjalan di Amerika Serikat, China dan
Korea Selatan. Pertama kali Aerobus diterapkan di Swerikon-Swistzerland
pada tahun 1970.
Universitas Indonesia
Spesifikasi Lintasan
Integrated Resorts
Theme Park atau Amusement Park adalah lokasi tempat hiburan rekreasi
yang mempersembahkan atraksi, wahana dan acara lainnya yang dapat dinikmati
oleh pengunjung. Sebuah Theme Park memiliki lansekap, bangunan dan atraksi
yang unik merupakan satu atau lebih spesifik tema atau cerita. Saat ini industri
tempat hiburan rekreasi (theme park) yang berskala besar di dunia yaitu Walt
Disney World, Europa Park dan Universal Studios Hollywood, sedangkan yang
lebih kecil seperti The Six Flags Parks dan Cedar Fair Parks. Ada juga Theme
Park yang lebih simpel yang langsung ditujukan untuk anak-anak kecil yaitu
Legoland di Malaysia. Pada tahun 2008 Walt Disney Company dikunjungi lebih
dari 50 juta wisatawan sehingga dapat berkontribusi sekitar setengah dari total
pendapatan industri di USA.
Perkembangan terakhir industri pariwisata dunia adalah Integrated Resorts
yang merupakan integrasi Theme Parks dan Resorts, antara lain seperti :
The Walt Disney World Resort
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
2. Social impact
Universitas Indonesia
RISK ANALYSIS
Quantitative Qulitative
Sensitivity Analysis Risk Probability and
Expected Monetary Value Impact Assessment
Analysis Probability and Impact
Decision Tree Analysis Matrix
Monte Carlo Modeling and Risk Categorization
Simulation Risk Ratio
Descriptive Analysis
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
secara luas sebagai suatu perangkat terbaik untuk manajemen proyek yang efektif
(Weatherhead dan Griffin 2006). Kombinasi keduanya dalam satu proses
interegasi merupajan strategi yang baik untuk memaksimalkan value suatu proyek
dan mengurangi esiko dalam frame biaya yang telah disepakati.
Kirk (Kirk,1995) mengenalkan konsep probabilistic estimating yang
mengkombinasikan range estimate dan Monte Carlo Simulation. Hasil
implementasi manambah kepercayaan para penbuat keputusan untuk menjadi
lebih baik didalam menentukan biaya-biaya yang tidak terduga dalam proyek.
Moontanah , Poynter Brow & Jefferyes (Mootanah et al., 1998) melakukan studi
secara insentif dalam strategi interaktif value dan risk management. Hiley and
Paliokostas (Hiley & Paliokostas, 2001) merumuskan bahwa interegasi VM dan
RM sebagai combined tool merupakan hal yang sangat potensial serta dapat
meruduksi segala hal yang kurang bermanfaat. Bleasdale (2003) menyimpulkan
bahwa penerapan interegasi resiko pada studi value management menghasilkan
sistem pembiayaan yang efektif dan bukan merupakan proses cost cutting .
Risk Identification,
Information Phase
Category, and Profile
Risk Mitigation
Creative Phase
Techniques
Development Phase
Risk Analysis and
Exposures with
VM alternatives
Decision Phase
Universitas Indonesia
KONSEPTUAL
Tahap Informasi Identifikasi Resiko
DESAIN JSS
Tahap Presentasi
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
oleh Kelly, J. and Male, S. (2008), sering kali ada kekhawatiran pada bagian
petugas pembelian dari sektor publik bahwa nilai kriteria terbaik untuk pemilihan
konsultan dan kontraktor tidak jelas dan bahwa audit berikutnya akan gagal untuk
mengkonfirmasi nilai itu untuk uang dicapai.
Menyambung dari hubungan publik dan swasta, Knoles, W. (2009)
menyatakan bahwa PDW menggambarkan bahwa Metodologi Nilai sangat
fleksibel dan dapat menghasilkan hasil nilai-meningkatkan bahkan ketika
dikompresi dan disesuaikan dengan proses desain yang normal pemilik.
Ditemukan juga bahwa industri konstruksi bertanggung jawab untuk membentuk
lingkungan binaan yang mendukung semua kegiatan sosial dan ekonomi, tetapi
telah mendapat sedikit perhatian dalam penelitian inovasi dibandingkan dengan
sektor-sektor lain seperti industri manufaktur (Manley, [Link], 2009). Dengan
mempertimbangkan tradisi lama yang terbentuk dalam organisasi dan teori
manajemen, termasuk sifat rasionalitas praktis, ditambah berbagai kepentingan
organisasi , nilai-nilai dan orientasi proyek atau budaya, kita memperoleh nyata,
bukan pandangan ideal, dari apa yang terjadi, menurut Marrewijk, A.V. , et al
(2008). PPP sangat bergantung pada pasar modal untuk berbagai layanan:
Meningkatkan modal melalui IPO; Keuangan utang; Manajemen risiko keuangan;
Intermediasi, asuransi kredit, dan layanan terkait; Inovasi dari pemodal yang
dipimpin tawaran kompetitif, ditelaah oleh Regan, M., et al. (2011). Ricaurte, J.L.,
et al (2008) mengusulkan kumpulan keterampilan yang diperluas dan bidang
pengetahuan untuk insinyur sipil yang terlibat dalam proyek-proyek PPP, dengan
tujuan penyediaan alat-alat penting bagi para praktisi PPP dari tiga perspektif
yang berbeda: sistem teknis, manajerial, dan pengiriman. Tan, Y., et al (2010)
menemukan bahwa tawaran rendah adalah yang paling sering digunakan strategi
persaingan dalam penawaran. Strategi com-petisi lain, seperti teknologi tinggi dan
inovasi manajemen, telah direalisasikan oleh kontraktor penting dalam praktek.
Diungkapkan oleh Xu, Jiang-Wei and Sungwoo Moon (2014), bahwa
penggunaan data aktual dari proyek BOT membantu untuk menghasilkan
distribusi variabel dalam pengembangan model dan memahami ketidakpastian
yang melekat dalam proyek BOT; Ketidakpastian mengenai pendapatan tol dan
biaya konstruksi yang tertanam dalam konsesi Model penentuan periode; Proses
Universitas Indonesia
Dari tabel tersebut, dapat terlihat jelas bahwa belum ada literatur yang membahas
SAPPP berbasis VE dan RM dengan menggunakan simulation tool Sistem
Dinamik . Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
yang bisa mengisi celah (gap) dari tema-tema yang telah dibahas oleh penelitian
lainnya.
Universitas Indonesia
3.1. PENDAHULUAN
Integrasi Value Engineering pada studi kelayakan yang menggunakan
skema Strategic Alliance – Public Private Partnership (SA-PPP) diharapkan akan
menghasilkan suatu model kajian kelayakan bagi mega proyek infrastruktur
sehingga mampu meningkatkan nilai kelayakan proyek. Proses Kemitraan
Pemerintah dan Swasta (KPS) akan menggunakan acuan berdasarkan Perpres
No.67 tahun 2007, Perpres No.13 tahun 2010, Permen 4/2010, Perpres No.56
tahun2011, Permen 3/2012 dan Perpres No.66 tahun 2013. Dilain pihak, untuk
studi Value Engineering akan mengacu pada standar yang dikeluarkan oleh
SAVE International, 2007.
Kajian Identifikasi
Pustaka Masalah
Hipotesa Penelitian
Perumusan
Masalah Penelitian
Tujuan Penelitian
Pengumpulan Informasi
Identifikasi Resiko
RQ-2 Kuesioner
Analisa Resiko
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Integrasi pipa
Sun et al (2000); Schoots et al
3 distribusi minyak dan 3.1 Efisiensi biaya
(2011)
gas
Memudahkan dalam Shahriar et al (2011); Schoots
3.2
pemeliharaan et al (2011)
3.3 Kemudahan aksesibilitas Shahriar et al (2011)
Tidak menimbulkan
3.4 Shahriar et al (2011)
permasalahan lingkungan
Han dan Weng (2010) ;
3.5 Mengurangi emisi
Schoots et al(2011)
Keamanan personil lebih
3.6 Han dan Weng (2010)
terjamin
3.7 Meminimalkan resiko Han dan Weng (2010)
Memudahkan dalam
3.8 Shahriar et al (2011)
pelaksanaan konstruksi
Memperlancar distribusi
3.9 Schoots et al(2011)
minyak dan gas
Universitas Indonesia
Focus Group
Daftar Resiko
Discussion
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Politik-Lingkungan
Dey (2001); Mubin and Goryainov
X34 Perubahan kebijakan pemerintah
(2007); [Link] (2006)
(Sakkar and Dutta (2011); Dey
X35 Intervensi politik (2001); Mubin and Goryainov
(2007)
X36 Embargo [Link] (2006)
X37 Polusi yang ditimbulkan WTO (2003)
Mubin and Goryainov (2007);
X38 Kerusakan biota laut
WTO (2003)
Sosial-Ekonomi
Ko (2005); Laws et al.(2007) ;
X39 Perubahan kebiasaan
Stynes (1997)
Ko (2005); Laws et al. (2007);
X40 Eksploitasi masyarakat
Stynes (1997)
Kurangnya dukungan untuk kepentingan
X41 Stynes (1997)
publik
X42 Adanya korupsi, kolusi dan nepotisme Stynes (1997)
X43 Ketidakstabilan ekonomi nasional Dawen and Wenda (2009)
X44 Perubahan kebijakan ekonomi Sakkar and Dutta (2011)
X45 Fluktuasi nilai tukar Dawen and Wenda (2009)
Sakkar and Dutta (2011); Dey
X46 Inflasi yang tinggi (2001); Mustafa and Al-Bahar
(1991)
Sakkar and Dutta (2011); Dey
X47 Pasar memasuki masa reses (2001); Mustafa and Al-Bahar
(1991)
Sakkar and Dutta (2011); Dey
X48 Ketersediaan kredit (2001); Mustafa and Al-Bahar
(1991)
Dawen and Wenda (2009); Mubin
X49 Perubahan biaya material
and Goryainov (2007)
X50 Berkurangnya mitra bisnis Sakkar and Dutta (2011)
Sumber : Sejatiguna, 2013
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
4 Praktisi jalan dan jembatan Milis bagi yang ingin bertanya, urun rembug, diskusi
praktisi- mengenai masalah teknik sipil bidang jalan dan jembatan,
jalanjembatan@yahoogroup baik masalah teori maupun praktek di lapangan.
[Link] Disediakan bagi para mahasiswa(i), dosen, praktisi,
Jumlah anggota : 297 perencana, pelaksana, pengawas, pemerhati jalan dan
jembatan serta pengambil keputusan.
5 Informasi proyek konstruksi Group milis ini di buat untuk berbagi informasi project
project_info@yahoogroups. project konstruksi di Indonesia.
com Informasi yang di disampaikan berupa informasi
Jumlah anggota : 526 pengumuman, rencana/status project, pemilik dan
pelaksana project, contact person, dll, dengan katagori
informasi project project konstruksi antara lain:
Oil and Gas, Pipeline, Pertambangan/Mining,
Perkantoran/Office, Rekreasi, Residensial, Township,
Transport, Utilities, Pedidikan, Eksebishi, Hotel,
Industrial, Infrastruktur, Landscaping, Dll.
6 Pelaku bisnis konstruksi Group ini diperuntukkan bagi pelaksana bisnis konstruksi
konstruksi@[Link] di Indonesia. Group ini dibuat untuk memenuhi
m kebutuhan praktisi konstruksi yang terdiri dari arsitek,
Jumlah anggota : 2859 perancang struktur, konsultan pengawas, kontraktor
hingga pemasok bahan bangunan, untuk bertukar
informasi sekitar proyek-proyek konstruksi di Indonesia.
7 Forum arsitek Ini adalah forum terbuka arsitek Indonesia dan dunia
iai- [Link] ini adalah "official mailing list" dari
architect@[Link] asosiasi profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Jumlah anggota : 2354 Pengurus IAI mengumumkan hal-hal yang berurusan
dengan asosiasi di dalam mailing list ini.
Namun mailing list ini juga terbuka bagi para arsitek non-
anggota IAI.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Distribusi Frekuensi :
Universitas Indonesia
Mean = …
Respon
X9 10
X8 8
X7 7
X6 7
X5 17
X4 14
X3 13
X2 18
X1 14
Dimana:
X : total jumlah respon
ΣN : jumlah jawaban
Universitas Indonesia
menerangkan bahwa nilai Cronbach‟s mempunyai interval dari 0.00 (jika tidak
ada varian yang konsisten) samapai dengan 1.00 (jika semua varian konsisten).
Secara umum, nilai Cronbach‟s pada range 0.60-0.70 mengindikasi reliabilitas
dapat diterima, dan 0.80 atau lebih besar mengindikasi “good reability”. Estimasi
Cronbach‟s Alpha seharusnya diinterpertasikan hanya untuk estimasi konsistensi
internal, yang diestimasi proporsi varian didalam skor uji yang dapat dihubungkan
terhadap varian skow sebenarnya (Brown, 2002).
Menurut Field (2009) masing-masing item harus memiliki hubungan
dengan skor total dari kuesioner. Nilai dalam kolom “Corrected Item-Total
Correlation” menunjukan hubungan ini. Nilai harus diatas 0.3 untuk menunjukan
bahwa hubungan terjadi antara masing-masing item dan skor total dari kuesioner.
Jika ditemukan nilai ini kurang dari 0.3, maka item yang dimaksud harus
dihilangkan.
Sebagai contoh, Nilai dalam kolom “Corrected Item-Total
Correlation”untuk VAR00023 dan VAR00025 kurang dari 0.3 yang berarti
bahwa kedua variabel ini tidak memiliki hubungan dengan skor total dan baru
dihilangkan. Nilai Cronbach‟s Alpha 0.755 (lihat tabel 3.6) dapat diinterpertasikan
bahwa hasil uji 75.5% reliable (dapat dipercaya)
Tabel 3.6 Contoh Cronbach’s Alpha
Scale Mean Scale Connected Squred Cronbach’s
If Item Variance If Item Total Multiple Alpha if
deleted Item Correlation Correlation Item
Deleted Deleted
VAR00023 3.3529 6.193 .230 .153 .757
VAR00024 3.5294 5.854 .316 .202 .749
VAR00025 3.6078 5.963 .263 .181 .757
VAR00026 3.6471 5.513 .464 .340 .728
VAR00027 3.6275 5.518 .461 .433 .728
VAR00028 3.7059 5.572 .446 .441 .731
VAR00029 3.8627 5.481 .578 .466 .713
VAR00030 3.9020 5.770 .463 .481 .729
VAR00031 3.9216 5.794 .472 .302 .729
VAR00032 3.9412 5.856 .462 .544 .730
VAR00033 4.0784 6.434 .396 .293 .746
Reabilty Statistics
Cronbach‟s Alpha Cronbach‟s Alpha Based on N of items
Standardized Items
.755 .767 11
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
mengenai proyek JSS diantaranya: tujuan proyek, lokasi proyek, lingkup proyek,
dan perkembangan usulan desain yang ada. Selain itu juga dikumpulkan informasi
melalui benchmarking proyek infrastruktur yang ada didunia khususnya yang
berkaitan dengan infrastruktur yang dibangun di laut dan yang memanfaatkan
sumber daya alam di sekitar laut.
Universitas Indonesia
a. Biaya awal
Biaya awal merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan, pembelian
dan pemasangan komponen- komponen aplikasi dari fungsi – fungsi yang dipilih
untuk diterapkan.
b. Biaya Operasional dan Perawatan
Adalah biaya – biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan dan merawat
aplikasi dari fungsi – fungsi yang dipilih untuk diterapkan.
c. Revenue
Adalah total pemasukan yang berasal dari penjualan produk ataupun layanan jasa
yang dihasilkan dari proyek JSS ini.
Evaluasi kelayakan finansial dihitung dengan menggunakan metode Internal Rate
of Return (IRR), Net Present Value (NPV), Payback Period (PbP);
Universitas Indonesia
3. Payback Period
Yaitu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi
(initial cash investment) dengan menggunakan aliran kas. Dengan kata lain
payback period merupakan rasio antara initial cash inflow yang diukur dengan
satuan waktu (Umar, 2000).
Kriteria penilai pada metode payback period nya lebih besar atau lebih lama dari
waktu yang disyaratkan maka investasi ditolak.
Jika payback period > umur ekonomis, investasi ditolak.
Jika payback period < umur eknomis, investasi diterima.
[Link] Pemodelan
Muhammadi (2001) menyatakan simulasi model sistem dinamik disusun
dengan tahapan sebagai berikut:
1. Peyusunan konsep
Dalam tahap penyusunan konsep, gejala atau proses yang akan ditirukan harus
dipahami dengan jalan menentukan unsur-unsur yang berperan dalam gejala
atau proses tersebut. Unsur-unsur tersebut saling berinteraksi, saling
berhubungan dan saling beketergantungan dalam melakukan suatu kegiatan.
Berdasarkan interaksinya tersebut disebut gagasan atau konsep gejala atau
proses yang akan disimulasikan. Gagasan dirumuskan sebagai model dalam
bentuk uraian, gambar atau rumus.
Universitas Indonesia
2. Pembuatan model
Model yang dibuat diharapkan dapat menirukan suatu gejala atau proses.
Model dapat dikelompokan menjadi model kuantitatif, kulitatif, atau model
ikonik. Model kuantitatif berbentuk rumus-rumus matematik, statistik atau
komputer. Model kualitatif berbentuk gambar, diagram, atau matriks yang
menyatakan hubungan antar unsur.
3. Simulasi
Dalam tahap selanjutnya dilakukan simulasi dengan menggunakan model
yang telah dibuat. Dalam model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan
memasukkan data ke dalam model yang perhitungannya dilakukan untuk
mengetahui prilaku atau gejala atau proses. Dalam model kualitatif, simulasi
dilakukan dengan menelusuri dan mengadakan analisis hubungan sebab akibat
antar unsur dengan memasukkan dan/atau informasi yang dikumpulkan untuk
mengetahui perilaku gejala atau proses. Sedangkan dalam model ikonik,
simulasi dilakukan dengan mengadakan percobaan secara fisik untuk
mengetahui perilaku model dalam kondisi yang berbeda, perilaku model ini
dianggap menirukan gejala atau proses yang diamati.
4. Validasi hasil simulasi
Tahap validasi dilakukan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi
dengan gejala atau proses yang ditirukan, model dapat dinyatakan baik apabila
kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang
ditirukan kecil.
Gejala Proses
Model
Universitas Indonesia
Variabel
Keterangan :
: Aliran Informasi
: Aliran Fisik
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
4.1. PENDAHULUAN
Pada bab ini akan menjelaskan tentang proses penelitian yang terbagi atas
7 sub bab pembahasan. Pada sub bab pertama akan ditampilkan analisa dan
pembahasan hasil survey kuesioner serta Focus Group Discussion (FGD).
Hasilnya ditampilkan dalam bentuk tabel, diagram pie, diagram batang maupun
visualisasi lainnya berdasarkan variabel dan jenis analisa yang digunakan. Sub
bab kedua membahas mengenai hasil studi VE yang telah dilakukan setiap
fasenya. Hasilnya ditampilkan dalam bentuk FAST Diagram. Sub bab ketiga
membahas mitigasi resiko yang dominan. Hasilnya ditampilkan resiko yang
dominan dan mitigasinya. Sub bab keempat membahas mengembangkan model
forecasting demand JSS setelah dilakukan optimasi VfM. Hasilnya ditampilkan
dalam model forecasting demand dengan menggunakan System Dynamics.
Sementara sub bab keenam akan membahas analisa perhitungan Life Cycle
Costing (LCC), sub bab ketujuh akan membahas tentang analisa kelayakan
finansial dan sub bab kedelapan akan membahas pengembangan Model Aliansi
Strategis dalam Kemitraan Pemerintah dan Swasta (AS-KPS) pada proyek
Jembatan Selat Sunda.
[Link]
1lQN2NOTVdlLUE6MQ
Total jumlah kuesioner yang terkirim sebanyak 8.818 kuesioner dengan
pengembalian 35 responden.
Tabel 4.1. Rincian Pengembalian Kuesioner
TERKIRIM KEMBALI PROSENTASE
METODE PENYEBARAN
(set) (set) (%)
Hardcopy 90 10 11,00
Online Survey 8.818 25 0,28
Total 8.908 35 0.39
Prosentase
Lain -Lain 9%
Instansi Pemerintah Daerah 3%
Instansi Pemerintah
25%
(Kementrian)
Investor 0%
Universitas 6%
Perusahaan Swasta 43%
BUMN 14%
Universitas Indonesia
Doktor
(S3)
Master 3%
(S2)
40%
Sarjana
(S1)
57%
Universitas Indonesia
>20tahun
26%
1-10
tahun
51%
11-20
tahun
23%
Gambar 4.4. Pengalaman Kerja Responden
Sumber : Berawi, et al, 2012; Gunawan, 2013
Gambar 4.4 memperlihatkan bahwa pengalaman kerja responden yang
berpartisipasi pada kuesioner ini terdiri dari 1-10 tahun sebanyak 51%, 11-20
tahun sebanyak 23%, dan lebih dari 20 tahun sebanyak 26%.
Tabel 4.3. Hasil Analisa Variabel Penambahan Fungsi Baru Pada JSS
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Tabel 4.6. Hasil Analisa Manfaat Penambahan Fungsi Tidal Power pada JSS
Pertanyaan No 7, Menurut Anda, manfaat apa yang diharapkan akan didapat dari
penggunaan Wind Power? (jawaban boleh lebih dari satu)
Universitas Indonesia
Tabel 4.9. Hasil Analisa Manfaat Penambahan Fungsi Wind Power pada JSS
Universitas Indonesia
Dari hasil analisa nilai rata-rata (mean) , analisa distribusi frekuensi, dan analisa
One-Sample t-Test terhadap data tersebut diatas diketahui bahwa manfaat
penambahan fungsi Wind Power pada pembangunan JSS yang perlu diperhatikan
meliputi energi listrik yang dapat diproduksi, ketergantungan terhadap sumber
energi tradisional dapat diminimalisir, bebas polusi, dan efek emisi gas yang
minim
Pertanyaan No 8, Menurut Anda, manfaat apa yang diharapkan akan didapat dari
integrasi pipa distribusi minyak & gas pada JSS?(jawaban boleh lebih dari satu)
Tabel 4.12. Hasil Analisa Manfaat Integrasi Jalur Pipa Distribusi Minyak
dan Gas pada JSS
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Tabel 4.16. One-Sample t- Test Variabel Integrasi Jalur Fiber Optic pada JSS
Dari hasil analisa nilai rata-rata (mean) , analisa distribusi frekuensi, dan analisa
One-Sample t-Test terhadap data tersebut diatas diketahui bahwa resiko internal
pada pembangunan JSS ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu
komunikasi dan informasi yang lebih baik, efisiensi biaya dan kemudahan
aksesibilitas.
Pertanyaan No 10, Menurut Anda, manfaat apa yang diharapkan akan didapat
dari pengembangan sektor pariwisata? (jawaban boleh lebih dari satu)
Tabel 4.18 menunjukan hasil analisa nilai rata-rata (mean) , analisa distribusi
frekuensi, dan analisa One-Sample t-Test terhadap data tersebut diatas diketahui
bahwa resiko internal pada pembangunan JSS yang perlu mendapat perhatian
adalah dapat menarik turis dalam negeri dan mancanegara, dapat menciptakan
lapangan kerja baru, dapat eningkatkan ekonomi regional, dapat menarik investor
serta dapat meningkatkan pendapatan daerah dan negara.
Universitas Indonesia
Tabel 4.19 Variabel Pengembangan Sarana & Prasarana Sekitar Selat Sunda
PENGEMBANGAN SARANA DAN PRASARANA JUMLAH
RANGKING
SEKITAR SELAT SUNDA RESPONDEN
Pembangkit listrik 19 2
Pelabuhan Nasional/ Internasional 15 4
Pengembangan industri berat ( mis. Baja ) 14 5
Pengembangan industri perikanan 20 1
Pengembangan industri manufaktur 17 3
Pertanian dan Perkebunan 15 4
Pengembangan industri material 14 5
Jawaban lain 1 6
Sumber : Olahan Sendiri
Tabel 4.20 Hasil Analisa Pengembangan Sarana & Prasarana Disekitar Selat
Sunda
Universitas Indonesia
30-40% 40-50%
15-30%
dari total dari total
dari total
biaya biaya
biaya
investasi investasi
investasi
JSS JSS
JSS
1-15% dari
total biaya
investasi
JSS
68%
Gambar 4.5. Toleransi Peningkatan Biaya melalui Penambahan Fungsi
Pertanyaan No 13, Menurut Anda,jika tidak ada penambahan fungsi baru pada
pembangunan JSS ( hanya digunakan sebagai infrastruktur transportasi), berapa
besarnya efisiensi ( pengurangan biaya) yang diharapkan dapat dilakukan
Universitas Indonesia
dengan menggunakan teknik rekayasa nilai (value engineering)? (pilih salah satu
yang terbaik menurut anda)
Dari gambar 4.5 dan gambar 4.6 diatas, diperoleh bahwa efisensi biaya
melalui VE 1-15% dari total biaya investasi sebesar 48% dan peningkatan biaya
untuk penambahan fungsi tidak lebih besar dari 15% total biaya investasi sebesar
68 %. Hampir seluruh responden sepakat bahwa jangan sampai penambahan
fungsi akan meningkatkan total biaya investai yang akan menyebabkan proyek
menjadi semakin tidak layak.
Universitas Indonesia
Tabel 4.23. Hasil Analisa Variabel Identifikasi Resiko Internal Tahap Desain
dan Perencanaan Pembangunan JSS
Dari hasil analisa nilai rata-rata (mean) , analisa distribusi frekuensi, dan analisa
One-Sample t-Test terhadap data tersebut diatas diketahui bahwa resiko internal
pada pembangunan JSS yang perlu diperhatikan meliputi asumsi teknis yang
kurang tepat, pemilihan teknologi konstruksi, dan desain yang tidak lengkap.
Pertanyaan No 15,
Menurut Anda, resiko apa yang dapat mempengaruhi konstruksi JSS yang
terintegrasi dengan fungsi lainnya? (jawaban boleh lebih dari satu)
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Dari hasil analisa nilai rata-rata (mean) , analisa distribusi frekuensi, dan analisa
One-Sample t-Test terhadap data tersebut diatas diketahui bahwa resiko internal
pembangunan JSS yang perlu mendapat perhatikan yaitu akibat dari bencana alam
(gempa bumi,tsunami,dll), kenaikan biaya proyek dan survey lokasi yang kurang
memadai.
Pertanyaan No 16,
Menurut Anda, resiko apa yang dapat mempengaruhi operasional dan
pemeliharaan JSS yang terintegrasi dengan fungsi lainnya? (jawaban boleh lebih
dari satu)
Tabel 4.28. Variabel Resiko Pada Operasional Dan Pemeliharaan
RESIKO PADA OPERSAIONAL DAN JUMLAH
RANGKING
PEMELIHARAAN RESPONDEN
Kualitas Peralatan Yang Tidak Stabil 12 4
Kurangnya Peralatan Yang Dibutuhkan 14 3
Komunikasi Yang Buruk 12 4
Kondisi Cuaca Buruk 12 4
Kurangnya Sumber Daya Manusia 16 2
Kondisi Lokasi Yang Sulit 8 6
Kurangnya Alat Bantu Navigasi 10 5
Kurangnya Penggunaan Teknologi IT 12 4
Keamanan Personil 6 7
Estimasi Biaya Yang Tidak Presisi 12 4
Akibat Dari Bencana Alam (gempa bumi, tsunami,dll) 21 1
Jawaban Lain 3 8
Sumber : Olahan Sendiri
Universitas Indonesia
Tabel 4.32. Hasil Analisa Variabel Identifikasi Resiko Eksternal Politik dan
Lingkungan Pembangunan JSS
Universitas Indonesia
Dari hasil analisa nilai rata-rata (mean), analisa distribusi frekuensi, dan analisa
One-Sample t-Test terhadap data tersebut diatas diketahui bahwa resiko internal
pada pembangunan JSS yang perlu diperhatikan adalah akibat perubahan
kebijakan pemerintah, intervensi politik dan kerusakan lingkungan.
Pertanyaan No 18,
Menurut Anda, resiko socio-ekonomi apa yg dapat mempengaruhi pembangunan
JSS yang terintegrasi dengan fungsi lainnya?(jawaban boleh lebih dari satu)
Tabel 4.34. Variabel Resiko Pada Aspek Sosial dan Ekonomi
JUMLAH
RESIKO PADA ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI RANGKING
RESPONDEN
Akibat Perubahan kebiasaan 14 3
Eksploitasi Masyarakat 9 6
Kurangnya Dukungan Untuk Kepentingan Publik 16 2
Adanya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) 24 1
Ketidakstabilan Ekonomi Nasional 11 4
Akibat Perubahan Kebijakan Ekonomi 14 3
Fluktuasi Nilai Tukar 9 6
Inflasi Yang Tinggi 6 7
Pasar Memasuki Masa Reses 1 10
Ketersediaan Kredit 5 8
Perubahan Biaya Material 10 5
Berkurangnya Mitra Bisnis 2 9
Jawaban Lain 1 10
Sumber : Berawi, et al, 2102;Sejatiguna, 2013
Universitas Indonesia
Tabel 4.35. Hasil Analisa Variabel Identifikasi Resiko Eksternal Sosial dan
Ekonomi Pembangunan JSS
Dari hasil analisa nilai rata-rata (mean) , analisa distribusi frekuensi, dan analisa
One-Sample t-Test terhadap data tersebut diatas diketahui bahwa resiko internal
pada pembangunan Jembatan Selat Sunda yang perlu diperhatikan adalah adanya
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan kurangya dukungan untuk kepentingan
publik.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Mengidentifikasi faktor resiko yang dapat mempengaruhi pembangunan Jembatan Selat Sunda
Pertanyaan No.14 Potensi resiko terbesar :
Menurut Anda, resiko apa yang dapat Asumsi teknis yang kurang tepat
mempengaruhi perencanaan dan desain Pemilihan teknologi konstruksi
Jembatan Selat Sunda yang terintegrasi Rencana desain konstruksi
dengan fungsi lainnya?
(jawaban boleh lebih dari satu)
Pertanyaan No.15 Potensi resiko terbesar:
Menurut Anda, resiko apa yang dapat Bencana alam (gempa bumi,
a. Resiko mempengaruhi konstruksi Jembatan Selat tsunami,dll)
Internal Sunda yang terintegrasi dengan fungsi Pembengkakan biaya proyek
lainnya? Survey lokasi yang kurang memadai
(jawaban boleh lebih dari satu)
Pertanyaan No.16 Potensi resiko terbesar:
Menurut Anda, resiko apa yang dapat Bencana alam (gempa bumi,
mempengaruhi operation dan tsunami,dll)
maintenance Jembatan Selat Sunda yang Kurangnya Sumber Daya Manusia
terintegrasi dengan fungsi lainnya?
(jawaban boleh lebih dari satu)
Pertanyaan No.17 Potensi resiko terbesar:
Menurut Anda, resiko politik - Perubahan kebijakan pemerintah
lingkungan apa yang dapat Intervensi politik
mempengaruhi pembangunan Jembatan Kerusakan biota laut
Selat Sunda yang terintegrasi dengan
b. Resiko fungsi lainnya?
Eksternal (jawaban boleh lebih dari satu)
Pertanyaan No.18 Potensi resiko terbesar:
Menurut Anda, resiko socio - ekonomi
Korupsi, Kolusi, Nepotisme
apa yang dapat mempengaruhi
Kurangnya dukungan untuk kepentingan
pembangunan Jembatan Selat Sunda yang
publik
terintegrasi dengan fungsi lainnya?
(jawaban boleh lebih dari satu) Perubahan kebijakan publik
Universitas Indonesia
Dari proses diskusi para narasumber memberikan feedback positif bahwa fungsi
yang telah dikembangkan oleh tim peneliti sangat baik dan jika dapat
direalisasikan akan memberikan dampak yang signifikan terhadap nilai tambah
proyek dan akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi nasional. Beberapa diskusi
isu lain yang menarik dibahas pada FGD ini yaitu:
1. Identifikasi Resiko Utama pada pembangunan JSS
Perwakilan SWA Network mendiskusikan bahwa diperlukan kajian
mengenai potensi kerusakan akibat bencana alam khusunya gempa bumi
pada JSS.
Pihak akademisi mendiskusikan bahwa value creation pada pembangunan
JSS akan meningkatkan resiko proyek, sehingga diperlukan penggunaan
indeks melalui agregat value added dengan risk untuk mendapatkan value
optimum.
2. Penambahan Fungsi Proyek (Inovasi) pada JSS
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Resume yang dapat diperoleh dari kegiatan focus group discussion, dapat
disimpulkan bahwa unit kunci pembahasan adalah:
Tabel 4.40. Unit Kunci Analisa
Unit Kunci Analisis Pola
Identifikasi Resiko
Resiko internal dan eksternal Resiko gempa bumi perlu menjadi
Resiko utama pertimbangan
Mitigasi yang dapat dilakukan Safety issue pada konseptual desain JSS
Penambahan fungsi (inovasi) pada pembangunan
JSS
Tidal dan Wind Power
Integrasi berbagai fungsi dapat menjadi
Pengembangan Pariwisata
nilai tambah JSS
Integrasi pipa minyak dan gas
Diperlukan kajian teknis mengenai
Integrasi jalur Fiber Optic
berbagai fungsi tambahan
Pengembangan Kawasan Industri
Diperlukan diversifikasi peran pemerintah
Skema Kerjasama Pemerintah Swasta
Pengembangan kawasan di sekitar Selat
Sunda skema yang tepat
Pembangunan JSS masih berdasarkan
Life cycle costing initial cost sehingga diperlukan skema
perhitungan ekonomi yang lebih rinci
Sumber : Olahan Sendiri
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Berdasarkan potensi yang ada disekitar kawasan Selat Sunda, maka diperoleh 4
fungsi proyek tambahan yang dapat diintegrasikan ke fungsi transportasi yang
merupakan fungsi proyek utama dari JSS :
a. Fungsi Energi, yang terbagi menjadi fungsi Pembangkit Energi Listrik (Wind
Power dan Tidal Power) dan Distribusi Energi (Pipa Minyak dan Gas).
b. Fungsi Telekomunikasi, Jaringan kabel Fiber Optic yang dapat dipasang pada
bentang JSS.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Pada prinsipnya Jembatan Selat Sunda terdiri dari dua bagian, yaitu
suspension bridge sepanjang 7,6 km dan concrete viaduct sepanjang 21,4 km
sehingga total secara keseluruhan mencapai 29 km. Penggunaan teknologi
untuk mencapai kestabilan gempa diterapkan untuk mitigasi gempa, yaitu
pada main tower dan box girder.
Universitas Indonesia
Main Tower
Mitigasi pada main tower pada saat terjadinya aktifitas seismic tetap dapat
berfungsi optimal maka perlu penggunaan teknologi dengan menambahkan
alat anti–gempa berbasis tuned mass damper. Tuned mass damper (TMD)
adalah perangkat kontrol pasif yang terdiri dari massa terpusat dengan pegas
dan peredam berupa viscous damper bertujuan untuk mengurangi getaran
yang berlebihan pada struktur bangunan. Alat memiliki beberapa kelebihan
yaitu; reliabilitas tinggi, efisien dan rendah biaya pemeliharaan. sementara
kelemahannya adalah dengan bobotnya yang besar maka tekanan yang
diterima pondasi akan membesar dan dapat menyebabkan penurunan pondasi
(Nagarajaiah, 2009).
Sistem ini berhasil menahan vibrasi gempa kobe sebesar ± 7,6 Skala
richter dengan PGA 0,79 (estimasi jarak dari fault line=1km) pada tahun 1995
tanpa menyebabkan kerusakan berarti pada strukturnya(Bangash, 2011).
Teknologi TMD dipilih karena kelebihannya dalam mengendalikan getaran
angin dengan tingkat elastisitas tertentu pada “tall structures”. Menurut
Buckle (2000) dengan menyetelnya pada modus dominan tertentu, alat
tersebut dapat meningkatkan redaman struktur mencapai 5% .
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Tabel 4.44 Perbandingan Energi Dissipation Devices (Symans et al., 2008 dalam Sejatiguna, 2013))
Viscous fluid damper Viscoelastic solid damper Metallic damper Friction damper
Basic construction
Idealized hysteretic
behavior
Idealized physical
Not available
model
Universitas Indonesia
Dimana;
Index tahun 1998 = 5920,00
Index tahun 2013 = 9542,33
Sehingga didapat;
Harga Material (2013) = US$ 290.311/damper
Harga material (2013) = US$ 290.311 x 20 (km viaduct) x 4 (damper/km)
= US$ 23.224.880
Jika diasumsikan biaya viscous damper terdiri dari 5,6% detail design dan FS,
82% material dan 6,9% instalasi serta 5,5% maintenance selama 30 tahun,
maka diperoleh:
Tabel 4.46 Tabel Perhitungan Mitigasi Resiko pada Viaduct Beton
Prosentase Biaya
No Cost Element
(%) ( US$ )
1 Detail Design & FS 5,6 1.586.089
2 Material 82 23.224.880
3 Instalation 6,9 1.954.289
Total Initial Cost 26.765.258
4 Maintenance 5,5 1.557.766
Total Maintenance Cost 1.557.766
Sumber : Sejatiguna, 2013
Universitas Indonesia
Total biaya untuk mitigasi fungsi transportasi pada viaduct beton selama
30 tahun sebesar US$ 28.323.024 atau jika diasumsikan nilai tukar sebesar
9.600 rupiah (R-APBN perubahan 2013) maka biaya tersebut adalah sebesar
271,90 milliar rupiah.
Maka diperoleh total biaya mitigasi resiko gempa pada fungsi transportasi
yang terdiri dari main tower dan viaduct beton senilai 374,25 milliar rupiah
atau 0,04 % dari total initial cost transportasi yang senilai 102,31 triliun
rupiah.
[Link] Energi
Pada fungsi energi mitigasi gempa difokuskan pada distribusi minyak dan
gas, karena pipa distribusi melalui bawah laut dan bawah tanah. Pipa distribusi
minyak dan gas direncanakan dengan tepat agar tidak mengalami kegagalan
struktur yang dikarenakan baik ledakan, beban berlebih, buckling atau
patahan. Standar desain pipa distribusi tersebut berdasarkan American Society
of Mechanical Engineers (ASME), dimana ASME B31.8 untuk pipa gas dan
ASME B31.4 untuk pipa minyak. Pipa–pipa tersebut dilas menjadi satu
dengan berdasarkan standar API 5L yang dikeluarkan oleh American
Petroleum Institute.
Menurut ASME B31.8, estimasi design pressure untuk system pipa gas
menggunakan baja ditentukan berdasarkan persamaan ;
Dimana;
P = Design pressure (psig)
S = Specified Minimum Yield Strength (psi)
t = Nominal wall thickness (inchi)
D = Nominal outside diameter of pipe (inchi)
F = design factor
E = Longitudinal joint factor
T = Temperature derating factor
* Design pressure adalah kapasitas ambang batas tekanan maksimum yang
dapat diterima pipa.
* Design factor menggunakan tabel berikut sebagai acuan;
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
2
Asumsi ukuran mengikuti proyek TAPS
Jika menggunakan rumus perhitungan design factor maka didapat;
Universitas Indonesia
TAPS sendiri pada tahun 2002 mengalami gempa sebesar 7,9 SR dengan PGA
0,34g (berjarak 5 km sebelah utara sesar Denali). Meskipun secara
keseluruhan tidak mengalami kerusakan seperti kerutan(wrinkling), tekukan
(buckling) ataupun lengkungan (strain) berlebihan namun dikarenakan
pergerakan tanah melebihi batas rencana maka beberapa sliding shoe
mengalami kerusakan.
Gambar 4.19 Sliding Shoe yang mengalami Gambar 4.20 Kerusakan pada Crossbeam
Kolaps dan Shoe
Sistem sliding shoe yang diterapkan pada Trans-Alaska Pipeline System
(TAPS) akan diimplementasikan pada konseptual desain Jembatan Selat
Sunda namun sliding shoe tidak lagi digunakan, digantikan dengan system
base isolation.
Base isolation merupakan metode agar suatu bangunan tahan terhadap
terjadinya gempa bumi melalui penambahan isolator yang menghubungkan
antara struktur atas dan struktur bawah yang mana bila terjadi gempa elemen
struktur dapat bergerak secara fleksibel sehingga kerusakan dapat direduksi
secara maksimal (Charleson and Allaf, 2012; Ismail et al, 2010). Base
isolation pada riset ini dibagi atas 2 tipe, yaitu rubber bearings dan friction
pendulum bearings.
Lead-rubber bearings (LRB) adalah bantalan elastis yang terdiri dari
lapisan karet dan plat baja disusun secara berlapis dengan silinder inti pada
poros bearing. Adanya plat silinder yang berada di poros bearing membuat
LRB tahan terhadap gaya tekan yang lebih besar dibandingkan dengan tipe
rubber bearing lainnya sehingga jenis ini lebih banyak digunakan untuk
antisipasi gempa (Skinner et al,1993). Semenjak ditemukan oleh Robinson
tahun 1976, lead rubber bearing telah menjadi sistem yang diterapkan untuk
dapat mengurangi dampak gempa dikarenakan masa hidupnya yang dapat
mencapai lebih dari 1000 tahun. Selain Amerika Serikat dan Jepang, Selandia
Universitas Indonesia
Baru merupakan salah satu negara dengan jumlah penggunaan LRB terbesar
dengan koefisien 80% dari total jembatan yang ada (Robinson,1998).
Benicia- 22 bearings
Jembatan
Martinez bridge Mengurangi ukuran kolom dan balok 1.325 mm
Menghemat 680 ton struktur baja
San Francisco
International 267 bearings
Bandara
Airport, Tahan terhadap gempa sebesar 8 SR 1.080 mm
California Mengurangi 70% gaya lateral
252 bearings
Sabiha Gokcen Diperkirakan dapat menyerap 80%
Bandara 345 mm
Airport, Turkey guncangan gempa
Diperkirakan dapat tahan terhadap
gempa dengan 8 SR
American river
Menahan 1.800 Ton beban
bridge, Folsom, Jembatan
Menghemat biaya konstruksi 250 mm
California
hinggaUS$ 1 juta
Sumber: Kravchuck et al, 2008; Wang et al, 2001dalam Sejaiguna, 2013
Universitas Indonesia
US$ 1.000.000
= 1 % x ----------------------
22
= US$ 45.455
Dimana;
Index tahun 2000 = 6621,00
Index tahun 2013 = 9542,33
Sehingga didapat;
Harga Material (2013) = US$ 65.511/FPS
Harga material (2013) = US$ 65.511 x 100 FPS (minyak dan gas)
= US$ 6.551.100
Universitas Indonesia
Jika diasumsikan initial cost terdiri dari 5,6% detail design dan FS, 82%
material dan 6,9% instalasi serta 5,5% maintenance selama 30 tahun, maka
diperoleh:
Tabel 4.53 Tabel Perhitungan Mitigasi Resiko pada Fungsi Distribusi
Minyak
Prosentase Biaya
No Cost Element
(%) ( US$ )
1 Detail Design & FS 5,6 12.300
2 Material 82 6.551.100
3 Instalation 6,9 15.155
Total Initial Cost 6.578.555
4 Maintenance 5,5 439.403
Total Maintenance Cost 439.403
Sumber : Sejatiguna, 2013
Maka total biaya untuk mitigasi fungsi energi pada distribusi minyak dan gas
selama 30 tahun sebesar US$ 7.017.958 atau jika diasumsikan nilai tukar
sebesar 9.600 rupiah (R-APBN perubahan 2013) maka biaya tersebut adalah
sebesar 67,37 milliar rupiah atau sebesar 0,017% dari total initial cost pipa
minyak dan gas yang sebesar 3,9 triliun rupiah.
Rangkuman mitigasi resiko yang dominan pada konseptual desain JSS, adalah
sebagai berikut :
Identifikasi resiko yang diperoleh dari data sekunder melalui
benchmarking :
- Resiko internal : perencanaan dan desain, konstruksi serta operasional
dan pemeliharaan
- Resiko eksternal : politik–lingkungan dan sosial–ekonomi.
Dari hasil survey kuesioner dan Focus Group Discussion diperoleh resiko
utama yang perlu diperhatikan dalam pengembangan perencanaan
konseptual desain JSS, yaitu :
- Gempa bumi
- Safety factor
Penerapan teknologi yang digunakan dalam mitigasi fungsi utama pada
JSS, meliputi :
- Fungsi transportasi yaitu penggunaan tuned mass damper pada main
tower jembatan suspensi dan penggunaan viscous damper pada
jembatan viaduct beton.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Populasi
Jawa Sumatera
R3 R1
Fasilitas Infrastruktur
Jumlah Industri Pariwisata Sangiang
Jawa Sumatera R2
Kebutuhan Listrik
Jawa Sumatera
Kapasitas
Pembangkit Listrik
JSS
Kebutuhan Migas
Jawa Sumatera
Produksi Industri
R1 Jawa Sumatera
Pengiriman Migas
Melalui Pipa JSS
Universitas Indonesia
emigrasi Jawa
imigrasi Jawa
Populasi Jawa
emigrasi Sumatera
imigrasi Sumatera
Populasi Sumatera
Universitas Indonesia
PENURUNAN BIAYA
WAKTU PENGIRIMAN
LEBIH CEPAT JSS off-on
efek positif JSS
terhadap sektor
industri
produksi industri
profit sektor industri pengiriman barang
efek jss terhadap industri
profitability industry
MUATAN RATA RATA
PER TRIP
Industrial Capital
LAJU PMA PER GDP
investasi tambahan depresiasi industri
penanaman modal
asing UMUR INDUSTRIAL
investasi industri CAPITAL
Real GDP Indonesia
pertumbuhan GDP
INDUSTRIAL
LAHAN AREA CAPITAL MULA Industrial
INDUSTRY MULA Capital
MULA MULA capital untuk
penambahan
lahan
rasio
kebutuhan demand
lahan industrial kavling
industrial
Kavling
Kavling Sell Occupancy
persentasi
aksesibilitas benefit JSS ESTATE
industri MAXIMUM
rasio capacity
CAPACITY
estate
biaya transport
laju
lebih murah
pertambahan
TIKET JSS international estate
port
efek jss
terhadap
profitability
industry
Universitas Indonesia
laju
pertambahan
tourism area
PENDAPATAN
AREA TOURISM
KAPASITAS
MAKSIMUM UMUR
rasio land PULAU INFRASTRUKTU
RETAINED availability
tourism area SANGYANG R TOURISM
EARNINGS reinvestment
TOURISM rate
Tourism Area
penambahan depresiasi
LUAS AWAL tourism area tourism area
AREA TAMANAVG TOURISM
DEVELOPMENT nature area
REKREASI
nature
INVESTASI initial tourism attractiveness
AWAL TAMAN area
REKREASI tourism income LUAS AREA
BENCHMARK TAMAN
rate of REKREASI
attractiveness
avg spending jumlah turis
in tourism area
JUMLAH JSS off-on JUMLAH
PENGUNJUNG PENGUNJUNG
TAHUNAN TAHUNAN
BENCHMARK jumlah trips BENCHMARK
lain-lain INCIDENTAL
TOURIST
PENDAPATAN PENGUNJUNG
SEKTOR REST AREA
TOURISM PEOPLE PER TAHUNAN
TRIP ARUS
KENDARAAN
JALAN TOL
KONSUMSI CAPITAL
LISTRIK INDUSTRI
IDUSTRI MULA MULA
TAHUN AWAL POPULASI
JAWA AWAL
KEBUTUHAN
LISTRIK
kebutuhan RESIDENSIAL
listrik industri JAWA AWAL
per capital POPULASI
KEBUTUHAN
SUMATERA
LISTRIK
KEBUTUHAN AWAL
RESIDENSIAL
Populasi Jawa LISTRIK PER SUMATERA
Industrial POPULASI AWAL
Capital JAWA
KEBUTUHAN
demand LISTRIK PER LUAS AWAL KEBUTUHAN
industrial area POPULASI AREA TAMANLISTRIK AREA
demand Jawa- SUMATERA REKREASI TAMAN
Sumatera
REKREASI
MULA MULA
Populasi Tourism Area
Sumatera demand
tourism area
KEBUTUHAN
LISTRIK
pertumbuhan rasio sisa KAPASITAS TOURISM PER
demand listrik kapasitas PEMBANGKIT M2
laju pembangkit LISTRIK UMUR
pertambahan GENERATOR
kapasitas TIDAL
Kapasitas
penambahanPembangkit depresiasi
kapasitas Listrik Tidalgenerator tidal
generator tidal
Universitas Indonesia
NILAI
KEBUTUHAN KEBUTUHAN
PRODUKSI
GAS AWAL MINYAK AWAL
AWAL
JAWA SUMATERA
SUMATERA JAWA
RASIO KEBUTUHAN
RASIO
GAS PER OUTPUT KEBUTUHAN
PRODUKSI PETROLEUM demand
PER OUTPUT petroleum
demand gas INDUSTRI Jawa dan
Jawa dan Sumatera
produksi Sumatera sektor industri
industri sektor industri
total demand
gas Jawa dan total demand
Sumatera PERSENTASE petroleum produksi
PENGIRIMAN Jawa dan industri
MELALUI PIPA Sumatera
JSS
pengiriman gas
melalui pipa pengiriman
JSS petroleum
melalui pipa
JSS
UMUR JALUR
FIBER OPTIK
Universitas Indonesia
Populasi Jawa
PENGIRIMAN
pengiriman ANTAR PULAU
JUMLAH TRIPS barang industri
ASDP JAWA-
SUMATERA
JUMLAH aktivitas
POPULASI jumlah trip
transportasi pengiriman
JAWA TAHUN pengiriman
lain-lain Jawa industri
MULA MULA
Sumatera
rasio trips
Populasi pribadi jawa -
Sumatera sumatera per
kapita switch on-off
jumlah trips VE
lain-lain PEOPLE PER
JUMLAH
volume trips Jawa TRIP
POPULASI transportasi
SUMATERA lain-lain Sumatera
TAHUN MULA Sumatera Jawa
MULA kendaraan
jumlah turis
pribadi
rasio trips
pribadi volume trips
JUMLAH TRIPS sumatera-jawa jumlah jss
ASDP per kapita kendaraan gol
SUMATERA - VIII jumlah motor tourism kota Populasi Jawa
JAWA
jumlah
FAKTOR kendaraan gol
PREFERENSI VII jumlah
kendaraan gol
arraverage IVA Populasi
tiket jumlah Sumatera
kendaraan gol
TIKET JSS VIB jumlah
kendaraan gol
jumlah IVB
jumlah
kendaraan gol
VIA jumlah kendaraan gol
kendaraan gol VA
VB
Project Overrun
Bencana Alam Kebijakan
Cost
Pemerintah
Universitas Indonesia
jumlah kendaraan
gol VB
jumlah kendaraan
gol VA jumlah kendaraan
gol IVB
jumlah kendaraan
gol VIA
jumlah kendaraan
gol IVA
jumlah kendaraan
gol VIB income JSS
jumlah turis
jumlah motor
jumlah kendaraan
gol VII jumlah kendaraan income tourism area
gol VIII TIKET JSS
AVERAGE SPENDING
PER TOURIST
Kapasitas
Pembangkit Listrik
Tidal income kavling area
income tidal power
generator income total JSS
HARGA LISTRIK
Pengaruh Income
Investasi
income total
Biaya Pariwisata JSS
Biaya Fiber Optic
Peningkatan Cost
Cost
Karena Mitigasi
Biaya Industrial
Estate
Biaya Gas Pipeline
Risk Mitigation
Biaya Struktur
Biaya Oil Pipeline
Jembatan
Biaya Wind
Turbine Biaya Tidal
Turbine
Universitas Indonesia
Emigration of Java
Immigration of Java
TRANSPORTATION
Inter island
Population of Java shipping
Volume Trips ASDP
Birth of Java Death of Java Java-Sumatra
Initial electric power
Initial industrial
ENERGY
consumption
capital
Highway vehicle
flow Oil and gas pipe
rent price
INCOMES Fiber optic rates
Initial value
Fiber optic line Initial gas demand production Initil petroleum
in Java and Sumatra demand in Java and
Sumatra
Industrial gas
Requirement ratio demand in Java and
of industrial area Demand of Sumatra Industrial petroleum
industrial area demand in Java
anad Sumatera
Cheaper transport
TRANMMISION PIPELINE (OIL & GAS)
cost Growth rate for
estate
SSB effect on
industrial
INDUSTRIAL
profitability
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
5.000
Income Fungsi Transportasi
4.500
4.000
Miliar Rupiah
3.500
3.000
2.500
2.000
1.500
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27
Tahun
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
8. Jumlah penyewaan kavling industri yang disediakan JSS pada tahun 2024
sebesar 35.000.000 m² habis tersewa semua hingga 2034. Jumlah
pendapatan dari penyewaan kavling industri hingga tahun 2050 sebesar
148,934 trilyun rupiah.
9. Turis yang datang ke Pulau Sangiang pada tahun 2050 sebanyak 7.539.257
orang per tahun. Jumlah pendapatan yang didapat dari penjualan tiket
masuk ke Sangiang hingga tahun 2050 sebesar 65,106 trilyun rupiah.
10. Keseluruhan pendapatan Jembatan Selat Sunda sebesar 621,240 trilyun
rupiah, dibandingkan dengan skenario Do-Nothing yang hanya sebesar
79,314 trilyun rupiah.
11. Keseluruhan biaya pembangunan Jembatan Selat Sunda ini diperkirakan
sebesar 189,595 trilyun rupiah, dibandingkan dengan skenario Do-Nothing
yang hanya sebesar 103,642 trilyun rupiah.
Berikut ini adalah grafik pergerakan pendapatan dari tiap fungsi JSS yang ada:
8.500
Income Fungsi Transportasi
7.500
6.500
Miliar Rupiah
5.500
4.500
3.500
2.500
1.500
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27
Tahun
Universitas Indonesia
4000
3500
3000
Miliar Rupiah
2500
2000
1500
1000
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27
Tahun
600
550
500
Income Transmisi Minyak
450
400
Miliar Rupiah
350
300
250
200
150
100
1 3 5 7 9 11 13 Tahun 15 17 19 21 23 25 27
Universitas Indonesia
700
600
500
Miliar Rupiah
400
300
200
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27
Tahun
Grafik ini menunjukkan kenaikan pendapatan pengiriman gas JSS. Pada tahun
pertama didapatkan pendapatan sebesar 193,43 miliar rupiah yang terus
meningkat hingga 27 tahun sebesar 610,54 miliar rupiah.
8.000
7.000
Income Fiber Optic
6.000
5.000
Juta Rupiah
4.000
3.000
2.000
1.000
-
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27
Tahun
Grafik ini menunjukkan kenaikan pendapatan penggunaan fiber optic JSS. Pada
tahun pertama didapatkan pendapatan sebesar 897,60 juta rupiah yang terus
meningkat hingga 27 tahun sebesar 6,996 miliar rupiah.
Universitas Indonesia
11.000
10.000
Income Fungsi Industri
9.000
8.000
7.000
Miliar Rupiah
6.000
5.000
4.000
3.000
2.000
1.000
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27
Tahun
20000
18000
Income Fungsi Pariw isata
16000
14000
Miliar Rupiah
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27
Tahun
Universitas Indonesia
45.000
40.000
Pendapatan JSS dg VE (Total Fungsi)
35.000
30.000
Miliar Rupiah
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27
Tahun
Dengan demikian, seluruh pendapatan dari JSS cenderung meningkat dari tahun
ke tahun dengan skenario Do-Something. Berikut ini adalah grafik perbandingan
pendapatan antara JSS Skenario Do Nothing dengan Skenario Do Something.
45.000
Total Pendapatan JSS dg VE (Do
40.000
Something)
35.000 Total Pendapatan JSS (Do Nothngi)
30.000
Miliar Rupiah
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27
Tahun
Berikut ini perbandingan pendapatan jika JSS divariasikan dengan satu fungsi
tambahan di luar fungsi transportasi.
Universitas Indonesia
45.000
JSS "Do Something" (Total Fungsi)
JSS "Do Something" (Transportasi+Pariwisata) "
40.000 JSS "Do Something" (Transportasi+Energi)
JSS "Do Something" (Transportasi+Industri)
35.000 JSS "Do Something" (transportasi+fiber optic)
JSS "Do Something" (Transportasi)
JSS "Do Nothing (Hanya transportasi)
30.000
Miliar Rupiah
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
-
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27
Tahun
Universitas Indonesia
Penjelasan biaya LCC akan mengikuti urutan fungsi-fungsi diatas, dimana setiap
bagian akan dirinci berdasarkan item biaya pada LCC, yaitu : Initial Cost,
Operational & Maintenance, dan perkiraan Revenue yang akan dihasilkan. Semua
data biaya yang didapat merupakan data sekunder yang bersumber dari jurnal,
laporan penelitian dan brosur.
Universitas Indonesia
Berikut ini adalah harga satuan struktur jembatan bentang panjang yang ada
didunia :
Tabel 4.55. Harga Satuan Pembangunan Jembatan Bentang Panjang di
Dunia
HARGA SAT. HARGA SAT.
JEMBATAN BENTANG PANJANG (Juta USD/Km) (Juta USD/Km)
Tahun 1997 Tahun 2013
Jembatan Messina (Itali) Panjang bentang tengah 3.300 m :
Jembatan Suspension bentang panjang dengan prasarana 6 lajur 490 813,11
jalan Tol, Jalan rel kereta api dua trak, 2 lajur untuk keadaan
darurat dan kendaraan servis, 2 lajur untuk pejalan kaki
Jembatan viaduct beton dengan prasarana jalan tol dan rel kereta 130 215,72
api
Jembatan Tsing Ma (China) panjang bentang tengah 1.377 m
Jembatan Suspension bentang panjang dengan prasarana 6 lajur
450 746,74
jalan Tol, Jalan rel kereta api dua trak, 2 lajur untuk keadaan
darurat dan kendaraan servis.
Jembatan Akashi Kaikyo (Jepang) panjang bentang tengah 1.991 m :
Jembatan Suspension bentang panjang dengan prasarana 6 lajur 490 813,11
jalan Tol, 2 lajur untuk keadaan darurat dan kendaraan servis.
Jembatan Great Belt-Est(Denmark) panjang bentang tengah 1.624m:
Jembatan Suspension bentang panjang dengan prasarana 4 lajur
jalan Tol, 2 lajur untuk keadaan darurat dan kendaraan servis. 230 381,67
Sumber : Wangsadinata, 1997
Dari data tersebut diambil Jembatan Messina di Itali sebagai acuan dalam
menghitung Initial Cost Fungsi Transportasi, pilihan ini dibuat berdasarkan
pertimbangan kesamaan fasilitas prasarana transportasi yang disediakan pada
jembatan Mesiana tersebut yaitu 6 lajur jalan tol dan dua jalur rel kereta api
(Double Track).
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
..............................................................................(4.1)
Dimana :
Kecepatan arus pasang surut di perairan Selat Sunda berkisar antara 0-4 m/det :
Tabel 4.61. Kecepatan arus pasang surut di perairan Selat Sunda
KECEPATAN ARUS PASANG -SURUT SUMBER DATA
0-400 cm/det (Rahma Widyastuti, 2010)
100-250 cm/det (Kementrian Riset dan Teknologi, 2012)
4 – 8 Knot (200 - 400 cm/det) (Harjono, 2012),(Octa, 2012),
Sumber : Olahan Sendiri
Dari data tersebut, diambil kecepataan arus 200 cm/det atau 2m/det sebagai
asumsi kecepatan arus pasang surut Selat Sunda. Sementara itu, penempatan
turbin disesuaikan dengan kedalaman laut, di konsep ini turbin diletakan pada
kedalaman 35-40 meter (Blue Energy, 2010). Dengan pertimbangan ini maka
hanya 16 km saja dari keseluruhan panjang Jembatan Selat Sunda yang akan
diinstal Tidal Power. Teknologi tidal turbine yang digunakan dalam konsep ini
adalah jenis Davis Hydro Turbine yang dikembangkan oleh Blue Energy dari
Kanada, Davis Hydro Turbine adalah jenis turbin sumbu vertikal dengan tingkat
efisiensi berkisar antar 25% - 45% . Diameter turbin 10 m dengan tinggi 10 m
(Blue Energy, 2010).
Universitas Indonesia
Turbin tersebut akan disusun tiga tingkat. Tiap tingkat akan dilengkapi dengan
generator untuk merubah energy kinetic dari turbin menjadi energi listrik. Untuk
pemisah antar turbin digunakan kolom beton dengan ketebalan 2,5 meter. Kolom
beton selain berfungsi untuk pemisah, juga berfungsi untuk mempersempit arah
aliran air. Cara seperti itu akan meningkatkan kecepatan aliran air. Dengan
spesifikasi seperti itu, dalam 1 Km, akan memerlukan 80 tidal turbine tiap
tingkatnya. Untuk tiga tingkat dipasang 240 buah. Sementara itu untuk 16 Km,
akan memerlukan 3.840 Unit.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
[Link]. Revenue
Perhitungan revenue fungsi energi didasarkan pada kapasitas maksimal
layanan yang dapat dihasilkan dari tiap-tiap komponen fungsi.
Tabel 4.66. Hasil Keluaran Fungsi Energi
URAIAN OUTPUT
Tidal Power = 551 mW x 6 jam x 365 = [Link] kWh/tahun
Wind Power = 464 kW x 5 jam x 365 = 846.800 kWh/tahun
Pipa Minyak = 294.000 barrel x 365 = 107.310.000 barrel/tahun
Pipa Gas = 343.572.151 mmbtu/tahun
Sumber : Olahan Sendiri
Harga tarif listrik mengikuti harga yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral No.4 Tahun 2012 yaitu sebesar Rp. 1000,4 /kWh.
Tarif toll fee untuk pengiriman minyak melalui pipa minyak adalah Rp. 1.740
/barrel, sedangkan untuk pengiriman gas sebesar Rp.563 /mmbtu (Farid, 2013).
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Konsep cable car yang akan diterapkan mengambil contoh sistem yang
dibangun di dataran tinggi Genting, Malaysia . Cable car Genting Malaysia ini
dibangun sepanjang 3,38 km pada tahun 1997 dengan biaya RM. 128.000.000,
atau sekitar Rp. 196,598 milyar / km tahun 2013 (setelah dikalikan CCI dan nilai
tukar Ringgit Malaysia) (Arief, 2013). Dengan panjang lintasan 8 km maka biaya
initial untuk cable car adalah Rp. 196,598 milyar/km x 8 km = Rp. 1.572,784
milyar
c. Sangiang Resort
Sangiang Resort akan memiliki luas 126 Ha yang didalamnya terdapat
fasilitas theme park seluas sebesar 22,4 Ha, serta dua buah hotel kelas bintang 4
yang memiliki kapasitas hingga 1000 kamar tamu. Dalam theme park tersebut
didesain memiliki 8 kawasan permainan, yaitu Main Street U.S.A, Adventureland,
Fantasyland, Tomorrowland, Toy Story Land, Grizzly Gulch dan Mystic Point.
Konsep Sangiang Resort mengikuti konsep resort yang dimiliki oleh Hong
Kong Disneyland Resort (dengan luas dan fasilitas yang sama) yang terletak di
Pulau Lantau Hong Kong. Keseluruhan biaya pembangunan dari resort tersebut
diluar biaya akuisisi lahan adalah sebesar US$ 1,81 juta pada tahun 2003 atau Rp.
[Link],-/ha tahun 2013 (setelah dikalikan CCI dan nilai tukar US$)
(Arief, 2013). Setelah ditambah biaya akuisisi lahan di pulau Sangiang yang
diasumsikan sebesar Rp.500.000,-/m2 maka, biaya satuan pembangunan resort
tersebut adalah Rp. [Link],-/ ha. Untuk lahan seluas 126 ha didapat total
biaya initial pembangunan resort adalah Rp. [Link],-/ ha x 126 ha =
Rp. [Link].000,-
Pembangunan jalan akses menuju resort sepanjang 15 km dimasukan
kedalam perhitungan investasi Sangiang Resort. Pembangunan jalan akses ini
akan dilakukan dengan peningkatan jalan yang sudah ada dengan spesifikasi;
lebar 7 m, perkerasan lentur (hotmix). Berdasarkan data dalam buku Standar
Biaya Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat tahun 2008, bahwa biaya
kegiatan peningkatan jalan dengan lebar 7 m adalah sebesar Rp. [Link],-
/km, sehingga dengan panjang jalan 15 km maka harga konstruksi dari sarana
jalan adalah sebesar Rp. [Link],-.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
merupakan fungsi dasar menghasilkan nilai IRR terkecil dari seluruh fungsi
dengan biaya inisial paling besar, sedangkan fungsi telekomunikasi mempunyai
nilai IRR terbesar walaupun biaya inisialnya paling rendah. Fungsi yang
mempunyai IRR di atas discount rate (6,72%) adalah Fungsi Telekomunikasi,
Energi, Pariwisata, Kawasan industri yang merupakan fungsi pendukung.
Sehingga hanya fungsi transportasi yang mempunyai tingkat kelayakan rendah.
Walaupun demikian fungsi transportasi menjadi prasyarat bagi terselenggaranya
fungsi –fungsi pendukung tersebut.
Tabel 4.71. Peringkat Investasi dan Pola Share Modal antar Fungsi
PROJECT SHARE INITIAL COST IRR
RANK FUNCTION INITIAL Before After
Before After
COST (Juta Rp.) (Juta Rp.)
1 Pariwisata 33,54% 39.967.803,94 74.724.156,15 12,22% 7,37%
2 Energi 15,09% 10.980.727,00 26.620.308,18 17,10% 7,37%
3 Kawasan Industri 8,95% 35.000.000,00 44.275.961,00 8,83% 7,37%
4 Telekomunikasi 0,02% 4.437,00 29.414,73 29,10% 7,37%
5 Transportasi 42,40% 103.642.022,40 43.945.150,28 1,10% 7,37%
Sumber : Olahan Sendiri
Universitas Indonesia
Tabel 4.72 Pengaruh Bantuan Pemerintah VFG dan/ Sunk Cost Pada Initial
Cost (Total Functions) pada Kelayakan Proyek JSS
VGF and/ SUNK COST
IRR NPV
IC O&M
0% 7,37% 16.070.519
10% 8,18% 33.836.166
20% 9,13% 51.601.814
30% 10,26% 69.367.461
40% 11,64% 87.133.109
50% 13,41% 104.898.756
Sumber : Olahan Sendiri
14%
13,41%
12%
11,64%
IRR
10% 10,26%
9,13%
8% 8,18%
7,37%
6%
0% 10% 20% 30% 40% 50%
VGF and/ SUNK COST ( IC )
Gambar 4.58 Grafik Pengaruh Bantuan Pemerintah VFG dan/ Sunk Cost
Pada Initial Cost (Total Functions) pada Kelayakan Proyek JSS
Sumber : Olahan Sendiri
Pengaruh bantuan Pemerintah berupa VGF dan/ Sunk Cost pada Initial Cost (IC)
dapat meningkatkan kelayakan proyek yang ditunjukkan oleh kenaikan Internal
Rate of Return (IRR) hingga 13,41 % (Tabel 4.73 dan Gambar 4.58).
Tabel 4.73 Pengaruh Bantuan Pemerintah VFG dan/ Sunk Cost Pada Initial
Cost dan O&M (Total Functions) pada Kelayakan Proyek JSS
SUNK COST
IRR NPV
IC O&M
0% 0% 7,37% 16.070.519
10% 10% 8,23% 34.962.990
20% 20% 9,23% 53.855.461
30% 30% 10,43% 72.747.932
40% 40% 11,89% 91.640.403
50% 50% 14,40% 110.532.874
Sumber : Olahan Sendiri
Universitas Indonesia
14% 13,76%
12% 11,89%
IRR
10,43%
10%
9,23%
8% 8,23%
7,37%
6%
0% 10% 20% 30% 40% 50%
SUNK COST ( IC + O&M )
Gambar 4.59 Grafik Pengaruh Bantuan Pemerintah VFG dan/ Sunk Cost
Pada Initial Cost dan O&M (Total Functions) pada Kelayakan Proyek JSS
Sumber : Olahan Sendiri
Sedangkan bantuan Pemerintah melalui VGF dan/ Sunk Cost pada IC dan O&M
yang ditunjukkan pada Tabel 4.74 dan Gambar 4.59 akan meningkatkan IRR
hingga 14,40 %.
Tabel 4.74 Pengaruh Investasi Pemerintah Pada Initial Cost dan O&M (Total
Functions) pada Kelayakan Proyek JSS
INVESTATION NPV REVENUE SHARING (Juta Rp.)
IRR
IC O&M (Juta Rp) PUBLIC PRIVATE
0% 0% 7,37% 16.070.519 0% 100% 621.196.557
30% 10% 10,32% 70.494.285 5% 31.059.828 95% 590.136.730
40% 20% 11,77% 89.386.756 10% 62.119.656 90% 559.076.902
50% 30% 13,62% 108.279.227 15% 93.179.484 85% 528.017.074
60% 40% 16,13% 127.171.698 20% 124.239.311 80% 496.957.246
70% 50% 19,88% 146.064.169 25% 155.299.139 75% 465.897.418
Sumber : Olahan Sendiri
20% 19,88%
18%
16% 16,13%
14%
IRR
13,62%
12% 11,77%
10% 10,32%
8%
7,37%
6%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
PUBLIC'S INVESTATION (IC dan O&M)
Gambar 4.60 Grafik Pengaruh Investasi Pemerintah Pada Initial Cost dan
O&M (Total Functions) pada Kelayakan Proyek JSS
Sumber : Olahan Sendiri
Universitas Indonesia
Dari Tabel 4.75 dan Gambar 4.60 dapat dilihat bahwa investasi Pemerintah
melalui BUMN/BUMD pada IC dan O&M dapat meningkatkan IRR hingga
19,88 %, serta Pemerintah akan memperoleh revenue sebesar 155,299 milliar
rupiah.
Universitas Indonesia
PUBLIC
Preparation
Tender Process
PRIVATE
Construction
PUBLIC PRIVATE
CONSORTIUM (SPV)
Preparation
Construction
Universitas Indonesia
Proyek JSS
PUBLIC
[Link]
Proyek
Identifikasi & Prioritas Proyek
Konsultasi Publik
& Calon Sponsor
Construction
O&M
Universitas Indonesia
PUBLIC
Government Contracting
[Link]
Agency
Proyek
Konsultasi Publik
Publik
Bentuk
Feasibility Study Kerjasama
Feasible Optimization
Ok ? VfM Study Dukungan
TOR, DED, BQ Pemerintah
Feasibility Study
Construction
Peninjauan Resiko
[Link]
Resiko
O&M
Mitigasi Resiko
Jaminan Resiko
Kerjasama
[Link]
Identifikasi Konsesi
Jenis Konsesi
[Link]
Pemerintah
Menyiapkan Dukungan
Jenis2 Dukungan
Dokumen Lelang
[Link]
Proses Tender
PRIVATE
Pelaksanaan Pemantauan
Pemerintah
Konstruksi
8.
O&M
Perjanjian Kontrak
9.
Universitas Indonesia
Proyek PPP pada umumnya adalah single function, seperti power plant, water
supply, jalan tol dan sebagainya sangat dimungkinkan untuk menggunakan skema
PPP konvensional, apabila setelah dinalisa kelayakan ternyata layak contoh
proyek PLTU di Jawa Tengah dengan nilai 30 trilyun rupiah. Akan tetapi untuk
mega proyek infrastruktur seperti Jembatan Selat Sunda yang bernilai US$ 25.000
million dimana menurut pendapat dari sebagian masyarakat dan investor tidak
layak, maka solusi terbaik adalah dilakukan dengan skema SA-PPP dimana
pemerintah berserta swasta berperan aktif dari awal kegiatan proyek dengan
melakukan optimasi Value for Money (Inovasi Fungsi) sehingga menghasilkan
proyek yang lebih layak (feasible) dan attractive para investor terhadap proyek
JSS.
Universitas Indonesia
Kemenkeu/PU
sebagai Regulator Lenders
Konsorsium (SPV)
[Link]
Menteri Keuangan
Universitas Indonesia
Fungsi Energi
Universitas Indonesia
Sedangkan profil proyek PLTA JSS-PP dapat dilihat pada gambar 4.68, dimana
kapasitas output listrik 551 MW, dengan biaya Rp. 26 triliun akan beroperasi pada
tahun 2024.
Universitas Indonesia
[Link] Pembiayaan
[Link]. Kebijakan Fasilitas Fiskal
Kebijak fasilitas fiskal pemerintah untuk menunjang pelaksanaan proyek-
proyek KPS di Indonesia dengan memberikan Land Fund, Viability Gap Fun serta
Infrastructure Fun seperti yang diuraikan pada gambar 4.69 dibawah ini.
ClickFasilitas
to editFiskal Pemerintah
Master title style
Government of
Indonesia
Land Fund, merupakan fasilitas yang disediakan Pemerintah untuk mempercepat pelaksanaan pengadaan
tanah. Fasilitas ini terdiri dari land capping, land acquisition fund, dan land revolving fund;
Dukungan Kelayakan/Viability Gap Fund (VGF): untuk meningkatkan kelayakan finansial Proyek Kerja
Sama ;
PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII): yaitu melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia yang
akan akan memberikan penjaminan atas risiko-risiko infrastruktur dalam Proyek Kerja Sama;
Infrastructure Fund: yaitu melalui PT Sarana Multi Infrastruktur dan PT Indonesia Infrastructure Finance,
yang akan menawarkan sumber-sumber pendanaan untuk pembiayaan Proyek Kerja Sama 12
Universitas Indonesia
atas porsi tertentu dari seluruh biaya konstruksi yang tidak mendominasi. Biaya
konstruksi yang dimaksudkan di sini meliputi biaya konstruksi itu sendiri, biaya
peralatan, biaya pemasangan, biaya bunga atas pinjaman yang berlaku selama
masa konstruksi dan biaya-biaya lain terkait konstruksi, namun tidak termasuk
biaya terkait pengadaan lahan dan insentif perpajakan.
Kriteria proyek KPS yang dapat mengajukan dukungan dana VGF antara
lain sebagai berikut (Surachman, 2014):
a. Proyek KPS yang telah memenuhi kelayakan ekonomi tetapi belum
memenuhi kelayakan finansial;
b. Menerapkan prinsip pengguna membayar (tarif/user charge);
c. Biaya investasi paling kurang senilai Rp100.000.000.000,00 (seratus
miliar rupiah);
d. Badan Usaha Swasta Pemenang Lelang yang ditetapkan oleh Pemerintah
c.q. Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) melalui proses lelang
yang terbuka dan kompetitif sesuai dengan peraturan tentang Kerja Sama
Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur;
e. Perjanjian KPS mengatur skema pengalihan aset dan/atau pengelolaannya
dari Badan Usaha Penandatangan Perjanjian Kerja Sama kepada
Pemerintah c.q. PJPK pada akhir periode kerja sama;
f. Hasil Prastudi Kelayakan pada Proyek KPS tersebut harus (1)
mencantumkan pembagian risiko yang optimal antara Pemerintah/PJPK
dan Badan Usaha Penandatangan Perjanjian Kerja Sama/Badan Usaha
Pemenang Lelang; (2) menyimpulkan bahwa Proyek KPS tersebut layak
secara ekonomi, yang juga meliputi aspek teknis, hukum, lingkungan, dan
sosial; dan (3) menunjukkan bahwa Proyek Kerja Sama tersebut menjadi
layak secara finansial dengan diberikannya dukungan kelayakan VGF.
Dengan diberikannya dukungan tunai (VGF) tersebut oleh pemerintah, biaya
konstruksi dari proyek infrastruktur akan turun maksimal sebesar separuh dari
yang seharusnya. Dengan demikian, pengembalian investasi dari proyek akan
dapat dicapai oleh investor swasta karena beban biaya konstruksi, yang
seharusnya 100% merupakan tanggungan pihak swasta dan tentunya harus
kembali sesuai dengan ekspektasi keuntungan swasta, akan menjadi berkurang.
Universitas Indonesia
Oleh karena itu, diharapkan dengan pemberian dana VGF tersebut, minat swasta
untuk berinvestasi akan tumbuh sehingga proyek-proyek KPS infrastruktur akan
banyak terbangun dan dapat melayani kebutuhan masyarakat, serta mendukung
pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Kementerian Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan
mengenai pemberian Dukungan Kelayakan atas sebagian biaya konstruksi untuk
mendukung upaya penyediaan infrastruktur dengan skema Kerja Sama
Pemerintah dan Badan Usaha yaitu melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor
223/PMK.011/2012 tentang Pemberian Dukungan Kelayakan atas Sebagian Biaya
Konstruksi pada Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam
Penyediaan Infrastruktur.
Dukungan Kelayakan merupakan kebijakan fiskal Pemerintah yang
ditujukan untuk: (i) meningkatkan kelayakan finansial Proyek Kerja Sama
sehingga menimbulkan minat dan partisipasi Badan Usaha pada Proyek Kerja
Sama; (ii) meningkatkan kepastian pengadaan Proyek Kerja Sama dan pengadaan
Badan Usaha pada Proyek Kerja Sama sesuai dengan kualitas dan waktu yang
direncanakan; dan (iii) mewujudkan layanan publik yang tersedia melalui
infrastruktur dengan tarif yang terjangkau oleh masyarakat.
Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai
Dukungan Kelayakan tersebut, hal ini menjadi bukti kesungguhan Pemerintah
untuk mendukung pelaksanaan program penyediaan infrastruktur melalui skema
Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha di Indonesia. Fasilitas ini
melengkapi fasilitas-fasilitas fiskal yang telah tersedia sebelumnya, yaitu: (i) Land
Fund yaitu fasilitas yang disediakan Pemerintah untuk mempercepat pelaksanaan
pengadaan tanah. Fasilitas ini terdiri dari land capping, land acquisition fund, dan
land revolving fund; (ii) Guarantee Fund, yaitu melalui PT Penjaminan
Infrastruktur Indonesia yang akan akan memberikan penjaminan atas risiko-risiko
infrastruktur dalam Proyek Kerja Sama; dan (iii) Infrastructure Fund, yaitu
melalui PT Sarana Multi Infrastruktur dan PT Indonesia Infrastructure Finance,
yang akan menawarkan sumber-sumber pendanaan untuk pembiayaan Proyek
Kerja Sama.
[Link]. Alokasi Risiko Infrastruktur
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
1. Risiko Lokasi
Kelompok risiko dimana lahan proyek tidak tersedia atau tidak dapat
digunakan sesuai jadwal yang sudah ditentukan dan dalam biaya yang
diperkirakan, atau bahwa lokasi dapat menimbulkan suatu beban atau
kewajiban bagi pihak tertentu. Dengan demikian, risiko-risiko yang termasuk
kategori ini adalah:
a. Risiko pembebasan lahan: risiko-risiko yang terkait proses pembebasan
lahan yang dibutuhkan proyek, yang dapat melibatkan potensi tambahan
biaya dan keterlambatan;
b. Risiko ketidaksesuaian lokasi lahan: risiko bahwa lokasi lahan yang
diusulkan tidak dapat digunakan untuk proyek, dimana penyebabnya dapat
meliputi kontaminasi, penemuan artefak, keterlambatan/penolakan
perolehan persetujuan perencanaan, status lahan, dan lainnya;
c. Risiko lingkungan: risiko kerugian terkait kerusakan lingkungan yang
terjadi (1) akibat kegiatan konstruksi dan operasi selama masa proyek, atau
(2) dari kegiatan sebelum pengalihan lahan proyek dari PJPK kepada BU
atau pihak sub-kontraktor.
2. Risiko Desain, Konstruksi dan Uji Operasi
Risiko desain, konstruksi atau uji operasi suatu fasilitas proyek atau elemen
dari prosesnya, dilakukan dengan cara yang menyebabkan dampak negatif
terhadap biaya dan pelayanan proyek. Dengan demikian, risiko yang termasuk
dalam kategori ini adalah:
a. Risiko perencanaan: risiko bahwa penggunaan lokasi proyek yang
diusulkan dalam perjanjian KPS dan, khususnya, konstruksi fasilitas yang
dibangun tidak sesuai dengan regulasi yang berlaku terkait perencanaan,
tata guna lahan atau bahwa perijinan terlambat (atau tidak dapat) diperoleh
atau, kalaupun diperoleh, hanya dapat dilaksanakan dengan biaya yang
lebih besar dari yang diperkirakan;
b. Risiko desain: risiko dimana desain dari BU tidak dapat memenuhi
spesifikasi output yang ditentukan;
c. Risiko penyelesaian: risiko dimana penyelesaian pekerjaan yang
dibutuhkan suatu proyek dapat (1) terlambat sehingga penyediaan layanan
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
8. Risiko Interface
Risiko dimana metode atau standar penyediaan layanan akan menghalangi
atau mengganggu penyediaan layanan yang dilakukan sektor publik atau
sebaliknya. Risiko ini termasuk ketika kualitas pekerjaan yang dilakukan oleh
pemerintah tidak sesuai/tidak cocok dengan yang dilakukan oleh BU, atau
sebaliknya.
Universitas Indonesia
9. Risiko Politik
Risiko yang dipicu tindakan/tiadanya tindakan PJPK yang tidak dapat
diprediksi sebelumnya yang merugikan secara material dan mempengaruhi
pengembalian ekuitas dan pinjaman. Risiko yang termasuk kategori ini adalah:
a. Risiko mata uang yang tidak dapat dikonversi atau ditransfer: risiko bahwa
pendapatan/profit dari proyek tidak bisa dikonversi ke mata uang asing
dan/atau direpatriasi ke negara asal investor;
b. Risiko pengambilalihan: risiko tindakan pengambilalihan aset proyek
(termasuk nasionalisasi) oleh pemerintah, baik secara langsung maupun
tidak langsung, yang dapat memicu pengakhiran kontrak proyek.
c. Risiko perubahan regulasi dan perundangan, yang secara langsung dapat
mengurangi tingkat kelayakan finansial proyek;
d. Risiko sub-sovereign atau parastatal: risiko bahwa PJPK tidak
mampu/bersedia melaksanakan kewajiban pembayaran kontrak atau
kewajiban material lainnya dipicu hal yang terkait status sebagai entitas
pemerintah;
e. Risiko perijinan: risiko dimana perijinan yang diperlukan dari suatu
otoritas pemerintah lainnya tidak dapat diperoleh atau, jika diperoleh,
diperlukan biaya yang lebih besar dari proyeksi;
f. Risiko perubahan tarif pajak: risiko perubahan tarif pajak yang berlaku
(tarif pajak penghasilan, PPN) atau pajak baru yang dapat menurunkan
pengembalian ekuitas yang diharapkan.
Universitas Indonesia
Lenders
PUBLIC PRIVATE
VGF Loan Capital + Interest Initiator
Specialist
Sunk Cost Invest Investors
CONSORTIUM
(SPV)
Guarantee
Revenue Capital + Revenue Banks
Investation
(BUMN/BUMD) Invest Sponsor
Capital + Revenue
Revenues
Revenues
End User
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
5.1. KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian, adalah :
a. Hasil setiap Research Question adalah sebagai berikut :
Research Question 1 mengenai “Bagaimana menganalisa fungsi-fungsi
proyek yang dapat menciptakan inovasi dan / efisiensi pada mega proyek
infrastruktur?” Hasilnya dari penelitian ini adalah diagram “Function
Analysis System Technique (FAST)” yang terdapat pada Bab 4 halaman
161. Adapun inovasi yang ada antara lain: pembangkit listrik tidal
turbine, wind turbine, transmisi pipa minyak dan gas, transmisi fiber
optic, sarana hanging train, pengembangan kawasan industri dan
pariwisata.
Research Question 2 mengenai “ Bagaimana mitigasi resiko yang
dominan dari inovasi fungsi Jembatan Selat Sunda?” Hasil dari
penelitian ini adalah “Mitigasi resiko yang dominan dari JSS” yang
terdapat pada Bab 4 hal 177-178.
Research Question 3 mengenai “ Bagaimana menganalisa forecasting
demand fungsi-fungsi dari hasil proses inovasi dan/ efisiensi pada mega
proyek infrastruktur?” Hasil dari penelitian ini adalah “Model
forecasting demand fungsi-fungsi proyek JSS” yang terdapat pada Bab 4
hal 189.
Research Question 4 mengenai “Bagaimana menganalisa kelayakan
finansial proyek JSS setelah pengembangan inovasi fungsi?” Hasilnya
adalah “Analisa kelayakan finansial proyek JSS” yang terdapat pada Bab
4 hal 214.
Research Question 5 mengenai “ Bagaimana mengembangkan model
Aliansi Strategis pada Kemitraan Pemerintah dan Swasta proyek JSS
setelah pengembangan inovasi fungsi?”. Hasilnya “Model Aliansi
Strategis pada Kemitraan Pemerintah dan Swasta proyek JSS setelah
pengembangan inovasi fungsi” yang terdapat pada Bab 4 hal 217-235.
5.1. SARAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, untuk dapat mewujudkan pengadaan
kebutuhan infrastruktur saat ini maka perlu dilakukan :
1. Kebijakan dari pemerintah untuk menerapkan Model Aliansi Strategis dalam
Kemitraan Pemerintah dan Swasta (AS-KPS) agar dapat lebih meningkatkan
minat investasi dari pihak swasta dalam pembangunan proyek-proyek
infrstruktur di Indonesia.
2. Penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan model AS-KPS yang lebih
spesifik sesuai dengan jenis-jenis proyek infrastuktur di Indonesia, sehingga
investor dengan mudah dapat memperoleh informasi yang jelas untuk
berinvestasi.
Universitas Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
Universitas Indonesia
Bae, Y. H., Kim, K. O., & Choi, B. H. (2010), “Lake Sihwa tidal power plant project”, Ocean
Engineering , 37, 454-463.
Baker, S.E. and Edwards, R. (2012), “How many qualitative interviews is enough”, National
Centre for Research Method (NCRM) Review Paper.
Bazar, G. (2011), “Informasi Tentang Rencana Pembangunan Jembatan Selat Sunda”
Kompasiana Maret 2011.
Informasi Tentang Rencana Pembangunan Jembatan Selat Sunda
Beauregard, R.A. (1997), ”Public-Private Partnerships as Historical Chameleons: The Case
of The United States.”
Berawi, M.A. (2004), ―Quality Revolution : Leading the Innovation and Competitive
Advantages‖, International Journal of Quality & Reliability Management, Volume 21,
Issue 4, p. 425-438, Emerald.
Berawi, M.A., Husin, A.E., Gunawan dan Setiaguna, P.M. (2012), “Kajian Pembangunan
dan Konseptual Desai Jembatan Selat Sunda Berbasis Rekayasa Nilai Untuk
Meningkatkan Daya Saing dan Inovasi” Penelitian Hasil Hibah MP3EI yang dibiaya oleh
Dirjen Pendidikan Tinggi, Kemendikud.
Berawi, M.A. & Woodhead, R.M. (2008), ―Stimulating Innovation Using Function Models:
Adding Product Value‖, Value World, Volume 31, Number 2, p. 4-7, SAVE Press, USA.
Blue Energy (2010), “Tidal Bridge”, Blue Energy Canada Inc.
Berry, J., Hurlbut, D., Simon, R., Moore, J., & Blackett, R. (2009), “Utah Renewable Energy
Zones Task Force: Phase I Report‖, U.S. Department of Natural Resources: Utah
Geological Survey.
Bae, Y.H., Kim, K.O. and Choi, B.H. (2010), “Lake Sihwa tidal power plant project” Articles
at Ocean Engineering, Korean Institute of Ocean Science.
Bangash, M. (2011), “Earthquake Resistant Buildings: Dynamic Analyses, Numerical
Computations, Codified Methods, Case Studies and Examples‖, Springer.
Bleasdale, T.J. (2003), “The Risk of Change”, SAVE Conference June 2003.
Borza, J.S. & Gour, R.E. (1996), “Transitioning the Organization from VA to VE”, Michigan,
USA 1996.
Buckle, I.G. (2000), “Passive control of structures for seismic loads”, Bulletin of the New
Zealand Society for Earthquake Engineering, 33, 209-221.
Capka, R.J., (2004), ”Megaprojects-They Are a Different Breed”, Federal Highway
Administration, U.S. Department of Transportation, Articles, Jul/Aug, Vol.68, No.1.
Universitas Indonesia
Caulfield, C.W., Maj, S.P., (2002), A Case for System Dynamics, Global J. of Engineering
Education, Vol.6, No.1 © 2002, p 3, UICEE, Published in Australia.
Chan, A.P.C. ; Chan, D.W.M. ; Fan, L.C.N. Fan; Lam. P.T.I.; and Yeung, J.F.Y. (2008),
―Achieving Partnering Success Through An Incentive Agreement: Lessons Learned From
an Underground Railway Extension Project in Hong Kong‖, Journal of Management in
Engineering © ASCE/May 2008.
Chandra, S. [Link]. (1987), “Penghematan Value Engineering Tergantung Kemampuan
Konsultan? ” Articles Konstruksi Juli 1987.
Chang, Y.H. and Liou, C.S. (2006), ”Implementing The Risk Analysis In Evaluation Phase To
Increase The Project Value” Knowledge Bank - SAVE 2006.
Chapman, C. and Cooper, D.F. (1983), “Risk analysis: testing some prejudices”, European
Journal of Operational Research, 14, 238-247.
Chapman, C. and Ward, S. (2007), “Project risk management: processes, techniques and
Insights”, Wiley.
Charleson, A. W. and Allaf, N. (2012), “Costs of base-isolation and earthquake insurance in
New Zealand”, Proceedings of the conference of the NZ Society for Earthquake
Engineering, April, Paper no. 04, 8 pp.
Chavas, J.-P. (2004), “Risk analysis in theory and practice”, Academic Press.
Chen, G. , Zhang, G. & Xie, Y. (2010), ―Overview of the Australia-Based Studies on Project
Alliancing‖, Conference Paper, University of Melbourne, 2010.
Che Mat, MM.. (2002), “Value Management : Principles and Applications”, Prentice Hall,
Petaling Jaya 2002.
Cheung, E and Chan, A.P. (2010), ―Evaluation Model for Assessing the Suitability of Public
Private Partnership (PPP) Projects‖, Journal of Construction Engineering and
Management © ASCE, July 2010.
Cho, K. , Hyun, C.T. , Koo, K.J. and Hong, T.H. (2010), ―Partnering Process Model for
Public-Sector Fast Track Design-Build Projects in Korea‖, Journal of Management in
Engineering © ASCE/January 2010/19.
Chou, J.-S. and Tu, W.-T. (2011), ”Failure analysis and risk management of a collapsed
large wind turbine tower”, Engineering Failure Analysis, 18, 295-313
Chulu, P. (2002), “Public-Private Strategic Alliance in Zambia – Initiative For Financing
and Managing of Public Infrastructure Services”, Dissertation of The Master Business
Administration (MBA) in The School of Business of The Copperbelt University, Zambia
Maret 2002.
Universitas Indonesia
Clark, J.A. (1999), “Value Engineering For Small Transportation Projects”, Thesis
Submitted to the Faculty of the Worcester Polytechnic Institute Desember 1999.
Clark, R. H. (2007), “Elements of Tidal Electric Engineering‖, Hoboken: IEEE PRESS &
Jhon Wiley & Sons Inc.
Connaughton, J.N. and Green, S.D. (1996), “Value Management in Construction : A Client’s
Guide”, Construction Research and Information Association 1996.
Cooper, D.F., Grey, S., Raymond, G. and Walker, P. (2005), “Project risk management
guidelines: managing risk in large projects and complex procurements”, Wiley.
Creedon, M. (2010), “Alliance Contracting An Infrastructure Procurement Option”, Bond
University, PPP Executive Program, Brisbane 23 June 2010.
Cui, Q. , Johnson, P.W. , Sharma, D. and Bayraktar, M.E. (2010), ―Determinants of Industry
Acceptance for Highway Warranty Contracts: Alabama Case Study‖, Journal of
Infrastructure Systems © ASCE/March 2010/93.
Daddow, T. and Skitmore, M. (2005), “Value Management in practice: an interview survey”,
The Australian Journal of Construction Economics and Building, 4, 11-18.
Dallas, M.F. (2008), “Value and risk management: a guide to best practice”, Wiley-
Blackwell.
Dardak, H. (2012), ”Pembangunan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda”,
Seminar Public Works Day . Jakarta.
Darmala and Singgih, M.L. (2012), “Risk Based Maintenance (RBM) Untuk Natural Gas
Pipeline Pada Perusahaan X Degan Menggunakan Metode Kombinasi AHO-Index
Model” Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XV – Program Studi MMT-
ITS, Surabaya 4 Februari 2012.
Darmawi, H. (2008), “Manajemen Resiko‖, Bumi Aksara –Jakarta 2008.
Dawen, P. and Wenda, D. (2009), “Research about the Bridge Risk Assessment”, Information
Science and Engineering (ICISE), 2009 1st International Conference on. IEEE, pp. 4417-
4420.
Dell’Isola, A. (1982), ”Value Engineering in the Construction Industry” Van Nostrand
Reinhold, New York 1982.
Dell’Isola, A. (1993), ”Value Engineering For The Process Industry”, SAVE Annual
Proceedings and is copyrighted SAVE, 1993.
Dell’Isola, A. (1997), ”Value Engineering:Practical Applications for Design, Construction,
Maintenance and Operations”, Melbourne Januari 1997.
Universitas Indonesia
Deloitte (2006), “Closing The Infrastructure Gap: The Role of Public-Private Partnership” A
Delotte Research Study, 2006.
Department of Infrastructure and Transport, Australian Government (2011), “National
Alliance Contracting Guidelines- Guide to Alliance Contracting”, Published by
Department of Infrastructure and Transport, Canberra - Australia, July 2011.
Department of Treasury and Finance, Australian Government (2006), “Project Alliancing –
Practitioners’ Guide”, Published by Department of Treasury and Finance @ State of
Victoria - Australia April 2006.
Dewan Energi Nasional (DEN) Republik Indonesia (2014), “Outlook Energi Indonesia
2014”, Jakarta 22 Desember 2014.
Dey, P.K. (2001), “Decision support system for risk management: a case study”,
Management Decision, 39, 634-649.
Dharmowijoyo, D.B.E. and Tamin, O.Z. (2009, “Pengembangan Model Perilaku Hubungan
Antara Sistem Tata Ruang Dan Sistem Transportasi Di Wilayah Perkotaan Menggunakan
Pendekatan System Dynamic”,Simposium XII, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14
November 2009
Dikun, S. (2010), ―Sunda Strait Bridge – Building Domestic Connectivity for Indonesia
2030‖, Paper presented at the Roundtable Discussion. PT. BSM, Jakarta, 14 July 2010.
Dikun & Rahman (2010), ―The Integration of Value Engineering and Risk Management in
Strategic Alliance Public Private Partnership‖, Value World, Volume 33, Number 2,
Summer 2010.
Djohanputro, B. (2008), ”Manajemen Risiko Korporat”, Jakarta: PPM. Manajemen
Djunaedi, P. (2007), ―Implementasi Public-Private-Partnership dan Dampaknya ke APBN‖,
Majalah Warta Anggaran Edisi 6 Tahun 2007, Direktorat Jenderal Anggaran.
Dominic S.F. and Lee, P. (2009), “Turnagain Arm Tidal Bridge Electric Generation Plan‖,
Anchorage: Little Susitna Construction Company, Inc .
Doswell R. (1997), “How effective management makes the difference”, Butterworth-
Heinemann, Oxford.
Duffield, C. (2011), ―Research Related To Australian Transport PPP’s‖, Symposium Public
Private Partnership in Transport : Trends & Theory – Research Roadmap, Lisbon, 12
January 2011.
English, L. and Guthrie, J. (2003), “Driving privately financed projects in Australia: What
makes them tick?”, Accounting, Auditing & Accountability Journal, 16 (3) pp 493–511.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Ibrahim, A., Price, A. and Dainty, A. (2006), “The analysis and allocation of risks in publik
private partnerships in infrastructure projects in Nigeria”, Journal of Finansial
Management of Property and Construction, 11, 149-164.
Islam, M.M. and Mohamed S. (2009), ―Bid-Winning Potential Optimization for Concession
Schemes with Imprecise Investment Parameters‖, Journal of Construction Engineering
and Management © ASCE, August 2009.
Islam, A.B.M.S, Jameel, M. and Jumaat, M.Z. (2011), “Seismic Isolation in Buildings to be a
practical reality: Behavior of structure and installation technique”, Journal of
Engineering and Technology Research Vol.3(4), pp.99-117, April 2011.
Jain, S.N. (2011), “Comment on Renewable energy power generation in isolated grids” New
Delhi, India Oktober 2011.
Jaiya, G.S. (2008), ―Managing Intellectual Property (IP) in Public Private Partnership,
Strategic Alliance, Joint Ventures, and M&A‖, World Intellectual Property Organization,
2008.
Jaapar, A. and Torrence, J. (2006), “Contribution of value management to the Malaysian
construction industry: A new insight”, International Conference on Construction Industry
2006 (ICCI 2006).
Jefferies, M.,Brewer, G.,Rowlinson, S.,Cheung, Y. K. F. & Satchell, A. (2006), “Project
alliances in the Australian construction industry: a case study of a water treatment
project”, University of Salford.
Jin, X.H. (2010), ―Neurofuzzy Decision Support System for Efficient Risk Allocation in
Public-Private Partnership Infrastructure Projects‖, Journal of Computing in Civil
Engineering © ASCE, November/December 2010.
Joshi, G.S. (2010), ―Infrastructure Development Strategies for Inclusive Growth : India’s
Eleventh Plan‖, Journal of Leadership and Management in Engineering © ASCE, April
2010.
Kariono, M. (2013), “Paradigma Baru Pelayanan Publik”, BPPT Provinsi Sumatera Utara.
Kasi, M. and Snodgrass, T.J. (1994), “An Introduction to Value Analysis and Value
Engineering for Architect, Engineers and Builders”, University of Wisconsin 1994.
Kaufman, J.J. and Sato, Y. (2005), “Value Analysis Tear-Down : A New Process for Product
Development and Innovation (Hardback)” Published by Industrial Press Inc. U.S., United
State 2005.
Universitas Indonesia
Ke, Y, , Wang, S.Q. and Chan, A.P.C. (2010), ―Risk Allocation in Public-Private Partnership
Infrastructure Projects: Comparative Study‖, Journal of Infrastructure Systems ©
ASCE/December 2010/343.
Kelly, J. and Male, S. (1993), “Value Management in Design and Construction‖, London: E
& FN SPON.
Kelly, J. , Male, S. and Graham, D. (2004), “Value Management of Construction Projects”,
Blackwell Publishing.
Kementrian Keuangan Republic Indonesia. “Pemberian Dukungan Kelayakan pada Proyek
Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha”. Berdasarkan Peraturan Mentri Keuangan No.
223/PMK.011/2012)
Kementeriaan Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS Republik Indonesia,
“Public-Private Partnership Infrastructure Projects Plan in Indonesia (PPP Book)
2010”, Jakarta, November 2010.
Kementeriaan Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS Republik Indonesia,
“Public-Private Partnership Infrastructure Projects Plan in Indonesia (PPP Book)
2011”, Jakarta, Juni 2011.
Kementeriaan Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS Republik Indonesia,
“Public-Private Partnership Infrastructure Projects Plan in Indonesia (PPP Book)
2013”, Jakarta, November 2013.
Kementeriaan Perencanaan Pembangunan Nasional / BAPPENAS Republik Indonesia,
“Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014”.
Khan, J. and Bhuyan, G.S. (2009), “Ocean Energy : Global Technology Development Status”
Powertech Labs Inc. British Columbia, Canada Maret 2009.
Khan, M. J., Bhuyan, G., Iqbal, M. T., & Quaicoe, J. E. (2009), “Hydrokinetic energy
conversion systems and assessment of horizontal and vertical axis turbines for river and
tidal applications: A technology status review‖, Applied Energy P 1823-1835.
Kirk, R. E. (1995), “Experimental Design: Procedures for the Behavioral Sciences (3rd ed.)”,
Pacific Grove, CA: Brooks/Cole.
Knoles, W. (2009), ―Practical Meets Value Engineering‖, SAVE International, Knowledge
Bank, 2009.
Ko, T.G. (2005), “Development of a tourism sustainability assessment procedure: a
conceptual approach‖, Tourism Management, 26, 431-445.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Lim, J.K., Lee, M.J. and Kim, S.I. (2006),”Application of Value Analysis for BTL Project in
Korea”, SAVE International 2006.
Linder, H.L. (1999), “Coming to Terms With The Public-Private Partnership”University of
Texas, Houston 1999.
Love, P.E.D. , Mistry, D. and Davis, P.R. (2010), ―Price Competitive Alliance Projects :
Identification of Success Factors for Public Clients‖, Journal of Construction Engineering
and Management © ASCE, September 2010.
Love, P.E.D. , Davis, P.R. , Chevis, R. and Edwards, J.E. (2011), ―Risk/Reward
Compensation Model for Civil Engineering Infrastructure Alliance Projects‖, Journal of
Construction Engineering and Management © ASCE, February 2011.
Love, P.E.D. , Mistry, D. and Davis, P.R. (2010), ―Price Competitive Alliance Projects :
Identification of Success Factors for Public Clients‖, Journal of Construction Engineering
and Management © ASCE, September 2010.
Lowe, A.J. (2008), “Value for Money and The Valuation of Public Sector Assets”, HM.
Treasury, London, 2008.
MacDonald, C.C. (2005) “What are the Important Differences between Partnering and
Alliance Procurement Models and Why are the Terms So Seldom Confused?”, Thiess Pty
Ltd, Brisbane, Queensland, Australia.
Maharwan, A. (2013), “Uji Karakteristik Turbin Angin Savonius 4 Tingkat Bersekat Dan
Sudut Geser 450 Dengan Pembanding Turbin Standar”, Thesis, Fakultas Tennik Mesin,
Fakultas Teknik, Universitas Diponogoro, 2013.
Makarim, C.A. (2007), “Value Engineering 2007” E-learning Course, Jakarta Desember
2007.
Manley, K. , Fallan, S.M. and Kajewski, S. (2009), ―Relationship Between Construction
Firm Strategies and Innovation Outcomes‖, Journal of Construction Engineering and
Management © ASCE, August 2009.
Marrewijk, A.V. (2005), ―Strategies of Cooperation : Control and Commitment in Mega-
Projects‖, M@n@gement, Vol. 8, No. 4, 2005, 89-104.
Marrewijk, A.V. , Clegg, S.R. , Pitsis, T.S. and Veenswijk, M. (2008), ―Managing Public-
Private Megaprojects: Paradoxes, Complexity and Project Design‖, International Journal
of Project Management 26 (2008) 591-600.
Mitchell, Robert, E. and Chandra, S. (1996), “Value Engineering dalam Bidang Konstruksi”,
Bimbang Konsultindo, Inkindo, Dep.P.U.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Palmer, A., Kelly, J. and Male, S. (1996), “Holistic appraisal of value engineering in
construction in United States”, Journal of Construction Engineering and Management,
122, 324-328.
Patil, S.J. and Reddy, G.R. (2012), “State Of Art Review – Base Isolation Systems For
Structure”, International Journal of Emerging Technology and Advanced Engineering
Website: [Link] (ISSN 2250-2459, Volume 2, Issue 7, July 2012)
Payne, R.W., (1993), “Genstat 5 release 3: reference manual”. Oxford University Press.
[Link] Infrastruktur Indonesia (Persero) (2012), “Kerjasama Pemerintah Swasta di
Indonesia : Acuan Alokasi Risiko”, Jakarta Maret 2012.
Peak Energy (2008), “Tapping The Source : The Power Of The Ocean”, Copyright 2008 –
Peak Energy – is proudly powered by Blogger.
Peraturan Presiden No.86 Tahun 2011, “Pengembangan Kawasan Strategis Dan
Infrastruktur Selat Sunda”, Jakarta, Desember 2011.
Parente, W. J. (2006), ”Public Private Partnerships” dalam Workshop on “Fundamental
Principles and Techniques for Effective Public Private Partnerships in Indonesia”,
Jakarta, 2006.
Permatasari, C.W. dan Utomo, C. (2010), ―Faktor Resiko yang Mempengaruhi Kerjasama
Public-Private Partnership (PPP) Pada Proyek Pembangunan Pasar di Surabaya‖,
Seminar Nasional Pascasarjana X – ITS, Surabaya 4 Agustus 2010.
Pucetas, J.D. and Hunt, R. (1998), “Keys to successful VE implementation”, SAVE
International Proceedings, pp. 333-342.
Pylkas L., Neal S.R and Madni K, I. (2002) “Smart Value Engineering”, AACE International
Transactions CSC 16.
Qing, Y. and Hua, Q.W. (2006), “Value Engineering Analysis and Its Application to the
Construction of the Second Beijing Capital Airport”, Journal of Beijing University of
Aeronautics and Astronautics (Social Sciences Edition); 2006-03
Rahutami,A.I. (2001), ”Public Private Partnership : Suatu Solusi Penyelenggaraan Otonomi
Daerah Yang Berbasis Kompetensi”, Jurnal Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Unika
Soegijapranata, Semarang, Indonesia.
Rains, J.A. (2009), ―What Are The Functions of Function Analysis‖, SAVE International –
Knowledge Bank 2009.
Rain, J.A. and Sato, Y. (2008), “The Integration of the Japanese Tear-down Method with
Design for Assembly and Value Engineering”, SAVE International, Knowledge
Bank 2008.
Universitas Indonesia
Ramiadji, Djoko, (1986), ―Penerapan Effisiensi Nilai Teknis (Value Engineering) sebagai
Suatu Usaha Effisiensi Dana Pembangunan‖, Majalah Jalan & Transportasi, Vol. 03,
1986, dalam Untoro, (2009), “Penerapan Value Engineering dalam penyelenggaraan
Infrastruktur Bidang Ke-PU-an di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum dalam
Usaha Meningkatkan Efektivitas Penggunaan Anggaran”, Thesis-Unpublished,
Universitas Indonesia, Depok.
Regan, M. , Smith, J. and Love, P.E.D. (2011), ―Impact of the Capital Market Collapse on
Public Private Partnership Infrastructure Projects‖, Journal of Construction Engineering
and Management © ASCE, January 2011.
Renda, A., and Schrefler (2006), ”Public-Private Partnerships Models and Trends in The
European Union”, (IP/A/IMCO/SC/2005-161), Economic and Scientific Policy, Eropean
Parliament, Agustus 2006.
Robinson, J.L. (2008), ―Value Added Strategies to Sustain A Successful Value Improvement
Program‖, SAVE International – Knowledge Bank, 2008.
Rowlinson, S. & Cheung, Y. K. F. (2005), ―Success factors in an alliance contract: a case
study in Australia”.
Sakkar, D and Dutta, G. (2011), “A Framework of Project Risk Management for the
Underground Corridor Construction of Metro Rail”, Indian Institute of Management,
Ahmedabad – India.
Sato, Y. and Kaufman, J.J. (2004), “VA Tear-Down: A New Value Analysis Process”, SAVE
Conference 2004.
SAVE International Value Standard, (2007), 2007 Edition, Value Standard and Body of
Knowledge.
Schoots, K., Tinoco, R.R., Verbong, G. and Zwaan, B.V.D. (2011), “Historical variation in
the capital costs of natural gas, carbon dioxide and hydrogen pipelines and implications
for future infrastructure”, International Journal of Greenhouse Gas Control 5 (2011)
1614–1623.
Schwab, C., (2013), “The Global Competitiveness Report 2013-2104”, World Economic
Forum 2103.
Sejatiguna, P.M. (2013), “Pengaruh Mitigasi Resiko Utama Berbasis Value Engineering
Pada Fungsi Transportasi Dan Energi Tahap Pengembangan Konseptual Desain
Jembatan Selat Sunda Terhadap Nilai Investasi Proyek”, Tesis FT Sipil UI 2013.
Universitas Indonesia
Shahriar, A., Sadiq, R. and Tesfamariam (2011), “Risk analysis for oil & gas pipelines: A
sustainability assessment approach using fuzzy based bow-tie analysis ”, Journal of Loss
Prevention in the Process Industries 25 (2012) 505-523.
Shen, Q. and Liu, G. (2003), “Critical Success Factors for Value Management Studies in
Construction” Journal of Construction Engineering and Management, ASCE 2003.
Shinde, S. (2010), “Project Alliance”, Tata Realty and Infrastructure Limited, India 2010.
Simatupang, T.M. (1995), “Pemodelan Sistem”, Nindita – Klaten.
Skinner, R.I., Robinson, W.H. and McVerry, G.H. (1993), ―An introduction to seismic
isolation (Updated and modified in both Chinese and Japanese (1998))‖, John Wiley and
Sons Ltd, West Sussex, England.
Smith, B. (2008), ―Alliancing Contracts - A Panacea to All That Ails Construction and
Infrastructure Development?‖, This paper is the basis of an article to be published in the
September/October 2008 edition of [Link] magazine, published by the Institution of
Professional Engineers of New Zealand (IPENZ).
Spiering, M.B. and Dewulf, G (2006), “Strategic Issuses in Public-Private Partnership: An
International Perspective”,Copyright © 2006 Mirjam Bult-Spiering and Geert Dewulf.
Spillane, J.J. (1987), “Pariwisata Indonesia Sejarah dan Prospeknya” Kanisius, Yogyakarta
1987.
Sterman, J.D. (1992), System Dynamic Modeling for Project Management, Sloan School
Management, MIT, Cambridge MA 02139, p 3.
Sturup, S. (2009), ―Mega Projects and Governmentality‖, World Academy of Science,
Engineering and Technology 54, 2009.
Stynes, D.J. (1997), “Economic impacts of Tourism: A handbook for tourism professionals”,
Urbana, IL: University of Illinois, Tourism Research Laboratory
Sun, C. K., Uraikul, V. and Chan, C. W. (2000), “An integrated expert system/operations
research approach for the optimization of natural gas pipeline operations”, Engineering
Applications of Artificial Intelligence 13: pp. 465-475
Surahcman, E.N. (2014), “Dana Dukungan Tunai Infrastruktur (Viability Gap Fund):
Harapan Baru Pembangunan Infrastruktur di Indonesia”, Kementeriaan Keuangan
Republik Indonesia 2014.
Suryabrata, S . (2003), ”Metode Penelitian”, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Susantono, B. (2009), “Memacu Infrastruktur Di Tengah Krisis”, Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian dan Pustaka Bisnis Indonesia.
Universitas Indonesia
Sushil (1993), “System Dynamics: a Practical Approach for Managerial Problems” Wiley
Eastern Limited, 1 Januari 1993.
Symans, M., Charney, F., Whittaker, A., Constantinou, M., Kircher, C., Johnson, M. and
McNamara, R. (2008), “Energy dissipation systems for seismic applications: current
practice and recent developments”, Journal of structural engineering, 134, 3-21.
Takenouchi, K., Okuma, K., Furukawa, A., & Setoguchi, T. (2006), ―On applicability of
reciprocating flow turbines developed for wave power to tidal power conversion‖,
Renewable Energy , 209-223.
Tamin, O.Z. (2000), “Perencanaan dan Pemodelan Transportasi” Penerbit ITB, Bandung.
Tan, Y. , Shen, L. and Langston, C. (2010), ―Contractors’ Competition Strategies in Bidding:
Hong Kong Study‖, Journal of Construction Engineering and Management © ASCE,
October 2010.
Thomsen, S. (2005), “Encouraging Public-Private Partnership In The Utilities Sector:The
Role Of Development Assistance” OECD 2005.
Todeva, E and Knoke, D. (2005), ―Strategic Alliance and Models of Collaboration‖, Journal
of Management Decisions, 43 (1), 123-148.
Tse, K.-T., Kwok, K.C. and Tamura, Y. (2009), “A cost analysis of the STMD for second
generation wind-excited benchmark building”, Seventh Asia-Pacific Conference on Wind
Engineering (Taipei, Taiwan, 9À12 Nov., 2009).
Trochim, W. (2006), “The Research Methods Knowledge Base”, Copyright @2006, William
M.K. Trochim, All Rights Reserved.
U.S Department of Transportation (2006), “Risk Assessment and Allocation for Highway
Construction Management”
U.S. Department of Energy (2009), “Ocean Energy Technology”, Prepared for the U.S.
Department of Energy Office of Energy Efficiency and Renewable Energy Federal
Energy Management Program, July 2009.
Wang, Y.P., Teng, M.C. and Chung, K.W., (2001), “Seismic isolation of rigid cylindrical
tanks using friction pendulum bearings”, Earthquake Eng. Struct. Dyn. 30, 1083–1099.
Vickers, J.R. and Mandelbaum, J. (2009), “Expanding Value Engineering In Service
Contracts”, Konowledge Bank - SAVE International 2009.
Villegas, O. & Malagrida, M. (2009), ―The Combination of Japanese VA Tear-Down with
FAST & Cost Matrix as a Tool For Competitor Analysis and Target Cost‖, SAVE
International, Knowledge Bank, 2009.
Universitas Indonesia
Vining, A.R. and Boardman, A.E. (2008), ―Public-Private Partnerships: Eight Rules for
Governments‖, Public Works Management & Policy Volume 13 Number 2, October
2008.
Wangsadinata, W. , (1997), “The Sunda Strait Bridge and Its Feasibiity as a Link between
Jawa and Sumatera”, Report to BPPT, Jakarta. 1 Mei 1997.
Wangsadinata, W. , (2010), “Advance Suspension Bridge Technology and The Feasibility Of
The Sunda Strait Bridge”, Jakarta: Wiratman & Associate.
Watson, G.H. (1993), “Strategic Benchmarking‖, Published by John Wiley and Sons, New
York 1996.
Weatherhead, M. (2006), “Integrating Value and Risk in Construction”, Value Magazine. Feb
2006, Institute of Value Management, UK. pp. 2-8.
Weatherhead, M., Owen, K. and Hall, C. (2005), “Integrating Value and Risk in
Construction”, Construction Industry Research & Information Association (CIRIA) 2005.
Wibowo, A. (2010), ―Selecting BOT/PPP Infrastructure Projects for Government Guarantee
Portfolio under Condition of Budget Risk in the Indonesian Context‖, Journal of
Construction Engineering and Management © ASCE, October 2010.
Wibowo, A. (2011), “Metodologi Perhitungan Required Rate of Return Berdasarkan
Cumulative Prospect Theory: Studi Kasus Proyek Investasi Jalan Tol”, Jurnal Teknik
Sipil Vol.18 No.2 Agustus 2011.
Wilkes, J. and Moccia, J. (2010), “Wind in Power 2009 European Statistic ”, European Wind
Energy Association 2010.
Williams, M.D.J. (2010), “Broadband for Africa - DEVELOPING BACKBONE
COMMUNICATIONS NETWORKS ” World Bank, Washington D.C. 2010
Woodhead, R.M. and Hons, (2007), ―Concept of Value in Value Management‖, SAVE
International – Value World, Summer 2007.
World Bank (2011), “How Much Does Infrastructure Contribute to GDP Growth”, World
Bank Research Digest, Volume 5l, Number 4l, Summer 2011.
WTO (2003), “Climate Change and Tourism”, Proceedings of the 1st International
Conference on Climate Change and Tourism. World Tourism Organization, Djerba,
Tunisia.
Xu, J.W. and Moon, S (2014), “Stochastic Revenue and Cost Model for Determining a BOT
Concession Period under Multiple Project Constraints” American Society Civil
Engineering (ASCE) Volume 30, Issue 3 (May 2014)
Universitas Indonesia
Xu, Y. , Chan, A.P.C. and Yeung, J.F.Y. (2010), ―Developing a Fuzzy Risk Allocation Model
for PPP Projects in China‖, Journal of Construction Engineering and Management ©
ASCE, August 2010.
Yescombe, E.R., (2007), “Public-Private Partnership:Priciples of Policy and Finance”,
Elsevier Finance, 2007.
Yin, Robert, K. (2002), ―Studi Kasus Desain dan Metode‖, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Yoeti, O.A. (1985), ”Pengantar Ilmu Pariwisata”, Angkasa-Bandung 1985.
Younker, D.L. (2003), ”Value Engineering : Analysis and Methodology (Cost Engineering)”,
Copyright @2003 Florida by Marcel Dekker, Inc. USA.
Yuan, J. , Skibniewski, M.J. , Li, Q. and Zheng, L. (2010), ―Performance Objectives Selection
Model in Public Private Partnership Projects Based on the Perspective of Stakeholders‖.
Zack, M., Keen, J.M. and Singh, S., (2009),“Knowledge Management And Organizational
Performance : An Exploratory Analysis”, Journal of Knowledge Management, Volume
13, Issue 6, 2009.
Zhou, M. F., Lesher, C. M., Yang, Z. X., Li, J. W., & Sun, M. (2004), “Geochemistry and
petrogenesis of 270 Ma Ni–Cu–(PGE) sulfide-bearing mafic intrusions in the Huangshan
district, Eastern Xinjiang, Northwest China: Implications for the tectonic evolution of the
central Asian orogenic belt”, Chemical Geology, 209, 233–257.
Zimmerman, L.W. and Hart, G.D. (1982), “Value Engineering : A Practical Approach for
Owners, Designers, and Contractors” , Published by Van Nostrand 1982.
Universitas Indonesia
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 : Lembar Kuesioner Survey
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
3 Overview of the Chen, G. , Zhang, G. & This paper provides a Literature in project Previous studies in Transaction Cost Economics
Australia-Based Xie, Y. (2010)- brief review of Australia- alliancing consists of project alliancing, (TCE) might be an appropriate
Studies on Project Conference Paper, based studies on the empirical and non- which were limited by theoretical framework to
Alliancing University of Melbourne, theory and practice of empirical studies not incorporating explain project alliancing
2010 project alliancing economic explanations, concepts, and examine the
have mainly been significant changes of
concerned with process governance mechanism and
and technique. management strategies for
alliancing projects, and the
implications of such changes
for projects and involved
organizations.
4 Alliance Contracting Creedon, Michael, An explanation of the The rationales and Some current Illustrations of the success of
– An Infrastructure (2010) - Bond strengths and weaknesses benefits of alliance challenges alliance contracts in practice
Procurement Option University, PPP of infrastructure contracting
Executive Program procurement method
5 Public-Private Damjanovic, D., This collection of case They illustrate success The inevitable risks of This volume is a valuable
Partnerships – Krizanic, T.P. and Peteri, studies examines how far in modernizing and partnership are also contribution to the public
Universitas Indonesia
Successes and G - Open Society these ambitious aims expanding public illustrated. service reform literature at a
Failures in Central Foundation 2011 have been achieved in infrastructure, by raising time when the flow of
and South Eastern five Central and South extra capital and recov- European structural funds is
Europe Eastern European ering it over a longer facilitating major
countries time span than possible improvements
within a standard public in public infrastructure
budget.
6 Bigger Isn’t Always Gale, Sarah Fister (2011) Successful execution of a It requires a strong leader Political wrangling, This paper emphasizes the
Better – PM Network, March megaproject takes the who can bring all of the threats of budget cuts, importance of project leader
2011. guidance of a strong stakeholders to the table market fluctuations and role.
project leader with just and ensure that risk intense public scrutiny
the right mix of management addresses are everyday issues for
experience, authority and all of their conflicting megaproject managers.
charisma. needs
7 Keeping it simple? A Giezen, Mendel (2012) - The main focus is on the The project shows that a while the built quality There are many articles
Case Study Into the International Journal of reduction of complexity reduction of uncertainty of the project is good, discussing time and cost
Advantages and Project Management 30, and its effects on the through simplification the quality as a spatial overruns in mega projects. This
Disadvantages of 2012, Elsevier. planning of mega can be very beneficial. project, or rather as a research looks at a case that
Reducing Complexity infrastructure projects. leverage for broader was successful in managing
in Mega Project spatial developments, these aspects: a metro extension
Planning is very limited. in the Rotterdam Region in the
Netherlands.
Universitas Indonesia
8 Improving Megasite Hu, Yi et. al. (2012) - Shanghai Expo Incentives may be the They added that The success was attributable to
Management Journal of Management construction is an only proper reason for incentives should be the introduction and
Performance In Engineering July outstanding example of high megasite em-ployed with implementation of incentives in
through Incentives: 2012, ASCE. megasite management performance and results necessary caution in building projects and most
Lessons Learned using incentive method. in implementing the megaconstruction municipal projects.
from the Shanghai incentives in the projects, and the
Expo Construction Shanghai Expo case. identified CSFs should
receive more attention
in implementing
the incentives.
9 Program Jia, Guangshe (2011) - PMOMIM-MCPs can It is to improve the However, PMOMIM- This paper presents a program
Management International Journal of improve the capability of capability of the MCPs needs further management organization
Organization Project Management 29, all the main management temporary program improvement and maturity integrated model for
Maturity Integrated 2011, Elsevier. subjects (the owner, the management team in the evaluation in order to MCPs (PMOMIM-MCPs) in
Model for Mega general design life cycle of MCPs. be applied in other China, which integrates the
Construction contractor, and the countries. program management subjects
Programs in China general construction of MCPs and can improve the
contractor) which is a capability of them.
temporary program
management team of
MCPs in China.
10 Implementation of Latief, Y. & Untono, K. The value engineering VE studies are done by Lack of obedience, VE process should be
Universitas Indonesia
Value Engineering in (2009) - Value World, (VE) implementation in analyzing the function of incomplete and implemented in work/project
The Infrastructure Volume 32, Number 3, the Public Works the object in order to inaccurate analysis package which indicated any
Services if Fall 2009. Department, as one of identify any unnecessary leading to ineffi- cost inefficiency
Indonesia’s Public the alternatives in cost, so that the cost may ciency, and
Works Department improving cost be reduced ineffectiveness of
efficiency and while still considering budget spending in the
effectiveness, is still the important functions. infra-structure service
experiencing problems of public work
and constraints. divisions.
11 Price Competitive Love, P.E.D. , Mistry, D. The use of incentive The research has Yet, there has been This research determines
Alliance Projects : and Davis, P.R. (2010) - payments through identified the SF that a limited research the success factors for price
Identification of Journal of Construction risk/reward models public sector client‘s undertaken about the competitive alliances during
Success Factors for Engineering and provides the impetus for representatives who have nature and use of price their relationship development
Public Clients Management © ASCE, improved project extensive experience competitive alliances. phases as this form of alliance
September 2010 performance. with price com-petitive contract is being used
alliances considered to extensively by public sector
identify pertinent SFs clients to procure critical
infrastructure projects in
Western Australia.
12 Urban Governance, Ren, Xuefei and Liza Mega projects in cities in Studying the planning Urban residents were Focused on the contrasting
Mega-Projects, and Weinstein (2012) – the global South mostly and implementation of clearly in experiences of the Shanghai‘s
Scalar governingthemetropolis. involve large-scale land such disruptive mega disadvantaged WE and Mumbai‘s DRP,
Universitas Indonesia
Transformations in [Link] conversion and projects can help to positions in the examining how mega-projects
China and India residential displacement. understand urban decision-making of are being planned, negotiated,
governance, social mega projects and implemented in these two
justice, and citizenship globalizing cities.
rights conditions from a
comparative perspective.
13 Public Private Roumboutsos, A. and A strategic partnering PPPs may continue to be The current global A framework methodology is
Partnership: A Chiara, N. (2009) - approach is proposed to an alternative for economic crisis, presented, which employs well
Strategic Partnering [Link] – complement existing transport sector project along with its established business
Approach Fraunhofer – IRB, 2009 methodologies of delivery. unordinary credit strategy tools (PEST and
evaluating the PPP crunch, has had a SWOT analysis) combined
alternative for public negative impact on PPP with theory on strategic
infrastructure and service progress alliances.
delivery.
14 Mega Projects and Sturup, S. (2009) - It can be seen from the The brief review When they go wrong This paper provides a detailed
Governmentality World Academy of above discussion that demonstrates the they go very wrong. examination of some of the
Science, Engineering and Mega Urban Transport potential inherent in the When they go right problems
Technology 54, 2009 Projects are a significant application of the theory they become potential facing mega projects and then
concern at this particular of governmentality to great wonders of the examines Foucault‘s theory of
time and place, and that MUTPs, the problems world. ‗governmentality‘
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Transportation S.L. , Mishra, S. and the MPEW and NH4 in that the PPP should be undertaken this paper identify various roles
Infrastructure Safi, C. (2010) - Journal India is presented to infrastructure project has to examine the finan- that the private sector may play
Investment in of Urban Planning and examine the consequence been mutually beneficial. cial implications of in supporting transportation
Developing Development © of joint private-public these programs from infrastructure programs in
Countries ASCE/March 2010. participation in a major the perspective of the developing countries.
infrastructure project. public sector and the
private sector.
18 PPP Experiences in Mahalingam, A. (2010) - Given the necessity for The intent of this paper These barriers are a This paper uses a combination
India Cities: Journal of Construction PPPs to deliver was to start a dialog on distrust between the of
Barriers, Enablers, Engineering and infrastructure services in ways and means by public and private archival sources, case studies,
and The Way Management © ASCE, urban India, the purpose which to increase PPP sector, a lack of and insights from a recently
Forward April 2010 of this paper was to deal-flow in India by political willingness to concluded roundtable
formalize and ar-ticulate highlighting a set of develop PPPs, the discussion on PPPs to highlight
the key challenges that high-level technical, absence of an enabling five key barriers that PPP
PPP endeavors face that institutional and institutional projects face in the urban
are specific to the urban governance issues that environment for PPPs, Indian context.
Indian context these projects face and to a lack of project
organize them into a preparation capacity on
preliminary framework. the part of the
public sector, and
poorly designed and
Universitas Indonesia
structured PPP
projects.
19 Alliancing Contracts Smith, Bill (2008) - There are considerable Alliancing arrangements However, guaranteeing The future success of projects
- A Panacea to All Institution of difficulties with go a considerable way to payment for all project in Australia‘s construction
That Ails Professional Engineers traditional contracting dealing with those costs provides little industry requires adequate
Construction and of New Zealand. practices, not least a difficulties. incentive for keeping scoping at the outset, as well as
Infrastructure reluctance to be costs under control; adopting the procurement
Development? imaginative and flexible particularly when model best suited to the project,
in dealing with project relatively modest with an appropriate allocation
risk. contractor‘s margin is of risk between the project
at risk. participants.
20 Stimulating Berawi, M.A. & Functions can be Central to this is a clear However, other By classifying concepts into
Innovation Using Woodhead, R.M. (2008)- modelled as intentions understanding of functional and process what out-come and purpose we
Function Models: Value World, Volume and as ―un-thinking‖ essential functions that theories are also found want to achieve, how the
Adding Product 31, Number 2, p. 4-7, cause-effect relationships need to be performed by in the context of causal sequence of processes can be
Value SAVE Press, USA. in an explanatory model processes in or-der to relationships and so executed, and why we need to
of how a system works achieve selected represent alternative perform a function, we are led
outcomes and purpose methods to support to a shared understanding and
intentionality better ability to produce new
ideas to stimulate innovation
and adding product value.
21 Enhancing “Value Berawi, M.A. (2009a) - A broad definition of Adding value is intended Value added measures Adding value is the process of
Universitas Indonesia
Added” in Journal of the Society of value added is to to evaluate why, what, the amount of revenue changing or transforming a
Project/Product the American Value economically add value where, how, and who can earned by a company product from its original state
Designs and Process Engineering (SAVE) to a product that will be innovate and efficiently and it is of particular to a more valuable state
International, Volume more preferred in the executed the design and importance since it
32, Fall 2009, SAVE marketplace perform the process to reflects the ability of
International Press, USA. produce the desired the company to provide
project/product for the clients/customers
the interest of with
stakeholders what they desire and
what they prepare to
pay for
22 Managing Innovation Berawi, M.A. (2009c) Identifi ca-tion of To harmonize Measuring innovation To assist us effectively respond
Indicators in Value Value World, Volume innovation indicators and information and still remains an to the current crisis and to fi nd
Engineering 32, Number 1, p. 2-3, the design a systematic knowledge from various intricate task for creative and innovative ways of
SAVE International framework have become literature studies and reasons linked to the delivering our projects or
Press, USA necessary attributes to industrial applications to quality of available product as planned.
create value in the form spur the growth of a new indicators and the
of productivity, wave of innovation difficulty of integrating
performance and those indicators
competitiveness.
23 Achieving Partnering Chan. A.P.C. ; Chan, This paper, through the The three core partnering Contributing factors to it is recommended that partner-
Universitas Indonesia
Success Through An D.W.M. ; Fan, L.C.N. medium of the MTRCL elements, mu-tual trust, this lack of success are ing together with TC contracts
Incentive Agreement: Fan; Lam. P.T.I.; and and with refer-ence to common goals, and nature and the large such as IA be adopted across a
Lessons Learned Yeung, J.F.Y. (2008)- the infrastructure sector commitment, were easily size of bureaucratic wider spectrum of the
From an Journal of Management of Hong Kong and achieved under such a organizations and construction industry to reap
Underground in Engineering © comparisons mechanism commercial pressure sustainable
Railway Extension ASCE/May 2008 with another five compromising the benefits and achieve
Project in Hong partnering case studies, partnering attitude construction excellence
Kong has provided valuable
insights into how the
partnering culture can be
successfully de-veloped
through the
implementation of IAs
24 “Evaluation Model Cheung, E and Chan, This method is useful for Potential PPP projects Negative factors This paper presents an
for Assessing the A.P. (2010) - Journal of both the public and can be assessed by this outweigh attractive evaluation model useful for
Suitability of Public Construction private sectors especially model and assigned a factors of this project, assessing the suitability of
Private Partnership Engineering and during the early stages of score for their attractive so the use of PPP to public-private partnership
(PPP) Projects Management © ASCE, project evaluation. and negative factors, and deliver this project (PPP) projects by study-ing
July 2010 the HKZMB was used to would not be their attractive and negative
demonstrate the model‘s recommended. factors
feasibility.
Universitas Indonesia
25 Determinants of Cui, Q. , Johnson, P.W. , Warranty provisions hold The findings from the This paper reported The findings presented in this
Industry Acceptance Sharma, D. and contractors accountable survey are able to that there is very less paper would help those state
for Highway Bayraktar, M.E. (2010) - for failures and establish a guide for the difference between the highway agencies that have
Warranty Contracts: Journal of Infrastructure maintenance after state of Alabama and small, medium, and the limited experience in
Alabama Case Study Systems © ASCE/March construction completion. beyond to select large contractors in integrating warranties
2010/93 appropriate projects, terms of availability of effectively into their contracts.
warranty terms, and op-portunity offered by
specifications. the warranty
contracting
26 Enabling Garvin, M.J. (2010) - The principal intent of The international Balancing the two for The transition to a world where
Development of the Journal of Construction this paper is to trigger a community has learned PPP projects, however, a nontrivial percentage of infra-
Transportation Engineering and dialogue about PPPs and that their high-way PPP essentially requires that structure services is provided
Public-Private Management © how they might improve programs must preserve the state and its citizens by the private sector will
Partnership Market ASCE/April 2010/89 America‘s infrastructure the public‘s interest and eventually
in The United State assets. attract private occur.
participation.
27 When are Public- Ho, S.P. & Tsui, C.W. It is hypothesized that In this paper, we take the Excessively high This paper uses case study
Private Partnership (2010) - Construction the principal-principal view of transaction transaction costs could method to empirically examine
Not an Appropriate Research Congress 2010: problems caused by costeconomics and argue render PPPs an the hypotheses concerning the
Governance Innovation for Reshaping unbalanced profit that the use of PPPs as a inferior alternative for transaction cost contingencies
Structure? Case Construction Practice structure and the hold-up governance structure is providing public and whether PPPs are
Universitas Indonesia
Study Evidence Proceedings of the 2010 problems caused by soft contingent on project infrastructures/services appropriate as agovernance
budget constraints will characteristics and structure.
result in significant institutional
transaction costs and environments
render PPPs an inferior
governance structure.
28 Congestion Pricing Hoffman, K., et al. The use of new Other applications of These policy issues are This paper surveys pricing
Applications to (2012) – Journal of technologies has played a congestion pricing, important and one size mechanisms used by
Manage High Transport Policy, major role in these including managing does not fit all. Thus, government agencies to
Temporal Demand Elsevier. successes because it has demand for canal and regional planners need manage congestion, as well as
for Public Services provided cheaper and bridges passage, port to assess the existing highlights the many political
and Their Relevance less obtrusive usage, access to city situation and determine and social issues that have to be
to Air Space mechanisms for charging centers, and peak use of how to obtain the best addressed in order to
Management the imposed fees and for energy resources. result. implement a pricing
monitoring compliance. mechanism.
29 Development Hyun, C.T. , Song, C.Y. , There is a need to apply It proposed a VE However, VE Therefore, this study developed
Improved VE Subject Son, M.J. & Jo, S.M. a VE that reflects the function analysis method application is not a method to select VE subjects
Selection and (2010) - SAVE purpose and demands of that can fulfill demanded frequent due to lack of based on a space model that can
Functional Analysis International – Value the project in its early facility VE application compare and review the scale
at Planning Phase World, Volume 33, stage and supports functions and methodology, lack of of facilities that are closely
for Program Level Number 2, Summer function-focusedways of simultaneously reflect useful information and connected
2010, p. 14-24 thinking owner and user needs. uncertainty in
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
2008. tenders for design build meets all the for the selection of measurement principles
namely, basic factors, requirements of probity. consultants and against which a consultant or
mea-surable performance contractors are vague contractor may be chosen.
factors, non-measurable and that a subsequent
performance audit will fail to confi
factors and risks. rm that value for
money was achieved
32 Practical Meets Knoles, W. (2009) - The PDW illustrates that The one-day Practical The PDW is not SAVE AVS training and
Value Engineering SAVE International, the Value Methodology Design Workshop intended to be a certification was put to good
Knowledge Bank, 2009 is very flexible and can (PDW) for the I-70 replacement for a full use with a successful outcome.
produce value-enhancing Interchange project was VE Study.
results even when very successful.
compressed and adapted
to the owner‘s normal
design processes.
33 A Mathematical Lewis, W.J. (2012) - This paper presents a Results show that the In the case of the The proposed model is more
Model for Engineering Structures refined mathematical optimum span/dip ratio, suspension bridge, this accurate than the ones
Assessment of 42 (2012) 266–277, model for the assessment which minimizes limit is just less than published to date in that it
Material Elsevier of relative material costs material usage, is 3 for a 5000 m. This result includes the self weight of the
Requirements for of the supporting cable-stayed (harp type) raises a question over cables and the pylons.
Cable structures for cable- bridge, and 5 for a the feasibility of super-
Supported Bridges: stayed and suspension structure. long bridges of 5000 m
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Infrastructure Engineering © ASCE , implementation of with the goal of knowledge base to civil in the development and
Development October 2008 infrastructure projects. supplying essential tools engineers who would implementation of PPP
for PPP practitioners be the master planners projects.
from three different and implementers of
perspectives: technical, in-frastructure projects.
managerial, and delivery
systems.
38 Contractors’ Tan, Y. , Shen, L. and The findings show that Thirteen typical bidding With the market This paper reports the findings
Competition Langston, C. (2010) - low bid is the most strategies, their used becoming more from a recent survey on
Strategies in Journal of Construction frequently used frequency in bidding, intensive and aware of competition strategies in the
Bidding: Hong Kong Engineering and competition strategy in and their effectiveness sus-tainable Hong Kong construction
Study Management © ASCE, bidding. Other com- for winning contracts of development goals, industry.
October 2010. petition strategies, such different types and contractors need to find
as high tech and between different groups ways to ex-plore new
management innovation, of contractors are opportunities.
have been realized by studied.
contractors as important
in practice.
39 Estimating Minimum Vajdic, Nevena et. al. Toll rate is sensitive to Road planners can If the project is chosen The objective of this paper is to
Toll Rates in Public (2012) – Transport changes in project‘s estimate the minimum to be delivered as PPP investigate the relationship
Private Partnership Research Arena 2012, construction and toll rate that, while contract, there are between the level of toll rates
Elsevier. operational costs. affordable to prospective number of feasibility and several project technical
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
FUNGSI ENERGI
ESTIMASI VOLUME ESTIMASI TARIF
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
INITIAL
TAHUN REVENUE O&M CASH FLOW
COST
0 (10.980.727) (10.980.727)
1 1.587.323 152.683 1.434.640
2 1.659.070 155.736 1.503.334
3 1.734.060 158.851 1.575.209
4 1.812.440 162.028 1.650.412
5 1.894.362 165.269 1.729.093
6 1.979.987 168.574 1.811.413
7 2.069.483 171.946 1.897.537
8 2.163.023 175.384 1.987.639
9 2.260.792 178.892 2.081.900
10 2.362.980 182.470 2.180.510
11 2.469.786 186.119 2.283.667
12 2.581.421 189.842 2.391.579
13 2.698.101 193.639 2.504.462
14 2.820.055 197.511 2.622.544
15 2.947.521 201.462 2.746.060
16 3.080.749 205.491 2.875.259
17 3.219.999 209.601 3.010.399
18 3.365.543 213.793 3.151.751
19 3.517.666 218.069 3.299.597
20 3.676.664 222.430 3.454.234
21 3.842.850 226.879 3.615.971
22 4.016.546 231.416 3.785.130
23 4.198.094 236.044 3.962.050
24 4.387.848 240.765 4.147.083
25 4.586.179 245.581 4.340.598
26 4.793.474 250.492 4.542.982
27 5.010.139 255.502 4.754.637
IRR 17,10%
NPV 15.886.430
Universitas Indonesia
FUNGSI PARIWISATA
ESTIMASI VOLUME ESTIMASI TARIF
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
FUNGSI TELEKOMUNIKASI
ESTIMASI VOLUME, TARIF DAN REVENUE FINANCIAL ANALYSIS (Juta Rp.)
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
SELURUH FUNGSI
FINANCIAL ANALYSIS (Juta Rp.)
0 (189.594.990) (189.594.990)
1 6.811.322 801.790 6.009.532
2 7.391.654 817.025 6.574.629
3 8.138.327 832.860 7.305.467
4 8.892.447 849.365 8.043.082
5 9.866.583 866.618 8.999.965
6 10.878.931 884.709 9.994.222
7 12.161.249 903.738 11.257.511
8 13.519.882 923.821 12.596.061
9 15.213.769 945.084 14.268.685
10 17.030.157 967.674 16.062.482
11 18.548.743 987.524 17.561.219
12 19.794.382 1.006.392 18.787.991
13 21.273.759 1.025.696 20.248.064
14 22.691.863 1.045.450 21.646.413
15 24.331.429 1.065.670 23.265.758
16 25.827.805 1.086.371 24.741.434
17 27.461.252 1.107.570 26.353.682
18 28.833.894 1.129.283 27.704.612
19 30.316.769 1.151.528 29.165.240
20 31.553.017 1.174.325 30.378.692
21 32.970.886 1.197.694 31.773.192
22 34.195.813 1.221.655 32.974.158
23 35.673.113 1.246.231 34.426.882
24 37.005.136 1.271.445 35.733.691
25 38.646.393 1.297.321 37.349.072
26 40.158.804 1.323.886 38.834.919
27 42.009.178 1.351.165 40.658.013
IRR 7,37%
NPV 16.070.519
Universitas Indonesia
imigrasi Jawa
emigrasi Jawa
Populasi Jawa
birth Jawa death Jawa
Populasi
Sumatera
birth Sumatera death
Sumatera
Universitas Indonesia
PENURUNAN
WAKTU efek positif JSS BIAYA
PENGIRIMAN terhadap JSS off-on
LEBIH CEPAT sektor industri
produksi
pengiriman
efek jss industri
barang industri
terhadap
profitability profit sektor MUATAN RATA
industry industri RATA PER TRIP
Industrial
LAJU PMA PER investasi Capital depresiasi
GDP tambahan industri
REAL GDP
AWAL
penanaman
modal asing UMUR
investasi INDUSTRIAL
Real GDP industri CAPITAL
pertumbuhan Indonesia
GDP
Universitas Indonesia
INDUSTRIAL
LAHAN AREA CAPITAL MULA Industrial
INDUSTRY MULA Capital
MULA MULA capital untuk
penambahan
lahan
rasio
kebutuhan demand
lahan industrial kavling
industrial
Kavling
Kavling Sell Occupancy
persentasi
aksesibilitas benefit JSS ESTATE
industri MAXIMUM
rasio capacity
CAPACITY
estate
biaya transport
laju
lebih murah
pertambahan
TIKET JSS international estate
port
efek jss
terhadap
profitability
industry
No Nama Variabel Rumus/Nilai
1 Lahan Area Industri Mula-Mula 60,000,000 m²
2 Industrial Capital Mula-mula Rp 3,780,184,489,599,690.00
3 Industrial Capital Rp 3,780,184,489,599,690.00
4 Capital untuk Penambahan Lahan IF(('Industrial Capital'-'INDUSTRIAL CAPITAL MULA
MULA')>0<<Rp>>,('Industrial Capital'-'INDUSTRIAL
CAPITAL MULA MULA'),0<<Rp>>)
5 Rasio Kebutuhan Lahan Industrial 'INDUSTRIAL CAPITAL MULA MULA'/'LAHAN AREA
INDUSTRY MULA MULA'
6 Demand Kavling Industrial 100%*('capital untuk penambahan lahan'/'rasio kebutuhan
lahan industrial')
7 Kavling Occupancy 0 m²
8 Kavling Rent 'demand kavling industrial'*'persentasi benefit JSS/year*'laju
pertambahan estate'
9 Tiket JSS XLDATA
10 Efek JSS Terhadap Profitability GRAPHCURVE(ARRAVERAGE('TIKET
Industry JSS'),0<<Rp/trip>>,500000<<Rp/trip>>,{0.1,0.06,0.04,0.03//
Min:0;Max:0.1//})
11 Biaya Transport Lebih Murah 'efek jss terhadap profitability industry'
12 Aksesibilitas industri 10%
13 Presentasi Benefit JSS 'aksesibilitas industri'+'biaya transport lebih
murah'+'international port'
14 International Port 15%
15 Estate Maximum Capacity 60,000,000 m²
16 Rasio Capacity Estate IF(('Kavling Occupancy'/'ESTATE MAXIMUM
CAPACITY')>1,1,('Kavling Occupancy'/'ESTATE
MAXIMUM CAPACITY'))
17 Laju Pertambahan Estate GRAPHCURVE('rasio capacity
estate',0,0.05,{1,1,1,1,1,1,1,1,1,1,1,1,1,1,1,1,1,0.6,0.4,0.2,0//M
in:0;Max:1//})
Universitas Indonesia
PENDAPATAN
AREA TOURISM
KAPASITAS
MAKSIMUM UMUR
rasio land PULAU INFRASTRUKTU
RETAINED availability
tourism area SANGYANG R TOURISM
EARNINGS reinvestment
TOURISM rate
Tourism Area
penambahan depresiasi
LUAS AWAL tourism area tourism area
AREA TAMANAVG TOURISM
nature area
REKREASI DEVELOPMENT
nature
INVESTASI initial tourism attractiveness
AWAL TAMAN area
REKREASI tourism income LUAS AREA
BENCHMARK TAMAN
rate of REKREASI
attractiveness
avg spending jumlah turis
in tourism area
JUMLAH JSS off-on JUMLAH
PENGUNJUNG PENGUNJUNG
TAHUNAN TAHUNAN
BENCHMARK jumlah trips BENCHMARK
lain-lain INCIDENTAL
TOURIST
PENDAPATAN PENGUNJUNG
SEKTOR REST AREA
TOURISM PEOPLE PER TAHUNAN
TRIP ARUS
KENDARAAN
JALAN TOL
No Nama Variabel Rumus/Nilai
1 Laju Pertambahan Tourism Area GRAPHCURVE('rasio land
availability',0,0.1,{1,1,1,1,1,1,1,0.9,0.7,0.3,0//Min:0;Max:1//}
)
2 Pendapatan Area Tourism Rp 900,000,000,000.00/year
3 Retained Earnings Tourism Rp 45,000,000,000/year
4 Tourism Area Reinvestment Rate ('RETAINED EARNINGS TOURISM'/'PENDAPATAN
AREA TOURISM')/year
5 Rasio Land Availability 'Tourism Area'/'KAPASITAS MAKSIMUM PULAU
SANGYANG'
6 Kapasitas Maksimum Pulau 7,000,000 m²
Sangiang
7 Umur Infrastruktur Tourism 50 yr
8 Tourism Area 'initial tourism area'
9 Penambahan Tourism Area DELAYMTR(('tourism income'*'tourism area reinvestment
rate'/'AVG TOURISM DEVELOPMENT'*'laju pertambahan
tourism area'),2<<yr>>,1)
10 Depresiasi Tourism Area 'Tourism Area'/'UMUR INFRASTRUKTUR TOURISM'
11 Luas Awal Area Taman Rekreasi 5,880,000 m²
12 Investasi Awal Taman Rekreasi Rp 500,000,000,000.00
Benchmark
13 Avg Tourism Develoment 'INVESTASI AWAL TAMAN REKREASI
BENCHMARK'/'LUAS AWAL AREA TAMAN REKREASI'
14 Nature Area 'KAPASITAS MAKSIMUM PULAU SANGYANG'-
'Tourism Area'
15 Nature Attractiveness 'nature area'*0.0004 people
16 Initial Tourism Area IF('JSS off-on'=1,2500000<<m*m>>,500000<<m*m>>)
17 Tourism Income 'avg spending in tourism area'*'jumlah turis'
18 Jumlah Pengunjung Tahunan 12,834,890 people
Benchmark
19 Pendapatan Sektor Tourism Rp 900,000,000,000.00
20 Avg Spending in Tourism Area 'PENDAPATAN SEKTOR TOURISM'/'JUMLAH
Universitas Indonesia
KONSUMSI CAPITAL
LISTRIK INDUSTRI
IDUSTRI MULA MULA
TAHUN AWAL POPULASI
JAWA AWAL
KEBUTUHAN
LISTRIK
kebutuhan RESIDENSIAL
listrik industri JAWA AWAL
per capital POPULASI
KEBUTUHAN
SUMATERA
LISTRIK
KEBUTUHAN AWAL
RESIDENSIAL
Populasi Jawa LISTRIK PER SUMATERA
Industrial POPULASI AWAL
Capital JAWA
KEBUTUHAN
demand LISTRIK PER LUAS AWAL KEBUTUHAN
industrial area POPULASI AREA TAMANLISTRIK AREA
demand Jawa- SUMATERA REKREASI TAMAN
Sumatera
REKREASI
MULA MULA
Populasi Tourism Area
Sumatera demand
tourism area
KEBUTUHAN
LISTRIK
pertumbuhan rasio sisa KAPASITAS TOURISM PER
demand listrik kapasitas PEMBANGKIT M2
laju pembangkit LISTRIK UMUR
pertambahan GENERATOR
kapasitas TIDAL
Kapasitas
penambahanPembangkit depresiasi
kapasitas Listrik Tidalgenerator tidal
generator tidal
No Nama Variabel Rumus/Nilai
1 Konsumsi Listrik Industri Tahun 52,875,450 mwh
Awal
2 Capital Industri Mula-mula Rp 1,772,298,000,000,000.00
3 Kebutuhan Listrik Industri per 'KONSUMSI LISTRIK IDUSTRI TAHUN
Capital AWAL'/'CAPITAL INDUSTRI MULA MULA'
4 Industrial Capital Rp 3,780,184,489,599,690 .00
5 Demand Industrial Area 'Industrial Capital'*'kebutuhan listrik industri per capital'
6 Pertumbuhan Demand Listrik 'demand Jawa-Sumatera'+'demand industrial area'+'demand
tourism area'
7 Populasi Jawa Awal 137,566,739 people
8 Kebutuhan Listrik Residential Jawa 85,348,380 mwh
Awal
9 Kebutuhan Listrik Per Populasi Jawa 'KEBUTUHAN LISTRIK RESIDENSIAL JAWA
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
NILAI
KEBUTUHAN KEBUTUHAN
PRODUKSI
GAS AWAL MINYAK AWAL
AWAL
JAWA SUMATERA
SUMATERA JAWA
RASIO KEBUTUHAN
RASIO
GAS PER OUTPUT KEBUTUHAN
PRODUKSI PETROLEUM demand
PER OUTPUT petroleum
demand gas INDUSTRI Jawa dan
Jawa dan Sumatera
produksi Sumatera sektor industri
industri sektor industri
total demand
gas Jawa dan total demand
Sumatera PERSENTASE petroleum produksi
PENGIRIMAN Jawa dan industri
MELALUI PIPA Sumatera
JSS
pengiriman gas
melalui pipa pengiriman
JSS petroleum
melalui pipa
JSS
No Nama Variabel Rumus/Nilai
1 Nilai Produksi Awal Rp 14,769,150,000,000.00
2 Kebutuhan Gas Awal Jawa Sumatera 2,605,580,000 BOE
3 Rasio Kebutuhan Gas per Output 'KEBUTUHAN GAS AWAL JAWA
Produksi SUMATERA'/'NILAI PRODUKSI AWAL'
4 Demand Gas Jawa dan Sumatera Sektor 'produksi industri'*'RASIO KEBUTUHAN GAS PER
Industri OUTPUT PRODUKSI'
5 Produksi Industri 0.25*'Industrial Capital'
6 Total Demand Gas Jawa dan Sumatera 'demand gas Jawa dan Sumatera sektor industri'
7 Pengiriman Gas Melalui Pipa JSS 'PERSENTASE PENGIRIMAN MELALUI PIPA
JSS'*'total demand gas Jawa dan Sumatera'
8 Persentase Pengiriman Melalui Pipa JSS 50%
9 Kebutuhan Minyak Awal Sumatera 16,932,480 BOE
Jawa
10 Rasio Kebutuhan Petroleum Per Output 'KEBUTUHAN MINYAK AWAL SUMATERA
Industri JAWA'/'NILAI PRODUKSI AWAL'
11 Demand Petroleum Jawa dan Sumatera 'produksi industri'*'RASIO KEBUTUHAN PETROLEUM
Sektor Industri PER OUTPUT INDUSTRI'
12 Total Demand Petroleum Jawa dan 'demand petroleum Jawa dan Sumatera sektor industri'
Sumatera
13 Pengiriman Petroleum Melalui Pipa JSS 'PERSENTASE PENGIRIMAN MELALUI PIPA
JSS'*'total demand petroleum Jawa dan Sumatera'
Universitas Indonesia
UMUR JALUR
FIBER OPTIK
Universitas Indonesia
Populasi Jawa
PENGIRIMAN
pengiriman ANTAR PULAU
JUMLAH TRIPS barang industri
ASDP JAWA-
SUMATERA
JUMLAH aktivitas
POPULASI jumlah trip
transportasi pengiriman
JAWA TAHUN pengiriman
lain-lain Jawa industri
MULA MULA
Sumatera
rasio trips
Populasi pribadi jawa -
Sumatera sumatera per
kapita switch on-off
jumlah trips VE
lain-lain PEOPLE PER
JUMLAH
volume trips Jawa TRIP
POPULASI transportasi
SUMATERA lain-lain Sumatera
TAHUN MULA Sumatera Jawa
MULA kendaraan
jumlah turis
pribadi
rasio trips
pribadi volume trips
JUMLAH TRIPS sumatera-jawa jumlah jss
ASDP per kapita kendaraan gol
SUMATERA - VIII jumlah motor tourism kota Populasi Jawa
JAWA
jumlah
FAKTOR kendaraan gol
PREFERENSI VII jumlah
kendaraan gol
arraverage IVA Populasi
tiket jumlah Sumatera
kendaraan gol
TIKET JSS VIB jumlah
kendaraan gol
jumlah IVB
jumlah
kendaraan gol
VIA jumlah kendaraan gol
kendaraan gol VA
VB
No Nama Variabel Rumus/Nilai
1 Populasi Jawa 137,566,739 people
2 Jumlah Trips ASDP Jawa- 1,299,593 trip
Sumatera
3 Jumlah Populasi Jawa Tahun 135,614,600 people
Mula-mula
4 Rasio Trips Pribadi Jawa 0.5*'JUMLAH TRIPS ASDP JAWA-SUMATERA'/'JUMLAH
Sumatera per Kapita POPULASI JAWA TAHUN MULA MULA'
5 Transportasi Lain-lain Jawa 'Populasi Jawa'*'rasio trips pribadi jawa - sumatera per kapita'
Sumatera
6 Populasi Sumatera 51,088,368 people
7 Jumlah Trips ASDP Sumatera- 1,299,593 trip
Jawa
8 Jumlah Populasi Sumatera Tahun 51,022,000 people
Mula-mula
9 Rasio Trips Pribadi Sumatera- 0.5*'JUMLAH TRIPS ASDP SUMATERA -JAWA'/'JUMLAH
Jawa per Kapita POPULASI SUMATERA TAHUN MULA MULA'
10 Transportasi Lain-lain Sumatera 'Populasi Sumatera'*'rasio trips pribadi sumatera-jawa per kapita'
Jawa
11 Jumlah Trips Lain-lain ('transportasi lain-lain Jawa Sumatera'+'transportasi lain-lain
Sumatera Jawa')
12 Pengiriman Barang Industri 'produksi industri'/'MUATAN RATA RATA PER TRIP'
13 Pengiriman Antar Pulau 0.25
14 Aktivitas Pengiriman 'PENGIRIMAN ANTAR PULAU'*'pengiriman barang industri'
15 Jumlah Trips Pengiriman 'aktivitas pengiriman'
Industri
16 Switch on-off VE & RM XLDATA
17 People per trip 5 people/trip
18 Jumlah Turis ('Tourism Area'*'rate of attractiveness'*'JSS off-
on')+'INCIDENTAL TOURIST'+'nature attractiveness'
Universitas Indonesia
jumlah kendaraan
gol VB
jumlah kendaraan
gol VA jumlah kendaraan
gol IVB
jumlah kendaraan
gol VIA
jumlah kendaraan
gol IVA
jumlah kendaraan
gol VIB income JSS
jumlah turis
jumlah motor
jumlah kendaraan
gol VII jumlah kendaraan income tourism area
gol VIII TIKET JSS
AVERAGE SPENDING
PER TOURIST
Kapasitas
Pembangkit Listrik
Tidal income kavling area
income tidal power
generator income total JSS
HARGA LISTRIK
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Project Overrun
Bencana Alam Kebijakan
Cost
Pemerintah
No Nama Variabel Rumus/Nilai
1 Asumsi Teknik Salah 0.7
2 Pemilihan Teknologi 0.8
3 Safety Design 0.7
4 Resiko Perencanaan Desain AVERAGE('Asumsi Teknis Salah','Pemilihan
Teknologi','Safety Design')*30%
5 Project Overrun Cost 0.5
6 Bencana Alam 0.7
7 Resiko Proses Konstruksi AVERAGE('Bencana Alam','Project Overrun Cost')*30%
8 Resiko Operasional Perawatan 'Bencana Alam'*40%
9 Kebijakan Pemerintah 0.4
10 Intervensi Politik 0.4
11 Resiko Politik Lingkungan AVERAGE('Intervensi Politik','Kebijakan Pemerintah')*40%
12 Korupsi Kolusi Nepotisme 0.9
13 Resiko Sosial dan Ekonomi 'Korupsi Kolusi Nepotisme'*60%
14 Resiko Internal AVERAGE('Resiko Operasional Perawatan','Resiko
Perencanaan Desain','Resiko Proses Konstruksi')
15 Resiko Eksternal AVERAGE('Resiko Politik Lingkungan','Resiko Sosial dan
Ekonomi')
16 Risk Mitigation AVERAGE('Resiko Eksternal','Resiko Internal')*0.5
Universitas Indonesia
Pengaruh Income
Investasi
income total
Biaya Pariwisata JSS
Biaya Fiber Optic
Peningkatan Cost
Cost
Karena Mitigasi
Biaya Industrial
Estate
Biaya Gas Pipeline
Risk Mitigation
Biaya Struktur
Biaya Oil Pipeline
Jembatan
Biaya Wind
Turbine Biaya Tidal
Turbine
Universitas Indonesia
Keterangan:
Gol IV-A = Sedan, jeep, minibus, pick up
Gol IV-A = Khusus barang
Gol V-A = Bus, truck (panjang < 7m)
Gol V-B = Khusus barang
Gol VI-A = Bus, truck (7m< panjang < 10m)
Gol VI-B = Khusus barang
Gol VII = Truck tronton, tangki, kendaraan gandeng (panjang <12m)
Gol VII = Truck tronton, tangki, kendaraan gandeng (panjang >12m)
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
** Sumber-sumber harga:
1. Harga Jual PLN = Harga PTB (Rp 450,00/kWh)
2. Harga Sewa Pipa Gas = Pipeline and Gas Journal (Rp 88,65/MCF)
3. Harga Sewa Pipa Minyak = Pipeline and Gas Journal (Rp 181,25/BOE)
4. Harga Sewa Fiber Optic = Asosiasi Indonesia Wireless LAN Internet
(Rp 30.000,00/bulan)
5. Harga Sewa Lahan Industri = ―Harga Kawasan Industri Di Indonesia Kurang
Kompetitif‖, Harian Kompas – Kompas TV
, 15 Maret 2015 - Harga Sewa US$ 19,1/m2/th
6. Harga Tiket Wisata = Harga Tiket Trans Studio Bandung
(Rp 250.000,00)
Universitas Indonesia