0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan24 halaman

Osteoarthritis Genu Dextra Grade I

Pasien mengeluhkan nyeri pada lutut kanan selama seminggu. Pemeriksaan menunjukkan adanya osteofit dan krepitasi pada lutut kanan, serta gambaran radiologi yang konsisten dengan osteoarthritis grade I. Diagnosis osteoarthritis lutut kanan grade I ditetapkan.

Diunggah oleh

Firja Toellah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan24 halaman

Osteoarthritis Genu Dextra Grade I

Pasien mengeluhkan nyeri pada lutut kanan selama seminggu. Pemeriksaan menunjukkan adanya osteofit dan krepitasi pada lutut kanan, serta gambaran radiologi yang konsisten dengan osteoarthritis grade I. Diagnosis osteoarthritis lutut kanan grade I ditetapkan.

Diunggah oleh

Firja Toellah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

OSTEOARTHRITIS GENU

I. Kasus
Nama pasien : Tn. K
No. rekam medis : 755758
Perawatan bagian : Poliklinik Rheumatologi

1.1 Anamnesis
 Nyeri pada sendi lutut kanan sejak 1 minggu yang lalu
 Nyeri dirasakan pada saat berjalan dan saat bangun pada pagi hari
 Nyeri berkurang setelah minum obat pereda nyeri (meloxicam 15mg)
 Riwayat trauma tidak ada
 Tidak menggunakan alat bantu jalan
 Tidak ada riwayat operasi
 Tidak ada demam

1.2 Pemeriksaan fisis


 Keadaan umum baik.
 Tekanan darah 140/80 mmHg (hipertensi); Nadi 76x/menit (normal);
Pernapasan 20x/menit (normal); Suhu 36,2⁰C (normal).
 BB 84 kg dan TB 170 cm; IMT 29,07 (obesitas 1).
 Skala nyeri 3 VAS, gambaran nyeri tertusuk-tusuk, ada krepitasi.
 Kesadaran compos mentis.

1.3 Laboratorium
 Hb : 13,9 g/dl (meningkat)
 WBC : 6,0 .10x3/mm₃ (normal)
 PLT : 239.000 L/mm₃ (normal)
 HCT : 41,5% (normal)
 GDS : 96 mg/dl (normal)

1
1.4 Radiologi

Gambar (1)
Foto Genu Dextra AP/Lateral

Foto Genu Dextra AP/Lateral :


• Alignment genu dextra intak, tidak tampak dislokasi
• Tidak tampak fraktur dan destruksi tulang
• Osteofit pada condylus medial et lateral os femur dextra
• Mineralisasi tulang baik
• Tampak os fabella
• Femorortibial joint dextra kesan baik
• Jaringan lunak sekitar baik
Kesan :
• Osteoarthritis genu dextra grade I (Klasifikasi Kellgren and Lawrence)

1.5 Diagnosis
Osteoarthritis genu dextra grade I (Klasifikasi Kellgren and Lawrence)

1.6 Terapi
 Meloxicam 7,5 mg 1 kali sehari
 Lanzoprazole 30 mg 1 kali satu

1.7 Planning
Injeksi intraartikuler

2
II. Diskusi
2.1 Pendahuluan
Osteoarthritis
Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan
dengan kerusakan kartilago sendi. Predileksinya biasa pada vertebra, panggul,
lutut dan pergelangan kaki. Prevalensi OA lutut radiologis di Indonesia cukup
tinggi, yaitu mencapai 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita. Pasien OA
biasanya mengeluh nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada
pembebanan pada sendi yang terkena. Pada derajat nyeri yang lebih berat, nyeri
dapat dirasakan terus menerus sehingga sangat mengganggu mobilitas pasien.
Faktor risiko timbulnya OA tergantung pada biomekanik, cedera dan
presentase gangguan masing-masing sendi. Secara garis besar, faktor-faktor
risiko tersebut antara lain usia, kegemukan, faktor genetik, jenis kelamin dan
trauma pada sendi.(1)
Pada umumnya, pasien OA menyatakan bahwa keluhan-keluhannya sudah
berlangsung lama tetapi berkembang secara perlahan. Nyeri sendi merupakan
keluhan utama yang seringkali membawa pasien ke dokter. Nyeri atau kaku
sendi timbul setelah imobilitas yang lama, seperti duduk terlalu lama atau
setelah bangun tidur. Adanya pembesaran sendi (deformitas) yang seringkali
terlihat pada lutut atau tangan juga merupakan keluhan lain pasien OA. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan adanya hambatan gerak baik konsentris (seluruh
arah gerakan) maupun eksentris (salah satu arah gerakan saja).(2)
Adanya krepitasi merupakan gejala lain OA yang timbul karena gesekan
kedua permukaan tulang sendi pada saat digerakkan. Pembengkakan sendi
yang seringkali asimetris akibat efusi pada sendi atau adanya osteofit yang
dapat mengubah permukaan sendi juga merupakan gejala spesifik pada pasien
OA. Tanda peradangan sendi (nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang
merata dan kemerahan) dapat dijumpai pada pasien OA sebagai akibat dari
adanya sinovitis.(5)
Radiografi seperti Foto Konvensional, Magnetic Resonance Imaging
(MRI), Optical Coherence Tomography (OCT) dan Ultrasonografi (USG)

3
membuat klinisi dapat memvisualisasi struktur-struktur serta menilai onset dan
progresi penyakit. Radiografi konvensional adalah alat pemeriksaan primer
untuk diagnosis dan follow up tindakan OA. Penggunaan radiologi
konvensional memiliki keuntungan yaitu murah, secara teknis sederhana, non-
invasif dan cukup banyak tersedia. Kekurangannya terletak pada resolusi
kontras yang tidak sebaik CT-scan atau MRI sehingga teknik ini tidak cocok
untuk mengevaluasi jaringan lunak. Foto yang biasa digunakan adalah
menggunakan posisi lateral dan anteroposterior (AP).(6)

2.2 Anatomi Regio Genu2, 3


Patela adalah tulang sesamoid (Os sesamoideum) di dalam tendon dari
Musculus quadriceps femoris. Ini berfungsi sebagai hypomochlion yang
menghubungkan tendon masuk ke tuberositas tibiae di ujung distal femur. Hal
ini menyebabkan peningkatan pergerakan dan torsi otot.

Gambar 2. Os. Patella dilihat dari ventral dan dorsal.2

Dalam sendi lutut, Femur berartikulasi dengan Tibia (Articulatio


femorotibialis) dan patela (Articulatio femoropatellaris). Semua tulang
dibungkus oleh kapsul sendi. Dalam articulatio femorotibialis, kondilus
femoralis merupakan kepala dan permukaan artikular dari Tibia (Facies
articularis superior) dan kedua kondilus tibia membentuk soket dari sendi.
Sendi lutut adalah sendi bicondylar (Articulatio bicondylaris) yang berfungsi
sebagai poros-engsel sendi (trochoginglymus) dan memiliki dua sumbu
gerakan. Sumbu melintang untuk gerakan ekstensi dan fleksi meluas melalui

4
kedua kondilus femoralis. Sumbu longitudinal untuk gerakan rotasi diposisikan
eksentrik dan tegak lurus melalui tuberculum intercondylare Medial.

Gambar 3. Articulatio genu dilihat dari ventral dan dorsal2

Ligamen dari sendi lutut terdiri dari ligamen eksternal yang menunjang
sendi dari luar dan ligamen internal yang diposisikan dalam capsula fibrosa.
Mereka meliputi ligamentum patellae sebagai kelanjutan tendon dari muskulus
quadriceps femoris dan retinacula patellae medial dan lateral. Akhir dari kedua
ligamen ini memiliki serat longitudinal di superficial dan serat sirkuler di
profunda dan merupakan bagian dari tedon muskulus quadriceps femoris. Di
medial dan lateral terdapat ligamentum collateral fibulare dan ligamentum
collateral tibiale yang melekat pada tibia dan fibula. Kapsul sendi membungkus
permukaan artikular. Corpus adiposum infrapatellare berada diantar capsula
fibrosa dan capsulla synovial.

5
Gambar 4. Articulatio genu dengan kapsul sendi utuh dan dengan kapsul sendi dibuka2

Gambar 5. Foto Genu dextra AP3 Gambar 6. Foto genu dextra lateral3

A. Gambaran radiologi normal AP B. Gambaran radiologi normal


lutut kanan lateral lutut
1. Caput fibula 1. Fibula
2. Condylus lateralis tibia 2. Tuberculum intercondylare medial
3. Condylus medialis tibia 3. Tuberculum intercondylare lateral

6
4. Tuberculum intercondylare lateral 4. Condylus medialis femur
5. Tuberculum intercondylare medial 5. Condylus lateralis femur
6. Condyles lateralis femur 6. Fossa intercondylare
7. Condyles medialis femur 7. Femur
8. Fossa intercondylare 8. Distal femoral growth plate
9. Femur 9. Patella
10. Tibia 10. Tuberositas tibiae
11. Patella 11. Fabella

Gambar 7. Gambaran Sendi synovial4

7
Pada sendi synovial, tulang tulang yang saling berhubungan diapisi rawan
sendi rawan sendi. Rawan sendi merupakan jaringan avascular dan juga tidak
memiliki jaringan saraf, berfungsi sebagai bantalan terhadap beban yang jatuh
kedalam sendi. Rawan sendi dibentuk oleh sel kondrosit dan matriks rawan sendi.
Kondrosit berfungsi menyintesis dan memelihara matriks rawan sehingga fungsi
bantalan rawan sendi tetap terjada dengan baik. Matriks rawan sendi terutama
terdiri dari air, proteoglikan dan kolagen. Proteoglikan merupakan molekul yang
kompleks yang tersusun atas inti protein dan molekul glikosaminoglikan.
Glikosaminoglikan yang menyusun proteoglikan terdiri dari keratin sulfat,
kondroitin – 6 – sulfat dan kondroitin – 4 – sulfat. Bersama sama dengan asam
hialuronat, proteoglikan membentuk agregat yang dapat menghisap air dari
sekitarnya sehingga dapat mengembang sedemikian rupa sehingga membentuk
bantalan yang baik sesuai dengan fungsi rawan sendi. Bagian proteoglikan yang
melekat pada asam hialuronat adalah terminal – N dari inti proteinnya. Pada
terminal ini juga melekat protein – link. Terminal inti karboksi inti protein
proteoglikan, merupakan ujung bebas yang mungkin berperan dalam interaksinya
dengan matriks ekstraselular lainnya. Kolagen merupakan molekul protein yang
sangat kuat. Terdapat berbagai tipe kolagen, tetapi kolagen yang terdapat di dalam
rawan sendi tertama adalah kolagen tipe II. Kolagen tipe II tersusun dari 3 rantai
alfa yang membentuk gulungan triple – heliks. Kolagen berfungsi sebagai
kerangka bagi rawan sendi yang akan membatasi pengembangan berlebihan
agregat proteoglikan. Rawan sendi merupakan jaringan avaskuler, oleh sebab itu
makanan diperoleh dengan jalan difusi. Beban yang intermitten pada rawan sendi
sangat baik bagi fungsi difusi nutrient untuk rawan sendi. Pada rawan sendi yang
normal, proses degradasi dan sintesis matriks selalu terjadi. Salah satu enzim
proteolitik yang dihasilkan oleh kondrosit dan berperan pada degradasi kolagen
dan proteoglikan adalah kelompok enzim metaloprotease seperti kolagenase dan
stromelisin. Berbagai sitokin juga berperan pada proses degradasi dan sintesis
matriks. Interleukin – I (IL – 1) yang dihasilkan oleh makrofag berperan pada
degradasi kolagen dan proteoglikan dan menghambat sintesis proteoglikan.
Growth factor seperti transforming growth factor – beta (TGF – b) dan insulin like

8
growth factor – 1 (IGF – 1) berperan merangsang sintesis proteoglikan dan
menghambat kerja IL – 1. Rawan sendi merupakan salah satu jaringan sumber
keratin sulfat, oleh sebab itu keratin sulfat dalam serum dan cairan sendi dapat
digunakan sebagai petanda kerusakan rawan sendi.4
Membrane synovial merupakan jaringan avaskuler yang melapisi
permukaan dalam kapsul sendi, tetapi tidak melapisi permukaan rawan sendi.
Membrane ini licin dan lunak, berlipat – lipat sehingga dapat menyesuaikan diri
pada setiap gerakan sendi atau perubahan tekanan intraartikular. Mebmbran
synovial tersusun atas 1 – 3 lapis sel – sel synovial (sinovisit) yang menutupi
jaringan subsinovial di bawahnya, tanpa dibatasi oleh membrane basalis.
Walaupun banyak pembuluh darah dan limfe di dalam jaringan subsinovial, tetapi
tidak satupun mencapai lapisan sinovisit. Jaringan pembuluh darah ini berperan
dalam transfer konstituen darah ke dalam rongga sendi dan pembentukan cairan
sendi.4
Pada sendi yang normal, cairan sendi sangat sedikit, sehingga sangat sulit
diaspirasi dan dipelajari. Cairan sendi merupakan ultrafltrat atau dialisat plasma.
Pada umumnya kadar molekul dan ion kecil adalah sama dengan plasma, tetapi
kadar proteinnya lebih rendah. Molekul – molekul dari plasma, sebelum mencapai
rongga sendi harus melewati sawar endotel mikrovaskuler, kemudian melalui
matriks subsinovial dan lapisan sinovium.

2.3 Definisi Osteoarthritis


Osteoarthritis (OA) adalah penyakit degeneratif noninflamasi pada sendi
yang terutama terlihat pada orang tua, yang ditandai dengan degenerasi tulang
rawan articular, hipertrofi tepi tulang, dan perubahan dalam membrane synovial.
Disertai dengan nyeri, biasanya setelah melalukan aktivitas lama, dan kekakuan
terutama di pagi hari.5
Osteoarthritis adalah penyakit kronik pada sendi, yang melemahkan sendi
akibat dari perubahan tulang, kartilago, meniscus, ligament, dan jaringan synovial
secara degenerative.6

9
Osteoarthritis adalah gangguan yang terjadi pada satu atau lebih sendi,
awalnya oleh adanya gangguan lokal pada kartilago dan bersifat progresif
degeneratif, re-modelling pada tulang subkondral dan inflamasi sekunder
membran sinovial.7
Jadi Osteoartritis adalah penyakit kronik pada kartilago sendi akibat proses
degenerative yang ditandai dengan adanya proses degenerasi kartilago sendi,
remodelling tulang dan inflamasi sekunder dari membrane synovial.

2.4 Patogenesis Osteoarthritis


Berdasarkan patogenesisnya, OA dibedakan menjadi dua, yaitu OA non
inflamasi dan OA inflamasi. OA non inflamasi terdiri dari OA primer dan OA
sekunder. OA primer disebut juga OA idiopatik, yaitu OA yang penyebabnya
tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun
proses perubahan lokal pada sendi, OA primer ini merupakan OA yang paling
sering ditemukan. OA sekunder didasari oleh adanya kelainan konginetal, pe-
nyakit tulang dan penyakit sendi lainnya seperti rhematoid arthritis, gouty arthritis
dan paget’s disease of bone atau penyakit lainnya seperti diabetes mellitus,
acromegaly, hypothyroidism, neuropathic (Charcot) arthopathy dan Frostbite. OA
inflamasi disebut juga OA erosif, yang me-rupakan bentuk lanjut dari OA,
biasanya me-ngenai sendi distal phalang atau proksimal pha-lang, dimana pada
pemeriksaan faktor Rematoid negatif.8

2.5 Patofisiologi Osteoarthritis


Osteoarthritis terjadi pada sendi sendi synovial. Kartilago sendi mengalami
degenerasi dan sebagai reaksi terjadi pembentukan tulang baru di daerah tepi serta
daerah subkondrium sendi. Degenerasi terjadi karena kerusakan pada kondrosit.
Kartilago tersebut menjadi lunak seiring pertambahan usia dan terjadi
penyempitan rongga sendi. Cedera mekanis menyebabkan erosi kartilago sendi
sehingga tulang yang ada di bawahnya tidak lagi terlindungi. Keadaan ini
menimbulkan sclerosis atau penebalan dan pengerasan tulang yang berada di
bawah kartilago. Serpihan kartilago akan akan mengiritasi lapisan synovial yang

10
kemudian menjadi jaringan fibrosis dan membatasi gerakan sendi. Cairan synovial
dapat terdorong merembes keluar untuk memasuki defek pada tulang sehingga
tebentuk kista. Tulang baru yang dinamakan osteofit akan terbentuk pada bagian
tepi sendi ketika terjadi erosi kartilago sehingga timbul peruahan kontur tulang
yang nyata dan pembesaran tulang.9

2.6 Faktor Resiko Osteoarthritis1


1) Umur
Dari semua factor resiko untuk timbulnya OA, factor ketuaan adalah
yang terkuat. Prevalensi, dan beratnya OA semakin meningkat dengan
bertambahnya umur. OA hampir tidak pernah dijumpai pada anak-anak,
jarang pada umur di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60
tahun Hal ini disebabkan karena adanya hubungan antara umur dengan
penurunan kekuatan kolagen dan proteoglikan pada kartilago sendi.
2) Jenis Kelamin
Pada orang tua yang berumur lebih dari 55 tahun, prevalensi
timbulnya OA pada wanita lebih tinggi dari pria, atau dengan kata lain
prevalensi OA tinggi pada wanita yang telah menopause. Ini
menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis OA itu sendiri.
3) Suku Bangsa
Osteoartritis primer dapat menyerang semua ras meskipun terdapat
perbedaan prevalensi pola terkenanya sendi pada osteoartritis. Hal ini
mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaaan
pada kelainan kongenital dan pertumbuhan.
4) Genetik
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoarthritis. Adanya
mutase dalam gen prokolagen atau gen-gen struktural lain untuk unsur-
unsur tulang rawan sendi seperti kolagen, proteoglikan berperan dalam
timbulnya kecenderungan familial pada osteoartritis.
5) Kegemukan dan Penyakit Metabolik

11
Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan tekanan
mekanik pada sendi penahan beban tubuh, dan lebih sering menyebabkan
osteoarthritis lutut. Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan
osteoarthritis pada sendi yang menanggung beban, tetapi juga dengan
osteoarthritis sendi lain, diduga terdapat faktor lain (metabolik) yang
berperan pada timbulnya kaitan tersebut antara lain penyakit jantung
koroner, diabetes mellitus dan hipertensi.
6) Cedera Sendi (trauma), Pekerjaan dan Olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian suatu sendi yang terus-
menerus, berkaitan dengan peningkatan resiko osteoarthritis tertentu.
Demikian juga cedera sendi dan olahraga yang sering menimbulkan
cedera sendi berkaitan resiko osteoartritis yang lebih tinggi.

2.7 Klasifikasi Osteoarthritis

Gambar 8. Klasifikasi OA menurut Kellgren and Lawrence10

12
Kellgren dan Lawrence10
a. Derajat 0 (KL-0)
Tidak tampak gambaran radiologi osteoartritis.
b. Derajat I (KL-I)
Tampak penyempitan celah sendi meragukan dan kemungkinan
terdapat lipping osteofit.
c. Derajat II (KL-II)
Memberikan gambaran osteofit yang nyata, dan kemungkinan
penyempitan celah sendi pada anteroposterior.
d. Derajat III (KL-III)
Tampak multipel osteofit, penyempitan celah sendi nyata, sklerosis, dan
kemungkinan deformitas tulang.
e. Derajat IV (KL-IV)
Osteofit yang besar, penyempitan celah sendi jelas, sklerosis berat dan
deformitas tulang nyata.

2.8 Diagnosis Osteoarthritis1


Pada umumnya pasien OA mengatakan bahwa keluhan-keluhan sudah
berlangsung lama, tetapi berkembang secara perlahan-lahan.
a) Gambaran Klinis dan Pemeriksaan Fisis1
- Nyeri Sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah
dengan gerakan dan sedikit berkurang saat istirahat. Nyeri pada OA
dapat berupa penjalaran atau akibat radikulopati, misalnya pada OA
servikal dan lumbal.
- Hambatan Gerak
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan
sejalan dengan bertambahnya nyeri. Hambatan gerak dapat konsentris
(seluruh arah gerakan) maupun eksentris (salah satu arah gerakan
saja).
- Kaku Pagi

13
Pada beberapa pasien, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah
imobilitas, seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu kurang
lebih 30 menit atau bahkan setelah bangun tidur.
- Krepitasi
Rasa gemeretak (kadang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang
sakit. Gejala ini lebih berarti untuk pemeriksaan klinis OA lutut.
Awalnya hanya berupa perasaan akan adanya sesuatu yang patah atau
remuk. Dengan bertambah beratnya penyakit, krepitasi dapat
terdengar sampai jarak tertentu. Gejala ini timbul karena gesekan
kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakkan atau secara
pasif dimanipulasi.
- Pembesaran Sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (seringkali
terlihat di lutut atau tangan) secara pelan-pelan membesar.
Pembengkakan sendi pada OA dapat timbul karena efusi pada sendi
yang biasanya tidak banyak (<100 cc), selain itu osteofit yang dapat
mengubah permukaan sendi.
- Perubahan Gaya Berjalan
Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien. Hampir
semua pasien OA pergelangan kaki, tumit, lutut atau pinggul
berkembang menjadi pincang.

b) Pemeriksaan radiologi11
Pada sebagian besar kasus, radiografi pada sendi yang terkena osteoartritis
sudah cukup memberikan gambaran diagnostik.
Gambaran Radiologi:
- Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris
- Peningkatan densitas (sclerosis) tulang subkondral
- Kista periartikuler
- Osteofit pada pinggir sendi
- Perubahan struktur anatomi sendi

14
Predileksi Osteoartritis6, 11-14
- Osteoarthritis pada tangan dan pergelangan tangan biasanya
banyak menyerang bagian sendi distal dan proximal
interphalangeal, sendi trapezoschapoid, dan sendi carpometacarpal
I. Biasanya pasien datang dengan nyeri sendi, deformitas, dan
krepitasi dan semakin buruk setelah beraktivitas. Dengan
gambaran radiologi seperti penyempitan celah sendi, permukaan
atikular sclerosis, pembentukan kista subkondral, pembentukan
osteofit, subluksasi radial pada basis metacarpal I

Gambar 9. Osteoarthritis pada manus tampak penyempitan celah sendi pada


distal dan proximal interphalangeal, permukaan articular sclerosis dan
pembentukan ostofit11

- osteoartritis pada panggul biasanya muncul dengan nyeri, dan


berkurangnya ruang gerak dan fungsi dari sendi. Dengan
gambaran radiologi seperti penyempitan celah sendi, permukaan
atikular sclerosis, pembentukan kista subkondral, pembentukan
osteofit

15
.
Gambar 10. Osteoartritis pada sendi panggul12
- Osteoartritis pada lutut, merupakan kejadian yang tersering dan
terbanyak. Bisa terjadi pada salah satu lutut maupun keduanya
sehingga menyebabkan terjadinya deformitas. Bias terjadi valgus
dan varus derfomitas. Gambaran radiologinya penyempitan celah
sendi, permukaan atikular sclerosis, pembentukan kista
subkondral, pembentukan osteofit

Gambar 11. Osteoartritis pada genu12

- Osteortritis pada sendi cervical, biasanya pasien datang dengan


keluhan nyeri atau kaku pada tengkuk atau punggung bagian atas.
Gambaran radiologinya adalah perubahan dari lordosis normal,
diskus intervertebralis menyempit, permukaan articular sclerosis,
pembentukan osteofit, ada hypertrofi sendi.

16
Gambar 12. Osteoartritis pada spine tampak penyempitan pada diskus
intervertebralis, articular sclerosis, pembentukan ostofit, dan perubahan
lordosis12
c) Pemeriksaan Laboratorium1
Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tidak banyak berguna.
Darah tepi (hemoglobin, leukosit, Laju Endap Darah) dalam batas normal.
Pemeriksaan imunologi (ANA, faktor rheumatoid, dan komplemen) juga
normal. Pada OA yang disertai dengan peradangan mungkin didapatkan
penurunan viskositas, peningkatan ringan sel peradangan (<8000/m), dan
peningkatan protein.

2.2 Resume klinis


Seorang laki-laki bernama Tn.K berusia 56 tahun datang ke poliklinik
Rheumatologi dengan keluhan nyeri pada sendi lutut kanan 1 minggu yang
lalu. Nyeri dirasakan terutama saat berjalan dan saat bangun pagi hari.
Nyeri berkurang setelah minum obat pereda nyeri (meloxicam
15mg).Tidak ada riwayat trauma. Pasien tidak menggunakan alat bantu
jalan, tidak ada riwayat operasi dan tidak ada demam.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah 140/80 mmHg
(hipertensi); Nadi 76x/menit (normal); Pernapasan 20x/menit (normal);
Suhu 36,2⁰C (normal). BB 84 kg dan TB 170 cm; IMT 29,07 (obesitas 1).
Skala nyeri 3 VAS, gambaran nyeri tertusuk-tusuk, ada krepitasi.
Keadaan umum pasien baik dan pasien dalam keadaan sadar. Hasil
pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb :13,9g/dl(meningkat),

17
WBC:6,0 .10x3/mm₃ (normal), PLT :239.000L/mm₃(normal),
HCT:41,5% (normal), GDS :96 mg/dl (normal).
Pada pemeriksaan radiologi didapatkan kesan Osteoarthritis genu dextra
grade I (Klasifikasi Kellgren and Lawrence). Pasien diberikan terapi
berupa Meloxicam 7,5 mg 1 kali sehari, Lanzoprazole 30 mg 1 kali satu.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien didiagnosis dengan
Osteoarthritis genu dextra grade I (Klasifikasi Kellgren and Lawrence).
Pasien didiagnosis banding dengan RA, Gout arthritis, arthritis psoriatik.

2.3 Radiologi
Osteoarthritis (OA)
Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan
dengan kerusakan kartilago sendi. Predileksinya biasa pada vertebra, panggul,
lutut dan pergelangan kaki. Gejalanya berupa nyeri sendi yang dapat
menghambat pergerakan sendi, kaku pagi yang timbul setelah imobilitas yang
lama seperti duduk lama atau baru bangun tidur, krepitasi pada sendi,
pembesaran sendi (deformitas) yang mengakibatkan gangguan fungsi sendi
seperti ganggaun berjalan. Pada gambaran radiologi sendi OA tampak gambaran
berupa penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris, peningkatan densitas
(sklerosis) tulang subkhondral, kista tulang, osteofit pada pinggir sendi dan
perubahan struktur anatomi sendi.(4)
Derajat OA lutut dinilai menjadi 5 derajat oleh Kellgren dan Lawrence :
 Pada derajat 0, tidak ada gambaran OA.
 Pada derajat 1, OA meragukan dengan gambaran sendi normal, tetapi
terdapat osteofit minimal.
 Pada derajat 2, OA minimal dengan osteofit pada 2 tempat, tidak terdapat
sklerosis dan kista subkhondral, serta celah sendi baik.
 Pada derajat 3, OA moderat dengan osteofit moderat, deformitas ujung
tulang dan celah sendi menyempit.
 Pada derajat 4, OA berat dengan osteofit besar, deformitas ujung tulang,
celah sendi hilang, serta adanya sklerosis dan kista subkhondral.(4)

18
Gambar (1)
Gambar (1) Foto genu dekstra posisi AP dan lateral

Pada hasil foto radiologi kasus kelompok kami, digunakan foto radiologi
konvensional pada genu dextra dengan posisi AP dan lateral. Hasilnya adalah
tampak gambaran Osteofit pada condylus medial et lateral os femur dextra , aspek
anterosuperior os patella sinistra, condylus medialis dan lateralis os tibia dextra.
Tampak pula Tampak os fabella, Femorortibial joint dextra kesan baik, Jaringan
lunak sekitar baik, Alignment genu dextra intak, tidak tampak dislokasi dan tidak
tampak fraktur dan destruksi tulang.
Berdasarkan hasil pembacaan foto radiologi tersebut, dapat disimpulkan
bahwa adanya kesan pasien menderita osteoarthritis pada genu dextra grade I
berdasarkan klasifikasi Kellgren dan Lawrence.

2.4 Differensial Diagnosis Radiologi


Rheumatoid Arthritis (RA)
Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun yang ditandai
oleh inflamasi sistemik kronik dan progresif, dimana sendi merupakan

19
target utama. Manifestasi klinis klasik RA adalah poliarthritis simetris
yang terutama mengenai sendi-sendi kecil pada tangan dan kaki. Selain
lapisan sinovial sendi, RA juga bisa mengenai organ-organ diluar
persendian seperti kulit, jantung, paru-paru dan mata. Manifestasi klinis
RA berupa arthritis simestris yang onsetnya terjadi secara perlahan dalam
beberapa minggu sampai beberapa bulan disertai kekakuan sendi pada pagi
hari yang berlangsung selama satu jam atau lebih, ditambah beberapa
gejala konstitusional berupa kelemahan, kelelahan, anoreksia dan demam
ringan.(8)

Gout Arthritis
Arthritis gout merupakan penyakit yang diakibatkan oleh deposisi
Kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asal urat
di dalam cairan ekstraseluler. Manifestasi klinis arthritis gout berupa
akumulasi Kristal pada jaringan yang merusak tulang sehingga membentuk
tofus disertai adanya peninggian kadar asam urat (hiperurisemia).(8)

Arthritis Psoriatik
Psoriasis adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh autoimun sel-
T. penyakit ini biasa didapatkan pada daerah yang hangat atau panas.
Gambaran penyakit ini utamanya terdapat kelainan pada kulit dengan
gambaran plaque yang tebal dengan permukaan yang bersisik. Penyakit ini
dapat menyerang bagian lain pada fase kronik (sendi). Predileksi sendi
yang terkena biasa pada sendi DIP, lutut dan pergelangan tangan atau kaki.
Gejala khas arthritis psoriatik yaitu sendi yang membengkak disertai nyeri,
kuku yang pecah-pecah dan permukaan kulit yang bersisik.(11)

20
Nama Penyakit Foto Radiologi Ciri Khas
-Tidak ada pembengkakan
pada soft tissue.
-Tidak ada garis fraktur,
erosi, dan osteofit pada
permukaan tulang.
-Tidak terdapat pengapuran
Normal
pada eminentia
intercondylaris medial dan
lateral.
-Tulang-tulang intak dengan
celah sendi yang tidak
menyempit.
-Penyempitan celah sendi.
-Sklerosis tulang
subkhondral.
Osteoarthritis (OA)
-Kista tulang.
-Osteofit pada pinggir sendi.

-Ada pembengkakan jaringan


lunak di sekitar sendi.
-Osteoporosis periartikuler.
Rheumatoid Arthritis (RA) -Penyempitan rongga sendi
dan erosi periartikuler.
-Pada kondisi kronik, dapat
timbul subluksasi.
-Punch out lesion (tofus).
-Penyempitan MTP 1.
-Terdapat gambaran
Gout Arthritis
osteolitik pada phalanges.

21
-Penyempitan ruang sendi
difus disertai erosi.
-Soft tissue swelling.
Arthritis Psoriatik -Pada fase kronis, ada
gambaran osteomyelitis
dengan kalsifikasi
periartikuler.

2.9 Penatalaksanaan1, 9
1) Terapi non farmakologis:
a. Edukasi: menjelaskan kepada penderita tentang seluk beluk
penyakitnya, bagaimana menjaganya agar tidak bertambah parah
b. Terapi fisik dan rehabilitasi: melatih pasien agar persendiannya agar
tetap dapat dipakai, evaluasi pola kerja dan aktivitas sehari- hari
c. Penurunan berat badan: karena merupakan salah satu faktor resiko,
penderita disarankan untuk menurunkan berat badan hingga bila
mungkin mendekati ideal.
2) Terapi farmakologis:
a. Analgetik oral non opiad: asetaminofen, aspirin dan ibuprofen untuk
menghilangkan nyeri.
b. Analgetik topical: krim kapsaisin mengurangi nyeri pada ujung saraf
local.
c. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS): analgetik- antiinflamasi.
Namun, penggunaaannya harus dikontrol sebab banyak menyebabkan
efek samping berupa gastritis hingga ulkus peptikum.
d. Chondroprotective agent : obat- obat yang dapat menjaga atau
merangsang perbaikan tulang rawan sendi. Sebagian peneliti
menggolongkannya dalam Slow Acting Anti Osteoarthritis Drugs
(SAAODs) atau Disease Modifying Anti Osteoarthritis Drugs
(DMOADs):
i) Tetrasiklin: menghambat kerja enzim MMP

22
ii) Asam hialuronat (viscosupplement): memperbaiki viskositas
cairan synovial, diberika intraarthrikuler. Asam hialuronat
ternyata memegang peranan penting dalam pembentukan matriks
tulang rawan melalui agregasi dengan proteoglikan.
iii) Glikosaminoglikan: menghambat sejumlah enzim degradasi
tuang rawan., seperti hialuronidase, protease, elastase, dan
katepsin.
iv) Kondroitin sulfat: salah satu jaringan yang mengandung
kondroitin sulfat adalah kartilago dan zat ini merupakan bagian
dari proteoglikan. Kondroitin sulfat memiliki efek: antiinflamasi,
efek metabolic terhadap sintesis hialuronat dan proteoglikan, dan
anti degradatif melalui hambatan enzim proteolitik
v) Vitamin C: menghambat enzim lisozim.
vi) Superoxide Dismutase: menghilangkan superoxide dan hydroxyl
radikal yang merusak asam hialuronat, kolagen, dan proteoglikan.
vii) Steroid Intra-artrikuler: kejadian inflamasi kadang terjadi pada
OA sehingga mampu mengurangi rasa sakit, tetapi
penggunaannya masih controversial.
3) Terapi bedah: jika terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa
sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang
mengganggu aktivitas sehari-hari.

23
III. Daftar Pustaka
1. Sudoyo, Aru W, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus
Simadibrataka K, Siti Setiati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid III Edisi V. Interna Publishing : Jakarta.2009 (2447) (2538-
2544) (2650-2657).
2. Braun, Hillary J, Garry E Gold. Diagnosis of Osteoarthtritis:
Imaging. Elsevier. 2011 (1-6).
3. Eastman, George W, Christoph Wald, Jane Crossin. Getting
Started in Clinical Radiology from Image to Diagnosis. Thieme.
2006 (120-122) (133-134).
4. Koentjoro, Sara Listyani. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh
(IMT) dengan Derajat Osteoarthritis Lutut Menurut Kellgren dan
Lawrence. Universitas Diponegoro. 2010 (5-8).
5. Arya, RK, Vijay Jain. Osteoarthritis of the Knee Joint: An
Overview. JIACM. 2013 (1-3).
6. Hing, Caroline B et all. The Application of Imaging in
Osteoarthritis. 2009 (5-8).
7. Hughes, Bess Dawson. Clinical’s Guide to Prevention and
Treatment of Osteoporosis. Bone Source. 2010 (6-10).
8. Schiphof, Dieuwke. Identifying Knee Osteoarthritis
Classification, Early Recognition and Imaging. NOW. 2011 (8-
11).
9. ACR-SPR-SSR Practice Parameter for the Performance of Dual-
Energy- X-ray Absorptiometry (DXA). Amended. 2014 (1-2).
10. Singh, Harjit, Janet A Neutze. Radiology Fundamentals
Introduction to Imaging & Technology Fourth Edition. Springer.
2012 (294-295) (315-318).
11. Perhimpunan Rheumatologi Indonesia. Spondiloartropati. 2010
(18-19)

24

Anda mungkin juga menyukai