0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan39 halaman

Geologi Regional Pekalongan-Batang

Dokumen tersebut membahas tentang geologi regional dan tinjauan pustaka wilayah Kota Pekalongan hingga Batang, Jawa Tengah. Secara singkat, dibahas mengenai fisiografi, tektonik, dan stratigrafi regional wilayah tersebut yang terdiri dari berbagai formasi batuan mulai dari formasi terbaru hingga tertua.

Diunggah oleh

Reza Romadhoni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan39 halaman

Geologi Regional Pekalongan-Batang

Dokumen tersebut membahas tentang geologi regional dan tinjauan pustaka wilayah Kota Pekalongan hingga Batang, Jawa Tengah. Secara singkat, dibahas mengenai fisiografi, tektonik, dan stratigrafi regional wilayah tersebut yang terdiri dari berbagai formasi batuan mulai dari formasi terbaru hingga tertua.

Diunggah oleh

Reza Romadhoni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

GEOLOGI REGIONAL DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Fisiografi Regional

Lokasi penelitian berada di wilayah Kota Pekalongan hingga Batang, Jawa

Tengah. Secara geografis wilayah penelitian terletak antara 109 37’ 55” BT sampai 109

42’19” BT dan 6 50’ 42” LS sampai 6 55’ 44” LS, dengan sebelah timur berbatasan

dengan Kabupaten Batang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan,

serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan. Dan sebelah utara

berbatasan dengan Laut Jawa.

Secara fisiografi Jawa Tengah oleh (Van Bemmelen, 1949) terbagi menjadi 6

zona fisiografi yaitu: Datara Aluvial Jawa Utara, Gunungapi Kuarter, Antiklinorium

Bogor – Serayu Utara – Kendeng, Depresi Jawa Tengah, Pegunungan Serayu Selatan,

dan Pegunungan Selatan Jawa.

Gambar 2.1 Fisiografi Jawa Tengah (van Bemmelen, 1949)

5
a. Zona Dataran Aluvial Jawa Utara (Alluvial Plains of Northern Java)

Zona ini mempunyai lebar maksimum 40 km ke arah selatan. Semakin ke arah

timur, lebarnya semakin menyempit hingga 20 km .

b. Zona Gunungapi Kuarter (Quartenary Vulcanoes)

Gunungapi Kuarter yang berada di Jawa Tengah antara lain, Gunung Slamet,

Gunung Dieng, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Ungaran, Gunung

Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Muria

c. Zona Antiklinorium Bogor – Serayu Utara - Kendeng (Bogor – Serayu Utara –

Kendeng Antiklinorium )

Zona memiliki lebar 30-50 km. Di selatan Tegal, zona ini tertutupi oleh produk

gunungapi kuarter dari Gunung Slamet. Dibagian tengah tertutupi oleh produk

vulkanik kuarter Gunung Rogojembangan, Gunung Ungaran, dan Gunung Dieng.

Zona ini menerus ke Jawa Barat menjadi Zona Bogor dengan batas antara keduanya

terletak di sekitar Prupuk, Bumiayu hingga Ajibarang, persis di sebelah barat Gunung

Slamet, sedangkan ke arah timur membentuk Zona Kendeng. Zona Antiklinorium

Bogor terletak di selatan Dataran Aluvial Jakarta berupa Antiklinorium dari lapisan

neogen yang terlipat kuat dan terintrusi. Zona Kendeng meliputi daerah yang terbatas

antara Gunung Ungaran hingga daerah sekitar Purwodadi dengan singkapan batuan

tertua berumur Oligosen-Miosen Bawah yang diwakili oleh Formasi Pelang.

6
d. Zona Depresi Jawa Tengah (Central Depression of West-Java)

Zona ini menempati bagian tengah hingga selatan. Sebagian merupakan dataran

pantai dengan lebar 10-25 km. Morfologi pantai ini cukup kontras dengan pantai

selatan Jawa Barat dan Jawa Timur yang relatif lebih terjal.

e. Zona Gunungapi Kuarter (Quartenary Volcanoes)

Zona Gunungapi Kuarter tersebar di sekitar bagian tengah Jawa Barat. Zona ini

terbentuk hasil dari endapan gunungapi berumur Kuarter.

f. Zona Pegunungan Selatan Jawa (Southern Mountains of Java)

Zona ini memanjang sepanjang pantai selatan jawa membentuk morfologi pantai

yang terjal. Namun di Jawa Tengah, Zona ini terputus oleh Depresi Jawa Tengah.

g. Zona Pegunungan Serayu Selatan (Southern Serayu Mountains)

Zona ini terletak di antara Zona Depresi Jawa Tengah yang membentuk kubah

dan punggungan. Di bagian barat dari Pegunungan Serayu Selatan yang berarah

barat-timur dicirikan oleh bentuk antiklinorium yang berakhir di timur padaa suatu

singkapan batuan tertua terbesar di Pulau Jawa, yaitu daerah Luk Ulo, Kebumen.

Berdasarkan pembagian zona ini, daerah penelitian termasuk Zona Dataran

Aluvial Jawa Utara. Zona ini mempunyai lebar maksimum 40 km ke arah selatan.

Semakin ke arah timur, lebarnya semakin menyempit hingga 20 km .

7
Gambar 2.2 Peta Geologi Regional Lembar Banjarnegara Dan Pekalongan ([Link] dkk., 1996)

8
2.2 Kerangka Tektonik

Pulau Jawa secara tektonik dipengaruhi oleh dua lempeng besar, yaitu Lempeng

Eurasia di bagian utara dan Lempeng Indo-Australia dibagian selatan. Pergerakan

dinamis dari lempeng-lempeng ini menghasilkan perubahan tatanan tektonik Jawa dari

waktu ke waktu (Gambar 0.4). Secara berurutan, rejim tektonik

Jawa mengalami perubahan yang dimulai dengan kompresi, kemudian mengalami

regangan dan kembali mengalami kompresi.

Pulunggono dan Martodjojo (1994) menjelaskan bahwa tektonik kompresi terjadi

pada Kapur Akhir-Eosen (80-52 juta tahun yang lalu), yang diakibatkan oleh

penunjaman berarah timurlaut-baratdaya dari Lempeng Indo-Australia ke bawah

Lempeng Eurasia. Tektonik regangan terjadi pada Kala Eosen-Oligosen Akhir akibat

dari berkurangnya kecepatan gerak Lempeng Indo-Australia.

Tektonik Kompresi kembali terjadi pada kala Oligosen-Miosen Awal,

akibatterbentuknya jalur penunjaman baru di selatan Jawa. Pada Eosen Akhir-Miosen

Awal pusat kegiatan magma berada di Pegunungan Serayu Selatan, Bayat, dan

Parangtritis. Kegiatan magma yang lebih muda yang berumur Miosen Akhir- Pliosen

bergeser ke utara dengan dijumpai singkapan batuan volkanik di daerah Karangkobar,

Banjarnegara (Asikin, 1992). Pada kala Miosen Tengah-Pliosen Awal, posisi tektonik

Cekungan Serayu Utara merupakan bagian dari cekungan belakang busur (Kartanegara

dkk., 1987).

9
Gambar 2.3 Kerangka Tektonik Regional (Kartanegara dkk., 1987 [Link]. Casdira, 2007)

2.3 Stratigrafi Regional

Pembahasan stratigrafi regional dimaksudkan untuk memberikan gambaran

umum dari beberapa formasi yang erat hubungannya dengan stratigrafi daerah penelitian

dan diuraikan dari satuan yang tua ke satuan yang lebih muda. Daerah penelitian

mencakup Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa. Menurut Peta

Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa (Condon et al, 1996), urutan

stratigrafi regional daerah penelitian dari yang muda ke yang tua

a. Aluvial (Qa): kerikil, pasir, lanau dan lempung. Merupakan endapan sungai dan rawa

dengan tebal hingga 150 meter.

b. Batuan Gunungapi Sundoro (Qsu): Lava andesit dengan kandungan mineral

hipersten - augit; basal dengan kandungan mineral olivin - augit; breksi aliran; breksi

piroklastik dan lahar.

c. Batuan Gunungapi Sumbing (Qsm): lava andesit dengan kandungan mineral augit -

olivin; breksi aliran; breksi piroklastik dan lahar.

10
d. Batuan Gunungapi Dieng (Qd): lava andesit dan andesit kuarsa serta batuan klastika

gunungapi. Kandungan silika batuan berkurang dari muda ke tua.

e. Kipas Aluvial (Qf): terutama bahan hasil rombakan gunungapi. Telah tersayat.

f. Batuan Gunungapi Jembangan (Qj): lava andesit dan batuan klastika gunungapi.

Mineral penyusun terdiri atas hipersten - augit, setempat mengandung hornblende dan

olivin. Berupa aliran lava, breksi aliran dan piroklastik, lahar dan aluvial

(Qjo dan Qjm); lahar dan endapan aluvial terdiri dari bahan rombakan gunungapi,

aliran lava dan breksi (Qjya dan Qjma) yang terendapkan pada lereng landai agak

jauh dari pusat erupsi dibandingkan dengan batuan Qjyf dan Qjmf yang juga berupa

aliran lava dan breksi dengan breksi piroklastik dan lahar.

g. Anggota Breksi Formasi Ligung (QTlb): breksi gunungapi (agglomerat) bersusunan

andesit, lava andesit hornblende dan tufa. Merupakan bagian atas dari formasi

Ligung.

h. Anggota Batulempung Formasi Ligung (QTlc): batulempung tufaan, batupasir

tufaan dengan struktur cross bedding dan konglomerat. Setempat sisa tumbuhan dan

batubara muda yang menunjukkan bahwa anggota ini diendapkan di lingkungan

bukan laut.

i. Formasi Kalibiuk (Tpb): napal dan batulempung bersisipan tipis tufa pasiran. Napal

dan batulempung berwarna kelabu kebiruan, kaya akan fosil moluska yang

menunjukkan umur Pliosen dengan lingkungan pengendapan pada daerah pasang

surut. Ke arah atas lapisan terdapat sisipan tufa pasiran. Tebal formasi antara 2500-

3000 meter. Menjemari dengan anggota breksi formasi Tapak dan ditindih selaras

oleh formasi Damar.

11
j. Formasi Tapak (Tpt): batupasir gampingan dan napal berwarna hijau, mengandung

pecahan-pecahan moluska. Umur Pliosen dengan tebal sekitar 500 meter.

k. Anggota Breksi Formasi Tapak (Tptb): breksi gunungapi dan batupasir tufaan.

Breksi bersusunan andesit mengandung urat-urat kalsit. Batupasir tufaan di beberapa

tempat mengandung sisa tumbuhan. Tebal minimal 200 meter. Ke arah selatan kali

Serayu dikorelasikan dengan formasi Peniron, menjemari dengan bagian bawah

formasi Kalibiuk dan menindih tak selaras formasi Kumbang.

l. Anggota Batugamping Formasi Tapak (Tptl): batugamping terumbu, napal dan

batupasir. Batugamping mengandung koral dan foraminifera besar, sedangkan napal

dan batupasir mengandung moluska. Lingkungan pengendapan pada daerah peralihan

sampai marine, umur diduga Pliosen. Satuan ini ditindih selaras oleh anggota breksi

formasi Tapak dan juga oleh formasi Kalibiuk serta menindih tak selaras formasi

Halang.

m. Formasi Peniron (Tpp): breksi dengan sisipan tufa, setempat mengandung sisa

tumbuhan dan tersilisifikasi. Breksi polimik dengan fragmen andesit piroksin,

batulempung dan batugamping, matriks berupa batupasir lempungan dan tufaan.

Bersisipan batupasir, tufa dan napal. Ke arah atas ukuran fragmen mengecil. Setempat

ditemukan sisa tumbuhan. Tufa agak lapuk berukuran lanau sampai pasir sedang,

sortasi sedang, tebal lapisan sekitar 20 cm. Satuan berupa lapisan turbidit yang

terendapkan di daerah kipas atas bawah laut. Umur formasi diduga Pliosen dengan

ketebalan sekitar 700 meter. Formasi ini menindih tak selaras formasi Halang dan

ditindih tak selaras oleh batuan gunungapi Sumbing Muda. Lebih ke arah utara

dikorelasikan dengan anggota breksi formasi Tapak.

12
n. Formasi Kumbang (Tmpk): lava andesit dan basal, breksi, tufa, setempat breksi

batuapung dan tufa pasiran serta sisipan napal. Lava sebagian besar mengaca. Napal

mengandung Globigerina. Umur Miosen Tengah - Pliosen Awal dengan tebal sekitar

2000 meter dan menipis ke arah utara. Formasi ini menjemari dengan formasi Halang.

o. Formasi Halang (Tmph): batupasir tufaan, konglomerat, napal dan batulempung.

Bagian bawah berupa breksi andesit. Lapisan bagian atas mengandung

fosil Globigerina dan foraminifera kecil lainnya. Umur Miosen Tengah - Pliosen

Awal dengan tebal maksimal 700 meter dan menipis ke arah timur. Breksi andesit

ketebalannya bervariasi dari 200 meter di selatan sampai 500 meter di sebelah utara.

Bagian atas lapisan tak mengandung rombakan berbutir kasar. Diendapkan sebagai

sedimen turbidit pada zona batial atas.

p. Formasi Penosogan (Tmp): perselingan konglomerat, batupasir, batulempung, napal,

tufa dan riolit yang berlapis baik. Bagian bawah satuan berupa konglomerat polimik

yang kearah atas lapisan berangsur menghilang, tersusun dari kuarsa, kepingan

batugamping kalkarenit yang mengandung Lepidocyclina. Batupasir dengan

komponen utama kuarsa sedikit biotit, turmalin, rutil dan mineral berat lainnya,

sortasi jelek, setempat gampingan dan kerikilan. Ke arah atas lapisan umumnya

berangsur menjadi batulanau, berlapis tipis dan pejal. Struktur sedimen berupa graded

bedding. Lapisan batuan ini hasil endapan arus turbidit. Bagian tengah formasi

tersusun dari batulempung, napal dan kalkerinit dengan sisipan tufa, batulempung

gampingan dan napalan. Kalkarenit berupa kepingan cangkang foraminifera dan

koral, angular - subrounded, sortasi buruk, semen berupa kalsit. Sisipan batupasir

kasar masih nampak yang semakin ke atas makin tipis. Lebih ke arah puncak napal

13
dan napal tufaan yang mengandung Globigerina,Globoquadrina, Orbulina dan

foraminifera besar. Sisipan tufa bersusunan dasit, riolit dan gelas mulai ada. Struktur

sedimen berupa ripple mark, mudcrack, gradded bedding, bioturbation, paralel

laminasi dan flute cast menunjukkan kesan akan lingkungan pengendapan air dangkal

atau mungkin daerah pasang surut. Bagian atas satuan tersusun dari perselingan tufa

dengan napal tufaan. Tufa kaca berlapis dengan tebal 5-10 meter dan menipis ke arah

puncak. Umur satuan dianggap Miosen Tengah dengan tebal mencapai 1146 meter.

Formasi ini menindih selaras formasi Waturanda dan ditindih selaras oleh formasi

Halang.

q. Formasi Waturanda (Tmw): batupasir, breksi, konglomerat, lahar dan sisipan

batulempung. Batupasir greywacke dengan komponen bersusunan andesit dan basal,

dominan piroksin, kasar - kerikilan, sortasi buruk, subrounded, porositas sedang, pejal

- berlapis, tebal lapisan 2 - 100 cm. Ke bagian lebih atas lapisan breksi gunungapi

bersisipan batupasir greywacke, tufa gampingan, batulempung, konglomerat dan

lahar. Breksi polimik berkomponen andesit dan basal, ukuran fragmen sekitar 30 cm,

matriks batupasir dan tufa, mengkasar ke atas. Sisipan batupasir greywacke, tebal 50 -

200 cm, sedang - sangat kasar, komposisi mineral plagioklas, piroksin, gelas dan

mineral bijih. Batulempung mengandung foraminifera kecil berumur Miosen Awal -

Tengah. Struktur sedimen berupa gradded bedding, paralel laminasi dan convolute.

Lingkungan pengendapan laut dalam dengan sebagian batuan terendapkan oleh arus

turbidit. Satuan batuan ini ditindih selaras oleh formasi Penosogan dan menindih

selaras atau sebagian menjemari dengan formasi Totogan.

14
r. Formasi Rambatan (Tmr): serpih, napal dan batupasir gampingan. Mengandung

foraminifera kecil dengan tebal lebih dari 300 meter.

s. Anggota Sigugur Formasi Rambatan (Tmrs): batugamping terumbu yang

mengandung fosil foraminifera besar yaitu; Eulepidina, Miogypsina, Spiroclypeus.

Tebal satuan beberapa ratus meter.

t. Formasi Totogan (Tomt): breksi, batulempung, napal, batupasir, konglomerat dan

tufa. Bagian bawah satuan terdiri dari perselingan tak teratur breksi, batulempung

tufaan, napal dan konglomerat, setempat sisipan batupasir. Breksi polimik, fragmen

berupa batulempung, slate, batupasir, batugamping fosilan, basal, sekis, granit, kuarsa

dan rijang radiolaria; matriks batulempung tufaan, gampingan, napal berwarna merah,

coklat dan ungu; semen kalsium karbonat. Ke arah atas perlapisan fragmen atau

komponen breksi dan batupasir searah perlapisan. Konglomerat berfragmen basal,

sortasi buruk, merupakan sisipan dalam breksi. Bagian atas lapisan berupa

perselingan batulempung, batupasir dan tufa; berlapis baik; dijumpai kepingan

kuarsa. Selain fosil foraminifera plankton yang menunjukkan kisaran umur Oligosen

sampai Miosen Awal ditemukan pula Uvigerina sp. dan Gyroidina sp. Lingkungan

pengendapan pada daerah batial atas. Perlapisan batuan secara keseluruhan

merupakan endapan olistostrom. Tebal satuan sekitar 150 meter yang menipis ke arah

selatan. Formasi ini ditindih tak selaras oleh formasi Penosogan dan formasi

Rambatan serta bagian bawahnya menjemari dengan bagian atas

satuanBatugampingTerumbu.

u. Batuan Tektonit Kompleks Luk Ulo (KTl): merupakan melange yang terdiri dari

berbagai bongkahan yang tercampur secara tektonik dalam matriks serpih dan

15
batulanau gelap yang terkoyakkan. Ukuran bongkah tak seragam dan tersusun dari

basal, rijang hitam dan merah, batuan beku basa dan ultrabasa, sekis dan phyllite,

greywacke, granit, tufa tersilisifikasi, batugamping merah dan kelabu. Umumnya

bongkahan berbentuk lonjong. Setiap batas litologi merupakan sentuhan tektonik.

Rijang memanjang searah perlapisan, berselingan dengan batulempung merah,

terlipat kuat. Di beberapa tempat terdapat tanda - tanda pelongsoran. Batugamping

merah mengandung radiolaria yang berumur Kapur. Batugamping merah dan rijang

mungkin terendapkan secara biogen di lingkungan laut dalam. Basal umumnya

menjemari dengan rijang dan terdapat sebagai boundary tektonik. Granit dan kuarsa

porfiri diduga berasal dari batuan beku. Di bagian yang dikuasai matriks bongkahan

membentuk struktur seperti ikan. Ke arah utara matriks lebih menonjol. Umur Kapur

Akhir - Paleosen.

v. Basa dan Ultrabasa (KTog): gabbro, amfibolit, basal dan serpetinit. Gabbro

berwarna hijau muda, tersingkap di antara napal, setempat batas keduanya jelas,

terdapat sebagai boundari tektonik di dalam kompleks Lok Ulo. Basal berupa lava

bantal, teralterasi. Berbatasan dengan basal umumnya berupa sedimen tufaan dan

tufa. Serpentinit sebagai sisipan di dalam gabbro dan basal, terdapat sentuhan dengan

sekis atau berbentuk lensa, terbreksikan. Umur Kapur Awal.

w. Batuan Terbreksikan (KTm): fragmen batuan sedimen dan batuan gunungapi

teralterasi, granit, porfiri plagioklas - kuarsa, gabbro, amfibolit, serpentinit dan tufa.

Terbreksikan, tercampur aduk secara tektonik dan tersesarkan secara massa di atas

batuan sedimen berumur Kapur. Sebagian granit dan porfiri diduga berasal dari

16
batuan beku dan sebagian lagi berasal dari tufa terkersikkan dan batuan sedimen yang

terkena proses metamorfosis.

x. Batuan Terobosan (Tm): batuan terobosan yang terdapat di daerah penelitian yaitu;

Batuan Intrusi (Tm): batuan bersusunan diorit meliputi variasi tak teruraikan (Tmi),

karsanit (Tmk), diorit atau diorit porfiri (Tmd), gabbro atau porfiri gabbro (Tmpi) dan

spesartit (Tmsi). Diorit (Tpd): batuan bersusunan diorit.

2.4 Struktur Geologi Regional

Pembentukan struktur di Indonesia Barat secara umum dapat dibagi menjadi tiga

periode, yaitu periode pertama yang dikenal sebagai Paleogene Extentional Rifting,

periode kedua yang dikenal sebagai Neogene Compressional Wrenching, dan periode

ketiga yang dikenal sebagai Plio-Pleistocene Compressional Thrust Folding

(Pulungguno dan Martodjojo, 1994).

Menurut Pulungguno dan Martodjojo (1994) Pulau Jawa mempunyai tiga pola

kelurusan dominan yang terbentuk akibat periode pembentukan struktur di Indonesia

bagian barat (Gambar 0.5), yaitu:

a. Pola Meratus yang berarah timur laut–barat daya (NE-SW) terbentuk pada 80 sampai

53 juta tahun yang lalu (Kapur Akhir–Eosen Awal). Pola ini diwakili oleh Sesar

Cimandiri di Jawa Barat, yang dapat diikuti ke timur laut sampai batas timur

Cekungan Zaitun dan Cekungan Biliton.

b. Pola Sunda berarah utara–selatan (N-S) terbentuk 53 sampai 32 juta tahun yang lalu

(Eosen Awal–Oligosen Awal). Pola Sunda diwakili oleh sesar- sesar yang membatasi

Cekungan Asri, Cekungan Sunda, dan Cekungan Arjuna.

17
c. Pola Jawa berarah barat–timur (E-W) terbentuk sejak 32 juta tahun yang lalu. Pola

Jawa ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti Sesar Baribis, serta sesar-sesar naik

yang terdapat di dalam Zona Bogor menurut van Bemelen (1949).

Gambar 2.4 Pola Struktur Pulau Jawa (Martodjojo dan Pulunggono, 1994)

Gambar 2.5 Sistem Pembagian Sesar Utama (major fault) di Jawa (Situmorang dkk., 1976)

18
2.5 Dasar Teori

2.5.1 Penyelidikan Geologi Teknik

Penyelidikan geologi teknik bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi secara

umum berdasarkan satuan tanah dan batuan baik di permukaan ataupun di bawah

permukaan. Penyusunan satuan tersebut dengan cara pengelompokkan berdasarkan sifat-

sifat fisik dan keteknikan yang hampir sama dengan jenis litologi batuan, cara

terjadinya, sifat-sifat fisik tanah secara umum, sehingga macam tanah dan batuan dapat

dikelompokkan (Syarief, 2013).

2.5.2 Daya Dukung Tanah

Dalam tahap pembangunan suatu struktur bangunan dibutuhkan data besaran daya

dukung tanah dalam menerima beban. Daya dukung tanah perlu diketahui untuk

menghitung dan merencanakan dimensi pondasi yang dapat mendukung beban struktur

yang akan dibangun. Apabila daya dukung tanah tidak mampu menerima beban dari

struktur yang direncanakan, dengan data daya dukung tanah yang telah diketahui, kita

dapat melakukan usaha tertentu agar nilai daya dukungnya dapat mencapai nilai yang

diinginkan. Penimbunan dan pemadatan merupakan salah satu perlakuan tertentu untuk

mendapatkan nilai daya dukung tanah yang diijinkan.

Daya dukung tanah adalah tekanan maksimal yang bisa diterima oleh tanah

sebelum tanah mengalami keruntuhan. Metode yang sering dipakai untuk menganalisis

daya dukung tanah adalah metode keseimbangan batas (limit equilibrium method). Nilai

daya dukung tanah dihitung berdasarkan model keruntuhan dan gaya-gaya yang bekerja

pada pondasi. Pada metode keseimbangan batas, terlebih dahulu diasumsikan garis

keruntuhan pada pondasi, dan tegangantegangan yang bekerja pada garis keruntuhan

19
tersebut. Beberapa metode yang menggunakan prinsip keseimbangan batas adalah

Terzaghi (1943), Taylor (1948) dan Meyerhof (1955).

Menurut Palar H. (2013), daya dukung tanah adalah tekanan maksimum yang

dapat dipikul oleh tanah tersebut tanpa terjadi kelongsoran. Bilamana beban di atas

pondasi ditambah sedikit demi sedikit, maka pondasi akan turun yang akhirnya terjadi

kelongsoran atau keruntuhan.

Daya dukung tanah pada dasarnya banyak dipengaruhi oleh tingkat kepadatan

atau konsistensi tanah itu sendiri (Endah dan Hermawan, 2003) serta dipengaruhi oleh

jumlah air yang terdapat didalamnya, kohesi tanah, sudut geser dalam, dan tegangan

normal tanah (Usman, 2014).

Analisis kapasitas dukung (bearing capacity), mempelajari kemampuan tanah

dalam mendukung beban pondasi dari struktur yang terletak di atasnya. Kapasitas

dukung menyatakan tahanan geser tanah untuk melawan penurunan akibat pembebanan,

yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh tanah di sepanjang bidang-bidang

gesernya.

Perancangan pondasi harus mempertimbangkan adanya keruntuhan geser dan

penurunan yang berlebihan. Untuk itu, persyaratan yang harus dipenuhi dalam

perancangan pondasi adalah faktor aman terhadap keruntuhan akibat terlampauinya

kapasitas dukung tanah yang harus dipenuhi. Dalam hitungan kapasitas dukung,

umumnya digunakan faktor aman 3. Untuk memenuhi stabilitas jangka panjang,

perhatian harus diberikan pada peletakan dasar pondasi. Yaitu pondasi harus diletakkan

pada kedalaman yang cukup untuk menanggulangi erosi permukaan, gerusan, kembang

susut tanah, dan gangguan tanah di sekitar pondasi lainnya.

20
Daya dukung tanah sendiri dapat dianalisis menggunakan beberapa data.

Diantaranya adalah data uji laboratorium dan data uji hasil lapangan yaitu Cone

Penetration Test (CPT) atau uji sondir dan desain pondasi yang ada. Pertama-tama,

Cone Penetration Test (CPT) yang kita kenal sebagai uji Sondir digunakan untuk

mengetahui profil ke dalam tanah secara menerus yang dinyatakan dengan nilai tahanan

ujung konus dan tahanan selimut. Interprestasi yang tepat terhadap data ini dapat

digunakan untuk mengestimasi profil tanah, kuat geser tanah, kekakuan tanah,

permeabilitas tanah, atau koefisien konsolidasi, kuat geser selimut tiang, dan daya

dukung ujung tiang.

Tes sondir merupakan salah satu tes dalam bidang geoteknik yang berfungsi

untuk mengetahui letak kedalaman tanah keras, yang nantinya dapat diperkirakan

seberapa kuat tanah tersebut dalam menahan beban yang didirikan di atasnya. Data yang

didapatkan dari tes ini nantinya berupa besaran gaya perlawanan dari tanah terhadap

konus, serta hambatan pelekat dari tanah yang dimaksud. Hambatan pelekat adalah

perlawanan geser dari tanah tersebut yang bekerja pada selubung bikonus alat sondir

dalam gaya per satuan panjang. Hasil dari tes sondir ini dipakai untuk menentukan tipe

atau jenis pondasi apa yang mau dipakai, menghitung daya dukung tanah asli,

menentukan seberapa dalam pondasi harus diletakkan nantinya. Uji sondir ini dilakukan

untuk mengetahui elevasi lapisan keras (Hard Layer) dan homogenitas tanah dalam arah

lateral. Hasil Cone Penetration Test disajikan dalam bentuk diagram sondir yang

mencatat nilai tahanan konus dan friksi selubung, kemudian digunakan untuk

menghitung daya dukung pondasi yang diletakkan pada tanah tersebut.

21
Keuntungan dari penggunaan alat sondir sendiri adalah cukup ekonomis. Apabila

contoh tanah pada boring sulit diambil (tanah lunak), dapat digunakan uji sondir karena

sangat membantu dalam memecahkan pengambilan sampel tanah lunak. Selain itu uji

sondir juga dapat menentukan daya dukung tanah dengan baik, adanya korelasi handal,

dapat membantu menentukan posisi atau kedalaman pada pemboran, dapat dengan cepat

menentukan lekat lapisan tanah keras, dapat diperkirakan perbedaan lapisan, dapat

digunakan pada lapisan berbutir halus, serta baik digunakan untuk menentukan letak

muka air tanah. Sedangkan kerugiannya adalah jika terdapat batuan lepas biasa

memberikan indikasi lapisan keras yang salah, jika alat tidak lurus dan tidak bekerja

dengan baik maka hasil yang diperoleh bisa merugikan, serta tidak dapat diketahui tanah

secara langsung.

Analisis-analisis daya dukung dilakukan dengan cara pendekatan untuk

memudahkan hitungan. Persamaan-persamaan yang dibuat, dikaitkan dengan sifat-sifat

tanah dan bentuk bidang geser yang terjadi saat keruntuhan. Keruntuhan tanah dapat

dipengaruhi banyak faktor. Untuk mempelajarinya harus memperhatikan atau

mengamati jalannya keruntuhan tersebut. Keruntuhan dibagi 3, yaitu:

1. Keruntuhan geser umum

2. Keruntuhan geser lokal

3. Keruntuhan penetresi

c. Data Analisis Daya Dukung

Untuk menghitung daya dukung dapat dilakukan dengan analisisis berdasarkan

Data Uji Laboratorium:

1. Teori Terzaghi

22
2. Teori Meyerhof

3. Teori Brinch Hansen

4. Teori Vesic

Data Uji Lapangan :

1. Plate Bearing Test

2. Cone Penetration Test/CPT (Sondir)

3. Standard Penetration Test/SPT

- Analisis Terzaghi

a. Anggapan Kapasitas Dukung Tanah

Terzaghi (1943) melakukan analisis kapasitas dukung tanah dengan beberapa

anggapan antara lain:

1. Pondasi berbentuk memanjang tak berhingga.

2. Tanah di bawah dasar pondasi adalah homogen.

3. Tahanan geser tanah di atas dasar pondasi diabaikan.

4. Dasar pondasi kasar.

5. Bidang keruntuhan terdiri dari lengkung spiral logaritmis dan linier.

6. Baji tanah yang terbentuk di dasar pondasi dalam kedudukan elastis dan bergerak

bersama-sama dengan dasar pondasi.

7. Pertemuan antara sisi baji tanah dan dasar pondasi membentuk sudut geser dalam

tanah ø.

8. Berlaku prinsip superposisi atau prinsip penggabungan.

9. Berat tanah di atas dasar pondasi digantikan dengan beban terbagi rata sebesar po =

Df.γ dengan Df adalah kedalaman dasar pondasi dan γ adalah berat volume tanah di

23
atas dasar pondasi.

b. Daya Dukung Pondasi Menurut Terzaghi

Menurut Terzaghi, daya dukung ultimit didefinisikan sebagai beban

maksimum per satuan luas dimana tanah masih dapat menopang beban tanpa mengalami

keruntuhan. Pemikiran Terzaghi ini dinyatakan dengan persamaan :

Qu = Pu / A

Dengan,

Qu = Kapasitas dukung ultimit (kN/m2)

Pu = Beban ultimit (kN)

A = Luas Pondasi (m2)

Analisis daya dukung tanah di atas didasarkan pada kondisi keruntuhan geser

umum dari suatu bahan yang bersifat plastis. Pada tanah yang memiliki regangan besar

sebelum tercapai keruntuhan geser, gerakan ke bawah pada baji tanah mungkin hanya

memampatkan tanah, tanpa adanya regangan yang cukup untuk menghasilkan

keruntuhan geser umum. Kondisi semacam ini menimbulkan keruntuhan geser lokal.

Terzaghi hanya memberikan koreksi empiris pada factor - faktor daya dukung di kondisi

keruntuhan geser umum. Persamaan-persamaan daya dukung yang telah dipelajari hanya

berlaku untuk menghitung daya dukung ultimit pondasi memanjang.

Daya dukung ultimit memperhitungkan kohesi tanah, beban terbagi rata dan berat

volume tanah (qu = qc + qq + qγ). Berdasarkan persamaan tersebut, Terzaghi membuat

persamaan umum daya dukung ultimit pondasi memanjang sebagai berikut :

Karena po = Df.γ, persamaan di atas menjadi :

24
dimana :

qu = daya dukung ultimit untuk pondasi memanjang (kN/m2)

c = kohesi tanah (kN/m2)

Df = kedalaman pondasi yang tertanam di dalam tanah (m)

γ = berat volume tanah (kN/m3)

po = Df.γ= tekanan overburden pada dasar pondasi (kN/m2)

Nc = faktor daya dukung tanah akibat kohesi tanah

Nq = faktor daya dukung tanah akibat beban terbai rata

Nγ = faktor daya dukung tanah akibat berat tanah

Nilai faktor daya dukung ini merupakan fungsi dari sudut geser dalam tanah ø

dari Terzaghi (1943). Qu adalah beban total maksimum per satuan luas ketika pondasi

akan mengalami keruntuhan geser. Beban total tersebut terdiri dari beban-beban struktur,

pelat pondasi dan tanah urugan diatasnya. Analisa daya dukung tersebut berdasarkan

pada kondisi keruntuhan geser umum dari suatu bahan yang bersifat plastis dan tidak

terjadi perubahan volum dan kuat geser oleh adanya keruntuhan tersebut.

Gerakan baji tanah ke bawah pada tanah yang mengalami regangan yang besar

sebelum mencapai keruntuhan geser mungkin hanya memampatkan tanah tanpa

menimbulkan regangan yang cukup untuk menghasilkan keruntuhan geser umum.

Menurut Terzaghi, tidak ada analisis rasional sebagai pemecahannya. Oleh karena itu

Terzaghi memberikan koreksi empiris pada perhitungan faktor daya dukung pada

kondisi keruntuhan geser umum yang digunakan untuk perhitungan daya dukung pada

keruntuhan geser lokal. Nilai cʹ = 2/3 c dan øʹ = arc tan (2/3 tan ø) digunakan sebagai

25
koreksi tersebut sehingga persamaan umum daya dukung ultimit pada pondasi

memanjang pada keruntuhan geser lokal menjadi :

Persamaan daya dukung pondasi di atas hanya dapat digunakan untuk perhitungan

daya dukung ultimit pondasi memanjang. Oleh karena itu Terzaghi memberikan

pengaruh faktor bentuk terhadap daya dukung ultimit yang didasarkan pada analisa

pondasi memanjang sebagai berikut :

Untuk pondasi bujur sangkar :

Untuk pondasi lingkaran :

Untuk pondasi persegi panjang :

dimana :

qu = daya dukung ultimit untuk pondasi memanjang (kN/m2) c = kohesi tanah

(kN/m2)

γ = berat volume tanah yang dipertimbangkan terhadap posisi muka air tanah

(kN/m3)

po = Df.γ = tekanan overburden pada dasar pondasi (kN/m2)

B = lebar atau diameter pondasi (m)

L = panjang pondasi (m)

Nc = faktor daya dukung tanah akibat kohesi tanah

Nq = faktor daya dukung tanah akibat beban terbai rata

26
Nγ = faktor daya dukung tanah akibat berat tanah

Nc, Nq, Nγ adalah faktor daya dukung tanah (bearingcapacityfactors) yang

besarnya tergantung dari sudut geser tanah. Untuk menghitung daya dukung tanah, perlu

diketahui berat volume tanah (γ), kohesi tanah (c) dan sudut geser tanah (ø). Rumus

daya dukung tanah Terzaghi tersebut berlaku pada kondisi “general shear failure” yang

terjadi pada tanah padat atau agak keras, yaitu karena desakan pondasi bangunan

pada tanah, maka mula-mula terjadi penurunan kecil, tetapi bila desakan bertambah

sampai mlampaui batas daya dukung tanah ultimit, maka akan terjadi penurunan yang

besar dan cepat, dan tanah di bawah pondasi akan mendesak tanah sekitarnya ke

samping dan menyebabkan tanah tersebut terdesak naik ke atas permukaan tanah.

Pada lapisan tanah yang agak lunak atau kurang padat, karena desakan pondasi

bangunan pada tanah, maka akan tampak adanya penurunan yang besar sebelum terjadi,

keruntuhan pada keseimbangan tanah di bawah pondasi. Kondisi ini disebut “local shear

failure”.Untuk kondisi ini rumus daya dukung tanah Terzaghi harus diberi reduksi.

c′ = 2/3 c

tan ø′ = 2/3 tan ø

c′ = kohesi tanah pada “local shear failure”

ø′ = sudut geser tanah pada “local shear failure”

Sedangkan faktor daya dukung tanah dipakai Nc′, Nq′, Nγ′. Untuk tanah non

kohesif, dapat digunakan pedoman :

1. “local shear failure” terjadi jika ø ≤ 28°

2. “general shear failure” terjadi jika ø > 38°

27
Gambar 2.6 Tipe Kerutuhan Tanah

Persamaan daya dukung Terzaghi mengabaikan kuat geser tanah di atas pondasi

dan hanya cocok untuk pondasi dangkal dengan Df ≤ B. Oleh karena itu, kesalahan

perhitungan untuk pondasi yang dalam menjadi besar. Untuk pondasi dalam yang

berbentuk sumuran dengan Df>5B,Terzaghi menyarankan persamaan daya dukung

dengan nilai faktor-faktor daya dukung yang sama, hanya faktor gesekan dinding

pondasi diperhitungkan. Persamaan daya dukungnya dinyatakan oleh:

Dengan:

Pu' = beban ultimit total untuk pondasi dalam

Pu = beban ultimit total untuk pondasi dangkal

Ps = perlawanan gesekan pada dinding pondasi

qu = 1,3c.N + [Link]+0,3.γ.B.Nγ, (jika berbentuk lingkaran)

28
Ap = luas dasar pondasi

D = B = diameter pondasi

Fs = faktor gesekan

Tabel 2.1 Gesekan Dinding (fs) Terzaghi (1943)

Jenis Tanah fs (kg/cm2)


Lanau dan lempung lunak 0,07 – 0,30
Lempung sangat kaku 0,49 – 1,95
Pasir tak padat 0,12 – 0,37
Pasir padat 0,34 – 0,68
Kerikil padat 0,49 – 0,96

Tabel 2.2 ϕ kapasitas dukung berdasarkan keruntuhan geser umum

Φ Nc Nq Ny Nc’ Nq’ Ny’

0 5,71 1,00 0 3,81 1,00 0

5 7,32 1,64 0,5 4,48 1,39 0

10 9,64 2,70 1,2 5,34 1,94 0

15 12,8 4,44 2,4 6,46 2,73 1,2

20 17,7 7,43 4,6 7,90 3,88 2,0

25 25,1 12,7 9,2 9,86 5,60 3,3


30 37,2 22,5 20,0 12,7 8,32 5,4

35 57,8 41,4 44,0 16,8 12,8 9,6

40 95,6 81,2 114,0 23,2 20,5 19,1

45 172 173 320 34,1 35,1 27,0

Tabel 2.3 Faktor-faktor koreksi Terzaghi (Sosrodarsono dan Nakazawa, 2000)

Bentuk Pondasi Menerus Persegi Lingkaran


A 1,0 1,3 1,3

29
B 1,0 0,8 0,6

Gambar 2.7 Faktor Kapasitas Dukung Pondasi Terzaghi

Faktor aman tiang dari uji sondir diperoleh dari hasil perhitungan kapasitas tiang

ultimit (Qu), dihitung nilai kapasitas dukung ijin (Qa) dengan cara membagi Qu dengan

faktor aman F yaitu sebesar 2,5-3. Nilai Qu yang terhitung, kemudian dicek terhadap

kekuatan bahan tiang. Jika setelah dikalikan dengan jumlah tiang, kapasitas ijin yang

diperoleh lebih kecil dari beban total struktur, maka kedalaman tiang harus ditambah

untuk menaikkan tahanan gesek dinding dan tahanan ujungnya. Cara lain, yaitu dengan

perbesaran ujung tiang. Akan tetapi perlu diingat bahwa tiang pancang dengan

perbesaran ujung akan memperkecil tahanan gesek dindingnya. Jika tiang diperbesar

pada ujungnya, untuk mencapai tahanan ujung ultimit yang optimal, maka tiang harus

dipancang cukup dalam ke dalam lapisan pendukung yang dipilih berdasarkan nilai

tahanan kerucutnya.

Tanah sendiri memiliki sifat fisik dan sifat mekanis. Sifat-sifat fisik tanah

meliputi ukuran butir tanah, warna, bentuk butiran, dan kekerasan tanah. Sedangkan

sifat-sifat mekanis tanah meliputi sifat kohesi, plastisitas dan lain sebagainya. Untuk

30
mengetahui sifat fisik dan mekanis tanah maka diperlukan penyelidikan-penyelidikan di

lapangan maupun di laboratorium. Sedangkan untuk dapat menemukan daya dukung

tanah dalam penelitian ini diperlukan beberapa data, yaitu:

a. Data Cone Penetration Test (hasil tes sondir)

b. Data berat jenis tanah

c. Nilai sudut geser tanah

d. Nilai kohesi tanah

e. Indeks Plastisitas tanah (batas plastis, dan batas cair)

f. Analisis ukuran butir tanah

g. Analisis XRD

Perhitungan Cone Penetration Test (CPT) yang kita kenal sebagai uji Sondir

sendiri dapat dicari dengan persamaan:

Qu = Qb+Qs-Wp

Dimana,

Qu = kapasitas ultimit (ton)

Qb = kapasitas ujung bawah (ton)

Qs = kapasitas gesek (ton)

Wp = Volume konus x berat jenis baja (ton)

Dengan kapasitas ultimit dinyatakan oleh persamaan:

Qg = 2.D(B+L)c+ 1,[Link].B.L

Yaitu,

Qg = kapasitas nilai kelompok, nilainya harus tidak melampaui nQu (n adalah jumlah

tiang dalam kelompok) (kN)

31
C = kohesi tanah di sekeliling kelompok tiang (kN/m2)

Cb = kohesi tanah di bawah dasar kelompok tiang (kN/m2)

B = lebar kelompok tiang, dihitung dari pinggir tiang-tiang (m)

L = panjang kelompok tiang (m)

D = kedalaman tiang di bawa permukaan tanah (m)

Nc = faktor kapasitas dukung

Jika kapasitas kelompok tiang (Qg) lebih kecil daripada kapasitas tiang tunggal

dikali dengan jumlah tiang (nQu), maka kapasitas dukung pondasi tiang yang digunakan

adalah kapasitas dukung kelompoknya (Qg). Sebaliknya, jika dari hitungan kapasitas

kelompok tiang (Qg) lebih besar, maka dipakai kapasitas tiang tunggal kali jumlahnya

(nQu). Kapasitas kelompok tiang yang disarankan Terzaghi dan Peck (1948) sering

menghasilkan kapasitas dukung ultimit yang terlalu besar.

Untuk data berat jenis tanah, sudut geser, nilai kohesi, indeks plastisitas, dan

analisis ukuran butir tanah diperlukan uji laboratorium dengan mengambil sampel tanah

undisturb atau sampel tanah tak terganggu. Sampel tanah tidak terganggu adalah suatu

contoh yang masih menunjukkan sifat-sifat aslinya. Artinya dalam sampel ini tidak

mengalami perubahan dalam struktur, kadar air (water content), atau susunan kimia.

Namun demikian, contoh tanah yang benar-benar asli tidaklah mungkin untuk diperoleh.

Akan tetapi dengan teknik pelaksanaan sebagaimana mestinya, dan cara pengamatan

yang tepat, maka kerusakan-kerusakan pada contoh tanah dapat dibatasi sekecil

mungkin. Contoh tanah tidak terganggu dapat diambil dengan menggunakan tabung

sampel (silinder). Sedangkan untuk nilai kohesi dan sudut geser tanah sendiri masih

32
menggunakan sampel tanah yang sama dengan pengambilan sample menggunakan

silinder sebanyak dua buah lalu diuji melalui uji geser langsung atau direct shear test.

a. Berat Jenis Tanah

Parameter yang perlu dicari dalam memperhitungkan daya dukung tanah adalah

berat jenis tanah. Merupakan perbandingan berat volume tanah dengan berat volume air.

Dari data penimbangan dan pengukuran, dapat diperoleh nilai berat jenisnya dengan

perhitungan menggunakan persamaan:

Gs : Berat jenis (N/m3) a : Berat piknometer kosong (gram) b : Berat piknometer +

aquades sampai penuh (gram) c : Berat piknometer + 1/3 tanah kering setelah dioven 24

jam (gram) d : Berat piknometer + 1/3 tanah(sudah didiamkan 24 jam) + aquades (gram)

T1 : Faktor koreksi suhu sebelum diisi tanah kering (°C)

T2 : Faktor koreksi suhu setelah diisi 1/3 tanah (°C)

Tabel 2.4 Pembagian jenis tanah berdasarkan berat jenis (Hardiyatmo, 2012)

Berat jenis Macam tanah


2,65 - 2,68 Kerikil
2,65 - 2,68 Pasir
2,62 - 2,68 Lanau anorganik
2,58 - 2,65 Lempung organic
2,68 - 2,75 Lempung anorganik
1,37 Humus
1,25 - 1,80 Gambut
b. Batas - batas Atterberg

33
Sifat-sifat fisik tanah kohesif berbutir halus seperti lempung dan lanau sangat

dipengaruhi oleh kadar air tertentu yang dipengaruhi oleh konsistensi. Dapat berwujud

cair, plastis, semi padat atau padat seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Kadar air dimana transisi dari keadaan semi padat ke keadaan plastis dinamakan batas

plastis, dan dari keadaan plastis ke keadaan cair dinamakan batas cair. Batas tersebut

dikenal sebagai Batas Atterberg (Das, 1995).

Gambar 2.8 Wujud fisik tanah dalam konsistensi tertentu

Batas antara fase-fase tanah seperti di atas disebut batas-batas Atterberg. Batas –

batas kadar air tersebut adalah:

a) Batas Cair (Liquid Limit) adalah kadar air pada perbatasan dari fase tanah antara

keadaan plastis – cair.

b) Batas Plastis (Plastic Limit) adalah kadar air minimum dimana tanah masih dalam

keadaan plastis.

c) Batas susut (Shrinkage Limit) adalah batas kadar air dimana tanah tidak mengandung

banyak air lagi.

Tabel 2.5 Harga-harga batas Atterberg untuk Mineral Lempung (Mitchel, 1976)

34
Mineral Batas cair Batas Plastis
Montmorillonite 100 - 900 50 – 100
Illite 60 - 120 35 – 60
Nontronite 37 - 72 19 – 27
Kaolinite 30 - 110 25 – 40

Setiap tanah memiliki batas cair, batas plastis, batas susut, dan indeks plastisitas

yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Plastisitas rendah dengan batas cair < 35%,

plastisitas sedang dengan batas cair 35% - 50%, dan plastisitas tinggi dengan batas cair

> 50%.

Gambar 2.9 Contoh hubungan antara batas cair dan jumlah pukulan

c. Indeks Plastisitas

Indeks plastisitas (PI) merupakan selisih antara batas cair dan batas plastis. Batas

plastis dan batas cair dipengaruhi oleh kadar air yang terkandung didalamnya. Indeks

plastisitas suatu tanah (IP) menggambarkan sifat plastis tanah ketika diberi beban. Batas

cair menjelaskan kondisi batas kadar air yang terkandung di tanah. Semakin tinggi

35
indeks plastisitas maka semakin baik pula tanah dalam menahan beban. Persamaannya

adalah:

Indeks Plastisitas= LL – PL

Dimana, PI : indeks plastisitas ( %)

LL : batas cair (%)

PL : batas plastis (%)

Tabel 2.6 Nilai plasitisitas pada jenis tanah (Hardiyatmo, 2006)

Indeks Plastisitas Jenis Tanah Plastisitas Kohesi


0 Pasir Non Plastis Non kohesif
<7 Lanau Rendah Kohesif sedang
7-17 Lempung berlanau Sedang Kohesif
>17 Lempung murni Tinggi Kohesif

d. Analisis Ukuran Butir

Sifat-sifat tanah sangat tergantung pada ukuran butirnya. Besar butir dijadikan

dasar untuk pemberian nama dan klasifikasi tanahnya. Oleh karena itu, analisis butiran

merupakan pengujian yang sangat sering dilakukan. Analisis ukuran butir tanah adalah

penentuan presentase besar butiran pada satu unit saringan, dengan ukuran diameter

lubang tertentu. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui presentase susunan

butir tanah sesuai dengan batas klasifikasinya sehingga dapat diketahui jenis contoh

tanah yang diuji. Dalam pengujian ini digunakan standar ASTM D422-63 (1990).

Percobaan ini terdiri dari dua macam pengujian yaitu:

a) Analisis hidrometer, yaitu untuk mengetahui diameter butir tanah yang lebih kecil

dari 0,074 mm atau lolos saringan no. 200

36
b) Analisis butiran, yaitu untuk mengetahui diameter butir tanah yang lebih besar dari

0,074 mm atau tertahan saringan no. 200 Persamaan dari analisis ukuran butir adalah:

% 𝐾𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎h𝑎𝑛

Berikut ini adalah beberapa tabel koreksi untuk perhitungan analisis hidrometer.

Tabel 2.7 Tabel nilai K (Effective depth) untuk analisis hydrometer


(ASTM D 422-63, 1990)
Berat Jenis
(°C)
2.50 2.55 2.60 2.65 2.70 2.75 2.80 2.85
16 0.0151 0.0148 0.0146 0.0144 0.0141 0.0139 0.0137 0.0136
17 0.0149 0.0146 0.0144 0.0142 0.0140 0.0138 0.0136 0.0134
18 0.0148 0.0144 0.0142 0.0140 0.0138 0.0136 0.0134 0.0132
19 0.0145 0.0143 0.0140 0.0138 0.0136 0.0134 0.0132 0.0131
20 0.0143 0.0141 0.0139 0.0137 0.0134 0.0133 0.0131 0.0129
21 0.0141 0.0139 0.0137 0.0135 0.0133 0.0131 0.0129 0.0127
22 0.0140 0.0137 0.0135 0.0133 0.0131 0.0129 0.0128 0.0126
23 0.0138 0.0136 0.0134 0.0132 0.0130 0.0128 0.0126 0.0124
24 0.0137 0.0134 0.0132 0.0130 0.0128 0.0126 0.0125 0.0123
25 0.0135 0.0133 0.0131 0.0129 0.0127 0.0125 0.0123 0.0122
26 0.0131 0.0131 0.0129 0.0127 0.0125 0.0124 0.0122 0.0120
27 0.0132 0.0130 0.0128 0.0126 0.0124 0.0122 0.0120 0.0119
28 0.0130 0.0128 0.0126 0.0124 0.0123 0.0121 0.0119 0.0117
29 0.0129 0.0127 0.0125 0.0123 0.0121 0.0120 0.0118 0.0116
30 0.0128 0.012.6 0.0124 0.0122 0.0120 0.0118 0.0117 0.0115

37
Tabel 2.8 Tabel nilai a terhadap Gs untuk analisis hydrometer
(ASTM D 422-63, 1990)
Berat Jenis Tanah (Gs) Faktor Koreksi (a)
2,95 0,94
2,9 0,95
2,85 0,96
2,8 0,97
2,75 0,98
2,7 0,99
2,65 1
2,6 1,01
2,55 1,02
2,5 1,04
2,45 1,05

Tabel 2.9 Tabel nilai L (Effective depth) untuk analisis hidrometer


(ASTM D 422-63, 1990)
Bacaan Bacaan
Effective Depth Effective Depth
Hidrometer Hidrometer
(L(cm)) (L(cm))
(R) (R)
0 16.3 31 11.2
1 16.1 32 11.1
2 16 33 10.9
3 15.8 34 10.7
4 15.6 35 10.5
5 15.5 36 10.4
6 15.3 37 10.2
7 15.2 38 10.1
8 15 39 9.9
9 14.8 40 9.7
10 14.7 41 9.6

38
11 14.5 42 9.4
12 14.3 43 9.2
13 14.2 44 9.1
14 14 45 8.9
15 13.8 46 8.8
16 13.7 47 8.6
17 13.5 48 8.4
18 13.3 49 8.3
19 13.2 50 8.1
20 13 51 7.9
21 12.9 52 7.8
22 12.7 53 7.6
23 12.5 54 7.4
24 12.4 55 7.3
25 12.2 56 7.1
26 12 57 7
27 11.9 58 6.8
28 11.7 59 6.6
29 11.5 60 6.5
30 11.4

Nilai dapat disesuaikan dengan menggunakan metode interpolasi melalui perbandingan.

e. Uji Geser Tanah (Direct Shear Test)

Uji Geser Langsung (Direct Shear Test) merupakan uji laboratorium pada sampel

tanah yang diambil dari lapangan. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban geser

sampai benda uji mencapai keruntuhan. Tegangan geser didefinisikan besarnya gaya

geser per satuan luas. Gaya geser yang dimaksud adalah gaya yang arahnya sejajar

bidang geser, dengan luasan adalah luasan dari bidang geser yang ditinjau.

39
N
F

Gambar 2.10 Gaya geser yang bekerja dengan luasan bidang geser

Gaya geser yang bekerja adalah F, dengan A adalah luasan bidang geser maka

akan menimbulkan tegangan geser. Sehingga, dapat dirumuskan:

Gambar 2.11 Skema Pengujian geser langsung

Sistem gantungan dan pemberian beban digunakan untuk pemberian tegangan

normal (vertikal) pada contoh. Alat pendorong kemudian akan memberikan gaya

horizontal pada bagian bawah kotak, sementara bagian atasnya tetap diam. Gaya

horizontal diberikan dengan memakai kecepatan deformasi yang tetap. Deformasi dan

gaya diukur sampai pengujian selesai dalam empat kali pengujian.

40
Masing-masing hasil pengujian diplot dalam bentuk grafik, yang pertama adalah

kurva tegangan terhadap penurunan, dan yang kedua adalah tegangan geser (nilai

keruntuhan atau nilai puncak) terhadap tegangan normal. Garis yang melalui titik ini

menjelaskan nilai C dan υ dari tanah tersebut.

Selanjutnya, data tegangan normal dan tegangan geser dimasukkan ke dalam data

excel sehingga memperoleh grafik dengan persamaan. Dari persamaan tersebut dapat

diperoleh nilai kohesi dan sudut geser untuk dimasukkan ke dalam rumus kapasitas

dukung tanah Terzaghi (1943).

Grafik Hubungan Tegangan Normal


dengan Tegangan Geser
Te
ga 0,25
ng 0,20 y = 0,504x - 0,011
an 0,15
Ge
0,10
ser
0,05
0,00
0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50
Tegangan Normal

Gambar 2.12 Contoh grafik hasil dari uji geser langsung

2.5.3 Kondisi Lempung di Dalam Tanah

Khusus untuk pondasi pada tanah lempung harus direncanakan pada kondisi

terburuk (kuat geser minimum), yaitu pada saat kadar air jenuh. Dasar pondasi

sebaiknya direncanakan agak dalam, karena kuat geser tanah lempung dalam keadaan

dangkal dapat dipengaruhi oleh cuaca dan akar tanaman. Pada tanah lempung, lebar

pondasi tidak terlalu berpengaruh terhadap daya dukung tanah.

41
Susunan tanah lempungpun beperngaruh akibat pelapukan. Pelapukan akibat

reaksi kimia menghasilkan susunan kelompok partikel berukuran koloid dengan

diameter butiran lebih kecil dari 0,002 mm, yang disebut mineral lempung. Umumnya,

terdapat kira-kira 15 macam mineral yang diklasifikasikan sebagai mineral lempung

(Kerr, 1959). Di antaranya terdiri dari kelompokkelompok montmorillonite, illite,

kaolinite, dan polygorskite. Kelompok yang lain, yang perlu diketahui adalah chlorite,

vermiculite, dan halloysite.

Airpun dapat mempengaruhi kondisi tanah lempung juga. Air biasanya tidak

banyak mempengaruhi kelakuan tanah nonkohesif. Sebagai contoh, kuat geser tanah

pasir mendekati sama pada kondisi kering maupun jenuh air. Tetapi, jika air berada pada

lapisan pasir yang tidak padat, beban dinamis seperti gempa bumi dan getaran lainnya

sangat mempengaruhi kuat gesernya. Sebaliknya, tanah butiran halus khususnya tanah

lempung akan banyak dipengaruhi oleh air. Karena pada tanah berbutir halus, luas

permukaan spesifik menjadi lebih besar, variasi kadar air akan mempengaruhi plastisitas

tanahnya. Partikel-partikel lempung, mempunyai muatan listrik negatif. Dalam suatu

kristal yang ideal, muatan-muatan negatif dan positif seimbang. Akan tetapi, akibat

substitusi isomorf dan kontinuitas perpecahan susunannya, terjadi muatan negatif pada

permukaan partikel lempungnva. Untuk mengimbangi muatan negatif tersebut, partikel

lempung menarik ion muatan positif (kation) dari garam yang ada di dalam air porinya.

Hal ini disebut dengan pertukaran ion-ion.

Dalam buku Teknik Pondasi 1 (Hardiyatmo, 1996), menuliskan bahwa tanah

lempung merupakan tanah kohesif. Tanah kohesif memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

a. Kuat geser rendah, dan akan semakin rendah bila kadar air bertambah.

42
b. Bila basah bersifat plastis dan mudah turun.

c. Menyusut bila kering dan mengembang bila basah.

d. Berkurang kuat geser bila struktur tanah terganggu.

e. Material kedap air.

Tanah lempung yang dipadatkan dengan cara yang benar akan memberikan kuat

geser yang tinggi. Stabilitas terhadap sifat kembang-susut tergantung dari jenis

kandungan mineralnya. Sebagai contoh, lempung montmorillonite akan mempunyai

kecenderungan yang lebih besar terhadap perubahan volume dibanding dengan lempung

jenis kaolinite. Untuk mengetahui kandungan mineral apa saja yang terdapat dalam

tanah lempung, digunakan suatu uji yaitu analisis XRD.

43

Anda mungkin juga menyukai