BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hingga saat ini perkembangan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia
masih belum menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan angka
penggunaan kontrasepsi (CPR) dan penurunan angka unmet need hasil SDKI
dari tahun ke tahun yang belum mencapai target RPJM. Seperti kita ketahui
bahwa penggunaan metode KB yang tepat, terutama pada saat pasca salin,
dapat mendukung penurunan Angka Kematian Ibu yang merupakan target
SDGs yang belum tertuntaskan.
KB Pascasalin sebenarnya bukan hal baru, karena sejak 2007, melalui
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K),
didalamnya terdapat amanat persalinan yang memuat tentang perencanaan
penggunaan KB setelah bersalin. Penerapan KB pasca salin ini sangat penting
karena kembalinya kesuburan pada seorang ibu setelah melahirkan tidak dapat
diprediksi dan dapat terjadi sebelum siklus haid, dan menyebkan KTD
sehingga KB pasca salin merupakan salah satu program strategis untuk
menurunkan KTD. Salah satu KB pasca salin yang dapat diterapkan pada ibu
adalah penggunaan Metode Amenore Laktasi.
Oleh sebab itu penulis ingin mengaji lebih lanjut terkait penggunaan
kontrasepsi Metode Amenore Laktasi.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah penggunaan kontrasepsi Metode Amenore Laktasi?
1.3 Tujuan Penulian
Mengetahui penggunaan kontrasepsi Metode Amenore Laktasi
1.4 Manfaat Penulisan
Untuk mendalami dan mengkaji penggunaan kontrasepsi Metode Amenore
Laktasi
1|Page
BAB II
METODE AMENORE LAKTASI
2.1 Pengertian MAL
MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif,
artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apapun
lainnya (Arum & Sujiyatini, 2009).
MAL menggunakan praktik menyusui untuk menghambat ovulasi sehingga
berfungsi sebagai kontrasepsi. Apabila seorang wanita memiliki seorang bayi
berusia kurang dari 6 bulan dan amenore serta menyusui penuh, kemungkinan
kehamilan terjadi hanya sekitar 2%. Namun, jika tidak menyusui penuh atau
tidak amenorea, risiko kehamilan akan lebih besar. Banyak wanita akan
memilih bergantung pada metode kontrasepsi lain seperti pil hanya
progesteron serta MAL (Everett, 2007, hal. 51).
MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila :
1) Menyusui secara penuh, lebih efektif bila pemberian > 8 x sehari.
2) Belum haid.
3) Umur bayi kurang dari 6 bulan (Saifuddin, dkk, 2006).
2.2 Cara kerja MAL
Proses menyusui dapat menjadi metode kontrasepsi alami karena hisapan bayi
pada puting susu dan areola akan merangasang ujung-ujung saraf sensorik,
rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus, hipotalamus akan menekan
pengeluaran faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin namun
sebaliknya akan merangsang faktor-faktor tersebut merangsang hipofise
2|Page
anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon prolaktin akan
merangsang sel–sel alveoli yang berfungsi untuk memproduksi
[Link] dengan pembentukan prolaktin, rangsangan yang berasal dari
isapan bayi akan ada yang dilanjutkan ke hipofise anterior yang kemudian
dikeluarkan oksitosin melalui aliran darah, hormon ini diangkut menuju
uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadilah
proses involusi. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan merangsang
kontraksi dari sel akan memeras ASI yang telah terbuat keluar dari alveoli
dan masuk ke sistem duktulus yang selanjutnya mengalirkan melalui duktus
laktiferus masuk ke mulut bayi (Anggraini, 2011, hal. 11-12). Hipotesa lain
yang menjelaskan efek kontrasepsi pada ibu menyusui menyatakan bahwa
rangsangan syaraf dari puting susu diteruskan ke hypothalamus, mempunyai
efek merangsang pelepasan beta endropin yang akan menekan sekresi
hormon gonadotropin oleh hypothalamus. Akibatnya adalah penurunan
sekresi dari hormon Luteinizing Hormon (LH) yang menyebabkan kegagalan
ovulasi (BKKBN, 1991, hal. 8).
Gambar 1 skema cara kerja MAL Sumber : Handayani, 2010, hal. 67
2.3 e
3|Page
Ada beberapa keuntungan ketika seorang ibu menggunakan kontrasepsi
MAL, diantarana yaitu:
1. Efektivitas tinggi (keberhasilan 98% pada enam bulan
pascapersalinan).
2. Tidak mengganggu senggama.
3. Tidak ada efek samping secara sistemik.
4. Tidak perlu pengawasan medis.
5. Tidak perlu obat atau alat.
6. Tanpa biaya.
2.4 Keuntungan non kontrasepsi MAL
Menurut Saifuddin, dkk (2006, hal. MK-2) keuntungan non kontrasepsi MAL
untuk bayi, yaitu:
1. Mendapatkan kekebalan pasif(mendapatkanantibody perlindungan lewat
ASI).
2. Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh kembang
bayi yang optimal.
3. Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi dari air dan susu
formula.
Menurut Handayani (2010, hal. 68) keuntungan non kontrasepsi MAL
untuk ibu, yaitu:
1. Mengurangi perdarahan pasca persalinan.
2. Mengurangi resiko anemia.
3. Meningkatkan hubungan psikologik ibu dan bayi.
4|Page
2.5 Keterbatasan MAL
Menurut Arum & Sujiyatini (2009, hal. 70) keterbatasan MAL, yaitu:
1. Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam
30 menit pasca persalinan.
2. Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial.
3. Efektifitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai dengan 6
bulan.
4. Tidak melindungi terhadap IMS termasuk virus hepatitis B/HBV dan
HIV/AIDS.
Yang boleh menggunakan MAL (Handayani, 2010, hal. 69)
1. Ibu yang menyusui secara eksklusif.
2. Bayinya berumur kurang dari 6 bulan.
3. Belum mendapat haid setelah melahirkan.
Yang seharusnya tidak memakai MAL
1. Sudah mendapat haid setelah bersalin.
2. Tidak menyusui secara eksklusif.
3. Bayinya sudah berumur lebih dari 6 bulan.
4. Bekerja dan terpisah dari bayi lebih lama dari 6 jam (Arum& Sujiyatini,
2009, hal. 71; Saifuddin, dkk, 2006, hal. MK- 3).
5|Page
2.6 Keadaan yang memerlukan perhatian saat menggunakan MAL
No Keadaan Anjuran
1 Ketika mulai memberikan Membantu klien memilih metode lain.
makana pendamping secara Walaupun metode kontrasepsi lain
teratur (menggantikan satu dibutuhkan, klien harus didorong
kali untuk
menyusui) tetap melanjutkan pemberian ASI.
2 Ketika haid sudah kembali Membantu klien memilih metode lain.
Walaupun metode kontrasepsi lain
dibutuhkan, klien harus didorong
untuk
tetap melanjutkan pemberian ASI.
3 Bayi menghisap susu tidak Membantu klien memilih metode
sering (On Demand) atau jika lain. Walaupun metode kontrasepsi
< 8 x sehari lain dibutuhkan, klien harus didorong
untuk
tetap melanjutkan pemberian ASI.
4 Bayi berumur 6 bulan atau Membantu klien memilih metode lain.
lebih Walaupun metode kontrasepsi lain
dibutuhkan, klien harus didorong
untuk
tetap melanjutkan pemberian ASI.
Sumber: Setya & Sujiyatini, 2009, hal. 70
2.7 Hal yang harus disampaikan kepada klien
Menurut Arum & Sujiyatini, 2009, hal. 71; Saifuddin, dkk, 2006, hal. MK- 3
hal-hal yang harus disampaikan kepada klien, yaitu:
6|Page
1. Seberapa sering harus menyusui.
Bayi disusui sesuai kebutuhan bayi (on demand). Biarkan bayi
menyelesaikan hisapan dari satu payudara sebelum memberikan payudara
lain, supaya bayi mendapat cukup banyak susu akhir. Bayi hanya
membutuhkan sedikit ASI dari payudara berikut atau sama sekali tidak
memerlukan lagi. Ibu dapat memulai dengan memberikan payudara lain
pada waktu menyusui berikutnya sehingga kedua payudara memproduksi
banyak susu.
2. Waktu antara 2 pengosongan payudara tidak lebih dari 4 jam.
3. Biarkan bayi menghisap sampai dia sendiri yang melepas
hisapannya.
4. Susui bayi ibu juga pada malam hari karena menyusui waktu malam
membantu pertahanan kecukupan persediaan ASI.
5. Bayi terus disusukan walau ibu/bayi sedang sakit.
6. ASI dapat disimpan dalam lemari pendingin
7. Kapan mulai memberikan makanan padat sebagai makanan pendamping
ASI. Selama bayi tumbuh dan berkembang dengan baik serta kenaikan
berat badan cukup, bayi tidak memerlukan makanan selain ASI sampai
dengan umur 6 bulan. (Berat Badan naik sesuai umur, sebelum BB naik
minimal 0,5kg, ngompol sedikitnya 6 kali sehari)
8. Apabila ibu menggantikan ASI dengan minuman atau makanan lain, bayi
akan menghisap kurang sering dan akibatnya menyusui tidak lagi efektif
sebagai metode kontrasepsi.
7|Page
9. Haid
Ketika ibu mulai dapat haid lagi, itu pertanda ibu sudah subur kembali
dan harus segera mulai menggunakan metode KB lainnya.
Untuk kontrasepsi dan kesehatan
Bila menyusui tidak secara eksklusif atau berhenti menyusui maka perlu
ke klinik KB untuk membantu memilihkan atau memberikan metode
kontrasepsi lain yang sesuai.
2.8 Beberapa catatan dari konsensus Bellagio (1988) untuk mencapai keefektifan
98% (Setya & Sujiyatini, 2009, hal. 71; Saifuddin, dkk, 2006, hal. MK- 4)
1. Ibu harus menyusui secara penuh atau hampir penuh (hanya sesekali
diberi 1-2 teguk air/minuman pada upacara adat/agama).
2. Perdarahan sebelum 56 hari pasca persalinan dapat diabaikan (belum
dianggap haid).
3. Bayi menghisap secara langsung.
4. Menyusui dimulai dari setengah sampai satu jam setelah bayi lahir.
5. Pola menyusui on demand (menyusui setiap saat
bayi membutuhkan) dan dari kedua payudara.
6. Sering menyusui selama 24 jam termasuk malam hari.
7. Hindari jarak menyusui lebih dari 4 jam.
Setelah bayi berumur 6 bulan, kembalinya kesuburan mungkin didahului
haid, tetapi dapat juga tanpa didahului haid. Efek ketidaksuburan karena
menyusui sangat dipengaruhi oleh Cara menyusui, seringnya menyusui,
8|Page
lamanya setiap kali menyusui, jarak antara menyusui dan kesungguhan
menyusui.
Setelah berhasil dan aman untuk memakai MAL maka ibu harus
menerapkan menyusui secara eksklusif sampai dengan enam bulan.
Untuk mendukung keberhasilan menyusui eksklusif dan MAL maka
beberapa hal yang penting untuk diketahui yaitu cara menyusui yang
benar meliputi posisi, perlekatan dan menyusui secara efektif.
BAB III
PENUTUP
9|Page
3.1 Kesimpulan
MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif
yang cukup efektif, karena dengan hisapan bayi pada puting susu dan areola
akan merangasang ujung-ujung saraf sensorik, rangsangan ini dilanjutkan ke
hipotalamus dan merangsang hipofise anterior untuk mengeluarkan hormon
prolaktin yang merangsang produksi ASI. Meskipun kontrasepsi MAL dapat
memiliki manfaat baik manfaat secara kontrasepsi maupun non kontrasepsi,
sayangnya kontrasepsi ini juga memiliki keterbatasan, yakni Perlu persiapan
sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pasca
persalinan, mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial, efektifitas
tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai dengan 6 bulan, dan tidak
melindungi terhadap IMS termasuk virus hepatitis B/HBV dan HIV/AIDS.
Oleh sebab itu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan MAL
yaitu terkait keadaan-keadaan saat menggunakan MAL dan keuntungannya.
3.2 Saran
Perlu diberikan edukasi komprehensif kepada ibu hamil terkait penggunaan
kontrasepsi Metode Amenore Laktasi.
DAFTAR PUSTAKA
10 | P a g e
Arum, Sujiyatini. (2009). Panduan Lengkap Pelayanan KB terkini. Yogakarta:
Nuha Medika hal 68-71
Everett (2007). Buku saku kontrasepsi dan kesehatan seksual reproduksi.
Jakarta: EGC. Hal 5
Saifuddin (2006). Panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka. Hal MK-1, MK-2, MK-3, MK-4,MK-6
Anggraini (2011). Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Rohima Press.
Hal 11-12
BKKBN (1991). Program KB Nasional. Jakarta: BKKBN. Hal 8
Handayani, Sri (2010). Buku ajar pelayanan keluarga berencana. Yogyakarta:
Pustaka Rihama. Hal 67-69
11 | P a g e