Geologi Regional Pekalongan-Batang
Geologi Regional Pekalongan-Batang
Tengah. Secara geografis wilayah penelitian terletak antara 109 37’ 55” BT sampai 109
42’19” BT dan 6 50’ 42” LS sampai 6 55’ 44” LS, dengan sebelah timur berbatasan
serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan. Dan sebelah utara
Secara fisiografi Jawa Tengah oleh (Van Bemmelen, 1949) terbagi menjadi 6
zona fisiografi yaitu: Datara Aluvial Jawa Utara, Gunungapi Kuarter, Antiklinorium
Bogor – Serayu Utara – Kendeng, Depresi Jawa Tengah, Pegunungan Serayu Selatan,
5
a. Zona Dataran Aluvial Jawa Utara (Alluvial Plains of Northern Java)
Gunungapi Kuarter yang berada di Jawa Tengah antara lain, Gunung Slamet,
Kendeng Antiklinorium )
Zona memiliki lebar 30-50 km. Di selatan Tegal, zona ini tertutupi oleh produk
gunungapi kuarter dari Gunung Slamet. Dibagian tengah tertutupi oleh produk
Zona ini menerus ke Jawa Barat menjadi Zona Bogor dengan batas antara keduanya
terletak di sekitar Prupuk, Bumiayu hingga Ajibarang, persis di sebelah barat Gunung
Bogor terletak di selatan Dataran Aluvial Jakarta berupa Antiklinorium dari lapisan
neogen yang terlipat kuat dan terintrusi. Zona Kendeng meliputi daerah yang terbatas
antara Gunung Ungaran hingga daerah sekitar Purwodadi dengan singkapan batuan
6
d. Zona Depresi Jawa Tengah (Central Depression of West-Java)
Zona ini menempati bagian tengah hingga selatan. Sebagian merupakan dataran
pantai dengan lebar 10-25 km. Morfologi pantai ini cukup kontras dengan pantai
selatan Jawa Barat dan Jawa Timur yang relatif lebih terjal.
Zona Gunungapi Kuarter tersebar di sekitar bagian tengah Jawa Barat. Zona ini
Zona ini memanjang sepanjang pantai selatan jawa membentuk morfologi pantai
yang terjal. Namun di Jawa Tengah, Zona ini terputus oleh Depresi Jawa Tengah.
Zona ini terletak di antara Zona Depresi Jawa Tengah yang membentuk kubah
dan punggungan. Di bagian barat dari Pegunungan Serayu Selatan yang berarah
barat-timur dicirikan oleh bentuk antiklinorium yang berakhir di timur padaa suatu
singkapan batuan tertua terbesar di Pulau Jawa, yaitu daerah Luk Ulo, Kebumen.
Aluvial Jawa Utara. Zona ini mempunyai lebar maksimum 40 km ke arah selatan.
7
Gambar 2.2 Peta Geologi Regional Lembar Banjarnegara Dan Pekalongan ([Link] dkk., 1996)
8
2.2 Kerangka Tektonik
Pulau Jawa secara tektonik dipengaruhi oleh dua lempeng besar, yaitu Lempeng
dinamis dari lempeng-lempeng ini menghasilkan perubahan tatanan tektonik Jawa dari
pada Kapur Akhir-Eosen (80-52 juta tahun yang lalu), yang diakibatkan oleh
Lempeng Eurasia. Tektonik regangan terjadi pada Kala Eosen-Oligosen Akhir akibat
Awal pusat kegiatan magma berada di Pegunungan Serayu Selatan, Bayat, dan
Parangtritis. Kegiatan magma yang lebih muda yang berumur Miosen Akhir- Pliosen
Banjarnegara (Asikin, 1992). Pada kala Miosen Tengah-Pliosen Awal, posisi tektonik
Cekungan Serayu Utara merupakan bagian dari cekungan belakang busur (Kartanegara
dkk., 1987).
9
Gambar 2.3 Kerangka Tektonik Regional (Kartanegara dkk., 1987 [Link]. Casdira, 2007)
umum dari beberapa formasi yang erat hubungannya dengan stratigrafi daerah penelitian
dan diuraikan dari satuan yang tua ke satuan yang lebih muda. Daerah penelitian
mencakup Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa. Menurut Peta
Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa (Condon et al, 1996), urutan
a. Aluvial (Qa): kerikil, pasir, lanau dan lempung. Merupakan endapan sungai dan rawa
hipersten - augit; basal dengan kandungan mineral olivin - augit; breksi aliran; breksi
c. Batuan Gunungapi Sumbing (Qsm): lava andesit dengan kandungan mineral augit -
10
d. Batuan Gunungapi Dieng (Qd): lava andesit dan andesit kuarsa serta batuan klastika
e. Kipas Aluvial (Qf): terutama bahan hasil rombakan gunungapi. Telah tersayat.
f. Batuan Gunungapi Jembangan (Qj): lava andesit dan batuan klastika gunungapi.
Mineral penyusun terdiri atas hipersten - augit, setempat mengandung hornblende dan
olivin. Berupa aliran lava, breksi aliran dan piroklastik, lahar dan aluvial
(Qjo dan Qjm); lahar dan endapan aluvial terdiri dari bahan rombakan gunungapi,
aliran lava dan breksi (Qjya dan Qjma) yang terendapkan pada lereng landai agak
jauh dari pusat erupsi dibandingkan dengan batuan Qjyf dan Qjmf yang juga berupa
andesit, lava andesit hornblende dan tufa. Merupakan bagian atas dari formasi
Ligung.
tufaan dengan struktur cross bedding dan konglomerat. Setempat sisa tumbuhan dan
bukan laut.
i. Formasi Kalibiuk (Tpb): napal dan batulempung bersisipan tipis tufa pasiran. Napal
dan batulempung berwarna kelabu kebiruan, kaya akan fosil moluska yang
surut. Ke arah atas lapisan terdapat sisipan tufa pasiran. Tebal formasi antara 2500-
3000 meter. Menjemari dengan anggota breksi formasi Tapak dan ditindih selaras
11
j. Formasi Tapak (Tpt): batupasir gampingan dan napal berwarna hijau, mengandung
k. Anggota Breksi Formasi Tapak (Tptb): breksi gunungapi dan batupasir tufaan.
tempat mengandung sisa tumbuhan. Tebal minimal 200 meter. Ke arah selatan kali
sampai marine, umur diduga Pliosen. Satuan ini ditindih selaras oleh anggota breksi
formasi Tapak dan juga oleh formasi Kalibiuk serta menindih tak selaras formasi
Halang.
m. Formasi Peniron (Tpp): breksi dengan sisipan tufa, setempat mengandung sisa
Bersisipan batupasir, tufa dan napal. Ke arah atas ukuran fragmen mengecil. Setempat
ditemukan sisa tumbuhan. Tufa agak lapuk berukuran lanau sampai pasir sedang,
sortasi sedang, tebal lapisan sekitar 20 cm. Satuan berupa lapisan turbidit yang
terendapkan di daerah kipas atas bawah laut. Umur formasi diduga Pliosen dengan
ketebalan sekitar 700 meter. Formasi ini menindih tak selaras formasi Halang dan
ditindih tak selaras oleh batuan gunungapi Sumbing Muda. Lebih ke arah utara
12
n. Formasi Kumbang (Tmpk): lava andesit dan basal, breksi, tufa, setempat breksi
batuapung dan tufa pasiran serta sisipan napal. Lava sebagian besar mengaca. Napal
mengandung Globigerina. Umur Miosen Tengah - Pliosen Awal dengan tebal sekitar
2000 meter dan menipis ke arah utara. Formasi ini menjemari dengan formasi Halang.
fosil Globigerina dan foraminifera kecil lainnya. Umur Miosen Tengah - Pliosen
Awal dengan tebal maksimal 700 meter dan menipis ke arah timur. Breksi andesit
ketebalannya bervariasi dari 200 meter di selatan sampai 500 meter di sebelah utara.
Bagian atas lapisan tak mengandung rombakan berbutir kasar. Diendapkan sebagai
tufa dan riolit yang berlapis baik. Bagian bawah satuan berupa konglomerat polimik
yang kearah atas lapisan berangsur menghilang, tersusun dari kuarsa, kepingan
komponen utama kuarsa sedikit biotit, turmalin, rutil dan mineral berat lainnya,
sortasi jelek, setempat gampingan dan kerikilan. Ke arah atas lapisan umumnya
berangsur menjadi batulanau, berlapis tipis dan pejal. Struktur sedimen berupa graded
bedding. Lapisan batuan ini hasil endapan arus turbidit. Bagian tengah formasi
tersusun dari batulempung, napal dan kalkerinit dengan sisipan tufa, batulempung
koral, angular - subrounded, sortasi buruk, semen berupa kalsit. Sisipan batupasir
kasar masih nampak yang semakin ke atas makin tipis. Lebih ke arah puncak napal
13
dan napal tufaan yang mengandung Globigerina,Globoquadrina, Orbulina dan
foraminifera besar. Sisipan tufa bersusunan dasit, riolit dan gelas mulai ada. Struktur
laminasi dan flute cast menunjukkan kesan akan lingkungan pengendapan air dangkal
atau mungkin daerah pasang surut. Bagian atas satuan tersusun dari perselingan tufa
dengan napal tufaan. Tufa kaca berlapis dengan tebal 5-10 meter dan menipis ke arah
puncak. Umur satuan dianggap Miosen Tengah dengan tebal mencapai 1146 meter.
Formasi ini menindih selaras formasi Waturanda dan ditindih selaras oleh formasi
Halang.
dominan piroksin, kasar - kerikilan, sortasi buruk, subrounded, porositas sedang, pejal
- berlapis, tebal lapisan 2 - 100 cm. Ke bagian lebih atas lapisan breksi gunungapi
lahar. Breksi polimik berkomponen andesit dan basal, ukuran fragmen sekitar 30 cm,
matriks batupasir dan tufa, mengkasar ke atas. Sisipan batupasir greywacke, tebal 50 -
200 cm, sedang - sangat kasar, komposisi mineral plagioklas, piroksin, gelas dan
Tengah. Struktur sedimen berupa gradded bedding, paralel laminasi dan convolute.
Lingkungan pengendapan laut dalam dengan sebagian batuan terendapkan oleh arus
turbidit. Satuan batuan ini ditindih selaras oleh formasi Penosogan dan menindih
14
r. Formasi Rambatan (Tmr): serpih, napal dan batupasir gampingan. Mengandung
tufa. Bagian bawah satuan terdiri dari perselingan tak teratur breksi, batulempung
tufaan, napal dan konglomerat, setempat sisipan batupasir. Breksi polimik, fragmen
berupa batulempung, slate, batupasir, batugamping fosilan, basal, sekis, granit, kuarsa
dan rijang radiolaria; matriks batulempung tufaan, gampingan, napal berwarna merah,
coklat dan ungu; semen kalsium karbonat. Ke arah atas perlapisan fragmen atau
sortasi buruk, merupakan sisipan dalam breksi. Bagian atas lapisan berupa
kuarsa. Selain fosil foraminifera plankton yang menunjukkan kisaran umur Oligosen
sampai Miosen Awal ditemukan pula Uvigerina sp. dan Gyroidina sp. Lingkungan
merupakan endapan olistostrom. Tebal satuan sekitar 150 meter yang menipis ke arah
selatan. Formasi ini ditindih tak selaras oleh formasi Penosogan dan formasi
satuanBatugampingTerumbu.
u. Batuan Tektonit Kompleks Luk Ulo (KTl): merupakan melange yang terdiri dari
berbagai bongkahan yang tercampur secara tektonik dalam matriks serpih dan
15
batulanau gelap yang terkoyakkan. Ukuran bongkah tak seragam dan tersusun dari
basal, rijang hitam dan merah, batuan beku basa dan ultrabasa, sekis dan phyllite,
merah mengandung radiolaria yang berumur Kapur. Batugamping merah dan rijang
menjemari dengan rijang dan terdapat sebagai boundary tektonik. Granit dan kuarsa
porfiri diduga berasal dari batuan beku. Di bagian yang dikuasai matriks bongkahan
membentuk struktur seperti ikan. Ke arah utara matriks lebih menonjol. Umur Kapur
Akhir - Paleosen.
v. Basa dan Ultrabasa (KTog): gabbro, amfibolit, basal dan serpetinit. Gabbro
berwarna hijau muda, tersingkap di antara napal, setempat batas keduanya jelas,
terdapat sebagai boundari tektonik di dalam kompleks Lok Ulo. Basal berupa lava
bantal, teralterasi. Berbatasan dengan basal umumnya berupa sedimen tufaan dan
tufa. Serpentinit sebagai sisipan di dalam gabbro dan basal, terdapat sentuhan dengan
teralterasi, granit, porfiri plagioklas - kuarsa, gabbro, amfibolit, serpentinit dan tufa.
Terbreksikan, tercampur aduk secara tektonik dan tersesarkan secara massa di atas
batuan sedimen berumur Kapur. Sebagian granit dan porfiri diduga berasal dari
16
batuan beku dan sebagian lagi berasal dari tufa terkersikkan dan batuan sedimen yang
x. Batuan Terobosan (Tm): batuan terobosan yang terdapat di daerah penelitian yaitu;
Batuan Intrusi (Tm): batuan bersusunan diorit meliputi variasi tak teruraikan (Tmi),
karsanit (Tmk), diorit atau diorit porfiri (Tmd), gabbro atau porfiri gabbro (Tmpi) dan
Pembentukan struktur di Indonesia Barat secara umum dapat dibagi menjadi tiga
periode, yaitu periode pertama yang dikenal sebagai Paleogene Extentional Rifting,
periode kedua yang dikenal sebagai Neogene Compressional Wrenching, dan periode
Menurut Pulungguno dan Martodjojo (1994) Pulau Jawa mempunyai tiga pola
a. Pola Meratus yang berarah timur laut–barat daya (NE-SW) terbentuk pada 80 sampai
53 juta tahun yang lalu (Kapur Akhir–Eosen Awal). Pola ini diwakili oleh Sesar
Cimandiri di Jawa Barat, yang dapat diikuti ke timur laut sampai batas timur
b. Pola Sunda berarah utara–selatan (N-S) terbentuk 53 sampai 32 juta tahun yang lalu
(Eosen Awal–Oligosen Awal). Pola Sunda diwakili oleh sesar- sesar yang membatasi
17
c. Pola Jawa berarah barat–timur (E-W) terbentuk sejak 32 juta tahun yang lalu. Pola
Jawa ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti Sesar Baribis, serta sesar-sesar naik
Gambar 2.4 Pola Struktur Pulau Jawa (Martodjojo dan Pulunggono, 1994)
Gambar 2.5 Sistem Pembagian Sesar Utama (major fault) di Jawa (Situmorang dkk., 1976)
18
2.5 Dasar Teori
umum berdasarkan satuan tanah dan batuan baik di permukaan ataupun di bawah
sifat fisik dan keteknikan yang hampir sama dengan jenis litologi batuan, cara
terjadinya, sifat-sifat fisik tanah secara umum, sehingga macam tanah dan batuan dapat
Dalam tahap pembangunan suatu struktur bangunan dibutuhkan data besaran daya
dukung tanah dalam menerima beban. Daya dukung tanah perlu diketahui untuk
menghitung dan merencanakan dimensi pondasi yang dapat mendukung beban struktur
yang akan dibangun. Apabila daya dukung tanah tidak mampu menerima beban dari
struktur yang direncanakan, dengan data daya dukung tanah yang telah diketahui, kita
dapat melakukan usaha tertentu agar nilai daya dukungnya dapat mencapai nilai yang
diinginkan. Penimbunan dan pemadatan merupakan salah satu perlakuan tertentu untuk
Daya dukung tanah adalah tekanan maksimal yang bisa diterima oleh tanah
sebelum tanah mengalami keruntuhan. Metode yang sering dipakai untuk menganalisis
daya dukung tanah adalah metode keseimbangan batas (limit equilibrium method). Nilai
daya dukung tanah dihitung berdasarkan model keruntuhan dan gaya-gaya yang bekerja
pada pondasi. Pada metode keseimbangan batas, terlebih dahulu diasumsikan garis
keruntuhan pada pondasi, dan tegangantegangan yang bekerja pada garis keruntuhan
19
tersebut. Beberapa metode yang menggunakan prinsip keseimbangan batas adalah
Menurut Palar H. (2013), daya dukung tanah adalah tekanan maksimum yang
dapat dipikul oleh tanah tersebut tanpa terjadi kelongsoran. Bilamana beban di atas
pondasi ditambah sedikit demi sedikit, maka pondasi akan turun yang akhirnya terjadi
Daya dukung tanah pada dasarnya banyak dipengaruhi oleh tingkat kepadatan
atau konsistensi tanah itu sendiri (Endah dan Hermawan, 2003) serta dipengaruhi oleh
jumlah air yang terdapat didalamnya, kohesi tanah, sudut geser dalam, dan tegangan
dalam mendukung beban pondasi dari struktur yang terletak di atasnya. Kapasitas
dukung menyatakan tahanan geser tanah untuk melawan penurunan akibat pembebanan,
yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh tanah di sepanjang bidang-bidang
gesernya.
penurunan yang berlebihan. Untuk itu, persyaratan yang harus dipenuhi dalam
kapasitas dukung tanah yang harus dipenuhi. Dalam hitungan kapasitas dukung,
perhatian harus diberikan pada peletakan dasar pondasi. Yaitu pondasi harus diletakkan
pada kedalaman yang cukup untuk menanggulangi erosi permukaan, gerusan, kembang
20
Daya dukung tanah sendiri dapat dianalisis menggunakan beberapa data.
Diantaranya adalah data uji laboratorium dan data uji hasil lapangan yaitu Cone
Penetration Test (CPT) atau uji sondir dan desain pondasi yang ada. Pertama-tama,
Cone Penetration Test (CPT) yang kita kenal sebagai uji Sondir digunakan untuk
mengetahui profil ke dalam tanah secara menerus yang dinyatakan dengan nilai tahanan
ujung konus dan tahanan selimut. Interprestasi yang tepat terhadap data ini dapat
digunakan untuk mengestimasi profil tanah, kuat geser tanah, kekakuan tanah,
permeabilitas tanah, atau koefisien konsolidasi, kuat geser selimut tiang, dan daya
Tes sondir merupakan salah satu tes dalam bidang geoteknik yang berfungsi
untuk mengetahui letak kedalaman tanah keras, yang nantinya dapat diperkirakan
seberapa kuat tanah tersebut dalam menahan beban yang didirikan di atasnya. Data yang
didapatkan dari tes ini nantinya berupa besaran gaya perlawanan dari tanah terhadap
konus, serta hambatan pelekat dari tanah yang dimaksud. Hambatan pelekat adalah
perlawanan geser dari tanah tersebut yang bekerja pada selubung bikonus alat sondir
dalam gaya per satuan panjang. Hasil dari tes sondir ini dipakai untuk menentukan tipe
atau jenis pondasi apa yang mau dipakai, menghitung daya dukung tanah asli,
menentukan seberapa dalam pondasi harus diletakkan nantinya. Uji sondir ini dilakukan
untuk mengetahui elevasi lapisan keras (Hard Layer) dan homogenitas tanah dalam arah
lateral. Hasil Cone Penetration Test disajikan dalam bentuk diagram sondir yang
mencatat nilai tahanan konus dan friksi selubung, kemudian digunakan untuk
21
Keuntungan dari penggunaan alat sondir sendiri adalah cukup ekonomis. Apabila
contoh tanah pada boring sulit diambil (tanah lunak), dapat digunakan uji sondir karena
sangat membantu dalam memecahkan pengambilan sampel tanah lunak. Selain itu uji
sondir juga dapat menentukan daya dukung tanah dengan baik, adanya korelasi handal,
dapat membantu menentukan posisi atau kedalaman pada pemboran, dapat dengan cepat
menentukan lekat lapisan tanah keras, dapat diperkirakan perbedaan lapisan, dapat
digunakan pada lapisan berbutir halus, serta baik digunakan untuk menentukan letak
muka air tanah. Sedangkan kerugiannya adalah jika terdapat batuan lepas biasa
memberikan indikasi lapisan keras yang salah, jika alat tidak lurus dan tidak bekerja
dengan baik maka hasil yang diperoleh bisa merugikan, serta tidak dapat diketahui tanah
secara langsung.
tanah dan bentuk bidang geser yang terjadi saat keruntuhan. Keruntuhan tanah dapat
3. Keruntuhan penetresi
1. Teori Terzaghi
22
2. Teori Meyerhof
4. Teori Vesic
- Analisis Terzaghi
6. Baji tanah yang terbentuk di dasar pondasi dalam kedudukan elastis dan bergerak
7. Pertemuan antara sisi baji tanah dan dasar pondasi membentuk sudut geser dalam
tanah ø.
9. Berat tanah di atas dasar pondasi digantikan dengan beban terbagi rata sebesar po =
Df.γ dengan Df adalah kedalaman dasar pondasi dan γ adalah berat volume tanah di
23
atas dasar pondasi.
maksimum per satuan luas dimana tanah masih dapat menopang beban tanpa mengalami
Qu = Pu / A
Dengan,
Analisis daya dukung tanah di atas didasarkan pada kondisi keruntuhan geser
umum dari suatu bahan yang bersifat plastis. Pada tanah yang memiliki regangan besar
sebelum tercapai keruntuhan geser, gerakan ke bawah pada baji tanah mungkin hanya
keruntuhan geser umum. Kondisi semacam ini menimbulkan keruntuhan geser lokal.
Terzaghi hanya memberikan koreksi empiris pada factor - faktor daya dukung di kondisi
keruntuhan geser umum. Persamaan-persamaan daya dukung yang telah dipelajari hanya
Daya dukung ultimit memperhitungkan kohesi tanah, beban terbagi rata dan berat
24
dimana :
Nilai faktor daya dukung ini merupakan fungsi dari sudut geser dalam tanah ø
dari Terzaghi (1943). Qu adalah beban total maksimum per satuan luas ketika pondasi
akan mengalami keruntuhan geser. Beban total tersebut terdiri dari beban-beban struktur,
pelat pondasi dan tanah urugan diatasnya. Analisa daya dukung tersebut berdasarkan
pada kondisi keruntuhan geser umum dari suatu bahan yang bersifat plastis dan tidak
terjadi perubahan volum dan kuat geser oleh adanya keruntuhan tersebut.
Gerakan baji tanah ke bawah pada tanah yang mengalami regangan yang besar
Menurut Terzaghi, tidak ada analisis rasional sebagai pemecahannya. Oleh karena itu
Terzaghi memberikan koreksi empiris pada perhitungan faktor daya dukung pada
kondisi keruntuhan geser umum yang digunakan untuk perhitungan daya dukung pada
keruntuhan geser lokal. Nilai cʹ = 2/3 c dan øʹ = arc tan (2/3 tan ø) digunakan sebagai
25
koreksi tersebut sehingga persamaan umum daya dukung ultimit pada pondasi
Persamaan daya dukung pondasi di atas hanya dapat digunakan untuk perhitungan
daya dukung ultimit pondasi memanjang. Oleh karena itu Terzaghi memberikan
pengaruh faktor bentuk terhadap daya dukung ultimit yang didasarkan pada analisa
dimana :
(kN/m2)
γ = berat volume tanah yang dipertimbangkan terhadap posisi muka air tanah
(kN/m3)
26
Nγ = faktor daya dukung tanah akibat berat tanah
besarnya tergantung dari sudut geser tanah. Untuk menghitung daya dukung tanah, perlu
diketahui berat volume tanah (γ), kohesi tanah (c) dan sudut geser tanah (ø). Rumus
daya dukung tanah Terzaghi tersebut berlaku pada kondisi “general shear failure” yang
terjadi pada tanah padat atau agak keras, yaitu karena desakan pondasi bangunan
pada tanah, maka mula-mula terjadi penurunan kecil, tetapi bila desakan bertambah
sampai mlampaui batas daya dukung tanah ultimit, maka akan terjadi penurunan yang
besar dan cepat, dan tanah di bawah pondasi akan mendesak tanah sekitarnya ke
samping dan menyebabkan tanah tersebut terdesak naik ke atas permukaan tanah.
Pada lapisan tanah yang agak lunak atau kurang padat, karena desakan pondasi
bangunan pada tanah, maka akan tampak adanya penurunan yang besar sebelum terjadi,
keruntuhan pada keseimbangan tanah di bawah pondasi. Kondisi ini disebut “local shear
failure”.Untuk kondisi ini rumus daya dukung tanah Terzaghi harus diberi reduksi.
c′ = 2/3 c
Sedangkan faktor daya dukung tanah dipakai Nc′, Nq′, Nγ′. Untuk tanah non
27
Gambar 2.6 Tipe Kerutuhan Tanah
Persamaan daya dukung Terzaghi mengabaikan kuat geser tanah di atas pondasi
dan hanya cocok untuk pondasi dangkal dengan Df ≤ B. Oleh karena itu, kesalahan
perhitungan untuk pondasi yang dalam menjadi besar. Untuk pondasi dalam yang
dengan nilai faktor-faktor daya dukung yang sama, hanya faktor gesekan dinding
Dengan:
28
Ap = luas dasar pondasi
D = B = diameter pondasi
Fs = faktor gesekan
29
B 1,0 0,8 0,6
Faktor aman tiang dari uji sondir diperoleh dari hasil perhitungan kapasitas tiang
ultimit (Qu), dihitung nilai kapasitas dukung ijin (Qa) dengan cara membagi Qu dengan
faktor aman F yaitu sebesar 2,5-3. Nilai Qu yang terhitung, kemudian dicek terhadap
kekuatan bahan tiang. Jika setelah dikalikan dengan jumlah tiang, kapasitas ijin yang
diperoleh lebih kecil dari beban total struktur, maka kedalaman tiang harus ditambah
untuk menaikkan tahanan gesek dinding dan tahanan ujungnya. Cara lain, yaitu dengan
perbesaran ujung tiang. Akan tetapi perlu diingat bahwa tiang pancang dengan
perbesaran ujung akan memperkecil tahanan gesek dindingnya. Jika tiang diperbesar
pada ujungnya, untuk mencapai tahanan ujung ultimit yang optimal, maka tiang harus
dipancang cukup dalam ke dalam lapisan pendukung yang dipilih berdasarkan nilai
tahanan kerucutnya.
Tanah sendiri memiliki sifat fisik dan sifat mekanis. Sifat-sifat fisik tanah
meliputi ukuran butir tanah, warna, bentuk butiran, dan kekerasan tanah. Sedangkan
sifat-sifat mekanis tanah meliputi sifat kohesi, plastisitas dan lain sebagainya. Untuk
30
mengetahui sifat fisik dan mekanis tanah maka diperlukan penyelidikan-penyelidikan di
g. Analisis XRD
Perhitungan Cone Penetration Test (CPT) yang kita kenal sebagai uji Sondir
Qu = Qb+Qs-Wp
Dimana,
Qg = 2.D(B+L)c+ 1,[Link].B.L
Yaitu,
Qg = kapasitas nilai kelompok, nilainya harus tidak melampaui nQu (n adalah jumlah
31
C = kohesi tanah di sekeliling kelompok tiang (kN/m2)
Jika kapasitas kelompok tiang (Qg) lebih kecil daripada kapasitas tiang tunggal
dikali dengan jumlah tiang (nQu), maka kapasitas dukung pondasi tiang yang digunakan
adalah kapasitas dukung kelompoknya (Qg). Sebaliknya, jika dari hitungan kapasitas
kelompok tiang (Qg) lebih besar, maka dipakai kapasitas tiang tunggal kali jumlahnya
(nQu). Kapasitas kelompok tiang yang disarankan Terzaghi dan Peck (1948) sering
Untuk data berat jenis tanah, sudut geser, nilai kohesi, indeks plastisitas, dan
analisis ukuran butir tanah diperlukan uji laboratorium dengan mengambil sampel tanah
undisturb atau sampel tanah tak terganggu. Sampel tanah tidak terganggu adalah suatu
contoh yang masih menunjukkan sifat-sifat aslinya. Artinya dalam sampel ini tidak
mengalami perubahan dalam struktur, kadar air (water content), atau susunan kimia.
Namun demikian, contoh tanah yang benar-benar asli tidaklah mungkin untuk diperoleh.
Akan tetapi dengan teknik pelaksanaan sebagaimana mestinya, dan cara pengamatan
yang tepat, maka kerusakan-kerusakan pada contoh tanah dapat dibatasi sekecil
mungkin. Contoh tanah tidak terganggu dapat diambil dengan menggunakan tabung
sampel (silinder). Sedangkan untuk nilai kohesi dan sudut geser tanah sendiri masih
32
menggunakan sampel tanah yang sama dengan pengambilan sample menggunakan
silinder sebanyak dua buah lalu diuji melalui uji geser langsung atau direct shear test.
Parameter yang perlu dicari dalam memperhitungkan daya dukung tanah adalah
berat jenis tanah. Merupakan perbandingan berat volume tanah dengan berat volume air.
Dari data penimbangan dan pengukuran, dapat diperoleh nilai berat jenisnya dengan
aquades sampai penuh (gram) c : Berat piknometer + 1/3 tanah kering setelah dioven 24
jam (gram) d : Berat piknometer + 1/3 tanah(sudah didiamkan 24 jam) + aquades (gram)
Tabel 2.4 Pembagian jenis tanah berdasarkan berat jenis (Hardiyatmo, 2012)
33
Sifat-sifat fisik tanah kohesif berbutir halus seperti lempung dan lanau sangat
dipengaruhi oleh kadar air tertentu yang dipengaruhi oleh konsistensi. Dapat berwujud
cair, plastis, semi padat atau padat seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Kadar air dimana transisi dari keadaan semi padat ke keadaan plastis dinamakan batas
plastis, dan dari keadaan plastis ke keadaan cair dinamakan batas cair. Batas tersebut
Batas antara fase-fase tanah seperti di atas disebut batas-batas Atterberg. Batas –
a) Batas Cair (Liquid Limit) adalah kadar air pada perbatasan dari fase tanah antara
b) Batas Plastis (Plastic Limit) adalah kadar air minimum dimana tanah masih dalam
keadaan plastis.
c) Batas susut (Shrinkage Limit) adalah batas kadar air dimana tanah tidak mengandung
Tabel 2.5 Harga-harga batas Atterberg untuk Mineral Lempung (Mitchel, 1976)
34
Mineral Batas cair Batas Plastis
Montmorillonite 100 - 900 50 – 100
Illite 60 - 120 35 – 60
Nontronite 37 - 72 19 – 27
Kaolinite 30 - 110 25 – 40
Setiap tanah memiliki batas cair, batas plastis, batas susut, dan indeks plastisitas
yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Plastisitas rendah dengan batas cair < 35%,
plastisitas sedang dengan batas cair 35% - 50%, dan plastisitas tinggi dengan batas cair
> 50%.
Gambar 2.9 Contoh hubungan antara batas cair dan jumlah pukulan
c. Indeks Plastisitas
Indeks plastisitas (PI) merupakan selisih antara batas cair dan batas plastis. Batas
plastis dan batas cair dipengaruhi oleh kadar air yang terkandung didalamnya. Indeks
plastisitas suatu tanah (IP) menggambarkan sifat plastis tanah ketika diberi beban. Batas
cair menjelaskan kondisi batas kadar air yang terkandung di tanah. Semakin tinggi
35
indeks plastisitas maka semakin baik pula tanah dalam menahan beban. Persamaannya
adalah:
Indeks Plastisitas= LL – PL
Sifat-sifat tanah sangat tergantung pada ukuran butirnya. Besar butir dijadikan
dasar untuk pemberian nama dan klasifikasi tanahnya. Oleh karena itu, analisis butiran
merupakan pengujian yang sangat sering dilakukan. Analisis ukuran butir tanah adalah
penentuan presentase besar butiran pada satu unit saringan, dengan ukuran diameter
lubang tertentu. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui presentase susunan
butir tanah sesuai dengan batas klasifikasinya sehingga dapat diketahui jenis contoh
tanah yang diuji. Dalam pengujian ini digunakan standar ASTM D422-63 (1990).
a) Analisis hidrometer, yaitu untuk mengetahui diameter butir tanah yang lebih kecil
36
b) Analisis butiran, yaitu untuk mengetahui diameter butir tanah yang lebih besar dari
0,074 mm atau tertahan saringan no. 200 Persamaan dari analisis ukuran butir adalah:
% 𝐾𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎h𝑎𝑛
Berikut ini adalah beberapa tabel koreksi untuk perhitungan analisis hidrometer.
37
Tabel 2.8 Tabel nilai a terhadap Gs untuk analisis hydrometer
(ASTM D 422-63, 1990)
Berat Jenis Tanah (Gs) Faktor Koreksi (a)
2,95 0,94
2,9 0,95
2,85 0,96
2,8 0,97
2,75 0,98
2,7 0,99
2,65 1
2,6 1,01
2,55 1,02
2,5 1,04
2,45 1,05
38
11 14.5 42 9.4
12 14.3 43 9.2
13 14.2 44 9.1
14 14 45 8.9
15 13.8 46 8.8
16 13.7 47 8.6
17 13.5 48 8.4
18 13.3 49 8.3
19 13.2 50 8.1
20 13 51 7.9
21 12.9 52 7.8
22 12.7 53 7.6
23 12.5 54 7.4
24 12.4 55 7.3
25 12.2 56 7.1
26 12 57 7
27 11.9 58 6.8
28 11.7 59 6.6
29 11.5 60 6.5
30 11.4
Uji Geser Langsung (Direct Shear Test) merupakan uji laboratorium pada sampel
tanah yang diambil dari lapangan. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban geser
sampai benda uji mencapai keruntuhan. Tegangan geser didefinisikan besarnya gaya
geser per satuan luas. Gaya geser yang dimaksud adalah gaya yang arahnya sejajar
bidang geser, dengan luasan adalah luasan dari bidang geser yang ditinjau.
39
N
F
Gambar 2.10 Gaya geser yang bekerja dengan luasan bidang geser
Gaya geser yang bekerja adalah F, dengan A adalah luasan bidang geser maka
normal (vertikal) pada contoh. Alat pendorong kemudian akan memberikan gaya
horizontal pada bagian bawah kotak, sementara bagian atasnya tetap diam. Gaya
horizontal diberikan dengan memakai kecepatan deformasi yang tetap. Deformasi dan
40
Masing-masing hasil pengujian diplot dalam bentuk grafik, yang pertama adalah
kurva tegangan terhadap penurunan, dan yang kedua adalah tegangan geser (nilai
keruntuhan atau nilai puncak) terhadap tegangan normal. Garis yang melalui titik ini
Selanjutnya, data tegangan normal dan tegangan geser dimasukkan ke dalam data
excel sehingga memperoleh grafik dengan persamaan. Dari persamaan tersebut dapat
diperoleh nilai kohesi dan sudut geser untuk dimasukkan ke dalam rumus kapasitas
Khusus untuk pondasi pada tanah lempung harus direncanakan pada kondisi
terburuk (kuat geser minimum), yaitu pada saat kadar air jenuh. Dasar pondasi
sebaiknya direncanakan agak dalam, karena kuat geser tanah lempung dalam keadaan
dangkal dapat dipengaruhi oleh cuaca dan akar tanaman. Pada tanah lempung, lebar
41
Susunan tanah lempungpun beperngaruh akibat pelapukan. Pelapukan akibat
diameter butiran lebih kecil dari 0,002 mm, yang disebut mineral lempung. Umumnya,
kaolinite, dan polygorskite. Kelompok yang lain, yang perlu diketahui adalah chlorite,
Airpun dapat mempengaruhi kondisi tanah lempung juga. Air biasanya tidak
banyak mempengaruhi kelakuan tanah nonkohesif. Sebagai contoh, kuat geser tanah
pasir mendekati sama pada kondisi kering maupun jenuh air. Tetapi, jika air berada pada
lapisan pasir yang tidak padat, beban dinamis seperti gempa bumi dan getaran lainnya
sangat mempengaruhi kuat gesernya. Sebaliknya, tanah butiran halus khususnya tanah
lempung akan banyak dipengaruhi oleh air. Karena pada tanah berbutir halus, luas
permukaan spesifik menjadi lebih besar, variasi kadar air akan mempengaruhi plastisitas
kristal yang ideal, muatan-muatan negatif dan positif seimbang. Akan tetapi, akibat
substitusi isomorf dan kontinuitas perpecahan susunannya, terjadi muatan negatif pada
lempung menarik ion muatan positif (kation) dari garam yang ada di dalam air porinya.
lempung merupakan tanah kohesif. Tanah kohesif memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a. Kuat geser rendah, dan akan semakin rendah bila kadar air bertambah.
42
b. Bila basah bersifat plastis dan mudah turun.
Tanah lempung yang dipadatkan dengan cara yang benar akan memberikan kuat
geser yang tinggi. Stabilitas terhadap sifat kembang-susut tergantung dari jenis
kecenderungan yang lebih besar terhadap perubahan volume dibanding dengan lempung
jenis kaolinite. Untuk mengetahui kandungan mineral apa saja yang terdapat dalam
43