Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah
Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini banyanknya aktivitas manusia yang menimbulkan dampak
negative baik bagi kesehatan maupun lingkungan mereka sendiri. Salah satunya
aktivitas menggoreng yang menghasilkan limbah berupa sisa minyak goring
yang biasa disebut dengan minyak jelantah. Minyak jelantah (waste cooking oil)
merupakan limbah dan bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah
mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik . Senyawa- senyawa
karsinogenik dapat terbentuk selama proses penggorengan. Jadi jelaslah bahwa
pemakaian minyak jelantah yang berkelanjutan dapat merusak kesehatan manusia
,menimbulkan penyakit kanker, dan akibat selanjutnya dapat mengungarangi
kecerdasan generasi berikutnya. Untuk itu perlu penanganan yang tepat agar
limbah minyak jelantah ini dapat bermanfaat dan tidak menimbulkan kerugian
dari aspek kesehatan manusia dan lingkungan.
1
2
d. Biodiesel memiliki cetane number yang tinggi (di atas 100, bandingkan
dengan bahan bakar diesel yang hanya 40).
4
5
2.2 Metanol
Untuk membuat biodesel, ester dalam minyak nabati perlu dipisahkan dari
gliserol. Ester tersebut merupakan bahan dasar penyusun biodiesel. Selama proses
transesterifikasi, komponen gliseroldari minyak nabati digantikan oleh alkohol,
baik etanol maupun metanol. Etanol merupakan alkohol yang terbuat dari padi –
padian. Metanol adalah alkohol yang dapat dibuat dari batubara, gas alam, atau
kayu. (Yuli Setyo Indartono, 2006).
Metanol disebut juga metil alkohol merupakan senyawa paling sederhana
dari gugus alkohol. Rumus kimianya adalah CH3OH. Metanol berwujud cairan
yang tidak berwarna, dan mudah menguap. Metanol merupakan alkohol yang
agresif sehingga bisa berakibat fatal bila terminum, dan memerlukan kewaspadaan
yang tinggi dalam penanganannya. Jika menghirup uapnya cukup lamaatau jika
6
memproduksi biodiesel yang lebih stabil. Berbeda dengan etanol, metanol tersedia
dalam bentuk absolut yang mudah diperoleh, sehingga hidrolisa dan pembentukan
sabun akibat air yang terdapat dalam alcohol dapat diminimalkan. Biaya untuk
memproduksi etanol absolut cukup tinggi. Akibatnya, bahan bakar diesel berbasis
etanol tidak berdaya saing secara ekonomis dengan metil ester asam lemak,
sehingga membiarkan bahan bakar diesel fosil bertahan sendiri. Disamping itu,
harga alkohol juga tinggi sehingga menghambat penggunaannya dalam produksi
biodiesel dalam skala industri. (Erliza, dkk, 2007).
pada dinding corong pemisah akibat proses ekstraksi menjadi sulit dan
memerlukan ekstraksi yang berulang – ulang. Dengan adanya reaksi samping
yang berupa penyabunan inilah konversi minyak menjadi ester (biodeisell)
menjadi kecil.
Karena itu, reaksi transesterifikasi dengan katalisator KOH dan NaOH
disarankan untuk minyak nabati yang melewati tahapan deasifikasi,sehingga kadar
air kurang dari 0,3 % dan kadar FFA kurang dari 0,5 %. Sedangkan pada
katalisator asam tidak menyebabkan reaksi penyabunan sepeti halnya pada
katalisator biasa. (Tim Biodiesel Jurusan Teknik Kimia UGM, 2006)
Penambahan katalis NaOH yang berlebih akan menyebabkan penurunan
kadar asam lemak yang berantai pendek (asam laurat dan asam miristat) dan
menaikkan kadar asam lemak yang berantai panjang (asam palmitat, asam stearat,
asam arakidat, dan asam behenat).
Katalis NaOH yang digunakan memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap pembentukan asam lemak dalam biodiesel yang dihasilkan.
Pembentukan asam lemak dengan rantai terpendek, yakni asam laurat dan asam
miristat telah mencapai kesetimbangan pada penggunaan katalis 1,5% dan apabila
dilakukan terus penambahan katalis maka akan menghambat serta menurunkan
kadar asam lemak tersebut. Namun, hal sebaliknya terjadi pada asam lemak
palmitat C16, stearat C18, arakidat C20 dan behenat C22, dimana penambahan
katalis akan meningkatkan kadar asam lemak tersebut. Penambahan katalis akan
semakin mudah tercapainya kesetimbangan pembentukan asam-asam lemak
tersebut di dalam biodiesel (Fessenden dan Fessenden, 2006).
2.4 Esterifikasi
Esterifikasi adalah reaksi antara asam lemak dengan alkohol dengan
bantuan katalis asam utuk menghasilkan ester. Esterifikasi dengan katalis asam
mengkonversi FFA menjadi ester alkil. Tahap esterifikasi biasa diikuti dengan
tahap transesterifikasi. Reaksi esterifikasi pada proses pembuatan biodiesel secara
dua tahap (esterifikasi dan transesetrifikasi) dapat meningkatkan produksi
biodiesel dan mempengaruhi karakteristik biodiesel.
9
2.5 Transesterifikasi
Transesterifikasi merupakan suatu proses penggantian a;kphp; dari suatu
gugus ester (trigliserida) dengan ester lain atau mengubah asam – asam lemak ke
dalam bentuk ester sehingga menghasilkan alkyl ester. Proses tersebut dikenal
sebagaiproses alkoholisis. Proses alkoholisis ini merupakan reaksi yang biasanya
berjalan lambat namun dapat dipercepat dengan bantuan suatu katalis. Katalis
yang biasanya digunakan adalah katalis asam seperti HCl dan H2SO4, dan katalis
basa NaOH dan KOH. (Yuli Setyo Indartono, 2006).
Proses ini dapat dijalankan secara batch atau sinambung, dimana pada
proses batch menggunakan labu leher tiga atau autoclave. Selain itu, dalam
10
autoclave proses dapat berjalan pada suhu tinggi dalam fase cair, sehingga akan
bisa berlangsung lebih cepat. Proses sinambung dilaksanakan dalam reactor CSTR
dengan alat pencampur yang berupa pengaduk atau gas inert. Proses ini lebih sulit
dikarenakan perlu bahan baku yang lebih banyak dan waktu yang lebih panjang.
Proses ini dapat dijalankan secara batch maupun sinambung, dimana pada
proses batch menggunakan labu leher tiga atau autoclave. Selain itu dalam
autoclave proses dapat berjalan pada suhu tinggi dalam fase cair, sehingga akan
bisa berlangsung lebih cepat. Proses sinambung dilaksanakan dalam reactor CSTR
dengan alat pencampur yang berupa pengaduk atau gas inert. Proses ini lebih sulit
dikarenakan perlu bahan baku yang lebih banyak dan waktu yang lebih panjang.
Metanolisis merupakan reaksi pembentukan metal ester dengan
menggunakan methanol dimana reaksinya seimbang dan kalor reaksinya kecil.
Untuk menggeser reaksi ke kanan biasanya menggunakan metanol berlebihan
disbanding gliserida, maka reaksi yang terjadi bisa dianggap reaksi searah.
Mekanisme reaksi transesterifikasi minyak nabati dengan methanol atau disebut
juga dengan metanolisis yang terlihat di bawah ini, (Andi Nur Alam Syah, 2006) :
A + 3B C+D
Karena reaksi ini menggunakan methanol yang berlebihan, maka reaksi dapat
dianggap searah dan berorde satu terhadap minyak, sehingga reaksinya menjadi :
A + 3B C+D
(1)
(2)
(3)
1. Lama Reaksi Semakin lama waktu reaksi semakin banyak produk yang
dihasilkan karena keadaan ini akan memberikan kesempatan terhadap
molekulmolekul reaktan untuk bertumbukan satu sama lain. Namun
setelah kesetimbangan tercapai tambahan waktu reaksi tidak
mempengaruhi reaksi, melainkan dapat menyebabkan produk berkurang
karena adanya reaksi balik, yaitu metil ester terbentuk menjadi trigliserida
(Affandi, dkk., 2013).
2. Rasio perbandingan alkohol dengan minyak Rasio molar antara alkohol
dengan minyak sangat mempengaruhi dengan metil ester yang dihasilkan.
Semakin banyak jumlah alkohol yang digunakan maka konversi ester yang
dihasilkan akan bertambah banyak. Perbandingan molar antara alkohol dan
minyak nabati yang biasa digunakan dalam proses industri untuk
12
mendapatkan produksi metil ester yang lebih besar dari 98% berat adalah 6
: 1 (Freedman et al., 1984).
3. Jenis katalis Katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi dan menurunkan
energi aktivasi sehingga reaksi dapat berlangsung pada suhu kamar
sedangkan tanpa katalis reaksi dapat berlangsung pada suhu 250°C, katalis
yang biasa digunakan dalam reaksi transesterifikasi adalah katalis basa
seperti kalium hidroksida (KOH) dan natrium hidroksida (NaOH).
Semakin besar jumlah katalis basa yang digunakan dalam reaksi
transesterifikasi pada pembuatan metil ester, maka akan menyebabkan
jumlah metil ester yang dihasilkan semakin berkurang. Hal ini disebabkan
oleh reaksi berlebih dari katalis dengan trigliserida yang membentuk sabun
dan menghasilkan produk samping berupa gliserol yang lebih banyak.
Bahan bakar minyak yang berbahan baku fosil tergolong bahan bakar yang
tidak terbarukan (unreneweable energy). Penggunaan bahan bakar minyak yang
terus-menerus meningkat merupakan akibat dari pertumbuhan penduduk dan
industri. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak bumi
tersebut, salah satu caranya adalah dengan memproduksi bahan bakar biodiesel
yang bahan bakunya diperoleh dari tumbuhan (Darmanto dan Sigit, 2006).
Biodiesel merupakan bahan bakar yang mengandung senyawa ester dari tanaman
dan lemak hewan dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yang
sangat potensial sebagai pengganti solar. Bentuk senyawa methyl ester atau ethyl
ester ini adalah ramah lingkungan, non-toxic, dan ekonomis.
Salah satu jenis bahan bakar pengganti yang sangat potensial untuk
dikembangkan adalah fatty acid methyl ester atau dikenal dengan nama biodiesel
yang merupakan bahan bakar alternative pada mesin diesel. Biodiesel berasal dari
minyak nabati yang dapat diperbaharui, dan dihasilkan secara periodik, serta
mudah diperoleh. Penggunaan biodiesel memberikan banyak keunggulan, yaitu
ramah lingkungan karena bersifat biodegrable dan tidak beracun, emisi polutan
berupa hidrokarbon yang tidak terbakar, jelaga hasil pembakaran biodiesel lebih
rendah dari pada solar, tidak memperparah efek rumah kaca karena siklus karbon
yang terlibat pendek, kandungan energi yang hampir sama dengan kandungan
energi petroleum diesel (80% dari kandungan petroleum diesel), serta angka
setana lebih tinggi dari pada petroleum diesel (solar), dan penyimpanan mudah
karena titik nyala yang rendah (Kusumaningtiyas dan Bachtiar, 2011).
14
Biodiesel adalah bahan bakar alternatif untuk mesin diesel yang dihasilkan
dari reaksi transesterifikasi antara minyak nabati atau lemak hewani yang
mengandung trigliserida dengan alkohol seperti metanol dan etanol. Reaksi
transesterifikasi ini memerlukan katalis basa kuat seperti natrium hidroksida atau
kalium hidroksida sehingga menghasilkan senyawa kimia baru yang disebut
dengan metil ester (Gerpen, 2005). Salah satu contoh minyak nabati yang dapat
dimanfaatkan untuk pembuatan biodiesel antara lain minyak goreng bekas. Bahan
ini dinilai lebih ekonomis dan berdayaguna. Namun kekurangannya adalah
kandungan asam lemak bebas (Free Fatty Acid, FFA) yang tinggi dan adanya
senyawa pengotor lainnya. Kadar FFA yang tinggi dapat menghambat reaksi
pembentukan biodiesel, karena KOh yang digunakan sebagai katalis akan bereaksi
dengan FFA membentuk sabun. Selain itu sabun yang dihasilkan akan
mempersulit separasi pemurnian biodiesel. Oleh karena itu perlu diadakan
pretreatment terhadap minyak goreng bekas sebelum diproses menjadi biodiesel
agar kandungan FFAnya dapat diturunkan. Aziz et al., (2011) melakukan proses
15
Permasalahan yang timbul adalah katalis asam sulfat yang digunakan pada
proses esterifikasi sulit dipisahkan dari produk sehingga dapat mengganggu
proses transesterifikasi. Maka pada penelitian ini digunakan proses adsorpsi
menggunakan zeolit alam yang berasal dari Lampung untuk menurunkan kadar
asam lemak bebas (FFA) dan dilanjutkan dengan proses transesterifikasi.
Pemilihan zeolit zeolit alam dari Lampung ini didasarkan pada kualitasnya yang
baik. Selain itu karena ketersediannya yang cukup melimpah, harga murah dan
aman. Sebelum digunakan zeolit alam terlebih dahulu diaktivasi untuk
menghilangkan senyawa pengotor yang terdapat dalam zeolit tersebut. Zeolit alam
yang telah diaktivasi mempunyai kemampuan sebagai adsorben.
beracun. Racun tersebut terdapat dalam bentuk risin (suatu protein), risinin (suatu
alkaloid) dan heat-stable allergen yang dikenal dengan CB-IA.
konsentrasi katalis yang terlalu tinggi (>0,4 g), jumlah nukleofil yang diaktifkan
berlebih dibandingkan pereaksi yang ada sehingga akan terbentuk asam lemak.
Pour point adalah suhu terendah yang dinyatakan sebagai kelipatan 5oF
dimana minyak yang diamati mengalir apabila minyak didinginkan dan diperiksa
pada kondisi tertentu. Poir point yang tinggi akan mengakibatkan mesin sulit
dinyalakan pada suhu rendah. Pour point ester minyak jarak yang dihasilkan jauh
lebih rendah daripada spesifikasi yang diperbolehkan. Rendahnya nilai pour point
ini menunjukkan bahwa produk ester minyak jarak dapat digunakan pada daerah
yang sangat dingin.
minyak jarak mengindikasikan rantai karbon ester minyak jarak lebih pendek
daripada rantai karbon minyak jarak, sehingga memudahkan pembakaran pada
mesin.
3.1 Bahan
a. Minyak (Minyak yang digunakan dapat berupa minyak goreng, minyak
jelantah, minyak CPO)
b. Metanol
c. Katalis NaOH
d. Aquadest
3.2 Alat
a. Heating mantle
b. Magnetic stirrer
c. Labu leher tiga
d. Thermometer
e. Condenser
f. Pipa hisap
g. Pompa
h. Ember
20
21
Labu
Minyak
leher tiga
Jelantah
22
Pemanasan
Katalis NaOH
T = 70 oC + Methanol
Setting 1
Jam
Pendinginan
Analisa
Minyak Gelas
Nabati Piala
Pemanasan Katalis
NaOH +
T = 70 oC
Methanol
Setting 1
Jam
Pendinginan
23
Setting 24
Jam
Pemisahan
Pencucian
Air
T = 50 oC
Pemisahan
T = 100 oC
Analisa
3.3.2 Flowsheet
P-1
P-2
P-24 P-28
P-6
T-1
MINYAK CPO P-22
METANOL
P-11 C-1
H-1
P-23
M-1
P-9 P-10
P-7
V-1 T-4
P-21 P-25
D-1
P-12 R-1
T-2
METANOL
M-2
P-30 P-26 P-27
P-15 P-19 S-1
P-13
H-2
P-13
Keterangan Alat :
4. Proses Pengeringan
Pengeringan dilakukan untuk menghilangkan air pada biodiesel. Pada
proses ini, biodiesel yang telah dicuci dipanaskan pada suhu 1000C sampai
kandungan air dalam biodiesel hilang.
.
27
BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
4.1 Data Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Data hasil pengamatan
No Perlakuan Pengamatan
1 Timbang minyak goring - 100 gram
2 Timbang NaOH - 1 gram
3 Timbang methanol - 100 gram
4 Panaskan methanol + NaOH - Berwarna putih dan NaOH larut
sampai suhu 70oC sambil di
aduk mnggunakan stirrer
5 Panaskan minyak yang telah - Berwarna kuning, sedikit
dimasukkan kedalam labu gelembung
leher 3 sampai suhu 70oC
6 Masukkan methanol + NaOH - Warna menjadi kemerahan dan
kedalam labu leher 3 yang sedikit bening
berisi minyak lalu dipanaskan
kembali pada suhu konstan
70oC selama 1 jam
7 Campuran dimasukkan - Terbentuk 2 lapisan
kedalam corong pisah dan - Lapisan bawah gliserol
didiamkan selama 24 jam - Lapisan atas metil ester
8 Gliserol yang telah terpisah - Didapat berat gliserol + alcohol
ddimasukkan kedalam botol 107 gr
yang telah disiapkan
9 Metil ester yang telah terpisah - Kedua larutan bercampur
dicuci dengan air pada suhu
50oC
10 Didiamkan sampai terbentuk 2 - Lapisan atas metil ester
lapisan, dipisahkan dengan - Lapisan bawah air
corong pisah
11 Dilakukan beberapa kali - Setelah pencucian ke 3 metil ester
27
28
28
29
4.2 Perhitungan
Berat botol you c kosong = 118 gr
Massa Gliserol = (Massa gliserol + botol you c) – (berat botol you c
kosong)
= 223 gr – 118 gr
= 107 gram
Massa metil ester = (Massa metil ester + berat botol you c) – (berat
botol you c kosong )
= 155,34 gr – 118 gr
= 37,34 gr
Proses Transesterifikasi
a) Gliserol = 107 gr
b) Metil ester setelah pencucian = 37,34 gr
1. Menghitung % FFA
Dik : Vol NaOH = 1 gr = 4,5 ml
gr
𝜌 NaOH = 2,2 ml
gr
massa NaOH = 𝜌 NaOH x V NaOH = 2,2 x 4,5 ml = 9,9 gr
ml
m 1000
N NaOH = Mr x v
9,9 𝑔𝑟 1000
= 𝑔𝑟 x
40 2𝑚𝑙
𝑚𝑜𝑙
= 123,75 N
Volume minyak goreng = 100 gr = 115.6 ml
gr
𝜌 Minyak goreng = 0,865 ml
gr
BM minyak goreng CH3(CH2)7CH= CH (CH2)7COOH = 282 mol
gr
= 0,865 ml x 115,6 ml
= 99,994 gram
massa minyak goreng
Mol Minyak goreng = Bm minyak goreng
99,994 gr
= gr
282
mol
30
= 0,354 mol
gr
Mr metanol = 32,04 mol
gr
𝜌 metanol = 0,792 ml
= 100,27 gr
massa metanol
Mol metanol =
Mr metanol
100,27 gr
= 32,04 gr
mol
= 3,129 mol
V titrasi = 1 ml
BM asam Palmitat
%FFA = Vtitrasi x NNaOH x massa minyak (gr) x 1000 x 100
25,6
= 1 ml x 123,75 Nx 99.994 𝑥 1000 x 100
= 3,17 %
2. Persamaan Reaksi
CH2COOR1 NaOH CH2OH
CHCOOR2 + 3 CH3OH 3RCOOC + CHOH
CH2COOR3 CH2OH
Trygliseride Methanol Methyl Ester Glycerol
reaktan praktek
%Konversi = x 100 %
reaktan teori
0,1309
= 0,354
= 36,97 %
produk utama praktek
% Yield = x 100 %
produk utama teori
0,1309 gr
= 0,354 gr
= 36,97 %
produk utama teori – produk utama praktek
% Error = x 100 %
produk utama teori
0,354 gr-0,1309 gr
= 0,354 gr
= 63.02 %
32
BAB V
PEMBAHASAN
5 .1 Pembahasan
Pembuatan metal ester dapat dibuat dari berbagai minyak, salah satunya
dari minyak jelantah. Masing-masing dari minyak memiliki kadar FFA yang
tinggi sehingga berbeda-beda proses yang digunakan. Pembuatan metal ester
bertujuan untuk membuat bahan bakar yaitu biodiesel. Pada proses pembuatan
metal ester secara umum menggunakan proses esterifikasi dan transesterifikasi.
Untuk kadar FFA diatas 5% menggunakan proses esterifikasi, sedangkan untuk
kadar FFA yang rendah dapat menggunakan proses transesterifikasi. Pelarut yang
digunakan dalam pembuatan metil ester ini adalah metanol. Karena metanol
merupakan alkohol rantai pendek dan sangat mudah didapatkan serta harganya
terjangkau. Pada percobaan pembuatan metil ester untuk menjadi biodiesel, bahan
yang digunakan adalah minyak jelantah, metanol, NaOH sebagai katalis dan
aquades, serta proses pembuatannya menggunakan proses transesterifikasi.
Karena menggunakan proses transesterifikasi maka produk samping dari proses
ini adalah gliserol.
Dalam percobaan ini perbandingan bahan yang digunakan adalah minyak
jelantah dan methanol dengan perbandingan 1:1. Menggunakan metanol berlebih
agar membuat reaksi ke arah produk dan tidak kembali lagi ke arah reaktan karena
reaksi ini berisfat reversible. Minyak jelantah sebanyak 100 gram dan metanol
sebanyak 100 gram dimasukkan ke dalam beaker glass1 (satu) untuk diaduk
dengan menggunakan magnetic stirrer disertai pemanasan menggunakan hot
plate. Pada beaker glass 2 (dua) dimasukkan methanol 100gram dan NaOH 1%
atau 1 gram , dilakukan pemanasan menggunakan hot plate dan pengadukan
menggunakan magnetic stirrer. Pemanasan dilakukan pada suhu 70℃ dengan
kecepatan 600 rpm.
Pemisahan pada pencampuran di kedua beaker glass tersebut dilakukan
agar saat keduanya dicampurkan, larutan dapat lebih mudah tercampur semua.
Kecepatan dan suhu harus konstan agar reaksi yang terjadi di dalam kedua larutan
ketika dicampur stabil. Saat larutan sudah selesai diaduk lalu dilakukan
pencampuran kedua larutan selama 1 (satu) jam dan didinginkan. Pada proses
33
Pencucian dilakukan dengan cara metil ester dimasukkan ke dalam aquades yang
sudah dipanaskan tadi lalu diaduk agar bercampur secara menyeluruh. Dilakukan
pemisahan lagi untuk dilakukan pencucian kedua dan ketiga dengan metode yang
sama. Pada saat gliserol dilakukan pencucian dengan air sebanyak 50 ml dengan
suhu 50℃, gliserol dan air bercampur maka gliserol dan air menjadi satu
campuran sehingga sangat sulit dipisahkan kembali. Hal ini dikarenakan massa
jenis air dan gliserol tidak jauh berbeda. Pada saat penambahan air pada gliserol
terlihat ada busa pada permukaan pada gliserol, yang menandakan bahwa terdapat
sabun pada gliserol yang terikut. Sabun ini dapat terbentuk karena adanya reaksi
antara minyak jelantah dengan katalis NaOH sehingga terbentuk sabun. Setelah
pencucian, dilakukan pemanasan hingga suhu 100oC, pemanasan ini bertujuan
untuk menguapkan air, metanol dan produk sampingnya sehingga didapatkan
metil ester yang murni. Namun dalam praktikum ini konversi yang didapatkan
hanyalah 36,97 % dari produk, dan erornya sebesar 63.02 %. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor seperti, minyak jelantah yang digunakan tidak disaring
terlebih dahulu sehingga kotoran-kotoran masih terikut di dalamnya, persen FFA
dari minyak jelantah tersebut 3,17 % melebihi syarat minimalnya yaitu hanya
diperbolehkan minimal 5%.
Biodiesel yang dihasilkan baik menggunakan metode transesterifikasi
ataupun esterifikasi juga melibatkan beberapa faktor yakni, kecepatan
pengadukan, waktu reaksi serta temperatur pada suatu reaksi tersebut. Sehingga
dengan metode transesterifikasi yang digunakan untuk pembuatan biodiesel ini
dilakukan secara teliti untuk mendapatkan metal ester dengan nilai FFA yang
sesuai dengan hipotesis, didapatkan nilai FFA metal ester pada percobaan ini
yakni 3.17 %.
BAB VI
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1 Rasio dibuat untuk keberlangsungan reaksi agar terbentuk metil ester
dengan alkohol berlebih, pada percobaan ini digunakan rasio perbandingan
1: 3.
2 Semakin tinggi temperatur reaksi yang dioperasikan, maka konversi metil
ester semakin besar. Hal ini terjadi karena dengan naiknya suhu, maka
tumbukan antar partikel semakin besar, sehingga reaksi berjalan semakin
cepat dan konstanta reaksi semakin besar.
3 Berdasarkan teori semakin lama waktu reaksi, maka kemungkinan kontak
antar zat semakin besar sehingga akan menghasilkan konversi yang besar.
Jika kesetimbangan reaksi sudah tercapai maka dengan bertambahnya
waktu reaksi tidak akan menguntungkan karena tidak memperbesar hasil.
4 Prinsip yang digunakan dalam proses pembuatan metil ester yaitu
menggunakan prinsip esterifikasi dan transesterifikasi dengan cara kerja
yaitu minyak goreng yang dicampurkan dengan methanol sebanyak 1 %
dari banyaknya volume minyak diaduk menggunakan hot plate stirrer
dengan kecepatan yang telah disesuaikan dan didistilasi untuk
menghilangkan kandungan alkohol selanjutnya dilakukan proses
pengendapan, pemisahan dan pencucian.
5.2 Saran
1. Karena seiring berjalannya waktu persediaan energi dari fosil semakin
berkurang sehingga solar semakin menipis persediaannya dibandingkan
dengan kebutuhan terhadap solar yang semakin meningkat. Maka sekarang
kita dapat memaksimalkan penggunaan minyak jelantah sebagai
penggantinya dan bahan bakar biodiesel. Karena adanya alternatif ini kita
menjadi tidak sangat tergantung akan solar.
2. Membuang limbah minyak goreng atau minyak jelantah yang dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan yang bertentangan dengan prinsip
35
36
DAFTAR PUSTAKA
Rabah Fahid K. J. and Dahab Mohamed F., “Biofilm and Biomass Characteristics
in High Performance Fluidized-Bed Biofilm Reactors”, Journal of Water
Research, Vol. 38, pp 4262-4270, 2004
1
LAMPIRAN I
FOTO PRATIKUM
LAMPIRAN II
TUGAS UMUM
dan memiliki satu ikatan rangkap (Ketaren, 2005). Komposisi asam lemak minyak
kelapa sawit dan minyak inti sawit dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Komposisi
asam lemak minyak kelapa sawit Jenis asam lemak Kandungan (%) Asam kaprat
(C10:0) 1-3 Asam Laurat (C12:0) 0-1 Asam miristat (C14:0) 0,9-1,5 Asam
palmitat (C16:0) 39,2-45,8 Asam stearat (C18:0) 3,7-5,1 Asam oleat (C18:1)
37,4-44,1 Asam linoleat (C18:2) 8,7-12,5 Asam Linolenat (C18:3) 0-0,6 (Ketaren,
2005) 7 8 Komponen terbesar pada minyak kelapa sawit adalah trigliserida yang
merupakan ester dari gliserol dengan tiga molekul asam lemak menurut reaksi
sebagai berikut (Hudaya, 2010). 3RCOOH CH O C R2 O CH2 O C R3 O CH2 O
C R1 O 3 H2O Gliserol asam lemak trigliserida.
Biodiesel merupakan salah satu sumber alternatif untuk menggantikan
bahan bakar diesel yang berasal dari minyak bumi. Pengembangan biodiesel
berdampak positif bagi lingkungan. Biodiesel memiliki keunggulan antara lain
dapat menekan polusi, meningkatkan efisiensi mesin, tidak mengandung toksin
atau racun dan dapat dioperasikan pada musim dingin (-20 °C). Bahan baku untuk
memproduksi biodiesel biasanya berasal dari minyak nabati. Minyak nabati yang
sering digunakan seperti minyak kelapa sawit, minyak jarak, minyak kedelai serta
minyak nyamplung. Indonesia memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di Asia
Tenggara. Dua persen dari konsumsi minyak diesel pada tahun 2007 berasal dari
biodiesel minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak jarak. Semakin meningkatnya
jumlah produksi CPO maka semakin besar pula konsumsi CPO di Indonesia.
Menurut GAPKI pada tahun 2013 jumlah yang telah di ekspor mencapai 18 juta
ton dan sisanya sekitar 8 juta ton . CPO mengandung asam lemak bebas yang
relatif tinggi berkisar 3-5%. Pada pembuatan biodiesel yang menggunakan CPO
diperlukan tahapan esterifikasi. Tahapan esterifikasi bertujuan untuk menurunkan
asam lemak bebas karena produksi biodiesel asam lemak bebasnya harus kecil
dari 2%. Tahap esterifikasi memerlukan katalis asam seperti H2SO4 dalam
reaksinya.
Tahapan transesterifikasi merupakan proses pembentukan biodiesel dari
trigliserida dengan metanol menggunakan katalis basa. Katalis heterogen
merupakan alternatif lain yang dapat digunakan untuk pembuatan biodiesel ini.
Salah satu contoh katalis heterogen yang dapat digunakan seperti CaO
3
menggunakan minyak goreng bekas dengan katalis CaO dari cangkang kerang
darah pada suhu kalsinasi 800oC selama 10 jam, rasio mol minyak: metanol 1:6,
berat katalis 6%, temperatur reaksi 60 ± 2˚C diperoleh hasil produksi biodiesel
sebesar 70,20%. Cangkang kerang darah (Anadara granosa) memiliki kandungan
mineral yang tinggi yakni kalsium karbonat (CaCO3) dan berpotensi sebagai
sumber katalis heterogen untuk produksi biodiesel. Cangkang kerang darah
diubah menjadi serbuk dan terurai menjadi CaO melalui proses kalsinasi.
Kalsinasi dilakukan untuk menguraikan CaCO3 yang terdapat pada cangkang
kerang darah menjadi CaO. Komposisi cangkang kerang dikalsinasi pada suhu
800 oC selama 10 jam memiliki kadar CaO yang tinggi yaitu sebesar 99,14 dari %
berat. Cangkang kerang darah sebagai katalis memiliki keuntungan mudah
didapat, murah dan dapat mengurangi permasalahan limbah yang ada. Bahan
baku yang digunakan dalam produksi biodiesel adalah CPO dan metanol sebagai
sumber alkohol. Biodiesel dibuat melalui reaksi esterifikasi dengan menggunakan
katalis H2SO4 dan reaksi transesterifikasi menggunakan katalis CaO dari
cangkang kerang darah yang merujuk pada penelitian untuk mendapatkan hasil
biodiesel yang maksimal. (Kurniasih, 2013).
Produksi biodiesel yang dikembangkan saat ini umumnya dibuat dari
minyak tumbuhan (minyak kedelai, canola oil, rapeseed oil, crude palm oil),
lemak hewani (beef talow, lard, lemak ayam, lemak babi) dan bahkan dari minyak
goreng bekas (yellow grease/rendered greases) . Proses reaksi yang digunakan pun
bervariasi: transesterifikasi berkatalis basa (NaOH, KOH), esterifikasi berkatalis
asam (H2SO4, HCl), dan metode supercritical (Zhang [Link]., 2003). Produksi
biodiesel dengan metode transesterifikasi berkatalis basa, baik natrium
hidroksida/NaOH maupun natrium metoksida, banyak digunakan secara komersial
namun metode ini memiliki laju reaksi yang lamban dan adakalanya reaksi
berhenti sebelum terkonversi sempurna menjadi produk biodiesel. Penelitian
mengenai transesterifikasi minyak tumbuhan untuk menghasilkan fatty acid
methyl ester/biodiesel kususnya dalam bidang kinetika sangatlah kurang, hal ini
dimungkinkan bahwa proses reaksi transesterifikasi dengan katalis basa telah
diketahui dan dipahami dengan baik. Freedman et. al. (1986) dalam penelitiannya
mendapatkan perbandingan ratio optimal untuk transesterifikasi berkatalis basa
4
dengan metanol (Freedman et. al., 1986). Salah satu strategi untuk mengatasi
masalah keterbatasan transfer massa tersebut adalah reaksi satu fase. Reaksi satu
fase dapat dibentuk dengan menambahkan solvent yang dapat meningkatkan
kelarutan minyak, solvent tersebut selanjutnya disebut sebagai co-solvent. Co-
solvent sangat larut dengan alkohol, asam lemak dan trigliserida. Co-solvent yang
digunakan sebaiknya tidak mengandung air. Semakin banyak jumlah cosolvent
yang ditambahkan, kelarutan minyak akan meningkat sehingga reaksi akan
berjalan semakin baik. Co-solvent yang dipilih sebaiknyabmemilliki titik didih
dekat dengan metanol yang dapat mempermudah proses pemisahan di akhir
reaksi. Jenis senyawa yang dapat digunakan sebagai co-solvent antara lain: eter
siklis seperti tetrahidrofuran (THF), 1,4-dioxane, dietil eter, metil tersier butil
ester (MTBE) dan diisopropyl ether. Co-solvent ditambahkan secukupnya agar
alkohol, asam lemak, triglirserida dan co-solvent membentuk larutan single phase
([Link]). Berbagai studi literatur tersebut di atas menunjukkan adanya
penambahan co-solvent akan mengurangi keterbatasan transfer massa pada reaksi
metanolisis. Berdasarkan sifat dan nilai ekonomi, THF merupakan co-solvent
yang paling baik karena murah, tidak beracun, tidak reaktif dan bertitik didih
rendah (67oC) sehingga dapat dipisahkan secara co-distilasi bersama-sama
dengan metanol dan direcycle pada akhir reaksi. Selain itu, tetrahidrofuran dipilih
karena bersifat hirofilik dan hidrofobik sehingga dapat mengikat air dan alkohol
pada bagian hidrofiliknya dan melarutkan senyawasenyawa organik pada bagian
hidrofobiknya (Boocock, et. al., 1996). Proses ini berbiaya lebih rendah
mengingat reaksinya berada pada tekanan atmosfirik dan suhu rendah (dekat
dengan suhu ambient) sehingga energi yang diperlukan untuk proses relatif
rendah. Jumlah co-solvent yang ditambahkan bergantung pada jenis dan jumlah
asam lemak dan trigliserida. Derajat kejenuhan dan kepolaran dari jenis lemak
yang ada menentukan jumlah co-solvent yang dibutuhkan. Diperlukan 1,25 v/v
THF untuk minyak kedelai dengan 6:1 molar ratio antara metanol dan minyak
sedangkan untuk minyak kelapa/coconut oil, dengan nilai molar ratio yang sama,
hanya diperlukan 0,87 v/v THF. Berdasar latar belakang yang telah diuraikan di
atas untuk meningkatkan produktivitas biodiesel disertai dengan kualitasnya,
direncanakan untuk melakukan penelitian produksi biodiesel dari crude palm oil
6
mg-KOH/g Maks 0,8 AOCS CD 3-63 Bilangan penyabunan mg-KOH/g Min 96,5
ASTM D 6751 Bilangan iod g I2/100 g Maks 115 AOCS CD 1-25 .
3. Uji kualitas biodiesel
Analisis kuantitatif karakteristik biodiesel mengacu pada SNI 04-7182-
2006. Parameter yang diuji antara lain pengukuran densitas, viskositas, kadar air,
bilangan asam, bilangan iod, bilangan penyabunan, titik kabut dan bilangan
setana.
1. Pengukuran Densitas (ASTM D 1298)
Berat jenis menunjukkan perbandingan berat per satuan volume. Berat
jenis biodiesel diukur dengan menggunakan piknometer. Mula-mula piknometer
kosong yang kering dan bersih ditimbang beratnya. Kemudian dimasukkan
sampel kedalam piknometer tanpa ada gelembung udara dan bagian luar
piknometer harus dalam keadaan bersih lalu ditimbang beratnya. Berat jenisnya
dihitung dengan menggunakan rumus: Densitas ( ) = (13)
2. Penentuan Viskositas (ASTM D 445)
Biodiesel ditentukan kecepatan alirnya pada suhu kamar dengan
menggunakan alat Viskometer Ostwald diisi 10 mL akuades, kemudian diukur
waktu yang dibutuhkan akuades untuk melewati jarak antara dua tanda yang
terdapat pada viskometer. Setelah itu viskometer diisi dengan biodiesel dan diukur
waktu alirnya. Dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Nilai viskositas dihitung
dengan rumus: (14) Keterangan: = Koefisien viskositas minyak (Ns/m2 ) =
Koefisien viskositas air (8,327 x 10 Ns/m2 ) 29 = Berat jenis larutan (g/mL) =
Berat jenis air (1,028 g/mL) t = waktu alir larutan (s) v = viskositas (mm2 /s) =
3. Penentuan Bilangan Iod (AOAC Official Method 920.158)
Bilangan Iod menunjukkan jumlah gram iod yang dapat diikat oleh 100
gram lemak dan menunjukkan banyaknya ikatan rangkap atau ikatan tak jenuh.
Sebanyak 3 gram metil ester dilarutkan dalam 5 mL kloroform. Selanjutnya
larutan I2 sebanyak 10 mL ditambahkan ke dalam larutan dan didiamkan ditempat
gelap selama 30 menit. Campuran dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N dengan
indikator amilum sampai warna berubah dari merah kecoklatan menjadi jernih.
Cara yang sama dilakukan untuk blanko. Bilangan iod ditentukan dengan
persamaan berikut: Bilangan iod = 12, blanko - Berat sampel (15) Keterangan: =
10
volume Na2S2O3 (mL) = normalitas Na2S2O3 (mL) 12,69 = massa molekul iod
(g/mol)
4. Penentuan Angka Setana (ASTM D 613)
Bilangan setana menunjukkan seberapa cepat bahan bakar mesin diesel
yang diinjeksikan ke ruang bakar bisa terbakar secara spontan. Azam et al. (2005)
membuat persamaan untuk menentukan bilangan setana sebagai fungsi dari angka
iodine (IV) dan saponifikasi (SN) sebagai berikut: CN = 46,3 + 5458 / SN − 0,225
x IV (16) Keterangan: CN = bilangan setana 30 SN = bilangan penyabunan IV =
bilangan iod
5. Penentuan Kadar Air (ASTM D 1796)
Cawan ditimbang dan dicatat beratnya kemudian diambil metil ester
sebanyak 5 gram dan diletakkan kedalam cawan, setelah itu cawan yang berisi
sampel ditimbang dan dicatat berat awalnya, kemudian dikeringkan menggunakan
oven pada suhu 105oC selama 30 menit sampai diperoleh berat konstan, sampel
didinginkan kemudian ditimbang kembali dan dicatat berat akhirnya. Penentuan
% kadar air dihitung dengan rumus sebagai berikut : (17) Keterangan : Berat
sampel = Berat sampel – berat cawan Berat sampel kering = Berat sampel kering
– berat cawan (Nurhayati et al., 2014)
6. Penentuan Bilangan Penyabunan (ASTM D 6751)
Lima gram metil ester dimasukkan ke dalam erlenmeyer ditambahkan
larutan KOH (4 gram KOH dalam 100 ml metanol) sebanyak 20 mL, mulut
Erlenmeyer kemudian ditutup dengan aluminium foil dan distirer selama 30 menit
pada suhu 70C. Hasil stirer didinginkan dan ditambahkan 3 tetes indikator
phenolphtalein. Kemudian campuran dititrasi dengan larutan HCL 0,45 N.
Selanjutnya membuat pengujian blanko dengan cara memasukkan larutan KOH (4
gram KOH dalam 100 ml metanol) sebanyak 20 mL ke dalam erlenmeyer,
kemudian ditambahkan indikator phenolphtalein sebanyak 3 tetes, kemudian
dititrasi menggunakan larutan HCL 0,45 N hingga berubah warna dari 31 kuning
telur menjadi bening. Angka penyabunan dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut. (18) Keterangan: b = Volume HCl 0,45 N dalam titrasi
blangko c = Volume HCl 0,45 N dalam titrasi sampel N = Normalitas (N) BM =
Berat molekul (g/mol)
11
menyebutkan bahwa minyak berkandungan asam lemak tinggi (>2% FFA) tidak
sesuai digunakan untuk bahan baku pada reaksi transesterifikasi. Perlu dilakukan
reaksi dua tahap yaitu esterifikasi dan transesetrifikasi guna menurunkan
kandungan asam lemak hingga <2%. Untuk itu, penentuan kandungan FFA pada
bahan baku sangat penting dilakukan sebelum diolah menjadi biodiesel.
b. Proses Esterifikasi
Reaksi esterifikasi adalah reaksi antara asam lemak bebas dan
alkohol menjadi ester, sebagai reaksi pendahuluan dari reaksi transesterifikasi
dengan tujuan menurunkan kadar asam lemak bebas. Reaksi esterifikasi juga
merupakan reaksi kesetimbangan yang bersifat endoterm dengan katalis
asam. Mengingat bahan baku minyak dengan kandungan asam lemak tinggi
yaitu sebesar 5,47% jika digunakan sebagai bahan baku pada reaksi
transesterifikasi yang berkatalis basa maka asam lemak akan bereaksi dengan
katalis membentuk sabun melalui reaksi penyabunan, sehingga efektifitas
katalis akan menurun karena sebagian katalis bereaksi dengan asam lemak.
Cara ini diawali dengan tahapan esterifikasi yang bertujuan untuk menurunkan
FFA dari minyak dimana asam lemak ini akan diubah dalam bentuk ester.
Esterifikasi umumnya dilakukan dengan pemanasan secara konvensional
menggunakan katalis asam pendonor proton seperti asam sulfat (H2SO4)
serta metanol sebagai jenis alkohol pereaktannya mengingat metanol adalah
senyawa alkohol berantai karbon pendek dan bersifat polar, sehingga dapat
bereaksi lebih cepat dengan asam lemak serta dapat melarutkan semua jenis
katalis baik basa maupun asam dan lebih ekonomis. Reaksi esterifikasi
60 C
dilakukan pada suhu o selama 2 jam dan dilakukan pengadukan secara terus
menerus untuk mempercepat reaksi dan agar seluruh katalis dapat bereaksi
dengan reaktan. Hasil reaksi esterfikasi diperoleh 3 fasa yakni berupa
trigliserida, gliserol dan air seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8.
Pemisahan dilakukan dengan menggunakan alat sentrifugasi untuk
memisahkan lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan berat jenisnya.
13
c. Proses Transesterifikasi
SUMBER :
Maliana, Nur. 2016. Pembuatan Biodiesel Dari Crude Palm Oil (Cpo) Melalui
Reaksi Dua Tahap Dengan Menggunakan Katalis H2so4dan K2o Dari Abu
Tandan Kosong Kelapa Sawit (Atkks). Kendari : Program Studi Kimia
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Halu Oleo
1
LAMPIRAN III
TUGAS KHUSUS
Enzyme Reactor
1. Enzyme Reactor
sehingga proses hilir menjadi mahal. Biasanya untuk mengakali masalah tersebut,
bahan baku harus melalui tahap perlakuan awal (pretreatment) dahulu, sehingga
diperoleh bahan baku sasaran dengan konsentrasi tinggi. Apabila bahan baku yang
telah meng-alami proses pretreatment dimasukkan ke dalam bioreaktor yang telah
dilengkapi dengan enzim spesifik, maka dapat diperoleh produk dengan
konsentrasi yang lebih tinggi.
EMR terbagi menjadi dua ruang yang terpisahkan dengan membran yaitu
ruang reaksi dan ruang produk. Substrat direaksikan dengan enzim di dalam ruang
3
reaksi sehingga dihasilkan sejumlah produk. Produk yang telah dihasilkan keluar
dari ruang reaksi melalui membran dengan berdifusi. Enzim juga harus
dikondisikan agar tidak dapat menembus membran sehingga terus berada di dalam
ruang reaksi. Dengan demikian enzim dikondisikan tersuspensi di dalam ruang
reaksi atau terimobilisasi pada membran. Biasanya, diameter enzim adalah 10
hingga 80 kD. Karena itu, membran yang biasa digunakan pada EMR adalah
membran ultrafiltrasi. Ada juga EMR yang menggunakan membran reverse
osmosis apabila memang diperlukan. Pemilihan material membran bergantung
pada sifat enzim dan produk.
2. Perancangan EMR
Empat faktor utama yang mempengaruhi unjuk kerja EMR perlu
diperhatikan dalam perancangan EMR. Keempat faktor tersebut meliputi pelarut,
membran, dimensi reaktor, dan material reaktor.
1. membran keramik
2. aqua dm
3. larutan gelatin dan/atau biopolimer lainnya
4. glutaraldehid
5. larutan buffer
6. enzim
Langkah pertama yang dilakukan adalah membilas membran dengan aqua
dm selama 60 menit. Pembilasan dilakukan dengan cara seolah-olah melakukan
filtrasi pada aqua dm tersebut dengan membran. Setelah itu, membran dilapis
dengan gelatin yang bersifat inert. Pelapisan juga dilakukan dengan cara filtrasi
larutan gelatin dengan membran selama 60 menit. Setelah itu, membran berlapis
gelatin dibilas kembali dengan aqua dm selama 15 menit. Kemudian, membran
ditempelkan dengan glu-taraldehid yang berfungsi sebagai agen crosslink dengan
enzim. Penempelan dilakukan pada temperatur 25°C. Kemudian, membran dibilas
dengan suatu larutan buffer. Larutan buffer tersebut harus memiliki pH yang
sesuai dengan karakteristik enzim. Pembilasan dengan buffer dilakukan selama 15
menit. Setelah itu, enzim ditempelkan dengan teliti pada membran. Posisi enzim
pada membran harus sedemikian rupa sehingga tidak memicu terjadinya fouling
ketika reaksi diselenggarakan.
EMR multifasa terdiri atas dua fasa yaitu fasa terlarut dalam air dan fasa
organik yang terlarut dalam pelarut organik. Kedua fasa tersebut dapat berperan
sebagai ruang reaksi ataupun ruang produk, tergantung dari kepolaran substansi
atau produk terhadap kedua fasa tersebut. Reaksi dalam EMR multifasa terjadi
pada permukaan membran. Reaktor jenis ini memanfaatkan prinsip ekstraksi,
yaitu menarik substansi (produk) yang terbentuk dari satu fasa ke fasa lain.
Penggunaan reaktor ini dapat mengatasi permasalah-an substrat dengan tingkat
kelarutan yang rendah dalam air.
EMR mikro (MEMR) merupakan EMR yang didesain dengan dimensi yang
lebih kecil dengan faktor skala tertentu. MEMR ini memiliki kelebihan
dibandingkan dengan EMR konvensi-onal. Dimensi reaktor yang kecil
menyebabkan rasio luas permukaan terhadap volume enzim dalam MEMR ini
jauh lebih besar daripada EMR konvensional, bahkan dapat mencapai 105 kali
lebih besar. Dimensi reaktor yang kecil juga mengakibatkan lintasan perpindahan
massa substrat yang kecil pula. Dengan demikian, laju perpindahan massa ke
enzim menjadi tinggi sehingga reaksi dapat dikondisikan seagresif mungkin.
Reaksi dalam MEMR juga memberikan perolehan (yield) dan selektivitas yang
lebih tinggi dibandingkan dengan EMR konvensional. MEMR ini juga dapat
mengondisikan beberapa reaksi tertentu yang sulit dikondisikan dengan baik pada
EMR konvensional.
MEMR ini dapat dioperasikan untuk skala besar dengan cara yang unik. Scale-
up produksi dengan menggunakan MEMR dilakukan cukup dengan menambah
jumlah unit MEMR yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah produk yang
diinginkan. Metode scale-up seperti ini tidak memerlukan tahap perancangan dan
peng-ujian pada skala pilot. Dengan demikian, seluruh biaya untuk perancangan
skala pilot dapat dihemat. Waktu komersialisasi proses pun lebih singkat karena
tidak melalui tahap perancangan skala pilot.
6
Perbandingan harga EMR dan MEMR, dari segi pemodalan dan biaya operasi
diberikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.
EMR/€ MEMR/€
Modul 1490a) 250d)
dosing pump 6000b) 6000
circulation
2500
pump
magnetic stirrer 400c)
total biaya 7890 8750
a) harga katalog JFC, Jerman.
Tabel 2. Perbandingan harga operasi harian pada EMR dan MEMR berdasarkan
price list [21].
MEMR/€ EMR/€
NADH 0,54 32,18
Asetofenon < 0,01 0,01
Buffer < 0,01 0,14
Enzim 0,09 4,50
biaya harian 0,65 36,83
Meskipun harga unit MEMR 10% lebih mahal daripada EMR, besarnya
biaya tersebut dapat dikompensasi dengan biaya operasional MEMR yang
besarnya 57 kali lebih murah dari harga operasi EMR.
kondisi operasi apapun, aktivitas dan stabilitas dari enzim-membran selalu lebih
tinggi daripada enzim-celite. Hal tersebut terjadi karena pada enzim-membran
terbentuk microenvironment yang mendukung terjadinya reaksi.
terutama oleh retentat (substansi yang tertahan dalam pemisahan). Fouling pada
membran se-ringkali terjadi pada reaktor dengan enzim yang tersuspensi dalam
larutan. Fouling juga dapat terjadi bila lapisan enzim pada membran enzima-tik
terlalu tebal. Lapisan enzim yang tebal berpo-tensi mengurangi fluks permeat
(produk).
Kondisi campuran dalam EMR pada satu lokasi dengan lokasi lainnya
heterogen, terutama dalam EMR dengan enzim yang terimobilisasi pada
membran. Heterogenitas tersebut menye-babkan substrat lebih mudah bereaksi
pada lokasi yang lebih dekat dengan enzim. Hal itu tidak dikehendaki karena
mengakibatkan konsentrasi produk menjadi tidak homogen dan menimbulkan
polarisasi konsentrasi. Untuk mengatasi heterogenitas tersebut, maka reaktor perlu
dilengkapi dengan pengaduk. Pengaduk yang disarankan untuk EMR adalah
pengaduk berupa paddle. Pengaduk paddle dijalankan pada laju putaran yang
rendah sehingga dapat menyelenggarakan pencampuran yang menim-bulkan
tegangan seret terhadap enzim seminim mungkin.
5. Perkembangan Terkini
Saat ini, semakin banyak penelitian terhadap EMR untuk optimasi
parameter operasi skala komersial dan diteliti lebih lanjut guna menemukan
kondisi yang optimum dalam penyelengga-raan reaksi. Bagian ini dikhususkan
untuk membahas perkembangan optimasi dan desain EMR yang telah dilakukan
pada tahun 2014.
produksi secara par-taian tidak efektif dan tidak feasible secara ekonomi, karena
membutuhkan enzim yang banyak serta kehilangan aktivitas enzim terjadi dalam
jumlah besar. Perolehan laktulose pun rendah, hanya 0,04 mg/jam dalam jangka
waktu 35 jam. Hal tersebut terjadi karena dalam reaktor partaian, laktulose mudah
terhidrolisis kembali oleh β-galaktosidase, yang berperan sebagai katalis utama.
Karena itu, diperlukan membran dalam reaktor untuk memisahkan produk dari
enzim sebelum terhidrolisis. Dalam EMR, perolehan laktulose meningkat hingga
0,7 mg/jam dalam jangka waktu 5 jam. Selain ke-beradaan membran, peningkatan
perolehan juga disebabkan oleh kemampuan sistem untuk dioptimasi lebih lanjut
melalui parameter waktu tinggal (residence time), laju pengadukan, dan kekuatan
ion dalam media.
dengan: (1) pengikatan ionik untuk penyangga penukar ion (misalnya DEAE
selulosa, DEAE sephadex dan karboksimetil selulosa), (2) adsorpsi melalui
interaksi van der Waals untuk penyangga hidrofobik (misalnya polypropylene
dan teflon) atau (3) pengikatan kovalen antara amino ataukarboksil kelompok
asam amino dan membran penyangga. Ikatan kovalen tersebut biasanya
dibentuk oleh molekul-molekul jembatan aktif, seperti CNBr, dan bi-atau
reagen multifungsi seperti glutaraldehid. Imobilisasi ini sangat stabil, tetapi
memiliki kelemahan yaitu denaturasi enzim asli selama proses pengikatan;
Selanjutnya, imobilisasi sulit untuk mengisi kembali enzim terdenaturasi.
lemak dan gliserol. Reaksi ini dapat dilakukan secara kimiawi menggunakan
katalis dengan energi tinggi, dan dapat secara enzimatik. Pembuatan biodisel dari
minyak nabati telah banyak dikaji bahkan diproduksi secara komersial di luar
negeri (Darnoko, dkk.2001., Ananta-Andi-Anggraini, dkk., 1998., Krawczyk,
1996., Knothe, 2001). Cara kimiawi ini mempunyai kelemahan, yaitu energy
consuming, transesterifikasi tidak sempurna jika tinggi kandungan asam lemak
bebas dan airnya, sulit memisahkan residu katalis dan gliserolnya serta butuh
pencucian berulang untuk pemurnian (Nelson, dkk., 1996). Hal ini dapat diatasi
dengan cara transesterifikasi enzimatis. Beberapa minyak nabati telah dicoba
untuk dikonversi menjadi biodisel secara enzimatis (Yulianto, M.E., dkk., 2005,
Watanabe, dkk., 2001., Shimada, dkk., 1999., Selmi dan Thomas., 1998., Nelson,
dkk., 1996). Studi awal juga telah dilakukan dalam skala laboratorium dengan
menggunakan reaktor enzimatis, dimana menunjukkan bahwa metanolisis
trigliserida dengan biokatalis sangat potensial dalam memproduksi biodisel
(Yulianto, M.E., dkk., 2005). Jenis reaktor ini mempunyai keuntungan seperti
keseragaman waktu tinggalnya, intensitas pengaduk, perpindahan massa dan
panas dapat divariasi, dan mudah dalam mengendalikan suhu, pH serta kecepatan
putar pengaduk (Yulianto, M.E., dkk., 2005.., Watanabe, dkk., 2001., Shimada,
dkk., 1999). Dari berbagai kajian tersebut dapat disimpulkan berbagai faktor yang
mempengaruhi reaksi transesterifikasi enzimatis tersebut, antara lain sumber
enzim, kadar air, rasio metanol/minyak, suhu jika waktu reaksinya pendek.
Disamping itu, secara umum reaksi interesterifikasi dapat dipengaruhi oleh
adanya beberapa jenis pelarut organik, sementara pelarut organik lain tidak.
Pelarut organik ini dapat memfasilitasi kontak antara enzim dan substrat, serta
dapat mengencerkan viskositas campuran. Meskipun demikian, kendala yang
dihadapi dalam mengkonversi minyak biji karet menjadi biodisel secara
enzimatis, adalah minyak tersebut memiliki bilangan Iodium relatif tinggi, yaitu:
132-141 g-I2/100 g. Selain itu,
harga enzim yang tersedia secara komersial masih mahal karena masih import.
Oleh karena itu perlu diupayakan perlakuan awal pada minyak biji karet dan
sumber lipase indigeneous yang murah serta berpotensi. Untuk meminimasi angka
iodium dengan cara menurunkan asam linolenatnya melalui proses hidroksilasi,
17
SUMBER :
1. Pengertian Reaktor
Reaktor adalah suatu alat proses tempat di mana terjadinya suatu reaksi
berlangsung, baik itu reaksi kimia, nuklir, dan biologis, dan bukan secara fisika.
Ada berbagai macam jenis dan bentuk yang dapat diklasifikasikan berdasarkan
beberapa faktor dan jenis-jenis reaktor. Untuk itulah alasan pemilihan jenis
reaktor yang tepat tujuan pemilihannya serta parameter yang mempengaruhi
rancangan nya untuk proses kimia tertentu perlu diketahui. Tujuan utama dalam
memilih jenis reaktor adalah alasan ekonomis, keselamatan, dan kesehatan kerja,
serta pengaruhnya terhadap lingkungan.
Reaktor Fixed Bed adalah reaktor dengan menggunakan katalis padat yang
diam dan zat pereaksi berfase gas. Butiran-butiran katalisator yang biasa dipakai
dalam reaktor fixed bed adalah katalisator yang berlubang di bagian tengah,
karena luas permukaan persatuan berat lebih besar jika dibandingkan dengan
butiran katalisator berbentuk silinder, dan aliran gas lebih lancar.
Fixed Bed Reaktor merupakan suatu reaktor yang mana katalis berdiam di
dalam reactor bed. Di dalam reaktor, katalis ditopang oleh suatu struktur catalyst
support berupa perforated tray dengan tambahan lapisan inert semacam ceramic
balls dengan diameter bervariasi sesuai dengan ukuran partikel katalis baik di sisi
terbawah maupun di lapisan teratas bed katalisator.
Secara spesifik, fixed bed reaktor yang ada di unit pengolahan minyak
bumi dirancang oleh vendor berdasarkan kebutuhan proses. Struktur internal
reaktor pun berbeda dari vendor satu dengan lainnya. Karena sifatnya yang sangat
spesifik, perancangan reaktor itu sendiri biasanya juga terkait dengan lisensor
prosesnya, misalnya perancangan fixed bed reactor untuk Unicracking akan
berbeda dengan perancangan fixed bed reaktor untuk MSDW Lube Catalytic
Dewaxing. Hal ini terkait dengan kebutuhan proses, terutama terkait dengan
kebutuhan katalis yang sangat spesifik tergantung pada vendornya masing-
masing. Meskipun demikian, secara umum bagian-bagian internal reaktor tetap
sama, hanya saja tiap lisensor proses maupun vendor reaktor tersebut memiliki
typical design masing-masing yang diharapkan mampu mengoptimalkan fungsi
dari reaktor tersebut.
20
Bagian utama dari sebuah fixed bed reactor adalah reactor vessel, reactor
internals, katalisator, inert dan graded katalisator. Reactor vessel merupakan
bagian yang menyediakan tempat bagi katalis dan tempat berlangsungnya kontak
antara minyak umpan dan katalis yang kemudian terjadi reaksi. Reactor vessel
dirancang dengan dasar perancangan pressure vessel.
Reaktor Fixed Bed merupakan suatu reaktor yang mana katalis berdiam di
dalam reaktor bed. Di dalam reaktor, katalis ditopang oleh suatu struktur catalyst
support berupa perforated tray dengan tambahan lapisan inert semacam ceramic
balls dengan diameter bervariasi sesuai dengan ukuran partikel katalis baik di sisi
terbawah maupun di lapisan teratas bed katalisator.
Secara spesifik, reaktor fixed bed yang ada di unit pengolahan minyak
bumi dirancang oleh vendor berdasarkan kebutuhan proses. Struktur internal
21
reaktor pun berbeda dari vendor satu dengan lainnya. Karena sifatnya yang sangat
spesifik, perancangan reaktor itu sendiri biasanya juga terkait dengan lisensor
prosesnya, misalnya perancangan reaktor fixed bed untuk unicracking akan
berbeda dengan perancangan reaktor fixed bed untuk MSDW Lube Catalytic
Dewaxing. Hal ini terkait dengan kebutuhan proses, terutama terkait dengan
kebutuhan katalis yang sangat spesifik tergantung pada vendornya masingmasing.
Meskipun demikian, secara umum bagian-bagian internal reaktor tetap sama,
hanya saja tiap lisensor proses maupun vendor reaktor tersebut memiliki typical
design masing-masing yang diharapkan mampu mengoptimalkan fungsi dari
reaktor tersebut. (Indriyati , 2012)
Bagian utama dari sebuah reaktor fixed bed adalah reaktor vessel, reaktor
internals, katalisator, inert dan graded katalisator.
1. Reaktor vessel
2. Reaktor Internal
Selain reaktor vessel, struktur internal reaktor juga sangat menunjang
optimalnya kinerja dari sistem reaksi yang terjadi di dalam reaktor tersebut.
Beberapa kata kunci seperti distribusi umpan, distribusi panas, fouling,
distribusi lapisan katalisator, dan juga temperatur reaksi merupakan beberapa
hal yang mewakili peran dari struktur internal reaktor tersebut. Secara umum
struktur internal terdiri atas feed distributor, distribution tray, scale basket,
quench distributor, collector ring, inert and catalyst graded.
3. Katalisator
22
Katalisator merupakan salah satu hal vital dalam sistem reaksi di dalam
reaktor. Pasalnya, pada perancangan reaktor semua variabel proses ditentukan
oleh physical properties dan kebutuhan reaksi dari katalisator. Misalnya
batasan pressure drop untuk reaksi maupun regenerasi tidak boleh melebihi
crushing strength dari partikel katalisator. Begitu halnya dengan temperatur.
Pada bed katalisator, inert balls diletakkan di bagian atas dan bawah
katalisator. Di bagian atas katalisator, inert balls berfungsi meredam energi
tumbukan dari aliran umpan guna menjaga distribusi katalisator di dalam bed
katalisator. Di bagian bawah bed katalisator, inert balls berfungsi sebagai
support untuk menopang katalisator dan juga menjaga agar katalisator tidak
ikut mengalir keluar bed katalisator bersama aliran umpan.
1. Single Bed
2. Multi tube
Katalisator diisi lebih dari satu tumpuk katalisator, fixed bed dengan
katalisator lebih dari satu tumpuk banyak dipakai dalam proses adiabatik. Jika
reaksi yang terjadi sangat eksotermis pada konversi yang masih kecil suhu gas
sudah naik sampai lebih tinggi dari suhu maksimum yang diperbolehkan untuk
katalisator, maka gas harus di dinginkan terlebih dahulu kedalam alat penukar
panas diluar reaktor untuk di dinginkan dan selanjutnya dialirkan kembali ke
24
reaktor melalui tumpukan katalisator kedua, jika konversi gas yang keluar dari
tumpukan kedua belum mencapai yang direncanakan, tetapi suhu gas sudah lebih
tinggi dari yang diperbolehkan maka dilakukan pendinginan lagi dengan
mengalirkan gas kea lat penukar panas kedua kemudian di kembalikan ke reaktor
yang masuk melalui tumpukan katalisator ketiga dan seterusnya sampai diperoleh
konversi yang diinginkan. Jika reaksi bersifat endotermis maka penukar panas
diluar reactor dapat digunakan untuk pemanas gas reaksi.
Katalisator diisi lebih dari satu tumpuk katalisator, fixed bed dengan
katalisator lebih dari satu tumpuk banyak dipakai dalam proses adiabatic. Jika
reaksi yang terjadi sangat eksotermis pada konversi yang masih kecil suhu gas
sudah naik sampai lebih tinggi dari suhu maksimum yang diperbolehkan untuk
katalisator, maka gas harus di dinginkan terlebih dahulu kedalam alat penukar
panas diluar reactor untuk di dinginkan dan selanjutnya dialirkan kembali ke
reaktor melalui tumpukan katalisator kedua, jika konversi gas yang keluar dari
tumpukan kedua belum mencapai yang direncanakan, tetapi suhu gas sudah lebih
tinggi dari yang diperbolehkan maka dilakukan pendinginan lagi dengan
mengalirkan gas kea lat penukar panas kedua kemudian di kembalikan ke reactor
yang masuk melalui tumpukan katalisator ketiga dan seterusnya sampai diperoleh
konversi yang diinginkan. Jika reaksi bersifat endotermis maka penukar panas
diluar reactor dapat digunakan untuk pemanas gas reaksi.
25
Gambar 2. Contoh reaktor fixed bed multi bed dan single bed.
3. Multi bed
Tiga kelas penting dari reaktor non adiabatik adalah sebagai berikut:
Klasifikasi model:
Reaktor unggun tetap pada dasarnya dijelaskan oleh kontinum jenis model, tetapi
sel model telah dikembangkan untuk menjelaskan struktur dua fase reaktor.
Kebanyakan reaksi katalitik adalah reaksi aliran aksial klasik, paling. Model
diandalkan adalah model kontinum klasik.
27
6. Pemilihan katalisator
Katalisator merupakan salah satu hal vital dalam sistem reaksi di dalam
reaktor. Pasalnya, pada perancangan reaktor semua variabel proses ditentukan
oleh physical properties dan kebutuhan reaksi dari katalisator. Misalnya batasan
pressure drop untuk reaksi maupun regenerasi tidak boleh melebihi crushing
strength dari partikel katalisator. Begitu halnya dengan temperatur. Temperatur
dibatasi dengan melting point komponen penyusun katalisator. Selain itu
temperatur sistem reaktor yang eksotermis misalnya, akan sangat rentan terjadi
overheating pada reactor vessel. Oleh karena itu, pemilihan material reactor
vessel, penentuan sistem distribusi panas, ukuran diameter dan tinggi bed
katalisator akan memerlukan perhatian khusus dalam perancangannya. Begitu
pula dengan instrumentasi yang dibutuhkan terutama thermocouple (temperature
sensor element). Baik jumlah maupun konfigurasinya dalam sistem axial maupun
radial akan sangat menunjang monitoring ketat distribusi panas di dalam bed
katalisator agar tidak terjadi runaway.
1. Reactor Internals
Selain reactor vessel, struktur internal reaktor juga sangat menunjang
optimalnya kinerja dari sistem reaksi yang terjadi di dalam reaktor tersebut.
Beberapa kata kunci seperti distribusi umpan, distribusi panas, fouling, distribusi
lapisan katalisator, dan juga temperatur reaksi merupakan beberapa hal yang
mewakili peran dari struktur internal reaktor tersebut. Secara umum struktur
internal terdiri atas feed distributor, distribution tray, scale basket, quench
distributor, collector ring, inert and catalyst graded. Klik link berikut untuk
melihat reactor internals 3D model.
29
2. Feed Distributor
Feed distributor merupakan struktur internal yang terletak di bagian inlet
reaktor. Feed distributor ini berupa struktur yang memiliki baffle dan deflector
yang memungkinkan umpan masuk ke dalam reaktor didistribusikan secara
merata ke dalam bed katalisator. Distribusi umpan ini merupakan kunci dari sitem
reaksi di dalam bed katalisator. Dengan meratanya distribusi umpan, maka
distribusi panas di dalam bed juga akan merata dan reaksi dapat berlangsung
dengan optimal. Salah satu dampak negatif dari tidak meratanya distribusi umpan
adalah akan terjadi hotspot pada titik tertentu pada bed katalisator yang lama-
kelamaan akan terjadi channeling dan hal ini akan mempengaruhi lifetime dari
katalisator.
3. Distribution Tray
Distribution tray pada intinya melanjutkan tugas dari feed distributor
yakni memeratakan distribusi umpan ke dalam bed katalisator. Distribution tray
ini berada pada bagian teratas dari bed katalisator pertama di dalam reaktor.
Distribution tray berupa tray dengan struktur slotted-chimneys dan/atau bubble
cap tray yang memungkinkan terjadinya kontak antara fase vapor dan liquid.
Melalui kontak ini, akan terjadi transfer massa dan transfer panas dan pada
akhirnya vapor dan liquid dari umpan dapat didistribusikan secara merata ke
dalam bed katalisator.
4. Scale Basket
Scake basket merupakan struktur semacam mesh strainer yang disusun
pada layer pertama bed katalisator dengan konfigurasi tertentu. Pemasangan scale
basket ini merupakan salah satu upaya guna mengurangi terjadinya fouling pada
bed katalisator sehingga pressure drop bed katalisator dapat terjaga.
5. Quench Distributor
Quench distributor merupakan suatu struktur yang dipasang di antara dua
bed katalisator. Quench distributor dipasang pada reaktor dengan sistem reaksi
eksotermis. Fungsinya adalah untuk me-maintain temperatur outlet bed sebelum
memasuki bed katalisator berikutnya. Pasalnya, temperatur outlet bed akan selalu
30
lebih tinggi dari inletnya karena sistem reaksinya eksotermis. Apabila temperatur
outlet bed pertama sudah tinggi, maka setelah melalui bed kedua temperatur akan
naik lagi. Jika kondisi ini tidak diatur, maka potensi terjadinya runaway akan
lebih besar. Oleh karena itu, dibuatlah struktur quench distributor yang akan
mendistribusikan quench gas pada effluent bed pertama guna menurunkan
(menjaga) temperatur sebelum memasuki bed berikutnya.
Struktur quench distributor secara umum antara lain quench pipe sebagai
transfer line quench gas (misalnya hydrogen) ke dalam reaktor (quench zone).
Pada beberapa desain tipikal quench distributor, terdapat pula suatu struktur yang
mendistribusikan quench gas berupa silinder tertutup dengan beberapa lubang di
sisinya disebut quench sparger. Kemudian mixing table yang merupakan tempat
terjadinya percampuran antara quench gas dan effluent bed pertama. Dan struktur
paling bawah adalah distribution tray. Struktur distribution tray pada quench zone
ini hampir sama dengan struktur distribution tray pada lapisan teratas bed
pertama. Tujuan utamanya pun sama, suapaya terjadi heat transfer sehingga
temperatur effluent bed pertama dapat diatur sesuai kebutuhan sebelum memasuki
bed berikutnya.
7. Collector Ring
Collector ring merupakan perlengkapan internal reaktor yang mencegah
katalisator mengalir keluar reaktor. Collector ring ini dipasang pada bagian bawah
reaktor. Jumlah area terbuka di dalamcollector ring harus lebih besar dari lima
kali luas area outlet nozzlesehingga rentang penurunan aliran tidak
menimbulkan pressure dropyang berlebihan.
Pada akhir perancangan fixed bed reactor, perlu dievaluasi pressure drop
per bed maupun total reaktor. Hal ini sangat menentukan kebutuhan tekanan
operasi terkait dengan rotating equipment yang dibutuhkan. Perhitungan pressure
drop tidak hanya dihitung berdasarkan pressure drop yang ditimbulkan oleh
partikel katalisator, inert, dan graded katalisator saja tetapi juga dengan adanya
struktur internal reaktor seperti inlet diffuser, quench distributor, dan collector
ring. Hal ini karena keberadaan struktur internal reaktor tersebut juga
berkontribusi terhadap pressure drop yang terjadi di dalam reaktor. Pada akhirnya,
maksimum pressure drop dapat ditentukan berdasarkan pressure drop total (dalam
kondisi katalis bersih) ditambah fouling factor sesuai rekomendasi dari process
licensor. Itulah yang menjadi dasar bagi perancangan rotating equipments
penunjang reactor section tersebut.
2 C A 1 C A 2C A USCA
Dr DL R A B 0
r 2 r r z 2 z
Where
Dr , DL : Effective diffusivity , (length) 2 /time
(based upon total void plus nonvoid area)
C A : Concentration of component A, mol/vol
U S : Superficial velocity, length/time
R A : Global reaction rate, mol/(mass catalyst)(time)
B : Density of bed of catalyst pellets, mass/vol
1 T 2 T T 2T
kr
r r
2
U
S g Cp z
k L
2
R A B H 0
r z
Where
k r , k L : Effective thermal diffusivity,
energy/(time) (Length)(temperature)
g : Fluid density, mass/volume
Cp : Heat capacity, energy/(mass)(temperature)
Secara spesifik, reaktor fixed bed yang ada di unit pengolahan minyak
bumi dirancang oleh vendor berdasarkan kebutuhan proses. Struktur internal
reaktor pun berbeda dari vendor satu dengan lainnya. Karena sifatnya yang sangat
spesifik, perancangan reaktor itu sendiri biasanya juga terkait dengan lisensor
prosesnya, misalnya perancangan reaktor fixed bed untuk unicracking akan
berbeda dengan perancangan reaktor fixed bed untuk MSDW Lube Catalytic
Dewaxing. Hal ini terkait dengan kebutuhan proses, terutama terkait dengan
kebutuhan katalis yang sangat spesifik tergantung pada vendornya masingmasing.
Meskipun demikian, secara umum bagian-bagian internal reaktor tetap sama,
hanya saja tiap lisensor proses maupun vendor reaktor tersebut memiliki typical
design masing-masing yang diharapkan mampu mengoptimalkan fungsi dari
reaktor tersebut.
SUMBER :
2. Jenis-jenis reactor
A. Berdasarkan bentuknya
1. Reaktor tangki
Dikatakan reaktor tangki ideal bila pengadukannya sempurna, sehingga komposisi
dan suhu didalam reaktor setiap saat selalu uniform. Dapat dipakai untuk proses
batch, semi batch, dan proses alir.
2. Reaktor pipa
Biasanya digunakan tanpa pengaduk sehingga disebut Reaktor Alir Pipa.
Dikatakan ideal bila zat pereaksi yang berupa gas atau cairan, mengalir didalam
pipa dengan arah sejajar sumbu pipa.
B. Berdasarkan prosesnya
1. Reaktor Batch
34
2. Reaktor adiabatis
Dikatakan adiabatis jika tidak ada perpindahan panas antara reaktor dan
sekelilingnya. Jika reaksinya eksotermis, maka panas yang terjadi karena reaksi
dapat dipakai untuk menaikkan suhu campuran di reaktor. ( K naik dan -rA besar
sehingga waktu reaksi menjadi lebih pendek).
3. Reaktor Non-Adiabatis
D. Reaktor Gas Cair dengan Katalis Padat
1. Packed/Fixed bed reaktor (PBR)
Terdiri dari satu pipa/lebih berisi tumpukan katalis stasioner dan dioperasikan
vertikal. Biasanya dioperasikan secara adiabatis.
2. Fluidized bed reaktor (FBR)
• Reaktor dimana katalisnya terangkat oleh aliran gas reaktan.
• Operasinya: isotermal.
• Perbedaan dengan Fixed bed: pada Fluidized bed jumlah katalis lebih sedikit dan
katalis bergerak sesuai kecepatan aliran gas yang masuk serta FBR memberikan
luas permukaan yang lebih besar dari PBR.
E. Fluid-fluid reaktor
Biasa digunakan untuk reaksi gas-cair dan cair-cair.
1. Bubble Tank
2. Agitate Tank
3. Spray Tower
Fluidized bed reaktor adalah jenis reaktor kimia yang dapat digunakan
untuk mereaksikan bahan dalam keadaan banyak fase. Reaktor jenis ini
menggunakan fluida (cairan atau gas) yang dialirkan melalui katalis padatan
(biasanya berbentuk butiran-butiran kecil) dengan kecepatan yang cukup sehingga
katalis akan terolak sedemikian rupa dan akhirnya katalis tersebut dapat
dianalogikan sebagai fluida juga. Proses ini, dinamakan fluidisasi, memiliki
banyak keuntungan dibandingkan dengan FBR (Fixed Bed Reactor) sehingga
mulai banyak diterapkan dalam industri belakangan ini.
Fluidized Bed Reactor adalah adalah jenis reaktor kimia yang dapat
digunakan untuk mereaksikan bahan dalam keadaan banyak fasa. Reaktor jenis ini
menggunakan fluida (cairan atau gas) yang dialirkan melalui katalis padatan
36
dalam bentuk program untuk didistribusikan dan direplikasi. Sebagian besar ini
sudah menjadi standar praktik industri.
Ruang reaktor itu sendiri tidak akan memiliki peran aktif dan hanya berupa
wadah yang dapat dihubungkan ke jalur input dan output yang berbeda, dan
dioptimalkan untuk pencampuran komponen dan pemeliharaan kondisi reaksi
optimal. Penggunaan bingkai eksternal tampaknya cukup standar di industri dan
akan memungkinkan zona pencampuran, reaksi, dan kecepatan pemisahan yang
terpisah menjadi sederhana, dan digabungkan secara aman. FBR bisa menjadi
platform serbaguna untuk banyak sumber daya alam dan ekologi rekayasa sumber
daya OSE. Inti reaktor akan dirancang sedemikian rupa sehingga bisa digunakan
tanpa modifikasi dalam berbagai macam aplikasi melalui rekonfigurasi
komponen. Karena OSE mengidentifikasi proses kimia yang harus dilakukan di
dalam reaktor tempat tidur flu, tinjauan literatur open source menyeluruh harus
dilakukan di dalam halaman ini dan subsistem dan komponen yang diperlukan
diidentifikasi.
Jenis jenis reaktor fluidized bed reaktor:
a) Reaktor fluida gelembung - reaktor dimana laju alir katalis bubuk
diimbangi dengan kecepatan gas ke atas; Masukan gas terletak di pusat
paling bawah zona pencampuran
b) Reaktor fluida berombak - reaktor dimana tingkat pengendapan katalis
bubuk lebih tinggi dari kecepatan gas masukan; Masukan gas terletak di
sisi reaktor dan katalis didukung di bawahnya
c) Reaktor pengangkut - reaktor dimana tingkat pengendapan katalis bubuk
lebih rendah dari kecepatan gas masukan;
Berbagai bioplastik saat ini diproduksi termasuk polikarbonat, asam
polylactic, dan polyethylene. Polyethylene adalah plastik yang paling banyak
diproduksi di dunia dan dapat dibuat dalam bentuk kerapatan tinggi dan rendah
berdasarkan percabangan. Sebuah reaktor yang dapat digunakan untuk dehidrasi
etanol dan polimerisasi etilena adalah rute yang diusulkan untuk bioplastik
terbarukan yang diproduksi secara lokal. Karena sifat substrat, katalis bubuk, dan
kondisi katalitik yang optimal, FBRs telah menunjukkan kinerja yang superior
pada kedua tahap proses etanol menjadi polietilen, dengan reaktivitas dan
40
selektivitas tinggi. OSE FBR dapat memenuhi kebutuhan spesifik akan sintesis
bioplastik dan dengan dibangun di sepanjang pedoman OSE dapat dikonfigurasi
untuk berbagai aplikasi teknik kimia.
Mendefinisikan persyaratan FBR bioplastik
1. Ruang reaktor dengan kemampuan untuk menambah atau menghilangkan
substrat, produk, katalis, gas, dan suhu tahan, tekanan, dan kecepatan yang
digerakkan oleh media melalui reaktor. Sebuah. Dimensi berdasarkan volume
reaksi dan waktu kontak antara substrat dan katalis
2. Keselamatan: mampu menahan panas dan tekanan, bahan kimia berbahaya
tertinggal dua lapis perlindungan, produk ditangani dengan tindakan pencegahan
a. bahan reaktor b. desain untuk kualitas jangka panjang
3. Daur ulang media yang tidak terpakai, gas pembawa, katalis. Sebuah. Catalyst
regenerator untuk autoclave dan mengaktifkan katalis bekas.
4. Menyimpan energi panas: isotermal atau adiabatik, katalis panas dan substrat
dengan uap tergantung pada persyaratan kelembaban
5. Pengendalian atmosfer: kandungan gas, kenaikan dan penurunan rentang
tekanan, kadar gas di reaktor dan hilir, campuran gas mengendalikan hulu
6. Kontrol dan antarmuka: sensor kondisi yang sesuai dan tampilan kondisi yang
mudah dimengerti, kontrol atas kondisi dan input dan output
Kumpulkan cerita pengguna untuk memutuskan fitur yang paling penting
untuk dimasukkan ke dalam prototipe pertama
Langkah-langkah dalam pengoperasian FBR:
1. Menetapkan tekanan reaktor steady state dan kondisi suhu dengan katalis di
dalam ruang.
2. Letakkan substrat ke dalam ruang reaksi dan pindahkan katalis selama jangka
waktu yang optimal.
3. Pengumpulan produk dari aliran gas atau dari zona reaksi.
4. Pengumpulan aliran melalui gas dari zona reduksi.
5. Persiapan gas untuk didaur ulang.
6. Gas didaur ulang melalui pelabuhan gas utama.
Spesifikasi
41
Gambar 4 spesifikasi
Dimensi akan diubah setelah fillet ditambahkan ke
Flowrate - 0.5 - 5.0 m / s
Tekanan - 50 psi - 500 ~ 600 psi
Suhu - 0 - 500 ~ 600 C
Masukan port gas dengan port samping
Mencampur dimensi zona - radius 2 cm x 15 cm
volume - 188,4 ml
Dimensi zona reaksi - radius 3 cm x 40 cm
Volume zona reaksi - 1.113 l
Dimensi masuk zona pengurang - radius 2,5 cm sampai 1,25 cm x 15 cm
Dimensi zona reduksi - radius 60 cm x kedalaman 30 cm (? Apakah ini dimensi
yang baik untuk mencegah pengotoran)
Volume zona reduksi - 339.120 l
Port outlet diimbangi dari tengah.
Bahan - baja tahan karat nonreaktif
Inti Reaktor
Prototipe 1 akan dirancang sebagai reaktor berskala kecil yang hanya berisi
komponen inti dari ruang reaktor, ruang reduksi, fluidisasi gas, sistem
pencampuran substrat, dan kontrol suhu, tekanan dan laju alir yang terhubung ke
unit kontrol. Reaktor prototipe dirancang untuk menjadi reaktor cairan
menggelegak yang telah ditemukan ideal untuk proses yang ditunjuk. Reaktor
tersebut berdiameter 6 cm dengan zona reaksi 40 cm. Reaktor dibuat dari satu
bagian dari bahan dimana plat distributor dilekatkan dan memungkinkan untuk
42
mengubah zona reaksi dengan mengubah tinggi pelat distributor dan jumlah
katalis. Zona reduksi dirancang untuk dibuat dari dua potong agar mudah dibuat
dan dirakit dan akan memiliki dimensi berdiameter 30 cm dan berdiameter 30 cm.
Reaktor akan dipasang dalam bingkai bertulang yang akan dipasang ke lantai.
Bergantung pada parameter reaksi, reaktor dapat dibuat dari baja tahan karat,
namun reaktor kuat suhu lebih banyak akan terbuat dari bahan yang mampu
menahan panas tinggi seperti silikon karbida atau bahan keramik. Jaket firebrick
akan dibangun di sekitar mesin dengan celah udara kecil di antara keduanya dan
berfungsi sebagai blok termal dan untuk penahanan fisik.
Reaktor akan sesuai dengan standar desain OSE dan memungkinkan pembuatan,
perakitan, dan rekonfigurasi mudah dilakukan. Di luar ruang reaktor dan reduksi
yang akan diproduksi di tempat dari analisa gas rak, pengendali aliran gas,
kompresor gas dan berbagai komponen lainnya akan digunakan. Agar reaktor
mampu mengendalikan reaksi dehidrasi dan polimerisasi, ia harus dapat
mengendalikan reaksi eksotermik dan endotermik. Seni sebelumnya telah
menemukan bahwa ruang reaktor biasanya bersifat adiabatik dan pengendali suhu
harus dimasukkan ke dalam aliran gas; panas harus dikeluarkan dari aliran produk
dalam reaksi eksotermik dan ditambahkan ke aliran masukan dalam reaksi
endotermik.
Reaktor bekas dari semua ukuran dan untuk berbagai aplikasi dijual di LabX atau
Kitmondo jika reaktor standar industri murah perlu diperoleh terlebih dahulu
untuk pemeriksaan standar.
Masukan gas akan dilekatkan pada titik terendah masukan reaktor dan substrat
akan ditempatkan sedikit di atas. Reaktor akan dirancang untuk mencegah formasi
padat atau mengotori masalah teknis utama dalam industri saat ini. Pelat
distributor akan dilekatkan pada bibir yang terletak 15 cm di atas zona masukan
dan lampiran untuk menaikkan distributor tidak boleh sulit untuk digabungkan.
Serangkaian port sekrup di zona reaktor akan memungkinkan penambahan dan
pereaksi penghapus dan desain yang memungkinkan pelepasan bahan fase gas,
cair, dan padat harus menjadi tujuan. Untuk meminimalkan kerugian termal dan
meningkatkan efisiensi diusulkan agar hopper media, hopper katalis dan masukan
43
gas dikelompokkan dalam massa termal yang akan dipertahankan pada suhu yang
sama
Distributor Plate merupakan Pengontrol aliran massa termal tampaknya menjadi
cara yang lebih disukai untuk mengukur masukan dan keluaran gas dan dapat
ditemukan secara komersial .
Ruang mixer boiler merupakan Ruang untuk pencampuran, pemanasan dan
perubahan fasa gas dari substrat akan ditempatkan di hilir pengendali aliran untuk
jalur umpan.
Pengukuran produk gas Etilena dideteksi secara spektroskopi melalui non-
dispersive-infrared (NDIR) yang dapat digunakan untuk mendeteksi gas-gas lain
juga. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan tergantung pada keseimbangan
peralatan mahal dengan akurasi tinggi, biaya peralatan kurang akurat, atau
identifikasi positif dengan biaya rendah melalui sarana kimia. Xendos 2550 adalah
penganalisis gas multikomponen yang dikutip untuk penggunaannya dalam
reaktor skala laboratorium dan dapat menghitung etilena, CO2, CO, dan
kontaminan lainnya.
Pemisahan etilena dari substrat yang tidak bereaksi dan air pada awalnya akan
melalui zona kondensasi penurunan suhu. Mungkin tidak perlu mengeluarkan gas
inert dari aliran produk jika tidak mengganggu polimerisasi selama isinya dapat
dihitung. Jumlah gas inert harus cukup rendah sehingga gas inert selanjutnya
dapat digabungkan selama tahap polimerisasi sebagai alat pencampuran.
Kompresor gas akan dilekatkan pada zona suhu terendah dan akan memampatkan
produk gas etilena.
Controller
Pilihan jangka pendek yang paling tepat untuk mendemonstrasikan FBR yang
dapat diprogram adalah dengan sensor Alicat dan program perangkat lunak Flow
Control.
Reaktor untuk dehidrasi asam polylactic acid
Sebuah reaktor yang dikonfigurasi untuk dehidrasi asam polylactic akan
menggunakan inti reaktor yang dapat mempertahankan vakum dekat (0,5 torres)
dan dapat dipanaskan sampai 200 ° C. Kondisi lelehan \ padat akan terganggu
oleh aliran gas dan panas harus ditambahkan melalui jaket panas. baik
44
dikonfigurasi untuk minyak panas, uap, atau pemanas listrik. Port bawah akan
ditutup dengan sekrup di tutup akhir dengan cincin O panas tinggi dan grease
sealing jika suhu memungkinkan. Zona reaksi tidak akan dibatasi oleh pelat
distributor.
Asam polylactic karena proses polimerisasi multistep akan dilakukan secara batch
dan semua reagen akan ditempatkan di reaktor sebelum memulai.
Heat Jacket
Jaket pengendali suhu isolasi akan memperluas konfigurasi yang mungkin
dilakukan dengan alat teknik kimia untuk memungkinkan pemanasan aktif dan
pendinginan langsung ke reaksi (membuat proses isotermal) sebagaimana
diperlukan untuk polimerisasi asam polylactic berkualitas tinggi. Jaket panas
mengandung elemen pemanas baik dengan konduksi (minyak atau uap) atau
pengontrol suhu fluida tetapi listrik menawarkan keuntungan menghilangkan
panas dengan menggunakan fluida dengan suhu rendah.
Jaket pengatur suhu OSE bisa menggunakan desain penukar panas yang
disederhanakan untuk membuat spiral tabung yang dapat diisolasi dalam
cangkang logam. Jaket harus disain agar mudah diintegrasikan dengan reaktor
dengan menempatkan reaktor di jaket dan memasang komponen ke rangka.
Dengan cara ini modularitas dipertahankan saat mengintegrasikan elemen kontrol
suhu baru.
Tutup Reaktor
Tutup reaktor akan diperlukan dan mengganti zona reduksi kecepatan. Tutupan
reaktor bisa sesederhana dipasang di atas datar yang mampu membentuk segel dan
dengan port untuk membangun ruang hampa atau bisa memasukkan lebih banyak
port untuk input dan sensor substrat.
Kondensor
Kondensor refluks menghilangkan kelembaban dari aliran produk yang diperlukan
untuk mencegah pengotoran pompa vakum. Kondensor menggunakan suhu yang
lebih rendah sehingga gas masuk fasa cair dan mengumpulkan cairan. Aparatus
Dean-Stark adalah bentuk kondensor yang umum digunakan, berbentuk h dengan
sisi kanan dihubungkan dengan reaksi dan ruang pengumpul yang terhubung ke
kiri bawah.
45
Methanol is preferred in transesterification for biodiesel production due to its high reactivity and availability, which makes the process economically viable even though it can lead to soap formation in the presence of high free fatty acids (FFA). This challenge can be mitigated by a preliminary esterification step to reduce FFA levels before transesterification . Catalysts like NaOH are commonly used because they offer faster reaction rates and are effective at converting triglycerides into biodiesel and glycerol . The overall benefits of efficient conversion and cost-effectiveness outweigh the difficulties associated with potential side reactions when proper process adjustments are implemented .
Catalyst selection is crucial in determining both the efficiency and outcome of the transesterification process for biodiesel production. Alkaline catalysts, such as NaOH, are generally preferred due to their faster reaction rates compared to acidic catalysts . However, alkaline catalysts are sensitive to high levels of free fatty acids and water content, leading to soap formation which reduces catalyst efficiency and biodiesel yield . On the other hand, acidic catalysts do not cause soap formation and are effective for oils with high free fatty acid content but require longer reaction times and higher energy input . The choice of catalyst will therefore dictate the reaction conditions and the quality and quantity of biodiesel produced .
In a fixed bed reactor, catalysts are arranged and supported in a way that maximizes contact with the reactants, thereby optimizing performance. The catalysts are typically supported in a stationary bed, often using perforated trays and inert ceramic balls that enhance surface area and allow consistent flow distribution . The careful arrangement ensures that the liquid or gas reactants have extended contact time with the catalyst, facilitating high conversion rates . This setup minimizes channeling and ensures even temperature distribution, which is crucial for maintaining consistent reaction conditions and maximizing biodiesel yield .
When selecting the design and material for a reactor vessel in biodiesel production, several factors must be considered. These include the type of feedstock used, as it determines the need for specific corrosion-resistant materials . The allowable working pressure and temperature are crucial in ensuring safe and efficient chemical reactions . The vessel's dimensions and wall thickness must accommodate the required reaction volume and thermal properties . Economic considerations such as material cost and ease of maintenance also play a role, along with environmental and safety regulations to minimize potential impacts and hazards during operation .
Fixed bed reactors offer several advantages for chemical reactions involving solid catalysts. These include the ability to handle simultaneous reactions of multiple gases, high production capacity, and flexibility in operating under various reaction conditions (both exothermic and endothermic). They also provide high conversion efficiencies due to near plug-flow conditions and have low pressure drops . The design allows for good radial mixing without channeling, ensures that catalysts are fully wetted, and offers better temperature control .
Methanol's effectiveness in transesterification reactions is largely due to its molecular structure and high reactivity. As a short-chain alcohol, methanol has fewer carbon atoms compared to longer-chain alcohols, contributing to its high reactivity . This high reactivity allows methanol to efficiently participate in the exchange of alcohol groups with triglycerides to form biodiesel and glycerol as part of the transesterification process . Moreover, its polar nature allows it to dissolve different types of catalysts, enhancing the reaction speed and efficiency .
Methanol offers several advantages over ethanol in the production of biodiesel. Economically, methanol is cheaper than ethanol . From a chemical perspective, methanol's higher reactivity compared to long-chain alcohols allows for more stable biodiesel production . Methanol is readily available in its absolute form, reducing issues related to hydrolysis and soap formation that can occur due to water content in alcohols . In contrast, producing absolute ethanol is costly, making ethanol-based biodiesel less economically competitive .
The presence of high levels of free fatty acids (FFA) in vegetable oils can lead to soap formation during the transesterification process, which creates emulsions with methanol and the oil, thereby preventing methanolysis reactions . This soap formation reduces the yield of esters and complicates the separation of esters and glycerol . Additionally, FFA react with alkaline catalysts, reducing their effectiveness . Moisture content also contributes to soap formation and further decreases the efficiency of the transesterification process .
A two-step process involving esterification followed by transesterification is essential for biodiesel production using oils with high free fatty acid (FFA) content. The initial esterification step reduces the FFA levels, converting them into esters, which prevents soap formation during the transesterification step . This reduction in FFA content improves the effectiveness of the alkaline catalyst used in the transesterification process, leading to better conversions and higher biodiesel yields . This approach ensures an efficient and economically viable production process by minimizing waste and maximizing ester yield .
Zeolite activation enhances its adsorption properties by increasing the Si/Al ratio, surface area, and porosity . This improved adsorption ability helps in reducing the free fatty acid (FFA) content, which in turn improves the quality of the biodiesel produced . The adsorption process involving activated zeolites is critical for decreasing FFA levels, thus preventing unwanted soap formation during the transesterification reaction and improving the ester yield .