0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan20 halaman

Istilah dan Proses dalam Teknik Kimia

Modul ini membahas berbagai istilah penting dalam teknik kimia terkait fase zat, variabel proses, termodinamika, agen kimia, sifat fisik zat, reaksi kimia, proses, pompa, alat penukar panas, dan kolom distilasi. Modul ini berisi penjelasan konsep dasar yang dibutuhkan untuk memahami prinsip kerja peralatan kimia.

Diunggah oleh

Indwiarti Pane
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan20 halaman

Istilah dan Proses dalam Teknik Kimia

Modul ini membahas berbagai istilah penting dalam teknik kimia terkait fase zat, variabel proses, termodinamika, agen kimia, sifat fisik zat, reaksi kimia, proses, pompa, alat penukar panas, dan kolom distilasi. Modul ini berisi penjelasan konsep dasar yang dibutuhkan untuk memahami prinsip kerja peralatan kimia.

Diunggah oleh

Indwiarti Pane
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chemical Engineering Modul

Modul ini berisi istilah-istilah umum di Teknik Kimia, rules of thumb perancangan
alat, prinsip kerja alat dan segala hal logika proses.

 Fase Zat

 Solid : Istilah untuk senyawa kimia dengan fase padatan.


 Liquid : Istilah untuk senyawa kimia dengan fase cair.
 Vapor : Istilah untuk senyawa kimia dengan fase uap.
 Gas : Istilah untuk senyawa kimia dengan fase gas.
 Slurry : Istilah untuk senyawa kimia dengan wujud seperti lumpur (Solid yang
diliquidkan).
 Bubble Point : Temperatur dimana senyawa kimia sedikit lagi akan berubah dari liquid
menjadi vapor. Pada kondisi ini, fraksi vapornya bernilai 0.
 Dew Point : Temperatur dimana senyawa kimia sedikit lagi akan berubah dari vapor
menjadi liquid. Pada kondisi ini, fraksi vapornya bernilai 1.
 Fluida : Senyawa kimia yang berfase liquid dan gas.

 Variabel Proses

 Temperatur :
 Tekanan :
 Flowrate : Laju alir dari suatu fluida.
 Level : Ketinggian liquid di dalam suatu alat.
 Pressure Drop : Penurunan tekanan dari fluida yang terjadi di dalam suatu alat.

 Termodinamika

 Isobaric : Kondisi dimana tekanan tetap, tidak mengalami perubahan.


 Isothermal : Kondisi dimana temperatur tetap, tidak mengalami perubahan.
 Isokhorik : Kondisi dimana volume tetap, tidak mengalami perubahan.
 Adiabatic : Kondisi dimana tidak terjadi perubahan panas, biasanya dikondisikan pada
kondisi yang terisolasi.
 Isentropic : Kondisi dimana entropi tetap, tidak mengalami perubahan.
 Entropi (S): Ketidakteraturan.
 Entalpi (H) :
 Internal Energy (U) : Energi yang ditambahkan ke fluida sebagai kerja namun
dipindahkan
dari fluida sebagai panas.
 Work (W) :
 Eksotermis: Peristiwa perpindahan panas dari sistem ke lingkungan.
 Endotermis : Peristiwa perpindahan panas dari lingkungan ke sistem.

 Chemical Agent
 Solvent : Istilah untuk senyawa kimia yang berfungsi sebagai pelarut, biasanya
senyawa
dengan fase liquid.
 Stripping Agent : Istilah untuk senyawa kimia yang berfungsi sebagai zat pelucut,
biasanya
senyawa dengan fase gas.
 Adsorbent : Istilah untuk senyawa kimia yang berfungsi sebagai zat pengadsorpsi,
biasanya
senyawa dengan fase solid.
 Flokulan : Senyawa kimia yang digunakan untuk membentuk flok besar pada proses
pemurnian air. Biasanya digunakan senyawa kimia dari golongan polimer.
 Koagulan : Senyawa kimia/bio yang digunakan untuk membentuk flok-flok kecil pada
proses pemurnian air.
 Hot Fluid : Fluida yang memiliki temperatur lebih tinggi daripada cold fluid.
 Cold Fluid : Fluida yang memiliki temperatur lebih rendah daripada hot fluid.
 Saturated Steam : Air yang telah dirubah fasenya menjadi vapor dan biasanya digunakan
sebagai media pemanas.
 Superheated Steam : Uap air yang telah dirubah fasenya menjadi gas dan biasanya
digunakan sebagai media penggerak turbin.
 Cooling Water : Air yang digunakan sebagai media pendingin.
 Refrigerant : Senyawa kimia yang digunakan sebagai media pendingin untuk menurunkan
temperatur di bawah suhu kamar.
 Fuel : Bahan bakar yang digunakan pada Furnace dan Generator.
 pH Adjuster : Senyawa kimia yang digunakan untuk mengatur pH dari zat kimia yang
terlibat di dalam proses.

 Sifat Fisik Zat

 Titik Didih: Temperatur dari senyawa kimia dimana terjadi perubahan fase dari liquid ke
vapor.
 Titik Kritis: Temperatur dari senyawa kimia dimana terjadi perubahan fase dari vapor ke
gas.
 Titik Beku : Temperatur dari senyawa kimia dimana terjadi perubahan fase dari liquid ke
solid.
 Titik Leleh : Temperatur dari senyawa kimia dimana terjadi perubahan fase dari solid ke
liquid.
 Densitas : Kerapatan suatu zat.
 Viskositas : Kekentalan suatu zat.
 Heat Capacity : Kemampuan suatu senyawa kimia untuk menerima panas (Energi/mol
temperatur).
 Specific Heat Capacity : Kemampuan suatu senyawa kimia untuk menerima panas
(Energi/massa temperatur).
 Enthalpy of Formation : Energi yang dibutuhkan untuk membentuk suatu senyawa.
 Enthalpy of Vaporization : Energi yang dibutuhkan untuk menguapkan suatu senyawa.
 Enthalpy of Reaction : Indikator penentuan reaksi berlangsung secara
Endotermis/Eksotermis.

 Reaksi

 Irreversible : Reaksi searah.


 Reversible : Reaksi bolak-balik.
 Konversi : Banyaknya reaktan yang berubah menjadi produk.
 Yield : Banyaknya produk yang dihasilkan.
 Selektivitas : Kemampuan reaktan untuk berubah menjadi beberapa produk.
 Energi Aktivasi : Energi yang dibutuhkan untuk melakukan suatu reaksi.
 Katalis : Zat kimia yang berperan untuk menurunkan energi aktivasi dari suatu reaksi
sehingga reaksi dapat berlangsung lebih cepat.
 Residence/Space/Holding Time : Waktu tinggal yang dibutuhkan oleh reaktan di dalam
reaktor untuk menjalankan reaksi sehingga terbentuk
produk.

 Proses

 Absorpsi : Proses penyerapan gas di dalam campurannya dengan menggunakan solvent.


 Adsorpsi : Proses penyerapan impuritis di dalam campurannya (biasanya solid di dalam
liquid) dengan bantuan adsorbent.
 Dekantasi : Proses pemisahan liquid-liquid dengan prinsip perbedaan densitas dan
kelarutan liquid di dalam pelarut yang terdapat dalam campurannya.
 Distilasi : Proses pemisahan 2/lebih campuran senyawa berdasarkan perbedaan titik
didihnya.
 Evaporasi : Proses penguapan air dari campurannya terhadap senyawa kimia lain.
 Filtrasi : Proses penyaringan air dari zat pengotornya.
 Flokulasi : Proses pembentukan flok besar dari kumpulan flok-flok kecil dengan bantuan
flokulan.
 Kristalisasi : Proses pembentukan kristal dari senyawa kimia berfase liquid.
 Koagulasi : Proses pembentukan flok-flok kecil dengan bantuan koagulan.
 Kondensasi : Proses perubahan fase dari vapor menjadi liquid.
 Melting : Proses pelelehan senyawa kimia berfase solid. Hasil dari proses ini biasanya
berbentuk slurry sebelum menjadi liquid.
 Mixing : Proses pencampuran liquid-liquid atau solid-liquid dengan tujuan untuk
mengurangi konsentrasi, mengakumulasi maupun menghomogenkan
campuran tersebut.
 Sedimentasi : Proses pengendapan zat pengotor yang terkandung di dalam air.
 Stripping : Proses pelucutan gas yang terlarut dalam campuran liquidnya dengan
bantuan
stripping agent.
 Vaporisasi : Proses perubahan fase dari liquid menjadi vapor (Penguapan senyawa kimia).

 Pompa

 Kavitasi : Proses terbentuknya gelembung udara di dalam pompa.


 NPSH (Net Positive Suction Head) : Energi yang dibutuhkan oleh sisi suction untuk
mengalirkan zat cair.
 Reynold Number (Re) : Bilangan tak berdimensi yang menunjukkan jenis dari suatu
aliran.
 Dimensionless Number : Bilangan yang tidak memiliki satuan.
 Schedule Number : Bilangan yang menunjukkan ukuran pipa.
 Pipa : Media untuk mengalirkan senyawa dengan fase liquid dan gas yang terlibat di
dalam
proses.

 Alat Penukar Panas

 BWG (Birmingham Wire Gauge) : Nilai yang menunjukkan ketebalan tube. Semakin
tinggi
BWG, maka tube semakin tipis.
 Prandlt Number (Pr) :
 Nusselt Number (Ns) :
 Tube : Bagian dalam dari suatu alat penukar panas tipe Shell & Tube yang berupa
batang silindris dengan spesifikasi berupa OD dan BWG (tebal tube).
 Shell : Bagian badan dari suatu alat penukar panas tipe Shell & Tube.
 Inner : Bagian dalam dari suatu alat penukar panas tipe Double Pipe.
 Annulus : Bagian badan dari suatu alat penukar panas tipe Double Pipe.
 Baffle : Suatu alat yang berfungsi sebagai penyangga di dalam alat penukar panas
dengan tujuan untuk mengurangi kecepatan aliran sehingga tidak terjadi
vibrasi dan pressure drop yang tinggi.
 Pass : Jumlah lintasan bagi fluida baik di sisi Tube maupun Shell.
 Clearance : Selisih antara Tube Pitch dan Outside Diameter Tube.
 Pitch : Susunan dan jarak terdekat antar titik tengah tube di dalam alat penukar
panas.
 LMTD (Log Mean Temperature Difference) : Selisih temperatur rata-rata di dalam alat
penukar panas.
 Uc (Overall Coefficient Clean) : Koefisien perpindahan panas pada saat HE bersih.
 Ud (Overall Coefficient Dirt) : Koefisien perpindahan panas pada saat HE kotor.
 Rd (Dirt Factor/Fouling Factor) : Nilai yang menunjukkan kapan HE harus dibersihkan.
 Caloric Temperature : Temperatur rata-rata dari hot fluid dan cold fluid yang digunakan
pada suatu alat penukar panas.

 Kolom Distilasi

 Weir : Logam penghalang yang terdapat di setiap tray pada KD yang berfungsi untuk
menahan liquid jatuh bebas dengan kecepatan tinggi ke bagian bawah.
 Downcomer : Lintasan yang terdapat antara tray yang satu dan tray yang lainnya yang
berfungsi sebagai tempat mengalirnya fluida cair ke bagian bawah.
 Tray/Plate/Stage : Tingkatan yang terdapat pada KD.
 Reflux : Fluida terkondensasi yang dikembalikan lagi ke KD.
 Light Key : Senyawa yang berperan sebagai komponen ringan, dimana senyawa tersebut
memiliki titik didih lebih rendah dibandingkan dengan heavy key-nya.
 Heavy Key : Senyawa yang berperan sebagai komponen berat, dimana senyawa tersebut
memiliki titik didih lebih tinggi dibandingkan dengan light key-nya.
 Flooding : Peristiwa tergenangnya tray akibat laju alir liquid yang terlalu tinggi.
 Weeping : Peristiwa jatuh bebasnya liquid ke tray di bawahnya akibat laju alir gas yang
kecil.
 Entrainment : Peristiwa dimana liquid terangkut menuju tray yang ada di atasnya akibat
laju alir gas yang tinggi.
 Feed Location Tray : Tray yang menjadi tempat masuknya feed.
 Rectifying : Wilayah di bagian atas dari feed location tray.
 Stripping : Wilayah di bagian bawah dari feed location tray.
A. Preliminary Chemical Engineering Plant Design
Sebuah pabrik kimia memiliki beberapa rangkaian proses, yang secara umum dibagi
menjadi 3, yaitu:
a. Pre-treatment.
Pada tahap ini biasanya dilakukan 2 hal, yaitu:
1. Penyesuaian Spesifikasi Bahan Baku.
Penyesuaian spesifikasi bahan baku dilakukan apabila bahan baku awal yang
didapat masih belum memenuhi spesifikasi (biasanya ditinjau dari kemurniannya)
untuk diproses di unit Reaksi. Berdasarkan fase dari bahan baku yang digunakan,
biasanya dilakukan penyesuaian spesifikasi sebagai berikut:
a. Solid : Size Reduction, Pelarutan, dll.
 Size Reduction adalah pengubahan ukuran bahan baku. Alat yang
digunakan biasanya berupa Mill, Grinder, dll.
 Selain untuk bahan baku berfase solid, pelarutan juga biasanya dilakukan
pada katalis promotor. Alat yang digunakan adalah Mixing Tank.
b. Liquid : Mixing, Pengenceran (Penurunan Konsentrasi), dll.
 Mixing dan pengenceran biasanya dilakukan di dalam Mixing Tank.
c. Gas : Filter, Absorbsi, dll.
 Untuk sistem filtrasi gas biasanya disediakan unit tersendiri, dikarenakan
proses filtrasi gas dan impuritisnya cukup sulit.
2. Penyesuaian Kondisi Operasi untuk Unit Sintesa/Reaksi.
Penyesuaian kondisi operasi dilakukan untuk menyesuaikan dengan kondisi
operasi yang digunakan pada unit Reaksi. Berdasarkan fungsinya, penyesuaian
kondisi operasi dilakukan sebagai berikut:
a. Penyesuaian Temperatur
Berikut alat-alat yang biasanya digunakan untuk menyesuaikan temperatur
bahan baku agar sesuai dengan kondisi di unit Reaksi, yaitu:
1. Heat Exchanger. Indirect Contact. 2 Fluids (Hot Fluid & Cold Fluid).
Heat Exchanger merupakan salah satu alat penukar panas dimana terjadi
penukaran panas antara fluida panas dan fluida dingin secara Indirect
Contact. Output dari Hot Fluid akan mengalami penurunan temperatur,
sedangkan output dari cold fluid akan mengalami kenaikan temperatur.
Hal ini disebabkan panas dari Hot Fluid diserap oleh Cold Fluid.
Berdasarkan luas perpindahan panasnya, Heat Exchanger dibagi menjadi 2
jenis, yaitu:
a. Double Pipe Heat Exchanger (DPHE).
Double Pipe Heat Exchanger digunakan apabila luas perpindahan
panasnya < 200 ft2.
DPHE terdiri atas Inner dan Annulus, dimana inner merupakan bagian
dalam dan annulus merupakan bagian luar.
Spesifikasi Inner dan Annulus pada DPHE membutuhkan data sebagai
berikut:
1. IPS (Nomimal Pipe Size)
2. Schedule Number
3. OD
4. ID
5. Surface per lin ft
Dimana nilai untuk Annulus harus lebih besar daripada Inner. Data
tersebut dapat dicek di Table 11, Kern, Hal. 844.
Untuk pemilihan IPS inner dan annulus ditetapkan pada Table 6.1,
Kern, Hal. 103 dan Table 6.2, Kern, Hal. 110.
b. Shell & Tube Heat Exchanger (STHE).
Shell & Tube Heat Exchanger digunakan apabila luas perpindahan
panasnya > 200 ft2.
STHE terdiri atas Tube dan Shell, dimana tube merupakan bagian
dalam dan shell merupakan bagian luar (badan HE).
Spesifikasi Tube dan Shell pada STHE membutuhkan data sebagai
berikut:
 Tube
1. Panjang Tube.
Berdasarkan referensi di Buku Kern, panjang tube yang biasa
digunakan adalah 8, 12 dan 16 ft.
2. Outside Diameter Tube.
Berdasarkan referensi di Buku Kern Hal. 128, untuk OD tube yang
biasa digunakan adalah ¾ dan 1 inch. Nilai OD berdasarkan Table
10, Kern dimulai dari ½, ¾, 1, 1 ¼ dan 1 ½ inch.
3. BWG.
OD dengan ukuran ½ inch memiliki nilai BWG sebesar 12, 14, 16,
18 dan 20. OD dengan ukuran ¾ inch memiliki nilai BWG sebesar
10-18. OD dengan ukuran 1, 1 ¼ dan 1 ½ inch memiliki nilai BWG
sebesar 8-18.
4. Pass.
Jumlah pass pada tube biasanya 2 kali lebih banyak/lebih dari
jumlah lintasan pada shell (kecuali untuk tipe 1,1 STHE yang
berarti memiliki 1 shell dan 1 tube pass).
5. Jumlah Tube.
Jumlah tube didapatkan dari perhitungan sebagai berikut:

Dimana:
A = Luas perpindahan panas (ft2)
L = Panjang tube (ft)
a” = Suface per lin ft (ft2/ft)
Nilai surface per lin ft didapatkan pada Table10, Kern bagian
Outside.
6. Tube Pitch.
Pitch Layout dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: Square dan Triangular.
Pitch yang biasa digunakan, yaitu:
a. ¾ inch OD  1 inch Square Pitch.
b. 1 inch OD  1 ¼ inch Square Pitch.
c. ¾ inch OD  15/16 inch atau 1 inch Triangular Pitch.
d. 1 inch OD  1 ¼ inch Triangular Pitch.
 Shell
1. Inside Diameter Shell.
Inside Diameter Shell didapatkan pada Table 9, Kern dengan cara
menentukan ukuran OD Tube, Ukuran Tube Pitch, Tipe Tube Picth
dan Jumlah Tube Pass.
Berikut merupakan hubungan antara ID Shell dan Panjang Tube:

2. Baffle Space. (Kern, Hal. 226)


3. Pass.
Jumlah pass pada shell biasanya ½ kali dari jumlah lintasan pada
tube (kecuali untuk tipe 1,1 STHE yang berarti memiliki 1 shell
dan 1 tube pass).
2. Heater. Hot Fluid: Saturated Steam (T = 100○C - 350○C). Latent Heat of
Steam.
Heater adalah salah satu alat penukar panas dimana kenaikan temperatur
hanya terjadi pada feed dengan bantuan media pemanas berupa Steam.
Output Steam dari Heater akan memiliki temperatur yang sama dengan
Inputnya, hanya saja fase Steam tersebut berubah. Hal ini dikarenakan
terjadi pemanfaatan panas laten pada steam.
Steam yang digunakan adalah Saturated Steam. Saturated steam adalah
steam yang dihasilkan dengan cara memanaskan air hingga melewati titik
didihnya. Saturated steam memiliki range temperatur ≥ 100○C hingga
sebelum air mencapai titik kritisnya. Titik kritis air berada pada temperatur
350○C. Pemilihan temperatur steam disesuaikan dengan kebutuhan proses,
biasanya diambil pada temperatur tertinggi yang dibutuhkan oleh alat di
dalam proses. Misal di dalam suatu pabrik terdapat 3 alat yang
membutuhkan panas, dimana alat A membutuhkan temperatur sebesar
130○C, alat B membutuhkan temperatur sebesar 180○C dan alat C
membutuhkan temperatur sebesar 250○C, maka temperatur steam yang
digunakan di dalam proses tersebut haruslah lebih tinggi dari 250○C agar
dapat memenuhi kebutuhan panas dari 3 alat tersebut. Jika terdapat alat
yang membutuhkan temperatur melebihi temperatur maksimum dari
saturated steam, maka digunakan proses pembakaran (furnace).
Semakin tinggi temperatur steam yang digunakan, maka kandungan uap
airnya juga akan semakin sedikit sehingga kuantitas steam yang digunakan
akan menjadi semakin banyak. Hal ini dikarenakan kandungan uap air
pada steamlah yang membawa panas, ketika kandungannya semakin
sedikit, maka kuantitas steam yang disuplai haruslah lebih banyak.
Perancangan Heater sama seperti HE, hanya saja untuk nilai hi/ho-nya
langsung ditetapkan sebesar 1500 Btu/hr ft2 ○F. (Kern, Hal. 164).

3. Furnace. 3 Nozzles in Burner: Steam, Fuel, O2. ΔT > 45○C.


Furnace adalah salah satu alat penyesuai temperature dimana terjadi proses
pembakaran terhadap feed yang akan dipanaskan. Pembakaran
berlangsung secara indirect contact, dimana feed dialirkan melalui sisi
tube yang yang terdapat di dalam furnace. Furnace terdiri atas 2 zona,
yaitu: sesi konveksi dan sesi radiasi. Pada sesi konveksi, feed yang
dipanaskan memiliki kapasitas panas yang kecil. Selanjutnya di sesi
radiasi, feed yang dipanaskan memiliki kapasitas panas yang besar. Feed
dialirkan terlebih dahulu menuju sesi konveksi, lalu dilanjutkan ke sesi
radiasi sebelum keluar dari furnace. Pada furnace terdapat burner yang di
dalamnya terdapat 3 nozzle utama, yaitu:
a. Steam.
b. O2.
c. Fuel.
Fuel yang digunakan pada furnace dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Solid berupa batubara.
2. Liquid berupa IDO (Industrial Diesel Oil).
3. Gas berupa Gas alam.

Penentuan jenis fuel yang digunakan biasanya ditinjau dari LHV (Nilai
panas pembakaran) dan harganya. LHV yang tinggi dan harga yang murah
adalah pilihan utama.
4. Cooler. Cold Fluid: Cooling Water (T = 30○C). Sensible Heat of Water.
Cooler merupakan salah satu alat penukar panas yang berfungi untuk
menurunkan temperatur dari feed dengan bantuan media pendingin berupa
air pendingin.
Air pendingin disuplai dari unit utilitas dengan temperatur ± 30○C. Output
air pendingin dari cooler akan mengalami kenaikan temperatur menjadi ±
50○C. Proses recovery air pendingin yang telah digunakan selama proses
dikirim menuju Cooling Tower di bagian Utilitas. Syaratnya, setiap air
yang ingin diproses di CT tidak boleh memiliki temperatur input lebih dari
± 50○C. Bila temperaturnya lebih besar daripada yang disebutkan
sebelumnya, akan terjadi thermal shock di dalam CT yang akan
mengakibatkan thermal pollution bagi lingkungan. Dikarenakan
temperatur air pendingin sebesar ± 30○C, maka batasan maksimum
temperatur output dari feed yang didinginkan sama dengan temperatur
input air pendingin.
5. Chiller. Cold Fluid: Refrigerant. Latent Heat of Refrigerant. T < 30○C.
Chiller adalah salah satu alat penukar panas yang berfungsi untuk
menurunkan temperatur dari feed di bawah temperatur kamar (< 30○C)
dengan bantuan media pendingin berupa refrigerant. Perbandingan untuk
penggunaan refrigerant dan air pendingin sebagai media pendingin dengan
ukuran alat yang sama bisa mencapai 1:10.
Refrigerant biasanya bersifat korosif sehingga setiap alat yang
menggunakan refrigerant haruslah menggunakan material yang tahan
terhadap korosi. Contoh refrigerant yang sering digunakan, yaitu:
Amoniak, Freon, CO2 Cair, dll. Karena terjadi penurunan temperatur
secara ekstrim, biasanya terbentuk kondensat untuk feed dengan fase uap.
6. Quencher. Direct Contact. Cold Fluid: Cooling Water.
Quencher merupakan salah satu alat penukar panas dimana feed dan media
pendingin bertemu secara direct contact di dalam sebuah kolom. Media
pendingin yang digunakan adalah air pendingin. Penggunaan refrigerant
tidak disarankan karena selain akan meningkatkan cost alat dan produksi
(material tahan korosi dan harga refrigerant yang mahal), juga
dikhawatirkan akan merubah properties dari feed yang akan didinginkan di
dalam quencher. Selain itu, separasi dan recovery antara feed yang telah
didinginkan dan refrigerant akan membuat proses menjadi semakin
banyak. Media pendingin di Quencher biasanya dilewatkan melalui nozzle
dari bagian atas, sedangkan feed dialirkan dari bagian bawah.
7. Air Cooler. Direct Contact. Cold Fluid: Air.
Air Cooler adalah salah satu alat penukar panas dimana media
pendinginnya berupa udara.
b. Penyesuaian Tekanan
Berikut alat-alat yang biasanya digunakan untuk menyesuaikan tekanan bahan
baku agar sesuai dengan kondisi di unit Reaksi, yaitu:
1. Pompa/Jet Pump.
Pompa adalah alat penyesuai tekanan yang berfungsi sebagai alat
transportasi zat cair dan menaikkan energi mekanik dari zat cair.
Pipa yang digunakan pada sisi suction dan discharge memiliki ukuran yang
sama apabila fungsi pompa hanya digunakan sebagai alat transportasi zat
cair tanpa ingin menaikkan tekanannya. Namun, bila disertai dengan
kenaikan tekanan, maka pipa pada sisi discharge harus memiliki ukuran
lebih kecil daripada pipa pada sisi suction. Hal ini dikarenakan semakin
kecil luas penampang, maka kecepatan alir zat cair akan semakin besar.
Energi mekanik merupakan akumulasi antara energi potensial dan energi
kinetik. Energi potensial adalah energi yang dipengaruhi oleh
kedudukannya. Dalam hal ini, ketinggian zat cair di dalam suatu alat
sangat berpengaruh terhadap energi potensial zat cair tersebut. Pada
perancangan pompa, semakin besar ketinggian zat cair di dalam suatu alat
maka energi yang diperlukan untuk memompakan zat cair tersebut akan
semakin besar. Za, Zb, Zc dan Zd merupakan variabel untuk ketinggian zat
cair di dalam alat. Za untuk ketinggian pada alat sebelum pompa, Zb untuk
ketinggian sebelum masuk pompa, Zc untuk ketinggian setelah keluar
pompa dan Zd untuk ketinggian pada alat setelah pompa. Nilai Za dan Zd
biasanya disesuaikan dengan ketinggian alat sebelum dan sesudah pompa,
namun tetap harus melihat batasan level maksimum liquid di dalam suatu
alat. Sedangkan untuk Zb dan Zc bernilai 0 karena setara dengan pompa.
Energi kinetik adalah energi yang dipengaruhi oleh kecepatan alirnya.
Hubungan antara kecepatan alir zat cair dan pengaruhnya terhadap tekanan
output dari pompa dijelaskan pada persamaan berikut:
𝐹 𝑚 × 𝑎 𝑚 × 𝑣⁄𝑡 𝑚 × 𝑣
𝑃= = = =
𝐴 𝐴 𝐴 𝐴×𝑡
Dimana:
P = Tekanan
F = Gaya
A = Luas Penampang
a = Percepatan Gravitasi
v = Kecepatan Alir
t = Waktu
Sehingga didapatkan hubungan bahwa tekanan berbanding lurus terhadap
kecepatan alir zat cair dan berbanding terbalik dengan luas penampang dan
waktu alirnya.
Jenis-jenis pompa?
Jet pump
2. Valve/Pressure Reducing Valve.
Valve merupakan alat penyesuai tekanan yang berfungsi untuk mengatur
aliran fluida dan menurunkan tekanan dari fluida.
Mekanisme valve menurunkan tekanan suatu fluida adalah pada saat valve
tertutut. Aliran fluida diatur oleh valve, pada saat valve tertutup, kecepatan
alir fluida akan menurun dikarenakan fluida tertahan saat valve tertutup
Jenis-jenis Valve?
3. Kompresor.
Kompresor adalah alat penyesuai tekanan yang berfungsi sebaga alat
transportasi fluida berfase gas dan menaikkan tekanan fluida berfase gas.
Berdasarkan temperature outputnya, kompresor dibedakan menjadi 2 jenis,
yaitu:
a) Isothermal Compressor.
Isothermal Compressor adalah kompresor yang temperatur
keluarannya tidak mengalami perubahan. Sehingga pada alat ini hanya
terjadi kenaikan tekanan. Intercooler dan jacket cooling merupakan
pendingin yang biasa digunakan pada kompresor jenis ini. Pendingin
yang dipasang pada kompresor ini akan menyerap panas yang timbul
akibat kompresi sehingga temperatur keluaran kompresor sama dengan
temperatur inputnya.
b) Isentropic Compressor.
Isentropic Compressor adalah kompresor yang temperature
keluarannya mengalami perubahan. Hal ini disebabkan pada saat
terjadi kompresi, molekul-molekul gas akan saling bertumbukan
sehingga menghasilkan panas. Panas yang ditimbulkan akan
menyebabkan kenaikan temperatur sehingga temperatur keluarannya
lebih besar daripada temperature inputnya.
Jenis-jenis Kompresor?
4. Expander.
Expander adalah alat penyesuai tekanan yang berfungsi untuk menurunkan
tekanan dari fluida berfase gas. Expander dikenal juga dengan nama
turbin.
Ketika terjadi penurunan tekanan gas, maka akan terjadi penurunan
temperatur pada gas. Hal ini disebabkan kecepatan alir gas yang semakin
menurun sehingga tumbukan antara molekul gas semakin kecil. Sealin itu,
expander akan menghasilkan energi sebagai akibat dari penurunan tekanan
yang terjadi. Energi ini dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
energi di alat lain, sehingga beban energi dari generator dapat berkurang.
c. Penyesuaian Fase
Berikut alat-alat yang biasanya digunakan untuk menyesuaikan fase bahan
baku agar sesuai dengan kondisi di unit Reaksi, yaitu:
1. Condenser. Perubahan Fase dari Uap ke Liquid. Dew Point.
Condenser adalah salah satu alat penyesuai fase yang berfungsi untuk
mengkondensasi uap. Istilah lain dari condenser adalah total condenser
dikarenakan seluruh uap yang terkondensasi menjadi liquid. Penggunaan
condenser biasanya diintegrasikan pada Kolom Distilasi, namun dapat juga
diinstalasi di luar kolom distilasi.
Media pendingin yang digunakan pada kondenser berupa cooling water.
Namun, cooling water dapat diganti dengan refrigerant (disesuaikan
dengan dew point of overhead). Pada proses kondensasi, terjadi
pemanfaatan panas laten.
2. Partial Condenser. Perubahan Fase dari Uap menjadi Uap-Liquid. Trial
Kondisi Operasi.
3. Vaporizer. Perubahan Fase dari Liquid ke Uap. Efisiensi: 80%.
4. Regulator Valve. Perubahan Fase dari Liquid ke Gas.
5. Crystallizer. Perubahan Fase Liquid ke Solid (Kristal).
6. Melter. Perubahan Fase Solid ke Slurry.
b. Sintesa/Reaksi
Istilah reaksi digunakan untuk produk dengan fase liquid, sedangkan sintesa
digunakan untuk produk dengan fase gas. Pada tahap ini, dilakukan reaksi/sintesa dari
feed yang telah mengalami proses pre-treatment sebelumnya. Alat yang termasuk ke
dalam tahap ini adalah Reaktor.
Reaktor merupakan alat yang berfungsi sebagai tempat berjalannya reaksi dengan
mengkontakkan antar reaktan dengan bantuan katalis atau tidak. Berdasarkan fase
reaktan, reaktor dibedakan menjadi 5 jenis, yaitu :
1. Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR). Reaktan: Liquid-Liquid/Gas. Katalis:
Liquid. Katalis Promotor: Solid dilarutkan dalam Liquid.
2. Plug Flow Reactor. Reaktan: Gas-Gas. Katalis: No.
3. Fixed Bed Reactor. Reaktan: Gas-Gas. Katalis: Solid (Granular).
4. Fluidized Bed Reactor. Reaktan: Gas-Gas. Katalis: Solid (Powder).
5. Bubble Column Reactor. Reaktan: Liquid-Gas. Katalis: Liquid.
Reaksi dibedakan menjadi beberapa bagian, diantaranya:
1. Berdasarkan panas reaksi.
a. Reaksi Eksoterm.
Reaksi yang melepas panas. Panas reaksi bernilai negatif.
b. Reaksi Endoterm.
Reaksi yang membutuhkan panas. Panas reaksi bernilai positif.
2. Berdasarkan penentuan orde reaksi.
a. Reaksi Elementer.
Reaksi elementer disebut juga reaksi searah (Irreversible). Penentuan orde
reaksi untuk reaksi jenis ini biasanya dilihat dari koefisien stoikiometri reaktan
yang terlibat di dalam reaksi.
b. Reaksi Non-Elementer.
Reaksi non elementer disebut juga reaksi bolak balik (Reversible). Penentuan
orde reaksi untuk reaksi jenis ini menggunakan data eksperimental.
3. Berdasarkan urutan reaksi
a. Reaksi Simultan (Seri).
Reaksi berlangsung secara serentak.
Contoh:
A+BC+D
A+EF+G
b. Reaksi Sequential (Paralel).
Reaksi berlangsung secara bergantian.
Contoh:
A+BC+D
C+EF+G
c. Purifikasi
Pada tahap ini, dilakukan pemurnian produk yang diinginkan dengan kemurnian yang
tinggi/sesuai dengan permintaan pasar akan produk tersebut. Alat yang termasuk ke
dalam bagian ini adalah Kolom Distilasi, Absorber, Stripper, KO Drum, Flash Drum,
Vaporizer, Evaporator, Partial Condenser, Condenser, Reboiler, HE, Cooler, Valve,
Heater, dll.
 Berdasarkan prinsip pemisahan, alat purifikasi dibagi menjadi 7 jenis, yaitu:
1. Perbedaan Titik Didih: Kolom Distilasi.
2. Perbedaan Densitas Liquid dan Kelarutan Liquid di dalam Solvent: Decanter.
3. Perbedaan Fase: Knock Out Drum (KOD  Liquid-Uap), Flash Drum (FD  Uap-
Liquid), Cyclone (Gas-Solid), Hydrocyclone (Liquid-Solid).
4. Kelarutan Gas di dalam Solvent: Absorber.
5. Selektivitas Stripping Agent terhadap Liquid: Stripper.
6. Penghilangan kandungan air di dalam produk: Evaporator.
7. Membran.

Anda mungkin juga menyukai