PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR
GEOMEKANIKA KE-1 TAHUN 2012
MENGGAGAS MASA DEPAN REKAYASA BATUAN &
TEROWONGAN DI INDONESIA
MINERALISASI BIJIH BESI DI KABUPATEN DONGGALA
PROVINSI SULAWESI TENGAH
Oleh :
Abdul Rauf
Prodi Teknik Pertambangan, FTM, UPN “Veteran” Yogyakarta
Hp. 082138767660
Abdulrauf_nuke@[Link].
Abstrak
S
ebagai penyusun mineral, besi (Fe) merupakan unsur yang hadir di setiap batuan, dalam jumlah yang
relatif kecil. Ketersediaanya dalam jumlah besar (ekonomis) melibatkan proses-proses geologi yang
berkaitan dengan suatu zonasi mineralisasi.
Melalui singkapan, mineralisasi bijih besi Kabupaten Donggala yang berada pada jalur orogenesa dapat
diketahui prospeksinya.
Kata Kunci: Bijih besi, Mineralisasi, Prospeksi
I. PENDAHULUAN untuk menentukan kegiatan tipe mineralisasi
Seiring dengan peningkatan deposit bijih besi.
pembangunan di bidang konstruksi yang begitu Ruang lingkup kegiatan yang dilakukan
pesat maka meningkat pula kebutuhan akan adalah : Pengamatan Singkapan, Perkiraan kondisi
logam dasar. Permintaan dunia industri terhadap Geologi permukaan, Perkiraan prospeksi dan
mineral logam seperti besi (Fe) akhir-akhir ini Pengamatan mineralisasi deposit bijih besi.
meningkat tajam, terutama pasokan industri baja
untuk negara-negara maju. Hal ini terlihat dari II. TINJAUAN UMUM
banyaknya perusahaan-perusahaan pertambangan 2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah
yang melakukan eksplorasi daerah baru untuk Lokasi kegiatan prospeksi deposit bijih
mencari cadangan iron deposit di beberapa besi secara administratif terletak di Kecamatan
tempat, khususnya di Indonesia. Sojol, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi
Besi (Fe) merupakan unsur yang hadir di Tengah. Kecamatan Sojol berbatasan langsung
setiap batuan, ketersediaanya dalam jumlah besar dengan laut dan kecamatan lainnya di Kabupaten
dan bernilai ekonomis melibatkan proses-proses Donggala, yaitu :
geologi yang berkaitan dengan suatu zonasi Disebelah Utara : Kecamatan Tomini
mineralisasi. Kabupaten Donggala merupakan Disebelah Timur : Kecamatan Tinombo
salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah, terletak Disebelah Selatan : Damplas
pada jalur orogenesa yang memungkinkan Disebelah Barat : Selat Makassar
dijumpai deposit bijih besi. Oleh karena itu Secara astronomis lokasi ini terletak pada
dibutuhkan pengetahuan yang luas mengenai koordinat antara 119o 54’ – 120o 5’ Bujur Timur
keberadaan dan tipe endapannya, meliputi dan 0o 20’ – 0o 27’ Lintang Utara. Secara
karakteristik, geometri dan diagenesa, serta geografis lokasi ini terletak di lereng sebelah
faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti Barat dari Pegunungan Sojol. Untuk mencapai
hubungannya dengan tektonik. lokasi ini, dari Kota Palu berjarak sekitar 213 km
Maksud dilakukan kegiatan ini adalah : yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda
Peninjauan lapangan untuk membuktikan adanya empat dengan kondisi jalan beraspal. Dari base
deposit bijih besi. Pengambilan conto secara chip camp untuk menuju lokasi menggunakan sepeda
sampling dan perkiraan kualitas serta motor sampai jalan setapak yang tidak dapat
memperkirakan penyebaran deposit bijih besi. dilewati, diteruskan dengan berjalan kaki.
Adapun tujuan dilakukan kegiatan ini adalah
4-54
PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR
GEOMEKANIKA KE-1 TAHUN 2012
MENGGAGAS MASA DEPAN REKAYASA BATUAN &
TEROWONGAN DI INDONESIA
Gambar 1. Peta Lokasi Prospeksi
2.2. Kondisi Geologi 0o – 10o.
Fisiografi lokasi kegiatan, merupakan Tts Formasi Tinombo Ahlburg (1913),
perbukitan sedang sampai terjal, dengan filit, batusabak, batupasir kwarsa,
kemiringan 20o sampai 70o. Elevasi batulanau, pualam, batu tanduk,
terendah berada pada 126 mpal dan elevasi serpih merah dan rijang merah serta
tertingginya 456 mpal. Sungai besar yang batuan gunung api. Aliran lava
melalui lokasi ini adalah sungai bersifat andesiti sampai basal.
Bangkalang Taipa dan pola alirannya gr Batuan Terobosan, terjadi dalam
adalah dendritik. beberapa kala. Dari yang tertua
Stratigrafi lokasi ini terdiri dari satuan berturut-turut Andesit, Diorit, Sienit
litologi sebagai berikut: dan Lamprofir. Umumnya terdapat
Qal Aluvium dan Endapan Pantai, sebagai saluran gunungapi di dalam
kerikil, pasir dan lumpur. Terbentuk Formasi Tinombo.
dalam lingkungan sungai, delta dan Struktur Geologi di lokasi ini adalah sesar
pantai. dengan arah yang berfariasi, di bagian
Qts Molasa Celebes Sarasin dan Sarasin Utara lokasi ini ber arah Barat Laut -
(1901), konglomerat, batupasir Tenggara dan Timur Laut – Barat Daya.
kwarsa, grewak, batulempung, Sedangkan di lokasi penelitian mengarah
serpih, napal dan batugamping koral. Utara – Selatan dan Timur Laut – Barat
Mengeras lemah dengan kemiringan Daya.
4-55
PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR
GEOMEKANIKA KE-1 TAHUN 2012
MENGGAGAS MASA DEPAN REKAYASA BATUAN &
TEROWONGAN DI INDONESIA
Gambar 2. Peta Geologi 3)
III. HASIL SURVEY 3..2. Singkapan 2
3.1. Singkapan 1 Bijih besi berbentuk boulder berjumlah 4
Bijih besi berbentuk boulder berjumlah 3 buah dengan ukuran diameter 0,5 s/d 1 m,
buah dengan ukuran diameter 1, 1,5 dan 2,1 lainnya ditemukan berukuran < 20 cm.
m, lainnya berukuran < 30 cm. Boulder Boulder bijih besi tersebut terletak pada
terletak di dasar sungai. posisi terpendam di lereng bukit. Jika
Koordinat : 0824760 mT dan ditelusuri bukitnya diperkirakan
0046551 mU panjangnya sekitar 250 m.
Ketinggian : 170 mpal Koordinat : 0826618 mT dan
Mineral Dominan : Hematit 0046680 mU
Estimasi volume : 7 m3 Ketinggian : 305 mpal
Kadar : 48 – 56% Fe (SAF) Mineral Dominan : Magnetit
Estimasi volume : 4 m3
Kadar : 58–66% Fe (SAF)
4-56
PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR
GEOMEKANIKA KE-1 TAHUN 2012
MENGGAGAS MASA DEPAN REKAYASA BATUAN &
TEROWONGAN DI INDONESIA
Singkapan 1. Boulder pada Sungai Singkapan 2. Boulder terpendam
di lereng
Gambar 3. Singkapan 1 dan Singkapan 2
3.3. Singkapan 3 Koordinat : 0825835 mT dan
Bijih besi berbentuk boulder berjumlah 2 0046452 mU
buah dengan ukuran diameter 1,5 dan 2 m. Ketinggian : 199 mpal
Boulder bijih besi tersebut terletak dijalan Mineral Dominan : Hematit
setepak pada posisi terpendam. Bukit yang Estimasi volume : 36 m3
berada di dekatnya membentang sepanjang Kadar : 56 – 58% Fe
sekitar 150 m. (SAF)
Koordinat : 0825856 mT dan 3.5. Singkapan 5
0046450 mU Bijih besi berbentuk boulder berjumlah 5
Ketinggian : 204 mpal buah dengan ukuran diameter 0,3 s/d 0,5 m,
Mineral Dominan : Hematit lainnya ditemukan berukuran < 10 cm.
Estimasi volume : 16 m3 Boulder bijih besi tersebut terletak pada
Kadar : 54 – 58% Fe (SAF) posisi terpendam di lereng bukit. Jika
3.4. Singkapan 4 ditelusuri bukitnya diperkirakan
Bijih besi berbentuk boulder berjumlah 1 panjangnya sekitar 100 m.
buah dengan ukuran diameter 3 m dan Koordinat : 0825934 mT dan
tingginya 4 m. Boulder bijih besi tersebut 0046306 mU
terletak tebing sungai bersebelahan dengan Ketinggian : 205 mpal
singkapan 3. Sungai yang terletak Mineral Dominan : Magnetit
dibelahnya dijumpai pula boulder Estimasi volume : 2 m3
berukuran < 1 m yang tersebar sepanjang Kadar : 60 – 68% Fe (SAF)
100 m sampai pada singkapan 8.
Singkapan .3 di Jalan Setapak Singkapan 4. di tebing sungai
Gambar 4. Singkapan 3 dan Singkapan 4
4-57
PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR
GEOMEKANIKA KE-1 TAHUN 2012
MENGGAGAS MASA DEPAN REKAYASA BATUAN &
TEROWONGAN DI INDONESIA
3.6. Singkapan 6 Koordinat : 0825955 mT dan
Bijih besi berbentuk boulder berjumlah 1 0046303 mU
buah dengan ukuran diameter sekitar 4 m. Ketinggian : 211 mpal
Boulder bijih besi tersebut terletak pada Mineral Dominan : Magnetit
posisi terpendam tetapi sekitar 60 cm Estimasi volume : 32 m3
berada di atas permukaan tanah. Lokasinya Kadar : 62 – 70% Fe (SAF)
berada di limpasan sungai.
Singkapan 5. Boulder di tebing Sungai Singkapan 6. Boulder di limpasan sungai
Gambar 5. Singkapan 5 dan Singkapan 6
3.7. Singkapan 7 Kadar : 56 – 65% Fe (SAF)
Bijih besi berbentuk boulder yang berada di 3.8. Singkapan 8
tepi jalan ini merupakan hasil bongkaran Bijih besi berbentuk boulder tersebar di
saat pembukaan jalan. Bongkahan yang lereng bukit ukuran diameter 1 s/d 2 m.
masih terpendam cukup besar berdiameter Posisi bijih besi tersebut sebagian
sekitar 8 m. Dilihat pada sisi lereng jalan terpendam dan lainnya muncul secara utuh.
diperkirakan bijih besi menerus ke dalam Di sepanjang sungainya juga dijumpai
tanah paling tidak setinggi lereng sekitar 3 boulder < 50 cm.
m. Koordinat : 0825786 mT dan
Koordinat : 0825958 mT dan 0046371 mU
0046286 mU Ketinggian : 182 mpal
Ketinggian : 212 mpal Mineral : Magnetit dan Hematit
Mineral : Magnetit dan Hematit Estimasi volume : 96 m3
Estimasi volume : 150 m3 Kadar : 56–66% Fe (SAF)
Singkapan 7. Bongkaran di jalan Singkapan 8. Boulder di tepi sungai
Gambar 6. Singkapan 7 dan Singkapan 8
4-58
PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR
GEOMEKANIKA KE-1 TAHUN 2012
MENGGAGAS MASA DEPAN REKAYASA BATUAN &
TEROWONGAN DI INDONESIA
IV. PEMBAHASAN lokasi ini dan hasil pengukuran kadar Fe di
4.1. Mineralisasi Bijih Besi Donggala lokasi maka bijih besi dilokasi didominasi
Proses terjadinya deposit bijih besi oleh mineral Magnetit dan Hematit.
berhubungan erat dengan adanya peristiwa Endapan besi jarang yang bernilai
tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa ekonomis, jika bijih besi di lokasi ini
tektonik, terbentuklah struktur sesar, dilihat dari mineralnya yaitu Magnetit dan
struktur sesar di lokasi penelitian mengarah Hematit maka endapan bijih besi di lokasi
Utara – Selatan dan Timur Laut – Barat ini bernilai ekonomis.
Daya, ini merupakan zona lemah yang Magnetite adalah mineral dengan
memungkinkan terjadinya magmatisme, kandungan Fe paling tinggi tetapi terdapat
yaitu intrusi magma menerobos batuan tua. dalam jumlah kecil, sedangkan hematite
Batuan Terobosan, terjadi dalam beberapa merupakan mineral utama yang dibutuhkan
kala, yaitu Andesit, Diorit dan Sienit, dalam industri besi.
umumnya terdapat sebagai saluran
gunungapi. 4.3. Prospek Bijih Besi Donggala
Akibat adanya kontak magmatik ini, Berdasarkan bentuk deposit bijih besi di
terjadilah proses rekristalisasi, alterasi, lokasi maka dapat ditentukan bahwa
mineralisasi, dan penggantian endapan primernya berada di sepanjang
(replacement) pada bagian kontak magma bukit yang dijumpai adanya boulder. Untuk
dengan batuan yang diterobosnya yaitu boulder berbentuk bulat maka endapan
Formasi Tinombo yang tersusun berupa primernya relatif jauh dibandingkan dengan
filit, batusabak, batupasir kwarsa, bentuk boulder yang menyudut. Bentuk
batulanau, pualam, batu tanduk, serpih boulder ini juga signifikan terhadap
merah dan rijang merah serta batuan ukurannya, semakin kecil ukuran boulder
gunung api. bijih besi yang ditemukan maka semakin
Perubahan ini disebabkan karena adanya jauh pula endapan primernya.
panas dan bahan cair (fluida) yang berasal - Singkapan 1
dari aktivitas magma tersebut. Proses Dijumpai di sungai maka asal endapan
penerobosan magma pada zona lemah ini primernya berada pada bukit yang
hingga membeku umumnya disertai dengan terletak disebelah hulu sungai.
kontak metamorfosa. Kontak metamorfosa - Singkapan 2, 3, 4, 5 dan 8
juga melibatkan batuan samping Formasi Dijumpai pada lereng bukit, kaki bukit
Tinombo sehingga menimbulkan bahan dan di tebing sungai maka asal endapan
cair (fluida) seperti cairan magmatik dan primernya berada pada bukit tersebut.
metamorfik yang banyak mengandung - Singkapan 6 dan 7
bijih. Dijumpai di limpasan sungai dan di bukit
maka endapan primernya berada pada
4.2. Kandungan Fe dalam bijih besi bukit tersebut.
Bijih adalah Kumpulan mineral yang Berdasarkan dugaan asal endapan
daripadanya dapat diekstraksi satu atau primernya maka diperkirakan panjang bukit
lebih logam yang dapat diusahakan secara yang diduga akan dijumpainya endapan
menguntungkan. Bijih besi biasanya primer adalah :
tersusun oleh mineral magnetit (FeO Singkapan 1 asalnya sama dengan
Fe2O3) yang mengandung 72,4 % Fe, singkapan 8, 3 dan 4. Panjang bukit
ilmenit (FeO TiO2) 36,8% Fe, hematit tersebut sekitar 200 m.
(Fe2O3) 69,94% Fe, goethit (FeO OH) 62% Singkapan 2 panjang bukit sekitar 250 m.
Fe, siderit (FeCO3) 48,2% Fe. Mineral lain Singkapan 6 dan 7 pada bukit yang sama
yang mengandung besi seperti pirit (FeS2) sekitar 100 m.
46,5% Fe, pirhotit (FeS) 63,5% Fe, tidak Panjang bukit yang diduga merupakan asal
dapat dianggap sebagai sumber utama besi, endapan bijih besi primer seluruhnya
karena kesulitan-kesulitan teknis adalah 650 m.
pengolahannya.
Berdasarkan diketemukannya singkapan di
4-59
PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR
GEOMEKANIKA KE-1 TAHUN 2012
MENGGAGAS MASA DEPAN REKAYASA BATUAN &
TEROWONGAN DI INDONESIA
4.4. Prospek Bijih Besi Donggala 2. Kandungan Fe dalam bijih besi
Perkiraan panjang bukit yang diduga Donggala relatif ekonomis, di diminasi
merupakan keberadaan endapan primer oleh mineral magnetit (FeO Fe2O3) dan
adalah 650 m. Pembuktiannya diperlukan hematit (Fe2O3).
kegiatan eksplorasi. Jika hal ini benar maka 3. Berdasarkan bentuk deposit bijih besi
dapat ditaksir besarnya sumberdaya dengan Donggala di lokasi singkapan 1,
beberapa asumsi sebagai berikut : endapan primernya berada pada bukit
- Panjang bukit = 650 m yang terletak disebelah hulu sungai.
- Lebar rata-rata = 10 m Lokasi singkapan 2 sampai singkapan 8
- Ketebalan rata-rata = 10 m endapan primernya berada pada bukit
- Volume = 65.000 m3 tersebut.
- Sumberdaya = 195.000 ton .4. Prospeksi Bijih Besi Donggala seluas
Penaksiran sumberdaya tersebut di atas sekitar 300 Ha dengan sumberdaya
berdasarkan pengamatan singkapan sebesar 195.000 ton dan diperkirakan
langsung di lapangan seluas sekitar 300 Ha. untuk luas penyebaran singkapan
Untuk luasan penyebaran singkapan seluruhnya yaitu 9.000 Ha akan dapat
seluruhnya yaitu 9.000 Ha dapat dijumpai dijumpai sumberdaya hingga 3.900.000
sumberdaya bijih besi lebih dari 10 kali ton.
lipat atau 1.950.000 ton, bahkan dapat 5. Kegiatan Lanjutan dari kegiatan ini
mencapai 20 kali lipat atau 3.900.000 ton. adalah Eksplorasi Pendahuluan
diantaranya adalah Pemetaan
4.5. Kegiatan Lanjutan Topografi, Geomagnet, Geolistrik,
Prospeksi yang telah dilakukan baru Pemboran inti dan Uji Laboratorium.
mencapai areal seluas 300 Ha dan apabila
dihitung areal yang tidak prospek maka DAFTAR PUSTAKA
luasnya sekitar 1.200 Ha atau 13 % dari 1. Abdul Rauf, 1996, Modul Genesa
luas wilayah penelitian. Masih 87% luas Bahan Galian, Jurusan Teknik
areal yang perlu dilakukan kegiatan serupa. Pertambangan, FTM, UPN ”Veteran”
Kegiatan eksplorasi lanjutan untuk areal Yogyakarta.
seluas 9.000 Ha membutuhkan dana yang 2. Kreiter, V.M., 1968, Geological
sangat besar maka perlu dilakukan Prospecting And Exploration, Mir
lokalisasi areal prospek melalui kegiatan Publishers, Moscow.
Eksplorasi Pendahuluan untuk 3. Nana Ratman, 1976, Geologi Lembar
mendapatkan lokasi keberadaan endapan Tolitoli, Direktorat Geologi, Bandung.
primer adalah sebagai berikut: 4. Park and Mac Diarmid, 1975, Ore
- Pemetaan Topografi Deposits, W.H. Freeman and Company,
- Geomagnet Third Edition, San Francisco.
- Geolistrik
- Pemboran inti.
- Uji Laboratorium
Berdasarkan hasil Eksplorasi Pendahuluan
maka dapat diketahui areal yang berpotensi
atau tidak berpotensi. Areal yang
berpotensi inilah yang akan diajukan untuk
dilakukan Eksplorasi detil.
V. KESIMPULAN
1. Mineralisasi Bijih Besi Donggala
akibat adanya intrusi batuan Andesit,
Diorit dan sienit pada Formasi
Tinombo disertai dengan kontak
metamorfosa.
4-60