0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan7 halaman

Dialog Resep dan Penjelasan Obat

Apoteker memberikan penjelasan kepada pasien tentang cara penggunaan obat yang diterima setelah menghubungi dokter untuk konfirmasi resep, karena ada kesalahan pada resep awal. Apoteker menjelaskan secara rinci cara penggunaan masing-masing obat serta mencontohkan cara menyuntik insulin untuk mengontrol diabetes pasien.

Diunggah oleh

ApridaSwastika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan7 halaman

Dialog Resep dan Penjelasan Obat

Apoteker memberikan penjelasan kepada pasien tentang cara penggunaan obat yang diterima setelah menghubungi dokter untuk konfirmasi resep, karena ada kesalahan pada resep awal. Apoteker menjelaskan secara rinci cara penggunaan masing-masing obat serta mencontohkan cara menyuntik insulin untuk mengontrol diabetes pasien.

Diunggah oleh

ApridaSwastika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DIALOG

Tn. Junadi datang ke Apotik Dewi Farma untuk menebus resep setelah periksa dari dokter.

Apoteker : ”selamat pagi pak, perkenalkan saya Annisa Apoteker yang bertugas hari ini ada
yang bisa saya bantu?”
Pasien : ”selamat pagi mbak, saya mau menebus resep ini (menunjukkan resep).”
Apoteker : “iya pak silahkan duduk dulu. Saya bisa lihat resepnya?”
Pasien : ”ini mbak.” (menyerahkan resep)
Apoteker : ”mohon maaf sebelumnya pak, bisakah saya meminta waktunya sebentar untuk
menjelaskan terkait resep ini.”
Pasien :”iya mbak bisa.”
Apoteker : (melihat resep) “apakah ini dengan bapak junadi sendiri?”
Pasien : “iya mbak dengan saya sendiri.”
Apoteker : “dari dr. Hadi Subroto Jl. Melati no.19 Surakarta ya pak?”
Pasien : “iya mbak.”
Apoteker : “iya pak, keluhan yang bapak alami bagaimana ya bisa diceritakan seperti apa?”
Pasien : “perut saya sakit sekali mbak, terus saya mual juga mbak, tadi dari dokter dipriksa
gula darah saya tinggi mbak.”
Apoteker : “oh..iya pak, bapak punya penyakit diabetes yaa?”
Pasien : “iya mbak saya punya diabetes.”
Apoteker : “iya pak, kalau alergi obat bapak ada tidak?”
Pasien : “tidak ada mbak.”
Apoteker : “bapak sebelumnya mengkonsumsi obat tidak pak?”
Pasien : “iya mbak saya minum obat diabetes.”
Apoteker : “bapak teratur tidak minum obatnya?”
Pasien : “teratur kok mbak?”
Apoteker : “teratur ya pak, kalau akhir -akhir ini bapak sering makan manis-manis tidak
pak?”
Pasien : “iya mbak kemarin saya baru makan durian mbak, hahaaaa….”
Apoteker : “wah….bapak ini durian manis banget itu pak.”
Pasien : “heheee…iya mbak, habis kepengin sih mbak.”
Apoteker : “iya pak harusnya makannya dikontrol jangan banyak-banyak atau kalo bisa
dihindari itu.”
Pasien : “iya mbak…”
Apoteker : “bapak kalo dirumah gulanya memakai gula pasir apa gula rendah kalori tidak
pak?”
Pasien : “oh …iya mbak saya pakai gula khusus diabetes kok .”
Apoteker : “oh iya pak, kalau begitu ditunggu sebentar ya pak saya siapkan obatnya dulu.”
Pasien : “iya mbak.”

Apoteker menyiapkan obat dan menemukan kesalahan dalam resep kemudian apoteker
menghubungi dokter yang bersangkutan untuk konfirmasi resep.
Apoteker : “halo…selamat pagi, saya Annisa apoteker dari apotek Dewi Farma. Apakah
benar ini tempat praktek dr. Hadi Subroto?”
Asisten : “iya halo, selamat pagi juga. Iya benar ini praktek dr. Hadi Subroto ada yang bisa
saya bantu?”
Apoteker : “apakah dr. Hadi Subroto sedang praktek hari ini?”
Asisten : “iya mbak, dr. Hadi Subroto sedang praktek hari ini.”
Apoteker : “iya mbak, saya ingin berbicara dengan beliau, bisa disambungkan?”
Asisten : “oh..iya mbak tunggu sebentar, saya sambungkan?”
Dokter : “halo, selamat pagi, dengan dr. Hadi Subroto.”
Apoteker : “halo dok, selamat pagi. Saya Annisa apoteker dari apotek Dewi Farma, saya ingin
mengkonfirmasi resep Tn. Junadi, disini dalam resep dokter menuliskan pada resep
pertama obat racik yang berisi melidox, gastrinal, librax aa ¼ tab, alganex 0,25 mg
dan propanol 5 mg, resep kedua antasida, resep ketiga ranitidine, dan resep keempat
lantus.
Dokter : “iya terus.”
Apoteker : “jadi begini dok, disini obat melidox yang kandungannya sama dengan obat librax
yaitu klordiazepoxid 5 mg, klinidium Br 2,5 mg itu apakah memang dikehendaki
atau bagaimana dok ?”
Dokter : “oh…gitu yaaa, ya sudah itu dipakai yang librax saja?”
Apoteker : “baik dok, berarti melidox saya coret ya dok, lalu dok untuk obat gastrinal ini
bentuk sediaan chewable tablet kan tidak bisa diracik dengan obat lain, dan disini
sudah mendapat obat antasida yang kandungannya sama dengan gastrinal, ini
bagaimana dok?”
Dokter : “oh…gastrinal itu tablet kunyah yaa ndak bisa diracik, dihapus dipakai yang
antasida saja.”
Apoteker : “baik dok, kalau begitu, saya ulangi ya dok untuk resep pertama obat racik
melidox dan gastrinal dicoret, resep kedua antasida, resep ketiga ranitidine dan
resep keempat lantus insulin ya dok.”
Dokter : “iyaa.”
Apoteker : “kalau begitu terimakasih atas waktunya, selamat pagi dok.”
Dokter : “iya sama-sama.”

Setelah mendapatkan jawaban dari dr. Hadi Subroto, apoteker mencoret obat melidox dan gastrinal
dalam resep dengan mencantumkan tulisan acc dr. Hadi Subroto tanggal 26 maret 2018 pukul
10.00 WIB.
(apoteker kembali menemui pasien untuk memberikan KIE pada pasien)

Apoteker : “pak Junaidi maaf sudah menunggu lama.”


Pasien : “iya mbak ga pp.”
Apoteker : “sebelumnya saya mau bertanya pak, apakah dokter sudah menjelaskan tentang
obat ini pak?”
Pasien : “ngga mbak.”
Apoteker : “untuk cara pemakaian obatnya sendiri apakah dokter sudah menjelaskan?”
Pasien : “ngga juga mbak.”
Apoteker : “harapan setelah memakai obat ini apakah sudah dijelaskan juga oleh dokter?”
Pasien : “belum itu mbak.”
Apoteker : “baiklah pak, kalau begitu akan saya jelaskan tentang obatnya pak, disini bapak
mendapat 3 obat, yang pertama bentuknya kapsul untuk mengobati sakit perutnya
bapak, ini diminum 1 kapsul saat perut terasa sakit jika tidak merasakan sakit tidak
usah diminum lagi. Obat kedua antasida untuk mengatasi mualnya diminum 4 kali
sehari 1 tablet 30 menit sebelum makan, obat ketiga ranitidine ini untuk mengatasi
asam lambung bapak diminum 2 kali sehari 1 tablet sebelum makan berselang 2
jam setelah minum antasida pada waktu pagi dan malam ya pak. Obat keempat
untuk mengatasi diabetesnya disini bapak tidak mendapatkan obat yang diminum
lagi ya pak, untuk mengontrol diabetesnya disini dokter memberikan Lantus Insulin
jadi pemakaiannya nanti disuntikkan pada waktu hendak tidur ya pak.”
Pasien : “iya mbak, ini cara menyuntiknya bagaimana ya mbak?”
Apoteker : “nah…untuk menyuntiknya bisa dilakukan oleh bapak sendiri atau minta tolong
anak atau istrinya mungkin, caranya begini ya pak saya contohkan ini ada insulin
pen buat contoh (apoteker memragakan cara penggunaan insulin) :
1. Bapak cuci tangan dahulu ya pak agar tanganya bersih lalu dilap tisu atau handuk
2. Siapkan alkohol 70% dan insulin pen ini (sambil memegang insulin), lepaskan penutup insulin
pen lalu diputar seperti ini ya pak biar insulin tercampur
3. Buang kertas pembungkusnya dan kertas pada jarum juga dibuang (sambil menunjuk kertas
pembungkus)
4. Masukkan jarumnya ke dalam insulin pen, putar, lepaskan penutup jarum luar dan lepaskan
penutup jarum agar jarum tampak.
5. Putar tombol pemilih dosis pada ujung pen untuk pengaturan dosis, disini bapak dosisnya 2
unit jadi diputar di angka 2 ya pak.
6. Pilih lokasi bagian tubuh yang akan disuntikan, yang mengandung banyak lapisan lemak, bisa
di bagian perut, paha, lengan atau di pantat ya pak ini.
7. Misalkan dibagian perut, nanti diberi jarak sekitar 5 cm dari pusar atau 3 jari dari pusar, diusap
pakai kapas yang dibasahi alkohol dulu ya pak sebelum disuntik.
8. Genggam pen dengan 4 jari, letakkan ibu jari pada tombol dosis
9. Cubit bagian kulit yang akan disuntik
10. Segera suntikkan jarum dengan sudut 90 derajat. Lepaskan cubitan
11. Gunakan ibu jari untuk menekan ke bawah pada tombol dosis sampai berhenti, klep dosis akan
kembali pada angka nol.
12. Biarkan jarum di tempat selama 5-10 detik untuk membantu mencegah insulin keluar
dari tempat injeksi.
13. Tarik jarum dari kulit. Kadang-kadang nanti akan terlihat memar atau tetesan darah, tetapi itu
tidak [Link] di pijat pada daerah bekas suntikan.
14. Usap dengan kapas yang dibasahi dengan alkohol
15. Lepaskan tutup luar jarum dan putar untuk melepaskan jarum dari pen, tempatkan jarum yang
telah digunakan pada wadah yang aman (kaleng kosong). Buang ke tempat sampah jangan
dibuang ditempat pendaurulang sampah
16. Tutup kembali insulin pen.
Jadi seperti itulah pak cara menggunakan insulin pen ini.
Pasien : “oh…iya mbak, jadi begitu cara menggunakannya.”
Apoteker : “iya pak, bapak sudah punya alkohol 70% belum dirumah, kalau belum punya
saya sarankan untuk membeli alkohol 70%.
Pasien : “saya tidak punya alkohol itu dirumah mbak, ya sudah nanti saya beli itu
sekalian.”
Apoteker : “iya pak, untuk mengontrol agar gula darah bapak ndak tinggi bapak menghindari
makanan yang manis-manis, memakai gula yang rendah kalori, kurangi makanan
yang asin asin juga pak agar tekanan darahnya ndak tinggi, minum air putih
diperbanyak dan yang penting jangan stress ya pak.”
Pasien : “iya mbak, saya sudah memakai gula rendah kalori.”
Apoteker : “iya pak itu bisa dilanjutkan, untuk penyimpanan lantus insulin yang masih baru
atau belum dibuka ini disimpan dalam kulkas, tidak boleh beku sedangkan apabila
sudah dibuka dapat disimpan di tempat sejuk suhu kamar tidak boleh lebih dari 28
hari ya pak.
Pasien : “iya mbak.
Apoteker : “Apakah bapak sudah mengerti?”
Pasien : “sudah mbak.”
Apoteker : “kalau begitu bisa tolong diulangi lagi pak apa yang sudah saya jelaskan tadi?”
Pasien : “jadi ini obatnya pertama diminum 1 kapsul kalau perut saya terasa sakit saja.
Obat kedua antasida diminum 4 kali sehari 1 tablet 30 menit sebelum makan, obat
ketiga ranitidine diminum 2 kali sehari 1 tablet sebelum makan berselang 2 jam
setelah minum antasida pada waktu pagi dan malam, Obat keempat ini lantus
insulin disuntikkan pada waktu hendak tidur 2 unit, ya mbak?”
Apoteker : “iya pak benar, untuk cara pemakaian insulin pennya bapak sudah mengerti?”
Pasien : “sudah mengerti juga mbak.”
Apoteker : “kalau begitu bisa tolong diulangi lagi pak cara penggunaanya?”
Pasien : “iya mbak jadi cara menggunakannya
1. cuci tangan dahulu
2. Siapkan alkohol 70% dan insulin pen, lepaskan penutup insulin pen lalu diputar seperti ini biar
insulin tercampur
3. Buang kertas pembungkusnya dan kertas pada jarum juga dibuang.
4. Masukkan jarumnya ke dalam insulin pen, putar, lepaskan penutup jarum luar dan lepaskan
penutup jarum agar jarum tampak.
5. Putar tombol pemilih dosis pada ujung pen untuk pengaturan dosis, disini diputar di angka 2.
6. Pilih lokasi bagian tubuh yang akan disuntikan, yang mengandung banyak lapisan lemak, bisa
di bagian perut, paha, lengan atau di pantat.
7. Misalkan dibagian perut, nanti diberi jarak sekitar 5 cm dari pusar atau 3 jari dari pusar, diusap
pakai kapas yang dibasahi alkohol dulu sebelum disuntik.
8. Genggam pen dengan 4 jari, letakkan ibu jari pada tombol dosis
9. Cubit bagian kulit yang akan disuntik
10. Segera suntikkan jarum dengan sudut 90 derajat. Lepaskan cubitan
11. Gunakan ibu jari untuk menekan ke bawah pada tombol dosis sampai berhenti, klep dosis akan
kembali pada angka nol.
12. Biarkan jarum di tempat selama 5-10 detik untuk membantu mencegah insulin keluar
dari tempat injeksi.
13. Tarik jarum dari kulit. Kadang-kadang nanti akan terlihat memar atau tetesan darah, tetapi itu
tidak [Link] di pijat pada daerah bekas suntikan.
14. Usap dengan kapas yang dibasahi dengan alkohol
15. Lepaskan tutup luar jarum dan putar untuk melepaskan jarum dari pen, tempatkan jarum yang
telah digunakan pada wadah yang aman kaleng kosong. Buang ke tempat sampah jangan
dibuang ditempat pendaurulang sampah
16. Tutup kembali insulin pen.
untuk penyimpanan lantus insulin yang masih baru atau belum dibuka ini disimpan dalam kulkas,
tidak boleh beku sedangkan apabila sudah dibuka dapat disimpan di tempat sejuk suhu kamar tidak
boleh lebih dari 28 hari, begitu kan mbak?”
Apoteker : “iya seperti itu pak, untuk pembayarannya bisa dikasir ya pak”
Pasien : “iya mbak, terimakasih.”
Apoteker : “sama-sama pak, semoga cepat sembuh.”
Pasien : “iya mbak.”

Anda mungkin juga menyukai