0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
655 tayangan2 halaman

Prosedur Terapi Infrared Fisioterapi

Standar operasional prosedur terapi inframerah di RSUD Hanau memberikan panduan lengkap mulai dari persiapan pasien dan alat, pengoperasian alat, dosis dan waktu penyinaran, serta indikasi dan kontraindikasinya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien. Prosedur ini bertujuan mengatur tahapan terapi inframerah dan mencakup persiapan, pemanasan alat, penyinaran sesuai area dan kondisi pasien, serta pengawasan sel

Diunggah oleh

Dhieto Basuki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
655 tayangan2 halaman

Prosedur Terapi Infrared Fisioterapi

Standar operasional prosedur terapi inframerah di RSUD Hanau memberikan panduan lengkap mulai dari persiapan pasien dan alat, pengoperasian alat, dosis dan waktu penyinaran, serta indikasi dan kontraindikasinya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien. Prosedur ini bertujuan mengatur tahapan terapi inframerah dan mencakup persiapan, pemanasan alat, penyinaran sesuai area dan kondisi pasien, serta pengawasan sel

Diunggah oleh

Dhieto Basuki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERINTAHAN KABUPATEN SERUYAN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH HANAU


[Link]. Sudirman KM 142 Sampit Pangkalan Bun Telp. 0532 Pembuang Hulu 74271

PELAKSANAAN TERAPI INFRARED (IR)


Halaman Tanggal Terbit Ditetapkan oleh
STANDAR
OPERASIONAL Direktur RSUD Hanau
PROSEDUR 2
Lembar

dr. Riza Syahputra


NIP.19770222 200604 1 012

Pengertian Prosedur mengenai proses terapi menggunakan alat Infrared mulai dari persiapan alat,
pengoperasian alat kepada pasien hingga selesai penggunaan. Sinar infra merah
adalah pancaran gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 7.700 – 4
juta A.

Tujuan 1. Mengatur dan mengetahui tahapan – tahapan tindakan Infrared.


2. Memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.
Kebijakan 1. Keputusan Menteri Kesehatan No: 378/MenKes/SK/IV/2008 Tentang
Pedoman Pelayanan Rehabilitasi Medik di Rumah Sakit.
2. Keputusan Menteri Kesehatan No:778/MenKes/SK/VIII/2008 Tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
Prosedur I. Pelaksanaan
1. Persiapan pasien / sebelum memulai tindakan Infrared .
a. Menjelaskan tujuan dan manfaat Infrared kepada pasien/keluarga.
b. Posisikan pasien dalam posisi nyaman, rileks dan stabil.
c. Area yang disinari Infrared harus terbebas dari logam atau perhiasan.
Pakaian dilepas seperlunya agar area yang diperiksa lebih jelas.
d. Tes sensasi area yang diobati serta jelaskan rasa yang timbul untuk
mencegah terjadinya luka bakar.
2. Pemanasan alat sekitar 5 menit.
3. Untuk penyinaran lokal menggunakan reflektor berbentuk parabola.
4. Untuk Penyinaran general (misalnya punggung) menggunakan lampu yang
dipasang pada reflektor semi sirkuler.
5. Lampu dipasang tegak lurus.
6. Untuk area wajah, wajib dipasang kacamata khusus (google infrared) untuk
melindungi mata.
7. Intensitas dinaikkan sedikit demi sedikit sampai didapatkan dosis yang tepat
sesuai dengan kondisi pasien.
8. Dosis diberikan sesuai toleransi pasien.
a. Pada penggunaan lampu non-luminous, jarak lampu antara 45-60 cm,
waktu 10-30 menit.
b. Pada penggunaan lampu luminous, jarak lampu antara 35 - 45 cm, waktu
10-30 menit.
c. Pengulangan 1 kali dalam sehari, 1 seri 10 kali
9. Setelah penggunaan Infrared selesai, matikan mesin dan dirapikan.

II. Hal yang perlu diperhatikan


1. Fisioterapis harus selalu mengontrol/mengawasi pasien selama proses Infrared
berlangsung. Lakukan pengontrolan, rasa panas, nyeri, pusing.
2. Fisioterapi menjelaskan kepada pasien apabila terdapat rasa tidak enak atau
terlalu panas segera memberitahukan fisioterapis.
3. Indikasi
a. Kondisi peradangan setelah sub-acut : kontusio, muscle strain, trauma
sinovitis.
b. Arthritis :RA, OA, myalgia, lumbago, neuralgia, neuritis.
c. Gangguan sirkulasi darah : thrombo plebitis, thrombo angitis obliterans,
raynold’s disease.
d. Penyakit kulit : Folliculitis, Furuncolosi.
e. Persiapan exercise dan massage.
4. Kontra Indikasi
a. Daerah dengan insufisiensi pada darah.
b. Gangguan sensibelitas kulit.
c. Kecenderungan pendarahan.
Unit Terkait 1. Poliklinik
2. Instalasi Rawat Inap
3. Instalasi Radiologi
4. Instalasi Laboratorium

Anda mungkin juga menyukai