TUGAS MANAJEMEN GADAR WISATA
Dosen Pengampu : Kasturi, MM
Disusun Oleh:
Nama : Ine Marthia Danie
Kelas : C Semarang
Nim : 1707015
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA SEMARANG
2018
STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA BAHARI DI INDONESIA
A. Latar Belakang
Pariwisata di Indonesia menurut UU Kepariwisataan No. 9 tahun 1990 pasal 1 (5)
adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata serta usaha-usaha yang terkait di
bidangnya. Pada dasarnya Indonesia umumnya memiliki kekayaan bahari yang
berlimpah, yang mencakup kehidupan sekitar 28 ribu species flora, 350 species fauna,
110 ribu species mikroba, serta sekitar 600 speciesterumbu karang. Keanekaragaman
terumbu karang di Indonesia mencapai 600 species dari 400 genera, jauh lebih kaya dari
yangdikandung Laut Merah yang hanya memiliki 40 species.
Laut Indonesia memiliki ratusan titik harta karun. Benda-benda berharga itu berasal
dari muatan kapal yang tenggelam. Bagi Indonesia wilayah pesisir memiliki arti strategis
karena merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki
potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang sangat kaya. Kekayaan sumber
daya tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan sumber
dayanya dan berbagai instansi untuk meregulasi pemanfaatannya.
Sektor pariwisata mempunyai nilai penting dan kontribusi dengan dimensi yang luas,
baik secara ekonomi, sosial politik, budaya, kewilayahan dan lingkungan. Secara
ekonomi, memberikan kontribusi nyata dalam perolehan devisa negara, pendapatan asli
daerah dan juga penyerapan tenaga kerja pada usaha-usaha ke-pariwisataan.
Pengembangan sektor pariwisata secara langsung dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat terutama masyarakat lokal pada masing-masing destinasi wisata.
Indonesia merupakan negara terluas ke dua di asia dan ke tujuh di dunia, dan juga
merupakan negara kepulauan terluas di dunia yang memiliki luas daratan 1/3 bagian dan
lautan 2/3 bagian dari luas [Link] negara kepulauan, Indonesia memiliki
beribu pulau dengan laut yang luas sehingga sangat memungkinkan untuk memiliki
potensi wisata alam yang banyak dan beraneka ragam. Salah satu jenis wisata yang
dimiliki Indonesia adalah wisata Bahari.
Secara sosial politik, pengembangan pariwisata bahari bagi perjalanan wisata
nusantara, dapat menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta tanah air, serta persatuan dan
kesatuan bangsa. Secara kewilayahan, kepariwisataan Indonesia memiliki karakter
multisektor dan lintas regional yang secara konkret akan mendorong pembangunan
infrastruktur dan fasilitas kepariwisataan dan ekonomi kreatif yang akan menggerakkan
arus investasi dan pengembangan wilayah.
Tujuan pariwisata dapat tercapai dengan efektif jika pembangunan dilakukan dengan
perencanaan yang baik dan terintegrasi dengan pengembangan daerah secara keseluruhan.
Pengukuran kualitas dan keunggulan daerah tujuan wisata perlu dilakukan untuk
mengetahui daya saing yang dimiliki oleh masing-masing daerah tujuan wisata sehingga
bisa disusun suatu perencanaan untuk pengembangannya terlebih untuk pengembangan
wisata bahari di Indonesia.
B. Perencanaan Pariwisata
Kebijakan pariwisata memberikan filsafat dasar untuk pembangunan dan menentukan
arah pengembangan pariwisata di destinasi tersebut untuk masa depan. Sebuah destinasi
dapat dikatakan akan melakukan pengembangan wisata jika sebelumnya sudah ada
aktivitas wisata. Dalam pelaksanaan pengembangan, perencanaan merupakan faktoryang
perlu dilakukan dan dipertimbangkan. Menurut Inskeep (1991:29), terdapat beberapa
pendekatan yang menjadi pertimbangan dalam melakukan perencanaan pariwisata,
diantaranya:
1. Continous Incremental, and Flexible Approach, dimana perencanaan dilihat sebagai
proses yang akan terus berlangsung didasarkan pada kebutuhan dengan memonitor
feed back yang ada.
2. System Approach, dimana pariwisata dipandang sebagai hubungan sistem dan perlu
direncanakan seperti dengan tehnik analisa sistem.
3. Comprehensive Approach, berhubungan dengan pendekatan sistem diatas, dimana
semua aspek dari pengembangan pariwisata termasuk didalamnya institusi elemen
dan lingkungan serta implikasi sosial ekonomi, sebagai pendekatan holistik.
4. Integrated Approach, berhubungan dengan pendekatan sistem dan keseluruhan
dimana pariwisata direncanakan dan dikembangkan sebagai sistem dan keseluruhan
dimana pariwisata direncanakan dan dikembangkan sebagai sistem yang terintegrasi
dalam seluruh rencana dan total bentuk pengembangan pada area.
5. Environmental and sustainable development approach, pariwisatadirencanakan,
dikembangkan, dan dimanajemeni dalam cara dimana sumber daya alam dan budaya
tidak mengalami penurunan kualitas dan diharapkan tetap dapat lestari sehingga
analisa daya dukung lingkungan perlu diterapkan pada pendekatan ini.
6. Community Approach, pendekatan yang didukung dan dikemukakan juga oleh Peter
Murphy (1991) menekankan pada pentingnya memaksimalkan keterlibatan
masyarakat lokal dalam perencanaan dan proses pengambilan keputusan pariwisata,
untuk dapat meningkatkan yang diinginkan dan kemungkinan, perlu memaksimalkan
partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan manajemen yang dilaksanakan
dalam pariwisata dan manfaatnya terhadap sosial ekonomi.
7. Implementable Approach, kebijakan pengembangan pariwisata, rencana, dan
rekomendasi diformulasikan menjadi realistis dan dapat diterapkan, dengan tehnik
yang digunakan adalah tehnik implementasi termasuk pengembangan, program aksi
atau strategi, khususnya dalam mengidentifikasi dan mengadopsi.
8. Application of systematic planning approach, pendekatan ini diaplikasikan dalam
perencanaan pariwisata berdasarkan logika dari aktivitas.
C. Strategi Pengembangan Wisata Bahari
Munasef dalam Hadiwijoyo (2012) menyatakan bahwa pengembangan pariwisata
merupakan segala kegiatan dan usaha yang terkoordinasi untuk menarik wisatawan,
menyediakan semua sarana dan prasarana, barang dan jasa, fasilitas yang diperlukan guna
melayani kebutuhan wisatawan. Marpaung dalam Hadiwijoyo (2012) menyatakan bahwa
hal yang diperhatikan dalam pengembangan suatu daya tarik wisata yang potensial harus
dilakukan penelitian, iventarisasi dan evaluasi sebelum fasilitas wisata dikembangkan.
Hal ini penting agar perkembangan daya tarik wisata yang ada dapat sesuai dengan
keinginan pasar potensial dan untuk menentukan pengembangan yang tepat dan sesuai
Wisata bahari sendiri adalah suatu kegiatan wisata yang menggunakan potensi pantai
(air) sebagai daya dukung kegiatan wisata bahari. Pengembangan kawasan wisata bahari
adalah satu bentuk pengelolaan kawasan wisata yang berupaya untuk memberikan
manfaat terutama bagi upaya perlindungan dan pelestarian serta pemanfaatan potensi dan
jasa lingkungan sumber daya kelautan. Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan olahraga
air (water sport), yang dapat dilakukan di danau, pantai, dan teluk seperti memancing,
berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi berselancar, balapan
mendayung, berkeliling melihat-lihat taman laut dengan pemandangan yang indah
dibawah permukaan air, serta berbagai rekreasi perairan yang banyak dilakukan di
daerah-daerah atau negara-negara maritim. Konsep wisata bahari didasarkan pada view
(pemandangan), keunikan alam, karakteristik ekosistem, kekhasan seni budaya, dan
karakterstik masyarakat sebagai kekuatan dasar yang dimiliki oleh masing-masing daerah.
Menurut Prasiasa dan Hermawan (2012), wisata bahari dapat digolongkan ke dalam
pariwisata minat khusus, sehingga dalam pengembangan pasarnya membutuhkan strategi
tertentu untuk dapat meningkatkan minat pasar. Pada garis besarnya, wisata bahari
berdasarkan karakteristiknya dapat digolongkan menjadi tiga kategori yaitu leisure, sport,
dan cruise.
Beberapa contoh kegiatan wisata bahari menurut karakteristiknya, sebagai berikut:
1. Wisata bahari dengan minat khusus leisure antara lain berupa snorkeling, jetski,
fishing, sea rafting, boody board, sea walker, parasailing, diving, banana boat, coral
gardening, pontoon slide;
2. Wisata minat khusus bahari dengan karakteristik sport antara lain skling, scuba
diving, surfing, wind surfing (biasanya dilombakan)
3. Wisata minat khusus bahari dengan karakteristik cruise antara lain boating, day
cruise, yacht, floating, hotel, dan excursion.
Prasiasa dan Hermawan (2012) mengatakan bahwa sebagai bagian dari pariwisata
minat khusus, wisata bahari tidak memerlukan pembangunan sarana dan prasarana
tertentu secara khusus karena ketertarikan serta motivasi wisatawan yang datang memang
menginginkan keaslian atau originalitas destinasi dan daya tarik wisatanya. Ada beberapa
parameter yang harus dipenuhi untuk pengembangan wisata bahari. Parameter tersebut
yaitu keaslian, keunikan (alami ataupun buatan), langkah konservasi yang tertata baik,
ketersediaan informasi yang memadai sebelum perjalanan dimulai, aksesibilitas dan
sarana komunikasi yang baik, dan kesiapan sumber daya manusia.
Untuk mereduksi dan meniadakan dampak negatif yang akan timbul sebagai akibat
pengembangan wisata bahari, menurut Prasiasa dan Hermawan (2012) kebijakan
pengembangan wisata bahari perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Pengembangan wisata bahari harus mengikuti kaidah-kaidah pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan
2. Pengembangan wisata bahari diarahkan pada pola pengembangan ekowisata atau
wisata ramah lingkungan yang mengupayakan pemanfaatan lingkungan alam bahari
sekaligus juga menyelamatkan lingkungan alam bahari tersebut
3. Pengembangan wisata bahari harus ditujukan pada upaya meningkatkan pemerataan
kesempatan, pendapatan, peran serta dan tanggungjawab masyarakat setempat yang
terpadu dengan pemerintah dan dunia usaha.
Selain itu, untuk dapat mengoptimalkan pengembangan wisata bahari namun dengan
tetap meminimalisir dampak negatifnya, pengembangan wisata bahari menurut Prasiasa
dan Hermawan (2012) harus mengacu pada strategi pengembangan sebagai berikut:
1. Menjadikan prinsip-prinsip ecotourism sebagai payung pembangunan wisata bahari
2. Membangun kemitraan antar pelaku, yang lebih bersifat tidak struktural, namun
lebih mengarah ke fungsional; Pengembangan diversifikasi kegiatan dan daya tarik
wisata maupun produk seni budaya etnis yang dapat dijadikan daya tarik wisata
3. Mengembangkan keterkaitan dan komplementaritas antar wilayah dalam suatu
sistem tata ruang pengembangan pariwisata yang terkait dengan sektor-sektor lain
4. Mendorong kerjasama bilateral dan multilateral antar negara luar dengan pemerintah
daerah (pemda) setempat dan antar daerah terutama dalam pengembangan wisata
bahari dan kegiatan lain termasuk keamanan dan keselamatan kegiatan wisata bahari
lintas negara dan daerah.
Prasiasa dan Hermawan (2012:104) juga menambahkan bahwa dalam pengembangan
wisata bahari, ada dua kriteria yang harus dipenuhi, yaitu:
1. kriteria utama terdiri atas daya tarik alam laut, keamanan, kualitas lingkungan,
ketersediaan dive operator, keramahtamahan penduduk
2. Kriteria tambahan yang terdiri atas keterampilan SDM pendukung wisata bahari,
daya tarik alam pesisir, ketersediaan akomodasi dan restoran, sarana perbankan
termasuk cureency exchange, kepemilikan akomodasi dan restoran oleh masyarakat
lokal, aksesibilitas, ketersediaan transportasi darat, media komunikasi (telepon,
internet, pos) dan informasi, daya tarik sosial-budaya masyarakat pesisir,
ketersediaan transportasi udara, iklim, dan kualitas akomodasi & restoran.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa perencanaan pengembangan
wisata bahari membutuhkan sebuah rancangan atau formulasi strategi yang baik agar
tujuan pariwisata dapat tercapai sesuai dengan perencanaan tersebut dengan melibatkan
berbagai aspek dan kerjasama dengan sektor-sektor yang lain.