TEORI DISKRIMINASI HARGA (SAP 3)
MATA KULIAH EKONOMI INDUSTRI
Dosen Pengampu:
Drs. I Nengah Kartika, [Link].
Kelas:
EKI 403 A3
Oleh:
Kelompok 2
I DEWA GEDE AGUNG RAI PINATIH 1506105045
SHITA DEVANI 1506105051
WIDI SRINARAYANA 1506105052
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah Ekonomi Industri. Adapun tujuan umum dari penulisan ini
adalah agar mahasiswa mendapatkan bekal mata kuliah yang dapat menunjang dalam
penulisan paper nantinya.
Dalam penyelesaian paper ini, penulis mendapatkan bayangan mengenai materi dari
Satuan Acara Perkuliahan (SAP) yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah, dan
disamping itu penulis mencari dan mendapatkan bahan-bahan dari buku yang telah
direferensikan.
Paper ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk membuat paper selanjutnya. Kami
menyadari paper ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu sangat diperlukan kritik
dan saran dari berbagai pihak yang bersifat membangun untuk dijadikan pelajaran
kedepannya. Berbagai kesalahan dalam penulisan ini, baik disengaja ataupun tidak disengaja
mohon dimaafkan. Semoga paper ini bermanfaat bagi para pembaca.
Denpasar, 21 Februari 2018
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan .........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................2
2.1 Feasibility dari Diskriminasi Harga ...........................................................................2
2.2 Linier Pricing (Diskriminasi Harga Derajat Tiga) ....................................................3
2.3 Non-Linier Pricing (Diskriminasi Harga Derajat Satu dan Dua) ...............................6
BAB III PENUTUP ................................................................................................................9
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................10
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diskriminasi harga adalah menaikkan laba dengan cara menjual barang yang
sama dengan harga berbeda untuk konsumen yang berbeda atas dasar alasan yang tidak
berkaitan dengan biaya. Diskriminasi harga terjadi saat produsen memberlakukan harga
yang sama karena alasan yang tidak ada kaitannya dengan perbedaan biaya, tetapi tidak
semua perbedaan harga mencerminkan diskriminasi harga (Hari 2012).
Diskriminasi harga seringkali dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
Monopolis menaikkan harga jual produk mereka dan menurunkan jumlah penjualan
mereka untuk meningkatkan keuntungan. Dengan melakukan hal tersebut, mereka
mungkin bisa mendapatkan pasar untuk para pembeli yang berkeinginan kuat dan
kehilangan pasar untuk pebeli yang enggan. Dengan memberikan harga yang berbeda
untuk mereka yang mau membeli dengan harga tinggi dan mereka yang mau membeli
dengan harga yang rendah, monopolis dapat meningkatkan keuntungan serta kepuasan
pelanggannya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah yang dapat ditarik dalam makalah
ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah feasibility dari diskriminasi harga?
2. Apakah yang dimaksud dengan linier pricing (diskriminasi harga derajat
tiga)?
3. Apakah yang dimaksud dengan non-linier pricing (diskriminasi harga derajat
satu dan dua)?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penulisan ini adalah untuk
menjawab permasalahan yang ada :
1. Untuk memahami feasibility dari diskriminasi harga.
2. Untuk memahami yang dimaksud dengan linier pricing (diskriminasi harga derajat
tiga)
3. Untuk memahami yang dimaksud dengan non-linier pricing (diskriminasi harga
derajat satu dan dua)
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Feasibility dari Diskriminasi Harga
Pada pasar monopoli, perusahaan-perusahaan yang bertindak sebagai produsen
memiliki kekuatan pasar terkadang meningkatkan keuntungannya melalui diskriminasi harga.
Menurut (William A. Mceachern : 2001 : 149) yang dikutip dalam Wikipedia, diskriminasi
harga adalah menaikkan laba dengan cara menjual barang yang sama dengan harga berbeda
untuk konsumen yang berbeda atas dasar alasan yang tidak berkaitan dengan biaya.
Tujuan utama pelaku usaha melakukan diskriminasi harga yaitu untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih tinggi dan keuntungan yang lebih tinggi tersebut diperoleh dengan
cara merebut surplus konsumen. Surplus konsumen adalah selisih harga tertinggi yang
bersedia dibayar konsumen dengan harga yang benar-benar dibayar oleh konsumen.
Diskriminasi harga/ price discrimination didasari adanya kenyataan bahwa konsumen
sebenarnya bersedia untuk membayar lebih tinggi, maka perusahaan akan berusaha merebut
surplus konsumen tersebut dengan cara melakukan diskriminasi harga.
Tidak semua perusahaan monopoli dapat melakukan diskriminasi harga. Hanya dalam
keadaan tertentu diskriminasi harga dapat dijalankan dengan sukses. Di bawah ini merupakan
beberapa keadaan yang memungkinkan perusahaan monopoli melakukan diskriminasi harga.
(Sukirno, 2012)
1. Barang tidak dapat dipindahkan dari satu pasar ke pasar lain. Sekiranya terdapat
kemungkinan barang dapat dibawa dari pasar yang lebih murah ke pasar yang lebih
mahal, maka kebijakan diskriminasi harga tidak akan efektif. Barang dari pasar yang
lebih murah akan dijual lagi di pasar yang lebih mahal dan perusahaan tidak dapat
menjual lagi barang yang disediakan untuk pasar tersebut.
2. Sifat barang atau jasa itu memungkinkan dilakukan diskriminasi harga. Barang-
barang atau jasa-jasa tertentu dapat dengan mudah dijual dengan harga yang berbeda.
Barang seperti itu biasanya berbentuk jasa perseorangan seperti jasa seorang dokter,
ahli hukum, dan lain-lain. Mereka dapat menetapkan tarif mereka berdasarkan kepada
kemampuan langganan untuk membayar, orang kaya dikenakan tariff tinggi,
sebaliknya orang miskin diberi diskon.
3. Sifat permintaan dan elastisitas permintaan di masing-masing pasar haruslah sangat
berbeda. Jika permintaan dan elastisitas permintaan adalah sama di kedua pasar
tersebut, keuntungan tidak akan diperoleh dari kebijakan tersebut. Biasanya
diskriminasi harga dijalankan apabila elastisitas permintaan di masing-masing pasar
2
sangat berbeda. Apabila permintaan tidak elastis, harga akan ditetapkan pada tingkat
relatif tinggi, sedangkan di pasar yang permintaanya lebih elastis, harga ditetapkan
pada tingkat yang rendah. Dengan cara ini penjualan dapat diperbanyak dan
keuntungan dimaksimumkan.
4. Kebijakan diskriminasi harga tidak memerlukan biaya yang melebihi tambahan
keuntungan yang diperoleh tersebut. Adakalanya melaksanakan kebijakan
diskriminasi harga harus mengeluarkan biaya. Apabila kebijakan tersebut dilakukan di
dua daerah yang berbeda maka biaya untuk mengangkut barang harus dikeluarkan.
Jika di daerah yang sama, biaya yang dikeluarkan mungkin dalam bentuk iklan.
Apabila biaya yang dikeluarkan adalah melebihi pertambahan keuntungan yang
diperoleh oleh diskriminasi harga, tidak ada manfaatnya untuk menjalankan kebijakan
tersebut.
5. Produsen dapat mengeksploiter bebrapa sikap tidak rasional konsumen. Ini misalnya
dilakukan dengan menjual barang yang sama tetapi dengan pembungkusan,
merek/cap, dan kampanye iklan yang berbeda. Dengan cara ini produsen dapat
menjual barang yang dikatakannya bermutu tinggi kepada konsumen kaya dan sisanya
kepada golongan masyarakat lainnya. Cara yang lain adalah menjual barang yang
sama, tetapi dengan harga berbeda pada daerah pertokoan yang berbeda. Di daerah
pertokoan orang kaya harganya lebih dimahalkan daripada di daerah pertokoan orang
miskin.
2.2 Linier Pricing (Diskriminasi Harga Derajat Tiga)
Diskriminasi harga tingkat ketiga yaitu penjual mengenakan harga berbeda pada
setiap kelas pembeli. Contohnya yaitu harga untuk kelas eksekutif dan bisnis dalam
penerbangan atau kereta api yang berbeda.
Diskriminasi harga derajat ketiga monopolis yang ingin menjalankan kebijakan
diskriminasi harga, harus menetapkan harga di tiap-tiap pasar agar keuntungan dapat
dimaksimumkan. Dalam hal ini monopolis harus mempertimbangkan biaya produksi dan sifat
permintaan di tiap-tiap pasar. Misalkan, kurva average cost (AC) dan marginal cost (MC)
perusahaan monopolis adalah seperti digambarkan dalam Gambar 2.1 (iii). Misalkan pula
produksi perusahaan monopoli tersebut dijual di dua pasar, yaitu di pasar dalam negeri,
dengan kurva permintaan (Dd) dan marginal revenue (MRd ) sebagaimana ditunjukkan dalam
gambar 2.1 (i) dan di pasar luar negeri dengan kurva permintaan (Dw) dan marginal revenue
(MRw) sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 2.1 (ii). Gabungan permintaan kedua pasar
3
tersebut ditunjukkan pada gambar 2.1 (iii), yaitu kurva Dd+w. Begitu juga kurva MRd+w
adalah kurva marginal revenue bila analisis terhadap hasil penjualan di kedua pasar tersebut
digabungkan.
Gambar 2.1
Diskriminasi Harga Derajat Tiga
Perusahaan monopoli akan memperoleh keuntungan maksimum
bila MRd+w = MC, keadaan tersebut dicapai bila monopolis memproduksi sebagai Qd+w.
Saat perusahaan memproduksi Qd+w marginal costnya adalah OC. Agar di tiap pasar
diperoleh keuntungan maksimum (dan selanjutnya memaksimumkan keseluruhan keuntungan
perusahaan), maka penjualan di tiap-tiap pasar harus memenuhi syarat marginal cost OC
sama dengan marginal revenue di masing-masing pasar. Dengan demikian pemaksimuman
keuntungan di pasar dalam negeri tercapai saat OC = MRd dan di pasar luar negeri tercapai
saat OC = MRw. Dengan demikian, keuntungan maksimum di kedua pasar akan dicapai bila
di pasar dalam negeri dijual output sebanyak Qd dan di pasar luar negeri dijual.
Output sebanyak Qw. Harga pasar di dalam negeri dalam Pd dan harga di pasar luar
negeri adalah Pw. Jumlah keuntungan yang diperoleh perusahaan tersebut adalah cdePd (di
pasar dalam negeri) ditambah cabPw (di pasar luar negeri). Dalam diskriminasi harga derajat
ketiga monopolis menjual komoditasnya di pasar yang memiliki elastisitas permintaan yang
4
berbeda-beda. Dimisalkan produsen menjual barang di dua pasar yang berbeda yaitu di pasar
A dan di pasar B. Pertama, yang harus dipahami yaitu produsen akan mendapatkan total
revenue yang maksimal bila marginal revenue di pasar A (MRA) sama dengan marginal
revenue di pasar yang lain (MRB). Ini menunjukkan jumlah komoditas Q yang dialokasikan
di pasar A sebanyak QA dan di pasar B sebanyak QB. Harga di pasar A adalah PA dan harga
di pasar B adalah PB. Karena pasar A menunjukkan permintaan yang lebih inelastis daripada
permintaan di pasar B, maka harga di pasar A lebih tinggi dari pada di pasar B. Bila
dimisalkan A = 2 dan B = 3, maka akan ditemukan bahwa PB = ¾ PA.
Gambar 2.2
Gambar Elastitias Permintaan dan Diskriminasi Harga
Biaya produksi untuk menghasilkan komoditas X tetap ditunjukkan oleh kurva AC
dan kurva MC. Sehingga untuk menentukan keuntungan yang diperoleh di masing-masing
pasar, kita harus mengurangkan biaya rata-rata itu dari tingkat harga di masing-masing pasar
dan kemudian mengalikannya dengan jumlah yang dijual di masing-masing pasar tersebut.
Dengan menjumlahkan keuntungan total di pasar A dan pasar B kita akan mendapatkan
jumlah keuntungan dari monopolis yang bekerja dengan diskriminasi harga derajat ketiga
tersebut. Yang menjadi persoalan adalah penentuan jumlah komoditas yang dihasilkan,
alokasi produk serta harga dimasing-masing pasar tersebut.
Dengan diketahuinya pula kurva permintaan di pasar A dan di pasar B, maka
diketahui pula kurva marginal revenue di masing-masing pasar tersebut. Masing-masing
kurva itu ada DA, DB dan MRA dan MRB. Untuk menentukan jumlah komoditas yang
dihasilkan, mula-mula kurva penerimaan masing-masing pasar MRA dan MRB harus
dijumlahkan secara horizontal sehingga didapat kurva penerimaan gabungan (MRG).
5
Produksi ditentukan oleh perpotongan kurva penerimaan gabungan MRG itu dengan kurva
marginal cost (MC) dan menghasilkan produksi total Qt . Dengan menarik garis horizontal
dari titik perpotongan kurva penerimaan gabungan dan biaya marjinal ke kiri, akan dapat
ditentukan jumlah produk yang harus dialokasikan di pasar A dan di pasar B pada
perpotongan antara garis horisontal itu dengan kurva penerimaan marjinal masing-masing
pasar MRA untuk pasar A dan MRB untuk pasar B dan menghasilkan komoditas OQA untuk
pasar A dan OQB untuk pasar B. Harga komoditas di masing-masing pasar adalah PA di
pasar A dan PB di pasar B. Masing-masing harga itu ditentukan dengan menarik garis
vertikal pada jumlah output OQA sampai memotong kurva permintaan DA dan dari output
ORB di pasar B sampai memotong kurva permintaan DB. Tampak pada gambar 4 bahwa di
pasar yang permintaannya lebih elastis (yaitu pasar B) tingkat harga komoditas PB lebih
rendah daripada di pasar A (PA) yang permintaannya lebih tidak elastis (inelastis). Perhatikan
pula bahwa QA + QB = Qt .
2.3 Non-Linier Pricing (Diskriminasi Harga Derajat Satu dan Dua)
2.3.1 Diskriminasi Harga Derajat Satu
Diskriminasi harga derajat 1 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang berbeda-
beda untuk setiap konsumen berdasarkan reservation price (willingness to pay) masing-
masing konsumen dibedakan pada kemampuan daya beli masing-masing
konsumen. Contohnya yaitu seorang dokter memberlakukan tarif konsultasi yang berbeda-
beda pada setiap pasiennya. Diskriminasi harga derajat 1 juga dijelaskan kedalam grafik yang
tersaji pada gambar 2.3
Gambar 2.3
Grafik Diskriminasi Harga Derajat 1
6
Pada gambar 2.3 menjelaskan tentang grafik diskriminasi harga derajat 1. Pada grafik
tersebut terdapat hubungan antara P (harga) dan Q (output) yang dimisalkan harga terdapat
P1, P2 dan P3 dan output terdapat Q1, Q2 dan Q3. Pada grafik terlihat apabila P tinggi maka
Q rendah. Hal ini apabila dikaitkan pada kemampuan daya beli konsumen berarti apabila
produsen menawarkan harga yang tinggi maka terdapat sedikit konsumen yang akan membeli
produk tersebut. Dan begitu sebaliknya, apabila produsen menawarkan harga yang rendah
maka terdapat banyak konsumen yang dapat membeli barang tersebut. Jadi, dalam hal ini
perusahaan harus mengetahui kemampuan daya beli pada masing-masing konsumen.
Diskriminasi harga derajat 1 dapat merugikan konsumen karena terdapat surplus
konsumen yang diterima oleh produsen, biaya yang harusnya diterima oleh konsumen namun
menjadi milik konsumen. Diskriminasi harga derajat 1 juga disebut perfect price
discrimination karena memperoleh surplus konsumen paling besar.
2.3.2 Diskriminasi Harga Derajat Dua
Diskriminasi harga derajat 2 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang berbeda-
beda pada jumlah batch atau lot produk yang dijual. Diskriminasi harga ini dilakukan karena
perusahaan tidak memiliki informasi mengenai reservation price konsumen. Contohnya yaitu
perbedaan harga per unit pada pembelian grosir dan pembelian eceran, pembeli yang
membeli mie instan 1 bungkus dan 1 kardus akan berbeda harganya. Diskriminasi harga
derajat 2 juga dijelaskan kedalam grafik yang tersaji pada gambar 2.4.
Gambar 2.4
Grafik Diskriminasi Harga Derajat 2
7
Pada gambar 2.4 di atas menjelaskan tentang diskriminasi harga derajat 2. Pada grafik
tersebut pelaku usaha menetapkan harga (P1, P2 dan P3) berdasarkan jumlah konsumsi.
Kebijakan ini dapat meningkatkan kesejahteraan konsumen karena jumlah output
bertambah dan harga jual semakin murah. Hal ini dikarenakan pelaku usaha menggunakan
sistem perbedaan harga per unit pada pembelian grosir dan pembelian eceran. Harga eceran
lebih tinggi dari pada harga per pak, sehingga konsumen lebih baik membeli barang langsung
per pak daripada membeli barang eceran.
8
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Diskriminasi harga adalah menaikkan laba dengan cara menjual barang yang
sama dengan harga berbeda untuk konsumen yang berbeda atas dasar alasan yang tidak
berkaitan dengan biaya.
Syarat-syarat penting terjadinya diskriminasi harga yaitu jika monopolis mampu
memisah-misahkan pasar dan elastisitas permintaan pada setiap tingkat harga harus
berbeda di antara kedua pasar supaya diskriminasi harga tersebut menguntungkan.
Strategi diskriminasi harga pada umumnya memberikan keuntungan baik bagi
konsumen maupun bagi produsen. Diskriminasi harga tingkat pertama menguntungkan
konsumen maupun produsen, tetapi dengan 1 syarat, produsen mengetahui kemampuan
konsumen sehingga mampu memberikan diskriminasi harga tepat sasaran.
Diskriminasi harga tingkat kedua memberikan keuntungan dari perbedaan
pembelian secara partai maupun eceran. Dengan melihat kebutuhan, konsumen dapat
memilih keuntungan dari pembelian partai maupun eceran. Sedangkan untuk
diskriminasi harga tingkat ketiga memberlakukan perbedaan harga berdasarkan daya
beli sekelompok konsumen. Produsen harus memperkirakan dengan tepat kemampuan
sekelompok konsumen agar strategi diskriminasi harga tepat sasaran.
Berdasarkan penjabaran di atas, bagi produsen, informasi terutama informasi
daya beli konsumen dan sekelompok konsumen adalah data yang harus dimiliki
produsen ketika ingin menerapkan strategi diskriminasi harga. Bagi konsumen pun
penerapan strategi diskriminasi harga ternyata memuaskan konsumen, karena
konsumen dipuaskan karena kebutuhannya terpenuhi.
9
DAFTAR PUSTAKA
Sukirno, Sadono. 2012. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Rajagrafirindo Persada
Irwan Sugiarto. 2015. PERSPEKTIF ILMU EKONOMI DAN UNDANG-UNDANG NOMOR
5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN
USAHA TIDAK SEHAT TERHADAP DISKRIMINASI HARGA. Jurnal Wawasan
Hukum, Vol. 33, No. 2, September 2015 Sekolah Tinggi Hukum Bandung
Praptiwi, Rahma Nur dan dkk. 2013. Diskriminasi Harga. Jakarta: Universitas
Muhammadiyah Jakata
[Link] (Diakses pada 21 Februari 2018)
Hari. 2012. Diskriminasi Harga. [Link]
[Link]. Didownload pada tanggal 15 Januari 2013. (Diakses pada 22 Februari
2018)
10