PENGARUH SIMVASTATIN TERHADAP KADAR
NITRITE OXIDE DAN GASTROPATI
HIPERTENSI PORTAL PADA PASIEN
SIROSIS HEPATIS
TESIS
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat
Magister Program Studi Magister Kedokteran Keluarga Minat Utama Ilmu
Biomedik
Oleh:
Ahmad Husin
S501102003
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
PENGARUH SIMVASTATIN TERHADAP KADAR
NITRITE OXIDE DAN GASTROPATI
HIPERTENSI PORTAL PADA
PASIEN SIROSIS HEPATIS
TESIS
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat
Magister Program Studi Magister Kedokteran Keluarga Minat Utama Ilmu
Biomedik
Oleh:
Ahmad Husin
S501102003
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
ii
PENGARUH SIMVASTATIN TERHADAP KADAR
NITRITE OXIDE DAN GASTROPATI
HIPERTENSI PORTAL PADA
PASIEN SIROSIS HEPATIS
TESIS
Oleh:
Ahmad Husin
S501102003
Komisi Nama Tanda Tangan Tanggal
Pembimbing
Pembimbing I Prof. Dr. dr. HM. Bambang
Purwanto, SpPD, FINASIM
NIP.195106011979031002 …………….. ……………
Pembimbing II dr. Paulus Kusnanto,
SpPD, KGEH, FINASIM …………….. ……………
NIP. 196403201991031006
Telah dinyatakan memenuhi syarat
pada tanggal Juni 2016
Ketua Program Studi Magister Kedokteran Keluarga
Program Pasca Sarjana UNS
Prof. Dr. dr. A. A Subiyanto, MS
NIP. 194811071973101003
iii
PENGARUH SIMVASTATIN TERHADAP KADAR
NITRITE OXIDE DAN GASTROPATI
HIPERTENSI PORTAL PADA
PASIEN SIROSIS HEPATIS
TESIS
Oleh:
Ahmad Husin
S501102003
Telah disetujui olehTim Penguji
Komisi Penguji
Jabatan Nama Tanda Tangan tanggal
Ketua Dr. dr. Hari Wujoso, SpF, MM
NIP. 196210221995031001
………………………… …………..
Sekretaris Dr. dr. Sugiarto, SpPD, KEMD, FINASIM
Penguji NIP. 196205221989011001
………………………… …………..
Anggota Prof. Dr. dr. HM Bambang Purwanto,
Penguji [Link]-KGH, FINASIM
NIP. 194807191976091001 ………………………… …………..
dr. Paulus Kusnanto,
SpPD, KGEH, FINASIM
NIP. 196403201991031006 ………………………… …………..
Telah dipertahankan didepan Penguji
Dinyatakan telah memenuhi syarat
Pada tanggal ........................
Mengetahui,
Direktur Program Pascasarjana Kepala Program Studi Magister
Kedokteran Keluarga
Prof. [Link] [Link] Prof. Dr. dr. A. A Subiyanto, MS
NIP.196107171986011 NIP. 194811071973101003
iv
PERNYATAAN
Nama : Ahmad Husin
NIM : S 50961102002
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis dengan judul “Pengaruh
Simvastatin Terhadap Kadar Nitrit Oksida Dan Gastropati hipertensi portal Pada
Pasien Sirosis Hati” adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya
saya dalam tesis tersebut diberi tanda sitasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar maka saya
bersedia menerima sangsi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya
peroleh dari tesis tersebut.
Surakarta, ..... Mei 2016
Yang membuat pernyataan
Ahmad Husin
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillahirabbil'alamin penulis panjatkan ke hadirat Allah
SWT atas segala limpahan kasih sayang, rahmat dan hidayahNya sehingga
penyusunan tesis yang berjudul “Pengaruh Simvastatin Terhadap Kadar Nitrit
Oksida Dan Gastropati Hipertensi Portal Pada Pasien Sirosis Hati” ini dapat
terselesaikan. Penelitian ini untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam
menyelesaikan Program Pendidikan Dokter Spesialis I bidang Ilmu Penyakit
Dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan
penghargaan yang tinggi kepada:
1. ALLOH SWT dan ROSUL Nabi Muhammad SAW dan para sahabat serta
pengikutnya samapai akir zaman sehingga penulis senantiasa dalam keadaan
iman dan islam serta selalu bisa menempuh jalan yang lurus.
2. Prof. Dr. S . Syeikh Kadirun Yahya MA. M. Sc sebagai guru penulis yang
senantiasa memotivasi dan menginspirasi penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan tesis ini sebagai sumbangsih penulis terhadap ilmu
pengetahuan serta sebagai amal jariyah penulis.
3. Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S., selaku Rektor Universitas Sebelas Maret
Surakarta yang telah memberikan kemudahan penulis dalam melaksanakan
pendidikan Pascasarjana Program studi Magister Kedokteran Keluarga minat
utama Biomedik.
vi
4. Prof. Dr. dr. Hartono, [Link] selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Negeri Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan kemudahan dan
dukungan kepada penulis selama menjalani pendidikan PPDS Ilmu Penyakit
Dalam.
5. dr. Endang Agustinar, [Link] sebagai Direktur RSUD Dr. Moewardi beserta
seluruh jajaran staf direksi yang telah berkenan dan mengijinkan untuk
menjalani program pendidikan PPDS interna.
6. Prof. Dr. dr. HM. Bambang Purwanto, SpPD, KGH, FINASIM selaku
Pembimbing I dan Kepala Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNS/ RSUD Dr
Moewardi yang telah memberikan ijin, bimbingan dan pengarahan dalam
penyusunan usulan tesis ini,serta memberikan kemudahan penulis dalam
melaksanakan program pendidikan Pascasarjana dan PPDS I Ilmu Penyakit
Dalam.
7. dr. Paulus Kusnanto, SpPD-KGEH, FINASIM selaku Pembimbing II dan
Ketua Program Studi PPDS I Interna, yang telah membimbing dan
memberikan pengarahan dalam penyusunan tesis ini dan memberikan
kemudahan penulis dalam melaksanakan program pendidikan Pascasarjana
dan PPDS I Ilmu Penyakit Dalam.
8. Alm Prof. Dr. HA. Guntur Hermawan, dr. SpPD-KPTI, FINASIM, selaku
Guru besar Ilmu Penyakit Dalam FK UNS/RSUD Dr Moewardi yang telah
memberikan motivasi, inspirasi dan semangat sehingga tugas penulisan tesis
ini terwujud.
vii
9. [Link]. Zainal Arifin Adnan, SpPD,KR,FINASIM selaku Guru besar Ilmu
Penyakit Dalam FK UNS/RSUD Dr Moewardi yang telah memberikan
motivasi, inspirasi dan semangat sehingga tugas penulisan tesis ini terwujud.
10. Dr Tantoro Harmono SpPD - KGEH selaku Guru Ilmu Penyakit Dalam FK
UNS/RSUD Dr Moewardi yang telah memberikan motivasi, inspirasi dan
semangat sehingga tugas penulisan tesis ini terwujud.
11. Dr. dr. Sugiarto, SpPD, KEMD, FINASIM selaku selaku tim penguji Magister
Kedokteran Keluarga yang telah memberikan dorongan dan arahan kepada
penulis untuk pelaksanaan dan penulisantesis ini.
12. Drs. Sumardi, MM selaku pembimbing/ konsultan statistik penelitian, yang
dengan kesabaran telah membimbing dan memberikan pengarahan dalam
penyusunan usulan tesis.
13. Dr. Hari Wujoso, dr. SpF, M.M sebagai tim penguji Magister Kedokteran
Keluarga yang telah memberikan dorongan dan arahan kepada penulis untuk
pelaksanaan dan penulisantesis ini.
14. Seluruh Staf Pengajar Ilmu Penyakit Dalam FK UNS/ RSUD Dr Moewardi
Surakarta. Prof. Dr. dr. H A Guntur Hermawan SpPD KPTI FINASIM (alm),
[Link]. Djoko Hardiman, SpPD KEMD FINASIM, dr. Suradi Maryono,
SpPD KHOM FINASIM, dr. Sumarmi Soewoto SpPD KGER FINASIM, dr.
Tatar Sumandjar, SpPD KPTI FINASIM, dr. Tantoro Harmono, SpPD KGEH
FINASIM, dr. Tri Yuli Pramana SpPD KGEH FINASIM, dr. Supriyanto
Kartodarsono, SpPD KEMD FINASIM, dr. Supriyanto Muktiatmojo,
SpPDFINASIM, dr. Dhani Redhono, SpPD KPTI FINASIM, dr. Wachid
viii
Putranto, SpPD KGH FINASIM, dr. Arifin, SpPD KIC FINASIM, dr. Fatichati
Budiningsih, SpPD KGer FINASIM, dr. Agung Susanto SpPD FINASIM, dr.
Arief Nurudin SpPD FINASIM, dr. Agus Joko Susanto SpPD, FINASIM, dr.
Yulyani Werdiningsih, SpPD FINASIM, [Link] Marwanta SpPD Mkes,
[Link] D SpPD MSc, dr. Bayu Basuki Wijaya SpPD Mkes, dr.R. Satriyo
SpPD Mkes, dr. Evi Nurhayatun SpPD Mkes, dr. Eva N SpPD Mkes, dr. Ratih
Tri K SpPD, dr. Yudhi Hadjianto [Link] Mkes, dr. Diding Heri Prasetyo,
SpPD,Mkes,Msi dan dr. Agus Jati, [Link] yang telah memberi dorongan,
bimbingan dan bantuan dalam segala bentuk sehingga penulis bisa
menyelesaikan penyusunan tesis.
15. Seluruh Staf dan Karyawan terkhusus Bagian Endoscopi dr. Tantoro Harmono,
SpPD KGEH FINASIM, dr. Tri Yuli Pramana SpPD KGEH FINASIM, dr.
Paulus Kusnanto, SpPD-KGEH, FINASIM , [Link] D SpPD MSc, Mas
agus S Kep, mbak anik S Kep, mbak Endar S Kep, bu Harni AMK, RS dr.
Moewardi Surakarta, yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam
penelitian ini.
16. Dr Isrianto SpPD Mkes, dr Widhy Puji Hartanto SpPD Mkes yang selama ini
telah melakukan penelitian bersama kami dan bahu membahu sehingga
terselesai tesis ini.
17. Orang tua yang kami hormati dan sayangi Bapak H. Mustajab dan Alm Ibu Hj
Darniti, Bapak dan Ibu mertua Bp Dr H Sutikno SpB dan Drs Sri
Wahiyadatun, Istriku tercinta dr satya septia Wahyuningrum, buah hati penulis
Izzah kamilah selima, Syafiqoh ghoniu nayotama, Bari nafi jalaluddin, saudara
ix
kandung, yang telah memberikan kasih sayang dan semangat dengan sabar dan
tulus memberikan dorongan moril dan materiil dalam penyelesaian tesis ini
dan proses menjalani program pendidikan Pasca Sarjana dan PPDS I Ilmu
Penyakit Dalam.
18. Seluruh teman sejawat seperjuangan Residen Penyakit Dalam yang telah
memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis dalam penelitian ini dan
selama menjalani pendidikan. Teruntuk angkatan 14. Dr pras, dr puguh, dr
irda, dr topan, dr ibe, dr dia, dr antok, dr indra, dr ninda, dr eka, dr indah, dr
kamal, dr ajik.
19. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah
membantu penulis baik dalam menjalani pendidikan maupun dalam persiapan
penelitian ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan tesis ini masih
banyak terdapat kekurangan, untuk itu penyusun mohon maaf dan sangat
mengharapkan saran serta kritik dalam rangka perbaikan penulisan tesis ini.
Surakarta, Mei 2016
Penyusun
x
Ahmad Husin. 2016. Pengaruh Simvastatin Terhadap Kadar Nitrit Oksida Dan
Gastropati Hipertensi Portyal Pada Pasien Sirosis Hati. TESIS. Pembimbing I:
Prof. Dr. dr. HM Bambang Purwanto, [Link]-KGH, FINASIM, Pembimbing II: dr.
P. Kusnanto, [Link]-KGEH, FINASIM. Program Studi Kedokteran Keluarga,
Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
ABSTRAK
Latar Belakang
Prevalensi Sirosis Hati (SH) diseluruh dunia tersering yaitu varises oesopagus
dan gastropai hipertensi portal yang menyebabkan perdarahan berujung kematian.
Adanya disfungsi endotel menyebabkan penurunan kadar Nitrite Okside (NO)
yang mengakibatkan gastropati hipertensi portal. Simvastatin mempunyai efek
pleiotrofik meningkatkan kadar NO dan memperbaiki disfungsi endotel pada
pasien SH ditandai dengan perbaikan dari gastropati hipertensi portal.
Tujuan Penelitian
Untuk membuktikan pengaruh pemberian simvastatin terhadap kadar nitrit
oksida dan gastropati hipertensi portal pada pasien sirosis hati.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Randomized
Double Blind control trial, dengan sampel 30 pasien SH, terbagi kelompok
perlakuan 15 pasien (14 di beri simvastatin , 1 meninggal) dan kelompok plasebo
15 pasien selama penelitian. Kadar NO serum ditentukan menggunakan enzyme-
linked immunosorbent assay (ELISA). Alat endoscopi untuk menilai gastropati
hipertensi portal serta statistik di gunakan uji beda 2 mean dan uji t dengan nilai p
(< 0,05) dianggap signifikan.
Hasil Penelitian
Pemberian simvastatin secara bermakna meningkatkan kadar NO serum
pada kelompok perlakuan di banding kelompok plasebo (-1,86 ± 1,56 µg/mL vs
1,00 ± 0,99µg/mL; p =0,020) dan memperbaiki gastropati hipertensi portal pada
kelompok perlakuan dari berat ke sedang (41,4%), sedang ke ringan (50%), dan
dari ringan ke arah normal (21,4%) siknifikan nilai (p < 0,001**). Pada kelompok
plasebo terjadi perburukan dari sedang ke berat (20,0%), ringan ke sedang
(20,0%), dari normal ke ringan (33,3%) siknifikan nilai (p < 0,001**).
Kesimpulan
Simvastatin meningkatkan kadar NO serum dan memperbaiki gastropati
hipertensi portal pada pasien sirosis hati.
Kata kunci:
Nitrit okside, gastropati hipertensi portal, simvastatin, sirosis hepatis.
xi
Ahmad Husin. 2016. Effect Of Simvastatin Against Nitric Oxide Levels and
Gastropathy Hypertension Portal in Patients With Liver Cirrhosis. THESIS.
Supervisor I: Prof. Dr. dr. HM Bambang Purwanto, [Link]-KGH, FINASIM,
Supervisor II: dr. [Link], [Link]-KGEH, FINASIM. Program Study of
Medical Family, Post-graduate Program of Sebelas Maret University Surakarta.
ABSTRACT
Background
The prevalence of liver cirrhosis (SH) around the world and the most
common are varicose oesopagus gastropai portal hypertension which causes
bleeding lead to death. The presence of endothelial dysfunction lead to decreased
levels of Nitrite oxide (NO) which results in portal hypertension gastropathy.
Simvastatin has the effect of increasing the levels of NO pleiotrofik and improve
endothelial dysfunction in patients with SH marked improvement of portal
hypertension gastropathy.
Objectives
To prove the effect of simvastatin on levels of nitric oxide and portal
hypertensive gastropathy in patients with liver cirrhosis.
Methods
This study was an experimental study with Double Blind Randomized
control trial, with a sample of 30 patients with SH, divided into treatment groups
of 15 patients (14 in the given simvastatin, 1 died) and 15 patients in the placebo
group during the study. NO serum levels were determined using enzyme-linked
immunosorbent assay (ELISA). Endoscopi tool to assess gastropathy of portal
hypertension as well as statistics on the use of different test two mean t test with p
values (<0.05) was considered significant.
Results
Giving simvastatin significantly increased serum levels of NO in the
treatment group compared to the placebo group (-1.86 ± 1.56 pg / mL vs 1.00 ±
0,99μg / mL; p = 0.020) and fix gastropathy of portal hypertension in the
treatment group from severe to moderate (41.4%), moderate to mild (50%), and
from mild to normal direction (21.4%) with significant values (p <0.001 **). In
the placebo group occurred deterioration of moderate to severe (20.0%), mild to
moderate (20.0%), from normal to mild (33.3%) with significant values (p <0.001
**).
Conclusions
Simvastatin increasing serum levels of NO and improve gastropathy of portal
hypertension in patients with liver cirrhosis.
Key words:
Nitric oxide, portal hypertension gastropathy, simvastatin, liver cirrhosis.
xii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ………………………………………... ii
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………... iii
PANITIA PENGUJI TESIS …………………………………. iv
PERNYATAAN ……………………………………………… v
KATA PENGANTAR …………………………………………. vi
ABSTRAK ………………………………………………….. xi
DAFTAR ISI ………………………………………………... xiii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………….. xvi
DAFTAR TABEL ………………………………………….. xix
DAFTAR SINGKATAN …………………………………… xxi
BAB I. PENDAHULUAN ………………………………… 1
A. Latar Belakang …………………………………….. 1
B. Rumusan Masalah …………………………………. 3
C. Tujuan Penelitian ………………………………….. 3
D. Manfaat penelitian ………………………………… 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA …………………………… 6
A. Kajian Teori …………………………………….….. 6
1. Sirosis Hati ………………………………………. 6
2. Sirkulasi Kolateral…………………………………. 10
a. Kolateral Portosistemik………………………... 11
b. Sirkulasi Hiperdinamik………………………… 14
xiii
3. Disfungsi Endotel………………………………….. 16
4. Nitrit Oksida …………………………………… 18
a. Nitrit Okside pada Sirosis Hepatis……………... 20
5. Gastropati Hipertensi Portal (GHP)……………….. 22
a. Temuan Klinis GHP…………………………… 23
b. Diagnosa dan Klasifikasi GHP………………… 24
c. Patogenesis dan Profilaksis GHP………………. 27
6. Simvastatin …………………………...………… 29
a. Efek Pleiotropik Simvasatatin…………………. 32
B. Penelitian Relevan …………………………………... 42
C. Kerangka Pikir ………………………………………. 44
1. Kerangka Konseptual ……………………………. 44
2. Keterangan Bagan Kerangka Konseptual ………... 45
D. Hipotesis Penelitian …………………………………. 48
BAB III. METODE PENELITIAN …….................................. 49
A. Tempat dan Waktu Penelitian ……………….……… 49
1. Tempat Penelitian ……………………………….. 49
2. Waktu ……………………………………………. 49
B. Jenis Penelitian ………………………………........... 41
C. Subjek Penelitian dan Besar Sampel ………………... 49
D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ………... 52
1. Klasifikasi variable penelitian …………………... 52
2. Definisi operasional penelitian ………………….. 52
xiv
E. Cara Kerja …………………………………………… 53
F. Teknik Analisis Data ………………………………... 57
G. Alur Penelitian ……………………………………….. 58
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …… 59
A. Hasil Penelitian ……………………………………... 59
1. Karakteristik subjek penelitian ………………….
59
2. Deskrepsi Variabel Penelitian 61
3. Pengujian variabel utama ………………….......... 66
B. Pembahasan ………………………………................ 76
1. Pendekatan prinsip ontologi ……………............. 76
2. Pendekatan prinsip epistomologi ……………….. 80
3. Pendekatan prinsip axiologi …………………….. 83
4. Nilai kebaruan penelitian ……………………….. 83
5. Keterbatasan Penelitian 85
BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ……… 86
1. Kesimpulan ……………………….....................
86
2. Implikasi
………………………………………. 86
3. Implikasi tambahan………………………………… 87
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………… 88
LAMPIRAN ………………………………………………… 93
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Histologi Hati.......................................................................................8
Gambar 2 Etiologi Hipertensi Portal.................................................................8
Gambar 3 Sirkulasi Kolateral.............................................................................11
Gambar 4 Aliran portal Sistim Korateral Sirkulasi Pada Sirosis 13
Hepatis ............................................................................
Gambar 5 Sistem Vasodilatasi Seluler.............................................................15
Gambar 6 Mikroanatomi dari Kapiler.............................................................16
Gambar 7 Mekanisme Disfungsi Endotel......................................................18
Gambar 8 Gambaran Molekul Nitri Oksida..................................................19
Gambar 9 Fungsi NO............................................................................................20
Gambar 10 Metabolisme Penghambat Sintesa NO........................................21
Gambar 11 Gambaran Gastropati Hipertensi Portal (GHP)........................26
Gambar 12 Stuktur Molekul Simvastatin…....................................................30
Gambar 13 Mekanisme Efek Pleiotrofik Statin dengan Inhibisi
Sintesis Isoprenoid Intermediates Jalur Mevalonat .......
33
Gambar 14 Efek Statin pada Aktivitas Small G-protein..............................34
Gambar 15 Efek Pleiotrofik Statin pada Sintesis NO...................................36
xvi
Gambar 16 Pengaruh Hs-CRP Terhadap Disfungsi Endotel dan 39
Produksi Sitokin .............................................................
Gambar 17 Antioksidan Menghambat Sitokin Proinflamasi......................39
Gambar 18 Kerangka Konsep..............................................................................44
Gambar 19 Alur Penelitian....................................................................................58
Gambar 20 Perjalanan Penelitian........................................................................60
Gambar 21 Perbandingan Jenis Kelamin Kelompok Kontrol dan 62
Kelompok Perlakuan ......................................................
Gambar 22 Perbandingan Child-pugh Kelompok Kontrol dan 65
Kelompok Perlakuan .....................................................
Gambar 23 Perbandingan Kadar NO pada Kelompok Kontrol dan 69
Perlakuan untuk Kondisi Sebelum maupun Sesudah
Perlakuan .......................................................................
Gambar 24 Perbandingan Kadar NO dan Gastropati Hipertensi 70
Portal Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada
Kelompok Kontrol.........................................................
Gambar 25 Perbandingan Delta-NO pada Kelompok Kontrol dan 72
Kelompok Perlakuan ......................................................
Gambar 26 Perbandingan Grade Gastropati hipertensi portal Pada 74
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan pada
xvii
masing masing grade sebelum dan sesudah perlakuan..
Gambar 27 Hasil Analisis Sign Test Variabel GHP pada 73
Kelompok Kontrol dan Perlakuan ..................................
Gambar 28 Aspek-aspek Nilai-nilai Kebaruan...............................................81
xviii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Skor Child pugh...........................................................................................9
Tabel 2 Klasifikasi Gastropati Hipertensi Portal..............................................25
Tabel 3 Jadwal Penelitian........................................................................................49
Tabel 4 Definisi Operasional..................................................................................52
Tabel 5 Perbandingan Jenis Kelamin Kelompok Kontrol dan
Kelompok Perlakuan 61
Tabel 6 Perbandingan Umur Kelompok Kontrol dan Kelompok
Perlakuan 63
Tabel 7 Tabel 7. Perbandingan Variabel Karakteristik Klinis Awal
pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan 64
Tabel 8 Tabel 8. Perbandingan Child-pugh Kelompok Kontrol dan
Kelompok Perlakuan 65
Tabel 9 Tabel 9. Perbandingan Kadar NO pada Kelompok Kontrol
dan Perlakuan untuk Kondisi Sebelum maupun Sesudah 68
Perlakuan ..............................................................................
Tabel 10 Tabel 10. Perbandingan Kadar NO dan Gastropati
Hipertensi Portal Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada 70
Kelompok Kontrol ................................................................
Tabel 11 Tabel 11. Perbandingan Delta-NO pada Kelompok Kontrol
dan Kelompok Perlakuan 71
Tabel 12 Perbandingan Grade Gastropati hipertensi portal Pada 74
xix
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan pada masing
masing grade sebelum dan sesudah perlakuan..
Tabel 13 Tabel 12. Hasil Analisis Sign Test Variabel GHP pada
Kelompok Kontrol dan Perlakuan 73
xx
DAFTAR SINGKATAN
ADH : antidiuretik hormone
ADMA : Asimetris dimethylarginine
AKI : Acute Kidney Injury
APC : Antigen Processing and Presenting Cell
AS : Amerika serikat
AT1 : Angiotensin 1
AVP : Arginine vasopressin
BH4 : tetrahydrobiopterin
CDUS : Colour Doppler Duplex Ultrasonography
CI : confidence interval
c-NOS : constitutive nitric oxide synthase
CNP : C Type natriuretic peptide
COX : Cyclooxigenase
CSF : Colony Stimulating Factor
DAMP : Damage Associated Molecular Pattern
DDAH : Dimethylarginine dimethylaminohydrolase
EDV : end diastolic flow velocity
EGF : endothelial growth factor
eNOS : Endotel Nitrite Oxide Synthase
GDP : guanosine diphosphate
GHP : Gastropati Hipertensi Portal
xxi
GFR : Glomerulo filtration rate
GLUT-4 : Glucose transporter-4
GTP : Guanosine-triphosphate
GTPCH : GTP cyclohydrolase
HMG-CoA : 3-hydroxy-3-methylglutaryl coenzim A
Hsp90 : Heat stroke protein 90
IFN-γ : Interferon-γ
IKK : Inhibitor of Kappa Kinase
IL : Interleukin
iNOS : inducible NOS
INR : International normalized ratio
k : Kappa
LDL-C : low-density lipoprotein cholesterol
LFG : Laju filtrasi glomerulus
MAPK : Mitogen-activated protein kinase
mRNA : messanger Ribonucleic acid
NADPH : Nicotinamide adenine dinucleotide phosphate
NFĸ-β : Nuclear Factor-ĸβ
NO : Nitrit oksida
NOS : Nitrit Oksida Sintase
PBS : Peritonitis Bakterial Spontan
PGE2 : Prostaglandin E2
PI-3K : Phosphatidil Inositol-3 Kinase
xxii
PSV : Peak systolic flow velocity
PT : Protrombin time
RAAS : Renin-angiotensin-aldosteron system
RCT : Randomized control trial
RI : Resistive Index
ROS : Reactive Oxygen Species
RS : Rumah Sakit
SBP : Spontaneus bacterial peritonitis
SGOT : Serum glutamic-oxaloacetic transaminase
SGPT : Serum glutamic-pyruvic transaminase
SH : Sirosis hati
SHR : Sindrom hepatorenal
SMC : Smooth Muscle Cell
SNS : Sympathetic Nervous System
TLR 9 : Toll Like Receptor-9
USG : Ultrasonografi
VLDL : Very Low Density Lipoprotein
WHO : World Health Organization
xxiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sirosis hati (liver cirrhosis) merupakan perjalanan patologi akhir
berbagai penyakit hati (Franchis R, 2005). Prevalensi sirosis hati (SH) diseluruh
dunia menempati urutan ketujuh penyebab kematian. Sekitar 25.000 orang
meninggal tiap tahun akibat penyakit ini. Prevalensi penyakit SH dapat
menimbulkan sekitar 35.000 kematian pertahun di AS. Sirosis adalah penyebab
kematian utama nomer sembilan di AS dan bertanggung jawab terhadap 1-2%
seluruh kematian di AS. Banyak pasien meninggal pada dekade keempat atau
kelima kehidupan mereka akibat penyakit ini. (Garcia et al. 2001). Dari beberapa
laporan di Rumah Sakit (RS) pemerintah di Indonesia berdasarkan klinis saja,
dapat dilihat bahwa prevalensi SH yang dirawat dibangsal penyakit dalam
umumnya berkisar antara 3,6 – 8,4 % di jawa dan sumatera, sedang Sulawesi dan
Kalimantan dibawah 1% (Agus S. 2007).
Pada pasien SH, jaringan ikat dalam hati menghambat aliran darah dari
usus yang kembali ke jantung. Kejadian ini dapat meningkatkan tekanan dalam
vena portal (Hipertensi Portal (HP)). Sebagai hasil peningkatan aliran darah dan
peningkatan tekanan vena portal ini, vena-vena yang bermuara pada vena portal
akan terbendung dan menjadi aliran darah balik, seperti varises oesopagus dan
gastropati hipertensi portal serta komplikasi yang lain. Makin tinggi tekanan
portalnya, makin besar Gastropati Hipertensi Portal (GHP) dan varisesnya makin
1
2
besar kemungkinannya pasien mengalami perdarahan. Kondisi perdarahan ini
biasanya hebat dan tanpa pengobatan yang cepat dapat berakibat fatal (Caesar J et
al.2000).
Beberapa penelitian klinis dan eksperimen mendapatkan adanya disfungsi
endotel pada sirosis hati yang ditunjukkan melalui penurunan kadar NO.
Penyebab penurunan dari kadar ini masih belum diketahui dengan jelas, diduga
ada hubunganya dengan sirkulasi hiperdinamik dan adanya endotoksemia yang
umum dijumpai pada sirosis hati. Disfungsi endotel dapat mempengaruhi ketidak
seimbangan antara faktor faktor relaksasi dan kontraksi, antara mediator
prokoagulan dan antikoagulan atau antara zat-zat yang menghambat dan
mendorong pertumbuhan. Petanda biokimia yang lazim dipakai untuk penentuan
disfungsi endotel maupun perbaikan fungsi endotel salah satunya NO. (Yu Q et al.
2000)
Simvastatin dapat memberi efek pleiotropik pada sel-sel pembuluh darah
disamping menurunkan plasma kolesterol (Wassmann S et al, 2000). Efek klinis
dari statin tidak selalu diakibatkan oleh penurunan kadar kolesterol plasma.
Simvastatin dan Lovastatin mampu menginduksi aktivasi sintesis NO secara in
vitro pada sel endotelial manusia (Mason JC, 2003). Pemberian simvastatin secara
signifikan meningkatkan kadar NO melalui jalur Rho-eNOSmRNA–eNOS-NO,
BH4-eNOS-NO di dalam endotel vascular (Zhang Z et al, 2012). Statin juga
menurunkan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) dengan cara mengurangi
pengeluaran AT1-reseptor sehingga meningkatkan ekspresi eNOS yang akan
berkontribusi pada peningkatan fungsi endotel (Wassmann S et al, 2000).
3
Penelitian Juan G Abraldes dkk penggunaan preparat statin dapat meningkatkan
kadar NO dan memperbaikin disfungsi endotel pada pasien SH dan penggunaan
preparat statin mampu menurunkan tekanan vena porta ditandai dengan penurunan
Hepatic Venous Pressure Gradient (HPVG) (Yu Q et al. 2000). Peningkatan
produksi NO akan memperbaikan endotel vaskular hati dengan meningkatkan
endothelial Nitric Oxide Syntase (eNOS) pada pasien SH sehingga preparat ini
dapat dipakai sebagai vasodilator selektif hipertensi portal pada SH. (Wiest R et al
2002).
Banyaknya kejadian HP dan adanya gangguan kadar NO pada pasien SH,
membuat peneliti memfokuskan penelitian ini mengenai pengaruh simvastatin
terhadap kadar NO dan reduksi tekanan vena portal yang di tandai dengan
terjadinya GHP pada pasien SH dapat di kurangi.
B. Rumusan Masalah
1. Adakah efek pemberian simvastatin terhadap kadar nitrit oksida pada
pasien sirosis hati ?
2. Adakah efek pemberian simvastatin terhadap perbaikan Gastropati
Hipertensi Portal (GHP) melalui Endoscopi pada pasien sirosis hati ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
4
Membuktikan dan mengetahui pengaruh pemberian simvastatin terhadap
kadar nitrit oksida dan perbaikan perbaikan Gastropati Hipertensi Portal
(GHP) melalui Endoscopi pada pasien sirosis hati.
2. Tujuan Khusus
a. Menganalisis efek pemberian simvastatin terhadap kadar nitrit
oksida pada pasien sirosis hati
b. Menganalisis efek pemberian simvastatin terhadap perbaikan
Gastropati Hipertensi Portal (GHP) melalui Endoscopi pada pasien
sirosis hati ?
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan bukti ilmiah mengenai pengaruh pemberian
simvastatin terhadap kadar nitrit oksida dan perbaikan Gastropati
Hipertensi Portal (GHP) melalui Endoscopi pada pasien sirosis
hati?
b. Sebagai bahan infomasi untuk melakukan penelitian lanjutan
mengenai efek simvastatin terhadap kadar nitrit oksida dan
perbaikan Gastropati Hipertensi Portal (GHP) pada pasien sirosis
hati?
5
c. Dapat digunakan sebagai dasar penelitian pemberian simvastatin
pada pasien sirosis hati untuk mencegah komplikasi Gastropati
Hipertensi Portal (GHP) pada pasien sirosis hati.
2. Manfaat Terapan
a. Efek simvastatin terhadap penurunan risiko komplikasi Gastropati
Hipertensi Portal (GHP) pada pasien sirosis hati.
b. Menjadikan simvastatin sebagai salah satu terapi tembahan atau
suplementasi pada pasien sirosis hati dalam menurunkan resiko
komplikasi Gastropati Hipertensi Portal (GHP) melalui kenaikan
kadar nitrit oksida dengan melihat perbaikan gambaran Gastropati
Hipertensi Portal (GHP) melalui Endoscopi pada pasien sirosis
hati.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP
A. Kajian Teori
1. Sirosis Hati
Sirosis hati (liver cirrhosis) merupakan perjalanan patologi akhir berbagai
penyakit hati. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) memberi
batasan histologi SH sebagai proses kelainan hati yang bersifat difus, ditandai
fibrosis dan perubahan bentuk hati normal menjadi bentuk abnormal. Batasan
fibrosis sendiri adalah penumpukan berlebih matriks ekstrasellular (seperti
kolagen, glikoprotein, proteoglikan) dalam hati (Franchis R.2005).
Prevalensi Sirosis Hati (SH) diseluruh dunia menempati urutan ketujuh
penyebab kematian. Sekitar 25.000 orang meninggal tiap tahun akibat penyakit
ini. Sirosis adalah penyebab kematian utama yang kesembilan di Amerika Serikat
(AS) dan bertanggung jawab terhadap 1-2% seluruh kematian di AS sekitar
35.000 kematian pertahun. Banyak pasien meninggal pada dekade keempat atau
kelima kehidupan mereka akibat penyakit ini. (Garcia et al. 2001). Dinegara maju
SH merupakan penyebab kematian terbesar ketiga pada pasien yang berusia 46 –
54 tahun. Belum ada data resmi nasional tentang SH di Indonesia. Namun dari
beberapa laporan di Rumah Sakit (RS) pemerintah di Indonesia berdasarkan klinis
saja, dapat dilihat bahwa prevalensi SH yang dirawat dibangsal penyakit dalam
umumnya berkisar antara 3,6 – 8,4 % di jawa dan sumatera, sedang Sulawesi dan
Kalimantan dibawah 1% (Agus S. 2007). Dari seluruh pasien SH yang dirawat,
6
7
perbandingan pria dengan wanita rata-rata adalah 2 : 1 dan usia rata-rata 40 tahun
(Hernomo O, 2007).
Secara histologi hati terdiri atas bermacam-macam sel. Hepatosit meliputi
±60 % sel hati, sedangkan sisanya terdiri atas sel-sel epitelial sistem empedu
dalam jumlah yang bermakna dan sel-sel non parenkimal yang termasuk di
dalamnya endotelium, sel Kupffer, dan sel Stellata yang berbentuk seperti bintang.
Di antara lembaran sel hati terdapat kapiler yang disebut sinusoid yang merupakan
cabang vena porta dan arteria hepatika. Sinusoid dibatasi oleh sel fagositik (sel
Kupffer) yang merupakan sistem retikuloendotelial dan berfungsi menghancurkan
bakteri dan benda asing lain di dalam tubuh. Sinusoid hati memiliki lapisan
endotelial berpori yang dipisahkan dari hepatosit oleh ruang Disse (ruang
perisinusoidal) sesuai gambar 2.1. Sel-sel lain yang terdapat dalam dinding
sinusoid adalah sel fagositik Kupffer yang merupakan bagian penting sistem
retikuloendotelial dan sel Stellata (juga disebut sel Ito, liposit atau perisit) yang
memiliki aktifitas mikrofibroblastik yang dapat membantu pengaturan aliran
darah sinusoidal disamping sebagai faktor penting dalam perbaikan kerusakan
hati. Peningkatan aktivitas sel Stellata tampaknya menjadi faktor kunci dalam
pembentukan fibrosis di hati.
8
Gambar 1. Histologi Hati (DeLeve et al. 2008).
Jika potongan melintang di jalinan pembuluh darah hati terbatas, tekanan
vena portal meningkat dan terjadi hipertensi portal. Penyebabnya dapat berupa
peningkatan resistensi intra hepatik seperti sirosis, kerusakan akibat alkohal,
toksin, amiloidosis, hepatitis akut dan SH akan mempermudah terjadinya
obstruksi sinusoid yang akhirnya menyebabkan hipertensi portal berdasarkan
gambar 2.2 dibawah ini. (DeLeve et al. 2008).
Gambar 2. Etiologi Hipertensi Portal (DeLeve et al. 2008).
9
Tabel. 1. Skor Child pugh (Cheung A, 2013).
Pengukuran 1 poin 2 poin 3 poin
Bilirubin total, μmol/l (mg/dl) <34 (<2) 34-50 (2-3) >50 (>3)
Serum albumin, g/dl >3.5 2.8-3.5 <2.8
PT / INR 1-3x / <1.7 4-6x / 1.71-2.30 >6x / > 2.30
Ascites - ringan Sedang - berat
Grade I-II (atau Grade III-IV
Ensefalopati hepatikum - terkendali dengan (atau
medikasi) refraktori)
Interpretasi skor Child Pugh :
Poin 5-6 kelas A, survival 1 tahun 100%, survival 2 tahun 85%
Poin 7-9 kelas B, survival 1 tahun 81%, survival 2 tahun 57%
Poin 10-15 kelas C, survival 1 tahun 45%, survival 2 tahun 35%
Terjadinya sirosis hati menggambarkan kondisi ketidak seimbangan antara
produksi matriks ekstraselular dan proses degradasinya. Hepatosit terdiri dari
jaringan kolagen (terutama tipe I, III, V), glikoprotein dan proteoglikan. Sel-sel
stelata berada dalam ruangan perisinusoidal merupakan sel penting untuk
memproduksi matrik ekstraselular. Beberapa faktor dapat dilepas atau diproduksi
oleh sel hepatosit, sel kuffer, dan endotel sinusoid pada saat terjadi kerusakan hati.
Peningkatan deposisi kolagen dalam disse room (ruang antra hepatosit dan
sinusoid) dan pengurangan ukuran fenestra endotel akan menimbulkan
kapilarisasi sinusoid. Sel-sel stelata juga mempuyai sifat kontriksi. Kapilarisasi
10
dan kontriksi sinusoid oleh sel stelata dapat memicu terjadinya hipertensi portal
(Hernomo O. 2007)
Morbiditas dan mortalitas SH meningkat oleh karena komplikasinya.
Kualitas hidup pasien sirosis diperbaiki dengan pencegahan dan penanganan
komplikasinya. Komplikasi yang sering dijumpai pada SH diantaranya edema dan
asites, spontaneus bacterial peritonitis (SBP), hipertensi portal, perdarahan
saluran cerna, encefalopati hepatikum, sindroma hepatorenal, hipersplenisme dan
kanker hati. (DeLeve et al. 2008). SHR dianggap komplikasi yang paling berat
dari sirosis hati, pasien dengan SHR tipe 1 dan tipe 2 masing-masing memiliki
kelangsungan hidup rata-rata hanya 1-3 minggu dan 6 bulan setelah timbulnya
gagal ginjal (Arroyo V, 2008).
2. Sirkulasi Kolateral
Sirkulasi kolateral merupakan konsukuensi atas terjadinya sumbatan
sebagai upaya kompensasi mengalihkan aliran portal kedalam vena sistemik. Pada
keadaan normal seluruh aliran vena porta diteruskan ke vena hepatika, namun
pada keadaan SH hanya 13%, sisanya akan masuk kedalam sirkulasi kolateral.
(Agus S. 2007).
Didaerah cardia dari lambung ditempat anastomosis antara vena gastrika
kiri, gastrika posterior dan vena gastrika breves dari sistem portal dengan vena
interkostalis, diafragma esophageal dan azygos minor dari sistem kaval. Keadaan
ini akan menghasilkan varices didaerah lapisan submukosa esophagus bagian
bawah dan fundus lambung. (Lee JS et al. 2007)
11
Gambar 3. Sirkulasi Kolateral (Agus S. 2007)
Obstruksi vena portal ekstra hepatik membentuk kolateral tambahan,
memintas obstruksi dan mengalir menuju hati. Masuk kedalam vena portal di
portal hepatika. Akibat terjadinya sistem kolateral pasokan darah kehati oleh
aliran portal terputus, maka hal ini lebih tergantung pada aliran arteri hepatika.
Akibatnya hati akan tampak mengkerut dan kehilangan kemampuan beregenerasi.
(Agus S. 2007).
Kolateral mempuyai pengaruh tidak langsung terhadap HP, walaupun
kadang-kadaang bila terjadi sirkulasi kolateral yang sangat luas dapat menurunkan
tekanan portal pada HP. Sebaliknya tekanan portal yang terjadi dalam waktu
singkat tidak selalu disertai oleh terjadinya sistem kolateral. (Navasa M et al.
2005)
a. Kolateral portosistemik
Terbentuknya sirkulasi portal-kolateral merupakan konsukuensi
penting yang lain. Pembentukan kolateral dipicu oleh peningkatan tekanan
12
portal yang melibatkan pembuluh yang telah ada sebelumnya yang
menghubungkan portal dengan sirkulasi sistemik, akibat peran faktor
pertumbuhan endotel vaskular, Vasculer Endothelial Growth Factor (VEGF)
dan kemungkinan oleh beberapa faktor lainnya. Sirkulasi porto-kolateral
sendiri kemungkinan mengatur tekanan portal. (Muller S. et al. 2007)
1). Terbukanya saluran vaskular yang sudah ada
Sirkulasi splanik adalah pembuluh darah utama yang
bertanggung jawab atas menurunnya hambatan vasklar pada kejadian
hipertensi portal. Kenaikan aliran darah splanik pada hipertensi portal
adalah hasil dari vasodilatasi dari arteri organ splanik, yang mana
mengalirkan darah dari sistem vena portal. Kenaikan aliran darah dari
organ splanik dan kenaikan aliran vena portal setelah itu, bersama dengan
kenaikan hambatan aliran portal, semakin memperburuk sindrom
hipertensi portal. Kenaikan produksi aktivasi sistem dan mediator
vasodilator, dan penurunan reaktifitas vaskular untuk berkonstriksi,
adalah hal yang bertanggung jawab terhadap vasodilatasi. Sebagai
tambahan, kenaikan angiogenesis dimungkinkan berperan dalam
kenaikan aliran darah splanik. (Ahmed A, Keeffe E.B. 2006).
2). Terbentuknya saluran vaskular baru
Pada sirosis dengan hipertensi portal, kelebihan pembuluh darah
adalah dapat berdilatasi walaupun terdapat aktivasi sistemik
13
vasokonstriktor. Resistensi lien untuk bervasokontriksi dapat bergantung
pada hiporesponsifitas terhadap vaskular. Kenaikan tekanan portal
memainkan peran penting pada hubungan antara pembuluh darah porta
dan sirkulasi tubuh. Usaha ini untuk menurunkan tekanan vena porta
sebelaum menjadi komplikasi yang serius, seperti varises esophagus.
Formasi tambahan sistem porto, yang mana terdiri dari neovaskularisasi
dan terbukanya pembuluh darah yang telah ada, akan menjadi
angiogenetik-dependen/ ketergantungan angiogenetik. (Abraldes J, et al.
2003).
Gambar 4 Aliran portal. Sistim korateral sirculasi pada sirosis hepatis.
(Andrew K. Burroughs. 2011)
14
Angiogenesis dimediasi terutama oleh faktor pertumbuhan
vaskuler endothelial/ the vasculer endothelial growth factors (VEGF).
Fernandez dkk mendemonstrasikan bahwa antibody monoclonal
reseptor-2 anti-VEGF melindungi formasi pembuluh darah tambahan
porto-sistemik pada hewan tikus putih dengan hipertensi porta. Lebih
lanjut, sejak NAD(P)H dibutuhkan untuk angiogenesis VEGF-induced/
induksi VEGF, blokade oksidasi NAD(P)H mengurangi formasi
tambahan porto-sistemik secara signifikan. Beberapa penulis mengatakan
hal yang sama bahwa tikus dengan hipertensi portal yang diobati
hambatan VEGF dan platelet derived growth factor (PDGF) berkurang
penambahan sistem porto-nya secara signifikan.(Agus S. 2007)
b. Sirkulasi hiperdinamik
Dasar dari gangguan hemodinamik pada HP adalah resistensi terhadap
aliran portal, baik karna faktor intrahepatik seperti pada SH atau karna
sumbatan vena portal. Untuk mempertahankan tekanan portal sebagai akibat
penurunan tekanan portal karna munculnya kolateral yang mengalirkan darah
ke sirkulasi pembuluh darah balik sistemik, sehingga terjadi sirkulasi
hiperdinamik yaitu peningkatan aliran darah pada sistem portal. (Agus S. 2007)
Setidaknya terdapat tiga mekanisme yang berperan pada dilatasi
pembuluh darah perifer, yaitu : a). Meningkatnya konsentrasi vasodilator
sirkulasi, b). Meningkatnya produksi vasodilator lokal oleh endotel, c).
Menurunnya respon terhadap vasokontriktor. Sifat vaskuler arteri ini
15
ditentukan oleh keseimbangan antara efek dari vasoaktif molekul yang bereaksi
pada vaskularisasi otot halus. Ada beberapa zat vasoaktif yang diproduksi oleh
endotel seperti NO dan prostaglandin dan sebagai tambahan ada vasodilator
autokrin atau parakrin yang diketahui memberikan konstribusi dalam
perkembangan vasodilasi sistemik dan splangnikus. (Lake J.R. et al . 2006)
Molekul vasoaktif terdapat pada tekanan vaskular arteri di sirkulasi
lien. Nitric oxide (NO), Carbon monoksida (CO), Prostaglandin (PGI 2),atau
Hydrogen Sulfide (H2S) melalui jalur yang berbeda, menyebabkan vasodilatasi
di sel otot polos vaskular melalui soluble guanylate cyclase (sGC) menjadi
cyclic guanosin monophosphate (cGMP),menstimuli adenylate cyclase (AC)
dan cyclic adenosine monophosphat (cAMP) atau melalui pembukaan kanal K-
ATP,anadamid mengaktifkan reseptor 1 kanabinoid endotel (CB1R) untuk
vasodilatasi, lihat gambar 2.8. dibawah ini (Montesa Et al. 2009)
Gambar 5. Sistem vasodilator seluler (Montesa Et al. 2009)
AA:arachidonic acid; AC:adenylyl cyclase; Akt:protein kinase B; BH4: tetrahydrobiopterin;
CaM: calmodulin; CSE: cystathionine-γ-lyase; COX: cyclooksigenase; eNOS: endotileal nitric
okside synthase; HSP 90: heat shock protein 90; IP3: inositol triphosphate; TNFά: tumor
nekrosis factor ά; VEGF:vaskular endothelial growth factor.
16
3. Disfungsi Endotel
Sel endotel merupakan lapisan bagian dalam lumen dari seluruh pembuluh
darah dan berperan sebagai penghubung antara sirkulasi darah dan sel-sel otot
polos pembuluh darah. Disamping berperan sebagai sawar fisik antara darah dan
jaringan, sel endotel memfasilitasi berbagai fungsi yang kompleks dari sel otot
polos pembuluh darah dan sel-sel didalam kompartemen darah, sesuai gambar
2.9.
Gambar 6. Mikroanatomi dari kapiler (Navasa M et al. 2005)
Endotel berperan sebagai penghubung antara sirkulasi darah dan sel-sel otot
polos pembuluh darah.
Sel endotel (EC) melapisi pembuluh darah diseluruh tubuh, berinteraksi
langsung dengan sel-sel otot polos pembuluh darah (VSMC) dan sel-sel darah
serta komponen plasma. Melalui berbagai mediator kimiawi, sel endotel berfungsi
sebagai regulator dari sel-sel otot polos pembuluh darah dan berperan penting
dalam mempertahankan homeostasis dan kekentalan darah. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa sel endotel memegang peran penting dalam proses
homeostasis yang terjadi melalui integrasi berbagai mediator kimiawi
(Newsholme P. et al. 2007).
17
Sel endotel berfungsi sebagai vasodilator, anti trombotik dan anti
inflamasi. Sel endotel paling sedikit mensintesis 3 faktor vasodilator yang
berbeda; NO, PGI2 dan EDHF (endothelium-derived hyperpolarizing factor).
Pada beberapa kondisi patologis, sel endotel juga mensintesis beberapa faktor
vasokonstriksi (EDCF=endothelium-derived constriction factor) termasuk
endothelin, superoksid dan prostaglandin vasokonstriktor. (Van de CM, et al.
2002).
Disfungsi endotel merupakan lesi aterosklerotik dini, dimana terjadi
respon inflamasi yang merubah homeostasis normal endotel, dengan cara; 1)
permeabilitas dan adesivitas yang meningkat terhadap lipoprotein, lekosit, platelet
dan kandungan plasma lain, diperantarai NO, prostasiklin, PDGF, angiotensin II
dan endotelin, 2) prokoagulan yang lebih banyak dibandingkan antikoagulan, 3)
up-regulation (pemacuan) molekul adesi lekosit (meliputi; L-selektin, integrin dan
PECAM 1 dan molekul adhesi endotel (meliputi; E-selektin, P-selektin, ICAM 1,
dan VCAM 1, dan 4) memacu migrasi lekosit ke dalam dinding arteri yang
diperantarai oleh LDL-oks, MCP 1, IL-8, PDGF, MCSF dan osteoponin.
Shimokawa dkk menggambarkan secara skematik mekanisme disfungsi endotel
yang melibatkan beberapa mekanisme, meliputi; 1) penurunan dan kegagalan
transduksi sinyal pada endotel, 2) berkurangnya ketersediaan L-arginin, 3)
berkurangnya ekspresi eNOS, 4) berkurangnya ko-faktor untuk eNOS, 5)
peningkatan inaktivasi NO akibat peran oleh anion superoksid yang berasal dari
makrofag sel inflamasi lain, 6) pelepasan EDCF secara bersamaan, 7) penebalan
intima, dan 8) respon vaskuler miosit.
18
Gambar 7. Mekanisme disfungsi endotel (Yu Q,et al. 2000)
1). Penurunan dan kegagalan transduksi sinyal pada endotel, 2) berkurangnya ketersediaan L-
arginin, 3) berkurangnya ekspresi eNOS, 4) berkurangnya ko-faktor untuk eNOS, 5)
peningkatan inaktivasi NO akibat peran oleh anion superoksid yang berasal dari makrofag sel
inflamasi lain, 6) pelepasan EDCF secara bersamaan, 7) penebalan intima, dan 8) respon
vaskuler miosit.
4. Nitrit Oksida
Nitrit Oksida merupakan substansi vasoaktif yang berperan dalam
mengontrol tonus vasomotor, homeostasis pembuluh darah dan syaraf serta proses
imonologik. Nitrit Oksida merupakan substansi vasoaktif, berasal dari atom
nitrogen gugus guanidasi yang terdapat pada L-arginin yang disintesa oleh enzim
Nitrogen Oksidase Sintase eNOS menjadi NO dan L- Citrulin, Enzim ini pada
endotel bersifat constitutive nitric oxide synthase (c-NOS). Aktivitas atau
bioavabilitas dari c-NOS dapat dihambat oleh Endogen NOS Inhibitor seperti
ADMA (Suciu M, 2009).
Salah satu komponen penting yang berperan pada relaksasi vaskuler yang
bergantung pada endotel adalah nitrit oksida (NO). NO tidak hanya berperan pada
19
relaksasi sel otot polos, tetapi juga menghambat aktifasi, adhesi, dan agregasi
platelet, serta pencegahan proliferasi sel otot polos vaskular dan adhesi leukosit
pada lapisan endotelium.
Gambar 8. Gambar molekul Nitrit Oksida.
Melalui respons produk dari lapisan sel endotel tersebut, seperti NO,
maka endotel dapat menjalankan fungsi normalnya, untuk pengaturan berbagai
aspek homeostasis vaskular, termasuk di antaranya tonus vaskular, interaksi
leukosit-pembuluh darah, pertumbuhan sel otot polos, dan proliferasi; serta
hemostasis-fibrinolisis lokal. Sebaliknya, pada disfungsi endotel, jejas vaskuler
mengakibatkan serangkaian fenomena maladaptif yang mengakibatkan terjadinya
respons vaskuler yang tidak menguntungkan. Sebagai dampak dari stres oksidatif
dan perubahan secara lokal adalah gangguan profibrinolitik vaskuler, yang
mengakibatkan tercetusnya proses thrombogenesis. Gangguan modulasi
pertumbuhan selluler sehingga terjadi proliferasi dan remodelling dinding
vaskuler yang abnormal. Rangsangan oksidan dari adaptasi molekuler inflamasi
akan meningkatkan kemampuan adhesi monosit dan peningkatan permeabilitas
vaskular terhadap lipoprotein plasma. (Chen. 2008 ; Cooke J.P. 2000)
20
Gambar 9 Fungsi NO
a. Nitrit Oksida Pada Sirosis Hati
Peningkatan aktivitas inducible NOS (iNOS) didapatkan pada pasien
dengan sirosis hati. Pada hewan coba, NO bertanggung jawab untuk
mengurangi efek vasokonstriktor endogen pada sirkulasi splanknikus. Selain
itu, penghambatan sintesis NO memperbaiki kelainan peredaran darah dan
memperbaiki perubahan neurohormonal pada tikus sirosis. Pada manusia,
penghambatan aktivitas NOS pada 10 pasien dengan sirosis dan asites terjadi
penurunan aliran darah lengan dan meningkatkan tahanan pembuluh darah.
Demikian pula, penghambatan Nitrit Oksida Sintase (NOS) secara cepat akan
meningkatkan tahanan pembuluh darah sistemik pada pasien dengan sirosis
dekompensasi dan menurunkan aktivitas renin plasma dan ekskresi
prostaglandin E2 urin. Pasien dengan sirosis dan ascites memiliki konsentrasi
plasma NO lebih tinggi daripada individu normal atau pasien dengan sirosis
terkompensasi, dan serum NO yang tinggi berkorelasi dengan aktivitas Renin
21
Angiotensin Aldosteron system (RAAS) plasma yang tinggi dan kadar hormon
antidiuretik serta natrium ekskresi urin yang rendah. Konsentrasi NO lebih
tinggi didapatkan pada plasma vena porta dibandingkan di plasma vena perifer,
menunjukkan terjadi peningkatan produksi NO di splanknikus. Meskipun ada
tanggapan untuk peran NO pada vasodilatasi perifer, tetapi masih didapatkan
kontroversi tentang apakah NO merupakan faktor utama dalam pembentukan
dan pemeliharaan sirkulasi hiperdinamik.(Martin L et al, 2006).
NO Synthase
L-Arginine NO + Citrulline
Oxidative
stress
ADMA
Citrulline
Asymetric Dimethyl
Arginine DDAH
Dimethylamino
hydrolase
Renal excretion
JASN 15:S77, 2007
Gambar 10. Metabolisme penghambatan sintesis NO oleh
ADMA (Cangemi R, et al. 2007).
Dari tiga bentuk isoform NOS (neuronal-NOS, inducible-NOS,
endothelial-NOS), eNOS adalah komponen yang paling berperan dalam
menjaga homeostasis vaskular dan sehingga terlibat langsung pada
patobiologi disfungsi endotel. Bilamana di-coupled oleh tetrahhydrobiopterin
(BH4) dan L-arginine, maka eNOS mengkatalisis produksi dari NO yang
berasal dari endotelium. Dalam keadaan uncoupled state, eNOS kekurangan
L-arginine atau BH4, sehingga terjadi produksi O2" dan H2O2. Keadaan
22
tersebut terjadi pada disfungsi endotel, menurunnya bioavailabilitas NO,
peningkatan produksi O2", dan pembentukan peroksinitrit (ONOO), yang
merupakan mediator penting pada peroksidase lipid peroxidation dan
pembentukan sel busa pada lesi aterosklerotik. Peroksinitrit dengan mudah
mengoksidasi BH4, sehingga mengakibatkan eNOS dalam keadaan
uncoupled bersamaan dengan terjadinya disfungsi endotel. Bukti
eksperimental menunjukkan bahwa pemberian BH4 dapat mengembalikan/
memperbaiki vasodilatasi yang tergantung sel endotelium pada keadaan
diabetes, dislipidemia, dan obesitas. (Van de CM, et al. 2002)
Selanjutknya, ADMA, suatu inhibitor NO endogen, mengalami
peningkatan pada penderita hipsertensi, penyakit oklusi arteri perifer, dan
penderita penyakit jantung kongestif. Kadar ADMA plasma lebih berkorelasi
dengan keberadaan/ derajat disfungsi endotel pada penderita HP. Selain itu
pemberian L-arginine pada penderita tersebut dapat memperbaiki fungsi
endotel. (Bambang P. 2010)
5. Gastropati Hipertensi Portal (GHP)
Prevalensi GHP pada pasien dengan sirosis bervariasi dari 20% sampai
98%. (Thuluvath PJ, et al. 2002). Variasi ini tampaknya disebabkan oleh beberapa
faktor antara lain studi populasi yang berbeda, seleksi variabel pada pasien yang
berbeda, interpretasi yang berbeda dari lesi endoskopi dan kurangnya kriteria
diagnostik yang seragam serta klasifikasi dari hasil endoscopi yang bebeda.
23
a. Temuan klinis Gastropati Hipertensi Portal (GHP)
Beberapa penelitian telah menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi
dari PHG pada pasien dengan penyakit hati kronis yang di sertai dengan
varises esofagus dan sejarah sclerotherapy atau ligasi pada varices. ( Merli M,
et al.2004). Secara umum, data yang tersedia menunjukkan bahwa PHG sering
terkait dengan varises oesopagus. (Cubillas R,2010) prevalensi PHG
meningkat bila varises esofagus di hilangkan. (Thuluvath PJ, et al. 2002).
meskipun hal ini masih kontroversial.
Kebanyakan pasien dengan GHP tidak menunjukkan gejala, tetapi
sejumlah besar pasien menunjukan gejala yang berhubungan dengan
perdarahan saluran pencernaan kronis dan kehilangan darah / kekurangan zat
besi yang kronis (anemia). Sebagian kecil pasien menunjukkan bukti
perdarahan yang aktif pada salural pencernaan. Perdarahan kronis dari GHP
telah dilaporkan terjadi pada 3% sampai 60% dari pasien. ( Merli M, et
al.2004) (Sarin SK, et al. 2000).
Definisi perdarahan kronis yang paling umum digunakan adalah
penurunan hemoglobin dari 2 g / dL dalam jangka waktu 6 bulan tanpa bukti
perdarahan akut dan juga bukti obat nonsteroidal anti-inflamasi. Definisi
lainnya termasuk anemia defisiensi besi dengan menggunakan test feses (darah
samar) positif. Prevalensi perdarahan akut saluran cerna dari GHP pada pasien
dengan sirosis telah dilaporkan antara 2% dan 12% 0,( Merli M, et al.2004).
Sebagian besar kasus ini disebabkan oleh GHP berat (90% -95%). (D’Amico
G, et al.),( Merli M, et al.2004). Diagnosis perdarahan akut dari GHP dibuat
24
ketika perdarahan aktif dari lesi GHP yang diidentifikasi selama endoskopi,
atau jika ada bukti hipertensi portal, lesi lambung khas, dan tidak ada sumber
lain dari perdarahan tersebut yang dapat diidentifikasi setelah evaluasi lengkap
dari GI tract. (Ripoll C, et al 2010)
b. Diagnostik dan Klasifikasi Gastropati Hipertensi Portal (GHP)
Diagnosis GHP dibuat pada saat evaluasi endoskopi. Gambaran
endoskopi termasuk pola mosaik yang khas seperti sisik kulit ular, datar atau
menggelembung dengan tanda merah atau bintik-bintik merah menyerupai
ectasias vaskular atau bintik-bintik hitam-coklat. Lokasi yang paling sering
untuk GHP adalah perut dan proksimal (fundus dan bulbus). Cales P ,et al
1990) Vigneri S,et al 1991). Kapsul endoskopi juga telah digunakan dan
terbukti memiliki sensitivitas 74% dan spesifisitas 83% bila dibandingkan
dengan esophagogastroduodenoscopy (de Franchis R, et al 2008). Studi lain
yang dilakukan pada 119 pasien menunjukkan bahwa sensitivitas kapsul
endoskopi adalah 69% dan spesifisitas 99%. Hasil diagnosis pada bulbus
secara signifikan lebih besar dari pada di fundus untuk GHP (100% vs 48%),
(Aoyama T, et al.2013).
Klasifikasi GHP dilakukan berdasarkan tingkat keparahan dan
gambaran GHP. Ada beberapa sistem penilaian yang telah diusulkan, tetapi
kebanyakan ahli merekomendasikan dua kategori sistem klasifikasi meskipun
sistem tiga-kategori juga telah diusulkan (Tabel 2.2). (de Franchis R. 2000).
25
Tabel : 2 Klasifikasi Gastropati Hipertensi Portal (GHP)
Kategori Konsensus NIEC McCormack et al, Tanoue et al,
BAVANO III 1999 1985 1992
2000
Ringan Pola seperti Pola seperti Titik titik Grade 1:
Mosaik mosaik. kemerahan yang kemerahan
Derajad Ringan : merah beraturan atau rast ringan/samar
ringan (tanpa muda merata tipe scarlatina –samar
kemerahan di areola atau kemerahan mukosa yang
pada areola) Sedang :titik superfisialis lemah
merah dengan pola
mendatar pada seperti kulit ular
ariola yang
berwarna
merah muda
Berat :warna
merah
menyeluruh di
ariola
Sedang N/A N/A N/A Grade 2:
kemerahan
yang jelas +
pola reticular
di area
mukosa yang
menonjol.
Berat Tanda tanda Lesi warna Titik merah jelas Grade3:
merah atau merah dengan perdarahan Grade 2 +
tanda merah diameter diffus/menyeluruh titik
lainnya atau bervariasi, perdarahan
adanya titik datar, atau
hitam coklat. terlihat
menonjol,
tersembunyi
ataun terlihat.
Singkatan : MLP, mosaic-like pattern; NIEC, New Italian Endoscopic Club for the Study dan
pengobatan varisen oesovagus. (de Franchis R. 2000).
Klasifikasi dua gradasi diusulkan oleh konsensus Baveno III mirip
dengan versi yang lebih tua. GHP diklasifikasikan ringan ketika satu-satunya
perubahan terdiri dari pola kulit ular atau mosaik, dan diklasifikasikan
26
berat/parah ketika di samping Pola mosaik ada bintik-bintik merah datar atau
menggelembung atau hitam-coklat terlihat dan/atau ketika ada perdarahan aktif
(Gamabar 2.11). (de Franchis R. 2000).
Gambar. [Link] Portal Gastropati Hipertensi.(de Franchis R. 2000).
(A, B) Sekilas gambar PHG yang ringan. A menunjukkan gambar dari perut proksimal. B
menunjukkan gambaran dari kardia dengan bentuk klasik PHG, yang khas "seperti pola
mosaik" tanpa stigmata perdarahan yang signifikan atau eritema atau edema. (C, D) Skilas
gambar PHG yang parah. Lesi warna merah dengan diameter bervariasi, datar, atau terlihat
menonjol, tersembunyi atau terlihat. Mukosa yang tidak teratur. Bintik kemerahan mungkin
terlihat atau tidak. Dapat dilihat seperti pada D, pada gambaran dekat di perut proksimal.
27
Dua kategori sistem klasifikasi memiliki pengamatan secara
signifikan lebih baik.(Yoo HY,2002). Sebuah studi terbaru menunjukkan
bahwa Kriteria endoskopi untuk diagnosis GHP yang dikaitkan dengan tingkat
keandalan interobserver adalah pola seperti mosaik, lesi titik - titik merah, dan
bintik merah cherry.(Ide Macedo GF,2013). Pentingnya sistem penilaian klinis
ini berada pada kenyataan bahwa pasien dengan GHP yang parah memiliki
resiko lebih tinggi perdarahan atau mengalami anemia kronis dibandingkan
pasien dengan GHP yang ringan. (Stewart CA, Sanyal AJ.2003).
c. Patogenesis dan Profilaksis Gastropati Hipertensi Portal (GHP)
Patogenesis GHP ini tidak sepenuhnya dipahami. Kehadiran hipertensi
portal tampaknya menjadi penting. Meskipun beberapa penelitian masih
kontroverasi untuk menunjukkan bahwa ada korelasi linear antara tingkat
hipertensi portal dan tingkat keparahan GHP.(Ohta M et al.2002) penelitian
yang menunjukkan peningkatan GHP setelah operasi shunt atau transjugular
intrahepatik portosystemic shunt (TIPS) yang mendukung hubungan tersebut. .
(Mezawa S, et al.2001). (Kamath PS, et al.2000). Perubahan histologis utama
di GHP meliputi dilatasi kapiler dan venula di mukosa dan submukosa tanpa
peradangan yang signifikan. Beberapa studi penelitian telah menunjukkan
bahwa kelainan pada mikrosirkulasi mukosa mungkin berhubungan dengan
bendungan yang terlihat pada GHP. GHP tampaknya untuk kompensasi
sekunder karena penyumbatan aliran darah lambung. (Kamath PS, et al.2000).
Sebuah proses yang jelas utama di GHP adalah disregulasi (pengaturan) dari
28
mikrosirkulasi mukosa, yang menyebabkan mukosa hipoksia, mengubah
integritas sel epitel oleh kelebihan produksi radikal bebas oksigen, nitrat
oksida, tumor necrosis factor-a, endotelin-1, dan prostaglandins. (Kawanaka H,
et al.2001). Selain itu, karena karakteristik aliran darah terganggu, dan
mungkin disregulasi sitokin lokal, dan faktor vaskular, mukosa abnormal pada
GHP menggambarkan gangguan penyembuhan dan mekanisme pertahanan,
yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko perdarahan (Perini RF,
Camara PR,2009).
Hal ini tidak jarang untuk mengidentifikasi PHG selama skrining
endoskopi untuk varises esofagus pada pasien dengan sirosis. Dalam skenario
ini, pasien mungkin asimtomatik tanpa bukti perdarahan. Profilaksis primer
pada perdarahan saluran cerna pada pasien dengan GHP belum dinilai dan
biasanya tidak dianjurkan. Namun, manajemen dalam situasi ini perlu
dilakukan secara individual. Tingkat keparahan GHP merupakan faktor penting
untuk mengambil pertimbangan. GHP sedang tidak memerlukan profilaksis
primer. Jika pasien memiliki varises esofagus kecil dan ringan pada GHP,
penggunaan nonselektif b-blocker dapat dipertimbangkan karena secara teori
itu dapat bermanfaat untuk GHP.(Cubillas R, Rockey DC.2010). Pada pasien
dengan GHP parah dan tidak ada varises, profilaksis dengan non selektif b-
blocker harus dipertimbangkan. Namun, pendekatan pada penelitian ini masih
kontroversial dan lebih diperlukan untuk mengklarifikasi apakah b-blocker
harus dipakai sebagai profilaksis utama untuk perdarahan dari PHG.
29
6. Simvastatin
Simvastatin termasuk golongan obat statin yaitu obat yang paling efektif
dan paling dapat ditoleransi dengan baik untuk mengatasi peningkatan low-density
lipoprotein cholesterol (LDL-C). Obat ini merupakan kompetitif inhibitor 3-
hydroxy-3-methylglutaryl coenzim A (HMG-CoA) reduktase, enzim yang
bertanggung jawab merubah HMG-CoA menjadi mevalonat yang merupakan
langkah penentu kecepatan biosintesis kolesterol (Tamargo et al, 2007; Goodman
dan Gillman, 2008; Sadowitz et al., 2010). Simvastatin mempunyai struktur mirip
HMG-CoA yang dapat menghambat HMG-CoA reduktase dengan cara mengikat
sisi aktif enzim tersebut sehingga tidak dapat berikatan dengan substrat aslinya
(Tamargo et al., 2007; Yanez et al., 2008). Hal ini akan berakibat HMG-CoA tidak
dapat dirubah menjadi mevalonat dan akan terjadi penurunan sintesis kolesterol
terutama di hepatosit (Yanez et al., 2008).
Struktur statin dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu analog HMG-CoA,
struktur hydrophobic ring yang berikatan dengan HMG-CoA redukatase dan side
ring group yang menentukan solubilitas statin (Sadowitz et al., 2010). Simvastatin
adalah lipofilik statin, sedangkan pravastatin dan rosuvastatin adalah hidrofilik
statin (Tamargo et al., 2007; Sadowitz et al., 2010). Lipofilik statin dapat dengan
mudah menembus membran sel di semua organ, akumulasinya di hepatosit karena
difusi pasif, sedangkan akumulasi hidrofilik statin di liver melalui carrier-
mediated uptake. Distribusi lipofilik statin jauh lebih luas dibandingkan hidrofilik
statin sehingga efek pleiotrofik lipofilik statin lebih banyak dibandingkan
hidrofilik statin (Sadowitz et al., 2010).
30
Gambar 12. Stuktur molekul simvastatin
Absorbsi intestinal statin bervariasi antara 30-50% (Goodman dan Gillman, 2008).
Absorbsi Simvastatin tidak dipengaruhi makanan. Pemberian statin sebaiknya
pada malam hari karena sintesis kolesterol endogen paling tinggi saat malam
(Knopp, 1999). Simvastatin dan lovastatin digunakan masih dalam bentuk
inactive lactone sehingga perlu dirubah menjadi bentuk active β-hydroxy acid di
liver (Goodman dan Gillman, 2008; Stancu dan Sima, 2001).
Seluruh statin yang diserap akan melalui metabolisme pertama di liver,
tetapi mekanisme masuk ke liver berbeda-beda. Bentuk lipofilik lactone dari
simvastatin diserap ke liver dengan cara difusi (Goodman dan Gillman, 2008).
Liver merupakan organ target statin, persentase dosis statin yang berada di liver
sebagai berikut; fluvastatin dan lovastatin > 70%, simvastatin > 80%, pravastatin
> 46%, sedangkan atorvastatin dan cerivastatin belum ada data (Stancu dan Sima,
2001). Akibat dari metabolisme pertama di liver menyebabkan bioavailabilitas
statin bervariasi antara 5-30% dari dosis yang diberikan. Di plasma, semua statin
dan metabolitnya berikatan dengan protein > 95%, kecuali pravastatin dan
metabolitnya yang hanya 50% berikatan denga protein plasma (Goodman dan
Gillman, 2008).
31
Konsentrasi simvastatin di plasma setelah pemberian oral mencapai
puncak setelah 1-4 jam. Waktu paruh komponen induk 1-4 jam. Biotransformasi
statin terjadi di liver dan lebih dari 70% diekskresi melalui liver yang selanjutnya
dibuang melalui feses (Goodman dan Gillman, 2008). Rute ekskresi utama
melalui empedu setelah mengalami biotransformasi di liver, sebagian kecil di
ekskresi melalui ginjal sehingga konsentrasinya akan lebih tinggi pada pasien
penyakit ginjal dan perlu dosis yang lebih kecil pada pasien dengan penyakit liver.
Kontraindikasi semua statin untuk diberikan pada wanita hamil karena bersifat
teratogenik, tetapi statin tidak mempengaruhi steroidogenesis di adrenal dan
gonadal (Knopp, 1999).
Statin menghambat biosintesis kolesterol, yaitu pada jalur konversi
HMG-CoA menjadi mevalonat. Ketika sintesis kolesterol dihambat maka
hepatosit akan merespon dengan meningkatkan sintesis HMG-CoA dan
meningkatkan reseptor LDL pada permukaan hepatosit, sehingga ambilan LDL
meningkat (Goodman dan Gillman, 2008; Yanez et al., 2008). Hal ini akan
menurunkan kadar LDL kolesterol dari 55% menjadi 22%. Oleh karena itu, efek
statin terutama meningkatkan ambilan LDL kolesterol plasma dibandingkan
penurunan sintesis kolesterol (Yanez et al., 2008). Statin juga dapat menurunkan
kadar LDL dengan cara menurunkan produksi Very Low Density Lipoprotein
(VLDL) di hepar sehingga prekursor LDL (VLDL dan IDL) akan menurun.
Mekanisme ini merupakan penyebab penurunan trigliseride akibat statin dan
bertanggung jawab pada penurunan sekitar 25% LDL kolesterol pada pasien
32
familial hiperkolesterolemia homozigot yang diterapi dengan 80 mg atorvastatin
atau simvastatin (Goodman dan Gillman, 2008).
a. Efek Pleiotrofik Simvastatin
Simvastatin, selain mempunyai kemampuan menurunkan kadar LDL
kolesterol tetapi juga mempunyai efek-efek yang lain. Efek simvastatin selain
menurunkan kadar kolesterol seringkali disebut sebagai efek pleiotrofik, yang
diambil dari bahasa Yunani; pleio berarti banyak, dan tropos berarti sifat
(Kotyla, 2010; Yanez et al., 2008). Efek ini terjadi segera setelah dimulai terapi
dan seringkali mendahului efek penurunan kolesterol (Kotyla, 2010).
Mekanisme efek pleiotrofik statin berhubungan dengan inhibisi
sintesis isoprenoid intermediates jalur mevalonat seperti isopentenyl
adenosine, farnesylpyrophosphate dan geranyl-geranyl pyrophosphate.
Intermediate ini berfungsi sebagai pengait protein ke lipid di membran sel
(lipid anchors) untuk modifikasi paska translasi sejumlah protein yang terlibat
dalam jalur transduksi sinyal intraseluler termasuk heterotrimeric G proteins
dan small guanosine-triphosphate (GTP)-binding protein, seperti Ras, Rho dan
Rac1 (Tamargo et al., 2007). Small molecular weight G-protein tersebut
terlibat dalam proliferasi sel, diferensiasi, apoptosis, migrasi, kontraksi dan
pengaturan trankripsi gen (McFarlane et al, 2002).
33
Gambar 13. Mekanisme efek pleiotrofik statin dengan inhibisi sintesis
isoprenoid intermediates jalur mevalonat (Mc Farlane et al, 2002)
Pengaitan (anchoring) small G-protein ke membran sel membutuhkan
phrenylation; Ras membutuhkan farnesylation sedangkan Rho membutuhkan
geranylgeranylation. Small G-protein berada di sitoplasma dalam bentuk
inaktif berikatan dengan guanosine diphosphate (GDP), untuk menjadi aktif
membutuhkan phrenylation sehingga GDP menjadi GTP (guanosine
triphosphate), kemudian terjadi translokasi ke membran sel yang akan
menimbulkan aktivitas biologisnya (McFarlane et al., 2002). Statin akan
menghambat proses phrenylation dengan menghambat pembentukan
farnesylation dan geranylgeranylation small G-protein dengan cara
menghambat konversi HMG-CoA menjadi mevalonat sehingga tidak terbentuk
substrat untuk proses phrenylation seperti tampak pada gambar 2.19
34
(McFarlane et al., 2002; Paul dan Gahtan, 2003, Wolfrum et al., 2003;
Tamargo et al., 2007; Yanez et al., 2008; Kotyla, 2010; Sadowitz et al., 2010).
Isoprenoids penting untuk mempertahankan fluiditas membran,
pertumbuhan dan proliferasi sel, ekspresi gen, assembly cytoskeletal dan
motilitas sel, pengambilan lipid dan protein, nuclear transport dan pertahanan
host. Efek pleiotrofik statin meliputi memperbaiki disfungsi endotel, modulasi
fungsi autonom, stabilisasi plak, antioksidan, antiinflamasi, antitrombotik dan
kardioprotektif (Tamargo et al., 2007).
Ras berhubungan dengan migrasi dan proliferasi VSMC serta
penumpukan fatty streaks. Berbagai penelitian membuktikan, inhibisi aktivasi
Ras akan menurunkan progresi aterosklerosis dan hiperplasi neointima
(Sadowitz et al., 2010). Ras terletak diatas (upstream) jalur Mitogen-activated
protein kinase (MAPK) sehingga inhibisi Ras maka akan terjadi inhibisi MAPK
(Paul dan Gahtan, 2003).
Gambar 14. Efek statin pada aktivitas small G-protein.(McFarlane et
al., 2002).
35
Rho mempunyai aktivitas biologis yang sangat luas, meliputi
pengaturan actin cytoskeleton, migrasi seluler, perkembangan neuronal,
morfogenesis, transkripsi gen dan stabilitas messanger Ribonucleic acid
(mRNA) serta divisi dan adhesi sel. Juga berperan pada struktur dan fungsi
vaskuler. Secara singkat, efek Rho terhadap VSMC dan sel endotel adalah
proaterogenik (Sadowitz et al., 2010).
Rac mengaktifkan Nicotinamide adenine dinucleotide phosphate
(NADPH) oksidase pada Smooth Muscle Cell (SMC) dan endotel, merupakan
sumber utama ROS pada dinding vaskuler. Peningkatan produksi ROS akan
berakibat terjadinya disfungsi endotel dan perkembangan aterosklerosis.
Wassmann et al melaporkan bahwa atorvastatin menurunkan produksi ROS
yang dipicu oleh angiotensin II dan endothelial growth factor (EGF). Lebih
lanjut dijelaskan bahwa atorvastatin tersebut menurunkan Rac di membran dan
meningkatkan Rac di sitoplasmik sehingga terjadi penurunan aktivitas NADPH
oksidase (Paul 2003).
Kureishi et al melaporkan bahwa statin dapat mengaktivasi Akt yang
penting dalam metabolisme dan apoptosis. Akt merupakan bagian jalur
Phosphatidil Inositol-3 Kinase (PI-3K), aktivasi Akt oleh statin akan
menghambat apoptosis dan meningkatkan produksi eNOS pada sel endotel
(Wolfrum et al., 2003). Aktivasi PI-3K akan merubah keseimbangan kearah
antiapoptosis (Bcl-2) sehingga tidak terjadi aktivasi caspase-9 (Wolfrum et al.,
2003). Aktivasi Akt mengakibatkan peningkatan ekspresi glucose transporter-
4 (GLUT-4) yang akan mengatasi resistensi insulin dan peningkatan produksi
36
eNOS dengan cara melepas ikatan eNOS-caveolin dan mengikatkan eNOS
dengan calmodulin (McFarlane et al., 2002).
Gambar 15. Efek pleiotrofik statin pada sintesis NO. (Antonopoulos AS et al,
2012).
Statin berefek positif pada ekspresi gen eNOS, eNOS mRNA dan
tingkat protein serta eNOS berpasangan. Dengan menghambat pembentukan
isoprenoid intraseluler, statin mengurangi aktivasi protein kecil GTPase Rho,
mengakibatkan peningkatan ekspresi gen eNOS melalui Klf2 dan stabilisasi
eNOS mRNA oleh polyadenylation. Ekspresi gen eNOS juga meningkat
melalui stimulasi jalur PI3-Akt oleh statin. Upregulation Heat stroke protein
90 (Hsp90) oleh statin mungkin juga meningkatkan Jalur PI3-Akt. PI3-Akt dan
Hsp90 keduanya menginduksi eNOS protein fosforilasi di Ser1177 yang akan
meningkatkan aktivitas eNOS. Caveolin-1 diketahui mengatur lokalisasi
subselular eNOS dan menginaktivasi enzim tersebut. Sedangkan statin
37
mengurangi ekspresi caveolin-1 dan karenanya meningkatkan eNOS di sitosol.
Penghambatan HMG-CoA reduktase intraseluler oleh statin meningkatkan
ekspresi GTP cyclohydrolase 1 (GCH1) mRNA, gen yang mengkodekan GTP
cyclohydrolase (GTPCH), penghambatan enzim tersebut di biosintesis
tetrahydrobiopterin (BH4) sangat penting untuk perangkaian eNOS. Statin juga
secara tidak langsung meningkatkan perangkaian eNOS kopling dengan
menurunkan generasi O2 vaskular. Inaktivasi Rac1 oleh statin menghambat
aktivitas NADPH oksidase dan NAPDH oksidase derived O2 sementara
pengambilan langsung O2 oleh statin juga telah dilaporkan. O2 mengurangi
bioavailabilitas NO dengan bereaksi membentuk ONOO- hal tersebut terutama
bertanggung jawab pada BH4 oksidasi. Akhirnya, peningkatan
Dimethylarginine dimethylaminohydrolase (DDAH) oleh statin, enzim yang
bertanggung jawab untuk katabolisme ADMA menyebabkan menurunnya
ADMA dan meningkatkan rangkaian eNOS (Antonopoulos AS, 2012).
Pada sirosis hepatis akan terjadi hiperteni portal (HP) yang akan
bertindak sebagai Damage Associated Molecular Pattern (DAMP) yang akan
ditangkap oleh Antigen Processing and Presenting Cell (APC) melalui jalur
Toll Like Receptor-9 (TLR 9) dan akan mempresentasikannya melalui MHC II,
kejadian ini akan merubah keseimbangan kearah Th1 yang akan menghasilkan
Colony Stimulating Factor (CSF) dan Interferon-γ (IFN-γ). CSF akan
mengaktifkan netrofil, dan IFN-γ akan mengaktivasi makrofag untuk
mengeluarkan sitokin proinflamasi seperti TNF-α, Interleukin (IL-1, IL-6 dan
IL-8). Kondisi ini merupakan kejadian low grade inflamation pada sirosis
38
hepatis dan dapat menyebabkan disfungsi endotel sehingga terjadi penurunan
produksi kadar nitrit oksida. Pada hipertensi portal, terjadi low grade
inflammation. Inflamasi ditandai oleh pelepasan pro inflammatory sitokin
seperti TNF-, IL-1 , dan IL-6 dan mediator inflamasi termasuk NO,
Prostaglandin E2 (PGE2), iNOS dan Cyclooxigenase (COX). Nucleus Factor
kappa Beta (NFκ) memiliki peran dalam kekebalan seminal, karena hal itu
akan mengaktifkan gen pro inflamasi encoding. Hal ini diaktifkan oleh
fosforilasi, ubiquitination, dan degradasi proteolitik berikutnya dari Inhibitor
of Kappa Kinase (IKK). NFκ yang dibebaskan bertranslokasi ke inti dan
mengikat sebagai faktor transkripsi motif Kappa (k) dalam target promotor
gen, yang mengarah ke transkripsi. Antioksidan dapat menghambat aktivasi
nucleus factor κβ (NFκ) (Guntur 2008).
Interleukin-6 akan menstimulir hepatosit sehingga hepatosit akan
mengekspresikan Hs-CRP. Hs-CRP akan menghambat enzim NO Synthase
(NOS) sehingga produksi NO berkurang. Hs-CRP akan mengaktifkan Nuclear
Factor Kappa Beta (NF-ĸB) yang akan mengakibatkan ekspresi sitokin pro-
inflamasi makin bertambah. Hs-CRP merangsang endothel pembuluh darah
menghasilkan ICAM, serta merangsang reseptor AT-1R sehingga menghasilkan
ROS, Vascular Endothel Growth Factor (VEGF) yang akan mengakibatkan
restenosis pembuluh darah (Malaponte G, 2002).
39
IL-6
Sel Hepar
HCRP
Disfungsi endothel
↓ eNOS mRNA NFkβ aktif ↑ ET-1 ↑ VCAM ↑ AT-1R
↓ NO ↑ ekspresi Sitokin ↑ ICAM ↑ MCP-1
↑ ROS
↓ BCL-2 ↑ VSM proliferasi
↑ Restenosis
↑ Apoptosis Endothel
(Szmitko PE, 2003)
Gambar 16. Pengaruh Hs-CRP terhadap disfungsi endotel dan produksi
sitokin (Szmitko, 2003).
Statin mempunyai kemampuan antioksidan sehingga mampu sebagai
antioksidan berperan sebagai inhibitor terhadap Inhibitor κβ kinase (IKK)
sehingga aktifasi NFκβ terhambat akibatnya terjadi penurunan jumlah sitokin
proinflamasi diantaranya IL-6 dan TNF-α. TNF-α yang berlebihan akan
memicu terjadinya stres oksidatif (Guntur, 2008)
Gambar 17. Antioksidan menghambat sitokin proinflamasi (Guntur, 2008)
40
Dalam sel-sel pembuluh darah, aktivasi reseptor Angiotensin 1 (AT1)
angiotensin oleh angiotensin II adalah salah satu mekanisme yang paling
menonjol dari produksi ROS in vitro maupun in vivo. Tingkat ekspresi reseptor
AT1 mengikuti dan dipengaruhi oleh up atau down-regulasi dari aktivitas renin
angiotensin sistem (RAAS). Reseptor AT1 diatur oleh berbagai agen
pathophysiologically penting dan hormon, seperti estrogen dan lipoprotein
pada in vitro maupun in vivo, menunjukkan peran penting reseptor ini dalam
perkembangan aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular. Telah ditunjukkan
bahwa statin menghambat isoprenylation posttranslational GTP-binding
protein kecil dalam sel otot polos pembuluh darah. Rac1 GTPase diduga
penting bagi aktivasi NADPH oksidase dan pelepasan radikal bebas. Rac1
adalah pascatranslasi geranylgeranylated. Pemberian statin menurunkan
translokasi membran Rac1 bawah kondisi basal dan benar-benar mencegah
angiotensin II yang dimediasi peningkatan ekspresi Rac1 dalam membran sel
(Wassmann S et al, 2001).
Statin secara umum dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang
paling penting adalah toksisitas ke liver dan otot. Miopati dapat terjadi bila
inhibitor sitokrom P-450 atau inhibitor metabolisme statin yang lain diberikan
bersamaan dengan statin sehingga terjadi peningkatan kadar statin dalam darah
(Stancu dan Sima, 2001). Lovastatin, simvastatin, atorvastatin, dimetabolisme
oleh sitokrom P-450 3A4; fluvastatin oleh sitokrom P-450 2C9; sedangkan
pravastatin tidak melalui sitokrom P-450 tatapi melalui proses sulfation. Obat
yang menghambat sitokrom P-450 akan meningkatkan kadar statin sehingga
efek samping juga akan meningkat, sedangkan obat yang menginduksi
41
sitokrom P-450 akan menurunkan kadarnya sehingga menurunkan aktivitas
biologisnya (Knopp, 1999).
Hepatotoksisitas terjadi kurang dari 1% pasien yang diberikan statin
dosis tinggi dan lebih jarang lagi pada dosis rendah (Knopp, 1999).
Hepatotoksisitas berat sangat jarang terjadi, hanya satu kasus persejuta orang
pemakai statin pertahun (Goodman dan Gillman, 2008). Bahkan kebanyakan
hepatologis sudah tidak menganggap statin menyebabkan hepatotoksis yang
signifikan. Para ahli tersebut menyimpulkan peningkatan aminotransferase
sehubungan terapi statin bukan merupakan bukti kerusakan liver (Bader, 2010).
Efek samping yang paling signifikan terkait pemakaian statin adalah
miopati. Insiden miopati sangat rendah (0,01%) tetapi resiko miopati dan
rhabdomyolysis meningkat sesuai dengan peningkatan kadar statin di plasma.
Faktor yang menghambat katabolisme statin seperti usia lanjut (>80 tahun),
gangguan hepar dan renal, periode perioperatif dan hipotiroidisme akan
meningkatkan resiko tersebut. Obat-obat seperti fibrat terutama gemfibrozil,
siklosporin, digoxin, warfarin, antibiotik golongan makrolide, mibefradil dan
antijamur golongan azole juga meningkatkan resiko miopati (Goodman dan
Gillman, 2008).
Meta-analisis terhadap tujuh penelitian randomized control trial
(RCT) yang melibatkan 29.395 pasien dengan terapi intensif dan kurang
intensif statin, diikuti selama minimal satu tahun, didapatkan efek samping
peningkatan aminotransferase hanya 1% dan miopati hanya 0,05%. Dan
disimpulkan terapi statin aman dan ditoleransi baik (Josan et al, 2008).
Pemakaian statin pada wanita hamil dan menyusui sebaiknya dihindari karena
keamanannya belum jelas (Goodman dan Gillman, 2008).
42
Kumar et al melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh terapi
statin terhadap resiko dekompensasi hati pada 82 orang dengan sirosis hati
yang telah ditegakkan dengan biopsi, diberikan statin selama minimal 3 bulan
untuk pengobatan dislipidemia. Dibandingkan dengan subyek kontrol 162
dengan sirosis hati tapi tidak diberikan statin. Durasi rata-rata penggunaan
statin 25 bulan. Median follow up adalah 36 bulan untuk kelompok statin dan
30 bulan untuk kelompok kontrol. Didapatkan penggunaan statin dikaitkan
dengan penurunan 56 % resiko dekompensasi hati (95 % confidence interval
[CI] , 0,27-0,71) . Kejadian dekompensasi lebih sedikit pada kelompok statin
dibandingkan pada kelompok kontrol (39,5 % vs 55,6 % , P = 0.01) (Kumar et
al, 2012).
B. Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan dibutuhkan dalam mendukung kajian teori yang
dikemukakan, sehingga dapat dipergunakan sebagai bahan kajian untuk hipotesis.
Hasil penelitian dan teori yang relevan dengan penelitian ini adalah:
S Kumar dkk, melakukan penelitian pada 81 pengguna statin dan 162
kontrol dilakukan follow up selama 36 bulan. Dimana 70,4 % merupakan pasien
Child-Pugh A menurut Model for End-Stage Liver Disease ( MELD ), tidak ada
perbedaan signifikan antar kelompok pada albumin, varises dan penggunaan
penyekat beta. Pengguna statin memiliki angka kematian lebih rendah pada
analisis multivariat (HR 0,53 , p = 0,01), dan pada analisis Kaplan-Meier pasien
Child-Pugh A memiliki kelangsungan hidup yang lebih panjang. Analisis
multivariat Cox menunjukkan risiko yang lebih rendah terjadi dekompensasi pada
perlakuan statin. (Kumar dkk., 2014).
43
Dalam penelitian Trocha dkk, didapatkan efek dari simvastatin (SV) pada
level Sintase oksida nitrat, dan arginine (Arg) dan turunannya dievaluasi di hati
tikus pada kondisi iskemia-reperfusi (I/R). Konsentrasi Arg meningkat secara
signifikan pada kelompok dengan pemberian Simvastatin, meskipun sebelumnya
menurun secara signifikan selama 30 menit pada awal reperfusi di kedua
kelompok Simvastatin dan kontrol. Konsentrasi eNOS secara signifikan lebih
tinggi pada kelompok Simvastatin dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Simvastatin memberikan tindakan protektif dengan meningkatkan kadar eNOS
dalam kondisi normal dan tingkat Arg setelah iskemia dan dengan mencegah
peningkatan yang signifikan dalam konsentrasi iNOS setelah I/R. (Trocha dkk.,
2010).
Telah dilaporkan pula bahwa statin juga memiliki efek antioksidan yang
dapat memperbaiki disfungsi endotel, termasuk efek penghambatan terhadap
oksidasi LDL dan peningkatan regulasi eNOS. Akhirnya, statin dapat
menghambat IL-1b serta peroxisome proliferator-activated receptor (PPAR) dan
yang dikenal sebagai mediator inflamasi. Mengingat efek pleotropik antioksidan
dan antiinflamsi (Ritzel dkk., 2002). Pada pasien SH, peningkatan level nitrat dan
nitrit, hasil degradasi dari oksidasi NO, telah diteliti. Pada sistem vaskular
splangnik tikus uji dengan hipertensi portal, overproduksi NO telah diuji
bertanggung jawab kepada hiposensitifitas vasopresor. Lebih jauh, inhibisi
produksi NO mengurangi shunting portosistemik dan melindungi secara luas
pembentukan sirkulasi hiperdinamik. (Montesa, 2009).
44
C. Kerangka pikir
1. kerangka Konseptual
VIRUS
SEL KUFFER
SIMVASTATIN NFkβ
IL 6 TNF α IL 1β TGF β1
HEPATOSIT FIBROSIS
CRP ECM
D I S F U N G S I E N D O T E L KOLAGEN
E SELEKTIN
iNOS eNOS
PMN
NEKROSE
NO
S I R O S I S H E P A T I S
GASTROPATI
HIPERTENSI PORTAL
Gambar 18. Kerangka konsep
45
Keterangan :
1. : menghambat 5. : menurunkan
2. : mengaktivasi 6. : meningkatkan
3. : meningkatkan 7. : menurunkan
4. : variabel tergantung 8. : variabel bebas
2. Keterangan Bagan Kerangka Konseptual
Pada sirosis hati terjadi peningkatan tekanan portal dengan dasar tersebut
kita melakukan hipotesa bahwa terdapat rangsangan mekanik “Shear Stess” dan
biokimiawi pada pasien dengan hipertensi portal karena sirosis hati maka akan
terjadi “Endotel injuri”yang lama kelamaan akan menjadi “Endotel disfunction”
(Disfungsi Endotel). Disfungsi endotel sinusoidal pada sirosis hati dihubungkan
dengan menurunnya aktivitas Endotel Nitrite Oxide Synthase (eNOS) meskipun
ekspresi protein masih normal. Kekurangan produksi endotel NO ini
bermanifestasi sebagai suatu hiper responsif vasokonstriksi yang disebabkan oleh
berkurangnya vasodilatasi yang bergantung pada endothelium (Abralges JG et al,
2007).
Aktivasi reseptor AT1 angiotensin oleh angiotensin II adalah salah satu
mekanisme yang paling menonjol dari produksi ROS in vitro maupun in vivo.
Telah ditunjukkan bahwa statin menghambat isoprenylation posttranslational
GTP-binding protein kecil dalam sel otot polos pembuluh darah. Rac1 GTPase
diduga penting bagi aktivasi NADPH oksidase dan pelepasan radikal bebas. Rac1
adalah pascatranslasi geranylgeranylated. Pemberian statin menurunkan
46
translokasi membran Rac1 bawah kondisi basal dan benar-benar mencegah
angiotensin II yang dimediasi peningkatan ekspresi Rac1 dalam membran sel
(Wassmann S et al, 2001).
Kerusakan endotel maka endotel akan mengekspresiksn sitokin-sitokin pro
inflamasi antara lain adalah TNF ά , IL6, IL1β dan TGFβ1, TNF ά yang dapat
menstimulasi endotel mengeluarkan e-selektin, e-selektin ini akan mengikat (tight
binding) PMN sehingga dapat dimasukan kedalam ke sub endotel pembuluh darah
(diapesis). Bila PMN berlebihan akan mengekspresikan lisosim yang akan
melisiskan (nekrosis) endotel dan sel-sel lain sehingga terjadi kerusakan
pembuluh darah berupa fragmen. Fragmen ini yang akan ditangkap oleh reseptor
signaling yaitu TLR-4 yang akan menstimulasi target sel yaitu sel kuffer pada
organ hati dengan cara mengktivasi NFĸβ. Aktivasi NFĸβ akan menyebabkan
peningkatan sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1, IL-6 dan IL-8. IL-6 bila
berebihan akan menstimulasi sel target (sel kuffer) sehingga hepatosit akan
mengekspresikan HsRCP yang akan mengakibatkan disfungsi endotel yang akan
menyebabkan terhambatnya enzim NOS sehingga produksi NO berkurang yang
berakibat berkurangnya bcl dan akan meningkatkan apoptosis dari endotel sel.
Hipertensi portal akan bertindak sebagai Damage Associated Molecular
Pattern (DAMP) yang akan ditangkap oleh Antigen Processing and Presenting
Cell (APC) melalui jalur Toll Like Receptor-9 (TLR 9) dan akan
mempresentasikannya melalui MHC II, kejadian ini akan merubah keseimbangan
kearah Th1 yang akan menghasilkan Colony Stimulating Factor (CSF) dan
Interferon-γ (IFN-γ). CSF akan mengaktifkan netrofil, dan IFN-γ akan
47
mengaktivasi makrofag untuk mengeluarkan sitokin proinflamasi seperti TNF-α,
Interleukin (IL-1, IL-6 dan IL-8). Kondisi ini merupakan kejadian low grade
inflamation pada HP dan dapat menyebabkan disfungsi endotel sehingga terjadi
penurunan produksi kadar nitrit oksida. Pada hipertensi portal, terjadi low grade
inflammation. Inflamasi ditandai oleh pelepasan pro inflammatory sitokin seperti
TNF-, IL-1 , dan IL-6 dan mediator inflamasi termasuk NO, PGE2, iNOS dan
Cyclooxigenase (COX) (Guntur 2008).
Statin mempunyai kemampuan antioksidan sehingga mampu sebagai
antioksidan berperan sebagai inhibitor terhadap Inhibitor κβ kinase (IKK)
sehingga aktifasi nucleus factor κβ (NFκβ) terhambat akibatnya terjadi penurunan
jumlah sitokin proinflamasi diantaranya IL-6 dan TNF-α. TNF-α yang berlebihan
akan memicu terjadinya stres oksidatif (Guntur, 2008).
Statin berefek positif pada ekspresi gen eNOS, eNOS mRNA dan tingkat
protein serta eNOS berpasangan. Dengan menghambat pembentukan isoprenoid
intraseluler, statin mengurangi aktivasi protein kecil GTPase Rho, mengakibatkan
peningkatan ekspresi gen eNOS melalui Klf2 dan stabilisasi eNOS mRNA oleh
polyadenylation. Ekspresi gen eNOS juga meningkat melalui stimulasi jalur PI3-
Akt oleh statin. Upregulation Hsp90 oleh statin menginduksi eNOS protein
fosforilasi di Ser1177 yang akan meningkatkan aktivitas eNOS. Statin mengurangi
ekspresi caveolin-1 dan karenanya meningkatkan eNOS di sitosol. Statin
meningkatkan ekspresi GCH1 mRNA, gen yang mengkodekan GTPCH,
penghambatan enzim tersebut di biosintesis BH4 sangat penting untuk
perangkaian eNOS. Inaktivasi Rac1 oleh statin menghambat aktivitas NADPH
oksidase dan NAPDH oksidase derived O2 , O2 akan mengurangi bioavailabilitas
48
NO dengan bereaksi membentuk ONOO-. Peningkatan DDAH oleh statin
menyebabkan menurunnya ADMA dan meningkatkan rangkaian eNOS
(Antonopoulos AS, 2012).
Hal tersebut yang mendasari hipotesis bahwa simvastatin berpengaruh
terhadap kadar NO dan penurunan tekanan vena porta yang ditandai dengan
menurunnya kecepatan aliran vena porta pada pasien SH.
D. Hipotesis Penelitian
1. Ada efek pemberian simvastatin terhadap kadar nitrit oksida pada
pasien sirosis hati.
2. Ada efek pemberian simvastatin terhadap perbaikan gambaran
gastropati hipertensi portal (GHP) melalui Endoscopi pada pasien
sirosis hati.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas
Maret Surakarta / Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi Surakarta
2. Waktu
Waktu yang diperlukan dalam penelitian ini selama 5 bulan dengan jadwal
penelitian sebagai berikut.
Tabel 3. Jadwal Penelitian
Bulan I Bulan II Bulan III Bulan IV Bulan V
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
Pesan reagen Olah
Penelitian Pelaporan
Sampling Run in periode data
B. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental dengan
metode randomized double blind controlled trial.
C. Subjek Penelitian dan Besar Sampel
Subjek penelitian dapat dilihat sebagai berikut:
1. Populasi sasaran:
Pasien Sirosis Hepatis dengan pengobatan rutin standar propanolol 10 mg per
hari dan spironolakton 100 mg per hari.
49
50
2. Populasi sumber:
Pasien Sirosis Hepatis yang dirawat maupun kontrol rutin tiap bulan di Poli
Gastroentero-Hepatologi RSUD dr. Moewardi Surakarta.
3. Sampel:
Diambil secara acak pada pasien SH yang dirawat atau berobat di poli
Gastroentero-Hepatologi RSUD dr. Moerwardi Surakarta, memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi serta bersedia ikut dalam penelitian dengan
menandatangani blangko persetujuan.
Kriteria inklusi:
1. Usia 18 s/d 60 tahun
2. Sirosis Hepatis ditandai secara klinis, laboratorium dan USG Hepar
Kriteria Eklusi :
1. Pasien Hamil
2. Pasien menderita Sepsis
3. Pasien Encephalopathy grade IV
4. Hepatocelluar Carsinoma
5. Kelainan ginjal obstruksi (nefrolitiasis dan urethrolitiasis)
6. Gagal ginjal kronik
7. Post operasi Transjugular intra hepatic portosystemik shunt
8. Terapi Simvastatin > 3 bulan
Penentuan besar sampel (sample size) melibatkan parameter tingkat
kesalahan (error term) atau α dan tingkat kekuatan pengujian (power test) atau 1 -
51
β Formulasi besar sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (Dahlan,
2009; Santjaka, 2011)
(Z1 Z1 )2 2
n
2
dimana:
n : besarnya sampel.
Z1-α : nilai standar normal tingkat kesalahan, jika α = 0,05 maka
Z1-α = 1,96.
Z1-β : nilai standar normal power test, jika 1 - β = 0,90 maka:
Z1-β = 1,282.
δ : selisih yang diinginkan (difference of interest)
σ : besarnya penyimpangan (standar deviasi) yang bisa ditolerir.
2 2
Karena untuk kelompok sampel berpasangan berlaku: δ = σ = 1,
sehingga:
n (Z1 Z1 )2
maka dengan kondisi diatas, penelitian ini menggunakan ukuran sampel minimal
adalah:
2
n = (1,96 + 1,282) = 10,51 dibulatkan menjadi 11.
Dengan demikian sampel minimal dalam penelitian ini adalah 11
responden dalam setiap kelompok. Penelitian ini merupakan uji klinis dengan
mempertimbangkan kemungkinan terjadi drop out maka ditetapkan angka drop
out sebesar 10% (Sri dkk., 2011). Dengan mempertimbangkan minimal besar
sampel dan drop out maka diambil sampel sebesar 15 pasien SH (n=15 pasien
untuk tiap kelompok) sehingga besar sampel telah cukup memadai dan memenuhi
52
formulasi besar sampel. Teknik pengambilan sampel dengan simple random
sampling menggunakan program Open Epi versi 2.3.
D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
1. Klasifikasi variabel penelitian:
a. Variabel bebas : Simvastatin
b. Variabel tergantung :
Variabel tergantung adalah variable yang akan diteliti yaitu
1) Gastropati Hipertensi Portal (GHP)
2) Nitrit Oksida (NO).
2. Definisi operasional variabel
Tabel 4. Definisi Operasional
Parameter Definisi Alat Satuan Skala
Ukur Data Data
NO Adalah substansi vasoaktif yang berperan ELISA μM Rasio
sebagai vasodilator. Kadar NO diukur dari
spesimen plasma darah dengan hasil
membentuk kurva standar menggunakan
analisis regresi linier, kemudian menghitung
konsentrasi nitrit dalam sampel berdasarkan
kurva standar atau rumus regresi linier yang
berada dalam kit kontrol.
Gastropathi Adalah gambaran pola mosaik/sisik ular Kuantitatif Ordin
Hipertensi yang khas datar atau menggelembung baik dengan al
dengan atau tanpa bintik-bintik merah / Endoscopy
Portal bintik-bintik coklat perdarahan untuk OLYMPUS
menilai gambaran pada gaster yang di EXERA
sebabkan oleh hipertensi portal sebagai (CV-180)
komplikasi dari sirosis hepatis sesuai kriteria
Baveno III. Derajad satu: Pola seperti
mosaik derajad ringan (tanpa kemerahan
pada areola). Derajad dua: diantara derajad
satu dan dua, Derajad tiga: Tanda tanda
merah atau tanda merah lainnya atau adanya
titik hitam coklat.
53
Simvastatin Merupakan senyawa yang berperan sebagai - mg/dl Nomi
kompetitif inhibitor terhadap (HMG-CoA) nal
reduktase . Adapun efek pleotropik dari
statin yang diharapkan pada penelitian ini
mempuyai peran terhadap perbaikan fungsi
endotel yang nantinya meningkatkan
produksi NO.
E. Cara Kerja
Subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diambil sebanyak 30
orang secara acak dengan metode simple random sampling kemudian dibagi
menjadi dua kelompok yaitu kelompok uji dan kelompok kontrol masing-masing
n=16. Proses pengambilan sampel dan membaginya menjadi dua kelompok
menggunakan program komputer Open Epi versi 2.3. Selama penelitian
berlangsung, regimen terapi tidak dirubah.
1. Perlakuan:
a. Kelompok uji: Simvastatin 20mg/hari, diminum antara jam 18.00-21.00,
selama 28 hari.
b. Kelompok kontrol: Diberikan plasebo.
2. Monitoring:
a. Dilakukan monitoring tiap dua minggu untuk mengetahui efek samping
yang timbul dengan wawancara dan pemeriksaan fisik. Dicari adanya
konstipasi, flatulensie, dispepsia, nyeri abdomen, mialgia dan keluhan
lain terkait efek samping pemakaian simvastain/plasebo.
b. Bila ada indikasi akan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium
seperti serum glutamic-oxaloacetic transaminase (SGOT), serum
54
glutamic-pyruvic transaminase (SGPT), ureum, kreatinin dan kreatin
kinase.
c. Dilakukan penghitungan jumlah obat tiap kali kontrol, dikatakan patuh
bila jumlah obat yang minum 90 – 110 % (Krysiak dkk., 2010).
d. Selama perlakuan, subyek akan dieksklusi bila terdapat salah satu dari
berikut ini; kepatuhan minum obat < 80% atau > 120%, efek samping
serius dari obat yang diteliti dan masuk rumah sakit (Tharavanij dkk.,
2010).
3. Tindakan bila ada efek samping:
a. Penanganan efek samping sesuai indikasi.
b. Melaporkan kejadian tersebut ke Komisi Etik secepatnya.
4. Teknik pengambilan darah dan penanganan spesimen:
a. Pemeriksaan Nitrit oksida dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan.
b. Pemeriksaan darah tersebut dilakukan setelah puasa selama 12 jam.
c. Dilakukan pemeriksaan Nitrit oksida, melalui vena antecubiti pada
0
ruangan yang tenang dengan temperatur terkontrol (24 – 25 C) antara
jam 08.00 – 09.00 pagi.
d. Proses penanganan spesimen untuk Nitrit oksida, ambil darah dengan
tabung sitrat sebanyak 3 cc kemudian bolak-balik perlahan-lahan 10 kali
hingga homogen. Sentrifugasi 3000 g selama 10 menit, segera pisahkan
plasma masukkan kedalam 3 sampel cup @ 0,3 cc plasma. Beri identitas,
0
nama, tanggal dan jeins pemeriksaan. Simpan di – 20 C (stabillitas 3
bulan).
55
e. Proses penanganan spesimen untuk Sampel darah yang di peroleh di
masukkan ke dalam tabung sentrifius yang sudah di berikode dan di
biarkan membeku. Sampel darah yang sudah membeku di pusingkan
selama 5 – 10 menit dengan kecepatan 4000 rpm.
f. Pemeriksaan Nitrit oksida dilakukan setelah semua sampel sebelum dan
sesudah perlakuan terkumpul semua, untuk menghindari rusaknya kit
Nitrit oksida, bila pemeriksaan dilakukan tidak secara bersamaan.
g. Pemprosesan darah untuk diambil plasmanya, penyimpanan plasma pada
0
suhu – 20 C dan pemeriksaan Nitrit oksida dilakukan dengan bekerja
sama dengan Laboratorium Klinik Prodia. Alat untuk pemeriksaan Nitrit
oksida.
5. Teknik pemeriksaan NO :
Prosedur kerja:
a. Memasukkan 100μl reagen Griess (reagen chromogenic) dalam tiap
sumuran.
b. Memasukan 15 spesimen darah yang akan diuji dan nitrit standard ke
dalam sumuran (duplo) dengan menggunakan medium kontrol sebagai
blanko.
c. Tunggu 5 menit pada suhu kamar untuk perubahan warna dan stabilisasi.
d. Mengukur absorbansinya pada 550 nm menggunakan automated micro-
plate reader.
56
e. Membuat kurva standar menggunakan analisis regresi linier sederhana
dari pembacaan nitrit standar, kemudian menghitung konsentrasi nitrit
dalam sampel berdasarkan kurva standar atau rumus regresi.
6. Teknik pemeriksaan Gastropati Hipertensi Portal dengan Endoscopi
Prosedur kerja:
Prosedur kerja Persiapan Umum :
a. Psikologis : penyuluhan / edukasi tentang prosedur dan kemungkinan
yang mungkin terjadi demi kelancaran saat pemeriksaan endoskopi (ex
: menghilangkan rasa cemas dan takut).
b. Administrasi : surat persetujuan tindakan (inform consent)
Prosedur kerja Persiapan Khusus :
a. Puasa minimal 6 jam sebelum pemeriksaan
b. Gigi palsu dan kacamata harus dilepas selama pemeriksaan
c. Sebelum tindakan dimulai, daerah oropharing disemprot dengan
Xyllocain spray 10 %
d. Berbaring ke sisi kiri dengan letak kepala miring hadap ke
bawah. Prosedur Pelaksanaan :
a. Hidupkan mesin endoskopi
b. Siapkan alat dan obat emergensi
c. Masukkan data pasien ke dalam monitor
d. Tidurkan pasien pada posisi miring ke kiri dan kepala agak ditekuk
Kebawah. Semprot oropharing dengan Xyllocain spray 10% dan anjurkan
untuk Menelan.
57
e. Pasang montpice pada mulut pasien, bila ada gigi palsu dilepas dahulu
dan suruh pasien menggigit montpice.
f. Masukkan scope ke dalam mulut pasien, anjurkan pasien untuk
membantu menelan dan napas panjang.
g. Observasi KU pasien selama tindakan, bila sudah selesai tarik scope
pelan-pelan keluar, dan montpice dilepas.
h. Alat-alat dibersihkan dan dikembalikan pada tempatnya.
F. Teknik Analisis Data
Data disajikan dalam bentuk mean ± SD kemudian dianalisis menggunakan
SPSS 17 for windows dengan nilai p < 0,05 dianggap signifikan secara statistik.
Digunakan uji beda mean. Untuk mengetahui beda mean antara kelompok
perlakuan dan kontrol sebelum dan sesudah perlakuan digunakan uji t - sampel
independen bila distribusi data normal (bila tidak normal digunakan uji mann
whitney). Untuk mengetahui beda mean antara sebelum dengan sesudah perlakuan
dalam satu kelompok digunakan uji t sampel berpasangan bila distribusi data
normal (bila tidak normal digunakan uji wilcoxon). Untuk menguji perubahan
GHP sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol maupun perlakuan di
gunakan uji tanda ( sign test).
58
G. Alur Penelitian
SIROSIS HATI
Kriteria Inklusi Kriteria Eksklusi
Randomisasi
Kelompok Uji Kelompok Kontrol
Sebelum perlakuan: Sebelum perlakuan:
NO dan gastropati NO dan gastropati
hipertensi portal hipertensi portal
Simvastatin 20 mg
Simvastatin 20 mg
(4 minggu) (-)
Setelah perlakuan: Sebelum perlakuan:
NO dan gastropati NO dan gastropati
hipertensi portal hipertensi portal
Analisis Statistik
Gambar 19. Alur penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Subyek Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh Simvastatin
terhadap kadar Nitrit Oksida (NO) dan Gastropati Hipertensi Portal pada pasien
Sirosis Hari. Obyek penelitian dikumpulkan 40 pasien sirosis hati dilakukan
inklusi dan eksklusi didapatkan 30 pasien. Dari 30 pasien dilakukan randomisasi
dibagi menjadi 2 kelompok yang digolongkan menjadi kelompok kontrol dan
perlakuan masing-masing 15 pasien. Dalam perjalanan kelompok perlakuan drop
out 1 pasien karena meninggal. Sehingga tersisa pasien perlakuan berjumlah 29
orang dibagi dalam dua kelompok sampel yaitu kelompok kontrol dengan jumlah
sampel sebanyak 15 orang dan kelompok perlakuan dengan jumlah sampel
sebanyak 14 orang. Kelompok perlakuan mendapatkan perlakuan dengan
pemberian Simvastatin, sedangkan kelompok kontrol tidak mendapatkan
perlakuan dimaksud dan kepada kelompok kontrol ini diberikan plasebo.
59
60
40 pasien SIROSIS HATI
Kriteria Inklusi Kriteria Eksklusi
30 pasien Randomisasi
15 pasien Kelompok Uji 15 pasien Kelompok Kontrol
Sebelum perlakuan: Sebelum perlakuan:
NO dan Gastropati NO dan Gastropati
Hipertensi Portal Hipertensi Portal
Simvastatin 20 mg Placebo
(4 minggu)
Drop Out :
Kelompok uji (1)
14 pasien setelah 15 pasien setelah
perlakuan: perlakuan:
NO dan Gastropati NO dan Gastropati
Hipertensi Portal Hipertensi Portal
Analisis Statistik
Gambar 20. Perjalanan penelitian
Sebelum melakukan analisis lebih lanjut, lebih dahulu dijelaskan
karakteristik obyek penelitian untuk masing-masing kelompok sampel. Selain
deskripsi singkat tentang karakteristik obyek penelitian, sekaligus dilihat
sejauhmana tingkat homogenitas karakteristik obyek penelitian itu berdasarkan
kelompok sampel. Karakteristik penelitian yang berupa variabel kualitatif, uji
homogenitas dilakukan menggunakan uji Chi Square. Karakteristik penelitian
yang berupa variabel-variabel kuantitatif, uji homogenitas dilakukan
61
menggunakan uji beda 2 mean dimana jenis ujinya didasarkan pada distribusi data
variabel karakteristik itu. Jika distribusi data variabel bersifat normal, maka uji
beda 2 mean menggunakan jenis analisis statistik parametrik yaitu uji t untuk beda
2 mean sampel independent. Namun apabila distribusi data bersifat tidak normal,
maka uji beda 2 mean menggunakan jenis analisis statistik non parametrik yaitu
uji Mann-Whitney.
2. Deskripsi Variabel Penelitian
Variabel karakteristik demografis responden yang bersifat kualitatif antara
lain adalah variable jenis kelamin. Hasil uji homogenitas variabel karakteristik
jenis kelamin dimaksud menunjukkan bahwa variabel jenis kelamin ternyata
homogen antara kelompok sampel kontrol dan perlakuan. Nilai chi kuadrat
didapatkan sebesar 0,109 dengan probabilitas sebesar 0,742 (p > 0,05) yang
berarti tidak ada perbedaan proporsi jenis kelamin laki-laki atau perempuan antara
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.
Tabel 5. Perbandingan Jenis Kelamin Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan
Perlakuan Kontrol Uji Chi Square
2
Jenis Kelamin n % n % Χ P value
Laki-laki 11 73,3 11 78,6
0,109 0,742
Perempuan 3 26,7 4 21,4
62
11
11
12
10 4.4
8
6
3
4 KONTROL
2 PERLAKUAN
0
LAKI-LAKI PEREMPUAN
PERLAKUAN KONTROL
Gambar 21. Perbandingan Jenis Kelamin Kelompok Kontrol dan
Kelompok Perlakuan
Berdasarkan table 5. di atas, pada kelompok perlakuan dari 14 orang sampel
terdiri dari 11 orang laki-laki (73,3 persen) dan 3 orang perempuan (26,7 persen),
sedangkan pada kelompok kontrol dengan 15 orang sampel terdiri dari 11 orang
laki-laki (78,6 persen) dan 4 orang perempuan (21,4 persen). Dengan komposisi
jenis kelamin yang persis sama itu didapatkan hasil pengujian bahwa variabel
jenis kelamin homogen berdasarkan kelompok sampel.
Sementara itu variabel karakteristik demografis responden yang bersifat
kuantitatif antara lain adalah umur responden. Variabel karakteristik umur
responden menunjukkan nilai rata-rata 52,21 tahun untuk kelompok perlakuan
dengan standar deviasi 7,07 tahun dan sebesar 50,33 tahun untuk kelompok
kontrol dengan standar deviasi sebesar 9,15 tahun. Distribusi data variabel umur
63
bersifat tidak normal sehingga uji homogenitas untuk variabel umur digunakan uji
non parametrik uji Mann-Whitney untuk beda 2 mean sampel independent.
Hasil analisis uji beda 2 mean menggunakan uji Mann-Whitney sampel
independent mendapatkan nilai Z sebesar -0,416 dengan probabilitas 0,683 (p >
0,05). Hasil itu menunjukkan uji beda 2 mean yang tidak signifikan pada derajat
signifikansi 5 persen, yang berarti bahwa rata-rata umur antar kedua kelompok
sampel itu tidak berbeda secara meyakinkan atau dengan kata lain variabel
karakteristik umur bersifat homogen. Deskripsi dan hasil pengujian karakteristik
umur adalah sebagai berikut:
Tabel 6. Perbandingan Umur Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan
Perlakuan Kontrol Uji Beda 2 Mean
Variabel Rata- Std Rata- Std Nilai P value
rata Deviasi rata Deviasi Z
Umur 52,21 7,07 50,33 9,15
-0,416 0,683
(tahun)
Selain jenis kelamin dan umur sebagai karakteristik demografis, pengujian
homogenitas juga dilakukan terhadap variabel karakteristik klinis yang meliputi
SGOT, SGPT, Ureum, Kreatinin, Albumin, Bilirubin1, Bilirubin2, Bilirubintotal,
PT, INR, Ascites, CN_test dan child-pugh. Setelah masing-masing variable,
kecuali child-pugh, diuji normalitas datanya, kemudian dilanjutkan uji
homogenitas variabel itu menurut kelompok sampel.
Distribusi data variable Kratinin, Albumin, PT, dan CN_test berfisat
normal sehingga uji homogenitas atas variable-variabel di atas menggunakan
statistik uji t untuk beda 2 mean sampel indepanden, sedangkan distribusi variable
64
SGOT, SGPT, Ureum, Bilirubin1, Bilirubin 2, Bilirubintotal, INR, dan Ascites
bersifat tidak normal sehingga uji homogenitas yang dilakukan menggunakan uji
statistik Mann-Whitney. Berdasarkan deskripsi dan pengujian homogenitas
variabel karakteristik klinis dalam tabel 7. berikut menunjukkan bahwa semua
variabel karakteristik klinis bersifat homogen karena perbedaan rata-rata variabel-
variabel karakteristik klinis tersebut pada dua kelompok sampel yaitu kelompok
perlakuan dan kelompok sampel tidak signifikan pada derajat signifikansi 5
persen.
Deskripsi dan hasil pengujian homogenitas variabel karakteristik klinis
yang bersifat dalam penelitian ini dapat disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 7. Perbandingan Variabel Karakteristik Klinis Awal pada Kelompok Kontrol dan Kelompok
Perlakuan
Perlakuan Kontrol Uji Beda 2 Mean
Variabel Rata- Std Rata- Std Nilai P value
rata Deviasi rata Deviasi Statistik
SGOT 140,64 134,38 106,93 94,79 Z = -0,218 0,847
SGPT 88,64 78,50 56,80 52,59 Z = -1,004 0,331
Ureum 53,07 45,66 52,67 39,35 Z = -0,066 0,949
Kreatinin 1,17 0,29 1,22 1,20 t = 0,299 0,767
Albumin 3,09 0,73 2,91 0,56 t = -0,743 0,464
Bilirubin1 1,04 0,69 0,84 0,47 Z = -0,743 0,477
Bilirubin2 0,66 0,40 0,76 0,49 Z = -0,895 0,377
Bilirubibtotal 1,70 1,06 1,60 0,85 Z = -0,196 0,847
PT 15,81 1,85 16,73 4,35 t = 0,726 0,474
INR 1,34 0,28 1,43 0,50 Z = -0,131 0,914
Ascites 0,86 0,86 0,87 0,83 Z = -0,047 0,983
CN_test 93,79 21,81 91,00 29,19 t = -0,289 0,774
Uji homogenitas atas variable kualitatif karakteristik child-pugh
menunjukkan bahwa variabel child-pugh tersebut ternyata homogen antara
65
kelompok sampel kontrol dan perlakuan. Nilai chi kuadrat didapatkan sebesar
1,803 dengan probabilitas sebesar 0,406 (p > 0,05) yang berarti tidak ada
perbedaan proporsi child-pugh A, B atau C antara kelompok kontrol dan
kelompok perlakuan. Pada kelompok kontrol, dari 15 sampel terdapat 4 orang
yang memiliki child-pugh A (26,7 persen), dan 5 orang yang memiliki child-pugh
B (33,3 persen), serta 6 orang selebihnya memiliki child-pugh kategori C (40,0
persen). Sedangkan pada kelompok perlakuan, dari 14 sampel terdapat 3 orang
memiliki child-pugh kategori A (21,4 persen), dan 8 orang yang memiliki child-
pugh kategori B (57,1 persen), serta 3 orang yang memiliki child-pugh kategori C
(21,4 persen).
Tabel 8. Perbandingan Child-pugh Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan
Perlakuan Kontrol Uji Chi Square
2
Child-pugh n % n % Χ P value
Kategori A 3 21,4 4 26,7
Kategori B 8 57,1 5 33,3 1,803 0,406
Kategori C 3 21,4 6 40,0
6
8 8 5
6 4
4 KONTROL
3 3
2
PERLAKUAN
0
KATEGORI A KATEGORI B KATEGORI C
PERLAKUAN KONTROL
Gambar 22. Perbandingan Child-pugh Kelompok Kontrol dan Kelompok
Perlakuan
66
Dengan komposisi child-pugh untuk masing-masing kelompok control dan
perlakuan tersebut di atas didapatkan hasil pengujian bahwa variabel jenis
kelamin homogen berdasarkan kelompok sampel.
Dengan demikian karena semua variabel karakteristik baik demografis
(jenis kelamin dan umur) maupun variabel klinis (SGOT, SGPT, Ureum,
Kreatinin, Albumin, Bilirubin1, Bilirubin2, Bilirubintotal, PT, INR, Ascites dan
CN_Test, serta child-pugh) bersifat homogen, maka dapat dilanjutkan pada
pengujian selanjutnya yaitu menguji variabel utama kadar NO dan gambaran
gastropati hipertensi portal.
3. Pengujian Variabel Utama
Pembuktian hipotesis ada pengaruh pemberian simvastatin terhadap kadar
NO dilakukan dengan dua cara, yaitu :
a. Menguji beda 2 mean kadar NO antara kelompok perlakuan dan kelompok
kontrol untuk masing-masing kondisi sebelum dan sesudah pemberian
simvastatin dengan uji beda 2 mean sampel independent. Dengan langkah ini
diharapkan pada kondisi setelah pemberian perlakuan perbedaan mean
kelompok kontrol dan kelompok sampel akan terjadi perbedaan yang
signifikan, sedangkan pada kondisi sebelum pemberian perlakuan tidak terjadi
perbedaan yang signifikan, karena pada kondisi ini sama-sama tidak diberikan
perlakuan pemberian simvastatin
b. Menguji beda 2 mean kadar NO sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan
untuk masing-masing kelompok sampel dengan uji beda 2 mean untuk sampel
67
berpasangan. Dengan langkah ini diharapkan pada kelompok perlakuan akan
terjadi perbedaan yang signifikan, sedangkan pada kelompok kontrol tidak
terjadi perbedaan yang signifikan karena pada kelompok ini tidak diberikan
perlakuan pemberian simvastatin.
c. Menguji beda 2 mean variabel perubahan kadar NO (delta-NO) dengan uji
beda 2 mean untuk sampel independent. Dengan langkah ini diharapkan ada
perbedaan signifikan beda 2 mean variabel perubahan NO (delta-NO) tersebut
antar kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, karena kelompok perlakuan
diharapkan mengalami perubahan setelah perlakuan sedangkan kelompok
kontrol tidak berubah setelah perlakuan.
Sebelum dilakukan pengujian beda 2 mean itu, terlebih dahulu juga dilakukan
pengujian normalitas data variabel utama untuk memastikan jenis uji statistik
yang akan digunakan untuk pengujian beda 2 mean dimaksud. Uji normalitas
distribusi data variable NO tersebut menggunakan uji Shapiro-Wilk.
Langkah Pertama, variable kadar NO pada kondisi sebelum perlakuan
pemberian simvastatin, untuk data pada kelompok kontrol tidak berdistribusi
normal namun pada kelompok perlakuan berdistribusi normal. Dengan demikian
uji beda 2 mean kadar NO kelompok kontrol dan perlakuan pada kondisi sebelum
perlakuan itu dapat menggunakan uji beda 2 mean uji t untuk sampel independent.
Hasil pengujian beda 2 mean kelompok kontrol dan perlakuan untuk variable
kadar NO pada kondisi sebelum pemberian perlakuan pemberian simvastatin itu
menunjukkan hasil pengujian yang tidak signifikan pada derajat signifikansi 5
persen (p > 0,05). Berdasarkan hasil pengujian terhadap variabel kadar NO di atas
68
maka dapat dinyatakan bahwa variable kadar NO pada kelompok kontrol dan
perlakuan pada kondisi sebelum perlakuan pemberian simvastatin tidak berbeda
secara meyakinkan.
Data variable kadar NO kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan
pada kondisi sesudah perlakuan pemberian simvastatin berdistribusi normal,
sehingga pengujian beda dua mean kelompok kontrol dan kelompok perlakuan
pada kondisi sesudah perlakuan itu menggunakan uji beda dua mean uji t untuk
sampel independent. Hasil pengujian beda 2 mean kelompok kontrol dan
perlakuan untuk variable kadar NO pada kondisi sesudah perlakuan pemberian
simvastatin menunjukkan hasil pengujian beda 2 mean yang signifikan pada
derajat signifikansi 5 persen (p < 0,05). Hal itu berarti setelah mendapat perlakuan
pemberian simvastatin variable kadar NO mengalami perubahan secara
meyakinkan.
Dengan demikian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa “Ada efek
pemberian Simvastatin terhadap kadar Nitrit Oksida pada pasien sirosis hati”,
dapat dibuktikan kebenarannya. Jadi dengan pemberian simvastatin dapat
mempengaruhi kadar NO, yaitu meningkatkat kadar NO. Data mean dan standar
deviasi variable kadar NO sebelum dan sesudah perlakuan baik pada kelompok
kontrol maupun pada kelompok perlakuan dapat disajikan dalam table sebagai
berikut:
69
Tabel 9. Perbandingan Kadar NO pada Kelompok Kontrol dan Perlakuan untuk Kondisi Sebelum
maupun Sesudah Perlakuan
Kontrol Perlakuan Uji Beda 2 Mean
Variabel Rata- Std Rata- Std Nilai
P value
rata Deviasi rata Deviasi Statistik
NO_pre 5,87 2,62 5,14 2,55 t = 0,769 0,449
NO_post 4,87 2,28 7,00 2,37 t = -2,462 0,020*
Keterangan : *) Signifikan pada derajat signifikansi 5 persen.
**) Signifikan pada derajat signifikansi 1 persen.
5.14
4.4
5.87
6 4.87
4
PERLAKUAN
2
KONTROL
0
NO-PRE NO-POST
KONTROL PERLAKUAN
Gambar 23. Perbandingan Kadar NO pada Kelompok Kontrol dan Perlakuan
untuk Kondisi Sebelum maupun Sesudah Perlakuan
Langkah Kedua, variable kadar NO sebelum perlakuan pada kelompok
kontrol tidak berdistribusi normal namun sesudah perlakuan berdistribusi normal,
maka uji beda 2 mean tersebut dapat dilakukan dengan uji beda dua mean uji t
untuk sampel berpasangan. Hasil pengujian beda 2 mean variabel NO sebelum
dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa beda 2 mean
70
variable NO tidak signifikan pada derajat signifikansi 5 persen (p > 0,05). Dengan
demikian berarti variabel NO pada kelompok kontrol tidak mengalami perubahan
secara meyakinkan setelah perlakuan pemberian simvastatin.
Data variabel kadar NO sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok
perlakuan semuanya berdistribusi normal, sehingga pengujian beda 2 mean
sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok perlakuan ini menggunakan uji
beda 2 mean uji t untuk sampel berpasangan. Hasil pengujian atas variable NO
sebelum dan sesudah perlakuan pada kondisi sesudah perlakuan pemberian
simvastatin itu menunjukkan ada perbedaan yang signifikan kedua mean itu pada
derajat signifikansi sebesar 5 persen (p < 0,05). Hal itu dapat diartikan bahwa
setelah mendapatkan perlakuan pemberian simvastatin, variabel NO mengalami
perubahan secara meyakinkan. Variabel NO setelah perlakuan mengalami
perubahan meningkat yang meyakinkan. Dengan demikian hipotesis pertama yang
menyatakan bahwa : “Ada efek pemberian simvastatin terhadap kadar nitrit
oksida (NO) pada pasien sirosis hati” dapat dibuktikan kebenarannya.
Tabel 10 Perbandingan Kadar NO dan Tekanan Vena Portal Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada
Kelompok Kontrol
Sebelum Sesudah Uji Beda 2 Mean
Rata- Std Rata- Std Nilai P value
Variabel
rata Deviasi rata Deviasi Statistik
NO pd Klp 5,87 2,62 4,87 2,28
t = 3,912 0,002*
Kontrol
NO pd Klp 5,14 2,55 7,00 2,37
t = -4,462 0,001**
Perlakuan
Keterangan: * Signifikan pada Derajat Signifikansi 5 persen.
** Signifikan pada Derajat Signifikansi 1 persen.
71
Chart Title
4.87
5.87 4.4
5.14
6
4
PERLAKUAN
2
KONTROL
0
NO KEL KONTROL NO KEL
PERLAKUAN
KONTROL PERLAKUAN
Gambar 24. Perbandingan Kadar NO dan Tekanan Vena Portal Sebelum dan
Sesudah Perlakuan pada Kelompok Kontrol.
Langkah Ketiga, pembuktian hipotesis pertama itu juga dapat dilakukan
dengan menggunakan pengujian atas variabel perubahan NO (delta-NO). Variabel
perubahan NO (delta-NO) merupakan selisih NO sebelum perlakuan dengan NO
sesudah perlakuan. Maka apabila rata-rata variabel perubahan (delta) itu positif
menunjukkan adanya penurunan setelah ada perlakuan, dan sebaliknya jika rata-
rata variabel perubahan (delta) itu negatif berarti setelah ada perlakuan variabel itu
mengalami peningkatan.
Data variable delta-NO pada kelompok kontrol maupun kelompok
perlakuan sama-sama berdistribusi normal sehingga uji beda dua mean kelompok
control dan perlakuan menggunakan uji beda dua mean uji t untuk sampel
independent. Hasil perhitungan beda 2 mean kelompok kontrol dan kelompok
perlakuan dengan uji t untuk sampel independent untuk variable delta-NO
72
menunjukkan bahwa variabel itu berbeda secara meyakinkan pada derajat
signifikansi 5 persen. Sehingga hipotesis pertama yang menyatakan bahwa : “Ada
efek pemberian simvastatin terhadap kadar nitrit oksida (NO) pada pasien sirosis
hati” dapat dibuktikan kebenarannya.
Tabel 11. Perbandingan Delta-NO pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan
Kontrol Perlakuan Uji Beda 2 Mean
Variabel Rata- Std Rata- Std Nilai P value
rata Deviasi rata Deviasi Statistik
Delta-NO 1,00 0,99 -1,86 1,56 t = 5,938 0,001**
Keterangan : * Signifikan pada derajat 5 persen.
**Signifikan pada derajat 1 persen.
1 PERLAKUAN
KONTROL
0
DELTA _NO
-1 -1.56
-2
KONTROL PERLAKUAN
Gambar 25. Perbandingan Delta-NO pada Kelompok Kontrol dan
Kelompok Perlakuan
73
Selanjutnya untuk membuktikan hipotesis kedua yang menyatakan bahwa
: “Ada efek pemberian simvastatin terhadap perbaikan gambaran gastropati
hipertensi portal (GHP) melalui Endoscopi pada pasien sirosis hati” digunakan
analisis statistik Uji Beda (Sign Test) baik pada kelompok kontrol maupun pada
kelompok perlakuan. Ini adalah data yang di uraikan dari masing masing kriteria
ringan, sedang, dan berat, dengan cara menunjukan data perburukan, tetap
ataupun perbaikan dari masing masing kriteria tersebut dalam pasien kontrol
maupun perlakuan dari 15 pasien kontrol dan 14 pasien [Link]
kelompok ringan untuk kelompok kontrol terjadi 3 perburukan 1 tetap, kriteria
sedang 3 perburukan, 2 tetap, kriteria berat 5 perburukan , 1 tetap. Sedangkan
untuk perlakuan Kriteria ringan didapatkan 3 membaik, kriteria sedang 7
membaik , 1tetap, kriteria berat 3 membaik.
Tabel 12. Perbandingan Grade Gastropati hipertensi portal Pada kelompok kontrol dan kelompok
perlakuan pada masing masing grade sebelum dan sesudah perlakuan.
Kontrol Prosentase Perlakuan Prosentase
Ringan
Memburuk 3 20,0% - -
Tetap 1 6,6% - -
Membaik - - 3 21,4%
Sedang
Memburuk 3 20,0% - -
Tetap 2 13,3% 1 7,1%
Membaik - - 7 50,0%
Berat
Memburuk 5 33,3% - -
Tetap 1 6,6% - -
Membaik - - 3 21,4%
Keseluruhan
Memburuk 11 73,3% -
Tetap 4 26,6% 1 7,1%
Membaik - 13 92,8%
74
5
7
6 3 3
3 3
5 0
1 Memburuk2
4 0 0
2 Tetap2
3
1 1 Membaik2
2 Memburuk
Tetap
1 0 0 0
Membaik
0
Kat RinganKat Sedang Kat Berat
Membaik Tetap Memburuk Membaik2 Tetap2 Memburuk2
Gambar 26. Perbandingan Grade Gastropati hipertensi portal Pada kelompok
kontrol dan kelompok perlakuan pada masing masing grade sebelum dan sesudah
perlakuan.
Pada kelompok kontrol dengan jumlah responden 15 orang, sesudah
perlakuan (karena tidak diberi simvastatin) terjadi perubahan memburuk sebanyak
11 orang responden, dan ada 4 orang responden yang tetap (tidak mengalami
perubahan). Sementara pada kelompok kontrol dengan jumlah reeponden sebanya
14 orang, sesudah perlakuan (dengan diberi simvastatin) terjadi perubahan
membaik sebanyak 13 orang responden, dan ada 1 orang responden yang tetap
(tidak mengalami perubahan). persen (p < 0,05). Dengan demikian hipotesis yang
kedua yang berbunyi “Ada efek pemberian simvastatin terhadap perbaikan
gambaran gastropati hipertensi portal (GHP) melalui Endoscopi pada pasien
sirosis hati” dapat terbukti secara meyakinkan.
75
Hasil analisis Uji Tanda (Sign Test) variabel GHP pada kelompok kontrol
dan perlakuan adalah sebagai berikut:
Tabel 13. Hasil Analisis Sign Test Variabel GHP pada Kelompok Kontrol dan
Perlakuan
GHP Kontrol Perlakuan
Positif (+) 0 13
Tetap (0) 4 1
Negatif (-) 11 0
Signifikansi (P) 0,001** 0,001**
Keterangan : *Signifikan pada derajat signifikansi 5 persen.
**Signifikan pada derajat signifikansi 1 persen.
15 13
10 11
1 0
5 PERLAKU…
0 4
KONTROL
0
POSITIF TETAP NEGATIP
KONTROL PERLAKUAN
Gambar 27. Hasil Analisis Sign Test Variabel GHP pada Kelompok
Kontrol dan Perlakuan.
76
Maka dengan analisis uji tanda (Sign Test) didapatkan hasil bahwa pada
kelompok kontrol perubahan kondisi GHP membutuk itu terjadi secara
meyakinkan dengan derajat signifikansi sebesar 5 persen (p < 0,05). Setelah
diberikan simvastastin maka pada kelompok perlakuan terjadi perubahan kondisi
GHP membaik secara meyakinkan dengan derajat signifikansi 5.
b. Pembahasan
1. Pendekatan Prinsip Ontologi
Sirosis hati (SH) merupakan perjalanan patologi akhir berbagai penyakit
hati. Berdasar prinsip ontologi, SH merupakan kelainan hati dengan karakteristik
adanya fibrosis dan perubahan bentuk hati normal menjadi bentuk abnormal.
Batasan fibrosis sendiri adalah penumpukan berlebih matriks ekstrasellular
(seperti kolagen, glikoprotein, proteoglikan) dalam hati (Franchis, 2005). Sirosis
hati sering menimbulkan komplikasi hipertensi portal (DeLeve dkk., 2008). Pada
pasien SH, jaringan ikat dalam hati menghambat aliran darah dari usus yang
kembali ke jantung. Kejadian ini dapat meningkatkan tekanan dalam vena porta
[Hipertensi Portal (HP)] (Caesar dkk., 2000). Pada sirosis terjadi peningkatan
resistensi intrahepatik sebagai konsukuensi perubahan fungsi dan anatomi yang
disebabkan karna terjadi distorsi dari arsitektur vaskular hati karna fibrosis
jaringan parut dan pembentukan nodul kistik (Lake, 2006). Dengan adanya
rangsangan biokimiawi dan atau rangsangan mekanis dapat menimbulkan
“endothelial injury” (jejas endotel). Dengan terjadinya jejas endotel ini akan
77
terjadi gangguan keseimbangan kontraksi dan relaksasi atau NO (Newsholme
dkk., 2007).
Pada sirhosis hepatis, kenaikan produksi vasokonstriktor dan kekurangan
pelepasan vasodilator, dalam kombinasi dari respon berlebihan vasokonstriktor
dan kekurangan respon vasodilatasi dari dasar vaskular hepatal, adalah
mekanisme yang bertanggungjawab pada kenaikan komponen dinamik IHVR/
pada hambatan intrahepatal. (Lake, 2006; Cangemi, 2007). Molekul NO
merupakan faktor pelepasan yang diturunkan dari endotel, dirancang sebagai
molekul vasodilator yang sangat penting yang menengahi vasodilatasi arteri yang
berlebihan pada hipertensi porta. Lebih jauh, inhibisi produksi NO mengurangi
shunting portosistemik dan melindungi secara luas pembentukan sirkulasi
hiperdinamik (Montesa dkk., 2009). Penurunan NO meningkatkan hambatan di
vena porta, hipertensi porta disebabkan oleh kenaikan aliran darah, kenaikan
hambatan atau kedua-duanya terjadi bersamaan. Mekanisme awal yang
bertanggung jawab pada hipertensi portal adalah kenaikan hambatan hepatis,
terutama dari hasil hambatan mekanis (Agus, 2007). Pada pasien dengan sirosis
dan asites terjadi penghambatan aktivitas Nitrit Oksida Sintase (NOS)
menyebabkan penurunan aliran darah, meningkatkan tahanan pembuluh darah
sistemik pada pasien dengan sirosis dekompensasi dan menurunkan ekskresi
prostaglandin E2 urin serta menyebabkan aktivitas Renin Angiotensin Aldosteron
system (RAAS) plasma yang tinggi dan kadar hormon antidiuretik serta natrium
ekskresi urin yang rendah (Martin dkk., 2006).
78
Tekanan normal vena portal adalah 5 - 8 mmHg dengan kecepatan aliran
portal 1-1,2 L/menit. Vena portal adalah jalur pasif yang membawa darah dari
usus ke hati. Hipertensi portal muncul bila tekanan portal melebihi 8 mmHg.
Hipertensi portal bermula dari resistensi awal dari aliran vena porta diikuti
timbulnya kolateral dari jaringan hipertensi sirkulasi sistemik. Hal ini kemudian
diikuti peningkatan volume plasma, timbulnya sirkulasi sistemik yang
hiperdinamik dan hyperemia splanknik yang signifikan. Semua itu berkontribusi
pada peningkatan aliran dan tekanan vena porta. (Caesar dkk.,2000).
Beberapa penelitian telah menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dari
Gastropati Hipertensi Portal (GHP) pada pasien dengan penyakit hati kronis yang
di sertai dengan varises esofagus dan yang pernah melakukan sclerotherapy atau
ligasi pada varises. ( Merli M, et al.2004). Secara umum, data yang tersedia
menunjukkan bahwa Gastropati Hipertensi Portal (GHP) sering terkait dengan
varises oesopagus. (Cubillas R,2010) prevalensi Gastropati Hipertensi Portal
GHP meningkat bila varises esofagus di hilangkan. (Thuluvath PJ, et al. 2002).
meskipun hal ini masih kontroversial. Kebanyakan pasien dengan GHP tidak
menunjukkan gejala, tetapi sejumlah besar pasien menunjukan gejala yang
berhubungan dengan perdarahan saluran pencernaan kronis dan kehilangan darah
atau kekurangan zat besi yang kronis (anemia). Sebagian kecil pasien
menunjukkan bukti perdarahan yang aktif pada saluran pencernaan. Perdarahan
kronis dari GHP telah dilaporkan terjadi pada 3% sampai 60% dari pasien. ( Merli
M, et al.2004) (Sarin SK, et al. 2000). Prevalensi perdarahan akut saluran cerna
dari GHP pada pasien dengan sirosis telah dilaporkan antara 2% dan 12% 0,(
79
Merli M, et al.2004). Sebagian besar kasus ini disebabkan oleh GHP berat (90% -
95%). (D’Amico G, et al.),( Merli M, et al.2004). Diagnosis perdarahan akut dari
GHP dibuat ketika perdarahan aktif dari lesi GHP yang diidentifikasi selama
endoskopi atau jika ada bukti hipertensi portal, lesi lambung khas, dan tidak ada
sumber lain dari perdarahan tersebut yang dapat diidentifikasi setelah evaluasi
lengkap dari GI tract. (Ripoll C, et al 2010)
Statin berefek positif pada ekspresi gen eNOS, eNOS mRNA dan eNOS
berpasangan. Dengan menghambat pembentukan isoprenoid intraseluler, statin
mengurangi aktivasi protein kecil GTPase Rho, mengakibatkan peningkatan
ekspresi gen eNOS melalui Klf2 dan stabilisasi eNOS mRNA oleh
polyadenylation. (Antonopoulos AS, 2012). Statin juga menghambat
isoprenylation posttranslational GTP-binding protein kecil dalam sel otot polos
pembuluh darah. Rac1 GTPase diduga penting bagi aktivasi NADPH oksidase dan
pelepasan radikal bebas. Rac1 adalah pascatranslasi geranylgeranylated.
Pemberian statin menurunkan translokasi membran Rac1 bawah kondisi basal dan
benar-benar mencegah angiotensin II yang dimediasi peningkatan ekspresi Rac1
dalam membran sel. Dalam sel-sel pembuluh darah, aktivasi reseptor Angiotensin
1 (AT1) angiotensin oleh angiotensin II adalah salah satu mekanisme yang paling
menonjol dari produksi ROS in vitro maupun in vivo. Tingkat ekspresi reseptor
AT1 mengikuti dan dipengaruhi oleh up atau down-regulasi dari aktivitas renin
angiotensin sistem (RAAS) (Wassmann dkk., 2001). Terjadi low grade
inflamation pada sirosis hepatis dan dapat menyebabkan disfungsi endotel
sehingga terjadi penurunan produksi kadar nitrit oksida sedangkan statin
80
mempunyai kemampuan antioksidan sehingga mampu sebagai inhibitor terhadap
Inhibitor κβ kinase (IKK) sehingga aktifasi NFκβ terhambat akibatnya terjadi
penurunan jumlah sitokin proinflamasi diantaranya IL-6 dan TNF-α.TNF-α yang
berlebihan akan memicu terjadinya stres oksidatif (Guntur, 2008).
Simvastatin berperan dengan menekan produksi ROS, menghambat
aktivasi NFĸβ, berperan langsung dalam memperbaiki kadar NO dan berperan
dalam pencegahan HMG [Link] kadar NFĸβ akan mampu meningkatan
kadar NO dan juga dapat langsung memperbaiki kadar NO melalui jalur BH4 -
NO. Penurunan kadarNFĸβ yang akan mampu memperbiki kadar NO dan akan
mencegah kejadian disfungsi endotel serta menurunkan tekanan vena porta yang
dapat menurunkan kecepatan aliran vena porta (Guntur, 2008). Endotel memiliki
letak yang strategis diantara sirkulasi dan dinding pembuluh darah sehingga
berinteraksi dengan mediator selular maupun hormonal. Endotel memproduksi
Nitric Oxide (NO) dan prostaglandin yang mempuyai kontribusi dalam
perkembangan vasodilatasi sistemik dan splangnikus yang berperan pada dilatasi
pembuluh darah perifer, yang dapat menurunkan HP (Wiest dkk., 2002).
2. Pendekatan prinsip Epistomologi
a. Efek pemberian simvastatin terhadap kadar nitrit oksida pada pasien sirosis
hati.
Penelitian ini menunjukkan, kelompok perlakuan mengalami peningkatan
nitrit oksida (NO) yang bermakna dibandingkan kelompok kontrol dan pemberian
simvastatin dapat meningkatkan kadar NO pada sirosis hati. Keadaan ini
disebabkan pada sirosis hepatis akan terjadi hiperteni portal (HP) yang akan
81
bertindak sebagai Damage Associated Molecular Pattern (DAMP) yang akan
ditangkap oleh Antigen Processing and Presenting Cell (APC) melalui jalur Toll
Like Receptor-9 (TLR 9) dan akan dipresentasikannya melalui MHC II, kejadian
ini akan merubah keseimbangan kearah Th1 yang akan menghasilkan Colony
Stimulating Factor (CSF) dan Interferon-γ (IFN-γ). CSF akan mengaktifkan
netrofil, dan IFN-γ akan mengaktivasi makrofag untuk mengeluarkan sitokin
proinflamasi seperti TNF-α, Interleukin (IL-1, IL-6 dan IL-8). Kondisi ini
merupakan kejadian low grade inflamation pada sirosis hepatis dan dapat
menyebabkan disfungsi endotel (Guntur, 2008), disfungsi endotel akan memicu
stress oksidatif sehingga terjadi penurunan produksi kadar nitrit oksida (Rajat,
2003).
Pemberian simvastatin pada pasien perlakuan meningkatkan kadar NO
secara signifikan karena akan menghambat Rho geranylgeranylation sehingga
memicu kestabilan eNOS mRNA dan juga simvastatin memicu upregulation
eNOS (Laufs dkk., 1998). Sesuai penelitian statin mempunyai kemampuan
antioksidan sehingga mampu sebagai Inhibitor κβ kinase (IKK) sehingga aktifasi
NFκβ terhambat dan memicu penurunan stres oksidatif (Guntur, 2008).
Simvastatin juga menurunkan membran Rac1 bawah kondisi basal sehingga
menurunkan angiotensin II. Penurunan angiotensin II akan menurunkan aktivasi
reseptor Angiotensin 1 (AT1) dan menurunkan produksi (Reactive Oxygen
Species) ROS in vitro maupun in vivo (Diez dkk., 2010). Sesuai dengan penelitian
(Suciu, 2009) bahwa Statin akan memperbaiki disfungsi endotel karena stres
oksidatif dan meningkatkan NO dengan berbagai cara, begitupun (Trocha dkk.,
2010) dalam penelitiannya bahwa simvastatin akan meningkatkan eNOS.
82
b. Ada pengaruh pemberian simvastatin terhadap penurunan gastropati hipertensi
portal pada pasien sirosis hati.
Penelitian ini menunjukkan,kelompok perlakuan memiliki kecenderungan
penurunan rata-rata gastropati hipertensi portal dibandingkan dengan kelompok
kontrol secara meyakinkan, dan pemberian simvastatin secara bermakna dapat
menurunkan gastropati hipertensi portal. Tekanan normal vena portal adalah 5 - 8
mmHg dengan kecepatan aliran portal 1-1,2 L/menit. Vena portal adalah jalur
pasif yang membawa darah dari usus ke hati. Hipertensi portal dan aliran darah
balik vena kolateral yang menyebabkan gastropati hipertensi portal akan muncul
bila tekanan portal melebihi 8 mmHg. penurunan NO sebabkan meningkatnya
resistensi awal dari aliran vena portal yang akan berkontribusi pada peningkatan
aliran dan tekanan vena porta. (Caesar dkk.,2000).
Terdapat penelitan yang sejalan dengan penelitian ini mengenai
penggunaan preparat simvastatin dapat memperbaiki fungsi dari eNOS. Dimana
statin (3-hidroksi-3-methylglutaryl-koenzim A reduktaseinhibitor) yang dapat
memperbaiki fungsi dari ’uncouple’ dari eNOS. Pada penelitian Juan G Abraldes
dkk didapatkan hasil bahwa penggunaan preparat statin dapat meningkatkan kadar
NO dan memperbaikin disfungsi endotel pada pasien SH dan penggunaan preparat
statin mampu menurunkan tekanan vena porta ditandai dengan penurunan Hepatic
Venous Pressure Gradient (HPVG) (Yu dkk., 2000). Penelitian dari Suciu juga
mendukung bahwa statin akan memperbaiki disfungsi endotel karena stres
oksidatif dan meningkatkan NO (Suciu, 2009), begitupun menurut (Trocha dkk.,
2010) dalam penelitiannya bahwa simvastatin akan meningkatkan eNOS yang
83
berujung peningkatan NO. Efek vasodilatasi NO diharapkan untuk menurunkan
kecepatan aliran vena porta (Martin dkk., 2006). Maka sejalan dengan penelitian
ini pemberian Statin (3-Hydroxy-3-methylglutary-coenzym A reduktase inhibitor)
dapat menurunkan tekanan tahanan vaskular intrahepatik dan perbaikan aliran
aliran darah hepar dengan adanya vasodilatasi pada sirosis hati. Hal ini
diperantarai dari peningkatan produksi NO oleh karna perbaikan endotel vaskular
hati dengan meningkatkan endothelial Nitric Oxide Syntase (eNOS). Diharapkan
statin dapat memperbaiki endotel pada jaringan hati untuk produksi NO, sehingga
preparat ini dapat dipakai sebagai vasodilator selektif hipertensi portal pada sirosis
hati (Wiest dkk., 2002).
3. Pendekatan prinsip axiologi
Berdasarkan prinsip axiology, secara keseluruhan manfaat hasil penelitian
ini adalah pemberian simvastatin dosis 20mg pada sirosis hati, dapat memperbaiki
gastropati hipertensi portal. Hal ini, terlihat adanya perbaikan kadar nitrit oksida
dan penurunan stage/ tingkat keparahan dari gastropati hipertensi porta pasca
pemberian simvastatin 20 mg pada pasien sirosis hati. Dari hasil penelitian ini
menunjukkan dapat digunakannya simvastatin 20 mg sebagai terapi alternatif atau
suplementasi dalam penatalaksanaan pasien sirosis hati.
4. Nilai Kebaruan Penelitian
Nilai-nilai kebaruan suatu penelitian meliputi berbagai aspek, yang secara
lengkap disajikan pada gambar 27.
84
Strategi Wilayah
Baru Baru
Perspektif Solusi
MASALAH
Baru Baru
Kondisi
Alat Baru
baru
Gambar 28. Aspek-aspek Nilai-nilai Kebaruan (Bambang, 2010)
Nilai-nilai kebaruan dari penelitian ini adalah:
a. Solusi baru. Kerangka konsep dan hasil penelitian ini merupakan solusi
Masalah
baru dengan penggunaan simvastatin akan meningkatkan kadar nitir oksida.
Peningkatan kadar Nitrit oksida ini dapat menurunkan resiko perdarahan
lambung yang di akibalkan gastropati hipertensi portal pada sirosis hati.
b. Strategi baru. Hasil penelitian ini memberikan suatu informasi, bahwa
simvastatin dapat digunakan sebagai terapi suplementasi dalam
penatalaksanaan pasien sirosis hati untuk mencegah atau mengurangi
terjadinya perdarahan lambung yang di akibatkan oleh gastropati hipertensi
portal.
85
c. Perspektif baru. Hasil penelitian ini dapat digunakan, dikembangkan lebih
lanjut dalam usaha mengurangi ataupun mengontrol progresifitas sirosis hati.
d. Kondisi baru. Hasil penelitian ini menginformasikan kondisi penderita
menjadi lebih baik, bila dalam terapi sirosis hati sebaiknya dikombinasikan
dengan simvastatin, sehingga progresifitas dan kualitas hidup penderita
menjadi lebih baik.
5. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan di antaranya adalah
a. Perlunya lebih banyak jumlah sampel untuk masing masing kategori
kerusakan hati (Child Pugh) sehingga dapat lebih spesifik penilaian
perbaaikan hati dan perbaikan gastropati hipertensi portal dari masing masing
kategori.
b. Penilaian di lakukan multi senter dengan jumlah sampel yang lebih banyak,
waktu yang lebih lama, dan menggunakan meta analisa.
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI dan IMPLIKASI TAMBAHAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Pemberian simvastatin meningkatkan kadar nitrit oksida pada pasien sirosis
hati.
2. Pemberian simvastatin menurunkan Gastropati Hipertensi Portal pada pasien
sirosis hati.
3. Terdapat korelasi antara kadar nitrit oksida dengan Gastropati Hipertensi
Portal pada pasien sirosis hati.
B. Implikasi
Hasil penelitian ini telah menunjukkan bahwa pemberian simvastatin
20mg/hari pada pasien sirosis hati, dapat mengurangi resiko komplikasi sindrom
hepatorenal pada pasien sirosis hati. Hal ini, terlihat adanya peningkatan kadar
nitrit oksida dan perbaikan Gastropati Hipertensi Portal pasca pemberian
simvastatin 20mg/hr pada pasien sirosis hati. Dari hasil penelitian ini
menunjukkan dapat digunakannya simvastatin 20mg sebagai terapi alternatif atau
suplementasi dalam penatalaksanaan pasien sirosis hati.
Hasil penelitian ini memberikan nilai-nilai kebaruan meliputi solusi, strategi,
perspektif dan kondisi baru dalam penatalaksanaan pasien sirosis hati, sehingga dapat
86
87
digunakan dan dikembangkan lebih lanjut dalam usaha mengurangi ataupun
mengontrol progresifitas sirosis hati.
C. Implikasi Tambahan
1. Pada penelitian ditemukan implikasi baru untuk penghitungan cut off antara
berat ringan sirosis hati (Child Pugh) dengan Gastropati Hipertensi Portal,
sebaiknya dilakukan penelitian multi center dengan jumlah sampel yang lebih
besar dan jangka waktu penelitian yang lebih panjang dan dilakukan meta
analisis.
DAFTAR PUSTAKA
Abraldes JG, Rodriguez-Vilarrupla A, Graupera M, et al. 2007. Simvastatin
treatment improves liver sinusoidal endothelial dysfunction in CCl4
cirrhotic rats. J Hepatol. 46. Pp : 1040–1046.
Ahmed A, Keeffe E.B. 2006. Pretransplant evaluation and care. In: Boyer T.D,
Wright T.C, Manns M.P. Zakim and Boyer’s Hepatology : A textbook of
th
liver disease. 5 edition. Elsevier.. Pp :933-960.
Agus S. 2007. Hipertensi Portal. Dalam : Ali S, Nurul A, Sjaifolleh N, Lesmama
L (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati. Jayabadi Press. Pp : 347-360.
Andrew K. Burroughs. 2011. The Hepatic Artery, Portal Venous System and
Portal Hypertension: the Hepatic Veins and Liver in Circulatory Failure.
James S. Dooley, Anna S.F. Lok, Andrew K. Burroughs, E. Jenny
Heathcote.(eds). Sherlock’s Diseases of the Liver and Biliary System. Pp :
125-207
Antonopoulos AS, Margaritis M, Lee R, Channon K, Antoniades C. 2012. Statins
as Anti-Inflammatory Agents in Atherogenesis: Molecular Mechanisms
and Lessons from the Recent Clinical Trials. Current Pharmaceutical
Design 18. Pp: 1519-1530
Aoyama T, Oka S, Aikata H, et al. (2013). Is small-bowel capsule endoscopy
effective for diagnosis of esophagogastric lesions related to portal
hypertension? J Gastroenterol Hepatol. [Epub ahead of print].
ArroyoV, Fernandez J, Ginès P. 2008. Pathogenesis and treatment of hepatorenal
syndrome. Semin. Liver Dis. 28, 81–95.
Bader T. 2010. The Myth of Statin-Induced Hepatotoxicity. Am J Gastroenterol;
105 Pp: 978–980.
Bambang P. 2012. Hipertensi. Dalam : Agung S, Wachid P, Restu F (eds).
Hipertensi (Patogenesis, Kerusakan Target Organ dan Penatalaksanaan).
UNS Press. Pp : 3-58.
Caesar J, Shaldon S, Chiandussi L, et al.2000. The use of indocyanine green in the
measurement of hepatic blood flow and as a test of hepatic function. Clin
Sci .21 Pp : 43–57.
Cales P, Pascal JP. (1990). Gastroesophageal endoscopic features in cirrhosis:
compar-ison of intracenter and intercenter observer variability.
Gastroenterology; 99:1189.
Cangemi R, Angelio F, Pignatelli, Del Ben M, Martini A, Violi F, et al. 2007.
Oxidative stress-mediated arterial dysfunction in patient with metabolic
syndrome : Effect of ascorbic acid. Free Radic Biol Med. 43 (5). Pp : 853-9.
Chen. 2008. Antioxidant effects of vitamins C and E are associated with altered
activation of vascular NADPH oxidase and superoxide dismutase in stroke-
prone SHR. HypertensionPt :, 606 EOF-11 EOF.
Cheung A. 2013. The Child-Pugh score: Prognosis in chronic liver disease and
cirrhosis [Classics Series]. Accessed on 17 may 2014.
[Link]
88
89
Cubillas R, Rockey DC. (2010). Portal hypertensive gastropathy: a review. Liver
Int ;30:1094–102.
2 Dahlan M.S. 2009. Menggunakan rumus besar sampel secara benar. Dalam
: Dewi J (ed). Besar sampel dan cara pengambilan sampel dalam
penelitian kedokteran dan kesehatan. Salemba Medika. Jakarta. Edisi 2.
Pp: 33-78.
Deanfield J.E, Halcox J.P, Rabelink T.J. 2007. Endothelial function and
dysfunction, testing and clinical relevance. Circulation. 115. Pp : 1285-95.
De Franchis R. (2000). Updating consensus in portal hypertension: report of the
Baveno III Consensus Workshop on definitions, methodology and
therapeutic strategies in portal hypertension. J Hepatol ;33:846–52.
De Franchis R. Evolving. 2005. consensus in portal hypertension report of the
Baveno IV consensus workshop on methodology of diagnosis and therapy
in portal hypertension. J Hepatol .43. Pp : 167–176.
De Franchis R, Eisen GM, Laine L, et al. (2008). Esophageal capsule endoscopy
for screening and surveillance of esophageal varices in patients with portal
hypertension. Hepatology;47:1595–603.
De Leve LD, Wang X, Guo Y. [Link] endothelial cells prevent rat
stellate cell activation and promote reversion to quiescence. Hepatology;
48. Pp :920–930.
De Macedo GF, Ferreira FG, Ribeiro MA, et al. (2013). Reliability in endoscopic
diagnosis of portal hypertensive gastropathy. World J Gastrointest Endosc
;5: 323–31.
Garcia-Pagan JC, Feu F, Bosch J, et al. 2001. Propranolol compared with
propranolol plus isosorbide-5-mononitrate for portal hypertension in
cirrhosis. A randomized controlled study. Ann Intern Med;114. Pp: 869–
873.
Goodman and Gilman. 2008. Drug Therapy for Hypercholesterolemia and
Dyslipidemia. In Brunton L, Parker K, Blumental D and Buxton I
(editors). Goodman & Gilman’s Manual of Pharmacology and
Therapeutics. Mc Graw-Hill Companies. USA, Pp 611-15.
Gulberg V, Moller S, Gerbes Al,Henriksen JH. 2000. Increased Renal
production of Natriuretic Peptide (CNP) in Patients with Cirrhosis
and Funtional Renal Failure. Gut;47: Pp: 852-857.
Guntur HA. 2001. Perbedaan respon imun yang berperan pada sepsis dan syok
sepsis. Disertasi program doktor pasca sarjana Universitas Airlangga
Surabaya. Pp : 27-33.
Guntur HA, 2004. Peran kortikosteroid dalam inflamasi-alergi. Dalam: Guntur
HA dkk. Perspektif Masa Depan Imunologi-Infeksi. Sebelas Maret
University Press. Edisi I: pp 154-58.
Guntur HA, 2008. SIRS, sepsis dan syok septik iImunologi, Diagnosis dan
Penatalaksanaan). Dalam : Guntur dkk. Perspektif masa depan imunologi-
infeksi. Sebelas Maret University Press. Surakarta. Pp: 35-7.
Hernomo O 2007. Sirosis Hati. Dalam : Ali S, Nurul A, Sjaifolleh N, Lesmama L
(eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati. Jayabadi Press. Pp : 335-344.
Kamath PS, Lacerda M, Ahlquist DA, et al. (2000). Gastric mucosal responses to
90
intrahepatic portosystemic shunting in patients with cirrhosis.
Gastroenterology ;118:905–11.
Kawanaka H, Tomikawa M, Jones MK, et al. (2001). Defective mitogen-activated
protein kinase (ERK2) signaling in gastric mucosa of portal hypertensive
rats: potential therapeutic implications. Hepatology ;34:990–9.
Knopp RH. 1999. Drug Treatment of Lipid Disorders. NEJM, 341(7) Pp: 498-
508
Kotyla P. 2010. The Role of 3-Hydroxy-3-Methylglutaryl Coenzyme a Reductase
Inhibitors (Statins) in Modern Rheumatology. Ther Adv Musculoskelet
Dis. 2(5), Pp: 257–269
Kumar S, Grace ND, Qamar AA. 2012. Statin Therapy Decreases the Risk of
Hepatic Decompensation in Cirrhosis. Gastroenterology 142 (5) 1 Pp:
919-920.
Lake J.R. Indications and Patients Selection. In: Bacon B.R, O’Grady J.G,
nd
DiBisaglie A.M, et all . 2006. Comprehensive Clinical hepatology. 2
edition. Elsevier.. Pp:585-604.
Lee JS, Semela D, Iredale J, et al. 2007. Sinusoidal remodeling and angiogenesis:
a new function for the liver-specific pericyte Hepatology ;45 Pp : 817–
825.
Martin L, Wadei HM, Ahsan M, Gonwa TA. 2006. Hepatorenal Syndrome:
Pathophysiology and Management. Clin J Am Soc Nephrol 1. Pp: 1066–
1079
Merli M, Nicolini G, Angeloni S, et al. 2004. The natural history of portal
hypertensive gastropathy in patients with liver cirrhosis and mild portal
hypertension. Am J Gastroenterol ;99:1959–65.
Mason JC. 2003. Statins And Their Role In Vascular Protection. Clinical Science
105, Pp: 251–266.
McFarlane SI, Muniyappa R, Francisco R, Sowers JR. 2002. Pleiotropic Effects
Of Statins: Lipid Reduction And Beyond. J Clin Endocrinol Metab 87(4)
Pp: 1451–1458
Mezawa S, Homma H, Ohta H, et al. (2001). Effect of transjugular intrahepatic
portosystemic shunt formation on portal hypertensive gastropathy and
gastric circulation. Am J Gastroenterol ;96:1155–9.
Montesa, Giustarini, Dalle-Donne, Tsikas, Rossi, Andrew, et al. 2009. Oxidative
stress and human diseases: Origin, link, measurement, mechanisms, and
[Link] Reviews in Clinical Laboratory Science. Vol.46, No.(5-
6) . Pp : 241–28.1
Muller S.A, Mehrabi A, Schmied B.M, Welsch T, Fonouni H, Engelmann G, et al.
2007. Partial liver transplantation-living donor liver transplantation and
split liver transplantation. Nephrol Dial Transplant.. 22(suppl 8) Pp:13-22.
Navasa M, Bosch J, Mastai R, et al. 2005. Measurement of hepatic blood flow,
hepatic extraction and intrinsic clearance of indocyanine green in cirrhosis.
Comparison of a non-invasive pharmacokinetic method with measurements
using hepatic vein catheterization. Eur J Gastroenterol Hepatol;3. Pp :305–
312.
91
Newsholme P, Haber EP, Hirabara SM, Robelato ELO, Procopio J, Morgan D et
al. 2007. Diabetes Associated Cell Stress and Dysfunction : Role of
Mitochodrial and non-Mitochondrial ROS Production and Activity. J
Physiol 583(1) : 9-24
Ohta M, Yamaguchi S, Gotoh N, et al. (2002). Pathogenesis of portal
hypertensive gastropathy: a clinical and experimental review.
Surgery;131:S165–70.
Paul DP, Gahtan V. 2003. Noncholesterol-Lowering Effect of Statins. Vasc
Endovasc Surg, 37 Pp: 301-13.
Perini RF, Camara PR, Ferraz JG. (2009). Pathogenesis of portal hypertensive
gastropathy: translating basic research into clinical practice. Nat Clin
Pract Gastroenterol Hepatol;6:150–8.
Ripoll C, Garcia-Tsao G. (2010). Management of gastropathy and gastric
vascular ecta-sia in portal hypertension. Clin Liver Dis ;14:281–95.
Sadowitz B, Maier KG, Gahtan V. 2010. The pleiotropic effects of statins in
cardiovascular disease. Vasc Endovascular Surg 44(4) Pp: 241-251
Santjaka A. 2011. Teknik sampling. dalam : Sigit H, Abay F (editors). Statistik
untuk penelitian kesehatan. Nuha Medika. Yogyakarta. Edisi I. Pp: 50-66 Sarin
SK, Shahi HM, Jain M, et al. (2000). The natural history of portal
hypertensive gastropathy: influence of variceal eradication. Am J
Gastroentero ;95: 2888–93.
Shishehbor MH and Bhatt DL. 2004. Inflammation and atherosclerosis. Current
Atherosclerosis Reports. 6: pp 131-39.
Stancu C, Sima A. 2001. Statins: Mechanism Of Action And Effects. J Cell Mol
Med (5) 4 Pp: 378-387.
Stewart CA, Sanyal AJ. (2003). Grading portal gastropathy: validation of a
gastropathy scoring system. Am J Gastroenterol ;98:1758–65.
Suciu M. 2009. The Role Of Nitric Oxide (NO) And Statins In Endothelial
Dysfunction And Atherosclerosis. Farmacia Vol. 57 (2). Pp: 131-140
Tamargo J, Caballero R, Gómez R, Núñez L, Vaquero M, Delpón E. 2007. Lipid
Lowering Therapy With Statins, A New Approach To Antiarrhythmic
Therapy. Pharmacology & Therapeutics 114 Pp: 107–126.
Tanoue K, Hashizume M, Wada H, et al. (1992). Effects of endoscopic injection
sclerotherapy on portal hypertensive gastropathy: a prospective study.
Gastrointest Endosc ;38:582–5.
Trebicka J, Hennenberg M, Laleman W, et al. 2007. Simvastatin lowers portal
pressure in cirrhotic rats by inhibition of RhoA/Rho-kinase and activation
of endothelial nitric oxide synthase. Hepatology. 46 Pp : 242–253.
Thuluvath PJ, Yoo HY. 2002. Portal hypertensive gastropathy. AmJ
Gastroenterol ;97:2973–8.
Wassmann S, Laufs U, Baumer AT, Muller K, Konkol C, Sauer H, et al. 2000.
Inhibition of Geranylgeranylation Reduces Angiotensin II Mediated Free
Radical Production in Vascular Smooth Muscle Cells: Involvement of
Angiotensin AT1 Receptor Expression and Rac1 GTPase. Mol
Pharmacol (59). Pp :646–654
92
Wolfrum S, Jensen KS, Liao JK. 2003. Endothelium-Dependent Effects of
Statins. Arterioscler Thromb Vasc Biol 23 Pp: 729-736
Van de CM, Omasta A, Janssens S, et al. 2002. In vivo gene transfer of endothelial
nitric oxide synthase decreases portal pressure in anaesthetised carbon
tetrachloride cirrhotic rats. Gut;[Link] : 440–445.
Vigneri S, Termini R, Piraino A, et al. (1991). The stomach in liver cirrhosis.
Endoscopic, morphological, and clinical correlations. Gastroenterology;
101:472–8.
Wiest R, Groszmann RJ. 2002. The paradox of nitric oxide in cirrhosis and portal
hypertension: too much, not enough. Hepatology;35. Pp : 478–491.
Wu L,. Chiou C-C, Chang P-Y, Wu J-T, Shien S, Lieh P-N, et al. 2004. Urinary 8-
OHdG: A Marker Of Oxidative Stress To DNA And A Risk Factor For
Cancer, Atherosclerosis And Diabetics. Clinica Chim. Acta. 339. Pp : 1-9.
Yanez RM, Dávalos A, Castillo J. 2008. Withdrawal From Statins: Implications
For Secondary Stroke Prevention And Acute Treatment. Int J Stroke 3(2)
Pp: 85-87
Yoo HY, Eustace JA, Verma S, et al. (2002). Accuracy and reliability of the
endoscopic classification of portal hypertensive gastropathy. Gastrointest
Endosc;56: 675–80.
Yu Q, Shao R, Qian HS, et al. 2000. Gene transfer of the neuronal NO synthase
isoform to cirrhotic rat liver ameliorates portal hypertension. J Clin
Invest;105. Pp :741–748.
Zhang Z, Wang M, Xue SJ, Liu DH, Tang YB. 2012. Simvastatin Ameliorates
Angiotensin II-Induced Endothelial Dysfunction Through Restoration of
Rho-BH4-eNOS-NO Pathway. Cardiovasc Drugs Ther 26(1) Pp: 31-40