SUMMARY BALOK PERSEGI TULANGAN RANGKAP
SUMBER : DIKTAT KULIAH BETON LANJUT
PENULIS : PROF. HRC. PRIYOSULISTYO, [Link], [Link]
1.2. Balok persegi dengan tulangan rangkap.
a. Perancangan.
Perancangan balok dengan tulangan rangkap dilakukan oleh karena beberapa alasan : 1)
keterbatasan ketinggian ukuran ruangan yg diberikan oleh arsitek 2) keinginan memanfaatkan
tulangan ekstra yg diperlukan untuk merangkai tulangan lentur dan geser. Dalam gambar 2.3 di
samping ini ditunjukkan efektifitas tulangan rangkap yang baru akan menjadi sangat berarti
setelah mendekati kondisi berimbangnya. Kedua garis itu, tulangan tunggal dan rangkap,
berimpit pada jumlah tulangan tarik yang masih relatif kecil terhadap kondisi berimbang dan
semakin berarti saat mendekati
300
A1 bervariasi, A'=A2=0
kondisi berimbang dan setelahnya.
A1=1,29%, A2=A' bervariasi
250
A1=2,20%, A2=A' bervariasi
Sebagai contoh, balok berukuran
Momen Nominal (kNm)
200
200/400 mm2 dengan kualitas beton
fc’ = 20 MPa dan baja fy = 400 MPa,
Titik
150
seimban diberi tulangan tarik sebanyak 50%
g
100
A'
dari tulangan berimbangnya, akan
A'
+ = memiliki kemampuan momen
A1 A2 A
50
nominal sekitar 100 kNm, namun bila
0
0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% padanya ditambahkan tulangan tekan
r = (A+A')/(b.d)
sebesar 25% dari tulangan
berimbangnya maka kemampuan balok bertambah menjadi 110 kNm (sekitar 10%), tetapi bila
tulangan tunggalnya sudah mencapai 75% dari tulangan berimbangnya dan pada daerah tekan
diberi tulangan sebanyak 37,5% dari tulangan berimbangnya maka peningkatan momen itu dari
135 kNm menjadi 160 kNm (18%). Dengan demikian perancangan sebaiknya diupayakan agar
balok itu diberi tulangan tunggal yang memiliki kemampuan sedikit di bawah kemampuan
berimbangnya, sedang kekurangannya baru di bebankan kepada kopel tulangan tarik dan tekan
tambahan.
Langkah-langkah yang diperlukan untuk menentukan dimensi dan jumlah tulangan
seperti berikut :
1. menetapkan nilai 1 = 0,85 untuk fc’ ≤ 30 MPa atau 1 = 0,85 – 0,05(fc’ – 30)/ 7 untuk fc’ ≥
30 MPa dan 1 ≥ 0,65
2. memasukkan f y dan 1 ke dalam persamaan cb = 600.d / (600 + fy), ab = 1. cb = 1 . 600.d
/ (600 + fy), a = 0,75. ab = 1 . 450.d / (600 + fy), a fungsi d
3. memasukkan a ke dalam persamaan Mn = 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a) sehingga Mn merupakan
fungsi b dan d
4. menyamakan Mn dengan Mu /
5. menetapkan nilai lebar balok b dalam persamaan 4) di atas akan didapatkan persamaan
kuadrat dalam d, sehingga d dapat dihitung.
6. menetapkan tinggi total balok h = d + penutup beton (biasanya antara 50 s/d 60 mm) dan
nilai h ini dibulatkan ke bawah.
7. bila berat sendiri balok belum termasuk dalam momen terfaktor, hitunglah momen terfaktor
baru dengan memasukkan berat sendiri balok.
8. memasukkan momen terfaktor baru ke dalam langkah 2) untuk mendapatkan nilai a baru
dengan memasukkan nilai d terakhir yg didapat.
9. menghitung kemampuan balok dengan luasan 75% luasan berimbangnya melalui
persamaan M1 = 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a) dengan a = 0,75. ab.
10. luas tulangan untuk mendukung M1 ini dapat dihitung dengan rumus A1 = 0,85. fc’.a.b / fy
11. selisih momen M1 = (Mu / ) – M1 dipikul oleh kopel luasan tarik dan tekan tambahan
melalui persamaan berikut : A2 = A’ = M2 / { fy.(d-d’)} , menganggap regangan tekan >
regangan leleh
12. A tarik total = A1 + A2 dan tulangan tekan A’
13. Kontrol luas tulangan yang didapat terhadap luasan minimum :
1,4 fc'
Ast min bw .d atau Ast min bw .d pilih nilai terbesarnya
fy [Link]
Contoh 2.4 :
Balok di atas dua tumpuan sederhana dengan bentang L = 6m dibebani oleh beban mati 12
kN/m’ (di luar beban berat sendiri). Beban hidup 12 kN/m’ dan beban hidup terpusat 54 kN di
tengah bentang. Mutu bahan yang direncanakan seperti berikut ini : fc’ = 30 MPa, fy = 400 MPa.
Tentukan ukuran balok agar didapat tulangan rangkap bila diameter tulangan yang disediakan
25mm !!!.
Mu = 1,2 MD + 1,6 ML
= 1,2.(1/8).12.62 + 1,6.[(1/8).12.62 + (1/4).54.6] = 232,2 kNm
Langkah :
1. 1 = 0,85 karena fc’ ≤ 30 MPa
2. cb = 600.d / (600 + 400), ab = 1. cb = 0,51.d, a = 0,75. ab = 0,3825.d, a fungsi d
3. Mn = 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a) = 0,85.30.b.0,3825.d.{d – ½.(0,3825.d)}
4. Mu / = 0,85.30.b.0,3825.d.{d – ½.(0,3825.d)} = 7,8877.b.d2
232,2.106 / 0,8 = 7,8877.b.d2 bila b = 1/2 .d d3 = 73,595. 106 d = 419,1 mm
b = 209,55 mm
5. agar tulangan rangkap digunakan b = 200mm d = 400 mm, h = 450 mm QD = 12 +
0,2.0,45.24 = 14,16 kN/m, momen terfaktor baru setelah memasukkan berat sendiri balok
Mu = 1,2 MD + 1,6 ML = 1,2.(1/8).14,16.62 + 1,6.[(1/8).12.62 + (1/4).54.6] = 243,86 kNm
Mn = Mu / = 304,825 kNm
6. M1 = 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a) dengan a = 0,75. ab = 0,3825.d = 153 mm
M1 = 0,[Link].(400-(0,5.153) = 252427050 Nmm = 252,427 kNm
7. A1 = 0,85. fc’.a.b / fy =0,[Link] / 400 = 1950,75 mm2
8. selisih momen M2 = (Mu / ) – M1 = 308,825 – 252,427 =
A’
52,398 kNm. 450mm
Ast
9. c = a/β = 153/0,85 = 180 mm
10. ε’= 0,003.(c-d’)/c = 0,003.(180-50)/180 = 0,0021 > εy = f y /Es
= 400/200000 = 0,002 baja tekan leleh fs’ = fy 200mm
11. A2 = A’ = M2 / { fy .(d-d’)} = 52,398. 106 /{400.(400-50)} = 374,27 mm2
12. Ast= A1 + A2 = 2325,02 mm2 , A’ = 374,27 mm2
13. Misal digunakan Ast= 5D25mm = 2453,12 mm2 dan A’ = 2D16 mm = 401,9 mm2
14. Kontrol luas tulangan yang didapat terhadap luasan minimum :
1,4 40
15. Ast min 200.400 280 mm 2 atau Ast min 200.400 316 mm 2
400 4.400
Ast = 2453,12 mm2 > Ast min = 316 mm2 – OK!
b. Analisis.
Kondisi pasar sering mempengaruhi pelaksanaan di lapangan. Tulangan yang dipasang
kadang terpaksa harus berbeda dari gambar perancangan baik dari segi kualitas baja atau
diameternya sehingga perubahan itu tetap harus dikontrol dan tidak bertentangan dengan konsep
perancangan khususnya berkaitan dengan konsep daktilitas. Namun sering juga dijumpai
masalah bahwa balok sudah terlanjur / lama dilaksanakan dan dijumpai kerusakan atau ada
keinginan dari pemilik untuk merubah fungsi suatu ruangan di atas balok itu yang memerlukan
kepastian kekuatan. Dalam hal seperti ini analisis harus bisa memperlihatkan kekuatan balok
terhadap lentur yang senyatanya. Perilaku balok (liat atau getasnya) harus pula dapat ditunjukkan
dari proses analisis ini. Gambar di bawah ini menunjukkan konsep analisis tulangan rangkap
balok.
b
c = 0,003 0,85.f ’c
d’ A’
’s cs
a cc
c
sb netral
d - ½a
d – d’
d h
sb. balok
A1 A2
T1 T2
ds s = y = f y
penampang melintang /Es
regangan kopel momen beton-baja kopel momen baja-baja
Gambar 2.4 Penampang balok, diagram regangan, tegangan
dan gaya-gaya dalam pada tulangan rangkap
Untuk
meyakinkan kondisi itu maka perlu dilihat apakah nilai kedalaman blok beton a yang didapat
dari keseimbangan tulangan terpasang masih lebih kecil dari ab. Bila a < ab maka tulangan
terpasang akan menghasilkan penulangn liat/ ductile. Tetapi apabila a > ab maka tulangan
terpasang akan menghasilkan penulangan getas/ brittle. Untuk menghindarkan penulangan getas
beberapa peraturan (misal BS 1880) mensyaratkan agar kemampuan balok hanya dibatasi sampai
dengan 75% ab.
Langkah analisis :
1. menetapkan nilai 1 = 0,85 untuk fc’ ≤ 30 MPa atau 1 = 0,85 – 0,05(fc’ – 30)/ 7 untuk fc’
≥ 30 MPa dan 1 ≥ 0,65
2. memasukkan variabel d, fy dan 1 ke dalam persamaan ab = 1. 600.d / (600 + fy) sehingga
diperoleh ab
3. melalui persamaan keseimbangan gaya Cc + C s = Ts, dan melalui beberapa anggapan
terlebih dahulu maka akan didapat nilai kedalaman garis netral c atau kedalaman blok
beton tekan a. Bila hasil kontrol regangan dengan menggunakan nilai garis netral c tersebut
didapat kesesuaian maka anggapan-anggapan itu benar, tetapi bila tidak berarti anggapan
itu harus diubah berdasarkan hasil dari kontrol tersebut.
4. anggapan-anggapan terhadap :
a. letak garis/ sumbu netral, letak garis netral dapat dianggap terletak di daerah selimut
beton/ penutup beton atau diantara tulangan tarik dan tekan. Posisi ini dapat
diperkirakan dari perbandingan antara tulangan tarik dan tulangan tekan, bila tulangan
tarik cukup banyak sehingga mendekati kondisi berimbangnya maka letak garis netral
di antara tulangan tarik dan tekan.
b. kondisi regangan tulangan tarik dan tekan (leleh atau tidaknya), bila dianggap
regangan itu leleh maka gaya tarik atau tekan yang digunakan didapat dari perkalian
luasan dan tegangan leleh (A. fy) tetapi bila tidak leleh maka gaya tarik atau tekan
didapatkan dari perkalian antara tegangan kerja (regangan x modulus elastisitas beton =
ε.E) dan luasan (A.ε.E).
5. anggapan yg dilakukan pada langkah 4) di atas akan menghasilkan kedalaman garis netral c
atau kedalaman blok beton a, dari persamaan Cs + Cc = Ts, yang kemudian digunakan
untuk mengontrol ulang anggapan melalui regangan pada tulangan tekan dan tarik :
a. tulangan tekan :
c d'
' 0,003 ; d ' penutup beton tulangan tekan
c
b. tulangan tarik :
d c
' 0,003 ; d kedalaman efektif tulangan tarik (h d s )
c
6. bila dari langkah 5) bersesuaian dengan langkah 4) maka langkah 7) dapat dilanjutkan,
tetapi bila ada salah satu anggapan tidak dipenuhi maka anggapan pada langkah 4) dan
kontrol regangan pada langkah 5) diulang.
7. a yang didapat dibandingkan dengan ab, bila a < ab maka tulangan terpasang akan
menghasilkan penulangn liat/ ductile dan sebaliknya akan menghasilkan tulangan getas.
8. kemampuan nominal balok dapat dihitung terhadap sumbu tulangan tarik seperti berikut Mn
= 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a) + A’.fs. (d-d’) dengan fs = fy bila regangan leleh tulangan tekan
yang terjadi, ε’ > εy, dan fs = ε.Es bila regangan leleh yang terjadi, ε’ < εy Mu = . Mn
Contoh 2.5 :
Contoh ini diambil dari contoh 2.4. Luas tulangan yg digunakan sama dengan hasil hitungan
analisis. Balok berukuran 200/450 dengan d’= ds = 50 mm, mutu bahan yang dilaksanakan
seperti berikut ini : fc’ = 30 MPa, fy = 400 MPa. Tentukan kemampuan balok menahan momen
lentur bila luasan tarik, Ast= 2325,02 mm2 , dan luasan tekan A’ = 374,27 mm2 !!!.
Langkah analisis :
1. 1 = 0,85 untuk fc’ ≤ 30 MPa
2. ab = 1. 600.d / (600 + fy) = 0,85.600.400/(600+400) = 204 mm
3. anggapan :
a. letak garis/ sumbu netral, terletak diantara tulangan tarik dan tekan.
b. kondisi regangan tulangan tekan leleh dan tulangan tarik juga leleh, maka Cs = A’.fy
= 374,27.400 = 149708 N, Ts = Ast .fy = 2325,02.400 = 930008 N
4. Cc + Cs = Ts, 0,85. fc’.b.a + 149708 = 930008 0,85.30.200.a = 930008-149708, a = 153
mm
5. c = a / 1 = 153/ 0,85 = 180 mm anggapan (a) di atas benar
6. kontrol ulang terhadap anggapan (b) di atas melalui regangan pada tulangan tekan dan tarik :
a. tulangan tekan :
180 50
' 0,003 0,002 y fy / Es 400 / 200.000 0,002 leleh , jadi benar
180
b. tulangan tarik :
400 180
' 0,003 0,003667 y 0,002 leleh , jadi benar
180
7. langkah 5 dan 6 sudah membuktikan bahwa semua anggapan benar, jadi bisa dilanjutkan
8. a = 153 mm < ab = 204 mm penulangan liat/ daktail, underreinforced !!
9. ε’ > εy Cs = A’. fy. = 374,27.400 = 149708 N, Cc = 0,85. fc’.b.a = 0,[Link] =
780300 N
Mn = Cc.(d – ½.a) + Cs. (d-d’) = 780300. (400-0,5.153) + 149708. (400-50) = 304824850
Nmm = 304,82 kNm Mu = .Mn = 243,86 kNm
Contoh 2.6 :
Contoh ini diambil dari contoh 2.5 hanya tulangan terpasang sudah disesuaikan dengan diameter
tersedia di lapangan. Balok berukuran 200/450 dengan d’= ds = 50 mm, mutu bahan yang
dilaksanakan seperti berikut ini : fc’ = 30 MPa, fy = 400 MPa. Tentukan kemampuan balok
menahan momen lentur bila luasan tarik, Ast= 5D25mm = 2453,12 mm2 dan A’ = 2D16 mm =
401,9 mm2 !!!.
Langkah analisis :
1. 1 = 0,85 untuk fc’ ≤ 30 MPa
2. ab = 1. 600.d / (600 + fy) = 0,85.600.400/(600+400) = 204 mm
3. anggapan :
1) letak garis/ sumbu netral, terletak diantara tulangan tarik dan tekan.
2) kondisi regangan tulangan tekan leleh dan tulangan tarik juga leleh, maka Cs = A’.fy
= 401,9.400 = 160760 N, Ts = Ast .fy = 2453,12.400 = 981248 N
4. Cc + Cs = Ts, 0,85. fc’.b.a + 160760 = 981248 0,85.30.200.a = 981248-160760, a =
160,88 mm
5. c = a / 1 = 160,88/ 0,85 = 189,3 mm anggapan (1) di atas benar
6. kontrol ulang anggapan (2) melalui regangan pada tulangan tekan dan tarik :
a. tulangan tekan :
189,3 50
' 0,003 0,0022 y fy / Es 400 / 200.000 0,002 leleh , anggapan benar
189,3
b. tulangan tarik :
400 189,3
' 0,003 0,00334 y 0,002 leleh , anggapan benar
189,3
7. langkah 5 dan 6 sudah membuktikan bahwa anggapan sudah sesuai, jadi bisa dilanjutkan
8. a = 160,88 mm < ab = 204 mm penulangan liat/ daktail, underreinforced !!
9. ε’ > εy Cs = A’. fy. = 401,9.400 = 160760 N, Cc = 0,85. fc’.b.a = 0,[Link],88 =
820488 N
Mn = Cc.(d – ½.a) + Cs. (d-d’) = 820488. (400-0,5. 160,88) + 160760. (400-50) =
318461145 Nmm = 318,461 kNm Mu = .Mn = 254,768 kNm
Momen yang didukung lebih besar dari pada contoh 2.5 karena sudah ada pembulatan luasan
tulangan oleh penyesuaian diameter tulangan di lapangan. Bila tulangan tekan ditambah apakah
akan menyebabkan balok berperilaku getas ??? mari kita simak contoh di bawah ini.
Contoh 2.7
Contoh ini diambil dari contoh 2.6 hanya diameter tulangan tekan terpasang sudah disesuaikan
dengan diameter tulangan tarik. Balok berukuran 200/450 dengan d’= ds = 50 mm, mutu bahan
yang dilaksanakan seperti berikut ini : fc’ = 30 MPa, fy = 400 MPa. Tentukan kemampuan balok
menahan momen lentur bila luasan tarik, Ast= 5D25mm = 2453,12 mm2 dan A’ = 2D25 mm =
981.25 mm2 !!!.
Langkah analisis :
1. 1 = 0,85 untuk fc’ ≤ 30 MPa
2. ab = 1. 600.d / (600 + fy) = 0,85.600.400/(600+400) = 204 mm
3. anggapan :
a) letak garis/ sumbu netral, terletak diantara tulangan tarik dan tekan.
b) kondisi regangan tulangan tekan leleh dan tulangan tarik juga leleh, maka Cs = A’.fy
= 981,25.400 = 392500 N, Ts = Ast .fy = 2453,12.400 = 981248 N
4. Cc + Cs = Ts, 0,85. fc’.b.a + 392500 = 981248 0,85.30.200.a = 981248-392500, a =
115,44 mm
5. c = a / 1 = 115,44 / 0,85 = 135,81 mm sesuai anggapan (a) di atas
6. kontrol ulang anggapan melalui regangan pada tulangan tekan dan tarik :
a. tulangan tekan :
135,81 50
' 0,003 0,00189 y fy / Es 400 / 200.000 0,002 tidak leleh , tidak
135,81
sesuai anggapan
b. tulangan tarik :
400 135,81
' 0,003 0,00584 y 0,002 leleh , sesuai anggapan
135,81
7. langkah 5 sudah membuktikan bahwa letak garis netral, c = 135,81 mm berada diantara
tulangan tarik dan tekan, walaupun regangan tarik leleh namun regangan baja tekan tidak
leleh kesimpulan : salah satu anggapan tidak sesuai, tidak bisa dilanjutkan, proses 3)
diulang
8. anggapan :
a) letak garis/ sumbu netral, terletak diantara tulangan tarik dan tekan.
b) kondisi regangan tulangan tekan tidak leleh tetapi tulangan tarik leleh, maka Cs =
A’.fs = 981,25.600.(c-d’)/c = 588750.(c-50)/c N, Ts = Ast .fy = 2453,12.400 = 981248 N
9. Cc + Cs = Ts, 0,85. fc’.b.1.c + 588750.(c-50)/c = 981248 0,[Link],85.c2 - 981248.c
+ 588750.c – 29437500 = 0 4335.c2 – 392498.c - 29437500 = 0, c = 139,29 mm
diantara tulangan tarik dan tekan, anggapan (a) di atas benar
10. kontrol ulang :
a. tulangan tekan :
139,29 50
' 0,003 0,00192 y fy / Es 400 / 200.000 0,002 tidak leleh ,
139,29
anggapan benar
b. tulangan tarik :
400 139,29
' 0,003 0,005615 y 0,002 leleh , anggapan benar
139,29
11. seluruh anggapan di atas dipenuhi !!, a = 1.c = 0,85. 139,29 = 118,4 mm < ab = 204 mm
penulangan liat/ daktail, underreinforced !!
12. Cs = A’.fs. = 981,25. (0,00192.200000) = 376800 N, Cc = 0,85. fc’.b.a = 0,[Link],4 =
603840 N
Mn = Cc.(d – ½.a) + Cs. (d-d’) = 603840. (400-0,5. 118,4) + 376800. (400-50) = 337668672
Nmm = 337,668 kNm Mu = .Mn = 270,134 kNm
Dari contoh terakhir dapat diambil kesimpulan bahwa tulangan tekan yang semakin banyak dari
yg dibutuhkan akan menyebabkan garis netral tertarik ke arah serat tekan beton (priksa nilai c)
sehingga kedalaman garis netral menjadi semakin kecil. Akibatnya tulangan tekan tidak leleh,
namun kemampuan balok menahan beban tetap akan meningkat walaupun tidak signifikan.
Contoh 2.8
Contoh ini diambil dari contoh 2.7 hanya diameter tulangan tarik terpasang jauh melebih dari
yang diperlukan. Balok berukuran 200/450 dengan d’= ds = 50 mm, mutu bahan yang
dilaksanakan seperti berikut ini : fc’ = 30 MPa, fy = 400 MPa. Tentukan kemampuan balok
menahan momen lentur bila luasan tarik, Ast= 8D25mm = 3925 mm2 dan A’ = 2D25 mm =
981.25 mm2 !!!.
Langkah analisis :
1. 1 = 0,85 untuk fc’ ≤ 30 MPa
2. ab = 1. 600.d / (600 + fy) = 0,85.600.400/(600+400) = 204 mm
3. anggapan :
a) letak garis/ sumbu netral, terletak diantara tulangan tarik dan tekan.
b) kondisi regangan tulangan tekan leleh dan tulangan tarik juga leleh, maka Cs = A’.fy
= 981,25.400 = 392500 N, Ts = Ast .fy = 3925.400 = 1570000 N
4. Cc + Cs = Ts, 0,85. fc’.b.a + 392500 = 1570000 0,85.30.200.a = 1570000-392500, a =
230,88 mm
5. c = a / 1 = 230,88 / 0,85 = 271,63 mm letak garis netral berada diantara [Link] dan
tekan anggapan benar
6. kontrol ulang anggapan (b) melalui regangan pada tulangan tekan dan tarik
a. tulangan tekan :
271,63 50
' 0,003 0,002448 y fy / Es 400 / 200.000 0,002 leleh , anggapan
271,63
benar
b. tulangan tarik :
400 271,63
' 0,003 0,00141 y 0,002 tidak leleh , anggapan tidak benar
271,63
7. langkah 5 sudah membuktikan bahwa letak garis netral, a = 230,88 mm berada diantara
tulangan tarik dan tekan, namun a > ab sehingga regangan baja tarik tidak leleh sebaliknya
regangan tekan leleh kesimpulan : ada salah satu anggapan tidak sesuai, tidak bisa
dilanjutkan, proses 3) diulang
8. anggapan :
c) letak garis/ sumbu netral, terletak diantara tulangan tarik dan tekan.
d) kondisi regangan tulangan tekan leleh tetapi tulangan tarik tidak leleh, maka Cs =
A’.fy = 981,25.400 = 392500 N, Ts = Ast . fs = 3925.(200000.0,003).(d-c)/c = 2355000.
(400-c)/c N.
9. Cc + Cs = Ts, 0,85. fc’.b.1.c + 392500 = 2355000.(400-c)/c 0,[Link],85.c2 +
392500.c + 2355000.c - 942000000 = 0 4335.c2 + 2747500.c – 942000000 = 0, c = 246,77
mm diantara tulangan tarik dan tekan
10. kontrol ulang :
a. tulangan tekan :
246,77 50
' 0,003 0,002392 y fy / Es 400 / 200.000 0,002 leleh , sesuai
246,77
anggapan
b. tulangan tarik :
400 246,77
' 0,003 0,00186 y 0,002 tidak leleh , sesuai anggapan
246,77
11. semua anggapan dipenuhi !!, a = 1.c = 0,85. 246,77 = 209,75 mm > ab = 204 mm
penulangan getas/ brittlel, overreinforced !!
12. Cs = A’.fy = 981,25.400 = 392500 N, Cc = 0,85. fc’.b.a = 0,85.30.200. 209,75 = 1069763,7 N
Mn = Cc.(d – ½.a) + Cs. (d-d’) = 1069763,7. (400-0,5. 209,75) + 392500. (400-50) =
453084948 Nmm = 453,085 kNm Mu = .Mn = 362,46 kNm
Dari contoh terakhir dapat dilihat bahwa penambahan tulangan tarik menyebabkan garis netral
tertarik ke bawah menjauhi serat terluar tekan beton, akibatnya tulangan tarik tidak leleh.
Walaupun kemampuan balok menahan momen meningkat tetapi tidak signifikan. Bila beban
yang dikerjakan berupa beban gravitasi saja maka disarankan agar kemampuan balok menahan
momen dibatasi pada tulangan tarik yg tidak lebih besar dari kondisi berimbangnya sebagai
berikut.
13. anggapan :
b. letak garis/ sumbu netral, terletak pada kondisi berimbang, a = ab = 1. 600.d / (600 +
fy) = 0,85.600.400/(600+400) = 204 mm
b. karena kondisi berimbang maka regangan tulangan tekan dan tarik leleh, Cs = A’.fy
= 981,25.400 = 392500 N
14. Cc = 0,85. fc’.b.a = 0,85.30.200. 204 = 1040400 N
Mn = Cc.(d – ½.a) + Cs. (d-d’) = 1040400. (400-0,5. 204) + 392500. (400-50) =
447414200Nmm = 447,41 kNm Mu = .Mn = 357,93 kNm