MODUL 1
WORK SAMPLING
YESI PANGARI
D221 14 020
KELOMPOK IV
LABORATORIUM ERGONOMI
DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kinerja suatu sistem kerja ditentukan oleh performansi dari
pekerjanya, yaitu berupa tingkat keefektifan pekerja menyelesaikan
pekerjaannya. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metode untuk
menghitung tingkat keefektifan tersebut, salah satu caranya adalah
melakukan sampling pekerjaan (work sampling). Pada awalnya sampling
pekerjaan dikembangkan di Inggris oleh L.H.C. Tippet pada pabrik-
pabrik tekstil di Inggris. Sampling pekerjaan menggunakan prinsip-
prinsip dari ilmu statistik.
Sampling pekerjaan dapat dilakukan terhadap tenaga kerja tak
langsung, tenaga kerja langsung, maupun terhadap mesin. Sampling
pekerjaan adalah suatu prosedur pengukuran yang dilakukan dengan
melakukan kunjungan-kunjungan pada waktu-waktu tertentu yang
ditentukan secara acak (random). Kunjungan-kunjungan ini dilakukan
untuk mengetahui apa yang terjadi atau kegiatan apa yang sedang
dilakukan di tempat kerja yang bersangkutan, frekuensi kegiatan
tersebut, dan berapa persen waktu yang dipergunakan untuk
pekerjaan itu. Semakin banyak kunjungan yang dilakukan, semakin
kuat dasar (berupa tingkat ketelitian) untuk mengambil kesimpulan.
B. Tujuan Praktikum
1. Praktikan mampu memisahkan pekerjaan pada sistem kerja menjadi
elemen-elemen kerja yang produktif dan non-produktif.
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 1
2. Praktikan mampu melakukan pengukuran waktu kerja secara
langsung dengan menggunakan metode work sampling.
3. Praktikan dapat menggunakan dan memanfaatkan hasil sampling
pekerjaan untuk melakukan perbaikan/pengaturan kerja dalam upaya
meningkatkan efektifitas, efesiensi, dan produktifitas kerja.
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 2
BAB II
TEORI DASAR
A. Defenisi Work Sampling
Sampling kerja atau sering disebut sebagai work sampling, Ratio
Delay Study atau Random Observation Method adalah salah satu teknik
untuk mengadakan sejumlah besar pengamatan terhadap aktivitas kerja
dari mesin, proses atau pekerja/operator. Pengukuran kerja dengan cara
ini juga diklasifikasikan sebagai pengukuran kerja secara langsung.
Karena pelaksanaan kegiatan pengukuran harus dilakukan secara
langsung ditempat kerja yang diteliti (Sritomo, 1989). Metode sampling
kerja dikembangkan berdasarkan hukum probabilitas atau sampling.
Oleh karena itu pengamatan terhadap suatu obyek yang ingin diteliti
tidak perlu dilaksanakan secara menyeluruh (populasi) melainkan cukup
dilaksanakan secara mengambil sampel pengamatan yang diambil secara
acak (random) (Sritomo, 1989).
Pengukuran waktu dengan sampling pekerjaan mempunyai beberapa
kegunaan, yaitu :
1. Untuk mengetahui distribusi pemakaian waktu sepanjang waktu
kerja oleh pekerja atau kelompok kerja.
2. Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan mesin-mesin atau alat-alat
di pabrik.
3. Untuk mengetahui waktu baku suatu pekerjaan.
4. Untuk memperkirakan kelonggaran (allowance) suatu pekerjaan.
B. Prosedur Work Sampling
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 3
Cara melakukan pengamatan dengan metode sampling pekerjaan
terdiri dari beberapa langkah, sebagai berikut :
1. Menetapkan tujuan pengukuran, yaitu untuk apa hasil pengukuran
digunakan, beberapa tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang
diinginkan dari hasil pengukuran tersebut.
2. Melakukan sampling pendahuluan.
Pada tahap ini ditentukan waktu-waktu pengamatan secara acak,
dengan menggunakan tabel bilangan acak.
3. Memisahkan pekerjaan pada sistem kerja yang diteliti menjadi
elemen-elemem kerja.
4. Melakukan pengukuran waktu.
5. Menguji keseragaman data:
BKA = p3
p1 p
n
BKB = p 3
p 1 p
n
Dimana : p p i
dan n n i
k k
Dengan pi = Persentase produktif di hari ke-i
k = Jumlah hari pengamatan
6. Menghitung jumlah kunjungan yang diperlukan.
Banyaknya pengamatan yang harus dilakukan dalam sampling
kerja akan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu tingkat
ketelitian dari hasil pengamatan dan tingkat keyakinan dari hasil
pengamatan. Dengan asumsi bahwa tejadinya kejadian seorang
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 4
operator akan bekerja atau menganggur mengikuti pola distribusi
normal, maka untuk mendapatkan jumlah pengamatan yang harus
dilakukan dapat dicari dengan rumus :
N’ =
Dimana :
N’ = Jumlah pengamatan yang harus dilakukan untuk sampling kerja
S = Tingkat ketelitian yang dikehendaki (bentuk desimal)
p = Persentase terjadinya kejadian yang diamati (bentuk desimal)
k = Harga indeks yang besarnya bergantung pada tingkat kepercayaan
yang diambil:
Tingkat kepercayaan 68% mempunyai harga k = 1
Tingkat kepercayaan 95% mempunyai harga k = 2
Tingkat kepercayaan 99% mempunyai harga k = 3
7. Melakukan perhitungan waktu baku.
C. Faktor Penyesuaian
Untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari hasil
pengamatan, maka harus diadakan penyesuaian yaitu dengan cara
mengalikan waktu pengamatan rata-rata dengan faktor
penyesuaian/rating factor. Faktor ini adalah sebagai berikut :
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 5
1. Apabila operator dinyatakan terlalu cepat yaitu bekerja di atas batas
kewajaran (normal) maka rating factori akan lebih besar dari satu
(p>1 atau p> 100%)
2. Apabila operator bekerja terlalu lambat yaitu bekerja dengan
kecepatan di bawah kewajaran (normal) maka rating factor akan
lebih kecil dari satu (p < 1 atau p< 100%).
3. Apabila operator bekerja secara normal atau wajar maka rating
factor diambil sama dengan satu (p = 1 atau p = 100%)
Guna melaksanakan pekerjaan normal maka dianggap bahwa
operator tersebut cukup berpengalaman pada saat bekerja
melaksanakannya tanpa usaha-usaha yang berlebihan sepanjang hari
kerja, menguasai cara kerja yang ditetapkan dan menunjukkan
kesungguhan dalam menjalankan pekerjaannya. Berikut ini akan
diuraikan beberapa sistem untuk memberikan rating yang umumnya
diaplikasikan di dalam aktivitas pengukuran kerja.
1. Skill dan Effort Rating
Tahun 1916 Charles E. Bedeaux memperkenalkan suatu sistem untuk
pembayaran upah atau pengendalian tenaga kerja (Wignjosoebroto,
2008). Sistem yang diperkenalkan oleh Bedeaux ini berdasarkan
pengukuran kerja dan waktu baku yang dinyatakan dengan angka
“Bs”. Prosedur pengukuran kerja yang dibuat oleh Bedeaux juga
menentukan rating terhadap kecakapan (skill) dan usaha-usaha yang
ditunjukkan operator pada saat bekerja. Bedeaux menetapkan angka
60 Bs sebagai performance standar yang harus dicapai oleh seorang
operator. Dengan kata lain seorang operator yang bekerja dengan
kecepatan normal diharapkan mampu mencapai angka 60 Bs per jam
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 6
dan insentif dilakukan pada tempo kerja rata-rata sekitar 70 sampai 80
Bs per jam.
2. Westing house Sytem’s Rating
Westing House Company (1927) juga ikut memperkenalkan sistem
yang dianggap lebih lengkap bila dibandingkan dengan sistem yang
dilaksanakan oleh Bedeaux (Wignjosoebroto, 2008). Selain kecakapan
(skill) dan usaha (effort) yang telah dinyatakan oleh Bedeaux sebagai
faktor yang mempengaruhi performance manusia, Westing House
menambahkan kondisi kerja (working condition) dan konsistensi dari
operator di dalam melakukan kerja. Westing House telah berhasil
membuat suatu tabel performance rating yang berisikan nilai-nilai
yang berdasarkan tingkatan yang ada untuk masing-masing faktor
tersebut. Untuk menormalkan waktu yang ada, dapat dilakukan
dengan jalan mengalikan waktu yang diperoleh dari pengukuran kerja
dengan jumlah keempat rating factor yang dipilih sesuai dengan
performance.
D. Faktor Kelonggaran
Waktu normal untuk suatu pekerjaan adalah untuk menunjukkan
bahwa seorang operator yang berkualifikasi baik akan bekerja
menyelesaikan pekerjaan pada kecepatan tempo kerja normal.
Walaupun demikian pada kenyataannya kita akan melihat bahwa
tidaklah bisa diharapkan operator tersebut akan mampu bekerja secara
terus-menerus sepanjang hari. Operator akan sering menghentikan
kerja dan membutuhkan waktu khusus untuk keperluan seperti
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 7
kebutuhan pribadi, istirahat untuk melepas lelah dan alasan-alasan
lain di luar kontrolnya.
1. Kelonggaran untuk Kebutuhan Pribadi (Personal Allowance)
Kebutuhan pribadi disini adalah hal-hal seperti minum untuk
menghilangkan rasa haus, ke kamar kecil, mengobrol dengan teman
kerja untuk menghilangkan ketegangan ataupun kejemuan dalam
kerja.
2. Kelonggaran untuk Menghilangkan Rasa Lelah (Fatique)
Rasa lelah tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi
baik jumlah maupun kualitas. Jika rasa lelah telah datang dan
pekerja harus bekerja untuk menghilangkan performance normalnya,
maka usaha yang dikeluarkan pekerja lebih besar dari normalnya dan
ini akan menambah rasa lelah. Bila hal ini berlangsung terus-
menerus pada akhirnya akan terjadi rasa lelah total yaitu jika
anggota badan yang bersangkutan sudah tidak dapat melakukan
gerakan kerja sama sekali, walaupun sangat dihendaki. Hal
demikian jarang terjadi karena berdasarkan pengalamannya, pekerja
dapat mengatur kecepatan kerjanya sedemikian rupa sehingga
gerakan-gerakan kerja ditujukan untuk menghilangkan rasa lelah
ini. Oleh karena itulah kelonggaran untuk menghilangkan rasa lelah
karena fatique perlu ditambahkan.
3. Kelonggaran untuk Hambatan - Hambatan yang Tidak Terhindarkan
Dalam melaksanakan pekerjaannya, pekerja tidak akan lepas dari
berbagai hambatan. Ada hambatan yang dapat dihindarkan seperti
22 mengobrol yang berlebihan dan menganggur dengan sengaja
dan ada juga hambatan yang tidak dapat terhindarkan karena
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 8
berada diluar kekuasaan pekerja untuk mengendalikannya. Bagi
hambatan-hambatan yang pertama tidak ada pilihan selain
menghilangkannya sedangkan bagi hambatan-hambatan yang
terakhir walaupun harus diusahakan serendah mungkin, hambatan
akan tetap ada karenanya harus diperhitungkan dalam perhitungan
waktu baku.
E. Waktu Siklus, Waktu Normal, dan Waktu Baku
1. Waktu Siklus
Waktu siklus adalah waktu antara penyelesaian dari dua pertemuan
berturut-turut, asumsikan konstan untuk semua [Link]
dikatakan waktu siklus ,merupakan hasil pengamatan secara langsung
yang tertera dalam stopwatch.
Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan elemen-elemen kerja
pada umumnya kan sedikit berbeda dengan dari siklus ke siklus kerja
sekalipun operator bekerja pada kecepatan normal dan uniform ,tiap-
tiap elemen dalam siklus yang berbeda tidak selalu akan bias
disesuaikan dalam waktu yang persis [Link] dan nilai waktu ini
bias disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu diantaranya bias terjadi
karena perbedaan didalam menetapkan saat mulai atau berakhirnya
suatu elemen kerja yang seharusnya dibaca dari stopwatch.
Waktu siklus dihitung dengan menggunakan rumus:
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 9
X =
Dimana :
X = Waktu siklus
x’ = Waktu Pengamatan
n = Jumlah pengamatan yang dilakukan
2. Waktu normal
Waktu normal merupakan waktu kerja yang telah mempertimbangkan
factor penyesuaian , yaitu waktu siklus rata-rata dikalikan dengan
faktor penyesuaian. Didalam praktek pengukuran kerja maka metoda
penerapan rating performance kerja operator adalah didasarkan pada
satu faktor tunggal yaitu operator speed, space atau tempo. Sistem ini
dikenal sebagai “performance Rating/speed Rating)”. Rating Faktor
ini umumnya dinyatakan dalam persentase(%) atau angka desimal,
dimana performance kerja normal akan sama dengan 100% atau 1,00.
Rating faktor pada umumnya diaplikasikan untuk menormalkan waktu
kerja yang diperoleh dari pengukuran kerja akibat tempo atau
kecepatan kerja operator yang berubah-ubah. Untuk maksud ini, maka
waktu normal dapat diperoleh dari rumus berikut:
Waktu Normal = Waktu pengamatan ×
Nilai waktu yang diperoleh disini masih belum bias kita tetapkan
sebagai waktu baku untuk penyelesaian suatu operasi kerja,karena
disini factor-faktor yang berkaitan dengan waktu kelonggaran
(allowance time) agar operator bekerja sebaik-baiknya masih belum
dikaitkan.
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 10
3. Waktu baku
Waktu standar adalah waktu yang sebenarnya digunakan operator
untuk memproduksi satu unit dari data jenis produk. Waktu standar
untuk setiap part harus dinyatakan termasuk toleransi untuk
beristirahat untuk mengatasi kelelahan atau untuk faktor-faktor yang
tidak dapat dihindarkan. Namun jangka waktu penggunaannya waktu
standard ada batasnya. Dengan demikian waktu baku tersebut dapat
diperoleh dengan mengaplikasikan rumus berikut:
a. Standar time : normal time + (normal time × % allowance)
b. Standar time : normal time
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 11
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
1. Stopwatch
2. Tabel random (tabel acak)
3. Lembar pengamatan
B. Metode Praktikum
1. Praktikum modul ini dilaksanakan di luar laboratorium. Masing-
masing kelompok praktikan mencari suatu sistem kerja untuk
dilakukan pengamatan dan pengukuran waktu dengan metode work
sampling.
2. Pemilihan sistem kerja yang akan diukur harus sesuai dengan
karakteristik metode sampling.
3. Pada sistem kerja yang diamati, lakukan tahap-tahap pengukuran
waktu dengan metode work sampling.
C. Tugas dan Pelaporan
1. Pengumpulan Data
a. Penjelasan tentang sistem kerja yang akan diteliti dengan
metode sampling pekerjaan.
b. Pemisahan elemen-elemen pekerjaan pada sistem kerja yang
akan diteliti.
c. Data jumlah kegiatan produktif dan non-produktif pada sistem
kerja yang bersangkutan.
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 12
2. Pengolahan dan Analisa Data
a. Perhitungan persentase kegiatan produktif pegawai/operator
pada sistem kerja.
b. Penentuan rating factor dan besarnya kelonggaraan
(allowance) dalam sistem kerja.
c. Perhitungan waktu baku dari pelaksanaan pekerjaan pada
sistem kerja yang diamati.
d. Analisa terhadap hasil yang didapat, dan usulan perbaikan
pada sistem kerja.
BAB IV
PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 13
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 14
DAFTAR PUSTAKA
1. Mc. Cormick, Ernest J.; Human Factors in Engineering and Design, Mc
Graw-Hill, Inc.; 1992, New York, USA.
2. Sutalaksana, I.Z.,et. Al.1979 Teknik Tata Cara Kerja; Laboratorium Tata
Cara Kerja & Ergonomi, Dept. Teknik Industri : ITB.
3. Walpole, Ronald E., 1995, Pengantar Statistika. PT. Gramedia Pustaka
Utama : Jakarta.
4. Wignjosoebroto,Sritomo. 2006. Ergonomi : Studi Grerak dan Waktu. ITS
: Surabaya.
Cakrawidia Stuti MODUL 1:
Kelompok III
D221 13 013 Work Sampling Hal 15