0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan8 halaman

Kisah Sukses Rahel Egi Garetno

Dokumen tersebut merangkum autobiografi penulis dan kisah sukses seorang pengusaha kebab bernama Hendy Setiono. Autobiografi penulis menceritakan perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga menjadi mahasiswa dan mendapatkan beasiswa. Kisah Hendy Setiono menggambarkan bagaimana ia memulai usaha kebab dari modal kecil, menghadapi berbagai kesulitan namun tetap berkembang hingga omzet ratus

Diunggah oleh

Amelia Azwar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan8 halaman

Kisah Sukses Rahel Egi Garetno

Dokumen tersebut merangkum autobiografi penulis dan kisah sukses seorang pengusaha kebab bernama Hendy Setiono. Autobiografi penulis menceritakan perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga menjadi mahasiswa dan mendapatkan beasiswa. Kisah Hendy Setiono menggambarkan bagaimana ia memulai usaha kebab dari modal kecil, menghadapi berbagai kesulitan namun tetap berkembang hingga omzet ratus

Diunggah oleh

Amelia Azwar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS

AUTOBIOGRAFI
DAN
CERITA SUKSES PENGUSAHA

Oleh

Rahel Egi Garetno


2016310009

TEKNIK PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
UNIVERSITAS DARMA PERSADA
JAKARTA
2018
Autobiografi
Namaku Rahel Egi Garetno , lahir di Jakarta 24 April 1998 , aku lahir sebagai anak pertama
dari 2 bersaudara, dari pasangan Agabus Jatmiko dan Retno Supriastutik. Aku mempuyai adik
laki laki bernama Yermia Bima Garendi. Saat ini orang tuaku bekerja sebagai PNS di instansi
pemerintah sedangkan adikku duduk di bangku SMA kelas IX IPA. Aku seorang mahasiswa
di Universitas Darma Persada, Fakultas Teknologi Kelautan, Teknik Perkapalan.

Hingga sekarang aku menganggap bahwa Hidupku adalah sebuah anugerah dari Tuhan, aku
lahir dengan penuh kekhawatiran saat ini mamaku mengalami penyakit Toxoplasma, dan
keguguran beberapa kali, hingga mendapatkanku pada kehamilan yang ke-5, perjuangan ku
tidak sampai disitu aku lahir juga secara mendadak, kata mamaku tanggal 24 april 1998 aku
sudah tidak bergerak di dalam kandungan mamaku, papaku kaget hingga membawa mamaku
kerumah sakit dan dokter secara tiba-tiba langsung membawa mamaku ke dalam meja operasi
untuk melakukan operasi caesar, dan yang membuat papaku khawatir adalah riwayat
taxoplasma yang membuat bayi kemungkinan akan ada cacat. Dan saat lahir semua
kekhawatiran itu hilang karena aku lahir dengan lengkap tanpa cacat, dan bukan hanya itu
teryata saat aku balita aku terkena paru-paru adanya flek hingga aku harus minum obat yang
cukup banyak diusia aku yang cukup belia. Itulah mengapa aku sangat bersyukur hingga hari
ini dan menganggap hidupku adalah anugerah.

Masa kecilku banyak aku habiskan di Lampung , mengapa dilampung ?. Karena ayah dan ibuku
keterima menjadi PNS dan bertugas dilampung. Masa kecilku bisa dibilang berpindah pindah,
dilampung aku sempat pindah dari kabupaten Tulang Bawang Barat ke Lampung Utara.
Meskipun aku sering pindah tetapi aku bisa cepat bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan
sekitar. Aku mempuyai banyak teman dan sahabat,dan aku lulus SD dan SMP dengan nilai
sangat baik di UN,hingga aku bisa melanjutkan sekolahku ke SMA negeri hingga aku duduk
dikelas 2 SMA, ibuku ditarik ke pusat yaitu Jakarta . Disinilah aku harus berpindah lagi dan
harus beradaptasi. Inilah adaptasi paling sulit yang harus aku lewati, anak SMA dijakarta sangat
berbeda dengan didaerah, dari pergaulan, cara berbicara, dan kebiasaan lainnya. Aku dianggap
aneh dari cara berbicara yang masih kental dengan logat lampung, dan culunya penampilan
aku dan membuat ku minder karena hal itu aku menjadi minder dan menjauh dari pergaulan.
Dan akhirnya membuatku tidak punya teman, aku yang awalnya seorang anak yang ceria pun
harus menjadi pendiam tanpa berbicara membuatku kadang [Link] orang masa SMA
masa yang menyenangkan tapi tidak buatku, untuk menghilangkan rasa kesepianku aku
dileskan oleh orang tuaku , disinilah aku mendapatkan teman ngobrol meskipun intensitasnya
lebih sedikit daripada disekolah bisa membuatku melupakan kesepian ku selama ini.

Setelah lulus dari SMA, sama seperti teman-teman ku disekolah aku ingin melanjutkan ke
negeri, semua jalur telah kulewati dari SNMPTN,SBMPTN, dan Mandiri. Tetapi aku tidak
masuk ke universitas pilihanku. Aku tidak menyerah aku mencoba beasiswa di salah satu
universitas swasta di kawasan karawaci, aku optimis bisa masuk tetapi kembali lagi aku tidak
lolos. Inilah titik kekecewaan dan kekesalanku, aku sudah belajar tapi kenapa hasilnya seperti
ini sedangkan teman-temanku yang biasa saja bisa masuk, aku kecewa, sedih ,malu,dan sampai
berbicara dalam hati “ Ya Tuhan aku jatuh seperti ini, mana tangan mu , mana pertolonganmu
kenapa harus begini” . Melihat aku seperti ini ayahku tdak diam dia cepat mencarikan ku
universitas swasta lainnya dari UKI, BINUS,TRISAKTI dan UNSADA yang dekat
[Link] merasa gagal dan akhirnya aku menuruti kemauan ayahku untuk melanjutkan
kuliah di Universitas Darma Persada dekat rumah, aku mengambil teknik perkapalan karena
aku suka tantangan an menggambar. Aku tidak bangga bisa masuk unsada , merasa aneh kuliah
dekat rumah, malu hingga aku harus keluar dari grup SMA ku.

Saat menjadi mahasiswa, aku bertekat untuk membalas kegagalanku dengan ipk tinggi dan
berusaha untuk membanggakan orang tuaku, dan Puji Tuhan itu bisa aku wujudkan hingga
pada semester pertama ipk ku 3,94. Orang tuaku sangat kaget dan bangga bahwa ipk ku bisa
sebesar itu, memasuki semester kedua ipk ku turun jadi 3,82 karena aku terlalu fokus pada
tugas gambarku tapi orang tua ku tetapi bangga. Memasuki semester ketiga aku mendapatkan
informasi bahwa beasiswa Jenesys telah dibuka , dulu aku berangan-angan bisa mendapatkan
beasiswa itu dan pergi ke Jepang. Tidak ingin melewatkan kesempatan aku dan beberapa
temanku menikuti beasiswa itu , ada keraguan dalam diriku aku berpikir bahwa kakak dan
abang tingkatku masih banyak yang pintar dan bahasa inggris dan jepang lebih bagus dari aku.
Tapi aku berpikir tidak ada salahnya mencoba untuk pengalaman. Tes demi tes aku lalui, dalam
kesempatan wawancara aku minta kepada Tuhan ketenangan dan aku berserah pada Tuhan.
Setelah tes semua selesai, teman-teman berharap, tetapi aku tidak terlalu berharap karena
pengalaman pribadiku aku sering gagal dan jatuh itulah yang membuatku tidak terlalu beharap.
Hingga pada suatu hari keajaiban itu muncul “Aku Lolos”, Puji Tuhan. Aku menangis haru,
tidak percaya, dan Terima kasih Tuhan. Hingga pada waktunya aku pergi keJepang selama
seminggu dan studi banding.

Dari semua hal yang aku lewati dari aku terpuruk dan hingga saat ini aku diatas , aku percaya
campur tangan Tuhan dalam hidupku. Aku sering jatuh, gagal, tapi pada akhirnya ada pelangi
yang indah menunggu ku di depan. Masa depan ku baik bukan karena aku baik tapi yang
pegang masa depanku adalah yang terbaik.
Kisah Sukses Hendy Setiono (Pemilik Kebab Turki Baba Rafi)

Mungkin nama Hendy Setiono belum familiar ditelinga kita. namun taukah kalian kalau
perusahaan yang ia pimpin beromzet lebih dari [Link] per bulan. Dan inilah sedikit
perjalanan menuju kesuksesan Hendy Setio. Meninggalkan bangku kuliah untuk memulai
usaha kecil-kecilan tidak banyak dilakukan kaum muda. Butuh keberanian dan perhitungan
yang matang dalam melakukan hal tersebut. Namun, inilah jalan yang dilakukan oleh seorang
Hendy Setiono. Ia sempat mengenyam ilmu di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi
Sepuluh Nopember di Surabaya. Kuliah ditinggalkan karena waktu itu ia melihat prospek akan
bisnis makanan Timur Tengah, yakni kebab. "Saya sangat hobi untuk berwisata kuliner,
termasuk wisata kuliner untuk makanan yang bernama kebab ini. Kebetulan beberapa waktu
silam, saya mendapat kesempatan untuk jalan-jalan ke Qatar. Di sana banyak sekali penjual
yang menjual makanan tradisional Turki yang biasa disebut kebab di sepanjang jalan yang saya
lalui. Dari apa yang saya temui dan saya rasakan, setelah saya mencoba mencicipinya di sana,
terbesit ide untuk mencoba memopulerkan makanan ini di Indonesia,"
Kunjungannya ke negara di Timur Tengah tersebut karena sang ayah yang merupakan operator
perusahaan minyak di negara itu. Lantas, makanan itu dibawanya ke Surabaya untuk dicoba
[Link], langkahnya ini tidak mendapatkan dukungan penuh dari orangtua
karena bangku kuliah ia tinggalkan demi menjalankan usaha yang belum tentu keberhasilannya
saat itu. Apalagi, kata Hendy, keluarganya tidak ada yang berlatar belakang wirausaha atau
menjalankan bisnis. "Dukungan finansial untuk modal waktu itu (pun) terbatas," ujarnya.

Ia pun hanya dapat pinjaman uang dari adiknya sebesar Rp 4 juta untuk memulai bisnis kebab
yang kini dikenal dengan Kebab Turki Baba Rafi. Nama usahanya itu berasal dari nama depan
anaknya, Rafi Darmawan. Adapun kata "baba" yang merupakan bahasa Arab, artinya ayah. L
- Lihat peluang yang ada, E - Evaluasi Peluang itu, T - Tirukan cara yang mungkin dapat
diadopsi, A - Amati caranya dan lakukan, M - Modifikasi cara yang telah dipilih itu

Sewaktu memulai usaha itu, ia sudah berkeluarga. Istrinya pun turut andil dalam usaha kuliner
ini karena bisnis kebab sendiri awalnya merupakan industri rumah tangga. Selain istrinya, ia
pun menggandeng temannya, Hasan Baraja, dalam mendirikan usaha kebab Baba Rafi. "Beliau
merupakan orang yang men-support awal berdirinya Baba Rafi," kata ayah dari Rafi
Darmawan, Refa Audrey Zahira, dan Ready Enterprise ini. Niat dan modal pun tak cukup
menyertai perkembangan usaha Hendy ini. Berbekal pengalaman mengikuti seminar hingga
pertemuan dengan relasi bisnis, ia pun menciptakan moto "LETAM." "L - Lihat peluang yang
ada, E - Evaluasi peluang itu, T - Tirukan cara yang mungkin dapat diadopsi, A - Amati caranya
dan lakukan, M - Modifikasi cara yang telah dipilih itu," ujarnya. Ia menyebutkan, moto ini
sudah muncul sedari awal sebelum usaha dimulai. Dengan semua bekal itu, tidak lantas ia
mudah menjalani peruntungannya di bisnis kebab yang kini berkembang menjadi sejumlah
produk kuliner, yakni roti Maryam Aba-Abi, Piramizza, dan Ayam Bakar Mas Mono.

Awalnya, bisnis yang dijalankannya bukan langsung berbentuk outlet, melainkan gerobak
dorong berwarna kuning. Dengan gerobak buatan sendiri, ia pun mangkal di daerah Nginden
Semolo, Surabaya. Ia ditemani seorang karyawan. Pahit-manisnya berbisnis pun ia rasakan.
Hendy pun bercerita bagaimana ia berjualan sampai kehujanan, jatuh hingga rotinya berserakan
di jalan. "Kehujanan, jatuh, roti pun langsung klemeran di jalan," kata Hendy. Tidak hanya
sebatas itu, uang hasil penjualannya pun sempat dibawa pergi oleh karyawan penggantinya.
Kesulitan lainnya adalah mengenai masalah pendanaan. Bunga pinjaman perbankan yang
tinggi harus ia terima. Pernah ia diberikan suku bunga kredit untuk modal kerja hingga 18
persen. Namun, ia memaklumi dengan pemahaman bank tentunya melihat risiko dalam
memberikan modal. Untungnya, bunga tersebut bisa terbayarkan dengan laba yang ia peroleh.
Buah manis pun akhirnya ia petik dari perjuangannya itu. Seorang Hendy kini bisa menjabat
Presiden Direktur PT Baba Rafi Indonesia (kebab Turki Baba Rafi, Roti Maryam Aba-Abi,
Nasi Goreng Kebab Baba Rafi, dan Chicken Kebab Baba Rafi), PT Piramida Zahira
(Piramizza), dan PT Panen Raya Indonesia (ayam bakar Mas Mono). Bahkan, pria yang tidak
menyelesaikan pendidikan strata satunya ini sampai bisa mendirikan perusahaan di Malaysia
(Baba Rafi Malaysia Sdn Bhd).

Hendy menuturkan, alasannya ia merambah Malaysia karena kulturnya yang masih serumpun
dengan Indonesia. Artinya, selera makanannya pun tidak jauh berbeda. "Jadi, saya melihat ini
ada peluang besar yang bisa saya garap bersama tim saya dan saya berharap juga bisa sukses
seperti di Indonesia," katanya. Apa yang diharapkannya itu berbuah hasil sebuah penghargaan,
yaitu menjadi pemenang dalam Global Leadership Awards 2011 untuk sektor makanan dan
minuman ringan di Malaysia. Penghargaan tersebut hanya satu dari deretan penghargaan yang
ia raih dari menjalankan bisnis sejak tahun 2003. Hanya dua tahun setelah memulai usaha, ia
sudah meraih penghargaan tingkat provinsi, salah satunya ia berhasil menyabet juara pertama
untuk "Entreprenur Business Plan" dari Universitas Petra, Surabaya. Setelah itu, menyusul
penghargaan dari beberapa media nasional hingga Kementerian UKM dan Koperasi yang
mengisi setiap tahunnya.

Penghargaan internasional pun ia dapatkan, salah satunya melalui Asia Pasific


Entrepreneurship Awards 2008 dari Enterprise Asia from Malaysia tahun 2008. Minimal ada
20 penghargaan yang ia dapatkan dari keberhasilan wirausahanya, baik dari dalam maupun luar
negeri. Pencapaiannya itu dapat dilihat dari menjamurnya gerai waralabanya. Kini, Hendy
mempunyai lebih dari 750 outlet, baik di Indonesia maupun di Malaysia, 50 outlet Roti
Maryam Aba-Abi, dan 75 outlet Piramizza di seluruh Indonesia. Restoran Ayam Bakar Mas
Mono-nya pun sudah 20 buah di Jabodetabek. Usaha waralabanya ini pun berdampak pada
kebutuhan tenaga kerja yang terbilang banyak.

Demi efisiensi, ia mendirikan Baba Rafi Academy, yakni lembaga pelatihan untuk memenuhi
kebutuhan pegawai usahanya. Pendidikan ini diberikannya gratis bagi lulusan SMP hingga
SMU yang mau bekerja di usahanya. "Sudah gratis, langsung kerja lagi," terang Hendy.
Bahkan, dengan sembari tertawa, ia pun menyebutkan, "Kalau saya tidak sempat wisuda, tetapi
mewisuda orang." Ini karena bagi lulusan akademi tersebut, ia mengadakan semacam wisuda
kecil-kecilan. Hasilnya, lulusannya lumayan untuk membantu kebutuhan tenaga kerja hingga
100 orang per bulan. Bekerja sama dengan Magistra Utama, akademi ini telah berada di
delapan kota, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah. Penempatan lulusannya pun di seluruh
Indonesia. Untuk ke depannya, Hendy berharap ia bisa membuka dua outlet dalam satu hari.
Niatannya ini tentu akan membutuhkan banyak pegawai. Sudah tentu usahanya ini memberikan
angin segar bagi para penganggur. Ia pun berniat terus mengembangkan bisnisnya di bidang
kuliner dengan fokus pada pasar domestik.

"Saya memang fokus saya di industri, di mana kami memang pada pengembangan jumlah
jaringan outlet dalam lima tahun ke depan," ucap Hendy. Ia pun ingin ke depannya
menggandeng banyak usaha kecil dan menengah dengan sejumlah lini usahanya. "Manfaatin,
jangan orang luar yang masuk ke sini. Manfaatin resources local," kata Hendy, yang juga
menjabat Wakil Ketua Komite Tetap untuk Pengembangan Wirausaha di Kadin Indonesia.

Bagaimana dukungan orangtua dan istri?

Orangtua awalnya tidak mendukung. Karena orangtua saya basic-nya karyawan. Ketika saya
masih menjadi mahasiswa pun, orangtua saya bilang bisnis ini tidak usah diseriusin. Mereka
ingin saya kuliah, terus kerja. Begitu saya sekolah, lalu tidak lulus, saya malah jualan kebab.
Orangtua saya juga kaget. Tapi ketika saya menunjukkan kesungguhan dan menunjukkan hasil,
pelan-pelan orangtua saya berubah pikiran. Dari awalnya mempertanyakan, sekarang jadi
mendukung saya sepenuhnya. Saya percaya kesuksesan itu juga dating dari restu orangtua. Jadi
saya bersyukur, orangtua saya mendukung dan mendoakan bisnis saya supaya berjalan dengan
baik.

Saya dengan istri bersama-sama membangun bisnis. Istri saya lebih banyak mengurus dalam
hal marketing dan manajerial. Sementara saya tugasnya ekspansi. Dengan begini kami menjadi
partner bisnis yang sama-sama membangun dari nol. Kami merasakan susah dan senangnya
bersama.

Semangat Hendy bersama Baba Rafi Enterprise tak pernah surut. Dukungan dari istri dan
orangtua serta ketiga anaknya menjadi kekuatan sekaligus penyemangat untuk terus berjuang
mewujudkan mimpinya. Ya, menjadi seorang pengusaha harus punya mimpi besar dan ambisi.
Kepada [Link] Hendy mengatakan, anak muda yang ingin sukses harus memiliki
kreativitas tanpa batas dan ketahanan serta ketekunan dalam hidup.

Kesimpulan : Semu hal pencapaian atau kesuksesan tidak pernah diraih dengan mudah,
penuh perjuangan dan kegagalan berkali-kali, semakin kita semangat dalam mraih kesuksesan
maka kesuksesan itu akan mendekat dengan kita sebaliknya juga. Nikmati proses dan
percayalah usaha tidak menghianati hasil yang akan kita peroleh.
Sumber

 [Link]
setiono-jadi-raja-kebab
 [Link]

Anda mungkin juga menyukai