PERANAN ABDI DALEM DALAM PELAKSANAAN
TRADISI SEKATEN PADA PEMERINTAHAN SRI
SULTAN HAMENGKUBUWONO IX – SRI SULTAN
HAMENGKUBUWONO X DI KERATON
NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sejarah
pada Universitas Negeri Semarang
Oleh
Dwi Retno Mulianingsih
NIM 3101401015
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
2005
i
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia
ujian skripsi pada :
Hari :
Tanggal :
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Subagyo, [Link] Dra. Rr. Sri Wahyu S, M. Hum
NIP. 130818771 NIP. 132010313
Mengetahui :
Ketua Jurusan Sejarah
Drs. Jayusman, M. Hum
NIP. 131764053
ii
PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu
Sosial, Universitas Negeri Semarang pada :
Hari :
Tanggal :
Penguji Skripsi
Drs. Abdul Muntholib, [Link]
NIP.131813653
Anggota I Anggota II
Drs. Subagyo, [Link] Dra. Rr. Sri Wahyu S., [Link]
NIP. 130818771 NIP. 132010313
Mengetahui :
Dekan FIS UNNES
Drs. Sunardi, M.M
NIP. 130367998
iii
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini
benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang
lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang
terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, Juni 2005
Dwi Retno Mulianingsih
NIM. 3101401015
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
¾ Air yang terjun dengan gemuruh laksana dinamika
hidup yang tidak kunjung berhenti (Fanz Dahler)
¾ Bukan ketidakmampuan yang dominan menguasai diri
kita…..melainkan ketidakmauan yang sering
menjangkit pada diri kita (Penulis)
¾ Jadikan nurani sebagai prinsip religiusmu, jiwa
sebagai balutan moralmu, detak nafas sebagai
simfoni semangat inspirasimu, dan pola pikir
sebagai ide kreatifmu (Penulis)
Persembahan
Dengan tidak
mengurangi syukur pada Illahi Robbi,
skripsi ini
kupersembahkan untuk :
¾ Bapak dan Ibu Tercinta, terima
kasih atas semua kasih sayang
dan do’a-do’anya yang selalu
mengiringi setiap langkahku.
¾ Kakakku Joni Subarkah, adikku
Tri Indarti Arum Cahyani yang
selalu aku banggakan.
¾ Seseorang yang selalu
memotivasi, mengerti, dan
membangun imajinasiku.
¾ Teman-teman Sejarah angkatan
2001: Rover, Dhiant, Sancay,
v
Azmie…..makasih atas semua
bantuannya selama ini.
¾ Teman curhatku : Hatie,
Cuplis...makasih atas segala
perhatian dan pengertian tak
terhingga.
PRAKATA
Puji dan syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulisan skripsi ini digunakan untuk memenuhi salah satu syarat guna meraih gelar
Sarjana Pendidikan (S-I) pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas
Negeri Semarang. Dalam hal ini penulis mengambil judul “Peranan Abdi Dalem
Dalam Pelaksanaan Tradisi Sekaten Pada Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono
IX – Sri Sultan Hamengkubuwono X Di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat”.
Pada kesempatan kali ini, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan
bimbingan kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
Akhirnya penulis menyampikan ucapan terima kasih dan penghargaan
kepada :
1. DR. H. AT. Soegito, S.H., M.M. Rektor UNNES.
2. Drs. Sunardi, M.M. Dekan FIS UNNES.
3. Drs. Jayusman, [Link]. Ketua Jurusan Sejarah FIS UNNES.
vi
4. Drs. Subagyo, [Link]. dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan
pengarahan hingga terselesaikannya skripsi ini.
5. Dra. Rr. Sri Wahyu Sarjanawati, [Link]. dosen pembimbing II yang dengan sabar
telah memberikan bimbingan dan pengarahan hingga terselesaikannya skripsi ini.
6. GBPH. H. Prabukusumo, [Link]. yang telah memberi izin terhadap peneliti untuk
melakukan penelitian di Keraton.
7. KRT.H. Kawendrodipuro, B.A. yang telah memberikan informasi dan data-data
untuk kelengkapan dalam penulisan skripsi.
8. Pengurus perpustakaan Widyo Budoyo Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang
telah memberikan data-data untuk kelengkapan dalam penulisan skripsi.
9. Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dengan ketulusan hati
bersedia menjadi informan.
10. Teman-teman Pendidikan Sejarah UNNES angkatan 2001.
11. Teman-teman HMI (Mr. Ghonie, Mr. Hanafie, Naily, Tika, Iien) dan teman-
teman PPL ([Link]-q, Mr. Slah, Mr. Anas, dan [Link]).
12. Spesial thank’s to the Big Family Fastabiqul Khoerot for the spirit and the
support.
13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan
bantuan baik moril maupun materiil kepada penulis.
Semoga amal baik mereka diterima sebagai suatu amal kebajikan untuk
mendapatkan keridhoan-Nya semata dan semoga skripsi ini dapat memberikan
manfaat bagi pembaca semua, amin.
vii
Semarang, Juni 2005
Penyusun
SARI
Dwi Retno M.N. 2005. Peranan Abdi Dalem Dalam Pelaksanaan Tradisi Sekaten
Pada Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sri Sultan Hamengkubuwono
X Di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang. 102 h.
Dosen Pembimbing : I. Drs. Subagyo, [Link]., II. Dra. Rr. Sri Wahyu S., [Link].
Kata Kunci : Peranan, Abdi Dalem, Sekaten
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat pemerintahan dan
kebudayaan Jawa yang terletak di pusat ibukota Kerajaan mempunyai Abdi Dalem
sebagai komunitas sosial yang menjaga kelestarian kebudayaan Keraton. Abdi Dalem
bekerja pada administrasi Kasultanan maupun pemerintahan dengan penuh ikhlas
untuk memperoleh berkah dalem Keraton.
Khususnya pada perkembangan tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat, Abdi Dalem berperan aktif pada setiap penyelenggaraannya. Ada
banyak kelompok Abdi Dalem yang terlibat dalam tradisi Sekaten. Mereka bekerja
sesuai dengan tugas yang diemban oleh kelompoknya masing-masing.
Berdasarkan uraian di atas, ada dua permasalahan yang diteliti yaitu : (1)
Bagaimanakah kehidupan Abdi Dalem pada Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX – Sri Sultan Hamengkubuwono X di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat, (2) Bagaimanakah latar belakang sejarah pelaksanaan tradisi Sekaten di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, (3) Apa peranan Abdi Dalem dalam
pelaksanaan tradisi Sekaten pada pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX –
Sri Sultan Hamengkubuwono X di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tujuan
penulisan skripsi ini adalah : (1) Mengetahui kehidupan Abdi Dalem pada
Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sri Sultan Hamengkubuwono X di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat , (2) Mengetahui latar belakang sejarah
pelaksanaan tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, (3) Mengetahui
peranan Abdi Dalem dalam pelaksanaan tradisi Sekaten pada pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX – Sri Sultan Hamengkubuwono X di Keraton Ngayogyakarta
Hadinigrat.
viii
Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Penelitian Sejarah.
Langkah-langkah penelitian yang digunakan dalam metode tersebut adalah :
heuristik, kritik sumber, interprestasi, dan historiografi. Dalam teknik pengumpulan
data, disamping kajian pustaka, juga digunakan teknik wawancara dan melakukan
pengamatan atau observasi. Untuk mendapatkan penulisan Sejarah yang analisis dan
ilmiah digunakan pendekatan penelitian. Pendekatan penelitian yang digunakan
adalah Teori-teori Sosial Budaya (Sosiologi).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Kehidupan Abdi Dalem pada masa
Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sri Sultan Hamengkubuwono X di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat banyak sekali persamaannya, antara lain :
organisasi dan tugas Abdi Dalem, jam kerja Abdi Dalem, pangkat Abdi Dalem, dan
tempat tinggal Abdi Dalem. Perbedaannya ada tetapi tidak begitu signifikan, antara
lain : besar gaji Abdi Dalem dan perhatian Sri Sultan terhadap Abdi Dalem ; (2) Latar
belakang Sejarah pelaksanaan tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
terkait erat dengan tradisi sejak zaman Kasultanan Demak untuk mensyiarkan agama
Islam. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai Kerajaan generatif dari Demak,
Pajang, Mataram, kemudian Kasultanan Yogyakarta merasa sangat perlu untuk
melaksanakan tradisi leluhurnya sebagai upacara religius keislaman yang bercorak
khas kejawen dengan segala hikmah dan berkahnya ; (3) Peranan Abdi Dalem dalam
pelaksanaan tradisi Sekaten pada pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sri
Sultan Hamengkubuwono X sangat signifikan sekali. Abdi Dalem berperan penting
dalam pelaksanaan tradisi Sekaten mulai dari persiapan, pelaksanaan sampai
selesainya tradisi Sekatenan.
Dari analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terkait erat dengan tradisi
leluhur untuk mensyiarkan agama Islam. Peran Abdi Dalem sangat signifikan sekali
dalam pelaksanaan tradisi Sekaten.
Akhirnya peneliti menyarankan agar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
sebagai penyelenggara tradisi Sekaten hendaknya bisa menjadi media agar dalam
pelaksanaannya tradisi tersebut benar-benar bisa memenuhi kebutuhan religius dalam
syiar agama Islam untuk membentuk akhlak dan budi pekerti luhur.
ix
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ............................................................................................................. i
PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................... ii
PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... iii
PERNYATAAN............................................................................................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... v
PRAKATA....................................................................................................... vi
SARI................................................................................................................. viii
DAFTAR ISI.................................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Permasalahan................................................................................... 5
C. Tujuan Dan Manfaat........................................................................ 5
D. Ruang Lingkup Penelitian............................................................... 6
E. Penegasan Istilah ............................................................................. 7
F. Tinjauan Pustaka.............................................................................. 12
x
G. Metodologi Penelitian ..................................................................... 18
H. Sistematika Penulisan...................................................................... 28
BAB II KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
A. Latar Belakang Sejarah Berdirinya Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat..................................................................................... 27
B. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sebagai Pusat Pemerintahan
dan Pusat Kebudayaan Jawa .......................................................... 35
a. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai Pusat
Pemerintahan.............................................................................. 35
b. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai Pusat Kebudayaan
Jawa............................................................................................ 37
BAB III KEHIDUPAN ABDI DALEM PADA MASA
PEMERINTAHAN SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO
IX - SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X
A. Abdi Dalem Masa Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX ................................................................ 43
a. Struktur Organisasi dan Tugas Abdi Dalem Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat ........................................ 45
b. Jam Kerja Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat..................................................................... 51
c. Besar Gaji Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat..................................................................... 51
d. Pangkat Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat..................................................................... 53
e. Tempat Tinggal Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat..................................................................... 54
f. Perhatian Sri Sultan Hamengkubuwono IX terhadap
Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat......... 55
B. Abdi Dalem Masa Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono X ................................................................. 56
a. Struktur Organisasi dan Tugas Abdi Dalem Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat ........................................... 56
b. Jam Kerja Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat..................................................................... 58
xi
c. Besar Gaji Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat..................................................................... 59
d. Pangkat Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat..................................................................... 62
e. Tempat Tinggal Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat..................................................................... 63
f. Perhatian Sri Sultan Hamengkubuwono X terhadap
Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat......... 64
BAB IV PERANAN ABDI DALEM DALAM PELAKSANAAN
TRADISI SEKATEN DI KERATON
NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
A. Sejarah Lahirnya Tradisi Sekaten sebagai Upacara
Tradisional Keagamaan Islam di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat............................................................................... 73
B. Peran Abdi Dalem terhadap Upacara Tradisi Sekaten
di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ................................... 78
BAB V PENUTUP
A. Simpulan ....................................................................................... 95
B. Saran .............................................................................................. 99
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 : Struktur Organisasi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat................ 43
Tabel 2 : Besar gaji Abdi Dalem periode akhir pemerintahan
Hamengkubuwono IX ...................................................................... 50
Tabel 3 : Besar gaji Abdi Dalem periode awal pemerintahan
Hamengkubuwono X (1989-sekarang) ............................................. 58
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Wawancara dengan Abdi Dalem Keparak (Abdi Dalem Perempuan).
Gambar 2 : Pasar Malam Perayaan Sekaten.
Gambar 3 : Upacara Numplak Wajik
Gambar 4 : Gejog Lesung dilakukan sebelum Upacara Numplak Wajik dimulai.
Gambar 5 : Acara Miyos Dalem di Masjid Agung Yogyakarta.
Gambar 6 : Pelaksanaan Kondur Gongso (gamelan dibawa masuk lagi ke Keraton).
Gambar 7 : Kesatuan prajurit yang mengawal gunungan pada Upacara Garebeg
Maulud.
Gambar 8 : Gunungan diusung ke depan Masjid Agung dikawal oleh Prajurit
Keraton.
Gambar 9 : Upacara penyerahan gunungan dilanjutkan dengan memanjatkan doa
yang dipimpin oleh Kiai Pengulu.
Gambar 10 : Gunungan yang disedekahkan oleh Sri Sultan pada puncak acara
Garebegan menjadi rebutan masyarakat.
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Peta Kota Yogyakarta.
Lampiran 2 : Denah keadaan Keraton dan sekitarnya.
Lampiran 3 : Denah Istana Yogyakarta (bagian tengah dan utara).
Lampiran 4 : Lembar daftar informan.
Lampiran 5 : Acuan pertanyaan dalam kegiatan wawancara.
Lampiran 6 : Surat izin observasi.
Lampiran 7 : Surat izin penelitian.
xv
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keraton Yogyakarta merupakan sebuah komplek bangunan tempat
tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono dan bekas pusat pemerintahan
Kasultanan Yogyakarta yang mempunyai latar belakang keagamaan Islam.
Keraton Yogyakarta didirikan atas dasar Perjanjian Giyanti atau disebut juga
Palihan Nagari yang diadakan pada hari Kamis Kliwon, tanggal 29
Rabiulakhir 1680 Jawa atau tanggal 13 Februari tahun 1755 Masehi, di Desa
Giyanti (Punto H, 2001 : 1). Perjanjian Giyanti berisi : membelah menjadi
dua wilayah kerajaan Mataram, sebagian wilayah tetap dikuasai oleh Sri
Susuhunan Pakubuwono III dengan ibukota Kerajaan Surakarta dan bagian
lain dikuasai Pangeran Mangkubumi.
Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sultan Yogyakarta dengan
gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I, Senopati Ing Alaga Ngabdurachman
Sayidin Panatagama Khalifatullah (Punto H, 2001 : 2). Makna dari gelar
tersebut, bahwa Sultan berkewajiban untuk mensyiarkan ajaran agama Islam
dalam Kerajaannya sesuai dengan kedudukan dan peranan Sultan sebagai
Raja Yogyakarta. Adapun nama Kasultanan Yogyakarta yang sebenarnya
adalah Ngayogyakarta Hadiningrat.
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sampai sekarang telah mengalami
sepuluh kepemimpinan dari Sri Sultan Hamengkubuwono I – Sri Sultan
Hamengkubuwono X. Keraton dihuni oleh komunitas atau lebih tepatnya
2
disebut sebagai kelompok-kelompok sosial. Stratifikasi sosial didalam
keraton sangat bertalian dengan sistem pelapisan masyarakat yang berbentuk
kerucut. Sistem pelapisan masyarakat pertama ialah Sultan. Lapis kedua
terdiri dari kerabat keraton atau sentana keraton, menyusul lapis ketiga terdiri
dari pekerja administrasi Kasultanan maupun pemerintahan yang disebut
Abdi Dalem (priyayi). Lapis keempat ialah golongan wong cilik
(Abdurrachman, 2000 : 27). Pada perkembangannya lapis ketiga sering
disebut-sebut mempunyai peranan dalam kebudayaan dan tradisi Jawa di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Gambaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menunjukkan bahwa
istana (keraton) menjadi pusat kehidupan tradisional Masyarakat Jawa. Disini
bahasa Jawa yang paling halus dituturkan (Kromo Inggil) dan disini adat dan
tradisi Jawa lahir dan dikembangkan (Morisson, 2002 : 180). Khususnya pada
Tradisi Sekaten, acara ini menjadi rutinitas yang berpusatkan di Keraton dan
dalam pelaksanaannya menjadi momen ribuan umat Islam yang menanti
datangnya pada bulan Maulud.
Jika merunut perjalanan sejarah, perkembangan adat dan tradisi di
Indonesia tidak bisa lepas dari peran Keraton (Castle) karena Keraton
menjadi sentra perkembangan adat, budaya dan tradisi. Hal tersebut telah
melahirkan beragamnya karya seni dan tradisi seperti tarian, gamelan dan
tidak ketinggalan Tradisi Sekaten menjadi trend Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat. Beragamnya tradisi di Keraton di dukung dua aspek utama yaitu
hubungan seni dengan tradisi Keraton dan hubungan seni dengan agama.
3
Hubungan seni dengan agama, contohnya : Hinduisme memberikan seni
sastra keagamaan Mahabharata dan Ramayana, epik yang kemudian ikut
mengembangkan tradisi wayangan menjadi seni nilai adi luhung bagi
masyarakat Jawa (hubungan seni dengan tradisi Keraton). Bahkan sastra
keagamaan Mahabharata dan Ramayana yang telah mengangkat konsep satria
Jawa menjadi kelas elit Jawa, yaitu golongan yang mengembangkan watak
kepahlawanan (ksatria) dalam membina Kerajaan-kerajaan besar atau
Keraton (Simuh, 2003 : 54).
Berakhirnya era Kerajaan Hindu dan berdirinya Kerajaan Islam memang
memberi pengaruh, tetapi tidak dalam pengertian Tradisi Sekaten. Pengaruh
Islam dalam tradisi hanyalah dalam batas-batas tertentu yang secara implisit
berupa ajaran (Fananie, 2000 : 229). Tradisi Sekaten sebagai bagian dari
aktivitas Keraton, akhirnya menjadi tradisi turun temurun masyarakat
Yogyakarta pada umumnya dan kerabat Keraton khususnya.
Keraton tidak identik dengan istana saja. Keraton juga mempunyai nilai
implisit dari nilai keagamaan, filsafat dan kultural, karena itu Keraton tidak
semata-mata tempat bersemayan raja-raja dan ratu-ratu. Secara akurat belum
ditemukan data tentang latar belakang filosofi dari Keraton Ngayogyakarta,
tetapi yang jelas bahwa Pantai Selatan, Krapyak, Keraton, Gunung Merapi
terletak pada sebuah garis imajiner (Keraton Ngayogyakarta : 3). Selain itu
Keraton memiliki arti filosofis yang sangat dalam dipandang dari kacamata
budaya Jawa, dimana setiap bangunan, ruangan ,ukiran yang terdapat di
dalam kompleks Keraton penuh dengan makna, perlambang, dan simbol
4
(Morrison, 2002 : 186). Singkatnya Keraton bersifat TRI FUNGSI : tempat
bersemayam raja-raja dan ratu-ratu, pusat pemerintahan, serta pusat
kebudayaan (Brongtodiningrat, 1978 : 7).
Perayaan Sekaten sebagai upacara tradisional keagamaan Islam
merupakan ekspresi masuk dan tersosialisasinya Islam ke Bumi Nusantara.
Tradisi Sekaten mengandung tiga dimensi penting yaitu kultural, religius, dan
historis (Sultan, 12 Mei 2004). Sebagai peristiwa budaya, Sekaten dijadikan
momentum penting untuk merekonstruksi letak koordinat Budaya Jawa yang
diselenggarakan tiap tahun dalam rangka memperingati kelahiran Nabi
Muhammad SAW.
Peran Abdi Dalem sebagai kelompok sosial di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat sering disebut-sebut sebagai kelompok yang melestarikan dan
mengembangkan tradisi leluhur budaya Jawa seperti misalnya Tradisi
Sekaten. Pelaksanaan Tradisi Sekaten sebagai upacara tradisional agama
Islam mempunyai hubungan penting dengan para Abdi Dalem yang berperan
dalam pelaksanaannya.
Berangkat dari hal diatas, peneliti berminat untuk mengungkap peristiwa
sejarah budaya yang bersifat karya ilmiah. Peneliti berharap berhasil
mengetahui sejauh mana Peranan Abdi Dalem dalam Pelaksanaan Tradisi
Sekaten pada Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sri Sultan
Hamengkubuwono X di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Disamping itu
penulis berharap dapat menyediakan sebuah bahan perbandingan bagi para
pembaca pada umumnya.
5
B. Permasalahan
Permasalahan yang akan diteliti adalah :
1. Bagaimanakah kehidupan Abdi Dalem pada Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX – Sri Sultan Hamengkubuwono X di Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat ?
2. Bagaimanakah latar belakang sejarah pelaksanaan Tradisi Sekaten di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ?
3. Apa peranan Abdi Dalem terhadap perkembangan Tradisi Sekaten pada
Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sri Sultan
Hamengkubuwono X di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ?
C. Tujuan dan Manfaat
A. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui kehidupan Abdi Dalem pada Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX – Sri Sultan Hamengkubuwono X di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
2. Mengetahui latar belakang sejarah lahirnya pelaksanaan Tradisi
Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
3. Mengetahui peranan Abdi Dalem terhadap perkembangan Tradisi
Sekaten pada Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX –
Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwon X di Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat.
6
B. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Memperoleh informasi tentang peranan Abdi Dalem dalam pelaksanaan
tradisi Sekaten, yang nantinya dapat dipergunakan sebagai masukan
menambah dan memperluas pengetahuan tentang pendidikan sejarah
bagi pembaca
2. Bermanfaat bagi penelitian yang lebih luas dan lebih mendalam dalam
rangka menambah wawasan penulisan Sejarah Kebudayaan Indonesia.
3. Menambah informasi bagi masyarakat yang intens dengan Tradisi
Keraton, bahwa dengan dilaksanakannya Tradisi Sekaten sampai
sekarang menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia khususnya
Masyarakat Jawa yaitu Yogyakarta masih tetap melaksanakan Tradisi
leluhurnya walaupun arus modernitas telah mempengaruhi masyarakat
Jawa.
D. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian merupakan batasan ruang (wilayah dan waktu)
yang diteliti oleh peneliti. Tujuannya mengarahkan perhatian peneliti pada
bidang yang diteliti. Sesuai dengan judul, peneliti memfokuskan pada lokasi
penelitian yaitu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta, Jawa
Tengah.
Keraton Yogyakarta Hadiningrat terletak di Pusat Kota Yogyakarta
sehingga mudah dicapai dengan baik dari arah Malioboro, menuju ke Selatan
melalui Alun-alun. Rute ini lebih mudah untuk memasuki Keraton jika
7
dibanding dari arah Selatan. Letak Keraton Yogyakarta sangat strategis
dimana berdekatan dengan Istana Taman Sari, Masjid Agung Yogyakatra,
Pasar Yogyakarta, dan Benteng Vredeberg (Morisson, 2002 : 186).
Penelitian terfokus pada Peranan Abdi Dalem dalam Pelaksanaan Tradisi
Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam konteks ini, Abdi
Dalem yang menempati kelompok sosial pada lapisan ketiga dipandang
berperan penting terhadap pelaksanaan “Tradisi Sekaten” sampai sekarang
ini. Abdi Dalem yang bekerja pada administrasi Kasultanan Yogyakarta
Hadiningrat juga bertugas menjaga dan merawat kompleks Keraton.
Batasan ruang waktunya, dikarenakan Pelaksanaan Tradisi Sekaten ini
tetap berlangsung dari Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sri
Sultan Hamengkubuwono X, maka skop temporalnya diambil pada
pemerintahan kedua Raja tersebut. Dalam kurun waktu dua pemerintahan ini,
Tradisi Sekaten tetap menjadi upacara tradisional yang mengandung tiga
dimensi penting yaitu kultural, religius, dan historis.
E. Penegasan Istilah
Penegasan istilah bermaksud untuk memberi fokus kepada kajian yang
ingin diteliti, yaitu disesuaikan dengan permasalahan yang ada. Dengan
penegasan istilah, penulis dapat membatasi diri dari membahas persoalan-
persoalan yang ada diluar topik persoalan. Dari topik “Peranan Abdi Dalem
dalam Pelaksanaan Tradisi Sekaten pada Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX – Sri Sultan Hamengkubuwono X di Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat”.
8
Agar tidak terjadi salah persepsi atau pengertian dari berbagai pihak,
maka penegasan istilah digunakan untuk membatasi pengertian dalam
penelitian ini.
1. Peranan
Istilah peranan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bagian
dari tugas utama yang harus dilaksanakan (Depdikbud, 1988 : 667).
2. Abdi Dalem
Abdi Dalem berarti pengabdian terhadap kanjeng sinuwun yaitu
abdinya Raja atau Ratu dan dapat diartikan sebagai kesetiaan terhadap
Sultan sebagai Raja Keraton Yogyakarta (Afrianto, 2002 : 39).
Menurut Morisson (2002 : 186), Abdi Dalem mempunyai pengertian :
pegawai Keraton yang mengenakan pakaian tradisional Jawa yang
bertugas menjaga dan merawat kompleks Keraton (bangunan, ruangan,
ukiran, tanaman, atau apapun yang terdapat didalam kompleks Keraton
yang penuh makna, perlambang, simbol, termasuk tradisi dan budaya
Jawa).
Secara umum Abdi Dalem adalah : kelompok sosial yang berada
dilapis ketiga yang terdiri dari mereka yang bekerja pada administrasi
Kasultanan maupun pemerintahan.
3. Perkembangan
Perkembangan mempunyai dua pengertian (Depdikbud, 1989 : 414),
yaitu:
a. Perkembangan ialah : tumbuh dan mengalami peningkatan.
9
b. Perkembangan ialah : dari sederhana menjadi sempurna dan lebih
kompleks
Secara umum perkembangan dapat diartikan : perihal berkembang
(Depdikbud, 1988 : 414).
4. Tradisi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988 : 959), tradisi
mempunyai pengertian, antara lain :
a. Adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih
dijalankan masyarakat.
b. Penilaian bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling
baik dan benar : perayaan hari besar agama itu janganlah hanya
merupakan saja, haruslah dihayati maknanya.
Dalam Kamus Antropologis, disebutkan bahwa adat yaitu kebiasaan
yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli meliputi
antara lain mengenai nilai-nilai budaya, norma-norma hukum, aturan-
aturan yang saling berkaitan dengan kemudian menjadi suatu sistem aturan
tradisional.
5. Sekaten
Sekaten (Garebeg) adalah : upacara Kerajaan yang diselenggarakan
untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Soelarto, 1996
: 41).
Sekaten adalah : upacara keagamaan di Keraton, yang diadakan tiga
kali setahun, bertepatan dengan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, Hari
10
Raya Idul Fitri (Garebeg Sawal) dan Hari Raya Idul Adha atau Garebeg
Besar (Brongtodiningrat, 1978 : 15).
Sekatenan merupakan serangkaian acara untuk memperingati hari
lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulud Nabi (Morisson, 2002 : 191).
Morisson menjelaskan serangkaian upacara Sekatenan terdiri dari : acara
pertama adalah Pasar Malam Perayaan Sekaten. Kemudian seminggu
menjelang puncak acara (tanggal 5 Rabiulawal tepat pukul 21.00)
diadakan Upacara Miyos Gongso atau gamelan dikeluarkan dari Keraton
untuk kemudian ditempatkan di Pagongan Utara dan Pagongan Selatan
Masjid Agung Yogyakarta. Keesokan harinya pada tanggal 12 Rabiulawal
diadakan puncak acara Sekaten dihalaman Masjid Agung Yogyakarta.
Gunungan yang dibawa dari Keraton, oleh pembesar Keraton diserahkan
kepada Kiai Pengulu di depan Masjid Agung Yogyakarta. Upacara
penyerahan gunungan dilanjutkan dengan memanjatkan doa yang dipimpin
Kiai Pengulu. Gunungan yang disedekahkan oleh Keraton lalu menjadi
rebutan Masyarakat yang hadir (Soelarto, 1993 : 55).
6. Pemerintahan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988 : 672), pemerintahan
mempunyai beberapa pengertian, diantaranya :
a. Sistem menjalankan wewenang dan kekuasaan mengatur kehidupan
sosial, ekonomi, dan politik suatu negara (bagian-bagiannya).
b. Sekelompok orang yang secara bersama-sama memikul tanggung jawab
terbatas untuk menggunakan kekuasaan.
11
c. Penguasaan suatu negara (bagian negara).
Dalam penelitian ini Pemerintahan yang dimaksud adalah :
a. Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX (tahun 1940-1988)
Pemerintahan GRM Dorojatun (Sinuhun Sepuh) mempunyai
wewenang untuk berkuasa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
b. Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwno X (tahun 1989 –
sekarang).
Pemerintahan GRM Hardjuno Darpito yang mempunyai
wewenang dan menguasai Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
7. Keraton
Keraton berasal dari kata : ka + ratu + an : karatuan atau kraton. Yang
disebut karaton adalah : tempat bersemayam ratu-ratu. Juga disebut
kadaton, yaitu ke + datu + an : kadaton, tempat datu-datu atau ratu-ratu.
Keraton ialah sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, filosofis
dan kultural (Brongtodiningrat, 1978 : 7)
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sebuah kompleks
bangunan tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono dan bekas pusat
pemerintahan Kasultanan Yogyakarta yang mempunyai latar belakang
keagamaan Islam (Punto H, 2001 : 1)
Keraton adalah tempat tinggal raja dan ratu Yogyakarta. Keraton tidak
hanya memiliki arti sebagai bangunan tempat tinggal raja saja, tetapi lebih
jauh Keraton memiliki arti filosofis yang sangat dalam dipandang dari
kacamata Budaya Jawa (Morisson, 2002 : 185).
12
F. Tinjauan Pustaka
Penelitian mengenai Tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat sebenarnya sudah lumayan banyak. Tetapi penelitian yang
memfokuskan Peranan Abdi Dalem dalam Pelaksanaan Tradisi Sekaten
masih sangat terbatas, terutama kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam
rangkaian Upacara Sekaten.
Menurut Wignyasubrata dalam bukunya yang berjudul Sekaten di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, lebih memfokuskan pada riwayat
lahirnya Sekaten dan Perayaan Sekaten di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat (Widyobudoyo : 1). Abdi Dalem sebagai komunitas sosial
didalam Keraton menjaga kelestarian kebudayaan Keraton turut aktif
dalam kegiatan penyelenggaraan Tradisi Sekaten seperti : mempersiapkan
ubo rampai (perlengkapan) Hajad Dalem Pareden seperti Gunungan
Wadon, Gunungan Lanang, Gunungan Pawohan, dan kebutuhan yang lain.
Kesetiaan Abdi Dalem terhadap Keraton menjadi kunci tidak surutnya
untuk mengabdi pada Pemerintahan Sri Sultan. Ini terlihat dari ucapan
Abdi Dalem “dekat keraton dekat dengan berkah”. Ini memberikan makna
bahwa mendekatkan diri dengan lingkungan Keraton akan mendapat
berkah dan keturunannya akan hidup jauh lebih baik darinya (Abdi
Dalem). Penulisan ini hanya terbatas pada cerita Perayaan Sekaten dengan
sedikit menyinggung adanya peranan Abdi Dalem terhadap tradisi
kebudayaan leluhur. Hal ini mungkin disebabkan karena pada saat itu Abdi
13
Dalem belum terlihat jelas sekali muatan peranan dalam kegiatannya atau
mungkin luput dari pandangan penulis.
Demikian pula dengan studi Kapujanggan Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat, penelitiannya mengenai Riwayat Sekaten menyangkut studi
historis dari Zaman Demak, Zaman Majapahit, dan Zaman Hindu. Dalam
penelitian ini Abdi Dalem diceritakan sebagai bagian dari keluarga
Keraton yang bertugas menjaga kegiatan Sekaten, selama kegiatan Sekaten
berlangsung Abdi Dalem duduk di Serambi Masjid dan sebagian
melakukan Tadarusan di dalam Masjid Agung, di Malam Garebeg Maulud
Abdi Dalem dan Abdi Dalem Punokawan semuanya berkumpul dengan
Bendoro Putra dan Pangeran Sentana serta kerabat lainnya. Penelitian ini
sudah sedikit memfokuskan pada peranan Abdi Dalem terhadap Perayaan
Sekaten dimana disisi lain juga banyak menjabarkan riwayat lahirnya
Sekaten. Tetapi penelitian ini telah menuliskan Zaman Majapahit dan
Zaman Hindu. Kedua zaman tersebut seharusnya tidak perlu dimasukkan,
akan lebih tepat bila yang ditulis Zaman Pajang dan Zaman Mataram
sebagai kelanjutan dari Kerajaan Demak.
Penelitian berikutnya oleh Theresia Styastuti dalam karyanya Upacara
Garebeg Maulud pada Masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono
IX (1999 : 105), meski topiknya sedikit berbeda karena kurang memfokus
tetapi karena masih studi historis Tradisi Sekaten, Theresia berpendapat
dari pelaksanaan Tradisi Sekaten pada masa Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX – Sri Sultan Hamengkubuwono X tidak banyak
14
terdapat perbedaan dalam pelaksanannya dimana Gunungan yang menjadi
khas perlengkapan upacara tetap ada dan prajurit Keraton dengan pakaian
seragam masih tetap ditampilkan. Ada dua sedikit perbedaan, yaitu :
1. Penyelenggaraan Upacara Garebeg Maulud pada Masa Sri Sultan
Hamengkubuwono IX - Sri Sultan Hamengkubuwono X yaitu : jumlah
prajurit yang digunakan pada waktu Upacara Garebeg Maulud
berlangsung. Kalau pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono IX jumlah
prajurit setiap bergodo terdiri dari 80 orang. Tetapi pada masa Sri
Sultan Hamengkubuwono X jumlah prajurit dari setiap bergodo
dikurangi 30 orang sehingga menjadi 50 orang dari setiap bergodonya,
hal itu disesuaikan dengan perkembangan zaman.
2. Perbedaan Waktu dan Situasi
Kalau penyelenggaraan Upacara Garebeg Maulud pada masa Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dilakukan pada masa penjajahan Belanda dan
Jepang. Pada masa pendudukan Jepang Tradisi Upacara Garebeg
pernah dihapuskan tetapi kemudian setelah Indonesia merdeka Tradisi
Upacara Garebeg diadakan lagi. Sedangkan pada masa Sri Sultan
Hamengkubuwono X Upacara Garebeg Maulud diselenggarakan pada
saat rakyat Indonesia sudah merdeka. Dari penelitian Theresia terlihat
sekali kalau perbedaan yang ada tidak terlalu signifikan. Melainkan
Tradisi Sekaten tetap menjadi kultur budaya Keraton sebagai tradisi
dan sebagai upacara yang bersifat tradisional yang tetap
diselenggarakan dijamin yang semakin maju dan semakin modern.
15
Kesimpulan yang ditemukan dari penelitian Theresia adalah bahwa
Tradisi Sekaten dalam setiap pelaksanaannya terdapat banyak kesamaan
walaupun terkadang juga terdapat sedikit perbedaan, namun begitu
yang menjadi khas dari perayaan Sekaten tetap ada dalam setiap
penyelenggaraan rangkaian upacaranya. Di sini yang menjadi objek
penelitian hanya sebatas penyelenggaraan Sekaten saja, mungkin aspek
sosial Abdi Dalem hanya dijadikan sebagai acuan tambahan dalam
penelitian sehingga kajian Abdi Dalem hanya dibahas singkat saja.
Penelitian Soelarto mengenai Garebeg di Kasultanan Yogyakarta
menyangkut cerita upacara Garebeg atau Sekaten sebagai upacara religius
khas kejawen yang sudah ditradisikan sejak Sultan Hamengkubuwono I
sampai sekarang. Tradisi ini merupakan bagian tak terpisahkan dari
Kasultanan Yogyakarta yang didirikan oleh Panembahan Senopati. Asal
muasal dan makna di balik peristiwa perayaan tersebut hanya bisa
dipahami dengan mengingat adat istiadat yang berkembang sejak zaman
keemasan Kerajaan Mataram. Dalam penelitian ini Soelarto juga
menuliskan informasi tentang seluk beluk penyelenggaraan tradisi
Sekaten, hakikat dari perayaan Sekaten, tempat-tempat yang menjadi pusat
rangkaian upacara Sekaten., serta ubo rampai (perlegkapan) yang dipakai
pada upacara Sekaten. Terlepas dari pembuatan gunungan ada
perlengkapan yang dipakai seperti : benda-benda upacara dan pusaka-
pusaka Keraton. Penelitiaan ini telah banyak mengungkap sejarah
perayaan Garebeg dan hal-hal yang perlu dipersiapkan pada upacara
16
Garebeg, namun Abdi Dalem sebagai panitia penyelenggaraan Sekaten
peranannya kurang disinggung.
Penelitian Morisson mengenai Upacara Sekaten (2002 : 191), selain
meneliti Keraton sebagai kota budaya yang memiliki karakter kuat dari
hasil penelitiannya ia juga menjelaskan secara rinci Tradisi Sekatenan
sebagai Upacara Tradisional Jawa yang diikuti dengan antusias oleh
Masyarakat Yogya dan sekitarnya. Acara Sekaten ini menjadi bagian ajang
promosi wisata Yogyakarta. Di sisi lain Morisson juga sedikit
mengungkap pegawai Keraton (Abdi Dalem) yang merawat setiap
bangunan, ruangan, ukiran, tanaman, atau apapun yang terdapat di
Kompleks Keraton. Jika diperhatikan Abdi Dalem mempunyai peranan
yang cukup penting dalam pengembangan adat dan tradisi Jawa di Keraton
khususnya pada pelaksanaan Tradisi Sekatenan. Pada persiapan sampai
pelaksanaan Tradisi Sekatenan, Abdi Dalem mempunyai peranan yang
cukup penting, salah satunya pembuatan Gunungan untuk Garebegan
(Upacara Sekaten). Saat upacara Sekatenan dilaksanakan di depan barisan
Gunungan, Abdi Dalem Gedhong Kiwa atau Tengen, Kalang, Gladhan,
dan Pangreh Praja bertindak sebagai barisan pelopor. Di sini peranan Abdi
Dalem tampak sekali dari awal sampai pelaksanaan Upacara Sekatenan.
Mereka berperan sebagai panitia yang mempersiapkan perlengkapan
upacara dan berperan sebagai barisan pelopor. Morisson melihat peran
Abdi Dalem yang besar, sebagai bagian dari warga Keraton mereka
bekerja pada administrasi maupun pemerintahan Kasultanan Yogyakarta
17
dengan sangat baik dan penuh tanggung jawab. Selain itu Morisson
banyak memfokuskan pada Abdi Dalem yang mengenakan pakaian
tradisional Jawa yang bertugas menjaga dan merawat seisi bangunan dan
gedung-gedung dalam dan bagian luar kompleks Keraton.
Pada pokoknya hasil penelitian masalah Sekatenan tersebut saling
melengkapi. Disatu pihak penulisan Sekatenan dengan studi historis telah
mengungkapkan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat
Kebudayaan Jawa yang mengembangkan Tradisi Sekaten sebagai Upacara
Tradisional Masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta. Disamping Keraton
sebagai pusat kebudayaan Jawa juga sebagai pusat pemerintahan yang
dipimpin oleh seorang Sultan. Dipihak lain adanya penyelenggaraan
Sekaten, sebagai tradisi yang mengandung tiga dimensi penting yaitu
kultural, religius, dan historis hendaknya dijadikan momentum
pemberhentian sejenak guna merekonstruksi letak koordinat budaya.
Maksudnya masyarakat melakukan introspeksi diri dengan menghayati
perayaan Sekaten yang sebenarnya. Sehingga hal yang dipercaya benar-
benar memiliki nilai religius tinggi dan bisa membawa perilaku yang baik
bagi penyelenggaraan Sekaten serta masyarakat yang menghendaki
perayaan Sekaten.
Telaah pustaka yang diuraikan diatas menunjukkan perlunya
penulisan Sejarah yang lebih khusus meneliti Peranan Abdi Dalem dalam
Pelaksanaan Tradisi Sekatenan. Apabila berbagai penelitian yang
dihasilkan selama ini belum mengungkapkan sejauh mana peranan Abdi
18
Dalem dalam Pelaksanaan Tradisi Sekatenan pada Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX - Sri Sultan Hamengkubuwono X, maka perlu
adanya penelitian terhadap hal tersebut. Maka penelitian ini diharapkan
dapat melengkapi penulisan yang telah ada sebelumnya.
G. Metodologi Penelitian
A. Metode Penelitian
Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian, sangat menentukan
sejauh mana penelitian menjawab pertanyaan dan permasalahan dalam
kegiatan penelitian. Berdasarkan penelitian tersebut, untuk sistematika
penulisan Sejarah yang analisis dan ilmiah, maka metode yang digunakan
metode penulisan Sejarah.
1. Heuristik (Pengumpulan Data)
Heuristik merupakan kegiatan menghimpun jejak-jejak dimasa lampau.
Kegiatan pengumpulan data (heuristik) meliputi kegiatan mencari, dan
menghimpun sumber-sumber Sejarah termasuk bahan-bahan tertulis,
tercetak serta sumber lisan yang relevan dengan masalah yang diteliti
(Gottschalk, 1986 : 18).
Sumber heuristik terbagi menjadi dua :
a. Sumber Primer
Suatu kesaksian dari saksi dengan mata kepala sendiri atau saksi dengan
panca indera lain atau alat yang hadir pada peristiwa yang diceritakan.
Teknik pengumpulan data yang terpenting dalam penelitian ini melalui :
Pertama : Sumber lisan (wawancara). Peneliti melakukan wawancara
19
dengan beberapa panitia (Abdi Dalem penyelenggaraan Sekaten).
Adapun wawancara dilakukan dengan narasumber kunci (Abdi Dalem)
diantaranya mereka yang menjadi panitia penyelenggaraan Tradisi
Sekatenan (lihat gambar 1), antara lain :
1. Panitia penyelenggaraan Pasar Malam Perayaan Sekaten
2. Panitia penyelenggaraan acara Miyos Gongso
3. Panitia penyelenggaraan Upacara Numplak Wajik
4. Panitia Upacara Garebeg Maulud (Sekaten)
Kedua : Sumber benda. Sumber benda berupa alat-alat yang telah
dipakai dalam pelaksanaan upacara Sekatenan dari pemerintahan
Hamengkubuwono I sampai pemerintahan sekarang
(Hamengkubuwono X). Adapun alat-alat yang dipakai dalam upacara
Sekatenan adalah benda-benda upacara dan pusaka-pusaka Keraton.
b. Sumber Sekunder
Suatu kesaksian dari siapapun yang bukan dari saksi pandang mata,
yaitu saksi dari orang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkan
(Gottschalk, 1986 : 35). Sumber sekunder yang digunakan oleh peneliti
adalah :
1. Studi pustaka : buku.
2. Sumber tertulis atau dokumen : brosur, tulisan pujanggga Keraton,
dan hasil liputan Koran.
Dalam pengumpulan data, peneliti banyak menggunakan studi
pustaka dan sumber tertulis (dokumen).
20
2. Kritik Sumber
Kritik sumber yaitu : menyelidiki apakah jejak-jejak sejarah itu sejati,
baik bentuk maupun isi. Kritik ini bertujuan untuk menilai sumber-
sumber yang dibutuhkan dalam penelitian, sehingga sumber-sumber
yang digunakan benar-benar dapat dipercaya.
Kritik sumber ada dua, yaitu kritik ekstern dan kritik intern
a. Kritik ekstern (kritik luar)
Yaitu dengan melakukan kegiatan penelitian terhadap sumber-
sumber informan yang telah dikumpulkan apakah sumber-sumber
informasi tersebut benar-benar autentik dan asli sebagai sumber
Sejarah. Dalam penelitian ini penulis membandingkan dengan
sumber buku yang lain (membandingkan sumbernya). Ini dilakukan
sebagai data penguat dan koreksi.
b. Kritik intern (kritik dalam)
Yaitu suatu proses yang dilakukan untuk membuktikan dapat
dipercaya tidaknya (kredibilitas) dan kesahihan (validitas) dari isi
informasi yang telah dikumpulkan. Dalam penelitian ini, informasi
yang terkumpul dari sekian informasi melalui wawancara, terencana
maupun tidak terencana diteliti atau diuji dengan membanding-
bandingkan informasi antara satu dengan yang lain, sehingga dapat
ditarik kesimpulan untuk mendapatkan informasi yang valid. Jadi
peneliti melakukan cross cek terhadap hasil wawancara.
21
3. Interpretasi (Mentafsirkan Data)
“Interpretasi sebagai tindakan menyimpulkan kesaksian yang
dapat dipercaya mengenai bahan-bahan yang autentik (Gotschalk,1986:
16).
Berdasarkan pernyataan diatas, maksud dari interpretasi adalah
menetapkan makna dan menghubungkan data-data yang didapatkan dari
sumber yang ada maka dalam penelitian ini penulis menghubungkan
secara kronologis semua informasi yang ditafsirkan sehingga menjadi
rangkaian cerita yang logis.
4. Historiografi
Historiografi atau merekonstruksi Sejarah merupakan penyusunan
kesaksian yang dapat dipercaya menjadi kisah atau penyajian yang berarti
(Gotschalk,1986 : 18).
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari kerja metode penelitian
Sejarah yaitu penyajian dalam bentuk penulisan Sejarah yang berdasarkan
fakta-fakta yang terpisah-pisah antara satu dengan yang lain. Artinya
proses heuristik, kritik, dan interpretasi tidak lengkap tanpa dibuat
kesimpulan dalam bentuk cerita yang disajikan. Data disusun secara
sistematis menurut pembagian atau seleksi data dari Peranan Abdi Dalem
terhadap perkembangan Tradisi Sekatenan.
B. Pendekatan
Pendekatan dalam kegiatan penelitian sebagai kegiatan dari penggunaan
dan pemanfaatan konsep dan Ilmu-ilmu Sosial (Antropologi dan Sosiologi)
sangat perlu dilakukan dalam penulisan Sejarah yang analisis dan ilmiah.
22
Penelitian juga menggunakan Ilmu-ilmu Sosial yang telah mengalami
perkembangan pesat, sehingga dapat menyediakan teori dan konsep yang
merupakan alat analitis yang relevan sekali untuk keperluan analisis Historis
(Kartodirdjo, 1993 : 120). Hal ini bermanfaat sebagai piso analitis dalam
penulisan Sejarah (menggunakan multidimensional approach).
Sesuai dengan judul, peneliti mencoba menggunakan Teori-teori Sosial
Budaya yang dianggap relevan sebagai pendekatan dalam kegiatan penelitian
Sejarah. Maka peneliti memilih Teori-teori Sosial Budaya, sebagai berikut :
1. Teori Fungsionalisme Struktural oleh Talcott Parsons
Talcott Parsons dalam bukunya Usman Pelly (1994 : 60) menyatakan
bahwa ada empat asumsi penting yang diperlukan suatu sistem, yaitu :
a. Setiap masyarakat secara relatif adalah tetap, struktur unsur-unsurnya
relatif stabil (Stabilitas).
b. Setiap masyarakat tersusun dari unsur-unsur yang terintegrasi secara
baik. Ini mempunyai pengertian bahwa sebuah sistem harus mengatur
komponen-komponen yang menjadi bagiannya (Integrasi).
c. Setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, yaitu memberikan
kontribusi terhadap pemeliharaan keutuhan dari sebuah sistem (Fungsi
Koordinasi).
d. Setiap fungsi struktur sosial didasarkan pada konsensus terhadap nilai-
nilai di antara anggota-anggotanya (Konsensus).
23
Demikianlah dalam pendekatannya aliran Fungsionalisme
Strukturalisme selalu menekankan unsur : 1) Stabilitas, 2) Integrasi, 3)
Fungsi Koordinasi dan, 4) Konsensus (Pelly, 1994 : 60).
Jika dilihat dari teori Fungsionalisme Struktural (Talcott Parsons)
dalam bukunya Usman Pelly (1994 : 60) yang menyatakan bahwa setiap
masyarakat tersusun dari unsur-unsur yang terintegrasi secara baik, maka
Abdi Dalem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga merupakan
sebuah komponen-komponen yang menyebabkan terbentuknya sistem
sosial di Keraton. Di mana sistem itu harus mengelola antar hubungan
ketiga fungsi penting lainnya yaitu : stabilitas, fungsi koordinasi dan
kosensus. Menurut Abdurrachman (2000 : 27), di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat terdapat sebuah sistem yang terbentuk dari komponen-
komponen sesuai dengan susunan-susunan kelas yang terdiri dari, yaitu :
a. Lapis pertama: Sultan.
Sultan bertugas sebagai kepala pemerintahan yang berkuasa di Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat.
b. Lapis kedua : Kerabat Keraton atau Sentana Keraton.
Kerabat Keraton merupakan keturunan dari Raja yang mempunyai
keistimewaan dalam bidang-bidang tertentu.
c. Lapis ketiga : Pekerja Administrasi Kasultanan maupun pemerintahan
(Abdi Dalem atau Kaum Priyayi).
Abdi Dalem bertugas sebagai pegawai Keraton yang bekerja sesuai
dengan jenjang kepangkatan atau gelar mereka.
24
d. Lapis keempat : Golongan Wong Cilik.
Golongan wong cilik merupakan rakyat biasa yang patuh dan hormat
terhadap Raja.
Terlihat sekali kalau Abdi Dalem yang menempati lapis ketiga sebagai
komponen dari sebuah sistem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
2. Teori Kebudayaan oleh Malinowski
Malinowski dalam bukunya Roland Robertson (1992 : 53),
menyatakan bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi
masyarakat yang memiliki unsur kebudayaan itu. Setiap pola kelakuan
yang sudah menjadi kebiasaan, setiap pola dari perilaku masyarakat yang
menjadi kebudayaan dalam masyarakat dianggap memenuhi kebutuhan
dasar maupun kebutuhan sekunder.
Dalam hal ini masyarakat Yogyakarta yang setiap bulan Maulud
selalu mengadakan Tradisi Sekaten menganggap tradisi tersebut
bermanfaat dan mempunyai peran penting dalam membentuk akhlak
dan budui pekerti luhur. Setiap tahun selalu diselenggarakan Upacara
Tradisional Resmi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Garebeg
Maulud) yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW
dalam rangka memenuhi kebutuhan religius masyarakat (Soelarto, 1996 :
24) .
H. Sietematika Penulisan
Sistematika penulisan dibuat dalam setiap penulisan untuk
memberikan gambaran umum tentang keseluruhan isi dari penelitian.
25
Dalam penelitian ini terdiri dari lima bab, dalam setiap bab tersebut
terbagi dalam beberapa sub bab. Dengan adanya sistematika penulisan
ini, pembaca akan memperoleh gambaran yang jelas, terperinci dan
sistematik mengenai materi yang akan disaji oleh peneliti. Berikut adalah
sistematika penulisan dalam penelitian ini
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisi : latar belakang, permasalahan, tujuan dan
manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, penegasan
istilah, tinjauan pustaka dan metodologi penelitian.
Metodologi penelitian di sini meliputi : metode penelitian
dan pendekatan penelitian.
BAB II KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang sejarah berdirinya
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat pemerintahan dan
pusat Kebudayaan Jawa.
BABIII KEHIDUPAN ABDI DALEM PADA MASA
PEMERINTAHAN SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO
IX – SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X
Bab ini menceritakan tentang Kehidupan Abdi Dalem pada
masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan
Abdi Dalem pada masa Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono X.
26
BAB IV PERANAN ABDI DALEM DALAM PELAKSANAAN
TRADISI SEKATEN DI KERATON NGAYOGYAKARTA
HADININGRAT
Bab ini berisi hasil penelitian terhadap pelaksanaan Tradisi
Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang
meliputi : Sejarah lahirnya Tradisi Sekaten sebagai upacara
tradisional keagamaan Islam di Keraton Ngayogyakarta
Hadinninngrat. Dan di sini juga berisi hasil penelitian
mengenai Peranan Abdi Dalem dalam pelaksanaan upacara
Tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi simpulan dan saran
27
BAB II
KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
A. Latar Belakang Sejarah Berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan atas dasar perjanjian
Giyanti yang ditandatangani oleh Sunan Pakubuwono III dan Pangeran
Mangkubumi dipihak lain serta Nicolas Harting pada tanggal 29 Rabiulakhir
1680 Jawa 13 Februari 1755 (Punto H, 2001 : 1). Perjanjian tersebut mengakhiri
perang saudara antara Pangeran Mangkubumi dengan Sunan Pakubuwono III.
Menurut Perjanjian Giyanti, wilayah Kerajaan Mataram dibagi menjadi
dua : Pangeran Mangkubumi menjadi raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I Senopati Ing Alaga Ngabdurahman
Sayidin Panatagama Khalifatullah Ing Ngayogyakarta. Sementara sebagian
wilayah lain tetap dikuasai oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III dengan Ibukota
Kerajaan Surakarta (Punto H, 2001 : 2).
Keraton Yogyakarta mempunyai luas wilayah 87.050 km2 dan meliputi
daerah Mataram asli seperti Kedu, Bagelan, Banjarnegara, sebagian Pajang,
Pacitan, Madiun, Grobogan, dan Mojokerto (FA. Sucipto, 1979 : 34). Semula
tempat yang dipilih untuk mendirikan Keraton adalah desa Telogo, dimana
baginda pernah mendirikan pesanggrahan yang diberi nama Ngambar Ketawang,
tetapi kemudian baginda memutuskan untuk mendirikan Keraton di Hutan
Garjitawati, dekat Desa Beringin dan Desa Pacetokan. Dengan alasan daerah ini
27
dianggap kurang memadai untuk membangun sebuah Keraton dengan
bentengnya, maka aliran sungai Code dibelokkan sedikit ke timur dan aliran
sungai Winanga sedikit dibelokkan ke barat (Brongtodiningrat, 1978 : 7).
Menurut cerita mitos, hutan Beringin tersebut dijaga dua ekor ular naga,
yaitu bernama kiai Jaga dan kiai Jegot. Maka setelah Keraton Yogyakarta berdiri,
kiai Jaga kemudian bertempat tinggal pada bangunan tugu, sedang kiai Jegot
bersemayam pada bangsal Proboyekso Keraton Yogyakarta (Punto H, 2001 : 4).
Hutan Beringin yang dipilih oleh Sultan merupakan tempat bersejarah
karena di daerah itu pada tahun 1747 dan tahun 1749 Kanjeng Pangeran Haryo
Mangkubumi dihadapan rakyat mengumumkan penobatan dirinya sebagai
Susuhunan ing Mataram. Baginda menetapkan tempat itu untuk didirikan
Keraton dan menjadi Ibukota yang kemudian diberi nama Ngayogyakarta
Hadiningrat. Dari latar belakang perkembangan yang selintas diceritakan di atas,
tampak adanya berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan tempat di
Hutan Beringin itu sehingga menjadi pangkal pertumbuhan kota Yogyakarta.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tersebut meliputi faktor sejarah,
keagamaan, pengalaman pribadi Mangkubumi sendiri, dan adanya unsur asing
yang datang yaitu VOC yang dikemudian hari bertambah dengan pengaruh
pemerintahan Inggris diawal abad ke-19 (Poerwokoesoemo, 1985 : 24).
Pembuatan Keraton Yogyakarta selesai pada tahun 1682 Jawa dan
ditandai dengan sengkalan memet (condrosengkolo memet) dipintu Gerbang
28
Kemagangan dan pintu gerbang Gedung Mlati, berupa dua ekor naga berlilitan
satu sama lainnya. Dalam bahasa Jawa : Dwi naga rasa tunggal. Artinya, Dwi :
2, naga : 8, rasa : 6, tunggal : 1. Dibaca dari belakang : 1682 (Brongtodiningrat,
1978 : 8). Naga berwarna hijau memiliki makna tersendiri yaitu simbol dari
pengharapan. Pembangunan Keraton Yogyakarta kemudian diikuti dengan
pembuatan benteng keliling sebagai batas wilayah ibukota kerajaan dan
pembuatan masjid Agung.
Arsitek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ialah Sri Sultan
Hamengkubuwono I. Keahlian sebagai arsitek bangunan sudah dimiliki sejak
masih muda, baginda bergelar Pangeran Mangkubumi Sukowati. Menurut
Pigeund dan Adam dimajalah tahun 1940 (1978 : 7) : Sri Sultan
Hamengkubuwono I mendapat julukan de bowmeester van zijn broer Sunan
Pakubuwono II (arsitek dari kakanda Sri Sunan Pakubuwono II). Beliau
membuat arsitektur Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang arsitekturnya ada
kemiripannya dengan arsitektur Kasunanan Surakarta. Satu hal yang
membedakan adalah bagian utama dari bagian-bagian penting di Keraton
Kasultanan Yogyakarta dibuat lebih megah dan memberi kesan yang lebih
berwibawa daripada Kasunanan Surakarta. Keraton Yogyakarta yang berlatar
belakang budaya Islam pada bangunannya banyak dijumpai unsur-unsur
kebudayaan Hindu. Pola dasar pendirian bangunan pada komplek Keraton
Yogyakarta menggunakan unsur kebudayaan Hindu, ini tampaknya memang
begitu menonjol di dalam proses akulturasi dengan kebudayaan yang sedang
29
berkembang di Keraton Yogyakarta yang pada dasarnya bernafaskan Islam. Tata
letak maupun pengelompokan bangunan pada komplek Keraton Yogyakarta
mempunyai kesamaan dengan sistem yang digunakan pada komplek Keraton dari
periode Hindu (Punto H, 2001 : 209). Bentuk-bentuk bangunan yang terdapat
dalam komplek Keraton Yogyakarta mirip sekali dengan bentuk bangunan
konstruksi kayu yang terdapat dalam relief candi, yang tentunya menggambarkan
bangunan yang digunakan oleh masyarakat pada periode klasik (Punto H, 2001 :
209). Demikian halnya beberapa hiasan dan dua buah arca dwarapala yang
terdapat pada bangunan dalam komplek Keraton Yogyakarta, mempunyai
kesamaan dengan hiasan dan arca dwarapala yang terdapat pada peninggalan-
peninggalan dari periode klasik.
Bentuk-bentuk bangunan yang terdapat di komplek Keraton Yogyakarta
mirip sekali dengan bentuk bangunan kontruksi kayu yang terdapat dalam relief
candi, yang tentunya menggambarkan bangunan yang digunakan oleh
masyarakat pada periode klasik. Beberapa hiasan dengan motif flora, fauna,
ataupun alam banyak dijumpai pada bangunan dalam komplek Keraton
Yogyakarta, antara lain pada gapura, atap bangunan, tiang, umpak, baturana dan
sebagainya. Hiasan-hiasan tersebut merupakan pengisi bidang dan hiasan yang
mempunyai arti tertentu. Oleh karena itu, jelaslah bahwa unsur-unsur
kebudayaan Hindu masih tampak pada komplek bangunan Keraton Yogyakarta
yang kemudian berakulturasi dengan kebudayaan yang sedang berkembang.
30
Adapun bentuk fisik bangunan yang terdapat dalam komplek Keraton
Yogyakarta sebagian besar menggambarkan bentuk rumah tradisional Jawa dan
sebagian diantaranya menggunakan konstruksi kayu. Bangunan-bangunan
tersebut menggunakan atap tunggal (atap susun) yang berbentuk limasan, tajug,
kampung (pelana) dan joglo. Bagian tubuh bangunan ada dua bentuk, yaitu
merupakan bangunan terbuka (tanpa dinding penutup ruangan) dan merupakan
bangunan yang menggunakan dinding penutup tubuh (Punto H, 2001 : 203)
Di dalam Keraton Yogyakarta terdapat banyak bangunan, halaman, dan
lapangan. Komplek Keraton terletak ditengah-tengah, tetapi daerah Keraton
membentang dari sungai Code sampai sungai Winanga, dari utara ke selatan, dari
Tugu sampai Krapyak.
Tujuh buah halaman yang terdapat dalam komplek Keraton disusun
berderet dari utara dan selatan. Antara halaman yang satu dengan halaman yang
lain dipisahkan oleh dinding penyekat dan dihubungkan dengan pintu gerbang.
Ketujuh buah halaman tersebut masing-masing berisi bangunan dan nama-nama
halaman kebanyakan disesuaikan dengan nama bangunan yang terdapat
didalamnya.
Adapun halaman yang terdapat di Keraton Yogyakarta, antara lain :
1. Halaman sitihinggil utara
2. Halaman kemandungan utara
3. Halaman srimanganti
4. Halaman pusat Keraton Yogyakarta
31
5. Halaman kemagangan
6. Halaman kemandungan selatan
7. Halaman sitihinggil selatan
Keraton Yogyakarta merupakan komplek bangunan pusat pemerintahanan
Kerajaan yang terletak di pusat ibu kota Kasultanan Yogyakarta. Membicarakan
komplek bangunan Keraton Yogyakarta sebagai pusat Kerajaan, tidak dapat
terlepas dari unsur-unsur bangunan yang terdapat dilingkungan komplek
Keraton, diantaranya benteng, parit keliling, alun-alun, masjid Agung, dan
komplek Tamansari (Punto H, 2001 : 46).
Unsur-unsur bangunan pada komplek Keraton :
1. Benteng
Benteng yang mengelilingi ibu kota Kerajaan disebut benteng Baluwarti,
didirikan tahun 1782 Masehi. Di dalam benteng, selain istana Sri Sultan dan
komplek Tamansari dijumpai pula bangunan-bangunan, diantaranya tempat
tinggal para bangsawan, tempat tinggal Abdi Dalem dan tempat tinggal
kelompok prajurit Keraton.
Bekas-bekas bangunan yang sekarang masih utuh adalah dinding sisi
selatan, bagian sudut tenggara, sudut barat daya dan sudut barat laut. Dilihat
dari bekas-bekasnya, benteng pertahanan kota ini mempunyai denah segi
empat, tiap-tiap sisinya menghadap kearah empat mata angin utama.
Pada sisi utara terdapat dua buah gapura (plengkung), sedang pada sisi
timur, selatan, dan barat masing-masing terdapat sebuah gapura (plengkung).
32
Pada tiap-tiap sudutnya terdapat gardu pengintai yang disebut tulak tala
(bastion) dan sekarang yang masih utuh adalah bagian sudut tenggara, barat
daya dan barat laut, sedangkan bagian timur laut sudah tidak ada.
2. Parit Keliling
Parit yang disebut dengan jagang merupakan saluran air yang
mengelilingi pusat kota Yogyakarta kuno. Parit keliling ini terdapat
disepanjang dinding benteng bagian luar dan berdenah segi empat. Panjang
parit sama dengan panjang dinding benteng, yaitu tiap sisinya lebih kurang
satu kilometer.
3. Alun-alun
Alun-alun adalah tanah lapang yang terdapat di depan dan di belakang
komplek Keraton, yang di depan disebut alun-alun utara, sedangkan yang di
belakang disebut alun-alun Pangkeran. Alun-alun selatan berfungsi sebagai
tempat latihan baris-berbaris para prajurit untuk persiapan upacara kerajaan,
tempat upacara pemberangkatan jenazah dan sebagainya.
4. Masjid Agung
Bangunan masjid ini terdiri atas dua bagian. Pertama, bagian masjid yang
merupakan bagian utama yang dibangun pada tahun 1773 semasa
pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, raja pertama Kerajaan Mataram
Yogyakarta, sedangkan bagian kedua adalah serambi yang dibangun pada
tahun 1775 juga atas prakarsa Hamengkubuwono I.
33
Bangunan masjid Agung kondisinya masih baik dan sampai saat ini
masih dipergunakan sebagai tempat ibadah sholat dan upacara-upacara yang
berhubungan dengan agama Islam. Bentuk bangunan masjid Agung berbentuk
tajug ceblokan, yaitu bangunan dengan atap berbentuk tajug disangga oleh
beberapa tiang yang langsung berdiri di atas lantai bangunan, tanpa umpak.
Atap bangunan terdiri dari tiga tingkat (atap tumpang) yang disangga oleh 36
tiang, empat buah diantaranya adalah tiang saka guru (guru utama). Bangunan
berdiri di atas lantai yang berdenah bujur sangkar dengan ukuran 27,5 X 27,5
meter dan tebalnya 1,5 meter. Di samping kiri dan kanan bangunan terdapat
serambi samping yang disebut pawestren, yaitu sebagai tempat
bersembahyang bagi kaum wanita. Pada puncak atap masjid terdapat hiasan
kamuncak yang disebut mustaka.
Di bagian depan masjid terdapat serambi yang luas dan bersuasana teduh,
sedangkan di halaman masjid terdapat bangunan yang disebut pagongan,
tempat untuk menyimpan gamelan Sekaten yang digunakan sejak berabad-
abad lamanya untuk mengumpulkan masyarakat sekitar. Masjid Agung
Yogyakarta memiliki perpaduan arsitektur bernafaskan Islam dan Jawa.
Dibeberapa bagian masjid terdapat ukiran kayu dan tulisan aksara Jawa.
5. Tamansari
Tamansari adalah sebuah komplek yang berisi bangunan, kolam, kebun,
dan taman. Tamansari didirikan tahun 1765 Masehi oleh Sri Sultan
Hamengkubuwono I. Adapun fungsi Tamansari sebagai tempat berekreasi,
34
bercengkrama atau bersenang-senang Sri Sultan dengan seluruh keluarganya.
Peninggalan-peninggalan di dalam komplek Tamansari dapat dikategorikan
berupa gapura, gedung, kolam-kolam kecil, urung-urung dan kolam segaran.
B. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sebagai Pusat Pemerintahan dan Pusat
Kebudayaan Jawa
Keraton seringkali identik dengan istana, namun di sisi lain Keraton juga
secara implisit mengandung nilai keagamaan, filsafat, dan kultural. Jika merunut
perjalanan sejarah dari awal sampai berkembangnya Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat telah menunjukkan fungsinya sebagai pusat pemerintahan dan pusat
kebudayaan Jawa. Ini berarti Keraton telah memenuhi segi dimensi fungsional.
a. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai Pusat Pemerintahan
Keraton terdiri dari gedung-gedung (gedung yang berdinding), bangsal-
bangsal (gedung yang tidak berdinding). Masing-masing bagian dibatasi tembok
tinggi, tebal dan kokoh. Bangunan-bangunan yang terdapat dalam Keraton
mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam menempatkan kondisi Keraton
sebagai pusat pemerintahan. Dimana Sri Sultan Hamengkubuwono IX - Sri
Sultan Hamengkubuwonono X memimpin di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat, di sini Sri Sultan bertindak sebagai pemimpin pemerintahan yang
membawahi struktur organisasi Kasultanan yang hierarkis untuk memimpin
masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta merupakan daerah yang
diberi kewenangan istimewa untuk mengatur pemerintahan sendiri namun tetap
masuk kedalam wilayah Indonesia.
35
Pemerintahan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mempunyai
wewenang untuk mandiri dalam mengelola haknya sebagai daerah otonomi
dengan menjadikan Keraton sebagai pusat pemerintahan, layaknya negara yang
membawahi daerah-daerah yang masuk kedalam kekuasaannya.
Secara umum komplek Keraton mencakup beberapa bangunan, yaitu
bangunan depan dan bangunan dalam Keraton (Morisson, 2002 : 185). Bangunan
depan terdiri atas bangsal pagelaran yang diapit oleh bangsal pemandangan,
tempat raja menyaksikan prajurit Keraton melaksanakan latihan keprajuritan di
alun-alun, dan bangsal pengapit atau bangsal pasewakan, tempat Raja
memberikan perintah-perintah kepada para senapati. Selain itu, bangunan depan
juga memiliki bangsal pengrawit sebagai tempat Raja melantik patih dan pejabat
Kerajaan lainnya, dan siti hinggil sebagai tempat pelaksanaan upacara penobatan
Raja.
Memasuki bangsal besar siti hinggil suasana terasa begitu megah karena
dahulu di tempat ini dilakukan penobatan para Sultan Mataram, termasuk
penobatan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Di tengah-tengah bangsal besar itu
terdapat bangsal kecil yang terukir indah disebut bangsal manguntur tangkil yang
dipergunakan sebagai tempat singgasana Sultan.
Bangunan dalam Keraton terdiri atas antara lain Gapura Keraton yang
memiliki patung arca yang menyerupai Dwarapala pada sisi kiri dan kanannya.
Bangsal Kencono merupakan bangsal upacara kebesaran Keraton untuk
menerima tamu agung kerajaan, Bangsal Proboyekso digunakan untuk
36
menyimpan benda-benda pusaka Keraton, Kesatrian yaitu bangunan tempat
kediaman para putera Raja, Kaputren yaitu bangunan tempat kediaman puteri
Raja, Gedong Kuning yaitu merupakan kediaman pribadi Sultan beserta
keluarganya.
Pusat Keraton terletak pada aula kedatangan (bangsal kencono) yang
memiliki tiang penyangga besar dari kayu jati berukir dan langit-langit (plafon)
penuh dengan ukiran yang rumit. Pada langit-langit (plafon) terdapat hiasan,
diantaranya jenis suluran tumbuhan, patran, motif bunga (daun), kuncung
bermotif bunga padma dengan daun-daun bunganya berwarna merah (Punto H,
2001 : 84). Sebagian besar dari ruangan Keraton dipakai sebagai museum yang
menyimpan koleksi barang-barang Kerajaan yang sangat berharga, seperti
hadiah-hadiah yang diberikan oleh berbagai Kerajaan di Eropa, tempat pusaka
Kerajaan, serta instrumen musik gamelan.
b. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai Pusat Kebudayaan Jawa
Kebudayaan merupakan warisan sosial yang memiliki warga masyarakat
pendukungnya. Agar masyarakat pendukung terutama generasi mudanya
mempelajari hal tersebut ada beberapa cara dan mekanisme tertentu, antara lain
dengan penyelenggaraan upacara tradisi Keraton.
Upacara tradisional adalah suatu kegiatan sosial yang melibatkan para
warga masyarakat pendukungnya dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan
yang diharapkan. Upacara tradisional mengandung aturan-atuaran yang wajib
dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya.
37
Aturan-aturan tersebut tumbuh dan berkembang secara turun-temurun
sehingga mempunyai peranan dapat melestarikan ketertiban hidup dalam
masyarakat (Utomo, 2004 : 1). Mereka patuh terhadap peraturan-peraturan
tersebut karena adanya sangsi yang bersifat sakral dan magis. Dengan demikian,
upacara tradisional merupakan suatu pranata sosial yang tidak tertulis. Akan
tetapi, wajib dikenal dan dipatuhi oleh setiap warga untuk mengatur tingkah
lakunya, agar tidak menyimpang dari adat kebiasaan yang berlaku dalam
masyarakat.
Di samping sebagai pranata sosial, upacara tradisional juga sebagai alat
komunikasi antar sesama manusia dan antar dunia yang nyata dengan dunia yang
ghaib. Pemahaman sebagai alat komunikasi antara dunia nyata dengan dunia
ghaib akan lebih terlihat nyata melalui pemahaman simbol-simbol. Pesan-pesan
ajaran agama, nilai-nilai etis dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat,
dengan simbol-simbol disampaikan kepada seluruh warga masyarakat
pendukungnya. Sehingga upacara Tradisi Sekaten itu merupakan sarana
sosialisasi, terutama kepada generasi muda masyarakat pendukungnya yang
masih harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dalam kehidupan
masyarakat.
Upacara Tradisi Sekaten dilaksanakan tanggal 12 bulan Maulud Nabi
Muhammad SAW. Tujuan dilaksanakannya upacara ini untuk memenuhi fungsi
tiga dimensi penting yaitu kultural, religius, dan historis (Soelarto, 1996: 24).
38
Dengan harapan masyarakat penyelenggara Sekaten akan memperoleh nilai-nilai
budaya yang bermanfaat karena telah mematuhi norma dari para leluhurnya.
Orang Jawa adalah penduduk asli bagian Tengah dan Timur Pulau Jawa
yang berbahasa Jawa (Suseno, 2001 : 1). Dalam wilayah kebudayaan Jawa
sendiri dibedakan antara penduduk pesisir utara yang mempunyai hubungan
perdagangan, pekerjaan nelayan, dan pengaruh Islam lebih kuat menghasilkan
bentuk kebudayaan Jawa yang khas, yaitu kebudayaan pesisir, dan daerah-daerah
Jawa pedalaman, sering juga disebut “kejawen” yang mempunyai pusat budaya
dalam kota-kota Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta, termasuk Karesidenan
Banyumas, Kedu, Madiun, Kediri, dan Malang.
Orang Jawa sendiri membedakan dua golongan sosial : (1) wong cilik
atau orang kecil, terdiri dari sebagian besar masa petani dan mereka yang
berpendapatan rendah dikota, (2) kaum priyayi termasuk didalamnya pegawai
dan orang-orang intelektual. Kecuali itu masih ada kelompok ketiga yang kecil
tetapi tetap mempunyai prestise yang cukup tinggi, yaitu kaum ningrat atau
ndara (Suseno, 2001 : 12).
Kaum priyayi tradisional hampir seluruhnya harus dianggap Jawa
Kejawen, walaupun mereka secara resmi mengakui Islam (Suseno, 2001 : 13).
Mereka banyak berasal dari pengikut-pengikut paguyuban, yaitu kelompok-
kelompk yang mengusahakan kesempurnaan hidup manusia melalui praktek-
praktek asketis, meditasi, dan mistik. Kaum priyayi adalah pembawa kebudayaan
Kota Jawa tradisional yang mencapai tingkat sempurna khususnya di Keraton
39
Ngayogyakarta Hadiningrat (Suseno, 2001 : 13). Mereka juga mengembangkan
Tradisi leluhur “tradisi Sekaten” yang mengandung nilai religius dan tradisional
(Bernas, 13 Juni 2004). Kaum priyayi sebagai pembawa kebudayaan kota Jawa
tradisional yang mencapai tingkat sempurna di sekitar Keraton Yogyakarta
sampai sekarang masih mengembangkan bentuk kesenian, tradisi dan budaya
Jawa (Suseno, 2001 :13). Usaha pengembangan ini selaras dengan cita-cita
estetis dan religius zaman Hindu yang masih dijalankan oleh kaum priyayi.
Yogyakarta disebut kota Kerajaan karena merupakan ibukota bekas
kerajaan-kerajaan dan pada zaman sekarang tetap menjadi tempat
berkembangnya kebudayaan seni, tradisi Keraton, dan sastra Jawa (Suseno, 2001
: 12). Pertunjukkan gamelan, wayang kulit, lagu-lagu Jawa, dan tarian klasik
kerap diadakan disalah satu ruangan Keraton (Morisson, 2000 : 186).
Diantaranya ruangan yang dipakai untuk pertunjukkan gamelan namanya
Bangsal Srimanganti, Bangsal Kencono, dan Bangsal Mandalasana. Ruangan
untuk pertunjukkan wayang kulit namanya Bangsal Kencono dan Bangsal
Kemagangan. Sedangkan untuk pertunjukkan tarian klasik di Bangsal Kencono
dan Bangsal Ksatrian. Perannya yang dominan dalam sejarah Jawa telah
menjadikan kota ini sangat berpengaruh. Wibawa dan pengaruh Yogya sangat
luas jika dibandingkan dengan kota-kota lain. Yogya adalah kota yang bangga
dengan budaya dan tradisinya yang terpelihara selama ini.
Meskipun budaya Jawa dalam banyak hal masih nampak kental dalam
kehidupan masyarakat Yogyakarta, namun demikian masyarakatnya akomodatif
40
terhadap masuknya unsur-unsur budaya baru. Justru dalam keadaan yang
demikianlah, Yogyakarta menjadi sebuah daerah Istimewa yang cukup maju
dimana masyarakatnya mau mengadopsi unsur-unsur luar yang tidak merugikan,
tetapi tanpa harus meninggalkan unsur-unsur budaya miliknya sendiri.
Perkembangan zaman dan semangat baru yang hendak diemban oleh
Keraton Yogyakarta menuntut “kelegawaan dan kejembaran” pikiran untuk
melaksanakannya. Sebagai salah satu dari keragaman tradisi Keraton, Sekaten-
pun harus bisa dijadikan tuntunan dan tontonan, keduanya harus tetap
berdasarkan pada tujuan semula diadakannya perayaan Sekaten. Jangan sampai
kepercayaan masyarakat yang telah mengakar dikaburkan oleh penonjolan unsur
tontonannya. Perayaan Sekaten tidak boleh semena-mena, spiritnya harus dijaga
antara perimbangan dan proporsi keduanya (tuntunan dan tontonan) harus
terjaga.
Suasana tradisional Jawa merupakan ciri Yogya yang sangat kuat.
Yogyakarta dipimpin oleh seorang Sultan yang memiliki istana (Keraton) yang
menjadi pusat kehidupan tradisional masyarakat Jawa (Morisson, 2002 : 180). Di
sinilah bahasa Jawa yang paling halus dituturkan (Kromo Inggil) dan dari sinilah
adat dan tradisi Jawa lahir dan dikembangkan. Yogya adalah tempat yang paling
bagus bagi mereka yang tertarik dengan tradisi dan budaya Jawa dan ingin
mempelajarinya, karena di Yogya terdapat Keraton sebagai tempat pusat
kebudayaan Jawa berkembang.
41
42
42
BAB III
KEHIDUPAN ABDI DALEM PADA MASA PEMERINTAHAN SRI
SULTAN HAMENGKUBUWONO IX – SRI SULTAN
HAMENGKUBUWONO X
Abdi Dalem sebagai organisasi sosial di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat masa pemerintahan Hamengkubuwono IX – Hamengkubuwono X
selama ini telah menjalankan fungsinya dan berperan dalam pengembangan
Kebudayaan dan Tradisi Keraton seperti Sekatenan.
Jika melihat teori Fungsionalisme Struktural oleh Talcott Parsons
yang mengemukakan pandangan bahwa setiap sistem masyarakat tersusun dari
komponen-komponen yang terintegrasi secara baik. Dimana setiap komponen-
komponen dalam sistem mempunyai fungsi, yaitu memberikan kontribusi
terhadap pemeliharaan keutuhan dari sebuah sistem (Pelly, 1994 : 60). Mereka
mempunyai hubungan yang terdiri dari komponen-komponen yang saling
berhubungan. Jika dihubungkan dengan teori tersebut, maka Abdi Dalem di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan komponen-komponen dari
sistem di Keraton. Sebagai komponen dari sistem yang menempati lapis ketiga
dalam susunan kelas di Keraton, Abdi Dalem bekerja pada administrasi
Kasultanan maupun pemerintahan. Abdi Dalem bekerja di Keraton dengan
prinsip sukarela, artinya mereka bekerja atas kemauan sendiri dengan jumlah
honor yang sangat kecil. Mereka bekerja dengan tujuan untuk mencari berkah
dalem Keraton (Mulyani, 2000 : 160).
Sepanjang perjalanan sejarah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,
Abdi Dalem berperan dalam pengembangan kebudayaan dan tradisi Keraton.
43
Sehingga Sri Sultan sangat memperhatikan sekali kehidupan Abdi Dalem
walaupun tidak dalam bentuk materi.
Abdi Dalem lebih cenderung pada orientasi pengabdian terhadap
Sultan. Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berasal dari rakyat
biasa dan dari Pegawai Pemda DIY yang memang mengabdikan diri pada
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Mulyani, 2000 : 36).
A. Abdi Dalem Masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Hamengkubuwono IX memerintah sejak tanggal 18 Maret 1940-3
Oktober 1988. Di dalam Keraton beliau adalah seorang Raja yang tetap
menjunjung tinggi semua adat istiadat, etika, falsafah, yang berlaku di Keraton
sejak lebih dari 200 tahun silam (Mulyani, 2000 : 30). Dalam tata krama bagi
kerabat Keraton dan Abdi Dalem masih tetap berlaku tradisi Jawa seperti cara
berpakaian adat Jawa. Abdi Dalem masih tetap mengenakan baju pranakan
yang dilengkapi dengan samir, ikat kepala dan keris (Mulyani, 2000 : 30-31).
Suasana di kantor Yogya berbeda dengan pemerintahan modern lain,
Abdi Dalem duduk bersila di atas pasir yang memakai alas tikar dan ada yang
tidak memakai alas. Mereka menggunakan bahasa Jawa yang paling halus
untuk dituturkan (Kromo Inggil) dengan sangat egaliter. Penjaga pintu
gerbang Keraton tetap berpenampilan tradisional dengan perlengkapan dan
senjata lama, seperti : tombak, pedang, dan keris. Abdi Dalem sebagai
pegawai Keraton melakukan tugas dengan penuh disiplin dan setia serta
menjunjung budaya dan tradisi Keraton Yogyakarta (Mulyani, 2000 : 31).
44
Abdi Dalem merupakan suatu pengabdian terhadap tuan atau
majikannya. Sedangkan arti Abdi Dalem Keraton Yogyakarta bagi mereka
merupakan suatu pengabdian para Abdi Dalem sebagai abdining kanjeng
sinuwun, yaitu abdinya Sultan, dan dapat diartikan sebagai suatu kesetiaan
kepada Sultan dan penguasa alam ini, setia terhadap yang menguasai keadaan
alam ini dan setia dengan penguasa yang dapat diartikan sebagai Raja Keraton
Yogyakarta (Afrianto, 2002 : 39).
“ Abdi Dalem menika abdining kanjeng sinuwun, inggih menika setia
kalian sing nguasai kawontenan, setia kalian penguasa, nyuwun intisarinipun
injih menika bibit lan bobot” ( Wawancara dengan KMT Widyoseputro, 10
April 2005).
Menjadi Abdi Dalem di Keraton harus melalui proses dan seleksi
ketat. Jabatan Abdi Dalem diperoleh seseorang setelah berhasil melalui seleksi
yang pada awalnya dimulai dengan kegiatan magang tanpa mendapat gaji.
Seseorang yang orang tuanya telah bekerja sebagai Abdi Dalem akan diterima
bekerja di Keraton dengan seleksi dan syarat yang tidak begitu sulit.
Persyaratannya yaitu harus bisa berbahasa Jawa dengan baik, sopan santun di
dalam tindakan, dan dapat disiplin. Selanjutnya dalam penempatannya
disesuaikan dengan pekerjaan dan keahlian masing-masing. Sulitnya untuk
menjadi Abdi Dalem di Keraton terletak pada kegiatan magang tanpa
mendapat gaji dan harus membeli perlengkapan sendiri (pakaian, sinjang atau
jarik, samir dan sebagainya) tanpa disediakan oleh Keraton, di sini seseorang
bisa diterima menjadi Abdi Dalem di Keraton harus diuji ketulusan hatinya
untuk mengabdi terhadap Keraton.
45
a. Struktur Organisasi dan Tugas Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat
Ngarso
Dalem
Sekretaris KH.
Sriwandono
Parentah Hageng
Keraton
Tepas Magang
Dwarapura
Koordinator I Koordinator II Koordinator III Koordinator Kordinator V
1. [Link] [Link]. [Link]. Purorekso IV [Link]
2. KWD. Pengulon Widyobudoyo [Link] [Link] Para Gusti
3. TepasDarah [Link]. Sarto Kriyo Rantamarto [Link]
Dalem .Kridomardowo [Link] [Link] Puteri
4. Kalurahan [Link]. Halpitopuro Danartopuro
Benawan Puroyokoro [Link] [Link]
5. Kalurahan [Link] Keprajuritan Witandono
Pangeran Banjarwilopo [Link] Scurity
Hadikusuman [Link] Museum
[Link]
6. Kabupaten [Link]
Puroloyo Imogiri Pariwisata
7. Kabupaten
Puroloyo
Kithaageng
Sumber : Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
46
Dengan melihat teori Fungsionalisme Struktural “Talcott Parsons”
dalam bukunya Usman Pelly (1994 : 60), yang mengemukakan pandangan
bahwa setiap sistem masyarakat terdiri dari komponen-komponen atau unsur-
unsur yang terintegrasi secara baik. Sistem harus mengatur antar hubungan
komponen-komponen yang menjadi bagiannya (Ritzer dan Goodman, 2004 :
121). Jika dihubungkan dengan teori tersebut, dengan melihat bentuk bagan
maka Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibagi dalam
komponen-komponen yang menjalankan kerja dibawah koordinator
Pengageng. Setiap komponen mempunyai tugas masing-masing yang pada
hakekatnya menjadi bagian dari sistem di Keraton . Terlihat sekali bentuk
sistem yang dinamis tersusun secara hierarkis.
Jika dilihat dari bentuk bagan, maka Abdi Dalem masuk dalam
sistem yang paling bawah. Mereka bekerja dibawah koordinir Pengageng.
Pengageng membawahi personalia dari setiap tepas (kantor) dan caos (piket).
Struktur sistem tersebut menunjukkan bahwa permasalahan yang ada
di Keraton cukup banyak dan rumit. Oleh karena itu dibuat koordinator yang
masing-masing membawahi bagian kerja yang saling berkaitan. Masing-
masing bagian itu memiliki carik (sekretaris) yang bertugas dalam :
• Mengelola pembagian gaji
• Mengelola absensi
• Mengelola jalannya bagian kerja
• Menerima dan melayani tamu
• Melaksanakan tugas dan kesekretariatan
47
Masing-masing Kawedanan Hageng, tepas dan koordinator dipimpin
oleh kerabat Sultan. Sementara itu, pelaksana tugas masing-masing
kawedanan dan tepas tersebut dilaksanakan oleh pegawai Keraton yaitu Abdi
Dalem.
Dari bagan struktur organisasi tersebut, masing-masing komponen
memiliki tugas sebagai berikut :
• Ngarso Dalem yaitu pemegang kekuasaan tertinggi, penguasa
tunggal.
• Kawedanan Hageng Sri Wandono yaitu sekretariat
pemerintahan.
• Parentah Hageng Keraton yaitu mengkoordinir seluruh
komponen yang ada di Keraton. Dalam hal ini berkaitan
dengan tugas Abdi Dalem, yaitu :
Kawedanan Hageng Punokawan (KHP)
Widyobudoyo bertugas dalam bidang kebudayaan.
KHP. Purorakso bertugas dalam bidang keamanan.
KHP. Kridhomardowo bertugas dalam bidang
kesenian.
KHP. Purakoro bertugas dalam bidang
perbendaharaan (menjaga dan memelihara pusaka
Keraton).
KHP. Wahono Sarto Kriyo bertugas dalam bidang
transportasi dan pekerjaan (tenaga).
Tepas Rantamarto bertugas dalam bidang
perencanaan keuangan.
48
Tepas Danartopuro bertugas dalam bidang
penerimaan, pengeluaran, dan penyimpanan uang.
Tepas Halpitopuro bertugas dalam bidang
pembelanjaan seluruh kebutuhan.
Tepas Dwarapuro bertugas dalam bidang penghubung
Keraton dengan pihak-pihak luar Keraton.
Tepas Darah Dalem bertugas dalam pemberian gelar
keturunan.
Tepas Banjarwilopo bertugas dalam bidang penataan
buku-buku tidak termasuk manuskrip.
Tepas Pariwisata bertugas dalam bidang pelayanan
terhadap para wisatawan.
Tepas Keprajuritan bertugas sebagai kelengkapan
kebesaran Keraton, bukan untuk berperang.
Kawedanan Pengulon bertugas dalam bidang
keagamaan.
Kabupaten Puroloyo Kitho Ageng bertugas menjaga
makam kerabat Raja di Kotagede.
Kabupaten Puroloyo Imogiri bertugas menjaga
makam kerabat Raja di Imogiri.
Babadan Wiratama bertugas dalam bidang
kesejahteraan (asuransi).
49
Babadan Museum bertugas menjaga dan memelihara
museum. Setiap bidang dikoordinir oleh Sentana
Dalem yang memiliki beberapa staf yang terdiri dari
Abdi Dalem dari tingkat terendah sampai tingkat
tertinggi.
Di Keraton Yogyakarta, para Abdi Dalem mengerjakan berbagai
tugas- tugas dengan ikhlas dan penuh rasa tanggung jawab terhadap
pemimpinnya yaitu Sultan. Abdi Dalem Keraton Yogyakarta jumlahnya
mencapai ribuan orang bahkan lebih dengan berbagai tugas dan
pengabdiannya masing-masing. Oleh karena itu Abdi Dalem Keraton
Yogyakarta dibagi dalam beberapa jenis serta tugasnya (Afrianto, 2002 : 40),
yaitu :
1. Abdi Dalem Punokawan
Yaitu Abdi Dalem yang berasal dari rakyat biasa bukan Pegawai
Pemda DIY. Mereka sengaja ingin mengabdikan diri di Keraton
Yogyakarta dan Sri Sultan.
Abdi Dalem Punokawan dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Abdi Dalem Punokawan Sowan
Yaitu para Abdi Dalem punokawan yang bertugas di tepas
(kantor), setiap hari masuk kerja pada pukul 09.00-14.00,
kecuali hari libur.
50
b. Abdi Dalem Punokawan Caos
Yaitu Abdi Dalem Punokawan yang masuk kerja hanya selang
3 hari sekali, 7 hari sekali, 10 hari sekali, dan 12 hari sekali
dalam setiap bulannya. Abdi Dalem ini bertugas menjaga
beberapa tempat selama satu hari satu malam, yaitu : di Regol
Keben, Regol Taman, Regol Magangan, Dan Regol Gapuro.
2. Abdi Dalem Keparak
Yaitu Abdi Dalem perempuan yang umumnya menunaikan
kewajibannya di Keraton kilen (keputren). Abdi Dalem Keparak
umumnya bertugas menyiapkan piranti seperti sesaji kalau ada acara-
acara Upacara Keraton. Seperti pada Upacara Miyos Dalem dalam
rangkaian Sekaten Abdi Dalem Keparak membuat udik-udik
(Wawancara dengan Ny KRT Tejonegoro, 19 April 2005).
Selain Abdi Dalem menjalankan tugas di dalam Keraton, Sri Sultan
juga memberi kebebasan para Abdi Dalem untuk bekerja di tempat-tempat
lain. Seperti halnya pada Abdi Dalem caos yang hanya bekerja di Keraton
pada hari-hari tertentu saja sesuai dengan jadwal piketnya dapat menggunakan
sisa waktunya untuk bekerja di luar Keraton (ada yang sebagai pegawai
kantor, tukang kayu, penjahit, pedagang dan masih banyak yang lainnya)
asalkan kewajibannya bekerja di Keraton dipenuhi dulu. Kebijaksanaan ini
dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga Abdi Dalem sendiri
(Wawancara dengan KRT Rintaiswara, 10 April 2005).
51
b. Jam Kerja Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Sesuai jam kerjanya maka ada dua macam jam kerja dari Abdi
Dalem, diantaranya :
a) Abdi Dalem yang bertugas di tepas (kantor), setiap hari
masuk kerja dari pukul 09.00-14.00 WIB, kecuali hari
libur.
b) Abdi Dalem yang bertugas di caos (piket), tidak setiap
hari masuk kerja, Ada yang 3 hari sekali, 7 hari sekali, 10
hari sekali, dan 12 hari sekali dalam tiap bulannya.
Selain Abdi Dalem yang berseling kerjanya, juga ada Abdi
Dalem caos yang bekerja tiap hari yaitu Abdi Dalem caos
kantoran dibagian Pariwisata (Wawancara dengan KRT
Rintaiswara, 10 April 2005).
c. Besar Gaji Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Abdi Dalem bekerja dengan prinsip sukarela, artinya mereka mau
melakukan pekerjaan apa saja atas kemauan sendiri dengan gaji yang sangat
kecil. Mereka bekerja di Keraton dengan prinsip rame ing gawe sepi ing
pamrih untuk mendapat berkah dalem (Wawancara dengan MW Mandoyo
Citrolumakso,10 April 2005).
52
Adapun besar gaji Abdi Dalem periode akhir pemerintahan Sri
Sultan Hamengkubuwono IX, antara lain :
Gaji Bagi Abdi Dalem yang Bekerja di Tepas (Kantor)
No Pangkat Besarnya Gaji Per Bulan
1 Jajar Rp 150,00
2 Bekel Enom Rp 550,00
3 Bekel Tuwa Rp 750,00
4 Lurah Rp 1.450,00
5 Wedana Rp 2.750,00
6 Riyo Bupati Rp 2.950,00
7 Bupati Rp 3.150,00
8 Bupati Enom Rp 3.550,00
9 Bupati Kliwon Rp 4.000,00
10 Bupati Nayaka Rp 4.500,00
11 Kanjeng Pangeran Harya Rp 5.000,00
Gaji Bagi Abdi Dalem yang Bekerja di Caos (Piket)
No Pangkat Besarnya Gaji Per Bulan
1 Jajar Rp 60,00
2 Bekel Enom Rp 350,00
3 Bekel Tuwa Rp 450,00
4 Lurah Rp 550,00
53
5 Wedana Rp 650,00
6 Riyo Bupati Rp 750,00
7 Bupati Enom Rp 1.500,00
8 Bupati Rp 1.900,00
9 Bupati Kliwon Rp 2.400,00
10 Bupati Nayaka Rp 2.650,00
Sumber : Tepas Rantamarto Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Secara lahiriah jika dilihat besar gaji Abdi Dalem dari Keraton tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Abdi Dalem dan
keluarga, tetapi mereka tetap mau bekerja di Keraton. Adapun gambaran
hidup Abdi Dalem untuk bekerja di Keraton adalah :
a) Among Atmo Sumbogo (hidup mati dekat keraton).
b) Condro Boto (pelaksana pedaleman Keraton Yogyakarta).
c) Walijo (berkah setelah mengabdi di Keraton).
d) Medi Oetomo (madep mantep mengabdi terhadap Sultan).
d. Pangkat Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Golongan Abdi Dalem adalah semua pejabat Keraton dari tingkat
tertinggi sampai terendah yang bertugas membantu para bangsawan dalam
menjalankan tugasnya. Golongan Abdi Dalem terbentuk karena alasan
kepangkatan atau jabatan dengan sifat terbuka, artinya siapa saja dapat
menjadi Abdi Dalem dan bisa berubah kedudukannya karena kenaikan
pangkat. Pada masa Hamengkubuwono IX Abdi Dalem dan para bangsawan
yang mengabdi di Keraton memperoleh pangkat, kedudukan, dan gaji pepetan.
54
Kepangkatan Abdi Dalem masa pemerintahan Hamengkubuwono IX
berubah tidak tentu tergantung dari kerajinan, ketekunan, dan keberuntungan
Abdi Dalem. Jika Abdi Dalem bekerja sesuai tata tertib Keraton dan tidak
mempunyai kesalahan dalam menjalankan tugas maka pangkatnya ada
kenaikan sesuai jabatannya,tetapi tugasnya di Keraton tetap. Disisi lain jika
Abdi Dalem rajin bekerja maka Sri Sultan akan mempercepat Kenaikan
pangkatnya. Pada Hamengkubuwono IX pangkat Abdi Dalem naik setelah 4
atau 5 tahun mengabdi di Keraton (Wawancara dengan MW Mandoyo
Citrolumakso, 10 April 2005 ).
Namun jika Abdi Dalem berbuat kesalahan akan dipindahkan
ketugas yang lebih rendah. Itu tergantung dari kesalahannya, namun jika
kesalahannya parah sampai membuat citra Keraton menjadi buruk maka Abdi
Dalem akan dikeluarkan.
e. Tempat Tinggal Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Mengenai tempat tinggal Abdi Dalem, Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat memberi tanah untuk ditempati oleh Abdi Dalem yang masih
keturunan Keraton atau darah biru tapi tidak boleh dijual. Sedangkan untuk
Abdi Dalem yang bukan keturunan Keraton tinggal diluar tanah Keraton
(perumahan) yang diberi nama tanah Magersari.
Masa Hamengkubuwono IX tempat tinggal Abdi Dalem kebanyakan
diluar Keraton.
55
f. Perhatian Sri Sultan Hamengkubuwono IX terhadap Abdi Dalem
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan ekonomi Abdi
Dalem, Sri Sultan mendirikan lembaga pendidikan, yaitu :
1. Pedalangan Wayang Kulit yang diberi nama Habiranda.
Melalui lembaga pendidikan pedalangan tersebut telah banyak
meluluskan dalang dari Abdi Dalem. Banyak Abdi Dalem yang
merangkap pekerjaan, selain bekerja di Keraton juga berprofesi
sebagai dalang baik di Keraton maupun diluar sebagai dalang
panggilan, dengan demikian pendapatan ekonomi Abdi Dalem menjadi
bertambah.
2. Pendidikan Karawitan (menabuh gamelan).
3. Pendidikan Nyinden (lagu tradisional Jawa).
Pada masa pemerintahannya, sebagai bentuk perhatian Sri Sultan
Hamengkubuwono IX pernah juga memberi sesuatu terhadap Abdi
Dalem, antara lain :
a. Selama Sri Sultan Hamengkubuwono IX memerintah sudah tiga
kali memberi jarik atau sinjang terhadap seluruh Abdi Dalem
Keraton.
b. Memberi sembako dan uang zakat terhadap Abdi Dalem ketika
menjelang lebaran, dari jabatan tertinggi sampai terendah
semuanya mendapatkan.
c. Memberi sepeda sebagai inventaris bagi seseorang Abdi Dalem.
Ada juga pemberian sepeda bagi tiap tepas (kantor) untuk
memperlancar administrasi Keraton.
56
B. Abdi Dalem Masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono X
Hamengkubuwono IX meninggal dunia bulan Oktober 1988, ia
digantikan Pangeran Mangkubumi putera tertua dari 16 anak laki-laki
kemudian dilantik sebagai Sultan Hamengkubuwono X.
Sri Sultan Hamengkubuwono X menyandang tiga substansi yang
bersumber dari makna Hamangku, Hamengku, dan Hamengkoni (Mulyani,
2000 : 34).
Makna hamangku diaktualisasikan dengan membebaskan hati
dengan lebih banyak memberi daripada menerima (hakikat berbudi bawa
laksana). Hamengku mengandung makna ngemong (hangrengkuh),
melindungi tanpa membeda-bedakan golongan keyakinan dan agama (hakikat
ambeg adil paramarta). Hamengkoni mengandung makna pengayom yang siap
berdiri paling depan menjadi anutan dan tampil mengambil tanggung jawab
dengan segala resikonya atau ing ngarso sung tulodho (Mulyani, 2000 : 34).
a. Struktur Organisasi dan Tugas Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat
Sistem pemerintahan di Keraton Yogya dari Hamengkubuwono IX
– Hamengkubuwono X pada dasarnya banyak kesamaan, karena yang
dijalankan bentuk pemerintahan generatif secara turun-temurun. Berbeda
sekali dengan pemerintahan moderat seringkali terjadi perubahan
organisasi pemeritahannya.
Jika dibandingkan antara pemerintahan Hamengkubuwono IX dan
Hamengkubuwono X banyak sekali persamaannya. Baik pada organisasi
57
pemerintahannya maupun tugas dari Abdi Dalem banyak terdapat
kesamaan. Sedangkan perbedaannya terletak pada masa
Hamengkubuwono X yang memperbolehkan Keraton untuk menerima
Abdi Dalem Keprajan. Jadi masa Hamengkubuwono X ada tiga jenis Abdi
Dalem Keraton menurut jenis dan tugasnya (Afrianto, 2002 : 40), yaitu :
1. Abdi Dalem Punokawan
Yaitu : Abdi Dalem yang berasal dari rakyat biasa
bukan Pegawai Pemda DIY, yang memang sengaja ingin
mengabdikan diri di Keraton Yogyakarta dan Sri Sultan.
2. Abdi Dalem Keparak
Yaitu : Abdi Dalem perempuan yang umumnya
menunaikan kewajibannya di Keraton kilen (keputren).
3. Abdi Dalem Keprajan
Yaitu : Abdi Dalem yang berasal dari Pegawai
Pemerintah Propinsi DIY. Abdi Dalem Keprajan ini
terbagi dalam dua bagian, yaitu :
i. Abdi Dalem Keprajan Aktif
Yaitu : Abdi Dalem keprajan yang masih aktif di
Pemda DIY namun sesekali bertugas di Keraton Yogya,
misalnya : Wali Kota Kodya Yogyakarta dan Bupati
Gunung Kidul.
58
ii. Abdi Dalem Keprajan Caos Bekti
Yaitu : Abdi Dalem Keprajan yang sudah pensiun
dari Pemda DIY tetapi menunaikan kewajiban sowan
bekti setiap selang 12 hari pada jam 09.00-12.00.
Abdi Dalem Keprajan yang masih aktif bekerja dan
yang sudah pensiun ketika pertama kali bekerja di
Keraton pangkatnya Wedono tanpa mengawalinya
dengan proses magang. Khusus untuk Anggota Polri dan
TNI, ketika sudah menjadi Abdi Dalem pangkatnya
disamakan dengan PNS.
b. Jam Kerja Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Sebenarnya lama jam kerja Abdi Dalem pemerintahan
Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X sama. Perbedaannya
hanya karena masa pemerintahan Hamengkubuwono X membuka Keraton
untuk dunia luar, maka banyak wisatawan dalam dan luar negeri yang
berkunjung ke Keraton. Bagian tepas pariwisata yang semula buka jam
09.00 dan tutup jam 14.00 WIB, kalau ada pengunjung tetap melayani
pengunjung sebagai guide sementara kantornya sudah tutup (Wawancara
dengan KRT Rintaiswara, 19 April 2005). .
Abdi Dalem guide di Keraton berbeda dengan guide yang berada
ditempat wisata pada umumnya, karena kebanyakan mereka memandu
pengunjung dengan penuh ikhlas tanpa mengharap imbalan. Dan jika ada
pengunjung yang memberi uang tip untuk Abdi Dalem guide maka mereka
59
akan menerima apa adanya tanpa meminta tambahan lagi. Semua itu
karena pengabdian yang tulus, walaupun mereka harus mendapat
tambahan jam kerja (Wawancara dengan KRT Rintaiswara, 19 April
2005).
c. Besar Gaji Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Dengan menyesuaikan situasi dan kondisi perkembangan zaman,
Sri Sultan mengeluarkan peraturan kenaikan gaji Abdi Dalem walaupun
masih belum sesuai UMR. Pada hakekatnya kenaikan gaji ini nilainya
sama dengan masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX hanya
perbedaan zamannya saja.
Secara moral ini menjadi wujud perhatian Sri Sultan kepada Abdi
Dalem yang mengabdi di Keraton (Mulyani, 2000 : 35).
Gaji untuk Abdi Dalem diperoleh dari sumber dana yang berasal
dari subsidi pemerintah, hasil pariwisata, dan usaha-usaha Keraton (pabrik
gula, pabrik rokok, hotel dan lain sebagainya). Bagi Abdi Dalem yang
bekerja setiap hari di tepas mendapat gaji bulanan tetap dari Keraton.
Termasuk di dalamnya Abdi Dalem yang bekerja di sekretariat KHP, tepas
dan caos. Selain itu juga ada Abdi Dalem Koncobiru yang setiap hari
berangkat dan pekerjaannya membersihkan lingkungan Keraton.
Ada juga gaji harian yang diperoleh Abdi Dalem bagian tepas
pariwisata yang bertugas sebagai pemandu wisata. Ini tergantung jumlah
wisatawan yang dipandu setiap harinya.
60
Adapun besar gaji Abdi Dalem periode awal pemerintahan
Hamengkubuwono X (1989-sekarang), antara lain :
Gaji Abdi Dalem yang Bekerja di Kantor (Tepas)
No Pangkat Besarnya Gaji Per Bulan
1 Jajar Rp 4.600,00
2 Bekel Enom Rp 5.800,00
3 Bekel Tuwa Rp 6.900,00
4 Lurah Rp 8.800,00
5 Wedana Rp 13.300,00
6 Riyo Bupati Rp 15.900,00
7 Bupati Rp 19.000,00
8 Bupati Enom Rp 21.000,00
9 Bupati Kliwon Rp 25.000,00
10 Bupati Nayaka Rp 30.000,00
11 Kanjeng Pangeran Harya Rp 35.000,00
Gaji Bagi Abdi Dalem yang Bekerja di Caos (Piket)
No Pangkat Besarnya Gaji Per Bulan
1 Jajar Rp 2.300,00
2 Bekel Enom Rp 3.500,00
3 Bekel Tuwa Rp 4.600,00
4 Lurah Rp 5.600,00
61
5 Wedana Rp 7.800,00
6 Riyo Bupati Rp 8.800,00
7 Bupati Enom Rp 12.700,00
8 Bupati Rp 16.000,00
9 Bupati Kliwon Rp 21.000,00
10 Bupati Nayaka Rp 22.500,00
Sumber : Tepas Rantamarto Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Selain sistem gaji ada juga sistem pengupahan berupa pemberian
sejumlah uang bagi Abdi Dalem yang mendapat tugas sebagai utusan dari
Keraton seperti menerima dan melayani tamu Sri Sultan baik yang datang
secara individu maupun rombongan, sebagai utusan Keraton dalam
pameran kesenian dan budaya serta menjadi utusan Keraton dalam ajang
kesenian dan budaya baik dalam maupun luar negeri. Masa
Hamengkubuwono X juga ada pengupahan yang bersifat insidental. Sesuai
kebijakan Sri Sultan yaitu naik haji bagi Abdi Dalem atas biaya Keraton.
Jika diperhatikan secara umum sistem pengupahan di Keraton
hampir sama dengan pemerintahan modern tetapi penerapannya lebih
sederhana. Artinya gaji pokok tidak sesuai dengan jumlah UMR yang
diterapkan pemerintah. Ini karena pengabdian terhadap Sultan lebih
diutamakan dibanding orientasi komersial. Pembagian gaji pokok dari
Keraton “paring dalem” untuk kerabat Keraton dan Abdi Dalem setiap
bulan
62
disesuaikan dengan jenjang kepangkatan atau gelar (Wawancara dengan
KRT Suryoseputro, 10 April 2005).
d. Pangkat Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Setelah pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono X, kenaikan
pangkat Abdi Dalam ditentukan tiga tahun sekali untuk Abdi Dalem yang
bertugas di tepas (kantor) dan lima tahun sekali untuk Abdi Dalem caos
(piket). Selain itu diikuti dengan persyaratan dari Abdi Dalem itu sendiri
yang memiliki kriteria seperti rajin bekerja, tekun dan berprestasi.
Mengenai kenaikan pangkat terdapat kesamaan antara
Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X, yaitu ada dua sistem
kenaikan pangkat :
1. Kenaikan yang tetap (reguler)
Kenaikan yang didasarkan pada bektinya terhadap pekerjaan
Keraton.
2. Kenaikan yang spesial
Kenaikan yang diperoleh karena pemberian Sri Sultan, dimana
Abdi Dalem tersebut rajin bekerja sehingga membuat Keraton
menjadi maju. Sedangkan kenaikan yang lain diberikan terhadap
Abdi Dalem yang cacat tapi masih mau mengabdi di Keraton.
Kepercayaan mengabdi terhadap Keraton membuat banyak orang
berminat bekerja sebagai Abdi Dalem. Mereka yakin lingkungan
tempat tinggal mereka tidak bisa merubah kehidupan sosial ekonomi
mereka,
63
namun yang menyebabkan terjadinya perubahan pada Abdi Dalem
adalah setelah mereka bekerja sebagai Abdi Dalem di Keraton.
Mengenai Abdi Dalem masa pemerintahan Hamengkubuwono X
sebenarnya hampir sama dengan Abdi Dalem masa pemerintahan
Hamengkubuwono IX.
Selain pemberian kenaikan pangkat, pada pemerintahan
Hamengkubuwono X juga melakukan penghentian terhadap Abdi
Dalem. Hal ini belum pernah dilakukan oleh pemerintahan
sebelumnya. Adapun Abdi Dalem yang dikeluarkan pada
Hamengkubuwono X karena hal-hal sebagai berikut :
1. Pocot : Abdi Dalem melakukan kesalahan yang
besar.
2. Miji tumpuk : Abdi Dalem yang dikeluarkan karena
berbuat kesalahan, dimana jarang masuk tetapi masih
tercantum namanya dan pangkatnya tidak naik.
3. Miji mulyo : Abdi Dalem yang tidak masuk kerja di
Keraton tetapi masih mendapat gaji. Misalnya : Abdi
Dalem yang telah lanjut usia.
e. Tempat Tinggal Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Pada pemerintahan Hamengkubuwono X hampir semua Abdi Dalem
tinggal diluar tanah Keraton. Tanah Keraton hanya ditempati oleh Abdi Dalem
keturunan kerabat Keraton (darah biru).
64
Berkaitan dengan tempat tinggal Abdi Dalem pada pemerintahan
Hamengkubuwono X ada pemberian tunjangan berupa peminjaman hak pakai
tanah milik Keraton (tanah magersari), bahkan dapat pula diberikan hak
pemilikan tanah namun harus didahului dengan surat permohonan.
f. Perhatian Sri Sultan Hamengkubuwono X terhadap Abdi Dalem
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Secara sepintas perhatian Hamengkubuwono X ada kesamaan
dengan Hamengkubuwono IX. Tetapi jika dilihat dari bentuk materi Abdi
Dalem masa Hamengkubuwono X lebih sering menerima berkah dalem dari
Sri Sultan, diantaranya :
a. Setiap Abdi Dalem mendapat kain batik yang coraknya
berbeda-beda disesuaikan dengan tepas (kantor) dan caos
(piket) tetapi harganya sama.
b. Selama Hamengkubuwono X memerintah sampai sekarang
sudah empat kali memberi jarit atau sinjang terhadap
seluruh Abdi Dalem Keraton. Termasuk pemberian ketika
puteri sulung Sri Sultan menikah.
c. Setiap Abdi Dalem mendapat baju pranakan dengan corak
sama (satu kali).
d. Sepeda sebagai inventaris bagi Abdi Dalem dan ada lagi
untuk setiap tepas (kantor). Ini untuk memperlancar
kegiatan administrasi di Keraton.
65
e. Sembako dan uang zakat ketika menjelang lebaran (Abdi
Dalem dari jabatan tertinggi sampai terendah semuanya
dapat).
Ada beberapa hal yang dilakukan Hamengkubuwono X ketika
memerintah di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Beliau melakukan
perubahan organisasi intern Keraton yang belum sempat dilakukan oleh
almarhum ayahandanya. Misalnya : Membuka Keraton untuk dunia luar
termasuk berbagai kesenian dari luar Keraton yang dipadukan dengan
kesenian dalam Keraton. Jadi Keraton selain berfungsi sebagai tempat
bersemayam raja-raja dan ratu-ratu, pusat pemerintahan, pusat kebudayaan
juga berfungsi sebagai objek wisata. Suatu predikat tambahan, sehingga
Keraton Yogya mengemban empat fungsi sekaligus (Keraton : 9).
Adanya perubahan ini maka keluarga Keraton termasuk Abdi Dalem
merasakan perubahan yang sangat bermanfaat sekali. Khususnya untuk Abdi
Dalem tepas pariwisata. Jika pengunjungnya banyak, mereka akan mendapat
tambahan uang tip. Pada Hamengkubuwono X terjadi perubahan yang sangat
drastis. Keraton tidak lagi mempunyai banyak pujangga, mereka lebih banyak
mengembangkan ide-idenya diluar Keraton.
Dari uraian pada bab ini dapat disimpulkan, bahwa Abdi Dalem di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat masa pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X banyak sekali
persamaannya. Perbedaannnya ada tapi tidak begitu signifikan.
66
A. Persamaan Antara Abdi Dalem Masa Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X
1. Organisasi dan Tugas Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat
Struktur organisasi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
masa Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X banyak
terdapat kesamaan. Pada bagian tiap tepas termasuk caos
dikoordinir oleh Pengageng Keraton yang bertanggung jawab
terhadap kinerja dan tugas dari setiap kelompok Abdi Dalem.
Tugas Abdi Dalem masa Hamengkubuwono IX dan
Hamengkubuwono X masih tetap sama. Masing-masing kelompok
Abdi Dalem mempunyai tugas sesuai dengan tepas (kantor) dan
caos (piket) yang tetap, sesuai tugas yang mereka dapatkan ketika
mereka pertama kali bekerja atau mengabdi terhadap Ngarso
Dalem. Perlu diketahui juga bahwa tugas Abdi Dalem selalu tetap
tapi pangkatnya ada kenaikan. Sangat jarang sekali ada Abdi
Dalem yang pindah ke tepas atau ke caos lain. Kalaupun ada itu
hanya karena kejadian istimewa saja.
Pada dasarnya Abdi Dalem yang masuk di Keraton, awal
mereka masuk mereka sudah ditempatkan sesuai kemampuan dan
ketrampilan yang dimiliki Abdi Dalem.
67
2. Jam Kerja Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Lama jam kerja di Keraton masa pemerintahan
Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X masih sama. Abdi
Dalem yang bekerja di tepas (kantor) mereka berangkat tiap hari
dari jam 09.00-14. 00, kecuali libur. Khusus untuk Abdi Dalem
yang kerja di caos (piket) tidak setiap hari kerja yaitu : ada yang 3
hari sekali, 7 hari sekali, 10 hari sekali dan 12 hari sekali. Mereka
bekerja terhitung satu hari satu malam.
3. Pangkat Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Sistem kenaikan pangkat untuk Abdi Dalem terdapat
kesamaan, yaitu : sistem kenaikan pangkat yang tetap (reguler) dan
sistem kenaikan pangkat yang spesial. Antara pemerintahan
Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X juga menetapkan
kenaikan pangkat dengan syarat dan kriteria seperti rajin bekerja,
disiplin, tekun, berprestasi, serta patuh terhadap tata tertib yang
ditetapkan Ngarso Dalem.
4. Tempat Tinggal Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Tempat tinggal Abdi Dalem masa pemerintahan
Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X hampir semuanya
tinggal di luar tanah Keraton yang diberi nama tanah Magersari.
Ada juga ada Abdi Dalem yang tinggal di tanah Keraton
mereka adalah Kerabat Keraton atau Sentana Keraton yang masih
keturunan
68
Raja yang mempunyai keistimewaan dalam bidang – bidang
tertentu. Tapi jumlahnya sangat sedikit karena ada pembatasan.
B. Perbedaan Antara Abdi Dalem Masa Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X
1. Besar Gaji Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Sebenarnya Abdi Dalem yang bekerja di Keraton dari
pemerintahan Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X
tidak pernah menilai seberapa besar gaji yang diterima tiap
bulannya, karena mereka bekerja dengan prinsip sukarela untuk
mendapatkan berkah dalem.
Mengenai besar gaji Abdi Dalem masa pemerintahan
Hamengkubuwono IX tercantum dari jabatan tertinggi sampai
terendah mendapat gaji yang berbeda – beda sesuai dengan
pangkatnya. Sri Sultan mengupayakan lembaga pendidikan
bagi Abdi Dalem yang nantinya bisa menjadi tambahan gaji
bagi Abdi Dalem, diantaranya : pendidikan pedalangan wayang
kulit yang diberi nama Habiranda, pendidikan seni karawitan,
dan pendidikan nyinden.
Pada masa pemerintahan Hamengkubuwono X, Sri Sultan
mengeluarkan peraturan kenaikan gaji Abdi Dalem sebagai
upaya meningkatkan kesejahteraan hidup Abdi Dalem. Ini
merupakan
69
bentuk perhatian Sri Sultan terhadap abdinya yang mengabdi
pada Ngarso Dalem.
Masa pemerintahan Hamengkubuwono X selain ada sistem
gaji bagi Abdi Dalem ada juga pemberian sistem pengupahan
berupa pemberian sejumlah uang bagi Abdi Dalem yang
mendapat tugas sebagai utusan Keraton, dan ada juga sistem
pengupahan yang bersifat insidental.
2. Perhatian Sri Sultan terhadap Abdi Dalem di Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat
Perhatian Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan
Hamengkubuwono X pada dasarnya sama. Dengan
mendasarkan pada “Tahta bagi Kesejahteraan Sosial Budaya
Rakyat”. Tapi jika melihat secara lahiriah perhatian
Hamengkubuwono X jauh lebih besar, dimana beliau sudah
menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat pada saat
ini.
70
BAB IV
PERANAN ABDI DALEM TERHADAP TRADISI SEKATEN DI KERATON
NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
Kerajaan Demak pada pemerintahan Raden Patah (Sultan Ngabdul Surya
Ngalam I) diadakan perubahan drastis tanpa disosialisasikan dengan para Wali
terlebih dahulu, yaitu Selamatan Negara Tahunan ditiadakan karena dianggap tidak
sesuai dengan ajaran Agama Islam. Hal tersebut menimbulkan keresahan bagi
masyarakat yang tidak bisa menerima kehendak Sultan. Bersamaan dengan
ditiadakannya upacara tersebut diseluruh wilayah Kerajaan Demak timbul wabah
penyakit yang banyak menyebabkan kematian warga masyarakat. Atas nasihat Wali
Sanga untuk membangkitkan lagi kepercayaan masyarakat, maka Sultan Demak
berkenan mengadakan kembali Upacara Selamatan Negara Tahunan yang dikemas
dan diselaraskan dengan ajaran Islam dibawah binaan Sunan Giri dan Sunan
Bonang (Wignyasubrata : 2). Tidak lama kemudian, wabah penyakit reda dan
rakyat hidup tentram.
Sejak saat itulah Perayaan Sekaten diselenggarakan sebagai perwujudan
pengganti serta pelestarian Selamatan Negara Tahunan yang selalu diselenggarakan
Raja Hindu-Budha secara turun temurun. Pada perkembangannya perayaan Sekaten
(Garebeg Maulud) di Demak diikuti oleh daerah lain seperti Surakarta, Yogyakarta,
Cirebon, Banten dan Aceh. Khususnya di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon
perayaan Maulud disebut Sekaten (Mustafa, 2004 : 86).
71
Istilah Sekaten berasal dari bahasa Arab kata syahadatain, pengakuan percaya
kepada ajaran agama Islam, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
Rasul-nya (Mustafa, 2004 : 148). Sekaten diperkenalkan oleh Raden Patah di
Demak abad 16. Saat itu orang Jawa beralih memeluk agama Islam dengan
mengucapkan syahadatain. Oleh karena itu, penggunaan nama Sekaten pada
perayaan tersebut menjadi terkenal. Perayaan Sekaten kemudian diteruskan oleh
Sultan-sultan berikutnya sehingga menjadi perayaan tahunan yang diperingati oleh
banyak masyarakat. Sekaten menjadi nilai peninggalan dari hasil interaksi antara
budaya Hindu-Budha dan Islam yang berbentuk kebudayaan Non Fisik. Proses
interaksi tersebut secara langsung mempercepat proses Islamisasi di Pulau Jawa.
Masjid Agung Demak yang dibuat Wali Sanga tahun 1477 M yang semula
digunakan sebagai ajang kegiatan keagamaan dan tiap tahun digunakan sebagai
tempat Musyawarah tahunan Wali Sanga. Selain itu masjid ini juga digunakan
sebagai prasarana penyelenggaraan perayaan Sekaten sebagai perwujudan
Selamatan Negara Tahunan yang dimeriahkan dengan ditampilkan dan ditabuhnya
gamelan pusaka Kanjeng Kiai Sekati ciptaan Sunan Giri yang selama seminggu
ditabuh, kecuali hari jum’at tidak ditabuh (Wignyasubrata : 3).
Gamelan dimanfaatkan sebagai alat musik. Rakyat yang sangat gemar dengan
bunyi gamelan, segera berduyun-duyun datang untuk menikmati dari dekat.
Wignyasubrata dalam bukunya Sekilas Tentang Sekaten menuliskan bahwa :
kedatangan masyarakat disambut dengan ramah oleh para santri pimpinan Wali
Sanga dan diperkenalkan dengan ajaran agama Islam, antara lain :
72
a. Menyucikan diri (wudlu) sebelum masuk Masjid.
b. Diteruskan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat : Asyhadu Anlaa
Ilaaha Illallah…Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah sebagai
pertanda bahwa telah ikhlas menjadi umat Islam.
c. Lalu diijinkan masuk ke Masjid dengan tertib untuk mengikuti kajian
(uraian) agama Islam yang disampaikan oleh Wali Sanga secara bergilir
(Wignyasubrata : 4).
Pada proses Islamisasi berikutnya, mengucapkan dua kalimat syahadat yang
bahasa arabnya Syahadatain, oleh ucapan masyarakat Jawa yang belum fasih lafal
bahasa arab maka ucapan Syahadatain akhirnya berubah menjadi Sekaten.
Menurut Wignyasubrata dalam bukunya Sekilas Tentang Sekaten, ia
mengatakan setelah Kerajaan Demak runtuh, Kerajaan dipindahkan ke Pajang tahun
1560 oleh Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya). Dari Pajang berpindah ke Mataram
pada tahun 1590 oleh Sutawijaya. Pada tahun 1755 M Kerajaan Mataram pecah
menjadi dua yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Dari awal
munculnya tradisi Sekaten sampai sekarang tetap menjadi acara tahunan yang selalu
diselenggarakan. Pada pemerintahan Kanjeng Sultan Agung Prabu
Hanyakrakusuma tahun 1613-1645, perayaan Sekaten disempurnakan dan
ditingkatkan kualitasnya. Sebagai pelengkap acara Sekaten, dipakai dua perangkat
gamelan yaitu : Kanjeng Kiai Sekati yang diberi gelar Kanjeng Kiai Guntursari dan
Kanjeng Kiai Gunturmadu sebagai alat musik (Wignyasubrata :3).
73
Para Wali sangat gigih memperjuangkan penyebaran agama Islam, hingga
akhirnya para Wali dapat mengendalikan dan mengarahkan awam sebagai objek
dakwahnya. Kemudian muncul usaha Sunan Kalijogo dengan sensasinya melalui
Gamelan Sekaten (Sofwan, 2004 : 278-279). Islam menjadi maju pesat dan dapat
diterima masyarakat Jawa berkat peranan Wali Sanga dan Raja Jawa yang masuk
agama Islam yang kemudian mendukung usaha Wali.
A. Sejarah Lahirnya Tradisi Sekaten sebagai Upacara Tradisional
Keagamaan Islam di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Kerajaan Mataram yang beribukota di Surakarta tahun 1755 pecah
menjadi dua, ialah Kasunanan Surakarta yang beribukota di Surakarta (Sala)
di bawah pimpinan Sri Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Yogyakarta
yang beribukota di Ambarketawang Gamping, kemudian pindah di kota
Yogyakarta yang sekarang di bawah pimpinan Sultan Hamengkubuwono X.
Pemecahan Kerajaan Mataram menjadi dua ditentukan dalam perjanjian
Giyanti (Poerwokoesoemo, 1971 : 1).
Pusaka Keraton dibagi menjadi dua, seperti halnya gamelan.
Kasunanan Surakarta memperoleh Gamelan Kiai Guntursari dan Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat memperoleh Gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu.
Sebagai imbangan supaya tetap dua perangkat lalu dibuat perangkat gamelan
yang lain dan diberi nama Kanjeng Kiai Nagawilaga. Gamelan inilah yang
nantinya digunakan dalam setiap perayaan Sekaten, yang kemudian menjadi
khasnya alat musik perayaan Sekaten.
74
Sekaten yang menjadi salah satu bentuk adat Keraton Kasultanan
Yogyakarta untuk pertama kalinya diadakan oleh Sultan I Kasultanan
Yogyakarta yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono I. Itulah sebabnya, sejarah
Sekaten di Kasultanan Yogyakarta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
sejarah berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu sendiri (Soelarto,
1996 : 17).
Ketika Sri Sultan Hamengkubuwono I memerintah, keadaan Keraton
aman, tentram, dan rakyat hidup sejahtera. Sultan Hamengkubuwono I
berkehendak menyelenggarakan upacara yang selalu dilaksanakan oleh para
Raja Jawa sebelumnya. Sultan Hamengkubuwono I merupakan putra
Susuhunan Prabu Amangkurat IV (1719-1726) yang sejak masih muda hidup
dilingkungan Keraton (Kasunanan Surakarta) sangat menaruh perhatian besar
terhadap tata cara dan adat Keraton. Oleh karena itu, tidak mengherankan
kalau Baginda ingin melestarikan upacara dan adat Keraton Jawa, termasuk
didalamnya upacara Sekaten. Usaha melestarikan adat yang ada sebelumnya
ini menunjukkan sikap tradisional orang Jawa dalam memuliakan leluhurnya.
Selain itu, upacara-upacara Kerajaan mencerminkan kemuliaan dan
kewibawaan Kerajaan. Demikian pula berbagai upacara adat Keraton juga
mencerminkan adat kehidupan dan tingkat kebudayaan Keraton. Disini akan
tampak sekali kalau Keraton benar-benar berperan sebagai pusat tradisi dan
kebudayaan Jawa (Soelarto, 1996 : 19).
75
Garebeg Maulud (Sekaten) pada masa Hamengkubuwono I merupakan
upacara Kerajaan yang melibatkan seisi Keraton, seluruh aparat Kerajaan,
seluruh lapisan masyarakat dan mengharuskan para pembesar Pemerintah
Kolonial berperan serta.
Dari penyelenggaraan Sekaten, secara publik terlihatlah kehadiran
Kasultanan Yogyakarta yang baru berdiri sebagai kehadiran tradisi Jawa
Islam. Sekaten yang secara formal bersifat keagamaan dikaitkan dengan hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dari situ secara publik juga menjabarkan
gelar Sultan yang bersifat kemusliman : Ngabdurrahman Sayidin Panatagama
Kalifatullah (Mondoyokusumo, 1977 : 9).
Sekaten yang menurut sejarahnya merupakan upacara tradisional
keagamaan Islam dalam membentuk akhlak dan budi pekerti luhur, tetap
dilestarikan oleh para pengganti Sri Sultan Hamengkubuwono I (Soelarto,
1996 : 19). Jika Kerajaan dalam keadaan gawat, misalnya dalam keadaan
perang maka penyelenggaraan Sekaten dapat ditiadakan. Disisi lain meski
Kerajaan dalam keadaan gawat, namun jika memungkinkan Baginda atau
Wakil Baginda tetap melangsungkan upacara Sekatenan. Misalnya yang
terjadi antara bulan Desember 1810-September 1811 Kasultanan Yogyakarta
dilanda kemelut. Gubernur Jenderal Daendels menurunkan Sri Sultan
Hamengkubuwono II (Sultan Sepuh) dari tahta Kerajaan dan
menggantikannya dengan Putra Mahkota untuk menjadi Sultan yang ke-III.
Meski dalam suasana kemelut tetapi Sekaten tetap diselenggarakan. Seperti
76
waktu garebeg sijam Maulud dan Besar, Beliau (Sultan Sepuh) dipersilahkan
datang, Beliau duduk disebelah anaknya (Soetanto, 1952 : 74-75).
Terbentuknya tradisi Sekaten merupakan ekspresi masuk dan
tersosialisasinya Islam kebumi Nusantara secara damai, karena memang Islam
sendiri tidak mengenal kekerasan. Itulah sebabnya agama Islam mendapat
banyak simpati dari masyarakat di Jawa.
Dalam perjalanan sejarah tradisi Sekaten tidak lagi menjadi milik
Kerajaan saja, tetapi rakyat DIY merasa ikut memilikinya (melu handarbeni).
Bagi sebagian besar masyarakat di Propinsi DIY, baik masyarakat perkotaan
maupun masyarakat pedesaan tradisi Sekaten selain dinilai sebagai upacara
religius keislaman yang bercorak khas kejawen dengan segala hikmah dan
berkah yang juga merupakan kebanggaan daerah yang selalu mengingatkan
kepada sejarah zaman keemasan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh
Panembahan Senopati (Soelarto, 1996: 24).
Pelaksanaan tradisi Sekaten jika dihubungkan dengan teori
Kebudayaan Malinowski dalam bukunya Roland Robertson (1992 : 53), yang
mengemukakan bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat
yang memiliki unsur kebudayaan itu. Dalam hal ini masyarakat Yogya yang
setiap tahun tepatnya bulan Maulud selalu mengadakan tradisi Sekatenan
menganggap Upacara Sekaten sangat perlu untuk dilaksanakan. Selain
melaksanakan tradisi leluhur yang telah dilaksanakan selama berabad-abad
77
lamanya, masyarakat juga yakin Sekaten bermanfaat dan mempunyai peran
penting dalam proses pembentukan akhlak dan budi pekerti luhur masyarakat.
Sekaten sebagai instrumen dalam memenuhi kebutuhan religius tetap
dilaksanakan oleh masyarakat penerusnya dan mempunyai beberapa makna
dan manfaat yang sangat penting sekali. Bagi Keraton tradisi Sekaten tidak
hanya bermakna religius, tetapi juga bermakna historis dan kultural.
Makna religius, berkaitan dengan kewajiban Sultan untuk
mensyiarkan ajaran agama Islam dalam Kerajaannya, sesuai dengan
kedudukan dan peranan Sultan sebagai yang tercantum dalam rangkaian
gelarnya : Sayidin Panatagama Kalifatullah. Makna historis, berkaitan dengan
keabsahan Sultan dan Kerajaannya sebagai ahli waris sah dari Panembahan
Senopati serta Kerajaan Mataram-Islam. Makna Kultural, berkaitan dengan
Sultan sebagai pemimpin suku bangsa Jawa warisan para leluhur yang sangat
kuat diwarnai oleh kepercayaan lama (Soelarto, 1996 : 24).
Perayaan Sekaten pertama kali muncul di Kerajaan Demak yang
kemudian dilaksanakan oleh Kerajaan-kerajaan generatifnya (penerusnya)
yang bercorak Islam. Upacara Sekaten diadakan oleh Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat sebagai tradisi leluhur khususnya dalam syiar agama Islam di
Pulau Jawa yang tepatnya diperingati tanggal 12 bulan Maulud.
Demikianlah lintasan sejarah Sekaten yang dari masa ke masa secara
berkesinambungan menunjukkan toleransi dalam sikap religius dan sikap
kultural bangsa Jawa yang merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dari
78
ratusan suku bangsa senusantara yang membentuk kepribadian bangsa
Indonesia pada masa kini (Soelarto, 1996 : 24).
B. Peranan Abdi Dalem dalam Pelaksanaan Upacara Tradisi Sekaten di
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Setiap menjelang upacara tradisi Sekatenan Abdi Dalem Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat selalu terlibat dari persiapan sampai selesainya
pelaksanaan. Secara intens mereka sibuk mempersiapkan perlengkapan
selama satu bulan lamanya sebelum acara puncak yaitu upacara Garebeg
Maulud tiba. Ada banyak kelompok Abdi Dalem yang terlibat dalam
pelaksanaan tradisi Sekatenan, diantaranya :
1. Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Widyobudoyo
Abdi Dalem yang bertugas dalam bidang kebudayaan. Mereka
mengkoordinir persiapan sampai pelaksanaan upacara Sekatenan.
2. Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Purorakso
Abdi Dalem yang bertugas dalam bidang keamanan. Dari mulainya Miyos
Dalem (gamelan dikeluarkan di Pagongan Selatan dan Pagongan Utara
Masjid Agung) sampai puncak acara Sekatenan yaitu gunungan dibawa
kedepan Masjid Agung, KHP. Purorakso menjaga keamanan dengan ketat
bersama POLRI, anggota pramuka, dan kelompok keamanan lain yang
memang sengaja diterjunkan untuk menjaga ketertiban pelaksanaan
Upacara Sekatenan.
79
3. Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Kridhomardowo
Abdi Dalem yang bertugas dalam bidang kesenian. Mereka
mempersiapkan kelengkapan kesenian seperti gending, gamelan, dan lain
sebagainya yang berkaitan dengan kegiatan seni seperti kegiatan pagelaran
dan pelaksanaan Miyos Gongso (gamelan dikeluarkan) sampai Kondur
Gongso (gamelan dibawa lagi ke Keraton).
4. Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Purakoro
Abdi Dalem yang bertugas dalam bidang perbendaharaan yang khusus
menjaga serta memelihara benda-benda pusaka Keraton. Terutama dalam
kegiatan Pagelaran Abdi Dalem ini akan sibuk sekali mengeluarkan
benda-benda pusaka Keraton untuk dipamerkan, seperti : kereta, keris,
meja dan seperangkat kursi kerja yang pernah dipakai oleh Sri Sultan
Hamengkubuwono I – Sri Sultan Hamengkubowono X.
5. Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Wahono Sarto Kriyo
Bertugas dalam bidang transportasi dan pekerjaan (tenaga Abdi Dalem)
untuk upacara Sekaten dari menjelang upacara Sekaten sampai saat
pelaksanaan upacara Sekatenan.
6. Tepas Rantamarto
Bertugas dalam bidang perencanaan keuangan untuk menghitung seberapa
besar dana yang diperlukan untuk kegiatan Sekaten dan besar dana yang
diperoleh Keraton selama pelaksanaan Sekatenan berlangsung.
80
7. Tepas Danartopuro
Bekerjasama dengan Tepas Rantamarto mengelola uang dalam hal
penerimaan, pengeluaran dan penyimpanan uang untuk kegiatan Sekaten.
8. Tepas Pariwisata
Abdi Dalem yang bertugas dalam bidang pelayanan terhadap wisatawan.
Setiap tahun Keraton Yogya mempunyai acara yang sangat besar yaitu
tradisi Sekatenan yang ditandai dengan puncak acara Garebeg Maulud,
dimana pengunjungnya sangat banyak baik dari masyarakat DIY sendiri,
luar daerah maupun Luar Negeri. Tepas Pariwisata sangat berperan sekali.
Selain mereka memberi pelayanan terhadap pengunjung mereka juga
mengarahkan para peneliti yang akan meneliti jalannya upacara
Sekatenan.
9. Tepas Keprajuritan
Tepas ini berperan sebagai kelengkapan kebesaran Keraton ketika
pelaksanaan Miyos Dalem, Kondur Gongso dan upacara Garebeg Maulud
untuk mengawal gunungan, namun prajurit ini dipersiapkan bukan untuk
berperang.
10. Kawedanan Pengulon
Kawedanan ini bertugas dalam bidang keagamaan. Berkaitan dengan
pelaksanaan Miyos Dalem, Abdi Dalem Pengulon menyampaikan riwayat
Maulud Nabi Muhammad SAW dihadapan Sri Sultan, Adipati-adipati,
81
Raja-raja muda, Bupati-bupati, Pembesar-pembesar wilayah, Abdi Dalem
Keraton dan seluruh masyarakat yang hadir pada acara Miyos Dalem.
11. Abdi Dalem Konco Gladhag atau Kabantu
Abdi Dalem Konco Gladhag merupakan tenaga kasar yang tugasnya
serabutan yaitu mengangkat gamelan Sekaten dari Keraton ke Keben, dari
Keben ke Masjid Besar, mengusung gunungan dari Magangan ke Keben
dan dari Keben ke Masjid Besar dan sebagainya. Pakaian yang mereka
kenakan berupa baju koko merah, celana hitam dan kain. Abdi Dalem
yang mempersiapkan perlengkapan untuk pelaksanaan upacara Sekatenan
sampai puncak acara, yaitu Garebeg Maulud yang ditandai dengan
dikeluarkannya gunungan atau pareden dari Keraton.
12. Abdi Dalem Pendherek
Abdi Dalem yang mengomandani Garebeg Maulud dilaksanakan.
13. Abdi Dalem Keparak Para Gusti
Abdi Dalem yang terlibat dalam pembuatan sesaji, pembuatan gunungan
dan pembuatan udik-udik untuk acara Kondur Gongso.
Secara umum banyak Abdi Dalem yang terlibat dalam pelaksanaan
Sekatenan. Namun secara khusus Abdi Dalem yang terlibat dari persiapan
sampai akhir pelaksanaan (saat gunungan dikeluarkan) hanya Abdi Dalem
Widyobudoyo, Abdi Dalem Wahono Sarto Kriyo, Abdi Dalem Rantamarto,
Abdi Dalem Danartopuro, Abdi Dalem Konco Gladhag atau Kabantu, dan
82
Abdi Dalem Kridhomardowo (wawancara dengan KRT Rintaiswara, 10 April
2005).
Ada juga Abdi Dalem yang tidak terlibat dari awal pelaksanaan
sampai akhir pelaksanaan, karena kerja Abdi Dalem untuk upacara Sekatenan
memang sudah disesuaikan dengan tugasnya masing-masing. Jadi memang
Abdi Dalem Widyobudoyo, Abdi Dalem Wahono Sarto Kriyo, Abdi Dalem
Rantamarto, Abdi Dalem Danartopuro, Abdi Dalem Konco Gladhag atau
Kabantu, dan Abdi Dalem Kridhomardowo yang menjadi inti dalam
pelaksanaan Sekatenan yang dibantu oleh Abdi Dalem kelompok yang
lainnya.
Upacara Sekaten merupakan upacara dan perayaan Keraton terbesar,
karena pergelarannya merupakan upacara memperingati hari lahir Nabi
Muhammad SAW, sehingga dalam melaksanakan persiapan perayaan
Sekatenan, khususnya Abdi Dalem Keparak Para Gusti harus benar-benar
dalam keadaan suci. Ini dimaksudkan untuk menjaga kemurnian dan
kekhusyukan nilai religius dalam peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW
yang jatuh pada tanggal 12 bulan Maulud. Sementara bagi kelompok Abdi
Dalem yang lain tidak ada syarat-syarat tertentu secara khusus.
Pada peringatan upacara Sekaten di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat Abdi Dalem tetap mengenakan pakaian tradisional yaitu baju
pranakan beserta perlengkapannya dan baju kebesaran yang lain sesuai
dengan tugasnya waktu pelaksanaan Sekatenan. Pelaksanaan upacara Sekaten
83
pada masa pemerintahan Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X
banyak terdapat kesamaan, baik dari rangkaian upacara maupun gunungan
yang dipergunakan dalam upacara Garebeg Maulud itu.
Penyelenggaraan upacara Sekaten ternyata masih dapat diterima baik
oleh masyarakat setempat walaupun zaman banyak mengalami perubahan.
Upacara Sekaten tidak hanya dipadati oleh kalangan pemuda-pemudi yang
ingin mencari hiburan, tetapi juga masyarakat yang sudah lanjut usia juga
memadati Alun-alun untuk mendapatkan berkah. Itu dapat diperhatikan ketika
gunungan diperebutkan oleh masyarakat. Sebagian masyarakat berusaha
untuk mendapatkan bagian dari gunungan itu, seperti hiasan telur ataupun
hiasan kue-kue. Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan bagian dari
gunungan itu, mereka akan mendapatkan berkah (Artikel Theuraphy, 2005 :
1). Biasanya setelah mereka mendapatkan bagian dari gunungan itu, mereka
meletakkan bagian dari gunungan itu di sawah mereka, tujuannya agar sawah
yang mereka miliki dapat tumbuh subur dan panen dapat berhasil.
Selain bagian dari gunungan, yang menjadi sasaran dari masyarakat
ialah hiasan bunga melati yang dipakai pada keris Pandega atau Manggala
Yuda GBPH. Drs.H. Prabu Yudaningrat, M.M diminta oleh masyarakat. Itu
semua karena adanya rasa kepercayaan masyarakat Jawa terhadap kekuatan
lain. Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan sesuatu milik keluarga
Keraton, mereka akan mendapatkan berkah dari benda yang dimilikinya
(Pengamatan peneliti pada puncak acara Garebeg Maulud, 21 April 2005).
84
Secara garis besar, upacara Sekaten pada masa Hamengkubuwono IX
dan Hamengkubuwono X melibatkan peranan Abdi Dalem dalam pelaksanaan
dan perkembangannya serta banyak terdapat kesamaannya. Adapun rangkaian
upacara Sekaten pada Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X
melibatkan Abdi Dalem secara signifikan, diantaranya pada kegiatan :
a. Perayaan Upacara Sekaten pertama kali diawali dengan diadakannya
Slametan atau Wilujengan yang bertujuan untuk mencari ketentraman dan
ketenangan. Slametan ini menandai dimulainya pembuatan ubo rampai
atau perlengkapan gunungan (Setyastuti, 1999 : 106). Ini juga menandai
kegiatan Pasar Malam Perayaan Sekaten dimulai, pada tahun 2005 dimulai
tanggal 11 Maret 2005 dan berakhir pada tanggal 22 April 2005. Pasar
Malam ini berlangsung kurang lebih 40 hari sebelum perayaan Garebeg
Maulud tiba (lihat gambar 2). Pada perayaan Sekaten ini masyarakat
banyak yang berkunjung hanya sekedar untuk mencari hiburan atau
membeli makanan khas yang dijual pada Pasar Malam itu.
b. Satu minggu sebelum puncak acara Sekaten, tepatnya tanggal 15 April
2005 (jum’at pahing) jam 21.00 WIB gamelan dikeluarkan dari Keraton
dibawa ke Masjid Agung Yogyakarta untuk kemudian diletakkan di
Pagongan Utara dan Pagongan Selatan atau Miyos Gongso oleh Abdi
Dalem Kawedanan Hageng Punokawan Kridhomardowo yang bertugas
dalam bidang kesenian dan Abdi Dalem Konco Gladhag yang membawa
gamelan serta perangkatnya dari Keraton ke Pagongan Utara dan
85
Pagongan Selatan Masjid Agung Yogyakarta (Pengamatan yang dilakukan
peneliti, 15 April 2005). Selama satu minggu gamelan dibunyikan terus
kecuali pada jam-jam tertentu yaitu saat azan dikumandangkan dan hari
jum’at. Gamelan dibunyikan oleh Abdi Dalem Kawedanan Hageng
Punokawan Kridhomardowo. Instrumen Jawa atau gamelan dipakai
sebagai bentuk kesenian yang paling digemari rakyat Jawa, karena dapat
dipakai sebagai media atau alat untuk dakwah Islam dengan membunyikan
gamelan Jawa dan segala macam bentuk keseniannya maka rakyat akan
datang.
c. Rangkaian upacara Sekaten yang kedua ialah Upacara Numplak Wajik,
tepatnya tanggal 18 April 2005 jam 15.30 WIB yang bertempat di
Magangan Kidul (lihat gambar 3). Upacara Numplak Wajik sebagai awal
dimulainya pembuatan gunungan wadon. Upacara Numplak Wajik diawali
dengan iringan Gejog Lesung yang dilakukan oleh Abdi Dalem Konco
Gladhag (lihat gambar 4). Tujuannya agar dalam pembuatan gunungan
wadon dapat berjalan lancar. Sebelum upacara ini dimulai biasanya
diberikan sesaji oleh Abdi Dalem Keparak Para Gusti agar dalam
pembuatan gunungan ini tidak mengalami hambatan. Pada upacara
Numplak Wajik ini, Abdi Dalem Bupati Kawedanan Hageng Punokawan
Widyobudoyo juga hadir untuk memimpin jalannya upacara Numplak
Wajik (Pengamatan yang dilakukan peneliti, 18 April 2005).
86
d. Acara selanjutnya, tanggal 20 April 2005 jam 18.30 WIB dilaksanakan
Miyos Dalem di Masjid Agung Yogyakarta (lihat gambar 5). Acara ini
dihadiri oleh Sri Sultan, pembesar Keraton, para Bupati, Abdi Dalem
Keraton dan masyarakat Yogya. Selain itu, juga ada banyak wisatawan
mancanegara yang sengaja hadir untuk menyaksikan Miyos Dalem milik
sejuta umat itu. Pada upacara Miyos Dalem, dihadapan Sri Sultan dan
pembesar Keraton Abdi Dalem Bupati Punokawan Kawedanan Hageng
Pengulon membacakan Siratun Nabi (riwayat hidup Nabi Muhammad
SAW). Sebelum Miyos Dalem dilaksanakan, Sri Sultan menyebar udhik-
udhik yang telah disiapkan oleh Abdi Dalem Keparak Para Gusti di depan
pintu Pagongan Selatan dan Pagongan Utara Masjid Agung Yogya dimana
selama 7 hari berturut-turut kedua Gamelan sekaten dibunyikan yaitu
Gamelan Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Gamelan Kanjeng Kiai
Nagawilaga dihadapan masyarakat yang menghadiri upacara Miyos
Dalem. Miyos Dalem berakhir ditandai dengan pelaksanaan Kondur
Gongso atau gamelan dibawa masuk lagi ke Keraton jam 23.00 WIB oleh
Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punokawan Kridomardhowo dan Abdi
Dalem Konco Gladhag yang diiringi Abdi Dalem Tepas Keprajuritan
sebanyak 4 bergodo (lihat gambar 6). Miyos Dalem Sri Sultan
Hamengkubuwono menuju ke Masjid Agung ini didahului 4 bergodo
prajurit, para gusti bendera pangeran, serta para Abdi Dalem Sipat Bupati
yaitu Abdi Dalem tingkat tinggi di Keraton (Abdi Dalem yang berpangkat
87
Bupati Punokawan). Prosesi ini menandai berakhirnya pelaksanaan
Upacara Sekaten yang akan mencapai puncak acara pada keesokan
harinya (Pengamatan yang dilakukan peneliti, 20 April 2005).
e. Sebagai rangkaian upacara terakhir dari Tradisi Sekatenan yaitu puncak
acara Garebeg Maulud, yang ditandai dengan dikeluarkannya Hajad
Dalem Pareden (gunungan) tepat tanggal 12 bulan Maulud jam 08.30 WIB
(Pengamatan yang dilakukan peneliti, 21 April 2005). Dalam Garebeg
Maulud ini Sri Sultan mengeluarkan Hajad Dalem berupa 6 gunungan
diantaranya : 2 buah gunungan lanang (1 buah gunungan untuk berkatan
ke Pakualaman), 1 buah gunungan wadon, 1 buah gunungan dharat, 1
buah gunungan gepak, dan 1 buah gunungan pawuhan (Wawancara
dengan KRT Wignyasubrata, 21 April 2005). Urut-urutan jalannya
upacara Garebeg Maulud masa pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono X sama dengan masa pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX , ialah :
Pertama kali yang keluar adalah Prajurit Wirobraja, Prajurit Daheng,
Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jagokaryo, Prajurit Nyutro, Prajurit
Ketanggung, dan Prajurit Mantrijero. Hampir semua kesatuan prajurit
Abdi Dalem tepas Keprajuritan dikeluarkan sebagai tanda kelengkapan
kebesaran Keraton (lihat gambar 7). Tetapi apabila Prajurit keluar melalui
Sitihinggil, Prajurit Nyutro dan Mantrijero mendapat urutan paling
belakang sendiri. Beberapa menit kemudian GBPH. Drs. H. Prabu
88
Yudaningrat, M.M, miyos dari Sitihinggil diikuti oleh para Abdi Dalem,
disini beliau berperan sebagai manggala yuda atau inspektur upacara
(Wawancara dengan KRT Rintaiswara, 20 April 2005).
Setelah inspektur upacara sampai di alun-alun diadakan penghormatan
oleh semua prajurit yang dipimpin seorang Pandega. Penghormatan
dimaksudkan untuk menghormati kedatangan inspektur upacara di alun-
alun. Kemudian setelah penghormatan selesai dilakukan dimulailah
upacara Garebeg Maulud di alun-alun.
Setelah selesai mengadakan upacara pembukaan, beberapa jam kemudian
Abdi Dalem prajurit Bugis keluar dari Kagungan dalem Sitihinggil
mengawal keluarnya Hajad Dalem gunungan, di depan iring-iringan
gunungan tersebut ada beberapa Abdi Dalem Bupati Nayoko dari Keraton
Yogyakarta, dan yang paling belakang mengawal gunungan itu adalah
Prajurit Surokarso. Adapun urutan dibawanya gunungan (pareden)
awalnya pareden disiapkan di Bangsal Ponconiti (Keben), kemudian
diusung oleh Abdi Dalem ke Masjid Agung tepat jam 08.30 melalui
halaman Sitihinggil, Gedhong Pagelaran, Alun-alun Utara, dan berakhir di
halaman depan Masjid Agung (lihat gambar 8).
Dari Abdi Dalem Tepas Keprajuritan mengeluarkan 8 bergodo prajurit
Keraton yang melakukan display dari istana sampai alun-alun Utara. 2
bergodo prajurit Keraton yang lain menunggu di Keben dan seterusnya
mengawal gunungan sampai kedepan Regol Masjid Agung. Setiap 1
89
bergodo prajurit terdiri dari 50 orang. Jadi semuanya kurang lebih ada 400
orang prajurit Keraton (Wawancara dengan KRT Rintaiswara, 20 April
2005).
Ketika arak-arakan yang membawa gunungan mendekati Alun-alun Utara,
kesatuan prajurit Keraton melakukan 3 kali tembakan salvo sebagai tanda
penghormatan. Kemudian 5 gunungan langsung dibawa ke Masjid Agung
untuk didoakan yang dipimpin oleh Pengulu dari Abdi Dalem Kawedanan
Pengulon, setelah itu kesemua gunungan menjadi rebutan bagi masyarakat
yang hadir sebagai berkah dari Ngarso Dalem (lihat gambar 9 dan 10).
Sedangkan 1 buah gunungan lanang dibawa ke Pakualaman sebagai Hajad
Dalem dari Sri Sultan kepada warga Pakualaman (Wawancara dengan
KRT Rintaiswara, 20 April 2005).
Adapun yang membawa gunungan ke Pakualaman adalah Prajurit
Lombok Abang dan Prajurit Plangkir yang berseragam biru. Sesampainya
di Pakualaman gunungan tersebut langsung dibawa ke Masjid Pakualaman
untuk didoakan, setelah itu sama seperti kelima gunungan di Keraton
Yogyakarta, gunungan yang diberikan kepada Pakualaman inipun menjadi
rebutan masyarakat sekitar yang hadir.
Setelah semuanya berjalan lancar, kemudian pandega melapor kepada
manggala yuda bahwa Upacara Garebeg Maulud telah selesai, lalu
manggala yuda memberikan izin agar semua prajurit ditertibkan. Semua
prajurit kembali ke Kagungan Dalem Pracimasana melalui Bangsal Siti
90
Hinggil dan Bangsal Ponconiti. Dengan demikian, upacara Sekaten telah
berakhir dengan ditandai pelaksanaan puncak acara Garebeg Maulud
(Wawancara dengan KRT Rintaiswara, 20 April 2005).
Seperti penyelenggaraan tradisi Sekaten pada masa pemerintahan Sri
Sultan Hamengkubuwono IX, pada perkembangannya penyelenggaraan
Upacara Sekaten pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono X
ini peran Abdi Dalem masih tetap sama. Mereka mempunyai peran sangat
penting sekali, dimana dari awal persiapan sampai selesainya pelaksanaan
Sekatenan para Abdi Dalem bekerja dengan giat dan ikhlas mempersiapkan
ubo rampai (perlengkapan) untuk Sekatenan. Hal tersebut merupakan
pekerjaan yang maha besar karena untuk bisa melaksanakan upacara
Sekatenan butuh waktu yang tidak sedikit dan butuh kerjasama yang sangat
tinggi sekali antar kelompok kerja Abdi Dalem sesuai tugasnya masing-
masing.
Upacara Sekaten yang dilaksanakan pada masa pemerintahan
Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X mempunyai banyak
kesamaan, karena dari masa kemasa upacara Sekaten yang diselenggarakan
hanya sedikit mengalami perubahan (Pengamatan yang dilakukan peneliti
selama kegiatan Tradisi Sekaten berlangsung).
Upacara Sekaten dari zaman Sultan-sultan terdahulu sebagai upacara
adat Keraton, dan sampai sekarangpun upacara Sekaten tersebut masih
dianggap sebagai upacara yang sudah dimiliki oleh KeratonYogyakarta
91
selama bertahun-tahun. Dimana dalam setiap pelaksanaan dan
perkembangannya selalu melibatkan Abdi Dalem untuk berperan dari awal
sampai selesainya pelaksanaan Sekatenan.
Dari uraian pada bab ini dapat disimpulkan, bahwa tradisi Sekaten
sebagai tradisi leluhur yang bermakna religius dalam rangka memperingati
Maulud Nabi Muhammad SAW pertama kali diadakan oleh Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat pada pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono
I. Acara ini bercorak khas kejawen yang bermakna religius, historis dan
kultural. Keraton Yogyakarta setiap tahun merayakan Sekaten sebagai media
syiar agama Islam, karena sebagai kerajaan generatif yang bercorak Islam
merasa sangat perlu untuk melaksanakan tradisi leluhurnya.
Sekatenan identik dengan rangkaian upacara yang selalu berurutan
dari Wilujengan atau Selametan, Perayaan Sekaten, Upacara Numplak Wajik,
dan Garebeg Maulud sebagai puncak acara yang ditandai dengan keluarnya
gunungan (pareden) dari Ngarso Dalem. Gunungan itulah yang nantinya
dijadikan berkah oleh Sultan untuk rakyatnya (Wawancara dengan KRT. H.
Kawendrodipuro, BA, 20 April 2005).
Pada rangkaian tradisi Sekatenan hampir semua Abdi Dalem Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat berperan dari prosesi persiapan, pelaksanaan,
sampai selesainya acara tersebut. Ada banyak kelompok Abdi Dalem yang
terlibat, diantaranya : Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punokawan
Widyobudoyo, Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punokawan Purorakso, Abdi
92
Dalem Kawedanan Hageng Punokawan Kridhomardowo, Abdi Dalem
Kawedanan Hageng Punokawan Purakoro, Abdi Dalem Kawedanan Hageng
Punokawan Wahono Sarto Kriyo, Abdi Dalem Tepas Rantamarto, Abdi
Dalem Tepas Danartopuro, Abdi Dalem Pariwisata, Abdi Dalem Tepas
Keprajuritan, Abdi Dalem Kawedanan Pengulon, Abdi Dalem Konco Gladhag
atau Kabantu, Abdi Dalem Pendherek, dan Abdi Dalem Keparak Para Gusti
(Wawancara dengan KRT Rintaiswara, 20 April 2005).
Setiap kelompok Abdi Dalem bekerja sesuai tugasnya masing-masing
dibawah koordinator Pangageng. Jika diperhatikan secara menyeluruh dalam
pelaksanan Sekatenan banyak melibatkan peranan Abdi Dalem, namun yang
terlibat dari awal sampai akhir pelaksanaan hanya Abdi Dalem Widyobudoyo,
Abdi Dalem Wahono Sarto Kriyo, Abdi Dalem Rantamarto, Abdi Dalem
Danartopuro, Abdi Dalem Kridhomardowo, dan Abdi Dalem Konco Gladhag.
Penyelenggaraan Sekaten pada pemerintahan Hamengkubuwono IX
dan Hamengkubuwono X ternyata tidak jauh berbeda, bahkan perbedaannnya
sedikit sekali bila dibandingkan dengan banyaknya persamaan dari
penyelenggaraannya.
Adapun perbedaan-perbedaan yang ada pada penyelenggaraan tradisi
Sekatenan antara pemerintahan Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono
X, antara lain :
93
1. Penyelenggaraan Sekaten masa pemerintahan Hamengkubuwono
IX dan Hamengkubuwono X ialah : jumlah prajurit yang
digunakan pada waktu upacara Garebeg Maulud berlangsung.
Kalau pada masa Sultan Hamengkubuwono IX jumlah prajurit dari
setiap bergodo mencapai 80 orang, sehingga keseluruhan
jumlahnya mencapai ribuan orang. Tetapi pada masa Sultan
Hamengkubuwono X jumlah prajurit dari setiap bergodo dikurangi
30 orang sehingga menjadi berjumlah 50 orang saja. Jumlahnya
diperkecil hal ini disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ini
dilakukan dengan pertimbangan financial atau biaya untuk
mengurangi beban membayar jumlah prajurit Keraton yang terlalu
banyak terlibat dalam Pelaksanaan Sekaten (Setyastuti, 1999 :
115).
2. Perbedaan waktu dan situasi. Kalau penyelenggaraan Sekaten pada
masa Hamengkubuwono IX dilakukan pada masa penjajahan
Belanda dan Jepang. Pada masa penjajahan Jepang tradisi Sekaten
pernah dihapuskan tetapi setelah merdeka diadakan lagi.
Sedangkan pada masa Hamengkubuwono X Sekaten
diselenggarakan pada saat rakyat Indonesia sudah merdeka
(Setyastuti, 1999 : 115) .
3. Pemberian berkat Gunungan ke Pakualaman. Ketika
Hamengkubuwono IX memerintah, saat pelaksanaan Garebeg
94
tidak ada pemberian gunungan untuk Pakualaman tetapi ketika
Hamengkubuwono X memerintah ada pemberian berkat gunungan
lanang ke Pakualaman (Wawancara dengan KRT Rintaiswara, 20
April 2005).
Pelaksanaan Tradisi Sekaten pada pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X ternyata
perbedaannya tidak begitu banyak. Walaupun demikian perbedaan yang ada
tidak menjadi hambatan dalam penyelengaraannya. Bahkan pihak Keraton dan
masyarakat berusaha untuk melestarikan tradisi Sekaten yang bersifat
tradisional agar tidak mengalami kepunahan, karena zaman yang semakin
modern ini (Pengamatan yang dilakukan peneliti selama kegiatan Tradisi
Sekaten berlangsung).
Sekaten yang berakhir dengan puncak acara Garebeg Maulud telah
membuat hidup masyarakat pelaksananya tidak lepas dari sikap yang ada pada
diri orang Jawa yang beragama Islam pada umumnya. Sikap hidup itu terlihat
dari sikap narima (menerima), hal itu diungkapkan dalam pelaksanaan
Upacara Maulud sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
95
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uraian yang telah disampaikan pada bab-bab sebelumnya diatas,
maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Kehidupan Abdi Dalem pada masa pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai
pegawai di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat banyak sekali
persamaannya. Perbedaannya ada tetapi tidak begitu signifikan.
Persamaan antara Abdi Dalem masa pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, antara lain
: organisasi dan tugas Abdi Dalem, jam kerja Abdi Dalem, pangkat
Abdi Dalem, dan tempat tinggal Abdi Dalem. Adapun perbedaan
antara Abdi Dalem masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono
IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat, antara lain : besar gaji Abdi Dalem dan perhatian Sri
Sultan terhadap Abdi Dalem.
2. Latar belakang sejarah pelaksanaan Tradisi Sekaten di Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat terkait erat dengan tradisi sejak zaman
Kasultanan Demak untuk mensyiarkan agama Islam. Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai Kerajaan generatif dari Demak,
96
Pajang, Mataram, kemudian Kasultanan Yogyakarta merasa sangat
perlu untuk melaksanakan tradisi leluhurnya sebagai upacara religius
keislaman yang bercorak khas kejawen dengan segala hikmah dan
berkahnya. Tradisi Sekaten merupakan upacara keagamaan di Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat yang diadakan setiap tahun bertepatan
dengan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW (Garebeg Maulud). Itulah
sebabnya Garebeg yang diselenggarakan untuk memperingati
kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut Garebeg Maulud. Namun di
Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon perayaan Garebeg Maulud lebih
dikenal dengan nama Sekatenan. Di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat memperingati dan merayakan tradisi Sekaten sebagai
upacara Kerajaan yang telah dipelopori oleh Kasultanan Demak pada
perkembangannya tetap exist dengan konsep Sunan Kalijogo untuk
selalu memperdengarkan gamelan di Pagongan Utara dan Pagongan
Selatan selama satu minggu lamanya kecuali hari jum’at dan jam-jam
tertentu (ketika azan dikumandangkan). Bagi masyarakat Yogya,
tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mempunyai
makna religius, historis dan kultural. Peringatan tradisi Sekaten
sebagai upacara keagamaan yang bertepatan dengan hari lahirnya Nabi
Muhammad SAW bertujuan untuk menghormati kehadirannya di
dunia ini dan untuk memetik suri teladan kehidupan Rasulullah SAW.
Sedangkan bagi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, perayaan tradisi
97
Sekaten dimanfaatkan untuk mensyiarkan ajaran agama Islam
sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Kasultanan Demak. Pada
kenyataannya tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
pada masa sekarang, sebagian besar masyarakat belum memahami
makna yang sebenarnya tentang pelaksanaan tradisi Sekaten.
Masyarakat belum paham terhadap makna yang sesunguhnya dari
pelaksanaan tradisi Sekaten, sehingga mereka merasa ikut dalam
pelaksanaan perayaan Sekaten tetapi pada kenyataannya justru
menggiring mereka kepada hal yang jauh dari tradisi perayaan yang
bernafaskan Islam. Hal ini bisa dilihat dari anggapan masyarakat
bahwa dengan berhasil mendapat gunungan yang disedekahkan Sri
Sultan pada acara Garebeg Maulud mereka akan mendapat berkah dan
kemudahan dalam hidupnya atau adanya anggapan bahwa mereka
akan awet muda jika mengunyah sirih di halaman Masjid Agung
Yogyakarta. Padahal segala sesuatu yang akan didapatkan manusia
dan umur yang akan dilalui manusia sudah ditentukan oleh Tuhan
Yang Maha Esa.
2. Peranan Abdi Dalem terhadap perkembangan dan pelaksanaan tradisi
Sekaten pada pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sri
Sultan Hamengkubuwono X di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
sangat signifikan sekali. Abdi Dalem sebagai hamba Kerajaan disetiap
penyelenggaraan Sekaten bekerja sesuai dengan tugasnya masing-
98
masing dibawah perintah Pengageng. Diantaranya mempersiapkan ubo
rampai (perlengkapan) yang dibutuhkan dalam tradisi Sekatenan.
Tradisi Sekaten merupakan upacara terbesar dalam perayaannya di
Keraton. Pada pelaksanaannya hampir semua kelompok Abdi Dalem
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terlibat dan berperan aktif dari
persiapan, prosesi pelaksanaan sampai selesainya tradisi Sekatenan.
Banyak kelompok Abdi Dalem yang berperan secara aktif, diantaranya
: Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punokawan Widyobudoyo, Abdi
Dalem Kawedanan Hageng Punokawan Purorakso, Abdi Dalem
Kawedanan Hageng Punokawan Kridhomardowo, Abdi Dalem
Kawedanan Hageng Punokawan Purakoro, Abdi Dalem Kawedanan
Hageng Punokawan Wahono Sarto Kriyo, Abdi Dalem Tepas
Rantamarto, Abdi Dalem Tepas Danartopuro, Abdi Dalem Tepas
Pariwisata, Abdi Dalem Tepas Keprajuritan, Abdi Dalem Kawedanan
Pengulon, Abdi Dalem Konco Gladhag atau Kabantu, Abdi Dalem
Pendherek, dan Abdi Dalem Keparak Para Gusti. Secara menyeluruh
banyak melibatkan peranan kelompok Abdi Dalem, namun yang
terlibat dari awal sampai akhir pelaksanaan Tradisi Sekatenan hanya
kelompok Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punokawan
Widyobudoyo, Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punokawan Wahono
Sarto Kriyo, Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punokawan
99
Kridhomardowo, Abdi Dalem Tepas Rantamarto, Abdi Dalem Tepas
Danartopuro, dan Abdi Dalem Konco Gladhag atau Kabantu.
B. Saran
Bertolak dari kesimpulan di atas maka penulis mengajukan beberapa
saran, diantaranya :
1. Para peneliti dan penulis Sejarah, hendaknya melakukan pengkajian
yang lebih jauh lagi mengenai perkembangan keadaan sosial ekonomi
Abdi Dalem dari awal berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
sampai sekarang dengan harapan agar kajian mengenai kehidupan
keluarga Abdi Dalem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat semakin
lengkap.
2. Rekan-rekan jurusan Sejarah, diharapkan untuk lebih giat melakukan
penelitian-penelitian tentang peranan Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat sebagai kelanjutan dari Kerajaan Mataram dalam kegiatan
syiar agama Islam di Pulau Jawa. Tujuan melakukan penelitian-
penelitian di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai objek
Sejarah akan menambah pengetahuan dan wawasan kesejarahan. Kita
tahu bahwa untuk mengkaji Sejarah tidak hanya cukup di lingkungan
formal saja (bangku kuliah), melainkan juga dengan praktek atau
terjun langsung ke lapangan sehingga wawasan kesejarahan semakin
lengkap dan berbobot nilainya.
100
DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku
Afrianto, Cahyo Donny. 2002. Abdi Dalem Sebuah Pengabdian Dalam Pelestarian
Kebudayaan. Yogyakarta : UGM.
Brongtodiningrat. 1978. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta : Museum Kraton
Yogyakarta.
Depdikbud. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam.1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta : PT Ichtiar Baru
Van Hoeve.
Dipodiningrat. 2005. Risalah Maulud Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta :
Kawedanan Pengulon Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Fananie, Zainuddin. 2000. Rekonstruksi Budaya Jawa Perspektif KGPAA MN I.
Yogyakarta :…
Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah. Jakarta : Universitas Indonesia.
Graaf, De. 1986. Puncak Kekuasaan Mataram (Politik Ekspansi Sultan Agung).
Jakarta : PT Temprint.
J. Moleong, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya.
K, Sartono. 2004. Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Yogyakarta : MUD History.
Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Magnis Suseno, Fransz. 2001. Etika Jawa (Sebuah Analisa Falsafati tentang
Kebijaksanaan Hidup Jawa). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Mulyani, Sri. 2000. Perubahan Kehidupan Sosial Ekonomi Abdi Dalem Dari
Kehidupan Ke Keratonan Ke Kehidupan Non Kekeratonan. Medan : USU.
101
Morisson. 2002. Petunjuk Wisata Lengkap Jawa–Bali. Jakarta : PT Ghalia Indonesia.
Punto Hendro G, Eko. 2001. Kraton Yogyakarta Dalam Balutan Hindu. Semarang :
Bendera.
Peelly, Usman dan Menanti, Asih. 1994. Teori-teori Sosial Budaya. Jakarta :
Depdikbud.
Poerwokoesoemo, Soedarisman. 1985. Kadipaten Pakualaman. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Robertson, Roland. 1992. Agama Dalam Analisa Dan Interpretasi Sosiologis.
Terjemahan Achmad Fedyani Saifuddin. Jakarta : Rajawali.
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2004. Teori Sosiologi Modern. Terjemahan
Alimandan. Jakarta : Kencana.
Santoso, Budi. 2000. Sekilas Tentang Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Malang :
Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.
Simuh. 2003. Islam dan Pergumulan Budaya Jawa. Jakarta : Teraju.
Soeratman, Darsiti. 2000. Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939.
Yogyakarta : Yayasan Untuk Indonesia.
Sofyan, Ridin dkk. 2004. Islamisasi di Jawa (Walisongo, Penyebar Islam di Jawa
Menurut Penuturan Babad). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Soelarto, B. 1996. Garebeg Di Kasultanan Yogyakarta. Yogyakarta : Kanisius.
Suprianto, Eko. 2000. Dakwah Dalam Tradisi Sekaten. Jombang : Institut Keislaman
Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang
Surjomihardjo, Abdurrachman. 2000. Sejarah Perkembangan Sosial Kota Yogyakarta
1880-1930. Yogyakarta : Yayasan Untuk Indonesia.
Setyastuti, Theresia. 1999. Upacara Garebeg Maulud Pada Pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.
Wignyasubrata.---. Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta :
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
102
---. Riwayat Sekaten. Yogyakarta : Panitia Kapujanggan Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat.
Whardani, Yetti WS. 2000. Upacara Garebeg Ditinjau Dari Aspek Budaya, Religius,
Serta Peranannya Dalam Upaya Meningkatkan Lama Tinggal Wisatawan di
Yogyakarta. Yogyakarta : Politeknik “API”.
Internet
http // www. tembi org / keraton yogya / htmx. mantrigawen.
http // www. com / vision. net . id / keraton yogyakarta (13 juni 2004)
http // www. tembi org / sultan buka sekaten / 1pb. htmx (13 juni 2004)
http // www. tembi org / sekaten tetap tanpa dangdut / 1pb. htmx (13 juni 2004)
Jurnal / Makalah
Theuraphy. April 2005. Sekaten Syiar Islam Melalui Budaya. Edisi III.
103
DAFTAR INFORMAN
1. Nama : KRT. H. Kawendrodipuro, BA
Umur : 70 tahun
Tanggal Lahir : 6 Oktober 1933
Pekerjaan : Carik Kawedanan Hageng Punokawan Widyo Budoyo
Alamat : Jl. Namburan Kidul No. I Yogyakarta 55131
2. Nama : KRT. Rintaiswara
Umur : 62 tahun
Tanggal Lahir : 10 Januari 1943
Pekerjaan : Abdi Dalem Widyo Budoyo
Alamat : Siluk, Imogiri, Bantul, DIY
3. Nama : KRT. Tejonegoro
Umur : 62 tahun
Tanggal Lahir : 14 Desember 1943
Pekerjaan : Bupati Kliwon Kelurahan Putri
Alamat : Jl. Langenastran Kidul 20 Rt 05 / II Panembahan Kraton
4. Nama : KRT. Suryoseputro
Umur : 65 tahun
Tanggal Lahir : 28 Mei 1940
Pekerjaan : Bupati Nayaka Tepas Danartopuro
Alamat : Tuntungan Baru UH 3 / 1181 Rt 41 / IX Tahunan Umbulharjo
5. Nama : KMT. Widyoseputro
Umur : 84 tahun
Tanggal Lahir : …-…- 1921
Pekerjaan : Bagian Administrasi Widyobudoyo
Alamat : Ngasem Rt 57 / Rw 05, Yogyakarta
104
6. Nama : MBKS. Puraksorejoso
Umur : 49 tahun
Tanggal Lahir : 2 September 1956
Pekerjaan : Pengirit di Regol Gepuro
Alamat : Prawirodirjan GM 2 / 1204 Rt 41 / Rw 13
7. Nama : MW. Mandoyo Citrolumakso
Umur : 64 tahun
Tanggal Lahir : 31 Desember 1941
Pekerjaan : Wedono Punokawan Regol Gepuro
Alamat : Magangan Kulon 2 YK Rt 0003 / 001 Yogyakarta 55133
8. Nama : MB. Puraksosewoko
Umur : 46 tahun
Tanggal Lahir : 10 Oktober 1959
Pekerjaan : Konco Punokawan Polowijo Bagus
Alamat : Sidomulyo Rt 06 / Rw XXXIV
9. Nama : RB. Soenardjowinoto
Umur : 69 tahun
Tanggal Lahir : 11 Juni 1936
Pekerjaan : Bekel Sepuh Nrangdahono
Alamat : Minggiran MJ 2 / 1413 Yogyakarta
10. Nama : MB. Purakso Pramono
Umur : 50 tahun
Pekerjaan : Anggota Pecaosan Regol Gepuro
Alamat : Godean, Sleman
105
ACUAN PERTANYAAN DALAM KEGIATAN WAWANCARA
1. Dalam organisasi pemerintahan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Abdi
Dalem masuk dalam kelompok organisasi yang mana ?
2. Dalam menjalankan tugas di Keraton, Abdi Dalem bekerja dibawah perintah
siapa ?
3. Apa saja tugas dari setiap kelompok Abdi Dalem di Keraton ? Jelaskan !
4. Apakah setiap kelompok Abdi Dalem memiliki ketua atau penanggung jawab
yang mengatur mereka dalam bekerja ?
5. Selain Abdi Dalem bertugas di dalam Keraton, apakah Abdi Dalem diberi
kesempatan oleh Sri Sultan untuk bekerja ditempat lain ?
6. Jelaskan tugas Abdi Dalem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
(spesifikasi kerja) ?
7. Berapa lama jam kerja Abdi Dalem di dalam Keraton setiap harinya ?
8. Berapa besar gaji Abdi Dalem pada pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X ?
9. Apakah gaji yang diperoleh Abdi Dalem dapat memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari keluarga Abdi Dalem ? Kalau secara ekonomi tidak memenuhi,
mengapa mereka tetap mau bekerja di Keraton ?
10. Bagaimana pandangan orang luar tentang orang yang bekerja sebagai Abdi
Dalem di Keraton ? Jelaskan bagaimana hidup mereka di lingkungan
masyarakat Abdi Dalem tinggal !
11. Syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk bisa diterima
dalam seleksi menjadi Abdi Dalem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ?
Keterangan : Semua pertanyaan di atas diajukan untuk pemerintahan Sri
Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X.
106
12. Munculnya tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pertama
kali pada pemerintahan siapa ?
13. Sebab-sebab apa saja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengadakan
(menyelenggarakan) tradisi Sekatenan ?
14. Apa yang menjadi rutinitas Abdi Dalem di Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat selain pada persiapan tradisi Sekatenan ?
15. Abdi Dalem melakukan tugas apa saja ketika menjelang upacara Sekatenan
sampai saat pelaksanaan upacara Sekatenan ?
16. Sebelum melaksanakan persiapan upacara Sekatenan, dalam mempersiapkan
ubo rampai (perlengkapan Sekaten) apakah ada syarat-syarat tertentu yang
harus dipenuhi oleh Abdi Dalem ?
17. Perlengkapan apa saja yang perlu dipersiapkan untuk upacara Sekatenan ?
18. Ada banyak kelompok Abdi Dalem yang terlibat dalam upacara Sekatenan.
Kelompok Abdi Dalem apa saja yang terlibat ?
19. Dalam upacara Sekaten jika ada Abdi Dalem yang tidak terlibat dari awal
pelaksanaan, tetapi di tengah-tengah acara dia terlibat pelaksanaan
Sekatenan. Mengapa begitu ? Contohnya kelompok Abdi Dalem apa saja ?
20. Jenis pakaian apa yang dikenakan oleh Abdi Dalem pada saat puncak acara
Sekaten (Garebeg Maulud) ?
21. Apakah ada perbedaan antara upacara Sekatenan pada masa pemerintahan Sri
Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X ? Jika ada
perbedaan, coba jelaskan ?
Gambar 1. Wawancara dengan Abdi Dalem Keparak (AD Perempuan).
(Dokumentasi pribadi, 19 April 2005)
Gambar 2. Pasar Malam Perayaan Sekaten berlangsung selama 40 hari dan selesai
setelah perayaan Garebag Maulud tiba.
(Dokumentasi pribadi, 16 April 2005)
Gambar 3. Upacara Numplak Wajik sebagai awal pembuatan gunungan wadon (dihadiri
AD Bupati KHP Widyobudoyo, AD Konco Gladhag dan AD Keparak Para Gusti).
(Dokumentasi pribadi, 18 April 2005)
Gambar 4. Gejog Lesung dilakukan oleh Konco Gladhag sebelum Upacara Numplak
Wajik dimulai.
(Dokumentasi pribadi, 18 April 2005)
Gambar 5. Acara Miyos Dalem di Masjid Agung Yogyakarta yang dihadiri Sri Sultan
dan AD berpangkat bupati.
( Dokumentasi pribadi, 20 April 2005 )
Gambar 6. Pelaksanaan Kondur Gongso ( gamelan dibawa masuk lagi ke Keraton ) oleh
AD Konco Gladhag dan AD Kridhomardowo.
(Dokumentasi pribadi, 20 April 2005)
Gambar 7. Kesatuan prajurit yang mengawal gunungan pada upacara Garebeg Maulud.
(Dokumentasi pribadi, 22 April 2005)
Gambar 8. Gunungan diusung ke depan Masjid Agung dikawal oleh Prajurit Keraton.
(Dokumentasi pribadi, 22 April 2005)
Gambar 9. Upacara penyerahan gunungan dilanjutkan dengan memanjatkan doa yang
dipimpin oleh Kiai Pengulu.
(Dokumentasi pribadi, 22 April 2005)
Gambar 10. Gunungan yang disedekahkan oleh Sri Sultan pada puncak acara Garebegan
menjadi rebutan masyarakat.
(Dokumentasi pribadi, 22 April 2005)