b.
Posisinya berdasarkan jarak antara molar kedua rahang bawah dan batas
anterior ramus mandibula
1. Klas I : jarak antara distal molar dua bawah dengan ramus mandibula
cukup lebar mesiodistal molar tiga bawah
2. Klas II : jarak antara distal molar dua bawah dengan ramus mandibula
lebih kecil dari lebar mesiodistal molar tiga bawah
3. Klas III : gigi molar tiga bawah terletak di dalam ramus mandibula
2.5.3 Klasifikasi Winter10
Winter mengajukan sebuah klasifikasi impaksi gigi molar ketiga mandibula
berdasarkan hubungan gigi impaksi terhadap panjang aksis gigi molar kedua
mandibula. Beliau juga mengklasifikasikan posisi impaksi yang berbeda seperti
impaksi vertikal, horizontal, inverted, mesioangular, distoangular, bukoangular,
dan linguoangular. Quek et al mengajukan sebuah sistem klasifikasi menggunakan
protractor ortodontik. Dalam penelitian mereka, angulasi dideterminasikan
menggunakan sudut yang dibentuk antara pertemuan panjang aksis gigi molar
kedua dan ketiga. Mereka mengklasifikasikan impaksi gigi molar ketiga
mandibula sebagai berikut:15
1. Vertikal (10o sampai dengan -10o)
2. Mesioangular (11o sampai dengan -79o)
3. Horizontal (80o sampai dengan 100o)
4. Distoangular (-11o sampai dengan -79o)
5. Lainnya (-111o sampai dengan -80o)
Teori didasarkan pada inklinasi impaksi gigi molar ketiga terhadap panjang axis
gigi molar kedua16
Gambar II.3 Klasifikasi impaksi molar ketiga rahang bawah menurut
Archer dan Kruger (1 mesioangular, 2 distoangular, 3 vertical,
4 horizontal, 5 buccoangular, 6 linguoangular, 7 inverted)
Sumber : Fragiskos D. Oral surgery. Editor: Schroder GM, Heidelberg.
Alih Bahasa: Tsitsogianis H. Berlin: Springer; 2007,p.126
a. Mesioangular: Gigi impaksi mengalami tilting terhadap molar kedua dalam
arah mesial.
b. Distoangular: Axis panjang molar ketiga mengarah ke distal atau ke posterior
menjauhi molar kedua.
Gambar II.4 Impaksi mesioangular molar ketiga rahang bawah kanan
dan distoangular pada molar ketiga rahang bawah kiri (catatan: gigi
molar ketiga rahang bawah tidak erupsi)
Sumber : Pedlar J, Frame JW. Oral and maxillofacial surgery. New
York:Churchill Livingstone;2001,p.51
20
20
c. Horisontal: Axis panjang gigi impaksi horisontal
Gambar II.5 Impaksi horisontal bilateral molar ketiga rahang bawah
Sumber : Pedlar J, Frame JW. Oral and maxillofacial surgery. New
York:Churchill Livingstone;2001,p.54
d. Vertikal: Axis panjang gigi impaksi berada pada arah yang sama dengan axis
panjang gigi molar kedua
Gambar II.6 Sebuah impaksi dengan posisi vertikal
Sumber : Pedlar J, Frame JW. Oral and maxillofacial surgery. New
York:Churchill Livingstone;2001,p.53
e. Bukal atau lingual: Sebagai kombinasi impaksi yang dideskripsikan di atas,
gigi juga dapat mengalami impaksi secara bukal atau secara lingual
f. Transversal: Gigi secara utuh mengalami impaksi pada arah bukolingual
21
21
g. Signifikansi: Tiap inklinasi memiliki arah pencabutan gigi secara definitif.
Sebagai contoh, impaksi mesioangular sangat mudah untuk dicabut dan
impaksi distoangular merupakan posisi gigi yang paling sulit untuk dicabut.
Gigi maksila dengan posisi bukal lebih mudah dicabut karena tulang yang
menutupi gigi lebih tipis, sedangkan gigi pada sisi palatal tertutupi jumlah tulang
yang banyak, dan membuat ekstraksi sulit untuk dilakukan.10
Posisi mesioangular paling sering terjadi pada impaksi gigi bawah
sedangkan posisi distoangular paling sering terjadi pada impaksi gigi atas.
Untungnya kedua gigi tersebut juga paling mudah pencabutannya. Didasarkan
pada hubungan ruang, impaksi juga dikelompokkan berdasarkan hubungan bukal-
lingualnya. Kebanyakan impaksi Molar ketiga bawah mempunyai mahkota
mengarah ke lingual. Pada impaksi Molar ketiga yang melintang, orientasi
mahkota selalu ke lingual. Hubungan melintang juga terjadi pada impaksi gigi
atas tetapi jarang.3
2.5.4 Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Thoma15
Thoma mengklasifikasikan kurvatura akar gigi molar ketiga yang
mengalami impaksi ke dalam tiga kategori:
1. Akar lurus (terpisah atau mengalami fusi)
2. Akar melengkung pada sebuah posisi distal
3. Akar melengkung secara mesial.
22
22
2.5.5 Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Killey dan Kay15
Killey dan Kay mengklasifikasikan kondisi erupsi gigi molar ketiga impaksi
dan jumlah akar ke dalam tiga kategori.
Gigi tersebut diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Erupsi
2. Erupsi sebagian
3. Tidak erupsi
2.5.5 Menurut American Dental Association15
Jumlah akar mungkin berjumlah dua atau multipel. Gigi impaksi juga dapat
terjadi dengan akar yang mengalami fusi. Dengan tujuan untuk memberikan
mekanisme logis dan praktik untuk industry asuransi. American Association of
Oral and Maxillofacial Surgeons mengklasifikasikan gigi impaksi dan tidak
erupsi berdasarkan prosedur pembedahan yang dibutuhkan untuk melakukan
pencabutan, daripada posisi anatomi gigi. Mereka mengklasifikasikan gigi
impaksi ke dalam empat kategori:
1. Pencabutan gigi hanya dengan impaksi jaringan lunak
2. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara parsial
3. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara sempurna
4. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang sempurna dan komplikasi
pembedahan yang tidak biasa
23
23
Klasifikasi posisis gigi impaksi secara sistematis dan teliti membantu dalam
memeriksa arah pencabutan gigi impaksi dan juga mendeterminasikan jumlah
kesulitan yang akan dialami selama pencabutan.10
2.6 EVALUASI KLINIS
Pemeriksaan awal harus berupa sebuah riwayat medis dan dental, serta
pemeriksaan klinis ektra oral dan intral oral yang menyeluruh. Hasil penemuan
positif dari pemeriksaan ini seharusnya dapat mendeterminasikan apakah pencabutan
diindikasikan atau disarankan, dan harus mengikutsertakan pemeriksaan radiologi.10
2.6.1 Pemeriskaan Umum10
Pemeriksaan umum harus dilakukan dengan cara yang sama dengan
prosedur pembedahan lainnya. Adanya gangguan sistemik atau penyakit sistemik
harus dideteksi dan kehati-hatian harus diterapkan sebelum pembedahan. Pasien
juga harus diperiksa apakah sedang menjalani terapi tertentu, seperti terapi
irradiasi, terapi cytostatic, dan transplantasi organ.
2.6.2 Pemeriksaan Lokal10
1. Status erupsi gigi impaksi. Status erupsi gigi impaksi harus diperiksa karena
status pembentukan mendeterminasikan waktu pencabutan. Idealnya, gigi
dicabut ketika duapertiga akar terbentuk. Jika akar telah terbentuk sempurna,
24
24
maka gigi menjadi sangat kuat, dan gigi terkadang displitting untuk dapat
dicabut.
2. Resorpsi molar kedua. Karena kurangnya ruang molar ketiga yang impaksi
sehingga memungkin terjadi resorpsi akar pada molar kedua. Setelah
pencabutan gigi molar ketiga yang impaksi, molar kedua harus diperiksa
untuk intervensi endodontik atau periodontik tergantung pada derajat resorpsi
dan keterlibatan pulpa.
3. Adanya infeksi lokal seperti periokoronitis. Infeksi ini merupakan sebuah
inflamasi jaringan lunak yang menyelimuti mahkota gigi yang sedang erupsi
yang hampir seluruhnya membutuhkan penggunaan antibiotik atau prosedur
yang jarang dilakukan, eksisi pembedahan pada kasus rekuren. Periokoronitis
rekuren terkadang membutuhkan pencabutan gigi impaksi secara dini.
4. Pertimbangan ortodontik. Karena molar ketiga yang sedang erupsi,
memungkinkan terjadi berjejal pada regio anterior setelah perawatan
ortodonti yang berhasil. Oleh karena itu, disarankan untuk mencabut gigi
molar ketiga yang belum erupsi sebelum memulai perawatan ortodontik.
5. Karies atau resorpsi molar ketiga dan gigi tetangga. Akibatnya
kurangnya ruang, kemungkinan terdapat impaksi makanan pada area distal
atau mesial gigi impaksi yang menyebabkan karies gigi. Untuk mencegah
karies servikal gigi tetangga, disarankan untuk mencabut gigi impaksi.
6. Status periodontal. Adanya poket sekitar gigi molar ketiga yang impaksi
atau molar kedua merupakan indikasi infeksi. Penggunaan antibiotik
25
25
disarankan harus dilakukan sebelum pencabutan gigi molar ketiga impaksi
secara bedah untuk mengurangi komplikasi post-operatif.
7. Orientasi dan hubungan gigi terhadap infeksi saluran akar gigi. hal ini
akan didiskusikan secara detail pada pemeriksaan radiologi.
8. Hubungan oklusal. Hubungan oklusal molar ketiga rahang atas terhadap
molar ketiga rahang bawah harus diperiksa. Ketika gigi molar ketiga rahang
bawah yang impaksi berada pada sisi yang sama diindikasikan untuk
ekstraksi, sisi yang satunya juga harus diperiksa.
9. Nodus limfe regional. Pembengkakan dan rasa nyeri pada nodus limfe
regional mungkin terindikasi infeksi molar ketiga
10. Fungsi temporomandibular joint.
2.6.3 Tehnik Roentgenografi Dalam Penentuan Gigi Impaksi17
Sejalan dengan perkembangan tehnik roentgenografi intraoral maupun
ekstraoral, dimulai dengan ditemukannya panagrafi sampai dengan panoramik
dengan demikian dimulailah roentgenogram gigi khususnya untuk melihat gigi
impaksi. Hasilnya dapat merupakan penuntun kerja bagi ahli bedah mulut dalam
menentukan dan penatalaksanaan kausatif lebih lanjut untuk gigi impaksi tersebut.
Saat ini tehnik roentgenografi sangat diperlukan untuk penentuan lokasi gigi
impaksi, dengan kualitas hasil foto yang baik dan interpretasi yang akurat akan
meringankan penatalaksanaan yang tepat bagi operator. Dalam tehnik
roentgenografi penentuan lokasi gigi impaksi terdapat beberapa tehnik proyeksi
dengan nama sendiri-sendiri, tetapi sangat penting pula dalam pemrosesan film
26
26
yang baik agar didapat kualitas gambar yang baik pula, yang akhirnya kita bisa
menginterpretasi lokasi dari gigi tersebutsehingga kendala atau faktor-faktor
kesulitan dalam penatalaksanaan gigi impaksi dapat dikurangi.
Tehnik roentgenografi untuk lokasi gigi belakang berbeda dengan tehnik
roentgenografi untuk lokasi gigi depan. Berikut akan dijelaskan mengenai tehnik
roentgenografi untuk lokasi gigi belakang. Tehnik roentgenografi ini dikenal
sebagai roentgenografi right angle procedure.
1. Tehnik proyeksi
pada tehnik proyeksi ini mula-mula dilakukan tehnik periapikal kesejajaran
biasa setelah diketahui gigi impaksi (gigi premolar dan molar) maka dilakukan
proyeksi true oklusal dengan menggunakan film periapikal no.2 atau film
oklusal no.4. Proyeksi sinar X diarahkan tegak lurus pada film sedangkan
fiksasi filmnya dioklusal plane diusahakan dalam proyeksi ini sinar X
menelurusi inklinasi gigi impaksi.
2. Interpretasi
Pada roentgenogram proyeksi true oklusal, terlihat gambaran radiopak dari
gigi impaksi bila dekat dengan kortek tulang rahang bukalis maka gigi
tersebut berada di bukal atau bila gigi impaksi tersebut dekat dengan kortek
tulang rahang di lingualis atau palatalis maka gigi tersebut berada di lingualis
atau palatalis. Untuk rahang bawah tehnik ini lebih mudah dilakukan daripada
rahang atas oleh karena inklinasi rahang bawah lebih vertikal disbanding
rahang atas.
27
27
2.7 DAMPAK DAN KELUHAN YANG DITIMBULKAN
Gigi molar ketiga merupakan salah satu gigi yang paling banyak dibahas dalam
literatur kedokteran gigi, dan pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah perlu
untuk melakukan ekstraksi atau tidak perlu mendapatkan perhatian khusus bagi
profesional untuk memperdebatkan maneuver yang sangat kontrovesial ini untuk
merencanakan dan mempelajari subjek ini. Walaupun tidak semua gigi molar ketiga
menyebabkan masalah klinis dan patologis, tiap gigi molar ketiga memiliki sebuah
potensi yang besar untuk menyebabkan masalah periodontal yang berhubungan
dengan perikoronitis, karies molar, reabrsorbsi gigi molar kedua, dan juga
pembentukan kista dan tumor.18
Gambar II.7 Sebuah impaksi mesioangular molar ketiga bawah kiri, di
mana akar divergen (catatan: karies dan bone loss pada aspek distal gigi
molar kedua bawah karena dampak impaksi molar ketiga)
Sumber : Pedlar J, Frame JW. Oral and maxillofacial surgery. New
York:Churchill Livingstone;2001,p.58
Hampir satu abad lalu, gigi impaksi kadang-kadang menimbulkan keluhan baik
akut atau kronis maupun akut eksaserbasi, gejala simptomatik tersebut mula-mula
terjadi di daerah retromolar rahang bawah maupun rahang atas bahkan bila menjalar
dapat menyebabkan timbulnya keluhan umum yang bisa pula mengganggu aktivitas
penderita.17
28
28
Dampak dari adanya gigi impaksi molar ketiga rahang bawah adalah gangguan
rasa sakit, yang dimaksud dengan gangguan rasa sakit yang berasal dari reaksi
radang pada jaringan operkulum yang tampak hiperemi, bengkak dan rasa sakit bila
ditekan. Kesemuaanya itu merupakan gejala yang lazim disebut sebagai
perikoronitis. Keluhan sakit juga dapat timbul oleh karena adanya karies pada gigi
molar tiga rahang bawah.5
Kerusakan atau keluhan yang ditimbulkan dari impaksi dapat berupa:9
1. Inflamasi
Inflamasi merupakan suatu perikoronitis yang lanjutannya menjadi abses
dento-alveolar akut-kronis, ulkus sub-mukus yang apabila keadaan tubuh
lemah dan tidak mendapat perawatan dapat berlanjut menjadi osteomyelitis.
Biasanya gejala-gejala ini timbul bila sudah ada hubungan soket gigi atau
folikel gigi dengan rongga mulut.
Gambar II.8 Perikoronitis karena impaksi molar ketiga
Sumber : Fragiskos D. Oral surgery. Editor: Schroder GM,
Heidelberg. Alih Bahasa: Tsitsogianis H. Berlin: Springer;
2007,p.122
29
29
2. Resorpsi gigi tetangga
Setiap gigi yang sedang erupsi mempunyai daya tumbuh ke arah oklusal gigi
tersebut. Jika pada stadium erupsi, gigi mendapat rintangan dari gigi tetangga
maka gigi mempunyai daya untuk melawan rintangan tersebut. Misalnya gigi
terpendam molar ketiga dapat menekan molar kedua, kaninus dapat menekan
insisivus dua dan premolar. Premolar dua dapat menekan premolar satu.
Disamping mengalami resorpsi, gigi tetangga tersebut dapat berubah arah
atau posisi.
3. Kista
Suatu gigi yang terpendam mempunyai daya untuk perangsang pembentukan
kista atau bentuk patologi terutama pada masa pembentukan gigi. Benih gigi
tersebut mengalami rintangan sehingga pembentukannya terganggu menjadi
tidak sempurna dan dapat menimbulkan primordial kista dan folikular kista.
4. Rasa sakit
Rasa sakit dapat timbul bila gigi terpendam menekan syaraf atau menekan
gigi tetangga dan tekanan tersebut dilanjutkan ke gigi tetangga lain di dalam
deretan gigi, dan ini dapat menimbulkan rasa sakit.
Rasa sakit dapat timbul karena :
a. Periodontitis pada gigi yang mengalami trauma kronis
b. Gigi terpendam langsung menekan nervus alveolaris inferior pada kanalis
mandibularis.
30
30
Gigi molar ketiga rahang bawah impaksi dapat mengganggu fungsi pengunyah
dan sering menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi yang terjadi dapat berupa
resorbsi patologis gigi yang berdekatan, terbentuknya kista folikuler, rasa sakit
neurolgik, perikoronitis, bahaya fraktur rahang akibat lemahnya rahangdan
berdesakan gigi anterior akibat tekanan gigi impaksi ke anterior. Dapat pula terjadi
periostitis, neoplasma dan komplikasi lainnya.6
Gambar II.9 Karies pada permukaan distal molar kedua karena impaksi
molar ketiga rahang bawah
Sumber : Fragiskos D. Oral surgery. Berlyn: Springer; 2007,p.123
31
31
Gambar II.10 Karies pada bagian distal dari mahkota impaksi molar
ketiga rahang bawah, karena terselip makanan dan oral hygiene buruk.
Sumber : Fragiskos D. Oral surgery. Editor: Schroder GM, Heidelberg.
Alih Bahasa: Tsitsogianis H. Berlin: Springer; 2007, p.123
Gambar II.11 Resopsi tulang pada permukaan distal akar molar kedua,
dihasilkan di pocket periodontal.
Sumber : Fragiskos D. Oral surgery. Editor: Schroder GM, Heidelberg.
Alih Bahasa: Tsitsogianis H. Berlin: Springer; 2007, p.123
32
32
Gambar II.12 Obstruksi dari erupsi molar kedua rahang bawah dari
impaksi molar ketiga
Sumber : Fragiskos D. Oral surgery. Editor: Schroder GM, Heidelberg.
Alih Bahasa: Tsitsogianis H. Berlin: Springer; 2007,p.123
Gambar II.13 Radiolusen yang luas lesi pada bagian posterior
mandibula, menempati ramus. Gigi impaksi telah berpindah ke perbatasan
inferior dari mandibula
Sumber : Fragiskos D. Oral surgery. Editor: Schroder GM, Heidelberg.
Alih Bahasa: Tsitsogianis H. Berlin: Springer; 2007,p.124
33
33
Gambar II.14 Radiolusen yang luas lesi pada mandibula. Gigi impaksi
telah berpindah ke bagian puncak ramus mandibula.
Sumber : Fragiskos D. Oral surgery. Editor: Schroder GM, Heidelberg.
Alih Bahasa: Tsitsogianis H. Berlin: Springer; 2007,p.124
Mengingat banyaknya masalah dan keluhan yang ditimbulkan oleh impaksi gigi
molar tiga mandibula ini, maka dirasakan perlu untuk meneliti prevalensi impaksi
gigi molar tiga mandibula serta masalah dan keluhan yang sering ditimbulkan oleh
impaksi tersebut.1
34
34
35