BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Definisi diare
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari
biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair atau setengah padat,
dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar
encer lebih dari 3x sehari. Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya, yaitu diare akut
dan kronis (Mansjoer,A.1999,501).
Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya
kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air
besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.
Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3
kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau
lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.
Diare merupakan penyakit berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian dan dapat
menimbulkan letusan kejadian luar biasa (KLB). Penyebab utama kematian pada diare adalah
dehidrasi yaitu sebagai akibat hilangnya cairan dan garam elektrolit pada tinja diare (Depkes
RI, 1998). Keadaan dehidrasi kalau tidak segera ditolong 50-60% diantaranya dapat
meninggal
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari diare?
2. Bagaimana anatomi fisiologinya?
3. Apa penyebab dari diare?
4. Apa saja tanda gejala dari diare?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang dari diare?
6. Apa sja komplikasi dari diare?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari diare?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada px diare?
1.3 Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari diare
2. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi diare
3. Untuk mengetahui penyebab diare
4. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari diare
5. Untuk mengetahui apa saja komplikasi diare
6. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan dari diare
7. Untuk mengetahui Bagaimana asuhan keperawatan pada px diare
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Diare
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah
cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni
100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).
Menurut WHO (1992) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3
kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur
lendir dan darah (Ngastiyah, 2002).
2.2 Anatomi dan Fisiologi
1) Anatomi sistem pencernaan
a. Mulut
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian :
1. Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu diruang antara gusi, bibir dan
pipi.
2. Rongga mulut/bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh
tulang maksilaris, palatum dan mandi bilaris disebelah belakang bersambung
dengan faring.
b. Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan
kerongkongan, merupakan persimpangan jalan nafas dan jalan makanan, letaknya
dibelakang rongga mulut dan didepan ruas tulang belakang.
c. Esofagus (kerongkongan)
Panjangnya ± 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah
lambung. Esofagus terletak dibelakang trakea dan didepan tulang punggung
setelah melalui thorak menembus diafragma masuk kedalam abdomen ke
lambung.
d. Gaster (lambung)
Merupakan bagian dari saluran pencernaan yang dapat mengembang paling
banyak terutama didaerah epigaster. Bagian-bagian lambung, yaitu :
1) Fundus ventrikularis, bagian yang menonjol keatas terletak disebelah kiri
osteum kardium biasanya berisi gas.
2) Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah
notura minor.
3) Antrum pilorus, berbentuk tebing mempunyai otot tebal membentuk spinkter
pilorus.
4) Kurtura minor, terletak disebelah kanan lambung, terdiri dari osteum kordi
samapi pilorus.
5) Kurtura mayor, lebih panjang dari kurtura minor terbentang dari sisi kiri
osteum kardium melalui fundus kontrikuli menuju kekanan sampai ke pilorus
anterior.
e. Usus halus
Usus halus merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang
berpangkal pada pilorus dan berakhir pada sekum panjangnya ± 6cm, merupakan
saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan obstruksi hasil pencernaan
makanan.
Usus halus terdiri dari :
1) Duodenum
Disebut juga usus 12 jari, panjangnya ± 25 cm, berbentuk sepatu kuda
melengkung kekiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Pada bagian kanan
duodenum terdapat selaput lendir yang nambulir disebut papila vateri.
2) Yeyunum
Usus kosong atau jejunum adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus
dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa
panjangnya ± 2-3 meter.
3) Ileum
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada
sistem pencernaan manusia panjangnya sekitar ± 4-5 m dan terletak setelah
duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH
antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12
dan garam-garam empedu.
f. Usus besar/interdinum mayor
Panjangnya ± 1 meter, lebar 5-6 cm, fungsinya menyerap air dari makanan,
tempat tinggal bakteri koli, tempat feces. Usus besar terdiri atas 8 bagian:
1) Sekum.
2) Kolon asenden.
Terletak diabdomen sebelah kanan, membujur keatas dari ileum sampai kehati,
panjangnya ± 13 cm.
3) Appendiks (usus buntu)
Sering disebut umbai cacing dengan panjang ± 6 cm.
4) Kolon transversum.
Membujur dari kolon asenden sampai ke kolon desenden dengan panjang ± 28
cm.
5) Kolon desenden.
Terletak dirongga abdomen disebelah kiri membujur dari anus ke bawah
dengan panjangnya ± 25 cm.
6) Kolon sigmoid.
Terletak dalam rongga pelvis sebelah kiri yang membentuk huruf "S" ujung
bawah berhubungan dengan rektum.
7) Rektum.
Terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor
dengan anus.
8) Anus.
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum
dengan dunia luar.
Anatomi Sistem Pencernaan
2) Fisiologi sistem pencernaan
Usus halus mempunyai dua fungsi utama, yaitu : pencernaan dan absorpsi bahan nutrisi
dan air. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh kerja ptialin, asam klorida,
dan pepsin terhadap makanan masuk. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh
kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak, dan protein menjadi
zat-zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu
menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi empedu
dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan
permukaan lebih luas bagi kerja lipase pankreas (Price & Wilson, 1994).
Isi usus digerakkan oleh peristaltik yang terdiri atas dua jenis gerakan, yaitu segmental dan
peristaltik yang diatur oleh sistem saraf autonom dan hormon (Sjamsuhidajat Jong, 2005).
Pergerakan segmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret pankreas,
hepatobiliar, dan sekresi usus, dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung
ke ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan suplai kontinu isi
lambung (Price & Wilson, 1994).
Absorpsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat, lemak dan protein
(gula sederhana, asam-asam lemak dan asa-asam amino) melalui dinding usus ke sirkulasi
darah dan limfe untuk digunakan oleh sel-sel tubuh. Selain itu air, elektrolit dan vitamin juga
diabsorpsi. Absoprpsi berbagai zat berlangsung dengan mekanisme transpor aktif dan pasif
yang sebagian kurang dimengerti (Price & Wilson, 1994).
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi
usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi air dan elektrolit, yang
sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir
yang menampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung (Preice &
Wilson, 1994). Kolon mengabsorpsi air, natrium, khlorida, dan asam lemak rantai pendek
serta mengeluarkan kalium dan bikarbonat. Hal tersebut membantu menjaga keseimbangan
air dan elektrolit dan mencegah terjadinya dehidrasi. (Schwartz, 2000)
Gerakan retrograd dari kolon memperlambat transit materi dari kolon kanan dan
meningkatkan absorpsi. Kontraksi segmental merupakan pola yang paling umum,
mengisolasi segmen pendek dari kolon, kontraksai ini menurun oleh antikolinergik,
meningkat oleh makanan dan kolinergik. Gerakan massa merupakan pola yang kurang
umum, pendorong antegrad melibatkan segmen panjang 0,5-1,0 cm/detik, tekanan 100-200
mmHg, tiga sampai empat kali sehari, terjadi dengan defekasi. (Schwartz, 2000)
Gas kolon berasal dari udara yang ditelan, difusi dari darah, dan produksi intralumen.
Nitrogen, oksigen, karbon dioksida, hidrogen, metan. Bakteri membentuk hidrogen dan
metan dari protein dan karbohidrat yang tidak tercerna. Normalnya 600 ml/hari. (Schwartz,
2000)
2.3 Etiologi
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus,
Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, [Link], T. hominis)
dan jamur (C. albicans).
b. Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat
menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia,
ensefalitis dan sebagainya.
2. Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa),
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa
merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu bisa
terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
3. Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap
jenis makanan tertentu.
4. Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang terjadi
tetapi dapat ditemukan pada anak yang lebih besar.
2.4 Tanda dan Gejala
Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer.
Pada anak cengeng, gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan
berkurang.
Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
Daerah sekitar anus kemerahan dan lecet karena seringnya difekasi dan tinja
menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
Ada tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elistitas kulit menurun), ubun-
ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat
badan.
Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut
jantung cepat, pasien sangat lemas hingga menyebabkan kesadaran menurun.
Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
2.5 Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
1. Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke
dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare
kerena peningkatan isi lumen usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap
makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.
Pathway
Secara skematis, patofisiologi diare dapat digambarkan sebagai berikut :
faktor infeksi Faktor malabsorbsi Faktor makanan Faktor Psikologi
KH,Lemak,Protein
Masuk Tek. Osmotik Meningkat Toksin Cemas
& berkembang dlm usus
Pergeseran air dan hiperperistaltis
Hipersekresi air elektrolit ke rongga
dan elektrolit usus Menurunnya kesempatan usus
( isi rongga usus) menyerap Makanan
Hipertermi DIARE
Frekuensi BAB meningkat Distensi abdomen
Kehilangan cairan & Gg. integritas kulit
Elektrolit berlebihan perianal Mual, Muntah
Nafsu makan menurun
gg. kes. cairan & elektrolit Asidosis Metabolik
Defisit Nutrisi
sesak
Resiko hipovolemi syok
Gangguan oksigenasi
2.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tinja
a. Makroskopis dan mikroskopis
b. PH dan kadar gula dalam tinja
c. Bila perlu diadakan uji bakteri
2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan
PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.
2.7 Komplikasi
Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
Renjatan hipovolemik.
Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi,
perubahan pada elektro kardiagram).
Hipoglikemia.
Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena
kerusakan vili mukosa, usus halus.
Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga
mengalami kelaparan.
2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan diare akut adalah sebagai berikut :
1. Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.
Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat
dan akurat, yaitu:
1) Jenis cairan yang hendak digunakan.
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena
tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila
dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat
diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul
Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter
NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan
cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
2) Jumlah cairan yang hendak diberikan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus
sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Derajat dehidrasi ringan,
sedang, berat dapat dinilai dengan Skor Mourice King.
Menilai tingkat dehidrasi ringan sedang berat dengan menggunakan Skor
Maurice King, sebagai berikut :
Keterangan:
Nilai 0-2 : dehidrasi ringan
Nilai 3-6 : dehidrasi sedang
Nilai 7-12: dehidrasi berat
1. Dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan
kurang dari 7 kg, jenis makanan :
a. Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak
jenuh.
b. Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim).
c. Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu
yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak
jenuh.
2. Obat-obatan yang diberikan pada anak diare adalah:
a. Obat anti sekresi (asetosal, klorpromazin)
b. Obat spasmolitik (papaverin, ekstrakbelladone)
c. Antibiotik (diberikan bila penyebab infeksi telah diidentifikasi)
2.9 Dampak Penyakit Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia
1. Kebutuhan Oxygenasi
Meningkatnya frekuensi buang air besar memungkinkan terjadinya kekurangan
cairan dan elektrolit yang berat sehingga menimbulkan intoleransi metabolisme
dalam tubuh dan tubuh menjadi asidosis metabolic untuk mempertahankan tubuh
tetap seimbang maka nafas menjadi lebih cepat (sesak).
2. Kebutuhan cairan dan elektrolit
Diare mengakibatkan pengeluaran air dan elektrolit berlebih, dengan adanya
hipokalemi, hiponatremi dan sebagainya, meka perlu adanya koreksi dengan
rehidrasi cairan elektrolit secara instan.
3. Kebutuhan sirkulasi
Pada keadaan hipovolemia menyebabkan penurunan tekanan darah, tachycardia
sebagai respon untuk meningkatakan perfusi jaringan. Adanya deklasi kalium
dapat menimbulkan disritmia jantung.
4. Kebutuhan Eliminasi
Peningkatan frekuensi BAB menyebabkan dehidrasi, maka ginjal menahan Na+
dan air sehingga urin menjadi pekat dan produksinya menurun.
5. Kebutuhan nutrisi
Diare dapat menyebabkan anorexia dan peningkatan rasa haus. Penurunan berat
badan 2% pada diare ringan, 5% pada diare sedang ,dan 8% pada diare berat
sebagai akibat menurunya absorbsi usus terhadap nutrient.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN
A. Pengkajian
Anamnesis
Pengkajian menurut Judha & Nazwar (2011) adalah pendekatan sistemik
untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan
perawatan pasien tersebut. Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi
pengumpulan data, analisa dan sintesa data serta perumusan diagnosa keperawatan.
Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan atau
keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungan pasien.
Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan lain, catatan
pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium. Metode pengumpulan data melalui
observasi (yaitu dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), wawancara
(yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data yang diperlukan), catatan
(berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang lama), literatur
(mencakup semua materi, buku-buku, masalah dan surat kabar).
1. Identitas Klien
Biodata klien mencakup nama, umur, jenis kelamin, [Link], agama, suku
bangsa, alamat, pendidikan, pekerjaan, tanggal MRS, diagnosa medis. Biodata
penanggung jawab perlu dipertanyakan untuk mengetahui hubungan soaial dengan
klien meliputinama, umur,jenis kelamin, agama, suku/bangsa, alamat, pendidikan,
pekerjaan, penghasilan, alamat, hubungan dengan klien.
2. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
Biasanya pada pasien diare profus bisa di dapat keluhan utama diare lebih dari
3x dalam sehari.
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Gejala awal biasanya kongesti vascular pulmonal : konsistensi encer, frekuensi
lebih dari 3x.
3) Riwayat penyakit dahulu
Pada pengkajian ini apakah sebelumnya pasien mengalami diare sebelumnya,
alergi makanan, ISPA, ISK, OMA.
Pengkajian primery
a Airway :
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara lain :
a. Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat berbicara atau
bernafas dengan bebas?
b. Kaji adanya tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara
lain:
Adanya snoring atau gurgling
Stridor atau suara napas tidak normal
Agitasi (hipoksia)
Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest movements
Sianosis
c. Look dan listen
d. Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas pasien terbuka.
e. Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien sesuai
indikasi :
Chin lift/jaw thrust
Lakukan suction (jika tersedia)
Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway, Laryngeal Mask Airway
Lakukan intubasi
b Breathing :
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien antara lain :
a. Pada kasus pasien dengan congestif heart failure biasanya terjadi edema
pulmonal akibat peningkatan tekanan vena pulmonalis yang menyebabkan
cairan mengalir dari kapiler paru ke alveoli; dimanifestasikan dengan batuk
dan nafas pendek.
b. Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan oksigenasi
pasien. Pada pasien dengan trauma tulang belakang biasanya ditemukan
Pernapasan dangkal, penggunaan otot-otot pernapasan, pergerakan dinding
dada.
Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting. Apakah ada tanda-tanda
sebagai berikut : cyanosis, penetrating injury, flail chest, sucking chest
wounds, dan penggunaan otot bantu pernafasan.
Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling iga, subcutaneous
emphysema, perkusi berguna untuk diagnosis haemothorax dan
pneumotoraks.
Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
c. Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien jika
perlu.
c Circulation
Berbeda dengan kondisi kegawatdaruratan dengan yang lain pada kondisi gawat
darurat pada pasien dengan congestif heart failure atau gagal jantung,
komponen circulation menjadi hal yang perlu dikaji lebih awal dikarenakan
kondisi jantung yang tidak mampu bekerja sehingga suplai darah ke seluruh
tubuh dalam sirkulasi jugak terganggu atau tidak adekuat. angkah-langkah
dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien, antara lain :
a. Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.
b. CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk digunakan.
c. Palpasi nadi radial jika diperlukan:
Menentukan ada atau tidaknya
Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
Regularity
d. Pemeriksaan EKG jugak diperlukan dan harus segera dilakukan, biasanya
pada pasien dengan gagal jantung akan terlihat Hipertrofi atrial atau
ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia dan kerusakan pola k jugmungkin
terlihat. Disritmia mis : takhikardi, fibrilasi atrial. Kenaikan segmen ST/T
persisten 6 minggu atau lebih setelah infark miokard menunjukkan adanya
aneurisme ventricular.
e. Kaji adanya peningkatan volume intravaskular.
f. Kaji adanya kongesti jaringan akibat tekanan arteri dan vena yang meningkat
akibat turunnya curah jantung.
g. Kaji adanya edema pulmonal akibat peningkatan tekanan vena pulmonalis.
d Disability
Pada klien dengan gagal jantung biasanya :
Respon pasien baik (alert),
kedasaran compos mentis,
GCS : 15 (E4, V5, M6),
pupil ishokor,
refleks terhadap cahaya baik.
e Exposure
Pada klien dengan gagal jantung biasanya :
Tidak terdapat deformitas,
contusion,
abrasi,
penetrasi, maupun laserasi.
Terdapat udem pada ekstremitas bawah dan abdomen.
Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Mengkaji adanya gejala edema yang menunjukkan retensi cairan; daerah
muka dan ekstremitas dikaji secara khusus. Pada wanita dilakukan
pemeriksaan vulva, uretra, dan vagina.
b. Palpasi
Pemeriksaan letak ginjal, pemeriksaan rektal, kelenjar prostat, pembesaran
nodus limfatikus, hernnia inguinal, atau femoral.
c. Perkusi
Penyakit renal dapat menimbulkan nyeri tekan atau ketuk pada daerah angulus
kostovertebralis yang terletak pada tempay iga ke-12 atau iga paling bawah.
d. Auskultasi
Auskultasi kuadran atas abdomen dilakukan untuk mendeteksi bruit (suara
vaskuler yang dapat menunjukkan stenosis pembuluh arteri renal)
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbagan Cairan dan Elektrolit B.d kehilangan cairan aktif
2. Defisit nutirisi b.d ketidakmampuan mencerna makanan
C. Intervensi
Diagnosa Kep Noc Nic
1. Ketidakseimbangan cairan Setelah dilakukan tindakan Menegemen Cairan
b.d kehilangan cairan aktif keperawatan selama 2x24 1) Monitor status hidrasi
jam bersihan jalan nafas (misalnya, membrane
klien dapatteratasi dengan mukosa lembab, denyut
kriteria hasil: nadi adekuat, dan
1. Tekanan darah (5) tekanan darah ortostatik
2. Denyut nadi radial (5) 2) Monitor status gizi
3. Turgor kuli (5) 3) Monitor ttv
4. Kelembapan membrane 4) Monitor makanan yang
mukosa (5) di absorbs dan itung
5. Pusing (5) kalori harian
5)
2. Deficit Nutrisi b.d Setelah dilakukan tindakan Menegemen nutisi
Ketidakmampuan keperawatan selama 2x24 1. Identifikasi adanya alergi
mencerna makanan jam bersihan jalan nafas atau intoleransi makanan
klien dapatteratasi dengan yang di miliki px
kriteria hasil: 2. Lakukan atau bantu px
1. Asupan Gizi (5) terkair dengan perawatan
2. Asupan Makanan (5) mulut sebelum makan
3. Asupan Cairan (5) 3. Beri obat- obat sebelum
4. Energy (5) makan
5. Resiko berat badan / 4. Anjurkan px unuk duduk
Tinggi badan (5) tegak di kursi jika
6. Hidrasi (5) memungkinkan
5. Tawarkan makanan
ringan yang padat gizi
6. Monitor kalori dan
asupan makanan
D. Evalusi
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan
yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat, dan anggota tim
kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan, patofisiologi,
dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana
keperawatan.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit
secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan
bentuk encer atau cair.
Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3
kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau
lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.
3.2 Saran
Diharapkan kepada mahasiswa agar dapat memahami dan mempelajari dari isi makalah ini
agar berguna untuk mengaplikasikan dalam memberikan pelayanan kepada anak dengan
gangguan diare. Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan,
penulisberharap bagi pembacanya untik mengkritik guna untuk menyempurnakan makalh ini
DAFTAR PUSTAKA
Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan. Ed 2. EGC. Jakarta
[Link]. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6.
EGC. Jakarta.
Lab/ UPF IKA, 1994. Pedoman Diagnosa dan Terapi . RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.
[Link]. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak sakit. EGC. Jakarta
Suryanah,2000. Keperawatan Anak. EGC. Jakarta
Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. EGC. Jakarta