Persalinan Normal oleh Dr. Agriana Puspitasari
Persalinan Normal oleh Dr. Agriana Puspitasari
PERSALINAN NORMAL
PEMBIMBING :
PENYUSUN :
03013243
JAKARTA
1
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan Ridho-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan referat ini sesuai dengan waktunya.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Agriana
Puspitasari, [Link] selaku pembimbing dalam penyusunan referat ini, dan kepada
dokter-dokter pembimbing di RSUD Budhi Asih, atas bimbingan dan kesempatan yang
telah diberikan kepada penulis sehingga referat ini dapat diselesaikan dengan baik
Semoga referat ini dapat menambah wawasan kita dalam dunia kesehatatan
kebidanan dan kandungan, khususnya pada topik ”Persalinan Normal”.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna, karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak, semoga
bermanfaat.
Penulis
2
KATA PENGANTAR............................................................................................2
A. DEFINISI .............................................................................................5
B. ANATOMI RONGGA PANGGUL……………………………………7
C. DIAGNOSIS PERSALINAN…...…………………………………….12
D. LETAK,PRESENTASI, SIKAP DAN POSISI
JANIN….……………………………….............................................13
E. PERSALINAN DENGAN PRESENTASI BELAKANG
KEPALA………………………….......................................................16
F. FISIOLOGI PERSALINAN NORMAL…. .........................................18
G. MANAJEMEN PERSALINAN………………………………………..41
H. DISTOSIA PRSALINAN……………………………………………...52
BAB 3 KESIMPULAN.........................................................................................54
3
BAB I
PENDAHULUAN
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran fetus dan plasenta dari uterus,
ditandai dengan peningkatan aktifitas miometrium (frekuensi dan intensitas kontraksi)
yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks serta keluarnya lendir darah
(show) dari vagina. Lebih dari 80% proses persalinan berjalan normal, 15-20% dapat
terjadi komplikasi persalinan. UNICEF dan WHO menyatakan bahwa hanya 5%-10%
saja yang membutuhkan seksio sesarea.1
Kehamilan secara umum ditandai dengan aktivitas umum otot polos miometrium
yang relatif tenang sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan janin
intrauterin sampai kehamilan aterm. Menjelang persalinan, otot polos uterus mulai
menunjukkan aktivitas kontraksi secara terkoordinasi, diselingi suatu periode relaksasi,
dan mencapai puncaknya menjelang persalinan, serta secara berangsur menghilang pada
periode postpartum. 1
Proses fisiologi kehamilan yang menimbulkan inisiasi partus dan awitan
persalinan belum diketahui secara pasti. Sampai sekarang, pendapat umum yang dapat
diterima bahwa keberhasilan kehamilan pada semua spesies mamalia, bergantung pada
aktivitas progesteron yang menimbulkan relaksasi otot-otot uterus untuk
mempertahankan ketenangan uterus sampai mendekati akhir kehamilan.2
Persalinan dianggap normal juga jika terjadi pada usia kehamilan cukup bulan
(setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (in partu) sejak
uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis)
dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Seorang wanita belum dikatakan
inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan pada serviks. 1
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dikenal beberapa istilah menurut umur kehamilan dan berat badan bayi yang
dilahirkan, yaitu 1,2:
a. Abortus adalah pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 20 minggu atau
bayi dengan berat badan kurang dari 500 gram.
5
b. Partus imaturus adalah pengeluaran buah kehamilan antara 20 sampai 28 minggu
atau bayi dengan berat badan antara 500 – 1000 gram.
c. Partus prematurus adalah pengeluaran buah kehamilan antara 28 sampai 37
minggu atau bayi dengan berat badan antara 1000 – 2500 gram.
d. Partus maturus atau partus aterm adalah pengeluaran buah kehamilan antara 37
sampai 42 minggu atau dengan bayi dengan berat badan 2500 gram atau lebih.
e. Partus postmaturus atau partus serotinus adalah pengeluaran buah kehamilan
setelah kehamilan 42 minggu.
6
2.3 Anatomi Rongga Panggul
Panggul dibentuk oleh 4 (empat) buah tulang6 :
1. Os coxae kiri dan kanan, membentuk dinding lateral dan anterior rongga panggul.
2. Os coccygis dan os sacrum, bagian dari columna vertebralis, membentuk dinding
posterior rongga panggul.
Os coxae sendiri masing-masing sebenarnya terdiri dari 3 tulang kecil yang bersatu,
yaitu os ilium, os ischium dan os pubis.
Rongga panggul dibagi atas dan bawah oleh bidang apertura pelvis superior
(pintu atas panggul, PAP).
Apertura pelvis superior dibentuk oleh :
- promontorium os sacrum di bagian posterior
- linea iliopectinea (linea terminalis dan pecten ossis pubis) di
bagian lateral
- symphisis os pubis di bagian anterior
Inklinasi panggul adalah sudut yang terbentuk antara bidang yang melalui
apertura pelvis superior dengan bidang horisontal (pada keadaan normal sebesar 60o).
Bagian di atas / kranial terhadap apertura pelvis superior disebut sebagai pelvis
spurium (pelvis major), merupakan bagian bawah / kaudal daripada rongga abdomen.
Makna obstetriknya adalah untuk menahan alat-alat dalam rongga perut dan menahan
7
uterus yang berisi fetus yang terus bertambah besar secara bermakna mulai usia
kehamilan bulan ketiga.
Bagian di bawah / kaudal terhadap apertura pelvis superior disebut sebagai
pelvis verum (pelvis minor), merupakan rongga panggul yang sangat menentukan
kapasitas untuk jalan lahir bayi pada waktu persalinan (verum=sebenarnya, disebut juga
true pelvis).
Dinding-dinding rongga panggul :
1. Dinding anterior : pendek, dibentuk oleh corpus, rami dan symphisis ossium pubis
2. Dinding posterior : dibentuk oleh permukaan ventral os sacrum dan os coccygis serta
muskulus pyriformis yang membentang pada permukaan ventral os sacrum dan diliputi
oleh fascie pelvis.
3. Dinding lateral : dibentuk oleh bagian os coxae di bawah apertura pelvis superior,
membrana obturatoria, ligamentum sacrotuberosum, ligamentum sacrospinosum, dan
muskulus obturator internus dengan fascia obturatoria.
4. Dinding inferior / dasar panggul : dibentuk oleh diaphragma pelvis ([Link] ani,
mm coccygei, fascia diaphragmatis pelvis, trigonum urogenitale) yang berfungsi
menahan alat-alat rongga panggul. Diaphragma pelvis membagi lagi rongga panggul
bagian bawah menjadi bagian rongga panggul utama (bagian atas diaphragma pelvis)
dan bagian perineum (bagian bawah diaphragma pelvis).
2.3.1 Pelvis Verum
Mempunyai pintu masuk yaitu apertura pelvis superior, dan pintu keluar apertura pelvis
inferior (pintu bawah panggul, PBP).
Apertura pelvis inferior merupakan dua segitiga yang bersekutu pada alasnya (pada
garis yang menghubungkan kedua tuber ischiadica), dibentuk oleh :
1. segitiga bagian dorsal, trigonum anale, dibentuk oleh kedua ligamentum
sacrotuberosum dan puncaknya terletak pada os coccygis.
2. segitiga bagian ventral, trigonum urogenitale, dibentuk oleh ramus inferior os pubis
dan ramus inferior os ischium kiri dan kanan, dan puncaknya terletak pada symphisis os
pubis.
Cavum pelvis (rongga panggul) yang mempunyai kepentingan obstetrik pada
proses persalinan adalah rongga yang terletak antara pintu masuk dan pintu keluar
8
panggul tersebut, berupa saluran pendek yang melengkung dengan bagian cekung
menghadap ke depan.
1. tipe gynaecoid : bentuk pintu atas panggul seperti ellips melintang kiri-kanan, hampir
mirip lingkaran. Diameter transversal terbesar terletak di tengah. Dinding samping
panggul lurus. Merupakan jenis panggul tipikal wanita (female type).
2. tipe anthropoid : bentuk pintu atas panggul seperti ellips membujur anteroposterior.
Diameter transversal terbesar juga terletak di tengah. Dinding samping panggul juga
lurus. Merupakan jenis panggul tipikal golongan kera (ape type).
3. tipe android : bentuk pintu atas panggul seperti segitiga. Diameter transversal terbesar
terletak di posterior dekat sakrum. Dinding samping panggul membentuk sudut yang
makin sempit ke arah bawah. Merupakan jenis panggul tipikal pria (male type).
4. tipe platypelloid : bentuk pintu atas panggul seperti "kacang" atau "ginjal". Diameter
transversal terbesar juga terletak di tengah. Dinding samping panggul membentuk sudut
yang makin lebar ke arah bawah.
Pada banyak kasus, bentuk panggul merupakan tipe campuran.
9
2.3.3 Ukuran Panggul Wanita yang Memiliki Makna Obstetrik
10
2.3.4 Bidang Hodge
Bidang-bidang sepanjang sumbu panggul yang sejajar dengan pintu atas panggul, untuk
patokan/ukuran kemajuan persalinan (penilaian penurunan presentasi janin).
a. Bidang Hodge I
adalah bidang pintu atas panggul, dengan batas tepi atas simfisis.
b. Bidang Hodge II
adalah bidang sejajar H-I setinggi tepi bawah simfisis
c. Bidang Hodge III
adalah bidang sejajar H-I setinggi spina ischiadica
d. Bidang Hodge IV
adalah bidang sejajar H-I setinggi ujung bawah os coccygis
12
2.5 Letak, Presentasi, Sikap, dan Posisi Janin
Orientasi janin digambarkan menurut letak, presentasi, sikap, dan posisi. Hal ini
dapat ditentukan secara klinis dengan melakukan palpasi abdomen, pemeriksaan vagina,
dan auskultasi, atau secara teknis menggunakan USG atau sinar X. Pemeriksaan klinis
kurang akurat atau bahkan tidak mungkin dilakukan dan diinterpretasikan pada wanita
obese 4.
1. Letak janin
Letak adalah hubungan sumbu panjang janin dengan sumbu panjang ibu. Terdiri
dari letak memanjang dan letak melintang. Kadangkala terdapat letak oblik,
dimana akibat sumbu janin dan ibu dapat bersilangan dengan sudut 45°. Letak
oblik tidak stabil, dapat berubah posisi menjadi letak memanjang atau melintang
selama proses persalinan. Frekuensi letak memanjang sebesar 99,6% (96% letak
kepala, 3,6% letak bokong) dan 0,4% letak lintang atau oblik. Faktor
predisposisi untuk letak lintang adalah multiparitas, plasenta previa, hidramnion,
dan anomali uterus 1,4.
2. Presentasi janin
Bagian terbawah janin adalah bagian tubuh janin yang berada paling depan di
dalam jalan lahir. Bagian terbawah janin menentukan presentasi. Bagian
terbawah janin dapat diraba melalui serviks pada pemeriksaan vagina. Karena
itu, pada letak memanjang, bagian terbawah janin adalah kepala janin atau
bokong, masing-masing membentuk presentasi kepala atau bokong. Jika janin
terletak pada sumbu panjang melintang, bahu merupakan bagian terbawahnya.
Jadi, presentasi bahu teraba melalui serviks pada perabaan vagina.
a. Presentasi Kepala
Presentasi kepala diklasifikasikan berdasarkan hubungan kepala dengan badan
janin.
(1) Presentasi belakang kepala dengan penunjuk ubun-ubun kecil di segmen
depan, di sebelah kiri depan (kira-kira 2/3), di sebelah kanan depan (kira-kira
1/3) dan ini adalah posisi yang normal atau normoposisi.
13
Presentasi belakang kepala dengan penunjuk ubun-ubun kecil dibelakang
dapat di sebelah kiri belakang, kanan belakang, dan dapat pula ubun-ubun
kecil terletak melintang baik kanan maupun kiri dan ini adalah posisi yang
tidak normal atau malposisi.
(2) Presentasi puncak kepala : kepala dalam defleksi ringan dengan penunjuk
ubun-ubun besar.
(3) Presentasi dahi : kepala dalam defleksi sedang dengan penunjuk
dahi/frontum.
(4) Presentasi muka : kepala dalam defleksi maksimal dengan penunjuk
dagu/mentum.
Gambar 5. Presentasi kepala janin. (A) Belakang kepala, (B) Puncak kepala,
(C) Dahi, (D) Muka
14
b. Presentasi Bokong
Bila janin menunjukan presentasi bokong, terdapat tiga konfigurasi umum yang
dapat terjadi.
Gambar 11. Presentasi Bokong. (A) Complete Breech, (B) Frank Breech, (C)
Footling atau Incomplete Breech.
15
3. Sikap atau postur janin
Hubungan bagian-bagian janin yang satu dengan bagian janin yang lain,
biasanya terhadap tulang punggungnya. Sikap janin yang fisiologis adalah badan
dalam keadaan kifosis sehingga punggung menjadi konveks, kepala dalam sikap
hiperfleksi dengan dagu dekat dengan dada, lengan bersilang di depan dada dan
tali pusat terletak antara ekstremitas dan tungkai terlipat pada lipat paha dan
lutut yang rapat pada badan.
Sikap fisiologis ini menghasilkan sikap fleksi. Sikap ini terjadi karena
pertumbuhan janin dan proses akomodasi terhadap kavum uteri. Jika dagu
menjauhi dada sehingga kepala akan menengadah dan tulang punggung
mengadakan lordosis, maka sikap ini akan menghasilkan sikap defleksi.1
4. Posisi janin
Posisi janin adalah hubungan antara titik yang ditentukan sebagai acuan pada
bagian terbawah janin dengan sisi kanan atau kiri jalan lahir ibu. Karena itu,
pada setiap presentasi terdapat dua posisi kanan atau kiri.4
16
Ubun-ubun besar (bregma)/ UUB: berbentuk jajaran genjang, terbentuk dari
pertemuan sutura sagitalis, koronalis, dan frontalis.
Ubun-ubun kecil (lambda)/ UUK: berbentuk segitiga, terbentuk dari pertemuan
sutura sagitalis dan lambdoidalis.
Puncak kepala (verteks) adalah puncak tempurung kepala yang terletak antara
UUB dan UUK.
Belakang kepala (oksiput) adalah bagian belakang kepala antara UUK sampai
foramen magnum
Dahi (sinsiput) adalah bagian depan kepala antara UUB sampai akar hidung
(glabela), dibatasi olet sutura koronalis dan lobang mata.
Glabela adalah bagian yang meninggi diantara kedua lubang mata.
Gambar 7. Kepala janin tampang atas dan Kepala janin tampang samping
Hampir 96% janin berada dalam uterus dengan presentasi kepala dan pada
presentasi kepala ini ditemukan ± 58% ubun-ubun kecil terletak di kiri depan, ± 23 % di
kanan depan, ± 11% di kanan belakang, dan ±8% di kiri belakang. Keadaan ini mungkin
disebabkan terisinya ruangan di sebelah kiri belakang oleh kolon sigmoid atau rectum.1
Dikemukakan 2 teori yang dapat menjelaskan kenapa lebih banyak letak kepala5 :
1. Teori akomodasi : bentuk rahim memungkinkan bokong dan ekstremitas yang
volumenya besar berada di atas, dan kepala di bawah di ruangan yang lebih
sempit.
17
2. Teori gravitasi : karena kepala relatif besar dan berat, maka akan turun ke
bawah. Karena his yang kuat, teratur dan sering, maka kepala janin turun
memasuki pintu atas panggul (engagement). Karena menyesuaikan diri dengan
jalan lahir, kepala bertambah menekuk (fleksi maksimal), sehingga lingkar
kepala yang memasuki panggul, dengan ukuran yang terkecil :
Diameter suboccipito-bregmatika = 9,5 cm
Sirkumferensia suboccipito-bregmatika = 32 cm.
19
Gambar 8. Kaskade plasenta–fetal adrenal endokrin
6. Teori prostaglandin.
Prostaglandin dihasilkan oleh amnion kemudian diaktivasi oleh desidua saat
kehamilan aterm dan saat proses persalinan yang menyebabkan peningkatan
kontraksi miometrium. Peningkatan prostaglandin pada desidua disebabkan oleh
meningkatnya reseptor PGF2α. Hasil percobaan menunjukkan bahwa
prostaglandin E dan F yang diberikan secara intravena, intra dan ekstraamnial
menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap umur kehamilan. Hal ini juga
disokong dengan adanya kadar prostaglandin yang tinggi, baik dalam air
ketuban maupun darah perifer pada ibu-ibu hamil sebelum melahirkan atau
selama persalinan.7
20
Gambar 9. Teori prostaglandin
21
b. His persalinan merupakan kontraksi fisiologis otot-otot rahim. Bertentangan
dengan sifat kontraksi fisiologis lain, his persalinan bersifat nyeri. Nyeri ini
mungkin disebabkan oleh anoksia dari sel-sel otot sewaktu kontraksi, tekanan
oleh serabut otot rahim yang berkontraksi pada ganglion saraf di dalam
serviks dan segmen bawah rahim, regangan serviks, atau regangan dan
tarikan pada peritoneum sewaktu kontraksi. His yang sempurna bila terdapat
(a) kontraksi yang simetris, (b) kontraksi paling kuat atau adanya dominasi di
fundus uteri, dan (c) sesudah itu terjadi relaksasi.
c. Kontraksi rahim bersifat autonom, tidak dipengaruhi oleh kemauan, tetapi
dapat juga dipengaruhi oleh rangsangan dari luar, misalnya rangsangan oleh
jari-jari tangan. Seperti kontraksi jantung, pada his juga terdapat pacemaker
yang memulai kontraksi dan mengontrol frekuensinya. Pacemaker ini terletak
pada kedua pangkal tuba. Kontraksi rahim bersifat berkala dan yang harus
diperhatikan ialah sebagai berikut :
Lamanya kontraksi; berlangsung 47-75 detik
Kekuatan kontraksi; menimbulkan naiknya tekanan intrauterin sampai 35
mmHg.
Interval antara dua kontraksi; pada permulaan persalinan his timbul sekali
dalam 10 menit, pada kala pengeluaran sekali dalam 2 menit.
22
2. Tenaga mengejan/meneran
a. Selain his, setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah, tenaga yang
mendorong anak keluar terutama adalah kontraksi otot-otot dinding perut
yang mengakibatkan peninggian tekanan intraabdominal. Tenaga mengejan
hanya dapat berhasil jika pembukaan sudah lengkap, dan paling efektif
sewaktu kontraksi rahim.
b. Tanpa tenaga mengejan anak tidak dapat lahir, misalnya pada pasien yang
lumpuh otot-otot perutnya, persalinan harus dibantu dengan forceps. Tenaga
mengejan juga melahirkan plasenta setelah plasenta lepas dari dinding rahim.
Passage, adalah keadaan jalan lahir. Jalan lahir mempunyai kedudukan penting
dalam proses persalinan untuk mencapai kelahiran bayi. Dengan demikian evaluasi
jalan lahir merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah persalinan dapat
berlangsung pervaginam atau sectio secaria.
Passenger, adalah janinnya sendiri. Sikap, letak, presentasi dan posisi janin di
dalam rahim memain peran penting dalam proses persalinan.
Psyche, adalah kejiwaan ibu. Pada proses melahirkan bayi, pengaruh-pengaruh
psikis bisa menghambat dan memperlambat proses kelahiran, atau bisa juga
mempercepat kelahiran. Maka fungsi biologis dari reproduksi itu amat dipengaruhi
oleh kehidupan psikis dan kehidupan emosional wanita yang bersangkutan.
24
3. Perubahan bentuk rahim
Pada tiap kontraksi, sumbu panjang rahim bertambah panjang, sedangkan ukuran
melintang maupun ukuran muka belakang berkurang. Pengaruh perubahan
bentuk ini ialah sebagai berikut : 10
a. Karena ukuran melintang berkurang, lengkungan tulang punggung anak
berkurang, artinya tulang punggung menjadi lebih lurus. Dengan
demikian, kutub atas anak tertekan pada fundus, sedangkan kutub bawah
ditekan ke dalam pintu atas panggul.
b. Karena rahim bertambah panjang, otot-otot memanjang diregang dan
menarik segmen bawah dan serviks.
Hal ini merupakan salah satu penyebab pembukaan serviks.
4. Faal ligamentum rotundum dalam persalinan
Ligamentum rotundum mengandung otot-otot polos. Jika uterus berkontraksi,
otot-otot ligamentum ini ikut berkontraksi sehingga menjadi lebih pendek. Pada
tiap kontraksi, fundus yang tadinya bersandar pada tulang punggung berpindah
ke depan dan mendesak dinding perut depan ke depan. Perubahan letak uterus
sewaktu kontraksi kontraksi penting karena dengan demikian sumbu rahim
searah dengan sumbu jalan lahir. Dengan adanya kontraksi ligamentum
rotundum, fundus uteri tertambat. Akibatnya fundus tidak dapat naik ke atas
sewaktu kontraksi. Jika fundus uteri dapat naik ke atas sewaktu kontraksi,
kontraksi tersebut tidak dapat mendorong anak ke bawah.
25
Yang dimaksud dengan pembukaan serviks adalah pembesaran ostium
eksternum menjadi suatu lubang dengan diameter sekitar 10 cm yang
data dilalui anak.
27
anak dengan diameter sekitar 10 cm. Pada pembukaan lengkap, tidak teraba lagi bibir
portio, segmen bawah rahim, serviks dan vagina telah merupakan suatu saluran.2
Mekanisme membukanya serviks berbeda pada primigravida dan multigravida. Pada
yang pertama, ostium uteri internum akan membuka lebih dulu, sehingga serviks akan
mendatar dan menipis. Baru kemudian ostium uteri eksternum membuka. Sedangkan
pada multigravida ostium uteri internum sudah sedikit terbuka. Ostium uteri internum
dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang sama.
Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida kala I
berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multipara kira-kira 7 jam. 12
Gambar 13. Pendataran dan dilatasi serviks sempurna pada Multigravida dan
Primigravida
28
b. Kala II (Kala Pengeluaran Janin)
Pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2 sampai 3
menit sekali. Karena biasanya kepala janin sudah masuk di ruang panggul, maka
pada his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul, yaitu secara reflektoris
menimbulkan rasa mengedan. Ibu merasa pula : 2
1. Tekanan pada rektum
2. Hendak buang air besar
3. Perineum mulai menonjol dan melebar
4. Anus membuka
5. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam
vulva pada waktu his.
Dengan his dan kekuatan mengedan maksimal kepala janin dilahirkan
dengan suboksiput di bawah simfisis dan dahi, muka, dan dagu melewati
perineum. Setelah istirahat sebentar, his mulai lagi untuk mengeluarkan badan
dan anggota bayi. Pada primigravida kala II berlangsung rata-rata 1,5 jam dan
pada multipara rata-rata 0,5 jam1.
Gerakan-gerakan anak pada persalinan yang paling sering kita jumpai
ialah presentasi belakang kepala dan kebanyakan presentasi ini masuk ke dalam
pintu atas panggul dengan sutura sagitalis melintang. Ubun-ubun kecil kiri
melintang lebih sering daripada ubun-ubun kecil kanan melintang. Karena itu,
akan diuraikan pergerakan anak dalam presentasi belakang kepala dengan posisi
ubun-ubun kecil kiri melintang.
Gerakan-gerakan pokok persalinan adalah Engagement, Descens (penurunan
kepala), Fleksi, Rotasi interna (putaran paksi dalam), Ekstensi, Rotasi eksterna
(putaran paksi luar), dan Ekspulsi.
Mekanisme persalinan terdiri dari suatu gabungan gerakan-gerakan yang
berlangsung pada saat yang sama. Misalnya, sebagai bagian dari proses
engagement terjadi fleksi dan penurunan kepala. Gerakan-gerakan tersebut tidak
mungkin diselesaikan bila bagian terbawah janin tidak turun secara bersamaan.
29
Seiring dengan itu, kontraksi uterus menghasilkan modifikasi penting pada sikap
atau habitus janin, terutama setelah kepala turun ke dalam panggul. 1,2,3,4
1. Engagement
Mekanisme yang digunakan oleh diameter biparietal-diameter transversal
kepala janin pada presentasi oksiput untuk melewati pintu atas panggul
disebut sebagai engagement. Fenomena ini terjadi pada minggu-minggu
terakhir kehamilan. Turunnya kepala dapat dibagi menjadi masuknya kepala
ke dalam pintu atas panggul dan majunya kepala.
30
Gambar 15 Pengukuran engagement
Pembagian ini terutama berlaku bagi primigravida. Masuknya kepala ke
dalam pintu atas panggul pada primigravida sudah terjadi pada bulan terakhir
kehamilan. Tetapi pada multipara biasanya baru terjadi pada permulaan
persalinan. Masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul biasanya terjadi
dengan sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan.2
Sinklitisme
Peristiwa yang terjadi adalah sinklitismus. Pada presentasi belakang
kepala, engagement berlangsung apabila diameter biparietal telah melewati
pintu atas panggul. Kepala paling sering masuk dengan sutura sagitalis
melintang. Ubun-ubun kecil kiri melintang merupakan posisi yang paling
sering kita temukan. Apabila diameter biparietal tersebut sejajar dengan
bidang panggul, kepala berada dalam sinklitisme.
Sutura sagitalis berada di tengah-tengah antara dinding panggul
bagian depan dan belakang. Engagement dengan sinklitisme terjadi bila
uterus tegak lurus terhadap pintu atas panggul dan panggulnya luas. Jika
keadaan tersebut tidak tercapai, kepala berada dalam keadaan asinklitisme.
31
Gambar 16. Sinklitismus
Asinklitisme
Asinklitisme anterior, menurut Naegele ialah arah sumbu kepala
membuat sudut lancip ke depan dengan pintu atas panggul. Dapat pula
terjadi asinklitismus posterior yang menurut Litzman ialah apabila keadaan
sebaliknya dari asinklitismus anterior1.
32
Asinklitismus derajat sedang pasti terjadi pada persalinan normal,
namun jika derajat berat, gerakan ini dapat menimbulkan disproporsi
sefalopelvik pada panggul yang berukuran normal sekalipun. Perubahan
yang berturut-turut dari asinklitismus posterior ke anterior mempermudah
desensus dengan memungkinkan kepala janin mengambil kesempatan
memanfaatkan daerah-daerah yang paling luas di rongga panggul4.
3. Fleksi
Ketika desens mengalami tahanan, baik dari serviks, dinding panggul, atau
dasar panggul, biasanya terjadi fleksi kepala. Pada gerakan ini, dagu
mendekat ke dada janin dan diameter suboksipitobregmatika yang lebih
pendek menggantikan diameter oksipitofrontal yang lebih panjang.
33
Gambar 18. Proses Fleksi
Gambar 19. Empat derajat fleksi kepala (A). Fleksi buruk, (B). Fleksi
sedang, (C) Fleksi lebih lanjut, (D) Fleksi lengkap
34
Yang dimaksud dengan putaran paksi dalam ialah pemutaran bagian depan
sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar ke
depan, ke bawah simfisis. Pada presentasi belakang kepala, bagian yang
terendah adalah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang akan memutar
ke depan, ke bawah simfisis. Putaran paksi dalam mutlak diperlukan untuk
kelahiran kepala, karena putaran paksi merupakan suatu usaha untuk
menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir, khususnya bentuk
bidang tengah dan pintu bawah panggul. Putaran paksi dalam tidak terjadi
tersendiri, tetapi selalu bersamaan dengan majunya kepala dan tidak terjadi
sebelum kepala sampai ke Hodge III kadang-kadang baru terjadi setelah
kepala sampai di dasar panggul.2
35
Gambar 21. Mekanisme persalinan untuk ubun-ubun kecil kiri lintang:
(A). Asinklitismus posterior pada tepi panggul diikuti fleksi lateral,
menyebabkan (B) Asinklitismus anterior, (C) Engagement, (D) Rotasi
dan ekstensi.
36
Gambar 22. Permulaan ekstensi Gambar 23. Ekstensi kepala
7. Ekspulsi 2
Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai di bawah simfisis dan menjadi
hipomoklion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan
37
menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan
lahir.
38
semakin mengecil, sedangkan plasenta tidak berubah, maka plasenta akan
berlipat, menebal kemudian lepas dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta
akan turun ke bagian bawah uterus atau ke dalam vagina.
Jika telah lepas, bentuk plasenta menjadi bundar, dan tetap bundar
sehingga perubahan bentuk ini dapat dijadikan tanda pelepasan plasenta. Jika
keadaan ini dibiarkan, setelah plasenta lepas, fundus uteri naik, sedikit hingga
setinggi pusat atau lebih, bagian tali pusat diluar vulva menjadi lebih panjang.3
Naiknya fundus uteri disebabkan karena plasenta jatuh dalam segmen
bawah rahim bagian atas vagina sehingga mengangkat uterus yang berkontraksi.
Seiring lepasnya plasenta, dengan sendirinya bagian tali pusat yang lahir
menjadi lebih panjang. Lamanya kala plasenta kurang lebih 8,5 menit, dan
pelepasan plasenta hanya memakan waktu 2-3 menit.
Tanda-tanda pelepasan plasenta mencakup beberapa atau semua hal-hal di
bawah ini :
Perubahan bentuk dan tinggi fundus
Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus
berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah pusat.
Setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong ke bawah, uterus
berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau alpukat dan fundus
berada di atas pusat
Tali pusat memanjang
Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (Tanda Ahfeld)
Semburan darah mendadak dan singkat
Darah yang terkumpul di belakang plasenta membantu mendorong
plasenta keluar dan dibantu oleh gaya gravity. Apabila kumpulan
darah dalam ruang di antara dinding uterus dan permukaan dalam
plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar
dari tepi plasenta yang terlepas. Perdarahan agak banyak (±250 cc)
39
d. Kala IV (Kala Pengawasan)
Merupakan kala pengawasan selama 1 jam setelah bayi dan plasenta lahir
untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan postpartum.
Tujuh pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 : 1) kontraksi uterus
harus baik, 2) tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain, 3)
plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap, 4) kandung kencing
harus kosong, 5) luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
6) resume keadaan umum bayi, dan 7) resume keadaan umum ibu.
1. Kontraksi Uterus
Dengan melakukan penekanan ringan oleh telapak tangan diatas uterus,
pemeriksa dapat menentukan waktu dimulainya kontraksi. Intensitas kontraksi
diukur berdasarkan derajat ketegangan yang dicapai uterus. Pada puncak
kontraksi efektif, jari atau ibu jari tangan tidak dapat menekan uterus.
Selanjutnya, dicatat waktu ketika kontraksi tersebut menghilang. Urutan ini
diulangi untuk mengevaluasi frekuensi, durasi, dan intensitas kontraksi uterus.
Yang paling baik adalah mengukur kontraksi uterus dengan menyebut derajat
ketegangan atau resistensi terhadap indentasi.
4. Asupan oral
Makanan harus ditunda pemberiannya selama proses persalainan aktif. Waktu
pengosongan lambung memanjang secara nyata saat proses persalinan berlangsung dan
diberikan obat analgesik. Sebagai akibatnya, makanan dan sebagian besar obat yang
dimakan tetap berada dilambung dan tidak diabsorpsi, melainkan dapat dimuntahkan
dan teraspirasi. Terdapat kecenderungan memberikan cairan dengan jumlah yang
terbatas untuk wanita in partu.
5. Cairan intravena
Meskipun telah menjadi kebiasaan di banyak rumah sakit untuk memasang
sistem infus intravena secara rutin pada awal persalinan, jarang ada ibu hamil normal
yang benar-benar memerlukannya, setidaknya sampai analgesia diberikan. Sistem infus
intravena menguntungkan selama masa nifas dini untuk memberikan oksitosin
profilaksis dan seringkali bersifat terapeutik ketika terjadi atonia uteri. Selain itu,
persalinan yang lebih lama, pemberian glukosa, natrium dan air untuk wanita yang
sedang berpuasa dengan kecepatan 60 sampai 120 ml per jam, efektif untuk mencegah
dehidrasi dan asidosis.
42
Rekomendasi Pimpinan Persalinan Kala I dan II Normal padaWanita tanpa Faktor Risiko
Anestetik, Medis atau Obstetris1.
7. Analgesia
Analgesi paling sering mulai diberikan berdasarkan rasa nyeri pada
wanita yang bersangkutan. Jenis analgesia, jumlahnya, dan frekuensi pemberian
hendaknya didasarkan pada kebutuhan untuk menghilangkan nyeri di satu pihak,
43
dan kemungkinan melahirkan bayi yang sakit di lain pihak. Penetapan waktu,
metoda pemberian, dan ukuran dosis awal serta lanjutan obat-obat analgesik yang
bekerja secara sistemik sangat didasarkan pada interval waktu yang diharapkan
sampai pelahiran. Oleh karenanya, pemeriksaan vagina berulang sebelum
memberikan analgetik lebih banyak sering kali dapat diterima. Dengan
munculnya gelaja-gejala khas persalinan kala dua, yaitu dorongan untuk
mengejan, status serviks dan bagian terbawah janin harus dievaluasi kembali.
8. Amniotomi
Bila selaput ketuban masih utuh, ada dorongan yang besar, bahkan pada
persalinan normal sekalipun, untuk melakukan amniotomi. Manfaat yang
diperkirakan adalah persalinan bertambah cepat, deteksi dini kasus pencemaran
mekonium pada cairan amnion, dan kesempatan untuk memasang elektroda ke
janin serta memasukkan pressure catheter ke dalam rongga uterus. Jika
amniotomi dilakukan, harus diupayakan menggunakan teknik aseptik. Yang
penting, kepala janin harus tetap berada di serviks dan tidak dikeluarkan dari
panggul selama prosedur; karena tindakan seperti itu akan menyebabkan prolaps
tali pusat.
44
2.8.2 Managemen Persalinan Kala II
Kala II mulai bila pembukaan serviks lengkap. Umumnya, pada akhir kala I atau
permulaan kala II dengan kepala janin sudah masuk dalam ruang panggul, ketuban
pecah sendiri. Bila ketuban belum pecah spontan, ketuban harus dipecahkan
(amniotomi). Kadang-kadang pada permulaan kala II ini, wanita tersebut ingin muntah
disertai rasa ingin mengedan kuat. His akan timbul lebih sering dan merupakan tenaga
pendorong janin. Disamping his, wanita tersebut harus dipimpin meneran (untuk
membuat kontraksi dinding abdomen dan diafragma menekan uterus) pada waktu his.
Di luar his denyut jantung janin harus sering diawasi.
Ada 2 cara mengedan :
1) Wanita tersebut dalam letak berbaring merangkul kedua pahanya sampai batas siku.
Kepala sedikit diangkat, sehingga dagu mendekati dada dan dia dapat melihat
perutnya.
2) Sikap seperti di atas, tetapi badan dalam posisi miring ke kanan atau kiri tergantung
pada letak punggung anak. Hanya satu kaki dirangkul, yakni kaki yang berada di
atas. Posisi yang menggulung ini memang fisiologis. Posisi ini baik dilakukan bila
putaran paksi dalam belum sempurna.
Dokter atau penolong persalinan berdiri pada sisi kanan wanita tersebut. Bila
kepala janin telah sampai pada dasar panggung, vulva mulai membuka. Rambut kepala
janin mulai tampak. Perineum dan anus tampak mulai meregang. Perineum mulai lebih
tinggi, sedangkan anus mulai membuka. Anus pada mulanya bulat berubah berbentuk
"D" dan tampak dinding depan rektum. Perineum ditahan dengan tangan kanan
sebaiknya dengan kassa steril, bila tidak ditahan akan robek (Ruptura perinei).
Dianjurkan untuk melakukan episiotomi (insisi pada perineum dengan gunting)
pada primigravida dan pada perineum kaku. Episiotomi dilakukan pada saat perineum
tipis dan kepala tidak masuk kembali ke dalam vagina. Ketika kepala janin akan
mengadakan defleksi dengan suboksiput di bawah simfisis sebagai hipomoklion,
sebaiknya tangan kiri menahan bagian belakang kepala dengan maksud agar gerakan
defleksi tidak terlalu cepat. Dengan demikian, ruptura perinei dapat dihindarkan. Untuk
mengawasi rupture perineum ini posisi miring (Sims position) lebih menguntungkan
45
dibandingkan posisi biasa. Akan tetapi, bila perineum jelas telah tipis dan menunjukkan
akan timbul ruptura perinei, maka sebaiknya dilakukan epistotomi.
Dikenal 3 jenis episiotomi :
1) Epistotomi mediana (pada garis tengah, baik dilakukan pada multipara)
2) Epistotomi mediolateralis (pada garis tengah dan diperluas ke lateral saat
mendekati anus, baik dilakukan pada primipara)
3) Epistotomi lateralis (langsung miring terhadap sumbu perineum, dapat
memberikan pembukaan yang terbesar, kadang dilakukan pada keadaan
direncanakan ekstraksi forceps atau ekstraksi vakum)
Keuntungan epistotomi mediana ialah tidak menimbulkan perdarahan banyak
dan penjahitan kembali lebih mudah, sehingga sembuh per primum dan hampir tidak
berbekas. Bahayanya ialah dapat menimbulkan rupture perinei totalis (robekan
perineum tembus sampai [Link] ani, bahkan kadang sampai mukosa rektum).
Perawatan ruptura perinei totalis harus dikerjakan serapi-rapinya, agar jangan sampai
gagal dan timbul inkontinensia alvi. Untuk menghindarkan robekan perineum dapat
dilakukan perasat Ritgen, yaitu bila perinuem meregang dan menipis, tangan kiri
menahan dan menekan bagian belakang kepala janin ke arah anus. Tangan kanan pada
perineum, dengan ujung-ujung jari tangan kanan tersebut melalui kulit perineum dicoba
menggait dagu janin dan ditekan ke arah simfisis dengan hati-hati. Dengan demikian,
kepala janin dilahirkan perlahan-lahan ke luar. Setelah kepala lahir diperhatikan apakah
tali pusat melilit leher janin. Lilitan dapat dilonggarkan dan bila sukar dapat dilepaskan
dengan menjepit tali pusat dengan 2 cunam Kocher, kemudian dipotong diantaranya
dengan gunting yang tumpul ujungnya.
1. Kelahiran spontan
Pada waktu kepala meregangkan vulva dan perineum pada saat kontraksi
sehingga cukup untuk membuka introitus vagina menjadi berdiameter sekitar 5 cm,
perlu memasang duk steril dengan satu tangan untuk melindungi introitus dari anus dan
kemudian menekan ke depan pada dagu janin melalui perineum tepat di depan coccygis,
sementara tangan lainnya memberikan tekanan di atas pada occiput. Kepala dilahirkan
secara berlahan dengan basis occiput berputar di tepi bawah symphisis pubis sebagai
46
titik tumpu, sementara bregma (fontanela anterior), dahi dan wajah berturut-turut
terlihat di perineum. Setelah kepala lahir, kepala mengadakan putaran paksi luar ke arah
letak punggung janin. Usaha selanjutnya melahirkan bahu janin. Mula-mula lahirkan
bahu depan, dengan kedua telapak tangan pada samping kiri dan kanan kepala janin.
Kepala janin ditarik perlahan kearah anus sehingga lahir bahu depan, tarikan tidak boleh
terlalu keras dan kasar oleh karena dapat menimbulkan robekan pada muskulus
sternokleidomastoidues. Kemudian, kepala janin diangkat kearah simfisis untuk
melahirkan bahu belakang. Setelah kedua bahu janin dapat dilahirkan, maka usaha
selanjutnya ialah melahirkan badan janin, trokanter anterior dan disusul trokanter
posterior. Dengan kedua tangan di bawah ketiak janin dan sebagaian di atas dipunggung
atas berturut-turut dilahirkan badan janin, trokanter anterior dan trokanter posterior.
Setelah janin lahir, bayi sehat dan normal akan segera menarik napas dan langsung
menangis keras. Kemudian bayi diletakkan dengan kepala kebawah kira-kira
membentuk sudut 30 derajat dengan bidang datar. Lendir pada jalan napas segera
dibersihkan atau diisap dengan pengisap lendir. Tali pusat dipotong 5-10 cm dari
umbilikus diantara 2 cunam Kocher. Bila kemungkinan akan melakukan exchange
transfusion pada bayi, maka pemotongan tali pusat diperpanjang sampai antara 10-
15cm. Ujung tali pusat bagian bayi didesinfeksi dan diikat kuat. Hal ini harus
diperhatikan benar karena bila ikatan kurang kuat, ikatan dapat terlepas dan perdarahan
dari tali pusat masih dapat terjadi yang membahayakan bayi tersebut. Kemudian
diperhatikan kandung kencing ibu. Bila penuh, dilakukan pengosongan kandung
kencing, sedapat-dapatnya wanita bersangkutan disuruh kencing sendiri. Kandung
kencing yang penuh dapat menimbulkan atonia uteri dan mengganggu pelepasan
plasenta yang berarti menimbulkan perdarahan postpartum. (Winkjosastro, 2006)
4. Membersihkan bayi
Membersihkan nasofaring dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan
aspirasi debris cairan amnion dan darah yang mungkin terjadi setelah dada lahir
dan bayi menarik nafas, wajah cepat-cepat diusap dan lubang hidung serta mulut
bayi diaspirasi.
48
5. Pemotongan Tali Pusat
Tali pusat dipotong di antara dua klem seperti yang dipasang 4 atau 5 cm dari
abdomen janin dan kemudian satu klem tali pusat dipasang 2 atau 3 cm dari abdomen
janin. Sebaiknya dalam memilih klem, gunakan klem plastik yang aman, efisien, mudah
disterilkan dan tidak terlalu mahal.
setelah lahir, bayi ditempatkan setinggi introitus vagina atau dibawahnya
selama 3 menit dan sirkulasi fetoplasenta tidak segera disumbat dengan klem tali pusat,
sekitar 80 ml darah dapat berpindah dari plasenta ke janin. Satu keuntungan dari
transfusi plasenta tersebut adalah fakta bahwa hemoglobin pada 80 ml darah plasenta
yang berpindah ke bayi tersebut, memberikan 50 mg besi sebagai simpanan bayi dan
tentu saja mengurangi frekuensi anemia gizi besi pada masa bayi. Pada percepatan
perusakan eritrosit, seperti yang terjadi pada alloimunisasi ibu, bilirubin yang terbentuk
dari eritrosit tambahan tersebut ikut memperberat bahaya hiperbilirubinemi. Meskipun
secara teori risiko beban sirkulasi yang berlebihan akibat hipervolemia berat
mengkhawatirkan, terutama pada bayi prematur dan pertumbuhan terhambat, tambahan
darah plasenta ke dalam sirkulasi bayi tersebut biasanya tidak menimbulkan kesulitan.
Oleh karena itu mengklem tali pusat setelah pembersihan saluran nafas bayi pertama
kali selesai biasanya memerlukan waktu 30 detik. Bayi tidak dinaikkan di atas introitus
pada persalinan pervaginam, juga tidak terlalu tinggi di atas dinding abdomen ibu pada
seksio sesarea.
2. Kelahiran plasenta
Pengeluaran plasenta jangan dipaksakan sebelum pelepasan plasenta
karena ditakutkan menyebabkan inversio uteri. Pada saat uterus ditekan, tali
pusat tetap tegang. Uterus diangkat ke arah atas dengan tangan diatas abdomen.
Manuver ini diulangi beberapa kali sampai plasenta mencapai introitus. Saat
plasenta melewati introitus, penekanan pada uterus dihentikan. Plasenta
kemudian secara perlahan dikeluarkan dari introitus. Traksi pada tali pusat
tidak dibenarkan untuk menarik plasenta keluar dari uterus. Membran yang
melekat dilepaskan dari perlekatannya untuk mencegah terjadi robek atau
tertahan di jalan lahir. Apabila membran mulai robek, pegang robekan tersebut
dengan klem dan tarik perlahan. Permukaan maternal plasenta harus diperiksa
dengan hati-hati untuk memastikan bahwa tidak ada bagian plasenta yang
tertinggal di uterus.
51
2. Tidak ada perdarahan dari vagina atau perdarahan–perdarahan dalam alat
genitalia lainnya
3. Plasenta dan selaput ketuban harus telah lahir lengkap
4. Kandung kencing harus kosong
5. Luka–luka pada perineum terawat dengan baik dan tidak ada hematoma
6. Bayi dalam keadaan baik
7. Ibu dalam keadaan baik.
Nadi dan tekanan darah normal, tidak ada pengaduan sakit kepala atau
enek. Adanya frekuensi nadi yang menurun dengan volume yang baik adalah
suatu gejala baik. Sekalipun diberikan oksitosin, perdarahan postpartum akibat
atonia uterus paling mungkin terjadi pada saat ini (satu jam setelah plasenta
lahir lengkap). Uterus harus sering diperiksa selama masa ini. Demikian pula,
daerah perineum harus sering diperiksa untuk mendeteksi perdarahan yang
banyak. American Academy of Pediatric dan American College of
Obsetricians and Gynecologist (1997) merekomendasikan untuk mencatat
tekanan darah dan denyut nadi segera setelah melahirkan dan setiap 15 menit
selama satu jam pertama setelah melahirkan.
53
BAB III
KESIMPULAN
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang
telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui
jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini di mulai
dengan adanya kontraksi persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan pada serviks
secara progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta.
Selama proses persalinan, janin melakukan serangkaian gerakan untuk melewati
panggul, yaitu:
a. Turunnya kepala
b. Fleksi
c. Putaran paksi dalam
d. Ekstensi Putaran
e. Putaran paksi luar
f. Ekspulsi
Gerakan-gerakan tersebut menyebabkan janin dapat mengatasi rintangan jalan
lahir dengan baik sehingga dapat terjadi persalinan pervaginam secara spontan. Dalam
melakukan pencegahan banyaknya angka kematian ibu ataupun anak saat proses
persalinan, perlu dilakukan asuhan persalinan kala I, II, III, dan IV sebagai berikut :
Kala I, tahap pembukaan (partus mulai) ditandai dengan lendir bercampur darah,
karena serviks mulai membuka dan mendatar.
Kala II, pada kala pengeluaran janin, rasa mulas terkoordinir, kuat, cepat dan lebih
lama, kira-kira 2-3 menit sekali.
Kala III, pada kala ini terjadi pengeluaran plasenta setelah pengeluaran janin.
Kala IV, tahap ini digunakan untuk melakukan pengawasan terhadap bahaya
perdarahan. Pengawasan ini dilakukan selama kurang lebih dua jam pasca
melahirkan.
54
DAFTAR PUSTAKA
55